P. 1
Anak Pocket Book Pelayanan Kesehatan Anak WHO

Anak Pocket Book Pelayanan Kesehatan Anak WHO

|Views: 3,191|Likes:
Published by Sham

More info:

Published by: Sham on Oct 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

8.1.1. Diagnosis klinis
Gambaran klinis infeksi HIV pada anak sangat bervariasi. Beberapa anak
dengan HIV-positif menunjukkan keluhan dan gejala terkait HIV yang berat
pada tahun pertama kehidupannya. Anak dengan HIV-positif lainnya mungkin
tetap tanpa gejala atau dengan gejala ringan selama lebih dari setahun dan
bertahan hidup sampai beberapa tahun. Disebut Tersangka HIV apabila
ditemukan gejala berikut, yang tidak lazim ditemukan pada anak dengan
HIV-negatif.

Gejala yang menunjukkan kemungkinan infeksi HIV

• Infeksi berulang: tiga atau lebih episode infeksi bakteri yang lebih berat
(seperti pneumonia, meningitis, sepsis, selulitis) pada 12 bulan terakhir.
• Thrush: Eritema pseudomembran putih di langit-langit mulut, gusi dan
mukosa pipi. Pasca masa neonatal, ditemukannya thrush tanpa
pengobatan antibiotik, atau berlangsung lebih dari 30 hari walaupun telah
diobati, atau kambuh, atau meluas melebihi bagian lidah – kemungkinan
besar merupakan infeksi HIV. Juga khas apabila meluas sampai di bagian
belakang kerongkongan yang menunjukkan kandidiasis esofagus.

• Parotitis kronik: pembengkakan parotid uni- atau bi-lateral selama ≥ 14

hari, dengan atau tanpa diikuti rasa nyeri atau demam.
• Limfadenopati generalisata: terdapat pembesaran kelenjar getah
bening pada dua atau lebih daerah ekstra inguinal tanpa penyebab jelas
yang mendasarinya.
• Hepatomegali tanpa penyebab yang jelas: tanpa adanya infeksi virus yang
bersamaan seperti sitomegalovirus.

ANAK DENGAN TERSANGKA INFEKSI HIV ATAU PASTI MENDAPAT INFEKSI HIV

225

8. H
IV
/A
ID
S

• Demam yang menetap dan/atau berulang: demam (> 38° C) berlangsung
≥ 7 hari, atau terjadi lebih dari sekali dalam waktu 7 hari.
• Disfungsi neurologis: kerusakan neurologis yang progresif, mikrosefal,
perkembangan terlambat, hipertonia atau bingung (confusion).

• Herpes zoster.
• Dermatitis HIV: Ruam yang eritematus dan papular. Ruam kulit yang khas
meliputi infeksi jamur yang ekstensif pada kulit, kuku dan kulit kepala, dan
molluscum contagiosum yang ekstensif.
• Penyakit paru supuratif yang kronik (chronic suppurative lung disease).

Gejala yang umum ditemukan pada anak dengan infeksi HIV, tetapi juga
lazim ditemukan pada anak sakit yang bukan infeksi HIV

• Otitis media kronik: keluar cairan/nanah dari telinga dan berlangsung

≥ 14 hari
• Diare Persisten: berlangsung ≥ 14 hari
• Gizi kurang atau gizi buruk: berkurangnya berat badan atau menurun-
nya pertambahan berat badan secara perlahan tetapi pasti dibandingkan
dengan pertumbuhan yang seharusnya, sebagaimana tercantum dalam
KMS. Tersangka HIV terutama pada bayi berumur < 6 bulan yang disusui
dan gagal tumbuh.

Gejala atau kondisi yang sangat spesifik untuk anak dengan infeksi HIV

positif

Diduga kuat infeksi HIV jika ditemukan hal berikut ini: pneumocystis
pneumonia (PCP), kandidiasis esofagus, lymphoid interstitial pneumonia
(LIP) atau sarkoma Kaposi. Keadaan ini sangat spesifik untuk anak dengan
infeksi HIV. Fistula rekto-vaginal yang didapat pada anak perempuan juga
sangat spesifik tetapi jarang.

8.1.2 Konseling
Jika ada alasan untuk menduga infeksi HIV sedangkan status HIV anak tidak
diketahui, harus dilakukan konseling pada keluarganya dan tes diagnosis
untuk HIV harus ditawarkan.
Konseling pra-tes mencakup mendapatkan persetujuan (informed consent)
sebelum dilakukan tes. Berhubung sebagian besar anak terinfeksi melalui
penularan vertikal dari ibu, berarti ibu atau seringkali ayahnya juga terinfeksi.
Mereka mungkin tidak mengetahui hal ini. Bahkan di negara dengan preva-

KONSELING

226

8. HIV/AIDS

lensi tinggi, HIV tetap merupakan kondisi dengan stigma yang ekstrem dan
orang tuanya mungkin merasa enggan untuk menjalani tes.
Konseling HIV harus memperhitungkan anak sebagai bagian dari keluarga.
Hal ini mencakup implikasi psikologis HIV terhadap anak, ibu, ayah dan
anggota keluarga lainnya. Konseling harus menekankan bahwa walaupun
penyembuhan saat ini belum memungkinkan, banyak hal yang dapat dilakukan
untuk memperbaiki kualitas dan lamanya kehidupan anak dan hubungan
ibu-anak. Jika tersedia pengobatan antiretroviral, akan sangat meningkatkan
kelangsungan hidup dan kualitas hidup anak dan orang tuanya. Konseling
harus jelas menunjukkan bahwa petugas rumah sakit bersedia membantu
dan bahwa ibu tidak perlu takut untuk datang ke puskesmas atau rumah
sakit pada saat penyakitnya masih dini, walau hanya untuk mengajukan
pertanyaan.
Konseling membutuhkan waktu dan harus dilakukan oleh petugas yang
terlatih. Jika petugas pada tingkat rujukan pertama belum terlatih, bisa
meminta bantuan dari sumber lain, misalnya LSM lokal yang bergerak di
bidang AIDS.

Indikasi untuk Konseling HIV

Konseling HIV perlu dilakukan pada situasi berikut:

1. Anak yang status HIV-nya tidak diketahui yang menunjukkan tanda
klinis infeksi HIV dan/atau faktor risiko (misalnya ibu atau saudaranya
menderita HIV/AIDS)

— Tentukan apakah akan dilakukan konseling atau merujuknya.
— Jika anda yang melakukan konseling, sediakan waktu untuk sesi
konseling ini.
Minta saran dari konselor lokal yang berpengalaman, sehingga setiap
nasihat yang diberikan akan konsisten dengan apa yang nantinya akan
diterima ibu dari konselor profesional.
— Jika tersedia, upayakan tes HIV, sesuai pedoman nasional, untuk
memastikan diagnosis klinis, mempersiapkan ibu tentang masalah yang
berkaitan dengan HIV, dan membahas pencegahan penularan ibu ke
anak yang berikutnya.
Catatan: Jika tidak tersedia tes HIV, diskusikan tentang diagnosis
kemungkinan infeksi HIV sehubungan dengan adanya keluhan/gejala
dan faktor risiko.
— Jika konseling tidak dilakukan di rumah sakit, jelaskan pada orang
tuanya alasan mereka dirujuk ke tempat lain untuk konseling.

KONSELING

227

8. H
IV
/A
ID
S

2. Anak dengan infeksi HIV tetapi respons terhadap pengobatan kurang
baik, atau membutuhkan penyelidikan lebih lanjut

Diskusikan hal berikut ini pada saat sesi konseling:
— pemahaman orang tua tentang infeksi HIV
— tatalaksana masalah yang ada saat ini
— peran dari pengobatan antiretroviral
— perlunya merujuk ke tingkat yang lebih tinggi, jika perlu
— dukungan dari kelompok di masyarakat, jika ada.

3. Anak dengan infeksi HIV dengan respons yang baik terhadap
pengobatan dan akan dipulangkan (atau dirujuk ke program pera-
watan di masyarakat untuk dukungan psikologis)

Diskusikan hal berikut ini pada saat sesi konseling:
— alasan dirujuk ke program perawatan di masyarakat
— pelayanan tindak lanjut
— faktor risiko untuk sakit di kemudian hari
— imunisasi dan HIV
— ketaatan dan dukungan pengobatan antiretroviral.

8.1.3 Tes dan diagnosis infeksi HIV pada anak
Diagnosis infeksi HIV pada bayi yang terpajan pada masa perinatal dan
pada anak kecil sangat sulit, karena antibodi maternal terhadap HIV yang
didapat secara pasif mungkin masih ada pada darah anak sampai umur
18 bulan. Tantangan diagnostik bertambah meningkat bila anak sedang
menyusu atau pernah menyusu. Meskipun infeksi HIV tidak dapat dising-
kirkan sampai 18 bulan pada beberapa anak, sebagian besar anak akan ke-
hilangan antibodi HIV pada umur 9-18 bulan.

Tes HIV harus secara sukarela dan bebas dari paksaan, dan persetujuan
harus diperoleh sebelum melakukan tes HIV
(lihat 7.1.2 di atas)
Semua tes diagnostik HIV harus:

rahasia
• diikuti dengan konseling
• dilakukan hanya dengan informed consent, mencakup telah diinformasi-
kan dan sukarela.
Pada anak, hal ini berarti persetujuan orang tua atau pengasuh anak. Pada
anak yang lebih tua, biasanya tidak diperlukan persetujuan orang tua untuk
tes/pengobatan; akan tetapi untuk remaja lebih baik jika mendapat dukungan

TES DAN DIAGNOSIS INFEKSI HIV PADA ANAK

228

8. HIV/AIDS

orang tua dan mungkin persetujuan akan diperlukan secara hukum. Menerima
atau menolak tes HIV tidak boleh mengakibatkan konsekuensi yang merugikan
terhadap kualitas perawatan yang diberikan.

Tes antibodi (Ab) HIV (ELISA atau rapid tests)

Tes cepat makin tersedia dan aman, efektif, sensitif dan dapat dipercaya
untuk mendiagnosis infeksi HIV pada anak mulai umur 18 bulan. Untuk anak
berumur < 18 bulan, tes cepat antibodi HIV merupakan cara yang sensitif,
dapat dipercaya untuk mendeteksi bayi yang terpajan HIV dan untuk
menyingkirkan infeksi HIV pada anak yang tidak mendapat ASI.
Diagnosis HIV dilaksanakan dengan merujuk pada pedoman nasional yang
berlaku di Indonesia yaitu dengan strategi III tes HIV yang menggunakan 3
jenis tes yang berbeda dengan urutan tertentu sesuai yang direkomendasikan
dalam pedoman atau dengan pemeriksaan virus (metode PCR).
Tes cepat HIV dapat digunakan untuk menyingkirkan infeksi HIV pada anak
dengan malnutrisi atau keadaan klinis berat lainnya di daerah dengan
prevalensi tinggi HIV. Untuk anak berumur < 18 bulan, semua tes antibodi
HIV yang positif harus dipastikan dengan tes virologis sesegera mungkin
(lihat bawah). Jika hal ini tidak tersedia, ulangi tes antibodi pada umur
18 bulan.

Tes virologis

Tes virologis untuk RNA atau DNA yang spesifik HIV merupakan metode
yang paling dipercaya untuk mendiagnosis infeksi HIV pada anak
berumur < 18 bulan. Sampel darah harus dikirim ke laboratorium khusus yang
dapat melakukan tes ini (dirujuk ke RS daerah yang menjadi rujukan untuk
program perawatan, dukungan dan pengobatan HIV - PDP). Jika anak pernah
mendapatkan pencegahan dengan zidovudine (ZDV) selama atau sesudah
persalinan, tes virologis tidak dianjurkan sampai 4-8 minggu setelah lahir,
karena ZDV mempengaruhi tingkat kepercayaan tes. Satu tes virologis yang
positif pada 4-8 minggu sudah cukup untuk membuat diagnosis infeksi pada
bayi muda. Jika bayi muda masih mendapat ASI dan tes virologis RNA negatif,
perlu diulang 6 minggu setelah anak benar-benar disapih untuk memastikan
bahwa anak tidak terinfeksi HIV.

8.1.4 Tahapan klinis
Bagi anak dengan diagnosis HIV atau sangat diduga mendapat infeksi
HIV, sistem stadium klinis membantu mengetahui derajat kerusakan sistem

TES DAN DIAGNOSIS INFEKSI HIV PADA ANAK

229

8. H
IV
/A
ID
S

kekebalan dan untuk merencanakan pilihan pengobatan dan perawatan.
Tahap ini menentukan kemungkinan prognosis HIV dan sebagai panduan
tentang kapan mulai, menghentikan atau mengganti terapi antiretroviral pada
anak dengan infeksi HIV.
Tahapan klinis dapat mengenali tahap yang progresif dari yang ringan sampai
yang paling berat, makin tinggi tahap klinisnya makin buruk prognosisnya.
Untuk keperluan klasifikasi, bila didapatkan kondisi klinis stadium 3, prog-
nosis anak akan tetap pada stadium 3 dan tidak akan membaik menjadi
stadium 2, walaupun kondisinya membaik, atau timbul kejadian klinis
stadium 2 yang baru. ART yang diberikan dengan benar akan memperbaiki
prognosis secara dramatis.
Tahapan klinis juga membantu mengenali respons terhadap ART jika tidak
terdapat akses yang mudah dan murah untuk tes CD4 atau tes virologi.

Tabel 30. Sistem tahapan klinis untuk anak menurut WHO yang telah
diadaptasi

Digunakan untuk anak berumur < 13 tahun dengan konfirmasi laboratorium untuk infeksi

HIV (HIV Ab pada umur > 18 bulan, tes virologi DNA atau RNA untuk umur < 18 bulan)

STADIUM 1

Tanpa gejala (asimtomatik)
Limfadenopati generalisata persisten (Persistent generalized lymphadenopathy=PGL)

STADIUM 2

Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskan
Erupsi pruritik papular
Dermatitis seboroik
Infeksi jamur pada kuku
Keilitis angularis
Eritema Gingiva Linea - Lineal gingival erythema (LGE)
Infeksi virus human papilloma (wart) yang luas atau moluskum kontagiosum (> 5%
area tubuh)
Luka di mulut atau sariawan yang berulang (2 atau lebih episode dalam 6 bulan)
Pembesaran kelenjar parotis yang tidak dapat dijelaskan
Herpes zoster
Infeksi respiratorik bagian atas yang kronik atau berulang (otitis media, otorrhoea, sinusitis,
2 atau lebih episode dalam periode 6 bulan)

TAHAPAN KLINIS

230

8. HIV/AIDS

Tabel 30. Sistem tahapan klinis untuk anak menurut WHO yang telah
diadaptasi (lanjutan)

STADIUM 3

Gizi kurang yang tak dapat dijelaskan dan tidak bereaksi terhadap pengobatan baku
Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (> 14 hari)
Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (intermiten atau konstan, selama > 1 bulan)
Kandidiasis oral (di luar masa 6-8 minggu pertama kehidupan)

Oral hairy leukoplakia

Tuberkulosis paru1
Pneumonia bakteria berat yang berulang (2 atau lebih episode dalam 6 bulan)
Gingivitis atau stomatitis ulseratif nekrotikans akut
LIP (lymphoid interstitial pneumonia) simtomatik
Anemia yang tak dapat dijelaskan (< 8 g/dl), neutropenia (< 500/mm3) atau
Trombositopenia (< 30.000/mm3) selama lebih dari 1 bulan

STADIUM 4

Sangat kurus (wasting) yang tidak dapat dijelaskan atau gizi buruk yang tidak bereaksi
terhadap pengobatan baku
Pneumonia pneumosistis
Dicurigai infeksi bakteri berat atau berulang (2 atau lebih episode dalam 1 tahun, misalnya
empiema, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis, tidak termasuk pneumonia)
Infeksi herpes simpleks kronik (orolabial atau kutaneous selama > 1 bulan atau viseralis
di lokasi manapun)
Tuberkulosis ekstrapulmonal atau diseminata
Sarkoma Kaposi
Kandidiasis esofagus
Anak < 18 bulan dengan symptomatic HIV seropositif dengan 2 atau lebih dari hal berikut:
Oral thrush, +/– pneumonia berat, +/– gagal tumbuh, +/– sepsis berat2
Infeksi sitomegalovirus (CMV) retinitis atau pada organ lain dengan onset > 1 bulan
Toksoplasmosis susunan syaraf pusat (di luar masa neonatus)
Kriptokokosis termasuk meningitis
Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, koksidiomikosis, penisiliosis)
Kriptosporidiosis kronik atau isosporiasis (dengan diare > 1 bulan)
Infeksi sitomegalovirus (onset pada umur >1 bulan pada organ selain hati, limpa atau
kelenjar limfe)
Penyakit mikobakterial diseminata selain tuberkulosis
Kandida pada trakea, bronkus atau paru

Acquired HIV-related recto-vesico fistula

Limfoma sel B non-Hodgkin’s atau limfoma serebral

ANAK DENGAN TERSANGKA INFEKSI HIV ATAU PASTI MENDAPAT INFEKSI HIV

231

8. H
IV
/A
ID
S

Tabel 30. Sistem tahapan klinis untuk anak menurut WHO yang telah
diadaptasi (lanjutan)

Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)
Ensefalopati HIV

HIV-related cardiomyopathy
HIV-related nephropathy

1 TB bisa terjadi pada hitungan CD4 berapapun dan CD4 % perlu dipertimbangkan bila

mungkin

2 Diagnosis presumtif dari penyakit stadium 4 pada anak umur < 18 bulan yang seropositif,

membutuhkan konfirmasi dengan tes virologis HIV atau tes Ab HIV pada umur > 18 bulan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->