P. 1
praktek lapang NILAM

praktek lapang NILAM

|Views: 277|Likes:
Published by Dia Lawan

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Dia Lawan on Oct 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2014

pdf

text

original

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA 2009 BAHAN SEMINAR PRAKTEK LAPANG Judul

Seminar Pemrasaran Pembimbing Hari/TGL/Jam Tempat : Proses Pengolahan Minyak Nilam pada Nilam Jaya Desa Babah IE Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh jaya : Rahmayatti / 0605105010020 : Santi Noviasari, S.TP : Senin,12 April 2010/ 10.00-selesai WIB : Ruang Seminar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasaran dunia dengan kontribusi 90%. Ekspor minyak nilam pada tahun 2002 sebesar 1.295 ton dengan nilai US $ 22,5 juta Sebagian besar produk minyak nilam diekspor untuk dipergunakan dalam industri parfum, kosmetik, antiseptik dan insektisida (Mangun, 2005). Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA diatas 30%, berwarna kuning jernih dan memilki wangi dan khas dan sulit dihilangkan. Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap kering yang dihasilkan mesin penghasil uap yang diteruskan kedalam tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang ditimbulkan dan diteruskan kebagian pemisahan untuk dilakukan pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya digunakan untuk menyuling nilam saja (Anonim, 2002). Pada industri penyulingan minyak nilam Bapak Hasan Arsyad menggunakan penyulingan nilam dengan uap. Air dan bahan diletakkan pada tempat terpisah. Air dimasukkan kedalam ketel air, dimana pada ketel terdapat tungku yang dihubungkan oleh pipa. Uap panas akan melewati pipa guna untuk menembus bahan atau daun. Kapasitas alat penyulingan ini sebanyak 25 Kg daun nilam. Alat yang digunakan terbuat dari bahan anti karat. Sedangkan alat tempat masuknya air adalah berupa drum besar. B. TUJUAN Kegiatan praktek lapang ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui secara langsung proses pengolahan minyak nilam pada Nilam Jaya Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya

RUANG LINGKUP Kegiatan praktek lapang yang dilaksanakan pada Nilam jaya meliputi beberapa aspek, yaitu:

1. Bahasan Baku dan Bahan Pendukung.
2. Jenis dan fungsi peralatan produksi. 3. Proses pengolahan minyak nilam. 4. Proses pengemasan minyak nilam 5. Proses penyimpanan minyak nilam 6. Proses pemasaran minyak nilam METODE Metode pengambilan data yang akan dilaksanakan pada praktek lapang pada Nilam Jaya meliputi pengambilan data primer dengan observasi lapangan dan wawancara langsung dengan pimpinan dan karyawan perusahaan,. TEMPAT DAN WAKTU 1. Tempat Kegiatan praktek lapang ini telah dilaksanakan pada Nilam Jaya Jalan Banda Aceh-Calang Desa Babah IE Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. 2. Waktu Kegiatan ini telah dilaksanakan pada 20 Agustus 2010 sampai dengan 8 September 2010. II. TINJAUAN PUSTAKA Tanaman nilam (Pogostemon patchouli atau disebut juga sebagai Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman perdu wangi berdaun halus dan berbatang segi empat, daun kering tanaman ini disuling untuk mendapatkan minyak nilam (Patchouli oil) yang banyak diguanakan dalam berbagai kegiatan industri. Fungsi utama minyak nilam sebagai bahan baku pengikat (fiksatif) (Mangun, 2005). Minyak nilam terdiri dari komponen-komponen yang bertitik didih tinggi sehingga baik dipakai sebagai pengikat dalam parfum dan dapat membentuk bau yang harmonis. Zat pengikat adalah suatu persenyawaan yang mempunyai daya mengikat lebih rendah atau titik uapnya lebih tinggi daripada zat penwangi, sehingga kecepatan penguapan zat pewangi dapat dikurangi dan dihambat. Komponen utama minyak nilam (diperoleh dari penyulingan daun nilam) berupa pachoully alcohol (45 - 50%), sebagai penciri utama. Bahan industri kimia penting lain meliputi patchoully camphor, cadinene, benzaldehyde, eugenol, dan cinnamic aldehyde(Nuryani Y., 2001).

1

III. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Lokasi dan Tata letak Pabrik Ketel Hasan Arsyad, terletak di Desa Babah IE Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Tempat penyulingan nilam ini terletak di atas areal yang luasnya + 1 Ha, di atasnya terdapat tempat pengolahan minyak nilam beserta perkebunan nilam. B. Sejarah Perkembangan Pabrik Ketel Nilam Jaya ini didirikan pada tahun 2008, yang dipimpin oleh Bapak Hasan Arsyad. Awalnya tempat ini adalah perkebunan nilam yang luasnya ± 1 Ha. Modal awal yang digunakan oleh Bapak Hasan Arsyad dalam membangun usaha ini adalah sekitar Rp 10.000,00-. Alat yang digunakan pada industri ini masih sangat manual dan hanya dapat menyuling minyak nilam 80 kg perharinya. Begitu juga dengan tenaga kerja yang dimiliki hanya 10 orang saja. Minyak nilam yang telah dihasilkan nantinya akan dijual kepada penampung minyak Nilam yang ada di Lamno. Ketenagakerjaan Pada Ketel Hasan Arsyad, saat ini hanya mempekerjakan 10 orang karyawannya yang bertugas menangani proses produksi yaitu pada saat pengisian bahan baku ke dalam ketel suling, menjaga tungku perapian pada ketel penyulingan dan mengeluarkan ampas nilam setelah proses penyulingan selesai. Tenaga kerja yang dimiliki berasal dari masyarakat sekitar. Penyulingan ini dilakukan setiap hari, dari jam 08.00-12.00 dan jam 14.00-18.00. Struktur Organisasi Bentuk struktur organisasi pada industri ini adalah bentuk perorangan dimana hanya terdiri dari 1 orang pemimpin yang hanya memimpin 10 orang tenaga kerja. IV. PROSES PENGOLAHAN DAUN NILAM MENJADI MINYAK NILAM A. Nilam Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang dan cabang tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchouli yang berkisar antara 30 – 50 %. Aromanya segar dan khas dan mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis. B. Bahan Baku dan Bahan Pendukung a. Bahan Baku Pada proses produksi bahan baku utama yang digunakan adalah daun nilam. Daun nilam yang digunakan pada industri ini berasal dari kebun sendiri. Berikut adalah langkah langkah yang dilakukan dalam penanganan daun nilam mulai dari panen hingga pasca panen:

Panen Panen merupakan hasil yang diperoleh setelah menunggu beberapa bulan yang dihabiskan selama budi daya. Pemanenan daun nilam dilakukan setelah tanaman berumur 6 bulan. Pemotongan dilakukan dengan cara memotong ranting dan daun setinggi minimal 15 cm. Pemotongan dilakukan sebelum daun berwarna coklat, karena daun yang telah berubah menjadi warna coklat akan kehilangan sebagian minyak oleh pengaruh panas dan cuaca. 2. Pasca Panen Pasca panen merupakan kegiatan yang dilakukan setelah pemanenan nilam kegiatan pasca panen terdiri dari penjemuran dan perawatan tanaman. 1). Proses Pemotongan dan Penjemuran Hasil panen berupa daun basah yang terdiri dari daun, ranting, dahan dan batang yang dipotong atau dicincang berukuran 10-15 cm. Pemotongan dilakukan secara manual. Setelah itu, daun di jemur dibawah sinar matahari sekitar 4 jam sehari selama 2 sampai 3 hari, yaitu dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB. Penjemuran daun nilam dilakukan dengan meletakkan daun diatas lantai semen yang bersih. Penjemuran dilakukan pada lahan terbuka agar memperoleh sinar matahari secara langsung. Daun nilam di jemur sambil di angin-anginkan dengan ketebalan lapisan maksimal 50 cm. Lapisan daun harus di bolak-balik sebanyak 2 kali sehari selama 2 sampai 3 hari agar daun kering secara merata. 2). Perawatan Tanaman Pasca Panen Pemeliharan pada nilam dilakukan agar panen berikutnya sesuai dengan harapan maka perlu pembumbunan, pemupukan serta penyiraman yang teratur agar segera diperoleh daun dan ranting serta dahan yang baru. Jika hal ini dilakukan secara teratur maka hasil panen pada tahap berikutnya dapat dihasilkan lebih baik dalam volume dan kualitas yang baik. b. Bahan Pendukung Bahan pendukung yang digunakan untuk membantu proses penyulingan ini adalah air. Dimana pada industri ini menggunakan metode penyulingan minyak nilam yaitu dengan metode uap. Jenis dan Fungsi Peralatan Produksi Alat-alat yang diperlukan untuk penyulingan tergantung pada banyaknya bahan dan cara penyulingan yang dilakukan. Ada tiga bagian alat utama alat penyulingan dengan menggunakan metode uap yaitu: 1. Ketel Suling (retort) 2. Pendingin (kondensor) 3. Penampung hasil kondensasi Ketiga alat tersebut diperlukan pada proses penyulingan uap dengan metode penyulingan uap berlangsung.

C.

D.

2

1. Ketel Suling (retort) Ketel suling atau biasanya disebut tangki berfungsi sebagai wadah tempat air atau uap untuk mengadakan kontak dengan bahan, serta untuk menguapkan minyak atsiri. Ketel suling ini berbentuk silinder atau tangki, yang mempunyai diameter sama atau lebih kecil dari tinggi tangki. 2. Pendingin (kondensor) Kondensor merupakan salah satu perlengkapan penyulingan. Ukuran dan bentuk kondensor ini bermacam-macam. Kondensor berfungsi untuk mengubah seluruh uap air dan uap minyak menjadi fase cair. Jumlah panas yang dikeluarkan pada peristiwa kondensasi sebanding dengan panas yang diperlukan untuk penguapan minyak dan uap air serta sejumlah kecil panas tambahan yang dikeluarkan untuk menjaga supaya suhunya dibawah titik didih. 3.Penampung Hasil kondensasi Hasil kondensasi ditampung dengan alat pemisah minyak dan air. Dalam proses pemisahan minyak dan air terdapat 2 kemungkinan, yaitu lapisan minyak diatas air atau sebaliknya. D. Persiapan Sebelum Penyulingan Pada industri Nilam Jaya daun nilam yang akan disuling dipotong terlebih dahulu sebelum dikeringkan pada panas matahari. Proses pemotongan ini bertujuan supaya kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak mungkin. Ukuran ketebalan bahan tempat terjadinya difusi akan berkurang, sehingga pada penyulingan, laju penguapan minyak atsiri dari bahan menjadi cukup cepat. Bahkan pada tanaman yang dirajangpun, hanya sebagian besar masih tetap bersatu dengan partikel hasil rajangan. Minyak yang telah dibebaskan dapat segera dipisahkan dari tanaman dengan cara penguapan. Kemudian setelah dipotong daun nilam dijemur dibawah sinar matahari selama 2-3 hari. Pelayuan dan pengeringan bertujuan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan sehingga penyulingan berlangsung lebih mudah dan lebih singkat. Selain itu juga untuk menguraikan zat yang tidak berbau wangi menjadi berbau wangi. E. Proses Pengolahan Minyak Nilam Pada industri Nilam Jaya menggunakan metode penyulingan dengan uap. Air dan bahan diletakkan pada tempat terpisah. Air dimasukkan kedalam ketel air, dimana pada ketel terdapat tungku yang dihubungkan oleh pipa. Uap panas akan melewati pipa guna untuk menembus bahan atau daun nilam. Kapasitas alat penyulingan ini sebanyak 25 kg daun nilam. Alat yang digunakan terbuat dari bahan anti karat (seperti stainless steel), sedangkan alat tempat masuknya air adalah berupa drum besar . G. Proses Akhir Penyulingan Waktu yang dibutuhkan pada proses penyulingan di Industri Nilam Jaya terkadang diperpanjang atau lebih dari 4 jam. Hal ini disebabkan minyak nilam memiliki titik didih yang tinggi dan jumlah kandungan minyak dalam setiap daun nilam berbeda-beda. Biasanya perpanjangan waktu penyulingan ini dapat dilihat dari masih adanya minyak yang keluar dari kondensor. F. Perlakuan Terhadap Minyak Atsiri

Minyak akan mengalami kerusakan jika tidak langsung dipisahkan dengan air, ini disebabkan air suling selalu jenuh dengan minyak, dan minyak hasil kondensasi akan selalu jenuh pula dengan air. Sehingga terjadinya reaksi antara minyak dan air tersebut. Dan dilakukan pemisahan secara manual berdasarkan bobot jenis. G. Perlakuan pada Air Suling Air suling hasil pemisahan air dan minyak masih mengandung sebagian kecil minyak, baik dalam bentuk terlarut ataupun suspensi, dan jumlahnya tergantung pada kelarutan dan bobot jenis komponen minyak tersebut. Air suling ini tidak hanya mengandung minyak tetapi juga mengandung emulsi dalam jumlah yang sedikit. Hal ini dapat dilihat dari warna air suling yang memiliki warna yang keruh dan kotor. Ini sangat terlihat jelas kotoran yang ditimbulkan selama penyulingan minyak berlangsung. H. Perlakuan terhadap Limbah Daun Nilam Limbah yang diperoleh dari ampas daun nilam setelah penyulingan selesai biasanya limbah ini langsung dibuang begitu saja pada tempat pembuangan ampas ini. Limbah ini dibuang begitu saja dan di tempatkan di halaman belakang industri, sehingga hal ini kurang baik bagi kebersihan tempat penyulingan. Kini tumpukan limbah ini sudah sangat banyak.

IV. PEMBAHASAN

A. Persyaratan Teknis Produksi
Salah satu persyaratan teknis produksi yang menjadi perhatian utama menyangkut pertimbangan penentuan lokasi tempat penyulingan. Terkait dengan hal-hal yang menyangkut kondisi teknis dan ekonomis, mulai pada proses awal penyulingan sampai dengan hasil akhir yang akan dicapai, hal yang menjadi pertimbangan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Lokasi penyulingan dengan sumber bahan baku berdekatan. 2. Secara teknis dan ekonomis. 3. Dilakukan pelatihan pada operator alat penyulingan sebelum menjalankan alat. 4. Ketersediaan rangkaian peralatan utama untuk proses penyulingan terdiri dari boiller, yang berfungsi sebagai generator pembangkit uap untuk memasak atau mengukus bahan.

B. Persiapan sebelum penyulingan
Menurut Mangun (2005), pemanenan daun nilam sebaiknya dilakukan pagi hari, atau menjelang petang, ketika musim kering. Maksudnya agar daun tetap mengandung minyak atsiri tinggi (2,5 – 5%). Pada industri Nilam Jaya pemetikan cabang atau ranting dari batang nilam dilakukan dari daun tingkat dua keatas. Sementara cabang atau ranting tingkat pertama ditinggalkan untuk pertumbuhan ranting atau nilam yang baru

3

Penelitian Nurdjanah dan Ma’mun (1994) menyatakan bahwa daun nilam yang tanpa dijemur atau dianginkan selama 2 minggu menghasilkan produksi lebih tinggi yaitu 29,7 ml/2 kg bahan sedangkan dengan dijemur selama 4 jam di panas matahari menghasilkan minyak nilam 27,0 ml/2 kg bahan. Pengeringan langsung dibawah sinar matahari juga menyebabkan sebagian minyak nilam akan turut menguap, dan pengeringan yang terlalu cepat menyebabkan daun menjadi rapuh dan sulit disuling. Sebaliknya bila penyulingan terlalu lambat daun akan menjadi lembab dan timbul bau yang tidak disenangi akibat adanya kapang, sehingga mutu minyak yang dihasilkan akan menurun. Pengeringan nilam dilakukan dengan dihamparkan diatas tikar dan dibalik dari waktu ke waktu supaya keringnya merata dan terhindar dari proses fermentasi dan harus dihindari penumpukan bahan dalam keadaan basah. Tergantung dari teriknya matahari dan kelembaban udaranya. Tanda pengeringan sudah cukup apabila sudah timbulnya bau nilam yang lebih keras dan khas bila dibandingkan daun segar.

Pada industri Nilam Jaya limbah yang diperoleh dari ampas daun nilam setelah penyulingan selesai biasanya limbah ini langsung dibuang begitu saja pada tempat pembuangan ampas.

V. PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan yang didapat dari hasil praktek lapang berdasarkan uraian sebelumnya adalah sebagai berikut: 1. Ketel Hasan Arsyad, terletak di Desa Babah IE Kecamatan Jaya,Kabupaten Aceh Jaya. Tempat penyulingan nilam ini terletak di atas areal yang luasnya + 1 Ha, di atasnya terdapat tempat pengolahan minyak nilam beserta perkebunan nilam. Nilam yang diolah berasal dari kebun sendiri. 2. Pemanenan daun nilam dilakukan setelah tanaman berumur 6 bulan. Pemotongan dilakukan dengan cara memotong ranting dan daun setinggi minimal 15 cm, sebelum daun berwarna coklat. 3. Pada Industri Nilam Jaya metode yang digunakan penyulingan dengan uap, dengan banyaknya bahan 25 kg dan hasil yang diperoleh 1-2 kg minyak nilam. 4. Minyak nilam yang dihasilkan masih memiliki mutu yang rendah hal ini dapat dilihat dari warna minyak masih kuning kecoklatan, minyak nilam yang bagus memiliki warna yang kuning B. Saran Tempat pembuangan ampas nilam hasil penyulingan sebaiknya dibuang lebih jauh dari tempat penyulingan sehingga tidak mengganggu atau ampas ini juga dapat diolah menjadi pupuk bagi tanaman atau sebagai bahan bakar.

C. Proses Penyulingan Minyak Nilam
Menurut Mangun (2005). Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara direbus (dengan air), penyulingan air dan uap, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan direbus (dengan air), daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Ketel dibuat dari bahan antikarat, seperti stainless steel, besi, atau tembaga berlapis aluminium. Pada industri Nilam Jaya penyulingan minyak menggunakan penyulingan dengan uap. Air dan bahan diletakkan pada tempat terpisah. Air dimasukkan kedalam ketel air, dimana pada ketel terdapat tungku yang dihubungkan oleh pipa. Uap panas akan melewati pipa guna untuk menembus bahan atau daun nilam. Kapasitas alat penyulingan ini sebanyak 25 kg daun nilam. Alat yang digunakan terbuat dari bahan anti karat (seperti stainless steel), sedangkan alat tempat masuknya air adalah berupa drum besar.

D. Proses Akhir Penyulingan
Penanganan minyak atsiri harus dilakukan dengan baik, karena mudah mengalami kerusakan terutama jika disimpan dalam jangka waktu yang lama (Ketaren, 1985). Pada industri Nilam Jaya air suling hasil pemisahan air dan minyak masih mengandung sebagian kecil minyak, baik dalam bentuk terlarut ataupun suspensi, dan jumlahnya tergantung pada kelarutan dan bobot jenis komponen minyak tersebut. Minyak yang dihasilkan di Industri Nilam Jaya masih memiliki mutu yang rendah hal ini dapat dilihat dari warna minyak masih kuning kecoklatan, minyak nilam yang bagus memiliki warna yang kuning. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai bagaimana penyulingan minyak nilam yang baik dan benar. E. Perlakuan Terhadap Limbah Daun Nilam Menurut Manoi (2007), limbah hasil proses minyak nilam banyak dijumpai di industri penyulingan minyak nilam. Besarnya volume limbah nilam seringkali menjadi masalah bagi pihak industri pengolahan itu sendiri maupun lingkungan.

4

DAFTAR PUSTAKA Ketaren. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. PN Balai Pustaka, Jakarta. Mangun. 2005. Nilam. Penebar Swadaya, Jakarta. Mangun. 2005. Nilam. Penebar Swadaya, Jakarta. Manoi, F. 2007. Perkembangan Teknologi Pengolahan Perkembangan Teknologi Pengolahan Minyak Nilam Serta Pemanfaatan Limbahnya. http://www.adobe.com/products/acrobat/messaging/mobile.html [16 November 2009]. Nuryani, Y,. 2001. Investasi Nilam http://login.yahoo.com/config/login?.src=slv&.done=file%3a%2f%2f %2fD%3a%2fPL%2520terbaru%2520gw%2fsanti%2520poe%2fotisdap.html [7 Juli 2009].

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->