P. 1
BUDAYA SUNDA

BUDAYA SUNDA

|Views: 602|Likes:
Published by dudyarif

More info:

Published by: dudyarif on Oct 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

2.

Daya lentur Islam (fleksibilitas) ajaran Islam sebagai wujud modifikasi nilai-nilai universal, dengan demikian ajaran Islam dapat melebur dengan berbagai bentuk dan jenis situasi di masyarakat. Kelenturan ajaran Islam sebagai jaminan sosial gerakan kultural diteruskan oleh para da’i dengan mendirikan madrasah, langgar/masjid dan pesantren. Agama Islam begitu mudah diterima oleh urang Sunda. karena karakter agama Islam tidak jauh berbeda dengan karakter budaya Sunda yang ada pada waktu itu. Sedikitnya ada dua hal yang menyebabkan agama Islam mudah dipeluk oleh urang Sunda. Yang pertama, ajaran Islam itu sendiri yang sederhana dan mudah diterima oleh kebudayaan Sunda yang juga sederhana. Ajaran tentang akidah, ibadah terutama akhlak dari agama Islam sangat sesuai dengan jiwa urang Sunda yang dinamis. Yang kedua, kebudayaan asal yang menjadi “bungkus” agama Islam adalah kebudayaan timur yang tidak asing bagi urang Sunda. Oleh karena itu, ketika urang Sunda membentuk jati dirinya berbarengan dengan proses Islamisasi, maka agama Islam merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang terwujud secara tidak sadar menjadi identitas kesundaan mereka.

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Sejarah & perkembangan
Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Acu. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat. Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.

Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan. Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saa ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan sekarang tangggal 2 Mei 2010 akan diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani.

[sunting] Pertunjukan
Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

[sunting] Penyajian
Pola penyajian Sisingaan meliputi: 1. Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan 2. Kidung atau kembang gadung 3. Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain 4. Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay) 5. Penutup dengan musik keringan.

[sunting] Musik pengiring

dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul. Makna universal. namun dengan konsep kerkayatan. terbukti pada Sisingaan. Tepang Sono. masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka. Makna komersial. Lagu Gurudugan. [sunting] Pemaknaan Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan. seperti egalitarian. Pria Idaman. Sumber rujukan  Ganjar Kurnia. '08 9:23 AM untuk . Tarompet. Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Karena Helaran.Lagu Kasreng. maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival. Bandung. dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal. Bonang (ketuk). Lagu Titipatipa. karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. memainkannya sambil berdiri. Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu. apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi. seperti jajangkungan dan lain-lain. 2003. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat. Lagu Selingan (Siyur. Madu dan Racun. Goong. Beberapa Catatan Perbandingan dan Pencerahan Kategori: Gaya Pertimbangan Khusus: Lainnya Lainnya Anak-anak Aug 20. Lagu Kidung. Awet rajet. Lagu Gondang. Serat Salira. Kecrek. diantaranya:      Makna sosial. antara lain: Kendang Indung (2 buah). dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika). Doger dan Kliningan. spontanitas. menunjukan peluang ini. Goyang Dombret. Kempul. Makna teatrikal. antara lain: Lagu Keringan. digotong dan diikatkan ke tubuh. dan diterima sebagai miliknya. sama halnya seperti seni bajidoran. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental). dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya. Pengaruh Islam Terhadap Budaya Sunda. Kulanter. dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran. meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa. Makna Spiritual. Deskripsi kesenian Jawa Barat. karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan.Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana. Warudoyong dll).

Bahkan menurut Krom (1931). Kedua. dan karena itu. namun juga jelas terlihat pada budaya Sunda. Dalam hal ini kita pun harus membatasi masalah yang diawali dengan pendefinisian budaya atau kebudayaan seperti yang telah dikemukakan Zoetmulder pada Historiografi Indonesia (1955:288): Manusia. Ucapan presiden tersebut dapat ditafsirkan macam-macam. Hal ini ada hubungannya dengan unsur-unsur budaya yang bersifat stabil dan lokal genius yang dapat ditunjukkan secara sinkronis horisontal serta akan lebih baik lagi bila didukung oleh penelitian dengan pendekatan historis vertikal. Saya sendiri lebih cenderung menafsirkan seperti yang dikemukakan pada kemungkinan pertama. kita pun harus mengidentifikasi kekhasan-kekhasan yang terdapat dalam budaya Sunda dengan. karena Jawa dan Sunda itu sudah berhubungan dalam tempo yang amat panjang dan menunjukkan pula bagaimana besar pengaruh budaya Jawa terhadap budaya Sunda. Presiden Abdurrahman Wahid pada kata sambutannya. bila kenyataannya sekarang jelas mempunyai budaya tersendiri yang berbeda dengan budaya Jawa. antara lain. mengingat kedua etnis itu berada dalam satu pulau akan tetapi masing-masing mempunyai kebuyaannya sendiri. mengatakan bahwa seminar ini perlu juga didengar oleh orang Sunda.Layanan Deskripsi: Oleh H. secara selintas. pengaruh Islam tidak hanya terdapat dalam budaya Jawa. maka dapatlah disimpulkan bahwa ternyata etnis Sunda itu dapat mempertahankan eksistensi budayanya betapapun pengaruh dari luar amat besar dan kuat. Akan tetapi. mungkin sebaliknya dari yang pertama adalah anggapan bahwa dengan mencermati isi makalah-makalah pada seminar itu akan makin jelas bagaimana pengaruh Islam itu terhadap budaya Sunda. karena disertai banyak bukti tertulis sebagai hasil penelitian diakronis. memperhatikan segala sesuatunya yang ada dan terjadi di Tatar Sunda. WAHYU WIBISANA Rawayan's SEMINAR Pengaruh Islam terhadap Budaya Jawa diselenggarakan pada 31 Oktober 2000 di Jakarta. dalam aspek kultural Sunda itu mencontoh Jawa. Beliau pun memberi tahu para peserta seminar bahwa PB Paguyuban Pasundan sengaja diundangnya untuk tujuan itu. yang hidup di dalam alam serta merupakan bagiannya. walaupun kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda dahulu mempunyai kedaulatan penuh. Saya kira. bila kita bermaksud mengadakan seminar yang membahas pengaruh Islam terhadap budaya Sunda. selain memperhatikan apa-apa yang telah dikemukakan pada Seminar Pengaruh Islam terhadap Budaya Jawa. dipandang perlu untuk melengkapinya dengan bahasan-bahasan yang berisi pengaruh Islam terhadap budaya Sunda. Pertama. Kedua pendapat itu benar. Pengaruh bahasa dan budaya Jawa terhadap bahasa dan budaya Sunda memang amat besar. bila pada seminar ternyata lebih banyak membicarakan partisipasi Jawa. sehingga Ayatrohaedi (198 mempunyai dugaan bahwa bahasa Jawa Kuno di Tatar Sunda dahulu banyak digunakan untuk membahas hal-hal yang berhubungan dengan agama (Hindu/Budha). walaupun tidak menafikan kenyataan seperti yang dikemukakan pada kemungkinan kedua. sejak lahir sampai mati .

antara lain oleh beberapa pemakalah pada Seminar di Jakarta 31 Oktober 2000 yang beberapa di antaranya sejalan dengan pendapat Dawson tersebut. mereka membentuk cara hidup yang menjadi sifat masyarakat tersebut. sedangkan di tingkat desa oleh lebe. Dalam proses memberi dan menerima. Di bawah ini saya berusaha memaparkan hasil penyerapan saya terhadap beberapa makalah pada seminar tadi. Catatan Kedua PERANAN kepala pemerintahan dalam kehidupan dan perkembangan agama Islam di Jawa . Catatan Pertama HASIL penelitian Clifford Geertz (1960). yang telah menerima Islam sebagai agamanya. Kita tidak dapat memahami bentuk dalam suatu masyarakat jika kita tidak memahami agama(nya)… Dalam semua zaman. Bersama dengan sesamanya yang tergabung dalam kesatuan masyarakat yang lebih luas. urang kaum (lingkungan mesjid). karena pada awal abad ke-19 istilah itu tidak ada. seperti Penghulu Besar Hasan Mustapa (1900) dengan Kyai Kurdi di Singaparna dan Ajengan Bangkonol di daerah Bandung. sama seperti di Jawa. akan tetapi bukan berupa ringkasan melainkan berupa catatan tentang perbedaan atau variabel dalam budaya Jawa dan Sunda dalam hal menerima pengaruh Islam. sebuah naskah yang (menurut berita yang sampai kepada saya) telah ditelaah oleh para mahasiswa IAIN Sunan Gunung Djati. di masyarakat kota ada yang disebut dengan menak (bangsawan atau priyayi menurut istilah Clifford Geertz). Urang kaum di tingkat ibu kota kabupaten dipimpin oleh penghulu besar atau penghulu. Tampaknya urang kaum di tingkat kabupaten itu mempunyai hubungan baik dengan para ajengan. Keterangan di atas dapat dibandingkan dengan struktur sosial di Tatar Sunda. yang menunjukkan adanya lapisan sosial masyarakat Jawa. Cara hidup orang Sunda. Cara hidup demikian inilah yang kita sebut kebudayaan. di tingkat kewedanaan dan kecamatan oleh naib. Dipertanyakan kapan munculnya istilah abangan. Sementara itu di setiap pesantren terdapat ajengan (kyai) dan santri. di samping sonah (rakyat kebanyakan). Cara hidup yang bersendikan ajaran atau akidah sebuah agama dapat diobservasi dan ditelusuri proses kesejarahnnya yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan seperti dikemukakan Christoper Dawson (194 yang dicuplik Zoetmulder (1955:289): Agama adalah kunci sejarah. antara lain. Istilah itu ada saat itu adalah kaum dan santri. tampaknya masih menjadi perhatian beberapa pemakalah pada Seminar Sehari Pengaruh Islam terhadap Budaya Jawa. Setidaknya sampai dengan awal ke-20. Pengaruh agama Islam terhadap budaya Jawa telah banyak ditelaah. hasil karya kreatif pertama dari suatu kebudayaan muncul dari inspirasi agama dan diabadikan pada tujuan-tujuan keagamaan. dan urang pasar (para pedagang atau saudagar).berusaha mengungkapkan bentuk kehidupannya. tentu saja berbeda dengan cara hidup orang Sunda dahulu yang. untuk mengetahui adeg-adeg orang Sunda dahulu. mengacu kepada isi naskah Siksa kandang Karesian (1518). Istilah abangan dan putihan baru muncul pada pertengahan abad ke-19 yang diumumkan oleh para pengamat sosial bangsa Belanda.

Pada tahun 1633 Sultan Agung berziarah ke makam Sunan Bayat di Tembayat dan pada tahun itu pula kelender Jawa disesuaikan dengan kalender tahun Hijriyah. Agaknya peranan pangagung lainnya setelah itu belum banyak dibahas dan diteliti seperti Pangeran santri di Sumedang atau Dalem Haji (R. Wiranatakusumah V) di Bandung. di derah lainnya di Tatar Sunda tidak terdapat pangagung-pangagung yang dapat dibandingkan dengan sultan-sultan di Jawa. Sehingga peranannya dapat diungkapkan seperti Syeikh Abdul Muhyi di Tasikmalaya (abad ke-17). kecuali Cirebon dan banten. Arif Muhammad di Cangkuang Garut (abad ?). raja ini telah diceritarakyatkan menjadi dua versi. 1977). Pada versi kaleran. yakni setelah Cirebon dan Banten mendapat pengaruh dari Demak. Setelah itu. Prabu Siliwangi itu akhirnya Prabu Siliwangi itu akhirnya menganut agama . berkat usaha para wali telah diberi nuansa Islami sehingga dapat diterima oleh masyarakat yang beragama Islam (Lihat K. menurut sejarah yang dipercayai sampai saat ini. Catatan serupa itu ada pula di Tatar Sunda seperti peranan Sunan Gunung Djati yang telah diuraikan oleh P. dan Syeikh Nawawi di Banten (abad ke-19). Garis kelanjutan masa lalu tidak menunjuk pada suatu titik yang terpusat pada tokoh-tokoh raja pra-Islam yang masih hidup dalam kenangan orang Jawa. sama seperti peranan Sultan Hasanuddin di Provinsi Banten. Dalam hubungan dengan Islam. seperti Hayam Wuruk.S. Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Sulendraningrat dalam buku Babad Tanah Sunda. Peranan dan pengaruh Sunan Gunung Djati ini terekam pula dalam beberapa cerita rakyat di wilayah Cirebon. yakni versi kaleran (termasuk Cirebon) dan versi Priangan. Hal ini sama dengan yang ada di masyarakat Sunda masa lalu seperti dikemukakan oleh Hasan Mustapa pada buku Bab Adat Oerang Priangan djeung Oerang Soenda Lian ti Eta (1913).A. bila kenyataan itu dihubungkan dengan syari’at Islam dalam budaya Sunda masa lalu dan dewasa ini. Lain halnya dengan orang Sunda yang selalu mengenang kebesaran Kerajaan Pajajaran dengan rajanya (menurut tuturan cerita pantun) Prabu Siliwangi. baik di Jawa maupun di Sunda.A. sehingga tidak diungkapkan pada semua makalah. Bahkan adakalanya hubungan menak dengan urang kaum kurang akrab. Demikian pula cerita wayang yang berasal dari India dan mengandung ajaran agama Hindu.H. Catatan Ketiga BERBAGAI kepercayaan orang Jawa yang terungkap dalam upacara adat dikemukakan pada beberapa makalah. seperti peranan Sultan Agung yang beralih orientasi kepada pemuka-pemuka Islam. Bila memang demikian. walaupun nama Kanjeng Dalem selalu di sebut pada khutbah Jum’at di mesjid agung sampai akhir masa penjajahan Belanda (1942). dsb. Agaknya. orang Sunda menerima Islam lebih kemudian daripada orang Jawa.jelas-jelas tercatat dalam sejarah. Babad Cirebon (tanpa Tahun). Mungkin karena raja ini tidak ada hubungannya dengan Islam. tokoh-tokoh berpengaruh lainnya dapat dikedepankan seperti Syeikh Qura di Karawang (abad ke-15). Adapun yang harus ditelaah dan sekaligus dijadikan ancar-ancar adalah batas toleransi. karena semuanya hanya setingkat bupati. Memang. penjelasan-penjelasan dari beberapa makalah mengenai kedua hal itu yang pada dasarnya menggambarkan adanya garis kelanjutan dari zaman pra-Islam masih tampak sampai saat ini.

karena .Islam. Kemudian dikemukakan tokoh-tokoh tasawuf yang amat berperan dalam mengembangkan budaya Jawa. Versi ini menggambarkan keberterimaan Prabu Siliwangi terhadap Islam. Digambarkan bahwa budaya kejawen yang berpusat di keraton-keraton amat berkesuaian dengan Islam sufi. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut untuk mendapat kejelasan dalam rangka melengkapi keterangan tentang pengaruh Islam (melalui Islam yang telah dijawakan) ke dalam budaya (sekali lagi: budaya) Sunda. Yang menarik adalah kesimpulan yang menyatakan bahwa karya-karya sastra dalam kepustakaan Islam kejawen tersebut sejalan dengan tradisi Jawa dengan unsur keIslaman. Berbeda dengan di Sunda. yakni Nabi Muhammad (bila mereka menempatkan diri sebagai umat Islam) dan Prabu Siliwangi (bila mereka sedang menyadari kesundaannya). Agama Jawa Sunda yang diumumkan oleh Madrais (1925) atau Paham Perjalanan dalam Agama Kuring yang dikembangkan oleh Mei Kartawinata (1935) patut diduga sedikit banyak berbandingan dengan lahirnya Kejawen. nama Siliwangi tetap hidup dalam sanubari orang Sunda seperti tersirat pada seni sastra dan seni karawitan Sunda. Dari pernikahannya ini lahir Pangeran Walangsungsang dan Nyi Rara Santang yang kedua-duanya berhubungan dengan sejarah Cirebon (diceritakan bahwa Syarif Hidayatullah itu putera Rara Santang dari pernikahannya dengan seorang bangsawan Mesir). Lepas dari kedua versi tersebut. Salah seorang tokoh yang juga ditonjolkan pada makalah ini Abdul Muhyi Pamijahan dengan ajaran yang disebut Martabat Alam Tujuh. Kian Santang mengejar dan memaksa Prabu Siliwangi agar mau menganut agama Islam. Wulangreh (Paku Buwono IV). seperti Sunan Kalijaga dengan konsep pancamaya atau sangkan paran dumadi dan ilmu kesempurnaan atau insan kamil yang bermuara pada konsep ajaran munggaling kawula gusti. Catatan Kelima AGAMA Hindu amat berpengaruh terhadap kebudayaan Jawa. dan Wirid Djati (Rangga Warista). karena mempersunting santri peremuan yang dididik oleh Syeikh Quro. Catatan Keempat PADA beberapa makalah digambarkan bahwa keberterimaan orang Jawa terhadap agama Islam lebih meningkat manakala disertai unsur sufinya. Akan lebih menarik lagi bila hal itu dihubungkan pula dengan anggapan yang menyatakan bahwa Sunda itu identik dengan Islam. karena sampai saat ini dirasakan janggal bila asa orang Sunda yang tidak beragama Islam. Berbeda dengan versi Priangan yang menggambarkan ketidakberterimaan Prabu Siliwangi terhadap Islam seperti terungkap dalam cerita. Sebutan “Islam Kejawen” yang jelas-jelas menunjuk nama agama (Islam) ternyata masuk juga ke dalam budaya Sunda. bernama Nyi Subanglarang. Ketidakberterimaan sebagian masyarakat Sunda terhadap Islam yang dilambangkan dengan tokoh Siliwangi menurut versi ini agaknya sejalan dengan adanya umpatan pejajaran di Jakarta dan anjing galuh di Priangan (minus Ciamis). Sufisme atau tasawuf seperti itu banyak mempengaruhi alam pikiran orang Jawa dan melahirkan banyak karya sastra seperti Sastra Gending (Sultan Agung). Hal ini menjadi menarik bila dihubungkan dengan pendapat yang menyatakan bahwa junjunan orang Sunda sampai saat ini sebenarnya ada dua.

11 Januari 2008. Diperkirakan hal ini terjadi pada masa pengaruh Mataram di Priangan yang berlangsung pada abad ke-17 dan berlanjut sampai dengan pertengahan abad ke-19. melainkan merupakan “cangkokan” dari priyayi Jawa.naskah Siksa Kandang Karesian atau naskah-naskah Sunda Kuno lain tidak secara keseluruhan berisi ajaran Hinduisme. Rakit dan boboko mempunyai bahan yang sama yaitu bambu (biasanya hidup .com Ditulis pada Jumat. melainkan berhubungan dengan bagian akhir pada catatan ketiga. Ada paparan pada sebuah makalah yang menjelaskan bahwa Hinduisme mengakar dalam budaya Jawa sehingga pada gilirannya menjadi penyangga kebudayaan priyayi kejawen. Kita dapat saja memperkirakan bahwa keadaan seperti itu terjadi pula di Sunda. Hal ini tidak berkaitan dengan keagamaan. dalam bentuk lain terdapat juga di Sunda. Bupati Cianjur (1834-1862). Sementara itu. makna ekologis yang berdimensi antropologis bisa ditelurusi jika meri dinisbahkan kepada hewan Ovivar yang hidup di daerah basah (Lendo). oleh Ki Santri Relasi antara Budaya Islam dan Budaya Sunda Relasi antara Budaya Islam dan Budaya Sunda Oleh ENUNG SUDRAJAT Meuncit meri dina rakit Boboko wadah bakatul Lain nyeri ku panyakit Kabogoh direbut batur SEBAGAI bagian dari kreativitas orang Sunda.A. seperti tembang Sunda lagam Cianjuran yang dikembangkan oleh R. Kusumaningrat. Hinduisme hanya menyentuh sedikit saja pada budaya petani pedesaan. dapat pula dihubungkan dengan budaya Islam bila kita menerima anggapan sementara orang yang menyatakan bahwa teknik vokal tembang Sunda Cianjuran itu ada hubungannya dengan teknik vokal dalam pelantunan ayat suci al-Qur’an.wordpress. Tapi dalam pandangan axiologis paparikan tersebut terasa fenomena ekologis terlihat pada hubungan kata meri. Perhatian dan kegemaran para menak Sunda pada kesenian substil yang lazim di Jawa disebut “seni keraton”. karena pihak ini amat dipengaruhi oleh budaya animisme dan dinamisme. Walaupun demikian. terutama yang menyangkut budaya petani pedesaan. kalau dilihat secara bahasa. rakit dan boboko. paparikan di atas termasuk jeprut. Dicpoas dari Sumber : Pustaka Islam Sunda http://sundaislam. Adapula yang menyangkut budaya priyayi.A.*** Sumber: Makalah pada Forum Diskusi Reguler Dosen Fakultas Adab. mungkin kita dapat mengajukan hipotesis bahwa budaya priyayi Sunda bukan dibentuk langsung oleh Hinduisme. Wallahu a’lam bishshawab. IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. 01 Pebruari 2001.

Diferensiasi pada masyarakat Sunda walaupun berjalan cepat. Islam sebagai agama di dalamnya ada yang bersifat empiris dan meta empiris. Dengan demikian maka hasil kreativitas tersebut berwujud useup.pada ketinggian 100-500 dpl. Idiom-idiom tersebut kemudian direkam oleh para sahabat. Kebudayaan jika ditafsirkan sebagai hasil kreativitas manusia (perilaku manusia) ketika berinteraksi dengan lingkungan. perilaku manusianya. Model ini sebagai upaya pembagian kesejahteraan kepada kerabat yang memiliki tingkat kesejahteraan rendah. dan boboko sebagai alat untuk memudahkan kerja dalam kehidupan. rasional intuitif bahkan objektif partisifatif. maka pemikiran sahabat tersebut tidak tunggal. berdagang bahkan pada kasus mikung sering terjadi proses imitasi dan adopsi yang dilakukan warga masyarakat dalam konteks perkembangan ekonomi sehingga kemudian kadang-kadang terjadi diferensiasi sangat cepat. maka dimensi meta empiris tersebut menjadi empiris dan rasional. . Bakatul sebagai bagian dari penggilingan padi setelah dipilih (diayak) dinisbahkan bahwa dalam proses tersebut terdapat proses yang sinergis antara unsur tektur tanah. Sebagai tuntutan hidup manusia. Ketika para sahabat menyampaikan hal tersebut kepada umat. wahyu disampaikan Nabi dan Rosul di samping berdimensi meta empiris juga empiris yang sering menggunakan idiom lokal. mempunyai semangat egaliter. meri dan boboko selalu berhubungan dengan air dan tanah basah dan bukit. tidak sampai mengganggu sistem kekerabatan (patron klien). mempunyai wujud (material) juga nilai. Semangat egaliter pada masyarakat Sunda Air dibuktikan dengan jenis pekerjaan seperti bertani. Model sistem ini masih terjadi pada masyarakat desa seperti pada sistem pengolahan tanah yang sering disebut maro/nengah. Ketidak tunggalan pemikiran ini kemudian menjadi khasanah akal sehingga menjadi rahmat jika tidak dihinggapi napsu. maka paparikan di atas kemungkinan dibuat di daerah Sunda Air (Priangan). ayakan. rakit. Pemikiran tentang wahyu kemudian menjadi tidak absolut lagi. Karena tidak absolut. daerah ini biasanya berada di antara gunung (bukit) dan penampung air (susukan). Kebenaran tersebut diterima manusia melalui perantara Nabi (manusia) pilihan. menurut Yakob Sumarjo. Keanekaragaman inilah kemudian berjalan terus sehingga laksana ayunan bandul jam sehingga kemudian Islam tidak hanya berdimensi agama (religion) tapi civilization (peradaban). Jika suku Sunda/Priangan menurut Yakob Sumarjo terbagi antara Sunda Gunung dan Sunda Air. Secara antropologis fenomena paparikan di atas mempunyai makna bahwa orang Sunda Air. Secara filosofis pandangan tersebut sering bias yang berkonotasi Islamisme Arabisme Islam sebagai Tuntutan Hidup yang bersumberkan wahyu Tuhan yang bersifat absolut (The Revelation Theory). Ketiga dimensi tersebut berkembang dalam wacana yang ideal sehingga kemudian pemikiran tentang wahyu menjadi beranekaragam. air. Sebagai suatu simbol dari kreativitas manusia. menghasilkan simbol-simbol. Islami versus Islamisne dan Arabisme ISLAM sebagai dien sering diidentikkan dengan agama (religion). karena sudah termasuk pada pemikiran wahyu. di mana pembagian hasil padi dibagikan pada saat panen tiba dan tidak berbentuk imbalan uang.

Dengan fahamnya itu kemudian komunis berhasil melakukan pemberontakan di Banten pada tahun 1926 dan Minangkabau pada tahun 1927.” Proses Islamisasi Dengan Budaya Lokal (Sunda) ISLAMISASI sebagai gerakan pembebasan manusia dilakukan secara pelan tapi pasti. Arabisme muncul melalui kebencian orang kristen di Cordoba ketika mereka melihat orang Cordoba yang Kristen menggunakan simbol-simbol Arab karena keterkaitannya terhadap sastra Arab. Konflik ideologi semakin merebak tatkala muncul reorganisasi MIAI menjadi Masyumi. Kegagalan Islam ideologi dan politik terekam dengan jelas paska proklamasi. Memasuki Orde Baru kekalahan Islam Politik terus menukik sehingga kemudian generasi muda mencoba menginterpretasikan sejarahnya dengan ide pembaharuan yang tersohor dengan jargon “Islam Yes Partai Islam No.Peradaban (civilization) dalam pengertian Raucek dan Warren merupakan tingkatan perkembangan kompleksitas kebudayaan yang dicapai suatu masyarakat. sekelompok masyarakat yang sadar akan keunggulan nilai-nilai kemanusiaan. mendapat angin yang subur tatkala perang kemerdekaan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ketika Kristen datang dan bersinergi dengan budaya lokal tidak muncul jargon Eropanisme dan Kristenisme? Islamisme sebagai pengejawantahan dari warisan modernisme klasik. kelompok ini kemudian menyingkir ke daerah-daerah di mana dominasi Westernisasi agak lemah. Kekecewaan kelompok ideologi dalam masyarakat disemai tatkala Indonesia sebagai negara baru harus berhadapan dengan Belanda sehingga kekalahan di bidang diplomatik pemimpin nasional dimanfaatkan oleh kelompok ideologi untuk menyatakan ketidaksetiaan ke NKRI. Arabisme dan Islamisme muncul ke permukaan setelah Islam bersinerggi dengan budaya lokal di luar jazirah Arab termasuk Eropa (Barat). bahkan dengan datangnya Snevlitt dan ISDVnya. Proses islamisasi ini dilatarbelakangi oleh perubahan yang terjadi di saat serangan ideologis dan politis menajam khasanah Islam di Indonesia. Kedatangan Belanda ke Indonesia ternyata tidak semata-mata ekonomis. tapi cenderung politis dan ideologis dan ini dibuktikan dengan adanya misionaris dan zending. mundur dalam kancah politik yang bersifat ideologis. Islamisme merupakan perwujudan pembaharuan pemikiran politik Islam dalam usaha mempersatukan umat Islam di seluruh dunia Islam. Sebagai konsekuensi logis. SI Putih kemudian menjadi Partai Syarikat Islam (PSI) dan SI Merah menjadi Syarikat Rakyat. Islamisme sebagai kerangka politik untuk kasus Indonesia muncul setelah datangnya Belanda ke Indonesia. mengadopsi perilaku Arab tanpa mereka masuk Islam. Dengan bantuan ulama. Paham ini kemudian mendapatkan kerangka ideologis dan teologis dari Muh. Proses ini berjalan tanpa bantuan organisasi dakwah yang cukup . Kompleksitas Islam berkembang terus. Syarikat Islam (SI) saat itu terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih. Ulama tersebut kemudian melakukan pencerahan di desadesa melalui proses islamisasi. di mana pada saat itu konflik ideologi berkembang setelah munculnya Marxisme dan Sosialisme di Indonesia. Abduh sebagai murid Al-Afghani. Kompleksitas tersebut kemudian melembaga dalam komunikasi lisan dan tulisan yang memungkinkan berakumulasi ke tingkat yang lebih besar dan meluas. sehingga ketika ayunan bandul tersebut sampai ke daratan di luar Arab dan bersinergi dengan budaya lokal terjadilah islamisasi yang berbeda dengan Arabisme dan Islamisme.

Pengajaran Al-Qur’an itu diberikan secara individual kepada para murid. Watak inilah kemudian yang menjadi faktor dominan bagi penyebaran Islam di daerah Jawa seperti Mataram. Dengan ketiga ciri tersebut kemudian Islamisasi terus berkembang apalagi setelah dibantu oleh guru sufi (Wali Songo) dengan gaya lentur ajaran Islam untuk meneguhkan tradisi-tradisi setempat terutama dalam masalah mistisisme lama yang mempunyai persamaan dengan mistisisme Islam. Daya lentur Islam (fleksibilitas) ajaran Islam sebagai wujud modifikasi nilai-nilai universal. Islamisasi terus berkembang sejalan turunnya pamor kerajaan Hindu Jawa Singosari yang kala itu dipimpin oleh Kertanegara. pedagang dan guru sufi. Cirebon dan lain sebagainya. Diawali dengan islamisasi daerah pantai di Pulau Jawa.memadai untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat luas. datangnya ekspansi Kubali Khan pada abad ketiga belas turut pula mempercepat keruntuhan Sriwijaya. 2. proses islamisasi menjadi sangat dominan. islamisasi yang dilakukan pedagang. tapi semata-mata karena mengandalkan kemampuan dan ketekunan tenaga da’i. mereka membaca dan melakukan ayat-ayat suci di hadapan guru satu per satu di bawah bimbingan guru selama 1/4 atau 1/2 jam. tidak bisa dilupakan oleh konsepsi Islam itu sendiri yakni: 1. Gerakan islamisasi di Indonesia di samping dipengaruhi oleh kekuatan dan keihkhlasan da’i dan pedagang serta guru sufi. 3. langgar/masjid dan pesantren. Untuk bahan ilustrasi rasanya perlu kita hidmati apa yang dirasakan oleh Ahmad Djayadiningrat. Demak. Kelenturan ajaran Islam sebagai jaminan sosial gerakan kultural diteruskan oleh para da’i dengan mendirikan madrasah. . biasanya mereka berkumpul di langgar atau di serambi rumah guru. Ajaran Islam menekankan prinsip ketauhidan dalam sistem Ketuhanannya yang memberi tekanan kuat bagi para pemeluknya untuk membebaskan diri dari ikatan-ikatan kekuatan apa pun selain Allah SWT. da’i dan guru sufi terus mendapat tempat di hati masyarakat sejalan dengan terjalinnya asimilasi melalui perkawinan dengan putri-putri setempat bahkan dengan masuknya penguasa raja Mataram terhadap Islam. Sebagai seorang anak bupati zaman Sunda. Ahmad Djayadiningrat mengaji Al-Qur’an di langgar tidak di pendopo. Islam oleh masyarakat Indonesia dianggap sebagai suatu institusi yang amat dominan untuk menghadapi dan melawan Barat yang diwakili oleh kekuasaan Portugis dan Belanda yang mengobarkan penjajahan dan menyebarkan Kristen. Gresik. bahkan beliau karena kelambanan belajar Juz Amma sampai tiga bulan dan dilakukan setiap hari. dengan demikian ajaran Islam dapat melebur dengan berbagai bentuk dan jenis situasi di masyarakat.

maka resistensi antara prilaku orang Islam dengan kelompok penganut paham singkretisme semakin menajam. Orde Baru mampu menarik kelompok marjinal ini sehingga kemudian bisa bersinergi dengan okmum Kepala Desa untuk memenangkan salahsatu partainya. paska reorganisasi Masyumi dan terbentuknya partai-partai politik semakin menjauhkan antara Islam dan budaya lokal. Jika Islam masuk daerah Sunda dibawa oleh para Wali Sembilan maka terdapat relasi yang jelas antara kegiatan komersial (pedagang)-masjid (spiritual)-pesantren (pendidikan).” Resistensi antara Islam sebagai tuntunan dan Sunda sebagai budaya. Agama Islam dan Budaya Sunda Ditulis oleh redaksi Direktur. jaba murangkalih masih orok. terjadi manakala Islam diinterprestasikan politis. Kenyataan pahit tersebut terjadi di daerah di mana sinkretisme sebagai keyakina orang Sunda (buhun) dilingkari oleh resistensi Islam Politik yang cenderung ideologis. nya caroge tos teu aya dicandak ti payun. Resistensi semakin menguat bahkan jadi diperkuat setelah zaman Orba dengan kekuatannya. bahkan resistensi semakin memuncak tatkala Islam dijadikan jargon politik bagi kepentingan politik lokal maupun nasional. padahal islamisasi lewat model ini terjalin sinergitas yang erat antara perilaku komersial (berdagang) dengan masjid dan pesantren. sehingga pertentangan antra dua ideologi partai Islam dan partai nasionalis sekular berimplikasi pada marjinalisasi masyarakat. abdi ngiring ka sepuh abdi pun biang di caket lindung. Kolom 2. 2011 .Islamisasi yang dilakukan model ini. Konflik yang terjadi pada Syarikat Islam (SI) dan NU. kurang banyak mendapat perhatian peneliti. da sieunna moal aya atuh. Ninggal jalmi kempel-kempel oge emut wae kajantenan eta. Dalam setiap resistensi dan konflik yang jadi korban terakhir adalah rakyat kecil dan ini terukir dengan jelas pada kelompok Mikung. Saatos babaledogan eta. abdi didamel we sabisa-bisa. Kolom 1. abdi mah ayeuna oge upami aya nu rame-rame teh sok ngadaregdeg. Relasi ketiga hal tersebut terus berjalan dengan santai (istilah Kang Acep) dan tidak pernah menimbulkan konflik sehingga tepat apa yang disampaikan Anis Jatisunda bahwa “tidak ada garis pemisah atau penghambat antara kesakralan spiritual agama Islam dengan eksistensi berbagai budaya daerah (Sunda) sebagai kecirian dirinya. Dengan munculnya kekuatan emosional. bumi pan teu tiasa dieusian da atos ruksak kitu. Kolom 3 Jan 23. wargi-wargi teu aya nu ngabantosan da sarieuneun kacacandak.

Kebudayaan Sunda adalah sumber kerangka acuan masyarakat Sunda ketika mereka berhadapan dengan berbagai perubahan. tapi lambat laun perubahan itu sedikit demi sedikit akan diterima menjadi sub budaya . Pertamatama perubahan itu akan ditolak karena dianggap kontra budaya atau unsur budaya yang berlainan. dalam rentang waktu yang sangat panjang dan suasana yang bermacam-macam dialaminya. aktifitas dan hasil karya manusia Sunda yang terwujud sebagai hasil interaksi terus menerus antara manusia Sunda sebagai pelaku dengan latar tempat ia hidup. gagasan. dalam rentang waktu yang sangat panjang dan suasana yang bermacam-macam dialaminya.Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Sunda bisa disebut dengan Kebudayaan Sunda. Ketika seorang manusia Sunda mencoba mengabaikan atau menolak budaya Sunda maka manusia Sunda tersebut telah mengabaikan atau menolak seperangkat nilai yang terbentuk dari hasil proses adaptasi kolektif manusia Sunda dengan lingkungannya yang sudah sekian lama diakui sangat ampuh sebagai alat untuk melindungi masyarakat Sunda dari kerusakan ketika mereka berhadapan dengan berbagai perubahan lingkungan fisik dan nonfisik. Suatu perubahan itu ditolak atau diterima oleh masyarakat tergantung kepada sejauh mana perubahan itu bisa diterima oleh kebudayaaanya. budaya Sunda adalah perangkat yang memberikan daya tahan kepada masyarakat Sunda untuk tetap lestari. aktifitas dan hasil karya manusia Sunda yang terwujud sebagai hasil interaksi terus menerus antara manusia Sunda sebagai pelaku dengan latar tempat ia hidup. Dengan kata lain. budaya Sunda adalah perangkat yang memberikan daya tahan kepada masyarakat Sunda untuk tetap lestari. Perubahan terhadap setiap unsurnya dan hubungan unsur-unsur itu satu sama lainnya berpengaruh kepada kebudayaan Sunda secara keseluruhan. Oleh karena itu suatu perubahan yang akan dilakukan terhadap masyarakat Sunda mestilah mempertimbangkan aspek tradisi dan kebudayaan masyarakat Sunda itu sendiri. Perubahan terhadap setiap unsurnya dan hubungan unsur-unsur itu satu sama lainnya berpengaruh kepada kebudayaan Sunda secara keseluruhan. Ia berupa semua sistem gagasan. Boleh dikatakan bahwa kebudayaan Sunda adalah milik masyarakat Sunda yang diperoleh dari hasil proses adaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terus menerus dalam jangka waktu yang sangat lama. Ketika suatu perubahan yang berasal dari suatu unsur kebudayaan asing terlalu berbeda jauh dengan kebudayaan Sunda maka perubahan itu akan sangat lama diterima untuk menjadi bagian dari kebudayaan Sunda. Boleh dikatakan bahwa kebudayaan Sunda adalah milik masyarakat Sunda yang diperoleh dari hasil proses adaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terus menerus dalam jangka waktu yang sangat lama. Ketika seorang manusia Sunda mencoba mengabaikan atau menolak budaya Sunda maka manusia Sunda tersebut telah mengabaikan atau menolak seperangkat nilai yang terbentuk dari hasil proses adaptasi kolektif manusia Sunda dengan lingkungannya yang sudah sekian lama diakui sangat ampuh sebagai alat untuk melindungi masyarakat Sunda dari kerusakan ketika mereka berhadapan dengan berbagai perubahan lingkungan fisik dan nonfisik. Dengan kata lain.

Yang pertama. ketika urang Sunda membentuk jati dirinya berbarengan dengan proses Islamisasi. lambat tapi pasti Islam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari. Persia. ajaran Islam itu sendiri yang sederhana dan mudah diterima oleh kebudayaan Sunda yang juga sederhana. 150.495 orang Ulama. Dengan tidak terasa orang sunda memeluk Islam seperti belajar kebudayaan sendiri. akulturasi dari berbagai budaya yang datang (Arab. . proses penyebaran agama Islam di tatar Sunda adalah suatu bentuk proses asimilasi. maka agama Islam merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang terwujud secara tidak sadar menjadi identitas kesundaan mereka. kebudayaan asal yang menjadi “bungkus” agama Islam adalah kebudayaan timur yang tidak asing bagi urang Sunda.772 buah pesantren. Islam masuk ke dalam kehidupan masyarakat sunda melalui pendidikan dan dakwah. Semua agama yang masuk ke tatar Sunda akan diseleksi mana yang sesuai (tidak jauh berbeda) dengan kepribadian budaya Sunda dan mana yang berlainan (sangat jauh) dengan kepribadian budaya Sunda. dalam waktu yang relatif lama.201 orang mubaligh yang tersebar merata di seluruh pelosok JawaBarat. Begitu pula halnya mengenai agama orang Sunda. Agama Islam begitu mudah diterima oleh urang Sunda. maka di masyarakat Sunda. dan 36. Yang kedua.606. Termasuk Agama Islam ketika datang ke tatar Sunda pada awalnya disebarkan oleh orang-orang yang berasal dari tempat yang mempunyai kebudayaan tertentu seperti dari India. sejak diperkenalkan pertama kali oleh Syekh Syarif Hidayatullah (1470M) di sebelah timur dan kesultanan Banten di sebelah barat. Oleh karena itu. Sebab agama yang datang ke tatar Sunda adalah agama yang sudah dibungkus dengan kebudayaan dimana agama itu berasal. bukan dengan jalan penaklukan. Oleh karena itu. agama Islam terus menyebar ke seluruh pelosok tatar Sunda dengan tanpa hambatan yang berarti. Tercatat pula 172.927 orang Kiyai. Kalau di daerah lain agama Islam dianggap sebagai kekuatan asing yang sukar bersatu dengan kebudayaan setempat. Oleh karena itu. yaitu antar kebudayaan penyebar agama Islam dengan kebudayaan penerima agama Islam. Sedikitnya ada dua hal yang menyebabkan agama Islam mudah dipeluk oleh urang Sunda. akan diterima menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan Sunda. Dengan keadaan seperti tersebut di atas dapat di katakan bahwa rakyat Jawa Barat (Sunda) hampir seluruhnya beragama Islam atau dengan kata lain bahwa agama orang Jawa Barat (Sunda) adalah agama Islam. karena karakter agama Islam tidak jauh berbeda dengan karakter budaya Sunda yang ada pada waktu itu. Menurut hasil sensus penduduk tahun 2000 agama Islam di Jawa Barat dipeluk oleh 37. yang secara otomatis telah menjadi warna dan ciri tersendiri dari ajaran Islam itu sendiri.317 orang yang merupakan 98% dari jumlah penduduk Jawa Barat. Islam dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan dirinya sendiri. dan India) dengan budaya lokal Sunda yang membentuk kebudayaan Sunda Islam kiwari seperti yang kita saksikan sekarang. Ajaran tentang akidah. Hal tersebut membuat wajah Islam di tatar Sunda berbeda dengan Islam yang disebarkan dengan cara peperangan (paksaan). Arab dan Persia.523 buah mesjid. 35. 4.dan selanjutnya. Proses Islamisasi bisa dipandang sebagai suatu proses pertemuan antar dua kebudayaan atau lebih. ibadah terutama akhlak dari agama Islam sangat sesuai dengan jiwa urang Sunda yang dinamis.

Meskipun. sawer. ulah kaleuleuwihi dalam makan dan minum menemukan kaidah Zuhud dan Qonaah dalam . nyusur tanah. para pemimpin agama yang bijaksana biasanya memberitahukan kepada para hadirin. umumnya upacara adat seperti itu dilakukan setelah akad nikah dilangsungkan. opat bulan jeung tujuh bulan. Dalam kesempatan itu. merupakan upacara adat yang dipadukan dengan do’a-do’a dari ajaran Islam. pola makan di beberapa tempat. natus. Di samping itu ada suatu kebiasaan pada sebagian orang Sunda yang suka memuliakan waktu atau tanggal tertentu. Oleh karena itu. aneh lamun aya urang Sunda lain Islam. seperti bulan Maulud (Mulud menurut lafal orang Sunda). Hampir di seluruh tempat yang dihuni oleh orang Sunda di Jawa Barat penyelenggaraan hukum waris diatur menurut ajaran faraidh fiqh Islam. nyaah ka sasasama sesuai dengan ajaran Islam.Saefuddin. Hal tersebut lebih memberi tekanan kepada fakta bahwa mayoritas masyarakat Sunda adalah beragama Islam atau kebanyakan urang sunda berkeyakinan tauhid kepada Allah. Misalnya untuk mematangkan ilmu penca. seperti: nyeuyeuk seureuh. tiluna. Yang berhubungan dengan proses kehidupan manusia juga dikenal dengan upacara lingkaran hidup (circle life). misalnya babarik. salah seorang Intektual Sunda walaupun beliau bukan keturunan Sunda tetapi lahir dan dibesarkan di tatar Sunda juga berbicara sehari-hari memakai bahasa Sunda. buka pintu. Ungkapan tersebut kemudian menjadi keniscayaan di tengah masyarakat Sunda. dan huaplingkung.Anshori. Prinsip-prinsip ulah ngarawu ku siku dalam pemilikan harta dan jabatan. Demikian juga dalam masalah jual beli. sehingga ada ungkapan bahwa Sunda adalah Islam. bulan Mulud merupakan bulan yang istimewa. Dalam bulan ini banyak sekali anjuran dan sekaligus banyak pula pantangannya bagi aktivitas tertentu. Asimilasi dan akulturasi antar dua kebudayaan atau lebih akan melahirkan suatu bentuk kebudayaan baru yang merupakan hasil titik temu dari proses pembauran terus menerus antara berbagai kebudayaan yang berbeda tersebut. Sistem muamalah yang diajarkan Islam menemukan realitas empirisnya dalam kehidupan masyarakat Sunda. Dan dalam tingkatan tertentu pengaruh agama Islam pada kehidupan orang-orang Sunda dapat dilihat dari beberapa hukum adat yang mereka praktekan dalam bermasyarakat. Bagi orang yang ingin mematangkan satu ilmu. yang dianggapnya lebih mulia dari waktu yang lainnya. ajaran Islam telihat melekat di dalamnya. maka dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan Maulud. ilmu kebal atau ilmu kedigdayaan lainnya. Ungkapan tersebut untuk pertama kali dilontarkan oleh almarhum Endang.ajaran tasawuf.II Para pengamat banyak yang mengatakan bahwa kebudayaan Sunda sekarang sulit dipisahkan dengan ajaran agama Islam. tujuhna. Mulai manusia masih dalam kandungan ibunya sampai manusia itu mati diadakan upacara. someah ka semah. mahinum. dikampung-kampung di wilayah Priangan ada istilah “ngamuludkeun” (membersih-kan dalam .. bahwa upacara adat tersebut bukan merupakan kewajiban utama yang harus dilakukan oleh orang Islam. Menurut kepercayaan orang kampung di Priangan. Titik temu antara nilai-nilai Sunda dengan nilainilai Islam adalah lebih banyak pada etika atau tatakrama. Dalam perkawinan juga dilaksanakan secara fiqh Islam yang dipadukan dengan upacara adat. yaitu upacara untuk menangkal malapetaka yang mungkin muncul saat manusia berada dalam waktu-waktu krisis. matangpuluh. Apa yang dicitacitakan oleh masyarakat Sunda tentang cageur bageur.

harimaupun akan mengasah kukunya. Pangeran murbeng alam. sedangkan budaya Sunda adalah budaya yang sangat terbuka dan merespon positif setiap nilai baru yang memungkinkan dirinya untuk lebih maju dan dinamis. seperti keris. Dan kewajiban bagi setiap orang . Ketika seorang anak telah menamatkan bacaan al-qur’an tigapuluh juz. dan prinsip budaya Sunda dapat mengakomodasikan nilai ajaran Islam. dalam kasus-kasus di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip ajaran Islam dapat mengakomodasikan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam bidang arsitektur masjid di tatar sunda berbeda dengan arsitektur mesjid di negara timur tengah yang di dominasi oleh garis lengkung dan berkubah. Oleh karena itu. yang sangat berkuasa dan menentukan segalanya. tantangan terbesar adalah. atau mandi di sungai dengan kembang tujuh warna dan sebagainya. Allah murba wisesa. Maka sekarang. Hampir dipastikan anakanak mulai berumur tujuh tahun telah diperkenalkan membaca al-qur’an walaupun dengan cara sederhana ( alip-alipan. narabas ). Islam adalah ajaran yang universal melintasi batas-batas etnis. sebagai bale nyungcung mesjid di tatar Sunda identik dengan kegiatan perkawinan. Kangjeng Nabi Muhammad adalah sebutan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Walaupun di kalangan tertentu masih terdapat kepercayaan sisa-sisa agama terdahulu tetapi pada umumnya orang sunda telah memberikan hatinya untuk Iman kepada gusti Allah dan meyakini aqiedah Islam yang lainnya. Al-qur’an menjadi bacaan wajib bagi kebanyakan masyarakat sunda. Sebelum ada Kantor Urusan Agama (KUA) mesjid dipakai untuk kegiatan acara ijab qobul pernikahan. Muludan adalah suatu perayaan untuk menghormati kelahiran nabi Muhammad yang diisi oleh sidekah mulud dan pengajian bersekala besar dengan mengundang mubaligh dari daerah lain yang lebih terkenal. Kepada tuhanlah seluruh manusia harus berbakti dan mengabdi dengan sungguh-sungguh. Kebanyakan masjid dan tajug di tatar sunda berupa bangunan sederhana dengan arsitektur yang kalau dilihat secara sepintas tidak jauh berbeda dengan bentuk rumah penduduk. Terutama di daerah pedesaan belajar al-qur’an biasanya pada sore hari atau setelah sholat (sambeyang) maghrib. ngejah. maka orang tuanya mengadakan perayaan khataman. Sebaliknya banyak yang percaya bahwa pada bulan ini. tetapi bagaimana antara keduanya dapat bersinergi melahirkan sosok insan kamil. Walhasil. khususnya pada tanggal 14 Maulud waktu bulan purnama. bagaimana orang Sunda dapat tampil ke muka dengan segala identitas keSundaan yang mempunyai jiwa kosmopolitan ajaran Islam. Dalam sistem kepercayaan orang Sunda terdapat kepercayaan kepada kekuatan super natural yang paling tinggi. Bentuk yang paling banyak adalah dalam bentuk atap tumpang dua atau tiga dengan model nyungcung . persoalannya bukan terletak pada bagaimana menyundakan Islam dan meng Islamkan Sunda. payung. dalam arti sempurna kepandaiannya.bulan Maulud) barang-barang pusaka atau kramat. Yaitu Gusti Allah. Pada waktu-waktu tersebut akan terdengar dari seluruh pelosok kampung suara anak-anak membaca al-qur’an dengan suara nyaring . ras dan budaya. mesjid-mesjid di tatar sunda dikenal juga dengan sebutan Bale Nyungcung. Sebagai orang Sunda. yang diyakini sebagi nabi terakhir. luhung elmuna pengkuh agamana jembar budayana. gung. yaitu acara salametan dengan mengundang tetangga untuk hadir di rumah atau di mesjid untuk mendengarkan bacaan terakhir anak yang khatam qur’an dan diikuti oleh makan nasi tumpeng bersama dengan lauknya daging ayam yang dipanggang ( bakakak).

di samping pada sisi yang berbeda. mentalitas tergambar dalam pola interaksi sosial. orang Sunda lebih fleksibel dalam mensikapi berbagai macam aliran keagamaan yang berkembang di lingkungannya. mentalitas sebagai semangat budaya atau sistem nilai budaya. Ia berkaitan dengan pengalaman manusia. . dan terdapat pengaruh timbal balik antara kedua faktor tersebut. Sementara itu. dan ungkapan-ungkapan tersebut mempunyai struktur tertentu yang dapat dipahami. dan di sisi lain mentalitas budaya itu sebagaimana yang dapat dilihat dari kehidupan masyarakat Sunda dewasa ini. Karena itu. dapat diobyektifkan dalam pelbagai macam ungkapan. Sebagi contoh. Sehingga mereka bisa menerima kehadiran berbagai kelompok kegamaan selama mereka tidak menyimpang terlalu jauh dari tradisi kesundaan Agama sangat berhubungan dengan persoalan mentalitas. Selain dibentuk oleh substansi ajarannya. Dalam mentalitas budaya Sunda mempunyai dua dimensi yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Di Sunda pandangan terhadap kehidupan ini tergambar dalam sistem nilai yang terungkap dalam “uga”. pola perilaku yang terkristalisasi dalam pantangan dan pamali. pengembangan.Islam Sunda untuk membuktikan bahwa dengan semangat jihad Islamlah. tetapi mereka lebih menyukai subtansi agama yang telah diwujudkan dalam kehidupan sehari hari dengan nama yang bukan agama. Sehingga setiap perilaku yang diperankannya akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Kedua. pengaruh agama terhadap masyarakat seperti yang terlihat dalam pembentukan. Di satu sisi mentalitas budaya yang bersumber dari cita-cita dan harapan orang Sunda sebagaimana yang tercermin dalam tradisi lisan yang beredar di kalangan masyarakat Sunda. bahasa. tentang tujuan dan harapan-harapan masyarakat. orang Sunda dalam beragama tidak terlalu menonjolkan formalisme agama. Terdapat hubungan interdependensi yang terusmenerus antara agama dan masyarakat. Selain itu. dimensi ini juga dipengaruhi oleh struktur sosial dimana sesuatu keyakinan itu dimanifestasikan oleh para pemeluknya. Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang menginternalisasi sebelumnya. dan penentuan kelompok “keagamaan spesifik” yang baru atau pada norma-norma hukum yang berlaku di masyarakat. Aspek yang pertama. Dalam hal itu. Sehingga dalam konteks tertentu. dan dengan kekayaan budaya Sundalah. dimensi esoterik dari sesuatu agama atau kepercayaan tertentu pada dasarnya tidak berdiri sendiri. baik sebagai individu maupun kelompok. III Agama ( termasuk Islam) adalah mencakup sistem kepercayaan (iman) yang diwujudkan dalam sistem perilaku sosial para pemeluknya. Dengan demikian. pengaruh masyarakat terhadap agama. ia dapat berfungsi sebagai alat legitimasi dari proses perubahan yang terjadi disekitar kebudayaan para pemeluknya. agama juga dapat beradaptasi. di satu sisi. keagamaan yang bersifat subyektif. faktor-faktor sosial yang memberikan nuansa dan keragaman perasaan dan sikap keagamaan yang terdapat dalam suatu lingkungan atau kelompok sosial tertentu. tergambar dari sejumlah kecenderungan masyarakat dalam memandang kehidupan. Sunda akan terus nanjung. Pertama. tetapi berkaitan dengan dimensi lain di luar dirinya. Islam akan tetap agung.

Perubahan nilai budaya tersebut. kesederhanaan (tradisi huma) dan spiritualisme masyarakat Sunda beralih pada sistem nilai “sawah” dan sistem nilai feodal. Pada akhirnya terjadi “gap” antara budayawan Sunda dengan para santrinya. Sejarah masa lalu menjadi hanya tidak sekedar mitos atau legenda belaka. Masuknya Mataram ke tatar Sunda. Si Kabayan dapat memandang kehidupan dunia ini sebagai “ Heuheuy jeung deudeuh” artinya kehidupan dunia ini adalah sendagurau dan kasih sayang. Sosok individu yang telah memiliki integritas diri yang telah tidak terpengaruh aspek-aspek luar. gerakan modernisme. yang kadang lebih bernuansa westernis-me (kebaratbaratan) menggejala diseluruh pelosok dunia dan mempengaruhi bahkan mengubah struktur dan sistem nilai budaya lokal. Kultur Feodal mendapatkan legitimasi dan kekuasaan kolonial. yaitu ceritera rakyat Sikabayan. Dan selanjutnya gerakan modernisasi yang merambah dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. ternyata bukan hanya terjadi proses Islamisasi. dan pragmatis (materialistik) telah semakin menjauhkan budaya Sunda pada mainstream. Undak-unduk bahasa yang kadang dijadikan indikasi kesopanan dan kelas sosial masyarakat ini. Utuy Tatang Sontani sebagai manifestasi pribadi manusia yang sudah menemukan puncak kesehatan lahir bathin. Secara radikal. bahkan mengalami keruntuhan.Dalam tradisi masyarakat Sunda. . pada kenyataannya lebih menggambarkan kelas sosial yang bernuansa primodalistik. Suatu tokoh yang menurut. Distansi tersebut telah melemahkan kekuasaan spiritual-budaya masyarakat Sunda. yaitu pribadi yang sudah “ teu naon-naon ku naon-naon”. Hal ini tampaknya dan terasa sampai sekarang dengan munculnya fenomena kebahasaan. Undak-unduk bahasa Sunda sebelumnya tidak dikenal masyarakat Sunda (lihat struktur bahasa Sunda Banten. Sontani menjelaskan bahwa tokoh Si Kabayan merupakan manifestasi jiwa orang Sunda yang “cageur jeung bener” (sehat lahir bathin). telah semakin menjauhkan masyarakat Sunda dari akar budayanya. atau sejumlah struktur bahasa Sunda yang ditemukan didaerah-daerah tertentu). akan tetapi juga terjadi “jawanisasi” yang bernuansakan primodialisme. kedua aspek ini teramu dalam suatu gambaran satu tokoh yang dikenal hampir di seluruh masyarakat Sunda. karena kultur feodal lebih memudahkan proses penaklukan wilayah jajahan. Utuy T. termasuk sistem nilai agama dalam masyarakat Sunda. Hal tersebut cocok dengan ayat al-qur’an “ Innal hayata dunya laibun wa lahwun” dan hadits nabi “sayangilah yang ada di bumi nicaya engkau akan disayangi oleh zat yang ada di langit”. diperkuat dan dilanjutkan oleh kolonialisme Belanda. sebagai dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Djati (Cirebon). Keadaan ini didukung oleh miskinnya artefak budaya masa lalu masyarakat Sunda. IV Di era modern. koloni. Mitologis sejarah budaya Sunda. khususnya aspek duniawi. nilai-nilai primordial. Karakteristik modernism yang rasionalistik. akan tetapi terjadi sejak masa penguasaan Sunda oleh mataram. telah meletakkan sejarah masa lalunya dengan paham Islam modern yang tidak pernah bisa berkompromi dengan pandangan-pandangan mitologis. Sistem nilai budaya egalitarian. Selanjutnya. sebagai jejak merekatkan batinnnya pada masa lalunya. Tingkat akomodasi budaya Sunda terhadap ajaran Islam dan tingkat akomodasi terhadap bahasa Sunda mengalami kelemahan. sesungguhnya bukan hanya terjadi saat gerakan modernisme.

karakteristik masyarakat Sunda tidak memiliki kekuatan yang prima untuk berhadapan dengan kultur modernisme. Dalam perkembangan selanjutnya. Versi kedua mengatakan bahwa kesenian sisingaan diciptakan sekitar tahun 1840 oleh para seniman yang berasal dari daerah Ciherang. Hal ini tergambar dari fenomena spiritualisme dikalangan masyarakat Sunda. kostum pemain. Akibatnya. Waktu itu. Oleh sebab itu. merupakan suatu ethos yang muncul dari bawah sadar sistem nilai budaya dan individual masyarakat untuk berusaha senantiasa bertahan. rakyat Subang menjadi sangat menderita. kesenian ini juga mengalami perkembangan. Aura yang muncul dari pandangan cosmologies masyarakat Sunda yang feminist. Asal Usul Sisingaan adalah suatu kesenian khas masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. ternyata. Dalam kondisi semacam ini.Namun demikian. mempertahankan integrasi individu dari tekanan-tekanan dari luar. maka digunakan dua buah boneka singa yang merupakan lambang dari negara Belanda dan Inggris. Dan. saling bantu dan tolong menolong. Komunitas dijadikan kekuatan dan dasar individu untuk bersandar dari gempuran sistem nilai budaya dan lingkungan fisik lainnya. penataan tari. Di atas boneka singa yang diusung itu biasanya duduk seorang anak yang akan dikhitan atau seorang tokoh masyarakat. melainkan juga ke kabupaten-kabupaten lain di Jawa Barat. karena secara politis dikuasai oleh Belanda. untuk menegaskan bahwa kesenian sisingaan adalah suatu bentuk perlawanan. Versi pertama mengatakan bahwa sisingaan muncul sekitar tahun 70an. Kabupaten Subang pernah menjadi “milik” orang Belanda dan Inggris dengan mendirikan P & T Lands. Waktu itu di anjungan Jawa Barat di TMII ditampilkan kesenian gotong singa atau sisingaan yang bentuknya masih sederhana. Baik dari kalangan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Dan. sampai hari ini dalam setiap permainan sisingaan selalu ditampilkan minimal dua buah boneka singa. Dengan demikian para aura primordial Sunda sesungguhnya masih berhembus kencang dikalangan masyarakat Sunda. maupun waditra dan lagu-lagu yang dimainkan. Purwakarta dan Sumedang. Dan mutasi id. kesenian sisingaan lahir sebagai suatu bentuk perlawanan rakyat terhadap kedua bangsa penjajah tersebut. Hal ini menyebabkan seolah-olah Subang menjadi daerah pemerintahan ganda. tetapi secara ekonomi berada di bawah pengaruh para pengusaha P & T Lands. sekitar 5 km dari Kota Subang. Selain menyebar ke beberapa daerah. Mutual struggle. Pemain . dari penampilan di anjungan Jawa Barat itulah kemudian kesenian sisingaan menjadi dikenal oleh masyarakat hingga saat ini. baik dalam bentuk penyempurnaan boneka singa. Realitas seperti ini ditandai dengan menjamurnya kecenderungan masyarakat Sunda untuk masuk tarekat. Bahkan fenomena ini pun ditemukan dari kalangan intelektual. kesenian sisingaan bukan hanya menyebar ke daerah-daerah lain di Kabupaten Subang. Suatu pandangan kosmologis yang melahirkan dua kecenderungan bathini dalam masyarakat Sunda yaitu kecenderungan mutual struggle dan mutual id. seperti Kabupaten Bandung. suatu pola pertahanan yang dikembangkan melalui kekuatan komunal. Ada beberapa versi tentang asal-usul kesenian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Jawa Barat ini.

dahulu sisingaan tidak bersifat permanen. . nincak rancatan. dan kakapalan. gugulingan. dan satu atau dua orang jajangkungan (pemain yang menggunakan kayu sepanjang 3-4 meter untuk berjalan). baik dalam menari maupun memainkan waditra. Selanjutnya. Para penggotong boneka itu segera melakukan gerakan-gerakan akrobatis yang cukup mendebarkan. alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu yang berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan. angkat jungjung. Durasi sebuah pementasan sisingaan biasanya memakan waktu cukup lama. melek cau. genying. padungdung. pasagi tilu. Sebagai catatan. Rangka dan kepala usungan boneka-boneka singa tersebut terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Para pemain ini adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus. (2) seperangkat waditra yang terdiri dari: dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak). depok. nanggeuy singa. dan sebuah kecrek. beberapa orang pemain waditra. bangkaret. untuk bulu-bulu yang ada di kepala maupun ekor dibuat dari benang rafia. jeblang. sebuah kentrung (kulanter). Peralatan yang digunakan dalam permainan sisingaan adalah: (1) dua atau empat buah usungan boneka singa. mincid. ngolecer. Jadi. Setelah para penggotong boneka singa siap. pasang/kuda-kuda. barulah anak yang akan dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki boneka singa. seorang pemimpin kelompok. putar taktak. ewag. baju taqwa dan alas kaki tarumpah atau salompak. sebuah gong kecil. Gerakan-gerakan tarian yang biasa dimainkan oleh para penggotong boneka singa tersebut adalah: igeul ngayun glempang. Setelah pemimpin kelompok memberikan kata sambutan.. langkah mundur. pelantikan kepala desa.Para pemain sisingaan umumnya adalah laki-laki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri atas: 8 orang penggotong boneka singa (1 boneka digotong oleh 4 orang). sebuah terompet. perayaan hari kemerdekaan dan lain sebagainya. dahulu usungan yang berbentuk singa ini terbuat dari kayu dengan bulu dari kembang kaso dan biasanya dibuat secara dadakan pada waktu akan mengadakan pertunjukan. tetapi hanya sekali digunakan kemudian dibuang. iket barangbang semplak. Pertunjukan Sisingaan Pertunjukan sisingaan diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. masang. Kemudian. sejumlah 8 orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa (satu boneka digotong oleh 4 orang). bergantung dari luas atau tidaknya kampung yang akan dikelilingi. Sedangkan. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan sisingaan yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan sambil menggotong boneka singa dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para nayaga. maka sang pemimpin akan mulai memberikan abaaba agar mereka mulai melakukan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. menyambut tamu agung. sesenggehan. Tempat dan Peralatan Permainan Kesenian sisingaan ini umumnya ditampilkan pada siang hari dengan berkeliling kampung pada saat ada acara khitanan. solor. lambang. tiga buah ketuk (bonang). dan (3) busana pemain yang terdiri dari: celana kampret/pangsi. sepakan dua. kael.

id Sumber: Sariyun. dam ketekunan. dengan sampainya para penari di tempat semula. Tenggong Petit. Kidung.org http://www. Ganjar Kurnia. jika dicermati secara mendalam sisingaan tidak hanya mengandung nilai estetika semata.jabar. Warudoyong dan lain sebagainya). Samping Butut. Titipatipa. Sesenggehan. Tepang Sono. maka pertunjukan pun berakhir. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. (ali gufron) Foto: http://database. Buah Kawung. Awet Rajet. Pria Idaman. Namun demikian. dan lagu Selingan (Siyur. Pertunjukan ini sering disajikan sebagai bagian dari upacara sunatan atau upacara lainnya dalam bentuk arak-arakan. Deskripsi Kesenian Jawa Barat. Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Jawa Barat. ketertiban. Goyang Dombret.Sedangkan.Pada atraksi sisingaan. Kembang gadung. Sireum Beureum. khas Subang berupa keterampilan memainkan tandu patung kepala singa yang didekorasi berwarna-warni dan diusung oleh beberapa orang. Nilai kerja sama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Doger. tetapi ada nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Gurudugan. Yugo. dan Kliningan. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Warga Subang menamakannya sebagai singa pergosi dan singa buhun. Kangsring. Mapay Roko. seperti: Keringan. termasuk kesenian tradisional sisingaan yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Ciherang. Nilai Budaya Seni sebagai ekspresi jiwa manusia sudah barang tentu mengandung nilai estetika. Dan. hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. 1992. 2003..id Sisingaan “kesenian orang subang” Filed under: Uncategorized by arisetiawanholic — Leave a comment May 20. lagu-lagu yang dimainkan oleh juru kawih untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Ketuk Tilu. Kasreng. Kabupaten Subang. Gondang. http://id. Bandung: Depdikbud. sepasang anak kecil dengan memakai baju adat Sunda dinaikkan keatas sepasang tandu singa. Kembang Beureum. Pertunjukan sisingaan ini dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa. Sisingaan biasanya ditampilkan dalam dua bentuk yang berbeda.wikipedia. Madu dan Racun.go. yang diusung oleh empat orang pengarak. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama. Serat Salira.deptan. Gondang.go. Tunggul Kawing. kekompakan. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian. Atraksi dilakukan dengan . 2010 Sisingaan merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat. Badudud. dkk.

Pasagi Tilu. Pada saat Subang dikuasai oleh Belanda masyarakat Subang mulai diperkenalkan dengan lambang Negara mereka yaitu Crown atau mahkota kerajaan. Bangkaret. Gugulingan. lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda.Lambang. desa. Artinya bahwa tindakan masyarakat Subang . Masang/Ancang-ancang. serta seni busana para pemainnya. Perlawanan pun tidak hanya melalui fisik. Yaitu seni gerak tari atau pencak silat dan jaipongan. masyarakat Subang melakukan perlawanan terhadap penjajah. Mincid. Ngolecer. dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran. Semua atraksi akrobat ini dilakukan para pemain yang terlatih tanpa unsur magic. Atraksi sisingan memadukan tiga unsur seni utama. Angkat jungjung. Sehingga secara administratif Subang dibagi ke dalam dua bagian yaitu : Secara politik dikuasai oleh Belanda dan secara ekonomi dikuasai oleh Inggris. Nincak rancatan. Kael. Jawa Barat. Langkah mundur. musik pengiring lebih dinamis. Putar taktak.berputar-putar. Para pemain sisingaan menampilkan gerak akrobat dan tarian yang atraktif. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan. Sisingaan tetap diminati karena atraksinya menarik dan menghibur Asal-usul dan Perkembangan Kesenian Sisingaan Kesenian Sisingaan adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Subang dengan menggunakan sepasang patung sisingaan sebagai ciri khas utama Sisingaan mulai muncul pada saat kaum penjajah menguasai Subang. Gerakan-gerakannya semacam jurus-jurus silat ditampilkan dipadu dengan gerakan jaipongan. Gendong Singa. dan budaya. Dengan adanya tekanan dari penjajah terhadap masyarakat Subang yaitu tekanan secara politik. ataupun maju mundur dan bergerak terus mengelilingi kampung. Pada saat yang bersamaan Subang juga dikuasai oleh Inggris dan memperkenalkan lambang negaranya yaitu Singa. Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. ekonomi. sosial. Berbagai gerakan ini membuat warga yang menyaksikan merasa terhibur. Ewag.. Pada masa pemerintahan Belanda berkuasa di Subang pada tahun 1812 pada saat itu Subang dikenal sebagai daerah Doble bestuur dan dijadikan kawasan perkebunan dengan nama P&T Lands(Pamanoekan en Tjiasemladen). Di dalam perkembangannya. Sisingaan tetap bertahan sebagai seni pertunjukan rakyat Subang. Siloka ( kiasan atau melambankan). akan tetapi dalam bentuk kesenian yang di dalamnya mengandung Silib (Ironi atau sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan). Nanggeuy Singa. Jeblag. Seni suara gamelan kendang dan gong. Melak cau. tarian khas Jawa Barat. Sasmita (Contoh kriteria yang mengandung arti atau makna). atau jalanan kota sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Sepakan dua.

penunggang sisingaan. Pada zaman dulu sisingaan dibuat dengan sangat sederhana. Singa abrug pertama kali berkembang di daerah tambakan kecamatan Jalan Cagak. Akan tetapi maksud rakyat Subang tidak demikian. Sementara itu kaum penjajah tidak terusik akan tetapi merasa bangga melihat pagelaran Sisingaan. Penjajah hanya memahami bahwa Sisingaan merupaka karya seni diciptakan sangat sederhana dan spontanitas oleh penduduk pribumi untuk menghibur anak sunat. Dengan demikian sepasang sisingaan melambangkan kaum penjajah yaitu Belanda dan Inggris yang menindas masyarakat Subang. dengan menggunakan lambang kebesaran mereka dalam bentuk kesenian dengan cara menunggangi dan menjambak rambut sisingaan merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan semua kebencian mereka terhadap kaum penjajah. sepasang patung sisingaan melambangkan 2 penjajah (Belanda&Inggris). Dengan diciptakan sisingaan tersebut para seniman dapat berharap agar suatu saat generasi muda harus bangkit dan harus mampu mengusir penjajah dari tanah air mereka dan dapat hidup jauh lebih baik lagi.diekspresikan secara terselebung melalui sindiran. waditra. Salah satu ekspresi jiwa masyarakat Subang mereka wujudkan dengan cara membuat salah satu kesenian yang dikenal dengan nama kesenian Sisingaan. Kesenian sisingaan merupakan ungkapan rasa ketidak puasan atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada kaum penjajah. Sisingaan secara garis besar terdiri dari 4 orang pengusung sisingaan.nayaga. Disebut singa abrug karena patung singa ini dimainkan secara usung dan pengusungannya aktif menari sedangkan singa abrug diusungkan kesana kemari seperti mau diadu. muka dan kepala singa dibuat dari kayu ringan seperti kayu randu atau albasiah. Jadi secara filosofi 4 orang pengusung sisingaan melambang masyarakat pribumi ditindas oleh kaum penjajah. karena lambang mereka (singa) dijadikan sebagai bentuk suatu kesenian rakyat. atau lambang kebodohan atau kemiskinan. perumpamaan yang mengena terhadap keadaan pada saat itu. dan nayaga melambangkan mayarakat yang gembira atau masyarakat subang yang berjuang dan memberi motivasi terhadap generasi muda untuk dapat mengalahkan dan megusir penjajah dari tanah air mereka. Pada awal terbentuknya sisingaan tidak seperti sisingaan yang ada pada zaat sekarang. . Pembuatan sisingaan tidak dibuat sendiri akan tetapi dilakukan bersama-sama. Sedangkan badan sisingaan terbuat dari carangka (kerajinan anyaman bambu) yang besar dan ditutupi oleh karung kadut (karung goni) atau ada pula yang dibuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan untuk usungan sisingaan dibuat dari bambu yang dipikul oleh empat orang. dan sinden atau juru kawih. rambut sisingaan dibuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus. Sisingaan yang diciptakan oelh seniman pada saat itu sangat tepat dengan menggunakan Sisingaan sebagai alat perjuangan untuk melepaskan diri dari tekanan kaum penjajah. sepasang patung sisingaan. sedangkan penunggang sisingaan melambangkan generasi muda yang suatu saat harus mampu mengusir penjajah. Cikal bakal sisingaan zaman sekarang adalah singa abrug.

2 buah angklung ambrug .2 buah angklung pancer . Waditra yang dipakai pada masa itu terdiri dari beberapa buah angklung pentatonis yang berlaras salendro. minced. manuk hideung.1 buah bedug . dan lain-lain.html http://ferdy-skynet. Gerakan helaran pada saat itu diantaranya: tendangan.3 buah terbang Sementara lagu yang dinyanyikan pada masa itu antara lain: lagu badud.2 buah angklung galimer .com/2010/03/kesenian-sisingaan-kabupaten- . pangsi. Kemudian sekitar tahun 1960-an busana pengusung sisingaan mulai beralkulturasi yaitu adanya perubahan warna yang mencolok dan bahan pakaiannya yang cukup baik. Sedangkan kalau hajatan yang bergolongan ekonomi menegah ke atas busana yang dipakai adalah baju takwa. Karena pada saat itu belum terbentuk grup dan masih saling pinjam sisingaan. Gerakannyapun masih sederhana dan dilakukan secara spontanitas tetapi tidak menghilangkan gerak yang mengandung makna heroik atau gerak yang melambangkan keberanian dalam menghadapi musuh. Dikutip dari subang. Alat musik tersebut antara lain: . samping butut. Sedangkan lagu pembuka biasanya menggunakan lagu tunggul kawung. iket.2 buah angklung indung . Sedangkan pengusungan sisingaan biasanya dari masyarakat.2 buah angklung rael . maka lgu yang disajikan biasanya lagu yang bernuansa Islami atau shalawatan nabi. Dan apabila yang hajatan tokoh agama. seperti masyarakat pada umumnya.1 buah angklung engklok . dan dorong sapi.blogspot.lompatan. sireum beureum. Sedangkan busana atau pakaian yang digunakan oleh pengusung sisingaan pada saat hanya terdiri dari: Kampret.2 buah dogdog lonjor . kemudian lama-kelamaan mengalami perkembangan. sinjang lancer.1 buah terompet . iket.Waditra pada masa itu sangat sederhana hanya memakai beberapa alat musik saja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->