P. 1
Panduan Geoteknik 2

Panduan Geoteknik 2

4.71

|Views: 3,965|Likes:
Published by api-3721829

More info:

Published by: api-3721829 on Oct 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Sections

Pusat Litbang Prasarana Transportasi

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak

Panduan Geoteknik 2
Penyelidikan Tanah Lunak

Desain & Pekerjaan Lapangan

Latar Belakang
Dari pertengahan tahun 1980-an hingga 1997 perekonomian Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan lebih dari 6% per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini, dibutuhkan akan adanya pengembangan sistem transportasi yang andal yang berbasis pada transportasi darat, utamanya jalan raya. Banyak daerah yang lebih mudah dijangkau yang umumnya merupakan kawasan perkebunan dan industri, terletak pada dataran rendah dimana dijumpai tanah lunak, sehingga kebutuhan akan pengembangan suatu metode kons truksi yang andal membutuhkan pengembangan suatu teknik desain dan konstruksi yang baru. Tanah lunak ini diperkirakan meliputi sekitar 20 juta hektar atau sekitar 10 persen dari luas total daratan Indonesia dan ditemukan terutama di daerah sekitar pantai. Pelapukan tanah yang terjadi pada kondisi tropis berbeda dengan yang terjadi pada daerah dengan iklim sedang, sehingga masing-masing tipe tanah dengan karakteristik yang berbeda tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda pula dalam mengatasi permasalahan konstruksi. Penerapan berbagai metode penanggulangan yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tidak akan selalu cocok untuk diterapkan pada tanah beriklim tropis. Oleh karenanya perlu dilakukan suatu evaluasi terhadap teknologi yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tersebut sebelum diterapkan di Indonesia dan untuk itu dikembangkan suatu teknologi yang lebih cocok melalui upaya-upaya penelitian setempat. Panduan Geoteknik yang dibuat pada proyek Indonesian Geotechnical Materials and Construction (IGMC) ini dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula, dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.

Tujuan
Penerapan langsung mekanika tanah dan batuan “klasik” yang dikembangkan di daerah beriklim sedang akan tidak serta merta cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di daerah tropis. Sifat-sifat alami dari m aterial bumi daerah tropis memerlukan pengujian dan analisis yang berbeda dengan material di daerah beriklim sedang. Prinsip yang sama berlaku untuk teknik desain dan konstruksi. Oleh karenanya dibutuhkan fasilitas penelitian yang khusus untuk melakukan penyelidikan, bila praktek-praktek desain dan konstruksi yang ada ingin ditingkatkan agar jalan yang dibangun di atas tanah lunak dapat memberikan tingkat paelayanan yang disyaratkan. Melanjutkan Tahap 1 dari proyek yang dilaksanakan pada tahun 1997-8, Tahap 2 mendapat tugas untuk mempersiapkan edisi pertama dari seri Panduan Geoteknik ini, yang berhubungan dengan tanah lunak. Disadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari dan dicapai mengenai tanah lunak Indonesia untuk dapat menghasilkan suatu des ain pembangunan jalan yang lebih ekonomis. Oleh karenanya diharapkan berdasarkan pengalaman selama penggunaan edisi pertama Panduan Geoteknik ini, akan diperoleh suatu umpan balik yang berharga untuk meningkatkan dan memperluas panduan ini di masa mendatang. Program kegiatan ini dilaksanakan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi bersama Tim Konsultan. Proyek ini seluruhnya didanai oleh pinjaman Pemerintah Indonesia dari International Bank for Reconstruction and Development, Highway Sector Investment Programme 2 , Loan Number 3712-IND.

Sampul depan menunjukkan Peta Geologi Indonesia. Areal tanah lunak ditunjukkan dengan warna hitam.

Pusat Litbang Prasarana Transportasi

Panduan Geoteknik Indonesia Timbunan Jalan pada Tanah Lunak

Panduan Geoteknik 2
Penyelidikan Tanah Lunak

Desain & Pekerjaan Lapangan
Edisi Pertama Bahasa Indonesia © Nopember 2001

WSP International
Kerja sama dengan

PT Virama Karya PT Trikarla Cipta

Pengantar
Tanah lunak yang dimaksudkan dalam Panduan Geoteknik ini meliputi lempung inorganik (lempung bukan organik), lempung organik dan gambut. Tanah ini terdapat pada area lebih dari 20 juta hektar, lebih dari 10 % dari tanah daratan Indonesia. Pada masa lalu, banyak proyek mengalami penundaan atau keterlambatan, memerlukan tambahan biaya yang beasar, membutuhkan biaya perawatan dan pemeliharaan yang lebih tinggi atau malahan mengalami kegagalan total, yang diakibatkan oleh adanya tanah lunak ini.

Untuk Siapa ‘Panduan’ ini dibuat ?
Panduan Geoteknik ini dan seri lainnya diperuntukkan para praktisi di lapangan dengan maksud memberikan pedoman dan petunjuk dalam disain dan pelaksaan konstruksi jalan di atas tanah lunak. Berbagai panduan yang dibuat, sangat cocok untuk diterapkan dalam disain berbagai tipe jalan, mulai dari Jalan Nasional hingga Jalan Kabupaten. Panduan-panduan disajikan untuk kelompok-kelompok praktisi, sbb: Para Manajer Proyek Termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam proses perencanaan, pembiayaan dan manajemen proyek. ‘Panduan’ ini akan menjelaskan kepada anda mengapa pada lokasi tanah lunak diperlukan investigasi khusus, waktu untuk melaksanakn investigasi, dan pertimbangan terhadap pembiayaan secara khusus untuk melaksanakan investigasi yang memadai serta interpretasi yang tepat. Para Desainer (Desaign Engineers) ‘Panduan’ ini akan memberikan gambaran kepada anda, bagaimana lokasi tanah lunak harus diidentifikasi, prosedur-prosedur yang harus anda terapkan dalam investigasi tersebut, dan prosedur-prosedur desain dan pelaksanaan yang harus diikuti. ‘Panduan’ ini juga mengarahkan, kapan informasi yang didapatkan tersebut memerlukan masukan dari spesialis/ahli yang telah berpengalaman. Ahli-ahli Geoteknik Para ahli geoteknik yang berpengalaman dalam konstruksi jalan di atas tanah lunakpun, dapat memanfaatkan ‘Panduan’ ini untuk mendapatkan rangkuman prosedur-prosedur yang bermanfaat yang dapat digunakan dan diterapkan pada proyek-proyek yang lebih kompleks dimana mereka terlibat secara langsung. Walaupun panduan-panduan ini ini hanya berkaitan dengan jalan di atas tanah lunak, namun para perekayasa yang menangani jalan pada tipe tanah lainpun, dan

bangunan sipil tipe lainpun akan mendapatkan informasi yang sangat bermanfaat dalam menghadapi permasalahan yang serupa.

Maksud dan Tujuan dari Panduan
Panduan Geoteknik 1: Tanah Lunak Indonesia: Pembentukan dan Sifatsifat Dasar Panduan ini memberikan informasi yang cukup kepada para pembaca untuk: • Memahami perbedaan tipe-tipe dari tanah yang akan ditemukan di Indonesia dan bagaimana hubungannya dengan konteks regional dan dunia. • Menentukan penilaian awal dari segala kemungkinan dimana tanah-tanah tersebut akan ditemukan pada lokasi-loksasi tertentu. • Mengidentifikasi keberadaan tanah lunak, sehingga prosedur-prosedur yang disebutkan dalam Panduan Geoteknik 2 hingga 4 perlu diterapkan dalam proyek tersebut. Panduan Geoteknik 2: Tanah Lunak Indonesia: Penyelidikan Lapangan dan Pengujian Setempat pada Tanah Lunak Panduan ini menjelaskan prosedur-prosedur yang harus diterapkan dalam : • Studi awal yang perlu dilakukan dalam pengumpulan segala informasi yang ada • Informasi-informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan proyek jalan sebelum merencanakan penyelidikan lapangan • Menentukan tipe-tipe penyelidikan lapangan serta pengujian laboratorium yang akan dilakukan. • Prosedur mendisain penyelidikan lapangan. • Persyaratan-persyaratan khusus untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu pada tanah lunak, sebagaimana juga telah dikemukakan pada manualmanual lainnya untuk keperluan pekerjaan penyelidikan lapangan rutin. • Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk pelaporan dari hasil-hasil pekerjaan yang telah dilakukan. • Daftar simak untuk meyakinkan bahwa prosedur-prosedur yang tercantum dalam panduan ini telah diikuti • Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika penyelidikan lapangan yang dilakukan tidak mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh panduan ini. Panduan Geoteknik 3: Tanah Lunak Indonesia: Pengujian Laboratorium untuk Keperluan Rekayasa Sipil Panduan ini menjelaskan: • Daftar simak untuk mengevaluasi kemanapun laboratorium geoteknik dan kriteria pemilihan laboratorium. • Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan program pengujian laboratorium. • Rangkuman prosedur pengujian baku (standard) terutama acuan pengujian lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya.

• • •

Prosedur mengurangi sementara mungkin gangguan terhadap contoh selama penanganan contoh dan penyiapan benda uji; interpretasi data pengujian untuk mengevaluasi kualitas contoh. Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan kemas & struktur tanah (“soil fabric and structure”). Persaratan-persaratan pelaporan.

Panduan Geoteknik 4: Tanah Lunak Indonesia: Disain dan Metode Konstruksi untuk Timbunan Jalan Panduan ini menjelaskan: • Metoda-metoda yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data penyelidikan. • Prosedur-prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter. • Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metoda yang menghasilkan yang memuaskan. • Metoda-metoda yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas yang diharapkan dan perilaku penurunan jalan • Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan disain, penyiapan kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana hal-hal tersebut dapat dicapai • Daftar simak untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam panduan ini telah dilaksanakan • Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-relomendasi tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam panduan ini Panduan Geoteknik CD Sebuah CD akan dilampirkan dalam Panduan Geoteknik 1 ini (Lampiran A) yang memberikan penjelasan tentang isi dari CD tersebut serta cara penggunaannya

Skala Mutu
Panduan ini mengasumsikan bahwa pada setiap pelaksanaan proyek jalan, seorang (Engineer) Perekayasa yang selanjutnya disebut Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk (PGD) akan ditunjuk untuk bertanggung jawab terhadap seluruh pekerjaan geoteknik mulai dari tahapan penyelidikan, desain dan pelaksanaan konstruksi. Petunjuk ini dilakukan Ketua Tim (Team Leader), Ketua Tim Desain atau seseorang yang secara keseluruhan bertanggungjawab atas perkembangan teknik dari proyek. Pemimpin proyek mempunyai tanggung jawab menyakinkan PGD ada di pos selama proyek berlangsung. Panduan ini menggambarkan bagaimana seorang PGD yang telah ditunjuk tersebut harus mencatat dan menandatangani setiap tahapan pekerjaan. Jika PGD tersebut suatu saat diganti, maka prosedur-prosedur yang telah ditetapkan tersebut harus diadopsi di dalam klausal serahterima, yang mana PGD-Baru tersebut akan melanjutkannya dengan tanggung jawab sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Panduan Geoteknik 4. Latar belakang dan pengalaman dari PGD tersebut akan bervariasi berdasarkan kuantitas dan kompleksitas dari proyek yang bersangkutan. Untuk Jalan Kabupaten, Perekayasa yang ditunjuk harus memiliki kemampuan/latarbelakang keteknikan dasar yang cukup serta pengetahuan lokal yang memadai. Sedangkan untuk skala proyek yang lebih besar, Perekayasa dengan latar belakang khusus kegeoteknikan, umumnya menjadi persyaratan yang harus dipenuhi. Untuk skala proyek Jalan Nasional, dimana permasalahan-permasalahan tanah lunak cukup banyak ditemui, PGD harus memiliki pengetahuan dan pengalaman kegeoteknikan yang luas. Bila dipandang perlu ia dapat di dukung oleh ahli geoteknik; walaupun demikian, PGD tersebut tetap bertanggungjawab secara keseluruhan dari skala Mutu, sebagaimana telah dijelaskan dalam Panduan ini.

Daftar Isi 1 Pendahuluan Panduan Geoteknik 2 .........................................................1 1.1 Batasan Dari Panduan........................................................................1 1.2 Struktur Manajemen untuk Pekerjaan Geoteknik .................................1 2 Definisi Proyek dan Penjelasannya .........................................................3 2.1 Pendahuluan .....................................................................................3 2.2 Data Proyek......................................................................................4 2.2.1 Menyimpulkan Data...................................................................4 2.2.2 Klasif ikasi Jalan.........................................................................4 2.2.3 Dimensi Timbunan ....................................................................5 2.2.4 Umur Pelayanan dari Jalan.........................................................5 2.2.5 Level Rencana Timbunan...........................................................6 2.3 Persyaratan Disain.............................................................................7 3 Pendekatan Umum.................................................................................8 3.1 Tujuan Penyelidikan..........................................................................8 3.2 Metodologi Penyelidikan Lapangan Umum ........................................9 3.2.1 Pendahuluan..............................................................................9 3.2.2 Zonasi dari Tanah ....................................................................11 3.2.3 Zonasi dari Proyek...................................................................13 4 Strategi Penyelidikan Lapangan............................................................15 4.1 Pendahuluan ...................................................................................15 4.2 Prosedur-prosedur ...........................................................................16 4.3 Anggaran Biaya ..............................................................................16 5 Pengumpulan Data Terdahulu ...............................................................18 5.1 Tujuan dan Batasan.........................................................................18 5.2 Studi Literatur.................................................................................18 5.3 Peninjauan Lokasi...........................................................................20 6 Perencanaan & Disain dari Penyelidikan Lapangan................................22 6.1 Pendahuluan ...................................................................................22 6.2 Penyelidikan Lapangan Awal...........................................................22 6.3 Penyelidikan Utama ........................................................................23 6.3.1 Lokasi dari Titik-titik Penyelidikan...........................................26 6.3.2 Metode Pengambilan Sampel dan Lokasinya .............................27 6.4 Penyelidikan Lapangan Tambahan...................................................28 7 Pemboran dan Pengambilan Sampel......................................................29

(i)

7.1 Metoda Pemboran dan Aplikasinya ..................................................29 7.1.1 Pendahuluan............................................................................29 7.1.2 Pemboran Berputar (Rotary Drilling)........................................29 7.1.3 Pemboran dengan Auger ..........................................................31 7.1.4 Pemboran dengan Pembilasan...................................................32 7.2 Stabilisasi Lubang Bor ....................................................................32 7.2.1 Tabung Contoh........................................................................33 7.2.2 Lumpur Pemboran ...................................................................34 7.2.3 Air ..........................................................................................34 7.3 Pembersihan Lubang Bor.................................................................34 7.3.1 Pembersihan dengan Sirkulasi Lumpur Pemboran......................34 7.3.2 Pembersihan dengan Alat Mekanik ...........................................35 7.4 Pengambilan Sampel.......................................................................35 7.4.1 Sumber-sumber Gangguan Pada Sampel ...................................36 7.4.2 Klasifikasi Kualitas Sampel......................................................36 7.4.3 Evaluasi Kualitas di Lokasi ......................................................37 7.4.4 Metode Pengambilan Contoh ....................................................38 7.4.5 Penanganan Sampel.................................................................43 7.4.6 Pengiriman Sampel ke Laboratorium.........................................44 8 Penyelidikan Langsung Setempat: Pertimbangan-pertimbangan Khusus ..45 8.1 Pendahuluan ...................................................................................45 8.2 Uji Penetrasi Konus (CPT) ..............................................................47 8.3 Uji Baling-baling Lapangan (FVT)...................................................48 8.4 Permeabilitas Lapangan...................................................................52 8.4.1 Pengukuran Permeabilitas dengan Piezometer............................53 8.4.2 Pengukuran Permeabilitas dengan Permeameter yang Membor Sendiri (Self-Boring Permeameter) ...........................................53 9 Pencatatan Data...................................................................................54 9.1 Catatan Pemboran...........................................................................54 9.2 Catatan Pendugaan (Sounding).........................................................54 9.3 Catatan Pengujian Langsung di Lapangan.........................................54 9.4 Identifikasi Lapangan dan Klasifikasi Tanah.....................................55 9.4.1 Pengeplotan Profil Tanah .........................................................56 10 Kualitas dan Konsistensi Data ..............................................................57 10.1 Pendahuluan ...................................................................................57 10.2 Audit Kualitas.................................................................................57 10.3 Analisis Data ..................................................................................58 11 Laporan-laporan ..................................................................................59

(ii)

12 References ..........................................................................................63

Lampiran-lampiran A B C Ceklis dan Formulir Pencatatan Gambar/Peta Penyelidikan Lapangan Biaya untuk Penyelidikan Lapangan

(iii)

1

Pendahuluan Panduan Geoteknik 2

1.1

BATASAN DARI PANDUAN
Panduan Geoteknik ini memberikan informasi dan petunjuk dalam merencanakan and melaksanakan penyelidikan lapangan untuk keperluan disain dan pelaksanaan konstruksi timbunan jalan di atas tanah lunak. Petunjuk yang diberikan dapat pula digunakan untuk pekerjaan timbunan oprit jembatan. Panduan ini tidak membahas pekerjaan struktur atau permasalahanpermasalahan yang berkaitan dengan perkerasan jalan pada tanah lunak. Tetapi beberapa petunjuk yang diberikan pada Panduan ini dan Panduan Geoteknik lainnya dapat pula dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan tersebut. Panduan Geoteknik 2 ini membahas tentang Penyelidikan Lapangan untuk keperluan pekerjaan kegeoteknikan yang meliputi studi literatur, peninjauan awal dan investigasi lapangan. Hal ini kadang juga dikenal dengan istilah “Ground Investigation”. Pengujian laboratorium dari sampel yang didapat dari penyelidikan lapangan akan dibahas pada Panduan Geoteknik 3. Panduan Geoteknik 2 tidak memuat lagi informasi rutin tentang prosedurprosedur standar yang digunakan dalam penyelidikan lapangan. Hal ini dapat diperoleh dari Departemen Pekerjaan Umum pada Manual Penyelidikan Lapangan untuk Jembatan sebagaimana yang telah digunakan sebagai referensi standar dalam penyelidikan lapangan untuk pekerjaan-pekerjaan jalan di Indonesia.

1.2

STRUKTUR MANAJEMEN UNTUK PEKERJAAN GEOTEKNIK
Panduan ini mensyaratkan bahwa untuk setiap proyek jalan seorang insinyur, yang dalam Panduan ini disebut sebagai Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk (Designated Geotechnical Engineer), akan ditetapkan oleh Pimpinan Tim

1

(Team Leader) untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan geoteknik, sebagaimana yang dijelaskan pada Pengantar.

2

2

Definisi Proyek dan Penjelasannya

2.1

PENDAHULUAN
Proses dari penyelidikan lapangan dan bagaimana proses tersebut sesuai dengan seluruh kegiatan disain ditunjukkan pada Gambar 2.1

Gambar 2-1 Bagan Alir dari Proses Disain Geoteknik

3

2.2

DATA PROYEK

2.2.1

Menyimpulkan Data
Sebelum Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk dapat memulai pekerjaannya, dia membutuhkan beberapa informasi mendasar dari tim perencana. Sebagai persyaratan minimum, data yang dibutuhkan tersebut adalah sebagai berikut: Rencana lokasi (site plan) dari lokasi Rute lokasi atau koridor Rencana Lay Out and profil Klasifikasi/kelas jalan (lihat bab 2.2.2) Jika kelas jalan tidak disebutkan, maka dibutuhkan prediksi arus lalu lintas Dimensi dari timbunan (lihat bab 2.2.3) Umur rencana minimum dari jalan (lihat bab 2.2.4) Alinyemen vertikal Jika alinyemen vertikal tidak ada, maka dibutuhkan data tentang Level Banjir Rencana (lihat bab 2.2.5) Lokasi dan tipe struktur yang diharapkan Lokasi dari bangunan-bangunan atau utilitas yang sudah ada Batasan-batasan konstruksi Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi disain geoteknik. Jika Proyek tidak dapat menyediakan data kepada Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk sebagaimana yang telah disyaratkan di atas, maka asumsi-asumsi harus dibuat berdasarkan petunjuk-petunjuk yang akan dibahas pada bab-bab berikut. Data Proyek harus dimasukkan ke dalam Catatan Data Proyek (Lampiran A) dan salinannya diberikan kepada Manajer Proyek sebelum memulai proses disain penyelidikan lapangan.

2.2.2

Klasifikasi Jalan
Klasifikasi kelas jalan di Indonesia pada umumnya dibagi atas Jaringan Jalan Utama (Primer) dan Jaringan Jalan Sekunder. Pembagian kelas seperti ini lebih lanjut dibagi lagi menjadi kelas-kelas tersendiri sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2-1:

4

Klasifikasi berdasarkan Fungsi

Klasifikasi berdasarkan Disain Tipe I Kelas Tipe II DTV All traffic á 10,000 < 10,000 Kelas I I II I II II III III IV

Arteri Primer Kolektor

I II

Arteri Sekunder Kolektor

N.A.

á 20,000 < 20,000

N.A.

á 6,000 < 6,000 500 500

Kolektor

N.A.

á <

Tabel 2-1 Sistem Klasifikasi Jalan di Indonesia 1

Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk utamanya harus memperhatikan Klasifikasi Disain dari jalan karena hal ini akan berkaitan dengan persyaratan beban yang akan dipikul serta tingkat pelayanan dari jalan tersebut.

2.2.3

Dimensi Timbunan
Lebar bagian atas timbunan akan bergantung pada disain klasifikasi jalan dan prediksi lalu lintas yang ada. Jika data rinci mengenai hal tersebut tidak ada, maka Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus mengacu pada “Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya Antar Kota” yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga 2 .

2.2.4

Umur Pelayanan dari Jalan
Jika tidak ada informasi terperinci yang diberikan kepada Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk, maka ia harus mengasumsikannya sebagai berikut: Umur Pelayanan Minimum dari timbunan adalah 30 tahun Umur Pelayanan Minimum dari perkerasan adalah 10 tahun Asumsi dari umur pelayanan untuk timbunan dapat mempengaruhi level banjir rencana sebagaimana didiskusikan di bawah ini. Umur perkerasan, yang merupakan waktu hingga dilakukannya perbaikkan kembali secara kesuluruhan (full depth reconstruction), memiliki pengaruh pada penurunan berbeda yang diijinkan, walaupun umumnya penurunan akan selesai dalam masa sepuluh tahun dan hal ini bukan merupakan masalah yang mendasar.

1

Data pada Tabel 2-1 dan 2-2 diambil dari Manual Gambut Pusat Litbang Prasarana Transportasi

2

Referensi dari Manual Gambut Pusat Litbang Prasarana Transportasi

5

2.2.5

Level Rencana Timbunan
Alinyemen vertikal harus diberikan oleh proyek kepada Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk. Tetapi jika informasi ini tidak tersedia, maka Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut harus mengestimasi tinggi timbunan yang memunkinkan sebagai berikut: Level berdasarkan pada level banjir Umumnya level rencana dari badan jalan bergantung pada level banjir rencana dari jalan dan tipe struktur fondasi yang akan digunakan. Level Jalan Rencana didefinisikan sebagai level minimum yang bertahan hingga akhir umur pelayanan dari jalan tercapai. Jika kepada Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tidak diberikan informasi mengenai level rencana atau level rencanan akhir dari badan ja lan, maka periode ulang level banjir rencana yang direkomendasikan dan tinggi bebas (freeboard) untuk tiap kelas jalan dapat dilihat pada Tabel 2-2 berikut:

Kelas Jalan

Periode Ulang dari Muka Banjir (tahun)

Tinggi Bebas (cm) Dasar dengan Agregat 60 50 50 60 50 50 40 30 30 Kaku/ Perkerasan Semi 40 30 30 40 30 30 20 20 20

Arteri Utama Kelas I Kolektor Utama Kelas I Kolektor Utama Kelas II Arteri Sekunder Kelas I Arteri Sekunder Kelas II Kolektor Sekunder Kelas II Kolektor Sekunder Kelas III Lokal Sekunder Kelas III Lokal Sekunder Kelas IV

50 30 20 30 20 20 10 5 5

Tabel 2-2 Tinggi Bebas (Freeboard) yang Dibutuhkan untuk Timbunan Jalan

Tinggi level banjir rencana perlu diestimasi dan hal ini harus dilakukan sebagai bagian dari Peninjauan Lapangan (lihat bab 5.2.2). Level berdasarkan struktur bangunan di sekitar Alinyemen vertikal harus dibuat lebih tinggi jika rencana jalan akan memotong sungai, jalan yang sudah ada atau rel kereta api. Sebagai estimasi awal, level akhir rencana pada lokasi-lokasi berikut ini harus di asumsikan untuk memperkirakan tinggi timbunan maksimum: Sungai 6 m di atas level dasar umum pada pinggiran sungai

6

Jalan

6.5 m di atas level jalan yang sudah ada

Rel Kereta 7 m di atas level rel.

2.3

PERSYARATAN DISAIN
Sebelum melakukan disain dari penyelidikan lapangan, Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memahami dan memperhitungkan prosedur-prosedur perencanaan kegeoteknikan sebagaimana dijelaskan pada Panduan Geoteknik 4.

7

3

Pendekatan Umum

3.1

TUJUAN PENYELIDIKAN
Tujuan mendasar dari sebuah penyelidikan lapangan adalah untuk mendapatkan data untuk keperluan disain dan pelaksanaan konstruksi dari sebuah proyek. Tujuan-tujuan spesifik dari sebuah penyelidikan lapangan dapat bervariasi bergantung pada tahapan pekerjaan yang dilakukan, kompleksitas dari struktur tanah yang ada dan asal usul proyek tersebut. Contoh khas dari tujuan-tujuan yang ingin di capai dapat dirumuskan sebagai berikut: Untuk memperoleh informasi awal dari kondisi tanah, sebagai masukan dalam studi kelangsungan ekonomi (economic viability study) dari proyek Untuk memperoleh informasi awal dari kondisi tanah dasar, untuk mengidentifikasikan kemungkinan disain-disain alternatif dan memungkinkan penyelidikan yang lebih lengkap untuk direncanakan Untuk memperoleh informasi lengkap dari kondisi tanah untuk merencanakan metode pengelolaan/perlakuan (ground treatment) yang tepat untuk timbunan dan fondasi untuk jembatan serta konstruksi penyeberangan lainnya Untuk menyediakan informasi akan kondisi tanah dasar kepada Kontraktor Untuk memperoleh informasi tambahan pada lokasi tertentu untuk mengklarifikasi kondisi tanah, sehingga disain strukturnya menjadi lengkap. Tujuan-tujuan tersebut harus memenuhi kriteria -kriteria berikut: Data yang ada harus cukup untuk sebuah perencanaan yang ekonomis dan mampu melayani hingga kondisi detil sebagaimana disebutkan dalam tujuan-tujuan tersebut Data yang ada harus konsisten dengan metode analisis yang ada dan diusulkan untuk digunakan Data yang ada harus relevan dengan tipe-tipe tanah yang ditemukan pada lokasi tersebut. Seorang Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus menentukan tujuan yang ingin dicapai dari penyelidikan sebelum merencanakan pekerjaannya. Tujuan-tujuan

8

tersebut harus dirumuskan secara tertulis dan dimasukkan dalam pendahuluan pada laporan pekerjaan yang dilaksanakan. Sebuah contoh dari perencanaan sebuah penyelidikan lapangan, termasuk pernyataan dari tujuan yang ingin dicapai, diberikan pada Lampiran B.

3.2

METODOLOGI PENYELIDIKAN LAPANGAN UMUM

3.2.1

Pendahuluan
Dalam hal disain dari penyelidikan lapangan, perlu kiranya untuk memperluas tujuan-tujuan yang ingin dicapai sebagaimana telah dirumuskan di Bab 2, menjadi rumusan persyaratan-persyaratan yang lebih lengkap. Untuk mencapai hal tersebut, lokasi dari penyelidikan perlu dibagi atau dikelompokkan dengan dua cara: Berdasarkan tipe dari tanah yang diharapkan Berdasarkan persyaratan dari proyek. Zonasi (Zoning) dapat dilakukan pada tahapan studi kelayakan. Sebuah contoh dari lokasi, yang akan digunakan seterusnya pada Panduan Geoteknik ini sebagai contoh, ditunjukkan pada Gambar 3.1.

9

Gambar 3-1 Zonasi dari lokasi proyek: Lembar Contoh Peta Dasar.

10

3.2.2

Zonasi dari Tanah
Tujuan dari zonasi ini adalah untuk menyederhanakan kondisi aktual di lapangan sedemikian rupa sehingga dapat dianalisis prilaku dari tanah sehingga dapat menghasilkan sebuah perencanaan yang tepat. Untuk mengidentifikasikan Zona Tanah, semua informasi yang ada yang berkaitan dengan lokasi yang akan digunakan. Pertama-tama, kondisi dari lapisan tanah ditetapkan terlebih dahulu dan Unit Tanah yang berbeda diidentifikasikan. Sebuah Unit Tanah adalah sebuah areal atau lapisan tanah yang memiliki sifat-sifat yang sama yang memungkinkan untuk dikelompokkan atau digolongkan menjadi sebuah areal atau lapisan yang tunggal dengan sifatsifat tertentu yang dapat digunakan dalam perencanaan. Bersamaan dengan identifikasi dari Unit Tanah adalah identifikasi dari zona tanah. Pertama-tama, variasi dari ketebalan dari Unit Tanah sepanjang rute proyek perlu untuk diperhatikan. Kemudian areal dengan Unit Tanah yang sama dan ketebalan yang sama dapat dikelompokkan menjadi satu Zona Tanah. Zonasi awal dari tanah ditunjukkan pada Gambar 3.2.

11

Gambar 3-2 Zona-zona Tanah Awal

12

Untuk proyek-proyek kecil, pada tanah yang relatif konsisten, sebuah Zona Tanah tunggal dapat diterapkan.

3.2.3

Zonasi dari Proyek
Selanjutnya proyek perlu dibagi lagi berdasarkan panjang dari konstruksi geoteknik yang sama. Secara umum, zona-zona utama adalah: 1) berdasarkan tingkat kelas jalan 2) tinggi timbunan 0 hingga 1.5m 3) tinggi timbunan 1.5 hingga 3m 4) tinggi timbunan 3 hingga 5m 5) tinggi timbunan lebih dari 5m 6) di dekat jembatan (kurang dari 15m dari abutmen) 7) gorong-gorong

Zonasi Awal dari Lokasi
Menentukan Unit Tanah dan Zona Tanah sebelum pelaksanaan penyelidikan lapangan sepertinya merupakan sesuatu hal yang bertentangan. Tetapi survey singkat bersama dengan data dari studi literatur seharusnya cukup memadai untuk menghasilkan sebuah model sementara dari kondisi lapisan tanah. Salah satu tujuan dari penyelidikan lapangan adalah untuk mempertegas atau merubah model ini.

Jika ada pembatasan khusus yang diterapkan, maka hal ini akan menghasilkan zona-zona tambahan, sebagai contoh: Persyaratan khusus dari program konstruksi Lokasi dari utilitas-utilitas utama Lokasi dari bangunan-bangunan sensitif atau struktur-struktur yang berdekatan dengan badan jalan. Sebuah contoh dari Zonasi Awal ditunjukkan pada Gambar 3.3. Strukturstruktur geoteknik A, B, C dikombinasikan dengan Zona Tanah 1-4 untuk menghasilkan Zona Proyek; sebagai contoh C1 merujuk ke timbunan dengan tinggi 3 hingga 4 meter di atas Endapan-endapan Rawa. Pada contoh ini akan lebih bermanfaat untuk menambahkan Zona Proyek tambahan untuk areal di dekat jalur transmisi tegangan tinggi. Tak ada zona proyek yang ditunjukkan untuk areal penggalian tanah residu (residual soils). Meskipun demikian, pemakaian dari sistem ini akan sangat relevan untuk hal tersebut maupun digunakan pada proyek lain yang melibatkan pekerjaan-pekerjaan kegeoteknikan.

13

Gambar 3-3 Zona-zona Proyek Awal

14

4

Strategi Penyelidikan Lapangan

4.1

PENDAHULUAN
Suatu pendekatan yang logis dan terstruktur dari penyelidikan lapangan merupakan suatu hal yang mendasar jika informasi yang memadai diperoleh untuk keperluan disain.
Perencanaan Penyelidikan Lapangan
Penyelidikan Lapangan untuk proyek-proyek jalan sering kali diperlukan seperti beberapa titik bor dan beberapa titik sondir, dengan uji laboratorium berupa test rutin dilakukan untuk sampel-sampel yang diambil pada interval kedalaman 2.5 atau bahkan 5m. Sebagai suatu hasil, akan cukup mengejutkan jika informasi yang didapat seluruhnya tidak cukup memadai untuk mendapatkan sebuah disain yang memuaskan. Timbunan runtuh– penurunan yang besar di dekat jembatan– abutmen jembatan runtuh– merupakan masalahmasalah umum yang terjadi sebagai akibat dari penyelidikan lapangan yang tidak memadai.

Setelah mengumpulkan data untuk perencanaan sebagaimana dijelaskan pada Bab 3, penyelidikan lapangan harus direncanakan dan dilaksanakan dalam sebuah tahapan sebagaimana dijelaskan berikut ini. Setiap tahapan akan didisain dengan menggunakan informasi yang didapat dari tahapan sebelumnya. Tahap 1: Pengumpulan Data dan Peninjauan Lapangan Sebanyak mungkin informasi seperti yang dijelaskan pada Bab 5, harus dikumpulkan, untuk memberikan masukan dalam perencanaan yang lebih detil dari penyelidikan lapangan. Jika pada tahapan ini informasi yang dibutuhkan tersebut tidak didapatkan, maka ketika tahapan selanjutnya akan dilakukan, hal ini harus diidentifikasi dalam laporan, dimana data harus didapatkan secepat-cepatnya dan informasi tersebut harus diperhitungkan kembali ketika data tersebut sudah didapatkan. Tahap 2 Penyelidikan Awal Tujuan dari penyelidikan awal ini adalah untuk mengidentifikasi profil tanah sepanjang rute proyek, sehingga penyelidikan lapangan yang lebih lengkap dapat dipersiapkan dengan lebih baik.

15

Teknik-teknik penyelidikan yang harus dilakukan cukup sederhana, seperti pemboran dengan auger (augering) dan uji konus. Jika di awal proyek sudah jelas bahwa Penyelidikan Awal merupakan hal yang cukup penting atau dapat diterima, maka pekerjaan ini dapat disatukan dengan survey pendahuluan (walkover survey) pada lokasi proyek dan daerah sekitarnya, sebagaimana dijelaskan pada Bab 5. Tahap 3 Penyelidikan Utama Penyelidikan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam disain dan pelaksanaan konstruksi dari jalan. Informasi yang cukup harus didapatkan untuk kedua arah vertikal dan horisontal sehingga tak ada daerah dari lokasi yang tidak memiliki informasi yang mencukupi.

Perencanaan dari Penyelidikan Utama seharusnya TIDAK berdasarkan asumsi bahwa sebuah penyelidikan tambahan akan dilaksanakan.

Tahap 4: Penyelidikan Tambahan Ketika penyelidikan keseluruhan mengungkapkan bahwa kondisi tanah yang ada tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka menjadi perlu atau diharapkan untuk dapat dilaksanakan suatu penyelidikan tambahan. Kadangkala kebutuhan akan penyelidikan tambahan ini dapat diabaikan jika penyelidikan utama dilakukan dengan pengawasan yang tepat. Masalah-masalah dapat diidentifikasi selama pelaksanaan penyelidikan utama ini, dan perencanaan dari penyelidikan dapat pula dimodifikasi atau dikembangkan untuk mendapatkan informasi tambahan yang dibutuhkan. Pendekatan ini membutuhkan seorang Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk yang terlibat langsung di lokasi selama pekerjaan penyelidikan di lakukan.

4.2

PROSEDUR-PROSEDUR
Detil dari prosedur-prosedur untuk perencanaan penyelidikan lapangan akan dijelaskan pada Bab 6.

4.3

ANGGARAN BIAYA
Petunjuk untuk sebuah anggaran biaya yang dapat dipertanggungjawabkan dalam sebuah rencana penyelidikan lapangan diberikan pada Lampiran C.

16

Jika biaya penyelidikan lapangan yang ada kurang dari kisaran sebagaimana yang disusun dalam Lampiran C tersebut, maka Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk dapat merumuskannya dalam Laporan Disain dilengkapi dengan pembuktian dan alasan-alasan kenapa terjadi pengeluaran yang lebih rendah.

Strategi Pembiayaan
Pada saat ini, pekerjaan penyelidikan lapangan sering dimasukkan dalam Uraian Disain untuk Konsultan dan pembiayaannya merupakan bagian dari biaya perencanaan. Sebagai konsekuensi, cakupan dari penyelidikan lapangan sering menjadi agak terbatas dan Konsultan harus menentukan lebih luas lagi penyelidikan yang akan dilakukan sebagai bagian dari kontrak konstruksi. Pendekatan ini dapat mengakibatkan terjadinya kelemahan serius dalam perencanaan. Informasi lebih lanjut yang didapat selama pelaksanaan konstruksi tidak akan dipelajari secara memadai, dan kaji ulang disain sering dilaksanakan dalam waktu yang terbatas, yang lebih jauh dapat menghasilkan suatu disain yang kurang tepat dan tidak ekonomis. Lebih jauh, kesempatan untuk meningkatkan kualitas desain atau mendapatkan desain yang ekonomis sering digagalkan oleh keharusan untuk mematuhi Kontrak atau mengabaikan variasi dan keperluan akan pembiayaan lainnya. Seorang Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus mengajukan penyelidikan lapangan yang luas dan lengkap kepada Manajer Proyek, dan sebuah metode yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pembiayaan dari penyelidikan tersebut. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk juga harus melaporkan kepada Manajer Proyek tentang konsekuensikonsekuensi yang tidak dapat ditolerir jika terjadi keterlambatan dari penyelidikan keseluruhan hingga tahapan konstruksi dilaksanakan.

17

5

Pengumpulan Data Terdahulu

5.1

TUJUAN DAN BATASAN
Pengumpulan data terdahulu meliputi suatu studi literatur dan suatu peninjauan lapangan. Tujuan dari pengumpulan data dapat meliputi hal-hal sebagai berikut: Untuk memberikan informasi yang memadai untuk pada tahapan studi kelayakan dari proyek Untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi pada lokasi dengan alasan yang dapat diterima untuk memungkinkan penyelidikan didesain secara efisien Untuk memperkuat atau menambah data yang akan disediakan oleh penyelidikan lapangan. Batasan dari tahapan pengumpulan data terdahulu adalah sebagai berikut: Pengumpulan seluruh informasi terdahulu dan relevan pada penyelidikan lapangan Pengumpulan seluruh peta topografi dan geologi yang relevan Mengkaji ulang literatur, dan mengumpulkan informasi pada sistem basis/bank data yang relevan Pengumpulan informasi penginderaan jauh yang relevan Peninjauan lapangan dan pengumpulan data lapangan.

5.2

STUDI LITERATUR
Studi literatur meliputi pengumpulan dan evaluasi informasi terdahulu di lapangan. Sumber-sumber informasi tersebut meliputi: Peta-peta geologi dan analisisnya Peta-peta lama dan modern (terbaru)

18

Penampang pemboran dan laporan penyelidikan lapangan pada lokasi terdekat yang memiliki sifat-sifat tanah yang relatif sama Sejarah pemanfaatan lokasi sebelumnya Foto-foto udara dan satelit Catatan penyewa yang berwenang. Sumber-sumber peta dan foto udara di Indonesia dicantumkan pada Tabel 5-1. Panduan Geoteknik 1 mendiskusikan bagaimana peta topografi dan geologi dapat digunakan untuk memberikan indikasi awal akan keberadaan dari endapan tanah lunak. Pada banyak daerah, berbagai organisasi dan lembaga-lembaga kemasyarakatan telah menyusun informasi mengenai kondisi dari areal secara umum dari lokasi tersebut; kontraktor dan konsultan mungkin juga telah melakukan kegiatan yang sama pada proyek yang sama pada lokasi tersebut. Informasi-informasi dan pengalaman ini harus dimanfaatkan sepenuhnya; tidak hanya memungkinkan untuk penyelidikan lapangan direncananakan secara tepat, hal tersebut juga dapat mengurangi berbagai pilihan disain yang harus dipertimbangkan.

Hal

Skala

Sumber

Lokasi: Foto udara Peta topografi Peta dasar skala besar Peta geomorfologi Struktur Tanah: Peta geologi Peta sistem lahan (Tanah dasar) air: Peta geohidrologi Catatan: 1 2 3 1:250,000 1 1:250,000 or less 1:250,000 1 2 1:30,000 1:50,000 -1:250,000 1:1,000 – 1:5,000 1:50,000 2 1,2,3 1 2

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional Departemen Pertahanan (JawatanTopografi Angkatan Darat)

Table 5-1 Sumber-sumber Informasi yang Diterbitkan

Sebuah ceklis untuk studi literatur ini diberikan pada Lampiran A. Laporan dari studi literatur ini harus disusun berdasarkan Bab 11.

19

5.3

PENINJAUAN LOKASI
Lazimnya studi literatur telah diselesaikan sebelum peninjauan lokasi dilakukan, karena salah saru aspek penting dari fase kegiatan pengumpulan data ini adalah untuk mengkonfirmasikan informasi yang diperoleh dari studi literatur tersebut. Peninjauan lokasi harus dipimpin oleh seoarang Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk. Hal tersebut harus sistematis dan menyeluruh dan harus mengidentifikasikan setiap karakteristik lokasi yang sepertinya dapat mempengaruhi kelayakan dari proyek, penyelidikan lapangan dan disain serta konstruksi dari fasilitas yang ada. Untuk memastikan bahwa tak ada suatu hal yang penting yang diabaikan pada peninjauan tersebut, maka hal tersebut harus direncanakan dengan hati-hati, dan Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus mempersiapkan sebuah ceklis yang komprehensif yang menjelaskan secara detil keseluruhan data yang diperlukan. Sebuah contoh ceklis untuk keperluan tersebut diberikan pada Lampiran A. Suatu kumpulan yang khas dari kegiatan peninjauan lapangan tersebut adalah sebagai berikut: Seluruh areal harus dilewati dengan berjalan kaki dan mengambil foto pada sudut-sudut yang dianggap penting Perbedaan-perbedaan yang tidak sesuai dengan perencanaan yang ada harus dicatat Gangguan-gangguan atau batasan terhadap pekerjaan yang potensial harus dicatat (jaringan listrik dan telepon, pohon, pipa-pipa air, dan saluran pembuangan) Akses ke lokasi untuk penyelidikan harus diperiksa Sumber material (quarries) di dekat lokasi harus dikunjungi dan penilaian terhadap kualitas dan jumlah material yang tersedia serta kemungkinan aksesnya harus dilakukan Daerah rawa-rawa yang basah, atau dataran rendah yang sepertinya dapat mempengaruhi kemungkinan untuk melewatkan lalu lintas, harus dicatat Level air, arah dan kecepatan aliran pada sungai dan kali harus dicatat, bersamaan dengan level banjir dan pasang surut yang relevan Informasi geologi yang bermanfaat dapat diperoleh dengan memeriksa kondisi struktur geologi dan stabilitas dari galian jalan atau rel kereta dan pada daerah terbuka atau singkapan. Jika geologi dari lokasi merupakan suatu hal yang signifikan maka akan merupakan suatu praktek yang baik untuk menyimpulkan seluruh informasi yang relevan pada sebuah peta geologi yang digambar pada skala yang tepat Fitur-fitur dari sifat-sifat tanah terdekat dan sejenisnya yang akan dipengaruhi oleh kegiatan yang akan dilakukan, harus diperiksa

20

Banyak informasi lain yang bermanfaat yang sering dapat diperoleh dengan meminta keterangan langsung di lokasi. Sebuah ceklis untuk peninjauan lapangan diberikan pada Lampiran A. Laporan Peninjauan Lapangan Laporan peninjauan lapangan harus disiapkan berdasarkan Bab 11.

21

6

Perencanaan & Disain dari Penyelidikan Lapangan

6.1

PENDAHULUAN
Setelah pengumpulan data, peninjauan lapangan dan kaji ulang telah dilaksanakan, maka rencana penyelidikan tambahan dapat dibuat berdasarkan informasi yang telah didapat. Penyelidikan awal ini dibutuhkan jika data yang ada tidak cukup memadai atau areal tanah lunaknya cukup luas atau ditemukan lebih luas lagi. Jika areal tanah lunak hanya beberapa ratus meter saja panjangnya, maka penyelidikan awal ini dapat diabaikan dan penyelidikan yang detil dapat dilaksanakan secara langsung (kasus ini dijumpai jika alinyemen jalan meliputi pekerjaan galian dan timbunan dimana tanah lunak ditemukan pada seksi timbunan yang menurun). Jika alinyemen jalan melewati daerah pantai yang luas atau dataran delta yang meluas hingga puluhan kilometer panjangnya, maka penyelidikan awal ini harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum dilanjutkan dengan penyelidikan utama.

6.2

PENYELIDIKAN LAPANGAN AWAL
Tujuan utama dari penyelidikan awal adalah untuk mengidentifikasikan secara luas klasifikasi tanah dan mendapatkan informasi pada areal endapan tanah lunak yang meluas sehingga penyelidikan detil dapat didesain atau direncanakan lebih ekonomis. Penyondiran dan pemboran dengan interval yang lebar dan pengambilan sampel yang terbatas yang diperlukan harus dilakukan untuk mendapatkan informasi-informasi penting seperti: Luasan areal dari tanah lunak Kedalaman atau ketebalan dari lapisan lunak Konsistensi dari tanah lunak Tipe tanah lunak Profil tanahnya. Informasi-informasi ini dibutuhkan untuk membagi areal menjadi zona-zona tanah yang memiliki sifat-sifat tanah yang relatif sama, mengetahui konsistensi serta kedalaman dari tanah lunak, sehingga rencana detil pemboran dan

22

pengambilan contoh tanah dapat disiapkan sebelum penyelidikan lapangan yang detil dilaksanakan. Sebuah penyelidikan awal biasanya meliputi: Uji sondir pada interval 5500m Satu titik pemboran pada setiap trase jalan utama atau pada daerah penyeberangan sungai. Hasil dari penyelidikan awal ini harus dilaporkan dalam sebuah Laporan Faktual menurut Bab 11. Sebuah Laporan Interpretasi juga harus dibuat dimana pada laporan tersebut dilakukan penyesuaian dan pembaruan dari Sistem Zona yang ditetapkan terdahulu untuk penyelidikan lapangan utama.

6.3

PENYELIDIKAN UTAMA
Untuk seksi dari rute jalan dimana dari hasil studi literatur atau penyelidikan awal mengindikasikan bahwa lokasi tersebut merupakan atau dilapisi endapan tanah lunak, maka penyelidikan harus dilakukan menurut petunjuk yang diberikan dalam Panduan Geoteknik ini. Tujuan dari penyelidikan utama ini harus dirumuskan dan mengikuti Tujuan Proyek yang dibuat oleh Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk yang telah dirumuskan sebelumnya dan dijelaskan pada Bab 3. Umumnya, tujuan dari penyelidikan utama ini adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat untuk menghasilkan suatu desain serta metode pelaksanaan yang ekonomis dan aman dari pekerjaan timbunan jalan. Perluasan dan Kualitas dari Penyelidikan Lapangan Metode-metode yang umumnya digunakan dalam penyelidikan lapangan di Indonesia adalah: Pendugaan (Soundings) Uji Sumur (Trial pits) Pemboran (Boreholes) Uji lapangan langsung (In situ tests). Detil dari metode-metode ini dan keuntungan serta kelemahannya masingmasing jika diterapkan pada tanah lunak dijelaskan pada Bab 7 dan 8. Prosedur untuk mendesain sebuah penyelidikan lapangan dirumuskan pada Gambar 6-1.

23

Pemilihan terhadap metode yang akan digunakan dilakukan bergantung pada kelas jalan dan asal-usul terbentuknya tanah lunak. Tabel 6-1 berikut mengidentifikasikan tingkatan penyelidikan yang diperlukan berdasarkan Kelas jalan yang ada.

24

Pimpinan Tim Tujuan penyelidikan yang disetujui

Pertimbangan Laboratorium Pertimbangan-pertimbangan Lapangan

* Lokasi yang akan diambil contoh pada tiap Zona Proyek

Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk * Mengkaji ulang informasi terdahulu di lapangan * Melakukan peninjauan lapangan * Merumuskan Zona Proyek * Mengembangkan rencana detil untuk mencapai tujuan * Menyiapkan program dan skedul lapangan dan laboratorium detil * Mengkoordinasikan kegiatan lapangan dan laboratorium * Menkaji ulang Laporan Faktual

* Pada setiap lokasi: Tipe sampel dan ukurannya Interval pengambilan contoh Kedalaman pengambilan contoh Pengujian yang akan dilakukan untuk setiap sampel

* Metode Pengeboran dan Pengambilan Contoh * Untuk setiap Zona Proyek Nomor dan lokasi lubang bor Lokasi dan kedalaman penyondiran Lokasi pengujian langsung di lapangan

Tim Laboratorium

Gambar 6-1 Prosedur Penyelidikan Lapangan
Tim Lapangan * Menginterpretasi dan menganalisi data * Menyiapkan Laporan Akhir * Lihat Panduan Geoteknik 4

* Program pengujian laboratorium yang diterapkan * Menyiapkan Laporan Faktual

* Menerapkan Program Pengambilan Contoh dan Pengujian di Lapangan * Menyiapkan Laporan Faktual

lihat Panduan Geoteknik 3

25

Seorang Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk bebas untuk memilih tingkatan penyelidikan yang berbeda dari yang ditunjukkan pada tabel, sepanjang alasan melakukan hal tersebut dilaporkan dala m Laporan Disain (sebagaimana dijelaskan pada Panduan Geoteknik 4).
Tingkatan Penyelidikan Tingkat A Tipe/Metode dari Penyelidikan Lapangan: Pemboran Piezocone Pengambilan Sampel dengan Piston Uji Baling-baling Laboratorium: Triaksial Sel Rowe Tes Indeks Tingkat B Lapangan: Pemboran Sondir Tabung Shelby Uji Baling-baling Laboratorium: Uji Baling-baling Test UCS Tes Indeks Konsolidasi Oedometer Tingkat C Lapangan: Bor Tangan Sondir Laboratorium: Pengujian Indeks Tabel 6-1 Tingkatan Penyelidikan Lapangan yang Diusulkan untuk Berbagai Kelas Jalan Lokal Sekunder Arteri Sekunder Kolektor Sekunder Kelas Jalan Arteri Utama Kolektor Utama

6.3.1

Lokasi dari Titik-titik Penyelidikan
Lokasi dari titik-titik penyelidikan, seperti lubang bor, sondir, uji sumur, maupun uji-uji langsung di lapangan, harus ditentukan sehingga gambaran geologi umum dari lokasi secara keseluruhan dapat diperoleh dengan detil sifatsifat teknik dari tanah di bawah permukaannya yang memadai. Timbunan di dekat jembatan, atau pada titik dengan kesulitan teknis atau dimana kondisi bawah permukaannya cukup rumit juga perlu digambarkan. Titik-titik yang diselidiki harus ditetapkan dengan mengacu pada garis tengah dari jalan raya yang diusulkan, sehingga variasi lateral dari tanah dapat di tampakkan. Jarak Titik-titik Penyelidikan Jarak sebesar 50 m antara titik-titik sondir dapat diterapkan kecuali Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk mempunyai alasan tersendiri yang dapat diterima dengan memilih jarak yang berbeda. Ketika menemui areal transisi dari tanah

26

lunak ke areal yang lebih keras, maka jarak antara titik sondir harus di perkecil menjadi 25m sehingga daerah perbatasannya dapat di tempatkan lebih akurat. Kedalaman Titik-titik Penyelidikan Untuk timbunan, kedalaman titik-titik penyelidikan harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk mengecek kemungkinan daerah runtuh sepanjang fondasi tanah dan menilai besarnya penurunan yang akan terjadi akibat adanya lapisan yang kompresibel. Kedalaman minimum seharusnya 5m di bawah tanah lunak atau terhadap hasil sondir yang ditolak jika kurang. Jika pemancangan merupakan salah satu pilihan yang dipertimbangkan, kedalaman dari titik penyelidikan harus 5m di bawah kedalaman dari perkiraan kaki tiang yang dipancang. Jika tak ada perkiraan mengenai hal tersebut, maka titik bor harus mencapai 20m masuk ke dalam lapisan yang terletak di bawah lapisan tanah lunak. Jika kedalaman penyelidikan kemudian diketahui kurang dari 5m di bawah level kaki tiang disain dan bukan pada lapisan batuan keras (bedrock) maka sebuah penyelidikan tambahan harus dilaksanakan pada kedalaman tersebut.

6.3.2

Metode Pengambilan Sampel dan Lokasinya
Tipe dan lokasi dari pengambilan sampel harus diputuskan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi persyaratan dari pengujian laboratorium. Keuntungan dan kerugian dari berbagai macam metode pengambilan sampel akan dijelaskan pada Bab 7. Lokasi Pengambilan Sampel Tujuan dari penyelidikan tanah yang detil pada tanah lunak adalah untuk mendapatkan informasi-informasi kegeoteknikan untuk keperluan analisis dan perencanaan dari timbunan jalan termasuk juga solusi-solusinya, sehingga lokasi dan kedalaman dari pengambilan sampel harus ditentukan berdasarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah-masalah kegeoteknikan seperti stabilitas dan penurunan. Sampel tak terganggu harus diambil pada lapisan yang kritis menurut analisis dan perencanaan dari timbunan. Jumlah sampel yang diambil harus cukup untuk mewakili sebuah Unit Tanah atau harus konsisten dengan akurasi yang disyaratkan dalam desain dan skala dari struktur. Kedalam pengambilan contoh harus ditentukan sedemikian rupa sehingga dapat mewakili lapisan tanah atau unit tanah yang diselidiki.

27

Untuk mendapatkan contoh-contoh tanah yang diharapkan, program pengambilan contoh tanah harus diselesaikan setelah penyondiran atau pengujian langsung di lapangan, dimana hal ini akan lebih praktis untuk dilaksanakan. Sebuah desain rencana pengambilan sampel yang tepat akan dapat dibuat dengan baik dengan menyiapkan jadwal awal dari pengujian laboratorium untuk setiap titik pemboran.

6.4

PENYELIDIKAN LAPANGAN TAMBAHAN
Batasan dari setiap penyelidikan lapangan tambahan sepertinya akan jauh berbeda untuk setiap proyek. Tetapi, persyaratan umum untuk perencanaan, pelaksanaan maupun pelaporan yang diberikan pada petunjuk ini harus diikuti. Penyelidikan lapangan tambahan mungkin diperlukan pada kondisi-kondisi berikut: Untuk mendapatkan informasi tambahan Untuk mengkonfirmasi atau menolak data yang meragukan.

28

7

Pemboran dan Pengambilan Sampel

7.1

METODA PEMBORAN DAN APLIKASINYA

7.1.1

Pendahuluan
Hingga saat ini, tak ada Standar Indonesia untuk metode pemboran. Sebuah standar untuk pencatatan dan interpretasi dari pemboran inti (core drilling) diberikan pada SNI 03-2436-1991. Persyaratran untuk pelaksanaan pemboran pada tanah lunak diberikan pada ISSMFE (1981). Metode pemboran yang dapat diterapkan pada tanah lunak akan dibahas pada bagian berikut di bawah ini.

7.1.2

Pemboran Berputar (Rotary Drilling)
Pemboran berputar merupakan suatu metode yang direkomendasikan untuk pemboran pada tanah lunak. Metode ini dapat melakukan pemboran secara bersih dan penyetelan lubang bor yang paling baik dan seragam untuk pengambilan sampel tak terganggu. Lubang bor kemudian dilanjutkan dengan memutar dan menekan mata bor ke dalam tanah. Sisa-sisa potongan tanah umumnya diangkat ke atas permukaan tanah oleh air pemboran. Mata bor ekor ikan (fish tail bit) dengan bagian untuk melewatkan kotoran yang bengkok (deflected discharge) akan cocok karena dapat membantu mengangkat sisa-sisa potongan tanah ke atas lubang bor. Praktek yang dilakukan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi saat ini, dan juga di Indonesia umumnya, adalah dengan menggunakan sebuah penginti (core barrel) pada bagian mata bornya untuk melanjutkan pembuatan lubang. Penginti (core barrel) tersebut akan menstabilisasi efek akibat mekanisme pemboran sehingga kekakuannya akan memungkinkan dilanjutkannya pembuatan lubang bor tersebut. Dengan metode ini, tanah yang didapatkan pada penginti (core barrel) selama proses lanjutan dari pemboran tersebut, dapat digunakan sebagai sampel terganggu untuk pengujian-pengujian indeks. Meskipun demikian, tinggi muka air tanah (ground water level) harus dipertahankan konstan untuk membatasi terjadinya perubahan tegangan pada tanah yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada sampel. Pada kasus lain, tak ada pengaruh lanjutan yang harus digunakan. Penggunaan cairan pada pemboran direkomendasikan walaupun sisa-sisa potongan tanah akan tidak terangkut ke atas oleh mekanisme aliran air. Tipe cairan pemboran yang paling umum digunakan adalah lumpur pemboran (drilling mud) yang disiapkan dengan mencampur air dan bentonit pada berat jenis (specific gravity) tertentu, sekitar 1.05 hingga 1.15. Lumpur pemboran tersebut akan melumasi mata bornya dan juga cenderung akan menstabilkan

29

lubang bor. Tinggi (head) dari lumpur pemboran yang memiliki berat isi tinggi akan menetralkan tegangan tanah setempat dan oleh karenanya akan membantu mempertahankan lubang bor tetap terbuka. Lumpur dengan viskositas yang sangat tinggi juga akan menjaga bagian bawah lubang bor tetap bersih dengan menutup butiran halus dan potongan tanah. Meskipun demikian, lumpur bentonit cenderung untuk menempel sepanjang lubang bor, sehingga akan menghambat aliran air tanah alami ke dalam lubang bor. Hal ini dapat menyulikan usaha selanjutnya untuk mendapatkan letak muka air tanah. Penggunaan air sebagai cairan pemboran akan dapat menghilangkan masalah ini. Jika air yang digunakan sebagai cairan pemboran, maka hal tersebut tidak akan memberikan keuntungan seperti jika menggunakan lumpur bentonit, seperti stabilisasi lubang bor, pembersihan lubang bor, dan pelumasan mata bor. Meskipun demikian, penggunaan air akan memungkinkan identifikasi dan penentuan lapisan tanah untuk dilakukan karena potongan-potongan tanah akan secara jelas diamati. Jika digunakan air, pengambilan contoh akan menghasilkan sebuah lapisan yang rusak/cacat pada bagian atas dari sampel. Untuk tanah lembpung lunak, sebuah toleransi umum adalah dengan membolehkan air bilasan dikentalkan dengan lempung dari dasar tanah, hal ini dapat dikontrol oleh jumlah air yang ditambahkan ke dalam lubang/sumur sirkulasi air kembali. Kecepatan penembusan yang terlalu cepat ataupun sirkulasi lumpur pemboran yang tidak tepat dapat menyebabkan penambahan/peluapan dari potongan tanah pada jarak antara penginti (core barrel) atau gurdi dengan dinding lubang bor, yang lebih lanjut akan menghambat sirkulasi lumpur pemboran, hal ini akan menyebabkan sebuah kenaikkan yang cepat dari tekanan lumpur pada pompanya. Tekanan lumpur pada pompa juga akan naik ketika pemboran dilakukan pada tanah lunak dimana dinding lubang bor runtuh dan sirkulasi lumpur ke atas lubang akan terhambat atau tertutup. Jika tekanan pada dasar lubang naik, maka lumpur pemboran akan mulai merusak/mengganggu tanah di sekitar mata bor dan dapat menyebabkan gangguan yang serius pada tanah yang akan diambil sebagai sampel. Tekanan lumpur pada suatu waktu sepanjang pemboran seharusnya tak boleh melampaui tekanan tanah setempat. Jika dilihat terjadi kenaikkan tekanan yang tajam, maka proses pemboran harus dihentikan, rangkaian alat pemboran diangkat perlahan, dan kemudian pemboran dilakukan kembali. Penggunaan dari lumpur yang viskositasnya lebih rendah ataupun sebuah mata bor dengan jarak dinding yang lebih besar dapat mengurangi kenaikkan tekanan ini. Kecepatan rotasi dari mata bor dan dorongan ke bawahnya, serta volume dari cairan pemboran yang dipompa akan saling berkaitan. Rotasi mata bor, kecepatan pemboran selanjutnya, dan kecepatan sirkulasi lumpur pemboran seluruhnya harus diatur untuk menghasilkan potongan tanah yang cukup kecil untuk diangkut ke permukaan serta memungkinkan dilakukannya kecepatan penetrasi yang maksimum. Jika mata bor telah mendekati kedalaman pengambilan contoh yang diinginkan, kecepatan penetrasinya harus dikurangi,

30

dan kehati-hatian harus selalu diberikan untuk meminimalisasi gangguan yang dapat terjadi pada tanah Tabel 7-1 berikut memberikan beberapa nilai parameter pemboran yang diusulkan oleh berbagai institusi.
Badan/agensi Putaran Gurdi (putaran/detik) Biro Reklamasi Amerika Serikat (Clark, 1963) US Army (1972) Lubang berdiameter 100 mm Lubang berdiameter 150 mm Himpunan Ahli Mekanika Tanah dan Teknik Fondasi Jepang (1972) 3.3-5.0 1 15-50 mm/detik Penetrasi Gurdi Operasi Lumpur Pemboran 175-281 kPa 1.2-2.0 I/s

1

-

3.2-3.8 I/s

0.8-2.5

0.5 kN

-

Tabel 7-1 Nilai Parameter yang Diusulkan untuk Putaran Pemboran pada Tanah Lunak

7.1.3

Pemboran dengan Auger
Pemboran auger merupakan suatu metode pemboran yang paling sederhana dan ekonomis pada tanah lunak pada kedalaman yang dangkal. Meskipun demikian, penggunaan metode ini harus dipertimbangkan secara hati-hati karena penarikan kembali dari auger dari dasar tanah dapat menimbulkan isapan pada lubang bor yang dapat mengganggu tanah yang akan diambil sebagai contoh. Auger seharusnya tidak ditekan sedemikian rupa ke dalam tanah sehingga dapat menyebabkan terjadinya penurunan atau perpindahan lateral dari tanah. Percobaan penggalian sebelum pemboran untuk mempelajari jumlah putaran yang diperlukan untuk mengisi kepala/topi auger, akan dapat mengurangi bahaya yang ditimbulkan akibat penekanan/pendorongan yang berlebihan dari auger. Pengisian yang berlebihan dari auger, pada saat sedang ditarik, akan bersifat seperti piston yang ditarik pada dinding lubang bor dan dasarnya, yang akan menyebabkan gangguan yang serius pada tanah pada kedalaman pengambilan contoh. Efek piston ini dapat diminimalisasi dengan menggunakan sebuah auger dengan sebuah buritan (stern) yang berlubang yang udara atau cairan dapat didorong melewati lubang tersebut ke ujung auger atau dapat membebaskan isapan yang terjadi sepanjang proses penarikan auger. Alternatifnya, penggunaan sebuah auger menerus akan dapat mengurangi jumlah kegiatan penarikan dari auger. Jika sebuah lubang bor telah dilanjutkan hingga kedalaman kira-kira tiga kali diameter lubang bor di atas kedalaman pengambilan sampel, maka kecepatan penetrasi auger harus dikurangi. Hal ini akan membantu mencegah pengisian berlebihan pada auger dan akan meminimalisasi gangguan yang terjadi pada tanah. Auger dapat digunakan untuk membor lubang di bawah muka air tanah. Meskipun demikian, hanya sedikit hal yang dapat dilakukan untuk meniadakan squeezing dari dinding bor dan terangkatnya (heaving) dasar lubang bor. Jika

31

fenomena tersebut terjadi, akan terjadi perubahan resultan pada tanah dan perubahan tekanan air pori pada dinding dan dasar lubang bor. Jika tabung sampel (casing) digunakan untuk menstabilisasi lubang yang telah di auger, maka auger tersebut harus melampaui tabung cetakan tersebut untuk meminimalisasi gangguan pada tanah yang ditimbulkan oleh tabung sampel tersebut. Tabung sampel umum digunakan untuk mencegah bagian atas dari lubang bor di dekat permukaan tanah menjadi runtuh. Tanah yang dikeluarkan dari dasar tanah dengan menggunakan auger tidak akan efektif digunakan untuk membuat profil memanjang tanah karena tanah yang dikeluarkan tersebut dapat saja tercampur dengan tanah dari lapisan yang lain. Contoh pada tabung yang diambil pada dasar dari lubang auger akan cocok untuk digunakan pada pengujian indeks dan analisis fabrik. Jika gangguan di bawah dasar lubang selama pemboran dengan auger dilakukan dapat dikontrol, maka sampel-sampel ini dapat mencapai kualitas Kelas B sebagaimana dijelaskan pada Bab 7.4.

7.1.4

Pemboran dengan Pembilasan
Pada metode ini sebuah lubang bor dilakukan dengan gerakan memukul dan memutar (chopping and twisting) dari mata bor dengan menyemprotkan air dari bawah mata bor tersebut. Penarikan, penekanan dan pemutaran dari batang maupun pemompaan air dapat dilakukan secara manual, tetapi pengunaan motor kerekan kecil dan pompa umumnya telah digunakan. Lubang bor umumnya dilindungi dengan sebuah tabung, dan air digunakan sebagai cairan pemboran. Pada waktu membilas tanah, harus dilakukan secara hati-hati karena pembilasan yang besar dapat mengganggu tanah yang akan diambil sebagai sampel secara serius. Walupun pengoperasiannya sangat mudah dan ekonomis, metode ini tidak direkomendasikan untuk pengambilan contoh tak terganggu pada tanah lunak karena mekanisme pemboran dengan pengetukan dan penyemprotan air, yang walaupun akan memberikan tingkat ketukan yang lebih rendah dibanding dengan pukulan akibat pemboran, namun tetap saja akan dapat mengganggu tanah yang akan diambil sebagai contoh.

7.2

STABILISASI LUBANG BOR
Lubang bor pada tanah lunak perlu distabilisasi dengan tabung sampel ataupun lumpur pemboran. Penggunaan lumpur pemboran lazimnya lebih disukai karena akan dapat meminimalisasi pembebasan tegangan yang disebabkan oleh pemindahan tegangan setempat tanah, dapat menghilangkan gangguan pada tanah yang disebabkan oleh pemasangan tabung sampel dan lebih ekonomis.

32

Untuk pengambilan sampel tak terganggu di atas muka air tanah, lumpur pemboran ataupun air seharusnya tidak digunakan untuk stabilisasi, karena cairan ini akan dapat merubah kadar air dari tanah.

7.2.1

Tabung Contoh
Pipa tabung contoh harus memiliki titik pembilasan sehingga permukaan bagian luar dan dalam dari tabung akan halus. Pemasangan dan pemindahan dari tabung ini oleh karenanya harus bebas dari gangguan, dan getaran pada alat pengambil contoh sewaktu diangkat dan diturunkan melalui tabung tersebut akan dicegah. Panjang pertama dari tabung umumnya dipasang dengan sebuah makhota logam yang dikenal sebagai suatu sepatu pukulan (drive shoe) (jika tabung dimasukkan ke dalam tanah dengan dipukul dengan palu) atau sebagai suatu sepatu mata bor (shoe bit) (jika tabung dimasukkan ke dalam tanah dengan pemutaran). Untuk membuat lubang bor untuk pengambilan contoh tak terganggu, tabung contoh harus dimasukkan ke dalam tanah dengan cara diputar. Sepatu mata bor memiliki sebuah bukaan pada ujungnya agar cairan dapat tersirkulasi. Ketika digunakan, tabung harus dipasang dengan memnyisipkannya pada lubang pra-pemboran ataupun dengan memasukkan tabung tersebut ke dalam tanah dengan pemboran dan sesudah itu membersihkan bagian dalamnya. Jika tabung dipasang di dalam sebuah lubang pra-pemboran, maka lubangnya harus dibor hingga ke diameter 10mm sampai 15mm lebih besar dari diamter luar tabung dan mencapai kedalaman sekitar satu meter di atas kedalaman pengambilan contoh. Tabung kemudian harus ditekan ke dalam lubang, lebih baik dengan menggunakan putaran dari mesin bor dan tertutup hingga ke dasar tanah. Tabung dapat ditutup dengan cara menekannya sekitar 0.1 m ke dalam tanah yang belum dibor. Tabung tersebut seharusnya tidak ditekan lebih dekat dari 2.5 kali diameter luar tabung atau 0.5m ke kedalaman pengambilan contoh. Jika tabung telah dipasang pada kedalaman yang diingikan, lubang harus dibersihkan sebelum sampel tak terganggu diambil. Pada saat proses pengambilan contoh sedang dilakukan, tambahan sambungan tabung dapat dipasang/sambung pada tabung tersebut dan ditekan dengan pemutaran dan sirkulasi dari cairan pemboran. Diameter luar yang lebih besar dari sepatu mata bor akan membantu dalam mengurangi friksi yang terjadi antara tanah dan dinding tabung. Jika tabung dimasukkan ke dalam tanah tanpa menggunakan pra-pemboran, maka tabung tersebut ditekan ke dalam tanah dengan pemutaran menggunakan sirkulasi cairan pemboran dan pembilasan potongan tanah ke permukaan. Tanah di dalam tabung harus di bersihkan dengan menggunakan pemboran berputar atau pemboran dengan pembilasan. Pada material yang lunak, tabung akan memberikan dukungan lateral tetapi tidak akan dapat mencegah terangkatnya dasar lubang bor. Stabilitas dari lubang akan bertambah pada contoh ini, dengan mempertahankan tabung tersebut terisi oleh cairan pemboran.

33

7.2.2

Lumpur Pemboran
Sifat lumpur pemboran yang relevan dalam hal ini adalah viskositas, karakteristik jel, dan berat jenis atau berat isinya. Lumpur pemboran umumnya disiapkan dengan mencampur bentonit ataupun produk-roduk sejenis dengan air. Kadangkala digunakan bahan aditif untuk mengontrol flokulasi, tisotrofi (thixotropy), viskositas, dan kekuatan jelnya. Jika lubang telah terisi sepenuhnya oleh lumpur pemboran ini, tekanan antara lumpur melawan dinding dan yang tejadi pada dasar lubang akan secara berarti mengurangi squeezing pada dinding dan terangkatnya dasar lubang. Lumpur pemboran cenderung membentuk saringan menempel sepanjang dinding lubang bor yang akan menghalangi gerakan mukan air pada lubang bor, khususnya pada lapisan non kohesif. Saringan yang menempel ini juga akan memberikan gaya kohesi pada tanah, yang akan mencegah pengendapan dari partikel halus tanah dari dinding lubang bor, dan akan menurunkan kecepatan pengembangan dari tanah kohesif..

7.2.3

Air
Air dapat digunakan untuk menstabilkan lubang bor pada tanah sedang hingga keras, tetapi tidak cocok digunakan untuk lempung lunak karena air dapat mengurangi kuat geser dari material kohesif. Kehilangan ini sering kurang dari yang digantikan oleh peningkatan efek stabilisasi. Air akan tidak efektif untuk mencegah squeezing dan pengangkatan dari tanah plastis ataupun mencegah robohnya tanah non kohesif. Ketika menggunakan lumpur pemboran atau air untuk menstabilkan lubang bor, level dari cairan tersebut harus dipertahankan pada atau di atas level air tanah, dan tak ada kesempatan selama proses pemboran dan pengambilan contoh untuk cairan tersebut turun di bawah muka air tanah.

7.3

PEMBERSIHAN LUBANG BOR
Sebuah lubang bor harus dibersihkan sebelum sebuah alat pengambil contoh dimasukkan ke dalam tanah untuk mengambil contoh tak terganggu. Sedimen halus dari sisa potongan tanah ataupun partikel tanah dari dinding lubang bor dapat secara serius mempengaruhi kualitas pengambilan contoh. Dua metode pembersihan lubang bor sebelum pengambilan contoh dapat digunakan untuk tujuan ini, yaitu dengan sirkulasi lumpur pemboran dan dengan menggunakan alat mekanik.

7.3.1

Pembersihan dengan Sirkulasi Lumpur Pemboran
Jika sebuah mata bor pemboran berputar berada pada kedalaman 0.3 hingga 0.5 m dari kedalaman pengambilan contoh, kecepatan pemboran dan sirkulasi

34

cairan harus dikurangi dan pemboran dilanjutkan dengan kehati-hatian sepenuhnya. Ketika mata bornya telah mencapai kedalaman pengambilan sampel, perputaran dari mata bor tersebut harus dihentikan dan material halus di dalam lubang bor dibuang dengan menggunakan sirkulasi lumpur pemboran. Lumpur pemboran ini harus diarahkan ke atas. Mata bor yang diarahkan ke bawah tidak dapat digunakan. Lubang bor akan secara sempurna dibersihkan jika sebuah suspensi konstan yang halus pada lumpur telah dicapai. Batu kerikil atau tanah sangat plastis akan sangat sulit untuk dipindahkan dari lubang dengan metode ini.

7.3.2

Pembersihan dengan Alat Mekanik
Untuk lubang yang dibuat dengan auger, sedimen halus pada dasar lubang dapat dibersihkan oleh auger. Auger ini diturunkan pada kedalaman pengambilan contoh dan diputar beberapa kali tanpa menambah panjangnya untuk mengumpulkan material tanah yang halus. Kemudian auger tersebut secara perlahan diangkat ke permukaan dengan diusahakan agar material halusnya terkumpul di dalam auger dan tidak mengganggu dinding lubang bor. Sebuah auger yang didesain khusus untuk membersihkan dapat digunakan untuk memebersihkan dasar lubang yang tak dapat dibersihkan dengan auger biasa. Jika dasar lubang belum bersih, sebuah piston pengambil contoh yang pendek atau sebuah penginti (core barrel) dapat diturunkan dan sedimen diangkut dengan inklusi pada tabung contoh. Jika dikhawatirkan bahwa metode-metode dengan menggunakan alat mekanik yang dijelaskan di atas dapat mengganggu kondisi tanah, maka psiton pengambil contoh dapat ditekan ke dasar lubang hingga 0.3-0.4m dengan pistonnya menempel pada dasar alat pengambil contoh sehingga alat pengambil contoh tersebut dapat memindahkan sedimen halus pada dasar lubang bor sebelum pengambilan contoh dilakukan.

7.4

PENGAMBILAN SAMPEL
Tujuan dari pengambilan contoh dan pengujian laboratorium lebih lanjut adalah untuk mendapatkan informasi geoteknik, seperti kuat geser dan karakteristik deformasi yang dibutuhkan untuk disain yang aman dan ekonomis dari suatu struktur. Oleh karena itu kualitas dari contoh harus cukup baik untuk keperluan desain tersebut. Sampel tak terganggu dapat memberikan kuat geser dan parameter kompresi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah-masalah geoteknik yang utama. Sampel terganggu atau yang mewakili dapat memberikan informasi yag bernilai akan sifat-sifat kimia, plastisitas dan kadar air dari tanah termasuk juga informasi leleh (yielding) untuk pengklasifikasian.

35

7.4.1

Sumber-sumber Gangguan Pada Sampel

Kualitas dari sampel akan sangat dipengaruhi oleh gangguan selama proses pemboran, pengambilan contoh, penanganan, transportasi, penyimpanan dan persiapan spesimen uji. Gangguan ini akan mempengaruhi struktur mikro dari sampel tanah. Sumber-sumber gangguan pada sampel telah diidentifikasi pada ISSMFE(1981) sebagai berikut: A. Perubahan dari unsur-unsur material. 1) Perubahan kadar air (dapat diabaikan). 2) Pergerakan gas yang terperangkap (dapat diabaikan). B. Perubahan kimia dari sampel (dapat diabaikan). C. Faktor-faktor fisik. 1) Perubahan temperatur (dapat diabaikan). 2) Kehilangan tegangan setempat (tak dapat diabaikan). 3) Gangguan mekanik (dapat diabaikan sebagian). 4) Rebound (tak dapat diabaikan). Pada kasus-kasus yang ekstrim, sampel dapat kehilangan tegangan setempatnya hingga tingkat ke sembilan puluh persen diakibatkan oleh satu atau sebuah kombinasi gangguan mekanik dan faktor rebound. Gangguan mekanik yang terjadi selama proses pengambilan sampel terdiri atas: 1) Kompresi dan geser selama pemboran. 2) Kompresi dan geser selama penetrasi dari tabung contoh. 3) Pengisapan, penegangan dan/atau torsi selama proses penarikan tabung sampel. 4) Goncangan dan getaran selama proses penyegelan, transportasi dan penyimpanan. 5) Kompresi dan geser akibat proses pengeluaran dan pemotongan spesimen uji di laboratorium.

7.4.2

Klasifikasi Kualitas Sampel
Tabel 7-2 menunjukkan klasifikasi dan metode pengambilan contoh yang direkomendasikan untuk praktek di Indonesia.

36

Kualitas Kelas A Tak Terganggu

Metode Pengambilan Contoh - Sampek Blok - Piston pengambil contoh tetap (stationary piston sampler) dengan diameter minimun 75 mm - Piston pengambil contoh bebas (free piston sample) dengan diamter minimum 50 mm - Tabung pengambil contoh berdinding tipis dengan diameter minimum 50 mm

Sifat-sifat yang secara andal dapat diperoleh Stratigrafi, stratifikasi halus, kadar air, densitas, kuat geser, deformasi dan karakteristik konsolidasi Stratigrafi, stratifikasi halus, klasifikasi, densitas

Kelas B Sedikit Terganggu

Kelas C Sangat Terganggu Kelas D Terganggu

- Tabung pengambil contoh berdinding tebal dan terbuka

Stratigrafi, stratifikasi halus, klasifikasi

Sampel acak samples yang dikumpulkan dengan Auger or dalam lubang

Stratigrafi

Tabel 7-2 Klasifikasi Kualitas Sampel yang Diusulkan untuk Praktek di Indonesia

Walaupun penggunaan dari klasifikasi ini juga direkomendasikan untuk material gambut, kualitas sampel dengan kadar serat yang tinggi yang sangat umumnya dijumpai di Indonesia, harus dilihat sedikit lebih berbeda. Untuk tipe gambut ini, efek dari gangguan pada kuat geser dan parameter konsolidasi yang diukur relatif tidak signifikan (Landva dkk., 1983). Ditemukan bahwa susunan serta dari spesimen gambut akan menjadi identik ketika spesimen tersebut dikonsolidasi kembali pada tegangan yang sama dengan tegangan setempat. Pada sisi yang lain, gambut dengan kadar serat yang tinggi juga memiliki koefisien permeabilitas yang tinggi pula sehingga akan tidak mungkin untuk memperketat aliran air ke luat dari sampel selama proses pengambilan sampel. Dengan demikia, penentuan kadar air di laboratorium akan tidak andal/valid dan nilai yang diukur akan lebih rendah dari keadaan sesungguhnya di lapangan.

7.4.3

Evaluasi Kualitas di Lokasi
Sebelum pengangkutan sampel ke laboratorium, sampel tersebut harus diperiksa kembali akan kemungkinan kerusakan/cacat sebagai berikut: Bengkok atau penyok pada tabung Kerusakan pada ujung pemotongnya Kehilangan atau penipisan/pengerutan yang eksesif dari lilinnya. Jika ada kerusakan di atas yang terjadi maka hal tersebut harus dicatat pada Formulir Pemindahan Sampel dan sampel tersebut diklasifikasikan kembali sebagai sampel Kelas D.

37

Rasio pengembalian yang dicatatkan pada penampang lapangan (field log) juga harus diperiksa kembali. Seharusnya rasionya akan 100 persen jika sampel tersebut tidak terpotong atau hilang selama proses penetrasi dan penarikan kembali dari tabung contoh. Rasion pengembalian yang kurang dari 95 persen mengindikasikan adanya ketidakakuratan prosedur dan pengukuran yang terjadi selama proses pengambilan sampel atau adanya kehilangan sampel, dan dapat dipertimbangkan sebagai sebuah tanda dari kemungkinan adanya gangguan. Sampel dengan rasio kurang dari 95% harus diturunkan tingkat kualitasnya menjadi satu kelas ke bawah dan harus dicatat ke dalam Formulir Pencatatan Sampel. Sampel dengan rasio kurang dari 85% harus diturunkan kelasnya menjadi Kelas D. Penembusan yang berlebihan (overdriving), yang menghasilkan rasio berlebih mencapai 100 persen, akan sulit diidentifikasi dengan pengamatan tabung contoh; karena hal tersebut disebabkan oleh gangguan yang utama/keseluruhan, setiap pengukuran yang memungkinkan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penembusan yang berlebihan ini. Detil dari prosedur yang harus diikuti di laboratorium untuk meminimalisai gangguan yang terjadi selama penyimpanan sampel, penanganan dan persiapan spesimen uji, diberikan pada Panduan Geoteknik 3. Metode untuk mengevaluasi kualitas relatif dari sampel berdasarkan data pengujian laboratorium juga dijelaskan.

7.4.4

Metode Pengambilan Contoh
Sampel Blok Tak Terganggu Pemotongan dengan tangan (hand-carving) merupakan prosedur paling sederhana dan merupakan salah satu metode yang paling memungkinkan untuk menghasilkan sebuah sampel dengan kualitas sangat baik. Meskipun demikian, metode ini hanya dapat diterapkan pada kedalaman yang dangkal atau pada sebuah permukaan galian. Bebagai metode untuk melakukan pemotongan dengan tangan (hand-carving) diberikan pada Bab 7 dari ISSMFE (1981) dan dapat digunakan sebagai sebuah referensi untuk praktek standar di Indonesia. Sampel Tabung Tak Terganggu Piston pengambil contoh tak bergerak (stationary piston samplers) merupakan suatu metode yang dipertimbangkan paling sesuai untuk pengambilan contoh terbuka dengan alasan-alasan berikut ini: Tanah yang telah terganggu (remoulded) tidak dapat memasuki sebuah piston pengambil contoh baik setelah maupun selama proses pengambilan contoh

38

Piston pengambil contoh dapat digunakan pada lubang bor dengan selubung (cased) maupun lubang bor tak berselubung (uncased), demikian pula pada pemboran yang menyebabkan terjadinya perpindahan/pergerakan tanah (displacement boring) Sebuah piston akan lebih baik dari pada sebuah katup pemeriksa (check valve) yang dapat mengakibatkan timbulnya efek vakum penahan (retaining vacuum) pada sampel yang akan lebih efektif selama proses penarikan keluar, sehingga akan membantu untuk meminimalisasi kehilangan sampel. Penggunaan sebuah Piston Pengambil Contoh untuk mengambil contoh tanah di atas muka air tanah akan tidak berhasil, terutama untuk material gambut. Penggunaan sebuah Pinston Pengambil Contoh Gambut dengan sebuah CincinO (O-ring) Ganda (Landva, 1983) di Kalimantan pada endapan tanah lunak di Pulang Pisau telah membuktikan suatu hasil yang lebih efektif sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 7-1.
Rasio Pengembalian Total (%)

Tinggi Muka Air

Gambut

Kedalaman (m)

Tanah Organik Lempung Kelanauan

Gambar7-1 Rasio Pengembalian Total (Total Recovery Ratio) dari Pengambilan Contoh menggunakan Piston (PS) Diameter 76 mm dan Piston Pengambil Contoh Gambut (PPS) Diameter 100 mm di Lokasi Pulang Pisau, Kalimantan

Persyaratan untuk tabung contoh yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut: 1) Material Bahan tabung pengambil contoh harus padat, tahan terhadap pengkaratan, dan dapat dibuat sedemikian rupa menjadi permukaan yang halus. Cold drawn, baja tak berkelim (seamless steel), kuningan, ataupun baja anti karat dapat digunakan.

39

2)

Toleransi Ketidakrapian (Irregularity Tolerances) Bagian dalam dari tabung contoh atau penggaris harus dibersihkan dan dihaluskan sehingga tak ada ujung atau sisi yang menonjol atau ketidakrapian yang terlihat. Perbedaan antara diameter luar maksimum dan minimum pada setiap penampang melintang dari tabung contoh tidak boleh melebihi 1.5 mm (ISSMFE, 1981). ASTM D1587-83 telah menspesifikasikan tolerasi ukuran yang sangat esensial berdasarkan standar toleransi manufaktur komersial untuk tabung mekanik baja tak berkelim. Tebal Dinding Tabung contoh harus cukup tebal agar tahan terhadap distorsi ketika sedang ditekan ke dalam tanah. Sementara itu, tabung juga harus cukup tipis untuk meminimalisasi gangguan pada tanah yang disebabkan oleh pergerakan dari tabung tersebut ketika ditekan ke dalam tanah. Ketebalan dari tabung dapat dikontrol oleh sebuah parameter yang akan mengontrol besarnya perpindahan yang terjadi, yaitu Rasio Luas. Hal ini didefinisikan sebagai berikut:
Ca(%) = D2 2 − D12 D12 × 100

3)

dimana

Ca : rasio Luas. D1 : diameter dalam dari ujung pemotong (cutting edge). D2 : diameter luar terbesar dari tabung pengambil contoh.

Sebuah Rasio Luas yang tak lebih dari 15% merupakan praktek umum dan harus di terapkan untuk praktek di Indonesia. 4) Diameter Tabung Contoh Diameter minimum 75 mm telah umum digunakan dan direkomendasikan untuk praktek di Indonesia. Panjang Tabung Contoh Tak ada persyaratan yang tegas untuk panjang tabung contoh. Sebuah tabung contoh 8 hingga 10 kali diameter dalam sampel telah umum digunakan. Tabung contoh yang lebih panjang, sepanjang 20 kali diameter, akan diperlukan untuk tanah yang sangat sensitif jika panjang yang mencukupi dari sampel tak terganggu diperlukan. Jarak Bebas Dalam Friksi dengan dinding dalam dari sebuah tabung contoh merupakan satu penyebab utama gangguan pada tanah lunak. Daya friksi ini dapat dikurangi dengan membuat ujung pemotong dari sebuah tabung contoh dengan diameter yang cukup kecil dibanding keseluruhan dari tabung. Meskipun demikian, untuk tabung dengan panjang kurang dari 0.8 m jarak bebas dalam (clearance) tidak direkomendasikan untuk alasan-alasan berikut: Jarak bebas dalam akan menyebabkan terjadinya gangguan tambahan akibat pengembangan tanah (La Rochelle dkk., 1986)

5)

6)

40

Gangguan yang cukup besar pada sampel dengan panjang mulai dari 0.6 hingga 0.8 m belum pernah diteliti (ISSMFE, 1981) Pembuatan khusus ataupun alat tambahan berupa ujung pemotong yang khusus akan meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan. Untuk tabung contoh yang lebih panjang dari 0.8m, rasio jarak bebas dalam sebagaimana dirumuskan di bawah ini pada kisaran 0.5 hingga 1 % akan diperlukan. Rasio jarak bebas dalam (%), Ci, dirumuskan sebagai:
Ci (%) = D3 − D1 x100 D1

dimana D1 : diameter dalam dari ujung pemotong D3 : diameter dalam dari tabung contoh atau penggaris 7) Sudut Ujung Lancip (Edge Taper Angle). Sudut ujung lancip harus sekecil mungkin dan tidak boleh lebih dari 10o , Hvorslev (1949). Kombinasi dari rasio luas dan sudut ujung lancip sebagaimana direkomendasikan oleh ISSMFE (1981) ditunjukkan pada Gambar 7-2.

Sudut Ujung Lancip (derajat)

Rasio Luas (%) Gambar 7-2 Garis Batas Atas yang Direkomendasikan dari Hubungan antara Sudut Ujung Lancip dan Rasio

Selama pengambilan contoh dengan piston, tindakan-tindakan pencegahan berikut harus dilakukan: Pastikan bahwa tabungnya berada dalam kondisi yang baik. Ukur panjang, diameter luar, diameter dalam, tebal dinding dan panjang ujung pemotong sebelum pengambilan contoh dilakukan

41

Tabung pengambil contoh tersebut harus diturunkan ke dalam lubang bor semudah mungkin setelah lubang dibersihkan. Jika lubangnya tidak bisa dibersihkan seluruhnya, masukkan piston pengambil contoh ke dalam tanah sedalam 20-30 cm dengan posisi pistonnya terkunci Hindari penekanan/penembusan yang berlebihan (overdriving) Kecepatan penetrasi harus konstan, tidak terlalu cepat atau lambat dan tanpa interupsi ataupun penghentian. Pada lempung, friksi yang terjadi akan meningkat jika pengambilan contoh dihentikan lebih dari beberapa detik. Kecepatan penetrasi yang direkomendasikan adalah 15 + 5 cm/detik. Untuk sampel sepanjang 60 cm proses penetrasi oleh karenanya harus selesai dalam waktu 4 detik Untuk mencegah kehilangan sampel, alat pengambil contohnya harus dipertahankan tidak bergerak selama lima menit setelah proses pengambilan contoh dan sebelum penarikan kembali, agar memungkinkan terjadinya disipasi dari kenaikkan tekanan air pori dan setiap efek kuat geser tisotropik (thixotropic). Jangan lakukan rotasi/pemutaran untuk memotong sampel sebelum penarikan sampel. Jika timbul masalah pada pengembalian kembali sampel (recovering), perpanjang masa penghentiannya sebelum memindahkan sampel dari lubang bor. Sampel Terganggu Bebagai metode dapat digunakan untuk mendapatkan sampel terganggu. Meskipun demikian, setiap metode yang menggunakan daya pukulan tidak direkomendasikan karena metode tersebut akan mengganggu lapisan tanah di bawahnya dimana proses pengambilan contoh terganggu dilakukan. 1) Auger Sampel terganggu yang diambil dengan menggunakan auger umumnya mengandung seluruh komponen/unsur dari tanah setempat. Auger tangan telah sesuai digunakan untuk pemboran dan pengambilan contoh manual. Meskipun demikian, kehati-hatian harus selalu diberikan untuk meminimalisasi kontaminasi dari sampel oleh tanah dari lapisan yang lain. Pemboran Inti (Core Boring) Pemboran inti berputar (rotary core boring) dilakukan dengan memutar dan menekan sebuah tabung penginti yang memiliki sebuah mata bor pemotong. Sampel tanah lunak yang diambil dengan penginti (core samples) utamanya didapatkan dengan sebuah penginti tunggal. Jika digunakan jenis penginti ini, proses pengintian (coring) harus dilakukan dengan pemboran kering, yaitu tanpa menggunakan cairan sirkulasi. Sebuah penahan inti dapat ditambahkan untuk meminimalisasi kehilangan inti selama proses penarikan. Tabung penginti ganda (double tube core barrels) tidak sesuai untuk mendapatkan sampel inti untuk tanah lunak karena bagian yang dibilas dari penginti akan tersumbat oleh tanah lunak tersebut. Tabung penginti tiga lapis (triple tube core barrels) dengan tabung dalam yang tak bergerak dapat menghasilkan sampel inti lempung

2)

42

lunak yang utuh. Cairan pemboran tidak akan membilas sampel, sampel tidak diputar, dan lapisan tabung dengan inti di dalamnya akan dengan mudah dipindahkan dari pengintinya. Kecepatan rotasi sebesar 1.7 putaran/detik dan kecepatan penetrasi sebesar 50-100 mm/detik merupakan besaran yang direkomendasikan untuk pemboran inti berputar (rotary core boring). Penggunaan pemboran inti dengan diketuk/dipukul (percussion core boring) tidak direkomendasikan. Penggunaan dari Auger Gambut direkomendasikan pada endapan gambut. Peralatan ini sangat mobil, mudah dioperasikan dan cocok untuk penentuan langsung stratifikasi di lapangan.

7.4.5

Penanganan Sampel
Sampel tak terganggu dari tanah lunak harus disegel secepatnya setelah proses pengambilan sampel untuk mencegah terjadinya gangguan dan perubahan kadar air pada sampel tersebut. Sampel disegel dengan menggunaan lilin maupun sebuah alat penyegel mekanik lainnya. Prosedur berikut direkomendasikan untuk penyegelan dengan menggunakan lilin: Sebuah sumbat/penutup harus diletakkan pada ujung dari tabung contoh segera setelah pengambil contoh dibuka untuk melindungi sampel sementara dibawa ke tempat penyimpanan sampel dan tempat dilakukannya pemberian lilin Pembersihan, pemberian lilin dan pelabelan pada sampel harus dilakukan secepat dan semudah mungkin setelah sampel diperoleh Potongan tanah ataupun setiap tanah terganggu yang secara jelas terdapat pada ujung dari tabung harus dibuang, dan bagian dalam dari tabung harus dibersihkan Kemudian bagian tanah lebih lanjut sepanjang 2 cm dari ujung tabung harus dibuang Tabung harus diletakkan pada tempat yang kokoh dan terlindung dari sinar langsung matahari Selembar kertas alumunium (alumunium foil) harus dipasang melingkari permukaan sampel Tuangkan campuran tersebut dengan dua lapisan. Tebal dari maing-masing lapisan tersebut tidak boleh kurang dari 1 cm Setelah campuran tersebut mengeras, isi bagian tabung yang tersisa dengan pasir, serbuk gergaji atau material pengepakan lain yang sesuai. Tutup ujungnya dengan pembungkus Saran (film yang lengket) dan pasang sebuah tutup rapat yang sesuai atau sumbat berbentuk sekrup yang diletakkan pada posisinya dengan menggunakan pita perekat.

43

La Rochelle dkk. (1986) merekomendasikan bahwa lilin harus terdiri atas 50% lilin dan 50% vaselin. Alternatifnya, lilin minyak yang tak menyusut (nonshrink petroluem wax) dapat digunakan. Lilin lain yang dapat pecah dan menyerpih/mengelupas ketika dipindahkan/ditangani harus ditolak. Alternatifnya, segel mekanik dapat digunakan. Holden (1971) dan ISSMFE (1981), berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh Andresen dan Kolstad, menyarankan sebuah alat penyegel mekanik yang dirancang sendiri.

7.4.6

Pengiriman Sampel ke Laboratorium
Sampel harus diletakkan dalam sebuah material pelindung seperti serbuk gergaji kering, sisa serutan/ketaman kayu, sepon, atau karet busa. Sebuah kotak sampel yang dirancang sendiri (in-house-designed) telah dibuat dan digunakan oleh Pusat Litabang Prasarana Transportasi. Detil untuk contoh-contoh lain dari kotak sampel telah diberikan dalam ISSMFE (1981) dan ASTM-D4220-89. Jika terdapat banyak kotak sampel, sebuah fasilitas khusus transportasi darat lebih dianjurkan. Kendaraan ini harus diperlengkapi dengan sebuah fasilitas pengontrol temperatur dan didisain khusus untuk meminimalisasi getaran yang terjadi pada sampel. Moda transportasi sungai atau laut, akan lebih baik dibanding dengan transportasi darat atau udara, jika memungkinkan. Seluruh sampel yang dikirim ke laboratorium harus dilengkapi dengan sebuah Formulir Pemindahan Sampel (Sample Transfer Sheet) dan penampang pemboran yang sesuai. Formulir untuk keperluan tersebut diberikan pada Lampiran A.

44

8

Penyelidikan Langsung Setempat: Pertimbangan-pertimbangan Khusus

8.1

PENDAHULUAN
Praktek yang dilakukan saat ini di Indonesia untuk pengujian langsung di tempat dari endapat tanah lunak adalah dengan menggunakan sebuah Dutch Cone Penetrometer mekanik, yang lebih dikenal dengan istilah Sondir dan pengujian kuat geser dengan baling-baling. Metode Sondir akan menghasilkan dua parameter kuat geser, yaitu nilai tahanan ujung konus dan nilai tahanan selubung friksi. Dengan Sondir, tahanan yang ada diukur dengan menggunakan manometer pneumatik yang membaca tekanan maksimum selama pengujian dilakukan. Manometer yang digunakan harus dari jenis yang dapat dibaca tekanan maksimumnya. Kemungkinan kesalahan dalam mendapatkan nilai maksimun akan relatif tinggi karena pergerakan jarum terjadi pada periode yang relatif pendek. Sebuah alat yang lebih efisien untuk tanah lunak adalah Piezocone. Alat ini memungkinkan untuk mendapatkan nilai tahanan ujung konus, friksi selubung dan tekanan air pori pada tanah. Penggunaan Piezocone ini tentunya akan memberikan data kuat geser yang lebih baik dan dapat pula meberikan informasi awal tambahan akan kondisi hidrolik dari tanah. Alat uji baling-baling merupakan suatu alat untuk mengukur kuat geser tak terganggun secara langsung di tempat. Dua jenis utama dari alat ini telah tersedia: Baling-baling lubang bor (borehole vane), dimana baling-balingnya dimasukkan ke dasar lubang bor. Tipe ini kadang dikenal sebagai Balingbaling Farnell karena di UK telah dibuat tipe sejenis ini Baling-baling yang ditekan (push in vane), yang dilindungi dengan sebuah sarung luar dan ditekan ke dalam tanah hanya sedikit di atas kedalaman pengujian dan kemudian baling-baling tersebut ditarik. Alat yang dibuat oleh Geonor telah umum digunakan. Tipe alat ini kadangkala secara salah sering disebut sebagai baling-baling NGI. Hasil dari pengujian di Lokasi Uji Coba Kaliwungu ditunjukkan pada Gambar 8-1. Pada gambar ini ditunjukkan bahwa baling-baling Farnell memberikan hasil yang rendah dan menyesatkan untuk lempung lunak sebagai akibat dari gangguan pada zona pada dasar dari lubang bor. Hasil dari baling-baling Farnell

45

ini umumnya akan mendekati hasil kuat geser yang dicetak kembali (remoulded). Untuk tanah lunak oleh karenanya tipe baling-baling Geonor yang seharusnya digunakan, atau perlakuan tertentu harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja dari baling-baling Farnell tersebut; hal in dapat meliputi pengeboran dengan menggunakan lumpur yang berat/kental, dan menekan baling-balingnya dengan sebuah jarak yang lebih besar di bawah dasar lubang bor.
Lokasi Percobaan Timbunan Kaliwungu Timbunan Tipe IA

Cu (kPa) 0 0 10 20 30 40 50

Farnell Tak Terganggu
2

Farnell Dicetak Kembali
4

Geonor Tak Terganggu Geonor Dicetak

6

8 Depth (m)

10

Kedalaman (m)

12

14

16

18

20

Gambar 8-1 Perbandingan Hasil Pengujian dengan Baling-baling pada Lempung Lunak

Sebuah penjelasan tambahan mengenai penggunaan dari pengujian langsung di tempat di Indonesia diberikan pada karya tulis yang berjudul Pengalaman di Indonesia dalam Pengujian Langsung di Tempat, Konferensi Internasional pada Pengukuran Sifat-sifat Tanah Langsung di Tempat dan Catatan Kasus-kasusnya, Bali, Mei 2001.

46

8.2

UJI PENETRASI KONUS (CPT)
Prosedur standar untuk penggunaan Sondir di Indonesia diberikan dalam Standard Nasional Indonesia SNI 03-2827-1992. Penggunaan dari standar ini untuk menerapkan pengujian dengan Sondir telah memadai kecuali tak ada faktor koreksi yang diberikan terhadap efek dari berat konus dan batangnya pada data pembacaan. Efek dari faktor koreksi ini bisa saja cukup signifikan untuk tanah dengan tahanan yang rendah seperti tanah lunak di Indonesia misalnya. Persamaan dasar untuk memperhitungkan efek dari berat konus dan batang adalah sebagai berikut: Tahanan Konus
qc = C w Apl + W cr Ac : tahanan konus : bacaan manometer untuk tahanan konus Cw

dimana: qc

Api : luas penampang piston W cr : berat konus dan batang untuk bacaan tersebut Ac : luas penampang konus

Tahanan Selubung
fs = (Tw − Cw )A pl + W cr As
: tahanan selubung : bacaan manometer untuk tahanan konus dan selubung Tw

dimana: ƒs

Api : luas penampang piston W cr : berat konus dan batang untuk bacaan tersebut As : luas penampang selubung

Kecepatan penetrasi yang diusulkan pada SNI 03-2827-1992 adalah berada pada kisaran 1 hinga 2 cm/detik. Meskipun demikian, kecepatan dengan 2±0.5 cm/detik lebih direkomendasikan. Detil dari alat penetrometer ini ditunjukkan pada Gambar 8-2.

47

Blok Pengontrol Daya Hidrolik Jarum Pembaca Beban
76 mm

Batang Konus

Rangkaian yang Diperkuat dengan Anker

Selubung Friksi
152 mm

Selimut Penahan
133 mm

Ujung Konus

Gambar 8-2 Sondir

8.3

UJI BALING-BALING LAPANGAN (FVT)
Tujuan dari uji baling-baling ini adalah untuk mengukur kuat geser tanah tak terdrainase dan yang dicetak kembali. Hasilnya harus digunakan dengan dukungan nilai kohesi yang diturunkan dari uji laboratorium dan pengukuran indeks plastisitas, yang berarti sebuah penilaian akan validitas data yang dihasil harus dilakukan. Uji baling-baling ini dapat melakukan pembacaan kuat geser tak terdrainase lempung sensitif langsung di tempat dengan nilai kohesi umumnya mencapai hingga =100 kN/m2 . Kelebihan dan kekurangan dari uji baling-baling ini disimpulkan pada Tabel 8-2.

48

Ada dua tipe peralatan uji baling-baling ini, yaitu uji baling-baling yang harus dibor terlebih dahulu (pre-bored vane testing) dan baling-baling yang ditekan (pushed-in vane testing). Sebuah prosedur standar untuk tipe pertama diberikan pada SK-SNI-M-56-1990-F. Meskipun demikian, tak ada standar baku Indonesia untuk prosedur pengujian standar tipe kedua. ASTM D 2573-94 merekomendasikan sebuah prosedur standar untuk kedua tipe peralatan tersebut yang harus diadopsi untuk baling-baling tipe ditekan. Prosedur tambahan berikut sebagaimana diidentifikasikan oleh Chandler (1988) harus diterapkan: Setelah menekan baling-baling dengan jarak yang disyaratkan di bawah selubung, tunggu 5 menit sebelum melanjutkan pengujian. Masa tunggu tersebut harus dicatat pada lembar pengujian. Tipe yang ditekan akan cocok digunakan untuk areal terpencil karena alat ini dapat digunakan tanpa perlu membuat lubang bor terlebih dahulu. Baling-baling terdiri dari empat mata pisau yang dibuat bersilang sedemikian rupa yang dipasang pada ujung dari batang yang dapat disambung dari permukaan tanah hingga ke level pengujian. Baling-baling ini ditekan ke dalam tanah tak terganggu, dan kemudian batangnya diputar dengan engkol tangan melalui sebuah gigi cacing mengikat (worm and pinion gear). Torsi yang diinginkan dimonitor pada sebuah kepala bacaan yang diklem (dijepit) pada tabung atas lubang bor atau jika tidak dipasang menempel pada level tanah dasar. Sebuah selimut logam dan tabung pemandu digunakan untuk melindungi baling-baling dan batangnya dari kerusakan akibat penetrasi ke kedalaman pengujian. Level ini harus berada di bawah setiap material tak terganngu pada dasar dari lubang bor. Tabung pemandu yang menyelimuti batang, akan mengurangi friksi menjadi minimum (lihat Gambar 8-3). Ujung atas dari balingbaling harus berada minimum 50 cm di bawah dasar lubang bor atau menyelimuti baling-baling yang ditekan. Pada lokasi pengujian, baling-baling disambung di bawah selimut, dan diputar sekitar 6 hingga 12°/min. Hal ini akan menghasilkan sebuah permukaan geser silindris pada tanah dimana kira-kira mendekati ayunan permukaan oleh pisau dari baling-baling.

49

Metode Uji Balingbaling

Aplikasi Pengukuran kuat geser tak terganggu dari lempung dan pengukuran kuat geser yang dicetak kembali. Hasilnya harus digunakan sebagai pendukung dari nilai kohesi yang diturunkan dari laboratorium dan pengukuran indeks plastisitas dalam hal penilaian atas validitas hasil yang akan dibuat.

Kelebihan Mendapatkan nilai bacaan setempat dari kuat geser tak terganggu dari lempung sensitif dengan kohesi umumnya hingga 100 kN/m². Kuat geser yang dicetak kembali dapat pula diukur secara langsung di tempat. Menyebabkan gangguan yang kecil pada tanah. Dapat dioperasikan langsung pada permukaan ataupun dari dasar lubang bor. Hasil akan langsung didapat dan cepat. Pengujian dapat berlangsung dengan cepat. Alat uji baling-baling kecil yang dioperasikan dengan tangan tersedia di pasaran yang dapat digunakan di dalam ataupun dasar dari galian.

Kelemahan Hasilnya dipengaruhi oleh kantung-kantung berlanau atau berpasir ataupun oleh kadar organik yang signifikan pada lempung. Ada ketergantungan nilai Indeks Plastisitas dari lempung. Efek anisotropis dapat meningkatkan nilai kohesi yang tidak merepresentasikan masalah keteknikan yang sedang dihadapi. Perawatan yang kurang baik terhadap peralatan akan memberikan friksi yang eksesif antara batang dan tabung pedoman ataupun pada bearing-nya. Dapat digunakan sebagai pendukung dari deskripsi tanah yang dilakukan secara hati-hati yang didukung oleh kualitas pengambilan contoh dan pengujian laboratorium. Nilai yang dihasilkan merupakan nilai tegangan total saja. Dibutuhkan teknisi khusus untuk mengoperasikannya.

Tabel 8-2 Rangkuman Kelebihan dan Kelemahan dari Uji Baling-baling

50

Alat Pengukur Torsi (melekat pada tabung lubang bor

Tabung lubang bor Batang dalam Batang luar

Torak pendorong

Sepatu pelindung baling-baling

Selubung anti friksi
Penampang yang memperlihatkan balingbaling dalam sepatu pelindung

Baling-baling

Gambar 8-3 Skema yang Menunjukkan Peralatan Uji Baling-baling Lapangan

Rotasi yang cepat dari baling-baling hingga enam putraran, kemudian di uji kembali, akan memberikan pembacaan kuat geser yang dicetak kembali dan pengukuran sensitivitas dari tanah. Pisau dari baling-baling ini biasanya berukuran tinggi 150 mm x lebar 75 mm untuk tanah dengan nilai kohesi tak teralirkan mencapai sekitar 50 kN/m². Pada kuat geser yang lebih besar pisau dengan ukuran 100 mm x 50 mm dapat digunakan.

51

Untuk kasus umum, kuat geser dari tanah dapat dihitung dengan persamaan berikut:
τ= M  D 2h   3   + D  2   6        (kN/m³)

Untuk tinggi baling-baling sama dengan dua kali diameternya:
τ= M : : : (kN/m²) menunjukkan torsi maksimum yang diberikan (kN.m). menunjukkan diameter dari baling-baling (m). menunjukkan tinggi dari baling-baling (m).

3.66 D 3 dimana M D h

Pada lempung dengan plastisitas yang tinggi, nilai kuat geser perlu dikoreksi terhadap efek kecepatan dan sifat anisotrofis tanah.

8.4

PERMEABILITAS LAPANGAN
Permeabilitas lapangan dari massa tanah dapat diperoleh dengan mengukur aliran air melalui sebuah ujung (tip) piezometer yang ditempatkan pada kedalaman yang diinginkan. Pengujian ini dilakukan untuk menyediakan informasi atas permeabilitas dari sub lapisan sebagai berikut: Penilaian terhadap efek drainase horisontal terhadap kecepatan konsolidasi pada endapan tanah lunak ketika dibebani Penilaian terhadap permeabilitasn untuk memperkirakan kecepatan aliran ke dalam galian Penilaian kondisi air tanah untuk analisis stabilitas timbunan. Secara esensial, pengujian ini meliputi pengukuran kecepatan aliran dari air ke bawah sebuah pipa tegak (standpipe) yang dihubungkan dengan sebuah piezometer pada kedalaman yang diinginkan. Dari pengetahuan atas ukuran dari piezometer dan sebagainya, permeabilitas lapangan dapat di pelajari dan dihitung. Baik metode pengujian constant head maupun metode falling head dapat dilakukan. Beberapa teknik berbeda juga tersedia untuk interpretasi hasil yang didapat. Metode pengujian falling-head adalah metode yang umum digunakan. Sebuah tabung kaca berskala dihubungkan ke bagian atas dari tabung yang berasal dari probe pengukur. Tabung ini diisi hingga mencapai sebuah tinggi h di atas level piezometrik, dan kemudian tinggi jatuh dengan waktu diikur. Metode pengujian constant-head lebih jarang digunakan dibanding metode pengujian falling-head, karena metode ini mengasumsikan bahwa penerapan sebuah tinggi yang

52

konstan dan pengukuran dari volume air yang disemprotkan memerlukan peralatan yang lebih rumit (Micussens and Ducasse, 1977). Kenyataannya, penggunaan sebuah botol Mariotte akan membuat pelaksanaan dari pengujian tersebut lebih mudah; dimana botol tersebut ditempelkan/diletakkan pada bagian atas dari tabung yang berasalah dari probe dan ditempatkan ke dalam sedemikia rupa sehingga perbedaan level antara bagian bawah tabung yang dapat dipindah pada botol Mariotte dan level piezometrik akan sesuai dengan tinggi h yang diinginkan. Meskipun demikian, perubahan tegangan yang disebabkan oleh pembentukan kantung-kantung uji, dan perubahan tegangan akibat kenaikkan tekanan pori, akan membatasi akurasi dari hasil pengujian-pengujian tersebut.

8.4.1

Pengukuran Permeabilitas dengan Piezometer
Piezometer terbuka terdiri dari sebuag ujung silindris yang poros, dapat dipasang pada sebuah lubang bor atau secara langsung dimasukkan ke dalam tanah. Pada cara pertama, segel (penutup) yang efektif harus dipasang di atas dan di bawah piezometer dan ada resiko tersumbatnya elemen poros tersebut sehingga nilai yang diukur akan lebih rendah dari nilai permeabilitas sebenarnya (Tavenas dkk, 1986).

8.4.2

Pengukuran Permeabilitas dengan Permeameter yang Membor Sendiri (Self-Boring Permeameter)
Penggunaan dari teknik pemboran sendiri ini untuk mengukur permeabilitas di lapangan akan mengeliminasi gangguan yang ditimbulkan akibat proses pemasukan peralatan ke dalam tanah, dan akan memberikan nilai permeabilitas yang lebih andal (Micussens and Ducasse, 1977). Roctest Ltd. Montreal, telah mengembangkan sebuah alat terbaru yang disebut self-boring permeameter yang terdiri dari sebuah elemen poros anti sumbat (Tavenas dkk, 1986) dan telah menunjukkan bahwa nilai yang didapat dengan alat ini lebih menggambarkan nilai lapangan yang realistis. Meskipun demikian, alat ini hanya cocok diterapkan untuk kegiatan penelitian saja.

53

9

Pencatatan Data

9.1

CATATAN PEMBORAN
Sebuah catatan pemboran lapangan harus disiapkan, yang memuat informasi minimun seperti yang dirumuskan pada Lampiran A. Sebuah contoh pemboran lapangan juga dicantumkan pada Lampiran A tersebut. Sebuah salinan dari penampang pemboran lapangan (field boring log) untuk setiap pendugaan harus disediakan untuk perwakilan dari Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk di lapangan dalam satu hari kerja setelah penyelesaian dari kegiatan setiap harinya Untuk pemboran pada tanah lunak persyaratan khusus harus memenuhi persyaratan yang tercantum pada Lampiran A

9.2

CATATAN PENDUGAAN (SOUNDING)

Sebuah salinan dari penampang pemboran lapangan (field boring log) untuk setiap pendugaan harus disediakan untuk perwakilan dari Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk di lapangan dalam satu hari kerja setelah penyelesaian dari kegiatan setiap harinya.

9.3

CATATAN PENGUJIAN LANGSUNG DI LAPANGAN
Sebuah salinan dari catatan lapangan untuk setiap pendugaan harus disediakan untuk perwakilan dari Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk di lapangan dalam satu hari kerja setelah penyelesaian dari pengujian tersebut.

54

9.4

IDENTIFIKASI LAPANGAN DAN KLASIFIKASI TANAH
Panduan ini merekomendasikan Sistem Klasifikasi USCS untuk dipakai pada pekerjaan konstruksi pada tanah lunak, yang dispesifikasikan untuk digunakan di Indonesia. Tanah diidentifikasikan di lapangan dengan inspeksi secara visual dan pengujian mekanis. Sebelumnya harus dijelaskan dan kemudian diberikan klasifikasi oleh Sistem USCS. Pada penjelasannya, sifat-sifat tanah yang sama harus digunakan pada urutan yang sama. Urutan yang direkomendasikan adalah berupa kerapatan tanah (untuk tanah granular) atau konsistensi tanah (untuk berbutir halus); warna; ukuran butiran kecil; dan fakta-fakta penting lainnya (kandungan air, dan sebagainya). Sebuah contoh pengurutan deskripsi tersebut adalah: lempung inorganik abu-abu tua lunak (plastik). Sifat-sifat lainnya seperti bentuk butiran dan gradasi mungkin diperlukan pada deskripsi tersebut; namun hal yang paling penting adalah penggunaan yang konsisten dari urutan deskripsi yang sama setiap waktunya. Dengan mempertimbangkan sifat tanah yang utama yaitu ukuran butir, tanah dijelaskan kalau tidak sebagai kerikil, pasir, lempung atau lanau. Kebanyakan tanah terdiri dari campuran jenis-jenis tersebut, dan dalam penjelasannya, unsur-unsur pembentuknya dianggap sebagai perubah. Kecuali lanau dan lempung, semua tanah bisa diidentifikasikan tanpa banyak kesulitan. Perilaku partikel-partikel lanau dan lempung melebihi ukuran dari unsur-unsur pembentuknya. Setelah tanah tersebut dijelaskan, klasifikasi dengan Sistem USCS agak sederhana, karena klasifikasi akurat dengan inspeksi visual hanya membutuhkan latihan saja. Klasifikasi dengan Sistem USCS bisa dilakukan dengan mudah setelah pengujian laboratorium untuk gradasi dan batas-batas Atterberg. Dengan latihan, klasifikasi sampai dengan tingkat akurasi yang memadai bisa dilakukan di lapangan tanpa bantuan pengujian laboratorium. Sampel tanah yang representatif secara visual diamati dan mula -mula diklasifikasikan apakah bersifat sangat organik, berbutir halus, atau berbutir kasar. Klasifikasi ini untuk kehalusan dan kekasaran dibuat dengan memperkirakan apakah setengah dari butiran-butiran individu bisa terlihat atau tidak, jika terlihat maka tanah diklasifikasikan sebagai berbutir kasar. Jika 50% dari partikel-partikel tidak bisa terlihat, tanah diklasifikasikan sebagai berbutir halus. Tanah yang sangat organik bisa secara cepat diidentifikasi melalui warna, bau, dan terasa lunak dan seringnya tekstur serat. Materi organik sering dinyatakan dengan kehadiran zaitun, warna kehijauan, dan coklat muda sampai dengan hitam. Tanah-tanah organik biasanya mengeluarkan bau yang berbeda dari tumbuhan yang membusuk. Baunya biasanya keras untuk sampel yang masih baru dan bisa diintensifikasikan kembali dengan pemanasan sampel secara

55

cepat. Dilatansi, kekuatan kering, dan kekerasan adalah alat bantu untuk mengidentifikasi.

9.4.1

Pengeplotan Profil Tanah
Akan sangat bermanfaat kiranya untuk menggambarkan profil tanah sepanjang berbagai garis longitudinal atau transversal. Ini bisa dilakukan dengan memplotkan titik-titik pemboran dalam hubungan yang sebenarnya, tetapi dengan skala vertikal yang dilebihkan, menghubungkan lapisan yang sama dengan garis lurus, dan memberi bayangan daerah-daerah yang sama dengan menggunakan arsiran (hatching) atau bayangan (shading). Muka air tanah harus ditunjukkan pada suatu plot. Maka suatu representasi yang mungkin dari kondisi-kondisi di antara pemboran bisa diberikan; namun, harus diingat bahwa pemboran hanya mewakili kondisi-kondisi pada lokasi-lokasi yang spesifik dan apa yang berada di antara mereka tepatnya bisa memberikan berbagai interpretasi.

56

10

Kualitas dan Konsistensi Data

10.1

PENDAHULUAN
Berbagai langkah telah diambil oleh pemerintahan Indonesia untuk memberikan suatu kerangka kualitas untuk pengetesan laboratorium, seperti dijelaskan pada Panduan Geoteknik 3. Namun kerangka ini belum menjangkau pekerjaan lapangan di bidang rekayasa geoteknik. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk oleh karenanya harus menerapkan prosedur keyakinan kualitasnya sendiri terhadap pekerjaan lapangan untuk memastikan kualitas yang memadai. Jika suatu perusahaan yang melaksanakan pekerjaan tanah telah mempunyai prosedur kualitas yang berlaku, yang pada saat ini sangat jarang, maka Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memastikan bahwa prosedur-prosedur ini cocok dan diikuti.

10.2

AUDIT KUALITAS
Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memeriksa semua prosedur pemboran dan pembacaan, tes-tes, penyimpanan catatan dan semua aktifitas lain pada tahap awal investigasi. Audit harus diulangi terhadap setiap unit peralatan yang beroperasi. Audit harus termasuk pengecekan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan terhadap prosedur-prosedur yang dinyatakan dalam SNI, standar yang dispesifikasikan lainnya, spesifikasi kontrak atau instruksi. Suatu catatan audit harus disimpan mengikuti layout yang diberikan pada Tabel 10-1.

Proyek Jalan dari X ke Y Tanggal Tes Spesifikasi

Auditor ………………….. Pernyataan Tindakan

Tabel 10-1 Audit Kualitas Pekerjaan Lapangan

57

Jika suatu tindakan yang dibutuhkan pada catatan audit di luar kontrol tim investigasi lapangan, atau waktu yang diperlukan untuk suatu tindakan akan menghasilkan pekerjaan yang tidak memuaskan, maka Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus menginstruksikan bahwa pekerjaan tersebut harus dihentikan sampai kekurangan-kekurangan tersebut bisa diatasi dengan memuaskan.

10.3

ANALISIS DATA
Seiring dengan diperolehnya data selama penyelidikan tanah mereka harus diperiksa untuk konsistensi. Pemeriksaan yang sederhana harus dibuat mengenai konsistensi data sebagai berikut:
Bandingkan Data 1 SPT CPT Uji Baling-baling lapangan CPTu (tekanan pori) Data 2 Deskripsi tanah Deskripsi tanah CPT Deskripsi tanah Referensi

Tabel 10-2 Pemeriksaan Konsistensi di Lapangan

Pemeriksaan silang seperti ini adalah yang minimum dibutuhkan untuk penyelidikan tanah biasa. Korelasi lebih lanjut untuk penyelidikan Tingkat 1 dijelaskan pada Panduan Geoteknik 3 dan bisa diadopsi di lapangan untuk memberikan peringatan awal ketidakkonsistenan data atau kesalahan-kesalahan. Jika data ditemukan tidak konsisten maka tindakan berikut ini harus diambil: 1) Lakukan audit lebih lanjut terhadap operasi-operasi yang dibutuhkan untuk memperoleh data yang relevan 2) Periksa apakah korela si-korelasi tersebut tidak tepat untuk tempat tersebut, dan oleh karenanya apakah penyelidikan lebih lanjut atau revisi dibutuhkan untuk memenuhi keadaan-keadaan yang berubah.

58

11

Laporan-laporan

Laporan untuk penyelidikan lapangan dapat disiapkan sebagai sebuah laporan tunggal atau sebagai sebuah seri laporan, yang membicarakan masalah: Studi Literatur Survey Peninjauan Lapangan Penyelidikan Lapangan dan Pengujian Langsung di Tempat. Masing-masing dari laporan ini harus berisi informasi yang dicantumkan di yang sesuai bawah ini. Jika ada bagian yang sesuai tidak dimasukkan dalam Laporan, maka alasan tidak dicantumkannya harus diberikan. Sampul Sebuah format contoh diberikan pada Panduan Geoteknik 4. Laporan tersebut harus secara jelas disebut sebagai: Awal: Draf: jika tidak semua bagian/isi yang dimaksud dicantumkan jika isi dari laporan telah lengkap, tetapi sedang disirkulasikan untuk dikomentari. Draf tersebut juga dapat memuat isi yang belum diedit.

Final Sebuah tanggal harus selalu ditunjukkan pada sampul. Daftar Isi Bagian ini harus mencantumkan setiap bab dari laporan, dengan nomor halaman. Bagian ini juga harus mencantumkan Tabel, Grafik, Gambar dan Lampiran. Sebuah format contoh diberikan pada Panduan Geoteknik 4. Lembar Pemenuhan Sebuah format contoh diberikan pada Panduan Geoteknik 4. Jika laporan merupakan laporan Awal atau Draf maka hal ini harus dinyatakan.

59

Pendahuluan Berikan referensi lengkap untuk Laporan-laporan sebelumnya Sebutkan tanggal selama pekerjaan dilakukan Sebutkan nama Proyek, nama Institusi, nama Insinyur/Teknisi, tujuan penyelidikan dan aspek-aspek lain dari pekerjaan tersebut Jika Laporan merupakan laporan Awal, sebutkan batasan pekerjaan yang telah dilakukan dan hal-hal yang masih harus dilakukan. Gambaran Lokasi Sebuah Gambar/Peta Lokasi (Key Plan) dengan detil yang lengkap sehingga setiap orang dapat menemukan lokasi penyelidikan tersebut. Bagian ini harus menempatkan lokasi penyelidikan yang dikaitkan dengan kota atau kampung terdekat dan harus mencantumkan skala dan arah Utara. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus menyiapkan Peta Lokasi ini pada saat melakukan Studi Leteratur dan membuat gambar untuk digunakan pada laporan-laporan lain yang harus dibuat Sebuah Gambar/Peta Umum (General Plan) dalam detil yang lengkap yang menunjukkan detil dari proyek dan lokasi posisi penyelidikan yang dikaitkan ke sistem koordinat lokasi. Setiap penyelidikan yang dilakukan pada tahap awal ini harus telah ditempatkan catatan jarak dari fitur-fitur lokasi. Lokasi ini harus diberi koordinat selama survey utama untuk penyelidian lapangan Patok ikat dan sistem koordinat yang digunakan untuk survey kaitannya dengan Survey Nasional Topografi– sebuah deskripsi yang memadai untuk menempatkan bab-bab selanjutnya dalam konteks termasuk detil level tanah asli, akses untuk penyelidikan lapangan, sifat-sifat alami daur lokasi pada saat dilakukan penyelidikan (seperti banjir, sedang dipanen, berhutan). Studi Literatur Sebuah daftar dari seluruh dokumen yang dipelajari Mengutip peta dan gambar yang sesuai Sebuah gambaran mengenai informasi dan kesimpulan dari sifat-sifat alami yang akan dijumpai dan sebuah gambaran dari Zona Proyek Sebuah Gambar/Peta Zona Proyek berdasarkan Bab 3 Gambar 3-3. Peninjauan Lapangan Personil yang melakukan peninjauan lapangan Sebuah gambaran informasi yang diperoleh bersama dengan sebuah kesimpulan yang diperbarui dari sifat-sifat alami tanah dan Zona Proyek

60

Sebuah Gambar/Peta Zona Proyek yang diperbarui yang dibuat berdasarkan Bab 3 Gambar 3-3 Sebuah gambar/peta disain untuk penyelidikan lapangan dan pengujian laboratorium Jika diidentifikasikan jika gedung atrau struktur lain dapat terpengaruh oleh kegiatan konstruksi, maka Laporan tersebut harus memuat sebuah rekomendasi untuk melakukan sebuah survey kondisi (condition survey) lengkap. Penyelidikan Lapangan Kesimpulan dari pekerjaan yang telah dilakukan. Jika terdapat suatu bagian penting dari penyelidikan yang dimaksud tidak dilakukan dengan alasan tertentu, maka hal ini harus dinyatakan Peralatan yang digunakan dan nomor set tiap peralatan harus dinyatakan pada bagian ini Tabel yang memuat lokasi dari setiap titik penyelidikan Gambaran metode yang digunakan untuk setiap titik kegiatan penyelidikan, sondir ataupun pengujian langsung di tempat. Hal ini harus dimuat dalam sebuah formulir standar dan dapat dicantumkan dalam sebuah Lampiran. Jika metode yang digunakan meruapakan sebuah standar yang telah dipublikasikan, maka hal ini harus dinyatakan dan metode tersebut tidak perlu dijelaskan lebih lanjut Jika terdapat penyimpangan dari prosedur standar yang dilakukan maka hal ini harus dijelaskan pada laporan. Referensi Semua sumber informasi, dan data eksternal lainnya yang digunakan di dalam laporan harus secara lengkap dicantumkan. Lampiran Lampiran harus diletakkan untuk melengkapi data tertentu yang diperoleh pada tahapan pekerjaan. Lampiran ini harus mencakup semua hal yang berkaitan: Penampang bor awal (berdasarkan penampangan di lapangan dan data pengujian langsung di tempat; penampang akhir hanya dapat disiapkan setelah pengujian laboratorium selesai dilakukan) Penampang sumur uji awal (preliminary trial pit logs) Penampang pendugaan untuk Mackintosh probe, DCPT dan CPTu Catatan uji baling-baling lapangan Pengujian permeabilitas di tempat Formulir Pemindahan Sampel (Sample Transfer Sheets)

61

Sebuah contoh untuk setiap tipe penampang dan catatan pengujian dicantumkan pada Lampiran A. Susunan/tata ruang yang berbeda dapat saja digunakan tetapi semua catatan harus memuat paling tidak semua informasi yang ditunjukkan pada contoh. Gambar Semua gambar harus memuat informasi-informasi berikut: Untuk semua gambar: sebuah skala batang, sebuah nomor gambar, referensi kepada sumber data untuk informasi survey, dan lain-lain Untuk gambar/peta sebagai tambahan: sebuah arah Utara, sebuah kisi-kisi (grid). Data Tambahan Data mentah dari kegiatan lapangan biasanya tidak dimasukkan dalam laporan. Meskipun demikian, Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus menyimpan sebuah arsip data mentah yang diterima dari lokasi dan dari kontraktor penyelidikan lapangan untuk keperluan penelusuran kembali. Hal ini harus memuat catatan pemboran yang dibuat oleh yang melakukan pemboran, pendugaan (sounding) dan catatan pengujian langsung di tempat.

62

12

References

AASHTO (1988), Manual on Subsurface Investigations, American Association of State Highway and Transportation Officials, Washington, DC, USA. Andresen A and Kolstad P (1979), The NGI 54-m samplers for undisturbed sampling of clays and representative sampling of coarser material, Proceeding International Symposium Soil Sampling, SOA on Current Practice of Soil Sampling, Singapore, 13-21. ASTM Standards (1994), Secton 4, Construction : Volumes 04.08 and 04.09,Soils and Rock, American Society for Testing and Materials, Philadelphia, USA. BS 5930 (1981), Code of Practice for Site Investigation, British Standards Institution. London, UK. Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga(1983), Manual Penyelidikan Geoteknik Untuk Perencanaan Pondasi Jembatan, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta, Indonesia Direktorat Jenderal Bina Marga(1994), Perencanaan Geometrik Jalan Raya Antar Kota, Direktorat Jenderal Bina Marga, Jakarta, Indonesia Holden J C (1971), Performance of a device for sealing sample tubes, Proceeding Specialty Session, Quality in Soil Sampling, 4th Asian Conf., ISSMFE, Bangkok, 58-61. Hvorslev M J (1949), Subsurface Evaluation and Sampling of Soils for Civil Engineering Purpose, U.S. Army Engineer Waterways Experiment Station, Vicksburg, Miss. ISSMFE (1981), International Manual for the Sampling of Soft Cohesive Soils, Tokai University Press, Tokyo, Japan. La Rochelle P, Leroueil S & Tavenas F (1986), A technique for long-term storage of clay samples, Canada Geotechnical Journal, 23, 602-605. Landva A O, Pheeney P E & Merserau, D (1983) Undisturbed sampling of peat, Testing of Peats and Organic Soils, ASTM STP 820, P M Jarrett (ed.), 141-156. Mieussens C and Ducasse P (1977) Mesure en place des coefficients de permeabilite et des coefficients de consolidation horizontaux et verticaux, Canada Geotechnical Journal, 14(1), 76-90. SNI(1990), Metoda Pengukuran Kelulusan Air Pada Tanah Zone Tak Jenuh Dengan Lobang Auger, SK-SNI-M-56-1990-F. Dewan Standardisasi Nasional SNI(1999), Metoda Pencatatan dan Interpretasi Hasil Pemboran Inti, SNI 032436 – 1991. Dewan Standardisasi Nasional

63

SNI(1999), Metoda Pengujian Lapangan dengan Alat Sondir, SNI 03- 2827 – 1992. Dewan Standardisasi Nasional SNI(1999), Metoda Pengujian Lapangan Kekuatan Geser Baling, SNI 06-2487 –1991. Dewan Standardisasi Nasional Tavenas F, Tremblay M, Larouche G & Leroueil S (1986), In situ measurement of permeability in soft clays, Use of Insitu Tests in Geotechnical Engineering, Special Publication No 6, In Situ '86, Virginia Tech, 1034-1048.

64

Lampiran A Ceklis dan Formulir Pencatatan

CATATAN DATA PROYEK
Proyek _________________________________________________ Lokasi Dari_____________ T__________________ U/S Hingga____________ T__________________ U/S Grid Lokasi________________ Level Datum Lokasi______________ Key Plan: ________________ No Gambar__________________ Route Location or Corridor* No Gambar __________________ Layout Plan & Profil No Gambar __________________ Typical Cross Section No Gambar __________________ Utilitas No Gambar __________________ Kelas Jalan______________________ Perkiraan Beban Lalu Lintas_____________ Level Banjir Disain ________________ Periode Konstruksi_______________ Tanggal Mulai Konstruksi_____________ Lokasi Struktur_____________ <Tabel> Informasi Lain ______________________________________________________________________ ______________________________________________________________________ ____________________________________________________

Keterangan_____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Nama ____________________ Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk Catatan
*Hapus jika tidak sesuai Seluruh isian harus dilengkapi Jika tidak terdapat informasi yang dibutuhkan, maka isian harus dinyatakan sebagai Tidak Tersedia Jika informasi tidak tersedia dan data merupakan hasil asumsi, maka sebutkan pada isian sebagai (Diasumsikan) Catatan Data Proyek harus diperbarui sebagai informasi tambahan jika data yang sebelumnya tidak tersedia telah diperoleh.

Tanda Tangan _____________ Tanggal__________________

A1

Proyek
Ceklis untuk Studi Literatur

Data terdahulu yang dikumpulkan Peta yang dikumpulkan
Peta topografi Peta geologi Peta dasar Peta geohidrologi

Foto udara Pengkajian informasi terdahulu Gambar/peta penyelidikan lapangan Keterangan lain
Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk _________________________ Tanggal __________________________
Ceklis 1 Ceklis untuk Studi Literatur

A2

Proyek
Ceklis untuk Peninjauan Lokasi Menelusuri seluruh areal dengan jalan kaki Inspeksi jalan yang sudah ada Inspeksi struktur yang sudah ada Pemeriksaan bukaan yang ada Parit Galian Pinggiran Sungai Dasar Sungai Pengamatan Permukaan Tanah Inspeksi sumur-sumur yang berdekatan Mengunjungi kantor PU setempat Mengunjungi lokasi sumber material Catatan penggunaan lahan Informasi yang didapat dari pengguna lahan setempat Pemotretan Keterangan lain Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk ________________________ Tanggal _______________________________
Ceklis 2 Peninjauan Lapangan

A3

Isi Penampang Pemboran
Sebuah penampang pemboran harus memuat minimum informasi-informasi berikut: 1. Deskripsi dan klasifikasi untuk setiap lapisan tanah, dan kedalaman dari setiap lapisan, tipe tanahnya, warna, tekstur, dan kekuatannya yang dapat dilihat 2. Kedalaman dimana sampel diambil, jenis sampel yang diambil, nomornya, dan setiap kehilangan sampel yang diambil 3. Kedalaman dimana pengujian lapangan dilakukan dan hasil dari pengkajiannya 4. Informasi yang umumnya dibutuhkan dalam suatu format penampang, seperti: Nomor pemboran dan lokasinya Tanggal mulai dan selesainya pemboran Nama operator pemboran (dan orang yang melakukan pencatatan penampang, jika ada) Elevasi permukaan lubang Kedalaman lubang dan alasan penghentian Diameter setiap tabung yang digunakan Deskripsi dan ukuran alat pengambil contoh (termasuk alat bantu yang digunakan dan tipe pengambil contohnya) Tipe mesin bor yang digunakan Ukuran lubang bor Tipe dan ukuran dari penginti yang yang digunakan (jika ada) Pengembalian (recovery) dari sampel dalam meter Identifikasi Proyek Klien 5. Catatan mengenai informasi lain yang berhubungan dan ditandai sebagai bermacam kondisi yang ditemui, seperti: Kedalaman dari muka air yang diamati, waktu sejak diselesaikannya pemboran, kondisi pada saat pengamatan dilakukan, dan perbandingannya dengan elevasi yang dinyatakan pada saat tahapan Peninjauan Lapangan (jika ada) Tekanan air artesis (jika ada) Gangguan yang ditemui Kesulitan dalam pemboran (runtuh, gerakan tanah atau munculnya pasir pada tabung, adanya lubang besar dalam tanah, dan lain-lain) Kehilangan air sirkulasi dan tambahan air pemboran ekstra Lumpur pemboran dan tabung yang dibutuhkan dan alasan dibutuhkannya (jika ada) Aroma dan warna dari sampel yang dibentuk kembali (recovered) Kecepatan pemboran 6. Warna dari air sirkulasi dan potongan-potongan tanahnya dan lain-lain.

A4

PELABELAN SAMPEL

CATATAN SAMPEL Lokasi :

Referensi Lokasi : Referensi Lubang : Referensi Sampel: Tipe Sampel Kedalaman (m) Tanggal Teknisi : : : : Tanda tangan : Terganggu / Tak Terganggu

LABELLING OF SAMPLE

CATATAN SAMPEL Lokasi :

Referensi Lokasi : Referensi Lubang : Referensi Sampel: Tipe Sampel Kedalaman (m) Tanggal Teknisi : : : : Tanda tangan : Terganggu / Tak Terganggu

A5

Formulir Pencatatan Harian
Daerah : Mesin Bor Metode Pengeboran Diameter Lokasi : Lubang Bor Tanggal No. Formulir

Pencatatan Lapisan
Dari Sampai Dengan Casing Deskripsi

Pengambilan Sampel
Dari Sampai Dengan Jumlah Tipe Dari Sampai Dengan Jumlah Tipe

Air
Waktu Kedalaman Pengambilan Sampel Kedalaman Lubang Kedalaman terhadap muka air Keterangan :

Standpipe Kedalaman Tipe

Nama Kru

Cuaca

A6

DESKRIPSI SAMPEL
PROYEK NO. LOKASI : : LOKASI NO LUBANG BOR : :

No. Sampel

Identifikasi Tanah

Tipe Sampel

Kedalaman (m) Panjang Sampel Dari Sampai (cm)

Rasio Pengembalian Sampel (%)

Keterangan

Koordinator Lapangan

Tanggal

Tanda Tangan

Koordinator Laboratorium

Tanggal

Tanda Tangan

A7

A8

FORMULIR PEMINDAHAN SAMPEL
Proyek : Lokasi : No. Lubang : No. Formulir :

Tipe No. Pengecekan Pengambilan Sampel Lapangan Sampel

Pengecekan No. Formulir Laboratorium Pemeriksaan Sampel

Keterangan

Manajer Lapangan Manajer Laboratorium

Tanggal : Tanggal :

Tanda Tangan : Tanda Tangan :

A9

Lubang Bor

No. Sampel

Kedalaman (m)

Skedul Laboratorium

Unit Tanah Awal

Uji Kadar Air Uji Batas Cair dan Batas Plastis

Berat Isi Total Berat Jenis Kadar Organik

Proyek _________________________________

PSD

Hidrometer Pengujian Unconfined Baling-baling Laboratorium
UU
Triaksial

CU CD

Geser Langsung Konsolidaso Oedometer Permeabilitas
pH

Formulir ______________

SO4 CO3

Lampiran B Gambar/Peta Penyelidikan Lapangan

Proyek________________________ Skedul Penyelidikan Lapangan
Lokasi (STA) 4+450, 4+500, 4+525 4+700, 4+710, 4+715, 4+720 4+620, 4+630 Kedalaman (m) 1.50

Metode Sumur Uji

Nomor 3

Keterangan 1+ mengidentifikasi fondasi jalan Menempatkan batas dari unit tanah 1 1+ fondasi jembatan 1+ fondasi jembatan+bendungan sementara (cofferdam) 1+ fondasi jembatan 1 Mengidentifikasi tipe dan batasan unit tanah dan korelasinya dengan lubang bor

Auger Tangan Pemboran

4 4

6.0 26 26

DCPT

16

Piezocone Termasuk Uji disipasi Uji Baling-baling

2

4+650, 4+750 4+450, 4+500, 4+540, 4+575 4+605(2), 4+620(2), 4+650(2), 4+660(2), 4+670, 4+700, 4+725, 4+775 4+650, 4+750 4+610, 4+650, 4+700 4+620,4+630 4+650, 4+750 4+620, 4+630 4+650, 4+750

26 15 26m atau menghindari lokasi fondasi jembatan 15m pada areal timbunan

CPT + identifikasi permeabilitas Penilaian atas kuat geser dari unit tanah 1,2, dan 3(?) Sampel tak terganggu

15

3

10

Pengambilan contoh dengan Piston Pengintian (coring)

4

10

4

Penampangan fabrik dan pengujian indeks

26

Catatan: 1) 2)

= identifikasi terhadap jenis tanah dan pengambilan contoh = pengujian untuk disain fondasi jembatan di bawah zona tanah lunak tidak dimasukkan dalam contoh ini.

Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk _________________________ Tanggal __________________________
Gambar B1 Contoh Skedul Penyelidikan Lapangan untuk Areal Tanah Lunak

1. 2.

3.

DCPT harus dilakukan pada tahap pertama dari penyelidikan lapangan Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk akan memfinalisasi kedalaman pendugaan (sounding), lubang bor, pengaugeran, uji baling-baling, dan pengambilan contoh setelah menerima hasil dari DCPT Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk akan memberikan informasi mengenai skedul akhir penyelidikan lapangan yang mendefinisikan kedalaman dari pekerjaan-pekerjaan penyelidikan tersebut.

B1

Gambar B2 Contoh Peta Lokasi Penyelidikan Lapangan

B2

Proyek___________________________ Skedul Pengujian Laboratorium Awal No. Lembar _____________

Geser Langsung

Uji Batas Cair dan Batas Plastis

Unit Tanah Awal

Kadar Organik

Berat Isi Total

Pengujian Unconfined

Baling-baling Laboratorium

Kedalaman (m)

Permeabilitas

Konsolidaso Oedometer

Hidrometer

Uji Kadar Air

Lubang Bor

No. Sampel

Berat Jenis

Triaksial

PSD

UU BH1 PS1/1 PS1/2 PS1/3 CS1/1 CS1/2 CS1/3 CS1/4 CS1/5 2 4 8 1 3 5 7 9 2 2 2 2 2 2 2 2 P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P

CU P P P

CD P P P P P P

Gambar B3 Contoh dari Skedul Pengujian Laboratorium Awal untuk BH1, dan BH lainnya tidak dimasukkan dalam contoh ini

CO3

SO4

pH

Appendix C Biaya untuk Penyelidikan Lapangan

Biaya untuk Penyelidikan Lapangan Secara internasional biasanya diharapkan bahwa biaya penyelidikan tanah berada pada kisaran-kisaran berikut, yang merupakan persentase terhadap biaya konstruksi • Proyek rutin atau sering berulang 0.5-1% • Proyek yang lebih kompleks atau kondisi tanah yang sukar 3% • Proyek yang sangat kompleks (seperti terowongan pada tanah yang sulit) 5% atau lebih. Biaya penyelidikan lapangan yang khas pada tanah lunak yang bertipe seperti dijelaskan pada Panduan untuk sebuah Jalan Kelas I akan berkisar Rp25 juta per kilometer terpisah dari penyelidikan lapangan untuk jembatan pada Harga Tahun 2000. Biaya khas untuk pekerjaan jalan termasuk timbunan, perataaan (surfacing) drainase dan sebagainya, dan juga belum termasuk biaya pekerjaan jembatan berada pada kisaran Rp 5 hingga 8 miliar per kilometernya. Oleh karena itu pengeluaran yang direkomendasikan pada penyelidikan tanah untuk jalan pada tanah lunak adalah sekitar 0.5 hingga 0.8% dari biaya konstruksi yang dapat dipertanggungjawabkan dibanding dengan standar internasional, dengan memperhitungkan harga satuan penyelidikan lapangan saat ini sedikit lebih rendah dalam hubungannya dengan biaya konstruksi total dibanding negara lain. Banyak proyek pada tanah lunak telah melakukan penyelidikan lapangan yang pengeluarannya rendah sekitar 1/30 dari satu persen dari biaya konstruksi. Banyak terjadi bahwa setiap penghematan yang dilakukan akan selalu hilang begitu kegiatan konstruksi dimulai dan masalah akan ditemukan.

C1

Peserta dan Ucapan Terima Kasih

Penyiapan Panduan Geoteknik ini dilakukan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi, Bandung melalui Kontrak Proyek Tahap 2 Indonesian Geotechnical Materials and Construction Guides. Pekerjaan tersebut dilaksanakan antara bulan Nopember 1999 dan Oktober 2001. Tim Pusat Litbang Prasarana Transportasi: Dr. Ir. Hedy Rahadian,MSc., Ir. GJW Fernandez, Dayat, B.E., Lanalyawati, B.E., Iyus Rusmana, B.E., Drs. Bambang Purwadi, Ir. Saroso B.S., Ir. Suhaimi Daud, Drs. Suherman, Ir. Benny Moestofa, Ir. Rudy Febrijanto, M.T., Rakhman Taufik, S.T., Ir. Djoko Oetomo, Dian Asri, S.T., Slamet Prabudi, S.T., Endang Suwanda, Ahmad Rusdi, Ir. Haliena Armela, Irdam Buyung Adik, Wachjoe Poernama, Sumarno, Silvester Fransisko, Ahmad Jaenudin, Hartiti Rochkyatun, Yayah Rokayah, Maman Suherman, Purbo Santoso, Wagiman, Deni Hidayat.

Konsultan Proyek terdiri atas WSP International bekerja sama dengan PT Virama Karya dan PT Trikarla Cipta Staf Konsultan: Michael Ellis, Alan Rachlan, MSc., Jeremy Burto n, Dr. Jim McElvaney, Tony Barry, Ir. Suprapto, Ir. A. E. Sulistiadi, Ir. Tata Peryoga, M.T., Ir. Budi Satriyo, Sugeng Parwoto, Susilowati, Renny Susanty.

Pengkaji eksternal Panduan Geoteknik, oleh: Abdul Aziz Djajaputra, Prof. Dr. Ir. Bigman Hutapea, Dr. Ir. Damrizal Damoerin, Ir. Masyhur Irsyam, Dr. Ir. Paulus P Rahardjo, Prof. Dr. Ir. Richard Langford Johnson Sudaryono, M.M. Dr. Ir. Yun Yunus Kusumahbrata, Dr. (ITB – Bandung ) (HATTI-Jakarta) (UI – Jakarta) (ITB – Bandung ) (UNPAR – Bandung) (Proyek PMU SURIP) (HPJI – Jakarta ) (Puslitbang Geologi-Bandung)

Para penyusun Panduan ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh: Ir. Frankie Tayu, Ir. Hendro Ryanto, MEngSc. Dr. Ir. Hikmat Iskandar, Mantan Kepala Pusat Prasarana Transportasi Kepala Pusat Transportasi Litbang Litbang Prasarana

Kepala Bidang Tata Operasional, Pusat Litbang Prasarana Transportasi Geologi atas

dan Bambang Dwiyanto, M.Sc. Kepala Puslitbang dukungan serta ijin penggunaan peta geologi Indonesia.

Pusat Litbang Prasarana Transportasi Jl Raya Timur 264 Bandung 40294 Indonesia Telp +62 (0)22 7802251-3 Email pusjal@melsa.net.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->