P. 1
Pendidikan Keluarga

Pendidikan Keluarga

|Views: 192|Likes:
Published by Dede Rusnadi

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Dede Rusnadi on Oct 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan wadah fundamental. pembentukan Keluarga pada hakekatnya merupakan masing-masing

anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orangtuanya. Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan intelektual. Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut dalam keadaan sehat jiwanya. Dalam perkembangan jiwa terdapat periode-periode kritik yang berarti bahwa bila periode-periode ini tidak dapat dilalui dengan harmonis maka akan timbul gejala-gejala yang menunjukkan misalnya keterlambatan, ketegangan, kesulitan penyesuaian diri kepribadian yang terganggu bahkan menjadi gagal sama sekali dalam tugas sebagai makhluk sosial untuk mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang di lingkungannya. Keluarga masyarakat merupakan tetapi kesatuan yang terkecil yang di dalam dan menepati kedudukan primer

fundamental, oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya. Keluarga yang gagal memberi cinta kasih dan perhatian akan meupuk kebencian, rasa tidak aman dan tindak kekerasan kepada anak-anaknya. anak-anak terperosok atau tersesat jalannya Sekolah sering dijadikan tumpuan masyarakat dalam menilai berhasil tidaknya pendidikan. Keberhasilan atau prestasi belajar
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 1

Demikian

pula

jika

keluarga

tidak

dapat

menciptakan suasana pendidikan, maka hal ini akan menyebabkan

siswa hanya sering dilihat sebagai kesuksesan dan keunggulan pihak sekolah semata. Sebaliknya, kegagalan atau rendahnya kualitas siswa sering dilihat sebagai ketidakmampuan pihak sekolah dalam menyelenggarakan proses pendidikan. Dengan kata lain masyarakat banyak beranggapan bahwa sekolah adalah “couse prima” kualitas pendidikan. Pernyataan legal formal tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya bertumpu dan menjadi tanggung jawab sekolah, yang sebagian besar diselenggarakan oleh pemerintah. Peran serta aktif masyarakat dan keluarga sangat dibutuhkan dalam menentukan kualitas produk. Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri menyelenggarakan proses pendidikan. Keluarga dan masyarakat juga tidak bisa lari meninggalkan tanggung jawab pendidikan. Ketiga pusat pendidikan tersebut harus bekerjasama, kompak, dan secara simultan bertanggung jawab terhadap proses pendidikan. Keberhasilan dan kegagalan pendidikan harus di mengerti sebagai kebanggaan dan keprihatinan bersama. Menurut UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 BAB VI Pasal 27 ayat 1 dijelaskan bahwa Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan dalam keluarga memang telah memberikan segala jenis pendidikan, akan tetapi untuk ini pendidikan yang diberikan hanyalah dasardasarnya saja. Oleh karena itu, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi perkembangan anak. Pendidikan yang pertama merupakan pondasi bagi pendidikan selanjutnya. Semua jenis pendidikan masih dikembangkan dan disempurnakan di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 2

Memang hingga saat ini kerjasama antara keluarga dengan institusi pendidikan formal dirasakan belum ada. Disisi lain, institusi pendidikan formal mempunyai kurikulum sendiri yang kadang kala tidak sesuai dengan keinginan keluarga. Disinilah pentingnya sinkronisasi agar tidak terjadi tabrakan.

B. Rumusan Masalah Materi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah “Pendidikan Keluarga”. Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka masalah yang akan dibahas kami batasi pada : 1. Apa itu pendidikan keluarga? 2. Sejauh mana pentingnya pendidikan keluarga? 3. Bagaimana peranan orang tua dalam keluarga? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari pendidikan keluarga 2. Untuk mengetahui sejauhmana pentingnya pendidikan di dalam keluarga 3. Untuk mengetahui apa saja jenis pendidikan keluarga dan apa saja peranan orang tua dalam pendidikan keluarga. D. Metode Penulisan Dalam proses penyusunan makalah ini kami menggunakan metode study literature. Yaitu dengan melakukan proses pencarian dan pengumpulan dokumen sebagai sumber-sumber data dan informasi. Metode ini dipilih karena pada hakekatnya sesuai dengan kegiatan penyusunan dan penulisan yang hendak dilakukan.

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

3

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian Pendidikan Keluarga Kata pendidikan menurut etimologi berasal dari kata dasar didik. Apabila diberi awalan me, menjadi mendidik maka akan membentuk kata kerja yang berarti memelihara dan member latihan (ajaran). Sedangkan bila berbentuk kata benda akan menjadi pendidikan yang memiliki arti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Sementara itu, kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit social terkecil dalam masyarakat. Keluarga juga dapat diartikan sebagai suatu organisasi bio-psiko-sosial-spiritual, dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan perkawinan dan bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturahmi.

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

4

Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

B. Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Pendidikan keluarga merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional Indonesia. Oleh karena itu norma-norma hukum yang berlaku bagi pendidikan di Indonesia juga berlaku bagi pendidikan dalam keluarga. Dasar hukum pendidikan di Indonesia dibagi menjadi tiga dasar yaitu dasar hukum ideal, dasar hukum struktural dan dasar hukum operasional. Dasar hukum ideal adalah pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum. Oleh karena itu landasan ideal pendidikan keluarga di indonesia adalah pancasila. Tiap-tiap orang tua mempunyai kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai luhur pancasila pada anak anaknya. Landasan struktural pendidikan di Indonesia adalah UUD 1945. Dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 dijelaskan bahwa setiap warga berhak mendapatkan pengajaran dan pemeritah mengusahakan sistem pengajaran nasional yang diatur dalam suatu perundangundangan. Berdasarkan pasal 31 UUD 1945 itu maka ditetapkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional berdasarkan bab IV, pasal 9 ayat 1 disebutkan bahwa satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah dan di luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan yang sejenis. Selain itu dalam UU SISDIKNAS N0. 20 Tahun 2003 BAB VI Pasal 27 ayat 1 telah dijelaskan bahwa Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 5

kegiatan belajar secara mandiri. Dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa orang tua itu mempunyai wajib hukum untuk mendidik anakanaknya. Berdasarkan TAP MPR No. II/MPR/1988 seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan itu berdasarkan atas pancasila dasar dan falsafah negara. Di samping itu dijelaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu secara operasional pendidikan anak yang berlangsung dalam keluarga, masyarakat dan sekolah merupakan tanggung jawab orang tua juga. Pendidikan dalam keluarga berlangsung karena hukum kodrat. Secara kodrati orang tua wajib mendidik anak. Oleh karena itu orang tua disebut pendidikan alami atau pendidikan kodrat.

C. Peran Orangtua Dalam Keluarga Jika diperhatikan sungguh kehidupan keluarga itu tampak tidak satu tetapi kesatuan. Menurut Driarkara S.Y, kesatuan ini dapat disebut bhineka tunggal (pengasuh majalah basis, 1980, p.96). Bhineka tunggal karena dalam kesatuan hidup terlibat saling hubungan antara ayah-ibu-anak. Oleh karena itu dalam keluarga terjadi strukturalisasi. Dalam strukturalisasi akan terjadi deferensiasi kerja. Pembagian tugas dan peran dalam keluarga membawa konsekuensi dan tanggung jawab pada masing-masing peran itu dalam keluarga. Seperti telah kita katakan di awal bahwa dalam keluarga itu terdapat susunan keluarga yang terdiri orang tua dan anak. Orang tua terdiri dan ayah dan ibu. Bambang Yunawan (1983) menyatakan bahwa susunan anak dalam keluarga terdiri dan anak sulung, anak tengah, anak bungsu dan anak tunggal (Singgih D. Gunarsa, Ny. Y, Singgth D. Gunarsa ed, 1983, p. 174). Sedangkan Agus Suyanto dalam kaitannya anak yang perlu mendapat perhatian adalah anak tiri, anak tunggal, anak sulung,
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 6

anak bungsu dan anak pungut. Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa susunan anak dalam keluarga itu ada kemungkinan hanya ada satu yaitu anak tunggal atau anak pungut atau anak tiri. Ada susunan anak dalam keluarga itu lebih dari dua. Maka dalam keluarga itu akan ada susunan anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Dalam susunan keluarga yang demikian inilah yang memungkinkan terjadi defrensiasi dan stratifikasi tugas dalam keluarga. Sehingga tugas ayah akan berbeda dengan tugas ibu, tugas ayah dan ibu akan berbeda dengan tugas anak, tugas anak, tugas anak tunggal dan berbeda dengan tugas anak dalam keluarga yang jumlah anaknya besar. Anak sulung akan mempunyai tugas yang lain dengan anak bungsu atau anak tengah dan sebagainya.

Peran Ayah Sebagai Pendidik : Peran ayah sebagai pendidik merupakan peran yang

penting. Sebab peran ini menyangkut perkembangan peran dan pertumbuhan pribadi anak. Ayah sebagai pendidik terutama menyangkut pendidikan yang bersifat rasional. Pendidikan mulai diperlukan sejak anak umur tiga tahun ke atas, yaitu saat anak mulai mengembangkan ego dan super egonya. Kekuatan ego (aku) ini sangat diperlukan untuk mengembangkan kemampuan realitas hidup yang terdiri dari segala jenis persoalan yang harus dipecahkan. • Ayah Sebagai Tokoh Atau Modal Identifikasi Anak : Ayah sebagai modal sangat diperlukan bagi anak-anak untuk identifikasi diri dalam rangka membentuk super ego (aku ideal) yang kuat. Super ego merupakan fungsi kepribadian yang memberikan pegangan hidup yang benar, susila dan baik. Oleh karena itu seorang ayah harus memiliki pribadi yang kuat. Pribadi ayah yang kuat akan memberikan makna bagi pembentukan pribadi anak. Pribadi anak mulai terbentuk sejak anak itu mencari “aku” dirinya. Aku ini akan
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 7

terbentuk dengan balk jika ayah sebagai model dapat memberikan kepuasan bagi anak untuk identifikasi diri. • Wanita sebagai ibu pendidik anak dan pembina Ibu sebagai pendidik anak bertanggung jawab agar anak-anak dibekali kekuatan rohani maupun jasmani dalam menghadapi segala tantangan zaman dan menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. generasi muda :

D. Jenis-jenis Pendidikan dalam Keluarga Jenis-jenis pendidikan yang perlu diberikan pada anak. Dalam keluarga diberikan bermacam-macam kemampuan jika diperhatikan kegiatan di dalam rumah tangga maka terjadi transformasi nilai-nilai yang beraneka ragam. Anak laki-laki bersama-sama ayahnya mencuci sepeda motor, memperbaiki sesuatu di rumah, ia bersamasama bersembahyang dengan ayahnya di rumah atau di masjid. Anak putri bersama ibu membantu memasak, mengatur tempat tidur, menyapu dan sebagainya. Fenomena kehidupan ini dapat dilihat sebagai suatu proses kegiatan mendidik. Di sini terjadi usaha ayah atau ibu untuk membawa anaknya ke dalam lingkungan (N. Driyarkara S.Y), orang dewasa ingin membawa ke dalarm dunia nilai. Nilai ada bermacam-macam, Driyarkara S.Y. yang dikutip dalam Pengasuh Basis (1980), (1) nilai vital, (2) nilai estetik, (3) nilai kebenaran dan (4) nilai moral Anton Sukarno (1986) membagi nilai menjadi (1) nilai material, (2) nilai vital, dan (3) nilai rohaniah yang terdiri dari nilai kebenaran, nilai moral, nilai keindahan dan nilai religius. Dari dua pendapat tersebut tidak terdapat perbedaan. Nilai material termasuk nilai vital. Nilai material berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pakaian, bermacam-macam perhiasan, kendaraan, rumah dan sebagainya. Nilai vital semua barang yang dapat memenuhi kebutuhan hidup kejasmanian,
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 8

umpama beras, ketela, buah-buahan, daging, sayur-sayuran, air dan sebagainya. Nilai vital semua yang dapat menyelenggarakan, mempertahankan dan memper-kembangkan hidup manusia menurut aspek kejasmanian disebabkan nilai vital. Termasuk golongan nilai vital ini adalah perumahan, pakaian, obat-obatan dan sebagainya. Jadi Driyarkara menggabungkan antara nilai material dan nilai vital. Nilai-nilai yang menyebabkan seseorang dapat merasakan bahagian dengan mengalami barang-barang yang bagus dan indah disebut nilai estetika atau nilai keindahan. Oleh karena itu orang menciptakan berbagai macam nilai keindahan. Oleh karena itu orang menciptakan berbagai macam nilai keindahan. Baju tidak sekedar untuk memenuhi tuntutan nilai material atau alat vital, akan tetapi pakaian dibuat sedemikian rupa sehingga pakaian itu memberikan rasa indah bagi yang memakainya. 1. Nilai kebenaran : Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita ketahui setiap orang ingin mengetahui dan mengerti tentang sesuatu hal baik yang bersumber dari dalam dirinya maupun hal-hal yang diluar dirinya. Orang akan merasa senang jika dikatakan mengerti sesuatu hal, sebab orang mengerti sesuatu disebut pintar. Dia akan merasa susah jika dikatakan tidak mengerti sesuatu hal, sebab ia dikatakan bodoh. Dan kenyataan ini dapat kita ketahui bahwa orang itu mengejar suatu nilai. Dalam zaman sekarang nilai ini berkembang dalam bermacam-macam ilmu pengetahuan, sistem filsafat, teknologi dan sebagainya. Setiap orang akan mengejar ini semua, maka ia mengejar suatu nilai kebenaran. Nilai kebenaran berkaitan dengan berpikir logis manusia. Sesuatu itu bernilai kebenaran jika dipandang dari akal suatu hal itu benar. Jika seseorang dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi maka ia merasa puas, sebab ia telah menemukan kebenaran terhadap sesuatu yang tadinya merupakan kesulitan tadi.
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 9

2.

Nilai-nilai moral : Manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani, bahwa untuk

perkembangan manusia, manusia itu harus melaksanakan hukumhukum yang melekat pada diri manusia sebagai manusia. Hukumhukum ini disebut hukum moral atau kesusilaan. Menurut hukum moral manusia itu harus melaksanakan suatu kewajiban, harus cinta sejati kepada sesama, meluhurkan martabat dan derajat manusia. Hukum moral dan kebebasan adalah dua hal yang melekat pada diri manusia. Dengan hukum moral manusia terikat, tetapi manusia bebas untuk melaksanakan. Oleh karena itu manusia itu bebas tapi terikat. manusia itu bebas tapi bertanggung jawab. Nilai-nilai moral atau riilai susila berkaitan dengan perilaku yang baik dan buruk. Manusia harus bèrbuat baik dan menjauhi yang buruk. 3. Nilai religius atau nilai keagamaan: Nilai religius merupakan manifestasi dari manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia sebagai makhluk Tuhan dapat mengalami dan merasakan suatu keharusan di dalam dirinya untuk mengakui bahwa adanya bukan adanya sendiri, tetapi adanya karena diadakan oleh Yang Maha Pencipta. Manusia mengakui suatu realitas bahwa dia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu ia dapat disebut makhluk Tuhan yang harus taat dan taklim kepada-Nya. Nilai keagamaan merupakan fondasi dari nilai-nilai moral. Manusia tidak bisa sempurna sebagai manusia, jika ia tidak sempurna sebagai makhluk Tuhan. Sikap adil terhadap sesama, berkasih sayang menjunjung tinggi manusia tidak mungkin terjadi jika tidak didasarkan pada pengakuannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai moral dan nilai agama ini merupakan tuntutan dari dalam diri manusia. Dalam keluarga terjadi transformasi nilai-nilai. Seluruh nilai-nilai tersebut telah ditransformasikan ke dalam diri
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 10

anak oleh orang tua. Oleh karena itu segala jenis pendidikan telah dilaksanakan dalam keluarga. Sudardjo Adiwikarta (1988, p.66) menyatakan bahwa di semua lingkungan pendidikan semua aspek mendapat tempat. Seperti telah dijelaskan di awal, kita mengenal tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Semua lingkungan pendidikan ini telah menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Berhubungan dengan pernyataan ini maka Sudardjo Adiwikarta menyatakan bahwa pernyataan ini adalah tidak benar jika dikatakan bahwa segi afektif dikembangkan di dalam keluarga, segi kognitif di sekolah dan segi motorik di masyarakat. Juga tidak benar kalau dikatakan bahwa pendidikan di rumah dilandasi emosional dan pendidikan di sekolah dilandasi rasiorial, di masyarakat segi kepraktisan. Pendidikan dalam keluarga memang telah memberikan segala jenis pendidikan, akan tetapi untuk ini pendidikan yang diberikan hanyalah dasar-dasarnya saja. Oleh karena itu, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi perkembangan anak. Pendidikan yang pertama merupakan pondasi bagi pendidikan selanjutnya. Semua jenis pendidikan masih dikembangkan dan disempurnakan di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Dan akhirnya hanya pendidikan moral dan religius saja yang bertahan di lingkungan di rumah. Sudardjo Adiwikarta menjelaskan lebih lanjut bahwa di dalam keluarga telah dipelajari pengetahuan dasar, keterampilan, aspekaspek kerohanian serta kepribadian dasar yang dapat dikembangkan lebih jauh dalam lingkungan sekolah dan lingkungan kerja dan dalam lingkungan hidup lain dalam masyarakat. Dalam keluargalah anak-anak mulai berkenalan dengan orang lain dan benda-benda. Di sini pula ia mulai mempelajari cara-cara dan aturan berbuat dan berperilaku sesuai dengan norma sosial yang dianut masya rakat sekitarnya. Juga diawali disini belajar berbahasa yang
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 11

meliputi berbagai seginya seperti pengenalan kata, penyusunan kalimat, sopan santun berbahasa, yang kesemuanya merupakan segi kehidupan paling penting dalam kehidupan masyarakat. Sosialisasi dalam berbagai segi kehidupan dipelajari dalam keluarga. Tentu hasilnya akan sangat tergantung kepada berbagai karakteristik keluarga tempat anak itu diasuh dan dibesarkan.

E. Pola Asuh Dalam Keluarga 1. Pola asuh otoriter : Pola asuh yang otoriter akan terjadi komunikasi atu dimensi atau satu arah. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya, anak tidak dapat mempunyai pilihan lain. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi. Anak melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakan itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Orang tua memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan anak, keinginan anak, keadaan khusus yang melekat pada individu anak yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua, sikap keras merupakan suatu keharusan bagi orang tua. Sebab tanpa sikao keras ini anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya. 2. Pola asuh bebas : Pola asuh bebas, berorientasi bahwa anak itu makhluk hidup yang berpribadi bebas. Anak adalah subiek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Seorang anak yang lapar, ia harus memasukan nasi ke dalam mulutnya sendiri, mengunyah sendiri dan menelan sendini. Tidak mungkin orang tua yang mengunyah dan memasukkan makanan ke dalam perut
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 12

anaknya.

Orang

tua

membiarkan

anaknya

mencari

dan

menemukan sendiri apa yang diperlukan untuk hidupnya. Anak telah terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggap baik. Orang tua sering mempercayakan anaknya kepada orang lain, sebab orang tua terlalu sibuk dalam pekerjaan, organisasi sosial dan sebagainya. Orang tua hanya bertindak sebagai polisi yang mengawasi permainan menegur dan mungkin memarahi. Orang tua kurang bergaul dengan anakanaknva, hubungan tidak akrab dan anak harus tahu sendini tugas apa yang harus dikerjakan. Jika perhatikan dua pola asuh tersebut di atas kita dapat mengetahui bahwa pola otoriter memandang anak tidak ada pilihan lain, kecuali mengikuti perintah dan orang tua. Pada pola yang kedua anak dipandang sebagal subjek yang diperbolehkan berbuat menurut pilihannya sendiri. Segala tugas diserahkan sepenuhnya pada anak. Dua pola ini memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pola asuh memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pola asuh otoriter memang memungkinkan terlaksananya proses transformasi nilai dapat berjalan lancar. Akan tetapi anak mengerjakan tugas dengan rasa tertekan dan takut. Akibatnya jika orang tua tidak ada mereka akan bertindak yang lain. Dia akan melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan. Pola asuh bebas memang memandang anak sebagai subyek, anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Akan tetápi anak justru menjadi berbuat semau-maunya; ia berbuat dengan mempergunakan ukuran diri sendiri. Pada hal anak berada dalam dunia anak dan dia harus masuk pada dunia nilai dan dunia anak. Oleh karena itu anak akan kebingungan ibarat anak ayam yang ditinggalkan induknya. Akhirnya anak akan lari ke sana-kemari tanpa arah. Dalam dua kondisi tersebut di atas tidak akan terjadi pola asuh yang bersifat bineka antara orang tua dan anak. Relasi antara orang tua dan anak tampak renggang pada pola asuh
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 13

bebas dan ada batas yang kuat serta jurang pemisah antara anak dan orang tua pada pola asuh yang otoriter. 3. Pola asuh domokratis : Pola asuh ini berpijak pada dua kenyataan bahwa anak adalah subjek yang bebas dan anak sebagal makhluk yang masih lemah dan butuh bantuan untuk mengembangkan diri. Manusia sebagai subjek harus dipandang sebagal pribadi. Anak sebagai pribadi yang masih perlu mempribadikan dirinya, dan terbuka untuk dipribadikan. Proses pempribadian anak akan berjalan dengan lancar jika cinta kasih selalu tersirat dan tersurat dalam proses itu. Dalam suasana yang diliputi oleh rasa cinta kasih ini akan menimbulkan pertemuan sahabat karib, dalam pertemuan dua saudara. Dalam pertemuan itu dua pdbadi bersatu padu. Dalam pertemuan yang bersatu padu akan timbul suasana keterbukaan. Dalam suasana yang demikian ini maka akan terjadi pertumbuhan dan pengembangan bakat-bakat anak yang dimiliki oleh anak dengan subur.

BAB III PEMBAHASAN
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 14

A.Pengaruh Sikap Orang Tua terhadap Anak Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. mempengaruhi keluarganya, begitu tingkah pembentukan Segala sesuatu yang dibuat anak

pula sebaliknya. Keluarga memberikan dasar

laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pengalaman interaksi di dalam keluarga akan menentukan pula pola tingkahlaku anak terhadap orang lain sang dalam anak masyarakat. Di samping keluarga mengharapkan dan sebagai tempat awal bagi proses pemenuhan kebutuhan.

sosialisasi anak, keluarga juga merupakan tempat mendapatkan

Kebutuhan akan kepuasan emosional telah dimiliki bayi yang baru lahir. Peranan dan tanggung jawab yang harus dimainkan orang tua dalam membina anak adalah besar. Namun, kenyataannya dalam melakukan peran tersebut, baik secara sadar maupun tidak sadar, orang tua dapat membangkitkan rasa ketidakpastian dan rasa bersalah pada anak. Sejak bayi masih dalam kandungan, interaksi yang harmonis antara ayah dan ibu menjadi faktor amat penting. Bila suami kurang memberikan dukungan dan kasih sayang selama kehamilan, sadar atau tidak sadar sang ibu akan merasa bersalah atau membenci anaknya yang belum lahir. Anak yang tidak dicintai oleh orang tua biasanya cenderung menjadi orang dewasa yang membenci dirinya sendiri dan merasa tidak layak untuk dicintai, serta dihinggapi rasa cemas. Perhatian dan kesetiaan anak dapat terbagi karena tingkah laku orang tuanya. Timbul rasa takut yang mendalam pada anakanak di bawah usia enam tahun jika perhatian dan kasih sayang orang tuanya berkurang, anak merasa cemas terhadap segala hal yang bisa membahayakan hubungan kasih sayang antara ia dan orang tuanya. Dr. Halim G Ginott memperingatkan orang tua akan besarnya pengaruh ancaman yang dilontarkan kepada anak. Ia mengatakan
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 15

“Yang

paling

ditakuti

anak-anak

ialah

tidak

dicintai

atau

ditinggalkan oleh orang tuanya. Jadi jangan sekali-kali mengancam akan meninggalkan anak, secara bergurau maupun dengan marah”. Sikap otoriter sering dipertahankan oleh orang tua dengan dalih untuk menanamkan disiplin pada anak. Sebagai akibat dari sikap otoriter ini, anak menunjukkan sikap pasif (hanya menunggu saja), dan menyerahkan segalanya kepada orang tua. Di samping itu, menurut Watson, sikap otoriter, sering menimbulkan pula gejala-gejala kecemasan, mudah putus asa, tidak dapat merencanakan sesuatu, juga penolakan terhadap orang lain, lemah hati atau mudah berprasangka. Tingkah laku yang tidak dikehendaki pada diri anak dapat merupakan gambaran dari keadaan di dalam keluarga. Hal yang paling penting adalah bahwa kehidupan seorang anak hendaknya tidak diatur oleh kebutuhan orang tua dan menjadikan anak sebagai obyek untuk kepentingan orang tua. Efisiensi menurut konsep orang tua ini akan mengeringkan potensi anak, menghambat perkembangan emosional anak, serta menelantarkan minat anak. Astrid Lindgern, seorang penulis wanita dari Swedia yang banyak menulis buku tentang anak mengatakan : “Seorang anak yang diperlakukan dengan kasih sayang oleh orang tuanya dan mencintai orang tuanya, akan menghasilkan suatu hubungan yang penuh kasih saying dalam lingkungannya. Si anak akan memupuk sikap ini selama hidupnya”. B.Otoriter Orang Tua terhadap Anak Beberapa orang tua membenarkan penggunaan kekuasan dengan beranggapanbahwa hal tersebut cukup efektif dan tidak berbahaya. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa penggunaan kekuasaan dan otoritas itu tidak merugikan; penggunaan kekuasan dan otoritas itu akan lebih berbahaya apabila orang tua tidak konsisten. Apabila orang tua merasa bahwa mereka perlu
16

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

menggunakan otoritas, maka konsistensi di dalam penerapannya akan memberikan kesempatan yang lebih banyak pada anak untuk mengenali tingkah laku mana yang baik atau tidak baik. Terlihat jelas bahwa orang tua yang memiliki masalah berat dalam hubungannya dengan anak-anak mereka adalah orang-orang yang memiliki konsep-konsep yang sangat kuat dan kaku mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Semakin yakin orang tua atas kebenaran nilai-nilai dan keyakinan mereka, semakin cenderung orang tua itu memaksakannya pada anak mereka. Orang tua semacam itu biasanya juga cenderung untuk tidak dapat menerima tingkah laku yang nampaknya menyimpang dari nilai-nilai dan keyakinan mereka. C. Kematangan Emosional Orang Tua dan Pengaruhnya Kematangan emosional orang tua sangatlah mempengaruhi keadaan perkembangan anak. Keadaan dan kematangan emosional orang tua mempengaruhi serta menentukan taraf pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang penting pada anak dalam kehidupannya dalam keluarga. Taraf pemuasan kebutuhan psikologis itu akan pula mempengaruhi dan menentukan proses pendewasaan anak tersebut. Emosi orang tua yang telah mencapai kedewasaan yaitu yang telah mencapai kematangan akan menyebabkan perkembangan yang sehat pada anak-anak mereka. Sebaliknya, emosi orang tua yang belum mencapai taraf kedewasaan yang sungguh-sungguh yaitu orang tua yang secara emosional belum stabil akan menimbulkan kesukaran-kesukaran dalam usaha anak-anak itu untuk mendewasakan diri secara emosional atau membebaskan dirinya secara emosional dari orang tua. Ketidakmatangan misalnya sangat emosional orang tua mengakibatkan otokratis dan perlakuan-perlakuan orang tua yang kurang terhadap anak-anak, menguasai anak secara memperlakukan anak dengan keras. Kalau orang tua bereaksi
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 17

terhadap emosi negatif anak dengan emosi negatif pula, tidak akan membuat anak merasa aman untuk mengekspresikan emosinya. Emosi orang tua yang kuat membuat anak takut sehingga mereka menjadi tidak peka terhadap perasaan-perasaannya karena baginya tidak aman mengekspresikan perasaannya itu. Menciptakan kesempatan yang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan dan merasakan kemarahan, kesedihan, ketakutan menghubungkan kembali anak-anak dengan kebutuhan dasar dalam diri mereka akan cinta orang tua.
D. Pola Pendidikan Keluarga yang Salah
1. Sikap memanjakan anak Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu pendidikan yang salah adalah memanjakan anak. Beberapa faktor yang menyebabkan orang tua memanjakan anaknya yaitu :

1. Orang tua anak tersebut dimanjakan oleh orang tuanya pula sehingga
pengalaman itu diwariskan kepada anaknya.

2. Orang tua mempunyai konsep kebahagaan yang kurang tepat. Misalnya
kebahagiaan diidentik dengan menyenangkan hati anak-anaknya dengan menuruti semua permintaan mereka dengan memberi barang-barang lux, uang.

3. Sikap memanjakan dapat disebabkan juga karena orang tua dahulu
mempunyai pengalaman hidup yang pahit dan miskin sehingga mereka ingin menghindari anak-anak mereka dari situasi yang serba sulit.

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

18

4.

Orang tua yang banyak kegiatan dan bisnis sehingga tidak

mempunyai waktu senggang yang cukup bagi anak-anaknya. Kegiatan overaktif ini dapat menimbulkan rasa bersalah bagi orang tua tersebut sehingga mereka menuruti semua permintaan atau memberikan barangbarang berharga sebagai substitusi kasih sayang mereka.

5.

Kecendrungan orang tua yang kadang-kadang membedakan anak-

anak mereka. Sikap membedakan biasanya dilatarbelakangi oleh faktor pandangan/ kebudayaan tertentu misalnya rasa bangga terhadap anak laki-laki. Keadilan orang tua yang tidak merata terhadap anak dapat berupa perbedaan dalam pemberian fasilitas terhadap anak maupun perbedaan kasih sayang. Bagi anak yang merasa diperlakukan tidak adil dapat menyebabkan kekecewaan anak pada orang taunya dan akan merasa iri hati dengan saudara kandungnya. Dalam hubungan ini biasanya anak melakukan protes terhadap orang tuanya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kenakalan.

2.

Anak tidak diberikan pendidikan agama Hal ini dapat terjadi bila orang tua tidak meberikan

pendidikan agama atau mencarikan guru agama di rumah atau orang tua mau memberikan pendidikan agama dan mencarikan guru agama tetapi anak tidak mau mengikuti. Bagi anak yang tidak dapat/mengikuti pendidikan agama akan cenderung untuk tidak mematuhi ajaran-ajaran agama. Seseorang yang tidak patuh pada ajaran agama mudah terjerumus pada perbuatan keji dan mungkar jika ada faktor yang mempengaruhi seperti perbuatan kenakalan remaja.

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

19

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan Keluarga sebagai entitas terkecil dalam masyarakat

merupakan bagian yang sangat sentral dalam membangun karakter anak. Keberhasilan anak tidak ditentukan oleh pendidikan formal semata, tetapi juga pendidikan dalam keluarga. Selain itu, komunikasi yang baik antara anak dan orang tua menjadi kunci dalam membangun keluarga utama. Karakter tidak ditentukan oleh tempat pendidikan yang hebat. Akan tetapi keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan karakter seseorang. Keluarga berkontribusi dalam memberikan identitasnya. Hal terpenting adalah pola komunikasi antara anak dengan orang tua. Banyak orang tua yang gagal dalam membangun
Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga 20

nilai-nilai,

sehingga

anak

dapat

menemukan

komunikasi

dengan

anak-anaknya.

Pola

komunikasi

yang

berkualitas juga harus dibarengi dengan intensitas pertemuan yang cukup dengan anak. Keluarga utama lahir dari pribadi-pribadi utama, untuk itu keluarga utama perlu di tata baik dari segi hanif, akhlak, maupun qalbunya. B. Saran

SUMBER REFERENSI :

artaf.wordpress.com/2007/02/06/mengoptimalkan-peran-keluarga/ www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=2 www.mail-archive.com/daaruttauhiid@yahoogroups.com/msg04587.html http://hminews.com/event/pentingnya-pendidikan-keluarga-dalammasyarakat/ http://notok2001.blogspot.com/2007/07/pendidikan-dalamkeluarga.html http://www.bpkpenabur.or.id/files/hal%20129-139%20Tindakan %20Kekerasan%20pada%20Anak%20dalam%20keluarga.pdf

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

21

http://anharifamily.files.wordpress.com/2007/09/fkm-asfriyati1.pdf

Kelompok 8 - Pendidikan Keluarga

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->