P. 1
Nilai Kadar Normal Lab

Nilai Kadar Normal Lab

|Views: 21,346|Likes:
Published by Rizkia Dara Febrina

More info:

Published by: Rizkia Dara Febrina on Oct 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2015

pdf

text

original

MAKALAH BIOKIMIA NILAI KADAR NORMAL

DISUSUN OLEH :  ADIEZTYANA LUKY  GUSTIASIH WIDARTRI  RIZKIA DARA FEBRINA  SISCA ANGGREINI

POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II JURUSAN GIZI

KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, kami memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan tugas makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah BIOKIMIA yang berjudul “ NILAI KADAR NORMAL “. Mungkin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, baik itu dari segi penulisan, isi, dan lain sebagainya. Maka penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran, guna perbaikan untuk pembuatan makalah untuk hari yang akan datang. Demikianlah sebagai kata pengantar, dengan iringan serta harapan semoga tulisan sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, September 2011

Penulis

NILAI KADAR NORMAL 1) NILAI KADAR NORMAL DARAH A. ALBUMIN Albumin adalah protein yang larut air, membentuk lebih dari 50% protein plasma, ditemukan hampir di setiap jaringan tubuh. Albumin diproduksi di hati, dan berfungsi untuk mempertahankan tekanan koloid osmotik darah sehingga tekanan cairan vaskular (cairan di dalam pembuluh darah) dapat dipertahankan. Nilai normal : Dewasa 3,8 - 5,1 gr/dl Anak 4,0 - 5,8 gr/dl Bayi 4,4 - 5,4 gr/dl Bayi baru lahir 2,9 - 5,4 gr/dl Penurunan albumin mengakibatkan keluarnya cairan vascular (cairan pembuluh darah) menuju jaringan sehingga terjadi oedema (bengkak). Penurunan albumin bisa juga disebabkan oleh : 1. Berkurangnya sintesis (produksi) karena malnutrisi, radang menahun, sindrom malabsorpsi, penyakit hati menahun, kelainan genetik. 2. Peningkatan ekskresi (pengeluaran), karena luka bakar luas, penyakit usus, nefrotik sindrom (penyakit ginjal). B. KALSIUM (Ca) Merupakan elektrolit dalam serum, berperan dalam keseimbangan elektrolit, pencegahan tetani, dan dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan hormon tiroid dan paratiroid. Nilai normal : Dewasa Anak Bayi Bayi baru lahir 9-11 mg/dl (di serum) ; <150 mg/24 jam (di urin & diet rendah Ca) ; 200 - 300 mg/24 jam (di urin & diet tinggi Ca) 9 -11,5 mg/dl 10 -12 mg/dl 7,4 -14 mg/dl.

Penurunan kalsium dapat terjadi pada kondisi malabsorpsi saluran cerna, kekurangan asupan kalsium dan vitamin D, gagal ginjal kronis, infeksi yang luas, luka bakar, radang pankreas, diare, pecandu alkohol, kehamilan. Selain itu penurunan kalsium juga dapat dipicu oleh penggunaan obat pencahar, obat maag, insulin, dan Iain-Iain. Peningkatan kalsium terjadi karena adanya keganasan (kanker) pada tulang, paru, payudara, kandung kemih, dan ginjal. Selain itu, kelebihan vitamin D, adanya batu ginjal, olah raga berlebihan, dan Iain-Iain, juga dapat memacu peningkatan kadar kalsium dalam tubuh. C. NATRIUM (Na) Natrium adaiah salah satu mineral yang banyak terdapat pada cairan elektrolit ekstraseluler (di luar sel), mempunyai efek menahan air, berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh, mengaktifkan enzim, sebagai konduksi impuls saraf. Nilai normal dalam serum : Dewasa Anak Bayi 135-145 mEq/L 135-145 mEq/L 134-150 mEq/L

Nilai normal dalam urin : 40 - 220 mEq/L/24 jam Penurunan Na terjadi pada diare, muntah, cedera jaringan, bilas lambung, diet rendah garam, gagal ginjal, luka bakar, penggunaan obat diuretik (obat untuk darah tinggi yang fungsinya mengeluarkan air dalam tubuh). Peningkatan Na terjadi pada pasien diare, gangguan jantung krohis, dehidrasi, asupan Na dari makanan tinggi,gagal hepatik (kegagalan fungsi hati), dan penggunaan obat antibiotika, obat batuk, obat golongan laksansia (obat pencahar). Sumber garam Na yaitu: garam dapur, produk awetan (cornedbeef, ikan kaleng, terasi, dan Iain-Iain.), keju,/.buah ceri, saus tomat, acar, dan Iain-Iain.

D. KALIUM (K) Kalium merupakan elektrolit tubuh yang terdapat pada cairan vaskuler (pembuluh darah), 90% dikeluankan melalui urin, rata-rata 40 mEq/L atau 25 -120 mEq/24 jam wa laupun masukan kalium rendah. Nilai normal : Dewasa Anak Bayi

3,5 - 5,0 mEq/L 3,6 - 5,8 mEq/L 3,6 - 5,8 mEq/L

Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal, penggunaan obat terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin, dan Iain-Iain. Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika masukan kalium dari makanan rendah, pengeluaran lewat urin meningkat, diare, muntah, dehidrasi, luka pembedahan. Makanan yang mengandung kalium yaitu buah-buahan, sari buah, kacang-kacangan, dan Iain-Iain. E. KLORIDA (Cl) Merupakan elektrolit bermuatan negatif, banyak terdapat pada cairan ekstraseluler (di luar sel), tidak berada dalam serum, berperan penting dalam keseimbangan cairan tubuh, keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Klorida sebagian besar terikat dengan natrium membentuk NaCI (natrium klorida). Nilai normal : Dewasa Anak Bayi Bayi baru lahir

95-105 mEq/L 98-110 mEq/L 95 -110 mEq/L 94-112 mEq/L

Penurunan klorida dapat terjadi pada penderita muntah, bilas lambung, diare, diet rendah garam, infeksi akut, luka bakar, terlalu banyak keringat, gagal jantung kronis, penggunaan obatThiazid, diuretik, dan Iain-lain. Peningkatan klorida terjadi pada penderita dehidrasi,cedera kepala, peningkatan natrium, gangguan ginjal,penggunaan obat kortison, asetazolamid, dan Iain-Iain.

F. HEMOGLOBIN (Hb) Merupakan molekul protein di dalam sel darah merah yang bergabung dengan oksigen dan karbon dioksida untuk diangkut melalui sistem peredaran darah ke tisu-tisu dalam badan. ion besi dalam bentuk Fe+2 dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandungi 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0.03 gram oksigen. Terdapat beberapa cara bagi mengukur kandungan hemoglobin dalam darah, kebanyakannya dilakukan secara automatik oleh mesin yang direka khusus untuk membuat beberapa ujian terhadap darah. Di dalam mesin ini, sel darah merah diceraikan untuk mengasingkan hemoglobin dalam bentuk larutan. Hemoglobin yang terbebas ini dicampur dengan bahan kimia yang mengandungi cyanide yang mengikat kuat dengan molekul hemoglobin untuk membentuk cyanmethemoglobin. Dengan menyinarkan cahaya melalui larutan cyanmethemoglobin dan mengukur jumlah cahaya yang diserap (khususnya bagi gelombang antara 540 nanometer), jumlah hemoglobin dapat ditentukan. a. Kadar Normal Kadar hemoglobin ialah ukuran pigmenrespiratorik dalam butiran-butiran darah merah (Costill, 1998). Jumlah hemoglobin dalam darah normal adalah kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan jumlah ini biasanya disebut “100 persen” (Evelyn, 2009). Batas normal nilai hemoglobin untuk seseorang sukar ditentukan karena kadar hemoglobin bervariasi diantara setiap suku bangsa. Namun WHO telah menetapkan batas kadar hemoglobin normal berdasarkan umur dan jenis kelamin (WHO dalam Arisman, 2002). Kadar normal hemoglobin biasanya ditentukan sebagai jumlah hemoglobin dalam gram (gm) bagi setiap dekaliter (100 mililiter). Tabel 2.1.1 Batas KadarHemoglobin Kelompok Umur Anak 6 bulan - 6 tahun Anak 6 tahun - 14 tahun Pria dewasa Ibu hamil Wanita dewasa Sumber : WHO dalam arisman 2002 Batas Nilai Hemoglobin (gr/dl) 11,0 12,0 13,0 11,0 12,0

Batas kadar normal hemoglobin setiap kelompok umur 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Baru lahir Usia seminggu Usia sebulan Kanak-kanak Lelaki dewasa Wanita dewasa Lelaki separuh usia Wanita separuh usia : 17-22 gm/dl : 15-20 gm/dl : 11-15gm/dl : 11-13 gm/dl : 14-18 gm/dl : 12-16 gm/dl : 12.4-14.9 gm/dl : 11.7-13.8 gm/dl

Paras hemoglobin yang rendah merupakan satu keadaan yang dikenali sebagai anemik. Terdapat beberapa sebab berlakunya anemia. Sebab utama biasanya kehilangan darah (kecederaan teruk, pembedahan, pendarahan kanser kolon), kekurangan vitamin (besi, vitamin B12, folate), masalah sum-sum tulang (penggantian sum-sum tulang oleh barah, pemendaman oleh rawatan dadah chemotherapy, kegagalan buah pinggang (ginjal)), dan hemoglobin tidak normal (anemia sel sabit). Paras hemoglobin yang tinggi pula terdapat dikalangan mereka yang tinggal di kawasan tanah tinggi dan perokok. Pendehidratan menghasilkan kadar hemoglobin tinggi palsu yang hilang apabila kandungan air bertambah. Sebab lain adalah penyakit paru-paru, sesetengah ketumbuhan, masalah sum-sum yang dikenali sebagai polycythemia rubra vera, dan penyalahgunaan hormon erythropoietin (Epogen) oleh ahli sukan bagi tujuan meningkatkan prestasi dalam acara sukan masing-masing. b. Struktur Molekul hemoglobin manusia terbina dari pada empat subunit protein berbentuk globul (yaitu hampir berbentuk sfera). Oleh sebab satu subunit dapat membawa satu molekul oksigen, maka secara efektifnya setiap molekul hemoglobin dapat membawa empat molekul oksigen. Setiap subunit pula terdiri daripada satu rantai polipeptida yang mengikat kuat sebuah molekul lain, dipanggil heme. Struktur heme adalah lebih kurang sama dengan klorofil. Ia terdiri daripada satu molekul bukan protein berbentuk cincin yang dinamai porphyrin, dan satu atom besi (Fe) yang terletak di tengah-tengah molekul porphyrin tadi. Di sinilah oksigen akan diikat semasa darah melalui peparu.

Terdapat dua keadaan pengoksidaan atom Fe iaitu +2 dan +3 (ion Fe2+ dan Fe3+ masingmasing). Hemoglobin dalam keadan normal membawa ion Fe2+, tetapi adakalanya ion ini dioksidakan kepada Fe3+. Hemoglobin yang membawa ion Fe3+ dipanggil methemoglobin. Methemoglobintidak mampu mengikat oksigen, jadi ion Fe3+ ini perlu diturunkan kepada Fe2+. Proses ini memerlukan NADH, iaitu sebuah koenzim pembawa hidrogen, dan dimangkin oleh enzim NADH cytochrome b5 reductase Terdapat beberapa jenis hemoglobin. Dalam darah manusia dewasa, hemoglobin yang paling banyak ialah hemoglobin A (HbA), yang terdiri daripada dua subunit α dan dua subunit β. Konfigurasi ini dinamai α2β2. Setiap subunit terdiri daripada 141 dan 146 molekul asid amino masing-masing. Oksihemoglobin terbentuk apabila molekul oksigen diikat kepada hemoglobin. Proses ini berlaku di kapilari darah di dalam peparu. Oksihemogloin berwarna merah terang. Setelah oksigen digunakan oleh tubuh, hemoglobin dipanggil deoksihemoglobin. Ia berwarna merah gelap. c. Faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah : 1. Kecukupan Besi dalam Tubuh Menurut Parakkasi, Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom, dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase, dan peroksidase. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Kandungan ± 0,004 % berat tubuh (60-70%) terdapat dalam hemoglobin yang disimpan sebagai ferritin di dalam hati, hemosiderin di dalam limpa dan sumsum tulang (Zarianis, 2006). jaringan tubuh, untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom, dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase, dan peroksidase. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Kandungan ± 0,004 % berat tubuh (60-70%) terdapat dalam hemoglobin yang disimpan sebagai ferritin di dalam hati, hemosiderin di dalam limpa dan sumsum tulang (Zarianis, 2006).

Menurut Kartono J dan Soekatri M, Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi, sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi (Zarianis, 2006) 2. Metabolisme Besi dalam Tubuh Menurut Wirakusumah, Besi yang terdapat di dalam tubuh orang dewasa sehat berjumlah lebih dari 4 gram. Besi tersebut berada di dalam sel-sel darah merah atau hemoglobin (lebih dari 2,5 g), myoglobin (150 mg), phorphyrin cytochrome, hati, limpa sumsum tulang (> 200-1500 mg). Ada dua bagian besi dalam tubuh, yaitu bagian fungsional yang dipakai untuk keperluan metabolik dan bagian yang merupakan cadangan. Hemoglobin, mioglobin, sitokrom, serta enzim hem dan nonhem adalah bentuk besi fungsional dan berjumlah antara 25-55 mg/kg berat badan. Sedangkan besi cadangan apabila dibutuhkan untuk fungsi-fungsi fisiologis dan jumlahnya 5-25 mg/kg berat badan. Ferritin dan hemosiderin adalah bentuk besi cadangan yang biasanya terdapat dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Metabolisme besi dalam tubuh terdiri dari proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan dan pengeluaran (Zarianis, 2006). Laboratorium Darah Ukuran Eritrosit merah) (sel darah Satuan juta/µl g/dL % Nilai Rujukan 4,0 – 4,5 – 5,5 (L) 5,0 (P) (P) (P)

Hemoglobin (Hb) Hematokrit Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang1 Segmen1 Limfosit

12,0 – 14,0 13,0 – 16,0 (L) 40 – 45 – 55 (L) 50

% % % % %

0,0 – 1,0 1,0 – 3,0 2,0 – 6,0 50,0 – 70,0 20,0 – 40,0

Monosit Laju endap darah (LED) Leukosit putih) MCH/HER MCHC/KHER MCV/VER Trombosit (sel darah

% mm/jam 103/µl pg g/dL fl 103/µl

2,0 – 8,0 < < 10 (L) 5,0 – 10,0 27 – 31 32 – 36 80 – 96 150 – 400 15 (P)

Catatan: Batang dan segmen adalah jenis neutrofil. Kadang kala dilaporkan persentase neutrofil saja, dengan nilai rujukan 50,0–75,0 persen. 2) NILAI NORMAL LABORATORIUM LIPID Profil Lipid Ukuran Kolesterol total HDL LDL Trigliserid Satuan mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL Nilai Rujukan 150 – 200 45 – 65 (P) 35 – 55 (L) < 100 (Direk) 120 190 –

a. Kolesterol

Nama IUPAC (3β)-cholest-5-en-3-ol

Nama lain (10R,13R)-10,13-dimethyl-17-(6-methylheptan-2-yl)-2,3,4,7,8,9,11,12,14,15,16,17dodecahydro-1H-cyclopenta[a]phenanthren-3-ol Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih C27H46O 386.65 g/mol white crystalline powder 1.052 g/cm3 148–150 °C[1] 360 °C (decomposes)

Kelarutan dalam air 0.095 mg/L (30 °C) Kelarutan Soluble in acetone, benzene, chloroform, ethanol, ether, hexane, isopropyl myristate, methanol

Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris: waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan di sirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon. Steroid lain termasuk steroid hormon seperti kortisol, estrogen, dan testosteron. Nyatanya, semua hormon steroid terbuat dari perubahan struktur dasar kimia kolesterol. Saat tentang membuat sebuah molekul dari pengubahan molekul yang lebih mudah, para ilmuan menyebutnya sintesis.

Hiperkolesterolemia berarti bahwa kadar kolesterol terlalu tinggi dalam darah. Kolesterol dapat dibuat secara sintetik. Kolesterol sintetik saat ini mulai diterapkan dalam teknologi layar lebar (billboard) sebagai alternatif LCD. Tingginya kadar kolestrol dalam tubuh menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Pola makan sehat merupakan faktor utama untuk menghindari hal ini. Akan tetapi, tidak semua kolestrol berdampak buruk bagi tubuh. Hanya kolestrol yang termasuk kategori LDL saja yang berakibat buruk sedangkan jenis kolestrol HDL merupakan kolestrol yang dapat melarutkan kolestrol jahat dalam tubuh. Batas normal kolesterol dalam tubuh adalah 160-200 mg. Kadar kolesterol yang tinggi dapat diturunkan dengan simvastatin. Kolesterol merupakan jenis lemak berwarna kekuningan yang diproduksi tubuh, terutama di dalam hati. Kolesterol dalam tubuh manusia sebenarnya memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu untuk melapisi dinding sel tubuh, cairan empedu, membentuk hormone seksual, berperan dalam pertumbuhan jaringan otak dan saraf, dan lain sebagainya. Kolesterol dalam darah sebesar 75% diproduksi oleh organ hati, dan sisanya 25 % berasal dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Pola makan yang tidak sehat, misalnya makanan yang rendah serat namun tinggi kandungan lemaknya bisa memicu tingginya kolesterol dalam tubuh. Apabila kadar kolesterol dalam darah tinggi (hiperkolesterolemia), akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan resiko penyakit seperti penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis) yang dapat memicu timbulnya penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit lainnya. Di dalam pembuluh darah, kolesterol beredar bersama lemak berselaput protein yang disebut lipoprotein (kombinasi antara lipid/lemak dengan protein). Lipoprotein terdiri dari dua jenis, yaitu HDL dan LDL. 1. HDL (High Density Lipoprotein) HDL atau Lipoprotein berkepadatan tinggi sering disebut kolesterol baik. HDL mengandung banyak protein yang berfungsi untuk mengeluarkan kelebihan kolesterol dari dalam arteri (pembuluh darah yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh) agar tidak terjadi penumpukan kolesterol di dalam tubuh. HDL akan membawa sekitar sepertiga sampai seperempat dari kolesterol dalam darah ke hati dan selanjutnya dibuang/dikeluarkan dari dalam tubuh. Semakin tinggi kadar kolesterol HDL akan semakin baik karena akan semakin memperkecil risiko timbulnya penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, kolesterol HDL dianggap sebagai kolesterol baik.

Kadar normal HDL dalam tubuh manusia adalah sekitar 40 – 50 mg/dl (milligram per desiliter) untuk pria dan 50 – 60 mg/dl untuk wanita. Untuk setiap kenaikan HDL sebesar 1 mg/dl dapat menurunkan resiko timbulnya serangan jantung sebesar 2 – 4 %, dimana resiko tersebut juga dipengaruhi oleh riwayat keluarga, tekanan darah dan pola hidup. 2. LDL (Low Density Lipoprotein) LDL atau Lipoprotein berkepadatan rendah sering disebut kolesterol jahat. LDL terdiri dari sekitar 75 % kolesterol dan sedikit protein. LDL mengangkut kolesterol yang dihasilkan organ hati dan sumber kolesterol tubuh lainnya menuju seluruh jaringan tubuh. LDL merupakan kolesterol yang berbahaya karena sifatnya yang beredar dalam darah, menimbun lemak dan meninggalkan kelebihannya pada dinding pembuluh darah. Jika kadar LDL tinggi, maka penimbunan yang terjadi akan mempersempit pembuluh darah (aterosklerosis) dan menyebabkan penyakit jantung dan stroke. Semakin rendah nilai LDL akan semakin baik, karena akan semakin memperkecil resiko serangan jantung dan stroke. Dan sebaliknya, semakin tinggi nilai LDL maka akan semakin buruk dan berbahaya. Kadar kolesterol LDL adalah : 1. LDL normal : kurang dari 100 mg/dl 2. LDL di atas normal : 100 – 129 mg/dl 3. LDL cukup tinggi (sebelum beresiko) : 130 – 159 mg/dl 4. LDL tinggi (beresiko tinggi) : 160 – 189 mg/dl 5. LDL sangat tinggi : lebih dari 190 mg/dl Selain HDL dan LDL, juga dikenal istilah kolesterol total. Kolesterol total darah adalah ukuran dari kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan komponen lipid/lemak lainnya dalam tubuh. Level kolesterol total normal adalah di bawah 200 mg/dl. Dengan kata lain, kolesterol total adalah jumlah seluruh kolesterol di dalam darah. Namun, nilai kolesterol total bukan berarti jumlah dari dari kolesterol HDL dan LDL. Masih ada komponenkomponen lemak lainnya yang perlu diperhitungkan. Kolesterol total tubuh bisa meningkat bila sering menyantap makanan yang banyak mengandung lemak, kolesterol dan tinggi karbohidrat. Level kolesterol total terbagi menjadi :  Nilai normal/yang diinginkan : kurang dari 200 mg/dl  Cukup tinggi : 200 – 239 mg/dl  Tinggi : 240 mg/dl

3. Kadar Trigliserida Kurang dari 150 150-199 200-499 Sama atau lebih dari 500

: Normal : Batas normal- tinggi : Tinggi : Sangat tinggi

Trigliserida adalah sejenis lemak dalam darah Anda yang bermanfaat sebagai sumber energi. Bila Anda makan lebih dari yang diperlukan tubuh, kelebihan kalori Anda akan disimpan sebagai trigliserida dalam sel-sel lemak untuk penggunaan selanjutnya. Trigliserida dalam kadar normal sangat diperlukan tubuh. Kadar trigliserida tinggi biasanya disebabkan oleh kegemukan dan gaya hidup kurang berolah raga. Diabetes, gangguan ginjal dan obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan kadar trigliserida. Kadar trigliserida 150 mg/dL atau lebih adalah salah satu faktor risiko sindroma metabolik yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan lainnya.

3) NILAI NORMAL LABORATORIUM HATI Secara umum, tes fungsi hati bisa membantu mengevaluasi kesehatan hati dan mengindikasi kemungkinan penyakit lain seperti malnutrisi ataupun penyakit tulang. Pada umumnya, tes fungsi hati termasuk dalam kelompok tes darah yang bertujuan untuk mengukur enzim atau protein tertentu dalam darah. Tes ini dapat membantu mendeteksi, mengevaluasi, dan memonitor penyakit atau kerusakan hati. Peningkatan atau penurunan kadar protein dan enzim tertentu dalam darah di luar kadar normal mengindikasikan adanya masalah di hati. Ada berbagai alasan untuk melakukan tes fungsi hati, di antaranya membantu kita mendapatkan gambaran kemungkinan terpapar oleh virus hati yang disebut hepatitis. Tes ini juga bisa membantu memonitor progresi penyakit virus atau hepatitis alkoholik dan mengetahui keberhasilan pengobatan. Selain itu, tes fungsi hati bisa juga dipakai untuk mengukur beratnya penyakit serta kemungkinan terjadinya cirrhosis. BEBERAPA TEST FUNGSI HATI YANG UMUM:  Alanine Tranaminase (ALT)

Ini merupakan enzim yang ditemukan terutama di dalam sel hati. ALT dapat membantu metabolisme protein dalam tubuh. Dalam kondisi normal, kadar ALT di dalam darah adalah rendah. Sebaliknya, tingginya kadar ALT mengindikasikan adanya kerusakan hati.  Aspartate Transaminase (AST) Enzim AST berperan dalam metabolisme alanine. AST ditemukan dalam kadar yang tinggi di sel-sel hati, jantung, dan otot-otot lainnya. Namun jika AST tersebut ditemukan dengan kadar yang tinggi di dalam darah, ini mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit hati.  Alkaline Phosphatase (ALP) Enzim ALP ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi di hati, saluran emmpedu, dan beberapa jaringan lainnya. Peningkatan kadar ALP mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit hati, terutama bila terjadi sumbatan di saluran empedu.  Albumin dan Total Protein Kadar Albumin (protein yang dibuat di hati) dan protein total menunjukkan baiknya kemampuan hati memproduksi protein untuk kebutuhan tubuh memerangi infeksi dan menjaga fungsi lainnya. Berkurangnya kadar dari nilai normal mengindikasikan adanya kerusakan atau penyakit hati.  Bilirubin Bilirubin dihasilkan oleh pemecahan hemoglobin di dalam hati. Bilirubin dikeluarkan melalui empedu dan dibuang melalui feses. Peningkatan kadar bilirubin menunjukkan adanya penyakit hati atau saluran empedu. PEMERIKSAAN TAMBAHAN:  Gamma-glutamyltransferase (GGT) Peningkatan kadar enzim GGT dalam darah mengindikasikan adanya kerusakan hati atau saluran empedu.  L-lactate Dehydrogenase (LDH) LDH adalah enzim yang ditemukan di berbagai jaringan tubuh, termasuk hati. Peningkatan kadar LDH mungkin mengindikasikan adanya kerusakan hati.  Prothrombin Time (PT) Tes ini dipakai untuk mengukur waktu bekuan plasma. Peningkatan PT mungkin mengindikasikan adanya kerusakan hati. NILAI NORMAL UNTUK BEBERAPA TIPE PEMERIKSAAN HATI ALT. 7 - 55 unit per liter (U/L) AST. 8 - 48 U/L ALP. 45 - 115 U/L Albumin. 3,5 - 5,0 gram per desiliter 9g/dL) Total Protein 6,3 - 7,9 g/dL

Bilirubin 0,1 - 1,0 mg/dL GGT 0 - 30 U/L LDH 122 - 222 micromole per liter (mcmol/L) PT. 10,9 - 12,5 detik Nilai tersebut berlaku untuk pria dewasa. Sedangkan untuk wanita dan anak-anak, akan terdapat sedikit perbedaan. Nilai normal diatas juga dapat berbeda antara laboratorium satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode pemeriksaan yang dipakai. Beberapa obat-obatan ataupun makanan tertentu juga dapat mempengaruhi hasil tes.

4) NILAI KADAR NORMAL LABORATORIUM URINE Urine Determination Calcium Catecholamines: Epinephrine Norepinephrine Catecholamines, 24-hr Copper Creatinine: Child Adolescent Female Male pH Phosphate Potassium Protein Total At rest Protein, quantitative Sodium Specific gravity, random Conventional units 50–250 mcg/day < 20 mcg/day < 100 mcg/day < 110 µg 15–60 mcg/day 8–22 mg/kg 8–30 mg/kg 0.6–1.5 g/day 0.8–1.8 g/day 4.5–8 0.9–1.3 g/day 25–100 mEq/day 1–14 mg/dL 50–80 mg/day < 150 mg/day 100–250 mEq/day 1.002–1.030 Reference Value SI units 1.25–6.25 mmol/day < 109 nmol/day < 590 nmol/day < 650 nmol 0.24–0.95 mcmol/day 71–195 71–265 µmol/kg 5.3–13.3 mmol/day 7.1–15.9 mmol/day 4.5–8 29–42 mmol/day 25–100 mmol/day 10–140 mg/L 50–80 mg/day < 0.15 g/day 100–250 mmol/day 1.002–1.030 µmol/kg

Uric acid, 24-hr

250–750 mg

1.48–4.43 mmol

Category Optimal Normal High-normal Hypertension Stage 1 Stage 2 Stage 3

Classification of Blood Pressure * Reference value Systolic (mm Hg) Diastolic (mm Hg) < 120 and < 80 < 130 130–139 140–159 160–179 and or or or or < 85 85–89 90–99 100–109

Warna urin  Nilai normal: kekuningan jernih Dalam keadaan normal, warna urin pagi (yang diambil sesaat setelah bangun pagi) sedikit lebih gelap dibanding urin di waktu lainnya. Perubahan warna urin dapat terjadi karena beberapa hal.  Hitam: baru mengkonsumsi tablet besi (ferri sulfat), sedang minum obat parkinson (levodopa), methemoglobunuria.  Biru: mengkonsumsi obat antidepresi (amitriptilin), antibiotik saluran kemih (nitrofurantoin), atau karena infeksi Pseudomonas pada saluran kemih.  Coklat: gangguan fungsi ginjal, mengkonsumsi antibiotik (sulfonamid atau metronidazol), dan konsumsi obat parkinson (levodopa).  Kuning gelap (seperti teh): hepatitis fase akut, ikterus obstruktif, kelebihan vitamin B2 / riboflavin, antibiotika (nitrofurantoin dan kuinakrin).  Oranye-merah: dehidrasi sedang, demam, konsumsi antikoagulan oral, trauma ginjal, konsumsi deferoksamin mesilat, rifampisin, sulfasalazin, laksatif (fenolftalein).  Hijau: infeksi bakteri, kelebihan biliverdin, konsumsi vitamin tertentu. Bening (tidak berwarna sama sekali): terlalu banyak minum, sedang minum obat diuretik, minum alkohol, atau diabetes insipidus.  Seperti susu (disebut juga chyluria): filariasis atau tumor jaringan limfatik.

Berat jenis : Nilai normal: 1.003 s/d 1.030 g/mL Nilai ini dipengaruhi sejumlah variasi, antara lain umur. Berat jenis urin dewasa berkisar pada 1.016-1.022, neonatus (bayi baru lahir) berkisar pada 1.012, dan bayi antara 1.002 sampai 1.006. Urin pagi memiliki berat jenis lebih tinggi daripada urin di waktu lain, yaitu sekitar 1.026.

Abnormalitas: Berat jenis urin yang lebih dari normal menunjukkan gangguan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih, kelebihan hormon antidiuretik, demam, diabetes melitus, diare / dehidrasi. Berat jenis urin yang kurang dari normal menunjukkan gangguan fungsi ginjal berat, diabetes insipidus, atau konsumsi antibiotika (aminoglikosida). pH Nilai normal: 5.0-6.0 (urin pagi), 4.5-8.0 (urin sewaktu) pH lebih basa: habis muntah-muntah, infeksi atau batu saluran kemih, dan penurunan fungsi ginjal. Dari faktor obat-obatan: natrium bikarbonat, dan amfoterisin B. pH lebih asam: diet tinggi protein atau diet tanpa kalori, diabetes melitus, asidosis tuberkulosis ginjal, dan fenilketonuria. Dari faktor obat-obatan: diazoksid dan vitamin C. Glukosa Nilai normal: negatif Di Indonesia, glukosa urin biasanya diuji secara semikuantitatif dengan uji reduktor (Benedict).

Pemeriksaan Benedict ini sebenarnya ditujukan untuk mendeteksi adanya glukosa, asam homogentisat, dan substansi reduktor lainnya (misalnya vitamin C) dalam urin; sesuai dengan mekanisme reaksi yaitu reduksi tembaga sulfat. Asam homogentisat bisa ada dalam urin dalam jumlah besar pada individu dengan gangguan metabolisme asam amino alkohol (fenilalanin dan tirosin). Karena faktor ini pemeriksaan glukosuria di negara maju telah diganti dengan Clinistix. Glukosa urin positif tidak selalu berarti diabetes melitus, walaupun memang penyakit ini yang paling sering memberi hasil positif pada uji glukosa urin. Makna lain yang mungkin: -Penyakit ginjal (glomerulonefritis, nefritis tubular, sindroma Fanconi). -Penyakit hepar dan keracunan logam berat.

-Faktor farmakologis (indometasin, isoniazid, asam nikotinat, diuretik tiazid, karbamazepin). -Nutrisi parenteral total yang berlebihan (hiperalimentasi) dengan infus glukosa. Protein Nilai normal: negatif (uji semikuantitatif), 0.03-0.15 mg/24 jam (uji kuantitatif) Protein dapat diuji dengan asam sulfosalisilat 20%, asam sulfat 6%, atau dengan reagen strip. Pemeriksaan dengan reagen strip lebih banyak digunakan saat ini. Untuk anak-anak di bawah 10 tahun nilai kuantitatif normal protein dalam urin sedikit lebih rendah daripada dewasa, yaitu <100>

Hasil abnormal (positif) dalam uji proteinuria dapat berarti: Masalah nonginjal (gagal jantung kongestif, asites, infeksi bakteri, keracunan). Keganasan (leukemia dan keganasan tulang yang bermetastasis). Proteinuria sementara (pada dehidrasi, diet tinggi protein, stres, demam, post-pendarahan). Penyakit ginjal (lupus, infeksi saluran kemih, nekrosis tubular ginjal). Pada anak-anak sering karena sindroma nefrotik atau penyakit bawaan (ginjal polikistik). Faktor farmakologis (amfoterisin B, semua aminoglikosida, fenilbutazon, sulfonamid). Keton Nilai normal: negatif Uji ketonuria dimaksudkan untuk mendeteksi adanya produk sampingan penguraian karbohidrat dalam urin. Ketonuria dulu diperiksa dengan metode Rothera, dan sekarang digunakan dipstik. Hasil positif dapat ditemukan pada ketoasidosis diabetik, alkoholisme, diet tinggi lemak, penyakit glikogen, dan konsumsi obat-obatan tertentu (levodopa dan obat-obat anestetik). Urobilinogen Nilai normal: 0.1-1 Ehrlich U/dL (dipstik), atau positif s/d pengenceran 1/20 (Wallace-Diamond) Urobilinogen klasik diperiksa dengan uji pengenceran Wallace-Diamond. Cara ini sudah banyak digantikan oleh uji dipstik modern yang bersifat kualitatif.

Urobilinogenuria dapat disebabkan oleh Penyakit hepar dan empedu (hepatitis akut, sirosis, kolangitis) Infeksi tertentu (malaria, mononukleosis) Polisitemia vera ataupun anemia Keracunan timah hitam Tidak ada urobilinogen sama sekali dalam urin bermakna ada obstruksi komplit pada saluran empedu (kolelitiasis atau karsinoma pankreas). Dari faktor farmakologis: kloramfenikol dan vitamin C menyebabkan urobilinogen urin berkurang. Bilirubin Nilai normal: negatif, maksimal 0.34 μmol/L. Bilirubinuria dapat disebabkan oleh: Penyakit hepar (sirosis, hepatitis alkoholik), termasuk efek hepatotoksisitas. Infeksi atau sepsis. Keganasan (terutama hepatoma dan karsinoma saluran empedu). Nitrit Nilai normal: negatif (kurang dari 0.1 mg/dL, atau kurang dari 100.000 mikroorganisme/mL) Nitrit urin digunakan untuk skrining infeksi saluran kemih. Eritrosit Nilai normal: 0-3 sel per lapang pandang besar Eritrosit dalam urin yang berlebihan (mikrohematuria) dapat ditemukan pada urin wanita menstruasi dan perlukaan pada saluran kemih; baik oleh batu, infeksi, faktor trauma, maupun karena kebocoran glomerulus. Leukosit Nilai normal: 2-4 sel per lapang pandang besar Leukosit yang berlebihan dalam urin (piuria) biasanya menandakan adanya infeksi saluran kemih atau kondisi inflamasi lainnya, misalnya penolakan transplantasi ginjal. Sel epitel Nilai normal: sekitar 10 sel per lapang pandang besar, berbentuk skuamosa. Sel epitel yang lebih daripada jumlah normal berkaitan dengan infeksi saluran kemih dan glomerulonefritis. Sedangkan bentuk sel epitel abnormal dikaitkan dengan keganasan setempat. Cast / inklusi Nilai normal: ditemukan cast hialin dalam jumlah sedang, tanpa adanya inklusi. Cast merupakan kumpulan sel-sel yang dikelilingi suatu membran. Biasanya cast selain hialin (misalnya cast eritrosit atau cast leukosit) menunjukkan kerusakan pada glomerulus (glomerulonefritis kronik). Inklusi sitomegalik menunjukkan infeksi sitomegalovirus (CMV) atau campak. Kristal

Nilai normal: ditemukan kristal dalam jumlah kecil Kristal yang ditemukan dalam urin tergantung pada pH urin yang diperiksa. Pada urin asam dapat ditemukan kristal asam urat. Pada urin netral ditemukan kristal kalsium oksalat. Pada urin basa mungkin terlihat kristal kalsium karbonat dan kalsium fosfat. Ada juga sejumlah kristal yang dalam keadaan normal tidak ada; antara lain kristal tirosin, sistin, kolesterol, dan bilirubin. Bakteri, jamur, dan parasit Nilai normal bakteri: negatif. Kecuali untuk urin midstream: <> Nilai normal jamur dan parasit: negatif Bakteri yang dapat menimbulkan infeksi saluran kemih mungkin ditemukan dalam urinalisa, antara lain E.coli, Proteus vulgaris, Neisseria gonorrhoea dan Pseudomonas aeruginosa. Sedangkan parasit yang mungkin ditemukan dalam urin adalah Schistosoma haematobium dan mikrofilaria spesies tertentu. Referensi Chernecky CC & Berger BJ. Laboratory Tests and Diagnostic Procedure. Philadelphia: Saunders Elsevier, 2008. Kasper DL et.al (eds). Harrison’s Principles of Internal Medicine. New York: McGraw-Hill, 2007. (hnz) Pemeriksaan URINE (AIR KENCING) Glucose : Negatif Billirubin : Negatif Keton : < 5 mg/dl Berat Jenis : 1,001-1,035 pH : 4,6 – 8,0 Protein : < 30 mg/dl Urobilinogen : < 1,0 EU/dl Nitrit : Negatif Blood : Negatif Leukosit : Negatif Sedimen Sel epitel : Negatif Leukosit ; < 5 LPB Eritrosit ; < 5 LPB Silinder, Kristal dan Bakteri ; Negatif 5) NILAI KADAR NORMAL LABORATORIUM FESES Meliputi: - pemeriksaan makroskopik (dapat dilihat dengan mata telanjang: konsistensi, warna, darah, lendir). Adanya darah dan lendir menandakan infeksi yang harus segera diobati, yaitu infeksi karena amuba atau bakteri shigella.

pemeriksaan mikroskopik (hanya dapat dilihat melalui mikroskop: leukosit, eritrosit, epitel, amilum, telur cacing dan amuba). Adanya amuba menandakan adanya infeksi saluran cerna terhadap amuba tersebut, dan adanya telur cacing menandakan harus diobatinya pasien dari infeksi parasit tersebut. Jenis-jenis pemeriksaan di atas adalah gambaran singkat mengenai pemeriksaan MCU. Kesimpulan mengenai kondisi kesehatan pasien secara holistik harus dilihat dari anamnesis (wawancara) dan pemeriksaan fisik oleh dokter, serta pemeriksaan penunjang yang saling menunjang dan tidak dapat dipisahkan satu per satu. Yang perlu diingat, batas normal pemeriksaan laboratorium dapat berbeda, tergantung dari standar laboratorium Anda. Biasanya, dokter akan melihat apakah masih dalam batas normal, apakah kurang atau lebih dari batas normal, dan berapa banyak kekurangan atau kelebihannya tersebut. Bila kadar pemeriksaan Anda tidak berada dalam batasan normal, dokter MCU akan memberikan pengarahan seputar kelainan tersebut dan akan menunjuk dokter spesialis untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bentuk dan Tekstur Hino (1989), berdasarkan penampakannya feces dapat dikelompokan, menjadi enam kelompok, yaitu : feces bola keras, feces keras, feces normal seperti pisang, feces lunak seperti pasta, feces muddy, seperti lumpur, serta feces berair. Pada umunya feces normal mengandung air sebanyak 70 sampai 80%, dan memiliki bentuk seperti pisang, atau buah durian petruk, sedikit berekor, atau berupa pasta karena dipaksa keluar dari suatu tabung (pencernaan). Isi colon (bowl) bergerak ke bawah dengan kecepatan 10 cm per jam. Bila laju pergerakan tersebut lebih lambat dari itu, air akan terserap terlalu banyak oleh colon, dengan hasil feces-nya akan berbentuk keras. Kondisi tersebut dinamakan konstipasi. Feces yang keras dan kering, ada kaitannya dengan kesakitan pada saat buang air besar, suatu tanda konstipasi, bahkan bila hal itu terjadi setiap hari. Feces yang berbentuk pisang, merupakan tanda bahwa pergerakan fecesnya telah berlangsung secara normal, meskipun hal itu hanya terjadi sekali dalam tiga hari. Bila kadar air feces melewati 80%, fecesnya akan menjadi lunak dan muddy, dan dengan kadar air 90% fecesnya sudah nampak berair, yang dinamai feces diare. Pada akhir tulisan ini akan dibahas mengenai konstipasi dan diare. Baik berat maupun volume dari feces sangat berbeda dari seorang individu ke individu lain. Pada umumnya menu makanan yang ia konsumsi sangat mempengaruhi. Menu makanan yang mengandung serat tinggi, akan menghasilkan feces yang kamba (bulky) dan dalam jumlah yang banyak (�300 - 500 gr), dengan berat jenis sekitar 0,89, artinya mengapung diatas air. Feces mana biasanya dinilai baik dan sehat. Sebaliknya menu yang tinggi kadar refined foods nya serta tinggi kadar daging dagingan, sepert halnya dengan menu masyarakat barat (western type diet) menghasilkan feces yang langsing dan jumlahnya sedikit (� 100 - 250 gr), dengan berat jenis di atas 1.0, jadi tenggelam dalam air.

-

Warna Feces Warna pigmen empedu, yaitu bilirubin, yang menyebabkan feces berwarna hijau, kuning, coklat, sampai hitam. Empedu secara rutin diproduksi oleh hati dan secara temporer disimpan dalam kantung empedu, dan kemudian dikeluarkan kedalam usus kecil duodenum. Bilirubin berasal dari hemoglobin yang terdapat dalam butir darah merah, yang telah mengalami degenerasi. Sebetulnya warna asli pigment empedu adalah hijau, tetapi karena berasosiasi dengan kegiatan bakteri usus, maka memberi warna feces kuning sampai coklat tua. Warna bilirubin bervariasi berdasarkan derajat keasaman lingkungan (feces). Bila fecesnya bersifat asam, feces berwarna kuning, dan bila feces mendekati kuning, dan neutral, warna berubah dari oranye menjadi coklat dan bila bersifat alkali (base) fecesnya berwarna hijau atau hitam kecoklatan. Menu yang kala pati dan dietary fiber akan menyebabkan bakteri asam laktat berkembang pesat. Dan hal itu menyebabkan saluran usus bersifat asam, dan menghasilkan feces yang kekuningan, sebaliknya menu yang tinggi kadar dagingnya, merangsang pertumbuhan bakteri pembuat warna feces yang gelap pada saat seseorang mengalami konstipasi, menandakan saluran usus telah dikuasai, sehingga saluran usus bersifat basa dan menghasilkan feces yang berwarna hijau coklat. Terjadinya perubahan warna yang menyimpang dari feces, kemungkinan besar merupakan tanda adanya abnormalitas dalam tubuh. Warna feces putih keabu abuan, kemungkinan merupakan tanda, bahwa seseorang sedang terserang penyakit jaundice. Sedang warna merah darah, kemungkinan sedang terjadi hemorrhoids, warna hitam seperti tar menandakan sedang menderita kanker colon, tukak lambung atau tukak duodenum. Bau Feces Senyawa yang menyebabkan bau feces sama dengan yang menyebabkan bau kentut, yaitu ; indole, skatol, hydrogen sulfida, amine,asam asetat dan asam butirat. Asam asetat dan asam butirat, terbentuk terutama dari hasil fermentasi gula yang terjadi didalam saluran pencernaan oleh bakteri usus. Hal itu menyebabkan feces berbau sedikit asam yang tidak begitu menjijikan. Namun demikian, bila di dalam usus terjadi fermentasi yang abnormal, maka akan menghasilkan bau yang tajam, pedas, dan sangat asam, yang mudah dideteksi oleh indera penghidung kita Sumber bau tak enak yang keras, berasal dari senyawa indole, skatol, hydrogen sulfide dan amine, yang diproduksi oleh pembusukan protein yang terjadi dalam usus, khususnya oleh bakteri perusak atau pembusuk. Bau ofensif yang menusuk hidung dari feces dan bau kentut, yang terjadi dikala seseorang menderita konstipasi, merupakan tanda terjadinya peningkatan kegiatan bacteria yang tidak kita kehendakai atau sering disebut sebagai bakteri jahat. Diare, fecesnya kadang kadang tidak berbau atau barangkali hanya berbau sedikit gosong atau bau ikan.

Hal itu merupakan tanda, bahwa telah terjadi salah pencernaan atau terjadinya kelainan dalam usus kecil. Kesimpulannya : bentuk, warna dan bau dari feces seseorang dapat memberikan banyak informasi mengenai kondisi usus nya. Adanya penyimpangan dari flora usus dapat dideteksi secara sederhana bila penampakan feces memperlihatkan terjadinya deviasi dari kondisi feces normal dari seseorang yang kondisinya sehat .

KONSTIPASI Konstipasi adalah kondisi, dimana proses pengosongan isi usus besar atau feces tidak teratur dan sulit. Dalam kondisi tersebut, penampilan feces agak kering dan keras. Secara normal, besarnya volume feces dan frekuensi laju pergerakan isi usus besar tidak selalu sama antar individu. Lepas dari tingkat frekuensi keluarnya feces, tetapi bila terjadi kesakitan dan ketidak nyamanan sewaktu buang air besar, maka itulah gejala konstipasi dan karenanya memerlukan upaya pengobatan, atau langkah langkah penanganan yang lain. Dari data hasil survey "the intestine and health", yang dilakukan di Jepang terhadap anak anak, manula, karyawan dewasa pria dan wanita kantoran (1984) dengan menggunakan sample rata rata 400 orang, menunjukkan bahwa pada anak anak serta para manula, sekitar 50% buang air besarnya (fecesnya) normal. Sebaliknya para karyawan pria dan wanita, yang frekuensi buang air besarnya (fecesnya) normal, hanya sekitar berturut turut 39% dan 37%. Para manula dan karyawan wanita lebih sering mengalami konstipasi yaitu berturut turut 39% dan 44%. Sedang karyawan prianya lebih banyak mengalami diare yaitu sekitar 40 %, sedang kasus konstipasinya relative rendah, yaitu hanya sekitar 21%. Sayang data data sejenis yang dilakukan untuk masyarakat Indonesia masih belum banyak dijumpai. Konstipasi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu berdasarkan bentuknya (akut atau kronis), dan berdasarkan penyebabnya (fungsional atau organic). Konstipasi organic disebabkan oleh perubahan yang abnormal yang terjadi pada struktur saluran usus. Perubahan akut, termasuk di dalamnya intestinal obstrution, intestinal adhesion (biasanya terjadi pasca operasi), peritonitis dan appendicitis. Dan perubahan kronis termasuk di dalamnya, redundant colon, megacolon, chronic intestinal obstruction dan colon cancer. Dari semua itu, abnormalitas usus bukan konstipasi yang perlu mendapat perhatian serius, dan harus segera mendapat penanganan dan pengobatan tanpa harus ditunda lagi. Dari jenis konstipasi fungsional, yang sering disebut konstipasi temporer atau sederhana, adalah kontsipasi yang erat kaitannya dengan stress dan kepenatan perjalanan jauh, perubahan menu, atau sedang menghadai ujian atau test. Kalau itu yang terjadi, maka pengobatannya sederhana, yaitu hanya dengan mengembalikan rutin secara normal atau mengembalikan kebiasaan makan. Namun demikian seseorang yang menderita konstipasi temporer harus hati hati agar jangan sampai berlanjut menjadi konstipasi kronis.

Yang termasuk jenis konstipasi fungsional adalah: konstipasi flaccid, rectal, dan spastic. Para manula sering mengalami konsipasi flaccid, yaitu konstipasi fungsional, yang disebabkan oleh tidak cukupnya pergerakan isi colon untuk mendorong feces ke luar dari anus. Konstipasi rectal merupakan kondisi dimana feces atau bowl-nya tetap berada di dalam rectum, hal itu terjadi bila sedang kebelet atau ada panggilan buang air besar, sering diabaikan atau terus menerus ditunda. Jenis konstipasi tersebut banyak terjadi pada wanita. Sedang konstipasi spastic erat kaitannya dengan adanya konvulsi dalam colon, yang terjadinya akibat stress. Dalam kondisi tersebut, konstipasi dan diare terjadi silih berganti. Diare Setiap orang pasti telah pernah mengalami diare (diarrhea), minimal pada saat masa bayi dan usia anak anak. Sebanyak 80% dari pasien anak anak yang keluar dari rumah sakit , biasanya disebabkan oleh diare. Kadar air normal dari feces orang dewasa adalah sekitar 70 sampai 80%. Feces yang memiliki kadar air lebih dari itu, fecesnya akan nampak berantakan atau berair, dan kondisi feces yang demikian, disebut sebagai feces diare. Rata rata orang dewasa mengkonsumsi air sebanyak 2 liter sehari. Lebih dari 90% dari air tersebut diserap dalam saluran usus, dan sekitar 100 sampai 200 ml dikeluarkan melalui feces. Terjadinya diare dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya karena akibat minum susu (lactose intolerance), yang disebut "osmotic diare". Diare jenis lain, terjadi karena keluarnya banyak cairan yang dikeluarkan dari dinding saluran usus, yang diakibatkan karena infeksin saluran usus, akibat serangan bakteri atau virus. Hal itu bayak dialami oleh penderita enterocolitis, dysentery atau keracunan makanan oleh bakteri Salmonella. Jenis diare tersebut disebut "exudative diarrhea" Racun dari Vibrio cholerae dan Staphylococcus atau pengeluaran hormone yang tidak normal, dapat menstimulir timbulnya pengeluaran air yang berkelebihan dari dinding saluran usus, jenis diare tersebut dinamakan "secretory diarrhea". Disamping itu masih ada jenis diare lain yang terjadi bila pergerakan dari usus besar terstimulasi secara abnormal, contohnya oleh stress, sehingga proses penyerapan air terganggu. 6) NILAI NORMAL LABORATORIUM GINJAL Gagal Ginjal Kronis (CRF) atau penyakit ginjal tahap akhir adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) ( KMB, Vol 2 hal 1448). PENYEBAB GINJAL KRONIS Penyebab dari gagal ginjal kronis adalah: - Tekanan darah tinggi (hipertensi) - Penyumbatan saluran kemih - Glomerulonefritis

- Kelainan ginjal, misalnya penyakit ginjal polikista - Diabetes melitus (kencing manis) - Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik. Dua pendekatan teoritis yang biasanya diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal pada Gagal ginjal Kronis: Sudut pandang tradisional Mengatakan bahwa semua unit nefron telah terserang penyakit namun dalam stadium yang berbeda-beda, dan bagian spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi –fungsi tertentu dapat saja benar-benar rusak atau berubah strukturnya, misalnya lesi organic pada medulla akan merusak susunan anatomic dari lengkung henle. Pendekatan Hipotesis Bricker atau hipotesis nefron yang utuh Berpendapat bahwa bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal. Uremia akan timbul bila jumlah nefron yang sudah sedemikian berkurang sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit tidak dapat dipertahankan lagi. Adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon terhadap ancaman ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sisa nefron yang ada mengalami hipertrofi dalam usahanya untuk melaksanakan seluruh beban kerja ginjal, terjadi peningkatan percepatan filtrasi, beban solute dan reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron yang terdapat dalam ginjal turun dibawab normal. Mekanisme adaptasi ini cukup berhasil dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi ginjal yang rendah. Namun akhirnya kalau 75 % massa nefron telah hancur, maka kecepatan filtrasi dan beban solute bagi tiap nefron sedemikian tinggi sehingga keseimbangan glomerolus-tubulus tidak dapat lagi dipertahankan. Fleksibilitas baik pada proses ekskresi maupun konsentrasi solute dan air menjadi berkurang. Perjalanan klinis Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi 3 atadium Stadium I Penurunan cadangan ginjal (faal ginjal antar 40 % – 75 %). Tahap inilah yang paling ringan, dimana faal ginjal masih baik. Pada tahap ini penderita ini belum merasasakan gejala gejala dan pemeriksaan laboratorium faal ginjal masih dalam masih dalam batas normal. Selama tahap ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) dalam batas normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat, sepersti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test GFR yang teliti. Stadium II Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20 % – 50 %). Pada tahap ini penderita dapat melakukan tugas tugas seperti biasa padahal daya dan konsentrasi ginjaL menurun. Pada stadium ini

pengobatan harus cepat daloam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan jantung dan pencegahan pemberian obat obatan yang bersifat menggnggu faal ginjal. Bila langkah langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat mencegah penderita masuk ketahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat diatas batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda beda, tergantung dari kadar protein dalam diit.pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar normal. Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20 % – 50 %). Pada tahap ini penderita dapat melakukan tugas tugas seperti biasa padahal daya dan konsentrasi ginjaL menurun. Pada stadium ini pengobatan harus cepat daloam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam, gangguan jantung dan pencegahan pemberian obat obatan yang bersifat menggnggu faal ginjal. Bila langkah langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat mencegah penderita masuk ketahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat diatas batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda beda, tergantung dari kadar protein dalam diit.pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar normal. Poliuria akibat gagal ginjal biasanya lebih besar pada penyakit yang terutama menyerang tubulus, meskipun poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter / hari. Biasanya ditemukan anemia pada gagal ginjal dengan faal ginjal diantara 5 % – 25 % . faal ginjal jelas sangat menurun dan timbul gejala gejala kekurangan darah, tekanan darah akan naik, , aktifitas penderita mulai terganggu. Stadium III Uremi gagal ginjal (faal ginjal kurang dari 10 %) Semua gejala sudah jelas dan penderita masuk dalam keadaan diman tak dapat melakukan tugas sehari hair sebaimana mestinya. Gejal gejal yang timbul antara lain mual, munta, nafsu makan berkurang., sesak nafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Stadum akhir timbul pada sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur. Nilai GFR nya 10 % dari keadaan normal dan kadar kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml / menit atau kurang. Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan sangat mencolok sebagai penurunan. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis caiaran dan elektrolit dalam tubuh. Penderita biasanya menjadi oliguri (pengeluaran kemih) kurang dari 500/ hari karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula mula menyerang tubulus ginjal, kompleks menyerang tubulus gijal, kompleks perubahan biokimia dan gejala gejala yang dinamakan sindrom uremik mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal

ginjal, penderita pasti akan menggal kecuali ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialisis. Perawatan pada Ginjal Kronis 1. Dialisis Dialisis dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi gagal ginjal akut yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis dan kejang. Perikarditis memperbaiki abnormalitas biokimia ; menyebabkan caiarn, protein dan natrium dapat dikonsumsi secara bebas ; menghilangkan kecendurungan perdarahan ; dan membantu penyembuhan luka. 2. Penanganan hiperkalemia Keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan masalah utama pada gagal ginjal akut ; hiperkalemia merupakan kondisi yang paling mengancam jiwa pada gangguan ini. Oleh karena itu pasien dipantau akan adanya hiperkalemia melalui serangkaian pemeriksaan kadar elektrolit serum ( nilai kalium > 5.5 mEq/L ; SI : 5.5 mmol/L), perubahan EKG (tinggi puncak gelombang T rendah atau sangat tinggi), dan perubahan status klinis. Pningkatan kadar kalium dapat dikurangi dengan pemberian ion pengganti resin (Natrium polistriren sulfonat [kayexalatel]), secara oral atau melalui retensi enema. 3. Mempertahankan keseimbangan cairan Penatalaksanaan keseimbanagan cairan didasarkan pada berat badan harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan yang hilang, tekanan darah dan status klinis pasien. Masukkan dan haluaran oral dan parentral dari urine, drainase lambung, feses, drainase luka dan perspirasi dihitung dan digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantia cairan. Studi Kasus Nama klien Hj. H Umur 85 tahun. Masuk RS Tgl 30 April 2005 dengan keluhan Tidak bisa buang air kecil dan sakit pinggang sebelah kanan.. Keluhan ini berlangsung 3 hari dirumah. Awalnya klien tidak bisa buang air besar ? 2 hari lalu klien menggunakan dulcolax suppositoria selama 2 hari berturut-turut dan klien bisa BAB. Sehari kemudian klien susah kencing, walau mengejan air kencing tidak bisa keluar, lalu keluarga membawanya ke Rumah Sakit. Sesampai di Rumah Sakit dipasang Kateter dan air kencing lancer keluar keluar berwarna agak merah kemudian yang keluar berwarna agak coklat seperti air teh. Saat pengkajian klien telah dirawat selama 3 hari data focus yang diperoleh: Keadaan umum klien agak lemah, tungkai bawah lemas,tidak bertenaga, kulit keriput tidak elastis. odema pretibial. Tonus otot kurang. selalu berbaring ditempat tidur, ativitas sehari, hari dibantu oleh anaknya, terpasang kateter urine warna coklat seperti air teh, kain pengalas basah dan berbau. TD 160/ 90 mmHg. Nadi 82 x/ menit, suhu Badan 36,2O C, sclera tampak pucat, secret mata ( + ). Mulut/ napas berbau amonia, bicara lirih kadang kurang jelas,

Hasil pemeriksaan Laboratorium Tgl; 2/5 2005 Ureum : 202,32 Kreatinin : 3, 93 SGOT : 19 SGPT : 30 WBC : 5,5 x 103 / ?l RBC : 3,90 HGB : 10,7 HCT : 32,5% GDS : 161 Pemeriksaan Penunjang Hasil USG: Ginjal : Tampak kedua ginjal mengecil dengan echodifferensiasi tidak jelas ( ginjal kanan 5,9 x 3,1 cm; ginjal kiri 5,8 x 2,5 cm ). Kesan : PNC bilateral. TERAPI MEDIS Obat – obatan : IVFD NaCl 0,9 % 20 tts/ menit Allopurinol 300mg 1-0-0 Zonidip 10mg 0-0-1 Fibrat 300mg 0-0-1 Inj. Neurosanbe 1 amp/ hari/ drips Berdasarkan buy medicine online without prescription pengkajian , diagnosa keperawatan yang didapat : 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, retensi cairan dan natrium. 2. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik. 3. Perubahan membrane mukosa oral berhubungan dengan iritasi kimia. 4. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan aktivitas, gangguan status metabolic. Rencana tindakan : I. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, retensi cairan dan natrium. 1. Kaji status cairan : Timbang berat badan harian Keseimbangan masukan dan haluaran

II.

III.

IV.

Turgor kulit dan adanya oedema Tekanan darah, denyut dan irama nadi. 2. Batasi masukan cairan 3. Identifikasi sumber potensial cairan Medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan, oral dan intra vena. Makanan 4. Jelaskan rasional pembatasan cairan 5. Bantu klien dalam mengatasi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan. 6. Tingkatkan dan dorong hygiene oral. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan kelemahan fisik. Tentukan kemampuan klien untuk berpartyisipasi dalam aktifitas perawatan diri. ( skala 0 – 4 ). Berikan bantuan dengan aktifitas yang diperlukan Anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan ADL klien ditempat tidur. Bantu keluarga dalam perawatan diri klien ditempat tidur. Anjurkan keluarga untuk menganti alas bokong jika basah. Bantu dan motivasi keluarga untuk menjaga kebersihan tubuh klien, Perubahan membrane mukosa oral berhubungan dengan iritasi kimia. 1. Inspeksi rongga mulut perhatikan kelembapan, karakter saliva, adanya inflamasi, ulserasi. 2. Berikan cairan sepanjang 24 jam dalam batas yang ditentukan. 3. Berikan perawatan mulut sering 4. Anjurkan hygiene mulut setelah makan dan menjelang tidur. 5. Anjurkan klien untuk menghindari pencuci mulut lemon/ bahan yang mengandung alcohol. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan aktivitas, gangguan status metabolic. 1. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, kelembapan kulit, vaskuler. 2. Ubah posisi dengan sering, gerakan klien dengan perlahan, beri bantalan kain yang lembut pada tonjolan tulang. 3. Pertahankan linen kering bebas dari keriput. 4. Pertahankan kuku tetap pendek.

DAFTAR PUSTAKA Buku panduan “Praktikum Biokimia Gizi” edisi 2010 http://id.wikipedia.org/wiki/Kolesterol http://informasitips.com/kolesterol-dalam-tubuh-manusia http://majalahkesehatan.com/arti-hasil-tes-kolesterol-darah-anda/ http://ms.wikipedia.org/wiki/Hemoglobin http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20481/4/Chapter%20II.pdf http://analislaboratoriumkesehatan.blogspot.com http://www.medistra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=106 http://www.facebook.com/notes/infomedilink/hati-tes-fungsi-hati-langkah-awalmenentukan-kesehatan-hati/175686025815679 http://doktersehat.com/seputar-gagal-ginjal-kronis/#ixzz1ZELHspNW

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->