P. 1
Manajemen Keuangan

Manajemen Keuangan

4.87

|Views: 67,646|Likes:
Published by api-3764365
Slide MM Narotama
Slide MM Narotama

More info:

Published by: api-3764365 on Oct 16, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2015

pdf

text

original

•Leverage timbul karena perusahaan dalam
operasinya mempergunakan aktiva atau dana yang
menimbulkan beban tetap.
•Leverage yang timbul karena perusahaan
mempergunakan dana dengan beban tetap (utang)
disebut financial leverage.
•Leverage yang timbul karena perusahaan
mempergunakan aktiva yang menimbulkan beban
tetap (aktiva tetap) disebut operating leverage.

Finacial Leverage

•Financial structure (struktur keuangan)
Menujukkan bagaimana perusahaan membelanjai
aktivanya, tampak pada neraca sebelah kredit, yang
tercermin pada komposisi utang lancar, utang jangka
panjang dan modal.
•Capital structructure (struktur modal)
Merupakan bagian struktur keuangan yang hanya
menyangkut pembelanjaan jangka panjang, yang
tercermin pada utang jangka panjang dan modal.
•Leverage factor
Merupakan perbandingan antara total utang (D)
dengan total aktiva (TA) atau total utang dengan
modal (E).

Pengaruh leverage keuangan (struktur
keuangan) terhadap profitabilitas

Contoh: alternatif struktur keuangan perusahaan

Struktur I (D/E =0 atau D/TA = 0):

Total utang

Rp 0

Modal saham

Rp 10.000
--------------

Total aktiva

Rp 10.000

Total pasiva

Rp 10.000

========

========

Struktur II (D/E = 25% atau D/TA = 20%):

Total utang

Rp 2.000

Modal saham

Rp 8.000
-------------

Total aktiva

Rp 10.000

Total pasiva

Rp 10.000

========

========

Lanjutan:

Struktur III (D/E = 100% atau D/TA = 50%):

Total utang

Rp 5.000

Modal saham

Rp 5.000
--------------

Total aktiva

Rp 10.000

Total pasiva

Rp 10.000

========

========

Struktur IV ( D/E = 400% atau D/TA = 80%):

Total utang

Rp 8.000

Modal saham

Rp 2.000
--------------

Total aktiva

Rp 10.000

Total pasiva

Rp 10.000

========

========

Bagaimana dampak penggunaan utang terhadap profitabilitas
dalam hal ini return on equity (ROE), dilakukan analiasis sebagai
berikut:

Pengaruh financial leverage terhadap ROE

Struktur Keuangan

Rasio EBIT/TA
------------------------------------------------------------------------------------
Buruk (- 20%)

Normal (20%)

Baik (60 %)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Struktur I (D/TA = 0%):
EBIT

-Rp 2.000

Rp 2.000

Rp 6.000

Bunga

0

0

0

----------- -

----------- -

----------- -

EBT

-Rp 2.000

Rp 2.000

Rp 6.000

Pajak (40%)

- 800

800 2.400

----------- -

----------- -

------------ -

EAT

-Rp 1.200

Rp 1.200

Rp 3.600

ROE = EAT/E

- 12%

12%

36%

lanjutan

Struktur keuangan II ( D/TA = 20% ):

EBIT

- Rp 2.000

Rp 2.000

Rp 6.000

Bunga (10%)

200

200

200

--------------- -

------------- -

------------- -

EBT

Rp 2.200

Rp 1.800

Rp 5.800

Pajak (40%)

- 880

720

2.320

-------------- -

------------- -

------------ -

EAT

- Rp 1.320

Rp 1.080

Rp 3.480

ROE= EAT/E

- 16,5%

13,5%

43,5%

lanjutan

Struktur III ( D/TA = 50% )

EBIT

- Rp 2.000

Rp 2.000

Rp 6.000

Bunga (14%)

700

700

700

------------- -

------------ -

------------ -

EBT

- Rp 2.700

Rp 1.300

Rp 5.300

Pajak (40%)

- 1.080 520

2.120

------------- -

------------ -

------------ -

EAT

- Rp 1.620

Rp 780

Rp 3.180

ROE = EAT/E

- 32,4%

15,6%

63,6%

lanjutan

Struktur keuangan IV ( D/TA = 80% ):

EBIT

- Rp 2.000

Rp 2.000

Rp 6.000

Bunga (20%)

1.600

1.600

1.600

------------- -

-------------

------------ -

EBT

- Rp 3.600

Rp 400

Rp 4.400

Pajak (40%)

- 1.440 160

1.760

------------- -

------------ -

------------ -

EAT

- Rp 2.160

Rp 240

Rp 2.640

ROE = EAT/E

- 108%

12%

132%

Pengaruh financial leverage terhadap risiko

•Besar kecilnya risiko diukur dengan range ROE

Leverage factor

Range ROE

0%

48%

20%

60%

50%

96%

80%

240%
Semakin besar utang semakin besar risiko

Hubungan Financial Leverage dengan
Operating Leverage

Operating Leverage (OL)
Operating leverage timbul jika perusahaan
menggunakan aktiva yang menimbulkan beban tetap
(aktiva tetap) yang berupa penyusutan.
•Besar kecilnya operating leverage diukur dengan
degree of operating leverage (DOL)
%ΔEBIT C
•DOL = ---------------- atau ----------
%ΔSales X
C = contribution margin ( sales – variable cost)
X = EBIT

Financial leverage

•Financial leverage timbul jika perusahaan menggunakan
dana yang menimbulkan beban tetap (utang) berupa
bunga.
•Financial leverage mempengaruhi laba setelah pajak,
return on equity dan earning per-share
•Besar kecilnya financial leverage diukur dengan degree of
financial leverage (DFL)
%ΔEAT

EBIT
•DFL = ----------------- atau -------------------

%ΔEBIT EBIT – r.D
r = besarnya suku bunga
D = besarnya utang

Combination leverage

•Combination leverage merupakan gabungan antara
operating leverage dengan financial leverage
•Besar kecilnya combination leverage diukur dengan
degree of combination leverage (DCL)
%ΔEBIT

%ΔEAT
DCL = -------------------- x -----------------------
%ΔSales

%ΔEBIT

%ΔEAT
= ------------------------
%ΔSales

Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur
keuangan perusahaan:

•Tinggkat pertumbuhan penjualan: besar kecilnya
pertumbuhan penjualan
•Stabilitas penjualan: apakah penjualan perusahaan
berfluktuasi atau stabil
•Karakteristik Industri: apakah termasuk industri yang
peka terhadap gejolak ekonomi atau tidak
•Struktur aktiva: komposisi aktiva lancar dan aktiva

tetap

•Sikap manajemen perusahaan: berani atau tidak
berani mengambil risiko
•Sikap pemberi pinjaman

Struktur Modal (Capital Structure)

•Struktur modal berkaitan dengan pembelanjaan
jangka panjang perusahaan, yang terdiri dari utang
jangka panjang dan modal
•Struktur modal diukur dengan perbandingan antara
utang jangka panjang dan modal perusahaan
•Masalah yang berkaitan dengan keputusan struktur
modal adalah menentukan berapa komposisi utang
jangka panjang dan modal yang optimal ?
•Untuk menjawab pertanyaan tersebut, salah satu
pendekatan yang banyak dipergunakan adalah
analisis EBIT-EPS

Analisis EBIT-EPS

•Analisis EBIT-EPS menjelaskan bagaimana pengaruh berbagai
alternatif pembelanjaan jangka panjang terhadap besarnya EPS
pada jumlah EBIT tertentu.
•Misalkan, perusahaan mempunyai modal Rp 10 juta seluruhnya
berupa saham biasa dengan jumlah saham yang beredar
200.000 lembar. Perusahaan membutuhkan tambahan dana
Rp 5 juta untuk ekspansi, yang akan dibelanjai dengan alternatif
sebagai berikut:
1. Seluruhnya dibelanjai saham biasa dijual dengan harga
Rp 50 per lembar saham
2. Seluruhnya dibelanjai utang dengan bunga 12%
3. Seluruhnya dibelanjai saham preferen dengan dividen 11%

lanjutan

•Pajak pendapatan perusahaan 50%, dan setelah perluasan EBIT
perusahaan menjadi Rp 2,4 juta.
•Perhitungan EPS pada ketiga alternatif pembelanjaan:
------------------------------------------------------------------------------------------

Keterangan

Saham biasa

Utang

Saham istimewa
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
EBIT

Rp 2.400.000

Rp 2.400.000

Rp 2.400.000

Bunga

0

600.000

0

---------------------------------------

--------------------

EBT

Rp 2.400.000

Rp 1.800.000

Rp 2.400.000

Pajak 50%

1.200.000

900.000

1.200.000

-------------------------------------

--------------------

EAT

Rp 1.200.000

Rp 900.000

Rp 1.200.000

Div shm preferen 0

0

550.000

--------------------------------------

-------------------

Laba utk sh biasa Rp 1.200.000

Rp 900.000

Rp 650.000

Jml lb shm biasa 300.000

200.000

200.000

EPS

Rp 4

Rp 4,5

Rp 3,25

==========

===========

===========

Grafik : Breakeven point EBIT-EPS dari tiga alternatif
pembelanjaan

7
6
5
4
3
2
1
0

1

2

3

4

EBIT Rp juta

EPS (Rp)

Utang

Shm. biasa

Shm. preferen

Breakeven EBIT-EPS antara saham biasa dengan utang

•Jika terjadi breakeven berarti EPS alternatif saham biasa sama
dengan EPS alternatif utang
(EBIT* - C1) (1 – t)

(EBIT* - C2) (1 – t)
----------------------------- = --------------------------------
S1

S2

Keterangan:
EBIT* = EBIT pada titik BEP
C1;C2 = Biaya bunga pada alternatif saham biasa dan utang
t

= Tarif pajak
S1;S2 = Jumlah saham biasa yang beredar pada alternatif
saham biasa dan utang

Berdasarkan data pada contoh, maka EBIT* adalah:

(EBIT* - 0) (1 – 0,50)

(EBIT* - 600.000) (1- 0,50)
------------------------------- = -------------------------------------------
300.000

200.000

50.000 EBIT*= 90.000.000.000
EBIT* = Rp 1.800.000

Artinya jika EBIT lebih kecil dari Rp 1.800.000, maka alternatif
yang lebih menguntungkan adalah saham biasa, dan jika EBIT
lebih besar dari Rp 1.800.000, maka alternatif yang lebih
menguntungkan adalah utang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->