Macam-Macam Majas

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. 1) Majas perbandingan Alegori adalah majas yang menjelaskan maksud tanpa secara harafiah. Umumnya alegori merujuk kepada penggunaan retorika, namun alegori tidak harus di tunjukkan melalui bahasa, misalnya alegori dalam lukisan atau pahatan. Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadangkadang sulit di tebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut. Alusio adalah majas perbandingan yang menggunakan berbagai kata kiasan, peribahasa yang sudah lazim di dengar semua orang. Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya. Penjelasan : Kata 'Batang hidung' dalam kalimat di atas sudah lazim didengar orang dan di ketahui artinya, yang mana 'Batang hidung' berarti " Sosok seseorang ". Kalimat di atas berarti : Sudah dua hari ia tidak terlihat sosoknya (bersembunyi). Simile adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung. Contoh: Engkau yang kusayangi buku. Metafora adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia dan juga berbagai bahasa lainnya. Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung. Contoh: Engkau belahan jantung hatiku sayangku. Raja siang keluar dari ufuk timur. Jonathan adalah bintang kelas dunia.

Metafora adalah majas yang pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, misalnya tulang punggung dalam kalimat pemuda adalah tulang punggung negara.

Namanya harum. Contoh: .Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. melainkan dari salah satu sifat benda tersebut. Ayah membeli sebatang Djarum Coklat. Contoh: . . Contoh: .Si Pintar Aptronim adalah pemberian nama orang yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. manusia dan μορφή (morphē). Rokok di ganti Djarum atau Gudang Garam.Betapa sedap memandang gadis cantik yang selesai berdandan. Antonomasia adalah sebuah majas perbandingan yang menyebutkan sesuatu bukan dengan nama asli dari benda tersebut. Sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indera untuk di kenakan pada indera lain. 2.Si Lincah . Kakak pergi naik Kijang hijau. Terapan dalam kalimat : 1. ia dipanggil Karto Grobak Metonimia adalah sebuah majas yang menggunakan sepatah-dua patah kata yang merupakan merek.Rupanya manis.Si Gemuk . Mobil di ganti dengan Kijang. macam atau lainnya yang merupakan satu kesatuan dari sebuah kata. Penjelasan : 1.Karena sehari-hari ia bekerja sebagai kusir gerobak. Kata Djarum Coklat pada kalimat di atas bukanlah merupakan benda aslinya (sebuah jarum . 2. Contoh: 1. atau benda alam seperti angin atau matahari. Istilah antropomorfisme berasal dari bahasa Yunani ἄνθρωποσ (anthrōpos).Suaranya terang sekali. . .Antropomorfisme adalah atribusi karakteristik manusia ke makhluk bukan manusia. bentuk. Subyek antropomorfisme seperti binatang yang di gambarkan sebagai makhluk dengan motivasi manusia. dapat berpikir dan berbicara.

Contoh: Saat ku melihat rembulan. Litotes adalah majas yang mengungkapkan perkataan dengan rendah hati dan lemah lembut.berwarna coklat).Thailand menang atas Indonesia dalam pertandingan sepak bola di Jakarta kemarin sore. Di sini di sebutkan Thailand dan Indonesia (keseluruhan negara Thailand dan Indonesia. Contoh : "Di mana 'tempat kencing'nya?" dapat diganti dengan "Di mana 'kamar kecil'nya?". namun yang di maksudkan adalah timnas sepak bola Thailand dan timnas sepak bola Indonesia) Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang di rasakan kasar. 2. Di sini 'batang hidung' disebutkan (sebagai anggota tubuh) sebagai kata ganti untuk menyebut seseorang (secara keseluruhan anggota tubuhnya lainnya) Totum pro parte adalah sebuah majas yang di gunakan untuk mengungkapan keseluruhan objek padahal yang di maksud hanya sebagian.Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu. . Kata Kijang hijau pada kalimat di atas bukanlah merupakan benda aslinya (seekor kijang yang bewarna hijau). Mentari pagi hari membangunkan isi bumi. melainkan sebuah merek mobil Toyota Hipokorisme adalah penggunaan nama timangan atau kata yang di pakai untuk menunjukkan hubungan karib. yang membuat otok kian terkesima. Biasanya hal ini di capai dengan menyangkal lawan daripada hal yang ingin di ungkapkan. Personifikasi adalah majas yang memberikan sifat-sifat manusia pada benda mati. Pars pro toto adalah sebuah majas yang di gunakan sebagian unsur untuk seluruh.Sudah ditunggu hingga satu jam lamanya tetapi ia tidak nampak batang hidungnya. Contoh: Akan kutunggu kehadiranmu di bilikku yang kumuh di desa Wanita itu parasnya tidak jelek Personifikasi adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia. Contoh: . Contoh: . Contoh: . melainkan sebuah merek dari sebuah rokok/kretek. Litotes adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. dia seperti tersenyum kepadaku seakan-akan aku merayunya.

Ironi adalah majas yang mengungkapkan sindiran halus.Komet Halley (oleh Edmond Halley). di ambil dari bahasa Belanda adalah cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya. Fabel. Kata "kamar kecil" ini konotasinya lebih sopan daripada kata "tempat kencing". 2) Majas sindiran Ironi adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. sebuah penemuan biasanya di beri nama sesuai dengan penemunya. Jadi dalam eufemisme terjadi pergantian nilai rasa dalam percakapan dari kurang sopan menjadi lebih sopan.Mesin diesel (oleh Rudolf Diesel). Salah seorang pengarang fabel yang terkenal adalah Michael de La Fontaine dari Perancis. Biasanya sarkasme digunakan dalam konteks humor. contoh: .Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau! Sarkasme erat hubungannya dengan ironi. Misalkan cerita kancil atau cerita Tantridi Indonesia. Penyair Sufi Fariduddin Attar dari Persia juga menuliskan karyanya yang termashur yakni Musyawarah Burung dalam bentuk fabel. . atau menyinggung seseorang atau sesuatu. penemuan atau benda tertentu di karenakan kontribusi atau peranan tokoh yang bersangkutan pada obyek yang di namai tersebut.distribusi Gauss (oleh Carl Friedrich Gauss).Kata "tempat kencing" (dalam bahasa sehari-hari biasa juga disebut WC) tidak cocok jika akan di gunakan untuk percakapan yang sopan.Konstanta Planck (oleh Max Planck). . . Fyodor Dostoyevsky. Eponim adalah nama orang (bisa nyata atau fiksi) yang di pakai untuk menamai suatu tempat. .Penyakit Parkinson (oleh James Parkinson).Bilangan Avogadro (oleh Amedeo Avogadro). . Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar." 3) Majas penegasan . Dalam bidang sains dan teknologi. Banyak satrawan dan penulis dunia yang juga memanfaatkan bentuk fabel dalam karangannya. Kata "kamar kecil" dapat menggantikannya. Majas ini dapat melukai perasaan seseorang. Contoh: Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya Sarkasme adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir. Contoh . Biasa pada sebuah fabel tersirat moral atau makna yang lebih mendalam. seorang sastrawan Rusia mendefinisikan sarkasme sebagai "pelarian terakhir dari orang-orang berjiwa bersahaja dan murni ketika rasa pribadi jiwa mereka secara kasar dan paksa di masuki.

rahib Kristen abad ke-7 di Biara Gunung Sinai Elipsis adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Pleonasme termasuk dalam kategori majas penegasan. Contoh: Dengar Daku Dadaku Disapu Aliterasi adalah persamaan bunyi yang terdapat pada deretan kata berdekatan . Klimaks (dari bahasa Yunani “κλῖμαξ” (klimax) berarti "tangga" dan "jenjang") ialah titik intensitas atau kekuatan yang terbesar dalam rentetan menanjak. (sudah jelas bahwa turun pasti ke bawah) Saya sudah melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. Contoh: Kau berkertas putih Kau bertinta hitam Kau beratus halaman Kau bersampul rapi Antanaklasis adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia.Lokomotif klimaks. istilah lain untuk orgasme . Majas tersebut sering digunakan dalam .Klimaks (naratif) .Klimaks seksual. Elipsis adalah majas yang menghilangkan sebagian kata-kata atau kalimatnya. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata permulaannya sama bunyi. Istilah klimaks memiliki sejumlah konotasi khusus dan digunakan dalam bahasa Indonesia: Klimaks dapat pula berarti: . (sudah jelas bahwa melihat kejadian pasti menggunakan mata kepala sendiri).Klimaks (cara berbicara) . Contoh: Engkau dijual engkau dibaca. Contoh kalimat yang menggunakan majas pleonasme adalah: Dia turun ke bawah. Maka dari itu. Pleonasme adalah majas yang menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak di perlukan.Masyarakat klimaks . Paralelisme adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Antanaklasis adalah majas yang menunjukkan pengulangan kata yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda. yakni kulminasi. Aliterasi adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia.Yohanes Klimakus.Pleoanasme adalah salah satu Majas dalam Bahasa Indonesia.Majas klimaks . Paralelisme adalah majas yang mengulang kata di setiap baris yang sama dalam satu bait. lokomotif uap bergigi .Vegetasi klimaks dalam sebuah ekosistem .

4) Majas pertentangan Kontradiksi interminus adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia.. Kontradiksi interminus adalah majas yang menggunakan pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Tak ada suara menggema di dalamnya. Klimaks Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat. (pernyataan "kecuali Ani" menyangkal pernyataan sebelumnya.(pernyataan terakhir menyangkal situasi sebelumnya) MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA) 1. Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya. majas ini termasuk dalam kategori majas pertentangan. saya melihat. klausa. Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran. vici (saya datang. pendiam. 2. dan tidak terkenal namanya 3. Salah satu contoh asindeton yang terkenal adalah ungkapan veni. kesabaran pengalaman. kalimat.karya sastra berbentuk puisi. Antiklimaks Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun. Contoh : Jika kamu minta. vidi. Hanya detakan jam dinding saja yang terdengar di sana. yaitu "semua sudah siap") Kamar itu benar-benar kosong dan sunyi. "tak berhubungan") adalah suatu majas pengungkapan frasa. saya menang).. Fungsinya antara lain adalah untuk mempercepat ritme suatu unsur bahasa serta membuat suatu ide atau konsep lebih mudah diingat. aku akan datang . dan pengalaman harapan. Paralelisme Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris atau kalimat. atau wacana tanpa kata sambung (konjungsi). Asindeton (bahasa Yunani: ἀςύνδετον. Maka dari itu. Contoh kalimat yang menggunakan majas kontradiksi interminus adalah: Semua sudah siap kecuali Ani. Contoh: Oh.

aku bilang terserah aku. artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Epizeuksis Adalah repetisi yang bersifat langsung. Udara yang kau hirupi. Epistrofora Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami. Mesodiplosis Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Contoh : Kau bilang aku ini egois. Anadiplosis . Contoh : Kaya miskin. kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai 5. 12.4. kau dan aku menjadi seteru 7. Contoh : kau menunding aku. aku menunding kau. Epanalepsis Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris. 11. Tautotes Ada. Antitesis Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya. dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita. Anafora Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis. Contoh : Kita harus bekerja. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri. aku bilang terserah aku. klausa atau kalimat. 6. laut yang kaulayari adalah puisi. 10. mengulang kata pertama. ari yang kau teguki adalah puisi 9. suku kata. Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Contoh : Apatah tak bersalin rupa. bekerja. smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa. Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita. besar kecil.aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. tua muda. apatah boga sepanjang masa 8. Simploke Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Kau bilang aku ini judes. Reptisi adalah perulangan bunyi.

Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami. 16. 13. Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya 15. tetapi tampaknya menyangkal. seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa. Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan 18. Asonansi Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Asindeton Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan. Contoh : Keras-keras kena air lembut juga 14. Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara 17. Anastrof atau Inversi Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan. Apofasis atau Preterisio Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu. Contoh : Dan kesesakan kesedihan. Polisindeton Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung. . Contoh : Dalam baju ada aku. Aliterasi Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Apostrof Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada. 19. dalam aku ada hati. kesakitan. keheranan kami melihat peranginya.Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.

Eufimisme Adalah gaya bahasa penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan. lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu. perang ini hanya setitik darah 24. Tautologi Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului. Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang. Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu. Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya 26. dan dipertentangkan satu sama lain. yang bersifat berimbang. Pleonasme Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului. sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya 25. Elipsis Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca. 22. Kiasmus Adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian.Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya? 20. Histeron Proteron adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar. sekelompok (gerombolan) 23. Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran. tunawisma (gelandangan). tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya. Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan . 21. Litotes Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri Contoh : Mampirlah ke gubukku!. Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.

. Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil. Hiperbola Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan. Contoh : inikah yang kau namai bekerja? 30. 31. namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda. pekiknya membela angkasa. Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu. Erotesis atau Pertanyaan Retoris Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar. 34. Contoh : Silakan pulang saudara-saudara. Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu 28. 32. Prolepsis atau Antisipasi Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.27. Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan. pidatonya menyayat jiwa raga 33. dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. 29. Koreksio atau Epanortosis Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu. eh maaf. Paradoks Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan. tetapi kemudian memperbaikinya. Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Parifrasis Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya. Silepsis dan Zeugma Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. silakan makan.

Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting. Asosiasi atau Simile Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya. dewi malam (bulan). Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam. Parabel Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup. Epitet Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. mobil terbatuk-batuk. Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya 41. Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan. sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar 39. Eponim Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu. 42. wajah orang itu muram bagai bulan kesiangan 36. awan meringis gerimis 40. Alegori adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam. raja siang (matahari) 37. Alusi Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang. falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya. Sinekdoke . Metafora Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama. 38. Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman. Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan. Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita. Personifikasi Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. 43.Contoh : Keramah-tamahan yang bengis 35. tempat atau peristiwa.

diberi nasihat masuk ketelinga. Satire Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Contoh : Mampuspun aku tak peduli. sepucuk surat Totem Pro Parte Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Dasar otak udang! . kamu itu kerja apa!. Contoh : Manis sekali kopi ini. gula mahal ya?. gombal! 49. Sinisme adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam Contoh : Harum bener baumu pagi ini. Contoh : Ya. tim futsal SMAN 1 juara turnamen nasional - 44. Ironi Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan.- Pars Pro Tato Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian hal untuk menyatakan keseluruhan. 46. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya. gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Wah. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum) 47. belum mandi ya? 48. lima ekor kuda. Sarkasme Adalah gaya bahasa yang paling kasar. itukah pengorbanan. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah. Huh. bagus tulisanmu seperti cakar ayam!. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau. Antonomasia Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh. bahkan kadang-kadang merupakan kutukan. Ampun! Soal mudah kayak gini. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini. diberi nasihat aku tak peduli. ana ke kampus naik kijang. Hipalase Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Jangan tong kosong terus! 50. nuyie pulang naik garuda 45. kaum hawa memperingati hari ibu. Harum benar. Metonimia Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh. kau tak bisa mengerjakannya! 51. gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Inuendo .

Pun atau Paronomasia Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi. Antifrasis Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya. atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan. dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. biar ku peluk. 59. Contoh : Keduanya hanya cinta monyet. Enumerasio Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan. ia menyelam diri di antara botol minuman. Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya. Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi? 57. roh jahat. dengan tangan menggigil. Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat 53. yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri. Eksklmasio Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi. 58. 56. Interupsi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Simbolik Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. . Alusio Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan. Tropen Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang. Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya 52. Contoh : Wah. Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain. Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu 54. 55. dan sebagainya.

Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Contoh : semuanya telah diundang. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada) 62. Anakronisme Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah. 61. sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu. 63.?” . Bulan bersinar dengan terangnya. Contoh : “Apakah ibu mau…. Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf. Okupasi Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar. Contoh : dalam tulisan Cesar. Itulah keindahan sejati. Angin berhempus sepoi-sepoi. 60. Kontradiksio Interminis Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya. Resentia Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.Contoh : Laut tenang. kecuali Sinta.

°  f°°–– f f°¯  f°–¯  ¾f Jf°f½ff¾°f f©    9 ¾°€f¾f ff¾ff¾f¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f 9 ¾°€f¾f ff¯f©f¾f°– ¯ ¯ f°¾€f ¾€f¯f°¾f½f f ° f¯f   .

°  ff¯ f ¯ f°  f¾ ½  ¾ °¯ ½f f¾ ff° ff°f¯ f°f  . °f½f–f¯ ¯ f°–°f°¾ ¯   9f¾½f ff¾ f¯f©f¾f°– –°ff°¾ f–f°°¾°¾    .

°   f °––°––f¾f©f¯f¯f°f f½f f°f¯½f ff°– °–°f  ¾° ff°– °–  ¾ f°%¾ f–ff°––f %¾ f–fff–f°°¯ °  ¾ ¾ f°–%¾ nff ¾ f°f°––f °ff°°f%  @¯½½f f ff¾ f¯f©f¾f°– –°ff°°¯ °–°–f½f° ¾ f°  © ½f fff°– ¯f¾ f°f¾ f–f°   .

°  @ff° ¯ °f°–ff¾° ° ¾f ff¯½ f° °–f°¾ ½f f fff ¯f°¾  ¾° ¾ f°@ff°  f°° ° ¾f% ¾ f°° –ff@ff°  f°° ° ¾f °f¯° f°– ¯f¾ f°f ff¯°f¾¾ ½f f@ff°  f°¯°f¾¾ ½f f° ° ¾f%  € ¯¾¯ f ff°–f½f°f°– f¾¾ f–f½ °––f°°–f½f°f°– f¾ff° f¾f   .

°  ¯f°f  ¯½f °n°– °f"  f½f –f° °–f° ¯f°f f¯f n °f"  .

ff  ¯½f °n°– % ff¯ ff¾f¾ f f f¾f©–f ¾ J.

¾fff °– ff¯ °€f   f¾f½f f¾ f€f  ¾f¯fff¯f°ff°– ¯ ° ff¯   ½°¯f ff°f¯ff°–% ¾f°ffff€¾%f°– ½ff°¯ °f¯f¾f ¯½f  ½ ° ¯f°ff ° f  ° f °ff°° ¾ff½ f°f°f°– ¾f°–f° ½f f  f°– °f¯f ¾  ff¯  f°–¾f°¾ f° °– ¾ f½ ° ¯f° f¾f°f  °f¯f¾ ¾f °–f°½ ° ¯°f n°   f°–f°–f % ¯ –f %  .¾ff°n ff°nffn f@f° ° ° ¾f  f°f¾fff° f°½ °¾ °ff°–©–f¯ ¯f°€fff° °€f  ff¯ff°–f°°f  ff¾ f°–½ °–ff°–€f f°–  °ff ff.nf  f°f°  f9 f°n¾  9 °f€f  °f f9 ¾f©–f¯ °¾f°ff°ff°– ¯f¾f° .% fnn©fff°  –°ff°°½ nff½f°f°–¾½f° ff f¯f n  f½f¯ °––f°f°°f ff f¯f n °°f¾°f ¾½f° f½f fff  ¯½f °n°– f  ff¯ € ¯¾¯  ©f ½ –f°f°°ff¾f ff¯½ nff½f° ff°–¾½f°¯ °©f   ¾½f°   f   f¯  f ff¾f f° ff ffn ff°–¯ °––°ff° f°¾ f–f f¯f°f . ¾°  ¾ %  € ¾ %  9 °f9f°¾°% f¯ ¾9f°¾°%  ¯ f %  ¯° f %   ¾ ¾f¾¾% .

f©f¾¾° f° °f ff¾ff¾f© °¾¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f °f ff¯f©f¾f°– ¯ °–°–f½f°¾° f°f¾   .f9f°n%   %.f nf¾¾%  °¾f°f9f°n% .

f©f¾° f½f¯ f½ f¾ff°¾ ¾ f°–  f¾f°f¾ff¾¯  –°ff° ff¯° ¾¯   .°  f f° °–¾f°–ff° f °–f°¾f¯½f ¾f¯½f°f  ff¾¯ f ff¾f¯f©f¾f°– ¯f¾ f°°¯ °°  ff¯ °°––°– ¾ ¾ f°–ff¾ ¾f ff¾¯  f½f ½f½ °–°ff°f°–¯ °– ¾½ ¾f°f¾f ¾f f°¯ff °–f°¯ °––°ff°ff fff¾f .

f©f¾½ ° –f¾f° .° f¾ ¯ f°¾f©f f ¾f  ©ff°  f" ff¾¯  f °–f°°f °–f°°  ¾ ¾ ¾ f°–¾f¾ff°¾f ¯ ° €°¾f°¾ff¾¯ ¾ f–f ½ ff° f ff°– f°– ©f ¾ff©f f° ¯° ff¾f½ f ©f¯  f¾ nfff¾f f°½f¾f ¯f¾   %.

ff f 9 °f¾¯  ¯f¾ ff¯f –¯f©f¾ ½ ° –f¾f°  .9 f°f¾¯ f ff¾ff¾f.f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f 9 °f¾¯ f ff¯f©f¾f°– ¯ °f¯ ff°  f°–f°½f f½ °fff°f°–¾ f© f¾ff¯ °f¯ ff°  f°–f° f°–¾ °f°f f ½ f° .

°f¯ff°–¯ °––°ff°¯f©f¾½ °f¾¯ f ff  f°  ff %¾ f© f¾ ff°½f¾  ff% ff¾ f¯ f ©f f° °–f°¯ff ½ff¾ff¾ °  %¾ f© f¾ ff¯ f  ©f f°½f¾¯ °––°ff°¯ff ½ff¾ ° %     f¾f ff¾ff¾f© °¾¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f  f¾f ff¯f©f¾f°– ¯ ¯f°€fff°ff½ ¯ff°°f¾f¯f °   .

°   °–fff f¾f½  f¾f ff½ ¾f¯ff° °f°–  f½f½f f  f°ff  ff°   9ff ¾¯ f ff¾ff¾f© °¾¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f 9ff ¾¯ f ff¯f©f¾ f°–¯ °–f°–ff ¾ f½ f¾f°–¾f¯f ff¯¾f f  .

°  f  f¾½ f °ff¯ f f¾ff¯f° f ¾f¯½f½  °f°ff¾¾f ff¾ff¾f¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f °f°ff¾¾f ff¯f©f¾f°– ¯ °°©f°½ °–f°–f°fff°–¾f¯f f½¯ ¯¯f°ff°–  f .

°  °–f ©f °–f  fnf   ¯f¾% f ff¾f°f°# #%¯f% f f°––f  f° © °©f°– %ff ° °¾f¾ff ff°f°–  ¾f ff¯ ° f°¯ °f°©f f°¯°f¾ ¾f ¯f¾¯ ¯¾ ©¯f°f¾¾¾ f° –°ff° ff¯ ff¾f° ° ¾f  ¯f¾ f½f½f f  ¯f¾%°ff€% ¯f¾%nff  nff% .f©f¾ ¾ ¾ °– –°ff° ff¯ .f©f¾¯f¾ .f¾fff¯f¾ I – f¾¯f¾ ff¯¾ f ¾¾ ¯ ¯f¾¾ ¾f ¾ff°°–f¾¯  ¯€¯f¾ ¯€f½ –– f° ¾¯f¾ f ¾ °f f    ff°°–°f  ½¾¾f ff¾ff¾f© °¾¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f ½¾¾f ff¯f©f¾f°– ¯ °–f°–f°¾ f–f°ff fffff¯f°f .

ff¾f¾f  °½¾   .

f©f¾½  °f°–f° °f ¾° ¯°¾f ff¾ff¾f¯f©f¾ ff¯ ff¾f° ° ¾f °f ¾ ° ¯°¾f ff¯f©f¾f°–¯ °––°ff°½ °fff°f°– ¾€f¯ °f°–ff°– f ¾ f°½f f f–f°¾ ¯°f   .ff f ¯f©f¾° ¯f¾ ff¯f –¯f©f¾½  °f°–f°  .°     ¾° °% ff¾f°f°     f  °–f° %f ff¾f¯f©f¾½ °–°–f½f° €f¾f f¾f f¯f fffnf°ff°½fff¾f¯ °–%°©°–¾% °–¾°ff°fff° f ff°¯ ¯½ n ½f¯ ¾f°¾ ff¾f¾ f¯ ¯ f¾f ff°¾ ½  ¯ f °–f ff¾fn°f¾° °f°–  °ff ff°–f½f° °   n %¾ff ff°– ¾ff¯ f ¾ff¯ °f°–%   %.

.°f¯ff°–¯ °––°ff°¯f©f¾°f ¾° ¯°¾f ff   ¯f¾ f¾f½ nf° %½ °fff°  nf° ¯ °f°–f½ °fff°¾ ¯°f  f ¾ ¯f¾ f¾f½ % f¯f °f °f¾°– f°¾° @ff f¾ff¯ °–– ¯f  ff¯°f f°f ff°©f¯ ° °–¾f©ff°–  °–f ¾f°f %½ °fff° f¯ °f°–f¾f¾ ¾ ¯°f%     .

...

% %    ¯f¾  ff¾ ¯fnf¯–ff ff¾ff°–¯ °fff° f½fff°– °¾ ¯f°f¯f¾ ¯f° ¯ °°–f  ...

°  ¾ °–¾fff°¯ ¯ ff° ¾f ff°  ¾f ff°½ °–ff¯f°  f°½ °–ff¯f°ff½f°    °¯f¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °fff° f½ff f°¾ ¯f°¯f¾ ¯f°¯ °°  .

°  f½ °–f f°° – f fff°–f°–ff ½ ° f¯  f° f  °f°f¯f°f   9ff ¾¯   ff –ff ff¾f ½ ° –f¾f° f°– ½f ½ °–f°–f° ff ½f f f¾  ff f¯f  .

°  ff¯¯°f fff° ff°– .

  ° ¾¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °––°ff°½f¾f°–f°fff°– ff°f°¯f°f°f  .

°  ff ¯¾°  f ¯ f  ¾f  n  ¾¯f°f ¯ ¯½°f  f© f°  f f½  f¯f°f° f°–¾f   ½¾f ff½ f°–f° ° ¾ff ffff f–f°f¯ff°– f°––f½½ °°–° ¯ ¯  f°f° ff¯¾ f° ¾f°–¾ ¾f   ½ ¾¾  ff  ½ ¾ f°– ¾€f f°–¾°–  f°f ff f°– ½ °°–f° f°– f½f f    .

° ff¾  ©f   ©f  f°  ©f°¯ °–f©f¾ ¯f °––ff°f    @f ¾  f f© ½ ¾ff¾¾ fff f°– f°– ff¯¾ f°¾¾  .

° f¯ °° °–f f¯ °° °–f f f°f¯ °©f ¾     °f€f  ff ½ ¾f°– ½f½ f°–f°ff½ f¯f½f f¾ f½–f¾  .

° ½fff ¾f°½f f½ff –f¾ ½f°©f°–¯f¾f   ½¾€f  ff  ½ ¾ f°– ©  ½ f°–f° ff ff €f¾f ½f f f f¯f f° .

°  ¯f°–f f¯ ff°–ffff ff½¾  D fff°–f½ ff°–f –f ff½¾   ¯½   ff ½ ¾½f fff f°f f½f f¾fff¯f    .

¾ ½¾¾  ff ½ ¾  °–f  °–f f¾ f¾ff f½ff¯f f°  .°  f f°– f ° –¾  f f°–  ¾ f f  f f°– f ° © ¾  f f°–  ¾ ff   .

° 9ff½ ¯ ¾f©f°–f°¯ °n °¾° 9ff–f ¾©f°–f°¯ °nf½ ff°°f¾ °    ½f°f ½¾¾  ff ½ °–f°–f° f°– ©  ff  f f f¾  f¾f ff f¯f  ¯ °–f°– ff ½ f¯f  .

° f–°ff°½f° f°½ f¾ff°f   °f ½¾¾ .

 ffffff€f¾f f f¾ff¾ffff¯f¯ °©f ffff€f¾f½ f¯f f f¾f °f  .

° ff¯ f©f ff  ff¯ff ff ff¯f fff½f©ff°–f f     f¾  ff–ff ff¾f ½f½ f°–f° °ff°–¾f¯f  .

°  f¾  f¾ °ff ¯ ©–f  ¾°f°¾  ff–ff ff¾f ½f½ f°–f° °ff°–¾f¯f  .

° °f½ °f¾f½ff°–½°f  °f¾€ff° ¾  ff–ff ff¾ff°– ff¯½ °–°–f½f°°f½ ff¯f¯ ° f¾ © °ff °f   f¯ff°  .

° 9 –ff¯ °°––ff°f¯   f°f°f¯¯ f½ f°–°f   ½€f¾¾ff9  ¾  ff –ff ff¾f ¯f°f ½ °¾ ff ½ °–ff°– ¯ ° –f¾f° ¾ ¾f   f½ f¯½f°f ¯ °f°–f  .

°  ff  f ¯f ¯ °–°–f½f° ff¯ €¯ ° ff ¾f ff  f ¯ °–– f½f° f¾f°©f½ff°–° –ff  ½¾€  ff–ff ff¾ff°–  °½ °–ff°f¯f°f f½fff ° ½f f¾ ¾ff°– f f   .

°  f f¯ ¾ ¯f f°–  f ¯ °¯½ff° ff¯ ° f°f f n°f ° f f–ff¯ f½f¯ °– °f¯ f f° f° ¯  ff°¾ ½ f°–½ °ff½ ©f°–f°  ¾° °  ff–ff ff¾ff°–¯ ° f°¾ nff  f°½f¯ °––°ff°ff½ °– °– f–f½ ff°½ ¯ fnf f½f fff°– ¾ f°  .

°  f°  ¾ ¾ff°  ¾ f°   ¾ff°  ¾   f   ½ °–f ¾f° f°– ¯  ½f¾f°°ff   9¾° °  ff –ff ff¾f f°– ¯ ° f° ¾ nff   °–f° ¯ °––°ff° ff ½ °– °–  .

.

°   ¯f°ff °– °– f°– – ¾f f° f ¯f f° f ¯ ° f ½f f – f½ f° °–°f°–¯ °f°  °f"  f¾¯¾  ff –ff ff¾f  f°–    f f f–f°  f°– ¾€f ¯ f°–  f° ½  °f°–f° ¾f¾f¯ff°  f½¾¾°f°€f¾f f°f¾f°f  f f  f° °–f° °–f°€f¾fff f¾ff°°f  .

°   ¯f  ¾f ff° f¯ ¾ f f°–   °f½ ¾ f   °f° f¯ ° ¯ f°©f° ¾ff   ½¾¾  ff–ff ff¾ff°– © ¯ °–f°–f°¾f°¾f¯ff°– °–f°¯ f f½f ¾ff f€¾f°¾ °  ½ ¯ fnf  .

° ¾ff ff°–¯ °¯½f°   €¯¾¯   ff–ff ff¾f½ °–f¾°¯ °©f–f ¾½f°f°ff¯ °–° f¯ °f ¾f°f°–  f¯ ° °f°–f°  .

°  °f   f¯ f° ¯ ° ¯f ½ f©ff°  °f¾¯f %– f° f°–f°%  ¾  ¯½ %– ¯ f°%   ¾  ff–ff ff¾ff°– ½ff°¯ °fff°¾ ¾f °–f°©f°¯  ° ff°  .

f¯½f – " ½ f°–°f°f¾  ff  ¾ °9 ° f ff–ff ff¾ff°–¯ ½ff° ff° f¾ ¾ff°––¾ff ff° f¾ ¾f f°–f©f  .° .

°  f f ¾ f f¾ ¯ ° f ff°–  ©f   ¾f¯½ff f   ½ ½f°f f°– f¾ °–f°½f¾½°f  9 °f¾¯   ff–ff ff¾ff°–¯ ¯ f°  f°–f° °–f°ff fff°–¯f°f°f¾ f nf½ ff¯fff°–  f°–f°ff¯ ° f  .

° ff¯ f¯ ¯ f¾f f© f° °f  @f–  ff –ff ff¾f f°– ¯ °–f°– ¾ f ff ff¯ f¯f ff ¯ ¯½ –°ff° ff ff f°–  f°–f°ff¯ ° f  .

°  ©f f° f¾ff°–°f° f° f¾ffff½f° .

 9f€f¾¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °––f°f°¾ fff °–f°€f¾ ff¾ f°–ff°fff°–¾f¯f f°f  .

°  ff°– ¾f¯fnf°½ ¯ °°f¾ – f¯ °°––ff° ¯½f  9 ½¾¾ff°¾½f¾  ff –ff ff¾f ¯f°f f°– ¯ ¯½ –°ff°   f ff ff ff ¾ f ff ¾ ¯½ ¾fff–f–f¾f°f°–¾ °f°f ©f   .

°  ff°–f ¾f¯fnf°½ ¯ °°f¾ – f¯ °°––ff° ¯½f    ¾¾ff9 f°ff° ¾  ff ½ °fff° f°– ½ –°ff° ff¯ ½ f ff ¾f° °–f° ©f° ° ¯ °nf½f € f°– ¯ ° ff¯ f°½ ° f°f°f°–f©f  f°¾f¯f¾ f f¯ °– ° ff f°f ¾f©ff f°  .

° °ff°–f°f¯f  ©f"   ½¾¾ f° –¯f  ff –ff ¯f°f f°– ¯ ¯½ –°ff° f °¾¾ f½ff° °–f° ¯ °– °–f° ¾ f ff °–f° f ff f°– f° ¾ °f°f f°f ¾ff ¾f°f ¯ ¯½°f  °–f° ¾ f ff °–f° f ff f°– f° ¾ °f°f f°f ¾ff ¾f°f ¯ ¯½°f  °–f° °–f°ff½ f¯f  .

° f¯ °° f° ½ff f° f f°°f°¯ ¯ ¯f ½f ff¯    ¾ff½f°¾¾  ff–ff ff¾ff°–¯f ¯f¯ ° –f¾f°¾ ¾f  f½ ¯ f°¯ ¯½  f°f  .

° ff°½f°–¾f ff ¾f ff  ¯ff€ ¾ff°¯ff°   ½  f  ff–ff ff¾ff°–¯ ¯ f°½ °fff°f°–    f°  .

°  f ©f°– ¾f¯½f  ff ½ °–f ¾f°  ½ °f ¯ ¯ f f°–f¾f  ½ f°f ¯ °ff©ff–f  9ff ¾  ff –ff ff¾f f°– ¯ °– ¯ff° f f°– ¾ f f  °f°–f°  °f¯° ¾ °f°f  ff °f © f°–  ¯ff°  f  .

° f ¾f f½°f°f n   ¾¯° f ff –ff ff¾f f°– ¯ °–f° °– ½  °f°–f° °–f° ¯ ¯½ –°ff° ff ff f°– ff°f° ff¯€f¾ff°–¾f¯f  .

.

°  f¯f f¯ff°f°– °–¾  ¾¾f¾ff¯   ff–ff ff¾ff°–¯ ¯ f° °–f°¾f °–f° f ff°f°f°–¾ ¾f °–f° f ff° f°– ¾f°°f  .

f€f  ff –ff ff¾f f°– ¯ ¯ f° °–f° ¾f ° f   ° °–f° ° f f° f°– ¯ ¯½°f¾€f¾f¯f  .° 9f°°f¾ f–f °f°– f° fff¯ f©ff°–¯f¯ f–f f° ¾f°–f°  .

° f°°–f°ff°–f f f  ¯ff¯% f°% f©f¾f°–%¯fff%   – f ff–ff ff¾ff°–¯ ¯ f° °–f°  ½f°¯f°¾f °–f°ff¯  .

° ¯f°f ff ¯  ff¯¯ °–f°–f¯f°   9ff   ff –ff ff¾f ½ff  f°–  f° °– ff¯ ¾  ff°–f° °–f° ¾ nff f¾  ¾¯½ ff¯ff°–f°½ ¯f° ½ €f¾f€f ½f°–f¾ ¯ f  ff¯°f  .

° .

ff¯ff°f¯ ¾f°¯f¾  fff°– °f f½ °f  9 ¾°€f¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °–¯½f¯ff° ° f¯f¾ f–f¯f ½  .

° ©f°¯ °f °f ff¾– °°– ¯   f f ff°¯ °–¾– ¯¾  ¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °– °–f°¾ ¾f °–f°f°–  ¯½fff½ ¾f  .

° 9f° n¯ ¯½ ©f°–f°f°f  ½°¯  ff –ff ¯f°f ¾ ¾ f°– °f¯f°f – ¾ °–  °–ff° °–f° ¾€f   °  ¾ °––f°f¯f ½ff°¯ °fff°¾f¾€f  °¾ °––f°f¯f ½ff° ¯ °fff°¾€f  .

°   ° f@f°¯ °fff° nf°f°   ½   ff–ff ff¾ff°–¯ °fff°¾f¾€fffnf°–¾¾ f¾ ¾ f°–ff¾ ¾f f  .

° °n °–½f–°ff¯©f°f°   °    .

 9f¾9@f  ff–ff ff¾ff°–¯ ° f°¾ f–f°f°¯ °fff° ¾ f° .

°  ff ¯¯ f ff°– °–°f ¯f  f ¾ ½n¾f @ ¯99f   ff –ff ff¾f f°– ¯ ° f° ¾  f ° ¯ °fff° ¾ f–f°  .

-©ff°f¯ °°f¾°f    .°  @ff°  ¯ ¯ °– ½ff  ¯  ff° ¾  f ¯ °––°– 9 f¯f  f¯ ff ¯ ¯½ °–ff  ¯€¾f. °¯f  ff –ff ff¾f f°– ¯ °––°ff° °f¯f n    – f ff ©f ff° ¾ ¾ f°– ¾ f–f ½ °––f° °f¯f   .

°  f ¯ °––°ff° ½  ©f ½ –   ¾ f  f°f   f¯½¾ °f ©f°– ° ½f°–°f–f f  °°¯f¾f  ff–ff ff¾ff°–¯ ° f° ¾€f ff n    – f ff ©f ff° ¾ ¾ f°– ¾ f–f ½ °––f°°f¯f  .

° f°–.ff f½f¯ °–f ½  ¯f°°   ½ff¾   ff–ff ff¾f¾° f° ½f½ °fff°f°– f°f° °–f°f°– ¯f¾ f° .

°  f ¯f¾ ¯ °° f¯f¯ ¯f¾f° f  ½ °f %¯f¾ °f ¯ °° ¯f¾f° f f¯f¯%  °  ff–ff ff¾f¾° f° ½f½ °fff°f°– f°f° °–f°f°– ¯f¾ f° .

f°¾ ¾ f ½ °  –f ¯ff f"  Jf  f–¾ ¾f°¯ ¾ ½  nff ff¯"  f¯ °f  ¯¯f° f"  °¾¯  f ff–ff ff¾f¾° f°f°– f¾f f°ff¾° f°f©f¯ .°  .

° f¯ °  f¯½f–°  f¯ ©ff½f" f½ °– f°f° –¯ f"  ff¾¯   ff–ff ff¾ff°–½f°–f¾f  ff°f f°– f f°–¯ ½ff°f°  .

f¯½¾½°ff½    °f¾fff½    °f¾f¯f¾  °–f  f¾ff f°–" f°–f°°–¾°– ¾"  f   ff°–f½f°f°–¯ ° fff°ff¯ °f¾ ¾f  .° .

° f ¯½°"f¯ fff–° ff ¾f¯ °– ©ff°°f"  ° °  .

 ff–ff ff¾f¾° f° °–f°¯ °– nf° °fff°f°–¾ °f°f  .

° f¯ °©f fffff °f¯ °–f ff° ¯ ¾f¾f¾©f ff°°f  °€f¾¾  ff –ff f¾f ° f°– ©  ½ °––°ff° ¾ f ff °–f° ¯f°f ¾ f°f  f°– ¾f¾f©f f°––f½¾ f–f°¾ °  ffff fff°– ½ff°¯ °f°–f ©fff°  ©ff  f°¾ f–f°f  .

° °–f¯ ¯f°–f°–f°–¯f f° ¯f  9°ff9f°¯f¾f  fff¾f° °–f°¯ °––°ff° ¯½f° °  .

° @f°––f¾f––¾ff°––f¾f  ¯   ff –ff ff¾f f°– ¯ ¾f° ¾ ¾f °–f° ¯ ¯½ –°ff° ° f ° f f° ¾ f–f ¾¯ ff½ f¯ f°–  .

°  f°ff°fn°f¯°    @½ °  ff –ff ff¾f f°– ¯ °––°ff° f¾f° °–f° ff ff ¾f f°  f f½ ½  ©ff° f°– ff°¾ ¾ f°–  .

° D°¯ °–f°–f°  f°½f°°f f¯ ° f¯  f°ff ¯°¯f°   ¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °––°ff°½ ff¾fff°–f½f°  .

° ½ff½ ¾f@f°–ffff° f°–f–"   ° ½¾ f ff –ff ff¾f f°– ¯ °––°ff° ff ff ff f–f° f¯f f°– ¾¾½f°  ff¯ f¯f½° ¯ °© f¾f°¾ ¾f ff¯f¯f  .

° @ f  ff ¾f¯ ¾  ½  ¯½f°f°   ¾¯f¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °––°ff°ff ff¾ fff° °  .

° Jf  f½   °–f°f°–f°¯ °–––   °¯ f¾  ff f½f ½ ¾f f°– ¯ ¯ ° ¾f  ¾ff°  ¾f° ¾f ½ ¾f f–f f½ ½ ¾f ff¯ ¾ f°°ff°½f °–f°© f¾  .

.

°  f  °f°–   ff¾ ½ ¯f f°   f°½f ¾f ¾f°f ½ f ° ff° ¯ °n ½ ff° ff°  °–°  ¯½¾ ¾ ½ ¾ ½  f° ¾°f °–f°  f°–°f  ¾f°f ¾° °f°– °f°–– ¯ f½f°  ¯f°f ½f ¯ ¯ °¾f¾f°f°–f¯°¾ f  ° ff°¾ ©f   °f ¾° ¯°¾  ff –ff ff¾f f°– ¯ ¯½ ff° ¾ ¾f f°–  °f°–f° °–f° f½f f°–  f  ¯ff°¾ ¯°f  .

° ¾ ¯f°f f ° f°–  nf°f   °f°¾¯   ff –ff ff¾f f°– ¯ °°©f° f f°f   f ¾ ¾ff° ff° ff¯ ff ¾f¾f ff¯ ¾ ©ff ¾ f°–f°¾ ¾ff°– ¾ f° ¯f f¾ff  .

°  ff¯ ¾f° .

¾f  f ¾½ f  ¯ °¾f° ©f¯  ° –f f %¾ff  ©f¯ ¯ f f%  ½f¾  ff–ff ff¾ff°–¯ °fff° f°ff°ff ff° f f½¾ ¾ff°– f°– f°f f°––f½ °f  .

°¯f° f¾ f½f¯ ¾f f½f¯ ¾f©f°–f°¾¾ ¯¾ff€  f½ f°ff°f f°–¯ °–°¾¯¾°f    ¾ °f  ff –ff ff¾f f°– ¯ ¾f° ¾ ¾f f°–  f ¯ °–fff°  –f¾ ½f f f–f°   ° ff¯ff°– f°–f°  .° .

° #½ff ¯f "#  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful