P. 1
Tugas Waris Dalam Islam

Tugas Waris Dalam Islam

|Views: 429|Likes:

More info:

Published by: Yue Raitei Namikaze Lewliet on Oct 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul ” Pembagian Waris Menurut Islam” Selanjutnya Salawat beriring Salam tak lupa pula penulis tujukan S AW , sekalian. ke p a d a beserta Ya n g Nabi mana dan Beliau Ra s u l dan telah Muhammad p e n g i ku t n y a ke l u a r g a

mewariskan dua pusaka yang tak ternilai untuk ke b a i k a n m a n u s i a d i d u n i a w a l a k h i r a t . Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menambah bagi saya khususnya,dan segenap pembaca

wawasan umumnya.

Tak lupa saya mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Dosen Pembimbing. selaku pembimbing yang telah banyak memberikan saran dalam menyusun makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat

bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman sekalian.

Depok,

September 2011

Penyusun

1

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................................................................................................... KATA PENGANTAR................................................................................................1 DAFTAR ISI..............................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................3 A. LATAR BELAKANG ...........................................................................................3 B. PERMASALAHAN...............................................................................................5 C. TUJUAN PENULISAN……………………………………………….…………….....5 D. MANFAAT PENULISAN………………………………………………………......…6 BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................7

a. PENGERTIAN HUKUM WARIS MENURUT ISLAM ................................7
b. PENGERTIAN PENINGGALAN……………………………………………….11

c. PEMBAGIAN WARIS MENURUT PANDANGAN ISLAM………………..13
d. CONTOH KASUS PEMBAGIAN WARIS PADA BANCI ………………………………………………..………………………….. 23 BAB III PENUTUP...................................................................................................28

2

A. KESIMPULAN.....................................................................................................2 8 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................29

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
I. AYAT-AYAT WARIS ALLAH SWT berfirman "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka

untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas)

3

Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Ini adalah ketetapan dari Allah. Jika seseorang mati. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia. kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. baik laki-laki maupun perempuan. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja). dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. dan ia tidak mempunyai 4 ." (an-Nisa': 12) "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)." (an-Nisa': 11) "Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu.sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. jika mereka tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak.

maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. Allah Yang Maha Adil tidak melalaikan dan mengabaikan hak setiap ahli waris. orang yang dianugerahi pengetahuan dan hafal ayat-ayat tersebut akan lebih mudah mengetahui bagian setiap ahli waris. Oleh sebab itu. Bahkan dengan aturan yang sangat jelas dan 5 . Selain itu. sekaligus mengenali hikmah Allah Yang Maha Bijaksana itu. supaya kamu tidak sesat. di dalamnya berisi aturan dan tata cara yang berkenaan dengan hak dan pembagian waris secara lengkap. juga menjelaskan keadaan setiap ahli waris. jika ia tidak mempunyai anak. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dalam Surat di atas Allah SWT melalui ketiga ayat tersebut yang semuanya termaktub dalam surat an-Nisa menegaskan dan merinci nashih (bagian) setiap ahli waris yang berhak untuk menerimanya. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. dan kapan pula ia menerimanya secara 'ashabah. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan.anak dan mempunyai saudara perempuan. kapan ia menerima bagiannya secara "tertentu". tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan)." (an-Nisa': 176). Perlu kita ketahui bahwa ketiga ayat tersebut merupakan asas ilmu faraid. Ayat-ayat tersebut juga dengan gamblang menjelaskan dan merinci syarat-syarat serta keadaan orang yang berhak mendapatkan warisan dan orang-orang yang tidak berhak mendapatkannya. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal.

sempurna Dia menentukan pembagian hak setiap ahli waris dengan adil serta penuh kebijaksanaan. MANFAAT 6 . RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah atas latar belakang diatas adalah sebagai berikut: 1. dan mengetahui pembagian hak waris untuk orang terngelam. mengetahui bagaimana pembagian hak waris dalam hukum islam 2. Dia menerapkan hal ini dengan tujuan mewujudkan keadilan dalam kehidupan manusia. meniadakan kezaliman di kalangan mereka. serta tidak membiarkan terjadinya pengaduan yang terlontar dari hati orang-orang yang lemah. mempelajari ayat – ayat yang memperkuat hukum waris dalam islam 3. apa saja hak – hak yang berkaitan dengan harta peninggalan? 3. menutup ruang gerak para pelaku kezaliman. dan apa saja hak waris untuk orang yang tenggelam? TUJUAN Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuannya adalah : 1. apa saja penjelasan tentang pembagian hukum waris sesuai dengan hukum islam ? 2. Maha Suci Allah.

dan mencari problem solving. ketiga arti tersebut 7 . Dalam hal ini juga dituntut peran serta dari masyarakat dalam pencari solusi. PENGERTIAN HUKUM WARIS MENURUT ISLAM Dalam keilmuan Islam ada dua istilah ilmu yang membahas pembagian harta warisan. yaitu ilmu mawaris dan ilmu fara'id. BAB II PEMBAHASAN A. Miras sendiri adalah jamak dari waratsa-yaritsu-miyraatsan.Adapun manfaat dalam hal ini berorientasi pada pemecahan masalah yang solutif dan efisien dalam pembagian hak waris dalam hukum islam. yang tidak hanya berperan kritis dengan berbagai masalah yang terjadi tetapi juga menyelesaikannya sesuai dengan hukum islam. Secara etimoloi kata mirats memiliki arti diantarnaya: yang kekal. Meskipun objek pembahasan keduanya sama tetapi istilahnya jelas berbeda Kata mawarits adalah jama' dari mirats. yang berpindah dan Al mauruts yang maknanya at-tirkah" harta peninggalan orang yang meninggal dunia. Berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan serta dalil yang memperkuat hukum tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari fikih-fikih klasik. Pada permulaan datangnya Islam. Dalam kontek kewarisan adalah bagain par ahli waris. bagian yang telah ditentukan. bahwa pada masa itu kaum muslim saling mewarisi harta masing-masing disebabkan hijrah dan rasa persaudaraan yang dipertemukan oleh Rasulullah saw. Maka setelah peristiwa kota Allah me-mansukh-kan (menghapuskan) hukum pewarisan yang disebabkan hijrah dan 8 . Apabila ditelusuri sejarah pemakaian kedua istilah itu di kalangan para ulama. Telah masyhur dalam sejarah permulaan datangnya Islam. tampaknya pada awalnya lebih banyak digunakan kata fara`id dari pada mawarits. kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling mewarisi. seperti kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.lebih menekankan kepada objek dari pewarisan yaitu harta peninggalan pewaris. kata ini berasal dari kata fardu yang mempunyai arti cukup banyak. Adapun pada masa belakangan ini menunjukan kebalikannya.. namun justru saudara mereka yang senasab tidak mendapatkan warisan. penaklukan dan kaidah-kaidah Mekah. Keadaan demikian berjalan terus hingga Islam menjadi agama yang kuat. kaum muslim telah benar-benar mantap menjalankan ajaran-ajarannya. Apabila lebih luas dibandingkan menampung kedua untuk istilah diatas ilmu dalam yang pengertian bahasa kata mawaris mengandung pengertian yang dan menyebut membahas tata cara pembagian harta peninggalan orang yang meninggal dunia dibandinkan dengan fara`id. Oleh par aulama kata fara`id diartikan sebagai almafrudhoh yang berarti al muqaddarah. Kata fara`id secara bahasa adalah bentuk jama' dari kata faridhoh. agama telah begitu mengakar dalam hati setiap muslim.

sedangkan 9 . dan pengetahuan tentan bagian-bagian yang wajib dari harta warisan bagi semua pihak yang memiliki hak. yakni dengan mengembalikan hak waris mereka secara penuh. ayat tersebut tidaklah secara rinci dan detail menjelaskan jumlah besar-kecilnya hak waris para kerabat. Juga tanpa membedakan bagian mereka yang banyak maupun sedikit. yakni wanita dan anak-anak.persaudaraan. Dalam ayat tersebut Allah dengan keadilan-Nya memberikan hak waris secara imbang. laki-laki ataupun wanita. Secara terminologi ada beberapa rumusan yang dikemukakan oleh para ulama. Syaikh al Khatib As Syarbini: " Ilmu fikih yang berpautan dengan pembagian harta warisan dan penetahuan tentang perhitungan yang dapat menyampaikan kepada pembagian harta warisan tersebut. Allah SWT menyantuni keduanya dengan rahmat dan kearifan-Nya serta dengan penuh keadilan. Jika kita pakai istilah dalam ushul fiqh ayat ini disebut mujmal (global). tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. Adapun dalam ayat pertama (an-Nisa': 7) Allah SWT dengan tegas menghilangkan bentuk kezaliman yang biasa menimpa dua jenis manusia lemah. Sementara di sisi lain Allah membatalkan hak saling mewarisi di antara kaum muslim yang disebabkan persaudaraan dan hijrah." Wahbah Az Zuhaily: "kaidah-kaidah fikih dan perhitungan yang dengannya dapat diketahui bagian semua ahli waris dari harta peninggalan". dengan hukum pewarisan yang disebabkan nasab dan kekerabatan. yang pasti hak waris telah Allah tetapkan bagi kerabat pewaris karena hubungan nasab. maupun pewaris itu rela atau tidak rela. Meskipun demikian.

Nafkah (pengeluaran) kaum laki-laki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita. di antaranya sebagai berikut: 1. 4. mungkin ada di antara kita yang bertanya-tanya dalam hati. memberinya makan. mereka juga sangat membutuhkan bantuan baik moril maupun materiil. dan sandang. Dan ketika 10 . Masih tentang kajian ayat-ayat tersebut. 3. mengapa bagian kaum laki-laki dua kali lipat bagian kaum wanita. saudara laki-lakinya. menyediakan tempat tinggal baginya. karena di samping memang lemah. Kaum laki-laki diwajibkan untuk membayar mahar kepada istrinya. dan dalam hal nafkahnya kaum wanita wajib diberi oleh ayahnya. kebutuhan kaum laki-laki untuk mendapatkan dan memiliki harta jauh lebih besar dan banyak dibandingkan kaum wanita. minum. 2. atau siapa saja yang mampu di antara kaum laki-laki kerabatnya. Dengan demikian.rinciannya terdapat dalam ayat-ayat yang saya nukilkan terdahulu (an-Nisa': 11-12 dan 176). Kaum wanita selalu harus terpenuhi kebutuhan dan keperluannya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut beberapa hikmah adanya syariat yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslim. kaum lelakilah yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah kepada keluarga dan kerabatnya. Kaum wanita tidak diwajibkan memberi nafkah kepada siapa pun di dunia ini. serta siapa saja yang diwajibkan atasnya untuk memberi nafkah dari kerabatnya. Sebaliknya. anaknya. padahal kaum wanita jauh lebih banyak membutuhkannya.

pangan. Syariat Islam tidak mewajibkan kaum meski wanita baik untuk untuk membelanjakan harta miliknya sedikit. siapa pun yang memiliki tanggung jawab besar hingga harus mengeluarkan pembiayaan lebih banyak maka dialah yang lebih berhak untuk mendapatkan bagian yang lebih besar pula. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris.telah dikaruniai anak. seluruhnya dibebankan hanya pada pundak kaum laki-laki. Kalau saja tidak karena rasa takut membosankan. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. ia berkewajiban untuk memberinya sandang. Secara logika. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. ingin sekali saya sebutkan hikmahhikmah tersebut sebanyak mungkin. Dengan demikian. Artinya. pengobatan jika anak sakit (termasuk istri) dan lainnya. Kendatipun hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. Itulah beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung dalam perbedaan pembagian antara kaum laki-laki dua kali lebih besar dan kaum wanita. keperluan dirinya atau keperluan anak-anaknya (keluarganya). Sementara kaum wanita tidaklah demikian. dan papan. Kebutuhan pendidikan anak. 5. Sebab. 11 . tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga.

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf . Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: "... B. atau utang piutang yang berkaitan dengan kewajiban pribadi yang mesti ditunaikan (misalnya pembayaran kredit atau mahar yang belum diberikan kepada istrinya). Contoh yang dimaksud di sini ialah tentang pembagian hak kaum laki-laki yang banyaknya dua kali lipat dari bagian kaum wanita. suamilah yang berkewajiban membiayai semua nafkah dan kebutuhan keluarganya. baik utang piutang itu berkaitan dengan pokok hartanya (seperti harta yang berstatus gadai). PENGERTIAN PENINGGALAN Pengertian peninggalan yang dikenal di kalangan fuqaha ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris. Ketentuan ini tetap berlaku sekalipun wanita tersebut kaya raya dan hidup dalam kemewahan. pangan. Sebab.. Dari sederetan hak yang harus ditunaikan yang ada kaitannya dengan harta peninggalan adalah: 12 . baik berupa harta (uang) atau lainnya.. Termasuk di dalamnya bersangkutan dengan utang piutang. dan papan. pada prinsipnya segala sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dinyatakan sebagai peninggalan.selama masih ada suaminya." (alBaqarah: 233) Untuk lebih menjelaskan permasalahan tersebut perlu saya ketengahkan satu contoh kasus supaya hikmah Allah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya akan terasa lebih jelas dan nyata. khususnya dalam hal sandang. Jadi.

dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Artinya. maka di kalangan ulama ada sedikit perbedaan pandangan. sejak wafatnya hingga pemakamannya. Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya. biaya pemakaman." Maksud hadits ini adalah utang piutang yang bersangkutan dengan sesama manusia. Kalangan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa ahli warisnya tidaklah diwajibkan untuk menunaikannya. atau belum memenuhi kafarat (denda). Adapun jika utang tersebut berkaitan dengan Allah SWT. biaya memandikan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum utang piutangnya ditunaikan terlebih dahulu. 2.: "Jiwa (ruh) orang mukmin bergantung pada utangnya hingga ditunaikan. dengan catatan tidak boleh berlebihan. seperti belum membayar zakat. Sedangkan jumhur ulama berpendapat wajib bagi ahli warisnya untuk 13 . Di antaranya. pembelian kain kafan. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit. baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya. Hendaklah utang piutang yang masih ditanggung pewaris ditunaikan terlebih dahulu. Satu hal yang perlu untuk diketahui dalam hal ini ialah bahwa segala keperluan tersebut akan berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan mayit.1. atau belum menunaikan nadzar.

anak perempuan. Rinciannya seperti berikut: 1.menunaikannya sebelum harta warisan (harta peninggalan) pewaris dibagikan kepada para ahli warisnya.. Anak perempuan (kandung) mendapat bagian separo harta peninggalan pewaris. seperdelapan (1/8). sepertiga (1/3). satu dari golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. baik anak keturunan itu dari suami tersebut ataupun bukan. cucu perempuan keturunan anak laki-laki. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. yaitu setengah (1/2). dan seperenam (1/6). seperempat (1/4). a.. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan.. Dalilnya adalah firman Allah: ". Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci.. dengan dua syarat: 14 . bila mereka (para istri) tidak mempunyai anak ." (an-Nisa': 12) 2. PEMBAGIAN WARIS MENURUT PANDANGAN ISLAM JUMLAH bagian yang telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam. dua per tiga (2/3). Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Setengah Ashhabul furudh yang berhak mendapatkan separo dari harta waris peninggalan pewaris ada lima. C. dan saudara perempuan seayah. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. siapa saja ahli waris yang termasuk ashhabul furudh dengan bagian yang berhak ia terima. saudara kandung perempuan. dan bagi kalian (para suami) mendapat separo dari harta yang ditinggalkan istri-istri kalian. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami.

). Maka firman-Nya "yushikumullahu fi auladikum". Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapat bagian separo. Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal). Saudara kandung perempuan akan mendapat bagian separo harta warisan. Pewaris tidak mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. dan hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. mencakup anak dan anak lakilaki dari keturunan anak. 4. penj. Dalilnya adalah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang. b. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki). dengan tiga syarat: a. Dalilnya sama saja dengan dalil bagian anak perempuan (sama dengan nomor 2). c. b. Apabila pewaris tidak mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki. dengan tiga syarat: a. Apabila anak perempuan itu adalah anak tunggal.a. 15 . maka ia mendapat separo harta warisan yang ada". 3. Sebab cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki sama kedudukannya dengan anak kandung perempuan bila anak kandung perempuan tidak ada. maka anak perempuan pewaris tidak mendapat bagian setengah. Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki. Bila kedua persyaratan tersebut tidak ada.

d.'" (an-Nisa': 176) 5. Ia hanya seorang diri (tidak mempunyai saudara perempuan). Rinciannya sebagai berikut: 16 . dan tidak pula anak. b. baik anak laki-laki maupun perempuan. Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakek. dan tidak pula mempunyai keturunan. dan hal ini telah menjadi kesepakatan ulama.b.. Apabila ia hanya seorang diri. yaitu suami dan istri. Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki. baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan. Dalilnya sama dengan Butir 4 (an-Nisa': 176). Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperempat Adapun kerabat pewaris yang berhak mendapat seperempat (1/4) dari harta peninggalannya hanya ada dua. dengan empat syarat: a. Saudara perempuan seayah akan mendapat bagian separo dari harta warisan peninggalan pewaris. Dalilnya adalah firman Allah berikut: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Pewaris tidak mempunyai ayah atau kakak. Katakanlah: 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaituj: jika seorang meninggal dunia. c. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. Pewaris tidak mempunyai saudara kandung perempuan. b. c. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya ..

bagian mereka tetap seperempat dari harta peninggalan. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Jadi. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya).. baik anak tersebut lahir dari rahimnya ataupun dari rahim istri lainnya. 17 .. yaitu apabila suami tidak mempunyai anak/cucu. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut: ". maka mereka tetap mendapat seperempat harta peninggalan suami mereka.tentang bagian istri. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak . sekalipun seorang suami meninggalkan istri lebih dari satu." (an-Nisa': 12) Ada satu hal yang patut diketahui oleh kita --khususnya para penuntut ilmu-. Yang dimaksud dengan "istri mendapat seperempat" adalah bagi seluruh istri yang dinikahi seorang suami yang meninggal tersebut. Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat.. Seorang istri akan mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan suaminya dengan satu syarat. yaitu dengan digunakannya kata lahunna (dalam bentuk jamak) yang bermakna 'mereka perempuan'. baik suami meninggalkan seorang istri ataupun empat orang istri..1. Hal ini berdasarkan firman Allah di atas. Dengan kata lain.. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut: ". maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12) 2..

4. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. 2. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. d. Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidak mempunyai saudara laki-laki.. 3. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Dua per Tiga Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat. Jika kamu mempunyai anak. Istri. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Seperdelapan Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri..c. Dalilnya firman Allah berikut: 18 . bila suami mempunyai anak atau cucu." (an-Nisa': 12). Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut: 1. baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya.. yakni anak laki-laki dari pewaris. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Dalilnya adalah firman Allah SWT: ".. dan semuanya terdiri dari wanita: 1. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuh. wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utangutangmu .

. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dari dua'. 2. hal ini merupakan kesepakatan para ulama.a." (anNisa': 11) Ada satu hal penting yang mesti kita ketahui agar tidak tersesat dalam memahami hukum yang ada dalam Kitabullah. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan persyaratan sebagai berikut: 19 . Wallahu a'lam. --sebagaimana diungkapkan dalam bab sebelum ini.". b. baik laki-laki atau perempuan. maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan . dengan persyaratan sebagai berikut: a. Pewaris tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan. c. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki akan mendapatkan bagian dua per tiga (2/3). yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r. Jadi. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini adalah 'dua anak perempuan atau lebih'. Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara lakilaki... melainkan 'dua anak perempuan atau lebih'. Pewaris tidak mempunyai anak kandung. 3. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua.. orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah "anak perempuan lebih dari dua" jelas tidak benar dan menyalahi ijma' para ulama.

" (an-Nisa': 176) 4. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. c. maka bagi keduanya dua per tiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal . atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan).. Sedangkan saudara perempuan seibu 20 .. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidak mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah.. juga tidak mempunyai ayah atau kakek. Persyaratan yang harus dipenuhi bagi dua saudara perempuan seayah untuk mendapatkan bagian dua per tiga hampir sama dengan persyaratan dua saudara kandung perempuan. b. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan. Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. Dan dalilnya sama.. Dalilnya adalah firman Allah: ". hanya di sini (saudara seayah) ditambah dengan keharusan adanya saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan). atau kakek. yaitu ijma' para ulama bahwa ayat ".. b.. tetapi jika saudara perempuan itu dua orang. Pewaris tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Bila pewaris tidak mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan). ayah. c..a. Bila pewaris tidak mempunyai anak." (anNisa': 176) mencakup saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah.. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapat bagian dua per tiga dengan syarat sebagai berikut: a.

.. Dalilnya adalah firman Allah: "... e. (3) ibu.. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. 2. (2) kakek asli (bapak dari ayah). Asbhabul Furudh yang Mendapat Bagian Seperenam Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang.tidaklah termasuk dalam pengertian ayat tersebut. Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). maka ibunya mendapat seperenam. dan jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja).. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara." (an-Nisa': 11). (4) cucu perempuan 21 . Ashhabul furudh yang Berhak Mendapat Bagian Sepertiga Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. F. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: 1." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya: ".. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. Wallahu a'lam. maka ibunya mendapat sepertiga. Mereka adalah (1) ayah..

seayah. (6) nenek asli. baik anak laki-laki atau anak perempuan. jika yang meninggal itu mempunyai anak . kecuali dalam tiga keadaan yang akan saya rinci dalam bab tersendiri. Dalilnya firman Allah (artinya): ". maka ibunya mendapat seperenam . Dalilnya firman Allah (artinya): ".. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara." (an-Nisa': 11) 2. 3.. b. 4. baik saudara laki-laki ataupun perempuan. Jadi. 1. apabila yang 22 . ataupun seibu. dalam keadaan demikian salah seorang kakek akan menduduki kedudukan seorang ayah. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.... Bila pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih. Bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki keturunan anak laki-laki. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu... Seorang ayah akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak. baik sekandung. dengan dua syarat: a. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih akan mendapat bagian seperenam (1/6). (5) saudara perempuan seayah. Ibu akan memperoleh seperenam (1/6) bagian dari harta yang ditinggalkan pewaris.keturunan anak laki-laki. Dan untuk dua orang ibu bapak.. Seorang kakek (bapak dari ayah) akan mendapat bagian seperenam (1/6) bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki dari keturunan anak --dengan syarat ayah pewaris tidak ada." (an-Nisa': 11).

bagi anak perempuan separo (1/2) harta peninggalan pewaris. dan cucu perempuan dari keturunan anak lakilaki pewaris mendapat seperenam (1/6).. dan sisanya menjadi bagian saudara perempuan pewaris. ditanya tentang masalah warisan seseorang yang meninggalkan seorang anak perempuan. Dalam keadaan demikian.meninggal (pewaris) mempunyai satu anak perempuan. dan yang setengah sisanya menjadi bagian saudara perempuan. anak perempuan tersebut mendapat bagian setengah (1/2).a. sang penanya pergi mendatangi Ibnu Mas'ud. cucu perempuan dari keturunan anak lakilakinya." Mendengar menemui jawaban Abu Ibnu Mas'ud. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya bahwa Abu Musa al-Asy'ari r. dan bagi cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat bagian seperenam (1/6) sebagai pelengkap 2/3. Abu Musa kemudian menjawab: "Bagi anak perempuan mendapat bagian separo (1/2). Maka Ibnu Mas'ud berkata: "Aku akan memutuskan seperti apa yang pernah diputuskan Rasulullah saw. dan saudara perempuan. sebagai pelengkap dua per tiga (2/3). al-Asy'ari sang dan penanya memberi kembali tahu Musa permasalahannya. 23 . Kemudian Abu Musa berkata: "Janganlah sekali-kali kalian menanyaiku selama sang alim ada di tengahtengah kalian." Merasa kurang puas dengan jawaban Abu Musa.

yang berarti apabila ucapan atau cara jalan seorang laki-laki menyerupai wanita: lembut dan melenggaklenggok. artinya tidak ada kejelasan. setiap insan seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Misalnya. HAK WARIS BANCI DAN WANITA HAMIL a. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Oleh karena itu. khanatsa wa takhannatsa. bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. adanya dua jenis kelamin pada seseorang --atau bahkan sama sekali tidak ada-. Definisi Banci Pengertian al-khuntsa (banci) dalam bahasa Arab diambil dari kata khanatsa berarti 'lunak' atau 'melunak'. Keadaan yang kedua ini menurut para fuqaha dinamakan khuntsa musykil. bersabda: "Allah SWT melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. 24 . Sebab.-disebut sebagai musykil." Adapun makna khanatsa menurut para fuqaha adalah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita (hermaphrodit). atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Karenanya dalam hadits sahih dikisahkan bahwa Rasulullah saw.D.

maka ia divonis sebagai khuntsa musykil. Amir kemudian memvonisnya sebagai laki-laki dan perempuan. dan tidak menerima vonis tersebut. maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Dikisahkan bahwa Amir bin adz-Dzarb dikenal sebagai seorang yang bijak pada masa jahiliah. atau mengenali tandatanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Suatu ketika ia dikunjungi kaumnya yang mengadukan suatu peristiwa. apakah tumbuh payudaranya. penj. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. apakah ia haid atau hamil. Melihat sang majikan gelisah. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita.Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. bahwa ada seorang wanita melahirkan anak dengan dua jenis kelamin. bagaimana cara ia bermimpi dewasa (maksudnya mimpi dengan mengeluarkan air mani. dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh. Bila urinenya keluar dari penis. apakah ia tumbuh kumis. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. Di samping melalui cara tersebut.). Namun. Misalnya. budak 25 . dan sebagainya. Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu orang-orang Arab meninggalkannya. Amir pun menjadi gelisah dan tidak tidur sepanjang malam karena memikirkannya.

2." b." Ternyata vonis ini diterima secara aklamasi. Bila keluar dari penis. pendapat pendapat mayoritas sahabat. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Perbedaan Ulama Mengenai Hak Waris Banci Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini: 1. Maka dengan segera ia menemui kaumnya untuk mengganti vonis yang telah dijatuhkannya. tetapi bila keluar dari vagina. dikukuhkanlah vonis tersebut.a. mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan. Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling (lebih) sebagai salah satu sedikit laki-laki bagiannya atau Imam di Syafi'i antara Dan ini serta keadaannya merupakan wanita. maka ia sebagai lakilaki. ia dinyatakan sebagai perempuan. Ketika Islam datang." Amir merasa puas dengan gagasan tersebut. ketika ditanya tentang hak waris seseorang yang dalam keadaan demikian. Ia berkata: "Wahai kaumku. dan budak wanita itu berkata: "Cabutlah keputusan tadi. kemudian disatukan dan 26 . dan vonislah dengan cara melihat dari mana keluar air seninya. Maksudnya. bahwa Rasulullah saw. Mazhab Maliki berpendapat.wanita yang dimiliki Amir dan dikenal sangat cerdik menanyakan sebab-sebab yang menggelisahkan majikannya. Akhirnya Amir memberitahukan persoalan tersebut kepada budaknya. maka beliau menjawab dengan sabdanya: "Lihatlah dari tempat keluarnya air seni. lihatlah jalan keluarnya air seni.

Bahkan. 3. atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya. maka hasilnya menjadi hak/bagian banci. bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya. maka divonis sebagai laki-laki. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi'i. dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata lebih sedikit. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris.hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya --keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas. Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya Untuk banci --menurut pendapat yang paling rajih-. bagian setiap ahli waris dan banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris. 27 .yaitu jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya lebih sedikit. Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan fuqaha mawarits mu'amalah bil adhar-. Mazhab Syafi'i berpendapat. c.dibagi menjadi dua.

sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pokok masalahnya dari empat. ibu. dan sisanya kita bekukan. Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki. saudara laki-laki banci tiga bagian. dan seorang anak banci. Seseorang wafat meninggalkan seorang suami. Kemudian kita menyatukan (al-jami'ah) antara dua masalah. dan bagian anak banci lima. seorang anak perempuan. seperti dalam masalah almunasakhat. 2. Bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki. maka pokok masalahnya dari lima. sedangkan bagian anak perempuan empat. maka gugurlah hak warisnya. Dan al-jami'ah (penyatuan) dari keduanya. menjadilah pokok masalahnya dua puluh empat. bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita).Bahkan dalam mazhab Imam Syafi'i. Beberapa Contoh Amaliah Hak Waris Banci 1. Sisa harta waris yaitu tiga kita bekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Bagian anak laki-laki adalah delapan. dan saudara laki-laki banci. Sedangkan bila sang banci dianggap sebagai laki-laki. ibu enam bagian. Sedangkan pembagiannya seperti berikut: suami sembilan bagian. kemudian di-'aul-kan menjadi delapan. Pokok masalahnya dari enam bila banci itu dikategorikan sebagai wanita. maka pokok masalahnya dari enam tanpa harus di. Inilah tabelnya: 6 Suami 8 3 Suami 1/2 6 3 24 9 28 .'aul-kan.

dan penyatuan dari keduanya menjadi empat belas. Ini tabelnya: 2 Suami 1/2 Sdr. sedangkan yang banci tidak diberikan haknya. dan akan dibagikan kembali ketika keadaan yang sebenamya telah benar-benar jelas. kdg. Adapun sisanya. saudara kandung perempuan enam bagian. kdg. saudara kandung perempuan. pr. Bagian suami enam. 1 pr. maka pokok masalahnya dua. seayah 1 1/6 29 . pr. 1/2 Banci lk. yakni dua bagian dibekukan. sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pokok masalahnya dari tujuh. 3. 1 6 Suami 1/2 7 3 14 6 6 - Sdr. Maka pembagiannya seperti berikut: Bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki. Seseorang wafat dan meninggalkan suami.1/2 Ibu 1/3 Banci 2 3 Ibu 1/3 Banci kandung 2 1 6 4 Pada tabel tersebut sisa harta yang ada yaitu lima bagian dibekukan sementara. 1/2 3 Sdr. dan saudara laki-laki seayah banci.

tetapi tidak memiliki kewajiban untuk mengeluarkan nafkah. tampak secara jelas bahwa kaum wanita justru lebih banyak mengenyam kenikmatan dan lebih enak dibandingkan kaum laki-laki. Hukum Islam telah menetapkan bahwa bagian kaum laki-laki dua kali lipat lebih besar daripada bagian kaum wanita. Islam telah menyelimuti kaum wanita dengan rahmat dan keutamaannya. Sebab. berupa memberikan hak waris kepada kaum wanita melebihi apa yang digambarkan. Artinya. 30 .BAB III PENUTUP A. Dengan demikian. kaum wanita sama-sama menerima hak waris sebagaimana halnya kaum laki-laki. kaum wanita berhak untuk mendapatkan hak waris. namun mereka tidak terbebani dan tidak berkewajiban untuk menanggung nafkah keluarga. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penulisan tersebut diatas. maka didapat kesimpulan sebagai berikut: a.

baik seorang maupun lebih akan mendapatkan seperdelapan dari harta peninggalan suaminya. Adapun ashhabul furudh yang berhak mendapatkan warisan sepertiga bagian hanya dua. Dari sederetan ashhabul furudh yang berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih. baik anak atau cucu tersebut dari darah dagingnya ataupun dari suami lain (sebelumnya). ii. Seorang suami berhak untuk mendapatkan separo harta warisan. 2. Dalam pembagian waris: 1. dan semuanya terdiri dari wanita: • • • • Dua anak perempuan (kandung) atau lebih. Pewaris tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki. Ahli waris yang berhak mendapat bagian dua per tiga (2/3) dari harta peninggalan pewaris ada empat.b. yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-lakinya. Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih. dengan syarat apabila pewaris tidak mempunyai keturunan. yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yang seibu. 4. Seorang ibu berhak mendapatkan bagian sepertiga dengan syarat: i. baik anak laki-laki maupun anak perempuan. bila suami mempunyai anak atau cucu. 31 . Pewaris tidak mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan). Seorang suami berhak mendapat bagian seperempat (1/4) dari harta peninggalan istrinya dengan satu syarat. 3. Istri. baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau dari rahim istri yang lain. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.

Namun. c. ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Mereka adalah (1) ayah. bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan. (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki. (6) nenek asli. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina. Bila urinenya keluar dari penis. misalnya dengan mencari tahu dari mana ia membuang "air kecil". (2) kakek asli (bapak dari ayah). maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki.Adapun asbhabul furudh yang berhak mendapat bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu. (5) saudara perempuan seayah. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan. (3) ibu. Adanya dua jenis kelamin pada seseorang atau bahkan sama sekali tidak ada disebut sebagai musykil. kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi. maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh 32 .

1995. “Pembagian Waris Menurut Islam”. Gema Insani. www.DAFTAR PUSTAKA Ali ash-Shabuni Muhammad. Jakarta.com 33 .wikipedia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->