PEMBUATAN MEDIA TANAM KULTUR JARINGAN

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan budidaya jaringan tanaman sangat dipengaruhi oleh media tanamnya. Selain sebagai tempat tumbuh, media tanam merupakan penyedia unsur hara dan zat-zat lain yang diperlukan eksplan untuk tumbuh. Seperti halnya dengan tanaman utuh, jaringan tanaman juga memerlukan unsure hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan unsur hara mikro (Fe, Zn, Bo, Cu, Mo, dan Co). Karena yang ditanam adalah sepotong kecil jaringan atau sekelompok sel, media tanam haruslah dapat menyediakan bahan-bahan lain yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan jaringan tanaman sehingga tanaman dapat melakukan regenerasi. B. Tinjauan Pustaka Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ , serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali (Sany, 2007). Suatu keuntungan yang diperoleh dalam aplikasi teknologi kultur jaringan dalam memperbanyak tanaman krisan adalah upaya untuk memodifikasi generik tanaman tersebut. Rekayasa genetik tanaman krisan dapat dilakukan dengan menggabungkan teknologi nuklir dengan teknik kultur jaringan. Selain itu, kultur jaringan in vitro terbukti sangat efisien digunakan untuk pemeliharaan sumber genetik, bemilai ekonomi tinggi karena tidak memerlukan tempat yang luas dan dapat mengurangi resiko kerusakan oleh hama dan penyakit serta memudahkan pengawasan dan pengelolaan (Anderson, 2000). Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Anonim, 2008). Media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar basal/basic medium dan media tambahan. Komposisi media dasar mengandung hara essensial baik makro maupun mikro, sumber energy dan vitamin yang jumlah dan macamnya tergantung dari penemunya. Komposisi media perlakuan merupakan komposisi media tambahan yang dapat berupa vitamin, senyawa organik komplek atau zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh khususnya auksin dan sitokinin adalah suatu zat

sebab larutan stok yang terlalu pekat akan mengalami pengendapan di lemari es. dan larutan stok yang terkontaminasi tidak boleh digunakan lagi (Hendaryono dan Wijayani. Banyak molekul sintetis organik yang telah dikenal memiliki aktivitas serupa hormon. yang selanjutnya akan bertambah giat memasuki fase pembesaran sel (G2) ke fase pembelahan sel (Wijayani. sehingga biasanya disimpan pada botol berwarna gelap. semua bahan tersebut tidak dapat disebarkan ke seluruh tubuh tanaman seperti akar. tak perlu sering menimbang karena hal ini kurang praktis. Sedikit volume (misalnya 50 mL) larutan stok mengandung 1 mg mL-1 ZPT dapat disimpan untuk beberapa lama. Hormon adalah bahan organik yang disintesa pada jaringan tanaman. Sebelum membuat media. 2001). Auxin (IAA) dalam budidaya jaringan berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel. sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang. 1986). Kepekaan jaringan terhadap zat yang ditambahkan pada media perlakuan khususnya zat pengatur tumbuh ditentukan oleh konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sudah ada didalam jaringan tersebut (Starling et. batang. sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem. Pembuatan larutan stok harus dilakukan dengan cennat. Tujuan Mengenalkan pembuatan media tanam dari stok-stok bahan kimia yang telah . 1991). Kestabilan zpt bervariasi: kinetin dan IAA tidak stabil pada kondisi cahaya. sehingga berkumpul di satu titik (Mariska dan Purnamaningsih. Di sisi lain NAA dapat juga mendorong terbentuknya sejumlah sel yang cukup banyak tetapi tidak membelah. Kinetine berperan dalam mendorong morfogensis sel. hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel. dikenal dengan sebutan zat pengatur tumbuh (Heddy. Adanya kinetine yang ditambah pada media tumbuh mengakibatkan fase transkripsi dan translasi RNA berlangsung lebih giat. terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok. Senyawa sintetis dan hormon yang secara alami ada. kumpulan dari sel ini yang disebut kalus. Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang digunakan pada media disimpan dalam gelap pada refrigerator sebagai larutan stok. Proses perpanjangan sel (fase G1 dalam pertumbuhan sel) berlangsung baik karena terpenuhi kebutuhan nutrisinya. unsur hara dan ZPT ke dalam sel. dan daun. Juga. Kalus terbentuk karena terjadinya penumpukan sel-sel yang mengembang akibat dari masuknya air. Larutan stok dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengambilan bahan-¬bahan kimia khususnya yang dibutuhkan dalam jumlah kecil.2001). 2002).organik utama yang mengendalikan proses morfogenesis didalam teknik kultur jaringan. al. IAA kehilangan aktivitasnya pada larutan aqueous sehingga larutan stok IAA sebaiknya tidak disimpan dalam jangka waktu yang lama (Gunawan . C. 2002). Larutan stok disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak mudah rusak dan mencegah terdegradasinya bahan-bahan kimia oleh mikroba penyebab kontaminasi. Hormon diperlukan dalam konsentrasi yang rendah untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman..

Aquades ditambahkan sampai volume yang dikehendaki. pH diukur hingga mencapai 5. Media untuk penumbuhan akar yang dikembangkan oleh White (1934 dalam Gunawan 1988). mikro. Alat-alat yang digunakan adalah gelas piala. organ dan tanaman yang digunakan serta pendekatan dari masing-masing peneliti. Pada periode tahun 1930an. Media disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 1200 C dan tekanan 1 atm selama 20-25 menit. Beberapa jenis sensitif terhadap konsentrasi senyawa makro tinggi atau membutuhkan zat pengatur tertentu untuk pertumbuhannya. Botol-botol sebagai tempat media disiapkan. setelah itu diletakkan di atas hot plate magnetic stirrer. dan zat pengatur tumbuh. II. hot plate magnetic stirrer. bila terlalu asam dapat ditambahkan NaOH. Media yang telah masak dituang ke dalam botol-botol media. pH meter. mio inositol.dibuat pada acara sebelumnya. tuber dan kambium. METODOLOGI Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah stok unsur hara makro nutrien. stok zat pengatur tumbuh. HASIL DAN PEMBAHASAN Formulasi media kultur jaringan pertama kali dibuat berdasarkan komposisi larutan yang digunakan untuk hidroponik. stok unsur besi. mikro pipet. Masing-masing stok unsur hara diambil sesuai volume yang tertera pada massing-masing botol stok (disesuaikan dengan volume media yang akan dibuat). Disiapkan stok-stok unsur hara makro. stok vitamin. dan bila terlalu basa ditambahkan HCl. boto-botol tempat media. formulasi media terutama ditujukan untuk menumbuhkan akar. Unsur-unsur hara diberikan dalam bentuk garam-garam anorganik. khususnya komposisi unsur-unsur makronya. Sukrose ditambahkan sesuai dengan media yang akan dibuat. aquades. Media tanam siap digunakan. yeast ekstrak dan sucrose. kemudian tutup dengan menggunakan tutup plasstik atau alumunium foil. 2002). thiamine dan nicotinic acid (Chawla. vitamin. besi. sukrosa. pertama White menggunakan media yang berisi garam anorganik. stok unsur hara mikro. tunggu sampai larutan masak dan homogen.8. stok moi inositol. Komposisi media dan perkembangan formulasinya didasarkan pada jenis jaringan. dan senyawa NaOH/HCl untuk pengukuran pH. tetapi kemudian yeast ekstrak digantikan dengan 3 macam vitamin B.7-5. yaitu pyridoxine. kemudian ditambahkan agar dan pemanas pada hot plate magnetic stirrer dinyalakan. agarose. kemudian stirrer dihidupkan. dan autoklaf untuk sterilisasi. Kultur kalus biasanya ditumbuhkan pada media dengan konsentrasi garam-garam . III. Cara kerja dari praktikum ini adalah dengan menyiapkan gelas piala yang diisi dengan aquades secukupnya sebagai pelarut (volume akhir tidak melebihi volume yang dikehendaki). dimasukkan ke dalam gelas piala sesuai dengan urutannya.

biasanya ditumbuhkan pada media dengan kosentrasi garam-garam yang rendah seperti dalam kultur akar dengan penambahan suplemen seperti glucosa. bahwa NH4+ sangat menunjang pertumbuhan kalus tembakau (Miller et al. Dalam media perlu ditambahkan ammonium dengan meningkatkan konsentrasi NO3. Tanaman yang ditanam di kebun dapat tumbuh dengan baik dengan pemupukan yang hanya mengandung N dari Nitrat. dengan memodifikasi unsur-unsur makro yang lebih tinggi dibandingkan pada media kultur tembakau. Unsur F. Kultur kalus. Media Knudson dan media Vacin and Went. Perbaikkan formulasi media yang penting adalah pengembangan unsur makro yang universal. Media Nitsch & Nitsch.K+ lebih tinggi dibandingkan pada media White. menggunakan setengah konsentrasi dari larutan Knop yang biasa digunakan untuk hidroponik. gelatine.dan K+. 1983). sama dengan media untuk jaringan normal yang dikembangkan kemudian. (1956 dalam Gunawan 1988). Knudson pada tahun 1922. Konsentrasi untuk NO3. Media White juga dikembangkan oleh Hildebrant dkk (1946 dalam Gunawan 1988).yang rendah seperti dalam kultur akar. cysteine-HCl dan IAA (Dodds and Roberts.dan K+ dengan kadar yang cukup tinggi untuk mengkulturkan jaringan tanaman artichoke Jerussalem. hampir sama dengan yang dikembangkan oleh Miller (Wood & Braun (1961 dalam Gunawan 1988). Media Knop dapat juga digunakan untuk menumbuhkan kalus wortel. Penambahan ammonium khlorida sebanyak 0. NH4-. Hg dan S pada media untuk tumor bunga matahari ini.yang diperoleh. . menunjukkan bahwa penambahan ammonium ke dalam media White yang sudah dimodifikasi. untuk mendukung pertumbuahan jaringan tumbuhan. menggunakan NO3.dan K+ yang digunakan Hildebrant ini lebih tinggi dari media white. Media White dikembangkan oleh Hildebrant untuk keperluan kultur jaringan tumor bunga matahari. Pertumbuhan sel dari jaringan suatu organ dibandingkan dengan jaringan tumor tanaman Venca rosea (Catharanthus roseus). sangat baik untuk perkencambahan dan pertumbuhan biji anggrek. Konsentrasi NO3-. media ini media ini digunakan mengkulturkan jaringan tumor tembakau dan bunga matahari. Ca. namun konsentrasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan media yang lain yang banyak digunakan pada kultur jaringan sekarang. Pada media Knop sumber karbon berupa glucosa dan dan vitamin berupa cysteine hydrochloride. Mereka mengambil kesimpulan. 1984). thiamine.5 mM NO3-. mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Mg dan S pada media tumor matahari.1 mM. Penambahan NH4+ ternyata dibutuhkan untuk perkembangan protocorm.6 mM NH4+ disamping 8. digunakan juga untuk menumbuhkan kalus wortel. media ini dikembangkan khusus untuk kultur anggrek. sedangkan kandungan unsur P. tetapi masih lebih rendah dari pada media-media lain yang umum digunakan sekarang. ditemukan bahwa unsur makro yang dibutuhkan kultur tersebut. sama dengan media untuk jaringan tanaman pada umumnya seperti pada media yang dikembangkan sekarang. lebih tinggi dari pada yang dibutuhkan oleh kultur tembakau. Konsentrasi NO3. menghasilkan pertumbuhan jaringan yang menurun. menemukan penambahan 7. Nobecourt (1937) dalam George & Sherrington. Ca. K+ dan H2PO4.

Chaturvedi et al (1978) mengubah media MS dengan menurunkan konsentrasi NO3-.Media Murashige & Skoog (media MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog. Pada masa ini media B5 juga digunakan untuk kultur-kultur lain. serta sangat baik sebagai media dasar untuk meregenerasi seluruh bagian tanaman. Zn dan Mn. 1. Si. antara lain media : 1. Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting. S. Larutan senyawa makro dari media Lin & Staba. sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0. karena konsentrasi yang lebih tinggi dari 2 mM menghambat . Mo. Setelah tujuh hari dibiarkan. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut. mengendap (Dalton et al. karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi. Media Gamborg B5 (media B5) pertama kali dikembangkan untuk kultur kalus kedelai dengan konsentrasi nitrat dan amonium lebih rendah dibandingkan media MS. dan menambah konsentrasi Ca2+ nya. sedangkan P. tidak 0. Lin & Staba.5 Mm.25 mM. Modifikasi media MS yang lain dibuat oleh Durzan et alI (1973 dalam Gunawan 1988) untuk kultur suspensi sel white spruce dengan cara mengurangi konsentrasi K+ dan NO3-. 1983). dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM.625 mM. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau. N. Untuk mengatasi pengendapan Fe. Mg2+ dan SO4-2 untuk keperluan kultur pucuk Bougainvillea glabra. tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain. H. Kandungan N ini. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C. maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+. terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. 3. Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS. media ini menggunakan konsentrasi NH4+ yang rendah. Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap. Unsur makro lainnya konsemtrasinya dinaikkan sedikit. lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller. kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin & Nitsch (1967 dalam Gunawan 1988) serta Nitsch & Nitsch (1969 dalam Gunawan 1988) dalam penelitian kultur anther. Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan. 2. K. menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS. ini terlihat jelas pada media cair. kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca. Media ini dikembangkan dari komposisi PRL-4. Ca dan Co. dan 19 kali lebih tinggi dari media White. 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant. Mg. K+. Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM. Untuk selanjutnya media B5 dikembangkan untuk kultur kalus dan suspensi. Ca2+.

Setiap larutan stok dapat dipergunakan sampai 100 liter media. tumbuh dengan sangat baik. tidak dapat digunakan lagi. Sebagai contoh media ½ MS. Fosfat yang diberikan setelah 1 mM. sedangkan stok hara dapat disimpan 4-8 minggu. Konsentrasi ion-ion dalam komposisi media SH sangat mirip dengan komposisi pada media Gamborg dengan perbedaan kecil yaitu level Ca2+. Media Schenk & Hildebrant (media SH) merupakan media yang juga cukup terkenal. kombinasi zat kimia dari murashige dan Skoog masih tetap digunakan tetapi konsentrasinya yang diubah. 30% sedang. tetapi sulfat yang digunakan lebih tinggi dari sulfat pada media WPM. Penamaan resep media dasar pada umumnya diambil dari nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dalam kultur khusus dan memperoleh suatu hasil yang penting artinya. stok Fe. 14% kurang baik. langkah pertama adalah membuat stok dari media terpilih. dan PO4-3 yang lebih tinggi. bahkan larutan stok mikro dapat dipergunakan sampai 100 liter media. Larutan yang sudah mengalami pengendapan. Dari sekian banyak media dasar yang paling sering dan banyak digunakan adalah komposisi media dari Murashige dan Skoog. Pada umumnya media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar dan media perlakuan. Dalam teknik kultur jaringan dikenal puluhan macam media dasar. Resep media dasar adalah resep kombinasi zat yang mengandung hara esensial (makro dan mikro). Media diperuntukkan khusus tanaman berkayu. untuk kultur kalus tanaman monokotil dan dikotil (Trigiano & Gray. Media WPM (Woody Plant Medium) yang dikembangkan oleh Lioyd & Mc Coen pada tahun 1981. pembuatan media selanjutnya hanya dengan teknik pengenceran dan pencampuran saja. Dalam pembuatan media. Schenk & Hildebrant mempelajari pertumbuhan jaringan dari 37 jenis tanaman dalam media SH dan mendapatkan bahwa: 32 % dari spesies yang dicobakan. Dengan adanya larutan stok. 2000).5-3 mM (Gamborg et al. berarti konsentrasi persenyawaan yang digunakan adalah setengah konsentrasi media MS. stok vitamin dan stok hormone terutama bila larutan stok tidak disimpan terlalu lama (segera digunakan habis). Larutan stok dapat disimpan ditempat yang bertemperatur rendah dan gelap. Ca2+ antara 1-4 mM. Kadang-kadang untuk kultur tertentu. 19% baik. Media SH ini cukup luas penggunaannya. sedangkan Mg2+ antara 0. Penggunaan larutan stok menghemat pekerjaan menimbang bahan yang berulang–ulang setiap kali membuat media. dan 5% buruk pertumbuhannya. Pembuatan larutan stok berdasarkan pengelompokan dalam : Stok makro. sumber energi dan vitamin. Saat ini WPM banyak digunakan untuk perbanyakan tanaman hias berperawakan perdu dan pohon-pohon. Mg2+. 1968). dan dikembangkan oleh ahli lain. kadang-kadang timbangan yang dibutuhkan untuk menimbang jumlah kecil tidak tersedia dalam laboratorium.pertumbuhan sel kedelai. Selain itu. terutama untuk tanaman legume. Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan dapat . Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan stok adalah penyimpanan (daya simpan) larutan. Tetapi karena zat tumbuh yang diberikan pada tiap jenis tanaman tersebut berbeda. Stok hormon dapat disimpan antara 2-4 minggu. stok mikro. merupakan media dengan konsentrasi ion yang lebih rendah dari media MS.

dihindari dengan membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran. Melakukan sterilisasi media dalam autoklaf yaitu autoklaf dipanaskan hingga mencapai suhu 1210 C. Mendinginkan dan menyimpan media dalam ruang inkubasi. h.8). kemudian dilarutkan agar didalamnya. Oleh karena itu kondisi simpan harus dijaga kebersihan dan tempat (wadah) larutan harus diusahakan cara-cara pembuatan larutan stok untuk media Murashige dan Skoog. • Untuk perlakuan I. kemudian ditambahkan NAA 0. Melakukan peneraan dengan cara memasukkan campuran ke dalam labu takar dan menambahkan aquadest hingga tepat 1 L. dan tekanan uap 17 kg/cm2 selama 20 menit.8 ditetesi larutan NaOH dan bila pH lebih dari 5. Media dasar White (1934) yang sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat.1 ppm • Untuk perlakuan I. kemudian ditambahkan 2. Larutan stok kadang-kadang ditumbuhi mikroorganisme.8 ditetesi lerutan HCl. kemungkinan hal tersebut akan mempercepat pengendapan larutan bila dibuat larutan stok campuran. karena ada beberapa bahan yang tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya. IV. Setiap 1 liter komposisi larutan media untuk 40 botol media yang berupa botol selai g.5 ppm • Untuk perlakuan I. Memanaskan campuran tersebut sampai mendidih. Media dasar B5 untuk kultur sel kedelai. Larutan stok yang terkontaminasi mikroorganisme ini. Memasukkan larutan stok MS dan aquadest hingga 1 L c. Memindahkan campuran tersebut dalam panci.1 ppm + Mg 0. Melakukan pengukuran pH (pH=5. i. d. dan legume lain. Menutup botol media dengan Alumunium foil secara rapat.05 ppm • Untuk perlakuan I. Selain itu jenis anion senyawa sumber unsur hara makro tidak sama. Media dasar Murhasige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur. b.4 D 0. terutama pada tanaman herbaceous. yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk unsur hara makro). Media dasar Nitsch dan Nitsch yang biasa digunakan dalam kultur tepung sari .5 ppm + Mg 0. Kondisi simpan juga diperhatikan. kemudian ditambahkan NAA 0. alfafa. Senyawa-senyawa sumber unsur hara makro diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. KESIMPULAN 1.4 D 0. 2. Melarutkan sukrosa dalam aquadest 0. kemudian ditambahkan 2. juga tidak dapat digunakan lagi. f.05 ppm. 3. Bila pH kurang dari 5. Oleh karena itu sebaiknya dibuat dalam larutan stok tunggal. Langkah-Iangkah pembuatan media MS 1 liter (I) : a. e. menuangkannya dalam botol media. 5. Media dasar Vacin dan Went yang biasa digunakan untuk kultur jaringan anggrek.251 ml. 4.

Wijayani. P. Mariska.html . S. Budidaya Anggrek. Abstract.(pollen) dan kultur sel. Sany.J.J. Media N6 untuk serealia terutama padi. Starling. Tentang Kultur Jaringan.dephut. 7. 2002. 2001. UK. dan J. Gunawan. 1991. Jakarta: CV Rajawali.A . 2001. Anonim. http://www. Teknik Kultur Jaringan.com/2009/05/pembuatan-media-tanam-kulturjaringan. H. Jurnal Litbang Pertanian 20 (1) : 1-8. Medium khusus tanaman berkayu atau Woody Plant Medium (WPM) 8. 6. R.. 2000.W. Effect of Level and Duration Suplemantary Light on Development of Chrysanthemum. 1986. Hort. dan A Wijayani. I. Agrivet 5 (2): 98-104. 2007. Hendaryono. dan R. Callow. Purnamaningsih. Perbanyakan vegetatif tanaman tahunan melalui kultur in vitro. Kultur Jaringan : Alternatif Pengadaan Bibit Unggul. DAFTAR PUSTAKA Anderson. http://www. Newburry. Diakses tanggal 12 Mei 2009. A. 61(92): 148-155. L.go.blogspot. S.htm. D. Putative Auxin Receptors in Tobacco Callus. Media dasar schenk dan Hildebrandt (1972) atau media SH yang cocok untuk kultur jaringan tanaman-tanaman monokotil. University of Birmingham.bndah-lembang.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_11. Yogyakarta. Jakarta: Penebar Swadaya. Heddy. Diakses tanggal 12 Mei 2009. 2008. Hormon Tumbuhan. http://manaree.com/kuljar. Pertumbuhan kentang pada berbagai intensitas cahaya dan konsentrasi benzil amino purin. Kanisius. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful