Filsafat Iluminasi "Dilihat secara keseluruhan tujuan filsafat Iluminasi diarahkan pada sasaran yang bersifat teoretis di samping

sisi praktis yang dapat dicapai, arah tersebut dimulai dengan penyucian diri dari segalala kotoran, baik secara ruhani ataupun jasmani. Langkah ini ditempuh sebagai tahapan awal penjalinan hubungan dengan Cahaya Murni-kesepuluh yang menjadi medium antara dunia materi dan imateri. Cahaya Murni-kesepuluh adalah emanasi dari “Wujud Cahaya Agung” yang nantinya akan menganugrahkan pengalaman visioner setelah subjek berhasil menapaki syarat dan ritual-ritual yang telah ditentukan sebelumnya. Merasuknya Cahaya-cahaya Murni ke dalam subjek mengantarkan pada pengetahuan yang tidak diperoleh melalui proses berfikir, kejadian ini berlangsung pada alam kusus yang disebut dengan mundus imaginalis (Al-Âlam Al-Mitsâli). Adapun tahapan selanjutnya ditempuh dengan pendemostrasian dengan landasan logis, epistemologis dan metafisika Aristotelian Timur (AlMayaiun Al-Syarqiyun) sebgai cara intensif menjabarkan dari simbol-simbol bahasa yang dimengerti tetapi sulit diungkapkan." Filsafat Iluminasi [Pembuktian Realitas-realitas Suprarasional] Oleh : Amirullah Ésa[1] Suhrawardî; Grand Master Iluminasi “Ia (Suhrawardî) termulia [dikalangan Sufi] dengan cerminnya yang berbeda, [karena] sinar sang Surya telah mewujud dalam [diri]nya, [terkadang] sinar itu merah, kuning, atau biru. Tapi semuanya tampak sempurna sebagaimana adanya” [Al-Jami][2] Syihâbu Al-Dîn Yahyâ ibn Habasy ibn Amîrak Abû Al-Futûh Suhrawardî adalah pribadi yang sangat dikenal dalam sejarah filsafat Islam, khusunya ketika ia berhasil mendirikan faham filsafat baru dengan epistemologi yang dikembangkan dari tradisi dan kepercayaan Persia kuno. Filsafat yang dikenal dengan nama Iluminasi (Isyrâq) secara metodologis dan epistemologis sangat berkebalikan dengan pendekatan kaum Peripatetik yang melulu mendahulukan rasio dan memarjinalkan intuisi dan imajinasi yang tersimpan dalam jiwa manusia. Suhrawardî lahir di kota kecil Suhraward di Persia barat laut, tepatnya pada tahun 549 H/1154 M, saat umat Islam Timur mengalami puncak peperanganan dengan bangsa Mongol di kawasan Azerbaijan.[3] Imbas keadaan itu terjadinya penjamuran gerakan spiritualis yang mencoba menenangkan kejiwaan warga, dan sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme melawan bangsa-bangsa Kolonial. Memang benar, tidak pernah ada peperangan yang memberikan kedamaian, dan penjajahan yang menyisakan ketenangan. Ambisi orang-orang bengis itu, hanya membuahkan derita dan air mata, bagi mereka yang kalah dan kaum kecil yang mengalaminya. Kejamnya bangsa Mongol saat menjajah Muslim Timur diilustrasikan Ibnu Khaldûn dalam Muqadimahnya, sebagai topan yang melanda Baghdad dan sekitarnya, yang menghancurkan sendi-sendi kejayaan Islam, menghitamkan sungai Tigris dan Hulagu dengan tinta dari buku-buku yang dijadikan jembatan. Begitupun komentar Al-Qurthuby saat menafsiri ayat-ayat sifat Ya’zuz-Ma’zuz, yang keduanya digambarkan sebagai

Sedangkan formasi baru yang ditawarkan Suhrawardî menggunakan sistem yang lebih sederhana. Dalam buku tersebut Aristoteles hanya mengakui dua bentuk logika saja. Meskipun situasi dan kondsisi di sekitar kematiannya tetap menjadi objek spekulasi bagi para sejarahwan yang mengkajinya. sehingga tampak berkelindan dan saling menglengkapi. dan membagi logika pada tiga bagiannya. Dan gaya seperti ini menjadi bukti para sarjana yang menyatakan bahwa tulisan-tulisan itu disusun lebih-kurang dalam waktu yang bersamaan. sehingga pada umur tiga puluh tahun ia telah menuntaskan karya filsafatnya yang lain Al-Masyâri wa Al-Muthârahât yang diselesaikan pada 579 H/11883 M. Sebuah karya penting yang berhasil membentuk logika visi Iluminasi. Kecerdasan intelktual membawanya ke Aleppo. Kebrilian dalam berpikir mengangkatnya pada posisi penting yang setara dengan penasehat raja. Adanya buku tersebut membawanya unggul di atas para fuqaha. malah saat-saat itulah ia berhasil menyempurnakan konsep Iluminasinya dengan kehadiran buku monumentalnya yang dikenal dengan Hikmah Al-Isyrâq. yang secara global telah menyimpang dari pembagian logika Aristoteles—logika sembilan—dalam bukunya Organon. Dan di akhir hayatnya ia menemui kematian yang tragis melalui eksekusi mati di Aleppo (Halab. astronom dan teolog Istana. informasi yang diberikan sejarah mengenai perjalanan filosof satu ini (Suhrawardî) relatif komplit dan luas.[7] Adapun karya-karyanya yang lain disusun dalam bentuk risalah (surat) selama sepuluh tahun. di sana Suhrawardî memulai karir dan pengabdiannya pada pangeran Al-Malik Al-Zahîr Ghazî. waktu yang tidak cukup panjang dalam mengembangkan dua gaya filsafat khasnya. Setelah beberapa tahun belajar bersama Al-Mardanî.[5] Dan darinyalah Suhrawardî mempelajari logika super pada mahakaryanya Al-Bashâir. Suhrawardî merasakan kemapanan di jenjang awal ilmu filsafat dan teologinya. gaya Iluminasionis yang kemudian disusul dengan demonstrasi Peripatetik. yang kemudian meminta izin intuk melanjutkan pengembarannya bersama Zahir Al-Farsî ke seorang tokoh logikawan besar. yang konon pada pandangan pertamanya telah meramalkan kematian—tragis—Suhrawardî. putra Sultan Shalah Al-Dîn Al-Ayubî yang dijuluki “raja Saladin”. istimewanya posisi Suhrawardî di hadapan pangeran bersinggungan . menjalani kehidupannya yang sangat singkat. logika formal dan logika material. Bahkan terpercik keinginan sang pangeran untuk mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan filsafatnya pada khalayak publik. Kesibukannya di istana tidak membuatnya lalai pada proyek yang dimilikinya.[4] Lembaran agenda intelektual Suhrawardî diawali dengan belajar filsafat dan teologi pada Majd Al-Dîn Al-Jillî di Maraghah. simantik. yang kemudaian dilanjutkan ke Isfahân (Mardîn) untuk belajar kepada Fakhr Al-Dîn Al-Mardanî.bangsa Mongol dan Tartar yang melakukan penyiksaan pada umat Muslim di Timur.[6] Kesempurnaan intelektual berhasil diraihnya dalam waktu singkat. tiga puluh enam tahun Syamsiah. dan sederajat dengan para mentri dan hakim-hakim agung kerajaan. atau kurang lebih. Walaupun demikian adanya. Dan tak pelak lagi. logika formal dan logika material. Filosof yang dikenal sebagai guru besar Iluminasi. seorang gubernur Aleppo yang juga dikenal sebagai Malik Zahîr Syah. dan karena itulah terkadang ia disebut sebagai Guru Besar yang terbunuh (Al-Syekh Al-Maqtûl). adalah memberikan rujukan silang atau penjelasan terkait antara satu karya dengan karya yang lain. 594 H/1198 M). Suriah) pada tahun 587 H/1191 M. Satu lagi kekhasan yang sering diperlihatkan Suhrawardî dalam surat-surat filosofisnya. ‘Umar ibn Sahlan Al-Shawî (w. mungkin sekitar tiga puluh delapan tahun Qomariah.

Kehawatiran ini pun didorong dengan memuncaknya konflik politik dan militer yang berlangsung antara pasukan Muslim dengan prajurit raja Inggris perbatasan. Buku tersebut memaparkan later belakang. pengrusak agama. mentri. Puncak tuduhan itu terjadi ketika sampainya surat Qadhi Al-Fahdîl yang berisi pemberitahuan isu-isu yang tersebar di istana pada raja Saladin di Mesir. tempat bernaung para “Urafâ” mempelajari kansep-konsep ketuhanan dan Iluminasi. Sedangkan kelompok sufi melandasi pengetahuannya pada pemahaman “akan-diri-sendiri” (bi ma`rifati nafsihi) yang diperoleh melaui sensitifitas jiwa dengan mengikis sifat-sifat kotor yang menyelimuti cahaya hati. akibat adanya kecurigaan pemuka-pemuka istana pada “doktrin politik Iluminasi”—yang didasari pikiran Syiah Imamiyah—yang telurkan oleh Suhrawardî.dengan intrik-intrik politik yang melahirkan kecemburuan para hakim. begitupun keberhasilannya mendirikan Madrasah Isyrâqiyyah yang kelak menjelma menjadi mazhab Isfahân. tapi telaah yang berhasil dibuktikan adalah eksekusi mati Suhrawardî bersifat politis. Walaupun akhir perjalanan hidup Suhrawardî masih menjadi dilema sejarah. dan mirip dengan teori Al-Farabi dalam “Madînah AlFadhîlah”. Abu Yazid Al-Bustami dan Halaj. visimisi. isu “zindik”. pengejawantahan sendi-sendi kebenarannya dalam tatanan praktis seperti yang lakukan pembesar-pembesar sufi. yang—dengan raut sedih—mengutarakan rasa kekecewaannya pada kelompok Peripatetik Muslim yang dipelopori oleh Ibnu Sina. dan dengan kepercayaan yang begitu tinggi (pada Qadhi tersebut) raja Saladin memerintahkan Malik Zahîr Syah untuk mengeksekusi Suhrawardî di Aleppo. Tuduhan-tuduhan tak senonoh pun tersebar. yang akhirnya membelenggu mereka pada lingkaran teoretis saja. karena di anggap gagal mencapai visi-misi filosofis ketimuran. bahkan ke-Syiahan Suhrawardî yang dahulu dianggap biasa. aturan. Kegagalan kelompok Peripatetik diakibatkan permasalahan yang sangat fundamental (Asasi). fuqaha. tapi satu hal yang pasti. Ditambah pertempuran-pertempuran besar umat Muslimin dengan pemeluk Nasrani saat memperebutkan tanah suci Palestina. yang berakhir pada konklusi yang berbeda. serta argumen-argumen dasar yang menjadi landasan filsafat Iluminasi. serta para pembesar-pembesar Aleppo lainya. Jenis pengetahuan seperti ini mereka kenal dengan “pengetahuan melalui Iluminasi dan kehadiran”. ia mempunyai pengaruh besar pada perkembangan pemikiran filosofis di masa selanjutnya. adalah fakta-fakta yang disepakati oleh semua penulis biografi Suhrawardî. kini menjadi momok dan sasaran empuk untuk menyisihkannya dari taman istana. sehingga sekecil apapun gerakan mencurigakan langsung ditindak tegas tanpa pertimbangan yang lebih lanjut. Kaum Peripatetik selalu membatasi kebenaran pada limit dan nilai-nilai demonstratif. Modus asketik kaum sufistik berhasil mengangkat meraka terbang mencapai kesatuan bersama Intelek Aktif (Al-Aql Al- .[8] Walaupun demikian. Kemunculan Filsafat Iluminasi Dari sudut pandang tekstualis. dan dengan argumen demonstratif Suhrawardî menceritakan sebuah kisah fiktif yang memuat mimpinya bersama Aristoteles. Semuanya dipaparkan begitu jelas. kaidah. kemunculan filsafat Iluminasi (Isyrâq) dimulai dalam buku Al-Talwihat. dan meraih tingkat kebijaksanaan diri. dan proses penambahan intensitas[cahaya]nya dengan merasakan kehadiran zat supraraional yang membiming hati pada jalan yang terang. validitas cerita ini masih kontroversial dan “debatable”.

[10] Selain fakta kegagalan kaum Peripatetik Mulsim. hanya saja modus kontemplasi pada kekuatan imajenasi dan intuisi. Suhrawardî tidak mengingkari Ibnu Sina sebagai sebagai peletak pertama pandangan filsafat Timur. bahkan beberapa istilah. arah tersebut dimulai dengan penyucian diri dari segalala kotoran. ia tidak memarginalkan demonstrasi akal—seperti yang diceritakan sarjana-sarjana Timur modern—. Bahkan terjadi monopoli Peripatetik di atas dasar imajinasi. Tapi fakta-fakta ini tidak membenarkan konklusi bahwa munculnya filsafat Iluminasi sebagai alegoris dari filsafat Timur Ibnu Sina. adalah penolakan Mantik Masyriqiyyin dan Kararsis Fi Al-Hikmah sebagai landasarn dasar filsafat Iluminasi (filsafat alam Timur) dan penentangan tersebut didasarkan pada kecurigaan susunan kaidah logika kedua manhaj yang semata adalah rengkarnasi dari teks-teks logika standar kaum Peripatetik. bahwa modifikasi-modifikasi sederhana yang dilakukan Ibnu Sina tidak menjadikan ia sebagai filosof Timur. juga tidak sesuai dengan alam Timur yang menginginkan kaidah-kaidah yang berbeda dengan kelompok Peripatetik. bahkan sebagian landasan yang digunakannya dalam Hikmah Al-Isyrâq banyak digunakan. melainkan banyak guru-guru lain yang dielaborasinya. Filsafat Timur yang dipahami Ibnu Sina sebagai usaha mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi atas realitas teoretis dan praktis sesuai kemampuan manusia. bahkan area [sensitif] metafisis. epistemologis. Walhasil. Struktur dan Metode Filsafat Iluminasi “[Suhrawardî] Guru besar Iluminasi yang menapaki [trend] filsafat Timur. nabi dan para imam. Dan dengan deminikan penulis tetap meyakini bahwa filsafat Iluminasi milik Suhrawardî semata. kemunculan filsafat Iluminasi juga bermuara dari ke-inkonsistensi-an filsafat Timur (Al-Falsafah AlMasyriqiyyah) pada ranah logis. baik secara ruhani ataupun . dan lagi-lagi fantasi itu hanya ditempuh dengan menyandarkan diri pada pengalaman-pengalaman spiritual mistik.” [Mulla Shadra][13] Dilihat secara keseluruhan tujuan filsafat Iluminasi diarahkan pada sasaran yang bersifat teoretis di samping sisi praktis yang dapat dicapai.Faâl) dan melampaui capaian-capaian filsafat diskursif.[9] Mengenai pengetahuan mistik Iluminatif. yang seharusnya [kedua landasan ini] berperan sama dan saling bersandingan. metode. menebarkan kebijkasanaan-kebijaksanan seperti halnya para filosof.[12] Di antara kritikan Suhrawardî pada gurunya Syaikhu Râis. Begitupun peletakan Kararsi Fi AlHikmah dan Mantiq Al-Masyriqiyyin yang dinisbatkan Ibnu Sina sebagai metode dasar “orang Timur” dalam berfilsafat. pelepasan jiwa dari kerendahan jasad. kebenaran-kebenaran yang diraih dapat dengan mudah diejawantahkan dalam tatanan praktis. juga penghidup simbol-simbol Persia kuno Pada teori [hakitat] Cahaya dan Kegelapan. yang tidak didasari pada rasionasinasi semata. teks-teks. karena sumersumber yang di gunakan tidak hanya bermuara pada Ibnu Sina saja. lebih menjadi prioritas menempuh pengetahuan metafisik. melainkan juga pada supra-imajinasi[11] gagal direalisasikan pada tatanan praktis. tapi setelah itu ditemukan argumen-argumen filosofis diskursif memainkan perannya dan melakukan penalaran layaknya kaum Peripatetik Muslim. Lebih jauh lagi Suhrawardî menekankan.

Lebih jelasnya. kejadian ini berlangsung pada alam kusus yang disebut dengan mundus imaginalis (Al-Âlam Al-Mitsâli). dan imitasi. Cahaya Murni-kesepuluh adalah emanasi dari “Wujud Cahaya Agung” yang nantinya akan menganugrahkan pengalaman visioner setelah subjek berhasil menapaki syarat dan ritual-ritual yang telah ditentukan sebelumnya. Sehingga sebelum memasuki epistemologinya merupakan hal yang sangat urgen memahami komponen-komponen dasar pembangun pikiran-pikiran mistik. intuisi. pengetahuan) abstrak yang berasal dari Sumber Cahaya (Wujud Cahaya Agung) yang merambat dengan sendirinya begitu [sumber cayaha] itu menyala. tapi akan mudah dimengerti manakala kita memahami konsep “pengetahuan” yang diimani para sufi dan penganut Platonisme. dengan melihat arah perubahan dan menemukan sumber penyebabnya. ia akan mengetahui Tuhannya”. yaitu. Pengetahuan terbagi dalam dua bentuknya. Sedang yang kedua. Kelompok pertama lazim ditempuh dengan memaksimalkan bagian manusia yang disebut dengan akal atau intelek. tapi setiap bentuk memiliki kesamaan yang hampir serupa dengan bentuknya yang lain. Pengetahuan ini dihasilkan dengan memahami fenomena alam yang terjadi di jagat raya. antara materil. yang bertanggung jawab atas penyimpanan citra atau kesan mengenai hal-hal yang dapat diindra setelah mereka lenyap (dari indra). irasional dan metafisika. Imajinasi (Al-Khayâlah) dalam pandangan kaum Iluminasionis adalah daya penyimpan dan penyeimbang jiwa. fisika dan metafisika. rasional dan fisika. bahwa pengetahuan jiwa (ruh) tentang diri sendiri adalah ladasan segala pengetahuan [yang] trensenden. dengan demikian kongklusinya biasa disebut sebagai pengetahuan rasional atau diskursif. Langkah ini ditempuh sebagai tahapan awal penjalinan hubungan dengan Cahaya Murni-kesepuluh yang menjadi medium antara dunia materi dan imateri. epistemologis dan metafisika Aristotelian Timur (AlMayaiun Al-Syarqiyun) sebgai cara intensif menjabarkan dari simbol-simbol bahasa yang dimengerti tetapi sulit diungkapkan. Merasuknya Cahaya-cahaya Murni ke dalam subjek mengantarkan pada pengetahuan yang tidak diperoleh melalui proses berfikir.[16] Proses ini . pengetahuan jiwa tentang dirinya sendiri diibaratkan pantulan cahaya (yang dimaksud. sistem yang digunankan adalah “memahami-akan-dirisendiri” sebagai sumber pemahaman yang lebih mendalam selanjutnya. Modus ini meniscayakan manifestasi ungkapan Plato yang seirama dengan diktum AlQuran yang menyatakan bahwa “Siapa saja yang memahami dirinya. Selain pengetahuan ruh tentang dirinya-sendiri. struktur filsafat Iluminasi juga kerap menggunakan dimensi-dimensi imagenalis dengan porsi yang cukup besar. Sebuah statemen yang mungkin membingungkan.[14] Begutupun Pengetahuan ruh tentang dirinyasendiri menjadi “kunci” kaum Iluminasionis mendapatkan pengetahuan melalui “kehadiran” (Al-`Ilm Al-Hudhûrî)[15]. yang terletak di luar jiwa (nafs) dan jasad. pengetahuan suprarasional yang berada di luar arena pengetahuan pertama. Sebuah teks filosofis yang mensiratkan pesan. Pemahaman itu dimulai dengan mendefinisikan arti penting trilogi kaidah Iluminasionis. Dikotomi yang saling bertentangan. materil dan imateril. juga pengontrolan atas citra dengan menyusun dan menguraikannya kembali.jasmani. yang tidak dipancarkan secara sengaja serta tidak terputus-putus. yang secara gneologis memiliki cara pandang bebeda dengan kelompok Peripatetik Timur maupun Barat (Yunani). imajinasi. Adapun tahapan selanjutnya ditempuh dengan pendemostrasian dengan landasan logis. untuk kemudian dipotensikan membentuk citra yang baru. rasional dan irasional. dan begitupun antara imateril.

. sehingga memperluas jangkauannya. semua benda wujud. adakalanya penggambaran citra terkontaminasi oleh emosi. penjelajahan dilanjutkan dengan meniti jenis-jenis metode yang menyusun pemikiran Iluminasi. juga penghidup simbol-simbol Persia kuno Pada teori [hakitat] Cahaya dan Kegelapan”. sehingga tidak membutuhkan pendefinisian. eksistensinya nyata dan aksiomatik. ungkapan ini akan menjadi landasan dalam meneliti pemakaian simbolisme cahaya sebagai penyibak rahasia ontologis dan struktur. Seperti dicontohkan Suhrawardî dalam Hikmah Al-Isyrâq yang menyebutkan Wujud Wajib (Al-Wâjibu Al-Wujûd) dalam filsafat Peripatetik Ibnu Sina. berkhayal. karena tidak ada sesuatu yang lebih terang dan lebih jelas kecuali cahaya itu sendiri. serta eksistensi benda non-sensible —dimaksud di sini. Dan sebaiknya.menjadi dasar penataran membentuk jiwa-jiwa sensitif. yang merasakan wujudwujud benda non-sensible (tidak terindra) dan yang tidak berwujud. penggunaan simbolisme cahaya sangatlah “pas” dalam memahamkan arti jarak dan tinggkatan-tingkatan (Al-Thabaqât). Lain halnya dengan daya imitasi yang merupakan kontinuitas potensi imajenasi. Setelah memahami dan mengerti fungsi masing-masing komponen serta perngaruhnya dalam sturktur epistemologi filasafat Iluminasi. semakin jauh [benda] dari sumber cayaha. seperti bentuk udara. dan penjelajahan realitas-realitas suprarasional[17]. cahaya mirip dengan eksistensi Tuhan dan wujud-wujud trensenden lainnya. bahkan dikutip oleh Dr. diantaranya. walaupun secara esensi terlihat sama. tak terlihat —disekitar kita. dan mahluk-mahluk halus. Perlu ditekankan bahwa semua komponen-komponen ini tidak hanya menjadi ciri-khas filsafat Suhrawardî yang merekontruksi filsafat Peripatetik Timur. panas. Ia mewakili kemampuan subjek menggambarkan realitas-realitas suprarasional melalui citra-citra lain. Telah singgung sebelumnya pada pernyataan Mullâ Shadrâ. yang telepas dari ketergantungannya pada dunia materi.[19] Rahasia kedua. maka intensitas yang diterima sangatlah tinggi. Husain Ghilâm Dinanî dalam Isyrâq Al-Fikr wa Al-Syuhûd fi Falasafah Al-Suhrawardî. Cahaya mempunyai intensitas yang berbeda. Tapi tidak semua sensitifitas jiwa—yang digambarkan imagenasi--. emosi dan kebutuhan-kebutuhan tubuh. derajat keimanan. sehingga citra yang tergambarkan tidaklah murni.[18] Penggambaran realitas intelijebel pun bisa juga dipraktekan dalam area sensible (indrawi). Dan dengan rumus sederhana. karena memberikan konkusi berbeda dengan substansi sesungguhnya. rasa takut atau gembria yang terbawa dari alam nyata. sehingga ia tampak berseri-seri karena cahaya Ilahi telah memacar dalam hati. begitupun penamaan Intelek-intelek terpisah Tuhan (intelek sepuluh dalam struktur penciptaan semesta). keterangan atau penjelasan. dan urutan penciptaan semesta. yang mungkin menyentuh penggambaran temperamental. yang berbeda dengan substansi awal. Penggunaan simbol cahaya dalam filsafat Iluminasi mempunyai beberapa rahasia unik yang tidak terwakili oleh wujud lain. Adapun kekuatan intuisi memiliki peran yang sama dengan daya imajenasi. memiliki kongklusi wujud yang sesuai dengan kenyataannya. tapi juga menjadi visi-misi filsafat Iluminasi yang diciptakannya. dengan “Cahaya segala cahaya” (Nûr AlAnwâr). adapun imajenasi murni adalah perasaan “cerah” yang dirasakan jiwa yang suci. diubah menjadi “cahaya-cahaya abstrak” (Al-Anwâr Al-Mujarradah).struktur kosmologis. cahaya. “semakin dekat benda dengan sumber cahaya. bahwa keduanya bekerja besamaan dalam proses kontemplasi. bahwa “filsafat Iluminasi menapaki [trend] filsafat Timur. Dan imajenasi yang demikian dinamakan imajenasi palsu.

tapi ia terus memancar dan menghubungkan eksistensinya dengan sang Maha Wujud. kemampuan meramal masa depan. kehidupan selain dunia. tapi esensinya sebagai manifestasi sang Cahaya Agung tetap ada. Substansi-substansi (Al-Jawahir) mereka walaupun bukan benda yang bercahaya. yang mungkin dapat mencerahkan hati-hati mereka yang belum berseri. melihat keagunganNya melalui kreasi-kreasi yang diciptakanNya. mimpi yang benar. karena jarak antara dia dengan Tuhan sangatlah dekat. yang keduanya adalah “cahaya lilin” yang dianugrahkanNya sebagai penerang di tengah kegelapan jiwa yang diselimuti nafsu-nafsu kehewanan. Kejadian ini serupa dalam tingkatan keimanan seseorang. . Dengan cara ini filsafat Iluminasi dapat memahamkan dengan mudah— pada publik—teori-teori radikal sufistik yang sekilas bertentangan dengan konsepkonsep teologi agama yang lumrah. Dengan beberapa metode. dan dinikmati. malah sesekali mereka melebelkan kata “zindik” keluar dari agama yang sah. karena jika itu terjadi ia tak dapat memanifestasikan sifat-sifat kemuliaan yang melekat dalam zat Tuhan. dan bahkan kekuatan menghidupkan orang yang sudah mati. Mungkin lain cerita jika teori-teori nakal ini dijelaskan dengan ungkapan-ungkapan kaum Ilumiasionis. bahkan yang lebih dari itupun mungkin terjadi. dan meraih kebijaksanaan yang lebih peraktis. bagi kelompok yang mengimaninya. dan ini mustahil. Alam adalah manifestasi kesempuranan Tuhan. karena kekuatan yang ada dalam jiwa (manusia yang tercerahkan) bukanlah kekuatannya sendiri. yaitu merumuskan kembali jalan yang lurus menuju suatu kehidupan filosofis yang dipenuhi udara kebenaran. walaupun itu hanya sebercik cahaya. Dengan demikian adanya filsafat Iluminasi adalah penyeimbang arus Peripatetik yang keduanya memikili tujuan sama—walau masing-masing menempuh jalannya yang berbeda—. sehingga menjadi keniscayaan pancaran itu tertampi dalam diri manusia yang mempunyai intelek dan hati. melainkan ia memancarkan kesempurnaan kuasa bagi zat yang maha Kuasa. serta proses pengaplikasiannya dalam filsafat Iluminasi seringkalai para Iluminsionis itu mengklaim bahwa sistem mereka ini adalah pendekatan yang paling handal dalam membuktikan sifat-sifat sang Maha-Trensenden (Wujud Wajib). juga menjadi sarana yang secara ilmiah lebih valid dalam meneliti sifat dan hakikat.intensitas yang diterima semakin rendah”. Sebut saja teori “kesatuan Eksistensi” (Wahdah Al-Wujûd) baik dipahami sebagai kesatuan zat ataupun sifat. struktur. hingga tak ada satupun dari mereka—ciptaan Tuhan—yang tidak memiliki hikmah (manfaat). bahkan hal-hal yang lebih non-standar lainnya. ilham. adalah untuk memuji diriNya sendiri. di hargai. hingga intensitas cahaya yang terpancarkan adalah perwujudan dari kesempurnaan Wujud Cahaya Agung. cahaya Tuhan yang pancar dalam sosok yang derajatnya lebih tinggi (Mutaqin) mempunyai [pancaran] aura kebijakan yang lebih besar. mereka adalah manifestasi Tuhan yang perlu dipuja. —dalam pandangan Ilumisionis—Tuhan adalah Cahaya segala cahaya (Nûr Al-Anwâr) yang aktivitas dan sifatNya adalah memancarkan sinar kesempurnaanNya. Hal-hal yang demikian memang bukanlah hal yang mustahil. Hingga senista apapun wujud di alam semesta ini. serta media utama mencapai kebahagiaan. seperti. alam kedua. karena Ia menciptakan semesta. yang digunakan untuk mengabdi kepada kekuasaan sang maha Adil (Wujud Niscaya). tapi pada kenyataannya para Mutakalimin dan Fuqaha masih belum sepakat menerima teori tersebut. wahyu. kejadian ajaib dalam kehidupan sufistik dan para nabi.

Untuk memperoleh pengalaman visioner tersebut seorang yang hendak menjadi filosof harus melewati beberapa tahapan yang telah ditentukan. dan mengajarkannya secara langsung tanpa perantara ilham dan wahyu. Adapun tahapan ketiga adalah tahapan konstuksi (perolehan) suatu ilmu yang benar dan pencapaian pengetahuan yang tak terbatas. melakukan uzlah selama empat puluh hari. Dan dalam pemaparan epistemologis filsafat Iluminasi.Epistemologi Filsafat Iluminasi Dalam pembahasan utama ini. tepatnya dalam pembahasan macammacam cahaya. kiranya perlu tekankan bahwa prinsip dasar pengetahuan Iluminasionis adalah pengalaman visioner. adanya tahapan ini sebagai antisipasi ketika rasa ekstase itu hilang dan menjauh dari subjek. puasa. kejadian “ekstase” yang dirasakan para sufi hanyalah sebentar dan tidak dalam masa yang lama. pemahaman hakikat Cahaya dan sifat-sifatnya. Dan tahapan ini disempurnakan dengan pendemostrasian Aristotelian dengan menggerakan data-data indrawi (yang di lihat) kepada akal sebagai pusat pengetahuan ilmiah diskursif. Menurut mereka yang telah merasakan. Dalam proses ini Cahaya Ilahi mengambil peran penting sebagai fondasi dasar pembangun ilmuilmu sejati yang akan ditemukan melalui perantara kehadiran. Dan itu diungkapkan dalam perkataan. penulis hanya memaparkan bagian-bagian penting.[21] Sedangkan tahapan terakhir adalah pendokumentasian pengalamanpengalaman visioner ke dalam tulisan. Dalam tahapan ini subjek telah dikatakan sebagai filosof Ilumisasi yang mencapai tingkatan “melihat” Cahaya Ilahi. yang sekiranya mempunyai peran dalam pembentukan pemikiran Iluminatif. dan yang terakhir proses penciptaan semesta berdasarka kaidah Isyrâq. yang dirasakan subjek pada tingkatan ketiga setelah Cahaya Ilahi merasuk ke dalam jiwanya. Dengan tujuan sebagai persiapan diri subjek untuk menerima ilham dan wahyu. Dengan demikian langkah yang harus ditempuh adalah meninggalkan kehidupan dunia. ditandai dengan kegiatan persiapan para filosof dalam menapaki dimensi-dimensi iluminasi. 1.[20] Tahapan kedua disebut tahapan pencerahan. penyaksian (musyahadah) dan penyingkapan (mukasyafah) realitas Cahaya Murni serata mengenal kebenaran intuisinya sendiri. dan diikuti oleh tahapan keempat yang memaparkan pendokumentasian pengalaman-pengalaman suprarasional. Sehingga tulisan tentang perasaan itu lebih terwakili oleh syair dan pusi-puisi karena daya hayal dan pengungkapannya lebih menjiwai. “mengetahui sesuatu. “ngerowot” (tidak makan yang bernyawa) dan aktivitas lainnya yang tergolong praktik asketik dan mistik. teori Cahaya dari segala cahaya (Nûr Al-Anwâr). Dan dalam bukunya Al-Masyari wa Al-Mutharahat Suhrawardî menetapkan tiga tahapan yang menggarap persoalan pengetahuan. berarti memperoleh pengalaman tentangnya”. pada saat itulah ia telah mendapatkan pengetahuan melalui kehadiran yang tak terbatas. Pada tahapan awal. yang mengisyaratkan merasuknya Cahaya Ilahi ke dalam wujud manusia (subjek). Hakikat Cahaya Murni (Wujud Cahaya Agung) dan sifat-sifatNya Dalam buku Hikmah Al-Isyrâq. guru besar Iluminasi (Suhrawardî) beranggapan bahwa Cahaya . Dan epistemologi itu dimulai bernuara pada tiga teori.

tidak memiliki arah. tidak bergantung kepada yang lain dan beridi dengan substansinya sendiri. substansi gelap dan aksidenaksiden gelap. dan aksiden-aksiden gelap lainnya.[26] Berdasarkan substansinya tidak ada satu faktor pun yang dapat mengubah suatu hakikat yang memiliki pengetahian atas zatnya sendiri. Adapun benda gelap.[24] Begitupun kehadiran cahaya-cahaya yang tidak murni. dan begitupun tidak ada satupun faktor yang dapat merubah posisinya menjadi realitas yang tak berilmu menjadi hakikat yang mengetahui dirinya sendiri. Karena dalam kenyataannya. Cahaya-cahaya ini secara esensial tidak tersembunyi dan juga tidak tampak.[22] sehingga tidak ada cahaya yang lebih terang kecuali Cahaya itu sendiri. bahwa A mengtahui dirinya sendiri dan mengetahui segala eksistensi dan wujud-wujud B. Sedangkan B tidak bisa menghasilkan penetahuan akan dari dirinya sendiri karena esensinya bergantung pada eksistensi A. Hakikat Cahaya Murni murni adalah tidak dapat diindra. substansi. Cahaya adalah sesutau yang terang. Dan secara esensial. ia selalu membutuh pada wujud dan realitas yang lain. berpengetahuan dan memiliki aktivitas. Tapi apakah sesuatu yang tidak memiliki . bukan dengan husuli (melalui penggambaran pikiran) karena pengetahuan cahaya pada zatnya sendiri yang dihasilkan melaui gambaran. mejadi sebuah keharusan. gamlang. bahkan terkadang terang dan kehadirannya bersifat non-esensial. kejelasan dan keterangan cahaya memanglah bersifat sesensial. Cahaya murni memancar untuk dirinya sendiri (linafsihi). dan pengetahuan bagi eksistensi B. menjadi hakikat yang tidak mengaetahui dirinya sendiri. Cahaya tak murni adalah cahaya yang bukan bercahaya dari dirinya sendiri. yang menjadi sebab keberadaannya. menandakan ia hidup. adalah Cahaya Murni.[23] Sebagaimana lazimnya cahaya selalu tampak jelas dan terang. dan sebaliknya setiap cahaya yang sensibel adalah cayaha tak murni. yang menjadi sebab wujud setiap eksistensi di alam semesta ini. tidak bisa di tunjuk. mereka diam dan tidak memiliki pengetahuan pada zatnya sendiri. Dengan demikian. dijabarkan oleh Suhrawardi dalam satu perumpamaan sederhana yang mengangkat eksistensi A sebagai penyebab keberadaan. Cahaya Murni memiliki pengetahian dan mengetahui zatnya sendiri. baik dalam hakikat ataupun zatnya. Dan ketiadaan wujud yang lainpun meniscayakan ketiadaan cahayanya. Dan pengetahuan Cahaya Murni pada wujud dan zatnya bersifat hudhuri (hadir secara langsung). objek yang dipahami hanyalah gambaran daro zat bukanlah esensi asli yang mewujud dalam zat. Dan eksistensinya tidak bergantung pada wujud yang lain. mereka bukanlah sederetan sifat tambahan pada zatnya. dan ini juga mebuktika bahwa cahaya (esensi) itu lebih terang. cahaya tidak murni. karena eksistensi dan keberadaanya tidaklah mandiri. Cahaya Murni memiliki pengetahuan atas dirinya sendiri. tidak memerlukan penjelasan dan definisi. yang nyata dan aksiomatik. ia selalu memberikan penerangan (pancaran) bagi yang lainnya. dan kediamannya meniscayakan tidaadanya pengetahuan dan aktivitas (diam). Dan yang di maksud dengan Cahaya—dengna C besar—yang tidak memerlukan definisi.[25] Sifat Cahaya Murni yang mengetahui zatnya sendiri. senantiasa berada di luar [zat] subjek.Murni—dengan C besar—merupakan suatu hakikat. yang eksistensinya dibutuhkan oleh benda-benda yang menyusun eksistensi alam semesta. karena mereka memiliki kebergantungan pada wujud yang lain. daripada sesuatu yang becahaya tapi sifat terangnya bersifat non-esensial.

Sedangkan dualisme dalam satu zat yang sama adalah hal yang mustahil. Sang guru besar (Suhrawardî) menjelaskannya dalam satu contoh sedrhana yang mengambarkan proses pemancaran Nur Al-Anwar pada Cahaya . Tapi walaupun demikiran keduanya tetap memiliki perbedaan fundamental. seperti Nur Al-Anwar dicirikan oleh aktivitasnya yang serupa. bahkan bertentangan (cahaya dan kegelapan). Suhrawardî sepakat dengan pandangan kaum Peripatetik yang meyakini bahwa “Zat manunggal hanya memancarkan pada satu bentuk yang tunggal”. maka setiap dari cahaya-cahaya itu akan tersusun dari dua deferensia yang saling bertentangan. dan kesamaan kepribadian keduanya mustahil menjadi penyebab perbedaan cahaya-cahaya yang ada. yaitu. Dan karena ketakterhinggaan adalah mustahil maka sebab keberadaan Cahaya Murni harusla ada dan cahaya ini tidak lain adalah Cahaya segala cahaya (Nur Al-Anwar). aksiden-aksiden. Cahaya murni pertama ini.pengetahuan pada dirinya sendiri menjadi esensial yang berpengetahuan? Hal itu mungkin dan jika pengetahuan yang dimiliki Cahaya Murnii dihadirkan dalam esensinya. dan jikalau ia benda gelap maka ia membutuhka pada Cahaya Murni.[28] Nûr Al-Anwâr tidak terdapat perbedaan antara zat dan hakikatnya. menetapkan sifat kemanunggalannya (Cahaya segala cahaya). Nur al-Anwar (Cahaya segala cahaya) Perbedaan cahaya-cahaya murni adalah sifat gradasional. keduanya adalah satu dan bukan unsur yang berlainan. Pemancaran cahaya ini diakibatkan oleh aktivitas Nur Al-Anwar yang senantiasa memancarkan cahaya dari substansinya. yang ada di luar zat. adalah sebuah keniscayaan dan dapat dibuktikan dengan penalaran pada ungkapan logis. yaitu meneruma pancaran cahaya Nur Al-Anwar dan memancarkan CahayaNya kembali dari substansinya. dan ini akan merujuk pada dualisme wujud cahaya. karena kedua cahaya ini dari sisi zat dan hakikatnya sama.[32] 3. gelap dan terang. yang lain. Semua cahaya-cahaya murni dipandang dari zat dan hakikatnya adalah satu. yang dalam pemikiran kelompok Iluminasioner mendasari perannya (Nur Al-Anwar) sebagai pencipta alam semesta.[29] Wujud Cahaya di atas cahaya. baik dalam zat ataupun strata fungsionalnya.[30] Kebutuhan setiap eksistensi pada faktor pencipta. Karena jika perbedaan itu terletak pada zat. “jikalau Cahaya Murni itu begantung pada realitas yang lain. Nur Al-Anwar yang ditegaskan sebelumnya sebagai sumber penciptaan hanya memancarkan cahayaNya pada satu Cahaya murni yang juga memiliki sifat yang sama dengan Nur Al-Anwar. yaitu tingkatan masing-maing cahaya. Sedangkan perputaran hukum penciptaan pada rantai yang tak terhingga adalah mustahil terjadi.[33] Sebagai hasil pemancaran cahaya substansinya terjadilah satu pelimpahan atau emanasi pada Cahaya Murni-pertama dan dibarengi dengan satu materi alam abadi (yang disebut dengan Huyuli) yang menjadi materi dasar pembentuk alam semesta. Perbedaannya hanya terdiri dari aspek kesempurnaan.[31] Karena jikalau terdapat dua Cahaya Murni yang tak saling membutuhkan adalah mustahil. Proses penciptaan [semesta] berdasarkan kaidah Isyrâq Dalam pemaparan teori penciptaan. maka kebutuhannya memuat ia menjaid substansi gelap atau benda tak hidup (karean ia butuh pada wujud yang lain). Dan sebenarnya mata rantai dari aktivitas Nur Al-Anwar inilah. kekurangan.[27] 2.

Seperti pemancaran Cahaya Murni-kedua pada cahaya murni ketiga disertai dengan bolabola langit yang bersesuaian dengannya. pancaran sinar matahari yang tak beraturan tertampi dalam sebuah cermin yang dengannya terpantul sebuah cahaya yang berbeda dari cahaya sebelumnya. karena ia adalah “sebentuk dari kesempurnaan zat yang Maha Sempurna”. dan keberadaan cahaya-cahaya murni yang mengelilinginya.[34] Proses menerima dan memancarkan cahaya. Dan kedua sebagian tokoh lain menyamarkan identitasnya. karena cermin hanyalah perantara yang menerima cahaya yang besar dan memantulkan cahaya sesuai kemampuannya. 688 H/1288 M). Sedangkan bagi subjek yang mempunyai jiwa yang tercerahkan akan merasakan pancaran yang begitu sempurna dari diri Muhammad. kelompok yang mendeklarasikan dan menamakan dirinya sebagai Iluminasionis sejati. selalu disertai oleh materi-materi yang menjadi susunan dalam tatanan cosmos. Dan inilah bukti kebenaran ungkapkan Ibnu Sina saat mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah bentuk sesempurnaan Cahaya Al-Wujud. namun ia akan menjelma sebagaimana seseorang menangkap pancaran cahayanya. terus diulangi Suhrawardî sebagai proses penciptaan alam semesta. Tradisi Iluminasionis adalah satu-satunya sistem filsafat yang utuh hingga sekarang. Khususnya ketika maraknya sintesis baru filsafat Iluminasi vis à vis Peripatetik yang akhirnya merlahikan arus [filsafat] baru yang dikenal dengan mazhab Isfahan. Proses emanasi dari Cahaya Nur Al-Anwar ke materi-materi yang ada di alam semesta. khususnya di Iran. akan mendapatkan kebijakan-kebijaannya dalam jumlah yang terbagas. yang kemudian disusul dengan menyusun surat-filosofis lepas yang berisi tentang pandangan baru filasafat Iluminasionis menurut persepsi masing-masing. adalah pengerucutan cahaya dari bentuknya yang supra-kemilau ke dalam bentuk parsial sesuai kemamuan penerimannya. Para pewaris awal pandangan Iluminasi Suhrawardî mayoritas adalah sarjana-sarjana muda abad ke-7 H/ke-13 M yang menulis komentar-komentar atas teks yang ditulis oleh Suhrawardî. Sebutan Iluminasionis masih tetap dipakai.[35] Adapun tokoh-tokoh yang menjadi pewaris fisafat Iluminasi tergolong menjadi dua. tetapi tetap mengakui keterpengaruhannya oleh pemikiran Ilumiasionis Suhrawardî. Dan akhir dari proses emanasional adalah dunia sublanatural yang terletak di bawah alam bulan. Dan proses pemancaran dari setiap Cahaya Murni. pertama. Diantara mereka yang tergolong pewaris pertama filsafat Iluminsi Suhrawardî. yaitu langit pertama. Hikmah Al-Isyrâq dan . Nur Al-Anwar digambarkan sebagai Matahari sedangkan Cahaya murni-pertama adalah cermin. yang juga dikenal sebagai penulis komentar pertama atas karya Suhrawardî. akan mengatakan Muhammad layaknya manusia biasa. adalah Syams Al-Dîn Syhrazurî (w. untuk mencirikan metode dan pandangan filosofis individual yang lebih mengedepankan landasan-landasan logis epistemologis non-Aristotelian. Keduanya sama-sama memancarkan cahaya. Trend Iluminasi Pasca Suhrawardî Tidak bisa diingkari tradisi filsafat Iluminasi yang dibangun oleh Suhrawardî pada abad ke-6 H/12 M memberikan pengaruh luar biasa dalam perkembangan filsafat Islam di abad ke-10 H/16 M hingga saat ini. tetapi cahaya yang dipancarkan cermin tidaklah sama dengan cahaya Matahari. Adapun bagi subjek yang memiliki jiwa yang sedikit bercahaya.Murni-pertama. tempat hidupnya manusia dan mahluk-mahluk lain yang juga menerima pancaran dari Cahaya Murni-kesepuluh. Subjek yang berjiwa rendah.

Prakteknya. keunikan yang dilakukan Harâwî saat ia nensingkronkan prinsipprinsip Iluminasionis dengan sistem Advita dan filsafat India. Karya-karyanya juga menjadi rujuan para Ilumiasionis yang hendak memperdalam definisi simbolisme dan alegori-alegori iluminsionis dalam kaitannya dengan doktrin Peripatetik standar.Al-Talwihât. Al-Isyârât wâ Al-Tanbihât yang menjadi “mukoror” wajib para cndikirawan yang ingin memahami filsafat Peripatetik Ibnu Sina. Diantara mereka yang terindikasi. dan Khanija. adalah Al-Syajârah Al-Ilahiyyah. ia mencoba memprioritaskan sisi diskursif dan filosofis-sistematis dari filsafat Iluminasi. akan tetapi ia mempunyai pengaruh besar dalam membentuk filsafat misik yang religius. Selain itu karya ini pun dikatakan sebagai teks Persia pertama yang menerima doktrin psikologi Suhrawardî tentang prolehan ilmu pengetahuan dengan kehadiran. serta pembahasan Suhrawardî tentang waktu yang kekeal dengan teori India tentang Yuga[40] Adapun kelompok Iluminasionis yang tergolong kelompok yang telah memasukan prinsip-prinsip Iluminasionis ke dalam karya-karyanya. [38] Sedangkan komentator Abad Pertengahan paling akhir tentang teks-teks Suhrawardî adalah Muhammad Syarîf Nizhâm Al-Dîn Harâwî yang menyusun karya-karyanya sekitar tahun 1008 H/1600 M.pertama. dan menjadi buku pegangan para filosof Iluminasionis di Iran. namun mereka kurang layak dikatagorikan sebagai penganut Iluminasionis “sejati”. dan teori kesadaran-akan-diri-sendiri sebagai prinsip dasar pembuktian ilmu kenabian. Harâwî mampu memberikan coraknya sendiri dalam menginterpretasi teks-teks Mistik Iluminasi. alegoris. tentang imagnialis (alam Al-Mitsâl) dengan empat bagian Sangsekerta. dan kemudian dibandingkan dengan pandanganpandangan Iluminasionis. Walaupun trend ini kurang menjadi prioritas para pengkaji filsafat Iluminasi. Dengan karya supernya Durrah Al-Tâjj ia dinobatkan sebagai filosof Iluminsionis (paska Suhrawardî) Iran. Diantara semua komentator. Namun priotitas epistemologi yang diberikan Thûsî pada . Dalam mahakaryanya ini. Diantara karya-karya lepasya. adalah Ibnû Kamûnah (w. Dalam pengembangan yang dilakukannya ia menambahkan beberapa contoh yang diambil dari sumber-sumber mistik populer. Dalam karyanya Syarh Al-Talwihât. Karya lepasnya Anwâriyyah terdiri atas komentar-komentarnya pada bebrapa pasal pilihan yang lebih menjabarkan bagian-bagian penting filsafat Iluminasi.[37] Yang ketiga. [39] Dalam sejumlah paragraf. filsafat Timur Ibnu Sina. adalah Quthb Al-Dîn Syirâzî (w. Harawi juga menarik beberapa pandangan mistis Hindu yang menggelitik. serta hal-hal yang berhubungan pengalaman visioner. 710 H/1311 M) adalah penulis Iluminasionis yang paling termashur dibandingkan pendahulu-pendahulunya. khususnya Matsnâwî karya Jalâludîn Rummî. seperti. Syahrazuri adalah yang murid yang berbakti karena hingga akhir hayatnya ia tetap “setia” pada konsepsi filosofis Iluminasi Suhrawardî. dan fantastis. Arayuta. Syirazî telah “mengawinkan” metodologi metafisika Ibnu Sina dengan teori imajenasi filsafat Iluminasi. Walaupun terkesan ketinggalan. Risâlah fî Al-Nafs dan Al-Hikmah. yang berhasil mensintesiskan tiga kutub filsafat Islam. yang mencoba mengembangkan lebih jauh unsur-unsur yang berkaitan dengan sisi insfiratif. Udbhija. 683 H/1284 M) yang juga membuat komentar baru atas karya-karya Suhrawardî Al-Tlawihât. Andaja. ketika ia mebandingkan teori kosmologis Iluminasionis. permasalahan metafisika. kosmologi.[36] Yang kedua. adalah Nashîr Al-Dîn Al-Thûsî (672 H/1274 M) pensyarah mahakarya Ibnu Sina. Iluminasi Suhrawardî dengan pandangan gnosis Ibnu Arabi.

yang dikutip oleh Mahredad Mahren dalam Falsafah Al-Syarq. keberpulangan (Maad). ketika menulis puisi-puisi Persia dengan nama Isyrâqi (sang Iluminasionis). yang dikenal dengan sebutan Mir Damad. ”[.. susunan eksistensi (Marâtib Al-Wujûd). Mir Damad menggabungkan prinsip diskursif Ibnu Sina dengan pendekatan intuitif Suhrawardî dalam Hikmah Al-Isyrâq. Melihat sejarah perjalanan panjangnya dalam dunia filsafat. setiap benda wujud memiliki dua sisi. mempunyai hakikat yang tetap di alam kemuliaan (Al-Malakut). substansi alam narutal (Jauhar Alam Al-Thabii). Al-Asfâr Al-Arba`ah dan Syawâhid Al-Rubûbiyyah. sisi yang selalu bergerak dan berubah. Seorang teosof besar yang menggagas filsafat Teosofi Trensenden (Al-Hikmah Al-Mutaaliyah) yang hingga hari ini tetap eksis di negri para Mulla (Iran). Dengan kata lain. Jadzawât. karena alam natural berposisi lebih rendah dari alam kemuliaan. suatu petunjuk nyata akan kesetiaanya pada filsafat Iluminasi (Suhrawardî). Begutpun akhir-akhir ini ditemukan data yang menyatakan bahwa nama samaran Mir Damad. dan eksistensi alam Imagnialis. dan sisi yang selamanya tetap. sekiranya lebih pantas jika kita menggolongkan Mir Damad dalam kelompok filosof Ilumisionsi yang sebenarnya. Al-Ufuq Al-Mubîn.].. Orang kedua yang juga terindikasi sebagai Iluminasionsi. Ibnu Kamûnâh dan Harawî.alam kehidupan).. yang sederajat dengan Syarâzurî. Sebagai penutup. Dan yang terakhir adalah “Shyekh Kubrô” Shadr Al-Din Al-Syîrâzî (w. [Sisi] yang selalu berubah itu dinamakan wujud-wujud yang ada di alam natural. dan Qabasât. 1050 H/1640 M) yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra.pengetahuan akan kehadiran tidak menggolongkannya sebagai filosof Peripatetik Muslim sejati.. 1040 H/1631 M). dan alam kemuliaan yang selamanya tetap hanya berada di alam arwah.. semuanya dikutip rapi dalam. Dalam beberapa karya terkenalnya.” [41] [Mulla Shadra] . Indikasi keiluminasian Mulla Shadra tampak jelas dalam pemikirannya tentang. adalah Muhammad Baqîr ibn Syams Al-Dîn Muhammad (w.Setiap yang wujud di alam natural (Alam Al-Thabiat. di bahwah ini penulis mengutip perkataan Mulla Shadra yang nampaknya terindikasi bau-bau Iluminasionis.