artikel sejarah islam, Kerajaan mataram berdiri pada tahun 1582.

pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaanmataram yaitu penembahan senopati (1584 – 1601), panembahan Seda Krapyak (1601 – 1677). dalam sejarah islam, Kesultanan mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan islamdi Nusantara (indonesia). Hal ini terlihat dari semangat raja-raja untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk daerah kekuasaannya, keterlibatan para pemuka agama, hingga pengembangan kebudayaan yang bercorak islam di jawa. Pada awalnya daerah mataram dikuasai kesultanan pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan. Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Misalnya, Ki Ageng Giring yang berasal dari wangsa Kajoran secara terang-terangan menentang kehadirannya. Begitu pula ki Ageng tembayat dan Ki Ageng Mangir. Namun masih ada yang menerima kehadirannya, misalnya ki Ageng Karanglo. Meskipun demikian, tanggapan dan sambutan yang beraneka itu tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya. Pada tahun 1575, Pemahanan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan pajang. Sehingga, hubungan antara mataram dengan pajang pun memburuk. Hubungan yang tegang antara sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar. Misalnya dengan menaklukkan Ki Ageng Mangir dan Ki Ageng Giring.

Disebutkan pula dalam cerita babad panembahan senopati . untuk menggantikan atau melanjutkan kesultanan demak. yang waktu itu bersekutu dengan surabaya. panembahan senopati melaksanakan penaklukkan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa mataram harus menjadi pusat budaya dan agama islam. Pada tahun 1591 ia mengalahkan kediri dan jipang.Pada tahun 1590. lalu melanjutkannya dengan penaklukkan Pasuruan dan Tuban pada tahun 1598-1599. Sebagai raja islam yang baru. penembahan senopati atau biasa disebut dengan senopati menguasai madiun.

bahwa cita-cita itu berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di sebelah barat daya Yogyakarta). Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625. tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Arosbaya dan Sumenep. pejabat administrasi. Raja menampakkan diri pada rakyat sekali seminggu di alun-alun istana. Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara mataram. dan malang. ki ageng Juminah. Pada tahun. Agung Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Maka pada pada 1629. terjadi pertempuran antara tentara mataram dan tentara surabaya. Selain sultan. karena kuatnya pertahanan belanda. Ia mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan. Ia dinobatkan sebagai raja pada tahun 1613 pada umur sekitar 20 tahun. pasuruan. dengan persiapan yang lebih matang. pada tahun 1616. Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan. Selanjutnya mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. 1627. Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau jawa. Gelar “sultan” yang disandang oleh Sultan Agung menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan dari raja-raja sebelumnya. bahkan tumengggung Baureksa gugur. kekuatan tentara mataram lebih difokuskan ke daerah wirasaba. serangan ini gagal. Kali ini. Pada masa pemerintahannyalah Mataram mearik kejayaan. Panembahan senopati terus-menerus memperkuat pengaruh mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada tahun 1601. pada tahun 1628. Pada tahun 1641. serta perwira rendahan atau Yudanegara. pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Kegagalan tersebut menyebabkan matara bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih. Pada tahun 1614. Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan senopati dengan penguasa laut selatan. Pada tahun 1615. Tuban. yang kebijaksanaannya terpacar dari kejernihan air muka dan kewibawannya yang tiada tara. Pejabat lainnya adalah Sasranegara. Setelah mas jolang meninggal. Sayang sekali. untuk menggempur batavia. Mas Jolang atau Penembahan Seda ing Krapyak (1601 – 1613). Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak adaa pada diri sulta. Dengan penaklukan-penaklukan tersebut. seluruh pulau jawa kecuali kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia ttelah berhasil dipersatukan di bawah mataram. kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman. ia digantikan oleh putranya. kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah. tempat yang sangat strategis untuk menghadapi jawa timur. gelar “Panembahan” diganti menjadi “Susuhunan” atau “Sunan”. maupun agama dan kebudayaan. Seorang sultan atau raja sering digambarkan memiliki sifat keramat. dengan gelar “Panembahan”. Nyi Roro Kidul. pejabat penting lainnya adalah kaum priayi yang merupakan penghubung antara raja dan rakyat. Untuk menghadapi surabaya. Pada tahun 1624. yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). dan merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Jepara. ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613 – 1645). sultan agung mempersatukan kediri. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri sultan agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia. Dengan sistem pemerintahan seperti itu. Dari pertemuan itu disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah jawa. Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumengggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul. Peran mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk dicatat. maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa. Maka. Akhirnya. Tahun 1619. yaitu panembahan Senopati dan Panembahan Seda Ing Krapyak. wirasaba. ki Ageng Puger adalah . Ki Ageng Purbaya. Sistem pemerintahan yang dianut kerajaan mataram islam adalah sistem Dewa-Raja. lumajang. pasuruan. Selain itu ada pula panglima perang yang bergelar Kusumadayu. mataram melakukan strategi mengepung. ketika ia bersemedi di Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Mataram menjadi kerajaan yang sangat kuat secara militer. Di tahun yang sama Lasem menyerah. Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang Menjadi raja mataram ketiga. Baik dalam bidang perluasan daerah kekuasaan.

Kesatuan perhitungan tahun sangat penting bagi penulisan serat babad. dengan berusaha menyusun sejarah negeri demak. Karyanya yang terkenal yaitu kitab Serat Sastra Gendhing. Serat sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. kerajaan mataram mulai mundur. Satu yang layak disebut. Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang besar perhatiannya terhadap perkembangan islam di tanah jawa. sampai-sampai Trunajaya berhasil menguasai keraton Mataram yang waktu itu teletak di Plered. mataram dipecah menjadi dua. mas jolang juga berjasa dalam kebudayaan. Pada tahun 1633. Di antara semua karyanya . dan para pembesar diharuskan mengikutinya. Hingga saat ini. hingga menyebabkan pasukan mataram ditarik mundur pada tahun itu juga. Ia adalah pemimpin yang taat beragama. masyarakat kejawen menggunakan tahun Caka atau saka. dan upaya pengamanalan syariat islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan istana. kerajaan mataram adalah kerajaan islam yang mengemban amanat Tuhan di tanah jawa. Tradisi kekuasaan seperti sholat jumat di masjid. sehingga banyak memperoleh simpati dari kalangan ulama. Bommel. tradisi khitan. Yang paling mengenaskan. wilayah kekuasaan mataram semakin terpecah belah. Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh mataram. Sultan Agung menerapkan peraturan yang bertujuan mencegah perebutan tahta. Amangkurat terlunta-lunta mengungsi. yakni mataram sukrakarta dan mataram yogyakarta. ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri. Setelah zaman senopati. Namun. dan weesp. Di luar peranan politik dan militer. berdasarkan perhitungan bulan. Sultan agung meninggal pada Februari 1646. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral. dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677). Di bawah kepemimpinan Sultan Agung. panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatanan gempuran. Bagi sultan Agung. agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan. yaitu 78 m. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah. Bantul . sistem penanggalan ala sultan Agung ini masih banyak digunakan. Oleh sebab itu. Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga kraton untuk menulissejarah babad tanah jawi. struktur serta jabatan kepenghuluan dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. tapi juga menjadi pusat penyebaran islam. Adapun kita serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641 M. Selanjutnya. dan mengenakan tutup kepala berwarna putih. Mataram dipegang oleh Amangkurat II yang menurunkan Dinasti Paku Buwana di Solo dan Hamengku Buwana di Yogyakarta. pada tahun 1675. Mataram tidak hanya menjadi pusat kekuasaan. Setelah berakhirnya Perang Giyanti (1755). Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses pengislaman tradisi dan kebudayaan jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya kerajaan demak. antara keluarga raja dan putra mahkota. Pada tahun 1757 dan 1813.Yogyakarta. serangan mataram diarahkan ke blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639. Sultan agung juga berprediksi sebagai pujangga. ia pergi ke masjid. dan akhirnya meninggal di Tegal. Wilayah kekuasaan mataram berangsur-angusr menyempit karena direbut oleh kompeni VOC. Sunan Tegalwangi. Dalam masa pemerintahan Amangkurat I. serta menulis beberapa kitap suluk. Sultan agung memadukan tradisi pesantren islam dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Pemberontakannya demikian tak terbendung. Sepeninggal Amangkurat I. mataram diperintah oleh putranya. grebeg ramadan. Perhitungan itu hampir seluruhnya disesuaikan dengan tahun hijriah. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia. memendekkan rambut bagi pria. dinyatakan sebagai syariat yang harus ditaati. peran sultan agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sejak masa sebelum sultan Agung pembangunan non-militer memang telah dilakukan. Amangkurat II meminta bantuan VOC untuk memadamkan pemberontakan Trunajaya. Rade Trunajaya dari Madura memberontak. Pangeran Karanggayam juga menggubah Serat Nitisruti (1612 m) pada masa mas jolang.para pimpinannya. Untuk memperkuat suasana keagamaan. Berdasarkan perjanjian giyanti. Menjelang akhir hayatnya. perpecahan terjadi lagi dengan munculnya . Misalnya Sulu Wujil (1607 M) yang berisi wejangan Sunan bonang kepada abdi raja majapahit yang bernama Wujil. Secara teratur. Selanjutnya. awal perhitungan tahun jawa ini tetap sama dengan tahun saka. Selain menulis.

Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur. yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan.Mangkunegara dan pakualaman. keempat pecahan kerajaan mataram ini disebut sebagai vorstenlanden. Bahkan peran dan pengaruh pecahan mataram tersebut.i. keempat pecahan Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masingmasing. Sejarah Singkat Dinasti Mataram Islam Awal. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar . artikel di atas merupakan sejarah islam kerajaan mataram sumber : Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan perselisihan antaranggota keluarga yang sering dicampuri oleh Belanda. dan Islam. Hariwijaya.S. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya. Kebudayaan tersebut merupakan perpaduan antara kebudayaan Indonesia lama. M. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia yang bersifat maritim. Kebijaksanaan politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh pengganti-penggantinya. Hindu-Budha. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati. terutama kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang. S. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu. Menurut salah satu versi. Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam A. bahkan lamakelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. M. seperti Demak dan Pajang. Walaupun demikian. Saat ini. S. yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. setelah Demak mengalami kemunduran. Di masa pemerintahan Hindia Belanda. kerajaan Mataram bersifat agraris. Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. kerajaan Mataram merupakan pengembang kebudayaan Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram. Kerajaan yang beribu kota di pedalaman Jawa ini banyak mendapat pengaruh kebudayaan Jawa Hindu baik pada lingkungan keluarga raja maupun pada golomngan rakyat jelata. Danang Sutawijaya.. Sultan Hadiwijaya (1550-1582). raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu.

yang bertahta tahun 1601-1613. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pasuruan. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya. Senapati digantikan oleh putranya. Ia diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.Panembahan Senapati. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur. dari Pasuruan sampai Cirebon. Panaraga. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Surabaya. Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengasn banyak . Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa. dan makmur. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Mas Jolang. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak. Jawa Barat. yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Kediri. dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya. Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. berturut-turut direbut. Pada masa pemerintahannya. Kasultanan Demak menyerah. aman. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besarbesaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Di samping dalam bidang politik dan militer. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

Kraton dilindungi oleh benteng tentara VOC. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC. Pihak VOC lantas mengakui Pangeran Puger sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwana I. VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan. (dekat Tegal. Ia juga menentang VOC. Pada tahun 1674 pecahlah Perang Trunajaya yang didukung para ulama dan bangsawan. Hal ini menyebabkan terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan Perang Perebutan Mahkota I (1704-1708). dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki perjanjian yang berisi: Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan Mataram harus mengganti kerugian akibat perang. ia memindahkan kratonnya ke Kartasura (1681). Ia sangat tunduk kepada VOC demi mempertahankan tahtanya. Sunan Mas (Amangkurat III). Sunan Amangkurat II bertahta pada tahun 1677-1703. Cirebon. Namun Paku Buwana I harus membayar ongkos perang dengan menyerahkan Priangan. Ia digantikan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat II atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Amral. Hubungan Amangkurat II dengan VOC menjadi tegang dan semakin memuncak setelah Amangkurat II mangkat (1703) dan digantikan oleh putranya. . Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar ganti rugi biaya dalam perang Trunajaya.pembunuhan/kekejaman. maka VOC tidak setuju dengan penobatannya. Oleh karena Kraton Kerta telah rusak. Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh Amangkurat II dengan bantuan VOC. Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh sakit dan akhirnya wafat. Mataram lantas mengalami kesulitan keuangan. dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini. Akan tetapi sampai di Tegalarum. Dalam masa ini Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan Pangeran Puger (adik Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I oleh para pengikutnya). dan Madura bagian timur kepada VOC. sehinggga konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723). Ibukota Kerta jatuh dan Amangkurat I (bersama putra mahkota yang akhirnya berbalik memihak ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC. dalam pemerintahannya dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang menentangnya. bahkan termasuk putra mahkota sendiri. Paku Buwana I meninggal tahun 1719 dan digantikan oleh Amangkurat IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu . Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta. Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang ke Sailan oleh VOC. Pihak VOC yang mengetahui rasa permusuhan yang ditunjukkan raja baru tersebut.

Hal ini menyebabkan VOC berada di atas angin. sehingga Mangkubumi berdamai dengan Raden Mas Said dan melakukan pemberontakan bersama-sama. Pangeran Mangkubumi. Bagian barat dibagikan kepada Pangeran Mangkubumi yang diijinkan memakai gelar Hamengku Buwana I dan mendirikan kraton di Yogyakarta. VOC lalu mengutus seorang Arab dari Batavia (utusan itu diakukan VOC dari Tanah Suci) untuk mengajak Mangkubumi berdamai. Sedangkan bagian timur diberikan kepada Paku Buwana III. hingga Paku Buwana II melarikan diri ke Panaraga.Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). bahkan akhirnya Paku Buwana II jatuh sakit dan wafat (1749). Mulailah terjadi Perang Perebutan Mahkota III (1747-1755). Usaha Mangkubumi berhasil. VOC yang mendapat bantuan Panembahan Cakraningrat dari Madura berhasil menaklukan pemberontak China. Hubungan manis Paku Buwana II dengan VOC menyebabkan rasa tidak suka golongan bangsawan. untuk mengenyahkan kaum pemberontak dengan janji akan memberikan hadiah tanah di Sukowati (Sragen sekarang). bahkan wilayah yang dikuasai Mangkubumi telah mencapai Yogya. Paku Buwana II dan VOC tak mampu menghadapi 2 bangsawan yang didukung rakyat tersebut. . Dengan dipimpin Raden Mas Said terjadilah pemberontakan terhadap raja. Atas inisiatif VOC. Hal ini membuat Paku Buwana II merasa ketakutan dan berganti berpihak kepada VOC. Sejak saat itulah VOC merasa berdaulat atas Mataram. Wakil VOC Semarang saat sakratul maut Paku Buwana II menyerahkan tahtanya kepada VOC. Namun justru saat itu terjadi perpecahan anatara Mangkubumi dan Raden Mas Said. Pengangkatan Paku Buwana III tidak menyurutkan pemberontakan. Paku Buwana II menugaskan adiknya. Paku Buwana II memihak China dan turut membantu memnghancurkan benteng VOC di Kartasura. Ajakan itu diterima Mangkubumi dan terjadilah apa yang sering disebut sebagai Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti (1755). Isi perjanjian tersebut adalah: Mataram dibagi menjadi dua. Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan Raden Mas Garendi yang bersama pemberontak China menggempur kraton. Bagelen. Tetapi Paku Buwana II mengingkari janjinya. putra mahkota dinobatkan menjadi Paku Buwana III (1749). Namun menurut pengakuan Hogendorf. dan Pekalongan. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap VOC. Dengan bantuan VOC kraton dapat direbut kembali (1743) tetapi kraton telah porak poranda yang memaksanya untuk memindahkan kraton ke Surakarta (1744).

yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan raja Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Kasunanan Surakarta dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III.Mulai saat itulah Mataram dibagi dua. .

 °  ¯ °ffI.

¾f°ff – ¾ ¾ff° °–f°fff  f°f ff°-f . f¯ °–f¾f f½fff¾ ½   fff f° ° ° ¾f f–f°@¯   ¾f¯½°– ff¯  f°–½ f°¯  f°–°–©–f¯ °nff°½ ff°°f½f f  f°– °¯ f°  fff° D½ff°ff°fff°¯ ¯° ff°½ °  ff@ °–f  ff°–  ff ff  ¯f°f  f½f¾ff f°f f°–f°–f¾¾ f¾  f°–°–©–f ¾ff ¯ ° ¾ff°°¾ °¾  fff°° ° ¾ff¾ °–f°°  f°¾f¯ .fff¯ ff¯ f ff°f°–  f¯f°  f°¯f¯ f –f° ½f°ff°– – f¯f°–f ¯f°–f f¯ f¾ ¾€f ¾€fff°f 9 ¯ °ff°°ff°– f°–¾°–f°  f°f °–f¾° f°f .f¯¯f J  ©f  °f f –9f¾f f°f –. 9 ¯ ff°f°ff f°f €¾f€ff¾f ° °– ¯ ½ff°fff°–°–f°–f°°f   f°–°–¯ °°––f½f ff° °–f°¯ °°––ff°.

½ ¯ °f°$  ©f¯f° 9f f¯f¾f½ ¯ °ff°°f f f©ff°.fff¯ ½° ff°   f   9f ff°½ nff9 f°–@°f©fff°–  °–½fff¯f f° f°–¾ff°  ff°  ¯f¾½f¯ff¾ °   f f©f f°¯f°–f% ¾f¯f½f¯fff°– f°f  f¯ ¯fff°f%¯ ff° °¯ °nf f°f°I.

f° f½¾f¯½f  @ –ff¯ % f@ –f ff@ °–f%¯f°–f©f¾f f°f°ff€f   f –f°f° ½f¯fff°– – f¯f°–fff  °f©–f °–f°¾ f°°f° ¯f °f°¯f°–f ff½f ff°  f¾f°–f°  ½f fI.

 ¯ ¯ ¯½ ff°f°ff°f 9f ff°f@°f©ff f¾  ° ¯f°–f °–f° f°f°I.

 f°¾ f–f°½ °¾f¾°fI.

fff¯f¾ ¯ °––f ff°½ f f° ¯ff°– f°.fff¯f¾¯ °––f° –f°f f½ f°–    f °ff° f f¾f f¯ ¯° ff°f°°f ff¾f%% f° ° °–   ° °– °ffI.¯ °– ° f½ ©f°©f°f°– ¾ .

ff¯¯f¾f°¯f°–f f¾¯ °  ¾ff°½ ¾ff°9f°– f° 9– %f ¯f°–ff°– f ° ff°¯ °©f 9f f°f ½ff½ °–°f%  -f¯°f °f°f°I.

fff¯f°f¾¯ °–ff¯ ¾f° f°–f° ff¯ ¾f°f ¾ff°–f ½f fI. ½f f°f°¯ ¯ ff–f°– ff ff¯½ f°–@°f©ff  .

 °–f°nff¯ ° °–f½ff°–¯ °©f ¯¾ f° °I.

   °–f°¯f°–f °–f°I.

¯ °©f  –f°– f°¾ ¯f°¯ ¯°nf¾  f¯f°–f ¯f°–f%% f° –f°f° ½f°f °f°.f¾%¯f°–f% f©–f¯ ° °f°–I.

 9fI.

f°–¯ °– ff¾f½ ¯¾f°f°– °©f°f©f f ¾  ¯ffI.

 f ¾ © °–f°½ ° ff°°f 9fI.

fff¯ °–f° – f9f f°f f°¯ ° f f° ©f °f½ f°–¾f ffff  °f °–f°¾ f° 9 f°–9  f°.ff% % °f¯f°–f¯ ° f f°f  f°– ff°  I.f°f¾¯ °–f9f°– f°9– ¾ f–ff©f.

-f¯°9f f°ff¾¯ ¯ ff°–¾½ f°– °–f°¯ ° ff°9f°–f°  .

 °  f°.f f f–f°¯ ½f fI.

  9f f°f¯ °°––ff° f° –f°f° ¯f°–fI% %ff  °f °–f°¾ f°°f°9f   ff¯½ ¯ °ff°°f ½ ° °–f°½ ¯ °ff°½ff f°–¾ff°f°–¯ ° °f°–°f  f°¾ ½  f¾fI.

f° ½f f°€° ¾ °–––f°€ ¯ ¯ ¾f f° ©f f9 f°–9  f°.ff% % I.

 ½f½f f°f°9f  ¾ °––f½ff½ ¯ °f f¾ ff° f°  f°–I.

 f°–f f°€f ff°  .

 °f°9f ¯ °°––ff° f° –f° 9f f°f% % 9f f¯f¾f ½ ¯ °ff°°f ©f ½ ¯ °ff°.

°f f f½I.

9f f°f¯ ¯f.

°f f° ¯ ¯ f°¯ ¯°–f°nf° ° °–I.

 ff¾f I.

f°–¯ ° f½f f°f° 9f° ¯ ff°.

f f f¾¯ °ff°½ ¯ °f.ff°°–f f.

°f f°¯ ¯ f9f f°f¯ f¾f ff° f° –f° ½f ½f fI.

f°¯ ° f f°¯ °f ½ ¯ °ff°f °.f¾f ° f°– ¾f¯f½ ¯ °f.

°f¯ °–– ¯½f° °––f 9f f°f¯ ff°  9f°ff–f  °–f° f°f°I.

f° f½f   ¯ f%%  f½f° f½f½f° ff°–¯ ¯f¾f°f°¯ ¯° ff°f° fff%%    °–f°¯f°¾9f f°f °–f°I.

f¾f  f° ¯ ff°½ ¯ °ff° ¾f¯f ¾f¯f .f°– ¯ f¾ @ f½9f f°f¯ °–°–f©f°©°f ¾ °––f.¯ ° f f°f¾f f¾f–°–f° f°–¾ff°   °–f° ½¯½°f °.f°– ¯ °¯ °– °ff°f¯½ ¯ °f °–f°©f°©ff° ¯ ¯ f°f ff°f f%f– °¾ ff°–% D¾ff.ff ©f 9 f°–9  f°.ff% %   9f f°f f°I.f°– ¯  f¯f °–f°f °.f¾f  ©f f½ ¯ °ff° f f½f©f 9f f°f¯ °–f¾f° f °f 9f°– f°.

f¯f¯½¯ °–f f½ f°–¾ff°f°–  °–ff ¾   ff° f°f9f f°f©f¾f f°f€f%% -f¯°¯ °½ °–ff°– ° € Jf I.

 ¯ff°–¾ff¾ff¯f9f f°f¯ ° ff°ff°f ½f fI.

 ©f¾fff I.

fff¯ f¾°¾f€I.¯ f¾f  ffff¾.

f°– ¯ f¯ °nf½f–f  f–  °  f°9 f°–f° -f¯°©¾¾ff ©f ½ ½ nff° f°fff.f°– ¯ f°f °. ½f¯ff ° ff°¯ °©f 9f f°f%%   9 °–f°–ff°9f f°f f¯ °f°½ ¯ °ff°  ff°fff°– f¾f .f¾f f°¯ ° f f°I.

 f f ff¾f°–° I.

f ¯ °–¾¾ f°–f  f fff%¾f° ff°I.

f°– ¯f°– ©°f°¯ ¯ff– ff¯ °– f°f f° ¯ ° f°f° –fff  f°–f° f–f°¯  f° ½f f9f f°f   .fff¯  f–¯ °©f  f  f–f° ff  f–f° ½f f9f°– f°. f@f°fn%°¯ °–f©f .f°– ¯  f¯f   ©ff°  ¯f.f°– ¯ f° ©f ff½ff°–¾ °– ¾ ¾ f–f9ff°-f–fff 9 ©f°©f°f°%% ¾½ ©f°©f° ¾ f ff .

fff¯  f– f ff¾f°f°–fff °–f°f©ff°f¯ °– f°f f°f¾°f°f°fff °–f°f©f¾°f°9f f°f    .f¾fff..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful