PEMBUATAN MEDIA TANAM KULTUR JARINGAN

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan budidaya jaringan tanaman sangat dipengaruhi oleh media tanamnya. Selain sebagai tempat tumbuh, media tanam merupakan penyedia unsur hara dan zat-zat lain yang diperlukan eksplan untuk tumbuh. Seperti halnya dengan tanaman utuh, jaringan tanaman juga memerlukan unsure hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan unsur hara mikro (Fe, Zn, Bo, Cu, Mo, dan Co). Karena yang ditanam adalah sepotong kecil jaringan atau sekelompok sel, media tanam haruslah dapat menyediakan bahan-bahan lain yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan jaringan tanaman sehingga tanaman dapat melakukan regenerasi. B. Tinjauan Pustaka Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ , serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali (Sany, 2007). Suatu keuntungan yang diperoleh dalam aplikasi teknologi kultur jaringan dalam memperbanyak tanaman krisan adalah upaya untuk memodifikasi generik tanaman tersebut. Rekayasa genetik tanaman krisan dapat dilakukan dengan menggabungkan teknologi nuklir dengan teknik kultur jaringan. Selain itu, kultur jaringan in vitro terbukti sangat efisien digunakan untuk pemeliharaan sumber genetik, bemilai ekonomi tinggi karena tidak memerlukan tempat yang luas dan dapat mengurangi resiko kerusakan oleh hama dan penyakit serta memudahkan pengawasan dan pengelolaan (Anderson, 2000). Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Anonim, 2008). Media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar basal/basic medium dan media tambahan. Komposisi media dasar mengandung hara essensial baik makro maupun mikro, sumber energy dan vitamin yang jumlah dan macamnya tergantung dari penemunya. Komposisi media perlakuan merupakan komposisi media tambahan yang dapat berupa vitamin, senyawa organik komplek atau zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh khususnya auksin dan sitokinin adalah suatu zat

Hormon diperlukan dalam konsentrasi yang rendah untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok. al. sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem. unsur hara dan ZPT ke dalam sel.organik utama yang mengendalikan proses morfogenesis didalam teknik kultur jaringan. Proses perpanjangan sel (fase G1 dalam pertumbuhan sel) berlangsung baik karena terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Pembuatan larutan stok harus dilakukan dengan cennat. dikenal dengan sebutan zat pengatur tumbuh (Heddy. Senyawa sintetis dan hormon yang secara alami ada. Larutan stok dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengambilan bahan-¬bahan kimia khususnya yang dibutuhkan dalam jumlah kecil..2001). Kepekaan jaringan terhadap zat yang ditambahkan pada media perlakuan khususnya zat pengatur tumbuh ditentukan oleh konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sudah ada didalam jaringan tersebut (Starling et. Kestabilan zpt bervariasi: kinetin dan IAA tidak stabil pada kondisi cahaya. Sedikit volume (misalnya 50 mL) larutan stok mengandung 1 mg mL-1 ZPT dapat disimpan untuk beberapa lama. dan daun. tak perlu sering menimbang karena hal ini kurang praktis. hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel. Juga. 2002). batang. IAA kehilangan aktivitasnya pada larutan aqueous sehingga larutan stok IAA sebaiknya tidak disimpan dalam jangka waktu yang lama (Gunawan . Di sisi lain NAA dapat juga mendorong terbentuknya sejumlah sel yang cukup banyak tetapi tidak membelah. kumpulan dari sel ini yang disebut kalus. 1991). Kalus terbentuk karena terjadinya penumpukan sel-sel yang mengembang akibat dari masuknya air. Sebelum membuat media. sehingga biasanya disimpan pada botol berwarna gelap. semua bahan tersebut tidak dapat disebarkan ke seluruh tubuh tanaman seperti akar. sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang. sebab larutan stok yang terlalu pekat akan mengalami pengendapan di lemari es. yang selanjutnya akan bertambah giat memasuki fase pembesaran sel (G2) ke fase pembelahan sel (Wijayani. 2001). Auxin (IAA) dalam budidaya jaringan berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel. Larutan stok disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak mudah rusak dan mencegah terdegradasinya bahan-bahan kimia oleh mikroba penyebab kontaminasi. Banyak molekul sintetis organik yang telah dikenal memiliki aktivitas serupa hormon. Hormon adalah bahan organik yang disintesa pada jaringan tanaman. Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang digunakan pada media disimpan dalam gelap pada refrigerator sebagai larutan stok. 1986). C. Adanya kinetine yang ditambah pada media tumbuh mengakibatkan fase transkripsi dan translasi RNA berlangsung lebih giat. 2002). sehingga berkumpul di satu titik (Mariska dan Purnamaningsih. dan larutan stok yang terkontaminasi tidak boleh digunakan lagi (Hendaryono dan Wijayani. Tujuan Mengenalkan pembuatan media tanam dari stok-stok bahan kimia yang telah . Kinetine berperan dalam mendorong morfogensis sel.

thiamine dan nicotinic acid (Chawla.7-5. Pada periode tahun 1930an. II. aquades. yeast ekstrak dan sucrose. khususnya komposisi unsur-unsur makronya. stok unsur hara mikro. dan bila terlalu basa ditambahkan HCl. tunggu sampai larutan masak dan homogen. pertama White menggunakan media yang berisi garam anorganik. Aquades ditambahkan sampai volume yang dikehendaki. kemudian stirrer dihidupkan. setelah itu diletakkan di atas hot plate magnetic stirrer. Botol-botol sebagai tempat media disiapkan. boto-botol tempat media. Media untuk penumbuhan akar yang dikembangkan oleh White (1934 dalam Gunawan 1988). METODOLOGI Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah stok unsur hara makro nutrien. stok moi inositol. pH meter. yaitu pyridoxine. stok zat pengatur tumbuh. dan zat pengatur tumbuh. vitamin. stok unsur besi. Unsur-unsur hara diberikan dalam bentuk garam-garam anorganik.dibuat pada acara sebelumnya. Komposisi media dan perkembangan formulasinya didasarkan pada jenis jaringan. tuber dan kambium. Cara kerja dari praktikum ini adalah dengan menyiapkan gelas piala yang diisi dengan aquades secukupnya sebagai pelarut (volume akhir tidak melebihi volume yang dikehendaki). besi. Masing-masing stok unsur hara diambil sesuai volume yang tertera pada massing-masing botol stok (disesuaikan dengan volume media yang akan dibuat). dan autoklaf untuk sterilisasi. tetapi kemudian yeast ekstrak digantikan dengan 3 macam vitamin B. mikro pipet. Sukrose ditambahkan sesuai dengan media yang akan dibuat. 2002). pH diukur hingga mencapai 5. sukrosa. Alat-alat yang digunakan adalah gelas piala. HASIL DAN PEMBAHASAN Formulasi media kultur jaringan pertama kali dibuat berdasarkan komposisi larutan yang digunakan untuk hidroponik. Media disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 1200 C dan tekanan 1 atm selama 20-25 menit. mikro. Beberapa jenis sensitif terhadap konsentrasi senyawa makro tinggi atau membutuhkan zat pengatur tertentu untuk pertumbuhannya. dan senyawa NaOH/HCl untuk pengukuran pH. Media yang telah masak dituang ke dalam botol-botol media. stok vitamin. III. mio inositol. kemudian ditambahkan agar dan pemanas pada hot plate magnetic stirrer dinyalakan. bila terlalu asam dapat ditambahkan NaOH. hot plate magnetic stirrer. agarose. organ dan tanaman yang digunakan serta pendekatan dari masing-masing peneliti. kemudian tutup dengan menggunakan tutup plasstik atau alumunium foil. formulasi media terutama ditujukan untuk menumbuhkan akar. Kultur kalus biasanya ditumbuhkan pada media dengan konsentrasi garam-garam . Media tanam siap digunakan. dimasukkan ke dalam gelas piala sesuai dengan urutannya.8. Disiapkan stok-stok unsur hara makro.

menggunakan NO3. Ca. NH4-.yang rendah seperti dalam kultur akar.K+ lebih tinggi dibandingkan pada media White. Konsentrasi untuk NO3.dan K+ yang digunakan Hildebrant ini lebih tinggi dari media white. media ini media ini digunakan mengkulturkan jaringan tumor tembakau dan bunga matahari. menunjukkan bahwa penambahan ammonium ke dalam media White yang sudah dimodifikasi. Unsur F. Media Nitsch & Nitsch. lebih tinggi dari pada yang dibutuhkan oleh kultur tembakau. Media Knudson dan media Vacin and Went.1 mM. Penambahan ammonium khlorida sebanyak 0. K+ dan H2PO4. Mg dan S pada media tumor matahari. Media Knop dapat juga digunakan untuk menumbuhkan kalus wortel. Perbaikkan formulasi media yang penting adalah pengembangan unsur makro yang universal. Ca. bahwa NH4+ sangat menunjang pertumbuhan kalus tembakau (Miller et al. biasanya ditumbuhkan pada media dengan kosentrasi garam-garam yang rendah seperti dalam kultur akar dengan penambahan suplemen seperti glucosa. sama dengan media untuk jaringan tanaman pada umumnya seperti pada media yang dikembangkan sekarang.dan K+ dengan kadar yang cukup tinggi untuk mengkulturkan jaringan tanaman artichoke Jerussalem. gelatine. Kultur kalus.dan K+. Pertumbuhan sel dari jaringan suatu organ dibandingkan dengan jaringan tumor tanaman Venca rosea (Catharanthus roseus). ditemukan bahwa unsur makro yang dibutuhkan kultur tersebut. Tanaman yang ditanam di kebun dapat tumbuh dengan baik dengan pemupukan yang hanya mengandung N dari Nitrat. thiamine. menghasilkan pertumbuhan jaringan yang menurun.5 mM NO3-.6 mM NH4+ disamping 8. sama dengan media untuk jaringan normal yang dikembangkan kemudian. 1984). cysteine-HCl dan IAA (Dodds and Roberts. digunakan juga untuk menumbuhkan kalus wortel. sedangkan kandungan unsur P.yang diperoleh. mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Pada media Knop sumber karbon berupa glucosa dan dan vitamin berupa cysteine hydrochloride. namun konsentrasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan media yang lain yang banyak digunakan pada kultur jaringan sekarang. Media White dikembangkan oleh Hildebrant untuk keperluan kultur jaringan tumor bunga matahari. sangat baik untuk perkencambahan dan pertumbuhan biji anggrek. Penambahan NH4+ ternyata dibutuhkan untuk perkembangan protocorm. dengan memodifikasi unsur-unsur makro yang lebih tinggi dibandingkan pada media kultur tembakau. Knudson pada tahun 1922. (1956 dalam Gunawan 1988). Konsentrasi NO3. Mereka mengambil kesimpulan. Konsentrasi NO3-. 1983). Dalam media perlu ditambahkan ammonium dengan meningkatkan konsentrasi NO3. menggunakan setengah konsentrasi dari larutan Knop yang biasa digunakan untuk hidroponik. untuk mendukung pertumbuahan jaringan tumbuhan. Nobecourt (1937) dalam George & Sherrington. Media White juga dikembangkan oleh Hildebrant dkk (1946 dalam Gunawan 1988). Hg dan S pada media untuk tumor bunga matahari ini. menemukan penambahan 7. . media ini dikembangkan khusus untuk kultur anggrek. hampir sama dengan yang dikembangkan oleh Miller (Wood & Braun (1961 dalam Gunawan 1988). tetapi masih lebih rendah dari pada media-media lain yang umum digunakan sekarang.

Setelah tujuh hari dibiarkan. kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin & Nitsch (1967 dalam Gunawan 1988) serta Nitsch & Nitsch (1969 dalam Gunawan 1988) dalam penelitian kultur anther. Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan.625 mM. Unsur makro lainnya konsemtrasinya dinaikkan sedikit. Pertama kali unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau. sedangkan P. Kandungan N ini. mengendap (Dalton et al. menggunakan media dengan setengah dari komposisi unsur makro MS. Media ini dikembangkan dari komposisi PRL-4. Si. S. Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM. Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS. Mo. Modifikasi media MS yang lain dibuat oleh Durzan et alI (1973 dalam Gunawan 1988) untuk kultur suspensi sel white spruce dengan cara mengurangi konsentrasi K+ dan NO3-. dan 19 kali lebih tinggi dari media White. Media Gamborg B5 (media B5) pertama kali dikembangkan untuk kultur kalus kedelai dengan konsentrasi nitrat dan amonium lebih rendah dibandingkan media MS. sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut. dan menambah konsentrasi Ca2+ nya. 3. 1. Mg2+ dan SO4-2 untuk keperluan kultur pucuk Bougainvillea glabra. maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+.Media Murashige & Skoog (media MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog. antara lain media : 1. K. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C. Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap. ini terlihat jelas pada media cair. H. kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca.5 Mm. Ca dan Co. media ini menggunakan konsentrasi NH4+ yang rendah. 1983). N. terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM.25 mM. Lin & Staba. 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant. Chaturvedi et al (1978) mengubah media MS dengan menurunkan konsentrasi NO3-. 2. tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain. Larutan senyawa makro dari media Lin & Staba. Untuk mengatasi pengendapan Fe. Untuk selanjutnya media B5 dikembangkan untuk kultur kalus dan suspensi. tidak 0. serta sangat baik sebagai media dasar untuk meregenerasi seluruh bagian tanaman. lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller. Ca2+. K+. sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0. Zn dan Mn. Mg. karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. Pada masa ini media B5 juga digunakan untuk kultur-kultur lain. karena konsentrasi yang lebih tinggi dari 2 mM menghambat . Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi.

dan PO4-3 yang lebih tinggi. tetapi sulfat yang digunakan lebih tinggi dari sulfat pada media WPM. Mg2+. Resep media dasar adalah resep kombinasi zat yang mengandung hara esensial (makro dan mikro). Media WPM (Woody Plant Medium) yang dikembangkan oleh Lioyd & Mc Coen pada tahun 1981. Pembuatan larutan stok berdasarkan pengelompokan dalam : Stok makro. sumber energi dan vitamin. Setiap larutan stok dapat dipergunakan sampai 100 liter media. stok mikro. sedangkan stok hara dapat disimpan 4-8 minggu.pertumbuhan sel kedelai. Dari sekian banyak media dasar yang paling sering dan banyak digunakan adalah komposisi media dari Murashige dan Skoog. stok vitamin dan stok hormone terutama bila larutan stok tidak disimpan terlalu lama (segera digunakan habis). Larutan yang sudah mengalami pengendapan. Media diperuntukkan khusus tanaman berkayu. pembuatan media selanjutnya hanya dengan teknik pengenceran dan pencampuran saja. Sebagai contoh media ½ MS. 14% kurang baik. tumbuh dengan sangat baik. Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan dapat . untuk kultur kalus tanaman monokotil dan dikotil (Trigiano & Gray. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan stok adalah penyimpanan (daya simpan) larutan. Saat ini WPM banyak digunakan untuk perbanyakan tanaman hias berperawakan perdu dan pohon-pohon. Konsentrasi ion-ion dalam komposisi media SH sangat mirip dengan komposisi pada media Gamborg dengan perbedaan kecil yaitu level Ca2+. Selain itu. Penamaan resep media dasar pada umumnya diambil dari nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dalam kultur khusus dan memperoleh suatu hasil yang penting artinya. Dalam teknik kultur jaringan dikenal puluhan macam media dasar. bahkan larutan stok mikro dapat dipergunakan sampai 100 liter media. Tetapi karena zat tumbuh yang diberikan pada tiap jenis tanaman tersebut berbeda. Fosfat yang diberikan setelah 1 mM. langkah pertama adalah membuat stok dari media terpilih. Ca2+ antara 1-4 mM. 30% sedang. Media Schenk & Hildebrant (media SH) merupakan media yang juga cukup terkenal. sedangkan Mg2+ antara 0. kombinasi zat kimia dari murashige dan Skoog masih tetap digunakan tetapi konsentrasinya yang diubah. terutama untuk tanaman legume. Kadang-kadang untuk kultur tertentu. Media SH ini cukup luas penggunaannya.5-3 mM (Gamborg et al. 2000). Larutan stok dapat disimpan ditempat yang bertemperatur rendah dan gelap. 19% baik. dan 5% buruk pertumbuhannya. berarti konsentrasi persenyawaan yang digunakan adalah setengah konsentrasi media MS. tidak dapat digunakan lagi. stok Fe. Dengan adanya larutan stok. Penggunaan larutan stok menghemat pekerjaan menimbang bahan yang berulang–ulang setiap kali membuat media. Schenk & Hildebrant mempelajari pertumbuhan jaringan dari 37 jenis tanaman dalam media SH dan mendapatkan bahwa: 32 % dari spesies yang dicobakan. Pada umumnya media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar dan media perlakuan. merupakan media dengan konsentrasi ion yang lebih rendah dari media MS. Dalam pembuatan media. dan dikembangkan oleh ahli lain. 1968). kadang-kadang timbangan yang dibutuhkan untuk menimbang jumlah kecil tidak tersedia dalam laboratorium. Stok hormon dapat disimpan antara 2-4 minggu.

Larutan stok kadang-kadang ditumbuhi mikroorganisme. kemungkinan hal tersebut akan mempercepat pengendapan larutan bila dibuat larutan stok campuran. Media dasar B5 untuk kultur sel kedelai. Senyawa-senyawa sumber unsur hara makro diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. Setiap 1 liter komposisi larutan media untuk 40 botol media yang berupa botol selai g.1 ppm • Untuk perlakuan I. yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk unsur hara makro). karena ada beberapa bahan yang tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya.5 ppm + Mg 0. Media dasar Vacin dan Went yang biasa digunakan untuk kultur jaringan anggrek.8). Oleh karena itu sebaiknya dibuat dalam larutan stok tunggal. e. Melarutkan sukrosa dalam aquadest 0. kemudian ditambahkan NAA 0. 4. 3. 2. h.dihindari dengan membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran.4 D 0. alfafa. Mendinginkan dan menyimpan media dalam ruang inkubasi. Larutan stok yang terkontaminasi mikroorganisme ini. Media dasar White (1934) yang sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat.05 ppm • Untuk perlakuan I. dan tekanan uap 17 kg/cm2 selama 20 menit.251 ml. kemudian ditambahkan 2. IV. Media dasar Murhasige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur. Melakukan pengukuran pH (pH=5.8 ditetesi lerutan HCl. Bila pH kurang dari 5. Langkah-Iangkah pembuatan media MS 1 liter (I) : a. i.8 ditetesi larutan NaOH dan bila pH lebih dari 5. Media dasar Nitsch dan Nitsch yang biasa digunakan dalam kultur tepung sari . b. kemudian dilarutkan agar didalamnya. Selain itu jenis anion senyawa sumber unsur hara makro tidak sama. 5. kemudian ditambahkan 2.5 ppm • Untuk perlakuan I. menuangkannya dalam botol media. f.05 ppm. dan legume lain. d. Oleh karena itu kondisi simpan harus dijaga kebersihan dan tempat (wadah) larutan harus diusahakan cara-cara pembuatan larutan stok untuk media Murashige dan Skoog. Memasukkan larutan stok MS dan aquadest hingga 1 L c. Memanaskan campuran tersebut sampai mendidih. Melakukan sterilisasi media dalam autoklaf yaitu autoklaf dipanaskan hingga mencapai suhu 1210 C. KESIMPULAN 1. terutama pada tanaman herbaceous. Menutup botol media dengan Alumunium foil secara rapat.1 ppm + Mg 0.4 D 0. Melakukan peneraan dengan cara memasukkan campuran ke dalam labu takar dan menambahkan aquadest hingga tepat 1 L. • Untuk perlakuan I. juga tidak dapat digunakan lagi. kemudian ditambahkan NAA 0. Memindahkan campuran tersebut dalam panci. Kondisi simpan juga diperhatikan.

University of Birmingham. Diakses tanggal 12 Mei 2009. http://manaree.html . Kultur Jaringan : Alternatif Pengadaan Bibit Unggul.blogspot. Kanisius. 6..J. Heddy. Putative Auxin Receptors in Tobacco Callus.com/kuljar. P. Diakses tanggal 12 Mei 2009. Abstract.J. Yogyakarta.W. Hort.com/2009/05/pembuatan-media-tanam-kulturjaringan. H. A. Media N6 untuk serealia terutama padi. 2007. I. Jakarta: Penebar Swadaya. 2000. Anonim. Jurnal Litbang Pertanian 20 (1) : 1-8. 2001. Gunawan. Perbanyakan vegetatif tanaman tahunan melalui kultur in vitro. L. Hendaryono. Callow. Hormon Tumbuhan. http://www. Media dasar schenk dan Hildebrandt (1972) atau media SH yang cocok untuk kultur jaringan tanaman-tanaman monokotil. dan A Wijayani. Tentang Kultur Jaringan. R. http://www. Jakarta: CV Rajawali. Agrivet 5 (2): 98-104. 2002. 2008. UK.bndah-lembang. Medium khusus tanaman berkayu atau Woody Plant Medium (WPM) 8. Starling. 2001. 1986. Mariska. dan R.(pollen) dan kultur sel.go. Sany. 61(92): 148-155. 1991. Wijayani. Newburry. 7. Effect of Level and Duration Suplemantary Light on Development of Chrysanthemum.A . S. Purnamaningsih. dan J. Teknik Kultur Jaringan.htm. S.dephut. DAFTAR PUSTAKA Anderson. 2002. D. Budidaya Anggrek.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_11. Pertumbuhan kentang pada berbagai intensitas cahaya dan konsentrasi benzil amino purin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful