Demokrasi liberal

Demokrasi liberal (atau demokrasi konstitusional) adalah sistem politik yang melindungi secara konstitusional hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah. Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusi. Demokrasi liberal pertama kali dikemukakan pada Abad Pencerahan oleh penggagas teori kontrak sosial seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean-Jacques Rousseau. Semasa Perang Dingin, istilah demokrasi liberal bertolak belakang dengan komunismeala Republik Rakyat. Pada zaman sekarang demokrasi konstitusional umumnya dibanding-bandingkan dengan demokrasi langsung atau demokrasi partisipasi. Demokrasi liberal dipakai untuk menjelaskan sistem politik dan demokrasi barat diAmerika Serikat, Britania Raya, Kanada. Konstitusi yang dipakai dapat beruparepublik (Amerika Serikat, India, Perancis) atau monarki konstitusional (Britania Raya, Spanyol). Demokrasi liberal dipakai oleh negara yang menganut sistem presidensial (Amerika Serikat), sistem parlementer (sistem Westminster: Britania Raya dan Negara-Negara Persemakmuran) atau sistem semipresidensial (Perancis). Sejarah telah usai,” teriak Francis Fukuyama. Seruan itu tepat didengungkan setelah komunisme di Uni Sovyet runtuh lewat program glasnost dan perestroika dan hampir bersamaan dengannya China juga mulai membuka ekonomi nasionalnya. Komunisme dan model ekonomi-terpimpin yang awalnya begitu gagah dan tangguh melawan kapitalisme dan demokrasi liberal, tiba-tiba jatuh tersungkur tak bangkit lagi. Perang Dingin usai sudah. Lewat seruan Fukuyama itu genderang kemenangan sudah ditabuh. Hingga kini, Demokrasi Liberal dan Kapitalisme menjadi pemenang tunggal peradaban. Lantas, seperti Fukuyama ungkapkan, tugas manusia modern menjadi semakin ironis; hanya merawat dunia yang laksana museum tambo. Tidak ada lagi gairah, perlawanan dan antidot. Cerita tentang sosok Che sang petualang revolusi sudah harus dikubur dalam-dalam. Kisah heroik Lenin hanya tinggal sejarah di buku-buku, keberanian Usamah bin Laden cukup hanya tersemat di kaos-kaos anak muda saja. Narasi besar tentang revolusi dan perlawanan massa hendak diakhiri, tetapi narasi besar yang lain, yang berwujud demokrasi liberal dan kapitalisme harus tetap dibiarkan melenggang. Lantas seorang sastrawan Indonesia, Gunawan Mohamad, mengamininya dengan menuliskan sebuah buku; Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. Benarkah Demokrasi Liberal dan kapitalisme adalah satu-satunya kebenaran? Benarkah tidak akan ada perlawanan terhadap dominasi “Two Towers” (baca: demokrasi liberal dan kapitalisme) ini? Benarkah ini sistem yang terbaik? Benarkah kapitalisme dan demokrasi liberal tidak akan mengalami krisis dan kontradiksi internalnya? Petaka Demokrasi Liberal Krisis dan kritik terhadap model demokrasi liberal sebenarnya sudah jauh hari diingatkan oleh beberapa kalangan. Kritik terhadap demokrasi datang dari tradisi Marxisme – utamanya Lenin – yang menyebut bahwa demokrasi sebenarnya adalah siasat kaum borjuis. Lenin mengolok demokrasi liberal sebagai kediktatoran kaum borjuis (the dictatorship of borguise), dimana instrumen dan sumberdaya kekuasaan

kebijakan publik tidak lagi memihak rakyat. Dalam konteks ini kritik Geoff Mulgan terhadap paradoks demokrasi sangat tepat dan jitu. politik. Dari sini. Negara. juga cenderung menggantikan partisipasi rakyat. seperti kita semua maklum. Lalu muncullah makhluk lama dengan baju yang baru: neoliberalisme. demokrasi hanya diwujudkan dalam pemilu. kebebasan dan kompetisi juga telah dibajak oleh kekuatan modal. Samuel P. ekonomi dan politik terkonsentrasi pada segelintir kelompok borjuis saja. Atas nama kemajuan dan perdagangan bebas. perlahan-lahan mati. Pertama. sistem demokrasi juga berhadapan dengan masalah ekonomi. begitu juga sebaliknya. Tidak hanya itu. tampaknya kapitalismelah yang berkuasa. ia mulai mengangkangi negara. Negara dan sistem demokrasi juga berhubungan dengan masalah bagaimana menciptakan kesejahteraan. Karena itu. kualitas demokrasi diukur oleh pemilihan umum yang kompetitif. Cita-cita mulia demokrasi direduksi menjadi sebatas hal yang prosedural dan teknis. Karena itu. sesat pikir kaum demokrasi prosedural juga karena ia menyembunyikan fakta tentang negara dan kekuasaan. Ketiga. Bagi Huntington. alih-alih berpihak kepada kesejahteraan proletar. Suara rakyat dibutuhkan dan ditambang hanya ketika pemilu datang. persekutuan najis itu mulai tercipta. hukum berlangsung. dalam cita-cita yang sesungguhnya. kritik terhadap demokrasi liberal juga datang dari kalangan pendukungnya sendiri. jujur dan berkala dan partisipasi rakyat yang tinggi selama pemilu. Akibatnya. maka demokrasi membutuhkan kapitalisme. harga-harga semakin mahal. hanya berarti keterbukaan untuk berusaha bagi pemilik modal besar. kompetisi dimaknai sebagai persaingan pasar bebas yang penuh tipu daya.yang berupa hukum. Sebuah makhluk yang mengendap-endap . adil. sama naifnya dengan Schumpeter. pendidikan dan kesehatan dikomersialisasikan. ia mulai menyiasati demokrasi. model demokrasi ini hanya akan menghasilkan model politik massa mengambang serta lahirnya oligarkh dan teknokrat politik yang enggan berbaur dan menjawab tuntutan serta penderitaan rakyat. Atas nama pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya pada tradisi marxisme. Bagaimana mungkin tuntutan rakyat banyak bisa diwakili dan digantikan oleh segelintir orang yang menilai politik sebagai karier untuk menambang keuntungan finansial? Kedua. suara rakyat ditendang dan dikhianati. penggusuran dimanamana. Huntington. Ada tiga hal pokok dalam kritiknya terhadap demokrasi. kebebasan artinya kebebasan untuk berinvestasi bagi perusahaan multinasional. demokrasi cenderung melahirkan oligarki dan teknokrasi. Demokrasi. prinsip-prinsip demokrasi seperti keterbukaan. Ini berujung pada semakin kecil dan terpinggirkannya ‘partisipasi langsung’ dan ‘kedaulatan langsung’ rakyat. adalah tempat akses dan relasi ekonomi. media yang mereduksi partisipasi rakyat. Senada dengan itu. BBM dinaikkan. Yang disebut keterbukaan. Setelah itu. bagaimana menjalankan dan mengatur finansial sebuah negara. Ironi ini bermula dari teoretisi demokrasi Joseph Schumpeter yang menafsirkan demokrasi hanya terbatas sebagai mekanisme memilih pemimpin melalui pemilu yang kompetitif dan adil. Karena hanya model ekonomi kapitalisme yang tersedia – yang bertumpu pada kekuatan modal besar -. Di ujung jalan. Karena itu negara membutuhkan sebuah persekutuan yang taktis dan cepat. kemiskinan dan pengangguran tetap saja berkembang biak. Kelihaian media mengemas opini publik membuat moralitas politik menjadi abu-abu. juga menyanyikan nada yang seirama.

Ukraina. Paling tidak. sebuah tata dunia baru yang dikendalikan sepenuhnya oleh pasar dan kekuatan modal. kemenangan gagasan neoliberalisme adalah kemenangan bagi perusahaan multinasional dan sejumlah korporasi yang merasa menderita pada jaman kapitalisme negara. dan WalMart. memiliki penghasilan yang lebih besar daripada negaranegara Eropa Timur dan Tengah termasuk Polandia. bagaimana suasana yang terjadi setelah dunia berada dalam jaman globalisasi neoliberal ini. Kedua. pengusaha dan media ini memperbincangkan dan mengangankan sebuah tata dunia baru yang tanpa tapal batas. model negara kesejahteraan (welfare state) mengalami kebangkrutan akibat besarnya pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh negara untuk jaminan sosialnya rakyatnya. lalu menjalankan taktik “silent takeover”. dan kemajuan teknologi komunikasi. Istilah terakhir ini dipinjam dari Noreena Heertz.muncul. ada krisis besar dan resesi ekonomi dunia yang utamanya mengenai Amerika Serikat. Penjualan General Motor dan Ford lebih besar daripada GDP seluruh negara-negara sub-sahara Afrika. BP dan General Electric lebih besar daripada kebanyakan negara-negara kecil. IMF dan WTO praktis mengalami perubahan untuk mendukung paham globalisasi. hanya 49 yang merupakan negara bangsa. Kekuasaan pasar dan korporasi global tiba-tiba tumbuh mejadi monster yang bisa mengancam keberadaan negara dan demokrasi rakyat. Rumania dan Slovakia. Beberapa pemikir. Termasuk juga kemenangan bagi negara maju dan sejumlah korporasinya untuk memberi ‘tekanan’ pada negara miskin agar mematuhi doktrin khas neoliberal: liberalisasi-privatisai-deregulasi. Gagasan ini kemudian dengan cepat menjadi sebuah ‘horor global’ ketika ia diadopsi menjadi sebuah tata dunia baru. 51 dari 100 negara terbesar dunia adalah perusahaan. Ini terjadi setelah administrasi Reagen dan Tatcher mengadopsi gagasan Mont Pelerin Society ini. sebuah tata dunia yang meninggalkan negara kesejahteraan a la Keynessian menuju pasar bebas. Hungaria. Dengan demikian. Menurutnya. Pertama. Karena itu barang-barang yang dikonsumsi manusia hampir berada dalam genggaman korporasi . ada dua faktor yang mendorong kenapa gagasan tentang neoliberalisme ini dipakai dan diadopsi oleh rejim anglo-america tersebut. pengecer supermarket Amerika Serikat. sebuah tata dunia yang berjalan tanpa aturan negara. Ini bisa ditandai oleh semakin mengguritanya korporasi internasional yang bersiap mencengkeram seluruh kehidupan rakyat. artinya kurang lebih sebuah penjajahan yang terselubung. deregulasi dan liberalisasi perdagangan. Noreena Hertz punya gambaran yang menarik. Aset IBM. terjadi pergeseran kekuasaan. Neoliberalisme digulirkan sekelompok intelektual di sebuah dataran tinggi Mont Pelerin di Swiss. Setelah itu. Teror Neoliberalisme Pada awalnya hanyalah gagasan. Dalam data yang dimiliki oleh Noreena tercatat ada 100 perusahaan multinasional terbesar mengontrol 20% aset asing global. selama berlangsungnya era globalisasi yang ditandai oleh kebijakan privatisasi. Krisis ini semacam krisis overproduksi yang menimpa sejumlah perusahaan multinasional dan perbankan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme negara yang dianut oleh kebanyakan negara-negara dunia ketiga dan negara-negara miskin. maka tapak-tapak imperialisme ini mulai berjalan. Republik Ceko. Neoliberalisme kemudian dikenal sebagai sebuah kendaraan yang mengusung satu proyek besar dunia. hampir semua kebijakan dan lembaga internasional seperti World Bank. globalisasi. Pendeknya setelah jaman globalisasi neoliberal menjelang.

akumulasi modal dan penumpukan laba jalan terus. Dan disambutlah sebuah jaman yang seringkali disebut-sebut dengan nada optimis yang meluap: transisi menuju demokrasi. Argentina.ini. Ferran Requejo memahami rasionalisme dalam politik adalah “the maximization of particular interests of individuals and groups. Korea Selatan atau Brazilia. kesejahteraan dan keadilan pasti akan datang. Dalam bentuk ini juga. agenda neoliberalisme mulai masuk dan membuat sejumlah penyesuaian struktural.” Menuju maksimalisasi keinginan. kita sebaiknya tidak menelan mentah-mentah sebuah doktrin bahwa setelah rejim otoriter runtuh. tak segan-segan. Ini merupakan pengertian dalam bentuk yang lain dari rasionalisme pada kehidupan politik. Rasionalisme dalam demokrasi tetap akan dimaknai secara tidak berbeda dalam pemaknaan rasionalisme pada wilayah ekonomi. maka tentu juga akan tetap didukung. kemudian demokrasi berdiaspora menuju dataran “liberalisme” yang lebih luas. diaspora logika demokrasi liberal ini membentuk karakter politik marketisme. Pada tahap yang lebih maju. yang cenderung mengabaikan fitrah loyalitas kepada konstituen-nya. untuk menegakkan prinsip-prinsip neoliberalisme. Dari sinilah. Faktanya. Di negara-negara yang dulunya dipimpin oleh rejim otoriter seperti Indonesia. Hilangnya tapak komunalisme dalam demokrasi. Begitulah ceritanya. Tata dunia yang ditandai oleh ketidakadilan sosial dan makin merebaknya kemiskinan. menandaskan perbagai keyakinan akan rasionalisme dalam demokrasi. Sebuah kekuasaan korporasi yang senantiasa mengincar jalan yang sedang ditempuh oleh negara-negara yang mengalami masa transisi. Salah satunya. Korporasi multinasional ini tiba-tiba berkembang menjadi finance oligarchy yang bersiap-siap untuk melucuti demokrasi dan keadilan sosial. maka demokrasi akan menjelang. Kekuasaan korporasi yang sangat hegemoik dan monopolis ini tentu mengakibatkan sebuah tata dunia yang timpang. Pada masa itulah melalui sejumlah agenagen utamanya semisal IMF dan World Bank. maka political individualism menguat dan menggantikan political society. globalisasi neoliberal ini jelas lebih banyak menghasilkan ‘mereka yang kalah’ dibandingkan dengan mereka yang menang. Jadi. Rusia. politisi pun dengan alaminya memunggut rasionalisme sebagai patronase tindakan dan pola berpolitik. Yang penting. . kekerasan juga dihalalkan dan rezim otoriter pun juga didukung asalkan menegakkan prinsip-prinip demokrasi pasar dan neoliberalisme. Di tangan mereka-lah kehidupan dunia kini dipertaruhkan. di negara-negara manapun perjalanan transisi bukan berjalan secara alami. demokrasi liberal akan dengan sendirinya memangkas core komunalitas dalam politik. Kesaksian Noreena atas kemiskinan dan ketimpangan yang juga terjadi di Amerika dan Inggris menjadi bukti bahwa neoliberalisme memang ancaman besar bagi dunia. Sebuah tata dunia yang menghasilkan jurang dan celah yang begitu lebar antara yang kaya dan yang miskin. Menurut Noreena. Menurut Ferran Requejo (1991) logika dasar dari demokrasi liberal ialah rasionalisme. Bahkan. netral dan bukan tidak ada kepentingankepentingan modal yang mengincar setiap ruas jalannya. Logika demokrasi liberal yang bermain dalam konstruksi politik. kepuasan politik. dalam hal ini ialah kekuasaan adalah semangat dari rasionalitas politik di tengah kubangan demokrasi liberal. Tetapi. neoliberalisme masuk ketika negara-negara itu mengalami krisis politik dan krisis ekonomi. ada kekuasaan lain yang jauh lebih imperalistik dan menindas.

Dalam kondisi ini. Apa kaitannya penggalan ini dengan realitas politik kita saat ini? Tak ada yang menyanggal bahwa politik “Kita” saat ini lahir dari berbagai bentuk perjanjian yang kompleks. kekuasaan. realitas politik hanya dikonstruksi untuk memenuhi hasrat berkuasa secara cepat. mengingatkan “Kita” pada sebuah drama faust karya penyair Jerman. Politik tidak lagi bermakna bagi khalayak. dan pengetahuan yang luas. terutama bagi aktor politik sebagai upaya mendorong transisi kekuasaan ke bentuk yang aplikatif dari komitmen kebangsaan dan kerakyatan. instan. Karena kini tak ubahnya. politik digitalisasi. berupa politik pencitraan.Rasionalisme dalam demokrasi memang tidak begitu akrab diperdengarkan dan amat jarang dikaitkan. stigma rasionalisme hanya dilekatkan pada economic an sich. Politik hanya mampu mendorong perubahan pada kualitas individual semata dan tidak bersentuhan sama sekali dengan bangsa. Fungsi politik dalam demokrasi sesungguhnya untuk mendorong demokratisasi. Ujungnya. Pecahnya rasionalisme dalam tubuh demokrasi liberal. Faktanya. Namun ketika dentuman liberalisme pecah dalam tubuh politik sebagai akibat lansung terkooptasinya demokrasi oleh liberalisme seketika politik berubah makna menjadi tujuan individual. perjanjian aktor politik dengan kekuatan modal untuk . maka rasionalisme pun memasuki wilayah kehidupan secara luas. Yang terjadi malah sebaliknya. Dalam drama ini diceritakan bahwa faust membuat perjanjian dengan setan agar dapat memperoleh kenikmatan. Namun seiring himpitan budaya pasar. termasuk mengenal sulap. Karena selama ini. tanpa perlu mengabdi dan berbuat untuk rakyat terlebih dahulu. di mana orang hidup berdasarkan hasrat dan perasaan yang menuntut untuk dipenuhi lansung. Inilah yang membuat kita terpaksa mencacah liberalisme dalam demokrasi. yang selalu ingin tumbuh secara instan. ketimpangan ideologi dalam proses politik terhujam hebat. termasuk wilayah demokrasi. Mereka mengkonstruksi realitas. Seiring menguatnya rasionalisme dalam demokrasi menjadikan Kita sering bertanya apa pengaruh terhebat rasionalisme terhadap demokrasi. parahnya budaya politik uang menjadi bagian yang tak ter-elakkan. menyebabkan gesture demokrasi berubah seketika. yang sama sekali tidak berkaitan dengan realitas yang dialami masyarakat. Hal ini dilihat dari pergeseran orientasi politik di Indonesia saat ini. demokrasi menjadi tumpul karena hanya dipahami sebagai fabricated kekuasaan. Immediasi Politik Meminjam istilah Kierkegaard immediasi dimaknai sebagai wilayah. Ini tepat dipasangkan dengan kata politik. Alhasil. dan melibatkan banyak jejaring. Mengamati realitas politik yang sedang berkembang. Dalam konteks ini Faust merupakan tokoh estetis. Goethe. tak lebih. politik melahirkan berbagai bentuk politik semu. Setiap aktor politik dikendalikan oleh mesin politik untuk berpacu menjadi authistik.

aneka tawaran regulasi terhadap “patner” politiknya ketika sang aktor memenangkan pertarungan politik. atau pun perjanjian politisi dengan media massa/elektronik untuk membentuk politik realitas. agama. bahkan amat artifisial. Pada saat yang sama. Perjanjian para politisi dengan jejaring kompleks. Tak terbanyangkan bagaimana 38 parpol nasional dan enam di tingkat lokal untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam saling perang bracnmark (baca. dan kata sakti nasionalisme mengalami pendangkalan akibat penetrasi politik. terletak pada pertama. berakibat pada muara politik hanya untuk kekuasaan spasial. Dalam karya itu. dipersengit dengan hadirnya “pemain” baru. Persaingan simbolik ini (baik simbol agama maupun nonagama) memperteguh pengertian masyarakat terhadap aktor politik/mesin politik “hanya segitukah kualitas politik kita”. otoriter populis. . Bahkan. Demokrasi liberal yang melahirkan anak haram immediasi politik akan membuat Indonesia semakin kupak. menurut karya Guillermo O’Donnel. bersanding dan bertarung satu sama lain. partisipasi politik. Kendati. perjanjian-perjanjian ini adalah bagian penting dari proses politik saat ini. Immediasi politik ibarat sebidang tanah penuh tanaman yang semuanya ingin tumbuh. Ketika kalimat-kalimat sakral ini mengalami pendangkalan entah kepada apalagi kita mentransedenkan bangsa ini. simbol) politik. yang berpotensi mengembalikan suatu negara ke rejim otoritarian. Kemudian perjanjian-perjanjian ini akan melahirkan pelbagai konsekwesi. transisi yang ideal. makanya “Kita” tak lebih terperanjat ketika banyak Dewan Rakyat (DPR) tersandung korupsi kelas kakap. Ini merupakan perjanjian yang dilakukan oleh aktor politik dengan kekuatan yang berada di luar dirinya. Ketiga. Kenyataannya. Buku yang terdiri dari empat volume tersebut menjelaskan bahwa transisi demokrasi paling tidak dicirikan oleh suatu peralihan dari rejim otoritarian. partai-partai lama. Transisi Menuju Demokrasi Salah satu buku babon yang seringkali dirujuk untuk mendalami transisi adalah karya Guillermo O’Donnel. Sebab kalimat agama tidak lagi menjadi sakti. ideologi ke dalam medan pendangkalan makna yang cepat. baik yang berbentuk rejim otoriter birokratik. Transisi Menuju Demokrasi. sama halnya dengan kalimat nasionalisme yang tidak lagi ampuh merekat. Jika regulasi ini tak mampu membayar “utang politik”. Tak heran jika banyak regulasi yang digubah oleh aktor politik tatkala berkuasa hanya mampu melahirkan berbagai proteksi untuk kelompok. menuju rejim yang lebih demokratis. adanya demiliterisasi dan liberalisasi ekonomi. model transisi politik yang berujung pada konsolidasi demokrasi. dengan politisi kita hari ini. Pertarungan simbolik menjadi keniscayaan dari immediasi politik ini. Kedua. peranan partai politik yang kian meluas. agama. khususnya lima besar hasil Pemilu 2004. antara satu tumbuhan tidak memiliki kualitas yang lebih dibanding yang lainnya. yang mengungkapkan beberapa kasus transisi demokrasi di Amerika Latin dan Eropa Selatan.mendapatkan talangan kampanye. Demikian jua. maka seketika “pikiran liar” (the savage mind) menyertai pola dan tingkah politisi di Senayan. model transisi yang tidak diwarnai oleh sebuah kecenderungan revolusioner. maupun otoriter tradisionalis. proliferasi persaingan politik secara simbolik kian menyeret simbol primordial.

Sebuah model transisi yang dipandu oleh negara-negara maju melalui hutang luar negeri. . mengatakan bagaimana kekuatan modal dan faktor internasional justru merupakan faktor dominan yang menyebabkan masa transisi berbelok arah. sebuah gaya transisi yang juga disokong oleh lembaga keuangan internasional semacam IMF dan World Bank. Dalam konteks yang sama. Coen Husain Pontoh. Coen hendak mengingatkan bahwa model transisi yang mengarah pada neoliberalisme pada dasarnya adalah sebuah perangkap yang justru akan memenjarakan demokrasi rakyat. faktor-faktor internasional ini cenderung bernilai positif dalam pembangunan demokratisasi di sebuah negara. Tidak lagi transisi menuju demokrasi. Bagi O’Donnel. Dalam buku Malapetaka Demokrasi Pasar (Resistbook. kepentingan dan bahkan ideologi sekalipun dan memastikan agar semua kelompok itu bertanding dan berkontestasi dalam ‘ring’ dan mekanisme demokrasi itu. dengan perspektif yang berbeda. 2005). maka definisi demokratisasi yang ideal bagi masa transisi ini digambarkan oleh Adam Przeworski sebagai sebuah mekanisme institusionalisasi (pelembagaan) dari konflik yang berkelanjutan dan pelembagaan demokrasi yang mencakup cita-cita partisipasi dari seluruh kelompok yang berbeda cita-cita. melainkan transisi menuju neoliberalisme—atau yang disebutnya sebagai transition via internationalization. Intinya adalah sebuah transisi yang mengajak sebuah bangsa untuk menuju neoliberalisme. mengabaikan hakhaknya dan lantas meluncurkannya pada jurang krisis yang tak kunjung usai. Melalui pembedahan atas kasus Rusia dan Argentina.peranan faktor-faktor internasional yang seringkali mempromosikan demokrasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful