P. 1
Askep Neuroma Pada Fronto Orbita Sinistra

Askep Neuroma Pada Fronto Orbita Sinistra

|Views: 155|Likes:
Published by Arief Ferri N

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Arief Ferri N on Oct 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2011

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN BAYI DENGAN NEUROMA PADA FRONTO ORBITA SINISTRA Oleh Edi Konsep Dasar 1.

Pengertian Tumor Orbita merupakan benjolan atau pembengkakan abnormal yang ditemukan didaerah orbita. 2. Epidemologi Tumor secara umum dibedakan menjadi neoplasma dan non-neoplasma. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Tumor ganas terjadi akibat berkembang biaknya sel jaringan sekitar infiltrat, sambil merusakkan. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan disekitarnya dan biasanya tidak mengalami metastasis. Tumor orbita relatif jarang dijumpai. Pada proses pengambilan ruangan di orbitapenderita biasanya datang dengan keluhan seperti ada benjolan yang menyebabkan perubahan bentuk wajah, protopsis, nyeri peri okular, inflamasi, keluarnya air mata, massa tumor yang jelas nampak. Insiden tumor orbita bervariasi, tergantung pada metode pemeriksaan yang dipakai. Frekwensi relatif benigna dan maligna menurut handerson (1984); disebutkan sebagai berikut : karsinoma (primer metastasis dan pertumbuhan terus 21 %, kista 12 %, tumor vaskular 10 %, meningioma 9 %, malformasi vaskuler 5% dan tumor saraf tengkorak 4%, serta glioma optikus dan neurisistik 5%. Gangguan mekanisme pengendalian pertumbuhan normal Berfungsinya onkogen (karsinogenic Agent)3. Patofisiologi Mutasi gen pengendali pertumbuhan Infeksi virus ( Virus SV –4) Perubahan epitel daerah orbital/operasi Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas Suhu lingkungan yang rendah, lemak sub kutan tipis, adaptasi terhadap suhu rendah -, penurunan metabolisme akibat puasa Puasa, perdarahan Jinak (Epidermoid, sel besar, adeno carsinoma ) - Kohesif - Tumbuh lambat - Pola teratur - Berkapsul Ganas/kanker (Sel kecil/oat cell) - Kurang kohesif

- Pertumbuhan cepat - Pola tidak teratur - Tidak berkapsul Kecemasan Persiapan operasi Penekanan reseptor Pada orbita mengeluarkan prostalagnin, serotonin, bradikinin, norefinefrin, ion hidrogen, ion kalium dan subtance P Benjolan Pada daerah orbita Ggn body imagge Operasi Resiko terjadi cedera ( Posisi operasi/hipotermi Pemakaian anastesi Tindakan operatif/konservatif/paliatif Kekurangan volume cairan Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas Nyeri Post operasi Kerusakan jaringan Post Anestesi Kekurangan volume cairan Resiko terjadi cedera (hipotermi)

4. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian Pre Operasi Peri Operasi Pasca Operasi S: Benjolan pada daerah sekitar mata/dahi, ada perasaan yang tidak nyaman akibat adanya benjolan, nyeri, takut. Riwayat trauma, riwayat tumor pada keluarga, riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat pembedahan, perasaan klien berhubungan dengan pembedahan. Haus. Riwayat alergi. lemas akibat puasa. Pada anak riwayat tumbuh kembang, imunisasi. Puasa, mandi. S:S : Nyeri, susah bernafas, tubuh dingin 0 : Tampak benjolan pada daerah orbita, ukuran benjolan, jenis benjolan (keras, lunak, mobile/tidak ). Keadaan umum, kesadaran, keadaan kulit (pucat, cyanisis, icterus ), tekanan darah, Nadi dan suhu biasanya normal. Ukur BB dan TB. Status gizi. Kebersihan daerah operasi. Data penunjang : Foto Thorax, CT scan, Lab DL. UL, FL, FH dan hasil tes antibiotika, informed concent. 0 : Terpasang alat perawatan,(infus, monitor, respirator ).Posisi tertelentang. Induksi dengan anastesi. Dilakukan eksisi. Suhu lingkungan 22 oC. Perdarahan. O : Lemah, terpasang infus, catatan tentang anestesi yang didapat, kesadaran menurun, luka bekas operasi, catatan perdarahan, peristaltik usus menurun, flatus (-).Hasil PA. Mual dan muntah, menangis pada anak-anak. Tubuh dingin, akral dingin, mukosa kering. b. Diagnose dan Perencanaan PRE OPERASI DX TUJUAN TINDAKAN Rasional Kecemasan pada anak atau orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang kemungkinan penyakit dan prosedur tindakan operasi Tujuan : Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui penyakit serta prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klin/anaknya. 1. Jelaskan tentang penyakit yang diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.

2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya sampai di ruang premedikasi.

3. Yakinkan tentang jaminan mengenai tindakan yang akan dilakukan. 4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya.

5. Pastikan kelengkapan operasi klien (Status, hasil lab, Foto Radiologi, Ct Scan, Obat-obatan, alat-alat, informed concent - Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko tindakan operasi yang skan dilakukan - Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan. - Agar kecemasan dapat tereduksi.

- Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien - Untuk menjamin keamanan fisik maupun psikologis petugas dan keluarga, yang memastikan segalaya telah siap. Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria : - Turgor baik - Cowong - Mukosa lembab. 1. Kolaborasi pemasangan infus 2. K/P pasang kateter

3. Observasi kelembaban mukosa - Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien.

- Untuk mengetahui keseimbangan intake/output cairan - Untuk mengetahui kecukupan cairan. INTRA OPERASI DX TUJUAN TINDAKAN Rasional Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas. 1. Bantu memberikan posisi stabil 2. Bantu menyiapkan alat intubasi. 3. Bantu memonitor status respirasi 4. Lakukan monitoring SaO2

5. Pantu tanda distress pernafasn setelah penyapihan ETT/respirator. - Untuk melancarkan airway - Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas - Untuk mengetahui tanda gg pola nafas - Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2. - Untuk mengetahui efek anastesi pada SSP. Resiko terjadi cedera (hipotermi, bradikardi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi, serta penekanan pada nervus X pada segmen posterior orbital. Selama operasi : - Tidak terjadi hipotermi - Tidak terjadi okuloreflek 1. Pasang diatermi sebagai alas meja operasi. 2. Perhatikan pemasangan ground diatermi. 3. Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia. 4. Pantau nadi dan EKG selama operasi - Untuk mencegah hipotermi dg memberikan hangat secara elektrik - Untuk mencegah kombus atau elektrik injury

- Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi - Penekanan pada bola mata dapat menimbulkan timbulnya okulo reflek yang merangsang nervus X sehingga dapat terjadi bradikardi . PASCA OPERASI DX TUJUAN TINDAKAN Rasional Kecemasan pada anak atau orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang hasil operasi. Tujuan : Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui hasil operasi. 1. Jelaskan tentang hasil operasi yang dilakukan, serta keadaan klien penyakit yang diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan. 2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya di ruang RR.

3. Jelaskan tentang tindak lanjut hasil Px jaringan 4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya. - Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko dari hasil operasi yang telah dilakukan

- Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan. - Agar kecemasan dapat tereduksi. - Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria : - Turgor baik - Cowong - Mukosa lembab. 1. Observasi cairan infus

2. K/P pasang kateter 3.Observasi kelembaban mukosa - Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien. - Untuk mengetahui keseimbangan intake/output cairan - Untuk mengetahui kecukupan cairan. Resiko terjadi hipotermi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi Selama di RR - Tidak terjadi hipotermi 1. Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia. - Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas. 1. Bantu memberikan posisi stabil 2.Bantu menyiapkan alat intubasi. 3.Bantu memonitor status respirasi 6. Lakukan monitoring SaO2

- Untuk melancarkan airway - Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas - Untuk mengetahui tanda gg pola nafas - Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2. DAFTAR PUSTAKA

Tabrani, (1998), Agenda Gawat Darurat Jilid 3 Penerbit Alumni Bandung Guyton, (1991), Fisiologi Manusia, EGC, Jakarta Barbara Engram, (1995), Perawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta Dongoes M.E, Marry F, Alice G (1997) Nursing Care Plans, F.A davis Company, Philadelphia. Carpennito L.J (1997), Nursing Diagnosis, JB. Lippincot, New York Naught Callender (1990), Illustrated Physiology, Churchill Livingstone, New York. Syamsuhidayat, Wim de Young, (1998 ), Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta Laporan Kasus 1. Pengkajian Mulai dilakukan tanggal 19-2-2002 Pk. 06.35 WIB a. Identitas pasien a.Nama : AD Register : 10123789 Umur : 4,5 bulan Jenis kelamin : laki-laki Orang tua : Fadilah Pekerjaan : PNS Agama : Islam Suku/Bangsa : Jawa/ Indonesia Penanggung : Askes Ruangan : Bedah H b. Pengkajian data pre operasi b.Keluhan utama: Menurut ibunya, bayi AD menderita tumbuh bejolan pada sisi mata kiri dekat hidung sejak 1 bulan yang lalu, keluarga takut kalau menjadi ganas. Benjolan tidak cepat membesar dan tidak membesar bila menangis atau mengedan. Riwayat Tumbang : Lahir spontan langsung nangis di dokter dengan BB 3000 gr, PB 49 cm, riwayat imunisasi BCG (+), DPT 2 X, Hb 2X, Polio 2 X. Sampai saat ini masih minum asi. Sakit serius selama ini tidak pernah. BB saat ini 8 kg. Riwayat penyakit saat ini Sejak 1 bulan yang lalu keluarga menemuka ada benjolan pada mata kiri dekat hiding klien.Ukuran sekitar 1 cm. Kesan pembesaran lambat, benjolan tidak membesar jika menangis atau mengedan.Riwayat trauma (-), riwayat keluarga yang memiliki penyakit kanker/tumor (-). Sejak 2 minggu yang lalu keluarga mengajak AD memriksakan diri ke Poliklinik RSUD Dr Soetomo dan didiagnosis

neuroma dan disarankan operasi. Keluarga setuju dan menyiapkan acara lewat poliklinik dan MRS pre op di Ruang bedah H. Data bio psiko sosial dan labotorium seperti berikut: Sistem Subyektif Obyektif Masalah Pernafasan Keluhan : tidak ada Riwayat asthma/batuk (-) Hidung : taa Dada bentuk dan gerakan simetris RR : 28 X/mnt, reguler, suara nafas vesikuler, Wh -/-, Rh -/-, Paru: bentuk normal Kardiovaskuler Riwayat penyakit darah – Riwayat penyakit jantung (-) Hb : 11, 3 gr% Konjuctiva merah muda Kapilarry refill 2 dt Cyanosis (-) T :- Nadi 120 X/mnt. S1S2 : Tunggal reguler Akral hangat Bazunking : 30 “ Leuko : 12.000 BT : 1 m (1 – 3) CT : 6 m ( 5-10 ) PPT : 11,8 ( 11,6 + 2 dt KPTT : 29,1 (31+ 7 dt Trombo : 245: (150-350) Neurologi Keluhan mual/muntah proyektil tidak ada, keterlambatan tumbuh kembang tidak ada. Saat ini bayi sudah bisa memegang benda kecil dan kontak mata baik. Benjolan pada frontoorbita sisnistra 1 cm, keras, permukaan rata, nyeri tekan (-), defisit neurologis (-) Perkemihan Masih ngompol, kencing 6 –10 kai sehari warna kuning jernih, bau biasa, nyeri saat kencing Penis taa, BUN : 6 mg/dl ( 10-20), SC 0,3 (< 15 ) -

Pencernaan Minum ASI kuat Sejak kemarin pk 22.00 puasa Diare (-), kembung (-) Perut taa, Hepar ttb, lien tb 2 jari, peristaltik 10 X/mnt. SGPT : 19 U/I (< 46) SGOT : 48 U/I ( < 45) Resiko kekurangan volume cairan Muskuloskeletal Tidak ada masalah Gerakan ektremitas aktif Tanda parese (-) Psikososial Ibu mengatakan merasa deg-degan dan kasihan dengan anaknya. Ibu tidak tahu apa yang akan dilakukan terhadap anaknya. Ibu minta menemani anak sebelum pembiusan. Bila diajak bicara ibu menangis dan lebih banyak diam. Skala HARS pada angka 12 Kecemasan pada orang tua Diagnnse dan Rencana Tindakan Perawatan Pre Operasi DX TUJUAN TINDAKAN Rasional Kecemasan pada orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang kemungkinan penyakit dan prosedur tindakan operasi Tujuan : Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui penyakit serta prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klin/anaknya. 1. Jelaskan tentang penyakit yang diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan. 2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya sampai di ruang premedikasi dan siapkan baju untuk ibu. 3. Yakinkan tentang jaminan mengenai tindakan yang akan dilakukan. 4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya.

5. Pastikan kelengkapan operasi klien (Status, hasil lab, Foto Radiologi, Ct Scan,

Obat-obatan, alat-alat, informed concent - Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko tindakan operasi yang skan dilakukan - Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan. - Agar kecemasan dapat tereduksi.

- Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien - Untuk menjamin keamanan fisik maupun psikologis petugas dan keluarga, yang memastikan segalaya telah siap. Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria : - Turgor baik - Cowong - Mukosa lembab. 1.Kolaborasi pemasangan infus 2.Observasi kelembaban mukosa - Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien. - Untuk mengetahui kecukupan cairan. Pengkajian Intra Operasi Sistem Subyektif Obyektif Masalah Pernafasan Hidung : taa Dada bentuk dan gerakan simetris. Terpasang ETT no 3,5 Nafas dengan Respirator Mode :Asistif, RR : 28 X/mnt, reguler, suara nafas vesikuler, Wh -/-, Rh -/-, Paru: bentuk normal Resiko gangguan pola nafas Kardiovaskuler Hb : 11, 3 gr% Konjuctiva merah muda Kapilarry refill 2 dt Cyanosis (-) T :- Nadi 120 X/mnt.

S1S2 : Tunggal reguler Akral hangat Bazunking : 30 “ Leuko : 12.000 BT : 1 m (1 – 3) CT : 6 m ( 5-10 ) PPT : 11,8 ( 11,6 + 2 dt KPTT : 29,1 (31+ 7 dt Trombo : 245: (150-350) Neurologi Dilakukan induksi dengan Halotan GCS E1V1M1.Benjolan pada frontoorbita sisnistra 1 cm, keras, permukaan rata, nyeri tekan (-), defisit neurologis (-), dilakukan insisi 6 cm dalam 3 cm pada daerah pronto orbita. Resiko terjadi sumbatan jalan nafas Perkemihan Penis taa, BUN : 6 mg/dl ( 10-20), SC 0,3 (< 15 ) Pencernaan Perut taa, Hepar ttb, lien tb 2 jari, peristaltik 10 X/mnt. SGPT : 19 U/I (< 46) SGOT : 48 U/I ( < 45) Resiko kekurangan volume cairan Resiko terjadi hipotermi Muskuloskeletal Gerakan ektremitas aktif Tanda parese (-) Integumen Kulit tipis, suhu lingkungan 22 oC Resiko terjadi hipotermi Diagnose dan Rencana Perawatan INTRA OPERASI DX TUJUAN TINDAKAN

Rasional Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas. 1. Bantu memberikan posisi stabil 2. Bantu menyiapkan alat intubasi. 3. Bantu memonitor status respirasi 4. Lakukan monitoring SaO2

5. Pantau tanda distress pernafasn setelah penyapihan ETT/respirator. - Untuk melancarkan airway - Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas - Untuk mengetahui tanda gg pola nafas - Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2. - Untuk mengetahui efek anastesi pada SSP. Resiko terjadi cedera (hipotermi, bradikardi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi, serta penekanan pada nervus X pada segmen posterior orbital. Selama operasi : - Tidak terjadi hipotermi - Tidak terjadi okuloreflek 1. Pasang diatermi sebagai alas meja operasi. 2. Perhatikan pemasangan ground diatermi. 3. Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia. 4. Pantau nadi dan EKG selama operasi - Untuk mencegah hipotermi dg memberikan hangat secara elektrik - Untuk mencegah kombus atau elektrik injury - Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi - Penekanan pada bola mata dapat menimbulkan timbulnya okulo reflek yang merangsang nervus X sehingga dapat terjadi bradikardi .

Pengkajian Pasca Operasi

Sistem Subyektif Obyektif Masalah Pernafasan Hidung : taa Dada bentuk dan gerakan simetris. ETT sudah dilepas. Nafas spontan irreguler RR : 30 X/mnt,, suara nafas vesikuler, Wh -/-, Rh -/Resiko gangguan pola nafas Kardiovaskuler Nadi : 120 X/mnt, SaO2 95%, Capilary Refill 3 dt, cyanoisis (-), Perdarahan operasi 50 cc. Conjunctiva merah muda. S1S2 tungga reguler. Isi nadi cukup. Neurologi GCS E2,Vx,Mx. .Benjolan pada frontoorbita sisnistra (-), tampak balutan bekas insisi. nyeri tekan (+), defisit neurologis (-), Resiko terjadi sumbatan jalan nafas Perkemihan Kencing (-) Pencernaan Perut taa, Hepar ttb, lien tb 2 jari, peristaltik 5 X/mnt. Flatus (-) Resiko kekurangan volume cairan Resiko terjadi hipotermi Muskuloskeletal Gerakan ektremitas aktif lemah Tanda parese (-) Integumen Kulit tipis, suhu lingkungan 22 oC Resiko terjadi hipotermi Psikosoaial Ibu menanyakan keadaan anaknya, serta hasil operasi.

Menangis memeluk anaknya. Kecemasan b.d kurangnya pengetahuan tentang akibat operasi Diagnose dan Rencana Tindakan Pasca Operasi PASCA OPERASI DX TUJUAN TINDAKAN Rasional Kecemasan pada orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang hasil operasi. Tujuan : Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui hasil operasi. 1. Jelaskan tentang hasil operasi yang dilakukan, serta keadaan klien penyakit yang diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan setelah operasi ini. 2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya di ruang RR. 3. Jelaskan tentang tindak lanjut hasil operasi 4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya.

- Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko dari hasil operasi yang telah dilakukan

- Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan. - Agar kecemasan dapat tereduksi. - Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria : - Turgor baik - Cowong - Mukosa lembab. 1. Observasi cairan infus

2.Observasi kelembaban mukosa - Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien. - Untuk mengetahui kecukupan cairan. Resiko terjadi hipotermi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi Selama di RR - Tidak terjadi hipotermi 1Berikan selimut yang lebih tebal. - Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi Selama di RR tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas. 1. Bantu memberikan posisi stabil 2.Bantu menyiapkan alat intubasi. 3.Bantu memonitor status respirasi 4.Lakukan monitoring SaO2 5. Jika vital sig stabil dan klien sudah aktif bergerak pindahkan ke Ruang Bedah H - Untuk melancarkan airway - Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas - Untuk mengetahui tanda gg pola nafas - Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2. Diagnosa keperawatan pre operasi Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan pendesakan massa tumor ke reseptor nyeri periostium Kecemasan berhubungan dengan aspek pembedahan yang akan dilakukan Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan puasa Rencana tindakan Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan pendesakan massa tumor ke reseptor nyeri periostium Tujuan perawatan : setelah dilakukan perawatan dengan stimulasi kulit dan pengobatan selama masa premedikasi, keluhan nyeri berkurang. Kriteria hasil : pasien mengungkapkan bahwa keluhan nyerinya berkurang, skala nyeri < 5 Rencana keperawatan :

Berikan stimulasi kulit kontralateral selama 5-10 menit untuk menghambat reseptor nyeri. Istirahatkan daerah nyeri, jangan banyak melakukan manipulasi dan melakukan penekanan agar nyeri tidak terasa. Berikan premedikasi sesuai pesanan, dormicum 2,5 mg, dan SA 0,25 mg intramuskuler. Pantau keluhan nyeri selama masa premedikasi, catat kemajuan perawatan. Kecemasan berhubungan dengan aspek pembedahan yang akan dilakukan Tujuan perawatan : setelah diberikan penjelasan tentang aspek-aspek pembedahan yang akan dilalukan, pasien mampu mengontrol kecemasannya. Kriteria hasil : pasien mengungkapkan kecemasannya berkurang, skala HARS < 7, VS stabil dan teratur. Rencana keperawatan : Berikan penjelasan kembali tentang prosedur pembedahan yang akan dilakukan meliputi pre operasi, intra operasi dan pasca operasi sesuai tingkat pendidikan pasien. Observasi kembali skala HARS sebelum masuk ke kamar operasi untuk mengetahui keberhasilan tindakan. Berikan support terapi untuk mengurangi tingkat kecemasan Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan puasa Tujuan perawatan : setelah diberikan infus IV line tidak terjadi defisit volume cairan . Kriteria hasil : tanda defisit volume cairan -, turgor kulit baik. Rencana perawatan : pasang infus IV line RL 500 cc segera setelah pemberian premedikasi. Berikan penjelasan pada pasien tujuan pemasangan infus Observasi vital sign Pantau tanda-tanda defisit volume cairan. Tindakan keperawatan Waktu Tindakan keperawatan TT 19-2-02 06.35

06.45

07.10 07.20 07.25 07.34 07.45 08.00 Memberikan stimulasi kulit kontralateral pada lengan kanan, pasien mengatakan nyerinya berkurang saat dilakukan massage. Memberikan penjelasan prosedur pembedahan yang akan dilakukan pasien, sebelum dipindah ke ruang premedikasi. Memberikan premedikasi Dormicum 2,5 mg dan SA 0,25 mg im Memasang infus RL 500 cc dengan kecepatan 28 tts/mt Mengobservasi tingkat kecemasan pasien berdasar skala HARS, hasil skor 7 Observasi VS : T=130/80 mmHg, N=96 x/mt, rr=20 x/mt Memantau tanda dehidrasi; turgor kulit baik, infus menetes lancar, b.a.k -. Mempersilahkan pasien berdoa sebelum dibawa ke kamar operasi. Evaluasi Waktu Catatan perkembangan (SOAP) TT 19-2-02 08.00 I. Masalah keperawatan no.1 : nyeri

S : pasien mengatakan keluhan nyerinya berkurang setelah diberikan stimulasi/gosokan, dan lengan kiri diistirahatkan. O : Skala nyeri = 4, sifat nyeri hilang A : Masalah nyeri masih ada. P : dipertahankan A. Masalah keperawatan no.2 : kecemasan S : pasien mengatakan perasaan was-wasnya masih ada O: Skala HARS 7, DN = 96 x/mt, rr = 20 x/mt, premedikasi diberikan sesuai pesanan A: masalah teatasi P : dipertahankan B. Masalah keperawatan no.3: resiko defisit vol.cairan S:O : infus RL diberikan 28 tts/mt, T=130/80 mmHg, N=96 x/mt, turgor kulit baik A : masalah teratasi P : dipertahankan Laporan kasus intra operasi Pengkajian data intra operasi Induksi anestesi dengan ETT 7, jenis anestesi GA, obat anestesi; halotan dan O2, operasi dimulai dengan desinfektan, penyempitan daerah sekitar operasi dengan doek steril, penyayatan kulit 5 cm, pelebaran jaringan, dan pengeboran tulang untuk mengambil jaringan. Penutupan luka dengan betadine dan kassa. T= 117/70 mmHg, N=80 x/mt HR=94 x/mt, rr = 14 x/mt, Sa02 = 100 % Operasi dilakukan selama 40 menit. Analisa data : Data Penyebab Masalah S:O : induksi ETT 7, jenis anestesi GA, obat halotan dan O2, lama anestesi 50 menit, kesadara -. Efek obat anestesi Resiko bersihan jalan napas tidak efektif ; Rencana keperawatan : Tujuan perawatan : setelah dilakukan perawatan dengan baik, jalan napas tetap bersih selama operasi berlangsung.

Kriteria hasil : stridor -, pola napas teratur Rencana tindakan : Pantau vital sign lewat layar monitor Observasi saturasi oksigen melalui layar monitor Lakukan suction bila diketahui ada stridor Fiksasi ETT secara benar Berikan obat sesuai pesanan dokter anestesi Tindakan keperawatan : Waktu Tindakan keperawatan 19-2-02 08.20 08.25 08.28 09.00 09.15 09.30 09.32 Observasi vital sign : T= 120/72 mmHg, N=84 x/mt, rr=14 x/mt, t=36 C, SaO2=100 % Memberikan cendantron 4 mg iv Memantau fiksasi ETT Mengganti RL 500 CC fles ke-2 Melakukan suction, hasil sekret sedikit Operasi selesai Pasien pindah ruang RR, sadar + Evaluasi : Waktu Catatan perkembangan (SOAP) TT

19-2-02 09.32 II. Masalah keperawatan : resiko bersihan jalan napas tidak efektif S:O : stridor -, pola napas teratur, rr =16x/mt, sadar +, ETT dilepas. A : masalah teratasi P : dipertahankan Laporan kasus pasca operasi Pengkajian data pasca operasi Pasien dipindah dari kamar operasi 612 jam 09.32. sampai di ruang RR jam 09.35. Pengkajian data berdasarkan skoring pemulihan pasca operasi sebagai berikut : keempat ekstremitas bisa digerakkan dengan baik meskipun daerah sekitar operasi nyeri bila digerakkan. Pasien dapat bernapas spontan dan bebas, tidak sesak napas, kesadaran composmentis, GCS 4,5,6. Warna kulit normal, pucat -, sianosis -, stridor -, akral hangat, infus menetes lancar, turgor kulit baik. Vital sign T= 130/70 mmHg, N=80 x/mt HR=70 x/mt, rr = 16 x/mt, Sa02 = 100 % Operasi dilakukan selama 40 menit. Analisa data : Data Penyebab Masalah Subyektif : Pasien mengatakan daerah operasi terasa nyeri bila digerakkan. Obyektif : Sayatan sepanjang 5 cm, penjahitan luka jelujur dan jahitan kulit biasa. Skala nyeri 7. Lokasi nyeri lengan kiri atas, sifat nyeri terus menerus, suber nyeri karena luka operasi. Terputusnya kontinyuitas jaringan akibat sayatan operasi. Gangguan rasa nyaman nyeri.

Rencana tindakan Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinyuitas jaringan akibat sayatan operasi. Tujuan perawatan : setelah dilakukan perawatan dengan stimulasi kulit dan pengobatan , keluhan nyeri berkurang. Kriteria hasil : pasien mengungkapkan bahwa keluhan nyerinya berkurang, skala nyeri < 5 Rencana keperawatan : Berikan obat anti nyeri ; novalgin 3 x 1 amp sesuai pesanan Lakukan stimulasi kulit kontralateral untuk mengurangi respon nyeri Observasi vital sign Berikan oksigen 6 liter /mt dengan masker untuk memulihkan beban sirkulasi Lakukan skoring pemulihan pasien pasca bedah meliputi; aktifitas, respirasi, sirkulasi, kesadaran, dan warba kulit. Tindakan keperawatan : Waktu Tindakan keperawatan 19-2-02 09.38 09.39 10.00 10.15 10.40 11.00 Memasang set monitor Observasi vital sign : T= 130/74 mmHg, N=84 x/mt, rr=16 x/mt, t=36 C, SaO2=100 % Memberikan oksigen masker 6 l/mt Melakukan skoring pemulihan pasien pasca bedah; skor =10 Memberikan stimulasi kulit kontra lateral selama 5 menit pada daerah lengan kanan.

Mengganti RL 500 CC fles ke-3 Pasien pindah ke ruangan. Kesadaran baik, GCS 4,5,6. T= 130/74 mmHG, N=84 x/mt. Ba.k Evaluasi : Waktu Catatan perkembangan (SOAP) TT 19-2-02 11.00 III. Masalah keperawatan : gangguan rasa nyaman nyeri S : pasien mengatakan daerah sekitar operasi bila ditekan nyeri, bila digerakkan nyeri. O : Skoring alderate =10, skala nyeri = 7 T= 130/74 mmHg, N=84 x/mt rr=16 x/mt t=36 C, sadar + A : masalah nyeri masih ada P : diteruskan

Diposting oleh Edi Nurse 0 komentar Link ke posting ini di 01:43

Tranfusi
Perlengkapan · Blood filter set · Cairan NaCL 0,9 % (NS) · Sarung tangan · Infus set · “tape” · filter leocosit-depliting k/p · presure bag k/p · blood warnes k/p · TAHAP RASIONALISASI 1. Pengkajian 2. Kaji integritas kulit dan keadaan vena

3. Tujukkan pada pihak yang bersangkutan/RS tentang pengelolaan darah 4. Cek ukuran yamg digunakan pasien , biasanya nedle No 18 dan 19 angiokateter Kaji riwayat tranfusi klien

5. Kaji indikasi pemberian tranfusi (contoh Ht menurun) 6. Monitor tanda-tanda vital klien, catat sebelum pemberian tranfusi 7. Kaji/lihat jenis tranfusi yang dianjurkan oleh dokter Peradangan atau tanda-tanda infeksi merupakan kontraindikasi pada pemberian tranfusi farah RS pihak yang bersangkutan mengelola prosedur dan kemanan pelaksanaan pemberian darah Kateter yang lebih besar dapat dilewati oleh molekul darah dan komponen yang lebih besar melalui vena dan mencegah hemolisis Untuk mengobservasi reaksi tranfusi apabila terjadi reaksi pd pasien dapat diantiapasi dengan pemberian antihistamin/anti peretik untuk mencegah resiko lebih lanjut Dengan mengetahui alasan/indikasi pemberian tranfsi makan dapat dilakukan evalusai secara sepesifik Monitor tanda vital merupakan tanda terjadinya reaksi tranfusi Pemberian tranfusi dilakukan sesuasi mandat dokter. Cek kembali untuk mencegah komplikasi Diagnosa keperawatan 1. Penurunan kardiak output 2. Difisit volume cairan 3. Volume cairan yang berlebihan Planning

1. Keadaan cairan pasien seimbang · Aktifitas pasien toleran · Kardiak output meningkat · Klien tidak mengalami tranfusi · Tetesan harus dipertahankan sesuai program 2. Keriteria hasil · Klien terbebas dari tanda dan gejala reaksi alergi tranfusi · Hb & Ht dalam keadaan normal · Tanda dan gejala peradangan/pleblitis tidak ada · 3. Berikan formulir dan tanda persetujuan klien 4. Pesan darah ke bang darah yang akan dianat beberapa waktu kemudian dalam waktu tidak lebih dari 30 menit 5. Jelaskan tentang prosedur dan tujuan pemberian pada pasien 6. Anjurkan kepada pasien untuk memberi tahu perawat bila mengalami nafas pendek, menggigil, sakit kepala, nyeri dan tanda-tanda bintik kemerahan pada kulit 7. Bersama perawat yang lain kaji : · Nama dan indentitas klien dan cocokkan pada pak darah, bank darah · Golongan darah dan Rh · Lakukan Cross darah · Jenis resus dan golongan darah pendonor · Nomor unit RS · Tanggal dan waktu pemberian darah · Jenis tranfusi cek kembali instruksi dokter · Jika terjadi pembekuan darah kembalikan ke bank darah 8. Catat hasil pengontrolan IMPLEMENTASI RASIONALISASI 1. Periksa tanda-tanda vital 30 menit sebelum pemberian tranfusi, lakukan peningkatan suhu ke dokter Sebelum melakukan trenfusi kepada klien, amati temperatur, nadi, tekanan darah, pernafasan , cek reaksi dengan mencatat perubahan tanda vital 2. Buang urine klien dan kosongkan urine bag Jika terjadi reksi tranfusi ambil contoh urine yang dibutuhkan dari urine setelah dilakkan trenfusi darah

3. Cuci tangan dan gunakan hand schon yang disposibel Mengurangi tertularnya virus HIV, Hepatitis, Bakteri darah 4. Pemberian tranfusi darah · Untuk pemberian pada slang (bercabang) ketiga klem plane dipasang pada posisi off · Untuk pemberian pada satu slang klem dipasang pada posisi off Mempersiapkan pemberian darah dalam slang pemindahan klem pada posisi off untuk mencegah tumpahnya darah dan mencegah kerusaan darah tersebut 5. Untuk slang yang bercabang · masukkan kedalam kantong 0,9 % normal salin · Untmakan slang dengan pemberian 0,9 % normal salin Menggnakan slang yang memungkinkan perawat dengan cepat memasukkan 0,9 % normal salin kedalam darah. Cairan Dextrose tidak pernah digunakan karena dapat menyebabkan pembekuan darah. Dalam pemberian Normal salin perawat menggunakan vena yang tetap atau paten. Pada pelaksanaan slang bercabang seharusnya dapat diantisipasi pada berbagai tranfusi dengan mengikuti petunjuk dan menlihat banyaknya unit yang dapat diberikan sebelum slang dirubah * Buka klem pada slang bercaang dengan menghubungkan kantong normal salin dan lepaskan klem yang tidak digunakan didalam slang sampai kantong berisi normal salin Berikan cairan mengalir dari kantong normal salin ke kantong yang kosong * Tutup klem pada slang yang tidak digunkan Mencegah aliran infus yang cepat * Putar sisi dari tetmapat drip, biarkan sarngan sebagai bagian penutup Mencegah masuknya gelembung udara * Bua bagian yang rendah dari role klem dan isi slang dengan normal salin Mengeluarkan semua udara dari slang * Tutup bagian yang lebihrendah dari role klem 6. Untuk pelaksanaan satu slang * Memngisi slang dengan darah Mempersiapkan pelaksanaan penyaringan dan slang berisi darah * Putar klep infus sampai saringan terisi dengan darah Melakukan dengan cepat dengan menghubungkan mulai dari persiapan slang infus ke slang kateter intra vena * Bila menggunakan satu slang pemberian darah slang lain yang berisi cairan NaCL 0,9 % dihubungkan dengan slang darah tersebut dan gunakan plester sebagai pengaman sambungan * Sambungkan slang tranfusi ke slang kateter untuk menjaga keseterilan dan buka bagian yang terrendah dari klem Tranfusi darah tidak dapat menggunakan infus set biasa, untuk mengurangi

kerusakan darah dengan melalui dua cara dengan jarum Slang untuk IV yang dapat menyebabkan trauma pada sel, masukkan darah melalui vena 7. Perhatikan klem selama 15 - 30 menit pertama setelah dipasang transusi pastikan jumlah tetesan 2 - 5 ml/menit Banyak reaksi yang bisa terjadi dalam 15-30 menit pertama pada klien dengan trenfusi, pemasukan sedikit pada permulaan menurunkan volume darah klien, akan memperkecil bahaya reaksi 8. Monitor tanda vital setiap 5 menit pada 15 menit pertama, selanjutnya setiap 15 menit setiap jam berikutnya dalam satu jam sampai semuah darah dimasukkan dan satu jam setelah trenfusi darah Kewaspadaan terhadap perubahan tanda-tanda vital yang ditandai reaksi sedini mungkin 9. Pasang infus sesusi instruksi dokter. Darah pack sel biasanya menyebar keseluruh tubuh setelah 1,5 -2 jam dan mengalir secara keseluruhan keseluruh tubuh setelah 2-3 jam Kondisi klien akan teratur bila tetesan darah 10 tetes/menit 10. Lakukan spul slang infus dengan NaCL Sisa pemasukan darah lewat IV dan adanya NaCL dapat mencegah hemolisis 11. Pastikan semua tindakan berlangsung dengan baik. Lepas sarung tangan dan cuci tangan Untuk mengurang transmisi mikroorganisme

EVALUASI 1. Observasi reaksi : kedinginan, kemerahan, gatal, dispnoe, kram dan bengkak Tanda-tanda dini reaksi infus 2. Observasi klien dan kaji hasil laboratorium untuk dapat mencatat hasil pemberian komponen darah Untuk mengkaji ada tidaknya perubahan fisiologis 3. Monitor tempat pemasangan infus dan kaji keadaan fisiologis setiap pengukuran tanda vital Mendeteksi adanya infeltrasi atau plebitis 4. Hasil yang tidak diharapkan bisa terjadi seperti. · klien menunjukkan tanda kedinginan, panas, urtuikaria, dispnue, sakitkepala, nyeri dada Terjadi bila darah donor tidak sesuai dengan resipien · Gejala anafilaktik shock: hipertensi takikardi, kemerahan, kesdran menurun kardiak ares Walaupun jarang terjadi tapi biasanya karena kesalahan pada bank darah atau salah pemberian/tertukar

· Tanda overload cairan : Dispnoe, takikardi, takipnoe, cracless Banyaknya seldarah merah menarik cairan ke dalam vaskuler karena penambahan tekanan osmotik · Infiltarsi dan flebitis terjadi pada vena Terjadi pada lokasi infus Pencatatan dan Pelaporan Mencatat tipe dan jumlah pemberian darah serta respon klien terhadap trenfusi darah biasanya pencatatan tranfusi dibuat terpisah Folow up 1. Reaksi tranfusi · Stop darah segera dan ikuti anjuran · Pelihara keadaan infus dengan NaCL · Kembalikan darah ke bank darah 2. Anaphilatic Shock · Ketidak lancaran tranfusi · panggil petugas imergensi · bila perlu CPR · pelihara keadaan IV 3. Overload cairan · Lambatkan atau stop cairan · Turunkan kepala klien · Berikan deuritik, morfin, O2 sesuai anjuran 4. Infiltrasi atau infeksi pada lokasi infus · Pasang infus kembali pada tempat lain · Mengadakan penilain untuk menurunkan infiltrasi atau inflamasi 5. Secara perlahan atau menggoyang bagian bagian infus dapat mencegah timbulnya kepadatan cairan. Pemberian NaCL secara bersamaan dengan infus darah dapat mencairkan darah yang terlalu kental

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->