BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Pada tanggal 9 April 2009, bangsa Indonesia telah

menyelenggarakan pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilu tahun ini merupakan yang kesebelas kalinya dilaksanakan sejak Indonesia merdeka. Sejak tahun 2004, sistem Pemilu yang digunakan berbeda jauh dengan Pemilu sebelum era reformasi, dimana sekarang yang menentukan wakil rakyat dan pemimpin adalah masyarakat sendiri secara

langsung. Mengingat demikian pentingnya arti Pemilu dalam negara yang berlandaskan pada prinsip kedaulatan rakyat, maka UndangUndang Dasar 1945 telah mengamanatkan penyelenggaraan Pemilu secara berkala, yaitu sekali dalam lima tahun. Dalam kerangka negara demokrasi, pelaksanaan Pemilu

merupakan momentum yang sangat penting bagi pembentukan pemerintahan dan penyelenggaraan negara untuk periode berikutnya. Pemilu selain merupakan mekanisme bagi rakyat untuk memilih para wakilnya, juga dapat dilihat sebagai proses evaluasi dan pembentukan kembali kontrak sosial. Pemilu menyediakan ruang untuk terjadinya proses “diskusi” antara pemilih dan calon-calon wakil rakyat, baik sendiri-sendiri maupun melalui partai politik, tentang bagaimana penyelenggaraan negara dan pemerintahan harus dilakukan. Melalui 1

pemilihan umum rakyat memberikan persetujuan siapa pemegang kekuasaan pemerintahan dan bagaimana menjalankan kekuasaan tersebut. Pemilihan umum anggota legislatif pada tanggal 9 April 2009 diselenggarakan melalui berbagai tahapan, mulai dari pendataan calon pemilih, pendaftaran dan penetapan peserta Pemilu, masa kampanye, pemungutan dan penghitungan suara, penetapan hasil Pemilu hingga pelantikan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota terpilih. Setiap tahapan tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Untuk menjamin pelaksanaan Pemilu sesuai dengan asas-asas yang

konstitusional,

dibentuk

peraturan

perundang-undangan

mengatur norma dan prosedur pelaksanaan Pemilu yang harus dipatuhi oleh semua pihak, antara lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, dan UndangUndang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Perhelatan akbar pesta demokrasi nasional untuk memilih calon anggota legislatif pada tanggal 9 April 2009 yang lalu berlangsung penuh warna. Hiruk-pikuk pelaksanaan Pemilu Indonesia yang

melibatkan ribuan calon anggota legislatif guna memperebutkan sekitar 18.960 kursi, kerap menghiasi pemberitaan utama diberbagai media massa. Sistem Pemilu yang digunakan di Indonesia, disebut sebagai sistem Pemilu yang terumit di dunia sehingga benih-benih potensi pelanggaran dan sengketa Pemilu terjadi hampir disebagian 2

yang dapat berupa pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana Pemilu. terhadap Pemilu pelanggaran-pelanggaran Undang-Undang Pemilu. Sengketa ini terjadi karena perbedaan penafsiran dan tidak ada kesepakatan. Salah satu mekanisme penting dalam pelaksanaan Pemilu adalah penyelesaian pelanggaran dan perselisihan atau sengketa Pemilu. maupun pengamat Pemilu.besar daerah pemilihan. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Berhubung usia demokrasi di Indonesia masih sangat muda maka wajar bila ada berbagai pelanggaran maupun sengketa menyangkut hasil dan proses Pemilu. Ketiga. hilangnya hak pilih puluhan juta warga negara Indonesia akibat tidak beresnya penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan oleh KPU. badan pengelolaan Pemilu. Dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Pertama. Sedangkan sengketa Pemilu adalah sengketa antara dua atau lebih warga negara yang memiliki hak pilih. ditentukan ada dua jenis 3 . Dewan Perwakilan Daerah. Mekanisme ini diperlukan untuk mengoreksi jika terjadi pelanggaran atau kesalahan dan memberikan sanksi kepada pelaku pelanggaran sehingga proses Pemilu benar-benar dilaksanakan secara demokratis Pelanggaran dan hasilnya adalah mencerminkan kehendak rakyat. khususnya terkait dengan proses penghitungan suara. ketidaknetralan Panitia Pemungutan Suara (PPS). Permasalahan dan pelanggaran yang terjadi dalam Pemilu legislatif 9 April lalu secara garis besar dapat dibagi dalam tiga bagian besar. tertukarnya surat suara antar daerah pemilihan. peserta Pemilu (partai politik maupun individual). Kedua.

yaitu pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana Pemilu. Berdasarkan uraian di atas. Pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang Pemilu yang bukan merupakan ketentuan pidana Pemilu dan ketentuan lain yang diatur oleh KPU. Sementara itu. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 4 . II.pelanggaran Pemilu. mendorong penulis untuk membuat sebuah makalah dan membahasnya lebih lanjut. Makalah ini diberi judul : “MEKANISME PENYELESAIAN PELANGGARAN DAN SENGKETA PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. Adapun pelanggaran pidana Pemilu adalah pelanggaran terhadap ketentuan pidana Pemilu yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu. sedangkan terhadap pelanggaran pidana Pemilu masuk ke dalam ranah pengadilan umum. Bagaimana prosedur teknis penyelesaian sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi. untuk perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) menjadi domain khusus bagi Mahkamah Konstitusi untuk memutuskannya. III. DEWAN PERWAKILAN DAERAH. untuk pelanggaran yang menyentuh ranah administrasi adalah menjadi kewenangan KPU. Rumusan Masalah Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : a. Pada dasarnya. Bagaimana mekanisme penyelesaian pelanggaran Pemilu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TAHUN 2009”.

Potensi pelaku pelanggaran Pemilu dalam UU Pemilu antara lain : 1. KPU Kabupaten/Kota. DPD. dan DPRD (UU Pemilu) mengaturnya pada setiap tahapan dalam bentuk kewajiban dan larangan dengan tambahan ancaman atau sanksi. yang meliputi anggota KPU. KPU Propinsi. Pelanggaran dapat terjadi karena adanya unsur kesengajaan maupun karena kelalaian. Untuk mengetahui prosedur teknis penyelesaian sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi. Penyelenggara Pemilu. anggota Bawaslu. Untuk mengetahui mekanisme penyelesaian pelanggaran Pemilu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Panwaslu Kabupaten Kota. b. BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Panwaslu Propinsi. Pelanggaran Pemilu dapat dilakukan oleh banyak pihak bahkan dapat dikatakan semua orang memiliki potensi untuk menjadi pelaku pelanggaran Pemilu.a. Sebagai upaya antisipasi. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemiliham Umum Anggota DPR. Panwas Kecamatan. Pelanggaran Pemilu Terjadinya pelanggaran dalam pelaksanaan Pemilu legislatif tahun 2009 sudah tidak terhindarkan. 5 . jajaran sekretariat dan petugas pelaksana lapangan lainnya.

Pemantau dalam negeri maupun asing. yaitu pengurus partai politik. 4. calon anggota DPR. kecuali yang telah ditetapkan sebagai tindak pidana. pengurus BUMN/BUMD. pelaksana survey atau hitungan cepat. anggota TNI. Gubernur/pimpinan Bank Indonesia. seperti PNS. 3. Masyarakat pemilih. 5. dan badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara. dan umum yang disebut sebagai “setiap orang”. Perangkat Desa. tetapi secara garis besar UU Pemilu membagi pelanggaran Pemilu berdasarkan kategori/jenis sebagai berikut : (1) Pelanggaran Administrasi Pemilu Pasal 248 UU Pemilu mendefinisikan perbuatan yang termasuk dalam pelanggaran administrasi adalah pelanggaran terhadap ketentuan UU Pemilu yang tidak termasuk dalam ketentuan pidana Pemilu dan ketentuan lain yang diatur dalam Peraturan KPU. Peserta Pemilu. tempat ibadah dan tempat pendidikan untuk berkampanye. termasuk dalam kategori pelanggaran administrasi. tidak melaporkan rekening awal 6 . Pejabat tertentu. pelaksana pengadaan barang. Meski banyak sekali bentuk pelanggaran yang dapat terjadi dalam Pemilu. DPD. DPRD. Contoh pelanggaran administrasi tersebut misalnya : tidak memenuhi syarat-syarat untuk menjadi peserta Pemilu. menggunakan fasilitas pemerintah. Profesi media cetak/elektronik.2. anggota Polri. dan tim kampanye. 6. Dengan demikian maka semua jenis pelanggaran. distributor.

dana kampanye. II. maka proses penyelesaian tindak pidana pemilu dilakukan oleh lembaga penegak hukum yang ada yaitu kepolisian. dan pengadilan. Sebagai contoh tindak pidana Pemilu antara lain sengaja menghilangkan hak pilih orang lain. Seperti tindak pidana pada umumnya. Sengketa Pemilu 7 . (3) Perselisihan Hasil Pemilu Yang dimaksud dengan perselisihan hasil Pemilu menurut Pasal 258 UU Pemilu adalah perselisihan antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan peserta Pemilu mengenai penetapan jumlah perolehan suara hasil pemilu secara nasional. maka perselisihan mengenai hasil perolehan suara diselesaikan melalui peradilan konstitusi di Mahkamah Konstitusi. kejaksaan. Sesuai dengan amanat Konstitusi yang dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pelanggaran ini merupakan tindakan yang dalam UU Pemilu diancam dengan sanksi pidana. (2) Tindak Pidana Pemilu Pasal 252 UU Pemilu mengatur tentang tindak pidana Pemilu sebagai pelanggaran Pemilu yang mengandung unsur pidana. pemantau Pemilu melanggar kewajiban dan larangan. Perselisihan tentang hasil suara sebagaimana dimaksud hanya terhadap perbedaan penghitungan perolehan hasil suara yang dapat mempengaruhi perolehan kursi peserta Pemilu. menghalangi orang lain memberikan hak suara dan merubah hasil suara.

menjadi salah satu kewenangan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) kabupaten/kota untuk menyelesaikannya adalah pelanggaran Pemilu yang bersifat sengketa. yang dalam konteks Pemilu dapat terjadi antara peserta Pemilu dengan penyelenggara Pemilu. Kebijakan tersebut. yaitu Pasal 129 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003.Salah satu jenis pelanggaran yang menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. maupun antara peserta Pemilu dengan peserta Pemilu lainnya. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tidak mengatur mekanisme penyelesaiannya. Berbeda dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2003 yang menegaskan bahwa Keputusan KPU bersifat final dan mengikat. Terhadap sengketa Pemilu ini. antara kepentingan dan kewajiban hukum. tata cara penyelesaian terhadap jenis pelanggaran ini diatur dalam satu pasal tersendiri. atau antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum (konflik). pemilih maupun masyarakat. yaitu perselisihan Pemilu selain yang menyangkut perolehan hasil suara. dapat dinilai merugikan kepentingan pihak lain seperti peserta Pemilu (partai politik dan perorangan). media/pers. lembaga pemantau. Sengketa adalah perbenturan antara dua kepentingan. Dengan demikian maka Keputusan KPU yang dianggap 8 . Pada Pemilu tahun 2004. dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tidak ada ketentuan yang menegaskan bahwa Keputusan KPU bersifat final dan mengikat. karena menyangkut banyak pihak. Sengketa juga dapat terjadi antara KPU dengan peserta Pemilu atau pihak lain yang timbul akibat dikeluarkannya suatu Peraturan dan Keputusan KPU.

M. Usulan atas pembentukan Mahkamah Konstitusi muncul kembali setelah era reformasi terutama pada waktu pembahasan rancangan perubahan Undang-Undang Dasar 1945. Keputusan KPU tersebut dianggap merugikan salah satu atau beberapa calon peserta Pemilu. Hal ini dapat diketahui dari pembahasan Rancangan Undang-Undang Dasar oleh BPUPKI. Pencalonan oleh partai politik tertentu dianggap tidak sesuai dengan atau tanpa seijin yang bersangkutan. (2) sengketa antara partai politik peserta Pemilu dengan anggota atau orang lain mengenai pendaftaran calon legislatif. Persoalannya. Perubahan yang terjadi pada masa reformasi telah menyebabkan perubahan dari supremasi Majelis 9 . yaitu Prof. Untuk sengketa Pemilu yang berkaitan dengan hasil perolehan suara Pemilu. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 (UU Pemilu) juga tidak memberikan “ruang khusus” untuk menyelesaikan ketidakpuasan tersebut. MR. Anggota BPUPKI. Jika melihat pada sejarah bangsa Indonesia. Namun akhirnya usulan itu gagal. lembaga kehakiman yang berwenang menyelesaikan adalah Mahkamah Konstitusi. pemikiran mengenai pembentukan Mahkamah Konstitusi sudah muncul sebelum Indonesia merdeka.merugikan terbuka kemungkinan untuk diubah. Contoh kasus yang telah nyata ada adalah : (1) sengketa antara calon peserta Pemilu dengan KPU yang menyangkut Keputusan KPU tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilu. Yamin mengusulkan agar selain Mahkamah Agung seharusnya dibentuk juga Mahkamah Konstitusi yang berfungsi sebagai pembanding undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar.

pemerintah telah mengeluarkan peraturan khusus. maka perlu disediakan sebuah mekanisme institusional dan konstitusional. salah satu wewenang dari Mahkamah Konstitusi adalah 10 . Atas dasar pemikiran itu. Kewenangan melakukan pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar itu diberikan kepada sebuah mahkamah tersendiri di luar Mahkamah Agung (MA). Seiring dengan itu.Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi supremasi konstitusi. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Karena perubahan yang mendasar itu. adanya Mahkamah Konstitusi (MK) yang berdiri sendiri di samping MA menjadi sebuah keniscayaan. dan saling mengendalikan (checks and balances). akhirnya MK menjadi kenyataan dengan disahkannya Pasal 24 ayat (2) dan Pasal 24C Undang-Undang Dasar 1945. muncul desakan agar pengujian peraturan perundang-undangan tidak hanya terbatas pada peraturan di bawah undang-undang melainkan juga atas undangundang terhadap Undang-Undang Dasar. serta hadirnya lembaga yang mengatasi sengketa antar lembaga negara yang kini telah menjadi sederajat. Setelah melalui proses pembahasan yang mendalam. yang menjadi perubahan ketiga dari Undang-Undang Dasar 1945 pada Sidang Tahunan MPR tanggal 21 November 2001. Dengan disahkannya kedua pasal tersebut. yaitu UndangUndang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Untuk menjalankan amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut. maka Indonesia menjadi negara ke-78 yang membentuk Mahkamah Konstitusi dan menjadi negara pertama pada abad ke-21 yang membentuk lembaga kekuasaan kehakiman tersebut. saling mengimbangi.

3. oleh politik yang bersaing. kedua pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Penentuan pasangan calon yang akan bersaing pada tahap BAB III PEMBAHASAN I.memutus sengketa atau perselisihan atas hasil pemilihan umum. Kursi yang dimenangkan dalam sebuah daerah pemilihan satu partai Pemilihan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). tetapi tata cara penyelesaian yang diatur dalam undang-undang hanya mengenai 11 . 2. Hanya sengketa hasil Pemilu yang diumumkan secara nasional oleh KPU yang mempengaruhi hal-hal berikut yang dapat dibawa ke depan Mahkamah Konstitusi : 1. Tidak semua sengketa yang berkaitan dengan Pemilu berada dalam kewenangan Mahkamah Konstitusi. Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Pemilu Meski jenis pelanggaran Pemilu bermacam-macam.

dan mengenai perselisihan hasil perolehan suara telah diatur dalam UU Mahkamah Konstitusi. Bawaslu memiliki waktu selama 3 (tiga) hari untuk melakukan kajian atas laporan atau temuan terjadinya pelanggaran. 12 . Bawaslu dapat menerima laporan. Panwaslu kabupaten/kota paling lambat 3 (tiga) hari sejak terjadinya pelanggaran Pemilu. pemantau pemilu dan peserta pemilu kepada Bawaslu. a. dan meneruskan temuan dan laporan dimaksud kepada institusi yang berwenang. pelanggaran dapat dilaporkan oleh anggota masyarakat yang mempunyai hak pilih.pelanggaran pidana Pemilu. Apabila Bawaslu menganggap laporan belum cukup lengkap dan memerlukan informasi tambahan. Pelanggaran administrasi diatur lebih lanjut melalui Peraturan KPU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilu. Selain berdasarkan temuan Bawaslu. pengawasan proses Dalam pengawasan tersebut. Secara umum. Mekanisme Pelaporan Penyelesaian pelanggaran Pemilu diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 BAB XX. Panwaslu provinsi. pelanggaran diselesaikan melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sesuai dengan tingkatannya sebagai lembaga terhadap yang setiap memiliki tahapan kewenangan pelaksanaan melakukan Pemilu. melakukan kajian atas laporan dan temuan adanya dugaan pelanggaran. maka Bawaslu dapat meminta keterangan kepada pelapor dengan perpanjangan waktu selama 5 (lima) hari.

Peraturan KPU mengenai hal ini adalah Peraturan KPU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilu. Aturan lebih lanjut tentang tata cara penyelesaian pelanggaran administrasi dibuat dalam peraturan KPU. b. Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pelanggaran Pemilu yang bersifat administrasi menjadi kewenangan KPU untuk menyelesaikannya. pembatalan kegiatan.Berdasarkan kesimpulan kajian tersebut. penonaktifan dan pemberhentian bagi pelaksana Pemilu. 13 . Sanksi tersebut dapat berbentuk teguran. dan 2) pelanggaran yang mengandung unsur pidana. UU membatasi waktu bagi KPU untuk menyelesaikan pelanggaran administrasi tersebut dalam waktu 7 (tujuh) hari sejak diterimanya dugaan laporan pelanggaran dari Bawaslu. maka Bawaslu membedakannya menjadi : 1) pelanggaran pemilu yang bersifat administratif. dan Bawaslu laporan dapat mengambil tindak apakah temuan merupakan pelanggaran Pemilu atau bukan. Aturan mengenai tata cara pelaporan pelanggaran Pemilu diatur dalam ketentuan Pasal 247 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang diperkuat dalam Peraturan Bawaslu Nomor 05 Tahun 2008. Sesuai dengan sifatnya. maka sanksi terhadap pelanggaran administrasi hendaknya berupa sanksi administrasi. Dalam hal laporan atau temuan tersebut dianggap sebagai pelanggaran. Bawaslu meneruskan hasil kajian tersebut kepada instansi yang berwenang untuk diselesaikan.

Pasal 118 ayat (2). Hal yang sama juga berlaku bagi anggota Bawaslu.Meski kewenangan menyelesaikan pelanggaran administrasi menjadi domain KPU. Panwaslu kabupaten/kota dan jajaran sekretariatnya. Secara umum perbuatan tindak pidana yang diatur dalam UU Pemilu juga terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). tetapi UU Pemilu juga memberikan tugas dan wewenang kepada Panwaslu kabupaten/kota. yang terikat dengan Kode Etik Pengawas Pemilu. KPU kabupaten/kota dan jajaran sekretariatnya. yaitu melalui kepolisian kepada kejaksaan dan bermuara di pengadilan. Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Pidana Pemilu 1) Proses Penyidikan Sebenarnya penanganan tindak pidana Pemilu tidak berbeda dengan penanganan tindak pidana pada umumnya. dan KPU kabupaten/kota sebagaimana diatur dalam ketentuan UU Pemilu Pasal 248 sampai Pasal 251. KPU provinsi. Dengan asas lex specialist derogat 14 . Terhadap pelanggaran yang menyangkut masalah perilaku yang dilakukan oleh penyelenggara Pemilu seperti anggota KPU. Panwaslu provinsi dan Bawaslu untuk menyelesaikan temuan dan laporan pelanggaran terhadap ketentuan kampanye yang tidak mengandung unsur pidana (Pasal 113 ayat (2). Tata cara penyelesaian juga mengacu kepada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). c. dan 123 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008). Panwaslu provinsi. maka Peraturan KPU tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilu dapat diberlakukan. KPU provinsi.

penyidik segera melakukan penelitian terhadap : (1) kelengkapan administrasi laporan yang meliputi keabsahan laporan (format. Proses penyidikan dilakukan oleh penyidik Polri dalam jangka waktu selama-lamanya 14 (empatbelas) hari terhitung sejak diterimanya laporan dari Bawaslu. dan (2) materi laporan yang antara lain : kejelasan indentitas (nama dan alamat) pelapor. temuan dan laporan tentang dugaan pelanggaran Pemilu yang mengandung unsur pidana. tanggal. pihak kepolisian telah membentuk tim kerja yang akan menangani tindak pidana Pemilu. Hal ini mengacu kepada KUHAP yang mengartikan hari adalah 1 x 24 jam dan 1 bulan adalah 30 hari. penanda tangan. Setelah menerima laporan pelanggaran dari Bawaslu. saksi dan tersangka. Dengan adanya tim kerja tersebut maka penyidikan akan dilakukan bersama-sama. dan kejelasan penulisan. Kepolisian mengartikan 14 (empatbelas) hari tersebut termasuk hari libur. Apabila terdapat aturan yang sama maka ketentuan yang diatur KUHP dan KUHAP menjadi tidak berlaku. uraian kejadian/ 15 .lex generali maka aturan dalam UU Pemilu lebih utama. cap/stempel). Guna mengatasi kendala waktu dan kesulitan penanganan pada hari libur. stempel. Mengacu kepada Pasal 247 angka (9) UU Pemilu. kompetensi Bawaslu terhadap jenis pelanggaran. diteruskan oleh Bawaslu kepada penyidik kepolisian. Setiap tim beranggotakan antara 4 sampai 5 orang. tempat kejadian perkara. setelah dilakukan kajian dan didukung dengan data permulaan yang cukup. penomoran.

Karena itu masalah limitasi waktu tidak menjadi kendala. waktu laporan. pihak penyidik harus menyampaikan hasil penyidikan beserta berkas perkara kepada penuntut umum (PU). Pada saat tersangka dan barang bukti dikirim/diterima dari kepolisian maka surat dakwaan sudah dapat disusun pada hari itu juga. perkara Gakumdu memungkinkan pemeriksaan pendahuluan melalui gelar perkara. Untuk memudahkan proses pemeriksaan terhadap adanya dugaan pelanggaran pidana Pemilu. 14 (empatbelas) hari sejak diterimanya laporan dari Bawaslu. 2) Proses Persidangan 16 . Dengan demikian maka penuntut umum dapat mempersiapkan rencana awal penuntutan yang memuat unsur-unsur tindak pidana dan fakta-fakta perbuatan. penuntut umum melimpahkan berkas perkara kepada pengadilan. kepolisian dan kejaksaan telah membuat kesepahaman bersama dan telah membentuk Adanya sentra penegakan hukum terpadu (Gakumdu).pelanggaran. Maksimal 5 (lima) hari sejak berkas diterima. Bawaslu. penyidik melakukan pemanggilan terhadap saksi dalam waktu 3 (tiga) hari dengan kemungkinan untuk memeriksa saksi sebelum 3 (tiga) hari tersebut yang dapat dilakukan di tempat tinggal saksi. Karena sejak awal penanganan kasus di kepolisian pihak kejaksaan sudah dilibatkan untuk mengawal proses penyidikan maka duduk perkara sudah dapat diketahui sejak Bawaslu melimpahkan perkara ke penyidik. Berdasarkan identitas tersebut.

mengadili dan memutus perkara pidana Pemilu menggunakan KUHAP sebagai pedoman beracara. para pihak memiliki kesempatan untuk melakukan banding ke Pengadilan Tinggi. Perbedaan tersebut terutama menyangkut masalah waktu yang lebih singkat dan upaya hukum yang hanya sampai banding di Pengadilan Tinggi. MA juga telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 07/A/2008 yang memerintahkan kepada Pengadilan Tinggi untuk segera mempersiapkan/ menunjuk hakim khusus yang menangani tindak pidana Pemilu. Untuk itu maka UU memerintahkan agar penanganan pidana Pemilu di pengadilan ditangani oleh hakim khusus yang diatur lebih lanjut melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 03/2008. Pengadilan Negeri memeriksa. maka proses penanganan pelanggaran menggunakan proses perkara yang cepat (speed tryal). mengadili. kecuali yang diatur secara berbeda dalam UU Pemilu. Permohonan banding terhadap putusan tersebut diajukan paling lama 3 (tiga) hari setelah 17 .Tindak lanjut dari penanganan dugaan pelanggaran pidana Pemilu oleh kejaksaan adalah pengadilan dalam yuridiksi peradilan umum. Hakim dalam memeriksa. 7 (tujuh) hari sejak berkas perkara diterima. dan memutus perkara pidana Pemilu. Dalam hal terjadi penolakan terhadap putusan Pengadilan Negeri. Mengingat bahwa Pemilu berjalan cepat. Batasan waktu ini akan berimbas kepada beberapa prosedur yang harus dilalui seperti pemanggilan saksi dan pemeriksaan khususnya di daerah yang secara geografis banyak kendala.

KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pemilu di Mahkamah Konstitusi 18 . Jika perkara pelanggaran pidana Pemilu menurut UU Pemilu dipandang dapat mempengaruhi perolehan suara peserta Pemilu maka putusan pengadilan atas perkara tersebut harus sudah selesai paling lama 5 (lima) hari sebelum KPU menetapkan hasil Pemilu secara nasional. 3) Proses Pelaksanaan Putusan Tiga hari setelah putusan pengadilan dibacakan. Pengadilan Tinggi memiliki kesempatan untuk memeriksa dan memutus permohonan permohonan banding banding paling lama 7 (tujuh) hari setelah tersebut diterima. Putusan banding merupakan putusan yang bersifat final dan mengikat sehingga tidak dapat diajukan upaya hukum. KPU. Khusus terhadap putusan yang berpengaruh terhadap perolehan suara ini. untuk menindaklanjuti putusan sebagaimana II. KPU berkewajiban dimaksud. Putusan harus dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) hari setelah putusan diterima jaksa. dan peserta Pemilu harus sudah menerima salinan putusan pengadilan pada hari putusan dibacakan. Pengadilan Negeri melimpahkan berkas perkara permohonan banding kepada Pengadilan Tinggi paling lama 3 (tiga) hari sejak permohonan banding diterima. Pengadilan Negeri/ Pengadilan Tinggi harus telah menyampaikan putusan tersebut kepada penuntut umum.putusan dibacakan.

Maluku. yaitu permohonan dikabulkan sebanyak 41 perkara (14. Permohonan yang diajukan oleh partai politik meliputi seluruh partai politik peserta Pemilu 2009. perselisihan tentang hasil perolehan suara Pemilu diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi. permohonan ditolak sebanyak 135 perkara (49. Papua Barat. Mahkamah Konstitusi telah menerima 71 permohonan yang meliputi 42 permohonan untuk partai politik dan 29 permohonan dari calon anggota DPD. dan DPRD. Sumatera Utara. Papua. 23 perkara yang diajukan oleh calon anggota DPD. dan 1 perkara yang diajukan oleh pasangan calon presiden/calon wakil presiden. kecuali Partai Rakyat Aceh dan Partai Aceh Aman Sejahtera. Pada sengketa hasil Pemilu tahun 2004. Kepulauan 19 . permohonan tidak dapat diterima sebanyak 89 perkara (32.96%). baik nasional maupun partai lokal di Aceh. Jawa Tengah. Tata cara penyelesaian perselisihan perolehan hasil suara Pemilu 2009 telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR.Sesuai dengan Konstitusi yang dijabarkan dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.28%) ditarik kembali oleh pemohon. Gorontalo. DPD. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap 252 perkara yang diajukan partaipartai politik itu terbagi kepada empat jenis. Sedangkan pada Pemilu legislatif 2009. Sementara itu perkara yang diajukan calon anggota DPD berasal dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara.27%). Mahkamah Konstitusi telah memutus 252 perkara yang diajukan oleh partai politik.48%) dan 9 perkara (3.

Mahkamah menetapkan hari sidang pertama dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sejak permohonan diregistrasi. Pemeriksaan permohonan dibagi menjadi : 20 .Riau. berita acara penghitungan beserta berkas pernyataan keberatan peserta. Jambi. Penetapan hari sidang pertama diberitahukan kepada pemohon dan KPU paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari persidangan. Apabila kelengkapan dan syarat permohonan dianggap tidak cukup. sertifikat rekapitulasi hasil penghitungan setiap jenjang. Permohonan sengketa Pemilu diajukan oleh peserta Pemilu paling lambat 3 x 24 jam sejak KPU mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. panitera Mahkamah Konstitusi memberitahukan kepada pemohon untuk diperbaiki dalam tenggat waktu 1 x 24 jam. Dalam permohonan tersebut disertakan juga permintaan keterangan tertulis dari KPU yang dilengkapi dengan bukti-bukti hasil penghitungan suara yang diperselisihkan. serta dokumen tertulis lainnya. Sulawesi Barat. maka permohonan tidak dapat diregistrasi. Banten. Lampung. panitera mengirimkan permohonan kepada KPU. Keterangan tertulis tersebut harus sudah diterima Mahkamah Konstitusi paling lambat satu hari sebelum hari persidangan. lampung. Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Apabila dalam waktu tersebut perbaikan kelengkapan dan syarat tidak dilakukan. Nanggroe Aceh Darussalam. Tiga hari kerja sejak permohonan tercatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi. Pengajuan permohonan disertai dengan alat bukti pendukung seperti sertifikat hasil penghitungan suara.

21 . Karena itu peran lembaga-lembaga lain dalam penyelesaian pelanggaran Pemilu disetiap tahapan sangat penting artinya bagi kelancaran peradilan perselisihan hasil Pemilu. KPU dan Presiden serta dapat disampaikan kepada pihak terkait. KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota wajib menindaklanjuti Putusan tersebut. 2) pemeriksaan persidangan. tetapi juga dapat terjadi karena adanya pelanggaran Pemilu yang mempengaruhi hasil penghitungan suara. penyelenggaraan peradilan sengketa hasil Pemilu yang menjadi wewenang MK sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan tahapan-tahapan sebelumnya.1) pemeriksaan pendahuluan. Adanya perselisihan hasil penghitungan suara antara penyelenggara dengan peserta Pemilu pada kenyataannya tidak hanya terjadi karena kekeliruan dalam proses penghitungan suara atau rekapitulasi suara disetiap tingkatan. yang dilakukan untuk memeriksa kewenangan Mahkamah Konstitusi. untuk memeriksa kelengkapan dan kejelasan materi permohonan. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan selanjutnya disampaikan kepada pemohon. Putusan Mahkamah Konstitusi dijatuhkan paling lambat 30 hari kerja sejak permohonan dicatat dalam buku registrasi perkara konstitusi. Panel Hakim yang terdiri atas 3 orang hakim konstitusi wajib memberi nasihat kepada pemohon untuk melengkapi dan/atau memperbaiki permohonan apabila terdapat kekurangan paling lambat 1 x 24 jam. KPU. pokok permohonan. kedudukan pemohon. Sebagai salah satu tahapan dalam penyelenggaraan Pemilu. keterangan KPU dan alat bukti oleh Panel Hakim dan/atau Pleno Hakim dalam sidang yang terbuka untuk umum.

Karena itu untuk dapat membuat dan mengajukan permohonan yang didukung alat bukti kuat. antara lain dengan KPU. yaitu dikeluarkannya peraturan tentang Pedoman Beracara Perselisihan Hasil Pemilu. Mahkamah Konstitusi telah berkoordinasi dengan berbagai lembaga. Bawaslu. Koordinasi tersebut akan dilanjutkan secara intensif selama pelaksanaan Pemilu serta diperluas dengan lembaga-lembaga lain yang terlibat dan memiliki peran dalam penyelenggaraan Pemilu. antara lain dari sisi hukum acara.Pada saat pelaksanaan wewenang memutus sengketa hasil pemilu. kesiapan pemohon dan termohon sangat menentukan kelancaran persidangan. serta sarana dan prasarana. partai politik dan Mahkamah Agung. Mengingat pelaksanaan wewenang memutus sengketa hasil Pemilu terkait dengan tahapan pelaksanaan Pemilu sebelumnya serta terkait pula dengan kesiapan pihak-pihak yang akan bersengketa. 22 . Untuk melaksanakan wewenang konstitusional memutus hasil Pemilu 2009. pemohon harus memiliki data dan saksi yang lengkap. koordinasi dan hubungan antar lembaga. Mahkamah Konstitusi telah melakukan berbagai persiapan. Dari sisi hukum acara. Pemohon yang dalam hal ini adalah peserta Pemilu dibatasi waktunya mengajukan permohonan selambat- lambatnya 3x24 jam setelah pengumuman hasil secara nasional oleh KPU. Hal itu membutuhkasn kesiapan baik dari sisi mekanisme internal maupun sumber daya manusia peserta Pemilu. Kesiapan juga diperlukan oleh KPU sebagai termohon serta pihak terkait lainnya.

Fasilitas video conference tersebut ditempatkan di 34 perguruan tinggi yang tersebar diseluruh Indonesia sehingga masyarakat diseluruh pelosok Indonesia memiliki akses yang sama terhadap MK dan jarak tidak lagi menjadi penghambat terciptanya persamaan di hadapan hukum (equality before the law). Penyelesaian pelanggaran Pemilu adalah melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) sesuai dengan tingkatannya sebagai lembaga yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan terhadap setiap 23 . sekaligus untuk memberikan akses yang mudah dan cepat kepada keadilan dan pengadilan. BAB IV PENUTUP I. Malalui sarana tersebut dapat dilakukan konsultasi perkara secara online. Kesimpulan a.Untuk memberikan pelayanan terbaik kepada semua pihak dalam perkara perselisihan hasil Pemilu. telah dioperasikan pula sarana video conference. penyampaian dokumen online. persidangan jarak jauh serta akses risalah dan putusan secara online.

mengambil tersebut. DPD. Lembaga yang berwenang menyelesaikan sengketa hasil Pemilu berkaitan dengan perolehan suara adalah Mahkamah Konstitusi. proses penuntutan oleh kejaksaan. pembatalan kegiatan. yaitu 24 . dan DPRD.tahapan pelaksanaan Pemilu. Untuk pelanggaran administrasi adalah menjadi kewenangan KPU untuk menyelesaikannya. Sedangkan penyelesaian pelanggaran pidana Pemilu dilakukan melalui proses penyidikan oleh penyidik kepolisian. sanksi terhadap pelanggaran administrasi hendaknya berupa sanksi administrasi. Tata cara penyelesaian perselisihan perolehan hasil suara Pemilu 2009 telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR. b. penonaktifan dan pemberhentian bagi pelaksana Pemilu. Bawaslu meneruskan hasil kajian tersebut kepada instansi yang berwenang untuk diselesaikan. Pemeriksaan permohonan dibagi menjadi pemeriksaan pendahuluan. Mekanisme penyelesaian diawali dengan adanya laporan pelanggaran dari masyarakat maupun berdasarkan Berdasarkan temuan kajian Bawaslu/Panwaslu Bawaslu di lapangan. Permohonan sengketa Pemilu diajukan oleh peserta Pemilu paling lambat 3 x 24 jam sejak KPU mengumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. persidangan di pengadilan negeri/pengadilan tinggi dan pelaksanaan putusan. Sanksi yang diberikan berbentuk teguran. dapat kesimpulan apakah temuan dan laporan merupakan tindak pelanggaran Pemilu atau bukan.

Mahkamah Konstitusi dan Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilu. Artikel. keterangan KPU dan alat bukti. Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final dan selanjutnya disampaikan kepada pemohon. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Januari Sihotang. II. Adalah kewajiban bagi pengawas. Pengaturan penyelesaian pelanggaran Pemilu dengan batasan waktu yang singkat bertujuan untuk mendorong penyelesaian kasus yang disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan Pemilu sehingga ada jaminan bahwa Pemilu diselenggarakan secara bersih. Harian Analisa. serta pemeriksaan persidangan yang dilakukan untuk memeriksa kewenangan Mahkamah Konstitusi. 25 .untuk memeriksa kelengkapan dan kejelasan materi permohonan. pokok permohonan. Penanganan pelanggaran secara jujur dan adil merupakan bukti adanya perlindungan kedaulatan rakyat dari tindakan-tindakan yang dapat mencederai proses dan hasil Pemilu. kedudukan pemohon. KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota wajib menindaklanjuti Putusan tersebut. KPU dan Presiden serta dapat disampaikan kepada pihak terkait. 2008. Saran Secara umum UU Pemilu telah memberikan pedoman untuk menyelesaikan pelanggaran yang terjadi. KPU. penyelenggara dan aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa semua pelanggaran Pemilu yang terjadi dapat diselesaikan secara adil dan konsisten.

Pan Mohamad Faiz. DPD. Desember 2008. Artikel Jurnal Hukum. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 14 Tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR. Sengketa Pemilu dan Masa Depan Demokrasi. Dewan Perwakilan Daerah. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Administrasi Pemilu. Jakarta. 2009. Pelanggaran Pemilu 2009 dan Mekanisme Penyelesaiannya. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. 26 .Konsorsium Reformasi Hukum Nasional. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Position Paper. dan DPRD.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful