P. 1
Manusia Menurut Pandangan Gereja Katolik3

Manusia Menurut Pandangan Gereja Katolik3

|Views: 315|Likes:
Published by Basten

More info:

Published by: Basten on Oct 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2014

pdf

text

original

MANUSIA MENURUT PANDANGAN GEREJA KATOLIK

MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas Conceling in Nursing

Oleh

RONALD BASTEN B P NIM. 113063A09087

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN BANJARMASIN 2011

1

DAFTAR ISI

A. Sebuah Keprihatinan Dasariah B. Hakikat Manusia 1. Manusia diciptakan Menurut Citra Allah 2. Manusia: Kesatuan Jiwa dan Badan 2.1. "Satu dalam Jiwa dan Badan" 2.2. Kesatuan Jiwa dan Badan 3. Manusia Pria dan Wanita: Kesetaraan C. Manusia dalam Dunia: Tanggungjawab untuk Menjaga Firdaus 1. Manusia Jatuh dalam Dosa: Awal Penderitaan 2. Manusia Ditebus Oleh Kristus 2.1 2.2 Penderitaan Manusia: Kenangan akan Penderitaan Kristus Penderitaan Manusia: Dasar Komunikasi Personal Dengan Allah D. Manusia Yang Berpengharapan

KEPUSTAKAAN

2

A. Sebuah Keprihatinan Dasariah Hati saya selalu gelisah dan sedih setiap kali membaca atau mendengar berita-berita tentang kriminalitas, kekerasan dan kejahatan kemanusiaan. Saya gelisah karena nyawa sesama seperti tidak ada harganya. Nyawa manusia seperti selembar kertas yang dengan mudah disobek dan dibuang begitu saja. Saya juga sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa atas berbagai kejadian yang tidak bermartabat dan manusiawi itu. Siapakah saya??? Kegelisahan dan kesedihan itu biasanya saya tuangkan dalam bentuk puisi. Namun bagi saya itu sangat terbatas dan personal. Maka didorong oleh kegelisahan dan kesedihan itu saya mencoba untuk merenung lebih dalam makna pribadi manusia menurut paham Gereja Katolik. Dalam dan dengan terang Kitab Suci, saya mengelaborasi pengembaraan saya tentang hakikat pribadi manusia sebagaimana yang tertera pada daftar isi di atas. Tulisan ini, pertama-tama lebih sebagai sebuah upaya pemaknaan pribadi atas keluhuran martabat manusia. Dan karena saya seorang katolik, saya mencoba memaknainya dalam kaca mata pandangan Gereja Katolik (tentu saja, tidak mewakili Gereja, karena ini permenungan pribadi yang dikemas secara sedikit ilmiah, biblis dan sesuai Ajaran Gereja).

B. Hakikat Manusia 1. Manusia diciptakan Menurut Citra Allah Dalam Kitab Kejadian diungkapkan bahwa manusia laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah sebagai ―gambar dan rupa-Nya‖ sendiri (Kej 1:27). Karena laki-laki dan perempuan diciptakan dalam ―keserupaan‖ dengan Allah, maka mereka memiliki martabat yang sama dalam segala aspeknya. Versi lain dari kisah penciptaan manusia terdapat dalam Kejadian bab 2. Dikisahkan bahwa laki-laki diciptakan oleh Allah lebih dahulu dan diambil dari tanah („adamah) yang diberi kehidupan dari nafas ilahi (Kej 2:7). Sedangkan perempuan diciptakan setelah laki-laki dan diambil dari tulang rusuk laki-laki, agar perempuan

3

1). Hanya manusialah yang dipanggil. manusia adalah makhluk yang bersifat rohaniah. Dan itulah dasar martabat manusiawinya. Demi dan atas kurnia serta tujuan istimewa inilah manusia diciptakan. Manusia mempunyai bagian yang tidak kelihatan yang mirip dengan Allah. Lebih tegas lagi para Bapa Konsili menyatakan bahwa ―Allah sebagai Bapa memelihara semua orang. Allah adalah Roh. maka laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya untuk dapat bersatu dengan perempuan (Kej 2:24). Pernyataan para Bapa konsili ini memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang dikaruniai oleh Allah dengan keistimewaan. manusia tentu mewariskan beberapa sifat dasar citra Allah tersebut. maka ketika manusia diciptakan menurut citra Allah. yang diciptakan menurut citra Allah. sehingga manusia dapat berkomunikasi dengan makhluk rohani lainnya. Hanya manusia yang secitra dengan Allah. Sebab mereka semua diciptakan menurut gambar Allah.menjadi ―penolong‖ yang sepadan dengan laki-laki. Sebagai ciptaan yang istimewa. menghendaki agar mereka merupakan satu keluarga. manusia bersifat rohani. ternyata setara dengan dirinya. Kisah penciptaan manusia sebagai citra Allah ini menempatkan martabat manusia di atas ciptaan yang lain. Artinya. Mengapa hanya manusia? Karena dari segala ciptaan yang kelihatan. Menyadari bahwa perempuan yang dibawa oleh Allah ke hadapannya. hanya manusia "mampu mengenal dan mencintai Penciptanya dan oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini.3). Pertama. Sebab manusia merupakan satu-satunya makhluk. Manusia adalah makhluk rohani.3). yang mengendaki segenap bangsa manusia dari satu asal mendiami muka bumi (Kis 17:26). yang Allah kehendaki demi dirinya sendiri (bdk. manusia 4 . yakni Allah sendiri‖ (GS 24. GS 24. dan saling menghadapi dengan sikap persaudaraan. untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah" (GS 12. Mereka semua dipanggil untuk satu tujuan. supaya dalam pengertian dan cinta mengambil bagian dalam kehidupan Allah.

Manusia adalah makhluk bermoral. Ketiga. Ia menciptakannya dengan keutamaan moralitas. Sedangkan dengan dimensi transformasinya. Sebagai citra Allah. Tentang sifat rohani ini. bermoral.dapat berkomunikasi dengan dunia yang tidak kelihatan. rasional. makhluk yang mampu membedakan (berpikir) untuk mengerti setiap kebenaran (bdk GS 15). Namun harus diakui bahwa “Semua orang mempunyai jiwa yang berbudi dan diciptakan menurut gambar Allah. manusia diberi potensi untuk mengusai dan mengembangkan kemampuan demi kesejahteraan bersama. manusia menemukan dirinya sebagai makhluk yang istimewa. Allah menciptakan manusia dengan suatu mandat untuk menguasai bumi dan segala isinya (bdk GS 16). Keutamaan inilah yang membuat manusia berbeda dengan ciptaan lain sekaligus mengembangkan tanggungjawab dari Allah. Dengan dimensi imanensinya. manusia dikaruniai rasio untuk bisa membedakan mana yang baik dan benar maupun yang tidak baik dan jahat. Dengan rasionalitasnya. manusia menemukan diri dan dunianya. Kedua. Dalam penemuan itu. Leonardo Boff menegaskan bahwa setiap manusia bergerak di dalam dimensi transendensi. Dengan dimensi transendensinya. dengan demikian mempunyai kodrat serta asal mula 5 . pribadi dan masyarakatanya. menguasai namun tidak diskriminatif. Karena Allah suci adanya. imanensi dan transparansi. Hal ini tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. manusia berusaha memadukan transendensi dan imanensi dirinya agar mampu menemukan kesejatian dirinya sebagai gambaran Sang Citra. maka ia akan selalu mengupayakan kesejatian hidup dalam kebenaran dan kebijaksanaan daripada kejahatan. maka ketika Ia menciptakan manusia. Waktu Allah menentukan untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. manusia bergerak ke sumber asalnya. manusia merasa senasib dengan sesama secara horisontal maupun mengalami ketergantungan kepada Sang Citra secara vertikal. Keempat.

perumahan. entah bersifat sosial entah budaya. bahwa hak-hak pribadi itu belum di mana-mana dipertahankan secara utuh dan aman. kondisi sosial. atau untuk menempuh pendidikan dan meraih kebudayaan yang sama seperti dipandang wajar bagi pria” (GS 29). bagi manusia disediakanlah segala sesuatu. nama baik. hak untuk bertindak menurut norma hati nuraninya. dan mengemban panggilan serta tujuan ilahi yang sama pula... Relasi dan persekutuan ini memperlihatkan suatu ketergantungan dasariah antarmanusia sebagai makhluk yang selalu ada bersama.. hak untuk dengan bebas memilih status hidupnya dan untuk membentuk keluarga. karena bertentangan dengan maksud Allah.. para Bapa Konsili dengan sangat indah menyatakan: „Karena saling ketergantungan itu semakin meningkat dan lambat laun meluas ke seluruh dunia. pekerjaan. Tentang hal ini. Seperti bila seorang wanita tidak diakui wewenangnya untuk dengan bebas memilih suaminya dan menempuh status hidupnya. Kekuasaan manusia itu tidak tanpa batas. karena melampaui segala sesuatu.. artinya manusia berkuasa sejauh demi kebaikan bersama. yang dibutuhkannya untuk hidup secara sungguh manusiawi. warna kulit. hak pendidikan. Manusia diciptakan untuk berelasi dan bersekutu.Tetapi serta merta berkembangkalah lesadaran akan unggulnya martabat manusia. dan oleh karena itu mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban. informasi yang semestinya.yang sama. bahasa atau agama. suku. Mereka semua ditebus oleh Kristus. misalnya nafkah. Sebab sungguh layak disesalkan. kehormatan. berdasarkan jenis kelamin. hak 6 . pakaian.. yang menyangkut seluruh umat manusia.setiap cara diskriminasi dalam hak-hak asasi pribadi. Kelima. Maka sudah seharusnyalah. relasional dan komunal. Maka harus semakin diakuilah kesamaan dasariah antara semua orang. maka kesejahteraan umum sekarang ini juga semakin bersifat universal. lagi pula hak-hak dan kewajiban-kewajibannya bersifta universal dan tidak dapat diganggu-gugat. harus diatasi dan disingkirkan.

melainkan seorang. Santa Katarina dari Siena bahkan menyatakan. menjadi tuan atas dirinya. yang dengannya Engkau memandang makhluk-Mu dalam diri-Mu sendiri dan jatuh cinta kepadanya. didasarkan pada kebenaran. Ia mampu mengenal diri sendiri. 365). harus menemukan keseimbangannya yang semakin manusiawi dalam kebebasan. menurut yang disyaratkan oleh Tuhan sendiri ketika bersabda. yang dengan penyelenggaraan-Nya yang mengagumkan mengarahkan peredaran zaman dan membaharui muka bumi. Jadi tata masyarakat serta kemajuannya harus tiada hentinya menunjang kesejahteraan pribadi-pribadi. harta abadi" (KGK. semata-mata diarahkan demi kesejahteraan bersama. Karena diciptakan menurut citra Allah. hadir di tengah perkembangan itu. dibangun dalam keadilan. sifat manusia yang relasional dan komunal seturut citra Allah tersebut. Di sinilah letak intergitas kecitraan (atau keserupaan) manusia dengan Sang Citra. dan atas kebebasannya yang wajar. karena cinta Engkau memberi kepadanya satu kodrat. Jadi. Dan 7 . yang dapat merasakan kegembiraan pada diri-Mu. dan bukan manusia demi hari Sabat (bdk Mrk 2:27). "Apakah alasannya. Supaya semua itu terwujudlan. Tata dunia ini harus semakin dikembangkan. mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu. maka Engkau meninggikan manusia ke martabat yang begitu mulia? Cinta yang tidak ternilai. sebab penataan hal-hal harus dibawakan kepada tingkatan pribadi-pribadi. Roh Allah. juga perihal agama. sebab Engkau menciptakannya karena cinta. Hampir senada dengan penegasan para Bapa Konsili di atas. dihidupkan dengan cinta kasih. bahwa hari Sabat itu ditetapkan demi manusia. dan jangan sebaliknya. Adapun ragi Injil telah dan masih membangitkan dalam hati manusia tuntutan tak terkendali akan martabatanya” (GS 26). perlulah diadakan pembaharuan mentalitas dan perubahan-perubahan sosial secara besar-besaran.atas perlindungan hidup perorangan.

dan juga mendapat jiwa dari Dia." tulis Santo Yohanes Krisostomus. Keunggulan martabat manusia ini. manusia pertama.1). untuk dialah langit dan bumi dan lautan dan seluruh ciptaan. supaya ia menjadi hidup . yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. Paulus mengatakan: ―Adam. Adam terakhir menjadi Roh yang menghidupkan. Itulah manusia. Rasul Paulus berbicara mengenai dua manusia.. Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya. menjadi makhluk hidup duniawi. melakukan segala sesuatu. sosok yang agung. yang mengukir citra-Nya atas yang pertama waktu pembentukan. Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia. tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum. sanggar sucinya. untuk memberi kepada-Nya jawaban iman dan cinta. supaya menaikkan manusia kepada diri-Nya dan memperkenankan ia duduk di sebelah kanan-Nya..karena rahmat ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya. supaya la tidak kehilangan. yang hidup dan patut dikagumi. untuk mencintai-Nya dan untuk mempersembahkan seluruh ciptaan kepada-Nya. oleh para Bapa Konsili diletakkan dalam hati nurani. Yang pertama diciptakan oleh Yang terakhir. Allah malahan tidak ragu-ragu. "Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas" (GS 22. maka ia menerima sosok tubuhnya dan menerimanya. yang tidak dapat diberikan suatu makhluk lain sebagai penggantinya. Adam terakhir inilah. yang merupakan asalusul umat manusia: Adam dan Kristus . "Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia. ―Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia.. di situ ia seorang diri bersama Allah. apa yang Ia jadikan menurut 8 . yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan sesama‖ (GS 16).. sehingga la tidak menyayangi Putera-Nya yang tunggal untuk dia. Sementara itu. yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk. Karena itulah.

dalam kesatuan kodrat. kebudayaan dan bangsa. yang terakhir tidak mempunyai akhir. Tokoh utama pandangan ini adalah Sokrates 9 . dan menurut hukum kodrat semua manusia berhak menggunakan hasil-hasilnya.. Adam pertama. Manusia adalah suatu kesatuan. bagi semua disusun sama dari badan jasmani dan jiwa rohani yang tidak dapat mati.1. "Pandangan yang menakjubkan. yang telah dilaksanakan Kristus untuk semua orang. semua manusia adalah benar-benar saudara dan saudari. pandangan dualisme.. karena yang terakhir ini sebenarnya yang pertama. yang memperlihatkan kepada kita umat manusia dalam kesatuan asal yang sama dalam Allah . "Satu dalam Jiwa dan Badan" Berbicara tentang manusia. bahwa kendati keanekaragaman pribadi. supaya dengan demikian bertahan dalam kehidupan dan berkembang dalam kesatuan tujuan adikodrati: Allah sendiri. dalam kesatuan pemukiman di bumi. dalam kesatuan tebusan.. dalam kesatuan tujuan yang langsung dan tugasnya di dunia. Adam terakhir: Yang pertama mempunyai awal. . untuk mencapai tujuan ini. dalam kesatuan daya upaya. Akan tetapi realitas jiwa dan badan ini sering dipandang sebagai saling bertentangan. tetapi kesatuan itu menampakkan adanya keduaan (jiwa dan badan). berasal dari keturunan dan citra Allah yang sama.citra-Nya. "Hukum solidaritas dan cinta ini" menegaskan bagi kita. Ada beberapa pandangan yang berbicara tentang jiwa dan badan manusia.. Dialah yang mengatakan `Aku adalah Alfa dan Omega. kita dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan. 2. dan semua orang berkewajiban untuk mengusahakannya. Pertama. karena Allah "menjadikan dari satu orang saja semua bangsa dan umat manusia" (Kis 17:26)." Manusia merupakan satu kesatuan karena asal yang sama. Manusia: Kesatuan Jiwa dan Badan 2.

jiwa merupakan azas hidup manusia. Ia bisa mewujud dalam kesatuannya dengan bentuk. Bagi Aristoteles. badan dilihat sebagai penjara bagi jiwa dan bersifat fana. Secara singkat dapat dikatakan bahwa menurut Aritoteles. Seperti dalam pandangan Sokrates. Keduaan itu mempunyai kodrat yang sama dalam kesatuannya. karena bersifat adikodrati dan kekal. Bila Sokrates dan Plato melihat jiwa dan badan sebagai keduaan yang sama sekali terpisah (dengan pengagungan terhadap jiwa). Pandangan Kitab Suci (PL dan PB) tentang jiwa dan badan bersifat sintetis-menyeluruh. Aristoteles justru berpendapat lain. Menurut Sokrates. Tak ada jiwa yang tidak dapat mati. yakni keduanya sebagai perpaduan yang serasi. Sebaliknya. sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa materi. Ini berarti bahwa manusia tidak diuraikan menjadi fungsi-fungsi yang dan kemampuanmanusia kemampuan sebagai bagian membentuk 10 .dan Plato. Jiwa berasal dari dunia atas (idea-idea) sedangkan tubuh berasal dari dunia bawah (materi). Tiap ada yang dapat diamati tersusun dari materi dan bentuk. Namun itu tidak berarti bahwa materi adalah hal yang ―tidak ada‖ sama sekali. materi adalah azas yang paling akhir. Pada kesimpulannya. Jiwa adalah intisari manusia dan oleh karenanya manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya melebihi kebahagiaan badannya sendiri. pandangan Kitab Suci. Aristoteles berpendapat bahwa baik jiwa maupun badan keduanya bersifat fana. materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat berada tanpa bentuk. Materi tidak bisa dipisahkan dari segala bentuk. melainkan ia merupakan kenyataan yang masih belum mewujud. Materi tanpa bentuk tidak memiliki kenyataan. dalam dualisme Plato ini jiwa dipandang lebih tinggi daripada badan. Kedua. Sedangkan Plato berpendapat bahwa jiwa dan badan merupakan dua kenyataan yang sama sekali berbeda dan saling bertentangan.

yang paling bernilai padanya. yang satu jiwa maupun raganya. Pribadi manusiawi secara menyeluruh sudah ditentukan menjadi kanisah Roh dalam Tubuh Kristus. Gagasan ini mencapai puncaknya pada pandangan tentang manusia (jiwa dan badan) sebagai citra Allah (Kej 1:26. Bila dalam PL kesatuan antara jiwa dan badan didasarkan pada sumber dan asal yang sama dalam Pencipta. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan. "Manusia. tetapi dipandang sebagai kesatuan.(terpecah/terpisah-pisah). Dalam PL diungkapkan bahwa Allah merupakan Pencipta dan dasar serta asal segala yang ada (Kej 1). maka dalam PB kesatuan itu tidak hanya terletak pada asal yang sama tetapi juga dalam tujuan eskatologis penciptaan yakni dalam Kristus. Fungsi kejasmanian tidak dipisahkan dari fungsi kerohanian dalam totalitasnya. Dalam Kitab Suci istilah jiwa sering berarti kehidupan manusia atau seluruh pribadi manusia. yang paling mirip dengan citra Allah: "Jiwa" adalah prinsip hidup rohani dalam manusia. Tetapi ia berarti juga unsur terdalam pada manusia. yakni Allah sendiri. Manusia seutuhnya dikehendaki Allah. keutuhan dan keseluruhan. Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Badan manusia mengambil bagian pada martabat keberadaan "menurut citra Allah": ia adalah tubuh manusiawi karena ia dijiwai oleh jiwa rohani. melalui kondisi badaniahnya 11 . Mzm 8). "Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Alam semesta diciptakan oleh Allah dan karenanya dunia merupakan pancaran keagungan Allah. Dengan itu dapat dipahami bahwa kesatuan jiwa dan tubuh pertama-tama terletak pada asal/sumbernya yang sama. demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej 2:7).

Dalam manusia. sehingga melalui dia unsur-unsur itu mencapai tarafnya tertinggi.ia tidak dihasilkan oleh orang-tua . sehingga jiwa harus dipandang sebagai "bentuk" badan. artinya jiwa rohani menyebabkan. yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir" (GS 14. apabila pada saat kematian ia berpisah dari badan. tempat manusia memutuskan berpihak kepada Allah atau melawan Allah.sendiri menghimpun unsur-unsur dunia jasmani dalam dirinya. dan ia akan bersatu lagi dengan badan baru pada hari kebangkitan.dan bahwa ia tidak dapat mati: ia tidak binasa. ia wajib memandang baik serta layak dihormati badan-nya sendiri. tetapi sebaliknya. dan semoga roh. badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Gereja mengajarkan bahwa perbedaan ini tidak membagi jiwa menjadi dua. Oleh karena itu manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya. jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus" (1 Tes 5:23). Kadangkala jiwa dibedakan dengan roh. dan melambungkan suaranya untuk dengan bebas memuliakan Sang Pencipta. Tradisi rohani Gereja juga menekankan pentingnya hati dalam arti biblis sebagai "dasar hakikat" atau "batin" (Yer 31:33). Santo Paulus berdoa demikian: "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya. Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam. roh dan materi bukanlah dua kodrat yang bersatu.1). Dengan "roh" dimaksudkan bahwa manusia sejak penciptaannya diarahkan kepada tujuan adikodratinya dan bahwa jiwanya dapat diangkat ke dalam persekutuan dengan Allah karena rahmat. Gereja mengajarkan bahwa setiap jiwa rohani langsung diciptakan Allah . 12 . melainkan kesatuan yang membentuk kodrat yang satu saja.

Tubuh mengekspresikan seluruh diri manusia (jasmani dan rohani). Kesatuan Jiwa dan Badan Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian sebelumnya. hidup manusiawi tidak lain sekaligus jasmani dan rohani. Karena itulah ketika seseorang sedang merasakan sakit pada bagian perut. Dengan itu dapat dikatakan bahwa tubuh manusia merupakan manifestasi yang kelihatan dari seluruh kediriannya (rohani dan jasmani). Seluruh aspek interior manusia (perasaan. Dengan tertawa. Oleh sebab itu ketika kita berbicara tentang tubuh. Ungkapan pertama bernuansa fragmentaris sedangkan kalimat kedua menunjukkan totalitas yang utuh.2. melainkan ―Aku sakit perut‖. ―Tidak ada aku ‗an sich‘. Bertolak dari gagasan bahwa tubuh manusia merupakan pengungkapan sekaligus penghadiran simbolis dari seluruh kemanusiaannya. kehendak. seharusnya tidak dikatakan: ―Sakit perutku‖. dsb. dsb) tidak hanya terpendam di dalam batin manusia. Dimensi jasmani dan rohani dalam pribadi manusia bukan dua kodrat yang tergabungkan melainkan persatuan keduanya merupakan satu kodrat. maka muncul pemahaman bahwa tubuh manusia juga merupakan jembatan yang mengkomunikasikan pribadi manusia dengan sesama. pikiran. kita akan jatuh pada paham dualisme. Bila tidak. Pembicaraan tentang badan di sini tidak bermaksud memisahkan tubuh dari jiwa. tetapi terungkap ke luar melalui tubuh. dengan menangis. pribadi manusia mencapai kenyataan konkretnya. melainkan bermaksud mendalami dimensi tubuh dalam kesatuan dengan jiwa. seseorang mengungkapkan kesedihan. Tak 13 .2. Sakit pada bagian perut membuat seluruh diri seseorang menjadi sakit atau terganggu. alam dan Tuhan. maka dalam benak kita harus selalu ada paham (prinsip) tentang kesatuan antara jiwa dan badan. Melalui dan di dalam tubuh. seseorang mengekspresikan kebahagiaan.

Allah menciptakan pria dan wanita secara bersama dan menghendaki yang satu untuk yang lain. bukan juga wanita.mungkin memikirkan suatu cara berada manusia yang tidak sekaligus suatu cara berada di dunia‖ Nilai tubuh didasarkan pada iman bahwa Allah-lah yang menciptakan tubuh manusia. Allah sendiri sama sekali tidaklah menurut citra manusia. Ia bukan pria. Dari antara binatang-binatang manusia tidak menemukan satu pun yang sepadan dengan dia (Kej 2:19-20). Dalam kepriaan dan kewanitaan mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta. pada-Nya tidak bisa ada perbedaan jenis kelamin. bermartabat sama "menurut citra Allah". "Tidak baik. Lalu berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya. Allah menciptakan manusia (jiwa dan tubuh) sebagai citranya dan memberikan kepada manusia martabat yang lebih tinggi daripada makhluk ciptaan lainnya. Namun dalam "kesempurnaan- kesempurnaan" pria dan wanita tercermin sesuatu dari kesempurnaan Allah yang tidak terbatas: ciri khas seorang ibu dan ciri khas seorang ayah. artinya. Manusia Pria dan Wanita: Kesetaraan Pria dan wanita diciptakan. kalau manusia itu seorang diri saja. memiliki martabat yang tidak dapat hilang. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia" (Kej 2:18). Keduanya. dibawa kepada manusia. dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. Penciptanya. Allah adalah Roh mumi. "Kepriaan" dan "kewanitaan" adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya. tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kej 2:23). pria dan wanita. 3. "Inilah dia. 14 . yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah. Wanita yang Allah "bentuk" dari rusuk pria. pria dan wanita.

pria dan wanita sebagai suami isteri dan orang-tua bekerja sama dengan karya Pencipta atas cara yang sangat khusus. Dengan kata lain. Allah juga membuat mereka mampu untuk berelasi dalam kesetaraan. penuhilah bumi" (Kej 1:28). Dalam perkawinan Allah mempersatukan mereka sedemikian erat. sehingga kedua orang itu dapat menjadi "penolong" satu untuk yang lain. Pria dan wanita diciptakan "satu untuk yang lain". Dengan meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya.Pria menemukan wanita itu sebagai aku yang lain. kendati perempuan diciptakan sesudah laki-laki. sehingga mereka "menjadi satu daging" (Kej 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. serta dalam suasana yang harmonis (bdk. Kej 2:825). Sedangkan Susan Niditch mengatakan bahwa dengan menciptakan manusia sebagai perempuan dan laki-laki sebagai cermin bagi dirinya sendiri. karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi ("tulang dari tulangku"). Bagi Stefania Cantore. bukan seakanakan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap. Keunggulan ini tidak boleh menjadi kelaliman yang merusak. kedua kisah penciptaan dapat disimpulkan bahwa selain menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dengan martabat yang sama. Kembali pada kisah penciptaan. melainkan la menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi. Allah tidak membuat pembedaan martabat maupun derajat di antara keduanya. pria dan wanita memiliki panggilan supaya sebagai "wakil" yang ditentukan Allah. sebagai sesama manusia. sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya. tidak ada maksud untuk menempatkan perempuan sebagai makhluk ciptaan kelas dua atau lebih rendah derajatnya dari pada laki-laki. 15 . Menurut rencana Allah. "menaklukkan dunia". kesalingan dan ketimbal-balikan.

29). harus diatasi dan disingkirkan. kondisi sosial. Konsili Vatikan II juga memandang ―kesenjangan ekonomi dan sosial yang berlebihan antara individu dan bangsa-bangsa merupakan sumber skandal dan bertentangan dengan keadilan sosial. mereka bertanggungjawab untuk dunia yang dipercayakan Allah kepada mereka. yang "mengasihi segala yang ada" (Keb 11:24). menentukan jalan hidupnya. wajarlah kalau ―Kaum perempuan menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki berdasarkan hukum dan keadilan (equity) maupun dalam kenyataan. Karena itu. martabat manusia. namun martabat mereka yang sama sebagai pribadi menuntut agar kita berusaha untuk mewujudkan kondisi hidup yang lebih fair dan lebih manusiawi (GS. Kendati terdapat perbedaan-perbedaan yang wajar antara laki-laki dan perempuan. warna kulit. bahasa atau agama.Diciptakan menurut citra Allah. bila kesetaraan itu belum mereka peroleh‖ (GS. karena bertentangan dengan rencana Allah‖ (GS. berdasarkan jenis kelamin. Mereka memiliki kesetaraan dasariah. keadilan. pria dan wanita terpanggil untuk mengambil bagian dalam penyelenggaraan ilahi untuk makhluk-makhluk lain. Kesetaraan tersebut harus semakin diakui. Oleh karenanya. Konsili Vatikan II juga menegaskan bahwa bila kaum perempuan masih belum diakui wewenangnya untuk dengan bebas memilih suaminya. entah yang bersifat sosial atau budaya. Mereka memiliki kodrat dan asal-usul yang sama. 29). 29). Dalam dokumen Gaudium et Spes para Bapa Konsili Vatikan II mengatakan bahwa semua orang diciptakan dalam citra Allah. 9). ―segala bentuk diskriminasi yang menyangkut hak-hak asasi manusia. serta perdamaian sosial dan internasional‖ (GS. Sedangkan menurut Paus Yohanes Paulus II perempuan memiliki martabat yang sederajat dengan laki-laki. Kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan ini dilandaskan pada kenyataan bahwa mereka 16 . atau untuk menempuh pendidikan dan meraih kebudayaan seperti yang mereka inginkan (GS. suku. 29).

dengan saling membantu dan bekerjasama untuk mewujudkan kesejahteraan bersama bagi seluruh ciptaan Allah. berbangsa dan bernegara. Yohanes Paulus II menegaskan bahwa dalam diri perempuan. Kesetaraan martabat ini akan mencapai kepenuhannya ketika perempuan dan laki-laki mampu untuk hidup dalam komunio dengan satu sama lain. Apa yang ditandaskan oleh almarhum Yohanes Paulus II ini sangat penting. Dengan penciptaan laki-laki dan perempuan menurut citra dan keserupaan dengan Allah mereka dipanggil untuk secara timbal balik hidup bagi satu sama lain. baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup berkeluarga. Aquinas meyakini bahwa perempuan adalah seorang ―pria yang tidak sempurna‖ (misbegotten male) yang keberadaannya hanya dibutuhkan demi membantu laki-laki untuk melahirkan anakanak. bermasyarakat. dengannya ia dapat berdialog dalam kesetaraan yang lengkap. laki-laki memperoleh mitra. Berdasarkan kesetaraan martabat sebagai citra Allah ini. Kesetaraan ini harus benar-benar diusahakan menjadi sebuah pengalaman nyata dalam segala bidang kehidupan. serta pengakuan terhadap segala sesuatu yang menyangkut hak dan kuajiban 17 . sebab selama berabad-abad Gereja mengikuti pandangan Thomas Aquinas (1225-1274) dalam melihat perempuan. kesetaraan suami-istri menyangkut hak-hak dalam hidup keluarga. Yohanes Paulus II mengingatkan bahwa ―kesetaraan martabat‖ tidak identik dengan ―kesamaan dengan‖ laki-laki. FC 22). fairness dalam hal kenaikan jenjang karier. dengan saling menerima dan saling memberikan diri. menggereja. mendapatkan gaji sama untuk pekerjaan yang sama.diciptakan oleh Allah sendiri menurut citra dan keserupaan dengan diriNya (Kej 1:26-27. antara lain. perlindungan bagi para ibu yang bekerja. Dengan mengadopsi pandangan Aristoteles (384/3-322 sebelum Masehi).

Iblis akan selalu menyesatkan manusia sehingga iblis dapat mengambil roh manusia (Kej 3:14). Penyesatan oleh Iblis menyebabkan manusia tidak bertanggungjawab atas mandat yang dipercayakan Tuhan. Bandingkan dengan teori Darwin yang menolak proses penciptaan Allah dalam 6 hari. dan dapat ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan proses-proses untuk mengarahkan kehidupan masyarakat. meski Gereja melalui Paus Yohanes Paulus II secara resmi mengakui dan menerima kemajuan ilmu pengetahuan. Berbekal pengetahuan ini manusia ingin menyamai Allah dan bahkan tidak mengakui Allah dan penciptaan-Nya (Kej 3:22). Manusia Jatuh dalam Dosa: Awal Penderitaan Manusia pertama jatuh ke dalam dosa karena telah melanggar larangan Allah.warga negara dalam negara yang demokratis. yaitu untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan. mempunyai akses untuk memiliki harta serta mengelola aset-aset yang dimilikinya. Manusia memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki kemampuan berkembang yang luar biasa karena buah dari Pohon Pengetahuan ini. Manusia yang berhasil disesatkan akan menjadi pengikut iblis. Ini disimbolkan dengan pengusiran manusia dari Taman Eden (Kej 3:23). khususnya menyangkut pernyataan Galileo Galilei tentang tentang matahari sebagai pusat dan teori evolusi yang bertentangan dengan kreationisme dalam Gereja. Manusia sama sekali tidak dapat melewati gerbang ini. Manusia dalam Dunia: Tanggungjawab untuk Menjaga Firdaus 1. Hubungan Allah dengan manusia tidak dapat lagi dilakukan secara langsung. Apa yang terjadi setelah manusia jatuh ke dalam dosa? Manusia kehilangan kemuliaan dan tidak dapat bertatap muka lagi dengan Allah. C. Sudah ada penjaga dengan pedang menyalanyala menjaga hadirat Allah dari manusia (Kej 3:24). Penyesatan itu menyebabkan permusuhan abadi antara iblis dengan 18 .

sakit dan sengsara itu telah mencapai kesudahan dengan wafat dan kebangkitan Logos yang menjadi manusia. Maksudnya dalam diri Yesus setiap orang terbuka untuk datang. manusia dapat berkata-kata kepada Allah. melainkan sekaligus dalam pengertian bahwa Ia adalah Logos yang menjadi manusia (Yoh 1:14). memohon pertolongan dan pengampunan. dan bukan pula bahasa dalam pengertian bahwa ketika sebuah pesan bahasa telah terpenuhi bahasa itu menjadi mubazir. bukan saja dalam arti merestorasi hubungan yang rusak akibat dosa. Untuk memulihkan tanggungjawab yang telah dilanggar oleh manusia. atau berkat. Yesus sebagai Bahasa universal manusia dalam hubungannya dengan Allah bukan saja karena dalam Dia segala perbedaan status manusiawi telah direduksi sampai pada titik nol (Yoh 15:15). Yesus adalah Bahasa manusia dalam wujud yang sebenarnya dan universal. Maka melampaui bahasa simbolik manusiawi. seperti halnya bahasa manusia yang dipakai dalam kebudayaan dan bangsa tertentu.keturunan perempuan pertama. Sang Logos ini. dan hidup itu sendiri (Yoh 14:6). melainkan 19 . tetapi sebenarnya iblislah yang dihancurkan kuasanya atas dunia ini (Kej 3:15). dan berkeluh-kesah kepada Allah. Melalui Dia. Ia adalah Bahasa penderitaan itu sendiri. Komunikasi melalui Logos yang menjadi manusia ini adalah komunikasi personal. Permusuhan ini membuat keturunan perempuan (Yesus Kristus) sangat menderita dan wafat di dunia ini. kebenaran. Allah mengomunikasikan diri-Nya kepada manusia dalam diri Yesus Kristus. Sedangkan Yesus sebagai Bahasa penderitaan hanya mau menegaskan bahwa penderitaan manusia berakhir. memuji Dia. penderitaan yang tidak diangkat kepada tataran linguis untuk diungkapkan adalah penderitaan yang tidak dapat mencapai kesudahan. berbicara. Yesus kemudian menjadi mediator antara ciptaan dan Allah. bukan bahasa simbolik-puitis yang hidup di tengah-tengah manusia. sebab oleh Dorothy Soelle. Dan iblis dan segala kekuatannya akan dihancurkan oleh Yesus Kristus pada akhir zaman (Kitab Wahyu). sebab Ia adalah jalan.

suatu antisipasi terhadap apa yang (akan) dialami manusia dalam sejarah. adalah pemilik waktu. Kalau penderitaan secara esensial interpersonal. tidak juga sebagai nasib. itu berarti seluruh proses komunikasi manusia modern yang dimediasi oleh alat-alat teknologis adalah komunikasi impersonal. dan oleh karena Allah seperti yang dipahami JB. Sebab sebagai suatu peristiwa antisipatif. Itulah sebabnya komunikasi dalam penderitaan menjadi penting.terutama karena Peristiwa Yesus adalah peristiwa historis. melainkan suatu dasar bagi komunikasi personal manusia kepada Allah. dan akan terjadi. Pada titik ini. sedang. maka yang dinamakan antisipasi tidak berlangsung secara formal futuristik. Penderitaan Kristus mencapai kesempurnaan pada kebangkitan-Nya. seluruh peristiwa hidup manusia yang dialami dalam sejarah. sebab penderitaan secara esensial interpersonal. kini. Pertanyaan di manakah Kristus ketika Ayub menghadapi penderitaan tidak mungkin dicari dan ditemukan jawabannya di luar penderitaan di Salib. melainkan karena orang-orang modern menghayati penderitaan sebagai bertentangan dengan 20 . partisipatif dalam peristiwa historis ini. Kristus adalah Allah. Oleh karena itu dimensi antisipatif dari penderitaan Kristus terdapat pada fakta bahwa penderitaan di Salib menyelamatkan seluruh penderitaan manusia dalam segala sejarah penderitaan manusia sejak Ayub yakni dalam kesempurnaan kebangkitan-Nya. Impersonalitas komunikasi manusia modern bukan pertama-tama karena ciri teknologis sarana penghubung antarorang zaman ini. karena Kristus telah terlebih dahulu menderita. dapat membawa pada suatu kesadaran akan aktualitas pengertian penderitaan. sebagai kegagalan atau hukuman. Dengan kata lain. serta melalui dialog penderita menemukan solidaritas dengan Dia yang telah memenangkan penderitaan tadi. penderitaan Kristus adalah antisipasi terhadap penderitaan yang telah. Metz. penderitaan manusia bukan lagi sesuatu yang dialami tanpa makna. dan yang akan datang. melampaui masa lalu.

1. seperti ungkapan Jürgen Moltmann bestia rerum novarum cupidissima (manusia yang selalu rakus akan hal-hal baru). 2. seperti ditegaskan JB. Penderitaan Manusia: Kenangan akan Penderitaan Kristus Penderitaan Kristus dalam misteri Paskah dilatarbelakangi oleh cinta yang kudus kepada manusia. Berhadapan dengan penderitaan Kristus. melainkan. suatu pertanyaan prasyarat yang diajukan bukan lagi tentang mengapa Yesus mengasihi manusia sampai mati di Salib. krisis komunikasi interpersonal manusia dapat juga memunculkan pertanyaan teologis di sisi lain: Masihkah dalam penderitaannya manusia berdialog dengan Allah yang telah menyelamatkan dia melalui Salib dan kebangkitan-Nya. Manusia Ditebus Oleh Kristus 2. adalah suatu praksis dalam sejarah dan masyarakat yang dipahami sebagai harapan dalam solidaritas dengan the God of Jesus sebagai Allah 21 . Tetapi di sini yang terpenting adalah. yakni tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabatsahabat-Nya (Yoh 15:13). Kecenderungan akan hal-hal baru dari teknologi komunikasi bukan saja mereduksi nilai fundamental komunikasi personal manusia dengan Allah tetapi sekaligus menegaskan dimensi etis komunikasi interpersonal manusia dalam penderitaannya dengan Allah. sangatlah tidak cukup untuk mengenang penderitaan Kristus hanya dengan merayakan sebab bukankah merayakan dapat saja berarti bersuka cita atas penderitaan Kristus yang begitu sengsara? Iman Kristiani. yang oleh Dorothy Soelle disebut the culture of aphaty (budaya apatis. dengan apakah penderitaan itu dikenang ? Memang. Memang agak aneh bahwa dalam penderitaan terdapat kasih yang lebih besar justru terletak pada kematian di salib. Metz.modernitas. suatu kematian mengenaskan. budaya masa bodoh). jika menghadapkan penderitaan Kristus di depan penderitaan manusia.

Demikian juga. dari mana iman Kristiani berakar.yang hidup dan yang telah mati yang memanggil semua manusia menjadi subjek di hadapan-Nya. Historisitas suatu peristiwa sejarah tidak terletak pada alasan di balik peristiwa melainkan terletak pada kenangan akan peristiwa yang telah terjadi itu. Beriman kepada Kristus yang telah menderita. Pertanyaan tentang motivasi adalah pertanyaan subjektif dan karena itu manusia tidak pernah mencapai jawaban yang objektif sempurna. Mengenang kembali penderitaan Kristus melalui penderitan manusia tidak dimaksudkan agar manusia boleh menderita begitu saja. ia tidak pernah dilihat lepas dari penderitaan Kristus atau bahwa penderitaan Kristus menjadi rujukan terakhir dari apa yang dialami manusia. de facto peristiwa Salib berbobot mati historis. Di sinilah deklarasi iman Kristiani tentang dirinya sendiri sebagai memoria passionis. Namun fakta bahwa dalam sejarah penderitaan umat manusia yang diwakilkan oleh Ayub secara personal dan bangsa Yahudi secara komunal. Penderitaan manusia adalah catatan kaki dari penderitaan Kristus. atau membiarkan kondisi-kondisi yang memungkinkan 22 . wafat. suatu memoria passionis Christi (tambahan Christi dari penulis). mencari tahu motivasi Yesus mengasihi manusia menjadi tidak efektif. mortis et resurrectionis Jesu Christi tidak saja memiliki makna merayakan namun pertama-tama adalah mengenang! Mengenang memiliki cakupan dalam dimensi iman yang lebih luas yakni mengenang penderitaan dan kematian tetapi merayakan berarti merayakan kebangkitan-Nya. dan bangkit berarti mengenang mengenang penderitaan (salib dan kematian) sekaligus merayakan kemenangan (kebangkitan atas kematian). Kitab suci dan sumber-sumber teologi umumnya memang telah menyediakan sarana-sarana untuk mencapai pertanyaan itu. penderitaan manusia selayaknya menjadi kenangan akan penderitaan Kristus.

motivasi penyerahan diri secara total pada kematian di Salib tetap bersifat personal. Oleh karena itu segala bentuk ketidakadilan penguasa yang menyebabkan penderitaan manusia harus dilawan. Teguran Petrus ketika mendengar Yesus mengumumkan penderitaan yang akan menimpa Dia justru dianggap sebagai batu sandungan (Mat 16:23). Memang dosa manusia harus ditebus untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah tetapi ini tidak dengan sendirinya dapat membenarkan kekuasaan politik yang tidak adil dan menindas.penderitaan terjadi. Adanya penderitaan memang telah memunculkan persoalan-persoalan teodicea namun konsep dan gagasan yang sangat jenial sekali pun sama-sekali gagal secara sufisiensi (=memuaskan) menjelaskan mengapa penderitaan itu terjadi. menindas serta tidak adil memang dapat mengakhiri penderitaan manusia. Penderitaan Kristus sampai wafat di Salib adalah suatu fatalisme kekuasaan politik Imperium Romanum yang secara sengaja menghukum Dia atas desakan para demonstran meskipun setelah melalui penyidikan panjang Ia didapati tidak bersalah (Yoh 19). Namun secara teologis tidak dapat dikatakan bahwa penderitaan yang mereka alami adalah dalam rangka mengenang penderitaan Kristus yang memang adalah akibat dari model kekuasaan politik yang menindas dan tidak adil. dan bahkan lebih tidak mungkin lagi untuk menjelaskan penderitaan Kristus di Salib. Peristiwa holocaust di Auschwitz adalah bukti otoritarianis kekuasaan politik Nasional-Sosialis Jerman di bawah Adolf Hitler. Perlawanan terhadap model kekuasaan yang totaliter dan otoritarian. Di sanalah penderitaan bangsa Yahudi itu secara teologis dapat merupakan 23 . namun apa yang terpenting dari kematian di Salib itu adalah. Jadi memang. Dengan kata lain Salib adalah akibat dari kekuasaan politik yang tidak adil. totaliter serta otoritarian. kebangkitan-Nya sebagai puncak dari peristiwa Salib itu.

Salib dan kebangkitan Yesus memiliki dimensi etis eskatologis atas penderitaan mereka. atau jika penderitaan itu tidak memiliki rujukan eskatologisnya. meskipun bangsa Yahudi menyangkal Yesus Anak Allah. penderitaan Kristus di salib tidak memiliki dimensi eskatologis apa pun. Akan tetapi. Jadi. Memang Stanley Hauerwas telah membedakan secara etis teologis antara penderitaan yang terhadapnya manusia sama-sekali tidak mempunyai kontrol dan penderitaan yang memungkinkan manusia menguasainya. untuk mengenang kembali penderitaan Kristus oleh manusia. Penderitaan. Sebab jika demikian. dan karena itu telah diselamatkan.kenangan akan penderitaan di Salib. kontrol manusia atas penderitaannya bukan secara langsung menuntun manusia kepada jalan eskatologis. sebab penderitaan manusia tersubordinasi di bawah penderitaan Kristus. melainkan menyangkut aspek konsekuensi eskatologis dari penderitaan Kristus. bahwa penderitaan manusia yang diwakilkan oleh bangsa Yahudi sebagai yang sulung dari seluruh Gereja partisipatif dalam penderitaan di Salib. Demikian juga dengan penderitaan yang diterima secara pasif. Mengenang kembali penderitaan Kristus melalui penderitaan manusia berarti mengangkat penderitaan manusia kepada tataran ilahi. Seandainya manusia karena kekuatan sendiri dapat mengangkat penderitaannya kepada tataran ilahi dan memiliki 24 . memiliki dimensi etis historis bahwa penderitaan itu bukanlah nasib yang diterima manusia secara pasif. Kenangan akan penderitaan Kristus dalam penderitaan manusia ini bukan terutama menyangkut intensitas dan kedalaman rasa sakit yang dialami. Warta tentang keselamatan Kristiani kepada umat Yahudi yang menderita dalam peristiwa Auschwitz dan bahkan kepada seluruh umat manusia yang menderita akan menemukan jalan buntu jika penderitaan umat manusia bukan merupakan catatan kaki dari penderitaan Kristus. lebih dari sekedar suatu persoalan teodicea.

Ini bukan pertama- 25 . sebaliknya yang diperoleh-Nya adalah kerugian sebab Dia kehilangan Putera Tunggal-Nya. saat Kristus dalam penderitaan-Nya tidak meninggalkan Allah tetapi malah berteriak: ―Eli. mengapa Engkau meninggalkan Aku? Jeritan ini adalah suatu seruan eksistensial yang keluar dari hati ketika Ia mengalami penderitaan.dimensi etis eskatologis dalam dirinya sendiri. atau seperti yang diwartakan Paulus. sia-sialah iman manusia dan manusia tetap tinggal dalam dosa (1Kor 15:17). AllahKu. Tidak ada cara lain yang paling baik untuk berpartisipasi aktif dalam karya keselamatan Allah selain bahwa dalam penderitaannya manusia mengenang penderitaan Kristus. 2. Penderitaan Manusia: Dasar Komunikasi Personal Dengan Allah Sebagaimana penderitaan manusia adalah catatan kaki dari penderitaan Kristus. Akan tetapi entah yang pertama maupun yang kedua. kenangan yang paling pas akan penderitaan Kristus terdapat dalam penderitaan manusia dan dengan penderitaannya. hal itu tidak harus berakhir dengan kematian di salib sebagai tebusan akan dosa tadi. bahwa Yesus datang untuk menebus manusia. itu berarti sia-sialah penderitaan dan kebangkitan Kristus. jika Kristus tidak dibangkitkan. Memang peristiwa Auschwitz karena kooptasi negara Hegelian yang memberikan semua fungsi kepada negara sama-sekali bukan merupakan rencana Allah seperti halnya rencana dan kekuasaan Allah yang hendak ditunjukan dalam diri orang buta misalnya (Yoh 9:3).2. manusia partisipatif dalam karya keselamatan Allah. Jadi. lama sabakhtani‖ yang artinya AllahKu. Maka. Eli. dalam penderitaannya manusia memerlukan Yesus sebab tidak ada keuntungan bagi Allah membiarkan manusia menderita (Ayb 10:3). manusia tidak diselamatkan atau tidak ditebus oleh kematian dan kemenangan Kristus. Dengan kata lain.

masih ada Allah. Jawaban JB. ada kebangkitan. bahkan membangkitkan orang-orang kudus yang telah meninggal (Mat 27:51-52). Doa Yesus dalam penderitaanNya di Salib dan kejadian yang mengikutinya sebenarnya ingin mengatakan bahwa dalam penderitaan manusia perlu menjalin komunikasi personal yang intensif dengan Allah dan hanya karena manusia berdoa ia diselamatkan dari penderitaannya. Teriakan itu menimbulkan gelombang-gelombang suara yang tidak hanya merambah sampai di kediaman Allah. yakni bahwa we can pray after Auschwitz because there was prayer even in Auschwitz agaknya terinsipirasikan dari jeritan Yesus di Salib itu. Sebab tidak mungkin Allah akan meninggalkan Yesus sendirian karena apa yang berkenan kepada Bapa adalah segala yang desembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi justru dinyatakan kepada orang kecil (Mat 11:2526). sebab itulah yang berkenan kepada Allah.tama adalah suatu pengalaman ditinggalkan oleh Allah karena Yesus masih berseru pula dengan suara nyaring untuk yang kedua kalinya dan menyerahkan nyawanya (Mat 27:49). membelah tabir Bait Suci. Preferensi fundamental Yesus dalam option for the poor seperti yang dikotbahkan-Nya di bukit (Mat 5-7) menyebabkan Allah tidak mungkin meninggalkan Dia dalam keadaan seperti di Salib. bahwa dalam penderitaan orang masih dapat berdoa kepada Allah. apakah masih ada doa bagi orang Kristen setelah persitiwa Auschwitz?. melainkan sanggup membelah bukit-bukit batu. menggetarkan bumi. Ada kesan bahwa teriakan Yesus dari Salib itu untuk memaparkan kepada sosok manusia penderita agar meyakinkan diri bahwa di balik penderitaan itu masih ada Yesus. Itulah sebabnya jeritan Yesus kepada Allah dari Salib itu lebih merupakan suatu doa dalam kesendirian daripada suatu teriakan protes karena pengalaman ditinggalkan. Metz terhadap pertanyaan. Komunikasi personal yang intensif antara manusia dalam penderitaannya dengan Allah antara lain untuk menunjukan 26 .

menjadi jelaslah bahwa dalam penderitaannya manusia dapat menemukan Allah melalui bahasa doa yang kontemplatif. tetapi juga lebih hidup dan dramatis. Dan bahasa doa. Bahasa komunikasi yang keluar dari lubuk hati manusia adalah bahasa doa. Dengan demikian bahasa doa dalam penderitaan manusia bukanlah model bahasa profetis liberatif. atau dalam cara sajian Walter Kasper ialah ilmu pengetahuan dan teknologi. lebih bersifat memberontak serta radikal. Bahasa model ini lebih merupakan bahasa kontemplatif sebab basis dari bahasa kontemplatif adalah pertemuan dengan Allah yang ditandai oleh kebebasan dan kukuasaan cinta-Nya. Metz. sejarah berada di dalam Allah.solidaritas manusia dalam penderitaan Yesus. pendukung serta persamaan dengan mana manusia. Metz. Dan inilah solidaritas manusia dalam arti yang sebenarnya dengan Yesus Kristus yang telah terlebih dahulu menderita untuk menebus umat manusia dari dosa serta merestorasi hubungan manusia dengan Allah. seperti yang dikatakan JB. merupakan suatu kategori pembantu. Sebab solidaritas. Komunikasi personal manusia dalam penderitaannya dengan Allah sama dengan 27 . ketimbang bahasa-bahasa teologis akademik. seperti ditegaskan JB. Akan tetapi pengalaman manusia akan Allah dalam penderitaannya adalah pengalaman manusia akan Allah yang menderita dalam sejarah sebab sejarah bukanlah medium Allah mengijinkan diri-Nya untuk dialami melainkan sejarah adalah milik Allah saja. bukan saja lebih universal. Maka. dapat diangkat kepada tataran ilahi bahwa penderitaan mereka memiliki dimensi etis eskatologis. Memang pengalaman akan Allah oleh manusia modern selalu terbatas antara lain karena dikondisikan oleh keterbatasan manusiawi. penderita yang akut dan terancam. Sebab apa yang dimaksudkan oleh Gustavo Gutierrez dengan model bahasa profetis adalah suatu bahasa protes bukan saja diarahkan kepada situasi yang menindas melainkan juga kepada Allah.

adalah bahasa tanpa tabu dan pada saat yang sama dipenuhi dengan painful discretion. bahkan mengalami sejarah itu sendiri. sekaligus juga menyangkal bahwa iman timbul karena pendengaran. seperti yang dituturkan JB. Benar jika Kasper mengatakan bahwa arti sejarah tidak berhenti dan kering karena Allah sendiri yang mengundang manusia untuk memulai kembali arti sejarah umat manusia. Dengan kata lain. Tidak ada komunikasi personal antara manusia dalam penderitaannya dengan Allah akan memunculkan suatu keadaan memberontak melawan Allah seperti yang tampak dalam persoalan teodicea dan memuncak pada klaim kematian Allah. meskipun memang bahasa yang terucapkan secara teoretis. Bahasa kontemplasi manusia dalam penderitaannya adalah bahasa doa. yakni Logos yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Itulah sebabnya Allah mendengar kontemplasi Ayub lalu membebaskan dia dari sengsara dan penderitaan. bahwa dalam keadaan sengsara ia secara kontemplatif merenungkan apa yang dialaminya. Sebab segala sesuatu telah diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (Luk 10:22). Allah yang menyelamatkan manusia dari penderitaannya adalah Allah yang mengomunikasikan diri-Nya dalam bahasa yang hidup. Ayub dalam penderitaannya telah memperlihatkan contoh yang baik. keselamatan orang-orang yang menderita dan tertindas.mengalami Allah sebagai pemilik sejarah. Komunikasi personal manusia dengan Allah dalam sejarah penderitaannya memiliki dimensi etis eskatologis dan ini terletak pada bahasa yang terucapkan dalam kesengsaraan dan penderitaan. direnungkan dalam dan bersama Allah. iman timbul karena pendengaran ini mengandaikan ada komunikasi kontemplatif dengan Kristus yang menderita di Salib. bukan merupakan bahasa profetis liberatif menurut pengertian Gutierrez itu. tambahkanlah iman kami‖ (Luk 28 . Metz. termasuk juga supaya dari bawah salib-Nya manusia yang menderita dapat berteriak: ―Tuhan.

akan merupakan skandal bagi orangorang yang menderita. komunikasi personal manusia dalam penderitaannya dengan Allah adalah dalam rangka solidaritas manusia yang menderita dengan. the God of Jesus. Skandal ini menjadi semakin tegas kalau pewartaan itu tidak menggunakan bahasa komunikasi kontemplatif. Maka. yakni bahasa orang-orang menderita itu sendiri. Pengangkatan penderitaan manusia kepada tataran ilahi ini dimungkinkan karena penderitaan Kristus adalah peristiwa antisipatif terhadap sejarah penderitaan manusia di dunia dalam segala zaman.17:5). lebih dari sekedar sebagai persoalan teodicea. tetapi juga bahwa warta tentang keselamatan yakni kebangkitan Kristus. Penderitaan Kristus adalah peristiwa historis antisipatif. atau bahwa orangorang menderita sama-sekali mengabaikan komunikasi personal mereka dengan Allah yang telah mengalahkan penderitaan dalam kebangkitan-Nya. Sebab jika penderitaan manusia dapat dilihat secara terpisah dari penderitaan Kristus atau tidak memiliki rujukan eskatologis. Penderitaan manusia. Inilah 29 . Tepat di sinilah. Sebagai catatan kaki berarti penderitaan manusia berpartisipasi secara aktif dalam penderitaan Kristus di Salib dan justru karena itu penderitaannya diangkat kepada tataran ilahi yakni kebangkitan. Metz). adalah dasar bagi hubungan personal manusia dengan Allah. (meminjam JB. Sebab ia memiliki dimensi etis eskatologis dalam pengertian penderitaan manusia adalah catatan kaki dari penderitaan Kristus. supaya dalam penderitaanNya manusia penderita dapat secara personal berkomunikasi dengan Allah dan menemukan arti penderitaannya itu. Yesus sebagai Logos yang menjadi manusia adalah Bahasa penderitaan itu sendiri. maka bukan saja bahasa profetis liberatif yang akan menemukan jalan buntu mengangkat penderitaan manusia kepada tataran ilahi. ini sama artinya dengan mengatakan bahwa penderitaan manusia partisipatif dalam penderitaan Kristus.

D. Agar manusia hidup. 48 mengemukakan ―…jiwa yang bersifat rohani dan tidak dapat mati merupakan prinsip kesatuan makhluk manusia. Hidup sebagai anugerah dan ketergantungan manusia kepada Allah memuat panggilan sekaligus tugas manusia untuk melindungi kehidupan. manusia tidak dapat memperlakukannya sesuka hatinya‖. Hidup manusia luhur dan tidak ada sesuatupun yang bisa menggantikan dan memberikan hidup (Mrk 8:37). Oleh karena itu Allah satu-satunya Tuhan hidup itu. Keselamatan yang diraih dalam dan berkat Kristus memiliki nilai. dengan mana ia ada sebagai 30 . maka kita kian berproses menuju manusia baru yang berpengharapan. mortis et resurrectionis Jesu Christi. Hidup itu karunia-Nya. suatu solidaritas dalam rangka memoria passionis. Allah memberikan/menjamin segala hal bagi kelangsungan hidup manusia (Mat 6:25-32). Dan hidup sebagai nilai dasar yang tertinggi mengandung makna bahwa hidup merupakan syarat utama bagi nilai-nilai lainnya. Manusia Baru Yang Berpengharapan Setelah menelaah manusia baik dalam hakikatnya sebagai ciptaan Allah maupun keterlibatannya dalam dunia yang penuh penderitaan namun mendapatkan penebusan dalam Kristus. Sebab dari solidaritas itulah terungkap harapan menuju suatu dunia baru.solidaritas yang sebenarnya manusia dalam penderitaannya dengan Kristus. Almarhum Paus Yohanes Paulus II. melalui ensikliknya Veritatis Splendor no. dunia manusia yang tertebus. manusia yang tertebus. hidup manusia harus diperjuangkan dan dilindungi. keikutsertaan dalam nafas kehidupan-Nya. Ini mengungkapkan bahwa manusia tergantung secara total kepada penyelenggaraan Allah. Dengan kata lain. Pernyataan sedunia tentang Hak Asasi Manusia dan Kongregasi Ajaran Iman menyatakan bahwa hak pertama dan dasariah bagi manusia adalah hak untuk hidup. Karena itu. gambar dan meterai-Nya. manusia yang diselamatkan. hanya dengan hidup manusia dapat menikmati nilai-nilai lain dalam kehidupannya. ―Hidup manusia berasal dari Allah.

Paham ini menyampaikan bahwa manusia sebagai totalitas yang disatukan. menangis dan lain sebagainya. Tugas perutusan manusia ini berasal dari kuasa Allah sendiri. Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkannya dan menebus manusia dari dosa-dosanya.suatu keseluruhan…‖. lewat tubuhnya. Yesus menebus manusia lewat sengsara. Manusia adalah makhluk multidimensional tanpa dapat direduksi dalam satu sisi saja seperti jiwa atau badan. manusia bisa mengekspresikan diri. Pemahaman yang baik dan benar akan pengertian ini mendorong manusia untuk menghargai hidup manusia. Manusia ditugaskan oleh Allah untuk menghargai. Oleh karena itu hidup manusia harus dihargai dan dihormati dalam setiap fasenya (KGK. Karena itu manusia sepenuhnya tergantung dari kuasa Allah. 31 . Pribadi manusia secara utuh ditentukan menjadi kenisah Roh dalam tubuh Kristus (KGK. satu dalam jiwa dan tubuh. 1708). KGK. 1708). Manusia ambil bagian dalam wajah Allah. wafat dan bangkit pada hari yang ketiga. Karena itu manusia adalah pribadi unik yang didasarkan pada sisi kerohanian dan kejasmaniannya. entah bergembira. Tubuh manusia ambil bagian dalam martabat keberadaan Allah. bertambah banyak. menjadi milik Allah sendiri dan merupakan tempat tinggal dan kediaman yang layak bagi Roh Kudus (bdk. Manusia ambil bagian dalam kuasa Allah. Tujuan penciptaan manusia seturut citra Allah adalah agar manusia itu beranak cucu. Maka pribadi dan badan manusia mesti dihargai apa adanya. memenuhi bumi dan ikut serta membangun dunia (Kej 1:28). menjunjung dan mencintai hidup (EV 42). Pribadi manusia yang utuh baik jasmani maupun rohaninya dikehendaki oleh Allah (KGK. harkat dan martabat manusia. No. Dalam Kejadian 1:27 dikemukakan ―maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya‖. Penciptaan manusia menurut citra Allah merupakan dasar. Allah mengutus Putra tunggal-Nya. Dengan pengorbanan Yesus ini manusia menjadi ciptaan baru. Semua menyatu dalam diri manusia secara utuh dan terintegrasi. Karena itu manusia memiliki ―jiwa yang bersifat rohani dan kekal abadi‖ (GS 14).1 Kor 6:19. 364). 362). Karena itu penghargaan akan tubuh manusia juga merupakan perwujudan dari penghargaan akan Allah. No.

menandakan kehadiranNya dan mencerminkan kemuliaan-Nya. perlindungan dan pemeliharaan hidup serta perjuangan terhadap nilai-nilai kehidupan. dan ketiga kualitas nilai-nilai (kebaikan etis. Hidup adalah milik Allah.Hidup adalah suatu pemberian dari Allah sehingga suci adanya. Jelaslah bahwa hidup terutama manusia (yang menjadi pokok perhatian penulis) harus dilindungi. pertama kualitas kebutuhan (kesejahteraan fisik). Konsep kualitas hidup harus dimengerti secara benar. Larangan ―jangan membunuh‖ mencapai puncaknya pada hukum cinta kasih: terhadap Allah dan terhadap sesama manusia. Cinta dan ucapan syukur kepada Allah mesti diejawantahkan dengan cinta terhadap sesama. Kesucian hidup ini sudah mengandung kualitasnya. 32 . manusia diberi tugas sekaligus dipanggil untuk memelihara. Melalui dan di dalam hidup yang secitra dengan Allah itu. hidup tidak boleh diganggu-gugat oleh manusia. kedua kualitas keinginan atau aspirasi (subyektif). religius. Hidup yang dikaruniakan oleh Allah kepada manusia sangat berbeda dengan hidup makhluk ciptaan lainnya. idiot dan lain sebagainya. Salah satu seruan normatif untuk merealisasikan tugas panggilan itu: ―Jangan membunuh‖. Manusia diciptakan oleh Allah (jiwa dan tubuh) secitra dengan-Nya. dipelihara dan diperjuangkan. cultural. Kekhawatiran ini dapat dilihat dalam diri orang yang cacat. Kualitas hidup dimengerti dalam tiga dimensi. Bagaimanapun semua orang dalam segala dimensi dan fasenya berhak untuk hidup. Pada saat yang sama. Pengertian akan kualitas hidup yang salah bisa mendatangkan malapetaka dan bencana karena bisa digunakan sebagai ukuran layak tidaknya seseorang untuk hidup. yang di dalamnya termaktub sikap hormat terhadap harkat dan martabat manusia. melindungi dan menghormati hidup. relasi interpersonal dan cinta). manusia menampilkan Allah di dunia. sakit terminal. Hidup manusia merupakan anugerah Allah yang amat luhur. Akan tetapi keluhuran hidup manusia tidak berarti bahwa manusia bebas memperlakukan hidupnya dan hidup sesamanya sesuka hati. Oleh sebab itu. Ketiga dimensi ini bersifat horizontal dan vertikal.

persahabatan dan harmoni ini dapat dilampaui. ketamakan akan harta duniawi. tapi manusia baru yang telah dan terus belajar mengenal Kristus (Ef 4:20). Keselarasan batin dari pribadi manusiawi. dan penonjolan diri yang bertentangan dengan petunjuk akal budi. ia tidak perlu mati atau bersengsara. Bukan manusia lama yang masih terikat ritual-ritual agamawi sebagai pusat spiritualitasnya. Hanya oleh kemuliaan penciptaan baru dalam Kristus. Manusia baru adalah manusia yang telah mengalami pencerahan spiritualitas yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Oleh sinar rahmat ini kehidupan manusiawi diperkuat menurut segala aspek. Manusia dalam seluruh kodratnya utuh dan teratur.Manusia pertama diciptakan sebagai makhluk yang baik dan ditempatkan dalam persahabatan dengan Penciptanya dan dalam keselarasan dengan diri sendiri dan dengan ciptaan yang berada di sekitarnya. Pusat 33 . Rahmat kekudusan yang asli itu adalah "berpartisipasi dalam kehidupan ilahi" (LG 2). Gereja menjelaskan perlambangan bahasa biblis dalam terang Perjanjian Baru dan tradisi secara otentik dan mengajarkan bahwa nenek moyang kita Adam dan Hawa ditempatkan dalam satu keadaan "kekudusan dan keadilan" yang asli (Konsili Trente: DS 1511)." "Kekuasaan" atas dunia yang diberikan oleh Allah kepada manusia sejak awal. dilaksanakan pada tempat pertama sekali di dalam manusia itu sendiri yaitu kekuasaan atas diri sendiri. Ia hidup di dalamnya "untuk mengusahakan dan memelihara" taman itu (Kej 2:15). Selama manusia tinggal dalam hubungan erat dengan Allah. Dan penyempurnaan ciptaan itu membawa kita menuju manusia baru dalam Kristus. Pekerjaan itu untuk pria dan wanita bukan kerja paksa. melainkan kerja sama dengan Allah demi penyempurnaan ciptaan yang kelihatan. karena ia bebas dari tiga macam hawa nafsu. dan aplikatif. dan keselarasan antara pasangan suami isteri pertama dan seluruh ciptaan merupakan keadaan yang dinamakan "keadilan purba. keselarasan antara pria dan wanita. atau manusia lama yang terikat dengan keinginan-keinginan daging (Gal 5:19). yang membuat dia menjadi hamba kenikmatan hawa nafsu. kontemplatif. Pengenalan akan Kristus berbasis keintiman (intimacy). Bukti hubungan baik dengan Allah ialah bahwa Allah menempatkan manusia dalam "kebun".

melainkan diri sendiri dengan segala keinginannya. Menjalani hidup untuk Kristus adalah tujuan hidup seorang manusia baru (2Kor 5:15). kegagalan dan tantangan dalam kehidupan dianggap sebagai proses pembelajaran sebagai murid Kristus. Begitu juga paradigma manusia baru adalah paradigma batiniah. Perubahan sifat dan karakter itu terjadi secara berkesinambungan dalam dimensi roh dan pikiran. Bahkan salah satu tujuan hidup seorang manusia baru adalah mengembangkan karakternya menjadi seperti Kristus. kekekalan yang dirasa sejak kini bukan kelak semata (Yoh 3:15-36). Orientasi manusia baru ke depan adalah kekekalan. Tuhan dan Juruselamat Pribadi. Manusia baru akan menunjukkan sifat-sifat. Kesulitan. Analisa masalah selalu dimulai dari dalam diri baru ke luar. Menjadi seperti Kristus adalah adalah pergumulan jatuh bangun seumur hidup dari seorang manusia baru. Selama cabang itu melekat kepada pohon anggur yang subur dan benar itu maka akan menghasilkan buah-buah yang lebat dan sehat. 34 . kata Rasul Paulus. Kekekalan yang bukan dimulai setelah matinya tubuh tapi kekekalan yang dimulai saat Kristus lahir di hati. orang lain. Musuh-musuhnya tidak selalu Iblis. Ukuran seorang manusia baru bukan ukuran lahiriah tapi batiniah (2Kor 5:12). karakter-karakter seperti Kristus. yang fana itu. misalnya buah-buah Roh (Gal 5:22) dan karakteristik dari kasih Agape (1Kor 13). Dalam wilayah roh dan pikiran itulah manusia baru itu telah dan terus dibaharui dalam Kristus (Ef 4:23. Manusia baru itu ibarat cabang baru yang melekat kepada pohon anggur yang tidak hanya subur tapi juga benar.spiritualitasnya adalah Kristus sebagai Guru Agung Karakter. dan Rom 12:1-2). Hidup adalah Kristus mati adalah untung. Kacamata rohaninya lebih tertuju kepada apa yang tidak kelihatan bukan yang kelihatan.

2. Sebagai citra Allah. rasional. manusia mampu mengenal dan mencintai Penciptanya dan oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini. menggereja. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (citra) Allah. 4.E. Penebusan inilah yang menjadikan kita sebagai manusia baru yang berpengharapan. maka baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup berkeluarga. Sebagai ciptaan. 3. 35 . menguasai namun tidak diskriminatif. Manusia merupakan satu kesatuan jiwa dan badan. manusia jatuh dalam dosa. manusia kehilangan kemuliaan dan tidak dapat bertatap muka lagi dengan Allah yang disimbolkan dengan pengusiran manusia dari Taman Eden (Kej 3:23). untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah. artinya jiwa rohani menyebabkan. Dan kesatuan ini menunjukkan totalitas atau keutuhannya sebagai ciptaan Allah yang unik. manusia baru yang berhasil melampaui kegelapan dosa menuju terang kabangkitan Kristus. Kesimpulan Perjalanan uraian pandangan Gereja Katolik tentang manusia di atas dapat simpulkan dalam beberapa point sebagai berikut: 1. berbangsa dan bernegara. sehingga jiwa harus dipandang sebagai "bentuk" badan. badan yang dibentuk dari materi menjadi badan manusiawi yang hidup. Dan penderitaan manusia itu memuncak dalam penderitaan Kristus yang mengandung nilai eskatologis demi penebusan manusia. Kesatuan jiwa dan badan begitu mendalam. Penebusan itu sendiri terjadi sebagai buah komunikasi personal manusia yang solider dengan penderitaan Kristus. bermasyarakat. bermoral. Akibatnya. Dosa menyebabkan manusia menderita. 5. relasional dan komunal. Manusia (laki-laki dan perempuan) diciptakan dalam kesetaraan martabat. Sebagai citra Allah manusia mewarisi enam sifat dasar: rohani.

. 1990. (ed. Sari Sejarah Filsasfat Barat I. P. 3. Fuller. The Encyclopedia of Philosophy.. 1967. Bakker. Yogyakarta: Kanisius. 1992. Kasper. Walter. Ajaran Tentang Allah Tritunggal. 2004 ————. New York: State University of New York Press. 2 (Summer 1970). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Telaah Sosio-Pastoral tentang Manusia. Jakarta: Gramedia. Yogyakarta: Kanisius. Piagam bagi Pelayan Kesehatan. cet. Yogyakarta: Kanisius. ―How Can We Experience God Today?‖. 1999 Bertens. Maumere: LPBAJ 1999.). xviii. Huijbers. R. New York: Macmillan Publishing Co. Teologi Sistematika 2. Maumere:LPBAJ. Vol. Dokumentasi dan Penerangan KWI. Josef. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1998. 36 . Yogyakarta: Kanisius. 1980. & the Free Press. K. Dister OFM. 2000. 122-31. Inc. Gilarso. dlm. Etika. Theology Digest. vol. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Celety Hieronika. 1999. Malang: STFT Widya Sasana.). (terj. 2004. Boff. 1983. Edwards. H. Hadiwijono. P. jilid I. ————. Filsafat Barat Abad XX. Ontologi atau Metafisika Umum. Membangun Keluarga Kristiani: Pembinaan Persiapan Berkeluarga. Teologi Sistematika 1. Yogyakarta: Kanisius. Kamus Filsafat. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI. Go. 7. 1996. A. Leonardo. Allah Persekutuan. Hardawiryana). Mencari Allah: Pengantar ke dalam Filsafat Ketuhanan.KEPUSTAKAAN Bagus. Nico Syukur. Yogyakarta: Kanisius. Andrew R. Franz dan Eka Budianta. Yogyakarta: Kanisius. 1993. Hidup dan kesehatan. 1984. ————. 1992. ————. 2003 Dähler. (ed. L. Baumans SVD. 1996. no. T. Yesus Kristus Pembebas. T. Insight into Value: An Exploration of the Premises of a Phenomenological Psychological. Pijar Peradaban Manusia Denyut Harapan Evolusi.

Yohanes Paulus II.). 2004. 1999. Walter. M. Scheler. Metz. 1998. by V. Yogyakarta: Kanisius. Dictionary of Fundamental Theology. Ensiklik Evangelium Vitae. Faith In History And Society: Toward a Practical Fundamental Theology. Fortress Press. (trans. New Jersey. What Are They Saying About the Theology of Suffering?. JB. God For A Secular Society: The Public Relevance of Theology. Yogyakarta: Kanisius 1999. Jesus The Christ. Lucien. trans. Paradoks dan Seruan. 1976. 1992. by David Smith). Formalism in Ethics and Non-formal Ethics of Values: A New Attempt toward the Foundation of an Ethical Personalism. Green). 1998. trans. (terj. Katekismus Gereja Katolik. New York: The Crossroad Publishing Company. 1998. 1998. Manusia Pascamodern. (trans. 37 . Burns & Oates – Paulist Press. A Passion For God: The Mystical – Political Dimension of Christianity. 1993. JB. Paulist Press. Burns & Oates. Herman Embuiru SVD) Ende: Waligereja Regio Nusa Tenggara. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI. René & Rino Fisichella (Eds. 2000. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI. A. Evanston: Northwestern University Press. Moltmann. ————-. Matthew Ashley. Snijders.Kasper. Antropologi Filsafat: Manusia. New Jersey. 1980. Paulist Press. Minneapolis.. Veritatis Splendor. Jürgen. Semesta dan Tuhan. Richard. by J. London – New York. ————. Latourelle. Mangunwijawa. by Margaret Kohl. London.

3. 47  09::.7:0/05./.3 .2 .8.9073./.3 .3 -./. 5443 .90789 /.9.38:-:7 /. 80.2789:8 1/.3 57.7.3 2././.93.2/7-. -.80.802.5.3 9/.7: ./.7: 9: -....7../ 805079 789:8  08:9.3 00.#.3:8.9. 2.. 507:2:.::8 ..-.3  .3 .39:200.. 0.9 00.9 05.3 9.32.907 .39. -:.8:!.2 0/:5.. 4          ..9  .3 /2:. -.3.3 0-. 74 /.-.7.  3.5 -.7: . 8.3 /:5 :39: 789:8.3 -:.. 9:-: 9.../  .3  0.9. .3 ../ 80.2.-.7.   /.3:8. 0- 9079:: 05.3 8..3 /.2:7/789:8  &:7..7 ..3:3 80:2:7 /:5/.7./.-.380-.82.3./.9..7..9:  7039./.:39:3 .39/.30./.2.50 47   !07:-.3 81.7:/.7./2.7:0:.9/.2.7:.:-8 47..907 805079 789:8  28.3.9!7-.9:9::.3-:.7.7  03.3.3 81...7 $0.5:..7. -07083..3 /.3 9:.78047.3  . -:.3 /7 803/7 /03.9  .8. 033. .3907:8/-..... -.7:.8.3-:.3:8.3 2. -.. .3..2. ..574808502-0.7: :8: 2:8:3.79: 2.7.3 /:58047.5.3.3 /2:.3 .3 57.3 :7:80.3 -:.3.9: -.8 .2 /2038 74 /.9 /.3 200. 74.907  %:.3/:58047. :7: :3 ./.3:7 .7: 47 /:5. -.3.3  20./.3:8.7.7 / .7:9:90.3 /.: /2:.20302-.580-. 203.3 -03.93. ..33.905.31.83.9.7.3/7./.93.3:8.-..3:8..5 00..9::.. #4 .8:-:79.3 /.3./.3.789:82.5443 .9 789:8 ..3 ::7.80.3 8047. 789:8 80-.3:8./2.2-:3.8579:.3:8.9 81.3#42   03.9.3 0./ 805079 789:8 .907 9: 907..5.3:8. .00.7: -:.8..-...3:7 .9 .3 80..3 .3 80.-.7/.-03.9 /.3 203. 9.33.3 203:3:.3 2.9.3. 2..3 /. -:. 8090..8. 2..

3 507025:.3:8.5.5 2:.  !030-:8.3203:3.3.-.3 .3  -./.9: 08. 2.5.9 /.5.3 2.://:3.25: 20303.-. 0. !03.7 /. 74.2-..3. 20.843..203::907./. ..3 2.3:8.8.3 2.3./.2-0-07.9: /. 203/079.3 .59.  -.3:9 /:5 -070:..-.3 949../.8.32.3:8.7.59. .2. /.3 789:8 .3 3.3 -09: 203/.3.59.25.3/-039:/..3 2030-. 2.  203070.9. .2 574808 503. .79..5. ..3 8.3 08.8.3 :39:203:.2  803. 80-.7:8 /5.9:.2 0809.3 8.3 789:8  !030-:8./. /.8 /. . 2.  $0-.3/:5    ..3 /03.3:8.3:8. 2. :39: -07507. . .9:...5.38.7: .. .3789:8    .3:8.3:8.97.8 20.39.3:8. -.. ./.2.. /.91 /.  .9.2:39/.8...7: .3 203:7:9 .2 /48.3 .93.3 :3  08..3 503/079.7.9 -07-. . -039: -./ 80-../.33. /.3 .2-. 08.:5:3 .342:3.3 !07. -.7 %./..340.3:8.3 05:9:8.. 507025:.3 203.3 2.3 ./8723.2 81.3  2.3-0730.3 203.-.8802:. .3 . -:. 42:3.  .3 0.9:.7.:00.  0825:..72.91  70. . / .-07:9   .3:8.543980-.3.3  .3 2. ..3 .7..3  2.  $0-.3/.3 /.3 :7.3..3:8.2 503/079.8 ..78 03.774..3 -.3 9.9.3 80-.9-079.3  /82-4.94 9039. .    .. 80-.9.3 9: 803/7 907./.  2.3 3 203:3:.3 -07247.3 02:.907203.3 -. .  -072.3 203.3 84/07 /03.3/.59.3 7:5.3  .3:8.. 202 . 2. .    $0-.  2.3 2.843...2- 20::7. 207:5. /.  203:.3 503/079./909.8 507843.9 825:. /.3 5.39.3:8.3 503:87./03. 7.: 0:9:../.793.-.3  /. .3/:3 3.9..3 203.3:8.  -.97.3/48.3/.59.7. 9: 202:3.3.380-.3 2.3 -07.3.5.2./. /.3./-. 2030-.8.9448 /02 5030-:8.97.9  2. .9:.39/.3 -07503. .3/..3:8.3 070.3:8. /.3 .3 /03 0     48.33.3:8.

3 .38:8    4:2039.79.20/.   8.9.3 .. 4.79.3   907  #  ..   411 043.20/.  90700!7088   :07  3/70 #  389 394 '.9.. $484 !.3050703.3:8.8 /...7/4 .!0.28. 34  $:2207      .3   !..9.$.81.7.79.3.:8  .3.4:8 4.907  4.!:89.&9.70/..5..3.3 /.943 41 90 !702808 41 .9 4.1.44.79..39. ..3  /. 9039.79.2:88.20/.3 !:-834 3.7 !07.38:8   .7.:2070 !  08:8789:8!02-0-..9.:0 3 547..7..  0 47 $9.39.3   4:203 438 '.9.1..!&$%  .79.2.4:2039..  !./.9.38:8   .79.3 070:.... ..:09.!:89.09    07  7.%79:3.7/8 !  0/ %03.79.909:.. !8.3.!03.7$0..04/%4/.4$::7 %044$8902.450/.784  %  0/  02-.3:3 0:./ / .2.:2.3080.3..79. !03420344.79.7.7.8.90 &3..3.9.38:8   %044$8902.8.79.1.3 !078. 03:9 .-.7.9-.   .7.9.8947.. :/.3 !02-3.   ..9 .3 .4  047.38:8   4 ! /:5/.:2070!  .3 4.7.8 .2. .  079038  9..2-.5.41!4845 .7...38:8   :-078 % 03.7.7.79.7.  .38 $'  4801  %0.18.3080.8507 .&9.3$%%/.3!0307.&2:2 4./434  $..3 . 4.3:8. 4.3 .07   3944. 009 0743.38:8   8907  .0789 41 0 47!7088   .8/..7/. .!0780:9:.3%039. 789. /2 %044089  '4 .3 !0307.3 ..

38943479089073 &3.7./$29 :738  .24/073  $02089.94:700 #03F #348.3   ..3:8.3  4.38 - .3 !0307.0.:89 !7088 43/43 047   .39 97.%044  047%0748874...0789!7088   $3/078    3974544 8.8/.:89!7088 00780    .7/ . /8 . 203843 41 789.  !49.070.38  - '  7003  :738  .9 70 %0 $.7/  :.3 -4:9 90 %044 41 $:11073  !.../48 /..79.1. .79.3/43 1472.2039.   .9..7 41 :3/.38:8  09     !.94  907 072..32-:7:$' 3/0.943.7/904:3/.3 %:. !.7094 4797088!7088 330.99080 !.9082:8070.09 %4. .82 .    ..:..98$503/47 .8.308 !.4:2039.9 3 8947 3/ $4./!:-83425...::8   38 .!07843.38 -.94341.3:3.7.0  .907 08:8%0789  97.908 !.8239.3:8.#04 :8.8 /.3. #00.:89!7088 00780   $.9..548   #.  !.33  Q703  4/ 47  $0...03  .:080990259 94.39.3.3!0307.38 -.9 .3  4.09 %0 !:-. :3/.3 $07:..3          .38:8    4.3   '079. /. 4:2039.30:2 '9.908 43/43   492.3.8843 47 4/ %0 89.7.8. %044  97.7 $4.0 41 %044 97..79.8507 .2039. !7.841'.%03.79.007  472..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->