1

KOMANDO DAERAH MILITER XII/TANJUNGPURA PEMBINAAN MENTAL UPAYA PEMBINAAN MENTAL DALAM RANGKA MEMELIHARA DAN MENINGKATKAN KONDISI MENTAL PRAJURIT KODAM XII/TANJUNGPURA 1. Pendahuluan. Reformasi, perdagangan bebas dan perkembangan teknologi membawa dampak yang signifikan terhadap perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya membuat bangsa ini semakin maju, namun juga membawa dampak negatif yang tak sedikit, termasuk krisis moral. Krisis multi dimensional yang mencakup semua aspek kehidupan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan mengakibatkan demoralisasi yang ditandai dengan melemahnya nilai-nilai moral yang melanda sebagian besar bangsa Indonesia tanpa terkecuali kehidupan prajurit TNI AD. Prajurit TNI AD sebagai bagian dari komponen bangsa ini mempunyai tugas pokok menjaga keutuhan dan tetap tegaknya NKRI, sesuai dengan UU No 34 Tahun 2004. TNI AD tidak bisa menutup mata karena situasi yang ada pada bangsa ini juga turut mempengaruhi kehidupan prajurit TNI AD, yang mana sedikit banyak juga terjadi degradasi nilai-nilai moral, nilai-nilai tradisi dan kejuangan yang ditandai dengan banyaknya terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum prajurit TNI AD secara umum dan prajurit Kodam XII/Tanjungpura secara khusus. Kodam XII/Tanjungpura sebagai bagian dari TNI AD yang diresmikan oleh Kasad pada tanggal 2 Juli 2010 masih sibuk membangun/membenahi pangkalan, personel, administrasi, sarana prasarana dll. Namun disisi lain tetap harus menjaga kondisi moril prajurit, membina dan meningkatkan kualitas mental prajurit. Terkait dengan kualitas mental prajurit yang ada saat ini di Kodam XII/Tanjungpura, maka pembinaan mental memiliki peran yang sangat penting karena pembinaan mental mencakup pembinaan rohani, pembinaan ideologi dan pembinaan kejuangan dalam membentuk prajurit yang bermental baik di dalam sikap dan perilakunya yang dikendalikan oleh pikiran dan hati nuraninya agar penampilannya terikat serta terkendali sesuai norma agama dan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan Doktrin Kartika Eka Paksi di samping nilai-nilai kejuangan 45.

Pembinaan Mental adalah merupakan kegiatan untuk membentuk.PERIBADATAN . memelihara dan meningkatkan serta memantapkan mental prajurit agar memiliki keunggulan moral.PANTANG MENYERAH DAN RELA BERKORBAN .KEDISIPLINAN . Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI di samping nilai-nilai kejuangan 45. Sapta Marga. bertaqwa dan berakhlak mulia bisa didapat melalui pembinaan rohani yang bersumber dari kitab suci sesuai agama yang diyakini (Islam.KEIMANAN BINTAROH (IMTAQ) 3. terhayatinya rasa kebangsaan.2 Berdasarkan hal tersebut di atas. Pembentukan prajurit yang berjiwa militan dan nasionalis.KESETIAAN PADA NKRI .SEMANGAT JUANG/ETOS KERJA . Kondisi Mental Prajurit Kodam XII/Tanjungpura . 2. maka diperlukan strategi dan upaya yang sungguh-sungguh di bidang pembinaan mental guna meningkatkan kualitas mental prajurit dalam rangka mendukung tugas pokok Kodam XII/Tanjungpura .ADIL& TG JWB ) . Piramida Esensi Bintal MENTAL TANGGUH BINTAL JUANG (MILITAN) BINTALID SI (NASIONALISME) . Tugas pembinaan mental tidak semata-mata menjadi tanggung jawab perwira Bintal atau pejabat pemangku fungsi Bintal.KEPERWIRAAN (TELADAN. Esensi Pembinaan Mental. Khatolik. Protestan. Keunggulan moral atau prajurit yang beriman.SOLIDITAS . teratur dan berkelanjutan serta dinamis sesuai perkembangan. bisa didapat melalui pembinaan mental ideologi dan kejuangan yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila. .AKHLAK MORAL . Hindu dan Budha). Pembinaan mental harus dilaksanakan secara terukur. paham kebangsaan dan semangat kebangsaan serta terdoktrinnya NKRI harga mati. berwawasan kebangsaan dan berjiwa militan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab jabatannya. namun merupakan fungsi Komando yang secara otomatis melekat pada diri setiap pejabat Komandan atau Pimpinan Satuan.

penekanan dan surat-surat lain kepada satuan bawah. Seharusnya belum banyak pelanggaran yang dilakukan oleh prajuritnya. pelanggaran masih saja terjadi. Pidana 1) Desersi 2) 3) 4) Perampokan/Penodongan Perjudian Perkelahian a) AD VS AD b) AD VS AL c) AD VS AU d) AD VS POLRI e) AD VS Masyarakat 5) 6) 7) 8) 9) Pembunuhan Pemerasan Poligami Penculikan KDRT 3 - 4 1 - 5 2 1 1 1 - 6 - 7 2 1 1 1 1 - 8 10) Membocorkan Rahasia Negara 11) Penadahan 12) Pemalsuan .3 Kodam XII/Tanjungpura baru berdiri kurang dari satu tahun. kebanyakan masalah/pelanggaran yang terjadi dibawa dari satuan sebelumnya atau merupakan kelanjutan dari masa sebelumnya. namun karena prajurit Kodam XII/Tanjungpura berasal dari satuan-satuan yang sudah lama berdiri. Namun di sisi lain. Kodam telah berulang kali mengeluarkan atau menerbitkan petunjuk. Hal ini dapat dilihat dari rekapitulasi data pelanggaran personel Kodam XII/Tanjungpura yang dihimpun oleh staf personel Kodam XII/Tanjungpura . Rekapitulasi Pelanggaran TMT Juli 2010 s/d Pebruari 2011 JENIS TINDAK PIDANA/PELANGGARAN PN S NO PA BA TA JML KET 1 1 2 a. peringatan.

4 13) Pengrusakan 14) Penyeludupan 15) Pelanggaran HAM 16) KKN (Werving / Suap / Korupsi / Penyalahgunaan Wewenang) 17) Pencurian 18) Asusila 19) Senpi/Munisi/Handak 20) Insubordinasi 21) Menghilangkan. Disiplin 1) THTI .Kelompok . Merusak dan menjual barang-barang Inventaris 22) Lalai 23) Penipuan 24) Pemukulan/Penganiyaan 25) Penggelapan 26) Narkoba 27) Perampasan 28) Pungli 29) Ilegal Loging/Ilegal Fisisng 30) Trafficking 31) Lain-lain 32) Penembakan b.Perorangan - 1 - - 1 1 - 4 - 2 - - 5 2 - - 1 2 - 3 2) 3) 4) Memasuki daerah terlarang Mabuk Nikah tanpa ijin Dansatnya - - - - - .

Pelaku . Lalai dalam tugas 7. Melalaikan perintah atasan 3. Terlambat melaporkan diri 4. Mengedarkan miras 8. Tidak menggunakan GAM TNI lengkap dan tidak dapat menunjukkan surat nyata diri 2.Orang : 12 Orang : 14 Orang . Menyalahgunakan tugas yaitu menjual beras milik anggota - - - - - - - - - - c. Tidak mentaati perintah dinas 5. Lalin 1) Laka Lalin . Keluar pos tanpa ijin 6.5 5) Lain – lain 1. Keluar markas tanpa ijin 9.Orang : .Korban 2) kelengkapan kendaraan JUMLAH 1 7 14 2 11 9 26 Data Personel selama TA 2010 sebanyak 10 kasus yang melibatkan 26 orang dengan perincian sebagai berikut : Keterangan : Pidana Displin Lalin Kasus yang sudah selesai Kasus yang diproses di Dilmil Kasus yang di proses di Otmil Kasus yang di proses di Pomdam Kasus yang di proses di Satuan : 14 Orang : 3 Orang : 9 Orang :Orang : .

satuan ataupun institusi Kodam XII/Tanjungpura . dalam pergaulan sehari-hari baik istri maupun anak akan mendapatkan tekanan mental dari lingkungannya sehingga akan merugikan secara mental terhadap perkembangan kepribadianya.Konsekwensi dari pelanggaran dan sangsi terhadap prajurit yang melakukan pelanggaran berdampak merugikan bagi dirinya. Dan hal ini akan sangat merugikan bagi masa depan anak dan keluarganya.Dari pribadi prajurit yang bersangkutan dalam pembinaan kariernya akan terhambat. baik secara moral maupun material. tetapi juga merugikan keluarga yang bersangkutan. Kerugian akibat pelanggaran yang dilakukan oleh seorang prajurit.6 Banding Jumlah : . Dampak yang ditimbulkan tersebut antara lain : a. bukan hanya ditanggung oleh yang bersangkutan. penahanan berat /ringan dan bahkan hingga pemecatan dengan tidak hormat dari dinas militer.Keluarga akan menaggung beban moril yang cukup berat. minimal tidak akan dipromosikan bersama-sama dengan teman-temannya. Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh seorang prajurit baik pelanggaran disiplin maupun pidana akan mendapat sangsi berupa Tegoran. misalnya laka lalin. Merugikan Personel yang Bersangkutan. desersi dan lain-lain beban material yang harus ditanggung keluarga juga sangat . Dari segi material dampak yang ditimbulkan dari pelanggagaran prajurit tersebut juga sangat signifikan. Dampak yang ditimbulkan. Merugikan Keluarga.Pendek kata pelanggaran yang dilakukan oleh para prajurit mempunyai dampak yang signifikan baik dari segi moril maupun materiil terhadap prajurit tersebut. Pelanggaran yang dilakukan prajuriit Kodam XII/Tanjungpura sangatlah merugikan baik pribadi yang bersangkutan. b.Dalam pergaulan sehari-hari dia akan merasa terasing dengan lingkungannya merasa malu dengan lingkungan baik atasan.teman maupun keluarganya.Orang : 26 Orang 4.

5. tetapi juga merusak nama baik satuan di mana prajurit yang melakukan pelanggaran tersebut bertugas.Dilain fihak pelanggaran prajurit juga akan berdampak pada kinerja dan pencapaian tugas pokok satuan. Pelanggaran prajurit terjadi karena lemahnya Iman dan Ketakwaan prajurit kepada Tuhan Yang Maha Esa.tenaga. Dilihat dari kaca mata Pembinaan Mental banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh prajurit baik segi kuantitas maupun kualitasnya menunjukkan bahwa kualitas mental prajurit rendah. Dari segi Rohani.membiayai sekolahnya dan lain-lain. Kerugian Satuan. Disamping itu pelanggaran prajurit juga akan mencederai jiwa korsa satuan dimana prajurit yang melakukan pelanggaran akan dipandang oleh prajurit yang lain sebagai prajurit yang menjadi beban temanteman maupun satuannya.Citra maupun nama baik satuan akan menurun baik dimata masyarakat.setidaknya mengalami degradasi. tetapi mendapatkan beban atupun dampak yang berat dari akibat pelanggaran yang dilakukan prajurit. maka dampak yang dirasakan bukan hanya bagi dirinya sendiri.Citra dan nama baik Satuan yang telah dibangun dengan susah payah dan usaha sungguh-sungguh secara senergis dari semua unsur baik atasan maupun bawahan dalam satuan tersebut akan hilang dalam waktu sekejab hanya oleh pelanggaran segelintir personel satuan tersebut. Bila personel Kodam XII/Tanjungpura melakukan pelanggaran.Adanya penurunan kualitas mental prajurit dapat terjadi karena berbagai faktor baik dari internal maupun eksternal prajurit. Bagaimana si istri akan menghidupi anak-anaknya.7 tinggi.Inilah bebagai akumulais beban yang harus ditanggung oleh keluarga yang pada dasarnya tidak tahu menahu dengan tindakan prajurit tersebut.Energi.antar sesama satuan maupun dari Komando atas. 1. a. c.pikiran yang seharusnya dapat didayagunakan untuk pencapaian tugas pokok akan terbagi hanya untuk mengurus masalah-masalah yang yang seharusnya tedak perlu.Pemahaman . Faktor Internal. Faktor-faktor penyebab.

Karena itu apabila para Prajurit mempunyai Iman dan Takwa yang kuat maka ia akan menjadi pribadi yang terkontrol dan mampu mengontrol dirinya sehingga tidak berbuat salah/melanggar/dosa dan kemungkarankemungkaran yang lain.S Al-Mulk:2). Oleh karena itu pada saat manusia hidup di dunia maka ia harus berbuat baik.Apabila manusia berbuat baik (ma’ruf) makan akan mendapat pahala yang berlipat ganda dari Tuhan yang Maha Esa.akan tetapi apabila berbuat salah (mungkar) ia akan mendapatka balasan yang setimpal dengan kesalahannya (Q.Waktu manusia kembali menghadap Tuhan disebut dengan hari akhir dan di hari akhir inilah manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan Yang Maha Esa terhadap segala bentuk perilakunya pada rentang waktu manusia diberi kesempatan hidup di dunia (Islam lihat Q.Iman dan Takwa sebagai satu kesatuan yang utuh belum nampak dalam dimensi praxis pada kehidupan prajurit.S AL-Zalzalah :7-8 ).Iman kepada Tuhan menyadarkan manusia untuk mengetahui bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Keimanan dan Ketakwaan yang kuat akan membimbing manusia untuk hidup dalam jalan kebaikan dan apabila dihadapan dia terdapat dua pilihan baik dan buruk dia akan mendapatkan hidayah dan condong memilih kebaikan dan kebenaran. Dan disinilah manusia terikat dengan ruang dan waktu yaitu manusia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjalani proses hidup di dunia sampai dengan waktu tertentu dia akan kembali lagi kepada Tuhan.dan apabila manusia terlanjur berbuat salah maka dia harus bertobat minta ampun kepada Tuhan dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.Banyaknya prajurit yang berbuat melanggar secara nyata menunjukkan bahwa kualitas Iman dan Ketaqwaanya lemah.karena kalau berbuat salah/dosa/mungkar ia akan mendapatkan kesenggsaraan baik di dunia apalagi nanti akherat.Kapan waktunya manusia akan kembali kepada Tuhan ini merupakan hal yang ghaib dan menjadi rahasia Tuhan yang tidak seorang manusiapun mengetahui. .8 Keimanan belum sepenuhnya difahami secara utuh oleh para prajurit.

c.Dalam kehidupan sehari-hari sebagai aparat dan abdi negara berpedoman kepada undang-undang negara.patuh dan taat kepada atasan dan menjunjung tinggi sikap dan kehormatan prajurit.dan selalu dicintai rakyat. sehingga pada dataran realita kehidupan terjadi persaingan yang .9 b. Kesadaran akan tanggung jawab sebagai warga negara dan sebagai insan prajurit mulai mengalami penurunan dimana pelanggaranpelanggaran prajurit yang menunjukkan peningkatan secara kuantitas dan kualitas mencerminkan akan menurunya pengamalan akan idiologi Pancasila. Selain itu setiap prajurit dituntut untuk menjunjung tinggi kesusilaan dan membela dan keadilan kepentingan yg bersuber rakyat. Faktor Ekternal. Dimana gaya hidup masyarakat saat ini banyak terpengaruh oleh faktor kebendaan.kebenaran Pancasila. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan prajurit secara diametrikal bertentangan dengan tanggung jawab prajurir sebagai Bayangkari Negara yang selalu memegang teguh disiplin .etos kerja dan Rasa Nasionalisme mengalami penurunan. Penurunan moralitas dan mentalitas prajurit terjadi dapat disebabkan oleh adanya perubahan kondisi lingkungan. b.membela dari idiologi kejujuran.SM.Kualitas pelanggaran yang semakin tinggi pada bidang pidana harus menjadi perhatian semua Komandan Satuan.percaya pada diri sendiri. disiplin yang tinggi . Apabila semangat juang tinggi akan menghasilkan prajurit yang memiliki motivasi juang .pola hidup dan godaan faktor-faktor kebendaan telah menyebabkan militansi. pantang menyerah. rela berkorban.Kebutuhan akan materi menjadi fokus utama. memiliki etos kerja . Segi Mental kejuangan Dilihat dari segi mental kejuangan menunjukkan bahwa ada penurunan motivasi dan semangat juang para prajurit dihadapkan dengan realitas kehidupan sehari-hari yang menggempur dari segala lini baik gaya hidup. Oleh karena itu setiap prajurit harus mematuhi segala ketentuan yang berlaku sebagai bukti dari kesetiaan dan menepati janji serta sumpah prajurit. Segi Mental Idiologi. SP.

Upaya pembinaan yang diharapkan adalah membentuk sosok prajurit yang kuat dan sehat. Sehingga manusia tidak lagi mengindahkan nilai-nilai/moralitas dalam memenuhi kebutuhanya dan pada saat tertentu akan menyebabkan terjadinya benturan antar manusia dan menyebabkan chaos dalam kehidupan masyarakat. yakni pembinaan mental rohani. Upaya Pembinaan Mental. akan tetapi yang lebih penting dimulai dari sejak rekrutmen prajurit. Sedikit banyak pola hidup materialistis dan hedonis yang ada di masyarakat kita telah mempengaruhi para prajurit. Memperbaiki pola rekrutmen prajurit. sehingga ada sebagian prajurit yang terjerumus kedalam kehidupan yang menawarkan kesenangan dan keuntungan yang sesaat.narkoba dll). yakni sehat secara rohaniah. Ketika mereka merasa jenuh dan penatnya kehidupan mereka mencari cara untuk melepas beban masalah yang melilitnya dengan tindakan tindakan yang tidak terpuji (mabuk. akhlak maupun jasadiah. pada saat tertentu hal ini akan menyebabkan pengaabain terhadap nilai-nilai.Pola Hidup seperti ini menawarkan kesenangan sesaat akan tetapi justru dengan kemasan tertentu menjadi menarik bagi kebanyakan orang. pembinaan mental ideologi dan pembinaan mental kejuangan harus diwujudkan sebaik mungkin. Pengaplikasian tiga komponen mental. kemampuan intelektual (profesional sesuai tugasnya) serta fisik prima (tangguh dan samapta).10 tidak sehat. Aplikasinya bahwa dalam menghadapi tugas dan tanggung jawab. . upaya pembinaan mental dilaksanakan bukan hanya pada prajurit yang sudah jadi. 5. Untuk merealisasikan hal di atas. Adapun upaya-upaya dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut : a.Ketika nilai-nilai diabaikan orang akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok tidak memerdulikan lagi tatanan dan aturan. prajurit mempunyai sinergitas antara stabilitas mental (keunggulan moral).

Dalam bidang pembinaan mental ideologi dan kejuangan memiliki sasaran inti membangun prajurit agar tidak mudah terpengaruh oleh paham ideologi lain. Pembinaan mental merupakan bagian dari pembinaan personel sekaligus bagian sistem dari pembinaan satuan. Sasaran inti dalam bidang komponen bintal rohani adalah dapat membangun prajurit yang memiliki keunggulan moral. Pendoktrinan tiga komponen pembinaan mental dalam pendidikan pembentukan dan di satuan-satuan. Oleh sebab itu terselenggaranya pembinaan mental secara objektif dalam satuan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab para Perwira pembina mental (Pabintal) dengan segala keterbatasan dan kewenangannya. sehingga akan tersaring calon prajurit yang sehat rohaninya di samping bersih lingkungan. c. liberal dan radikalis serta terwujudnya kerukunan hidup antar umat beragama secara horizontal sehingga pola pikir. maka Komandan/Pimpinan tidak bisa lepas dari . tidak terkooptasi politik praktis. Tidak hanya itu dalam pelaksanaan rekrutmen penerimaan prajurit disarankan adanya seleksi dalam bidang mental rohani (MR) secara berdiri sendiri. b.11 Perbaikan yang dimaksud adalah turut melibatkan para perwira pembinaan mental (Pabintal) dalam kegiatan rekrutmen prajurit baik pada tingkat Tamtama. yang dilakukan secara terukur dengan benar. Bintara terlebih Perwira. Khususnya dalam team mental idelogi (MI). Dengan demikian terlaksana dan tidaknya pembinaan mental baik rohani maupun ideologi dan kejuangan. berjiwa nasionalis/ berwawasan kebangsaan dan patriotik serta militan dalam menghadapi tugas atau permasalahan yang timbul. ini menjadi relefan karena mental ideologi itu sendiri adalah merupakan salah satu komponen dari pembinaan mental itu sendiri. Menggalakan Bintal Fungsi Komando (BFK). karena citra satuan menjadi tanggungjawab moral bersama. stabilitas mental dan terhindarnya dari pengaruh paham keagamaan yang eksklusif. namun menjadi tanggungjawab Fungsi Komando yang melekat secara otomatis pada diri setiap pejabat Komandan/Pimpinan Satuan. pola sikap dan tindakannya seirama dengan ajaran agama yang diyakininya dan sesuai dengan nilai-nilai Sapta Marga sebagai pedomannya.

hanya orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan terutama sudah tidak diragukan lagi keimanannya antara subjek dan obyeknya. Artinya harus berpedoman pada ketepatan pada ruang dan waktu. Keadilan sebagai sebuah kata sangatlah mudah untuk ditulis dan diucapkan. e. d. Penyelenggaraan pelaksanaan peribadatan secara konsistensi. tetapi keadilan sebagai keputusan dan perbuatan sangatlah sulit untuk direalisasikan. dipastikan bawahan akan berfikir pelanggaran. Misalnya sudah masuk waktu shalat kegiatan tersebut tetap jalan terus. Untuk kemaslahatan sebaiknya pada saat waktu ibadah kegiatan dihentikan dulu untuk memberi kesempatan dalam beribadah. Tidak jarang kegiatan-kegiatan rutin seperti rapat-rapat atau briefing bahkan olahraga tidak lagi mengenal waktu. Preventif Dengan Reward and Punishment. 1) Kegiatan peribadatan seyogyanya dapat dilaksanakan dengan baik seribu kali untuk melakukan dan benar.12 tanggungjawabnya. Unsur Pa Bintal harus mampu bertindak secara proposional dalam mengaktualisasikan penyelenggaraan peribadahan dengan tepat sesuai tuntutan tugas dan sesuai ajaran agamanya. Berkaitan dengan perbuatan untuk menegakan keadilan maka penerapan reward and punishment harus bisa betul-betul dilaksanakan secara baik dan . 2) Untuk dapatnya kegiatan peribadatan berjalan dengan tertib maka semua unsur hendaknya bisa dan mampu bersinergi secara positif. Padahal untuk sehat dan tegaknya hukum tidak ada alternatif lain harus menegakkan hukum dengan berbuat adil. Santiaji dan Santikarma seyogyanya dapat diaktualisasikan di lapangan guna meyakinkan semua pihak bahwa keseimbangan hidup untuk dunia dan akhirat perlu diwujudkan agar kehidupan semakin hari jadi semakin bermakna. Bila benar ini terjadi. olehnya setiap Komandan/Pimpinan harus dapat dijadikan tauladan bagi bawahannya dan memberikan pengaruh yang positif dalam setiap aspeknya. Dalam kehidupan antara obyektifitas dan subjektifitas tidak jarang sulit untuk dipisahkan.

berteman mudah dengan mencela dan menfitnah dan segala orang. maka diperlukan pengobatan yang khusus. Adapun bentuk hukuman diantaranya bisa berupa perintah adzan pada setiap masuk waktu sholat bagi yang beragama Islam pembersihan semua sektor areal masjid. Klinik Bintal. f. atau gereja bagi yang Nasrani.13 benar. tidak ada kesatuan antara kata dan perbuatan. macam berkecenderungan kemaksiatan keburukan. mudah diawasi dan dapat dilihat orang banyak. . bertindak semena-mena dan sewenangwenang. Dengan cara tersebut maka subyektifitas bisa ditepis. Agar bisa disiapkan tempat khusus untuk menghukum mereka yang melanggar. mudah tersinggung tidak mau menerima nasehat dan saran orang lain. Bertolak dari permasalahan Bintal itu sebagian besar menyangkut masalah rohani yang bertengger dihati yang apabila sakit tidak bisa dilihat secara kasat mata. karena tidak ada orientasi lain kecuali untuk kebaikan bagi kita semua baik sekarang maupun yang akan datang. Adapun penyebab penyakit hati tersebut di antaranya adalah berupa lemah keyakinan. nafsu buruknya tinggi/dominan. kufur nikmat. Karena berbuat keadilan diperlukan ilmu dan keberanian. Cara ini paling elegan dilaksanakan ditengah kehidupan prajurit yang mengedepankan disiplin di dalam kehidupannya. serta tidak mempunyai semangat hidup dan kehidupan. Tindakan ini sebagai salah satu bentuk tindakan pencegahan agar membuat jera bagi yang akan melakukan pelanggaran. Penyakit rohani sifatnya abstrak tetapi dampaknya konkrit bisa dirasakan oleh orang lain. pilih tempat yang strategis. memaksakan kehendak orang lain. Ada beberapa tanda apabila seseorang itu sakit rohaninya di antaranya adalah : mereka merasa paling tinggi di antara sesama orang lain dalam segala hal. Hukuman dilaksanakan disesuaikan dengan tingkat pelanggarannya. Diberi hukuman kepada yang bersalah dan pemberian penghargaan bagi yang berbuat prestasi kebaikan. maka setiap atasan seyogyanya membekali dirinya dengan ilmu/aturan dan berani untuk memberikan sanksi bagi yang berbuat salah.

namun juga tidaklah sulit. profesional. orang akan merasa tersinggung dan marah besar apabila dikatakan menderita penyakit rohani. Artinya bahwa semuanya itu bermuara kepada diri masing-masing. Semua berpulang kepada diri sebagai manusia baik individu dan sebagai insan hamba Tuhan. Dalam hal ini maka sangat diperlukan adanya klinik khusus untuk menanganinya di antaranya dengan klinik Bintal. tanpa beban dan tanpa merasa bersalah. Pembinaan mental merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung tercapainya visi serta tugas pokok Kodam. Ketiga. budi rendah. 6. Adapun beberapa permasalahan menonjol yang cukup dapat menganggu berkaitan dengan klinik Bintal diantaranya adalah : Pertama. Bagi Pabintal adalah semangat dan kemampuan untuk mengobatinya dan bagi penderita adalah semangat dan keimanan untuk disembuhkan. Oleh karena itu perlu penanganan yang serius secara propesional dan proporsional. Kedua. sehingga mereka tidak dapat menerima kebenaran ajaran agama. berwawasan kebangsaan dan dicintai rakyat serta memiliki keunggulan moral. Keempat. Dengan penciptaan kondisi mental prajurit yang tangguh. yaitu terbentuknya prajurit yang solid. modern. Mental Menentukan Keberhasilan Terhadap Pelaksanaan Tugas. Pengobatan hati-rohani tidaklah mudah. akan membawa dampak kepada mengecilnya . Mental merupakan kondisi jiwa yang terpantul dalam sikap seorang prajurit. penyakit rohani tidak dapat terlihat secara kasat mata. tangguh. biasanya orang sungkan atau malu secara terus terang apabila ia berpenyakit rohani. Melihat gejala dan macam penyakit hati tersebut maka apabila yang bersangkutan tidak bisa merasakan dan menyadarinya lebih lanjut akan berkomulasi pada tindak perbuatan dosa yang disengaja tanpa sadar. sampai sekarang belum ada pendidikan spesialisasi penyakit rohani yang ada adalah spesialiasi penyakit jiwa. kebanyakan orang telah pandai menipu dirinya sendiri dan mampu menyembunyikan penyakit rohani secara rapi. Kelima.14 kekotoran jiwa. Dalam kesehariannya mental tersebut perlu dibina. pendusta.

Semangat juang atau etos kerja yang tinggi dalam setiap Keperwiraan yaitu kecermatan. keadilan dan membangun prajurit yang militan. 2. dan lebih jauh lagi dengan mental yang baik akan dapat menyukseskan pencapaian tugas pokok Kodam. peribadatan atau pengabdian kepada Tuhan baik yang bersifat vertikal maupun horizontal sebagai pengamalan nyata dari keimanan dan akhlak atau moralitas. meliputi : Kecintaan dan kesetiaan kepada NKRI secara utuh dan bulat. Hal ini dapat dipahami dari esensi dasar tiap komponen mental dalam Bintal yaitu : 1. Sehingga jelas sekali terdapat korelasi mental dengan tingkat pelanggaran dan bagaimana urgensi Bintal dalam menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan tugas di satuan. Mental kejuangan. juga mengandung tiga nilai dasar yang utama dalam a.15 tingkat pelanggaran. Pada hakekatnya dirinya adalah insan hamba Tuhan yang taat dan saleh (bertaqwa). tanggung jawab dalam mengemban suatu amanat atau kepemimpinan (kepercayaan bangsa dan negara). 3. mengandung tiga nilai dasar dalam membangun manusia yang bertaqwa yaitu manusia yang memiliki kesadaran spiritual dan kesalehan sosial. Apabila kita cermati secara mendalam ternyata esensi dasar dari mental ( mental rohani. Ketiga nilai dasar itu meliputi : Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar dari segala nilai dan sumber motivasi. insan warga negara yang nasionalis serta insan Bhayangkari negara dan bangsa yang militan. Mental rohani. . keteladanan. yaitu : pelaksanaan tugas sesuai bidang. fungsi dan peran masing-masing. b. baik dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama maupun dengan dirinya sendiri serta lingkungan alam sekitarnya. mental ideologi dan mental kejuangan ) sebenarnya merupakan intisari dari sikap dan perilaku insan Sapta Marga. mengandung tiga nilai dasar yang utama dalam membangun warga negara Indonesia yang nasionalis. Mental Ideologi. kedisiplinan nasional yang berarti sadar posisi dan rela serta taat terhadap semua aturan yang berlaku dan persatuan dan kesatuan (soliditas) sebagai Bangsa Indonesia yang memiliki kebhinekaan. Karena di dalam Sapta Marga terkandung sikap dan perilaku serta amal perbuatan sebagai cerminan kesadaran setiap prajurit.

Dengan demikian maka pembinaan mental ikut menentukan terlaksananya kegiatan pembinaan satuan. Adalah mustahil binsat bagaimanapun yang dilaksanakan. sehingga akan melahirkan militansi yang bermoral pula. Sedangkan nasionalisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah nasionalisme yang bermoral atau bermartabat karena kita sebagai bangsa religius yang berketuhanan Yang Maha Esa. Kondisi mental anggota dan kondisi mental satuan menentukan terlaksananya tugas dan fungsi kesatuan khususnya dan Kodam pada umumnya. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kualitas mental sangat menentukan keberhasilan di dalam pelaksanaan tugas. Apabila esensi nilai dasar mental ini disusun secara hierarkis piramidal maka akan nampak secara jelas korelasi antara komponen dan nilai-nilai esensial tersebut dalam mewujudkan prajurit Sapta Marga yang bermental tangguh yang bercirikan sebagai prajurit yang bertaqwa. Hal ini dapat dicapai apabila didukung oleh kondisi kualitas mental yang baik. Bila kondisi ini terwujud dapat diyakini bahwa pelanggaran prajurit akan menurun bahkan dapat dihindari. nasionalis dan militan. Binsat harus dilaksanakan sebaik mungkin. Sebagai contoh di dalam ketaqwaan harus diwujudkan dalam kesalehan spiritual dan sosial. berhasil dan bernilai moral yang tinggi. bila kualitas mental prajurit rendah maka binsat tidak akan berhasil. Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : . Sebaliknya bila kondisi tersebut tidak terwujud maka pelanggaran akan tetap tinggi dan kemungkinan cenderung meningkat. Penutup.16 c. di mana kesalehan sosial bagi Bangsa Indonesia itu diutamakan untuk membangun nasionalisme Indonesia. dalam arti tuntas. 6. Demikian pula semangat nasionalisme dalam membela dan mempertahankan negara juga tetap dituntut memperhatikan keunggulan moral. Demikian uraian tentang Upaya Pembinaan Mental dalam rangka memelihara dan meningkatkan kondisi mental prajurit untuk mendukung tugas pokok Kodam XII/Tanjungpura. Pantang menyerah dan rela berkorban dalam mengemban tugas demi tegak dan utuhnya NKRI Esensi nilai dasar tersebut bila dihubungkan dengan satu dengan lainnya akan terjadi keterpaduan yang saling menjiwai atau mewarnai.

Kualitas prajurit yang bertaqwa. d. intensif dan berkesinambungan. semoga dapat memberikan kontribusi bagi Komando Atas sebagai salah satu cara dalam mencegah dan mengeliminir pelanggaran Prajurit Kodam XII/Tanjungpura dengan pendekatan pembinaan mental. yaitu memiliki iman dan taqwa yang kuat. profesional dan solid. Kualitas mental yang tinggi akan dapat terwujud bila setiap prajurit mendapat pembinaan mental secara sistematis. karena menyangkut pembinaan mental kejiwaan yang menjadi penentu sikap dan prilaku manusia. b. Dengan kualitas mental yang tinggi pula akan dapat menurunkan tingkat pelanggaran yang dilakukan prajurit. Esensi nilai dasar tiap komponen Bintal bila dihubungkan satu dengan lainnya akan terjadi keterpaduan yang saling menjiwai atau mewarnai pembinaan mental. . c.17 a. Demikian Upaya Pembinaan Mental dalam rangka meminimalkan pelanggaran disiplin prajurit untuk mendukung tugas pokok Kodam XII/Tanjungpura ini disusun. Dalam membina mental prajurit menggunakan sistem pembinaan mental yang terpadu antara pembinaan mental rohani dengan pembinaan mental ideologi dan pembinaan mental kejuangan. Bila keterpaduan kondisi mental ini terwujud dapat diyakini bahwa pelanggaran prajurit akan menurun dan bahkan dapat dieliminir. Sistem pembinaan mental yang diterapkan dengan baik dan dibina secara intensif akan melahirkan prajurit Sapta Marga yang bermental tangguh. Karena moralitas prajurit Sapta Marga didasari ketaqwaan. nasional dan militan itu akan melahirkan sosok prajurit yang bermoral. Pembinaan mental merupakan komponen strategis dalam pembinaan Sumber Daya Manusia. Dan bila kondisi ini terwujud maka akan dapat mendukung tercapainya tugas pokok Kodam XII/Tanjungpura. jiwa nasionalismenya mantap dan militansinya handal dalam mengemban tugas pengabdian kepada negara dan bangsa. dijiwai nasionalisme dan dikembangkan dengan semangat pantang menyerah atau militansi.

18 KOMANDO DAERAH MILITER XII/TANJUNGPURA PEMBINAAN MENTAL LOGO KODAM .

19 UPAYA PEMBINAAN MENTAL DALAM RANGKA MEMINIMALKAN PELANGGARAN DISIPLIN PRAJURIT KODAM XII/TANJUNGPURA Pontianak. Nopember 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful