P. 1
Pengertian Budaya Politik

Pengertian Budaya Politik

|Views: 574|Likes:
Published by AndardiAchadiputra

More info:

Published by: AndardiAchadiputra on Oct 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

PENGARUH BUDAYA POLITIK TERHADAP PERKEMBANGAN DEMOKARSI DI INDONESIA

Disusun oleh : Andardi Achadiputra 1006815751

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2011

dalam masyarakat ini tidak ada peran politik yang bersifat khusus. kyai.yang biasanya merangkum semua peran yang ada. kepala kampung. Sikap masyarakat terhadap sistem politik yang ada ditunjukkan melalui rasa bangga atau malah rasa tidak suka. Tipe Tipe Budaya Politik • Budaya politik parokial yaitu budaya politik yang tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. . hukum. Kepala suku. • Budaya politik kaula (subjek) yaitu budaya politik yang masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonominya tetapi masih bersifat pasif. ekonomis atau religius. atau dukun. Budaya politik juga dapat di artikan sebagai suatu sistem nilai bersama suatu masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik untuk masyarakat seluruhnya. penyelenggaraan administrasi negara. dan norma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya. sudah ada pengetahuan yang memadai tentang sistem politik secara umum serta proses penguatan kebijakan yang di buat oleh pemerintah. Budaya politik suatu masyarakat dapat di katakan Parokial apabila frekuensi orientasi mereka terhadap empat dimensi penentu budaya politik mendekati nol atau tidak memiliki perhatian sama sekali terhadap keempat dimensi tersebut.Pengertian Budaya Politik Budaya politik merupakan pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan benegara. Namun frekwensi orientasi mengenai struktur dan peranan dalam pembuatan kebijakan yang dilakukan pemerintah tidak terlalu diperhatikan. Intinya. baik peran yang bersifat politis. dalam kebudayaan politik subyek. politik pemerintahan. Budaya politik suatu masyarakat dapat dikatakan subyek jika terdapat frekwensi orientasi yang tinggi terhadap pengetahuan sistem politik secara umum dan objek output atau terdapat pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang di buat oleh pemerintah. Tipe budaya politik ini umumnya terdapat pada masyarakat suku Afrika atau masyarakat pedalaman di Indonesia. adat istiadat. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah dan secara efektif mereka di arahkan pada otoritas tersebut.

Dengan kata lain. sikap. kemungkinan munculnya dua sikap yang secara diametral bertentangan. Budaya politik yang demokratis akan mendukung terciptanya sistem politik yang demokratis. meskipun perasaan dan evaluasi mereka terhadap peran tersebut bisa saja bersifat menerima atau menolak. Masyarakat cenderung di arahkan pada peran pribadi yang aktif dalam semua dimensi di atas. dan sikap individu terhadap sistem politiknya. sulit dielakkan. yaitu “mendukung” (positif) dan kemungkinan pula “menentang” (negatif). budaya politik dapat dilihat manifestasinya dalam . Demokratisasi tidak berjalan baik apabila tidak ditunjang oleh terbangunnya budaya politik yang sesuai dengan prinsipprinsip demokrasi. tentang peran pemerintah dalam membuat kebijakan beserta penguatan. Budaya politik yang matang termanifestasi melalui orientasi. tetapi juga interaksi individu dalam konteks kelompok atau golongan dengan kelompok dan golongan sosial lainnya. norma. Budaya politik memiliki pengaruh penting dalam perkembangan demokrasi. yang diistilahkan oleh Almond dan Verba sebagai civic culture. Budaya politik demokratis adalah suatu kumpulan sistem keyakinan. hubungan antara budaya politik dan demokrasi (demokratisasi) dalam konteks civic culture tidak dapat dipisahkan. Masyarakat mampu memberikan opininya dan aktif dalam kegiatan politik. Budaya politik yang demokratis merupakan budaya politik yang partisipatif. Sebagai sebuah proses perubahan dalam menciptakan kehidupan politik yang demokratis. Adanya fenomena demokrasi atau tidak dalam budaya politik yang berkembang di suatu masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari interaksi individu dengan sistem politiknya. Pengaruh Budaya Politik Terhadap Perkembangan Demokrasi Di Indonesia Hubungan antara budaya politik dan demokratisasi sangat erat. Dalam merespons tuntutan perubahan. Dan juga merupakan suatu bentuk budaya politik yang anggota masyarakatnya sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai empat dimensi penentu budaya politik. Mereka memiliki pengetahuan yang memadai mengenai sistem politik secara umum.• Budaya politik partisipanm yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik yang sangat tinggi. pandangan. persepsi dan sejenisnya yang menopang terwujudnya partisipasi (Almond dan Verba). realisasi demokratisasi juga dihadapkan pada kedua kutub yang bertentangan itu. yaitu budaya politik masyarakat yang mendukung (positif) dan yang menghambat (negatif) proses demokratisasi. Karena itu. dan berpartisipasi aktif dalam proses politik yang berlangsung.

budaya politik tidak selalu tergantung pada perilaku politik. Dalam konteks Indonesia. pada tingkat daerah yang masih berkembang adalah “‘sub-budaya politik” yang lebih kuat dalam arti primordial. Pendahuluan Kehidupan manusia di dalam masyarakat. meningkatkan akuntabilitas dan responsivitas terhadap kepentingan publik dan meningkatkan checks and balances dan rasionalitas politik di antara lembaga-lembaga kekuasaan. kemungkinan terjadinya jarak tidak hanya antarbudaya politik daerah dan etnik. Keanekaragaman tersebut akan membawa pengaruh terhadap budaya politik bangsa. kiranya jelas bahwa yang dihadapi tidak hanya kemajemukan etnik dan daerah. Agenda demokratisasi seharusnya dipandang berdimensi horizontal (pengaturan hubungan antarinstitusi politik utama) dan vertikal yang membuka ruang bagi akses warga untuk terlibat dalam proses politik dan pemerintahan. memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Yang tersebut terakhir kadang-kadang bisa dipengaruhi oleh budaya politik. Lebih dari itu. dan dalam hubungan antarkelompok dan golongan dalam masyarakat itu. . Dengan melakukan hal tersebut. juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian. tetapi juga antarbudaya politik tingkat nasional dan daerah. diperlukan upaya memupuk vitalitas demokrasi seperti pengembangan nilai dan keterampilan demokrasi di kalangan warga. status sebagai anggota masyarakat.hubungan antara masyarakat dan struktur politiknya. jalan bagi demokrasi menjadi lebih terbuka. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar. Untuk itu. minum. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial. Namun. Apabila pada tingkat nasional yang tampak lebih menonjol adalah pandangan dan sikap di antara sub-subbudaya politik yang berinteraksi. anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya. Apakah sistem budaya yang ada cenderung bersifat komunal/kolektif atau individual? Masalahnya adalah apakah nilai-nilai demokrasi kompatibel dengan nilai-nilai budaya politik lokal dan sebaliknya. Keduanya bisa saling memperkuat dan berjalan simultan. tetapi pada saat yang bersamaan adalah“subbudaya etnik dan daerah” yang majemuk pula. Dari uraian di atas bisa dibedakan kiranya antara budaya politik (political culture) dan perilaku politik (political behaviour). Dalam interaksi di antara sub-sub budaya politik. senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. seperti makan. pakaian dan papan (rumah). biologis. pemberian upah kerja.

perilaku aparat negara. berarti orang tersebut terlibat dalam peristiwa politik tertentu. Jika secara tidak langsung. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. kehidupan pribadi dan sosial secara luas. melakukan boikot. dan institusi-institusi di luar pemerintah (non-formal). dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspekaspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. perasaan dan sikap warga negara terhadap negaranya. . Dengan demikian. Ketiga adalah partisipasi yang berupa kegiatan-kegiatan protes seperti ikut menandatangani petisi. partisipasi dilihat dari keterlibatan politik seseorang. pecinta lingkungan. dan demonstrasi. Charles Andrain dan James Smith (2006:67) mengelompokkan tiga bentuk partisipasi. Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan. Yang menjadi perhatian adalah sejauhmana orang itu terlibat di dalam organisasi-organisasi atau asosiasi-asosiasi sukarela (voluntary associations) seperti kelompok-kelompok keagamaan. Budaya Politik. merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. kegiatan ekonomi dan sosial. Dan jika seraca langsung. dan sering berdiskusi mengenai isu-isu politik dengan teman. serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah. olahraga. pemimpim politik dan lai-lain. Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam interaksi antar warga negara dengan pemerintah. Budaya politik. Di dalam tipe pertama ini. Istilah budaya politik meliputi masalah legitimasi. pengaturan kekuasaan. dan Demokrasi Partisipasi publik pada dasarnya merupakan bagian dari partisipasi pada umumnya. atau berita-berita tentang peristiwa politik yang terjadi. budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat.Setiap warga negara. dan organisasi buruh. proses pembuatan kebijakan pemerintah. Merujuk pada the 1995-97 World Value Survey. kegiatan partai-partai politik. Kedua adalah partisipasi yang lebih aktif. memiliki minat terhadap politik. Partisipasi Publik. organisasi profesi. Oleh karena itu. Pertama adalah partisipasi yang lebih pasif. yaitu sejauhmana orang itu melihat politik sebagai sesuatu yang penting. hal ini sebatas mendengar informasi. telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat. pandangan dan pengetahuan tentang praktikpraktik perilaku politik dalam semua sistem politik. pemerintahnya. seringkali kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan.

Kebijakan publik sendiri memiliki pengaruh yang tidak kecil terhadap kehidupan warga negara. Termasuk di dalamnya adalah diskusi di dalam ruang-ruang publik yang membahas isu-isu yang sedang berkembang seperti di radion. contohnya. Pertama adalah yang berkaitan dengan alokasi dan distribusi sumber-sumber. salah satu ilmuwan politik penganut demokrasi elitis (perwakilan). televisi. Kebijakan publik. menjadi perhatian publik. kalaupun ditempatkan di dalam tiga katagori itu. Lebih jauh Schumpeter mengatakan: . Hal ini.Dalam katagori semacam itu partisipasi publik memang tidak secara khusus bisa masuk di dalam salah satu dari tiga katagori itu. Seperti disinggung di depan. dan pertemuan-pertemuan lainnya. Terakhir adalah kebijakan tentang realokasi dan redistribusi sumber-sumber terhadap kelompok-kelompok yang tidak diuntungkan. melakukan inisiatif. nama lain dari demokrasi menurut Robert Dahl (1971). di dalam demokrasi perwakilan partisipasi itu lebih dimaksudkan sebagai keterlibatan warga negara di dalam pemilu. Apabila dikaitkan dengan sejauhmana sebuah aktivitas itu berpengaruh terhadap proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan publik. forum konsultasi. partisipasi publik acapkali lebih ditekankan pada proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan publik. kecuali forum konsultasi yang diadakan oleh lembaga-lembaga yang memiliki otoritas di dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan publik baik di tingkat nasional maupun lokal. baik secara individual maupun kelompok. dan yang kedua adalah regulasi tentang proteksi. Dalam konteks demikian. manakala isu-isu itu berkembang secara akumulatif. peran politik warga negara adalah pada pemilu. dan terpublikasi secara luas. Kedua adalah berkaitan dengan regulasi terhadap pelaku dan kekuatan-kekuatan ekonomi. Diskusi di dalam ruang-ruang publik seperti itu memang tidak semuanya secara langsung berkaitan dengan proses-proses pembuatan keputusan politik. Meskipun partisipasi merupakan salah satu elemen dasar di dalam polyarchy. terlihat dari penjelasan Joseph Schumpeter. dan referendum. Tetapi. Dalam pandangan dia. cakupan partisipasi publik itu menjadi lebih luas lagi. sebagaimana dikatakan oleh Theodore Lowi (1964). apa yang diperbincangkan di dalam ruang-ruang publik semacam itu bisa berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan publik yang (akan) dibuat dan dilaksanakankan. sementara para pemimpin yang tepilih merupakan orang-orang kunci di dalam proses pembuatan keputusan-keputusan. partisipasi publik lebih dekat menjadi bagian dari partisipasi dalam katagori kedua. seperti ikut di dalam pertemuan-pertemuan publik. paling tidak mencakup tiga keputusan hal penting. Termasuk di dalamnya adalah regulasi pengenai persaingan usaha.

distrust of government ensues. khususnya sistem perwakilan yang didasarkan pluralisme yang dikritik lebih mengedepankan ‘vested interests’ umum. bukan terwakil. menciptakan rasa aman. Dalam pandangan seperti itu. Adanya disconnect electoral antara wakil dan terwakil acapkali membuat terjadinya kesenjangan antara apa yang diinginkan oleh para terwakil dengan para wakil. They must not withdraw confidence too easily between election and they must understand that. daripada kepentingan . keterlibatan warga negara di dalam proses politik memang lebih banyak berhenti pada proses pemilihan. trust terhadap pemerintah akan mengalami penurunan. This means that they must refrain from instructing him [her] about what he [she] is to do (Schumpeter 1950:269). dan menghindari berbagai skandal.The role of the people is to produce a government… The voters outside of parliament must respect the division of labour between themselves and the politicians they elect. Manakala pemimpin itu terlibat di dalam skandal dan media menyiarkan secara luas skandal itu. Karena itu. Proses perumusan kebijakankebijakan publik lebih banyak menjadi arena tugas para wakil. Selain itu. one they have elected an individual. Vatter 2000). perwakilan juga dilihat sebagai ‘a malfunctioning system’ (Robert 2004:322) yang dianggap bisa membahayakan demokrasi. termasuk di negara-negara yang telah mapan demokrasinya. melainkan juga kemampuan lain seperti kemampuan mengontrol kriminalitas. Pandangan demikian terlihat dari menurunnya tingkat kepercayaan (trust) dari terwakil kepada para wakil yang terjadi di banyak negara. ada tidaknya trust itu juga berkait dengan tindakan para pemimpin politik. Sebagaimana dikemukakan oleh Luke Keele. but when prosperity abounds. ‘when citizens are dissatisfied with economic performance. Keele 2007). Sejumlah ilmuwan politik memahami penurunan trust itu berkaitan dengan kinerja perekonomian suatu pemerintahan (Andrain dan Smith 2006. Kinerja pemerintahan yang dinilai memang bukan sebatas pada bagaimana pemerintah mengelola perekonomian. so will trust’ (Keele 2007:242). Pentingnya partisipasi publik dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakankebijakan publik atau di dalam direct democracy dan participatory democracy acapkali dikaitkan dengan realitas tentang penurunan pandangan bahwa para wakil di lembagalembaga perwakilan politik itu sudah tidak cukup mampu menjalankan fungsinya (deficiencies of representative politics) (Lupia dan Matsusaka 2004. political action is his [her] business and not theirs.

ideals. its roles and the incumbents of these roles. atau bangsa. and its outputs. Secara lebih operasional. Studi-studi yang dilakukan oleh Robert Putnam (1993) dan Charles Andrain dan James Smith (2006). sentiments.” the judgments and opinion about political objects that typically involve the combination of value standards and criteria with information and feelings (Almond and Verba 1963:14). Pentingnya modal sosial semacam itu sudah lama menjadi perhatian dari para penganut pandangan tentang pentingnya budaya politik di dalam demokrasi. knowledge of and belief about the political system.” that is. atau adanya keinginan untuk berbuat baik kepada yang lain. [and] participation’ (Diamond 1994:1). tolerance. jaringan. bisa bermakna kesempatan bagi perubahan-perubahan sosial atau kontrol terhadap proses-proses politik. its inputs. Gabriel Almond dan Sydney Verba memahami budaya politik berdasarkan tiga orientasi politik individu. Selain itu. attitudes. negara. efficacy. (2) “affective orientation. and the role of the self in that system’ (Diamond 1994:7). Kedua adalah adanya trust antar anggota. knowledge. values. Bagi berjalannya kehidupan demokrasi perlu dikembangkan nilai-nilai dan orientasi tertentu yang menopangnya seperti nilai-nilai ’moderation. ada dua aspek penting di dalam modal sosial. Larry Diamond sendiri membatasi budaya politik sebagai ‘a people’s predominant beliefs. Secara sederhana.Lebih jauh. telah menjelaskan keterkaitan antara modal sosial dan trust terhadap pemerintahan.” or feeling about the political system. . Keterlibatan seseorang di dalam berbagai kegiatan masyarakat (civic activities). personnel. civility. dan trust antar anggota di dalam suatu komunitas. and performance. misalnya. its roles. termasuk di dalamnya adalah adanya pertemuan dengan pemerintah atau kelompok-kelompok yang berusaha mempengaruhi pemerintah. and evaluations about political system of its country. Pertama adalah berkaitan dengan tingkat keterlibatan warga negara (civic engagement) di dalam suatu kelompok. modal sosial berarti adanya keterkaitan. yaitu: (1) “cognitive orientation. and (3) “evaluational orientation. Karena itu. adanya civic engagement memungkinkan terjadinya interpersonal trust yang menjadi dasar bagi terbangunnya trust terhadap lembaga-lembaga politik. Keele juga menambahkan bahwa trust terhadap pemerintah itu juga berkaitan dengan modal sosial (social capital).

budaya politik tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya faktor yang menentukan demokrasi. sebagaimana dikemukakan oleh Larry Diamond. sebagimana dilakukan oleh sejumlah ilmuwan politik pada 1950-an dan 1960-an. Ketika studi tentang budaya politik bangkit kembali (resurgence) pada pertengahan 1980an. budaya politik itu memiliki posisi penting karena mampu mempengaruhi perilaku politik seseorang. Sementara itu. termasuk di dalam membangun demokrasi. Di dalam budaya demikian terdapat kombinasi yang relatif bagus antara tiga budaya politik: parokhial. Gabriel Almond dan Sydney Verba (1963) melihat bahwa budaya politik kewarganegaraan itu sangat cocok bagi bangunan negara demokarsi. Dalam realiatsnya. mempunyai informasi yang cukup mengenai politik. Sebagaimana dikemukakan oleh Ronald Inglehart (1988). dan partisipan. rasional. kebangkitan pendekatan budaya politik itu tidak lepas dari ketidakmampuan pendekatan pilihan rasional (rational choice) untuk menjelaskan secara memuaskan sejumlah fenomena politik di dunia. hal serupa dikemukakan oleh Robert Dahl yang pernah mengatakan. subjek. Budaya politik lebih dilihat sebagai ’intervening variabel’. Dalam pemahaman yang lebih sederhana. Melalui studinya di lima negara. Adanya responsibelitas dan akuntabilitas di dalam . keterikatan pada keluarga. dan Yahudi) di dalam ketegangan politik di Timur Tengah.Manakala budaya politik itu dipandang secara fungsional atau secara instrumental (Pammett dan Whittington 1976:31). budaya politik warga negara dapat menopang terjadinya ’governmental power’ dan ’governmental responsiveness’ di dalam sistem perwakilan (Almond dan Verba 1963:18). budaya itu ’shared values legitimating social practices’ yang bisa menjadi rujukan perilaku politik individuindividu (Wildavsky 1987:5-6). dan agama (Surbakti 1984:69). Kristen. seperti keterlibatan gereja di Amerika Latin dan keterlibatan sejumlah agama (Islam. budaya politik kewarganegaraan merupakan kombinasi antara karakteristik-karakteristik aktif. ’a key characteristic of a democracy is the continued responsiveness of government to the preferences of its citizens’ (Dahl 1971:1). kesetiaan pada sistem politik. Hanya saja. suku. governmental responsiveness berarti bahwa para elite itu harus akuntabel sehingga memungkinkan rakyat melakukan evaluasi terhadap apa yang telah mereka lakukan. Dalam pandangan Almond dan Verba. sebagaimana dikemukakan oleh Aaron Wildavsky. kepercayaan dan kepatuhan kepada pemerintah. Goevrnmental power berarti adanya elite di dalam sistem politik yang memiliki otoritas dari rakyat sehingga memungkinkan mereka bisa membuat dan melaksanakan kebijakan-kebijakan secara absah. budaya politik memang tidak lagi dipandang sebagai variabel yang paling menentukan dalam membentuk demokrasi. Dalam bahwa yang tidak jauh berbeda.

dengan demikian. Bernard Mann. ’representation is a relation between interests and outcomes’ (Mann et al. 1999:8). . dan Susan Stokes mengatakan. Untuk memahaminya. merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan.sistem perwakilan. Adam Przeworski.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->