P. 1
Sebuah Refleksi Terhadap Motto UKI: Melayani, bukan dilayani

Sebuah Refleksi Terhadap Motto UKI: Melayani, bukan dilayani

|Views: 1,614|Likes:
Published by api-26392965
A book on Universitas Kristen Indonesia/Christian University of Indonesia (UKI). The book consists of 14 chapters and the essays were written by the author as his reflection to the condition and situation of UKI.
A book on Universitas Kristen Indonesia/Christian University of Indonesia (UKI). The book consists of 14 chapters and the essays were written by the author as his reflection to the condition and situation of UKI.

More info:

Published by: api-26392965 on Oct 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Sebuah Refleksi Terhadap Motto UKI: “Melayani bukan Dilayani”

Abraham Simatupang
Penerbit UKI-Press Cetakan II. Jakarta Januari 2005 ISBN 979-8148-13-4

Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Simatupang, Abraham

Sebuah Refleksi terhadap motto UKI “Melayani bukan Dilayani”/ oleh Abraham Simatupang
1. 2. 3. 4. 5. Cet. 2. Jakarta: UKI-Press, Februari 2005 xv, 125 hlm, 20 cm UKI Refleksi Kepemimpinan Pendidikan tinggi Perguruan tinggi Kristen

ISBN 979-8148-13-4 Cetakan 2005, 2003 Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit.

Sebuah Refleksi terhadap motto UKI: “Melayani bukan Dilayani”
Diterbitkan oleh UKI Press Jl. Mayjen Sutoyo, Cawang Jakarta 13630. www.uki.ac.id email: lpuki@indo.net.id
Disain sampul dan tata-letak: AS Cetakan ke-2: 500 Percetakan : Grace Nababan, Jakarta

Buku ini dipersembahkan untuk para pendiri UKI: • Prof. Dr. Mr. Sutan Gunung Mulia • Yap Thiam Hien, SH • Benjamin Philip Thomas Sigar Tapi terutama untuk Anda dan saya agar tetap meneruskan visi mereka ……..

Daftar Isi
Pengantar Cetakan Pertama Pengantar Cetakan Kedua Sambutan Rektor UKI Daftar Isi Catatan muka Tapi Omas Ihromi Kepemimpinan Kristen Untuk Pembaruan dan Peningkatan Mutu Pelayanan UKI. Pemimpin yang Melayani bukan Dilayani Pola Kepemimpinan yang “Menjadi” bukan “Memiliki”. Suatu Tanggapan dan Harapan. Menjadi Pemimpin di UKI. Siapa takut? Kandang yang Bersih Tidak Menghasilkan Sesuatu. Suatu Pemikiran Tentang Generasi Pembaharu UKI Lebih Baik Menyalakan Beberapa Lilin Daripada Menggerutu Tentang Kegelapan Pembudayaan Penelitian Sebagai Bahan Reformasi Pendidikan Peningkatan Sumber Daya Manusia Bidang Penelitian Dalam Menjawab Tantangan Globalisasi Keunggulan Suatu Perguruan Tinggi Dilihat dari Pola Ilmiah Pokok yang Dimilikinya Terus Terang, UKI Kita Masih Perlu Diterangi Berpikir Seperti Kanak-kanak, Bertindak Seperti Orang Dewasa UKI, UKI, lama sabakhtani? Mempersiapkan Masa Depan UKI yang Lebih Baik The new UKI Project What next? Suatu usulan alternatif pembaharuan Catatan penutup Dra. Antie Solaiman, MS Sekilas tentang UKI Biodata Penulis i iii v vii ix 1 11 19 23 31 35 43 57 65 73 81 85 95 101 115 131 133

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Refleksi UKI

vii

viii Refleksi UKI

Pengantar
rasmus, pujangga Belanda pernah mengungkapkan: “When I have little money I buy books, and if there is little left, then I buy food and clothes.” Ungkapan di atas menunjukkan betapa cintanya Erasmus akan pengetahuan yang didapatkannya dari buku-buku yang dibacanya. Dalam sejarah ada banyak orang yang hidup bersahaja namun dari mereka muncul ide-ide, tulisan atau pun gaya hidup yang mempengaruhi begitu banyak orang dan pikiran-pikiran tersebut bukan hanya berlaku pada masa mereka masih hidup tapi seakan-akan bersifat “abadi”. Kalau kita baca riwayat hidup mereka, maka mereka tidak lepas dari budaya membaca. Abraham Lincoln, salah seorang Presiden Amerika yang menentang perbudakan, ditengah-tengah kekerasan hidup keluarganya yang miskin, tidak pernah meluputkan waktunya untuk membaca. Mahatma Gandhi salah seorang Bapak bangsa India sanggup melancarkan gerakan yang paling revolusioner melalui tanpa kekerasan, dan dalam biografinya mengaku bahwa membaca merupakan bagian kehidupannya yang terpenting. Apakah ini semua analog dengan apa yang dikatakan Kristus bahwa manusia (bisa) hidup bukan saja dari roti namun dari firman Allah?

E

Buku ini berisi kumpulan tulisan yang dituliskan dalam kurun waktu kurang-lebih empat tahun dari tahun 1997-2000 dan beberapa telah diterbitkan di Buletin UKI. Tulisan-tulisan ini seringkali dibuat seiring dengan kejadian atau permasalahan-permasalahan yang timbul dan “bergejolak” di UKI. Jadi kalau dapat dikatakan tulisan-tulisan ini merupakan potret atas masa-masa tertentu di sepenggal perjalanan panjang UKI. Secara garis besar, topik yang banyak dibicarakan dalam buku ini adalah organisasi, kepemimpinan, pendidikan dan penelitian yang dikaitkan terutama dengan kinerja (performance) UKI.

i

Tulisan-tulisan ini tidak berpretensi menjawab masalah-masalah yang mengemuka, namun tulisan-tulisan tersebut merupakan ajakan bagi agar warga UKI dan yang mencintai UKI untuk mengadakan refleksi sekaligus diskusi dan terlebih penting yaitu mengambil tindakan-tindakan nyata, sekecil apa pun tindakan tersebut. Pada mulanya tulisan-tulisan ini dibuat untuk UKI yang secara rutin diterbitkan di Buletin UKI, namun pesan-pesan dasar yang tersirat di dalamnya diharapkan dapat juga berguna bagi perguruan tinggi (kristen) Indonesia lainnya. Untuk tujuan penerbitan buku ini, beberapa artikel telah direvisi. Pada kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan penghargaan kepada Ibu Prof. Dr. Tapiomas Ihromi kesediaannya memberikan Catatan muka untuk buku ini. Juga kepada Rektor UKI, Dr. Atmonobudi Soebagio, MSEE disampaikan rasa terima kasih atas Sambutannya. Ucapan terima kasih tak lupa disampaikan kepada Mbak Antie Solaiman yang telah meluangkan waktunya yang untuk menuliskan Catatan penutup serta membaca ulang naskah artikel dan memberikan masukan di sana-sini. Kepada para sponsor dan pihak yang telah membantu terbitnya buku ini saya ucapkan banyak terima kasih. Buku ini saya persembahkan pertama-tama kepada para generasi penerus UKI, baik itu di Yayasan, maupun di Universitas, baik itu di tingkat struktural yang tertinggi, para sejawat staf pengajar, maupun karyawan biasa dan teristimewa untuk para mahasiswa. Disamping itu, buku ini saya persembahkan pula kepada ayahanda Prof. Dr. Maurits Simatupang yang darinya saya belajar mencintai buku dan membaca. Juga rasa kasih saya kepada istri serta anak Rebecca, Vanessa dan ibunda tercinta. Jakarta, awal Juli 2000 Abraham Simatupang

ii

Pengantar pada cetakan kedua

L

ima tahun sudah sejak buku ini pertama kali diluncurkan pada Oktober 2000, dan tentu sudah lima tahun pula baik penulis, pembaca dan UKI sebagai suatu entitas perguruan tinggi (Kristen) menjalani pahit-manisnya kehidupannya masing-masing, maupun secara bersama-sama dalam rangka turut memberikan kontribusi bagi amanat di pembukaan UUD 1945 y.i. turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sudah cerdaskah bangsa kita? Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, sebab kita pun masih belum mampu mendefinisikan secara umum apa yang dimaksud dengan kecerdasan bangsa bagi bangsa sebesar bangsa Indonesia ini. Namun, perseteruan para elite politik, pergolakan ekonomi yang tidak kunjung memberikan tanda-tanda ke arah perbaikan, konflik masyarakat bernafaskan SARA, dan carut-marutnya dunia pendidikan kita sudah cukup jelas menggambarkan bahwa kita masih belum “cerdas” sebagai bangsa. Lantas bagaimana dengan tugas dan panggilan UKI untuk juga turut mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan visi dan misi yang disampaikan oleh para pendiri UKI, seperti yang ditulis ulang di buku Agar Semua Menjadi Baru: Refleksi 50 Tahun UKI (2003)? Ah, alih-alih mau turut menyumbangkan sesuatu untuk bangsa dan negara, lha wong masalah-masalah klasik yang penulis pernah sampaikan, tengarai dan prediksi mengenai sistem, organisasi dan SDM UKI selama lebih kurang 8 tahun ke belakang, masih saja muncul, bahkan di sana-sini menjadi semakin membesar, menunjukkan ketidak-seriusan segenap komponen UKI untuk membaca “tanda-tanda jaman”. Coba kita lihat peta kondisi dan perubahan-perubahan di dunia pendidikan (tinggi) dan semua aspek yang berkaitan dengannya seperti,

lapangan kerja, kurikulum, UU Sisdiknas, masalah relevansi, kualitas, dan akuntabilitas – apakah semua ini sudah masuk dalam perhitungan UKI? Didasari „kegelisahan-kegelisahan“ itulah, disamping dorongan dari beberapa teman untuk menerbitkan ulang buku ini, maka Penulis menyampaikan kembali buku kecil ini ke hadapan pembaca. Ada penambahan artikel dalam buku ini, y.i. “Mempersiapkan Masa Depan UKI yang Lebih Baik: Rekomendasi Perbaikan terhadap Permasalahan-permasalahan yang Dihadapi UKI Sekarang,” yang ditulis secara bersama-sama oleh Penulis dan Ganda Hutapea, Mompang Panggabean serta Ied Veda Sitepu. Tulisan ini kembali menggambarkan “kegelisahan” dan tanggapan kami atas niat Yayasan UKI untuk mulai merambah ke bentuk-bentuk bisnis lain, y.i. bisnis property, selain yang selama ini menjadi core business nya y.i. pendidikan tinggi. Sebab UKI masih belum optimal dengan panggilan utamanya di pendidikan tinggi, dan sangat nihil penglaman di bidang bisnis properti. Beberapa salah-ketik yang luput dikoreksi pada cetakan I, telah kami perbaiki di cetakan ke 2 ini. Pada kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan penghargaan kepada Mbak Antie Solaiman; istri saya terkasih, Ied V Sitepu dan beberapa rekan yang telah membaca kembali buku ini dan kembali memberikan masukan-masukan serta dorongannya agar buku ini dicetak ulang. Kepada saudara Dandy Sendayu, SIP dan Pasti Hutagalung saya ucapkan terima kasih atas bantuannya mengetik ulang beberapa naskah yang sudah tidak kelihatan lagi rimbanya. Akhir kata, saya sampaikan terima kasih dan selamat membaca kepada para pembaca lama atau pembaca baru, semoga buku ini membawa manfaat untuk kita semua, terutama untuk terus menerus „mengingatkan“ UKI akan tugas dan panggilannya! Jakarta, awal Januari 2005 Abraham Simatupang

iv

Catatan muka

P

atutlah kita memberi penghargaan kepada Dr. Abraham Simatupang yang dengan tekun menulis sejumlah karangan yang dikumpulkan dalam buku ini. Dalam era reformasi ini masalah kepemimpinan sudah seyogyanya memperoleh perhatian kita semua, terutama yang bekecimpung dalam dunia perguruan tinggi. Rakyat mengharapkan banyak sekali dari para pemimpinnya dan mendambakan, bahwa kinerja mereka-mereka, yang termasuk jajaran orang-orang yang berpotensi mempengaruhi keadaan orang lain secara positip, akan menghasilkan dampak-dampak yang memperbaiki kehidupan mereka. Ajakan Dr. Abraham Simatupang untuk merefleksikan pola kepemimpinan kristiani hendaknya memperoleh sambutan yang baik dari kalangan para pembaca, khususnya di kalangan civitas akademi UKI. Saya harapkan bahwa tulisan-tulisan ini akan memperoleh perhatian. Tapi Omas Ihromi ∗

Guru Besar UI dan UKI

ix

Sambutan
ertama-tama saya ucapkan selamat kepada Dr. Abraham Simatupang atas diterbitkannya buku Sebuah Refleksi Terhadap Motto UKI: “Melayani bukan Dilayani” yang menambah khasanah tulisan mengenai UKI pada khususnya dan perguruan tinggi (kristen) pada umumnya. Di tengah-tengah persaingan yang semakin keras dan tuntutan masyarakat akan pembaharuan di segala bidang, maka sudah sepatutnya perguruan tinggi melakukan “adjusment” di segala aspek. Persoalan visimisi, manajemen, kurikulum dan proses pembelajaran, penelitian, hubungan universitas dengan pemerintah dan industri adalah pokokpokok yang aktual harus dihadapi oleh siapa saja yang berkecimpung di pendidikan tinggi. UKI termasuk perguruan tinggi perintis di republik Indonesia dan pada bulan Oktober tahun ini UKI genap berusia 47 tahun; suatu usia yang telah banyak memakan “asam dan garam” pendidikan tinggi. Justeru dalam usia yang sudah tidak muda lagi, UKI harus berani melakukan pemikiran ulang tentang makna dan keberadaannya bagi pendidikan tinggi di Indonesia dalam konteks kesaksian umat kristiani ditengahtengah bangsa yang majemuk yang sedang mengalami krisis. Syukurlah, ada banyak tulisan-tulisan dalam buku ini mengajak kita untuk melakukan itu semua dan terlebih penting dari semuanya adalah bagaimana kita secara bersama-sama mewujudkan cita-cita semula para pendiri UKI. Rektor UKI

P

Dr. Atmonobudi Soebagio, MSEE.

Refleksi UKI

v

1
Kepemimpinan Kristen untuk Pembaruan dan Peningkatan Mutu Pelayanan UKI 1 Pemimpin yang Melayani bukan Dilayani
Saya kelaparan, dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya. Saya terpenjara, dan Anda menyelinap ke kapel Anda untuk berdoa bagi kebebasan saya. Saya telanjang, dan Anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya. Saya sakit, dan Anda berlutut dan menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan Anda. Saya tak mempunyai tempat berteduh, dan Anda berkhotbah kepada saya tentang kasih Allah sebagai tempat berteduh spiritual. Saya kesepian, dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa bagi saya. Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah. Tapi saya tetap amat lapar – dan kesepian – dan kedinginan (Sajak seorang wanita malang yang mengharapkan pertolongan dari seorang pendeta yang berjanji akan mendoakannya). Stott, John (1984)

“Kepemimpinan adalah suatu pengaruh,” (leadership is influence) menurut John Maxwell (1999). Kepemimpinan tidak dikaitkan dengan berapa banyak jabatan, gelar kehormatan, gelar akademis, harta yang dimiliki
1

Disampaikan pada Diskusi Panel Perayaan Paskah UKI, Jumat 5 Mei 2000

Kepemimpinan Kristen

seseorang tapi bagaimana ia mempengaruhi pengikutnya menuju suatu impian, cita-cita atau visi. Jadi, kepemimpinan berbicara tentang satu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lainnya. Hal pertama yang harus kita pelajari adalah bahwa kepemimpinan yang luas dibangun dari karakter yang dalam. Karakter yang dalam diperlukan sebagai dasar untuk melakukan hal-hal yang besar. Kepemimpinan Kristiani: Suatu Utopia? Bila kita membaca koran, melihat televisi dan mendengarkan radio tentang apa yang terjadi setiap hari di sekitar kita, tentang peperangan, kriminalitas, kerusakan lingkungan, kelaparan, wabah AIDS, kenakalan remaja dengan segala bentuknya, maka kita akan berpikir sejenak, “masih adakah kedamaian di dunia ini? Masih adakah pemimpin yang bisa membereskan masalah-masalah ini?” Kita seakan-akan pasrah dan bertanya-tanya, di manakah suara persekutuan, gereja, organisasi, dermawan, rohaniawan, dan intelektual Kristen dalam menjawab tantangan di atas? Suatu kerinduan umat manusia yang kehilangan arah dan patokan di tengah-tengah kemajuan teknologi dan informasi yang membuat dunia menjadi satu. Agama seringkali tinggal diam atau bahkan dianggap menyetujui status quo dan pada akhirnya agama hanya berkisar pada ritual dan sibuk mengurus kesucian dirinya sendiri. Hal ini menjadi pertanyaan yang mendasar bagi kita: masih perlukah kepemimpinan Kristen untuk menjawab isu-isu dan tantangan global, sementara pemimpin non-Kristen tampak lebih perduli terhadap hal ini? Visi dan Misi. Ah, apa pula itu? Pemimpin Kristen dan organisasinya harus memiliki pandangan ke depan dan memiliki arah yang jelas ke tujuan yang akan dicapai yang akan diikuti oleh pengikutnya. Ia dan organisasi itu harus punya visi, cita-cita, “impian”.

2 Refleksi UKI

Kepemimpinan Kristen

Untuk memulai berpikir tentang visi, baiklah ia bertanya: “Apakah keberadaan saya ini untuk melakukan sesuatu atau untuk mempertahankan (status quo) atau memimpin untuk melangkah lebih jauh? Visi adalah suatu perencanaan jangka panjang tentang apa yang akan terjadi. Memiliki visi berarti melihat ke masa depan, memiliki intuisi tentang apa yang Tuhan telah rencanakan dan akan diberikan kepada kita. ∗ Visi tentang “Tanah Perjanjian”, “Bumi dan Langit baru” harus mampu menimbulkan “gairah” (passion) agar kita mencapainya apa pun bayarannya. Apa yang menjadi dasar dan penggerak visi dan gairah tersebut? Iman dan pengharapan serta optimisme yang timbul dari hubungan kita dengan Tuhan. Visi tidak boleh hanya dimiliki oleh pimpinan atau menjadi sesuatu yang sakral atau disimpan di lemari besi, tapi visi harus menjadi milik semua anggota. Jangan sampai orang berkata: Para pimpinan atas memiliki visi “apel”, pimpinan di bawahnya “jeruk” dan kita memahaminya sebagai “mangga”. Visi tidak boleh hanya dimiliki oleh pimpinan atau menjadi sesuatu yang sakral atau disimpan di lemari besi, tapi visi harus menjadi milik semua Pemimpin harus mampu menyampaikan visi kepada yang yang lain secara terus-menerus dan kreatif. Tom Peters dalam bukunya Thriving on Chaos menyatakan visi organisasi yang efektif bersifat: ** 1. Memberi inspirasi (inspiring). Orang ingin menjadi bagian dari inspirasi ini. 2. Jelas dan menantang (clear and challenging)

Reflections dari http://www.carey.ac.nz/leadership/ref10.htm ** http://www.leadertips.org

Refleksi UKI

3

Kepemimpinan Kristen

3. Dapat direalisasikan di dunia nyata. Dapat bertahan akibat terpaaan uji coba dari dunia luar. 4. Stabil namun secara terus-menerus dapat berobah 5. Sebagai panduan dan kontrol bagi siapa pun yang (mulai) kehilangan arah. 6. Tertuju untuk pemberdayaan anggota dahulu baru kemudian orang lain 7. Menyongsong masa depan namun tidak melupakan masa lalu 8. Terinci dengan baik bukan hanya gagasan-gagasan besar. Bagaimana cara seorang pemimpin menumbuhkan dan mempertahankan suatu visi? Dalam “The leadership challenge” oleh Kouzesk Poiner dinyatakan 5 prinsip penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin: 1. Mempertanyakan” (challenge) sistem yang sedang berlaku 2. Menerjemahkan inspirasi yang dimilikinya dan mengajak orang lain untuk memahaminya. 3. Mengajak orang lain melaksanakan visi tersebut setelah membekali mereka dengan pemahaman atas visi tersebut. 4. Memberi contoh nyata agar visi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik (leading by modelling). 5. Memberikan tanggapan, pujian atas Tidak ada perbedaan yang prestasi dan keberhasilan (kecil atau besar antara pemimpin besar) yang dicapai oleh orang lain. Kristen dengan pemimpin lainnya kecuali dalam hal Bila pemimpin tidak sanggup melakukan sifat pelayanannya… upaya-upaya di atas maka dia gagal membawa kelompoknya ke visi yang diinginkan. Jadi, seorang pemimpin perlu memiliki visi. Komunitas Kristen yang memiliki visi yang dibicarakan, didoakan dan dilaksanakan bukan saja akan menarik bagi orang Kristen tapi juga bagi kelompok di luarnya.

4 Refleksi UKI

Kepemimpinan Kristen

Melayani bukan dilayani Sungguh tepat para pendiri UKI menetapkan “Melayani bukan dilayani” sebagai motto UKI (lih. Mark 10:45 dan 9:35). Menurut Greenleaf, pemimpin Kristen haruslah memiliki predikat pemimpin-pelayan, artinya pertama-tama ia adalah pelayan (servant) baru kemudian sebagai pemimpin. Tidak ada perbedaan yang besar antara pemimpin Kristen dengan pemimpin lainnya kecuali dalam hal sifat pelayanannya. Menurut Greenleaf pula, jauh lebih penting bagi seorang pemimpin Kristen untuk meneladani Kristus yang melayani daripada memiliki pengaruh dan otoritas. (being is much more important than having and doing). Kristus sendiri menjadi teladan dalam hal pelayanan, bahkan sampai mati di kayu salib. Di dalam 3 tahun masa “kepemimpinannya”, Kristus selalu ingin menjadi pelayan yang setia bagi semua orang yang dijumpainya, seperti yang dituntut oleh BapaNya. Cukup manusiawi bahwa kita seringkali terjebak terhadap perangkap dunia, untuk lebih mengutamakan faktor kecanggihan kepemimpinan dengan memperlengkapi diri dan organisasi dengan perangkat-perangkat psikologis dan manajemen yang dikemas sedemikian rupa seakan-akan mampu meningkatkan efektifitas kepemimpinan kita. Namun tidak berarti bahwa peningkatan personal-skills tidak perlu, tapi hal itu bisa menjadi usaha-usaha yang manipulatif apabila tidak didasari oleh sifat melayani. Kepemimpinan Kristen yang sesungguhnya dicapai melalui pengabdian sepenuhnya kepada Tuhan dan sesama. Yusuf dan Daniel adalah beberapa contoh pemimpin-pelayan. Mereka seperti kepala-susu yang selalu akan muncul ke atas permukaan meskipun fitnah dan penjara membuatnya seakan-akan hilang dari peredaran. Karena mereka lebih mengutamakan kehendak Tuhan daripada tujuan-

Refleksi UKI

5

Kepemimpinan Kristen

tujuan sesaat yang mungkin pada saat itu lebih menggiurkan. Singkat kata, mereka memiliki integritas dan jauh dari prinsip “aji mumpung!” Sendirian tapi tidak kesepian Bersiap-siaplah Anda atau kelompok Anda kecewa, merasa sendirian dan ditinggalkan bahkan oleh orang-orang yang paling kita percayai sekalipun (bandingkan Judas Iskariot dan murid-murid yang meninggalkan Yesus pada saat-saat terakhir di taman Getsemani) dalam menjalankan pola kepemimpinan Kristen. Satu-satunya kekuatan yang bisa mendorong kita agar terus setia melakukannya adalah karena kita sedang melakukan Visi dan Misi Allah! Itu saja! George Bush, mantan Presiden Amerika Serikat, menyatakan: “Gunakan kekuasaan untuk menolong orang lain. Kita diberikan kekuasaan bukan untuk kepentingan pribadi, juga bukan untuk mempertontonkan kepada dunia, juga bukan untuk ketenaran. Hanya ada satu tujuan yang benar dari kekuasaan, yaitu untuk melayani orang lain.” Bandingkan dengan perkataan Yesus dalam Mat. 20:26: “………barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…” Selain itu, pemimpin Kristen harus juga selalu mempersiapkan kader dan memberdayakan sesamanya (empowerment). Musa, setelah mendapatkan nasihat dari mertuanya tentang perlunya pendelegasian wewenang agar dapat lebih mengefektifkan pekerjaannya, menemukan Joshua sebagai kader dan bahkan Joshua yang membawa bangsa Israel masuk ke Kanaan bukan Musa. Yesus memilih 12 murid untuk bersama-sama dengan dia hidup, melihat, merasakan dan mempraktekkan visi dan misi Allah di dunia. Meskipun pada waktu Yesus mati, para Imam Farisi dan bahkan muridmurid sendiri berpikir bahwa tamatlah sudah riwayat (kepemimpinan) Kristus, tapi lihatlah, sampai detik ini, pola kepemimpinan Kristus tetap dipraktekkan di banyak tempat di dunia!

6 Refleksi UKI

Kepemimpinan Kristen

Jadi, kepemimpinan Kristen jauh dari usaha untuk mempertahankan kedudukan dan kekuasaan. Bahkan setiap pemimpin Kristen sejak awal harus segera mempersiapkan kader dan tim Jadi kepemimpinan yang tidak hanya membantu mereka ketika Kristen jauh dari usaha sang pemimpin masih ada, tapi yang akan untuk mempertahankan meneruskan pekerjaan yang ditinggalkan kedudukan dan ketika ia harus pergi. kekuasaan. Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang tidak bekerja sendirian, namun ia aktif membangun tim, jaringan yang diinspirasi oleh visi dan misi Allah serta dijiwai oleh sifat pelayanan. Tiga kunci pengembangan organisasi Kristen Mari kita tengok diri kita baik sebagai individu maupun sebagai organisasi UKI. Di manakah posisi dan status kita sekarang? Masihkah kita memiliki visi, cita-cita atau impian yang “merasuk” agar kita secara terus-menerus mengupayakannya menjadi kenyataan? Masihkah kita memiliki dan menghasilkan pemimpin-pelayan? Bila pertanyaan diajukan kepada dosen atau pegawai UKI, “Sedang apa kamu di UKI?”, maka bila ada yang menjawab: “Saya sedang cari makan di UKI”, atau “Saya sedang mendidik calon sarjana,” atau “Saya sedang mendidik calon sarjana dan pemimpin-pelayan.” Maka jelaslah jawaban terakhir merupakan cita-cita kita semua. Kunci pertama adalah memiliki visi yang mengarah ke masa depan, dan kedua adalah visi itu harus dituliskan, dibicarakan, didoakan dan dikerjakan dengan antusias. Sedangkan kunci ketiga adalah memiliki rencana yang jelas dan terus-menerus untuk memperbanyak dan mengembangkan pelayan-pemimpin (kaderisasi).

Refleksi UKI

7

Kepemimpinan Kristen

UKI, UKI, lama sabakhtani! Suasana Paskah masih membekas pada kita semua, yaitu suasana kegetiran akan kematian Anak Manusia akibat keangkuhan hukum adat, hukum agama dan politik kekuasaan yang merupakan wajah dari visi dan misi dunia (baca: Iblis), yang kemudian digantikan menjadi berita sukacita karena Yesus bangkit dan mengalahkan kematian sekaligus memperbaharui dan menguatkan siapa pun yang terpanggil untuk melaksanakan visi dan misi Allah. Allah melalui Yesus Kristus telah memanggil UKI sebagai mitra kerja untuk menjalankan visi dan misiNya. Panggilan itu telah berlangsung hampir 47 tahun lamanya. Investasi termahal yang telah ditanamNya adalah tubuh dan darahnya. Tentunya Ia mengharapkan bahwa dari situ tumbuh pokok anggur yang bukan saja rindang daunnya tapi juga lebat buahnya. Kristus berjalan menuju gerbang Kesetiaan dan menunggu, namun UKI tidak muncul, Ia pun pergi ke pintu Kemajuan, juga UKI tak menampakkan dirinya. Sekali lagi Ia pergi ke pintu Keberhasilan, namun sekali ini pun Ia kecewa, karena UKI tidak ada di sana. Ia pun sedih dan berseru: “UKI, UKI, lama sabakhtani?” Orang yang paling menyedihkan di dunia adalah orang yang memiliki penglihatan tetapi tidak mempunyai visi. -HELEN KELLER Bacaan 1. Barna, George. 1997. Mengejawantahkan Visi ke dalam Aksi. (terjemahan). Metanoia. Yayasan Media Buana Indonesia, Jakarta.

8 Refleksi UKI

Kepemimpinan Kristen

2. Foundations of christian leadership: http://www.ourworld.compuserve.com/homepages/Leadership/ need.htm 3. Maxwell, John. 1999. Kepemimpinan. (terjemahan) Metanoia.Yayasan Media Buana Indonesia, Jakarta. 4. Palfreyman, Barrie. Leadertips. Associated Canadian Theological Schools of Trinity Western University. 1999-2000. http://www.leadertips.org 5. Reflections: http://www.carey.ac.nz/leadership/ref10.htm 6. Simatupang, Abraham. 2000. UKI, UKI, lama sabahtani? Buletin UKI, XVI, 1:19-20. 7. Stott, John. 1996. Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. (terjemahan) Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Jakarta.

Refleksi UKI

9

Pola Kepemimpinan yang “Menjadi” Bukan “Memiliki 1 Suatu tanggapan dan harapan

2

P

ada tanggal 8 Maret 1997 diadakan suatu diskusi panel yang diikuti oleh seluruh sivitas akademika UKI. Acara ini diprakarsai oleh Komisi Akademik dan Personalia Yayasan UKI. Di dalam acara tersebut peserta dipandu untuk mendiskusikan beberapa pokok permasalahan aktual dengan acuan makalah yang berjudul: ”Beberapa catatan tentang tentang permasalahan dan kepemimpinan di UKI, peluang dan tantangan” yang ditulis oleh Drs. Jakob Tobing MPA. Sayang, seperti cacatan beberapa peserta diskusi, bahwa baik penulis maupun makalah yang disampaikan hanya tunggal dan makalah lain yang dapat menjadi pelengkap tidak disertakan. Mungkin karena keterbatasan waktu, hal tersebut terlupakan.

Untuk itu tidak ada salahnya bila penulis menyampaikan makalah “pasca diskusi panel” yang dapat bersifat sebagai addendum (pelengkap) terhadap makalah yang telah didiskusikan. Catatan yang terungkap di makalah tersebut adalah rekaman peristiwa demi peristiwa yang terjadi belakangan ini baik di tingkat mondial, regional, lokal maupun intern UKI. Penulis sependapat bahwa kita tidak bisa tinggal diam dan berpangku tangan dalam menghadapi kejadiankejadian ini. Tema globalisasi, perkembangan iptek, sumber daya manusia (SDM) dan timbulnya benih konflik baru yang berbau SARA yang terjadi tidak saja di luar negeri tapi juga di dalam negeri telah mewarnai kehidupan kita. Kita sebagai warga UKI dipacu untuk mengantisipasi keadaan-keadaan tersebut karena permasalahan1

Diterbitkan di Buletin UKI Maret 1997, Tahun XIII, No.3: 14-16.

Pola Kepemimpinan

permasalahan itu, secara kecil atau besar, langsung atau tidak langsung mempengaruhi keberadaan UKI juga. Namun permasalahan itu dapat dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. Dalam makalah itu disampaikan pula beberapa pemikiran tentang kepemimpinan di UKI serta pola hubungannya dengan Yayasan. Tulisan ini tentu saja tidak berpretensi untuk mencoba menjawab pertanyaan yang ada, tulisan ini adalah suatu buah pemikiran dalam rangka mencoba melihat permasalahan secara terang iman Kristiani dan common sense untuk bisa kita tindak lanjuti bersama-sama. Sikap Kritis Suatu sikap yang mutlak kita perlukan untuk melihat suatu permasalahan adalah sikap kritis. Melalui sikap kritis kita tidak hanya disanggupkan untuk menangkap tanda, gejala, fenomena atau pesan yang ada namun juga sanggup memilih dan “membedakan” agar tampak lebih jelas dan nyata. Kita menjadi sanggup memilih “kulit” dari “isi”, mana yang substansial dan non substansial, yang penting dari yang tidak penting. Pikiran dan hati nurani yang terbuka dan intuisi yang tajam merupakan syarat mutlak untuk dapat bersifat kritis. Salah satu hasil telaah kritis terhadap suatu masalah adalah kritik. Bagaimana kita menanggapi pesan atau informasi hasil buah pikiran yang kritis? Kita sering mendengar orang berkata: “Kritik ya kritik tapi caranya dong!” Dari pernyataan itu, ada dua komponen yang bisa kita perhatikan. Pertama, tentang pesan atau informasi yang disampaikan dan yang kedua, bagaimana cara pesan atau kritik itu disampaikan. Kita tentu lebih senang menerima oleh-oleh berupa mangga Arummanis yang legit dibungkus dengan kertas koran dari pada kado yang dibungkus kertas emas yang ternyata berisi buah-buahan yang sudah busuk. Tentunya kita akan lebih senang lagi bila mendapatkan kado yang lebih

12 Refleksi UKI

Pola Kepemimpinan

bermanfaat dengan bungkus yang indah. Intinya adalah, yang penting isi kado bukan bungkusnya. Seorang pemimpin (Kristen) seharusnya tidak begitu mementingkan bagaimana cara kritik itu disampaikan karena ia akan lebih tertarik pada isi informasi yang disampaikan. Dalam sejarah seringkali orang sangat memperdulikan cara daripada isi kritik. Hal ini bisa dilihat dari Alkitab: karena hati nurani, keterbukaan dan common sense tidak dimiliki lagi, maka para pemimpin Yahudi dan Farisi lebih melihat bagaimana Kristus menyampaikan kritik-kritiknya (yang memang tegas, tajam dan langsung pada sasaran) dari pada isi dan kebenaran kritik tersebut (band. Mat. 23). Mereka pun berencana agar Yesus disingkirkan. Kalau memang (isi) kritik itu benar dan bisa membawa perbaikan, maka dengan rendah hati si pemimpin (Kristen) akan mengambil dan menggunakan pesan itu. Kita ingin agar sikap kritis dan tanggap terhadap kritik ada dan ditumbuhkembangkan di UKI. Tapi hal ini bukan menjadi alasan kita untuk melakukannya secara semena-mena sebab yang penting apakah kritik itu mengena pada akar atau hanya pada kulitnya saja. Perlu diingat bagaimana pun juga orang lebih suka menerima kritik atau teguran sesuai dengan etika dan tata cara yang lazim dianut, yang penting kritik diterima dan orang tersebut melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan masukan atau kritik yang diberikan. “Memiliki” atau “Menjadi”? Di dalam makalah tersebut juga disebut bahwa Rektor adalah figur yang penting, yang harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan visi dan misi UKI serta memiliki loyalitas timbal balik dengan Yayasan. Menurut hemat penulis, sudah saatnya kita coba telaah istilah tersebut. Bahwa visi dan misi UKI adalah jiwa dan bagian yang inherent bagi setiap sivitas akademika. Visi dan misi bukan hanya milik Yayasan, Rektor, Pimpinan Fakultas, Dosen, Karyawan dan Mahasiswa. Visi dan misi

Refleksi UKI 13

Pola Kepemimpinan

harus menjadi nyata dan dinyatakan atau “menjadi” (Das Sein, to be) pertama-tama di lingkungan UKI sendiri dan di tengah–tengah bangsa dan negara kita. Kata milik dan kepemilikan hanya terbatas pada nilai kuantitaf-kumulatif, tapi kita justru mau agar visi dan misi itu menjadi nyata, bermanfaat dan kualitatif. Hal “menjadi” bersifat dinamis, memberi, partisipatif, lebih mementingkan isi dari pada “bungkus” dan fungsional. Sedangkan hal “memiliki” bersifat statis, posesif, selalu ingin menerima, tidak ingin memberi dan cenderung eksploitatif (Erich Fromm,1980). Di kala dunia sekitar kita lebih mementingkan nilai-nilai kuantitafkumulatif, artinya seseorang akan semakin dihargai bila memiliki sekian hektar tanah, sekian banyak kendaraan, sekian banyak informasi, sekian banyak gelar, dan lain-lain maka UKI harus muncul dengan pembaruanpembaruan pemahaman bahwa masyarakat UKI adalah masyarakat yang lebih mengindahkan hal “menjadi” (to be) dari pada “memiliki” (to have). UKI sanggup mengolah miliknya menjadi suatu yang lebih berguna. Bila UKI berhadapan dengan Tuhan (yang adalah pemilik UKI yang sesungguhnya) dan melapor bahwa UKI telah memiliki sekian banyak gedung, sekian banyak alumni, sekian banyak tokoh di Yayasan, sekian banyak penelitian, sekian banyak kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dan lain-lain, lalu apa yang akan kita jawab kalau Tuhan bertanya: “ Lantas “menjadi” apa itu semua?”. Tampaklah bahwa milik serta kepemilikan dalam terang iman Kristiani mempunyai arti penugasan agar milik itu semakin mendapatkan nilai tambah fungsional dan kualitatif. Kepemimpinan Figur atau Kepemimpinan Kemitraan? Bagian lain dari makalah itu yang penting kita bicarakan di sini, kata figur atau tokoh yang menjadi sentral untuk menjalankan visi dan misi organisasi. Ketokohan dan kefiguran suatu pemimpin bukanlah yang amat penting.

14 Refleksi UKI

Pola Kepemimpinan

Ketokohan suatu pemimpin bisa disalahartikan dan disalah-gunakan. Kita lihat contoh sederhana lagi. Sesudah Yesus memberi makan sekitar 5000 orang, maka mereka berusaha serta menginginkan agar Yesus menjadi pemimpin dan raja mereka. Namun Yesus justru sedih dengan ide tersebut karena apa yang dilakukannya terhadap mereka telah disalah artikan sebagai mencari pengaruh atau “pengikut”. (band.Yoh. 6, terutama ayat 15). Ia paham betul bahwa orang-orang tersebut menginginkannya menjadi pemimpin karena mereka sudah “kenyang”. Karena sang tokoh telah mengenyangkan kami, maka kami anggap dia pantas menjadi pemimpin kami. Pola hubungan kepemimpinan seperti ini adalah pola kepemimpinan yang cenderung korup, yang dapat memberi peluang pada kolusi, koncoisme, atau nepotisme. Apa yang akan terjadi kalau si tokoh tidak sanggup lagi memuaskan keinginan-keinginan yang dipimpin? Anarkisme dan dongkel-mendongkel adalah jalan keluar yang terburuk yang paling mungkin terjadi. Atau sebaliknya. Bila yang dipimpin tidak bisa lagi mengenyangkan si pemimpin maka penghisapan dan penindasan yang menjadi jawabannya. Hal kedua, yaitu disalahgunakan. Kepemimpinan yang berdasarkan ketokohan semata biasanya tumbuh pada masa kepercayaan diri orang banyak tipis kadarnya atau timbul pada masa krisis, pada saat diperlukan tindakan-tindakan drastis oleh seorang atau sekelompok “Superman” untuk segera memuaskan dan mengenyangkan massa. Di masa ketidakpastian dan tempat berpijak mulai runtuh muncul “mesias-mesias” yang menjanjikan jalan pintas atas permasalahan-permasalahan yang ada. Pola kepemimpinan seperti ini menghasilkan massa yang tumpul hati nuraninya dan akan selalu berkata: ”Right or wrong is my group; right or wrong is my Yayasan; right or wrong is my Rektor; right or wrong is my Dekan; right or wrong is my dosen dan seterusnya.” Seandainya menurut analisis kita UKI sedang mengalami “krisis”, maka kita tidak mau keadaan ini menjadi fait accomply untuk menimbulkan seorang atau sekelompok orang yang seakan-akan bisa menjawab semua persoalan.

Refleksi UKI 15

Pola Kepemimpinan

Proses penentuan dan pemilihan kepemimpinan di UKI harus tetap rasional, terbuka, kritis dalam rangka untuk “menjadi” bukan hanya sekedar “memiliki” pemimpin. Kalau UKI berusaha menjawab tantangan-tantangan yang ada di dalam maupun di luar dirinya dengan mengambil strategi “menjadi”, maka tembok-tembok arogansi hierarkis (yang lebih mementingkan arti kepemilikan!) jelas tidak cocok. Kepemimpinan yang menjunjung tinggi kemitraanlah yang dapat kita pergunakan untuk lebih berani,lugas dan kritis menjawab tantangan dan peluang yang ada. Dalam konteks kemitraan, kita memandang teman kerja secara terbuka, penuh kepercayaan dan kritis. Dalam kemitraan yang benar, loyalitas (kesetiaan) diperlukan. Tapi bukanlah kesetiaan buta (yang biasanya pamrih) yang terimbas oleh kepentingan kelompok atau golongan. Kesetiaan dalam hubungan kemitraan yang benar mempunyai makna kepentingan akan penegakan cita-cita bersama (visi dan misi UKI) dalam suasana hati yang penuh kemerdekaan. Allah sendiri memilih manusia menjadi teman kerjaNya dan Ia setia akan pilihanNya. Bukan di sana tapi di sini Dari beberapa pokok pikiran di atas jelas bahwa Allah sang pemilik UKI mengajak kita sebagai teman kerjaNya agar UKI dalam menjawab segenap tantangan yang ada memiliki pola dasar yang jelas, yaitu, agar setiap warga UKI, baik itu Yayasan, Rektor, Dekan, Dosen,Karyawan dan Mahasiswa memiliki sifat kepemimpinan yang “menjadi” bukan “memiliki”. Sifat kepemimpinan yang “menjadi” adalah sifat kepemimpinan yang terbuka, dinamis, memberi, kritis dan mengejar tujuan-tujuan yang bersifat fungsional-kualitatif. Sekecil apapun produk yang dihasilkan, asal ia berguna, akan lebih di indahkan dari pada banyak secara kuantitaif namun malah menambah beban.

16 Refleksi UKI

Pola Kepemimpinan

Pada suatu pagi yang cerah, Nassarudin Hoja, salah seorang tokoh cerita dunia 1001 malam, tampak sibuk mencari sesuatu di pekarangan rumahnya. Hari semakin petang dan Nassarudin masih saja sibuk mengais seakan-akan mencari sesuatu di pekarangannya. Bertanyalah tetangganya: “Bang Nas, apa abang kehilangan sesuatu? Sejak tadi pagi sampai petang saya melihat abang hilir-mudik dipekarangan, seakan-akan ada sesuatu yang dicari.” “Betul. Aku kehilangan kunci rumahku padahal aku hendak pergi ke pasar untuk menjual untaku,” jawab Nassarudin. “Dimana terakhir bang Nas letakkan kunci itu,” tetangganya bertanya kembali. “Seingat aku, terakhir kali, aku letakkan kunci itu di ruang tengah,” Jawab Nassarudin sambil terus mengais-ngais tumpukan daun kering di pekarangan. “Lantas mengapa abang cari di sini ?” tanya tetangga dengan heran. “Itulah, ruangan tengahku gelap, kurang cahaya karena itu aku mencari kunciku di pekarangan ini,” jawab Nassarudin sambil menggaruk-garukkan tangannya di kepalanya. Mudah-mudahan UKI tidak mengulang kembali tindakan Nassarudin Hoja, dengan mencoba mencari dan menggali jawaban atas permasalahan-permasalahan di tempat lain.

Never let yesterday use up too much of today. -WILL ROGERS

Refleksi UKI 17

3
Menjadi Pemimpin di UKI. Siapa Takut? 1
i UKI sekarang sedang mewabah diskusi yang diprakarsai, diselenggarakan, dan diikuti, oleh siapa saja yang mengaku dirinya bagian dari sivitas akademika. Hal ini suatu pertanda yang baik, bahkan bagi penulis hal ini merupakan suatu kerinduan agar tercipta suatu budaya intelektual di kampus yang selama ini ditengarai oleh beberapa tokoh terasa mampet. Yang menarik, perbincangan itu berkisar antara ketidakberesan yang terjadi di UKI yang dikaitkan (atau tidak mau dikaitkan) dengan proses pemilihan rektor masa jabatan 2000-2004.

D

Dua jenis penyakit Kalau mau diambil analogi yang terjadi di UKI dengan apa yang terjadi di negara berkembang dari aspek kesehatan, maka cerita (dan faktanya) begini: Negara-negara berkembang menghadapi dua masalah kesehatan besar yang sulit, yaitu mereka masih harus bergelut dengan penyakit-penyakit “kuna”, yang telah dikenal oleh para nenek moyang atau kakek-nenek kita di masa penjajahan seperti malaria, kurang gizi, diare, frambusia (patek), angka kematian bayi dan ibu yang tinggi dan sekarang diperhadapkan pula dengan penyakit-penyakit “moderen”, seperti stroke, penyakit jantung-koroner, kanker, Alzheimer (sejenis pikun, karena semakin banyak penduduk usia tua), depresi dan bunuh diri. Kedua mode penyakit ini datang bersamaan dan harus ditangani secara menyeluruh yang menghabiskan banyak dana, tenaga, dan pikiran. Dari diskursus yang sedang menghangat di UKI tampaklah bahwa kita diperhadapkan pada fenomena yang mirip yaitu “penyakit-penyakit” kronis seperti: (a) masih belum jelasnya tugas, wewenang dan tanggung1

Dimuat pada Buletin UKI April 2000, Tahun XVI, No. 4: 9-10

Menjadi Pemimpin

jawab setiap komponen di UKI, (b) transparansi hubungan kerja dan lalu lintas uang antara Yayasan dan Universitas, (c) mahasiswa yang merasa dikangkangi hak-haknya, (d) gaji pegawai yang di bawah standar sampai yang paling aktual, proses pemilihan rektor. Di lain pihak kita dihadang dengan masalah-masalah yang dikaitkan dengan era globalisasi. Sudah seberapa jauhkah usaha kita menghasilkan lulusan UKI yang siap memasuki pasar global? Apakah UKI sebagai institusi pendidikan tinggi (Kristen) reliable, accountable memasuki era itu? Masih banyak pertanyaan yang bisa kita daftarkan untuk mempertanyakan keberadaan dan kesiapan kita untuk menyikapi tantangan itu. Sindroma Musa Pertanyaannya sekarang, bagaimana dan siapa yang bisa mengambil tindakan kuratif dan preventif agar “penyakit” lama tidak kambuh lagi dan terhindar dari penyakit baru? Ingat Musa? Ia adalah salah seorang tokoh pelepas (liberator) yang sangat dihormati bangsa Israel, karena memimpin bangsa itu lepas dari perbudakan di Mesir. Tapi, lihatlah, betapa sedih dan pilunya riwayat Musa ketika memimpin bangsa itu. Apa sih kekurangan Musa? Ia mantan anak angkat Firaun yang menikmati pendidikan tinggi yang mengosongkan diri ke gurun Midian untuk mencari jati diri dan yang dipanggil serta Inti kepemimpinan adalah dipilih Allah untuk memimpin bangsa tindakan bukan (hanya) Israel. Tapi lihatlah, mengapa bangsa itu kedudukan… berputar-putar selama 40 tahun di gurun dan bahkan akhirnya Joshua bukan Musa yang membawa bangsa Israel masuk ke Kanaan. Karena sifat ”tegartengkuk” dan keras-kepala bangsa itu yang membuat bukan saja Musa putus asa bahkan Allah juga! “Bangsa” UKI secara tidak sadar mungkin sering terjebak pada sindroma Musa. Kita hanya sibuk dan repot untuk memilih “musa” di UKI, dan kalau “musa” itu memberlakukan persyaratan-persyaratan agar

20 Refleksi UKI

Menjadi Pemimpin

dapat mencapai tujuan, maka kita mulai bersungut-sungut dan segera sibuk lagi mencari “musa” pengganti. Jadi, dari kacamata dinamika organisasi dan manajemen yang sederhana, kemajuan bukan hanya melulu terletak pada pemimpinnya tapi juga yang dipimpin dan interaksi di antara mereka. Legitimasi dan Popularitas Azas legitimate dalam arti yang sebenarnya mengemuka setelah Indonesia selama 32 tahun dikuasai oleh pemerintah yang memiliki legitimasi semu. Popularitas juga suatu hal yang mencolok, hampir setiap tokoh yang ingin didukung oleh massa yang akan memberi legitimasi kekuasaan harus mencari “popularitas” (dikenal dan terkenal), dan seringlah ia muncul di media massa dengan mengemukakan segala macam teori yang malah bikin mumet rakyat. Kita pun sekali lagi bisa terjebak oleh ini semua, kita menganggap bahwa orang atau tokoh yang akomodatif serta aspiratif dan selalu menyenangkan itulah yang cocok jadi pemimpin. Padahal yang utama adalah kita butuh orang yang bisa membawa kita ke tujuan yang jelas yang seringkali harus dibayar dengan keringat dan airmata! Jimat dan Kepemimpinan Di dalam masyarakat agraris, antara jimat dan ketenangan batin serta kekuatan kekuasaan sangat lah berhubungan erat, dan berbicara soal “jimat” (dalam konteks ini saya terjemahkan dengan dukungan) di kalangan UKI, maka berlomba-lombalah kita mencari “jimat” Yayasan, “jimat” Senat, “jimat” Mahasiswa dan "jimat" para tokoh, dan tentu semakin banyak “jimat” yang dikumpulkan maka semakin merasa yakin dan tenanglah para pemimpin. Persoalannya bukan akumulasi "jimat" tapi, bagaimana para pemimpin dan kita, segenap “bangsa” UKI, y.i. yayasan, senat, dosen, karyawan dan mahasiswa secara bersama-sama untuk saling mendukung dan membangun serta tidak mencampur-adukkannya dengan ego-pribadi,

Refleksi UKI 21

Menjadi Pemimpin

ego-kelompok, ego-marga, ego-suku, dan bentuk egositas lainnya. Inti kepemimpinan adalah tindakan bukan (hanya) kedudukan. Percayalah, kata orang Betawi, barang siape nyang suke ngumpulin dan ngasih jimat sembarangan ntar matinye suseh!

22 Refleksi UKI

4
Kandang yang Bersih Tidak Menghasilkan Sesuatu
Suatu Pemikiran Tentang Generasi Pembaharu UKI 1

ampir semua orang suka melihat-lihat riwayat keluarga atau garis keturunan (family tree, tarombo menurut orang Batak), dan sambil melihat-lihat kita akan menunjukkan kepada anak dan cucu tentang siapa dan bagaimana kehidupan setiap anggota keluarga di garis keturunan tersebut. “Ini, kakekmu, dia itu orang pertama di kampungnya yang bisa berbahasa Belanda,” atau “Nah, ini nenekmu, ketika masih muda sekali pergi ke tanah Jawa untuk sekolah,” dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan dalam suku tertentu, setiap anak harus dapat menyebutkan secara fasih siapa dan bagaimana kakek—nenek moyang mereka sekurang-kurangnya empat generasi di atas. Ini penting untuk menjaga identitas dan sekaligus melihat “track record” keluarga tersebut. Memang sangat membanggakan bagi anak keturunan kalau “track record” keluarganya baik dan berhasil, namun sebaliknya bisa menjadi beban mental kalau ternyata anak keturunannya tidak dapat menunjukkan prestasi yang mirip atau lebih dari prestasi kakek-nenek moyangnya. Ini suatu tantangan bagi anak keturunannya!

H

Survival of the fittest

Salah satu hipotesis yang dikemukakan oleh Charles Darwin (1809-1882), seorang ahli biologi dari Inggris, dalam bukunya yang klasik “The Origin of Species” (1859) adalah bahwa keberadaan organisme (manusia sebagai salah satu jenis “hewan” dengan nama Homo sapiens termasuk di dalamnya) pada saat ini merupakan hasil suatu proses evolusi yang memakan waktu berjuta-juta tahun bermula dari organisme sederhana
1

Diterbitkan di Buletin UKI Mei 2000, Tahun XVI, No. 05: 15-17.

Kandang yang bersih

sampai kompleks, dan kemunculan spesies-spesies baru adalah akibat proses seleksi alam (natural selection). Richard Dawkin seorang pengikut Darwin mengungkapan secara metaforis pengertian teori Darwin dan umat manusia melalui esai di bawah ini (garis bawah dan terjemahan bebas oleh penulis):[1] 1. Organisms are constructed by groups of genes whose goal is to leave more copies of themselves. The hereditary material is basically 'selfish'.

Organisme dibentuk oleh sekelompok gen yang bertujuan melanggengkan diri mereka. Materi herediter pada dasarnya bersifat sangat “egois”. 2. The inherently selfish qualities of the hereditary material are reflected in the competitive interactions between organisms that result in survival of fitter variants, generated by the more successful genes.

Sifat materi herediter yang mementingkan-diri sendiri itu tampak pada interaksi kompetitif antara organisme yang akhirnya menghasilkan varian yang lebih baik, yang diturunkan oleh gen yang berhasil (memenangkan kompetisi tersebut). 3. Organisms are constantly trying to get better (fitter). In a mathematical/ geo-metrical metaphor, they are always trying to climb up local peaks in a fitness landscape in order to do better than their competitors. However, this landscape keeps changing as evolution proceeds, so the struggle is endless.

Setiap organisme selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Secara istilah matematis /geometris, ia selalu mencoba mencapai keberhasilan-keberhasilan dalam medan “adu-ketahanan” agar dapat

24 Refleksi UKI

Kandang yang bersih

melakukan yang lebih baik dari pesaingnya. Namun medan berubah terus selama evolusi berlangsung, sehingga perjuangan itu tiada hentinya. 4. Paradoxically, humans can develop altruistic qualities that contradict their inherently selfish nature, by means of education and other cultural efforts. Sebaliknya, manusia dapat membentuk sifat altruistis (mementingkan orang lain, melayani) yang bertentangan dengan sifat egois yang diturunkan melalui pendidikan dan upaya-upaya kebudayaan lainnya. Dawkin meneruskan, bahwa sejalan dengan metafora di atas terdapat beberapa persamaan dengan hal-hal di bawah ini: 1. Humanity is born in sin; we have a base inheritance. Manusia dilahirkan dalam dosa, kita memiliki sifat dasar yang diwariskan. 2. Humanity is therefore condemned to a life of conflict and ... Karena itu manusia dikutuk untuk menjalani hidup yang penuh konflik dan… 3. ... Perpetual toil ……..Kerja keras sepanjang masa 4. But by faith and moral effort humanity can be saved from its fallen, selfish state Namun dengan iman dan kekuatan moral, manusia dapat diselamatkan dari sifat tercela yaitu mementingkan dirinya sendiri.

Refleksi UKI 25

Kandang yang bersih

Jadi, Dawkin menjelaskan bahwa Darwin-isme memiliki akar metafora atas mitos kebudayaan akan kejatuhan dan penebusan manusia. Kekuatan Fisik, Harta dan Kekuasaan Banyak orang yakin bahwa kekuatan fisik, harta dan kekuasaan belaka dapat menciptakan atau melanggengkan keturunan yang baik. Pendapat ini tidak seluruhnya benar, bila kita perhatikan beberapa argumen di bawah ini. Gajah, badak, “ikan” paus adalah termasuk kelompok binatang yang dilindungi karena hampir punah (endangered species), bahkan dinosaurus yang memiliki bentuk dan kekuatan fisik sangat besar sudah punah berjuta-juta tahun yang lampau. Namun berbagai jenis serangga dan hewan-hewan kecil lainnya tetap sanggup melangsungkan kehidupan jenisnya (survived) sejak jaman purbakala. (catatan: untuk tidak menghilangkan arti kontekstual diskusi kita, perbandingan ini terpaksa diambil karena belum diketahui secara ilmu kepurbakalaan dan anthropologi apakah pada jaman dahulu terdapat spesies manusia yang berukuran (fisik) lebih besar daripada manusia sekarang, namun sudah terbukti bahwa volume otak manusia sekarang lebih besar daripada manusia purbakala). Beberapa orang percaya harta dapat membantu kelanggengan suatu dinasti atau keluarga bahkan sampai tujuh turunan, tapi bila dilihat sejarah manusia, ada banyak konglomerat yang hanya bisa bertahan sampai turunan ketiga, setelah itu lenyap karena anggota keluarga saling menghabiskan atau perusahaan atau hartanya dikelola/diambil alih oleh pihak lain. Mengenai kekuasaan pun demikian, ada banyak kerajaan, diktatorisme, otoriterisme hanya mampu bertahan pada umur yang singkat, misalnya Adolf Hitler, Mussolini, Ken Arok, Soeharto, dll. Kembali ke konteks semula dan seperti yang tergambar dalam metafora dari Dawkin, tampaklah bahwa kekuatan kelanggengan pewarisan suatu generasi tergantung pada bagaimana generasi itu mengindahkan nilai

26 Refleksi UKI

Kandang yang bersih

iman (penulis maksudkan di sini tidak selalu menunjuk pada iman yudeokristiani tapi lebih kepada religiositas), moral dan pendidikan. Dalam konteks ketahanan budaya dan bangsa bisa kita lihat contohnya pada bangsa Yahudi. …kekuatan Meski populasi bangsa Yahudi tidak berarti kelanggengan pewarisan dibandingkan bangsa-bangsa lain, tapi tidak suatu generasi tergantung dapat dipungkiri bahwa banyak puncakpada bagaimana generasi puncak ilmu dan kebudayaan manusia itu mengindahkan nilai diprakarsai oleh bangsa ini. Albert Einstein iman dengan teori Relativitasnya, Karl Max dengan Sosialisme-Materialistiknya, Sigmund Freud dengan Psikoanalisanya, Steven Spielberg sutradara kondang penggaet penghargaan Oscar berkali-kali, George Soros dengan kekuatan perusahaan pialangnya dan Bill Gates dengan imperium Microsoftnya adalah beberapa contoh nyata kekuatan kualitas bangsa ini. Lihatlah bangsa Jepang dan Jerman yang luluh lantak di masa Perang Dunia II, namun dalam waktu kurang dari 15 tahun telah bangkit kembali menjadi pemimpin ekonomi dunia. UKI, Alma Mater Kita Kalau kita mau menganggap UKI adalah Alma Mater yaitu Ibu yang melahirkan dan mengasuh kita, maka sudah merupakan kewajiban kita untuk menjaga dan menjadikan “keluarga” UKI terjaga track recordnya. Menjaga serta memelihara UKI agar kelak para alumni dan pengguna jasa (client) kita bangga dan mengacungkan jempol serta berkata: “Untung anak saya tamatan UKI,” atau “Apa jadinya kalau saya bukan lulusan UKI?” Pujian di atas menunjuk pada kata kualitas, dan kualitas tidak terlepas dari masukan (input), proses dan segenap faktor yang memproses agar terbentuk produk yang berkualitas.

Refleksi UKI 27

Kandang yang bersih

Persoalannya sekarang bagaimana caranya agar proses dan segenap faktor yang bertanggung-jawab atas proses itu berjalan dengan baik (on the right track)? UKI, ladang pembenihan suatu generasi pembaharu Dalam rangka tugas mulia yang diemban oleh UKI sebagai perwujudan panggilan iman kristiani, maka sudah sepatutnya UKI menyediakan diri menjadi ladang perbenihan untuk munculnya generasi pembaharu. Generasi yang dihasilkan oleh UKI, mau tidak mau, harus terjun ke “medan pembantaian”, dalam konteks biologis maupun sosial. Secara realistis, akhirnya, hanya generasi yang bijak dan pandai lah yang mampu bertahan dan meneruskan serta mewariskannya kepada generasi berikutnya. Karena itu, sudah sewajarnya bila faktor masukan (input), menjadi perhatian kita semua. Masukan akan “benih” yaitu para dosen, karyawan, dan mahasiswa dan orang-orang lain yang ingin mengabdi di UKI harus terseleksi dengan baik. Mekanisme penyeleksian yang dipunyai sekarang layaknya dikaji ulang dan kriteria yang selama ini lebih mengunggulkan aspek intelektual atau kognitif semata harus ditambah dengan aspek emosi, sebab terbukti bahwa faktor kepintaran emosi (Emotional Intelligence) juga memegang peranan akan keberhasilan individu mau pun Hanya generasi pendahulu organisasi.[2,3] (baca: para pemimpin, dosen Sebagai contoh: seorang insinyur bekerja dan karyawan) yang beriman di bagian perencanaan merasa sangat dan bermoral tinggi serta cinta dipermalukan dan kehilangan gairah akan pendidikan dalam arti bekerja ketika manajer perusahaannya yang seluas-luasnya yang mengkritik pekerjaannya secara habisakan berhasil “menurunkan” habisan di depan peserta rapat yang lain. generasi pembaharu… Kata-lata yang dikeluarkan manajer tersebut adalah: “Sudah berapa tahun kamu lulus dari perguruan tinggi?

28 Refleksi UKI

Kandang yang bersih

Spesifikasi yang kamu rancang ini tidak masuk akal dan pasti tidak akan saya luluskan.” Akhirnya insinyur tersebut memberanikan diri menghadap ke manajer dan berkata: “Saya bingung tentang apa yang Anda lakukan. Asumsi saya Anda tidak ingin mempermalukan saya, namun adakah usulan Anda yang lebih baik terhadap rancangan saya tersebut?” Sang manajer sadar bahwa kritik yang ia lontarkan pada waktu itu sebenarnya keluar begitu saja dari mulutnya, namun memiliki efek negatif yang besar atas motivasi dan kegairahan anak buahnya dan ia pun meminta maaf atas kejadian tersebut. Artinya kritik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik bahkan sebaliknya kritik dapat menurunkan kreativitas dan akhirnya produktivitas individu dan kelompok. Secara ringkas faktor-faktor seperti kepemimpinan, kepemimpinan kelompok, rasa percaya diri, optimisme, penguasaan diri, pengaruh, mampu mendengarkan, empati, melayani, integritas adalah hal-hal yang menggambarkan kedewasaan emosional individu dan organisasi yang dapat dilatih (learned abilities) serta dikembangkan secara terus-menerus. Bagaimana UKI dapat menjadi ladang perbenihan generasi pembaharu? Sesuai dengan metafora di atas, generasi baru yang muncul merupakan hasil seleksi alam dari suatu proses “pemurnian” atas generasi sebelumnya. Hanya generasi pendahulu (baca: para pemimpin, dosen dan karyawan) yang beriman dan bermoral tinggi serta cinta akan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya yang akan berhasil “menurunkan” generasi pembaharu. Kita harus selalu memfasilitasi agar di dalam ladang itu tercipta interaksi antar komponen tersebut. Akan tampak bahwa proses saling belajar sesama anggota kelompok bisa mempertajam intelektualitas (ranah kognitif), kepekaan emosional (ranah afektif) serta kepintaran bertindak (ranah psikomotorik) yang sangat diperlukan bagi dinamisme organisme dalam menghadapi perubahan.

Refleksi UKI 29

Kandang yang bersih

Seperti metafora di atas, “setting dan plot” tempat interaksi “manusia” UKI berada berubah terus secara dinamis baik secara internal maupun eksternal. UKI harus secara sadar memperlengkapi diri dengan perangkat evaluasi diri dan lingkungan, agar selalu dapat mengikuti dan menjawab tantangan perubahan yang ada. Hal ini hanya bisa terjadi bila UKI dipimpin, dikelola dan dihuni oleh generasi pemba-haru. Kalau tidak, maka UKI akan masuk ke dalam kelompok perguruan tinggi yang harus dilestarikan (to be preserved) atau bahkan punah sama sekali! Daftar Bacaan: 1. Bradbury, AJ. Charles Darwin- The Truth? Part 1 Metaphors and Myths. http://www3.mistral.co.uk/bradburyac / dar1.html 2. Cherniss, C. The Business case for emotional intelligence. www.eiconsortium.org. 3. Cooper RK, Sawaf A. 1998. Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 4. Goleman, D. 1998. Working with Emotional Intelligence. Bantam, New York. The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in mind at the same time and still retain the ability to function. F. Scott Fitzgerald.

30 Refleksi UKI

5
Lebih Baik Menyalakan Beberapa Lilin Daripada Menggerutu Tentang Kegelapan 1

T

idak dapat dipungkiri bahwa alam demokrasi yang sedang mekar di negara kita mengimbas pula di UKI. Setidak-tidaknya hal ini tampak dari terbitnya media-media “kagetan” yang dari segi perwajahan maupun gaya tulisan mirip dengan tabloid panas yang ada di luar sana. Berita yang disajikan tentu saja yang “hangat” dan mampu menggugah masyarakat kampus agar terpicu untuk mendiskusikannya atau kalau perlu mengambil langkahlangkah yang lebih jauh.

Dalam etika pergaulan ada dalil bahwa kita dianjurkan untuk tidak menilai seseorang dari penampilan (fisik) belaka namun dari tutur kata yang disam-paikan yang merupakan jendela buah pikirannya. Artinya, kalau bisa sebanyak mungkin kita harus menyingkirkan prasangka terhadap lawan bicara agar kita tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan yang salah (atau yang benar) terhadapnya. Dalam semangat kristiani tentunya, kita diharapkan bisa mengambil intisari ungkapan yang kasar dan biadab sekali pun. Sebab mungkin saja apa yang diungkapkan itu benar (tapi ini pun harus dibuktikan dahulu kebenarannya), hanya saja cara pengungkapannya saja yang belum pandai. Kita harus ingat, bila hal ini dikaitkan dengan maraknya proses pergantian pimpinan, maka hal yang lumrah dalam politik kekuasaan bahwa opini publik harus direbut dan dimenangkan dengan cara apa pun. Opini harus tercipta bahwa yang “paling busuk” adalah lawan dan yang “paling suci” adalah kita. Caranya? Sudah terbukti di seantero dunia bahwa tabloid panas dan koran kuning ampuh untuk tujuan tersebut. Namun kalau kita harus kembali ke semangat positive thinking, maka informasi dari segala sumber harus disimak dengan seksama termasuk dari Peka atau “Pesan Terbuka” yang ditulis oleh penulis tunggal, seorang dosen UKI yang tentunya dibantu oleh beberapa informan (sukarelawan?). Tulisan itu menengarai adanya segudang
1

Struggle for power

Disampaikan pada rapat Senat UKI, tanggal 31 Mei 2000.

Lebih baik menyalakan beberapa lilin

penyelewengan dan keganjilan di UKI lengkap dengan bilangan nominalnya juga masalah nepotisme (catatan penulis: yang telah disalah-kaprahkan selalu berkonotasi dengan korupsi bukan pada unjuk kerja sama seperti istilah “oknum” misalnya). Maka sudah sepatutnya informasi itu kita lihat, pilah dan buktikan secara seksama. Kita ingin di UKI ini berkembang dan diindahkan pola pikir kritis namun tidak fatalistis. Pertama-tama, mengenai penyelewengan dana, perlu dilihat apakah telah terjadi penyalahgunaan atau pencurian dana secara kasat mata untuk tujuan yang tidak jelas (misused dan abused) atau yang terjadi adalah akibat sistem administrasi yang belum beres? Kedua, tentang nepotisme yang berkembang. Mari kita lihat apakah kita bisa jujur terhadap diri sendiri, bahwa di UKI dengan jumlah presentase suku tertentu yang signifikan mau tidak mau tidak lepas dari hubungan kekerabatan. Sayangnya masyarakat kita bukanlah, masyarakat migran yang multi ras seperti Amerika Serikat, sehingga singgungan kekerabatan itu minimum. Namun di negara yang paling demokratis pun hal ini tidak terhindari. Terpenting (untuk sementara ini) justeru bahwa nama baik kekerabatan itu terjaga karena penilaian orang terhadap hasil dan produk yang dihasilkan serta integritas orang-orang itu sendiri. Lagipula pengertian nepot tidak melulu tertuju pada kerabat tapi juga clique, gang atau kelompok. Jadi sekali lagi, dalam hal evaluasi lihatlah pada proses dan produk. Kalau proses dan produk tidak seperti yang ditargetkan maka pihak yang ...bukan saja mencari bertanggung-jawab atas hal itu perlu penyelewengan uang tapi menjelaskannya. Itu namanya accountable! yang lebih penting juga Kalau pun terbukti bahwa memang ada kejanggalan, lalu terapi apa yang mau diambil? Diistirahatkankah? Amputasikah? Menurut saya, seperti tertulis pada Buletin UKI, April 2000; UKI harus segera mengambil keputusan membereskan penyakit kronis sekaligus bersiap-siap menghadapi era globalisasi. Bila tindakan pertama mau dilakukan, maka bersiap-siaplah kita untuk membuka semua “file” persoalan di UKI, menyortir, menganalisis, mendiagnosis serta mengambil tindakan terhadapnya, dan pasti hal itu memakan waktu, enerji, dan biaya dan bisa jatuh pada kesimpulan ternyata kita ada yang “busuk banget”, “cukup busuk” dan “sedikit busuk”. Secara kongkrit, dibentuk saja suatu komisi semacam “ombudsman”

penyelewengan (“wan prestasi”) tentang fungsi serta tanggung jawab setiap komponen...

32 Refleksi UKI

Lebih baik menyalakan beberapa lilin

yang bertugas bukan saja mencari penyelewengan uang tapi yang lebih penting juga penyelewengan (“wan prestasi”) tentang fungsi serta tanggung jawab setiap komponen di UKI dari aras yang tertinggi (yayasan) sampai yang terendah. Soal penyelewengan fungsi ini juga harus disoroti lebih seksama, karena justeru banyak sekali di UKI ini yang secara arogan mengatakan bahwa kamilah yang paling tahu, kamilah yang paling senior, kamilah yang paling mengabdi di UKI ini karen aitu kamilah yang paling berhak menentukan arah dan tujuan UKI, tapi kenyataannya… justeru merekalah yang menjadi biang kerok proses pembusukan UKI! Kalau kita mau dan berani untuk itu! Kalau tidak, orang pun sinis berkata:”Ini sih cuma pertikaian elit!”

Refleksi UKI 33

Pembudayaan Penelitian sebagai Bagian dari Reformasi Pendidikan 1

6

ila kita mendengar kata penelitian, maka kita menduga bahwa hal itu adalah urusan para guru besar, peneliti, cendekiawan dan badan-badan penelitian. Penelitian kita anggap di luar jangkauan masyarakat awam, sulit dan seakan-akan kegiatan yang penuh rahasia. Pendapat itu tidak seluruhnya benar sebab penelitian dalam arti luas adalah kegiatan yang bahkan ibu rumah tangga pun sering melakukan, apalagi pada masa krisis sekarang. Misalnya riset pasar: ibu-ibu akan melihat, menghitung dan membandingkan harga-harga yang ada sebelum mengambil keputusan membeli barang yang dibutuhkannya. Memang untuk masalah yang lebih penting, misalnya bagaimana kinerja pimpinan unit produksi lebih ditingkatkan, berapa dosis obat x yang paling tepat diberikan untuk penyakit z, dll., penelitian harus dilakukan secara lebih seksama menurut kaidah-kaidah ilmu yang berlaku.

B

Penelitian dan Budaya Masyarakat Dari sejarah dunia dapat kita ketahui bahwa sebenarnya banyak sekali cikal bakal ilmu pengetahuan dan benih-benih kemajuan teknologi berasal dari Asia. Jauh sebelum bangsa Eropa mengenal mesiu, orang Cina sudah mengenalnya. Mereka menggunakannya untuk kembang api dan petasan sebagai bagian dari perayaan-perayaan keagamaan. Tapi mengapa justru mesiu itu menjadi senjata yang mendukung imperialisme dan kolonialisme Barat dan mengilhami mereka untuk membuat roket, yang pada akhirnya mendaratkan mereka di bulan? Nenek moyang kita telah lama tahu dan bijaksana memanfaatkan kandungan keragaman biologis hutan, laut yang berlimpah-ruah di negara-negara tropis.
1

Diterbitkan di Buletin UKI Mei 1998, Thn XIV, No.5:6-10.

Pembudayaan Penelitian

Penggunaan daun jambu klutuk untuk diare, misalnya. Tapi mengapa justru obat-obatan dan segenap produk kesehatan dan penunjang kehidupan lainnya datang dari Barat? Sejarah bangsa-bangsa yang sudah dimulai pada 3000 tahun S.M., seperti Mesir, India dan Cina dengan sistem pemerintahannya pada waktu itu telah terbukti mampu membawa masyarakatnya ke tingkat kejayaan dan kemakmuran yang cukup. Tapi mengapa justru sekarang di jazirah tersebut masih sering terjadi kekacauan dan proses politik yang sering memakan korban cukup banyak? Dapatlah dikatakan bahwa “pengetahuan” yang telah dimiliki oleh bangsa-bangsa di Timur hanya mempunyai tradisi “pewarisan” tanpa pengembangan. Pengetahuan telah menjadi dogma, “mengkristal’’ dilestarikan dan disakralkan, tidak lagi relatif tapi absolut. Hal ini pernah pula terjadi di dalam sejarah peradaban Barat. Salah satu contohnya ialah ketika Copernicus mengemukakan teori Heliosentris, yaitu, matahari yang menjadi pusat perputaran benda-benda angkasa. Gereja menolaknya berdasarkan dogma dan norma yang berlaku waktu itu, karena bumi dianggap sebagai pusat (Geosentris). Tapi sejak masa Renaisan (abad 14-16 M) yang diikuti dengan gelombang-gelombang perkembangan (filsafat) ilmu dan teknologi, dan reformasi adalah bagian yang mengejawantah (inherent), maka dunia Barat telah sampai pada keadaan yang kita kenal sekarang. Menurut kamus bahasa Inggris Webster (1996), penelitian adalah suatu tindakan penyelidikan atau eksperimen untuk menemukan dan menginterpretasikan fakta, merevisi atau memperbaharui teori atau hukum yang dituntun oleh fakta-fakta baru atau aplikasi praktis teori tersebut. Penelitian merupakan sebagian usaha manusia untuk mencari kebenaran yang adalah nilai hakiki dari suatu kebebasan (berpikir). Menerapkan hasil penelitian adalah dasar untuk suatu perkembangan. Jadi (kegiatan) penelitian merupakan proses dan usaha manusia mencari atau membuktikan kebenaran yang dapat memberikan hasil untuk kemajuan dan perkembangan umat manusia.

36 Refleksi UKI

Pembudayaan Penelitian

Penelitian bisa dilaksanakan dan tumbuh subur pada suatu masyarakat yang memiliki budaya menghargai rasa ingin tahu (curiosity), keterbukaan pikiran (open-mindedness), mampu menerima perbedaan-perbedaaan, karena suatu penelitian bisa saja tidak mendukung atau bahkan menolak hasil penelitian sebelumnya. Artinya, ada suatu budaya yang menghargai ilmu pengetahuan dalam pengertian yang luas. Penelitian merupakan suatu proses panjang dan program penelitian diartikan sebagai investasi jangka panjang. Untuk negara berkembang seperti Indonesia, harus dibuat suatu landasan yang kuat agar terbentuk suatu “budaya pengetahuan”(Oei, 1993). Kapan dan bagaimana budaya ini ditumbuhkan? Di bawah ini saya ceritakan pengalaman penulis tentang hal tersebut. Suatu hari kemenakan penulis yang bersekolah di Jakarta International School dengan bangga menunjukkan karangannya tentang dinosaurus. Tulisannya merupakan hasil penelusuran literatur tentang dinosaurus yang tersedia di perpustakaan sekolah. Ia mengaku merasa sangat senang waktu mengerjakannya dan mengatakan akan segera menulis seri kedua karangannya. Usia kemenakan itu baru delapan tahun. Pengalaman lainnya, ketika penulis sedang mengamati sebuah lukisan kuno tentang Indonesia di sebuah museum di Amsterdam, tibatiba muncullah serombongan anak sekolah setingkat SD yang berangsurangsur berdiri di depan lukisan tersebut. Salah seorang dari mereka maju ke muka dan mulai menjelaskan tentang lukisan tersebut. Kedua cerita di atas menunjukkan bahwa secara tidak langsung dan dengan senang hati sang murid sudah diperkenalkan dengan budaya ilmu. Kedua anak murid tersebut tentunya sudah melakukan “penelitian” tentang topik yang telah dipilihnya dan hasil penelitiannya diartikulasikan melalui bahasa tulisan (peristiwa pertama) dan bahasa lisan (peristiwa kedua). Proteksi “No’, Litbang ‘Yes’. Krisis yang kita hadapi sekarang telah membuka mata kita tentang masih banyaknya ketergantungan kita pada pihak asing di segala aspek. Industri yang kita banggakan selama ini sebagai lokomotif pembangunan ternyata

Refleksi UKI 37

Pembudayaan Penelitian

tidak mempunyai daya saing yang tinggi karena komponen kandungan impornya besar. Karena itu seringkali industri kita disebut baru pada taraf “tukang”. Di samping itu, fasilitas monopoli dan proteksi yang dinikmati oleh pelaku industri, BUMN, dan (sistem) birokrat selama ini telah membuat mereka terlena. Hak pasar dan konsumen (masyarakat) untuk memilih dan menggunakan produk (barang, jasa ataupun perundang-undangan) yang baik sangat kurang. Hal ini dapat pula kita lihat pada sistem ekonomi (dan politik) yang sedikit sekali mengikutsertakan partisipasi masyarakat. Sistem demokrasi dan mekanisme pengambilan keputusan yang selama ini dianggap paling benar dan selalu benar, yang seringkali hanya mengandalkan feeling dan ‘sabda pandita’, ternyata telah memberikan andil dalam timbulnya krisis di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sampai seberapa jauhkah sebenarnya dalam proses pengambilan kesimpulan dan keputusan rapat baik di bagian, perusahaan, sekolah, yayasan, departemen maupun DPR dan MPR, fakta dan data yang tersedia dicermati dengan benar dan tepat? Padahal hampir semua organisasi massa, departemen, institusi pendidikan dan industri memiliki bagian penelitian dan pengembangan (Department of Research and Development). Proteksi yang berlebihan dan monopoli memandulkan daya kreatifitas dan jiwa pionir untuk berpikir secara “berbeda” dan visionaris menembus kemapanan yang dibutuhkan bagi perkembangan suatu masyarakat. Segitiga Emas Segitiga yang dimaksud di sini ialah hubungan antara masyarakat (konsumen termasuk pemerintah), industri dan perguruan tinggi. Masing-masing pihak sebenarnya membutuhkan keberadaan pihak lain. Konsep ini sebenarnya sudah lama disadari dan dipraktekkan di negaranegara industri maju di Eropa, Amerika Utara dan Jepang.

38 Refleksi UKI

Pembudayaan Penelitian

Kita tentu masih ingat bahwa pada mulanya orang sangat melecehkan produk-produk buatan Jepang dan Korea. Orang masih sangat menggemari barang-barang yang …efek alih teknologi paling-paling terdapat tulisan Made in USA atau dinikmati oleh satu atau dua generasi Made in Holland. Tapi sekarang tapi efek alih budaya ilmu yang orang Amerika dan Eropa gelisah diakumulasikan dan dikembangkan karena produk mereka di pasaran serta bersifat transgeneratif bisa dunia banyak yang mulai menjadi dasar landasan masyarakat tersingkir oleh produk Jepang dan tersebut untuk berkiprah dalam Korea, terutama di bidang keilmuan… otomotif, komputer dan perangkat elektronik rumah tangga (electronic home appliances). Mengapa hal ini terjadi? Produk-produk Jepang dan Korea di samping memang harganya lebih kompetitif juga memiliki kualitas yang sama atau bahkan lebih baik daripada produk buatan Amerika dan Eropa. Keberhasilan ini tentunya tidak lepas dari penelitian yang tidak Efek alih teknologi paling-paling dinikmati oleh satu atau dua generasi tapi efek alih budaya ilmu yang diakumulasikan dan dikembangkan serta bersifat transgeneratif bisa menjadi dasar landasan masyarakat tersebut untuk berkiprah dalam keilmuanEfek alih teknologi paling-paling dinikmati oleh satu atau dua generasi tapi efek alih budaya ilmu yang diakumulasikan dan dikembangkan serta bersifat transgeneratif bisa menjadi dasar landasan masyarakat tersebut untuk berkiprah dalam keilmuanputus-putusnya dari pihak perusahaan yang didukung pula oleh perguruan tinggi dan masyarakat (Simatupang, 1998). Seberapa jauhkah komitmen P.T. Jasa Marga, misalnya, mendukung penelitian untuk efisiensi dan kemudahan sistem transportasi atau P.T. Semen Cibinong turut membiayai penelitian tentang pengurangan polusi udara akibat industri? Tugas umum pendidikan tinggi di Indonesia adalah pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dikenal dengan

Refleksi UKI 39

Pembudayaan Penelitian

Tridarma Perguruan Tinggi. Selama ini telah banyak waktu, usaha dan dana dicurahkan kepada darma pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat meskipun harus kita akui bersama bahwa hal-hal ini masih belum mengenai sasaran, namun haruslah diakui bahwa bidang penelitian masih lebih tertinggal dari kedua darma di atas. Terbukanya kesempatan kerja sama antar institusi pendidikan kita dengan luar negeri merupakan kesempatan sekaligus tantangan bagi kita untuk mulai benar-benar melakukan alih budaya ilmu. Kita perlu serap dan tumbuh-kembangkan budaya ilmu di masyarakat dan ini bukanlah “Westernisasi”, seperti yang ditakutkan oleh beberapa orang. Karena Barat pun dahulu, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini, menyerap ilmu (dan budaya) dari Mesir, Cina dan Arab (Islam). Gerakan ini sebaiknya dimulai dari keluarga dengan memberikan ruang pada anakanak untuk bertanya, mengemukakan pendapat. Dan sekonyol apapun pertanyaaan atau pendapat mereka, kita tetap harus hargai. Hal ini lebih mempunyai efek yang ajek dan residual daripada alih teknologi dan ilmu (transfer of technology and knowledge) yang hanya menghasilkan luaran (output) yang bersifat sesaat dan seringkali memerlukan investasi yang banyak. Efek alih teknologi paling-paling dinikmati oleh satu atau dua generasi tapi efek alih budaya ilmu yang diakumulasikan dan dikembangkan serta bersifat transgeneratif bisa menjadi dasar landasan masyarakat tersebut untuk berkiprah dalam keilmuan. Masa Pencerahan Indonesia Peristiwa Trisakti dan tanggal 14 Mei kelabu yang diikuti oleh turunnya Soeharto adalah suatu rentetan peristiwa perubahan yang terjadi secara cepat yang merupakan pintu gerbang menuju Reformasi Total. Gerakan reformasi yang mula-mula lebih bernuansa politik dan moral ternyata telah merebak ke semua aspek kehidupan. Ini merupakan titik balik agar kita secara sadar, konsisten dan bertanggung-jawab melakukan pembaharuan masyarakat yang menjadi modal dasar untuk menuju masyarakat yang lebih demokratis dan berkeadilan. Kita masih sempat

40 Refleksi UKI

Pembudayaan Penelitian

untuk segera berbenah diri, juga di sektor pendidikan, untuk tidak lagi melihat sumber daya manusia Indonesia sebagai aset ekonomi belaka namun sebagai aset budaya. Karena itu kemauan politik harus disertai dengan keputusan politik agar tujuan pendidikan di Indonesia bukan lagi hanya untuk mencerdaskan bangsa namun terlebih penting adalah “memanusiakan” bangsa. Artinya, azas kemanusiaan menjadi salah satu tiang kehidupan berbangsa dan bernegara dan bukan politik, ideologi dan kekuasaan semata. Selamat tinggal Indonesian Dark Ages, selamat datang Masa Pencerahan Indonesia!

There is hope for the future because God has a sense of humor. -BILL COSBY

Bacaan 1. Barnet R.1990. The Idea of Higher Education. The Society for Research into Higher Education & Open University Press. Buckingham.U.K. 2. Jakarta Post. 1998 3. Oei Ban Liang. 1993. Graduate Education, University Research and the Inter-Univesity Center Concept dalam Higher Education in Indonesia: Evolution and Reform (Balderston JB dan Balderston FE., Ed.). Center for Studies in Higher Eduction. University of California, Berkeley, USA, 149-54.

Refleksi UKI 41

Pembudayaan Penelitian

4. Simatupang, A. Peningkatan Sumber Daya Manusia Khusus Bidang Penelitian dalam Menjawab Tantangan Globalisasi. Orasi Ilmiah yang disampaikan pada Sidang Senat Terbuka Universitas Kristen Indonesia, 30 Agustus 1997. 5. Encyclopedia. Encarta®97. Microsoft CD-ROM. 6. Friedman J. 1994. Cultural Eijsvoogel (ed), 1990, The discipline of curiosity, Elsevier Science Publ., Amsterdam.

42 Refleksi UKI

7
Peningkatan Sumber Daya Manusia Bidang Penelitian Dalam Menjawab Tantangan Globalisasi 1

P

ertama-tama saya ucapkan selamat datang kepada Adik-adik sekalian ke dalam dunia yang sama sekali baru bagi kalian, yaitu dunia kampus. Dunia kampus dan orang-orang di dalamnya mungkin bagi sebagian besar orang adalah dunia yang aneh dan penuh misteri. Tempat berkumpulnya orang-orang yang berkaca-mata tebal dengan rambut yang menipis, hilir-mudik sambil mengkerutkan dahi dengan membawa buku-buku yang tebal di tangannya. Pendapat itu tak seluruhnya salah. Memang dunia kampus adalah salah satu tempat orangorang yang berusaha memecahkan misteri alam semesta. Tetapi orangorang di dalamnya bukanlah seperti penjaga kuburan yang menjaga agar kemisterian dan kekeramatan suatu tempat tetap terpelihara dengan baik. Namun mereka berusaha agar misteri itu semakin terkuak, semakin dipahami , semakin disebar-luaskan serta semakin berguna bagi orang banyak.

Judul orasi ilmiah pada penerimaan mahasiswa baru Universitas Kristen Indonesia kali ini ialah “Peningkatan Sumber Daya Manusia Khusus Bidang Penelitian Dalam Menjawab Tantangan Globalisasi”. Saya melihat bahwa paling sedikit ada tiga kata kunci dari judul di atas y.i. 1. Globalisasi, 2. Sumber daya manusia (SDM) dan 3. Penelitian. Marilah kita bersama-sama mencoba menyoroti hal-hal tersebut di atas.

Disampaikan pada Orasi Ilmiah Sidang Senat Terbuka bulan Oktober 1997, di Gedung Aneka Tambang, Jakarta.
1

Peningkatan sumber daya manusia

1. Globalisasi Manusia sekarang hidup di jaman yang hampir tidak memiliki batas (borderless world). Hampir tidak ada kejadian di belahan bumi yang lain secara cepat tidak diketahui oleh masyarakat di belahan bumi yang lain. Kemajuan media elektronik telah memungkinkan semua hal itu terjadi. Tersedianya satelit, faksimili, telepon, TV, intranet dan internet membuat dunia ini seakan-akan “mengecil”, semua sudah menjadi terjangkau dan dalam jangkauan manusia. Kapan tepatnya proses globalisasi itu dimulai? Tidak terlalu mudah untuk menjawabnya karena sejarah peradaban manusia merupakan suatu alur perjalanan yang mengikuti garis lurus yang kontinyu dan mencari titik-titik peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia dalam garis itu tidaklah mudah karena perubahan suatu masa ke masa yang lain seringkali saling tumpang tindih dan penyebab perubahan itu seringkali bersifat multifaktorial. Kalau ide atau informasi merupakan obyek yang terlebih dahulu mendunia, maka Johannes Gutenberg (1400?-1468) dari Jerman, penemu mesin cetak tangan pertama, dapat dikatakan sebagai salah seorang yang memicu terjadinya globalisasi informasi. Meskipun mula-mula Gutenberg bermaksud agar mesin temuannya dapat mempermudah penyebaran Kitab Suci, namun dengan alat temuannya terbukalah cara untuk menyebar-luaskan suatu ide atau informasi, bersamaan dengan masa Renaisans (abad 14-16 M), setelah itu diikuti pula dengan timbulnya semangat mencari daerah (jajahan) baru, maka sebenarnya proses globalisasi sudah dimulai. Revolusi Industri dan Revolusi Perancis (Abad ke 18) turut pula memberi andil akan proses globalisasi. Ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi beberapa dekade belakangan ini, maka proses itu mencapai percepatan yang luar biasa. Motor penggerak utama globalisasi adalah kegiatan ekonomi seperti yang dikatakan oleh Theodore Levitt (1983) dalam artikelnya di majalah Harvard Business Review. Pemasaran dan penggunaan produk ekonomi yang mendunia telah terlebih dahulu menerjang batas-batas

44 Refleksi UKI

Peningkatan sumber daya manusia

negara, misalnya Coca-Cola dan kedai makanan siap saji (fast-food) McDonald telah menyerbu Rusia dan Cina meskipun hubungan politik kedua negara dengan Amerika Serikat masih diliputi banyak perbedaan. Seiring dengan proses globalisasi ekonomi, penyebarluasan budaya atau nilai , atau lebih cocok disebut “gaya hidup” akan berlangsung pula secara cepat dan luas. Secara politis pertemuan kepala-kepala negara ASEAN, Jepang, Korea, Australia, Selandia Baru serta negara-negara Amerika Utara lainnya telah memutuskan suatu kesepakatan adanya era perdagangan bebas yang akan diberlakukan secara bertahap, y.i. di mulai pada tahun 2003 (Asean free-trade agreement), tahun 2010 sebagai awal tahun perdagangan bebas kawasan Asia-Pasifik dan tahun 2020 sebagai awal tahun perdagangan bebas dunia. Kita dapat melihat globalisasi sebagai suatu hal yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang baru bagi umat manusia melalui pesat dan cepatnya lalu-lalang informasi, orang dan barang. Namun globalisasi juga sarat akan persaingan yang dapat membawa destabilisasi, disorientasi serta marginalisasi bagi negara-negara atau kawasan yang gagal dalam kompetisi tersebut. Masalahnya sekarang, apakah Indonesia sudah mempersiapkan dirinya untuk memasuki pertandingan tersebut? Dan apa kontribusi UKI terhadap peristiwa ini? 2. Sumber daya manusia (SDM) Istilah SDM sekarang sedang populer, kalau kita baca surat kabar hari ini, istilah ini akan muncul di beberapa artikel dan berita. Sumber daya manusia adalah istilah yang mendudukkan manusia sebagai milik sekaligus insan pelaku aktifitas (ekonomi) kehidupan. Di tengah-tengah proses globalisasi dan semakin menipisnya sumber daya alam (natural resources) terutama yang tidak dapat diperbaharui lagi (non renewable resources) maka tumpuan utama untuk ikut serta dalam memenangkan kompetisi tersebut adalah SDM yang

Refleksi UKI 45

Peningkatan sumber daya manusia

berkualitas. Hal ini sudah lama dibuktikan oleh negara-negara yang memiliki sumber daya alam terbatas namun cukup akan SDM y.i. Jepang, Korea, Singapura, Taiwan dan negara-negara Eropa Barat serta Amerika Utara. Bila kita perhatikan Tabel 1 di bawah, secara kuantitas tampak bahwa negara-negara berkembang (Asia dan Afrika) memiliki jumlah peneliti yang jauh dari memadai dibandingkan Jepang, Amerika Serikat dan Eropa. Apalagi bila segi kualitaspun ikut diperbandingkan maka kita sangat tertinggal jauh. Jadi perlu segera dilakukan program-program yang menunjang peningkatan jumlah dan kualitas peneliti di kalangan negara-negara berkembang dan khususnya di Indonesia. Seperti yang telah kita soroti di atas bahwa dalam menghadapi persaingan global diperlukan produk-produk yang berkualitas yang hanya dapat dihasilkan melalui penelitian yang berkualitas dan ini sangat erat kaitannya dengan jumlah dan mutu tenaga peneliti yang dimiliki suatu negara atau kawasan. 3. Penelitian Seorang prajurit yang baik mengenal betul tentang senjata yang dimiliki atau yang akan dipergunakannya di medan pertempuran. Jenis dan model senjata, jenis peluru yang dibutuhkan, cara pengisian peluru, jarak tembak maksimal yang dapat dicapai dan daya tembus peluru itu adalah hal-hal yang harus diketahuinya. Pemahaman serta penguasaan akan senjata yang dimilikinya sudah merupakan sebagian kemenangan dari pertempuran yang akan dihadapinya. Demikian pula para peneliti atau ilmuwan, dalam usaha mereka mencoba menyingkapkan tabir misteri alam semesta, dan menjawab tantangan kompetisi serta persoalan-persoalan yang timbul di era globalisasi mereka harus mampu menggunakan secara optimal senjata yang dimilikinya. Senjata tersebut adalah penelitian.

46 Refleksi UKI

Peningkatan sumber daya manusia

Tabel 1. Jumlah ilmuwan dan insinyur per satu juta penduduk (Odhiambo, 1989) Negara Jepang Amerika Serikat Eropa Amerika Latin Negara-negara Arab Asia (kecuali Jepang) Afrika Jumlah ilmuwan dan insinyur 3.548 2.685 1.632 209 202 99 53

Penelitian adalah suatu proses mencari kebenaran, sedangkan hal mencari kebenaran adalah nilai hakiki dari suatu kebebasan (manusia), selanjutnya menerapkan hasil penelitian adalah dasar untuk suatu perkembangan. Jadi (kegiatan) penelitian merupakan proses dan usaha manusia mencari atau membuktikan kebenaran yang dapat memberikan hasil untuk kemajuan dan perkembangan umat manusia. Pada prinsipnya, penelitian adalah proses siklus dan evaluasi suatu pengujian hipotesis seperti yang digambarkan pada gambar 1. di bawah ini. Pertama-tama observasi atau pengamatan terhadap fakta, kemudian penegakan suatu hipotesis, selanjutnya menguji hipotesis, menganalisis dan mengambil kesimpulan dan merobah hipotesis.

Refleksi UKI 47

Peningkatan sumber daya manusia

Observasi terhadap fakta Penegakan Hipotesis Modifikasi hipotesis Perancangan uji eksperimental Penelitian Kesimpulan Gambar 1. Metode ilmiah sebagai proses siklus dari evaluasi dan pengujian hipotesis (Tait RC, 1997) Penelitian dan Kemajuan Peradaban Manusia Kita tidak dapat membayangkan bagaimana bentuk kehidupan manusia apabila tidak ada penelitian. Mungkin kita masih hidup seperti nenek moyang kita pada jaman batu dengan cara dan pola hidup serta perkakas yang sangat sederhana. Sebagai contoh, saya sekarang dapat menyampaikan orasi ilmiah ini kepada ribuan orang sekaligus, tanpa harus berteriak-teriak, karena adanya bantuan perangkat elektronik berupa microphone, penguat (amplifier) dan kotak suara (loudspeaker), atau contoh lain di bidang kesehatan tentang vaksin polio yang ditemukan oleh ahli virus dari Amerika bernama Abert Bruce Sabin (1906-1993) dan Jonas Salk. Secara perlahan-lahan pola dan peradaban manusia berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang dikuasainya. Perkembangan ini tidak lepas dari peningkatan khasanah ilmu pengetahuan, peningkatan pemahaman manusia akan dirinya dan alam semesta serta peningkatan kebutuhan akan kenyamanan hidup.

48 Refleksi UKI

Peningkatan sumber daya manusia

Kita mungkin masih ingat bahwa pada mulanya orang sangat meremehkan produk-produk buatan Jepang, orang masih sangat menggemari buatan Eropa atau Amerika Serikat, tapi sekarang orang Amerika dan Eropa gelisah karena produknya di pasaran dunia banyak yang mulai tersingkir oleh produk Jepang dan Korea, terutama di bidang otomotif, komputer dan perangkat elektronik rumah tangga (electronic home appliances). Mengapa hal ini terjadi? Salah-satu penyebabnya adalah karena produk-produk mereka, disamping memang harganya lebih kompetitif namun produk tersebut memang memiliki kualitas yang mirip atau bahkan lebih baik daripada buatan Amerika dan Eropa. Keberhasilan ini tentunya tidak lepas dari penelitian yang tidak putus-putusnya dari pihak perusahaan yang didukung pula oleh dunia perguruan tinggi. Jadi, di masyarakat industri, penelitian ilmiah sering dilihat sebagai sumber informasi baru yang dapat menyediakan jawaban terhadap permasalahan, inovasi untuk peningkatan kualitas hidup atau peningkatan mutu suatu barang. Usaha-usaha Peningkatan Mutu Peneliti Sebelum kita membahas tentang upaya peningkatan mutu peneliti ada baiknya kita pertama-tama membicarakan tentang hal-hal yang menarik mengenai penelitian dan apa yang menyebabkan seseorang menjadi peneliti. Kita seringkali melihat seorang anak kecil yang sibuk sedang mencabik-cabikkan boneka atau seekor cicak hanya untuk mengetahui apa yang terdapat di dalamnya atau kita masih ingat bahwa ketika kita masih remaja membongkar radio milik ayah kita, hanya sekedar ingin tahu apa yang terdapat di dalamnya tanpa bisa mengembalikan radio itu seperti semula. Menurut cerita, Thomas Alva Edison (1847-1931), seorang penemu terbesar di dunia, ketika ia masih kanak-kanak pernah ditemukan di kandang ayam dan sedang duduk mengerami telur ayam, persis seperti ayam mengerami telurnya. Hal-hal diatas adalah contoh sederhana dari sifat dasar yang

Refleksi UKI 49

Peningkatan sumber daya manusia

harus dimiliki peneliti yaitu rasa keingintahuan yang besar dan dorongan untuk “menjelajah” hal-hal yang dianggapnya perlu diketahuinya. Sangat disayangkan, seringkali sifat “keingintahuan” yang “kekanak-kanakan” dan kreatif itu semakin memudar dengan bertambahnya usia dan bahkan ada beberapa pakar pendidikan mengatakan bahwa sistem pendidikan yang ada sekarang membuat kemampuan manusia untuk “menjelajah” terpasung seiring dengan tujuan pendidikan yang hanya ingin mencetak manusia menjadi sarjana atau “tukang” yang setelah lulus siap menyerbu lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal kedua adalah sifat kritis, yaitu sanggup mengamati, memilah dan mengevaluasi persoalan atau fakta yang ada. Pada saat sekarang, pengambilan, penghitungan dan penampilan data dapat dilakukan dengan bantuan alat, a.l. untuk pengukuran digunakan termometer; untuk pengolahan data digunakan perangkat lunak (software) statistik SPSS serta untuk penampilan data digunakan Harvard Graphics®. Namun interpretasi serta pengambilan kesimpulan tentang data atau fakta yang ada masih sepenuhnya dipegang oleh sang ilmuwan atau peneliti. Hal ketiga ialah integritas dan kejujuran, dua hal yang mutlak pula dimiliki oleh seorang peneliti. Kedua hal ini bisa menjadi ramburambu yang tangguh agar dalam melakukan pekerjaannya sang peneliti tetap berpegang teguh pada tujuan ilmu yang luhur yaitu bagi kemaslahatan umat manusia. Sifat keempat yang juga tidak kalah penting adalah tidak mudah putus asa. Hal ini penting karena seringkali penelitian yang dilaksanakan tidak langsung memberikan jawaban atau hasil yang diharapkan, karena itu sifat keajegan atau konsisten terhadap apa yang diteliti atau ditekuni juga merupakan salah satu modal penting bagi peneliti. Sifat kelima adalah kerjasama dan kesejawatan atau kolegialitas. Hal ini sangat diperlukan karena kita sadar bahwa apa yang kita teliti dan temukan hanyalah sebutir pasir di padang pasir misteri semesta alam

50 Refleksi UKI

Peningkatan sumber daya manusia

yang ada. Jadi setiap temuan yang dihasilkan menambah gambaran mosaik yang telah ditemukan oleh rekan-rekan peneliti lainnya. Kita menganggap peneliti yang lain adalah rekan sekerja yang juga bersama-sama dengan ribuan peneliti yang lain berusaha memecahkan rahasia alam semesta. Makin lama gambaran dan pengertian kita terhadap sesuatu hal akan semakin jelas karena akumulasi temuan-temuan yang dihasilkan oleh jutaan peneliti sepanjang sejarah manusia. Di samping hal-hal di atas seorang peneliti juga harus mempunyai jiwa manajerial yang cukup, karena di samping pekerjaan penelitiannya iapun harus tahu membagi waktu, membagi beban pekerjaan, membuat laporan penelitian, mengikuti seminar atau kongres serta pekerjaan-pekerjaan administratif lainnya. Faktor eksternal yang juga penting agar peneli-peneliti dapat lahir, tumbuh dan berkembang dengan baik adalah budaya ilmiah masyarakat. Budaya ilmiah ini harus selalu dikembangkan di masyarakat. Secara umum dikatakan adanya budaya ilmiah yang baik dimasyarakat, apabila kaidah-kaidah ilmiah bukan tahayul atau mistik yang menjadi dasar dalam gerak-langkah individu, kelompok masyarakat dan negara, baik itu dalam menjalankan roda kehidupan maupun dalam upaya penyelesaian masalah pribadi, keluarga ataupun bangsa dan negara. Meskipun penelitian merupakan darma ke 2 dari Tridarma perguruan tinggi, selain pendidikan dan pengabdian masyarakat. Namun Didasari akan tarikan serta dorongan-dorongan di atas tadi, maka Indonesia harus segera mengambil langkah-langkah yang tepat dalam rangka meningkatkan mutu peneliti dan penelitian yang dihasilkan. Usaha-usaha tersebut adalah meningkatkan dan menumbuhkembangkan penelitian-penelitian di segenap unit-unit penelitian baik di lingkungan perguruan tinggi, departemen dan badan-badan penelitian lainnya. Program-program yang pengembangan penelitian

Refleksi UKI 51

Peningkatan sumber daya manusia

yang diprakarsai oleh Pemerintah a.l. Hibah Bersaing, Riset Unggulan Terpadu (RUT), Riset Pembinaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran (Risbin Iptekdok). Diharapkan melalui program-program ini dapat dihasilkan penelitian-penelitian yang berbobot yang bukan saja dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan namun dapat langsung digunakan untuk kesejahteraan nusa dan bangsa. Adik-adik mahasiswa dan saudara-saudara sekalian, Bagaimana dengan usaha-usaha tersebut di UKI? Apakah UKI sudah, sedang dan akan selalu meyumbangkan sesuatu untuk pengembangan dunia penelitian khususnya dan bagi kemajuan ilmu di Indonesia pada umumnya? Haruslah diakui meskipun UKI termasuk peguruan tinggi swasta yang tertua di Indonesia (didirikan tahun 1952), namun sumbangsih kita terhadap dunia penelitian masih sangat minim. Ini terlihat dari sedikitnya hasil-hasil penelitian yang bertaraf nasional apalagi internasional yang dihasilkan baik oleh mahasiswa ataupun staf pengajar UKI. UKI sudah harus sadar untuk mengambil tindakan-tindakan yang nyata, agar UKI tidak ketinggalan dibandingkan perguruan tinggi swasta yang bahkan lebih muda daripadanya. Sebab itu pengiriman staf pengajar untuk mengikuti studi lanjutan sudah merupakan langkah yang tepat, tapi ini harus diikuti pula dengan pengembangan prasarana dan sarana penelitian yang memadai agar staf pengajar yang kembali dari tugas belajar dapat langsung mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya. Sebab bila tidak, maka terbuanglah dengan percuma investasi yang tidak murah tersebut dan lagipula bisa terjadi bahaya tersedotnya tenagatenaga siap pakai itu ke perguruan-tinggi atau lembaga lain yang siap menampung mereka (brain drain). Tentunya hal-hal di atas membawa pengaruh terhadap keuangan universitas secara keseluruhan, tapi saya percaya bahwa investasi yang diberikan untuk pengembangan SDM dan sarananya di bidang penelitian akan memberikan hasil (return of interest) yang tidak sedikit

52 Refleksi UKI

Peningkatan sumber daya manusia

bagi perguruan tinggi bersangkutan. Sekurang-kurangnya penelitian itu akan berjalan dengan sendirinya (self-sufficient), tanpa bantuan modal dari pihak perguruan tinggi. Kegiatan penelitian di lembaga penelitian baik di tingkat Fakultas maupun Universitas harus lebih ditingkatkan lagi, pertama-tama dengan merubah kesan bahwa tempat ini hanyalah tempat “buangan” bagi orang-orang yang tidak terpakai; bahkan harus ditumbuhkan pandangan bahwa penelitian adalah salah satu motor penggerak yang penting untuk eksistensi (raison d’être) suatu perguruan tinggi. Untuk itu perlu dikembangkan penelitian-penelitian yang mengikutsertakan mahasiswa dan asisten-asisten muda agar mereka sejak awal diperkenalkan dan dibiasakan dengan dunia penelitian. Agar kelak bila mereka sudah lulus dan bekerja atau mungkin menempati posisiposisi yang penting di tempat bekerjanya tidak melupakan azas-azas penelitian yang dapat diterapkan pada pekerjaan mereka. Sebab menurut hemat saya, seorang sarjana, pimpinan atau menejer yang mengetahui dan mengaplikasikan dasar-dasar penelitian seperti yang telah diungkapkan pada Gambar 1 di atas, adalah orang-orang yang dapat meningkatkan baik kinerja ataupun kualitas produk dan pekerjaan yang dihasilkannya. Bila saudara-saudara adalah penggemar film Mission impossible yang ditayangkan secara berseri di layar televisi, maka saudara dapat melihat bahwa untuk melaksanakan tugas yang diberikan, seringkali para jagoan dalam film tersebut mengadakan penelitian pendahuluan tentang apa, di mana, siapa, kapan dan bagaimana misi itu dilaksanakan. Demikianlah juga dengan tugas yang ada di hadapan kita semua. Kita sedang berusaha mendayagunakan, meningkatkan dan memberdayakan sumber daya manusia yang tersedia, yaitu para mahasiswa yang telah secara sadar memilih UKI sebagai tempat ia

Mission possible

Refleksi UKI 53

Peningkatan sumber daya manusia

membekali diri, melalui prasarana dan sarana yang UKI miliki. Tugas ini bukanlah tugas yang tidak mungkin dilaksanakan melainkan yang mungkin dilaksanakan (Mission possible). Marilah saudara-saudara mahasiswa, staf pengajar serta pihak-pihak yang lain secara bersamasama berusaha agar proses-belajar mengajar yang sebentar lagi akan kita laksanakan juga merupakan proses perkenalan saudara dengan dunia penelitian. Semoga dalam waktu mendatang UKI akan lebih aktif memberikan warna terhadap dunia penelitian di Indonesia melalui karya-karya penelitian yang baik, yang dihasilkan oleh peneliti-peneliti UKI yang handal. Akhir kata, kepada Adik-adik mahasiswa baru, saya ucapkan selamat memasuki dunia kampus yang penuh misteri, belajar dan berjuanglah dengan giat di sana, sambil turut membuka teka-teki alam semesta yang masih banyak terselubung. Bacaan Bligh, D. 1990. Higher Education. Cassel Ed. Ltd. London, 142-53. Cohen L dan Manion L. 1994. Research methods in education. Routledge, London. Encyclopedia. Encarta 97. Microsoft CD-ROM. Friedman J. 1994. Cultural identity and global process. Sage Publ. London. Groen J, Eefke S, Juurd Eijsvoogel (ed.), 1990. The discipline of curiosity. Elsevier Science Publ. Amsterdam. Kennedy P. 1993. Preparing for the 21st century. Fontana Press. London. Medawar PB. 1990. Nasihat untuk ilmuwan muda (terj.) Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. McRae H. 1995. The world in 2020. HarperCollins Publ. London. Odhiambo TR. 1989. “Human resources development:Problems and prospects in developing countries,” Impact of Science on Society 155, 214.

54 Refleksi UKI

Peningkatan sumber daya manusia

Robins K. 1996. Globalisation dalam The social science encylopaedia, Kuper A dan Kuper J (ed.). Routledge, London, 345-46. Suriasumantri, JS. 1994. Ilmu dalam perspektif. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Tait RC. 1997. An Introduction to Molecular Biology. Horizon Scientific Press. England. Toffler A. 1991. Power shift. Bantam Books. New York.

Refleksi UKI 55

8
Keunggulan Suatu Perguruan Tinggi Dilihat dari Pola Ilmiah Pokok yang Dimilikinya ∗
erkembangan ilmu dan teknologi yang berlangsung sangat cepat telah mengubah interaksi manusia baik di dalam negeri sendiri maupun dengan luar negeri. Kegiatan ekonomi dunia yang cepat telah pula mengubah sifat dan tujuan bisnis serta organisasi-organisasi. Orang harus berorientasi pada pasar global yang tidak lagi dibatasi oleh waktu, tempat dan jarak. Semua faktor di atas tidak lepas dari unsur sumber daya manusia yang dimiliki oleh suatu bangsa atau negara dan ini tentunya tidak lepas dari sistem dan "industri" pendidikan yang ada yang harus pula mengubah filosofinya dari universitas "elite dan tradisional" menjadi universitas "modern" berwawasan regional dan global dan laku jual.

P

"To be or not to be, that is the answer"

Untuk memenuhi hal tersebut kurikulum sebaiknya disempurnakan dan tidak hanya difokuskan pada sistem konstekstual namun juga konseptual. Perguruan tinggi harus "pintar" membaca peluang, kekuatan, kelemahan dan ancaman yang dimiliki serta yang ada di lingkungannya agar "survival rate" -nya tinggi dalam "industri" pendidikan yang semakin kompetitif. Beberapa syarat yang harus dimiliki oleh suatu perguruan tinggi agar tetap survive adalah a.l.:
1. 2.

Lulusan yang telah diakui kualitasnya di pasar lokal, regional ataupun global. Suasana keilmiahan yang kondusif.

Kertas kerja yang disampaikan pada rapat Komisi II Senat UKI, tanggal 19 Maret 1999.

Keunggulan suatu perguruan tinggi

3. 4.

Prasarana dan sarana untuk proses belajar-mengajar yang baik. Investasi peserta didik (atau orang-tua atau stake holder lainnya) berkembang dengan baik (What you pay is what you get, WYPWYG).

Maka sudah menjadi suatu conditio sine qua non agar suatu perguruan tinggi berhasil dan jaya, selalu berusaha "menjadi" yang terbaik di tiga aspek tri darma yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Keunggulan kompetitif Sama seperti setiap produk yang yang dihasilkan oleh suatu pabrik akan diiklankan dengan memiliki keunggulan-keunggulan tertentu yang tidak dimiliki oleh produk lain, maka perguruan tinggi akan berusaha menonjolkan kelebihan atau keunggulannya. Hal ini tentu saja harus …pola ilmiah pokok berangkat dari kenyataan yang ada, kalau adalah suatu pilihan tidak mau dikatakan sebagai perguruan tinggi wawasan keilmiahan "papan nama". Bisa saja dalam katalog dan yang diambil brosur digambarkan seolah-olah perguruan berdasarkan keberadaan tinggi itu telah memiliki semuanya dan institusi tersebut untuk termasuk kelompok yang terbaik, padahal menjadi semacam penuju dalam kenyataan tidak begitu. Lagipula yang (lama-kelamaan) haruslah disadari bahwa, khususnya di bidang akan menjadi ciri khas ilmu-ilmu sosial dan humaniora ada perguruan tinggi kecenderungan terdapat kesamaan warna dari tersebut… program studi yang ditawarkan. Contohnya hampir semua perguruan tinggi negeri maupun swasta menawarkan program studi Magister Manajemen untuk program pasca-sarjananya dengan isi kurikulum yang kurang-lebih identik. Berangkat dari kenyataan-kenyataan di atas maka sudah sepatutnya dicarikan pola yang berbeda yang bisa memberikan "ciri khas" suatu perguruan tinggi. Diharapkan kekhasan itu menjadi keunggulan

58 Refleksi UKI

Keunggulan suatu perguruan tinggi

kompetitif sekaligus daya tarik bagi peserta didik maupun "stake holder" yang lain. Pola Ilmiah Pokok Kalau kekhasan menjadi keunggulan komparatif suatu perguruan tinggi, maka tentu saja perguruan tinggi harus berusaha mencari, menciptakan, mengembangkan dan mempertahankan kekhasan tersebut. Persoalannya adalah, apa dan bagaimana menciptakan kekhasan itu? Hukum alam mengatakan:"Lebih mudah mengolah yang sudah ada daripada membuat dari yang tidak ada", artinya usaha, tenaga dan dana akan lebih sedikit dikeluarkan untuk mengembangkan apa yang sudah ada daripada menciptakan hal yang baru. Dalam hal pengembangan ciri khas suatu perguruan tinggi, maka hal itu tidak lepas dari ciri khas keilmiahan yang dimilikinya. Pola ilmiah pokok adalah suatu pilihan wawasan keilmiahan yang diambil berdasarkan keberadaan institusi tersebut untuk menjadi semacam penuju yang (lama-kelamaan) akan menjadi ciri khas perguruan tinggi tersebut. Sedangkan sumber atau dasar-dasar penetapan pola ilmiah pokok perguruan tinggi yang dihasilkan melalui analisis SWOT (strength, weakness, opportunity and threat) adalah: 1. Sumber daya manusia 2. Letak geografis dan sumber daya alam 3. Sifat dan bentuk perguruan tinggi 4. Ideologi, nilai dan latar-belakang politik tertentu Contoh beberapa perguruan tinggi atau program studi yang sudah menetapkan atau memiliki Pola Ilmiah Pokok (PIP) dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Refleksi UKI 59

Keunggulan suatu perguruan tinggi

Tabel 1. Beberapa Universitas atau program studi yang menetapkan PIP Perguruan Tinggi Unika Atmajaya Undip Semarang Unpatti Ambon UI Pola Ilmiah Pokok Urban University Pantai dan Kelautan Kelautan Research University

Tahapan realisasi pola ilmiah pokok Penetapan pola ilmiah pokok oleh suatu perguruan tinggi membawa konsekuensi bahwa segenap daya dan usaha ditujukan dalam rangka mewujudkan pola ilmiah pokok tersebut. Menurut hemat penulis upaya perwujudan tersebut harus dilakukan secara bertahap dan pertama-tama melalui darma penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penyebaran hasil-hasil penelitian melalui seminar, simposium dan program-program peng-abdian yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang dibantu pula oleh media massa proses pembentukan opini masyarakat terhadap kekhasan perguruan tinggi tersebut dapat berlangsung lebih cepat. Langkah kedua adalah secara perlahan-lahan melakukan perubahan darma pendidikan dengan melakukan modifikasi proses belajar-mengajar yang ada terutama kurikulum. Perubahan-perubahan perlu dilakukan pada muatan lokal, karena melalui muatan lokallah sebenarnya terpancar kekhasan dari institusi tersebut. Lihat Gambar 1. Diagram alir tahapan pelaksanaan pola ilmiah pokok di suatu perguruan tinggi.

60 Refleksi UKI

Keunggulan suatu perguruan tinggi

UKI suatu Urban University? Menurut Rencana Induk Pengem-bangan UKI (RIP-UKI) tahun 19972003 telah ditetapkan bahwa UKI memiliki PIP sebagai Urban University, yaitu universitas yang berkiprah pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat urban (perkotaan). Pilihan ini memang tampaknya strategis dan tepat karena kampus UKI letaknya di kota metropolitan Jakarta. Sangat tidak tepat kalau UKI mengkonsentrasikan diri untuk menjadi Rural University. Namun secara jujur pilihan ini belum dilaksanakan secara terencana. Hal ini nampak dari belum adanya suatu petunjuk pelaksanaan atau dalam bentuk nyata, kegiatan-kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi yang menggambarkan bahwa UKI "menuju" suatu urban university. Paling tidak, masih ada ketidaksamaan pendapat tentang apakah UKI ingin menjadi urban, research atau rural university dan adanya kerancuan antara PIP dan (pusat) unggulan. Bila dilakukan analisis SWOT terhadap UKI, maka lebih tepat kalau UKI memiliki PIP sebagai urban university, karena faktor letak dan keberadaan UKI di kota Jakarta dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta orang dengan segudang permasalahannya.

Refleksi UKI 61

Keunggulan suatu perguruan tinggi • • • PIP SDM SDA Geografi
SWOT

Masalah Diabetes? RSU FK-UKI!

1.

Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat

Masyarakat dan stake holder

2. Pendidikan: Kurikulum → Muatan lokal

Gambar 1. Diagram alir tahapan pelaksanaan pola ilmiah pokok di suatu perguruan tinggi Daftar singkatan : PIP : pola ilmiah pokok, SDA: sumber daya alam, SDM: sumber daya manusia, SWOT: strength, weakness, oportunity, threat
: langkah pertama : langkah kedua

62 Refleksi UKI

Keunggulan suatu perguruan tinggi

Tentunya UKI tidak boleh menjadi menara gading serta tidak perduli atas permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat kota, bahkan seharusnya UKI dapat menjadi contoh universitas yang perduli dan mampu memberikan jawaban-jawaban yang kongkrit terhadap permasalahan perkotaan, misalnya masalah lalu-lintas (termasuk kecelakaan, polusi, disiplin dan keteraturan, hukum, tata-ruang, dll.), kekerasan (violence), dan anak jalanan yang bisa dilihat dan digeluti secara mandiri atau komprehensif oleh berbagai program studi yang ada di UKI. Bila UKI ingin dikategorikan sebagai universitas riset maka hal ini masih sangat jauh dari jangkauan karena sesuai dengan pembagian tingkat universitas riset menurut Carnegie yang diberlakukan di Amerika Serikat, suatu universitas riset harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 50 Doktor per tahun serta sanggup mendapatkan serta mengerjakan dana penelitian sebesar 15 juta dolar. Namun kita harus sadar dan setuju bahwa peletakan dasar agar UKI kelak menjadi universitas riset harus dilakukan mulai dari sekarang dan modal yang dimiliki oleh UKI sebenarnya cukup baik yaitu visi dan misi serta SDM yang umumnya sudah memiliki kualifikasi S2 dan S3. Sayangnya bila dilihat dari produktivitas ilmiah, tampak bahwa UKI masih sangat tertinggal dengan perguruan tinggi (swasta) yang lain. Kembali dikemukakan di sini, bila PIP dipilih secara bijaksana dan dilaksanakan secara taat asas maka secara perlahan tapi pasti budaya ilmiah dan budaya riset di UKI akan tumbuh dengan sendirinya. Penutup Pada saat ini animo lulusan SMU yang berkeinginan untuk masuk perguruan tinggi sangat besar, mereka berharap bahwa dengan seberkas ijazah yang akan dimilikinya akan mudah masuk ke pasar kerja, namun secara empiris kita tahu bahwa ternyata pasar kerja tidak begitu saja mau

Refleksi UKI 63

Keunggulan suatu perguruan tinggi

menerima mereka. Di pasar akan terjadi mekanisme seleksi yang sangat ketat dan hanya lulusan yang mampu menunjukkan prestasi yang akan mudah memasuki pasar kerja; tentunya hal ini tidak lepas dari kualitas alma mater yang telah mendidik mereka menjadi sarjana. Kalau demikian masyarakat pun akan semakin selektif memilih perguruan tinggi untuk pendidikan anak-anaknya serta untuk membina kemitraan-kemitraan lainnya seperti penelitian terapan dengan industri dan peningkatan pemberdayaan sumber daya manusia dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Hal ini menjadi lebih mudah apabila perguruan tinggi tersebut mempunyai trade mark yang secara empiris maupun ilmiah terbukti dikembangkan secara terus-menerus melalui produk yang dihasilkan lewat penelitian dan pengabdian masyarakat yang mengacu pada suatu pola ilmiah pokok. Bacaan Boedisantoso, RA (1998). Menjembatani Universitas Indonesia memasuki abad dua puluh satu. UI-Press. Jakarta. Lewis RG dan Smith, DH (1994). Total quality in higher education. St. Lucie Press. Florida, USA. Rencana Induk Pengembangan UKI tahun 1997-2003. UKI-Press. Jakarta.

64 Refleksi UKI

9
Terus Terang, UKI Kita Masih Perlu Diterangi 1
emua bentuk kehidupan (living organism) butuh interaksi. Dari mulai sel sebagai suatu unit terkecil bentuk kehidupan sampai kepada bentuk yang paling kompleks, yaitu manusia, selalu ingin berinteraksi dengan diri dan lingkungannya. Hasil interaksi itulah yang akan menunjukkan eksistensi atau keberadaan makhluk tersebut. Interaksi (artinya: hal saling mempengaruhi) bisa berlangsung lewat komunikasi dan secara sederhana komunikasi berlangsung lewat media (perantara), a.l. berbicara, tulisan, tayangan (audio-visual) dan bahasa tubuh (gesture atau body language). Dalam masyarakat moderen media tulisan banyak digunakan untuk berinteraksi, karena efektif, relatif murah, bersifat massal, dan terdokumentasi namun tidak selalu mudah dalam menuliskan dan menginterpretasikannya. Dibutuhkan ketenangan jiwa dan pikiran bila mau menghasilkan dan membaca tulisan yang baik, dan sebaliknya (dengan tujuan-tujuan tertentu) Anda bisa menuliskan tulisan yang amburadul dan picisan serta bisa salah mengartikan suatu tulisan. Sebab kadang-kadang kita pun harus pandai membaca arti kiasan suatu kalimat atau tulisan (read between the lines). Pesan, informasi atau just a piece of junk adalah satuan yang dipertukarkan dalam proses komunikasi dan dari situlah diharapkan timbul interaksi. Anda bisa bayangkan kalau yang dipertukarkan melulu "sampah", maka tanpa melihat sampahnya, kita pun bisa kebagian baunya. Mulutmu Harimaumu Idealnya, tulisan merupakan buah pikiran (dan jiwa) yang memperkaya dan mencerahkan (Aufklarung) individu yang disapanya. Pencerahan (atau
1

S

Diterbitkan di Buletin UKI Juni 2000, Tahun XVI, No. 6:10-13

Terus terang

“pembusukan”) jiwa yang didapat dari suatu tulisan atau buku dapat bersifat "langgeng", karena tulisan sanggup mengubah dan menginspirasi individu, kelompok, bangsa bahkan umat manusia (bandingkan dengan Kitab-kitab Suci agama). Sebuah buku atau tulisan yang baik sanggup membuka tingkap-tingkap baru pikiran dan jiwa pembaca. Saya yakin bahwa di balik kemiskinan Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Martin Luther King, Jr., dan Pramoedya Ananta Toer terdapat kekayaan pikiran dan jiwa yang diperoleh mereka dari membaca. Akhir-akhir ini di UKI muncul serangkaian tulisan berbau koran kuning. Tujuan penanggung-jawab selebaran-selebaran tersebut katanya untuk membeberkan ketidak-beresan, ketidak-adilan yang terjadi di (Rektorat dan Fakultas-fakultas) UKI dan menurut mereka bahwa sekarang adalah jaman yang sah untuk mencaci-maki siapa pun yang ditengarai terlibat dalam masalah-masalah di atas. Maksudnya mungkin untuk “mencerdaskan”, tapi kelihatan kental sekali unsur “Agipropse” nya, yaitu agitasi, propaganda dan sabotase. Mari kita lihat secara jernih tentang istilah penyebarluasan informasi. Memang betul bahwa era sekarang adalah era informasi dan transparansi. Apa yang terjadi di suatu kampung di Afrika besoknya sudah menjadi bahan diskusi di kota-kota di Brazil atau di Jakarta. Namun perlu kita lihat bahwa ada etika dan moral penyebar-luasan informasi. Seorang dokter tidak akan “dengan sengaja” menyebarluaskan kepada siapa pun bahwa pasiennya menderita sifilis. Dia akan menyampaikan informasi itu terlebih dahulu kepada si pasien dan bersama-sama dengannya membicarakan langkah-langkah terapi yang akan diambilnya untuk menyembuhkan pasien tersebut. Seorang akuntan yang diserahi kepercayaan untuk melihat neraca keuangan suatu perusahaan tentu saja tidak akan semena-mena membocorkan hasil pemeriksaannya. Ia tentu akan berusaha bersama-sama dengan kliennya memperbaiki sistem manajemen keuangan kliennya, kecuali bila ada maksud dan tujuan tertentu bagi pihak-pihak ketiga. Saya ambil contoh yang trivial: Apakah setiap pembicaraan suami dan isteri di balik kamar

66 Refleksi UKI

Terus terang

tidur mereka wajib diketahui oleh anak-anak mereka? Seorang rohaniawan, psikiater dan psikolog tentu akan memegang rahasia paling pribadi para kliennya, dan ini pun dijamin oleh undang-undang. Apalagi kalau kita ingat semangat kristiani dalam menyelesaikan masalah. Tidakkah Yesus menganjurkan bila ada 2 orang (kristen) bermasalah, maka sebaiknya diusahakan untuk diselesaikan secara empat mata sebelum menghadap hakim? Atas Nama Hukum Demokrasi, reformasi, kebebasan mengemukakan pendapat dan superioritas hukum akhir-akhir ini menjadi kata-kata kunci yang seringkali dipakai untuk melawan kekuatan status quo di kalangan pemerintah. Hal ini merembet pula ke UKI. Banyak sekali orang dari berbagai kalangan di UKI tiba-tiba melek hukum dan lebih mengherankan lagi pasal-pasal dan teori-teori hukum diajukan untuk menuntut dan memaksakan kehendak. Tidakkah kita ingat? Atas nama hukum dan demokrasi (Pancasila) Soeharto berkuasa secara otoriter dan menindas kemanusiaan di Indonesia selama 32 tahun, dan atas nama hukum pula (begitu menurut para pembela Soeharto) maka ia dan para kroninya sampai sekarang belum tersentuh oleh hukum. Atas nama hukum dan legalitas formal parlemen Jerman, maka Adolf Hitler “diperkenankan” untuk membunuh ...hukum itu penting untuk (genocide) orang Yahudi, orang cacat, orang mengatur kehidupan dan Gypsy dan semua bangsa yang tidak perlu ditegakkan, tapi yang termasuk dalam bangsa Aria. Di masa lebih penting daripada itu pemerintahan Hitler yang kurang dari 10 ialah hati nurani dan akal tahun lebih-kurang 6 juta orang terbunuh, sehat... belum lagi dihitung jumlah manusia yang tewas akibat Perang Dunia II yang ditimbulkannya. Atas nama hukum (agama) dan adat istiadat Yahudi

Refleksi UKI 67

Terus terang

maka terbunuhlah Anak Manusia, Yesus Kristus yang menyembuhkan orang pada hari Sabat dan yang mempersilakan siapa pun yang merasa dirinya tidak berdosa untuk merajam (melemparkan batu kepada orang yang didakwa bersalah sampai mati) seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Penulis percaya bahwa hukum itu penting untuk mengatur kehidupan dan perlu ditegakkan, tapi yang lebih penting daripada itu ialah hati nurani dan akal sehat (common sense). Karena jauh sebelum umat manusia mengenal hukum formal dan legal, hati nurani dan akal sehatlah yang membimbing, menjaga dan mengawal setiap budaya dan peradaban manusia di segala tempat di muka bumi. Panasea Di dalam dunia kedokteran ada suatu cita-cita yang berbau utopis yaitu menciptakan obat yang cespleng dapat menyembuhkan semua jenis penyakit, disebut panasea. Apapun penyakit yang Anda derita; dari hanya sekedar panu sampai dengan kanker, maka cukup dengan panasea maka semua akan sirna! Pertanyaannya sekarang apakah semua persoalan di bumi ini bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan satu bidang ilmu? Apakah masalah penyakit tuberkulosa paru hanya bisa diselesaikan dengan pemberian obat TBC? Ternyata tidak, diperlukan kerjasama yang erat dengan bidang ilmu lain. Telah diketahui bahwa ada hubungan yang erat dengan tingkat pendapatan (ekonomi), perilaku (psikologi) dan pola penyakit tertentu. Apakah masalah kelaparan hanya masalah ekonomi belaka? Apakah masalah korupsi masalah hukum belaka? Kita membutuhkan pendekatan yang komprehensif (holistik), kalau tidak maka kita bisa dinilai sebagai “Fachidiot”, artinya merasa bahwa dirinya (dan ilmunya) yang paling benar dan merupakan jawaban untuk segala permasalahan tapi ternyata tidak. Reformasi Menuju Pencerahan Kalau beberapa kelompok di UKI merasa bangga bahwa UKI secara aktif telah berpartisipasi dalam proses reformasi dengan menumbangkan

68 Refleksi UKI

Terus terang

rezim Soeharto, maka tugas kita berikutnya adalah melakukan pencerahan. Menurut saya, pencerahan tidak berkaitan dengan tumbangmenumbangkan rezim, se-seorang atau ideologi, namun lebih menuju pada pembentukan karakter dan budaya, dan ini terus terang tidak mudah. Karakter dan budaya apa yang akan ditumbuhkan? Karakter dan budaya yang bernafaskan religiositas, keilmuan dan kemanusiaan. Suatu karakter yang berdasar atas kekuatan individu, kelompok atau pun bangsa yang mau maju dalam rangka perbaikan nasib umat manusia. Apakah ini upaya yang fantastis? Utopis? Mari kita simak sebuah ungkapan oleh anonim di bawah ini: Ketika aku muda, Aku ingin merubah dunia, Ketika aku dewasa, Aku ingin merubah bangsa, Ketika aku semakin tua, Aku ingin merubah sanak-keluarga, Ketika aku mendekati ajal, Aku pun sadar, yang kuperlukan ternyata merubah diri. Kita mau, agar di UKI terbentuk terlebih dahulu upaya reformasi diri. Semua komponen UKI, baik itu secara individu maupun organisasi; Yayasan, Rektorat, Fakultas dan Lembaga secara sadar dan ajeg serta penuh komitmen melakukan upaya tersebut. Kondisi dan lingkungan untuk hal itu harus tercipta serta terencana dengan baik. Interaksi positif antar komponen di UKI harus ditumbuh-kembangkan. Kalau itu dilaksanakan, maka percayalah, setiap individu di UKI akan menunjukkan kualitasnya sendiri dan inilah yang akan membawa kualitas UKI sebagai organisasi pendidikan kristen di Indonesia.

Refleksi UKI 69

Terus terang

Pencerahan yang dimaksudkan di sini adalah agar segenap komponen di UKI, menggali kembali serta berusaha memahami kembali tugas, fungsi dan wewenangnya yang diperhadapkan dengan visi dan missi UKI. Biarlah anggota Yayasan secara rendah hati mau belajar tentang seluk-beluk pendidikan tinggi (kristen) di tengah-tengah persaingan antar perguruan tinggi di Jakarta, dalam negeri dan bahkan dengan luar negeri. Sebab “sebersih” dan serapi apa pun organisasi penyelenggara pendidikan, tidak bisa hanya mengandalkan dana dari mahasiswa saja... Biarlah Yayasan juga boleh memahami tentang kepelikan manajemen pendidikan tinggi yang berdiri di tengah tawaran untuk setia kepada panggilan ilmu dan iman, namun juga harus memperhitungkan segi mendapatkan penghasilan dari pelayanan dan jasa, bukan hanya mengandalkan masukan dari mahasiswa. Artinya Yayasan secara proaktif memberdayakan dirinya sebagai badan pendidikan (kristen) yang dapat dipercaya baik oleh individu maupun institusi-institusi penyandang dana di dalam dan luar negeri. Sebab “sebersih” dan serapi apa pun organisasi penyelenggara pendidikan, tidak bisa hanya mengandalkan dana dari mahasiswa saja. Untuk itu diperlukan terobosan-terobosan terutama di bidang jasa (penelitian dan konsultansi) yang bisa dikembangkan oleh setiap unit di Universitas yang berpotensi untuk melakukan hal itu. Disamping itu, Yayasan harus memberdayakan sumber daya manusia serta sumber-sumber daya lainnya seperti Universitas, Fakultas dan Lembaga-lembaganya. Biarlah para pemimpin di UKI baik di tingkat Rektorat maupun Fakultas lebih memikirkan upaya-upaya peningkatan mutu kelulusannya melalui pemberdayaan tenaga pengajar dan karyawan administrasi secara optimal. Untuk itu manajemen yang memiliki sifat-sifat universal layaknya di suatu perusahaan tentu dapat diberlakukan tanpa meninggalkan ciri-ciri khas suatu perguruan tinggi yang bersifat “nirlaba”.

70 Refleksi UKI

Terus terang

Biarlah para staf pengajar lebih berusaha untuk meningkatkan kualitas diri dalam hal melaksanakan pembelajaran dan penelitian serta biarlah kita membuka diri untuk menempatkan mahasiswa sebagai “teman” dalam mengarungi dunia ilmu. Biarlah para karyawan administrasi menemukan kembali esensi bahwa mereka adalah bagian dari pilar pelayanan UKI dalam menjalankan fungsinya. Biarlah para mahasiswa merasa nyaman, terlindungi, dan terpacu untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan kampus ilmiah. Butir lain yang juga penting dipelajari dan ditumbuh-kembangkan adalah belajar untuk bisa bekerjasama dan hidup bersama (learning to live together). Ini harus dilaksanakan terus-menerus oleh semua pihak, agar UKI semakin terang, bukan semakin gelap. Bila hal ini terjadi, maka kita tidak perlu lagi saling menyalahkan, menjatuhkan, menum-bangkan, namun justeru saling memperkuat, menopang untuk tujuan agar Sang Pemilik UKI yang sesungguhnya berkata:”Baik benar perbuatanmu hambaKu yang setia!”
Bacaan

Epstein LD. 1974. The campus and public interest. Governing the university. Jossey-Bass, Inc., Publ. San Fransisco, USA. Lewis RG and Smith DH. 1994.Total quality in Higher Education. St. Lucie Press, Delray Beach, Florida, USA. Williams G. 1992. Changing patterns of finance in Higher Education. SHRE and Open University Press, Buckingham, United Kingdom. Nettleford R. 1998. Universities: Mobilising the Power of Culture A View from the Caribbean. An article in Higher Education in the Twenty-first Century Vision and Action; UNESCO, World Conference on Higher Education, Paris 5-9 October 1998.

Refleksi UKI 71

Terus terang

72 Refleksi UKI

10
Berpikir Seperti Kanak-kanak, Bertindak Seperti Orang Dewasa 1
ulisan ini dibuat terutama dalam rangka pelantikan kepemimpinan baru di UKI yang baru-baru ini kita selenggarakan. Prof. Dr. –Ing. K. Tunggul Sirait dilantik sebagai Rektor untuk kedua kali dan demikian juga beberapa Dekan dipercaya untuk memegang jabatan itu untuk masa kedua, di samping beberapa Dekan yang sama sekali baru. Periode kepemimpinan di lingkungan UKI pada kali ini adalah periode kepemimpinan yang penting, karena pada masa kepemimpinan inilah kita umat manusia akan memasuki milenium baru, abad ke 21 yang penuh tantangan dan mungkin gejolak. Lokomotif yang terseok-seok Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis moneter dan ekonomi yang sedang kita hadapi secara langsung atau tidak langsung telah membawa dampak kepada dunia pendidikan. Kemajuan ekonomi yang selama ini dianggap sebagai lokomotif untuk menghela kereta-kereta sektor kehidupan lainnya telah kehabisan tenaga dan bahkan telah dipanggil montir asing untuk segera memperbaikinya yaitu International Monetary Fund (IMF) serta badan-badan atau negara-negara lainnya. Salah satu contoh pengaruh krisis tersebut adalah membumbungnya harga buku (ajar) dan gulung tikarnya beberapa penerbit surat kabar akibat meningkatnya harga kertas secara drastis. Buku dan surat kabar masih merupakan media pengajaran yang efektif dan utama. Bagi fakultas kedokteran dan fakultas-fakultas yang banyak menggunakan sarana dan

T

1

Dimuat di Buletin UKI Januari 1998, Tahun XIV, No. 1:7-10.

Berpikir seperti kanak-kanak

bahan praktikum dengan bahan-bahan impor maka tentu dapat dibayangkan akibatnya terhadap proses pengajaran tersebut. Krisis yang dihadapi sekarang tidak lepas dari tingkah laku serta kegagalan kita dalam mengantisipasi semua tantangan yang ada dan apabila kita gagal menanggulangi krisis ini maka tak terbayangkan efek “bola salju” yang akan ditimbulkannya. Ada dampak besar yang diramalkan dapat terjadi, pertama adalah reaksi akut masyarakat terhadap berbagai hal yang terjadi seperti kenaikan harga (bahan pokok), pengangguran dan memanasnya situasi politik menjelang SU MPR bulan Maret mendatang. Reaksi akut yang ditunjukkan oleh masyarakat seringkali bersifat amok. Sedangkan salah satu reaksi kronis yang dapat timbul berkaitan dengan dunia pendidikan seperti yang telah disebut di atas. Budaya atau Penyakit Asia (?) Dari kacamata berpikir pragmatis, dunia pendidikan seringkali hanya diterjemahkan sebagai institusi yang bertugas menghasilkan SDM yang bermutu sesuai dengan kebutuhan pasar (market driven). Artinya, di tengah kompetisi global dan suasana seleksi alam ala Darwinisme (survival for the fittest), faktor kualitas intelektual dan motorik manusialah yang terutama didewakan. Pendapat ini, meskipun dikritik oleh banyak ahli pendidikan, namun ironisnya arah pendidikan yang kita ambil sekarang justeru cenderung mengarah ke sana, dan sayangnya pula tidak tuntas seperti yang dituliskan oleh David Harries (the Jakarta Post, 7 Februari 1998): “Too many schools, universities, students, and teachers in Asia are ignoring, or avoiding, the issue of quality and the need for appropriate and credible qualifications. Too many individuals want to earn their qualification, and expect to prosper from it, with little or no work” (garis bawah dari penulis) Kalau yang diperkirakan David Harries sepenuhnya benar, maka kita sedang menghadapi masalah yang gawat, karena baik secara institusional maupun pelaku, kita mengabaikan faktor-faktor penting yang dibutuhkan agar terjadi kemajuan masyarakat dan bangsa.

74 Refleksi UKI

Berpikir seperti kanak-kanak

Meskipun sangat disadari bahwa peningkatan SDM sangat erat kaitannya dengan peningkatan pendayagunaan dunia pendidikan namun justeru pada saat negara-negara Asia menikmati surplus ekonomi yang luarbiasa, dunia pendidikan sangat kurang menerima perhatian. David Harries mengemukakan hal itu di Jakarta Post (ibid): “But, like so much else connected with the fall from grace of the Asian “economic miracle”, education is being exposed as the recipient of at least as much lip service as system improvement in the recent past.” Hal ini nyata bahwa pada setiap pengajuan APBN tampak anggaran pendidikan masih sangat kecil. Bagaimana posisi dan antisipasi UKI? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita merenung dan mencoba melihat sudah sampai seberapa jauh kontribusi UKI dalam rangka menyatakan visi dan missinya di Indonesia. UKI adalah salah satu perguruan tinggi swasta (kristen) yang tertua di Indonesia, dibangun oleh para tokok-tokoh pergerakan kemerdekaan dan pendidikan pada waktu itu. Mereka merasa bahwa umat kristen harus mempunyai kontribusi nyata untuk membangun bangsa dan negaranya dari ketertinggalan di segala bidang kehidupan akibat penjajahan. Dalam kurun waktu 45 tahun, UKI telah turut ikut dalam pasang surut dunia pendidikan di Indonesia. Pertanyaannya adalah, sampai seberapa jauh UKI telah memberi warna atau apakah justeru UKI telah berubah bentuk, baik dari segi visi dan missinya? Apakah kita masih seperti kanak-kanak baik dalam berpikir dan bertindak? Penyakit-penyakit sosial masyarakat seperti inefisiensi, korupsi, kolusi, oportunistik, malas dan bisnis mencari rente yang secara akumulatif dan progresif telah membawa keadaan krisis yang kita derita saat ini, janganlah sampai terjadi pula di UKI. Hal-hal di atas telah terbukti mampu menggerogoti organisasi yang besar y.i. negara, apalagi bila hal tersebut kita kembangbiakkan di UKI. Kinerja harus ditingkatkan semaksimal mungkin bahkan kalau perlu dilakukan revisi program atau kegiatan yang selama ini sedikit atau tidak

Refleksi UKI 75

Berpikir seperti kanak-kanak

membawa dampak postif terhadap pengembangan institusi. Etos kerja dan moral (kristiani) tidak hanya sebatas ungkapan kata-kata namun dipraktikkan menlalui tindakan nyata yang diprakarsai pertama-tama oleh para pimpinan. Menuju Masyarakat yang Berkualitas Bila kita berusaha meningkatkan kualitas masyarakat menjadi masyarakat ilmiah (learning society) maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti dituliskan oleh Nightingale dan O’Neil (1994) y.i.: (1) tingkat pertama, perkembangan pada aras individu mahasiswa, dosen dan mentor. Melalui beberapa usaha dan proses pembelajaran di kampus diharapkan terbentuk jiwa dan kepribadian masyarakat kampus yang cinta ilmu. Ini dapat terlaksana bila segenap persyaratan fisik dan nonfisik dapat terpenuhi secara masksimal. Persyaratan non-fisik yang dimaksud adalah suasana keilmuan yang kondusif yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk mengembangkan keilmuannya. (2) perkembangan pada aras bagian, unit atau jurusan perlu dipacu agar tercipta suasana yang menarik dan saling mendukung untuk mengembangkan citra bagian baik dalam hal penelitian maupun pengajaran. (3) tingkat ketiga, perkembangan pada aras institusi yaitu pengembangan dan perbaikan struktur, organisasi, manajemen serta penyediaan fasilitas yang menunjang bagi bagian, unit atau jurusan serta individu. Sedangkan perkembangan pada aras nasional (4) yaitu pengembangan infrastruktur untuk peningkatan kualitas termasuk kebutuhan akan penyebar-luasan metode, teknik dan strategi pengajaran yang didapatkan berdasarkan hasil penelitian atau pengalaman di lapangan. Karakteristik Pembelajaran yang Bermutu Tinggi Pendidikan tinggi melalui usaha-usaha pembelajarannya mempunyai tugas untuk mengembangkan kualitas inividu maupun masyarakat. Taylor (1994) dalam tulisannya “Characteristics of quality learning” mengemukakan bahwa pembelajaran yang bermutu tinggi ditandai dengan:

76 Refleksi UKI

Berpikir seperti kanak-kanak

1) Orang mampu mencari ilmu (pengetahuan) secara mandiri. Mahasiswa bukanlah seperti spons yang menghisap semua informasi yang diberikan dosen atau instruktur. Ia mampu menganalisis dan mensintesis informasi yang ia kumpulkan dan cukup kritis untuk secara terus menerus mempertanyakan kesimpulan yang ditariknya serta mampu memilih cara (jawaban atau metode) yang menurutnya paling baik. Jawaban atas informasi atau fenomena yang diberikan oleh mahasiswa secara mandiri tidak selalu harus merupakan kontribusi yang orisinal seperti tesis S2 atau S3. 2) Mengerti dan bukan mengingat. Meskipun dalam proses pembelajaran kita diperhadapkan dengan data mengenai nama, tempat, rumus, gejala, efek obat, dll., namun yang terpenting adalah mendapatkan pengertian umum dan khusus tentang data tadi. Pemahaman terhadap suatu fenomena dan konsep dan bukan hanya mengingat informasi adalah proses pembelajaran yang memberikan efek retensi yang lebih besar. 3) Sanggup menghubungkan antara hal yang lama dan baru. Mahasiswa yang memiliki kualitas yang tinggi apabila sanggup menganalisis dan mensintesis ide, informasi dan metodologi yang dipelajari dan ditemukannya. 4) Menciptakan pengetahuan yang baru. Secara mandiri diharapkan mahasiswa sanggup menemukan pengetahuan yang baru secara kreatif, meskipun mungkin penemuannya itu sudah diketahui orang, namun yang terpenting adalah proses penemuan dan pencapaian pemahaman akan fenomena yang dihadapi atau dipelajarinya. 5) Mampu menyelesaikan masalah. Bermula dengan kemampuan mengidentifikasikan masalah kemudian melalui metodologi yang dipilih dan pengalaman yang ada dapat menjawab atau menyelesaikan persoalan yang timbul. 6) Kemampuan berkomunikasi yang tinggi. Komunikasi penting untuk menyampaikan informasi yang dimiliki kepada orang lain, agar tercipta interaksi. Komunikasi ilmu pengetahuan dapat berlangsung secara (a) tertulis dalam bentuk

Refleksi UKI 77

Berpikir seperti kanak-kanak

misalnya laporan penelitian, artikel di jurnal dan dalam bentuk (b) verbal misalnya diskusi pada suatu seminar. 7) Keinginan untuk selalu menambah ilmu merupakan hal yang penting sebagai perwujudan dari belajar sepanjang waktu (lifelong learning). Mahasiswa (kedokteran) yang berusaha mengingat semua syaraf yang terdapat di lengan atas serta membandingkannya dengan buku ajar yang lain, tidak mempraktikkan belajar berkualitas tinggi. Semua faktor di atas memberikan peran yang penting dalam mencapai kualitas pembelajaran yang tinggi. Agar proses pembelajaran berkualitas tinggi dapat berlangsung dengan baik, dibutuhkan beberapa prasyarat kondisi yang saling menunjang yaitu: (1) kesiapan mental dan intelektual para anak ajar, (2) tujuan pembelajaran yang jelas; semakin jelas tujuan maka (proses) pembelajaran semakin baik. Mahasiswa dapat secara eksplisit menghubungkan pengetahuan yang sebelumnya dengan yang baru didapatkannya, (3) suasana lingkungan fisik yang mendukung, ditandai dengan kenyamanan tempat belajar, ketersediaan akan sarana penunjang seperti perpustakaan, ruang diskusi atau seminar, dll.

Survival of the fittest

Institusi pendidikan diharuskan menghargai lingkungan luarnya, sebab ide dan persoalan-persoalan, sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi berada di dan dari luar. Institusi pendidikan tidak akan mengabaikan atau mendominasi lingkungan tapi berusaha hidup bersama dengannya secara interaktif. Perubahan lingkungan yang ajek dan dinamis ini harus dapat diterjemahkan oleh institusi pendidikan sebagai suatu daya yang dibutuhkan untuk belajar dan berkembang. Institusi pendidikan tidak steril terhadap persoalan-persoalan keilmuan dan kemasyarakatan.

78 Refleksi UKI

Berpikir seperti kanak-kanak

UKI harus selalu tanggap atas apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya supaya bisa survive. Kalau tidak akan seperti Dinosaurus yang punah jutaan tahun yang silam. Bagaimana bisa survive? Jawabannya sangat sederhana namun sulit untuk mempraktikkannya karena perlu usaha yang keras, all-out, dari kita semua yaitu sesuai dengan judul tulisan ini: Berpikir seperti kanak-kanak, bertindak seperti orang dewasa. Visi dan pikiran UKI harus lebih terbuka dan jernih, senang dan ingin belajar tentang hal-hal yang baru (curious) seperti yang dimiliki oleh anakanak; namun UKI juga harus gesit, ulet, tahan banting, berani bertanggung-jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya (menghindari budaya “kambing hitam”), dapat dipercaya (reliable), committed terhadap missi yang dijalankannya seperti yang dapat dituntut dari seorang dewasa yang memiliki integritas. Bila di dalam dan dari UKI sifat-sifat serta budaya itu ditumbuhkembangkan niscaya UKI akan survive bukan karena UKI yang “terkuat” namun karena UKI bijaksana dan dapat membaca tanda-tanda jaman sehingga ia cocok (fitted). Sekali lagi kita ucapkan selamat bertugas (kembali) kepada Rektor dan Dekan-dekan di lingkungan UKI dan semoga bersama-sama dengan segenap sivitas akademika yang lain, UKI siap memasuki milenium yang ketiga. Bacaan Die Erde 2000. Wohin sich die Menscheit entwickelt. Spiegel Spezial, 1993, 4. Spiegel Verlag, Rudolf Augstein GmbH & Co. Hamburg. Welche Uni ist die Beste? Spiegel Spezial, 1990, 1. Spiegel Verlag, Rudolf Augstein GmbH & Co. Hamburg. Fullan M. Change Forces. Probing the depths of educational reform. 1993. The Falmer Press. London

Refleksi UKI 79

Berpikir seperti kanak-kanak

Simatupang A. Pola Kepemimpinan yang “Menjadi” bukan “Memiliki”. Suatu Tanggapan dan Harapan. Buletin UKI, Maret 1997, Tahun XIII, No.3:13-15. Nightingale P and O’Neil M (eds.). Achieving Quality Learning in Higher Education. Kogan Page. London. 1994: 165-178. Taylor P. Characteristics of Quality Learning in Achieving Quality Learning in Higher Education. Nightingale P and O’Neil M (eds.). Kogan Page. London. 1994: 53-75. Harries D. Education: Learning from the crisis. The Jakarta Post. 7 February 1998.

80 Refleksi UKI

11
UKI, UKI, lama sabakhtani? 1
enurut beberapa tafsir, pertanyaan yang diajukan Anak Manusia ketika ia tergantung di kayu salib itu (aslinya berbunyi:”Eli, Eli, lama sabakhtani”, lih.: Mat: 27:46), punya dimensi yang sangat manusiawi, yaitu jeritan dari seseorang yang ditimpa rasa kesepian yang amat sangat karena hubungan dengan orang yang dikasihinya tiba-tiba terputus. Ibarat seorang sahabat yang selama ini diandalkan tiba-tiba menghilang tidak tahu rimbanya, justru pada saat diperlukan dukungannya. Lalu apa hubungannya dengan UKI? Apakah UKI begitu penting, sehingga sang Anak Manusia seakan-akan kembali meneriakkan seruan itu? Ya, UKI itu penting, bahkan sangat penting! Anak Manusia itu sendiri yang menemukan, membimbing, menemani dan mengurus UKI, layaknya seorang sahabat, layaknya seekor domba yang ditemukan di padang ditinggalkan oleh induknya yang diterkam serigala. Ketika UKI dan Anak Manusia mengikat janji dengan darah untuk menjadi sahabat tentulah mereka punya dasar dan tujuan yaitu menjadikan anak bangsa insan yang berguna untuk tujuan kemanusiaan. Suatu janji luhur yang berisi bahwa UKI yang akan mengerjakan ladang si Pemilik, agar hasil ladang itu bisa dinikmati para pekerja dan orang kampung sekitar. Jadi sang Pemilik telah rela memberikan ladangnya kepada UKI untuk diolah. Persahabatan itu sekarang usianya sudah hampir mencapai 50 tahun, suatu usia persahabatan yang cukup panjang, dan pasti mereka tahu betul
1

M

Dimuat di Buletin UKI Januari 2000, Tahun XVI, No. 1: 19-20.

UKI, UKI, lama sabakhtani?

apa yang sudah mereka alami selama itu. Ada kalanya hasil panen melimpah-ruah, namun sering pula para pekerja pulang dengan tangan hampa. UKI dan Anak Manusia tahu, bahwa ladang tempat janji mereka disemaikan terdiri atas ribuan penggal tanah dengan bermacam-macam suku bangsa, budaya, dan agama tinggal di atasnya, dan mereka sadar bahwa itu tidak mudah. Meskipun demikian, si Pemilik ladang bukanlah tuan yang kejam yang selalu menuntut hasil tanpa memberikan kontribusi, yang seringkali terjadi justru sahabatnya, UKI, yang ongkangongkang kaki sambil menikmati kopinya dan berkata: “Ah, hari masih pagi, mari kita bercakap-cakap dahulu, kita rencanakan pengembangan ladang ini, begini, sebaiknya kita tanam satu jenis pohon saja, dan tidak usah diberi pupuk sebab kita yakin ladang ini sudah subur dan akan tetap subur, lagipula harga pupuk sekarang mahal, ada baiknya kita dirikan bedeng-bedeng agar kita dapat berteduh, dan begini…..dan begitu…..”. Akhirnya mentari sudah memasuki ufuk barat, dan para pekerja pun pulang. Esoknya, UKI kembali berkumpul di bedeng yang dibangunnya dan kembali berencana: “Kita kan sudah mulai renta, mana sanggup lagi mencangkul, menanam dan menyiangi rumput? Ah, seandainya ada yang lebih muda membantu kita, tapi kita tetap di sini, dan biarlah mereka bekerja untuk kita, lagipula kita adalah sahabat-sahabat yang asli si Pemilik ladang, bukan mereka.” “Bagaimana kalau si Polan kita angkat untuk mengurus ladang ini?,” kata yang satu. “Ah, si Dante ‘lah, dia paling cocok, karena dia biasa menjalankan sistem MBA?”, kata yang lain. “Apa pula MBA itu?”, sergah yang lain. “Management By Ancaman”, kata yang mengusulkan. Untuk menjalankan sistem manajamen itu tidak perlu pendekatan ilmiah dan rasional apalagi bicara iman, kasih dan pengharapan, pokoknya

82 Refleksi UKI

UKI, UKI, lama sabakhtani?

ancam,” ia meneruskan lebih lanjut. Perdebatan masih berlanjut, namun akhirnya mereka sepakat bahwa sistem MBA adalah yang terbaik saat ini untuk memajukan perladangan. Motto mereka: “Ancam dulu, pikir belakangan” Proses rekrutmen manajer MBA berlangsung cepat, karena proses itu pun berlangsung lewat ancaman?! Sudah dapat dipastikan sejak saat itu ancaman dan fitnah menjadi pola pikir dan pola tindakan, pokoknya motto: “Ancam dulu, pikir belakangan” harus dijalankan. Di ladang orang tak perlu lagi bekerja, yang penting ancam. Bahkan belakangan ini sudah ada kontes “the best MBA manager of the year”. Tentu orang yang paling getol melakukan ancaman itu yang paling didengar, yang paling mumpuni, dan yang paling berpeluang untuk dipilih. Mentari sudah berkali-kali muncul di timur dan terbenam di barat, Anak Manusia, sang sahabat UKI, menanti dengan sabar kapan sahabatnya datang membawa hasil dari ladang perjanjian cinta kasih mereka. Ditunggunya UKI di pintu kemajuan, namun UKI tidak muncul, ditunggunya UKI di pintu keberhasilan, juga UKI tidak hadir. Sekali lagi ditunggunya UKI di pintu sukses, di situ pun UKI tak nampak. Hatinya mulai cemas, jangan-jangan…. memang tanah itu tidak subur, jangan-jangan memang isi perjanjian cinta kasih itu terlalu berat untuk mereka penuhi. Tak lama kemudian, seseorang menghampirinya: “Tuan, tuan……., ladang itu… ladang itu….,” nafasnya tersengal-sengal. “Kenapa dengan ladang itu?”, Anak Manusia terperanjat. “Ladang itu kosong…..tak ada seorang pekerja pun di dalamnya!”, jawabnya.

Refleksi UKI 83

UKI, UKI, lama sabakhtani?

Sang Anak Manusia mengerti sudah apa yang sebenarnya terjadi, diarahkannya matanya sekali lagi ke ladang itu, tempat ia dahulu memadu janji dengan sahabatnya, UKI. Tak kuasa menahan sedih Anak Manusia berseru: “UKI, UKI, lama sabakhtani!”

84 Refleksi UKI

12
Mempersiapkan Masa Depan UKI yang Lebih Baik: Rekomendasi Perbaikan terhadap Permasalahanpermasalahan yang Dihadapi UKI Sekarang 1

U

KI adalah sebuah organisasi pendidikan tinggi dan pelayanan yang didasari oleh prinsip kekristenan yang luhur yang selayaknya menerapkan unsur-unsur manajemen yang benar, transparan dan menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. YUKI sudah berusia 50 tahun tapi kinerjanya secara keseluruhan masih perlu dipertanyakan, apalagi bila dibandingkan dengan lembaga-lembaga sejenis yang usianya jauh lebih muda dari YUKI. Bahkan salah seorang alumnus UKI yang senior dalam tulisannya pada buku peringatan 50 tahun UKI sangat keras mempelesetkan singkatan UKI menjadi Universitas Kah Itu? (Luntungan, 2003). Semenjak YUKI mengambil alih fungsi pengaturan keuangan dan administratif lainnya, baik di Universitas maupun di unit-unit lainnya, tampak bahwa kinerja unit-unit tidak semakin membaik, tapi malah semakin merosot. Campur tangan YUKI, yang mungkin semula mempunyai maksud memperbaiki, malah semakin memperburuk keadaan. Meskipun demikian unit-unit di bawah YUKI selalu berusaha bekerja sebaik mungkin, beberapa upaya a.l. membuat perencanaan strategis (Simatupang, 2002), melakukan revisi Statuta UKI yang telah disesuaikan dengan aturan dan perundang-undangan yang terbaru, memaparkan kinerja UKI melalui penelitian tentang Kinerja UKI (Sitepu & Polla, 2001), dll., namun tampaknya semua menjadi sia-sia belaka, karena tidak adanya kepedulian dan rasa tanggung jawab bersama di antara semua
1

Materi yang dipersiapkan sebagai bahan pertemuan antara UKI dan Yayasan UKI.

Mempersiapkan masa depan UKI

komponen YUKI. Lebih dari itu, dalam setiap masalah ini, tampak bahwa YUKI seakan-akan selalu menjadi pihak yang benar, dan unitunitlah yang tidak benar. Karena itu kita perlu menyikapi hal-hal ini dengan baik dan benar serta segera mengambil tindakan-tindakan yang tidak lagi parsial tapi komprehensif yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh segenap komponen di UKI. Permasalahan Di bawah ini tergambar beberapa kecenderungan (trends) yang terjadi di dalam UKI dan beberapa kecenderungan yang ada di luar yang dapat dianggap sebagai permasalahan: A. Di dalam UKI 1. Jumlah mahasiswa. Jumlah mahasiswa UKI secara keseluruhan menurun, meskipun di fakultas kedokteran tetap kelihatan stabil. Namun di hampir semua fakultas jumlah penurunan mahasiswa nampak secara signifikan. Beberapa program studi atau jurusan bahkan hanya memiliki mahasiswa kurang dari sepuluh, akibatnya terjadi kelebihan kapasitas (over capacity) terutama dalam hal ketersediaan tenaga dosen dan karyawan. Belum lagi bila disorot dari segi kualitas rekrutmen dan rata-rata prestasi mahasiswa yang pada umumnya juga menurun. Hal ini menggambarkan kualitas input (rekrutmen) dan kualitas pembelajaran (proses) yang berakibat pada rendahnya mutu lulusan (output). 2. Semakin menurunnya sarana dan fasilitas belajar dan bekerja. Hal ini terkesan dari „kumuh“nya sarana dan gedung-gedung yang dimiliki UKI, terlebih Kampus Jalan Diponegoro yang seringkali mendapatkan perbaikan yang tambal sulam. Suasana kampus tidak lagi nyaman dan asri, padahal dalam setiap iklan penerimaan mahasiswa baru seakan-akan kampus UKI memiliki segala fasilitas yang selalu „dijual“. Selain itu perlu juga dipertanyakan aset-aset UKI yang lain, seperti di Bantar Gebang,

86 Refleksi UKI

Mempersiapkan masa depan UKI

Cidokom, dll. yang mungkin sudah semakin berkurang dan yang selama ini terabaikan. 3. Ketidaktepatan pembayaran gaji dan honoraria. Semenjak YUKI mengambil alih sistem pembayaran gaji dan honoraria lainnya, terjadi keterlambatan-keterlambatan penerimaan gaji dan honoraria dosen dan karyawan. Selain itu, besarnya gaji dan honoraria UKI pun sebenarnya sudah harus ditinjau ulang dari segi kelayakannya bila dibandingkan dengan perubahanperubahan indikator ekonomi serta bila dibandingkan dengan perguruan-perguruan tinggi sejenis (Poerwaningsih & Hutapea, 2001). 4. Jaminan sosial. Dalam rangka bantuan pemeliharaan kesehatan pegawai, pada tahun 1985, UKI mengambil inisiatif dengan mengadakan asuransi kesehatan swakelola yang dikenal dengan Pekeswa. Pekeswa telah banyak membantu meringkankan baiaya kesehatan pegawai, namun akhir-akhir ini sudah lama dirasakan, bahwa Pekeswa perlu ditingkatkan, karena semakin meningkatnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan dan seringkali Pekeswa tidak dapat lagi menjawab kebutuhan tersebut. Karena itu sejak 2 tahun yang lalu, UKI kembali mengambil inisiatif dengan mengajak pihak asuransi luar untuk memberikan alternatif-alternatif yang lebih baik daripada Pekeswa. Pada akhirnya melalui proses seleksi yang ketat dan terbuka terpilihlah beberapa perusahaan asuransi yang bersedia menjadi rekanan. Namun sampai sekarang belum ada jawaban dari YUKI mengenai hal ini. Demikian pula dengan bentukbentuk asuransi lainnya, seperti asuransi tenaga kerja, asuransi pensiun yang pada saat ini perlu dikaji ulang keberadaannya. 5. Sistem manajemen keuangan yang belum kunjung jelas baik di tingkat unit, fakultas, rektorat maupun Yayasan yang akhirnya seringkali menghasilkan kebijakan keuangan yang simpang siur sehingga memudahkan terjadinya “kebocoran-kebocoran”. Lagipula kebijakan keuangan yang diambil lebih terfokus pada

Refleksi UKI 87

Mempersiapkan masa depan UKI

pengamanan jangka pendek, kurang memikirkan faktor keberlanjutan (sustainability) keberadaan keuangan UKI yang sehat. Di samping itu, ditengarai telah terjadi “privatisasi” aset YUKI, contohnya perparkiran, cleaning service, oleh oknumoknum YUKI. Semua ini menumbuhkan iklim saling curiga di antara sesama komponen UKI. Sungguh aneh bahwa semenjak tanggung jawab keuangan seluruhnya dipegang oleh YUKI, tampak bahwa UKI tidak lagi dapat membangun atau merawat gedung-gedung dan sarana fisik lainnya, selain itu sekolah lanjut bagi para dosen juga tidak lagi tersedia, sehingga seringkali dosen-dosen muda yang berpotensi terpaksa terhambat studi lanjutnya, atau terpaksa menggunakan dana pribadi. 6. Khusus mengenai tanggungjawab pengurus yayasan dalam menjalankan tugasnya harus berlandaskan (Ais, 2002) 6.1. Fiduciary duty 6.2. Duty of skill and care 6.3. Statutory duty Butir 1 menjelaskan bahwa pengurus harus melaksanakan tugas bukan untuk kepentingan pribadi organ yayasan/pengurus yayasan. (psl. 35 & 39 UU Yayasan No. 16, 2001). 7. Semakin menurunnya jumlah mahasiswa yang masuk ke UKI membawa dampak semakin menurunnya pendapatan UKI, karena sampai saat ini, menurut Renstra UKI, ± 98,4% sumber pendapatan UKI berasal dari mahasiswa. Tentu hal ini tidak dapat lagi dibiarkan, karena kemampuan untuk menaikkan pemasukan dari mahasiswa akan terbentur dengan kemampuan membayar mahasiswa UKI itu sendiri, yang secara umum berasal dari kelompok menengah ke bawah (lihat laporan keuangan terlampir). 8. Menurut Zebua (2001), tingkat kepuasan kerja yang dimiliki oleh pegawai administratif maupun edukatif UKI tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh faktor motivator, namun lebih pada lingkungan (“higiene”). Ada 6 variabel yang mempengaruhi kepuasan kerja

88 Refleksi UKI

Mempersiapkan masa depan UKI

dosen y.i. pekerjaan itu sendiri, penyeliaan, hubungan dengan penyelia, hubungan dengan rekan sekerja, pengembangan karier dan rasa aman. Sedangkan pada tenaga administratif adalah tanggungjawab, penyeliaan, kondisi kerja, gaji/kompensasi, hubungan dengan rekan sekerja dan status. Tercipta suatu persepsi bahwa tidak ada gunanya berprestasi di UKI karena tidak membawa dampak apa-apa! Ada pula kecenderungan untuk menghindari (penambahan) tanggung jawab, karena hal ini kembali akan menjadi penambahan beban bagi yang bersangkutan dan bukan dianggap sebagai promosi. Pegawai (administratif) lebih banyak mementingkan peningkatan pendapatan (dahulu) daripada peningkatan prestasi. Secara parsial maupun secara keseluruhan masalah-masalah di atas telah membentuk academic dan corporate culture yang tidak sehat, jauh dari rasa memiliki, jauh dari rasa ingin lebih mengembangkan yang pada akhirnya akan membawa kehancuran! B. Di luar UKI 1. Tidak dapat dipungkiri UKI tidak lagi menjadi salah satu perguruan tinggi pilihan bagi calon mahasiswa, karena semakin banyak bermunculan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) yang dari segi kualitas mirip atau bahkan beberapa telah melampaui UKI. Selain itu perguruan tinggi lain tampaknya lebih kreatif menawarkan banyak jurusan atau program-program studi baru yang diminati dan cocok dengan lapangan pekerjaan saat ini. 2. Adanya peraturan perundangan-undangan baru menuntut penyesuaian dan perbaikan-perbaikan peraturan yang berlaku di UKI, a.l. UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, PP 60 Tahun 1999, UU Yayasan No. 16 Tahun 2001, dll. Khusus mengenai UU Yayasan, pemberlakuan UU tersebut akan dimulai pada tahun

Refleksi UKI 89

Mempersiapkan masa depan UKI

2006, karena itu YUKI harus segera mengambil langkah-langkah yang strategis dan tepat berkenaan dengan perubahan tersebut agar bila tiba pemberlakuan UU tersebut, YUKI justru tidak dirugikan. Selain itu, akan muncul pula UU baru yaitu UU Badan Hukum Pendidikan/Perguruan Tinggi yang di dalamnya akan lebih eksplisit mengatur tata cara, tata laksana dan tata organisasi suatu perguruan tinggi. Menurut RUU BHP terbagi atas BHPMilik Negara (BHP-MN) dan BHP-Milik Masyarakat (BHPMM). Secara umum kedua bentuk BHP tersebut sama, terlebih dalam hal keterlibatan masyarakat umum baik dalam hal kepengurusan maupun pengawasan. Termasuk di dalamnya tentu tentang tata cara penggunaan dana publik (Doloksaribu). Sejauh manakah YUKI telah mengantisipasi perubahanperubahan ini? Dari beberapa data kecenderungan-kecenderungan di atas tampak bahwa UKI sudah harus segera mengambil langkah-langkah konkrit. Kita tidak bisa lagi melakukan business as usual, namun secara bersama-sama melakukan perubahan-perubahan yang berarti. Rekomendasi 1. Perlu segera pembenahan struktur dan fungsi-fungsi di jajaran YUKI dan UKI melalui pertemuan yang intens dan berkesinambungan antara UKI dan YUKI. Pertemuanpertemuan itu sekaligus membicarakan dan menyamakan persepsi dan tindakan terhadap situasi dan keberadaan UKI. 2. Semua komponen di UKI harus menggali kembali jati diri, fungsi dan perannya bagi UKI. Kita harus tahu betul dasar-dasar dan untuk siapa UKI didirikan. Unsur-unsur U(niversitas), K(risten) dan I(ndonesia) kiranya terus-menerus digali dan menjadi landasan dan arah ke mana UKI berkiprah. Perlu redefinisi, reposisi dan revitalisasi fungsi badan-badan di YUKI dan UKI, sekaligus mengembalikan badan-badan di

90 Refleksi UKI

Mempersiapkan masa depan UKI

YUKI sesuai dengan kedudukan dan perannya. Hentikan segala bentuk vested interest yang sangat menggangu dan merusak kinerja YUKI dan UKI secara keseluruhan. Hal ini sesuai dengan amanat dan hasil pertemuan Pengurus YUKI pada tanggal 18 Mei 1989 yang ditulis oleh TB Simatupang. 3. Sesuai UU Yayasan 2001 pasal 49 dan 52, yayasan harus transparan, oleh sebab itu YUKI wajib menyajikan laporan keuangannya kepada publik secara berkala. Untuk itu setiap unit di YUKI (UKI, AP, RS FK-UKI, dll.) harus membuat sistem pelaporan keuangan yang transparan pula (diaudit). Laporan yang diaudit berperan penting dalam pertanggung-jawaban, baik ke dalam maupun ke luar. Untuk tujuan ini, sebaiknya dibuat atau disiapkan laporan internal setiap bulan atau 3 (tiga) bulan sekali. Sebenarnya ada banyak peluang untuk mendapatkan dana pengembangan yang tersedia oleh funding agencies dalam dan luar negeri, namun sebelum UKI dapat menunjukkan sistem (pelaporan) keuangan yang baik dan transparan, maka sulitlah pihak-pihak tersebut untuk membantu. 4. Kebijakan keuangan yang telah membawa kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan dan program di lingkungan UKI perlu ditinjau ulang. Kalau perlu diberlakukan kembali „otonomi“ UKI setelah melalui kajian secara seksama (Siswanto, 2004). Otonomi dilaksanakan secara bertanggung jawab berdasarkan azas akuntabilitas. Bila terjadi penyelewengan otonomi maka akan diberikan sanksi yang jelas. Bacaan Ais C. Badan Hukum Yayasan. Suatu Analisis Mengenai Yayasan Sebagai Suatu Badan Hukum Sosial. Citra Aditya Bakti, Bandung. Hal. 94-107. Doloksaribu, SM. Beberapa Catatan atas Perubahan AD/ART Yayasan Universitas Kristen Indonesia. Makalah lepas.

Refleksi UKI 91

Mempersiapkan masa depan UKI

Lakukan Pembaruan Karena Tuntutan Arus Bawah. Advertorial dari Rektorat Universitas Trisakti yang disampaikan Rektor Universitas Trisakti pada Seminar Nasional:”Mencari Format Baru Organisasi dan Manajemen Perguruan Tinggi Swasta yang Otonom”. 12 April 2004, Malang. Laporan Keuangan UKI Tahun Anggaran 2002-2003 dan 2003-2004. Luntungan L. Pelayanan Universitas Kristen Indonesia (UKI) di tengahtengah Bangsa dan Negara Indonesia dalam Sitepu I.V. (Ed.). Agar Semua Menjadi Baru: Refleksi 50 tahun UKI. UKI Press, Jakarta, 2003. Poerwaningsih S & Hutapea A. Analisis Struktur Gaji Karyawan UKI. Studi perbandingan dengan sebuah PTS di Jakarta Barat dalam Sitepu IV & Polla G (Ed.). Prosiding Eksposisi Kinerja UKI. LP UKI. Jakarta. Juni 2001. hal. 97-112. Simatupang A, Panggabean M, Sitepu IV (Ed.). Rencana Strategis UKI 2003-2007. UKI Press Jakarta. 2002. Simatupang M. UKI 50 Tahun: Menatap ke Depan dalam Sitepu I.V. (Ed.). Agar Semua Menjadi Baru: Refleksi 50 tahun UKI. UKI Press, Jakarta, 2003. Simatupang TB. Memo Ketua Yayasan UKI. Catatan Berhubung dengan Pertemuan Pengurus Yayasan UKI. 17 Mei 1989 di Hotel Sari Pacific. Siswanto B. Manajemen Perguruan Tinggi Swasta Masa Depan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional:”Mencari Format Baru Organisasi dan Manajemen Perguruan Tinggi Swasta yang Otonom”. 12 April 2004, Malang. Sitepu IV & Polla G (Ed.). Prosiding Eksposisi Kinerja UKI. LP UKI. Jakarta. Juni 2001. Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan. Statuta UKI. Yayasan UKI Jakarta. Mei 2004. Zebua A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Pegawai Universitas Kristen Indonesia-Jakarta Berdasarkan Teori Motivasi Dua Faktor Frederick Herzberg. Tesis untuk

92 Refleksi UKI

Mempersiapkan masa depan UKI

memperoleh gelar Magister Sains dalam Ilmu Administrasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI, Jakarta. 2001.

Refleksi UKI 93

13
„The New UKI Project“. Akankah Sejarah Berulang? 1

alam pertemuan yang diprakarsai YUKI pada hari Senin, 27 September 2004 dijelaskan oleh Ketua YUKI, Bpk. Drs. Jakob Tobing, MPA tentang upaya YUKI mendapatkan nilai-nilai tambah dari asset-aset yang dimiliki YUKI, a.l. dengan menjalin aliansi strategis dengan beberapa pengusaha yang mau berinvenstasi untuk pengembangan UKI. Salah satunya adalah rencana pengembangan kampus UKI Cawang, dengan menjalin kerjasama dengan P.T.G.I.P P.T. G.I.P. telah berpengalaman mengubah asrama mahasiswa yang dimiliki IPB menjadi sentra bisnis di Bogor. Dalam rencana program yang disampaikan mereka, kawasan UKI Cawang dibagi-bagi menjadi kawasan rumah sakit, kawasan kampus dan kawasan bisnis, dan P.T. G.I.P. akan berkonsentrasi dalam pengembangan kawasan bisnis, y.i. dengan pendirian mal, pusat konvensi, hotel dan apartemen.1 Tulisan ini didasari oleh sikap berpengharapan namun kritis seperti yang tercermin dalam Ams. 15: 22 “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasehat banyak”, I Tes. 5:21 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”, dan yang paling terkenal dalam hal perencanaan adalah dari Luk. 14:28-32.

D

1

Tulisan yang ditulis bersama-sama dengan Ganda Sutapea, SE, MBM (Pudek I dan dosen FE UKI); Ied Veda Sitepu, SS, MA (Kepala UKI Press dan dosen FS UKI); dan Mompang Panggabean, SH, MHum. (Kepala BAAK dan dosen FH UKI).

The New UKI Project

Keinginan (Y)UKI untuk „berbisnis“ dengan pihak manapun mungkin merupakan salah terobosan dalam menjawab keluh-kesah semua pihak selama ini tentang keberadaan dan fungsi yayasan (Board of Trustees) yang selayaknya menjadi salah satu penyandang atau penyedia dana yang handal. Menurut Renstra UKI, 98,4% dana operasional UKI masih berasal dari mahasiswa, padahal menurut Renstra itu pula, diharapkan pada akhir tahun 2007 persentase ini menurun menjadi 75%.3 Artinya, harus ada upaya-upaya yang nyata dari YUKI maupun stakeholders UKI lainnya agar ketergantungan pemasukan dana dari mahasiswa semata harus dikurangi secara signifikan, dan menggali sumber-sumber pendanaan lainnya. Namun semua ini tetap harus melihat kedudukan dan keberadaan UKI y.i. sebagai lembaga pendidikan (tinggi) penerus citacita kemerdekaan seperti yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945 serta memanggul visi dan misi umat Kristen Indonesia dalam rangka turut mencerdaskan bangsa sambil membawa damai sejahtera karya keselamatan Kristus, sesuai amanat Kongres PGI pertama di tahun 1951. Karena itu perlu dipikirkan secara matang dan strategis agar peluang investasi ini tidak sia-sia, namun, dilain pihak agar UKI tidak pula terjerembab pada “komersialisasi” pendidikan seperti yang sudah mulai menggejala dimana-mana, apalagi dengan pemanis kata-kata demi “globalisasi”, “neo-liberalisasi ekonomi, market-driven economics.” Manajemen & Pengelolaan Pertama-tama memang harus diakui, bahwa melihat kondisi dan situasi UKI saat ini, sangat sulit untuk bisa membangun tanpa mengundang sentuhan pihak luar. Meskipun sebagai perbandingan, ada juga beberapa perguruan tinggi Kristen, seperti UK Petra di Surabaya dan UK Maranatha Bandung, yang sedang giat-giatnya membangun hanya dengan mengandalkan dana sendiri atau memanfaatkan dana hibah (grant) yang
Refleksi UKI

96

The New UKI Project

banyak tersedia melalui jalur Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen Pendidikan Nasional. Namun, bila memang YUKI mulai melihat peluang-peluang bisnis dalam rangka menjalankan dan mengembangkan roda organisasi dan lembaga-lembaga di bawahnya, maka sudah selayaknya YUKI tetap mengingat dan setia kepada corebusiness-nya yaitu lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan (tinggi) dan kesehatan (unsur rumah sakit). Karena itu sudah sepatutnya YUKI membentuk lembaga/badan usaha independen yang bertugas menjalankan usaha-usaha tersebut. Sebenarnya menurut sejarah, UKI sudah pernah memiliki visi seperti ini, yaitu dengan mendirikan P.T. Ukrindo, yang diharapkan saat itu bisa menjadi salah satu revenue center UKI. Namun, sayang, seperti yang kita ketahui bersama, hal itu tidak pernah menjadi kenyataan, bersamaan dengan bangkrutnya perusahaan tersebut yang konon memperoleh modal kerja dari Jerman sebesar 2 juta Deutsche Mark (komunikasi personal 2 ). Seandainya P.T. Ukrindo berkembang, maka mungkin saat ini P.T. Ukrindo sudah menjadi semacam Holding company UKI yang mungkin berkiprah secara nasional bahkan internasional. Justru dengan melihat pengalaman itu, maka sudah selayaknya (Y)UKI tidak lagi mengulang peristiwa itu, dengan memisahkan kegiatan usaha dengan urusan pengelolaan pendidikan tinggi. Biarlah usaha-usaha itu dikelola oleh para profesional dan agar badan usaha tersebut dapat menjadi cash-cow YUKI yang handal, bukan nanti malah menjadi benalu. Sebab kita tidak rela kalau badan usaha yang bersifat padat modal (dan tentu padat risiko) dikelola oleh orang-orang (UKI-YUKI) yang tidak profesional. Pengambilalihan unit Percetakan UKI oleh YUKI yang kemudian malah tidak terdengar lagi keberadaannya juga perlu dijadikan pelajaran. Unit yang dahulunya diproyeksikan menjadi salah satu ‘income generating unit,’ minimal dapat membantu pengadaan barang-barang cetakan (sederhana)
2

Disampaikan oleh Bapak P.Y. Francis dalam suatu rapat pimpinan UKI. Refleksi UKI 97

The New UKI Project

di UKI, seperti pencetakan kartu nama, kop surat, brosur-brosur. Unit Percetakan UKI inilah yang menjadi cikal-bakal pendirian UKI Press, yang diharapkan dapat menjadi ‘supporting unit’ yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar di lingkungan UKI dengan pengadaan bahanbahan ajar. Artinya, bila (Y)UKI mulai mengundang pihak luar sebagai mitra (bisnis), maka YUKI pun sudah harus siap secara mental dan pola pikir (mind set) yang berbeda. Faktor SDM dan manajemen harus diperbaiki dan diberdayakan terlebih dahulu atau bersamaan dengan pemanfaatan peluang-peluang bisnis yang ada. Faktor-faktor kecepatan (speed), peka membaca situasi, kreatif, ulet (agility), transparansi, menerapkan good governance, sudah harus mulai terinternalisasi di segenap stakeholders, kalau tidak kita akan menjadi tertawaan mitra bisnis atau kita akan menjadi mitra yang tidak sejajar (unequal partners). Pendek kata, “anggur baru membutuhkan kirbat yang baru pula.” Bentuk keikutsertaan lain yang mungkin dapat dimiliki segenap stakeholders UKI adalah agar mereka dimungkinkan juga menjadi shareholders, dengan terlebih dahulu menyepakati berapa persen jumlah saham (share) yang boleh dimiliki UKI. Saham ini ditawarkan kepada segenap komponen sivitas akademika UKI, dengan mempertimbangkan, tentunya, syarat-syarat penyertaan modal dari individu atau kelompok individu. Gerakan seperti ini, pernah dilakukan oleh para mahasiswa UKI, ketika mereka terpanggil untuk turut membantu pembangunan kampus UKI Cawang, yang ketika itu mendapatkan hibah sebidang tanah yang sebenarnya diperuntukkan untuk lembaga-lembaga Kristen saat itu, y.i. LAI, PGI, dan STT, dengan masing-masing mahasiswa menyumbangkan sejumlah uang yang mungkin senilai beberapa butir bata merah (komunikasi personal). 3
3

Hasil wawancara dengan beberapa alumni UKI angkatan 60-70an.

Refleksi UKI

98

The New UKI Project

Refleksi UKI 99

The New UKI Project

Bagi Hasil Bentuk bagi hasil yang ditawarkan oleh pihak investor perlu dikaji secara seksama dengan tetap memperhitungkan semua variabel usaha (bunga bank, biaya operasional, return of investment, dll.) sambil tetap mengingat azas saling menguntungkan (win-win solution). Selain itu, perlu dibuat komitmen dan perjanjian bersama bahwa penerimaan UKI dari bagi hasil dengan investor pertama-tama harus diperuntukkan: 1. Persembahan yang besar dan bentuknya terbuka untuk selalu dibicarakan bersama (lih. I Taw 16:29; Maz. 96:8; Ibr. 13:15-16). 2. Dana tabungan untuk dana abadi (endowment fund) Sisanya baru digunakan untuk pembiayaan kegiatan organisasi UKI, terutama untuk investasi/pengembangan. Dana untuk membiayai kegiatan rutin sebenarnya tidak merupakan masalah besar, karena pemasukan UKI dari mahasiswa, asal dikelola dengan baik, masih dapat diandalkan. Salah satu bentuk kerjasama yang ditawarkan adalah Built Operate and Transfer (BOT) 30 tahun, artinya selama 30 tahun YUKI bersama-sama dengan para investor akan mengelola kawasan bisnis tersebut, dan setelah itu segala asset akan diberikan ke YUKI, untuk selanjutnya YUKI akan mengelolanya secara mandiri (swakelola). Jadi, pada sisi Universitas pun harus nampak dengan jelas programprogram pengembangan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang semakin berkualitas karena semakin mantapnya pendanaan yang tidak lagi mengandalkan pemasukan dari mahasiswa semata! UKI dan badan-badan lain mitra YUKI, seperti Rumah Sakit dan AP-YUKI harus sanggup menangkap tanda-tanda jaman, sembari berbenah diri menyikapi masa-masa yang tidak akan semakin mudah. Sebab, kita pun tidak mau menjadi silau akan godaan-godaan “teologiasukses” dan membentuk “menara gading” bukan “menara kasih” serta
Refleksi UKI

100

The New UKI Project

melupakan esensi keberadaan perguruan tinggi (Kristen) dalam rangka turut mewujudkan dan menghadirkan kerajaan Allah di bumi Indonesia. Namun, di atas segalanya itu, kemitraan yang dijalin ini, diharapkan sanggup membangun kembali citra dan kinerja UKI agar tetap mampu mewujudkan visi dan misinya tanpa harus meninggalkan mottonya: “Melayani bukan Dilayani”, bagi kemuliaan Kristus semata!

Acuan:
1. Renstra UKI. 2003-2007. UKI Press, Jakarta, 2002. 2. Wiryoputro, S. Dasar-dasar Manajemen Kristiani. BPK Gunung Mulia, Jakarta 2004. 3. Undang-undang Yayasan 10 Tahun 2001 4. Statuta UKI 2004.

Refleksi UKI101

14
What next?
Suatu Usulan Alternatif Pembaharuan
agian akhir tulisan ini tidak berpretensi untuk menjawab segala permasalahan yang dihadapi UKI khususnya dan perguruan tinggi (kristen) umumnya. Penulis tidak ingin menerapkan konsep “satu” resep untuk semua jenis penyakit, namun kita harus berani menemukan dan memandang permasalahan-permasalahan itu secara utuh (komprehensif), dan kontekstual serta berusaha untuk memperbaikinya sedikit demi sedikit namun ajeg. Tulisan ini lahir dari refleksi yang dilakukan setelah penulis mengikuti suatu konferensi internasional tentang “Managing change in universities” di Königswinter, Jerman pada tanggal 28 Agustus – 3 September 2000. Konferensi diikuti oleh lebih kurang 50 pimpinan perguruan tinggi dari negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Iran, negaranegara Afrika Timur seperti Uganda, Kenya, Etiopia dan Sudan serta kelompok negara-negara Amerika Tengah dan wakil dari penyelenggara yaitu a.l. German Foundation for International Development dan University of Kassel serta Hochschule Rektoren Konferenz, HRK (Asosiasi Perguruan Tinggi Jerman) Jerman. Konferensi menyimpulkan bahwa dalam konteks reformasi pendidikan tinggi dan menghadapi perobahan-perobahan yang multidimensional perlu dilakukan tindakan-tindakan nyata para “stakeholders”. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan perguruan tinggi selalu seimbang yaitu selalu menjadi pelopor dalam cita-cita ilmu untuk mencari “kebenaran” serta penelitian-penelitian yang bersifat “state of the art” namun tetap peka dan mampu menjawab masalah-masalah sosial kemasyarakatan agar tidak menjadi “menara gading”.

B

What next?

Tantangan Kata kunci yang mengemuka di konferensi tersebut adalah tantangan (challenges) yang berasal (terutama) dari luar universitas yang menuntut “perobahan” (changes) paradigma pendidikan tinggi a.l. masalah: 1.Relevansi: (a) Otoritas dan peranan perguruan tinggi sebagai penyedia lulusan yang siap memasuki dunia kerja semakin berkurang. Hal ini karena ketidak-terkaitan antara kurikulum, pembelajaran dan dunia lapangan kerja. Kecenderungan ini diperparah dengan perkembangan ilmu yang pesat sekali sehingga seringkali ilmu yang dipelajari di bangku kuliah ternyata sudah usang ketika hendak digunakan di dunia kerja (Teichler, 1999) (b) Penelitian serta pengembangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi masih banyak yang bersifat “demi ilmu”, sehingga tidak memiliki nilai jual yang tinggi dan seringkali tidak menjawab tantangan yang diajukan oleh dunia industri dan pasar, akibatnya seringkali dunia industri memiliki dan mengembangkan unit penelitian dan pengembangan yang lebih berdayaguna daripada perguruan tinggi. 2. Kualitas dan Jaminan Kualitas (Quality assurance) (c) Faktor kualitas dan jaminan akan kualitas yang dihubungkan dengan nilai uang yang telah ditanam atau diberikan oleh mahasiswa maupun pihak-pihak donor terhadap perguruan tinggi menjadi salah satu hal pokok. Selama ini semua orang menerima dan percaya saja bahwa segenap proses pendidikan yang berlangsung di pendidikan tinggi telah berjalan dengan baik, namun sejak perguruan tinggi diperhadapkan pada instrumen-instrumen yang mengukur kualitas dan kinerja seperti layaknya pada suatu perusahaan komersial tampak bahwa perguruan tinggi seringkali tidak efisien dan tidak bermutu.

102 Refleksi UKI

What next?

Tembok-tembok yang selama ini melindungi otoritas keilmuan tampak mulai terbuka dan roboh dan digantikan dengan keterbukaan. (d) Akuntabilitas (Accountability) berkaitan erat dengan mutu. Akuntabilitas menyangkut sejauh mana setiap perencanaan dan pelaksanaan program dapat dipertanggung-jawabkan lewat mekanisme-mekanisme sistem evaluasi dan monitoring yang melekat. (e) Evaluasi dan Akreditasi adalah dua hal yang akan menjadi bagian yang inheren dalam konteks quality assurance dan akuntabilitas. Setiap program pendidikan diwajibkan mampu untuk melakukan evaluasi diri yang akan diperhadapkan dengan evaluasi dari badan eksternal. Hasil antara kedua evaluasi tersebut menghasilkan resultante berupa akreditasi yang menjadi salah satu tolok ukur masyarakat untuk melihat keberhasilan manajemen suatu perguruan tinggi. (f) Distribusi dana berdasarkan kinerja (Performance-related distribution of funds). Jaminan kualitas juga berarti bahwa pengalokasian dana dan sumber-sumber lainnya dilaksanakan berdasarkan kinerja yang dicapai oleh unit (bagian/jurusan, laboratorium, fakultas, Lembaga, dll.). Indeks kualitas yang dijadikan patokan dapat ditetapkan secara bersama-sama mis. publikasi ilmiah, (kemampuan) mencari dana dari pihak ketiga (third party funding), jumlah penelitian, hak paten yang diterima, jumlah kelulusan mahasiswa, jumlah staf yang mendapatkan penghargaan,dll. Bila indikator-indikator ini dikombi-nasikan dengan jumlah investasi yang telah dikeluarkan maka dapat dihitung rasio biaya-kinerja (cost-performance ratio) secara transparan (Gerlach, 2000; Lewis & Smith, 1994). Dalam rangka menjawab soal kualitas maka menurut azas Manajemen Total Kualitas (Total Quality Management, TQM) perlu dilakukan tujuh langkah y.i. (1) identifikasi para “stakeholders”

Refleksi UKI 103

What next?

institusi, (2) menciptakan missi yang berdasarkan kualitas yang kompetitif, (3) menciptakan sistem internal untuk mengukur kualitas di bidang-bidang tertentu dan spesifik, (4) menentukan siapa yang bertanggung-jawab untuk memenuhi standard-standard yang telah dipilih, (5) memotivasi pihak-pihak yang belum setuju dan ikut mewujudkan kualitas, (6) membentuk kelompok pengawas mutu, (7) laporkan, kenali dan beri penghargaan terhadap pihak yang telah menunjukkan kualitas (Matthews, 1993; Lewis & Smith, 1994). Tantangan yang paling mendesak adalah bagaimana universitas dapat mengelola perobahan itu dengan baik sehingga perobahanperobahan tersebut menguntungkan bagi perkembangan universitas. Perobahan itu harus bersifat terlanjutkan (sustainable) dan proses itu bisa membuat universitas menjadi universitas yang “belajar” (learning university). Alternatif solusi Lantas bagaimana mensiasati perobahan-perobahan ini? Tentunya dengan mengelola perobahan-perobahan itu secara bijaksana sehingga kita memperoleh keuntungan bukan menghindar serta berusaha meniadakannya. Perobahan-perobahan yang ada sebenarnya memiliki “tenaga” yang tak terhingga besarnya sama seperti air, angin, panas bumi yang bisa dirobah dan dimanfaatkan menjadi sumber energi. Beberapa syarat untuk mengelola tenaga potensial yang ada adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan tanggung-jawab serta otonomi segenap pelaku organisasi. 2. Peningkatan hubungan antara manajemen operasional dan fungsional. Kata kunci untuk ini adalah komunikasi yang efektif. 3. Profesionalisme disegenap garis dan bidang struktural dari jenjang yang terendah sampai dengan yang tertinggi.

104 Refleksi UKI

What next?

Setiap organisasi yang akan mengadakan perobahan maka setidaktidaknya tiga gelombang atau fase akan dihadapi oleh organisasi y.i. (Jaffe & Scott, 1999): Gelombang pertama : Mobilisasi organisasi untuk perobahan Fase awal yang seringkali terlupakan. Pada fase ini kebutuhan akan perobahan diperkenalkan kepada segenap individu organisasi. Setiap individu di organisasi mengetahui mengapa diperlukan perobahan dengan menampilkan informasi yang lengkap dan komprehensif tentang hal-hal yang mendukung pernyataan tersebut. Gelombang kedua : Perancangan organisasi yang baru Setiap bagian dan individu organisasi turut mengambil bagian dalam membentuk rancangan-rancangan perobahan. Mereka mencari bentuk atau model-model baru melalui pertukaran informasi, mereka “membayangkan” bentuk organisasi yang baru. Fase ini adalah fase yang menantang dan menarik. : Memantapkan dan menjaga proses Segenap rancangan tentang perobahan diimplementasikan sambil menjaga agar proses trans-formasi tersebut berjalan tanpa menimbulkan dampak negatif atau resistensi yang besar dan hal ini dapat

Gelombang ketiga

transformasi

Refleksi UKI 105

What next?

berjalan dengan mulus bila setiap komponen organisasi telah terlebih dahulu siap menghadapi masa-masa sulit dalam proses transformasi dari nilai-nilai lama ke nilai-nilai baru sampai akhirnya timbul suatu budaya baru yang sesuai dengan arah perobahan yang telah direncanakan. Perobahan Peran Manajemen Perguruan Tinggi Tantangan yang timbul adalah (Teichler, 2000): 1. Meningkatnya jumlah “aktor-aktor kunci” (key actors) dalam dunia pendidikan tinggi. Aktor-aktor kunci ini adalah pihakpihak yang dahulu berada di luar perguruan tinggi, namun sekarang 2. Meningkatnya pengetahuan dan pengaruh para aktor-aktor kunci. Faktor 1 dan 2 bisa dilihat dari semakin banyaknya minat masyarakat untuk turut terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam segenap proses pembelajaran dan penelitian di perguruan tinggi. Masyarakat umum, industri, politikus dan pemerintah tidak lagi hanya tinggal diam dan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan tinggi kepada universitas atau perguruan tinggi, namun mereka aktif melakukan himbauan dan “penekanan” melalui media massa, lobby terhadap arah, orientasi, visi, missi, kebijakan-kebijakan pendidikan tinggi. 3. Kompleksitas dunia dan permasalahan pendidikan tinggi. Setelah mulai terbukanya pintu-pintu birokrasi dan manajemen perguruan tinggi, tampaklah bahwa kesadaran akan kompleksitas dunia pendidikan tinggi telah memaksa para pemimpin di perguruan tinggi untuk merendahkan diri dan “rela” belajar dari pihak-pihak non universitas dalam hal penanganan masalah yang kompleks.

106 Refleksi UKI

What next?

4. Meningkat serta menurunnya peran universitas. Terjadi hal yang kontradiktif, karena disatu pihak dengan majunya Teknologi Informasi, maka informasi tidak lagi menjadi otoritas universitas namun telah bergeser pada penyedia-penyedia informasi seperti website provider, perpustakaan virtual, dll. Namun di lain pihak ada tuntutan masyarakat bahwa universitas harus tetap menjadi pelopor dan fasilitator utama dalam konteks menuju masyarakat berdasarkan pengetahuan (knowledge society), karena perguruan tinggi dianggap mampu memberikan informasi yang “tanpa bias” (the guardian of science and truth). Kepemimpinan Kepemimpinan yang berkualitas bisa tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang berkualitas pula. Lingkungan yang berkualitas adalah lingkungan yang proses komunikasi antar individu dan bagian organisasi berjalan dengan baik, efektif dan berlangsung dua arah. Hal-hal seperti saling percaya (mutual trust), kejujuran (honesty), hasrat (passion), penghargaan (esteem/reward), kesesuaian hak dan tanggung jawab (reciprocity) mutlak ditumbuhkan dan dikembangkan agar lingkungan menjadi tanah yang subur untuk lahirnya para pemimpin yang tangguh dengan kepemimpinan yang visioner (Downs, 1998). Perobahan Peran Badan-badan Terkait di Perguruan Tinggi Yayasan Di masa derasnya arus kebutuhan akan otonomi, maka sudah selayaknya Yayasan (Board of Trustees) juga sanggup mengadakan perobahanperobahan akan hak dan kewajibannya dalam hal pengelolaan universitas. Yayasan tidak lagi diharapkan untuk terlalu memasuki wilayah keseharian universitas. Yayasan penting untuk memberikan warna dan identitas serta legalitas atas universitas yang dinaunginya.
Refleksi UKI 107

What next?

Keanggotaan suatu yayasan pendidikan tinggi harus lebih terbuka namun selektif. Terbuka dalam pengertian bahwa proses rekrutmen, pemilihan dan penetapan anggota Yayasan terbuka untuk semua orang, namun tentu harus mengingat azas dan latar-belakang ideologi atau ajaran yang menjadi landasan yayasan. Selektif artinya hanya orang-orang yang mengerti betul visi dan missi serta bersedia untuk memperjuangkan hal itu yang dapat dipertimbangkan layak duduk sebagai anggota yayasan. Di dalam kepengurusan yayasan perlu dipertimbang-kan perwakilan dari gereja, donatur dan sponsor, tokoh-tokoh pendidikan dan para mantan pengurus universitas agar segenap keinginan berbagai kelompok dapat tertampung serta terwakilkan. Salah satu pandangan klasik tentang fungsi Yayasan adalah bahwa yayasan bertanggung-jawab atas pencarian dana (fundraising), namun telah kita sadari bahwa karena begitu kompleks dan luasnya organisasi serta besarnya biaya penyelenggaraan pendidikan tinggi maka pendapat itu tidak lagi sepenuhnya benar. Pendanaan yang didapat dari Yayasan atau dari sumbangan pembiayaan perkuliahan (tutition fee) tidak akan pernah bisa mencukupi untuk menjalankan roda kegiatan universitas, karena itu Yayasan dan Universitas secara bersama-sama harus secara aktif dan kreatif mencari sumber-sumber dana lain a.l. melalui kegiatan unit-unit usaha yang ada di jajarannya (lebih lengkap lihat Williams, 1992). Senat dan Universitas Senat sebagai badan normatif tertinggi di fakultas dan universitas memiliki wewenang dan tanggung-jawab yang besar terhadap proses pembelajaran serta turut membantu berkembangnya budaya ilmiah serta budaya kompetisi yang sehat. Namun budaya agar dapat bekerja sama atau cooperative learning perlu menjadi salah satu tiang pembelajaran baik secara monodisiplin maupun interdisiplin. Salah satu sebab kegagalan dari kebanyakan lembaga pendidikan atau pun pemerintah dalam menghasilkan produk yang maksimal adalah tidak adanya kekuatan

108 Refleksi UKI

What next?

sinergi dari sumber daya manusia yang sebenarnya secara individual memiliki potensi yang besar. Yayasan dan Senat dimaksimalkan fungsinya sebagai badan pemberi arah dan tujuan sedangkan hal-hal yang bersifat keseharian diberikan wewenang yang penuh kepada badan-badan eksekutif seperti Rektor(at), Dekan(at), Lembaga dan komisi-komisi yang dibentuk untuk tujuan tersebut (Gerlach, 2000). Senat dan Universitas harus rajin mengadakan “uji pasar” atau scanning melihat gejala atau trends yang terjadi lewat instrumen-instrumen yang diciptakan untuk hal itu. Pada saat sekarang sulit untuk memiliki pola, aturan, program atau strategi yang dapat berusia lama dan mampu menjawab segala tantangan yang ada, karena begitu cepatnya perobahanperobahan yang terjadi maka perlu diciptakan budaya di kalangan stakeholders agar mampu melihat dan menghadapi perobahan sebagai tantangan bukan ancaman. Proses Pembelajaran Kata-kata kunci seperti student-centred learning, cooperative learning, computer aided learning, dan problem-based learning telah “memaksa” para pengelola pendidikan tinggi untuk merubah cara pandang lama ke arah yang baru. Karena proses pembelajaran yang selama ini dikerjakan secara empiris, “given” serta non-profesional harus dikemas sedemikian rupa sehingga dengan bantuan teknologi informasi (multimedia, internet), metodologi pembelajaran yang baru dan inovatif dengan bantuan temuan-temuan psikologi terapan (mis. Kepintaran emosional, Emotional intelligence; adult larning, mind-mapping, quantum learning, dll.). Pengembangan kurikulum yang menjawab tantangan-tantangan di atas merupakan suatu keharusan dan fleksibilitas menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran (Nettleford, 1998; Fremerey dkk. 2000; Wesseler, 2000).

Refleksi UKI 109

What next?

Staf Akademik dan Administratif Desakan perubahan ilmu dan informasi yang sangat cepat, jumlah mahasiswa yang semakin bertambah disertai dengan karakteristiknya yang sangat beragam, kemampuan mengajar disertai dengan metode pembelajaran yang baru, kemampuan membaca “keinginan pasar” dan stakeholders adalah sebagian masalah yang harus dihadapi oleh para staf akademik. Sebab itu peningkatan kemampuan staf akademik dan administratif harus terus diupayakan melalui program-program pengayaan dan pertukaran (enrichment, continuing education atau exchange programs). (Fielden, 1998). Unit-unit Usaha Unit usaha yang dimaksud adalah kegiatan unit di UKI yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menghasilkan pendapatan. Kegiatan ini dapat juga dibagi atas 2 bagian y.i. unit usaha yang berhubungan langsung dengan (a) dunia akademik dan (b) nonakademik. (a) Unit usaha akademik: • Rumah sakit, agar lebih ditingkatkan segi profesionalisme dalam hal pelayanan kesehatan rawat inap dan rawat jalan. Jangkauan pelayanan harus diperluas dan segi kualitas selalu diutamakan. Keterkaitan antara jasa pelayanan serta penelitian juga harus digali lebih dalam, karena dengan adanya penelitian-penelitian yang bersifat membantu pihak pemerintah maupun industri maka dengan sendirinya dana dari pihak ketiga akan mengalir masuk. Jasa penelitian. Penelitian yang dirancang dan dikerjakan dengan baik dapat mendatangkan tiga hasil

110 Refleksi UKI

What next?

yaitu penambahan wawasan ilmu serta staf terkait, pemasukan dana pihak ketiga (sponsor) ke institusi dan bila memungkinkan penelitian tersebut mempunyai nilai paten maka baik si peneliti maupun institusi bisa mendapatkan bagi hasil (royalties). • Jasa konsultasi baik yang dilakukan individu staf pengajar sesuai bidang keahliannya masing-masing maupun yang dilakukan secara unit organisasi misalnya Lembaga Bantuan Hukum, Pusat Pengkajian Epilepsi, Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Lembaga Penelitian, dll. Sejalan dengan usaha konsultasi, program-program pendidikan tambahan berkala (continuing education) yang ditawarkan untuk para profesional maupun alumni yang berkiprah di luar dapat menjadi alternatif yang bermanfaat. Karena seringkali perusa-haan-perusahaan mewajibkan karyawan -nya untuk mengikuti kursus peningkat-an dan sertifikasi, maka UKI dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan hal ini. Kursus ini pun dapat ditawarkan secara virtual (online). Sehingga tidak terbatas hanya pada lokasi Jabotabek tapi bahkan bisa menjangkau seluruh Indonesia.

(b) Unit usaha non-akademik: • Penerbitan dan percetakan (Publishing house). Unit Percetakan yang sekarang terbengkalai sudah selayaknya dikelola kembali secara profesional, karena unit ini dapat menjadi media penyebaran ilmu dan informasi yang dilakukan oleh sivitas akademika (ada suatu adagium: “publish or perish!”, artinya untuk menunjukkan eksistensi seorang dosen atau sebuah
Refleksi UKI 111

What next?

organisasi maka dia atau organisasi tersebut harus secara rutin menyiarkan informasi) sekaligus bisa menjadi sumber pendapatan universitas yang cukup baik karena kebutuhan akan barang cetakan selalu dibutuhkan baik untuk keperluan internal maupun eksternal. • Penyewaan gedung/ruangan untuk tujuan seminar, konferensi, pertunjukan, dll. Salah satu kegiatan bisnis yang mengemuka saat ini adalah kegiatan pengelolaan pertemuan ilmiah & bisnis yang dikaitkan dengan segi pariwisata. Banyak sekali perguruan tinggi di luar negeri melakukan kegiatan ini dikaitkan dengan kegiatankegiatan kalender akademik serta musim (di luar negeri) mis. Summer course on Drug Policy, Spring Conference on New Paradigms of Teaching and Learning, dll. Biro perjalanan (UKI-Travel) Jasa boga. Bila dihitung jumlah orang yang berinteraksi di kampus UKI sekitar 8000 orang maka sudah selayaknya dipikirkan untuk mendirikan unit usaha jasa makanan dan minuman (boga) yang dikelola secara profesional yang memperhatikan segi-segi kesehatan, kebersihan, harga yang murah dan pelayanan yang ramah.

• •

Unit-unit usaha non akademik dapat dikelola di bawah koperasi atau bentuk badan usaha lainnya yang mengikutsertakan segenap komponen universitas sebagai pemegang saham. Namun sangat perlu diperhatikan bahwa sebelum unit-unit usaha tersebut dijalankan sebaiknya dilakukan penetapan-penetapan peraturan, prosedur, tata-cara laporan keuangan serta pembagian hasil dan tentu

112 Refleksi UKI

What next?

harus dilandaskan pada azas akuntabilitas dan transparan. Perlu juga dipikirkan agar disetiap unit usaha yang non akademik ditempatkan manajer-manajer yang kompeten yang berorientasi pada hasil. Bacaan Downs A. (1998) Seven miracles of management. Prentice Hall Press. Paramus, NJ., USA. Fielden J (1998) Thematic debate: Higher education staff development: A continuing mission. Kertas kerja dalam World Conference on Higher Education, UNESCO, Paris 5-9 October 1998. Fremerey M, Amini S, Wesseler M. Developing a systems-oriented model of teaching and learning on a faculty level. Makalah dalam Bonn Conference on International University of Development 2000, 27 Agustus-3 September 2000, Bonn – Jerman. Gerlach J (2000) Change management organizing new patterns of higher education. Makalah dalam Bonn Conference on International University of Development 2000, 27 Agustus-3 September 2000, Bonn – Jerman. Heller R. (1998) Managing change. Dorling Kindersley. London, UK. Jaffe DT dan Scott CD. (1999) Getting your organization to change. Crisp Publications, Menlo Park, CA, USA. Lewis RG dan Smith DH. (1994) Total quality in higher education. St. Lucie Press, Delray Beach, Florida, USA. Matthews WE (1993). The missing element in higher education. Journal for quality Participation 16: 102-108.

Refleksi UKI 113

What next?

Nettleford R (1998) Thematic debate: Mobilizing the power of culture. Kertas kerja dalam World Conference on Higher Education, UNESCO, Paris 5-9 October 1998. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. Teichler, U. (1999) Higher education policy and the world of work: changing conditions and challenges. Higher Education Policy 12: 285312. Teichler, U. (2000) New Challenges for Universities in the next two decades. Makalah dalam Bonn Conference on International University of Development 2000, 27 Agustus-3 September 2000, Bonn – Jerman. Wesseler, M (2000) From “Controlled intervention” to “Synergetic co-ordination”. Some lessons from a case study in curriculum development. Makalah dalam Bonn Conference on International University of Development 2000, 27 Agustus-3 September 2000, Bonn – Jerman. White, A. (1996) Continuous Quality Improvement. Piatkus, London. Williams, G (1992) Changing patterns of finance in higher education

In today’s context, Knowledge is no longer just about learning new things. It is the ability to learn, unlearn and to re-learn

114 Refleksi UKI

Catatan Penutup Krisis Kepercayaan dan Aktualisasi Kepemimpinan Universitas

N

egeri kita saat ini sedang dilanda petaka budaya yang hebat. Semua warga kehilangan orientasi, tak tahu mau ke mana mencari jalan ke luar yang tepat. Para pemimpin sering merasa bingung harus berbuat apa, dan warga biasa gelisah mau apa sebenarnya para pemimpin itu. Krisis total, begitu keadaan ini sering disebut. Karenanya, rakyat secara keseluruhan meneriakkan perlunya reformasi. Sebuah reformasi buat segala-galanya. Reformasi total! Reformasi adalah perobahan, perombakan, pembaharuan. Apa yang terjadi dalam kehidupan kenegaraan itu, juga terjadi di dunia pendidikan. Perguruan tinggi terutama, telah dilanda krisis kepemimpinan. Dosen menjual out-line skripsi, mahasiswa membayar ‘biaya khusus’ untuk setiap kali ia konsultasi, dan hidup kepepet di kalangan dosen dan karyawan bukan lagi hal yang aneh. Apa yang terjadi sebetulnya? Menurut penulis, ada yang keliru dengan sistem kita. Roh Orde Baru yang totaliter dan tertutup itu rupanya juga menyerbu ke dunia perguruan tinggi. Pimpinan menjadi segala-galanya. Sementara warga atau pegawai tak bisa apa-apa. Kalau di lingkungan negara ada gerakan untuk kembali memberikan kekuasaan kepada kedaulatan warga, maka demikian juga di dunia pendidikan. Kita akan melihat ‘kesamaan’ perlunya reformasi itu di lingkungan universitas. Sebab di universitas juga sedang terjadi krisis – para pimpinan, rektor dan pemimpin-pemimpin lain – sudah tidak sepenuhnya dipercaya lagi oleh sivitas akademika. Mereka dianggap tak mampu membangun universitas menjadi semacam wadah untuk orang mengembangkan diri. Tidak tampak aktualisasi diri. Mereka tak mampu mengarahkan ‘gerbongnya’ ke arah yang semestinya, sehingga semua

Catatan penutup

orang yang ada di dalamnya sampai ke tempat tujuan dengan baik. Tidak ada yang kegerahan atau kehausan ketika perjalanan itu sedang berlangsung. Untuk itu perlu dilakukan perubahan agar semuanya pemimpin bisa mengaktualisasikan dirinya. Di universitas, reformasi kepemimpinan itu perlu dilaksanakan sejalan dengan reformasi demokrasi, reformasi peraturan-peraturan, dan reformasi sistem pengawasan oleh warga atau anggota sivitas akademika melalui lembaga-lembaga perwakilan. Ketiga reformasi di atas mengandung arti koreksi total dan pengembangan sistem serta pelaksanaan masing-masing berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada: memperbaharui peraturan universitas, meninjau keputusan-keputusan yayasan, melihat kembali Rencana Induk Pengembangan (RIP), menuliskan dengan baik dan cermat Rencana Anggaran Universitas, dsb. Dalam reformasi peraturan-peratutan – terutama yang prinsip dan bersifat mendasar – perlu dijernihkan dan ditertibkan agar ada kejelasan langkah. Misal soal hubungan kerja dengan Yayasan. Beberapa tahun terakhir ini muncul permasalahan yang pelik dan menyulut beragam konflik, baik yang sifatnya internal maupun eksternal. Perlu diatur tata tertib yang jelas dan gamblang (clear and distinct) berkenaan dengan penggantian jabatan Rektor, Dekan, dll. Juga mengenai soal mandataris atau pejabat perlu ditegaskan apakah kedudukan itu memiliki kewenangan-kewenangan ekstra, di samping kewenangan rektor berdasarkan peraturan tsb. Ini semua perlu dijernihkan demi ketertiban pelaksanaan peraturan dasar tsb. di masa depan. Krisis Kepercayaan Krisis di berbagai universitas diakumulasi oleh krisis negara atau pemerintah, dan menjalar menjadi krisis ekonomi dan juga krisis sosialemosional. Terjadilah krisis kepercayaan ke segala arah: kepada yayasan, kepada semua institusi rektorat dan dekanat, dan menjalar kepada krisis antar-kita sesama warga UKI. Krisis ini harus segera diatasi.

116 Refleksi UKI

Catatan penutup

Ia tidak boleh terlalu lama sebab ia akan menjurus ke arah disintegrasi total dari kehidupan sivitas akademika. Keadaan seperti itu akan berubah terbalik menjadi counter-reform. Orang menjadi apatis, mahasiswa tak lagi datang mendaftar, undangan seminar tak lagi dikirimkan, dan ketika proyek-proyek disebar, kita hanya jadi penonton. Kedaan seperti ini akan menyebabkan banyak kerugian: rektorat tak sanggup mengirim dosen untuk studi lanjut. Tak sanggup mendanai festival band, kompetisi bola basket, perlombaan baca puisi, dan hal-hal kecil lain yang remeh tapi penting. Persoalan kita adalah, mengapa bisa demikian? Bisakah ketiadaan dana menjadi alasan yang tepat? Ada apa yang salah dengan mereka, para pemimpin perguruan tinggi termasuk UKI? Tidak bisakah mereka mencari ke luar jika di dalam sedang sesak keberatan beban? Dan menyikapi itu semua, kita tiba pada kesimpulan bahwa hanya kita sendiri yang dapat mengatasi serta menyelesaikannya. Tidak ada orang lain! Untuk itu diperlukan suatu kepemimpinan yang kuat yang didukung oleh seluruh warga. Kepemimpinan yang Sehat Yang disebut sebagai ‘leadership challenge’ adalah bagaimana para pemimpin meraih hal-hal yang diimpikan itu, yang sifatnya ‘extraordinary’, ke dalam organisasi. Kalau saat ini banyak sekali tantangan yang dihadapi, baik dari luar maupun dari dalam, maka hal itu tidak sepantasnya untuk dihindari; melainkan sebaliknya kita harus mengubah kesempatan-kesempatan yang menantang itu menjadi sukses yang remarkable. Harus jujur kita akui bahwa berbagai kesempatan yang menantang tak pernah habis tersedia di lingkungan kerja dan di lingkungan hidup kita. Kesempatan-kesempatan itu adalah undangan bagi semua orang untuk tampil memimpin. Selama ini kita tahu bahwa ada banyak sekali kesempatan untuk merebut market shares yang hilang begitu saja karena kita tak siap. Kita tak pernah merancang dengan serius pasar kita, sehingga kita tenggelam dan lenyap dalam pergulatan persaingan.

Refleksi UKI 117

Catatan penutup

Kesempatan semacam itu memang menuntut kita untuk mau menginvestasikan tenaga dan pikiran demi mencapai produk yang yang menjanjikan. Kita dituntut untuk menjadi tanggap dan cerdas terhadap berbagai hal yang sedang berlangsung. Kita diajak untuk ikut sambil membangun dan membesarkan rumah kita, UKI. UKI harus mampu menawarkan pelayanan yang tak tertandingi kepada para pelanggan. Saatnya bagi UKI untuk masuk ke lembaran baru: menjadi dinamis dan revolusioner sekaligus. Letak UKI yang sangat strategis, menjadi aset yang luar biasa berharga. Marilah kita sepakat dan serius untuk mengawali suatu kinerja baru secara menyeluruh bagi kebangkitan sebuah universitas kristen di Jakarta, kota dengan penduduk 12 juta! Bertanya soal kebutuhan akan perlunya perubahan kinerja UKI, maka kita semua setuju. Akan tetapi ketika pertanyaan itu dilanjutkan, bagaimana dan dengan apa akan dimulai, maka kita yang menjadi ragu atau bahkan pesimis. Ya, kita harus mencari pemimpin. Pemimpin ini yang akan membawa seluruh sivitas akademika ke luar dari tantangan ini semua. Kita percaya munculnya keraguan pada dasarnya bukan disebabkan oleh tiadanya keberanian atau tiadanya kompetensi, melainkan merupakan akibat paham tentang kepemimpinan yang sudah kuno dan usang, misalnya kita sudah diajar bahwa pengelolaan tradisional membuat kepemimpinan kita menjadi tidak efektif, dan bahwa setiap paham populer tentang kepemimpinan hanyalah sebuah mitos. Pemimpin tidak selalu harus muncul, yang penting adalah kekuatan masing-masing orang. Benarkah paham ini? Tantangan kepemimpinan kita yang pertama adalah diri kita sendiri; dari tradisi dan mitos-mitos yang beredar di lingkungan kita selama ini. Lingkungan kita memang sering membangun model kepemimpinan yang anti-teori dan mengoperasikannya dalam hidup sesungguhnya. Lingkungan juga menciptakan batasan-batasan yang tak perlu bagi revitalisasi esensial dari hidup bersama kita. Akibatnya, orang muda menjadi segan tampil bila yang tua masih ada. Orang tua akan tersinggung bila gagasannya tidak dilaksanakan. Begitu seterusnya.

118 Refleksi UKI

Catatan penutup

Mitos, Tradisi, dan Realitas Ajaran manajemen tradisional membuat kita percaya bahwa organisasi yang ideal cenderung bersifat teratur dan stabil. Namun ketika para pemimpin yang sukses bicara tentang kehidupan pribadi mereka beserta dengan capaian-capaian mereka yang terbaik, mereka selalu bicara tentang tantangan dan proses, yakni tentang hal-hal yang berubah, yang bergejolak dan yang mengguncang hidup mereka. Dalam kesaksian mereka, pengalaman itu juga masuk ke dalam lingkungan organisasi mereka. Pada saat yang sama, mitos kepemimpinan juga menggambarkan para pemimpin sebagai seorang renegade. Renegade yang menyihir segerombolan pengikut dengan keberanian bertindaknya. Memang, para pemimpin itu sangat mempesona pengikut bukan karena kepahlawanan yang membuat orang lain berdecak-decak, melainkan karena para pengikut itu juga menaruh hormat yang dalam kepada aspirasi-aspirasi yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin renegade. Ajaran manajemen tradisional memfokuskan perhatian kita kepada peristiwa jangka pendek, yakni semacam analisis-analisis Wall Street, pernyataan kuartalan, dan laporan tahunan. Namun, dalam kasus kepemimpinan yang telah kita pelajari, semua pemimpin efektif memiliki orientasi masa depan jangka panjang. Mereka melihat apa yang ada di balik horison masa kini. Sebuah ceritera rakyat yang baru, yang mengembangkan kepemimpinan, menggambarkan para pemimpin sebagai seorang penglihat yang precient dengan kekuatan macam Merlin. Untuk pastinya, pemimpin harus memiliki visi, yakni sebuah perasaan mengarahkan, namun visi itu tak boleh memperlihatkan penglihatan yang bersifat psikis. Hal itu bisa saja berasal dari pemikiran orisinil, namun bisa juga merupakan representasi dari inspirasi orang lain. Dan itu bisa saja bersifat celestial mamupun mendunia. Manajemen tradisional mengajar kepada kita bahwa seorang pemimpin haruslah seorang yang kalem, lembut, dan analitis cerdas –

Refleksi UKI 119

Catatan penutup

sanggup memisahkan emosi dari kerja. Akan tetapi, ketika pemimpin mendiskusikan segala sesuatu yang mereka paling banggakan dalam karir mereka, mereka menjelaskan perasaaan tentang inspirasi, semangat, gejolak, kegeraman, intensitas, tantangan, kepedulian, kebaikan hati, dan bahkan cinta-kasih. Mitos kepemimpinan menyatakan bahwa pemimpin adalah mereka yang ‘kharismatik’, dan bahwa mereka itu memiliki kemampuankemampuan khusus (yang tidak dimiliki orang lain). Hal ini akan mengakibatkan penghargaan kita kepada para pemimpin menjadi rusak, dan yang paling jelek hal ini dapat mengarah kepada pemujaan seorang hero atau pengkultusan individu. Yang pasti, pemimpin itu harus enerjik dan penuh antusias. Akan tetapi, dinamika seorang pemimpin tidak datang dari kekuatan khusus. Ia lahir dari kuatnya keyakinan terhadap tujuan serta adanya kemauan untuk mengungkapkan keyakinan tersebut. Ajaran manajemen tradisional menyebutkan bahwa tugas manajemen yang paling utama adalah pengawasan. Mengontrol sumber daya, termasuk waktu, uang, barang-barang, dan manusia atau orang. Pemimpin tahu bahwa semakin dalam mereka mengontrol orang lain, nampaknya semakin cetek orang-orang menurutinya. Karena itu memang pemimpin tidak mengontrol. Mereka hanya memampukan orang lain untuk bertindak. Mitos kepemimpinan menyatakan bahwa di puncak, orang akan sendirian. Ini tidak benar. Pengalaman membuktikan bahwa pemimpin yang paling efektif, biasanya terlibat dan bersentuhan dengan anak buah yang dipimpinnya. Para pemimpin itu cenderung sangat memperhatikan orang lain, dan sering menganggap mereka yang bekerja dengannya sebagai keluarga. Tradisi menyatakan bahwa pemimpin mengarahkan dan mengontrol orang lain dengan cara memberi perintah-perintah serta dengan menerbitkan berbagai kebijakan dan prosedur. Akan tetapi kita tahu bahwa perilaku pemimpin adalah jauh lebih penting daripada perkataannya. Kredibilitas bertindak merupakan satu-satunya penentu yang paling berarti apakah seorang pemimpin itu akan diikuti untuk

120 Refleksi UKI

Catatan penutup

seterusnya atau ia perlu ditinggalkan. Selain itu, mitos mengkaitkan kepemimpinan dengan kedudukan tinggi. Diasumsikan bahwa ketika orang berada di posisi atas, maka secara otomatis ia telah menjadi pemimpin. Namun ternyata bahwa kepemimpinan bukanlah soal tempat, melainkan sebuah proses. Ia memerlukan ketrampilan dan kemampuan yang berguna ketika seseorang itu ada di ruang eksekutif atau di garis depan. Dalam realitas, kepemimpinan memang bersifat oxymoronic. Bagi banyak orang, memimpin memang merupakan a heated affair (soal yang panas), penuh dengan exhilaration dan menyenangkan. Namun memimpin juga sangat melelahkan, menjengkelkan, membuat stress, dan membosankan. Kepemimpinan adalah sebuah semangat yang disiplin. Tujuan dasar dari tulisan ini – kepemimpinan – adalah untuk membantu baik para pengelola maupun warga biasa dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk memimpin orang lain agar memperoleh segala sesuatu yang lain dari yang lain. Tujuan umum para pemimpin untuk memperluas kemampuan kepemimpinannya adalah a.l: • meyakini kekuatan dan kelemahan kita sebagai pemimpin • belajar bagaimana menginspirasi dan memotivasi orang lain agar terarah kepada tujuan bersama • memperlengkapi kemampuan dalam membangun sebuah team yang bersemangat dan kohesif • menyimpan pengtahuan dan pelajaran ini untuk digunakan secara lebih ajeg Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjadi pemimpin yang berhasil, adalah menjawab tantangan proses, menginspirasi visi bersama, memampukan orang lain untuk bertindak, merumuskan cara, dan menguatkan hati. Komitmen dan prakteknya Banyak orang berpendapat bahwa orang yang baik mendambakan kepemimpinan yang baik. Di bawah ini kita akan membicarakan praktek-

Refleksi UKI 121

Catatan penutup

praktek kepemimpinan yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin yang ingin berhasil. Setelah kita mendalami dinamika sebuah proses, maka ada beberapa hal yang perlu kita cermati. Hal itu antara lain adalah,

Menjawab tantangan sebuah proses. Kepemimpinan adalah suatu proses yang aktif, bukan pasif. Ketika banyak pemimpin mengira bahwa keberhasilan mereka adalah sebuah ‘nasib baik’ atau karena ‘menjadi orang yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat’, tak satupun dari mereka yang hanya duduk menganggur dan menunggu nasib baik menghampiri mereka. Meski kompetensi yang jelas dari seseorang mungkin tepat dengan kebutuhan saat itu, namun mereka yang memimpin orang lain ke kebesaran pada dasarnya mencari tantangan. Tantangan itu bisa berupa inovasi sebuah produk baru, suatu reorganisasi, atau suatu pembalikan, namun secara umum semua kasus itu pada dasarnya melibatkan sebuah perubahan dari kondisi status-quo. Demikianlah, para pemimpin itu pada dasarnya terlibat dalam menantang sebuah proses. Pemimpin adalah pionir. Merekalah orang-orang yang ingin melangkah keluar dari ketidak-tahuan dan kebuntuan. Mereka merupakan orang-orang yang mau mengambil resiko, untuk menemukan dan mengalami demi memperoleh cara yang baru dan yang lebih baik untuk menangani sesuatu. Namun pemimpin tak harus menjadi seorang pencipta atau penemu dari produk-produk baru atau proses-proses kerja yang baru. Pada kenyataannya, memang begitu. Inovasi produk cenderung berasal dari pelanggan, vendors, dan pekerja. Inovasi proses cenderung datang dari orang-orang yang melakukan pekerjaan itu. Sumbangan utama dari pemimpin adalah dalam hal pengakuan akan gagasan-gagasan yang baik, mendukung gagasan-gagasan itu, dan keinginan untuk menantang sistem demi memperoleh produk-produk baru, proses-proses, dan pelayanan yang diambilnya. Dalam hal ini, mungkin lebih akurat untuk menyebut mereka sebagai pengambil langkah awal dari penemuan itu.

122 Refleksi UKI

Catatan penutup

Menggagas dan memperkenalkan sebuah Visi Bersama. Tugas pemimpin pada hakekatnya adalah ‘menciptakan visi’. Setiap organisasi, setiap gerakan sosial, dimulai dengan sebuah cita-cita atau impian. Impian itu atau visi adalah daya yang menabung bagi masa depan. Pemimpin berupaya untuk menerobos horison waktu, membayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka tiba pada tujuan akhir itu. Sebagian orang menyebut hal ini sebagai visi; yang lain menjelaskannya sebagai tujuan, misi, sasaran, bahkan sebagai agenda pribadi. Apapun itu namanya, ada sebuah kerinduan untuk membuat sesuatu itu ada atau terjadi, yakni mengubah cara-cara yang ada, menciptakan sesuatu yang belum pernah diciptakan sebelumnya. Dalam arti ini terkadang pemimpin tampak hidup di masa lalu. Mereka melihat sebuah gambar dalam benaknya mengenai bagaimana akibat yang akan timbul meski mereka belum memulai proyek itu; mirip seorang arsitek yang membuat blue-print atau seorang insinyur yang merancang model. Bayangan mereka yang jelas tentang masa depan menarik mereka ke depan. Namun visi yang hanya dapat dilihat oleh pemimpin itu tidaklah mencukupi untuk menciptakan sebuah gerakan yang terorganisir atau tak mencukupi untuk menciptakan sebuah perubahan berarti dalam sebuah lembaga. Seseorang yang tanpa pengikut bukanlah pemimpin. Dan orang tak akan menjadi pengikutnya sampai mereka menerima sebuah visi sebagai milik mereka sendiri. Kita tak bisa memerintah komitmen, kita hanya bisa menggagasnya. Pemimpin adalah orang yang menggagas dan memperkenalkan sebuah visi bersama. Ia berupaya sedemikian rupa sehingga memahami apa yang menjadi harapan dan impian orang lain, dan memampukan mereka itu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang mendebarkan berkenaan dengan masa depan yang mereka pegang. Pemimpin menunjukkan kepada orang-orang lain bahwa mereka bisa membeli impian itu dengan memperlihatkan bagaimana semua itu akan tercapai bila ada tujuan bersama. Ada ungkapan yang mengatakan ‘know your followers and speak their language’. Demikianlah orang harus percaya bahwa kita tahu kebutuhan

Refleksi UKI 123

Catatan penutup

mereka dan juga memiliki keinginan-keinginan mereka dalam hati. Hanya melalui suatu kedekatan dan pengertian yang mendalam akan impianimpian mereka, harapan-harapan mereka, aspirasi mereka, visi mereka, dan nilai-nilai mereka, maka barulah pemimpin itu mampu mendaftar dan memperoleh dukungan mereka. Sebuah pepatah kuno Texas mengatakan ‘anda tak bisa menyalakan api dengan korek yang basah’. Pemimpin tak bisa memantik api semangat dalam diri para pengikut bila ia sendiri tidak memperlihatkan keinginannya berkaitan dengan visi kelompoknya itu. Pemimpin mengkomunikasikan semangatnya melalui bahasa yang padat dengan cara yang ekspresif. Orang per orang yang penulis temui menyatakan bahwa mereka sungguh sangat antusias mengenai aktivitas pribadi mereka yang terbaik. Di sinilah mereka menangkap kerinduannya sendiri. Namun sebenarnya hal itu datang dari sang pemimpin yang merasuk kepada anak buah pengikutnya. Keyakinan sang pemimpin itu sendiri dalam dan antusiasmenya terhadap sebuah visi merupakan pancaran yang memantik api inspirasi bagi gagasan tersebut.

Memampukan orang lain bertindak. Pemimpin tak meraih sukses

karena dirinya sendiri. Ia memperoleh dukungan dan bantuan dari semua yang harus membuat proyek itu jalan. Pemimpin melibatkan orang-orang lain – dalam bagian-bagian tertentu, dengan cara-cara tertentu – agar sebuah kegiatan berjalan. Ia harus mendorong kerjasama, membangun team, and memberdayakan mereka. Ia harus memampukan orang lain untuk bertindak. Perasaan sebagai anggota team akan membangun komitmen dan membuahkan kerja yang produktif. Dampak dari perasaan ini jauh melampaui pemberian tugas biasa. Di sini anak buah tak pernah merasa sebagai bawahan. Dan pemimpin akan bekerja dengan relaks. antisipasi dalam sebuah kampus? Sebuah grand dreams tak mungkin menjadi kenyataan yang berarti bila dijalankan dengan modal semangat

Merumuskan sebuah cara. Bagaimanakah sebuah perubahan di-

124 Refleksi UKI

Catatan penutup

saja. Pemimpin harus memiliki rencana yang detil. Ia harus mengarahkan proyek-proyeknya sepanjang waktu, mengukur pelaksanaannya, mencari dana, dan melakukan koreksi evaluatif terhadap langkah-langkah yang telah diambil. Untuk itu latihan-latihan adalah perlu. Saat ini kita memerlukan tugas-tugas kepemimpinan bila seseorang harus mengarahkan sebuah kursus untuk melakukan kegiatan. Di sinilah pemimpin perlu merumuskan sebuah cara.. Ketika para peimpinan memuji bawahannya, maka pada saat itu bawahan akan memuji atasannya. Test yang mereka gunakan sederhana sifatnya: Adakah para pimpinan itu melaksanakan apa yang diomongkannya sendiri? Ini artinya bawahan itu mengikuti cara lewat perencanaan dan bimbingan dengan contoh. Untuk memimpin dengan contoh, pemimpin pertama-tama harus jelas dulu mengenai proyek-proyek yang diperkenalkannya. Mungkin saja pimpinan bicara indah tentang visi dan nilai-nilai, namun bila perilakunya tidak konsisten dengan keyakinan-keyakinan yang dinyatakannya, maka orang-orang akan dengan pasti kehilangan respek terhadapnya. Pemimpin harus menjadi role model, peran contoh yang menegaskan nilainilai organisasional dan pengelolaan yang dirasa sangat penting. Menjadi pemeran contoh berarti menaruh perhatian kepada apa yang kita sendiri yakini sebagai penting. Artinya, kita harus menunjukkan kepada orang lain lewat perilaku nilai-nilai yang kita yakini tersebut.

Menguatkan hati. Untuk mencapai puncak, orang perlu menempuh

jalan yang panjang dan berliku. Orang bisa saja lalu menjadi lelah, frustrasi, dan putus-asa. Pemimpin hendaknya menguatkan hati anak buah pengikutnya untuk terus maju bertahan. Ini perlu supaya bersamasama mereka sanggup meneruskan perjalanan yang masih panjang itu. Tentu saja, tak perlulah kiranya untuk menjadi begitu dramatis dalam menawarkan penguatan tersebut. Hal-hal yang sederhana dapat saja menciptakan reaksi-reaksi yang memadai. Misalnya kita bisa melakukan sesuatu yang ‘surprising’: makan rujak bersama, memberi oleh-oleh kecil ketika pulang dari perjalanan dinas, atau menyediakan papan flanel

Refleksi UKI 125

Catatan penutup

sebagai tempat menempelkan kartu-kartu ucapan, mengunjungi rumah anak buah, dsb. Bisa juga pada acara-acara tertentu, dibagi T-Shirt khusus kepada bawahan untuk dipakai bersama menyambut Natal, misalnya. Kata-kata dari boss yang menulis kepada bawahan ‘Saya dengar ada berita bagus untukmu’ sungguh sangat menguatkan bila kata-kata macam ini tak saja dikirimkan kepada pejabat dan pegawai melainkan juga kepada satpam dan petugas minuman. Dan masih ada segebok ‘conceivable award’ lain yang bisa kita berikan, tak perlu harus lewat percakapanpercakapan pribadi yang sifatnya tertutup, yang hanya akan mengundang kecurigaan umum, padahal tidak ada apa-apa. Orang tak mengawali pekerjaannya setiap hari dengan keinginan untuk kalah dan rugi. Adalah bagian dari tugas sang pemimpin untuk menunjukkan bahwa anak buahnya bisa menang dan berhasil. Ada banyak contoh berkenaan dengan penerimaan atau pengakuan individual ini. Kartu ucapan tadi, T-Shirts, atau satu dos gula-gula sebagai personal thank-yous adalah bukti yang nampak dari usaha kita untuk menguatkan hati bawahan agar mereka setia dan teguh sampai menang. Bila orangorang itu mencium bau pretensi yang tak enak, maka mereka akan berbalik dan pergi meninggalkan kita, sang pemimpin. Akan tetapi perbuatan yang tulus akan kepedulian dan perhatian menarik orang untuk bertahan maju dan bertumbuh untuk sukses. Ada satu aspek lagi mengenai penguatan hati ini: yakni penguatan yang diberikan sang pemimpin kepada dirinya sendiri. Misalnya, bila tak keberatan, pemimpinlah yang pertama datang ke kantor. Pemimpinlah yang pertama datang ke ruang rapat. Tapi ini tentu saja tak mesti terusterusan dilakukan mengingat sifat pekerjaan pemimpin yang pada saat ini sungguh menyita enerji. Soal Kredibilitas Jujur, kompeten, menatap ke depan, penuh gagasan, adalah kualitas yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin sebagai dasar untuk membangun keberhasilan. Dalam gabungan bersama, hal itu akan membuahkan kredibilitas atau kemampuan. Orang-orang yang bekerja sebagai

126 Refleksi UKI

Catatan penutup

penyampai berita, manager, petugas penjual (salesman), dosen, rektor, diharapkan memiliki tiga kriteria penting, yakni: dapat dipercaya, berpengalaman, dan dinamis. Mereka yang beroleh penilaian tinggi di tiga dimensi ini dianggap sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya. Tiga sifat di atas secara agak mengagetkan sama maknanya dengan kejujuran, berkemampuan, dan penuh gagasan. Saat ini kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang kredibel, yang dapat dipercaya. Hal ini disebabkan karena kita perlu mempercayai para pemimpin kita. Kita harus yakin bahwa kata-kata mereka dapat dipercaya, bahwa mereka akan melakukan yang mereka sendiri katakan, bahwa mereka memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memimpin, dan bahwa mereka secara pribadi sangat senang dan antusias berkenaan dengan pengarahan yang mereka sendiri pimpin dan kepalai. Charles O’Reilly peneliti dari University of California, Berkeley, memeriksa kredibilitas dari kelompok pimpinan puncak atau top management berbagai perusahaan. Dengan menggunakan kriteria ‘dapat dipercaya, berpengalaman, dan dinamis’, O’Reilly mengukur seberapa tingginya kredibilitas pimpinan puncak menurut pendapat para pekerja. Lalu ia juga meneliti hubungan antara kredibilitas anggota manajemen atas dengan komitmen para pekerja berkenaan dengan nilai-nilai dasar bersama – yang disebutnya sebagai ‘moral involvement’. Ia mendapati bahwa ketika para pekerja nilai manajemen sebagai bisa dipercaya, maka mereka juga menampakkan tingginya tingkat percaya diri. Dari studi ini O’Reilly menyimpulkan bahwa ketika manajemen atas dianggap memiliki kredibilitas tinggi dan punya keyakinan yang kuat, para pekerja cenderung lebih bangga untuk memberitahu orang lain bahwa mereka adalah bagian dari organisasi itu, menceritakan hal-hal yang bagus tentang organisasinya itu kepada teman-temannya, melihat nilai-nilainya sendiri sebagai sama dengan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi, memiliki rasa memiliki terhadap organisasi itu. Namun ketika para pimpinan puncak itu dinilai sebagai memiliki kredibilitas rendah, maka para pekerja cenderung menganggap bahwa para pekerja di perusahaan lain bekerja hanya kalau diawasi, motivasi

Refleksi UKI 127

Catatan penutup

utamanya adalah uang, bicara hal-hal yang baik tentang organsasinya itu ketika bekerja, namun merasa lain bila sendiri, cenderung mencari pekerjaan lain bila organisasi menghadapi saat-saat yang keras. Demikianlah studi ini menunjukkan bahwa kesetiaan dan komitmen para pekerja sangat bergantung pada kredibilitas pimpinan. Namun ada perbedaan antara penyiar berita dan pemimpin. Memang kita membutuhkan keduanya itu kredibel agar kita dapat menerima apa yang mereka katakan, namun terhadap para pemimpin kita membutuhkan lebih dari sekedar itu. Kita mau agar para pemimpin itu punya pandangan yang maju - ke depan; bahwa mereka perlu memiliki rasa/kemampuan untuk mengarahkan, suatu visi untuk masa depan. Kita menginginkan agar para penyiar berita itu independen ketika melaporkan apa yang sebenarnya terjadi; kita berharap agar para pemimpin memiliki titik pandang dan teguh dalam tujuan organisaasi. Kita membutuhkan wartawan yang sejuk dan obyektif; menginginkan pemimpin yang mampu mengartikulasikan kemungkinan-kemungkinan yang menantang. Ketika para pemimpin diharapkan bisa membuat berita, maka para wartawan itu diharapkan hanya melaporkannya.

Adakah implikasi menjadi pimpinan? Tentu saja. Pertama kita sebetulnya menaruh pimpinan ke suatu tempat yang sulit/tidak enak. Kita butuh mereka untuk menjadi kredibel, namun sekaligus kita juga memberi kontribusi untuk terus-menerus meningkatkan (underpin) kredibilitas mereka itu dengan cara mengharapkan mereka fokus pada sebuah arah yang jelas bagi masa depan. Pemimpin hendaknya mau belajar untuk bagaimana menyeimbangkan keinginannya sendiri untuk mencapai tujuan-tujuan yang penting dengan kebutuhan-kebutuhan para pengikutnya agar mereka percaya bahwa pimpinan memiliki kepentingankepentingan terbaik dalam hati. Kedua, karena kenyataan di atas, maka pimpinan harus selalu bekerja keras (diligent) dalam mengawal kredibilitas mereka itu. Kemampuan mereka untuk mengambil posisi yang kuat – untuk menantang status quo, sambil menunjuk kita arah-arah baru – semuanya bergantung pada

128 Refleksi UKI

Catatan penutup

kredibilitas mereka. Tak seorang pun mau menuruti cara pimpinan bila mereka meragukan kredibilitas pimpinan tersebut. Kredibilitas adalah hal yang paling berat untuk dicapai, dan merupakan hal yang paling rapuh dari kualitas kemanusiaan. Kredibilitas dicapai menit demi menit, jam demi jam, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Tapi kredibilitas dapat hilang dalam tempo sekejap bila tidak dipelihara. Kita cenderung ingin mengampuni penyimpangan-penyimpangan kecil, sebuah tindakan yang tak hati-hati. Tapi akan datang waktunya ketika cukup adalah cukup. Ketika seorang kehilangan kredibilitas, maka ia akan menemui kesulitan untuk memperolehnya kembali. Hakekat Kepemimpinan Cukup jelas bahwa mayoritas kita setuju dengan tuntutan-tuntutan kita terhadap para pemimpin. Kita ingin agar mereka kredibel, dan agar mereka memiliki kepekaan untuk mengarahkan. Bila seseorang harus memimpin kita, orang itu harus bisa berdiri di depan kita dan penuh keyakinan mengekspresikan suatu gambaran masa depan yang menarik, dan kita harus bisa mempercayai bahwa ia memiliki kemampuan untuk membawa kita ke sana. Ada begitu banyak hubungan-hubungan yang mengagetkan antara apa yang pimpinan katakan mereka lakukan saat berada pada tingkat yang terbaiknya dengan apa yang dikatakan oleh anak buah pengikutnya. Yang diperlukan oleh UKI saat ini adalah: kejujuran, kompetensi, visi (kemampuan melihat ke depan), dan inspiring (kreatif, penuh cita-cita untuk mencari terobosan). Kejujuran membutuhkan integritas. Di sini seorang pemimpin harus bisa dipercaya. Kompetensi menuntut kemampuan seseorang untuk mengelola sesuatu secara produktif sekaligus efisien. Kepemimpinan seorang rektor barangkali harus inspiring, tegas, dan memfasilitasi bagi langkah-langkah nyata untuk solusi. Sesuatu yang agak aneh memang, jika membaca tulisan-tulisan yang ada dalam buku tulisan Dr. Abraham ini. Agak aneh karena tulisan semacam ini tidak biasa, kalau enggan dikatakan langka. Sebuah tulisan yang mengungkapkan kegeraman seorang akademisi terhadap

Refleksi UKI 129

Catatan penutup

institusinya, dan negerinya. Tentang kondisi tata negara dan institusi yang carut marut karena kegagalan para pemimpinnya sendiri. Ia geram melihat keadaan yang masih belum pas dengan harapan-harapannya. khususnya tentang UKI yang ia kenal dari kecil. Dengan lugas ia menulis semua kecacatan tersebut, namun dengan positif juga memberi pemikiran sebagai sebuah jawaban. Penulis bangga dengan semangat, pemikiran serta dedikasi Bram sahabat saya yang lebih muda ini. Keberaniannya mengungkapkan semua kegeraman tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk orang banyak. Agar lebih banyak yang tahu dan mungkin turut gelisah, lalu turut pula untuk memberikan jalan terbaik bagi bangsa ini, juga bagi UKI. Penulis sungguh bangga akan dia. Suatu saat nanti, dia harus menjadi pemimpin di UKI. Antie Solaiman * Jakarta, 23 Agustus 2000

*

Staf dosen Fisipol UKI, kandidat Doktor dan “aktifis yang tak pernah lelah” a.l. di Serikat Buruh Sejahtera Indonesia, Pengasuh majalah “Sociae Polites”, Sekretaris Pokja Mentawai – Lembaga Pelayanan Kepada Masyarakat.

130 Refleksi UKI

Sekilas tentang UKI

K

emerdekaan yang diraih oleh Indonesia tidak lepas dari karya dan pengorbanan orang-orang Kristen. Salah satu tiang kemajuan bangsa adalah sumber daya manusia yang terdidik dengan baik. Para tokoh Kristen pada saat itu terpanggil untuk memberi pelayanan dengan mendirikan sekolah-sekolah Kristen dari mulai sekolah dasar, menengah sampai pada pendidikan tinggi.

Dewan Gereja-gereja di Indonesia yang didirikan pada tanggal 25 Mei 1950 membentuk komisi yang dipimpin oleh Prof. Dr. I.P. Simanjuntak untuk melakukan studi kelayakan untuk pendirian universitas. Hasil studi tersebut dituangkan dalam suatu resolusi DGI tanggal 30 Juni 1953 mengenai “Universiteit Kristen”. Yayasan UKI (YUKI) didirikan oleh Mr. Sutan Gunung Mulia, Yap Thiam Hien, SH dan Benyamin Philip Thomas Sigar pada tanggal 15 Juli 1953 sebagai amanat dari Sidang Raya Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Ambon pada tahun 1952 tentang perlunya partisipasi umat kristen dalam mengisi kemerdekaan di segi pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Tanggal 15 Oktober 1953 YUKI mendirikan Universitas Kristen Indonesia dengan motto: “Melayani Bukan Dilayani”. Fakultas yang pertama kali didirikan adalah Fakultas Sastra dan Filsafat dan Sastra dengan sub Fakultas Pedagogik dan sub Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi. Pada tahun 1958 didirikanlah Fakultas Hukum kemudian Fakultas Ekonomi. Karena ada ketentuan pemerintah pada waktu itu bahwa suatu universitas harus memiliki fakultas eksakta maka didirikanlah Fakultas Kedokteran pada tanggal 1 Desember 1962 dan kemudian menyusul Fakultas Teknik pada tahun 1963. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik merupakan yang termuda diresmikan pada tanggal 9 November 1994.

Sekilas tentang UKI

Gedung kampus UKI yang pertama terletak di Jalan Diponegoro, Jakarta bersama-sama dengan Fakultas Psikologi UI dan bersebelahan dengan PSKD (Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta). Pada tahun 1974 Fakultas Kedokteran dan Teknik menempati kampus baru di Cawang, Jakarta Timur seluas ± 3 Ha yang sekarang merupakan kampus pusat. Disamping memiliki tujuh fakultas y.i. Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Sastra, Hukum, Ekonomi, Kedokteran, Teknik dan Ilmu Sosial dan Politik UKI juga memiliki Rumah Sakit Umum FK-UKI yang berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan maupun rujukan terutama untuk kasus gawat darurat; Akademi Perbankan YUKI dan Akademi Fisioterapi di bawah manajemen fakultas kedokteran. Selain menyelenggarakan pendidikan strata satu (S1), UKI juga melaksanakan pendidikan pasca sarjana Magister (S2) bidang Manajemen Pendidikan dan Hukum. Di sekitar jatuhnya rezim Soeharto di bulan Mei 1998 sampai dengan Peristiwa Semanggi berdarah, November 1998, mahasiswa UKI ikut aktif berdemonstrasi menunjang gerakan reformasi. Salah satu kelompok perjuangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta yang menurut media massa paling “progresif” adalah Forkot (Forum Kota), dan mahasiswa UKI termasuk salah satu komponennya. Di samping itu, UKI, melalui Kelompok Kerja UKI untuk Gerakan Reformasi yang merupakan wadah pergerakan para dosen dan karyawan turut pula berpartisipasi dalam reformasi. Melalui diskusi-diskusi yang diselenggarakan, yang seringkali diikuti oleh beberapa perguruan tinggi dan lembaga Kristen lainnya, UKI memberikan beberapa pemikiran. Pemikiran-pemikiran itu dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku (1998): “Pernyataan dan Pokok-pokok Pikiran Universitas Kristen Indonesia dalam Rangka Reformasi Menyeluruh”.

132

Buku Refleksi UKI

Biodata Penulis
Abraham Simatupang dilahirkan di Jakarta pada tanggal 18 Juni 1960. Tamat dari Fakultas Kedokteran UKI tahun 1986 dan sejak 1985 bekerja di UKI sebagai asisten dosen di Bagian Farmakologi. Tahun 1991-1993 mengambil program magister kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Penulis mengambil program Doctor Medizine di Rheinische Friedrich Wilhelms Universität dengan bantuan beasiswa dari pemerintah Jerman melalui DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) di kota Bonn dan lulus dengan predikat magna cum laude pada tahun 1996. Sejak mahasiswa penulis gemar menulis dan bergelut di pers mahasiswa, beberapa tulisannya diterbitkan di majalah kampus Panorama, media pers (Suara Pembaruan) dan majalah PGI. Sedangkan tulisan-tulisan ilmiah di bidang farmakologi, kolesterol dan pendidikan kedokteran tersebar di beberapa jurnal kedokteran dan kesehatan baik dalam dan luar negeri. Aktifitas di organisasi kemahasiswaan a.l. sebagai anggota Badan Perwakilan Mahasiswa dan Ketua Senat Mahasiswa FK-UKI (1984). Pelatihan-pelatihan mengenai manajemen dan riset pendidikan tinggi yang pernah diikuti a.l. University Staff Development Programme, University of Kassel, Jerman, 1999; Fellowship for Computer-assisted learning at the Faculty of Medicine, The Free University (Vrije Universiteit), Amsterdam, Belanda, 1998 dan Training on Strategic Programming for Research in University at Santoso Consulting for Academic Development (SCAD), Yogyakarta, 1996. Selain aktif di berbagai organisasi profesi di luar UKI, jabatan yang dipangku sejak 1998 adalah Staf Ahli Rektor Bidang Kerjasama, Ketua

Buku Refleksi UKI 133

Biodata Penulis

Lembaga Penelitian UKI, Presiden Deutsch-Indonesische Gesellschaft fuer Medizin (DIGM/German-Indonesian Medical Association) disamping sebagai anggota Senat UKI dari perwakilan dosen Fakultas Kedokteran. Penulis telah menikah dengan Ied Veda R. Sitepu, MA, staf pengajar sastra Inggris dan dikaruniai Tuhan anak dua orang puteri. Penulis bisa dihubungi lewat electronic mail (email): brami60@yahoo.com atau bram_simatupang@yahoo.com. Penulis juga memiliki e-learning portal dengan alamat: http://e-pharmacology.tripod.com/

134 Buku Refleksi UKI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->