SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM Sumber-sumber hukum islam (mashadir al-syari‟at) adalah dalil –dalil syari‟at dimana

hukum syari‟at digali. Sumber-sumber hukum islam dalam

pengklasifikasiannya didasarkan pada dua sisi pandang. Pertama, didasarkan pada sisi pandang kesepakatan ulama atas ditetapkannya beberapa hal ini menjadi sumber hukum syari‟at. Pembagian ini menjadi tiga bagian : 1. Sesuatu yang telah disepakati semua ulama islam sebagai sumber hukum syari‟at, yaitu al-Qur‟an dan al-Sunah. 2. Sesuatu yang disepakati mayoritas (jumhur) ulama sebagai sumber syari‟at,yaitu ijma‟ dan qiyas. 3. Sesuatu yang menjadi perdebatan para ulama, bahkan oleh mayoritasnya yaitu Urf (tradisi), istishhab(pemberian hukum berdasarkan keberadaannya pada masa lampau) maslahah mursalah (pencetusan hukum berdasarkan prinsip kemaslahatan secara bebas), syar‟u man qablana (syari‟at sebelum kita), dan madzhab shahabat. Sumber Islam adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan dasar aturan atau pedoman agam Islam. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al-Qur‟andan Al Hadits sebagai mana hadits Rosulullah saw : “Aku tinggikan dua perkara yag jika kamu berpegang teguh kepada keduanya tidak akan tersesat selamanya yaitu Al-Qur‟an dan Al Hadits atau As Sunnah” (H.R. Baihaqi). Dalam Al-Qur‟an banyak yang menyebutkan tentang akal, maka para ulama menjadikan akal sebagai sumber hukum yang ketiga di dalam ajaran Islam. Hasil dari akal inilah yaitu ra‟yu yang pelaksanaannya adalah melalui ijtihad. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur‟an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma‟, Qiyas. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Untuk itu, perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur‟an, Hadist, Ijma‟, dan Qiyas. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam. Keempat sumber hukum yang disepakati jumhur ulama yakni Al Qur‟an,

Sunnah, Ijma‟ dan Qiyas, landasannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Shahabat Nabi Saw Muadz ibn Jabal ketika diutus ke Yaman.

“Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw”.[7]

1. AL-QUR’AN a. Pengertian Al-Qur’an Secara Bahasa (Etimologi)Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro‟a (‫ )أرق‬yang bermakna Talaa (‫[ )الت‬keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama‟a (mengumpulkan, mengoleksi). Secara Syari‟at (Terminologi) Adalah Kalam Allah ta‟ala yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, dalam pembukuannya, Al-Qur‟an diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. ‫ا‬ . Allah ta‟ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur‟an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (al-Insaan:23). ‫أ‬ Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur‟an dengan

berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2) Allah ta‟ala telah menjaga al-Qur‟an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia ta‟ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya, ‫ا‬ “Sesungguhnya Kami-lah yang menunkan al-Qur‟an dan sesungguhnya Kami benr-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9) b. Nama-nama Al-Qur’an Adapun nama-nama Al-Qur‟an yaitu 1. Al kitab (kitabullah),yang merupakan sinonim dari kata Al Qur‟an artinya,kitab suci sebagai petunjuk bagi oranh yang bertakwa.nama ini diterangkan dalam AlQur‟an surat al-baqara ayat 2. 2. Az-zikr, artinya peringatan, nama ini di terangkan dalam Al-Qur‟an surat al-hijr ayat 9. 3. Al- furqan, artinya pembeda,nama ini diterangkan dalam surat al Furqan ayat 1. 4 As-suhuf berati lembaran-lembaran,seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat Al- bayinah ayat 2. Pembagian surat dalam Al-Qur‟an. 1. Assabi‟uthiwaal, yaitu tujuh surat yang panjang,ketujuh surat itu yaitu albaqarah (286), al-A‟raf (206), Ali Imran (200), an-nisa (176), al an‟am (165), al-maidah (120), dan Yunus ( 109) 2. Al-Miuun, yaitu surat yang berisi seratus ayat lebih.Maksudnya surat-surat tersebut memiliki ayat sekitar seratus ayat atau lebih. Misalnya,surat Hud (123 ayat),Yusuf (111 ayat), dan At-Taubah (129 ayat). 3. Al-Matsaani, yaitu surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat. Maksudnya surat-surat tersebut kurang dari seratus ayat.Misalnya,surat Al-anfal (75 ayat),ar-rum (60 ayat),dan al-hijr(99 ayat). 4. Al- Mufashshal, yaitu surat-surat pendek seperti al-ikhlas,ad-duha,dan annasr.suat-surat seperti ini kebannyakan di temukan dalam juz ke 30.

Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit.tahun ke 40 bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M.Alquran turun tidak secara sekaligus.Tepatnya pada tangal 17 ramadan. namun sedikit demi sedikit baik beberapa ayat.Al-Qur‟an di turunkan secara berangsur-angsur.Petunjuk bagi Manusia. dan sebagainya. Sejarah turunnya Al-Qur‟an Allah SWT menurunkan Al-Qur‟an dengan perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5. Proses turunnya Al-Qur‟an Ada 3 pendapat yang berkenaan dengan proses turunnya Al-Qur‟an : 1. 2.kemudian b aru diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur‟an diturunkan secara berangsur-angsur pada setiap malam lailatul qadar. Lama al-quran diturunkan ke bumi adalah kurang lebih sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.Al-Qur‟an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul izzah. 3.Al-Qur‟an diturunnkan sekaligus Al-Qur‟an diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar kemudiaan diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. Wahyu yang di turunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat ke 1-5 di gua hira. c. Turunnya ayat dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan keperluan. Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya. AL-Qur‟an diturunkan pertama kali pada malam lailatul qadar sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul izzah. Sedangkan terakhir alqu‟an turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3. Fungsi Al-Qur’an 1. . potongan ayat. langsung satu surat.Wahyu yang pertama dan terakhir diturunkan .

“Al-Quran adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. budaya. Fungsi AL-Qur‟an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum islam. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur‟an. sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. politik. ekonomi. 3. Dalam AL-Qur‟an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu. pendidikan. Turunnya Al-Qur‟an merupakan salah satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad saw.seperti yang dijelaskan dalam surat (Q.S AL-Fusilat 41:44) 2. ptunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum. Tujuan Pokok Al-Quran 1. Atau dengan kata lain yang lebih singkat. social. 3.S AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q.” Pokok Ajaran Dalam Isi Kandungan AlQur‟an . ibadah. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan normanorma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif. Peringatan dan pelajaran bagi manusia. ilmu pengethuan dan seni. 4.Allah swt menurunkan Al-Qur‟ansebagai petujuk umar manusia. Sumber pokok ajaran islam. d. 2.Bagi kita.baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.

jual beli. 2.Seperti yang dijelaskan dalam (Q.transaksi dagang.hukum perang.membayar zakat dan lainnya.manusia memerlukan berbagai kegiatan dan hubungan alat komunikasi .Menurut Al-ur‟an tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada Allah.hukum perjanjian.Hukum Secara garis besar Al-Qur‟an mengatur beberapa ketentuan tentang hukum seperti hukum perkawinan.S Az.akidah tau kepercayaan yang diyakini dalam hati seorang muslim itu harus mewujudkan dalam amal perbuatan dan tingkah laku sebagai seorang yang beriman.hukum musyawarah.Nabi Muhammad saw berhasil menjalankan tugasnya menyampaikan risalah islamiyah.Hubungan manusia dengan manusia atau hablum minanas .juga menjadi barometer kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya. dan kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan seperti itu disebut kegiatan Muamallah.anhtara lain di sebabkan memiliki komitmen yang tinggi terhadap ajhlak. Akhlak Dalam bahasa Indonesia akhlak dikenal dengan istilah moral .hukum waris.Dalam islam. Kisah-kisah umat terdahulu .Ibadah dan Muamalah Kandungan penting dalam Al-Qur‟an adalah ibadah dean muamallah.Akidah islam adalah keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya dengan sepenuh hati oleh setiap muslim.Akidah akidah adalah keyakinan atau kepercayaan.seperti silahturahmi.hukum antar bangsa.hukum pidana.ketinggian akhlak Beliau itu dinyatakan Allah dalam Al-Qur‟an surat al-Qalam ayat 4. 4.Komonikasi dengan Allah atau hablum minallah .tata cara bermuamallah di jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 82.1.Akhlak. 5.di samping memiliki kedudukan penting bagi kehidupan manusia. 3.zariyat 51:56) Manusia selain sebagai makhluk pribadi juga sebagai makhluk sosial.seperti shalat.akidah bukan hanya sebagai konsep dasar yang ideal untuk diyakini dalam hati seorang muslim.Akan tetapi.

pertanian. Memiliki ayat-ayat yang menghormati akal pikiran sebagai dasar utama untuk memahami hukum dunia manusia. HIKMAH ANGSUR 1. Firman-Nya:“Orangorang kafir berkata. 5. Melepas kehinaan pada jiwa manusia agar terhindar dari penyembahan terhadap makhluk serta menanamkan tauhid dalam jiwa. Memiliki ayat-ayat yang mengagumkan sehingga pendengar ayat suci al-qur‟an dapat dipengaruhi jiwanya. Memberi pedoman dan petunjuk hidup lengkap beserta hukum-hukum untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia seluruh bangsa di mana pun berada serta segala zaman / periode waktu.dan astronomi yang bermanfaat bagi kemjuan dan kesejahteraan umat manusia.Bukti lain adalah hampir semua surat dalam Al-Qur‟an memuat tentang kisah.di dalamnya terdapat satu surat yang di namaksn al-Qasas. golongan. 3.Kisah merupakan kandungan lain dalam Al-Qur‟an. dan lain sebagainya. Untuk menguatkan hati Nabi Shallahu „Alaihi wa Sallam . kenapa Qur‟an tidak turun kepadanya sekali turun saja? DITURUNKANNYA AL-QUR‟AN SECARA BERANGSUR- . Menyamakan manusia tanpa pembagian strata. Yang menentukan perbedaan manusia di mata Allah SWT adalah taqwa.Seperti dalam surat ar-rad ayat 19 dan al zumar ayat 9.Selain kedua surat tersebut masih banyak lagi dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dalam kedokteran. kelas. Kisah para nabi dan umat terdahulu yang diterangkan dalam Al-Qur‟an antara lain di jelaskan dalam surat al-Furqan ayat 37-39. Keistimewaan Dan Keutamaan Al-qur‟an : 1.Bahkan. Memberi gambaran umum ilmu alam untuk merangsang perkembangan berbagai ilmu. 4. 2. 6.Al-Qur‟an menaruh perhatian penting terhadap keberadaan kisah di dalamnya. Isyarat pengemban ilmu pengetahuan dan teknologi Al-Qur‟an banyak mengimbau manusia untuk mengali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.farmasi. 6.

perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam.” (Al-Furqaan: 32) 2. namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama. HADITS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM Seluruh umat Islam telah sepakat bahwa Hadis Rasul merupakan sumber dan dasar hukum Islam al-Quran. yakni Imam Bukhari. dimana dalam hal ini.Ada banyak ulama periwayat hadits. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an.Supaya mudah dihapal dan dipahami.Supaya orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur‟an dan giat mengamalkannya. Karena tanpa keduanya orang islam tidak mungkin dapat memahami islam secara mendalam.Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum. HADIST 1. dan umat Islam diwajibkan mengikuti hadis sebagaimana diwajibkan mengikuti al-Quran. Imam Abu Daud.Begitulah. 5. Imam Nasa'i. . 2. Ijma dan Qiyas. 2. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Qur‟an. Imam Muslim. apalagi membuat langsung satu kitab. Dengan begitu Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang (tak perlu melebihi) sebanding dengannya. dan Imam Ibnu Majah. PENGERTIAN HADIST Hadits adalah segala perkataan (sabda). Imam Ahmad. 3. supaya kami kuatkan hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari Qur‟an karena menurut mereka aneh kalau kitab suci diturunkan secara berangsur-angsur. 4. kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. Seorang mujahid dan seorang alim tidak diperbolehkan hanya mengambil dari salah satu dari keduanya. Imam Turmudzi.

akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendakiNya diantara Rasul-rasul-Nya. baik dalam bentuk perintah maupun larangannya. Ali‟Imran 3:179 Dalam ayat tersebut Allah memisahkan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang munafiq. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-rasulNya.Dalil al-Quran Banyak ayat al-Quran yang menerangkan tentang kewajiban mempercayai dan menerima segala yang disampaikan oleh Rasul kepada ummatnya untuk dijadikan pedoman hidup. juga menyerukan agar menaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan yang dibawanya. Oleh karena itu orang mukmin dituntut agar tetap beriman kepada Allah dan Rasul-nya. Ini sama halnya tuntutan taat dan patuh kepada Allah SWT. dan akan memperbaiki keadaan orang-orang mukmin dan memperkuat iman mereka. Ayat yang berkenaan dengan masalah ini ialah: Firman Allah SWT: ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫أ‬ . Selain Allah memerintahkan umat Islam agar percaya kepada Rasul SAW. (QS. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib. baik naqli maupun aqli.Banyak ayat al Quran dan Hadis yang memberikan pengertian bahwa hadis itu merupakan sumber hukum Islam selain al Quran yang wajib diikuti. Ayat yang dimaksud adalah: Firman Allah SWT: ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫أ‬ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫را‬ ‫ا‬ Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini. maka bagimu pahala yang besar. baik berupa perintah maupun larangan. . sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafiq) dari yang baik (mukmin). dan jika kamu bariman dan bertaqwa. Di bawah ini merupakan paparan tentang kedudukan hadis sebagai sumber hukum Islam dengan melihat beberapa dalil. Tuntutan taat dan patuh kepada Rasul SAW.

yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegangan teguh pada keduanya. yaituberupa kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya:.“Katakanlah! Taatlah kalian Allah dan Rasu-nya.Dalil al-Hadis Dalam salah satu pesan Rasulullah SAW. Malik) 3. Hadits Shahih Hadits yang bersambung sanadnya. beliau bersabda: ‫)ر ا‬ ‫ا‬ ‫أ‬ ) “Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian. Ali „Imran 3:32) . Syarat-syarat hadits shahih:      Isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur‟an Sanadnya bersambung Diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhobit Tidak syadz (bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) Tidak cacat walaupun tersembunyi 2. Berdasarkan Jumlah Perawi a. dirwayatkan oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya). disamping al-Quran sebagai pedoman utamanya. maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. Hadits Hasan . Berkenaan dengan keharusan menjadikan hadis sebagai pedoman hidup. Beberapa hal yang harus dipenuhi agar bisa disebut hadits mutawatir:    Isi hadits harus hal-hal yang dapat dicapai panca indra Orang-orang yang meriwayatkannya harus benar-benar terpercaya. Orang-orang yang meriwayatkan harus hidup pada satu zaman b. MACAM-MACAM HADIST A. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa snad yang terpercaya. Hadits Ahad Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir. (QS. jika kamu berpaling. (HR. Pembagian hadits ahad: 1.

tidak dhobit. . Hadits Mu‟dhol b. dan cacat. Hadits-hadits dha‟if disebabkan oleh cacat perawi 1. Hadits yang terputus sanadnya      Hadits Mu'allaq Hadits Mursal Hadits Mudallas Hadits Munqathi Hadits Mu'dhol c. Hadits Berdasar Macam Periwayatannya Hadits yang bersambung sanadnya hingga Nabi Muhammad saw. a. Hadits juga disebut hadits marfu‟ atau mausul. B. Hadits Dha‟if Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak adil. Hadits Mu‟allaq Hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh seorang atau lebih hingga akhir sanadnya.Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak disangka dusta dan tidak syadz 3. Hadits Mursal Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para tabi‟in dari Nabi Muhammad saw tanpa menyebutkan sahabat tempat merima hadits 3. Hadits Maudhu‟ Hadits yang dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh berdusta. 2. Hadits yang terputus sanadnya 1.syadz. padahal sebenarnya ada. 4. Hadits Mudallas Hadits yang disembunyikan cacatnya. yang berarti termasuk hadits Dah‟if. Hadits Munqathi Hadits yang terputus karena hilang satu atau dua orang perawinya 5.

3. 3.2. Hadits Matruk Hadits yng diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta. 6. IJMA’ Obyek ijma` ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur`an dan al-Hadits. Hadits Syadz Hadits yang bertentangan dengan hadits lainnya sekalipun posisi hadittsnya sederajat. Hadits Mudhthorib Hadist yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan yang kacau. Hadits Maqlub Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan antara sanad dan matan atau sebaliknya 7. sehingga artinya berubah 8. Hadits Mudraj Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang didalamnya ada tambahan yang bukan hadits. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur`an dan al-Hadits. Hadits Mungkar Hadits yang riwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan yang diriwayatkan oleh perawi yang jujur 4. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu`amalat. . Hadits Munqalib Hadits yang terbalik lafalnya. 9. Hadits Mu‟allal Hadits yang didalamnya ada cacat yang tersembunyi 5.

" Menurut istilah ijma'.1. Dasar hukum ijma` Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an. maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin. 2. kepala negara. Al-Qur`an Allah SWT berfirman: Artinya: "Hai orang-orang yang beriman. taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui ) yang berati "kaum itu telah sepakat pengangkatan Abu Bakar RA itu. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama." (Ali Imran: 103) . Firman AIlah SWT: Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. seperti perkataan seseorang ( (sependapat) tentang yang demikian itu." (an-Nisâ': 59) Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal. a. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja. sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid. Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa. pemimpin atau penguasa. al-Hadits dan akal pikiran. Pengertian ijma` Ijma` menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma'. keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama.

" (an-Nisa: 115) Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu`minîna yang berarti jalan orangorang yang beriman. sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan. hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam. sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa yang tidak mengikuti ijma` para mujtahidin. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma`. Firman Allah SWT: Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman." (HR. Sebaliknya jika dalam berijtihad. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma\\\' (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai. jangan sekali-kali berceraiberai. maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui .Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu. Akal pikiran Setiap ijma` yang dilakukan atas hukum syara`. Abu Daud dan Tirmidzi) c." b. batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka. yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid. maka ijma` itu hendaklah diikuti. AI-Hadits Bila para mujtahid telah melakukan ijma` tentang hukum syara\\\' dari suatu peristiwa atau kejadian. maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta. ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash.

istihsan dan sebagainya. atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan. dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. sehingga ia harus menerima suatu keputusan. Rukun-rukun ijma` Dari definisi dan dasar hukum ijma\\\' di atas. karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara') dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja. 2. tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan. karena ijma\\\' itu harus dilakukan oleh beberapa orang. seperti qiyas. maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma`. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan. 3. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma`. kemudian pendapatnya boleh diamalkan. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. 3. maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur\\\'an dan alHadits. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu.kaidah-kaidah umum agama Islam. seperti dengan pernyataan lisan. maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma' sebagai berikut: 1. . Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas.

mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. Pada masa Rasulullah SAW. beliau merupakan sumber hukum. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu. belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami. Setiap ada peristiwa atau kejadian. 4. Karena itu kaum muslimin masih satu. Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu. yaitu: 1. namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap. yaitu alQur'an dan al-Hadits. Ijma' yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari'ah. disamping daerah Islam belum begitu luas. dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma\\\'. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. kaum muslimin kehilangan tempat bertanya. . Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada. Kemungkinan terjadinya ijma` Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang. Periode Rasulullah SAW. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum. dan 3. Seandainya ada ijma' itu. belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin. Periode sesudahnya. maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma'. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. maka ijma\\\' dapat dibagi atas tiga periode. adakalanya menunggu ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur`an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW.4. 2. mereka berijtihad. kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar. masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid. Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya. tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma'.

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika. semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya. dan enam tahun pertama Khalifah Utsman. peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal. Karena itu amat sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian. seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan. Ijma` tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Ijma` mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar. Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam. Tiongkok Selatan. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas. timbul golongan Khawarij. mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam. Undang- . Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. Setelah Khalifah Utsman terbunuh. mayoritas penduduknya beragama Hindu. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat jabatanjabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). Khalifah Umar bin Khattab. sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia. Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya. perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi. golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya. tetapi ada peraturan atau undang-undang yang khusus bagi umat Islam. Disamping itu daerah Islam semakin luas. 2. semasa dinasti Abbasiyah. Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam.Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman. dan c. hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Misalnya India. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah.

Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul halli wal `aqdi. yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas. Diterangkan bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam. maka ijma' terdiri atas: 1. Ditinjau dari segi cara terjadinya. Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. ijma' qauli atau ijma‟ haqiqi. Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang. Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih. tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan. ljma`bayani. tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya.undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. Ijma' seperti ini disebut juga ijma` `itibari. 5. Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma`. baik berupa ucapan atau tulisan. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma'. . Ijma`sukuti. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka. yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas. yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. 2. maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma‟ itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma' lokal. Macam-macam ijma` Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad.

Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma` tersebut tidak dapat dilakukan lagi. Obyek ijma` . yaitu hukum yang dihasilkan ijma\\\' itu dhanni. Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma\\\' yang dihubungkan dengan masa terjadi. ljma`qath`i. 6. Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Ijma`shaikhan. Ijma`khulafaurrasyidin. Umar.Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma'. masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma\\\' yang dilakukan pada waktu yang lain. 5. yaitu ijma` yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup. tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijma`sahabat. yaitu hukum yang dihasilkan ijma\\\' itu adalah qath\\\'i diyakini benar terjadinya. yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma\\\' yang dilakukan pada waktu yang lain. Madzhab Hanafi menjadikan ijma` ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam. yaitu ijma` yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. yaitu ijma`yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. 2. Ijma`ahli Madinah. 3. tetapi Madzhab Syafi`i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam. 2. Ijma` ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki. 4. yaitu ijma` yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Ijma` ulama Kufah. Ijma`ijma` itu ialah: 1. dapat dibagi kepada: 1. ljma`dhanni. yaitu ijma` yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar.

QIYAS A. bentuk tubuh yang sama. AsSunnah dan ijma‟. ‫ا‬ ‫ا‬ ‫دم‬ ‫ا‬ ‫خ‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا د ئ‬ ‫س‬ ‫ا‬ . Yakni cara mengishtinbatkan suatu hukum dengan cara menganalogikan antara dua hal yang memiliki kesamaan illat tetapi yang satu belum ada ketentuan hukumnya dalam nash. bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur`an dan al-Hadits. seperti menyamakan si A dengan si B. wajah yang sama dan sebagainya. peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu`amalat. Pengertian Qiyas Qiyas dalam bahasa Arab berasal dari kata “qasa. Jadi qiyas merupakan mashodirul ahkam yang keempat setelah Al-Qur‟an. membandingkan atau mengukur. seperti mengukur tanah dengan meter atau alat pengukur yang lain.Obyek ijma` ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur`an dan al-Hadits. Secara etimologi qiyas berarti pengukuran sesuatu dengan yang lainnya atau penyamaan sesuatu dengan sejenisnya. Sedangkan menurut ulama‟ ushul fiqih qiyas berarti menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu. Demikian pula membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaanpersamaannya. 4. karena kedua orang itu mempunyai tinggi yang sama. Qiyas juga berarti mengukur. yaqisu. menyamakan dan ukuran. Qiyas menurut berarti. qaisan” artinya mengukur.

“Qiyas adalah metode berfikir untuk menemukan petunjuk makna yang sesuai dengan khabar yang sudah ada dalam al-Qur‟an dan sunnah”. sehingga dapat merusak akal. sama ataukah tidak. Untuk menetapkan hukumnya dapat ditempuh cara qiyas dengan mencari perbuatan yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. karena itu dibunuhnyalah B. setelah itu kita teliti illatnya. (berkorban untuk) berhala. yaitu perbuatan minum khomr. . jika B meninggal dunia. Timbul persoalan: apakah A tetap memperoleh tanah yang diwasiatkan itu? Untuk menetapkan hukumnya dicarilah kejadian yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash dan ada pula persamaan „illatnya.  Si A telah menerima wasiat dari B bahwa ia akan menerima sebidang tanah yang telah ditentukan. akan kami kemukakan beberapa contoh berikut:  Minum narkotik adalah suatu perbuatan yang perlu ditetapkan hukumnya. Berdasarkan persamaan „illat itu. A ingin segera memperoleh tanah yang diwasiatkan itu. sesungguhnya (meminum) khamar. (Q. mengundi nasib dengan panah. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Selanjutnya kita cari dan teliti illat yang ada pada kasus yang tidak disebutkan dalam nash. sedang tidak ada satu nashpun yang dapat dijadikan sebagai dasar hukumnya. Adapun cara mengoperasionalkan qiyas ini yakni dimulai dengan mengeluarkan hukum yang ada pada kasus yang disebutkan dalam nash. yang diharamkan berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Hai orang-orang yang beriman. adalah termasuk perbuatan syaitan. Jika sudah diyakini bahwa illat yang ada dalam kedua kasus tersebut ternyata sama maka kita menggunakan ketentuan hukum pada kedua kasus itu berdasarkan keadaan illat. ditetapkanlah hukum minum narkotik yaitu haram. berjudi. yaitu samasama berakibat memabukkan para peminumnya. sebagaimana haramnya minum khomr. Supaya lebih mudah memahaminya.S al-Ma‟idah: 90) Antara minum narkotik dan minum khomr ada persamaan „illat.

Sebaliknya. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok: 1. sebagaiman orang yang telah membunuh orang yang akan diwarisinya. diharamkan memperoleh harta warisan dari orang yang telah dibunuhnya. Berdasarkan persamaan „illat itu dapat ditetapkan hukum bahwa si A haram memperoleh tanah yang diwasiatkan B untuknya. yaitu ingin segera memperoleh sesuatu sebelum sampai waktu yang ditentukan. mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata. Sehubungan dengan ini Rosulullah saw bersabda: ‫)ر ا ا‬ ‫)ا‬ Orang yang membunuh (orang yang akan diwarisinya) tidak berhak mewarisi. pendapat shahabt maupun ijma ulama. mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas. karena ingin segera memperoleh harta warisan.R Tirmidzi) Antara kedua peristiwa itu ada persamaan illatnya. mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada halhal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur‟an.Perbuatan itu ialah pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap orang yang akan diwarisinya. Kelompok jumhur. Kedua peristiwa atau kejadian itu mempunyai „illat yang sama pula. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah. hadits. Berhubung qiyas merupakan aktivitas akal. maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama jumhur. (H. karena ia telah membunuh orang yang telah berwasiat untuknya. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasanalasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. . Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa dalam melakukan qiyas ada satu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya sedang tidak ada satupun nash yang dapat dijadikan dasar hukumnya untuk menetapkan hukum dari peristiwa atau kejadian itu. dicarilah peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. Kemudian ditetapkanlah hukum peristiwa atau kejadian yang pertama sama dengan hukum peristiwa atau kejadian yang kedua. 2.

maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul. B. ada yang membatasinya dan ada pula yang tidak membatasinya. Al-Qur’an 1) Allah SWT berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma‟ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar‟i. Hanya sebagian kecil para ulama yang tidak membolehkan pemakaian qiyas sebagai dasar hujjah. C. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih baik akibatnya. diantaranya ialah salah satu cabang Madzhab Dzahiri dan Madzhab Syi‟ah. namun semua mereka itu barulah melakukan qiyas apabila ada kejadian atau peristiwa tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat dijadikan dasar. jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. ialah al-Qur‟an dan al-Hadits dan perbuatan sahabat yaitu: a.3. kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur‟an dan hadits.” (an-Nisâ‟: 59) Dari ayat di atas dapat diambilah pengertian bahwa Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar menetapkan segala sesuatu berdasarkan al-Qur‟an dan al- . Kehujjahan Qiyas Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar‟i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu. Dasar Hukum Qiyas Sebagian besar para ulama fiqh dan para pengikut madzhab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum dalam ajaran Islam. taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri kamu. kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu. Mengenai dasar hukum qiyas bagi yang membolehkannya sebagai dasar hujjah. Hanya mereka berbeda pendapat tentang kadar penggunaan qiyas atau macam-macam qiyas yang boleh digunakan dalam mengistinbathkan hukum.

niscaya mereka akan memperoleh azab yang serupa. Maka ambillah tamsil dan ibarat (dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan yang tajam. . Kamu tidak mengira bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat menghindarkan mereka dari (siksaan) Allah.” (al-Hasyr: 2) Pada ayat di atas terdapat perkataan fa‟tabirû yâ ulil abshâr (maka ambillah tamsil dan ibarat dari kejadian itu hai orang-orang yang mempunyai pandangan tajam). dan mereka membinasakan rumahrumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan-tangan orang yang beriman. beliau bertanya kepadanya: Artinya: “Bagaimana (cara) kamul menetapkan hukum apabila dikemukakan suatu peristiwa kepadamu? Mu‟adz menjawab: Akan aku tetapkan berdasar al-Qur‟an. Dalam hal ini banyak cara yang dapat dilakukan diantaranya dengan melakukan qiyas. persamaan atau qiyas. Jika orang-orang beriman melakukan perbuatan seperti perbuatan orang-orang kafir itu. Jika tidak ada dalam al-Qur‟an dan al-Hadits hendaklah mengikuti pendapat ulil amri. Setelah Rasulullah SAW melantik Mu‟adz bin Jabal sebagai gubernur Yaman. 1. Al-Hadits. akan tetapi Allah mendatangkan kepada mereka (siksaan) dari arah yang tidak mereka sangka. Dari penjelmaan ayat di atas dapat dipahamkan bahwa orang boleh menetapkan suatu hukum syara‟ dengan cara melakukan perbandingan. Artinya: “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir ahli kitab dari kampung halaman mereka pada pengusiran pertama kali. Dan Allah menanamkan ketakutan ke dalam hati mereka. Jika tidak ada pendapat ulil amri boleh menetapkan hukum dengan mengembalikannya kepada al-Qur‟an dan al-Hadits. b. Maksudnya ialah: Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar membandingkan kejadian yang terjadi pada diri sendiri kepada kejadian yang terjadi pada orang-orang kafir itu. yaitu dengan menghubungkan atau memperbandingkannya dengan yang terdapat dalam alQur‟an dan al-Hadits.Hadits.

2. Jika seorang ibu meninggal dunia dalam keadaan berhutang. Bukhari dan an-Nasâ‟i) Pada hadits di atas Rasulullah mengqiyaskan hutang kepada Allah dengan hutang kepada manusia. tahukah kamu.” (HR. Kemudian Rasulullah SAW menjawab dengan mengqiyaskannya kepada hutang. karena ia berbuat sesuai dengan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. tetapi ia tidak sempat melaksanakannya sampai ia meninggal dunia. seperti: Artinya: “Sesungguhnya seorang wanita dari qabilah Juhainah pernah menghadap Rasullah SAW ia berkata: sesungguhnya ibuku telah bernadzar melaksanakan ibadah haji. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berijtihad itu. yaitu belum sempat menunaikan nadzarnya untuk menunaikan ibadah haji. Seorang anak perempuan menyatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan berhutang kepada Allah. Bayarlah hutang kepada Allah. Ahmad Abu Daud dan at-Tirmidzi) Dari hadits ini dapat dipahami bahwa seorang boleh melakukan ijtihad dalam menetapkan hukum suatu peristiwa jika tidak menemukan ayat-ayat al-Qur‟an dan al-Hadits yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. tentu kamu yang akan melunasinya. Jika engkau tidak memperoleh dalam sunnah Rasulullah? Mu‟adz menjawab: Aku akan berijtihad dengan menggunakan akalku dengan berusaha sungguh-sungguh. Jika hutang kepada manusia wajib dibayar . seandainya ibumu mempunnyai hutang. maka anaknya wajib melunasinya. (Mu‟adz berkata): Lalu Rasulullah menepuk dadanya dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk petugas yang diangkat Rasulullah. Beliau menyatakan hutang kepada Allah lebih utama dibanding dengan hutang kepada manusia.Jika engkau tidak memperolehnya dalam al-Qur‟an? Mu‟adz berkata: Akan aku tetapkan dengan sunnah Rasulullah. karena hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar. laksanakanlah haji untuknya. Rasulullah SAW pernah menggunakan qiyas waktu menjawab pertanyaan yang dikemukakan sahabat kepadanya. Salah satu diantaranya ialah dengan menggunakan qiyas. apakah aku berkewajiban melaksanakan hajinya? Rasullah SAW menjawab: Benar.” (HR.

c. Perbuatan sahabat Para sahabat Nabi SAW banyak melakukan qiyas dalam menetapkan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nashnya.tentulah hutang kepada Allah lebih utama harus dibayar. Sebab itu tepatlah kiranya hukum dari peristiwa itu ditetapkan dengan cara qiyas. Diantara isi surat beliau itu ialah: Artinya: “kemudian pahamilah benar-benar persoalan yang dikemukakan kepadamu tentang perkara yang tidak terdapat dalam al-Qur‟an dan Sunnah. Akal Tujuan Allah SWT menetapakan syara‟ bagi kemaslahatan manusia. Peristiwa yang tidak diterangkan dalam nash atau tidak ada nash yang dapat dijadikan sebagai dasarnya ada yang „illatnya sesuai benar dengan „illat hukum dari peristiwa yang ada nash sebagai dasarnya. Jika Rasulullah SAW ridha Abu Bakar mengganti beliau sebagai imam shalat. kemudian berpeganglah kepada pendapat engkau yang paling baik di sisi Allah dan yang paling sesuai dengan kebenaran…” d. Dalam pada itu setiap peristiwa ada yang diterangkan dasarnya dalam nash dan ada pula yang tidak diterangkan. Menurut para sahabat Abu Bakar lebih utama diangkat menjadi khalifah dibanding sahabat-sahabat yang lain. tentu beliau lebih ridha jika Abu Bakar menggantikan beliau sebagai kepala pemerintahan. Kemudian lakukanlah qiyas dalam keadaan demikian terhadap perkara-perkara itu dan carilah contoh-contohnya. Seperti alasan pengangkatan Khalifah Abu Bakar. karena dialah yang disuruh Nabi SAW mewakili beliau sebagai imam shalat di waktu beliau sedang sakit. . Dengan cara demikian seakan-akan Rasulullah SAW menggunakan qiyas aulawi. Khalifah Umar bin Khattab pernah menuliskan surat kepada Abu Musa alAsy‟ari yang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya sikap dan cara seorang hakim mengambil keputusan. Menetapkan hukum dari peristiwa yang tidak ada nash sebagai dasarnya ini sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan berdasar nash karena ada persamaan „illatnya diduga keras akan memberikan kemaslahatan kepada hamba.

yang dapat dicapai oleh panca indra 2. tapi bisa juaga berwujud pada beberapa satuan hukum yang bukan asli Sebagai contoh ialah menjual harta anak yatim adalah suatu peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yang dapat dijadikan sebagai dasarnya.  Syarat-syarat illat antara lain adalah: 1. Rukun Qiyas Dari pengertian qiyas yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa unsur pokok (rukun) qiyas terdiri atas empat unsur [5]berikut:  Ashal (asal). untuk menetapkan hukumnya dicari suatu peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yang „illatnya sama dengan peristiwa pertama. Peristiwa kedua ini telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yaitu haram (hukum ashal) berdasarkan firman Allah SWT: . Merupaka sifat yang tegas dan tidak elastis yakani dapat dipastiakan berwujudnya pada furu‟ dan tidak mudah berubah 3.)ةلعلا‬yaitu sebab yang menyambungkan pokok dengan cabangnya atau suatu sifat yang ada pada ashal dan sifat yang dicari pada far‟. Merupakan sifat yang tidak terbatsas pada aslnya. Illat (‫ . Dalam istilah ushul disebut ashal (‫ )لصالا‬atau maqis „alaih (‫ ) لع س قملا‬atau musyabbah bih (‫شم‬ ).)لصالا مكح‬yaitu hukum syara‟ yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pula bagi cabang. yaitu sesuatu yang dinashkan hukumnya yang menjadi ukuran atau tempat menyerupakan/ menqiyaskan.  Far‟ (cabang). Peristiwa kedua ini memakan harta anak yatim yang disebut ashal. yakni ada persesuian antara hukum da sifatnya 4. Illat itu adalah sifat yang jelas.) شملا‬  Hukum ashal (‫ . Peristiwa ini disebut far‟u. yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya yang diserupakan atau yang diqiyaskan. Merupakan sifat yang munasabah . Di dalam istilah ushul disebut al-far‟u (‫ )عرفلا‬atau al-maqis (‫ )س قملا‬atau al-musyabbah (‫.B.

ialah menjual harta anak yatim . Persamaan „illat antara kedua peristiwa ini. berikut akan diterangkan syarat-syarat dari masing-masing rukun qiyas tersebut. 1) Ashal  Menurut Imam al-Ghozali dan Syaifuddin al-Amidi yang keduanya adalah ahli ushul fiqh Syafiiyyah syarat-syarat ashal itu adalah:  Hukum ashl itu adalah hukum yang telah tetap dan tidak mengandung kemungkinan dinasakhkan Hukum itu ditetapkan berdasarkan syara‟ Ashal itu bukan merupakan far‟u dari ashl lainnya Dalil yang menetapkan „illat pada ashal itu adalah dalil khusus. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: . Syarat-syarat qiyas Setelah diterangkan rukuk-rukun qiyas. 2) Al-Far‟u . sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).Far‟u. C. Karena itu ditetapkanlah hukum menjual harta anak yatim sama dengan memakan harta anak yatim yaitu samasama haram.„Illlat.Hukum ashal.S an-Nisa‟: 10). ialah memakan harta anak yatim . ialah sama-sama berakibat berkurang atau habisnya harta anak yatim.Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. tidak bersifat umum      Ashl itu tidak berubah setelah dilakukan qiyas Hukum ashl itu tidak keluar dari kaidah-kaidah qiyas far‟u. ialah haram . ialah mengurangi atau menghabiskan harta anak yatim.Ashal. (Q.

Misalnya. maka menurut ulama Hanafiyyah tidak sah. yaitu sampai suami membayar kafarat. Apabila qiyas ini ditetapkan. dan kafarat merupkan ibadah. tidak boleh mengqiyaskan hukum mendzihar wanita dzimmi kepada mendzihar wanita muslimah dalam keharaman melakukan hubungan suami istri. mengqiyaskan hukum meninggalkan shalat dalam perjalanan kepada hukum bolehnya musafir tidak berpuasa.Para ulama ushul fiqh mengemukakan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh al-far‟u yaitu:  Illat yang ada pada far‟u harus sama dengan illat yang ada pada ashal. karena qiyas seperti ini bertentangan dengan nash dan ijma‟. . „illat yang ada pada wisky sama dengan zatnya/materinya dengan „illat yang ada pada khamr. Contoh „illat yang jenisnya sama adalah mengqiyaskan wajib qishas atau perbuatan sewenang-wenang terhadap anggota badan kepada qishas dalam pembunuhan.  Tidak ada nash atau ijma‟ yang menjelaskan hukum far‟u itu. Karena kaharaman hubungan suami istri dalam mendzihar suami istri yang bersifat muslimah bersifat sementara. Ahmad ibn Hanbal. Ibnu Majah dan al-Nasa‟i). karena orang kafir tidak dibebani membayar kafarat. karena jika demikian.R Muslim. Qiyas yang bertentangan dengan nash atau ijma‟. karena keduanya sama-sama perbuatan pidana. Sedangkan keharaman melakukan hubungan dengan istri yang berstatus dzimmi bersifat selamanya. sedangkan mereka tidak dituntut untuk beribadah. Contoh „illat yang sama dzatnya adalah mengqiyaskan wisky pada khamr. Misalnya. Artinya tidak ada nash atau ijma‟ yang menjelaskan hukum far‟u dan hukum itu bertentangan dengan qiyas. karena keduanya sama-sama memabukkan dan yang memabukkan itu sedikit atau banyak.  Hukum ashl tidak berubah setelah dilakukan qiyas. maka status qiyas ketika itu bisa bertentangan dengan nash atau ijma‟. al-Tirmidzi. Akan tetapi menurut ulama Syafi‟iyyah hukumnya sah karena orang dzimmi dikenakan kafarat. disebut para ulama‟ ushul fiqh sebagai qiyas fasid. apabila diminum hukumnya haram (H.

3) Hukum Ashl Syarat-syarat hukum ashal.Bahkan dalam literature lain ditambahkan beberapa syarat-syarat far‟u. Karenanya hukum yang ditetapkan secara ijma‟tidak dapat diketahui dengan pasti. Bila qiyas itu dibenarkan. sehingga tidak mungkin mengqiyaskan hukum syara‟ yang amaly kepada hukum yang mujmal „alaih. antara lain:  Hukum syara‟ itu hendaknya hukum syara‟ yang amaly yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. karena wudlu‟ (far‟u) diadakan sebelum hijrah. selain dari kesepakatan para mujtahid. Artinya hukum far‟u itu harus datang kemudian dari hukum ashl. Lagipula ditetapkannya tayammum itu adalah sebagai pengganti wudlu‟ di saat tidak dapat melakukan wudlu‟. Atas dasar yang demikian.  Cabang tidak mempunyai hukum yang tersendiri. Mereka menyatakan bahwa hukum yang ditetapkan berdasarkan ijma‟ adalah hukum yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. antara lain:  Hukum furu‟ tidak mendahului hukum ashl. sedang sandaran hukum syara‟ itu adalah nash. artinya pensyari‟atannya harus rasional . Hal ini diperlukan karena yang akan ditetapkan itu adalah hukum syara‟. maka jumhur ulama‟ berpendapat bahwa ijma‟ tidak boleh menjadi sandaran qiyas. tidak mempunyai sandaran. Contohnya adalah mengqiyaskan wudhu‟ dengan tayammum dalam wajibnya niat. maka berarti menetapkan hukum sebelum ada illatnya.  Hukum ashl harus ma‟qul al-ma‟na. Asy-Syaukani membolehkan ijma‟ sebagai sandaran qiyas.  Hukum cabang sama dengan hukum ashl. sedang tayammum (ashl) diadakan sesudah hijrah. Qiyas tersebut tidak benar. Ulama usul berkata: “apabila datang nash maka qiyas menjadi batal. karena keduanya samasama taharah (suci).

Hukum kesaksian secara khusus ini tidak bisa dikembangkan dan diterapkan kepada far‟u. Menyatakan bahwa apabila Khuzaimah (sahabat) yang menjadi saksi. Demikian juga hukum-hukum yang dikhususkan bagi Rosululloh saw. Alasannya ialah bahwa perentangan hukum dari ashl kepada far‟u adalah didasarkan kepada adanya sifat yang menyatu pada keduanya. Tetapi Al-Qur‟an dan dan hadits menerangkan bahwa illatnya itu bukan karena masyaqqat tetapi karena adanya safar (perjalanan) b) Dalil (Al-Qur‟an dan Hadits) menunjukkan bahwa hukum ashl itu berlaku khusus. Hukum ashl itu tidak merupakan hukum pengecualian atau hukum yang berlaku khusus untuk peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya dalam sebuah riwayat dikatakan: ‫خ‬ ‫د‬ Kesaksian Khuzaimah sendirian sudah cukup. sehingga masih mungkin dengan hukum ashl itu membangun (menetapkan) hukum. yaitu: a) „Illat hukum itu hanya ada pada hukum ashl saja. 2: 282). maka cukup sendirian. tetapi Rosulullh saw. Abu Daud. al-Hakim. karena hukum ini hanya berlaku untuk pribadi Khuzaimah. „Illat yang masuk akal dalam hal ini ialah untuk menghilangkan kesukaran atau kesulitan (masyaqqot).S AlBaqoroh. Hukum ashl macam ini ada dua macam. Seperti dibolehkannya mengqoshor sholat bagi orang musafir. Ahmad ibn Hanbal. (H. bukan hukum yang telah dinasakhkan. tidak berlaku pada kejadian atau peristiwa yang lailn. Ada juga syarat lain yang disebutkan dari sumber lain bahwa syarat hukum ashal adalah:  Hukum ashl itu adalah hukum yang tetap berlaku. seperti kawin lebih dari empat orang tanpa mahar. Hal ini sangat tergantung kepada pandangan (i‟tibar) dari . tidak mungkin pada yang lain..R. al-Tirmidzi dan al-Nasa‟i) Ayat Al-Qur‟an menentukan bahwa sekurang-kurangnya saksi itu adalah dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki bersama dua orang wanita (Q.

pembuat hukum ashl yang telah dimansukh. Akan tetapi pada makalah ini akan kami sebutkan definisi „illat menurut imam al-Ghozali. karena dengan adanya penyakit tersebut tubuh manusia berubah dari sehat menjadi sakit.  Bentuk-bentuk „illat . „illat ini hanya merupakan indikasi. tetapi merupakan penyebab munculnya hukum. melainkan harus karena adanya izin Allah. dalam arti: adanya suatu „illat menyebabkan munculnya hukum. penyebab dan motif dalam suatu hukum. bukan karena dzatnya. AlGhozali berpendapat bahwa pengaruh „illat terhadap hukum bukan dengan sendirinya. Misalnya penyakit itu dikatakan „illat. Menurutnya. melainkan karena perbuatan syar‟i. tidak ada lagi pandangan pembuat hukum terhadap sifat yang menyatu pada hukum ashl tersebut. yaitu: ‫ات‬ ‫ا‬ Sifat yang berpengaruh terhadap hukum. Allah-lah yang menjadikan „illat itu berpengaruh terhadap hukum. „illat itu bukanlah hukum. 4) „illat  Pengertian „illat Secara etimologi „illat berarti nama bagi sesuatu yang menyebabkan berubahnya keadaan sesuatu yang lain dengan keberadaannya. Misalnya seorang pembunuh terhalang mendapatkan warisan dari harta orang yang ia bunuh. terdapat beberapa definisi „illat yang dikemukakan ulama ushul fiqh. disebabkan pembunuhan yang ia lakukan. tetapi atas perbuatan dari kehendak Allah. Secara termenologi. yang dijadikan ukuran untuk mengetahui suatu hukum. Dengan demikian. Dalam kasus ini bukan karena membunuh semata-mata yang menjadi „illat yang menyebabkan ia tidak mendapat warisan. Maksudnya.

yaitu bergabungnya beberapa sifat yang menjadi alasan adanya suatu hukum. bukan sekedar tanda-tanda atau indikasi hukum. Contohnya: sifat memabukkan pada minuman keras. Bagi ulama yang dapat menerima sifat tersebut sebagai „illat.  Syarat-syarat „illat „illat itu mengandung motivasi hukum.  Sifat „urfi. tanpa tergantung kepada „urf (kebiasaan) atau lainnya. Contohnya: buruk dan baik. Tetapi mengenai kemungkinannya untuk menjadi „illat bagi suatu hukum. atau sesuatu yang dapat dirasakan. yaitu yang dapat dicapai oleh akal dengan sendirinya. Semua sifat tersebut dapat menjadi „illat. mulia dan hina. para ulama berbeda pendapat. Sifat syar‟i. masih diperlukan beberapa syarat yang akan dijelakan di bawah ini. yaitu sifat yang dapat diketahui dalam penamaannya dalam artian bahasa. Maksudnya. Contohnya: sifat pembunuhan secara sengaja. Di antara bentuk sifat itu adalah:  Sifat haqiqi. yaitu sifat yang tidak dapat diukur. fungsi „illat adalah bagian dari tujuan disyari‟atkannya hukum. yaitu untuk kemashlahatan umat manusia. yaitu sifat atau sesuatu yang dapat diamati dengan alat indera. Ada beberapa bentuk sifat yang munkin menjadi „illat bagi hukum bila telah memenuhi syaratsyarat tertentu. Contohnya: diharamkannya nabiz karena ia bernama khomr. Syarat-suarat „illat adalah sebagai berikut:  . semuanya dijadikan alasan berlakunya hukum qishos. yaitu sifat yang keadaannya sebagai hukum syar‟i dijadikan alasan untuk menetapkan sesuatu hukum. dan dalam bentuk permusuhan.  Sifat hissi. Contohnya: menetapkan bolehnya mengagungkan barang milik bersama dengan alasan bolehnya barang itu dijual. namun dapat dirasakan bersama.„illat adalah sifat yang menjadi kaitan bagi adanya suatu hukum.  Sifat lughowi. pencurian yang menyebabkan hukum potong tangan.   Sifat murakkab. Contohnya: pembunuhan yang menjadi penyebab terhindarnya seseorang dari hak warisan. seperti senang atau benci.

dan bisa ditangkap indera manusia. Karenanya. Qashar sholat diperbolehkan bagi orang yang melakukan perjalanan. .  „Illat itu jelas. tidak jelas. keadaannya jelas dan terbatas. dan mendorong seseorang untuk lebih yakin dalam berbuat. bila seseorang pembunuh diqishosh. Contohnya: keadaan dalam perjalanan menjadi „illat untuk bolehnya mengqashar sholat. dan tidak bisa ditangkap indera manusia. karena berbeda antara seseorang dengan lainnya. Itulah sebabnya para ahli fiqh menyatakan bahwa “sukarela” itu harus diwujudkan dalam bentuk perkataan “ijab” dan ”qobul”. sehingga harus diambil sifat lain yang dhahir sebagai patokan yang alasan di dalamnya terdapat alasan yang sebenarnya.) مئالم‬Adanya kesesuaian hubungan antara sifat dengan hukum itu menjadikannya rasional. nyata. diterima semua pihak. maka orang akan menjauhi pembunuhan.  Harus ada hubungan kesesuaian dan kelayakan antara hukum dengan sifat yang akan menjadi „illat (‫سا م‬ ‫ . masyaqqah itu tidak dapat dijadikan „illat hukum. karena keadaan dalam perjalanan itu menyulitkan (masyaqqah). Sifat “sukarela” ini tidak bisa dijadikan „illat yang menyebabkan pemindahan hak milik dalam jual beli. Misalnya sifat memabukkan dalam khamr. karena “sukarela‟ itu masalah batin yang sulit diindera. Contoh sifat yang tidak nyata. antara satu situasi dan situasi lainnya. sehingga tidak bercampur dengan yang lainnya. karena „illat merupakan pertanda adanya hukum. Dalam literature lain ditambahkan bahwa syarat „illat itu antara lain:  „illat itu harus dalam bentuk sifat yang terukur (‫ض م‬ ). namun masyaqqah itu sendiri tidak dapat diukur dan ditentukan secara pasti. Maksudnya. Sifatnya sama dengan sifat yang batin (tidak dhahir). Apabila „illat itu tidak nyata. maka sifat seperti itu tidak bisa dijadikan „illat.Contohnya: sifat “menjaga diri” merupakan hikmah diwajibkannya qishosh. sehingga diri (jiwa) manusia akan terpelihara dari pembunuhan. yaitu “keberadaan dalam perjalanan” yang sifatnya jelas dan terukur. adalah sifat “sukarela” dalam jual beli.

Sifat yang tidak ada hubungan kesesuaian dengan hukum tidak dapat dijadikan „illat bagi bolehnya berbuka puasa. mu‟assir. Contohnya dalam masalah iddah.  Fungsi „illat Pada dasanya setiap „illat menimbulkan hukum. karena memang mereka boleh menikah lagi sesudah adanya thalaq itu. baik dengan nama mu‟arrif. tetapi „illat itu tidak menolak terjadinya suatu hukum. padahal syara‟ melarang merusak dan melarang mencelakakan diri.  Penolak yaitu „illat yang keberadaannya menghalangi hukum yang akan terjadi. yaitu sebagai:  Penyebab/penetap yaitu „illat yang dalam hubungannya dengan hukum merupakan penyebab atau penetap (yang menetapkan) adanya hukum.  Pencabut yaitu „illat yang mencabut kelangsungan suatu hukum bila „illat itu terjadi dalam masa tersebut. karena antara mengantuk dan puasa tidak mempunyai hubungan kesesuaian apa-apa. tetapi tidak mencabut hukum itu seandainya „illat tersebut terdapat pada saat hukum tengah berlaku. Antara „illat dan hukum mempunyai kaitan yang erat. Contohnya: sifat thalaq dalam hubungannya dengan kebolehan bergaul. Contohnya sifat radha‟ (hubungan . Dalam kaitan itulah terlihat fungsi tertentu dari „illat.  Penolak dan pencabut yaitu „illat yang dalam hubungannya dengan hukum dapat mencegah terjadinya suatu hukum dan sekaligus dapat mencabutnya bila hukum itu telah berlangsung. tetapi iddah itu tidak mencabut kelangsungan perkawinan bila iddah itu terjadi dalam perkawinan. Seandainya dilakukan juga. malah akan merusak dirinya. karena sakit itu menyulitkan seseorang untuk berpuasa. Contohnya „illat memabukkan menyebabkan berlakunya hukum haram pada makanan dan minuman yang memabukkan.Contohnya: sakit menjadi „illat bolehnya seseorang membatalkan puasa. Iddah dalam hal ini adalah iddah syubhat. atau ba‟its. Adanya thalaq itu mencabut haq bergaul suami istri (jika mereka telah menikah atau rujuk). Adanya iddah menolak dan menghalangi terjadinya perkawinan dengan laki-laki yang lain.

persusuan) berkaitan dengan hubungan perwakinan. Qiyas mulawi ialah yang hukum pada far‟u sebenarnya lebih utama ditetapkan dibanding dengan hukum pada ashal. tidak ada kemungkinan lain selain dari „illat yang ditunjukkan oleh dalil itu. Qiyas dalalah dan Qiyas syibih. bila hubungan susunan itu terjadi (diketahui) waktu berlangsungnya perkawinan. Qiyas jali terbagi menjadi: Qiyas yang „illatnya ditunjuk dengan kata-kata. Karena itu sebenarnya hukum yang ditetapkan bagi far‟u lebih utama dibanding dengan hukum yang ditetapkan pada ashal. ialah qiyas yang „illatnya berdasarkan dalil yang pasti. seperti memabukkan adalah „illat larangan minum khamr. karena keduanya mempunyai persamaan „illat. . Bagaimana hukum memukul orang tua? Dari kedua peristiwa itu nyatalah bahwa hati orang tua lebih sakit bila dipukul anaknya dibanding dengan ucapan “ah” yang diucapkan anaknya kepadanya. d) Pembagian qiyas Qiyas dapat dibagi menjadi tiga macam. Qiyas „illat terbagi: a. 1. Qiyas „illat ialah qiyas yang mempersamakan ashl dengan far‟u. Adanya hubungan susuan mencegah terjadinya hubungan perkawinan antara orang yang sepersusuan dan sekaligus mencabut atau membatalkan hubungan perkawinan yang sedang berlangsung. yaitu: Qiyas „illat. Qiyas jali. Seperti haramnya hukum mengucapkan kata “ah” kepada kedua orang tua berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” (Q. yang disebut dengan jelas dalam nash.S al-Isra‟: 23) „illatnya ialah menyakiti hati kedua orang tua.

seperti menjual harta anak yatim diqiyaskan kepada memakan harta anak yatim. Dari kedua peristwa ini nampak hukum yang ditetapkan pada ashal sama pantasnya dengan hukum yang ditetapkan pada far‟u.- Qiyas musawi. namun kedua-duanya adalah mulut. Yang tersembunyi di sini adalah keadaan mulut burung buas yang berupa tulang atau zat tanduk. „illatnya ialah kedua binatang itu sama-sama minum dengan mulutnya. Qiyas khafi. sehingga air liurnya bercampur dengan sisa minumannya itu. karena mulut burung buas berbeda dengan mulut binatang buas. Karena itu ditetapkan pulalah haram hukumnya menjual harta anak yatim. tetapi merupakan petunjuk yang menunjukkan adanya „illat untuk menetapkan sesuatu hukum dari suatu peristiwa. Qiyas dalalah Qiyas dalalah ialah qiyas yang „illatnya tidak disebut. apakah wajib ditunaikan zakatnya atau tidak. ialah qiyas hukum yang ditetapkan pada far‟u sebanding dengan hukum yang ditetapkan pada ashal. b. seperti mengqiyaskan sisa minuman burung buas kepada sisa minuman binatang buas. Memakan harta anak yatim haram hukumnya berdasarkan firman Allah SWT: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.S an-Nisa‟: 10). Mulut burung buas terdiri dari tulang atau zat tanduk. dan sisa minuman. „illatnya adalah sama-sama menghabiskan harta anak yatim. sedang mulut binatang buas adalah daging. (Q. „illat ini mungkin dapat digunakan untuk sisa burung buas dan mungkin pula tidak. Cara ulama yang menetapkannya wajib . 1. daging binatang buas adalah haram. Seperti harta kanak-kanak yang belum baligh. sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). ialah qiyas yang „illatnya munkin dijadikan „illat dan munkin pula tidak dijadikan „illat. Tulang atau zat tanduk adalah suci.

diberikan kepada orang lain. tetapi diambil ashal yang lebih banyak persamaannya dengan far‟u. diwariskan. Tetapi madzhab Hanafi. 17:23 Allah berfirman: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (Q. karena sama-sama merupakan hak milik. puasa dan sebagainya. mengqiyaskan memukul pada ucapan “ah”. Dilihat dari segi kekuatan „illat yang terdapat pada far‟u dibandingkan yang terdapat pada ashal. karena ada petunjuk yang menyatakan „illatnya. Qiyas syibih Qiyas syibih adalah qiyas yang far‟u dapat diqiyaskan kepada dua ashal atau lebih. yaitu: 1. Tetapi dapat pula diqiyaskan kepada harta benda. Misalnya.mengqiyaskannya kepada harta orang yang telah baligh. 17: 23) . seperti hukum merusak budak dapat diqiyaskan kepada hukum merusak orang merdeka. tidak mengqiyaskannya kepada harta orang yang telah baligh. Dalam hal ini budak diqiyaskan kepada harta benda karena lebih banyak persamaannya dibanding dengan diqiyaskan kepada orang merdeka. yaitu kedua harta itu sama-sama dapat bertambah atau berkembang.S al-Isra‟. Qiyas al-Aulawi. 1. yaitu qiyas yang hukumnya pada far‟u lebih kuat daripada hukum ashl. diwakafkan dan sebagainya. termasuk di dalamnya orang yang telah baligh. seperti shalat. Sebagaimana harta budak dapat diperjualbelikan. karena „illat yang terdapat pada far‟u lebih kuat dari yang ada pada ashl. Dalam surat al-Isra‟. tetapi tidak diwajibkan kepada anak kecil (orang yang belum baligh). Ibadat hanya diwajibkan kepada orang mukallaf. karena kedua-duanya adalah manusia. Dari segi ini qiyas dibagi kepada tiga segi. Karena itu ia anak kecil tidak wajib menunaikan zakat hartanya yang telah memenuhi syarat-syarat zakat. tetapi kepada ibadat.

mengqiyaskan apel pada gandum dalam hal berlakunya riba fadhl.R Bukhori Muslim). mengqiyaskan membakar harta anak yatim kepada memakan harta anak yatim secara tidak wajar. Akan tetapi. jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu.Para ulama ushul fiqh mengatakan bahwa „illat larangan ini adalah menyakiti orang tua. karena kedua sikap itu sama-sama menghabiskan harta anak yatim dengan cara zalim. karena kualitas „illat pada keduanya juga sama. Keharaman memukul orang tua lebih kuat daripada sekedar mengatakan “ah” karena sifat “menyakiti” melalui pukulan lebih kuat dari ucapan “ah”. Artinya ikatan „illat yang ada pada far‟u sangat lemah disbanding ikatan „illat yang ada pada ashl. Misalnya Allah berfirman dalam surat al-Nisa‟. Oleh sebab itu. Dikatakan bahwa benda sejenis apabila dipertukarkan dengan berbeda kuantitas. Dalam hadits tersebut diantaranya disebutkan gandum (H. Imam al-Syafi‟I mengatakan bahwa dalam jual beli apel pun bisa berlaku riba fadhl. 1. karena „illat riba al-fadhl pada gandum lebih kuat. 4: 2) Ayat ini melarang memakan harta anak yatim secara tidak wajar. 1. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat. yaitu „illat yang ada pada far‟u lebih lemah dibandingkan dengan „illat yang ada pada ashl. para ulama ushul fiqh. (Q. .S an-Nisa‟. Misalnya. berlakunya hukum riba pada apel lebih lemah dibandingkan dengan yang berlaku pada gandum. Qiyas al-Musawi. 2:2: Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka. Qiyas al-adna. yaitu hukum pada far‟u sama kualitasnya dengan hukum yang ada pada ashl. maka perbedaan itu menjadi riba fadhl. karena keduanya mengandung „illat yang sama yaitu sama-sama jenis makanan. Dalam hadits Rosulullah saw.

3503. 9.3 ::2 .3 !034.9: ./..887  ./ 909.8:...38:3  43943.8.3 /.:50309.703.3 203./3./03.-:9.3.5.3 O O O .3././.. -07..2 :-:3.-:90.9 7.6 /.3 /03...-:.3 .9.9 ::2 903. /03.9 9.3. 2034.3. 2070..../ /.9: .5.2 2.3 0-40.. 9: 907. /03.3 0-07.38:3.9 5.9 9: 9/.: 8:.3/.380.203. 2034. .2. /.9:::2/.38:3.: 7::  .3 .5 .9 9: 907.9  !03.3/../ /.9203.33.3 .9.: -.3  .808:/.8:-.3 203.  /..:8/. 8. //.35030-.69:  !034.-:9::29:80.:  /..-:9. /./.:3.. 81.. 202.33.33.-:..9203. -. 2: .. 203./.3 3. 203.5 .  :-:3.3.-.2 507.38:..2 .9 . -07.320309. 907.2:-:3...2 :-:3.3. ::2 9: 90./3.9 202.771  2: ..3 2030-.. 90780-:9  909.::2 -.3 .2 2.3.-:9 . .3.3 ::2 207:5.-. .3 907. 2.59/. 81.990780-:9907/.3 -07.-:93.9..3 907...9.5.9: ::2  43943.3 2070.//.3 -./. 203.3.3 /.3 507. //.3202..3.9: .3  909. ::2 . .907.5../.9: . 507.8.33.9. 98  43943.-:9 0.5 .6 -07.50309.9 . .3 -07. 90.9:::2-. //. -40 203./3. 8:.5 //.3::2 /. 9: 9/. 23:2./. /03.2 5.:  43943.9. /. 3 .2 897 .7.3  //. .0.6 9: 203.

9. /-.3 :.3.3.3 ::2 5.9 -. .  805079 202.5078:8:. /909. 05. :-:3.2 .: .::2 .80.38:3  -..8 .9907-..3 9: 907.3 /.: 202-.5.47.3 /.3 .3 507. 9:  ". 2.5.3./ /09.2.3 805078:8:.  ".8 .7.2.. .3 ".38:33. .3. 907.3 :-:3...3.$% 793.3-.47.3 40 /.3 80. . /9:3: /03.305.3 .8 ../.9 ".5.7.3/3 /03.3 .23.703.9.3.89  9/.8/.!07.0/:.9.88-    ".3 :-:3..203.8 .3  -07....8 2:.9. 0/:.7.8 ".8. .23.  $05079 .9:80-03. 6...9.3.39.3.8/.73..   ..-:9 .2.3 .3 1. -./.8 .5078. 05. 907-.8   ". ..3   / !02-.3 9:. 50789./.-:. /-.9.3 9:.93..5./3.9/-.1. :-:3.3.5.3 -07.3/3/03.5..3 ::2 5.8/.2.3./.3 8:8:3. .3 /9:3:.35. 6.203.:8 203.3/3 /03.9. 1. /5:: . 47.. -07/.93.3.3 8:8:.3 .8 .  " $. ./. .::2202::47./  ".3 .7 :0-:9.0./.3/909.3 /:.507. .73.. .3 /.7 .27 .-07/.3 507. 0- 8.3.3 .3 80/.3 /03.9.7.3 80.7 :  .3.8.3/909.. ::2 203:.9 47.5.7 0/:.39:.9.9 ./.3../.3 2025078.8.2:203. 87.9 ".3.703.. . 9: 3.  .3::2.  .30.323:2. .3172..  .36..3 203./.8. .39:.93..2.3 .8 ..8 .3. 203.3 5. .9:-07.0/:. :-:3.3 /-.9.3 .90/:.3.9:".. 0- :9.2025:3.7.3/80-:9/03.3.3 .3 .3 507.9 ..8 /03.9./9. 02:33.3  /.3 .3 .7 : 80-03.

 " $.9:...9:2030.33.3  /.2.-07/.9 9..79. .3 .8.3 -3.8  .3 88.79.3 /909.  $05079 . .73. 3./..5. 203:.3.8 ...79. 2::9 -:7:3 -:.3. 8./.3 5./.3. 202..79.5. . 203..8 ::2 .  80/. . /.3203.93.7. 88. 9/. . 6.3 2::9 -3. 8.3 .9..92 /6. 9: /909.7 9:. . .2::9 /.7. 50789.3 .7..3 .7.3/:  %:..23:2 /03.92  .3 5. ::2 ..  805079 203:.$% 793.8..3 -:7:3 -:..7 8:.3 5. .3::2.9.7../.8 907/7 /.5./../. 9/.  .3808:. ../.5.3 5:..3 ./.: 9/.3 47.  .8 /./.5.3 /909. . 9/. .35.83.8.3 ./.3/3 /03./. 23:2.33.  .32:335:.5 207:5./.3 /909. /03.3.8.3907802-:3 /83.3.8 ..92  .92 80.  .9.3 2::9 -3.9: 50789.39.1./.3. /:.3/:    ".2:30/:. /80-:9  909.8.3-07:5.9..93. 9:  .0.3 2:33 5:.8 -07-0/.1 .7 :  - ".3.8:0 /. .3 -0:2 -.3 509:3:.8..8. /...703.7. .3 20309..79.3 .79.7 :73.0/:. .5.703.99..3 ::2 .3 05.3.9.-3. . .3 -:..7 : 80-.3172.2. 47.3.3-3. /03.3 .3-:.3 . ./.5.79..  803.2 ::23.3. -07.92  02..8 /.3 88.3/: .7 0/:. 8.2070.3 202.2.3.2:33/.9: ::2 /.. 8:. 23:2.2.8  ::9 -:7:3 -:.. .25:7 /03.2::23.9  805079 2036.3 .2 3.5. .9 :39: 20309. -:7:3 -:.-8.2  80-03.32::9-:7:3-:.3.3 203:3:. .. 6. 8.9 9. .32.- .92.: .8 . .3 .9..3 8. .  ". :.9. 3 3.93. .93.32070.388.8 05./.. 1.3. 307..2.580503:507:93.8 2:8.: .. .9.3 .3 2::93.23:2.9 3 2:33 /.5.5..3. 5. ".- /9:3. .9.6.25../.2.2.:.3 -:.9/.3/909.3 :39: 88. $08:3:3.93.3 -:.   .8/.3.23:2.9 /:3..8./.39:8.

3:8./.9.9 5. /:.5/.  .05.3907/./.9..  -.9.79.5. -.3 .3. /.3.8.3.5 /.3 ./6./..-./.2036..3 .: -0702-.8.3 05.  .88- .9  5:.2.93.8: / /.. .3. /.1  9072./.703.3 80-.80 . .  909. .9.8. 47.95..7 : 805079 ::2 207:8.8. -0.33. -.-. 9: .305.5.380-.  .1.79..79.::2.2-.  " $. 1. .79.509:3:. /6.05.3/3 /03. 47./.8 .79.7 : /-.3./.  ./.05.3 907/.5. 47. 207:5./03. .   .8 .7 : /.3 /.3 .3 /-07..9.7 : 0- :. /././.-:/..3.305.3.5.8.3.9    ".9/.9 . .3 05.7 .88- "..33.3 ..33. 0- -.9: 6.1 9/. .5. 87.3 90.9 8.28:7.3.5.0/:. 5.. ::2 207:8.5078..703.3.703.. 0.5.9:   ". 2036.3 203.3.703.3 05. 47.8.2.79./. ..3 ./. 9/.3. 47.9 /507:..3.95.9 /6.  .7.5 05.3/..3 ::23.23.9: 0/:./. :.9 .3 05.3.8.9.3 -0:2 -.7.79. 0/:.9 /.2.:. 3 -:/. %09.78.3.  .3 90..3 .3 .8.47.8 8. 2..5. -:/../.1.8. -.3 907/./. 9: 8.3 2:.2.5.-.3./.3 90. 6.7 80 0:.390.9  805079 8... /.9.95:.-07172..9 -079.3 05.-.3 207/0..9 /.  909.3 207/0..31.20203:8. .. 0.9..8 ./. 87.3.8/-.9.3/3.8.3 .47.  $0-.33.80.3202::5. 2  .8.78036. 1..3 /6..: 0- 909.8.9 /6.2.- 203:3.3 /. 5078.3.2-././.  ../..75./. ./.7 :0-:. . /. . -03/. 8.2 ././. -03/.507...3 %09.3 1. /.8.305.703. ./..9.8.3.2036.2.3 ./. 8.5 9/. /-.30--.2.5.2:203.47. /:.9 . .3 05./.52.703. .

3. .3 .2.7./.3 /03.-07172.50 0- 02./.3.9320.3 .75.79.:./03.    "..../.3 8..2070.2. 203./.  0. .3 202-.9.  . :.8 .9./9890780-:9/.2 :.9/.3..3909. 8.:8: 16  2036.9../.28:7.92 . 5.79.3 9:./7-.7 : 0- 02./.2.::27-.2.1.2 . 8.3..: 5..3. $.-8.5 -07..3 .5..9 203. . 203.3.1.  2036./../98 #48::..79.:3..7. .3./.9 5.. /5079:.505:3-8.7.:.-07. .9   .:3. .  .9 20.39:203..3.2. .2. /./.3 8.  8.9.9. .3-07-0/..7 :8. 1.3 9:./5.2.79. 2070.2.3 -..2.2.703...-07.3. 0- :..7-.8  .703.3./3.9:::25.79. 8..3 -.7.7 .399. 8.3 -.5.3.5. :8: 16 203.79../.3..3/:3 .8 .9 .7.  .2    ". /03..3./.703.507-0/.2. .3202.3 . /-.3 -07. 5.8. 5.3./.3 .7 80-.9/.3 .9 02.1  203.2.3.3/:2/.2.3/../ .0/:. 202.3.9 47.3/03.3/.7.3 .9/.9.7 203. 8./.9 ../.3.- 9:  2.8.3.9: 8.3 .9./.9.2.9 .3 202:: 47.3. 1./. 8.9 /.2 . :8. :.8 793.3. 800/.39..3 . 1.9280..3 -07.-078.7 .. :.1.81.9...83.3 .!./ .7 : 8.3. 0/:.3 ././.3.3 -:7: /.3..5..2: 203:.3::2 .9 .1.505.9280.7.3 .9 .3 -.3 ..:5::.79.:.. -. 80038 . 5./ . 0/:.3  ./80-:9.8. 038 2.3/3.3 . . .7 5.2: . 05.3.7.3/:20-:.3 /03. /8-.  .3/3 .:7-.59:8.. .9.2. /-.703.7.   .. ..2:  " $.3/:2  ./..3 3 ..9: .3 8:/.9.3/:2  #:47 :82  0 80-.-.703.3../.30-:.8 2.7:.92/03.203.3/3.8  8.97-. -0..7. .92 05. .  .. .. -03/. .3 .3/80-:9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful