P. 1
PERTANIAN BERKELANJUTAN LEISA

PERTANIAN BERKELANJUTAN LEISA

|Views: 1,985|Likes:
Published by Farid Ariansyah

More info:

Published by: Farid Ariansyah on Oct 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

PERTANIAN BERKELANJUTAN

Dr. Iwan Sasli, SP. M.Si

PERTANIAN BERKELANJUTAN
Tahun 1980, istilah “sustainable agriculture” atau diterjemahkan menjadi „pertanian berkelanjutan‟ digunakan untuk menggambarkan suatu sistem pertanian alternatif berdasarkan pada konservasi sumberdaya dan kualitas kehidupan di pedesaan. ditujukan untuk – mengurangi kerusakan lingkungan, – mempertahankan produktivitas pertanian, – meningkatkan pendapatan petani – meningkatkan stabilitas dan kualitas kehidupan masyarakat di pedesaan.

PERTANIAN BERKELANJUTAN
Tiga indikator besar yang dapat dilihat:
– Lingkungannya lestari – Ekonominya meningkat (sejahtera) – Secara sosial diterima oleh masyarakat petani.

Rp

LEISA: SUATU PERTANIAN ALTERNATIF
High Yielding Variety
DAMPAK: VARIETAS LOKAL TERDESAK

HILANGNYA PLASMA NUTFAH VARIETAS LOKAL KULTIVAR PADI DARI IRRI: LEDAKAN HAMA WERENG DAN PENYAKIT VIRUS TUNGRO TEKNOLOGI PRODUKSI PERTANIAN, PERIKANAN,, PETERNAKAN : BOROS ENERGI dan MAHAL POLUSI AKIBAT PUPUK ANORGANIK DAN PESTISIDA YANG TINGGI: MEMATIKAN MUSUH ALAMI HPT DAN MENYEBABKAN KETERGANTUNGAN PETANI TERHADAP INPUT DARI LUAR

Kajian dan Fakta:
Adanya ancaman-ancaman yang bersifat ekologi dan sosial akibat teknologi Revolusi Hijau Bahaya-bahaya akibat produksi yg bergantung kepada sumber-sumber energi yg tidak dapat diperbaharui Keterbatasan petani thd input eksternal/buatan MAKA:
Penggunaan High Eksternal Input Agriculture dalam pengembangan pertanian PERLU DIPERTANYAKAN Apakah mungkin memproduksi pangan yg cukup tanpa menggunakan input-input eksternal JUGA PERLU DIPERTANYAKAN

POLEMIK:

Produktivitas VS Kelestarian

SOLUSI :
Kembali ke cara-cara pertanian yang tidak memerlukan biaya tinggi
Penggunaan input internal-eksternal rendah :
Pemanfaatan secara optimal sumberdaya lokal, termasuk kearifan dan pengetahuan tradisional Memanfaatkan keanekaragaman hayati

Meningkatkan kesuburan tanah melalui proses daur ulang alami
Penggunaan input eksternal secara minimal, kecuali ada defisiensi yang serius

Mengatasi Polemik, Muncul beberapa istilah : Sustainable Agriculture Low Input Sustainable Agriculture (LISA) Low Eksternal Input Sustainable Agriculture (LEISA) Dan kelompok masyarakat secara mandiri:
Pertanian Organik Pertanian Hemat Energi Pertanian Pekarangan Pertanian Terpadu Pertanian konservasi

ABAD 21

KESADARAN MASYARAKAT DUNIA

BAHAYA PEMAKAIAN BAHAN KIMIA SINTETIS DLM PERTANIAN
bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh Gaya hidup sehat dengan slogan

Back to Nature
Pangan yang sehat dan bergizi tinggi diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

telah menjadi trend baru

Pertanian organik
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan

Produk pertanian harus beratribut
– aman dikonsumsi (food safety attributes), – kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) – ramah lingkungan (eco-labelling attributes).
Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Jenuh……?
Lihat gambar dulu…….

Apa & Bagaimana Budidaya PO?
PO merupakan pertanian yang selaras dengan alam, menghayati dan menghargai prinsip-prinsip yang bekerja di alam yang telah menghidupi segala mahluk hidup berjuta-juta tahun lamanya. PO merupakan proses budidaya pertanian yang menyelaraskan pada keseimbangan ekologi, keanekaragaman varietas, serta keharmonian dengan iklim dan lingkungan sekitar. Dalam prakteknya, budidaya PO menggunakan semaksimal mungkin bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitarnya, dan tidak menggunakan asupan agrokimia (bahan kimia sintetis untuk pertanian). Lebih jauh, karena PO berusaha „meniru‟ alam, maka pemakaian benih atau asupan yang mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetika (GMO/Genetically Modified Organism) juga dihindari.

Apa & Bagaimana Budidaya PO?
Kerapkali PO hanya dipahami secara teknis bertani yang menolak asupan kimiawi atau sebagai budidaya pertanian yang anti modernisasi atau disamakan dengan pertanian tradisional. Pemahaman ini sungguh kurang tepat. PO bukan sekedar teknik atau metode bertani, melainkan juga cara pandang, sistem nilai, sikap dan keyakinan hidup

PO memandang alam secara menyeluruh, komponennya saling tergantung dan menghidupi, dimana manusia juga adalah bagian di dalamnya. Sistem nilai PO mendasarkan pada prinsip-prinsip hukum alam. PO juga mengajak petani dan manusia umumnya untuk arif dan kreatif dalam mengelola alam yang tercermin dalam sikap dan keyakinannya. PO juga tidak menolak penggunaan teknologi modern di dalam praktek budidayanya, sejauh teknologi modern tersebut selaras dengan prinsip PO, yaitu keberlanjutan, penghargaan pada alam, keseimbangan ekosistem, keanekaragaman varietas, kemandirian dan kekhasan lokal. Maka, baik kearifan tradisional dan teknologi modern yang tunduk pada prinsip alam, keduanya mendapat tempat dalam PO.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia?
Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan. Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia?
Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain :
– 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, – 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang. Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Terpadu
Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi alternatif bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan & konservasi lingkungan serta pengembangan desa secara terpadu Diharapkan kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian berbasis agroforestry ini

Pertanian Terpadu
Model Integrated farming dikembangkan juga dengan beberapa kajian lebih mendalam melalui:
– ICM (Integrated Crop Management atau Pengelolaan tanaman terpadu), – INM (Integrated Nutrient Management atau pengelolaan hara terpadu), – IPM (Integrated Pest Management atau pengelolaan hama terpadu), dan – IMM (Integrated Soil Moisture Management atau pengelolaan air terpadu)

Pertanian Terpadu

Konsep pengembangan agribisnis unggulan berbasis pertanian terpadu

Cluster pertanian terpadu

Jenuh……?
Lihat gambar lagi…….

PENGERTIAN DAN FILOSOFI LEISA
LEISA merupakan suatu pilihan yang sesuai bagi banyak petani dan merupakan pelengkap dari bentuk produksi pertanian yang lain Kebayakan petani tidak sanggup menggunakan input-input buatan, jika sanggup, hanya dalam jumlah sedikit, maka sangat perlu mengembangkan teknologi-teknologi yang dapat memanfaatkan sumberdaya setempat secara efisien. Dengan menerapkan beberapa teknik LEISA, maka petani yg selama ini menggunakan HEIA dapat: mengurangi pencemaran, mengurangi biaya, dan meningkatkan efisiensi input eksternal

LEISA berkenaan dengan bentuk-bentuk pertanian yang:
1. Mengoptimalkan penggunaan sumberdaya

setempat/lokal/internal yang tersedia, dengan cara menggabungkan komponen sistem pertanian yang berbeda:
– – – – – – Tanaman-tanaman Hewan-hewan Tanah Air Iklim, dan; Manusia

SALING MELENGKAPI , DAN SECARA BERSAMA-SAMA MEMILIKI PENGARUH BESAR YANG POSITIF

2.

Menggunakan input-input eksternal hanya jika input-input tersebut diperlukan untuk menyediakan unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem, dan meningkatkan ketersediaan sumberdaya yang bersifat biologi, fisik, dan manusia.

MAKA:

LEISA:

MERUPAKAN SUATU PERTANIAN YG MENGGUNAKAN SECARA OPTIMAL SUMBERDAYA SETEMPAT YG TERSEDIA DAN SESUAI SECARA EKONOMI MAUPUN EKOLOGI SERTA DAPAT DIADAPTASIKAN SECARA SOSIAL BUDAYA

LEISA:
Penggunaan input eksternal tdk dikesampingkan, tetapi merupakan pelengkap dlm menggunakan sumberdaya setempat. Dalam menggunakan input-input eksternal, perhatian utama ditujukan thd memaksimumkan daur ulang dan meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan (Reintjes et.al., 1992) Penerapan pengetahuan secara agroekologi yang berasal dari ILMUAN dan PETANI adalah mungkin sehingga penggabungan input eksternal dan internal dpt mempertahankan dan meningkatkan sumberdaya alam, menambah produktivitas, dan keamanan serta menghindari pengaruh-pengaruh negatif

LEISA
LEISA menyatukan komponen-komponen terbaik dari pengetahuan dan praktik-praktik petani tradisional, pertanian berwawasan ekologi, ilmu pengetahuan konvensional, dan pendekatan-pendekatan baru dalam ilmu pengetahuan (misal: agroekologi, bioteknologi) LEISA tidak bertujuan memaksimumkan hasil dalam waktu singkat tetapi mencapai tingkat produksi yang stabil untuk waktu yang panjang/berkelanjutan

LEISA
LEISA berusaha untuk memelihara dan jika mungkin meningkatkan sumberdaya alam dan memaksimumkan pemakaian proses-proses alami. Pada saat produksi dipasarkan, kemungkinankemungkinan untuk mengembalikan hara yang terbawa pada saat memasarkan harus dipikirkan/ditinjau.

PRINSIP DASAR EKOLOGI LEISA
Menjamin kondisi tanah yang baik Pengelolaan bahan organik dan meningkatkan umur/kehidupan tanah untuk pertumbuhan tanaman Mengoptimalkan ketersediaan hara & menyeimbangkan aliran hara Meminimalkan kehilangan/kerugian usahatani dari radiasi matahari, udara, dan air.
Fiksasi nitrogen, pemanfaatan hara, pendauran ulang hara, penggunaan secara komplementer pupuk-pupuk eksternal Pengelolaan iklim mikro, manajemen air, dan pengendalian erosi

Meminimalkan kerugian karena Hama Penyakit Tanaman dan hewan ternak Mengeksploitasi yang saling melengkapi dan bersama-sama dalam penggunaan sumbersumber genetik

Pencegahan dan perlakuan secara aman (save traetment)

Penggabungan dlm sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman yang tinggi

PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN LEISA
FAKTA:
KETERGANTUNGAN THD BERAS PRODUKSI BERAS HRS MAKIN DITINGKATKAN DAMPAK:
Intensitas pertanaman padi meningkat

Menghilangkan pergiliran tanaman Penggunaan varietas unggul yg makin homogen Penggunaan masukan agrokimia (pupuk dan pestisida) makin meningkat

SOLUSI ??!
POLYCULTURE
Ciri khas tradisional (termasuk agroforestry) Resiko kerusakan yg besar oleh HPT dan erosi tanah akan berkurang Kebutuhan akan pupuk juga akan berkurang, jika polyculture mencakup jenis kacang-kacangan dan limbah pertanian dipakai sebagai mulsa dan didaur ulang sebagai kompos bersama dengan kotoran hewan Kebutuhan pestisida berkurang. Mengurangi biaya dan resiko pencemaran Erosi gen menurun Hasil pertanian menciptakan nilai tambah

MAKA:

TEKNIK BUDIDAYA POLYCULTURE Merupakan salah-satu model pertanian yang mengarah ke PERTANIAN BERKELANJUTAN

CONTOH LAIN:

“TALUN”
Merupakan sistem pertanian asli yang dipraktekkan di Jawa Barat TALUN : “ sebuah kebun yang terdiri dari tanaman tahunan” (Kamus Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda,1985) Dibandingkan dengan sistem pertanian lain, TALUN dicirikan oleh: 1. Budidaya di atas lahan yang terletak di luar rumah 2. Ditanami dengan berbagai jenis tanaman (buah-buahan, tanaman industri, tanaman kayu, dan tanaman setahun 3. Pengelolaannya tidak intensif 4. Berisi berbagai macam tanaman dengan kanopi menutupi seluruh permukaan tanah

Namun demikian, dalam pengembangannya menuju LEISA, Talun masih perlu perbaikan dalam aspek-aspek agronomi:
– Pengaturan jarak tanam – Aspek-aspek ekonomi: hasil panen bisa dijual, tidak hanya untuk kebutuhan sendiri

CONTOH LAIN YANG TERMASUK KONSEP LEISA:
“PENGENDALIAN HAMA TERPADU”

HAMBATAN DAN KEBERHASILAN LEISA
HAMBATAN:
Rendahnya tingkat pendidikan/SDM (petani), mempengaruhi adopsi teknologi yang akan diterapkan Penyediaan dan penyiapan sarana penunjang, seperti transportasi yang belum lancar dari produsen ke konsumen Hambatan dalam merubah kebiasaan petani yg selama ini telah terbiasa dengan penggunaan input eksternal yang tinggi Kurangnya informasi tentang zone agroekologi dan jenis-jenis tanaman yang cocok pada zone tersebut, sehingga kesulitan dalam menentukan teknologi LEISA yg spesifik lokasi Hambatan dalam menyatukan petani melalui kelompok tani/gapoktan

Untuk menunjang Keberhasilan Program LEISA, PERLU:
Meningkatkan peran para penyuluh pertanian dlm membimbing secara kontinu dan sebagai penghubung antara lembaga penelitian dengan petani dalam memperlancar transfer teknologi Meningkatkan peran balai-balai penelitian dan perguruan tinggi untuk melatih para petani dan melaksanakan demplot-demplot percobaan lapang pada lahan milik petani. Keterpaduan peran serta semua sektor pertanian, peternakan dan perikanan Dukungan/bantuan sektor lain: perdagangan dan perbankan yang dapat memberikan dukungan finansial berupa pinjaman lunak, terutama bagi petani kecil Kesadaran petani untuk menerapkan LEISA

KESIMPULAN
LEISA sebagai pertanian alternatif sesungguhnya adalah gabungan antara caracara tradisional yang pernah dilakukan petani setempat dan temuan teknologi yang pernah dikembangkan di tempat itu 2. LEISA bukan OBAT tertentu, tetapi konsep yang menyadarkan manusia tidak hanya meningkatkan produksi dalam jangka pendek tapi memproduksi dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan 3. Penerapan LEISA tergantung pada kondisi agroekologi setempat
1.

Diskusi :
Bagaimana peluang pengembangan pertanian organik di Kalimantan Barat? Bagaimana peluang penerapan LEISA di Kalimantan Barat?
– – – – Aspek sumberdaya dan produktivitas lahan Aspek sumberdaya manusia Aspek penguasaan teknologi budidaya Aspek sumberdaya lokal sebagai input.

Bagaimana dengan potensi lahan gambut untuk kegiatan pertanian?

Kehilangan Hasil
Kehilangan hasil panen dan pasca panen akibat dari ketidaksempurnaan penanganan pasca panen mencapai 20,51 persen, dimana:
 kehilangan saat pemanenan 9,52 persen,  perontokan 4,78 persen,  pengeringan 2,13 persen dan  penggilingan 2,19 persen. Angka ini jika dikonversikan terhadap produksi padi nasional yang mencapai 54,34 juta ton setara lebih dari Rp15 triliun. (BPPS, 2006)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->