LUKA DAN PERAWATANNYA I.

DEFINISI LUKA Luka didefinisikan sebagai suatu kerusakan integritas epithel dari kulit atau terputusnya kesatuan struktur anatomi normal dari suatu jaringan akibat suatu trauma. Definisi lain menyebutkan luka sebagai hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. II. PENYEBAB LUKA Luka dapat disebabkan oleh trauma tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik dan animal bite. III.KLASIFIKASI LUKA Ada beberapa cara untuk membuat klasifikasi luka. Namun yang umum luka dapat diklasifikasikan sebagai berikut : A. Berdasarkan sifat luka yaitu : 1. Aberasi Aberasi adalah luka dimana lapisan terluar dari kulit tergores. Luka tersebut akan sangat nyeri dan mempunyai resiko tinggi terhadap infeksi, karena benda asing dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan dalam jaringan subkutan. Perdarahan biasanya sedikit. 2. Punktur (Luka Tusuk) Luka tusuk merupakan cedera penetrasi. Penyebabnya berkisar dari paku sampai pisau atau peluru. Walaupun perdarahan nyata seringkali sedikit, kerusakan jaringan internal dan perdarahan dapat sangat meluas dan mempunyai resiko tinggi terhadap infeksi sehubungan adanya benda asing pada tubuh 3. Avulsi Avulsi terjadi sebagai akibat jaringan tubuh tersobek. Avulsi seringkali dihubungkan dengan perdarahan yang hebat. Kulit kepala dapat tersobek dari tengkorak pada cedera degloving. Cedera dramatis seringkali dapat diperbaiki dengan scar-scar kecil. Apabila semua bagian tubuh seperti telinga, jari tangan tangan, jari kaki, mengalaqmi sobekan maka pasien harus dikirim ke rumah sakit dengan segera untuk memungkinkan perbaikan (penyambungan kembali).

1. Insisi (Luka sayatan) Insisi adalah terpotong dengan kedalaman yang bervariasi. Hal ini seringkali menimbulkan perdarahan hebat dan kemungkinan bisa terdapat kerusakan pada struktur dibawahnya sedemikian rupa, seperti saraf, otot atau tendon. Luka-luka ini harus dilindungi utuk menghambat terjadinya infeksi, bersamaan dengan pengontrolan perdarahan. 2. Laserasi Laserasi adalah luka bergerigi yang tidak teratur. Seringkali meliputi kerusakan jaringan yang berat. Luka-luka ini seringkali menyebabkan perdarahan yang serius dan kemudian pasien akan mengalami syok hipovolemik. Penolong pertama harus mempertimbangkan kondisi luka yang terjadi sepeti perlukaan itu dapat merupakan akibat cedera oleh dirinya sendiri. 3. Dekubitus Ulkus Dekubitus (Luka akibat penekanan, Ulkus kulit, Bedsores) adalah kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips, pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka panjang. B. Berdasarkan mekanisme terjadinya Luka 1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi). 2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak. 3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. 4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil. 5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. 6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar. 7. Luka Bakar (Combustio) adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam.

Menurut Cohen. b. lembab dan sehat tetapi bila proses penyembuhan luka tidak mengalami kemajuan maka dikatagorikan sebagai luka kronik. Luka Akut Luka dikatakan akut jika penyembuhan yang terjadi dalam jangka waktu 2-3 minggu atau luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati atau diharapkan. Meskipun dasar luka tampak merah. permukan bersih. Delayed primary healing (tertiary healing) Penyembuhan luka berlangsung lambat. Healing by secondary intention Terdapat sebagian jaringan yang hilang. Luka Kronik luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak tanda-tanda untuk sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu. diperlukan penutupan luka secara manual. b. .dkk luka akut akan mencapai penyembuhan normal melalui proses penyembuhan yang diharapkan dalam waktu tertentu untuk mencapai pemulihan integritas anatomi dan fungsi. Healing by primary intention Tepi luka bisa menyatu kembali. biasanya terjadi karena suatu insisi. yaitu: a. Hal yang penting adalah pada luka kronik proses penyembuhan melambat atau berhenti dan luka tidak bertambah kecil atau tidak bertambah dangkal. sehat dan dapat dilakukan penutupan luka secara primer atau dibiarkan menyembuh secara sekunder. biasanya sering disertai dengan infeksi. c. dapat dikategorikan menjadi tiga. Sebagian besar luka yang terjadi akibat trauma pada organ atau jaringan dapat dikatagorikan sebagai luka akut. luka kronik adalah luka yang tidak sembuh dalam waktu yang diharapkan. Berdasarkan usia luka ( Wound Age ) atau lama penyembuhan bisa dibedakan menjadi dua yaitu: a. Berdasarkan proses penyembuhan. tidak ada jaringan yang hilang. Penyembuhan luka berlangsung dari bagian internal ke ekseternal. proses penyembuhan akan berlangsung mulai dari pembentukan jaringan granulasi pada dasar luka dan sekitarnya.C. Luka akut biasanya terjadi pada individu yang normal. luka disebut akut bila luka tersebut baru atau mencapai kemajuan penyembuhan luka sesuai yang diharapkan. D.

Seringkali luka kronik mengalami rekurensi. Superficial. yakni hanya mengenai epidermis saja Partial Thickness.Pada luka kronik terjadi kegagalan untuk mencapai penyembuhan yang diharapkan dalam waktu tertentu untuk menghasilkan pemulihan integritas anatomi dan fungsi. Luka Kontaminasi Luka Kontaminasi yakni luka yang belum melewati batas waktu kontaminasi atau golden periode ( kurang dari 6 jam ). Berdasarkan warna luka ( Wound Color ): a. Berdasarkan waktu terjadinya luka a. Hitam (warna jaringan nekrotik atau avaskuler diatas luka) G. fascia. oedema. dan Full Thickness. dimana setelah waktu 6-8 jam setelah terjadi luka maka bakteri yang ada telah mencapai koloni tertentu dan mengadakan invasi ke dalam . Merah (warna jaringan granulasi yang sehat) b. b. Penyembuhan luka kronik biasanya berkepanjangan dan tidak lengkap. E. b. c. malnutrisi. malnutrisi dan tekanan (pressure). Diantara kondisi patologis tersebut adalah penyakit vaskuler. Kuning ( warna lapisan fibrin melekat pada jaringan) c. Berdasarkan kedalaman luka ( Wound Depth ) : a. Pembagian luka ini berdasarkan waktu kontaminasi (golden periode) yaitu 6-8 jam. otot bahkan tulang. Luka kronik terjadi karena kegagalan proses penyembuhan luka akibat ada kondisi patologis yang mendasarinya. yakni luka menembus kulit melampaui dermis dapat mencapai lemak subkutan. F. Luka kronik tidak akan sembuh bila penyebab yang mendasarinya tidak dikoreksi. Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika proses penyembuhan berlangsung sesuai dengan kaidah penyembuhan normal tetapi bisa juga dikatakan luka kronis jika mengalami keterlambatan penyembuhan (delayed healing) atau jika menunjukkan tandatanda infeksi. mengenai epidermis dan sebagian dermis. hipoksia jaringan. Torre menyebutkan penyebab luka kronik diantaranya infeksi. diabetes melitus. Luka Infeksi Luka Infeksi yakni luka yang sudah melewati batas waktu kontaminasi atau golden periode ( lebih dari 6 jam ). trauma berulang. adanya jaringan nekrotik/debris dan sebab sistemik seperti diabetes melitus. imunodefisiensi dan pemakaian obat-obatan tertentu.

traktus urinarius. mekanisme luka. fibroplasias. Luka dibuat terencana dan penutupan luka dilakukan secara primer dan tanpa pemakaian drain tertutup. sintesis matriks dan substansi dasar. adanya kontaminasi atau infeksi pada saat operasi maka luka operasi diklasifikasikan menjadi empat jenis. Luka Bersih Terkontaminasi. Tipe II. Luka Bersih. Proses penyembuhan luka merupakan hasil akumulasi dari proses-proses yang meliputi koagulasi. VI. dan remodeling. H. adalah luka operasi yang dibuat diatas kulit yang utuh tanpa tanda infeksi atau peradangan. Tipe III. adalah luka operasi yang membuka traktus respiratorius. adalah luka operasi yang dilakukan pada kulit yang mengalami trauma terbuka yang masih baru. appendiks.jaringan sekitar luka atau pembuluh darah. kontraksi proloferasi dan fase maturasi. b. kita dapat mengoptimalkan lingkungan jaringan dimana luka berada. epitelisasi. traktus gastrointestinal maupun traktus bilier. FASE PENYEMBUHAN LUKA Proses penyembuhan luka bersifat dinamis dengan tujuan akhir pemulihan fungsi dan integritas jaringan. serta ditemukan adanya infeksi atau adanya perforasi pada organ viscera. Tipe I. yakni : (5. Pada kondisi ini luka disebut sebagai luka infeksi. vagina dan orofaring pada saat dilakukan operasi tidak ditemukan .6) a. operasi dengan spillage dari traktus gastrointestinal atau incisi pada lapangan operasi dengan inflamasi akut dan non-purulen. inflamasi. d. c. Berdasarkan Jenis Luka Operasi Berdasarkan hubungan antara luka dengan beberapa faktor seperti situasi. tanda infeksi. traktus urinarius. Luka Terinfeksi. fase Khusus pada operasi traktus bilier. Luka jenis ini tidak membuka traktus respiratorius. Tetapi secara garis besar proses kompleks ini dibagi menjadi tiga fase penyembuhan luka : Fase inflamasi. Luka Terkontaminasi. angiogenesis. adalah luka operasi yang dilakukan pada kulit yang mengalami trauma melewati waktu golden periode. Dengan memahami biologi penyembuhan luka. traktus gastrointestinal dimana tanpa adanya spillage atau tumpahan kontaminan. Tipe IV. Disini organisme penyebab infeksi luka post-operatif sudah ada sebelum operasi.

Lama fase ini bisa singkat jika tidak ditemukan adanya infeksi pada luka. .k adanya pembentukan jaringan granulasi pada luka dimana luka nampak merah segar. Fase inflamasi Fase ini terjadi pada hari ke 0-5. fibronectin dan hyularonic acid. Karakteristik lainnya adalah terjadinya tumor. dolor. dimana terjadi respon yang segera timbul setelah terjadi injuri. functio laesa. Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi : Fibroblasts. sel inflamasi. kemudian terjadi pembekuan darah dimana hal ini terjadi untuk mencegah kehilangan darah. Kondisi ini juga merupakan awal terjadinya haemostasis sedangkan fagositosis terjadi pada fase akhir dari fase inflamasi ini.a. color. mengkilat. rubor. pembuluh darah yang baru. Fase proliferasi or epitelisasi Terjadi pada hari 3 – 14. proses epitelisasi ini terjadi pada 48 jam pertama. fase ini juga disebut juga dengan fase granulasi o. Proses epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama ditandai dengan penebalan lapisan epidermis pada tepian luka. b. Pada luka insisi.

c.c. Tanda-tanda infeksi 5. colloid osmotic pressure – oedema). PENGKAJIAN LUKA a. granulating tissue (red). Kondisi luka 1. kadar albumin Status vascular : seperti Hb . VI. Keadaan kulit sekitar luka : warna dan kelembaban 6. necrotic tissue (black). epithelialising (pink) 2. kadar albumin darah (‘building blocks’ for repair. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYEMBUHAN LUKA Status Imunologi. Hasil pemeriksaan laboratorium yang mendukung b. infected tissue (green). kadar gula darah (impaired white cell function. Pada fase ini akan terbentuk jaringan kolagen yang baru yang mengubah bentuk luka serta peningkatan kekuatan jaringan (tensile strength). Lokasi ukuran dan kedalaman luka 3. suplai oksigen dan vaskularisasi. hidrasi (slows metabolism). corticosteroids (depress immune function). nyeri (causes vasoconstriction). Status nutrisi klien : BMI. Fase maturasi atau remodelling Fase ini berlangsung dari beberapa minggu sampai dengan 2 tahun. Jaringan parut (scar tissue) yang tumbuh sekitar 5080% sama kuatnya dengan jaringan sebelumnya. V. Warna dasar luka Dasar pengkajian berdasarkan warna yang meliputi : slough (yellow). nutritisi. Pada fase ini juga terdapat pengurangan secara bertahap pada aktivitas selular and vaskularisasi jaringan yang mengalami perbaikan. Eksudat dan bau 4.

Kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang dikeluarkan oleh luka (absorbing) 2. 1999. Revolusi dalam perawatan luka ini dimulai dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh Professor G.D Winter pada tahun 1962 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tentang keadaan lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka. 4. Dalam keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang lebih pembentukan pembuluh darah dengan lebih cepat. Status imunitas: terapi kortikosteroid atau obat-obatan immunosupresan yang lain Penyakit yang mendasari : diabetes atau kelainan vaskularisasi lainnya VII. Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan lebih cepat oleh netrofil dan sel endotel dalam suasana lembab. Mempercepat terjadinya pembentukan sel aktif. 5. 6. 3. Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum corneum dan angiogenesis. Ovington. Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration) Melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan 5. dimana produksi komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam lingkungan yang lembab. Menurut Gitarja (2002). Kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resiko terjadinya kontaminasi mikroorganisme (non viable tissue removal) 3. . PERENCANAAN a. invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag. Mempercepat pembentukan Growth factor. adapun alasan dari teori perawatan luka dengan suasana lembab ini antara lain: 1. Pada keadaan lembab. Pada dasarnya prinsip pemilihan balutan yang akan digunakan untuk membalut luka harus memenuhi kaidah-kaidah berikut ini: 1. Pemilihan Balutan Luka Balutan luka (wound dressings) secara khusus telah mengalami perkembangan yang sangat pesat selama hampir dua dekade ini. Mempercepat fibrinolisis. 1999). Mempercepat angiogenesis. Kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering. monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini. Menurunkan resiko infeksi 4. e. 2. Kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke seluruh bagian luka (Hartmann.d.

eksudat banyak Contoh: Tegaderm. Film Dressing • • • • • • • Semi-permeable primary atau secondary dressings Clear polyurethane yang disertai perekat adhesive Conformable. Alginate • • • • • • • • • 4. luka insisi Kontraindikasi : luka terinfeksi. Hydrocolloid • • • • • • • 3. Sorbsan Polyurethane Non-adherent wound contact layer Highly absorptive Semi-permeable Jenis bervariasi Adhesive dan non-adhesive Indikasi : eksudat sedang s. eksudat minimal Kontraindikasi : luka yang terinfeksi atau luka grade III-IV Contoh: Duoderm extra thin. low exudate. gelatin. Op-site. carboxymethylcellulose dan elastomers Support autolysis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough Occlusive –> hypoxic environment untuk mensupport angiogenesis Waterproof Indikasi : luka dengan epitelisasi. Comfeel Terbuat dari rumput laut Membentuk gel diatas permukaan luka Mudah diangkat dan dibersihkan Bisa menyebabkan nyeri Membantu untuk mengangkat jaringan mati Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita Indikasi : luka dengan eksudat sedang s.b.d berat Kontraindikasi : luka dengan jaringan nekrotik dan kering Contoh : Kaltostat. Mefilm Pectin. Jenis-jenis balutan dan terapi alternative lainnya 1.d berat 2. Sorbalgon. Hydrocoll. Foam Dressings • • • • • • • . anti robek atau tergores Tidak menyerap eksudat Indikasi : luka dgn epitelisasi.

Tielle. Versiva Zinc Oxide (ZnO cream) Madu (Honey) Sugar paste (gula) Larvae therapy/Maggot Therapy Vacuum Assisted Closure Hyperbaric Oxygen 5. Luka terinfeksi • • • • • • D. metronidazole gel (0. jaga kelembaban luka Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat • . hydrofibre. alginates dan hydrofibre dressings B. bau dan mempercepat penyembuhan luka Identifikasi tanda-tanda klinis dari infeksi pada luka Wound culture – systemic antibiotics Kontrol eksudat dan bau Ganti balutan tiap hari Hydrogel.• • Kontraindikasi : luka dengan eksudat minimal.75%). Luka Nekrotik • • • • Bertujuan untuk melunakan dan mengangkat jaringan nekrotik (eschar) Berikan lingkungan yg kondusif u/autolisis Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat Hydrogels. Terapi alternatif • • • • • • VIII. alginate. carbon dressings. melindungi jaringan yang baru. hydrocolloids. Luka dengan eksudat & jaringan nekrotik (sloughy wound) • • • • • Bertujuan untuk melunakkan dan mengangkat jaringan mati (slough tissue) Sel-sel mati terakumulasi dalam eksudat Untuk merangsang granulasi Mengkaji kedalaman luka dan jumlah eksudat Balutan yang dipakai antara lain: hydrogels. Lyofoam. hydrocolloid dressing Bertujuan untuk mengurangi eksudat. silver dressings C. Allevyn. jaringan nekrotik hitam Contoh : Cutinova. IMPLEMENTASI A. Luka Granulasi • Bertujuan untuk meningkatkan proses granulasi.

alginates Bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk “re-surfacing” Transparent films. foams. Luka epitelisasi • • • F. Balutan kombinasi • • • .d berat : extra absorbent foam atau extra absorbent alginate + foam atau hydrofibre + foam atau cavity filler plus foam. E. hydrocolloids Balutan tidak terlalu sering diganti Untuk hidrasi luka : hydrogel + film atau hanya hydrocolloid Untuk debridement (deslough) : hydrogel + film/foam atau hanya hydrocolloid atau alginate + film/foam atau hydrofibre + film/foam Untuk memanage eksudat sedang s.• • • Moist wound surface – non-adherent dressing Treatment overgranulasi Hydrocolloids.

daerah tumit dan siku. bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. B.5oC dibandingkan kulit sekitarnya dan akan sembuh dalam perawatan sekitar 6 minggu. Ulkus ini terjadi . Dinegara-negara maju. bagian bawah dari tubuhlah yang terutama beresiko tinggi dan membutuhkan perhatian khsus.ULKUS DEKUBITUS A. dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada penderita lanjut usia. 1. Dekubitus merupakan suatu hal yang serius. prosentase terjadinya dekubitus mencapai sekitar 11% dan terjadi dalam dua minggu pertama dalam perawatan. Definisi Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit. daerah trokanter mayor dan spina ischiadica superior anterior. Tipe Ulkus Dekubitus Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari suatu ulkus dekubitus dan perbedaan temperatur dari ulkus dengan kulit sekitarnya. Walaupun semua bagian tubuh mengalami dekubitus. Usia lanjut mempunyai potensi besar untuk terjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia antara lain: • • • Berkurangnya jaringan lemak subkutan Berkurangnya jaringan kolagen dan elastin Menurunnya efesiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh. dekubitus dapat dibagi menjadi tiga. misalnya daerah sakrum. Area yang biasa terjadi dekubitus adalah tempat diatas tonjolan tulang dan tidak dilindungi oleh cukup dengan lemak sub kutan. Tipe normal Mempunyai beda temperatur sampai dibawah lebih kurang 2.

Keadaan ini terjadi bila penderita immobil. Seorang yang terpaksa berbaring bermingguminggu tidak akan mengalami dakubitus selama dapat mengganti posisi beberapa kali perjammnya. ulkus ini diharapkan sembuh dalam 16 minggu. Selain faktor tekanan. ada beberapa faktor mekanik tambahan yang dapat memudahkan terjadinya dekubitus. Tipe terminal Terjadi pada penderita yang akan meninggal dunia dan tidak akan sembuh.karena iskemia jaringan setempat akibat tekanan. Tipe arterioskelerosis Mempunyai beda temperatur kurang dari 1oC antara daerah ulkus dengan kulit sekitarnya. Percobaan pada binatang didapatkan bahwa sumbatan total pada kapiler masih bersifat reversibel bila kurang dari 2 jam. Tetapi sebagai contoh bila seorang penderita immobil/terpancang pada tempat tidurnya secara pasif dan berbaring diatas kasur busa maka tekanan daerah sakrum akan mencapai 60-70 mmHg dan daerah tumit mencapai 30-45 mmHg. Upaya ini hanya akian mencegah pergerakan dari kulit. Keadaan ini menunjukkan gangguan aliran darah akibat penyakit pada pembuluh darah (arterisklerotik) ikut perperan untuk terjadinya dekubitus disamping faktor tekanan. Faktor teragannya kulit akibat daya luncur antara tubuh dengan alas tempatnya berbaring akan menyebabkan terjadinya iskemia jaringan setempat. misalnya bantal kecil/balok kayu pada kedua telapak kaki. apalagi keadaannya basah. bila tekanan padanya masih berkisar pada batas-batas tersebut. 3. • • Faktor teregangnya kulit misalnya gerakan meluncur ke bawah pada penderita dengan posisi dengan setengah berbaring Faktor terlipatnya kulit akiab gesekan badan yang sangat kurus dengan alas tempat tidur. yang sekarang terfiksasi dari alas. Kulit akan tetap utuh karena sirkulasi darah terjaga. Ada kecenderungan dari tubuh untuk meluncur kebawah. Sering kali hal ini dicegah dengan memberikan penhalang. tetapi pada posisi setengah duduk. sehingga seakan-akan kulit “tertinggal” dari area tubuh lainnya. tetapi aliran darah dan pembuluhpembuluh darah sebenarnya baik. tidak dibaringkan terlentang mendatar. C. 2. Akibatnya terjadi garis-garis penekanan/peregangan pada . Tekanan akan menimbulkan daerah iskemik dan bila berlanjut terjadi nokrosis jaringan kulit. Patofisiologi Terjadinya Dekubitus Tekanan daerah pada kapiler berkisar antara 16 mmHg-33 mmHg. Dengan perawatan. tetapi rangka tulang tetap cederung maju kedepan.

a. Kemampuan sistem kardiovaskuler yang menurun dan sistem arteriovenosus yang kurang kompeten menyebabkan penurunan perfusi kulit secara progresif. penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah. Lipatan-lipatan kulit yang terjadi ini dapat menarik/mengacaukan (distorsi) dan menutup pembuluh-pembuluh darah. underweight atau kebalikannya overweight Anemia Hipoalbuminemia yang mempermudah terjadinya dekubitus dan memperjelek penyembuhan dekubitus. Tenaga menggunting ini disebut Shering Forces. dan akan terjadi penutupan arteriole dan arteri-arteri kecil akibat terlalu teregang bahkan sampai robek. pergerakan dari tubuh diatas alas tempatnya berbaring. Faktor Intrinsik • • • • Selama penuaan. Faktor Ekstrinsik . Semua inidapat menyebabkan nekrosis jarigan akibat lebih terganggunya aliran darah kapiler. sebaliknya bila ada dekubitus akam menyebabkan kadar albumin darah menurun • • Penyakit-penyakit neurologik. juga mempermudah dan meperjelek dekubitus Keadaan hidrasi/cairan tubuh perlu dinilai dengan cermat. • • • Status gizi. b. Sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti DM yang menunjukkan insufisiensi kardiovaskuler perifer dan penurunan fungsi kardiovaskuler seperti pada sistem pernapasan menyebabkan tingkat oksigenisasi darah pada kulit menurun. masih harus diperhatikan terjadinya kerusakan edotil. Sebagai tambahan dari shering forces ini. Faktor tubuh sendiri (faktor intrinsik) juga berperan untuk terjadinya dekubitus antara lain. penumpukan trombosit dan edema.jaringan subkutan yang sekan-akan tergunting pada tempat-tempat tertentu. regenerasi sel pada kulit menjadi lebih lambat sehingga kulit akan tipis (tortora & anagnostakos. 1990) Kandungan kolagen pada kulit yang berubah menyebabkan elastisitas kulit berkurang sehingga rentan mengalami deformasi dan kerusakan. Kerusakan endotil juga menyebabkn pembuluh darah mudah rusak bila terkena trauma. dengan fiksasi kulit pada permukaan alas akan menyebabkan terjadinya lipatan-lipatan kulit (skin folding). Sebagai tambahan dari efek iskemia langsung dari faktor-faktor diatas. Terutama terjadi pada penderita yang kurus dengan kulit yang kendur.

atau peralatan medik yang menyebabkan penderita terfiksasi pada suatu sikap tertentu juga memudahkan terjadinya dekubitus. degan tepi yang jelas dan perubahan warna Derajat III pigmen kulit. misalnya pada penderita yang immobil dan konfusio. terutama dibagian kulit yang ada pada tonjolan-tonjolan tulang. Pengelolaan Dekubitus Pengelolaan dekubitus diawali dengan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya dekubitus dengan mengenal penderita risiko tinggi terjadinya dekubitus. Penampilan Klinis Dari Dekubitus Karakteristik penampilan klinis dari dekubitus dapat dibagi sebagai berikut. Derajat I Derajat II Reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. E. Perluasan ulkus menembus otot. Ulkus menjadi lebih dalam. meliputi jaringan lemak subkutan dan menggaung. dengan memandikan setiap hari. berbatasan dengan fascia dari otot-otot. Mengingat patofisiologi terjadinya dekubitus adalah penekanan pada daerah-daerah tonjolan tulang.• • • • • Kebersihan tempat tidur. Skor dibawah 14 menunjukkan adanya risiko tinggi untuk terjadinya dekubitus. Sudah mulai didapat infeksi dengan jaringan nekrotik yang Derajat IV berbau. harusla diingat bahwa kerusakan jaringan dibawah tempat yang mengalami dekubitus adalah lelih luas dari ulkusnya. Dengan evaluasi skor ini dapat dilihat perkembangan penderita Tindakan berikutnya adalan menjaga kebersihan penderita khususnya kulit. tampak sebagai ulkus yang dangkal. Usaha untuk meremalkan terjadinya dekubitus ini antara lain dengan memakai sistem skor Norton. alat-alat tenun yang kusut dan kotor. Sesudah keringkan dengan baik lalu digosok dengan lotion. Reaksi yang lebih dalam lagi sampai mencapai seluruh dermis hingga lapisan lemah subkutan. hingga tampak tulang di dasar ulkus yang dapat mengakibatkan infeksi pada tulang atau sendi. tampak sebagai daerah kemerahan/eritema indurasi atau lecet. Sebaiknya diberikan . Duduk yang buruk Posisi yang tidak tepat Perubahan posisi yang kurang D.

F. Alih posisi/alih baring/tidur selang seling. 2. Tindakan selanjutnya yang berguna baik untuk pencegahan maupun setelah terjadinya dekubitus adalah: 1. bahkan .massase untuk melancarkan sirkulasi darah. Kasur khusus untuk lebih memambagi rata tekan yang terjadi pada tubuh penderita. diberi lotion. umum. tubuh penderita. “kue donat” untuk tumit. apakah ditidurkan rata pada tempat tidurnya. • • • Menjaga posisi penderita. nutirisi dan hidarasi yang cukup. Derajat Dekubitus Bila sudah terjadi dekubitus. kasur dengan gelembung tekan udara yang naik turun. Dekubitus derajat I Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. coba mengatasi/mengoabati penyakit-penyakit yang ada pada penderita. hipoalbuminemia dikoreksi. dapat dikurangi antara lain. a. Meningkatkan status kesehatan penderita. atau Bantuan balok penyangga kedua kaki. kasur air yang temperatur airnya dapat diatur. misalnya. paling lama tiap dua jam. vitamin (vitamin C) dan mineral (Zn) ditambahkan. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran darah. Regangan kulit dan lipatan kulit yang menyebabkan sirkulasi darah setempat terganggu. misalnya DM. misalnya anemia diatasi. khusus. tentukan stadium dan tindakan medik menyesuaikan apa yang dihadapi: 1. Diluar negeri sering digunakan kulit domba dengan bulu yang lembut dan tebal sebagai alas tubuh penderita. Keberatan pada cara ini adalah ketergantungan pada tenaga perawat yang kadang-kadang sudah sangat kurang. b. semua ekskreta/sekreta harus dibersihkan dengan hati-hati agari tidak menyebabkan lecet pada kulit penderita. dan kadang-kadang mengganggu istirahat penderita menyakitkan. kulit yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun. memperbaiki dan menjaga keadaan umum penderita. bantal-bantal kecil utuk menahan sudah memungkinakan untuk duduk dikursi. (keberatan alat canggih ini adalah harganya mahal. perawatannya sendir harus baik dan dapat ruasak) c.

Antibiotik sistemik mungkin diperlukan. Daerah bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk meransang sirkulasi. secara alami dapat . Dapat diberikan salep topikal. menggaung sampai pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi. Tindakan dengan ultrasono untuk membuka sumbatan-sumbatan pembuluh darah dan sampai pada transplantasi kulit setempat. Dekubitus derajat II Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal. karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit. 3. sebaba akan menghalangi pertumbuhgan jaringan/epitelisasi. dibanding tindakan bedah yang juga merupakan alternatif lain. Dekubitus derajat IV Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula diserta jaringan nekrotik. Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk masukknya udara/oksigen dan penguapan. Perawatan luka harus memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Dekubitus derajat III Dengan ulkus yang sudah dalam. penggantian balut dan salep ini jangan terlalu sering karena malahan dapat merusakkan pertumbuhan jaringan yang diharapkan. Semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik yang adal harus dibersihkan . Usahakan luka selalu bersih dan eksudat disusahakan dapat mengalir keluar.kemudian dimassase 2-3 kali/hari. Setelah jaringan nekrotik dibuang danluka bersih. dengan tujuan mengurangi perdarahan. Angka mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat mencapai 40%. 2. Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis. penyembuhan luka diharapkan. Kelembaban luka dijaga tetap basah. 4. Beberapa preparat enzim coba diberikan untuk usaha ini. mungkin juga untuk meransang tumbuhnya jaringan muda/granulasi. Beberapa usaha mempercepat adalah antara lain dengan memberikan oksigenisasi pada daerah luka.

Kadang-kadang .Tidak .Hanya bisa duduk .Bergerak bebas .Tiduran Mobilitas : .Baik .Lumayan .Ambulan dengan bantuan .Stupor/Koma Aktivitas : .SKOR NORTON UNTUK MENGUKUR RISIKO DEKUBITUS.Komposmentis .Sering Inkontinentia urin .Sangat buruk Kesadaran: .Ambulan .Apatis .Sangat terbatas .Tak bisa bergerak Inkontinensia : .Sedikit terbatas .Konfus/Soporis .Buruk .Sering Inkontinentia alvi dan urin skor total SKOR 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 TANGGAL resiko dekubitus jika skor total ≤ 14 . NAMA PENDERITA Kondisi fisik umum: .

d. Alat-alat tidak steril o Perlak dan pengalas . Perawatan Luka Dekubitus a.G. Tujuan 1. Melindungi luka dari kontaminasi 4. Indikasi Luka dekubitus atau luka kronik kronik lainnya seperti luka venous. Pengertian Merawat luka untuk mempercepat proses penyembuhan luka b. Mencegah terjadinya infeksi lanjutan c. Alat-alat steril o Pinset anatomois 1 buah o Pinset cirugis 1 buah o Gunting bedah/jaringan 1 buah o Kassa steril dalam kom tertutp secukupnya o Sarung tangan steril 1 pasang o Infus set yang sudah dimodifikasi ( bila diperlukan) o Korentang 2. Tahap Pra Interaksi Persiapan Alat 1. diabetik. Merangsang pertumbuhan jaringan 3. arteri. Meningkatkan penyembuhan luka 2.

o Plester o Gunting perbanSarung tangan tidak steril pasang o Masker o Air hangat o anti septic o Lampu sollux (bila diperlukan) o Nierbeken 2 buah o Normal saline / NaCl 9% o Obat/ zalf sesuai instruksi dokter e. Perawat cuci tangan 3. Kaji luka dekubitus dan kulit sekitar untuk menentukan derajat luka . letakkan balutan kotor ke neirbeken lalu buang kekantong plastic. menit Cuci kulit sekitar luka dengan lembut dengan air hangat dan sabun. Pasang sampiran 2. Pasang masker dan sarung tangan yang tidak steril 4. Tahap Interaksi / Pelaksanaan 1. Buka balutan lama (hati-hati jangan sampai menyentuh luka). kelembapan dan penampilan kulit sekitar luka . Letakkan neirbeken didekat pasien 7. 3. Jelaskan pada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan f. 4.ukur kedalaman luka 9.perhatikan warna. Tahap Orientasi 1. Baringkan pasien dengan nyaman dengan area dekubitus dan kulit sekitar mudah diskses 5. 2. Letakkan perlak dan pengalasnya dibawah area luka 6. dengan kassa cuci secara menyeluruh dan menggosok sekeliling luka secara bergantian selama 1 – 2 . 8. hindari kontaminasi dengan permukaan luar wadah. Memberikan salam Memanggil klien dengan nama kesukaan Memperkanalkan nama perawat Informed consent.ukur diameter yang dapat diperkirakan .

24. usahakan bagian yang luka tidak terjadi penekanan Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk melakukan perubahan posisi minimal Buka sarung tangan dan letakan kedalam neirbeken Buka masker Rapikan alat – alat Buka sampiran Perawat mencuci tangan Tutup luka dengan kassa steril yang telah dibasahi dengan menggunakan normal setiap 1 jam sekali g. 23. Bagian kulit yang baik/ belum terkena dekubitus atau terdapat luka dekubitus derajat I dapat digosok dengan menggunakan lation dan dimassage dengan teknik back rub secara melingkar lalu diberi talk tipis – tipis 21. lanjutkan balut luka dengan menggunakan elastis verban) 20. kering 11. Tanyakan perasaan pasien setelah dilakukan perwatan luka . Tahap Terminasi dan Dokumentasi 29. Angkat perlak Ubah posisi pasien. Bagian luka yang basah dapat dikeringkan menggunakan kassa steril Bila ada instruksi dari dokter dapat dilakukan nekrotomy/ debridement pada luka bersihkan luka kembali dengan normal saline dengan cara bathing or shower keringkan luka dengan kassa steril Bagian yang luka diberi obat yang telah ditentukan. (Pada luka venous/ arteri. 17. 22. 16. Dengan perlahan keringkan kulit secara menyeluruh dengan kassa steril yang Buka sarung tangan dan ganti dengan yang steril Bersihkan luka dengan normal saline dengan cara bathing or shower. Jangan mengoleskan pada kulit sekitar luka. (Debridement dat juga dilaksanakan dikamar operasi) menggosok telapak tangan kuat – kuat. 15. saline. 26. 27. Ratakan obat/ zalf dengan yang nekrosis. 19. oleskan zalf dengan tipis secara merata diatas luka dan daerah yang nekrotik. 28. bila terdapat pocket dan pus lakukan irigasi dengan menggunakan infus set steril yang sudah dimodifikasi. 25. 18. 14.10. 12. Kemudian diberi lapisan lagi menggunakan kassa steril tebal dan diplester dengan baik. 13.

Yuda.net/david1980/luka-wound-healing-dr-yuda-umm : Malang Purwahyudi.slideshare. Jakarta : EGC Universitas Ismail. Maya J. Ari.slideshare.com/attachment/0/RDd@AoKCEMAADk5LMI1/Merawat%20luka.30. respon pasien. (2010).pdf?nmid=88915450: Jakarta Handaya. Luka Wound Healing Dr Yuda Umm. Dalam perawatan luka perhatikan sirkulasi udara dalam ruangan 5.scribd.http://www. (2009). Jaringan yang nekrosis lakukan nekrotomy 2. Seri Pedoman Praktis : Manajemen Luka. laporkan bila adanya penyimpangan pada luka atau bila terjadi infeksi. (2009) . Pada penderita yang alergi terhadap plester.mailmkes. . gunakan plester khusus 4. Perhatikan prinsip sterilitas 3. Catat hasil tindakan. Luka dan Perawatannya http://images. (2003). Perawatan Dekubitus. Konsep Dasar Luka. lingkungan sekitar pasien harus bersih DAFTAR PUSTAKA Morison. HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN 1. (2008) .http://www.com/doc/24539593/KONSEP-DASAR-LUKA : Jakarta .net/aripurwahyudi/perawatan-dekubitus-3617137 Yusuf.multiplycontent.hasil pengkajian keadaan luka. http://www. Saldi.multiply.

Manajemen Perawatan Luka Modern.ac. http://blogs. (2010). Hana.html/ Disusun Oleh : TIARA AMBAR WULAN .unpad.Rizmadewi.id/hana/uncategorized/manajemen-perawatan-luka-modern.

0611049 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful