P. 1
Panduan Geoteknik 4

Panduan Geoteknik 4

4.85

|Views: 4,868|Likes:
Published by api-3721829

More info:

Published by: api-3721829 on Oct 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

Tahap pertama dalam analisis adalah memilih sifat-sifat dari geotekstil, atau
pilih geotekstil yang telah dikenal luas yang tersedia di pasaran kemudian
gunakan sifat-sifatnya yang telah diketahui tersebut untuk desain.

Informasi berikut harus diidentifikasi sebelum desain yang memuaskan dapat
dilakukan:

Kuat Tarik & Regangan (Tensile Strength & Elongation)

Kuat tarik geotekstil dapat bervariasi dengan kisaran yang lebar seperti terlihat
pada Gambar 6-30.

Gambar 6-30 Kuat Tarik (Tensile Strength) Beberapa Material Geotekstil (Exxon, 1989)

Pita polypropylene, yang telah digunakan secara luas di Indonesia, mempunyai
kuat tarik relatif rendah dan regangan yang besar saat runtuh; oleh karenanya
jenis geotextil ini cukup memadai untuk digunakan sebagai perkuatan
timbunan.

Kuat tarik ultimit dan leleh pada saat runtuh biasanya diberikan oleh produsen
dan dikonfirmasi dengan pengujian yang independen.

Kerusakan Pemasangan

Efek yang ditimbulkan dari pemasangan dan pemadatan material timbunan pada
geotekstil adalah dapat mengurangi kekuatan ultimitnya. Oleh karena itu sebuah
faktor pembagi (partial factor) harus diberikan terhadap kekuatan untuk

Baja prategang

Kuat Tarik (Mpa)

Grid HDPE

Regangan (%)

pylene

Serat Polyaramid

Serat Polyester

Pita polypro-

69

memperhitungkan akibat tersebut. Jika produsen telah memperifikasi efek
tersebut dengan percobaan, maka pembagi tersebut dapat digunakan. Jika tidak,
gunakan faktor permbagi dari Tabel 6-1. Faktor pembagi ini diturunkan dari
penilaian terhadap sejumlah rekomendasi yang diberikan oleh para produsen
untuk berbagai tipe geotekstil dan berdasarkan standar dan aplikasi sesuai jenis
tanah yang umumnya ditemui di Indonesia.

Tanah

Faktor Pembagi

Lempung, lanau, pasir

1.1

Tanah mengandung
minimum 10% kerikil

1.3

Tanah mengandung
minimum 50% kerikil
bersudut

1.5

Tanah mengandung
minimum 10% kerakal

1.5

Tanah mengandung
minimum 50% kerakal
bersudut

1.8

Tabel 6-1 Faktor Pembagi untuk Kerusakan Instalasi Geotekstil

Bila digunakan faktor pembagi yang rendah, maka Perekayasa Geoteknik yang
Ditunjuk harus mensyaratkan lapisan material yang baik dengan ketebalan
minimum 30cm yang memenuhi faktor pembagi yang telah ditentukan tersebut,
dan dihamparkan di atas dan di bawah geotekstil.

6.9.3

Faktor Reduksi Rangkak (Creep)

Sejumlah material sebagai bahan dasar pembuat geotekstil akan mengalami
rangkak yang cukup besar akibat pembebanan terus menerus terutama
Polypropylene, dan besarnya rangkak yang terjadi akan sangat bergantung pada
proses pembuatannya. Secara khas, kuat tarik ultimit yang dapat dipikul selama
setahun yang dinyatakan dalam persentase dari kuat ultimit yang diukur dalam
uji laboratorium jangka pendek akan bervariasi dari 60% hingga nol.

Karenanya, faktor reduksi umum tidak dapat diberikan dan pengujian harus
dilakukan untuk setiap tipe material yang dipasarkan oleh produsen. Pengujian
ini harus dilakukan pada temperatur yang sesuai dengan kondisi Indonesia
karena rangkak merupakan suatu faktor yang sangat bergantung pada
temperatur.

Hasil dari pengujian ini harus dapat menghasilkan kurva rangkak seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 6-411. Dari kurva tersebut dan dari umur geotekstil
yang direncanakan, faktor reduksi rangkak pada kuat tarik ultimit dapat
ditentukan.

70

Gambar 6-41 Contoh Kurva Rangkak Geotekstil (Exxon, 1989)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->