p-3-mekanisme-perilaku-individu-1

MEKANISME PERILAKU MANUSIA 1.

Pandangan Psikologi tentang Hakekat Manusia Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh karena itu itu, agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dan dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan, baik untuk kepentingan pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dan kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). a. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :

S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan 0=organisme (individu/manusia). Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :

Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :
(1)

Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu

dan secara potensial dapat melahirkan S).

waktu sore hari. ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow). Sedangkanperilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung. secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (0).(2) Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan is meresponsnya) Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan. . sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. berjalan ke depan. secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W). Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu yang ada di ruangan kelas. Sebenarnya. meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya. Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan di ruangan kelas yang terasa panas. dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R). meminta ijin ke dosen. suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). Ruangan kelas yang gelap. masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf. otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R).

meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose). Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan. dapat dijelaskan dalam bagan berikut : Berdasarkan bagan di atas tampak bahwa terjadinya perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. dan why (mengapa). motif. yakni perilakunya itu sendiri. bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas.Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi. Menggerakkan kaki menuju ke depan. tangan menekan saklar lampu merupakan effector. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how). Setiap individu. b. proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa). akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau . how (bagaimana). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. tekad) dan dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku. Secara skematik rangkaian. yang berarti aspekaspek intrinsik (niat. mengucapkan minta izin kepada dosen. demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya. baik bersumber dan din individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dan luar individu (motivasi ekstrinsik).

(3) kebutuhan kasih sayang atau penerimaan. (3) Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation). (2) kebutuhan keamanan. yang maupun dari luar individu (motivasi . seperti : sandang.2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu. Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata. Sementara itu. membentuk keluarga. dapat digambarkan sebagai berikut : sehingga membentuk suatu siklus. pangan dan papan. yaitu kebutuhan untuk mencari dan yaitu kebutuhan untuk memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain. baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) ekstrinsik). (4) kebutuhan prestise atau harga diri. organisasi ataupun persahabatan. baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi tinggi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas. akan tetapi juga mental. psikologikal dan intelektual. mengikat diri dalam kelompok. Dalam hal ini. dan (5) kebutuhan aktualisasi diri. yaitu: (1) Kebutuhan berprestasi (need for achievement). (4) Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear offailure). yaitu kebutuhan untuk berkompetisi. Maslow mengungkapkan jenis jeniskebutuhan-individu secara hierarkis. yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal. Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (stereotype behavior). (2) Kebutuhan berkuasa (need for power). diri dari kegagalan atau sesuatu yaitu kebutuhan untuk yang menghambat menghindar perkembangannya. tidak dalam arti fisik.kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status.

Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah 1. Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat. 2. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu. dikehendaki serta bersifat positif. konformitas dan sebagainya). melarikan diri. untuk keperluan studi psikologis. (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dan kegiatan yang dilakukan. Motif primer (basic motive dan emergency motive). (2) frekuensi kegiatan. . (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan. seperti : takut yang dipelajari. adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik. minum. (4) ketabahan. (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan. Approach-approach conflict. seperti : dorongan untuk makan. motif-motif sosial (ingin diterima. minat). Approach-avoidance conflict. manipulasi. (3) persistensi pada kegiatan. 3. menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari. motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan. Motif sekunder. yaitu : 1. menyerang. yaitu : (1) durasi kegiatan.Berkaitan dengan motif individu. 2. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih. dikenal dengan istilah drive. jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif. menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari. menyelamatkan diri dan sejenisnya. (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan. motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi. maksud dan aspirasi serta motif berprestasi. Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dan indikator-indikatomya. keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan. Avoidance-avoidance conflict.

Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. (2) kecemasan tak berdaya. betapa banyak kata yang hams dipergunakan untuk mendeskripsikannya. Namun. (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain). Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya. setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Taksonomi Perilaku Individu Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup. (3) regresi (kemunduran perilaku). inteligensi). Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir . jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustasi. tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan din secara sehat dan rasional (well adjustment). (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan). (4) fiksasi. bergantung kepada akal sehatnya (reasoning. terdapat dua kemungkinan. (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis). seakan-akan is dapat mencapai tujuan yang didambakannya). (10) berfantasi (dalam angan-angannya. diantaranya : (1) agresi marah. jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 2. Dalam pandangan holistik. maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment). (5) represi (menekan perasaan). Namun sebaliknya. disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya. perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya. Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan. Bentuk perilaku penyesuaian diri yang keliru (maldjustment). (6) rasionalisasi (mencari alasan). Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis).yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya. Dalam hal ini.

bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran. 1) Pengetahuan (knowledge). atau kesimpulan. b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. yaitu ide. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar. tahun. daftar. sumber informasi. baik berbentuk verbal maupun non verbal. terdiri dari : v Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol. yakni : a. peristiwa. v Mengetahui prinsip dan generalisasi v Mengetahui teori dan struktur. Mengetahui kelas. Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dan masing-masing kawasan. dan ciri-ciri yang tampak dan keadaan alam tertentu. nama.Dalam konteks pendidikan. konsep. kejadian masa lalu. Kawasan Kognitif. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek. v Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal. . perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu. orang tempat. v Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : a) Mengetahui sesuatu secara khusus. pendapat atau perlakuan. ide prosedur. atau memproses sesuatu. teori. kelompok. rumus. v Mengetahui metodologi. v Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu. definisi. peristiwa. prinsip. v Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta.tertentu (taksonomi). kebudayaan masyarakat tertentu. v Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman v Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses. menemukan atau menyelesaikan masalah. arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan.

arah atau kelanjutan dan suatu temuan. dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika. memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. 5. Seseorang dikatakan menguasai dapat menggunakan . peristiwa. Misalnya. atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang "motivasi kerja" dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang "motivasi belajar". fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar. b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol. Bagi mereka. Contoh. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. yaitu melihat kecenderungan. bagan atau grafik. baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. ingat kuda ingat transportasi. informasi. Temuantemuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada. Tingkatan dalam pemaharnan ini meliputi : a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. 7. memanfaatkan. dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. 3. sehingga membentuk struktur kognitif baru. Dengan pemahaman demikian. kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima. menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. 11. terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan. Untuk bisa seperti itu. 3) Penerapan (application) Menggunakan k emampuan pengetahuan ini jika ia untuk memecahkan memberi masalah contoh. mengklasifikasikan. mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. maka mereka .2) Pemahaman (comprehension) Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. dan c) Ekstrapolasi.

v Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan. v Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok. b) Menganalisis hubungan v Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide. v Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen. v Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif. Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru. v Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang . Menentukan bagian-bagian dan suatu masalah dan menunjukkan hubungan antarbagian tersebut. v Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya.memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). melihat penyebab-penyebab dan suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan. v Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak. 4) Penguraian (analysis). v Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis. v Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya. yaitu : a) Menganalisis unsur : v Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan v Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.

b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal. minat. seperti perasaan. yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari). atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang barn. meramu. yaitu : a) Kesiapan untuk menerima (awareness). baik-buruk. v Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda. 6) Penilaian (evaluation) Mempertimbangkan. yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsurunsur yang ada di dalam objek yang diamati. kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. menciptakan logo organisasi. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang barn. 1) Penerimaan (receiving/attending) Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap. memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan barn. misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai. 5) Memadukan (synthesis) Menggabungkan. sikap. yang dilakukan berdasarkan kriteriakriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi v Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat v Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya..penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis. yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional. b. v Kemampuan untuk mengetahui maksud dan pengarang suatu karya tulis. Kawasan Afektif. sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan. menilai dan mengambil keputusan benar-salah. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. atau bermanfaat — tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus . yaitu : a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal.

b) Kemauan menanggapi (willingness to respond). 2) Sambutan (responding) Mengadakan aksi terhadap stimulus. dan sebagainya. yaitu usaha untuk Mungkin mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan. terpesona. yang meliputi proses sebagai berikut : a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut : a) Menerima nilai (acceptance of value). c) Keptiasan menanggapi (satisfaction in response). .yang bersangkutan. misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan. kagum. c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). yaitu kelanjutan dari usaha yang memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati. atau mentaati peraturan lalu lintas. yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. suara atau kata-kata tertentu saja. menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya. 3) Penghargaan (valuing) Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. membuat coretan atau gambar. b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive). yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. perhatian itu hanya tertuju pada warna. Misalnya pada desain atau warna saja. c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang. Kagum atas keberanian seseorang. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya. menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan. Contoh : mengajukan pertanyaan.

2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. maka susunan itu belum konsisten di dalam din yang bersangkutan. Proses ini terjadi dalam dua tahapan. mempersiapkan alat.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. 3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa hams . Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting. (b) peniruan (imitation). yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular membiasakan (origination) (habitual). Seperti anak yang barn belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) system) dan fungsi psikis. Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun. Kawasan Psikomotor. c. yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain. b) Pengorganisasian sistem nilai. yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. b) Karakterisasi. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set). menjawab pertanyaan. menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting. tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Pada tahap karakterisasi. Proses ini terdiri atas dua tahap. dan seterusnya menurut urutan kepentingan. 5) Karakterisasi (characterization). yaitu : a) Generalisasi. yakni : a) Konseptualisasi nilai. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. (c) menciptakan 1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya. sistem itu selalu konsisten. yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. menyesuaikan diri dengan situasi. yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dan suatu sudut pandang tertentu.4) Pengorganisasian (organization) Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya mengintemalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen. atau menemukan asumsi-asurnsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan.

3. 6) G e r a k a n i n d a h d a n k r e a t i f (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan. yang terpola dan dapat ditebak. alat pelatihan keterampilan. berjalan. 4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. dan sebagainya. 5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya. 3) Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai karena dibantu kemampuan perseptual. pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak. yaitu : 1) Gerakan refleks (reflex movements). Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci sub kawasan ini dengan tahapan yang berbeda. 5) tingkatan gerak secara terampil. 4) (endurance). menunduk. dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). serta media untuk meningkatkan keterampilan. baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakangerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. misalnya : melompat. Sementara kalangan humanisme. kelenturan (flexibility) dan kegesitan. 2) Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik. alat mengasah otak. Bagi kalangan behaviorisme. sekalipun is belum dapat mengubah polanya. pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan moral dan ajaran .melihat contoh. Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar. Sementara itu. kekuatan (strength). tangkas.

hasil belajar individu merupakan hasil dan upaya aktif dan pro-aktifnya terhadap lingkungan. maupun psikomotor. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis. terutama potensi intelektual. Menurut pandangan behaviorisme basil belajar individu merupakan hasil reaktif dari lingkungan. sejauhmanakah pendidikan dapat mempengaruhi perubahan dan perkembangan perilaku individu. serta wahana untuk pembebasan manusia. pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan dapat menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat respons) tertentu. dalam pandangan humanisme bahwa justru organisme atau individu itu sendiri yang memegang peranan penting dalam suatu proses belajar atau proses pendidikannya. afektif. atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia. Yang menjadi persoalan. khususnya dalam pandangan behaviorisme. termasuk lingkungan sekolah. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. baik dalam aspek kognitif. banyak peradaban manusia yang "mewajibkan" masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. Seberapa besar tingkat atau derajat perubahan dan perkembangan perilaku yang dicapai melalui usaha — usaha conditioning dikenal dengan istilah prestasi belajar atau hasil belajar (achievement).keagamaan. individu yang bersangkutan berupaya aktif mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya melalui interaksi dengan lingkungannya. yang dimanifestasikan dalam bentuk perubahan dan perkembangan perilaku. Bagaimana pula kontribusi individu itu sendiri terhadap perubahan dan perkembangan perilakunya.Dengan demikian. Sehingga potensi yang semula masih bersifat laten (terpendam) dapat diaktualisasikan menjadi prestasi. menurut pandangan behaviorisme. arah dan kualifikasi perubahan dan perkembangan perilaku akan sangat bergantung pada faktor S (conditioning). Dengan adanya perbedaan pandangan tersebut menyebabkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan dalam pendekatan . selanjutnya dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Pada dasamya individu sejak lahir sudah dibekali potensipotensi tertentu. Sedangkan dalam pandangan humanisme. Jika kita amati dari kedua pandangan tersebut tampak ada hal yang kontras. Sementara itu. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia.

dan teknis proses pendidikan. Walaupun demikian. mengobservasi perilaku di kelas. misalnya melalui: diskusi dengan teman. hasil belajar sebelumnya serta karakterrstik lainnya) mengikuti kegiatan belajar Psikologi Pendidikan. dapat dijelaskan dalam bagan berikut ini : P= person (pribadi. perilaku) f = function (fungsi) S=stimulus (pendidikan/belajar) O=organisme Contoh : Untuk memiliki pengetahuan. disamping dihasilkan melalui kegiatan pendidikan (belajar) juga dipengaruhi oleh faktor internal dari individu itu sendiri. Secara skematik. Dengan demikian. pengaruh fungsional pendidikan terhadap perubahan dan perkembangan perilaku. seorang mahasiswa (0) dengan segala karakteristiknya (kondisi fisik. Melalui interaksi belajar mengajar yang disepakati dengan Dosen. sikap dan keterampilan tentang Psikologi Pendidikan (P). membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan. hams diakui bahwa kedua pandangan tersebut memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dan perkembangan pribadi atau perilaku individu. baik untuk kepentingan diri-pribadi sehari-hari maupun dalam rangka mempersiapkan din untuk menjadi guru kelak di kemudian hari. dia mendapatkan pengetahuan. . dia memperoleh sejumlah pengalaman belajar. kiranya bisa dipahami bahwa perubahan perilaku atau diperolehnya kemampuan individu. maka pada akhirnya. bahkan melakukan penelitian. bakat. sikap dan memiliki keterampilan baru tentang psikologi pendidikan. minat. motivasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful