P. 1
Demokrasi Liberal

Demokrasi Liberal

|Views: 59|Likes:
Published by Ibnu Malik Ibrahim

More info:

Published by: Ibnu Malik Ibrahim on Oct 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2011

pdf

text

original

Demokrasi liberal

Demokrasi liberal (atau demokrasi konstitusional) adalah sistem politik yang melindungi secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah. Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusi. Demokrasi liberal pertama kali dikemukakan pada Abad Pencerahan oleh penggagas teori kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau. Semasa Perang Dingin, istilah demokrasi liberal bertolak belakang dengan komunismeala Republik Rakyat. Pada zaman sekarang demokrasi konstitusional umumnya dibanding-bandingkan dengan demokrasi langsung atau demokrasi partisipasi. Demokrasi liberal dipakai untuk menjelaskan sistem politik dan demokrasi barat diAmerika Serikat, Britania Raya, Kanada. Konstitusi yang dipakai dapat beruparepublik (Amerika Serikat, India, Perancis) atau monarki konstitusional (Britania Raya, Spanyol). Demokrasi liberal dipakai oleh negara yang menganut sistem presidensial (Amerika Serikat), sistem parlementer (sistem Westminster: Britania Raya dan Negara-Negara Persemakmuran) atau sistem semipresidensial (Perancis). Sejarah telah usai,” teriak Francis Fukuyama. Seruan itu tepat didengungkan setelah komunisme di Uni Sovyet runtuh lewat program glasnost dan perestroika dan hampir bersamaan dengannya China juga mulai membuka ekonomi nasionalnya. Komunisme dan model ekonomi-terpimpin yang awalnya begitu gagah dan tangguh melawan kapitalisme dan demokrasi liberal, tiba-tiba jatuh tersungkur tak bangkit lagi. Perang Dingin usai sudah. Lewat seruan Fukuyama itu genderang kemenangan sudah ditabuh. Hingga kini, Demokrasi Liberal dan Kapitalisme menjadi pemenang tunggal peradaban. Lantas, seperti Fukuyama ungkapkan, tugas manusia modern menjadi semakin ironis; hanya merawat dunia yang laksana museum tambo. Tidak ada lagi gairah, perlawanan dan antidot. Cerita tentang sosok Che sang petualang revolusi sudah harus dikubur dalam-dalam. Kisah heroik Lenin hanya tinggal sejarah di buku-buku, keberanian Usamah bin Laden cukup hanya tersemat di kaos-kaos anak muda saja. Narasi besar tentang revolusi dan perlawanan massa hendak diakhiri, tetapi narasi besar yang lain, yang berwujud demokrasi liberal dan kapitalisme harus tetap dibiarkan melenggang. Lantas seorang sastrawan Indonesia, Gunawan Mohamad, mengamininya dengan menuliskan sebuah buku; Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. Benarkah Demokrasi Liberal dan kapitalisme adalah satu-satunya kebenaran? Benarkah tidak akan ada perlawanan terhadap dominasi “Two Towers” (baca: demokrasi liberal dan kapitalisme) ini? Benarkah ini sistem yang terbaik? Benarkah kapitalisme dan demokrasi liberal tidak akan mengalami krisis dan kontradiksi internalnya? Petaka Demokrasi Liberal Krisis dan kritik terhadap model demokrasi liberal sebenarnya sudah jauh hari diingatkan oleh beberapa kalangan. Kritik terhadap demokrasi datang dari tradisi Marxisme – utamanya Lenin – yang menyebut bahwa demokrasi sebenarnya adalah siasat kaum borjuis. Lenin mengolok demokrasi liberal sebagai kediktatoran kaum borjuis (the dictatorship of borguise), dimana instrumen dan sumberdaya kekuasaan

BBM dinaikkan. Kelihaian media mengemas opini publik membuat moralitas politik menjadi abu-abu. Atas nama pertumbuhan ekonomi. perlahan-lahan mati. adalah tempat akses dan relasi ekonomi. Setelah itu. kritik terhadap demokrasi liberal juga datang dari kalangan pendukungnya sendiri. Senada dengan itu.yang berupa hukum. Negara. persekutuan najis itu mulai tercipta. Karena hanya model ekonomi kapitalisme yang tersedia – yang bertumpu pada kekuatan modal besar -. politik. harga-harga semakin mahal. seperti kita semua maklum. sesat pikir kaum demokrasi prosedural juga karena ia menyembunyikan fakta tentang negara dan kekuasaan. Demokrasi. Dari sini. Cita-cita mulia demokrasi direduksi menjadi sebatas hal yang prosedural dan teknis. Yang disebut keterbukaan. Lalu muncullah makhluk lama dengan baju yang baru: neoliberalisme. Karena itu. jujur dan berkala dan partisipasi rakyat yang tinggi selama pemilu. juga menyanyikan nada yang seirama. begitu juga sebaliknya. bagaimana menjalankan dan mengatur finansial sebuah negara. Samuel P. Di ujung jalan. Negara dan sistem demokrasi juga berhubungan dengan masalah bagaimana menciptakan kesejahteraan. Akibatnya. dalam cita-cita yang sesungguhnya. kemiskinan dan pengangguran tetap saja berkembang biak. Bagi Huntington. Sebuah makhluk yang mengendap-endap . demokrasi cenderung melahirkan oligarki dan teknokrasi. maka demokrasi membutuhkan kapitalisme. Tidak hanya pada tradisi marxisme. Tidak hanya itu. adil. penggusuran dimanamana. sistem demokrasi juga berhadapan dengan masalah ekonomi. ia mulai mengangkangi negara. Karena itu negara membutuhkan sebuah persekutuan yang taktis dan cepat. Bagaimana mungkin tuntutan rakyat banyak bisa diwakili dan digantikan oleh segelintir orang yang menilai politik sebagai karier untuk menambang keuntungan finansial? Kedua. Atas nama kemajuan dan perdagangan bebas. sama naifnya dengan Schumpeter. Dalam konteks ini kritik Geoff Mulgan terhadap paradoks demokrasi sangat tepat dan jitu. demokrasi hanya diwujudkan dalam pemilu. alih-alih berpihak kepada kesejahteraan proletar. juga cenderung menggantikan partisipasi rakyat. ekonomi dan politik terkonsentrasi pada segelintir kelompok borjuis saja. kompetisi dimaknai sebagai persaingan pasar bebas yang penuh tipu daya. ia mulai menyiasati demokrasi. Huntington. Pertama. Karena itu. model demokrasi ini hanya akan menghasilkan model politik massa mengambang serta lahirnya oligarkh dan teknokrat politik yang enggan berbaur dan menjawab tuntutan serta penderitaan rakyat. kualitas demokrasi diukur oleh pemilihan umum yang kompetitif. media yang mereduksi partisipasi rakyat. suara rakyat ditendang dan dikhianati. prinsip-prinsip demokrasi seperti keterbukaan. Ketiga. Ada tiga hal pokok dalam kritiknya terhadap demokrasi. pendidikan dan kesehatan dikomersialisasikan. hanya berarti keterbukaan untuk berusaha bagi pemilik modal besar. hukum berlangsung. kebebasan dan kompetisi juga telah dibajak oleh kekuatan modal. Ironi ini bermula dari teoretisi demokrasi Joseph Schumpeter yang menafsirkan demokrasi hanya terbatas sebagai mekanisme memilih pemimpin melalui pemilu yang kompetitif dan adil. kebijakan publik tidak lagi memihak rakyat. Ini berujung pada semakin kecil dan terpinggirkannya ‘partisipasi langsung’ dan ‘kedaulatan langsung’ rakyat. kebebasan artinya kebebasan untuk berinvestasi bagi perusahaan multinasional. Suara rakyat dibutuhkan dan ditambang hanya ketika pemilu datang. tampaknya kapitalismelah yang berkuasa.

bagaimana suasana yang terjadi setelah dunia berada dalam jaman globalisasi neoliberal ini. Hungaria. 51 dari 100 negara terbesar dunia adalah perusahaan. memiliki penghasilan yang lebih besar daripada negaranegara Eropa Timur dan Tengah termasuk Polandia. hampir semua kebijakan dan lembaga internasional seperti World Bank. Teror Neoliberalisme Pada awalnya hanyalah gagasan. Aset IBM. selama berlangsungnya era globalisasi yang ditandai oleh kebijakan privatisasi. Istilah terakhir ini dipinjam dari Noreena Heertz. Republik Ceko. Ini bisa ditandai oleh semakin mengguritanya korporasi internasional yang bersiap mencengkeram seluruh kehidupan rakyat. Gagasan ini kemudian dengan cepat menjadi sebuah ‘horor global’ ketika ia diadopsi menjadi sebuah tata dunia baru. Rumania dan Slovakia. Pertama. pengusaha dan media ini memperbincangkan dan mengangankan sebuah tata dunia baru yang tanpa tapal batas.muncul. Ini terjadi setelah administrasi Reagen dan Tatcher mengadopsi gagasan Mont Pelerin Society ini. BP dan General Electric lebih besar daripada kebanyakan negara-negara kecil. globalisasi. ada krisis besar dan resesi ekonomi dunia yang utamanya mengenai Amerika Serikat. sebuah tata dunia baru yang dikendalikan sepenuhnya oleh pasar dan kekuatan modal. maka tapak-tapak imperialisme ini mulai berjalan. terjadi pergeseran kekuasaan. Neoliberalisme kemudian dikenal sebagai sebuah kendaraan yang mengusung satu proyek besar dunia. Kekuasaan pasar dan korporasi global tiba-tiba tumbuh mejadi monster yang bisa mengancam keberadaan negara dan demokrasi rakyat. dan kemajuan teknologi komunikasi. Krisis ini semacam krisis overproduksi yang menimpa sejumlah perusahaan multinasional dan perbankan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme negara yang dianut oleh kebanyakan negara-negara dunia ketiga dan negara-negara miskin. Beberapa pemikir. hanya 49 yang merupakan negara bangsa. artinya kurang lebih sebuah penjajahan yang terselubung. Pendeknya setelah jaman globalisasi neoliberal menjelang. lalu menjalankan taktik “silent takeover”. kemenangan gagasan neoliberalisme adalah kemenangan bagi perusahaan multinasional dan sejumlah korporasi yang merasa menderita pada jaman kapitalisme negara. Dalam data yang dimiliki oleh Noreena tercatat ada 100 perusahaan multinasional terbesar mengontrol 20% aset asing global. Penjualan General Motor dan Ford lebih besar daripada GDP seluruh negara-negara sub-sahara Afrika. Menurutnya. IMF dan WTO praktis mengalami perubahan untuk mendukung paham globalisasi. Kedua. Termasuk juga kemenangan bagi negara maju dan sejumlah korporasinya untuk memberi ‘tekanan’ pada negara miskin agar mematuhi doktrin khas neoliberal: liberalisasi-privatisai-deregulasi. ada dua faktor yang mendorong kenapa gagasan tentang neoliberalisme ini dipakai dan diadopsi oleh rejim anglo-america tersebut. sebuah tata dunia yang meninggalkan negara kesejahteraan a la Keynessian menuju pasar bebas. Paling tidak. model negara kesejahteraan (welfare state) mengalami kebangkrutan akibat besarnya pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh negara untuk jaminan sosialnya rakyatnya. Ukraina. Dengan demikian. deregulasi dan liberalisasi perdagangan. Neoliberalisme digulirkan sekelompok intelektual di sebuah dataran tinggi Mont Pelerin di Swiss. Noreena Hertz punya gambaran yang menarik. Karena itu barang-barang yang dikonsumsi manusia hampir berada dalam genggaman korporasi . pengecer supermarket Amerika Serikat. sebuah tata dunia yang berjalan tanpa aturan negara. Setelah itu. dan WalMart.

kesejahteraan dan keadilan pasti akan datang. maka tentu juga akan tetap didukung. Kesaksian Noreena atas kemiskinan dan ketimpangan yang juga terjadi di Amerika dan Inggris menjadi bukti bahwa neoliberalisme memang ancaman besar bagi dunia. neoliberalisme masuk ketika negara-negara itu mengalami krisis politik dan krisis ekonomi. globalisasi neoliberal ini jelas lebih banyak menghasilkan ‘mereka yang kalah’ dibandingkan dengan mereka yang menang. Hilangnya tapak komunalisme dalam demokrasi. kita sebaiknya tidak menelan mentah-mentah sebuah doktrin bahwa setelah rejim otoriter runtuh. di negara-negara manapun perjalanan transisi bukan berjalan secara alami. Tetapi. Begitulah ceritanya. untuk menegakkan prinsip-prinsip neoliberalisme. yang cenderung mengabaikan fitrah loyalitas kepada konstituen-nya. politisi pun dengan alaminya memunggut rasionalisme sebagai patronase tindakan dan pola berpolitik. dalam hal ini ialah kekuasaan adalah semangat dari rasionalitas politik di tengah kubangan demokrasi liberal. maka political individualism menguat dan menggantikan political society. Faktanya. Logika demokrasi liberal yang bermain dalam konstruksi politik. kekerasan juga dihalalkan dan rezim otoriter pun juga didukung asalkan menegakkan prinsip-prinip demokrasi pasar dan neoliberalisme. Di tangan mereka-lah kehidupan dunia kini dipertaruhkan. kepuasan politik. ada kekuasaan lain yang jauh lebih imperalistik dan menindas. Menurut Ferran Requejo (1991) logika dasar dari demokrasi liberal ialah rasionalisme. kemudian demokrasi berdiaspora menuju dataran “liberalisme” yang lebih luas. Rusia.” Menuju maksimalisasi keinginan. Pada masa itulah melalui sejumlah agenagen utamanya semisal IMF dan World Bank. Argentina. akumulasi modal dan penumpukan laba jalan terus. Dari sinilah. agenda neoliberalisme mulai masuk dan membuat sejumlah penyesuaian struktural. Korea Selatan atau Brazilia. Dan disambutlah sebuah jaman yang seringkali disebut-sebut dengan nada optimis yang meluap: transisi menuju demokrasi. Tata dunia yang ditandai oleh ketidakadilan sosial dan makin merebaknya kemiskinan. Ferran Requejo memahami rasionalisme dalam politik adalah “the maximization of particular interests of individuals and groups.ini. . Menurut Noreena. Pada tahap yang lebih maju. Yang penting. netral dan bukan tidak ada kepentingankepentingan modal yang mengincar setiap ruas jalannya. Sebuah kekuasaan korporasi yang senantiasa mengincar jalan yang sedang ditempuh oleh negara-negara yang mengalami masa transisi. diaspora logika demokrasi liberal ini membentuk karakter politik marketisme. Rasionalisme dalam demokrasi tetap akan dimaknai secara tidak berbeda dalam pemaknaan rasionalisme pada wilayah ekonomi. menandaskan perbagai keyakinan akan rasionalisme dalam demokrasi. Salah satunya. Di negara-negara yang dulunya dipimpin oleh rejim otoriter seperti Indonesia. Bahkan. Sebuah tata dunia yang menghasilkan jurang dan celah yang begitu lebar antara yang kaya dan yang miskin. Jadi. Korporasi multinasional ini tiba-tiba berkembang menjadi finance oligarchy yang bersiap-siap untuk melucuti demokrasi dan keadilan sosial. demokrasi liberal akan dengan sendirinya memangkas core komunalitas dalam politik. Kekuasaan korporasi yang sangat hegemoik dan monopolis ini tentu mengakibatkan sebuah tata dunia yang timpang. Dalam bentuk ini juga. tak segan-segan. Ini merupakan pengertian dalam bentuk yang lain dari rasionalisme pada kehidupan politik. maka demokrasi akan menjelang.

Seiring menguatnya rasionalisme dalam demokrasi menjadikan Kita sering bertanya apa pengaruh terhebat rasionalisme terhadap demokrasi. yang sama sekali tidak berkaitan dengan realitas yang dialami masyarakat. tanpa perlu mengabdi dan berbuat untuk rakyat terlebih dahulu. ketimpangan ideologi dalam proses politik terhujam hebat. kekuasaan. stigma rasionalisme hanya dilekatkan pada economic an sich. Alhasil. politik melahirkan berbagai bentuk politik semu. Dalam kondisi ini. Dalam konteks ini Faust merupakan tokoh estetis. maka rasionalisme pun memasuki wilayah kehidupan secara luas. termasuk mengenal sulap. berupa politik pencitraan. Karena kini tak ubahnya. Mereka mengkonstruksi realitas. menyebabkan gesture demokrasi berubah seketika. Karena selama ini. Immediasi Politik Meminjam istilah Kierkegaard immediasi dimaknai sebagai wilayah. di mana orang hidup berdasarkan hasrat dan perasaan yang menuntut untuk dipenuhi lansung. terutama bagi aktor politik sebagai upaya mendorong transisi kekuasaan ke bentuk yang aplikatif dari komitmen kebangsaan dan kerakyatan. Namun ketika dentuman liberalisme pecah dalam tubuh politik sebagai akibat lansung terkooptasinya demokrasi oleh liberalisme seketika politik berubah makna menjadi tujuan individual. Dalam drama ini diceritakan bahwa faust membuat perjanjian dengan setan agar dapat memperoleh kenikmatan. dan pengetahuan yang luas. mengingatkan “Kita” pada sebuah drama faust karya penyair Jerman. Apa kaitannya penggalan ini dengan realitas politik kita saat ini? Tak ada yang menyanggal bahwa politik “Kita” saat ini lahir dari berbagai bentuk perjanjian yang kompleks. demokrasi menjadi tumpul karena hanya dipahami sebagai fabricated kekuasaan.Rasionalisme dalam demokrasi memang tidak begitu akrab diperdengarkan dan amat jarang dikaitkan. parahnya budaya politik uang menjadi bagian yang tak ter-elakkan. Ini tepat dipasangkan dengan kata politik. tak lebih. Ujungnya. dan melibatkan banyak jejaring. Pecahnya rasionalisme dalam tubuh demokrasi liberal. Politik tidak lagi bermakna bagi khalayak. Yang terjadi malah sebaliknya. perjanjian aktor politik dengan kekuatan modal untuk . Goethe. Hal ini dilihat dari pergeseran orientasi politik di Indonesia saat ini. Setiap aktor politik dikendalikan oleh mesin politik untuk berpacu menjadi authistik. Fungsi politik dalam demokrasi sesungguhnya untuk mendorong demokratisasi. Namun seiring himpitan budaya pasar. Mengamati realitas politik yang sedang berkembang. Politik hanya mampu mendorong perubahan pada kualitas individual semata dan tidak bersentuhan sama sekali dengan bangsa. realitas politik hanya dikonstruksi untuk memenuhi hasrat berkuasa secara cepat. termasuk wilayah demokrasi. instan. Inilah yang membuat kita terpaksa mencacah liberalisme dalam demokrasi. yang selalu ingin tumbuh secara instan. Faktanya. politik digitalisasi.

partisipasi politik. atau pun perjanjian politisi dengan media massa/elektronik untuk membentuk politik realitas. adanya demiliterisasi dan liberalisasi ekonomi. maka seketika “pikiran liar” (the savage mind) menyertai pola dan tingkah politisi di Senayan. menuju rejim yang lebih demokratis. yang berpotensi mengembalikan suatu negara ke rejim otoritarian. baik yang berbentuk rejim otoriter birokratik. simbol) politik. Tak terbanyangkan bagaimana 38 parpol nasional dan enam di tingkat lokal untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam saling perang bracnmark (baca. Transisi Menuju Demokrasi. partai-partai lama. Kemudian perjanjian-perjanjian ini akan melahirkan pelbagai konsekwesi. Pertarungan simbolik menjadi keniscayaan dari immediasi politik ini. Kendati. Pada saat yang sama. antara satu tumbuhan tidak memiliki kualitas yang lebih dibanding yang lainnya. sama halnya dengan kalimat nasionalisme yang tidak lagi ampuh merekat. Kenyataannya. bahkan amat artifisial. Jika regulasi ini tak mampu membayar “utang politik”. yang mengungkapkan beberapa kasus transisi demokrasi di Amerika Latin dan Eropa Selatan. dengan politisi kita hari ini. Demokrasi liberal yang melahirkan anak haram immediasi politik akan membuat Indonesia semakin kupak. Ketika kalimat-kalimat sakral ini mengalami pendangkalan entah kepada apalagi kita mentransedenkan bangsa ini. Persaingan simbolik ini (baik simbol agama maupun nonagama) memperteguh pengertian masyarakat terhadap aktor politik/mesin politik “hanya segitukah kualitas politik kita”. khususnya lima besar hasil Pemilu 2004. ideologi ke dalam medan pendangkalan makna yang cepat. Transisi Menuju Demokrasi Salah satu buku babon yang seringkali dirujuk untuk mendalami transisi adalah karya Guillermo O’Donnel.mendapatkan talangan kampanye. Perjanjian para politisi dengan jejaring kompleks. . proliferasi persaingan politik secara simbolik kian menyeret simbol primordial. agama. menurut karya Guillermo O’Donnel. berakibat pada muara politik hanya untuk kekuasaan spasial. dan kata sakti nasionalisme mengalami pendangkalan akibat penetrasi politik. otoriter populis. Dalam karya itu. Sebab kalimat agama tidak lagi menjadi sakti. agama. transisi yang ideal. perjanjian-perjanjian ini adalah bagian penting dari proses politik saat ini. Bahkan. Ketiga. Ini merupakan perjanjian yang dilakukan oleh aktor politik dengan kekuatan yang berada di luar dirinya. dipersengit dengan hadirnya “pemain” baru. model transisi politik yang berujung pada konsolidasi demokrasi. maupun otoriter tradisionalis. Immediasi politik ibarat sebidang tanah penuh tanaman yang semuanya ingin tumbuh. model transisi yang tidak diwarnai oleh sebuah kecenderungan revolusioner. peranan partai politik yang kian meluas. makanya “Kita” tak lebih terperanjat ketika banyak Dewan Rakyat (DPR) tersandung korupsi kelas kakap. Kedua. aneka tawaran regulasi terhadap “patner” politiknya ketika sang aktor memenangkan pertarungan politik. Tak heran jika banyak regulasi yang digubah oleh aktor politik tatkala berkuasa hanya mampu melahirkan berbagai proteksi untuk kelompok. bersanding dan bertarung satu sama lain. Demikian jua. Buku yang terdiri dari empat volume tersebut menjelaskan bahwa transisi demokrasi paling tidak dicirikan oleh suatu peralihan dari rejim otoritarian. terletak pada pertama.

mengabaikan hakhaknya dan lantas meluncurkannya pada jurang krisis yang tak kunjung usai. Tidak lagi transisi menuju demokrasi. faktor-faktor internasional ini cenderung bernilai positif dalam pembangunan demokratisasi di sebuah negara. 2005). Coen hendak mengingatkan bahwa model transisi yang mengarah pada neoliberalisme pada dasarnya adalah sebuah perangkap yang justru akan memenjarakan demokrasi rakyat. Dalam buku Malapetaka Demokrasi Pasar (Resistbook. . Dalam konteks yang sama. Coen Husain Pontoh. maka definisi demokratisasi yang ideal bagi masa transisi ini digambarkan oleh Adam Przeworski sebagai sebuah mekanisme institusionalisasi (pelembagaan) dari konflik yang berkelanjutan dan pelembagaan demokrasi yang mencakup cita-cita partisipasi dari seluruh kelompok yang berbeda cita-cita. melainkan transisi menuju neoliberalisme—atau yang disebutnya sebagai transition via internationalization. Sebuah model transisi yang dipandu oleh negara-negara maju melalui hutang luar negeri. mengatakan bagaimana kekuatan modal dan faktor internasional justru merupakan faktor dominan yang menyebabkan masa transisi berbelok arah. kepentingan dan bahkan ideologi sekalipun dan memastikan agar semua kelompok itu bertanding dan berkontestasi dalam ‘ring’ dan mekanisme demokrasi itu. dengan perspektif yang berbeda. Bagi O’Donnel. Intinya adalah sebuah transisi yang mengajak sebuah bangsa untuk menuju neoliberalisme. sebuah gaya transisi yang juga disokong oleh lembaga keuangan internasional semacam IMF dan World Bank.peranan faktor-faktor internasional yang seringkali mempromosikan demokrasi. Melalui pembedahan atas kasus Rusia dan Argentina.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->