BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Pada tanggal 9 April 2009, bangsa Indonesia telah

menyelenggarakan pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilu tahun ini merupakan yang kesebelas kalinya dilaksanakan sejak Indonesia merdeka. Sejak tahun 2004, sistem Pemilu yang digunakan berbeda jauh dengan Pemilu sebelum era reformasi, dimana sekarang yang menentukan wakil rakyat dan pemimpin adalah masyarakat sendiri secara

langsung. Mengingat demikian pentingnya arti Pemilu dalam negara yang berlandaskan pada prinsip kedaulatan rakyat, maka UndangUndang Dasar 1945 telah mengamanatkan penyelenggaraan Pemilu secara berkala, yaitu sekali dalam lima tahun. Dalam kerangka negara demokrasi, pelaksanaan Pemilu

merupakan momentum yang sangat penting bagi pembentukan pemerintahan dan penyelenggaraan negara untuk periode berikutnya. Pemilu selain merupakan mekanisme bagi rakyat untuk memilih para wakilnya, juga dapat dilihat sebagai proses evaluasi dan pembentukan kembali kontrak sosial. Pemilu menyediakan ruang untuk terjadinya proses “diskusi” antara pemilih dan calon-calon wakil rakyat, baik sendiri-sendiri maupun melalui partai politik, tentang bagaimana penyelenggaraan negara dan pemerintahan harus dilakukan. Melalui 1

pemilihan umum rakyat memberikan persetujuan siapa pemegang kekuasaan pemerintahan dan bagaimana menjalankan kekuasaan tersebut. Pemilihan umum anggota legislatif pada tanggal 9 April 2009 diselenggarakan melalui berbagai tahapan, mulai dari pendataan calon pemilih, pendaftaran dan penetapan peserta Pemilu, masa kampanye, pemungutan dan penghitungan suara, penetapan hasil Pemilu hingga pelantikan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota terpilih. Setiap tahapan tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Untuk menjamin pelaksanaan Pemilu sesuai dengan asas-asas yang

konstitusional,

dibentuk

peraturan

perundang-undangan

mengatur norma dan prosedur pelaksanaan Pemilu yang harus dipatuhi oleh semua pihak, antara lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, dan UndangUndang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Perhelatan akbar pesta demokrasi nasional untuk memilih calon anggota legislatif pada tanggal 9 April 2009 yang lalu berlangsung penuh warna. Hiruk-pikuk pelaksanaan Pemilu Indonesia yang

melibatkan ribuan calon anggota legislatif guna memperebutkan sekitar 18.960 kursi, kerap menghiasi pemberitaan utama diberbagai media massa. Sistem Pemilu yang digunakan di Indonesia, disebut sebagai sistem Pemilu yang terumit di dunia sehingga benih-benih potensi pelanggaran dan sengketa Pemilu terjadi hampir disebagian 2

yang dapat berupa pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana Pemilu. terhadap Pemilu pelanggaran-pelanggaran Undang-Undang Pemilu. Sedangkan sengketa Pemilu adalah sengketa antara dua atau lebih warga negara yang memiliki hak pilih. Kedua. Ketiga. Pertama. peserta Pemilu (partai politik maupun individual). Sengketa ini terjadi karena perbedaan penafsiran dan tidak ada kesepakatan. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.besar daerah pemilihan. Mekanisme ini diperlukan untuk mengoreksi jika terjadi pelanggaran atau kesalahan dan memberikan sanksi kepada pelaku pelanggaran sehingga proses Pemilu benar-benar dilaksanakan secara demokratis Pelanggaran dan hasilnya adalah mencerminkan kehendak rakyat. Salah satu mekanisme penting dalam pelaksanaan Pemilu adalah penyelesaian pelanggaran dan perselisihan atau sengketa Pemilu. ketidaknetralan Panitia Pemungutan Suara (PPS). tertukarnya surat suara antar daerah pemilihan. maupun pengamat Pemilu. hilangnya hak pilih puluhan juta warga negara Indonesia akibat tidak beresnya penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan oleh KPU. Dewan Perwakilan Daerah. Dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. ditentukan ada dua jenis 3 . Berhubung usia demokrasi di Indonesia masih sangat muda maka wajar bila ada berbagai pelanggaran maupun sengketa menyangkut hasil dan proses Pemilu. khususnya terkait dengan proses penghitungan suara. badan pengelolaan Pemilu. Permasalahan dan pelanggaran yang terjadi dalam Pemilu legislatif 9 April lalu secara garis besar dapat dibagi dalam tiga bagian besar.

Pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang Pemilu yang bukan merupakan ketentuan pidana Pemilu dan ketentuan lain yang diatur oleh KPU. untuk pelanggaran yang menyentuh ranah administrasi adalah menjadi kewenangan KPU. yaitu pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana Pemilu. DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TAHUN 2009”. b. Pada dasarnya. untuk perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) menjadi domain khusus bagi Mahkamah Konstitusi untuk memutuskannya.pelanggaran Pemilu. III. Berdasarkan uraian di atas. Makalah ini diberi judul : “MEKANISME PENYELESAIAN PELANGGARAN DAN SENGKETA PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. Sementara itu. sedangkan terhadap pelanggaran pidana Pemilu masuk ke dalam ranah pengadilan umum. Bagaimana mekanisme penyelesaian pelanggaran Pemilu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. mendorong penulis untuk membuat sebuah makalah dan membahasnya lebih lanjut. Rumusan Masalah Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : a. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 4 . Adapun pelanggaran pidana Pemilu adalah pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu. Bagaimana prosedur teknis penyelesaian sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi. II. DEWAN PERWAKILAN DAERAH.

Panwas Kecamatan. KPU Kabupaten/Kota. Pelanggaran Pemilu dapat dilakukan oleh banyak pihak bahkan dapat dikatakan semua orang memiliki potensi untuk menjadi pelaku pelanggaran Pemilu. yang meliputi anggota KPU. anggota Bawaslu. Panwaslu Kabupaten Kota. Untuk mengetahui prosedur teknis penyelesaian sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi. BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. KPU Propinsi. Potensi pelaku pelanggaran Pemilu dalam UU Pemilu antara lain : 1. Penyelenggara Pemilu. Sebagai upaya antisipasi. DPD. jajaran sekretariat dan petugas pelaksana lapangan lainnya. dan DPRD (UU Pemilu) mengaturnya pada setiap tahapan dalam bentuk kewajiban dan larangan dengan tambahan ancaman atau sanksi. b. Pelanggaran Pemilu Terjadinya pelanggaran dalam pelaksanaan Pemilu legislatif tahun 2009 sudah tidak terhindarkan. Pelanggaran dapat terjadi karena adanya unsur kesengajaan maupun karena kelalaian.a. Untuk mengetahui mekanisme penyelesaian pelanggaran Pemilu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemiliham Umum Anggota DPR. Panwaslu Propinsi. 5 .

2. anggota TNI. Pejabat tertentu. DPRD. dan badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara. 3. DPD. menggunakan fasilitas pemerintah. seperti PNS. kecuali yang telah ditetapkan sebagai tindak pidana. tempat ibadah dan tempat pendidikan untuk berkampanye. dan tim kampanye. Dengan demikian maka semua jenis pelanggaran. calon anggota DPR. pelaksana pengadaan barang. termasuk dalam kategori pelanggaran administrasi. yaitu pengurus partai politik. pelaksana survey atau hitungan cepat. Profesi media cetak/elektronik. tidak melaporkan rekening awal 6 . pengurus BUMN/BUMD. distributor. dan umum yang disebut sebagai “setiap orang”. Perangkat Desa. 6. Meski banyak sekali bentuk pelanggaran yang dapat terjadi dalam Pemilu. Peserta Pemilu. Pemantau dalam negeri maupun asing. Masyarakat pemilih. 4. Gubernur/pimpinan Bank Indonesia. tetapi secara garis besar UU Pemilu membagi pelanggaran Pemilu berdasarkan kategori/jenis sebagai berikut : (1) Pelanggaran Administrasi Pemilu Pasal 248 UU Pemilu mendefinisikan perbuatan yang termasuk dalam pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan UU Pemilu yang tidak termasuk dalam ketentuan pidana Pemilu dan ketentuan lain yang diatur dalam Peraturan KPU. anggota Polri. Contoh pelanggaran administrasi tersebut misalnya : tidak memenuhi syarat-syarat untuk menjadi peserta Pemilu. 5.

maka proses penyelesaian tindak pidana pemilu dilakukan oleh lembaga penegak hukum yang ada yaitu kepolisian. dan pengadilan. Sengketa Pemilu 7 . (2) Tindak Pidana Pemilu Pasal 252 UU Pemilu mengatur tentang tindak pidana Pemilu sebagai pelanggaran Pemilu yang mengandung unsur pidana. maka perselisihan mengenai hasil perolehan suara diselesaikan melalui peradilan konstitusi di Mahkamah Konstitusi. II. Pelanggaran ini merupakan tindakan yang dalam UU Pemilu diancam dengan sanksi pidana. kejaksaan. menghalangi orang lain memberikan hak suara dan merubah hasil suara. Perselisihan tentang hasil suara sebagaimana dimaksud hanya terhadap perbedaan penghitungan perolehan hasil suara yang dapat mempengaruhi perolehan kursi peserta Pemilu. Sebagai contoh tindak pidana Pemilu antara lain sengaja menghilangkan hak pilih orang lain.dana kampanye. pemantau Pemilu melanggar kewajiban dan larangan. (3) Perselisihan Hasil Pemilu Yang dimaksud dengan perselisihan hasil Pemilu menurut Pasal 258 UU Pemilu adalah perselisihan antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan peserta Pemilu mengenai penetapan jumlah perolehan suara hasil pemilu secara nasional. Seperti tindak pidana pada umumnya. Sesuai dengan amanat Konstitusi yang dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

Sengketa juga dapat terjadi antara KPU dengan peserta Pemilu atau pihak lain yang timbul akibat dikeluarkannya suatu Peraturan dan Keputusan KPU. yang dalam konteks Pemilu dapat terjadi antara peserta Pemilu dengan penyelenggara Pemilu. lembaga pemantau. dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tidak ada ketentuan yang menegaskan bahwa Keputusan KPU bersifat final dan mengikat. pemilih maupun masyarakat. dapat dinilai merugikan kepentingan pihak lain seperti peserta Pemilu (partai politik dan perorangan). Dengan demikian maka Keputusan KPU yang dianggap 8 . Kebijakan tersebut. antara kepentingan dan kewajiban hukum. maupun antara peserta Pemilu dengan peserta Pemilu lainnya. menjadi salah satu kewenangan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) kabupaten/kota untuk menyelesaikannya adalah pelanggaran Pemilu yang bersifat sengketa. media/pers. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tidak mengatur mekanisme penyelesaiannya. karena menyangkut banyak pihak.Salah satu jenis pelanggaran yang menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. tata cara penyelesaian terhadap jenis pelanggaran ini diatur dalam satu pasal tersendiri. yaitu Pasal 129 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003. Pada Pemilu tahun 2004. yaitu perselisihan Pemilu selain yang menyangkut perolehan hasil suara. atau antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum (konflik). Sengketa adalah perbenturan antara dua kepentingan. Berbeda dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2003 yang menegaskan bahwa Keputusan KPU bersifat final dan mengikat. Terhadap sengketa Pemilu ini.

MR. Hal ini dapat diketahui dari pembahasan Rancangan Undang-Undang Dasar oleh BPUPKI. Anggota BPUPKI. Perubahan yang terjadi pada masa reformasi telah menyebabkan perubahan dari supremasi Majelis 9 . Usulan atas pembentukan Mahkamah Konstitusi muncul kembali setelah era reformasi terutama pada waktu pembahasan rancangan perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Keputusan KPU tersebut dianggap merugikan salah satu atau beberapa calon peserta Pemilu.merugikan terbuka kemungkinan untuk diubah. Namun akhirnya usulan itu gagal. pemikiran mengenai pembentukan Mahkamah Konstitusi sudah muncul sebelum Indonesia merdeka. Contoh kasus yang telah nyata ada adalah : (1) sengketa antara calon peserta Pemilu dengan KPU yang menyangkut Keputusan KPU tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilu. lembaga kehakiman yang berwenang menyelesaikan adalah Mahkamah Konstitusi. Persoalannya. Yamin mengusulkan agar selain Mahkamah Agung seharusnya dibentuk juga Mahkamah Konstitusi yang berfungsi sebagai pembanding undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Jika melihat pada sejarah bangsa Indonesia. M. Untuk sengketa Pemilu yang berkaitan dengan hasil perolehan suara Pemilu. Pencalonan oleh partai politik tertentu dianggap tidak sesuai dengan atau tanpa seijin yang bersangkutan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 (UU Pemilu) juga tidak memberikan “ruang khusus” untuk menyelesaikan ketidakpuasan tersebut. yaitu Prof. (2) sengketa antara partai politik peserta Pemilu dengan anggota atau orang lain mengenai pendaftaran calon legislatif.

Seiring dengan itu. Setelah melalui proses pembahasan yang mendalam. serta hadirnya lembaga yang mengatasi sengketa antar lembaga negara yang kini telah menjadi sederajat.Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi supremasi konstitusi. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Dengan disahkannya kedua pasal tersebut. Atas dasar pemikiran itu. akhirnya MK menjadi kenyataan dengan disahkannya Pasal 24 ayat (2) dan Pasal 24C Undang-Undang Dasar 1945. salah satu wewenang dari Mahkamah Konstitusi adalah 10 . dan saling mengendalikan (checks and balances). Kewenangan melakukan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar itu diberikan kepada sebuah mahkamah tersendiri di luar Mahkamah Agung (MA). yaitu UndangUndang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. saling mengimbangi. Karena perubahan yang mendasar itu. pemerintah telah mengeluarkan peraturan khusus. Untuk menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut. maka perlu disediakan sebuah mekanisme institusional dan konstitusional. muncul desakan agar pengujian peraturan perundang-undangan tidak hanya terbatas pada peraturan di bawah undang-undang melainkan juga atas undangundang terhadap Undang-Undang Dasar. adanya Mahkamah Konstitusi (MK) yang berdiri sendiri di samping MA menjadi sebuah keniscayaan. yang menjadi perubahan ketiga dari Undang-Undang Dasar 1945 pada Sidang Tahunan MPR tanggal 21 November 2001. maka Indonesia menjadi negara ke-78 yang membentuk Mahkamah Konstitusi dan menjadi negara pertama pada abad ke-21 yang membentuk lembaga kekuasaan kehakiman tersebut.

Hanya sengketa hasil Pemilu yang diumumkan secara nasional oleh KPU yang mempengaruhi hal-hal berikut yang dapat dibawa ke depan Mahkamah Konstitusi : 1. tetapi tata cara penyelesaian yang diatur dalam undang-undang hanya mengenai 11 . Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Pemilu Meski jenis pelanggaran Pemilu bermacam-macam. 3. kedua pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.memutus sengketa atau perselisihan atas hasil pemilihan umum. 2. Penentuan pasangan calon yang akan bersaing pada tahap BAB III PEMBAHASAN I. Kursi yang dimenangkan dalam sebuah daerah pemilihan satu partai Pemilihan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). oleh politik yang bersaing. Tidak semua sengketa yang berkaitan dengan Pemilu berada dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi.

melakukan kajian atas laporan dan temuan adanya dugaan pelanggaran. pengawasan proses Dalam pengawasan tersebut. Apabila Bawaslu menganggap laporan belum cukup lengkap dan memerlukan informasi tambahan. Bawaslu memiliki waktu selama 3 (tiga) hari untuk melakukan kajian atas laporan atau temuan terjadinya pelanggaran. pelanggaran dapat dilaporkan oleh anggota masyarakat yang mempunyai hak pilih. pemantau pemilu dan peserta pemilu kepada Bawaslu. pelanggaran diselesaikan melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sesuai dengan tingkatannya sebagai lembaga terhadap yang setiap memiliki tahapan kewenangan pelaksanaan melakukan Pemilu.pelanggaran pidana Pemilu. a. Panwaslu provinsi. maka Bawaslu dapat meminta keterangan kepada pelapor dengan perpanjangan waktu selama 5 (lima) hari. Panwaslu kabupaten/kota paling lambat 3 (tiga) hari sejak terjadinya pelanggaran Pemilu. dan mengenai perselisihan hasil perolehan suara telah diatur dalam UU Mahkamah Konstitusi. 12 . Bawaslu dapat menerima laporan. dan meneruskan temuan dan laporan dimaksud kepada institusi yang berwenang. Pelanggaran administrasi diatur lebih lanjut melalui Peraturan KPU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilu. Mekanisme Pelaporan Penyelesaian pelanggaran Pemilu diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 BAB XX. Selain berdasarkan temuan Bawaslu. Secara umum.

Sesuai dengan sifatnya. Aturan mengenai tata cara pelaporan pelanggaran Pemilu diatur dalam ketentuan Pasal 247 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang diperkuat dalam Peraturan Bawaslu Nomor 05 Tahun 2008. pembatalan kegiatan. 13 . penonaktifan dan pemberhentian bagi pelaksana Pemilu. b. Peraturan KPU mengenai hal ini adalah Peraturan KPU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilu.Berdasarkan kesimpulan kajian tersebut. UU membatasi waktu bagi KPU untuk menyelesaikan pelanggaran administrasi tersebut dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak diterimanya dugaan laporan pelanggaran dari Bawaslu. Bawaslu meneruskan hasil kajian tersebut kepada instansi yang berwenang untuk diselesaikan. maka Bawaslu membedakannya menjadi : 1) pelanggaran pemilu yang bersifat administratif. Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pelanggaran Pemilu yang bersifat administrasi menjadi kewenangan KPU untuk menyelesaikannya. Aturan lebih lanjut tentang tata cara penyelesaian pelanggaran administrasi dibuat dalam peraturan KPU. dan 2) pelanggaran yang mengandung unsur pidana. Dalam hal laporan atau temuan tersebut dianggap sebagai pelanggaran. Sanksi tersebut dapat berbentuk teguran. dan Bawaslu laporan dapat mengambil tindak apakah temuan merupakan pelanggaran Pemilu atau bukan. maka sanksi terhadap pelanggaran administrasi hendaknya berupa sanksi administrasi.

Panwaslu provinsi. c. yang terikat dengan Kode Etik Pengawas Pemilu.Meski kewenangan menyelesaikan pelanggaran administrasi menjadi domain KPU. Panwaslu kabupaten/kota dan jajaran sekretariatnya. Dengan asas lex specialist derogat 14 . Hal yang sama juga berlaku bagi anggota Bawaslu. dan KPU kabupaten/kota sebagaimana diatur dalam ketentuan UU Pemilu Pasal 248 sampai Pasal 251. Terhadap pelanggaran yang menyangkut masalah perilaku yang dilakukan oleh penyelenggara Pemilu seperti anggota KPU. tetapi UU Pemilu juga memberikan tugas dan wewenang kepada Panwaslu kabupaten/kota. Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Pidana Pemilu 1) Proses Penyidikan Sebenarnya penanganan tindak pidana Pemilu tidak berbeda dengan penanganan tindak pidana pada umumnya. Pasal 118 ayat (2). KPU provinsi. Panwaslu provinsi dan Bawaslu untuk menyelesaikan temuan dan laporan pelanggaran terhadap ketentuan kampanye yang tidak mengandung unsur pidana (Pasal 113 ayat (2). dan 123 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008). yaitu melalui kepolisian kepada kejaksaan dan bermuara di pengadilan. KPU provinsi. maka Peraturan KPU tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu dapat diberlakukan. KPU kabupaten/kota dan jajaran sekretariatnya. Tata cara penyelesaian juga mengacu kepada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Secara umum perbuatan tindak pidana yang diatur dalam UU Pemilu juga terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

temuan dan laporan tentang dugaan pelanggaran Pemilu yang mengandung unsur pidana. Apabila terdapat aturan yang sama maka ketentuan yang diatur KUHP dan KUHAP menjadi tidak berlaku. Mengacu kepada Pasal 247 angka (9) UU Pemilu. Setiap tim beranggotakan antara 4 sampai 5 orang. penanda tangan. saksi dan tersangka. setelah dilakukan kajian dan didukung dengan data permulaan yang cukup. stempel. diteruskan oleh Bawaslu kepada penyidik kepolisian. Proses penyidikan dilakukan oleh penyidik Polri dalam jangka waktu selama-lamanya 14 (empatbelas) hari terhitung sejak diterimanya laporan dari Bawaslu. Kepolisian mengartikan 14 (empatbelas) hari tersebut termasuk hari libur. tanggal. dan kejelasan penulisan. cap/stempel).lex generali maka aturan dalam UU Pemilu lebih utama. pihak kepolisian telah membentuk tim kerja yang akan menangani tindak pidana Pemilu. Guna mengatasi kendala waktu dan kesulitan penanganan pada hari libur. Hal ini mengacu kepada KUHAP yang mengartikan hari adalah 1 x 24 jam dan 1 bulan adalah 30 hari. kompetensi Bawaslu terhadap jenis pelanggaran. tempat kejadian perkara. Setelah menerima laporan pelanggaran dari Bawaslu. penomoran. dan (2) materi laporan yang antara lain : kejelasan indentitas (nama dan alamat) pelapor. uraian kejadian/ 15 . Dengan adanya tim kerja tersebut maka penyidikan akan dilakukan bersama-sama. penyidik segera melakukan penelitian terhadap : (1) kelengkapan administrasi laporan yang meliputi keabsahan laporan (format.

pelanggaran. Karena sejak awal penanganan kasus di kepolisian pihak kejaksaan sudah dilibatkan untuk mengawal proses penyidikan maka duduk perkara sudah dapat diketahui sejak Bawaslu melimpahkan perkara ke penyidik. Berdasarkan identitas tersebut. Bawaslu. waktu laporan. 2) Proses Persidangan 16 . Untuk memudahkan proses pemeriksaan terhadap adanya dugaan pelanggaran pidana Pemilu. Pada saat tersangka dan barang bukti dikirim/diterima dari kepolisian maka surat dakwaan sudah dapat disusun pada hari itu juga. kepolisian dan kejaksaan telah membuat kesepahaman bersama dan telah membentuk Adanya sentra penegakan hukum terpadu (Gakumdu). Dengan demikian maka penuntut umum dapat mempersiapkan rencana awal penuntutan yang memuat unsur-unsur tindak pidana dan fakta-fakta perbuatan. perkara Gakumdu memungkinkan pemeriksaan pendahuluan melalui gelar perkara. Maksimal 5 (lima) hari sejak berkas diterima. penuntut umum melimpahkan berkas perkara kepada pengadilan. Karena itu masalah limitasi waktu tidak menjadi kendala. penyidik melakukan pemanggilan terhadap saksi dalam waktu 3 (tiga) hari dengan kemungkinan untuk memeriksa saksi sebelum 3 (tiga) hari tersebut yang dapat dilakukan di tempat tinggal saksi. 14 (empatbelas) hari sejak diterimanya laporan dari Bawaslu. pihak penyidik harus menyampaikan hasil penyidikan beserta berkas perkara kepada penuntut umum (PU).

para pihak memiliki kesempatan untuk melakukan banding ke Pengadilan Tinggi. mengadili. Dalam hal terjadi penolakan terhadap putusan Pengadilan Negeri. Batasan waktu ini akan berimbas kepada beberapa prosedur yang harus dilalui seperti pemanggilan saksi dan pemeriksaan khususnya di daerah yang secara geografis banyak kendala. kecuali yang diatur secara berbeda dalam UU Pemilu. Permohonan banding terhadap putusan tersebut diajukan paling lama 3 (tiga) hari setelah 17 . Pengadilan Negeri memeriksa.Tindak lanjut dari penanganan dugaan pelanggaran pidana Pemilu oleh kejaksaan adalah pengadilan dalam yuridiksi peradilan umum. MA juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 07/A/2008 yang memerintahkan kepada Pengadilan Tinggi untuk segera mempersiapkan/ menunjuk hakim khusus yang menangani tindak pidana Pemilu. maka proses penanganan pelanggaran menggunakan proses perkara yang cepat (speed tryal). Perbedaan tersebut terutama menyangkut masalah waktu yang lebih singkat dan upaya hukum yang hanya sampai banding di Pengadilan Tinggi. dan memutus perkara pidana Pemilu. Untuk itu maka UU memerintahkan agar penanganan pidana Pemilu di pengadilan ditangani oleh hakim khusus yang diatur lebih lanjut melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 03/2008. 7 (tujuh) hari sejak berkas perkara diterima. Hakim dalam memeriksa. mengadili dan memutus perkara pidana Pemilu menggunakan KUHAP sebagai pedoman beracara. Mengingat bahwa Pemilu berjalan cepat.

Khusus terhadap putusan yang berpengaruh terhadap perolehan suara ini. dan peserta Pemilu harus sudah menerima salinan putusan pengadilan pada hari putusan dibacakan. Putusan harus dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) hari setelah putusan diterima jaksa. Jika perkara pelanggaran pidana Pemilu menurut UU Pemilu dipandang dapat mempengaruhi perolehan suara peserta Pemilu maka putusan pengadilan atas perkara tersebut harus sudah selesai paling lama 5 (lima) hari sebelum KPU menetapkan hasil Pemilu secara nasional. 3) Proses Pelaksanaan Putusan Tiga hari setelah putusan pengadilan dibacakan. KPU. Pengadilan Negeri melimpahkan berkas perkara permohonan banding kepada Pengadilan Tinggi paling lama 3 (tiga) hari sejak permohonan banding diterima. Putusan banding merupakan putusan yang bersifat final dan mengikat sehingga tidak dapat diajukan upaya hukum. KPU berkewajiban dimaksud. Pengadilan Tinggi memiliki kesempatan untuk memeriksa dan memutus permohonan permohonan banding banding paling lama 7 (tujuh) hari setelah tersebut diterima. KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota. untuk menindaklanjuti putusan sebagaimana II.putusan dibacakan. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi 18 . Pengadilan Negeri/ Pengadilan Tinggi harus telah menyampaikan putusan tersebut kepada penuntut umum.

48%) dan 9 perkara (3. Papua Barat. dan DPRD. baik nasional maupun partai lokal di Aceh. Sumatera Utara.Sesuai dengan Konstitusi yang dijabarkan dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. permohonan tidak dapat diterima sebanyak 89 perkara (32. Pada sengketa hasil Pemilu tahun 2004. permohonan ditolak sebanyak 135 perkara (49. perselisihan tentang hasil perolehan suara Pemilu diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi. Tata cara penyelesaian perselisihan perolehan hasil suara Pemilu 2009 telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR. Sementara itu perkara yang diajukan calon anggota DPD berasal dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara. Permohonan yang diajukan oleh partai politik meliputi seluruh partai politik peserta Pemilu 2009. Maluku.27%). yaitu permohonan dikabulkan sebanyak 41 perkara (14.96%).28%) ditarik kembali oleh pemohon. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap 252 perkara yang diajukan partaipartai politik itu terbagi kepada empat jenis. dan 1 perkara yang diajukan oleh pasangan calon presiden/calon wakil presiden. Kepulauan 19 . 23 perkara yang diajukan oleh calon anggota DPD. Jawa Tengah. Gorontalo. Mahkamah Konstitusi telah memutus 252 perkara yang diajukan oleh partai politik. Mahkamah Konstitusi telah menerima 71 permohonan yang meliputi 42 permohonan untuk partai politik dan 29 permohonan dari calon anggota DPD. Sedangkan pada Pemilu legislatif 2009. kecuali Partai Rakyat Aceh dan Partai Aceh Aman Sejahtera. Papua. DPD.

Tiga hari kerja sejak permohonan tercatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi.Riau. Permohonan sengketa Pemilu diajukan oleh peserta Pemilu paling lambat 3 x 24 jam sejak KPU mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. Banten. Pemeriksaan permohonan dibagi menjadi : 20 . Sulawesi Barat. Dalam permohonan tersebut disertakan juga permintaan keterangan tertulis dari KPU yang dilengkapi dengan bukti-bukti hasil penghitungan suara yang diperselisihkan. maka permohonan tidak dapat diregistrasi. Mahkamah menetapkan hari sidang pertama dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak permohonan diregistrasi. Apabila kelengkapan dan syarat permohonan dianggap tidak cukup. Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Apabila dalam waktu tersebut perbaikan kelengkapan dan syarat tidak dilakukan. Jambi. sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan setiap jenjang. Keterangan tertulis tersebut harus sudah diterima Mahkamah Konstitusi paling lambat satu hari sebelum hari persidangan. panitera mengirimkan permohonan kepada KPU. Penetapan hari sidang pertama diberitahukan kepada pemohon dan KPU paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari persidangan. berita acara penghitungan beserta berkas pernyataan keberatan peserta. Pengajuan permohonan disertai dengan alat bukti pendukung seperti sertifikat hasil penghitungan suara. Nanggroe Aceh Darussalam. serta dokumen tertulis lainnya. panitera Mahkamah Konstitusi memberitahukan kepada pemohon untuk diperbaiki dalam tenggat waktu 1 x 24 jam. Lampung. lampung.

kedudukan pemohon. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan selanjutnya disampaikan kepada pemohon. 21 . Karena itu peran lembaga-lembaga lain dalam penyelesaian pelanggaran Pemilu disetiap tahapan sangat penting artinya bagi kelancaran peradilan perselisihan hasil Pemilu. 2) pemeriksaan persidangan. untuk memeriksa kelengkapan dan kejelasan materi permohonan. Adanya perselisihan hasil penghitungan suara antara penyelenggara dengan peserta Pemilu pada kenyataannya tidak hanya terjadi karena kekeliruan dalam proses penghitungan suara atau rekapitulasi suara disetiap tingkatan. Sebagai salah satu tahapan dalam penyelenggaraan Pemilu. Panel Hakim yang terdiri atas 3 orang hakim konstitusi wajib memberi nasihat kepada pemohon untuk melengkapi dan/atau memperbaiki permohonan apabila terdapat kekurangan paling lambat 1 x 24 jam. penyelenggaraan peradilan sengketa hasil Pemilu yang menjadi wewenang MK sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan tahapan-tahapan sebelumnya. keterangan KPU dan alat bukti oleh Panel Hakim dan/atau Pleno Hakim dalam sidang yang terbuka untuk umum. KPU.1) pemeriksaan pendahuluan. KPU dan Presiden serta dapat disampaikan kepada pihak terkait. tetapi juga dapat terjadi karena adanya pelanggaran Pemilu yang mempengaruhi hasil penghitungan suara. Putusan Mahkamah Konstitusi dijatuhkan paling lambat 30 hari kerja sejak permohonan dicatat dalam buku registrasi perkara konstitusi. KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota wajib menindaklanjuti Putusan tersebut. pokok permohonan. yang dilakukan untuk memeriksa kewenangan Mahkamah Konstitusi.

Dari sisi hukum acara. antara lain dari sisi hukum acara. antara lain dengan KPU. Untuk melaksanakan wewenang konstitusional memutus hasil Pemilu 2009. Mengingat pelaksanaan wewenang memutus sengketa hasil Pemilu terkait dengan tahapan pelaksanaan Pemilu sebelumnya serta terkait pula dengan kesiapan pihak-pihak yang akan bersengketa. Karena itu untuk dapat membuat dan mengajukan permohonan yang didukung alat bukti kuat. Bawaslu. Kesiapan juga diperlukan oleh KPU sebagai termohon serta pihak terkait lainnya. koordinasi dan hubungan antar lembaga. Mahkamah Konstitusi telah berkoordinasi dengan berbagai lembaga. Koordinasi tersebut akan dilanjutkan secara intensif selama pelaksanaan Pemilu serta diperluas dengan lembaga-lembaga lain yang terlibat dan memiliki peran dalam penyelenggaraan Pemilu. yaitu dikeluarkannya peraturan tentang Pedoman Beracara Perselisihan Hasil Pemilu. partai politik dan Mahkamah Agung. kesiapan pemohon dan termohon sangat menentukan kelancaran persidangan. pemohon harus memiliki data dan saksi yang lengkap. serta sarana dan prasarana. Hal itu membutuhkasn kesiapan baik dari sisi mekanisme internal maupun sumber daya manusia peserta Pemilu. Pemohon yang dalam hal ini adalah peserta Pemilu dibatasi waktunya mengajukan permohonan selambat- lambatnya 3x24 jam setelah pengumuman hasil secara nasional oleh KPU. 22 . Mahkamah Konstitusi telah melakukan berbagai persiapan.Pada saat pelaksanaan wewenang memutus sengketa hasil pemilu.

persidangan jarak jauh serta akses risalah dan putusan secara online. BAB IV PENUTUP I. Kesimpulan a. telah dioperasikan pula sarana video conference. Malalui sarana tersebut dapat dilakukan konsultasi perkara secara online. Penyelesaian pelanggaran Pemilu adalah melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sesuai dengan tingkatannya sebagai lembaga yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan terhadap setiap 23 .Untuk memberikan pelayanan terbaik kepada semua pihak dalam perkara perselisihan hasil Pemilu. sekaligus untuk memberikan akses yang mudah dan cepat kepada keadilan dan pengadilan. Fasilitas video conference tersebut ditempatkan di 34 perguruan tinggi yang tersebar diseluruh Indonesia sehingga masyarakat diseluruh pelosok Indonesia memiliki akses yang sama terhadap MK dan jarak tidak lagi menjadi penghambat terciptanya persamaan di hadapan hukum (equality before the law). penyampaian dokumen online.

DPD. persidangan di pengadilan negeri/pengadilan tinggi dan pelaksanaan putusan. dan DPRD. Bawaslu meneruskan hasil kajian tersebut kepada instansi yang berwenang untuk diselesaikan. penonaktifan dan pemberhentian bagi pelaksana Pemilu. proses penuntutan oleh kejaksaan. dapat kesimpulan apakah temuan dan laporan merupakan tindak pelanggaran Pemilu atau bukan. Mekanisme penyelesaian diawali dengan adanya laporan pelanggaran dari masyarakat maupun berdasarkan Berdasarkan temuan kajian Bawaslu/Panwaslu Bawaslu di lapangan. Lembaga yang berwenang menyelesaikan sengketa hasil Pemilu berkaitan dengan perolehan suara adalah Mahkamah Konstitusi. mengambil tersebut. sanksi terhadap pelanggaran administrasi hendaknya berupa sanksi administrasi. pembatalan kegiatan.tahapan pelaksanaan Pemilu. Sedangkan penyelesaian pelanggaran pidana Pemilu dilakukan melalui proses penyidikan oleh penyidik kepolisian. b. Permohonan sengketa Pemilu diajukan oleh peserta Pemilu paling lambat 3 x 24 jam sejak KPU mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. Untuk pelanggaran administrasi adalah menjadi kewenangan KPU untuk menyelesaikannya. Pemeriksaan permohonan dibagi menjadi pemeriksaan pendahuluan. yaitu 24 . Sanksi yang diberikan berbentuk teguran. Tata cara penyelesaian perselisihan perolehan hasil suara Pemilu 2009 telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR.

KPU. II. 2008. penyelenggara dan aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa semua pelanggaran Pemilu yang terjadi dapat diselesaikan secara adil dan konsisten. KPU dan Presiden serta dapat disampaikan kepada pihak terkait. Adalah kewajiban bagi pengawas. Penanganan pelanggaran secara jujur dan adil merupakan bukti adanya perlindungan kedaulatan rakyat dari tindakan-tindakan yang dapat mencederai proses dan hasil Pemilu. pokok permohonan. Pengaturan penyelesaian pelanggaran Pemilu dengan batasan waktu yang singkat bertujuan untuk mendorong penyelesaian kasus yang disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan Pemilu sehingga ada jaminan bahwa Pemilu diselenggarakan secara bersih. serta pemeriksaan persidangan yang dilakukan untuk memeriksa kewenangan Mahkamah Konstitusi. Jakarta. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan selanjutnya disampaikan kepada pemohon. DAFTAR PUSTAKA Januari Sihotang. Harian Analisa. 25 .untuk memeriksa kelengkapan dan kejelasan materi permohonan. Artikel. kedudukan pemohon. Saran Secara umum UU Pemilu telah memberikan pedoman untuk menyelesaikan pelanggaran yang terjadi. keterangan KPU dan alat bukti. Mahkamah Konstitusi dan Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilu. KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota wajib menindaklanjuti Putusan tersebut.

Konsorsium Reformasi Hukum Nasional. DPD. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR. Position Paper. 26 . Desember 2008. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Artikel Jurnal Hukum. Pelanggaran Pemilu 2009 dan Mekanisme Penyelesaiannya. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilu. 2009. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Sengketa Pemilu dan Masa Depan Demokrasi. Jakarta. Dewan Perwakilan Daerah. Pan Mohamad Faiz. dan DPRD.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful