SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM Sumber-sumber hukum islam (mashadir al-syari‟at) adalah dalil –dalil syari‟at dimana

hukum syari‟at digali. Sumber-sumber hukum islam dalam

pengklasifikasiannya didasarkan pada dua sisi pandang. Pertama, didasarkan pada sisi pandang kesepakatan ulama atas ditetapkannya beberapa hal ini menjadi sumber hukum syari‟at. Pembagian ini menjadi tiga bagian : 1. Sesuatu yang telah disepakati semua ulama islam sebagai sumber hukum syari‟at, yaitu al-Qur‟an dan al-Sunah. 2. Sesuatu yang disepakati mayoritas (jumhur) ulama sebagai sumber syari‟at,yaitu ijma‟ dan qiyas. 3. Sesuatu yang menjadi perdebatan para ulama, bahkan oleh mayoritasnya yaitu Urf (tradisi), istishhab(pemberian hukum berdasarkan keberadaannya pada masa lampau) maslahah mursalah (pencetusan hukum berdasarkan prinsip kemaslahatan secara bebas), syar‟u man qablana (syari‟at sebelum kita), dan madzhab shahabat. Sumber Islam adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan dasar aturan atau pedoman agam Islam. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al-Qur‟andan Al Hadits sebagai mana hadits Rosulullah saw : “Aku tinggikan dua perkara yag jika kamu berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat selamanya yaitu Al-Qur‟an dan Al Hadits atau As Sunnah” (H.R. Baihaqi). Dalam Al-Qur‟an banyak yang menyebutkan tentang akal, maka para ulama menjadikan akal sebagai sumber hukum yang ketiga di dalam ajaran Islam. Hasil dari akal inilah yaitu ra‟yu yang pelaksanaannya adalah melalui ijtihad. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur‟an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma‟, Qiyas. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Untuk itu, perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur‟an, Hadist, Ijma‟, dan Qiyas. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Keempat sumber hukum yang disepakati jumhur ulama yakni Al Qur‟an,

Sunnah, Ijma‟ dan Qiyas, landasannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shahabat Nabi Saw Muadz ibn Jabal ketika diutus ke Yaman.

“Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw”.[7]

1. AL-QUR’AN a. Pengertian Al-Qur’an Secara Bahasa (Etimologi)Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro‟a (‫ )أرق‬yang bermakna Talaa (‫[ )الت‬keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama‟a (mengumpulkan, mengoleksi). Secara Syari‟at (Terminologi) Adalah Kalam Allah ta‟ala yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, dalam pembukuannya, Al-Qur‟an diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. ‫ا‬ . Allah ta‟ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur‟an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (al-Insaan:23). ‫أ‬ Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur‟an dengan

berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2) Allah ta‟ala telah menjaga al-Qur‟an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia ta‟ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya, ‫ا‬ “Sesungguhnya Kami-lah yang menunkan al-Qur‟an dan sesungguhnya Kami benr-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9) b. Nama-nama Al-Qur’an Adapun nama-nama Al-Qur‟an yaitu 1. Al kitab (kitabullah),yang merupakan sinonim dari kata Al Qur‟an artinya,kitab suci sebagai petunjuk bagi oranh yang bertakwa.nama ini diterangkan dalam AlQur‟an surat al-baqara ayat 2. 2. Az-zikr, artinya peringatan, nama ini di terangkan dalam Al-Qur‟an surat al-hijr ayat 9. 3. Al- furqan, artinya pembeda,nama ini diterangkan dalam surat al Furqan ayat 1. 4 As-suhuf berati lembaran-lembaran,seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat Al- bayinah ayat 2. Pembagian surat dalam Al-Qur‟an. 1. Assabi‟uthiwaal, yaitu tujuh surat yang panjang,ketujuh surat itu yaitu albaqarah (286), al-A‟raf (206), Ali Imran (200), an-nisa (176), al an‟am (165), al-maidah (120), dan Yunus ( 109) 2. Al-Miuun, yaitu surat yang berisi seratus ayat lebih.Maksudnya surat-surat tersebut memiliki ayat sekitar seratus ayat atau lebih. Misalnya,surat Hud (123 ayat),Yusuf (111 ayat), dan At-Taubah (129 ayat). 3. Al-Matsaani, yaitu surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat. Maksudnya surat-surat tersebut kurang dari seratus ayat.Misalnya,surat Al-anfal (75 ayat),ar-rum (60 ayat),dan al-hijr(99 ayat). 4. Al- Mufashshal, yaitu surat-surat pendek seperti al-ikhlas,ad-duha,dan annasr.suat-surat seperti ini kebannyakan di temukan dalam juz ke 30.

Tepatnya pada tangal 17 ramadan.Wahyu yang pertama dan terakhir diturunkan . Turunnya ayat dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan keperluan. Sejarah turunnya Al-Qur‟an Allah SWT menurunkan Al-Qur‟an dengan perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5.Alquran turun tidak secara sekaligus. 2. Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya.Petunjuk bagi Manusia. Wahyu yang di turunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat ke 1-5 di gua hira. Sedangkan terakhir alqu‟an turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3.Al-Qur‟an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul izzah.Al-Qur‟an diturunnkan sekaligus Al-Qur‟an diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar kemudiaan diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. namun sedikit demi sedikit baik beberapa ayat. Al-Qur‟an diturunkan secara berangsur-angsur pada setiap malam lailatul qadar.Al-Qur‟an di turunkan secara berangsur-angsur.kemudian b aru diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi Muhammad saw. langsung satu surat. dan sebagainya. c. Fungsi Al-Qur’an 1. Proses turunnya Al-Qur‟an Ada 3 pendapat yang berkenaan dengan proses turunnya Al-Qur‟an : 1. potongan ayat.tahun ke 40 bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M. 3. AL-Qur‟an diturunkan pertama kali pada malam lailatul qadar sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul izzah. Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit. . Lama al-quran diturunkan ke bumi adalah kurang lebih sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.

Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan normanorma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif. 3. Sumber pokok ajaran islam. d.S AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q. ibadah. Dalam AL-Qur‟an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu. 2. pendidikan.” Pokok Ajaran Dalam Isi Kandungan AlQur‟an .Allah swt menurunkan Al-Qur‟ansebagai petujuk umar manusia. Turunnya Al-Qur‟an merupakan salah satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad saw.Bagi kita. 4. ptunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. 3. sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. ilmu pengethuan dan seni. Fungsi AL-Qur‟an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum islam.S AL-Fusilat 41:44) 2.seperti yang dijelaskan dalam surat (Q. Atau dengan kata lain yang lebih singkat. “Al-Quran adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Peringatan dan pelajaran bagi manusia.baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya. Tujuan Pokok Al-Quran 1.umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur‟an. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan. ekonomi. budaya.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum. social. politik.

Hukum Secara garis besar Al-Qur‟an mengatur beberapa ketentuan tentang hukum seperti hukum perkawinan.jual beli.Akidah islam adalah keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya dengan sepenuh hati oleh setiap muslim.hukum perang.juga menjadi barometer kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya.hukum waris.hukum pidana.ketinggian akhlak Beliau itu dinyatakan Allah dalam Al-Qur‟an surat al-Qalam ayat 4. 2.di samping memiliki kedudukan penting bagi kehidupan manusia. dan kegiatan kemasyarakatan. 4.hukum musyawarah.Akhlak. Kisah-kisah umat terdahulu .Ibadah dan Muamalah Kandungan penting dalam Al-Qur‟an adalah ibadah dean muamallah.hukum perjanjian. 3.Dalam islam.tata cara bermuamallah di jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 82. Kegiatan seperti itu disebut kegiatan Muamallah.Akan tetapi.membayar zakat dan lainnya.Seperti yang dijelaskan dalam (Q.zariyat 51:56) Manusia selain sebagai makhluk pribadi juga sebagai makhluk sosial. 5.seperti silahturahmi.1.manusia memerlukan berbagai kegiatan dan hubungan alat komunikasi .Komonikasi dengan Allah atau hablum minallah .Nabi Muhammad saw berhasil menjalankan tugasnya menyampaikan risalah islamiyah.S Az.Menurut Al-ur‟an tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada Allah.Hubungan manusia dengan manusia atau hablum minanas .akidah bukan hanya sebagai konsep dasar yang ideal untuk diyakini dalam hati seorang muslim. Akhlak Dalam bahasa Indonesia akhlak dikenal dengan istilah moral .hukum antar bangsa.transaksi dagang.anhtara lain di sebabkan memiliki komitmen yang tinggi terhadap ajhlak.akidah tau kepercayaan yang diyakini dalam hati seorang muslim itu harus mewujudkan dalam amal perbuatan dan tingkah laku sebagai seorang yang beriman.Akidah akidah adalah keyakinan atau kepercayaan.seperti shalat.

Menyamakan manusia tanpa pembagian strata. 3.farmasi.Kisah merupakan kandungan lain dalam Al-Qur‟an.Bukti lain adalah hampir semua surat dalam Al-Qur‟an memuat tentang kisah. HIKMAH ANGSUR 1.pertanian. 2.di dalamnya terdapat satu surat yang di namaksn al-Qasas.Bahkan. kelas. Memberi gambaran umum ilmu alam untuk merangsang perkembangan berbagai ilmu. 6.dan astronomi yang bermanfaat bagi kemjuan dan kesejahteraan umat manusia. Memberi pedoman dan petunjuk hidup lengkap beserta hukum-hukum untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia seluruh bangsa di mana pun berada serta segala zaman / periode waktu.Selain kedua surat tersebut masih banyak lagi dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dalam kedokteran. Firman-Nya:“Orangorang kafir berkata. 6. Isyarat pengemban ilmu pengetahuan dan teknologi Al-Qur‟an banyak mengimbau manusia untuk mengali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. golongan. 5. Memiliki ayat-ayat yang menghormati akal pikiran sebagai dasar utama untuk memahami hukum dunia manusia. dan lain sebagainya. Yang menentukan perbedaan manusia di mata Allah SWT adalah taqwa. Keistimewaan Dan Keutamaan Al-qur‟an : 1. Untuk menguatkan hati Nabi Shallahu „Alaihi wa Sallam . Memiliki ayat-ayat yang mengagumkan sehingga pendengar ayat suci al-qur‟an dapat dipengaruhi jiwanya. 4.Seperti dalam surat ar-rad ayat 19 dan al zumar ayat 9. Melepas kehinaan pada jiwa manusia agar terhindar dari penyembahan terhadap makhluk serta menanamkan tauhid dalam jiwa. kenapa Qur‟an tidak turun kepadanya sekali turun saja? DITURUNKANNYA AL-QUR‟AN SECARA BERANGSUR- .Al-Qur‟an menaruh perhatian penting terhadap keberadaan kisah di dalamnya. Kisah para nabi dan umat terdahulu yang diterangkan dalam Al-Qur‟an antara lain di jelaskan dalam surat al-Furqan ayat 37-39.

HADIST 1.Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari Qur‟an karena menurut mereka aneh kalau kitab suci diturunkan secara berangsur-angsur. dan umat Islam diwajibkan mengikuti hadis sebagaimana diwajibkan mengikuti al-Quran. Imam Abu Daud. Imam Turmudzi. supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). 5. HADITS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM Seluruh umat Islam telah sepakat bahwa Hadis Rasul merupakan sumber dan dasar hukum Islam al-Quran.Ada banyak ulama periwayat hadits. Dengan begitu Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang (tak perlu melebihi) sebanding dengannya. Ijma dan Qiyas. . namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama. Imam Nasa'i. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an.Supaya mudah dihapal dan dipahami. 2. kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Qur‟an. PENGERTIAN HADIST Hadits adalah segala perkataan (sabda). 3.Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum. Imam Muslim.” (Al-Furqaan: 32) 2. Seorang mujahid dan seorang alim tidak diperbolehkan hanya mengambil dari salah satu dari keduanya. 2. 4. yakni Imam Bukhari. dimana dalam hal ini. dan Imam Ibnu Majah. Imam Ahmad.Begitulah. perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Karena tanpa keduanya orang islam tidak mungkin dapat memahami islam secara mendalam. apalagi membuat langsung satu kitab.Supaya orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur‟an dan giat mengamalkannya.

Dalil al-Quran Banyak ayat al-Quran yang menerangkan tentang kewajiban mempercayai dan menerima segala yang disampaikan oleh Rasul kepada ummatnya untuk dijadikan pedoman hidup. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib. Ini sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada Allah SWT. baik dalam bentuk perintah maupun larangannya. Di bawah ini merupakan paparan tentang kedudukan hadis sebagai sumber hukum Islam dengan melihat beberapa dalil. dan jika kamu bariman dan bertaqwa. dan akan memperbaiki keadaan orang-orang mukmin dan memperkuat iman mereka. Selain Allah memerintahkan umat Islam agar percaya kepada Rasul SAW. baik berupa perintah maupun larangan. Ayat yang dimaksud adalah: Firman Allah SWT: ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫أ‬ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫را‬ ‫ا‬ Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini. akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendakiNya diantara Rasul-rasul-Nya. (QS.Banyak ayat al Quran dan Hadis yang memberikan pengertian bahwa hadis itu merupakan sumber hukum Islam selain al Quran yang wajib diikuti. Ali‟Imran 3:179 Dalam ayat tersebut Allah memisahkan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang munafiq. baik naqli maupun aqli. juga menyerukan agar menaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan yang dibawanya. Tuntutan taat dan patuh kepada Rasul SAW. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasulNya. Oleh karena itu orang mukmin dituntut agar tetap beriman kepada Allah dan Rasul-nya. maka bagimu pahala yang besar. sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafiq) dari yang baik (mukmin). Ayat yang berkenaan dengan masalah ini ialah: Firman Allah SWT: ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫أ‬ . .

Beberapa hal yang harus dipenuhi agar bisa disebut hadits mutawatir:    Isi hadits harus hal-hal yang dapat dicapai panca indra Orang-orang yang meriwayatkannya harus benar-benar terpercaya. Ali „Imran 3:32) . jika kamu berpaling. disamping al-Quran sebagai pedoman utamanya. dirwayatkan oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya). yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegangan teguh pada keduanya. maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. Hadits Ahad Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. Syarat-syarat hadits shahih:      Isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an Sanadnya bersambung Diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhobit Tidak syadz (bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) Tidak cacat walaupun tersembunyi 2. yaituberupa kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya:. Malik) 3. (HR. (QS.“Katakanlah! Taatlah kalian Allah dan Rasu-nya. Berdasarkan Jumlah Perawi a. MACAM-MACAM HADIST A. Pembagian hadits ahad: 1. Hadits Hasan . Hadits Shahih Hadits yang bersambung sanadnya.Dalil al-Hadis Dalam salah satu pesan Rasulullah SAW. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa snad yang terpercaya. Berkenaan dengan keharusan menjadikan hadis sebagai pedoman hidup. Orang-orang yang meriwayatkan harus hidup pada satu zaman b. beliau bersabda: ‫)ر ا‬ ‫ا‬ ‫أ‬ ) “Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian.

2. Hadits yang terputus sanadnya 1. Hadits juga disebut hadits marfu‟ atau mausul. Hadits Mu‟allaq Hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya.syadz.tidak dhobit.Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka dusta dan tidak syadz 3. Hadits Maudhu‟ Hadits yang dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh berdusta. yang berarti termasuk hadits Dah‟if. Hadits Munqathi Hadits yang terputus karena hilang satu atau dua orang perawinya 5. Hadits yang terputus sanadnya      Hadits Mu'allaq Hadits Mursal Hadits Mudallas Hadits Munqathi Hadits Mu'dhol c. Hadits Berdasar Macam Periwayatannya Hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad saw. Hadits Mu‟dhol b. Hadits Mudallas Hadits yang disembunyikan cacatnya. 4. . B. Hadits-hadits dha‟if disebabkan oleh cacat perawi 1. Hadits Dha‟if Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak adil. dan cacat. a. padahal sebenarnya ada. Hadits Mursal Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi‟in dari Nabi Muhammad saw tanpa menyebutkan sahabat tempat merima hadits 3.

Hadits Mudraj Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang didalamnya ada tambahan yang bukan hadits. Hadits Syadz Hadits yang bertentangan dengan hadits lainnya sekalipun posisi hadittsnya sederajat. 9. 3. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur`an dan al-Hadits. 6. Hadits Mungkar Hadits yang riwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan yang diriwayatkan oleh perawi yang jujur 4. Hadits Mu‟allal Hadits yang didalamnya ada cacat yang tersembunyi 5. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu`amalat. . Hadits Mudhthorib Hadist yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan yang kacau. Hadits Matruk Hadits yng diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta. Hadits Munqalib Hadits yang terbalik lafalnya. IJMA’ Obyek ijma` ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur`an dan al-Hadits. Hadits Maqlub Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan antara sanad dan matan atau sebaliknya 7.2. 3. sehingga artinya berubah 8.

1. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui ) yang berati "kaum itu telah sepakat pengangkatan Abu Bakar RA itu. kepala negara. sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid. 2. al-Hadits dan akal pikiran. pemimpin atau penguasa. a. Dasar hukum ijma` Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an. taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa. Firman AIlah SWT: Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma'. Pengertian ijma` Ijma` menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal. seperti perkataan seseorang ( (sependapat) tentang yang demikian itu. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja. ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia." Menurut istilah ijma'." (Ali Imran: 103) . maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin. namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. Al-Qur`an Allah SWT berfirman: Artinya: "Hai orang-orang yang beriman." (an-Nisâ': 59) Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal.

batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta. Akal pikiran Setiap ijma` yang dilakukan atas hukum syara`. hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka." (HR. maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. maka ijma` itu hendaklah diikuti. yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid. sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash. Sebaliknya jika dalam berijtihad. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam. ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya. AI-Hadits Bila para mujtahid telah melakukan ijma` tentang hukum syara\\\' dari suatu peristiwa atau kejadian." (an-Nisa: 115) Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu`minîna yang berarti jalan orangorang yang beriman. Abu Daud dan Tirmidzi) c. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma\\\' (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai.Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu." b. jangan sekali-kali berceraiberai. Firman Allah SWT: Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman. maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui . Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma`. Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa yang tidak mengikuti ijma` para mujtahidin.

karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan. maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur\\\'an dan alHadits. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma`. seperti qiyas. sehingga ia harus menerima suatu keputusan. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma' sebagai berikut: 1. karena ijma\\\' itu harus dilakukan oleh beberapa orang. 2. Rukun-rukun ijma` Dari definisi dan dasar hukum ijma\\\' di atas. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. seperti dengan pernyataan lisan. maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma`. kemudian pendapatnya boleh diamalkan. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja. . 3. 3. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara') dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan. istihsan dan sebagainya. tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan. dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu.kaidah-kaidah umum agama Islam. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas.

Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. maka ijma\\\' dapat dibagi atas tiga periode. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada. Ijma' yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari'ah. Karena itu kaum muslimin masih satu. dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma\\\'. Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. 4. dan 3. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. yaitu: 1. adakalanya menunggu ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya. belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin. beliau merupakan sumber hukum. namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap. mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. Pada masa Rasulullah SAW. 2. maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma'. . disamping daerah Islam belum begitu luas. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu. Periode sesudahnya. belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum. mereka berijtihad. Setiap ada peristiwa atau kejadian. kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur`an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Seandainya ada ijma' itu. kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar.4. Kemungkinan terjadinya ijma` Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang. tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma'. kaum muslimin kehilangan tempat bertanya. masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid. yaitu alQur'an dan al-Hadits. Periode Rasulullah SAW.

Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam. semasa dinasti Abbasiyah. perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi. Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. mayoritas penduduknya beragama Hindu. sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia. mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam. tetapi ada peraturan atau undang-undang yang khusus bagi umat Islam. Ijma` mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah. Misalnya India. Karena itu amat sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian. semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya. timbul golongan Khawarij. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas. peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal. dan c. hanya sebagian kecil yang beragama Islam. dan enam tahun pertama Khalifah Utsman. seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan. sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya. Khalifah Umar bin Khattab. Disamping itu daerah Islam semakin luas.Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman. Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. Undang- . Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. Tiongkok Selatan. sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika. Ijma` tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat jabatanjabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). Setelah Khalifah Utsman terbunuh. 2. golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya.

ijma' qauli atau ijma‟ haqiqi. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad. Diterangkan bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam. . Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang. baik berupa ucapan atau tulisan. Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma`. ljma`bayani. Ditinjau dari segi cara terjadinya. Ijma`sukuti. 2. Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul halli wal `aqdi. 5. Macam-macam ijma` Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma'. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka. yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas. yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas. Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih. yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. maka ijma' terdiri atas: 1. tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya.undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma‟ itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma' lokal. Ijma' seperti ini disebut juga ijma` `itibari. tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan.

ljma`dhanni. Ijma`shaikhan. tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma\\\' yang dilakukan pada waktu yang lain.Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma'. yaitu ijma` yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar. Utsman dan Ali bin Abi Thalib. 6. 5. tetapi Madzhab Syafi`i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam. 2. Obyek ijma` . Ijma` ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki. masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma\\\' yang dilakukan pada waktu yang lain. Madzhab Hanafi menjadikan ijma` ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam. yaitu ijma` yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. yaitu hukum yang dihasilkan ijma\\\' itu adalah qath\\\'i diyakini benar terjadinya. yaitu ijma` yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Umar. 4. yaitu ijma`yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Ijma`sahabat. tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. 2. Ijma` ulama Kufah. Ijma`ijma` itu ialah: 1. ljma`qath`i. Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma` tersebut tidak dapat dilakukan lagi. yaitu hukum yang dihasilkan ijma\\\' itu dhanni. dapat dibagi kepada: 1. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup. 3. Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma\\\' yang dihubungkan dengan masa terjadi. Ijma`ahli Madinah. yaitu ijma` yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. Ijma`khulafaurrasyidin.

menyamakan dan ukuran. yaqisu. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur`an dan al-Hadits. QIYAS A. bentuk tubuh yang sama. karena kedua orang itu mempunyai tinggi yang sama. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu`amalat.Obyek ijma` ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur`an dan al-Hadits. seperti menyamakan si A dengan si B. seperti mengukur tanah dengan meter atau alat pengukur yang lain. Jadi qiyas merupakan mashodirul ahkam yang keempat setelah Al-Qur‟an. membandingkan atau mengukur. Pengertian Qiyas Qiyas dalam bahasa Arab berasal dari kata “qasa. wajah yang sama dan sebagainya. 4. Sedangkan menurut ulama‟ ushul fiqih qiyas berarti menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu. qaisan” artinya mengukur. Qiyas juga berarti mengukur. Qiyas menurut berarti. AsSunnah dan ijma‟. ‫ا‬ ‫ا‬ ‫دم‬ ‫ا‬ ‫خ‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا د ئ‬ ‫س‬ ‫ا‬ . Secara etimologi qiyas berarti pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau penyamaan sesuatu dengan sejenisnya. Demikian pula membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaanpersamaannya. Yakni cara mengishtinbatkan suatu hukum dengan cara menganalogikan antara dua hal yang memiliki kesamaan illat tetapi yang satu belum ada ketentuan hukumnya dalam nash.

sehingga dapat merusak akal. sama ataukah tidak. Selanjutnya kita cari dan teliti illat yang ada pada kasus yang tidak disebutkan dalam nash. . yaitu perbuatan minum khomr. setelah itu kita teliti illatnya. (berkorban untuk) berhala. A ingin segera memperoleh tanah yang diwasiatkan itu. akan kami kemukakan beberapa contoh berikut:  Minum narkotik adalah suatu perbuatan yang perlu ditetapkan hukumnya. Untuk menetapkan hukumnya dapat ditempuh cara qiyas dengan mencari perbuatan yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. ditetapkanlah hukum minum narkotik yaitu haram. sesungguhnya (meminum) khamar. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. mengundi nasib dengan panah. Berdasarkan persamaan „illat itu.S al-Ma‟idah: 90) Antara minum narkotik dan minum khomr ada persamaan „illat. Jika sudah diyakini bahwa illat yang ada dalam kedua kasus tersebut ternyata sama maka kita menggunakan ketentuan hukum pada kedua kasus itu berdasarkan keadaan illat. (Q. Supaya lebih mudah memahaminya. sebagaimana haramnya minum khomr. yaitu samasama berakibat memabukkan para peminumnya. adalah termasuk perbuatan syaitan. Adapun cara mengoperasionalkan qiyas ini yakni dimulai dengan mengeluarkan hukum yang ada pada kasus yang disebutkan dalam nash. jika B meninggal dunia. berjudi. yang diharamkan berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Hai orang-orang yang beriman.  Si A telah menerima wasiat dari B bahwa ia akan menerima sebidang tanah yang telah ditentukan. sedang tidak ada satu nashpun yang dapat dijadikan sebagai dasar hukumnya. Timbul persoalan: apakah A tetap memperoleh tanah yang diwasiatkan itu? Untuk menetapkan hukumnya dicarilah kejadian yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash dan ada pula persamaan „illatnya.“Qiyas adalah metode berfikir untuk menemukan petunjuk makna yang sesuai dengan khabar yang sudah ada dalam al-Qur‟an dan sunnah”. karena itu dibunuhnyalah B.

Berhubung qiyas merupakan aktivitas akal. 2. karena ingin segera memperoleh harta warisan. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasanalasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. dicarilah peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. Sebaliknya. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah.Perbuatan itu ialah pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap orang yang akan diwarisinya. mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata.R Tirmidzi) Antara kedua peristiwa itu ada persamaan illatnya. Kedua peristiwa atau kejadian itu mempunyai „illat yang sama pula. Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa dalam melakukan qiyas ada satu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya sedang tidak ada satupun nash yang dapat dijadikan dasar hukumnya untuk menetapkan hukum dari peristiwa atau kejadian itu. maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama jumhur. mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada halhal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur‟an. Sehubungan dengan ini Rosulullah saw bersabda: ‫)ر ا ا‬ ‫)ا‬ Orang yang membunuh (orang yang akan diwarisinya) tidak berhak mewarisi. Kelompok jumhur. hadits. (H. mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. karena ia telah membunuh orang yang telah berwasiat untuknya. yaitu ingin segera memperoleh sesuatu sebelum sampai waktu yang ditentukan. . Kemudian ditetapkanlah hukum peristiwa atau kejadian yang pertama sama dengan hukum peristiwa atau kejadian yang kedua. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok: 1. diharamkan memperoleh harta warisan dari orang yang telah dibunuhnya. pendapat shahabt maupun ijma ulama. Berdasarkan persamaan „illat itu dapat ditetapkan hukum bahwa si A haram memperoleh tanah yang diwasiatkan B untuknya. sebagaiman orang yang telah membunuh orang yang akan diwarisinya.

kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur‟an dan hadits. kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu. C. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Al-Qur’an 1) Allah SWT berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman.” (an-Nisâ‟: 59) Dari ayat di atas dapat diambilah pengertian bahwa Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar menetapkan segala sesuatu berdasarkan al-Qur‟an dan al- . namun semua mereka itu barulah melakukan qiyas apabila ada kejadian atau peristiwa tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat dijadikan dasar. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih baik akibatnya. maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul. Hanya sebagian kecil para ulama yang tidak membolehkan pemakaian qiyas sebagai dasar hujjah. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma‟ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar‟i. Dasar Hukum Qiyas Sebagian besar para ulama fiqh dan para pengikut madzhab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum dalam ajaran Islam. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu. Mengenai dasar hukum qiyas bagi yang membolehkannya sebagai dasar hujjah. Kehujjahan Qiyas Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar‟i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri kamu.3. ialah al-Qur‟an dan al-Hadits dan perbuatan sahabat yaitu: a. Hanya mereka berbeda pendapat tentang kadar penggunaan qiyas atau macam-macam qiyas yang boleh digunakan dalam mengistinbathkan hukum. B. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas. diantaranya ialah salah satu cabang Madzhab Dzahiri dan Madzhab Syi‟ah. yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. ada yang membatasinya dan ada pula yang tidak membatasinya.

Dari penjelmaan ayat di atas dapat dipahamkan bahwa orang boleh menetapkan suatu hukum syara‟ dengan cara melakukan perbandingan. Artinya: “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir ahli kitab dari kampung halaman mereka pada pengusiran pertama kali. 1. Jika orang-orang beriman melakukan perbuatan seperti perbuatan orang-orang kafir itu. b. Dalam hal ini banyak cara yang dapat dilakukan diantaranya dengan melakukan qiyas. Setelah Rasulullah SAW melantik Mu‟adz bin Jabal sebagai gubernur Yaman. Maka ambillah tamsil dan ibarat (dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan yang tajam. akan tetapi Allah mendatangkan kepada mereka (siksaan) dari arah yang tidak mereka sangka. yaitu dengan menghubungkan atau memperbandingkannya dengan yang terdapat dalam alQur‟an dan al-Hadits. beliau bertanya kepadanya: Artinya: “Bagaimana (cara) kamul menetapkan hukum apabila dikemukakan suatu peristiwa kepadamu? Mu‟adz menjawab: Akan aku tetapkan berdasar al-Qur‟an. Jika tidak ada pendapat ulil amri boleh menetapkan hukum dengan mengembalikannya kepada al-Qur‟an dan al-Hadits. Dan Allah menanamkan ketakutan ke dalam hati mereka. Jika tidak ada dalam al-Qur‟an dan al-Hadits hendaklah mengikuti pendapat ulil amri. niscaya mereka akan memperoleh azab yang serupa.Hadits. dan mereka membinasakan rumahrumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan-tangan orang yang beriman. Kamu tidak mengira bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat menghindarkan mereka dari (siksaan) Allah. Maksudnya ialah: Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar membandingkan kejadian yang terjadi pada diri sendiri kepada kejadian yang terjadi pada orang-orang kafir itu.” (al-Hasyr: 2) Pada ayat di atas terdapat perkataan fa‟tabirû yâ ulil abshâr (maka ambillah tamsil dan ibarat dari kejadian itu hai orang-orang yang mempunyai pandangan tajam). persamaan atau qiyas. . Al-Hadits.

(Mu‟adz berkata): Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk petugas yang diangkat Rasulullah. Bayarlah hutang kepada Allah. apakah aku berkewajiban melaksanakan hajinya? Rasullah SAW menjawab: Benar. Jika hutang kepada manusia wajib dibayar . Seorang anak perempuan menyatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan berhutang kepada Allah. tetapi ia tidak sempat melaksanakannya sampai ia meninggal dunia. seandainya ibumu mempunnyai hutang. seperti: Artinya: “Sesungguhnya seorang wanita dari qabilah Juhainah pernah menghadap Rasullah SAW ia berkata: sesungguhnya ibuku telah bernadzar melaksanakan ibadah haji. tentu kamu yang akan melunasinya. Bukhari dan an-Nasâ‟i) Pada hadits di atas Rasulullah mengqiyaskan hutang kepada Allah dengan hutang kepada manusia. karena ia berbuat sesuai dengan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad Abu Daud dan at-Tirmidzi) Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang boleh melakukan ijtihad dalam menetapkan hukum suatu peristiwa jika tidak menemukan ayat-ayat al-Qur‟an dan al-Hadits yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. tahukah kamu. karena hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar. Rasulullah SAW pernah menggunakan qiyas waktu menjawab pertanyaan yang dikemukakan sahabat kepadanya.” (HR. Jika seorang ibu meninggal dunia dalam keadaan berhutang. laksanakanlah haji untuknya.Jika engkau tidak memperolehnya dalam al-Qur‟an? Mu‟adz berkata: Akan aku tetapkan dengan sunnah Rasulullah. Salah satu diantaranya ialah dengan menggunakan qiyas. yaitu belum sempat menunaikan nadzarnya untuk menunaikan ibadah haji. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berijtihad itu. Jika engkau tidak memperoleh dalam sunnah Rasulullah? Mu‟adz menjawab: Aku akan berijtihad dengan menggunakan akalku dengan berusaha sungguh-sungguh. 2. maka anaknya wajib melunasinya. Beliau menyatakan hutang kepada Allah lebih utama dibanding dengan hutang kepada manusia. Kemudian Rasulullah SAW menjawab dengan mengqiyaskannya kepada hutang.

kemudian berpeganglah kepada pendapat engkau yang paling baik di sisi Allah dan yang paling sesuai dengan kebenaran…” d. Akal Tujuan Allah SWT menetapakan syara‟ bagi kemaslahatan manusia. karena dialah yang disuruh Nabi SAW mewakili beliau sebagai imam shalat di waktu beliau sedang sakit. Seperti alasan pengangkatan Khalifah Abu Bakar. Perbuatan sahabat Para sahabat Nabi SAW banyak melakukan qiyas dalam menetapkan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nashnya. Dengan cara demikian seakan-akan Rasulullah SAW menggunakan qiyas aulawi. Diantara isi surat beliau itu ialah: Artinya: “kemudian pahamilah benar-benar persoalan yang dikemukakan kepadamu tentang perkara yang tidak terdapat dalam al-Qur‟an dan Sunnah. Peristiwa yang tidak diterangkan dalam nash atau tidak ada nash yang dapat dijadikan sebagai dasarnya ada yang „illatnya sesuai benar dengan „illat hukum dari peristiwa yang ada nash sebagai dasarnya. Kemudian lakukanlah qiyas dalam keadaan demikian terhadap perkara-perkara itu dan carilah contoh-contohnya. Menetapkan hukum dari peristiwa yang tidak ada nash sebagai dasarnya ini sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan berdasar nash karena ada persamaan „illatnya diduga keras akan memberikan kemaslahatan kepada hamba. tentu beliau lebih ridha jika Abu Bakar menggantikan beliau sebagai kepala pemerintahan. . Menurut para sahabat Abu Bakar lebih utama diangkat menjadi khalifah dibanding sahabat-sahabat yang lain. Sebab itu tepatlah kiranya hukum dari peristiwa itu ditetapkan dengan cara qiyas. Dalam pada itu setiap peristiwa ada yang diterangkan dasarnya dalam nash dan ada pula yang tidak diterangkan. Jika Rasulullah SAW ridha Abu Bakar mengganti beliau sebagai imam shalat.tentulah hutang kepada Allah lebih utama harus dibayar. c. Khalifah Umar bin Khattab pernah menuliskan surat kepada Abu Musa alAsy‟ari yang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya sikap dan cara seorang hakim mengambil keputusan.

)لصالا مكح‬yaitu hukum syara‟ yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pula bagi cabang. Peristiwa ini disebut far‟u. untuk menetapkan hukumnya dicari suatu peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yang „illatnya sama dengan peristiwa pertama.  Far‟ (cabang). Illat (‫ . Peristiwa kedua ini telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yaitu haram (hukum ashal) berdasarkan firman Allah SWT: . yakni ada persesuian antara hukum da sifatnya 4. yang dapat dicapai oleh panca indra 2. Peristiwa kedua ini memakan harta anak yatim yang disebut ashal. Dalam istilah ushul disebut ashal (‫ )لصالا‬atau maqis „alaih (‫ ) لع س قملا‬atau musyabbah bih (‫شم‬ ). Merupaka sifat yang tegas dan tidak elastis yakani dapat dipastiakan berwujudnya pada furu‟ dan tidak mudah berubah 3.) شملا‬  Hukum ashal (‫ . tapi bisa juaga berwujud pada beberapa satuan hukum yang bukan asli Sebagai contoh ialah menjual harta anak yatim adalah suatu peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya yang diserupakan atau yang diqiyaskan.)ةلعلا‬yaitu sebab yang menyambungkan pokok dengan cabangnya atau suatu sifat yang ada pada ashal dan sifat yang dicari pada far‟. Rukun Qiyas Dari pengertian qiyas yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa unsur pokok (rukun) qiyas terdiri atas empat unsur [5]berikut:  Ashal (asal). Merupakan sifat yang munasabah .B. Illat itu adalah sifat yang jelas. yaitu sesuatu yang dinashkan hukumnya yang menjadi ukuran atau tempat menyerupakan/ menqiyaskan. Di dalam istilah ushul disebut al-far‟u (‫ )عرفلا‬atau al-maqis (‫ )س قملا‬atau al-musyabbah (‫.  Syarat-syarat illat antara lain adalah: 1. Merupakan sifat yang tidak terbatsas pada aslnya.

Hukum ashal. (Q. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: . 1) Ashal  Menurut Imam al-Ghozali dan Syaifuddin al-Amidi yang keduanya adalah ahli ushul fiqh Syafiiyyah syarat-syarat ashal itu adalah:  Hukum ashl itu adalah hukum yang telah tetap dan tidak mengandung kemungkinan dinasakhkan Hukum itu ditetapkan berdasarkan syara‟ Ashal itu bukan merupakan far‟u dari ashl lainnya Dalil yang menetapkan „illat pada ashal itu adalah dalil khusus. ialah sama-sama berakibat berkurang atau habisnya harta anak yatim. Karena itu ditetapkanlah hukum menjual harta anak yatim sama dengan memakan harta anak yatim yaitu samasama haram. ialah menjual harta anak yatim . ialah memakan harta anak yatim .„Illlat.S an-Nisa‟: 10).Far‟u. tidak bersifat umum      Ashl itu tidak berubah setelah dilakukan qiyas Hukum ashl itu tidak keluar dari kaidah-kaidah qiyas far‟u. berikut akan diterangkan syarat-syarat dari masing-masing rukun qiyas tersebut. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).Ashal. Persamaan „illat antara kedua peristiwa ini. Syarat-syarat qiyas Setelah diterangkan rukuk-rukun qiyas. C. ialah mengurangi atau menghabiskan harta anak yatim. ialah haram . 2) Al-Far‟u .Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.

Contoh „illat yang sama dzatnya adalah mengqiyaskan wisky pada khamr. Misalnya.Para ulama ushul fiqh mengemukakan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh al-far‟u yaitu:  Illat yang ada pada far‟u harus sama dengan illat yang ada pada ashal. Artinya tidak ada nash atau ijma‟ yang menjelaskan hukum far‟u dan hukum itu bertentangan dengan qiyas. apabila diminum hukumnya haram (H. Misalnya. mengqiyaskan hukum meninggalkan shalat dalam perjalanan kepada hukum bolehnya musafir tidak berpuasa. maka menurut ulama Hanafiyyah tidak sah. Apabila qiyas ini ditetapkan. al-Tirmidzi.R Muslim. karena jika demikian. „illat yang ada pada wisky sama dengan zatnya/materinya dengan „illat yang ada pada khamr. yaitu sampai suami membayar kafarat. Ahmad ibn Hanbal. Sedangkan keharaman melakukan hubungan dengan istri yang berstatus dzimmi bersifat selamanya. disebut para ulama‟ ushul fiqh sebagai qiyas fasid. karena qiyas seperti ini bertentangan dengan nash dan ijma‟. Akan tetapi menurut ulama Syafi‟iyyah hukumnya sah karena orang dzimmi dikenakan kafarat. sedangkan mereka tidak dituntut untuk beribadah.  Tidak ada nash atau ijma‟ yang menjelaskan hukum far‟u itu. Qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma‟. Ibnu Majah dan al-Nasa‟i).  Hukum ashl tidak berubah setelah dilakukan qiyas. Karena kaharaman hubungan suami istri dalam mendzihar suami istri yang bersifat muslimah bersifat sementara. maka status qiyas ketika itu bisa bertentangan dengan nash atau ijma‟. karena keduanya sama-sama memabukkan dan yang memabukkan itu sedikit atau banyak. karena orang kafir tidak dibebani membayar kafarat. Contoh „illat yang jenisnya sama adalah mengqiyaskan wajib qishas atau perbuatan sewenang-wenang terhadap anggota badan kepada qishas dalam pembunuhan. dan kafarat merupkan ibadah. . karena keduanya sama-sama perbuatan pidana. tidak boleh mengqiyaskan hukum mendzihar wanita dzimmi kepada mendzihar wanita muslimah dalam keharaman melakukan hubungan suami istri.

sehingga tidak mungkin mengqiyaskan hukum syara‟ yang amaly kepada hukum yang mujmal „alaih. Ulama usul berkata: “apabila datang nash maka qiyas menjadi batal. karena keduanya samasama taharah (suci). Lagipula ditetapkannya tayammum itu adalah sebagai pengganti wudlu‟ di saat tidak dapat melakukan wudlu‟. sedang tayammum (ashl) diadakan sesudah hijrah. Qiyas tersebut tidak benar. Mereka menyatakan bahwa hukum yang ditetapkan berdasarkan ijma‟ adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Hal ini diperlukan karena yang akan ditetapkan itu adalah hukum syara‟. Contohnya adalah mengqiyaskan wudhu‟ dengan tayammum dalam wajibnya niat. tidak mempunyai sandaran. 3) Hukum Ashl Syarat-syarat hukum ashal. Bila qiyas itu dibenarkan.  Hukum ashl harus ma‟qul al-ma‟na. antara lain:  Hukum syara‟ itu hendaknya hukum syara‟ yang amaly yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. antara lain:  Hukum furu‟ tidak mendahului hukum ashl. Atas dasar yang demikian. maka jumhur ulama‟ berpendapat bahwa ijma‟ tidak boleh menjadi sandaran qiyas. Asy-Syaukani membolehkan ijma‟ sebagai sandaran qiyas. maka berarti menetapkan hukum sebelum ada illatnya. karena wudlu‟ (far‟u) diadakan sebelum hijrah. sedang sandaran hukum syara‟ itu adalah nash. Karenanya hukum yang ditetapkan secara ijma‟tidak dapat diketahui dengan pasti.  Hukum cabang sama dengan hukum ashl. artinya pensyari‟atannya harus rasional . Artinya hukum far‟u itu harus datang kemudian dari hukum ashl. selain dari kesepakatan para mujtahid.  Cabang tidak mempunyai hukum yang tersendiri.Bahkan dalam literature lain ditambahkan beberapa syarat-syarat far‟u.

tetapi Rosulullh saw. seperti kawin lebih dari empat orang tanpa mahar. al-Tirmidzi dan al-Nasa‟i) Ayat Al-Qur‟an menentukan bahwa sekurang-kurangnya saksi itu adalah dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki bersama dua orang wanita (Q. yaitu: a) „Illat hukum itu hanya ada pada hukum ashl saja. sehingga masih mungkin dengan hukum ashl itu membangun (menetapkan) hukum. (H.S AlBaqoroh. karena hukum ini hanya berlaku untuk pribadi Khuzaimah. tidak berlaku pada kejadian atau peristiwa yang lailn. Misalnya dalam sebuah riwayat dikatakan: ‫خ‬ ‫د‬ Kesaksian Khuzaimah sendirian sudah cukup. Hal ini sangat tergantung kepada pandangan (i‟tibar) dari . Seperti dibolehkannya mengqoshor sholat bagi orang musafir. bukan hukum yang telah dinasakhkan. Ada juga syarat lain yang disebutkan dari sumber lain bahwa syarat hukum ashal adalah:  Hukum ashl itu adalah hukum yang tetap berlaku. Abu Daud. Ahmad ibn Hanbal. Menyatakan bahwa apabila Khuzaimah (sahabat) yang menjadi saksi.. Alasannya ialah bahwa perentangan hukum dari ashl kepada far‟u adalah didasarkan kepada adanya sifat yang menyatu pada keduanya. maka cukup sendirian. 2: 282). Demikian juga hukum-hukum yang dikhususkan bagi Rosululloh saw. Hukum ashl itu tidak merupakan hukum pengecualian atau hukum yang berlaku khusus untuk peristiwa atau kejadian tertentu. Hukum ashl macam ini ada dua macam. Tetapi Al-Qur‟an dan dan hadits menerangkan bahwa illatnya itu bukan karena masyaqqat tetapi karena adanya safar (perjalanan) b) Dalil (Al-Qur‟an dan Hadits) menunjukkan bahwa hukum ashl itu berlaku khusus. tidak mungkin pada yang lain. „Illat yang masuk akal dalam hal ini ialah untuk menghilangkan kesukaran atau kesulitan (masyaqqot). al-Hakim. Hukum kesaksian secara khusus ini tidak bisa dikembangkan dan diterapkan kepada far‟u.R.

Dengan demikian. yang dijadikan ukuran untuk mengetahui suatu hukum. terdapat beberapa definisi „illat yang dikemukakan ulama ushul fiqh. Secara termenologi. tetapi atas perbuatan dari kehendak Allah. melainkan harus karena adanya izin Allah. bukan karena dzatnya. melainkan karena perbuatan syar‟i. Misalnya penyakit itu dikatakan „illat.pembuat hukum ashl yang telah dimansukh. Misalnya seorang pembunuh terhalang mendapatkan warisan dari harta orang yang ia bunuh. Dalam kasus ini bukan karena membunuh semata-mata yang menjadi „illat yang menyebabkan ia tidak mendapat warisan. AlGhozali berpendapat bahwa pengaruh „illat terhadap hukum bukan dengan sendirinya. 4) „illat  Pengertian „illat Secara etimologi „illat berarti nama bagi sesuatu yang menyebabkan berubahnya keadaan sesuatu yang lain dengan keberadaannya.  Bentuk-bentuk „illat . Menurutnya. dalam arti: adanya suatu „illat menyebabkan munculnya hukum. „illat itu bukanlah hukum. Maksudnya. tetapi merupakan penyebab munculnya hukum. Akan tetapi pada makalah ini akan kami sebutkan definisi „illat menurut imam al-Ghozali. penyebab dan motif dalam suatu hukum. „illat ini hanya merupakan indikasi. yaitu: ‫ات‬ ‫ا‬ Sifat yang berpengaruh terhadap hukum. Allah-lah yang menjadikan „illat itu berpengaruh terhadap hukum. tidak ada lagi pandangan pembuat hukum terhadap sifat yang menyatu pada hukum ashl tersebut. disebabkan pembunuhan yang ia lakukan. karena dengan adanya penyakit tersebut tubuh manusia berubah dari sehat menjadi sakit.

yaitu yang dapat dicapai oleh akal dengan sendirinya.  Sifat lughowi. Contohnya: buruk dan baik. pencurian yang menyebabkan hukum potong tangan. mulia dan hina. namun dapat dirasakan bersama. Contohnya: sifat memabukkan pada minuman keras. Contohnya: diharamkannya nabiz karena ia bernama khomr. seperti senang atau benci. Maksudnya. Sifat syar‟i. masih diperlukan beberapa syarat yang akan dijelakan di bawah ini. yaitu untuk kemashlahatan umat manusia. Contohnya: menetapkan bolehnya mengagungkan barang milik bersama dengan alasan bolehnya barang itu dijual. bukan sekedar tanda-tanda atau indikasi hukum. dan dalam bentuk permusuhan.  Sifat hissi.  Sifat „urfi. Semua sifat tersebut dapat menjadi „illat. Tetapi mengenai kemungkinannya untuk menjadi „illat bagi suatu hukum. Contohnya: sifat pembunuhan secara sengaja. semuanya dijadikan alasan berlakunya hukum qishos. Ada beberapa bentuk sifat yang munkin menjadi „illat bagi hukum bila telah memenuhi syaratsyarat tertentu. fungsi „illat adalah bagian dari tujuan disyari‟atkannya hukum. yaitu sifat atau sesuatu yang dapat diamati dengan alat indera. tanpa tergantung kepada „urf (kebiasaan) atau lainnya. yaitu sifat yang keadaannya sebagai hukum syar‟i dijadikan alasan untuk menetapkan sesuatu hukum. Bagi ulama yang dapat menerima sifat tersebut sebagai „illat. yaitu sifat yang tidak dapat diukur. atau sesuatu yang dapat dirasakan.   Sifat murakkab. Syarat-suarat „illat adalah sebagai berikut:  .  Syarat-syarat „illat „illat itu mengandung motivasi hukum. Contohnya: pembunuhan yang menjadi penyebab terhindarnya seseorang dari hak warisan.„illat adalah sifat yang menjadi kaitan bagi adanya suatu hukum. Di antara bentuk sifat itu adalah:  Sifat haqiqi. yaitu bergabungnya beberapa sifat yang menjadi alasan adanya suatu hukum. yaitu sifat yang dapat diketahui dalam penamaannya dalam artian bahasa. para ulama berbeda pendapat.

Contoh sifat yang tidak nyata. . karena „illat merupakan pertanda adanya hukum. sehingga diri (jiwa) manusia akan terpelihara dari pembunuhan. Sifat “sukarela” ini tidak bisa dijadikan „illat yang menyebabkan pemindahan hak milik dalam jual beli.  „Illat itu jelas. antara satu situasi dan situasi lainnya. bila seseorang pembunuh diqishosh. yaitu “keberadaan dalam perjalanan” yang sifatnya jelas dan terukur. namun masyaqqah itu sendiri tidak dapat diukur dan ditentukan secara pasti. keadaannya jelas dan terbatas. maka sifat seperti itu tidak bisa dijadikan „illat. adalah sifat “sukarela” dalam jual beli. masyaqqah itu tidak dapat dijadikan „illat hukum. Apabila „illat itu tidak nyata. nyata. Qashar sholat diperbolehkan bagi orang yang melakukan perjalanan. dan bisa ditangkap indera manusia. maka orang akan menjauhi pembunuhan. dan mendorong seseorang untuk lebih yakin dalam berbuat. diterima semua pihak. Maksudnya.Contohnya: sifat “menjaga diri” merupakan hikmah diwajibkannya qishosh. Misalnya sifat memabukkan dalam khamr. karena keadaan dalam perjalanan itu menyulitkan (masyaqqah). karena “sukarela‟ itu masalah batin yang sulit diindera. Contohnya: keadaan dalam perjalanan menjadi „illat untuk bolehnya mengqashar sholat. tidak jelas. karena berbeda antara seseorang dengan lainnya.) مئالم‬Adanya kesesuaian hubungan antara sifat dengan hukum itu menjadikannya rasional. Dalam literature lain ditambahkan bahwa syarat „illat itu antara lain:  „illat itu harus dalam bentuk sifat yang terukur (‫ض م‬ ). sehingga harus diambil sifat lain yang dhahir sebagai patokan yang alasan di dalamnya terdapat alasan yang sebenarnya. Sifatnya sama dengan sifat yang batin (tidak dhahir). sehingga tidak bercampur dengan yang lainnya.  Harus ada hubungan kesesuaian dan kelayakan antara hukum dengan sifat yang akan menjadi „illat (‫سا م‬ ‫ . Itulah sebabnya para ahli fiqh menyatakan bahwa “sukarela” itu harus diwujudkan dalam bentuk perkataan “ijab” dan ”qobul”. Karenanya. dan tidak bisa ditangkap indera manusia.

Adanya thalaq itu mencabut haq bergaul suami istri (jika mereka telah menikah atau rujuk). Contohnya: sifat thalaq dalam hubungannya dengan kebolehan bergaul. Contohnya „illat memabukkan menyebabkan berlakunya hukum haram pada makanan dan minuman yang memabukkan.  Pencabut yaitu „illat yang mencabut kelangsungan suatu hukum bila „illat itu terjadi dalam masa tersebut. malah akan merusak dirinya.  Penolak dan pencabut yaitu „illat yang dalam hubungannya dengan hukum dapat mencegah terjadinya suatu hukum dan sekaligus dapat mencabutnya bila hukum itu telah berlangsung. karena antara mengantuk dan puasa tidak mempunyai hubungan kesesuaian apa-apa. karena memang mereka boleh menikah lagi sesudah adanya thalaq itu.Contohnya: sakit menjadi „illat bolehnya seseorang membatalkan puasa. yaitu sebagai:  Penyebab/penetap yaitu „illat yang dalam hubungannya dengan hukum merupakan penyebab atau penetap (yang menetapkan) adanya hukum. Iddah dalam hal ini adalah iddah syubhat. tetapi tidak mencabut hukum itu seandainya „illat tersebut terdapat pada saat hukum tengah berlaku. mu‟assir. atau ba‟its. Adanya iddah menolak dan menghalangi terjadinya perkawinan dengan laki-laki yang lain. baik dengan nama mu‟arrif. Dalam kaitan itulah terlihat fungsi tertentu dari „illat. Sifat yang tidak ada hubungan kesesuaian dengan hukum tidak dapat dijadikan „illat bagi bolehnya berbuka puasa. padahal syara‟ melarang merusak dan melarang mencelakakan diri. tetapi „illat itu tidak menolak terjadinya suatu hukum.  Penolak yaitu „illat yang keberadaannya menghalangi hukum yang akan terjadi.  Fungsi „illat Pada dasanya setiap „illat menimbulkan hukum. tetapi iddah itu tidak mencabut kelangsungan perkawinan bila iddah itu terjadi dalam perkawinan. Contohnya dalam masalah iddah. Contohnya sifat radha‟ (hubungan . karena sakit itu menyulitkan seseorang untuk berpuasa. Antara „illat dan hukum mempunyai kaitan yang erat. Seandainya dilakukan juga.

Qiyas jali. yaitu: Qiyas „illat.S al-Isra‟: 23) „illatnya ialah menyakiti hati kedua orang tua. yang disebut dengan jelas dalam nash. Seperti haramnya hukum mengucapkan kata “ah” kepada kedua orang tua berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” (Q. Karena itu sebenarnya hukum yang ditetapkan bagi far‟u lebih utama dibanding dengan hukum yang ditetapkan pada ashal. 1. karena keduanya mempunyai persamaan „illat. Qiyas jali terbagi menjadi: Qiyas yang „illatnya ditunjuk dengan kata-kata. Qiyas „illat terbagi: a. Qiyas dalalah dan Qiyas syibih. bila hubungan susunan itu terjadi (diketahui) waktu berlangsungnya perkawinan. Qiyas „illat ialah qiyas yang mempersamakan ashl dengan far‟u. tidak ada kemungkinan lain selain dari „illat yang ditunjukkan oleh dalil itu. Bagaimana hukum memukul orang tua? Dari kedua peristiwa itu nyatalah bahwa hati orang tua lebih sakit bila dipukul anaknya dibanding dengan ucapan “ah” yang diucapkan anaknya kepadanya. Qiyas mulawi ialah yang hukum pada far‟u sebenarnya lebih utama ditetapkan dibanding dengan hukum pada ashal. seperti memabukkan adalah „illat larangan minum khamr. ialah qiyas yang „illatnya berdasarkan dalil yang pasti. Adanya hubungan susuan mencegah terjadinya hubungan perkawinan antara orang yang sepersusuan dan sekaligus mencabut atau membatalkan hubungan perkawinan yang sedang berlangsung. d) Pembagian qiyas Qiyas dapat dibagi menjadi tiga macam.persusuan) berkaitan dengan hubungan perwakinan. .

Memakan harta anak yatim haram hukumnya berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. „illat ini mungkin dapat digunakan untuk sisa burung buas dan mungkin pula tidak. Dari kedua peristwa ini nampak hukum yang ditetapkan pada ashal sama pantasnya dengan hukum yang ditetapkan pada far‟u. Qiyas khafi. apakah wajib ditunaikan zakatnya atau tidak. ialah qiyas yang „illatnya munkin dijadikan „illat dan munkin pula tidak dijadikan „illat. Mulut burung buas terdiri dari tulang atau zat tanduk. b. Karena itu ditetapkan pulalah haram hukumnya menjual harta anak yatim. sehingga air liurnya bercampur dengan sisa minumannya itu. ialah qiyas hukum yang ditetapkan pada far‟u sebanding dengan hukum yang ditetapkan pada ashal. karena mulut burung buas berbeda dengan mulut binatang buas. Seperti harta kanak-kanak yang belum baligh.S an-Nisa‟: 10). Tulang atau zat tanduk adalah suci. „illatnya ialah kedua binatang itu sama-sama minum dengan mulutnya. tetapi merupakan petunjuk yang menunjukkan adanya „illat untuk menetapkan sesuatu hukum dari suatu peristiwa. (Q. seperti menjual harta anak yatim diqiyaskan kepada memakan harta anak yatim. Qiyas dalalah Qiyas dalalah ialah qiyas yang „illatnya tidak disebut. daging binatang buas adalah haram. sedang mulut binatang buas adalah daging. „illatnya adalah sama-sama menghabiskan harta anak yatim.- Qiyas musawi. seperti mengqiyaskan sisa minuman burung buas kepada sisa minuman binatang buas. Cara ulama yang menetapkannya wajib . Yang tersembunyi di sini adalah keadaan mulut burung buas yang berupa tulang atau zat tanduk. namun kedua-duanya adalah mulut. dan sisa minuman. 1. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

Qiyas syibih Qiyas syibih adalah qiyas yang far‟u dapat diqiyaskan kepada dua ashal atau lebih. Misalnya. tetapi kepada ibadat. mengqiyaskan memukul pada ucapan “ah”. yaitu: 1. Dilihat dari segi kekuatan „illat yang terdapat pada far‟u dibandingkan yang terdapat pada ashal.mengqiyaskannya kepada harta orang yang telah baligh. diwakafkan dan sebagainya. yaitu qiyas yang hukumnya pada far‟u lebih kuat daripada hukum ashl. tetapi diambil ashal yang lebih banyak persamaannya dengan far‟u. Sebagaimana harta budak dapat diperjualbelikan. Dari segi ini qiyas dibagi kepada tiga segi. puasa dan sebagainya. Karena itu ia anak kecil tidak wajib menunaikan zakat hartanya yang telah memenuhi syarat-syarat zakat. Ibadat hanya diwajibkan kepada orang mukallaf. Tetapi dapat pula diqiyaskan kepada harta benda. Dalam surat al-Isra‟. karena kedua-duanya adalah manusia. karena „illat yang terdapat pada far‟u lebih kuat dari yang ada pada ashl. 17: 23) . karena ada petunjuk yang menyatakan „illatnya. Tetapi madzhab Hanafi. diwariskan. diberikan kepada orang lain. seperti shalat. termasuk di dalamnya orang yang telah baligh. Qiyas al-Aulawi. yaitu kedua harta itu sama-sama dapat bertambah atau berkembang. seperti hukum merusak budak dapat diqiyaskan kepada hukum merusak orang merdeka. tidak mengqiyaskannya kepada harta orang yang telah baligh. Dalam hal ini budak diqiyaskan kepada harta benda karena lebih banyak persamaannya dibanding dengan diqiyaskan kepada orang merdeka. karena sama-sama merupakan hak milik. 1. tetapi tidak diwajibkan kepada anak kecil (orang yang belum baligh).S al-Isra‟. 17:23 Allah berfirman: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (Q.

4: 2) Ayat ini melarang memakan harta anak yatim secara tidak wajar. Qiyas al-Musawi. mengqiyaskan apel pada gandum dalam hal berlakunya riba fadhl. Akan tetapi. yaitu „illat yang ada pada far‟u lebih lemah dibandingkan dengan „illat yang ada pada ashl. karena keduanya mengandung „illat yang sama yaitu sama-sama jenis makanan. 1. Dalam hadits tersebut diantaranya disebutkan gandum (H. karena kedua sikap itu sama-sama menghabiskan harta anak yatim dengan cara zalim. para ulama ushul fiqh. Artinya ikatan „illat yang ada pada far‟u sangat lemah disbanding ikatan „illat yang ada pada ashl. 2:2: Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka. karena kualitas „illat pada keduanya juga sama. Qiyas al-adna.S an-Nisa‟. karena „illat riba al-fadhl pada gandum lebih kuat. (Q. Imam al-Syafi‟I mengatakan bahwa dalam jual beli apel pun bisa berlaku riba fadhl. 1. mengqiyaskan membakar harta anak yatim kepada memakan harta anak yatim secara tidak wajar. Misalnya Allah berfirman dalam surat al-Nisa‟. Dikatakan bahwa benda sejenis apabila dipertukarkan dengan berbeda kuantitas. maka perbedaan itu menjadi riba fadhl. berlakunya hukum riba pada apel lebih lemah dibandingkan dengan yang berlaku pada gandum. yaitu hukum pada far‟u sama kualitasnya dengan hukum yang ada pada ashl. jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. Misalnya.R Bukhori Muslim). Keharaman memukul orang tua lebih kuat daripada sekedar mengatakan “ah” karena sifat “menyakiti” melalui pukulan lebih kuat dari ucapan “ah”. Dalam hadits Rosulullah saw. .Para ulama ushul fiqh mengatakan bahwa „illat larangan ini adalah menyakiti orang tua. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat. Oleh sebab itu.

 //.9:::2/.38:3.9  !03. -07.-:.3  ./.2 897 .3. //..3 .33.0. /. /.38:.-:9 .3 /03.8.9203.:50309. .5. 9: 907.3 !034./.-:9.3 -07.3 0-07.3503.:  43943..5. /.3 -07.9.3 203.3 /.3.-.3 907..-:90. 3 .2 .3.. 203.-:9 0.9 5.6 -07.9: ::2  43943.: 8:.: 7::  .3 507. -07../.3.2:-:3.//.9 202. ..-:9.2 507.5 .69:  !034./3. 81.9 ./ /.59/. 203.50309.3 ::2 207:5.2 2.3.9 9: 9/. 9: 9/..2.9. 2: .9 7.320309.5.3 0-40.5 .907.6 9: 203.5 ./3.3 ::2 .3 3.9. 907..203.2 2. -.9. /03.35030-.3/.38:3  43943.2 5..3 /./. 2034.5. 90780-:9  909.3  //.380.  :-:3././03.9: .:  /.3 .3.-.9.38:3. //.3.9: .2 :-:3. 98  43943../3.9:::2-.. 2034. . 2.3/.990780-:9907/.3 2030-. 90.9203...:8/. 203.3 .-:93..33./... /03./ /.8:-...9: .6 /.: -.2 :-:3.9 ::2 903.771  2: ..::2 -..-:9::29:80.887  . 507. 8:. 81.3 2070. 9.3 O O O .. ::2 ./..8.7. .  /.9 9: 907.. -40 203. 202.33..9..3 -.9 .. 23:2.3  909.-:.3::2 /.3. 8. ::2 9: 90. /03.:3..3.5 //.8:./.3202. 2070.3.9 9.3 907.33.9: . .3 203.3 ./ 909.. .808:/.703.

3 80.3 507.8. 9: 3.3 80.5078. .3./..: .8.2.507.3/3 /03.3.7 :  .3 5. 907.2.8 ".3 ./.3 507.7 .3 9:.3 -07. ::2 203:.3 /03.703. /-.88-    "..9..3.5.3 /9:3:.23.3 /.8.8/.3 805078:8:.3  /.35.!07. 05.8/.8 . -07/.-:9 .8..0/:.73./.8 .$% 793. . .:8 203. .3 .. 47. . .3 :-:3.3::2.38:3  -.3-.3 8:8:.  " $...  ".7.305.  $05079 .3  -07.3 "..39:. 9:  ".::2 .9.9907-.-:.36..9./9.3..7..3.9:-07. -.73. .8 .3/909.8 .7./.39.3   / !02-.3.9. /9:3: /03.8 .7 :0-:9.3 .3.3 .9. 05. 02:33.3/3 /03. /5:: .3 507./3.3 1.3 ::2 5.47.80.3 .47..9.  805079 202.703. 87.7.3..2.3 /. .3./.2. 0- 8.. .  .: 202-.9 "..  .9.0..3.3...5. ./ /09.8 /03.5.::2202::47. . 2.. 0/:.9:".8 ..203.23. 907-.9 ".3 . /909.7.3 .3/909.3.8/.  ..30.3.3 /-.3 9:.5078:8:./.9 -. 1..3 :-:3.   .. :-:3.3.39:.3/80-:9/03.3.90/:.9 .93.7 : 80-03..203.3172. :-:3.3 9: 907./.3 /.3.. /-.2 .9.3 80/.3 .93.9. 6.1. .9 47.38:33.3 /:.3 :.-07/.3 .89  9/.3.3 8:8:3.3/3/03.5./.3 .8 .3 ::2 5.8 . .9.5.3 203. 50789. 0- :9.5.3 2025078.27 .2. .3.3 .3 .93..3 40 /.2025:3. 203.9/-././  ".5.2:203. ..9:80-03.8   ".7 0/:.9 .0/:.9.. 6.8 2:.323:2.3 . :-:3.

: .8:0 /..3172./.$% 793.8.3808:.8/.   . $08:3:3.2070..3.. .79. ..  ".8 05.7./.8.3.39:8.9: 50789../.5.3 -:.3.2./.3 203:3:.. 9: /909. . 8.3 -:.3 2::9 -3.. /80-:9  909. 47.79. 50789./.3 .8  ..3 509:3:.3./.3 -:7:3 -:..3 5.2 3.3 .33.1 .5.8. 1.3/: .3 .3 .8.3 .3 .92 /6.703.2./.. .9.2.32:335:. 88.. 8.93. 9/. .2.3 .  80/.3/909.9. -07.3.9.: 9/. 6.3-3..2. .9. 3.3 2::9 -3.25.7.9: ::2 /.3.93.-3..5.3 88. . .79.. ::2 .3 .3.3907802-:3 /83.3  /. 202.3203..8 2:8.2::9 /.. .3 5.  .8 ..2.6.8 907/7 /.3::2.5.  .3 2:33 5:..3.5.5.23:2./.8.8 -07-0/.9...3.3/:  %:..3-:. 8.8.0./. .9  805079 2036.5.35.9 3 2:33 /. 8.- .9 :39: 20309.3 .:.8 .3 -3.2:30/:.  803. -:7:3 -:.3.5.3 .7.8 .7 8:.9:.92. 9/.3 88./.703..5 207:5.3.3 /909.7.7 0/:. 2::9 -:7:3 -:. .3 8.93.79.8. 5.  805079 203:..3 47. .23:2 /03. 307.3.39.3 20309.-8.3. 203:../. .9:2030.. /.  .2::23. ".79.2.3. 203.3 -:..2:33/.33.7.. . .  ...3 ::2 .8 ::2 .3 5:. 23:2.1.  " $.3 .388.3 -0:2 -.32070.5.23:2. :.92 80.3 2::93. ./.92  . .. ./.99. /:. .3 /909. 3 3.7 :  - ". /03. .3 . . 9/.. .79.93..3 202./.9 9.73.3 /909.9.83. 6..3 5.3 05. ..- /9:3./.2  80-03.0/:.8  ::9 -:7:3 -:.3-07:5.9. 23:2.-07/.3.  $05079 .25:7 /03. /03.3/3 /03.9 9..5.9 /:3. .7 9:.92  .93.79. .580503:507:93.8 /.9.3 :39: 88.3/:    ".7 :73.8./. 9:  .: .92  02. 8:..2 ::23.7.32::9-:7:3-:. /.32. .7 : 80-./.9/...9.8 /.

.3907/. :.3 90. .5078. .9.703.-.33./..1 9/.3/3 /03.8./.  -.3.9 /. 2036.9 /6. -.3 ::23.5.3 207/0./. /./03.2.9.-.9. /.3 05. 8.3..79.9  805079 8./. ...2.5.  909./..8.7 :0-:./. 5.3 .305./. -.8.78.703.390.3 05.. 0./.80 . -0.. .8.3..8 .28:7.79.3 05.. /.7 : 805079 ::2 207:8...78036.703. -03/. /6.7 80 0:.8.3.3 /6.79..5.-./.2 .79.703.9    ".9 .3.5.3 .-. 47.  " $.3 1.3.  .. ::2 207:8.8. .3.3 . .3.79. 87.2. 2  .95:.30--.95.33./.5. /-.47.3..3 907/.3 203.3 /.3 ./.3/3.9: 6. 87.9 /507:.305.  .3 .3.2036. 47.703.2. .. 47.05.8 8.9.5 /.3.8 .8. -. 0/:./. 0- -.20203:8.8...  $0-. . 5078.3 207/0..9. .9 8.8. 1.-:/.31.  .  . -:/./.3. 3 -:/..7.5 05.3 2:.3 90.3 -0:2 -./6. /:.3.5/.: -0702-.   .3 .  .::2.7 .3.3..380-.8.47.9 .8 . 207:5.2:203. /:.3 .  909.88- ".05. 0./. /. 8./.../.93. %09.9/.88- .9. -03/./.9 -079./. 9/./. ..9  5:.3/.507.3 05.9 /.3 . 9: 8./. /. .:.8.7..95.9:   ".509:3:.5.7 : /-.- 203:3.-07172. .75.2.80.9.33.9: 0/:.7 : /. .79. /.: 0- 909.2-.8.3 ./. 6..3.3 %09.3..3 05.  .3 90.7 : 0- :. 47. 1.3 /-07..9 5.9.3 907/.  .9.. .703.8: / /.1  9072./.23./.33.5./..2-. 47..5../.5.05.3202::5.0/:.8.3. 9: .8/-.3. ./.3 .305.2036.3 05.47.5./.1.9..79.52.2.5 9/.3 80-.3:8.2. 2.9 .8.1.3 /.9 /6.

.. /5079:.7-.3...3/.9. :8.2. .7.3 . /-.3.79.3/03.7 :8.9.39:203.3.8 793.9 02. ./../9890780-:9/.3 .-07.3./.. 8.3.9 .3.2.3/:2/.3 .:.3 -.8 ...2.3 .3 .:5::./.3 . .75.3. 1.7 80-. 038 2.2.3 -:7: /... .9 . 800/.3.30-:.7.3 -./.9: 8.3 .1.5.9 /.9.-8.92 05.3 -07.2.9 203.8  . .3.:3..79./ .8.-07.3/. /-. .3. -. 0/:.3/3.9280. 202.3909.3.39. .3 .  0.:3.79./.3 3 .7. .7:.- 9:  2./.:. .2. 1.  . :..9.3 202-.79.3 -. 8.28:7./.3..2. 5./.3 8:/.. 8./.8 2. -03/.2: 203:.703.3.507-0/.7.3-07-0/. :8: 16 203. 80038 .3 /03.3 8.9.3202.50 0- 02./98 #48::.9/.81.9/.3 -. . 1./80-:9.9 5.3.9:::25.:...3.3 -07. ../..3 /03.3.: 5./.1.3  .9 .9: ...1.3 .3 .203.3 .3.3.9/.!. /.  .3.5.3/3 . -0. :.2 .3 .3 202:: 47./ .::27-.7 . 203.3/:2  .83.2./7-. $..7. 0- :.9.. . /03.8 .3::2 .505./03.7 203.8./.9320.  2036.9.2 .3 8. .2.7 : 0- 02.1./. ./..-07172.79.5.59:8.9.3/80-:9.:7-. 8.7.9.3.79.8  8.9. 5./.703. 5.7 5.9 47./. 203./3.7 : 8..1  203..-. :.:8: 16  2036..703./.9 .3. 8.3.703....7./.9.92/03.  8.7.399.3 .3/:3 .8. .7 ...../.-078..2. 0/:.5 -07.97-.7...9 .2..2 :.3.9280.    "..2.2: . . .7.2070. /8-./5.   . 05.3.3 .5.  .3 9:. 5./ ..505:3-8..79.3 9:.703.3 ..9   .3/3.2.2:  " $.3/:2  #:47 :82  0 80-.92 ..  .. 8.2.0/:.9 20.  .3.3/:20-:.2    "./..2. 2070.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful