Pengertian Bid’ah, Macam-Macam Bid’ah Dan Hukum-Hukumnya Muslim category “Pengertian Bid’ah, Macam-Macam Bid’ah

Dan Hukum-Hukumnya” ketegori Muslim. Pengertian Bid’ah, Macam-Macam Bid’ah Dan Hukum-Hukumnya

Kategori Bid’ah Rabu, 10 Maret 2004 16:49:28 WIB PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan PENGERTIAN BID’AH Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelum Allah berfirman. Badiiu’ as-samaawaati wal ardli “Arti : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117] Arti ialah Allah yg mengadakan tanpa ada contoh sebelumnya. Juga firman Allah. Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli “Arti : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yg pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9]. Maksud ialah : Aku bukanlah orang yg pertama kali datang dgn risalah ini dari Allah Ta’ala kpd hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yg telah mendahuluiku. Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksud : memulai satu cara yg belum ada sebelumnya. Dan peruntukan bid’ah itu ada dua bagian : [1] Peruntukan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti ada penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalam penyingkapan-penyingkapan ilmu dgn berbagai macam-macamnya). Ini ialah mubah (diperbolehkan) ; krn asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) ialah mubah.

[2] Peruntukan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukum haram, krn yg ada dalam dien itu ialah tauqifi (tdk bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Arti : Barangsiapa yg mengadakan hal yg baru (beruntuk yg baru) di dalam urusan kami ini yg bukan dari urusan tersebut, maka peruntukan di tolak (tdk diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Arti : Barangsiapa yg beruntuk suatu amalan yg bukan didasarkan urusan kami, maka peruntukan di tolak”. MACAM-MACAM BID’AH Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam : [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yg keluar dari keyakinan, seperti ucapanucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompokkelompok) yg sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka. [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kpd Allah dgn apa yg tdk disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu : [a]. Bid’ah yg berhubungan dgn pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yg tdk ada dasar dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yg tdk disyari’atkan, shiyam yg tdk disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yg tdk disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya. [b]. Bid’ah yg bentuk menambah-nambah terhadap ibadah yg disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar. [c]. Bid’ah yg terdpt pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yg sifat tdk disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yg disyariatkan dgn cara berjama’ah dan suara yg keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batasbatas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [d]. Bid’ah yg bentuk menghususkan suatu ibadah yg disari’atkan, tapi tdk dikhususkan oleh syari’at yg ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasar shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususan dgn pembatasan waktu memerlukan suatu dalil. HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukum ialah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Arti : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yg baru, krn sesungguh mengadakan hal yg baru ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih]. Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Arti : Barangsiapa mengadakan hal yg baru yg bukan dari kami maka peruntukan tertolak”. Dan dalam riwayat lain disebutkan : “Arti : Barangsiapa beramal suatu amalan yg tdk didasari oleh urusan kami maka amalan tertolak”. Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yg diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) ialah bid’ah, dan setiap bid’ah ialah sesat dan tertolak. Arti bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukum haram. Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantara yg menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kpd ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kpd kuburan-kuburan itu, berdo’a kpd ahli kubur dan minta pertolongan kpd mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ah perkataan-perkataan orang-orang yg melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yg mrpk sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya. Ada juga bid’ah yg mrpk fasiq secara aqidah sebagaimana hal bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yg mrpk maksiat seperti bid’ah orang yg beribadah yg keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yg dgn berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dgn tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh). Catatan : Orang yg membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) ialah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Arti : Sesungguh setiap bentuk bid’ah ialah sesat”. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu ialah sesat ; dan orang ini (yg membagi bid’ah) mengatakan tdk setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yg baik ! Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitab “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah ialah sesat”, mrpk (perkataan yg mencakup keseluruhan) tdk ada sesuatupun yg keluar dari kalimat tersebut dan itu mrpk dasar dari dasar Ad-Dien, yg senada dgn sabda : “Arti : Barangsiapa mengadakan hal baru yg bukan dari urusan kami, maka peruntukan ditolak”. Jadi setiap orang yg mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkan kpd Ad-Dien, padahal tdk ada dasar dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri dari ; baik pada masalah-masalah aqidah, peruntukan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin. Dan mereka itu tdk mempunyai dalil atas apa yg mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yg baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah

ialah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguh telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yg tdk diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya”. Adapun jawaban terhadap mereka ialah : bahwa sesungguh masalah-masalah ini ada rujukan dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah ialah ini”, maksud ialah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yg ada dalil dalam syariat sebagai rujukan jika dikatakan “itu bid’ah” maksud ialah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, krn bid’ah menurut syariat itu tdk ada dasar dalam syariat sebagai rujukannya. Dan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukan dalam syariat krn Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisan masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya. Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhir tdk bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan mrpk bid’ah dalam Ad-Dien. Begitu juga hal penulisan hadits itu ada rujukan dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kpd sebagian sahabat krn ada permintaan kpd beliau dan yg dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum ialah ditakutkan tercampur dgn penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab AlQur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tdk hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yg baik kpd mereka semua, krn mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tdk kehilangan dan tdk rancu akibat ulah peruntukan orang-orang yg selalu tdk bertanggung jawab. [Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang hrs Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin.] Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=439&bagian=0 Mengenal Seluk Beluk BID’AH (1): Pengertian Bid’ah Kategori Manhaj | 14-10-2008 | 105 Komentar

seringkali kita mendengar kata bid’ah.berkata tentang ayat ini. Sengaja kami membagi tulisan ini menjadi empat bagian. juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi. sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim. Kami harapkan pembaca dapat membaca tulisan ini secara sempurna agar tidak muncul keraguan dan salah paham. dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan. pada tafsir surat Al Ma’idah ayat 3) SYARAT DITERIMANYA AMAL Saudaraku –yang semoga dirahmati Allah-. Al Ma’idah [5] : 3) Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah. baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada. Sekaligus pula tulisan ini akan sedikit menjawab berbagai kerancuan tentang bid’ah yang timbul beberapa saat yang lalu di website kita tercinta ini. Tulisan ini -insya Allah. dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Oleh karena itu. “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.” (QS. Namun. ‫اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم السلم دينا‬ ً ِ َ َ ْ ِْ ُ ُ َ ُ ِ َ َ ِ َ ْ ِ ْ ُ ْ ََ ُ ْ َ ْ ََ ْ ُ َ ِ ْ ُ َ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.akan sedikit membahas permasalahan bid’ah dengan tujuan agar kaum muslimin bisa lebih mengenalnya sehingga dapat mengetahui hakikat sebenarnya. perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya. ‫فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عمل صالحا ول يشرك بعبادة ربه أحدا‬ ً َ َ ِ ّ َ ِ َ َ ِ ِ ْ ِ ْ ُ َ َ ً ِ َ ً َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ِ َّ َ َ ِ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ . Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala. seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal.[Bagian Pertama dari 4 Tulisan] Saudaraku yang semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah. tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat. AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA Saudaraku.

” (HR. Muslim no. “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali. “Secara tekstual (mantuq). 20 dan Muslim no. 1718) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda. maka amalan tersebut tertolak. ّ َ َ ُ َ َ ُ ْ َ ِ ْ ََ َ ْ َ ً َ َ َ ِ َ ْ َ ‫من عمل عمل ليس عليه أمرنا فهو رد‬ “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami. Jadi. “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. 77-78) . Secara inplisit (mafhum).” (QS. syari’atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang.” (Jami’ul Ulum wal Hikam. maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun. Oleh karena itu. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Bukhari no. maka amalan tersebut tertolak. Sebaliknya. 1718) Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan.” (HR. hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tidak tertolak. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan RasulNya. …Jika suatu amalan keluar dari koriodor syari’at. Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘yang bukan ajaran kami’ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syari’at. Sebagaimana hadits innamal a’malu bin niyat [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Darul Hadits Al Qohiroh) Beliau rahimahullah juga mengatakan. ّ َ َ ُ َ ُ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َِ ْ َ ِ َ َ ْ َ ْ َ ‫من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‬ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah. hal. apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syari’at dan mencocokinya. hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang tidak ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tertolak. maka amalan tersebut tertolak. (Jami’ul Ulum wal Hikam. amalan tersebutlah yang diterima. maka perkara tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya. 77. Al Kahfi [18] : 110) Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini. hal. maka amalan tersebut tertolak. apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syari’at.“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya. pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran.

” (QS. mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah ِ ّ ِ ْ ّ ِ َ ْ ِ ّ ِ ُ َ ْ ُ َ َ ْ ََ ِ ْ ُّ ِ ُ َ ْ ُ َ ّ ِ ْ ّ ‫طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية‬ ِ َ ُ ٍ َ َ َْ ُ ِ ْ ّ ِ ٌ َ ْ ِ َ .” (QS. Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi). ِ ُ ّ َ ِ ً ْ ِ ُ ُْ َ ْ ُ ‫قل ما كنت بدعا من الرسل‬ “Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’. Juga firman-Nya. maka amalan tersebut tertolak. yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah) Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala.Jadi. Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah) [Definisi Secara Istilah] Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada. maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam). ِ ْ َْ َ ِ َ َ ّ ُ ِ َ ‫بديع السماوات والرض‬ “Allah Pencipta langit dan bumi. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah: ُ َ َ ْ ُ ِ ِ ُ َ ّ ِ ُ َ َ َ ُ َ ْ ََ ِ ْ ُّ ِ ُ َ ْ ُ َ ّ ِ ْ ّ ‫عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد ل سبحانه‬ ِ َ ُ ٍ َ َ َْ ُ ِ ْ ّ ِ ٍ َ ْ ِ َ ْ َ ٌَ َِ Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil. PENGERTIAN BID’AH [Definisi Secara Bahasa] Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. ingatlah wahai saudaraku. Al An’am [6] : 101). maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Lisanul ‘Arob. Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah. 1/91. Sebuah amalan dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8/6. Al Ahqaf [46] : 9) . (Lihat Al Mu’jam Al Wasith. Al Baqarah [2] : 117.

Pendapat yang lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bid’ah. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bid’ah secara umum. 26. Asy Syatibi. Asy Syamilah) Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Semoga kita selalu mendapat taufik Allah. www. Dar Ar Royah) Sebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bid’ah secara istilah. (Al I’tishom. Beliau rahimahullah mengatakan. Al ‘Izz bin Abdus Salam.” (Majmu’ Al Fatawa. 2/231. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat. yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah). sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan penjelasan ini akan lebih diperjelas dalam penjelasan selanjutnya. yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’. Ada yang memakai definisi bid’ah sebagai lawan dari sunnah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Untuk menjawab sedikit kerancuan ini.islamspirit. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i. [Dalil dari As Sunnah] . Al Ghozali. mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang terpuji dan tercela. Al Qorofi dan Ibnul Atsir. Asy Syamilah) Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. 18/346. Abdullah At Tuwaijiri. Ibnu Rojab Al Hambali dan Az Zarkasi. pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam). Ibnu Hajar Al Atsqolani. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Pada awalnya kita akan melewati pembahasan ‘apakah setiap bid’ah itu sesat?’. marilah kita menyimak berbagai dalil yang menjelaskan hal ini.com) Inilah sedikit muqodimah mengenai definisi bid’ah dan berikut kita akan menyimak beberapa kerancuan seputar bid’ah.Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil. (Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al Bida’ Al Hawliyah. hal. ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). 1/26. ِ َ َ ِ ْ َ ِ َ َ ِ ْ ِ ْ ِ ِ ّ ُْ ِ ََ َ َ ْ ْ َ َ ّ ‫َ ْ ِ ْ َ ُ َ َ َ َ ْ ْ ِ َ َ َ س‬ ‫والبدعة : ما خالفت الكتاب وال ّنة أو إجماع سلف المة من العتقادات والعبادات‬ “Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf. Ibnu Hajar Al Haitami. Mengenal Seluk Beluk BID’AH (2): Adakah BID’AH HASANAH? Kategori Manhaj | 14-10-2008 | 93 Komentar [Bagian Kedua dari 4 Tulisan] Setiap bid’ah adalah tercela.

Oleh karena itu.” Lalu ada yang mengatakan. “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari.” (HR. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku. dan membuat hati ini bergemetar (takut). Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. yang membuat air mata ini bercucuran. Abu Daud no. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat. kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. 867) Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan. tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ َ ُ َ َ ْ ُ ِ ُ ُ ّ َ َ ٍ ّ َ ُ َ ُ َ ُ ْ ُ ْ َ َ ّ ُ َ ِ ِ ِ َ ْ َ ْ َ ّ ِ َ ُ ْ َ ّ َ ‫أما بعد فإن خير الحديث كتاب ال وخير الهدى هدى محمد وشر المور محدثاتها وكل بدعة ضللة‬ ِ “Amma ba’du. dan kelihatan begitu marah. ِ َ َُ ْ ِ ّ ُ َ ِ ّ ُ ِ ْ ُ ْ ََ َ ً ِ َ ً َ ِ ْ َ َ َ َ ِ ْ َ ْ ُ ْ ِ ْ ِ َ ْ َ ُ ّ َِ ّ ِ َ َ ً ْ َ ْ َِ ِ َ ّ َ ِ ْ ّ َ ّ ‫أوصيكم بتقوى ال والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا فإنه من يعش منكم بعدى فسيرى اختلفا كثيرا فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء‬ ِ َ ْ َِ ْ ُ ِ ُ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ ٌ َ ْ ِ ٍ َ َ ْ ُ ّ ُ ّ ِ َ ِ ُ ُ ِ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ّ َِ ِ ِ َ ّ ِ َ ْ ََ ّ َ َ َ ِ ُ ّ َ َ َ ِ ِ ّ َ ّ ِ ْ َ ْ ‫المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات المور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضللة‬ “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. 4607 dan Tirmidzi no. sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. suaranya begitu keras. [Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i) Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. beliau berkata. beliau berkata. An Nasa’i no.Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma. ‫يا رسول ال كأن هذ ِ موعظة مودع فماذا تعهد إلينا‬ َ ْ َ ِ ُ َ ْ َ َ َ َ ٍ ّ َ ُ ُ َ ِ ْ َ ‫َ َ ُ َ ّ َ َ ّ َ ِه‬ ِ “Wahai Rasulullah. 2676. maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.” (HR. ِ ّ ِ ٍ ََ َ ّ ُ َ ‫وكل ضللة فى النار‬ “Setiap kesesatan tempatnya di neraka. Muslim no. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi) [Dalil dari Perkataan Sahabat] . Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. 1578. “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah.

Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 20/330. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih) Itulah berbagai dalil yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.” (HR. 8770. ‫البدعة بدعتان : محمودة ومذمومة‬ َ ُ ْ َ َ َ ُ ْ َ ِ ََ ْ ِ َ ْ ِْ “Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Umar berkata. Memang kami akui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukhari no.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no.” (Lihat Hilyatul Awliya’. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata. Darul Kitab Al ‘Arobiy Beirut-Asy Syamilah dan lihat Fathul Bari. sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati. Asy Syamilah) Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. janganlah membuat bid’ah. KERANCUAN: BID’AH ADA YANG TERPUJI ? Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang bahwa tidak semua bid’ah itu sesat namun ada sebagian yang terpuji yaitu bid’ah hasanah. ُ َ ّ َ ُ َ َ ُ َ ِ ْ َ ْ َ ّ َ ً ّ ُ ِ ِ ُ َ ََ ً َ ْ ِ ِ ِ ُ َ ْ َ ِ ٌ َ ِ ّ ََ َ َ َ ‫ما أتى على الناس عام إل أحدثوا فيه بدعة، وأماتوا فيه سنة، حتى تحيى البدع، وتموت السنن‬ “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah. ٌ َ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ ْ ُ ِ ُ ْ َ َ ُ ِ َْ َ َ ُ ِّ ‫اتبعوا، ول تبتدعوا فقد كفيتم، كل بدعة ضللة‬ “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. pen). Beliau rahimahullah berkata. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya. 9/113. Semua bid’ah adalah sesat. 2010) . ِ ِ َ ُ َ ْ ِْ َ ْ ِ ‫نعم البدعة هذه‬ “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.

2/93) Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya: semua) pada hadits. tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata. Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim. perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya. 91. Asy Syatibhi mengatakan. tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. pen)’. semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Ta’liq Dr. walaupun manusia menganggapnya baik. Oleh karena itu. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql) Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat. 1/219. 2/88. lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. ً َ َ َ ُ ّ َ َ ْ َِ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ ‫كل بدعة ضللة ، وإن رآها الناس حسنة‬ “Setiap bid’ah adalah sesat. Darul Ar Royah) Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim. semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. hal. mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh. ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ َ ‫وكل بدعة ضللة‬ “Setiap bid’ah adalah sesat”. ‘setiap bid’ah adalah sesat’. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. SANGGAHAN TERHADAP KERANCUAN: KETAHUILAH SEMUA BID’AH ITU SESAT Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelekjeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama. dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum. Asy Syamilah) . “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama. Oleh karena itu.

kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran.memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah). ‫فعدوا سيئاتكم فأنا ضامن أن ل يضيع من حسناتكم شىء ، ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتكم ، هؤلء صحابة نبيكم -صلى‬ ْ ُ ّ ِ َ ُ َ َ َ ِ َ ُ َ ْ ُ َ َ ََ َ َ ْ َ َ ٍ ّ َ ُ َ ّ ُ َ ْ ُ َ ْ َ ٌ ْ َ ْ ُ ِ َ َ َ ْ ِ َ ِ َ َ ْ َ ٌ ِ َ َ َ َ ْ ُ ِ َ ّ َ ّ ُ َ ْ َ ٍ ّ َ ُ ِ ِّ ْ ِ َ ْ َ َ ِ ٍ ِّ ََ َ ْ ُ ّ ِ ِ ِ َ ِ ِ ْ َ ِ ّ َ ْ َ ْ ُ ْ َ ُ ُ َ ِ َ َ ْ َ ْ َ ُ ُ َ ِ ِ ِ َ َ َ ُ ِ َ َ ُ ‫ال عليه وسلم. wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan.متوافرون وهذه ثيابه لم تبل وآنيته لم تكسر ، والذى نفسى فى يده إنكم لعلى ملة هى أهدى من ملة محمد ، أو‬ ٍ ََ َ ِ َ ِ ِ َ ْ ُ ‫. “Demi Allah. apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan dianjurkan atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat. قال : وكم من مريد للخير لن يصيبه‬ ِ َُ Mereka menjawab.” (HR. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam.مفتتحى باب ضللة‬ “Hitunglah dosa-dosa kalian. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. bertahlil. Celakalah kalian. BERALASAN DENGAN SHALAT TARAWIH YANG DILAKUKAN OLEH UMAR [Sanggahan pertama] Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan. wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud). apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?” ُ َ ِ ُ ْ َ ِ ْ َ ِْ ٍ ِ ُ ْ ِ ْ َ َ َ َ َ ْ َ ْ ّ ِ َْ َ َ َ ِ َ ْ ّ ِ ْ َ ََ َ ّ َ ‫قالوا : وال يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إل الخير. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid) Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud. atau menunjukkannya . namun tidak mendapatkannya. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ad Darimi. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang.” Ibnu Mas’ud berkata. Perlu diperhatikan. Mereka bertakbir. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Bejananya pun belum pecah.

Jadi perbuatan Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Lalu pantaskah kita orang-orang saat ini memakai istilah sebagaimana yang dipakai oleh sahabat Umar? Ingatlah bahwa umat Islam saat ini tidaklah seperti umat Islam di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Namun yang dimaksudkan dengan muhdats/bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena setiap agama yang dibawa oleh para Rasul adalah agama baru. Maka tidak sepantasnya kita saat ini menggunakan istilah bid’ah (tanpa memahamkan apa bid’ah yang dimaksudkan) sehingga menimbulkan kerancuan di tengah- . (Faedah dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim) [Sanggahan Ketiga] Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). As Sunnah atau ijma’. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al Qur’an. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. Namun. namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan tertolak. Begitu pula agama Islam ini disebut dengan muhdats/bid’ah (sesuatu yang baru yang diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja An Najasiy mengenai orang-orang Muhajirin-. Umat Islam saat ini tidak seperti umat Islam di generasi awal dahulu yang memahami maksud perkataan Umar. pen). (Disarikan dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim.secara mutlak. Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadits dan pemahaman sahabat mengenai bid’ah. Misalnya mengenai acara selamatan kematian. Namun yang lebih tepat. As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah – berdasarkan kaedah ushul fiqih. 2/93-96) [Sanggahan Kedua] Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadits ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam keumumannya (‘aam baqiya ‘ala umumiyatihi) dan tidak memerlukan takhsis (pengkhususan). maka boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat.bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik.

‫وجعلوا ل مما ذرأ من الحرث والنعام نصيبا فقالوا هذا ل بزعمهم وهذا لشركائنا‬ َ ِ َ َ ُ ِ َ َ َ ْ ِ ِ ْ َ ِ ّ َ َ ُ َ َ ً ِ َ ِ َ ْ َْ َ ِ ْ َ ْ َ ِ ََ َ ّ ِ ّ َُ َ َ ِ ِ “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah. Seperti bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang Khowarij. Contohnya adalah pada ayat. Tingkatan Ketiga: Bid’ah yang termasuk maksiat seperti bid’ah hidup membujang (kerahiban) dan berpuasa diterik matahari. Namun. Tingkatan Keempat: Bid’ah yang makruh seperti berkumpulnya manusia di masjid-masjid untuk berdo’a pada sore hari saat hari Arofah. Tidak tepat pula membagi bid’ah menjadi lima: wajib. yaitu: Tidak dilakukan terus menerus. Qodariyah (penolak takdir) dan Murji’ah (yang tidak memasukkan amal dalam definisi iman secara istilah). Tidak dilakukan di tempat yang dilihat oleh orang banyak sehingga orang awam mengikutinya. Tidak ada bid’ah yang baik (hasanah). Tingkatan Pertama: Bid’ah yang menyebabkan kekafiran sebagaimana bid’ah orang-orang Jahiliyah yang telah diperingatkan oleh Al Qur’an.tengah umat. Ada bid’ah yang besar dan ada bid’ah yang kecil (ringan). dan haram karena pembagian semacam ini dapat menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. . Misalnya HP ini termasuk bid’ah secara bahasa. Tidak menganggap remeh bid’ah yang dilakukan.” (QS. hukum tersebut bertingkat-tingkat. maka selayaknya kita menyebutkan maksud dari perkataan tersebut. sunnah. setiap bid’ah itu sesat. mubah. Tidaklah boleh kita hanya menyebut bahwa HP ini termasuk bid’ah karena hal ini bisa menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. Jika memang kita mau menggunakan istilah bid’ah namun yang dimaksudkan adalah definisi secara bahasa. Al An’am [6]: 36) Tingkatan Kedua : Bid’ah yang termasuk maksiat yang tidak menyebabkan kafir atau dipersilisihkan kekafirannya. lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Namun bid’ah itu dikatakan bid’ah yang ringan jika memenuhi beberapa syarat sebagaimana disebutkan oleh Asy Syatibi. Jadi setiap bid’ah tidak berada dalam satu tingkatan. Kesimpulan: Berdasarkan berbagai dalil dari As Sunnah maupun perkataan sahabat. HUKUM BID’AH DALAM ISLAM Hukum semua bid’ah adalah terlarang. Orang yang berbuat bid’ah (mubtadi’) tidak mengajak pada bid’ahnya. makruh.

Di antara mereka mengatakan. maka bid’ah yang semula disangka ringan lama kelamaan akan menumpuk sedikit demi sedikit sehingga jadilah bid’ah yang besar. maka dia bukanlah bid’ah. HP dan Komputer termasuk Bid’ah Setelah kita mengetahui definisi bid’ah dan mengetahui bahwa setiap bid’ah adalah tercela dan amalannya tertolak.Apabila syarat di atas terpenuhi.” (Al I’tishom. hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubah) sampai terdapat larangan. [1] Mobil. HP dan pesawat dianggap sebagai bid’ah yang tercela. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim.islamspirit. Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah (‘adat). Berikut kami sajikan beberapa alasan lain dalam membela bid’ah dan jawabannya. Semoga kita selalu mendapatkan petunjuk Allah. www. masih ada suatu kerancuan di tengah-tengah masyarakat bahwa berbagai kemajuan teknologi saat ini seperti mobil. komputer. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah. “Kalau memang bid’ah itu terlarang. Asy Syatibi juga mengatakan. Perlu sekali ditegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan bid’ah yang tercela sehingga membuat amalannya tertolak adalah bid’ah dalam agama dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia yang tidak ada contoh sebelumnya seperti komputer dan pesawat. Mengenal Seluk Beluk BID’AH (3): Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah Kategori Manhaj | 14-10-2008 | 70 Komentar [Bagian Ketiga dari 4 Tulisan] Sebelumnya kami telah menyampaikan sanggahan mengenai bid’ah hasanah yang dasarnya adalah dari perkataan Umar bahwa sebaik-baik bid’ah yaitu shalat tarawih ini. (Pembahasan pada point ini disarikan dari Al Bida’ Al Hawliyah. “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah. Abdullah At Tuwaijiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. maka dia bisa termasuk dalam bid’ah. perkataan ini muncul karena tidak memahami bid’ah dengan benar. ّ َِ َ ْ ُ ِ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ ِ َ ِ ِ ُ َْ َ ْ ُ ْ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ِ َ ْ ِ ٌ ْ َ َ َ َ ِ ‫إذا كان شىء من أمْر دنياكم فأنتم أعلم به فإذا كان من أمر دينكم فإلى‬ . 2/86) dan ulama lainnya. Menurut kami.com) Pembahasan berikut adalah jawaban dari beberapa alasan dalam membela bid’ah. 1/348) Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma –yang merupakan perkara duniawi-. Sebagaimana maksiat juga demikian.

Turki dan Romawi. Adapun jika sesuatu tersebut diperintahkan dengan perintah wajib atau mustahab (dianjurkan) dan diketahui dengan dalil syar’i maka hal tersebut merupakan perkara agama yang telah Allah syari’atkan. begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan. Persia. dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan. … baik itu dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Ingatlah bahwa bid’ah bukanlah hanya sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ahmad. berarti para sahabatlah yang akan pertama kali masuk neraka. 2/97) mengatakan. Perhatikanlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya berikut. 4/107-108. dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini. itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela.” (Majmu’ Fatawa. Kalau mau kita katakan bid’ah. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. kalian tentu lebih mengetahuinya. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim. namun penulisannya masih terpisah-pisah. itu termasuk sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. [2] Para Sahabat Pernah Melakukan Bid’ah dengan Mengumpulkan Al Qur’an Ada sebagian kelompok dalam membela acara-acara bid’ahnya berdalil bahwa dulu para sahabat -Abu Bakar. pesawat. ‘Utsman bin ‘Affan. mengeluarkan Yahudi dan Nashrani dari Jazirah Arab. apabila itu adalah perkara agama kalian. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf. Zaid bin Tsabit. pabrik-pabrik kimia. kembalikanlah padaku. Inilah sedikit kerancuan yang sengaja kami temukan di sebuah blog di internet. Mereka mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan) Kesimpulannya: Komputer. maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun.“Apabila itu adalah perkara dunia kalian.” (HR. Bisa saja suatu amalan itu tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan baru dilakukan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. dan semacamnya. membunuh orang Khowarij. Mawqi’ Al Islam-Asy Syamilah) Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis Al Qur’an. HP. berbagai macam kendaraan. itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya. Oleh karena itu. Jika kita mengatakan bid’ah itu sesat. “Bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperintahkan dengan perintah wajib ataupun mustahab (dianjurkan).saja melakukan bid’ah. Segala sesuatu yang terjadi setelah masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun berdasarkan perintah dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti membunuh orang yang murtad. Jika ingin disebut . amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. dan ini tidak termasuk bid’ah. akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya.

Abdullah bin Yusuf Al Judai’. Karena pada saat itu wahyu masih terus turun dan masih terjadi perubahan hukum. maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya. maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat. mengumpulkan Al Qur’an pada saat itu adalah suatu maslahat.” Perlu diketahui pula bahwa mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf merupakan bagian dari maslahal mursalah. hal ini tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal ada faktor pendorong dan tidak ada penghalang. Oleh karena itu. “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu maslahat. (Taysir Ilmu Ushul Fiqh. namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.bid’ah. tidak pula memiliki nash (dalil tegas) yang semisal sehingga bisa diqiyaskan. Hal ini telah kami jelaskan pada . Adakah faktor penghalang tatkala itu? Jawabannya: Ada. adzan ketika itu adalah bid’ah dan meninggalkannya adalah sunnah. Contohnya adalah maslahat ketika mengumpulkan Al Qur’an dalam rangka menjaga agama. 2/101-103) mengatakan. namun hal ini terdapat suatu maslahat yang sangat besar untuk menjaga agama. Ada suatu catatan penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan maslahah mursalah.” Kami katakan bahwa amalan itu bisa diterima tidak hanya dengan niat yang ikhlas. Apa itu maslahal mursalah? Maslahal mursalah adalah sesuatu yang didiamkan oleh syari’at. 186. dan ritual lain yang telah membudaya di tengah umat Islam. segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing. yasinan. pen). Namun. Jadi. Apakah faktor pendorong untuk melakukan adzan pada zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ada? Jawabannya: Ada (yaitu beribadah kepada Allah). sangat sulit Al Qur’an dikumpulkan ketika itu karena adanya faktor penghalang ini. hal.” Contoh penerapan kaedah Syaikhul Islam di atas adalah adzan ketika shalat ‘ied. Namun. namun juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. faktor penghalang ini hilang setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena wahyu dan hukum sudah sempurna dan paten. Namun. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim. Jadi. Contoh lainnya adalah penulisan dan pembukuan hadits. maka perkara tersebut adalah maslahat. Mu’assasah Ar Royyan). Pada zaman beliau ketika melakukan shalat ‘ied tidak ada adzan maupun iqomah. Kaedah beliau ini dapat pula diterapkan untuk kasus-kasus lainnya semacam perayaan Maulid Nabi. “Menurut saya. Semua ini tidak ada dalil dalil khusus dari Nabi. apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah maksiat. –Semoga Allah memberikan kita taufik agar memahami bid’ah dengan benar[3] Yang Penting Kan Niatnya! Ada pula sebagian orang yang beralasan ketika diberikan sanggahan terhadap bid’ah yang dia lakukan. Begitu pula hal ini kita terapkan pada kasus mengumpulkan Al Qur’an. 184. tidak ditentang dan tidak pula dinihilkan.

pembahasan awal di atas. tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah.” (HR. siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. namun cara mereka beribadah tidak sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu Al Fudhail berkata. َ ْ َ ْ ّ ِ َْ َ َ َ ِ َ ْ ّ ِ ْ َ ََ َ ّ َ ‫.” [4] Ini Kan Sudah Jadi Tradisi di Tempat Kami… . Di samping ikhlas. ً َ َ ُ َ ْ َ ْ ُ ّ َ ْ ُ َ ُْ َ ِ ‫ليبلوكم أيكم أحسن عمل‬ “Supaya Dia menguji kamu. kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Lihatlah orang-orang ini berniat baik. dia harus melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar “Niat baik semata belum cukup. Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka sembari berkata. amal seseorang tidak akan diterima tatkala dia melaksanakan shalat shubuh empat raka’at walaupun niatnya betul-betul ikhlas dan ingin mengharapkan ganjaran melimpah dari Allah dengan banyaknya rukuk dan sujud. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid) Kesimpulan: Tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik. Jadi. mereka beralasan di hadapan Ibnu Mas’ud. wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud). namun tidak mendapatkannya. hal.وال يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إل الخير‬ ِ “Demi Allah. Oleh karena itu. 19) Sekelompok orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al Mulk [67] : 2). apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas.” (Jami’ul Ulum wal Hikam. Begitu pula. syarat diterimanya amal itu ada dua yaitu [1] niatnya harus ikhlas dan [2] harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). amalan tersebut tidak akan diterima.” (QS. amalan tersebut juga tidak akan diterima. Ad Darimi. beliau mengatakan. ُ َ ِ ُ ْ َ ِ ْ َ ِْ ٍ ِ ُ ْ ِ ْ َ َ ‫وكم من مريد للخير لن يصيبه‬ “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan.

dia harus mencari utang di sana-sini agar bisa melaksanakan selamatan kematian yang sebenarnya tidak ada tuntunannya. jika ada tradisi dzikir atau do’a tertentu pada hari ketiga. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah. bid’ah juga bisa terdapat dalam tradisi (adat) sebagaimana perkataan Asy Syatibi. 100. Kami memohon kepada Allah. Misalnya. dia diringankan bebannya oleh tetangga sekitar. 1/348) Dan sedikit tambahan bahwa tradisi yang diposisikan sebagai ibadah sebenarnya malah akan menyusahkan umat Islam. Jadi. َ ُ َ ْ ُ ْ ِ ِ َ َ ََ ّ َِ ٍ ّ ُ ََ َ َ َ َ َ ْ َ َ ّ ِ ‫إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون‬ “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. Mereka tidak memiliki argumen yang kuat berdasarkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Namun. ini adalah tradisi yang bagus dan tidak bertentangan dengan syari’at. atau 1000 hari. Malah tatkala kerabatnya meninggal. Akhirnya karena kematian kerabat bertambahlah kesedihan dan beban kehidupan. karena melakukan bid’ah semacam ini. Bahkan kadang kami menyaksikan sendiri di sebuah desa yang masih laris di sana tradisi selamatan kematian. maka bisa termasuk dalam bid’ah. atau keempat puluh setelah kematian. “Ini kan sudah jadi tradisi kami…” Jawaban seperti ini sama halnya jawaban orang musyrik terdahulu ketika membela kesyirikan yang mereka lakukan.Ini juga perkataan yang muncul ketika seseorang disanggah mengenai bid’ah yang dia lakukan. setiap tradisi itu hukum asalnya boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum syari’at dan selama tidak ada unsur ibadah di dalamnya.yang ia lakukan dibantah sembari mengatakan. Sebenarnya melakukan semacam ini tidak ada tuntunannya. Az Zukhruf [43] : 22) Saudaraku yang semoga selalu dirahmati Allah. beban hamba tersebut bertambah. [5] Semua Umat Islam Indonesia bahkan para Kyai dan Ustadz Melakukan Hal Ini Ada juga yang berargumen ketika ritual bid’ah –seperti Maulid Nabi. semoga Allah memperbaiki kondisi bangsa ini dengan menjauhkan kita dari berbagai amalan yang tidak ada tuntunannya. “Perayaan (atau ritual) ini kan juga dilakukan oleh seluruh umat Islam Indonesia bahkan oleh para Kyai dan Ustadz.” (Al I’tishom. 40. Ketika ditanya. Misalnya saja tradisi selamatan kematian pada hari ke-7. ketujuh. “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah. Padahal kehidupan kebanyakan warga di desa tersebut adalah ekonomi menengah ke bawah. maka dia bukanlah bid’ah. malah dijadikan sebagai sesuatu yang wajib sehingga membebani hamba. santun ketika berbincang-bincang dengan yang lebih tua. Syari’at sebenarnya ingin meringankan beban pada hambanya. Lihatlah bukannya dengan meninggalnya keluarga. Mereka hanya bisa beralasan. “Kenapa kamu masih merayakan 3 hari atau 40 hari setelah kematian?” Dia menjawab. Namun.” (QS. Kok hal ini dilarang?!” . maka ini adalah bid’ah karena telah mencampurkan ibadah dalam tradisi dan mengkhususkannya pada waktu tertentu tanpa dalil.

Bid’ah hakikiyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an. Ingatlah. perkataan sebagian Kyai/Ustadz atau ahlu ibadah. dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci.” Lalu dia bergumam. As Sunnah. apalagi dengan amalan sebagian kelompok? Ketahuilah saudaraku semoga Allah selalu memberi taufik padamu. ِ ّ ِ ِ َ ْ َ ‫َإ ْ ُ ِ ْ َ ْ َ َ َ ْ ِ َْ ْ ِ ُ ِّ ك‬ ‫وِن تطع أكثر من في الرض يضلو َ عن سبيل ال‬ “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini. “Masa baca dzikir saja dilarang?!” Untuk menyanggah perkataan di atas. Suatu hukum dalam agama ini seharusnya dibangun berdasarkan Al Kitab. [6] Baca Al Qur’an kok dilarang?! Ini juga di antara argumen dari pelaku bid’ah ketika diberitahu mengenai bid’ah yang dilakukan. akan selalu ada dalam umat ini di setiap waktu yang melarang berbagai bentuk perkara bid’ah yang menyelisihi sunnah seperti perayaan maulid ataupun tahlilan. maka ini tidak bisa menjadi dalil untuk menyanggah perkataan Allah dan Rasul-Nya. As Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin). Bahkan apabila kita mengikuti kebanyakan manusia maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah dan ini berarti kebenaran itu bukanlah diukur dari banyaknya orang yang melakukannya.sebagai dalil dalam beragama. “Masa baca Al Qur’an saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata. 2/89 dan Al Bid’ah wa Atsaruha Asy Syai’ fil Ummah. Barangsiapa meyakini bahwa adat (tradisi) yang menyelisihi sunnah ini telah disepakati karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya. Adapun adat (tradisi) di sebagian negeri. (Al I’tishom. “Saudaraku. maka keyakinan semacam ini jelas salah dan keliru.” (QS. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala. ijma’ kaum muslimin. niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Darul Hijroh) Perlu diperhatikan pula. tersebarnya suatu perkara atau banyaknya pengikut bukan dasar bahwa perkara yang dilakukan adalah benar. 49-50. 1/219) . perbuatan seperti ini kan bid’ah. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali. Al An’am [6] : 116) Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita taufik untuk mengikuti kebenaran bukan mengikuti kebanyakan orang. Lalu bagaimana mungkin kesepakatan sebagian negeri muslim dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan umat Islam). Lalu bagaimana mungkin kita berdalil dengan kebiasaan sebagian negeri muslim yang tidak memiliki keutamaan sama sekali dibanding dengan kota Nabawi Madinah?! (Disarikan dari Iqtidho’ Shirothil Mustaqim. mayoritas ulama tidak mau menggunakan amalan penduduk Madinah (di masa Imam Malik) –tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah. Mereka menganggap bahwa amalan penduduk Madinah bukanlah sandaran hukum dalam beragama tetapi yang menjadi sandaran hukum adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Alasan ini justru adalah alasan orang yang tidak pandai berdalil. perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah hakikiyah dan idhofiyah.

(Al I’tishom. Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at. Begitu pula shalat rogho’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. sebab. tatacara. tatacara (kaifiyah). yang kami permasalahkan adalah bukan puasa. tatacara dan jenisnya. Kenapa yang dikhususkan hanya surat Yasin. namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini tidak disyari’atkan dan termasuk bid’ah yang menyelisihi sunnah. dan 40 setelah kematian. Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Begitu juga hal ini dalam acara yasinan dan tahlilan. Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). maka dari sisi ini bukanlah bid’ah dan [2] di sisi lain tidak memiliki dalil maka ini sama dengan bid’ah hakikiyah. mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati). dan jenis. bacaan Al Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. shalat. jumlah. Namun. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyari’atkan. Enam aspek tersebut adalah waktu. Jadi. dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Tidak ada dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi. tempat. namun terdapat bid’ah dari sisi pengkhususan zaman. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan laa ilaha illallah. Dalam acara yasinan juga demikian. Bid’ah idhofiyah adalah setiap bid’ah yang memiliki 2 sisi yaitu [1] dari satu sisi memiliki dalil. As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Al Qur’an hanyalah surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat Yasin setelah kematian? Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu. Akan tetapi. Tidak ada yang dapat memberi taufik kepada kita sekalian kecuali Allah. Dzikir adalah suatu yang masyru’ (disyari’atkan). Kedua contoh ini termasuk bid’ah idhofiyah. dan lain sebagainya. bukan surat Al Kahfi. Semoga kita selalu mendapatkan rahmat dan taufik-Nya ke jalan yang lurus Mengenal Seluk Beluk BID’AH (4): Dampak Buruk BID’AH . yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu. 1/219) Jadi bid’ah idhofiyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. tahmid atau takbir. Contohnya bid’ah idhofiyah adalah dzikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjama’ah dengan satu suara. bukan bacaan tasbih. tempat dan tatacara. tempat.Di antara contoh bid’ah hakikiyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti). Manakah dalil yang menunjukkan hal ini? Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan pembaca sekalian. yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyari’atkan. 7. Kami hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah.

‫قل هل ننبئكم بالخسرين أعمال الذين ضل سعيهمْ في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا‬ ً ْ ُ َ ُ ِ ْ ُ ْ ُ َّ َ ُ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ ّ ِ َ َ ْ ِ ُ ُ ْ َ ّ َ َ ِ ّ ً َ ْ َ َ ِ َ ْ َْ ِ ْ ُ ُ ّ َ ُ ْ َ ْ ُ “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. 54) [Ketiga. Allah Ta’ala berfirman. amalan bid'ah tertolak] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Bukhari no. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh. ُ َ َ ْ ِ ْ َ َ َّ ٍ َ ْ ِ ِ ِ َ ّ ُ ْ َ َ َ ْ ّ َ َ ‫ِ َ َ ح‬ ‫إن ال َجب التوبة عن كل صاحب بدعة حتى يدع بدعته‬ “Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya. Al Kahfi [18] : 103104) [Kedua. ditakutkan dia akan mengalami su'ul khotimah] Dari Anas bin Malik. pelaku bid'ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa'at beliau shallallahu 'alaihi wa sallam] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.” (HR. sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. يقول ل‬ َ َ ْ َ َُ ْ َ َ ِ ْ َ ‫تدرى ما أحدثوا بعدك‬ “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Thabrani. Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. 1718) Orang yang berbuat bid’ah inilah yang amalannya merugi. mereka . pelaku bid'ah terhalangi untuk bertaubat selama dia terus menerus dalam bid'ahnya. 20 dan Muslim no. [Pertama. ّ َ َ ُ َ ُ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َِ ْ َ ِ َ َ ْ َ ْ َ ‫من أحدث فى أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‬ “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Oleh karena itu.Kategori Manhaj | 15-10-2008 | 42 Komentar [Bagian Keempat dari 4 Tulisan] Sudah sepatutnya kita menjauhi berbagai macam bid’ah mengingat dampak buruk yang ditimbulkan. َ ُ ُ َ ِ َ َ ّ َ ْ َ ُ ُ َ َ ِ ُ ُ ُِ ْ ُ ُ َِ َ ُ ُ ْ َ ْ َ َ ِ ّ َ ْ ُ ْ ِ ٌ َ ِ ّ َِ ّ َ َ ْ ُ َ ِ ْ َ ْ ََ ْ ُ ُ َ َ َ َ ‫أنا فرطكم على الحوض ، ليرفعن إلى رجال منكم حتى إذا أهويت لناولهم اختلجوا دونى فأقول أى رب أصْحابى .” (HR. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. maka perkara tersebut tertolak. Berikut beberapa dampak buruk dari bid’ah.” (QS.

perhatikanlah hadits ini. Aku lantas berkata. ‘Wahai Rabbku. “Celaka. ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu. “Demikianlah. ِ َ ْ ِ ِ ّ َ ْ َ َ ٌ ْ َ ْ ِ ِ ُ ُ ْ ِ ُ ُ ْ َ َ َ َ ِ َ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ْ ِ ُ َ َ ِ ُ ُ َ ْ َ َ ِ َ ِ ُ َ ً َ َ َ ً ُّ ِ َ ْ ِ ِ ّ َ ْ َ ‫من سن فى السلم سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ول ينقص من أجورهم شىء ومن سن فى السلم‬ ٌ ْ َ ْ ِ ِ َ ْ َ ْ ِ ُ ُ ْ َ َ َ َ ِ َ ِ َ ْ َ ِ ْ ِ ُ ْ ِ ِ ْ ََ َ ِ ُ ُ َ ْ َ َ ِ َ ِ ُ َ ً َ ّ َ ً ّ ُ ‫سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ول ينقص من أوزارهم شىء‬ “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya. maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh.’ Lalu Allah berfirman. Lalu Allah berfirman.’ “ (HR. Oleh karena itu. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran.” (HR. ‫إنهم منى . Muslim no. Bukan hanya dosa dirinya yang akan dia tanggung.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan. 7049) Dalam riwayat lain dikatakan. Ibnu Baththol mengatakan. 7051) Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah. Bukhari no. Bukhari no. 1017) Wahai saudaraku.” (HR.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol. pelaku bid'ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid'ahnya diikuti orang lain] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Amin Ya Mujibad Du’a[Keempat. tetapi juga dosa orang yang mengikutinya. Kenapa harus melestarikan tradisi dan budaya yang menyelisihi syari’at? Jika . barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya. mereka betul-betul pengikutku. ini adalah umatku. 19/2. Sungguh sangat merugi sekali orang yang melestarikan bid’ah dan tradisi-tradisi yang menyelisihi syari’at. Sebaliknya. maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya. tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. mereka juga termasuk dalam hadits ini. ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu. celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.dijauhkan dariku. Asy Syamilah) -Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat. Padahal bid’ah itu paling mudah menyebar. Lalu bagaimana yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang? Berapa banyak dosa yang akan dia tanggung? Seharusnya kita melestarikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. فيقال إنك ل تدرى ما بدلوا بعدك فأقول سحقا سحقا لمن بدل بعدى‬ ِ ْ َ َ ّ َ ْ َ ِ ً ْ ُ ً ْ ُ ُ ُ َ َ َ َ ْ َ ُّ َ َ ِ ْ َ َ َ ّ ِ ُ َ ُ َ ّ ِ ْ ُ ّ ِ “(Wahai Rabbku). seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq).

Sleman Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari. kami menyinggung masalah bid’ah ini bukanlah maksud kami untuk memecah belah kaum muslimin sebagaimana disangka oleh sebagian orang jika kami menyinggung masalah ini.” (QS. Karena sebagaimana perkataan seorang penyair. Selesai disusun di rumah tercinta. Yang hanya kami inginkan adalah bagaimana umat ini bisa bersatu di atas kebenaran dan di atas ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar. maulidan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami. wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. ِ ْ ّ َ َِ ْ ِ َ ّ ّ ِ َ ّ ّ ُ ْ ّ َ ‫… عرفت الشر ل للشر لكن لتوقيه‬ ِ ِْ ُ ََ ِ ّ َ ِ ّ ّ ُ ِ ْ َ َ ْ َ َ ‫ومن ل يعرف الشر من الناس يقع فيه‬ Aku mengenal kejelekan. bukan berarti ingin melakukannya. yasinan. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. rizki yang thoyib. 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008) . Kami tidak ingin saudara kami terjerumus dalam kesalahan sebagaimana tidak kami inginkan pada diri kami. walaupun hanya sekejap mata. Ya Qoyyum. kerancuan-kerancuan di dalamnya dan dampak buruk yang ditimbulkan. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin. dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Desa Pangukan. apa yang akan kita dapat? Malah hanya dosa dari yang mengikuti kita yang kita peroleh. Hud [11] : 88) Inilah sedikit pembahasan mengenai bid’ah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Marilah Bersatu di Atas Kebenaran Saudaraku. Dengan rahmat-Mu. Sedangkan jika kita menyebarkan dan melestarikan tradisi tahlilan.melestarikan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -seperti mentalqinkan mayit menjelang kematiannya bukan dengan talqin setelah dimakamkan. Semoga maksud kami ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib. Hal ini bukan berarti dengan mengetahuinya kita harus melakukan bid’ah tersebut. Semoga dengan tulisan yang singkat ini kita dapat semakin mengenalinya dengan baik. lalu diikuti oleh generasi setelah kita. mungkin dia bisa terjatuh di dalamnya Ya Hayyu.kita akan mendapatkan ganjaran untuk diri kita dan juga dari orang lain yang mengikuti kita. tetapi ingin menjauhinya Karena barangsiapa tidak mengenal kejelekan. kami memohon kepada-Mu. Kamis. ُ ِ ُ ِ ْ ََِ ُ ْ ّ َ َ ِ ْ ََ ّ ِ ّ ِ ِ ِ ْ َ َ َ ُ ْ َ َ ْ َ َ َ ْ ِْ ّ ِ ُ ِ ُ ْ ِ ‫إن أريد إل الصلح ما استطعت وما توفيقي إل بال عليه توكلت وإليه أنيب‬ ِ “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Yang kami inginkan adalah agar saudara kami mengetahui kebenaran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kami ketahui.

tuntunan yang terang berderang.” (HR.muslim. Tidak ada yang berpaling dari keadaan tersebut kecuali ia pasti celaka. dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggalkan kita di atas tuntunan yang jelas. al-Maidah: 3) Ayat yang mulia ini menunjukkan kesempurnaan syariat dan bahwasanya syariat ini telah mencukupi segala keperluan yang dibutuhkan oleh makhluk. tidak membutuhkan seorang nabi pun selain nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. siangnya seperti malamnya. dinukil dari ‘Ilmu Usul Bida’. Thabrani) . “Ayat ini menunjukkan nikmat Allah yang paling besar. dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS.T. tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya. Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya.id Bid’ah Dalam Timbangan Islam Kategori Manhaj | 04-09-2008 | 48 Komentar Para pembaca yang di muliakan oleh Allah ta’ala.*** Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal.” (Tafsir Ibnu Katsir. di atas petunjuk yang sempurna. S.” (HR. yaitu ketika Allah menyempurnakan agama bagi manusia sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain islam. Hal ini telah di tegaskan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya: ‫اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم السلم دينا‬ ً ِ َ ْ ُ ُ َ ُ ِ َ َ ِ َ ْ ِ ْ ُ ْ ََ ُ ْ َ ْ ََ ْ ُ َ ِ ْ ُ َ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.or. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi. Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan. Karena itulah Allah ta’ala mengutus beliau sebagai nabi penutup para nabi dan mengutus beliau kepada manusia dan jin. ْ ُ َ َ ُّ ْ َ ّ ِ ِ ّ ِ َ ُ ِ َ َُ ِ َّ ْ َ ِ ُ ّ ُ ٌ َ َ ِ َ َ ‫ما بقي شيْء يقرب من الجنة ويتاعد عن النار إل قد بين لكم‬ “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian. 17) Begitu pula Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ٌ ِ َ ّ ِ ِ ْ َ َ ْ َ ُ ِ َ َ َ ِ َ َ َ َ ُْ َ ِ َ ْ َ ْ ََ ْ ُ ُ ْ َ َ ‫تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها ل يزيغ عنها بعدي إل هالك‬ “Aku tinggalkan kalian dalam suatu keadaan terang-benderang. Ahmad) Juga sabdanya. Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar Artikel www.

waliya’udzu billah. tindakan kriminal agama dari pelakunya yang secara tidak langsung pelakunya menganggap bahwa syariat islam ini belum sempurna. beliau telah melarang kami untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil.” (QS. Makna Bid’ah Secara bahasa.” (QS. hal ini sebagaimana Firman Allah ta’ala: ِ ُ ّ َ ّ ً ِْ ُ ُ َ ‫ما كنت بدعا من الرسل‬ “Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. Muslim) Begitu pula yang menjadi akidah para ulama ahlussunnah. dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu. bisa kita ambil kesimpulan betapa sempurnanya syariat islam.” (HR. karena Allah ta’ala telah berfirman. “Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru (bid’ah) di dalam agama ini sedangkan ia menganggap baik perbuatan tersebut maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad telah berbuat khianat. Thabrani) Bahkan hal ini juga dipersaksikan oleh musuh-musuh islam yakni akan kebenaran dan kesempurnaan agama islam ini. dinukil dari ‘Ilmu Usul Bida’. Salman menjawab (dengan penuh bangga): “Benar. Al Ahqaf: 9) Yakni. 1/49.” (HR.Sahabat Abu Dzar al-Ghifari berkata: ‫تركنا رسول ال صلى ال عليه وسلم وما طائر يقلب جناحيه في الهواء إل وهو يذكر لنا علما‬ ً ْ ِ َ َ ُ ُ ْ َ َ ُ َ ّ ِ ِ َ َ ْ ِ ِ ْ َ َ َ ُ َّ ُ ٌ ِ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ َ َ “Rasulullah wafat meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang terbang di udara melainkan beliau telah mengajarkan ilmunya kepada kami. . “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (Al-I’tishom. sehingga penambahan atau pengurangan atas syariat islam tanpa dalil dari al-Qur’an atau as-Sunnah menunjukkan pelecehan terhadap syariat. dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku. dan beliau melarang kami untuk istinja’ dengan menggunakan tangan kanan dan istinja’ dengan kurang dari tiga batu atau istinja’ dengan kotoran atau tulang. namun sebelumku telah di utus beberapa rasul. tidaklah aku adalah orang yang pertama kali diutus. al-Maidah: 3). bid’ah berarti segala sesuatu yang terjadi atau dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Imam Malik berkata. Seorang yahudi berkata kepada Salman Al Farisi (dengan nada mengejek): “Nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu hingga cara buang hajat!”. Maka perkara yang pada hari ayat ini diturunkan bukan agama maka sekarang juga bukan merupakan agama. Perbuatan yang tidak ada tuntunannya dalam syariat islam dikenal dengan nama bid’ah. 20) Maka berdasarkan keterangan di atas.

ّ َ َ ُ َ ُ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َِ ْ َ ِ َ َ ْ َ ْ َ ‫من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد‬ “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam agama ini tanpa ada tuntunannya maka amalannya tersebut tertolak. Sehingga apabila ada seseorang melakukan suatu perbuatan yang baru akan tetapi tidak dalam rangka beribadah kepada Allah ta’ala maka perbuatan tersebut bukanlah disebut sebagai bid’ah yang tercela akan tetapi disebut bid’ah secara bahasa. Tirmidzi) Faedah Bid’ah yang tercela dalam islam adalah perbuatan bid’ah dalam syariat islam.” (HR. dan perbuatan tersebut boleh. perbuatan kesesatan dan menodai syariat islam yang mulia dan sempurna ini.” (HR. ً َ َ َ ُ ّ َ َ ْ َِ ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ ‫كل بدعة ضللة وإن رآها الناس حسنة‬ “Setiap bid’ah adalah kesesatan meskipun manusia menganggap perbuatan tersebut adalah kebaikan. dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan tidak ada padanya dalil syar’i yang shahih dalam asal atau tata cara pelaksanaannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. 24) Hukum Bid’ah Setiap bid’ah adalah kesesatan. Bukhari Muslim) Juga dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al I’tisham: 1/37. ٌ ََ َ ٍ َ ْ ِ ّ ُ ‫كل بدعة ضللة‬ “Setiap bid’ah adalah kesesatn. yaitu melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan dengan alasan ibadah padahal tidak ada dalil atas hal tersebut atau dalil yang menjadi sandarannya adalah hadits yang lemah. setiap bid’ah membawa pelakunya kepada perbuatan dosa.Adapun definisi bid’ah secara istilah syar’i adalah sebagaimana di jelaskan oleh Imam AsySyatibi. Bukankah sesuatu yang sempurna jika ditambah atau dikurangi akan merusak kesempurnaannya? Bukankah sebuah bola yang sudah bulat sempurna jika kita tambahi atau kurangi malah akan merusak keindahannya?? Perbuatan bid’ah adalah kesesatan walaupun orang-orang menganggap perbuatan tersebut adalah kebaikan. “Bid’ah adalah suatu metode di dalam beragama yang di ada-adakan menyerupai syariat. sebagaimana perkataan sahabat Abdullah Ibnu Umar. dinukil dari ‘ilmu Usul Bida’. . tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hukum.

July 17. hadith maudhu’ maknanya hadith PALSU. Semoga bermanfaat… *** Penulis: Abu Sa’id Satria Buana Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar Artikel www. Persoalannya mengapa perlu dilakukan sebanyak 3 kali dan dikhususkan pada malam tersebut? Sedangkan bacaan Yasin boleh dilakukan pada bila-bila masa dan tidak terhad kepada berapa kali. maka puasa yang ia lakukan adalah bid’ah yang diharamkan oleh islam. sedangkan puasa adalah ibadah.id TENTANG NISFU SYAABAN. . Mungkin ianya sesuai dengan orang yang sudah mahir membaca Qasar. Ingat. Seperti yang selalu saya lihat. atau membuat kebiasaan baru. 2011 at 10:36am Assalaamu’alaikum w. Tetapi tahukah kita dari mana amalan itu berasal? Sedangkan kita tahu.. ANTARA AMALAN SUNNAH DAN BID'AH Posted by ukhti salimah at 8:11 PM TENTANG NISFU SYAABAN. bahawa sesuatu ibadah khusus yang dilakukan jika tiada amalan atau dalil dari nabi Muhammad S.a. tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak mahir dengan bacaan Qasar lebih-lebih lagi bagi yang tidak mahir membaca AlQuran bertajwid.or. Tetapi tidak sekali-kali dengan hadith maudhu’.t….b. Apakah bagus membaca AlQuran dalam keadaan tergesa-gesa dan salah tajwidnya? Apakah hikmah di sebalik tergesa-gesa dan tidak faham apa yang dibaca itu? Sebenarnya tiada hadith yang sahih yang memberitahu tentang bacaan yasin 3 kali pada malam nisfu Syaaban ini dan jika ada pun. ANTARA SUNNAH DAN BID'AH by Dassiah Sidek on Sunday. Sebagaimana telah kita ketahui apabila tibanya malam 15 Sya’aban. ianya adalah hadith berkenaan kelebihan malam nisfu Syaaban yang dhaif dan juga terdapat dalam hadith maudhu’ (palsu). maraton setiap hari Rabu pagi dan seterusnya maka tidak diragukan lagi bahwa perbuatanperbuatan tersebut adalah boleh. dan hadith PALSU hanyalah hadith yang direka-reka oleh golongan tertentu. Adapun jika seseorang melakukan perbuatan yang berkaitan dengan dunia seperti membuat kendaraan tipe baru yang belum ada contoh sebelumnya. bacaan Yasin yang dibuat sebanyak 3 kali itu dilakukan dengan pantas dan terkejar-kejar. ia melaksanakan puasa tersebut tanpa ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabatnya. Tidakkah itu sudah menjadi tungganglanggang dan tidak berlaku dalam keadaan yang tenang. ramai yang akan ke masjid untuk solat jemaah dan membaca yasin sebanyak 3 kali.Misalnya seseorang ingin melaksanakan puasa khusus pada hari selasa saja tanpa hari lainnya.w maka dikira bid’ah.muslim. Walau bagaimanapun ada sebahagian ulama berpendapat hadis dhaif boleh dipegang dalam amalan sunat secara perseorangan.

Namun . TENANG dan memberi keinsafan kepada kita dan bukannya semata-mata mahu mengejar pahala sehingga membaca AlQuran dengan tergopoh dan salah tajwid dan mengatakan sepatutnya melakukan bacaan Yasin 3 kali itu.a: Rasulullah saw telah bangun pada malam (Nisfu Syaaban) dan bersembahyang dan sungguh lama sujudnya sehingga aku fikir beliau telah wafat. Dan yang penting.a. Nisfu Syaaban bererti setengah bulan Syaaban. amalan itu dikira bid’ah dan penjelasannya ada saya sertakan di bawah nanti. Sesungguhnya Allah Azzawajjala telah dtg kpd hambanya pada malam Nisfu syaaban dan memberi keampunan kpd mereka yg beristighfar. Maka mengapa kita sekarang ini mengadakan majlis tersebut di masjid-masjid apabila tibanya malam nisfu Syaaban sahaja? Mengapa perlu menetapkan malam itu untuk membaca Yasin 3 kali dan berduyun-duyun menuju ke masjid sedangkan malam lain tidak? Itu yang perlu diperhati bersama. Kemudian aku kembali dan aku dengar Baginda saw berkata dlm sujudnya.Dengan kerana itu. tetapi kita perlu ingat. “Ya Allah aku pohonkan kemaafanMu daripada apa yg akan diturunkan dan aku pohonkan keredhaanMu daripada kemurkaanMu dan aku berlindung kpdMu daripadaMu. Dan saya tidak berani mengatakan amalan tersebut haram. Malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatul qadr. Apabila aku melihat demikian aku mencuit ibu jari kaki Baginda saw dan bergerak.a. meriwayatkan bahawa Nabi saw tidak tidur pada malam itu sebagaimana yg tersebut dalam sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi r. “Malam ini adalan malam Nisfu syaaban. memberi rahmat ke atas mereka yg memberi rahmat dan melambatkan rahmat dan keampunan terhadap orang2 yg dengki. Baginda berkata kpd Saiyidatina Aisyah r. dalam soal bacaan Yasin sebanyak 3 kali dalam nisfu Syaaban tetap tidak ada hadith yang sahih berkenaannya dan amalan tersebut tiada ditunjukkan contoh langsung oleh nabi dan sahabat. Pengertian nisfu Syaaban Nisfu dalam bahasa arab bererti setengah. amalan ibadah khusus yang bukannya berasal dari nabi sudah dikira bid’ah dan dibimbangi amalan itu akan menjadi penat dan lelah semata-mata kerana tidak berasas atau menambah dosa sahaja. Saiyidatina Aisyah r.” Setelah Baginda saw selesai sembahyang. Aku tidak dpt menghitung pujian terhadapMu seperti kamu memuji diriMu sendiri. Malam Nisfu Syaaban adalah malam lima-belas Syaaban iaitu siangnya empat-belas haribulan Syaaban. Maka sebaiknya adalah kita lakukan sahaja amalan membaca Yasin atau apa-apa sahaja bacaan AlQuran . bacaan itu biarlah TERTIB. Tetapi menurut fatwa dari Syeikh Abdul Aziz bin Baaz. tanpa perlu dikhususkan 3 kali dan seumpamanya. adalah penting agar kita berhati-hati dalam memahami martabat sesuatu hadith itu.” .

w. Kita boleh membaca surah Yasin sebanyak mungkin pada bila-bila masa untuk mendapat pahala tetapi tidak dengan mengkhususkan kepada malam nisfu Syabaan dan dengan bilangan tiga kali. Tidak hairanlah tiada fatwa yang dikeluarkan oleh Ulama muktabar dunia masa kini tentang sahih batilnya amalan ini.Hari nisfu sya’aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru.t. (15 Sya’aban bermula pada 14 hb sya’aban sebaik sahaja masuk maghrib) Fatwa tentang merayakan malam Nisfu Syaaban Bacaan yasin Umat Islam di Malaysia umumnya menyambut malam nisfu Syaaban ( 15hb Syaaban) dengan mengadakan majlis membaca surah Yasin sebanyak tiga kali selepas solat Maghrib. setidak-tidaknya ia akan membazirkan masa dan memenatkan badan. di mana-mana dan bila-bila saja dan tidak perlu berkampung di masjid-masjid dengan harapan mendapat ganjaran istimewa dari Allah s. Di celahcelah bacaan Yasin ini diselitkan dengan bacaan doa seperti . “Patutkah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menentukan .t untuk kebaikan dunia dan di akhirat tetapi tidak perlu dikhususkan di celah-celah bacaan Yasin di malam nisfu Syaaban. Kita beramal dan beribadat adalah untuk mendapat pahala dan kebaikan . Kita digalakkan berdoa apa saja kepada Allah s. Dan kita boleh membaca surah Yasin dan berdoa bersendirian. Amalan mengkhususkan bacaan dan doa tertentu pada sesuatu masa tanpa nas yang sahih adalah amalan bidaah yang tertolak dan dikhuatiri berdosa. Amalan ini hendaklah ada contohnya dari Rasulullah s.” [al-Maa’idah 5:3]. atau sahabat-sahabat atau ada petunjuk yang jelas dari alQuran dan as-sunnah .w. Diperhatikan bahawa amalan sambutan Nisfu Syaaban yang kaifiatnya sebegini tidak diamalkan di tempat lain di seluruh dunia. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib. Boleh dikatakan bahawa amalan baca Yasin dan doa ini adalah sebahagian dari sekian banyak amalan bidaah ciptaan rakyat tempatan khusus untuk amalan penduduk nusantara ini! ‘Solat Sunat’ Nisfu Syaaban Firman Allah (mafhumnya): “Pada hari ini.w. selepas bacaan Yasin pertama dengan doa untuk diselamatkan dunia akhirat. Perhatikan bahawa beliau tidak menyebut amalan membaca Yasin dan doa-doa yang mengiringinya kerana amalan tersebut tidak diamalkan oleh penduduk di Timur Tengah atau di bahagian lain dunia Islam. Berikut adalah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama terkemuka di Timur Tengah untuk menjelaskan tentang amalan bidaah di malam nisfu Syaaban. selepas bacaan Yasin kedua doa supaya dipanjangkan umur dalam keberkatan dan selepas bacaan Yasin ketiga doa supaya dianugerahkan rezeki yang halal. Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu.a.

meskipun ia berniat baik. Kita akan lihat beberapa petikan dari ulasan para alim ulama ini. Ini jelas sekali menunjukkan bahawa Allah telah sempurnakan agama umat ini.a. kerana setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap perkara bid’ah itu adalah sesat. bin Shamah dan lain-lain. begitu juga para salaf selepas mereka. Tidak ada nas (dalil) yang boleh dipercayai tentang puasa ini. sebahagian besar yang lain pula adalah maudhu’ (rekaan). Mereka mengecam bid’ah dan menegahnya. al-Tartushi. dan lain-lain. Baginda s.a. oleh itu hadis-hadis dha`if tersebut tidak dapat digunapakai. Antara ulama yang memperjelaskan hal ini adalah al-Haafiz bin Rejab. dan menganjurkan puasa pada hari tersebut. Ada beberapa hadis dhaif telah dirujuk tentang fadhilat puasa ini. Menurut jumhur ulama. Tidak ada asas yang Sahih bagi sambutan nisfu Syaaban. segala bacaan dan amalan yang kononnya dilakukan menurut Islam. Nabi (s.” Dalam Sahih Muslim diriwayatkan daripada Jabir r. Para Sahabat Nabi s. tetapi ianya tidak boleh dijadikan pegangan.a.a) bahawa Rasulullah (s. serta berpegang teguhlah padanya… Berwaspadalah terhadap perkara yang baru diada-adakan.a. ditulis oleh bin Waddah. Hadis-hadis diriwayatkan mengenai fadhilat doa sempena nisfu Syaaban kesemuanya adalah maudhu’ (rekaan semata-mata).w telah menerangkan bahawa untuk ibadah yang direka selepas kewafatan Baginda. menyambut nisfu Syaaban adalah bid’ah. Prinsip asas yang penting ini telah disebutkan oleh Imam Abu’l-‘Abbas Sheikh al-Islam bin Taymiyah (rahimahullah). di dalam kitabnya Lataa’if al-Ma’aarif. dan mencukupkan nikmatNya ke atas mereka. Beberapa riwayat tentang hal ini telah dinukilkan daripada sebahagian ulama salaf di Syria dan lain-lain. akan tertolak.w tahu tentang hakikat ini. sebagaimana telah diperjelaskan oleh sebahagian besar alim ulama. dan hadis-hadis tentang fadhilat-fadhilat berkenaan hari tersebut adalah dhaif (lemah).w) bersabda dalam khutbah Baginda: “Tetaplah kamu dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidun. kesemua ini akan dicampakkan kembali kepada orang yang mencipta amalan tersebut. sebagaimana telah dicatatkan dalam kitab-kitab yang menyanjung Sunnah dan mengecam bid’ah. Hadis-hadis dha`if berkenaan ibadah hanya boleh diterimapakai untuk amalan ibadat yang terdapat menerusi nas-nas yang Sahih. Para alim ulama (rahimahumullah) telah sepakat bahawa apabila .” Terdapat banyak lagi ayat Qur’an dan hadis yang seumpamanya.a 42:21] Dalam kitab al-Sahihain diriwayatkan daripada `Aisyah (r.mana-mana bahagian dari agama mereka sebarang undang-undang yang tidak diizinkan oleh Allah?” [al-Syur.a. Antara amalan bid’ah yang direka manusia ialah menyambut hari pertengahan dalam bulan Syaaban (Nisfu Syaaban).w) pernah bersabda: “barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kita ini yang mana bukan sebahagian daripadanya. Tuhan tidak mengambil nyawa RasulNya sehinggalah Baginda selesai menyampaikan perutusan dengan seterang-terangnya dan menghuraikan kepada ummah segala apa yang telah diperintahkan Allah samada amalan perbuatan mahupun percakapan.

Luqman bin ‘Amir dan lain-lain. Ini merupakan syarat iman. Allah Maha Pengampun. yang menyatakan dengan jelas bahawa sebarang perselisihan wajib dirujuk kepada Qur’an dan Sunnah. antara mereka adalah ‘Ata’ dan Ibnu Abi Malikah. Apa-apa keputusan yang diperolehi daripada salah satu atau kedua-duanya adalah syariat yang wajib ditaati. Hakim yang demikian kekuasaanNya ialah Allah Tuhanku. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara.” [al-Nisa’ 4:59] “Dan (katakanlah wahai Muhammad kepada pengikut-pengikutmu): Apa jua perkara agama yang kamu berselisihan padanya maka hukum pemutusnya terserah kepada Allah. ‘Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan fatwa ini daripada fuqaha’ (Ulama Ahli Fiqh) di Madinah.”[al-Shura 42:10]. Sebagaimana Firman Allah (mafhumnya): “Wahai orang-orang yang beriman. Oleh itu sebarang amalan ibadat yang tidak dinyatakan di dalam keduadua (Qur’an dan Sunnah) adalah bid’ah dan tidak dibenarkan melakukannya. maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. di mana mereka beribadah bersungguh-sungguh pada malam tersebut. taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. dan inilah pandangan ulama-ulama Maliki dan lain-lain. Orang awam menganggap bahawa malam tersebut adalah mulia kerana perbuatan mereka ini. sedangkan jumhur ulama di Hijaz menolak kesahihan riwayat ini. kepadaNyalah aku berserah diri dan kepadaNyalah aku rujuk kembali (dalam segala keadaan). dan inilah yang terbaik untuk manusia di dunia dan di akhirat: “Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya” [al-Nisa’ 4:59 – mafhumnya] maksudnya ialah Hari Akhirat. Al-Hafiz bin Rejab (R. maka wajiblah merujuk kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah s. nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu dan (ingatlah). sebaliknya apa-apa yang didapati bercanggah dengan keduaduanya mestilah ditolak.an 3:31] “Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka. kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya. lagi Maha Mengasihani.A) menyebut di dalam kitabnya Lataa’if al-Ma’aarif tentang isu ini – setelah membincangkannya secara panjang lebar – “Malam Nisfu Syaaban asalnya diutamakan oleh golongan Tabi’in di kalangan penduduk Sham. Makhul. apatah lagi mengajak orang lain melakukannya atau mengiktirafkannya.” [al-Nisa’ 4:65] Banyak lagi ayat-ayat lain yang serupa maksudnya seperti di atas. Kata mereka: semua ini adalah bid’ah… . seterusnya wajib mentaati keputusan yang diperolehi daripada kedua-dua Nas ini. Disebutkan bahawa mereka telah mendengar riwayat-riwayat Israiliyyat berkenaan kelebihan malam tersebut. antaranya Khalid bin Mi’dan. “Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.a.w.” [Aal ‘Imr.wujud perselisihan di kalangan umat.

pasti aku akan memukulnya (dengan kayu itu).a. Ziyad seorang pereka cerita.a. “Sekiranya aku dengar sendiri dia berkata begitu dan ada kayu di tanganku. Beliau menjawab. ‘Hadis’ ini juga diriwayatkan melalui sanad yang lain. amalan itu akan tertolak.” Banyak lagi dalil yang menegaskan bahawa bid’ah mesti ditegah dan memerintahkan agar menjauhinya.A) berkata dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah: “Hadith yang berbunyi: ‘Wahai ‘Ali. Lebih-lebih lagi. Susunan katanya menyebut dengan jelas ganjaran yang akan diterima oleh orang yang melakukannya. tidak ada riwayat yang sahih daripada Nabi (s. penuhilah malamnya dengan solat dan berpuasalah di siang harinya” – adalah dhaif (lemah). Pernah ada orang mengadu kepada Ibnu Abi Maleekah bahawa Ziyad an-Numairi mengatakan bahawa pahala di Malam Nisfu Shaaban adalah menyamai pahala Lailatul-Qadar. dan hadis Ali yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban – “ Apabila tiba malam pertengahan Syaaban. berdasarkan maksud umum hadith Rasulullah s. atau yang beranggapan bahawa malam tersebut adalah lebih istimewa daripada malam-malam lain. membaca (Surah) al-Ikhlas sepuluh kali di setiap rakaat… (hadis ini) adalah maudhu’ (direka). juga adalah maudhu’. tidak kiralah ianya amalan perseorangan ataupun berkumpulan. Dalam keadaan di mana tidak ada bukti shar’i bahawa apa-apa perkara itu disuruh oleh Islam. . dan empat belas (rakaat). Di dalam kitab al-La’aali’ beliau berkata.A) menyebut dalam kitabnya al-Hawadith wa’l-Bida’: “Ibn Waddah meriwayatkan bahawa Zayd bin Aslam berkata: Kami tidak pernah menemui seorang pun dari kalangan ulama dan and fuqaha’ kami yang memberi perhatian lebih kepada Malam Nisfu Shaaban. tidak dibenarkan bagi Umat Islam untuk mereka-reka perkara baru dalam agama Allah. dengan membaca pada setiap rakaat Ummul Kitab [Surah al-Fatihah] dan Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali.a. “Seratus rakaat di pertengahan Syaaban. samada dilakukan secara terbuka mahupun tertutup. ini juga adalah maudhu’. Beliau menyatakan dengan jelas bahawa tidak ada langsung riwayat sahih daripada Rasulullah s.A) mengenai Malam Nisfu Shaaban (pertengahan bulan Syaaban). Allah akan memenuhi segala keperluannya…’ Hadis ini maudhu’ (rekaan semata-mata). tidak ada juga yang memberi perhatian kepada hadith Makhul.w mahupun daripada Sahabatsahabat Baginda (R.w) ataupun daripada Para Sahabat Baginda …” Inilah apa yang telah disebutkan oleh al-Hafiz bin Rejab (R. dan kesemua perawi dalam tiga isnadnya adalah majhul (tidak dikenali) dan dhaif (lemah). yang mana kesemua adalah direka dan kesemua perawinya adalah are majhul (tidak diketahui asal-usulnya). Di dalam kitab al-Mukhtasar. barangsiapa bersolat seratus rakaat di Malam Nisfu Shaaban. Katanya lagi: dan dua belas rakaat.” Al-Shaukani (R. beliau menukilkan: Hadith yang menyebut tentang solat di tengah bulan Syaaban adalah hadis palsu.w: “Barangsiapa melakukan apa sahaja amalan yang bukan sebahagian daripada urusan kita ini [Islam].A). perawi dalam isnad hadis ini adalah majhul (tidak dikenali).Imam Ahmad tidak pernah diketahui menyebut apa-apa pun tentang (adanya sambutan) Malam Nisfu Syaaban… Tentang amalan berdoa sepanjang Malam Nisfu Syaaban. Imam Abu Bakr al-Tartushi (R. dan tidak ada orang yang waras yang boleh meragui bahawa ‘hadis’ ini adalah rekaan. membaca al-Ikhlaas tiga puluh kali setiap rakaat.

Mudah-mudahan kita sentiasa melakukan apa yang Allah dan Rasul suruh dan meninggalkan apa yang dilarang. tentu akan mengambil masa yang sangat panjang. atau oleh hadishadis yang disebutkan dalam kedua-dua kitab ini. 0 comments on "TENTANG NISFU SYAABAN. dan jasa beliau sangatlah besar. Alim `ulama telah membincangkan hal ini dengan panjang lebar.” Al-Hafiz al-‘Iraqi berkata: “Hadith tentang solat di malam pertengahan Syaaban adalah maudhu’. Amalan tersebut tiada asas dalam syariat Islam yang tulen. Solat khusus di malam ini – di pertengahan bulan Syaaban – telah diterangkan dalam pelbagai bentuk.a. dan juga sebahagian ulama mufassirin. kerana dalam hal ini mereka tersilap. antaranya pengarang al-Ihya’ dan lainlain. dan sembahyang sunat Malam Nisfu Shaaban. adalah bid’ah yang ditolak oleh jumhur ulama. dan disandarkan secara palsu terhadap Rasulullah s. bahkan ianya hanyalah salah satu perkara yang diada-adakan dalam Islam selepas berakhirnya zaman Sahabat (radhiallahu `anhum). ANTARA AMALAN SUNNAH DAN BID'AH" Post a Comment Newer Post Older Post Home . hadis-hadis dan pendapat ulama yang dipetik di atas. atau dengan mengkhususkan puasa pada hari tersebut. Kesemuanya adalah palsu. sebanyak seratus rakaat – kedua-dua sembahyang ini adalah bid’ah yang tercela. didirikan sebanyak dua belas rakaat antara Maghrib dan ‘Isyak pada malam Jumaat pertama di bulan Rejab.com [Dipetik daripada Majmu’ Fatawa Samahat al-Sheikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baz. Sepatutnya orang ramai tidak tertipu disebabkan ianya disebut dalam Qut al-Qulub dan Ihya’ ‘Ulum al-Din. Daripada ayat-ayat Qur’an. Mudah-mudahan apa yang telah disebutkan di atas sudah memadai bagi anda yang mencari kebenaran. untuk tatapan dan renungan bersama.” Imam al-Nawawi berkata di dalam bukunya al-Majmu’: “Sembahyang yang dikenali sebagai solat al-raghaa’ib. Orang ramai juga tidak sepatutnya tertipu disebabkan kerana beberapa imam telah keliru dalam hal ini dan menulis beberapa helaian yang menyebut bahawa sembahyang ini adalah mustahabb (sunat).darulkautsar. dan sekiranya kami ingin memetik keseluruhan perbincangan tersebut untuk dicatatkan di sini. InsyaAllah. yang membuktikan bahawa riwayat-riwayat tersebut adalah palsu. kesemuanya adalah palsu dan direka-reka. sudah jelas bagi kita bahawa menyambut pertengahan bulan Syaaban dengan cara bersembahyang di malamnya atau dengan mana-mana cara yang lain. Petikan ini diambil dari SURAU AL MIZAN KOMPLEKS KEDIAMAN DUTAMAS.Beberapa orang fuqaha’ telah tertipu oleh hadis palsu ini.w. Ulasan dan terjemahan fatwa : www.” Sheikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abd al-Rahman bin Isma’il al-Maqdisi telah menulis sebuah kitab yang amat berharga.

Persoalannya mengapa perlu dilakukan sebanyak 3 kali dan dikhususkan pada malam tersebut? Sedangkan bacaan Yasin boleh dilakukan pada bila-bila masa dan tidak terhad kepada berapa kali. Ingat. Tetapi menurut fatwa dari Syeikh Abdul Aziz bin Baaz. Tetapi tahukah kita dari mana amalan itu berasal? Sedangkan kita tahu. hadith maudhu’ maknanya hadith PALSU. bahawa sesuatu ibadah khusus yang dilakukan jika tiada amalan atau dalil dari nabi Muhammad S. dalam soal bacaan Yasin sebanyak 3 kali dalam nisfu Syaaban tetap tidak ada hadith yang sahih berkenaannya dan amalan tersebut tiada ditunjukkan contoh langsung oleh nabi dan sahabat.TENTANG NISFU SYAABAN.w maka dikira bid’ah. amalan itu dikira bid’ah dan penjelasannya ada saya sertakan di bawah nanti. Seperti yang selalu saya lihat. Walau bagaimanapun ada sebahagian ulama berpendapat hadis dhaif boleh dipegang dalam amalan sunat secara perseorangan. tetapi kita perlu ingat. Namun . Tetapi tidak sekali-kali dengan hadith maudhu’.. 2011 at 10:36am Assalaamu’alaikum w. dan hadith PALSU hanyalah hadith yang direka-reka oleh golongan tertentu. .t…. tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak mahir dengan bacaan Qasar lebih-lebih lagi bagi yang tidak mahir membaca AlQuran bertajwid. ANTARA SUNNAH DAN BID'AH by Dassiah Sidek on Sunday. Dan saya tidak berani mengatakan amalan tersebut haram. Dengan kerana itu. Maka mengapa kita sekarang ini mengadakan majlis tersebut di masjid-masjid apabila tibanya malam nisfu Syaaban sahaja? Mengapa perlu menetapkan malam itu untuk membaca Yasin 3 kali dan berduyun-duyun menuju ke masjid sedangkan malam lain tidak? Itu yang perlu diperhati bersama.b. Sebagaimana telah kita ketahui apabila tibanya malam 15 Sya’aban. ianya adalah hadith berkenaan kelebihan malam nisfu Syaaban yang dhaif dan juga terdapat dalam hadith maudhu’ (palsu). Apakah bagus membaca AlQuran dalam keadaan tergesa-gesa dan salah tajwidnya? Apakah hikmah di sebalik tergesa-gesa dan tidak faham apa yang dibaca itu? Sebenarnya tiada hadith yang sahih yang memberitahu tentang bacaan yasin 3 kali pada malam nisfu Syaaban ini dan jika ada pun. ANTARA AMALAN SUNNAH DAN BID'AH Posted by ukhti salimah at 8:11 PM TENTANG NISFU SYAABAN. Mungkin ianya sesuai dengan orang yang sudah mahir membaca Qasar.a. Tidakkah itu sudah menjadi tungganglanggang dan tidak berlaku dalam keadaan yang tenang. bacaan Yasin yang dibuat sebanyak 3 kali itu dilakukan dengan pantas dan terkejar-kejar. ramai yang akan ke masjid untuk solat jemaah dan membaca yasin sebanyak 3 kali. adalah penting agar kita berhati-hati dalam memahami martabat sesuatu hadith itu. amalan ibadah khusus yang bukannya berasal dari nabi sudah dikira bid’ah dan dibimbangi amalan itu akan menjadi penat dan lelah semata-mata kerana tidak berasas atau menambah dosa sahaja. July 17.

Kemudian aku kembali dan aku dengar Baginda saw berkata dlm sujudnya. TENANG dan memberi keinsafan kepada kita dan bukannya semata-mata mahu mengejar pahala sehingga membaca AlQuran dengan tergopoh dan salah tajwid dan mengatakan sepatutnya melakukan bacaan Yasin 3 kali itu. Saiyidatina Aisyah r. . Apabila aku melihat demikian aku mencuit ibu jari kaki Baginda saw dan bergerak.” Hari nisfu sya’aban adalah hari dimana buku catatan amalan kita selama setahun diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan yang baru. “Malam ini adalan malam Nisfu syaaban. tanpa perlu dikhususkan 3 kali dan seumpamanya. bacaan itu biarlah TERTIB.” Setelah Baginda saw selesai sembahyang.a: Rasulullah saw telah bangun pada malam (Nisfu Syaaban) dan bersembahyang dan sungguh lama sujudnya sehingga aku fikir beliau telah wafat. selepas bacaan Yasin kedua doa supaya dipanjangkan umur dalam keberkatan dan selepas bacaan Yasin ketiga doa supaya dianugerahkan rezeki yang halal. Nisfu Syaaban bererti setengah bulan Syaaban.a. memberi rahmat ke atas mereka yg memberi rahmat dan melambatkan rahmat dan keampunan terhadap orang2 yg dengki. “Ya Allah aku pohonkan kemaafanMu daripada apa yg akan diturunkan dan aku pohonkan keredhaanMu daripada kemurkaanMu dan aku berlindung kpdMu daripadaMu.Maka sebaiknya adalah kita lakukan sahaja amalan membaca Yasin atau apa-apa sahaja bacaan AlQuran . Aku tidak dpt menghitung pujian terhadapMu seperti kamu memuji diriMu sendiri. Catatan pertama yang akan dicatatkan dibuku yang baru akan bermula sebaik sahaja masuk waktu maghrib. Sesungguhnya Allah Azzawajjala telah dtg kpd hambanya pada malam Nisfu syaaban dan memberi keampunan kpd mereka yg beristighfar. Dan yang penting. selepas bacaan Yasin pertama dengan doa untuk diselamatkan dunia akhirat. Baginda berkata kpd Saiyidatina Aisyah r. Di celahcelah bacaan Yasin ini diselitkan dengan bacaan doa seperti . Malam Nisfu Syaaban merupakan malam yang penuh berkat dan rahmat selepas malam Lailatul qadr. Pengertian nisfu Syaaban Nisfu dalam bahasa arab bererti setengah. (15 Sya’aban bermula pada 14 hb sya’aban sebaik sahaja masuk maghrib) Fatwa tentang merayakan malam Nisfu Syaaban Bacaan yasin Umat Islam di Malaysia umumnya menyambut malam nisfu Syaaban ( 15hb Syaaban) dengan mengadakan majlis membaca surah Yasin sebanyak tiga kali selepas solat Maghrib.a. meriwayatkan bahawa Nabi saw tidak tidur pada malam itu sebagaimana yg tersebut dalam sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi r. Malam Nisfu Syaaban adalah malam lima-belas Syaaban iaitu siangnya empat-belas haribulan Syaaban.

w. “Patutkah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menentukan mana-mana bahagian dari agama mereka sebarang undang-undang yang tidak diizinkan oleh Allah?” [al-Syur.w.Diperhatikan bahawa amalan sambutan Nisfu Syaaban yang kaifiatnya sebegini tidak diamalkan di tempat lain di seluruh dunia. Kita digalakkan berdoa apa saja kepada Allah s. Amalan mengkhususkan bacaan dan doa tertentu pada sesuatu masa tanpa nas yang sahih adalah amalan bidaah yang tertolak dan dikhuatiri berdosa. Ini jelas sekali menunjukkan bahawa Allah telah sempurnakan agama umat ini.w) bersabda dalam khutbah Baginda: “Tetaplah kamu dengan Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ Rasyidun. di mana-mana dan bila-bila saja dan tidak perlu berkampung di masjid-masjid dengan harapan mendapat ganjaran istimewa dari Allah s. Kita boleh membaca surah Yasin sebanyak mungkin pada bila-bila masa untuk mendapat pahala tetapi tidak dengan mengkhususkan kepada malam nisfu Syabaan dan dengan bilangan tiga kali.” Terdapat banyak lagi ayat Qur’an dan hadis yang seumpamanya. Berikut adalah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama terkemuka di Timur Tengah untuk menjelaskan tentang amalan bidaah di malam nisfu Syaaban. Perhatikan bahawa beliau tidak menyebut amalan membaca Yasin dan doa-doa yang mengiringinya kerana amalan tersebut tidak diamalkan oleh penduduk di Timur Tengah atau di bahagian lain dunia Islam. serta berpegang teguhlah padanya… Berwaspadalah terhadap perkara yang baru diada-adakan.w. atau sahabat-sahabat atau ada petunjuk yang jelas dari alQuran dan as-sunnah . Amalan ini hendaklah ada contohnya dari Rasulullah s. akan tertolak.w) pernah bersabda: “barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kita ini yang mana bukan sebahagian daripadanya.t untuk kebaikan dunia dan di akhirat tetapi tidak perlu dikhususkan di celah-celah bacaan Yasin di malam nisfu Syaaban. Nabi (s.a) bahawa Rasulullah (s.” [al-Maa’idah 5:3].a 42:21] Dalam kitab al-Sahihain diriwayatkan daripada `Aisyah (r. Tuhan tidak mengambil nyawa RasulNya sehinggalah Baginda selesai menyampaikan perutusan dengan seterang-terangnya dan menghuraikan kepada . Boleh dikatakan bahawa amalan baca Yasin dan doa ini adalah sebahagian dari sekian banyak amalan bidaah ciptaan rakyat tempatan khusus untuk amalan penduduk nusantara ini! ‘Solat Sunat’ Nisfu Syaaban Firman Allah (mafhumnya): “Pada hari ini.” Dalam Sahih Muslim diriwayatkan daripada Jabir r. Kita beramal dan beribadat adalah untuk mendapat pahala dan kebaikan . setidak-tidaknya ia akan membazirkan masa dan memenatkan badan.t. Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu. dan mencukupkan nikmatNya ke atas mereka.a.a.a.a. Tidak hairanlah tiada fatwa yang dikeluarkan oleh Ulama muktabar dunia masa kini tentang sahih batilnya amalan ini. kerana setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap perkara bid’ah itu adalah sesat. Dan kita boleh membaca surah Yasin dan berdoa bersendirian.

Hadis-hadis dha`if berkenaan ibadah hanya boleh diterimapakai untuk amalan ibadat yang terdapat menerusi nas-nas yang Sahih. sebaliknya apa-apa yang didapati bercanggah dengan keduaduanya mestilah ditolak. Prinsip asas yang penting ini telah disebutkan oleh Imam Abu’l-‘Abbas Sheikh al-Islam bin Taymiyah (rahimahullah). Para alim ulama (rahimahumullah) telah sepakat bahawa apabila wujud perselisihan di kalangan umat. oleh itu hadis-hadis dha`if tersebut tidak dapat digunapakai. sebagaimana telah dicatatkan dalam kitab-kitab yang menyanjung Sunnah dan mengecam bid’ah. Ada beberapa hadis dhaif telah dirujuk tentang fadhilat puasa ini. ditulis oleh bin Waddah.a. Beberapa riwayat tentang hal ini telah dinukilkan daripada sebahagian ulama salaf di Syria dan lain-lain.a. menyambut nisfu Syaaban adalah bid’ah. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya.w. apatah lagi mengajak orang lain melakukannya atau mengiktirafkannya. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara. dan menganjurkan puasa pada hari tersebut. Tidak ada nas (dalil) yang boleh dipercayai tentang puasa ini. tetapi ianya tidak boleh dijadikan pegangan. Mereka mengecam bid’ah dan menegahnya. Antara amalan bid’ah yang direka manusia ialah menyambut hari pertengahan dalam bulan Syaaban (Nisfu Syaaban). Oleh itu sebarang amalan ibadat yang tidak dinyatakan di dalam keduadua (Qur’an dan Sunnah) adalah bid’ah dan tidak dibenarkan melakukannya. Antara ulama yang memperjelaskan hal ini adalah al-Haafiz bin Rejab. Para Sahabat Nabi s. meskipun ia berniat baik. Hadis-hadis diriwayatkan mengenai fadhilat doa sempena nisfu Syaaban kesemuanya adalah maudhu’ (rekaan semata-mata).ummah segala apa yang telah diperintahkan Allah samada amalan perbuatan mahupun percakapan. Hakim yang .” [al-Nisa’ 4:59] “Dan (katakanlah wahai Muhammad kepada pengikut-pengikutmu): Apa jua perkara agama yang kamu berselisihan padanya maka hukum pemutusnya terserah kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah (mafhumnya): “Wahai orang-orang yang beriman. bin Shamah dan lain-lain. dan hadis-hadis tentang fadhilat-fadhilat berkenaan hari tersebut adalah dhaif (lemah). Kita akan lihat beberapa petikan dari ulasan para alim ulama ini. al-Tartushi. maka hendaklah kamu mengembalikannya kepada (Kitab) Allah (Al-Quran) dan (Sunnah) RasulNya jika kamu benar beriman kepada Allah dan hari akhirat.w telah menerangkan bahawa untuk ibadah yang direka selepas kewafatan Baginda. taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada “Ulil-Amri” (orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Tidak ada asas yang Sahih bagi sambutan nisfu Syaaban. Baginda s. segala bacaan dan amalan yang kononnya dilakukan menurut Islam. di dalam kitabnya Lataa’if al-Ma’aarif.w tahu tentang hakikat ini. Apa-apa keputusan yang diperolehi daripada salah satu atau kedua-duanya adalah syariat yang wajib ditaati. dan lain-lain. maka wajiblah merujuk kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah s. begitu juga para salaf selepas mereka. sebagaimana telah diperjelaskan oleh sebahagian besar alim ulama.a. kesemua ini akan dicampakkan kembali kepada orang yang mencipta amalan tersebut. sebahagian besar yang lain pula adalah maudhu’ (rekaan). Menurut jumhur ulama.

di mana mereka beribadah bersungguh-sungguh pada malam tersebut.demikian kekuasaanNya ialah Allah Tuhanku. Luqman bin ‘Amir dan lain-lain. “Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku. Disebutkan bahawa mereka telah mendengar riwayat-riwayat Israiliyyat berkenaan kelebihan malam tersebut. dan inilah yang terbaik untuk manusia di dunia dan di akhirat: “Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya” [al-Nisa’ 4:59 – mafhumnya] maksudnya ialah Hari Akhirat.” [al-Nisa’ 4:65] Banyak lagi ayat-ayat lain yang serupa maksudnya seperti di atas. Al-Hafiz bin Rejab (R. samada dilakukan secara terbuka mahupun tertutup. Allah Maha Pengampun. lagi Maha Mengasihani. tidak dibenarkan bagi Umat Islam untuk mereka-reka perkara baru dalam agama Allah. kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya. berdasarkan maksud umum hadith Rasulullah s.”[al-Shura 42:10]. Orang awam menganggap bahawa malam tersebut adalah mulia kerana perbuatan mereka ini. sedangkan jumhur ulama di Hijaz menolak kesahihan riwayat ini. amalan itu akan tertolak. tidak ada riwayat yang sahih daripada Nabi (s.an 3:31] “Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka.a. Makhul. ‘Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan fatwa ini daripada fuqaha’ (Ulama Ahli Fiqh) di Madinah. Ini merupakan syarat iman.A) mengenai Malam Nisfu Shaaban (pertengahan bulan Syaaban).w) ataupun daripada Para Sahabat Baginda …” Inilah apa yang telah disebutkan oleh al-Hafiz bin Rejab (R. Kata mereka: semua ini adalah bid’ah… Imam Ahmad tidak pernah diketahui menyebut apa-apa pun tentang (adanya sambutan) Malam Nisfu Syaaban… Tentang amalan berdoa sepanjang Malam Nisfu Syaaban. kepadaNyalah aku berserah diri dan kepadaNyalah aku rujuk kembali (dalam segala keadaan).w: “Barangsiapa melakukan apa sahaja amalan yang bukan sebahagian daripada urusan kita ini [Islam]. antara mereka adalah ‘Ata’ dan Ibnu Abi Malikah. yang menyatakan dengan jelas bahawa sebarang perselisihan wajib dirujuk kepada Qur’an dan Sunnah.A) menyebut di dalam kitabnya Lataa’if al-Ma’aarif tentang isu ini – setelah membincangkannya secara panjang lebar – “Malam Nisfu Syaaban asalnya diutamakan oleh golongan Tabi’in di kalangan penduduk Sham. tidak kiralah ianya amalan perseorangan ataupun berkumpulan.” [Aal ‘Imr. antaranya Khalid bin Mi’dan. Dalam keadaan di mana tidak ada bukti shar’i bahawa apa-apa perkara itu disuruh oleh Islam. Beliau menyatakan dengan jelas bahawa tidak ada langsung riwayat sahih daripada Rasulullah s.a. nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu dan (ingatlah).” Banyak lagi dalil yang menegaskan bahawa bid’ah mesti ditegah dan memerintahkan agar menjauhinya. dan inilah pandangan ulama-ulama Maliki dan lain-lain. .A). seterusnya wajib mentaati keputusan yang diperolehi daripada kedua-dua Nas ini.w mahupun daripada Sahabatsahabat Baginda (R.a.

Beberapa orang fuqaha’ telah tertipu oleh hadis palsu ini. “Seratus rakaat di pertengahan Syaaban. dan hadis Ali yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban – “ Apabila tiba malam pertengahan Syaaban. Solat khusus di malam ini – di pertengahan bulan Syaaban – telah diterangkan dalam pelbagai bentuk. Orang ramai juga tidak sepatutnya tertipu disebabkan kerana beberapa imam telah keliru dalam hal ini dan menulis . Ziyad seorang pereka cerita. didirikan sebanyak dua belas rakaat antara Maghrib dan ‘Isyak pada malam Jumaat pertama di bulan Rejab. Susunan katanya menyebut dengan jelas ganjaran yang akan diterima oleh orang yang melakukannya. Beliau menjawab. atau oleh hadishadis yang disebutkan dalam kedua-dua kitab ini. dan sembahyang sunat Malam Nisfu Shaaban. dengan membaca pada setiap rakaat Ummul Kitab [Surah al-Fatihah] dan Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali. Di dalam kitab al-Mukhtasar. Katanya lagi: dan dua belas rakaat. Allah akan memenuhi segala keperluannya…’ Hadis ini maudhu’ (rekaan semata-mata). “Sekiranya aku dengar sendiri dia berkata begitu dan ada kayu di tanganku. membaca (Surah) al-Ikhlas sepuluh kali di setiap rakaat… (hadis ini) adalah maudhu’ (direka).w. yang mana kesemua adalah direka dan kesemua perawinya adalah are majhul (tidak diketahui asal-usulnya). membaca al-Ikhlaas tiga puluh kali setiap rakaat. perawi dalam isnad hadis ini adalah majhul (tidak dikenali). dan empat belas (rakaat). sebanyak seratus rakaat – kedua-dua sembahyang ini adalah bid’ah yang tercela.A) berkata dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah: “Hadith yang berbunyi: ‘Wahai ‘Ali.” Imam al-Nawawi berkata di dalam bukunya al-Majmu’: “Sembahyang yang dikenali sebagai solat al-raghaa’ib. Lebih-lebih lagi. juga adalah maudhu’.a. atau yang beranggapan bahawa malam tersebut adalah lebih istimewa daripada malam-malam lain.” Al-Shaukani (R. Di dalam kitab al-La’aali’ beliau berkata. barangsiapa bersolat seratus rakaat di Malam Nisfu Shaaban. penuhilah malamnya dengan solat dan berpuasalah di siang harinya” – adalah dhaif (lemah). Pernah ada orang mengadu kepada Ibnu Abi Maleekah bahawa Ziyad an-Numairi mengatakan bahawa pahala di Malam Nisfu Shaaban adalah menyamai pahala Lailatul-Qadar. tidak ada juga yang memberi perhatian kepada hadith Makhul.” Al-Hafiz al-‘Iraqi berkata: “Hadith tentang solat di malam pertengahan Syaaban adalah maudhu’. dan disandarkan secara palsu terhadap Rasulullah s. Kesemuanya adalah palsu. antaranya pengarang al-Ihya’ dan lainlain.A) menyebut dalam kitabnya al-Hawadith wa’l-Bida’: “Ibn Waddah meriwayatkan bahawa Zayd bin Aslam berkata: Kami tidak pernah menemui seorang pun dari kalangan ulama dan and fuqaha’ kami yang memberi perhatian lebih kepada Malam Nisfu Shaaban. dan tidak ada orang yang waras yang boleh meragui bahawa ‘hadis’ ini adalah rekaan. Sepatutnya orang ramai tidak tertipu disebabkan ianya disebut dalam Qut al-Qulub dan Ihya’ ‘Ulum al-Din. ‘Hadis’ ini juga diriwayatkan melalui sanad yang lain. pasti aku akan memukulnya (dengan kayu itu). beliau menukilkan: Hadith yang menyebut tentang solat di tengah bulan Syaaban adalah hadis palsu.Imam Abu Bakr al-Tartushi (R. dan kesemua perawi dalam tiga isnadnya adalah majhul (tidak dikenali) dan dhaif (lemah). dan juga sebahagian ulama mufassirin. ini juga adalah maudhu’. kesemuanya adalah palsu dan direka-reka.

Mudah-mudahan kita sentiasa melakukan apa yang Allah dan Rasul suruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Daripada ayat-ayat Qur’an.” Sheikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abd al-Rahman bin Isma’il al-Maqdisi telah menulis sebuah kitab yang amat berharga. InsyaAllah . Alim `ulama telah membincangkan hal ini dengan panjang lebar. dan jasa beliau sangatlah besar. sudah jelas bagi kita bahawa menyambut pertengahan bulan Syaaban dengan cara bersembahyang di malamnya atau dengan mana-mana cara yang lain. tentu akan mengambil masa yang sangat panjang. bahkan ianya hanyalah salah satu perkara yang diada-adakan dalam Islam selepas berakhirnya zaman Sahabat (radhiallahu `anhum). yang membuktikan bahawa riwayat-riwayat tersebut adalah palsu. atau dengan mengkhususkan puasa pada hari tersebut. dan sekiranya kami ingin memetik keseluruhan perbincangan tersebut untuk dicatatkan di sini. untuk tatapan dan renungan bersama. adalah bid’ah yang ditolak oleh jumhur ulama. hadis-hadis dan pendapat ulama yang dipetik di atas.darulkautsar. Mudah-mudahan apa yang telah disebutkan di atas sudah memadai bagi anda yang mencari kebenaran. Amalan tersebut tiada asas dalam syariat Islam yang tulen.com [Dipetik daripada Majmu’ Fatawa Samahat al-Sheikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baz.beberapa helaian yang menyebut bahawa sembahyang ini adalah mustahabb (sunat). Petikan ini diambil dari SURAU AL MIZAN KOMPLEKS KEDIAMAN DUTAMAS. Ulasan dan terjemahan fatwa : www. kerana dalam hal ini mereka tersilap.