P. 1
Gereja-sakramen Buku Pegangan

Gereja-sakramen Buku Pegangan

|Views: 288|Likes:
Published by parokiaekkanopan

More info:

Published by: parokiaekkanopan on Oct 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2015

pdf

text

original

BUKU PEGANGAN PETUGAS PASTORAL

DALAM MENDAMPINGI UMAT

YANG SEGERA AKAN MENERIMA PELAYANAN SAKRAMENTAL

1

GEREJA
PEMAHAMAN DASAR Gereja adalah perkumpulan orang yang percaya kepada Allah sebagai Bapa melalui dan dalam PuteraNya Yesus Kristus yang atas kuasa Roh Kudus menjadi Juru Selamat manusia. Inilah pemahaman dasar kita akan pengertian Gereja yang memiliki unsurunsur sebagai berikut: Perkumpulan Dalam perkumpulan / persekutuan itu setiap anggota adalah sebagai saudara saudari karena mempunyai Bapa yang sama berdasarkan kesatuan mereka dengan Sang Putera melalui pembaptisan yang mereka terima. Secara sangat sederhana dapat dikatakan bahwa perkumpulan ada jika ada yang berkumpul. Jika tidak, perkumpulan itu hanya sebatas nama yang tinggal menunggu saatnya untuk bubar. Oleh sebab itu, agar perkumpulan itu hidup dan berkembang dari waktu ke waktu maka setiap anggota perkumpulan mesti memiliki tanggungjawab yang pertama dan utama yakni datang untuk berkumpul. (Kis.Ras. 2: 41-42) Orang-Orang Yang Percaya Gereja adalah perkumpulan orang-orang yang percaya kepada Allah sebagai Bapa. Itulah yang kita sebut dengan Umat Allah. Di sini harus dengan jelas juga ditegaskan bahwa Gereja sebagai perkumpulan orang-orang yang memiliki kepercayaan yang sama dan satu dimana Allah Bapa hadir bersama mereka. (Mateus 18: 20) Kepercayaanlah yang menjadi dasar perkumpulan itu, bukan fungsi organisatoris kemasyarakatannya.

2

Model perkumpulan yang sangat ideal yang dimaksud diterangkan dengan sangat gamblang dalam cara hidup jemaat yang perdana. (Kis.Ras. 2: 44-47)

Kedekatan Allah Bapa Allah yang kita percayai dalam Gereja itu adalah Bapa. Ada tiga hal yang sangat mendasar yang perlu kita mengerti dan hayati sekaitan dengan mempercayai Allah sebagai Bapa. Pertama ialah sifat Allah sendiri. Kedua yakni hubungan kita dengan Dia. Dan yang Ketiga adalah hubungan kita satu sama lain. Ketiga hal di atas termuat dalam satu sifatNya yang utama yakni “dekat”. Allah yang kita percayai ialah Allah yang dekat dengan kita dan berhati seorang Bapa penuh kasih. Ia tidak tinggal di singgasana di surga langit ketujuh tetapi Dia tinggal bersama kita kini di sini dan selamanya. Immanuel. Kedekatan yang penuh kasih itu sangat khas kita hayati dengan keterbukaan dan kerelaanNya mengampuni dosa-dosa kita. Kedekatan Kita Satu Sama Lain Kedekatan Allah dengan kita menjadi suatu undanganNya yang penuh kasih supaya kita juga selalu berusaha mendekatkan diri kepadaNya. Hubungan kedekatan kita dengan Allah Bapa Yang Penuh Kasih dan Penuh Ampun menjadi dasar, pola dan sumber kekuatan kita untuk selalu dekat satu sama lain sebagai saudara karena mempunyai Bapa yang sama dan satu. Kita semua mempunyai Seorang Saudara Sulung yakni PuteraNya Tuhan kita Yesus Kristus. (Yohanes 8: 42). Saudara Sulung Kita Kedekatan Allah Bapa dengan kita putera-puteri kesayanganNya bukanlah sebatas undangan konseptual semata tetapi sungguh merupakan tindakan kongkrit peristiwa penjelmaanNya dalam atas kuasa Roh Kudus dengan lahir sebagai manusia biasa menunaikan tugas perutusan yang

seperti kita yakni PuteraNya, Saudara Sulung kita, Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam Roh yang Kudus itu Sang Saudara kita yang Sulung

3

diberikan Bapa kepadaNya yakni untuk mewartakan dan membangun Kerajaan Allah di dunia sebagaimana tertuang dalam InjilNya yang adalah Kabar Gembira Keselamatan bagi kita. Peran Roh Kudus Setelah Yesus menunaikan tugas perutusanNya di dunia, kita tidak ditinggalkanNya tampa penyertaan kedekatanNya dalam Roh Kudus. (Yohanes 14:25-26) Ia menjanjikan kehadiranNya dengan mengutus Roh yang sama untuk senantiasa menolong kita untuk melanjutkan tugas perutusanNya di dunia yakni untuk mewartakan dan membangun Kerajaan Allah Bapa dalam semangat kesatuan kita dan dengan Allah Bapa. Inilah harapan yang terdalam yang terungkap dalam doa Yesus sebelum dia memulai saat-saat penderitaanNya. (Yohanes 17) GEREJA SEBAGAI IMAM, NABI DAN RAJA Gereja sebagai persekutuan Umat Allah memiliki tugas dan sekaligus jabatan yang sangat istimewa untuk melanjutkan karya yang sudah dimulai oleh Yesus Kristus yakni sebagai Imam, Nabi dan Raja. Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “Imam, Nabi, dan Raja”. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggungjawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar dari dirinya. Sebagai Imam Siapa yang oleh iman dan pembaptisan masuk ke dalam Umat Allah, mendapat bagian dalam panggilan khusus umat ini ialah panggilannya sebagai “Imam”. Kristus Tuhan, Imam Agung yang dipilih dari antara manusia (Ibrani 5: 1-5), menjadikan umat baru “kerajaan dan imam-imam bagi Allah dan BapaNya” (Wahyu 1:6; 5: 9-10). Sebab mereka yang dibaptis karena kelahiran kembali dan pengurapan Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci (Lumen Gentium 10).

4

Sebagai Nabi Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas Kenabian Kristus, terutama karena cita rasa iman adikodati yang dimiliki seluruh umat, awam dan hieraki. Karena cita rasa itu “umat berpegang teguh pada iman yang sekali telah diserahkan kepad para rasul (Lumen Gentium 12), memahaminya semakin dalam dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini. Sebagai Raja Umat Allah juga mengambil bagian dalam peran Kristus sebagai Raja. Kristus menjalankan fungsi rajaNya dengan menarik semua orang kepada diriNya oleh kematian dan kebangkitanNya (Yohanes 13: 32). Kristus Raja dan Tuhan semesta alam, telah menjadikan Diri pelayan semua orang, karena “Ia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang” (Mateus 20: 28). Untuk seorang Kristen, mengabdi Kristus berarti “meraja” (Lumen Gentium 36) terutama dalam orang-orang yang miskin dan menderita dimana Gereja mengenal citra PendiriNya yang miskin dan menderita “ (Lumen Gentium 8). Umat Allah mempertahankan martabatnya sebagai raja, apabila ia setia kepada panggilannya untuk melayani bersama Kristus. CIRI DAN HAKEKAT PERUTUSAN GEREJA “Itulah satu-satunya Gereja Kristus, yang dalam syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolic (Lumen Gentium 8). Keempat sifat ini tidak bisa terpisahkan satu sama lain melukiskan ciri-ciri hakekat Gereja dan perutusannya. Gereja tidak memilikinya dari dirinya sendiri tetapi melalui Roh Kudus, Kristus menjadikan GerejaNya itu satu, kudus, katolik dan apostolic. Tuhan memanggilnya supaya melaksanakan setiap sifat itu. Gereja Yang Satu

5

Kesatuan Gereja berasal dari Tritunggal (Kesatuan Allah dalam tiga Pribadi: Bapa, Putera dan Roh Kudus). Putera (Sang Pendiri Gereja) sendiri yang menjelma untuk mendamikan semua orang dengan Allah. Roh Kudus yang tinggal di hati umat dan memenuhi serta membimbing Gereja, menciptakan persekutuan umat beriman yang mengagumkan itu dan sedemikian erat menghimpun mereka sekalian dalam Kristus sehingga menjadi prinsip kesatuan Gereja. Namun sejak awal Gereja yang satu ini memiliki kemajemukan yang luar biasa. Di satu pihak kemajemukan itu disebabkan oleh perbedaan anugerah-anugerah Allah, di lain pihak oleh keanekaan orang yang menerimanya. Dalam kesatuan umat Allah terdapat perbedaan bangsa dan budaya. Dan di dalam anggota-anggotanya terdapat keanekaragaman tugas, syarat-syarat hidup dan cara hidup. Kekayaan yang luar biasa ini harus dipelihara untuk tidak mengancam kesatuan Gereja. Untuk itu kita mesti menghayati terus-menerus nasihat St. Paulus yakni “kita mesti memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejatera (Efesus 4: 3). Sejak awal mula pendirian Gereja sudah ada bibit-bibit perpecahan yang dengan sangat tajam dikecam oleh para Rasul. Terjadi juga pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya yang membuat perpecahan dan perpisahan dari Gereja Katolik. Kesatuan itu mesti kita pelihara untuk semakin erat sampai kepenuhan zaman. Selain kita berusaha untuk memelihara kesatuan itu hendaknya kita tidak lupa juga berdoa demi kesatuan itu sendiri sebagaimana Yesus sendiri demi kesatuan yang sama. (Yohanes 17: 21). Gereja Yang Kudus Gereja itu kudus karena Kristus membuatnya kudus adanya dan itu harus dijaga terus menerus supaya jangan hilang kesuciannya. Kekudusan itu tidak hanya masalah moral yang berkaitan dengan keberdosaan tetapi juga yang menyangkut bidang teologi (hubungan kita dengan Allah yang kudus). Hendaklah kamu kudus sebab Kuduslah Aku, Yahwe Allahmu (Imamat 19: 2 dan 11: 44-45).

6

Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai pengudusan oleh Roh (1 Petrus 1: 2; 2 Tesalonika 2: 13), dikuduskan karena terpanggil (Roma 1: 7). Secara simbolis dikatakan : “kamu telah memperoleh urapan dari Yang Kudus” ( 1 Yohanes 2 : 20), yakni dari Roh Allah sendiri (Kisah Rasul 10: 38). Dari pihak manusia kesucian hanya berarti tanggapan atas karya Allah itu, terutama dengan sikap iman dan pengharapan ( 1 Timoteus 2 : 15). Sikap itu dinyatakan dalam segala perbuatan dan kegiatan kehidupan yang serba biasa. Kesucian bukan soal bentuk kehidupan, melainkan sikap yang dinyatakan dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, Gereja yang suci itu dan sekaligus harus selalu dibersihkan serta terus menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan. Justeru karena kedosaannya itu Gereja tidak terbedakan dari semua orang lain, kendatipun dikuduskan bagi Tuhan. Persekutuan Gereja mengalami diri sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta seajarahnya. Kesucian Gereja adalah kesucian perjuangan terus menerus untuk semakin jadi tanda Kekudusan Allah yang Kudus di dunia. Gereja Yang Katolik Kata “KATOLIK” berarti umum. Lebih jelasnya ialah: Terbuka dan Merangkul semua. Ignatius dari Antokia mengatakan: “Dimana Yesus Kristus ada di situ ada Gereja Katolik”. Dimana ada pengakuan iman yang benar dan utuh, kehidupan sakramental yang lengkap dan tugas pelayanan yang tertahbis dalam suksesi apostolik di situlah Gereja Katolik ada. (Efesus 1 : 22 – 23). Sejak Sabda menjadi Manusia dan turun ke tengah-tengah kita, Gereja-Gereja lokal adalah katolik berkat persekutuannya yang padu dengan Gereja Roma. Jadi dalam Gereja-Gereja lokal terutama ketika perayaan Ekaristi ada disanalah Gereja Yang Katolik hadir dalam kesatuannya dengan Gereja Roma dan Gereja lokal lainya. (Lumen Gentium 23). Gereja disebut Katolik karena tersebar di seluruh jagad dan juga karena mengajar secara menyeluruh dan lengkap segala ajaran iman yang tertuju kepada semua manusia dan terarah kepada keselamatan bersama. Jadi kata “KATOLIK” tidak hanya mempunyai

7

arti geografis, tersebar ke seluruh dunia tetapi juga “Menyeluruh” dalam arti “Lengkap” berkaitan dengan ajarannya dan serta merta terbuka kepada siapa saja. Dan Gereja tidak hanya untuk segala bangsa tetapi juga untuk segala zaman. Pada zaman Reformasi, kata KATOLIK secara khusus dimaksudkan dengan umat Kristen yang mengakui paus sebagai pemimpin Gereja Universal tetapi dalam syahadat kata KATOLIK masih mempunyai arti asli yakni universal atau umum. Kekatolikan itu juga memiliki dimensi yang lebih dalam lagi dengan penghayatan dan kepercayaan Peran Roh Kudus di dalam Gereja itu. Dimensi kesejiwaan itulah juga merupakan dimensi yang sangat penting dipelihara. Hubungan yang membatin satu sama lain yang membuan rasa kompak yang fanatis tetapi jiwa yang kompak kepada keterbukaan. Jadi hubungan kita satu sama lain tidak dikerdilkan lagi karena organisatorisnya. Gereja Yang Apostolik Sifat apostolic atau rasuli berarti bahwa Gereja berasal dari para rasul dan tetap berpegang teguh pada kesaksian iman mereka itu. Kesadaran bahwa Gereja “dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”, sudah ada sedari zaman Gereja perdana sendiri ( Efesus 2: 20; Wahyu 21: 14), tetapi sebagai sifat khusus keapostolikan baru disebut akhir abad ke-4. Semakin ditegaskan bahwa norma kebenaran adalah iman sebagaimana dirumuskan oleh para rasul. Namun dengan demikian belum jelas bagaimana Gereja sekarang berhubungan dengan Gereja para rasul. Gereja Protestan berkeyakinan bahwa hubungan itu terdapat dalam Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru sebagaimana rumusan tertulis iman itu. Sebaliknya Gereja Katolik yang lebih mementingkan pewartaan lisan, memusatkan perhatian pada hubungan histories, turun temurun, antara para rasul dan para pengganti mereka yakni para uskup. Perlu diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru kata “rasul” tidak hanya dipakai untuk ke-12 rasul yang namanya disebut dalam Injil (Mateus 10; 1-4 dst).

8

Hubungan historis itu tidak boleh dilihat semacam “estafet”, yang di dalamnya ajaran yang benar bagaikan sebuah tongkat dari rasul-rasul tertentu diteruskan sampai kepada para uskup sekarang. Yang disebut “apostolik” bukanlah para uskup, melainkan Gereja. Hubungan historis itu pertama-tama menyangkut seluruh Gereja dalam segala bidang dan pelanyanannya. Sifat apostolik berarti bahwa Gereja sekarang mengaku diri sama dengan Gereja perdana yakni Gereja para rasul. Hubungan historis itu janganlah dilihat sebagai penggantian orang tetapi sebagai kelangsungan iman dan pengakuan. Sifat apostolik tidak berarti bahwa Gereja hanya mengulang-ulangi apa yang sejak dahulu kala sudah diajarkan dan dilakukan di dalam Gereja. Keapostokikannya berarti bahwa dalam perkembangan hidup tergerak oleh Roh Kudus, Gereja senantiasa berpegang pada Gereja para rasul sebagaimana norma imannya. Bukan mengulangi tetapi merumuskan dan mengungkapkan kembali apa yang menjadi inti hidup iman. Karena suluruh Gereja bersifat apostolik maka seluruh Gereja dan semua anggotanya perlu mengetahui apa yang menjadi dasar hidupnya, siap sedia pada setiap waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang memintanya, tentang pengharapan yang ada padanya. (1 Petrus 3 : 15). Sifat apostolik yang betul-betul dihayati secara nyata harus mencegah Gereja dari segala rutinisme yang bersifat ikut-ikutan. Keapostolikan berarti bahwa seluruh Gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggungjawab atas ajaran Gereja tetapi juga atas pelayanannya. Dalam hidup yang nyata Gereja harus terus menerus membuktiakan diri sebagai Gereja Yesus Kristus, yang tidak hanya digerakkan oleh Roh Kudus tetapi juga “rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya. (Efesus 4 : 16) Seperti semua sifat yang lain begitu juga keapostolikan Gereja tidak pernah selesai tetapi selalu merupakan tuntutan dan tantangan. Gereja yang oleh Kristus dikehendaki satu, kudus, katolik dan apostolik, senantiasa harus mengembangkan dan menemukan kembali kesatuan, kekatolikan, keapostolikan dan terutama kekudusannya. Sifat-sifat Gereja diimani, berarti harus dihayati, oleh Gereja seluruhnya dan oleh masing-masing anggotanya.

9

PERUMPAMAAN TENTANG GEREJA Kandang Domba Gereja diumpamakan seperti kandang domba dan Yesus adalah pintu satu-satunya. Orang hanya bisa masuk bila melalui pintu yakni Yesus Kristus sendiri. (Yoh 10 : 1- 10). Kawanan Domba Gereja itu bagaikan Kawanan Domba. Yesus Kristus adalah Gembala utama (Yesaya 40: 11). Dialah Gembala yang baik yang menyerahkan hidupNya untuk domba-dombaNya (Yohanes 10: 11 – 15). Kebun Anggur Gereja seumpama Kebun Anggur. Pokok anggur sejati ialah Yesus Kristus sendiri dan kita adalah ranting-rantingNya yang diberi hidup oleh Sang Pokok Anggur (Mateus 21 : 33-43; Yohanes 15: 1 – 5). Bangunan Allah Gereja dinamakan Bangunan Allah (1 Korintus 3 : 9). Kristus adalah Batu Yang Dibuang oleh tukang bangunan, tetapi telah menjadi batu sendi / batu penjuru (Mateus 21 : 42), di atas dasar itu dibangunlah Gereja oleh para Rasul ( 1Korintus 3: 11). Mempelai Kristus Gereja dilukiskan sebagai Mempelai Kristus. Kristus menncintai GerejaNya sebagaimana mempelaiNya secara utuh dengan memberikan diriNya untuk menyucikan

10

Gereja (Efesus 5: 26). Kristus ingin Gereja dipersatukan denganNya dan taat kepadaNya dalam cinta dan kesetiaan (Efesus 5 : 24).

GEREJA KATOLIK DAN GEREJA KRISTEN LAINNYA Masa Kekelaman Awal Pada abad 15 terjadilah masa kekelaman dalam Gereja dimana para biarawanbiarawati dan para pejabat Gereja tidak menjalankan hidupnya sesuai dengan janji dan kehendak Gereja yang kudus. Para pejabat Gereja dan para biarawan-biarawati ada yang hidup dalam praktek-praktek amoral. Akibatnya makin lama kehormatan Gereja semakin melorot di tengah masyarakat. Timbullah arus-arus pembaharuan termasuk pembaharu-pembaru palsu. Mereka tidak hanya mengkritik orang-orang yang mempunyai tempat khusus di Gereja tetapi mengkritik dan mau membaharui ajaran dan kelembagaan Gereja yang ada. Salah satu gerakan pembaharuan itu ialah aliran reformasi yang disebut dengan Protestanisme. Protestantisme ini mendapat dukungan yang sangat berarti dari luar diri Gereja yakni Negara dengan segala kepentingan sosial politik yang ada. Iklim itu dipakai oleh para penguasa Negara untuk mendapat dukungan dan sekaligus menjadi kesempatan untuk mempunyai kekuatan untuk berkuasa atas Gereja atau para pemimpinnya. Pengaruh pemerintah kenegaraan terhadap Gereja semakin menambah kekelaman dalam Gereja. Roh duniawi semakin menguasai para pejabat dan biarawan-biarawati. Para pemimpin Gereja banyak yang terpilih karena alas an kekuasan, uang dan nepotisme. Pendidikan para imam dan biarawan-biarawati semakin bobrok. Dan hal inilah menjadi salah satu yang kita sesalkan dari arus pembaruan yang ada. Lutheranisme

11

Riwayat Ringkas Martin Luther Martin Luther dilahirkan dalam keluarga miskin di Eisleben tahun 1483, Jerman. Untuk membiayai sekolahnya dia harus menyanyi dalam koor Gereja. Umur 18 tahun dia masuk universitas di Erfurt dan menggodol beberapa bidang kesarjanaan dalam tempo yang singkat. Kemudian dengan segala niat baik dia masuk biara Agustin tanggal 17 Juli 1505. Selama di biara dia tidak pernah mengalami ketenangan jiwa. Dia berpuasa berlebihan, mengekang diri secara tidak normal. Tetapi jiwanya juga tidak mengalami ketenangan. Tahun 1507 dia menjadi imam dan tahun 1512 menjadi doctor dalam teologi dan menjadi pengajar filsafat dan Kitab Suci di Univesitas Wittenberg. Dia dikenal sebagai orang yang pandai dan baik bergaul dalam biara tetapi ketenangan jiwanya selalu terusik. Konflik batin yang sangat genting. Ia terobsesi luar biasa bahwa dia akan sampai kepada keyakinan diri bahwa dirinya ada dalam kepenuhan rahmat yang merupakan syarat mutlak keselamatan jiwanya. Selanjutnya, dengan ceritera yang panjang akhirnya secara resmi tanggal 3 Januari 1512 paus mengucilkan Luther beserta para simpatisannya. Pada tahun 1525 menangaalkan jubah biaranya dan mengawini seorang suster yang namanya Katerina Bora. Pada tanggal 18 Februari 1546 Marthin Luther menginggal di Eisleben, kota kelahirannya. Kekeliruan Tentang Rahmat Menurutnya manusi karena sudah bobrok karena dosa asal tidak bisa berbuat baik demi keselamatannya tetapi semata-mata karena Rahmat Allah saja. Dia mengumpamakan manusia seperti Pohon busuk yang tidak mungkin lagi mampu menghasilkan buah yang baik. Manusia selamat semata-mata karena percaya dan percaya saja akan belaskasihan Allah. Baginya Allah sudah menentukan takdir sejak semula (predestinasi mutlak).

12

Dengan pandangan di atas dia memutuskan hubungan antara yang manusiawi dan yang ilahi. Tidak ada guna perbuatan manusia di dunia. Allah sendiri yang bertindak sendiri demi keselamatan manusia, manusia tinggal menerima takdir. Padahal prinsip Katolik ialah: Tuhan di dalam segala sesuatu dan di atas segala sesuatu. Luther mencoba mendirikan prinsip sola fide dengan mengacu pada Roma 16: 17 “Yang saleh itu hidup dari kepercayaan”. Akibat kekeliruan ini, Luther menolak api penyucian, indulgensi, tidak mengakui penghormatan kepada para kudus, hanya ada dua sakramen (sakramen permandian dan perjamuan), pengakuan dosa tidak mempunyai sifat sakramental, pemahaman kurban tidak ada dalam ekaristi tetapi hanya di Golgota saja, dalam misa itu roti tidak berobah menjadi tubuh Kristus dan anggur tidak berubah menjadi darah Kristus. Kekeliruan Mengenai Gereja dan Kitab Suci Dengan kekeliruan tentang rahmat di atas maka sukarlah bagi Luther menerima hirarki, susunan imam dan uskup. Dia membuang kewibawaan Gereja sebagai Lembaga Pengantara dan termasuk imamnya sebagai pengantar kepada Allah. Baginya hanya Kitab Sucilah sumber satu-satunya sumber kepercayaan. Itulah yang disebut dengan Sola Scriptura. Sedangkan menurut Katolik, Kitab Suci dan Tradisi-tradisi merupakan sumber kepercayaan yang diterangkan dengan kewibawaan mengajar Gereja bukan berdasarkan tafsiran liar. Pelajaran Berharga Sesungguhnya ada banyak hal yang benar yang dikritik oleh Martin Luther. Praktekpraktek hidup yang tidak terpuji dan kekeliruan kebijakan para pejabat Gereja dan para biarawan-biarawati pada masa itu sungguh memprihatinkan. Kekeliruan Luther ialah bahwa dia membuat dalil-dalil (95) yang menghantam dan mendiskreditkan Gereja dan ajarannya. Gereja tidak bersalah dan ajaran Gerejapun tidak sesat. Yang bersalah dan yang sesat ialah para pejabat Gereja pada masa itu. Gereja Katolik harus dengan

13

rendah hati mengakui itu dan hal itu harus menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita sekarang dan seterusnya. Mengenai praktek indulgensi yang dikritik Luther misalnya. Pada tahun 1516 Paus Julius II mulai membangun Basilika St. Petrus yang terkenal itu. Untuk melanjutkan pembangunan itu, Paus Leo X pengganti Julius II mempraktekkan indulgensi yang salah. Leo X memberikan indulgensi kepada orang berdasarkan bersarnya sumbangan mereka atas pembangunan Basilika tersebut. Berita ini menjadi modal yang sangat kuat bagi Luther untuk mendapat pengaruh di seluruh Eropa (khususnya Eropa Selatan dan Barat). Pihak-pihak yang dikecewakan oleh kepausan dan pihak-pihak yang mempunyai kepentinan politik (kelompok bangsawan) mendukung Luther dengan sebulat hati maka semakin terpiculah “perpisahan” teristimewa di Jerman. Akhirnya dengan segala proses yang tidak gampang maka secara resmi tanggal 3 Januari 1512 paus mengucilkan Luther beserta para simpatisannya. Pada tanggal 18 Februari 1546 Marthin Luther menginggal di Eisleben, kota kelahirannya. Kalvinisme Riwayat Ringkas Kalvin Kalvin lahir tahun 1509 di Noyon, Perancis. Dia berasal dari keluarga menengah. Pernah mendapat pendidikan tentang imamat tetapi kemudian menjadi seorang hakim. Pada saat itu di Perancis juga terjadi gerakan-gerakan pembaharuan keagamaan. Penyelewengan-penyelewengan dalam Gereja pada saat itu dilebih-lebihkan karena pengaruh Lutheran. Akan tetapi pada saat itu Raja Perancis, Francois I menandatangani perjanjian / kongkordat dengan Paus yang intinya menjamin keberadaan Gereja Katolik di Perancis teristimewa dalam masalah pemilihan uskup. Ia bertindak tegas terhadap pengkotbah-pengkotbah “miring” dan gerakan-gerakan penghancuran Patung Bunda Maria serta penyebar-penyebar ajaran sesat dan fitnah. Kalvin, ketika sudah berumur 20 tahun, merasa diri mendapat pesan ilahi untuk meninggalkan Katolik untuk mengajarkan suatu agama baru yang lebih bersih. Dia

14

berusaha untuk mengajak orang untuk kembali kepada semangat kesederhanaan yang perdana. Dan untuk menjaga campur tangan raja Perancis dia memindahkan markasnya ke Swiss di kota Basel. Kalvin menolak semua sakramen kecuali sakramen Permandian. Sakramen Mahakudus baginya hanya sebatas lambang. Dia dan para pengikutnya menolak: pakaian liturgy, tempat air suci, patung-patung, dupa dan musik. Mereka menekankan pembacaan Kitab Suci, kotbah, nyanyian mazmur tampa musik. Mereka menghilangkan uskup dan para imam. Mereka hanya percaya dengan sebutan golongan tua yang memerintah Gereja dengan synode. Takdir manusia sudah ditentukan Allah dari semula, masuk surga atau masuk neraka. Tahun 1536 Kalvin pindah ke Geneva dan menjadi pastor kepala. Banyak yang mengikuti dia terutama para mahasiswa dan sebelum meninggal dia mendirikan Universitas di Geneva untuk jurusan filsafat, teologi, bahasa Junani dan Bahasa Jahudi. Universitas ini kemudian menjadi pusat Kalvinisme di Eropa. Tahun 1564, Kalvin tutup usia. Kalvinisme di Perancis Raja Perancis tidak mau Negara menjadi lebih karena pengaruh pertentangan dalam agama. Cukup banyak dari kalangan bangsawan dan cendikiawan menerima kalvinisme ini. Kalvinisme mengadakan sinode pertama di Paris pada bulan Mei 1559 dan menelorkan satu intisari kepercayaan yang mereka sebut Confessio Gallicana. Selain itu mereka berhasil membuat Aturan Gereja Gaya Kalvin. Kemudian pada tanggal 30 April 1598 Raja Henri IV mengeluarkan edikta bernama Toleransi Nantes yang berintisarikan: Agama Katolik diakui sebagai agama Negara, upacara Katolik harus dihidupkan lagi dan harta milik Gereja harus dikembalikan lagi. Perancis menjadi kekuasaan Katolik yang sungguh besar. Kalvinisme di Jerman

15

Protestantisme (Lutheranisme) sungguh maju dan kuat di Jerman. Beberapa uskup katolik juga tergiur dan jatuh ke protestantisme ini. Kalvinistis. Istilah Kontrareformasi juga hidup di Perancis dengan jiwa untuk menghidupkan kebaharuan dalam diri Katolik bukan sebatas kuasa tetapi semangat rohani. Itulah semangat Konsili Trente. Kalvinisme di Belanda Tahun 1555 Kalvinisme sangat kuat dan berakar di Belanda. Tahun 1566 terjadi serangan protestantisme untuk menghancurkan patung-patung dan pemberhentian perayaan-perayaan Katolik. Tahun 1573 Kalvinisme menang atas Katolik dan Katolik dipandang sebagai agama berhala. Tahun 1648 Spanyol makin terpuruk atas kemenangan Belanda dan Kalvinisme semakin mekar. Kalvinisme ala Belanda makin lama makin membenci Katolik entah dimana saja, termasuk di Indonesia sebagai jajahan Belanda. Anglikanisme Pada awalnya Raja Henry VIII (1509 – 1547) benci terhadap para bidaah. Ia pernah membakar tulisan Luther dan membuat sebuah pembelaan terhadap sakramen dan ajaran Katolik judul pembelaanya ialah “Defence of the Seven Sacraments”. Akan tetapi dalam perjalanan waktu karena sang raja “doyan wanita”, Paus tidak membenarkan beberapa perkawinannya yang bermasalah. Pada November 1534 parlemen kerajaan memutuskan bahwa “Raja adalah kepala tertinggi di dunia dan Gereja di Inggris dan putus hubungan dengan Kepausan Roma”. Setelah Henry VIII meninggal (1547) pengaruh Lutheranisme dan Kalvinisme semakin membuat Kerajaan Inggris makin “jauh” dari Katolik. Trans-subtantiatio (perobahan roti menjadi Tubuh Kritus dan anggur menjadi Darah Kristus) tidak mereka terima. Altar dan patung-patung disingkirkan. Ritus perayaan dibuang. Dengan demikian mereka Golongan Lutheran lebih menentang Kalvinisme daripada katolik dengan istilah: Lebih baik Papistis daripada

16

sudah menjadi protestan walaupun bentuk organisatoris keagamaan masih sangat Katolik. Kondisi Gereja yang semakin jauh dari Katolik Roma dipertajam oleh oleh Elisabeth, putri Henry menjadi Ratu 1558. Misa Kudus dihilangkan. Credo Gereja Inggris dicipta. Banyak uskup dan imam dipaksa mengikuti aturan baru ini. Uskup, imam dan biarawanbiarawati yang tidak ikut Ratu banyak yang terbunuh dan bahkan ribuan umat Katolik terbunuh. Ingris sungguh terpisah dari Katolik dan itulah yang kita sebut dengan Anglikanisme. Ortodox Sebelum jaman reformasi sebenarnya telah terjadi suatu skisma / perpecahan di antara Gereja Katolik Roma dengan Gereja “Timur” yang meyebut diri mereka Gereja Ortodox. Mereka menyebut diri mereka Ortodox karena mereka katanya mau mempertahankan kepercayaan yang benar dan lurus. Pada tahun 863 Sri Paus memecat Pimpinan Gereja di Konstantinopel karena terangterangan tidak mengakui Paus sebagai pimpinan tertinggi Gereja yang sah. Gereja Ortodox tidak lagi memakai bahasa Latin tetapi memakai bahasa Yunani. Terjadi perbedaan faham tentang teologi. Gereja Katolik (Barat) cenderung kepada pengertian iuridis tentang gereja sedangkan di Timur menekankan unsure persekutuan. Perpecahan-perpecahan semakin menjadi-jadi pada tahun sejak 867 – 1054. Perpecahan yang ada semakin diperrunyam oleh peristiwa Perang Salib dimana orang Barat menghantam orang Timur. Dapat dikatakan perpecahan / Skisma terbesar antara Katolik dan Ortodox terjadi pada tahun 1204, ketika kota Konstantinopel direbut dan dirampok oleh para tentara Perang Salib. Mulai sejak itu Gereja Ortodox Timur menganggap dirinya sudah terlepas dari Roma baik dari kepemimpinan maupun dari segala aturan dan ajaran iman. Catatan Akhir Tentang Katolik – Protestantisme

17

KATOLIK Tekanan ada pada sakramen dan dalam sakramen (manusiawi-kelihatan) karya keselamatan Allah Agama kontemplasi (memandang) dan Kultis, yang mementingkan kurban (Ekaristi) Perasaan, Kesenian dan kehangatan cukup dipentingkan Hubungan dengan Gereja menentukan hubungan dengan Kristus Gereja secara hakiki (dari Kristus) bersifat hierarkis Kitab Suci dibaca dan dipahami di bawah pimpinan hierarkhi

PROTESTAN Tekanan ada pada sabda / pewartaan dan pada segi misteri (transendentersembunyi) karya Allah Agama iman (mendengarkan) dan Profetis, yang terpusat pada sabda (Kotbah) Pengetahuan, ilmu dan ketegasan lebih ditekankan Hubungan dengan Kristus menentukan hubungan dengan Gereja Segala pelayanan gerejawi adalah ciptaan manusia (Tradisi) Setiap orang memaca dan mengartikan Kitab Suci itu sendiri

SAKRAMEN
PEMAHAMAN DASAR Kata “sakramen” berakar dari kata “sacer” artinya KUDUS. Selain unsur “kudus” (Latin) atau “sacred” (Inggris) yang dalam kata “sakramen” termuat juga unsur

MISTERI. Muatan lain dari kata “sakramen” ialah “TANDA”. Ketiga unsur dasariah di atas secara lebih rinci dapat diterangkan sbb: a. KUDUS: Dalam peristiwa sakramental terjadilah tindakan yang kudus untuk menguduskan. Kekudusan itu datangnya dari Allah yang kudus maka setiap hal yang berkenaan dengan peristiwa sakramental itu menerima dan mengalami kekudusan Allah yang mengusir segala bentuk “kenistaan”. b. MISTERI: Melalui tindakan sakramental, kekudusan Allah disingkapkan dan dikenakan bagi orang-orang yang menerima dan menerimakan sakramen sehingga mereka menjadi “termeterai oleh kekudusan Allah”.

18

c. TANDA: Beranjak dari pemahaman “Meterai Kekudusan” di atas maka setiap orang yang menerima dan menrimakan sakramen itu (secara pribadi dan terutama secara bersama) menjadi Tanda Kehadiran Allah yang kudus di dunia, yakni Allah yang mau menyelamatkan manusia dengan Cinta KasihNya. Berangkat dari pemahaman di atas maka Sakramen dapat diartikan sebagai suatu peristiwa yang menyingkapkan misteri kekudusan Allah dengan menjadikan orang yang menerimakan dan yang menerima sakramen itu sebagai tanda dan sarana keselamatan Allah di dunia dengan hidup dalam Cinta Kasih. GEREJA SEBAGAI SAKRAMEN Dengan sangat singkat dapat kita katakana bahwa sakramen merupakan tanda dan sarana mistik keselamatan Allah yang dinyatakan kepada kita sebagai sebuah panggilan kekudusan. Kristulah yang menjadi Sakramen Utama yang harus kita percayai dalam Gereja kita. Dalam Kristus telah terwujud keselamatan secara sempurna. Atas dasar pemahaman dan pengalaman akan Kristus itu Gereja mempercayai bahwa Dia adalah Sang Juru Selamat kita. Gereja menjadi sakramen karena kesatuannya dengan Kristus. “Allah berkehendak mempersatukan semua manusia dalam Kristus” (Efesus 1 : 10). Kristus berkarya / mengajar dalam GerejaNya sebagai sumber hidup dan pemersatu dalam Kasih. Itulah yang menjadi kabar sukacita bagi dunia. Dan apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus itu jugalah yang mesti diwartakan dan disaksiakan Gereja di dunia. Melalui kesaksian hidupnya di tengah masyarakat entah dimanapun ia berada, Gereja memperlihatkan karya Kristus. Hidup Gereja di tengah keluarga dan masyarakat menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah yang di janjikan Yesus. Karya keselamatan terjadi dalam Gereja karena dan dalam Kristus. Gereja sebagai umat Allah menjadi sarana dan tanda Kesatuan mesra antara Allah Bapa dengan PuteraNya dengan hidup dalam kasih dan persaudaraan. Kristus sendirilah menjadi kepala dan Gereja sebagai Tubuh. “Ialah kepala tubuh, yaitu Jemaah. Ia yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia

19

lebih utama dalam segala sesuatu” (Kolese 1 : 18). Karena setiap orang dari bangsa manapun juga yang takut akan Allah dan melaksanakan kebenaran berkenan di hadapanNya. (Kisah Para Rasul 10 : 35). Umat Allah ini berziarah menuju pemenuhan Kerajaan Allah yang telah dimulai Allah sendiri di bumi ini, dan yang harus disebarluaskan ke penjuru bumi, sampai disempurnakan oleh Kristus pada akhir jaman. Itulah yang menjadi tujuan dan hakekat dasar dari Ketujuh Sakramen dalam Gereja kita. KETUJUH SAKRAMEN Mengapa “Tujuh” ? Konsili Trente (dibuka 13 Desember 1545 dan ditutup 4 Desember 1563) mendefinisikan bahwa ada tujuh sakramen, tidak lebih dan tidak kurang. Pada saat itu kaum reformis mengakui hanya dua sakramen (permandian dan perjamuan Tuhan). Banyak diskusi dan bahkan perdebatan sekaitan dengan apakah hanya tujuh sakramen atau kurang dari tujuh. Dengan melalui semua diskusi itu sampai sekarang (sekurang-kurangnya sampai Konsili Vatikan II) ketujuh sakramen itu dipertahankan. Angka tujuh (kepenuhan) dipandang secara simbolis. Simbolik angka tujuh sebagai kepenuhan terdapat dalam Perjanjian Lama (Kejadian 1, Kejadian 4: 15, Imamat 23:6, Imamat 16: 14) dan dalam Perjanjian Baru (Roma 11: 4, Mateus 12: 43-45, Wahyu 1: 4, 4:5 dll). Dalam perngertian simbolis ini sakramentalitas jemaat direalisasikan sepenuhnya. SAKRAMEN PERMANDIAN Pemahaman Dasar Sakramen Permandian adalah pintu masuk menjadi anggota Geraja Tuhan. Mengapa? Karena melalui permandian kita lahir sebagai seorang Kristen. Kelahiran inilah awal kekudusan dan pembersihan kita dari dosa asal sehingga kita memperoleh hidup yang baru.

20

Berkat permandian yang kita terima, kita bersatu dengan Yesus Sang Saudara Sulung kita. Kesatuan itu membuat kita menjadi satu dengan hidup, karya, penderitaan, wafat dan kebangkitaNya. Kesatuan kita yang hidup dengan Yesus Kristus menegaskan kesatuan kita dengan Alllah Bapa dalam Roh Kudus sehingga kita menjadi Anak Allah yang hidup pula. (Titus 3: 5).

Permandian Sumber Keselamatan a. Dalam Perjanjian Lama Kita tentu ingat ketika imam memberkati air baptis pada malam paska. Hal ini mengingatkan kita akan peristiwa pembebasan orang Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Mereka mesti menyeberangi Laut Mereh untuk memulai perjalanan menuju Tanah Terjanji. Bangsa Israel lepas dari perbudakan dan luput dari ancaman musuh. Demikianlah juga orang Kristen melalui permandian terbebasakan dari dosa dan terselamatkan serta menang melawan “musuh”. b. Dalam Perjanjian Baru Semua pra lambang permandian yang ada dalam Perjanjian Lama kemudian mengalami kesempurnaanya dalam diri Yesus Kristus. Setelah Yohanes Pembaptis membaptis Yesus di Sungai Yordan, Yesus langsung memulai penampilan karyaNya di tengah umum (Mateus 3: 13). Dan setelah kebangkitanNya dari Kematian Yesus dengan segera menyuruh para muridNya untuk memberitakan Kabar Gembira dan membaptis semua orang yang berkenan kepadaNya (Mateus 28: 19 – 20). Tepat pada Hari Pantekosta, Gereja untuk pertama kalinya merayakan permandian kudus. Saat Rasul Petrus berkotbah kepda orang-orang Yahudi: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kisah Rasul 2: 38). “Orang-orang yang menerima perkataanya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kisah Rasul 2: 41).

21

c. Rahmat Pembaptisan Kita Yesus rela dibaptis sama dengan kita. Hal ini menjadi suatu perintah dan ajaran bagi kita supaya rahmat pembatisan itu meneguhkan dan mengangkat harkat kita sebagai kesayangan Allah Bapa. Dengannya kita bersatu dan senasib denganNya. Kesatuan kita dengan Yesus Kristus berkat pembaptisan yang kita terima membuat kita menjadi: bersih dari dosa asal dan kita menjadi lahir kembali dalam kekudusan (Johanes 3: 4) anak Allah (1 Johanes 3: 1) anggota Gereja Kristus. Kristus adalah kepala Gereja, kita anggotanya yang hidup dalam cinta kasih. Inilah rahmat besar yang kita terima dari pembaptisan yang semakin terpenuhi dengan lebih sempurna saat kita mempersatukannya dengan sakramen ekaristi. Pada awalnya pembaptisan itu sangat pribadi tetapi lama kelamaan dalam Gereja kita permandian itu dilakukan di hadapan umat Allah agar semua yang hadir merenungkan makna permandian itu sendiri. Orangtua dipersiapkan sedemikian rupa sehingga penghayatan dan tanggungjawab mereka semakin ditingkatkan. Ekaristi Kudus semakin menyempurnakan pembaptisan dalam Gereja karena itu setelah pembaptisan Ekaristi Kudus sedapat mungkin harus dirayakan. d. Kekayaan Tanda dalam Pembatisan Tanda Salib: Tanda salib yang diberikan oleh imam atau diakon atas dahi orang yang dibaptis merupakan tanda penerimaan salib Kristus dalam diri kita sebagai tanda kemenangan. Setiap orang yang sudah dibaptis jika mempersatukan salib mereka dengan salib Kristus, mereka akan mendapat keselamatan berkat Salib itu. Sabda Allah: Sabda Allah yang diperdengarkan pada saat pembaptisan merupakan dasar kepercayaan kita dimana Allah senantiasa menjadi pelita

22

kehidupan. Melalui Kitab Suci Allah menyapa kita dan kita membalas sapaan itu dengan iman yang hidup. Penumpangan Tangan: Penupangan tangan oleh Imam selain sebagai berkat bagi kita sekaligus juga lambang penobatan kita sebagai Putera Allah dalam kesatuan kita dengan Yesus Kristus. Air Kudus: Air Kudus itu merupakan lambang Air Yang Hidup (mengalir) melambangakan penyeberangan atau pembebasan dari hidup yang dikuasai dosa ke kehidupan yang bebas dari dosa. Selain itu juga air kudus itu pemberi kekudusan kepada kita sebagai anak Allah yang hidup. Minyak Krisma: Minyak Krisma selain sebagai pengurapan kekudusan bagi kita, tetapi juga sebagai lambang penerimaan peneguhan Roh Kudus bagi yang tebaptis. Kain Putih: Kain Putih merupakan lambang pengenaan kesucian dan kebersihan dalam hidup karena kita sudah dibersihkan dari dosa asal. Lilin: Lilin yang menyala merupakan lambang terang Kristus yang menyala dalam diri setiap orang yang sudah dibaptis sehingga menjadi terang bagi dunia untuk menghalau kegelapan dosa di dunia. Sekilas Tentang Masa Katekumenat Orang-orang dewasa yang dipersiapkan untuk menerima sakramen permandian atau yang akan diterima secara resmi di dalam Gereja Katolik disebut sebagai orang-orang yang sedang menjalani masa katekumenat. Berdasarkan keputusan sendiri mereka ingin menerima sakramen permandian setelah dipandang sudah mengerti dan menginsafi makna permandian itu sendiri. Mereka harus mempersiapkan diri dengan bantuan pengurus Gereja atau katekis secara serius dalam masa persiapakan yang sudah ditentukan. Beberapa hal praktis yang perlu diperhatikan sekaitan dengan hal ini ialah: Lama masa katekumenat mesti jelas diketahui yang bersangkutan dan diumumkan kepada seluruh anggota jemaat serta diberitahukan kepada pastor paroki.

23

-

Selama masa katekumenat mereka harus menunjukkan bahwa mereka dalam iman sungguh-sungguh mempunyai kerinduan untuk dibaptis atau diterima resmi dengan rajin mengikuti pelajaran, rajin datang ke gereja dan kegiatan-kegiatan Gerejani lainnya.

-

Pada saat pelajaran terakhir mereka harus diuji oleh pastor paroki atau orangorang yang dipandang pantas untuk itu. Pemahaman dan penginsyafan arti dan makna Gereja dan Sakramen (terutama sakramen permandian dan ekaristi) merupakan penentu yang sangat penting apakah mereka diterima atau tidak.

-

Kalau mereka meninggal sebelum dibaptis atau diterima resmi, mereka dapat menerima permandian darurat dan penguburan bisa secara ritus katolik. Dll. SAKRAMEN EKARISTI Pendahuluan Semua orang Katolik akrab dengan Misa. Selain menghadiri Misa pada hari Minggu dan Hari Raya, banyak orang Katolik juga menghadiri Misa pada hari-hari biasa. Mereka menghadiri upacara permandian, krisma, pernikahan, pentahbisan, penguburan yang semuanya dalam konteks Misa? Dan seperti apakah bentuknya. Peranyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan awal inilah yang merupakan pokok-pokok kajian kita berikut ini. Yesus dan Perjamuan Terakhir Kita semua mengenal kisah Perjamuan Terakhir yang Yesus adakan bersama dengan para muridNya pada malam sebelum Dia memulai sengsara dan wafatNYa. Setiap guru agama Kristen pasti mengisahkannya dan setiap drama atau film yang berceritera tentang kehidupan Yesus, tak akan melewatkan adegan ini. Perjamuan Terakhir adalah perjamuan yang sangat istimewa.

24

Sebenarnya, Yesus seringkali menghadiri perjamuan makan bersama dengan para sahabatNya. Bahkan kadang-kadang Dia makan dengan orang yang bukan sahabatNya, orang yang hampir tidak mengenalNya. Dalam Perjanjian Baru, Yesus bukan hanya makan bersama orang-orang kaya dan terhormat tetapi juga dengan orang-orang miskin dan tidak terhormat termasuk dengan para pendosa. Para musuh Yesus mengatakan, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Lukas 15: 2). Tetapi Yesus tidak perduli apa penilaian orang terhadapNya. Bagi Yesus, makan adalah kesempatan untuk duduk dengan orang-orang berdosa; untuk membiarkan mereka tahu bahwa Dia menerima mereka dan untuk menyampaikan ajaran-ajaranNya kepada mereka. Sebaliknya, bagi orang-orang yang makan dengan Yesus, makan adalah kesempatan untuk bertemu dengan Dia secara pribadi, untuk belajar daripadaNya dan bahkan untuk lebih mengenal diri mereka sendiri. Berada bersama dengan Yesus berarti membiarkan diri untuk disentuh dan diajari olehNya. Ketika para murid mengadakan Perjamuan Terakhir denganNya, mereka belajar sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupa. Pada permulaan perjamuan, Yesus mengambil roti, membagi-bagi roti itu dan memberikannya kepada mereka seraya berkata: “Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu” (Lukas 22: 20). Pada waktu itu, mungkin para murid tidak mengerti apa yang Yesus maksudkan. Baru sesudah tubuhNya sungguh-sungguh dikurbankan di salib dan darahNya ditumpahkan untuk mereka, mereka mulai mengerti apa yang Yesus ungkapkan pada Perjamuan Terakhir. Perayaan Ekaristi Pada Masa Kristen Perdana Para murid melanjutkan praktek Yesus, makan bersama secara khusus dengan mereka yang ingin belajar lebih mendalam mengenai Yesus. Pada hari pertama setiap Minggu (hari kebangkitan), orang Kristen berkumpul untuk makan bersama dalam satu komunitas; makan bersama itu disebut Perjamuan Tuhan. Selama perjamuan, mereka mengingat apa yang Yesus telah katakana dan lakukan

25

sebelum Dia wafat. Ketika para pengikut mendengar lagi kata-kata yang berasal dari Yesus atas roti dan anggur, mereka merasa bahwa Dia hadir lagi di tengahtengah mereka. Ketika mereka mengambil roti dan membagi-bagi piala, mereka sadar bahwa mereka harus membawaNya dalam kehidupan mereka dan membawaNya kepada orang-orang lain. Mereka juga menyadari bahwa, seperti roti dan anggur yang kemudian melambangkan kurban Yesus, mereka juga harus digiling dan menumpahkan darrah demi orang lain, jika mereka sungguh menjadi muridmuridNya. Karena mereka mewartakan itu kepada orang lain dan tidak takut untuk mewartakan Kabar Baik mengenai Yesus kepada setiap orang yang ingin mendengarkan, maka komunitas Kristen tumbuh dengan cepat. Akhirnya menjadi sukar bagi setiap orang dalam komunitas untuk hadir dalam ruangan dan makan bersama dalam suasana penuh persahabatan. Konsekwensinya, perjamuan penuh dihapus, dan hanya bagian dengan roti dan anggur yang dipertahankan. Pemimpin berdoa dan bersyukur kepada Bapa untuk semua berkatNya yang baik khususnya karena mengutus PuteraNya. Karena kata Yunani: “bersyukur” adalah eucharistia, maka orang Kristen mulai mengartikan perkumpulan mingguan ini sebagai Ekaristi. Sebelum membagi-bagi roti dan anggur, orang-orang Kristen mendengarkan kisah-kisah mengenai Yesus. Dengan mengingat apa yang Dia lakukan dan mengingat apa yang Dia katakana, mereka merasakan bahwa Dia berbicara dalam hati mereka. Laporan-laporan dari Kabar Baik ini akhirnya ditulis dan dikumpulkan dalam empat buku yang kita kenal sebagai Injil. Orang-orang Kristen Perdana juga membaca mengambil surat-surat yang telah ditulis oleh Rasul Paulus dan para rasul lainnya dan yang diedarkan di antara kelompok itu. Perjanjian Baru secara bertahap bentuk dalam latar / keadaan jenis peribadatan Kristen ini; buku-buku itu ditambahkan kepada Perjanjian Baru sebagai Sabda Tuhan yang diispirasikan. Berhubung pada suatu saat, orang-orang Kristen dianiaya karena iman mereka; maka menjadi lebih cocok untuk mengadakan Ibadat Perjamuan pada pagi hari, ketika kegiatan berkumpul menjadi kurang menyolok mata. Karena hari Minggu

26

adalah hari kerja dalam kekaisaran Romawi, maka orang-orang Kristen berkumpul sebelum matahari terbit untuk merayakan Ekaristi supaya mereka bisa bekerja ketika pagi. Karena komunitas Kristen masih agak kecil, setiap orang dapat berkumpul di sekeliling meja bersama dengan seorang uskup setiap Minggu. Setelah berlangsung kira-kira 200 tahun, ibadat Kristen telah memiliki pola tetap. Sesudah salam persaudaraan dan doa oleh Uskup, seseorang dari kelompok itu membaca bacaan-bacaan pilihan dari Perjanjian Baru; kadang-kadang dipilih juga bacaan dari Perjanjian Lama. Kemudian uskup menjelaskan bagian-bagian bacaan yang lebih sukar dan membantu komunitas melihat bagaimana Kitab Suci diterapkan dalam kehidupan harian mereka. Ketika uskup selesai, dia memimpin kelompok untuk mengucapkan doa syukur. Sesudah setiap orang berdoa, uskup mengadakan peringatan mengenai peristiwa-peristiwa dan kata-kata Yesus pada Perjamuan Terakhir. Selanjutnya, roti dan anggur Ekaristi dibagi-bagikan, sesudah itu uskup membubarkan kelompok dan nanti berjumpa lagi pada perkumpulan Minggu berikut. Pola ini masih ditemukan sampai sekarang. Ketika orang Kristen mengadakan Perayaan Ekaristi mingguan, mereka adala dalam sadar bahwa Kristus yang bangkit ada di tengah-tengah mereka

kelompok yang mereka sebut Tubuh Kristus, ada dalam Sabda Tuhan yang mereka dengar karena bibacakan, dan ada dalam roti dan anggur yang mereka bagi-agikan. Ketika mereka berdoa, mereka menggabungkan diri dengan Kristus dalam persembahan diri mereka kepada Bapa, sebagaimana Yesus telah mempersembahkan diriNya di Salib. Karena mereka secara rohani menyatukan diri mereka dengan korban Kristus, maka kadang-kadang mereka mengartikan bentuk ibadat mereka sebagai sebuah pengorbanan. Orang-orang Kristen dapat mengerti hal ini karena sebelum menjadi Kristen, pelayanan kepada dewa-dewa. Pada abad ke-4, Kaisar Romawi Konstantinus sadar bahwa pengikut Yesus telah menjadi begitu banyak sehingga dia mencabut larangan resmi terhadap agama mereka bisa pergi ke kuil-kuil kafir untuk diri mereka demi mempersembahkan korban di mana mereka mempersembahan

27

Kristen. Dia juga melihat bahwa orang-orang Kristen mendatangkan kehidupan moral yang lebih baik daripada orang-orang yang mengikuti religi kafir yang lama, sehingga dia bermurah hati kepada kelompok religius ini dengan menetapkan Hari Minggu sebagai hari libur resmi. Dia bahkan mengijinkan orang-orang-orang Kristen untuk menggunakan gedung-gedung pengadilan kota untuk ibadat mingguan mereka. Basilika-basilika ini adalah bangunan-bangunan gereja pertama. Banyak gereja besar sekarang berdiri seperti (Gereja St. Petrus Roma) merupakan gambaran desain arstektur dari basilica-basilika awal ini. Karena jumlah orang Kristen terus bertambah, ibadat Hari Minggu menjadi lebih meluas dan umum, meskipun hal itu masih mengikuti poa-pola dasar yang sama dari abad-abad lebih awal. Para Uskup dan pembatu-pembantunya, memasuki basilica dalam prosesi yang panjang dengan menggunakan pakaian yang membedakan mereka dari seluruh umat beriman yang berkumpul. Meja sentral menjadi altar besar; piring dan gelas yang biasa dipakai setiap hari diganti dengan piring perak dan piala emas. Karena basilica begitu besar, Kitab Suci dinyanyikan sehingga orang sungguh mendengarkan dan umat beriman harus menyanyikan jawaban-jawaban dan doa-doa bersama-sama. Dengan perubahan-perubahan ini, perkataan baru untuk ibadat ini masuk dalam perbendaharaan Kristen: “liturgy”, dari bahasa Yunani leitourgia yang artinya: perayaan rakyat / orang banyak. Meskupun perayaan liturgy itu panjang dan rumit, tetapi setiap orang mengambil bagian di dalamya. Di tempat-tempat di mana bahasa Yunani bukan merupakan bahasa umum, liturgy dirayakan dalam bahasa setempat. Kebiasaan ini dipertahankan dalam Gereja Ortodoks Timur, yang bahkan sampai hari ini merayakan liturgy ekaristi dengan memakai bentuk abag ke-4. Seiring perjalanan waktu, terjadilah perkembangan yang pesat dalam agama Kristen. Dalam perayaan liturgy setiap hari Minggu, basilica yang paling besar pun tidak mampu menampung semua umat yang hadir sehingga kota-kota dibagi-bagi dalam paroki-paroki, dan imam-imam diangkat sebagai pastor dalam komunitas. Pembagian ini memungkinkan setiap orang bisa mengikuti ibadat bersama. Musik

28

liturgy menjadi begitu rumit sehingga koor-koor harus dilatih untuk menuntun umat dalam menyanyikan lagu-lagu itu. Tetapi suatu waktu terjadi bahwa, banyak orang lebih suka untuk mendengarkan musik indah dan tidak ikut serta dalam koor. Hal ini tidak banyak berbeda dengan apa yang kita temukan dalam banyak paroki sekarang ini. Orang-orang Kristen tidak lagi harus cemas mengenai penyaniayaanpenganiayaan, tetapi mereka harus menghadapi masalah bida’ah kepercayaan-kepercayaan yang berselisih dengan atau heresy, tradisi Gereja. Satu dari

kepercayaan-kepercayaan ini yakni, Kristus bukan Allah seratus persen, menjadi begitu menakutkan sehingga pemimpin-pemimpin Gereja mulai menekankan keilahian Kristus dalam upacara-upacara mereka dan bahkan dalam doa-doa liturgi. Ketika hal ini berlangsung, orang-orang yang menerima komuni tidak lagi sesering biasanya. Mereka merasakan tidak pantas menerima Tuhan dalam Ekaristi. Sikap ini berlangsung sampai abad ke-20. Ekaristi Dalam Abad-Abad Selanjutnya Ketika agama Kristen menyebar ke utara dari kekaisaran Romawi masuk ke seluruh daratan Eropa, para missionaries menemukan bahwa cara terbaik untuk menyebarkan iman adalah melalui sakramen-sakramen. Orang-orang kepada siapa Kabar Baik diwartakan adalah orang yang buta huruf, sehingga tidak bisa meminta mereka membaca Kitab Suci. Selain itu, setiap suku Jerman berbicara dengan dialek mereka sendiri, dan ternyata ada ratusan suku. Para missionaris juga mempelajari bahasa suku-suku untuk menjelasakan Yesus dan perlunya pembaptisan. Ketika para missionaris menyelenggarakan sakramen-sakramen, mereka sekurang-kurangnya dapat menjelaskan apa yang terjadi. Karena perbedaan-perbedaan bahasa, ritus sakramental dipertahankan dalam bahasa Latin. Kebijaksanaan ini memiliki satu keuntungan bahwa bahasa Latin segera menjadi bahasa atarbangsa di Eropa, sebagaimana bahasa Yunani telah menjadi bahasa internasional dari Kekaisaran Romawi. Tetapi kebijaksanaan ini juga

29

memiliki

kekurangan

yang

nyata;

orang-orang

Kristen

tidak

dapat

lagi

menyelenggarakan ibadat dalam bahasa mereka sendiri. Secara bertahap, mereka bergantung pada imam untuk mendoakan mereka kepada Tuhan daripada ikut serta dengan imam dalam beribadat sebagai satu komunitas. Tidak berpartisipasi dalam liturgy dan jarang menerima komuni, keduanya berlangsung di penghujung jaman Romawi, menjadi praktek dalam abad-abad pertengahan, praktek itu kemudian berlangsung selama berabad-abad. Gedung gereja dalam awal abad Pertengahan berukuran kecil yang lebih mirip dengan kapel-kapel besar. Orang-orang suku tertentu yang dikristenkan belum menguasai seni membagun gaya Romawi. Untuk menampung sejumlah besar orang yang berkumpul dalam gereja-gereja yang kecil sedemikian ini, altar didorong ke dingding dan imam berdoa dengan membelakangi umat. Imam hanya menghadap umat ketika dia mengatakan sesuatu seperti Dominus vobis cum (Tuhan besertamu), karena mengharapkan jawaban umat. Tetapi ketika umat tidak tahu apa yang harus dikatakan, maka orang-orang muda dilatih untuk mengucapkan tanggapantanggapan dalam bahasa Latin. Meskipun mereka tidak berbicara dalam bahasa Latin, umat seringkali mengerti beberapa frase Latin. Pada akhir liturgy, imam berkata : Ite missa est (Pergilah, kini pengutusan); tetapi umat tidak mengerti kalau kalimat ini berarti bubar dan mengartikannya dengan Misa Sudah Selesai. Maka ibadat ekaristi Kristen memperoleh nama lain yang sangat popular sampai saat ini, yakni MISA. Karena sangat sedikit orang yang menerima komuni, maka para imam mulai menggunakan biscuit tipis dari roti yang tak beragi sebagai ganti roti biasa supaya roti itu tidak terbuang-buang ketika misa selesai. Mereka juga mengkonsekrasikan hanya sedikit anggur karena hanya imam yang minum dari piala. Orang Kristen mengerti bahwa mereka pergi ke gereja untuk memuliakan Tuhan. Tetapi karena mereka tidak turut mengambil bagian dalam Misa, maka mereka berpikir untuk membuat adorasi (penyembahan) kepada Kristus yang hadir dalam roti dan anggur yang dikonsekrasi. Mereka meminta imam untuk mengangkat

30

hosti dan piala sehingga mereka dapat melihatnya dengan jelas. Pada saat itu, lonceng dibunyikan sebagai tanda agar umat memberi hormat kepada tubuh dan darah Kristus. Orang-orang Kristen juga mengerti bahwa ibadat gerejani adalah sebuah pengorbanan, tetapi karena mereka tidak lagi mengalami liturgy sebagai tindakan mempersembahkan diri mereka sendiri yang umum bersama Kristus kepada Bapa, maka mereka tiba pada kesimpulan bahwa pengorbanan ini hanya dilakukan sendiri oleh imam di altar. Mereka menyebut apa yang dilakukan imam: “mempersembahkan korban Misa”, sementara umat menyaksikan dari jauh. Doa-doa Misa secara bertahap diubah supaya bisa lebih sesuai dengan pemahaman saat itu. Banyak doa syukur yang lebih tua diganti dengan doa-doa permohonan untuk meminta Tuhan menerima korban yang dipersembahkan. Ketika hal ini terjadi, liturgy tidak lagi diartikan sebagai Ekaristi tetapi hanya roti dan anggur yang dikonsekrasikan yang disebut Ekaristi. Pertanyaan-pertanyaan besar yang dihadapi para teolog Abad Pertengahan sehubungan dengan Ekaristi adalah bagaimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Jawaban yang mereka berikan adalah sebuah teori yang dikenal sebagai TRANSUBSTANSIASI, yang berarti bahwa kenyataan batiniah (secara substansial) dari roti dan anggur sungguh diubah oleh Kuasa Roh Kudus, meskipun apa yang tampak di luar tidak berubah sama sekali. Kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi, menjadi dogma Katoli tetapi transubstansiasi – penjelasan tentang bagaimana hal ini terjadi – tidak pernah dinyatakan secara resmi sebagai dogma. Meskipun ada begitu banyak perubahan dalam liturgy, tetapi Perjamuan Tuhan yang telah ada sejak abad-abad pertama kekristenan, dipertahankan menjadi struktur dasar. Sesudah doa pembukaan, Kitab Suci dibacakan dan imam menyampaikan kotbah. (Sekurang-kurangnya dia diharapkan untuk berkhotbah tetapi tidak selalu dia melakukannya). Kemudian, diucapkan doa-doa untuk Gereja, diikuti dengan kata-kata konsekrasi yang diambil dari kata-kata Kristus pada

31

Perjamuan Terakhir, dilanjutkan dengan Komuni – meskipun hanya sedikit orang yang menerima – dan umat dibubarkan. Sebelum ditemukan mesin cetak, buku-buku misa atau Missale harus ditulis dengan tangan. Ketika tulisan-tulisan baru dihasilkan, uskup-uskup mengesahkan perubahan-perubahan yang terjadi selama Abad Pertengahan. Meskipun Roma berusaha sekuat tenaga untuk menyeragamkan perubahan-perubahan ini, namun di Eropa sering kali doa-doa untuk Misa khusus sangat bervariasi dari satu Negara ke Negara yang lain. Situasi ini sama dengan jaman sekarang ketika doa-doa Ekaristi bahkan tidak tertulis atau jaman Kekaisaran Romawi ketiak setiap keuskupan besar memiliki liturginya sendiri yang berbeda. Keleluasaan sedemikian terbuka sehingga memungkinkan penyalahgunaan baik oleh para uskup maupun para imam. Terkadang para uskup menambahkan begitu banyak doa (seringkali doa kepada para santo yang mereka sukai) sehingga focus utama liturgy menjadi kabur. Pada ekstrim lain, para imam kadang-kadang memotong doa-doa sehingga mereka dapat menyelesaikan Misa dengan cepat. Mereka yang tidak mengerti bahasa Latin (bahasa tradisi) kadang-kadang mengembangkan kepercayaan-kepercayaan magis dan tahyul mengenai Misa sehingga Misa misalnya akan membawa nasib baik (kemujuran) kepada mereka. Jelaslah, beberapa pembaharuan dibutuhkan. Pada abad 16 Martin Luther, mencoba menarik perhatian hirarki akan masalah-masalah ini. Untuk melakukan ini, dia menyerang otoritas para uskup dan paus dan akibatnya dia diekskomunikasi. Tetapi banyak orang di Eropa Utara, bersimpati kepada ide-ide Luther Protestan lahir. Luther menyederhanakan Misa dan menerjemahkan itu ke dalam bahasa Jerman sehingga orang Jerman dapat mengertinya. Sekali gerakan reformasi mulai, para refomator lain mulai meninggalkan seluruh misa Abad Pertengahan dan menggantikannya dengan bentuk-bentuk ibadat yang mereka percaya lebih sesuai dan sebelum hirarki menyadarinya, Reformasi

32

dengan Injil: pelayan Kitab Suci dan pelanyan komuni yang mereka sebut Perjamuan Tuhan. Untuk menanggapi apa yang dilakukan orang Protestan, Paus akhirnya mengumpulkan para uskup Eropa dalam konsili Trente, tetapi dia melakukan itu sesudah sebagian besar benua Eropa telah meninggalkan Gereja Katolik. Para Uskup dalam konsili memutuskan untuk memasukkan pembaruan-pembaruan yang lebih dibutuhkan dari mereka sendiri. Ketika konsili selesai, Gereja memiliki Misa yang seragam yang digunakan dalam setiap keuskupan di seluruh dunia. Mesin cetak (yang ditemukan pada abad ke-15) menjadikan penyeragaman sedemikan itu mungkin, dan Gereja membuat undang-undang ketat untuk mencegah para imam dan uskup membuat Misa dalam cara lain. Selama 400 tahun, dari pertengahan abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-20, Misa Gereja Katolik tidak berubah. Itu adalah liturgy yang berkembang selama Abad Pertengahan, dengan mencopot banyak tambahan yang tidak diinginkan yang pelahan-lahan telah masuk di dalamnya. Liturgi Ekaristi Tidak seperti para uskup dalam Konsili Trente, para uskup yang berkumpul pada konsili Vatikan II (1962-1965) memiliki keuntungan karena lebih banyak ilmu pengetahuan histories dan liturgis yang telah berkembang sebelum abad ke-20. Dalam dokumen pertama yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II, para uskup memutuskan bahwa liturgy harus diperbaharui lagi berusaha menyesuaikannya dengan praktek dari Gereja awal dan memikirkan kebutuhan orang untuk beribadat dalam cara-cara yang dapat mereka mengerti. Seluruh idisi baru dari Misa diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasabahasa modern sebanyak yang dibutuhkan. Edisi baru ini memungkinkan variasi dan keleluasaan, seperti umumnya dalam abad-abad lebih awal – yang menyebabkan Misa tidak lagi persis sama pada setiap Minggu. Dari Negara ke Negara, liturgy juga

33

bervariasi, sebagai bentuk ibadat yang memungkinkan masuknya perbedaanperbedaan kultur. Altar dipindahkan dari belakang dingding dan diputar, yang memungkinkan imam kembali menghadap umat sepanjang liturgy. Sekarang kita juga dapat melihat dan mendengarkan segala sesuatu yang imam lakukan. Lebih dari itu, kita diundang untuk berpartisipasi lebih penuh dalam berdoa dan menyanyi. Altar kelihatan sama dengan meja, yang mengingatkan kita akan keaslian liturgy pada Perjamuan Terakhir dari Yesus dan Perjamuan Ekaristi dari umat Kristen perdana. Sejak aspek perjamuan dari Misa sekali lagi ditekankan, maka lebih banyak orang pergi menyambut komuni daripada masa-masa sebelum Konsili Vatikan II. Dalam beberapa paroki, roti sungguh-sungguh digunakan sebagai ganti hosti tipis tak beragi, dan di paroki lain, komuni dibagikan dalam bentuk roti dan juga anggur. Struktur liturgy sama seperti yang ada sejak abad-abad awal. Banyak doa yang ditambahkan sejak Abad Pertengahan, telah dihapus untuk memungkinkan aspek-aspek esensial dari Misa tampil lebih jelas. Dua bagian utama dari Misa adalah Liturgi Sabda, yang terpusat pada Kitab Suci, dan Liturgi Ekaristi yang mulai dengan doa-doa syukur dan diakhiri dengan pembagian komuni. Misa dibuka dengan sebuah ritus pembuka, yang biasanya merupakan sebuah prosesi diiringi lagu pembukaan yang diikuti dengan dialog pembuka antara imam dan umat. Maksud ritus ini untuk membantu kita berpindah dari berpikir mengenai perhatian (kecemasan) harian menuju usaha untuk memusatkan diri pada maksud kita berkumpul, yakni merayakan Kristus yang bangkit yang berlanjut dalam tubuhNya, yakni Gereja dan secara khusus dalam persekutuan umat yang berkumpul. Pernyataan tobat dalam liturgy Ekaristi mengingatkan kita bahwa untuk mewujudnyatakan kehidupan Kristen, kita membutuhkan bantuan Allah. Gloria (nyanyian kemuliaan), yang menyusul kemudian mengingatkan kita bahwa Bapa sungguh telah memberi bantuan lewat PuteraNya, Yesus Kristus dan Roh Kudus.

34

Selama liturgy Sabda , tiga bacaan yang dipilih dari Kitab Suci dibacakan : satu dari Perjanjian Lama , satu dari Surat-Surat dan satu dari Injil. Bacaan-bacaan ini menyinggung tema liturgy hari yang bersangkutan seperti juga homili yang dibawakan sesudah bacaan; pada saat homili, imam menjelaskan bacaan-bacaan dan menunjukkan bagaimana bacaan-bacaan itu dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini. Seringkali ada waktu tenang sesudah homili untuk memberikan kita waktu untuk merenungkan apa yang baru kita dengar. Kemudian kita mengakui dan menerima Sabda Tuhan dengan mengucapkan Credo (Aku Percaya) yang adalah pengakuan iman yang berlaku sejak abad keempat. Doa Aku Percaya mengungkapkan kepercayaan kita kepada Allah, Bapa, Putera dan Roh Kudus, kepada Kitab Suci dan kepada Gereja. Jawaban lebih jauh akan sabda Tuhan diberikan dalam bentuk doa untuk maksud-maksud khusus: untuk Gereja dan para pemimpin Negara, untuk kepentingan umum serta kepentingan pribadi semua umat beriman. Biasanya, permohonan-permohonan ini dipandu oleh imam atau lector, tetapi kadang-kadang umat juga diundang mengungkapkan intensi pribadi mereka sendiri. Liturgi Ekaristi dibuka dengan persiapan altar dan penerimaan persembahan-persembahan simbolik. Wakil-wakil umat membawa roti dan anggur ke depan altar untuk diberkati, disucikan dan dibagikan pada waktu komuni. Di banyak paroki, umat juga membawa uang persembahan ke altar, uang yang dikumpulkan untuk kebutuhan paroki dan orang miskin. Dengan mempersembahkan persembahanpersembahan ini, kita secara simbolis mempersembahkan diri kita sendiri, sebagai sebuah komunitas dan sebagai individu dan mengungkapkan keinginan kita untuk melayani satu sama lain. Imam mendekati altar dan, sambil mengangkat persembahan, berterimakasih kepada Allah Bapa untuk persembahan ini dan semua kebaikan yang berasal dari Allah dan yang sekarang dipersembahkan kembali dalam upacara syukur. Kita menggabungkan diri dalam doa imam dengan menyatakan , “Terpujilah

35

Allag selama-lamanya”. Doa pendek ini yang pertama-tama diucapkan oleh imam dan kemudian oleh komunitas merupakan sebuah peringatan bahwa persembahan ini sama seperti korban-korban orang-orang dahulu, yang memberi diri kepada Allah melalui persembahan yang sebenarnya merupakan anugerah yang datang dari Tuhan. Dengan meja altar yang telah diatur, komunitas yang berkumpul memulai doa ucapan syukur kepada Tuhan yang merupakan inti Ekaristi. Imam mengundang kita mengangkat hati dan berterima kasih kepada Tuhan; Kita menjawab dengan mengatakan: “Sungguh layak dan pantas, untuk bersyukur dan memuji Dia”. Kemudian imam mengucapkan doa pujian dan berterimakasih kepada Allah Bapa, yang ditanggapi umat dengan himne pujian tua yang diambil dari Kitab Suci yakni: “Kudus, Kudus, kuduslah Tuhan…” Sebelum Vatikan II kata-kata dari bagian Misa yang menyusul (Doa Syukur Agung) selalu sama. Tetapi dalam liturgy yang telah direvisi, selebran dapat memilih dari empat teks yang berbeda, salah satunya sama dengan doa Ekaristi yang digunakan di Roma sepanjang abad ketiga. Doa-doa lain disusun lebih kemudian oleh sarjana liturgy dalam semangat liturgy tua. Doa Ekaristi apa pun yang dipilih, doa itu memuji Allah, memohon Roh Kudus dan mengingatakan Perjamuan Terakhir Yesus dimana Dia mengambil roti dan anggur, memberkatinya, dan memberikannya kepada para muridNya seraya berkata, bahwa Dia memberikan tubuh dan darahNya kepada mereka. Sebagaimana tubuh Yesus telah hancur dan darahNya telah ditumpahkan, maka semua umat yang bergabung dalam Perjanjian Baru Tuhan, memecah-mecahkan roti itu dan membagibagi piala itu sehingga semua umat Kristen dapat menyatukan diri mereka dengan Kristus dalam Perjanjian Baru ini, Perjanjian yang mengantar kita dari kematian kepada kebangkitan. Dengan mengakui bahwa ini adalah misteri utama iman kita, maka kita yang berkumpul untuk merayakan liturgy kemudian berseru: “Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit, Kristus akan kembali” Seruan-seruan lain bisa juga digunakan.

36

Kemudian imam mengucapkan doa untuk seluruh Gereja, sambil mengakui peranan terpenting Kristus dalam karya penyelamatan yang diakhiri dengan berkata: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia, serta bersatu dalam Roh Kudus, kami menyampaikan kepadaMu Allah Bapa yang Mahakuasa, segala hormat dan pujian, kini dan sepanjang masa”. Kemudian kita membenarkan “Amin”. Sebelum komuni dibagikan, doa Bapa Kami diucapkan. Doa itu ditempatkan sebelum Komuni, karena pada jaman dulu kata-kata “Berilah kami rejeki pada hari ini” dipakai untuk menunjuk pada Ekaristi. Doa Bapa Kami juga adalah doa persatuan umat Kristen, di samping itu menjadi doa yang mengingatkan kita akan perlunya mengampuni orang lain. Inilah doa yang digunakan secara umum oleh semua orang Kristen –Katolik, Ortodoks dan Protestan. Pada perjamuan terakhir, Yesus berkata, “Aku memberikan kepada kamu damai; damaiKu kuberikan kepada kamu”. Kata-kata ini kemudian menjadi sebuah doa yang sering diucapkan sebagai kenangan akan Ekaristi yang menyatuan semua orang Kristen dalam damai Kristus. Untuk menekankan hal ini, setiap orang yang hadir diundang untuk memberi tanda damai kepada orang-orang di sekeliling mereka dengan bersalaman. Harapan akan damai diulangi dalam Anak Domba Allah, doa kuno lain yang mengandung banyak kali pengulangan dan bukan hanya tiga kali seperti yang ada sekarang. Berabad-abad lalu, doa yang sama ini dibawakan, sementara roti dibagibagi dalam potongan-potongan kecil untuk komuni. Doa ini meminta Tuhan mengampuni dan menganugerahkan damai kepada dunia. Dua doa lain yang berasal dari Kitab Suci kemudian diucapkan oleh imam dan bersama-sama dalam persiapan akhir untuk menerima Ekaristi. Doa-doa ini mengingatkan kita bahwa dengan mengijinkan Kristus datang dalam diri kita, kita dapat disembuhkan dari dosa-dosa kita dan menemukan kebahagiaan yang datang dari persatuan dengan Kristus dan sesama. dengan menjawab:

37

Komuni diterima sambil berdiri dan bukan berlutut; hosti diitempatkan di tangan dan bukan pada lidah, tetapi umat yang lebih suka pada praktek lebih tua tentu bebas untuk mengikuti itu (menerima dengan lidah). Tetapi, cara sekarang untuk menerima komuni, lebih banyak bertolak dari praktek Gereja kuno; praktek itu lebih seperti menerima makanan selama perjamuan, dan berarti bahwa tubuh dan darah Kristus adalah makanan untuk peziarahan hidup orang Kristen. Kadangkadang, diizinkan agar sesudah komuni orang mengalami kehadiran Kristus dan merenungkan arti Ekaristi dalam kehidupan pribadinya. Liturgi ditutup dengan berkat penutup dan doa, sesudah itu umat diutus untuk melanjutkan warta damai Kristus, untuk mencintai dan melayani Tuhan. Itu adalah akhir misa tetapi itu juga adalah permulaan pecan yang baru dari persahabatan dan pelayanan Kristen. Tuhan ditemukan bukan hanya dalam Ekaristi tetapi juga dalam Gereja dan dalam semua orang yang membutuhkan bantuan kita. Kesimpulan Meskipun kita telah menyinggung banyak aspek dari Ekaristi, sejak permulaanya dalam kehidupan Yesus sampai perayaanya dalam praktek umat Katolik di paroki pada jaman ini, ada lebih banyak hal yang dapat dikatakan mengenai arti Ekaristi dalam Gereja dan dalam kehidupan pribadi. Ekaristi adalah liturgy simbolik yang kaya. Hanya dengan masuk/mengikuti secara penuh setiap Misa maka kita dapat menemukan nilai tambah yang diberikan Ekaristi untuk kehidupan pribadi. Dalam setiap perayaan, kita dapat menemukan sekurang-kurangnya satu elemen yang berbicara kepada kita dalam cara yang sangat mendalam. Sebagai ibadat sentral dalam Gereja, Ekaristi mengantar kita pada inti dari makna menjadi seorang Kristen. Terutama, hal itu terjadi ketika kita merayakan Ekaristi bersama orang lain; Ekaristi adalah perayaan persatuan kita umat Kristen setiap Minggu. Tetapi komunitas demikian tidak berdasarkan pada perasaan enak – meskipun banyak hal baik yang kita miliki. Melainkan, kesatuan dan komunitas

38

Kristen berakar dalam perhatian dan tanggapan teliti kita kepada Sabda Allah dan persatuan dengan Kristus dalam persembahan diriNya sendiri kepada Tuhan. Jawaban Tuhan kepada pemberian diri kita juga dilambangkan dalam liturgy Ekaristi. Tuhan memberi kita segala sesuatu yang kita butuhkan untuk perjalanan rohani kita; komunitas untuk memberi dukungan kepada kita dan untuk membagi kegembiraan dan dukacita kita; Kitab Suci untuk memberi kita inspirasi dan menuntun kita; Tubuh dan Darah Kristus untuk membekali dan memberi kekuatan kepada kita. Itulah sebabnya mengapa Ekaristi pertama-pertama dan terutama merupakan sebuah perayaan syukur. Ekaristi memungkinkan kita menjadi sadar akan semua anugerah keselamatan yang dibawa Kristus ke dalam dunia, dan pewahyuan diri Allah yang memungkinkan kita mencontohi hidup Yesus yang sungguh-sungguh bahagia dalam persatuan dengan Allah dan dalam pelayanan kepada sesama. SAKRAMEN PERKAWINAN Pengantar Selama lebih dari dua ribu tahun orang berbeda pendapat mengenai : Apakah suatu perkawinan muncul karena dua pribadi yang sepakat untuk hidup bersama secara tetap ataukah karena beberapa penguasa publik (umum) mennyahkan keputusan sepasang pria dan wanita untuk kawin? Ataukah karena dua orang yang saling memberikan hak-hak ekslusif untuk mengadaan hubungan seks, atau oleh tindakan hubungan seksual itu sendiri? Atau apakah karena suami-istri yang bersangkutan hidup bersama selama beberapa waktu tertentu atau karena kontrak perjanjian antara keluarga-keluarga kedua orang itu atau arena ombinasi dari kedua hal ini? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kita akan mencoba memulai dengan uraian secara ringkas tentang tiga unsur berkenaan dengan perkembangan pemahaman perkawinan itu sendiri yakni: Pertama: Apa yang dimengerti orang Kristen tentang perkawinan sebagai realita manusiawi. Kedua: Apa

39

yang merupakan keistimewaan dalam cara orang Kristen melangsungkan perkawinan dan hakekat hubungan perkawinan mereka. Ketiga: Apa yang dimaksud dengan perkawinan sebagai sakramen? Apakah Perkawinan itu? Dalam bentuk-bentuk lahiriah dan penampilan sosialnya, perkawinan orang Kristen itu tidak secara mencolok berbeda dengan perkawinan-perkawinan lainnyadalam masyarakat kita. Orang-orang Kristen kawin menurut pola-pola budaya di mana mereka hidup. Dengan kata lain hidup dalam perkawinan dilihat sebagai suatu keputusan manusiawi yang dasariah sebagaimana terjadi dalam diri orang yang tidak Kristen. Perbedaanya terletak hanya dalam pemahaman dan penghayatan bagaimana Tuhan berperan dalam hubungan mereka. Pemahaman awal Kristen tentang perkawinan sangat dipengaruhi oleh budaya Judaisme. Perkawinan dipandang sebagai tanggungjawab yang melekat pada kehidupan seorang dewasa.

40

41

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->