P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 832|Likes:
Published by Sarah Munthe

More info:

Published by: Sarah Munthe on Oct 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

A . Latar Belakang Masalah Bola voli merupakan suatu permainan yang diciptakan oleh William G. Morgan pada tahun 1895. G.Morgan kemudian melanjutkan idenya yaitu mengembangkan permianan ini agar dapat menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan (imam soejadi, 1979 :18) Permainan bola voli adalah permainan beregu yang melibatkan 6 orang pemain setiap regu. Permainan ini berlangsung dengan cara memvoli bola dengan kedua tangan hilir mudik melewati pita atas net. memvoli artinya

memainkan/memantulkan bola sebelum bola jatuh atau sebelum bola menyentuh lantai. Prinsip permainannya adalah memasukan bola ke daerah lawan melewati suatu rintangan berupa tali atau net dan berusaha memenangkan permainan dengan mematikan bola itu di daerah lawan. Berdasarkan kenyataan bahwa bola tidak dapat menyentuh lantai, maka setiap pemain dituntut untuk terampil memainkan bola dengan baik. Setiap regu hanya dapat memainkan bola di daerahnya sebanyak tiga kali sentuhan kecuali seorang pemain sentuhan berturut–turut (Machfud irsyada, 2000:13-14). Permainan bola voli mempunyai berbagai teknik dasar yang merupakan salah satu unsur dominan untuk menentukan menang kalahnya suatu regu dalam melakukan

1

2

suatu pertandingan. Salah satu teknik tersebut dalam permainan bola voli adalah servis (service). Pada mulanya servis hanya merupakan pukulan pembuka untuk mengawali suatu permainan bola voli dan juga merupakan serangan pertama dalam permainan bola voli yang sangat mematikan pihak lawan. Namun saat ini sesuai dengan kemajuan permainan, ditinjau dari segi taktis, servis sudah merupakan serangan untuk mendapatkan nilai. Oleh karena itu banyak servis yang mulai dikembangkan untuk mempersulit permainan, jumping service misalnya. servis ini cukup sulit untuk dilakukan dan juga diterima . Ada beberapa jenis service dalam permainan bola voli, diantaranya service tangan bawah (underhand service), service tangan atas (overhead service), service mengapung (floating service), service melompat (jumping service), service topsin, dan service tangan samping (side hand service). yang pasti prioritas dalam service adalah menyeberangkan bola melewati pita net setiap kali service. (Nuril Ahmadi, 2007:22) Dalam hal ini service yang diteleti oleh penulis adalah jumping service. jumping service merupakan service yang disertai dengan gerakan melompat seperti gerakan smash. Mengingat objek penelitian ini merupakan siswa sma, tentu service seperti ini masih baru bagi mereka. Tentu latihan yang berkesinambungan sangat diperlukan guna terbiasa dan mampu melakukanya dengan baik. Menurut (Nuril Ahmadi, 2007: 22) jumping sevice dapat dilakukan dengan sikap awal berdiri di belakang garis belakang mengarah kearah net. Kedua

3

tangan memegang bola, kemudian bola di lambungkan tinggi kira kira 3 meter agak di depan badan. Setelah itu tekuk kedua lutut untuk awalan melakukan lompatan setinggi mungkin. Pukulan bola ketika berada di ketinggian seperti melakukan gerakan smash, lecutkan pergelangan tangan secepat – cepatnya, sehingga menghasilkan pukulam topsin yang tinggi agar bola secepat mungkin turun kedaerah lapangan lawan. Dari penjelasan mengenai cara melakukan jumping service diatas, secara tersirat disebutkan bahwa jumping service merupakan suatu gerakan service yang disertai dengan gerakan melompat seperti gerakan smash dan gerakan memukul bola. Untuk melompat, bagian tubuh yang paling berperan penting adalah otot tungkai kaki ( mulai dari pangkal paha sampai ujung kaki). Sedangkan untuk memukul bola bagian tubuh yang paling berperan adalah otot lengan. Dengan demikian, untuk memperoleh hasil jumping service yang memenuhi standar, otot tungkai kaki dan otot lengan harus dilatih secara itensif guna dapat melakukan jumping service dengan baik dan menghasilkan pola serangan yang mematikan. Mengingat bola voli termasuk jenis olahraga yang banyak mengandalkan fisik, maka kondisi fisik pemain sangat penting dalam menunjang efektivitas permainan. Diperlukan metode yang tepat untuk meningkatkan kemapuan fisik pemain, seperti kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, daya lentur, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, ketepatan dan reaski ( Nuril Achmadi, 2007:65)

4

Pengembangan fisik merupakan salah satu syarat yang dibutuhkan dalam setiap usaha peningkatan prestasi bola volli. Tentu semua komponen yang ada harus dikembangakan, walaupun dalam pelaksanaannya harus ada prioritas untuk menentukan komponen mana yang perlu mendapat porsi latihan yang lebih besar. Tentu saja dalam permainan bola voli kekuatan fisik untuk berlari,melompat, memukul bola harus menjadi prioritas yang paling utama. Bola voli dan keadaan kondisi fisik pemain menjadi satu kesatuan utuh. Keadaan kondisi fisik menjadi faktor penentu keberhasilan dalam bermain bola voli. jumping service pun begitu. Kekuatan otot kaki dan otot lengan sangat mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan jumping sevice. Itu dikarenakan jumping service disertai dengan gerakan melompat dan memukul bola. Disaat melompat, komponen tubuh yang paling aktif bergerak adalah otot tungkai kaki, mulai dari pangkal paha sampai ke ujung kaki. Kekuatan otot tungkai kaki menjadi penentu tinggi rendahnya suatu lomptan. Selanjutnya untuk memukul bola, kekuatan otot lengan sangat memepengaruhi besar tidaknya kekuatan pukulan. Berdasarkan keterangan diatas, penulis bermaksud meninjau

perkembangan olahraga bola voli disekolah SMAN 1 BADAR. Objek penelitian penulis yang masih pelajar dan SMAN 1 BADAR yang merupakan bukan sekolah kejuruan yang khusus membina atlet-atlet olahraga, tentu cabang olahraga bola voli bukan menjadi prioritas utama sekolah, hal ini menyebabkan masih banyak

5

siswa yang belum menguasai teknik jumping service dalam permainan bola voli dan kemampuan kualitas fisiknya pun masih relative rendah. Selain itu, pembinaan yang khusus pun tidak ada untuk membina atlet-atlet olahraga bola voli di SMAN 1 BADAR. Seperti pembelajaran lebih lanjut mengenai perkembangan bola voli, jumping service misalnya. Melalui kesempatan ini, penulis ingin meninjau sejauh mana kemampuan palajar pelajarnya dalam melakukan jumping service dengan melatih kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan mereka. Maka dengan penjelasan diatas serta fakta-fakta yang mendukung, sehingga menarik minat penulis untuk mengadakan penelitian dengan alasan sebagai berikut : 1 Jika jumping service dilakukan dengan baik, tentu akan menghasilkan pola serangan utama yang mematikan sehingga memperoleh nilai atau point dalam permianan bola voli. 2 Otot tungkai kaki dan otot lengan merupakan penunjang utama dalam melakukan jumping service, sehingga jika kedua komponen diatas dilatih secara itensif maka hasil jumping service akan menghasilkan pola serangan yang mematikan. 3 Sepengetahuan peneliti permasalahan ini belum pernah diteliti di SMAN 1 BADAR.

6

B . Rumusan Masalah. Berdasarkan kajian pada Latar Belakang masalah tersebut, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1 Apakah latihan kekuatan otot Tungkai Kaki dan latihan kekuatan otot lengan berpengaruh terhadap kemampuan melakukan jumping service

pada pemain Bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012 ? 2 Manakah yang lebih baik antara kemampuan melakukan jumping service setelah dilakukan latihan kekuatan otot tungkai kaki dan lengan dibanding terhadap kemampuan melakukan jumping service tanpa adanya latihan otot tungkai kaki dan otot lengan pada pemain Bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012?

C . Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalh diatas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1 Untuk mengetahui perbedaan pengaruh latihan otot Tungkai Kaki dan otot lengan terhadap hasil jumping service dengan tanpa latihan otot tungkai kaki dan otot lengan terhadap hasil jumping service pada pemain Bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012. 2 Untuk mengetahui hasil akhir yang lebih baik antara hasil melakukan jumping service dengan dan tanpa latihan kekuatan otot tungkai kaki dan

7

otot lengan pada pemain Bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011 /2012.

D . Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi mahasiswa dalam bidang olahraga khususnya pengaruh latihan otot Tungkai Kaki dan otot lengan terhadap hasil melakukan jumping service dalam bola voli . 2. Manfaat praktis. a. Menambah pengetahuan serta pengalaman penulis baik secara teori maupun praktek dalam pelatihan bola voli. b. Untuk mengetahui pengaruh kekuatan otot lengan dan otot Tungkai Kaki terhadap jumping service c. Memberi masukan bagi para pembina olahraga, guru olahraga maupun pelatih bola voli di SMA N 1 BADAR untuk meningkatkan prestasi khususnya dalam latihan jumping servis. d. Hasil Penelitian yang diperoleh diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi pelatih bola voli baik dalam memilih bibit pemain bola voli dan dapat mengembangkan pola latihan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan dasar permainan bola voli.

E . Penegasan Istilah

8

1. Pengaruh Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu, seseorang atau benda yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang (KBBI, 2007:849). Pengaruh yang dimaksud disini adalah adanya pengaruh antara daya ledak otot Tungkai Kaki dan Otot lengan terhadap kemampuan jumping service pada pemain bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2010 / 2011. 2. latihan Latihan berasal dari kata “latih” yang artinya belajar dan membiasakan diri agar mampu (dapat) melakukan sesuatu (KBBI, 2007:643). Latihan dalam penelitian ini adalah suatu proses belajar untuk meningkatkan kekuatan otot tungkai kaki untuk melompat dan otot lengan untuk memukul bola yang dilakukan secara berulang-ulang agar dapat mencapai prestasi yang maksimal dalam melakukan jumping service. Latihan yang digunakan untuk otot tungkai kaki adalah latihan vertical jump, yakni melompat keatas. Latihan ini dilakukan normalnya 3 (tiga) kali dalam seminggu. Dan latihan yang digunakan dalam otot lengan adalah latihan push-up. Latihan ini juga dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali seminggu. 2. Kekuatan otot tungkai kaki Secara harfiah, kata kekuatan berasal dari kata “kuat”, yang artinya banyak tenaga (gayanya, dayanya). Sehingga kata kekuatan diartikan sebagai keteguhan dan kemampuan melakukan sesuatu (KBBI, 2007:605).

9

Tungkai Kaki menurut kamus Indonesia adalah seluruh kaki dari pangkal paha sampai tumit ( KBBI , 2007:1226 ). Kekuatan otot tungkai kaki yang dimaksud disini adalah kekuatan atau kemampuan otot tungkai kaki yang digunakan untuk meloncat saat melakukan jumping service dalam permainan bola voli, agar dapt memperjelas daerah lawan.. 3. kekuatan Otot Lengan kekuatan otot lengan dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan sekelompok otot lengan untuk

menghasilkan kekuatan yang maksimal pada waktu melakukan jumping service dalam permainan bola voli, agar bola dapat melaju dengan cepat dan keras sehingga sulit diterima oleh lawan. Pengukuran kekuatan otot lengan dilakukan dengan tes telungkup angkat tubuh atau dikenal dengan istilah push–up . Sumosardjuno (1986:20) mengatakan kekuatan adalah kemampuan maksimal seseorang untuk mengangkat suatu beban. 4. Hasil Hasil menurut kamus Bahasa Indonesia Hasil adalah suatu yang didapat/diadakan atau dijadikan oleh usaha (KBBI, 2007:391). Hasil yang dimaksudkan disini adalah segala sesuatu yang didapat dari jerih payah dari pada melakukan jumping service dalam permainan Bola voli yang dilakukan berdasarkan tes service bola voli.

10

5. Jumping Service Service adalah suatu tindakan untuk memasukan bola kedalam permainan oleh pemain belakang kanan, yang memukul bola itu dengan satu tangan atau lengan dari daerah servis ( Nuril Ahmadi, 2007 : 38 ). Pendapat lain pukulan service adalah pukulan pertama yang mengawali rentetan bolak baliknya bola dalam permainan (A.sarumpet dkk ,1992:95). Dengan demikian, jumping service merupakan suatu service (tindakan memasukan bola kedalam permainan oleh pemain belakang) yang disertai dengan gerakan melompat vertical (keatas). Gerakan jumping service hampir sama dengan gerakan smash. Bedanya smash dilakukan dalam permaianan (saat permaianan berlangsung), sedangkan jumping service sebagai gerakan permulaan dalam permainan. Jumping service ini dilakukan dalam permainan bola voli sebagai perkembangan service itu sendiri dan gabungan antara service dengan kebiasaan melompat dalam permainan bola voli. Disitus http://brammultiply.com.journal dijelaskan bahwa

jumping service merupakan salah satu senjata ampuh untuk mengacaukan serangan kombinasi lawan, sebuah team memerlukan minimal 2 sampai 3 orang jump server yang dapat mengacakan irama permainan lawan. Latihan jumping service dapat dilakukan dengan cara berikut: a Latihan diberikan mulai 3m atau digaris serang, bola dilempar sendiri dan spike.setelah menguasai pada jarak 3m, kemudian mundur dan lakukan pada jarak 4m, lalu 5m dan seterusnya. Hal ini dapat melatih akurasi pukulan.

11

b

Latihan dapat digabung dengan receive, agar terbiasa dengan permainan jump service.

c

Pemain harus tahu bahwa jarak pukulan lurus dengan pukulan menyilang berbeda jaraknya , sehingga gerakan lengan dan

pergelangan tangan pada saat memukulpun harus berbeda. d Kontak pukulan pada bola dari jarak 3m berbeda dengan kontak pada bola pada garis belakang, semakin kebelakang kontak makin dibawah bola. e Pemukul tangan kanan sebaiknya melempar bola dengan tangan kanan. f Latih pemain secara berpasangan untuk melempar bola tanpa awalan dan tanpa lompatan dari garis belakang dan jatuhnya bola harus pada posisi yang sama didalam lapangan. g Konsentrasi dalam jump service sangant diperlukan, berikan latihan dengan target 10 bola untuk setiap posisi dan lakukan 3 kali 1 minggu.

F. Sistematika Penulisan BAB I Terdiri dari Latar Belakang masalah, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Manfaat Penelitian , penegasan Istilah dan Sistematika Penulisan. BAB II BAB III Terdiri dari Landasan Teori, Kerangka Berpikir dan Hipotesis Terdiri dari populasi, sampel, tempat dan Waktu penelitian, variable penelitian , instrument penelitian dan Analisis data

12

BAB II LANDASAN TEORI

A. Landasan teori Untuk mengetahui pemikiran yang jelas dari tujuan penelitian yang akan di laksanakan dapat dicapai dengan baik maka diperlukan landasan teori yang mendukung dari penelitian tersebut.

1. Keadaan Tubuh dan komponen kondisi fisik pemain bola voli Dalam dunia olahraga banyak faktor yang dapat menentukan prestasi seseorang, misalnya kondisi fisik, kemampuan teknik, ketrampilan yang dimiliki dan masalah-masalah lingkungan. Kondisi fisik sangat diperlukan untuk memperoleh prestasi yang optimal, seperti yang dikatakan “ kondisi fisik adalah salah satu persyaratan yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan dapat dikatakan sebagai dasar yang tidak dapat ditunda tunda atau ditawar-tawar lagi ” (sajoto 1958:57) Proses pembinaan dan pelatihan pada setiap cabang olahraga memerlukan keadaan tubuh atau kondisi fisik yang mendukung sehingga mampu dan memungkinkan melaksanakan tugas-tugas yang ada kaitannya dengan kondisi cabang olahraga. Maksud dari kondisi fisik menurut Sajoto adalah: Suatu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisah-pisahkan begitu saja, baik peningkatan mapupun pemeliharaannya (Sajoto, 1958:57).

11

13

Pengertian Kondisi fisik adalah satu kesatuan yang utuh dari komponen – komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Artinya bahwa di dalam usaha peningkatan kondisi fisik, seluruh kompinen tersebut juga harus dikembangkan, walupun disana sini dilakukan dengan system prioritas sesuai dengan keadaan tiap komponen yang diperlukan ( Nuril Ahmadi, 2007:65). Komponen – komponen kondisi fisik yang dimaksud untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu sebagai berikut. a Kekuatan (strength), adalah komponen kondisi fisik seseorang tenatng kemampuannya dalam menggunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja maksimal . kekuatan banyak digunakan atau diperlukan hampir pada semua cabang olahraga. b Daya tahan (endurance), dalam hal ini dikenal dua macam daya tahan, yaitu: (1) Daya tahan otot setempat ( local endurance ) , adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan suatu kelompok ototnya untuk berkontraksi terus – menerus dalam waktu relative cukup lama dengan beban tertentu. (2) Daya tahan umum (cardiorespiratory endurance), adalah

kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru dan peredaran darahnya secara aktif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus menerus yang melibatkan konsentrasi sejumlah otot-otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama.

14

c

Daya ledak otot (miscula power), adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa: daya ledak (power) = kekuatan (force) x kecepatan (velocity). Seperti dalam lompat tinggi, tolak peluru serta gerak yang bersifat eksplusif.

d

Kecepatan (speed), adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat singkatnya. Seperti dalam lari cepat, pukulan dalam tinju , balap sepeda , penahan dan lain-lain

e

kelentukan (fleksibility) adalah efektifitas seseorang dalam penyesuaian diri untuk segala aktifitas dalam penguluran tubuh yang luas. Hal ini akan sangat mudah ditandai dengan tingkat fleksibilitas persendian pada seluruh tubuh.

f

Kelincahan (agility), adalah kemampuan seseorang untuk merubah posisi diarena tertentu. Seseorang mampu merubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti

kelincahannya cukup baik. g Koordinasi (coordination), adalah kemampuan seseorang mengintegrasi bermacam-macam gerakan yang berbeda ke dalam pola gerakan tunggal secara efektif. Misalnya dalam bermain koordinasi yang baik bila ia dapat bergerak kearah bola sambil mengayun raket, kemudian memukulnya dengan teknik yang benar.

15

h

Keseimbangan (balance), adalah kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf otot, seperti dalam hand stand atau daalam mencapai keseimbangan sewaktu seseorang sedang berjalan kemudian terganggu (misalnya tergelincir dan lain-lain). Dibidang olahraga banyak hal yang harus ilakukan atlet dalam masalah keseimbangan ini, baik dalam menghilangkan ataupun mempertahankan keseimbangan.

i

Ketepatan (accuracy), adalah seseorang untuk mengendalikan gerak bebas terhadap suatu sasaran. Sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu obyek langsung yang harus dikenai dengan salah satu bagian tubuh.

j

Reaksi (reaksi), adalah kemampuan seseorang untuk bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau feeling lainnya.

Untuk menjadi pemain bola voli yang baik diperlukan dukungan kemampuan kondisi fisik yang baik. Misalnya dalam jumping service yang merupakan salah satu service yang penulis teliti.. Untuk mampu melakukan jumping service dengan baik diperlukan loncatan yang tinggi, pukulan yang keras, kecepatan maupun power (kekuatan) otot tungkai kaki, otot lengan, bahu, punggung dan perut. Oleh karena itu latihan yang continue sangat dibutuhkan, seperi latihan untuk otot tungkai kaki dan latihan otot lengan. Apalagi untuk pemain pemula

16

yang awam dengan permainan bola voli, seperti objek peneilitian peneliti sekarang ini. 2. Pentingnya Strength (kekuatan) Otot Tungkai Kaki dan Otot lengan. Dalam Permainan bola voli putra kekuatan meloncat merupakan hal pokok untuk memperjelas posisi pemain daerah lawan, karena banyak pemain yang menggunakannya untuk melakukan smash dan membendung. Seorang penyerang termasuk sangat bagus, kalau ia memiliki kualitas sebagai berikut: a. Penyerangan luwes, tidak kukuh dengan satu tipe penyerangan saja. b. Pandai meloncat, dapat memukul bola keras-keras. c. Dapat menjangkau bola jauh-jauh. d. Mempunyai daya observasi yang tinggi sekali.

Hal tersebut diatas adalah kualitas golongan terakhir yang sebetulnya merupakan karakteristik yang paling vital. Tanpa kepandaian meloncat dan menjangkau bola yang jauh, seorang pemain tidak mungkin dapat melakukan aktivitas olahraga bola voli dengan baik. permainan bola voli dituntut untuk mempunyai kemampuan yang tinggi. Dari keterangan itu membuktikan bahwa dalam bola voli pemain dituntut memiliki kemampuan meloncat keatas karena akan memudahkan pemain melihat jelas daerah lapangan lawan saat melakukan jumping service, mensmash atau melakukan bendungan.

17

(Gambar 1 melakukan jumping service) jumping service merupakan teknik dasar dalam permainan bola voli yang sulit dilakukan, karena mempunyai gerakan yang kompleks. Gerakan itu terdiri dari unsur loncatan, kekuatan dan kecepatan. Kesalahan yang sering terjadi atau yang dilakukan oleh pemain adalah tidak adanya kekuatan loncatan atau daya ledak secara maksimal. Dalam melakukan gerakan jumping service kekuatan loncatan yang diwujudkan dalam daya ledak sangat mempengaruhi hasil service dapat melihat daerah lapangan lawan, sedangakan kekuatan dan kecepatan tangan untuk memukul bola agar laju bola cepat dan keras tepat pada sasaran, karena dengan loncatan dan raihan yang tinggi akan mempermudah pelaksanaan servis. pemain yang mempunyai kekuatan loncatan dan daya ledak maksimal, maka waktu diudara akan lebih lama, sehingga seorang pemain akan lebih mudah dalam melakukan jumping service. Dalam permainan bola voli dikenal istilah jumping yaitu sikap meloncat waktu melakukan gerakan smash, yang maksudnya adalah bergerak kearah yang

18

lebih tinggi atau vertikal, waktu melakukan gerakan jumping service yang dapat dilakukan bila seseorang mempunyai strength dan power pada otot Tungkai Kaki dan selanjutnya kekuatan otot lengan yang mengenai bola sangat menentukan kecepatan, kekuatan laju bola serta ketepatannya menuju arah yang dituju pemain bola voli yang melakukan jumping service.

3. Pentingnya Latihan kekuatan Otot Tungkai Kaki dan Otot Lengan Untuk mencapai suatu prestasi gemilau tentu saja setiap orang harus berusaha keras dan giat latihan. Melakukannya dengan berulang-ulang dan dengan ritme yang cendrung berlanjut. Dalam hal ini, latihan otot tungkai kaki dan otot lengan tentu saja sama. Otot tungkai kaki perlu dibiasakan untuk melompat dengan target tertentu. Semua orang bisa melompat tapi, lompatannya belum tentu mampu dengan kriteria seperti lompatan dalam melakukan jumping service. Latihan otot tungkai kaki sedikitnya dilakukan tiga kali dalam rentang 1 minggu. Namun, itu bukan norma yang baku. Semakin sering kita melakukan latihan melompat tentu saja otot tungkai kaki sudah biasa melakukanya. Kontraksi otot dapat dicapai sampai batas maksimum loncatan. Latihan otot tungkai kaki bisa dengan vertical jump, yakni melompat kearah vertical (keatas). Dapat diukur kekuatan lompatan dengan papan tumpuan berukuran 30x150 cm. lompatan dilakukan 3 (tiga) kali tanpa istirahat atau boleh diselang selingi peserta lain. Terlebih dahulu ujung jari pemain diolesi dengan serbuk kapur. Pemain berdiri tegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada pada sisi kanan/kiri

19

badan pemain. Angkat tangan yang dekat dinding lurus keatas, telapak tangan ditempelkan pada papan skala hingga meninggalkan bekas jari. Kemudian pemain mengambil awalan dengan sikap menekuk lutut dan kedua lengan diayunankan kebelakang untuk menambah kekuatan lompatan, dan pemain melompat setinggi mungkin. Ini dilakukan 3 kali. Hasilnya diperoleh dengan mengurangkan jarak raihan berdiri tegak tanpa melompat dengan jarak yang diperoleh saat melompat. Begitu juga dengan latihan otot lengan. Latihan otot lengan dapat dilakukan dengan push-up atau telungkup angkat tubuh. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut: a pemain menelungkup. Kepala, punggung ,sampai Tungkai Kaki dalam posisi lurus. b Kedua telapak tangan bertumpu di lantai disamping dada dan jari-jari tangan tangan kedepan. c Kedua telapak kaki berdekatan, jari – jari telapak kaki bertumpu di lantai. d Saat sikap telungkup, angkat tubuh dengan meluruskan kedua lengan,kemudian turunkan lagi tubuh dengan membengkokan kedua lengan sehingga dada menyebtuh lantai. e Setiap kali mengankat dan menurunkan tubuh, kepala, punggung, dan Tungkai Kaki tetep lurus. f g Setiap kali tubuh terangkat dihitung sekali. Pelaksanaan telungkup angkat tubuh dilakukan sebanyak mungkin selama satu menit.

20

h

Pelaksanan dinyatakan betul bila saat tubuh terangkat,kedua lengan lurus,kepala,punggung,dan Tungkai Kaki lurus.

4. Permainan Bola voli. Permainan bola voli adalah suatu olahraga beregu yang dimainkan oleh dua regu yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain disetiap lapangan dengan dipisahkan oleh net. Tujuan dari permainan itu adalah agar setiap regu melewatkan bola secara teratur atau baik melalui net sampai bola itu menyentuh lantai (mati) di daerah lawan, dan mencegah agar bola yang dilewatkan tidak menyentuh lantai dalam lapangan sendiri. Posisi bola pada saat dimulainya permainan berada pada pemain kanan garis belakang yaitu dimulai dengan melakukan servise, pukulan bola itu melewati di atas net kedalam daerah lawan. Masing-masing regu berhak memainkan bola tiga kali sentuhan (kecuali perkenaan waktu membendung) untuk menggembalikannya kedaerah lawan. Seorang pemain (kecuali pembendung) tidak diperkenakan memainkan bola dua kali berturut-turut. Permainan bola diudara berlangsung secara teratur, sampai bola tersebut menyentuh lantai bola keluar atau satu regu gagal mengembalikan bola secara baik. Didalam permainan bola voli menggunakan rally point regu yang bisa mematikan lawan mendapat angka. Baik regu yang sedang melakukan servis maupun penerima servis. Apabila regu penerima memenangkan dalam permainan bola akan mendapat giliran servis, dalam set penentu juga dapat angka dan setiap pemain melakukan penggeseran satu posisi menurut arah jarum jam. Perputaran tersebut untuk menjamin bahwa pemain pada kedua belah pihak yang berada di depan net dan pada daerah belakang.

21

Suatu set dimenangkan oleh regu yang pertama mendapat angka 25 dengan minimal selisih 2 angka. Dalam kedudukan angka 24–24, permainan dilanjutkan sampai terdapat selisih 2 angka (24-26, 25-27, 28-30). Dan seterusnya tidak terbatas. Bila kedudukan set 2 – 2, maka set penentuan dimainkan hanya sampai angka 15, dengan selisih 2 angka (14-16, 15-17, 16-18) dan seterusnya tidak terbatas. Lapangan permainan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 18 m x 9 m, baik untuk putra maupun putri. Sedangkan ukuran tinggi net untuk putra adalah 2,43 m, sedangkan untuk putri adalah 2,24 m.

5. Teknik Dasar Bola voli. Teknik adalah cara melakukan atau melaksanakan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu secara efesien dan efektif. Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan, sebagai cara memainkan bola dengan efesien dan efektif sesuai dengan peraturan peraturan permainan bola yang berlaku untuk mencapai sesuai hasil yang optimal. Macam-macam teknik permainan bola voli seperti : servis, passing, umpan (set-up), smash dan bendungan (blok). Dari beberapa teknik dasar diatas, servis merupakan teknik dasar yang harus dikuasai oleh pemain bola voli yang merupakan awalan untuk melakukan permainan. Ada beberapa macam tentang teknik dalam melakukan servis antara lain; 1) Servis tangan bawah (underhand service), 2) service tangan atas (overhead servic), 3) service mengapung (floating service), 4) jumping sevice (sevis dengan melompat). Service yang diteliti penulis

22

adalah jumping service. Jumping service adalah servis yang dilakukan dengan gerakan melompat seperti gerakan smash. Bertolak dari pentingnya kedudukan servis, ada macam – macam servis antara lain : 1) Servis Tangan Bawah ( Underhand Service ) Servis tangan bawah adalah cara yang termudah untuk memasukan bola kedaerah lawan. Bagi pemain pemula cara ini sangat untuk dipelajari dan tenaga yang dibutuhkan tidak terlalu besar, sehingga dalam waktu singkat sudah dapat dikuasai. Posisi awal untuk melakukan service tangan bawah adalah berdiri dengan posisi melangkah , dengan kaki depan yang berlawanan dengan tangan yan

memukul bola. Tangan yang memukul bola harus lurus dan kencang , sikut jangan bengkok sampai bola terpukul 1. Persiapan a b c d e f Kaki dalam posisi melangkah dengan santai. Berat badan terbagi dengan seimbang. Bahu sejajar dengan net. Pegang bola setinggi pinggang atau lebih rendah. Pegang bola di depan tubuh. Pandangan kearah bola.

2. Pelaksanaan a b Ayunkan lengan kebelakang. Pindahkan berat badan ke kaki belakang.

23

c d e f

Ayunkan lengan ke depan. Pindahkan berat badan ke kaki depan. Pukul bola pada posisi setinggi pinggang. Konsentrasi pada bola. Cara melakukan servis tangan bawah antara lain :

a) Sikap permulaan Berdiri didaerah servis menghadap kelapangan, bagi yang tidak kidal kaki kiri berada didepan dan bagi yang kidal kaki kanan berada di depan. dengan telapak tangan terbuka, lutut agak ditekuk dan berat badan ditengah. b) Gerak pelaksanaan Bola dilambungkan didepan pundak kanan, setinggi 10 sampai 20 cm, pada saat yang bersamaan tangan kanan ditarik kebelakang, kemudian diayunkan kearah depan atas dan mengenai bagian belakang bawah bola. Lengan diluruskan dan telapak tangan atau genggaman tangan ditegangkan.

c) Gerak lanjutan Setelah memukul bola diikuti dengan memindahkan berat badan ke depan, dengan melangkahkan kaki kanan ke depan dan segera masuk ke dalam lapangan untuk mengambil posisi dengan sikap kembali, untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini:

24

(gambar 2 servis tangan bawah)

2) Servis Tangan Atas (Overhead Service) Servis tangan atas ini dalam istilah permainan bola voli sering disebut teknik servis. Cara melakukan servis atas antara lain : a. Sikap permulaan Ambil sikap berdiri dengan kaki kiri berada lebih kedepan daripada kaki kanan dan kedua lutut ditekuk. Tangan kiri menyangga bola sedang tangan kanan memegang bagian atas bola. Bola dilambungkan dengan tangan kiri ke atas sampai ketinggian kurang lebih setengah meter di atas kepala. Tangan kanan segera ditarik ke belakang atas kepala, dengan telapak tangan kanan menghadap ke depan. b. Sikap saat perkenaan Setelah tangan kanan berada diatas belakang kepala dan bola berada sejangkaun tangan maka segera bola dipukul dengam cara memukul seperti smash. Setelah bola berhasil dipukul maka akan menjadi top-spin selama

25

menjalani lintasanya. Sewaktu servis perhatian harus berpusat kepada bola. Lecutan tangan dan lengan sangat diperlukan di dalam tenis servis ini dan bila perlu dibantu dengan gerakan togok kea rah kedepan sehingga bola akan memutar lebih banyak. Pada waktu lengan dilecutkan siku jangan sampai ikut tertarik kebawah. Berikut gambar urutan servis tangan atas atau teknis servis

Gambar 3 (Urutan melakukan servis tangan atas) 3) Jumping Servis Di situs ( http://brammultiply.com.journal ) dijelaskan bahwa Jumping Servis merupakan salah satu senjata ampuh untuk mengacaukan serangan kombinasi lawan, sebuah team memerlukan minimal 2 s/d 3 orang jump server yang dapat mengacaukan irama permainan lawan. Keuntungan menggunakan jumping service adalah : (a) Dapat menjatuhkan mental lawan (b) Mempersulit lawan untuk membangun serangan (c) Memudahkan blocker untuk melakukan bendungan (d) Memudahkan kerja defender (pembela)

26

Teknik Jumping Service : (a) Awalan ±4 langkah, hal ini untuk mendapatkan power yang cukup. (b) Lompat pada langkah ke 4 diluar garis belakang dan jatuh didalam lapangan. (c) Lemparan tidak dari belakang tetapi dari samping badan agar dapat terlihat dan mudah mengontrol putaran bola kedepan. (d) Ayunan tangan sama seperti melakukan Spike Bola Tinggi (Open Spike). (e) Step ketiga baru bola dilempar keatas, setelah melakukan step sekali lagi server meloncat dan memukul bola. (f) Gerakan harus harmonis dan berkesinambungan dan konsisten seperti gerakan spike, tidak terpatah patah

(Gambar 4 teknik melakukan jumping service) Sebagai catatan, sewaktu mengambil awalan, tolakan kedua kaki berada di belakang garis (tidak boleh menginjak garis belakang), tapi pendaratan setelah memukul, boleh menginjak garis atau mendarat jauh didalam lapangan sesuai

27

dengan peraturan yang berlaku dan kembali ke posisi dan bermain. Servis ini memerlukan tenaga besar, karena teknik gerakannya menggunakan lompatan.

Berikut ini elemen-elemen gerakan jumping service yang harus dikuasai oleh seorang pemain agar jumping serive dapat dilakukan dengan baik dan benar. 1. lambungan bola Melambungkan bola merupakan eleman yang harus dikuasai, sebab teknik ini sangat mempengaruhi keberhasilan jumping service. Lambungan yang benar adalah kurang lebih setinggi 3 meter agak kedepan badan, tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya lambungan tersebut dapat dipukul dengan mudah dalam jumping service. Dengan lambungan yang sempurna akan lebih memudahkan untuk melakukan jumping service. 2. Awalan Posisi awalan bervariasi tergantung pada pemain, awalan jumping service dilakukan sekitar 3 meter. Awalan ini berguna sekali untuk memperoleh posisi awal yang mantap untuk melakukan lompatan sehingga memperoleh lompatan yang tinggi, dengan waktu atau saat yang tepat berguna untuk memukul bola dengan keras dan dengan waktu yang tepat. Karena dengan awalan yang tepat dapat menghindari terjadi kesalahan seperti menginjak garis akhir pada saat melakukan tolakan. 3. Lompatan. Lompatan merupakan gerak dari awalan. Lompatan vertical dilakukan dengan tumpuan dua kaki, kedua lengan terayun untuk membantu memperkuat lompatan sehingga diperoleh lompatan vertical yang tinggi dan dengan mudah

28

pemain dapat memukul bola. Semakin tinggi lompatan yang dilakukan maka bola yang dihasilkan oleh pelaku servis dapat menukik dengan tajam dan cepat sehingga sulit diantisipasi oleh lawan.

4. Pukulan. Gerakan selanjutnya adalah memukul bola. Pada waktu memukul bola lengan harus tetap lurus agar bola dapat dipukul dengan ketinggian yang memadai, sehingga bisa melewati net. Selain itu sewaktu memukul bola, pergelangan tangan tidak boleh kaku sehingga diperoleh pukulan top spin yang memungkinkan bola dengan cepat turun kedalam daerah lapangan lawan.

5. Mendarat. Gerakan selanjutnya adalah mendarat. Teknik mendarat yang benar adalah mendarat dengan dua kaki. Teknik mendarat yang benar akan memperkecil kemungkinan pemain cidera dan memungkinkan pemain untuk mempersiapkan diri untuk menerima pengembalian bola atau serangan lawan. Gerakan dalam melakukan jumping service adalah gerakan yang kompleks sehingga perlu juga diperhatikan latihan dari koordinasi dari rangkaian gerak jumping service, sebab tanpa koordinasi gerak yang baik tidak mungkin jumping service berhasil dengan baik. servis adalah sentuhan pertama dengan bola. Pada mulanya servis hanya merupakan pukulan pembukaan untuk memulai suatu permainan, sesuai dengan kemajuan permainan, teknik servis saat ini tidak hanya sebagai permulaan

29

permaian, tetapi jika ditinjau dari sudut taktik sudah merupakan serangan awal untuk mendapat nilai agar suatu regu berhasil meraih kemenangan. Hal terpenting dalam service adalah mengontrol bola,kecepatan dan perubahan arahnya. Bila service itu salah akan mengakibatkan bola keluar, jadi penting sekali untuk men”serve” bola kedalam daerah lawan tanpa kekeliruan. Kecepatan dan perubahan mendadak arah bola akan sangat menguntungkan. Service dilakukan dengan ketentuan seperti berikut ini: 1. Servis pertama dalam suatu set a Servis pertama pada set pertama, begitu juga set penentuan dilakukan oleh regu adalah ditentukan dengan undian. b Set berikutnya dimulai dengan servis oleh regu yang tidak melakukan servis pertama pada set sebelumya. 2. Urutan servis a Para pemain harus mengikuti urutan servis yang terdaftar pada daftar posisi b Setelah servis pertama dalam suatu set , pemain melakukan servis ditentukan sebagai berikut: (1) jika regu yang servis memenangkan reli, maka pemain yang sama melakukan servis kembali (2) jika regu penerima servis memenagkan reli , maka regu itu memperoleh giliran servis dan berputar. Pemain dari posisi depan kanan bergeser keposisi belakang kanan untuk melakukan servis.

30

3 . Kewewenangan untuk melakukan servis Wasit pertama memberikan hak untuk servis setelah dia mengecek bahwa pemain yang servis telah memegang bola di daerah servis dan kedua regu telah siap bermain. 4. Pelaksanaan servis a Pada saat melakukan servis atau melakukan servis loncat ( jumping service), pemain yang servis tersebut tidak boleh mengijak lapangan ( termasuk garis akhir ) maupun lantai di luar daerah servis. Setelah memukul bola, dia boleh melangkah atau mendarat di luar daerah servis atau di dalam lapangan. b Pemain yang melakuan servis harus memukul bola dalam waktu 5 detik setelah wasit pertama membunyikan peluitnya. c Servis yang dilakukan sebelum wasit pertama membunyikan peluit harus dibatalkan dan diulangi lagi d Bola harus dipukul dengan satu tangan atau satu bagian dari lengan setelah dilambungkan atau dilepaskan secara jelas dan sebelum bola itu menyentuh lantai. 5. Persiapan melakukan servis a Jika bola dilambungkan atau dilepaskan oleh pemain yang servis jatuh kelantai tanpa disentuhnya, maka hal into ditetapkan sebagai usaha servis.

31

b

Setelah suatu usaha servis dilakukan, wasit harus segera memerintahkan pemain yang bersangkutan untuk melakukan servis kembali yanpa menunda waktu, dan servis harus dilakukan dalam waktu 3 detik.

c

Hanya sekali persiapan servis yang diperkenankan untu setiap melakukan servis.

6. Kesalahan servis a. Kesalahan posisi servis. b. Melakukan servis dengan tidak melepas bola. c. Pelanggaran peraturan tentang persiapan servis. 7. Kesalahan servis setelah bola dipukul. a Bola disentuh pemain sendiri ketika dilakukan servis atau gagal lewat bidang tegak lurus dari net. b c d Tidak melewati net atau terhalang net. Melakukan servis disamping garis samping. Terlintas diatas pentabiran perorangan atau kelompok.

5. Masalah Kondisi Fisik Prestasi olahraga yang optimal dapat dicapai dengan pendekatan latihan fisik, teknik, dan mental. Latihan fisik secara teratur, terprogram dan berkesinambungan dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan dalam program latihan, sehingga dapat meningkatkan kualitas ataupun kondisi fisik tertentu. Dengan adanya latihan akan lepas dari kondisi dan kualitas

32

fisiknya dimana setiap cabang olahraga kondisi fisik yang berbeda-beda, hal ini sesuai dengan karakteristik olahraganya. Kesimpulannya adalah seorang pemain bola voli harus mempunyai komponen kondisi fisik yang dominan yaitu; komponen daya ledak, komponen kekuatan, komponen kelenturan, kompenen kelincahan, komponen reaksi, dan komponen ketepatan.

7. Kekuatan (strength) Otot Tungkai Kaki Kekuatan (strength) adalah kemampuan sebuah otot atau segrombolan otot untuk mengatasi tahanan beban dengan kecepatan tinggi dalam suatu gerakan yang utuh. Kekuatan otot Tungkai Kaki yang dimaksud disini adalah Kekuatan otot kaki yang digunakan untuk meloncat mempermudah melihat daerah lawan pada saat melakukan Service Jumping bola voli. Kekuatan seperti yang disebutkan diatas berguna untuk meloncat saat melakukan jumping service dan memukul bola keras – keras . Untuk meningkatkan daya tahan otot Tungkai Kaki, latihan yang sering dilakukan oleh pelatih adal,j ah weigh training dan pliometrik. Disamping bentuk-bentuk latihan yang lain, weigh training adalah bentuk latihan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memperkuat otot, ini berarti otot yang memiliki volume besar, daya ledaknya juga besar. Berkat pembinaan secara terarah dan terus-menerus akan diperoleh daya ledak yang berarti. Seseorang akan dapat memanfaatkan tenaganya sesuai dengan gerakan teknik yang dikehendaki dalam permainan bola voli putra. Namun, untuk melatih kekuatan otot tungkai kaki, latihan vertical jump sekiranya sangat tepat. Guna membiasakan otot untuk

33

melompat. Untuk mengukur kekuatan otot Tungkai Kaki dalam penelitian ini adalah menggunakan Vertikal Jump. Berdasarkan pada uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a bahwa prestasi olahraga bola voli seseorang juga dipengaruhi oleh faktor kondisi fisik seseorang terutama daya ledak otot Tungkai Kaki yang sangat berguna untuk meloncat saat melakukan jumping service. b Prestasi bola voli juga ditentukan oleh faktor latihan dan pembinaan secara dini untuk mencapai prestasi yang optimal. 8. Kekuatan (strength) Otot Lengan. Power adalah kemampuan sekelompok otot untuk menggunakan kekuatan maksimal yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya. Dalam hal ini dinyatakan bahwa daya ledak (power) hasil kali dari kekuatan dikali kecepatan (Sajoto, 1958:58). Jadi yang dimaksud Kekuatan otot lengan dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan sekelompok otot lengan untuk menghasilkan kekuatan dan kecepatan yang maksimal untuk memukul bola sehingga menghasilkan hasil pukulan yang keras dan cepat pada waktu melakukan jumping service dengan waktu sependek-pendeknya. Untuk mengukur kekuatan kekuatan otot lengan dapat diukur dengan tes medicine ball throw atau dengan tes telungkup angkat tubuh (push – up). Namun, untuk kekuatan otot lengan penulis mengujinya dengan tes telungkup angkat tubuh atau dikenal dengan istilah pushup

34

B . Kerangka Berpikir 1 . Tinjauan Latihan Kekuatan Otot Tungkai Kaki terhadap Kemampuan Jumping Service Kekuatan otot Tungkai Kaki dalam melakukan jumping service adalah kontraksi gabungan otot yang terdapat pada kaki yang menghasilkan kekuatan dan kecepatan dalam melakukan lompatan setinggi-tingginya untuk memperjelas daerah lapangan lawan dan menempatkan sasaran yang tepat, sehingga dapat mempersulit lawan untuk meraih bola. Sesuai dengan peraturan permainan servis merupakan serangan awal dalam permainan bola voli untuk memperoleh angka atau point. Kekuatan otot tungkai kaki berguna untuk meloncat saat melakukan Jumping Service. Sesuai dengan tinjauan dan pengamatan peneliti, maka perlu seorang pelatih sebelum pemain melakukan latihan jumping service untuk melatih kekuatan otot Tungkai Kaki dengan tes lompat jauh tanpa awalan (standing board jum ) dan tes lompat tegak (vertical jump). Biasanya standing board jump digunakan untuk mengukur kekuatan otot Tungkai Kaki kearah depan. Dan vertical jump digunakan untuk mengukur kekuatan otot Tungkai Kaki kearah atas. Berkat pembinaan secara terarah dan terus-menerus akan diperoleh daya (power) yang berarti. Seseorang akan dapat memanfaatkan tenaganya sesuai dengan gerakan teknik yang dikehendaki dalam permainan bola voli putra. Tanpa adanya kekuatan otot tungkai kaki yang mendukung mustahil jika pemain bola voli dapat melompat dengan lompatan yang sangat tinggi. Otot tungkai kaki merupakan komponen utama penentu keberhasilan dalam melakukan

35

jumping (melompat), selain ada komponen lain yang hanya sifatnya skunder atau tambahan saja. Latihan otot tungkai kaki dilakukan secara sistematis, yakni latihan dilakukan secara teratur, latihan tersebut berlangsung beberapa kali dalam 1 minggu, tergatung pada standart atlet dan peride latihan. Latihan otot tungkai dan latihan otot lengan dilakukan untuk rencana jang 2. Tinjauan kekuatan Otot Lengan terhadap Kemampuan Jumping Service Kekuatan otot lengan dalam melakukan jumping service adalah kontraksi gabungan otot lengan yang menghasilkan kekuatan dan kecepatan dalam memukul bola unuk menghasilkan servis yang cepat dan keras, karena pukulan servis adalah sebagai serangan awal dalam pembukaan permainan bola voli putra guna mendapatkan nilai, sehingga diperlukan daya yang disebut power. Power adalah hasil dari force x velocity, dimana force adalah sama (equivalent) dengan kekuatan dan velocity dengan speed atau kecepatan. Jadi saat mengayunkan dari posisi ayunan dari belakang kemudian mengayunkan ke depan di butuhkan kekuatan maksimal dan kecepatan (power) untuk mendapatkan hasil pukulan servis yang keras dan cepat. Otot lengan yang terlibat dalam jumping service bola voli yaitu: trisep, bisep branchii, otot brachialis, brschioradialis, pronator teres, elevator carpi rdialis, Palmaris longus, fleksor retinaklum, fasia palmuris, tendon bisep, dan fleksor karpi ulnaris. Untuk lebih jelasnya berikut penulis lampirkan gambar otot lengan lengkap dengan keterangan komponen komponennya.

36

C. Tinjauan latihan Kekuatan Otot Tungkai Kaki dan Otot Lengan terhadap Kemampuan Melakukan Jumping Service. Tujuan utama latihan adalah untuk membantu atlet meningkatkan keterampilan dan prestasinya semaksimal mungkin. Untuk mencapai hal itu, yang perlu dilatih adalah teknik, taktik, fisik dan mental atlet. Latihan harus direncanakan secara hati-hati dengan menentukan apakah latihan dilakukan dalam jangka pendek, menengah ataupun rencana jangka panjang. Tergantung pada cabang olah raga yang diambil. Latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan dilakukan secara teratur, latihan tersebut dilakkan 3 sampai 4 kali perminggunya. Hari latihan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sample yang memungkinkan.

37

Latihan kekuatan otot tungkai kaki dapat dilakukan dengan vertical jump. yakni gerakan melompat tegak vertical keatas. Latihan ini dapat dilakukan 3 kali lompatan dalam satu kali putaran latihan menggunakan papan skala lompatan. Namun tidak menjadi aturan yang baku. Lompatan vertical dapat dilakukan sebanyak mungkin. Begitu juga dengan latihan kekuatan otot lengan. Latihan otot lengan dapat dilakukan dengan push-up ( test telungkup angkat tubuh ). Push-up dilakukan sebanyak mungkin dalam 1 menit. Selain melatih kekuatan otot tungkai kaki dan lengan, keterampilan melakukan jumping service pun perlu dilatih untuk mengimbangi latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan. Latihan jumping service dilakukan dengan melakukan jumping service 10 kali service secara berturut-turut tanpa berhenti.

D. Hipotesis Menurut arikunto (2006:71) hipotesis adalah sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penilitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Dari landasan teori ini maka peneliti menduga bahwa : 1 Ada perbedaan hasil melakukan jumping service setelah latihan otot tungkai kaki dan otot lengan dengan hasil jumping service tanpa latihan otot tungkai kaki dan otot lengan pada pemain bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012.

38

2

Jumping service lebih baik setelah dilakukan latihan kekuatan otot tungkai kaki dan lengan dibanding dengan tanpa latihan pada pemain bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012..

BAB III METODE PENELITIAN

Survei adalah salah satu pendekatan penelitian yang digunakan untuk mengumpulan data sebanyak – banyaknya (suharsimi arikunto, 2006:108). Van Dolem dalam arikunto berpendapat bahwa survei merupakan bagian dari studi diskriptif dengan tujuan pencarian kedudukan (status), gejala (fenomena) dan penentuan kesamaan status dengan cara perbandingan standar yang telah ditentukan. Tes sendiri dibagi tes kepribadian, bakat, kecerdasan, proyeksi, minat dan prestasi. Penelitian ini bersifat kwantitatif dimana langkah pertama adalah mencari data kekuatan otot Tungkai Kaki, kekuatan otot lengan, berat badan dan ketepatan jumping service yang menggunakan instrumen tes kekuatan otot Tungkai Kaki yang diukur dengan Vertical Jump, dan tes kekuatan otot lengan

39

yang diukur dengan push – up, tes berat badan yang diukur dengan Stadiometer dan tes hasil jumping service bola voli menggunakan tes servis dari LAVEAGE. A. Populasi Menurut Suharsimi Arikunto (2006:130) populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Pengertian populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh individu yang akan dijadikan objek penelitian dan keseluruhan dari individu itu harus memiliki paling tidak satu sifat yang sama. Berdasarkan pengertian diatas, maka populasi penelitian ini adalah pemain bola voli putra kelas 36 XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012 yang terdiri dari 3 kelas. Untuk lebih jelasnya berikut ini table populasinya Table 1.jumlah populasi siswa kelas XI IPS SMAN 1 Badar No 1 2 3 Kelas XI IPS inti XI IPS 1 XI IPS 2 Jumlah Jumlah siswa 35 siswa 34 siswa 32 siswa 101 siswa

Sumber : wali kelas SMAN 1 Badar Tahun 2011 B. Sample Sample adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (suharsimi arikunto , 2006:131). Pengetian tersebut mengandung arti populasi penelitian ini adalah seluruh individu yang akan dijadikan obyek penelitian dan keseluruhan dari individu itu harus dimiliki paling tidak satu sifat yang sama. Teknik

40

pengambilan sampel sesuai dengan nomogram Harryking, Jika sampel hanya sedikit diharapkan untuk mengambil semua populasi menjadi sample dan dinamakan penelitian sample. Tetapi, jika jumlah populsi besar, dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% Berdasarkan pengertian diatas, maka sample penelitian ini adalah pemain bola voli putra kelas XI IPS SMAN 1 BADAR 2011 sebanyak 15 anak, cara pengambilan menggunakan sample wilayah (area probability sample). Sample wilayah adalah teknik sampling yang dilakukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi. Dalam hal ini wilayah tersebut merupakan kelas. yakni, 5 anak tiap kelas. berikut ini table sample untuk memperjelasnya. Table 2 . jumlah sample siswa kelas XI IPS SMAN 1 Badar No 1 2 3 Kelas XI IPS inti XI IPS 1 XI IPS 2 Jumlah Jumlah siswa 5 orang 5 orang 5 orang 15 orang

C . Tempat dan Waktu Penelitian. 1. Tempat penelitian. Rancangan tempat penelitian ini akan diadakan di SMAN 1 Badar. 2. Waktu penelitian.

41

Penelitian ini akan diadakan dalam rentang waktu 1 bulan yakni bulan agustus 2011. D. Variabel Penelitian Variabel adalah gejala yang bervariasi, yang menjadi objek penelitian (Suharsimi Arikunto, 2006:126). Dalam penelitian ini terdapat dua variable yaitu 2 variabel independent dan satu variable dependent, Antara lain: 1. Variabel Bebas atau independent Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan. 2. Variabel dependent Variabel terikat atau dependent dalam penelitian ini adalah kemampuan melakukan jumping service pada pemain bola voli putra kelas XI IPS SMA N 1 BADAR tahun 2011/2012

E. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu suatu metode yang menggunakan gejala yang dinamakan latihan atau perilaku setelah latihan, atau perlakukan yang akan terlihat pengaruhnya setelah latihan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dasar penggunaan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan yang meliputi tes awal, pemberian latihan dan diakhiri dengan tes untuk menguji kebenarannya. Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dari tes kemampuan jumping service sebelum dilakukan latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan

42

disebut sebagai kelompok eksperimen 1 (satu). Dan hasil tes kemampuan melakukan jumping service setelah dilakukannya latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan disebut sebagai kelompok eksperimen 2 (dua). Dengan demikian dalam penlitian ini diperoleh 2 kelompok eksperimen yang akan diperlihatkan apakah ada perbedaan kemampuan melakukan jumping service setelah diberikan latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan. Dengan demikian teknik pengumpulan data dapat dirangkum seperti berikut: a Tes awal, yakni tes pertama. Tes yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan sample melakukan jumping service. kemudian hasil tes yang diperoleh disebut sebagai kelompok eksperimen 1 (satu). b Selanjutnya, dalan rentang waktu berikutnya dilakukan latihan itensif terhadap sample. Latihan yang dimaksud adalah latihan kekuatan otot tungkai kaki dan otot lengan. Latihan dipusatkan hanya pada kekuatan otot tungkai kaki dan lengan karena 2 komponen inilah yang paling dominan dalam melakukan jumping service, yakni otot tungkai kaki untuk melompat dan otot lengan untuk memukul bola. c Setelah diberikan latihan dalam rentang waktu yang ditentukan, sample kemudian dites kembali. Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar perubahan kemampuan melakukan jumping service setelah diberikan latihan, dan disebut sebagai data kelompok eksperimen 2 (dua).

43

E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat pengambilan data. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari : 1 2 3 Tes berat badan dengan stadiometer latihan kekuatan Otot Tungkai Kaki dengan vertical jump latihan kekuatan otot lengan diukur denagn tes telungkup angkat tubuh (push – up) 4 Tes hasil jumping service dengan menggunakan tes dari Laveage

1. Tes kekuatan Otot Tungkai Kaki Latihan kekuatan otot tungkai kaki dapat dilakukan dengan vertical jump, yakni Tujuan tes ini adalah untuk mengukur daya eksplosif power otot Tungkai Kaki. Cara pengukuran dengan skala vertical jump, yang diukur dalam tes ini adalah ketinggian jangkauan tangan atau raihan waktu berdiri tegak dan setelah meloncat tanpa awalan. Menurut Berikut beberapa prosedur pelaksanaannya: a. Alat dan Fasilitas. (1) Papan berskala centimenter , warna gelap , ukuran 30 x 150 cm , dipasang pada dinding yang rata atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka nol (0) pada papan tes adalah 150 cm. (2) Serbuk kapur. (3) Alat pengahapus papan tulis. (4) Alat tulis

44

b. Petugas Tes pengamat dan pencatat hasil. c. Pelaksanaan Tes. (1) Sikap permulaan. a Terlebih dahulu ujung jari pemain diolesi dengan serbui kapur / magnesium karbonat. b Pemain berdiri tegak dekat dinding , kaki rapat , papan skala berada ngpada sisi kanan / kiri badan pemain. Angkat tangan yang dekat dinding lurus keatas, telapak tangan ditempelkan pada papan skala hingga meninggalkan bekas jari.

(Gambar 5. Sikap awal vertical jump) (2) Gerakan. (a) Pemain mengambil awalan dengan sikap menekuk lutut dan kedua lengan diayunkan kebelakang

45

(Gambar 6. Gerakan vertical jump) Kemudian pemain meloncat setinggi mugkin sambil menepuk papan dengan tangan yang terdekat sehingga menimbulkan bekas (b) Lakukan tes ini sebanyak tiga (3) kali tanpa istrahat atau boleh diselingi pemain lain (3) Pencatatan Hasil. (a) Selisih raihan loncatan dikurangi raihan tegak (b) Ketiga selisih hasil tes dicatat (c) Masukan hasil selisih yang paling besar. (Kunjung Ashadi, 2009:8-10) 2. Tes Kekuatan Otot Lengan Pengukuran kekuatan Otot Lengan dapat dilakukan dengan Tes telungkup angkat tubuh (Pus-up). Prosedur pelaksanaan tes pengukuran kekuatan otot lengan adalah sebagai berikut: i pemain menelungkup. Kepala, punggung ,sampai Tungkai Kaki dalam posisi lurus. j Kedua telapak tangan bertumpu di lantai disamping dada dan jari-jari tangan tangan kedepan. k Kedua telapak kaki berdekatan, jari – jari telapak kaki bertumpu di lantai.

46

l

Saat sikap telungkup, angkat tubuh dengan meluruskan kedua lengan,kemudian turunkan lagi tubuh dengan membengkokan kedua lengan sehingga dada menyebtuh lantai.

m Setiap kali mengankat dan menurunkan tubuh, kepala, punggung, dan Tungkai Kaki tetep lurus. n o Setiap kali tubuh terangkat dihitung sekali. Pelaksanaan telungkup angkat tubuh dilakukan sebanyak mungkin selama satu menit. p Pelaksanan dinyatakan betul bila saat tubuh terangkat,kedua lengan lurus,kepala,punggung,dan Tungkai Kaki lurus.

Tabel 3. Norma Kekuatan Otot Lengan No 1 2 3 4 5 Norma BAIK SEKLI BAIK SEDANG KURANG KURANG SEKALI Prestasi ( putra) 70-keatas 52-69 34-51 16-33 Ke bawah-15 ( mesnan, 2010:18)

3. Tes Kemampuan Melakukan Jumping service instrument yang digunakan untuk mengukur kemampuan service dalam permainan bolavoli yakni untuk tes jumping service adalah instrument test service permainan bola voli putra laveage (sutanto rihartin, 2007: 40).

47

Adapun langkah-langkah pelaksanaan tes jumping service adalah sebagai berikut: a Setiap anak dipanggil satu-persatu sesuai dengan daftar nama yang tersedia. b c d Testee (orang yang dites) melakukan jump service sebanyak 10 kali Kesalahan dalam melakukan service sesuai dengan peraturan nilainya 0. Nilai akhir dari teste adalah jumlah nilai yang diperoleh 10 kali pelaksanaan service. e Apabila bola mengenai garis, maka yang dihitung adalah nilai yang terbesar. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar daerah sasaran tes servis dari laveage: 9m 4.5 m 4 A 0 N x E T 18 m Gambar 7 ( Daerah sasaran service dari laveage ) Keterangan: 1. x : daerah service 2. 4 , 0. 3. 5. 2. 10 : point service 3. A , B , C , D , E , F : kotak sasaran service C 3 E D 5 F 3m 4.5 m 10 B 2 3m 3m

48

a

Alat dan perlengkapan yang digunakan dalam penelitian ini: (1) Bola voli putra (2) Lapangan bola voli putra (3) Meteren (4) Net (5) Kapur putih (6) Dan alat-alat tulis

b. Pelaksanaan tes: (1) Service dilakukan dibelakang garis belakang lapangan. (2) Jumping service dilakukan 10 kali kesempatan secara berturut-turut c. Hasil : Hasil tes dari 10 kali melakukan jumping service dijumlahkan Sebagai hasil akhir tes jumping service ini sebagai data penelitian.

E. Analisis Data Data dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik karena data yang dikumpulkan berupa angka – angka . Istilah statistik pada pokoknya mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian yang luas dan pengertian sempit. Dalam pengertian yang sempit statistik digunakan untuk menunjukan semua kenyataan yang berujud angka-angka. Dalam pengertian luas yaitu pengertian teknik metodologi , statistik berarti cara-cara ilmiah yang berujud angka. Karena ukuran sample kecil, dan data yang akan diperoleh berupa data numerik, maka metode statistik non parametrik sangat cocok dalam melakukan analisis data ini. Statistik non parametrik juga lebih mudah dilakukan meskipun

49

tidak terdapat komputer dan tanpa bantuan software penganalisis seperti SPSS ataupun software R (dapat dianalisa secara manual). Metode non-parametrik ini juga memberikan keleluasaan yang lebih luas dalam melakukan inferensi statistik, Karena metode ini dapat digunakan dalam keterbatasan data dari sample dan keterbatasan informasi mengenai populasi. Selain itu, statitika non-parametrik bebas distribusi jadi, kita tidak harus mengetahui data tesebut berdistribusi normal atau tidak. Karena dalam penelitian ini penulis memperoleh dua kelompok data eksperimen, yakni kemampuan melakukan jumping service sebelum mendapat perlakuan latihan otot tungkai kaki dan otot lengan serta kemampuan melakukan jumping service setalah mendapat perlakuan latihan maka Untuk menguji kebenaran hipotesis, penulis menggunakan uji t-berpasangan populasi saling tergantung. Uji t-berpasangan digunakan untuk mengetahui ada-tidaknya perbedaan (tanpa memandang besar-kecilnya perbedaan tersebut). Adapaun rumus yang digunakan yaitu :

50

Berikut prosedur dalam menguji hipotesis non-parametrik. 1. Pernyataan hipotesis nol dan hipotesis alternative 2. Pemilihan tingkat kepentingan (Level of significance), 3. Pencacahan tanda dari perbedaan antara hasil pengamatan yang berpasangan.

DAFTAR PUSTAKA

A.Sarumpet ,dkk .1992.Permainan Besar.Padang : depdikbud Fuad hasan . 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka Imam Soejadi.1979. Permainan dan Metodik. Bandung : Remadja Karya Offset Kunjung Ashadi. 2009. Tes kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI). Semarang: FIK UNNES M. Sajoto.1995. Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta :depdikbud Machfud Irsyada .2000.Bola voli .Jakarta : depdikbud Mesnan. 2010. Diktat Tes Pengukuran Dan Evaluasi Penjas Dan Olahraga . FIK UNIMED Nuril Ahmadi. 2007.Panduan Olahraga Bola voli .Surakarta : Era Pustaka Umum Suharsimi Arikunto . 2006 . prosedur penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

51

Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung:Tarsito Samsudi. 2008. Statistika. Semarang: Fakultas Teknis Mesin UNNES Sutanto Rihartin . 2007 . Pengaruh Latihan Jump Service Dengan Menggunakan Awalan dan Tampa Awalan Terhadap Kemampuan Jump Service Dalam Permainan Bolavoli Pada Klub Putra Dikabupaten Kudus Tahun 2007. Semarang : FIK UNES Teknik dasar bola voli putra . http://brammultiply.com.journal Tri Cahyono. 2006. Uji Normalitas. jklp politekkes semarang 50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->