Konsep Belajar Sepanjang Hayat

1. Pengertian Konsep

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia selain berarti rancangan, konsep juga bermakna ide atau pengertian yang di abtraksikan dari peristiwa-peristiwa konkrit atau gambaran mental dan obyek proses ataupun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi memahami hal-hal lain.9

Kata konsep dari bahasa inggris (concept), yang berarti bagan, rencana, gagasan, pandangan, cita-cita (yang telah ada dalam fikiran).10

Sedangkan menurut Ibrahim Madkur, kata konsep (Inggnis concept) dipadankan dengan istilah makna kulli (Arab), yang artinya pikiran (gagasan) yang bersifat umum, yang dapat menenima generalisasi)11 Sedangkan dengan makna-makna tersebut, maka konsep yang dimaksudkan dalam pengertian ini, ialah sejumlah gagasan, ide-ide, pemikiran, pandangan ataupun teori-teori yang dalam konteks ini dimaksudkan ialah ide-ide, gagasan, pemikiran tentang belajar sepanjang hayat. 2. Belajar Sepanjang Hayat

Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembanganya, maka belajar itu dimulai dari masa kanakkanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari fase-fase perkembangan seperti dikemukakan Havinghurst, berimplikasi kepada keharusan untuk belajar secara terus menerus sepanjang hayat dan memberi kemudahan kepada para perancang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan untuk:

1. Menentukan arah pendidikan. 2. Menentukan metode atau model belajar anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas perkembangannya. 3. Menyiapkan materi pembelajaran yang tepat. 4. Menyiapkan pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu.12

Dalam hubungannya dengan belajar sepanjang hayat, akan dikemukakan tugas-tugas perkembangan masa dewasa awal, masa setengah baya dan orang tua, untuk memberikan pengalaman belajar yang sesuai dalam rangka belajar sepanjang hayat.

Tugas perkembangan tersebut adalah: a. Tugas perkembangan masa dewasa awal: Memilih pasangan hidup, bertanggung jawab sebagai warga Negara, dan berupaya mendapatkan kelompok social yang tepat serta menarik.

Latar belakang munculnya gagasan ini ialah rasa kurang puas terhadap pelaksanaan belajar melalui sistem sekolah. terutama bagi orang dewasa dan orang tua agar . dengan sabdanya: “Carilah ilmu sejak ayunan sampai ke hang lahat (al-hadits)”. tetapi berlanjut sampai masa dewasa dan masa tua. ketika UNESCO menyebutnya sebagai tahun Pendidikan Internasional (International Education Year). Sedangkan secara umum. belajar sepanjang hayat ini sebenarnya telah dicanangkan oleh Nabi SAW ratusan tahun yang silam. harapan baru. kesadaran baru. c. Dalam perspektif islam. Dengan demikian tugas perkembangan yang harus ditempuh melalui belajar. setengah baya dan untuk masa tua. Muncul dan berkembangnya konsep belajar sepanjang hayat tersebut menunjukkan bahwa pengalaman belajar tidak pernah berhenti selama manusia itu sadar dan berinteraksi dengan lingkungannya. Tugas perkembangan ini juga amat berguna bagi pendidikan luar sekolah. tidak hanya dimulai dan masa kanak-kanak. dapat dipahami bahwa hakekatnya belajar itu tiada hentinya. membawa implikasi kepada pentingya aktivitas individual mandiri guna senantiasa memburu pengetahuan.Abdi’I Barr)”. Tugas perkembangan masa setengah baya: Bertanggung jawab social dan menjadi warga Negara yang baik. 16 Pengembangan pemikiran Lengran tersebut merubah anggapan bahwa belajar atau pendidikan itu tidak hanya berlangsung di dunia pendidikan sekolah.15 Dengan memperhatikan kedua hadits tersebut.R.14 Selain itu dipahami bahwa belajar itu sepanjang hayat. mereka terus belajar sesuai dengan kebutuhannya masing-masing dan dengan cara yang disenanginya. dijelaskan pula bahwa belajar adalah suatu kewajiban. Dari gagasan-gagasan baik melahui pendekatan keagamaan. memenuhi kewajiban sosial sebagai seorang warga Negara yang baik dan membangun kehidupan fisik yang memuaskan. kesehatan dan pendapatan. dapat dipahami bahwa aktivitas belajar sepanjang hayat memang telah menjadi bagian dan kehidupan kaum muslimin. agama. gerakan belajar sepanjang hayat itu baru dipublikasikan di sekitar tahun 1970. Karena pada tahun itu dilontarkan berbagai isu pembaharuan dalam falsafah dan konsep tentang pendidikan. duda. pengalamanpengalaman baru kapanpun dan dimanapun. menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan pertambahan umur.b.17 Belajar sepanjang hayat sebagai asas baru. sedangkan di luar dunia sekolah sebenarnya secara individual. Menyesuaikan diri dengan keadaan sebagai janda. persatuan para lanjut usia dan sebagainya. yang dapat dilihat dari adanya tugas perkembangan untuk orang dewasa. Secara eksplisit gagasan ini dilontarkan oleh Paul Lengrand dalam bukunya yang beijudul An Introduction to life Long Education. seperti kursus-kursus. Tugas-tugas perkembangan itu nampaknya disiapkan untuk belajar sepanjang hayat. maupun yang bersifat umum. mengisi waktu senggang dengan kegiatan-kegiatan tertentu. perkumpulan sodial. sebagaimana sabdanya pula: “Mencari ilmu pengetahuan adalah wajib atas setiap orang muslim (H. yang dikatakan memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin. di rumah dalam kehidupan rumah tangga maupun di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di masyarakat. Jelas bahwa belajar berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan sepanjang kehidupan seseorang. Tugas perkembangan orang tua: Menyesuaikan din dengan menurunnya kekuatan fisik.

Pshical needs b. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru. rasa aman. Kesadaran akan kebutuhan di atas diharapkan bisa mendorong seseorang untuk belajar. belajar sepanjang hayat khususnya bagi orang dewasa dan orang tua akan menjadi efektif dalam arti menghasilkan perubahan tingkah laku (perilaku). yang dibenikan individu bagi satu tingkah laku. 3. Berdasarkan teori ini. Belajar adalah suatu pengalaman yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri. cinta. Untuk memecahkan persoalan ini. Love needs d. harga diri dan aktualisasi diri. Setiap orang punya cara dan kecepatan sendiri untuk belajar dan memecahkan masalah. Bagi orang dewasa proses belajar adalah khas dan bersifat individual.20 Dari dimensi psikologis. Adanya sifat ingin tahu menyelidiki dunia yang lebih luas 2. Self actualization need&9 Teori kebutuhan Maslow tersebut meliputi kebutuhan: Fisik. Pertanyaan ialah bagaimana memberikan kesadaran kepada mereka tentang pentingnya belajar sepanjang hayat ini. 2. Orang dewasa belajar kalau ditemukannya arti pribadi bagi dirinya dan melihat sesuatu mempunyai hubungan dengan kebutuhannya. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju 3. Hal penting yang perlu diperhatikan ialah bagaimana menyadarkan orang bahwa ia membutuhkan sesuatu seperti digambarkan oleh Maslow dari kebutuhan terendah (fisik) sampai aktualisasi diri. Karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1. apabila isi dan cara belajarnya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan.18 Sedangkan Abraham Maslow. terutama bagi orang dewasa dan orang tua dalam situasi belajar mempunyai sikap tertentu. Esteem needs e. mengemukakan tentang hal yang mendorong seseorang untuk belajar adalah: 1. yaitu: a. belajar sepanjang hayat. sarjana dan ketua American Psychological Assosiation. antara lain Arden N Frandsen seperti dikutip oleh Sumadi Suryabrata.P Chaplin bermakna alasan yang diasadari. Dengan kesempatan mengamati cara-cara . Safety needs c. mengemukakan teori tentang kebutuhan yang mendorong seseorang untuk belajar.mereka dapat mengikuti perkembangan zaman serta penemuan-penemuan baru di bidang pengetahuan dan teknologi. Dorongan atau motivasi menurut J. ketrampilan baru dan sikap yang lain. Maka orang dewasa perlu dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih mutakhir.

melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. lebih mudah menenima gagasangagasan pembaruan. terutama untuk belajar seumur hidup. Pada taraf perkembangan selanjutnya belajar sepanjang hayat ini mulai mengembangkan tujuan-tujan yang bersifat sosial. Ia dapat memperbaiki dan menyempumakan caranya sendiri. maka salah satu teori belajar klasik. implementasi konsep belajar sepanjang hayat ini bisanya tidak membutuhkan orang lain sebagai pembimbing khusus. Karena itu di tinjau dan aspek signifakasi dan relevansi konsep belajar sepanjang hayat dalam hubungannya dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang ada dalam masyarakat. kalau dengan salah satu cara dapat diusahakan : a. Jadi bagi mereka dapat belajar di mana saja dan dengan cara apa saja di lingkungan kediaman mereka. kelompok sosial dan kelompok keagamaan. belajar sepanjang hayat ini pada mulanya bersifat individual. 3.21 Memperhatikan situasi belajar bagi orang dewasa tersebut. Mereka mencari sendiri bahan-bahan pelajaran yang mereka butuhkan. Suatu masyarakat dengan kegiatan belajar sepanjang hayat yang intensif akan lebih mudah membangun dirinya pada masyarakat yang tidak mengembangkan kebiasaan untuk belajar secara terus menerus. dan lebih mudah pula memahami interpendensi dan interaksi yang ada antara dirinya dengan masyarakat-masyarakat lain. orang dewasa serta orang tua yang aktif dalam kehidupan kemasyarakatan benar-benar terangsang untuk mengikuti program-program belajar sepanjang hayat ini. . mempelajari sendiri.23 Di masyarakat pada umumnya kelompok yang amat membutuhkan layanan belajar sepanjang hayat adalah remaja yang putus sekolah dan orang dewasa atau orang tua yang ingin meningkatkan kehidupanya. Menurut teori ini belajar itu sebaiknya dilakukan secara wajar di alam bebas. Maka konsep ini merupakan wahana yang tepat dan tangguh untuk memacu kehidupan masyarakat. teori ini berpangkal dari psikologi naturalistic romantic yang dipelopori Rousseau. maka pada umumnya masyarakat semacam ini akan menjadi lebih dinamis. Apabila mayoritas anggota suatu masyarakat selalu melibatkan diri dalam kesibukan belajar setelah mereka memasuki berbagai lingkungan pekerjaan.yang dipakai orang lain. dan mencoba menempatkannya. bisa diterapkan pada pendidikan luar sekolah. Namun demikian belajar sepanjang hayat dapat juga dilaksanakan secara kelompok dalam bentuk kursus-kursus. agar menjadi lebih efektif. Dari segi tujuan. Implementasi Konsep Bertolak dari dimensi psikologis di atas. yaitu teori psikologi belajar naturalistic atau aktualisasi diri. b. Pada hakekatnya mereka mengaktualisasi din sendiri sejalan dengan teori belajar naturalis. Bahwa program-program belajar seperti ini benar-benar dikembangkan dan dilaksanakan c. Mulai disadari bahwa kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat ini tidak hanya menguntungkan perorangan-perorangan saja. Bahwa sebagian besar remaja dan orang dewasa dan orang tua yang aktif dalam kehidupan kemasyarakatan benar-benar mendapatkan pelayanan belajar yang memadai dan relevan dengan kebutuhan mereka sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat. Bahwa masyarakat remaja. yakni untuk memperkaya kehidupan rohani atau intelektual seseorang.

Al-Khairiyah. Konsep belajar sepanjang hayat memiliki signifikasi serta relevansi terhadap kualitas kehidupan individu warga belajarnya. 5-6 6 Ibid. h. psikologi pendidikan. Yogyakarta 1957. RI. 3. 1995. 1996. 1990 10 Jhon M Echols dan Hassan Shadily. —————– 1 Departemen Agama. Psikologi Pendidikan. h. h. Ensiklopedia Islam. 2. 1035 2 Yusuf musa. hal. Logos. 55 9 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa . Bandung. 1975 hal. cet. Igrigiyah. Jilid 2. Cairo. 1992. Jakarta. Kamus Inggris-Indonesia. Op Cit. Jakarta. Kota Kembang.). 190 14 Hamdani Ali. Balai Pustaka. III. Jakarta. maka konsep ini merupakan wahana yang tepat untuk memacu usaha memajukan kehidupan umat. hal. Jakarta. Diponegoro. Filsafat Pendidikan.Belajar sepanjang hayat akan berrnanfaat apabila mendapatkan respon positif dari individu atau warga masyarakat yang memiliki kemauan dan kegemaran untuk belajar secara terus menerus. Mesir. h. agar tetap belajar dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupannya dengan memanfaatkan teori kebutuhan dan psikologi belajar 3. KESIMPULAN 1. Raja Grafindo Persada. Simponei. al-Maktabah al-Mishriyah. Konsep belajar sepanjang hayat berusaha untuk memberikan motivasi kepada mereka yang telah selesai mengikuti pendidikan sekolah. Fasafatil Akhlaq fi Islam wa Shilatiha bin Falsafatil. 176 12 Made Pidata.. hal. 3 5 Ibid. Konsep belajar sepanjang hayat adalah suatu idea atau gagasan yang manyatakan bahwa belajar dalam arti sebenarnya adalah sesuatu yang berlangsung secara terus-menerus sepanjang kehidupan. setiap individu perlu belajar agar dapat melaksanakan tugas-tugas pada setiap fase perkembangan tersebut. hal. cet. Tahzibul Akhlaq wa Thathirul Araaq. Psychology. Ihya Ulumiddin (Trj. hal 249 8 Muhibin Syah. Yogyakarta. 1926. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Gramedia. h. sesuai dengan kebutuhan kebutuhan masing-masing individu warga belajamya. I. 190 13 Ibid. 1997 11 Ibrahim Madkur. 6 7 Sumadi Suryabrata. 74 3 Bigot. h. al’Mu’jam al-ulm al-ijtima’iyah. 18 4 Ibnu Maskaihi. Kairo.. 19 . Dengan demikian konsep belajar sepanjang hayat memiliki signifikasi di dalam masyarakat. 1987 15 Al-Ghazali. Karena itu konsep belajar sepanjang hayat bila dihubungkan dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. hal ini sesuai dengan tinjauan psikologis yang menjelaskan bahwa pada setiap fase perkembangan.

Jakarta. Harper and Row. Pendidikan Luar Sekolah. Usaha Nasional. 1981 17 Sanapiah Faisal. Jakarta. Lunandi. 1985 Muhibin Syah. Pendidikan Orang Dewasa. Psikologi Pendidikan.P. Landasan Pendidikan. Raja Grafmdo. Bandung. 1995 . hal. hal. hal. Tiara Wacana Yogyakarta. 20 J. 1997 Muchtar Buchori. Jakarta. Op Cit. 263 19 Abraham H. Chaplin.G. Dictionary of Psichologi (Terj. 201 23 Muchtar Buchori. New York. 1981 18 Sumadi Suryabrata. 1981 22 Made pidarta.16 Soelamin Joesoef dan Slamet Santoso. Bandung. Ngalim Purwanto. Yogyakarta. 310 21 A. Ihya Ulumiddin (Terj. 1954 A. Bumi Aksara. Kamus Inggris-Indonesia. Maslow. Kartini Kartono). 1981 AL-Ghozali. (Newyork. Harper and Row. hal. 23 DAFI’AR PUSTAKA Abraham H Maslow. Surabaya. Spectrum Problematika Pendidikan di Indonesia. 1994 M. Remaja Karya. Logos. Op Cit. Surabaya. Op Cit. Lunandi. Jakarta. Motivation and Personality. 1997 Made Pidarta. 1992 Hamdani Ali. Psikologi Pendidikan. 1993 John M Echols dan Hassan Shadily. Usaha Nasional. Usaha Nasional. Gramedia. Pendidikan Luar Sekolah. Didaktik Asas-asas Mengajar. Surabaya. Rineka Cipta. Filsafat Pendidikan. Kota Kembang. Op Cit.). 1987 James P Chaplin. Pendidikan Orang Dewasa. Diponegoro. Jakarta. (1954). Motivation and Personality.G. Surabaya. Usaha Nasional. 1999 Nasution.

Usaha Nasional.Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Usaha Nasional. 5 Nomor 1. Balai Pustaka. Psikologi Pendidikan. Pendidikan Luar Sekolah. Pendidikan terakhirnya diselesaikan di program Pasca Sarjana (S2) lAIN Ar-Raniry NAD Sumber : Majalah Ilmiah Tarbawiyah Vol. 1990 Sanapiah Faisal. Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya. Jakarta. 1981 Soelamin Joesoef dan Slamet Santoso. Raja Grapindo Persada. 1981 Sumadi Suryabrata. STAIN Jurai Siwo Metro Lampung . Surabaya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1995 Penulis Bahudji (Penulis) adalah dosen STAIN Jurai Siwo Metro dengan pangkat terakhir Lektor Kepala (IV/B). Jakarta.

f¾f @f ff@fff n    ff .9D-   °¾ ½ f©f¾ ½f°©f°–fff ff¾f fff–f–f¾f°f°–¯f°fff° ff f©f ff¯f¾ °f°ff ff¾ ¾ff°– f°–¾°–¾ nff ¾ ¯ ° ¾¾ ½f°©f°–  ½f° f °¾ ¾f °–f°°©ff°½¾–¾f°–¯ °© f¾f° ff½f f¾ f½€f¾ ½  ¯ f°–f° ¾ f½ °  ½  f©ff–f f½f¯ f¾f°ff°–f¾ –f¾½f f¾ f½€f¾ ½  ¯ f°–f° ¾    °¾ ½ f©f¾ ½f°©f°–ff ¾ff°¯ ¯ f°¯f¾ ½f f¯  ff°– f ¾  ¾f¯ °–½ °  f°¾ f f–f f½ f©f ff¯f°–f¯ °°–ff°ff¾   ½f°°f °–f°¯ ¯f°€fff°  f° f°½¾– f©f  °¾ ½ f©f¾ ½f°©f°–ff¯ ¯¾–°€f¾¾ f  f°¾ f f½ff¾  ½f° °  f–f f©f°f f °f°¾ ½ f©f¾ ½f°©f°–ff f  °–f° °–f°  °–°f°°¯ °°–ff°ff¾  ½f° ¯ff°¾ ½°¯ ½ff°ff°ff°– ½f °¯ ¯fn¾ff¯ ¯f©f°  ½f°¯f     ½f ¯ °–f¯f  °¾½ f¾f¯   fff    ¾€¯¾f f¾f€ff€¾f¯fff °f¾f€f ––f f n       – 9¾n– ¯½°  –fff    °. f©f¾ ½f°©f°–ffff° °f°€fff½f f¯ ° f½ff° ¾½°½¾€ f°  fff–f ¯f¾ffff°–¯ ¯ ¯ff° f° – ¯ff°° f©f¾ nff ¾¯ ° ¾ ¾ ¾f °–f°  f° f°¯f¾°– ¯f¾°–°  f–f f©f¯f  °–f° ¯f°°¾ ½ f©f ¾ ½f°©f°–ff¯ ¯¾–°€f¾  ff¯¯f¾fff    .

n¾ f°f¾¾f°f  f¯¾°––¾ ° ° ¾f f¯ f fff   f¯. °f ½¾–½ °  f° –¾ fff f  9¾f9 ¯ °ff° f°9 °– ¯ f°–f° ff¾f f¯¾ ¾f ff¾f° ° ¾f  ff 9¾ff fff  °.f 9 ff ½.#©f¯f ¯f ©¯f#f f .f            ¯f f ff 9¾–9 °  f° f©ff€° 9 ¾f f fff  f  .ff ff .¾f .f  f#. ¾  f  .

 f    f  f¯ f° ¾f€f9 °  f° f ¯ f°– –fff   ff fD¯ °%@© % ½° –  f° °–  f  .

 f¯° ¾ € f°f¯ f°¾ 9 °  f°f f D¾ff-f¾°f  f ff  f°f½ff¾f 9 °  f°f f D¾ff-f¾°f f ff  ¯f f ff ½.

f°f° 9 ¾°f %-  f½ f°  %%   9 . f   ff¯ .f¾ .

f½° ½.

 f    °f°  9 °  f°f°– f¾f D¾ff-f¾°f f ff  .f ½ ff ½.

 f  .nf n ½.

f°f° 9 ¾°f f½ f°  -      °f°  9 °  f°f°– f¾f D¾ff-f¾°f f ff    f fD¯ °%@ © % ½° –  f° °–   f¯ f° ¾f€f9 °  f° f ¯ f°– –fff   f¯ ¾9.f¾ . f   #9D@   ff¯.

f½° n°f€9¾n–%@ © f°f°% f©ff€¯  fff   °.f 9 ff f° f¾f°9 °  f° ° f.n¾ f°f¾¾f°f  f¯¾°––¾ ° ° ¾f f¯ f fff   .

-–f¯9f° 9¾–9 °  f°  ¯f©fff  f° °–   .nf n ½ n¯9  ¯ff9 °  f° ° ° ¾f @ffJfnf°f–fff   . °–f©f  ¯¾ff fff   .½f fff   . °f 9¾–9 °  f° –¾ fff   -f¾°  f¾f¾ f¾f¾.

f©ff¯f@f ffI -¯ @-f.  °–f°½f°–f f  ½ff%I$ %  9 °  f° f°f ¾  ¾ff° ½–f¯9f¾nff©f°f%%- f°-  ¯   .9¾f9 ¯ °ff° f°9 °– ¯ f°–f° ff¾f f¯¾ ¾f ff¾f° ° ¾f  ff9¾ff fff    f°f½ff¾f 9 °  f°f f D¾ff-f¾°f f ff    f¯° ¾ € f°f¯ f°¾ 9 °  f°f f D¾ff-f¾°f f ff   ¯f f ff 9¾–9 °  f° f©ff½° 9 ¾f f fff   9 °¾  f ©%9 °¾%f ff ¾ °@-f. f¯½°– .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful