P. 1
Minyak Goreng Bentonit

Minyak Goreng Bentonit

|Views: 5,623|Likes:
Published by Ryo VanNo

More info:

Published by: Ryo VanNo on Oct 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Perumusan Masalah
  • 1.3 Tujuan Penelitian
  • 1.4 Batasan Penelitian
  • 1.5 Manfaat Penelitian
  • 2.1 Pemanfaatan Tanaman dalam Perspektif Islam
  • 2.2 Tanaman kelor
  • 2.3 Minyak goreng
  • 2.3.1. Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit
  • 2.3.2 Warna
  • 2.3.3 Kerusakan Minyak
  • Tabel 2.4 Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002)
  • Tabel 2.5 Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995
  • 2.4 Mineral Lempung
  • 2.4.1 Bentonit
  • 2.4.2 Montmorillonit
  • Tabel 2.6 Sifat-sifat tanah liat
  • Gambar 2.6 Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral
  • Gambar 2.7 Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral
  • Gambar 2.8 susunan atom-atom dalam oktahedral
  • Gambar 2.9 Lembaran oktahedral (OH)6-Al4-(OH)2-O4
  • 2.4.3 Pertukaran Ion
  • 2.4.4 Pertukaran Kation
  • 2.4.5 Aktivasi montmorillonit
  • 2.5 Pemurnian Minyak Goreng
  • 2.5.1 Penghilangan Bumbu (Despicing)
  • 2.5.2 Netralisasi
  • 2.5.3 Pemucatan (bleaching)
  • 2.6 Adsorpsi
  • Tabel 2.7 Adsorpsi Fisika dan Adsorpsi Kimia
  • 2.7 Karbon aktif
  • 2.7.1 Aktivasi Karbon Aktif
  • 2.9 Analisis FFA dengan Metode Titrasi Asam Basa
  • 2.10 Penentuan Angka Peroksida dengan Titrasi Iodin
  • 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
  • 3.2 Bahan
  • 3.2.1 Sampel
  • 3.2.2 Bahan Kimia
  • 3.3 Alat
  • 3.4 Tahapan Penelitian
  • 3.5 Cara Kerja
  • 3.5.6 Penentuan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid) (AOAC, 1990)
  • 4.1 Pembuatan Karbon Aktif dari Biji Kelor
  • 4.1.1 Proses Karbonisasi Biji Kelor
  • 4.1.2 Proses Aktivasi Biji Kelor
  • 4.3 Pemurnian Minyak Goreng Bekas
  • 4.3.1 Proses Despicing
  • 4.3.2 Proses Netralisasi
  • Gambar 4.1 Reaksi Asam Lemak Bebas dengan NaOH
  • Gambar 4.2 Stabilisasi resonansi asam karboksilat
  • Gambar 4.3 Mekanisme reaksi asam lemak bebas dengan NaOH
  • 4.4 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)
  • Gambar 4.4 Pengaruh perlakuan terhadap kadar FFA
  • Gambar 4.5 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar
  • 4.4.8 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan asam lemak bebas
  • Gambar 4.7 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar
  • 4.5 Perubahan Angka Peroksida
  • Gambar 4.9 Reaksi Pembentukan Peroksida Pada Asam Lemak Oleat
  • Gambar 4.10 Mekanisme reaksi pembentukan peroksida pada asam oleat
  • Gambar 4.11 Pengaruh Adsorben Terhadap Nilai Angka Peroksida
  • Gambar 4.12 Reaksi Iodometri selama proses analisis Angka Peroksida
  • 4.5.8 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan Angka Peroksida
  • Gambar 4.15 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar
  • Tabel 4.4 Warna minyak goreng baru, bekas dan hasil reprosessing
  • 4.6.1 Warna Cerah (L)
  • 4.6.2 Warna Merah (a*)
  • 5.1 Kesimpulan
  • 5.2 Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN-LAMPIRAN

PENINGKATAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS DENGAN

METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN BENTONIT – KARBON
AKTIF BIJI KELOR (Moringa oleifera. Lamk)


SKRIPSI

Oleh :
Nila Istighfaro
NIM. 03530006























JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010

PENINGKATAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS DENGAN
METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN BENTONIT – KARBON
AKTIF BIJI KELOR
(Moringa oleifera. Lamk)



SKRIPSI



Diajukan Kepada:
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)




Oleh:
Nila Istighfaro
NIM: 03530006







JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2010
SURAT PERNYATAAN
ORISINALITAS PENELITIAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Nila Istighfaro
NIM : 03530006
Fakultas / Jurusan : Sains da Teknologi / Kimia
Judul Penelitian : Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan
Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit – Karbon Aktif
Biji Kelor (Moringa oleífera. Lamk)

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini
tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang
pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip
dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan,
maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai
peraturan yang berlaku.





Malang, 16 Juni 2010
Yang Membuat Pernyataan,



Nila Istighfaro
NIM.03530006

"PERSEMBAHAN"

“Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan”
(QS. Al-Hadiid:20)

“Siapa berjalan mencari ilmu pasti Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga “
(HR. Muslim)
“Dunia adalah sekumpulan kesan yang diciptakan
untuk menguji manusia (Harun Yahya)


Dengan Mengucapkan Rasa Syukur Kehadirat Ilahi Robbi
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penolong
Semoga Ridho-Nya selalu Mengiringi setiap Langkah Hidupku
Sehingga Kesuksesan dan Kebahagian
Menjadi Akhir dari semua Perjuangan yang mesti Kutempuh


Kupersembahkan Karya Sederhana ini untuk...............


Kedua Orang tuaku, ayahanda M Andri Zaini dan Ibunda Mudawamah
Yang senantiasa mengeringi langkahku dengan Do’a dan kasih sayangnya
Sungguh Kasih Sayang Kalian sangat Berarti dalam Hidupku

Suamiku tercinta ”Bahtiar Yulianto”
dan Buah Hatiku Tersayang ”Aika Zulfa Syarifah”
yang selalu mendampingiku dalam mengaruhi hidup.
Pengorbanan kalian sangat berarti..
Moga Aika jadi anak yang sholehah,cerdas & kuat.

Adikku tersayang Adib Syaifullah
dan Seluruh Keluarga Besarku (Mas Irham, Mba’ Ayu,
Mas Agus, Mba’ Novi, De’Wawan,
De’ Nita, De’ Riha) yang selalu mendukung dalam meraih cita2.
Tiadah Hadiah yang Terindah selain Kasih Sayang Kalian

Bapak dan Ibuguruku, yang selalu menjadi Pahlawan dalam Studyku
Karenamu Aku bisa Mewujudkan Harapan dan Cita-citaku

Seluruh Saudara N sahabat_q yang senantiasa mendoakan
demi kelancaran dan kesuksesan dalam menggapai cita.

Tiada Kata Yang Bisa Terucap Selain Do’a
Semoga Segala Amal Kalian Semua Dibalas oleh Allah SWT
Amien..................
MOTTO




"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “ (Ali Imron, ayat 191)

































Semangat yang kuat, do’a yang tiada henti ,
keikhlasan dan keridhoan
Adalah pintu menuju kesuksesan



i

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Maha Besar Allah Swt. yang telah memberikan kemudahan bagi umat
manusia untuk menguak misteri dalam setiap rahasia yang diciptakan-Nya, guna
menunjukkan betapa kuasanya Allah terhadap segala jenis makhluk-Nya. Rahasia
itu menjadi ladang bagi umat manusia untuk menuai hikmah dan makna selama
rentang kehidupan yang singkat. Segala puji syukur kehadirat Allah yang telah
memberikan rahmat, hidayah dan kemudahan yang selalu diberikan kepada
hamba-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ”
Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan Metode Adsorpsi
Menggunakan Bentonit – Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleifera. Lamk)”
sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains.
Sholawat dan salam kepada Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi
panutan bagi umat di dunia. Dialah Nabi akhir zaman, revolusioner dunia, yang
telah merubah kejahiliahan menuju shirothol mustaqim, ya’ni agama Islam.
Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Untuk itu, iringan doa dan ucapan
terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada :
1. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN MALIKI Malang beserta
stafnya, terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama kuliah di UIN
Malang.

ii

2. Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, S.U., D.Sc., selaku Dekan Fakultas
Sains dan Teknologi UIN MALIKI Malang.
3. Diana Chandra Dewi, M.Si., selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi UIN MALIKI Malang.
4. Eny Yulianti, M.Si, Anton Prasetyo, M.Si, dan Munirul Abidin, M.Ag, selaku
dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran, ketelatenan dan keikhlasan
di tengah-tengah kesibukannya meluangkan waktu untuk memberikan
bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Diana Chandra Dewi, M.Si, dan Akyunul Jannah, S.Si, MP, selaku penguji
yang banyak memberikan masukan saran dan kritik konstruktif.
6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi yang telah
banyak mengamalkan ilmunya.
7. Moh. Taufik, S.Si., Moh. Kholid Al-Ayubi, S.Si., dan Zulkarnain, S.Si., selaku
Laboran Kimia UIN Malang.
8. Koordinator Laboratorium Kimia Fisika, Teknik Hasil Pertanian (THP)
Universitas Brawijaya atas kesediaannya memberikan tempat penelitian dan
meminjamkan segala peralatannya.
9. Ayah dan ibuku yang dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan telah
mengasuh, membesarkan dan membiayai baik materiil maupun spiritual,
mendidikku, memberikan dukungan, nasehat serta dengan penuh kesabaran
mengalirkan doa-doanya untuk kebahagiaan dan kesuksesan putri tercintanya
baik di dunia maupun di akhirat

iii

10. Suamiku tercinta “Bahtiar Yulianto” yang dengan penuh kesabaran dan
keikhlasan memberikan dukungan baik materiil maupun spirituil, saran,
nasihat, waktu, pengorbanan dan doanya disetiap saat
11. Anakku tersayang “Aika Zulfa Syarifah” yang selalu menghibur dalam suka
dan duka.
12. Teman-teman Chemistry dan semua pihak yang telah banyak membantu
penulis baik secara langsung maupun tidak langsung demi terselesainya
skripsi ini.
Tiada kata dan ungkapan yang lebih berharga yang bisa penulis sampaikan
kecuali do’a dan ucapan banyak terima kasih, kepada semua pihak atas segala
bantuan, kerja sama dan dukungannya. Semoga apa yang kita kerjakan dapat
bermanfaat dan menjadi amal di sisi Allah SWT serta mendapat imbalan yang
semestinya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam
penyusunan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Amien Ya Robbal’alamin !
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Malang, 16 Juni 2010

Penulis




iv

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... x
ABSTRAK ......................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang. .......................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah. .................................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................................... 6
1.4 Batasan Penelitian. ..................................................................................... 7
1.5 Manfaat Penelitian .................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 8
2.1 Pemanfaatan tanaman dalam perspektif Islam ......................................... 8
2.2 Tanaman Kelor ....................................................................................... 13
2.3 Minyak Goreng ....................................................................................... 17
2.3.1 Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit ................................................. 18
2.3.2 Warna ...................................................................................................... 23
2.3.3 Kerusakan minyak .................................................................................. 24
2.4 Mineral Lempung ................................................................................... 28
2.4.1 Bentonit .................................................................................................. 30
2.4.2 Montmorillonit ........................................................................................ 32
2.4.3 Pertukaran ion ......................................................................................... 37
2.4.4 Pertukaran kation .................................................................................... 37
2.4.5 Aktivasi montmorillonit ......................................................................... 38
2.5 Pemurnian Minyak Goreng ..................................................................... 40
2.5.1 Penghilangan bumbu (despicing) ........................................................... 41
2.5.2 Netralisasi ............................................................................................... 41
2.5.3 Pemucatan (bleaching) ........................................................................... 42
2.6 Adsorpsi .................................................................................................. 43
2.7 Karbon Aktif ........................................................................................... 48
2.7.1 Aktivasi Karbon Aktif ........................................................................... 50
2.8 Kolom ..................................................................................................... 53
2.9 Analisis FFA dengan Metode Titrasi Asam Basa ................................... 54
2.10 Penentuan Angka Peroksida dengan Titrasi Iodin .................................. 56


v

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 57

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................. 57
3.2 Bahan ...................................................................................................... 57
3.2.1 Sampel .................................................................................................... 57
3.2.2 Bahan Kimia ........................................................................................... 57
3.3 Alat ......................................................................................................... 57
3.4 Tahapan Penelitian .................................................................................. 58
3.5 Cara Kerja ............................................................................................... 59
3.5.1 Preparasi Biji Kelor ................................................................................ 59
3.5.2 Preparasi Bentonit ................................................................................... 59
3.5.3 Proses penghilangan bumbu (despicing) ................................................ 60
3.5.4 Proses netralisasi ..................................................................................... 60
3.5.5 Analisis warna dengan color reader ....................................................... 61
3.5.6 Penentuan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid) ................................. 61
3.5.7 Penentuan Angka Peroksida ................................................................... 62
3.5.8 Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji
kelor dan bentonit ................................................................................... 62

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 64
4.1 Pembuatan Karbon Aktif dari Biji Kelor ................................................ 64
4.1.1 Proses Karbonisasi Biji Kelor ................................................................. 65
4.1.2 Proses Aktivasi Biji Kelor ...................................................................... 66
4.2 Preparasi Bentonit ................................................................................... 67
4.3 Pemurnian Minyak Goreng Bekas .......................................................... 69
4.3.1 Proses Despicing ..................................................................................... 70
4.3.2 Proses Netralisasi .................................................................................... 72
4.3.3 Proses Bleaching ..................................................................................... 74
4.4 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) ........................................ 77
4.4.1 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah
berinteraksi dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor ......................... 79
4.4.2 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi
dengan Adsorben Bentonit Teraktivasi .................................................. 82
4.4.3 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi
dengan Adsorben Campuran ................................................................... 83
4.4.4 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan asam lemak bebas ........... 84
4.5 Perubahan Angka Peroksida ................................................................. 89
4.5.1 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben
Karbon Aktif Biji Kelor .......................................................................... 92
4.5.2 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben
Bentonit teraktivasi ................................................................................. 95
4.5.3 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben
Campuran ................................................................................................ 97
4.5.4 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan Angka Peroksida ............ 98

vi

4.6 Analisis Warna Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Reprosessing . 103
4.6.1 Warna Cerah (L) .................................................................................... 103
4.6.2 Warna Merah (a*) ................................................................................. 105
4.7 Kajian Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam ................................. 106

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 112
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 112
5.2 Saran ......................................................................................................... 113

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 114
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................. 119

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kandungan nutrisi biji kelor ..................................................... 17
Tabel 2.2 Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit .............. 20
Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Tabel Sawit ............ 20
Tabel 2.4 Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002) ... 27
Tabel 2.5 Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995 ..... 28
Tabel 2.6 Sifat-sifat tanah liat ................................................................... 32
Tabel 2.7 Adsorpsi Fisika dan Adsorpsi Kimia ........................................ 48
Tabel 4.1 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru,
minyak goreng bekas dan minyak hasil despicing ................... 71

Tabel 4.2 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru,
minyak goreng bekas dan minyak hasil netralisasi .................. 74

Tabel 4.3 Data hasil percobaan uji pengaruh jenis adsorben terhadap
kualitas Minyak goreng ............................................................ 76

Tabel 4.4 Warna minyak goreng baru, bekas dan hasil reprosessing .... 103
Tabel 4.5 Analisis Angka Peroksida dan Asam Lemak Bebas Pada
Minyak Goreng Bekas ............................................................ 110





viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tanaman kelor .......................................................................... 16
Gambar 2.2 Reaksi Pembentukan Trigliserida ............................................. 19
Gambar 2.3 Struktur Asam Lemak ............................................................... 19
Gambar 2.4 Reaksi Hidrolisis Minyak ......................................................... 26
Gambar 2.5 Reaksi Pembentukan Peroksida ................................................ 27
Gambar 2.6 Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral ...................... 33
Gambar 2.7 Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral .............. 33
Gambar 2.8 Susunan atom-atom dalam oktahedral ...................................... 34
Gambar 2.9 Lembaran oktahedral (OH)
6
-Al
4
-(OH)
2
-O
4
............................. 34
Gambar 2.10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan
alumina 2:1 ............................................................................... 35

Gambar 2.11 Struktur tiga dimensi dari montmorillonit ................................ 36

Gambar 2.12 Reaksi asam lemak bebas dengan NaOH ................................. 42

Gambar 2.13 Gaya Tarik antara Molekul-Molekul Polar .............................. 45

Gambar 2.14 Terjadinya Gaya Dipol-Dipol Induksian .................................. 45

Gambar 2.15 Pembentukan Dipol sesaat pada Molekul Nonpolar ................ 46

Gambar 2.16 Terjadinya gaya London .......................................................... 47

Gambar 4.1 Reaksi Asam Lemak Bebas dengan NaOH .............................. 72

Gambar 4.2 Stabilisasi resonansi asam karboksilat ...................................... 73

Gambar 4.3 Mekanisme reaksi asam lemak bebas dengan NaOH ............... 73

Gambar 4.4 Pengaruh perlakuan terhadap kadar FFA ................................. 78

Gambar 4.5 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ................ 81

ix

Gambar 4.6 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan
Karbon aktif biji kelor .............................................................. 81

Gambar 4.7 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ................ 87

Gambar 4.8 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan karbon
aktif biji kelor ........................................................................... 87

Gambar 4.9 Reaksi Pembentukan Peroksida Pada Asam Lemak Oleat ....... 90

Gambar 4.10 Mekanisme reaksi pembentukan peroksida pada asam Oleat .. 91

Gambar 4.11 Pengaruh Adsorben Terhadap Nilai Angka Peroksida ............. 91

Gambar 4.12 Reaksi Iodometri selama proses analisis Angka Peroksida ...... 92

Gambar 4.13 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ................ 94

Gambar 4.14 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan
Karbon aktif biji kelor .............................................................. 95

Gambar 4.15 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar .............. 101

Gambar 4.16 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan
Karbon aktif biji kelor ............................................................. 102








x

DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1. Diagram Alir ........................................................................... 118
Lampiran 2. Pembuatan Reagen Kimia ...................................................... 123
Lampiran 3. Data Hasil Penelitian .............................................................. 126
Lampiran 4. Skema alat .............................................................................. 134
Lampiran 5. Gambar Proses Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor ............. 135

Lampiran 6. Gambar Proses Despicing (Penghilangan bumbu) ................. 136
Lampiran 7. Gambar Proses Netralisasi dan Bleaching ............................... 137
Lampiran 8. Gambar Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Processing .. 138







xi

ABSTRAK

Istighfaro, Nila. 2010. Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan
Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit – Karbon Aktif Biji Kelor
(Moringa oleifera. Lamk).

Pembimbing Utama : Eny Yulianti, M.Si
Pembimbing Agama : Munirul Abidin, M.Ag


Penggunaan minyak goreng yang berulang-ulang dengan pemanasan pada
suhu tinggi akan menyebabkan terbentuknya berbagai senyawa hasil oksidasi lemak
berupa seyawa alkohol, aldehid, keton, hidrokarbon, ester serta bau tengik yang akan
mempengaruhi mutu dan gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak goreng bekas
merupakan limbah yang dapat diolah kembali dengan proses pemucatan
menggunakan adsorben. Sistem adsorpsi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu :
metode kolom dan metode batch. Metode kolom dipandang lebih efektif karena
kolom yang sudah digunakan dapat diregenerasi kembali. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida, dan
perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi
adsorben karbon aktif biji kelor, bentonit teraktivasi dan campuran dari bentonit
teraktivasi dengan karbon aktif biji kelor.
Penelitian ini meliputi: (1) Pembuatan karbon aktif dari biji kelor dengan
dehidrasi, karbonisasi dilakukan satu tahap dengan cara dipanaskan dalam tanur pada
temperatur 600
o
C selama 3 jam dan aktivasi kimia menggunakan larutan NaCl (2)
Pemurnian minyak goreng bekas dengan cara depicing, netralisasi, bleaching dengan
ketiga jenis adsorben melalui kolom (3) Penentuan angka peroksida, asam lemak
bebas dan warna minyak goreng baru, minyak goreng bekas, hasil despicing,
netralisasi, hasil bleaching pada masing-masing adsorben menggunakan kolom
Hasil penelitian menunjukkan asam lemak bebas pada minyak goreng baru,
bekas, despicing, netralisasi berturut-turut 0,037 %,0,448 %, 0,211 %, 0,148 %.
Angka peroksida pada minyak goreng baru, bekas, despicing, netralisasi berturut-
turut 1,32 meq/kg, 4,58 meq/kg, 4,00 meq/kg, 3,96 meq/kg. Minyak hasil netralisasi
yang telah diinteraksikan dengan adsorben melalui kolom menunjukkan asam lemak
bebas 0,141 % pada adsorben karbon aktif biji kelor, 0,145 % pada adsorben bentonit
teraktivasi dan 0,142 % pada adsorben campuran. Angka peroksida 2,49 meq/kg pada
adsorben karbon aktif biji kelor, 2,39 meq/kg pada adsorben bentonit teraktivasi dan
2,37 meq/kg pada adsorben campuran. Hasil penelitian menunjukkan kadar FFA
mengalami penurunan sebesar 69 % menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor
dan angka peroksida sebesar 48 % menggunakan adsorben campuran. Sedangkan
warna minyak goreng mengalami peningkatan. Untuk warna cerah (L) mengalami
peningkatan sebesar 29.98 %, warna merah (a
*
) 48,2 %, dan warna kuning (b
*
) 42, 8
%.


Kata Kunci : Minyak goreng bekas, karbon aktif, biji kelor, bentonit, asam lemak
bebas, angka peroksida

xii

ABSTRACT

Istighfaro, Nila. 2010. Improve quality of used fried oil by adsorption
method using betonit – activeted carbon of moringa seed (Moringa
oleifera Lamk)

Pembimbing Utama : Eny Yulianti, M.Si
Pembimbing Agama : Munirul Abidin, MA


Tha use of fried oil repeatedly with steam at high temperature will produce
various chemical compounds as a result of oxidized oil such as alcohol, aldehide,
keton, hydrocarbon, esther and rancidity. This process will influence the quality and
nutritional values of the fried food materials. Used fried oil is waste that could be
reusable by bleaching using adsorben. Adsorption could be proceed by column
method and batch method. The column method is more effective than those of
method due to the ability for regeneration easily. The purpose of this research are to
find the change of free fatty acid (FFA), peroxide value, and the color of the used of
fried oil after passing through the coloumn process containing adsorben i.e activeted
carbon from kelor seed, activated bentonit and mixed adsorben.
This scope of this research are (1) Making activated carbon from dehidrated
kelor seed. This process is one step process which is carried out by heating at 600
o
C
for 3 hours in a furnace and chemical activation is use with 30 % NaCl, (2) The
purification of the used fried oil was carried out by despicing, netralization and
bleaching using three different adsorbens through a coloumn, (3) Measuring a
peroxide value, free fatty acid and the colour of fresh fried oil, used fried oil,
despicing result, netralization and bleaching for each adsorben through the column
The result showed that free fatty acid of the fresh fried oil, the used fried oil,
the despicing, and the netralization were 0,037 %,0,448 %, 0,211 %, 0,148 %
respectively. Peroxide values of the fresh fried oil, the used fried oil, the despicing
and the netralization were 1,32 meq/kg, 4,58 meq/kg, 4,00 meq/kg, 3,96 meq/kg
respectively. The Free fatty acid content of the used fried oil after passing
through the column containing activeted carbon of Moringa oleifera Lamk seed
was 0.141%, 0.145% for the adsorben activated bentonit and 0.142% for mixed
adsorben. The peroxide values of the used fried oil after passing through the
column containing activeted carbon of the kelor seed was 2.49 meq/kg, 2.39
meq/kg for the adsorben activated bentonit and 2.37 meq/kg for the mixed
adsorben. The experiment result showed that FFA content decreased 69% (using
the adsorben activated carbon) and the peroxide value decreased 48% (using the
mixed adsorben bentonit and the activated carbon Moringa oleifera Lamk seed.
The color of the used oil also improved. For light color (L) increased 29,98%, red
color (a
*
) 48,2% and yellow color (b
*
) 42,8%.


Key word: fried oil, activated carbon, moringa oleifera seed, bentonit, free fatty
acid and peroxide value
1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Lemak atau minyak merupakan salah satu jenis bahan makanan yang
banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat meningkatkan cita
rasa, dan memperbaiki tekstur makanan (Muchtadi, 2000). Sudarmadji (2003)
menyatakan bahwa minyak dan lemak memiliki titik didih yang tinggi (sekitar
200C) sehingga biasa dipergunakan untuk menggoreng makanan karena bahan
yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya dan
menjadi kering. Minyak dan lemak juga memberikan aroma dan rasa gurih
spesifik yang lain dari gurihnya protein.
Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang cukup tinggi tentu dapat
menimbulkan dampak yang signifikan pada masyarakat, terutama sektor industri
kecil, seperti makanan yang berbasis gorengan. Secara kuantitatif jumlah
pedagang kecil ini cukup banyak dan tersebar hampir di seluruh penjuru kota,
dengan adanya kenaikan harga jual BBM maka biaya produksi juga mengalami
peningkatan, di sisi lain daya beli konsumen melemah akibat terjadinya inflasi.
Oleh karena itu, masyarakat cenderung memakai kembali minyak goreng bekas
untuk menggoreng makanan dan dipakai berulang-ulang demi penghematan tanpa
mempertimbangkan risiko bagi kesehatan seperti kerongkongan gatal atau serak
dan lebih berbahaya lagi bisa memicu kanker.

2


Minyak sayur yang digunakan untuk menggoreng mengalami perubahan
secara kimiawi baik selama proses penyimpanan, pemanasan atau adanya kontak
dengan cahaya. Perubahan kimiawi itu dapat menyebabkan penurunan kualitas
minyak, seperti perubahan warna menjadi lebih gelap, lebih kental, muncul bau
yang tidak sedap (tengik), meningkatnya bilangan peroksida, asam lemak bebas
dan menyebabkan rasa yang tidak lezat.
Keberadaan makanan bagi kehidupan manusia sangat penting. Secara
medis makanan dan minuman yang kita konsumsi dapat menentukan
pertumbuhan dan perkembangan fisik. Islam mengajarkan makanan atau minuman
yang kita konsumsi sehari-hari keberadaan hukumnya harus halal lagi baik secara
dzatiyah ataupun secara hukmiyah selain harus mengandung nutrisi yang
dibutuhkan oleh tubuh (Anwar, 2007:1). Hal ini sesuai dengan firman Allah
dalam Al-qur’an surat Al-Maidah ayat 88 yang berbunyi:




“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-
Nya” (QS. Al-Maaidah :88).


Allah menganjurkan kepada seluruh hambanya untuk selalu memahami
kebesaran dan kekuasaan-Nya dengan melihat seluruh ciptaan-Nya, tiadalah Allah
menciptakan alam beserta isinya dengan sia-sia dan batil, yang menciptakan
dengan benar dan merupakan kebenaran. Begitu pula Tuhan menciptakan tumbuh-
tumbuhan agar manusia dapat menggambil manfaat darinya (Quthb, 2001: 244).
3


Seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya surat Ar-Rad ayat 4:

”Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun
anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak
bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-
tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”.


Shihab (2002) memberikan tafsir bahwa Allah menumbuhkan dari
berbagai macam tumbuhan yang baik yaitu subur dan bermanfaat. Tumbuh-
tumbuhan keluar (tumbuh) dari benda mati. Tumbuhan dan bagian tumbuhan yang
telah mati secara tidak langsung dapat dimanfaatkan kembali untuk sesuatu yang
lebih berguna (Jauhari, 1984). Sebagaimana halnya tanaman kelor yang banyak
tumbuh di Indonesia, pemanfaatan tanaman kelor baru sampai menjadi tanaman
pagar hidup, batas tanah atau penjalar tanaman lain dan sebagai sayuran.
Penggunaan bahan organik yang berasal dari tumbuhan yang telah mati sebagai
adsorben saat ini banyak dikembangkan. Tehnik ini tidak memerlukan biaya
tinggi dan kemungkinan sangat efektif untuk menghilangkan kontaminan, baik
anionik maupun kationik (Saleh, 2004).
Hal inilah yang dirasa perlu untuk diketengahkan pada masyarakat
manfaat biji kelor yang telah tua dan kering (mati) sebagai bahan
4


pengendap/koagulator untuk menjernihkan air secara cepat, murah,aman, seperti
yang diterapkan di ITB dan mulai dikembangkan melalui Program UNDP.
Widayat, dkk., (2005) telah melakukan penelitian awal peningkatan
kualitas minyak goreng dengan zeolit alam dengan studi penurunan bilangan
asam, yang hasilnya diperoleh bilangan asam sebesar 1,71. Bilangan asam ini
belum memenuhi Standar Nasional Indonesia minyak goreng (SNI 3741-1995)
yaitu maksimal sebesar 0,3 %.
Penelitian lain telah dilakukan oleh Suharto (1997) menggunakan zeolit
alam sebagai adsorben. Hermansyah (2003) menggunakan adsorben alternatif
arang tulang yang hasilnya menunjukkan bahwa arang tulang mampu menyerap
betakaroten pada minyak sawit kasar. Bayrak (2005) telah melakukan penelitian
tentang Aplikasi isotermis Langmuir pada adsorpsi Asam lemak jenuh yang
hasilnya menunjukkan bahwa penyerapan asam lemak dengan montmorillonit
merupakan adsorpsi fisika. Penyerapan karoten dan asam lemak bebas pada
minyak kelapa sawit menggunakan adsorben lempung teraktivasi juga telah
dilakukan oleh Joy, dkk (2007). Studi kinetika menunjukkan bahwa waktu yang
diperlukan untuk kesetimbangan adsorpsi menurun saat temperatur dinaikkan.
Lempung yang diaktivasi dengan asam sulfat 1 M lebih efektif daripada lempung
dari industri yang digunakan sebagai acuan. Rossi (2002) juga menyebutkan
dalam penelitiannya tentang peranan lempung pemucat dan silica sintetik dalam
penjernihan minyak kelapa sawit yang hasilnya menunjukkan bahwa karakter
adsorpsi pada tiga macam lempung pemucat memiliki perbedaan derajat aktivasi
dalam proses penjernihan minyak kelapa sawit. Isotermis penghilangan warna dan
5


pigmen karoten menggunakan lempung teraktivasi asam lebih efisien daripada
lempung alam juga pada kapasitas adsorpsi fosfor.
Taufik (2007) juga melakukan penelitian tentang pemurnian minyak
goreng bekas menggunakan biji kelor dengan metode Batch yang hasilnya dapat
menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA) sebesar 74,6 % yaitu dari nilai 0,50
% menjadi 0,127 % dan penurunan angka peroksida sebesar 84% yaitu dari 100
meq/kg menjadi 16 meq/kg dan peningkatan warna cerah sebesar 6,7%. Nilai FFA
tersebut sudah memenuhi standart SNI 1995 yaitu maksimal 0,3 %, sedangkan
angka peroksida belum memenuhi SNI 1995 dengan kandungan angka peroksida
maksimal 2 meq/kg.
Berdasarkan hasil penelitian di atas akan dikaji lebih lanjut tentang
efektifitas adsorpsi biji kelor dan lempung bentonit dalam penjernihan minyak
goreng bekas dengan metode kolom, diharapkan dapat menurunkan bilangan
peroksida, asam lemak bebas dan warna yang lebih baik dan memenuhi mutu
Standar Nasional Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas maka dapat
diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:
a. Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida, dan
perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom
yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor ?
6


b. Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida dan
perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom
yang berisi bentonit?
c. Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida dan
perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom
yang berisi campuran bentonit dan adsorben karbon aktif biji kelor ?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka
peroksida, dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan
melalui kolom yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor.
b. Untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka
peroksida, dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan
melalui kolom yang berisi bentonit.
c. Untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA), angka
peroksida dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan
melalui kolom yang berisi campuran bentonit dan adsorben karbon aktif biji
kelor.

7


1.4 Batasan Penelitian
Mengingat banyaknya cakupan permasalahan, maka dalam penelitian ini
hanya dibatasi pada:
a. Sampel minyak goreng yang diteliti adalah minyak goreng merek bimoli yang
telah digunakan selama 8 jam.
b. Kelor yang digunakan adalah biji kelor yang tua di pohon beserta kulit ari
yang diperoleh dari daerah Jombang Jawa Timur.
c. Parameter yang diuji adalah asam lemak bebas, angka peroksida dan warna.

1.5 Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan :
a. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan biji
kelor (Moringa oleifera Lamk) untuk pemurnian kembali minyak goreng
bekas sehingga lebih aman dikonsumsi.
b. Dapat meningkatkan penggunaan biji kelor (Moringa oleifera Lamk) sebagai
penjernih alami, selain digunakan sebagai pakan ternak, campuran sayuran
dan obat-obatan lainnya.

8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemanfaatan Tanaman dalam Perspektif Islam
Allah SWT sebagai Tuhan mempunyai tanda-tanda kebesaran-Nya berupa
hasil-hasil ciptaan-Nya, berupa langit dan bumi dan apa yang ada di dalam
keduanya, apa yang ada di antara keduanya. Termasuk juga kejadian-kejadian
yang berlangsung dalam makhluk-Nya tersebut. Kemudian Allah menyuruh untuk
memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya tersebut, termasuk pada tanaman dan
tumbuhan (As-Sa’dy, 2007).
Tumbuhan merupakan salah satu dari ciptaan Allah Swt yang banyak
manfaatnya kepada manusia. Al-Qur`an menyebutkan bahwa sejumlah buah-
buahan dapat memberikan manfaat pada tubuh manusia dalam berbagai cara, juga
enak rasanya. Begitu pula dengan tanaman kelor, banyak manfaat dan
kegunaannya. Daun, buah dan akar banyak mengandung senyawa alkali, protein,
vitamin, asam amino, dan karbohidrat, alkaloid, yang dapat dijadikan sebagai obat
tradisional. Dewasa ini biji kelor diketahui dapat dimanfaatkan sebagai penjernih
air, koagulan pada air limbah, dan penyembuh asam urat, sehingga biji kelor dapat
bernilai komersial, namun masyarakat belum mengetahui potensi tersebut
sehingga kurang dimanfaatkan.
Pentingnya usaha penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan kelor ini
sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ali Imron ayat 191 yang berbunyi :
9



Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali Imron
191).

Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya dengan
maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan kadarnya. Allah menciptakan semua
yang ada di dunia ini tidaklah sia-sia dari yang kecil hingga yang besar. Makhluk
hidup (hewan, tumbuhan dan lain-lain) semuanya dapat dimanfaatkan oleh
manusia jika manusia itu mau untuk berfikir.
Allah menjaga semua yang telah Ia ciptakan agar tetap hidup dan tersusun
rapi. Manusia wajib menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, tanpa berpikir
untuk membuat kerusakan alam guna mempertahankan tatanan lingkungan
(ekosistem) serta keteraturan alam untuk kesejahteraan seluruh makhluk
ciptaanNya. Allah membuktikan dengan diturunkannya hujan sebagai sumber
kehidupan, dan agar manusia dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan
kepadanya. Allah telah menjelaskannya dalam surat Al-An’aam ayat 99 yang
berbunyi:
10




”Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan
dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari
tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman
yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai
tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan
pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah
buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi
orang-orang yang beriman” (QS.Al-An’aam: 99).


Ayat yang mulia tersebut mengajak kita untuk berpikir dan berusaha
mempelajari bagaimana proses penciptaan buah, bagaimana dia berkembang dan
tumbuh pada fase yang berbeda-beda sampai pada fase kematangannya secara
sempurna. Berikut segala unsurnya yang beraneka seperti, sukrosa, minyak,
protein, karbohidrat dan zat-zat tepung. Salah satu dalil kemahakuasaan Allah
SWT adalah mengenai penciptaan butir tumbuh-tumbuhan, biji buah-buahan, dan
janin yang hidup dan terletak di tempat yang sangat sempit sedangkan yang tersisa
dari butir atau biji muncul dari suatu benda yang tak hidup. Ketika janin bangun
dan mulai menumbuhkan tanaman maka suatu benda yang mati tersebut berubah
kondisinya menjadi benda hidup yang dapat memberi makan janin dan
menumbuhkembangkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia menduplikasikan
jumlahnya menjadi banyak dan menebarkan benih dan biji, kemudian benih
11


tumbuhan itu berpindah dari fase pertumbuhan menuju fase pergerakan. Saat itu
tumbuhan mulai mampu mencari makanan untuk dirinya sendiri yang dimasak
oleh akar dari garam-garaman yang berasal dari air tanah, dan dibantu oleh daun
hijau yang mengerjakan proses fotosintesa di bawah terik sinar matahari untuk
menghasilkan bahan karbohidrat (Mahran, 2006).
Menurut tafsir Ibnu Katsir (Ad-Dimasyqi, 2001) disebutkan bahwa Allah
telah menurunkan air hujan dari langit yakni dengan kadar tertentu, dengan
kepastian dalam keadaan diberkati sebagai rezeki untuk hamba-hamba Allah,
untuk menyuburkan dan sebagai pertolongan serta rahmat untuk semua makhluk
ciptaan-Nya. Kemudian Allah menumbuhkan dengan air tersebut segala macam
tumbuh-tumbuhan dan dari tumbuh-tumbuhan itu Allah mengeluarkan tanaman
yang menghijau lalu butir yang banyak. Allah menciptakan di dalam tanaman itu
berupa buah-buahan dan biji-bijian yang bersusun antara yang satu dan yang
lainnya seperti pada bulir dan lain sebagainya. Setiap ciptaan Allah tersebut pasti
memiliki manfaat termasuk biji-bijian yang kecil, salah satunya dalam hal ini
adalah biji kelor.
Menurut tafsir Nurul Quran (Imani, 2005) dijelaskan bahwa Allah telah
menciptakan segala macam tanaman sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah dan
sebagai bahan untuk berfikir agar dapat tercipta kemaslahatan bagi seluruh umat.
Penjelasan di atas didukung dengan firman Allah dalam surat Asy-syu’ara ayat 7
yang berbunyi:


12


“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami
tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS.Asy-
Syu’ara:7).

Shihab (2002) memberikan tafsir bahwa Allah menumbuhkan dari
bermacam-macam tumbuhan yang baik yakni subur dan bermanfaat. Sebagaimana
halnya tanaman kelor yang di dalamnya banyak memberikan manfaat jika
dikonsumsi oleh manusia sebagai sayuran, obat-obatan, bahan baku pembuatan
sabun dan kosmetik, serta sebagai bahan penjernih air.
Keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami setiap penciptaan
Allah dan kurangnya rasa syukur pada Allah menjadikan manusia sering berpikir
sesuatu hanya menjadi hiasan semata di muka bumi atau bahkan hanya menjadi
pengganggu. Tidak ada nilai yang lebih berharga yang bisa diambil dan
dimanfaatkan untuk kemaslahatan kehidupan manusia di dunia ini. Al Qur’an
memang tidak menjelaskan secara detail manfaat dari setiap penciptaan Allah.
Manusia yang diciptakan sebagai khalifah di bumi ini mempunyai tugas untuk
berpikir, mengkaji, dan mengembangkan penelitian untuk mendapatkan manfaat
dari hasil penciptaan Allah tersebut.
Firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 11yang berbunyi :


“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun,
korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan” (QS. An Nahl: 11).

13


Al-Qur'an telah menyebutkan berbagai macam tanaman yang bermanfaat
dan memiliki khasiat bagi kesehatan. Pemanfaatan tanaman sebagai obat
merupakan salah satu sarana untuk mengambil pelajaran dan memikirkan tentang
kekuasaan Allah SWT. Semua yang tercipta mempunyai manfaatnya dan hal itu
merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Demikian halnya dengan tanaman kelor,
perkembangan uji penelitiannya membawa dampak agar diperoleh manfaat-
manfaat lain dari tanaman kelor khususnya biji kelor yang dimanfaatkan sebagai
adsorben.

2.2 Tanaman kelor
Pohon kelor (drumstick tree: bahasa Inggris) termasuk jenis tumbuhan
perdu yang memiliki ketinggian pohon antara 7 – 12 m. Batang kayunya lunak
dan getas (mudah patah) serta cabangnya jarang, tetapi mempunyai akar yang
kuat. Pohon kelor berbunga dan berganti daun sepanjang tahun, tumbuh dengan
cepat, dan tahan terhadap musim kering (kemarau). Pohon kelor dapat
menyesuaikan diri terhadap berbagai jenis tanah, namun areal tanah berpasir atau
tanah lempung menjadi tempat terbaik bagi pertumbuhannya. Kelor dapat
berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian antara 1 –
1000 m di atas permukaan laut (Jonni, dkk, 2008).
Daun kelor berbentuk bulat telur (oval) dengan ukuran kecil-kecil,
bersusun majemuk dalam satu tangkai. Daun kelor berguguran apabila
kekurangan air (biasanya terjadi pada musim kemarau panjang) dan tumbuh
kembali ketika kebutuhan air mulai tercukupi. Bunga kelor berwarna putih
8
14


kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau (Jonni, dkk,
2008).
Buah kelor berbentuk polong segitiga memanjang sekitar 30-50 cm, yang
biasa disebut klentang (Jawa). Buah kelor berisi 15 – 25 biji, berwarna coklat
kehitaman, bulat, bersayap tiga dan hitam. Sedangkan, getahnya yang telah
berubah warna menjadi cokelat disebut blendok (Jawa). Buah kelor ini memiliki
banyak biji di dalamnya, yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pengkembangbiakannya selain menggunakan setek batang (Jonni, dkk, 2008).
Kelor atau kelor-keloran (Moringa oleifera), di Indonesia dikenal sebagai
jenis tanaman sayuran yang sudah dibudidayakan. Pohon kelor sering digunakan
sebagai pendukung tanaman lada atau sirih. Daun, bunga, dan buah mudanya,
merupakan bahan sayuran yang digemari masyarakat setempat. Tanaman kelor
merupakan leguminosa, maka bagus ditanam secara tumpang sari dengan tanaman
lain karena dapat menambah unsur nitrogen pada lahan tersebut (Hendartomo,
2007).
Biji Moringa oleifera Lam. mengandung mustard oil (minyak ben, minyak
Moringa), mengandung trigliserida asam lemak behen (C
22
H
44
44O
2
) yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sabun, bahan iluminasi, lubrikan jam
tangan, bahan campuran untuk pembuatan kosmetik, parfum (Duke, 1983;
Folkard dkk., 1995:263). Kotiledon Moringa oleifera Lam. mengandung tiga
komponen penting, yaitu substansi antimikroba 4  L-rhamnosiloksi-benzil-
isotiosianat, minyak ben dan flokulan (Mayer & Stelz, 1993; Polprasid,
1993:213). Biji kelor yang sudah diambil minyaknya (presscake) mengandung
15


protein kasar sebesar 58,9 %; CaO 0,4 %;P
2
O
5
1,1 % dan K
2
O sebesar 0,8 %
(Duke,1983).
Berbagai manfaat tumbuhan kelor ini terus dieksplorasi sebagai sumber
vitamin A, B, C, sumber protein, kalsium, zat besi, sebagai bahan obat-obatan,
bahan baku pembuatan sabun dan kosmetik, sampai pada manfaatnya sebagai
bahan penjernih air (Water Purification). Tam Herb dari India sudah memasarkan
buah kelor segar, serbuk buah dan serbuk daun kelor, minyak kelor, bubuk teh
kelor, bubuk sup kelor dan kapsul kelor (Logu, 2005). Daun kelor muda juga
dipercaya meningkatkan produksi air susu ibu dan sebagai obat kurang darah
(anemia). Akar kelor berkhasiat sebagai obat kejang, obat gusi berdarah, obat
untuk haid yang tidak teratur dan obat pusing. Daunnya berkhasiat sebagai obat
sesak nafas, encok dan beri-beri. Bijinya digunakan sebagai obat mual.
Kandungan kimia akar, daun dan kulit batang kelor mengandung saponin dan
polifenol, kulit batangnya juga mengandung alkaloida. Daun kelor mengandung
minyak atsiri (http://www.murungaexports.ebigchina.com).








16






c


b

a








c d

Gambar 2.1 Dari kiri searah putaran jarum jam ; a) buah kelor masih di
dahan, b) Biji bersayap, c) Biji yang masih utuh dan yang
sudah diblender, d) buah kelor yang baru dipetik (sumber:
Muyibi,2005).


Efek farmakologis : kelor dalam farmakologi cina dan pengobatan
tradisional lain disebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat-sifat seperti, rasa
yang agak pahit, netral, sebagai anti inflamasi, antipiretik, antiskorbut dan tidak
beracun (http://www.iptek.net.id).
Analisis kandungan biji kelor per 100 gram ditunjukkan pada tabel di
bawah ini:

17


Tabel 2.1 Kandungan nutrisi biji kelor
Komposisi Buah
Air (%)
Kalori (%)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Abu (g)
Serat (g)
Mineral (g)
Ca /Kalsium (mg)
Mg/Magnesium (mg)
P/Fosfor (mg)
K/Kalium (mg)
Cu/Tembaga (mg)
Fe/Besi (mg)
S/Sulfur (mg)
Oxalic acid (mg)
Vitamin A B Carotene (mg)
Vitamin B Choline (mg)
86,9
26,0
2,5
0,1
8,5
2,0
4,8
2,0
30
24
110
259
3,1
5,3
137
10
0,11
423
Sumber: Duke, 1983

2.3 Minyak goreng
Minyak adalah lemak yang berasal dari tumbuhan yang berupa zat cair dan
mengandung asam lemak tak jenuh. Minyak dapat bersumber dari tanaman,
misalnya minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa, dan minyak bunga
matahari. Minyak dapat juga bersumber dari hewan, misalnya minyak ikan sardin,
minyak ikan paus dan lain-lain. Minyak goreng adalah minyak nabati yang telah
dimurnikan dan dapat digunakan sebagai bahan pangan. Minyak goreng nabati
biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa atau jagung (Widayat, dkk, 2005).
Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit (Elaeis
guineensis jack). Buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti
(kernel). Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan luar atau
18


kulit buah yang disebut pericarp. Lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau
pulp dan lapisan paling dalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit terdiri dari
lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Mesocarp mengandung kadar
minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung minyak sebesar 44%,
dan endocarp tidak mengandung minyak (Pasaribu, 2004).
Minyak sawit memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak
nabati lainnya. Dari segi ekonomi minyak sawit merupakan minyak nabati yang
paling murah karena produktivitas sawit sanggat tinggi. Minyak sawit juga
mengandung betakaroten dan tokoferol sehingga dilihat dari segi gizi mempunyai
keunggulan (Elizabeth, 2002).
Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya merupakan
senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen penyusunnya yang
utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (Pasaribu, 2004).

2.3.1. Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit.
Minyak kelapa sawit terdiri atas trigliserida sebagaimana lemak dan
minyak lainnya. minyak kelapa sawit merupakan ester dari gliserol dengan tiga
molekul asam lemak menurut reaksi sebagai berikut :
19


CH
2
OH
CHOH
CH
2
OH
+ 3RCOOH
H
2
C
HC
H
2
C
O C R
1
O
O C R
2
O
O C R
3
O
+ 3 H
2
O
trigliserida Gliserol asam lemak

Gambar 2.2 Reaksi Pembentukan Trigliserida (Pasaribu, 2004)

Bila R1 = R2 = R3 atau ketiga asam lemak penyusunnya sama maka
trigliserida ini disebut trigliserida sederhana, dan apabila salah satu atau lebih
asam lemak penyusunnya tidak sama maka disebut trigliserida campuran.
Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon; yang setiap atom karbonnya
mengikat satu atau dua atom hidrogen, kecuali atom karbon terminal mengikat
tiga atom hidrogen, sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus
karboksil. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap
disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada
rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh. Secara umum
struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut :

C C C C
H
H
H
H
H
H
H H
H
C C
O
OH
H
H
C C C C
H
H
H H
OH
O
C
H
H
H
Asam Lemak Jenuh
Asam Lemak Tak Jenuh


Gambar 2.3 Struktur Asam Lemak (Pasaribu, 2004)

20


Semakin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida, semakin
tinggi titik beku atau titik cair minyak tersebut . Pada suhu kamar biasanya berada
pada fase padat, sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul
trigliserida maka makin rendah titik beku atau titik cair minyak tersebut sehingga
pada suhu kamar berada pada fase cair. Minyak kelapa sawit adalah lemak semi
padat yang mempunyai komposisi yang tetap (Pasaribu, 2004).
Berikut ini adalah tabel dari komposisi trigliserida dan tabel komposisi
asam lemak dari minyak kelapa sawit.

Tabel 2.2 Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit
Trigliserida Jumlah (%)
Tripalmitin
Dipalmito – Stearine
Oleo – Miristopalmitin
Oleo – Dipalmitin
Oleo- Palmitostearine
Palmito – Diolein
Stearo – Diolein
Linoleo – Diolein
3 –5
1 – 3
0 – 5
21 – 43
10 – 11
32 – 48
0 – 6
3 – 12
Sumber : Ketaren, 1986.

Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit
Asam Lemak Jumlah (%)
Asam Kaprilat
Asam kaproat
Asam Miristat
Asam Palmitat
Asam Stearat
Asam Oleat
Asam Laurat
Asam Linoleat
-
-
1,1 – 2,5
40 – 46
3,6 – 4,7
30 – 45
-
7 – 11
Sumber : Pasaribu, 2004
21


Minyak juga mengandung sejumlah kecil komponen nontrigliserida, yaitu
lipid kompleks (lesithin, cephalin, fosfatida, dan glikolipid); sterol, berada dalam
keadaan bebas atau terikat dengan asam lemak bebas; asam lemak bebas; lilin;
pigmen yang larut dalam lemak; dan hidrokarbon. Komponen tersebut yang
mempengaruhi warna dan flavor minyak serta berperan dalam proses terjadinya
ketengikan (Ketaren, 2005).
Minyak sawit memiliki karakteristik asam lemak utama penyusunnya
terdiri atas 35 - 40% asam palmitat, 38 - 40% oleat dan 6 - 10% asam linolenat
serta kandungan mikronutriennya seperti karitenoid, tokoferol, tokotrienol dan
fitosterol. Selain itu keunggulan minyak sawit sebagai minyak makan adalah tidak
perlu dilakukan parsial hidrogenasi untuk pembuatan margarin dan minyak goreng
(deep frying fat), trans-fatty acid rendah, dan harganya murah. Klaim produk
minyak sawit sebagai produk sehat telah banyak dilakukan penelitian mendasar,
sehingga klaim unggulannya mempunyai dasar yang kuat. Meskipun minyak
sawit mengandung mono-unsaturated fatty acid (Omega 9) cukup tinggi,
kandungan asam lemak jenuhnya (palmitat) juga tinggi yaitu 40%. Asam palmitat
yang ada dalam minyak sawit mempunyai nilai positif karena dapat menurunkan
kolesterol LDL (low density lipoprotein) (Muchtadi, 2000).
Beberapa hal yang mempengaruhi sifat-sifat minyak adalah asam lemak
penyusunnya, yaitu asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) dan asam lemak
tak jenuh (unsaturated fatty acid/UFA), yang terdiri atas mono-unsaturated fatty
acid (MUFA) dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) atau high unsaturated fatty
22


acid. Para ahli biokimia dan ahli gizi lebih mengenalnya dengan sebutan asam
lemak tak jenuh Omega 3, Omega 6 dan Omega 9 (Muchtadi, 2000).
Asam lemak bebas (FFA) dalam minyak nabati dihasilkan dari
pemecahan ikatan ester trigliserida. Asam lemak bebas secara umum dihilangkan
selama proses penjernihan. Adsorpsi Asam lemak bebas ditentukan oleh beberapa
faktor seperti kadar air dalam minyak, kadar sabun, temperatur dan lamanya
waktu kontak dengan adsorben (Bayrak, 2005).
Asam lemak bebas terbentuk karena proses oksidasi, dan hidrolisa enzim
selama pengolahan dan penyimpanan. Ketika minyak digunakan untuk
menggoreng terjadi peristiwa oksidasi dan hidrolisis yang memecah molekul
minyak menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Proses ini bertambah besar
dengan pemanasan yang tinggi dan waktu yang lama selama penggorengan
makanan. Dalam bahan pangan, asam lemak dengan kadar 0,2 persen dari berat
lemak akan mengakibatkan flavor yang tidak diinginkan dan kadang-kadang dapat
meracuni tubuh. Minyak dengan kadar asam lemak bebas yang lebih besar dari
1%, jika dicicipi akan terasa membentuk filem pada permukaan lidah dan tidak
berbau tengik, namun intensitasnya tidak bertambah dengan bertambahnya jumlah
asam lemak bebas. Asam lemak bebas walaupun berada dalam jumlah kecil
mengakibatkan rasa tidak lezat, menyebabkan karat dan warna gelap jika
dipanaskan dalam wajan besi (Ketaren, 2005).
Angka peroksida adalah nilai terpenting untuk menentukan derajat
kerusakan pada minyak atau lemak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat
oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida yaitu
23


produk awal dari reaksi oksidasi yang bersifat labil, reaksi ini dapat berlangsung
bila terjadi kontak antara oksigen dengan minyak (Ketaren, 2005).

2.3.2 Warna
Zat warna dalam minyak terdiri dari 2 golongan, yaitu zat warna alamiah,
dan warna hasil degradasi zat warna alamiah.
1). Zat Warna Alamiah
Zat warna ini terdapat secara alamiah di dalam bahan yang mengandung
minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstraksi. Zat warna
tersebut antara lain α dan β karoten, xantofil, klorofil, dan antosianin. Zat warna
ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan
dan kemerah-merahan. Pigmen berwarna merah jingga atau kuning disebabkan
oleh karotenoid yang bersifat larut dalam minyak. Karotenoid bersifat tidak stabil
pada suhu tinggi, dan jika minyak dialiri uap panas, maka warna kuning akan
hilang. Karotenoid tidak dapat dihilangkan dengan proses oksidasi (Ketaren,
2005).

2). Warna Akibat Oksidasi dan Degradasi Komponen Kimia yang Terdapat
dalam Minyak

a) Warna Gelap
Warna gelap disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin
E). Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan,
yang disebabkan oleh beberapa faktor: suhu pemanasan yang terlalu tinggi,
pengepresan bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang
24


tinggi, ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut tertentu seperti
trikloroetilena, benzol dan heksana, logam seperti Fe, Cu, dan Mn, dan oksidasi
terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak (Ketaren, 2005).
b) Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak atau lemak yang
berasal dari bahan yang telah rusak atau memar. Hal itu dapat pula terjadi karena
reaksi molekul karbohidrat dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus
amin dari molekul protein dan yang disebabkan karena aktivitas enzim-enzim,
seperti fenol oksidase, polifenol oksidase, dan sebagainya (Ketaren, 2005).
c) Warna Kuning
Timbulnya warna kuning dalam minyak terutama terjadi dalam minyak
atau lemak tidak jenuh. Warna ini timbul selama penyimpanan dan intensitas
warna bervariasi dari kuning sampai ungu kemerah-merahan (Ketaren, 2005).

2.3.3 Kerusakan Minyak
Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan
yang digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan
menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak
enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat
dalam minyak. Oksidasi minyak dapat berlangsung bila terjadi kontak antara
sejumlah oksigen dengan minyak. Oksidasi biasanya dimulai dengan
pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya adalah terurainya
asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan
25


keton serta asam-asam lemak bebas. Ketengikan (Rancidity) terbentuk oleh
aldehida bukan oleh peroksida. Jadi kenaikan Peroxide Value (PV) hanya
indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik Oksida
minyak juga akan menghasilkan senyawa hidrokarbon, alkohol, lakton serta
senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir. Pembentukan
senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi
adisi dari asam lemak tidak jenuh. Hal ini terbukti dengan terbentuknya bahan
menyerupai gum yang mengendap di dasar tempat penggorengan (Ketaren, 1986).
Oksidasi adalah alasan utama dari perubahan kimiawi dari minyak tetapi
ada beberapa penyebab degradasi lainnya yang berpotensial menyebabkan atau
menghasilkan racun. Perubahan secara kimiawi pada minyak, tidak semuanya
berpotensi berbahaya. Beberapa produk tidak membahayakan dan masih layak
untuk dikonsumsi. Laju perubahan kimia dan tingkat perubahan tergantung pada
jenis minyak dimana sebagian besar minyak yang mengandung asam lemak yang
tidak tersaturasi (kedelai , bunga matahari, kanola) mempunyai laju yang tinggi.
Beberapa contoh minyak yang mempunyai laju rendah yaitu minyak zaitun dan
kelapa sawit (http://www. foodfacts.org).
Kerusakan minyak atau lemak akibat pemanasan pada suhu tinggi (200 -
250°C) akan mengakibatkan keracunan dalam tubuh dan berbagai macam
penyakit, misalnya diarhea, pengendapan lemak dalam pembuluh darah, kanker
dan menurunkan nilai cerna lemak. Kerusakan minyak juga bisa terjadi selama
penyimpanan. Penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat
26


menyebabkan pecahnya ikatan trigliserida pada minyak lalu membentuk gliserol
dan asam lemak bebas (Ketaren, 1986).


Gambar 2.4 Reaksi Hidrolisis Minyak (sumber Ketaren, 1986)

Pada umumnya minyak apabila dibiarkan lama di udara akan
menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak. Hal ini disebabkan oleh proses
hidrolisis yang menghasilkan asam lemak bebas. Reaksi hidrolisa ini terjadi
karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut. Dapat pula terjadi proses
oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh yang hasilnya akan menambah bau dan
rasa yang tidak enak. Oksidasi asam lemak tidak jenuh akan menghasilkan
peroksida dan selanjutnya akan terbentuk aldehida. Inilah yang menyebabkan
terjadinya bau dan rasa yang tidak enak atau tengik. Kelembaban udara, cahaya,
suhu tinggi dan adanya bakteri perusak adalah faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya ketengikan minyak (Poedjiadi, 1994).
CH
2
O C R
O
CH O C R
O
CH
2
O C R
O
panas, air, enzim
keasaman
CH
2
OH
CH
2
OH
R C OH
O
+
gliserol ALB/FFA
CH OH
FFA
trigliserida
3
27









Gambar 2.5 Reaksi Pembentukan Peroksida (Sumber: Ketaren, 2008: 100)


Minyak goreng yang baik mempunyai sifat tahan panas, stabil pada cahaya
matahari, tidak merusak flavor hasil gorengan, sedikit gum, menghasilkan produk
dengan tekstur dan rasa yang bagus. Standar mutu minyak goreng di Indonesia
diatur dalam SNI 01-3741-2002 yang dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.4 Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002)
No. Kriteria uji Satuan
Persyaratan
Mutu I Mutu II
1 Keadaan
1.1 Bau Normal Normal
1.2 Rasa Normal Normal
1.3 Warna Putih, kuning pucat sampai kuning
2 Kadar air % b/b maks 0,1 maks 0,3
3 Bilangan asam mg KOH/g maks 0,6 maks 2
4 Asam linolenat (C18:3) % maks 2 maks 2
5 Cemaran logam
5.1 Timbal (Pb) mg/kg maks 0,1 maks 0,1
5.2 Timah (Sn) mg/kg maks 40,0/250* maks 40,0/250*
5.3 Raksa (Hg) mg/kg maks 0,05 maks 0,05
5.4 Tembaga (Cu) mg/kg maks 0,1 maks 0,1
6 Cemaran arsen (As) mg/kg maks 0,1 maks 0,1
7 Minyak pelikan ** Negative Negative
CATATAN * Dalam kemasan kaleng
CATATAN **
Minyak pelikan adalah minyak mineral dan tidak bisa
disabunkan
Sumber : SNI 2002
28


Tabel 2.5 Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995
No Kriteria Uji Persyaratan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Bau
Rasa
Warna
Cita rasa
Kadar air
Berat jenis
Asam lemak bebas
Bilangan peroksida
Bilangan iodium
Bilangan penyabunan
Titik asap
Indeks bias
Cemaran logam antara
lain:
Besi
Timbal
Tembaga
Seng
Raksa
Timah
Arsen
Normal
Normal
Muda jernih
Hambar
Max 0,3 %
0,900 g/L
Max 0,3 %
Max 2 meq/Kg
45-46
196-206
Min 200
o
C
1,448-1,450

Max 0,5 mg/Kg
Max 0,1 mg/Kg
Max 40 mg/Kg
Max 0,05 mg/Kg
Max 0,1 mg/Kg
Max 0,1 mg/Kg
Max 0,1 mg/Kg
Sumber: Wijana dkk (2005).

2.4 Mineral Lempung
Lempung adalah bahan yang relatif banyak kita jumpai di Indonesia.
Bahan ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Secara morfologis tanah
lempung umumnya berwarna agak kecoklat-coklatan dan mudah dibentuk dalam
keadaan basah serta mengeras dengan warna kemerah-merahan jika dibakar, bila
diraba terasa licin dan lunak, dan bila dimasukkan ke dalam air akan menyerap
air. Tanah lempung dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai bahan
pembuatan batu bata, tembikar dan genteng. Selain itu dalam dunia industri, tanah
29


lempung dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam industri kertas, cat dan karet,
sebagai bahan penukar ion, katalis dan adsorben (Wijaya, 2006).
Lempung atau tanah liat ialah kata umum untuk partikel mineral
berkerangka dasar silikat yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung
mengandung leburan silika dan atau aluminium yang halus. Unsur-unsur silikon,
oksigen dan aluminium adalah unsur yang paling banyak menyusun kerak bumi.
Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan
sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi. Lempung membentuk gumpalan
keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air (http://www.wikipedia.org.
id).
Lempung merupakan salah satu fraksi anorganik tanah yang tergolong
sangat halus (< 0,002 mm). Fraksi anorganik tanah lainnya adalah debu yang
berukuran 0,050-0,002 mm dan fraksi kasar yang disebut pasir memiliki ukuran 2-
0,050 mm. Tan menerangkan bahwa mineral lempung merupakan salah satu
komponen tanah yang didefinisikan sebagai zat padat kristalin dari senyawa
alumina silikat dengan ukuran partikel lebih kecil dari 2  m. Susunan atom
dalam lempung kristal dapat terulang dalam pola yang teratur ke arah tiga
dimensi. Susunan atom dalam keadaan amorf umumnya tidak mempunyai bentuk
yang dapat dikenal ataupun susunan internal secara geometris (Tan, 1982).
Lempung alam yang secara alamiah aktif juga dapat digunakan untuk
pemucatan. Lempung ini merupakan adsorben logam sempurna dan mampu
menurunkan kadar chlorophyl dan warna bahan, menghilangkan sabun dan
30


fosfolipid serta meminimalkan meningkatnya asam lemak bebas selama proses
bleaching (Rossi, 2002).

2.4.1 Bentonit
Bentonit adalah sejenis lempung (clay) yang komposisinya didominasi
oleh mineral montmorillonit yaitu sekitar 85% dan komponen lain umumnya
merupakan campuran dari mineral beidelit, saponit, kuarsa/kristobalit, feldspar,
kalsit, gipsum, kaolinit, plagioklasillit, dan sebagainya, sehingga bentonit
seringkali disebut juga sebagai istilah montmorillonit (Mallarangan, 1988 dalam
Apriani, 2000).
Bentonit merupakan istilah yang digunakan di dalam dunia perdagangan
untuk sejenis lempung yang mengandung mineral montmorillonit dan dikenal di
Indonesia sejak dimulainya aktifitas pengeboran minyak bumi kira-kira 100 tahun
yang lampau. Nama bentonit ini pertama kali dipergunakan pada tahun 1896 oleh
Knight yaitu suatu jenis lempung yang sangat plastis (koloid) yang terdapat pada
formasi Benton, Rock Creek, Wyoming Amerika Serikat. Nama ini diusulkan
sebagai pengganti nama sebelumnya yaitu taylorit yang diperkenalkan pada tahun
1888 atau soap clay yang diperkenalkan pada tahun 1873 dan masih banyak lagi
nama lain yang dikenal untuk bentonit ini seperti : bleaching clay, fuller earth,
konfolensit, saponit atau smegtit, dan stolpenit (Riyanto, 1994).
Penggunaan utama dari bentonit adalah pada industri lumpur bor yaitu
sebagai lumpur pembilas dalam pemboran minyak bumi, gas bumi, dan uap panas
bumi, industri minyak sawit, industri kimia, farmasi, industri penyaringan lilin,
31


minyak kelapa, industri besi baja dan lain sebagainya. Penggunaan dalam industri
kimia antara lain sebagai katalisator, zat pemutih, zat penyerap, pengisi lateks, dan
tinta cetak (Riyanto, 1994).
Komposisi montmorillonit suatu bentonit berbeda dengan bentonit yang
lainnya, serta kandungan elemennya bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh proses
terbentuknya di alam. Sifat-sifat bentonit antara lain adalah (Yulianto, 2001):
1. Berwarna dasar putih dengan sedikit kecoklatan atau kemerahan atau
kehijauan, tergantung dari jenis dan jumlah fragmen mineral-mineralnya.
2. Bersifat sangat lunak (kekerasan = 1), ringan mudah pecah, terasa seperti
sabun, mudah menyerap air dan mampu melakukakan pertukaran ion.
Secara umum, bentonit dapat dibagi atas dua golongan :
1. Bentonit Natrium (swelling bentonit)
Bentonit jenis ini mengandung relatif banyak ion Na
+
dibandingkan ion Ca
2+
dan Mg
2+
dan mempunyai sifat mengembang bila terkena air, sehingga dalam
suspensinya akan menambah kekentalan. Bentonit ini sering dinamakan
Bentonit Wyoming.
2. Bentonit Kalsium
Bentonit jenis ini mengandung kalsium dan magnesium yang relatif lebih
banyak dibandingkan dengan kandungan natriumnya. Mempunyai sifat sedikit
menyerap air dan bila didispersikan dalam air akan cepat mengendap (tidak
membentuk suspensi).

32


2.4.2 Montmorillonit
Montmorillonit merupakan anggota kelompok smektit yang paling banyak
ditemukan di alam. Mineral ini mempunyai sistem kristal triklin. Struktur tiga
dimensi dari montmorillonit ditunjukkan oleh gambar 2.7 (Setyowati, 1995).
Kelompok smektite mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan
kelompok mineral tanah liat lainnya. Salah satu anggota kelompok smektite
tersebut terutama adalah montmorillonite. Perbandingan sifat-sifat dari kelompok
mineral tanah liat dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Brady dan Buckman, 1982
dalam Mustika, 2007).

Tabel 2.6 Sifat-sifat tanah liat
Sifat-sifat
Tipe Tanah Liat
Montmorillonite Illite Kaolinite
Ukuran (m)
0,01-1,00 0,1-2,0 0,1-5,0
Bentuk
Lembaran tidak
teratur
Lembaran tidak
teratur
Hexagonal
Crystal
Kohesi, plastisitas Tinggi Sedang Rendah
Kapasitas swelling
(mengembang)
Tinggi Sedang Rendah
Kapasitas tukar
kation(meq/100g)
80-100 15-40 3-15
Sumber : Brady dan Buckman, 1982

Struktur dasar mineral bentonit merupakan filosilikat atau lapisan silikat
yang tersusun atas lembaran tetrahedral silisium oksigen dan lembaran oktahedral
alumunium-oksigen-hidroksida (Murtado, 1994).
Lapisan silikat dibangun melingkari suatu tetrahedral-silika. Dalam
lembaran tetrahedral Si-O, atom silisium berikatan dengan 4 (empat) atom
oksigen. Atom-atom oksigen tersebut terletak pada empat sudut yang teratur
33


dalam bentuk tetrahedral dengan atom silisium sebagai pusatnya, seperti
ditunjukkan oleh gambar (Tan, 1982).


Gambar 2.6 Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral

Enam buah tetrahedral saling berikatan melalui cara penggunaan bersama
tiga dari empat atom oksigen dengan molekul tetrahedral lainnya membentuk
heksagonal yang simetri. Lembaran heksagonal ini disebut lembaran tetrahedral
atau lembaran silika yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini :


Gambar 2.7 Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral

Lembaran oktahedral Al-O-H dibangun oleh atom Al yang mengikat
empat atom oksigen dan gugus hidroksida yang terletak disekeliling Al, yaitu
pada enam sudut oktahedral yang teratur. Penggunaan bersama atom-atom
oksigen dan gugus hidroksida oleh atom Al lainnya akan membentuk lembaran
34


(OH)
6
-Al
4
-(OH)
2
-O
4
, seperti yang tampak pada gambar 2.8. Atom-atom oksigen
dan gugus hidroksida terletak pada dua bidang paralel dan Al terletak diantara
kedua bidang tersebut, lembaran ini disebut lembaran alumina.


Gambar 2.8 susunan atom-atom dalam oktahedral

Penggunaan bersama atom oksigen oleh oktahedral lainnya akan
menghasilkan lembaran secara perspektif yang ditunjukkan pada gambar berikut
ini :

Gambar 2.9 Lembaran oktahedral (OH)
6
-Al
4
-(OH)
2
-O
4


Keempat atom oksigen pada lembaran tetrahedral berikatan dengan
keempat atom Al pada lembaran oktahedral membentuk dua lapisan mineral
(layer minerals). Jika lapisan tersusun oleh dua lembar tetrahedral dan satu lembar
oktahedral dinamakan tipe lapisan mineral 2:1. Struktur satuan sel kristal untuk
lapisan mineral 2:1 ditnjukkan pada gambar berikut ini :
35



Gambar 2.10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan alumina 2:1

Van (1978) mengemukakan nilai kapasitas tukar kation (KTK)
montmorillonit kira-kira 70 meq/100 gram lempung. Luas permukaan khusus
berkisar antar 700-800 m
2
/g. Montmorillonit mempunyai struktur tiga lapis
dengan lapisan oktahedral alumina sebagai pusat tertumpuk di antara dua lapisan
tetrahedral silika.
36



(a)









(b)

Gambar 2.11 (a) Struktur tiga dimensi dari montmorillonit (Sumber:
Ogawa, 1992; Wijaya, 1993) (b) Mineral montmorillonit
(Sumber : www.GeoScience.com)



Satu oksigen dalam tiap tetrahedron tetap tidak terimbangi secara listrik di
dalam jaringan tetrahedral silika seperti itu. Oksigen dari tetrahedron tersebut
dihubungkan dengan Al dalam koordinasi oktahedral untuk memenuhi
persyaratan divalennya. Pengepakan lembar-lembar tetrahedron silika dan
oktahedron alumunium semacam ini, yang menyebabkan terbentuklah struktur
yang berlapis. Beberapa lapisan dari lembar-lembar tetrahedron silika dan
37


oktahedron alumunium dapat ditumpuk satu di atas yang lain. Tiap lapisan
merupakan suatu unit bebas. Ikatan antar lapis dapat relatif kuat seperti dalam
kaolinit atau dapat relatif lemah seperti dalam montmorillonit (Yulianto, 2001).

2.4.3 Pertukaran Ion
Mineral lempung memiliki sifat anion dan kation serta mempertahankan
keadaan ion-ion yang dapat dipertukarkan. Ion-ion yang dapat dipertukarkan
adalah ion-ion yang berada di sekitar struktur mineral lempung silika-alumina.
Reaksi pertukaran ion bersifat stoikhiometris dan berbeda dengan penyerapan
(sorption). Perbedaan ini adakalanya sulit untuk diaplikasikan karena pertukaran
ion biasanya diikuti dengan penyerapan (sorption) dan desorpsi (Murtado,1994).

2.4.4 Pertukaran Kation
Pertukaran kation adalah pertukaran antara suatu kation dalam larutan
dengan kation lain pada suatu permukaan. Reaksi pertukaran ion di dalam mineral
lempung disebabkan oleh adanya substitusi pada lembaran silika atau alumina dan
kation yang dipertukarkan sebagian besar terletak pada permukaan bidang.
Adanya ketidakseimbangan muatan mengakibatkan sisi mineral lempung menjadi
bermuatan negatif, sehingga mineral lempung dapat menarik kation-kation
(Setyowati, 1995).

38


2.4.5 Aktivasi montmorillonit
Karna, W, dkk (2006), menerangkan bahwa montmorillonit merupakan
suatu jenis lempung berupa spesies silikat alumunium terhidrasi dengan sedikit
substitusi dan merupakan komponen bentonit dengan persentase tertinggi.
Montmorillonit mempunyai sifat mengembang (swelling), montmorillonit
memiliki kelemahan apabila dipanaskan pada temperatur lebih dari 200°C maka
akan mengalami kerusakan (collapse) pada struktur oktahedral sehingga berakibat
pada pengurangan kemampuan katalitik. Penggunaan dan pemanfaatan lempung
tidak termodifikasi umumnya relatif kurang luas, maka banyak dilakukan studi
untuk meningkatkan kemampuan kerjanya dengan memodifikasi lempung seperti
aktivasi lempung atau pemilaran lempung dengan berbagai senyawa organik,
senyawa kompleks dan oksida-oksida logam, yang dinamakan pillared clay.
Pemilaran lempung merupakan proses yang memungkinkan merubah struktur
lempung yang tak tahan secara termal menjadi struktur yang stabil dan berpori.
Partikel oksida kuat dalam proses ini terbentuk yang berperan sebagai pilar atau
penyangga yang mencegah terjadinya kerusakan, meskipun digunakan sebagai
katalis cracking.
Lempung terpilar merupakan material yang memiliki porositas yang
permanen, karena adanya senyawa kimia yang berperan sebagai tiang pemilar
pada ruang antarlapis lempung yang disebut sebagai molekul penyangga. Tujuan
dari proses pemilaran ini adalah untuk membentuk mikroporositas di dalam
sistem. Hal ini mudah diperoleh melalui kombinasi antara lembaran
montmorillonit bermuatan negatif relatif rendah dengan molekul penyangga
39


bermuatan positif relatif tinggi. Dalam kondisi ini penyangga akan terdistribusi
secara homogen di seluruh permukaan sistem dua dimensi. Pada dasarnya setiap
molekul atau partikel yang mampu menembus ruang antarlapis lempung
dinamakan molekul penyangga (Wijaya, 2006). Molekul air yang berada di dalam
ruang antar lapis dapat tergantikan oleh beberapa molekul organik polar. Ligan
organik netral dapat membentuk kompleks dengan kation-kation yang berada
dalam ruang antar lapis. Kation-kation antar lapis dapat tergantikan oleh beberapa
jenis kation organik (Fusova, 2009).
Sutha N (2008), menerangkan bahwa suspensi lempung montmorillonit
terbentuk melalui proses mengembangnya lempung di dalam air dan akan
terdistribusi secara merata yang akan mempermudah terjadinya pertukaran kation
terhidrat pada antarlapis lempung seperti Na
+
, K
+
, atau Ca
+
oleh spesies pemilar.
Proses kimia yang terlibat adalah pertukaran ion yang digambarkan sebagai
kompetisi antara ion-ion tersebut dengan kation terhidrat yang berada pada
antarlapis lempung montmorillonit. Selektivitas pertukaran ion Na
+
akan lebih
besar sebab konsentrasinya dalam larutan lebih banyak dan muatannya lebih besar
dibandingkan kation terhidrat yang akan dipertukarkan. Selektivitas semakin
tinggi untuk kation bermuatan lebih besar.
Karna W dkk (2006), menyebutkan dalam penelitiannya tentang cara
preparasi montmorillonit yaitu montmorillonit yang lolos pengayak 250 mesh
dicuci dengan air bebas ion dan kemudian disaring. Residu yang didapatkan
dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 °C selama 24 jam, kemudian digerus
dan diayak dengan pengayak 250 mesh. Selanjutnya Dibuat suspensi
40


montmorilonit dengan melarutkannya ke dalam air bebas ion. Suspensi ini
kemudian diaduk dengan pengaduk magnetik selama 2 jam. Selanjutnya suspensi
yang diperoleh direaksikan dengan larutan pemilar. Kemudian suspensi yang
diperoleh didiamkan selama 24 jam. Montmorilonit terinterkalasi ini kemudian
disentrifugasi dengan kecepatan 1000 rpm untuk memisahkan endapan padat
dengan supernatan. Endapan ini kemudian dicuci dengan menggunakan air bebas
ion hingga montmorillonit hasil pemilaran ini bebas ion Cl
-
(diuji melalui tes
AgNO
3
). Montmorilonit bebas ion Cl
-
ini dikeringkan dengan oven pada
temperatur 110°C selama 24 jam. Selanjutnya montmorilonit kering ini digerus
dan diayak hingga lolos saringan 250 mesh. Untuk membentuk pilar oksida
alumina yang rigid, senyawa yang telah diinterkalasi kemudian dikalsinasi pada
temperatur 300°C selama 5 jam dengan menggunakan aliran gas inert N
2
dengan
kecepatan 20 mL/menit. Montmorilonit terpilar Al
2
O
3
yang diperoleh kemudian
dianalisis menggunakan metode difraksi sinar-X (XRD). Hasil yang diperoleh
luas permukaan menjadi cukup besar. Selain itu selalu terbentuk jarak antarlapis
dengan ukuran 7-10 A.

2.5 Pemurnian Minyak Goreng
Tujuan utama dari proses pemurnian minyak adalah untuk menghilangkan
rasa, serta bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik dan memperpanjang
umur simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan mentah
dalam industri. Proses pemurnian ini dapat dilakukan secara fisis maupun
kimiawi. Secara fisis dengan cara penyaringan sedangkan secara kimia melalui
41


pemanasan, pemberian bahan pengendap serta penggunaan unit peralatan berupa
pemanas pendahuluan (heat exchanger), defekator, sulfitator expandeur, clarifier,
rotary vacuum filter. (Ketaren, 2005:203). Pemurnian minyak goreng ini meliputi
4 tahap proses yaitu despicing, netralisasi, bleaching dan deodorasi (Wijana, dkk.,
2005):
Pada penelitian ini, pemurnian minyak goreng yang digunakan adalah
despicing, netralisasi dan bleaching yaitu sebagai berikut:

2.5.1 Penghilangan Bumbu (Despicing)
Despicing merupakan proses pengendapan dan pemisahan kotoran akibat
bumbu dan kotoran dari bahan pangan yang bertujuan menghilangkan partikel
halus tersuspensi atau terbentuk koloid seperti protein, karbohidrat, garam, gula,
serta bumbu rempah-rempah yang digunakan menggoreng bahan pangan tanpa
mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak (Taufik, 2007: 22).

2.5.2 Netralisasi
Netralisasi ialah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari
minyak atau lemak, dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau
pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock). Netralisasi dengan
kaustik soda (NaOH) banyak dilakukan dalam skala industri, karena lebih efisien
dan lebih murah dibandingkan dengan cara netralisasi lainnya. Kaustik soda
(NaOH) membantu dalam mengurangi zat warna dan kotoran yang berupa getah
42


dan lendir dalam minyak. Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah
sebagai berikut (Ketaren, 2005:206):
R C
O
OH
+
NaOH
R C
O
ONa
+
H
2
O
Asam Lemak Bebas
Basa
Sabun
Air

Gambar 2.12 Reaksi asam lemak bebas dengan NaOH (Sumber: Ketaren, 2005)
Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran
seperti fosfatida dan protein, dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi
yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifusi.

2.5.3 Pemucatan (bleaching)
Pemucatan ialah suatu tahap proses pemurnian untuk menghilangkan zat-
zat warna yang tidak disukai dalam minyak. Pemucatan ini dilakukan dengan
mencampur minyak dengan sejumlah kecil adsorben, seperti tanah serap (fuller
earth), lempung aktif (activated clay) dan arang aktif atau dapat juga
menggunakan bahan kimia. Zat warna dalam minyak akan diserap oleh
permukaan adsorben dan juga menyerap suspensi koloid (gum dan resin) serta
hasil degradasi minyak, misalnya peroksida (Ketaren, 2005:216).
Jumlah adsorben yang dibutuhkan untuk menghilangkan warna minyak
tergantung dari macam dan tipe warna dalam minyak dan sampai berapa jauh
warna tersebut akan dihilangkan. Daya penyerapan terhadap warna akan lebih
43


efektif jika adsorben tersebut mempunyai bobot jenis yang rendah, kadar air
tinggi, ukuran partikel halus, dan pH adsorben mendekati netral (Ketaren, 2005).

2.6 Adsorpsi
Sorpsi adalah proses penyerapan ion oleh partikel penyerap. Proses sorpsi
dibedakan menjadi dua yaitu adsorpsi dan absorpsi. Dinamakan proses adsorpsi
jika ion atau senyawa yang diserap tertahan pada permukaan partikel penyerap.
Jika proses pengikatan berlangsung sampai di dalam partikel penyerap disebut
sebagai proses absorpsi (Mattel, 1951 dalam Afiatun, 2004).
Bernasconi dkk menerangkan bahwa adsorpsi adalah suatu proses
pemisahan bahan dari campuran gas atau cair, bahan yang harus dipisahkan
ditarik oleh permukaan sorben padat dan diikat oleh gaya-gaya yang bekerja pada
permukaan tersebut. Didukung oleh selektifitasnya yang tinggi, proses adsorpsi
sangat sesuai untuk memisahkan bahan dengan konsentrasi yang lebih kecil dari
campuran yang mengandung bahan lain yang berkonsentrasi tinggi. Bahan yang
akan dipisahkan tentu saja harus dapat diadsorpsi. Pemisahan bahan dengan
konsentrasi yang lebih besar disarankan menggunakan proses pemisahan yang
lain, karena mahalnya regenerasi adsorben yang terbebani.
Kecepatan adsorpsi tidak hanya tergantung pada perbedaan konsentrasi
dan pada luas permukaan adsorben, melainkan juga pada suhu, tekanan (untuk
gas), ukuran partikel, dan porositas adsorben. Kecepatan adsorpsi juga tergantung
pada ukuran molekul bahan yang akan disorpsi dan pada viskositas campuran
yang akan dipisahkan (cairan, gas) (Bernasconi, dkk, 1995).
44


Adsorpsi diklasifikasikan menjadi adsorpsi kimiawi dan adsorpsi fisika.
Kekuatan adsorpsi fisika relatif lebih lemah karena melibatkan ikatan Van der
Waals (induksi dipol-dipol) atau pada beberapa keadaan melibatkan interaksi
elektrostatik. Pada adsorpsi kimiawi terjadi perpindahan elektron yang ekuivalen
terhadap susunan ikatan kimia antara bahan yang diserap (sorbat) dan permukaan
adsorben.
Menurut Oscik (1991), adsorpsi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Adsorpsi Fisik (Fisisorpsi)
Adsorpsi fisik merupakan suatu proses bolak-balik apabila daya tarik
menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat
terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan
adsorben (Oscik, 1991). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat
lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20
kj/mol (Castellan, 1982), karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible yaitu dapat
balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan
(Larry, et al., 1992). Adsorpsi fisika melibatkan gaya antarmolekuler, yang
melalui gaya Van der Walls atau ikatan hidrogen. Gaya Van der Walls meliputi
gaya dipol-dipol, gaya dipol-dipol induksian dan gaya London.
Gaya dipol-dipol adalah gaya tarik antara molekul polar dengan polar.
Gaya tarik antara molekul-molekul tersebut lebih kuat dibandingkan dengan gaya
tolaknya, yang ditunjukkan dalam gambar di bawah ini (Effendy, 2006):


45



` Gaya tarik
Gaya tolak



Gambar 2.13 Gaya Tarik antara Molekul-Molekul Polar (Sumber: Effendy, 2006)

Gaya dipol-dipol induksian adalah gaya tarik antara molekul polar dengan
molekul nonpolar. Mekanisme gaya tersebut adalah apabila molekul polar dan
molekul nonpolar berada pada jarak tertentu, molekul polar dapat menginduksi
molekul nonpolar, sehingga pada molekul nonpolar terjadi dipol induksian,
selanjutnya antara kedua molekul tersebut terjadi gaya tarik elektrostatik.
Terjadinya gaya dipol-dipol induksian dapat ditunjukkan pada gambar di bawah
ini (Effendy, 2006):

induksian

molekul polar dengan molekul nonpolar
dipol permanen tanpa dipol


molekul polar dengan molekul nonpolar
dipol permanen dengan dipol induksian


Terjadi gaya tarik elektrostatik

Gambar 2.14 Terjadinya Gaya Dipol-Dipol Induksian (Sumber: Effendy, 2006)

+ -

+ -

+ -

±
+
_
+
_
+ -
+ -
+ -
46


Gaya London adalah gaya tarik antara molekul nonpolar dengan nonpolar.
Molekul nonpolar terdiri dari inti atom dan elektron. Elektron selalu bergerak
mengelilingi inti atom, elektron tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi
rapatan elektron, yang menyebabkan pusat muatan positif dan muatan negatif
memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat.


polarisasi awan elektron


molekul nonpolar molekul dengan
tanpa dipol dipol sesaat


Gambar 2.15 Pembentukan Dipol sesaat pada Molekul Nonpolar
(Sumber: Effendy, 2006)



Dipol sesaat ini, dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian
timbul kembali secara terus menerus dan bergantian. Apabila didekatnya ada
molekul nonpolar sejenis atau berbeda maka molekul dengan dipol sesaat ini akan
menginduksi molekul tersebut sehingga terjadi dipol induksian, kemudian antara
kedua molekul tersebut terjadi gaya elektrostatik, yang ditunjukkan pada gambar
di bawah ini :
+ -

±

47


induksian

molekul dengan molekul tanpa dipol
dipol sesaat



molekul dengan molekul dengan
dipol sesaat dipol induksian

Terjadi gaya tarik elektrostatik
Gambar 2.16 Terjadinya gaya London (Sumber: Effendy, 2006)

b. Adsorpsi Kimia (Kemisorpsi)
Proses adsorpsi kimia, interaksi adsorbat dengan adsorben melalui
pembentukan ikatan kimia. Kemisorpsi terjadi diawali dengan adsorpsi fisik, yaitu
partikel-partikel adsorbat mendekat ke permukaan adsorben melalui gaya Van der
Waals atau melalui ikatan hidrogen, kemudian diikuti oleh adsorpsi kimia yang
terjadi setelah adsorpsi fisika, dalam adsorpsi kimia partikel melekat pada
permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen), dan
cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasi dengan
substrat (Atkins, 1999). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat
dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika, karena energi yang
dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan, 1982).


+ -

+ -

+ -

±
48


Tabel 2.7 Adsorpsi Fisika dan Adsorpsi Kimia
Parameter Adsorpsi Fisika Adsorpsi Kimia
Panas adsorpsi Rendah Tinggi
Spesifisitas Tidak spesifik Sangat spesifik
Sifat dari fase
yang teradsorp
Monolayer/multilayer, tidak
terjadi disosiasi
Hanya monolayer,
melibatkan disosiasi
Range temperatur Range sempit Range lebar
Kekuatan adsoprsi Tidak terjadi perpindahan
elektron meskipun polarisasi
sorbat dapat terjadi
Terjadi perpindahan
elektron
Reversibilitas Cepat, tidak teraktivasi,
reversible
Lambat, teraktivasi,
irreversible
Sumber : Bernasconi, 1995

2.7 Karbon aktif
Karbon merupakan arang yang diproses sedemikian rupa sehingga
mempunyai daya serap yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau
uap. Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon,
dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada
suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi
kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung
karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi (Sembiring, 2003).
Arang selain digunakan sebagai bahan bakar, filter, pemisah gas,
pemurnian air juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). Arang pada
umumnya mempunyai daya adsorpsi yang rendah terhadap zat warna dan daya
adsorpsi tersebut dapat diperbesar dengan cara mengaktifkan arang menggunakan
uap atau bahan kimia (Ketaren, 1986).
Arang aktif adalah arang yang telah mengalami perubahan sifat-sifat fisika
dan kimianya karena dilakukan perlakuan aktifasi dengan aktifator bahan-bahan
49


kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi, sehingga daya serap dan
luas permukaan partikel serta kemampuan arang tersebut akan menjadi lebih
tinggi (Sembiring, 2003).
Arang aktif merupakan senyawa karbon amorf, yang dapat dihasilkan dari
bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan
cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan
arang aktif berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubungan dengan
struktur pori internal, struktur pori ini menjadikan celah-celah dalam arang aktif
mampu dilewati oleh molekul pada saat adsorpsi. Arang aktif dapat mengadsorpsi
gas, molekul netral, asam atau basa organik tetapi tidak mampu menyerap secara
maksimal ion logam atau garam-garam yang terinonisasi dengan kuat, tergantung
pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. Daya serap arang aktif
sangat besar, yaitu 25-1000% terhadap berat arang aktif (Sembiring, 2003).
Arang aktif dibagi atas 2 tipe, yaitu arang aktif sebagai pemucat dan
sebagai penyerap uap. Arang aktif sebagai pemucat, biasanya berbentuk serbuk
(powder) yang sangat halus, diameter pori mencapai 1000A
0
, digunakan dalam
fase cair, berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan
warna dan bau yang tidak diharapkan, membebaskan pelarut dari zat-zat
penganggu dan kegunaan lain yaitu pada industri kimia. Arang ini diperoleh dari
serbuk-serbuk gergaji, ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang
mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah (Sembiring,
2003).
50


Arang aktif sebagai penyerap uap, biasanya berbentuk granular atau pellet
yang sangat keras diameter pori berkisar antara 10-200 A
0
, tipe pori lebih halus,
digunakan dalam fase gas, berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut, katalis,
pemisahan dan pemurnian gas. Arang aktif ini diperoleh dari tempurung kelapa,
tulang, batu bata atau bahan baku yang mempunyai bahan baku yang mempunyai
struktur keras (Sembiring, 2003).

2.7.1 Aktivasi Karbon Aktif
Aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk
memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau
mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan
sifat, baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah besar dan
berpengaruh terhadap daya adsorpsi (Sembiring, 2003).
Sembiring (2003) menyebutkan bahwa metode aktivasi yang umum
digunakan dalam pembuatan karbon aktif adalah:
a. Aktivasi Kimia
Aktivasi kimia adalah proses pemutusan rantai karbon dari senyawa
organik dengan pemakian bahan-bahan kimia (Sembiring, 2003). Metode ini
dilakukan dengan cara merendam bahan baku pada bahan kimia (H
3
PO
4
, ZnCl
2
,
CaCl
2
, K
2
S, HCl, H
2
SO
4
, NaCl, Na
2
CO
3
) dan diaduk dalam jangka waktu tertentu,
kemudian dicuci dengan akuades selanjutnya dikeringkan. Proses ini bertujuan
untuk membersihkan permukaan pori, membuang senyawa pengganggu dan
menata kembali letak atom yang dapat dipertukarkan.
51


Pengaruh aktivasi pada beberapa adsorben, antara lain: Penelitian
Wahyuni dan Kostradiyanti (2008) ini, tentang aktivasi arang sekam padi dengan
KOH. Arang aktif yang dihasilkan digunakan untuk mengadsorpsi hidrogen
peroksida dan selanjutnya diaplikasikan untuk mengurangi angka peroksida
minyak kelapa tradisional. Hasil dari penelitian tersebut mengemukakan bahwa
arang sekam padi yang diaktivasi KOH proses adsorpsinya berlangsung lebih
cepat dibandingkan dengan arang sekam padi yang tidak diaktivasi. Aktivasi 15 %
KOH mampu menurunkan angka peroksida minyak kelapa tradisional sampai
84,4 %.
Penelitian Sabaruddin, A (1996), mengemukakan bahwa arang tempurung
kelapa yang diaktivasi dengan variasi konsentari NaCl (15 %, 20 %, 25 %30 %,
35 %, dan 40 %) dan variasi temperatur (350
o
C, 400
o
C, 450
o
C, 500
o
C, 550
o
C
dan 600
o
C), menghasilkan konsentrasi NaCl terbaik adalah pada konsentrasi
NaCl 30 %, dengan karakteristik angka iodin sebesar 302,840 mg/g; berat jenis
sebesar 1,1801 g/mL; kadar abu sebesar 0,8816 %, kadar air sebesar 1,1305 % dan
kehilangan berat karbon sebesar 14,22%, sedangkan temperatur aktivasi terbaik
adalah pada temperatur 500
o
C, dengan karakteristik angka iodin sebesar 276,507
mg/g; berat jenis sebesar 1,2224 g/mL; kadar abu sebesar 0,7532 %, kadar air
sebesar 1,5990 % dan kehilangan berat karbon sebesar 14,00 %.
b. Aktivasi Fisika
Aktivasi fisika adalah proses pemutusan rantai karbon dari senyawa
organik dengan bantuan panas, uap dan CO
2
. Pemanasan ini bertujuan untuk
menguapkan air yang terperangkap dalam pori-pori karbon aktif sehingga luas
52


permukaan karbon aktif bertambah besar. Karbon dipanaskan didalam furnace
pada temperatur 800-900°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah,
merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Pemanasan
dengan uap atau CO
2
pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm,
sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan (Sembiring, 2003).
Pembuatan arang aktif berlangsung 3 tahap yaitu proses dehidrasi, proses
karbonisasi dan proses aktivasi (Juliandini dan Yulinah, 2008).
a. Dehidrasi: proses penghilangan air.
Bahan baku dipanaskan sampai temperatur 105°C selama 24 jam.
b. Karbonisasi: pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Temperatur
diatas 170°C akan menghasilkan karbon monoksida, karbon dioksida dan
asam asetat. Pada temperature 275°C, dekomposisi menghasilkan tar, metanol
dan hasil sampingan lainnya.
Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400 – 600 °C.
c. Aktivasi: Kemampuan adsorpsi adsorben sangat ditentukan oleh luas
permukaan (porositas) dan volume pori-pori dari adsorben. Adsorben dengan
porositas yang besar mempunyai kemampuan menyerap yang lebih tinggi
dibandingkan dengan adsorben yang memilki porositas kecil. (Juliandini dan
Yulinah, 2008).
Karbon dapat diperoleh melalui proses karbonisasi. Karbonisasi atau
pengarangan adalah suatu proses pirolisis atau pembakaran tidak sempurna (tanpa
oksigen) dari bahan yang mengandung karbon, biasanya pada temperatur 500-
800
0
C. Pembentukan pori mulai terbentuk dalam karbonisasi (Parker, 1993).
53


Tujuan utama dari proses karbonisasi ini adalah untuk menghasilkan
butiran yang mempunyai daya serap dan struktur yang rapi. Sifat-sifat dari hasil
karbonisasi ditentukan oleh kondisi dan bahan dasarnya. Parameter yang biasanya
digunakan untuk menentukan kondisi karbonisasi yang sesuai yaitu temperatur
akhir yang dicapai, waktu karbonisasi, laju peningkatan temperatur, medium
(atmosfer) dari proses karbonisasi (Janskowska, 1991).
Karbon memiliki sifat yang unik pada permukaannya yang disebabkan
adanya gugus fungsional yang mengandung oksigen seperti karboksil, lakton dan
fenol. Gugus fungsional permukaan karbon adalah gugus yang diikat secara kimia
pada atom C dalam lempeng padatannya. Peningkatan gugus fungsional dapat
menurunkan pori dan luas permukaan spesifik karena gugus fungsional dapat
menutupi pori karbon. Gugus ini menjadikan karbon memiliki potensi sebagai
adsorben untuk menghilangkan ion logam (Parker, 1993).
Jankowska (1991) menyebutkan bahwa karbon aktif mampu mengadsorpsi
adsorbet dengan maksimal karena memiliki porositas tinggi, sehingga dapat
digunakan sebagai adsorben. Unsur-unsur dari karbon aktif sebagian besar terdiri
dari karbon dan masing-masing berikatan secara kovalen, dengan demikian
permukaan karbon aktif bersifat non polar. Komposisi dan polaritas karbon aktif
ini berpengaruh terhadap jenis adsorbat yang diserap (Tryana, 2003).

2.8 Kolom
Kolom yang digunakan dalam pertukaran ion dapat berupa pipa gelas
atau tabung yang dilengkapi bagian bawahnya dengan katup atau kran dan gelas
54


penyaring didalamnya. Kolom-kolom tersebut dapat dibuat secara sederhana dari
tabung gelas, sehingga buret juga dapat digunakan (Sastrohamidjojo, 1991).
Berbagai ukuran kolom dapat digunakan tergantung pada banyaknya zat yang
akan dipisahkan, tetapi biasanya panjang kolom sekurang-kurangnya 10 kali dari
diameter kolom (Gritter, 1991). Glass wool atau kapas dapat digunakan untuk
menahan penyerap yang diletakkan di dalam kolom (Sastrohamidjojo, 1991).
Proses pengisian kolom adalah tidak mudah, untuk mendapatkan
pengisian kolom yang homogen. Pengisian yang tidak teratur dari adsorben akan
merusak proses pemisahan. Putusnya adsorben dalam kolom biasanya disebabkan
oleh gelembung-gelembung udara selama pengisian, dan untuk mencegah hal
tersebut sedapat mungkin zat pengisi/ adsorben dibuat menjadi “bubur” dengan
pelarut kemudian dituangkan perlahan-lahan dalam tabung. Pengisian adsorben ke
dalam kolom dapat dibantu dengan mengguncang perlahan-lahan, maka akan
diperoleh pengisian yang homogen. Besarnya partikel-partikel adsorben yang
diperoleh sama, akan lebih mudah untuk mendapatkan pengisian yang homogen.
Adsorben yang telah dimasukkan ke dalam kolom harus diperhatikan jangan
sampai ada bagian yang kering, baik selama pengisian atau selama pemisahan
(Sastrohamidjojo, 1991).

2.9 Analisis FFA dengan Metode Titrasi Asam Basa
Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi yaitu
suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji, kemudian ditetesi
55


dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya (http//www.
elektroindonesia.com).
Analisa FFA pada minyak goreng menggunakan metode titrasi asam basa
dengan cara melarutkan minyak goreng dalam alkohol yang dibantu dengan
pemanasan, kemudian dititrasi dengan larutan natrium hidroksida (NaOH) sampai
terbentuk warna merah jambu, indikator yang digunakan adalah fenolftalein (pp).
Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan
sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri, penentuannya
hanya didasarkan pada perubahan warna yang terjadi pada sampel dan sering
disebut sebagai titik akhir titrasi.
Kemudian dihitung asam lemak bebasnya (%FFA) dengan rumus di
bawah ini:
 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA ..……………..(2,7)
Keterangan:
% FFA : Kadar asam lemak bebas
ml NaOH : Volume titran NaOH
M NaOH : Molaritas larutan NaOH (mol/L)
BM : Berat molekul asam lemak merek bimoli (asam lemak
palmitat) 256 g/mol
Persamaan reaksi dari titrasi asam basa ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
RCOOH + NaOH RCOONa + H
2
O

56


2.10 Penentuan Angka Peroksida dengan Titrasi Iodin
Angka peroksida dalam minyak goreng dinyatakan dengan miliequivalen
peroksida dalam 1000 g minyak. Penentuan yang paling banyak digunakan adalah
menggunakan metode titrasi iodin dengan cara melarutkan minyak goreng dalam
larutan asam asetat-kloroform, kemudian ditambahkan larutan KI jenuh dan
didiamkan selama 1 menit, selanjutnya ditambahkan aquades. Campuran dititrasi
dengan natrium tiosulfat (Na
2
S
2
O
3
) sampai warna kuning hampir hilang. Titrasi
dihentikan untuk menambahkan indikator pati (amilum) sampai warna larutan
menjadi biru, titrasi dilanjutkan kembali sampai warna biru hilang. Khopkar
(2003), menjelaskan bahwa kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan yang
kecil dalam air sehingga penambahan dilakukan pada titik akhir titrasi.
Kemudian dihitung angka peroksida yang dinyatakan dalam mili-equivalen
dari peroksida dalam setiap 1000 g sampel menggunakan rumus di bawah ini:
) (
1000
3 2
g l beratsampe
x thio N x SO Na ml
peroksida Angka  .................(2,8)
Pada pelarutan sejumlah minyak ke dalam campuran asetat:kloroform yang
mengandung KI, akan terjadi pelepasan iodin (I
2
) (Sudarmadji dkk., 2007: 115-
116).
R . COO˚ + KI → R . CO˚ + H
2
O + I
2
+ K
+

Iodin yang bebas dititrasi dengan natrium thiosulfat menggunakan indikator
amilum sampai warna biru hilang (Sudarmadji dkk., 2007: 115-116).
I
2
+ 2 Na
2
S
2
O
3
→ 2 NaI + Na
2
S
4
O
6
57

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium kimia Universitas Islam Negeri
Malang, pada bulan Januari sampai dengan Februari 2010.

3.2 Bahan
3.2.1 Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak goreng bekas
merk Bimoli, dengan pemakaian 8 jam.

3.2.2 Bahan Kimia
Semua bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai
derajat kemurnian proanalis, meliputi: biji kelor, serbuk bentonit, aquades, NaCl,
AgNO
3
, glass wool, NaOH (p.a), etanol (teknis) 95 %, indikator pp (p.a) ,
kloroform (teknis), larutan pati 1 %, asam asetat (p.a), natrium thiosulfat (Na
2
SO
3
)
(p.a), HCl 0,1 M dan larutan jenuh KI (p.a).

3.3 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seperangkat alat
gelas, alumunium foil, tanur, mortar, oven, kolom, kertas saring, ayakan 100
58


Mesh-120 mesh, buret, statif, erlenmeyer, corong pisah, timbangan analitik,
termometer, magnetik stirer dan color reader.

3.4 Tahapan Penelitian
Adapun tahap penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Preparasi biji kelor
2. Preparasi bentonit
3. Analisis kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida, dan analisis warna
minyak goreng bekas dengan kontrol minyak goreng baru.
4. Proses penghilangan bumbu (despicing)
5. Analisis asam lemak bebas (Free Fatty Acid), Angka peroksida dan warna
6. Proses netralisasi
7. Analisis asam lemak bebas (Free Fatty Acid), Angka peroksida dan warna
8. Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor dan
bentonit
a. Adsorpsi menggunakan karbon aktif biji kelor
b. Adsorpsi menggunakan bentonit
c. Adsorpsi menggunakan campuran karbon aktif biji kelor dan bentonit
9. Analisis warna dengan color reader
10. Penentuan asam lemak bebas (Free Fatty Acid)
11. Penentuan angka peroksida

59


3.5 Cara Kerja
3.5.1 Preparasi Biji Kelor (Sabarudin, 1996)
Buah kelor yang sudah tua dan kering dibuang kulitnya sehingga diperoleh
biji kelor, setelah itu biji kelor tanpa dipisahkan dari kulit arinya di tumbuk kasar
dan dibungkus dengan alumunium foil lalu dimasukkan tanur suhu 600
o
C selama
3 jam. Arang yang dihasilkan ditumbuk dan diayak agar diperoleh serbuk arang
biji kelor. Serbuk arang biji kelor dicuci dengan air panas kemudian dikeringkan
dengan oven pada suhu 110
o
C selama 2 jam. Arang diaktivasi dengan direndam
larutan NaCl 30 % selama 24 jam, kemudian dikeringkan dalam oven 110
o
C
selama 2 jam. Arang yang dihasilkan dihaluskan dan disaring dengan ayakan 100
mesh.

3.5.2 Preparasi Bentonit (Yulianto, 2001)
Lempung alam bentonit yang sudah tersedia dalam bentuk powder,
sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu dengan akuades dengan perendaman
selama 24 jam, lalu didispersikan ke dalam larutan natrium klorida 1M, diaduk
dengan pengaduk magnet selama 24 jam dan dipanaskan pada temperatur 70 C -
80 C. Sedimen dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring. Sedimen yang
didapatkan dicuci dengan akuades dan dikeringkan dalam oven pada temperatur
110 C selama 4 jam. Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan
disaring dengan pengayak 100 mesh. Berikutnya Bentonit ini dijenuhkan dengan
NaCl jenuh selama 24 jam pengadukan. Sedimen dipisahkan dari larutannya
dengan cara disaring. Sedimen yang didapatkan dicuci dengan akuades, lalu diuji
60


dengan larutan AgNO
3
sampai tidak terbentuk endapan AgCl. Sedimen yang
didapatkan dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C selama 4 jam.
Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan disaring dengan pengayak
100 mesh.

3.5.3 Proses Penghilangan Bumbu (despicing) (Taufik, 2007)
Ditimbang sebanyak 250 gram minyak goreng bekas kemudian
ditambahkan air dengan komposisi minyak:air (1:1), masukkan ke dalam beaker
glass 500 mL. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 110
o
C sampai air dalam beaker
glass tinggal setengahnya. Diendapkan dalam corong pemisah selama 1 jam,
kemudian fraksi air pada bagian bawah dipisahkan sehingga diperoleh minyak
bebas air, setelah itu dilakukan penyaringan dengan kertas saring untuk
memisahkan kotoran yang tersisa

3.5.4 Proses Netralisasi (Ketaren, 2005)
Minyak hasil despicing sebanyak 150 gram dipanaskan sampai
temperatur 35

C, kemudian ditambahkan 6 mL larutan NaOH 16 %, diaduk
campuran selama 10 menit pada temperatur 40

C, selanjutnya didinginkan selama
10 menit dan dipisahkan dengan cara disaring.

61


3.5.5 Analisis Warna dengan Color Reader (Room, 2004)
Dua ratus gram minyak goreng dimasukkan ke dalam kuvet, kemudian
color reader dihidupkan, setelah itu tentukan harga L*, a*, b* yang selanjutnya
diukur warnanya.
Keterangan:
L* : warna cerah (0-100)
a* : warna jingga sampai merah (-100 sampai +100)
b* : warna kuning

3.5.6 Penentuan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid) (AOAC, 1990)
Ditimbang sebesar 14 gram minyak goreng dan dimasukkan ke dalam
erlenmeyer 250 ml, lalu ditambahkan 25 ml etanol 95 % dan dipanaskan pada
suhu 40
o
C, setelah itu ditambahkan 2 ml indikator pp, dilakukan titrasi dengan
larutan 0,05 M NaOH sampai muncul warna merah jambu dan tidak hilang selama
30 detik. Dihitung asam lemak bebas (%FFA) dengan rumus di bawah ini:
100
1000
% x
x sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA ..……………..(3,1)
Keterangan:
% FFA : Kadar asam lemak bebas
ml NaOH : Volume titran NaOH
M NaOH : Molaritas larutan NaOH (mol/L)
BM : Berat molekul asam lemak merek bimoli (asam lemak
palmitat) 256 g/mol

62


3.5.7 Penentuan Angka Peroksida (AOAC, 1990)
Ditimbang sebanyak 5 gram minyak goreng dan dimasukkan ke dalam 250
mL erlenmeyer kemudian ditambahkan 30 ml larutan asam asetat-kloroform (3 :
2), dikocok sampai bahan terlarut semua, selanjutnya ditambahkan 0,5 ml larutan
jenuh KI dengan erlenmeyer dibuat tertutup. Didiamkan selama 1 menit sambil
digoyang, setelah itu ditambahkan 30 ml aquades. Campuran dititrasi dengan 0,01
N Na
2
S
2
O
3
sampai warna kuning hampir hilang, ditambahkan 0,5 ml larutan pati 1
% dan dititrasi kembali sampai warna biru mulai hilang. Dihitung angka peroksida
yang dinyatakan dalam mili-equivalen dari peroksida dalam setiap 1000 g sampel.
) (
1000
3 2
g l beratsampe
x thio N x SO Na ml
peroksida Angka  .................(3,2)

3.5.8 Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor
dan bentonit
3.5.8.1 Adsorpsi menggunakan biji kelor
Serbuk karbon aktif biji kelor ditimbang sebanyak 2 gram kemudian
dimasukkan ke dalam kolom berdiameter 2 cm yang telah diberi glass wool, lalu
dialirkan minyak goreng bekas sebanyak 50 ml. Kemudian dilakukan analisa
warna, asam lemak bebas, angka peroksida seperti pada sub bab 3.5.5 ; 3.5.6 dan
3.5.7.

3.5.8.2 Adsorpsi menggunakan bentonit
Serbuk bentonit yang teraktivasi ditimbang sebanyak 2 gram kemudian
dimasukkan ke dalam kolom berdiameter 2cm yang telah diberi glass wool, lalu
63


dialirkan minyak goreng bekas 50 ml. Kemudian dilakukan analisa warna, asam
lemak bebas, angka peroksida seperti pada sub bab 3.5.5 ; 3.5.6 dan 3.5.7.

3.5.8.3 Adsorpsi menggunakan campuran karbon aktif biji kelor dan
bentonit

Dimasukkan glass wool pada ujung kolom, selanjutnya sebanyak 1 gram
serbuk karbon aktif biji kelor dimasukkan. Kemudian ditutup dengan glass wool,
lalu ditambahkan 1 gram sebuk bentonit pada lapisan diatasnya dan ditutup
dengan glass wool pada bagian atas kolom. Minyak goreng bekas 50 ml dialirkan
melewati kolom. Kemudian dilakukan analisa warna, asam lemak bebas, angka
peroksida seperti pada sub bab 3.5.5 ; 3.5.6 dan 3.5.7.

64

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas minyak goreng
bekas dengan metode adsorpsi menggunakan beberapa jenis adsorben dan
mempelajari pengaruh jenis adsorben terhadap kualitas minyak goreng bekas,
sehingga dapat diketahui adsorben yang relatif efektif untuk memperbaiki kualitas
minyak goreng bekas tersebut. Sehingga minyak goreng bekas tersebut dapat
dimanfaatkan kembali dengan mengurangi kadar pengotor dan kadar asam lemak
bebasnya (FFA). Adsorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah karbon
aktif biji kelor, bentonit teraktivasi dan campuran karbon aktif biji kelor dengan
bentonit teraktivasi.
Penelitian ini meliputi: pembuatan karbon aktif dari biji kelor, preparasi
bentonit, pemurnian minyak goreng bekas, kadar asam lemak bebas (FFA), dan
angka peroksida.

4.1 Pembuatan Karbon Aktif dari Biji Kelor
Penelitian ini diawali dengan pembuatan karbon aktif dari biji kelor yang
berfungsi sebagai adsorben untuk menjernihkan minyak goreng bekas. Pembuatan
karbon aktif umumnya berlangsung tiga tahap, yaitu: proses dehidrasi, proses
karbonisasi dan proses aktivasi. Pada penelitian ini hanya digunakan dua tahap,
yakni karbonisasi dan aktivasi karena pada proses dehidrasi dilakukan satu tahap
dengan proses karbonisasi.
65


4.1.1 Proses Karbonisasi Biji Kelor
Biji kelor yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji kelor yang telah
tua dan kering di pohon, berwarna coklat tua dan keras. Biji kelor tersebut
ditumbuk kasar agar kematangannya dapat merata pada waktu proses karbonisasi
lalu dibungkus dengan alumunium foil serapat mungkin agar tidak terjadi
kebocoran udara didalam tempat pemanasan ketika proses pemanasan
berlangsung, sehingga biji kelor yang mengandung karbon tersebut hanya
terkarbonisasi dan tidak teroksidasi karena adanya reaksi dengan oksigen dari
udara.
Pada proses karbonisasi (pengarangan) biji kelor ini terjadi suatu proses
pirolisis atau dekomposisi bahan-bahan organik dalam biji kelor melalui proses
pembakaran tidak sempurna (tanpa adanya oksigen). Tujuan utama dari proses
karbonisasi ini adalah untuk menghasilkan butiran arang dari biji kelor yang
diharapkan mempunyai daya serap dan struktur yang rapi sehingga memiliki
keteraturan luas permukaan yang sama.
Pada tahapan proses karbonisasi ini pemakaian suhu dilakukan secara
lambat dan bertahap. Mulai dari suhu kamar sampai pada suhu yang dicapai (600
o
C) kurang lebih 3 jam. Pertama, dilakukan penstabilan suhu tanur berlangsung
kurang lebih selama 1 jam dimulai dari suhu 30
o
C - 600
o
C. Secara umum, proses
pembuatan arang akan terjadi proses dehidrasi pada suhu 105
o
C-170
o
C. Pada
pembuatan karbon aktif biji kelor ini juga terjadi proses dehidrasi pada suhu 105
o
C-170
o
C yakni air yang terkandung dalam biji kelor keluar menjadi uap air,
sehingga biji kelor menjadi kering. Pada suhu 170
o
C – 275
o
C biji kelor secara
66


perlahan-lahan menjadi arang dan unsur-unsur bukan karbon dikeluarkan
(diuapkan) dalam bentuk gas seperti CO
2
, CO, H
2
dan lain sebagainya. Pada suhu
275
o
C-500
o
C terjadi dekomposisi selulosa yang menghasilkan tar, metanol dan
hasil samping lainnya. Pada suhu 500
o
C terjadi proses pembentukan arang lebih
sempurna, sementara pembentukan tar masih terus berlangsung. Kedua, proses
pengarangan biji kelor dilakukan pada suhu yang sama yaitu 600
o
C yang
berlangsung konstan selama 2 jam agar terjadi pemanasan yang merata. Biji kelor
yang dihasilkan pada proses karbonisasi berwarna hitam. Hal ini menunjukkan
bahwa biji kelor sudah berubah menjadi karbon (arang). Kemudian serbuk arang
biji kelor dicuci dengan air panas untuk menghilangkan mineral-mineral pengotor
yang kemungkinan masih terikat atau menutupi pori-pori arang biji kelor, dan
dikeringkan dengan oven pada suhu 110
o
C selama 2 jam. Pada proses ini
diperoleh serbuk arang biji kelor yang kering menggumpal.
Tahap karbonisasi ini, akan menghasilkan karbon biji kelor yang
mempunyai daya adsorpsi yang rendah, sehingga menyebabkan kapasitas adsorpsi
juga rendah. Daya adsorpsi tersebut dapat diperbesar dengan cara perbaikan
struktur pori melalui proses aktivasi.

4.1.2 Proses Aktivasi Biji Kelor
Arang biji kelor yang akan diaktivasi ditumbuk terlebih dahulu sampai
berbentuk serbuk, yang bertujuan untuk membuka pori-pori biji kelor, sehingga
semakin banyak permukaan karbon yang kontak dengan aktifator.
67


Pada penelitian ini, proses aktivasi dilakukan secara kimia dengan cara
merendam serbuk arang biji kelor dengan larutan NaCl 30% selama 24 jam.
Unsur-unsur dari persenyawaan NaCl yang ditambahkan akan meresap ke dalam
arang dan membuka permukaan yang mula-mula tertutup oleh komponen kimia
yang lain. Garam ini berfungsi sebagai dehidrating agent dan membantu
menggantikan tar, endapan hidrokarbon pengotor yang dihasilkan pada proses
karbonisasi serta mengembangkan struktur rongga yang ada pada karbon,
sehingga permukaan pori karbon aktif biji kelor yang dihasilkan memiliki luas
permukaan adsorpsi yang besar. Luas permukaan yang besar ini akan
mempengaruhi hasil adsorpsi yang didapatkan.
Karbon aktif yang dihasilkan kemudian dikeringkan dalam oven 110
o
C
selama 2 jam untuk menguapkan air yang terikat dalam pori-pori karbon.
kemudian ditumbuk sampai halus untuk memperbesar luas permukaan karbon
sehingga mampu menyerap lebih banyak. Serbuk dan butiran ini mempunyai
variasi berbagai ukuran, untuk mendapatkan proses penyerapan yang seragam
maka perlu dilakukan proses penyeragaman ukuran butir adsorben, yakni
dilakukan pengayakan dengan ukuran 100 - 120 mesh, yaitu lolos pada ukuran
100 mesh dan tertahan pada ukuran 120 mesh. Pada penelitian Hermansyah
(2003) disebutkan bahwa penyerapan terbaik terhadap karoten pada minyak sawit
kasar menggunakan adsorben arang tulang terjadi pada ukuran butir adsorben 180
s/d 250 mikron (100-120 mesh).

68


4.2 Preparasi Bentonit
Lempung alam bentonit yang sudah tersedia dalam bentuk powder,
sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu dengan akuades dengan perendaman
selama 24 jam. Bentonit memiliki daya mengembang yang sangat tinggi, yaitu
hingga delapan kali bila dicelupkan ke dalam air, dan tetap terdispersi beberapa
waktu di dalam air (Andini, 2007) sehingga luas permukaannya semakin besar.
Bentonit tersebut didispersikan ke dalam larutan natrium klorida (NaCl) 1 M
dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer selama 24 jam serta
dipanaskan pada temperatur 70 C - 80 C untuk memperbesar luas permukaan
bentonit karena berkurangnya pengotor anorganik yang menutupi pori-pori
bentonit sehingga pori-porinya lebih terbuka, dan ruang kosong menjadi lebih
besar. Jika dibiarkan akan diisi oleh molekul air yang berasal dari uap air.
Sedimen hasil dispersi dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring.
Sedimen yang didapatkan dicuci dengan akuades dan dikeringkan dalam oven
pada temperatur 110 C selama 4 jam untuk menghilangkan air yang masih
terperangkap dalam pori-pori. Bentonit ini memiliki kelemahan apabila
dipanaskan pada temperatur lebih dari 200°C maka akan mengalami kerusakan.
Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan diayak dengan pengayak
100 mesh untuk menyeragamkan ukuran butir pada bentonit sehingga pada proses
adsorpsi yang berlangsung lebih efisien dan teratur. Bentonit tersebut kemudian
dijenuhkan dengan NaCl jenuh selama 24 jam proses pengadukan. Karena
suspensi lempung bentonit terbentuk melalui proses mengembangnya lempung di
dalam air dan akan terdistribusi secara merata yang akan mempermudah
69


terjadinya pertukaran kation terhidrat pada antarlapis lempung seperti Na
+
dari
larutan NaCl. Proses kimia yang terlibat adalah pertukaran ion yang digambarkan
sebagai kompetisi antara ion-ion tersebut dengan kation terhidrat yang berada
pada antarlapis lempung bentonit. Selektivitas pertukaran ion Na
+
akan lebih besar
sebab konsentrasinya dalam larutan lebih banyak dan muatannya lebih besar
dibandingkan kation terhidrat yang akan dipertukarkan. Selektivitas semakin
tinggi, untuk kation bermuatan lebih besar.
Sedimen dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring. Sedimen yang
didapatkan dicuci dengan akuades, lalu diuji dengan larutan AgNO
3
sampai tidak
terbentuk endapan AgCl yaitu tidak adanya endapan putih yang menunjukkan
sedimen telah bebas ion Cl
-
karena ion Cl
-
dapat mengganggu pembentukan
mikroporositas. Sedimen yang didapatkan dikeringkan dalam oven pada
temperatur 110 C selama 4 jam. Untuk menguapkan air yang masih terjebak
dalam pori-pori. Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan diayak
dengan pengayak ukuran 100 mesh untuk menyeragamkan ukuran butir adsorben
bentonit sehingga pada proses adsorpsi didapatkan proses penyerapan yang
seragam.

4.3 Pemurnian Minyak Goreng Bekas
Minyak goreng yang telah digunakan menggoreng berulang kali, telah
mengalami perubahan secara kimiawi baik selama proses penyimpanan,
pemanasan atau adanya kontak dengan cahaya. Perubahan kimiawi itu dapat
menyebabkan penurunan kualitas minyak, seperti perubahan warna menjadi lebih
70


gelap, lebih kental, keruh, muncul bau yang tidak sedap (tengik), meningkatnya
bilangan peroksida, asam lemak bebas dan menyebabkan rasa yang tidak lezat.
Proses regenerasi minyak goreng bekas pada penelitian ini dilakukan 3
tahapan, yaitu: proses pemisahan bumbu (despicing), netralisasi dan pemucatan
(bleaching) melalui kolom berisi adsorben.

4.3.1 Proses Despicing
Pemurnian minyak goreng bekas pemakaian selama 8 jam ini, terlebih
dahulu dilakukan proses penghilangan bumbu (despicing). Perlakuannya adalah
dengan memanaskan minyak goreng bekas yang telah ditambah dengan air
dengan komposisi yang sama yaitu (1:1) pada suhu 110
o
C hingga air tinggal
setengahnya. Kotoran-kotoran partikel halus tersuspensi seperti bumbu rempah-
rempah dalam minyak goreng bekas akan larut dalam air dan ikut mengendap di
atas permukaan air, sehingga pada proses ini diperoleh minyak yang bebas
bumbu, dengan warna minyak yang semula gelap atau kehitaman menjadi
berwarna kuning kecoklatan. Komposisi minyak dan air kemudian diendapkan
dan dipisahkan dengan corong pisah, terdapat dua lapisan pada proses despicing
ini, yaitu lapisan paling atas adalah minyak dan lapisan bawah adalah air, karena
berat jenis air lebih besar dari berat jenis minyak. Minyak yang didapatkan
disaring untuk memisahkan kotoran yang tersisa.
Proses despicing ini bertujuan untuk memisahkan bahan-bahan lain,
partikel halus tersuspensi seperti protein, karbohidrat, garam, gula dan bumbu
rempah-rempah yang tertinggal dalam minyak goreng bekas ketika proses
71


pemakaian berlangsung. Sehingga bisa diperoleh suatu perbaikan warna atau
kejernihan dari minyak goreng bekas.
Pada proses despicing ini terjadi perubahan warna dari hitam karena
memang masih mengandung bumbu-bumbu atau pengotor yang lain sampai
berwarna kuning kecoklatan. Warna gelap pada minyak goreng bekas pemakaian,
disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E). Warna gelap ini
dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan, yang disebabkan oleh
beberapa faktor, seperti suhu pemanasan yang terlalu tinggi, dan oksidasi terhadap
fraksi tidak tersabunkan dalam minyak.

Tabel 4.1 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru,
minyak goreng bekas dan minyak hasil despicing
Analisa Standar Minyak Baru Minyak Bekas Despicing
Asam lemak
bebas (%)
Maks. 0,3 0,037 0,448 0,211
Angka Peroksida
(meq/kg)
Maks 2 1,32 4,58 4,00



Penurunan asam lemak bebas pada proses despicing ini disebabkan karena
reaksi hidrolisis minyak dengan air, hal ini dikarenakan asam lemak bebas yang
memiliki gugus karbonil dan gugus hidroksil yang bersifat polar akan larut dalam
air dan bersamaan dengan air menguap pada proses pemanasan serta ikut
terpisahkan pada proses pemisahan minyak dengan air.
Senyawa peroksida R.COO˚ dalam minyak goreng bekas ini memiliki
gugus karbonil RC=O dan radikal O˚ yang lebih bersifat polar, dan memiliki
rantai asam lemak oleat yang merupakan rantai karbon panjang yang lebih bersifat
72


nonpolar. Ketika minyak goreng dan air dipanaskan ada sebagian ikatan pada
rantai karbon panjang yang putus sehingga memiliki rantai karbon pendek. Rantai
karbon pendek R.COO˚ ini akan lebih mudah larut dalam air panas dibanding
dalam minyak. Air bersifat polar, sementara minyak bersifat non polar, karena
beda kepolaran minyak dan air (tidak bisa larut) sehingga komponen polar yang
ada dalam minyak bekas seperti protein, karbohidrat, garam, gula, serta bumbu
rempah-rempah yang berada dalam minyak larut dalam air, sehingga setelah
melalui tahapan despicing angka peroksida minyak goreng bekas mengalami
penurunan.

4.3.2 Proses Netralisasi
Asam lemak bebas (FFA) dalam minyak goreng dengan kandungan lebih
dari 0,3 % berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi. Asam lemak bebas dapat
dikurangi dengan proses netralisasi. Pada proses netralisasi ini terjadi pemisahan
asam lemak bebas dalam minyak dengan cara direaksikan dengan NaOH sehingga
membentuk sabun yang lebih larut dalam air. Kotoran dalam minyak seperti FFA
terperangkap pada sabun sehingga mudah memisahkan FFA dalam minyak yang
bersifat nonpolar.
Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut :

C
O
OH
+ NaOH C
O
ONa
+ H
2
O
asam lemak bebas basa
sabun
air
CH
3
(CH
2
)
7
CH CH(CH
2
)
7
CH
3
(CH
2
)
7
CH CH(CH
2
)
7

Gambar 4.1 Reaksi Asam Lemak Bebas dengan NaOH
73


Asam lemak bebas termasuk asam karboksilat. Asam karboksilat
merupakan suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil (-CO
2
H).
Gugus karboksil mengandung sebuah gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil.
Asam karboksilat lebih bersifat asam karena memiliki kemampuan stabilisasi-
resonansi anion karboksilatnya, RCO
2
-
.

R C
O
O R C
O
O

Gambar 4.2 Stabilisasi resonansi asam karboksilat

Mekanisme reaksi di atas disajikan pada gambar 4.3 berikut ini :
R C O H
O
OH
-
Na
+
R C O
-
O
+ H
2
O + Na
+
R C O
-
O
R C O
O
-
+
H
2
O + Na
+
R C
O + H
2
O
ONa
Asam lemak bebas
Stabilisasi resonansi
Garam karboksilat air

Gambar 4.3 Mekanisme reaksi asam lemak bebas dengan NaOH

Suatu asam karboksilat bila bereaksi dengan suatu basa akan menghasilkan
garam. Basa NaOH dalam larutan akan terionisasi menjadi ion Na
+
dan ion OH
-
,
sedangkan H
+
pada gugus hidroksil lepas dan bereaksi dengan (OH) membentuk
74


(H
2
O). Asam karboksilat mempunyai sifat yang lebih asam karena memiliki
kemampuan stabilisasi resonansi anion. Gugus anion (C-O) menyumbang elektron
ke Na
+
sehingga menghasilkan garam karboksilat (sabun).
Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran
seperti fofsatida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Oleh karena itu, saat
minyak goreng hasil despicing dicampurkan dengan larutan NaOH 16 % yang
dipercepat dengan pemanasan dan pengadukan. Campuran tersebut membentuk
suatu butiran kecil-kecil dan warnanya berubah dari coklat menjadi orange tua.
Butiran-butiran tersebut merupakan sabun, dan sabun ini akan tampak jelas pada
saat penyaringan dengan berbentuk busa. Minyak netral yang dihasilkan berwarna
orange jernih dan bersih. Tahapan terakhir pada proses pemurnian adalah proses
pemucatan (bleaching).


Tabel 4.2 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru,
minyak goreng bekas dan minyak hasil netralisasi
Analisa Standar Minyak Baru Minyak Bekas Netralisasi
Asam lemak
bebas (%)
Maks. 0,3 0,037 0,448 0,148
Angka Peroksida
(meq/kg)
Maks. 2 1,32 4,58 3,96



Penurunan asam lemak bebas dan angka peroksida pada proses netralisasi
ini disebabkan karena reaksi asam lemak bebas dengan larutan NaOH membentuk
sabun. Kotoran dalam minyak seperti FFA dan peroksida tersebut terperangkap
pada sabun sehingga mudah dipisahkan dari minyak yang bersifat nonpolar.
75


Proses netralisasi ini menyumbang besar terhadap penurunan asam lemak bebas
pada minyak.

4.3.3 Proses Bleaching
Pada proses bleaching ini terjadi proses pemurnian untuk menghilangkan
zat-zat warna yang tidak disukai dengan menggunakan adsorben. Adsorben yang
digunakan pada penelitian ini ada 3 jenis yaitu karbon aktif biji kelor, bentonit
teraktivasi dan campuran dari keduanya. Pada penelitian ini proses adsorpsi
dilakukan dengan metode kolom. Zat warna dalam minyak, suspense koloid (gum
dan resin) serta hasil degradasi minyak, misalnya peroksida dan asam lemak bebas
akan diserap oleh permukaan adsorben ketika minyak dilewatkan melalui
adsorben dalam kolom.
Pada proses bleaching yang pertama ini proses adsorpsi dilakukan dengan
metode kolom terhadap FFA, angka peroksida dan warna oleh karbon aktif biji
kelor sebanyak 2 gram. Ketika minyak sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam
kolom minyak merambat sangat pelan pada adsorben karbon aktif biji kelor
dengan tingi 1 cm. Minyak merambat setahap demi setahap ketika melalui serbuk
karbon aktif biji kelor. Hasil yang diperoleh minyak sebanyak 47 ml dan berwarna
kuning muda jernih.
Pada proses bleaching yang kedua ini proses adsorpsi dilakukan dengan
metode kolom terhadap FFA, angka peroksida dan warna oleh adsorben bentonit
teraktivasi sebanyak 2 gram. Ketika minyak sebanyak 50 ml dimasukkan ke
dalam kolom minyak mengalir dengan cepat pada adsorben bentonit teraktivasi
76


dengan tingi 1 cm. Minyak merambat dengan cepat ketika melalui serbuk bentonit
teraktivasi. Hasil yang diperoleh minyak sebanyak 50 ml dan berwarna kuning
jernih.
Pada proses bleaching yang ketiga ini proses adsorpsi dilakukan dengan
metode kolom terhadap FFA, angka peroksida dan warna oleh adsorben
campuran, yaitu bentonit teraktivasi sebanyak 1 gram dan karbon aktif biji kelor
sebanyak 1 gram yang dipisahkan oleh glasswool. Ketika minyak sebanyak 50 ml
dimasukkan ke dalam kolom minyak merambat dengan cepat melalui serbuk
bentonit teraktivasi setinggi 0,5 cm lalu minyak merambat dengan pelan ketika
melalui serbuk karbon aktif biji kelor dengan tingi 0,5 cm. Hasil yang diperoleh
minyak sebanyak 50 ml dan berwarna kuning jernih.
Parameter kualitas minyak goreng dalam penelitian ini adalah kadar asam
lemak bebas (FFA), angka peroksida dan warna. Hasil analisa angka peroksida
dan FFA minyak goreng dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Data hasil percobaan uji pengaruh jenis adsorben terhadap
kualitas minyak goreng
No Perlakuan/jenis adsorben FFA (%)
Peroksida
(meq/kg)
1 SNI minyak goreng Maks. 0,3 Maks. 2,0
2 Minyak goreng baru 0,037 1,32
3 Sebelum adsorpsi
3a minyak goreng bekas 0,448 4,58
3b minyak goreng despicing 0,211 4,00
3c minyak goreng netralisasi 0,148 3,96
4 Sesudah adsorpsi dengan
4a karbon aktif biji kelor 0,141 2,49
4b bentonit teraktivasi 0,145 2,39
4c campuran karbon kelor dan
bentonit
0,142 2,37

77


Data di atas menunjukkan bahwa minyak goreng hasil reprossesing telah
mengalami peningkatan kualitas. Meningkatnya kualitas minyak tersebut, salah
satunya dikarenakan adsorben yang diinteraksikan dengan minyak goreng bekas
mampu mengadsorpsi zat warna dan bau yang tidak dikehendaki serta mengurangi
jumlah peroksida dan asam lemak bebas. Angka peroksida dan asam lemak bebas
(FFA) dari minyak hasil despicing mengalami penurunan sebesar 13 % dan 53 %
hasil netralisasi telah mengalami penurunan yang sangat banyak, dimana angka
peroksida semula pada minyak goreng bekas 4,58 meq/kg menjadi 3,96 meq/kg,
sedangkan standar angka peroksida pada minyak goreng adalah 2 meq/kg.
Sementara untuk jumlah asam lemak bebas yang semula pada minyak goreng
bekas 0,448 % menjadi 0,148 % pada minyak hasil netralisasi.

4.4 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)
Asam lemak bebas dapat mempengaruhi cita rasa dan bau dari minyak
goreng. Asam lemak bebas dengan kadar lebih dari 0,2 % dari berat minyak
mengakibatkan rasa tidak lezat, flavor yang tidak disukai dan meracuni tubuh.
Pengaruh dan perubahan kadar FFA dalam minyak goreng bekas
pemakaian 8 jam dengan perlakuan menggunakan adsorben karbon aktif biji
kelor, bentonit teraktivasi, campuran karbon kelor dan bentonit dapat dilihat pada
gambar 4.4 di bawah ini :


78


Analisa Asam Lemak Bebas (%)
0.448
0.211
0.148
0.141 0.145 0.142
0.037
0.300
0.00
0.05
0.10
0.15
0.20
0.25
0.30
0.35
0.40
0.45
0.50
Minyak
bekas
Despicing Netralisasi adsorben
karbon
aktif biji
kelor
adsorben
bentonit
teraktivasi
adsorben
campuran
Minyak
baru
SNI minyak
goreng
(%) FFA

Gambar 4.4 Pengaruh perlakuan terhadap kadar FFA

Analisa asam lemak bebas minyak goreng baru, bekas, despicing,
netralisasi dan bleaching dilakukan dengan metode titrasi asam basa. Asam lemak
bebas dalam minyak dapat diketahui jumlahnya dengan dengan cara melarutkan
asam lemak bebas dalam minyak dengan etanol. Sejumlah minyak yang bersifat
nonpolar dilarutkan dalam etanol, kemudian dipanaskan agar larut sempurna
sehingga asam lemak bebas yang bersifat nonpolar dalam minyak juga ikut
terlarut dengan etanol yang lebih larut dengan air. Kemudian ditambahkan
indikator pp yang tidak menunjukkan warna dalam larutan dengan pH netral, dan
dititrasi dengan NaOH yang bersifat polar sampai terbentuk warna merah jambu
yang tidak hilang selama 30 detik. Terbentuknya warna merah jambu setelah
dititrasi dengan sejumlah NaOH menunjukkan NaOH telah bereaksi sempurna
dengan asam lemak bebas.

79


4.4.5 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi
dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor

Minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben
dalam kolom mengalami penurunan kadar FFA dalam minyak, seperti terlihat
pada Gambar 4.4 Kadar FFA turun dari 0,148 % menjadi 0,141 % setelah
diinteraksikan dengan adsorben karbon aktif biji kelor dengan metode kolom.
Sedangkan hasil analisa pada minyak baru mengandung FFA 0,037 %.
Adsorben karbon aktif biji kelor dapat menurunkan kadar FFA dalam
minyak goreng hasil netralisasi karena karbon aktif biji kelor mempunyai
kemampuan sebagai adsorben. Daya adsorpsi karbon aktif biji kelor tersebut,
dikarenakan karbon mempunyai pori-pori dalam jumlah besar, adanya situs-situs
aktif dalam karbon, seperti struktur kimia permukaan, susunan pori-pori dan luas
permukaan adsorpsi yang terbentuk selama proses aktivasi. Sifat kimia permukaan
karbon aktif dipandang sangat penting selain struktur pori, karena menentukan
sifat adsorpsi
Proses adsorpsi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor
dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji
kelor dengan asam lemak bebas, baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia.
Interaksi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor dalam
penelitian ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikel-
partikel adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der
walls atau ikatan hidrogen, yakni melibatkan gaya antarmolekuler. Molekul yang
terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan
pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan, 1982), karena itu
80


sifat adsorpsinya adalah reversible, yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali
dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Namun demikian adsorpsi secara
kimia juga dapat terjadi antara senyawa asam lemak bebas dengan gugus aktif
yang dimiliki oleh karbon aktif biji kelor. Proses adsorpsi kimia, interaksi antara
adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan
kovalen). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan
dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika, karena energi yang dilepaskan cukup
besar sekitar 400 kj/mol (Castellan, 1982), sehingga sifat adsorpsinya adalah
irreversible. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk
memisahkan adsorbat.
Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak
diakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia
anatara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor.
Asam lemak bebas merupakan molekul nonpolar, dan karbon aktif biji
kelor juga termasuk nonpolar, sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya London
(molekul nonpolar dengan nonpolar). Molekul nonpolar (karbon aktif) terdiri dari
inti atom dan elektron, elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom, elektron
tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron, yang
menyebabkan pusat muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan
memiliki dipol sesaat, yang ditunjukkan pada gambar 4.5 di bawah ini :
81


Polarisasi awan elektron

molekul nonpolar tanpa
dipol

karbon aktif karbon aktif
Gambar 4.5 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian
timbul kembali. Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus
dan bergantian. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (Asam lemak bebas)
maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut
sehingga terjadi dipol induksian, kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi
gaya elektrostatik, yang ditunjukkan pada gambar 4.6 di bawah ini :
Induksian

molekul dengan molekul tanpa dipol
dipol sesaat

karbon aktif Asam lemak bebas

molekul dengan molekul dengan dipol
dipol sesaat induksian


karbon aktif Asam lemak bebas


Terjadi gaya tarik elektrostatik

Gambar 4.6 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan karbon
aktif biji kelor



+ -

+ -

+ -

±
+ -

±

82


4.4.6 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi
dengan Adsorben Bentonit Teraktivasi

Gambar 4.4 menunjukkan bahwa asam lemak bebas minyak goreng hasil
netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben bentonit teraktivasi sebesar
0,145 %. Asam lemak bebas pada minyak hasil interaksi dengan bentonit
teraktivasi ini mengalami penurunan sebesar 2 % dari minyak hasil netralisasi
yang semula memiliki asam lemak bebas sebesar 0,148 %.
Adsorben bentonit teraktivasi dapat menurunkan kadar FFA dalam minyak
goreng hasil netralisasi karena bentonit teraktivasi mempunyai kemampuan
sebagai adsorben. Bentonit merupakan mineral lempung yang tersusun atas
senyawa alumina silikat berstruktur lapis dengan tipe 2:1 yang terdiri dari dua
lembar silika bermuatan negatif yang terbentuk tetrahedral dengan lapisan tengah
berupa alumina oktahedral. Ujung tetrahedral masing-masing bertemu dengan satu
gugus hidroksil. Lembaran-lembaran ini diikat oleh atom oksigen. Pada daerah
antar ruang terdapat kation-kation (K
+
, Na
+
dan Ca
2+
) yang dapat digantikan
dengan kation lain.
Antara lapisan silika dan alumina dihubungkan oleh pengikatan oksigen
yang sangat lemah sehingga mudah mengembang maka kation dan air mudah
bergerak bebas diantara kisi kristal. Potensi pengembangan dan pengerutan yang
tinggi menyebabkan mineral ini dapat menerima dan menyerap ion-ion serta
senyawa organik (Tan, 1991).
Bentonit sebagai adsorben berkemampuan menyerap sejumlah molekul
yang berukuran lebih kecil dari pori-porinya dan mempunyai bentuk geometri
yang tepat. Ukuran pori-pori yang molekuler tersebut merupakan sifat unik dari
83


bentonit. Bentonit memiliki kemampuan mengembang, sifat menyerap dan
berikatan dengan anion-anion serta kation-kation dan luas permukaan yang besar.
Ukuran serbuk yang biasanya digunakan adalah kurang dari 200 mesh
(Hemzacek-Laukant, 2002).
Proses adsorpsi antara asam lemak bebas dengan bentonit teraktivasi
dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan bentonit dengan
asam lemak bebas, baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. Adsorpsi fisika
melibatkan gaya antarmolekuler (gaya Van der Walls atau melaui ikatan
hidrogen). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan
energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol
(Castellan, 1982), karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible, yaitu dapat balik
atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Proses
adsorpsi kimia, interaksi antara adsorbat dengan adsorben melibatkan
pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). Molekul yang terbentuk dari
adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi
fisika, karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan,
1982), sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible. Adsorben harus dipanaskan
pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat.

4.4.7 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi
dengan Adsorben Campuran

Gambar 4.4 menunjukkan bahwa asam lemak bebas minyak goreng hasil
netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben campuran sebesar 0,142 %.
Asam lemak bebas pada minyak hasil interaksi dengan adsorben campuran ini
84


mengalami penurunan sebesar 4 % dari minyak hasil netralisasi yang semula
memiliki asam lemak bebas sebesar 0,148 %.
Proses penyerapan asam lemak bebas dalam minyak hasil netralisasi
menggunakan adsorben campuran ini terjadi dua kali, yaitu yang pertama FFA
dalam minyak terserap oleh bentonit teraktivasi kemudian sisa FFA dalam minyak
terserap dalam karbon aktif biji kelor. Kedua adsorben ini memiliki perbedaan
struktur mineral dimana bentonit berstruktur layer sedangkan karbon aktif biji
kelor berstruktur non layer.
Pada proses penyerapan menggunakan adsorben campuran ini tidak dapat
memberikan penurunan kadar FFA yang terbaik dimungkinkan karena terjadinya
ketidakseimbangan antara jumlah molekul FFA dalam 50 ml minyak dengan
adsorben pada lapisan pertama yaitu 1 gram bentonit teraktivasi, sehingga proses
penyerapan FFA tidak berlangsung dengan baik, kemudian FFA yang tersisa
dalam minyak melewati lapisan kedua yaitu 1 gram karbon aktif biji kelor. Selain
itu karena adsorben karbon aktif biji kelor memiliki struktur rongga yang terbuka
sehingga lebih mudah mengadsorpsi FFA daripada adsorben bentonit yang
memiliki stuktur berlapis.

4.4.8 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan asam lemak bebas
Berdasarkan hasil penelitian, adsorben yang dapat menurunkan kandungan
asam lemak bebas paling banyak adalah karbon aktif biji kelor,yaitu sebesar 0,141
% sedangkan untuk adsorben bentonit teraktivasi dan adsorben campuran juga
dapat menurunkan kandungan asam lemak bebas tetapi penurunannya dalam
85


jumlah yang lebih kecil dibanding dengan karbon aktif biji kelor, yaitu sebesar
0,145 % dan 0,142 %.
Asam lemak bebas (FFA) merupakan produk dari reaksi hidrolisis
trigliserida dan reaksi dekomposisi hidroperoksida. Reaksi ini akan
mengakibatkan ketengikan hidrolisa yang menghasilkan flavor dan bau tengik
pada minyak. Sehingga kadar FFA dalam minyak sering digunakan sebagai salah
satu indikator kerusakan minyak goreng bekas.
Kemampuan karbon aktif biji kelor sebagai adsorben tersebut, dikarenakan
karbon mempunyai pori-pori dalam jumlah besar, adanya situs-situs aktif dalam
karbon, seperti struktur kimia permukaan, susunan pori-pori dan luas permukaan
adsorpsi yang terbentuk selama proses aktivasi. Sifat kimia permukaan karbon
aktif dipandang sangat penting selain struktur pori, karena menentukan sifat
adsorpsi
Proses adsorpsi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor
dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji
kelor dengan asam lemak bebas, baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia.
Interaksi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor dalam
penelitian ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikel-
partikel adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der
walls atau ikatan hidrogen, yakni melibatkan gaya antarmolekuler. Molekul yang
terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan
pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan, 1982), karena itu
sifat adsorpsinya adalah reversible, yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali
86


dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Namun demikian adsorpsi secara
kimia juga dapat terjadi antara senyawa asam lemak bebas dengan gugus aktif
yang dimiliki oleh karbon aktif biji kelor. Proses adsorpsi kimia, interaksi antara
adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan
kovalen). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan
dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika, karena energi yang dilepaskan cukup
besar sekitar 400 kj/mol (Castellan, 1982), sehingga sifat adsorpsinya adalah
irreversible. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk
memisahkan adsorbat.
Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak
diakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia
anatara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor.
Asam lemak bebas merupakan molekul nonpolar, dan karbon aktif biji
kelor juga termasuk nonpolar, sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya London
(molekul nonpolar dengan nonpolar). Molekul nonpolar (karbon aktif) terdiri dari
inti atom dan elektron, elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom, elektron
tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron, yang
menyebabkan pusat muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan
memiliki dipol sesaat, yang ditunjukkan pada gambar 4.7 di bawah ini :
87


Polarisasi awan elektron

molekul nonpolar tanpa
dipol

karbon aktif karbon aktif
Gambar 4.7 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian
timbul kembali. Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus
dan bergantian. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (Asam lemak bebas)
maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut
sehingga terjadi dipol induksian, kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi
gaya elektrostatik, yang ditunjukkan pada gambar 4.8 di bawah ini :
Induksian

molekul dengan molekul tanpa dipol
dipol sesaat

karbon aktif Asam lemak bebas

molekul dengan molekul dengan dipol
dipol sesaat induksian


karbon aktif Asam lemak bebas


Terjadi gaya tarik elektrostatik

Gambar 4.8 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan
karbon aktif biji kelor

+ -

+ -

+ -

±
+ -

±

88


Proses adsorpsi asam lemak bebas pada proses bleaching dilakukan
dengan metode kolom, yang kemungkinan dapat memberikan waktu kontak yang
lebih lama antara adsorben dengan minyak goreng, sehingga proses adsorpsi dapat
dilakukan lebih maksimal. Proses adsorpsi asam lemak bebas (FFA) dalam
minyak goreng hasil netralisasi menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor
mampu menyerap FFA dalam jumlah yang lebih banyak daripada adsorben
bentonit teraktivasi dan adsorben campuran. Perbedaanya dengan adsorben
bentonit dan adsorben campuran adalah waktu yang dibutuhkan adsorben karbon
aktif biji kelor pada saat proses adsorpsi berlangsung jauh lebih lama daripada
waktu yang dibutuhkan adsorben bentonit teraktivasi. Waktu yang dibutuhkan 50
ml minyak goreng hasil netralisasi untuk melewati adsorben karbon aktif biji
kelor pada saat proses adsorpsi berlangsung yaitu 3 jam, sedangkan waktu yang
dibutuhkan 50 ml minyak goreng hasil netralisasi untuk melewati adsorben
bentonit teraktivasi yaitu 45 menit. Minyak goreng tersebut lebih lama tertahan di
dalam kolom dengan menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor, minyak
merambat perlahan melalui serbuk-serbuk karbon biji kelor karena ukuran pori
karbon aktif biji kelor (yaitu 2.10
-7
mikrometer) lebih kecil dari ukuran pori
bentonit yaitu 4.10
-7
mikrometer (Sembiring, 2003 dan Tan, 1982).
Dari hasil penelitian tersebut, minyak goreng hasil netralisasi yang
dijernihkan dengan adsorben karbon aktif biji kelor mampu mengurangi kadar
asam lemak bebas sehingga kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik dan
aman dikonsumsi kembali dan sesuai dengan standar SNI yaitu maksimal 0,3 %.

89


4.5 Perubahan Angka Peroksida
Reaksi oksidasi pada minyak mula-mula akan membentuk peroksida dan
hidroperoksida, yang selanjutnya akan terkonversi menjadi aldehida, keton dan
asam-asam lemak bebas. Randicity (ketengikan) terbentuk oleh adanya aldehida,
bukan terbentuk oleh adanya peroksida. Jadi kenaikan angka peroksida (PV)
hanya indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik.
Senyawa hasil reaksi oksidasi juga dapat memberikan pengaruh buruk bagi
kesehatan. Sehingga kenaikan angka peroksida dapat digunakan sebagai indikator
kerusakan minyak.
Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya
sehingga membentuk peroksida. Peroksida merupakan produk awal dari reaksi
oksidasi yang bersifat labil, reaksi ini dapat berlangsung bila terjadi kontak antara
oksigen dengan minyak
Reaksi pembentukan peroksida pada minyak diakibatkan oleh reaksi
oksidasi oleh oksigen dengan sejumlah asam lemak tidak jenuh, dalam hal ini
adalah asam lemak oleat yang terkandung sebanyak 39-45 % pada minyak kelapa
sawit, reaksi ini dipercepat oleh pemanasan :

90


H
3
C (CH
2
)
7 CH CH (CH
2
)
7 C
O O
OH
O
H
3
C (CH
2
)
7 CH
H
C (CH
2
)
7 C
O
O
O
OH
Asam oleat
Meloksida
H
3
C (CH
2
)
7 CH
O
H
C
O
(CH
2
)
7
C
O
OH
Peroksida

Gambar 4.9 Reaksi Pembentukan Peroksida Pada Asam Lemak Oleat
Oksidasi terjadi pada ikatan tidak jenuh yaitu asam lemak oleat pada
minyak goreng, karena pada asam lemak oleat memiliki ikatan rangkap yang
bersifat reaktif. Asam lemak pada umumnya bersifat semakin reaktif terhadap
oksigen dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap pada rantai molekul, sebagai
contoh, asam lemak linoleat akan teroksidasi lebih mudah oleh oksigen daripada
asam lemak oleat pada kondisi yang sama, pada suhu kamar sampai dengan suhu
100 ºC, setiap satu ikatan tidak jenuh dapat mengadsorpsi 2 atom oksigen,
sehingga terbentuk persenyawaan peroksida yang bersifat labil. Proses
pembentukan peroksida ini dipercepat oleh adanya cahaya, suasana asam,
kelembaban udara dan katalis. Peroksida dapat mempercepat proses timbulnya
bau tengik dan flavor yang tidak dikehendaki dalam bahan pangan.
91


Mekanisme pembentukan peroksida pada asam oleat disajikan pada
gambar di bawah ini :

R C
H
C
H
R' R
H
C
H
C
O
R'
O
R
H
C
H
C
O O
R'
O O
R C C
O O
R'


Gambar 4.10 Mekanisme reaksi pembentukan peroksida pada asam oleat

Asam oleat dalam minyak teroksidasi pada ikatan rangkap. Oksigen
menyerang rantai rangkap, sehingga ikatan rangkap putus dan substituen C
kelebihan elektron. elektron yang lebih disumbangkan ke O dan ikatan rangkap
pada O putus.
Pengaruh dan perubahan angka peroksida dalam minyak goreng bekas
dengan perlakuan dapat dilihat pada gambar 4.11 di bawah ini :
Analisa Angka Peroksida
4.58
4.00 3.96
2.49
2.39 2.37
1.32
2.00
0.00
0.50
1.00
1.50
2.00
2.50
3.00
3.50
4.00
4.50
5.00
Minyak
bekas
Despicing Netralisasi adsorben
karbon aktif
biji kelor
adsorben
bentonit
teraktivasi
adsorben
campuran
Minyak baru SNI minyak
goreng
Angka peroksida
(meq/kg)

Gambar 4.11 Pengaruh Adsorben Terhadap Nilai Angka Peroksida

92


Analisa angka peroksida pada penelitian ini dilakukan pada minyak
goreng baru (minyak curah), bekas, despicing, netralisasi dan bleaching dengan
metode iodometri, dengan cara melarutkan sejumlah minyak goreng dalam
campuran asetat:kloroform hingga terlarut sempurna lalu ditambahkan larutan
jenuh KI dan didiamkan, maka akan terjadi pelepasan iodin (I
2
), dengan reaksi
seperti :
I
2
+ 2 Na
2
S
2
O
3
→ 2 NaI + Na
2
S
4
O
6

Gambar 4.12 Reaksi Iodometri selama proses analisis Angka Peroksida

Iodin yang bebas dititrasi dengan natrium thiosulfat sampai warna kuning
hampir hilang, selanjutnya ditambahkan indikator amilum sampai terbentuk warna
biru dan dititrasi kembali dengan natrium thiosulfat sampai warna biru mulai
hilang. Terbentuknya warna biru setelah penambahan amilum, dikarenakan
struktur molekul amilum yang berbentuk spiral, sehingga akan mengikat molekul
iodin maka terbentuklah warna biru (Winarno, 2002).

4.5.5 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben
Karbon Aktif Biji Kelor

Minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben
dalam kolom mengalami penurunan angka peroksida dalam minyak, seperti
terlihat pada Gambar 4.11 angka peroksida turun dari 3,96 meq/kg menjadi 2,49
meq/kg setelah diinteraksikan dengan adsorben karbon aktif biji kelor dengan
93


metode kolom. Sedangkan hasil analisa pada minyak baru mengandung angka
peroksida 1,32 meq/kg.
Adsorben karbon aktif biji kelor dapat menurunkan angka peroksida dalam
minyak goreng hasil netralisasi karena karbon aktif biji kelor mempunyai
kemampuan sebagai adsorben. Daya adsorpsi karbon aktif biji kelor tersebut,
dikarenakan karbon mempunyai pori-pori dalam jumlah besar, adanya situs-situs
aktif dalam karbon, seperti struktur kimia permukaan, susunan pori-pori dan luas
permukaan adsorpsi yang terbentuk selama proses aktivasi. Sifat kimia permukaan
karbon aktif dipandang sangat penting selain struktur pori, karena menentukan
sifat adsorpsi.
Proses adsorpsi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor
dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji
kelor dengan peroksida dalam minyak, baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia.
Interaksi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor dalam penelitian
ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikel-partikel
adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der walls atau
ikatan hidrogen, yakni melibatkan gaya antarmolekuler. Molekul yang terbentuk
dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi
fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan, 1982), karena itu sifat
adsorpsinya adalah reversible, yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan
adanya penurunan konsentrasi larutan. Namun demikian adsorpsi secara kimia
juga dapat terjadi antara senyawa peroksida dengan gugus aktif yang dimiliki oleh
karbon aktif biji kelor. Pada proses adsorpsi kimia, interaksi antara adsorbat
94


dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen).
Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang
terbentuk dari adsorpsi fisika, karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar
400 kj/mol (Castellan, 1982), sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible.
Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat.
Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak
dilakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia
anatara peroksida dengan karbon aktif biji kelor.
Peroksida merupakan molekul nonpolar, dan karbon aktif biji kelor juga
termasuk nonpolar, sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya london (molekul
nonpolar dengan nonpolar). Molekul nonpolar (arang aktif) terdiri dari inti atom
dan elektron. Elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom, elektron tersebut
pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron, yang menyebabkan pusat
muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat,
yang ditunjukkan pada gambar 4.13 di bawah ini :

Polarisasi awan elektron

molekul nonpolar tanpa
dipol

karbon aktif karbon aktif
Gambar 4.13 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

+ -

±

95


Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian
timbul kembali. Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus
dan bergantian. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (peroksida) maka
molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga
terjadi dipol induksian, kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya
elektrostatik, yang ditunjukkan pada gambar 4.14 di bawah ini :
Induksian

molekul dengan molekul tanpa dipol
dipol sesaat

karbon aktif peroksida

molekul dengan molekul dengan dipol
dipol sesaat induksian


karbon aktif peroksida


Terjadi gaya tarik elektrostatik

Gambar 4.14 Terjadinya gaya London antara peroksida dengan karbon
aktif biji kelor



4.5.6 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben
Bentonit teraktivasi

Gambar 4.11 menunjukkan bahwa angka peroksida minyak goreng hasil
netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben bentonit teraktivasi sebesar
2,39 meq/kg. Angka peroksida pada minyak hasil interaksi dengan bentonit
teraktivasi ini mengalami penurunan sebesar 40 % dari minyak hasil netralisasi
yang semula memiliki bilangan peroksida sebesar 3,96 meq/kg.
+ -

+ -

+ -

±
96


Adsorben bentonit teraktivasi dapat menurunkan angka peroksida dalam
minyak goreng hasil netralisasi karena bentonit teraktivasi mempunyai
kemampuan sebagai adsorben. Bentonit merupakan mineral lempung yang
tersusun atas senyawa alumina silikat berstruktur lapis dengan tipe 2:1 yang terdiri
dari dua lembar silika bermuatan negatif yang terbentuk tetrahedral dengan
lapisan tengah berupa alumina oktahedral. Ujung tetrahedral masing-masing
bertemu dengan satu gugus hidroksil. Lembaran-lembaran ini diikat oleh atom
oksigen. Pada daerah antar ruang terdapat kation-kation (K
+
, Na
+
dan Ca
2+
) yang
dapat digantikan dengan kation lain.
Antara lapisan silika dan alumina dihubungkan oleh pengikatan oksigen
yang sangat lemah sehingga mudah mengembang maka kation dan air mudah
bergerak bebas diantara kisi kristal. Potensi pengembangan dan pengerutan yang
tinggi menyebabkan mineral ini dapat menerima dan menyerap ion-ion serta
senyawa organik (Tan, 1991).
Bentonit sebagai adsorben berkemampuan menyerap sejumlah molekul
yang berukuran lebih kecil dari pori-porinya dan mempunyai bentuk geometri
yang tepat. Ukuran pori-pori yang molekuler tersebut merupakan sifat unik dari
bentonit. Bentonit mempunyai memiliki kemampuan mengembang, sifat
menyerap dan berikatan dengan anion-anion serta kation-kation dan luas
permukaan yang besar. Ukuran serbuk yang biasanya digunakan adalah kurang
dari 200 mesh (Hemzacek-Laukant, 2002).
Proses adsorpsi antara peroksida dengan bentonit teraktivasi dikarenakan
adanya perbedaan energi potensial antara permukaan bentonit dengan peroksida,
97


baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. Adsorpsi fisika melibatkan gaya
antarmolekuler (gaya Van der Walls atau melaui ikatan hidrogen). Molekul yang
terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan
pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan, 1982), karena itu
sifat adsorpsinya adalah reversible, yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali
dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Proses adsorpsi kimia, interaksi
antara adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya
ikatan kovalen). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat
dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika, karena energi yang
dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan, 1982), sehingga sifat
adsorpsinya adalah irreversible. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur
tinggi untuk memisahkan adsorbat.

4.5.7 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben
Campuran

Gambar 4.11 menunjukkan bahwa angka peroksida minyak goreng hasil
netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben campuran sebesar 2,37
meq/kg. Angka peroksida pada minyak hasil interaksi dengan adsorben campuran
ini mengalami penurunan sebesar 40 % dari minyak hasil netralisasi yang semula
memiliki angka peroksida sebesar 3,96 meq/kg.
Proses penyerapan peroksida dalam minyak hasil netralisasi menggunakan
adsorben campuran ini terjadi dua kali, yaitu yang pertama peroksida dalam
minyak terserap oleh bentonit teraktivasi kemudian sisa peroksida dalam minyak
terserap dalam karbon aktif biji kelor. Kedua adsorben ini memiliki perbedaan
98


struktur mineral dimana bentonit berstruktur layer sedangkan karbon aktif biji
kelor berstruktur non layer.

4.5.8 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan Angka Peroksida
Berdasarkan hasil penelitian, angka peroksida pada minyak sebelum
diadsorpsi adalah 4,58 meq/kg minyak dan penggunaan adsorben mampu
menurunkan angka peroksida pada minyak. Tingginya angka peroksida minyak
goreng bekas ini karena diakibatkan proses oksidasi pada saat proses pemanasan
atau penyimpanan, sehingga terbentuklah peroksida.
Pada Gambar 4.11 terlihat bahwa adsorben campuran dari bentonit
teraktivasi dan karbon aktif biji kelor dapat menurunkan angka peroksida dalam
jumlah yang paling besar, kemudian adsorben bentonit teraktivasi dan karbon
aktif biji kelor. Hal ini kemungkinan disebabkan karena jumlah peroksida dalam
minyak hasil netralisasi terserap dua kali oleh dua adsorben. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa penggunaan adsorben campuran dari karbon aktif biji
kelor dan bentonit teraktivasi relatif efektif untuk perbaikan angka peroksida
minyak goreng bekas. Pencampuran kedua adsorben tersebut ternyata menaikkan
kemampuan daya adsorpsi dibandingkan bila karbon aktif biji kelor dan bentonit
teraktivasi digunakan secara terpisah.
Proses adsorpsi dilakukan dengan metode kolom, yang kemungkinan
dapat memberikan waktu kontak yang lebih lama antara adsorben dengan minyak
goreng, sehingga proses adsorpsi dapat dilakukan lebih maksimal. adsorben yang
paling banyak terpakai pada ujung atas kolom (yaitu adsorben bentonit
99


teraktivasi) akan bertemu dengan adsorbat (peroksida) yang baru, sedangkan
adsorbat yang sudah teradsorpsi akan bertemu dengan adsorben yang baru pada
saat larutan tersebut bergerak ke bawah melewati kolom. Kemudian bertemu
dengan adsorben karbon aktif biji kelor, sehingga adsorbat (peroksida) dalam
minyak lebih banyak terkurangi atau terserap oleh kedua adsorben.
Bentonit mempunyai kemampuan untuk menyerap sejumlah molekul yang
berukuran lebih kecil dari pori-porinya dan memiliki bentuk geometri yang tepat.
Ukuran pori-pori yang molekuler tersebut merupakan sifat unik dari bentonit
(Mulyadi, 1992).
Bentonit memberikan daya adsorpsi yang cukup besar karena pada
bentonit oksigen penghubung antar dua lapiasan silika yang mengapit satu lapisan
alumina terikat sangat lemah, yang menyebabkan strukturnya mudah
mengembang sehingga peroksida dan molekul air mudah bergerak diantara unit
kristal. Peroksida yang merupakan senyawa organik dapat masuk ke dalam
struktur dan menggantikan ion hidrogen yang lepas untuk menetralkan
muatannya. Hal ini didukung oleh luasnya permukaan bentonit yang mencapai
700-800 m2/g sehingga lebih menguntungkan untuk proses adsorpsi.
Proses adsorpsi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor
dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji
kelor dengan peroksida dalam minyak, baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia.
Interaksi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor dalam penelitian
ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikel-partikel
adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der walls atau
100


ikatan hidrogen, yakni melibatkan gaya antarmolekuler. Molekul yang terbentuk
dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi
fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan, 1982), karena itu sifat
adsorpsinya adalah reversible, yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan
adanya penurunan konsentrasi larutan. Namun demikian adsorpsi secara kimia
juga dapat terjadi antara senyawa peroksida dengan gugus aktif yang dimiliki oleh
karbon aktif biji kelor. Pada proses adsorpsi kimia, interaksi antara adsorbat
dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen).
Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang
terbentuk dari adsorpsi fisika, karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar
400 kj/mol (Castellan, 1982), sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible.
Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat.
Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak
dilakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk
megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia
anatara peroksida dengan karbon aktif biji kelor.
Peroksida merupakan molekul nonpolar, dan karbon aktif biji kelor juga
termasuk nonpolar, sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya london (molekul
nonpolar dengan nonpolar). Molekul nonpolar (arang aktif) terdiri dari inti atom
dan elektron. Elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom, elektron tersebut
pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron, yang menyebabkan pusat
muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat,
yang ditunjukkan pada gambar 4.15 di bawah ini :
101


Polarisasi awan elektron

molekul nonpolar tanpa
dipol

karbon aktif karbon aktif
Gambar 4.15 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian
timbul kembali. Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus
dan bergantian. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (peroksida) maka
molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga
terjadi dipol induksian, kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya
elektrostatik, yang ditunjukkan pada gambar 4.16 di bawah ini :
+ -

±

102


Induksian

molekul dengan molekul tanpa dipol
dipol sesaat

karbon aktif peroksida

molekul dengan molekul dengan dipol
dipol sesaat induksian


karbon aktif peroksida


Terjadi gaya tarik elektrostatik

Gambar 4.16 Terjadinya gaya London antara peroksida dengan karbon
aktif biji kelor

Angka peroksida minyak hasil penjernihan jika dibandingkan dengan
minyak goreng bekas telah mengalami penurunan, namun jika dibandingkan
dengan minyak baru, angka peroksida yang dihasilkan berbeda. Angka peroksida
minyak hasil penjernihan sebesar 2,49 – 2,37 meq/kg, sedangkan minyak goreng
baru sebesar 1,32 meq/kg. Minyak goreng hasil penjernihan yang dihasilkan
melebihi standart yang ditetapkan oleh SNI yaitu sebesar 2 meq/kg.
Berdasarkan data penelitian di atas, membuktikan bahwa kualitas minyak
goreng bekas sudah berada di atas standar SNI. Minyak goreng bekas merupakan
minyak yang sudah tidak layak dikonsumsi lagi. Selain berwarna gelap, mutu
minyak tersebut sudah sangat rendah, apabila dikonsumsi maka akan
menimbulkan penyakit dan membahayakan bagi kesehatan tubuh.

+ -

+ -

+ -

±
103


4.6 Analisis Warna Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Reprosessing
Analisis warna minyak goreng baru, bekas, dan hasil reprosessing
dilakukan dengan menggunakan color reader (CR.10) dengan parameter
pembacaan L, a*, b*. Parameter L menunjukkan tingkat kecerahan dengan skala 0
(gelap atau hitam) sampai 100 (cerah atau terang). Parmeter a* menunjukkan
tingkat warna jingga sampai merah dengan skala -100 sampai +100. Nilai negatif
menunjukkan warna biru, sedangkan nilai positif menyatakan kecenderungan
warna merah. Parameter b* menunjukkan adanya warna kuning. Hasil analisis
warna minyak goreng dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Warna minyak goreng baru, bekas dan hasil reprosessing
Warna L a* b* SNI 3741-
1995
Minyak baru
(bimoli)
47,2 6,2 25,3
Muda jernih
Minyak bekas
(bimoli)
29,2 16,8
18,7
Hasil despicing 29,1 16,3 17,1
Hasil netralisasi
38,6 10,0 29,5
Hasil interaksi
dengan karbon aktif
kelor
40,6 9,8 31,3
Hasil interaksi
dengan bentonit
teraktivasi
40,1 9,9 30,7
Hasil interaksi
dengan campuran
41,7 8,7 32,7


4.6.1 Warna Cerah (L)
Warna cerah (L) minyak goreng hasil despicing adalah 29,1, sementara
tingkat kecerahan minyak goreng bekas 29,2. Berarti dengan adanya proses
104


despicing mengalami penurunan warna cerah sebesar 0,34 %. Peningkatan warna
cerah tersebut terjadi karena kotoran berupa bumbu-bumbu yang terakumulasi
dalam minyak akibat penggorengan bahan pangan atau disebut juga dengan
komponen senyawa polar (garam, gula, protein) sudah larut bersama air dan ikut
mengendap di atas permukaan air. Komponen senyawa polar tersebut larut dalam
air dikarenakan memiliki polaritas yang hampir sama dengan air. Kondisi ini
dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi dan waktu yang relatif lama
sehingga kelarutan dalam air lebih sempurna.
Pada proses bleaching, mengalami persentase peningkatan warna cerah
lebih besar yaitu 42,8 % dengan angka awal (minyak bekas) 29,2 menjadi 41,7,
nilai tersebut mendekati minyak baru yaitu 47,2 (Tabel 4.2). Signifikansi dari
meningkatnya warna cerah ini disebabkan karena warna minyak goreng bekas
teradsorpsi oleh adsorben campuran yaitu serbuk karbon aktif biji kelor dan
bentonit teraktivasi.
Hasil yang demikian diperkuat oleh Anderson dalam Pasaribu (2004) yang
menyatakan bahwa minyak sawit merupakan salah satu minyak yang sulit
dipucatkan karena mengandung pigmen karotena yang tinggi, oleh sebab itu
minyak sawit dipucatkan (bleaching) dengan adsorben, namun yang perlu
dipertimbangkan ialah faktor warna, kehilangan minyak, kualitas minyak dan
biaya pengolahan.

105


4.6.2 Warna Merah (a*)
Berdasarkan tabel 4.4 warna merah (a*) minyak goreng bekas adalah 16,8
akan tetapi setelah mengalami proses despicing mengalami peningkatan warna
merah sebesar 2,98 % dengan nilai 16,3. Hal ini diduga pada proses despicing
suhu pemanasan terlalu tinggi sehingga zat warna alamiah pada minyak
mengalami oksidasi dan degradasi yang berakibat warna minyak menjadi gelap
kemerahan.
Warna gelap kemerahan ini mengalami penurunan setelah dibleaching
menggunakan adsorben campuran yaitu sebesar 8,7. Nilai tersebut mendekati
minyak baru yaitu 6,2 sehingga diperoleh persentase penurunan warna merah
sebesar 48,2 %. Fenomena tersebut terjadi disebabkan adanya pemucat dari
adsorben campuran yaitu serbuk karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi.
Adanya kombinasi pada proses bleaching, ini menyebabkan warna gelap
kemerahan terserap oleh serbuk adsorben karbon aktif biji kelor dan bentonit
teraktivasi.

4.6.3 Warna Kuning (b*)
Warna kuning (b*) minyak goreng yang diperoleh dari hasil penelitian ini
adalah 32,7, sedangkan warna minyak bekas 18,7. Berarti dengan adanya proses
despicing dan bleaching intensitas warna kuning mengalami peningkatan sebesar
42,8 %. Peningkatan ini dikarenakan hilangnya warna gelap, cokelat dan
kemerah-merahan pada saat bleaching dengan adsorben campuran. Sehingga zat
warna alamiah yang ikut terekstraksi bersama minyak pada proses ekstraksi
106


muncul kembali. Zat warna tersebut antara lain α-karoten, β-karoten, xanthopil,
klorofil dan antosianin, zat warna itulah yang meyebabkan warna minyak
berwarna kuning, kuning kecokelatan, kehijau-hijauan dan kemerah-merahan.
Warna kuning dalam minyak goreng disebabkan karoten yang larut dalam
minyak, dan dapat terjadi akibat proses absorbsi dalam minyak tak jenuh. Warna
kuning yang terdapat pada minyak hasil reprosessing tersebut merupakan warna
akibat oksidasi dan degradasi dari zat warna alamiah, sehingga sangat sulit untuk
dihilangkan, timbulnya warna ini dapat diidentifikasi bahwa telah terjadi
kerusakan pada minyak.
Untuk mencegah hal ini, pada proses pengolahan umumnya ditambahkan
zat antioksidan, sedangkan minyak kelapa sawit itu sendiri telah mengandung zat
antiokidan, namun dalam jumlah yang sedikit.
Berdasarkan hasil penelitian, warna minyak goreng bekas hasil
reprosessing sudah memenuhi SNI 3741-1995 yaitu warna muda dan jernih.

4.7 Kajian Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam
Hasil penelitian yang mengkaji mengenai peningkatan kualitas minyak
goreng bekas dengan metode adsorpsi menggunakan bentonit – karbon aktif biji
kelor (moringa oleifera. Lamk) dengan metode kolom ini menunjukkan bahwa
biji kelor benar-benar dapat digunakan sebagai adsorben yang mampu
mengadsorpsi pengotor minyak goreng khususnya asam lemak bebas, peroksida
dan warna. Asam lemak bebas dan peroksida dalam jumlah yang besar dapat
mempengaruhi kesehatan manusia. Pada kasus ini karbon aktif biji kelor mampu
107


mengadsorpsi FFA sebesar 0,307 % dan peroksida sebesar 2,21 meq/kg. Hal ini
membuktikan kebenaran Al-Qur’an dalam surat Al-An’am ayat 95:
¿¸| ´<¦ _¸l!· ¸¸>'¦ _´¡.l¦´¸ _¸¸>´ ¯_>'¦ ´_¸. ¸¸¸¯,.l¦ _¸¸>:´¸ ¸¸¸¯,.l¦ ´_¸. ¸¯_>l¦
`¡>¸l: ´<¦ _.!· ¿¡>·¡. ¸__¸
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji
buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan
yang mati dari yang hidup. (yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Maka
mengapa kamu masih berpaling?”

Ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan keluar
(tumbuh dari benda mati). Artinya bahwa tumbuhan yang telah matipun dapat
dimanfaatkan kembali untuk sesuatu yang lebih berguna (Jauhari, 1984). Biji
kelor yang sudah tua dan kering di pohon memiliki manfaat sebagai bibit pohon
kelor namun umumnya di buang begitu saja tanpa dimanfaatkan kembali, tetapi
Allah pun tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, seperti dalam Al-
Qur’an surat Shaad ayat 27 yang berbunyi :
!.´¸ !´.1l> ´,!.´.l¦ ´_¯¸¸¦´¸ !.´¸ !.·¸.¸, ¸¸L.,
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dengan sia-sia (tanpa hikmah)”.

Ayat tersebut menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh
Allah adalah tanpa sia-sia baik itu tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya yang
bisa dimanfaatkan oleh setiap makhluknya untuk bisa menjadi bahan renungan
bagi makhluknya khususnya manusia. Sebagaimana biji kelor yang tua dan kering
dapat dimanfaatkan lagi sebagai adsorben yang mampu mengadsorpsi pengotor
108


minyak goreng khususnya asam lemak bebas, peroksida dan warna. Sehingga
kualitas minyak goreng bekas dapat ditingkatkan kembali. Minyak goreng bekas
yang awalnya mengandung asam lemak bebas 0,448 %, peroksida 4,58 meq/kg
dan berwarna hitam dapat diturunkan menjadi 0,141 % dan 4,00 meq/kg serta
kembali berwarna jernih. Sehingga minyak goreng bekas tersebut dapat
dikonsumsi kembali karena tidak mempengaruhi kesehatan manusia dan
membahayakan tubuh.
Ayat lain dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pemanfaatan segala apa
yang di ciptakan oleh Allah adalah Surat Qaaf ayat 7-8 yang berbunyi:
´_¯¸¸¦´¸ !¸..:.. !´.,1l ¦´¸ !¸,¸· ´_¸.´¸´¸ !´..´,.¦´¸ !¸,¸· _¸. ¸_´ __¸¸ ¸_,¸¸, ¸_¸ :´¸¸.¯,.
_¸´¸:´¸ ¸_>¸l ¸.¯,s ¸¸,¸.¯. ¸_¸

”Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-
gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang
indah dipandang mata (7) Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap
hamba yang kembali (mengingat Allah) (8)”.


Allah menciptakan bumi (alam) ini sebagai media kehidupan dan di ciptakan alam
ini dengan segala isi dan pernak-perniknya adalah agar semuanya bisa di jadikan
bahan renungan bagi setiap umatnya. Salah satunya adalah biji kelor yang bisa di
jadikan suatu bahan penelitian untuk menjaga dan melestarikan alam semesta,
karena salah satu tugas manusia sebagai mahkluk yang paling sempurna dengan
anugrah akal yang di berikan oleh Allah adalah berpikir. Orang-orang yang
berpikir ialah orang yang mau memperhatikan dan menyelidiki kejadian langit
dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Jaatsiyah ayat 13:
¸>.´¸ >l !. _¸· ¸,´¡..´.l¦ !.´¸ _¸· ¸_¯¸¸¦ !´-,¸.- «.¸. ¿¸| _¸· ¸l: ¸¸.,¸ ¸,¯¡1¸l
_¸`¸>±., ¸¸_¸

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di
bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
yang berfikir”.
109


Manusia merupakan salah satu di antara unsur-unsur lingkungan hidup
yang mempunyai posisi sentral dan dominan, artinya manusia dengan segala
kelebihan yang dimiliki di bandingkan dengan makhluk yang lain yaitu akal.
Melalui akal tersebut manusia di beri kesempatan dan kemampuan untuk
melakukan pengamatan (observasi), memikirkan dan mengadakan penelitian serta
kajian terhadap fenomena-fenomena alam sebagai pengejawantahan kebesaran
Tuhan.
Al-Qur’an hanya memberikan dasar, prinsip dan pokok-pokok ajaran yang
dapat memberikan motivasi atau mendorong manusia untuk melakukan kegiatan
dan perbuatan yang positip (konstruktif). Bentuk, cara dan tehnik yang di gunakan
sepenuhnya di serahkan kepada manusia untuk memikirkan sesuai dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Minyak goreng bekas merupakan minyak yang sudah tidak layak
dikonsumsi lagi, selain berwarna gelap, memiliki bau yang tidak enak (tengik),
dan menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Kualitas minyak goreng bekas
tersebut sudah sangat rendah karena adanya kandungan senyawa peroksida dan
asam lemak bebas yang cukup tinggi. Hasil analisis angka peroksida dan asam
lemak bebas (FFA) pada minyak goreng bekas dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Analisis Angka Peroksida dan Asam Lemak Bebas Pada Minyak
Goreng Bekas
Analisis Angka Peroksida Asam Lemak Bebas
Hasil Penelitian 4,58 meq/kg 0,448 %
Spesifikasi SNI Maks. 2 meq/kg Maks. 0,3 %

110


Data pada tabel 4.5 menunjukkan kandungan peroksida dan asam lemak
bebas sangat tinggi, sudah berada di atas standar. Hal ini menunjukkan bahwa
minyak goreng bekas sudah tidak layak dikonsumsi. Apabila masih tetap
dikonsumsi maka akan menyebabkan penyakit dan membahayakan bagi kesehatan
tubuh, sebagaimana anjuran Allah SWT kepada hambanya untuk selalu
mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak hanya halal للح ) ) tapi juga harus
baik (ابيط).
Anjuran memakan yang halal dan baik telah dijelaskan dalam Al-Qur’an
Al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi:
!¸¯,!. , '_!.l¦ ¦¡l´ !´.¸. _¸· ¸_¯¸¸¦ ¸.l> !´,¸¯,L ¸´¸ ¦¡`-¸,.. ¸,´¡L> ¸_.L,:l¦ .«.¸| ¯¡>l ´¸.s
_,¸,¯. ¸¸__¸

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di
bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata”.


Pada dasarnya semua makanan dan minuman yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan, sayur-sayuran, buah-buahan dan hewan adalah halal kecuali yang
beracun dan membahayakan bagi manusia. Kualitas minyak goreng bekas dapat
ditingkatkan lagi dengan menginteraksikannya dengan adsorben. Sehingga dapat
dikonsumsi kembali karena tidak membahayakan kesehatan manusia.
Hasil penelitian menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor, bentonit
teraktivasi dan campuran karbon aktif biji kelor dengan bentonit teraktivasi ini
menunjukkan bahwa biji kelor benar-benar dapat digunakan sebagai adsorben
yang mampu mengadsorpsi pengotor minyak goreng khususnya asam lemak
111


bebas, peroksida dan warna. Minyak goreng bekas tersebut kembali berwarna
jernih dan kandungan asam lemak bebas serta peroksidanya sesuai dengan batas
maksimal standart minyak goreng. Sehingga minyak goreng bekas tersebut dapat
dikonsumsi kembali karena tidak mempengaruhi kesehatan manusia dan
membahayakan tubuh.
Penggunaan metode kolom dalam penelitian ini adalah agar biji kelor
dapat di gunakan secara berulang-ulang secara lebih praktis (tidak perlu
menyaring) sehingga tidak menjadi sia-sia (mubadzir), dengan cara proses
regenerasi yang lebih sederhana yaitu pengembalian gugus pada kondisi semula
karena yang menjadi tujuan utama adalah pemanfaatan adsorben biji kelor sebaik-
baiknya tanpa mengurangi nilai dari fungsi adsorben itu sendiri.



















112

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
1. Hasil penelitian angka peroksida dan asam lemak bebas (FFA) pada minyak
goreng bekas berturut-turut sebesar 4,58 meq/kg dan 0,448 %, sedangkan
angka peroksida dan asam lemak bebas (FFA) minyak hasil reprocessing
berturut-turut sebesar 2,37 meq/kg dan 0,141 %. Hasil uji tersebut
menunjukkan bahwa proses pemurnian menggunakan metode kolom mampu
menurunkan angka peroksida sebesar 48 % dan asam lemak bebas sebesar 69
%. Rerata angka peroksida minyak hasil reprocessing belum memenuhi
standar umum minyak goreng sedangkan rerata asam lemak bebas minyak
hasil reprocessing sudah memenuhi standar umum minyak goreng.
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang berkemampuan menyerap relatif
lebih banyak angka peroksida adalah adsorben campuran karbon aktif biji
kelor dan bentonit teraktivasi, sedangkan yang berkemampuan menyerap
relatif lebih banyak asam lemak bebas adalah adsorben karbon aktif biji kelor.
3. Warna yang diperoleh semakin cerah dibandingkan dengan minyak goreng
bekas sebelum reprosessing. Dari tiga macam adsorben yang digunakan, yaitu
karbon aktif biji kelor, bentonit teraktivasi dan campuran karbon aktif biji
kelor dengan bentonit teraktivasi, yang berkemampuan meningkatkan
kejernihan warna minyak goreng lebih banyak adalah adsorben campuran
karbon aktif biji kelor dengan bentonit teraktivasi
113


5.2 Saran
1. Pada penelitian ini, proses interaksi antara adsorben dengan minyak dalam
kolom dilakukan dengan tanpa mengatur laju alir, sehingga waktu kontak
antara masing-masing adsorben dengan FFA dan peroksida juga berbeda-beda.
Sebaiknya, laju alir dibuat sama sehingga waktu kontak untuk menyerap
antara masing-masing adsorben pun juga sama.
2. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah suhu. Pada
penelitian ini hanya menggunakan suhu ruangan dan tidak dikontrol secara
kontinyu. Untuk mengkonstankan suhu, sebaiknya diberikan aliran air hangat
(yang di kontrol secara kontinyu) di luar kolom sehingga suhu waktu
penyerapan dapat teratur dan dapat mempercepat proses adsorpsi.
114


DAFTAR PUSTAKA



Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir, 2001, Tafsir Ibnu Kasir juz
7, Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Afiatun, E. Wahyuni, S. dan Rachmawaty, A. 2004. Perolehan kembali Cu dari
Limbah Elektroplating dengan Menggunakan Reaktor Unggun
Terfluidisasi. jurnal INFOMATEK Volume 6 Nomor 1 Maret 2004.
http://www.unpas.ac.id/pmb/home/images/articles/infomatek/Jurnal_VI_1
-1.pdf. diakses pada tanggal 29 April 2008.

Amir, H. 2003. Karakterisasi Penyerapan Betakaroten pada Crude Palm Oil
dengan Adsorben Alternative Arang Tulang. Jurnal penelitian UNIB
Vol.IX no 1 Maret 2003. hal. 58-65. http://www.geocities.com/
ejurnal/files/lp/2003/58.pdf. diakses pada tanggal 29 April 2008.

Anonymous. 2000. Optimizing Flavor Quality and Oxidative Stability of
Commodity Vegetable Oils, http://www.ars.usda.gov/research/projects/
projects.htm?ACCN_NO=402579& showpars=true&fy=2000. html.
Diakses tanggal 9 April 2008.

________. 2001. Elektronika Larutan Metode Titrasi. http//www.elektro
indonesia.com/elektro/elek36.html. Diakses tanggal 13 Juli 2007.

________. 2005. Safety of Frying Oils and Oil Fried Products, http://www.
foodfacts.org.za/siteindex/Frying%20Oil%20-%20Safety.html. Diakses
tanggal 9 April 2008.

________. 2009
a
. Gallery Tanaman Obat. http://www.tanamanobat.com/
index.php /gallery-tanamanobat/ kelor. Diakses tanggal 29 Januari 2009.

________. 2009
b
. Lempung. http://www.id.wikipedia.org/wiki/lempung. Diakses
tanggal 28 Februari 2009.

________. 2009
c
. Teknologi Tepat Guna tentang Pangan_Kesehatan.
http://www.smecda.com/TEKNOLOGI TEPAT GUNA/TTG_
PANGAN_KESEHATAN/artikel/ ttg_tanaman_obat/ depkes/ buku/ 1-
196.pdf. Diakses tanggal 28 Februari 2009.

Anwar, A, 2007, Pangan dalam Pandangan Islam (Tinjauan Islam terhadap
Makanan dan Minuman), www.unpas.ic.id, diakses tanggal 1 januari 2009

AOAC, 1990, Official Methods of Analysis of the Association of Official
Analytical Chemists. Washington, D.C: AOAC inc.
115




Apriani, S. 2000. Studi Pengaruh Jenis Adsorben Terhadap Komposisi dan
Kualitas Minyak Goreng Sisa Pakai. Tugas akhir tidak diterbitkan.
Malang: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Brawijaya.

Atkins, P.W. 1999. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.

Bayrak, Y. 2005. Application of Langmuir Isotherm to Saturated Fatty Acid
Adsorption. Journal Microporous and Mesoporous Materials 87 (2006)
203–206. http://www.elsevier.com/locate/micromeso. diakses pada tanggal
9 April 2008.

Bernasconi, G, Gerster, H, dan Hauser H. 1995. Teknologi Kimia Bagian 2. Edisi
pertama. Terjemahan Lienda Handojo, Pradnya Paramita. Jakarta. hal:204.

Castellan, G.W. 1982. Physical Chemistry. Third Edition. General Graphic
Servies. New York

Duke, J. A. 1983. Handbook of Energy Crops. http://newcrop.hort.purdue.edu/
newcrop/duke_energy/moringa_oleifera.html. Diakses tanggal 31 Januari
2009.

Effendy. 2006. Teori VSEPR Kepolaran dan Gaya Antarmolekul Jilid 2. Malang:
Bayu Media Publishing.

Elizabeth, J. 2002. Ragam Minyak Goreng Pilih yang Mana.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/18/iptek/pili29.htm. diakses
pada tanggal 29 Januari 2009.

Fusova, L. 2009. Modification of the Structure of ca-montmorillonite Modifikace
Struktury ca-montmorillonitu. Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan
Kimia 2006."Peran Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pemanfaatan
Sumber Daya Alam Berwawasan Lingkungan".

Gritter, R.J., James M. Bobbitt dan Arthur E. Schwarting, 1991, Pengantar
Kromatografi Edisi Kedua, Bandung: Penerbit ITB.
Hendartomo, T. 2007. Pemanfaatan Minyak dari Tumbuhan untuk Pembuatan
Biodiesel. http://bappeda.jogjakarta.go.id/intranet/download.php?act=
download&id=75. Diakses pada tanggal 23 maret 2007.
Imani, A.K.Q, 2005, Tafsir Nurul Quran Sebuah Tafsir Sederhana Menuju
Cahaya Al-Qur'an, Penerjemah Salman Nano, Jakarta: Penerbit Al-Huda.

Jankowska, H., Swiatkowski, A., Choma, J., 1991, Active Carbon, Horwood,
London.
114
116



Jauhari, T., Alih Bahasa Drs. Mochamadiyah Ja’far, 1984, Qur’an dan Ilmu
Pengetahuan Modern, Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas.
Jonni, M.S. Sitorus, M. dan Katharina, N. 2008. Cegah Malnutrisi dengan Kelor.
Edisi pertama. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 11-18.

Joy, B. A. N, Richard, K. dan Pierre, N. J. 2007. Adsorption of Palm Oil Carotene
and Free Fatty Acids onto Acid Activated Cameroonian Clays. Journal of
Applied Sciences 7 (17): 2462-2467,2007. http://www.ansijournals.com/
jas/2007/2462-2467.pdf. diakses pada tanggal 09 April 2008.

Juliandini, F dan Yulinah T, 2008, Uji Kemampuan Karbon Aktif dari Limbah
Kayu Dalam Sampah Kota untuk Penyisihan Fenol, Surabaya: Institut
Teknologi Sepuluh Nopember.

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:
Universitas Indonesia.

Ketaren, S. 2005. Minyak dan Lemak Pangan. Edisi pertama. Jakarta: Universitas
Indonesia. Hal: 216-234.

Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Terjemahan A.
Saptorahardjo. Jakarta: UI Press.

Larry, D.B., Judkins J.F., and Weant, B.L. 1992. Process Chemistry for Water
and Wastewater. Prentice Hall Inc. New Jersey

Logu, D. 2005. Moringa Exports. (Online). http://murungaexports.ebigchina.com.
Diakses tanggal 31 Januari 2009.

Mahran, J., dan Mubasyir, A.A.H., 2006, Al-Qur’an Bertutur Tentang Makanan
dan Obat-obatan (Penerjemah: Irwan Raihan), Yogyakarta: Mitra Pustaka,
Hal: 21.

Muallifah, S. 2009. Penentuan Angka Asam Thiobarbiturat (TBA) dan Angka
Peroksida pada Minyak Goreng Bekas Hasil Pemurnian dengan Biji Kelor
(Moringa oleifera. Lamk). Tugas Akhir tidak diterbitkan. Malang: Jurusan
Kimia. Fakultas Sains dan Teknologi. Malang: Universitas Islam Negeri

Muchtadi, T.R. 2000. Asam Lemak Omega 9 dan Manfaatnya Bagi Kesehatan.
Jakarta: Media Indonesia

Murtado. 1994. Kajian Reaksi Pertukaran Ion Kalsium oleh Ion Natrium pada
Bentonit Alam (bentonit-Ca). Tugas akhir Tidak diterbitkan. Yogyakarta:
FMIPA UGM.

117


Mustika, L. 2007. Sintesis dan Karakterisasi Montmorillonite K10 Zirkonia
sebagai Penyangga Katalis. Tugas akhir Tidak diterbitkan. Malang:
FMIPA Universitas Brawijaya.

Oscik, J, 1991, Adsorbtion, Edition Cooper, I.L., John Wiley and Sons, New
York.

Pasaribu, N. 2004. Minyak Buah Kelapa Sawit. Makalah Jurusan Kimia Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
http://library.usu.ac.id/download/fmipa/kimia-nurhaida.pdf. diakses pada
tanggal 01 Mei 2008

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Edisi pertama. Jakarta: Universitas
Indonesia. Hal: 52-53.

Quthb, S., 2001, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, hal 244.

Riyanto, A. 1994. Bahan Galian Industri Bentonit. Dirjen Pertambangan Umum.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Hal: 1-15

Room, F.A., 2004, Studi Proses Despicing dengan Metode Steaming pada Minyak
Goreng Bekas Serta Biaya Operasionalnya, Tugas Akhir tidak diterbitkan.
Malang: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Pertanian.
Universitas Brawijaya, hal: 8-9.

Rossi, M. M Gianazza, C. Alamprese, F. Stanga. 2002. The Role of Bleaching
Clays and Synthetic Silica in Palm Oil Physical refining. Journal Food
Chemistry 82 (2003) 291–296. Http://www.elsevier.com/locate/foodchem.
di akses pada tanggal 7 April 2008

Sabarudin, A. 1996. Aktivasi Arang Tempurung Kelapa dengan NaCl dan Gas
CO2 dalam Reaktor Fluidasi. Skripsi. Jurusan kimia. Fakultas MIPA.
Malang: Universitas Brawijaya.

Saleh, N., 2004, Studi Interaksi Antara Humin dan Logam Cu (II) Dan Cr (II)
dalam Medium Air, Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.

Sastrohamidjojo, H. 1992. Spektroskopi. Yogyakarta: Liberty. Hal: 45-101.

Sembiring, M.T, dan Sinaga.T.S. 2003. Arang Aktif (Pengenalan dan Proses
Pembuatan). Makalah. Sumatra Utara: Jurusan Teknik Industri. Fakultas
Teknik Universitas Sumatra Utara

Setyowati, L. 1995. Sintesis TMA-Bentonit dan Interkalasi Azobenzena ke dalam
TMA-Bentonit. Tugas akhir Tidak diterbitkan. Yogyakarta: FMIPA UGM.

118


Shihab, M. Q., 2002, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an
Vol. 10, Jakarta: Penerbit Lentera Hati.

Sudarmadji, S. Bambang, H. dan Suhardi. 2003. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian. Yogyakarta: Liberty. Hal: 96-97

Suharto, T.E. 1997. Pemanfaatan Zeolit Alam sebagai Adsorben pada Proses
Pemucatan Minyak Sawit Kasar (CPO). Prosiding seminar Agribisnis
Kelapa Sawit. LPIU-ADB UNIB. dalam Jurnal penelitian UNIB Vol.IX no
1 Maret 2003. Hal: 58-65 tentang Karakterisasi Penyerapan Betakaroten
pada Crude Palm Oil dengan Adsorben Alternative Arang Tulang oleh
Hermansyah Amir. 2003

Sutha, N. M, Karna W, Eko S, 2008, Preparasi dan Karakterisasi Komposit
Kromium Oksida-Montmorillonit, Jurnal Kimia 2 (2), http://www.
geocities.com/ ejurnal/pdf. diakses pada tanggal 29 April 2009.

Tan, K.H. 1982. Dasar-dasar Kimia Tanah. Edisi pertama. Terjemahan Didiek
H.G. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Hal: 93-192.

Taufiq, M. 2007. Pemurnian Minyak Goreng Bekas (Jelantah) Menggunakan Biji
Kelor (Moringa oleifera Lamk). Tugas akhir Tidak diterbitkan. Malang:
Jurusan Kimia Fakultas SAINTEK UIN

Van, Olphen, H. 1978. Clay Colloid Chemistry for Clay Technologist, Geologist
and Soil Scientist. John Wiley and Sons. New York.

Widayat, S dan Haryani, K. 2005. Optimasi Proses Adsorbsi Minyak Goreng
Bekas dengan Adsorbent Zeolit Alam : Studi Pengurangan Bilangan
Asam. Jurnal Penelitian Teknik Kimia, Volume 17 No.01 April 2006.
Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro

Wijana, S.Arif, H dan Nur, H. 2005. Tekno Pangan: Mengolah Minyak Goreng
Bekas. Surabaya: Trubus Agrisarana.

Wijaya, K. Tahir, I. Awalina, L. 2006, Preparasi dan uji kualitatif cu-ai203-
montmorillonit Sebagai bahan antibakteri staphylococcus aureus.
Laboratorium Kimia Fisika, Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam,Universitas Gadjah Mada, Sekip Utara, Yogyakarta.

Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hal: 95.

Yulianto, B. 2001. Sintesis Lempung Terpilar dan Uji Stabilitasnya terhadap
Pengaruh Panas. Tugas akhir Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Jurusan
Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada.
119


LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1. Diagram Alir

1. Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor





 Dibuang kulitnya




 Ditumbuk kasar dan dibungkus dengan alumunium foil
 dimasukkan tanur suhu 600
o
C selama 3 jam
 ditumbuk dan diayak



 dicuci dengan air panas
 dikeringkan dengan oven pada suhu 110
o
C selama 2
jam
 direndam larutan NaCl 30 % selama 24 jam
 dikeringkan dalam oven 110
o
C selama 2 jam
 dihaluskan dan disaring dengan ayakan 70 mesh.


Buah Kelor
Biji Kelor dengan kulit ari
Karbon aktif biji kelor
Serbuk arang biji kelor
120


Lanjutan lampiran 1.

2. Preparasi Bentonit


 Dicuci akuades dengan perendaman selama 24 jam
 Didispersikan ke dalam larutan natrium klorida 1M
 Diaduk dengan pengaduk magnet selama 24 jam
 Dipanaskan pada temperatur 70 C- 80 C
 Disaring


 Dicuci dengan akuades
 Dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C
selama 4 jam
 Dihaluskan dan disaring dengan pengayak 100 mesh
 Dijenuhkan dengan NaCl jenuh selama 24 jam
pengadukan.
 Dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring



 Dicuci dengan akuades
 Diuji dengan larutan AgNO
3
hingga tidak terbentuk
endapan AgCl
 Dikeringkan dalam oven pada temperatur 110C selama
4 jam
 Dihaluskan dan disaring dengan pengayak 100 mesh





Serbuk lempung alam Na-bentonit
Bentonit teraktivasi
Sedimen Na-bentonit
Sedimen Na-bentonit
121


Lanjutan lampiran 1.

2. Pemurnian Minyak Goreng Bekas
Proses Penghilangan Bumbu (Despicing)





 Dimasukkan gelas beaker 500 mL
 Ditambahkan air dengan komposisi minyak : air (1:1)
 Dipanaskan sampai volume air tinggal setengahnya
 Diendapkan dalam corong pisah selama 1 jam
 Diambil fraksi minyaknya pada bagian atas
 Disaring dengan kain kasa




3.2 Proses Netralisasi



- Dimasukkan gelas beaker 500 mL
- Dipanaskan sampai suhu 35
0
C
- Ditambahkan 18 ml larutan NaOH 16 %
- Diaduk-aduk selama10 menit pada suhu 40
0
C
- Didinginkan selama 10 menit
- Disaring





3.3 Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor,
bentonit
3.3.1 Adsorpsi menggunakan karbon aktif biji kelor



 Dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi glass
wool
 Dialirkan minyak goreng hasil netralisasi 50 ml


2 gram serbuk karbon aktif biji kelor
Minyak goreng jernih

250 g Minyak goreng bekas
Minyak bebas bumbu
Analisis asam lemak bebas
Angka peroksida
Analisis warna
Analisis asam lemak bebas
Angka peroksida
Analisis warna
450 g Minyak Hasil Despicing
Minyak Hasil Netralisasi
Analisa Peroksida dan FFA
dengan kontrol minyak
goreng baru
Analisa Peroksida dan FFA
dengan kontrol minyak
goreng baru
122


Lanjutan lampiran 1.


3.3.2 Adsorpsi menggunakan Bentonit



 Dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi glass
wool
 Dialirkan minyak goreng hasil netralisasi 50 ml






3.3.3 Adsorpsi menggunakan campuran karbon aktif biji kelor dan
Bentonit



 Dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi glass
wool pada ujung kolom
 Dimasukkan glass wool diatas karbon aktif biji kelor
 Ditambahkan 1 gram bentonit teraktivasi
 Dimasukkan glass wool pada kolom menutupi lapisan
bentonit
 Dialirkan minyak goreng hasil netralisasi 50 ml




Minyak goreng jernih
2 gram serbuk bentonit teraktivasi
Minyak goreng jernih
1 gram serbuk karbon aktif biji kelor
123


Lanjutan lampiran 1.


4. Analisa Minyak goreng
4.1 Analisis warna


 Dimasukkan ke dalam kuvet
 Color reader dihidupkan
 Ditentukan harga L*, a*, b* yang menyatakan tingkat
warna gelap sampai terang
 Diukur warna minyak goreng dengan color reader


Keterangan:
L* : warna cerah (0-100)
a* : warna jingga sampai merah (-100 sampai +100)
b* : warna kuning


4.2 Penentuan Asam Lemak Bebas (FFA)




 Dimasukkan ke dalam 250 mL erlenmeyer tertutup
 Ditambahkan 25 mL etanol 96 %
 Dipanaskan pada suhu 40
o
C
 Ditambahkan 2 mL indikator pp
 Dititrasi dengan larutan NaOH 0,05 M (sampai muncul
warna merah jambu dan tidak hilang selama 30 detik)
 Dihitung kadar asam lemak bebas (FFA)




Hasil
14 gram Minyak hasil uji adsorpsi
200 gram Minyak hasil uji adsorpsi
Minyak goreng dengan warna sekian
124


Lanjutan lampiran 1.


4.3 Penentuan Angka Peroksida




 Dimasukkan ke dalam 250 mL erlenmeyer tertutup
 Ditambahkan 30 mL larutan asam asetat-kloroform (3 :
2)
 Dikocok sampai larut semua dalam keadan tertutup
 Ditambahkan 0,5 mL larutan jenuh KI
 Didiamkan selama 1 menit sambil digoyang dengan
tertutup
 Ditambahkan 30 mL akuades
 Dititrasi dengan 0,01 N Na
2
SO
3
(sampai warna kuning
hampir hilang)
 Ditambahkan 0,5 mL larutan pati 1 %
 Dititrasi kembali (sampai warna biru mulai hilang)
 Dihitung angka peroksida

5 g Minyak hasil uji adsorpsi
Hasil
125


Lampiran 2. Pembuatan Reagen Kimia

1. Larutan NaCl 30 %
Kristal garam ditimbang 30 gram, dilarutkan dengan akuades 100 ml, diaduk-
aduk sampai larut sempurna, kemudian disaring.
2. Larutan NaCl 1 M
Kristal garam ditimbang 5,8 gram, dilarutkan dengan akuades 100 ml.
mol NaCl = 0,1 L x 1 M
= 0,1 mol
gram NaCl = mol x Mr NaCl
= 0,1 mol x 58 g/mol
= 5,8 gram
3. Larutan NaCl jenuh
Dilarutkan sebanyak n gram kristal NaCl ke dalam n ml aquades sampai
terlihat NaCl tidak bisa larut.
4. Larutan NaOH 16 %
Padatan NaOH ditimbang 16 gram, dilarutkan dengan akuades 100 gram,
kemudian diaduk-aduk sampai larut sempurna.
5. Larutan NaOH 0,1 M
Dilarutkan 0,4 gram NaOH ke dalam aquades sebanyak 100 ml.
Mol NaOH = 100 ml x 0,1 M
= 0,01 mol
Gram NaOH = Mol x Mr NaOH
= 0,01 mol x 40 g/mol
= 0,4 gram
126


Lanjutan lampiran 2.

6. Larutan NaOH 0,05 M
Larutan 0.1 NaOH

dipipet 50 mL, dipindahkan ke labu ukur 100 mL,
kemudian diencerkan dengan akuades mendidih sampai tanda batas.
7. Asam asetat-kloroform (3:2)
Dicampurkan 600 ml asam asetat ke dalam kloroform 400 ml dalam beaker
gelas kemudian diaduk dengan magnetik stirer selama 10 menit.
8. Larutan KI jenuh
Dilarutkan KI berlebih dalam aquades mendidih, sampai terlihat KI tidak bisa
larut. Larutan harus disimpan ditempat yang gelap dan tertutup. Reagen ini
setiap hari harus dicek kelayakan pakainya dengan cara: disiapkan 30 mL
campuran asam asetat:kloroform (3:2), ditambahkan 0.5 KI jenuh,
ditambahkan 2 tetes larutan amilum 1 %, Jika larutan berubah menjadi biru
dan membutuhkan lebih dari 1 tetes larutan 0.1 N Na
2
S
2
O
3
untuk
menghilangkan warna tersebut, maka reagen KI ini tidak boleh digunakan
kembali dan harus dibuat reagen KI yang baru. Untuk membuat larutan KI
jenuh 25 ml dibutuhkan serbuk KI sebanyak 133 gram.
9. Larutan pati 1 %
1 g pati dicampur dengan sedikit akuades yang sudah mendidih sambil diaduk,
dipindahkan ke labu ukur 100 ml kemudian ditambahkan akuades yang sudah
mendidih samapai tanda batas.
127


Lanjutan lampiran 2.

10. Natrium tiosulfat 0,1 N
25 g Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O dimasukkan kedalam 1 liter aquades, didihkan selama 5
menit, kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 1 liter sampai tanda batas,
selanjutnya dipindahkan kedalam botol yang telah dibilas dengan larutan asam
dikromat panas dan dicuci dengan air panas. Simpan reagen dalam tempat
gelap dan dingin, jika terdapat kelebihan larutan sebaiknya tidak dikembalikan
dalam larutan stok. Jika dibutuhkan kosentrasi larutan lebih kecil dari 0.1 N,
maka bisa diperoleh dengan mengencerkan dari 0.1 N menggunakan aquades
mendidih (larutan encer lebih tidak stabil, karena itu disarankan hanya selalu
digunakan larutan segar) (siapkan jika dibutuhkan).

11. Larutan 0,01 M Na
2
S
2
O
3

Larutan 0,1 Na2S2O3 dipipet 10 mL, dipindahkan ke labu ukur 100 mL,
kemudian diencerkan dengan akuades sampai tanda batas.
128


Lampiran 3. Data Hasil Penelitian

1. Analisis Minyak goreng baru
Asam Lemak bebas
Ulangan Berat (gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 14.0285
14.5 14.95 0.45 0.041
2 14.0576
14.95 15.30 0.35 0.032
Rerata 0.037

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 041 , 0 100
1000 0285 , 14
256 05 , 0 45 , 0
%   x
x
x x
FFA
2. % 032 , 0 100
1000 0576 , 14
256 05 , 0 35 , 0
%   x
x
x x
FFA
% 037 , 0
2
032 , 0 041 , 0
Re 

 rata

Angka peroksida
Ulangan Berat (gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0516 3.50 4.25 0.75 1.485
2 5.0889 4.25 4.85 0.60 1.179
3 5,0759 4,85 5,50 0,65 1,281
Rerata 1.315

) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 
1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 485 , 1
0516 , 5
1000 01 , 0 75 , 0
 
2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 179 , 1
0889 , 5
1000 01 , 0 60 , 0
 
3. kg meq
x x
Peroksida Angka / 281 , 1
0759 , 5
1000 01 , 0 65 , 0
 

kg meq rata / 315 , 1
3
281 , 1 179 , 1 485 , 1
Re 
 


129


Lanjutan lampiran 3.

2. Analisis Minyak goreng bekas
Asam Lemak bebas
Ulangan Berat (gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 14.0764
0.00 4.60 4.60 0.418
2 14.0658
4.60 9.65 5.05 0.459
3 14.1029
15.30 19.65 4.35 0.395
4 14.1808
0.00 5.75 5.75 0.519
Rerata 0.448

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 418 , 0 100
1000 0764 , 14
256 05 , 0 60 , 4
%   x
x
x x
FFA
2. % 459 , 0 100
1000 0658 , 14
256 05 , 0 05 , 5
%   x
x
x x
FFA
3. % 395 , 0 100
1000 1029 , 14
256 05 , 0 35 , 4
%   x
x
x x
FFA
4. % 519 , 0 100
1000 1808 , 14
256 05 , 0 75 , 5
%   x
x
x x
FFA
% 448 , 0
4
519 , 0 395 , 0 459 , 0 418 , 0
Re 
  
 rata

Angka peroksida
Ulangan
Berat
(gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0258 5,30 6,25 0,95 1,890
2 5.0343 6,25 8,25 2,00 3,973
3 5.0862 18,55 22,55 4,00 7,864
Rerata 4,576

) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 
1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 890 , 1
0258 , 5
1000 01 , 0 95 , 0
 
2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 973 , 3
0343 , 5
1000 01 , 0 00 , 2
 
130


Lanjutan lampiran 3.


3. kg meq
x x
Peroksida Angka / 864 , 7
0862 , 5
1000 01 , 0 00 , 4
 
kg meq rata / 576 , 4
3
864 , 7 973 , 3 890 , 1
Re 
 


3. Analisis Minyak goreng hasil despicing
Asam Lemak bebas
Ulangan Berat (gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 14.2184
9.65 12.15 2.50 0.225
2 14.1741
12.15 14.5 2.35 0.212
3 14.3104
19.65 22.05 2.40 0.214
4 14.0567
5.75 7.85 2.10 0.191
Rerata 0.211

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 225 , 0 100
1000 2184 , 14
256 05 , 0 50 , 2
%   x
x
x x
FFA
2. % 212 , 0 100
1000 1741 , 14
256 05 , 0 35 , 2
%   x
x
x x
FFA
3. % 214 , 0 100
1000 3104 , 14
256 05 , 0 40 , 2
%   x
x
x x
FFA
4. % 191 , 0 100
1000 0567 , 14
256 05 , 0 10 , 2
%   x
x
x x
FFA
% 211 , 0
4
191 , 0 214 , 0 212 , 0 225 , 0
Re 
  
 rata

Angka peroksida
Ulangan
Berat
(gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0810 8,25 10,40 2,15 4,231
2 5.0535 10,40 12,55 2,15 4,254
3 5,0010 22,55 24,30 1,75 3,499
Rerata
3,995

131


Lanjutan lampiran 3.


) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 
1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 231 , 4
0810 , 5
1000 01 , 0 15 , 2
 
2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 254 , 4
0535 , 5
1000 01 , 0 15 , 2
 
3. . kg meq
x x
Peroksida Angka / 499 , 3
0010 , 5
1000 01 , 0 75 , 1
 
kg meq rata / 995 , 3
3
499 , 3 254 , 4 231 , 4
Re 
 


4. Analisis Minyak goreng hasil netralisasi
Asam Lemak bebas
Ulangan Berat (gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 14.0656
7.85 9.60 1.75 0.159
2 14.0578
9.60 11.10 1.50 0.137
Rerata 0.148

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 159 , 0 100
1000 0656 , 14
256 05 , 0 75 , 1
%   x
x
x x
FFA
2. % 137 , 0 100
1000 0578 , 14
256 05 , 0 50 , 1
%   x
x
x x
FFA
% 148 , 0
2
137 , 0 159 , 0
Re 

 rata

Angka peroksida
Ulangan
Berat
(gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0285 12,55 14,65 2.10 4,176
2 5.0371 14,65 16,55 1,90 3,772
3 5,0701 16,55 18,55 2,00 3,945
Rerata
3,964

) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 
132


Lanjutan lampiran 3.


1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 176 , 4
0285 , 5
1000 01 , 0 10 , 2
 

2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 772 , 3
0371 , 5
1000 01 , 0 90 , 1
 

3. kg meq
x x
Peroksida Angka / 945 , 3
0701 , 5
1000 01 , 0 00 , 2
 

kg meq rata / 964 , 3
3
945 , 3 772 , 3 176 , 4
Re 
 



5. Analisis Minyak goreng hasil interaksi dengan karbon aktif biji kelor
Asam Lemak bebas
Ulangan Berat (gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 13.9186
11.10 12.60 1.50 0.138
2 13.9210
12.60 14.15 1.55 0.143
Rerata 0.141

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 138 , 0 100
1000 9186 , 13
256 05 , 0 50 , 1
%   x
x
x x
FFA
2. % 143 , 0 100
1000 9210 , 13
256 05 , 0 55 , 1
%   x
x
x x
FFA
% 141 , 0
2
143 , 0 138 , 0
Re 

 rata

Angka peroksida
Ulangan
Berat
(gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0163 5,50 7,00 1,50 2.990
2 5.0265 7,00 8,00 1.00 1.989
Rerata 2.490



133


Lanjutan lampiran 3.


) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 
1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 990 , 2
0163 , 5
1000 01 , 0 50 , 1
 
2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 989 , 1
0265 , 5
1000 01 , 0 00 , 1
 
kg meq rata / 490 , 2
2
989 , 1 990 , 2
Re 




6. Analisis Minyak goreng hasil interaksi dengan bentonit teraktivasi
Asam Lemak bebas

Ulangan Berat (gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 14.0532
12,70 14,30 1.60 0.142
2 14.0378
14,30 15,95 1.65 0.147
Rerata 0.145

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 142 , 0 100
1000 0532 , 14
256 05 , 0 60 , 1
%   x
x
x x
FFA
2. % 147 , 0 100
1000 0378 , 14
256 05 , 0 65 , 1
%   x
x
x x
FFA
% 145 , 0
2
147 , 0 142 , 0
Re 

 rata


Angka peroksida
Ulangan
Berat
(gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0342 8,00 9,10 1,10 2,185
2 5.0275 9,10 10,40 1,30 2,586
Rerata 2,385

) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 
134


Lanjutan lampiran 3.

1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 185 , 2
0342 , 5
1000 01 , 0 10 , 1
 

2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 586 , 2
0275 , 5
1000 01 , 0 30 , 1
 

kg meq rata / 385 , 2
2
586 , 2 185 , 2
Re 




7. Analisis Minyak goreng hasil interaksi dengan campuran karbon aktif
biji kelor dan bentonit teraktivasi
Asam Lemak bebas
Ulangan
Berat
(gram)
Volume NaOH
FFA (%)
Awal Akhir Total
1 14.0781
9,50 11,15 1.65 0.147
2 14.0560 11,15 12,70 1.55 0.138
Rerata 0.142

 
100
1000
% x
x g sampel berat
BM x NaOH M x NaOH ml
FFA
1. % 136 , 0 100
1000 0893 , 14
256 05 , 0 50 , 1
%   x
x
x x
FFA
2. % 172 , 0 100
1000 1045 , 14
256 05 , 0 90 , 1
%   x
x
x x
FFA
% 154 , 0
2
172 , 0 136 , 0
Re 

 rata



Angka peroksida
Ulangan
Berat
(gram)
Volume Na
2
S
2
O
3
(mL) Angka peroksida
(meq/kg) Awal Akhir Total
1 5.0432 10,40 11,65 1,25 2,479
2 5.0810 11,65 12,80 1,15 2,263
Rerata 2,371

135


Lanjutan lampiran 3.


) (
1000
3 2 2
gram sampel berat
x Thio N x O S Na mL
Peroksida Angka 

1. kg meq
x x
Peroksida Angka / 479 , 2
0810 , 5
1000 01 , 0 25 , 1
 

2. kg meq
x x
Peroksida Angka / 263 , 2
0810 , 5
1000 01 , 0 15 , 1
 

kg meq rata / 371 , 2
2
263 , 2 479 , 2
Re 


136


Minyak goreng bekas
Glass wool
Adsorben
Filtrat
Lampiran 4. Skema alat



































Gambar 1.1 Skema Alat Uji Adsorpsi

137


Lampiran 5. Gambar Proses Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor














































Biji kelor sebelum
dibersihkan

Biji kelor yang
sudah dibersihkan

Biji kelor dibungkus
aluminium foil dan
ditanur suhu 600 C

Biji kelor setelah
ditanur berbentuk
karbon

Karbon biji kelor
ditumbuk dengan
mortar

Serbuk karbon biji
kelor diayak dengan
ukuran 100 mesh


Serbuk biji kelor
direndam larutan
NaCl 24 jam dan
disaring, kemudian
dicuci dengan air
dan disaring

Serbuk biji kelor
setelah disaring
dioven

Biji kelor setelah
ditanur

Dicuci dengan air
panas dan disaring,
kemudian dioven
138


Lampiran 6. Gambar Proses Despicing (Penghilangan bumbu)













































Minyak goreng
bekas dan air


dipanaskan


dipisahkan air dan minyak
Hasil despicing
139



Proses Bleaching
Lampiran 7. Gambar Proses Netralisasi dan Bleaching














P



Minyak hasil
despicing

Minyak dipanaskan
dan ditambah larutan
NaOH

Minyak hasil
netralisasi

Minyak hasil bleaching
140


Lampiran 8. Gambar Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Processing



Minyak
goreng bekas
Minyak hasil
despicing
Minyak hasil
netralisasi
Minyak hasil
bleaching

Tanur


Color reader

PENINGKATAN KUALITAS MINYAK GORENG BEKAS DENGAN METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN BENTONIT – KARBON AKTIF BIJI KELOR (Moringa oleifera. Lamk)

SKRIPSI

Diajukan Kepada: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)

Oleh: Nila Istighfaro NIM: 03530006

JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama NIM Fakultas / Jurusan Judul Penelitian

: : : :

Nila Istighfaro 03530006 Sains da Teknologi / Kimia Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit – Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleífera. Lamk)

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka. Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan, maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai peraturan yang berlaku.

Malang, 16 Juni 2010 Yang Membuat Pernyataan,

Nila Istighfaro NIM.03530006

.

.

Pengorbanan kalian sangat berarti. De’ Nita. Muslim) “Dunia adalah sekumpulan kesan yang diciptakan untuk menguji manusia (Harun Yahya) Dengan Mengucapkan Rasa Syukur Kehadirat Ilahi Robbi Yang Maha Pemurah lagi Maha Penolong Semoga Ridho-Nya selalu Mengiringi setiap Langkah Hidupku Sehingga Kesuksesan dan Kebahagian Menjadi Akhir dari semua Perjuangan yang mesti Kutempuh Kupersembahkan Karya Sederhana ini untuk..... yang selalu menjadi Pahlawan dalam Studyku Karenamu Aku bisa Mewujudkan Harapan dan Cita-citaku Seluruh Saudara N sahabat_q yang senantiasa mendoakan demi kelancaran dan kesuksesan dalam menggapai cita......... Al-Hadiid:20) “Siapa berjalan mencari ilmu pasti Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga “ (HR. Mba’ Ayu... Mba’ Novi. Tiadah Hadiah yang Terindah selain Kasih Sayang Kalian Bapak dan Ibuguruku.. Moga Aika jadi anak yang sholehah......"PERSEMBAHAN" “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan” (QS. ayahanda M Andri Zaini dan Ibunda Mudawamah Yang senantiasa mengeringi langkahku dengan Do’a dan kasih sayangnya Sungguh Kasih Sayang Kalian sangat Berarti dalam Hidupku Suamiku tercinta ”Bahtiar Yulianto” dan Buah Hatiku Tersayang ”Aika Zulfa Syarifah” yang selalu mendampingiku dalam mengaruhi hidup. Adikku tersayang Adib Syaifullah dan Seluruh Keluarga Besarku (Mas Irham. De’ Riha) yang selalu mendukung dalam meraih cita2...cerdas & kuat.... De’Wawan. . Tiada Kata Yang Bisa Terucap Selain Do’a Semoga Segala Amal Kalian Semua Dibalas oleh Allah SWT Amien..... Kedua Orang tuaku. Mas Agus....

.

keikhlasan dan keridhoan Adalah pintu menuju kesuksesan . Maha Suci Engkau. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. do’a yang tiada henti .MOTTO "Ya Tuhan kami. maka peliharalah kami dari siksa neraka “ (Ali Imron. ayat 191) Semangat yang kuat.

Lamk)” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ” Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit – Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleifera. iringan doa dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada : 1. Wb. Segala puji syukur kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat. terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama kuliah di UIN Malang. guna menunjukkan betapa kuasanya Allah terhadap segala jenis makhluk-Nya. H. Dr. Sholawat dan salam kepada Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi panutan bagi umat di dunia.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. revolusioner dunia. yang telah merubah kejahiliahan menuju shirothol mustaqim. Rahasia itu menjadi ladang bagi umat manusia untuk menuai hikmah dan makna selama rentang kehidupan yang singkat. hidayah dan kemudahan yang selalu diberikan kepada hamba-Nya. Maha Besar Allah Swt. yang telah memberikan kemudahan bagi umat manusia untuk menguak misteri dalam setiap rahasia yang diciptakan-Nya. i . Dialah Nabi akhir zaman. Prof. ya’ni agama Islam. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN MALIKI Malang beserta stafnya. Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Untuk itu.

selaku penguji yang banyak memberikan masukan saran dan kritik konstruktif. MP. mendidikku. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi yang telah banyak mengamalkan ilmunya. M. 3. Diana Chandra Dewi. Drs. Sutiman Bambang Sumitro. M. selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN MALIKI Malang.Si. Moh.. 8. ketelatenan dan keikhlasan di tengah-tengah kesibukannya meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini. Koordinator Laboratorium Kimia Fisika. 9.. Moh. 6. dan Munirul Abidin..Si. M. 7. selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran. S. Anton Prasetyo. Diana Chandra Dewi.Si.U. 4.. nasehat serta dengan penuh kesabaran mengalirkan doa-doanya untuk kebahagiaan dan kesuksesan putri tercintanya baik di dunia maupun di akhirat ii ..Ag. Prof.Si. Eny Yulianti. S. M. S. dan Zulkarnain. S. Teknik Hasil Pertanian (THP) Universitas Brawijaya atas kesediaannya memberikan tempat penelitian dan meminjamkan segala peralatannya.Si. D. Ayah dan ibuku yang dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan telah mengasuh. S. memberikan dukungan. selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN MALIKI Malang.. M. selaku Laboran Kimia UIN Malang.Si. Kholid Al-Ayubi. Taufik.Si.2. 5. membesarkan dan membiayai baik materiil maupun spiritual.Sc. dan Akyunul Jannah.Si.

12. oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. 16 Juni 2010 Penulis iii . Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan skripsi ini. kerja sama dan dukungannya. waktu. Semoga apa yang kita kerjakan dapat bermanfaat dan menjadi amal di sisi Allah SWT serta mendapat imbalan yang semestinya. Malang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. nasihat. Anakku tersayang “Aika Zulfa Syarifah” yang selalu menghibur dalam suka dan duka. Amien Ya Robbal’alamin ! Wassalamu’alaikum Wr. Suamiku tercinta “Bahtiar Yulianto” yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan memberikan dukungan baik materiil maupun spirituil. saran.10. Wb. pengorbanan dan doanya disetiap saat 11. Tiada kata dan ungkapan yang lebih berharga yang bisa penulis sampaikan kecuali do’a dan ucapan banyak terima kasih. kepada semua pihak atas segala bantuan. Teman-teman Chemistry dan semua pihak yang telah banyak membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung demi terselesainya skripsi ini.

...............................................................2 2.........................................2 2....1 2................................................................. i DAFTAR ISI .................. 18 Warna ......................................................................................................................................5......1 2.....7 2................................................................. 41 Pemucatan (bleaching) .................................... 30 Montmorillonit .................................................3........................... 5 Tujuan Penelitian . 13 Minyak Goreng ....1 2...... 50 Kolom ........................................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. 43 Karbon Aktif .............................................. 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................5 Latar Belakang..............10 Pemanfaatan tanaman dalam perspektif Islam ..................... 6 Batasan Penelitian.........................4 2..................3 1.................3... 8 2............ x ABSTRAK .......................4.......................................................... 7 Manfaat Penelitian .................................................... 48 Aktivasi Karbon Aktif ..................... 8 Tanaman Kelor ....................................... 54 Penentuan Angka Peroksida dengan Titrasi Iodin .......................... 28 Bentonit ...... 42 Adsorpsi .......................4 1..............................................................................................................................................5 2.... 24 Mineral Lempung .........................................3 2........................................ 37 Pertukaran kation .............................................................................................................5..........................3 2...................................2 2..... 41 Netralisasi ..... 37 Aktivasi montmorillonit .............................4.................... 1 Perumusan Masalah....................................................................................................................1 2................... 17 Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit ..4.........................................................................................................................3 2... 40 Penghilangan bumbu (despicing) ..................4 2................................................ .........4................................1 1.............................. 32 Pertukaran ion ..........................2 2..7......................8 2......... iv DAFTAR TABEL ..................................... 56 iv ............................................................... 23 Kerusakan minyak ............................................................................viii DAFTAR LAMPIRAN .....5..................................4..................................3 2........................3..1 2..........................................................................................................................2 1.............................................................................. 53 Analisis FFA dengan Metode Titrasi Asam Basa .9 2..........................................6 2.................................................................................................. ....DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .... 38 Pemurnian Minyak Goreng ........ xi BAB I PENDAHULUAN 1....................................................................................5 2.......................

.................2 3........................ 57 Bahan ......................1................... 70 Proses Netralisasi .......5 3.......... 69 Proses Despicing ........... 61 Penentuan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid) ......................................... 57 Alat ....................4 3.................................... 57 Bahan Kimia ................................... 57 3..............4.............5...........................4 4..................5 3..................... 59 Preparasi Biji Kelor ............................3......3..5 4...........................................3 4........5......................... 97 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan Angka Peroksida .............................................................................................BAB III METODE PENELITIAN ........... 95 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Campuran ..........................................................1 4........ 62 Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor dan bentonit ...............................................5.....5...................................................................................................................4.............................................................. 65 Proses Aktivasi Biji Kelor ............................4 4...........................3 3........2.......................5... 89 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor .....1 3........................................ 74 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) .................. 92 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Bentonit teraktivasi ........ 57 Sampel ....................................1 3...........5....................................................................................................................1............................2 3........... 67 Pemurnian Minyak Goreng Bekas ....... 77 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor ..............5.... 59 Proses penghilangan bumbu (despicing) ............5..4.....................................5...................................................... 58 Cara Kerja ...... 98 v .................................. 57 Tahapan Penelitian ...4 Pembuatan Karbon Aktif dari Biji Kelor ...................................8 Waktu dan Tempat Penelitian ...........................................2 4.......................5............................................................................................................... 66 Preparasi Bentonit ................................2 3.................................2 4...........1 4........ 60 Proses netralisasi ..............3 4....................... 84 Perubahan Angka Peroksida ...................................... 64 Proses Karbonisasi Biji Kelor ......3..................6 3..................... 83 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan asam lemak bebas ....................................................2 4......... 79 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Bentonit Teraktivasi .2.................2 4............................................................... 72 Proses Bleaching ..... 82 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Campuran .......7 3........................................ 62 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......... 61 Penentuan Angka Peroksida .4.....2 4....................................5..........5..................3 4.............1 4.....................1 3...............................................4 3................................................3 3.. 59 Preparasi Bentonit ................................................................... 64 4...............................1 4...........3 4...................1 4............... 60 Analisis warna dengan color reader .............................................................................................................

.................1 Kesimpulan ................ 103 4.......................... 105 4............................................ 119 vi .................................................... 106 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................2 Warna Merah (a*) ........................................... 112 5..................................................2 Saran ......1 Warna Cerah (L) .....................6...7 Kajian Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam ......................................................................................................... 103 4................................4...............................................6................. 114 LAMPIRAN-LAMPIRAN .......................................6 Analisis Warna Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Reprosessing .......................... 112 5................... 113 DAFTAR PUSTAKA .......................................

..4 Tabel 4..........1 Tabel 2...2 Tabel 2..2 Tabel 4................................................. 17 Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit ............................... 20 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Tabel Sawit .................................3 Tabel 2......7 Tabel 4..... 76 Warna minyak goreng baru.... 27 Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995 ........ 28 Sifat-sifat tanah liat ........................ minyak goreng bekas dan minyak hasil despicing ........ 20 Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002) .. 74 Data hasil percobaan uji pengaruh jenis adsorben terhadap kualitas Minyak goreng .....1 Kandungan nutrisi biji kelor ............................ 71 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru....................... 32 Adsorpsi Fisika dan Adsorpsi Kimia ....DAFTAR TABEL Tabel 2...4 Tabel 2.................... bekas dan hasil reprosessing ...5 Tabel 2... 110 Tabel 4.............6 Tabel 2.........................5 vii .......... minyak goreng bekas dan minyak hasil netralisasi ....3 Tabel 4.. 48 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru....................................... 103 Analisis Angka Peroksida dan Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Bekas ..

................... 81 viii ......................................4 Pengaruh perlakuan terhadap kadar FFA .........DAFTAR GAMBAR Gambar 2.14 Terjadinya Gaya Dipol-Dipol Induksian .... 47 Gambar 4..8 Susunan atom-atom dalam oktahedral ............ 45 Gambar 2...................1 Tanaman kelor ............1 Reaksi Asam Lemak Bebas dengan NaOH ............4 Reaksi Hidrolisis Minyak ........ 16 Gambar 2.....13 Gaya Tarik antara Molekul-Molekul Polar ...............7 Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral ............................ 46 Gambar 2....................................3 Mekanisme reaksi asam lemak bebas dengan NaOH ............. 73 Gambar 4.. 34 Gambar 2.........10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan alumina 2:1 ............................5 Reaksi Pembentukan Peroksida ............................. 27 Gambar 2....5 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ................................................. 33 Gambar 2.......................... 19 Gambar 2........16 Terjadinya gaya London .....15 Pembentukan Dipol sesaat pada Molekul Nonpolar ......... 35 Gambar 2......... 26 Gambar 2.....................11 Struktur tiga dimensi dari montmorillonit ..2 Reaksi Pembentukan Trigliserida ...................... 42 Gambar 2........... 45 Gambar 2..............6 Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral ...........................................2 Stabilisasi resonansi asam karboksilat . 73 Gambar 4................12 Reaksi asam lemak bebas dengan NaOH ....................... 36 Gambar 2.............. 34 Gambar 2........................................... 33 Gambar 2........9 Lembaran oktahedral (OH)6-Al4-(OH)2-O4 ..3 Struktur Asam Lemak .................. 19 Gambar 2.............................................................................................. 78 Gambar 4............... 72 Gambar 4....................................................................

.......................................... 90 Gambar 4.. 81 Gambar 4..............8 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor ......... 91 Gambar 4.......... 101 Gambar 4............. 92 Gambar 4............. 91 Gambar 4.16 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan Karbon aktif biji kelor .............. 102 ix .... 95 Gambar 4......................................Gambar 4.........14 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan Karbon aktif biji kelor ....... 87 Gambar 4....15 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ........................7 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ...............13 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar ...12 Reaksi Iodometri selama proses analisis Angka Peroksida .......11 Pengaruh Adsorben Terhadap Nilai Angka Peroksida ............................10 Mekanisme reaksi pembentukan peroksida pada asam Oleat ..........................9 Reaksi Pembentukan Peroksida Pada Asam Lemak Oleat ............6 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan Karbon aktif biji kelor .................. 94 Gambar 4............................... 87 Gambar 4..

......................... 123 Data Hasil Penelitian .. Lampiran 7............................... 135 Gambar Proses Despicing (Penghilangan bumbu) ............. Lampiran 5....................... Lampiran 6............... 126 Skema alat .............. 138 x ............... Lampiran 4....... Lampiran 3................... Lampiran 2........................... 137 Gambar Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Processing .................................... 136 Gambar Proses Netralisasi dan Bleaching ................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1......................... Lampiran 8.................................. 134 Gambar Proses Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor ...... 118 Pembuatan Reagen Kimia .............................. Diagram Alir ...

Kata Kunci : Minyak goreng bekas. dan warna kuning (b*) 42. angka peroksida. Angka peroksida 2. M. hasil bleaching pada masing-masing adsorben menggunakan kolom Hasil penelitian menunjukkan asam lemak bebas pada minyak goreng baru. aldehid. 3. 0. netralisasi berturutturut 1. Nila. bentonit. bleaching dengan ketiga jenis adsorben melalui kolom (3) Penentuan angka peroksida.211 %. keton. Angka peroksida pada minyak goreng baru.98 %.39 meq/kg pada adsorben bentonit teraktivasi dan 2. Hasil penelitian menunjukkan kadar FFA mengalami penurunan sebesar 69 % menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor dan angka peroksida sebesar 48 % menggunakan adsorben campuran. minyak goreng bekas. asam lemak bebas dan warna minyak goreng baru.32 meq/kg.142 % pada adsorben campuran.96 meq/kg. hidrokarbon. Metode kolom dipandang lebih efektif karena kolom yang sudah digunakan dapat diregenerasi kembali. 4. despicing. 0.Si Pembimbing Agama : Munirul Abidin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA). ester serta bau tengik yang akan mempengaruhi mutu dan gizi bahan pangan yang digoreng.58 meq/kg. 2010.ABSTRAK Istighfaro. 2. Sistem adsorpsi dapat dilakukan dengan dua metode. biji kelor. hasil despicing.448 %.145 % pada adsorben bentonit teraktivasi dan 0. netralisasi. bekas. 8 %. despicing.148 %.0. netralisasi. Penelitian ini meliputi: (1) Pembuatan karbon aktif dari biji kelor dengan dehidrasi.Ag Penggunaan minyak goreng yang berulang-ulang dengan pemanasan pada suhu tinggi akan menyebabkan terbentuknya berbagai senyawa hasil oksidasi lemak berupa seyawa alkohol. dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor. Pembimbing Utama : Eny Yulianti. warna merah (a*) 48. M. karbon aktif.49 meq/kg pada adsorben karbon aktif biji kelor. netralisasi berturut-turut 0. Lamk).141 % pada adsorben karbon aktif biji kelor.00 meq/kg.37 meq/kg pada adsorben campuran. angka peroksida xi . Minyak hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben melalui kolom menunjukkan asam lemak bebas 0. Peningkatan Kualitas Minyak Goreng Bekas dengan Metode Adsorpsi Menggunakan Bentonit – Karbon Aktif Biji Kelor (Moringa oleifera.037 %. bentonit teraktivasi dan campuran dari bentonit teraktivasi dengan karbon aktif biji kelor. 4. 0.2 %. yaitu : metode kolom dan metode batch. Untuk warna cerah (L) mengalami peningkatan sebesar 29. Minyak goreng bekas merupakan limbah yang dapat diolah kembali dengan proses pemucatan menggunakan adsorben. karbonisasi dilakukan satu tahap dengan cara dipanaskan dalam tanur pada temperatur 600oC selama 3 jam dan aktivasi kimia menggunakan larutan NaCl (2) Pemurnian minyak goreng bekas dengan cara depicing. asam lemak bebas. Sedangkan warna minyak goreng mengalami peningkatan. bekas.

despicing result. 2010. and the color of the used of fried oil after passing through the coloumn process containing adsorben i. moringa oleifera seed. netralization and bleaching using three different adsorbens through a coloumn. esther and rancidity.145% for the adsorben activated bentonit and 0. (2) The purification of the used fried oil was carried out by despicing. peroxide value. This process will influence the quality and nutritional values of the fried food materials. netralization and bleaching for each adsorben through the column The result showed that free fatty acid of the fresh fried oil. The Free fatty acid content of the used fried oil after passing through the column containing activeted carbon of Moringa oleifera Lamk seed was 0.448 %.37 meq/kg for the mixed adsorben.2% and yellow color (b*) 42. The color of the used oil also improved.96 meq/kg respectively. The peroxide values of the used fried oil after passing through the column containing activeted carbon of the kelor seed was 2. (3) Measuring a peroxide value.00 meq/kg. The experiment result showed that FFA content decreased 69% (using the adsorben activated carbon) and the peroxide value decreased 48% (using the mixed adsorben bentonit and the activated carbon Moringa oleifera Lamk seed.e activeted carbon from kelor seed.148 % respectively.037 %. This process is one step process which is carried out by heating at 600 oC for 3 hours in a furnace and chemical activation is use with 30 % NaCl.58 meq/kg.39 meq/kg for the adsorben activated bentonit and 2. activated bentonit and mixed adsorben. aldehide.141%. keton. bentonit. 4. Improve quality of used fried oil by adsorption method using betonit – activeted carbon of moringa seed (Moringa oleifera Lamk) Pembimbing Utama : Eny Yulianti. Used fried oil is waste that could be reusable by bleaching using adsorben.49 meq/kg. Adsorption could be proceed by column method and batch method. free fatty acid and peroxide value xii . 3. the despicing. used fried oil. For light color (L) increased 29. M.ABSTRACT Istighfaro. Key word: fried oil. 0.32 meq/kg. Peroxide values of the fresh fried oil. 2. hydrocarbon. free fatty acid and the colour of fresh fried oil. 4. the used fried oil. the used fried oil. 0.142% for mixed adsorben. The column method is more effective than those of method due to the ability for regeneration easily.Si Pembimbing Agama : Munirul Abidin. Nila.0. MA Tha use of fried oil repeatedly with steam at high temperature will produce various chemical compounds as a result of oxidized oil such as alcohol. and the netralization were 0. activated carbon.98%. the despicing and the netralization were 1. The purpose of this research are to find the change of free fatty acid (FFA).211 %.8%. red color (a*) 48. 0. This scope of this research are (1) Making activated carbon from dehidrated kelor seed.

terutama sektor industri kecil. seperti makanan yang berbasis gorengan. di sisi lain daya beli konsumen melemah akibat terjadinya inflasi. Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang cukup tinggi tentu dapat menimbulkan dampak yang signifikan pada masyarakat.1 Latar Belakang Lemak atau minyak merupakan salah satu jenis bahan makanan yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat meningkatkan cita rasa. Oleh karena itu. 2000). Sudarmadji (2003) menyatakan bahwa minyak dan lemak memiliki titik didih yang tinggi (sekitar 200C) sehingga biasa dipergunakan untuk menggoreng makanan karena bahan yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya dan menjadi kering. dan memperbaiki tekstur makanan (Muchtadi. dengan adanya kenaikan harga jual BBM maka biaya produksi juga mengalami peningkatan.BAB I PENDAHULUAN 1. Secara kuantitatif jumlah pedagang kecil ini cukup banyak dan tersebar hampir di seluruh penjuru kota. 1 . masyarakat cenderung memakai kembali minyak goreng bekas untuk menggoreng makanan dan dipakai berulang-ulang demi penghematan tanpa mempertimbangkan risiko bagi kesehatan seperti kerongkongan gatal atau serak dan lebih berbahaya lagi bisa memicu kanker. Minyak dan lemak juga memberikan aroma dan rasa gurih spesifik yang lain dari gurihnya protein.

Secara medis makanan dan minuman yang kita konsumsi dapat menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Allah menganjurkan kepada seluruh hambanya untuk selalu memahami kebesaran dan kekuasaan-Nya dengan melihat seluruh ciptaan-Nya. meningkatnya bilangan peroksida.2 Minyak sayur yang digunakan untuk menggoreng mengalami perubahan secara kimiawi baik selama proses penyimpanan. 2001: 244). seperti perubahan warna menjadi lebih gelap. 2007:1). . Islam mengajarkan makanan atau minuman yang kita konsumsi sehari-hari keberadaan hukumnya harus halal lagi baik secara dzatiyah ataupun secara hukmiyah selain harus mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh (Anwar. Keberadaan makanan bagi kehidupan manusia sangat penting. Begitu pula Tuhan menciptakan tumbuhtumbuhan agar manusia dapat menggambil manfaat darinya (Quthb. muncul bau yang tidak sedap (tengik). lebih kental. dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya” (QS. pemanasan atau adanya kontak dengan cahaya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-Maidah ayat 88 yang berbunyi: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu. yang menciptakan dengan benar dan merupakan kebenaran. Perubahan kimiawi itu dapat menyebabkan penurunan kualitas minyak. tiadalah Allah menciptakan alam beserta isinya dengan sia-sia dan batil. asam lemak bebas dan menyebabkan rasa yang tidak lezat. Al-Maaidah :88).

Kami melebihkan sebahagian tanamtanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Hal inilah yang dirasa perlu untuk diketengahkan pada masyarakat manfaat biji kelor yang telah tua dan kering (mati) sebagai bahan . baik anionik maupun kationik (Saleh. pemanfaatan tanaman kelor baru sampai menjadi tanaman pagar hidup. disirami dengan air yang sama. Shihab (2002) memberikan tafsir bahwa Allah menumbuhkan dari berbagai macam tumbuhan yang baik yaitu subur dan bermanfaat. 1984). Tehnik ini tidak memerlukan biaya tinggi dan kemungkinan sangat efektif untuk menghilangkan kontaminan. Sebagaimana halnya tanaman kelor yang banyak tumbuh di Indonesia. dan kebun-kebun anggur. Penggunaan bahan organik yang berasal dari tumbuhan yang telah mati sebagai adsorben saat ini banyak dikembangkan. batas tanah atau penjalar tanaman lain dan sebagai sayuran. 2004). Tumbuhan dan bagian tumbuhan yang telah mati secara tidak langsung dapat dimanfaatkan kembali untuk sesuatu yang lebih berguna (Jauhari. tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. Tumbuhtumbuhan keluar (tumbuh) dari benda mati.3 Seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya surat Ar-Rad ayat 4: ”Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan.

Widayat.aman. Hermansyah (2003) menggunakan adsorben alternatif arang tulang yang hasilnya menunjukkan bahwa arang tulang mampu menyerap betakaroten pada minyak sawit kasar. Studi kinetika menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan untuk kesetimbangan adsorpsi menurun saat temperatur dinaikkan. dkk (2007).. Lempung yang diaktivasi dengan asam sulfat 1 M lebih efektif daripada lempung dari industri yang digunakan sebagai acuan. Isotermis penghilangan warna dan .3 %. Bilangan asam ini belum memenuhi Standar Nasional Indonesia minyak goreng (SNI 3741-1995) yaitu maksimal sebesar 0. seperti yang diterapkan di ITB dan mulai dikembangkan melalui Program UNDP. Penyerapan karoten dan asam lemak bebas pada minyak kelapa sawit menggunakan adsorben lempung teraktivasi juga telah dilakukan oleh Joy.4 pengendap/koagulator untuk menjernihkan air secara cepat. dkk. Bayrak (2005) telah melakukan penelitian tentang Aplikasi isotermis Langmuir pada adsorpsi Asam lemak jenuh yang hasilnya menunjukkan bahwa penyerapan asam lemak dengan montmorillonit merupakan adsorpsi fisika. yang hasilnya diperoleh bilangan asam sebesar 1. murah.71. Penelitian lain telah dilakukan oleh Suharto (1997) menggunakan zeolit alam sebagai adsorben. (2005) telah melakukan penelitian awal peningkatan kualitas minyak goreng dengan zeolit alam dengan studi penurunan bilangan asam. Rossi (2002) juga menyebutkan dalam penelitiannya tentang peranan lempung pemucat dan silica sintetik dalam penjernihan minyak kelapa sawit yang hasilnya menunjukkan bahwa karakter adsorpsi pada tiga macam lempung pemucat memiliki perbedaan derajat aktivasi dalam proses penjernihan minyak kelapa sawit.

1.6 % yaitu dari nilai 0. Taufik (2007) juga melakukan penelitian tentang pemurnian minyak goreng bekas menggunakan biji kelor dengan metode Batch yang hasilnya dapat menurunkan kadar asam lemak bebas (FFA) sebesar 74.3 %. asam lemak bebas dan warna yang lebih baik dan memenuhi mutu Standar Nasional Indonesia. angka peroksida.5 pigmen karoten menggunakan lempung teraktivasi asam lebih efisien daripada lempung alam juga pada kapasitas adsorpsi fosfor.50 % menjadi 0. Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA). diharapkan dapat menurunkan bilangan peroksida. dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor ? .127 % dan penurunan angka peroksida sebesar 84% yaitu dari 100 meq/kg menjadi 16 meq/kg dan peningkatan warna cerah sebesar 6.7%. Berdasarkan hasil penelitian di atas akan dikaji lebih lanjut tentang efektifitas adsorpsi biji kelor dan lempung bentonit dalam penjernihan minyak goreng bekas dengan metode kolom. Nilai FFA tersebut sudah memenuhi standart SNI 1995 yaitu maksimal 0.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas maka dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut: a. sedangkan angka peroksida belum memenuhi SNI 1995 dengan kandungan angka peroksida maksimal 2 meq/kg.

b. angka peroksida. angka peroksida dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi campuran bentonit dan adsorben karbon aktif biji kelor.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: a. Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA). dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi bentonit. c. Untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA). . dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi adsorben karbon aktif biji kelor. Untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA). angka peroksida dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi bentonit? c. Untuk mengetahui perubahan kadar asam lemak bebas (FFA). Berapa perubahan kadar asam lemak bebas (FFA).6 b. angka peroksida dan perubahan warna minyak goreng bekas setelah dilewatkan melalui kolom yang berisi campuran bentonit dan adsorben karbon aktif biji kelor ? 1. angka peroksida.

4 Batasan Penelitian Mengingat banyaknya cakupan permasalahan. maka dalam penelitian ini hanya dibatasi pada: a. b. Kelor yang digunakan adalah biji kelor yang tua di pohon beserta kulit ari yang diperoleh dari daerah Jombang Jawa Timur. Parameter yang diuji adalah asam lemak bebas. 1. angka peroksida dan warna.5 Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan : a. campuran sayuran dan obat-obatan lainnya. Dapat meningkatkan penggunaan biji kelor (Moringa oleifera Lamk) sebagai penjernih alami. Sampel minyak goreng yang diteliti adalah minyak goreng merek bimoli yang telah digunakan selama 8 jam. selain digunakan sebagai pakan ternak. . Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan biji kelor (Moringa oleifera Lamk) untuk pemurnian kembali minyak goreng bekas sehingga lebih aman dikonsumsi. c.7 1. b.

Daun. Pentingnya usaha penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan kelor ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Ali Imron ayat 191 yang berbunyi : 8 . yang dapat dijadikan sebagai obat tradisional. apa yang ada di antara keduanya. Termasuk juga kejadian-kejadian yang berlangsung dalam makhluk-Nya tersebut. Kemudian Allah menyuruh untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya tersebut. Dewasa ini biji kelor diketahui dapat dimanfaatkan sebagai penjernih air.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. buah dan akar banyak mengandung senyawa alkali. 2007). dan karbohidrat. Tumbuhan merupakan salah satu dari ciptaan Allah Swt yang banyak manfaatnya kepada manusia. sehingga biji kelor dapat bernilai komersial. protein. asam amino. alkaloid. termasuk pada tanaman dan tumbuhan (As-Sa’dy. berupa langit dan bumi dan apa yang ada di dalam keduanya. vitamin.1 Pemanfaatan Tanaman dalam Perspektif Islam Allah SWT sebagai Tuhan mempunyai tanda-tanda kebesaran-Nya berupa hasil-hasil ciptaan-Nya. juga enak rasanya. koagulan pada air limbah. Al-Qur`an menyebutkan bahwa sejumlah buahbuahan dapat memberikan manfaat pada tubuh manusia dalam berbagai cara. Begitu pula dengan tanaman kelor. banyak manfaat dan kegunaannya. dan penyembuh asam urat. namun masyarakat belum mengetahui potensi tersebut sehingga kurang dimanfaatkan.

maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Makhluk hidup (hewan. tanpa berpikir untuk membuat kerusakan alam guna mempertahankan tatanan lingkungan (ekosistem) serta keteraturan alam untuk kesejahteraan seluruh makhluk ciptaanNya. Maha Suci Engkau. Manusia wajib menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Ali Imron 191). Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya dengan maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan kadarnya. dan agar manusia dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.9 Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami. Allah menciptakan semua yang ada di dunia ini tidaklah sia-sia dari yang kecil hingga yang besar. Allah telah menjelaskannya dalam surat Al-An’aam ayat 99 yang berbunyi: . Allah membuktikan dengan diturunkannya hujan sebagai sumber kehidupan. Allah menjaga semua yang telah Ia ciptakan agar tetap hidup dan tersusun rapi. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. tumbuhan dan lain-lain) semuanya dapat dimanfaatkan oleh manusia jika manusia itu mau untuk berfikir.

Ketika janin bangun dan mulai menumbuhkan tanaman maka suatu benda yang mati tersebut berubah kondisinya menjadi benda hidup yang dapat memberi makan janin dan menumbuhkembangkan tubuhnya. Ayat yang mulia tersebut mengajak kita untuk berpikir dan berusaha mempelajari bagaimana proses penciptaan buah. protein. kemudian benih . Berikut segala unsurnya yang beraneka seperti. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Beberapa saat kemudian ia menduplikasikan jumlahnya menjadi banyak dan menebarkan benih dan biji. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman” (QS. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak. biji buah-buahan. bagaimana dia berkembang dan tumbuh pada fase yang berbeda-beda sampai pada fase kematangannya secara sempurna. minyak. dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai. dan janin yang hidup dan terletak di tempat yang sangat sempit sedangkan yang tersisa dari butir atau biji muncul dari suatu benda yang tak hidup. Salah satu dalil kemahakuasaan Allah SWT adalah mengenai penciptaan butir tumbuh-tumbuhan. dan kebun-kebun anggur.Al-An’aam: 99). karbohidrat dan zat-zat tepung. lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. sukrosa.10 ”Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit. dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.

2005) dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan segala macam tanaman sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah dan sebagai bahan untuk berfikir agar dapat tercipta kemaslahatan bagi seluruh umat. Menurut tafsir Ibnu Katsir (Ad-Dimasyqi.11 tumbuhan itu berpindah dari fase pertumbuhan menuju fase pergerakan. Kemudian Allah menumbuhkan dengan air tersebut segala macam tumbuh-tumbuhan dan dari tumbuh-tumbuhan itu Allah mengeluarkan tanaman yang menghijau lalu butir yang banyak. Setiap ciptaan Allah tersebut pasti memiliki manfaat termasuk biji-bijian yang kecil. Saat itu tumbuhan mulai mampu mencari makanan untuk dirinya sendiri yang dimasak oleh akar dari garam-garaman yang berasal dari air tanah. 2001) disebutkan bahwa Allah telah menurunkan air hujan dari langit yakni dengan kadar tertentu. dengan kepastian dalam keadaan diberkati sebagai rezeki untuk hamba-hamba Allah. untuk menyuburkan dan sebagai pertolongan serta rahmat untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Penjelasan di atas didukung dengan firman Allah dalam surat Asy-syu’ara ayat 7 yang berbunyi: . salah satunya dalam hal ini adalah biji kelor. Menurut tafsir Nurul Quran (Imani. Allah menciptakan di dalam tanaman itu berupa buah-buahan dan biji-bijian yang bersusun antara yang satu dan yang lainnya seperti pada bulir dan lain sebagainya. 2006). dan dibantu oleh daun hijau yang mengerjakan proses fotosintesa di bawah terik sinar matahari untuk menghasilkan bahan karbohidrat (Mahran.

An Nahl: 11). berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. mengkaji. serta sebagai bahan penjernih air. bahan baku pembuatan sabun dan kosmetik. Firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 11yang berbunyi : “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman. obat-obatan. Shihab (2002) memberikan tafsir bahwa Allah menumbuhkan dari bermacam-macam tumbuhan yang baik yakni subur dan bermanfaat. . korma. Al Qur’an memang tidak menjelaskan secara detail manfaat dari setiap penciptaan Allah. anggur dan segala macam buah-buahan. zaitun. Sebagaimana halnya tanaman kelor yang di dalamnya banyak memberikan manfaat jika dikonsumsi oleh manusia sebagai sayuran.12 “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi. Tidak ada nilai yang lebih berharga yang bisa diambil dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan kehidupan manusia di dunia ini. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS.AsySyu’ara:7). Keterbatasan kemampuan manusia dalam memahami setiap penciptaan Allah dan kurangnya rasa syukur pada Allah menjadikan manusia sering berpikir sesuatu hanya menjadi hiasan semata di muka bumi atau bahkan hanya menjadi pengganggu. dan mengembangkan penelitian untuk mendapatkan manfaat dari hasil penciptaan Allah tersebut. Manusia yang diciptakan sebagai khalifah di bumi ini mempunyai tugas untuk berpikir.

13 Al-Qur'an telah menyebutkan berbagai macam tanaman yang bermanfaat dan memiliki khasiat bagi kesehatan. namun areal tanah berpasir atau tanah lempung menjadi tempat terbaik bagi pertumbuhannya.2 Tanaman kelor Pohon kelor (drumstick tree: bahasa Inggris) termasuk jenis tumbuhan perdu yang memiliki ketinggian pohon antara 7 – 12 m. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian antara 1 – 1000 m di atas permukaan laut (Jonni. Daun kelor berguguran apabila kekurangan air (biasanya terjadi pada musim kemarau panjang) dan tumbuh kembali ketika kebutuhan air mulai tercukupi. 2. dkk. bersusun majemuk dalam satu tangkai. Daun kelor berbentuk bulat telur (oval) dengan ukuran kecil-kecil. perkembangan uji penelitiannya membawa dampak agar diperoleh manfaatmanfaat lain dari tanaman kelor khususnya biji kelor yang dimanfaatkan sebagai adsorben. Demikian halnya dengan tanaman kelor. dan tahan terhadap musim kering (kemarau). Semua yang tercipta mempunyai manfaatnya dan hal itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Bunga kelor berwarna putih . Pohon kelor berbunga dan berganti daun sepanjang tahun. tumbuh dengan cepat. Batang kayunya lunak dan getas (mudah patah) serta cabangnya jarang. Pemanfaatan tanaman sebagai obat merupakan salah satu sarana untuk mengambil pelajaran dan memikirkan tentang kekuasaan Allah SWT. Pohon kelor dapat menyesuaikan diri terhadap berbagai jenis tanah. 2008). tetapi mempunyai akar yang kuat.

Daun. 1983. lubrikan jam tangan. mengandung tiga komponen penting. bahan campuran untuk pembuatan kosmetik. minyak Moringa). berwarna coklat kehitaman. yaitu substansi antimikroba 4  L-rhamnosiloksi-benzilisotiosianat. Kelor atau kelor-keloran (Moringa oleifera). bersayap tiga dan hitam. maka bagus ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain karena dapat menambah unsur nitrogen pada lahan tersebut (Hendartomo. Pohon kelor sering digunakan sebagai pendukung tanaman lada atau sirih. yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengkembangbiakannya selain menggunakan setek batang (Jonni. 2008).14 kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau (Jonni. mengandung mustard oil (minyak ben. Buah kelor ini memiliki banyak biji di dalamnya.. Buah kelor berisi 15 – 25 biji. Tanaman kelor merupakan leguminosa. dan buah mudanya. bulat. Folkard dkk. di Indonesia dikenal sebagai jenis tanaman sayuran yang sudah dibudidayakan. 1993:213). dkk. dkk. bahan iluminasi. mengandung trigliserida asam lemak behen (C22H4444O2) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sabun. Sedangkan. 1993. Kotiledon Moringa oleifera Lam. merupakan bahan sayuran yang digemari masyarakat setempat. bunga. minyak ben dan flokulan (Mayer & Stelz. 1995:263). Buah kelor berbentuk polong segitiga memanjang sekitar 30-50 cm. 2008). parfum (Duke. Polprasid. getahnya yang telah berubah warna menjadi cokelat disebut blendok (Jawa). yang biasa disebut klentang (Jawa). Biji kelor yang sudah diambil minyaknya (presscake) mengandung . 2007). Biji Moringa oleifera Lam.

bahan baku pembuatan sabun dan kosmetik. Tam Herb dari India sudah memasarkan buah kelor segar. zat besi.9 %. minyak kelor. bubuk teh kelor. .1 % dan K2O sebesar 0. kalsium. sumber protein.1983). daun dan kulit batang kelor mengandung saponin dan polifenol. Daunnya berkhasiat sebagai obat sesak nafas.8 % (Duke. Kandungan kimia akar. 2005). C. Daun kelor muda juga dipercaya meningkatkan produksi air susu ibu dan sebagai obat kurang darah (anemia). obat untuk haid yang tidak teratur dan obat pusing. Daun kelor mengandung minyak atsiri (http://www.com). obat gusi berdarah. sebagai bahan obat-obatan. Akar kelor berkhasiat sebagai obat kejang. kulit batangnya juga mengandung alkaloida.murungaexports.4 %.15 protein kasar sebesar 58. CaO 0. bubuk sup kelor dan kapsul kelor (Logu. encok dan beri-beri. Berbagai manfaat tumbuhan kelor ini terus dieksplorasi sebagai sumber vitamin A. Bijinya digunakan sebagai obat mual.P2O5 1.ebigchina. serbuk buah dan serbuk daun kelor. B. sampai pada manfaatnya sebagai bahan penjernih air (Water Purification).

Analisis kandungan biji kelor per 100 gram ditunjukkan pada tabel di bawah ini: . Efek farmakologis : kelor dalam farmakologi cina dan pengobatan tradisional lain disebutkan bahwa tanaman ini memiliki sifat-sifat seperti. c) Biji yang masih utuh dan yang sudah diblender. sebagai anti inflamasi. rasa yang agak pahit.1 Dari kiri searah putaran jarum jam . antiskorbut dan tidak beracun (http://www.iptek.net.2005). b) Biji bersayap. a) buah kelor masih di dahan.16 c b a c d Gambar 2.id). antipiretik. d) buah kelor yang baru dipetik (sumber: Muyibi. netral.

dkk. 2005). minyak ikan paus dan lain-lain. Minyak dapat juga bersumber dari hewan. Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan luar atau .17 Tabel 2. kelapa atau jagung (Widayat.0 Protein (g) 2.0 Ca /Kalsium (mg) 30 Mg/Magnesium (mg) 24 P/Fosfor (mg) 110 K/Kalium (mg) 259 Cu/Tembaga (mg) 3.9 Kalori (%) 26.5 Lemak (g) 0. misalnya minyak zaitun.1 Kandungan nutrisi biji kelor Komposisi Buah Air (%) 86.11 Vitamin B Choline (mg) 423 Sumber: Duke. minyak jagung. minyak kelapa.3 Minyak goreng Minyak adalah lemak yang berasal dari tumbuhan yang berupa zat cair dan mengandung asam lemak tak jenuh. Minyak goreng adalah minyak nabati yang telah dimurnikan dan dapat digunakan sebagai bahan pangan.1 Fe/Besi (mg) 5. Minyak goreng nabati biasa diproduksi dari kelapa sawit.0 Serat (g) 4. dan minyak bunga matahari. 1983 2. Minyak dapat bersumber dari tanaman. Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit (Elaeis guineensis jack). Buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah (pericarp) dan inti (kernel).5 Abu (g) 2. misalnya minyak ikan sardin.3 S/Sulfur (mg) 137 Oxalic acid (mg) 10 Vitamin A B Carotene (mg) 0.1 Karbohidrat (g) 8.8 Mineral (g) 2.

18 kulit buah yang disebut pericarp.3. 2004).1. Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya merupakan senyawa yang tidak larut dalam air. sedangkan komponen penyusunnya yang utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (Pasaribu. Minyak kelapa sawit terdiri atas trigliserida sebagaimana lemak dan minyak lainnya. Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit. 2. dan endocarp tidak mengandung minyak (Pasaribu. minyak kelapa sawit merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul asam lemak menurut reaksi sebagai berikut : . 2002). Dari segi ekonomi minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling murah karena produktivitas sawit sanggat tinggi. Minyak sawit memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Inti kelapa sawit terdiri dari lapisan kulit biji (testa). Minyak sawit juga mengandung betakaroten dan tokoferol sehingga dilihat dari segi gizi mempunyai keunggulan (Elizabeth. 2004). Lapisan sebelah dalam disebut mesocarp atau pulp dan lapisan paling dalam disebut endocarp. endosperm dan embrio. Mesocarp mengandung kadar minyak rata-rata sebanyak 56%. inti (kernel) mengandung minyak sebesar 44%.

19 O CH2OH CHOH CH2OH H2C O O O C C C O O R1 R2 R3 + 3RCOOH HC H2C + 3 H2O Gliserol asam lemak trigliserida Gambar 2. sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus karboksil. Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon. dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh.3 Struktur Asam Lemak (Pasaribu. 2004) Bila R1 = R2 = R3 atau ketiga asam lemak penyusunnya sama maka trigliserida ini disebut trigliserida sederhana. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap disebut asam lemak tidak jenuh. 2004) . dan apabila salah satu atau lebih asam lemak penyusunnya tidak sama maka disebut trigliserida campuran. yang setiap atom karbonnya mengikat satu atau dua atom hidrogen. kecuali atom karbon terminal mengikat tiga atom hidrogen.2 Reaksi Pembentukan Trigliserida (Pasaribu. Secara umum struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut : H H C H H C H H C H H C H H C H O C OH H H C H H C H H C H C O C OH Asam Lemak Jenuh Asam Lemak Tak Jenuh Gambar 2.

1986.Palmitostearine 10 – 11 Palmito – Diolein 32 – 48 Stearo – Diolein 0–6 Linoleo – Diolein 3 – 12 Sumber : Ketaren.1 – 2. Pada suhu kamar biasanya berada pada fase padat. Minyak kelapa sawit adalah lemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap (Pasaribu. semakin tinggi titik beku atau titik cair minyak tersebut .2 Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit Trigliserida Jumlah (%) Tripalmitin 3 –5 Dipalmito – Stearine 1–3 Oleo – Miristopalmitin 0–5 Oleo – Dipalmitin 21 – 43 Oleo.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit Asam Lemak Jumlah (%) Asam Kaprilat Asam kaproat Asam Miristat 1.20 Semakin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida. Berikut ini adalah tabel dari komposisi trigliserida dan tabel komposisi asam lemak dari minyak kelapa sawit. sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul trigliserida maka makin rendah titik beku atau titik cair minyak tersebut sehingga pada suhu kamar berada pada fase cair.5 Asam Palmitat 40 – 46 Asam Stearat 3.7 Asam Oleat 30 – 45 Asam Laurat Asam Linoleat 7 – 11 Sumber : Pasaribu. 2004 . Tabel 2. Tabel 2.6 – 4. 2004).

Asam palmitat yang ada dalam minyak sawit mempunyai nilai positif karena dapat menurunkan kolesterol LDL (low density lipoprotein) (Muchtadi. tokotrienol dan fitosterol. asam lemak bebas. dan harganya murah. sehingga klaim unggulannya mempunyai dasar yang kuat. Meskipun minyak sawit mengandung mono-unsaturated fatty acid (Omega 9) cukup tinggi. lilin. sterol.21 Minyak juga mengandung sejumlah kecil komponen nontrigliserida. Klaim produk minyak sawit sebagai produk sehat telah banyak dilakukan penelitian mendasar.40% oleat dan 6 . kandungan asam lemak jenuhnya (palmitat) juga tinggi yaitu 40%. dan glikolipid). 38 . dan hidrokarbon. Selain itu keunggulan minyak sawit sebagai minyak makan adalah tidak perlu dilakukan parsial hidrogenasi untuk pembuatan margarin dan minyak goreng (deep frying fat). fosfatida. Komponen tersebut yang mempengaruhi warna dan flavor minyak serta berperan dalam proses terjadinya ketengikan (Ketaren. pigmen yang larut dalam lemak. yang terdiri atas mono-unsaturated fatty acid (MUFA) dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) atau high unsaturated fatty . 2000). tokoferol. yaitu asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SFA) dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid/UFA). cephalin. 2005). Minyak sawit memiliki karakteristik asam lemak utama penyusunnya terdiri atas 35 . berada dalam keadaan bebas atau terikat dengan asam lemak bebas. Beberapa hal yang mempengaruhi sifat-sifat minyak adalah asam lemak penyusunnya. trans-fatty acid rendah.10% asam linolenat serta kandungan mikronutriennya seperti karitenoid. yaitu lipid kompleks (lesithin.40% asam palmitat.

Angka peroksida adalah nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak. namun intensitasnya tidak bertambah dengan bertambahnya jumlah asam lemak bebas. 2005). 2005). Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Para ahli biokimia dan ahli gizi lebih mengenalnya dengan sebutan asam lemak tak jenuh Omega 3.2 persen dari berat lemak akan mengakibatkan flavor yang tidak diinginkan dan kadang-kadang dapat meracuni tubuh. jika dicicipi akan terasa membentuk filem pada permukaan lidah dan tidak berbau tengik. Dalam bahan pangan. 2000). Minyak dengan kadar asam lemak bebas yang lebih besar dari 1%. Proses ini bertambah besar dengan pemanasan yang tinggi dan waktu yang lama selama penggorengan makanan. Asam lemak bebas terbentuk karena proses oksidasi. Ketika minyak digunakan untuk menggoreng terjadi peristiwa oksidasi dan hidrolisis yang memecah molekul minyak menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas (FFA) dalam minyak nabati dihasilkan dari pemecahan ikatan ester trigliserida. asam lemak dengan kadar 0. Asam lemak bebas walaupun berada dalam jumlah kecil mengakibatkan rasa tidak lezat. dan hidrolisa enzim selama pengolahan dan penyimpanan. menyebabkan karat dan warna gelap jika dipanaskan dalam wajan besi (Ketaren. Omega 6 dan Omega 9 (Muchtadi. Adsorpsi Asam lemak bebas ditentukan oleh beberapa faktor seperti kadar air dalam minyak. temperatur dan lamanya waktu kontak dengan adsorben (Bayrak. kadar sabun. Peroksida yaitu .22 acid. Asam lemak bebas secara umum dihilangkan selama proses penjernihan.

3. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning. xantofil. reaksi ini dapat berlangsung bila terjadi kontak antara oksigen dengan minyak (Ketaren. pengepresan bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang . maka warna kuning akan hilang. Warna Akibat Oksidasi dan Degradasi Komponen Kimia yang Terdapat dalam Minyak a) Warna Gelap Warna gelap disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E). 2005). kuning kecoklatan. 2). 2005).23 produk awal dari reaksi oksidasi yang bersifat labil. klorofil. yang disebabkan oleh beberapa faktor: suhu pemanasan yang terlalu tinggi. Zat warna tersebut antara lain α dan β karoten. dan antosianin. kehijau-hijauan dan kemerah-merahan. Pigmen berwarna merah jingga atau kuning disebabkan oleh karotenoid yang bersifat larut dalam minyak. Zat Warna Alamiah Zat warna ini terdapat secara alamiah di dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak bersama minyak pada proses ekstraksi. Karotenoid bersifat tidak stabil pada suhu tinggi. dan jika minyak dialiri uap panas. Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan. Karotenoid tidak dapat dihilangkan dengan proses oksidasi (Ketaren. 1). yaitu zat warna alamiah.2 Warna Zat warna dalam minyak terdiri dari 2 golongan. dan warna hasil degradasi zat warna alamiah. 2.

Hal itu dapat pula terjadi karena reaksi molekul karbohidrat dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul protein dan yang disebabkan karena aktivitas enzim-enzim. c) Warna Kuning Timbulnya warna kuning dalam minyak terutama terjadi dalam minyak atau lemak tidak jenuh. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. 2005). polifenol oksidase. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak. Oksidasi minyak dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan minyak. ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut tertentu seperti trikloroetilena. Cu. b) Warna Coklat Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak atau lemak yang berasal dari bahan yang telah rusak atau memar. dan sebagainya (Ketaren. 2. Warna ini timbul selama penyimpanan dan intensitas warna bervariasi dari kuning sampai ungu kemerah-merahan (Ketaren. serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak. Tingkat selanjutnya adalah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan . 2005).3. seperti fenol oksidase. dan Mn.24 tinggi. 2005).3 Kerusakan Minyak Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang digoreng. dan oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak (Ketaren. logam seperti Fe. benzol dan heksana.

Kerusakan minyak juga bisa terjadi selama penyimpanan. Beberapa contoh minyak yang mempunyai laju rendah yaitu minyak zaitun dan kelapa sawit (http://www. Jadi kenaikan Peroxide Value (PV) hanya indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik Oksida minyak juga akan menghasilkan senyawa hidrokarbon.org). bunga matahari. Beberapa produk tidak membahayakan dan masih layak untuk dikonsumsi. Hal ini terbukti dengan terbentuknya bahan menyerupai gum yang mengendap di dasar tempat penggorengan (Ketaren. kanola) mempunyai laju yang tinggi. Pembentukan senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi adisi dari asam lemak tidak jenuh. Perubahan secara kimiawi pada minyak. alkohol. Penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu dapat . tidak semuanya berpotensi berbahaya. kanker dan menurunkan nilai cerna lemak. Kerusakan minyak atau lemak akibat pemanasan pada suhu tinggi (200 250°C) akan mengakibatkan keracunan dalam tubuh dan berbagai macam penyakit. Ketengikan (Rancidity) terbentuk oleh aldehida bukan oleh peroksida. misalnya diarhea. lakton serta senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir.25 keton serta asam-asam lemak bebas. pengendapan lemak dalam pembuluh darah. foodfacts. 1986). Oksidasi adalah alasan utama dari perubahan kimiawi dari minyak tetapi ada beberapa penyebab degradasi lainnya yang berpotensial menyebabkan atau menghasilkan racun. Laju perubahan kimia dan tingkat perubahan tergantung pada jenis minyak dimana sebagian besar minyak yang mengandung asam lemak yang tidak tersaturasi (kedelai .

1986) Pada umumnya minyak apabila dibiarkan lama di udara akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak.26 menyebabkan pecahnya ikatan trigliserida pada minyak lalu membentuk gliserol dan asam lemak bebas (Ketaren. Inilah yang menyebabkan terjadinya bau dan rasa yang tidak enak atau tengik. suhu tinggi dan adanya bakteri perusak adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ketengikan minyak (Poedjiadi. Reaksi hidrolisa ini terjadi karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut. Hal ini disebabkan oleh proses hidrolisis yang menghasilkan asam lemak bebas. Oksidasi asam lemak tidak jenuh akan menghasilkan peroksida dan selanjutnya akan terbentuk aldehida. . enzim keasaman CH OH + 3R C OH trigliserida gliserol FFA ALB/FFA Gambar 2. 1994). Dapat pula terjadi proses oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh yang hasilnya akan menambah bau dan rasa yang tidak enak. cahaya.4 Reaksi Hidrolisis Minyak (sumber Ketaren. Kelembaban udara. O CH2 O C O CH O C O CH2 O C R CH2 OH R R CH2 OH O panas. air. 1986).

2008: 100) Minyak goreng yang baik mempunyai sifat tahan panas.05 5.4 Syarat Mutu Minyak Goreng Menurut (SNI 01-3741-2002) Persyaratan No.3 Warna Putih.2 Timah (Sn) mg/kg maks 40.1 maks 0.4 berikut : Tabel 2.3 Raksa (Hg) mg/kg maks 0.1 maks 0.0/250* 5. kuning pucat sampai kuning 2 Kadar air % b/b maks 0.5 Reaksi Pembentukan Peroksida (Sumber: Ketaren.3 3 Bilangan asam mg KOH/g maks 0.1 Bau Normal Normal 1.27 Gambar 2.1 maks 0. tidak merusak flavor hasil gorengan.0/250* maks 40.6 maks 2 4 Asam linolenat (C18:3) % maks 2 maks 2 5 Cemaran logam 5.05 maks 0.4 Tembaga (Cu) mg/kg maks 0.2 Rasa Normal Normal 1.1 Timbal (Pb) mg/kg maks 0. sedikit gum. Standar mutu minyak goreng di Indonesia diatur dalam SNI 01-3741-2002 yang dapat dilihat pada tabel 2. Kriteria uji Satuan Mutu I Mutu II 1 Keadaan 1.1 6 Cemaran arsen (As) mg/kg maks 0. menghasilkan produk dengan tekstur dan rasa yang bagus.1 7 Minyak pelikan ** Negative Negative CATATAN * Dalam kemasan kaleng Minyak pelikan adalah minyak mineral dan tidak bisa CATATAN ** disabunkan Sumber : SNI 2002 .1 maks 0.1 5. stabil pada cahaya matahari.

2. tanah .448-1.5 mg/Kg lain: Max 0.1 mg/Kg Raksa Max 0. tembikar dan genteng.28 Tabel 2. Tanah lempung dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata.5 Standar mutu minyak goreng berdasarkan SNI 3741-1995 No Kriteria Uji Persyaratan 1 Bau Normal 2 Rasa Normal 3 Warna Muda jernih 4 Cita rasa Hambar 5 Kadar air Max 0.1 mg/Kg Timah Arsen Sumber: Wijana dkk (2005). bila diraba terasa licin dan lunak. Secara morfologis tanah lempung umumnya berwarna agak kecoklat-coklatan dan mudah dibentuk dalam keadaan basah serta mengeras dengan warna kemerah-merahan jika dibakar. dan bila dimasukkan ke dalam air akan menyerap air.1 mg/Kg Seng Max 0.4 Mineral Lempung Lempung adalah bahan yang relatif banyak kita jumpai di Indonesia.900 g/L 7 Asam lemak bebas Max 0.1 mg/Kg Besi Max 40 mg/Kg Timbal Max 0. Selain itu dalam dunia industri.3 % 6 Berat jenis 0. Bahan ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.3 % 8 Bilangan peroksida Max 2 meq/Kg 9 Bilangan iodium 45-46 10 Bilangan penyabunan 196-206 11 Titik asap Min 200oC 12 Indeks bias 1.450 13 Cemaran logam antara Max 0.05 mg/Kg Tembaga Max 0.

050 mm.29 lempung dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam industri kertas.002 mm dan fraksi kasar yang disebut pasir memiliki ukuran 20.002 mm). Lempung merupakan salah satu fraksi anorganik tanah yang tergolong sangat halus (< 0. Susunan atom dalam keadaan amorf umumnya tidak mempunyai bentuk yang dapat dikenal ataupun susunan internal secara geometris (Tan. Unsur-unsur silikon. cat dan karet.org. Lempung alam yang secara alamiah aktif juga dapat digunakan untuk pemucatan. id). Lempung mengandung leburan silika dan atau aluminium yang halus. Susunan atom dalam lempung kristal dapat terulang dalam pola yang teratur ke arah tiga dimensi. sebagai bahan penukar ion. Lempung ini merupakan adsorben logam sempurna dan mampu menurunkan kadar chlorophyl dan warna bahan. katalis dan adsorben (Wijaya. 2006). Tan menerangkan bahwa mineral lempung merupakan salah satu komponen tanah yang didefinisikan sebagai zat padat kristalin dari senyawa alumina silikat dengan ukuran partikel lebih kecil dari 2  m. 1982). Fraksi anorganik tanah lainnya adalah debu yang berukuran 0.050-0. menghilangkan sabun dan .wikipedia. Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi. Lempung atau tanah liat ialah kata umum untuk partikel mineral berkerangka dasar silikat yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air (http://www. oksigen dan aluminium adalah unsur yang paling banyak menyusun kerak bumi.

Wyoming Amerika Serikat. 1988 dalam Apriani. Nama ini diusulkan sebagai pengganti nama sebelumnya yaitu taylorit yang diperkenalkan pada tahun 1888 atau soap clay yang diperkenalkan pada tahun 1873 dan masih banyak lagi nama lain yang dikenal untuk bentonit ini seperti : bleaching clay. Bentonit merupakan istilah yang digunakan di dalam dunia perdagangan untuk sejenis lempung yang mengandung mineral montmorillonit dan dikenal di Indonesia sejak dimulainya aktifitas pengeboran minyak bumi kira-kira 100 tahun yang lampau. fuller earth.1 Bentonit Bentonit adalah sejenis lempung (clay) yang komposisinya didominasi oleh mineral montmorillonit yaitu sekitar 85% dan komponen lain umumnya merupakan campuran dari mineral beidelit. Rock Creek. saponit atau smegtit.30 fosfolipid serta meminimalkan meningkatnya asam lemak bebas selama proses bleaching (Rossi. saponit. konfolensit. gipsum. 2002). Penggunaan utama dari bentonit adalah pada industri lumpur bor yaitu sebagai lumpur pembilas dalam pemboran minyak bumi. kalsit. . Nama bentonit ini pertama kali dipergunakan pada tahun 1896 oleh Knight yaitu suatu jenis lempung yang sangat plastis (koloid) yang terdapat pada formasi Benton. industri minyak sawit. industri kimia. 2. kaolinit. sehingga bentonit seringkali disebut juga sebagai istilah montmorillonit (Mallarangan. dan uap panas bumi. dan stolpenit (Riyanto. kuarsa/kristobalit. industri penyaringan lilin.4. plagioklasillit. gas bumi. 2000). 1994). farmasi. feldspar. dan sebagainya.

2. 1994). zat penyerap. Bentonit Natrium (swelling bentonit) Bentonit jenis ini mengandung relatif banyak ion Na + dibandingkan ion Ca2+ dan Mg2+ dan mempunyai sifat mengembang bila terkena air. 2. dan tinta cetak (Riyanto. sehingga dalam suspensinya akan menambah kekentalan. Secara umum. industri besi baja dan lain sebagainya. serta kandungan elemennya bervariasi. 2001): 1. mudah menyerap air dan mampu melakukakan pertukaran ion. Berwarna dasar putih dengan sedikit kecoklatan atau kemerahan atau kehijauan. Sifat-sifat bentonit antara lain adalah (Yulianto. Bersifat sangat lunak (kekerasan = 1). Hal ini dipengaruhi oleh proses terbentuknya di alam. . pengisi lateks. Mempunyai sifat sedikit menyerap air dan bila didispersikan dalam air akan cepat mengendap (tidak membentuk suspensi). tergantung dari jenis dan jumlah fragmen mineral-mineralnya. bentonit dapat dibagi atas dua golongan : 1. Penggunaan dalam industri kimia antara lain sebagai katalisator. Bentonit ini sering dinamakan Bentonit Wyoming. Komposisi montmorillonit suatu bentonit berbeda dengan bentonit yang lainnya. terasa seperti sabun. ringan mudah pecah. zat pemutih. Bentonit Kalsium Bentonit jenis ini mengandung kalsium dan magnesium yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan kandungan natriumnya.31 minyak kelapa.

1994).6 Sifat-sifat tanah liat Tipe Tanah Liat Montmorillonite Illite 0. Struktur tiga dimensi dari montmorillonit ditunjukkan oleh gambar 2.0 Lembaran tidak Lembaran tidak teratur teratur Tinggi Sedang Sedang 15-40 Kaolinite 0.32 2. Salah satu anggota kelompok smektite tersebut terutama adalah montmorillonite. Lapisan silikat dibangun melingkari suatu tetrahedral-silika. 1982 dalam Mustika.01-1. Dalam lembaran tetrahedral Si-O.0 Hexagonal Crystal Rendah Rendah 3-15 Struktur dasar mineral bentonit merupakan filosilikat atau lapisan silikat yang tersusun atas lembaran tetrahedral silisium oksigen dan lembaran oktahedral alumunium-oksigen-hidroksida (Murtado. Kelompok smektite mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan kelompok mineral tanah liat lainnya.7 (Setyowati. atom silisium berikatan dengan 4 (empat) atom oksigen.1-2.1-5. Perbandingan sifat-sifat dari kelompok mineral tanah liat dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Brady dan Buckman.2 Montmorillonit Montmorillonit merupakan anggota kelompok smektit yang paling banyak ditemukan di alam. 2007). Sifat-sifat Ukuran (m) Bentuk Kohesi. plastisitas Kapasitas swelling Tinggi (mengembang) Kapasitas tukar 80-100 kation(meq/100g) Sumber : Brady dan Buckman. Mineral ini mempunyai sistem kristal triklin. Atom-atom oksigen tersebut terletak pada empat sudut yang teratur .00 0. 1982 Tabel 2.4. 1995).

yaitu pada enam sudut oktahedral yang teratur.7 Lembaran silika yang tersusun oleh enam tetrahedral Lembaran oktahedral Al-O-H dibangun oleh atom Al yang mengikat empat atom oksigen dan gugus hidroksida yang terletak disekeliling Al. Lembaran heksagonal ini disebut lembaran tetrahedral atau lembaran silika yang ditunjukkan oleh gambar berikut ini : Gambar 2.6 Susunan atom-atom Si dan O dalam tetrahedral Enam buah tetrahedral saling berikatan melalui cara penggunaan bersama tiga dari empat atom oksigen dengan molekul tetrahedral lainnya membentuk heksagonal yang simetri. seperti ditunjukkan oleh gambar (Tan. Gambar 2. Penggunaan bersama atom-atom oksigen dan gugus hidroksida oleh atom Al lainnya akan membentuk lembaran .33 dalam bentuk tetrahedral dengan atom silisium sebagai pusatnya. 1982).

Jika lapisan tersusun oleh dua lembar tetrahedral dan satu lembar oktahedral dinamakan tipe lapisan mineral 2:1. Gambar 2.34 (OH)6-Al4-(OH)2-O4. Struktur satuan sel kristal untuk lapisan mineral 2:1 ditnjukkan pada gambar berikut ini : .8 susunan atom-atom dalam oktahedral Penggunaan bersama atom oksigen oleh oktahedral lainnya akan menghasilkan lembaran secara perspektif yang ditunjukkan pada gambar berikut ini : Gambar 2. lembaran ini disebut lembaran alumina.8. Atom-atom oksigen dan gugus hidroksida terletak pada dua bidang paralel dan Al terletak diantara kedua bidang tersebut.9 Lembaran oktahedral (OH)6-Al4-(OH)2-O4 Keempat atom oksigen pada lembaran tetrahedral berikatan dengan keempat atom Al pada lembaran oktahedral membentuk dua lapisan mineral (layer minerals). seperti yang tampak pada gambar 2.

35 Gambar 2. Luas permukaan khusus berkisar antar 700-800 m2/g. . Montmorillonit mempunyai struktur tiga lapis dengan lapisan oktahedral alumina sebagai pusat tertumpuk di antara dua lapisan tetrahedral silika.10 Lapisan mineral dengan perbandingan lapisan silika dan alumina 2:1 Van (1978) mengemukakan nilai kapasitas tukar kation (KTK) montmorillonit kira-kira 70 meq/100 gram lempung.

Pengepakan lembar-lembar tetrahedron silika dan oktahedron alumunium semacam ini. yang menyebabkan terbentuklah struktur yang berlapis.11 (a) Struktur tiga dimensi dari montmorillonit (Sumber: Ogawa. Wijaya. 1992.36 (a) (b) Gambar 2.com) Satu oksigen dalam tiap tetrahedron tetap tidak terimbangi secara listrik di dalam jaringan tetrahedral silika seperti itu. Oksigen dari tetrahedron tersebut dihubungkan dengan Al dalam koordinasi oktahedral untuk memenuhi persyaratan divalennya.GeoScience. Beberapa lapisan dari lembar-lembar tetrahedron silika dan . 1993) (b) Mineral montmorillonit (Sumber : www.

Reaksi pertukaran ion di dalam mineral lempung disebabkan oleh adanya substitusi pada lembaran silika atau alumina dan kation yang dipertukarkan sebagian besar terletak pada permukaan bidang.1994).4. 1995).37 oktahedron alumunium dapat ditumpuk satu di atas yang lain.4 Pertukaran Kation Pertukaran kation adalah pertukaran antara suatu kation dalam larutan dengan kation lain pada suatu permukaan. 2. Reaksi pertukaran ion bersifat stoikhiometris dan berbeda dengan penyerapan (sorption).3 Pertukaran Ion Mineral lempung memiliki sifat anion dan kation serta mempertahankan keadaan ion-ion yang dapat dipertukarkan. Tiap lapisan merupakan suatu unit bebas. Ion-ion yang dapat dipertukarkan adalah ion-ion yang berada di sekitar struktur mineral lempung silika-alumina. Ikatan antar lapis dapat relatif kuat seperti dalam kaolinit atau dapat relatif lemah seperti dalam montmorillonit (Yulianto. sehingga mineral lempung dapat menarik kation-kation (Setyowati. . 2001).4. Perbedaan ini adakalanya sulit untuk diaplikasikan karena pertukaran ion biasanya diikuti dengan penyerapan (sorption) dan desorpsi (Murtado. 2. Adanya ketidakseimbangan muatan mengakibatkan sisi mineral lempung menjadi bermuatan negatif.

Partikel oksida kuat dalam proses ini terbentuk yang berperan sebagai pilar atau penyangga yang mencegah terjadinya kerusakan. Montmorillonit mempunyai sifat mengembang (swelling). W. menerangkan bahwa montmorillonit merupakan suatu jenis lempung berupa spesies silikat alumunium terhidrasi dengan sedikit substitusi dan merupakan komponen bentonit dengan persentase tertinggi. Hal ini mudah diperoleh melalui kombinasi antara lembaran montmorillonit bermuatan negatif relatif rendah dengan molekul penyangga . senyawa kompleks dan oksida-oksida logam. yang dinamakan pillared clay. maka banyak dilakukan studi untuk meningkatkan kemampuan kerjanya dengan memodifikasi lempung seperti aktivasi lempung atau pemilaran lempung dengan berbagai senyawa organik. Pemilaran lempung merupakan proses yang memungkinkan merubah struktur lempung yang tak tahan secara termal menjadi struktur yang stabil dan berpori. Lempung terpilar merupakan material yang memiliki porositas yang permanen. Tujuan dari proses pemilaran ini adalah untuk membentuk mikroporositas di dalam sistem. Penggunaan dan pemanfaatan lempung tidak termodifikasi umumnya relatif kurang luas. karena adanya senyawa kimia yang berperan sebagai tiang pemilar pada ruang antarlapis lempung yang disebut sebagai molekul penyangga. montmorillonit memiliki kelemahan apabila dipanaskan pada temperatur lebih dari 200°C maka akan mengalami kerusakan (collapse) pada struktur oktahedral sehingga berakibat pada pengurangan kemampuan katalitik.5 Aktivasi montmorillonit Karna.4. dkk (2006). meskipun digunakan sebagai katalis cracking.38 2.

atau Ca+ oleh spesies pemilar. Pada dasarnya setiap molekul atau partikel yang mampu menembus ruang antarlapis lempung dinamakan molekul penyangga (Wijaya. menerangkan bahwa suspensi lempung montmorillonit terbentuk melalui proses mengembangnya lempung di dalam air dan akan terdistribusi secara merata yang akan mempermudah terjadinya pertukaran kation terhidrat pada antarlapis lempung seperti Na +. Selektivitas semakin tinggi untuk kation bermuatan lebih besar. Proses kimia yang terlibat adalah pertukaran ion yang digambarkan sebagai kompetisi antara ion-ion tersebut dengan kation terhidrat yang berada pada antarlapis lempung montmorillonit. Ligan organik netral dapat membentuk kompleks dengan kation-kation yang berada dalam ruang antar lapis. K+. Dalam kondisi ini penyangga akan terdistribusi secara homogen di seluruh permukaan sistem dua dimensi.39 bermuatan positif relatif tinggi. Molekul air yang berada di dalam ruang antar lapis dapat tergantikan oleh beberapa molekul organik polar. Residu yang didapatkan dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 °C selama 24 jam. Selektivitas pertukaran ion Na+ akan lebih besar sebab konsentrasinya dalam larutan lebih banyak dan muatannya lebih besar dibandingkan kation terhidrat yang akan dipertukarkan. 2009). Sutha N (2008). Selanjutnya Dibuat suspensi . menyebutkan dalam penelitiannya tentang cara preparasi montmorillonit yaitu montmorillonit yang lolos pengayak 250 mesh dicuci dengan air bebas ion dan kemudian disaring. Karna W dkk (2006). 2006). kemudian digerus dan diayak dengan pengayak 250 mesh. Kation-kation antar lapis dapat tergantikan oleh beberapa jenis kation organik (Fusova.

Untuk membentuk pilar oksida alumina yang rigid. warna yang tidak menarik dan memperpanjang umur simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan mentah dalam industri. serta bau yang tidak enak. Hasil yang diperoleh luas permukaan menjadi cukup besar. Selanjutnya suspensi yang diperoleh direaksikan dengan larutan pemilar. Montmorilonit terinterkalasi ini kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1000 rpm untuk memisahkan endapan padat dengan supernatan. Selanjutnya montmorilonit kering ini digerus dan diayak hingga lolos saringan 250 mesh.5 Pemurnian Minyak Goreng Tujuan utama dari proses pemurnian minyak adalah untuk menghilangkan rasa. Suspensi ini kemudian diaduk dengan pengaduk magnetik selama 2 jam. Selain itu selalu terbentuk jarak antarlapis dengan ukuran 7-10 A. Secara fisis dengan cara penyaringan sedangkan secara kimia melalui .(diuji melalui tes AgNO3). senyawa yang telah diinterkalasi kemudian dikalsinasi pada temperatur 300°C selama 5 jam dengan menggunakan aliran gas inert N2 dengan kecepatan 20 mL/menit. Endapan ini kemudian dicuci dengan menggunakan air bebas ion hingga montmorillonit hasil pemilaran ini bebas ion Cl. Montmorilonit bebas ion Cl. Montmorilonit terpilar Al2O3 yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode difraksi sinar-X (XRD). Kemudian suspensi yang diperoleh didiamkan selama 24 jam. Proses pemurnian ini dapat dilakukan secara fisis maupun kimiawi.40 montmorilonit dengan melarutkannya ke dalam air bebas ion. 2.ini dikeringkan dengan oven pada temperatur 110°C selama 24 jam.

dkk..1 Penghilangan Bumbu (Despicing) Despicing merupakan proses pengendapan dan pemisahan kotoran akibat bumbu dan kotoran dari bahan pangan yang bertujuan menghilangkan partikel halus tersuspensi atau terbentuk koloid seperti protein. gula. Kaustik soda (NaOH) membantu dalam mengurangi zat warna dan kotoran yang berupa getah . sulfitator expandeur. rotary vacuum filter. defekator. karbohidrat. serta bumbu rempah-rempah yang digunakan menggoreng bahan pangan tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak (Taufik. clarifier. netralisasi dan bleaching yaitu sebagai berikut: 2. 2007: 22). 2005:203). pemurnian minyak goreng yang digunakan adalah despicing.2 Netralisasi Netralisasi ialah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak. (Ketaren.41 pemanasan. Pemurnian minyak goreng ini meliputi 4 tahap proses yaitu despicing. pemberian bahan pengendap serta penggunaan unit peralatan berupa pemanas pendahuluan (heat exchanger). karena lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan cara netralisasi lainnya. bleaching dan deodorasi (Wijana. Netralisasi dengan kaustik soda (NaOH) banyak dilakukan dalam skala industri. netralisasi.5. dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock).5. garam. 2005): Pada penelitian ini. 2.

Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut (Ketaren. 2005:216). lempung aktif (activated clay) dan arang aktif atau dapat juga menggunakan bahan kimia. misalnya peroksida (Ketaren. 2. Daya penyerapan terhadap warna akan lebih . Sabun atau emulsi yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifusi.42 dan lendir dalam minyak.3 Pemucatan (bleaching) Pemucatan ialah suatu tahap proses pemurnian untuk menghilangkan zat- zat warna yang tidak disukai dalam minyak. 2005:206): O R C OH Asam Lemak Bebas + NaOH Basa R C O + H2O Air ONa Sabun Gambar 2. 2005) Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran seperti fosfatida dan protein. seperti tanah serap (fuller earth). Zat warna dalam minyak akan diserap oleh permukaan adsorben dan juga menyerap suspensi koloid (gum dan resin) serta hasil degradasi minyak. Pemucatan ini dilakukan dengan mencampur minyak dengan sejumlah kecil adsorben.5. dengan cara membentuk emulsi.12 Reaksi asam lemak bebas dengan NaOH (Sumber: Ketaren. Jumlah adsorben yang dibutuhkan untuk menghilangkan warna minyak tergantung dari macam dan tipe warna dalam minyak dan sampai berapa jauh warna tersebut akan dihilangkan.

2005). 2004). Kecepatan adsorpsi tidak hanya tergantung pada perbedaan konsentrasi dan pada luas permukaan adsorben. Bahan yang akan dipisahkan tentu saja harus dapat diadsorpsi. kadar air tinggi. 2. . proses adsorpsi sangat sesuai untuk memisahkan bahan dengan konsentrasi yang lebih kecil dari campuran yang mengandung bahan lain yang berkonsentrasi tinggi. Jika proses pengikatan berlangsung sampai di dalam partikel penyerap disebut sebagai proses absorpsi (Mattel. 1995). Didukung oleh selektifitasnya yang tinggi. melainkan juga pada suhu. 1951 dalam Afiatun. dan porositas adsorben. Proses sorpsi dibedakan menjadi dua yaitu adsorpsi dan absorpsi. karena mahalnya regenerasi adsorben yang terbebani. gas) (Bernasconi. ukuran partikel halus. Bernasconi dkk menerangkan bahwa adsorpsi adalah suatu proses pemisahan bahan dari campuran gas atau cair.43 efektif jika adsorben tersebut mempunyai bobot jenis yang rendah. ukuran partikel.6 Adsorpsi Sorpsi adalah proses penyerapan ion oleh partikel penyerap. dan pH adsorben mendekati netral (Ketaren. Pemisahan bahan dengan konsentrasi yang lebih besar disarankan menggunakan proses pemisahan yang lain. dkk. Dinamakan proses adsorpsi jika ion atau senyawa yang diserap tertahan pada permukaan partikel penyerap. bahan yang harus dipisahkan ditarik oleh permukaan sorben padat dan diikat oleh gaya-gaya yang bekerja pada permukaan tersebut. Kecepatan adsorpsi juga tergantung pada ukuran molekul bahan yang akan disorpsi dan pada viskositas campuran yang akan dipisahkan (cairan. tekanan (untuk gas).

Gaya Van der Walls meliputi gaya dipol-dipol. yang ditunjukkan dalam gambar di bawah ini (Effendy. yang melalui gaya Van der Walls atau ikatan hidrogen. Kekuatan adsorpsi fisika relatif lebih lemah karena melibatkan ikatan Van der Waals (induksi dipol-dipol) atau pada beberapa keadaan melibatkan interaksi elektrostatik.44 Adsorpsi diklasifikasikan menjadi adsorpsi kimiawi dan adsorpsi fisika. Adsorpsi fisika melibatkan gaya antarmolekuler. et al. 1982). adsorpsi dapat dikelompokkan menjadi dua. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan.. Gaya tarik antara molekul-molekul tersebut lebih kuat dibandingkan dengan gaya tolaknya. 2006): . 1991). Menurut Oscik (1991). 1992). karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan (Larry. Gaya dipol-dipol adalah gaya tarik antara molekul polar dengan polar. Adsorpsi Fisik (Fisisorpsi) Adsorpsi fisik merupakan suatu proses bolak-balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben (Oscik. yaitu: a. gaya dipol-dipol induksian dan gaya London. Pada adsorpsi kimiawi terjadi perpindahan elektron yang ekuivalen terhadap susunan ikatan kimia antara bahan yang diserap (sorbat) dan permukaan adsorben.

2006) Gaya dipol-dipol induksian adalah gaya tarik antara molekul polar dengan molekul nonpolar.13 Gaya Tarik antara Molekul-Molekul Polar (Sumber: Effendy. sehingga pada molekul nonpolar terjadi dipol induksian.14 Terjadinya Gaya Dipol-Dipol Induksian (Sumber: Effendy. 2006) . Mekanisme gaya tersebut adalah apabila molekul polar dan molekul nonpolar berada pada jarak tertentu.45 ` + + _ - Gaya tarik Gaya tolak + - + - + _ Gambar 2. 2006): induksian molekul polar dengan dipol permanen + - ± molekul nonpolar tanpa dipol molekul polar dengan dipol permanen + - + - molekul nonpolar dengan dipol induksian Terjadi gaya tarik elektrostatik Gambar 2. molekul polar dapat menginduksi molekul nonpolar. selanjutnya antara kedua molekul tersebut terjadi gaya tarik elektrostatik. Terjadinya gaya dipol-dipol induksian dapat ditunjukkan pada gambar di bawah ini (Effendy.

15 Pembentukan Dipol sesaat pada Molekul Nonpolar (Sumber: Effendy. 2006) Dipol sesaat ini. kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya elektrostatik. Molekul nonpolar terdiri dari inti atom dan elektron. yang menyebabkan pusat muatan positif dan muatan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat. polarisasi awan elektron molekul nonpolar tanpa dipol ± + - molekul dengan dipol sesaat Gambar 2. yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini : . Elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom. Apabila didekatnya ada molekul nonpolar sejenis atau berbeda maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga terjadi dipol induksian. dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian timbul kembali secara terus menerus dan bergantian. elektron tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron.46 Gaya London adalah gaya tarik antara molekul nonpolar dengan nonpolar.

2006) b. 1982). Adsorpsi Kimia (Kemisorpsi) Proses adsorpsi kimia. 1999). interaksi adsorbat dengan adsorben melalui pembentukan ikatan kimia. Kemisorpsi terjadi diawali dengan adsorpsi fisik. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. dan cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan koordinasi dengan substrat (Atkins. yaitu partikel-partikel adsorbat mendekat ke permukaan adsorben melalui gaya Van der Waals atau melalui ikatan hidrogen. kemudian diikuti oleh adsorpsi kimia yang terjadi setelah adsorpsi fisika.16 Terjadinya gaya London (Sumber: Effendy. . dalam adsorpsi kimia partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan.47 induksian molekul dengan dipol sesaat + - ± molekul tanpa dipol + molekul dengan dipol sesaat - + molekul dengan dipol induksian Terjadi gaya tarik elektrostatik Gambar 2.

tidak teraktivasi. Arang selain digunakan sebagai bahan bakar. Arang pada umumnya mempunyai daya adsorpsi yang rendah terhadap zat warna dan daya adsorpsi tersebut dapat diperbesar dengan cara mengaktifkan arang menggunakan uap atau bahan kimia (Ketaren.7 Adsorpsi Fisika dan Adsorpsi Kimia Parameter Adsorpsi Fisika Adsorpsi Kimia Panas adsorpsi Rendah Tinggi Spesifisitas Tidak spesifik Sangat spesifik Sifat dari fase Monolayer/multilayer. diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara didalam ruangan pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi (Sembiring. Ketika pemanasan berlangsung. irreversible 2. yang teradsorp terjadi disosiasi melibatkan disosiasi Range temperatur Range sempit Range lebar Kekuatan adsoprsi Tidak terjadi perpindahan Terjadi perpindahan elektron meskipun polarisasi elektron sorbat dapat terjadi Cepat. pemurnian air juga dapat digunakan sebagai adsorben (penyerap). 1995 Reversibilitas Lambat. dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Arang aktif adalah arang yang telah mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimianya karena dilakukan perlakuan aktifasi dengan aktifator bahan-bahan . reversible Sumber : Bernasconi. tidak Hanya monolayer. 2003). 1986). Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon. teraktivasi.7 Karbon aktif Karbon merupakan arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.48 Tabel 2. pemisah gas. filter.

berfungsi untuk memindahkan zat-zat penganggu yang menyebabkan warna dan bau yang tidak diharapkan. digunakan dalam fase cair. biasanya berbentuk serbuk (powder) yang sangat halus. yaitu arang aktif sebagai pemucat dan sebagai penyerap uap. molekul netral. . diameter pori mencapai 1000A0. 2003). Arang ini diperoleh dari serbuk-serbuk gergaji. ampas pembuatan kertas atau dari bahan baku yang mempunyai densitas kecil dan mempunyai struktur yang lemah (Sembiring. membebaskan pelarut dari zat-zat penganggu dan kegunaan lain yaitu pada industri kimia. Daya serap arang aktif sangat besar. yang dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon atau dari arang yang diperlakukan dengan cara khusus untuk mendapatkan permukaan yang lebih luas. Luas permukaan arang aktif berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubungan dengan struktur pori internal. Arang aktif sebagai pemucat. 2003). Arang aktif dapat mengadsorpsi gas. Arang aktif dibagi atas 2 tipe. asam atau basa organik tetapi tidak mampu menyerap secara maksimal ion logam atau garam-garam yang terinonisasi dengan kuat. yaitu 25-1000% terhadap berat arang aktif (Sembiring. sehingga daya serap dan luas permukaan partikel serta kemampuan arang tersebut akan menjadi lebih tinggi (Sembiring. Arang aktif merupakan senyawa karbon amorf. 2003). tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas permukaan. struktur pori ini menjadikan celah-celah dalam arang aktif mampu dilewati oleh molekul pada saat adsorpsi.49 kimia ataupun dengan pemanasan pada temperatur tinggi.

2003). Proses ini bertujuan untuk membersihkan permukaan pori. batu bata atau bahan baku yang mempunyai bahan baku yang mempunyai struktur keras (Sembiring. yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi (Sembiring. 2003).7. 2003). Metode ini dilakukan dengan cara merendam bahan baku pada bahan kimia (H3PO4. 2. tipe pori lebih halus. baik fisika maupun kimia. katalis. K2S. HCl. . CaCl2. tulang. berfungsi untuk memperoleh kembali pelarut. Na2CO3) dan diaduk dalam jangka waktu tertentu. Aktivasi Kimia Aktivasi kimia adalah proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan pemakian bahan-bahan kimia (Sembiring. kemudian dicuci dengan akuades selanjutnya dikeringkan. biasanya berbentuk granular atau pellet yang sangat keras diameter pori berkisar antara 10-200 A0. Sembiring (2003) menyebutkan bahwa metode aktivasi yang umum digunakan dalam pembuatan karbon aktif adalah: a.1 Aktivasi Karbon Aktif Aktivasi adalah suatu perlakuan terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori yaitu dengan cara memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat. ZnCl2. membuang senyawa pengganggu dan menata kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. NaCl. digunakan dalam fase gas. pemisahan dan pemurnian gas. Arang aktif ini diperoleh dari tempurung kelapa. H2SO4.50 Arang aktif sebagai penyerap uap.

7532 %. tentang aktivasi arang sekam padi dengan KOH. 400 oC. A (1996). berat jenis sebesar 1.5990 % dan kehilangan berat karbon sebesar 14. kadar air sebesar 1.51 Pengaruh aktivasi pada beberapa adsorben.8816 %. Penelitian Sabaruddin. 35 %.22%. berat jenis sebesar 1. mengemukakan bahwa arang tempurung kelapa yang diaktivasi dengan variasi konsentari NaCl (15 %.2224 g/mL. Pemanasan ini bertujuan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam pori-pori karbon aktif sehingga luas .1801 g/mL. menghasilkan konsentrasi NaCl terbaik adalah pada konsentrasi NaCl 30 %. dan 40 %) dan variasi temperatur (350 oC. 550 oC dan 600 oC).1305 % dan kehilangan berat karbon sebesar 14. 25 %30 %. dengan karakteristik angka iodin sebesar 302. Hasil dari penelitian tersebut mengemukakan bahwa arang sekam padi yang diaktivasi KOH proses adsorpsinya berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan arang sekam padi yang tidak diaktivasi. kadar air sebesar 1. 20 %.4 %. b.00 %. 450 oC. kadar abu sebesar 0. kadar abu sebesar 0. antara lain: Penelitian Wahyuni dan Kostradiyanti (2008) ini. uap dan CO2. Aktivasi Fisika Aktivasi fisika adalah proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan bantuan panas. sedangkan temperatur aktivasi terbaik adalah pada temperatur 500 oC. Arang aktif yang dihasilkan digunakan untuk mengadsorpsi hidrogen peroksida dan selanjutnya diaplikasikan untuk mengurangi angka peroksida minyak kelapa tradisional. Aktivasi 15 % KOH mampu menurunkan angka peroksida minyak kelapa tradisional sampai 84.507 mg/g.840 mg/g. dengan karakteristik angka iodin sebesar 276. 500 oC.

Karbon dipanaskan didalam furnace pada temperatur 800-900°C. dekomposisi menghasilkan tar. a. Pembuatan arang aktif berlangsung 3 tahap yaitu proses dehidrasi. Temperatur diatas 170°C akan menghasilkan karbon monoksida.52 permukaan karbon aktif bertambah besar. Pembentukan pori mulai terbentuk dalam karbonisasi (Parker. 2003). . Aktivasi: Kemampuan adsorpsi adsorben sangat ditentukan oleh luas permukaan (porositas) dan volume pori-pori dari adsorben. c. merupakan reaksi eksoterm sehingga sulit untuk mengontrolnya. Bahan baku dipanaskan sampai temperatur 105°C selama 24 jam. (Juliandini dan Yulinah. Pembentukan karbon terjadi pada temperatur 400 – 600 °C. 2008). Karbonisasi: pemecahan bahan-bahan organik menjadi karbon. Pemanasan dengan uap atau CO2 pada temperatur tinggi merupakan reaksi endoterm. 1993). sehingga lebih mudah dikontrol dan paling umum digunakan (Sembiring. 2008). Dehidrasi: proses penghilangan air. metanol dan hasil sampingan lainnya. Karbon dapat diperoleh melalui proses karbonisasi. proses karbonisasi dan proses aktivasi (Juliandini dan Yulinah. Pada temperature 275°C. Oksidasi dengan udara pada temperatur rendah. Adsorben dengan porositas yang besar mempunyai kemampuan menyerap yang lebih tinggi dibandingkan dengan adsorben yang memilki porositas kecil. biasanya pada temperatur 5008000C. Karbonisasi atau pengarangan adalah suatu proses pirolisis atau pembakaran tidak sempurna (tanpa oksigen) dari bahan yang mengandung karbon. b. karbon dioksida dan asam asetat.

Gugus fungsional permukaan karbon adalah gugus yang diikat secara kimia pada atom C dalam lempeng padatannya. lakton dan fenol. Jankowska (1991) menyebutkan bahwa karbon aktif mampu mengadsorpsi adsorbet dengan maksimal karena memiliki porositas tinggi. medium (atmosfer) dari proses karbonisasi (Janskowska. Sifat-sifat dari hasil karbonisasi ditentukan oleh kondisi dan bahan dasarnya. 1991). waktu karbonisasi. Gugus ini menjadikan karbon memiliki potensi sebagai adsorben untuk menghilangkan ion logam (Parker. Unsur-unsur dari karbon aktif sebagian besar terdiri dari karbon dan masing-masing berikatan secara kovalen. Karbon memiliki sifat yang unik pada permukaannya yang disebabkan adanya gugus fungsional yang mengandung oksigen seperti karboksil. laju peningkatan temperatur. Komposisi dan polaritas karbon aktif ini berpengaruh terhadap jenis adsorbat yang diserap (Tryana.8 Kolom Kolom yang digunakan dalam pertukaran ion dapat berupa pipa gelas atau tabung yang dilengkapi bagian bawahnya dengan katup atau kran dan gelas . 2003). 1993). dengan demikian permukaan karbon aktif bersifat non polar. sehingga dapat digunakan sebagai adsorben. Peningkatan gugus fungsional dapat menurunkan pori dan luas permukaan spesifik karena gugus fungsional dapat menutupi pori karbon.53 Tujuan utama dari proses karbonisasi ini adalah untuk menghasilkan butiran yang mempunyai daya serap dan struktur yang rapi. 2. Parameter yang biasanya digunakan untuk menentukan kondisi karbonisasi yang sesuai yaitu temperatur akhir yang dicapai.

akan lebih mudah untuk mendapatkan pengisian yang homogen. Proses pengisian kolom adalah tidak mudah. untuk mendapatkan pengisian kolom yang homogen. 1991). Pengisian yang tidak teratur dari adsorben akan merusak proses pemisahan. sehingga buret juga dapat digunakan (Sastrohamidjojo. baik selama pengisian atau selama pemisahan (Sastrohamidjojo. 1991). Pengisian adsorben ke dalam kolom dapat dibantu dengan mengguncang perlahan-lahan. tetapi biasanya panjang kolom sekurang-kurangnya 10 kali dari diameter kolom (Gritter. Glass wool atau kapas dapat digunakan untuk menahan penyerap yang diletakkan di dalam kolom (Sastrohamidjojo. kemudian ditetesi . 2. Berbagai ukuran kolom dapat digunakan tergantung pada banyaknya zat yang akan dipisahkan.54 penyaring didalamnya.9 Analisis FFA dengan Metode Titrasi Asam Basa Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi yaitu suatu penambahan indikator warna pada larutan yang diuji. Putusnya adsorben dalam kolom biasanya disebabkan oleh gelembung-gelembung udara selama pengisian. 1991). Adsorben yang telah dimasukkan ke dalam kolom harus diperhatikan jangan sampai ada bagian yang kering. dan untuk mencegah hal tersebut sedapat mungkin zat pengisi/ adsorben dibuat menjadi “bubur” dengan pelarut kemudian dituangkan perlahan-lahan dalam tabung. Besarnya partikel-partikel adsorben yang diperoleh sama. Kolom-kolom tersebut dapat dibuat secara sederhana dari tabung gelas. 1991). maka akan diperoleh pengisian yang homogen.

55 dengan larutan yang merupakan kebalikan asam-basanya (http//www. elektroindonesia.com)..7) berat sampel  g x 1000 Keterangan: % FFA ml NaOH M NaOH BM : Kadar asam lemak bebas : Volume titran NaOH : Molaritas larutan NaOH (mol/L) : Berat molekul asam lemak merek bimoli (asam lemak palmitat) 256 g/mol Persamaan reaksi dari titrasi asam basa ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini: RCOOH + NaOH RCOONa + H2O . Kemudian dihitung asam lemak bebasnya (%FFA) dengan rumus di bawah ini: % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 .(2.. kemudian dititrasi dengan larutan natrium hidroksida (NaOH) sampai terbentuk warna merah jambu.……………. indikator yang digunakan adalah fenolftalein (pp). Analisa FFA pada minyak goreng menggunakan metode titrasi asam basa dengan cara melarutkan minyak goreng dalam alkohol yang dibantu dengan pemanasan. penentuannya hanya didasarkan pada perubahan warna yang terjadi pada sampel dan sering disebut sebagai titik akhir titrasi. Pemilihan metode ini dipakai karena merupakan metode yang sederhana dan sudah banyak digunakan dalam laboratorium maupun industri.

56

2.10 Penentuan Angka Peroksida dengan Titrasi Iodin Angka peroksida dalam minyak goreng dinyatakan dengan miliequivalen peroksida dalam 1000 g minyak. Penentuan yang paling banyak digunakan adalah menggunakan metode titrasi iodin dengan cara melarutkan minyak goreng dalam larutan asam asetat-kloroform, kemudian ditambahkan larutan KI jenuh dan didiamkan selama 1 menit, selanjutnya ditambahkan aquades. Campuran dititrasi dengan natrium tiosulfat (Na2S2O3) sampai warna kuning hampir hilang. Titrasi dihentikan untuk menambahkan indikator pati (amilum) sampai warna larutan menjadi biru, titrasi dilanjutkan kembali sampai warna biru hilang. Khopkar (2003), menjelaskan bahwa kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan yang kecil dalam air sehingga penambahan dilakukan pada titik akhir titrasi. Kemudian dihitung angka peroksida yang dinyatakan dalam mili-equivalen dari peroksida dalam setiap 1000 g sampel menggunakan rumus di bawah ini:
Angka peroksida  ml Na 2 SO3 x N thio x 1000 .................(2,8) beratsampel ( g )

Pada pelarutan sejumlah minyak ke dalam campuran asetat:kloroform yang mengandung KI, akan terjadi pelepasan iodin (I2) (Sudarmadji dkk., 2007: 115116). R . COO˚ + KI → R . CO˚ + H2O + I2 + K+ Iodin yang bebas dititrasi dengan natrium thiosulfat menggunakan indikator amilum sampai warna biru hilang (Sudarmadji dkk., 2007: 115-116). I2 + 2 Na2S2O3 → 2 NaI + Na2S4O6

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di laboratorium kimia Universitas Islam Negeri Malang, pada bulan Januari sampai dengan Februari 2010.

3.2 Bahan 3.2.1 Sampel Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak goreng bekas merk Bimoli, dengan pemakaian 8 jam.

3.2.2 Bahan Kimia Semua bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai derajat kemurnian proanalis, meliputi: biji kelor, serbuk bentonit, aquades, NaCl, AgNO3, glass wool, NaOH (p.a), etanol (teknis) 95 %, indikator pp (p.a) , kloroform (teknis), larutan pati 1 %, asam asetat (p.a), natrium thiosulfat (Na2SO3) (p.a), HCl 0,1 M dan larutan jenuh KI (p.a).

3.3 Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi seperangkat alat gelas, alumunium foil, tanur, mortar, oven, kolom, kertas saring, ayakan 100

57

58

Mesh-120 mesh, buret, statif, erlenmeyer, corong pisah, timbangan analitik, termometer, magnetik stirer dan color reader.

3.4 Tahapan Penelitian Adapun tahap penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Preparasi biji kelor 2. Preparasi bentonit 3. Analisis kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida, dan analisis warna minyak goreng bekas dengan kontrol minyak goreng baru. 4. Proses penghilangan bumbu (despicing) 5. Analisis asam lemak bebas (Free Fatty Acid), Angka peroksida dan warna 6. Proses netralisasi 7. Analisis asam lemak bebas (Free Fatty Acid), Angka peroksida dan warna 8. Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor dan bentonit a. Adsorpsi menggunakan karbon aktif biji kelor b. Adsorpsi menggunakan bentonit c. Adsorpsi menggunakan campuran karbon aktif biji kelor dan bentonit 9. Analisis warna dengan color reader 10. Penentuan asam lemak bebas (Free Fatty Acid) 11. Penentuan angka peroksida

Serbuk arang biji kelor dicuci dengan air panas kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 110 oC selama 2 jam. Arang yang dihasilkan ditumbuk dan diayak agar diperoleh serbuk arang biji kelor. lalu didispersikan ke dalam larutan natrium klorida 1M.59 3. Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan disaring dengan pengayak 100 mesh.5.5 Cara Kerja 3. setelah itu biji kelor tanpa dipisahkan dari kulit arinya di tumbuk kasar dan dibungkus dengan alumunium foil lalu dimasukkan tanur suhu 600 oC selama 3 jam. sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu dengan akuades dengan perendaman selama 24 jam. Sedimen dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring. Arang diaktivasi dengan direndam larutan NaCl 30 % selama 24 jam. lalu diuji . diaduk dengan pengaduk magnet selama 24 jam dan dipanaskan pada temperatur 70 C 80 C. Sedimen dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring.2 Preparasi Bentonit (Yulianto. Berikutnya Bentonit ini dijenuhkan dengan NaCl jenuh selama 24 jam pengadukan. 2001) Lempung alam bentonit yang sudah tersedia dalam bentuk powder.1 Preparasi Biji Kelor (Sabarudin. 1996) Buah kelor yang sudah tua dan kering dibuang kulitnya sehingga diperoleh biji kelor. kemudian dikeringkan dalam oven 110 oC selama 2 jam. Sedimen yang didapatkan dicuci dengan akuades dan dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C selama 4 jam. Sedimen yang didapatkan dicuci dengan akuades. Arang yang dihasilkan dihaluskan dan disaring dengan ayakan 100 mesh. 3.5.

diaduk campuran selama 10 menit pada temperatur 40 ⁰C. kemudian fraksi air pada bagian bawah dipisahkan sehingga diperoleh minyak bebas air. Sedimen yang didapatkan dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C selama 4 jam. setelah itu dilakukan penyaringan dengan kertas saring untuk memisahkan kotoran yang tersisa 3.5.3 Proses Penghilangan Bumbu (despicing) (Taufik. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 110 oC sampai air dalam beaker glass tinggal setengahnya. Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan disaring dengan pengayak 100 mesh. 3.5. 2005) Minyak hasil despicing sebanyak 150 gram dipanaskan sampai temperatur 35 ⁰C. Diendapkan dalam corong pemisah selama 1 jam. . 2007) Ditimbang sebanyak 250 gram minyak goreng bekas kemudian ditambahkan air dengan komposisi minyak:air (1:1). kemudian ditambahkan 6 mL larutan NaOH 16 %. selanjutnya didinginkan selama 10 menit dan dipisahkan dengan cara disaring.4 Proses Netralisasi (Ketaren. masukkan ke dalam beaker glass 500 mL.60 dengan larutan AgNO3 sampai tidak terbentuk endapan AgCl.

dilakukan titrasi dengan larutan 0.05 M NaOH sampai muncul warna merah jambu dan tidak hilang selama 30 detik. b* yang selanjutnya diukur warnanya. Keterangan: L* a* b* : warna cerah (0-100) : warna jingga sampai merah (-100 sampai +100) : warna kuning 3. a*... 2004) Dua ratus gram minyak goreng dimasukkan ke dalam kuvet.(3. kemudian color reader dihidupkan. setelah itu ditambahkan 2 ml indikator pp.…………….5.5 Analisis Warna dengan Color Reader (Room. 1990) Ditimbang sebesar 14 gram minyak goreng dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml. lalu ditambahkan 25 ml etanol 95 % dan dipanaskan pada suhu 40 oC.1) berat sampel x 1000 Keterangan: % FFA ml NaOH M NaOH BM : Kadar asam lemak bebas : Volume titran NaOH : Molaritas larutan NaOH (mol/L) : Berat molekul asam lemak merek bimoli (asam lemak palmitat) 256 g/mol .61 3.5. setelah itu tentukan harga L*. Dihitung asam lemak bebas (%FFA) dengan rumus di bawah ini: % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 .6 Penentuan Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid) (AOAC.

8...8 Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor dan bentonit 3.5 ml larutan pati 1 % dan dititrasi kembali sampai warna biru mulai hilang. asam lemak bebas.. 3.62 3. 1990) Ditimbang sebanyak 5 gram minyak goreng dan dimasukkan ke dalam 250 mL erlenmeyer kemudian ditambahkan 30 ml larutan asam asetat-kloroform (3 : 2).7.. Kemudian dilakukan analisa warna..5 ml larutan jenuh KI dengan erlenmeyer dibuat tertutup.5.5. lalu dialirkan minyak goreng bekas sebanyak 50 ml.5.5 .5.5. angka peroksida seperti pada sub bab 3....2) beratsampel ( g ) 3..2 Adsorpsi menggunakan bentonit Serbuk bentonit yang teraktivasi ditimbang sebanyak 2 gram kemudian dimasukkan ke dalam kolom berdiameter 2cm yang telah diberi glass wool.5.01 N Na2S2O3 sampai warna kuning hampir hilang.8. lalu . Didiamkan selama 1 menit sambil digoyang.. ditambahkan 0.5.. dikocok sampai bahan terlarut semua..1 Adsorpsi menggunakan biji kelor Serbuk karbon aktif biji kelor ditimbang sebanyak 2 gram kemudian dimasukkan ke dalam kolom berdiameter 2 cm yang telah diberi glass wool. 3.(3. Campuran dititrasi dengan 0..7 Penentuan Angka Peroksida (AOAC. Angka peroksida  ml Na 2 SO3 x N thio x 1000 . selanjutnya ditambahkan 0.. Dihitung angka peroksida yang dinyatakan dalam mili-equivalen dari peroksida dalam setiap 1000 g sampel...6 dan 3. setelah itu ditambahkan 30 ml aquades.

Kemudian dilakukan analisa warna. Kemudian ditutup dengan glass wool.5 . lalu ditambahkan 1 gram sebuk bentonit pada lapisan diatasnya dan ditutup dengan glass wool pada bagian atas kolom.63 dialirkan minyak goreng bekas 50 ml.5. asam lemak bebas. 3. Kemudian dilakukan analisa warna. angka peroksida seperti pada sub bab 3.5.5.6 dan 3.6 dan 3.7.3 Adsorpsi menggunakan campuran karbon aktif biji kelor dan bentonit Dimasukkan glass wool pada ujung kolom.5. 3.5.7. selanjutnya sebanyak 1 gram serbuk karbon aktif biji kelor dimasukkan.5. asam lemak bebas. Minyak goreng bekas 50 ml dialirkan melewati kolom.8. . angka peroksida seperti pada sub bab 3.5. 3.5 .

Adsorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah karbon aktif biji kelor. Sehingga minyak goreng bekas tersebut dapat dimanfaatkan kembali dengan mengurangi kadar pengotor dan kadar asam lemak bebasnya (FFA). preparasi bentonit.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas minyak goreng bekas dengan metode adsorpsi menggunakan beberapa jenis adsorben dan mempelajari pengaruh jenis adsorben terhadap kualitas minyak goreng bekas. Pada penelitian ini hanya digunakan dua tahap. dan angka peroksida. proses karbonisasi dan proses aktivasi.1 Pembuatan Karbon Aktif dari Biji Kelor Penelitian ini diawali dengan pembuatan karbon aktif dari biji kelor yang berfungsi sebagai adsorben untuk menjernihkan minyak goreng bekas. bentonit teraktivasi dan campuran karbon aktif biji kelor dengan bentonit teraktivasi. 64 . pemurnian minyak goreng bekas. 4. Pembuatan karbon aktif umumnya berlangsung tiga tahap. Penelitian ini meliputi: pembuatan karbon aktif dari biji kelor. yaitu: proses dehidrasi. kadar asam lemak bebas (FFA). yakni karbonisasi dan aktivasi karena pada proses dehidrasi dilakukan satu tahap dengan proses karbonisasi. sehingga dapat diketahui adsorben yang relatif efektif untuk memperbaiki kualitas minyak goreng bekas tersebut.

Mulai dari suhu kamar sampai pada suhu yang dicapai (600 o C) kurang lebih 3 jam. proses pembuatan arang akan terjadi proses dehidrasi pada suhu 105 oC-170 oC. Pada tahapan proses karbonisasi ini pemakaian suhu dilakukan secara lambat dan bertahap. Tujuan utama dari proses karbonisasi ini adalah untuk menghasilkan butiran arang dari biji kelor yang diharapkan mempunyai daya serap dan struktur yang rapi sehingga memiliki keteraturan luas permukaan yang sama.65 4. Pada pembuatan karbon aktif biji kelor ini juga terjadi proses dehidrasi pada suhu 105 o C-170 oC yakni air yang terkandung dalam biji kelor keluar menjadi uap air. Pada suhu 170 oC – 275 oC biji kelor secara . Pertama. berwarna coklat tua dan keras.600 oC. dilakukan penstabilan suhu tanur berlangsung kurang lebih selama 1 jam dimulai dari suhu 30 oC . sehingga biji kelor yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi karena adanya reaksi dengan oksigen dari udara.1.1 Proses Karbonisasi Biji Kelor Biji kelor yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji kelor yang telah tua dan kering di pohon. Biji kelor tersebut ditumbuk kasar agar kematangannya dapat merata pada waktu proses karbonisasi lalu dibungkus dengan alumunium foil serapat mungkin agar tidak terjadi kebocoran udara didalam tempat pemanasan ketika proses pemanasan berlangsung. Secara umum. Pada proses karbonisasi (pengarangan) biji kelor ini terjadi suatu proses pirolisis atau dekomposisi bahan-bahan organik dalam biji kelor melalui proses pembakaran tidak sempurna (tanpa adanya oksigen). sehingga biji kelor menjadi kering.

66 perlahan-lahan menjadi arang dan unsur-unsur bukan karbon dikeluarkan (diuapkan) dalam bentuk gas seperti CO2. metanol dan hasil samping lainnya. sementara pembentukan tar masih terus berlangsung. H2 dan lain sebagainya. sehingga menyebabkan kapasitas adsorpsi juga rendah. Pada suhu 275 oC-500 oC terjadi dekomposisi selulosa yang menghasilkan tar. Tahap karbonisasi ini. Daya adsorpsi tersebut dapat diperbesar dengan cara perbaikan struktur pori melalui proses aktivasi. Pada suhu 500 oC terjadi proses pembentukan arang lebih sempurna. CO.2 Proses Aktivasi Biji Kelor Arang biji kelor yang akan diaktivasi ditumbuk terlebih dahulu sampai berbentuk serbuk. Kemudian serbuk arang biji kelor dicuci dengan air panas untuk menghilangkan mineral-mineral pengotor yang kemungkinan masih terikat atau menutupi pori-pori arang biji kelor. akan menghasilkan karbon biji kelor yang mempunyai daya adsorpsi yang rendah. yang bertujuan untuk membuka pori-pori biji kelor. dan dikeringkan dengan oven pada suhu 110 oC selama 2 jam. 4.1. sehingga semakin banyak permukaan karbon yang kontak dengan aktifator. Kedua. Hal ini menunjukkan bahwa biji kelor sudah berubah menjadi karbon (arang). Biji kelor yang dihasilkan pada proses karbonisasi berwarna hitam. proses pengarangan biji kelor dilakukan pada suhu yang sama yaitu 600 oC yang berlangsung konstan selama 2 jam agar terjadi pemanasan yang merata. . Pada proses ini diperoleh serbuk arang biji kelor yang kering menggumpal.

yakni dilakukan pengayakan dengan ukuran 100 .67 Pada penelitian ini. Serbuk dan butiran ini mempunyai variasi berbagai ukuran. endapan hidrokarbon pengotor yang dihasilkan pada proses karbonisasi serta mengembangkan struktur rongga yang ada pada karbon. . Pada penelitian Hermansyah (2003) disebutkan bahwa penyerapan terbaik terhadap karoten pada minyak sawit kasar menggunakan adsorben arang tulang terjadi pada ukuran butir adsorben 180 s/d 250 mikron (100-120 mesh). yaitu lolos pada ukuran 100 mesh dan tertahan pada ukuran 120 mesh. Unsur-unsur dari persenyawaan NaCl yang ditambahkan akan meresap ke dalam arang dan membuka permukaan yang mula-mula tertutup oleh komponen kimia yang lain. Luas permukaan yang besar ini akan mempengaruhi hasil adsorpsi yang didapatkan. Karbon aktif yang dihasilkan kemudian dikeringkan dalam oven 110 oC selama 2 jam untuk menguapkan air yang terikat dalam pori-pori karbon. sehingga permukaan pori karbon aktif biji kelor yang dihasilkan memiliki luas permukaan adsorpsi yang besar. untuk mendapatkan proses penyerapan yang seragam maka perlu dilakukan proses penyeragaman ukuran butir adsorben. kemudian ditumbuk sampai halus untuk memperbesar luas permukaan karbon sehingga mampu menyerap lebih banyak. proses aktivasi dilakukan secara kimia dengan cara merendam serbuk arang biji kelor dengan larutan NaCl 30% selama 24 jam. Garam ini berfungsi sebagai dehidrating agent dan membantu menggantikan tar.120 mesh.

Jika dibiarkan akan diisi oleh molekul air yang berasal dari uap air.2 Preparasi Bentonit Lempung alam bentonit yang sudah tersedia dalam bentuk powder. 2007) sehingga luas permukaannya semakin besar. dan ruang kosong menjadi lebih besar. Bentonit memiliki daya mengembang yang sangat tinggi. Sedimen hasil dispersi dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring.68 4. Sedimen yang didapatkan dicuci dengan akuades dan dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C selama 4 jam untuk menghilangkan air yang masih terperangkap dalam pori-pori. Bentonit tersebut kemudian dijenuhkan dengan NaCl jenuh selama 24 jam proses pengadukan. Bentonit ini memiliki kelemahan apabila dipanaskan pada temperatur lebih dari 200°C maka akan mengalami kerusakan. sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu dengan akuades dengan perendaman selama 24 jam. Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan diayak dengan pengayak 100 mesh untuk menyeragamkan ukuran butir pada bentonit sehingga pada proses adsorpsi yang berlangsung lebih efisien dan teratur. dan tetap terdispersi beberapa waktu di dalam air (Andini. yaitu hingga delapan kali bila dicelupkan ke dalam air. Karena suspensi lempung bentonit terbentuk melalui proses mengembangnya lempung di dalam air dan akan terdistribusi secara merata yang akan mempermudah .80 C untuk memperbesar luas permukaan bentonit karena berkurangnya pengotor anorganik yang menutupi pori-pori bentonit sehingga pori-porinya lebih terbuka. Bentonit tersebut didispersikan ke dalam larutan natrium klorida (NaCl) 1 M dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer selama 24 jam serta dipanaskan pada temperatur 70 C .

Sedimen dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring. Proses kimia yang terlibat adalah pertukaran ion yang digambarkan sebagai kompetisi antara ion-ion tersebut dengan kation terhidrat yang berada pada antarlapis lempung bentonit.karena ion Cl. Sedimen yang didapatkan dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C selama 4 jam. Perubahan kimiawi itu dapat menyebabkan penurunan kualitas minyak. Selektivitas semakin tinggi. Untuk menguapkan air yang masih terjebak dalam pori-pori. Selektivitas pertukaran ion Na+ akan lebih besar sebab konsentrasinya dalam larutan lebih banyak dan muatannya lebih besar dibandingkan kation terhidrat yang akan dipertukarkan. telah mengalami perubahan secara kimiawi baik selama proses penyimpanan. Sedimen yang didapatkan dicuci dengan akuades. 4.69 terjadinya pertukaran kation terhidrat pada antarlapis lempung seperti Na + dari larutan NaCl.3 Pemurnian Minyak Goreng Bekas Minyak goreng yang telah digunakan menggoreng berulang kali. lalu diuji dengan larutan AgNO 3 sampai tidak terbentuk endapan AgCl yaitu tidak adanya endapan putih yang menunjukkan sedimen telah bebas ion Cl. Bentonit yang sudah kering kemudian dihaluskan dan diayak dengan pengayak ukuran 100 mesh untuk menyeragamkan ukuran butir adsorben bentonit sehingga pada proses adsorpsi didapatkan proses penyerapan yang seragam.dapat mengganggu pembentukan mikroporositas. seperti perubahan warna menjadi lebih . pemanasan atau adanya kontak dengan cahaya. untuk kation bermuatan lebih besar.

garam. Kotoran-kotoran partikel halus tersuspensi seperti bumbu rempahrempah dalam minyak goreng bekas akan larut dalam air dan ikut mengendap di atas permukaan air.3. karena berat jenis air lebih besar dari berat jenis minyak. dengan warna minyak yang semula gelap atau kehitaman menjadi berwarna kuning kecoklatan. Proses regenerasi minyak goreng bekas pada penelitian ini dilakukan 3 tahapan. Proses despicing ini bertujuan untuk memisahkan bahan-bahan lain. Minyak yang didapatkan disaring untuk memisahkan kotoran yang tersisa. yaitu lapisan paling atas adalah minyak dan lapisan bawah adalah air. keruh. Komposisi minyak dan air kemudian diendapkan dan dipisahkan dengan corong pisah. lebih kental. terdapat dua lapisan pada proses despicing ini. 4. terlebih dahulu dilakukan proses penghilangan bumbu (despicing). meningkatnya bilangan peroksida. muncul bau yang tidak sedap (tengik). gula dan bumbu rempah-rempah yang tertinggal dalam minyak goreng bekas ketika proses . Perlakuannya adalah dengan memanaskan minyak goreng bekas yang telah ditambah dengan air dengan komposisi yang sama yaitu (1:1) pada suhu 110 oC hingga air tinggal setengahnya.70 gelap. karbohidrat. netralisasi dan pemucatan (bleaching) melalui kolom berisi adsorben. asam lemak bebas dan menyebabkan rasa yang tidak lezat. sehingga pada proses ini diperoleh minyak yang bebas bumbu.1 Proses Despicing Pemurnian minyak goreng bekas pemakaian selama 8 jam ini. partikel halus tersuspensi seperti protein. yaitu: proses pemisahan bumbu (despicing).

71 pemakaian berlangsung.037 0. Warna gelap pada minyak goreng bekas pemakaian.1 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru. Sehingga bisa diperoleh suatu perbaikan warna atau kejernihan dari minyak goreng bekas. Pada proses despicing ini terjadi perubahan warna dari hitam karena memang masih mengandung bumbu-bumbu atau pengotor yang lain sampai berwarna kuning kecoklatan. seperti suhu pemanasan yang terlalu tinggi.32 4. dan oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak. disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E).3 0.211 bebas (%) Angka Peroksida Maks 2 1.00 (meq/kg) Penurunan asam lemak bebas pada proses despicing ini disebabkan karena reaksi hidrolisis minyak dengan air. Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan. yang disebabkan oleh beberapa faktor. Senyawa peroksida R.58 4. minyak goreng bekas dan minyak hasil despicing Analisa Standar Minyak Baru Minyak Bekas Despicing Asam lemak Maks. hal ini dikarenakan asam lemak bebas yang memiliki gugus karbonil dan gugus hidroksil yang bersifat polar akan larut dalam air dan bersamaan dengan air menguap pada proses pemanasan serta ikut terpisahkan pada proses pemisahan minyak dengan air. Tabel 4. 0.448 0. dan memiliki rantai asam lemak oleat yang merupakan rantai karbon panjang yang lebih bersifat .COO˚ dalam minyak goreng bekas ini memiliki gugus karbonil RC=O dan radikal O˚ yang lebih bersifat polar.

karena beda kepolaran minyak dan air (tidak bisa larut) sehingga komponen polar yang ada dalam minyak bekas seperti protein. Asam lemak bebas dapat dikurangi dengan proses netralisasi.1 Reaksi Asam Lemak Bebas dengan NaOH . Ketika minyak goreng dan air dipanaskan ada sebagian ikatan pada rantai karbon panjang yang putus sehingga memiliki rantai karbon pendek. Pada proses netralisasi ini terjadi pemisahan asam lemak bebas dalam minyak dengan cara direaksikan dengan NaOH sehingga membentuk sabun yang lebih larut dalam air.COO˚ ini akan lebih mudah larut dalam air panas dibanding dalam minyak. Air bersifat polar. serta bumbu rempah-rempah yang berada dalam minyak larut dalam air.3. sementara minyak bersifat non polar. gula.72 nonpolar. karbohidrat.3 % berbahaya bagi kesehatan bila dikonsumsi. sehingga setelah melalui tahapan despicing angka peroksida minyak goreng bekas mengalami penurunan. 4. Kotoran dalam minyak seperti FFA terperangkap pada sabun sehingga mudah memisahkan FFA dalam minyak yang bersifat nonpolar.2 Proses Netralisasi Asam lemak bebas (FFA) dalam minyak goreng dengan kandungan lebih dari 0. Rantai karbon pendek R. garam. Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut : O O CH3(CH2)7CH CH(CH2)7 C OH + NaOH CH3(CH2)7CH CH(CH2)7 C ONa + H2O asam lemak bebas basa sabun air Gambar 4.

RCO2-. Basa NaOH dalam larutan akan terionisasi menjadi ion Na + dan ion OH-. Gugus karboksil mengandung sebuah gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil.+ H2O + Na Asam lemak bebas O OO- ONa O R C R C + H2O + Na+ R C O + H2O Stabilisasi resonansi Garam karboksilat air Gambar 4. Asam karboksilat merupakan suatu senyawa organik yang mengandung gugus karboksil (-CO2H).3 Mekanisme reaksi asam lemak bebas dengan NaOH Suatu asam karboksilat bila bereaksi dengan suatu basa akan menghasilkan garam.2 Stabilisasi resonansi asam karboksilat Mekanisme reaksi di atas disajikan pada gambar 4. Asam karboksilat lebih bersifat asam karena memiliki kemampuan stabilisasiresonansi anion karboksilatnya.73 Asam lemak bebas termasuk asam karboksilat. sedangkan H+ pada gugus hidroksil lepas dan bereaksi dengan (OH) membentuk .3 berikut ini : O O + OH R C O H Na R C + O. O O O R C O R C Gambar 4.

Gugus anion (C-O) menyumbang elektron ke Na+ sehingga menghasilkan garam karboksilat (sabun). Butiran-butiran tersebut merupakan sabun. dan sabun ini akan tampak jelas pada saat penyaringan dengan berbentuk busa.74 (H2O). Asam karboksilat mempunyai sifat yang lebih asam karena memiliki kemampuan stabilisasi resonansi anion. 2 1.58 3.448 0. Kotoran dalam minyak seperti FFA dan peroksida tersebut terperangkap pada sabun sehingga mudah dipisahkan dari minyak yang bersifat nonpolar.037 0. Tahapan terakhir pada proses pemurnian adalah proses pemucatan (bleaching). 0. .148 bebas (%) Angka Peroksida Maks. minyak goreng bekas dan minyak hasil netralisasi Analisa Standar Minyak Baru Minyak Bekas Netralisasi Asam lemak Maks. Oleh karena itu. Tabel 4. saat minyak goreng hasil despicing dicampurkan dengan larutan NaOH 16 % yang dipercepat dengan pemanasan dan pengadukan. Minyak netral yang dihasilkan berwarna orange jernih dan bersih.3 0. Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran seperti fofsatida dan protein dengan cara membentuk emulsi.32 4.2 Hasil analisa FFA dan peroksida pada minyak goreng baru. Campuran tersebut membentuk suatu butiran kecil-kecil dan warnanya berubah dari coklat menjadi orange tua.96 (meq/kg) Penurunan asam lemak bebas dan angka peroksida pada proses netralisasi ini disebabkan karena reaksi asam lemak bebas dengan larutan NaOH membentuk sabun.

Hasil yang diperoleh minyak sebanyak 47 ml dan berwarna kuning muda jernih.3 Proses Bleaching Pada proses bleaching ini terjadi proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna yang tidak disukai dengan menggunakan adsorben. Adsorben yang digunakan pada penelitian ini ada 3 jenis yaitu karbon aktif biji kelor.3. Pada proses bleaching yang pertama ini proses adsorpsi dilakukan dengan metode kolom terhadap FFA. suspense koloid (gum dan resin) serta hasil degradasi minyak.75 Proses netralisasi ini menyumbang besar terhadap penurunan asam lemak bebas pada minyak. Ketika minyak sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam kolom minyak mengalir dengan cepat pada adsorben bentonit teraktivasi . 4. Pada penelitian ini proses adsorpsi dilakukan dengan metode kolom. misalnya peroksida dan asam lemak bebas akan diserap oleh permukaan adsorben ketika minyak dilewatkan melalui adsorben dalam kolom. bentonit teraktivasi dan campuran dari keduanya. Pada proses bleaching yang kedua ini proses adsorpsi dilakukan dengan metode kolom terhadap FFA. Ketika minyak sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam kolom minyak merambat sangat pelan pada adsorben karbon aktif biji kelor dengan tingi 1 cm. Minyak merambat setahap demi setahap ketika melalui serbuk karbon aktif biji kelor. Zat warna dalam minyak. angka peroksida dan warna oleh adsorben bentonit teraktivasi sebanyak 2 gram. angka peroksida dan warna oleh karbon aktif biji kelor sebanyak 2 gram.

76

dengan tingi 1 cm. Minyak merambat dengan cepat ketika melalui serbuk bentonit teraktivasi. Hasil yang diperoleh minyak sebanyak 50 ml dan berwarna kuning jernih. Pada proses bleaching yang ketiga ini proses adsorpsi dilakukan dengan metode kolom terhadap FFA, angka peroksida dan warna oleh adsorben campuran, yaitu bentonit teraktivasi sebanyak 1 gram dan karbon aktif biji kelor sebanyak 1 gram yang dipisahkan oleh glasswool. Ketika minyak sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam kolom minyak merambat dengan cepat melalui serbuk bentonit teraktivasi setinggi 0,5 cm lalu minyak merambat dengan pelan ketika melalui serbuk karbon aktif biji kelor dengan tingi 0,5 cm. Hasil yang diperoleh minyak sebanyak 50 ml dan berwarna kuning jernih. Parameter kualitas minyak goreng dalam penelitian ini adalah kadar asam lemak bebas (FFA), angka peroksida dan warna. Hasil analisa angka peroksida dan FFA minyak goreng dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Data hasil percobaan uji pengaruh jenis adsorben terhadap kualitas minyak goreng Peroksida No Perlakuan/jenis adsorben FFA (%) (meq/kg) 1 SNI minyak goreng Maks. 0,3 Maks. 2,0 2 Minyak goreng baru 0,037 1,32 3 Sebelum adsorpsi 3a minyak goreng bekas 0,448 4,58 3b minyak goreng despicing 0,211 4,00 3c minyak goreng netralisasi 0,148 3,96 4 Sesudah adsorpsi dengan 4a karbon aktif biji kelor 0,141 2,49 4b bentonit teraktivasi 0,145 2,39 4c campuran karbon kelor dan 0,142 2,37 bentonit

77

Data di atas menunjukkan bahwa minyak goreng hasil reprossesing telah mengalami peningkatan kualitas. Meningkatnya kualitas minyak tersebut, salah satunya dikarenakan adsorben yang diinteraksikan dengan minyak goreng bekas mampu mengadsorpsi zat warna dan bau yang tidak dikehendaki serta mengurangi jumlah peroksida dan asam lemak bebas. Angka peroksida dan asam lemak bebas (FFA) dari minyak hasil despicing mengalami penurunan sebesar 13 % dan 53 % hasil netralisasi telah mengalami penurunan yang sangat banyak, dimana angka peroksida semula pada minyak goreng bekas 4,58 meq/kg menjadi 3,96 meq/kg, sedangkan standar angka peroksida pada minyak goreng adalah 2 meq/kg. Sementara untuk jumlah asam lemak bebas yang semula pada minyak goreng bekas 0,448 % menjadi 0,148 % pada minyak hasil netralisasi.

4.4 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) Asam lemak bebas dapat mempengaruhi cita rasa dan bau dari minyak goreng. Asam lemak bebas dengan kadar lebih dari 0,2 % dari berat minyak mengakibatkan rasa tidak lezat, flavor yang tidak disukai dan meracuni tubuh. Pengaruh dan perubahan kadar FFA dalam minyak goreng bekas pemakaian 8 jam dengan perlakuan menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor, bentonit teraktivasi, campuran karbon kelor dan bentonit dapat dilihat pada gambar 4.4 di bawah ini :

78

Analisa Asam Lemak Bebas (% )
(%) FFA
0.50 0.45 0.40 0.35 0.30 0.25 0.20 0.15 0.10 0.05 0.00
0.448 0.300 0.211 0.148 0.141 0.145 0.142 0.037
Minyak bekas Despicing Netralisasi adsorben adsorben adsorben karbon bentonit campuran aktif biji teraktivasi kelor Minyak baru SNI minyak goreng

Gambar 4.4 Pengaruh perlakuan terhadap kadar FFA

Analisa asam lemak bebas minyak goreng baru, bekas, despicing, netralisasi dan bleaching dilakukan dengan metode titrasi asam basa. Asam lemak bebas dalam minyak dapat diketahui jumlahnya dengan dengan cara melarutkan asam lemak bebas dalam minyak dengan etanol. Sejumlah minyak yang bersifat nonpolar dilarutkan dalam etanol, kemudian dipanaskan agar larut sempurna sehingga asam lemak bebas yang bersifat nonpolar dalam minyak juga ikut terlarut dengan etanol yang lebih larut dengan air. Kemudian ditambahkan

indikator pp yang tidak menunjukkan warna dalam larutan dengan pH netral, dan dititrasi dengan NaOH yang bersifat polar sampai terbentuk warna merah jambu yang tidak hilang selama 30 detik. Terbentuknya warna merah jambu setelah dititrasi dengan sejumlah NaOH menunjukkan NaOH telah bereaksi sempurna dengan asam lemak bebas.

Adsorben karbon aktif biji kelor dapat menurunkan kadar FFA dalam minyak goreng hasil netralisasi karena karbon aktif biji kelor mempunyai kemampuan sebagai adsorben. Sifat kimia permukaan karbon aktif dipandang sangat penting selain struktur pori. Sedangkan hasil analisa pada minyak baru mengandung FFA 0. baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. seperti terlihat pada Gambar 4. karena menentukan sifat adsorpsi Proses adsorpsi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji kelor dengan asam lemak bebas.037 %.4 Kadar FFA turun dari 0. karena itu .5 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor Minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben dalam kolom mengalami penurunan kadar FFA dalam minyak. 1982). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan. adanya situs-situs aktif dalam karbon. seperti struktur kimia permukaan.148 % menjadi 0. Interaksi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor dalam penelitian ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikelpartikel adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der walls atau ikatan hidrogen. susunan pori-pori dan luas permukaan adsorpsi yang terbentuk selama proses aktivasi.79 4. yakni melibatkan gaya antarmolekuler. Daya adsorpsi karbon aktif biji kelor tersebut.4. dikarenakan karbon mempunyai pori-pori dalam jumlah besar.141 % setelah diinteraksikan dengan adsorben karbon aktif biji kelor dengan metode kolom.

sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible.5 di bawah ini : . Proses adsorpsi kimia. yang ditunjukkan pada gambar 4. Asam lemak bebas merupakan molekul nonpolar. Molekul nonpolar (karbon aktif) terdiri dari inti atom dan elektron. Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak diakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia anatara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. Namun demikian adsorpsi secara kimia juga dapat terjadi antara senyawa asam lemak bebas dengan gugus aktif yang dimiliki oleh karbon aktif biji kelor. elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom.80 sifat adsorpsinya adalah reversible. 1982). interaksi antara adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat. dan karbon aktif biji kelor juga termasuk nonpolar. karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan. sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya London (molekul nonpolar dengan nonpolar). elektron tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron. yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. yang menyebabkan pusat muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat.

Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (Asam lemak bebas) maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga terjadi dipol induksian. yang ditunjukkan pada gambar 4.5 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian timbul kembali.81 Polarisasi awan elektron molekul nonpolar tanpa dipol ± karbon aktif + - karbon aktif Gambar 4. kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya elektrostatik.6 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor . Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus dan bergantian.6 di bawah ini : Induksian molekul dengan dipol sesaat + - ± molekul tanpa dipol karbon aktif molekul dengan dipol sesaat Asam lemak bebas molekul dengan dipol induksian + - + - karbon aktif Asam lemak bebas Terjadi gaya tarik elektrostatik Gambar 4.

Potensi pengembangan dan pengerutan yang tinggi menyebabkan mineral ini dapat menerima dan menyerap ion-ion serta senyawa organik (Tan.145 %. Pada daerah antar ruang terdapat kation-kation (K+. Na+ dan Ca2+ ) yang dapat digantikan dengan kation lain.6 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Bentonit Teraktivasi Gambar 4. Ukuran pori-pori yang molekuler tersebut merupakan sifat unik dari .148 %.4. Ujung tetrahedral masing-masing bertemu dengan satu gugus hidroksil. Lembaran-lembaran ini diikat oleh atom oksigen. Antara lapisan silika dan alumina dihubungkan oleh pengikatan oksigen yang sangat lemah sehingga mudah mengembang maka kation dan air mudah bergerak bebas diantara kisi kristal. Asam lemak bebas pada minyak hasil interaksi dengan bentonit teraktivasi ini mengalami penurunan sebesar 2 % dari minyak hasil netralisasi yang semula memiliki asam lemak bebas sebesar 0. 1991). Bentonit sebagai adsorben berkemampuan menyerap sejumlah molekul yang berukuran lebih kecil dari pori-porinya dan mempunyai bentuk geometri yang tepat. Adsorben bentonit teraktivasi dapat menurunkan kadar FFA dalam minyak goreng hasil netralisasi karena bentonit teraktivasi mempunyai kemampuan sebagai adsorben.82 4.4 menunjukkan bahwa asam lemak bebas minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben bentonit teraktivasi sebesar 0. Bentonit merupakan mineral lempung yang tersusun atas senyawa alumina silikat berstruktur lapis dengan tipe 2:1 yang terdiri dari dua lembar silika bermuatan negatif yang terbentuk tetrahedral dengan lapisan tengah berupa alumina oktahedral.

2002).4.7 Perubahan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA) setelah berinteraksi dengan Adsorben Campuran Gambar 4. 1982). Bentonit memiliki kemampuan mengembang. interaksi antara adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). Asam lemak bebas pada minyak hasil interaksi dengan adsorben campuran ini . Adsorpsi fisika melibatkan gaya antarmolekuler (gaya Van der Walls atau melaui ikatan hidrogen). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible. 1982). baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat. sifat menyerap dan berikatan dengan anion-anion serta kation-kation dan luas permukaan yang besar. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan.83 bentonit. 4. Proses adsorpsi kimia. sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible. Ukuran serbuk yang biasanya digunakan adalah kurang dari 200 mesh (Hemzacek-Laukant. Proses adsorpsi antara asam lemak bebas dengan bentonit teraktivasi dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan bentonit dengan asam lemak bebas.142 %. yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan.4 menunjukkan bahwa asam lemak bebas minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben campuran sebesar 0.

4. kemudian FFA yang tersisa dalam minyak melewati lapisan kedua yaitu 1 gram karbon aktif biji kelor. sehingga proses penyerapan FFA tidak berlangsung dengan baik. Selain itu karena adsorben karbon aktif biji kelor memiliki struktur rongga yang terbuka sehingga lebih mudah mengadsorpsi FFA daripada adsorben bentonit yang memiliki stuktur berlapis. Proses penyerapan asam lemak bebas dalam minyak hasil netralisasi menggunakan adsorben campuran ini terjadi dua kali. Kedua adsorben ini memiliki perbedaan struktur mineral dimana bentonit berstruktur layer sedangkan karbon aktif biji kelor berstruktur non layer. adsorben yang dapat menurunkan kandungan asam lemak bebas paling banyak adalah karbon aktif biji kelor.141 % sedangkan untuk adsorben bentonit teraktivasi dan adsorben campuran juga dapat menurunkan kandungan asam lemak bebas tetapi penurunannya dalam . yaitu yang pertama FFA dalam minyak terserap oleh bentonit teraktivasi kemudian sisa FFA dalam minyak terserap dalam karbon aktif biji kelor.148 %.4.yaitu sebesar 0.8 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan asam lemak bebas Berdasarkan hasil penelitian. Pada proses penyerapan menggunakan adsorben campuran ini tidak dapat memberikan penurunan kadar FFA yang terbaik dimungkinkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara jumlah molekul FFA dalam 50 ml minyak dengan adsorben pada lapisan pertama yaitu 1 gram bentonit teraktivasi.84 mengalami penurunan sebesar 4 % dari minyak hasil netralisasi yang semula memiliki asam lemak bebas sebesar 0.

yakni melibatkan gaya antarmolekuler. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan. Reaksi ini akan mengakibatkan ketengikan hidrolisa yang menghasilkan flavor dan bau tengik pada minyak. baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. karena menentukan sifat adsorpsi Proses adsorpsi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji kelor dengan asam lemak bebas. yaitu sebesar 0. yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali . Asam lemak bebas (FFA) merupakan produk dari reaksi hidrolisis trigliserida dan reaksi dekomposisi hidroperoksida. seperti struktur kimia permukaan.85 jumlah yang lebih kecil dibanding dengan karbon aktif biji kelor. Sifat kimia permukaan karbon aktif dipandang sangat penting selain struktur pori.145 % dan 0. Interaksi antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor dalam penelitian ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikelpartikel adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der walls atau ikatan hidrogen.142 %. 1982). adanya situs-situs aktif dalam karbon. dikarenakan karbon mempunyai pori-pori dalam jumlah besar. karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible. Sehingga kadar FFA dalam minyak sering digunakan sebagai salah satu indikator kerusakan minyak goreng bekas. Kemampuan karbon aktif biji kelor sebagai adsorben tersebut. susunan pori-pori dan luas permukaan adsorpsi yang terbentuk selama proses aktivasi.

yang menyebabkan pusat muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat. Namun demikian adsorpsi secara kimia juga dapat terjadi antara senyawa asam lemak bebas dengan gugus aktif yang dimiliki oleh karbon aktif biji kelor. yang ditunjukkan pada gambar 4. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak diakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia anatara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor.86 dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. dan karbon aktif biji kelor juga termasuk nonpolar. Proses adsorpsi kimia. Asam lemak bebas merupakan molekul nonpolar. 1982). sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible. Molekul nonpolar (karbon aktif) terdiri dari inti atom dan elektron. elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom. interaksi antara adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya London (molekul nonpolar dengan nonpolar).7 di bawah ini : . karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan. elektron tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron.

yang ditunjukkan pada gambar 4. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (Asam lemak bebas) maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga terjadi dipol induksian.7 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian timbul kembali.87 Polarisasi awan elektron molekul nonpolar tanpa dipol ± karbon aktif + - karbon aktif Gambar 4. kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya elektrostatik.8 Terjadinya gaya London antara asam lemak bebas dengan karbon aktif biji kelor . Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus dan bergantian.8 di bawah ini : Induksian molekul dengan dipol sesaat + - ± molekul tanpa dipol karbon aktif molekul dengan dipol sesaat Asam lemak bebas molekul dengan dipol induksian + - + - karbon aktif Asam lemak bebas Terjadi gaya tarik elektrostatik Gambar 4.

88

Proses adsorpsi asam lemak bebas pada proses bleaching dilakukan dengan metode kolom, yang kemungkinan dapat memberikan waktu kontak yang lebih lama antara adsorben dengan minyak goreng, sehingga proses adsorpsi dapat dilakukan lebih maksimal. Proses adsorpsi asam lemak bebas (FFA) dalam minyak goreng hasil netralisasi menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor mampu menyerap FFA dalam jumlah yang lebih banyak daripada adsorben bentonit teraktivasi dan adsorben campuran. Perbedaanya dengan adsorben bentonit dan adsorben campuran adalah waktu yang dibutuhkan adsorben karbon aktif biji kelor pada saat proses adsorpsi berlangsung jauh lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan adsorben bentonit teraktivasi. Waktu yang dibutuhkan 50 ml minyak goreng hasil netralisasi untuk melewati adsorben karbon aktif biji kelor pada saat proses adsorpsi berlangsung yaitu 3 jam, sedangkan waktu yang dibutuhkan 50 ml minyak goreng hasil netralisasi untuk melewati adsorben bentonit teraktivasi yaitu 45 menit. Minyak goreng tersebut lebih lama tertahan di dalam kolom dengan menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor, minyak merambat perlahan melalui serbuk-serbuk karbon biji kelor karena ukuran pori karbon aktif biji kelor (yaitu 2.10-7 mikrometer) lebih kecil dari ukuran pori bentonit yaitu 4.10-7 mikrometer (Sembiring, 2003 dan Tan, 1982). Dari hasil penelitian tersebut, minyak goreng hasil netralisasi yang dijernihkan dengan adsorben karbon aktif biji kelor mampu mengurangi kadar asam lemak bebas sehingga kualitas minyak goreng bekas menjadi lebih baik dan aman dikonsumsi kembali dan sesuai dengan standar SNI yaitu maksimal 0,3 %.

89

4.5 Perubahan Angka Peroksida Reaksi oksidasi pada minyak mula-mula akan membentuk peroksida dan hidroperoksida, yang selanjutnya akan terkonversi menjadi aldehida, keton dan asam-asam lemak bebas. Randicity (ketengikan) terbentuk oleh adanya aldehida, bukan terbentuk oleh adanya peroksida. Jadi kenaikan angka peroksida (PV) hanya indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik. Senyawa hasil reaksi oksidasi juga dapat memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan. Sehingga kenaikan angka peroksida dapat digunakan sebagai indikator kerusakan minyak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida merupakan produk awal dari reaksi oksidasi yang bersifat labil, reaksi ini dapat berlangsung bila terjadi kontak antara oksigen dengan minyak Reaksi pembentukan peroksida pada minyak diakibatkan oleh reaksi oksidasi oleh oksigen dengan sejumlah asam lemak tidak jenuh, dalam hal ini adalah asam lemak oleat yang terkandung sebanyak 39-45 % pada minyak kelapa sawit, reaksi ini dipercepat oleh pemanasan :

90

O H3C (CH2)7 CH CH (CH2)7 C OH O O

Asam oleat

O H3C (CH2)7 CH H C (CH2)7 C OH O O Meloksida

O H3C (CH2)7 CH O H C O (CH2)7 C OH

Peroksida

Gambar 4.9 Reaksi Pembentukan Peroksida Pada Asam Lemak Oleat

Oksidasi terjadi pada ikatan tidak jenuh yaitu asam lemak oleat pada minyak goreng, karena pada asam lemak oleat memiliki ikatan rangkap yang bersifat reaktif. Asam lemak pada umumnya bersifat semakin reaktif terhadap oksigen dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap pada rantai molekul, sebagai contoh, asam lemak linoleat akan teroksidasi lebih mudah oleh oksigen daripada asam lemak oleat pada kondisi yang sama, pada suhu kamar sampai dengan suhu 100 ºC, setiap satu ikatan tidak jenuh dapat mengadsorpsi 2 atom oksigen, sehingga terbentuk persenyawaan peroksida yang bersifat labil. Proses pembentukan peroksida ini dipercepat oleh adanya cahaya, suasana asam, kelembaban udara dan katalis. Peroksida dapat mempercepat proses timbulnya bau tengik dan flavor yang tidak dikehendaki dalam bahan pangan.

50 3. Oksigen menyerang rantai rangkap. elektron yang lebih disumbangkan ke O dan ikatan rangkap pada O putus.39 2.50 2.11 di bawah ini : Analisa Angka Peroksida Angka peroksida (m eq/kg) 5.00 3.00 2.00 0.50 0.37 2. sehingga ikatan rangkap putus dan substituen C kelebihan elektron.00 4.49 2.10 Mekanisme reaksi pembentukan peroksida pada asam oleat Asam oleat dalam minyak teroksidasi pada ikatan rangkap.00 1.00 4.96 2.00 1.91 Mekanisme pembentukan peroksida pada asam oleat disajikan pada gambar di bawah ini : R C H O C H R' R H C O H C R' R H C O H C O R' R C O C O R' O O Gambar 4.58 4.00 3.50 1.50 4. Pengaruh dan perubahan angka peroksida dalam minyak goreng bekas dengan perlakuan dapat dilihat pada gambar 4.32 Minyak bekas Despicing Netralisasi adsorben karbon aktif biji kelor adsorben bentonit teraktivasi adsorben campuran Minyak baru SNI minyak goreng Gambar 4.11 Pengaruh Adsorben Terhadap Nilai Angka Peroksida .

sehingga akan mengikat molekul iodin maka terbentuklah warna biru (Winarno. seperti terlihat pada Gambar 4. maka akan terjadi pelepasan iodin (I2). dengan reaksi seperti : I2 + 2 Na2S2O3 → 2 NaI + Na2S4O6 Gambar 4. bekas.96 meq/kg menjadi 2. Terbentuknya warna biru setelah penambahan amilum. dikarenakan struktur molekul amilum yang berbentuk spiral. 4.12 Reaksi Iodometri selama proses analisis Angka Peroksida Iodin yang bebas dititrasi dengan natrium thiosulfat sampai warna kuning hampir hilang.49 meq/kg setelah diinteraksikan dengan adsorben karbon aktif biji kelor dengan . 2002). selanjutnya ditambahkan indikator amilum sampai terbentuk warna biru dan dititrasi kembali dengan natrium thiosulfat sampai warna biru mulai hilang.5. despicing. netralisasi dan bleaching dengan metode iodometri. dengan cara melarutkan sejumlah minyak goreng dalam campuran asetat:kloroform hingga terlarut sempurna lalu ditambahkan larutan jenuh KI dan didiamkan.92 Analisa angka peroksida pada penelitian ini dilakukan pada minyak goreng baru (minyak curah).5 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Karbon Aktif Biji Kelor Minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben dalam kolom mengalami penurunan angka peroksida dalam minyak.11 angka peroksida turun dari 3.

Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan. Adsorben karbon aktif biji kelor dapat menurunkan angka peroksida dalam minyak goreng hasil netralisasi karena karbon aktif biji kelor mempunyai kemampuan sebagai adsorben. Interaksi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor dalam penelitian ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikel-partikel adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der walls atau ikatan hidrogen. karena menentukan sifat adsorpsi. Pada proses adsorpsi kimia. Proses adsorpsi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji kelor dengan peroksida dalam minyak. 1982). Daya adsorpsi karbon aktif biji kelor tersebut. karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible. dikarenakan karbon mempunyai pori-pori dalam jumlah besar. baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia.93 metode kolom. yakni melibatkan gaya antarmolekuler. interaksi antara adsorbat . susunan pori-pori dan luas permukaan adsorpsi yang terbentuk selama proses aktivasi. Namun demikian adsorpsi secara kimia juga dapat terjadi antara senyawa peroksida dengan gugus aktif yang dimiliki oleh karbon aktif biji kelor. yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Sedangkan hasil analisa pada minyak baru mengandung angka peroksida 1. seperti struktur kimia permukaan.32 meq/kg. adanya situs-situs aktif dalam karbon. Sifat kimia permukaan karbon aktif dipandang sangat penting selain struktur pori.

yang ditunjukkan pada gambar 4. yang menyebabkan pusat muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat. Elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom. sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya london (molekul nonpolar dengan nonpolar). sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible. karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan. dan karbon aktif biji kelor juga termasuk nonpolar. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. 1982). elektron tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron. Molekul nonpolar (arang aktif) terdiri dari inti atom dan elektron.13 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar .13 di bawah ini : Polarisasi awan elektron molekul nonpolar tanpa dipol ± karbon aktif + - karbon aktif Gambar 4. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat. Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak dilakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia anatara peroksida dengan karbon aktif biji kelor.94 dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). Peroksida merupakan molekul nonpolar.

14 di bawah ini : Induksian molekul dengan dipol sesaat + - ± peroksida molekul tanpa dipol karbon aktif molekul dengan dipol sesaat + - + - molekul dengan dipol induksian karbon aktif peroksida Terjadi gaya tarik elektrostatik Gambar 4.39 meq/kg. yang ditunjukkan pada gambar 4. Angka peroksida pada minyak hasil interaksi dengan bentonit teraktivasi ini mengalami penurunan sebesar 40 % dari minyak hasil netralisasi yang semula memiliki bilangan peroksida sebesar 3. Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus dan bergantian. kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya elektrostatik.5.6 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Bentonit teraktivasi Gambar 4.96 meq/kg.14 Terjadinya gaya London antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor 4.11 menunjukkan bahwa angka peroksida minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben bentonit teraktivasi sebesar 2.95 Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian timbul kembali. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (peroksida) maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga terjadi dipol induksian. .

Lembaran-lembaran ini diikat oleh atom oksigen. Potensi pengembangan dan pengerutan yang tinggi menyebabkan mineral ini dapat menerima dan menyerap ion-ion serta senyawa organik (Tan. 1991). Na+ dan Ca2+ ) yang dapat digantikan dengan kation lain. sifat menyerap dan berikatan dengan anion-anion serta kation-kation dan luas permukaan yang besar. Proses adsorpsi antara peroksida dengan bentonit teraktivasi dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan bentonit dengan peroksida. Bentonit mempunyai memiliki kemampuan mengembang. 2002). . Ujung tetrahedral masing-masing bertemu dengan satu gugus hidroksil. Bentonit sebagai adsorben berkemampuan menyerap sejumlah molekul yang berukuran lebih kecil dari pori-porinya dan mempunyai bentuk geometri yang tepat. Antara lapisan silika dan alumina dihubungkan oleh pengikatan oksigen yang sangat lemah sehingga mudah mengembang maka kation dan air mudah bergerak bebas diantara kisi kristal. Ukuran serbuk yang biasanya digunakan adalah kurang dari 200 mesh (Hemzacek-Laukant. Bentonit merupakan mineral lempung yang tersusun atas senyawa alumina silikat berstruktur lapis dengan tipe 2:1 yang terdiri dari dua lembar silika bermuatan negatif yang terbentuk tetrahedral dengan lapisan tengah berupa alumina oktahedral.96 Adsorben bentonit teraktivasi dapat menurunkan angka peroksida dalam minyak goreng hasil netralisasi karena bentonit teraktivasi mempunyai kemampuan sebagai adsorben. Pada daerah antar ruang terdapat kation-kation (K+. Ukuran pori-pori yang molekuler tersebut merupakan sifat unik dari bentonit.

Kedua adsorben ini memiliki perbedaan . Adsorpsi fisika melibatkan gaya antarmolekuler (gaya Van der Walls atau melaui ikatan hidrogen). karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible. karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan.5. Proses adsorpsi kimia.96 meq/kg. yaitu yang pertama peroksida dalam minyak terserap oleh bentonit teraktivasi kemudian sisa peroksida dalam minyak terserap dalam karbon aktif biji kelor. Proses penyerapan peroksida dalam minyak hasil netralisasi menggunakan adsorben campuran ini terjadi dua kali.37 meq/kg. 4. Angka peroksida pada minyak hasil interaksi dengan adsorben campuran ini mengalami penurunan sebesar 40 % dari minyak hasil netralisasi yang semula memiliki angka peroksida sebesar 3.11 menunjukkan bahwa angka peroksida minyak goreng hasil netralisasi yang telah diinteraksikan dengan adsorben campuran sebesar 2. sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible.97 baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. 1982). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. 1982).7 Perubahan Angka Peroksida setelah berinteraksi dengan Adsorben Campuran Gambar 4. yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat. interaksi antara adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen).

angka peroksida pada minyak sebelum diadsorpsi adalah 4.58 meq/kg minyak dan penggunaan adsorben mampu menurunkan angka peroksida pada minyak. Tingginya angka peroksida minyak goreng bekas ini karena diakibatkan proses oksidasi pada saat proses pemanasan atau penyimpanan.11 terlihat bahwa adsorben campuran dari bentonit teraktivasi dan karbon aktif biji kelor dapat menurunkan angka peroksida dalam jumlah yang paling besar. yang kemungkinan dapat memberikan waktu kontak yang lebih lama antara adsorben dengan minyak goreng.5. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan adsorben campuran dari karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi relatif efektif untuk perbaikan angka peroksida minyak goreng bekas.8 Pengaruh jenis adsorben terhadap perubahan Angka Peroksida Berdasarkan hasil penelitian. Pencampuran kedua adsorben tersebut ternyata menaikkan kemampuan daya adsorpsi dibandingkan bila karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi digunakan secara terpisah.98 struktur mineral dimana bentonit berstruktur layer sedangkan karbon aktif biji kelor berstruktur non layer. Pada Gambar 4. kemudian adsorben bentonit teraktivasi dan karbon aktif biji kelor. sehingga terbentuklah peroksida. sehingga proses adsorpsi dapat dilakukan lebih maksimal. 4. Proses adsorpsi dilakukan dengan metode kolom. adsorben yang paling banyak terpakai pada ujung atas kolom (yaitu adsorben bentonit . Hal ini kemungkinan disebabkan karena jumlah peroksida dalam minyak hasil netralisasi terserap dua kali oleh dua adsorben.

Proses adsorpsi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor dikarenakan adanya perbedaan energi potensial antara permukaan karbon aktif biji kelor dengan peroksida dalam minyak. Hal ini didukung oleh luasnya permukaan bentonit yang mencapai 700-800 m2/g sehingga lebih menguntungkan untuk proses adsorpsi. Interaksi antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor dalam penelitian ini dimungkinkan terjadi adsorpsi secara fisika karena setiap partikel-partikel adsorbat yang mendekati ke permukaan adsorben melalui gaya van der walls atau . Kemudian bertemu dengan adsorben karbon aktif biji kelor. Bentonit mempunyai kemampuan untuk menyerap sejumlah molekul yang berukuran lebih kecil dari pori-porinya dan memiliki bentuk geometri yang tepat. 1992).99 teraktivasi) akan bertemu dengan adsorbat (peroksida) yang baru. sehingga adsorbat (peroksida) dalam minyak lebih banyak terkurangi atau terserap oleh kedua adsorben. Peroksida yang merupakan senyawa organik dapat masuk ke dalam struktur dan menggantikan ion hidrogen yang lepas untuk menetralkan muatannya. baik itu melibatkan gaya fisika atau kimia. sedangkan adsorbat yang sudah teradsorpsi akan bertemu dengan adsorben yang baru pada saat larutan tersebut bergerak ke bawah melewati kolom. yang menyebabkan strukturnya mudah mengembang sehingga peroksida dan molekul air mudah bergerak diantara unit kristal. Ukuran pori-pori yang molekuler tersebut merupakan sifat unik dari bentonit (Mulyadi. Bentonit memberikan daya adsorpsi yang cukup besar karena pada bentonit oksigen penghubung antar dua lapiasan silika yang mengapit satu lapisan alumina terikat sangat lemah.

Namun demikian adsorpsi secara kimia juga dapat terjadi antara senyawa peroksida dengan gugus aktif yang dimiliki oleh karbon aktif biji kelor. karena itu sifat adsorpsinya adalah reversible.15 di bawah ini : . interaksi antara adsorbat dengan adsorben melibatkan pembentukan ikatan kimia (biasanya ikatan kovalen). Molekul yang terbentuk dari adsorpsi kimia lebih kuat dibandingkan dengan yang terbentuk dari adsorpsi fisika. yaitu dapat balik atau dilepaskan kembali dengan adanya penurunan konsentrasi larutan. Elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom. Identifikasi struktur dan gugus aktif pada karbon aktif biji kelor tidak dilakukan pada penelitian ini sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk megetahui gugus aktif yang dimungkinkan untuk mengadsorpsi secara kimia anatara peroksida dengan karbon aktif biji kelor. 1982). yakni melibatkan gaya antarmolekuler. yang menyebabkan pusat muatan positif dan negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat. Adsorben harus dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan adsorbat. Peroksida merupakan molekul nonpolar. 1982). Pada proses adsorpsi kimia. sehingga gaya yang terjadi yaitu gaya london (molekul nonpolar dengan nonpolar). sehingga sifat adsorpsinya adalah irreversible. karena energi yang dilepaskan cukup besar sekitar 400 kj/mol (Castellan. yang ditunjukkan pada gambar 4. Molekul nonpolar (arang aktif) terdiri dari inti atom dan elektron. Molekul yang terbentuk dari adsorpsi fisika terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah sekitar 20 kj/mol (Castellan.100 ikatan hidrogen. elektron tersebut pada suatu saat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron. dan karbon aktif biji kelor juga termasuk nonpolar.

Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini terjadi secara terus menerus dan bergantian. yang ditunjukkan pada gambar 4.15 Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar Dipol sesaat ini dalam waktu yang singkat akan hilang tetapi kemudian timbul kembali.16 di bawah ini : .101 Polarisasi awan elektron molekul nonpolar tanpa dipol ± karbon aktif + - karbon aktif Gambar 4. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar (peroksida) maka molekul dengan dipol sesaat ini akan menginduksi molekul tersebut sehingga terjadi dipol induksian. kemudian antara kedua molekul tersebut terjadi gaya elektrostatik.

sedangkan minyak goreng baru sebesar 1. Berdasarkan data penelitian di atas. angka peroksida yang dihasilkan berbeda.49 – 2.16 Terjadinya gaya London antara peroksida dengan karbon aktif biji kelor Angka peroksida minyak hasil penjernihan jika dibandingkan dengan minyak goreng bekas telah mengalami penurunan. Minyak goreng hasil penjernihan yang dihasilkan melebihi standart yang ditetapkan oleh SNI yaitu sebesar 2 meq/kg.32 meq/kg.37 meq/kg. Selain berwarna gelap. namun jika dibandingkan dengan minyak baru. apabila dikonsumsi maka akan menimbulkan penyakit dan membahayakan bagi kesehatan tubuh.102 Induksian molekul dengan dipol sesaat + - ± peroksida molekul tanpa dipol karbon aktif molekul dengan dipol sesaat + - + - molekul dengan dipol induksian karbon aktif peroksida Terjadi gaya tarik elektrostatik Gambar 4. Minyak goreng bekas merupakan minyak yang sudah tidak layak dikonsumsi lagi. Angka peroksida minyak hasil penjernihan sebesar 2. membuktikan bahwa kualitas minyak goreng bekas sudah berada di atas standar SNI. mutu minyak tersebut sudah sangat rendah. .

6 40.6.3 30. Berarti dengan adanya proses .7 Muda jernih 4.3 10.7 6.1 Warna Cerah (L) Warna cerah (L) minyak goreng hasil despicing adalah 29.4 berikut: Tabel 4.9 8.2 29. bekas.6 40.2 16. bekas dan hasil reprosessing Warna L a* b* SNI 37411995 Minyak baru (bimoli) Minyak bekas (bimoli) Hasil despicing Hasil netralisasi Hasil interaksi dengan karbon aktif kelor Hasil interaksi dengan bentonit teraktivasi Hasil interaksi dengan campuran 47. sementara tingkat kecerahan minyak goreng bekas 29. Parmeter a* menunjukkan tingkat warna jingga sampai merah dengan skala -100 sampai +100.10) dengan parameter pembacaan L.6 Analisis Warna Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Reprosessing Analisis warna minyak goreng baru.7 32.1.5 31.1 29. a*.1 41. dan hasil reprosessing dilakukan dengan menggunakan color reader (CR.0 9.103 4.8 16. Nilai negatif menunjukkan warna biru.7 25.1 38. b*. Hasil analisis warna minyak goreng dapat dilihat pada tabel 4. Parameter b* menunjukkan adanya warna kuning.2. Parameter L menunjukkan tingkat kecerahan dengan skala 0 (gelap atau hitam) sampai 100 (cerah atau terang).7 17.8 9.4 Warna minyak goreng baru.2 29.3 18. sedangkan nilai positif menyatakan kecenderungan warna merah.

nilai tersebut mendekati minyak baru yaitu 47. kehilangan minyak.104 despicing mengalami penurunan warna cerah sebesar 0. oleh sebab itu minyak sawit dipucatkan (bleaching) dengan adsorben. Pada proses bleaching. Komponen senyawa polar tersebut larut dalam air dikarenakan memiliki polaritas yang hampir sama dengan air. Hasil yang demikian diperkuat oleh Anderson dalam Pasaribu (2004) yang menyatakan bahwa minyak sawit merupakan salah satu minyak yang sulit dipucatkan karena mengandung pigmen karotena yang tinggi. Signifikansi dari meningkatnya warna cerah ini disebabkan karena warna minyak goreng bekas teradsorpsi oleh adsorben campuran yaitu serbuk karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi. Peningkatan warna cerah tersebut terjadi karena kotoran berupa bumbu-bumbu yang terakumulasi dalam minyak akibat penggorengan bahan pangan atau disebut juga dengan komponen senyawa polar (garam. mengalami persentase peningkatan warna cerah lebih besar yaitu 42. .2 menjadi 41. protein) sudah larut bersama air dan ikut mengendap di atas permukaan air.2).2 (Tabel 4. namun yang perlu dipertimbangkan ialah faktor warna.7.34 %.8 % dengan angka awal (minyak bekas) 29. Kondisi ini dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi dan waktu yang relatif lama sehingga kelarutan dalam air lebih sempurna. gula. kualitas minyak dan biaya pengolahan.

Adanya kombinasi pada proses bleaching. Warna gelap kemerahan ini mengalami penurunan setelah dibleaching menggunakan adsorben campuran yaitu sebesar 8.3. 4. cokelat dan kemerah-merahan pada saat bleaching dengan adsorben campuran. ini menyebabkan warna gelap kemerahan terserap oleh serbuk adsorben karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi. Fenomena tersebut terjadi disebabkan adanya pemucat dari adsorben campuran yaitu serbuk karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi. Hal ini diduga pada proses despicing suhu pemanasan terlalu tinggi sehingga zat warna alamiah pada minyak mengalami oksidasi dan degradasi yang berakibat warna minyak menjadi gelap kemerahan.3 Warna Kuning (b*) Warna kuning (b*) minyak goreng yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah 32.2 %.7.7.4 warna merah (a*) minyak goreng bekas adalah 16.2 sehingga diperoleh persentase penurunan warna merah sebesar 48. Peningkatan ini dikarenakan hilangnya warna gelap.6.2 Warna Merah (a*) Berdasarkan tabel 4.8 %.98 % dengan nilai 16.6. Nilai tersebut mendekati minyak baru yaitu 6.7. sedangkan warna minyak bekas 18.8 akan tetapi setelah mengalami proses despicing mengalami peningkatan warna merah sebesar 2. Sehingga zat warna alamiah yang ikut terekstraksi bersama minyak pada proses ekstraksi .105 4. Berarti dengan adanya proses despicing dan bleaching intensitas warna kuning mengalami peningkatan sebesar 42.

Zat warna tersebut antara lain α-karoten. zat warna itulah yang meyebabkan warna minyak berwarna kuning. dan dapat terjadi akibat proses absorbsi dalam minyak tak jenuh. Untuk mencegah hal ini.7 Kajian Hasil Penelitian Dalam Perspektif Islam Hasil penelitian yang mengkaji mengenai peningkatan kualitas minyak goreng bekas dengan metode adsorpsi menggunakan bentonit – karbon aktif biji kelor (moringa oleifera. Lamk) dengan metode kolom ini menunjukkan bahwa biji kelor benar-benar dapat digunakan sebagai adsorben yang mampu mengadsorpsi pengotor minyak goreng khususnya asam lemak bebas. xanthopil. Warna kuning yang terdapat pada minyak hasil reprosessing tersebut merupakan warna akibat oksidasi dan degradasi dari zat warna alamiah. warna minyak goreng bekas hasil reprosessing sudah memenuhi SNI 3741-1995 yaitu warna muda dan jernih. peroksida dan warna. Warna kuning dalam minyak goreng disebabkan karoten yang larut dalam minyak. sedangkan minyak kelapa sawit itu sendiri telah mengandung zat antiokidan. Pada kasus ini karbon aktif biji kelor mampu .106 muncul kembali. sehingga sangat sulit untuk dihilangkan. kuning kecokelatan. pada proses pengolahan umumnya ditambahkan zat antioksidan. Berdasarkan hasil penelitian. 4. kehijau-hijauan dan kemerah-merahan. β-karoten. klorofil dan antosianin. namun dalam jumlah yang sedikit. timbulnya warna ini dapat diidentifikasi bahwa telah terjadi kerusakan pada minyak. Asam lemak bebas dan peroksida dalam jumlah yang besar dapat mempengaruhi kesehatan manusia.

(yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Artinya bahwa tumbuhan yang telah matipun dapat dimanfaatkan kembali untuk sesuatu yang lebih berguna (Jauhari. Biji kelor yang sudah tua dan kering di pohon memiliki manfaat sebagai bibit pohon kelor namun umumnya di buang begitu saja tanpa dimanfaatkan kembali. 1984). Hal ini membuktikan kebenaran Al-Qur’an dalam surat Al-An’am ayat 95:                      “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Ayat tersebut menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah adalah tanpa sia-sia baik itu tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya yang bisa dimanfaatkan oleh setiap makhluknya untuk bisa menjadi bahan renungan bagi makhluknya khususnya manusia. Sebagaimana biji kelor yang tua dan kering dapat dimanfaatkan lagi sebagai adsorben yang mampu mengadsorpsi pengotor .307 % dan peroksida sebesar 2. Maka mengapa kamu masih berpaling?” Ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan keluar (tumbuh dari benda mati). seperti dalam AlQur’an surat Shaad ayat 27 yang berbunyi :        “Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia (tanpa hikmah)”. tetapi Allah pun tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.21 meq/kg.107 mengadsorpsi FFA sebesar 0.

Minyak goreng bekas yang awalnya mengandung asam lemak bebas 0.448 %. (sebagai rahmat) daripada-Nya.00 meq/kg serta kembali berwarna jernih. peroksida dan warna.108 minyak goreng khususnya asam lemak bebas. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. Salah satunya adalah biji kelor yang bisa di jadikan suatu bahan penelitian untuk menjaga dan melestarikan alam semesta. Sehingga minyak goreng bekas tersebut dapat dikonsumsi kembali karena tidak mempengaruhi kesehatan manusia dan membahayakan tubuh. Allah menciptakan bumi (alam) ini sebagai media kehidupan dan di ciptakan alam ini dengan segala isi dan pernak-perniknya adalah agar semuanya bisa di jadikan bahan renungan bagi setiap umatnya.141 % dan 4. karena salah satu tugas manusia sebagai mahkluk yang paling sempurna dengan anugrah akal yang di berikan oleh Allah adalah berpikir.58 meq/kg dan berwarna hitam dapat diturunkan menjadi 0. Ayat lain dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pemanfaatan segala apa yang di ciptakan oleh Allah adalah Surat Qaaf ayat 7-8 yang berbunyi:                   ”Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gununggunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata (7) Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah) (8)”. . peroksida 4. Sehingga kualitas minyak goreng bekas dapat ditingkatkan kembali. sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Jaatsiyah ayat 13:                   “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya. Orang-orang yang berpikir ialah orang yang mau memperhatikan dan menyelidiki kejadian langit dan bumi.

Minyak goreng bekas merupakan minyak yang sudah tidak layak dikonsumsi lagi. selain berwarna gelap.5 Analisis Angka Peroksida dan Asam Lemak Bebas Pada Minyak Goreng Bekas Analisis Hasil Penelitian Spesifikasi SNI Angka Peroksida 4. Bentuk.3 % . cara dan tehnik yang di gunakan sepenuhnya di serahkan kepada manusia untuk memikirkan sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. memikirkan dan mengadakan penelitian serta kajian terhadap fenomena-fenomena alam sebagai pengejawantahan kebesaran Tuhan.58 meq/kg Maks. artinya manusia dengan segala kelebihan yang dimiliki di bandingkan dengan makhluk yang lain yaitu akal. Al-Qur’an hanya memberikan dasar. 0.5 berikut: Tabel 4. Hasil analisis angka peroksida dan asam lemak bebas (FFA) pada minyak goreng bekas dapat dilihat pada tabel 4. Melalui akal tersebut manusia di beri kesempatan dan kemampuan untuk melakukan pengamatan (observasi). memiliki bau yang tidak enak (tengik). 2 meq/kg Asam Lemak Bebas 0. prinsip dan pokok-pokok ajaran yang dapat memberikan motivasi atau mendorong manusia untuk melakukan kegiatan dan perbuatan yang positip (konstruktif).109 Manusia merupakan salah satu di antara unsur-unsur lingkungan hidup yang mempunyai posisi sentral dan dominan. Kualitas minyak goreng bekas tersebut sudah sangat rendah karena adanya kandungan senyawa peroksida dan asam lemak bebas yang cukup tinggi.448 % Maks. dan menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan.

Apabila masih tetap dikonsumsi maka akan menyebabkan penyakit dan membahayakan bagi kesehatan tubuh. makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan.)طيبا‬ Anjuran memakan yang halal dan baik telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi:                   “Hai sekalian manusia. bentonit teraktivasi dan campuran karbon aktif biji kelor dengan bentonit teraktivasi ini menunjukkan bahwa biji kelor benar-benar dapat digunakan sebagai adsorben yang mampu mengadsorpsi pengotor minyak goreng khususnya asam lemak . buah-buahan dan hewan adalah halal kecuali yang beracun dan membahayakan bagi manusia. sayur-sayuran. sudah berada di atas standar. Hasil penelitian menggunakan adsorben karbon aktif biji kelor. karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata”.110 Data pada tabel 4. Sehingga dapat dikonsumsi kembali karena tidak membahayakan kesehatan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa minyak goreng bekas sudah tidak layak dikonsumsi.5 menunjukkan kandungan peroksida dan asam lemak bebas sangat tinggi. Kualitas minyak goreng bekas dapat ditingkatkan lagi dengan menginteraksikannya dengan adsorben. sebagaimana anjuran Allah SWT kepada hambanya untuk selalu mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak hanya halal )‫ )حالال‬tapi juga harus baik (‫. Pada dasarnya semua makanan dan minuman yang berasal dari tumbuhtumbuhan.

111 bebas. Penggunaan metode kolom dalam penelitian ini adalah agar biji kelor dapat di gunakan secara berulang-ulang secara lebih praktis (tidak perlu menyaring) sehingga tidak menjadi sia-sia (mubadzir). Minyak goreng bekas tersebut kembali berwarna jernih dan kandungan asam lemak bebas serta peroksidanya sesuai dengan batas maksimal standart minyak goreng. . Sehingga minyak goreng bekas tersebut dapat dikonsumsi kembali karena tidak mempengaruhi kesehatan manusia dan membahayakan tubuh. peroksida dan warna. dengan cara proses regenerasi yang lebih sederhana yaitu pengembalian gugus pada kondisi semula karena yang menjadi tujuan utama adalah pemanfaatan adsorben biji kelor sebaikbaiknya tanpa mengurangi nilai dari fungsi adsorben itu sendiri.

sedangkan yang berkemampuan menyerap relatif lebih banyak asam lemak bebas adalah adsorben karbon aktif biji kelor. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa proses pemurnian menggunakan metode kolom mampu menurunkan angka peroksida sebesar 48 % dan asam lemak bebas sebesar 69 %. 2. bentonit teraktivasi dan campuran karbon aktif biji kelor dengan bentonit teraktivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang berkemampuan menyerap relatif lebih banyak angka peroksida adalah adsorben campuran karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi.1 Kesimpulan 1. Rerata angka peroksida minyak hasil reprocessing belum memenuhi standar umum minyak goreng sedangkan rerata asam lemak bebas minyak hasil reprocessing sudah memenuhi standar umum minyak goreng. Dari tiga macam adsorben yang digunakan.37 meq/kg dan 0.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. yang berkemampuan meningkatkan kejernihan warna minyak goreng lebih banyak adalah adsorben campuran karbon aktif biji kelor dengan bentonit teraktivasi 112 . sedangkan angka peroksida dan asam lemak bebas (FFA) minyak hasil reprocessing berturut-turut sebesar 2. Warna yang diperoleh semakin cerah dibandingkan dengan minyak goreng bekas sebelum reprosessing. 3.448 %. Hasil penelitian angka peroksida dan asam lemak bebas (FFA) pada minyak goreng bekas berturut-turut sebesar 4.141 %.58 meq/kg dan 0. yaitu karbon aktif biji kelor.

113

5.2 Saran 1. Pada penelitian ini, proses interaksi antara adsorben dengan minyak dalam kolom dilakukan dengan tanpa mengatur laju alir, sehingga waktu kontak antara masing-masing adsorben dengan FFA dan peroksida juga berbeda-beda. Sebaiknya, laju alir dibuat sama sehingga waktu kontak untuk menyerap antara masing-masing adsorben pun juga sama. 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah suhu. Pada penelitian ini hanya menggunakan suhu ruangan dan tidak dikontrol secara kontinyu. Untuk mengkonstankan suhu, sebaiknya diberikan aliran air hangat (yang di kontrol secara kontinyu) di luar kolom sehingga suhu waktu penyerapan dapat teratur dan dapat mempercepat proses adsorpsi.

114

DAFTAR PUSTAKA

Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir, 2001, Tafsir Ibnu Kasir juz 7, Bandung: Sinar Baru Algensindo. Afiatun, E. Wahyuni, S. dan Rachmawaty, A. 2004. Perolehan kembali Cu dari Limbah Elektroplating dengan Menggunakan Reaktor Unggun Terfluidisasi. jurnal INFOMATEK Volume 6 Nomor 1 Maret 2004. http://www.unpas.ac.id/pmb/home/images/articles/infomatek/Jurnal_VI_1 -1.pdf. diakses pada tanggal 29 April 2008. Amir, H. 2003. Karakterisasi Penyerapan Betakaroten pada Crude Palm Oil dengan Adsorben Alternative Arang Tulang. Jurnal penelitian UNIB Vol.IX no 1 Maret 2003. hal. 58-65. http://www.geocities.com/ ejurnal/files/lp/2003/58.pdf. diakses pada tanggal 29 April 2008. Anonymous. 2000. Optimizing Flavor Quality and Oxidative Stability of Commodity Vegetable Oils, http://www.ars.usda.gov/research/projects/ projects.htm?ACCN_NO=402579& showpars=true&fy=2000. html. Diakses tanggal 9 April 2008. ________. 2001. Elektronika Larutan Metode Titrasi. http//www.elektro indonesia.com/elektro/elek36.html. Diakses tanggal 13 Juli 2007. ________. 2005. Safety of Frying Oils and Oil Fried Products, http://www. foodfacts.org.za/siteindex/Frying%20Oil%20-%20Safety.html. Diakses tanggal 9 April 2008. ________. 2009a. Gallery Tanaman Obat. http://www.tanamanobat.com/ index.php /gallery-tanamanobat/ kelor. Diakses tanggal 29 Januari 2009. ________. 2009b. Lempung. http://www.id.wikipedia.org/wiki/lempung. Diakses tanggal 28 Februari 2009. ________. 2009c. Teknologi Tepat Guna tentang Pangan_Kesehatan. http://www.smecda.com/TEKNOLOGI TEPAT GUNA/TTG_ PANGAN_KESEHATAN/artikel/ ttg_tanaman_obat/ depkes/ buku/ 1196.pdf. Diakses tanggal 28 Februari 2009. Anwar, A, 2007, Pangan dalam Pandangan Islam (Tinjauan Islam terhadap Makanan dan Minuman), www.unpas.ic.id, diakses tanggal 1 januari 2009 AOAC, 1990, Official Methods of Analysis of the Association of Official Analytical Chemists. Washington, D.C: AOAC inc.

115

Apriani, S. 2000. Studi Pengaruh Jenis Adsorben Terhadap Komposisi dan Kualitas Minyak Goreng Sisa Pakai. Tugas akhir tidak diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Brawijaya. 114 Atkins, P.W. 1999. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga. Bayrak, Y. 2005. Application of Langmuir Isotherm to Saturated Fatty Acid Adsorption. Journal Microporous and Mesoporous Materials 87 (2006) 203–206. http://www.elsevier.com/locate/micromeso. diakses pada tanggal 9 April 2008. Bernasconi, G, Gerster, H, dan Hauser H. 1995. Teknologi Kimia Bagian 2. Edisi pertama. Terjemahan Lienda Handojo, Pradnya Paramita. Jakarta. hal:204. Castellan, G.W. 1982. Physical Chemistry. Third Edition. General Graphic Servies. New York Duke, J. A. 1983. Handbook of Energy Crops. http://newcrop.hort.purdue.edu/ newcrop/duke_energy/moringa_oleifera.html. Diakses tanggal 31 Januari 2009. Effendy. 2006. Teori VSEPR Kepolaran dan Gaya Antarmolekul Jilid 2. Malang: Bayu Media Publishing. Elizabeth, J. 2002. Ragam Minyak Goreng Pilih yang Mana. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0204/18/iptek/pili29.htm. diakses pada tanggal 29 Januari 2009. Fusova, L. 2009. Modification of the Structure of ca-montmorillonite Modifikace Struktury ca-montmorillonitu. Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia 2006."Peran Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berwawasan Lingkungan". Gritter, R.J., James M. Bobbitt dan Arthur E. Schwarting, 1991, Pengantar Kromatografi Edisi Kedua, Bandung: Penerbit ITB. Hendartomo, T. 2007. Pemanfaatan Minyak dari Tumbuhan untuk Pembuatan Biodiesel. http://bappeda.jogjakarta.go.id/intranet/download.php?act= download&id=75. Diakses pada tanggal 23 maret 2007. Imani, A.K.Q, 2005, Tafsir Nurul Quran Sebuah Tafsir Sederhana Menuju Cahaya Al-Qur'an, Penerjemah Salman Nano, Jakarta: Penerbit Al-Huda. Jankowska, H., Swiatkowski, A., Choma, J., 1991, Active Carbon, Horwood, London.

2007. Uji Kemampuan Karbon Aktif dari Limbah Kayu Dalam Sampah Kota untuk Penyisihan Fenol. Mahran. 2008. M. Edisi pertama.S. 1986. Hal: 21. Tugas akhir Tidak diterbitkan. Minyak dan Lemak Pangan. J. Joy. Malang: Jurusan Kimia. Kajian Reaksi Pertukaran Ion Kalsium oleh Ion Natrium pada Bentonit Alam (bentonit-Ca). Konsep Dasar Kimia Analitik. 2008. Juliandini. Process Chemistry for Water and Wastewater. T. . dan Pierre. Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern. Edisi pertama. Judkins J..R.L.. Hal: 11-18. and Weant.. Tugas Akhir tidak diterbitkan. 1994. S. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. N. Larry. M. T.ebigchina. Lamk). B. Asam Lemak Omega 9 dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. Richard.A. Saptorahardjo. Jakarta: Universitas Indonesia. Yogyakarta: FMIPA UGM. New Jersey Logu. A. S. Moringa Exports. Khopkar. dan Mubasyir. Ketaren.116 Jauhari. 2009. Alih Bahasa Drs. Journal of Applied Sciences 7 (17): 2462-2467.com. B. Mochamadiyah Ja’far. Al-Qur’an Bertutur Tentang Makanan dan Obat-obatan (Penerjemah: Irwan Raihan). Jakarta: UI Press. diakses pada tanggal 09 April 2008.. Diakses tanggal 31 Januari 2009. Adsorption of Palm Oil Carotene and Free Fatty Acids onto Acid Activated Cameroonian Clays. 1992. Muallifah. A. 2007. 2005. Sitorus. J. Fakultas Sains dan Teknologi.ansijournals.B. Prentice Hall Inc. Ketaren. 2000. D. 2003. Hal: 216-234. K. Penentuan Angka Asam Thiobarbiturat (TBA) dan Angka Peroksida pada Minyak Goreng Bekas Hasil Pemurnian dengan Biji Kelor (Moringa oleifera. S. Jakarta: Media Indonesia Murtado. D. N. (Online). Yogyakarta: Mitra Pustaka. N. Jonni.F. Malang: Universitas Islam Negeri Muchtadi. S. 2006. http://murungaexports. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.. Jakarta: Universitas Indonesia. M. http://www. Cegah Malnutrisi dengan Kelor. Terjemahan A.H. F dan Yulinah T. 2005. dan Katharina.com/ jas/2007/2462-2467. Yogyakarta: Kanisius.pdf. 1984. Surabaya: Penerbit Al-Ikhlas.

Universitas Brawijaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Aktivasi Arang Tempurung Kelapa dengan NaCl dan Gas CO2 dalam Reaktor Fluidasi.com/locate/foodchem. 1996. Dirjen Pertambangan Umum. Rossi. hal 244. dan Sinaga. Sumatra Utara: Jurusan Teknik Industri. Alamprese. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. The Role of Bleaching Clays and Synthetic Silica in Palm Oil Physical refining.ac. Yogyakarta: Liberty. Makalah. http://library.. Hal: 52-53. Spektroskopi. di akses pada tanggal 7 April 2008 Sabarudin.. Riyanto. Dasar-dasar Biokimia.elsevier. Pasaribu. 2001. Http://www.L. Malang: Universitas Brawijaya. Bahan Galian Industri Bentonit. diakses pada tanggal 01 Mei 2008 Poedjiadi.T. Edition Cooper. Hal: 1-15 Room. Tugas akhir Tidak diterbitkan. A. Sastrohamidjojo.id/download/fmipa/kimia-nurhaida. 2002. Makalah Jurusan Kimia Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. . M. 1995.A. M Gianazza. New York. Fakultas MIPA. M. Skripsi.usu. A.117 Mustika. Journal Food Chemistry 82 (2003) 291–296. John Wiley and Sons. 2004. hal: 8-9.T. Adsorbtion.pdf. Minyak Buah Kelapa Sawit. Quthb. 1994. Studi Proses Despicing dengan Metode Steaming pada Minyak Goreng Bekas Serta Biaya Operasionalnya. C. 2007. Sintesis dan Karakterisasi Montmorillonite K10 Zirkonia sebagai Penyangga Katalis. Fakultas Teknik Universitas Sumatra Utara Setyowati. Jurusan kimia. N. Yogyakarta: FMIPA UGM. Sintesis TMA-Bentonit dan Interkalasi Azobenzena ke dalam TMA-Bentonit. J. S. Hal: 45-101. H. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM. Saleh. N. Sembiring. 1991. 2003. 2004. Tugas Akhir tidak diterbitkan.S. Oscik.. Studi Interaksi Antara Humin dan Logam Cu (II) Dan Cr (II) dalam Medium Air. F. Malang: FMIPA Universitas Brawijaya. Jakarta: Universitas Indonesia. Edisi pertama. Arang Aktif (Pengenalan dan Proses Pembuatan). Malang: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. A. Tugas akhir Tidak diterbitkan. L. L. 2004. 1994. 1992. F. Fakultas Pertanian. I. Jakarta: Gema Insani Press. Stanga..

Olphen. 2008. I. New York. Jurnal Kimia 2 (2). K. H dan Nur. Yogyakarta: Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Optimasi Proses Adsorbsi Minyak Goreng Bekas dengan Adsorbent Zeolit Alam : Studi Pengurangan Bilangan Asam.IX no 1 Maret 2003. Malang: Jurusan Kimia Fakultas SAINTEK UIN Van. Preparasi dan uji kualitatif cu-ai203montmorillonit Sebagai bahan antibakteri staphylococcus aureus.01 April 2006. . 2003 Sutha.H. Tekno Pangan: Mengolah Minyak Goreng Bekas. Bambang. Karna W. H. L. K. H. Volume 17 No. Tafsir Al-Mishbah Pesan. Hal: 96-97 Suharto. M. 2005.. Tan. Wijaya. Terjemahan Didiek H. Geologist and Soil Scientist. Hal: 95. Jakarta: Penerbit Lentera Hati. S. Hal: 93-192. M. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. 2006. Pemurnian Minyak Goreng Bekas (Jelantah) Menggunakan Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk). Dasar-dasar Kimia Tanah. M. Widayat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2002. Sintesis Lempung Terpilar dan Uji Stabilitasnya terhadap Pengaruh Panas. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.118 Shihab. Kimia Pangan dan Gizi. 2003. S dan Haryani. Prosiding seminar Agribisnis Kelapa Sawit. Surabaya: Trubus Agrisarana. Eko S. Laboratorium Kimia Fisika. K. Awalina. Winarno. Kesan. Jurnal Penelitian Teknik Kimia. T. Jurusan Kimia.G. Sudarmadji. 10. Clay Colloid Chemistry for Clay Technologist.Arif. Tahir. F. B.com/ ejurnal/pdf.G. LPIU-ADB UNIB. S. Taufiq. Tugas akhir Tidak diterbitkan. N. John Wiley and Sons. Yogyakarta. Edisi pertama. 2005. dan Keserasian Al-Qur'an Vol. dalam Jurnal penelitian UNIB Vol. Preparasi dan Karakterisasi Komposit Kromium Oksida-Montmorillonit. 2001. Q. 1982. dan Suhardi. Yogyakarta: Liberty. Yulianto.E. 1997. 2007. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Hal: 58-65 tentang Karakterisasi Penyerapan Betakaroten pada Crude Palm Oil dengan Adsorben Alternative Arang Tulang oleh Hermansyah Amir. 2002.Universitas Gadjah Mada. geocities. Pemanfaatan Zeolit Alam sebagai Adsorben pada Proses Pemucatan Minyak Sawit Kasar (CPO). Tugas akhir Tidak diterbitkan. http://www. 1978. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro Wijana. diakses pada tanggal 29 April 2009. Sekip Utara. H.

119 LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1. Diagram Alir 1. Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor Buah Kelor  Dibuang kulitnya Biji Kelor dengan kulit ari    Ditumbuk kasar dan dibungkus dengan alumunium foil dimasukkan tanur suhu 600 oC selama 3 jam ditumbuk dan diayak Serbuk arang biji kelor      dicuci dengan air panas dikeringkan dengan oven pada suhu 110 oC selama 2 jam direndam larutan NaCl 30 % selama 24 jam dikeringkan dalam oven 110 oC selama 2 jam dihaluskan dan disaring dengan ayakan 70 mesh. Karbon aktif biji kelor .

Dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring Dicuci akuades dengan perendaman selama 24 jam Didispersikan ke dalam larutan natrium klorida 1M Diaduk dengan pengaduk magnet selama 24 jam Dipanaskan pada temperatur 70 C. 2.120 Lanjutan lampiran 1. Preparasi Bentonit Serbuk lempung alam Na-bentonit      Sedimen Na-bentonit      Sedimen Na-bentonit     Dicuci dengan akuades Diuji dengan larutan AgNO3 hingga tidak terbentuk endapan AgCl Dikeringkan dalam oven pada temperatur 110C selama 4 jam Dihaluskan dan disaring dengan pengayak 100 mesh Dicuci dengan akuades Dikeringkan dalam oven pada temperatur 110 C selama 4 jam Dihaluskan dan disaring dengan pengayak 100 mesh Dijenuhkan dengan NaCl jenuh selama 24 jam pengadukan.80 C Disaring Bentonit teraktivasi .

3.1 Adsorpsi menggunakan karbon aktif biji kelor 2 gram serbuk karbon aktif biji kelor   Dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi glass wool Dialirkan minyak goreng hasil netralisasi 50 ml Minyak goreng jernih . Pemurnian Minyak Goreng Bekas Proses Penghilangan Bumbu (Despicing) Analisis asam lemak bebas Angka peroksida Analisis warna 250 g Minyak goreng bekas       Dimasukkan gelas beaker 500 mL Ditambahkan air dengan komposisi minyak : air (1:1) Dipanaskan sampai volume air tinggal setengahnya Diendapkan dalam corong pisah selama 1 jam Diambil fraksi minyaknya pada bagian atas Disaring dengan kain kasa Analisis asam lemak bebas Minyak bebas bumbu Angka peroksida Analisis warna 3.3 Adsorpsi minyak goreng bekas menggunakan karbon aktif biji kelor.121 Lanjutan lampiran 1. 2. bentonit 3.2 Proses Netralisasi 450 g Minyak Hasil Despicing Analisa Peroksida dan FFA dengan kontrol minyak goreng baru Dimasukkan gelas beaker 500 mL Dipanaskan sampai suhu 35 0C Ditambahkan 18 ml larutan NaOH 16 % Diaduk-aduk selama10 menit pada suhu 40 0C Didinginkan selama 10 menit Disaring Analisa Peroksida dan FFA Minyak Hasil Netralisasi dengan kontrol minyak goreng baru 3.

3 Adsorpsi menggunakan campuran karbon aktif biji kelor dan Bentonit 1 gram serbuk karbon aktif biji kelor      Dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi glass wool pada ujung kolom Dimasukkan glass wool diatas karbon aktif biji kelor Ditambahkan 1 gram bentonit teraktivasi Dimasukkan glass wool pada kolom menutupi lapisan bentonit Dialirkan minyak goreng hasil netralisasi 50 ml Minyak goreng jernih . 3.2 Adsorpsi menggunakan Bentonit 2 gram serbuk bentonit teraktivasi   Dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi glass wool Dialirkan minyak goreng hasil netralisasi 50 ml Minyak goreng jernih 3.3.122 Lanjutan lampiran 1.3.

b* yang menyatakan tingkat warna gelap sampai terang Diukur warna minyak goreng dengan color reader Minyak goreng dengan warna sekian Keterangan: L* : warna cerah (0-100) a* : warna jingga sampai merah (-100 sampai +100) b* : warna kuning 4. Analisa Minyak goreng 4. 4.123 Lanjutan lampiran 1.2 Penentuan Asam Lemak Bebas (FFA) 14 gram Minyak hasil uji adsorpsi       Hasil Dimasukkan ke dalam 250 mL erlenmeyer tertutup Ditambahkan 25 mL etanol 96 % Dipanaskan pada suhu 40 oC Ditambahkan 2 mL indikator pp Dititrasi dengan larutan NaOH 0.05 M (sampai muncul warna merah jambu dan tidak hilang selama 30 detik) Dihitung kadar asam lemak bebas (FFA) .1 Analisis warna 200 gram Minyak hasil uji adsorpsi     Dimasukkan ke dalam kuvet Color reader dihidupkan Ditentukan harga L*. a*.

01 N Na2SO3 (sampai warna kuning hampir hilang) Ditambahkan 0.3 Penentuan Angka Peroksida 5 g Minyak hasil uji adsorpsi           Hasil Dimasukkan ke dalam 250 mL erlenmeyer tertutup Ditambahkan 30 mL larutan asam asetat-kloroform (3 : 2) Dikocok sampai larut semua dalam keadan tertutup Ditambahkan 0. 4.124 Lanjutan lampiran 1.5 mL larutan jenuh KI Didiamkan selama 1 menit sambil digoyang dengan tertutup Ditambahkan 30 mL akuades Dititrasi dengan 0.5 mL larutan pati 1 % Dititrasi kembali (sampai warna biru mulai hilang) Dihitung angka peroksida .

dilarutkan dengan akuades 100 gram. Larutan NaOH 16 % Padatan NaOH ditimbang 16 gram. 2.4 gram .4 gram NaOH ke dalam aquades sebanyak 100 ml.1 mol x 58 g/mol = 5.01 mol x 40 g/mol = 0. mol NaCl = 0. kemudian diaduk-aduk sampai larut sempurna.8 gram. dilarutkan dengan akuades 100 ml. dilarutkan dengan akuades 100 ml. Larutan NaOH 0. 4.1 M Dilarutkan 0. Larutan NaCl 1 M Kristal garam ditimbang 5. Pembuatan Reagen Kimia 1.01 mol Gram NaOH = Mol x Mr NaOH = 0. Larutan NaCl 30 % Kristal garam ditimbang 30 gram.8 gram 3. Mol NaOH = 100 ml x 0. diadukaduk sampai larut sempurna. kemudian disaring. 5.1 L x 1 M = 0.1 M = 0.125 Lampiran 2. Larutan NaCl jenuh Dilarutkan sebanyak n gram kristal NaCl ke dalam n ml aquades sampai terlihat NaCl tidak bisa larut.1 mol gram NaCl = mol x Mr NaCl = 0.

8. Larutan NaOH 0. Larutan KI jenuh Dilarutkan KI berlebih dalam aquades mendidih. Asam asetat-kloroform (3:2) Dicampurkan 600 ml asam asetat ke dalam kloroform 400 ml dalam beaker gelas kemudian diaduk dengan magnetik stirer selama 10 menit. Larutan pati 1 % 1 g pati dicampur dengan sedikit akuades yang sudah mendidih sambil diaduk. sampai terlihat KI tidak bisa larut. Untuk membuat larutan KI jenuh 25 ml dibutuhkan serbuk KI sebanyak 133 gram. 6. .1 NaOH dipipet 50 mL. dipindahkan ke labu ukur 100 mL. Reagen ini setiap hari harus dicek kelayakan pakainya dengan cara: disiapkan 30 mL campuran asam asetat:kloroform (3:2). dipindahkan ke labu ukur 100 ml kemudian ditambahkan akuades yang sudah mendidih samapai tanda batas. 7.5 KI jenuh.05 M Larutan 0. 9. ditambahkan 0. ditambahkan 2 tetes larutan amilum 1 %. kemudian diencerkan dengan akuades mendidih sampai tanda batas. Larutan harus disimpan ditempat yang gelap dan tertutup.126 Lanjutan lampiran 2.1 N Na 2S2O3 untuk menghilangkan warna tersebut. Jika larutan berubah menjadi biru dan membutuhkan lebih dari 1 tetes larutan 0. maka reagen KI ini tidak boleh digunakan kembali dan harus dibuat reagen KI yang baru.

10.1 N 25 g Na2S2O3. jika terdapat kelebihan larutan sebaiknya tidak dikembalikan dalam larutan stok. kemudian diencerkan dengan akuades sampai tanda batas.127 Lanjutan lampiran 2.1 N menggunakan aquades mendidih (larutan encer lebih tidak stabil. 11. didihkan selama 5 menit. dipindahkan ke labu ukur 100 mL. Simpan reagen dalam tempat gelap dan dingin. Jika dibutuhkan kosentrasi larutan lebih kecil dari 0. maka bisa diperoleh dengan mengencerkan dari 0.01 M Na2S2O3 Larutan 0. . karena itu disarankan hanya selalu digunakan larutan segar) (siapkan jika dibutuhkan).1 N. selanjutnya dipindahkan kedalam botol yang telah dibilas dengan larutan asam dikromat panas dan dicuci dengan air panas. kemudian dipindahkan ke dalam labu ukur 1 liter sampai tanda batas. Larutan 0.5H2O dimasukkan kedalam 1 liter aquades.1 Na2S2O3 dipipet 10 mL. Natrium tiosulfat 0.

041 % 14 .30 0.485 meq / kg 1.95 Volume NaOH Akhir Total 14.041 0.032 Re rata   0.179 meq / kg 2.128 Lampiran 3.65 x 0.485 1. Angka Peroksida  5.179 1.25 4.037 Rerata % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000   0.0285 14.179 1.5 14.60 x 0. Angka Peroksida  5.0576 x 1000 0.0759 Volume Na2S2O3 (mL) Awal Akhir Total 3.65 Angka peroksida (meq/kg) 1.05 x 256 x 100  0.281  1.281 Rerata mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) 0.45 x 0.75 0.35 x 0.0759 Angka Peroksida  1.0285 x 1000 1.0889 5.35 FFA (%) 0.041 0.0889 0.315 meq / kg 3 .281 meq / kg 3.01 x 1000  1.50 0.01 x 1000  1.0516 0.315 Re rata  1.95 15.037 % 2 Angka peroksida Ulangan 1 2 3 Berat (gram) 5.75 x 0.50 4.45 0. % FFA 0.032 0.85 4.25 4. % FFA 2.05 x 256 x 100  0. Data Hasil Penelitian 1.032 % 14 . Analisis Minyak goreng baru Asam Lemak bebas Ulangan 1 2 Berat (gram) 14.85 5.485 1.0516 5.0576 Awal 14. Angka Peroksida  5.60 0.01 x 1000  1.

% FFA 4.890 3.418 % 14 .00 Volume NaOH Akhir Total 4.1029 x 1000 5.35 5.418 0. Analisis Minyak goreng bekas Asam Lemak bebas Ulangan 1 2 3 4 Berat (gram) 14.0764 x 1000 5.01 x 1000  1.1029 14.05 x 256 x 100  0.973 7.448 % 4 Angka peroksida Berat Volume Na2S2O3 (mL) Ulangan (gram) Awal Akhir Total 5.60 x 0.75 FFA (%) 0.129 Lanjutan lampiran 3. % FFA 3.448 Rerata % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000     1.0343 Angka Peroksida  Angka peroksida (meq/kg) 1.890 meq / kg 1.65 19.459  0.35 x 0.75 x 0.519 % 14 .00 2 5.418  0. % FFA 4. 2.95 x 0.05 x 256 x 100  0.65 5.55 22.25 8.864 4. Angka Peroksida  5.459 0.576 .395 % 14 .00 3 Rerata mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) 0. % FFA 2.1808 Awal 0. Angka Peroksida  5.95 1 5.05 x 256 x 100  0.25 0.0658 14.00 4.519 Re rata   0.0862 18.0764 14.60 15.25 2.395  0.05 4.00 x 0.0658 x 1000 4.973 meq / kg 2.519 0.05 x 0.459 % 14 .1808 x 1000 0.55 4.60 9.395 0.0258 2.05 x 256 x 100  0.01 x 1000  3.30 0.0343 6.30 6.60 5.0258 5.75 4.

191 % 14 .01 x 1000  7.212  0. 3.40 x 0.35 2.499 3. % FFA 2.00 x 0.231 4.576 meq / kg 3 3.40 12.05 x 256 x 100  0.0567 Volume NaOH Awal Akhir Total 9.30 1.864 Re rata   4.214  0.211 % 4  Angka peroksida Berat Volume Na2S2O3 (mL) Ulangan (gram) Awal Akhir Total 5.130 Lanjutan lampiran 3.65 5.254 3.191 0.40 2.212 0.214 % 14 . % FFA   2.15 14.5 22.05 x 256 x 100  0.3104 14. Angka Peroksida  4.0567 x 1000 0.10 x 0.2184 x 1000 1.10 FFA (%) 0.0862 1.50 x 0.75 12.55 2.191 Re rata   0.0010 22.890  3.225 0.75 3 Rerata Angka peroksida (meq/kg) 4.0810 8.25 10.15 19.2184 14.3104 x 1000 2.40 2.35 x 0.225  0.1741 14.211 Rerata % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000  2.55 24.65 12.214 0.864 meq / kg 5.212 % 14 .85 2. % FFA 3.973 7. Analisis Minyak goreng hasil despicing Asam Lemak bebas Ulangan 1 2 3 4 Berat (gram) 14.225 % 14 .15 1 5.1741 x 1000 2. % FFA 4.05 7.50 2.995 .0535 10.05 x 256 x 100  0.05 x 256 x 100  0.15 2 5.

10 1.75 x 0.65 2.01 x 1000  3.0535 1. Angka Peroksida  5.772 3.159 0.148 Rerata % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000 1. Angka Peroksida  5.01 x 1000  4.55 14.254  3.50 FFA (%) 0.05 x 256 x 100  0.499 Re rata   3.55 1.159 % 14 .499 meq / kg 3.0371 14.15 x 0.231 4. % FFA 2.137 % 14 .137 0.55 18.0810 2.231 meq / kg 1.148 % 2  Angka peroksida Berat Volume Na2S2O3 (mL) Ulangan (gram) Awal Akhir Total 5.176 3. Analisis Minyak goreng hasil netralisasi Asam Lemak bebas Ulangan 1 2 Berat (gram) 14.55 2. .01 x 1000  4.0578 Volume NaOH Awal Akhir Total 7.90 2 5.137 Re rata   0.159  0.60 9.50 x 0.0701 16.65 16.85 9. mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) 2.00 3 Rerata Angka Peroksida  mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) Angka peroksida (meq/kg) 4.131 Lanjutan lampiran 3.05 x 256 x 100  0. Angka Peroksida  5.15 x 0.0656 x 1000 1.60 11.0010 4.75 x 0.75 1.0656 14.254 meq / kg 2. % FFA  1.964 .945 3.995 meq / kg 3 Angka Peroksida  4.10 1 5.0578 x 1000 0.0285 12.

138 0.60 12.01 x 1000  3.176  3.9186 x 1000 1.490 .945  3.9210 x 1000 0.05 x 256 x 100  0.00 x 0.989 2.50 x 0. Angka Peroksida  2. Angka Peroksida  Re rata  4.00 1.176 meq / kg 5. % FFA   1.50 1.0285 1. 1.141 % 2 Angka peroksida Berat Volume Na2S2O3 (mL) Ulangan (gram) Awal Akhir Total 5.55 FFA (%) 0.15 1.50 1 5.143 Re rata   0.90 x 0.05 x 256 x 100  0.772 meq / kg 5.143 0.138 % 13. Analisis Minyak goreng hasil interaksi dengan karbon aktif biji kelor Asam Lemak bebas Ulangan 1 2 Berat (gram) 13.60 14.00 1.50 7.141 Rerata % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000 1.132 Lanjutan lampiran 3.00 8.01 x 1000  3.10 12.0371 2.9210 Volume NaOH Awal Akhir Total 11.964 meq / kg 3 5.55 x 0.772  3.945 meq / kg 5.0265 7.0163 5. % FFA 2. Angka Peroksida  3.01 x 1000  4.00 2 Rerata Angka peroksida (meq/kg) 2.9186 13.138  0.0701 2.143 % 13.10 x 0.990 1.

95 1.147 0. % FFA  14 .10 1.10 10.30 Volume NaOH Akhir Total 14.133 Lanjutan lampiran 3.50 x 0.01 x 1000  1.142  0. % FFA  14 .0378 Awal 12.00 9.05 x 256 x 100  0.0532 14.0163 1.490 meq / kg 2 Angka Peroksida  6.10 1 5.01 x 1000  2.0532 x 1000 1.142 % 1.40 1.00 x 0.990 1. mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) 1.60 1.989 meq / kg 2.60 x 0.147 % 2.385 .990 meq / kg 1.0342 8.0265 2.30 2 Rerata Angka Peroksida  mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) Angka peroksida (meq/kg) 2.145 % 2 % FFA  Angka peroksida Berat Volume Na2S2O3 (mL) Ulangan (gram) Awal Akhir Total 5. Angka Peroksida  5. Angka Peroksida  5.142 0.0275 9.147 Re rata   0.30 15.586 2.70 14.65 x 0.05 x 256 x 100  0.989 Re rata   2.145 Rerata ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000 1.65 FFA (%) 0.185 2.0378 x 1000 0. Analisis Minyak goreng hasil interaksi dengan bentonit teraktivasi Asam Lemak bebas Ulangan 1 2 Berat (gram) 14.

50 x 0.185  2.142 1.25 1 5.385 meq / kg 2 7.15 2 Rerata Angka peroksida (meq/kg) 2.479 2.0810 11.70 1.263 2.65 1 14.0893 x 1000 FFA (%) 0. % FFA  1.05 x 256 x 100  0.586 meq / kg 5.586  2. % FFA 2. 1.185 meq / kg 5.138 0.90 x 0.371 .30 x 0.154 % 2  Angka peroksida Berat Volume Na2S2O3 (mL) Ulangan (gram) Awal Akhir Total 5.50 11. Analisis Minyak goreng hasil interaksi dengan campuran karbon aktif biji kelor dan bentonit teraktivasi Asam Lemak bebas Volume NaOH Berat Ulangan (gram) Awal Akhir Total 9.05 x 256 x 100  0.0781 14. Angka Peroksida  1.147 0.10 x 0.15 12.136 % 14 .40 11.0275 2.134 Lanjutan lampiran 3.0342 1.0560 11.65 12.0432 10.172 Re rata   0.01 x 1000  2. Angka Peroksida  Re rata  2.65 1.1045 x 1000 0.172 % 14 .55 2 Rerata % FFA  ml NaOH x M NaOH x BM x 100 berat sampel  g x 1000 1.136  0.15 1.80 1.01 x 1000  2.

479 meq / kg 5.0810 2.01 x 1000  2.263 meq / kg 5.371 meq / kg 2 . Angka Peroksida  mL Na 2 S 2 O3 x N Thio x 1000 berat sampel ( gram) 1.25 x 0.0810 1.01 x 1000  2. Angka Peroksida  Re rata  2.15 x 0.135 Lanjutan lampiran 3.479  2. Angka Peroksida  1.263  2.

1 Skema Alat Uji Adsorpsi . Skema alat Minyak goreng bekas Adsorben Glass wool Filtrat Gambar 1.136 Lampiran 4.

kemudian dicuci dengan air dan disaring Serbuk biji kelor setelah disaring dioven Serbuk karbon biji kelor diayak dengan ukuran 100 mesh . Gambar Proses Pembuatan Karbon Aktif Biji Kelor Biji kelor sebelum dibersihkan Biji kelor yang sudah dibersihkan Biji kelor dibungkus aluminium foil dan ditanur suhu 600 C Karbon biji kelor ditumbuk dengan mortar Biji kelor setelah ditanur berbentuk karbon Biji kelor setelah ditanur Dicuci dengan air panas dan disaring. kemudian dioven Serbuk biji kelor direndam larutan NaCl 24 jam dan disaring.137 Lampiran 5.

Gambar Proses Despicing (Penghilangan bumbu) Minyak goreng bekas dan air dipanaskan dipisahkan air dan minyak Hasil despicing .138 Lampiran 6.

139 Lampiran 7. Gambar Proses Netralisasi dan Bleaching Minyak dipanaskan dan ditambah larutan NaOH Minyak hasil netralisasi Minyak hasil Pdespicing Proses Bleaching Minyak hasil bleaching .

140 Lampiran 8. Gambar Minyak Goreng Sebelum dan Sesudah Processing Minyak goreng bekas Minyak hasil despicing Minyak hasil netralisasi Minyak hasil bleaching Color reader Tanur .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->