POSISI DAN FUNGSI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

A. PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA Pancasila sebagai falsfah negara (philosohische gronslag) dari negara, ideology negara, dan statside. Dalam hal ini Pancasila digunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan atau penyenggaraan negara. Hal ini sesuai dengan bunyi pembukaan UUD 1945, yang dengan jelas menyatakan “……..maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu udang-undang dasar negara Indonesia yang terbentuk dalam suat susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada…..” Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia mempunyai beberapa fungsi pokok, yaitu: 1. Pancasila dasar negara sesuai dengan pembukaan UUD 1945 dan yang pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum. Hal ini tentang tertuang dalam ketetapan MRP No. XX/MPRS/1966 dan ketetapan MPR No. V/MP/1973 serta ketetapan No. IX/MPR/1978. merupakan pengertian yuridis ketatanegaraan 2. Pancasila sebagai pengatur hidup kemasyarakatan pada umumnya (merupakan pengertian Pancasila yang bersifat sosiologis). 3. Pancasila sebagai pengatur tingkah laku pribadi dan cara-cara dalam mencari kebenaran (merupakan pengertian Pancasila yang bersifat etis dan filosofis) B. PANCASILA SEBAGAI DASAR FILSAFAT NEGARA Sebagai filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila telah menjadi obyek aneka kajian filsafat. Antara lain terkenallah temuan Notonagoro dalam kajian filsafat hukum, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Sekalipun nyata bobot dan latar belakang yang bersifat politis, Pancasila telah dinyatakan dalam GBHN 1983 sebagai “satu-satunya azas” dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Tercatat ada pula sejumlah naskah tentang Pancasila dalam perspektif suatu agama karena selain unsur-unsur lokal (”milik dan ciri khas bangsa Indonesia”) diakui adanya unsur universal yang biasanya diklim ada dalam setiap agama. Namun rasanya lebih tepat untuk melihat Pancasila sebagai obyek kajian filsafat politik, yang berbicara mengenai kehidupan bersama manusia menurut pertimbangan epistemologis yang bertolak dari urut-urutan pemahaman (”ordo cognoscendi”), dan bukan bertolak dari urut-urutan logis (”ordo essendi”) yang menempatkan Allah sebagai prioritas utama. Pancasila sebagai falsafah kategori pertama adalah perwujudan bentuk bangunan yang dianganangankan dalam penggambaran di atas kertas, dan Pancasila sebagai falsafah. Kategori yang kedua adalah adanya lokasi serta tingkat ketersediaan bahan-bahan untuk merealisasikan bangunan yang dicita-citakan. Pancasila sebagai falsafah yang dimaksudkan adalah tiap sila di dalamnya yang oleh karena perkembangan sejarah masih tetap berfungsi sebagai landasan ideologis, maupun nilai-nilai

NILAI LUHUR BANGSA Dalam menjalankan kehidupan berbangsa diperlukan adanya pelaksanaan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. tidak atas kekuatanku sendiri. Itulah dasar bagi sila pertama: “Ketuhanan yang Maha Esa”. keadaan tempat. telah menjadikan aku manusia konkrit dalam perasaan. Perwudjudan sikap cintakasih dengan sesama manusia itu disebut “Perikemanusiaan yang adil dan beradab”. Demikian pula dokumen Pembukaan UUD 1945 memiliki bobot sama dengan “Declaration of Independence” negara tersebut. Pancasila tidak dapat diragukan lagi dalam naskah Pembukaan UUD 1945 dan dalam kata “Bhinneka Tunggal Ika” dalam lambang negara Republik Indonesia. alat-alat dan perlengkapan hidup. Sesungguhnya dalam kata “Bhinneka Tunggal Ika” terdapat isyarat utama untuk mendapatkan informasi tentang arti Pancasila. Sang Maha Ada. Pribadi (Dhat) yang mahasempurna. C. Menurut Driyarkara. Dalam naskah Pembukaan UUD 1945 itu. unsur keunikan dan unsur identitas diri. Secara harafiah “Bhinneka Tunggal Ika” identik dengan “E Pluribus Umum” pada lambang negara Amerika Serikat. semangat dan cara berfikir. Suatu kajian atas Pancasila dalam kacamata filsafat tentang manusia menurut aliran eksistensialisme disumbangkan oleh N Driyarkara. serba-tersokong. Penjelmaan dari perikemanusiaan ini disebut “keadilan sosial”. Itulah demokrasi = “kerakyatan yang dipimpin …”. Dalam konteks itu dapatlah diidentifikasikan mana yang bernilai universifal dan mana yang bersifat lokal = ciri khas bangsa Indonesia. Dalam jati diri ada unsur kepribadian. Yang menjadi sumber adaku hanyalah Ada-Yang-Mutlak. agar nilai norma dan sikap yang dijabarkan benar-benar menjadi bagian . Adaku bukan sumber dari adaku. kebudayaan dan adat istiadat. Perikemanusiaan itu harus kulakukan juga dalam memasyarakat. ada-terhubung. serba tergantung. keberadaan manusia senantiasa bersifat ada-bersama manusia lain.filsafat yang dapat kita masukkan kedalamnya adalah sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila Persatuan Indonesia. memiliki dan menggunakan barang-barang yang berguna sebagai syarat-syarat. Itulah sila kebangsaan atau “persatuan Indonesia”. Pancasila menjadi “defining characteristics” = pernyataan jati diri bangsa = cita-cita atau tantangan yang ingin diwujudkan = hakekat berdalam dari bangsa Indonesia. Perikemanusiaan itu harus kujalankan dalam bersama-sama menciptakan. setiap anggota harus dihormati dan diterima sebagai pribadi yang sama haknya. Selanjutnya aku meyakini bahwa adaku itu ada-bersama. Adaku tidak sempurna. Oleh karena itu rumusan filsafat dari Pancasila adalah sebagai berikut: Aku manusia mengakui bahwa adaku itu merupakan ada-bersama-dalam-ikatan-cintakasih (”liebendes Miteinadersein”) dengan sesamaku. dan kunci bagi kegiatan merumuskan muatan filsafat yang terdapat dalam Pancasila. keturunan. Perikemanusiaan itu harus juga kulakukan dalam hubunganku dengan sesamaku yang oleh perjalanan sejarah. Memasyarakat berarti mengadakan kesatuan karya dan agar kesatuan karya itu betul-betul merupakan pelaksanaan dari perikemanusiaan. Tuhan yang Maha Esa.

Mempunyai watak yang lemah serta kuat mempertahankan keyakinannya.yang utuh dan dapat menyatu dengan kepribadian setiap manusia Indonesia. senang berpura-pura. Menjamin landasan kesabaran untuk dapat bertahan terhadap naluri dan keinginan nafsu memberi daya tahan dalam menunda dorongan rendah yang mengancam harkat dan martabat. dirumuskan dan disepakati sebagai dasar dan tujuan kehidupan bermasyarakat. lain dimuka. 6. 4. Memberikan wawasan masa depan. berbangsa dan bernegara. yaitu: . karena moral memberikan landasan kepercayaan kepada sesama. sehingga dapat mengatur dan memberi arah kepada tingkah laku dan tidak tanduk manusia itu sendiri. 3. 3. kolusi dan nepotisme Karena itu perlu didorong dan dituntun oleh pandangan hidup yang luhur sedini mungkin. manusia dengan alam maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah dan batiniah. Keharmonisan hubungan sosial. 5. Pancasila dibahas. atau sering memindahkan tanggung jawab tentang suatu kesalahan dan kegagalan kepada orang lain. senang dipuji. Pancasila sebagai moral bangsa sangat dibutuhkan. arah dan cara kita juga harus senantiasa dijiwai oleh Pancasila. antara lain: 1. manusia dengan masyarakat. 4. 2. Hipokrit. Pancasila yang bulat dan utuh akan memberikan kita keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai apabila didasarkan atas keserasian dan keselarasan serta keseimbangan. Menjamin kebahagiaaan rohani dan jasmani. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatan. lain dibelakang. Serta menyembunyikan yang dikehendaki karena takut ganjaran yang merugikan dirinya. Kurang sabar. Pengamalan semua sila Pancasila secara serasi dan sebagai kesatuan yang utuh. sebab Pancasila mempunyai fungsi meliputi: 1.Bangsa kita tidak akan bisa maju jika kita sendiri belum bisa memahami dan dapat memecahkan watak dan moral manusia Indonesia sekarang ini. Baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan. dan tidak suka dikritik. cemburu. Memberikan motivasi dalam setiap sikap dan tidakan manusia untuk berbuat kebaikan dan kebajikan yang berlandaskan moral. Setiap gerak. sebab tantangan dimasa depan akan semakin sulit dan semakin berat yang menuntut kita untuk meningkatkan sumber daya manusia tanpa meninggalkan nilai luhur-luhur dari ideologi bangsa kita yaitu PANCASILA. percaya atas itikad baik setiap kebaikan orang. Melakukan korupsi. baik konsekuensi maupun sangsi sosial terutama yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap Tuhan dalam kehidupan akhirat. Berjiwa feodalis senang memperhamba pihak yang lemah. 2. dengki. 5.

moral dan etika yang kukuh bagi moral bangsa.Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dapat dijadikan dasar dalam motivasi dalam sikap.1. 3. masyarakat. Pengamalan sila Persatuan Indonesia. Sehingga rasa kesetiakawanan semakin kuat dalam rangka memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. mencakup pembinaan bangsa di kehidupan manusia. 4. D. tingkah laku dan perbuatan hidup bermasyarakat. pandangan hidup dan sebagai jiwa bangsa. Pengamalan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. yaitu mencakup peningkatan martabat serta hak dan kewajiban asasi manusia. Negara Indonesia memiliki hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. untuk mencapai tujuan nasional. seperti yang kita lihat akhir-akhir ini. kesengsaraan dan ketidak adilan dari muka bumi. tetatapi juga diidealkan sebagai kepribadian bangsa sepanjang masa. yaitu memajukan kesejahteraan umum. yaitu mencakup upaya makin menumbuhkan dan mengembangkan sistem politik demokrasi yang makin mampu memelihara stabilitas nasional yang dinamis. bangsa dan negara. KEPRIBADIAN BANGSA Sebagai bangsa Indonesia. Sistem hukum Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara. 2. Pancasila yang menjadi dasar Negara sebagai mana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Pancasila sebagai pedoman dan pegangan dalam pembangunan bangsa dan Negara agar dapat berdiri dengan kokoh. penghapusan penjajahan. Pengamalan sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jika kita sudah menjalankannya. Pengamalan sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. kita berkeyakinan bahwa pancasila yang kini menjadi dasar Negara. serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. yang antara lain mencakup tanggung jawab bersama dari semua golongan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME dan meletakkan landasan spritual. Pancasila bukan hanya di gali dari masa lampau atau di jadikan kepribadian bangsa waktu itu. 5. SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Pancasila . mungkin tidak akan ada lagi pertikaian antar sesama. hendaknya dapat menjalankan nilai-nilai dalam Pancasila secara seutuhnya. Kita sebagai bangsa Indonesia. Pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. mencerdaskan kehidupan berbangsa. Selain itu. berbangsa dan bernegara. Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. E. pancasila sabagai identitas diri bangsa akan terus melekat pada di jiwa bangsa Indonesia. yaitu mencakut upaya mengembangkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang dikaitkan dengan pemerataan pembangunan menuju terciptanya kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. adalah falsafah Negara.

dari seluruh prinsip ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia. sehingga bangsa ini merupakan kuasa materialis (asal bahan) Pancasila. Selain itu Pancasila juga bukan hanya merupakan ide-ide atau perenungan dari seseorang saja yang hanya memperjuangkan suatu kelompok atau golongan tertentu. dan sosial. III/MPR/2000 tentang sumber hukum dan tata urutan perundang-undangan. 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pancasila adalah rasionalitas kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk. Sistem hukum di Indonesia membentuk tata urutan peraturan perundang-undangan. PERTUMBUHAN BUDAYA MANUSIA DAN BANGSA INDONESIA Keberagaman menjamin kehormatan antarmanusia di atas perbedaan. G. dan multi ras yang bernama Indonesia. Pancasila yang digali dan dirumuskan para pendiri bangsa ini adalah sebuah rasionalitas yang telah teruji. kebebasan dan kebahagiaan yang dirumuskan oleh MPR. namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat. dengan lain perkataan unsur-unsur yang merupakan materi (bahan) Pancasila tidak lain diangkat dari pandangan hidup Masyrakat sendiri. 10 Tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan perundang-undangan juga menyebutkan adanya jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan. program-program pembangunan. hukum. Pasal 2 Undang-undang No. Dalam Undang-Undang No. F. sehingga Pancasila berkedudukan sebagai dasar negara dan ideologi bangsa negara Indonesia. Perundang-undangan. Hak asasi manusia memperoleh tempat terhormat di dunia. ditambah menjadi 10 ayat dengan memasukkan substansi hak pencapaian tujuan di dalam pembukaan UUD `45. melainkan Pancasila berasal dari nilainilai yang dimiliki oleh bangsa sehingga Pancasila pada hake katnya untuk seluruh lapisan serta unsurunsur bangsa secara komperensif. dan ketika amandemen UUD `45. Hal ini sesuai dengan kedudukannya sebagai dasar (filosofis) negara sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 Alinea IV. IDEOLOGI NEGARA Sebagai suatu ideologi bangsa dan negara Indonesia maka Pancasila pada hakekatnya bukan hanya merupakan suatu hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia. nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara. hak memperoleh kehidupan. Oleh karena ciri khas Pancasila itu maka memiliki kesesuaian dengan bangsa Indonesia. Dengan demikian Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia berakar pada pandangan hidup dan budaya bangsa dan bukannya mengangkat atau mengambil ideology dari bangsa lain. . dan peraturan-peraturan lain pada hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai dasar pancasila.berkedudukan sebagai grundnorm (norma dasar) atau staatfundamentalnorm (norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di Indonesia. baik ilmu ekonomi. pasal 28. Tata urutan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam ketetapan MPR No. Unsur. keputusan. politik.unsur Pancasila tersebut kemudian diangkat dan dirumuskan okeh para pendiri negara. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan perundangam yang ada. multi bahasa. yang multi agama. kebijaksanaan pemerintah. ketetapan. multi budaya.

pada saat yang sama segala sesuatu yang mengancam moral kebhinekaan harus diberantas. Konsekuensinya negara adalah beranekaragam tetapi satu. dasar. ras. Fungsi serta Implementasi Pancasila sebagai Dasar Negara) – Setiap negara harus mempunyai dasar negara. Negara memberikan kebebasan atas individu. Negara adalah suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen yang membentuk negara yang berupa. Keutuhan negara dan bangsa bertolak dari sudut kuat atau lemahnya bangsa itu berpegang kepada dasar negaranya. suku. yang berdiri tegak di atas moral dan etika bangsa kita sesuai dengan keragaman budaya kita sendiri. Staats fundamentele norm. Mengubah fundamen. Oleh karena perbedaan merupakan bawaan kodrat manusia dan juga merupakan ciri khas elemen-elemen yang membentuk negara. Kuatnya fundamen negara akan menguatkan berdirinya negara itu. Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafah negara (filosofische gronslag dari negara). ras. Fungsi serta Implementasi Pancasila sebagai Dasar Negara (Kedudukan. Dasar negara merupakan fundamen atau pondasi dari bangunan negara. mengikatkan diri dalam suatu persatuan yang diliukiskan dalam Bhineka Tunggal Ika. memajukan kesejahteraan umum (kesejahteraan seluruh warganya) mencerdaskan kehidupan warganya serta dalam kaitannya dengan pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia untuk mewujudkan suatu ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manuasia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. kelompok. . golongan maupun kelompok agama. Kerapuhan fundamen suatu negara. Negara kita Indonesia. weltanschauung dan juga diartikan sebagai ideologi negara (staatsidee). Untuk menjaga kebhinekaan yang bermartabat itulah. maupun golongan agama. Perbedaan bukan untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama. maupun golongan agama untuk merealisasikan seluruh potensinya dalam kehidupan bersama yang bersifat integral. suku. beraikbat lemahnya negara tersebut. Kedudukan. golongan. Kebinekaan yang kita miliki harus dijaga sebaik mungkin. etnis. indvidu. Karena kebhinekaan yang bermatabat di atas moral bangsa yang kuat pastilah menjunjung eksistensi dan martabat manusia berbeda. maka berbagai hal yang mengancam kebhinekaan harus ditolak. suku. ras. atau ideology berarti mengubah eksistensi dan sifat negara. Negara mengatasi segala paham golongan. Mengatasi dalam arti memberikan wahana atas tercapainya harkat dan martabat seluruh warganya. Kebhinekaan yang kita inginkan adalah kebhinekaan yang bermartabat. Sebagai dasar negara Indonesia. Oleh karena itu tujuan negara dirumuskan untuk melindungi segenap warganya dan seluruh tumpah darahnya. Dalam pengelolaan atau pengaturan kehidupan bernegara ini dilandasi oleh filsafat atau ideologi pancasila. Fundamen negara ini harus tetap kuat dan kokoh serta tidak mungkin diubah.

Selanjutnya ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kerkyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarata perwakilan. Pasal-pasal Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi pancasila dalam proses penyelenggaraan kehidupan bernegara. kemanusiaan yang adil dan beradab. serta pengakuan negara terhadap kebhineka-tunggal-ikaan dari bangsa Indonesia dan kehidupannya. persatuan Indonesia. dan ikut melaksanakan ketertiba dunia yang berdasarkan kemerdekaan. selanjutnya dalam proses penyelenggaraan kehidupan bernegara memiliki fungsi yang kuat pula. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Ketuhanan Yang Maha Esa. dan baru menggunakan pungutan suara terbanyak bila hal tersebut tidak dapat dilaksanakan. memajukan kesejahteraan umum. jaminan kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan serta kewajiban menjunjung tinggi hokum dan pemerintahan yang ada bafi setiap warga negara. Berikut ini dikemukakan ketentuan-ketentuan yang menunujukkan fungsi dari masingmasing sila pancasila dalam proses penyelenggaraan kehidupan bernegara. penerapan azas musyawarah dan mufakat dalam pengambilan segala keputusan dalam negara Indonesia. Dengan kedudukan yang istimewa tersebut. Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Persatuan Indonesia. negara mengatasi segala paham golongan dan segala paham perseorangan. Selanjutnya ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. negara menghendaki agar manusia Indonesia tidak memeperlakukan sesame manusia dengan cara sewenangwenang sebagai manifestasi sifat bangsa yang berbudaya tinggi. antara lain : pengakuan negara terhadap hak bagi setiap bangsa untuk menentukan nasib sendiri. yaitu: penerapan kedaulatan dalam negara Indonesia yang berada di tangan rakyat dan dilakukan oleh MPR. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara seperti tersebut di atas. negara menghendaki adanya toleransi dari masing-masing pemeluk agama dan aliran kepercayaan yang ada serta diakui eksistensinya di Indonesia.. pengakuan negara terhadap hak perlakuan sama dan sederajat bagi setiap manusia. negara Indonesia memberikan hak dan kebebasan setiap warga negara terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya. yaitu: kehidupan bernegara bagi Negara Republik Indonesia berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama serta untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannnya.. mencerdaskan kehidupan bangsa. maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa. sesuai dengan apa yang tersurat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia 4 antara lain menegaskan: “…. jaminan bahwa seluruh warga negara dapat memperoleh keadlan yang sama sebagai formulasi negara hokum dan bukan berdasarkan kekuasaan . yaitu: perlindungan negara terhadp segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara yaitu Pancasila sebagai dasar dari penyelenggaraan kehidupan bernegara bagi negara Republik Indonesia. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalm permusyawaratan perwakilan.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila itu ialah. negara menghendaki agar setiap warga negara Indonesia memperoleh pengajaran secara maksimal. karena sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilainilai dan norma-norma yang positif sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kemanusiaan yang adil dan beradab. yaitu pertama ialah karena secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung toleransi. Bunyi dan ucapan Pancasila yang benar berdasarkan Inpres Nomor 12 tahun 1968 adalah satu. yang dapat mencakup faham-faham positif yang dianut oleh bangsa Indonesia.belaka.64 tahun yang lalu. Tiga. Persatuan Indonesia. baik sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan. negara menghendaki agar setiap warga negara Indonesia mendapat perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan. tentu Pancasila ada yang merumuskannya. serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari. dan negara berusaha membentuk manusia Indonesia seutuhnya. dan Ir Soekarno. juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan berbangsa. ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Sebagai dasar negara. dan faham lain yang positif tersebut mempunyai keleluasaan yang cukup untuk memperkembangkan diri. baik material maupun spiritual. Pancasila memang merupakan karunia terbesar dari Allah SWT dan ternyata merupakan light-star bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya. pencanangan bahwa pemerataan pendidikan agar dapat dinikmati seluruh warga negara Indonesia menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Prof Mr Soepomo. Empat. dan yang jelas tadi telah diungkapkan sebagai dasar serta falsafah negara Republik Indonesia. lahirlah sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. dan nilai serta . Pancasila lahir 1 Juni 1945. Ketuhanan Yang Maha Esa. dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia menentang toleransi. masyarakat dan keluarga. negara menghendaki agar kekayaan alam yang terdapat di atas dan di dalam bumi dan air Indonesia dipergunakan untuk kemakmuran rakyat banyak. antara lain: negara menghendaki agar perekonomian Indonesia berdasarkan atas azas kekeluaraan. Sebagai falsafah negara. Dan kelima. Dapat dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan kisruh politik di negara ini. serta penyelenggaraan kehidupan bernegara yang didasarkan atas konstitusi dan tidak bersifat absolute. Dua. negara Republik Iindonesia mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang pelaksanaannya ditur berdasarkan Undang-Undang. Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Kedua. Yang terakhir adalah ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Keadlan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. yaitu lahirnya Pancasila. Pancasila merupakan wadah yang cukup fleksibel. Mr Mohammad Yamin. Yang ketiga. penguasaan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara serta menguasai hajat hidup orang banyak oleh negara. terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia. Pada bulan Juni 1945.

tetapi merangkum semuanya dalam satu semboyan empiris khas Indonesia yang dinyatakan dalam seloka “Bhinneka Tunggal Ika”. karena bangsa Indonesia yang sejati sangat cinta kepada Pancasila. Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati. Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9 Juni 1966 yang menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah dimurnikan dan dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar negara Republik Indonesia.XX/MPRS/1966 jo. Supomo: “Jika kita hendak mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat Indonesia. Ketetapan MPR No. Kelonialisme juga ditolak oleh bangsa Indonesia yang cinta akan kemerdekaan. juga tidak mempersatukan diri dengan golongan yang paling kuat. pasti akan ditolak oleh Pancasila. karena bangsa Indonesia berprikemanusiaan dan berusaha untuk berbudi luhur. misalnya Atheisme dan segala bentuk kekafiran tak beragama akan ditolak oleh bangsa Indonesia yang bertuhan dan ber-agama. Inilah sifat dasar Pancasila yang pertama dan utama.IX/MPR/1978 yang menegaskan kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum di Indonesia.Dr. Dengan syarat utama sebuah bangsa menurut Ernest Renan: kehendak untuk bersatu (le desir d’etre ensemble) dan memahami Pancasila dari sejarahnya dapat diketahui bahwa Pancasila merupakan sebuah kompromi dan konsensus nasional karena memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan masyarakat Indonesia. Sebab yang keempat adalah. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia. Maka Pancasila merupakanintelligent choice karena mengatasi keanekaragaman dalam masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya perbedaan. Diktatorisme juga ditolak. menghargai. maka Negara kita harus berdasar atas aliran pikiran Negara (Staatside) integralistik … Negara tidak mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar dalam masyarakat. Pancasila yang terkandung dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 tersebut ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai penjelmaan kehendak seluruh rakyat Indonesia yang merdeka. yakin bahwa Pancasila itu benar dan tidak bertentangan dengan keyakinan serta agamanya. Memorandum DPR-GR itu disahkan pula oleh MPRS dengan Ketetapan No. mempersatukan diri dengan segala lapisan rakyatnya …” .V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR No.norma yang bertentangan. Penetapan Pancasila sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan perbedaan (indifferentism). melainkan mengatasi segala golongan dan segala perorangan. menjaga dan menjalankan apaapa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. yakni sebagai dasar negara (philosophische grondslaag) Republik Indonesia. Mengenai hal itu pantaslah diingat pendapat Prof.

Prof. Perlindungan dan pengembangan martabat kemanusiaan itu merupakan kewajiban negara.” Pandangan tersebut melukiskan Pancasila secara integral (utuh dan menyeluruh) sehingga merupakan penopang yang kokoh terhadap negara yang didirikan di atasnya. agar masing-masing dapat hidup layak sebagai manusia. dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi semua warga bangsa Indonesia (kemanusiaan yang adil dan beradab).Penetapan Pancasila sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa negara Indonesia adalah Negara Pancasila. Oleh karena itu. manusia adalah manusia sesuai dengan principium identatis-nya. dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi semua warga bangsa Indonesia. Melanggar satu sila dan mencari pembenarannya pada sila lainnya adalah tindakan sia-sia. yang ber-Persatuan Indonesia. yakni dengan memandang manusia qua talis. yang tidak dapat dipisah-pisahkan. karena sila yang 4 dari Pancasila sebenarnya hanyalah akibat saja dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. yang ber-Ketuhanan yang mahaesa. Ketuhanan yang Maha Esa. Sebagai alasan mengapa Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat diantitesiskan satu sama lain. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pancasila bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan lagi. Dengan demikian keempat sila yang lain haruslah dijiwai oleh sila “Ketuhanan Yang Mahaesa”. . dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Hal itu mengandung arti bahwa negara harus tunduk kepadanya. Mengenai hal itu. yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditegaskan keseragaman sistematikanya melalui Instruksi Presiden No. Pancasila pun harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh. membela dan melaksanakannya dalam seluruh perundang-undangan. yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab. mengembangkan dirinya dan mewujudkan kesejahteraannya lahir batin selengkap mungkin. Notonagoro melukiskan sifat hirarkis-piramidal Pancasila dengan menempatkan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” sebagai basis bentuk piramid Pancasila.” Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sesungguhnya berisi: 1. Dr. dan mencerdaskan kehidupan bangsa (keadilan sosial). Usaha memisahkan sila-sila dalam kesatuan yang utuh dan bulat dari Pancasila akan menyebabkan Pancasila kehilangan esensinya sebagai dasar negara.Kirdi Dipoyudo (1979:30) menjelaskan: “Negara Pancasila adalah suatu negara yang didirikan. Setiap sila (dasar/ azas) memiliki hubungan yang saling mengikat dan menjiwai satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Hamka mengatakan: “Tiap-tiap orang beragama atau percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. memajukan kesejahteraan umum. yaitu kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat. Secara tegas. yang ber-Persatuan Indonesia.12 Tahun 1968 itu tersusun secara hirarkis-piramidal.

Dengan keberhasilan menjadikan “Pancasila sebagai asas tunggal”. tetapi dalam perkembngannya menjadi ideologi dari berbagai kegiatan yang berimplikasi positif atau negatif. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab. tetapi cenderung ekonomi menjadi “ideologi” Secara politis pada tahap ini bahaya yang dihadapi tidak sekedar bahaya latent sisa G 30S/PKI. Persatuan Indonesia. yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab. Pancasila mampu dijadikan pangkal sudut pandangan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang dalam karya-karyanya ditunjukkan segi ontologik. tetapi efek PJP 1 yang menimbulkan ketidakmerataan pembangunan dan sikap konsumerisme. yang berKemanusiaan yang adil dan beradab. Tantangan memang trerarahkan oleh Orde Baru. Orientasinya diarahkan pada ekonomi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semangat persatuan dikobarkan demi keselamatan NKRI terutama untuk menanggulangi ancaman dalam negeri dan luar negeri. yang berKetuhanan yang mahaesa. Pancasila justru merombak realitas keterbelakangan yang diwariskan Belanda dan Jepang untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Isi Pembukaan UUD 1945 adalah nilai-nilai luhur yang universal sehingga Pancasila di dalamnya merupakan dasar yang kekal dan abadi bagi kehidupan bangsa. dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Orientasi Pancasila diarahkan pada Aand character building. yang ber-Ketuhanan yang mahaesa. yang ber-Ketuhanan yang mahaesa. ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Gagasan vital yang menjadi isi Pancasila sebagai dasar negara merupakan jawaban kepribadian bangsa sehingga dalam kualitas awalnya Pancasila merupakan dasar negara. yang ber-Persatuan Indonesia. 2. Pancasila bertolak belakang dengan kapitalisme ataupun komunisme. Di dalam tahap dengan atmosfer politis dominan. dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tahun 1969-1994 merupakan tahap pembangunan ekonomi sebagai upaya mengisi kemerdekaan melalui Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I). 5. dan ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Tahun 1945-1948 merupakan tahap politis. maka dapatlah dinyatakan bahwa persatuan dan kesatuan nasional sebagai suatu state building. yang ber-Persatuan Indonesia. 4.yaitu : 1. XX/MPRS/1966. perlu upaya memugar Pancasila sebagai dasar negara secara ilmiah filsafati. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial yang mengancam pada disintegrasi bangsa. sejauh mana pelakasanaan “Pancasila secara murni dan konsekuen” harus ditunjukkan. . Distorsi di berbagai bidang kehidupan perlu diantisipasi dengan tepat tanpa perlu mengorbankan persatuan dan kesatuan nasional. epismologik dan aksiologiknya sebagai raison d’etre bagi Pancasila (Notonagoro. Pancasila sudah berkembang menjadi berbagai tahap semenjak ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. 1950) Resonansi Pancasila yang tidak bisa diubah siapapun tecantum pada Tap MPRS No.3.

kapitalisme yang dimotori Amerika Serikat semakin meluas seolah menjadi penguasa tunggal. Pancasila sebagai dasar negara tidak hanya sekedar dihantui oleh bahaya subversinya komunis. melainkan di-instumentalisasi-kan sebagai alat politik semata. Pembukaan UUD 1945 dengan nilai-nilai luhurnya menjadi suatu kesatuan integral-integratif dengan Pancasila sebagai dasar negara. Globalisasi sebagai suatu proses pada hakikatnaya telah berlangsung jauh sebelum abad ke-20 sekarang. menyelamatkan persatuan dan kesatuan nasional yang kini sedang mengalami disintegrasi. kejam. Namun. Tahun 1995-2020 merupakan tahap “repostioning” Pancasila. yaitu secara bertahap. Jika itu diletakkan kembali. yaitu : . melainkan juga harus berhadapan dengan gelombang aneksasinya kapitalisme. Orde Lama mengembangkan Pancasila sebagai dasar negara tidak sebagai sesuatu substantif. Pancasila malah diplesetkan menjadi suatu satire.Komunisme telah runtuh karena adanya krisis ekonomi negara “ibu” yaitu Uni Sovyet dan ditumpasnya harkat dan martaba tmanusia beserta hak-hak asasinya sehingga perlahan komunisme membunuh dirinya sendiri. Krisis moral budaya juga timbul sebagai implikasi adanya krisis ekonomi. Pancasila dengan sifat keterbukaanya melalui tafsir-tafsir baru kita jadikan pengawal dan pemandu kita dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti. Demikian pula di Orde Baru yang “berideologikan ekonomi”. Hakikat globalisasi sebagai suatu kenyataan subyektif menunjukkan suatu proses dalam kesadran manusia yang melihat dirinya sebagai partisipan dalam masyarakat dunia yang semakin menyatu. Masyarakat telah kehilangan orientasi nilai dan arena kehidupan menjadi hambar. gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spiritual. Pancasila dijadikan asas tunggal yang dimanipulasikan untuk KKN dan kroni-isme dengan mengatasnamakan sebagai Mandatoris MPR. Negara-negara satelit mulai memisahkan diri untuk mencoba paham demokrasi yang baru. sedangkana kenyataan obyektif globlaisasi merupakan proses menyempitnya ruang dan waktu. maka kita akan menemukan landasan berpijak yang sama. munculnya gagasan kebebasan individu yang dipacu jiwa renaissance dan aufklarung. Nilai-nilai luhur yang telah dipupuk sejak pergerakan nasional kini telah tersapu oleh kekuasaan Orde Lama dan Orde Baru. “menciutnya” dunia yang berkembang dalam kondisi penuh paradoks. Menghadapi arus globalisasi yang semakin pesat. Revitalisasi Pancasila sebagai dasar negara mengandung makna bahwa Pancasila harus diletakkan utuh dengan pembukaan. ejekan dan sindiran dalam kehidupan yang penuh paradoks. di-eksplorasi-kan dimensi-dimensi yang melekat padanya. 3. berawal “embrionial” di abad 15 ditandai dengan munculnyanegara-negara kebangsaan. Pancasila mengandung komitmenkomitmen transeden yang memiliki “mitosnya” tersendiri yaitu semua yang “mitis kharismatis” dan “irasional” yang akan tertangkap arti bagi mereka yang sudah terbiasa berfikir secara teknis-positivistik dan pragmatis semata. Dunia kini sedang dihadapkan pada gelombang perubahan yang cepat sebagai implikasi arus globalisasi. Oleh karena itu. Kini terjadi krisis politik dan ekonomi karena pembangunan menghadapi jalan buntu. keurgensian Pancasila sebagai dasar negara semakin dibutuhkan.

Fleksibilitasnya: dalam arti bahwa Pancasila bukanlah barang jadi yang sudah selesai dan mandeg dalam kebekuan oqmatis dan normatif. terdidik dalam arti generasi yang mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai sarana pengabdian kepada bangsa dan negara. Sadar dalam arti generasi yang hati nuraninya selalu merasa terpanggil untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila. Kebangsaan. Bangsa Indonesia dihadapkan pada perubahan. pendidikan untuk memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman akademis. Spiritual. tidak sekedar aspek having 3. menumbuhkan kesadaran nasionalisme . setiap bangsa juga selalu mendambakan kemajuan. Dengan demikian tanpa kehilangan nilai hakikinya. pendidikan untuk membentuk jatidiri menjadi sarjana yang selalu komitmen dengan kepentingan bangsa (it is matter of being). menunjukkan bahwa MKU Pancasila adalah aspek being. Dengan demikian akan dimunculkan generasi yang mempunyai ide-ide segar dalam mengembangkan Pancasila. religius sebagai dasar dan arah pengembangan profesi 2. inspiratif dan evaluatif. ketentuan hukum disusun tanpa alasan moral akan melahirkan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila. kita berpedoman pada wawasan: 1. yaitu yang mengarah pada dua aspek. Sekuat-kuatnya tradisi ingin bertahan. Pancasila menjadi tetap aktual. Dalam upaya merevitalisasi Pancasila sebagai dasar negara maka disiapkan lahirnya generasi sadar dan terdidik. Akademis. ketrampilan profesional. moral.Realitasnya: dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dikonkretisasikan sebagai kondisi cerminan kondisi obyektif yang tumbuh dan berkembang dlam masyarakat. kepatuhankepada nilai-nilai (it is matter of having). dan kedalaman intelektual. relevan serta fungsional sebagai tiang-tiang penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan jiwa dan semangat “Bhinneka tunggal Ika” Revitalisasi Pancasila Pancasila sebagai dasar negara harus diarahkan pada pembinaan moral. Hanya dengan pendidikan bertahap dan berkelanjutan. Kedua. untuk meletakkan landasan etik. Moralitas yang tidak didukung oleh hukum kondusif akan terjadi penyimpangan. Perevitalisasikan Pancasila sebagai dasar negara dalam. generasi sadar dan terdidik akan dibentuk. menuju hari esok lebih baik. melainkan terbuka bagi tafsir-tafsir baru untuk memenuhi kebutuhan zaman yang berkembang. Pertama. sebaliknya. Setiap bangsa mempunyai daya preservasi dan di satu pihak daya progresi di lain pihak. sehingga moralitas Pancasila dapat dijadikan sebagai dasar dan arah dalam upaya mengatasi krisis dan disintegrasi. Kita membutuhkan telaahtelaah yang kontekstual. tetapi tetap harus menjaga budaya-budaya lama. Moralitas juga memerlukan hukum karena keduanya terdapat korelasi. melainkan diobjektivasikan sebagai “kata kerja” untuk membangkitkan gairah dan optimisme para warga masyarakat guna melihat hari depan secara prospektif. Idealitasnya: dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalamnya bukanlah sekedar utopi tanpa makna.

kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi patokan bagi bangsa. Pengaruh positif globalisasi terhadap masyarakat Indonesia. pertahanan keamanan. ekonomi. merupakan suatu kewajiban etis dan moral yang perlu diyakinkan oleh generasi sekarang. Dalam kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedang dilanda oleh arus krisis dan disintegrasi maka Pancasila tidak terhindar dari berbagai macam gugatan. Dewasa ini. Sebagai suatu proses. Namun perlu kita sadari bahwa tanpa adanya “platform” dalam dasar negara atau ideologi maka suatu bangsa mustahil akan dapat bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dan ancaman. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari pikiran yang dimunculkan. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Selain itu melestarikan dan mengembangkan Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana telah dirintis dan ditradisikan oleh para pendahulu. 1. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. . Pengaruh tersebut dibagi menjadi dua yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Mondial. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi. Read more: Kedudukan. sinisme.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Dilihat dari aspek globalisasi politik. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa. perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Jika pemerintahan dijalankan secara jujur. menyadarkan manusia dan bangsa harus siap menghadapi dialektikanya perkembangan dalam mayaraka dunia yang “terbuka”. sosial budaya. Dilihat dari dimensi ruang akan semakin dipersempit dan dari dimensi waktu semakin dipersingkat dalam berinteraksi dan berkomunikasi pada skala dunia. Fungsi serta Implementasi Pancasila sebagai Dasar Negara | Smart Click Pengaruh Globalisasi Terhadap Masyarakat Indonesia // Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh besar bagi kehidupan suatu negara termasuk negara kita Indonesia. serta pelecehan terhadap kredibilitasnya.bangsa di seluruh dunia. politik. karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara. Melalui pemahaman inilah Pancasila dikembangkan dalam semangat demokrasi yang secara konsensual akan dapat mengembangkan nilai praktisnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang serba pluralistik.4. bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa jati diri terhadap negara menjadi meningkat dan kepercayaan masyarakat akan mendukung yang dilakukan oleh pemerintahan.

karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. 1. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa. Serta menambah angka pengangguran dan tingkat kemiskinan suatu bangsa. Dari aspek globalisasi ekonomi. Aspek politik. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang dapat menunjang kehidupan nasional dan akan mengurangi kehidupan miskin. Maka hal ini akan menghilangkan beberapa perusahaan kecil yang memang khusus memproduksi produk dalam negeri. hidup bebas. Akan tetapi secara keseluruhan aspek dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau luntur. terbukanya pasar internasional. 1. Pengaruh negatif globalisasi terhadap masyarakat Indonesia. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (mainan. Padahal jati diri bangsa kita dahulu mengutamakan Gotong Royong.1. minuman. 1. meningkatkan kesempatan kerja yang banyak dan meningkatkan devisa suatu negara. Dampak di atas akan perlahan-lahan mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. tapi kita sering lihat sekarang contohnya saja di perumahan / komplek elit. Serta kita juga dapat bertukar ilmu pengetahuan tentang budaya suatu bangsa. dll. 1. karena jika tidak kenal maka tidak sayang. 1. mereka belum tentu mengenal sesamanya. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat Indonesia secara global. hidup metal. Apa yang ada . Justru anak muda sekarang sangat mengagungkan gaya barat yang sudah masuk ke bangsa kita dan semakin banyak yang cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat. Jika hal tesebut terjadi akibatnya jati diri bangsa akan luntur dan tidak mungkin lagi bangsa kita akan terpecah belah. Dari hal tersebut saja sudah tercermin tidak adanya kepedulian. kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin serta Iptek dari negara lain yang sudah maju untuk meningkatkan kedisplinan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa serta akan mempertebal jati diri kita terhadap bangsa. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia dimana dilihat dari sopan santun mereka yang mulai berani kepada orang tua. dll) membanjiri Indonesia. 1. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian sesama warga. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya jati diri bangsa kita. makanan. pakaian. Dari aspek globalisasi sosial budaya. Aspek Globalisasi ekonomi.

Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Dan sekarang ini. Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Misal untuk membuka situs-situs porno. Jika digunakan secara semestinya tentu akan memperoleh manfaat yang berguna.hari.jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Dari cara berpakaian banyak remaja-remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat.di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Bila dilaksanakan belum tentu sesuai di Indonesia. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. ada lagi pegangan wajib mereka yaitu hand phone. maka kepedulian terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih kesibukan dengan menggunakan handphone tersebut. Padahal cara berpakaian tersebut jelas. Mereka justru berlomba-lomba untuk memilikinya. Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. tapi kita lihat alat musik kebudayaan kita belum tentu mereka mengetahuinya. timbul tindakan anarkhis antara golongan muda. Dilihat dari sikap. Pengaruh Globalisasi Terhadap jati diri di Kalangan Generasi Muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hubungannya dengan nilai jati diri akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. apalagi sekarang ini mulai muncul hand phone yang berteknologi tinggi. terima globalisasi dengan rasa kritis dan banyak melakukan hal positif dalam menggunakan globalisasi yang ada sekarang ini. Sebagai masyarakat Indonesia mulai dari sekarang kita utamakan produk dalam negeri dan kenali kebudayaan kita. banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari. Bila tidak dilaksanakan akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional. mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi bangsa menjadi rusak. Apa lagi bagi anak muda. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan.hari anak muda sekarang. bahkan sampai terkena penipuan. internet sudah menjadi santapan mereka sehari. banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak tahu sopan santun dan cenderung tidak peduli terhadap lingkungan. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki jati diri? Marilah kita Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia. . Hal ini jika kita lihat dari segi sosial. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Bukan hanya internet saja.

9  ° ©f ¾¾½ f° °¯f °f½ ¯ f°–°f°¯ °–f f½©ff° ° ¾¾¯f  ff©–f¯ ¾ f–f¯½f¾f f°f¾¾ °¯ .¯°¾¯  f°f °ff f°f¾¾ °¯° –ff# #fD°  f° ¯½f¾°f ff f°¯ff f¯f°¾f ¾ ff ff¾f¾°f¾ °––f½ ff°¯°¾¯ ¯ ¯ ° °f¾ °  - –ff ° –ff¾f ¯f¯ ¯¾ff° °¯ °n f½ff¯ ¯f¾f°– f -f¯° f½f¾¯ f°– ¯¯ f f¾ ¯f°¯ f¾¾ f¯ °©f ½ °–f¾f °––f  f °f 9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff ff°f¾  f f°  fff ¾  ¾°f¯°¾ ¯ f°f°©–ff¾ f f½f° °–f°– ¯ f°–f° ¾f¾°ff½f¾¯   @f° ¯ ½ff°ff½# ½¾°°–#9f°nf¾f °f°¾ f°– f f½f°½f f – ¯ f°–½  ff°f°–n ½f¾ f–f¯½f¾f¾– f¾f¾   f¾f¾¾ f–f¾f½¾ ¾½f fff°ff f f°–¾°–©f¾ ¯f f  ¾ ff°–  f¾ nff ff½  ff# ¯ °f# f f  f° f °–f°¯°n°f° –ff ° –ff  f°–¾ff° ¯°n°f–f–f¾f° f¾f°°  f°– ½fn©f °f¾¾f°n  f°f€f°–  ff– f¾f¾¾ f–f¾f °fff°¾  €¯ °°©f°¾f½¾ ¾ ff¯ ¾f f° ¯f°¾ff°–¯ f °f¾ f–f½f¾½f° ff¯¯f¾fff °ff°–¾ ¯f°¯ °f  ¾ f°–f°f °fff°  €– f¾f¾¯ ½ff°½¾ ¾¯ ° ¯½°ff°– f°f  #¯ °n°f# °ff°–  ¯ f°– ff¯° ¾½ °½ff ¾  . °–f f½f¾– f¾f¾f°–¾ ¯f°½ ¾f  – °¾f°9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff¾ ¯f°  f° 9f°nf¾f °–f°¾€f   ff°f¯ ff€¾ f€¾ ff©f f°½ °–ff f° ½ ¯f° f ff¯¯ °–f f½¾f¾f°–¾  f f½f¾ 9f°nf¾f¯ °–f° °–¯¯ ° ¯¯ °f°¾ °f°–¯ ¯#¯¾°f# ¾ ° f¾ ¯ff°–#¯¾f¾¯f¾# f° #f¾°f#f°–ff° f°–f½f f–¯  ff°–¾ f  f¾f €¾ nff °¾ ½¾¾ f°½f–¯f¾¾ ¯ff  -f °ff°– f ½½¾ ©f½ – ff°°f¾°f° f ¾f½  f¾ff°  f¯f f°  f  f¯f¯ °– ¯ f°–f°9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff f¾ f–f¾ ¾f ¾ ¾f°€ ¯ f°f°  °¾¯ °f¾f¾ f°¾ f–fff½¾ ¯ff  ¯f°½f   f f°–#  –f° °¯# 9f°nf¾f ©f f°f¾f¾°––ff°– ¯f°½f¾f°°- f° ° ¾¯  °–f°¯ °–ff¾°f¯ff°¾ f–f.f¾fff f f°–f° °f¾°f f°f °f  ½f°¯ °©f f¯ f  ©f¯ – ¾f°– ff¯ ¯¾°f°  ff f°  °–f° ¾½f 9f°nf¾f¯ff ½ ¾ f°¯ °©f ¾f¾f  © f° f°¾° f° ff¯  ½f°f°– ½ °½ff ¾  9 ¯ ff°DD °–f°°f °f°f¯ °©f ¾f ¾ff°° –f ° –f€ °–f° 9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff f  ff° ¯ f ¯fffff°¯ ° ¯f°f° f¾f° ½©ff°–¾f¯f ¯ ° f¯ff°½ ¾ff° f° ¾ff°°f¾°ff°–°¾ f°–¯ °–ff¯ ¾° –f¾  f¾f¾9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff¯ °–f° °–¯f°f ff9f°nf¾ff¾  ff° °–f°½ ¯ ff°   ¾½f¾ f° ¯ °¾ ¯ °¾f°–¯  f½f f°f f  .f° f¾.

ff¾©–f¯ ¯ f°¯f °f f°f  f½f f¾ .D9f°nf¾ff fff¾½  °–  f¾  ff¾½ f°–   f°–¾ff° ¯ °¯ f° ¾f ff°°f¾°f¾¯  .ff¾f°– f  °– ¯° ¾€ff° ©f ½ °¯½f°–f° ¾ f°f   °f°¯ ¾¾°f°½f ff¾f°¯fff°¯ ff°¾ ¾ff°–  °f°–f° °–f°°f °f9f°nf¾f  ff¯½ff¯  f¾f¾9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff¯ff ¾f½f°f°f– ° f¾¾f f f°     f f ff¯f– ° f¾f°–f°f°°f¾ f¯ f¾f ½f°––°¯  ¾ff° f° ¯ °– ¯ f°–f°°f °f9f°nf¾f     ff¯f– ° f¾f°–¯ ¯½°f ¯f¯½f° f°  ¯f° f° ff¯¯ °– ¯ f°–f°¯½ °– ff°¾ f–f¾ff°f½ °–f f° ½f f f°–¾f f° ° –ff  °–f° ¯f°ff° ¯°nf°– ° f¾f°–¯ ¯½°f  ¾ –f ff¯ ¯ °– ¯ f°–f°9f°nf¾f  f°f °–f°½ °  f° ff½ f°  f°©f° – ° f¾¾f f f°   ff°  ° f f°–¯ °–ff½f f ff¾½  9 f¯f ½ °  f°°¯ ¯ f° f½ °– ff° f° ½ °–ff¯f°ff ¯¾  f¯½f°½€ ¾°f  f° ff¯f°°  f  ½ff° ½f f°f °f %¾¯f €f°–%  f ½ °  f°°¯ ¯ °©f ¯ °©f ¾f©f°ff°–¾ f ¯¯ ° °–f° ½ °°–f° f°–¾f%¾¯f € °–%  f°–¾f° ° ¾f f f½f°½f f½  ff°  f½ f½f¾¯ °©f–f  ff  fff¯f   f f°ff ¾°–° ff° ¾ f½ f°–¾f©–f¾ f¯ ° f¯ ff° ¯f©f°  f½ f°–¾f ¯ ¯½°f ff½ ¾ f¾ f° ¾f½f ff½– ¾ f°½f f¯ ¯ f° ff  fff°–° ¾f °¾½f€ f° ff€  9  f¾f¾f°9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff ff¯ f ½ ¯f°½f fff¾f°   ½f °¯  ff°f° f¾f°  ¯f  –¾¾ f–f f¾f f°ff½ °– ¯ f°–f° ½€ ¾  f ¯¾ ¯ °°©f° ff. ff¾°f  ff¯f ff°f °ff°– f° °–  ff¯°f ° ¾f¾f°¾ f–f° ¾ n ¯°f°° ¾  €f°–¯  f°  ¯ f°– f¯¯f¾fff   ff¾°f  ff¯f ff f¾¯ f°– f° °–  ff¯°f f°f¾  f½f°½f ¯f°f ¯ f°f°  © f¾f°¾ f–f#ff ©f#°¯ ¯ f°–f°–ff f°½¯¾¯  ½fff–f¯f¾fff–°f¯ ff ½f°¾ nff½¾½ € ¯ °©f ¾  f   ¾ f¾°f  ff¯f ff9f°nf¾f f°f ff°–©f f°–¾ f¾  ¾f f°¯f° – ff¯  f°¯f¾ f°°¯f€ ¯ f°f°  f f–f€¾ f€¾ f°¯ ¯ ° f° f¯f°f°–  ¯ f°–  °–f° ¯f°f°½f f°–f°°ff°f 9f°nf¾f¯ °©f  f½ ff   f°¾ f€°–¾°f¾ f–ff°– f°–½ °f°––f f–  ½f° f°–¾f f°° –ff °–f°©f f°¾ ¯f°–f# °° f°––ff#  f¾f¾9f°nf¾f9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –fff¾ fff°½f f½ ¯ °ff°¯f ¾ °––f ¯ff¾9f°nf¾f f½f ©f f°¾ f–f f¾f f°ff ff¯½ff¯ °–ff¾¾¾ f° ¾° –f¾ .

 .° f ¯ °f ff°¯f°¾f f° f°–¾ff¾¾f½¯ °–f f½ f f°f½  ¯ f°–f° ff¯¯ffff °ff°–#  f#  ff¯° ¾  ½f°  f°–¾f f° ° –fff°–¾ f°– f° f f¾¾¾ f° ¾° –f¾ ¯ff9f°nf¾f f ° f f  f–f¯fnf¯––ff° ¾°¾¯ ¾ f½  n f° f f½   f¾°f -f¯°½ f¾f f fff°½ff f°f#½f€¯# ff¯ f¾f° –ffff  –¯ff¾f f°–¾f¯¾fff° f½f ff° ff¯¯ °–f f½  f–ff°f°–f° f° f°nf¯f°  . f½ ¯ff¯f°°f9f°nf¾f  ¯ f°–f° ff¯¾ ¯f°–f ¯f¾f°–¾ nff°¾ °¾f ff° f½f¯ °– ¯ f°–f°°f½f¾°ff°–¾ ¾f °–f° f°¯f¾ffff°–¾  f ½f¾  f°¯  ¾ff° f°¯ °– ¯ f°–f°9f°nf¾f¾ f–f f¾f° –ff¾ f–f¯f°f  f °¾ f° f ¾f° ½ff½ ° f ¯ ½ff°¾f f© f° ¾ f°¯ff°– ½  f°f° – ° f¾¾ ff°–    f ¯   f° °–¾¾ f¯½ ¯ °f¾9f°nf¾f¾ f–ff¾f- –ff$¯f.

f¾fff° ° ¾f $$ f¾f¾f ff¾f½¾ ¾ff°f°¯f¾ffff°–¯ ° °f f° f¯ °– °f ff¾ ff  f¾f¾½f fff°ff ff¾f½¾ ¾ f½f°f°– ¯°nf°  ¯ f° fff°°   f°–¾ff°f°–f°f¾f¯½f½f f¾f ¾ ½fff° ¾f¯f f°¯ °©f ½ff° f– f°–¾f  f°–¾f ¾  °f   f–f¾f½¾ ¾ – f¾f¾ f°–¾°–¯ f f ¯ °¾ ff¯° f¾f°f f°–¾f f ¯ °¾f°– f° ¯ °¾f f f ¯ °¾f°–ff°¾ ¯f° ½ ¾ ¯½ f° f ¯ °¾ f¾ ¯f° ½ ¾°–f ff¯ ° f¾ f° ¯°f¾½f f¾ff °f  f¾f¾ f°–¾°– ¾ ¯f  f°–  ½f°¾ ½   f°– – ½  °¯ ¾¾f  ff  ½ ff°f° f¯f°f° @ °–°€¯f¾ f°¯°f¾f ff€f½ ° °–f¯f ff¯ – f¾f¾  f¾f° ½  ¯ f°–f° °– –n ½f¾ °––f¾ –ff°€¯f¾ °–f°  f–f ° f° ½ °°–f° f½f ¾ ff¾ ¾  °f  f °f– f¾f¾ f f½ff° f f f°°f  f f°– f¾f¾ °°f¯ ¯ ff½ °–f ¾f f–   ½f°¾f° –ff ¯f¾° –fff° ° ¾f 9 °–f ¾   f–¯ °©f  ff ½ °–f½¾€ f°½ °–f° –f€  9 °–f½¾€– f¾f¾ f f½¯f¾fff° ° ¾f    f ff¾½ – f¾f¾½ ½ ¯ °ff° ©ff°f°¾ nff  f f° ¯f¾  f °f½ ¯ °ff°f ff f–f° f¾f° –ff f½ ¯ °ff° ©ff°f°¾ nff ©©  ¾ f° °f¯¾ °°fff°¯ ° f½ff°––f½f°½¾€ fff @f°––f½f° ½¾€ ¾  ½f©f  f f½° –ff¯ °©f ¯ °°–f f° ½ nfff° ¯f¾fffff°¯ ° °–f°– ff° ½ ¯ °ff°  .n 9 °–f f¾f¾@ f f½.

  ff¾½ – f¾f¾ °¯   f°f½f¾f° °f¾°f ¯ °°–ff° ¾ ¯½ff° ©f f°– f°f f°¯ °°–ff° ¾f¾f° –ff  °–f°f f°ff ¾ ff° ¯ °°–ff°  ½f° °¯ f°–¾ff°– f½f¯ °°©f°–  ½f°°f¾°f f°ff° ¯ °–f°–  ½f°¯¾°    ff¾½ – f¾f¾¾¾f  ff f f½f¯ °½f ½f°– f¾ ½  ¾ ©f f°–°–– f° ¾½°¾ f½  f° –fff°f°–¾ f¯f©°¯ °°–ff°  ¾½°f° f°–¾ff°–½f ff°f¯ ¯f©f° f°–¾f¾ fff°¯ ¯½  f©f f  f f½ f°–¾f  ff©–f f½f f¯½ °– ff° °f°–  ff¾f f°–¾f  9 °–f° –f€– f¾f¾ f f½¯f¾fff° ° ¾f    ¾½ ½  f¾f¾¯f¯½¯ f°f°¯f¾fff° ° ¾f ff f¾¯  f½f ¯ ¯ ff ¯f©f° f° ¯f¯f°  °––f f¯ °½ ¯°–°f°  fff f –9f°nf¾f  – f¾¯ ff ¾  ©f f f°f©f  f°–¾f ff°° f° f¯°–°f– f°–¾ffff° ½ nf f    ¾½  f¾f¾ °¯ f°–°ff¾fn°f f f½½  ff¯° – f °f f°f°f½ f° – %¯f°f° ¯°¯f° ¯ff°f° ½fff°  %¯ ¯ f°©° ° ¾f   °–f°f°–°ff¾fn°f f f½½  ff¯° – ¯ °°©f°– ©ff f°–°f ©f  f°–¾ff .°n°f¾f½°  f¾¯ f°–¯ °¯ f°  f½ f°¾ ¾f¯ff–f  °–f° f f°f°  f¾¯ ¯fff°– fff°½  °–f°  ½f° f°–¾f 9f ff©f  f°–¾ff f¯ °–f¯ff°°–°– f½f¾ °–f¾ ff°–n°°f ¾f©f ½ ¯ff°$¯½   ¯  f ¯ °¯ °– °f¾ ¾f¯f°f ff ¾  ¾f©f¾ f n ¯° ff f°f ½ f° f °f©f f °f¯ff f¾ff°–  f¯½f ff¾ff°½ ff° ff°¯ ¯½ °–f  ½f° f°–¾f° ° ¾f f° f½¾ nff  ¾ f°f¾½  f½f¯ °¯ f°f¾f°f¾°f¾¯  f f½ f°–¾f¯ °©f  f°–ff °  f – f¾f¾¯f¯½¯ ¯ fnffff¯f¾fff° ° ¾f¾ nff– f ½ff°–f f .fff°ff°¯ °–f°–f° f½f½ ¾fff° nf°–¯ ¯f°– ¾¾¯ ¯½ ¾½  ff¯° –     . °–f ff°f f°f ¾ °©f°–f°¾¾ff°–f©f¯f°fff°–ff f°¯¾° f °f f f°f½ ¾f°–f° f¾ ff¯– f¾f¾ °¯ f ¾  f½f¯ °¯ f° ½  °f°–f°f°– f½f¯ °––f°––  ½f°°f¾°f f°–¾f  f¯ °f¯ ff°–f ½ °–f°––f° f°°–f ¯¾°f°¾f f°–¾f    .f¾ffff¾¾°ff°f¯ f f°ff°–½fff° °f¾ ¾ f–f f°–¾f ° ° ¾f ¯f°f f f¾½f°¾f°°¯  ff°–¯f f° ½f ff°–f  ½ ¯ f  ½ f¾   ¾f°f¯ f¾ ff°–¾f°–f¯ °–f–°–f°–ff fff°– ¾ f¯f¾  f°–¾ff f°¾ ¯f° f°ff°–n ° °–¯ °  ff fff°–  ¯f¾fff °f f°––f½¾ f–f f    .

fff.  f©¾ ¯ f ¯ f°¯ ¯°f f½ffff¯¾  fff°f ¯ °¯  f ¯ °– f°f f°©fff f¾ –¾¾f ¯ff ½ f° f f½¯f¾fff¯ °©f   ff ff °f¯  f ¯ ¯ ¾ f° °–f°¯ °––°ff°f° ½°  ¾   f f¾f½  f°ff°f¯ ff°–°–ff°f ff¾½f°¾f°° f°n ° °– f ½  f f½°–°–f° f °f– f¾f¾¯ °–f° f¾f° f°   ff°¾ °––f¯  f ° f¾ ¾ff¯  f f½ °–f ½ °–f ff¾  ff° ¯ff½f©f °f– ° f¾ ¯ f f°–¾f". f  ¾– f¾f¾ –n ½f¯ f¾  ff¯¯f¾fff f¯f ff°–f°¯ f 9 °–f – f¾f¾ ¾  f¯ ¯ f f°ff°f¯ ff f°–f° ½ f f° ¾ f–f f°–¾f ° ° ¾f f° °©f° °–f°– ©ff – ©fff°–¯°n ff¯  ½f°¾ f ff°f ¯ f¾ ff°– fnff ½fff° f°f ¯f©f  ¯f©fff°–  f° f°¾ ½ ¾  ¾f°– n ° °–   ff ff 9f ffnff ½fff° ¾ © f¾ © f¾ f¾ ¾f °–f°   fff°f @f °––ff°–fff¯ ¯  f nf f° ff°f @ f f°f ¯f©ff°– ¯f¯  ¾ff°  ff f°–¾f °–f°¯ °– °ff°½fff°f°–¾½f°¾ ¾f °–f° ½ f f° f°–¾f  @ °–° ° ¯ ½ff° °–f°–¯ ¯ f°°€¯f¾f°½f ff¾ f° f½f f¾ ¾  ¾f½f¾f©f ½ff– f–f°f¯ f ° ° ¾ f¯ °©f ¾f°f½f°¯  f¾ f f f –°ff°¾ nff¾ ¯ ¾°f °ff°¯ ¯½  ¯f°€fff°– –°f f°¾ ff°–°  f°f ½ f©f f°¯ff¾¾ff°–¯ °––°ff° f¾ ¯ ¾°f .¾f°¯ ¯ f¾¾ ¾¾½°  ff°¾f¯½f  °f½ °½f°  f°f°f° ° ¾f©f f ff–½ –f°–f°f© ¯  ff f° ½° f½ff–¾ ff°–°¯f¯°nf° ½° f°–  °–°–– .f– ° f¾ f°–¾f¯ °©f ¾f ¯ ° ff°f°f¾f°ff–°–f°¯ f   °–f°°f °–f°°f©f ff° f°–f °f ff ff¾fn°f f f½  ff f°–¾f ¾ °  f°f¾f½  f f½¯f¾fff 9f ff– ° f¾¯ ff ff½ ° ¾¯f¾f ½f° f°–¾f ½ff f°f©f½ ° ¾ f°–¾f f¯ ¯©f " . °– ¯ ff°f f°–¾f° ° ¾f  ¯f– f¾f¾ °–f°f¾f¾ f° f°f ¯ ff°f½¾€ ff¯¯ °––°ff°– f¾f¾f°–f f¾ ff°–°  f–f¯f¾fff ° ° ¾f¯f f¾ ff°–ff¯ff°½  ff¯° –  f° °f  fff°f   . f° –  f°––f½ f¯ ¯ f¾½f¾ ½f f¯f¾ffff°  f½f° ° –fff  f f¾f°ff° ¯ °¾ ¾f ° ° ¾f  f f f¾f°ff°ff° f°––f½ ff¾½f€ f° f½f ° ff°f¾¾ °––f¯ °––f°––¾f f¾°f¾°f  ff°f°°f¾°f ff° ½ ¾ff° f° ¾ff° f°–¾f° ° ¾f  9 °–f f¾f¾@ f f½©f  ff°–f° ° f¾.