ASKEP PREEKLAMSI

Preeklamsi Pengertian Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema. Etiologi Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Insiden Di Indonesia, setelah perdarahan dan infeksi pre eklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu, dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini preeklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Patofisiologi Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199). Manifestasi klinik Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala – gejala subyektif. Pada pre eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah. Gejala – gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Tes Diagnostik Tes diagnostik dasar Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri, pemeriksaan funduskopik. Tes laboratorium dasar Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi).

Penanganan medik Pencegahan Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai tanda – tanda sedini mungkin (pre eklampsia ringan). Hal 133). Trauma pada janin seminimal mungkin. Kelainan letak. Edisi ketiga. Etiologi Penyebab dilakukannya seksio sesarea adalah : Plasenta previa Gawat janin Disproporsi sefalo-pelvik (ketidakseimbangan kepala dan panggul). serta pentingnya mengatur diit rendah garam. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklampsia. dan sebagainya). ketenangan. Halaman 133). Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin). Pernah seksio sesarea. Seksio sesarea Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Ilmu Kebidanan. aspartat aminotransferase. Uji untuk meramalkan hipertensi Roll Over test Pemberian infus angiotensin II. serta karbohidrat dan tinggi protein. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur.Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin. juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan. lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Halaman 863). dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Ilmu Kebidanan. Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Sinopsis Obstetri Jilid 2. Pre eklampsia dan hipertensi . edisi ketiga. protein serum. Penanganan Tujuan utama penanganan adalah : Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi. lemak. Hendaknya janin lahir hidup. Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan.

Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik. analog dengan penis laki – laki. atau karena atonia uteri. Jenis – jenis seksio sesarea Seksio sesarea klasik (korporal) Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang 10 cm. seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas. Insiden Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak. indikasi dan antibiotika. angka kematian perinatal sekitar 4 – 7 %. angka ini sangat menurun. Komplikasi seksio sesarea Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan. terdiri dari jaringan lemak. bersifat berat seperti peritonitis. penyediaan cairan dan darah. Klitoris Tertutup oleh preputium klitoris. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka. dan sebagainya sangat jarang terjadi. Labia minora Lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia mayora. ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus. . Anatomi fisiologi sistem reproduksi Genitalia eksterna Mons veneris/pubis Bagian yang menonjol diatas simfisis dan terdiri dari jaringan lemak. nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. embolisme paru-paru.Incoordination uteri action (tidak ada kerjasama yang teratur antara fungsi alat kandungan). sebesar kacang ijo terdiri dari serabut saraf dan pembuluh darah. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Labia mayora Berbentuk lonjong dan menonjol. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing. Angka kematian ibu pada rumah – rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi. Seksio sesarea ismika (profunda) Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm. Kebawah dan kebelakang kedua labia mayora bertemu membentuk kommisura posterior. sepsis dsb. Menurut data dari negara – negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna. Kebelakang membentuk fossa navikulare. anastesi. Kedepan kedua labia minora membentuk preputium klitoris.

kanan kiri oleh labia minora. di belakang oleh perineum. Fungsi ovarium adalah untuk produksi hormon dan ovulasi. Patofisiologi Suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh mengingat bahwa terjadinya ruptur uteri sesudah seksio sesarea dilakukan segmen bawah uterus tidak begitu besar. Dindingnya berlipat-lipat disebut rugae. Tuba fallopi Berjalan ke arah lateral. Tuba fallopi berfungsi membawa ovum ke kavum uteri. Uterus Berbentuk seperti buah advokat.1. Terdiri dari fundus uteri. Korpus uteri merupakan bagian uterus terbesar dan sebagai tempat janin berkembang.6. yang menjadi segmen bawah rahim pada kehamilan. tidak terdapat kelenjar. 4) infundibulum. Ostia kelenjar skene yang analog dengan kelenjar prostat pada laki – laki.1. Isthmus adalah bagian uterus antara serviks dan korpus. bagian yang terlebar dan sebagai tempat konsepsi terjadi. korpus uteri dan serviks uteri. Pembuluh darah ke ovarium (arteri ovarika) melalui ligamentum suspensorium ovarii (ligamentum infundibulopelvikum). sebesar telur ayam. disini diambil sikap untuk membolehkan wanita hamil untuk bersalin pervagina. 2. serabut saraf. bagian ujung tuba dan mempunyai fimbria. Perawatan post operasi seksio sesarea. 1999).Hymen Berupa lapisan tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina. Ovarium Ada 2. dan kelenjar vestibularis bartolini yang mengeluarkan getah lendir pada waktu coitus. misalnya janin sudah meninggal dalam uterus atau janin terlalu kecil untuk hidup diluar kandungan (Menurut Prawirohardjo S. Terdiri dari bagian luar (korteks) yang mengandung folikel-folikel dan bagian dalam (medulla) yang berisi pembuluh darah. Analgesia Untuk wanita dengan ukuran tubuh rata – rata dapat disuntikkan intramuskuler yaitu mepedivin setiap 3 jam sekali bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat . bagian tengah tuba yang sempit. 2) pars ismika. Bentuknya berbedabeda dari bulan sabit sampai berlubang – lubang. Terdapat orificium urethra eksterna. kiri dan kanan. mengenai kontraindikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa.Vulva Bentuk lonjong dibatasi di depan oleh klitoris. bagian dalam dinding uterus. 3) pars ampularis. Terdiri dari 4 bagian : 1) pars interstitialis. dan pembuluh limfe. mulai dari kornu uteri kanan dan kiri. Genitalia interna Vagina Suatu saluran muskulo membranosa yang menghubung-kan uterus dan vulva terletak antara kandung kencing dan rektum. ovarium berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovari propium. kecuali jika sebab seksio sesarea tetap ada misalnya kesempitan pada pinggul.

Jilid I. sedini mungkin setelah sadar. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. (Kapita Selekta Kedokteran. Periode nifas Periode nifas dibagi 3 (Menurut Depkes RI. Nifas Pengertian Nifas adalah masa pulih kembali. Nifas adalah massa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu (Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga. 1990) antara lain : Immediate puerperium adalah keadaan yang terjadi segera setelah persalinan sampai 24 jam sesudah persalinan (0 – 24 jam sesudah melahirkan). . Mobilisasi Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan.disuntikkan dengan cara serupa 10 mg morphin. Halaman 68). Pasien sudah dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi. Secara normal jahitan kulit diangkat pada hari ke empat post partum. Nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra hamil. Penderita miring ke kiri dan ke kanan sudah dapat dimulai sejak 6 – 10 jam setelah penderita sadar. Perawatan luka Luka insisi diinspeksi setiap hari untuk mengetahui penyembuhan luka. Jilid II. Etiologi Diduga persalinan mulai apabila uterus telah teregang sampai derajat tertentu. Lama masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu (Sinopsis Obstetri Fisiologi Jilid I. Latihan pernafasan dilakukan penderita sambil tidur terlentang. Halaman 291). jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan fundus uteri serta pengukuran suhu badan harus diperiksa pada saat dini. Tanda vital Pasien dievaluasi sekurang-kurangnya setiap jam sekali paling sedikit 4 jam dan tekanan darah. Waktu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari (1 minggu pertama). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal). Terapi cairan dan diet Karena selama 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi maka pemberian cairan infus harus cukup banyak dan mengandung elektrolit yang diperlukan agar tidak terjadi hipertermia dan dehidrasi. Later puerperium adalah waktu 1 minggu sesudah melahirkan sampai 6 minggu. Halaman 115). nadi. Early puerperium adalah keadaan yang terjadi pada permulaan puerperium. Jika ibu berukuran kecil dosis mepedivin yang diberikan adalah 50 mg dan jika berukuran besar dosis yang paling tepat adalah 100 mg mepedivine.

Mungkin pula bentuk uterus sedemikian rupa. setiap faktor emosional dan fisik dapat memulai persalinan. Patologi dan Fisiologi Persalinan. di kiri belakang. menjadi kira – kira 500 gr. Anatomi / Fisiologi Dalam masa nifas. Siklus menstruasi berulang setiap 4 minggu dan persalinan biasanya mulai pada akhir minggu ke-40 atau 10 siklus menstruasi. ± kiri depan.6% ibu nifas yang melahirkan normal dari 3034 ibu nifas dalam tiga tahun terakhir ini (Medical Record RSU Labuang Baji Makassar. ini dikenal sebagai teori akomodasi. Berat uterus gravidus aterm kira – kira 1. Begitu kehamilan mencapai cukup bulan. Genetalia interna dan eksterna (Sketsa gambar terlampir). dan ± 23 % di kanan depan. 1990. alat – alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. demikian pula pada plexus nervosus di sekitar cervix dan vagina. fundus uteri setinggi pusat. sedangkan kepala berada dibawah. di ruangan yang lebih luas. sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas symfisis.Tekanan bagian terendah janin pada cervix dan segmen bawah rahim. merangsang permulaan persalinan. 2 minggu pasca persalinan 300 gr dan setelah 6 minggu pasca . Keadaan ini mungkin disebabkan pula karena kepala relatif lebih besar dan lebih berat. Insiden Hampir 96 % janin berada dalam uterus dengan presentasi kepala dan pada 58 % ubun – ubun kecil terletak di± presentasi kepala ini ditemukan 8 %± 11 % di kanan belakang. segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat. Perubahan-perubahan alat genital secara keseluruhannya disebut involusio. Keadaan ini disebabkan terisinya ruangan di sebelah kiri belakang oleh kolon sigmoid dan rectum. sehingga volume bokong dan ekstremitas yang lebih besar berada di atas. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan luka kasar dan menonjol kedalam kavum uteri yang berdiameter 7. Keadaan jalan lahir. Halaman 103). Sehingga tampak presentase yang tinggi berada dalam uterus dibanding presentase kepala.000 gr.5 cm dan sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal. Janinnya sendiri Dan data yang didapatkan di RSU Labuang Baji terdapat 79. Satu minggu pasca persalinan. Ada 3 faktor yang memegang peranan pada persalinan ialah : Kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan. di ruangan yang lebih sempit. Setelah janin dilahirkan. Pada hari ke-5 pasca persalinan uterus kurang lebih tinggi 7 cm atas symfisis atau setengah symfisis – pusat. 2003). Beberapa orang percaya bahwa ada hormon khusus yang dihasilkan oleh plasenta apabila kehamilan sudah cukup bulan yang bertanggung jawab atas mulainya persalinan. Bertambah tuanya plasenta yang mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron dalam darah diduga menyebabkan dimulainya persalinan (Harry Oxorn.

Hari 1 – 2 lochia rubra berwarna merah berisi lapisan decidu. Laktasi Kelenjar mamma telah dipersiapkan semenjak kehamilan umumnya produksi ASI baru terjadi hari kedua atau ketiga pasca persalinan. Durasi dan intensitas kontraksi meningkat Rasa tidak nyaman mulai di belakang dan menjalar ke abdomen. serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur – angsur kembali seperti semula. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran air susu ibu adalah faktor anatomis. selaput ketuban. Perawatannya dengan memberikan kompres dingin untuk menurunkan atau mengurangi bengkak pada . Ligamen. Hari 3 – 7 sanguilenta berwarna cokelat. Manifestasi klinik Manifestasi klinik pada ibu menyusui dimasa nifas menurut Persis Mary Hammilton yaitu : Kontraksi pada interval Interval antar kontraksi secara bertahap memendek. degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Berjalan biasanya menyebabkan meningkatnya intensitas kontraksi. Hari setelah 2 minggu lochia alba berwarna kekuningan berisi selaput lendir leucocye dan kuman yang telah mati. Dilatasi dan pendataran serviks mengalami kemajuan. Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. dimana masing-masing buah dada terdiri 14 – 24 lobus yang terletak terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. diafragma pelvis. faktor istirahat dan faktor isapan anak. Serviks agak terbuka seperti corong pada pasca persalinan dan konsistensinya lunak. Penanganan Medik Penanganan medik yang dilakukan pad ibu nifas adalah : Perawatan perineum Perawatan episiotomi Perawatan hemoroid : hemoroid biasanya menyertai persalinan. makanan yang dimakan ibu. Endometrium mengalami perubahan yaitu timbulnya trombosis. Hari 7 – 10 lochia serosa warna agak kuning cair. faktor biologis.persalinan 40 – 60 gr. sedikit darah. Luka jalan lahir seperti bekas episiotomi yang telah dijahit. dan mekoneum. banyak serum selaput lencir leucocye. Test Diagnostik Test diagnostik yang biasanya diberikan pada ibu nifas yaitu : test laboratorium terutama terhadap hematokrit untuk melihat konsentrasi darah dalam tubuh setelah 3 hari post partum. luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer. Normal hematokrit pada saat tersebut adalah 42 %. Lochia Lochia adalah sekret dari cavum uteri dn vagina dalam masa nifas.

Nyeri / ketidaknyaman Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber. Fase taking hold Terjadinya pda hari 4 – 10 post partum Sikap aktif dan positif serta lebih mandiri namun masih memerlukan bantuan orang lain. Mulai menjalankan peranannya dan sudah punya konsep. Terjadinya pada hari 1 – 3 post partum Dalam memenuhi kebutuhan sangat tergantung pada orang lain. efek-efek anastesia. distensi kandung kemih / abdomen. marah atau menarik diri. Fase letting go Terjadi setelah 10 hari post partum. Eliminasi : Kateter urinarius mungkin terpasang. dirinya sendiri dan mulai sibuk dengan tanggung jawab sebagai ibu. Perawatan payudara Perubahan psikologi pada ibu nifas Menurut Reva Rubin (1960) proses adaptasi psikologis pada ibu nifas melalui 3 fase yaitu : Fase taking in (fase mengambil).hemoroid. bengkak dan nyeri tekan. Integritas ego Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan. nyeri penyerta. mungkin mengekspresikan ketidaknyamanan untuk menghadapi situasi baru. urine jernih pucat. Jalur parenteral bila digunakan paten. Sulit mengambil keputusan. Tenaga ibu mulai sehat dan meningkat serta merasa lebih nyaman. misalnya trauma bedah / insisi. Proses Keperawatan Pengkajian dasar data klien Tinjau ulang catatan prenatal dan intra operatif dan adanya indikasi untuk kelahiran sesarea. bising usus tidak ada. Mampu merawat bayinya. Pernafasan : bunyi paru jelas dan vesikuler Keamanan Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh. dan sisi bebas eritema. Masih ada kurang percaya diri tetapi fokus perhatian mulai meluas. Makanan / cairan : abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal Neurosensori Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spiral epidural. mulut mungkin kering. . Klien/pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Sirkulasi Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 – 800 ml. samar atau jelas.

6.Berikan kesempatan kepada orang tua untuk mengungkap-kan perasaan-perasaan yang negatif tentang diri mereka dan bayi. bila kondisi ibu dan neonatus memungkinkan. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan berlebihan / banyak. 2.Berikan informasi sesuai kebu-tuhan tentang keamanan dan kondisi bayi. 7.Anjurkan dan bantu dalam me-nyusui pada pilihan klien dan keyakinan/praktis budaya. 10. mulai secara aktif mengikuti tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat. menyentuh dan me-meriksa bayi. 9.Observasi dan catat interaksi keluarga-bayi. perhatikan peri-laku yang dianggap menanda-kan ikatan dan kedekadan dalam budaya tertentu. mengungkapkan masalah/kesulitan koping terhadap situasi. reaksi awal mereka terhadap bayi. 4. 5. Rencana tindakan Intervensi Rasional Mandiri 1.Diskusikan kebutuhan kemaju-an dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan. bantu sesuai kebutuhan. Dukung pasangan sesuai kebutuhan.Sambut keluarga untuk kunju-ngan singkat segera bila ibu/bayi baru lahir memungkinkan. Hasil yang diharapkan klien akan : Menggendong bayi.Berikan kesempatan untuk ayah/pasangan untuk menyen-tuh dan menggendong bayi dan bantu dalam perawatan bayi se-suai kemungkinan situasi.Perhatikan lingkungan sekitar kelahiran sesaria. mendemostrasikan perilaku kedekatan dan ikatan yang tepat. . 3.Anjurkan klien untuk meng-gendong. dan partisipasi mereka pada pengalaman kelahiran.Seksualitas Fundus kontraksi dan terletak di umbilikus. kebanggaan diri orang tua dan persepsi ten-tang pengalaman kelahiran. tidak menghadapi pengalaman traumatik secara konstruktif. Diagnosa Keperawatan Perubahan ikatan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi Kemungkinan dibuktikan oleh keragu-raguan untuk menggendong/ berinteraksi dengan bayi. Perhatikan kenor-malan dari variasi respon dari satu waktu ke waktu lainnya dan diantara anak yang berbeda.Perhatikan pengungkapan/pri-laku yang menunjukkan keke-cewaan atau kurang minat/kede-katan. tergantung pada kondisi klien dan bayi baru lahir. 8.

Beritahu anggota tim perawatan kesehatan yang tepat (mis : staf ruang perawatan atau perawat pasca partum) tentang observasi sesuai indikasi.Membantu pasangan untuk mem-proses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan khususnya bila periode pengenalan awal telah lambat. berbicara pada suara nada tinggi.Meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu memulai proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukkan anggota baru ke dalam struktur keluarga. kontak kulit dengan kulit dan mulainya tugas-tugas ibu meningkatkan ikata.Kedatangan anggota keluarga baru.Kontak awal mempunyai efek positif pada durasi menyusui .Kontak mata dengan mata. dan menggendong bayi dengan kedekatan pada budaya Ame-rika. Kolaborasi : 12.Membantu klien/pasangan memahami makna dan pentingnya proses dan memberikan keyakinan bahwa perbe-daan diperkirakan. 12. ibu menunjukkan pola progresif dari perilaku dengan cara mengguna-kan ujung jari pada awalnya untuk menggali ekstremitas bayi dan berlan-jut pada penggunaan telapak tangan sebelum mendekap bayi dengan seluruh tangan dan lengan. 7.Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga untuk terjadi karena ibu dan bayi secara emosional menerima isyarat satu sama lain. pengguna-an posisi wajah. bahkan bila diinginkan dan diantisipa-si. Bantuan pada interaksi pertama atau sampai jalur intravena dilepas mencegah klien dari merasa kecewa atau tidak adekuat (Catatan : Meskipun klien telah memilih untuk mele-paskan anaknya.11. memerlukan penyatuan anak baru ke dalam keluarga yang ada. 5. yang memulai kedekatan dan proses pengenalan.Informasi menghilangkan ansie-tas dapat mengganggu ikatan atau me-ngakibatkan absorbsi diri daripada perhatian terhadap bayi baru lahir. agensi komunitas dan kelompok dukungan orang tua. 3. 4. Pada kontak pertama dengan bayi.Jawab pertanyaan klien menge-nai protokol perawatan selama periode pasca kelahiran awal. 8. 2.Konflik tidak teratasi selama proses pengenalan awal orang tua bayi dapat mempunyai efek-efek negatif jangka panjang pada masa depan hubungan orang tua-anak. 6. mis : pelayanan perawat berkunjung.Ketidakadekuatan prilaku ikatan atau interaksi buruk antara klien/pasa-ngan dengan bayi memerlukan duku-ngan dan evaluasi lanjut. . Memberikan ke-sempatan untuk ibu. 10. ansietas dan nyeri dapat mengubah persepsi klien selama dan setelah ope-rasi.Memudahkan ikatan/kedekatan dian-tara ayah dan bayi.Orang tua perlu bekerja melalui hal-hal bermakna pada kejadian penuh stress seputar kelahiran anakn dan orientasikan mereka sendiri terhadap realita sebelum mereka dapat memfo-kuskan pada bayi efek-efek anastesia. 11.Siapkan untuk dukungan/eva-luasi terus-menerus setelah pu-lang. 13. 9. memvalidasi rea-litas situasi dan bayi baru lahir pada waktu dimana prosedur dan kebutuh-an fisiknya mungkin membatasi kemampuan interaksinya. menciptakan periode sementara. 1. berinteraksi dengan bayi baru lahir dapat memfasilitasi proses berduka).

3. Pembebatan menurunkan re-gangan dan ketegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyama-nan berkenaan dengan gerakan otot abdomen. 2.Pada banyak klien. 6.Ubah posisi klien.Nafas dalam meningkatkan upaya per-nafasan. . kaku dan gera-kan melindungi atau terbatas. nyeri dapat me-nyebabkan gelisah serta TD dan nadi meningkat. 30 menit setelah pemberian analgesik. Nyeri berhubungan dengan pembedahan Kemungkinan dibuktikan oleh : Melaporkan nyeri.Klien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyama-nan secara langsung. abdomen kembung. me-ningkatkan rasa sejahtera. Perhatikan isyarat verbal dan non verbal serta meringis. Analgetik dapat menurun-kan TD. ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat. An-jurkan penggunaan teknik per-nafasan dan relaksasi dan distraksi. 6. dan mengalihkan per-hatian dari sensasi nyeri. 4. Meningkat-kan kenyamanan. dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan.Relaksasi otot.Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab. wajah menahan nyeri. 5. Rencana tindakan : Intervensi Rasional Mandiri 1.Meningkatkan kenyamanan. Hasil yang diharapkan : Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri/ketidaknyamanan dengan tepat. kurangi rang-sangan yang berbahaya dan berikan gosokan punggung. 4.13. prilaku melindungi/distraks. nyeri tekan payudara . 5.Banyak pasangan mempunyai konflik tidak teratasi mengenai proses pengenalan awal orang tua-bayi yang memerlukan pemecahan setelah pulang. tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. Mengungkapkan berkurangnyer nyeri. Batuk diindikasikan bila sekresi atau ronkhi terganggu.Tentukan karakteristik dan loka-si ketidaknyamanan.Lakukan latihan nafas dalam dan batuk dengan menggunakan prosedur-prosedur pembebatan dengan tepat. 2. 1. sakit kepala. yang memperbaiki status psikologis dan meningkatkan mobilitas. membantu mengurangi nyeri berkena-an dengan ansietas dan ketakutan ka-rena ketidaktahuan dan memberikan rasa kontrol 3. kram (nyeri penyerta). perhatikan perubahan prilaku. membedakan karakteristik khusus dari nyeri mem-bantu membeda-an nyeri pasca operasi dari terjadinya komplikasi.Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi.Meningkatkan pemecahan masalah.Pemberian analgetik sesuai indi-kasi.

tidak dapat tidur. 3. 1.Berikan informasi yang akurat tentang keadaan klien/bayi. dapat mendorong pengungkapan ma-salah. keprihatinan. mengidentifikasi cara untuk menurunkan atau menghilangkan ansietas. kelihatan rileks dan dapat tidur/istirahat. takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui.Mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi.Dorong keberadaan/partisipasi dari pasangan.Memberikan dukungan emosional.Kelahiran sesaria mungkin dipandang sebagai kegagalan dalam hidup oleh klien/pasangan dan hal tersebut dapat memiliki dampak negatif dalam proses ikatan/menjadi orang tua. perasaan yang tidak adekuat. 3. Men-dorong klien untuk mengung-kapkan kebutuhan dan harapan yang tidak terpenuhi. stimulasi simpatik. 5. malu/bersalah).Mulai kontak antara klien/pasa-ngan dengan bayi sesegera mungkin. Mengungkapkan pemahaman mengenai faktor individu yang dapat mencetuskan situasi saat ini. 4. 2.Bantu klien/pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping yang lazim dan perkem-bangan strategi koping baru jika dibutuhkan. Rencana tindakan : Intervensi Rasional Mandiri 1. Kemungkinan dibuktikan oleh ketegangan.Ansietas berhubungan dengan krisis situasi.Membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peranan baru. Mengekspresikan harapan diri yang positif . Jika bayi dibawa ke neonatal intensive care unit (NICU). mengurangi perasaan ansietas. Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan perasaan negatif diri dalam situasi (misalnya tidak berdaya. Memberi-kan informasi sehubungan de-ngan normalnya perasaan terse-but. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan. Hasil yang diharapkan : Mendiskusikan masalah sehubungan dengan peran dan persepsi terhadap pengalaman kelahiran dari klien/pasangan.Khayalan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau kesalahpa-haman dapat meningkatkan tingkat ansietas. 2. 5. 4. dan/atau menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi. melaporkan bahwa ansietas sudah menurun pada tingkat yangdapat diatasi. Hasil yang diharapkan : Mengungkapkan kesadaran akan perasaan ansietas.Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber dari masalah.

dapat merasa bahwa ia menolak pasangan-nya dan tidak memenuhi peran yang diantisipasinya sebagai pendukung emosional selama proses kelahiran. mem buat klien merasa tidak adekuat dan telah gagal sebagai wanita. Perawatan serupa adalah pilihan yang dapat diterima disamping kelahiran vagina.Tinjau ulang partisipasi klien/ pasangan dan peran dalam me-ngalami kelahiran. Ayah atau pasangan. adanya HKK atau eklampsia) Kemungkinan dibuktikan oleh adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual.Respon berduka dapat berkurang apa-bila ibu dan ayah mampu saling ber-bagi akan pengalaman kelahiran. Catat kadar Hb dan kehilangan darah ope-ratif.Tentukan respon emosional klien/pasangan terhadap kelahi-ran sesaria 2.Klien yang tidak mampu mengatasi rasa berduka atau perasaan negatif memerlukan bantuan profesional lebih lanjut.Tekankan kemiripan antara ke-lahiran sesaria dan vagina. 1. memfokuskan kembali perhatian klien atau pasangan untuk membantu mere-ka memandang kehamilan dalam tota-litasnya dan melihat bahwa tindakan mereka sudah bermakna terhadap ha-sil yang optimal. 4. 3. Hasil yang diharapkan : Mendomostrasikan perilaku untuk menurunkan faktor-faktor risiko dan/atau perlindungan diri.Tinjau ulang catatan pranatal dan intranatal terhadap faktor yang mempredisposisi klien pada komplikasi. Bebas dari komplikasi Rencana tindakan : Intervensi Rasional Mandiri 1. Kolaborasi : 4.Rujuk klien/pasangan untuk konseling profesional bila reaksi maladaptif.Kedua anggota pasanga mungkin me-ngalami reaksi emosi negatif terhadap kelahiran sesaria.Rencana tindakan : Intervensi Rasional 1.Klien dapat mengubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaimana persepsinya tentang ke-sehatan atau penyakitnya berdasarkan pada sikap persepsinya tentang ke-sehatan atau penyakitnya berdasarkan pada sikap profesional. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi (misalnya hipotensi ortostatik. Dapat membantu menghindari rasa bersalah/mempersa-lahkan. 2. Kelahiran sesaria yang tidak direncanakan dapat berefek negatif terhadap harga diri klien. 3. identifikasi perilaku positif selama proses pranatal dan antenatal. Sam-paikan sikap positif terhadap kelahiran sesaria dan atur pera-watan pasca partum sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada klien setelah ke-lahiran vagina. khususnya bila tidak dapat hadir pada kelahiran sesaria. .

adanya tanda dan/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual. nadi lemah. per-lambatan pengisian kapiler atau sianosis. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan.Berikan MgSO4 sesuai indikasi 7.Menurunkan statis vena. 4. 6. Bebas dari infeksi. beri supervisi yang ade-kuat dalam hal mandi dan rendam duduk. 7. Kolaborasi 6. memerlukan magne-sium sulfat (MgSO4) atau pengobat-an antihipertensif lain. Hasil yang diharapkan : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan risiko-risiko dan/atau meningkatkan penyembuhan. dengan aliran dan karakter lokhia normal. dan urine jernih kuning pucat. tidak demam. 5. distensi uterus berlebihan.2. nadi dan suhu. tidak ada bunyi nafas adventisius.MEmbantu menurunkan kepekaan serebral pada adanya HKK atau ek-lapmsia. 4. tromboflebitis pranatal memungkin-kan klien lebih rentan terhadap kom-plikasi pasca operasi. 1. Perubahan prilaku.Anjurkan latihan kaki/pergela-ngan kaki dan ambulasi dini. 2. menurunkan resiko plebitis. namun rembesan biasanya tidak terlihat dan dapat me-nunjukkan terjadinya komplikasi. mencegah statis/penumpukan pada ekstremitas bawah.Luka bedah dengan drain dapat membasahi balutan. Catat kulit dingin. karena panas dari rendam duduk tersebut. stimulasi oksitosin lama.Inspeksi balutan terhadap per-darahan berlebihan. basah. Menunjukkan luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan (misalnya penyatuan tepi-tepi luka). Rencana tindakan : . atau mungkin sebagai aki-bat dari vasodilatasi.Meningkatkan aliran balik vena.Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastis untuk kaki bila risiko atau gejala plebitis ada.Hipotensi ortostatik dapat terjadi pada perubahan dari posisi terlentang ke berdiri. Tanda dan gejala tidak dapat diterapkan. dimana tanda vasokonstriksi mung-kin terlihat.Bantu klien pada ambulasi awal.Adanya faktor-faktor resiko seperti kelelahan miometrial. Hipotensi dan takikardia dapat menunjukkan dehid-rasi dan hipovolemia tetapi mungkin tidak terjadi sampai volume darah sirkulasi telah menurun 35-50%.Tekanan darah yang tinggi dapat me-nandakan terjadinya atau berlanjut-nya hipertensi. 3. 3. uterus lunak/tidak nyeri tekan.Pantau TD. meningkat-kan risiko terhadap pembentukan trombus. 5.

Berikan antibiotik khusus untuk proses infeksi yang ter-identifikasi. nadi dan jumlah sel darah putih.Tanda-tanda ini menandakan infeksi luka. biasanya disebabkan oleh strep-tokokus.Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan. mengejan saat defekasi. 2. Peningkatan suhu sampai 38.Berikan pelunak faeces. 4.Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas ko-toran. Kolaborasi : 5. kelebihan analgetik. leukositosis dan takikardia menunjukkan infeksi. ting-katkan ambulasi dini. 1. perhatikan ke-merahan. edema. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (diastasis rekti. 4. Bakteri dapat berpindah me-lalui aliran kapiler melalui balutan basah ke luka. stapilokokus atau spesies pseudomonas.Perlu untuk mematikan mikroorga-nisme.Bersihkan luka dan ganti balut-an bila basah. . eksu-dat atau gangguan penyatuan. 3. perhatikan distensi atau ketidaknyamanan. Kemungkinan dibuktikan oleh laporan rasa penuh abdomen/rektal atau tekanan. 5. 5.Anjurkan latihan kaki dan pe-ngencangan abdominal. penurunan bising usus. 4.Demam setelah pasca operasi hari ketiga. nyeri.Berikan analgesik 30 menit sebelum ambulasi.30 C dalam 24 jam pertama sangat mengindikasikan infeksi. 3. Mendapatkan kembali pola eliminasi biasanya/optimal dalam 4 hari pasca partum.Menandakan pembentukan gas dan akumulasi atau kemungkinan ileus paralitik.Intervensi Rasional 1. 2. 2. pembalut perineal. Rencana tindakan Intervensi Rasional Mandiri 1. 3.Palpasi abdomen.Membantu mencegah atau membata-si penyebaran infeksi. 1. atau anastesi).Lingkungan lembab merupakan me-dia paling baik untuk pertumbuhan bakteri. peningkatan sampai 380 C pada hari kedua dalam 10 hari pertama pascapartum.Kaji suhu. Hasil yang diharapkan klien akan : Mendemostrasikan kembalinya motilitas usus dibuktikan oleh bising usus aktif dan keluarnya flatus.Anjurkan cairan oral yang ade-kuat (misalnya 6 – 8 gelas/hari) bila masukan oral sudah mulai kembali. mual. defekasi kurang dari biasanya.

apatis). 5. Antisipasi perubahan ini dapat menurunkan stress berkenaan dengan transisi periode ini yang me-merlukan pembelajaran peran baru dan pelaksanaan tanggung jawab baru. Bantu klien atau pasangan dalam mengi-dentifikasi kebutuhan-kebutuh-an. 1.Berikan informasi yang berhubungan dengan perubah-an fisiologis dan psikologis yang normal berkenaan dengan kelahiran sesaria dan kebutuh-an-kebutuhan berkenaan dengan post partum.Memudahkan kemampuan untuk ambulasi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi. 4. 3.Melunakkan faeces. maturasi dan kompetensi. Namun. Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan masalah/kesalahan konsep.Ansietas yang berhubungan dengan kemampuan untuk merawat diri sen-diri dan anaknya.Makanan kasar (misalnya buah dan sayuran. Hasil yang diharapkan Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis. 2. khususnya dengan kulit dan bijinya) dan meningkatkan cairan yang merangsang eliminasi dan mencegah konstipasi defekasi. Rencana tindakan Intervensi Rasional 1. kebutuhan-kebutuhan individu. 3.Diskusikan program latihan yang tepat sesuai ketentuan. Ambulasi progresif setelah 24 jam meningkatkan pristal-tik dan pengeluaran gas. 4. ketidaktepatan perilaku (misalnya. dan meng-hilangkan atau mencegah nyeri kare-na gas.Perhatikan status psikologis dan respons terhadap kelahiran sesaria serta peran menjadi ibu. keraguraguan dalam atau ketidakadekuatan melakukan aktivitas-aktivitas. merangsang pe-ristaltik dan membantu mengembali-kan fungsi usus. .Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar. kekecewaan pada pengalaman kelahiran atau masalah-masalah berkenaan dengan perpisa-hannya dari anak dapat mempunyai dampak negatif pada kemampuan belajar dan kesiapan klien.2. klien membutuhkan waktu untuk bergerak dari fase “mengam-bil” sampai fase “menahan” yang penerimaan dan kesiapannya diting-katkan dan ia secara emosi dan fisik siap untuk mempelajari informasi baru untuk memudahkan penguasaan peran barunya.Periode pascapartum dapat menjadi pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan diberikan untuk mem-bantu mengembangkan pertumbuhan ibu. 2. dapat menurunkan aktivi-tas usus.Latihan kaki mengencangkan otot-otot abdomen dan memperbaiki mo-tilitas abdomen. 3. Melakukan aktivitas-aktivitas/prosedur yang perlu dengan benar dan penjelasan alasan untuk tindakan.Membantu klien mengenali perubah-an normal dari respons-respons abnormal yang memerlukan tindakan status emosional klien mungkin ka-dang-kadang labil pada waktu ini sering dipengaruhi oleh kesejahtera-an fisik. hasil yang diharapkan.

bantu dalam latihan paru. Rencana tindakan Intervensi Rasional 1. 3. 2. perubahan dalam jumlah/frekuensi berkemih. Hasil yang diharapkan : Mendapatkan pola berkemih yang biasa/optimal setelah pengangkatan kateter.4.Oliguria (keluaran kurang dari 30 ml/jam) mungkin disebabkan kele-bihan cairan.Berikan cairan per-oral. sesuai indikasi.Pertahankan infus intravena selama 24 jam setelah pembe-dahan. 4. menghasilkan gambaran keseimbangan tubuh dan meningkat-kan perasaan kesejahteraan umum. 3. . atau efek-efek antidiu-retik dan infus oksitosin. ambulasi dan latihan kaki. adekuat untuk menggan-tikan kehilangan dan mempertahan-kan aliran ginjal/haluaran urine.dan membantu mence-gah spasis kandung kemih.Kaji status psikologis klien 3. Memban-tu tonus-tonus otot.Pastikan berat/durasi ketidak-nyamanan. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma/diversi mekanis Kemungkinan dibuktikan oleh peningkatan pengisian/distensi kandung kemih. bau busuk) setelah pengangkatan kateter. 2. warna dan konsentrasi drainase urin. Misal-nya 6 – 8 gelas perhati.Perhatikan tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) misal warna keruh. meliputi larutan RL.Program latihan progresif biasanya dapat dimulai bila ketidaknyamanan abdomen telah berkurang (kira-kira 3-4 minggu pasca partum). Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan Kemungkinan dibuktikan oleh pengungkapan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam tingkat yang diinginkan.Biasanya 3 liter cairan. 1. Perhatikan adanya sakit kepala pasca spinal. 2. Hasil yang diharapkan : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan perawatan diri. Tingkat-kan jumlah cairan infus bila haluaran 30 ml/jam atau kurang.Cairan meningkatkan hidrasi dan fungsi ginjal.Ubah posisi klien setiap 1-2 jam. Mengosongkan kandung kemih pada setiap berkemih.Perhatikan dan catat jumlah. bila te-pat. Rencana tindakan Intervensi Rasional 1. meningkatkan sirkulasi.Adanya kateter mempredisposisikan klien pada masuknya bakteri dan ISK 4. Mengidentifikasi/menggunakan sumber-sumber yang tersedia.

Jakarta.Nyeri berat mempengaruhi respon emosi dan perilaku. DIarsipkan di bawah: 1. MF. Prawirohardjo S. dkk. Media Aeusculapius.Membantu mencegah komplikasi bedah seperti plebitis atau pneumo-nia yang dapat terjadi bila tingkat ketidaknyamanan mempengaruhi pengubahan/aktivitas normal klien. 1995. Sakit kepala berat dihu-bungkan dengan posisi tegak memerlukan modifikasi aktivitas-aktivitas dan bantuan tambahan untuk meme-nuhi kebutuhankebutuhan individu. Mochtar Rusta. ASKEP ZONE http://harnawatiaj.wordpress. 1999.4.Pengalaman nyeri fisik mungkin di-sertai dengan nyeri mental yang mempengaruhi keinginan klien dan motivasi untuk mendapatkan otonomi. Sinopsis Obstetri. 1998. Jilid 1 dan Jilid 2. SUMBER: Depkes. Doenges. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Edisi 3.com/2008/04/28/askep-preeklamsi/ . Yayasan Bina Pustaka. Edisi 2. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Hamilton. Ilmu Kebidanan dan Ilmu Bedah Kebidanan. 1999.Menurunkan ketidaknyamanan. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 3. 3. Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga. yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan perawatan diri. EGC. Bagian Obstetri Gynekology Fakultas Kedokteran UNPAD. Obstetri Fisiologi. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. RI. 1990. (Perawatan III). 1989. EGC. Mansjor A. Jakarta. Sulaiman S. 1. Jakarta. MP. EGC. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka. 2000. 2. 4. Prawirohardjo S.Kolaborasi dalam pemberian analgesik setiap 3 – 4 jam sesuai kebutuhan. ME dan Moorhouse. Bandung. Jilid 1. sehingga klien mungkin tidak mampu berfokus pada aktivitas perawatan diri sampai kebu-tuhan fisiknya terhadap kenyamanan terpenuhi. Jakarta. 2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful