DINAMIKA LINGKUNGAN NASIONAL DAN GLOBAL PERKEBUNAN : IMPLIKASI STRATEGIS BAGI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN

Perkebunan merupakan subsektor yang berperan penting dalam perekonomian nasional melalui kontribusi dalam pendapatan nasional, penyediaan lapangan kerja, penerimaan ekspor, dan penerimaan pajak. Dalam perkembangannya, subsektor ini tidak terlepas dari berbagai dinamika lingkungan nasional dan global. Perubahan strategis nasional dan global tersebut mengisyaratkan bahwa pembangunan perkebunan harus mengikuti dinamika lingkungan perkebunan. Pembangunan perkebunan harus mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi perkebunan selain mampu menjawab tantangan-tantangan globalisasi.

Dinamika Lingkungan Nasional Krisis ekonomi dalam yang melanda Indonesia dan beberapa negara dikawasan Asia Pasifik, telah membuka kesadaran dan cakrawala baru. Sektor pertanian, khususnya perkebunan, yang akhir-akhir ini daya tariknya tertutupi oleh glamournya sektor industri, mencuat kembali sebagai sektor usaha yang menarik. Bahkan berbagai kalangan melihat bahwa usaha di bidang perkebunan merupakan usaha yang strategis untuk perekonomian Indonesia , paling tidak selama 20 – 30 tahun mendatang. Salah satu daya tarik utamanya adalah sesuai dengan perjalanan sejarahnya, sebagai penghasil devisa. Selain itu, dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, maka pendapatan petani dalam Rupiah meningkat tajam yang apabila dikelola dengan baik akan membuka peluang bagi pemupukan modal guna meningkatkan kinerja perkebunan. Namun bersamaan dengan merebaknya krisis ekonomi menjadi krisis multidimensi, perkebunan mengalami imbas. Berbagai permasalahan melingkupi subsektor perkebunan dan sebagian diantaranya merupakan permasalahan yang menunjuk pada kegagalan pemerintah dalam pembangunan perkebunan. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut.

Masalah yang berkaitan dengan kepentingan rakyat dan nasional Orientasi kebijakan perkebunan sejauh ini membedakan secara tajam antara perkebunan besar (BUMN dan swasta, termasuk PMA) dengan perkebunan rakyat. Implikasi kebijakan dualistik ini telah memberi kemudahan bagi yang “besar” dan tekanan bagi yang “kecil”, dengan gambaran sebagai berikut :

Pengembangan perkebunan besar lebih dilandasi pada pembukaan lahan hutan dalam skala besar yang dilakukan dengan mengabaikan hak-hak masyarakat di dalamnya. Hingga saat ini masih belum ada re-distribusi aset dan manfaat yang adil (proporsional) kepada masyarakat dari usaha perkebunan. Kedua sistem ini menguasai bagian tertentu dari masyarakat dan keduanya hidup berdampingan. dukungan penelitian dan pengembangan. Khusus dalam perolehan dari nilai tambah perkebunan besar. Pada beberapa daerah kondisi demikian ini telah menimbulkan konflik sosial serta dampak negatif terhadap lingkungan. serta pelatihan sumberdaya manusia. Organisasi-organisasi usaha perkebunan yang menghimpun diri dalam asosiasi pengusaha perkebunan bersifat eksklusif dan powerful dengan tingkat kepedulian terhadap pemberdayaan organisasi-organisasi petani/pekebun rendah. dan product development . Masih rendahnya produktivitas komoditas perkebunan tersebut merupakan tantangan bagi pengembangan perkebunan kedepan. 2. Sementara produktivitas kelapa sawit di Indonesia baru berkisar 14 – 16 ton/ha/tahun. Perkebunan Indonesia masih diliputi oleh dualisme ekonomi. tampak masih sangat terbatas sebagaimana diperlihatkan oleh produk akhir yang diusahakan. Masalah Manajemen Pengelolaan Perkebunan Kebijakan pengembangan perkebunan yang ekstentif. efisiensi. Kebijakan pengembangan perkebunan lebih berpihak pada perkebunan besar yang ditunjukkan oleh alokasi pemanfaatan kredit. Dengan berbagai upaya pembangunan. Hak menguasai oleh negara atas tanah yang kemudian diberikan kepada badan hukum sebagai Hak Guna Usaha untuk usaha perkebunan sangat dominan. Produktivitas rata-rata karet di Thailand mencapai 1 – 2 ton/ha. khususnya Malaysia dan Thailand . Masuknya pemodal besar ke usaha perkebunan masih belum memberikan kontribusi pada kesejahteraan rakyat setempat. 6. sejauh ini telah mengesampingkan produktivitas. 7. sementara itu ketidakpastian hak masyarakat (lokal dan adat) atas sumberdaya lahan untuk perkebunan belum kunjung diselesaikan. Masalah ini menjadi penting antara lain karena jumlah KK yang tergantung pada perkebunan rakyat sekitar 15 juta. 3. yaitu antara perkebunan besar yang menggunakan modal dan teknologi secara intensif dan menggunakan lahan secara ekstensif serta manajemen eksploitatif terhadap SDA dan SDM. dan perkebunan rakyat yang susbsisten dan tradisional serta luas lahan terbatas. . secara umum beberapa komoditas mengalami kenaikan produktivitas. 5. Produktivitas kelapa sawit misalnya di Malaysia rata-rata berkisar antara 18 – 21 ton Tandan Buah Segar (TBS)/ha/tahun.6 – 1 ton/ha. baik BUMN maupun PBSN. Perkebunan Rakyat (PR) yang luasnya sekitar 80% dari perkebunan nasional masih belum mendapatkan fasilitas dan perlindungan yang memadai dari pemerintah.1. Perbedaan keduanya tidak jarang menimbulkan konflik ekonomi yang berkembang menjadi konflik sosial. namun secara umum produktivitas komoditas perkebunan masih rendah dan masih dapat ditingkatkan. Produktivitas perkebunan nasional masih tertinggal dari perkebunan negara tetangga. 4. sementara di Indonesia berkisar antara 0.

Produk perkebunan merupakan produk yang diperdagangkan secara internasional sehingga mekanisme pasar terjadi di pasar internasional. dan lain-lain) yang diperoleh secara efektif berasal dari pedagang atau industri pengolahan. jumlah yang dibutuhkan. Hal ini terjadi terutama dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk serta kebijakan pengalokasian lahan masa lalu yang tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat. pekebun yang berjumlah ribuan dan terpencar berhadapan dengan beberapa pedagang (desa sampai kabupaten) dan karena sifat produk perkebunan yang harus diolah berhadapan dengan “kelompok” industri pengolahan primer. Dengan keterbatasan aksesnya. seperti Malaysia. terutama dengan terjadinya duplikasi pemilikan atau penguasaan lahan. Masalah Pemasaran dan Ekonomi Pada pasar primer.947 ha/unit usaha. Perekonomian perkebunan juga masih didominasi oleh produk primer perkebunan. Tatanan dan kebijakan di bidang agraria tidak kompatibel dengan perkembangan dan kondisi sosial masyarakat. Malaysia merupakan salah satu contoh negara produsen produk perkebunan. Pengembangan PR. pekebun pada PR tidak mendapatkan informasi pasar secara efektif.92 ha/petani. 3. pekebun memperoleh informasi pasar yang bersifat tidak simetris. Sistim administrasi pertanahan belum tertib. Masalah konflik sosial ini terjadi karena beberapa hal sebagai berikut : 1. mutu. Struktur pasar yang berkembang cenderung kearah struktur pasar tidak bersaing (oligopsoni). Secara nasional perkembangan pangsa pasar beberapa produk perkebunan utama menunjukkan adanya kecenderungan penurunan dari waktu ke waktu. baik primer maupun hilir. . potensi untuk mengembangkan industri hilir perkebunan masih terbuka dan pasar produk hilir perkebunan lebih prospektif. Pasar lahan tidak dapat mengalokasikan lahan secara efisien dan adil. India dan Sri Lanka. Akibatnya. seperti di daerah Perusahaan Inti Rakyat (PIR) untuk merubah struktur pasar oligopsoni justru terjebak pada munculnya struktur pasar monopsoni dimana pekebun berhadapan langsung dengan industri pengolahan. 2. sementara pada perkebunan besar mengelola lahan rata-rata 1. Pada saat ini kepemilikan lahan perkebunan rakyat rata-rata adalah 0. Vietnam. tergeser oleh beberapa negara pesaing.yaitu masih terbatas pada produk-produk primer perkebunan. yaitu pasar hasil perkebunan dari Perkebunan Rakyat. Padahal. Hal ini menunjukkan bahwa perkebunan Indonesia masih merupakan pensuplai bahan baku dimana industri akhirnya berada dinegara konsumen. Hal ini mengindikasikan daya saing industri dan produk perkebunan Indonesia masih sangat lemah. Informasi pasar (harga. Thailand. Masalah Sosiokultural (Sosial Budaya) Krisis multidimensi memicu terjadinya konflik sosial di daerah perkebunan.

Masalah Lingkungan Metode paling efisien dalam kegiatan pembukaan lahan perkebunan adalah pembakaran. sedangkan pada perkebunan rakyat. Hal ini terutama kompetisi dengan peruntukkan pemukiman maupun dengan industri.saat ini baru termanfaatkan untuk tanaman. Pemilikan lahan masih berfungsi sebagai komoditas perdagangan (belum melihat lahan dari azas manfaat). 6. pembakaran dalam kegiatan pembukaan lahan masih dijalankan.6 juta ha (80%). dari 11. Limbah padat. 7. Masih terdapat lahan perkebunan rakyat yang berada pada kawasan hutan dan telah berlangsung cukup lama dari generasi ke generasi. Lahan yang tersedia belum dimanfaatkan secara efisien dan produktif. baik di level on farm maupun di pabrik. Kepastian hukum masyarakat terhadap lahan belum terjamin. cair dan gas masih menjadi masalah penting di perkebunan. Sampai saat ini. Penyediaan fasilitas pembiayaan untuk perkebunan besar swasta nasional yang mencakup 2 juta ha dibiayai dari dana kredit sebanyak 1.2 juta ha yang ada. . Dengan keterbatasannya. Manajemen feodalistik perkebunan besar menganggap penggunaan dana untuk kebutuhan Iptek sebagai pemborosan. Namun dampak lingkungan yang ditimbulkannya sangat merugikan. bangunan dan emplasemen sekitar 60%. Berbagai spesies musnah karena pengembangan perkebunan. Masalah Iptek Apresiasi dan perhatian terhadap hasil Iptek masih rendah. UU tentang pengelolaan lingkungan hidup masih memberi toleransi adanya pembakaran terkendali untuk perkebunan rakyat dan pelarangan untuk perkebunan besar. 8. 9. sebagaimana telah digambarkan memiliki potensi sangat besar. Penyediaan dana penelitian dan pengembangan perkebunan masih mengandalkan pemerintah dan sebagian kecil dari BUMN. lembaga penelitian perkebunan hingga saat ini belum berhasil melakukan transfer teknologi. baik di perkebunan rakyat maupun perkebunan besar. terutama ke perkebunan rakyat secara efektif.4. Angka tersebut menunjukan masih rendahnya perhatian lembaga keuangan terhadap pembangunan perkebunan rakyat. Masalah ini timbul dalam batas tertentu karena belum adanya teknologi penanganan limbah. Untuk lahan HGU perkebunan besar sekitar 4. yang dibiayai dengan kredit hanya sebanyak 2 juta ha (18%). Pengembangan perkebunan di kawasan bekas hutan dan perkebunan rakyat tradisional serta penerapan pola tanam monokultur menyebabkan timbulnya masalah keanekaragaman hayati. Transfer teknologi masih terbatas pada daerah-daerah pengembangan perkebunan rakyat. 5. Iptek dianggap belum menjadi bagian integral dari pengembangan usaha perkebunan. mahalnya investasi industri pemanfaatan limbah perkebunan dan rendahnya kesadaran penanganan limbah dan lemahnya penerapan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penanganan limbah.6 juta ha. Makin kompetitifnya alternatif penggunaan lahan.

2. oligopoli. Kelembagaan yang menjamin keberpihakan kepada petani masih lemah. Terjadinya ekonomi dualistik antara perkebunan rakyat dengan perkebunan besar. Terjadinya praktek-praktek kegiatan monopoli. Kelembagaan yang ada masih belum mampu mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat. Dalam kondisi perekonomian seperti saat ini. sekaligus mempertangguh struktur komoditas dan efisiensi dari seluruh rangkaian kegiatan. Daya asimilasi dan absorbsi terhadap teknologi masih lemah. 4. Sebagai contoh. maupun antara hulu dan hilir yang sering menimbulkan konflik. 2. Kelembagaan pendidikan perkebunan masih kurang. Lemahnya kelembagaan ini kemungkinan karena terjadinya intervensi yang berlebihan dari pemerintah. Sampai saat ini masih dijumpai berbagai permasalahan sebagai berikut: 1. baik dari kalangan petani. Penumbuhan kelembagaan petani dan pengembangan kemitraan usaha antara petani dengan pengusaha atau perkebunan besar masih menghadapi beberapa kendala sebagai berikut : 1. maka diperlukan lembaga keuangan alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan hutan dan kebun. kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Kelembagaan petani masih lemah. Dengan kondisi ini. baik petani mapun dunia usaha. Kemampuan lobby ini dibutuhkan untuk dapat memperluas peluang usaha. wira usaha dan manajemen masih rendah. 3. dan monopsoni spasial terutama di kegiatan hilir yang menyebabkan inefisiensi usaha. terutama dengan pembentukan KUD-KUD yang justru banyak merusak tatanan kelembagaan masyarakat. 3. petani ataupun kelembagaan ekonomi petani belum mampu memanfaatkan peluang bisnis yang ada di lingkungannya. Masalah Kelembagaan Permasalahan perkebunan juga terkait dengan masalah kelembagaan. Hal ini ditunjukkan dengan masih terbatasnya pasar komoditas perkebunan. Pasar ekspor komoditas perkebunan selama ini . Kemampuan teknis. padahal lokasi pengembangan perkebunan sebagian besar di luar Jawa. Kelembagaan pemasaran masih lemah. pengusaha maupun aparat pemerintah. 5. pada sebagian masyarakat masih sangat tergantung kepada proyek-proyek pemerintah. Hal ini terlihat dengan masih terbatasnya (sekitar 20%) dari masyarakat petani yang menggunakan klon unggul dalam usaha kebunnya. 7. baik dari aspek sosial maupun ekonomi. Kemampuan lobby yang masih rendah.Masalah SDM Permasalahan perkebunan lainnya terkait dengan masalah kualitas sumber daya manusia perkebunan. Lembaga pendidikan yang khusus menangani perkebunan yang ada saat ini masih sangat terbatas. 6. Kelembagaan permodalan dan investasi kurang mendukung. Hal ini terjadi kemungkinan karena anggapan bahwa petani tidak mampu untuk mengembangkan usahanya secara ekonomis. 4. Mentalitas yang hidup dan berkembang di masyarakat belum mendukung berkembangnya nilai-nilai yang dibutuhkan untuk kemajuan.

subsidi ekspor dan ketahanan pangan. Dinamika Internasional Dengan pengertian bahwa komoditas perkebunan merupakan komoditas yang dioperdagangkan secara internasional. subsidi domestik. rekayasa tekonologi genetika. Pokok perhatian dalam globalisasi dan liberalisasi perdagangan adalah daya saing. Transportasi dan Turisme (Triple-T) Gelombang globalisasi ekonomi pada sasarnya digerakkan oleh adanya revolusi telekomunikasi. 8. terutama kemampuan kelembagaan Iptek yang benarbenar mampu menghasilkan Iptek yang dibutuhkan oleh dunia usaha. humanisasi pasar. transportasi dan turisme (Triple-T). . Hal ini berimplikasi pada semakin dominannya produk dan proses yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara. Kelembagaan informasi belum berkembang. Revolusi Telekomunikasi. maka pengetahuan mengenai globalisasi dan liberalisasi perdagangan merupakan hal yang sangat penting. produksi. Salah satu dampak terpenting dari revolusi ini adalah arus informasi yang berkaitan dengan perkebunan akan berlangsung cepat dan instan sehingga pengetahuan spesifik sebagai kekuatan untuk mempertahankan keunggulan komoditas perkebunan di pasar menjadi berkurang maknanya. transportasi dan turisme (Triple-T). Beberapa isu penting tersebut meliputi revolusi telekomunikasi.terkonsentrasi pada negara pengimpor tradisionil. akses pasar. Dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam ini “pedoman/acuan” pelaksanaan bagi daerah sangat diperlukan sehingga tidak timbul kesulitan pada tataran perencanaan pengembangan. Tanpa daya saing yang kuat maka komoditas perkebunan Indonesia akan kalah bersaing dengan komoditas yang dihasilkan negara lain. hingga perdagangannya. Kelembagaan pertanahan masih lemah. Basis IPTEK tersebut juga menentukan keunggulan produk perkebunan dan proses yang terjadi dalam menghasilkan produk perkebunan. baik informasi di bidang iptek maupun pemasaran. Dalam kaitannya dengan globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Situasi seperti ini merupakan situasi yang harus diperhatikan mengingat peranan perkebunan yang cukup penting di masing-masing negara produsen. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya kasus-kasus lahan yang sering menimbulkan konflik. 9. Kompetisi pemanfaatan sumber daya alam akan terjadi sehingga ketimpangan antara daerah satu dengan yang lain dapat saja terjadi. 10. investasi. Isu-isu tersebut akan diuraikan sebagai berikut. Masalah Otonomi Daerah Otonomi daerah menuntut pemanfaatan sumber daya alam untuk peningkatan pendapatan suatu daerah. posisi Indonesia dan bahkan negara-negara produsen komoditas perkebunan lainnya belum memiliki kemampuan yang kuat dalam menentukan situasi pasar dibandingkan negara-negara konsumen. sedangkan untuk pasar baru masih terbatas. Pada saat ini. Kelembagaan Iptek belum optimal. beberapa isu penting yang berhubungan dengan komoditas perkebunan dan peranan perkebunan di Indonesia perlu mendapat perhatian.

SPS kemudian digunakan sebagai sarana untuk menghambat perdagangan melalui penentuan standar teknis yang ketat (Technical Barriers to Trade/TBT). termasuk perkebunan yang tahan terhadap hama dan penyakit. Namun demikian. Dengan pengertian ini. hewan dan tumbuhan. maka produk harus sehat. lingkungan (eco-labelling) dan hak asasi manusia. Permasalahannya adalah produk yang dihasilkan melalui rekayasa genetika ini belum terlihat dampaknya terhadap kehidupan manusia. globalisasi menentukan produk dan proses sebagai penentu keunggulan. bugar (nyaman) bagi konsumen sekaligus sesuai dengan selera konsumen. seperti kesehatan dan keselamatan (sanitary and phytosanitary/SPS). Bagi negara-negara penentang tersebut. dengan alasan keamanan terutama untuk produk pangan. tetapi juga mencakup dimensi lain. Humanisasi Pasar Seperti dijelaskan sebelumnya. maka mutu produk tidak hanya dilihat dari segi penampilan (appearance). Dengan pengertian ini. serta pengaruh obat-obatan.Oleh karena itu. Isu GMO ini dikembangkan oleh Amerika Serikat dan dilihat oleh negara-negara berkembang dan sebagian negara-negara Uni Eropa sebagai isu yang kontroversial. perlu juga mendapat perhatian. Dengan ketentuan mutu ini. penyesuaian terhadap tuntutan globalisasi harus menjadi kebutuhan dalam pengembangan perkebunan di Indonesia . Rekayasa Teknologi Genetika (Bioteknologi) Genetically Modified Organism (GMO) atau rekayasa teknologi genetika merupakan merupakan rekayasa teknologi genetika untuk meningkatkan kualitas produksi hasil pertanian. isu GMO ini dianggap sebagai proteksi terselubung oleh negara maju dengan tujuan untuk menghambat perdagangan produk pertanian dari negara-negara berkembang. Penyesuaian ini sekaligus juga relevan dalam kaitannya dengan pengembangan produk dan proses yang melingkupi perkebunan dalam era otonomi daerah. dampak negatif globalisasi terhadap perkebunan. aman. Dalam implementasinya. . Sedangkan aspek lingkungan dan HAM digunakan untuk menjamin ketersediaan produk dan melindungi konsumen. seperti semakin menguatnya penguasaan aset perkebunan terutama lahan oleh pihak yang menguasai informasi. maka pasar produk termasuk produk perkebunan berubah dari bersifat atomistik menjadi humanistik.

subsidi domestik ini tetap dipertahankan dan enggan untuk dikurangi oleh negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat. masih adanya pajak ekspor Subsidi Domestik Komitmen mengenai subsidi domestik seharusnya masih diberikan kepada negara-negara berkembang. tarif eskalasi. upaya pembukaan akses pasar produk pertanian bagi negara-negara berkembang di negara-negara maju masih dihambat oleh : 1. seperti tercantum dalam Human Right Declaration. Ketahanan pangan juga menyangkut nilai-nilai sosial. namun juga berkaitan dengan penyediaan lapangan kerja.Akses Pasar Walaupun Persetujuan Putaran Uruguay telah menghapuskan hambatan non-tarif dan/atau menurunkan tarif impor. bukan negara-negara maju. tarif peaks yang dihasilkan dari penerapan tarifikasi secara kurang proporsional 2. dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. yaitu semakin meningkatnya tarif seiring dengan meningkatnya tahap pemrosesan suatu produk 3. dukungan politik dalam negeri yang kuat. Namun subsidi ekspor yang diberikan oleh negara maju dirasakan oleh negara-negara berkembang sangat tidak adil dan semakin memperlemah posisi negara-negara berkembang dalam perdagangan produk pertanian. untuk melindungi para petaninya. Tingginya subsidi ekspor yang diberikan oleh negaranegara maju (Uni Eropa) telah menyebabkan terjadinya distorsi perdagangan. politik dan budaya serta hak untuk terbebas dari kelaparan. Ada sebagian anggota WTO yang menyatakan bahwa ketahanan pangan hanya dapat dicapai melalui perdagangan bebas dengan membebaskan impor dari berbagai hambatan dan tidak perlu melalui kebijakan swasembada pangan. Subsidi ekspor ini menciptakan ketidakseimbangan pasar dan ketidaksamaan diantara anggota World Trade Organization (WTO) dalam hal kompetisi ekspor. ketersediaan dan stabiulitas pasokan pangan. infrastruktur administrasi dan perbankan yang berkembang dengan baik. Subsidi Ekspor Persetujuan Putaran Uruguay telah menghasilkan komitmen tentang penurunan level subsidi ekspor. khususnya negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Ketahanan Pangan Ketahanan pangan tidak hanya menyangkut aksesibilitas. Dengan dukungan dana yang besar. masih adanya hambatan non-tarif dalam bentuk TBT 5. . Dalam hal ini ketahanan pangan dapat diatasi melalui mekanisme pasar dengan melakukan impor sebesar-besarnya dengan harga yang sangat murah. masih dikenal adanya admistrasi tarif quota yang berbelit-belit 4. khususnya hak atas pangan. hak-hak asasi manusia. Isu ini ternyata malah dijadikan isu penting negara maju.

bioteknologi. Fungsi pertanian juga menyangkut fungsi lain seperti pemeliharaan dan kesejahteraan lingkungan. sehingga hasil riset perkebunan dapat segera dimanfaatkan. lembaga yang bertanggungjawab di bidang perkebunan sudah saatnya menyusun rencana strategis yang didalamnya sudah memfokuskan pada keterkaitan secara simultan antara masalah-masalah kesejahteraan masyarakat. data dan informasi agribisnis perkebunan dan kebijakan perkebunan. Pada sisi lain. Hal ini diperoleh dengan adanya “net working” antara lembaga riset perkebunan dengan pengguna “stakeholders”. dan pengolahan. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa tidak semua keberhasilan dalam meningkatkan produksi perkebunan berdampak pada penigkatan pendapatan dan taraf hidup petani perkebunan. Perbedaan interpretasi tentang fungsi pertanian antara negara-negara maju dan berkembang menjadikan fungsionalitas sebagai isu yang kontroversial. sedangkan komoditas perkebunan menjadi sarananya. kesehatan dan kelestarian lingkungan. . Pengembangan kelembagaan. namun pembangunan perkebunan masih perlu ditingkatkan. pengembangan pedesaan. Oleh karena itu. ketahanan pangan.Multifungsionalitas Fungsi pertanian sangat beragam dan tidak semata-mata menyangkut aspek perdagangan. Keberhasilan pembangunan perkebunan harus diukur dari peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku lainnnya. pengusahaan lahan. mengharuskan adanya penyesuaian dalam kebijakan pembangunan perkebunan. pengentasan kemiskinan dan penampung tenaga kerja di pedesaan. teknologi produksi. Selama ini masih terdapat kelembagaan (UU. peraturan dan lembaga perkebunan) yang belum dapat menyelesaikan masalah. sistem dan usaha agribisnis perkebunan. integrasi hulu dan hilir. Peningkatan efektifitas pemanfaatan hasil riset perkebunan. 2. pembangunan perkebunan perlu ditingkatkan untuk menghasilkan hal-hal yang berkaitan dengan: 1. Implikasi Strategis Bagi Pembangunan Perkebunan Dinamika lingkungan strategis. UU Perkebunan yang sedang diproses harus segera ditindaklanjuti dengan penyusunan PP dan kelengkapan legal lainnya. Jelas terlihat bahwa masyarakat merupakan subjek pembangunan. seperti diuraikan di atas. pembangunan perkebunan adalah pensejahteraan manusia dan masyarakat melalui pembangunan komoditas perkebunan. Mekipun telah tersedia berbagai hasil teknologi untuk pengembangan perkebunan. A. Kesejahteraan Masyarakat Paradigma yang baru. Pemerintah ditantang untuk lebih berperan nyata dalam pembangunan perkebunan Indonesia dengan orientasi pemecahan masalah dan proaktif dalam mengantisipasi dampak dari dinamika lingkungan strategis dan siap memberikan masukan bagi pelaksana program pembangunan perkebunan. seperti klonklon unggul.

sedangkan harga komoditas sekunder dan turunannya cenderung meningkat.B. Keberlanjutan tidak hanya menyangkut dimensi ruang. Pengintegrasian Hulu – Hilir Sebagai konsekuensi dari pengembangan perekonomian dunia. Terlihat kecenderungan harga komoditas primer semakin merosot. mikrobiologi. Oleh karena itu. Manipulasi potensi genetik melalui penelitian biologi molekuler. Selain itu. Pengembangan sistem dan usaha agribisnis perkebunan harus mampu mensinergikan setiap subsistem dan pelaku usaha. E. disamping mendorong pemerintah untuk senantiasa sebagai fasilitator pengembangan dimaksud. Keberlanjutan tidak hanya menyangkut kerjasama terpadu untuk melakukan usaha budidaya tanaman antara badan usaha dengan masyarakat atau keterpaduan kegiatan budidaya tanaman dengan industri dan pemasaran produk. C. Kelestarian Lingkungan Upaya pelestarian lingkungan tidak hanya diperlukan saat pembukaan lahan dan penata gunaan tanah. keberlanjutannya perlu dijaga. bioproses. D. Juga selama kegiatan pembudidayaan sampai ke pengolahan hasil. tetapi juga menyangkut dimensi waktu. Kenyataan ini menuntut dilakukannya pengusahaan perkebunan secara terintegrasi melalui sektor hulu tengah dan hilir untuk mengintegrasikan pengusahaan komoditas primer dengan komoditas yang lebih hilir. Pengusahaan Lahan Fenomena tentang pengusahaan lahan menunjukkan bahwa pengusahaan lahan perkebunan yang ada belum menjamin keberlanjutan usaha perkebunan. terlebih dalam menghadapi semakin nyaringnya tuntutan pada “produksi hijau”. . pengusahaan komoditas primer cenderung kurang menguntungkan. F. Juga terlihat peningkatan nilai tambah yang sangat nyata bila mengolah komoditas primer menjadi komoditas yang lebih hilir. Keterkaitan sejak subsistem sarana produksi hingga subsistem pemasaran/perdagangan perlu dikembangkan dan melibatkan pelaku usaha (perorangan atau kelompok dan perusahaan) yang profesional. rekayasa kelembagaan pengusahaan lahan antar pelaku usaha perkebunan perlu dikembangkan. Berbagai rekayasa kelembagaan dimaksud harus berorientasi pada adanya pola distribusi manfaat secara adil. tekad masyarakat melestarikan lingkungan dapat menjadi perisai terhadap kecaman-kecaman tentang kerusakan lingkungan perkebunan. kultur jaringan dan rekayasa genetika harus dihasilkan untuk memenuhi harapan di atas. Pelestarian lingkungan pada semua tahapan produksi perlu menjadi tekad masyarakat. Mengingat bahwa usaha perkebunan merupakan aset produktif pemerintah. Bioteknologi Upaya peningkatan produktivitas dan mutu produk yang sesuai dengan dinamika lingkungan diharapkan dapat dilakukan melalui penelitian bioteknologi. Sistem dan Usaha Agribisnis Perkebunan Upaya mengintegrasikan hulu dan hilir perlu mendapat dukungan tersendiri dari berkembangnya sistem dan usaha agribisnis perkebunan.

Analisis kebijakan ini juga diperlukan untuk menangkap isu-isu aktual. Analisis Kebijakan Upaya pengembangan subsektor perkebunan tidak terlepas dari peranan pemerintah sebagai penentu kebijakan.diperlukan untuk membantu pemerintah dalam perumusan kebijakan. Data dan informasi yang ada saat ini dirasakan masih perlu dilengkapi dengan data dan informasi yang spesifik tentang agribsinis perkebunan. Kebijakan yang diambil merupakan kebijakan yang diperlukan untuk mengembangkan sistem dan usaha perkebunan atau subsektor perkebunan. yang berkaitan dengan perkebunan dan pemerintah memerlukan hasil analisis ini untuk keperluan-keperluan “ad hoc”. subsistem dan sektor . analisis kebijakan .G. lengkap dan akurat merupakan salah satu penentu utama kemajuan riset perkebunan. . Oleh karena itu. H. baik nasional maupun internasional. data dan informasi yang tersedia secara cepat. Pengembangan data dan informasi agribisnis perkebunan ini diharapkan dapat menghimpun data dan informasi yang strategis untuk keperluan bisnis dan kebijakan. Pengembangan Pusat Data dan Informasi Agribisnis Perkebunan Untuk keperluan riset dan analisis kebijakan.dengan cakupan lintas komoditas.

..2.7.350702-.9.3/./:5.:39:8.3.3 43/8848.3-0:29079.7.3.9/.3  .3.3.9.8.    %.30-.3907.3/.9-0/03.2.9    $892..907:9.85079./23897.8 502.7.3/-/..425.3../03..3.:503:./3.8.

/.5070-:3.3..3203.33.38.::5.7.3.3..78.2.3 -.82..8 20.3 590/..3::22. 50307.9./.5503:3.997./03.8.7809.3/. 50309.3.3 094/05. :9.9.../.0203104/.9./.2../843. /.0431..32.32.9.703.3.3 507:39:.8./0.82.3 -.3.-7 .7./5070-:3.8203....9.750302-.980./.8.37.7.9.7  .9.3 -08.35070-:3.5.392-:3.8    !02..3:9.8703/.5.7203.35070-:3.35070-:3.3/92-:.-..07..7  2-.3.3..9/.3-0..0:.:5:3/03.397.2-.90780-:9203:3:.3.3.424/9.3..3..3/.8..502-...30..3 ..9  .9  07-.3..8..9.3.380-.89.9.3:39:5070-:3.8907/...31.89.2..3/..89./.3 02-.50393/5070-:3..8.5.9.3.425098/03. .392-:/.38:3.5070-:3..3/.895070-:3..800307. 8.3.3.  .3.89079039:.:5:3/5.8-071:3880-.9.3./-./.3.3/.3.3/-.350.35070-:3.3.3507.3907.8:9./.3..3/03.3/.3. 02-.370/9.3503.3.2.7 :9.3-0:2907.7../..3/.2.2-..  3..83/:897502.93-0:2-07./.3-08.3.8.3-08.354.5..2 0.9...3 :3/.3.:39:0-:9:.3507.3  .7.7/..5.8508082:83.8/.5502-.3 .9..3.31.01803/../..3/.3907:9../.32.50309.3.37. /./-.9907.3..3-07.8/.7.7 :9..8507/.350304.3:8.-0:2/2.8.3.35070-:3.3...8703/.90344 503.35070-:3..7/.8203.33.37.3.3025.7./.2.3.72 2.3.:5:35070-:3.9    !030/.70/980-.7&  03.   80/.8.91503:3.7.3 $.3502-:..20.8202-079407.50302-./.9.. -07..25./.3.3.7.9 ../2. /.80203809.35070-:3....2.3 -08.35070-:3.32-./.3 -0:220.30907-.3810790344 907:9..23    .3.507..8907-.07.7 &&9039.3  -.5.  !0302-.3810790344 2. 5070-:3.9 /.33:3.3 -07.85902./.33907.3:3.31.350302-.37.390.3503.:39:5070-:3.390780/..93 502-.3.3 !030/.3/:52.-0:2.8502-.8..3.3502-:.3..3:3.0.3/..:9.35.70307.3 /.3.3-08....92.3502:2.7:9072.3.. 2.359080-.302.9-08.3.32-.3.:5 :9.502-.22434:9:72030-.32..32-.3.90.7.33/:897    .50307.9 80-.01091 %7.7     05..9207:.5 -0:2203.3:3.3..3703/.05070-:3..3/.3:39:9.843.3:3.25.2:3 /.301803/.3.089.9073.33.3574/:91 &39:.93-.37..50302-.3.37.342509913.590 5708.3.37.9:7..380.502-4748.35070-:3.9..3907..32-./. 80-.3& 5070-:3....30.8079./.8.31.32025490388.8.5.32..31.:. .35020739..3 90703/.3507:3/.37.3:39:5070-:3.703.85. 08.7.

/0.3 2./3:3.9-0:2203/::3 -0702-. 2.32434584385.950302-.7...043428    002-.93 2...3203:3.:5:3..0-:33.3:8.92.002-.39. $.380.3.907...7.5:3/:3.35070-:3.343/83 509.39/.$ !072.907./507:.3302:33.2.3..7.305.9 202507:.3:8...3 !.780:7:7.509.509.7 5020739.3.3:39:202507.7.35070-:3.3/.3:39:/.-07-.8/.3 02-. .850848.25::39:20302-.3-070-.39.3/2..8/./.39038 7.5.8:7.32...    02.5..7  /...32.3:8:8 203.2.3.9/03.    002-.9.8.3 002-.5070-:3..:..7.3:897:-.7424/9.7.8 5./.8.3 -.230-075./03.850:.8.. 907:9.  .9.8.80-.-847-8907.3/9:3:.8.37.8.7/:.:5:304342 02./.380732032-:.90 57.3 !03:2-:..::/.8 50302-...7.3 .    02.3243454 4454 /.72.5.25:.8703/.3/..3-08.5903442.802...3..3.8907-.3/.....30.7.9 907..35070-:3.7  2.3.8.3503//.3502-039:.802..5.9/03.3.85070-:3.907. 002-.3 .8.9 /2..3& &.350724/.25:.3:39:02.32030-.83.3203.9.89.703.85070-:3.5.3/03.3/:5/..207:8.380-.350302-..3509.34--3/-:9:.3 509.3/03.9.380-.3 -08.3:8.907./...9.:5:3.8703/.7..8. 809../.33018038:8..8..7..30297./.8.3.9.7.3:9.4..33. 3. -.32.5-0-07..3503:8.3.802.3/.32.31.302-..7.9    002-.9 $0-.25:.88.39:305.3-0:22.9...:.9./.350:.91.3.3:..38050798.8-0:22.32..0:.8.3./.3.    002-.900..3.82.80-..37.95020739.8.8.8203.9073..002-.3/-:9:.37.. -.703..3043422..9./.... 03.-.3.3.3.3.708547424/9.:5070-:3... 5070-:3. 5.32.3.9509.3907.089.72.3/7.25:20302-.8907-.3..3-. .9.3 080.03/..3431    %07.9/03.3.9.83..35070-:3.3018038/..32./.3. 907:9..7.3-0702-.8.88.:82025079..33.3907.3/.3 !072..3002-.    .5072.3907.39.30.3../3.8./ 02:33.32..8.34--.:5:3002-.3. ..9/03.243/8 50704342.3502.3: 897:9:7424/9.8.80. 02.05.509... 9.:8..32.3 503:8.8./3.2.....2:8..3/.038.32.802.-07:9   %07.3002-.3.3 02.32..32./.343:3: /.9907-.33.35070-:3..30-:3    002-..3.32./.509.2.8:7..4394 5.3.932.3.3509.8/:25..3-838.2.7.57.8.88:2-07/.503//.:8.02032..-07:9   039.9.9.2.3.9 80.3203/::3 .25:202.25.2.93 2...3.7.5740 57405020739.3 :8.04342/:.35070-:3./3.33.9.3 .31..304342509.3-08.

. 94342..07.7:2.38:.    002-..3/03.3590.3802.3   002-.3590-0:24592.5..503254797.3002-..07.38:2-07/.9: /.3503/.3 -.8-0:2-0702-..23 50/42./ . 425098502.3590.30.72..9.9:/03.8.9.. ..8:8 . 907:9. /.3.3.31472.3/-:9:.2.:5:3 502.3431  . 94342/.203:39:9502.35079.8.7..31..8...02.7 -03.7-..85.502.31.. .8 907-.39.3.7.380732032-:.31.3.3907.07./843 80/.8..0925.2:39:5033.7.9.2.9.331472..:8.3-.../803.8/-/..3.3.8    002-.3:39:5./.98.32.25:.9074380397.8..07.9.38:2-07/.27...3.35902...3.9.25:203.3/.8:8.3-03.907.5.340/:3.3.802..38:2-07/.3/9:3:.3..3.

 2..8.389:.0:. .3/3.3/5.8/.-0:220202.390344/.380-.3.3/.35070-:3.3-07-.3-.3.-07:9  #0.25.2 203039:..3.3 3/4308.88!%90780-:9:.5.39:7820 %750 % $.330.3 -0-07. .7:8 31472.3../.843.9.34-.4-.3-07.9507.320303../..8../07.8.424/9..3.3.35.8.3.9..8 574/:8 3.3.35.574/:/.507/.7.3574/:5070-:3.8./.3/4507/.8  97.882:50309.3..8.3/3/4308.3207:5.85070-:3.3.8.34-.438:203 $9:.9:30..38508180-.88050793207:5.:. 30.7.8.90750393/.3:.7.350704342.7 70.8 5070-:3.35070-:3..7203.3%:7820 %750 %  042-.85.3507.33.3424/9..3/..3-07.50309.8/.8.8/..3-07.203039:.8.8.3 5.8507/.3.3:..9.350302-.05.38.3.3424/9.3503079.3.9.3/03.3-0725..8/.2203.38:3.8 507/. 50309.3-.3 8: 8:90780-:9.3 0:3:.07.::550393/2.3/03.:../03.8085.9043440309.3.3.3. .9.3 50.7.7:8/507..3/.302.3.8.4:890042:3.:./.3:39:2025079.9/507:..33.3  .85070-:3.9:/./.2203039:. 03.8...3 3.8.5.85.9/.7 8:-8/ /42089 8:-8/08547/.4:890042:3.574/:803424/9.389:.9/.802..39073...-078.3 0-07.35070-:3.8043425.2..8:50393.3424/9.85070-:3.33.7/-.3424/9.3..2.3.8 97.3. 30.3-07.3907.8 /.3.9...8:5039390780-:9205:970.7.8/..8.3574808.3 80.340.385479.7./-07:7.7.3 /423./.3 -07:-:3.7./.3803.770...3/03.3  !.//.83 2.8330.8 %7..8.30:3:.3 207:5.3574808.8.8.843.73../.85.8.7.8.4:8%0042:3.38.3.3-.92-:08:9.3 %.3 2033.70.9.089.3../.38:.25:.  3..350703.8.424/9.92.8507/.8.:.950393 !44507.39073..330.8.8.507: 203/.85070-:3.33.8.3/.385479.3 ..4:83..309.385479.9/.8.3-07.3/:7.3/.3.3.../.3.39:7820 %750 % :2.:.3389..24-./....3.5.9507.3803.574/:803  .3574/:5070-:3.32.3 30.93 54883/4308.9.

9.8203039:.3.55070-:3.3/. 4-.3080.:5/2038.39.. !0308:.8..2:9:574/:9/.9: 50308:././.8.8..503:.3574/:/.7 $05079/0.8!.3203:55070-:3..3 8.3  :2.9507.9.:8:.0 909.7:8203.8.9/.3 805079 802.5:.2 .25.3/3/4308.3203:.2:3/02..33 2.30.7.3574/:/.203.2.7 .33./0-:9:.39.7..8.3574808.503039: 0:3:.8907. 494342/.700.59:39:9.3/5948.3.8...3/.3503079.9.8095070-:3. 31472.207.3907:9.3203:.3.350302-.3.3380.8 507::.380-0:23.93..550.25.780503.703.2 50302-.203/.3 03./. .3 805079080.2.9.3/.35070-:3..3/.914-...8.357480880-./03.3907.0..38..8.3.3405.3 /.07.34-.5.3 .

.3.2.3-07:-.9507/..-03 /.82.4 .7..9 %0..380-..8:574/:5070-:3.3 $!$ 02:/.30./:2.../.83..5.3/.7-0781.:39:574/:5.389  .8.3 2:9:3 2.3.320.94289 203.309.9.$!$ 3:3.22502039.3.3./0.3:8. /03.309039:.3.3.8.389.8.3/:3.7707894%7.2-.:39:203.7 9038.2.3.3907:9.7574/:9072.3 0.8.:503039:.. 03.

94030.3.9507/.3.3/.3.2-.-0702-.3203/:3438:203 03..3 9::.7:4-.3 9072. 503039.3503079.9 /.9..9..390780-:9 8: 3/..$07.3:8.3 /:3.3 3 2.8./.503.3/./03.3 70.%03440309.330.3 8007.:8808:.3207:5./.7.:/03.8.3 /.9/. 490344  0309.320.3 -:.23090780/.380-.3/.7.574/:.3:.078.9 .8503:3. 30.9..3.438:20380...574/:. 30.3/.3.3-0:2907.7.9 8079. 30.2.33.343974.25.3  !072.7.57490890780:-:34030..580-.80-.2.2.3574/:/.8:.%% $0/...4/10/ 7..-0702-.9.3       ..8: 5070-:3.907.:39:2033.730. .8.3/.903440309.7.3  8: 3/02-./.7.50/:5.3 -.438:203  #0.5.3.3:39:203.7..39.3574/:5079.&3745..3:39:203.7:880.8.30.:70.3...2.85079.3503. 30.903440309. 0.382  .32.3..:70.8..3..3907.7 3.39:2-:.207:5.340207.7./.9 4-.8.0309.7.8574/:8.

7 .7.71/.3343 9.8.90.9.3&7::.203.:5:3!07809::.808!..3.5:8.3.3!:9.2-.

3/.3.8/.8.3!.2-.8/-07.7.307.2:2.3.3549/.2.8.: /.7150.7.9/.35030/./.7. .3.3. 30.38205.3.85.7. 30.3574/:8/.3:8./.92:7.-0702-.:0-.34030.3574/:9.9/.. -0702-.3202-0-.3-.7.7108.3./0 7.3.8.3203.2033.3:.3.940   9.. 30.9 317..8.8 090780/..9.3.08547 $:-8/42089 42920320303.30.8.5/5079.3/::3..7.3 09.5.5.3.7574/:5079.7 -08.3.3-07-09 -09   2.3-. &3745.2..7/03.&3745.70.2. 30..34292039039.30.808-9.820.7...7.3!:9.3.3:93.2030-.3.84.7:83.99/.802-.712547 :5.3.3.2:3:..47/%7.3/.9.3.8.7.2-.3.203.5.3/.3./.3.89.320250702.507: 20./03.3..9.3/...3 3.7.3802./89478507/.7.7. 90.3.3../3.3.9.2.3.3 8:39073....8079.5 50274808./.-:9./.2.9.8/03..32033.39.349.3 5. -0702-.8..897:9:7.42509808547  09.08:-8/ 08547 .8.27.305. 30.3.3.3.5.2507/.7 /::3.:507/.7.35.3 09.3 $:-8/085473 203.35.203.3/03.8.3../.9.7.7.848.3207.7.9:574/:   2.% .:/7.35.8.93.3 -:.3907.39/.30..2.3.32033.  ./.3/.7.34030.34030.3503:7:3.: &3745.39.5.33. 30.71.9 :39:203/:35.3.750307..:.  :8:83.80-.8 .39:2/.3-0-.2.: :8:83.9:802.: 203:7:3.3574/:5079.3..8 5079.7/.3.38.309.389.7.8.9.3254780-08...: 20...716:49.3/..3574547843.9.7.2.7.90.38.330..880.3/..   9.3 805079907.3 -0702-.3 -:/.30./..2:38:-8/08547.8/.$07./.38:5039330.3 -08.7-07-..//./.3 %33../23897.71/.38:.. .9.73.802-.3 .93.2-039:%%   2. 3..509.$07. 8:-8//420893909.. 20.09.23007.8085..8:-8/08547.35.:7.8.3/-07.349.3-.3/03.3. 549/.. 30.39/.303.3 4030.3.39.82.3/.32547/.309/.718073/03..7.35.-07.3.548830. 30.5.502-:.3:.5.59.3:39:/:7.3.3.7.2..8:-8//4208980.3507-.3.943  /.38.:39:907-0-.2-...9  $:-8/8547 !07809::..7.9.8/03. -0702-.943 % /.3 /.:2.-.3207..3343 9.7. 30.9...309/.. 03..7..3.3/30.5..320..7.3:9.3/-07.8/.3#9 0./2897.9.3&7::..7.2.203.85.

3.3:3.2./.20214:8.3:3.7.98007.3503:8:3..8::/...33/4308.3424/9./.3010919.39..35070-:3.7:8/::7/. 07.32.9..3:3.908.3:39:203.35070-:3.5./93/.5.9.3:3.350/08.33:3..8 :385079.30.78095070-:3.3-079..30-.3-07.380/.3/.3!!/.3...82:9.35070-:3..25.04/078  803.3//..38050795020.9 20..37  080.32.8.3  !.7.3...9..7..38:/.85070-:3.9: 502-.9. 309473 .3  /.802.8:.7-8385070-:3.3...9.8..3:8. 2.8.9 !.7.3  0.3  05:390.8.3-0:2/.39.3/.8.3 .3.8502.38.8907/.-/-/.3:3.85070-:3.3.3509.35070-:3.9 503:8.9-07.25..3 :38 5079.9.3 503039.339075709.2.35070-:3.3./50/08./.7: 502-.878095070-:3./2.3:3.3 ./.8.32.3574.880-..35070-:3.5.2.2203...8:/.35070-:3.3:8.2.3 /.33.7.7./.22033..2502-.3080.9.9207:5.3503/.32.!02-.3:3.350.5747.380.. 2.9.25:3903..3 && 507.907..7..3 3907.3.3 /..3 .3 !07-0/.703.3-.8507: /93.31.3 0-07.3.50.3002-.9-./.3!070-:3.3897.3/.7-8385070-:3.0-07.5.897..8.3/574808.7.35070-:3.-07-.3..9.3 .02-..3-.:502-.908/..3./.3.7.7:8.8..9002-.3/03..3/.3 02-. 30.38.3:3.8.347039..3..93.080.38:-0 502-.35.3:. &&!070-:3.9..3:3.3 $0.907.3:9/03.9.3 -07/..3:9.3  09.3 203:3:.2.9.2:3502-.3.3203.91 /./.8.3.: .3502-.:91:3843..3 3.90780/.3424/9.343974.3   !0302-.33:3.7:88007.5070-:3.8$97..8.8/.3:3..907.3203.3:3.   25.3985.7...203:8:3 703..23...88.9./.078..3080.3 .3/03.907. 2.32.3 -..32.3.3503:3.9/.7.9:7.3.9.203.3.3 -490344 88902/.39.7.50308:..35070-:3.1/:5509.31:385079./8.8:.3:3.7.3/.2.31:3843.3:39:0--07507.3 -0702-. !03.9.3/.3 502-.89039.850507/./..3/.333.9.380.503.30283.2502-.3.35070-:3.878095070-:3.3 50302-.9.7/3./.3:91:38.39..35.3 0.3.31.85020.30.0907.3.3897.75033..2/.:/..3 !020739.8907.3 80507943 43:3: 90344574/:8 /.3:3.33..9203008.7.3/.35034../9..3.    !033.3 3.9.3503.908..5..3574/:85070-:3.39.5.890344:39:50302-.30089.20-.7.802:.8.39/.907.9. /.3.203.3/.3/50740/03.2.32.32.3507:/93.8 203.50380.908 805079/:7.3   080. 89.3 003..3 80/./03. .8...  ...331472..3.8.3..35070-:3.5202-07.302-./2.8.

./507:.3   490344 &5.9.32:9:574/:.3:907.9.3.03/07:32033..90.9../::39:20.9: 70.39: 90.2-...3/03.880:3/07/.370./..7:8-0747039.9073907.9.3203:3:.307:8.33203:39:9/.9.8549038030920.3 %07.2033907..93..857207802.39/.5033.54.33:3.002-./897-:82.3 034203.7..35070-:3..820.3 0.3:3.33.8.7:8/.3 033.03/07:3:7.3 5.203.3. 203.3.8.8.5.2..9075.3:9/2038 ./ 424/9.5070-:3.3:9.0309..703./.33/:897/.73.30-7   0089.7.3:: 7 $0-.9.3 &5.7.733..33.-./.: $0.3. 88902/.2.7-8385070-:3..9.3.230-07.8:/.2.3.203.8./..5070-:3.857207/03./.9/::3.2203.:3.3.::8.50.3507:/02-.8   $8902/./.3/.857207203...380.. 907.: 50309.8.-0:2203.3574/:8507:203.33.30.7.8...33.9. 0-07..0.3203:39:3.7.-.33..7.7..2.809574/:915020739. 8:-88902502.3 .33:3./03.3.8 5.9:39:9.3:9...33:3.3-44240:07 274-44 -4574808 :9:7..3.03/07:3.507:/..3 80...3/.7-0702-.3503:8..3.9.3503:8..38./5078.:.3..8...3.2.33:3. :..35:.4380:038/./   !033907.5.:8./90./.3/3.8.503:8..:09075.5 802./2..9/.503:8.39.3:8.320. 503:8.9..9.3 0907.95033.750.7..3 07-.37507:203/.5.3/2.39/.980.8.3.7.3 5070-:3..2034.3..39039..8:-889028.9502-:.3808:.3.3502..3.8.3 3:3.3424/9.:80947::903.8.8. .3 574/: 0-07.9039.3-.8..002-.39:7:3.3. 574/:8.2.31..3 207:5.3.05034..25..2.39.3::/.3:9/20387:.9 :.3424/9. 5070-:3.3-490344 .3 424/9.3/.3-://.38..33.3 2074849 80/.7.424/9.350704342.3&8.3/:3.7..38.3/.7.3 /...3 9.9:  0.3:9.3 909..3/.857207 ..8/.574/:83.32.3574/:9.9.424/9. /03.424/9.3503...:.9.9203.9.7.9-.70.7-838!070-:3.:.3..5:..5.9 9070-/.39/.30-7 03..9.:50309.7.3..3:39:20203:.50089.3:8.907.7...8./.9..3:8..5..750302-.8 !0089.3503:8..3 &5.3.3../2./:.802:..7.35070-:3.8.3:8. 0-07.37:39:2033907.3./.3907803/7/. !03:8...3.3:9.920089.7..35.80.3.-://.3502-://.5.

3..89. .350.:04254/.388902/. !0302-.3.3809.39..8:/  .3507:/02-.3.9.3/2..::8.9.  /8.3.3 .1..357410843.8.:39:803.3.3/.253203/47435020739.25:2038307.350..7-8385070-:3.58:-88902/..7:82. 50747.3:8.80-..507/.3507:8.94750302-.3.::8.3.320-.

5/.3.8.30-.9.3.8./507:.9.9..3 5070-:3.880-.378095070-:3.8507:/03.3.    !0302-.8/.3.9  03..3 /03.3   .8.9.8..39/.3  0.8  8:-88902/.3.3.2.3/.5070-:3.883:39:0507:.9.3 3/. -.3/./.:7.:.:5:339073.3 0-.3 &5..90705.3.3 ../.9.3 850819039.3897.3/507:.3.3-838/.3.3 3...3..3 &39:0507:.3 /.3..3.7-8385070-:3.920325:3/.30-. 503039:0-.3:39: 203.3.9: .880-.390780/..3 31472.908:39:0507:.843.3..2-207:5.3/.8. 3.3/.331472..:8:-809475070-:3.3/.35020739./.9.9../.331472.3  0-.8.331472./.3:8..880-.3.5/03.33:.80-..2507:2:8./.388902 /.05.3 !0302-..39:5020739.20207:.8424/9.02.9:.3.7507..3.9.35020739.3.58: 8:.32.703.50302-.38.3-07.87-838!070-:3.8.3:39:20302-./.:5.2.331472..3:39:202-.3 0507:.339.8..380947 /507:.38:-809475070-:3..93/7.7.331472.9:503039::9.3!:8.3.7.5.3 .3/03.8./.843.37809/.9207:5.5./4.7-8385070-:3.880-.. .80.