P. 1
Hukum Pidana

Hukum Pidana

|Views: 105|Likes:

More info:

Published by: anggapratamadevyatno on Oct 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

Oleh : HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA
DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pengertian Hukum Pidana (1)
Prof. Moeljatno
Hukum Pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yg berlaku disuatu negara, yg mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk:

HUKUM PIDANA

1.
2.

Menentukan perbuatan-perbuatan mana yg tidak boleh dilakukan, yg dilarang, dg disertaian caman atau sanksi berupa pidana tertentu; → Criminal Act.
Menentukankapandandalamhal-halapakepadamerekaygtelahmelanggarlaranganlarangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagai mana yg telah diancamkan; → Criminal Liability/ Criminal Responsibility 1) dan2) = Substantive Criminal Law / Hukum Pidana Materiil. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apa bila disangka telah melanggar larangan tsb. → Criminal Procedure/ Hukum AcaraPidana
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

3.

Pengertian Hukum Pidana (2)
Prof. Pompe

HUKUM PIDANA
Hukum Pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi pidana, dan apakah macamnya pidana itu.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pengertian Hukum Pidana (3)
Prof. Simons

HUKUM PIDANA
Hukum Pidana adalah kesemuanyaperintah-perintah dan larangan-larangan yang diadakan oleh negara diancam dengan suatu nestapa (pidana) barang siapa yang , kesemuanya aturan-aturan yg menentukan syarat-syarat bagi akibat hukum itu dan kesemuanya aturan-aturan untuk mengadakan(menjatuhi) dan menjalankan pidana tersebut.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pengertian Hukum Pidana (4)
Prof. Van Hamel

HUKUM PIDANA
Hukum Pidana adalah semua dasar-dasar dan aturanaturan yang dianut oleh suatu negara dalam menyelenggarakan ketertiban hukum(rechtsorde) yaitu dengan melarang apa yang bertentangan hukum dan mengenakan suatu nestapa kepada yang melanggar larangan-larangant ersebut.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pembagian Hukum Pidana

HUKUM PIDANA
Hukum Pidana Materiil (Hukum Pidana) Hukum Pidana Formil (Hukum Acara Pidana)

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Ilmu Hukum Pidana & Ilmu-Ilmu lainnya

HUKUM PIDANA

 Kriminologi: 0byek studinya → kejahatan, penjahat, reaksi masyarakat terhadap kejahatan & penjahat  Kriminalistik:  Ilmu Forensik:  Psikiatri Kehakiman:  Sosiologi Hukum :

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

KUHP dan Sejarahnya
Andi Hamzah

HUKUM PIDANA Utrecht
- Jaman VOC - Jaman Daendels - Jaman Raffles - Jaman Komisaris Jenderal - Tahun 1848-1918 - KUHP tahun1915 - sekarang

- Jaman VOC - Jaman Hindia Belanda - Jaman Jepang - Jaman Kemerdekaan

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jaman VOC

HUKUM PIDANA • Statuten van Batavia
• Hk. Belanda kuno • Asas-Asas Hk. Romawi • Di daerah lainnya berlaku Hukum Adat • Mis Pepakem Cirebon

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jaman Hindia Belanda
• Dualisme dalam H. Pidana 1. Putusan Raja Belanda 10/2/1866 (S.1866 no.55) → Orang Eropa 2. Ordonnantie 6 Mei 1872 (S.1872) → Orang Indonesia & TimurAsing

HUKUM PIDANA

• Unifikasi: Wetboekvan Strafrecht voor Nederlandsch-Indie - Putusan Raja Belanda 15/10/1915 Berlaku1/1/1918 disertai - Putusan Raja Belanda4/5/1917 (S.1917 no. 497) : mengatur peralihan dari H. Pidana lama → H. Pidana baru.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jaman Jepang

HUKUM PIDANA
• WvSI masih berlaku • Osamu Serei (UU) No. 1 Tahun 1942, berlaku 7/3/1942 • H. Pidana formil yang mengalami banyak perubahan

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA
• UUD 1945 Ps. II Aturan Peralihan Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini

Jaman Kemerdekaan (1)

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jaman Kemerdekaan (2)
• • • • • UU No. 1 Tahun1946 : Penegasan tentang Hukum Pidana yang berlaku diIndonesia. Berlaku di Jawa-Madura (26/2/1946). PP No. 8 Tahun 1946 : Berlaku diSumatera. UU No. 73 Tahun1958 : “Undang-Undang tentang menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun1946 tentang Peraturan Hukum Pidana untuk seluruh wilayah RI dan mengubah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana”.

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

SUMBER SUMBER HUKUM PIDANA DI INDONESIA SUMBER-

HUKUM PIDANA

• • •

KUHP (beserta UU yang merubah & menambahnya) UU Pidana diluar KUHP Ketentuan Pidana dalam Peraturan perundangundangan non-pidana

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH DAVIT RAHMADAN, SH., MH

KUHP
 Buku I : Ketentuan Umum(psl 1 – ps103)

HUKUM PIDANA I Pasal 103 → Ketentuan-ketentuan dalam Bab
sampai Bab VIII bukuI juga berlaku bagi perbuatanperbuatan yang oleh ketentuan perundang undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain

 Buku II : Kejahatan (psl104 –488)  Buku III : Pelanggaran (psl 489 –569)
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Beberapa UU yang merubah & menambah KUHP (1)
 

HUKUM PIDANA istilah, UU No.1/1946 : berlakunya KUHP, perubahan beberapa
penghapusan beberapa pasal, penambahan pasal-pasal baru: BabIX -XVI UU No. 20/1946 : tambahan jenis pidana Psl 10 a KUHP → pidana Tutupan UU drt No. 8/1955 : menghapus Psl 527 UU No. 73/1958 : menyatakan UU No. 1/1946 berlaku diseluruh Indonesia, tambahan Psl 52a, 142a, 154a UU drt No. 1/1960 : menambah ancaman pidana dari Psl 188, 359, 360 menjadi 5 Tahun penjara tahun kurungan
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

 

Beberapa UU yang merubah & menambah KUHP (2)

HUKUM PIDANA Perpu No. 16/1960 : penambahan nilai terhadap beberapa
kejahatan ringan: Psl 364, 373, 379, 384, 407 (1) Perpu No. 18/1960 : pidana denda dilipatgandakan 15 X UU No. 1/PNPS/1965 : tambahan Psl 156 a UU No. 7/1974 : tambahan sanksi untuk judi Psl 303 menjadi10 juta & denda 25 juta, Psl 542 (1) menjadi Kejahatan, Psl 303 bisa pidana menjadi 4 tahun, denda 10 juta. UU No. 4/1976 perubahan dan penambahan tentang Kejahatan penerbangan: Ps 3, Ps 4 angka4, Ps 95a, 95b, 95c, Bab XXIX A. UU No. 20/2001 : menghapus pasal-pasal tentang korupsi dari KUHP
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

  
 

Pembaharuan Hukum Pidana RUU KUHP Nasional

HUKUM PIDANA
     Sejarah Penyusunan Metode & Sumber penyusunan Beberapa asas yg berubah Tindak pidana-pidana baru Pasal-pasal kontroversial

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

UU Pidana di luar KUHP
 UU Anti Subversi, UU No. 11/PNPS/1963 (Sudah dihapus)  UU Pemberantasan T.P. Korupsi, UU No. 20/2001 jo UU No. 31/1999  UU Tindak Pidana Ekonomi, UU No. 7/drt/1955  Perpu 1/2002 → UU 15/2003 Anti Terorisme  UU Money Laundering

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Contoh UU non pidana yang memuat sanksi pidana
          UU Lingkungan UU Pers UU Pendidikan Nasional UU Perbankan UU Pajak UU Partai Politik UU pemilu UU Merek UU Kepabeanan UU Pasar Modal

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Hukum Pidana Umum & Khusus
 H. Pidana Umum:

HUKUM PIDANA  H. Pidana Khusus:
1. H. Pidana militer
2. TPE, TPK, TPS, H. Pid militer, H. Pid Fiskal 3. UU non pidana yg Bersanksi pidana

1. H. Pidana non militer
2. KUHP & UU yg merubah & menambahnya 3. H. Pidana yg Berlaku umum (KUHP, TPE, TPK, TPS, dll)

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pasal 1 KUHP
1) Tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundangundangan pidana yang telah ada sebelumnya.

HUKUM PIDANA

2) Jika ada perubahan dalam perundang-undangan sesudah perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling menguntungkan.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

ASAS YG TERCAKUP DALAM PASAL 1 (1) KUHP

HUKUM PIDANA

 Nullum delictum, nulla poenasine praevia lege poenali:

Tiada delik, tiada hukuman tanpa suatu peraturan yg terlebih dahulu menyebut perbuatan yang bersangkutan sebagai suatu delik dan yang memuat suatu hukuman yg dapat dijatuhkan atas delik itu

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Asas-Asas Dalam Pasal 1 ayat (1 ) KUHP

HUKUM PIDANA
1. Asas Legalitas 2. Asas Larangan berlaku surut 3. Asas Larangan penggunaan Analogi

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

ASAS LARANGAN BERLAKU SURUT

HUKUM PIDANA

 Undang-Undang pidana berjalan kedepan dan tidak kebelakang:

X ---------UU Pidana------------HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Larangan berlaku surut dan pengecualiannya dalam berbagai ketentuan (pengecualiannya)
Nasional :
   

HUKUM PIDANA

Ps l 28i UUD 1945 Psl 18 (2) dan Psl 18 (3) UU No. 39 Tahun 1999 Ps l 43 UU No. 26 Taahun 2000 Perpu 1/2002 & 2/2002 → UU 15/2003; UU 16/2003

Internasasional :  Psl 15 (1) dan (2) ICCPR  Psl 22, 23, dan 24 ICC

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Psl 28 i UUD 1945  “…hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlakusuruta dalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaana papun.”

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

UU No. 39/ 1999 ttg HAM

 Ps 18 (2)  Ps 18 (3) HUKUM PIDANA
Setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundangundangan yang sudah ada sebelum tindak pidana itu dilakukan. Setiap ada perubahan dalam peraturan perundang-undangan maka berlaku ketentuan yang paling menguntungkan bagi tersangka.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

UU No. 26/ 2000 ttg Pengadilan HAM (bisa berlaku surut ?)
1) Pelanggaran hak asasi manusia yg Berat yg Terjadi sebelum diundangkannya UU ini, diperiksa dan diputus oleh pengadilan HAM ad hoc.

HUKUM PIDANA

2) Pengadilan HAM ad hoc sebagai mana dimaksud dalam ayat(1) dibentuk atas usul DPR Indonesia berdasarkan peristiwa tertentu dg Keputusan presiden.

 Penjelasan Psl 43 (2) “Dalam hal DPR Indonesia mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM ad hoc, DPR Indonesia mendasarkan pada dugaan telah terjadinya pelanggaran HAM yang berat yg dibatasi pada locus dan tempus delicti tertentu yg terjadi sebelum diundangkannya undang-undang ini.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA
 MK membatalkan ketentuan berlaku surut dalam UU Anti Terorisme karena bertentangan dengan UUD 1945.

UU Anti Terorisme dan Putusan MK

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

PENAFSIRAN & ANALOGI

HUKUM PIDANA ? Penafsiran: Penafsiran Ekstensif Vs Analogi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Otentik Sistematis Gramatikal Historis Sosiologis Teleologis Ekstensif 1. Putusan HR 23 Mei 1921 (Kasus pencurian listrik di Gravenhage) 2. Putusan Recht Bank Leeuwarden, 10 Desember 1919 (pencurian sapi) 3. Taverne Vs para sarjana pidana lainnya (Van Hattum, Simons, Zevenbergen, Van Hamel).

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pendapat Scholten
dan juga Utrecht) (1)

Pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara penafsiran ekstensif dan analogi. Dalam kedua hal itu hakim membuat konstruksi, yaitu membuat (mencari) suatu pengertian hukum yang lebih tinggi. Hakim membuat suatu kaidah yang lebih tinggi dan yang dapat dijadikan dasar beberapa ketentuan yang mempunyai kesamaan.

HUKUM PIDANA

Mis.  Mengambil = mengadakan suatu perbuatan yang bermaksud memindahkan sesuatu benda dari tangan yang satu ketangan yang lain.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pendapat Scholten
dan juga Utrecht) (2 )

HUKUM PIDANA
 PENAFSIRAN EKSTENSIF
 Hakim meluaskan lingkungan kaidah yang lebih tinggi sehingga perkara yang bersangkutan termasuk juga didalamnya.

ANALOGI
Hakim membawa perkara yang harus diselesaikan kedalam lingkungan kaidah yang lebih tinggi.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pasal 1 ayat (2) KUHP

----+---------------------+--------------------UU
 Perubahan UU ? ……………… Teori : (1) Teori formil; (2) Teori materiil terbatas; (3) Teori materiil tidak terbatas.

HUKUM PIDANA Perbuatan Perubahan UU

 Paling menguntungkan ? …… Terserah pada praktek & hanya dapat ditentukan untuk masing-masing perkara sendiri (in concreto concreto). Hal ) ini tidak dapat ditentukan secara Umum (in abstracto abstracto).  Periksa : Utrecht hlm. 228
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Perubahan UU yg dimaksud Pasal 1 (2) KUHP
 Teori Formil: Ada perubahan undang undang kalau redaksi undang-undang pidana berubah (simons). → ditolak oleh Putusan HR 3 Des 1906 , kasus psl 295 sub 2 KUHP, batas dewasa 23 → 21 tahun dlm BW.  Teori Materiil Terbatas: Tiap perubahan sesuai dg suatu perubahan perasaan (keyakinan) hukum pada pembuat undang-undang (jadi tidak boleh diperhatikan perubahan keadaan karena waktu).  Teori Materiil tidak Terbatas: Tiap perubahan – baik dalam perasaan hukum dari pembuat undang-undang maupun dalam keadaan karena waktu – boleh diterima sebagai suatu perubahan dalam undang-undang. → Sesuai HR 5 Desember 1921.

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tempus delicti penting diketahui dalam hal-hal:

HUKUM PIDANA
 Kaitannya dg Ps 1 KUHP  Kaitannya dg aturan tentang Daluwarsa  Kaitannya dg ketentuan mengenai pelaku tindak pidana anak: Psl 45, 46, 47 KUHP atau UU Pengadilan Anak

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori Tempus Delicti Teori - Teori
1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke daad) 2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen) 3. Teori Akibat (de leer van het gevolg) 4. Teori waktu yg jamak (de leer van de meervoudige tijd)

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori - Teori Lokus Delicti
1. 2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de leer van het instrumen) 3. Teori Akibat(de leer van het gevolg) 4. Teori Tempat yg jamak (de leer van de meervoudige tijd)

HUKUM PIDANA daad) Teori Perbuatan fisik (de leer van de lichamelijke

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Locus Delicti Penting Diketahui Dalam Hal-hal :

HUKUM PIDANA

 Hukum pidana mana yang akan diberlakukan - Hukum Indonesia atau Hukum negara lain  Kompetensi relatif suatu pengadilan - contoh: PN Jakarta Selatan atau PN Bogor

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori mana yg dipilih ?
 Van Hamel, Simons : Bergantung sifat dan corak perkara konkret yang hendak diselesaikan  Hazewinkel-Suringa, Zevenbergen, NoyonLangemejer: Mempergunakan 3 teori sec teleologis
Periksa buku Utrecht hal 239

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Surabaya

Semarang

Cirebon

---- racun ----A -----

----- diminum ----Meervoudige locus delicti

---- mati
C

B B HUKUM PIDANA

• Hakim diberi kemerdekaan memilih diantara 3 locus delicti ini • Lihat --Keputusan Hoge Raad 2/1/1923 w.Nr. 1108

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Asas-Asas Berlakunya Hukum Pidana (1)
 Asas Teritorialitas / wilayah: Psl 2 → Psl 3 KUHP → Psl 95 KUHP , UU No 4/1976  Asas NasionalitasPasif/ perlindungan: Psl 4:1,2 dan 4 → Psl 8 KUHP , UU No. 4/1976 , Psl 3 UU No. 7/ drt/ 1955 Lihat Psl 16 UU 31/1999  Asas Personalitas / Nasionalitas Aktif: Psl 5 KUHP → Psl 7 KUHP → Psl 92 KUHP  Asas Universalitas: Psl 4 :2 , Psl 4 sub 4 , Psl 1 UU 4/ 1976 “melakukan kejahatan ttg mata uang, uang kertas negara atau uang kertas Bank”

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Asas - Asas berlakunya H. Pidana : Beberapa masalah !

HUKUM PIDANA Wilayah Indonesia ?
Kapal: a) kapalIndonesia b) kapalperang c) kapaldagang Prinsip ius passagi iinnoxii Asas Universalitas: - Kejahatan Terorisme ? - Kejahatan HAM berat ?
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Asas - Asas Berlakunya Hukum Pidana : Pengecualian (2)
Ps 9 KUHP : Hukum publik internasional membatasi berlakunya Psl 2, 3, 4, 5, 7, dan 8 KUHP Termasuk yg memiliki imunitas hukum pidana: Sesuai perjanjian Wina18/4/1961 Yg memiliki imunitas: Kepala-kepala negara & keluarganya( secara resmi, bukan incognito/singgah) Duta negara asing & keluarganya → konsul: tergantung traktat antar negara. Anak buah kapal perang asing: termasuk awak kapal terbang militer Pasukan negara sahabat yg berada diwilayah negara atas persetujuan negara.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

1. 2. 3. 4.

Tindak Pidana (1)

HUKUM PIDANA
 Istilah, Definisi, & jenis-jenis Tindak Pidana  Subyek Tindak Pidana

 Cara merumuskan & Unsur-unsur Tindak Pidana

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (2)

Istilah

HUKUM PIDANA  Strafbaar feit
      Perbuatan pidana Peristiwa pidana Tindak pidana Delict / Delik Criminal act Jinayah
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (3) Definisi
 Simons : “kelakuan yg diancam dg pidana, yg bersifat melawan hukum yg berhubungan dg kesalahan & dilakukan oleh orang yg mampu bertanggung jawab”  Van Hamel: “kelakuan manusia yg dirumus kandalam UU, melawan hukum, yg patut dipidana & dilakukan dg kesalahan”  Vos: “suatu kelakuan manusia yg oleh per UU an diberi pidana; jadi suatu kelakuan manusia yg pada umumnya dilarang & diancam dengan pidana”  Aliran Monistis ………...

HUKUM PIDANA

Aliran Dualistis ………..
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (4)
Pembagian Tindak Pidana (Jenis Delik)
           Delik Kejahatan & Delik pelanggaran Delik Materiil & Delik Formil Delik Komisi& Delik Omisi Delik Dolus & Delik Culpa Delik Biasa & Delik Aduan Delik yg Berdiri sendiri & Delik Berlanjut Delik Selesai & Delik yg diteruskan Delik Tunggal & Delik Berangkai Delik Sederhana & Delik Berkualifikasi; Delik Berprivilege Delik Politik & Delik Komun (umum) Delik Propia & Delik Komun (umum)

HUKUM PIDANA

 Pembagian delik menurut kepentingan yg dilindungi: Lihat judul-judul bab pada Buku II dan Buku III KUHP
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jenis Delik (1)

HUKUM PIDANA tidak Dlm MvT: sebelum ada UU  Dlm MvT: baru dianggap
baik setelah ada UU (wet delicten)  Perbedaandg kejahatan: a) Percobaan: tidak dipidana b) Membantu: tidak dipidana c) Daluwarsa: lebih pendek d) Delikaduan: tidak ada e) Aturan ttg Gabungan berbeda

Kejahatan (misdrijf)

Pelanggaran (overtreding)

sudah dianggap tidak baik (recht-delicten)  Hazewinkel - Suringa: tidak ada perbedaan kualitatif, hanya perbedaan kuantitatif a) Percobaan: dipidana b) Membantu: dipidana c) Daluwarsa: lebihpanjang d) Delikaduan: ada e) Aturan ttg Gabungan berbeda

 KUHP : Buku II

 KUHP : Buku III
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jenis Delik (2)
  Delik Materiil: Yang dirumuskan akibatnya → Psl 338, Psl 187, dll  Delik Formil: yang dirumuskan HUKUM PIDANA → Psl 362, bentuk perbuatannya

Delik Komisi: melanggar larangan dg perbuatan aktif

Delik Dolus: delik dilakukan dg sengaja, mis. Psl 338, Psl 351

Psl 263, dll  Delik Omisi: melakukan delik dg perbuatan pasifa) a) Delik Omisi murni: melanggar perintah dg tidak berbuat, mis. Psl 164, Psl 224 KUHPb) b) Delik Omisi tak murni: melanggar larangan dg tidak berbuat, mis Psl 194 KUHP  Delik Culpa: Delik dilakukan dg kealpaan, mis. Psl 359, Psl 360

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Jenis Delik (3)

Delik Biasa:

HUKUM PIDANA
Delik Aduan:
penuntutannya memerlukan pengaduan, mis. Psl 310, Psl 284

penuntutannya tidak memerlukan pengaduan, mis. Psl 340, Psl 285

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (5) Subyek

HUKUM PIDANA Manusia (natuurlijk personen) Korporasi
a) Syarat merumuskan: “Barang siapa….”
b) hukuman: mati, penjara, kurungan, dll (Psl 10 KUHP) c) Hukum Pidana disandarkan pada kesalahan orang

a) UU Tindak Pidana Ekonomi b) UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi c) Draft RUU KUHP d) Adanya kebutuhan untuk memidana korporasi d) Korporasi ? e) Badan hukum ?

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (6)
Cara Merumuskan Tindak Pidan

 Disebutkan unsur-unsurnya & disebut → kualifikasinya mis, Psl 362 KUHP

HUKUM PIDANA

 Disebutkan kualifikasinya tanpa disebut unsur→ unsurnya mis. Psl 184, Psl 297, Psl 351  Disebutkan unsur-unsurnya, tidak disebut kualifikasinya mis. Psl 106, Psl 167, Psl 209 →

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (6) Unsur –Unsur (Van Bemmelen)
 Di dalam perumusan (bagian)  Dimuat dalam surat dakwaan semua  Syarat yg dimuat dalam rumusan delik merupakan bagian-bagian, sebanyak itu pula, yg apa bila dipenuhi membuat tingkah laku menjadi tindakan yg melawan hukum 1. Tingkah laku yg dilarang 2. Bagian subyektif: kesalahan, maksud, tujuan, niat, rencana, ketakutan 3. Bagian obyektif: secara melawan hukum, kausalitas, bagian-bagian lain yg menentukan dapat dikenakan pidana (syarat tambahan; keadaan) 4. Bagian yg mempertinggi dapatnya dikenakan pidana

Di luar perumusan HUKUM PIDANA

(unsur): syarat dapat dipidana 1. Secara melawan hukum 2. Dapat dipersalahkan 3. Dapat dipertanggung jawabkan

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (7)
Unsur - unsur (Prof. Moeljatno)

a. Kelakuan dan akibat( = Perbuatan) b. Hal ikhwal atau keadaan yg menyertai perbuatan c. Keadaan tambahan yg memberatkan d. Unsur melawan hukum yg obyektif e. Unsur melawan hukum yg subyektif

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Tindak Pidana (8) Unsur - unsur
Unsur-unsur dalam perumusan:
A. Unsur Obyektif

HUKUM PIDANA

Unsur-unsur diluar perumusan:
1) Secara melawan hukum

1. Perbuatan (aktif/pasif) 2. Akibat 3. Melawan hukum 4. Syarat tambahan 5. Keadaan

2) Dapat dipersalahkan
3) Dapat dipertanggung jawabkan

B. Unsur Subyektif
- Kesalahan: (a) Sengaja (b) Kealpaan - Keadaan

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Contoh unsur - unsur dalam rumusan tindak pidana (1)
Pasal 362 KUHP:

HUKUM PIDANA

Pasal 382 KUHP:
 Barang siapa  Dengan sengaja  Menghilangkan nyawa orang lain

 Barang siapa  Mengambil  Barang - yg sebagian / seluruhnya kepunyaan orang lain  Dengan maksud memiliki  Secara melawan hukum

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Contoh unsur - unsur dalam rumusan tindak pidana (2)
Pasal 285:
      

HUKUM PIDANA
Pasal 259:
 Barang siapa  Karena kealpaan  Menyebabkan orang lain mati

Barang siapa Dengan kekerasan atau Ancaman kekerasan Memaksa Seorang wanita Bersetubuh dengan dia Diluar perkawinan

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

KESALAHAN
Pengertian

1.

HUKUM PIDANA Dapat dipersalahkan

2. Arti luas: Dolus & Culpa

3. Arti sempit: Culpa

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Dolus / Opzet / Sengaja (1)
 Apakah sengaja itu ?
Sengaja = willens (dikehendaki) en wetens (diketahui) (MvT-1886)

 Teori2 “sengaja”: (a) Teori kehendak (wils theorie)

HUKUM PIDANA

“opzet ada apabila perbuatan & akibat suatu delik dikehendaki sipelaku”

(b) Teori bayangan (voorstellings-theorie)
“opzet ada apabila sipelaku pada waktu mulai melakukan perbuatan, ada bayangan yg terang bahwa akibat yg bersangkutan akan tercapai, maka dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan akibat itu”
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Dolus / Opzet / Sengaja (2)
istilah - istilah dalam rumusan tindak pidana

     

Dengan sengaja: Psl 338 KUHP Mengetahui bahwa: Psl 220 KUHP Tahutentang: Psl 164 KUHP Denganmaksud: Psl 362, 378, 263 KUHP Niat: Psl 53 KUHP Dengan rencana lebih dahulu: Psl 340, 355 KUHP
- Dengan rencana: (a) saat pemikiran dg tenang; (b) berpikirdg tenang; ( c ) direnungkan lebih dahulu. - Ada tenggang waktu antara timbulnya niat dengan pelaksanaan delik
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Dolus / Opzet / Sengaja (3)
Macam – Macam Opzet  Sengaja sebagai maksud/tujuan (opzet als oogmerk)
 Sengaja sebagai kesadaran (keinsyafan) kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn)  Sengaja sebagai kesadaran (keinsyafan) kemungkinan (opzet bij mogelijkheids-bewutzijn)

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Dolus / Opzet / Sengaja (4)
macam - macam opzet
Sengaja sebagai maksud/tujuan:
- Apa bila pembuat menghendaki akibat perbuatannya; - Tidak dilakukan perbuatan itu jika pembuat tahu akibat perbuatannya tidak terjadi (Vos).

HUKUM PIDANA

Sengaja sebagai keinsyafan kepastian:
- Pembuat yakin bahwa akibat yg dimaksudkannya tidak akan tercapai tanpa terjadinya akibat yg tidak dimaksud.

Sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan:
- Pembuat sadar bahwa mungkin akibat yg tidak dikehendaki akan terjadi untuk mencapai akibat yg dimaksudnya. Dua macam sengaja sbg keinsyafan kemungkinan ( Hazewinkel-Suringa) : (a) Sengaja dg kemungkinan sekali terjadi. (b) Sengaja dg kemungkinan terjadi/sengaja bersyarat / dolus eventualis.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Dolus / Opzet / Sengaja (5) Dolus eventualis

HUKUM PIDANAyang Teori “inkaufnehmen”: untuk mencapai apa
dimaksud, resiko akan timbulnya akibat atau keadaan disamping maksudnya itu pun diterima

 Prof. Moeljatno: “teori apa boleh buat”: kalau resiko yg diketahui kemungkinan akan adanya itu sungguh-sungguh timbul (disamping haly gdimaksud), apa boleh buat, dia juga berani pikul resiko
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Culpa (1) Istilah - Istilah
 Culpa (dalam arti luas): berarti kesalahan pada umumnya  Culpa (dalam arti sempit): bentuk kesalahan yg berupa kealpaan  Istilah-istilah:

HUKUM PIDANA
a. Culpa b. Schuld c. Nalatigheid d. Sembrono e. Teledor

 Istilah-istilah yg digunakan dalam rumusan:
- kelalaian - kealpaan - kesalahan - seharusnya diketahuinya - sepatutnya diketahuinya
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Culpa (2)
pengertian , jenis , syarat
 KUHP : tidak ada definisi.  MvT: kealpaan disatu pihak berlawanan benar-benar dg kesengajaan dan dipihak lain dengan hal yg kebetulan.  Macam-macam Culpa:
(a) Culpa levis ; culpa lata (b) Culpa yg disadari (bewuste) : culpa yg tidak disadari (on bewuste)

HUKUM PIDANA

 Syarat adanya kealpaan:
(a) Hazewinkel-Suringa: 1) kekurangan menduga-duga; 2) kekurangan berhati- hati. (b) Van Hamel: 1) tidak menduga-duga sebagai mana diharuskan hukum; 2) tidak berhati-hati sebagai mana diharuskan hukum. (c) Simons: padaumumnya“schuld” (kealpaan) mempunyai dua unsur: 1) tidak berhati-hati; 2) dapat diduganya akibat.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

KESALAHAN
Beberapa masalah !  Apa beda dolus eventualis dg culpa yg disadari ?  Apa yg dimaksud dg :
(a) Pro parte dolus proparte culpa (b) Dolus directus; dolusindirectus (c) Dolus determinatus; dolus indeterminatus (d) Dolus premeditatus; dolus repentinus (e) Dolus malus  Di Indonesia sebagai mana di Belanda dianut pendapat bahwa sengaja itu tidak berwarna. Apa maksudnya ?

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

KAUSALITAS
1. Pengertian ? 2. Kapankah diperlukan ajaran kausalitas ? 3. Ajaran Kausalitas ?
Ilustrasi:
B pinjam uang kerumah A, karena kedatangan B, maka A terlambat; karenater lambat A mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi; A menubruk C sehingga luka-luka; C dibawake RS dan dioperasi oleh dokterD; D meminta E merawat dengan suntikan tertentu; E salah memberikan obat pada C; C mati.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Pengertian Kausalitas
Hal sebab-akibat. Hubungan logis antara sebab dan akibat. Persoalan filsafat yang penting. Setiap peristiwa selalu memiliki penyebab sekaligus menjadi sebab peristiwa lain.  Sebab dan akibat membentuk rantai yang bermula disuatu masa lalu.  Yang menjadi fokus perhatian ahli hukum pidana (bukan makna diatas), tetapi makna yang dapat dilekatkan pada pengertian kausalitas agar mereka dapat menjawab persoalan siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas suatu akibat tertentu.    

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Kapankah diperlukan ajaran Kausalitas ?
o Delik Materiil: perbuatan yang menyebabkan konsekuensi-konsekuensi tertentu, dimana perbuatan tersebut kadang tercakup dan kadang tidak tercakup sebagai unsur dalam perumusan delik, mis. Psl 338, Psl 359, Psl 360 Delik Omisi takmurni/semu (delic tacommissiva per omissionem/ Oneigenlijke Omissiedelicten) : Pelaku tidak melakukan kewajiban yang dibebankan padanya dan dengan itu menciptakan suatu akibat yang sebenarnya tidak boleh ia ciptakan. Iasekaligus melanggar suatu larangan dan perintah; ia sesungguhnya harus menjamin bahwa suatu akibat tertentu tidak timbul. Delik yang terkualifikasi/dikwalifisir: tindak pidana yang karena situasi dan kondisi khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan yang bersangkutan atau karena akibat-akibat khusus yang dimunculkannya, diancam dengan sanksi pidana yang lebih berat ketimbang sanksi yang diancamkan pada delik pokok tersebut. (pengkualifikasian delik juga dapat dilakukan atas dasar akibat yang muncul setelah tertentu dilakukan), mis; → Psl 351 (1) Psl 351 (2) → Psl 351 (3) delik

HUKUM PIDANA

o

o

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Ajaran Kausalitas
ConditiSine Qua Non/Ekuivalensi (Von Buri)

HUKUM PIDANA

Teori-teori Individualisasi/Causa Proxima: Birkmeyer, Mulder Teori-teori menggeneralisasi: teori Adekuat (Von Kries, Simons, Pompe, Rumelink) Teori Relevansi: Langemeyer
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Ajaran Conditio Sine Qua Non Semua faktor yaitu semua syarat, yang turut serta menyebabkan suatua kibat dan yang tidak HUKUM PIDANA dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor ybs. Harus dianggap causa (sebab) akibat itu.
Semua syarat nilainya sama (ekuivalensi). Ada beberapa sebab.

Syarat = sebab.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pembatasan Ajaran Von Buri
Pembatasan ajaran Von Buri oleh Van Hamel [dibatasi dg ajaran kesalahan (dolus/culpa)]. Pengkesampingan semua sebab yang terletak diluar dolus atau culpa; dalam banyak kejahatan dolus atau culpa merupakan unsur-unsur perumusan delik.
Jika hal itu bukan merupakan unsur delik, maka solusinya harus dicari dengan bantuan alasan atau dasar-dasar yang meniadakan pidana.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Teori - Teori Individualisasi / Causa Proxima Birkmeyer:

HUKUM Conditio Sine Qua Non . Di PIDANA Teori ini berpangkal dari teori
dalam rangkaian syarat-syarat yang tidak dapat dihilangkan untuk timbul nya akibat, lalu dicari syarat manakah yang dalam keadaan tertentu itu, yang paling banyak membantu untuk terjadinya akibat.

G.E Mulder:
Sebab adalah syarat yang paling dekat dan tidak dapat dilepaskan dari akibat.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori - Teori Menggeneralisasi (1)

HUKUM Von Bar:

PIDANA

Teori ini tidak menyoal tindakan mana atau kejadian mana yang in concreto memberikan pengaruh (fisik/psikis) paling menentukan. Yang dipersoalkan adalah apakah satu syarat yang secara umum dapat dipandang mengakibatkan terjadinya peristiwa seperti yang bersangkutan mungkin ditemukan dalam rangkaian kausalitas yang ada.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori - Teori Menggeneralisasi (2)
Von Kries (Teori Adequat Subjectif) :
Sebab adalah keseluruhan faktor positif & negatif yang tidak dapat dikesampingkan tanpa sekaligus meniadakan akibat. Namun pembatasan demi kepentingan penetapan pertanggungjawaban pidana tidak dicari dalam nilai kualitatif/kuantitatif atau berat/ringannya faktor dalam situasi konkret, tetapi dinilai dari makna semua itu secara umum, kemungkinan darif aktor-faktor tersebut untuk memunculkan akibat tertentu. Sebab = syarat-syarat yang dalam situasi dan kondisi tertentu memiliki kecenderungan untuk memunculkan akibat tertentu, biasanya memunculkan akibat itu, atau secara objectif memperbesar kemungkinan munculnya akibat tersebut. Apakah suatu tindakan memiliki kecenderungan memunculkan akibat tertentu hanya dapat diselesaikan apabila kita memiliki dua bentuk pengetahuan: (a) Hukum umum probabilitas dalam peristiwa yg terjadi/pengetahuan Nomologis yg memadai. (b) Situasi faktual yg melingkupi peristiwa yg terjadi/pengetahuan Ontologis/pemahaman fakta (empirik).

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori - Teori Menggeneralisasi (3)
Rumelink (Teori Adequat Objectif):
Faktor yang ditinjau dari sudut objektif, harus (perlu) ada untuk terjadi nya akibat. Ihwal probabilitas tidak berdasarkan pada apa yang diketahui atau mungkin diketahui pada waktu melakukan tindakannya, melainkan pada fakta yang objektif pada waktu itu ada, entah diketahuinya atau tidak, jadi pada apa yang kemudiant erbukti merupakan situasi dan kondisi yang melingkupi peristiwa tersebut.

HUKUM PIDANA

Simons:
Sebab adalah tiap-tiap kelakuan yang menurut garis-garis umum pengalaman manusia dapat menimbulkan akibat.

Pompe:
Sebab adalah hal yang mengandung kekuatan untuk dapat menimbulkan akibat.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Teori Relevansi

HUKUM Langemeijer

PIDANA

Teori ini ingin menerapkan ajaran Von Buri dengan memilih satu atau lebih sebab dari sekian yang mungkin ada, yang dipilih sebab-sebab yang relevan saja, yakni yang kiranya dimaksudkan sebagai sebab oleh pembuat undang-undang.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Sifat Melawan Hukum
Arti:
a. Tanpa hak sendiri (zonder eigen recht) b. Bertentangan dg hak orang lain (tegen eens anders recht) c. Tanpa alasan yg wajar d. Bertentangan dengan hukum positif

HUKUM PIDANA

Melawan hukum: formil & materiil
- Aliran formil: melawan hukum = melawan UU, sebab hukum adalah UU. - Aliran materiil: melawan hukum adalah perbuatan yg oleh masyarakat tidak dibolehkan.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Perbedaan Ajaran Materiil dan Formil
Materiil:
Mengakui adanya pengecualian/penghapusan dari sifat melawan hukumnya perbuatan menurut hukum yang tertulis dan yang tidak tertulis

HUKUM PIDANA unsur Sifat melawan hukum adalah
Materiil:
mutlak dari tiap-tiap tindak pidana, juga bagi yang dalam rumusannya tidak menyebut unsur-unsur tersebut

Formil:
Hanya mengakui pengecualian yang tersebut dalam undang-undang saja/mis, Psl 49.

Formil:
Sifat tersebut tidak selalu menjadi unsur delik, hanya jika dalam rumusan delik disebutkan dengan nyata-nyata barulah menjadi unsur delik.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pembuktian Melawan Hukum
Dengan mengakui bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur delik, ini tidak berarti bahwa karena itu harus selalu dibuktikan adanya unsur tersebut oleh penuntut umum. Soal apakah harus dibuktikan atau tidak, adalah tergantung dari rumusan delik yaitu apakah dalam rumusan unsur tersebut disebutkan nyata-nyata, jika tidak dinyatakan maka tidak perlu dibuktikan.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Alasan Pencantuman Unsur Melawan Hukum

HUKUM PIDANA
Pada umumnya dalam perundang-undangan, lebih banyak delik yang tidak memuat unsur melawan hukum dalam rumusannya Alasan pencantuman sifat melawan hukum dalam perumusan tindak pidana:
- Untuk melindungi orang-orang yg memiliki hak dari tuntutan pidana.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Konsekuensi Aliran Materiil
Apakah konsekuensi ajaran bahwa sifat melawan hukum selalu menjadi unsur tiap-tiap delik ?
Jika unsur melawan hukum tidak tersebut dalam rumusan delik, maka unsur itu dianggap diam-diam telah ada, kecuali jika dibuktikan sebaliknya oleh pihak terdakwa.

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Arti “dan” Diantara Unsur Dengan Sengaja & Unsur Melawan Hukum
Van Hamel, Simons, Pompe:

HUKUM PIDANA

Perbedaan itu mempunyai arti. Mis; Psl 406 KUHP: dengan sengaja dan melawan hukum; Psl 333 KUHP: dengan sengaja melawan hukum.

Vos, Zevenbergen, Langemeijer:
Tiadanya kata “dan” tidak berar tiapa-tiap, semuanya mesti dibaca “dengan sengaja dan melawan hukum”.

Remelink, Van Bemmelen:
Kata penghubung “dan” tidak mempunyai arti, jadi istilah “dengan sengaja” meliputi pula “melawan hukum.”
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

PERCOBAAN (POGING)
PASAL 53 Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan dikurangi sepertiga. Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 tahun. Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai. Pasal 54 Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana.

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

POGING (PERCOBAAN)
“Permulaan kejahatan yang belum selesai”. Poging bukan suatu delik, tetapi poging dilarang dan diancam hukuman oleh undang-undang. Poging adalah perluasan pengertian delik. Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan hukum atau membahayakan kepentingan hukum. KUHP tidak memberi perumusan/definisi. Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai. Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil. Pada delik formil: delik selesai apabila perbuatan yang dilarang telah dilakukan. Pada delik materiil: delik selesai apabila akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang telah timbul atau terjadi.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Percobaan Menurut KUHP:
Percobaan sebagai Suatu Delik yang Telah Selesai (voltooiddelict). Percobaan Melakukan Tindak Pidana yang Tidak Dilarang.
Percobaan Melakukan Pelanggaran. Percobaan terhadap Delik Kealpaan.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Percobaan Sebagai Suatu Delik yang Telah Selesai (Voltooid Delic)

HUKUM PIDANA
Pasal 104 - 107, 139 a dan 139 b KUHP. Pasal 110, 116, 125, 139 c KUHP. Pasal 250, 261, 275 KUHP.

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Percobaan Melakukan TindakPidana Yang Tidak Dilarang

HUKUM PIDANA
1. Pasal 184 KUHP 2. Pasal 351 ayat 5 dan 352 ayat 2 KUHP 3. Pasal 302 ayat 4 KUHP

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Percobaan Menurut Doktrin
Percobaan yang Tidak Sempurna (Ondeugdelijk Poging) Percobaan yang Dikualifisir (Gequalificeerde Poging) Percobaan yang Ditangguhkan (Geschorste Poging) Percobaan yang Selesai/Sempurna (Voleindigde Poging)
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Syarat Percobaan Yg Dapat Dipidana Niat

HUKUM PIDANA

Permulaan Pelaksanaan
Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan sematamata disebabkan karena kehendaknya sendiri

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

NIAT “Voornemen”
Menurut doktrin dan yurisprudensi: ”voornemen” harus. ditafsirkan sebagai kehendak, “willen” atau “opzet” Seseorang harus mempunyai kehendak, yaitu kehendak melakukan kejahatan. Karena ada 3 macam opzet, apakah opzet disini harus dtafsirkan dalam arti luas atau hanya opzet dalam arti pertama (sebagai “ogmerk”atau tujuan) ?

HUKUM PIDANA

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Permulaan Pelaksanaan “Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan HUKUM PIDANA pelaksanaan” → eenbegin van uitvoering. Harus ada suatu perbuatan (handeling). Apa yang dimaksud “perbuatans ebagai permulaan pelaksanaan” ? Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan atau ”uitvoering”dan bagaimana bentuknya. Perlu digunakan penafsiran.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pelaksanaan Kehendak atau Pelaksanaan Kejahatan ?
Secara gramatika, harus dihubungkan dengan kata yang mendahuluinya yaitu “voornemen”/niat/kehendak → Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan pelaksanaan. Jadi; pelaksanaan itu ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kehendak” → TEORI POGING SUBYEKTIF Tetapi, jika dihubungkan dengan anak kalimatberikutnya “…tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri ” maka secara sistematis maka ditafsirkan sebagai “ pelaksanaan kejahatan” → TEORI POGING OBYEKTIF
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

CONTOH KASUS
A menghendaki untuk membunuh B, untuk melaksanakan maksudnya, A harus melakukan beberapa perbuatan, yaitu:

HUKUM PIDANA

A Pergi ketempat penjualan senjata api A Membeli senjata api A Membawa senjata api kerumahnya A Berlatih menembak A Menyiapkan senjata apinya dengan membungkusnya rapatrapat A MenujurumahB Sesampai dirumah B, A mengisi senjata itu dengan peluru A Mengarahkan senjata kepada B A Melepaskan tembakan kearah B
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

MANA YANG MERUPAKAN PELAKSANAAN ? APAKAH TIAP - TIAP PERBUATAN DALAM KASUS TERSEBUT DAPAT DIHUKUM ?

HUKUM PIDANA

1. Menurut Teori Poging Subyektif:
Perbuatana sudah merupakan “permulaan pelaksanaan” karena telah menunjukkan “kehendak yang jahat”

2. Menurut Teori Poging Obyektif:
Perbuatan a → f belum merupakan“ permulaan pelaksanaan ”karena semua perbuatan itu“ belum membahayakan kepentingan hukum si B
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Contoh Percobaan Pembunuhan Berencana
 A bermaksud menghabisi nyawa B dengan meletakkan bom dimobil B. Bom meledak sebelum B masuk mobil dan mengakibatkan B luka-luka parah.

KASUS HUKUM PIDANA

PASAL YG DIDAKWAKAN
 Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP ( Percobaan pembunuhan berencana).

ANCAMAN PIDANA
 15 Tahun penjara (lihat Psl 53 ayat3)
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

PEMBATASAN TERHADAP TEORI SUBYEKTIF

HUKUM PIDANA Perbuatan dibedakan:
Tindakan atau perbuatan persiapan (belum dapat dihukum) Tindakan atau perbuatan pelaksanaan (sudah dapat dihukum)

Tetapi, pertanyaannya: mana yang merupakan “perbuatan persiapan” dan mana yang merupakan “perbuatan pelaksanaan” ?

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

PENDAPAT PARA AHLI DALAM MASALAH TERSEBUT
Van Hamel : “apa bila dari perbuatan itu telah terbukti kehendak yang kuat dar isi pelaku untuk melaksanakan perbuatannya” Simons melihat darij enis deliknya: delik materiil atau delik formil. 1. Pada delik formil apabila perbuatan itu merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU, apabila perbuatan Itu merupakan sebagian dari perbuatan yang dilarang; jika ada beberapa unsur maka jika sudah melakukan salah satu unsur . 2. Pada delik materril apabila perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan yang menurut sifatnya adalah sedemikian rupa, sehingga secara langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU.

HUKUM PIDANA

Vos : ada “permulaan pelaksanaan” apabila perbuatan itu mempunyai sifat terlarang terjadi suatu kepentingan hukum.
Pompe : ada “permulaan pelaksanaan” apabila suatu perbuatan yang bagi orang normal memungkinkan terjadinyas uatu delik.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Pendapat Hoge Raad Ada “permulaan pelaksanaan” apabila antara HUKUM PIDANA perbuatan yang dilakukan dan kejahatan yang dikehendaki oleh seseorang itu terdapat hubungan erat langsung; yaitu apabila seorang melakukan sesuatu perbuatan untuk melaksanakan kejahatan, perbuatan itu baru dianggap sebagai permulaan pelaksanaan apabila disamping perbuatan itu tidak dibutuhkan lagi perbuatan-perbuatan yang lain untuk menyelesaikan kejahatan.
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Macam – Macam Percobaan (Doktrin) Percobaan Yg Sempurna: Voleindigde Poging
→ Apabila seseorang berkehendak melakukan kejahatan, ia telah melakukan
semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan, tetapi kejahatan tidak selesai karena suatu hal.

HUKUM PIDANA

Percobaan yg Tertangguh: Geschorte Poging
→ Apabila seseorang berkehendak melakukan kejahatan, ia telah melakukan
beberapa perbuatan yg diperlukan bagi tercapainya kejahatan, tetapi kurang satu perbuatan ia terhalang oleh suatu hal.

Percobaan yg Tidak Sempurna: Ondeugdelijke Poging
melakukan semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan, namun tidak berhasil disebabkan alat (sarana) tidak sempurna atau obyek (sasaran) tidak sempurna.

→ Apabila seseorang berkehendak melakukan suatu kejahatan, dimana ia telah

Tidak sempurna: mutlak ataur elatif
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Penyertaan (1) (Deelneming)
Pengertian penyertaan Saat terjadinya Macam/bentuk

HUKUM PIDANA

Melakukan Menyuruh melakukan Turut serta melakukan Menggerakkan untuk elakukan Membantu melakukan

Pengertian & syarat Pertanggung jawaban masing-masing Penyertaan mutlak perlu Tindak pidana dg alat cetak
HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

Penyertaan: turut sertanya seorang atau lebih pada waktu
seorang lain melakukan suatu tindak pidana (Wirjono. P) 
1. 2. 3. 4. →

HUKUM PIDANA Ps 55 KUHP  Ps 56,57 KUHP
Pelaku Penyuruh Turutserta Pembujuk Dipidana sebagaimana pelaku

5. Pembantu → Ancaman pidana berbeda dg pelaku, maksimum dikurangi: a. Penjara → dikurangi 1/3 b. Mati/Seumur Hidup → maksimum 20 tahun

HUKUM PIDANA DAVIT RAHMADAN, SH., MH

HUKUM PIDANA

Terima Kasih

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->