P. 1
SOSIOLOGI HUKUM

SOSIOLOGI HUKUM

|Views: 299|Likes:

More info:

Published by: anggapratamadevyatno on Oct 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2015

pdf

text

original

SOSIOLOGI HUKUM

DODI HARYONO, S.HI., S.H., M.H.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS RIAU

PINTU TEATHER I SUDAH DIBUKA SELAMAT MENIKMATI…….!!!

LATAR BELAKANG LAHIRNYA SOSIOLOGI HUKUM

Anzilotti (1882) yang pertama kali menggunakan istilah sosiologi hukum.  Sosiologi hukum dipengaruhi oleh disiplin ilmu filsafat hukum, ilmu hukum dan sosiologi yang kajiannya berorientasi pada hukum.

 Pengaruh

ilmu hukum terhadap sosiologi hukum dapat dilihat dari pemaknaan hukum sebagai gejala sosial  Pengaruh sosiologi yang berorientasi pada hukum dapat dilihat teori solidaritas (Emile Durkhaim), teori tipe ideal hukum antara hukum irasional dan rasional (Max Weber).

Pengaruh filsafat hukum yang mendorong tumbuh dan berkembangnya sosiologi hukum dapat dilihat dari beberapa aliran filsafat hukum yaitu: 1. Positivisme 2. Mazhab Sejarah 3. Utilitarianisme 4. Sosiological jurisprudence 5. Pragmatic legal realisme

PEMIKIRAN/ALIRAN DALAM SOSIOLOGI HUKUM
1. 2.

3.

4.

5.

ALIRAN POSITIVISME : Hukum adalah perintah dari penguasa, terpisah dari moral, mengedapankan kepastian hukum. ALIRAN UTILITARIANISME : Hukum itu harus bermanfaat bagi masyarakat, guna mencapai hidup bahagia. ALIRAN MAZHAB SEJARAH : Hukum itu tidak dibuat, akan tetapi tumbuh dan berkembang bersama sama dengan masyarakat. ALIRAN SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE : hukum yang dibuat harus sesuai dengan hukum yang hidup di dalam masyarakat (living law). ALIRAN REALISME HUKUM : hukum tidak lepas dari logika yang berfungsi sebagai alat rekaya sosial yang sumber utamanya dari putusan hakim di pengadilan

PENGERTIAN SOSIOLOGI HUKUM
1.

2. 3.

secara teoritis analitis dan empiris menganalisis atau mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial lainnya. Menyelidiki hukum sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Menyelidiki hukum senyatanya, bukan sebaiknya atau seharusnya

KARAKTERISTIK SOSIOLOGI HUKUM
DESKRIPSI PENJELASAN PENGUNGKAPAN PREDIKSI

KARAKTERISTIK SOSIOLOGI HUKUM

KARAKTERISTIK SOSIOLOGI HUKUM
 


Deskripsi : Berusaha untuk memberikan deskripsi terhadap praktik-praktik hukum. Penjelasan : Bertujuan untuk menjelaskan mengapa praktik-praktik hukum itu terjadi dalam kehidupan masyarakat. Pengungkapan : Sosiologi hukum tidak memberikan penilaian terhadap hukum Prediksi : Menguji kesahihan empiris dari peraturan atau pernyataa hukum, sehingga mampu memprediksi apakah sesuai atau tidak sesuai dengan kondisi masyarakat tertentu.

OBYEK KAJIAN

Terdapat 2 model kajian sosiologi hukum :
1. Konvensional : Kontrol sosial yang dikaitkan dengan konsep sosialisasi 2. Kontemporer : masalah yuridis empiris atas hukum yang hidup dalam masyarakat yang heterogen dan multikultural

Dari objek yang teliti, sosiologi hukum dapat dibagi :
1. Sosiologi

yang berobjekan hukum. 2. Sosiologi yang berobjekan para pelaku hukum 3. Sosiologi yang berobjekan pendapat orang mengenai hukum

Beberapa masalah yang disoroti sosiologi hukum antara lain:
1. 2.

3.
4. 5. 6. 7.

Hukum dan sistem sosial masyarakat Persamaan dan perbedaan sistem hukum Sifat hukum yang dualistis Hukum dan kekuasaan Hukum dan nilai-nilai budaya Kepastian hukum dan kesebandingan hukum Peranan hukum sebagai alat pengubah masyarakat

METODE PENDEKATAN DAN MANFAAT SOSIOLOGI HUKUM

Dua model pendekatan mempelajari hukum : 1. Yuridis Normatif : Bagaimana hukum seharusnya diterapkan dalam kehidupan masyarakat 2. Yuridis empiris (Sosiologi Hukum) : Bagaimana hukum dalam kenyataannya di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Perbandingan pendekatan Yuridis Empiris dengan Yuridis Normatif

Perbandingan
Objek Fokus

Yuridis Empiris

Yuridis Normatif

Sociological Jurisprudence Model Model Social Structure Analisis Aturan

Proses
Pilihan Tujuan

Perilaku (behavior)
Ilmu pengetahuan Penjelasan

Logika (logic) Praktis
Pengambilan keputusan

MANFAAT MEMPELAJARI SOSIOLOGI HUKUM
    

Mengetahui dan memahami perkembangan hukum positif (tertulis/tdk tertulis) di dalam masyarakat. Mengetahui efektifitas berlakunya hukum positif di dalam masyarakat. Mampu menganalisis penerapan hukum di dalam masyarakat. Mampu mengkonstruksikan fenomena hukum yg terjadi di masyarakat. Mampu memetakan masalah-masalah sosial dalam kaitan dengan penerapan hukum di masyarakat.

(Baca Sosiologi, Hukum dan Sosiologi Hukum. B.R. Rijkschroeff)

MATERI KULIAH II
MASYARAKAT DAN HUKUM

Ciri-ciri masyarakat (Soerjono Soekanto) adalah :
 Manusia

yang hidup bersama.  Bercampur untuk waktu yang cukup lama.  Ada kesadaran suatu kesatuan antar individu.  Merupakan suatu sistem hidup bersama.

Golongan Masyarakat

Selanjutnya ada 3 macam golongan besar didalam masyarakat, yaitu :
Golongan berdasarkan hubungan kekeluargaan, perkumpulan, keluarga.  Golongan berdasarkan hubungan kepentingan/pekerjaan seperti koperasi, sosial dan olah raga  Golongan berdasarkan hubungan pandangan hidup, idiologi seperti parpol dan keagamaan.

Bentuk Masyarakat

Berdasarkan sifat pembentukannya : a. Masyarakat yang teratur guna tujuan tertentu, misalnya perkumpulan olah raga b. Masyarakat teratur tetapi mempunyai kepentingan bersama, penonton bioskop, penonton sepak bola. Berdasarkan hubungan yang diciptakan para anggota : a. Masyarakat Paguyuban: hubungan tidak berdasarkan kebutuhan dan kepribadian b. Patembayan: hubungan tidak berdasarkan kepribadian, tetapi dipengaruhi oleh faktor mencari keuntungan. Misal : Fa, PT,BUMN dll.

 

Berdasarkan hubungan kekeluargaan Berdasarkan hubungan kebudayaan, a.l : a. Masyarakat Primitif dan Modern b. Masyarakat Desa dan Kota c. Mayarakat teritorial ( berdasarkan tempat ) d. Mayarakat Geneologis ( berdasarkan keturunan) e. Masyarakat teritorial dan Geneologis

Adapun penyebab manusia selalu hidup bermasyarakat karena :  Hasrat untuk memenuhi keperluan sandang, pangan dan papan  Hasrat untuk membela diri  Hasrat untuk mengadakan keturunan

Norma / kaidah adalah merupakan peraturan tingkah laku yang menentukan apakah yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh manusia. Pada dasarnya Norma dibagi 2 golongan yaitu : a. Norma yang mengatur peristiwa-peristiwa fisika. b. Norma yang mengatur tingkah laku manusia ,antara lain:  Norma Agama yaitu peraturan hidup yang harus diterima sebagai perintah, larangan dan anjuran yang berasal dari Tuhan.  Norma Kesusilaan yaitu peraturan hidup yang berasal dari hati nurani manusia.  Norma Kesopanan yaitu peraturan hidup yang timbul dari pergaulan antar manusia.  Norma Hukum yaitu peraturan yang timbul dan dibuat oleh penguasa Negara.

Beberapa hal yang membedakan norma hukum dengan norma lainnya adalah sebagai berikut;  Suatu norma hukum itu bersifat heteronom, dalam arti bahwa norma hukum itu datangnya dari luar diri kita sendiri.  Suatu norma hukum itu dapat dilekati dengan sanksi pidana ataupun sanksi pemaksa secara fisik, sedangkan norma lainnya tidak dapat dilekati oleh sanksi pidana ataupun sanksi pemaksa secara fisik.  Dalam norma hukum, sanksi pemaksa itu dilaksanakan oleh aparat negara sedangkan terhadap pelanggaran norma-norma lainnya sanksi itu datangnya dari kita sendiri.

Masyarakat Hukum (Recht Sociale): Sekelompok orang yang berdiam dalam suatu wilayah tertentu dimana di dalam kelompok tersebut berlaku serangkaian peraturan yang menjadi pedoman bertingkah laku bagi setiap anggota kelompok dalam pergaulan hidup mereka. Peraturan iru dibuat oleh kelompok itu sendiri dan berlaku bagi mereka sendiri.

Pengertian hukum
  

Apakah hukum itu ? Ada adgium dimana ada hukum disitu ada masyarakat/ubi ius ubi scietas. Mazhab sejarah FC Von savigny,tiap hukum ditentukan oleh waktu,tempat dan kondisi masyarakat. Ajaran hukum alam: hukum sama saja dimanapun dan kapanpun tidak tergantung kepada pandangan2 manusia dan ia lebih sempurna dari pada hukum positif.

 

Pengertian hukum menurut para Ahli Plato:hukum adalah sistem peraturanperaturan yang teratur dan tersusun baik yang mengikat masyarakat. Austin,Hukum adalah peraturan yang diadakan untuk memberi bimbingan kepada makhluk yang berakal yang berkuasa atasnya. E.Utrecht,menyebutkan hukum adalah himpunan petunjuk hidup(perintah dan larangan)yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat dan seharusnya ditaati oleh seluruh anggota masyarakat yang bersangkutan,olehkarena itu pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa itu.

Sarjono soekanto,hukum sesuai dengan arti yang diberikan oleh masyarakat adalah: - Hukum sebagai ilmu pengetahuan - Hukum sebagai disiplin - Hukum sebagai kaedah - Hukum sebagai tata hukum - Hukum sebagai petugas Hukum sebagai keputusan penguasa -Hukumsebagai proses pemerintahan -Hukum sebagi sikap tindak atau prilaku yang teratur -Hukum sebagai jalinan nilai yang teratur

Tujuan Hukum

Dapat dilihat dari 3 teori : 1. Teori Etis (Etische Theori) Hukum semata-mata bertujuan untuk mencapai keadilan 2. Teori Utilitis (Utiliteis Theori) Hukum bertujuan untuk memberikan kebahagian (kemanfaatan) sebesar-besarnya kepada manusia 3. Teori Gabungan/Campuran Tujuan hukum bukan hanya keadilan semata, melainkan juga kemanfaatannya

Fungsi-Fungsi Hukum
Terdapat 4 fungsi hukum, yaitu: 1. Memberikan pedoman atau pengarahan pada warga masyarakat untuk berperilaku 2. Pengawasan atau pengendalian (social control) 3. Penyelesaian sengketa (dispute settlement) 4. Rekayasa Sosial (social enginering)

PERKEMBANGAN HUKUM DLM MASYARAKAT

Fungsi Sosial : sbg himpunan moralitas & wahana utk mencapai cita2 sosial (Durkheim). (Represif – Restitutif) Struktur Sosial : hukum lahir scr bertahap, dipaksakan olh pemegang kekuasaan, dipengaruhi olh kepentingan material, ideal, cara berfikir kelas-2 sosial, dan kelompok-2 kepentingan dlm masyarakat (Weber).
(Irasional Vs Rasional)

Perubahan Sosial : keberadaan hukum hrs mengabdi pd kepentingan rakyat, dan utk menekan kaum borjuis (Karl Marx).

(Baca Pokok-2 Sosiologi Hukum Soerjono Soekanto)

MATERI KULIAH III

ASPEK BEKERJANYA HUKUM DALAM MASYARAKAT

HUKUM SEBAGAI SARANA KONTROL SOSIAL. Suatu proses yg dilakukan utk mempengaruhi orang-2 agar berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yg disepakati bersama. Kontrol sosial dijalankan dg menggerakkan brbg aktivitas alat ngr utk mempertahankan pola hubungan & kaedah-2 yg ada. HUKUM SEBAGAI SARANA REKAYASA SOSIAL. Suatu proses yg dilakukan utk mengubah perilaku masyarakat, bukan utk memecahkan masalah sosial. HUKUM SEBAGAI SIMBOL Fungsi hukum sebagai simbol merupakan makna yang dipahami oleh seseorang dari prilaku warga masyarakat tentang hukum HUKUM SEBAGAI ALAT INTEGRASI Fungsi hukum untuk mencegah dan menyelesaiakan konflik yang terjadi masyarakat. HUKUM SEBAGAI ALAT POLITIK Fungsi hukum menampung kepentingan politik masyarakat.

HUKUM SBG ALAT KEJAHATAN.......? Law as a tool of crime, perbuatan jahat dg menggunakan hukum sbg alatnya sulit dilacak karena diselubungi olh hk dan berada dlm hukum.

HUKUM SEBAGAI ALAT MENGUBAH MASYARAKAT (SOCIAL ENGINERING)

Hukum sebagai alat untuk mengubah masyarakat, dalam arti bahwa hukum dapat dipergunakan sebagai alat oleh agent of change (pelopor perubahan). agent of change dimaksud adalah seseorang atau kelompok orang yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Suatu perubahan sosial yang yang dikehendaki atau direncanakan, selalu berada dibawah pengendalian serta pengawasan pelopor perubahan tersebut. Cara-cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu, dinamakan social engineering atau social planning. (Soekanto: 107) Perubahan sosial seringkali menggunakan hukum sebagai alat pengubah yang paling utama. Dengan demikian, hukum mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung di dalam mendorong terjadinya perubahan sosial.

Perubahan sangat tergantung pada kemampuan pelopor perubahan dalam mengatasi disorganisasi akibat adanya perubahan yang sangat dipengaruhi oleh sukses tidaknya pelembagaan unsur-unsur baru yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan tersebut. Berhasil tidaknya pelembagaan tersebut berkaitan erat dengan tiga hal yaitu : 1. Efektivitas dalam menanamkan unsur-unsur yang baru. 2. Kekuatan yang menentang dari masyarakat 3. Kecepatan dalam menanam unsur-unsur yang baru Penggunaan hukum sebagai alat pengubah masyarakat agar behasil positif harus disesuaikan dengan anggapan-anggapan (pandangan) masyarakat. Untuk itu yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut : 1. menelaah bagaimana anggapan-anggapan (pandangan) masyarakat 2. menelaah bagian-bagian mana dari suatu sistem hukum yang harus dihargai oleh bagian tersebesar masyarakat 3. Meneliti setiap tahapan penerapan hokum tersebut apakah berjalan efektif.

HUKUM SEBAGAI SARANA PENGATUR PERILAKUAN (SOCIAL CONTROL)

 

Hukum sebagai social control biasa diartikan sebagai suatu proses, baik yang direncanakan maupun tidak, yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi system kaidah dan nilai yang berlaku. Perwujudan social control dapat berupa pemidanaan, kompensasi, terapi maupun konsiliasi. Standar atau patokan dari pemidanaan adalah suatu larangan, yang apabila dilanggar akan mengakibatkan penderitaan bagi pelanggarnya. Standar atau patokan dari kompensasi adalah kewajiban, dimana inisiatif untuk memprosesnya ada pada pihak yang dirugikan. Standar atau patokan dari terapi maupun konsiliasi sifatnya remedial, artinya mengmbalikan situasi (interaksi sosial) pada keadaan yang semula.

Bagaimana UU Pornografi ??? Pasal 1 angka 1 UU N0. 44 Tahun 2008 menyebutkan definisi Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat

LARANGAN-LARANGAN DALAM UU PORNOGRAFI

Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat: a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual; c. masturbasi atau onani; d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau f. pornografi anak. Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang: a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin; c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual.


  

Setiap orang dilarang meminjamkan atau mengunduh pornografi Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi, kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundangundangan. Setiap orang dilarang mendanai atau memfasilitasi perbuatan pornografi Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi. Setiap orang dilarang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung muatan pornografi. Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya. Setiap orang dilarang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek pornografi

PRO UU PORNOGRAFI

KONTRA UU PORNOGRAFI

Apakah UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi telah efektif dalam merubah dan mengontrol perilaku masyarakat ?

MATERI KULIAH IV

HUKUM DAN STRATIFIKASI DALAM KENYATAAN SOSIAL

Stratifikasi sosial : pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam ke dalam kelaskelas secara bertingkat atau secara hirarkis Stratifikasi sosial timbul karena adanya perbedaan masyarakat dalam hal : 1. Kekayaan 2. Kekuasaan 3. Kehormatan 4. Pengetahuan

Stratifikasi Sosial vs Hukum
Semakin rendah status sosial seseorang dalam masyarakat, semakin banyak perangkat hukum yang mengaturnya.  Semakin tinggi status sosial seseorang dalam masyarakat, semakin sedikit pula perangkat hukum yang mengaturnya.  Kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip persamaan di depan hukum

Hubungan Hukum & Kekuasaan
Terdapat 2 pendapat : a. Tidak ada hubungan antara hukum dengan kekuasaan b. Terdapat hubungan antara hukum dengan kekuasaan
1.
2. 3.

Hukum lebih dominan daripada kekuasaan Kekuasaan lebih dominan dari pada hukum Hukum dan kekuasaan saling melengkapi.

Hukum tanpa kekuasaan adalah anganangan, kekuasaan tanpa hukum akan memunculkan kelaliman

PARADIGMA HUKUM
(Baca Sosiologi, Hukum dan Sosiologi Hukum. B.R. Rijkschroeff) PARADIGMA I (Pra Normatif)

NORMAL LAW

ANOMALI

LAW REVOLUTION

KRISIS

PARADIGMA II (Normatif)

NORMAL LAW

ANOMALI BARU

PARADIGMA : PANDANGAN FUNDAMENTAL TTG APA YG MENJADI POKOK PERSOALAN (SUBJECT MATTER) DALAM HUKUM

dst

MATERI KULIAH V

PRANATA SOSIAL

Pranata Sosial adalah wadah yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi menurut pola perilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku. Horton dan Hunt mengartikan pranata sosial sebagai suatu hubungan sosial yang terorganisir yang memperlihatkan nilai-nilai dan prosedur-prosedur yang sama dan yang memenuhi kebutuhan2 dasar tertentu dalam masyarakat.


1. 2. 3.

MACAM-MACAM PRANATA SOSIAL
Pranata Ekonomi (memenuhi kebutuahan material) , bertani,industri, bank, koperasi dan sebagainya Pranata Sosial/ memenuhi kebut. Sosial : perkawinan, keluarga, sistem kekerabatan, pengaturan keturunan. Pranata politik/ jalan alat untuk mencapai tujuan bersama dlm hidup bermasyarakat. seperti sistem hukum, sistem kekuasaan, partai, wewenang, pemerintahan Pranata pendidikan/memnuhi kebutuahn pendidikan, seperti PBM, sistem pengetahuan, aturan, kursus, pendidikan keluarga, ngaji. Pranata kepercayaan dan agama/ memenuhi kebutuhan spiritual. seperti upacara semedi, tapa, zakat, infak, haji dan ibadah lainnya. Pranata Kesenian/ memenuhi kebutuhan manusia akan keindahan, seperti seni suara, seni lukis, seni patung, seni drama, dan sebagainya Pranata hukum/ memenuhi kebutuhan manusia akan ketertiban dan keadilan.

4.

5.

6.

7.

PRANATA HUKUM
3. Peranan Hukum Terdiri dari hak (fakultatif) dan kewajiban (imperatif). 4. Peristiwa Hukum Merupakan perbuatan hukum yaitu segala perbuatan yang dilakukan seseorang untuk menimbulkan hak dan kewajiban 5. Hubungan Hukum Bisa sederajat, timbal baik, dan timpang 6. Obyek Hukum Segala sesuatu yang berguna bagi subyek hukum, meliputi: materiil dan immateriil

1. Subyek Hukum Adalah pengemban hak dan kewajiban. Siapa saja? Orang pribadi dan badan hukum (Criminal Justice System) 2. Masyarakat Hukum Kumpulan dari subyek hukum di dalam suatu masyarakat sebagai suatu sistem yang teratur dan hukum yang tercipta dalam hubungan dengan masyarakat itu sendiri, bersifat abstrak dan memerlukan adanya relation and communication.

MATERI KULIAH VI

EFEKTIVITAS PENEGAKKAN HUKUM

Faktor-faktor yang mempengaruhi berfungsinya hukum di masyarakat : 1. Kaidah hukum 2. Penegak hukum 3. Sarana/Fasilitas 4. Warga Masyarakat

Kaidah Hukum

Berlakunya hukum sebagai kaidah : 1. Kaidah hukum berlaku secara yuridis Apabila sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada di atasnya dan sesuai dengan kaidah pembentukanya 2. Kaidah hukum berlaku secara sosiologis Apabila hukum dapat dipaksakan berlakunya oleh masyarakat (teori kekuasaan) atau dilaksanakan masyarakat secara sukarela. 3. Kaidah hukum berlaku secara filosofis Sesuai dengan cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi

Penegak hukum
Antara aturan hukum dengan penegakan hukum saling berkaitan erat.  Aturan hukum yang baik tidak akan terlaksana apabila penegak hukumnya buruk, sebaliknya penegak hukum yang baik tidak berdayaguna apabila aturan hukumnya buruk

Sarana/Fasilitas
Fasilitas atau sarana amat penting untuk mengefektifkan suatu aturan tertentu yang merupakan faktor pendukung tegaknya suatu peraturan hukum.

Warga Masyarakat
 

Adanya kesadaran hukum masyarakat untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila kesadaran hukum masyarakat tinggi, maka ketaatan masyarakat terhadap hukum juga tinggi. Sebaliknya Apabila kesadaran hukum masyarakat rendah, maka ketaatan masyarakat terhadap hukum juga rendah. Hal-hal yang mempengaruhi kesadaran hukum masyarakat : 1. Penyuluhan hukum yang teratur. 2. Pemberian contoh teladan dari penegak hukum. 3. Pelembagaan yang terencana dan terarah

MATERI KULIAH VII MODERNISASI HUKUM

CIRI-CIRI HUKUM MODERN

Modernisasi hukum : upaya-upaya suatu bangsa untuk mengubah hukum dengan tujuan mendapatkan suatu sistem hukum yang lebih baik Menurut Marc Galenter, ciri-ciri hukum modern yaitu : 1. Berlakunya bersifat territorial (uniform). 2. Bersifat transaksional. 3. Universal 4. Sistem berjenjang/hierarchical. 5. Diorganisir secara birokratis. 6. Bersifat rasional/tertulis. 7. Dijalankan secara professional. 8. Fleksibel 9. Perantara yang menjalankan hukum 10. Pengawasan politik dan pembedaan tugas

Menurut Nonet-Selznick, terdapat tiga tipe tatanan hukum (modern) yaitu : 1. Tatanan Hukum Represif : tahap awal perkembangan tatanan hukum yang bertugas menyelesaikan masalah yang sangat mendasar dalam mendirikan tatanan politik (hukum mengabdi pada kekuasaan) 2. Tatanan Hukum Otonomius : tahap menunjukan suatu proses menuju ke arah yang lebih baik dari tatanan hukum represif (prosedur merupakan jantung dari hukum). 3. Tatanan Hukum Responsif : tahap akhir perkembangan tatanan hukum menuju Rule of Law

Ciri-Ciri Tatanan Hukum Represif
 

  

Institusi hukum secara langsung dapat diakses oleh kekuatan politik Langgengnya sebuah otoritas merupakan urusan yang paling penting dalam administrasi hukum Lembaga-lembaga kontrol menjadi pusat kekuasaan yang independen Rezim hukum berganda (dual law) Dominasi hukum pidana

Ciri-Ciri Tatanan Hukum Otonomius Hukum terpisah dari politik  Tertib hukum mendukung model peraturan  Prosedur adalah jantung hukum  Ketaatan terhadap hukum bersifat mutlak  Lebih menjaga integritas institusional

Ciri-Ciri Tatanan Hukum Responsif
Perkembangan hukum meningkatkan otoritas tujuan dalam pertimbangan hukum  Tatanan hukum yang tidak kaku dengan dominasi hukum perdata (Fleksibelitas & Keterbukaan)  Peran luas masyarakat dalam pembentukan dan penegakan hukum

PERBEDAAN TIGA TATANAN HUKUM
HUKUM REPRESIF TUJUAN LEGITIMASI PERATURAN Ketertiban Ketahanan Nasional dan Tujuan Negara Keras dan rinci, namun berlaku lemah bagi pembuat hukum Ad hoc, memudahkan mencapai tujuan dan bersifat partikular Sangat luas, oportunistik Ekstensif, dibatasi secara lemah Moralitas komunal, moralisme hukum, moralitas pembatasan Hukum dibawah politik Pasif HUKUM OTONOM Legitimasi Keadilan Procedural Luas dan rinci, mengikat pengauasa dan yang dikuasai Sangat melekat pada otoritas legal, rentan terhadap formalisme dan legalisme Dibatasi oleh peraturan, delegasi yang sempit Dikontrol oleh batasanbatasan hukum Moralitas kelembagaan yakni dipenuhi dengan integritas proses hukum Hukum independen dari politik Dibatasi prosedur baku HUKUM RESPONSIF Kompetensi Keadilan Substantif Subordinat dari prinsip dan kebijakan Purposif (berorientasi tujuan) perluasan kompetensi kognitif Luas tetapi sesuai dengan tujuan Pencarian positif bagi berbagai alternatif Moralitas sipil, moralitas kerjasama Intehgrasi hukum dan politik Akses diperluas melalui advokasi hukum dan sosial

PERTIMBANGAN

DISKRESI PAKSAAN MORALITAS

POLITIK PARTISPASI

Bagaimana dengan Tatanan Hukum di Indonesia
  

Tatanan hukum pada masa Penjajahan Hindia Belanda : Represif Tatanan hukum pada masa Penjajahan Jepang : Represif Tatanana Hukum Pasca Kemerdekaan
1.
2. 3. 4. 5.

1945-1949 : Represif 1950-1958 : Otonom (UUDS 1950) 1959-1965 : Represif (Demokrasi Terpimpin) 1966-1999 : Represif vs Otonom 1999-Sekarang : Otonom vs Responsif ?

HUKUM DLM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL
SOLIDARITAS SOSIAL

MEKANIS

ORGANIS

Masyarakat segmental

KESADARAN KOLEKTIF (Collective Conscience)

Masyarakat modern

HUKUM REPRESIF

HUKUM RESTITUTIF

(Baca Sosiologi, Hukum dan Sosiologi Hukum. B.R. Rijkschroeff)

MEMAHAMI MASYARAKAT
Auguste Comte menggambarkan masyarakat :

Statika Sosial : Menganalogikan masy spt “anatomi” tubuh manusia yg terdiri dr organ, kerangka & jaringan. Hal Ini = mempelajari masy dlm keadaan statis sbg pendekatan yg bersifat sinkronik.

Dinamika Sosial : Menganalogikan masy spt berfungsinya tubuh manusia, pernafasan, metabolisme, sirkulasi darah dll. utk menggambarkan pertumbuhan organik dr embrio ke arah kedewasaan. Hal ini = mempelajari masy dlm keadaan dinamis, proses berlangsungnya kehidupan masy (perubahan sosial) yg bersifat diakronik.

Baca: buku Sosiologi Perubahan Sosial

PERUBAHAN SOSIAL DLM KONTEKS PEMBANGUNAN


 1.

2.

Perubahan sosial adl transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola berfikir dan dalam pola perilaku pd wakt tertentu (Macionis). Perubahan sosial adl modifikasi dlm pengorganisasian masyarakat (Persell). Perubahan sosial adl perubahan pola perilaku, hub sosial, lembaga dan struktur sosial pd wkt tertentu (Farley). Kesimpulan : Perubahan sosial mengacu pd variasi hubungan antar individu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pd wakt tertentu. Proses penggantian nilai-nilai budaya & institusi-institusi sosial dalam konteks struktur dan organisasi masyarakat, menyangkut pula orientasi berfikir, & gaya hidup manusia yang berlangsung dlm kehidupan bersama sbg masyarakat.

PEMBANGUNAN

Kata “Pembangunan” secara umum diartikan sbg ush utk memajukan masy & warganya. Kemajuan dimaksud terutama menyangkut segi material, shg pembangunan sering diartikan sbg kemajuan yg dicapai masy hanya di bidang “ekonomi” dengan tdk melihat segi moralitas manusia. Ada perbedaan prinsipiil antara konsep pembangunan yg dianut olh “ngr berkembang” dg pembangunan “ngr maju” (Adikuasa). Di Ngr berkembang persoalan pembangunan adl bgm mempertahankan kehidupan sos, & bgm meletakkan dasardasar ekonomi kehidupan masy yg mampu bersaing di pasar internasional (Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan pembangunan manusia (human development) . Di Ngr maju (adikuasa) persoalan pembangunan adl bgm melakukan ekspansi lebih lanjut bagi kehidupan ekonominya yg sdh mapan.

Antara “Perubahan Sosial” dg “Pembangunan” terdapat hubungan yang bersifat :
1.

2.

Resiprokal : saling berbalasan, saling bermanfaat, saling tergantung, juga saling mengisi atau saling mengurangi. Dialektika : penalaran dg dialog sbg cara utk menyelidiki suatu masalah. Segala sesuatu yg terdapat di alam semesta itu terjadi dari hasil pertentangan dua hal & yg kemudian bertentangan dg yg lain shg menimbulkan hal yg lain lagi.

POLA PERUBAHAN SOSIAL

1. Pola Linear : Perkembangan masyarakat mengikuti pola yg pasti.  Auguste Comte - Tiga tahap dlm peradaban: 1. Teologis & Militer : semua hub sos bersifat militer; masy/pok bertujaun menundukkan masy/pok lain; semua konsepsi teoritik didasarkan pd pemikiran mengenai adikodrati; dan kebijakan dilandasi imajinasi, penelitian tdk dihargai. 2. Metafisik & Yuridis: jembatan perubahan dr bentuk masyarakat militer dg masyarakat industri; kebijakan masih dilandasi pd imajinasi ttp mulai bergeser kearah landasan penelitian. 3. Ilpengtek & Industri: industri mendominasi hub sosial & produksi jadi tujuan utama masy; imajinasi tergeser olh hasil penelitian & konsepsi-2 teoritik.
Baca: buku Sosiologi Perubahan Sosial

2.

Unlinear : perkembangan masyarakat tidak selalu menuju kearah kemajuan tetapi bisa juga ke arah kemunduran (primitivisme). Spenser : struktur sosial berkembang secara “evolusioner” dari struktur yg homogen ke arah heterogen. Perubahan struktur sosial sll diikuti dg perubahan fungsi sosial. Masy sederhana bergerak maju scr evolusioner ke arah ukuran lebih besar, terpadu, majemuk, dan kepastian terjelma menjadi bangsa yg beradab atau sebaliknya menjadi bangsa yg primitif. Pola Siklus : perkembangan masyarakat laksana st roda, kadang di atas kadangkala turun ke bawah. Oswald Spengler : kebudayaan tumbuh, berkembang & pudar laksana gelombang yg muncul mendadak, berkembang kemudian lenyap, atau laksana tahap perkembangan seorang manusia melewati masa muda, dewasa, tua, dan akhirnya punah ( contoh : bangsa Yunanai, Romawi, Indian, Aborigin dll).

MASALAH YG MENJADI PERHATIAN DLM PERUBAHAN SOSIAL
• APA YANG BERUBAH. (Kependudukan, Pembagian Kerja, Perburuhan, Peranan Keluarga dll). • KEMANA ARAH PERUBAHAN. (Tradisional, Modernisasi). • BAGAIMANA KECEPATAN DARI PERUBAHAN. (Evolusi, Reformasi, Revolusi dll). • MENGAPA TERJADI PERUBAHAN. (Kesenjangan budaya, Demoralisasi, Disorganisasi, Involusi, Polarisasi, Erosi Kepemimpinan dll). • FAKTOR APA YG TERKANDUNG DLM PERUBAHAN. (Inovasi, Invensi, Difusi dll).

INTERFACE DALAM PERUBAHAN SOSIAL
EKONOMI TRADISIONAL FOKUSNYA ADL : Proses sosial yg memungkinkan elit ekonomi & politik mengelola alokasi sumberdaya produksi PERAN KEKUASAAN DALAM KEPUTUSAN EKONOMI MRPKN PIJAKAN UTAMA.

PERUBAHAN

POLITIK (ORIENTASI KEKUASAAN)

EKONOMI (ORIENTASI PROVIT)

SOSIAL (ORIENTASI MORAL)

PEMBANGUNAN (ORIENTASI MATERIAL)

EKONOMI MODERN FOKUSNYA ADL : Alokasi efisien atas sumberdaya produksi scr berkesinabungan dg memperhatikan mekanisme sosial politik, baik oleh lembaga swasta maupun pemerintah utk mempertahankan/memperbaiki “standar kualitas hidup manusia”.

SOSIAL

PERKEMBANGAN TEORI PEMBANGUNAN
EKONOMI SOSIALIS LEPASNYA PAHAM MANUSIA DALAM IKATAN-2 KOLEKTIF MENUJU INDIVIDUALISM • Free fight compatation LIBERALISME • Invisible hand MASHAB KLASIK • devision of labour • spealization
SELESAI PD I & II

MUNCUL NEGARA

• KETDK SEIMBANGAN EKONOMI NGR BERKEMBANG DG NGR MAJU • EKSPLOITASI NGR MAJU THD NGR METROPOLITAN BERKEMBANG (NGR PUSAT) • COMPARATIVE ADVANTAGE PHERY-PHERY (NGR PINGGIR) FAKTOR PENYEBAB

→ AMERIKA SERIKAT
BANTU

NEGARA- EROPA (Trickle Down Efect) ROSTOW • SUKSES

FAK INTERNAL

• PSIKOLOGI - VIRUS N’ACH • SPIRIT • KREATIFITAS • RASIONAL

• KEBUD NEGARA-2 ASIA AFRIKA AMERIKA LATIN • GAGAL

KEHANCURAN EKONOMI

FAK EKSTERNAL • KETERGANTUNGAN SUATU NGR KPD NGR LAIN

• WELFARE STATE • DEMOKRATISASI • POLITIK CHECKS & BALANCES • PERKUATAN •KEKUASAAN YUDICEEL

AWAL PERKEMBANGAN

EKONOMI POLITIK EKONOMI PEMBANGUNAN

KESEIMBANGAN DLM PEMBANGUNAN EKONOMI DENGAN PEMBANGUNAN POLITIK DALAM HAL :

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (UNDP) KEAMANAN MANUSIA (HUMAN SECURITY)

NEGARA BANGSA

NEGARA KESEJAHTERAAN

AKIBAT PERUBAHAN SOSIAL
(Abad ke-20)
     


Jumlah penduduk dunia meningkat sangat tinggi Tuntutan bangsa untuk merdeka meningkat Polarisasi kekuasaan berkembang meluas Berkembangnya organisasi & oligarkhi menuntut perluasan spesialisasi Bertambah lebar jurang pemisah antara yang memerintah dg yang diperintah Hilangnya keseimbangan antara kekuasaan eksekutif, legislatif & yudikatif Krisis kekuasaan yudiceel yg disebabkan oleh jumlah gol semakin membesar, masing-2 berusaha merebut kekuasaan. Perundang-undangan yg lambat mengantisipasi, shg kekuasaan yudiceel dipengaruhi oleh kekuatan-2 dominan dlm masyarakat (politik, ekonomi).

CIVIL LAW (Eropa Kontinental) Peranan ngr dlm pembuatan UU dominan Hk tertulis sbg andalan bagi kepastian hk

PERGESERAN SISTEM HUKUM
KOMPONEN CAMMON LAW Partisipatif dg mengundangkan seluas-luasnya parmas baik scr individu maupun kelompok CIVIL LAW Sentralistik karena pembuatannya lbh banyak ditentukan olh lbg-2 ngr trtm pemerintah

PEMBUATAN

ORIENTASI

MASYARAKAT
FUNGSI

Aspiratif, memenuhi kehendak masyarakat yg dkontestasikan scr demokratis

CAMMON LAW (Anglo Saxon) Hk tertulis & konvensi Mendapat tempat yg penting Hakim dpt membuat hk mll Vonis-2 tanpa hrs terikat pd hk tertulis Keadilan diutamakan

Positivis instrumen talis dlm arti isinya lbh mencerminkan kehendak atau alt justifikasi atas pro gram yg akan dilakukan pmrth Interpretatif krn hanya memuat mslh-2 pokok utk ditafsirkan dg prtn rendah yg dibuat olh pemrth, dmn interpretasi sekedar menyangkut hal-2 teknis

PELUANG

Limitatif karena memuat kttn prinsip scr rinci & ketat shg tdk dpt diinterpretasikan scr sepihak olh pmrth, kecuali hal-2 teknis

PERUBAHAN SOSIAL vs NETRALITAS HUKUM
ARUS POLITIK GLOBAL

NETRALITAS HUKUM
TUJUAN HUKUM 1. 2. 3. KEADILAN SOSIAL KEBENARAN KEMANFAATAN SOSIAL PERUBAHAN SOSIAL

MASALAH SOSIAL KEBERFIHAKAN HUKUM

PEMBANGUNAN NAS

MASALAH SOSIAL
Masalah sosial adalah penyimpangan perilaku individu maupun lembaga di dalam masyarakat sebagai akibat dari kebijakan atau penerapan kebijakan tidak tepat dalam mengelola masyarakat sehingga menimbulkan patologi sosial.

PERMASALAHAN SOSIAL MENYANGKUT :
1. 2. 3. 4.

5.
6.

Sistem kelembagaan. Fungsi lembaga. Peranan lembaga. Sarana dan prasarana. Pengorganisasian lembaga. Manajemen lembaga.

Folkways, Mores, Customs & Law

Bentuk-2 Permasalahan
•Rakyat kecil dipakai untuk mendukung politik massa •Rakyat kecil di pelosok terperangkap dalam tarik-ulur politik lokal Kehidupan ekonomi kian mahal dan sulit Lingkungan hidup rusak akibat diskriminasi dlm peruntukan tanah, dan kebuasan eksploatasi sumber daya alam

Marginalisasi hak hidup warga asli/suku terasing

Manipulasi sentimen etnis dan agama untuk kepentingan elit politik

DESAS-DESUS
(Horton & Hunt, Smelser, Kornblum, Light, Keller)


 

 

Berita yg menyebar secara cepat, tidak berdasarkan fakta (kenyataan), dr persoalan moral hingga mslh kenegaraan. Tersebar karena orang perlu & suka. Menarik ketika terjadi ketegangan sosial. Dpt merusak nama baik (reputasi), kaburkan tujuan, lemahkan semangat – digunakan utk propaganda. Tdk dpt dibantah scr efektif hanya dg menggunakan penjelasan yg rasional. Desas-desus yg berlangsung lama & diterima sbg kebenaran bisa menjadi legenda.

PANIK
(Horton & Hunt, Smelser, Kornblum, Light, Keller)

 

Kondisi emosional yg diwarnai olh keputusasaan & ketakutan yg tdk terkendali, disertai penyelematan diri scr kolektif yg didasari olh sikap histeris. Terjadi pd pok yg mengalami keletihan kr tekanan jiwa (stress) sesaat atau berkepanjangan, berada dalam keadaan sangat berbahaya & hanya memiliki kemungkinan membebaskan diri scr terbatas. Setiap orang menempuh cara utk melindungi dirinya sendiri. “Kepemimpinan” sangat diperlukan dlm suasana panik guna mengorganisasi agr kerjasama; hilangkan ketidakpastian dg cara memberi

GERAKAN SOSIAL
(Horton & Hunt, Smelser, Kornblum, Light, Keller)

 

Perilaku masa yang melakukan kegiatan secara berkesinabungan untuk menunjang atau menolak kebijakan yg dianggap merugikan masyarakat atau kelompok. Awal mula gerakan dilakukan olh suatu kelompok yg merasa tdk puas thd suatu keadaan; pribadi kecewa; penyaluran kegagalan; atau mereka yg merasa hidup kurang berarti. Semula bentuk gerakan tidak terorganisasi, terarah dan terencana selanjutnya terorganisasi. Contoh: Gerakan demo, gerakan ekspresif, gerakan utopia, gerakan reformasi, gerakan revolusioner, (KAMI 1966, Reformasi 1998). Faktor pendorong: kemiskinan, ketidakadilan, korupsi yg parah, kekejaman, konsumerisme, individualisme, gila materi & jabatan, hedonisme dll

CIVIL DISOBEDIENCE
(Horton & Hunt, Smelser, Kornblum, Light, Keller)

Pembangkangan sipil adl penyimpangan hk secara umum dan terbuka karena terdorong oleh kata hati serta pandangan moral, disertai dengan kesediaan menerima sanksi hukum.
Aksi tsb merupakan teknik paksaan tanpa paksaan yang menggunakan tuntutan dr sejumlah orang yang rela menderita demi menegakkan suatu pandangan moral.

Pembangkangan sipil disebabkan kr muncul-nya kasus-2 yang berkaitan dengan adanya perasaan kurang puas atas sistem hukum yang tidak adil.

Aksi ini merupakan tindakan politik yang bukan merupakan tindakan kekerasan dengan tujuan untuk mengubah hukum atau kebijakan pemerintah.
Pembangkan sipil diilhami oleh pemikiran bhw keadilan yg berlaku di masyarakat hanya untuk golongan tertentu saja dan kurang memperhatikan golongan yang lain.

Pembangkangan sipil bisa mencapai tuntutan yang dikehendaki apabila memiliki disiplin diri yg kuat dari para pelaku, dan tdk mengarah ke tindakan kekerasan. Cara ini umumnya berlaku di negaranegara demokrasi di mana para pelaku telah memiliki kesadaran cukup tinggi dlm hidup bernegara. Dengan kata lain tuntutannya benar-benar utk kepentingan bangsa dan negara.

 Social

disobidience = Paksaan tanpa kekerasan (nonviolent coercion) sbg teknik perlawanan (non resistance) atau perlawanan pasif (pasif resistance).

 Sasarannya

ialah membangkitkan perasaan simpati masyarakat dan mempermalukan partai dominan agar partai dominan mau membuat kelonggaran.
dasar: ketidakpuasan (discontent theory), ketidakmampuan menyesuaikan diri (malajusment theory), kesenjangan (deprivasi).

 Teori

PATOLOGI SOSIAL

Semua tingkah laku yg bertentangan dg norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesedarhanaan, moralitas, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal (Penyakit Masyarakat).

Perkembangan tdk seimbang dr macam-2 bag kebudayaan, shg melahirkan kesenjangan sosial, kelambatan kultural (cultur lag), disorganisasi sosial, hingga disintegrasi sosial.
Inter-dependensi antara disorganisasi sosial dan lingkungan budaya yg buruk merupakan rangsangan bagi orang normal menjadi sakit sosial (sosiopatik).

Bentuknya : Kemiskinan, Kejahatan, Pelacuran, Alkoholisme, Narkotika, Perjugian, Pelacuran

STEREOTIPE

Kesan (pandangan salah, prasangka) tentang ciri-ciri tertentu (khusus) kelompok luar yang telah diterima secara luas oleh masyarakat. Citra kaku tentang suatu kelompok ras atau budaya yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut. Kecenderungan bahwa sesuatu yang dipercayai orang besifat terlalu menyederhanakan dan tidak peka terhadap fakta obyektif. Stereotype mungkin ada benarnya, tetapi tidak seluruhnya benar.

ALIENASI

Keterasingan, ketidakberdayaan, ketidakberartian, keterpencilan, ketidakseimbangan diri Keterasingan diri atas karyanya di dlm masyarakat atau kelompok, disertai perasaan tanpa norma, tanpa arti, tanpa daya, tanpa kemampuan, tanpa perhatian, merasa rendah diri, terisolasi, dan tersingkir dlm kehidupan.

ANOMI

Kondisi sosial yg tidak memiliki seperangkat nilai & sistem penerapannya yang diyakini benar, berlaku scr konsisten, dan digunakan sebagai pedoman sikap & perilaku oleh warga masyarakatnya. Nilai-nilai lama telah ditinggalkan sedangkan nilai baru belum terbentuk. Cara menerapkan nilai lama tidak sesuai dg perkembangan, sedangkan cara baru belum ada.

POLARISASI

Proses terjadinya dua lapisan dlm masyarakat (lapisan atas dan lapisan bawah) yang menunjukkan perbedaan sikap dan kemampuan dalam merespon (menyerap) ilmu pengetahuan dan teknologi serta hasil-hasil pembangunan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan kesenjangan dlm kesejahteraan dan kemampuan kedua lapisan tersebut. Bentuk a.l kesenjangan dlm kesejahteraan, pendidikan, akses dlm berpolitik dll.

ANOMALI

Anomali adalah proses penyimpangan fungsi-fungsi lembaga dalam masyarakat yg tdk segera diperbaiki peranannya sehingga menimbulkan kegalauan atau keadaan anomi. Bentuknya berupa pelanggaran thd normanorma sosial yg tlh melembaga atau mapan, tidak ada sanksi yg efektif, & tidak melakukan perubahan scr substansial cara utk mengatasi masalah.

INVOLUSI

Involusi adalah kemunduran, kemerosotan kebudayaan kr ketidakseimbangan yang terjadi di dalam kehidupan sosial sudah mencapai bentuk yang pasti, namun tidak berhasil diseimbangkan atau diubah menjadi suatu pola baru, justru terus berkembang hingga menjadi semakin rumit. Bentuknya berupa peningkatan teknik melangsungkan kehidupan atas dasar ketertutupan (exclucivisme), dlm konteks mekanisme daya tahan masyarakat (defence-mechanisme), hingga sikap sosial mengalami dehumanisasi, kepekaan sosial menghilang, persepsi sosial menjadi kabur, kebanggan hanya pada lambang-lambang kesuksesan, mabuk kekuasaan, materi dan panik

EROSION PATRON-CLIENT
Pengikisan hubungan ketergantungan antara Klien (yang dipimpin, dilindungi, anggota) terhadap Patron (Pelindung, Pemimpin) disebabkan oleh menguatnya nilai kesadaran rasional di satu sisi, di sisi laian melemahnya nilai ketauladanan dan rasa tanggungjawab) Patron sbg pengaruh dr orientasi materi yg menonjol, serta berfikir dan bertindak scr ekonomis.

KRISIS

Krisis adl proses melemahnya daya pengikat sosial berupa nilai-nilai, lembagalembaga, fungsi-fungsi, status-status, peranan-peranan, mekanisme, tata-cara hidup dalam masyarakat Bentuknya berupa kontradiksi-kontradiksi sikap dan tindakan dlm bentuk arogan, brutal, agresif, anarkhi di masyarakat dalam menghadapi setiap kebijakan yg dianggap tidak selaras dengan pendapat

CRIME

Crime is societal problem not problem (Radcliff Brown).

criminal justice

Tindakan yang bertentangan dg rasa solidaritas kelompok (Thomas). Pelanggaran thd perasaan ttg kasihan dan kejujuran (Garofalo). Konsep kejahatan sering dilihat dr aspek kegarangan tindakan (Feloni = kejahatan serius; Misdemeanor = kejahatan yg kurang serius)

 Organized

Crime : Suatu tindak kejahatan yg dilakukan oleh sekelompok orang scr sistematis (modus operandi). Organization : Suatu organisasi yg didirikan oleh para penjahat utk mengoptimalkan pencapaian tujuan (punya struktur organisasi yg jelas, memiliki keanggotaan tetap, menggunakan peralatan teknologi, memiliki aksi kejahatan yang berkelanjutan, menggunakan akumulasi kekuasaan

 Criminal

 State

Organized Crime : tindakan yg menurut hk ditentukan sbg kejahatan & dilakukan olh pejabat pmrth dlm menunaikan tugas dr negara againts humanity : 1) kejahatan perang; 2) pembersihan etnik (genocide; 3) perbudaan dll.

 Crime

KEJAHATAN PD MASYARAKAT INDUSTRI

Penyelundupan (smuggling) sbg bentuk kejahatan konvesional yg berdimensi baru, memanfaatkan teknologi komunikasi, transpotasi (kapal curah, container, cargo air transportation, diplomatic bag dll). Penyebaran hama & penyakit mll bahan makanan import kadaluarsa, baik berasal dr ngr pengeksport yg kondisi alat angkutnya buruk, maupun yg tertahan di pelabuhan tujuan. Pasar gelap (black market) barang-2 terlarang spt makanan, minuman, drug mll pengemasan & peredaran yg tdk konvensional (pembuangan limbah 3B, debt collector).

Pemalsuan merk dagang terkenal & pembajakan hak paten.  Penggelapan pajak, pemalsuan restitusi pajak.  Penyalahgunaan credit card, pecurian pulsa telp, money laundry.  Pelecehan sex dan child abused, kejahatan yg bersumber dr tekanan psikologis akibat kerja berat & diburu wakt.  Cyber crime (kejahatan maya.  Kejahatan asuransi.

TERORISME

Strategi untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan cara kekerasan atau ancaman kekerasan utk memaksa pemerintah, penguasa & rakyat dengan menimbulkan rasa takut. Digunakan olh kelompok yg hanya memperoleh dukungan kecil, tetapi memiliki keyakinan yang teguh atas kebenaran tujutannya. Berbagai tujuan terorisme : menarik perhatian dunia, mengacaukan stabilitas pemerintahan, mendukung revolusi, dan

WHITE COLLOR CRIME

Ciri-2 WCC menurut Laura Snider : - Dilakukan dlm konteks kewenangan. - Berlindung di balik jabatan. - Akibat yg ditimbulkan meluas. - Menguntungkan diri sendiri maupun kelompok. - Dilakukan dlm konteks sindikat. Label yg mengandung pesan moral & politik utk kejahatan yg dilakukan olh orang-2 yg memiliki kedudukan sosial tinggi & terhormat dlm pekerjaannya (para pengusaha & eksekutif). Kegiatan tdk sah tanpa menggunakan kekerasan scr langsung teruama menyangkut penipuan, penyesatan, penyembunyian informasi, penggelapan dan manipulasi. WCC menggugurkan teori yg menyatakan pelaku

JUDICIAL ACTIVISM

Hakim yg mengembangkan atau memperluas pengertian hukum dan peraturan konstitusi yang berlaku dengan menggunakan interpretasi hukum menurut pendapatnya sendiri. Kecenderungan para penegak hukum untuk mengarah ke upaya memperluas atau mempersempit pengertian peraturan hukum dan ketetapan konstitusi di luar kehendak pembuat peraturan hukum dan ketetapan tersebut.

JUDICIAL CRIME
Kejahatan yang dilakukan olh aparat penegak hukum dlm konteks jabatan & kekuasaan untuk menetapkan seseorang atau sekelompok orang salah atau tdk bersalah dg cara menyimpangkan perkara dari tujuan hk shg menguntungkan diri sendiri & merugikan fihak lain yg berperkara serta merusak tatanan hukum.

CRIMINAL LAWYER
Aktivitas lawyer yang menjadi langganan pelanggar hukum baik perorangan maupun terorganisir. Pekerjaannya : merekayasa alibi, mengatur pertemuan yg bersifat tersembunyi, mempengaruhi polisi, jaksa maupun hakin dlm membuat berita acara, menuntut hingga menyidangkan perkara. Juga menakuti saksi, mengaburkan peristiwa/perkara mll mass media, dg cara menyuap aparat gakkum, hingga mengancam keselamatan hakim.

EXTRA JUDICIAL CRIME

Lembaga yg terbentuk kr ketidakpuasan masyarakat atas kinerja para penegak hukum. Masyarakat tdk mempercayai integritas moral para penegak hukum kr aparat tlah melakukan penyalahgunaan wewenang & memberi perlindungan thd praktek-2 kejahatan. Masyarakat mengganggap tindakannya mrpkn tindakan suci (mahatma) & mrpkn hk positif. Masyarakat melakukan upaya penegakan

HUMAN SECURITY (Keamanan Manusia)
MULTI FASET KEAMANAN MANUSIA :  Keamanan kultural & agama.  Keamanan harta milik. Human security  Keamanan hak-hak manusia. sbg  Keamanan perempuan. Anak Sistem keamanan dan lansia. yg  Keamanan kerja. Berlawanan  Keamanan keluarga & Kediaman. dengan  Keamanan makanan. Sistem State  Keamanan perjalanan. sesurity  Keamanan informasi.  Keamanan hak cipta.  Keamanan pendidikan.  Keamanan kesehatan. Jiwa & bencana.


     


 

PENDEKATAN DLM KEAMANAN MANUSIA : Pengusangan perang. Pengusangan kekerasan. Demokratisasi politik, ekonomi & hukum (peradilan) Keadilan hukum. Pelestarian lingkungan. Penyelesaian konflik scr damai. Perubahan umur kerja. Multikulturalisme & multirelijionisme. Hak manusia dg relativism kultural. Ekoteknologi.

INDUSTRI KEAMANAN :  Asuransi (pendidikan, usia lanjut, rumah, kendaraan, kecelakaan, harta, pekerjaan, perjalanan).  Pengawalan, patroli, jaga malam.  Detektif swasta.  Pengamanan fisik (pagar, kunci, alarm, mata elektronik, senjata api, foto kamera).  Praktek dokter.  Akutansi.

TANTANGAN KEAMANAN MANUSIA MASA DEPAN :  Pangan, air, tanah, udara.  Ekologi.  Informasi.  Kemiskinan mayoritas.  Hak intelektual.  Bencana alam.  Perpecahan keluarga.  Kesehatan.  Radikalisasi agama.  Terorisme.  Trans-nasitional crime.  Keseimbangan biomassa.

PROBLEM SOSIAL MASA KINI
(Makro)
     

Upaya mempersenjatai diri dan upaya mengurangi persenjataan (armament and disarment) Masalah Hak Asasi Manusia Alih teknologi, inflasi, tawar-menawar secara kolektif (collective bargaining) Biaya pemerintahan (government budgeting), Inovasi kelembagaan (institutional innovation), Restrukturisasi sosial (social restructuring) Keikutsertaan buruh dalam mengelola perusahaan, juga dalam hal penentuan kebijaksanan (codetermination) serta keterlibatan buruh dlm manajemen (worker’s self management)

  


 

Hak atas non-diskriminasi (atas dasar jenis kelamin, gender, dan /atau kemampuan melahirkan anak, ras, kebangsaaan dst) Perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan dalam bidang khusus, seperti lapangan kerja, sistem peradilan dll Kebebasan vs kekerasan. Hak sipil dan politik lainnya (berkumpul, mengelaurkan pendapat dll) Pembagian waris bagi wanita. Alokasi & peruntukan tanah. Perubahan tata-nilai dlm kesenian (musik). Perkawinan sesasama jenis. dll

KONFIGURASI PROBLEM SOSIAL

GRAND THEORY

PROBLEM MAKRO STRATEGIS

MASALAH KELEMBAGAAN

MIDDLE RANCE THEORY

PROBLEM MESSO TAKTIS

MASALAH ORGANISASI

LOWER THEORY

PROBLEM MIKRO TEKNIS

MASALAH INDIVIDU

Masalah Makro : - Masalah Keadilan. - Masalah Kemakmuran. - Masalah Keamanan. Masalah Messo : - Sistem Penegakan Hukum. - Sistem Kepolisian Nasional. - Fungsi Lembaga Arbritase. Masalah Mikro : - Persaingan Usaha. - Kepailitan Perusahaan. - Peranan lembaga. - Perbankan. - Perlidungan konsumen. - Perlindungan wanita.

KULIAH KE 3

ANALISIS MASALAH

Analisis merupakan kegiatan akal budi dlm rangka memecahkan masalah dan berupaya utk memperoleh jawabannya. Jenis analisis : 1. Analisis teoretis – suatu kajian untuk mengubah/menambah/ mengembangkan pengetahuan. 2. Analisis praktis – suatu kajian untuk mengubah keadaan atau menyelesaikan suatu masalah. 3. Analisis problematik – kombinasi dari analisis teoretis dan analisis praktis untuk mencari jalan keluar secara sistematis dlm konteks pemecahan mslh empiris. Dalam hal ini menempatkan proses dan problem dalam konteks sebagai suatu sistem. 4. Analisis yuridis – cara berfikir yg terpola & terarah pd sistem kaidah hukum positif dan kenyataan di masyarakat. Tujuannya utk memelihara stabilitas dan prediktabilitas (menjamin ketertiban dan kepastian hukum), serta utk menyelesaikan kasus scr imparsial, obyektif, adil dan manusiawi.

Penalaran adalah proses berfikir dari premis ke premis utk mencapai kesimpulan. Hasilnya disebut argumentasi.  Jenis-2 Argumentasi : a. Deduksi. b. Induksi. c. Abduksi.  Argumen deduksi = mengeksplisitkan kesimpulan yg sdh ada dlm premis-2 scr tersirat. Bentuk dasarnya adl silogisme. Hakekatnya merupakan penerapan premis umum pada premis khusus atau premis mayor pada premis minor.  Argumen induksi = berdasarkan premis-2 khusus utk menarik kesimpulan umum. Prosesnya membanding-bandingkan sejumlah kejadian atau fakta, selanjutnya berdasarkan kesamaan-2 dan perbedaan-2 menarik kesimpulan umum.  Argumen abduksi = berdasarkan sebuah kenyataan konkret yg

1. 2.

3.

4.

5.

6.

Penalaran yuridis adalah proses suatu berfikir dalam rangka mengidentifikasi hak-2 dan kewajiban-2 spesifik dari orang-2 tertentu. Secara teknik dijabarkan ke dalam enam langkah : Memaparkan selengkap mungkin fakta dari suatu peristiwa yang menimbulkan masalah. Mengidentifikasi sumber hukum yang aplikabel. Menganalisis sumber-2 hukum utk menetapkan aturan-2 yang aplikabel & kebijakan (policy, tujuan kemasyarakatan) yang melandasi aturan-2 tersebut. Mensintesiskan aturan-2 hukum yang aplikabel ke dlm suatu struktur koheren yang di dlm nya aturan yang lebih spesifik dikelompokkan ke bawah aturan yang lebih umum. Menelaah fakta yang diperoleh utk memilah, menstrukturkan dan mengkualifikasi fakta yang relevan shg tampil peristiwa hukumnya. Menerapkan struktur aturan-2 pada fakta yang relevan utk menetapkan hak-2 dan kewajiban-2 yang diciptakan olh fakta tersebut dg mengacu pada kebijakan yang melandasi aturan2 tersebut. Proses berfikir yuridis – Penalaran hukum = legal reasoning = argumen yuridis

FENOMENA
Fenomena adalah hal-hal yang dapat dilihat dengan panca indera dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah. Fenomena ini merupakan gejala atau kejadian yang dapat ditangkap oleh indera manusia, misalnya gejala-gejala atau kejadian alam. Dalam kegiatan kajian terhadap suatu masalah, fenomena merupakan “titik awal” dalam upaya mendapatkan informasi-informasi dan dijadikan suatu hal yang ingin diketahui. Fenomena itu kemudian diabstraksikan dengan konsep-konsep yaitu istilah atau simbol-simbol yang mengandung pengertian singkat dari fenomena. Hasil dari suatu penelitian berupa faktafakta yang diungkapkan dalam bentuk proposisi-proposisi, baik berupa teori, dalil, hukum, digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena tersebut. Dengan demikian fenomenafenomena yang ingin diketahui akan terjawab setelah diperoleh fakta-fakta.

KONSEP
Kata konsep berasal dari kata latin concipere yang berarti mencakup, mengandung, mengambil, atau menangkap. Kata bendanya adalah conceptus yang berarti tangkapan, sehingga arti konsep sebenarnya adalah tangkapan. Jika intelek (akal budi) manusia mengangkap atau melihat sesuatu, maka buah atau hasil dr tangkapan tersebut disebut konsep. Konsep dinyatakan dalam sebuah kata atau kalimat. Jadi konsep adalah istilah atau simbol-simbol yang mengandung pengertian singkat dari suatu fenomena. Dengan kata lain konsep itu penyederhanaan dari fenomena

D A T A
Data merupakan bentuk jamak dari datum. Dalam bahasa Indonesia, data diartikan sebagai keterangan yang benar dan nyata atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis). Data dapat berupa data kualitatif yaitu yang tidak berbentuk angka yang diperoleh dari wawancara, pengamatan, dan lain-lainnya, maupun kuantitatif berbentuk angka yang diperoleh dari penjumlahan atau pengukuran. Jadi data adalah keterangan atau hasil dari pengamatan/ pengukuran baik berupa nilai-nilai maupun angka yang biasa dijadikan sebagai bahan dasar kajian atau analisis. Dalam suatu kajian, data digunakan untuk menguji kebenaran suatu hipotesis atau paradigma. Keabsahan hasil pengujian itu tergantung pada kebenaran dan ketepatan data serta kecermatan analisis data.

F A K T A
Fakta berasal dari bahasa latin factum. Fakta merupakan bentuk jamak dari factum, berarti peristiwa, bukti atau berita yg merupakan kenyataan, atau sesuatu yg benar-benar terjadi. Dengan demikian jika hipotesis atau paradigma dinyatakan benar setelah diuji secara empirik, maka hubungan-hubungan informasi yang diprediksikan menjadi penyebab masalah benar, artinya hubungan-hubungan tersebut benar-benar terjadi dan suatu peristiwa terbukti kebenaranya berdasarkan fakta.

TEORI
1.

2.

3.

4.

Teori memiliki beberapa pengertian a. l : Pendapat yg dikemukakan sbg keterangan mengenai suatu peristiwa. Misalnya, teori tentang kejadian bumi, teori tentang pembentukan negara. Asas atau hukum scr umum yg menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan, Misalnya teori ttg mengendarai mobil, teori ttg hukum dagang. Seperangkat premis yg berhubungan scr logis baik linear maupun tdk linear dan dinyatakan scr sistematis utk menjelaskan gejala-gejala empiris. Seperangkat konsep yg berhubungan satu sama lain yg menggambarkan st fenomena dlm hubungan scr kausalitas dg tujuan utk menerangkan, dan meramalkan fenomena.

PREMIS
Rangkaian pernyataan mengenai hubungan antara dua atau lebih konsep, yg tidak perlu dibuktikan kebenarannya namun dpt diterima scr ilmiah (logis). Contoh Jika mahasiswa Universitas Jayabaya pernah mengikuti kuliah di perguruan tinggi lain, maka mereka cenderung belajar secara aktif sehingga prestasinya cenderung lebih tinggi.

Grand Theory

TEORI FUNGSIONAL

(Durkheim, A. Comte, M. Weber, T. Parsons, H. Spenser)
 

Kohesi sosial dalam masyarakat : Di setiap masyarakat senantiasa dijumpai suatu keterkaitan (kohesi). Dalam masyarakat seperti itu terdapat pengelompokan intermedier atas lembaga-lembaga kemasyarakatan, sehingga di dalamnya ada semacam struktur tertentu. Jika dalam pengelompokan membagi nilai dengan norma-norma yang sama, maka masyarakat memiliki aturan dalam pergaulan hidup, di mana orang-orang mempunyai ikatan erat dalam pengelompokan intermedier, sehingga mereka mengindahkan nilai-nilai dan norma pergaulan hidup tersebut.

Grand Theory

TEORI KONFLIK

(Hobbes, Karl Maarx, Galtung, Dahrendorf, Simmel, Coser, Slotkin)

Konflik merupakan fenomena yg normal dan natural.  Konflik dpt menimbulkan keadaan tidak enak, meresahkan, menegangkan, menakutkan namun syarat bagi suatu perubahan.  Konflik sosial merupakan pertentangan antara dua pihak atau lebih yang menyangkut masalah ekonomi, kekuasaan, keyakinan agama, ras.

Lower Theory

Teori-teori Under Control atau teori-teori untuk mengkaji perilaku jahat seperti teori Disorganisasi Sosial, teori Netralisasi dan teori Kontrol Sosial. Teori ini secara umum membahas mengapa ada orang melanggar hukum meskipun kebanyakan orang tidak demikian. Teori-teori Kultur, Status dan Opportunity seperti teori Status Frustasi, teori Kultur Kelas dan teori Opportunity yang menekankan mengapa adanya sebagian kecil orang menentang aturan yang telah ditetapkan masyarakat di mana mereka tinggal. Teori Over Control yang terdiri dari teori Labeling, teori Konflik Kelompok dan teori Marxis. Teori ini lebih menekankan kepada

ANOMI
(Emile Durkheim)
Anomi adalah keadaan deregulation dalam masyarakat, karena tidak ditaatinya aturan-aturan yang telah mapan (aturan lama ditinggalkan sedangkan aturan baru belum ada), kehidupan menjadi seolah-olah tanpa pedoman, orang sulit manangkap apa yang diharapkan dari orang lain baik untuk bersikap maupun bertindak, sehingga keadaan menjadi galau atau membingungkan.

ANOMI

(R.K.MERTON) Innovation (pembaharuan) adalah keadaan di mana tujuan dalam masyrakat diakui dan dipelihara, akan tetapi tdk terjadi perubahan sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Masyarakat masih ada yang percaya dengan cara-cara lama untuk mencapai tujuan, namun beralih menggunakan sarana baru jika menemui halangan terhadap cara yang digunakan untuk mencapai kesusksesan. Conformity (menyetujui) adalah suatu keadaan di mana warga masyarakat menerima tujuan dan sarana-sarana baru (legitimate mean) yang berkembang di masyarakat karena ada tekanan sosial. Di sisi lain meskipun masyarakat memiliki sarana yang terbatas tetapi tidak melakukan penyimpangan, mereka melanjutkan pencapaian tujuan hidup dan percaya atas legitimasi sarana-sarana konvensional dengan mana

Ritualism (tatacara keagamaan) yaitu keadaan di mana warga masyarakat yang telah menerima tujuan dan sarana-sarana baru, namun saranasarana baru tidak kunjung diadakan. Masyarakat meredakan ketegangan dengan menurunkan skala aspirasi sampai pada batas yang bisa mereka capai daripada mengejar tujuan budaya kesuksesan yg hanya ilusi. Retreatism (penarikan diri) yaitu keadaan di mana warga masyarakat melepaskan tujuan budaya sukses dan sarana-sarana sah. Warga masyarakat mulai menyesuaikan diri dari menurut cara-cara sendiri, misalnya dengan mabok-mabokan, pecandu narkoba hingga puncaknya bunuh diri. Rebellion (pemberontakan) yaitu keadaan di mana tujuan dan sarana yang terdapat dalam masyarakat ditolak, berusaha untuk mengganti atau mengubah seluruhnya. Meraka juga menginginkan utk mengubah sistem melalui social disobidien (pembangkangan

EXCHANGE THEORY (Peter Blau)

Premis-premisnya : Pertukaran sosial tidak simetris, ttp dilandasi olh sistem stratifikasi berdasarkan kekuasaan dan wewenang. Perbedaan status dlm masyarakat berakibat adanya perbedaan transaksi dalam pertukaran antar warga, status yg rendah ditentukan olh status yg tinggi. Legitimasi pemimpin dlm masyarakat tdk menjamin para anggota merasa puas thd kepemimpinannya, atau memahami apa yang diharuskan olh pimpinan, karena setiap pertukaran salalu diikuti oleh pamrih atau balasan. Kekuasaan dan otoritas dalam masyarakat sangat tergantung pd hasil perbandingan cost dan reward yg menguntungkan semua pihak. Dalam organisasi hubungan yg asimetris dilestarikan

TEORI KONTROL SOSIAL
(Reiss)
Lahirnya teori Kontrol Sosial dilatarbelakangi oleh tiga aspek perkembangan dalam masyarakat : (1) Adanya reaksi dari teori labeling dan konflik yang dilandasi tingkah laku kriminal. Sebagaimana acuan, teori ini kurang menganalisis masalah kriminal dan hanya mengarah pada subyek perilaku menyimpang; (2) Munculnya studi tentang criminal justice sebagai suatu ilmu telah mempengaruhi hukum menjadi lebih pragmatis serta berorientasi pada sistem; dan (3) Teori Kontrol Sosial dikaitkan dg teknik penelitian, khususnya terhadap tingkah laku remaja, yakni self report survey.

TEORI KONTROL SOSIAL
(Nye)
Menurut Nye, manusia diberi kendali supaya tidak melakukan pelanggaran, proses sosialisasi yang adequat (memadai) akan mengurangi terjadinya delinkuensi. Pendidikan terhadap seseorang untuk melakukan pengekangan keinginan (impulse). selain itu, kontrol intemal dan ekstemal harus kuat utk membangun ketaatan terhadap hukum (law-abiding). Premis teori Kontrol Sosial :  1. Harus ada kontrol intemal maupun ekstemal.  2 . Manusia diberikan kaidah-kaidah supaya tidak melakukan pelanggaran.  3. Proses sosialisasi yang ade quat (memadai) akan mengurangi terjadinya delinkuen.  4. Ketaatan thd hukum (law abiding).

TEORI LABELING
(Micholowsky)


Premis-premis teori Labeling sebagai berikut : 1. Kejahatan merupakan kualitas dari reaksi masyarakat atas tingkah laku seseorang. 2. Reaksi itu menyebabkan tindakan seseorang dicap sebagai penjahat. 3. Umumnya tingkah laku seseorang yang dicap jahat menyebabkan orangnya juga diperlakukan sebagai penjahat. 4. Seseorang yang dicap dan diperlakukan sebagai penjahat terjadi dalam proses interaksi, di mana interaksi tersebut diartikan sebagai hubungan timbal balik antara individu, antar kelompok dan antar individu dan kelompok. 5. Terdapat kecenderungan di mana seseorang atau kelompok yang dicap sebagai penjahat akan

Teori Labeling Howard S. Becker menekankan dua aspek:  (1) Penjelasan tentang mengapa dan bagaimana orang-orang tertentu sampai diberi cap atau label sebagai penjahat; dan (2) Pengaruh daripada label itu sebagai konsekuensi penyimpangan tingkah laku, perilaku seseorang bisa sungguh2 menjadi jahat jika orang itu di cap jahat.  Edwin Lemert membedakan tiga penyimpangan, yaitu: (1) Individual deviation, di mana timbulnya penyimpangan diakibatkan oleh karena tekanan psikis dari dalam; (2)Situational deviation, sebagai hasil stres atau tekanan dari keadaan; dan (3) Systematic deviation, sebagai pola-pola perilaku kejahatan terorganisir dalarn sub-sub kultur atau sistem tingkah laku.

Pada dasarnya teori labeling menggambarkan:  (1) Tidak ada satupun perbuatan yang pada dasarnya bersifat kriminal; (2) Predikat kejahatan dilakukan oleh kelompok yang dominan atau kelompok penguasa; (3) Penerapan aturan tentang kejahatan dilakukan untuk kepentingan pihak yang berkuasa; (4) Orang tidak menjadi penjahat karena melanggar hukum, tetapi karena ditetapkan demikian oleh penguasa; dan (5) Pada dasarnya semua orang pernah melakukan kejahatan, sehingga tidak patut jika dibuat kategori orang jahat dan orang tidak jahat. Premis tersebut menggambarkan bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang bisa dikatakan jahat apabila tidak terdapat aturan yang dibat oleh penguasa untuk menyatakan bahwa sesuatu tindakan yang

DIFFERENTIAL ASSOCIATION THEORY
(Edwin H. Sutherland)
Sembilan premis perilaku jahat :  1. Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari, bukan warisan.  2. Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam suatu proses komunikasi. Komunikasi tersebut dapat bersifat lisan atau dengan bahasa tubuh).  3. Bagian terpenting dalam proses mempelajari perilaku kejahatan terjadi dalam hubungan personal yang intim. Secara negatif ini berarti bahwa komunikasi interpersonal seperti melalui bioskop,

4. Ketika perilaku kejahatan dipelajari, maka yang dipelajari termasuk: (a) teknik melakukan kejahatan, (b) motif-motif, dorongan-dorongan, alasan-alasan pembenar dan sikap-sikap tertentu). 5. Arah dan motif dorongan itu dipelajari melalui definisi-definisi dari peraturan hukum. Dalam suatu masyarakat, kadang seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi, namun kadang ia dikelilingi orang-orang yang melihat aturan hukurn sebagai sesuatu yang memberikan peluang dilakukannya kejahatan. 6. Seseorang menjadi delinkuen karena ekses pola-pola pikir yang lebih melihat aturan hukurn sebagai pernberi peluang melakukan kejahatan daripada melihat hukurn sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi)

7. Asosiasi Diferensial bervariasi dalam frekuensi, durasi, prioritas serta intensitasnya.  8. Proses mempelajari perilaku jahat diperoleh lewat hubungan dengan pola-pola kejahatan dan mekanisme yang lazim terjadi dalam setiap proses belajar secara urnum.  9. Sementara itu perilaku jahat merupakan ekspresi dari kebutuhan nilai umum, namun tidak dijelaskan bahwa perilaku yang bukan jahatpun merupakan ekspresi dari kebutuhan dan nilai-nilai umum yang sama.

SOCIAL REALITY OF CRIME THEORY
(Richard Quinney)

Premis 1: Definisi ttg tindak kejahatan (perilaku yg melanggar hukum) adalah perilaku manusia yang diciptakan oleh para pelaku yang berwenang dalam masyarakat yang terorganisasi secara politik, atau kualifikasi atas perilaku yang melanggar hukum dirumuskan oleh warga-warga masyarakat yang mempunyai kekuasaan. Premis 2: Kejahatan adalah gambaran perilaku yang bertentangan dengan kepentingan kelompok masyarakat yang memiliki kekuasaan untuk membentuk kebijakan publik, atau perumusan pelanggaran hukum merupakan perumusan tentang perilaku yang bertentangan

Premis 3: Definisi tindak kejahatan diterapkan di dalam masyarakat yang memiliki kekuasaan untuk membentuk pelaksanaan dan administrasi hukum pidana. Kepentingan penguasa ikut mencampuri di semua tahap dimana kejahatan itu diciptakan. Premis 4: Pola aksi tindakan melanggar hukum atau tidak tergantung pada faktor : (1) kesempatan dalam masyarakat; (2) pengalaman belajar; (3) identifikasi pada pihak-pihak lain; (4) konsep diri. Premis 5: Pemahaman ttg tindak kejahatan dibentuk dan diserap ke dalam kelompok-kelompok masyarakat lewat sarana komunikasi.

CULTURE CONFLICT THEORY
(Thorsten Sellin)

 

   

Premis 1: Bertemunya dua budaya besar. Konflik budaya dapat terjadi apabila ada benturan aturan pada batas daerah budaya yang berdampingan. Pertemuan tersebut mengakibatkan terjadinya kontak budaya diantara mereka baik dalam kaitan agama, orientasi kerja, cara berdagang dan budaya minum-minuman keras, judi dan lainlain yang dapat mernperlemah budaya kedua belah fihak. Premis 2: Budaya besar menguasai budaya kecil. Konflik budaya dapat juga terjadi bila satu budaya memperluas daerah berlakunya ke budaya lain. Hal ini terjadi biasanya dengan menggunakan undangundang dimana suatu kelompok budaya diperlakukan untuk daerah lain. Premis 3: Anggota dari suatu budaya pindah kebudaya lain. Konflik budaya timbul karena orang-orang yang hidup dalam budaya tertentu pindah ke lain budaya yang berbeda.

SUB-CULTURE THEORY

Teori sub-culture membahas kenakalan remaja serta perkembangan dari berbagai tipe gang anak-anak di AS. Teori sub-culture dipengaruhi oleh kondisi intelektual (intelectual heritage) aliran Chicago, konsep anomie Robert K. Merton dan Solomon Kobrin yang melakukan penelitian terhadap hubungan antara gang jalanan dengan orang laki-laki yang berasal dari komunitas kelas bawah (lower class). Hasil penelitiannya menunjukkan ada kaitan antara hierarki politis dengan kejahatan teroganisir.

Ada dua teori sub-culture
 

Teori Delinquent Sub-Culture Albert K. Cohen dalarn bukunya Delinquent Boys (1955) berusaha memecahkan masalah kenakalan remaja dengan meggabungkan teori Disorganivasi Sosial dari Shaw dan McKay, teori Differential Association Edwin H. Sutherland dengan teori Anomie R.K. Merton. Cohen menyimpulkan bahwa kondisi tsb menyebabkan terjadinya peningkatan perilaku delinkuen kalangan remaja di daerah kumuh (slum). Konklusinya menyebutkan bahwa perilaku delinkuen di kalangan remaja kelas bawah merupakan cermin ketidak puasan warga terhadap norma dan nilai kelompok kelas menengah yang mendominasi kultur Amerika.


Teori Differential Opportunity (Perbedaan kesempatan) Teori ini dikemukakan oleh Richard A.Cloward dan Leyod E. Ohlin yang membahas perilaku delinkuen remaja (gang) di Amerika. Menurut Cloward, deviasi perilkau remaja itu terjadi karena ada perbedaan kesernpatan yang dimiliki anak-anak untuk mencapai tujuan hidupnya. Tiga tipe gang kenakalan remaja: (1) Criminal SubSulture, bilamana masyarakat terintegrasi dg baik, mk gang akan berlaku sebagai kelompok yang belajar dari orang dewasa. Aspek itu berkorelasi dengan organisasi kriminal; (2) Retreatist Sub-culture, remaja tidak memiliki struktur kesempatan shg banyak melakukan perilaku menyimpang (mabuk-mabukan, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya); (3) Conflict Sub-culture, terdapat dalam masyarakat yang tidak terintegrasi sehingga para remaja menunjukkan

TEORI KEKERASAN KOLEKTIF
(Tilly)

Kekerasan Kolektif Primitif – pada dasarnya non politis, ruang lingkupnya terbatas pada st komunitas lokal (contoh : pengeroyokan thd pencopet yg tertangkap tangan). Kekerasan Kolektif Reaksioner – merupakan reaksi thd penguasa, pelaku dan pendukungnya tdk semata-mata berasal dr st komunitas lokal, melainkan siapa saja yg merasa sesuai dg tujuan kolektif atau tdk setuju dg sistem yg tdk adil (contoh : demonstrasi buruh) Kekerasan Kolektif Modern – merupakan sarana utk mencapai tujuan politis atau ekonomis dlm

TEORI KONSPIRASI
(Mathias Brockers)

 

Mutasi dlm kehidupan tdk saja terjadi atas dsr pertarungan atau persaingan soal keberadaan, ttp juga persekutuan & kerjasama yg justru memungkinkan terjadinya evolusi. Dlm kehidupan A bersepakat dg B tanpa diketahui C utk memperoleh keuntungan adl wajar. Konspirasi mengandung bujukan atau rayuan, bukan sekedar bernada sama. Kata-kata yg saling terkait membuat hal-hal yg rumit menjadi sederhana.

 

Jika tidak ada bukti yg difinitif, kebenaran harus diuji scr berulang-ulang. Kecenderungan melempar tggjwb masalah yg rumit & menyengsarakan merupakan ciri perilaku manusia. Misteri yg tdk mampu dijelaskan scr logika akan dilarikan kpd “sdh kehendak Tuhan” sbg Sang Pencipta. Konspirasi membuat masalah yg rumit menjadi sederhana, dan menjadi alat ideal utk propaganda. Syak wasangka adl suatu keraguan, kritik dpt dijadikan bukti bagi realitas utk kemajuan.

PENCEGAHAN KEJAHATAN

Pencegahan = antisipansi sebelum masalah terjadi, penanganan kejahatan pada hulu permasalahan. Mencegah orang menjadi penjahat & menjadi korban kejahatan.
Mengendalikan keadaan dimanfaatkan utk berbuat jahat. agar tidak

Pengenalan metode penanganan kejahatan, serta peluang terjadinya kejahatan sejak dini (sejak anak-anak melalui pembinan terhadap kenakalan remaja.

PENCEGAHAN KEJAHATAN

Perasaan takut thd pelaku kejahatan (karena niat & peluang berbuat jahat longgar), shg perasaan aman masyarakat terganggu. Akar masalah kejahatan menyangkut Korelatif Kriminogen. Faktor

Pencegahan kejahatan adalah upaya bersama yang dilakukan oleh aparat dan masyarakat umum dalam menjaga kelembagaan sosial, sistem sosial, dan peran-peran masyarakat melalui mekanisme yg telah melembaga untuk mewujudkan perasaan aman.

DESAS-DESUS

  

 

Berita yg menyebar secara cepat, tidak berdasarkan fakta (kenyataan), dr persoalan moral hingga kenegaraan. Disebarkan kr pd dasarnya orang perlu & suka. Tercipta manakala terjadi ketegangan sosial. Dpt merusak nama baik (reputasi), kaburkan tujuan, lemahkan semangat – digunakan utk propaganda. Tdk dpt dibantah scr efektif hanya dg menggunakan penjelasan yg rasional. Desas-desus yg berlangsung lama & diterima sbg kebenaran bisa menjadi legenda.

PANIK


Kondisi emosional yg diwarnai olh keputusasaan & ketakutan yg tdk terkendali, disertai penyelematan diri scr kolektif yg didasari olh sikap histeris. Terjadi pd pok yg mengalami keletihan kr tekanan jiwa (stress) sesaat atau berkepanjangan, berada dalam keadaan sangat berbahaya & hanya memiliki kemungkinan membebaskan diri scr terbatas. Setiap orang menempuh cara utk melindungi dirinya sendiri. “Kepemimpinan” sangat diperlukan dlm suasana panik guna mengorganisasi agr kerjasama; hilangkan ketidakpastian dg cara memberi arahan & membangun kepercayaan diri.

PERILAKU KOLEKTIF (Horton & Hunt, Smelser, Kornblum, Light, Keller)

  

Tindakan yg dilakukan scr bersama olh sejumlah orang, bersifat temporer (tdk bersifat rutin), tdk terorganisasi. Cenderung tdk terkendali. Sebagai tanggapan atas rangsangan tertentu atau dipicu olh suatu rangsangan yg sama (peristiwa, benda, ide), sangat dimungkinkan merusak dan berlaku kriminal. Contoh : Kerumunan berubah menjadi penjarahan. Penjarahan di New York – 1977, Los Angeles – 1992, 10 Mei 1963 di Bandung, 13-15 Mei 1998 di Jakarta. Perlu disiapkan teknik pengendalian kerumunan.

MASALAH-2 SOSIAL YURIDIS
 Hak Atas Kekayaan Intelektual (UU No.7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta)  Badan Arbritase Nasional Dalam Penyelesaian Sengketa  Konspirasi Tender Dalam Hukum Persaingan Usaha

 Kontrak Investasi Antara Perusahaan Nasional dengan Investor……(Tinjauan dari teori funsional)  Peranan KPK Dalam Mendinamisir CJS Guna Mengoptimalkan Pemberantasan Korusi di Indonesia (Tinjauan dari teori fungsional).  Koordinasi Kerja Antara Polri dan BC Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Penyelundupan di…(Tinjauan dari teori fungsional).  Transfer Dana Secara Elektronik Melalui Kartu Kredit (tinjauan dari teori pertukaran)  Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Pengguna Produk ……(Tinjauan dari teori

 Perlidungan Hukum Terhadap Wanita Korban Kejahatan Perkosaan (Tinjauan dari teori social reality of crime).  PHK Terhadap Karyawan Yang Melanggar Perjanjian Kerja (tinjauan dari teori konflik…).

 Keputusan Hakim Atas Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh Anak-anak (Tinjauan dari teori social reality of crime).
 Tindak Pidana Aborsi Ditinjau Dari UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan (Tinjauan dari teori kontrol sosial).  Penanggulangan Narkotika Di Lingkungan Remaja Berdasarkan UU No.22 Tahun 1991 Tinjauan dari teori kontrol sosial).

 Sikap Para Gelandangan Terhadap perilaku Seks (Tinjauan dari teori differential assosiation).  Fenomena Inul Daratista Dalam Konteks Pornoaksi (Tinjauan dari teori Anomi)  Analisis Terorisme Di Indonesia (Tinjauan dari teori konflik…).  Ada Tommy Di Tenabang (Tinjauan dari teori funsionalisme R.K Merton)  Kiprah Ustad Abu Ba’asir (Tinjauan dari teori labeling)

 Tawuran Antar Warga Masyarakat Desa Gabus Dan Dese Jatimulyo (Tinjauan dari teori anomi R.K. Merton).
 Pemberian Release & Discharge (Tinjauan dari Teori Social Reality of Crime)

 Kejahatan Carding (Tinjauan Dari Teori Differential Association)
 Tindak Pidana Korupsi Yang Melibatkan Akbar Tanjung (Tinjauan Dari Teori Labeling)  Rudy Ramli Dalam Kasus Bank Bali (Tinjauan Dari Teori Differential Association)

 Analisis Kasus Teluk Buyat Ditinjau Dari
Teori Konflik.

 Kelompok Kapak Merah Ditinjau Dari Teori
Differential Association.

 KKN H.M Soeharto Ditinjau Dari Teori
Social Reality Of Crime.

 Pegawai Tengah Karier Sebagai Change
Leader The Telkom Way 135 Menuju Transformasi Customer Centric Company (Tinjauan dari teori pertukaran).

ALIRAN SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE
 

Lahir ; sintesis aliran hukum positif dan mazhab sejarah Konsep pemikiran : 1. Hukum ; pengalaman yang diatur oleh pembentuk UU 2. Hukum yang baik adalah hukum yang hidup di masyarakat (Living Law) 3. Hukum berfungsi untuk memenuhi kebutuan sosial 4. Sumber hukum adalah pengalaman dan akal Bahasan Sociological Jurisprudence dari hukum ke masyarakat sedangkan sosiologi hukum dari masyarakat ke hukum Tokoh : Rescoe Pound, Eugen Ehrlich, Benyamin Cardozo, Kantorowies dan Gurvitch

REALISME HUKUM
 1. 2. 3.  1. 2. 3. 4. 

KONSEP DASAR : Bagian dari paham positivisme Tidak mengesampingkan unsur-unsur logika Sumber hukum utama adalah putusan hakim CIRI-CIRI Realisme merupakan cara berfikir dan bekerja tentang hukum Konsepsi hukum harus diselidiki tujuan dan hasilnya Perlu dipisah antara Sollen dengan Sein dalam Penyelidikan Tidak mendasarkan pada konsep hukum tradisional TOKOH-TOKOH John Chipma Gray,O.W. Holmes, Karl Lleweliyin, Jerome Frank, William James, John Dewey

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->