P. 1
Analisis Usaha Kemitraan Ayam Pedaging Di Pt

Analisis Usaha Kemitraan Ayam Pedaging Di Pt

|Views: 510|Likes:

More info:

Published by: JuniTa Leite Hutabarat on Oct 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2013

pdf

text

original

Analisis usaha kemitraan ayam pedaging di pt. Surya gemilang pratama … Penelitian ini dilakukan di PT.

Surya Gemilang Pratama (SGP) … yang bergerak dalam bidang usaha PIR perunggasan khususnya kemitaan ayam pedaging. Pembangunan di masa mendatang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan peternak melalui peningkatan produksi ternak, disamping dutujukan untuk meningkatkan konsumsi daging didalam negeri. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat menunjang pengembangan dari usaha ternak ayam pedaging. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui mekanisme hubungan kerjasama kemitraan antara PT. Surya Gemilang Pratama dengan peternak plasma di kabupaten … dan mengetahui efisiensi usaha peternakan ayam pedaging pola kemitraan yang diselenggarakan PT. Surya Gemilang Pratama. Kegunaan bagaimana mekanisme kerjasama kemitraan antara PT. Surya Gemilang Pratama dengan peternak plasma di kabupaten … dan bagaimana Efisiensi usaha peternakan ayam pedaging pola kemitraan yang diselenggarakan PT. Surya Gemilang Pratama. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah usaha ternak ayam pedaging yang terdaftar sebagai plasma dari PT. Surya Gemilang Pratama di Kabupaten …. Metode penelitian ini adalah studi kasus, penarikan sampel dilakukan dengan sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan yang di dasarkan atas rekomendasi dari pegawai PT. Surya Gemilang Pratama. Dengan jumlah 36 responden dari 115 jumlah populasi dengan menggunakan rumus Yamane. Pengumpulan data dilakukan dengan survey, data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari PT. Surya Gemilang Pratama, sedang data sekunder diperoleh dari peternak dan Biro Statistik Kabupaten … serta dari Dinas Peternakan …. Hasil yang diperoleh dari penelitian bahwa usaha kemitraan ayam pedaging pada pola kemiteraan didapat biaya produksi meliputi biaya tetap dan biaya variabel yang terdiri dari biaya rata-rata sewa tanah Rp. 184.474,14 /periode, penyusutan peralatan Rp. 14.524,96 /periode, tenaga kerja Rp.606.944,44 /periode, DOC Rp. 17.305.555,56 /periode, vaksin dan obat Rp.1.495.031,83 /periode, listrik Rp. 96388,89 /periode. Pendapatan peternak sebesar Rp. 798.852,37 /periode per seribu ekor dan total pendapatan perkilogram sebesar Rp. 347,48 per periode. Efisiensi usaha dicapai pada saat produksi total sebesar 20.660,51 kilogram ayam hidup. Biaya variabel sebesar 98,63%, biaya tetap sebesar 1,37%. Pendapatan dari penjualan ayam sebesar 98,02%, pendapatan lain sebesar 1,98%. Kesimpulan dari Penelitian, bahwa pelaksanaan pola kemitraan usaha ayam pedaging di PT. Surya Gemilang Pratama yang merupakan pola kerjasama inti-plasma yang saling menguntungkan. Efisiensi usaha dicapai pada saat produksi total sebesar 20.660,51 kilogram ayam hidup atau 12.153 sampai 12.913 ekor. Saran bagi pihak inti adalah lebih meningkatkan pelayanan bagi pengembangan usaha kemitraan ayam pedaging. Pihak plasma diharapkan terus melanjutkan dan mengembangkan usaha peternakan ayam pedaging melalui pola kemitraan.

tahun 2004 sebesar 1. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 1 Maret – 30 Maret 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subyek atau obyek pada saat penelitian yang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya dalam bentuk studi kasus (case studies) yang memusatkan diri secara intensif dan mendalam terhadap suatu obyek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus Data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. 525. 552. Efisiensi usaha yang paling besar adalah tahun 2001 sebesar 1. Mengetahui berapa besar biaya produksi dan struktur biaya yang dipergunakan dalam produksi susu segar..673. tahun 2004 sebesar Rp. (2). Data primer adalah materi informasi yang diperoleh peneliti secara langsung di tempat penelitian atau di suatu tempat yang menjadi obyek penelitian. Efisiensi usaha berdasarkan R/C ratio Perusahaan Susu Anugerah layak dikembangkan karena nilainya lebih besar dari 1..636..772. Efisiensi usaha tahun 2001 sebesar1. sedangkan data sekunder adalah data-data yang dikumpulkan secara tidak langsung. Berdasarkan hasil diatas maka disarankan Perusahaan Susu Anugerah diharapkan dapat mengefisienkan biaya produksi sehingga pendapatan usaha optimal.952.49.46. Rentabilitas Perusahaan Susu Anugerah dapat dikatakan layak untuk dikembangkan karena rentabilitas berkisar antara 26-50 persen yang melebihi dari bunga bank pemerintah sebesar 16 persen. tahun 2003 sebesar Rp. Mengetahui efisiensi usaha bila dilihat dari R/C ratio usaha peternakan sapi perah di Perusahaan Susu Anugerah.50. Perusahaan Susu Anugerah diharapkan memperhatikan . dan tahun 2005 sebesar Rp..427.080. Hasil penelitian diperoleh besar biaya produksi pada tahun 2001 sampai dengan 2005 antara lain : tahun 2001 sebesar Rp..Analisis Biaya Produksi Pada Perusahaan Susu Sapi Anugerah Di Kecamatan Kota Kotamadya … Penelitian dilaksanakan di Perusahaan Susu Anugerah di desa Ngadirejo kecamatan Kota kotamadya …..178.48. Perusahaan Susu Anugerah diharapkan dapat meningkatkan pendapatan usaha dengan menambah penerimaan dan menekan biaya produksi usaha. 473. tahun 2003 sebesar 1. tahun 2002 sebesar Rp. Efisiensi usaha dilihat dari R/C ratio Perusahaan Susu Anugerah berbeda setiap tahun. tahun 2002 sebesar 1.948.-. 452..775.. 493.178.50. Tujuan penelitian adalah (1).48 dan tahun 2005 sebesar 1.

Implementasi Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional Terhadap Strategi Pengembangan Agribisnis Pergulaan Di… . Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif (Descriptif reseach). Oleh karena itu tingkat pendapatannya masih rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Masyarakat sekitar hutan di Kabupaten … khususnya di wilayah Sub DAS … memiliki jumlah penduduk yang cukup besar dengan sifat kebersamaan dan semangat kerja yang masih tinggi serta terbentuknya Kelompok Tani Penghijauan. namun demikian sumber daya manusia-nya masih tergolong rendah dan sebagian besar tidak memilki mata pencaharian yang tetap.kualitas dan kuantitas pakan sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap besar biaya produksi agar bisa meningkatkan penerimaan dan pendapatan. Masyarakat dan perilaku konservasi. yaitu penelitian yang tidak menguji hipotesa (Non hipotesa). Opportunity dan Threats). 2) Untuk menganalisis bagaimana strategi yang harus dilakukan dalam upaya konservasi dan rehabilitasi untuk kecepatan pemulihan lahan di kabupaten …. Sedangkan Pelaku Konservasi tidak hanya mengejar provide (keuntungan) namun juga harus memperhatikan konservasi dan kelestarian alam/lingkungan. Weakness. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masih mengandalkan hutan sebagai tempat ketergantungan. Pemerintah sebagai instansi yang bertanggung jawab berfungsi sebagai mediator dan sumber informasi dalam hal perkembangan tehnologi yang ada. 2) Konservasi dan rehabilitasi dalam rangka pemulihan lahan akan tercapai jika ada kerajasama yang baik dari semua pihak yaitu Pemerintah. Strategi Konservasi Dan Rehabilitasi Lahan Di Sub Daerah Aliran Sungai … Wilayah Kabupaten … Penelitian ini dilakukan di Sub Daerah Aliran Sungai … Wilayah Kabupaten …. Disisi lain terdapat industri yang memerlukan bahan baku dari hasil Kehutanan yang cukup tinggi dan juga terdapat pengusaha/masyarakat/individu/kelompok yang mengajukan diri untuk ditetapkan menjadi pengada/pengedar bibit tanaman kehutanan. Artinya bahwa masyarakat sebagai modal utama dalam pemulihan lahan harus dijadikan mitra kerja oleh Pemerintah maupun Perilaku Konservasi bukan sebagai obyek. Tujuan penelitian adalah : 1) Untuk menganalisis kondisi internal dan eksternal terhadap upaya konservasi dan rehabilitasi untuk kecepatan pemulihan lahan di kabupaten …. Tehnik analisa SWOT (Strength. sedangkan tehnik pengambilan sampel dengan Proposive Sampling.

Dengan angka pertumbuhan ekonomi yang kecil tersebut. Sebagai bahan pangan. permasalahan pengembangan areal. SB. 2006). Faktor internal menyangkut isu-isu produktivitas lahan. dan perubahan sosial masyarakat dan atau petani.5 juta ton. Indonesia harus lebih . Kebutuhan gula domestik saat ini diperkirakan mencapai 3. manajemen dan sumber daya manusia. sedangkan produksi gula pasir di Indonesia yang dihasilkan oleh 58 pabrik gula hanya mencapai 2. melakukan rehabilitasi PGPG di Jawa dan pendirian pabrik gula di luar jawa. Kebijakan tersebut pada awalnya mampu meningkatkan produksi gula nasional.0 juta ton.Gula pasir (Plantation White Sugar) di Indonesia diperlakukan sebagai bahan pangan dan termasuk sebagai salah satu dari 9 bahan pokok. Industri gula di Indonesia. u…ya bersumber pada produktivitas yang rendah. 2005). 2005). Kebijakan tersebut antara lain penetapan Inpres No. rendahnya tingkat pendapatan petani dan permasalahan di bidang harga pokok gula Indonesia yang jauh lebih tinggi daripada harga gula luar negeri. Menurut Samiyanto (1999). serta menerapkan regulasi tataniaga dan harga provenue. Zahrul (2001) menyatakan bahwa. bergizi. penurunan kinerja industri gula berkaitan erat dengan faktor internal dan eksternal industri gula. bermutu. dan beragam dengan harga terjangkau. kapasitas dan efisiensi pabrik. jauh di bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia yang dapat mencapai sebesar 6. sehingga berdampak pada rendahnya daya saing gula produksi dalam negeri. Menurut Bank Dunia (1999) dalam Gumbira-Said. diutamakan dari dalam negeri (Yudhoyono.5 juta ton atau setara 42% yang harus dipenuhi dari impor (Anonymous. kebijakan ekonomi.. Faktor eksternal berkaitan dengan pengaruh globalisasi. Ketahanan pangan minimal mempunyai tiga peran strategis dalam pembangunan nasional. Untuk memenuhi hal tersebut diperlukan ketersediaan pangan yang cukup setiap waktu. Dengan adanya arus globalisasi. pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2000 diperkirakan hanya sebesar 3%. yaitu : (1) Akses terhadap pangan dan gizi yang cukup merupakan hak yang paling asasi bagi manusia. Berbagai kebijakan di bidang pergulaan telah diterapkan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. maka terikat upayaupaya pemenuhan dan penyediaan dalam rangka ketahanan pangan. (2) Pangan memiliki peranan penting dalam pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas. kebijakan tersebut mulai tidak efektif dan menghendaki perubahan orientasi dari pendekatan produksi ke pendekatan efisiensi dan daya saing (Anonymous. sehingga terdapat defisit 1. Rachmayanti dan Muttaqin. sejak krisis gula dunia pada awal tahun tujuh puluhan telah menghadapi persoalan yang berat.2%. aman. (3) Ketahanan Pangan merupakan salah satu pilar utama dalam menopang ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional yang berkelanjutan. 9 Tahun 1975 untuk mendukung penyediaan bahan baku tebu melalui pola kemitraan dengan petani.

serta masih rendahnya tingkat harga di pasaran. 2003). Hal ini sesuai pendapat Anonymous (2005). jumlah kredit program hanya mencapai 30% dari total kebutuhan. Menurut Garnida (2000) menyatakan bahwa. Ketika diketahui terjadi kegagalan panen baik sebagai akibat perubahan iklim yang sangat ekstrim maupun eksplosi hama. Dalam 4 tahun terakhir. negara tidak segan–segannya memberikan stimulus untuk para petani. meskipun kesalahan tidak dapat dibebankan begitu saja kepada para petani pengelola usaha tani. Kenyataan menunjukkan bahwa. Salah satu contohnya adalah ketersediaan modal kerja berupa kredit program untuk para petani yang jumlahnya jauh dari cukup. Secara struktural industri gula di Indonesia menghadapi dua permasalahan utama. telah terjadi penurunan produktivitas secara significan. karena hanya berkonsentrasi pada produksi. pasar gula dunia sangat distorsif. yakni hanya berlangsung selama 5-6 bulan masa giling. Faktor eksternal yang berasal dari lingkungan domestik disebabkan karena banyaknya kebijakan makro ekonomi yang bersifat disinsentif terhadap pengembangan industri gula nasional. Secara eksternal. Sebagai . Negara–negara ini juga dikenal sangat royal dalam memberikan insentif untuk para petaninya.meningkatkan daya saingnya di dunia internasional. negara– negara ini juga diketahui memberikan subsidi dalam bentuk kemudahan bagi petani untuk memperoleh sarana produksi (agro–inputs). Disamping itu suku bunga perbankan untuk para petani kurang dari 3%. Kalangan fabrikan juga tidak memiliki pengalaman dan jaringan distribusi (distribution chanel) gula ke seluruh daerah di tanah air. selama ini produksi gula terkonsentrasi di daerah tertentu. yang menyatakan bahwa. Stimulus juga diberikan ketika harga jual produk petani tidak menguntungkan atau lebih rendah dibanding biaya produksi (Suwandi. terutama Jawa dan Lampung. dari lebih 97. Penyebab klasik yang selalu dituding adalah manajemen bahan baku yang tidak lagi ditangani PG. Menurut Suwandi (2003). khususnya daya saing produk-produk yang dihasilkan dari sektor agribisnis. sedangkan pemasaran diserahkan kepada para pedagang besar. 2003). baik berupa modal maupun pembinaan.9 kuintal gula per hektar sebelum tahun 1975 menjadi 49. Produksi gula pun bersifat musiman. secara internal. Itupun pengucurannya selalu terlambat. adanya penurunan produksi karena kurangnya rangsangan kepada petani. agribisnis pergulaan menghadapi masalah makin serius. Fenomena ini antara lain ditandai dengan diterapkannya bea masuk sangat tinggi dan diberlakukannya harga eceran yang harus dibayar konsumen jauh lebih mahal dibanding harga ekspor di sejumlah negara penghasil gula utama dunia. sehingga tidak banyak bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas. Sejak dicanangkannya program tebu rakyat. Masuknya gula secara ilegal dan lemahnya penegakan hukum (law enforcerment) membuat harga jual gula lokal semakin sulit diprediksi dan terjungkal (Suwandi. produktivitas memang menurun.7 kuintal gula per hektar pada tahun 2000.

kemurnian varietas dan ketersediaan serta kesehatan bibit. faktor budidaya dan tebang angkut sampai faktor pabrik berpotensi menurunkan produktivitas. Hal-hal tersebut. sehingga efisiensinya menjadi lebih rendah.. Hal ini disebabkan oleh berbagai permasalahan ketidakefisienan yang bermuara pada masalah mutu tebu. industri gula dapat menjadi pilar penting pemberdayaan ekonomi rakyat. Situasi dan hal-hal tersebut di atas. . Menurut Mirzawan. Penurunan produktivitas juga disebabkan adanya pergeseran areal tebu ke lahan tegalan. Implikasi di balik berkurangnya areal dan produktivitas adalah. hampir semua PG di Jawa beroperasi di bawah kapasitas terpasang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berbagai sektor kegiatan mempengaruhi produksi gula mulai dari faktor ketepatan. sehingga sulit untuk dapat bersaing di pasar global. Sebagai aset nasional dan industri yang secara langsung terkait pemanfaatan sumber daya lokal berdasarkan kaidah keunggulan kompetitif (competitive advantage) dengan multiplier-effects yang sangat luas. Salah satu upayanya adalah dengan mengaplikasi teknologi yang siap pakai. serta lemahnya kelembagaan petani tebu. penerapan baku mutu budidaya yang kurang baik. Ditengah ketatnya persaingan komoditas agribisnis. petani menggunakan logika dalam berusaha tani tebu. PG semakin sulit memastikan jumlah tebu rakyat yang dapat memenuhi jumlah bahan baku ideal. operasional maupun peralatan. kalangan fabrikan memandang penting diambilnya langkahlangkah strategis guna mencegah situasi yang makin mengarah pada keruntuhan industri gula nasional (Wientoyo. 2003). 2006). Logis kalau rendemen sebagai manifestasi akumulasi hasil fotosintesis di daun yang distimulasi khlorofil jauh dari potensi sebenarnya. Lamadji dan Sugiyarta (1999) menyatakan bahwa industri gula telah mengalami penurunan produktivitas yang tajam. yang pada akhirnya menyebabkan penurunan produksi. petani cenderung memaksimalkan profit dibanding produktivitas. Kondisi ini diperparah dengan harga jual gula yang tidak berpihak kepada petani.makhluk rasional. petani melakukan keprasan berulang kali. kebenaran. mendorong dicanangkannya Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional 2002 – 2007. sementara peningkatan produktivitas terbentur pada persoalan kelangkaan dana. Konsekuensi logisnya. akhirnya mengakibatkan posisi Indonesia sebagai negara pengekspor gula terbesar kedua setelah Cuba pada tahun 1930-an menjadi net importer dan bahkan pada tahun 1999 sebagai importer terbesar kedua setelah Rusia (Rohman dkk. Akibatnya kebanyakan pabrik gula tidak dapat mencapai tingkat efisiensi standar. Masalah tersebut diperparah dengan ketidakpastian besarnya profit. Keprasan berulang kali menjadi sarang potensial bagi penyakit pembuluh (ratoon stunting disease). Tidak mengherankan kalau ditengah mahalnya harga bibit dan kenaikan biaya produktivitas yang tak terimbangi harga jual. sehingga memicu penurunan areal lahan pengusahaan tebu oleh petani.

serta kegiatan penunjang berupa peningkatan pemberdayaan petani koperasi tebu. hampir 60% diantaranya dihasilkan oleh PG-PG di Jawa dan sisanya oleh PG-PG di luar Jawa. dengan total tebu giling sebanyak 34 juta ton (Anonymous. Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas. dan (3) rehabilitasi pabrik gula. Luas areal tebu pada tahun 2007 diproyeksikan mencapai 386 ribu ha.6% per tahun sehingga pada tahun 2007 Indonesia bisa menghasilkan 3. (2) Mengetahui pengaruh system tanam dari biji terhadap peingkatan pendapatan petani bawang. Sasaran Program Akselerasi adalah. membangun prasarana irigasi mikro. Dari target produksi sebanyak itu. dalam bentuk kegiatan utama bongkar ratoon dan pembangunan kebun bibit. diantaranya : (1) Menyediakan bibit tebu bermutu unggul dan memiliki rendemen tinggi dengan harga terjangkau. 2005). Dringu dan Gending Kabupaten …. Program ini dimulai tahun 2003. Leces. (2) Mempercepat bantuan petani untuk pembongkaran kebun. (4) Dukungan permodalan pembangunan pabrik gula baru atau rehabilitasi PG dan perlindungan terhadap produsen gula. SY.0 juta ton gula (Tabel 1). bahwa Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional mencakup tiga kegiatan yaitu : (1) bongkar ratoon. (3) Revitalisasi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sample secara Disproportionate Random Sampling. produksi gula ditargetkan meningkat rata-rata 9. dimaksudkan untuk mempercepat peningkatan produktivitas gula nasional dan menuju swasembada gula. (2) Rata-rata pendapatan total yang diterima petani bawang merah yang menggunakan sistem benih dari biji lebih besar dari pada . Analisis Komparatif Pendapatan Petani Bawang Merah Sistem Tanam Bibit Dari Biji (Royal Selections) Dengan Sistem Tanam Bibit Dari Umbi Di Kabupaten . Lokasi peneliian di Tegalsiwalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan petani bawang merah yang menggunakan sistem usahatani dari biji lebih kecil dari pada biaya produksi usahatani dengan menggunakan benih dari umbi... Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terhadap responden. Sedangkan jesin penelitian adalah dengan jenis peneliian Deskriptif.(2003) dan Mubardjo (2006). menyatakan bahwa. Sedangkan teknik analsis data dengan menggunakan analisis analisis ekonomi dan analisis statistik dengan menggunakan T test. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Mengetahui pengaruh tanaman dari biji terhadap biaya produksi pada tanaman bawang. (2) penguatan kelembagaan. dalam upaya meningkatkan produktivitas gula diperlukan langkah yang dilaksanakan pemerintah.Menurut Husodo.

Analisis Kelembagaan Dan Produktivitas Usahatani Padi Pada Sistem Irigasi “SUBAK” (Studi kasus di Subak Sungsang. Subak yang sedang direntangkan saat ini telah membawa banyak perubahan terhadap struktur perekonomian negara. sebagai penyedia pangan dan bahan baku industri.yang menggunakan sistem usahatani dengan benih dari umbi. sehingga perekonomian Indonesia masih sangat tergantung pada kemajuan sektor pertanian. Sektor pertanian sampai saat ini masih memegang peranan penting di dalam menunjang perekonomian nasional. pendorong pencipta lapangan kerja pedesaan dan devisa negara. Kerambitan.Untuk mengetahui aspek sosial perkembangan kelembagaan Subak. Kab. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode untuk ketua kelompok yang berarti data yang digunakan di dalam penelitian ini berasal dari . Bali. Kec. di mana sektor-sektor pertanian mengalami kemajuan yang cukup berarti yang mengarah pada keseimbangan dengan sektor pertanian. Kecamatan Kerambitan. Sektor pertanian juga mempunyai peranan penting dalam mengentaskan kemiskinan. Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja dan hidup dari sektor pertanian. fungsi dan sangsi yang diberikan bagi anggota Subak.Untuk mengetahui cara / sistem pengelolaan Subak dilihat dari Struktur organisasi. 2. 3. Ketangguhan di sektor pertanian akan tetap merupakan faktor yang sangat penting dalam periode tinggal landas mengingat peranannya. Metode Penelitian Penelitian dilakukan di Subak Sungsang desa Tibubiyu. Kabupaten Tabanan. Tujuan penelitian 1. Desa Tibubiyu. Pembangunan pertanian berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan upaya peningkatan kesejahteraan petani dan upaya menanggulangi kemiskinan khususnya di daerah pedesaan. Penentuan daerah penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Tabanan mempunyai Subak terbanyak dan Museum Subak terletak di Kabupaten ini pula. (3) Rata-rata pendapatan bersih yag diterima petani bawang merah yang menggunakan sistem usahatani benih dari biji lebih besar dari pada petai bawang merah yag menggunakan sistem usahatani benih dari umbi.Untuk mengetahui perkembangan produktivitas usahatani padi pada tahun 1995-2004 dengan adanya sistem irigasi Subak.

apabila b > 0 2. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif untuk menggambarkan Subak dan kelembagaannya. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari petani melalui wawancara berdasarkan daftar pertanyaan yang sebelumnya telah disiapkan. Menurut Winarno Surachmad (1998).Mempunyai trend positif. Data sekunder yang diperoleh merupakan data time series periode tahun 1995-2004. Metode Analisa Data Untuk mengetahui cara / sistem pengelolaan Subak dilihat dari struktur organisasi. Metode Pengumpulan Data Untuk menjawab masalah dan tujuan penelitian ini. “b” digunakan untuk mencari kemiringan atau slope dari persamaan garis dan untuk mengetahui laju pertumbuhan. maka diperlukan adanya data-data yang dianggap relevan. penelitian deskriptif ini menentukan dan menafsirkan data yang ada dan pelaksanaan metode deskriptif tidak terbatas pada penggunaan data saja. tetapi meliputi analisa data dan interpretasi data tersebut. Untuk mengetahui aspek sosial perkembangan kelembagaan subak menggunakan metode analisa data secara deskriptif kualitatif. menggunakan dua macam data. Dalam penggunaan analisis trend. Analisa trend dilakukan untuk melihat trend dari trend produktivitas usahatani padi dari tahun ke tahun.satu ketua kelompok yang sudah berkompeten di bidangnya. yaitu data primer dan data sekunder. Jumlah responden yang diambil sebanyak pengurus yang ada pada Subak setempat. Berikut adalah kriteria perkembangan trend: 1. Dari data tersebut kemudian dianalisa lebih lanjut dengan analisa trend. serta produktivitas usahatani padi pada tahun yang telah ditentukan. Dengan demikian akan diperoleh gambaran seberapa besar trend (kecenderungan) dan laju pertumbuhan variabel yang dianalisa. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi-instansi yang berhubungan dengan penelitian yang sedang dilaksanakan dan dipandang relevan. Data sekunder ini dipakai sebagai pendukung data primer.Mempunyai trend negatif. fungsi dan sangsi yang diberikan bagi anggota subak menggunakan metode analisa data secara deskriptif kualitatif. apabila b < 0 . Dalam penelitian ini.

Dari persamaan ini diperoleh koefisien (b) sebesar 0. salah satu perusahaan agribisnis kentang terbesar di Kecamatan Cisurupan.Selanjutnya hasil analisa trend ini digunakan untuk estimasi perkembangan produktivitas di masa yang akan datang.2 + 0.335165 ton.Perkembangan produktivitas padi dengan menggunakan analisa trend analisis (time series) diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 2. Pemiliknya adalah Uus Kusnawan Sutarsa. MBA.Perkembangan volume produksi dengan menggunakan analisis trend analisis (time series) diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 6. Adalah PT.0000453 ton/ha per tahun. Berdasarkan fungsi trend tersebut maka pada tahun 2006 volume produksi padi diproyeksikan naik menjadi 0.000139 ton/ha PT. Salah satu komoditi hortikultura unggulan dari Garut adalah kentang. Sinar Balebat Harapan Beragribisnis Kentang dari Hulu ke Hilir Senin.626E-02 + 4. Komoditi ini banyak ditanam oleh petani di Kecamatan Cisurupan Garut. 2. Bermula dari usaha budidaya kentang yang telah dilaksanakan secara . yang berarti trendnya menunjukkan adanya penurunan maupun peningkatan volume produksi sebesar 0.113636 ton per tahun.53E-04 x.0000453 x. Sinar Balebat Harapan (SBH).113636 x. Berdasarkan fungsi trend tersebut maka pada tahun 2006 volume produktivitas padi diproyeksikan akan mengalami peningkatan menjadi 0.113636 x. yang berarti trendnya menunjukkan adanya penurunan maupun peningkatan produktivitas padi sebesar 0. 5:16 Di tangan Uus Kusnawan. Hasil dari penelitian ini adalah: 1. 16 November 2009. Kabupaten Garut merupakan salah satu sentra penghasil hortikultura di Jawa Barat. Dari persamaan tersebut diperoleh koefisien (b) sebesar 0. Ia menyiapkan struktur dan infrastruktur untuk bertahan di agribisnis kentang di wilayah Garut. kentang disulap menjadi dodol.

dan sebagainya. SBH kini telah berkembang bukan hanya pada subsektor budidaya. Padahal kita tahu. dan subsektor pengolahan (keripik kentang dan dodol kentang). seperti kenaikan harga saprotan. yaitu dodol.300 kg dodol kentang per hari. lembaga keuangan BMT. dan usaha budidaya kentang dan beberapa produk hortikultura lain untuk penghasilan musiman atau tahunan. dan dodol kentang. risiko fluktuasi harga. mulai dari subsektor input hingga subsektor penunjang atau dari hulu ke hilir. Dodol kentang produksi SBH cukup disukai oleh konsumen. Usaha agribisnisnya juga bertambah lengkap dengan posisinya sebagai ketua asosiasi petani kentang Kabupaten Garut. pengolah. pedagang. Selain itu. SBH juga merambah pada usaha kios sarana produksi pertanian. beliau bertindak sebagai petani. kentang segar. Kecintaan Uus Kusnawan terhadap dunia pertanian sudah ada sejak kecil karena beliau lahir di keluarga petani.turun menurun. SBH merupakan yang pertama memproduksi dodol kentang di Garut. Dalam usahanya. di Indonesia tak banyak orang berpendidikan tinggi mau terjun langsung dalam usaha pertanian. musiman. pedagang pengumpul. sehingga dalam satu bulan dibutuhkan 5 ton-6 . Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan Uus untuk menyiasati kerugian saat bertani sekaligus memberikan nilai tambah dan mengangkat citra kentang dari kentang sebagai sayuran menjadi produk olahan lainnya. keripik kentang. Maka beliau membuat toko saprotan untuk penghasilan harian. Uus mengaku bahwa dalam usahanya beliau menggunakan filosofi Cina bahwa agar dapat hidup sejahtera kita sebaiknya memiliki penghasilan harian. Uus Kusnawan telah melaksanakan kegiatan agribisnis kentang secara utuh. dan bahkan pembina kelompok tani kentang. usaha pengolahan kentang untuk penghasilan mingguan atau bulanan. Saat ini kapasitas produksinya adalah 200 kg . Khusus untuk usaha pengolahan. bulanan. Terbukti dari kapasitas produksinya yang semakin meningkat sejak awal produk ini dipasarkan. dan tahunan sekaligus. Pengelolaan usaha agribisnis yang terintegrasi tersebut membuat Uus dapat meminimalkan risiko. kelangkaan bibit. Dengan demikian. tetapi juga subsektor input (bibit). dan sekolah SMK Agribisnis sebagai penunjang usahanya. Bahkan setelah bergelar Master pun beliau tetap setia dengan bertani kentang dan beberapa komoditi hortikultura lainnya. SBH juga memiliki jaringan pemasaran sendiri untuk produk kentangnya mulai dari bibit.

Bungaran Saragih. Menteri Pertanian periode 2000—2004. Mengapa bisa demikian? Hal ini dipicu oleh permintaan dalam dan luar negeri yang besar. . sumberdaya lahan tersedia. Harga jual dodol SBH adalah Rp 16.” ungkap Prof.Ec. Perlu kita upayakan sistem yang bersinergi sehingga berlangsung secara efektif dan efisien.000 per kilo. Inilah masanya Indonesia untuk swasembada bahkan potensial untuk mengekspor jagung. SBH juga memproduksi dodol sirsak dan jambu biji dengan kapasitas produksi 8 ton per bulan. Saat ini dodol produksi SBH telah dipasarkan di supermarket Carrefour di Jakarta dan Bandung. tenaga kerja sudah terlatih. Harga yang sedemikian tingginya sehingga memberikan marjin cukup menarik buat para petani jagung. (Ratna) SUARA AGRIBISNIS : Membangun Sistem Agribisnis Jagung “Sekarang ini adalah masa yang sudah lama ditunggu-tunggu petani jagung. Masalahnya hanya pada organisasi dan sistem yang belum terbentuk. serta di beberapa outlet oleh-oleh di Garut. dan teknologi budidaya sudah kita dikuasai. M. Ir. Dr. Ini mengakibatkan harga jagung nasional dan global meningkat secara signifikan dalam pengertian jauh di atas biaya produksi.. saat diwawancarai AGRINA. Keunggulan produk ini adalah rasanya yang khas dan tanpa bahan pengawet.ton kentang. Masa sekarang ini dapat dikatakan masa keemasan jagung karena selain harganya sangat baik. juga pasar sangat besar. sarana tersedia. Selain dodol kentang.

Untuk itu perlu kerjasama yang baik dalam jangka panjang antara pembeli besar. bila kita ingin membangun sistem agribisnis ini. bagian paling lemahlah yang pertama sekali ditanggulangi. zaman keemasan jagung itu tidak pernah dinikmati oleh para pelaku dan kita tidak akan mungkin swasembada. insentif untuk mengimpor sangat tinggi apalagi dalam jumlah besar dan secara teratur karena secara global jagung over suplai. secara global sudah terjadi permintaan berlebih (excess demand) yang membuat harganya tinggi dan berdampak juga pada harga jagung di dalam negeri. Dalam keadaan demikian itu petani selalu kecewa karena sewaktu harga tinggi mereka tidak mendapatkannya. Namun keadaan itu sudah berubah. artinya bisa berlangsung beberapa tahun. Jika hal ini tidak dibenahi. seperti pabrik pakan ternak. Jadi. kini masa untuk mengembangkan sistem agribisnis jagung nasional yang berkelanjutan dan memberikan keuntungan kepada semua pelakunya dalam sistem agribisnis jagung. dan efisien. dengan para enterpreneur dan pedagang lokal. Oleh karena itu. pada musim berikutnya dia berhenti menanam. efektif. Akibatnya. maka sistem yang paling lemah adalah sistem pengeringan dan penyimpanan lokal serta pembelian dan penjualan lokal. Jika kita ingin membangun sistem agribisnis jagung faktor apa yang paling penting dibenahi? Selama ini kita mengandalkan pada impor. apalagi untuk mengekspor. Dan sudah masanya pula untuk membangun sistem agribisnis jagung yang komplet. Excess demand yang kita alami ini bukanlah bersifat musiman tapi zaman.Sebelum peristiwa ini. maka suplai dalam negeri berkurang. Selanjutnya para petani jagung cenderung mencari alternatif selain jagung sehingga membuat impor jagung makin lama makin besar. Bagaimana agar sistem agribisnis itu bisa terbentuk? . Hal tersebut terjadi secara berulang-ulang. serta organisasi petani.

Jika ada ketidakpercayaan dari satu pihak. Dia juga harus mampu memfasilitasi agar setiap pelaku dalam sistem agribisnis itu tidak hanya memikirkan keuntungan jangka pendek baginya semata.Agar sistem agribisnis jagung ini bisa terbentuk. Agribusiness coordinator bisa datang dari berbagai pihak tergantung pada situasi lokal. Untuk food dan feed saja kita sudah kewalahan memenuhinya. maka dibutuhkan semacam agribusiness coordinator. Dan jagung untuk makanan manusia dipisahkan lagi antara jagung pipilan. jagung manis. atau pemerintah daerah. maka pengembangan agribisnis dan catatan statistiknya juga harus terpisah-pisah. Pengembangan biofuel di Indonesia lebih cocok dari kelapa sawit dibandingkan jagung. Ini perlu disepakati dulu khususnya di pemerintahan. Satu hal yang menarik. Agribusiness coordinator berperan sebagai dirigen dalam sebuah orkestra sistem agribisnis mulai dari hulu sampai hilir sekaligus menjadi fasilitator agar timbul saling percaya antara para pelaku. . bisa dari pabrik pakan ternak. pengembangan agribisnis jagung ini membutuhkan dukungan dari lembaga keuangan baik untuk petani. Karena jagungnya berbeda. maupun industri. Tapi selalu memikirkan keuntungan yang diterima oleh keseluruhan sistem agribisnis dalam jangka panjang. itu akan menghambat bergeraknya sistem itu. Sedangkan pengembangan jagung untuk bahan bakar (fuel) masíh jauh. dan efisien. Oleh karena itu Kredit Ketahanan Pangan (KKP) yang selama ini ditekankan pada beras dan gula juga sudah masanya dikembangkan untuk jagung. Memang semua namanya jagung tapi sebenarnya jagung yang berbeda. pedagang regional dan lokal. pedagang. dan jagung muda. Bagaimana pengembangan sistem agribisnis jagung? Untuk mengembangkan sistem agribisnis jagung ini harus dipisahkan agribisnis jagung untuk kepentingan feed (pakan ternak) dan food (makanan manusia). efektif. organisasi petani.

Peranan pemerintah daerah yang sangat penting adalah menyediakan infrastruktur lokal seperti jalan. peranan pemerintah daerah juga dibutuhkan. Jagung bisa ditanam hampir di seluruh wilayah Indonesia.Selain itu. Untung Jaya . Oleh karenanya peranan pemerintah daerah di sentra produksi sangat penting untuk memfasilitasi bertumbuhnya sistem agribisnis yang bersinergi. dan pasar. lembaga keuangan daerah. tapi sentra jagung hanya di beberapa provinsi. irigasi.

¾½f°f  ff9@ °f f fff½f°% % ¾ff¾f ½ ¾fff°f– ¾°¾ °f°–  ¾f  nf¯ff°.

¾½f° 9 ¯°ff ffD¾ ¾°ff°f¾f .   ¯f f¾ff   ff °f°–f°– f f¾f°ff°¾ nff .

@  f°¾ f.– ¾°¾¾ f–f ½ °°©f°–¾ff°f  °–f° ¯f° D¾¾°ff° f¯ f¾f°ff° –ff°f– ¾°¾  °f°–¾ nff ¯f f¾ ¾ °½°––f¾ ¾ ½ °°©f°–ff f   D¾fff– ¾°¾°f©–f f¯ f °–f½ °–f°½¾¾°f¾ f–f ff¾¾f¾ ½ f° °f°–f ½f °f    n°ff°D¾¾°ff° f f½ °f½ f°f°¾ ff f¾ ©f nf °f ff   f–f½ f°  ff°¾  f – f.°¯ °°  ° f  ¯ f°– f°f°f½f f¾ ¾    ff  f½©–f ¾ ¾ °½%  %  f°¾ ¾ ½ °–ff°% ½ °f°– f°   °f°–%    ©–f¯ ¯©f°–f°½ ¯f¾ff°¾ ° °½  °f°–°f¯f f     °f°–¾ –f  ½ °f°–  f°   °f°–  f°  ©–f¯ f¯ f½f f¾ff ¾¾ff°f½ ¾½ f°f°  ¯ f–f f°–f° .f¾ ½° f f½¾ f °–f° f° °f°– f° f½f¯ ff°°f 9f ffff  ° ° ¾ff f°ff°– ½ °  f°°––¯f ©°f°–¾°– ff¯¾ff½ f°f° ff¯¾ff°f  f ° f¾ f–f½ f° ½ f–f°– ½ f–f°–½ °–¯½ ½ °–f  f° ff°½ ¯ °f  ¯½f° °f°– 9 °– ff°¾fff– ¾°¾f°– ° –f¾ ¾ ¯ ¯ fD¾ f½f¯ ¯°¯ff°¾ ¾ ½  °ff°f–f¾f½f°  f°–ff°   ¾€f¾ f–f  f°¾ f–f°f   D¾¯ °–f ff ff¯¾ff°f f¯ °––°ff°€¾€.

ff f¯ ¯ f¾f½f°°½ °–f¾f°ff° ¾ff½ °–ff°  °f°–°½ °–f¾f°¯°––f°ff f°f°  f°¾ff   ff °f°– f° f½f ½ ff°°½ °–f¾f°¯¾¯f°fff°f° ¾¾°¾ff ½ °–ff°  ¯ ½ff°f°–½ f¯f¯ ¯½ ¾   °f°– f °f¾  ¾  ff ff°–  °–°f°D¾°¯ °f¾f –f°¾ff f°¾ f–¾ ¯ ¯ f°°ff¯ f f°¯ °–f°–fnf °f°– f °f°–¾ f–f¾ff°¯ °©f  ½ ff°f°°f f       °f°–½ ¾ n½ ¾f °¾¯ ° @   ff½f¾f¾½ ¾°f f°–¾ ¯f°¯ °°–f¾ ©fff½ ° ½f¾ff° ff°f½f¾f¾½ ¾°f f ff– –   °f°–½ f ¾ °––f ff¯¾f f°  f°°  .°f fff–f f½f  ½¾ ©f ff¾ f°f¯ ¯½ °–f¾f°ff°  f°f° ¯¾¯f°  f°f°f° ¾ f–¾ .

° °f°–  °––f°½ °f fff¾f°ff°–f¾ f°f°½f ff°½ °–f    f°   °f°–  ©–f¯ ¯½ ¾  ¾¾f f°©f¯  © °–f°f½f¾f¾ ½ ¾°½  f° f–f©f   f ff½ ½  ff°   ½ ¾  f ½f¾ff° ¾½ ¯f .

f € fff f° f° °– ¾ f  f½f     f %f°f%    D - .f¾ff°ff°f½f f–f°¾f¾ f° ¾¾ ¯f°– ¯  ° 9 f½fff°¾¾ ¯f°– ¾° –¾ °––f f°–¾°– ¾ nff € € f° €¾ °   . ° 9 f°f°½    ¾ff ff°nff-   . n .f¾f¾ ff°–° f½f fff°¯f¾f ¯f¾f°©f–°–f °f¾ f°f–f°f¾f°–f f  ©–f½f¾f¾f°–f ¾f ¾¯  ffff° ¾ f ¾ff°f ¾ f  °f–f ©f¾ f  f  f° °–   ff¾ ff f¾f . °–f½f ¾f ¯f°"  f° ½n ½ ¯°ff° ff¯ f°f° – f°– ¾f °¯ °–f ff°f–f ©f–°–°f¾°f f°– f¯ °°–f¾ nff¾–°€f° ff¯½ °– f°©f ff¾ ff ½ ¾ f–ff°–¾ ¯f°°––°f¾ °––f¯ ¯ f°¯f©°n½¯ °f f ½ff½ f°©f–°–   . ¯ f°–°¾ ¯– ¾°¾f–°–    # ff°–°f ff¯f¾ff°–¾ ff¯f °–– °––½ f°©f–°– °f¯f¾f°f ° ° ¾f°¾f¾ ¯ f f ff°½ °¾f°¯ °– ¾½©f–°– #°–f½9€    °–ff°ff– .

 ¯½ ¾f° °¾ °€°¯ °–¯½¾f°–f°––f½ff– ff¯©¯f ¾f f° ¾ nff ff °f¾ nff– f©f–°– ¾½f -f¯° f ff°¾ f  f  ¾ nff– f¾ f ©f ½ ¯°ff°  % n ¾¾ ¯f° %f°–¯ ¯ ff–f°f °–– f°  f¯½f©–f½f ff–f©f–°–  ff¯° –    n ¾¾ ¯f° f°–fff¯° f°f ¾€f¯¾¯f°f½f¯f° f°f ¾f f°–¾°– f½ff°  f °f °¯f¾f°¯ °– ¯ f°–f°¾¾ ¯ f– ¾°¾©f–°–°f¾°ff°–  f°©f° f°¯ ¯ f° °°–f° ½f f¾ ¯f ½ f°f ff¯¾¾ ¯f– ¾°¾©f–°– f°¾ f¯f¾f°f½f°¯ ¯ f°–°¾¾ ¯ f– ¾°¾©f–°–f°–¯½   € €  f° €¾ °     ff°–°¯ ¯ f°–°¾¾ ¯f– ¾°¾©f–°–€ff½ff°–½f°–½ °°–  °f"   f¯f°f¯ °–f° ff°½f f¯½ ¯ff¾¾ ¯f°–½f°– ¯ff ff¾¾ ¯ ½ °– °–f° f°½ °¯½f°f°f¾ f½ ¯ f° f°½ °©ff°f ff¯ f ff° ¯f°½ f°¾ f n ff °f¾ ff–f°––¯  f f¯ ° f½ff°°f   f°f ½f f¯¾¯ °f f  °¯ °f°f¯ ¯ff¾½f ff¯° –  f°– f ¾  ©f ¾ nff f°– f°–  f°©°f½ff½ f°©f–°– n ° °–¯ °nff °f€¾ f°©f–°–¾ °––f¯ ¯ f¯½©f–°–¯f°f¯f¯f° ¾f   f   ff°–°¯ ¯ f°–°¾¾ ¯f– ¾°¾°  f–f°½f°– ¯fff°–½ f¯f ¾ f f°––f°– D°½  ©f¾f¯ff°– f ff¯©f°–f½f°©f°–f°ff½ ¯  ¾f ¾ ½ ½f ½ff° °f  °–f°½ff ° ½ °  f°½ f–f°–f ¾ f –f°¾f¾½ f° ff° f  °f f¯f° ¯f¾f°©f–°– f½ °f °¯f  ½ff½ f f°f fff°¯°–°¾f¾ ¯ f f f½ff–°¯ °– ¾½   f–f¯f°ff–f¾¾ ¯f– ¾°¾ ¾f  °" .

 –f¾¾ ¯f– ¾°¾©f–°–° ¾f  °  € €  f° €¾ ° ¯ff  f°¾ ¯fnf¯ f– ¾° ¾¾n °f – ¾° ¾¾n °f ¾f ff°– f  f–f½f –f°°– ½f f¾f¾f  ¾f f½f ½ff° °f ½ f–f°– –°f f°f –f°¾f¾½ f°  ff½ ¯ °f f f – ¾° ¾¾n °f ½ f°¾ f–f – ° ff¯¾ f  ¾f¾¾ ¯f– ¾°¾¯f f¾f¯½f¾ f–¾¯ °©f €f¾ff–f¯  ¾f°–½ nfff°ff½ff½ f    f©–ff¾¯f¯½¯ ¯€f¾f¾f–f¾ f½½ f ff¯¾¾ ¯f– ¾°¾ ff°f ¯ ¯f° °°–f°©f°–f½ °  f–°f¾ ¯ff @f½¾ f¯ ¯f° °°–f° f°–  ¯f  ¾ f°¾¾ ¯f– ¾°¾ ff¯©f°–f½f°©f°– ff f   f½ nfff° f¾f½f ff°¯ °–f¯ f – f°f¾¾ ¯   f–f¯f°f½ °– ¯ f°–f°¾¾ ¯f– ¾°¾©f–°–"  D°¯ °– ¯ f°–f°¾¾ ¯f– ¾°¾©f–°–°f¾ ½¾ff°f– ¾°¾©f–°–°  ½ °°–f°€ %½ff° °f% f°€ %¯ff°f°¯f°¾f% f°©f–°–°¯ff°f° ¯f°¾f ½¾ff°f–f°ff©f–°–½½f° ©f–°–¯f°¾  f°©f–°–¯ f . ¯f°–¾ ¯f °f¯f°f©f–°–f½¾ °f°f©f–°–f°–  f f °f©f–°–°f  f ¯ff ½ °– ¯ f°–f°f– ¾°¾ f°nfff°¾f¾°f©–ff¾ ½¾f ½¾f °½  ¾ ½ff ¾¾°f ½ ¯ °ff°    f°–f°½ °– ¯ f°–f°©f–°–° ff° ff%€ %¯f¾©f D°€  f°€  ¾f©ff¾ f fff°¯ ¯ °°f 9 °– ¯ f°–f° €  ° ° ¾f nn f  f½f¾f  f° °–f°©f–°–   fff°–¯ °f ½ °– ¯ f°–f°f– ¾°¾©f–°–°¯ ¯ f° °–f° f  ¯ f–f f°–f° f°½ f° ½ f–f°– ¯f½°° ¾  f °f   ff°f°9f°–f°%9%f°–¾ f¯f°  f°f°½f f f¾ f°–f©–f¾ f¯f¾f°f  ¯ f°–f°°©f–°–  .

  f° ½ f°f°½ ¯ °f f f©–f  f° f–°– ¾f f°f¯f¯½ ¾  ff° ° ¾f f½¾ °f©f–°–f°f  f½f½°¾  f °f°f½ f°f° ½ ¯ °f f f ¾ °f½ ¾¾f°–f½ °°–°¯ ¯€f¾f¾ ¯ °f¾¾ ¯ f– ¾°¾f°– ¾° – 9 f°f°½ ¯ °f f ff°–¾f°–f½ °°–f ff ¯ ° ff°°€f¾f¾ ½ ©ff° –f¾  ¯ f–f f°–f° f f  f°½f¾f   D°°–ff .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->