P. 1
Pemerintahan Pada Masa Demokrasi

Pemerintahan Pada Masa Demokrasi

|Views: 72|Likes:
Published by sadrinx

More info:

Published by: sadrinx on Oct 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

PEMERINTAHAN PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL DAN TERPIMPIN

A. MASA DEMOKRASI LIBERAL 1. Kurun Waktu 6 September 1950 – 10 Juli 1959 Pada periode ini diberlakukan sistem Demokrasi Parlementer yang sering disebut Demokrasi Liberal dan diberlakukan UUDS 1950. Perlulah diketahui bahwa demokrasi ini yang dibahas oleh kelompok kami berbeda dengan demokrasi selama kurun waktu 1949 – 1950. Pada periode itu berlaku Konstitusi RIS. Indonesia dibagi dalam beberapa negara bagian. Sistem pemerintahan yang dianut ialah Demokrasi Parlementer (Sistem Demokrasi Liberal). Pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri dan Presiden hanya sebagai lambang. Karena pada umumnya rakyat menolak RIS, sehingga tanggal 17 Agustus 1950 Presiden Soekarno menyatakan kembali ke Negara Kesatuan dengan UUDS 1950. 2. Pandangan Umum : Karena Kabinet selalu silih berganti, akibatnya pembangunan tidak berjalan lancar, masing-masing partai lebih memperhatikan kepentingan partai atau golongannya. Faktor Yang Menyebabkan Seringnya Terjadi Pergantian Kabinet Pada Masa Demokrasi Liberal: Pada tahun 1950, setelah unitary dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Indonesia mulai menganut sistem Demokrasi Liberal dimana dalam sistem ini pemerintahan berbentuk parlementer sehingga perdana menteri langsung bertanggung jawab kepada parlemen (DPR) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan partai. Anggota DPR berjumlah 232 orang yang terdiri dari Masyumi (49 kursi), PNI (36 kursi), PSI (17 kursi), PKI (13 kursi), Partai Katholik (9 kursi), Partai Kristen (5 kursi), dan Murba (4 kursi), sedangkan sisa kursi dibagikan kepada partai-partai atau perorangan, yang tak satupun dari mereka mendapat lebih dari 17 kursi. Ini merupakan suatu struktur yang tidak menopang suatu pemerintahan-pemerintahan yang kuat, tetapi umumnya diyakini bahwa struktur kepartaian tersebut akan disederhanakan apabila pemilihan umum dilaksanakan. Selama kurun waktu 1950-1959 sering kali terjadi pergantian kabinet yang menyebabkan instabilitas politik. Parlemen mudah mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap kabinet sehingga koalisi partai yang ada di kabinet menarik diri dan kabinet pun jatuh. Sementara Sukarno selaku Presiden tidak memiliki kekuasaan secara riil kecuali menunjuk para formatur untuk membentuk kabinet-kabinet baru, suatu tugas yang sering kali melibatkan negosiasinegosiasi yang rumit.

# Kegagalan konstituante dalam menetapkan undang-undang dasar sehingga membawa Indonesia ke jurang kehancuran sebab Indonesia tidak mempunyai pijakan hukum yang mantap. 3. maka rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS 1950 dengan sistem Demokrasi Liberal tidak cocok. Namun tidaklah serta merta bahwa setalah dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Demokrasi Terpimpin dilaksanakan karena telah disebutkan di atas bahwa Demokrasi Liberal berakhir pada tanggal 10 Juli 1959.Kabinet Koalisi yang diharapkan dapat memperkuat posisi kabinet dan dapat didukung penuh oleh partai-partai di parlemen ternyata tidak mengurangi panasnya persaingan perebutan kekuasaan antar elite politik. # Situasi politik yang kacau dan semakin buruk. Semenjak kabinet Natsir. Mereka sadar betul bahwa sistem kabinet parlementer sangat bergantung pada basis dukungan di parlemen. Latar Belakang dikeluarkan dekrit Presiden : # Undang-undang Dasar yang menjadi pelaksanaan pemerintahan negara belum berhasil dibuat sedangkan Undang-undang Dasar Sementara (UUDS 1950) dengan sistem pemerintahan demokrasi liberal dianggap tidak sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia. karena tidak sesuai dengan jiwa Pancasila dan UUD 1945. Seputar Dekrit Presiden Pelaksanaan demokrasi terpimpin dimulai dengan berlakunya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sementara keberlangsungan pemerintah sangat ditentukan oleh dukungan di parlemen. Penyebab kabinet mengalami jatuh bangun pada masa demokrasi liberal adalah akibat kebijkaan-kebijakan yang dalam pandangan parlemen tidak menguntungkan Indonesia ataupun dianggap tidak mampu meredam pemberontakan-pemberontakan di daerah. # Konflik antar partai politik yang mengganggu stabilitas nasional . Masjumi dan PNI. Setelah negara RI dengan UUDS 1950 dan sistem Demokrasi Liberal yang dialami rakyat Indonesia selama hampir 9 tahun. # Terjadinya sejumlah pemberontakan di dalam negeri yang semakin bertambah gawat bahkan menjurus menuju gerakan sparatisme. sehingga pada tanggal 5 Juli 1959 mengumumkan dekrit mengenai pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950. para formatur berusaha untuk melakukan koalisi dengan partai besar. Akhirnya Presiden menganggap bahwa keadaan ketatanegaraan Indonesia membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara serta merintangi pembangunan semesta berencana untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Dalam hal ini.

# Banyaknya partai dalam parlemen yang saling berbeda pendapat sementara sulit sekali untuk # Masing-masing partai politik selalu berusaha untuk menghalalkan segala cara agar tujuan partainya tercapai. . Pembentukan MPRS dan DPAS Reaksi dengan adanya Dekrit Presiden: #Rakyat menyambut baik sebab mereka telah mendambakan adanya stabilitas politik yang telah goyah selama masa Liberal. UUD 45 yang harusnya menjadi dasar hukum konstitusional penyelenggaraan pemerintahan pelaksanaannya hanya menjadi slogan-slogan kosong belaka. adalah sebagai berikut. b. # KSAD meminta kepada seluruh anggota TNI-AD untuk melaksanakan pengamanan Dekrit Presiden. yaitu MPRS dan lembaga tinggi negara berupa DPAS yang selama masa Demokrasi Parlemen tertertunda pembentukannya. Tujuan dikeluarkan dekrit adalah untuk menyelesaikan masalah negara yang semakin tidak menentu dan untuk menyelamatkan negara. # Mahkamah Agung membenarkan dan mendukung pelaksanaan Dekrit Presiden. # DPR pada tanggal 22 Juli 1945 secara aklamasi menyatakan kesediaannya untuk melakanakan UUD 1945. Dampak negatif diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. # Memberikan pedoman yang jelas. Dampak positif diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. # Merintis pembentukan lembaga tertinggi negara. yaitu UUD 1945 bagi kelangsungan negara. # Menyelamatkan negara dari perpecahan dan krisis politik berkepanjangan. Demi menyelamatkan negara maka presiden melakukan tindakan mengeluarkan keputusan Presiden RI No. # Ternyata UUD 1945 tidak dilaksanakan secara murni dan konsekuen. Pembubaran konstituante Tidak berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945. Isi Dekrit Presiden adalah sebagai berikut. a. 75/1959 sebuah dekrit yang selanjutnya dikenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. c. adalah sebagai berikut.

akan tetapi presiden menafsirkan “terpimpin”. Dengan demikian pemusatan kekuasaan di tangan presiden. Kurun Waktu 1959 – 1965 Pada periode ini sering juga disebut dengan Orde Lama. UUD yang digunakan adalah UUD 1945 dengan sistem Demokrasi Terpimpin. # Sedangkan kekuasaan Pemerintah dilaksanakan oleh partai.dan lembaga tinggi negara. # Memberi peluang bagi militer untuk terjun dalam bidang politik. Tugas Demokrasi terpimpin : Demokrasi Terpimpin harus mengembalikan keadaan politik negara yang tidak setabil sebagai warisan masa Demokrasi Parlementer/Liberal menjadi lebih mantap/stabil. Hal ini disebabkan karena : terhadap Demokrasi # Pada masa Demokrasi parlementer. Terpimpin pada saat pemerintahan Sukarno adalah kepemimpinan pada satu tangan saja yaitu presiden. Menurut UUD 1945 presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. MASA DEMOKRASI TERPIMPIN 1. B. Pandangan Umum : Demokrasi Terpimpin berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966. Hal itu semakin terlihat pada masa Orde Baru dan tetap terasa sampai sekarang. Terjadinya pemusatan kekuasaan di tangan presiden menimbulkan penyimpangan dan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang puncaknya terjadi perebutan kekuasaan oleh PKI pada tanggal 30 September 1965 (G30S/PKI) yang merupakan bencana nasional bagi bangsa Indonesia. kekuasaan presiden hanya terbatas sebagai kepala negara. yaitu demokratisasi (menciptakan stabilitas politik yang demokratis) menjadi sentralisasi (pemusatan kekuasaan di tangan presiden). presiden dan DPR berada di bawah MPR. 2.# Memberi kekeuasaan yang besar pada presiden. yaitu dari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga Jatuhnya kekuasaan Sukarno. MPR. Dampaknya: Penataan kehidupan politik menyimpang dari tujuan awal. Hal itu terlihat pada masa Demokrasi terpimpin dan berlanjut sampai Orde Baru. yaitu pimpinan terletak di tangan ‘Pemimpin Besar Revolusi”. Sejak Dekrit. Disebut Demokrasi terpimpin karena demokrasi di Indonesia saat itu mengandalkan pada kepemimpinan Presiden Sukarno. Pengertian demokrasi terpimpin pada sila keempat Pancasila adalah dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Demokrasi Terpimpin merupakan reaksi Parlementer/Liberal. militer terutama Angkatan Darat menjadi kekuatan politik yang disegani. .

Tindakan tersebut bertentangan dengan UUD 1945 karena Berdasarkan UUD 1945 pengangkatan anggota MPRS sebagai lembaga tertinggi negara harus melalui pemilihan umum sehingga partai-partai yang terpilih oleh rakyat memiliki anggota-anggota yang duduk di MPR. Hal tersebut tampak dengan adanya tindakan presiden untuk mengangkat Ketua MPRS dirangkap oleh Wakil Perdana Menteri III serta pengagkatan wakil ketua MPRS yang dipilih dan dipimpin oleh partai-partai besar serta wakil ABRI yang masing-masing berkedudukan sebagai menteri yang tidak memimpin departemen. Tugas MPRS terbatas pada menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan Demokrasi terpimpin dari UUD 1945 adalah sebagai berikut. 1.Pelaksanaan masa Demokrasi Terpimpin : # Kebebasan partai dibatasi # Presiden cenderung berkuasa mutlak sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Keanggotaan MPRS terdiri dari 61 orang anggota DPR. Kedudukan Presiden Berdasarkan UUD 1945. kenyataannya bertentangan dengan UUD 1945. Dimana semua anggotanya ditunjuk oleh presiden. . dan 200 orang wakil golongan. # Pemerintah berusaha menata kehidupan politik sesuai dengan UUD 1945. Anggota MPRS ditunjuk dan diangkat oleh Presiden dengan syarat : Setuju kembali kepada UUD 1945. Setia kepada perjuangan Republik Indonesia. 3. Peraturan DPRGR juga ditentukan oleh presiden. 2 Tahun 1959. Akan tetapi. DPRGR dan Front Nasional. dan Setuju pada manifesto Politik. # Dibentuk lembaga-lembaga negara antara lain MPRS. Pembentukan MPRS Presiden juga membentuk MPRS berdasarkan Penetapan Presiden No. Pembubaran DPR dan Pembentukan DPR-GR Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil pemilu tahun 1955 dibubarkan karena DPR menolak RAPBN tahun 1960 yang diajukan pemerintah.DPAS. 94 orang utusan daerah. Presiden menentukan apa yang harus diputuskan oleh MPRS. kedudukan Presiden berada di bawah MPR. sebab MPRS tunduk kepada Presiden. Presiden selanjutnya menyatakan pembubaran DPR dan sebagai gantinya presiden membentuk Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). 2.

Tujuannya adalah menyatukan segala bentuk potensi nasional menjadi kekuatan untuk menyukseskan pembangunan. Lembaga ini diketuai oleh Presiden sendiri.1 tahun 1960. Inti Manipol adalah USDEK (Undang-undang Dasar 1945. Pembentukan Kabinet Kerja Tanggal 9 Juli 1959. presiden membentuk kabinet Kerja. Tugas DPR GR adalah sebagai berikut. Ekonomi Terpimpin. # Melaksanakan manifesto politik # Mewujudkan amanat penderitaan rakyat # Melaksanakan Demokrasi Terpimpin 4. Tugas DPAS adalah memberi jawaban atas pertanyaan presiden dan mengajukan usul kepada pemerintah. # Menyelesaikan Revolusi Nasional # Melaksanakan Pembangunan # Mengembalikan Irian Barat 6. Hal ini disebabkan karena DPAS yang mengusulkan dengan suara bulat agar pidato presiden pada hari kemerdekaan RI 17 AGUSTUS 1959 yang berjudul ”Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang dikenal denganManifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) ditetapkan sebagai GBHN berdasarkan Penpres No. 8 orang utusan daerah.3 tahun 1959.13 Tahun 1959. dan Kepribadian Indonesia). Tindakan presiden tersebutbertentangan dengan UUD 1945 sebab berdasarkan UUD 1945 presiden tidak dapat membubarkan DPR. Front Nasional merupakan sebuah organisasi massa yang memperjuangkan citacita proklamasi dan cita-cita yang terkandung dalam UUD 1945.Sehingga DPRGR harus mengikuti kehendak serta kebijakan pemerintah. Demokrasi Terpimpin. Sosialisme Indonesia. Keanggotaan DPAS terdiri atas satu orang wakil ketua. Tugas front nasional adalah sebagai berikut. Sehingga lebih dikenal dengan MANIPOL USDEK. Sebagai wakil presiden diangkatlah Ir. . Pelaksanaannya kedudukan DPAS juga berada dibawah pemerintah/presiden sebab presiden adalah ketuanya. Program kabinet ini adalah sebagai berikut. 12 orang wakil partai politik. Hingga tahun 1964 Kabinet Kerja mengalami tiga kali perombakan (reshuffle). dan 24 orang wakil golongan. Pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden No. Pembentukan Front Nasional Front Nasional dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden No. Front Nasional dipimpin oleh Presiden Sukarno sendiri. 5. Juanda.

Hal ini terlihat dengan adanya pemberian pangkat menteri kepada pimpinan lembaga tersebut. Keterlibatan PKI dalam Ajaran Nasakom Perbedaan ideologi dari partai-partai yang berkembang masa demokrasi parlementer menimbulkan perbedaan pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdampak pada terancamnya persatuan di Indonesia. padahal kedudukan menteri seharusnya sebagai pembantu presiden. Bagi presiden NASAKOM merupakan cerminan paham berbagai golongan dalam masyarakat. Upaya penyebarluasan ajaran Nasakom dimanfaatkan oleh PKI dengan mengemukakan bahwa PKI merupakan barisan terdepan pembela NASAKOM. Ajaran Nasakom mulai disebarkan pada masyarakat. PKI berhasil meyakinkan presiden bahwa Presiden Sukarno tanpa PKI akan menjadi lemah terhadap TNI. Agama. Pada masa demokrasi terpimpin pemerintah mengambil langkah untuk menyamakan pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menyampaikan ajaran NASAKOM(Nasionalis. dan Komunis). dijiwai oleh sosialisme. Sosialisme Indonesia. 7. Keterlibatan PKI tersebut menyebabkan ajaran Nasakom menyimpang dari ajaran kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengeser kedudukan Pancasila dan UUD 1945 menjadi komunis. Inti dari ajaran ini adalah bahwa seluruh unsur kehidupan berbangsa dan bernegara harus dicapai melalui revolusi. dan Pimpinan Nasional) adalah untuk memperkuat kedudukan Presiden Sukarno. Ajaran Resopim diumumkan pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-16. 8. Tujuannya untuk menggalang persatuan bangsa. Adanya ajaran RESOPIM Tujuan adanya ajaran RESOPIM (Revolusi. Kelompok yang kritis terhadap ajaran Nasakom adalah kalangan cendekiawan dan ABRI. 9. Dampak dari sosialisasi Resopim ini maka kedudukan lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara ditetapkan dibawah presiden. Dikeluarkan ajaran Nasakom sama saja dengan upaya untuk memperkuat kedudukan Presiden sebab jika menolak Nasakom sama saja dengan menolak presiden. Selain itu PKI mengambil alih kedudukan dan kekuasaan pemerintahan yang sah. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia . Presiden yakin bahwa dengan menerima dan melaksanakan Nasakom maka persatuan Indonesia akan terwujud. dan dikendalikan oleh satu pimpinan nasional yang disebut Panglima Besar Revolusi (PBR). yaitu Presiden Sukarno.# Mencukupi kebutuhan sandang pangan # Menciptakan keamanan negara # Mengembalikan Irian Barat.

TNI Angkatan Laut. . politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif sesuai yang mengabdi pada kepentingan nasional. Pentaan Kehidupan Partai Politik Pada masa demokrasi Parlementer. sedangkan aktif berarti ikut memelihara perdamaian dunia. 7 tahun 1959. Pada masa demokrasi terpimpin.TNI dan Polri disatukan menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang terdiri atas 4 angkatan yaitu TNI Angkatan Darat. Masing-masing angkatan dipimpin oleh Menteri Panglima Angkatanyang kedudukannya langsung berada di bawah presiden. Kedudukan presiden yang kuat tersebut tampak dengan tindakannya untuk membubarkan 2 partai politik yang pernah berjaya masa demokrasi Parlementer yaitu Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). partai dapat melakukan kegiatan politik secara leluasa. Kedua Partai tersebut resmi dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960. 10. ABRI menjadi salah satu golongan fungsional dan kekuatan sosial politik Indonesia. misalnya jumlah anggota yang terlalu sedikit akan dibubarkan sehingga dari 28 partai yang ada hanya tinggal 11 partai. Politik Konfrontasi tersebut dilandasi oleh pandangan tentang Nefo(New Emerging Forces) dan Oldefo (Old Established Forces) Nefo merupakan kekuatan baru yang sedang muncul yaitu negara-negara progresif revolusioner (termasuk Indonesia dan negara-negara komunis umumnya) yang anti imperialisme dan kolonialisme. Sedangkan pada masa demokrasi terpimpin. pelaksanaan politik luar negeri condong mendekati negara-negara blok timur dan konfrontasi terhadap negara-negara blok barat. Arah Politik Luar Negeri Bahasan Umum: Pada awalnya. Pembatasan gerak-gerik partai semakin memperkuat kedudukan pemerintah terutama presiden. Bebas berarti tidak memihak salah satu blok (barat/timur). 11. Saat itu Indonesia memberlakukan politik konfrontasi yang lebih mengarah pada negara-negara kapitalis seperti negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Politik Konfrontasi Nefo dan Oldefo Terjadi penyimpangan dari politik luar negeri bebas aktif yang menjadi cenderung condong pada salah satu poros. Perubahan arah ini disebabkan oleh : 1) Faktor dalam negeri : dominasi PKI dalam kehidupan politik 2) Faktor luar negeri : sikap negara-negara Barat yang kurang simpati dan tidak mendukung terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Tindakan pemerintah ini dikenal dengan penyederhanaan kepartaian. dan Angkatan Kepolisian. Alasan pembubaran partai tersebuat adalah karena sejumlah anggota dari kedua partai tersebut terlibat dalam pemberontakan PRRI dan Permesta. a. Partai yang tidak memenuhi syarat. TNI Angkatan Udara. kedudukan partai dibatasi oleh penetapan presiden No.

Pada tanggal 7 Januari 1965. Hal ini disebabkan karena pemerintah tidak setuju dengan pembentukan negara federasi Malaysia yang dianggap sebagai proyek neokolonialisme Inggris yang membahayakan Indonesia dan negara-negara blok Nefo. b. Pelaksanaan Dwikora dengan mengirimkan sukarelawan ke Malaysia Timur dan Barat menunjukkan adanya campur tanggan Indonesia pada masalah dalam negeri Malaysia. . Indonesia keluar dari keanggotaan PBB sebab Malaysia diangkat menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Untuk mewujudkan Nefo maka dibentuk poros Jakarta-Phnom Penh-HanoiPeking-Pyong Yang.Oldefo merupakan kekuatan lama yang telah mapan yakni negara-negara kapitalis yang neokolonialis dan imperialis (Nekolim). Politik Konfrontasi Malaysia Indonesia juga menjalankan politik konfrontasi dengan Malaysia. Selanjutnya gerakan ini memusatkan perjuangannya pada gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika dan mencegah perluasan Perang Dingin. Dalam rangka konfrontasi tersebut Presiden mengumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada tanggal 3 Mei 1964. Politik Mercusuar Politik Mercusuar dijalankan oleh presiden sebab beliau menganggap bahwa Indonesia merupakan mercusuar yang dapat menerangi jalan bagi Nefo di seluruh dunia. Dampaknya ruang gerak Indonesia di forum internasional menjadi sempit sebab hanya berpedoman ke negara-negara komunis. Politik Gerakan Non-Blok Gerakan Non-Blok merupakan gerakan persaudaraan negara-negara Asia-Afrika yang kehidupan politiknya tidak terpengaruh oleh Blok Barat maupun Blok Timur. c. # Bantu perjuangan rakyat Malaysia untuk membebaskan diri dari Nekolim Inggris. Untuk mewujudkannya maka diselenggarakan proyek-proyek besar dan spektakuler yang diharapkan dapat menempatkan Indonesia pada kedudukan yang terkemuka di kalangan Nefo. yang isinya sebagai berikut. # Perhebat Ketahanan Revolusi Indonesia. Proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar mencapai milyaran rupiah diantaranya diselenggarakannya GANEFO (Games of the New Emerging Forces ) yang membutuhkan pembangunan kompleks Olahraga Senayan serta biaya perjalanan bagi delegasi asing. d.

b. d. f.Keterlibatan Indonesia dalam GNB menunjukkan bahwa kehidupan politik Indonesia di dunia sudah cukup maju. GNB merupakan pancaran dan revitalisasi dari UUD1945 baik dalam skala nasional dan internasional. e. Pengangkatan Ketua MPRS dirangkap oleh Wakil Perdana Menteri III serta pengagkatan wakil ketua MPRS yang dipilih dan dipimpin oleh partai-partai besar serta wakil ABRI yang masing-masing berkedudukan sebagai menteri yang tidak memimpin departemen. Pengangkatan Ir. Ekonomi Terpimpin. Pidato presiden yang berjudul ”Penemuan Kembali Revolusi Kita” pada tanggal 17 Agustus 1959 yang dikenal dengan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) ditetapkan sebagai GBHN atas usul DPA yang bersidang tanggal 23-25 September 1959. Besarnya kekuasaan Presiden dalam Pelaksanaan demokrasi terpimpintampak dengan: a. Presiden mengambil alih pemimpin tertinggi Angkatan Bersenjata dengan di bentuk Komandan Operasi Tertinggi (KOTI). Demokrasi Terpimpin. Inti Manipol adalah USDEK (Undang-undang Dasar 1945. Sehingga lebih dikenal dengan MANIPOL USDEK. Pidato presiden yang berjudul ”Berdiri di atas Kaki Sendiri” sebagai pedoman revolusi dan politik luar negeri. dan Kepribadian Indonesia). g. . GNB merupakan gerakan yang bebas mendukung perdamaian dunia dan kemanusiaan. Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi yang berarti sebagai presiden seumur hidup. c. Presiden berusaha menciptakan kondisi persaingan di antara angkatan. persaingan di antara TNI dengan Parpol. Sosialisme Indonesia. Bagi RI.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->