P. 1
Hakikat Manusia Menurut Ibnu

Hakikat Manusia Menurut Ibnu

|Views: 20|Likes:
Published by Dika Sanjaya

More info:

Published by: Dika Sanjaya on Oct 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2012

pdf

text

original

HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU MISKAWAIH

Posted on April 25, 2011 by ahmadsidqi| Tinggalkan komentar

Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam artian tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai. Selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia. Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, makhluk yang unik multi dimensi, serba meliputi, sangat terbuka, dan mempunyai potensi yang agung.

Timbul pertanyaaan siapakah manusia itu? Pertanyaan ini nampaknya amat sederhana, tetapi tidak mudah memperoleh jawaban yang tepat. Biasanya orang menjawab pertanyaan tersebut menurut latar belakangnya, jika seseorang yang menitik beratkan pada kemampuan manusia berpikir, memberi pengertian manusia adalah “animal rasional”, “hayawan nathiq”, “hewan berpikir”. Orang yang menitik beratkan pada pembawaan kodrat manusia hidup bermasyarakat, memberi pengertian manusia adalah “zoom politicon”, “homo socius”, “makhluk sosial”. Orang yang menitik beratkan pada adanya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup, memberi pengertian manusia adalah “homo economicus”, “makhluk ekonomi”. Orang yang menitik beratkan pada keistimewaan manusia menggunakan simbul-simbul, memberi pengertian manusia adalah “animal symbolicum”. Orang yang memandang manusia adalah makhluk yang selalu membuat bentuk-bentuk baru dari bahan-bahan alam untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, memberi pengertian manusia adalah “homo faber”, dan seterusnya.

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi, sebagai makhluk yang hidup bersama-sama dengan orang lain, sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh oleh Allah. Manusia sebagai makhluk berpribadi, mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam, berfungsi terhadap alam. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yaitu : unsur perasaan, unsur akal, dan unsur jasmani.

Dalam tulisan ini akan dibahas tetang hakikat manusia menurut Ibnu Miskawaih. Disamping membahas hakikat manusia Ibnu Miskawaih juga mempunyai banyak karya dalam bidang Etika. Semua itu akan dibahas dalam pembahasan berikut ini.

Riwayat Hidup dan Karya-karya Ibn Miskawaih Nama kepanjangannya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Ja‟qub ibn Miskawaih, panggilannya Abu Ali al – Khazin. Mengenai kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, ada yang berpendapat tahun 320 H / 932 M, namun ada yang mengatakan tahun 330 H / 941 M di Ray (sekarang Teheran). Ia mempelajari sejarah yaitu Tarikh al – Thabari dari Abu bakar Ahmad ibn Khamil al-Qadhi pada tahun 350 H / 960 M, kemudian belajar

(Widyastini. Kitab al-Fauz alAshghar. beliau telah selamat dari kelamnya selimut kesesatan. Berasal dari Ray sebuah tempat di Iran. Ibn Miskawaih memiliki keahlian dalam berbagai bidang ilmu. yaitu Tahdzib al-Akhlak wa Tathhir al-A‟raq. Tahdzib al – Akhlaq dan 5. Kitab al-Aql wa Al-Ma‟qul. Bahkan hal itu justru mengangkat derajatnya. al-Fauz Asygar serta karya-karya lainnya. lalu ia mengabdi pada putranya yang bernama Abu al-fath Kifayatain dan akhirnya Ibnu Miskawaih mengabdi kepada Adhuh al-Daulah dari Bani Buwaih yang masih keturunan bangsawan kerajaan Persi. Andaipun betul begitu adanya. bertepatan dengan tahun 1030 Masehi. Jawidan Khirad adalah buku-buku yang membahas masalah akhlaq. sesudah pustakawan itu meninggal. 3. nama lengkap beliau Abu Ali. Ia telah menulis 41 buah buku dan artikel yang selalu berkaitan dengan filsafat akhlak. dan 15 buah sudah dicetak. Menurut Al-Labib. kimia dari Abu al Thayyib al-Razi. Ibnu Miskawaih mendapat gelar sebagai Bapak Etika Islam. Ibnu Miskawaih hidup bersama Abu Fadhl ibn al-Amid (seorang ahli pustaka) pada tahun 360 H / 970 M. Risalat fi Mahiyyat al-„Adl. dan meninggal dunia di kota ini pada tahun 421 Hijriah.filsafat dengan berguru kepada Ibn al-Khamar. menetap di Isfahan. Ahmad bin Muhammad bin Ya‟kub bin Miskawayh. Beliau terkenal dengan julukan al-Khazin (Pustakawan). Bersama seluruh jiwa raganya. al-Fauz Akbar. di antaranya Tajarib al-Umam (Pengalaman bangsa-bangsa) yaitu sebuah karya monumental yang memuat tentang sejarah. Maqalat fi al-Nafs wa al-Aql. hal itu tidak harus berarti bahwa beliau tercela gara-gara Majusi lalu masuk Islam. Dari 15 naskah yang sudah dicetak penulis hanya menemukan 9 judul. 8 buah masih berupa manuskrip. 4. ternyata beliau mendapat petunjuk setelah sekian lama terjerembab dalam kesesatan. Kemudian menonjol dalam bidang sastra dan sejarah. dulunya Ibn Miskawayh adalah seorang Majusi yang kemudian masuk Islam. Uns al-Farid (Kesenangan tiada tara) sebuah koleksi anekdot yang ditulis dengan gaya bahasa yang tinggi dan penuh dengan sentuhan moral. 2. Menekuni bidang kimia. Fauz al – Akbar adalah buku yang membahas masalah etika. dan Washiyyat Ibn Miskawaih. dalam bidang kedokteran beliau menulis buku al-Syaribah (Minuman). karya – karya Ibnu Miskawaih dalam bidang Etika antara lain adalah : 1. (Widyastini. Al-Qifthi. Kitab al-Sa‟adat. Tapi barangkali juga yang dimaksudkan adalah kakeknya. Karena. Al-Labib pernah juga . 18 buah dinyatakan hilang. Ibnu Miskawaih Ibn Miskawaih adalah seorang filosof dan sejarawan. Kemudian beliau mengkhususkan diri mengabdi pada Baha‟ Al-Daulah Al-Buwaihi yang memberinya kedudukan tinggi. Dari 41 karyanya itu. al-Hikmat al-Khalidat. Al – Siyar adalah buku yang membahas masalah norma-norma kehidupan. filsafat dan logika untuk waktu yang lama. 2004: 53). Tartib al – Sa‟adah adalah buku yang membahas masalah akhlaq dan politik. Beliau menulis banyak buku. karena dipercaya untuk menangani buku-buku Ibn Al-Amid dan Adhud AlDaulah bin Suwaihi. Risalat fi al-Ladzdzat wa al-Âlam. 2. 2004: 52).

Kebahagian dimaksud harus menjadi tujuan tertinggi dengan sendirinya. Dengan demikian. sangat penting menegakkan akhlak yang benar. Sedangkan kebaikan khusus adalah kebaikan bagi seseorang secara pribadi. Kebaikan adakalanya umum. Ibn Miskawayh adalah seorang filsuf muslim yang telah mengabdikan seluruh perhatian dan upayanya-yang barangkali jauh melebihi pemikir Islam lain manapun dalam bidang etika. Menurut Ibn Miskawayh. Kebaikan Umum tadi adalah kebaikan bagi seluruh manusia dalam kedudukannya sebagai manusia. Karena itu kebiasaan atau latihan-latihan dan pendidikan dapat membantu seseorang untuk memiliki sifat-sifat terpuji tersebut. sehingga filsafat beliau termasuk filsafat eklektik. karena berhubungan dengan akal. dan keutamaan (al-Fadhilah). Yang banyak dijumpai di kalangan manusia adalah mereka yang memiliki sifat-sifat kurang terpuji (asyrar) karena watak. dijumpai di tengah masyarakat ada orang yang memiliki akhlak yang dekat kepada malaikat dan ada pula yang lebih dekat kepada hewan. Ibn Miskawayh memulai pembahasan etikanya dengan menganalisa kebahagiaan dan mendefinisikan kebaikan tertinggi guna menyimpulkan kebahagiaan manusia selaku manusia. sedangkan kebahagiaan berbeda-beda tergantung pada orang-orang yang berusaha memperolehnya. Menurut Ibn Miskawayh. kebaikan adalah suatu keadaan di mana kita sampai kepada batas akhir dan kesempurnaan wujud. Ibn Miskawayh menolak pendapat sebagian pemikir Yunani yang mengatakan akhlak yang berasal dari watak tidak mungkin berubah. Menurut beberapa orang yang disebut-sebut „Miskawaih‟ adalah kakeknya bukan ayahnya. Pengertian kebahagiaan telah banyak dibicarakan oleh pemikir-pemikir Yunani yang pokoknya terdapat dua . sebaliknya juga akan membawa orang kepada sifat-sifat tercela. seperti Aristoteles. Akhlak terpuji sebagai manifestasi dari watak tidak banyak dijumpai. kebahagiaan (al-Sa„adah). sebab dengan landasan yang begitu akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik tanpa kesulitan. yang paling terhormat dari kalangan orang nonarab. Sikap mental ini terbagi dua ada yang berasal dari watak dan ada pula yang berasal dari kebiasaan dan latihan. Semua bentuk kebaikan secara bersama-sama berusaha mencapai kebaikan mutlak tersebut. Kebaikan mempunyai identitas tertentu yang berlaku umum bagi manusia. Masalah pokok yang dibicarakan dalam kajian tentang akhlak adalah kebaikan (al-Khair). suatu hal yang paling mulia pada manusia. dan adakalanya khusus. Selain itu beliau banyak merujuk sumber-sumber asing. Beliau berusaha menggabungkan doktrin Islam dengan pendapat filsuf Yunani. Kebaikan dalam bentuk terakhir inilah yang dinamakan kebahagiaan. Dengan demikian antara kebaikan dan kebahagiaan dapat dibedakan. Dengan demikian. Beliau pulalah orang yang paling kharismatik di antara orang-orang Persia.mengungkapkan bahwa beliaulah orang yang paling agung. moral atau akhlak adalah suatu sikap mental (halun li alnafs) yang mengandung daya dorong untuk berbuat tanpa berfikir dan pertimbangan. tetapi beliau bukan hanya peduli pada etika melainkan juga pada filsafat yang mengandung ajaran-ajaran etika yang sangat tinggi. Di atas semua kebaikan itu terdapat kebaikan mutlak yang identik dengan wujud tertinggi. Oleh Ibn Miskawayh ditegaskan kemungkinan perubahan akhlak itu terutama melalui pendidikan. Plato dan Galen dan beliau membandingkannya dengan ajaran-ajaran Islam.

maka kebahagiaan meliputi keduanya. kendatipun jiwanya masih terkait dengan badan. ada manusia yang terikat dengan hal-hal yang bersifat benda dan mendapat kebahagiaannya dengannya. Ibn Miskawayh menegaskan bahwa setiap keutamaan akhlak memiliki dua sisi yang ekstrem. Sedangkan pandangan kedua yang diwakili oleh Aristoteles. yaitu pandangan pertama yang diwakili oleh Plato. namun ia tetap rindu dengan kebahagiaan jiwa. Kebahagiaan jiwalah yang merupakan kebahagiaan yang paling sempurna dan mampu mengantar manusia yang memilikinya ke derajat malaikat. Karena itu Ibn Miskawayh berpendapat bahwa kedua an-nafs yang berasal dari materi akan hancur bersama hancurnya badan dan an-nafs an-natiqat tidak akan mengalami kehancuran. mulia. karena pada diri manusia ada dua unsur. serta menghambat perkembangan jiwanya menuju ke hadirat Allah. Kebahagiaan itu ada dua tingkat. moderat. Kebahagiaan yang bersifat benda tidak diingkarinya. Yang tengah bersifat terpuji yang ekstrem bersifat tercela. yaitu jiwa dan badan. Jiwa bernafsu (an-nafs al-bahimiyyat) sebagai jiwa terendah. yaitu: 1. Dalam pandangan Ibn Miskawayh manusia terdiri dari tiga jiwa. 2. . Kebahagiaan yang bersifat benda menurut Ibn Miskawaih. unsur ruhani berupa an-nafs al-bahimiyyat dan an-nafs alghadhabiyyat berasal dari unsur materi. Jiwa berani (an-nafs al-ghadhabiyyat) sebagai jiwa pertengahan 3. mengatakan bahwa kebahagiaan itu dapat dinikmati oleh manusia di dunia. mengatakan bahwa hanya jiwalah yang dapat mengalami kebahagiaan. Ketiga jiwa ini merupakan unsur ruhani manusia yang asal kejadiannya berbeda Sesuai dengan pemahaman tersebut di atas. mengandung kepedihan dan penyesalan. Dalam menguraikan sikap tengah dalam bentuk akhlak tersebut. Dari sini terlihat bahwa Ibn Miskawayh memberi tekanan yang lebih untuk pertama kali buat pribadi. Jiwa berfikir (an-nafs an-natiqat) sebagai jiwa tertinggi. manusia yang melepaskan diri dari keterikatannya kepada benda dan memperoleh kebahagiaan lewat jiwa. Pertama. lalu berusaha memperolehnya. harmoni. Hanya saja kebahagiaan itu berbeda menurut masing-masing orang. sedangkan an-nafs an-nathiqat berasal dari ruh Tuhan. dan seterusnya. Karena itu selama manusia masih hidup atau selama jiwa masih terkait dengan badan. Filsafat etika yang dipopulerkan oleh Ibn Miskawayh adalah filsafat etika yang berdasarkan pada doktrin jalan tengah. Kedua. Menurutnya. Ibn Miskawayh tidak membawa satu ayat pun dari al-Qur„ân dan tidak pula membawa satu dalil dari hadis. Doktrin jalan tengah (al-wasath) yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah The Doctrin of The Mean atau The Golden. maka selama itu pula tidak akan diperoleh kebahagiaan itu. Ibn Misykawaih secara umum memberi pengertian pertengahan (jalan tengah) tersebut antara lain dengan keseimbangan. Ibn Miskawayh tampil di antara dua pendapat yang tidak selaras itu secara kompromi. atau posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstrem kekurangan masing-masing jiwa manusia. dan orang sakit pada kesehatan. Seperti orang miskin memandang kebahagiaan itu pada kekayaan. utama. tetapi dipandangnya sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah.versi.

daya berani (al-Nafs al-Sabu‟iyyah). peluang. Demikian pula ukuran tingkat kesederhanaan pada masyarakat negara maju akan berbeda dengan tingkat kesederhanaan pada masyarakat negara berkembang. selalu berada dalam gerak (dinamis).multiply. (http://abiisyarfaq. doktrin tersebut dapat terus-menerus berlaku sesuai dengan tantangan zamannya tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial dari pokok keutamaan akhlak. sebab “kesan” pada pendidikan dini inilah yang akan berakar kuat dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang. Perkembangan ilmu pengetahuan. Ibn Miskawayh memberikan perhatian yang cukup besar terhadap pendidikan anak-anak. Konsep Manusia Menurut Ibnu Miskawaih Menurut Ibn Miskawaih penciptaan yang tertinggi adalah akal sedangkan yang terendah adalah materi. kemampuan dan aktivitas. Hal tersebut akan berbeda lagi dengan tingkat kesederhanaan pada masyarakat miskin. Akal dan jiwa merupakan sebab adanya alam materi (bumi). karena banyak dijumpai ayat-ayat al-Qur„ân yang memberi isyarat untuk itu. sedangkan bumi merupakan sebab adanya tubuh manusia. melainkan harus bersifat di antara kikir dan boros. Hal ini sejalan dengan ayat al-Qur„ân surat al-Isra : 29 dan al-Furqon : 67. Sementara itu. Dalam diri manusia terdapat tiga daya jiwa. namun setiap orang . Pada jiwa anak berakhirlah ufuk hewani dan dimulailah ufuk manusiawi.Namun demikian menurut penilaian al-Ghazâlî. teknologi.com/journal/item/4). Ia menyebutkan bahwa masa kanak-kanak mata rantai jiwa hewan dengan jiwa manusia berakal. Ukuran tingkat kesederhanaan di bidang materi untuk masyarakat kalangan mahasiswa misalnya tidak dapat disamakan dengan ukuran kesederhanaan pada masyarakat dosen. Setiap yang ada itu dapat berubah menjadi baik. dan daya berfikir (al-Nafs al-Natiqah). Hal demikian dapat dipahami. Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa sikap pertengahan merupakan sikap yang sejalan dengan ajaran Islam. bahwa spirit doktrin jalan tengah ini sejalan dengan ajaran Islam. ekonomi dan lainnya merupakan pemicu bagi gerak zaman. Sedini mungkin anak-anak harus mendapat pendidikan akhlak mulia. apabila ia memiliki kesanggupan yang memadai utnuk mencapai tujuan yang akan dicapai. mengingat pentingnya pembinaan akhlak. mengikuti perkembangan zaman. yaitu daya bernafsu (al-Nafs al-Bahimiyyah). Doktrin jalan tengah ini juga dapat dipahami sebagai doktrin yang mengandungan arti dan nuansa dinamika. Sebagai makhluk sosial. Letak dinamikanya paling tidak pada tarik-menarik antara kebutuhan. pendidikan. Karena itu anak-anak harus dididik dengan akhlak yang mulia. Berkaitan dengan masalah akhlaq Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa kebaikan bagi makhluk hidup adalah usahanya untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuan. Jadi dengan doktrin jalan tengah manusia tidak akan kehilangan arah dalam kondisi apapun. Ukuran akhlak tengah selalu mengalami perubahan menurut perubahan ekstrim kekurangan maupun kelebihannya. Daya bernafsu dan berani berasal dari unsur materi. seperti tidak boleh kikir tetapi juga tidak boleh boros. Pada diri manusia terdapat jiwa berfikir yang hakikatnya adalah akal yang berasal dari pancaran Tuhan. Oleh karena itu. sedangkan daya berfikir berasal dari ruh Tuhan yang tidak akan mengalami kehancuran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa doktrin jalan tengah ternyata tidak hanya memiliki nuansa dinamis tetapi juga fleksibel.

An Nafs al-bahimiyah adalah jiwa hewan yang buruk. Dan berkaitan dengan filsafat manusia. pembohong. maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa kodrat manusia itu ada yang baik dan ada yang buruk. c. jika amal perbuatannya dilandasi dengan harkat dan martabat kemanusiaannya. Jiwa manusia memiliki tiga tingkatan. maka hidup dan kehidupannya senantiasa menuruti jiwa intelektualnya. hal ini sesuai pendapat Gelenus yang mengatakan bahwa kodrat manusia itu buruk dapat berubah menjadi baik jika dibina melalui pendidikan. namun juga dikendalikan oleh jiwa intelektual yang baik. An Nafs an-nathiqah adalah jiwa intelektual yang baik. adalah : a. terdiri dari sifat-sifat tidak bertanggung jawab. dan sifat-sifat buruk lain. Ibnu Miskawaih tidak menjelaskan filsafat sampai kepada definisinya.terdapat perbedaan yang prinsip sesuai dengan minat dan bakatnya. sehingga semua perilaku dapat sama dengan bakat intelektualnya yang mampu memilah-milahkan yang baik dengan yang tidak baik. yang benar dengan yang tidak benar sesuai dengan proporsi yang sebenarnya. maka manusia akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi bahkan setaraf dengan malaikat. Keutamaan moral ini diawali dari kesanggupan memelihara bakat-bakatnya dan perilaku-perilaku yang berhubungan dengan hal tersebut. hal ini disebabkan adanya daya pikir yang merupakan pusat pertimbangan perilaku yang senantiasa bertujuan kearah kebaikan. pengasih dan suka kepada kebenaran. Teoritis adalah keutamaan manusia dalam memenuhi bakatnya agar dapat mengenali segala sesuatu. disebut al-quwwah alalimah. sehingga dengan ilmu yang telah dicapainya dapat menghasilkan pemikiran. harga diri. Selanjutnya Ibnu Miskawaih menyatakan bahwa jiwa manusia mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari jiwa hewan. kepercayaan untuk mendapatkan kebenaran. Manusia termulia adalah paling tinggi jiwa intelektualnya. menentukan pribadinya dalam tingkatan mana yang sesuai dengan dirinya. apabila mempunyai jiwa intelektual. Manusia dapat menjadi manusia sesungguhnya. sedang manusia yang dikendalikan oleh jiwa hewan yang buruk dan buas. b. pemberani. . Keutamaan moral pada akhirnya mampu memelihara hubungan di antara manusia yang satu dengan yang lain sampai terwujud kehidupan bersama yang bahagia. apabila manusia dapat menguasai filsafat yang teoritis dan praktis. terdiri dari sifat-sifat keadilan. An Nafs as-sabu‟iyah adalah jiwa hewan buas yang dimiliki oleh manusia. namun selanjutnya menjadi buruk disebabkan manusia berpotensi kearah keburukan: sedang kodrat manusia itu buruk. sedang yang praktis adalah keutamaan manusia dalam memenuhi bakatnya agar dapat melaksanakan perilaku-perilaku moral. dan dengan jiwa intelektualnya manusia berbeda dengan hewan. sombong. Oleh karena itu manusia harus dapat memilih. disebut al-quwwah al-alimah. maka kedudukannya akan menurun dari sifat-sifat kemanusiaannya. sehingga seseorang dapat menjadi baik dan selalu memperoleh keuntungan. ( Widyastini 2004: 53-54). Kodrat manusia itu baik sesuai dengan anggapan kaum Stoa yang menyatakan bahwa manusia diadakan (diciptakan) dalam kondisi baik. kadang-kadang manusia itu dikendalikan oleh jiwa hewan yang buruk. tetapi hanya membedakan filsafat dalam dua bagian yaitu teoritis dan praktis.

. sedang as-sa‟adah bermacam-macam tergantung pada seseorang yang berupaya mendapatkannya. Manusia dalam berusaha memperoleh kebahagiaan senantiasa membutuhkan syariat-syariat yang berasal dari Allah agar dapat meraih kebijaksanaan sampai pada akhir hidupnya. . Bookmark the permalink. Suka Be the first to like this post. Dan beliau berpendapat bahwa manusia mempunyai kodrat kebaikan dan keburukan. Ibnu Miskawaih memberi penegasan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial.Manusia dapat merubah perilakunya dengan melaui berbagai macam pendidikan. Manusia dalam berusaha memperoleh kebahagiaan senantiasa membutuhkan syariat-syariat yang berasal dari Allah agar dapat meraih kebijaksanaan sampai pada akhir hidupnya. terutama dalam kaitannya dengan pembinaan akhlaq. maka sebaiknya tidak cukup hanya dengan mengutamakan akhlaq bagi dirinya sendiri.. baik dengan petuah-petuah. namun juga harus berperan serta memelihara akhlaq bagi masyarakat. maka al-khair memilki ciri-ciri yang tetap. This entry was posted in Tak terkategori. Dan Manusia akan menjadi lebih baik dan berkembang melalui berbagai pendidikan. Hasil Titik Temu Tujuan paling tinggi yang akan dicapai oleh seluruh umat manusia adalah kebaikan mutlak yang berupa kebahagiaan yang paling tinggi. adat kebiasaan. namun juga harus berperan serta memelihara akhlaq bagi masyarakat. maka sebaiknya tidak cukup hanya dengan mengutamakan akhlaq bagi dirinya sendiri. 2004: 55-56). Al Khair merupakan sesuatu yang akan dituju oleh setiap orang dan berlaku bagi semua umat manusia dalam dalam peranannya selaku manusia. Ibnu Miskawaih memberi penegasan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial. maka pendidikan lingkungan mempunyai makna yang demikian penting. Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa manusia yang berintelektual tinggi adalah manusia yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi. akhlaq yang seluruhnya dapat menjadikan manusia memanfaatkan akal pikirannya untuk menentukan yang seharusnya dilaksanakan dan ditinggalkan. Tujuan paling tinggi yang akan dicapai oleh seluruh umat manusia adalah kebaikan mutlak yang berupa kebahagiaan yang paling tinggi. sehingga memiliki ciri-ciri yang tidak tetap. sedang as-sa‟adah merupakan kebaikan yang berhubungan dengan individu. TINGGALKAN BALASAN Enter your comment here. Ibnu Miskawaih mengatakan bahwa kebaikan (al khair) dibedakan dengan kebahagiaan (as-sa‟adah). ( Widyastini.

    Guest Masuk Masuk Masuk Email (wajib)(Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik. Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik. Kirim Komentar  CARI ITU! Pencarian untuk: Cari  ENTRI TERKINI           Indonesia di Ambang Krisis Ideologi HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU MISKAWAIH KORELASI ANTARA LIBERALISME DAN KAPITALISME HISTORIS MATERIALISME MARX SEBAGAI TEORI ATAS PERJUANGAN KELAS H. Kiayi Berpangkat ”Palu Arit” Ala Rosululloh MENUNGGU KEAJAIBAN MAHKOTA MAJAPAHIT NU Dan Gerakan Islam Dalam Kancah Perpolitikan Nasionalisme VS Globalisasi Hermeneutika Pembebasan Hanafi Serta Sikap ”LA” (Tidak) Terhadap Tradisi Barat detikcom : Kantong Laba Bank Terus Menggemuk  TAUTAN      "Senthir" Press Yogyakarta Ahmad Baihaqi Lathif Ahmad Baiquni Ahmad Sidqi Ahmadsidqi\‟s Weblog . Misbach.

Najib Yuliantoro Nahdhatul Ulama Partai Kebangkitan Nasional Ulama PP Al-Munawwir Krapyak PP Langitan Prof. Alwi Shihab Rona Utami Situs PBNU resmi .                   Alfayyadl Amri Rosyidi Azzah Chanif Ichsan Dudy Sya'bani Takdir Filsafat Sosial Politik GMNI FILSAFAT GP Ansor Haris Nur Ali Idham Cholied Lilik M.

Najib Yuliantoro Nahdhatul Ulama Partai Kebangkitan Nasional Ulama PP Al-Munawwir Krapyak PP Langitan . Kirim Kom entar Bottom of Form • CARI ITU! Top of Form Cari Pencarian untuk: Bottom of Form • ENTRI TERKINI           • Indonesia di Ambang Krisis Ideologi HAKIKAT MANUSIA MENURUT IBNU MISKAWAIH KORELASI ANTARA LIBERALISME DAN KAPITALISME HISTORIS MATERIALISME MARX SEBAGAI TEORI ATAS PERJUANGAN KELAS H. Kiayi Berpangkat ”Palu Arit” Ala Rosululloh MENUNGGU KEAJAIBAN MAHKOTA MAJAPAHIT NU Dan Gerakan Islam Dalam Kancah Perpolitikan Nasionalisme VS Globalisasi Hermeneutika Pembebasan Hanafi Serta Sikap ”LA” (Tidak) Terhadap Tradisi Barat detikcom : Kantong Laba Bank Terus Menggemuk TAUTAN                      "Senthir" Press Yogyakarta Ahmad Baihaqi Lathif Ahmad Baiquni Ahmad Sidqi Ahmadsidqi\’s Weblog Alfayyadl Amri Rosyidi Azzah Chanif Ichsan Dudy Sya'bani Takdir Filsafat Sosial Politik GMNI FILSAFAT GP Ansor Haris Nur Ali Idham Cholied Lilik M.Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik. Misbach.

Alwi Shihab Rona Utami Situs PBNU resmi .   Prof.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->