PEMBUATAN MEDIA TANAM KULTUR JARINGAN

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan budidaya jaringan tanaman sangat dipengaruhi oleh media tanamnya. Selain sebagai tempat tumbuh, media tanam merupakan penyedia unsur hara dan zat-zat lain yang diperlukan eksplan untuk tumbuh. Seperti halnya dengan tanaman utuh, jaringan tanaman juga memerlukan unsure hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan unsur hara mikro (Fe, Zn, Bo, Cu, Mo, dan Co). Karena yang ditanam adalah sepotong kecil jaringan atau sekelompok sel, media tanam haruslah dapat menyediakan bahan-bahan lain yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan jaringan tanaman sehingga tanaman dapat melakukan regenerasi. B. Tinjauan Pustaka Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ , serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali (Sany, 2007). Suatu keuntungan yang diperoleh dalam aplikasi teknologi kultur jaringan dalam memperbanyak tanaman krisan adalah upaya untuk memodifikasi generik tanaman tersebut. Rekayasa genetik tanaman krisan dapat dilakukan dengan menggabungkan teknologi nuklir dengan teknik kultur jaringan. Selain itu, kultur jaringan in vitro terbukti sangat efisien digunakan untuk pemeliharaan sumber genetik, bemilai ekonomi tinggi karena tidak memerlukan tempat yang luas dan dapat mengurangi resiko kerusakan oleh hama dan penyakit serta memudahkan pengawasan dan pengelolaan (Anderson, 2000). Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Anonim, 2008). Media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar basal/basic medium dan media tambahan. Komposisi media dasar mengandung hara essensial baik makro maupun mikro, sumber energy dan vitamin yang jumlah dan macamnya tergantung dari penemunya. Komposisi media perlakuan merupakan komposisi media tambahan yang dapat berupa vitamin, senyawa organik komplek atau zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh khususnya auksin dan sitokinin adalah suatu zat

2002). Di sisi lain NAA dapat juga mendorong terbentuknya sejumlah sel yang cukup banyak tetapi tidak membelah. Senyawa sintetis dan hormon yang secara alami ada. dan daun. Juga. hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel. Sedikit volume (misalnya 50 mL) larutan stok mengandung 1 mg mL-1 ZPT dapat disimpan untuk beberapa lama. sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem. Auxin (IAA) dalam budidaya jaringan berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel. Kalus terbentuk karena terjadinya penumpukan sel-sel yang mengembang akibat dari masuknya air. Adanya kinetine yang ditambah pada media tumbuh mengakibatkan fase transkripsi dan translasi RNA berlangsung lebih giat. IAA kehilangan aktivitasnya pada larutan aqueous sehingga larutan stok IAA sebaiknya tidak disimpan dalam jangka waktu yang lama (Gunawan .. 2002). dikenal dengan sebutan zat pengatur tumbuh (Heddy. Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang digunakan pada media disimpan dalam gelap pada refrigerator sebagai larutan stok. yang selanjutnya akan bertambah giat memasuki fase pembesaran sel (G2) ke fase pembelahan sel (Wijayani. Tujuan Mengenalkan pembuatan media tanam dari stok-stok bahan kimia yang telah . Larutan stok dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengambilan bahan-¬bahan kimia khususnya yang dibutuhkan dalam jumlah kecil. unsur hara dan ZPT ke dalam sel. Proses perpanjangan sel (fase G1 dalam pertumbuhan sel) berlangsung baik karena terpenuhi kebutuhan nutrisinya. al. Sebelum membuat media. Pembuatan larutan stok harus dilakukan dengan cennat. Kinetine berperan dalam mendorong morfogensis sel. dan larutan stok yang terkontaminasi tidak boleh digunakan lagi (Hendaryono dan Wijayani. Hormon adalah bahan organik yang disintesa pada jaringan tanaman. 1991).2001). sebab larutan stok yang terlalu pekat akan mengalami pengendapan di lemari es. Larutan stok disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak mudah rusak dan mencegah terdegradasinya bahan-bahan kimia oleh mikroba penyebab kontaminasi. C. 1986). batang. semua bahan tersebut tidak dapat disebarkan ke seluruh tubuh tanaman seperti akar. terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok. Hormon diperlukan dalam konsentrasi yang rendah untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 2001). sehingga biasanya disimpan pada botol berwarna gelap.organik utama yang mengendalikan proses morfogenesis didalam teknik kultur jaringan. tak perlu sering menimbang karena hal ini kurang praktis. Kepekaan jaringan terhadap zat yang ditambahkan pada media perlakuan khususnya zat pengatur tumbuh ditentukan oleh konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sudah ada didalam jaringan tersebut (Starling et. Banyak molekul sintetis organik yang telah dikenal memiliki aktivitas serupa hormon. Kestabilan zpt bervariasi: kinetin dan IAA tidak stabil pada kondisi cahaya. sehingga berkumpul di satu titik (Mariska dan Purnamaningsih. sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang. kumpulan dari sel ini yang disebut kalus.

tetapi kemudian yeast ekstrak digantikan dengan 3 macam vitamin B. dan autoklaf untuk sterilisasi. stok zat pengatur tumbuh. Sukrose ditambahkan sesuai dengan media yang akan dibuat. pertama White menggunakan media yang berisi garam anorganik. Kultur kalus biasanya ditumbuhkan pada media dengan konsentrasi garam-garam . 2002). khususnya komposisi unsur-unsur makronya. METODOLOGI Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah stok unsur hara makro nutrien. II. besi. yeast ekstrak dan sucrose. stok vitamin. Masing-masing stok unsur hara diambil sesuai volume yang tertera pada massing-masing botol stok (disesuaikan dengan volume media yang akan dibuat). boto-botol tempat media. thiamine dan nicotinic acid (Chawla. tuber dan kambium. hot plate magnetic stirrer. III. Media untuk penumbuhan akar yang dikembangkan oleh White (1934 dalam Gunawan 1988). dan zat pengatur tumbuh. Media tanam siap digunakan. Disiapkan stok-stok unsur hara makro. pH diukur hingga mencapai 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Formulasi media kultur jaringan pertama kali dibuat berdasarkan komposisi larutan yang digunakan untuk hidroponik. kemudian stirrer dihidupkan. Alat-alat yang digunakan adalah gelas piala. dan senyawa NaOH/HCl untuk pengukuran pH. Beberapa jenis sensitif terhadap konsentrasi senyawa makro tinggi atau membutuhkan zat pengatur tertentu untuk pertumbuhannya. mikro. Unsur-unsur hara diberikan dalam bentuk garam-garam anorganik. Media yang telah masak dituang ke dalam botol-botol media.8. vitamin. yaitu pyridoxine. aquades. bila terlalu asam dapat ditambahkan NaOH. mikro pipet. Media disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 1200 C dan tekanan 1 atm selama 20-25 menit. agarose. setelah itu diletakkan di atas hot plate magnetic stirrer. stok moi inositol.dibuat pada acara sebelumnya. mio inositol. organ dan tanaman yang digunakan serta pendekatan dari masing-masing peneliti. Botol-botol sebagai tempat media disiapkan. Pada periode tahun 1930an. dimasukkan ke dalam gelas piala sesuai dengan urutannya.7-5. formulasi media terutama ditujukan untuk menumbuhkan akar. tunggu sampai larutan masak dan homogen. dan bila terlalu basa ditambahkan HCl. Komposisi media dan perkembangan formulasinya didasarkan pada jenis jaringan. stok unsur besi. pH meter. stok unsur hara mikro. sukrosa. kemudian tutup dengan menggunakan tutup plasstik atau alumunium foil. Cara kerja dari praktikum ini adalah dengan menyiapkan gelas piala yang diisi dengan aquades secukupnya sebagai pelarut (volume akhir tidak melebihi volume yang dikehendaki). kemudian ditambahkan agar dan pemanas pada hot plate magnetic stirrer dinyalakan. Aquades ditambahkan sampai volume yang dikehendaki.

Konsentrasi untuk NO3. bahwa NH4+ sangat menunjang pertumbuhan kalus tembakau (Miller et al. sedangkan kandungan unsur P.dan K+. tetapi masih lebih rendah dari pada media-media lain yang umum digunakan sekarang. namun konsentrasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan media yang lain yang banyak digunakan pada kultur jaringan sekarang. menunjukkan bahwa penambahan ammonium ke dalam media White yang sudah dimodifikasi. Konsentrasi NO3-. 1984). Dalam media perlu ditambahkan ammonium dengan meningkatkan konsentrasi NO3. Media Knop dapat juga digunakan untuk menumbuhkan kalus wortel. Penambahan NH4+ ternyata dibutuhkan untuk perkembangan protocorm. Pertumbuhan sel dari jaringan suatu organ dibandingkan dengan jaringan tumor tanaman Venca rosea (Catharanthus roseus). sama dengan media untuk jaringan normal yang dikembangkan kemudian. menghasilkan pertumbuhan jaringan yang menurun.yang diperoleh. menggunakan setengah konsentrasi dari larutan Knop yang biasa digunakan untuk hidroponik. Nobecourt (1937) dalam George & Sherrington. NH4-. Media White juga dikembangkan oleh Hildebrant dkk (1946 dalam Gunawan 1988). Mereka mengambil kesimpulan. Tanaman yang ditanam di kebun dapat tumbuh dengan baik dengan pemupukan yang hanya mengandung N dari Nitrat. Media Knudson dan media Vacin and Went. Mg dan S pada media tumor matahari.6 mM NH4+ disamping 8. untuk mendukung pertumbuahan jaringan tumbuhan. . Knudson pada tahun 1922. Media White dikembangkan oleh Hildebrant untuk keperluan kultur jaringan tumor bunga matahari. digunakan juga untuk menumbuhkan kalus wortel. Pada media Knop sumber karbon berupa glucosa dan dan vitamin berupa cysteine hydrochloride. hampir sama dengan yang dikembangkan oleh Miller (Wood & Braun (1961 dalam Gunawan 1988).dan K+ dengan kadar yang cukup tinggi untuk mengkulturkan jaringan tanaman artichoke Jerussalem.5 mM NO3-.yang rendah seperti dalam kultur akar. Unsur F. ditemukan bahwa unsur makro yang dibutuhkan kultur tersebut. biasanya ditumbuhkan pada media dengan kosentrasi garam-garam yang rendah seperti dalam kultur akar dengan penambahan suplemen seperti glucosa. 1983). sangat baik untuk perkencambahan dan pertumbuhan biji anggrek. Ca. cysteine-HCl dan IAA (Dodds and Roberts. media ini media ini digunakan mengkulturkan jaringan tumor tembakau dan bunga matahari. menggunakan NO3.1 mM. menemukan penambahan 7. (1956 dalam Gunawan 1988). dengan memodifikasi unsur-unsur makro yang lebih tinggi dibandingkan pada media kultur tembakau. K+ dan H2PO4. mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. thiamine.K+ lebih tinggi dibandingkan pada media White. gelatine. Konsentrasi NO3. Hg dan S pada media untuk tumor bunga matahari ini. lebih tinggi dari pada yang dibutuhkan oleh kultur tembakau.dan K+ yang digunakan Hildebrant ini lebih tinggi dari media white. sama dengan media untuk jaringan tanaman pada umumnya seperti pada media yang dikembangkan sekarang. Perbaikkan formulasi media yang penting adalah pengembangan unsur makro yang universal. Kultur kalus. Penambahan ammonium khlorida sebanyak 0. Media Nitsch & Nitsch. media ini dikembangkan khusus untuk kultur anggrek. Ca.

Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C. Si. Media Gamborg B5 (media B5) pertama kali dikembangkan untuk kultur kalus kedelai dengan konsentrasi nitrat dan amonium lebih rendah dibandingkan media MS. ini terlihat jelas pada media cair. menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS. media ini menggunakan konsentrasi NH4+ yang rendah. Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap. Chaturvedi et al (1978) mengubah media MS dengan menurunkan konsentrasi NO3-. K. Ca2+. K+. Mo. mengendap (Dalton et al. Mg2+ dan SO4-2 untuk keperluan kultur pucuk Bougainvillea glabra. Untuk mengatasi pengendapan Fe. tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain. Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan.625 mM. kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau. Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS. karena konsentrasi yang lebih tinggi dari 2 mM menghambat . dan 19 kali lebih tinggi dari media White. dan menambah konsentrasi Ca2+ nya. karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller. maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+. 1. Untuk selanjutnya media B5 dikembangkan untuk kultur kalus dan suspensi.5 Mm. sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut. sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0. Setelah tujuh hari dibiarkan. Media ini dikembangkan dari komposisi PRL-4. Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi. tidak 0. sedangkan P. Kandungan N ini. terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. Lin & Staba. antara lain media : 1. H.25 mM. Pada masa ini media B5 juga digunakan untuk kultur-kultur lain. 2. kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin & Nitsch (1967 dalam Gunawan 1988) serta Nitsch & Nitsch (1969 dalam Gunawan 1988) dalam penelitian kultur anther. S. 3. serta sangat baik sebagai media dasar untuk meregenerasi seluruh bagian tanaman. Zn dan Mn. N. Larutan senyawa makro dari media Lin & Staba. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. Modifikasi media MS yang lain dibuat oleh Durzan et alI (1973 dalam Gunawan 1988) untuk kultur suspensi sel white spruce dengan cara mengurangi konsentrasi K+ dan NO3-. Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting. dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM. 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant. 1983).Media Murashige & Skoog (media MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog. Mg. Unsur makro lainnya konsemtrasinya dinaikkan sedikit. Ca dan Co.

Fosfat yang diberikan setelah 1 mM. Resep media dasar adalah resep kombinasi zat yang mengandung hara esensial (makro dan mikro). dan dikembangkan oleh ahli lain. merupakan media dengan konsentrasi ion yang lebih rendah dari media MS. Dalam pembuatan media. berarti konsentrasi persenyawaan yang digunakan adalah setengah konsentrasi media MS. Larutan yang sudah mengalami pengendapan. Dalam teknik kultur jaringan dikenal puluhan macam media dasar. Penamaan resep media dasar pada umumnya diambil dari nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dalam kultur khusus dan memperoleh suatu hasil yang penting artinya. sedangkan Mg2+ antara 0. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan stok adalah penyimpanan (daya simpan) larutan. Larutan stok dapat disimpan ditempat yang bertemperatur rendah dan gelap. dan 5% buruk pertumbuhannya. Media diperuntukkan khusus tanaman berkayu. Kadang-kadang untuk kultur tertentu. Pembuatan larutan stok berdasarkan pengelompokan dalam : Stok makro. dan PO4-3 yang lebih tinggi. sedangkan stok hara dapat disimpan 4-8 minggu. Saat ini WPM banyak digunakan untuk perbanyakan tanaman hias berperawakan perdu dan pohon-pohon. stok Fe. sumber energi dan vitamin. Stok hormon dapat disimpan antara 2-4 minggu. Pada umumnya media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar dan media perlakuan. stok mikro. pembuatan media selanjutnya hanya dengan teknik pengenceran dan pencampuran saja. Schenk & Hildebrant mempelajari pertumbuhan jaringan dari 37 jenis tanaman dalam media SH dan mendapatkan bahwa: 32 % dari spesies yang dicobakan. 19% baik. Setiap larutan stok dapat dipergunakan sampai 100 liter media. kombinasi zat kimia dari murashige dan Skoog masih tetap digunakan tetapi konsentrasinya yang diubah. 1968). Selain itu. stok vitamin dan stok hormone terutama bila larutan stok tidak disimpan terlalu lama (segera digunakan habis). Penggunaan larutan stok menghemat pekerjaan menimbang bahan yang berulang–ulang setiap kali membuat media. Media SH ini cukup luas penggunaannya. tetapi sulfat yang digunakan lebih tinggi dari sulfat pada media WPM. tumbuh dengan sangat baik. Dengan adanya larutan stok. Sebagai contoh media ½ MS. kadang-kadang timbangan yang dibutuhkan untuk menimbang jumlah kecil tidak tersedia dalam laboratorium. langkah pertama adalah membuat stok dari media terpilih. Tetapi karena zat tumbuh yang diberikan pada tiap jenis tanaman tersebut berbeda. Dari sekian banyak media dasar yang paling sering dan banyak digunakan adalah komposisi media dari Murashige dan Skoog. 14% kurang baik.5-3 mM (Gamborg et al. 30% sedang. Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan dapat . Konsentrasi ion-ion dalam komposisi media SH sangat mirip dengan komposisi pada media Gamborg dengan perbedaan kecil yaitu level Ca2+. untuk kultur kalus tanaman monokotil dan dikotil (Trigiano & Gray. terutama untuk tanaman legume. Media Schenk & Hildebrant (media SH) merupakan media yang juga cukup terkenal. Ca2+ antara 1-4 mM. Mg2+. Media WPM (Woody Plant Medium) yang dikembangkan oleh Lioyd & Mc Coen pada tahun 1981. bahkan larutan stok mikro dapat dipergunakan sampai 100 liter media. tidak dapat digunakan lagi. 2000).pertumbuhan sel kedelai.

kemudian dilarutkan agar didalamnya. Mendinginkan dan menyimpan media dalam ruang inkubasi. Langkah-Iangkah pembuatan media MS 1 liter (I) : a. Selain itu jenis anion senyawa sumber unsur hara makro tidak sama. Memanaskan campuran tersebut sampai mendidih.251 ml. Oleh karena itu kondisi simpan harus dijaga kebersihan dan tempat (wadah) larutan harus diusahakan cara-cara pembuatan larutan stok untuk media Murashige dan Skoog. Melakukan pengukuran pH (pH=5. Melakukan peneraan dengan cara memasukkan campuran ke dalam labu takar dan menambahkan aquadest hingga tepat 1 L. 5.4 D 0. Media dasar Murhasige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur. karena ada beberapa bahan yang tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya. Kondisi simpan juga diperhatikan.1 ppm + Mg 0.05 ppm. Media dasar White (1934) yang sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat. Media dasar B5 untuk kultur sel kedelai.05 ppm • Untuk perlakuan I. dan legume lain. terutama pada tanaman herbaceous.5 ppm • Untuk perlakuan I. kemudian ditambahkan NAA 0. 2. kemungkinan hal tersebut akan mempercepat pengendapan larutan bila dibuat larutan stok campuran. Memasukkan larutan stok MS dan aquadest hingga 1 L c. h. Melarutkan sukrosa dalam aquadest 0. menuangkannya dalam botol media. kemudian ditambahkan 2. KESIMPULAN 1.8). kemudian ditambahkan 2. alfafa. dan tekanan uap 17 kg/cm2 selama 20 menit.8 ditetesi larutan NaOH dan bila pH lebih dari 5. Menutup botol media dengan Alumunium foil secara rapat.1 ppm • Untuk perlakuan I. Setiap 1 liter komposisi larutan media untuk 40 botol media yang berupa botol selai g. Larutan stok yang terkontaminasi mikroorganisme ini. 3. Larutan stok kadang-kadang ditumbuhi mikroorganisme. f. • Untuk perlakuan I. Bila pH kurang dari 5.4 D 0. kemudian ditambahkan NAA 0. Media dasar Nitsch dan Nitsch yang biasa digunakan dalam kultur tepung sari .8 ditetesi lerutan HCl. Senyawa-senyawa sumber unsur hara makro diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk unsur hara makro). Oleh karena itu sebaiknya dibuat dalam larutan stok tunggal. b. Media dasar Vacin dan Went yang biasa digunakan untuk kultur jaringan anggrek. i. Memindahkan campuran tersebut dalam panci. 4. e.dihindari dengan membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran.5 ppm + Mg 0. Melakukan sterilisasi media dalam autoklaf yaitu autoklaf dipanaskan hingga mencapai suhu 1210 C. d. IV. juga tidak dapat digunakan lagi.

com/2009/05/pembuatan-media-tanam-kulturjaringan.html . P.A .dephut. 61(92): 148-155. 1991. http://www. Hendaryono. Diakses tanggal 12 Mei 2009. Hormon Tumbuhan. Kultur Jaringan : Alternatif Pengadaan Bibit Unggul. 2001. 1986.bndah-lembang. H. http://www. dan R. Media N6 untuk serealia terutama padi. 2000. dan J. 2002. University of Birmingham. S. S. Heddy. Pertumbuhan kentang pada berbagai intensitas cahaya dan konsentrasi benzil amino purin.W. Diakses tanggal 12 Mei 2009. I.blogspot. 6. R. D. 2001. Anonim. Tentang Kultur Jaringan. A. Yogyakarta. 2008. Hort. dan A Wijayani. Starling.(pollen) dan kultur sel.J. Medium khusus tanaman berkayu atau Woody Plant Medium (WPM) 8. 2007. UK. Agrivet 5 (2): 98-104. Newburry. Jurnal Litbang Pertanian 20 (1) : 1-8. 2002. Perbanyakan vegetatif tanaman tahunan melalui kultur in vitro.go.. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Jakarta: Penebar Swadaya. Sany. Callow.com/kuljar. Abstract. L. Kanisius. Effect of Level and Duration Suplemantary Light on Development of Chrysanthemum. Gunawan. Jakarta: CV Rajawali. Teknik Kultur Jaringan. 7. Media dasar schenk dan Hildebrandt (1972) atau media SH yang cocok untuk kultur jaringan tanaman-tanaman monokotil.J. Purnamaningsih. Wijayani. Mariska.htm. Budidaya Anggrek. Putative Auxin Receptors in Tobacco Callus.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_11. http://manaree.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful