BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Derasnya arus globalisasi, sebagai salah satu bentuk perubahan yang terjadi saat ini, bukan hanya memberikan pengaruh terhadap persoalan bisnis semata melainkan juga berdampak bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Mantja (2002) menyatakan globalisasi itu dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya berdampak juga bagi pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Perubahan global mengakibatkan dunia seakan-akan tanpa batas (borderless world) telah melahirkan gaya hidup baru (a new way oflife) dengan ciri kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga menuntut masyarakat dan organisasi membenahi diri mengikuti perubahan-perubahan cepat tersebut (Tilaar, 1998, 2002). Apabila suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah, tetap mempertahankan status quo atau menolak suatu perubahan, maka institusi itu akan tertinggal dari arus perubahan. Sebab, tanpa disadari perubahan itu akan terus berubah (Zamroni, 2000). Berkenaan dengan perubahan dan tantangan masa depan itu, Yudohusodo (2004) mengemukakan beberapa pandangan para ahli sebagai berikut. Pertama, Gibson (1977) menyatakan; (a) masa depan kita nanti akan berbeda dengan masa lalu,

10

kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis, dari segi substansi manajemen, ada tiga bentuk kendala yang seringkah dijumpai dalam implementasi kebijakan pendidikan (Baedhowi, 2004). Kendala tersebut berkaitan dengan hal; (a) mengelola manusia {managingpeople), (b) mengelola organisasi (managing organization, dan (c) mengelola perubahan dan transisi (managing change and tramition). Kendala dalam hal mengelola manusia misalnya berkaitan dengan resistensi orang-orang terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Kendala mengelola organisasi antara lain bersumber dari kurangnya kemampuan pengelola untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan secara efektif. Kemudian, permasalahan pokok berkaitan dengan upaya mengelola perubahan dan transisi tersebut dinyatakan Baedhowi (2004) bahwa ketika perubahan yang diinginkan itu terjadi jarang sekali dipikirkan bagaimana mengelola perubahan (managing change) itu agar tetap terjaga dan selalu meningkat secara dinamis. Akibatnya, kita seringkah dihadapkan pada perubahan yang hanya sekejap dan setelah itu hilang, dalam arti kembali lagi seperti sebelumnya. Sebagai contoh, perubahan yang hanya muncul sekejap itu dapat dilihat dan bcr bagai kegiatan, antara lain pelatihan (training) yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam melaksanakan I/P(rioton cA^on,Kori T Intul' tYialz-csi/H yonrr cotno QiiKal^ir Anr\ Qonon /OHO 1 \ tWglUUAil JV11U11 ll.C4.lt. VJUIU1V 111U1VJUU JUUgJ JU111U, Jui/uivn UU1I uupui 1 ^iV/V 1 f

11

mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bahwa perubahan dan inovasi pendidikan sering tampak berhasil ketika diujicobakan dan kemudian sirna begitu saja ketika ujicoba telah berakhir. Hal di atas menunjukkan perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi tidak terencana (unplanned change) sehingga implementasi kebijakan tidak berjalan secara berkelanjutan (unsustainably). Hal itu juga terjadi karena tidak ada komitmen yang kuat baik secara individu maupun kelembagaan untuk melaksanakan program pengembangan organisasi yang sudah ditetapkan. Keadaan yang digambarkan tersebut, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Harvey (dalam Suharyadi, 2004:1) yaitu: People think that ifthe Japanese have problems, they are quick t o take decision. Actually they are not, infact they are extremely slow to take dec isian, bui once a decision is take n, everyone is so committed t o do it, and know exactly what they have to do, so they can move at about three times the pace that we do. They spend the time to get the commitment, and the commitment is got by masses of mteraction. Paparan pendapat Harvey tersebut menunjukkan betapa tingginya komitmen orang-orang Jepang untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah diambil. Hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengembangan organisasi dengan / pendekatan Manamejen Berbasis Sekolah sehingga perubahan yang berkelanjutan (sustamable change) dan peningkatan mutu (quality improvement) dapat terwujud. Penelitian-penelitian tentang pengembangan organisasi agak jarang dilakukan apalagi pada jenjang sekolah dasar. Bahkan, kecenderungan penelitian selama ini lebih banyak mengkaji proses dan substansi manajemen

12 pendidikan. dan SD Negeri Mandiri bukan hanya tampak dan pembentukan Dewan . iklim sekolah. Dengan kata lain. semangat kerja. motivasi. Pengembangan organisasi ditujukan untuk membentuk budaya sekolah yang kuat sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu. Lebih rinci dapat dikemukakan hal. misalnya. keefektifan organisasi. dan variabel-variabel kepemimpinan. supervisi.hal sebagai berikut: Pertama. persoalan pengembangan organisasi agak kurang mendapat perhatian para peneliti. dan SD Negeri Mandiri di Kota Cendekia. dilihat dari kerangka kebijakan pendidikan pengembangan organisasi merupakan persoalan strategis yang harus dilakukan terutama pada tataran implementasi suatu kebijakan. yaitu: manajemen sekolah dan transparansi. Misalnya. dan prestasi belajar. SD Negeri Cermat. Pengembangan ketiga pilar di atas dilakukan dengan cara melakukan berbagai perubahan. perubahan struktur di SD Negeri Cerdas. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada tiga pilar. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD Negeri Cerdas. ketiga latar penelitian ini telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. pembaruan metode pembelajaran. SD Negeri Cermat. dan peranserta masyarakat (Hasil wawancara dengan guru tanggal 6 Mei 2005). Berdasarkan wawancara dan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. Pada hal. kurikulum dan pembelajaran. kinerja guru. budaya organisasi.

Sebagai implikasi dan penerapan Manajamen Berbasis Sekolah. Perubahan tugas-tugas. Perubahan teknologi tampak dan penerapan metode pembelajaran aktif. kreatif.perubahan atas dasar kemauan sendiri. Saat ini. pengembangan organisasi di ketiga latar penelitian ini juga memberikan perlakuan terhadap guru melalui pelatihan dan studi banding guna meningkatkan kemampuan guru untuk mengimplementasikan program pembaruan yang dikembangkan. dan menyenangkan (PAKEM). dan tantangan serta keputusan diambil bersama dengan melibatkan personel sekolah. efektif. manajemen sekolah dilakukan secara demokratis sesuai kewenangan terbatas yang diberikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pajangan kelas yang dibuat dan hasil karya murid sebagai salah satu ciri PAKEM terlihat lebih menonjol di SD Negeri Cerdas dan SD Negeri Mandiri. sekolah mulai berupaya melakukan perubahan. orang tua dan masyarakat. Program sekolah disusun berdasarkan analisis terhadap kekuatan. peluang. Terkait dengan hal ini.13 Sekolah. kelemahan. tampak dan bertambahnya bobot dan intensitas tugas baik yang berkaitan dengan tugas-tugas manajemen sekolah maupun tugas personel sekolah. . tugas. Selain intervensi terhadap struktur. SD Negeri Mandiri lebih cenderung melakukan upaya "menjemput bola" yang tampak dari inisiatif melakukan sendiri kegiatan seminar dan lokakarya pada saat libur. melainkan juga sudah dibentuk paguyuban pada masing-masing kelas (di SD Negeri Mandiri organisasi wali murid pada tingkat kelas ini disebut dengan Forum Kelas). dan metode pembelajaran. sebagai konsekuensi dari perubahan struktur dan pola manajemen sekolah.

penciptaan proses pembelajaran yang efektif. Ketiga. Berkenaan dengan hal tersebut wali murid menyatakan bahwa saat ini sudah tampak kemajuan di sekolah. Hal ini disebabkan karena terjadi proses transisi manajemen sekolah dan paradigma lama ke yang baru. tampak dari upaya-upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekolah. bahwa kecenderungan orang akan menolak perubahan (resistance to change). transparansi manajemen sekolah. Resistensi guru terhadap pengembangan organisasi pada ketiga situs penelitian ini tampak dari alasan-alasan yang disampaikan. pada awal pengembangan organisasi tampak adanya keengganan dan muncul resistensi dan kalangan guru (Wawancara tanggal 5 April 2005). terlalu sibuk dan program yang lalu masih belum selesai sementara yang baru datang lagi. manajemen sekolah lebih transparan dan partisipasi masyarakat lebih aktif (Wawancara tanggal 28 April 2005). pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tidak mudah diwujudkan karena muncul sikap resistensi terhadap perubahan yang dilakukan. Di bagian latar belakang masalah sudah dikemukakan. Menurut kepala sekolah. seperti tugas-tugas banyak. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mulai menunjukkan suatu kemajuan. Hal ini. dan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah.14 Kedua. Kemajuan awal yang dicapai tidak terlepas dari kemauan berkembang atas keinginan sendiri yang dimiliki oleh personel sekolah dan dukungan wali murid masyarakat. Indikasi ini pulalah yang mendorong .

berkunjung ke tiga sekolah tempat penelitian ini dilaksanakan guna mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Terakhir. B Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga SD Negeri di Kota Cendekia. Hasil pemahaman tersebut dijadikan dasar untuk mencari solusi bagaimana cara menghadapi resistensi itu (overcoming resitance to change).15 sekolah-sekolah atau instansi lain. namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana memperlakukan orang-orang dalam organisasi atas dasar pemahaman ilmu perilaku (behavioral science) yang benar sehingga resistensi terhadap perubahan dapat diatasi. keberhasilan pengembangan organisasi dicapai dengan tidak mengorbankan kepentingan dan kepuasan anggota organisasi. munculnya resistensi karena para guru sudah terbiasa dengan pola lama (Wawancara tanggal 5 April 2005). baik yang berasal dari wilayah Kota Cendekia maupun sekolah-sekolah dari propinsi lain di Indonesia. Alasannya adalah. Ini berarti. Menurut kepala sekolah. pengembangan organisasi dengan melakukan berbagai perubahan adalah penting bagi peningkatan keefektifan organisasi itu. Fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut: .. adanya resistensi terhadap pengembangan organisasi telah dipahami oleh kepala sekolah terutama menyangkut alasan-asalan mengapa terjadi resistensi.

3. 4. C. tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. (c) peranserta masyarakat. dan SD Negeri Mandiri. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian yang telah dikemukakan. (b) metode pembelajaran. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. (b) metode pembelajaran. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. (c) peranserta masyarakat.16 1. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. dan (d) budaya sekolah. SD Negeri Cermat. yang meliputi. dan SD Negeri Mandiri. 2. dan SD Negeri Mandiri. . dan (d) budaya sekolah. yang meliputi. SD Negeri Cermat.

Hasil pemahaman ini dapat dipakai sebagai sumber informasi bagi kepala sekolah dalam mengelola pengembangan organisasi 3. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai pengembangan organisasi sekolah dan mendorong peneliti lain untuk mengkajinya lebih lanjut sehingga dapat memperkaya teori pengembangan organisasi yang sudah ada. .17 2. dan SD Negeri Mandiri. 3. D. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Bahan masukan bagi guru dalam mengimplementasikan program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 4. Memperluas pemahaman tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. 2. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat.

Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi . Konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini mengacu pada makna kualitas. efektif. Hasil penelitian ini berguna pula bagi pengambil kebijakan. dan (c) peranserta masyarakat. seperti. 4. Pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang yang dilakukan secara terencana untuk meningkatkan keefektifan sekolah. dan orang tua murid untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. (b) metode Pembelajaran Aktif. 5. dan Menyenangkan (PAKEM). dan kepala dinas pendidikan kecamatan. E. Pengembangan ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membentuk budaya sekolah yang menunjang pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Bahan masukan bagi pengurus Dewan Sekolah. yaitu peningkatan keefektifan sekolah dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mengacu pada tiga pilar. kreatif. Paguyuban/Forum Kelas. pengawas sekolah.18 khususnya penerapan pembelajaran aktif. kabupaten/kota atau propinsi sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah khususnya di sekolah dasar. Kreatif. Definisi Operasional 1. yaitu (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan menyenangkan (PAKEM) di sekolah dasar. Efektif.

Otonomi sekolah adalah kebebasan terbatas yang dimiliki sekolah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan hak. 4. . Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. dan kewajiban dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku. pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Hal ini merupakan fokus lain dari pengembangan organisasi. wewenang. 3 Resistensi adalah respons guru terhadap program yang diimplementasikan dalam pengembangan organisasi yang dapat berupa keengganan atau penolakan. Pengembangan organisasi terwujud bilamana resistensi yang muncul dipahami dan diatasi dengan baik. 2. memberikan fleksibilitas keluwesan kepada sekolah. Kemudian. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan keefektifan sekolah. yaitu intervensi terhadap aspek individu/manusia. dalam penelitian ini juga dipelajari faktor pendorong implementasi program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Di samping itu. Dengan demikian otonomi sekolah bukanlah merupakan independensi yang terlepas dari ketentuan yang berlaku. Hal ini muncul karena kekhawatiran guru terhadap berbagai konsekuensi dari program pembaruan yang dikembangkan.19 sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi.

dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 pada bagian A poin 2 diatur tentang Acuan Pembentukan Komite Sekolah bahwa nama Komite Sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. pemerataan. Nama organisasi ini jelas berbeda dengan apa yang disebut School Board Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3. Senge (1994) juga mengatakan bahwa ke depan teijadi perubahan dari kompleksitas detail menjadi kompleksitas dinamik yang membuat interpolasi menjadi sulit. seharusnya organisasi ini disebut Komite Sekolah (. maka di wilayah Kota Cendekia organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat di tingkat sekolah disebut dengan Dewan Sekolah. Ketiga.School Committee) Namun. Kanter . (c) dengan berbagai perubahan yang terjadi setiap organisasi atau institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju (where do we go next). Dewan Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat pada tingkat satuan pendidikan (sekolah) dalam rangka meningkatkan mutu. antara lain dinamakan Dewan Sekolah. dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Perubahan-perubahan terjadi sangat mendadak dan tidak menentu. (b) dengan adanya tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/institusi yang berbeda {new time cal! for new organizations) dengan ciri efisiensi yang tinggi.20 5. Kedua. dan kecepatan bergerak. Berdasarkan keputusan menteri tersebut. dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu.

Kemampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah merupakan ciri utama organisasi yang berhasil (Steers. Organisasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan mengisi peluang yang ada akan mampu bertahan hidup (survive) dan berkembang ke arah yang lebih baik (Gitosudarmo & Sudita. dan kepercayaan diri. Bahkan lebih dari itu. relasi. 2000). Stoner (1982:379) menyatakan "managing such change effectively is not on/y a necessity for organizational surviva/ hut also a challengeIni berarti. kelangsungan hidup dan kemajuan suatu organisasi tergantung kepada kemampuan organisasi itu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. kompetensi. 1977. dalam hal ini disebut pengembangan organisasi (organizational development).3 (1994) menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan dan setiap pelakunya (di berbagai bidang) termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki konsep. Bennis dalam . Perubahan dan tantangan masa depan yang digambarkan di atas mengisyaratkan organisasi untuk selalu melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek.

Upaya penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi (organizationcil development). Miles dan Taylor (dalam Owens. mengemukakan definisi tentang pengembangan organisasi sebagai berikut: 20 . dan (d) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. Pengertian Sebagai bagian dan sistem yang lebih besar. 1991:223). Fullan. dan (c) hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. sekolah sebagai suatu organisasi tidak bisa melepaskan diri dan pengaruh sistem-sistem lainnya itu yang secara terus menerus berubah. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konsep pengembangan organisasi. 1982). terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengembangan organisasi menurut pendapat para ahli. dan (b) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Hal ini berarti. (b) resistensi terhadap pengembangan organisasi. mencakup (a) pengertian. setelah melakukan studi yang komprehensif terhadap pengembangan organisasi di sekolah-sekolah Amerika dan Canada. Keadaan ini menuntut organisasi sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu. organisasi berada dalam lingkungan yang selalu berubah (Stoner. A.BAB n KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan secara berurutan kajian teoretis tentang (1) pengembangan organisasi. yang meliputi (a) pilar pengembangan organisasi. (2) Manajemen Berbasis Sekolah. Pengembangan Organisasi 1. terdiri dan (a) dasar pemikiran. (b) pengertian. (c) cara mengatasi resistensi. (3) pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

Organization development is an effort (1) planned. melainkan juga peningkatan kualitas kehidupan individu-individu yang menjadi anggota organisasi. and culture. 3. terencana. research. systematically-planned. Tujuan pengembangan organisasi di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi. processes. or change agents. Cummings dan Worley (2001:2) mengemukakan pula beberapa definisi pengembangan organisasi dengan mengutip pendapat para ahli. Organization development is a planned process of change in organization 's culture through the utilization of behavioral science technology. The goals o f O D mclude bot h the quality o f life of individuals as well as improving organizational functiomng and performance.(Richard Beckhard). 2. intervention. norms or structures.Organization development in school districts is a coherent. people. Selain tiga definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan di atas. process. focusing explicitly on change in formal and informal procedures. Organization development refers to a long-range effort to improve an organization 's problem-solving capabilities and its ability to cope with changes in its external environment with the help of external or internal behavioral-scientist consultants. norma atau struktur. pengembangan organisasi di sekolah merupakan upaya perbaikan secara sistematik. Organization development is a systemwide process ofdata collection. to (4) increase organization effectiveness and health through (5) planned mterventions in the organization 's "processes " using behavioral science £ttow/ec/ge. dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal. and eva/uation aimed at (1) enhancing congruence among organizational structure. (2) organization-wide.(Warner Burke). diagnosis. Cummings dan Worley juga mengutip definisi keempat dari ahli lain sebagai berikut: 4. Konsep pokok yang terkandung dalam pengertian di atas adalah.(Wendell French). using behavioral science concepts. and (3) managedfrom the top. sustained effort at system self-study and improvement. (2) developing . as they are sometimes c#//ec/. yaitu: 1. strategy. and theory. proses. action planning.

Indrawijaya. 1982. yaitu. 2001) dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan. Di samping terdapat perbedaan sudut pandang. 2001) memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan. Stoner. tugas. Owens. and (3) developing the organization 's self-renewing capacity. definisi French (dalam Cummings & Worley. (4) pengembangan organisasi memerlukan intervensi baik internal maupun eksternal. (1) pengembangan organisasi didasarkan pada pengetahuan dan praktek ilmu perilaku (behavioral science). (2) pengembangan organisasi berkaitan dengan mengelola perubahan terencana (managingplannedchange). definisi Burke (dalam Cummings & Worley. Cummings & Worley. Hanson. Misalnya. Masing-masing definisi di atas memberikan penekanan yang berbeda. 1991. 1982. 1991. teknologi. struktur. dan (5) pengembangan organisasi berorientasi pada peningkatan keefektifan organisasi {organization effectiveness) (Lippit. Siagian.new and creative organizational solutions. research. . Bila disimak lebih teliti lagi. dan manusia terutama penlaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture).Q\ Beer). 1996. and technology. dalam berbagai definisi pengembangan organisasi terdapat beberapa konsep pokok. ada pula kesamaan dan definisi pengembangan organisasi itu yakni melakukan perubahan secara berencana untuk memperbaiki kineija organisasi. 2000. dan definisi Beckhard dan Beer (dalam Cummings & Worley. Robbins. 2001) ditujukan pada proses pengembangan organisasi. 11 occurs through the collaboration of organizational members working with a change agent using behavioral science theory.{M\c\Ya. (3) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada strategi. 2001. 1983.

dan intervensi terhadap individu/manusia yang tercakup dalam cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi sebagai wujud penggunaan ilmu perilaku (behavioral science theory). ada tiga istilah pokok yang perlu dijelaskan. perbaikan metode (teknologi). Wibowo.com/ services. 2002.23 Sutarto. sedangkan dalam konsep perubahan dan pembaruan belum tentu atau bahkan tidak tercakup makna . Dalam konsep pengembangan tercakup makna perubahan dan pembaruan. perubahan adalah hal (keadaan) berubah atau peralihan dan suatu keadaan. perubahan dan pembaruan (inovasi). 2002. Berangkat dari beberapa definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan.toolpack. (2) PAKEM. maka konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini adalah usaha terencana untuk peningkatan keefektifan organisasi dengan mengadopsi pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah sehingga menghasilkan budaya sekolah yang menunjang terhadap pencapaian tujuan. Thoha. http://www. 2004.html. Jones. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas. 2002) dijelaskan bahwa pengembangan adalah upaya peningkatan yang menjurus kepada sasaran yang dikehendaki. yaitu (1) manajemen sekolah dan transparansinya. yaitu pengembangan. dan (3) peranserta masyarakat. diakses tanggal 9 Februari 2005. 2006). Pengembangan organisasi mengacu pada tiga pilar. dan pembaruan inovasi) adalah pengenalan atau penemuan sesuatu yang baru atau berbeda dan • eadaan sebelumnya. Selanjutnya. Pengembangan ketiga pilar tersebut dilakukan melalui perbaikan struktur organisasi/tugas.

(a) . jika perubahan hanya terjadi . Thoha. Thoha. membuat keputusan. pengembangan organisasi mencakup sepuluh konsep yang bercirikan. maka itu bukan merupakan perubahan dalam kerangka pengembangan organisasi. 2 31. Bahkan. pengembangan organisasi bukan hanya mengadakan perubahan (change) dalam struktur dan prosedur organisasi saja." Sementara itu. Kajian tentang pengembangan organisasi tidak bisa terlepas dan perubahan. Gibson. Dengan kata lain.pengembangan. Brown dan Harvey (2006:4) menyatakan "OD is a planned strategy to bring about organizational change. Pengembangan organisasi merupakan suatu respons terhadap perubahan (Bennis dalam Luthans. melainkan juga termasuk kultur organisasi (Owens. Berdasarkan hal tersebut. Dalam kaitan itu pula. Cummings & Worley. 2004). maka uraian mengenai perubahan dalam penelitian ini hanya berada dalam kerangka pikir pengembangan organisasi. Bahkan secara tegas dikemukakan.j. Buchanan & Huczynski. hampir semua ahli berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Indrawijaya. Pengembangan organisasi lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar bukan hanya perubahan cara keija. dan perlakuan terhadap orang-orang dalam organisasi. Ivancevich. pengembangan dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan dan/atau pembaruan. dan Donnelly (1995) menyatakan pengembangan organisasi sebagai teknik manajenal untuk mengimplementasikan perubahan penting dalam organisasi. Namun demikian. melainkan proses dan sikap memahami persoalan. -:am prakteknya. 2002). 1983. 2002). 1991. 1981.am susunan dan prosedur organisasi saja sedangkan kultur organisasi tetap sama.

kebalikan dari to sweepingproblems under the rug. (c) menciptakan lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan otoritas berdasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. baik dalam kelompok maupun antara kelompok. (c) suatu pendekatan sistem. dan diagonal. (1) peningkatan keefektifan organisasi. (d) berfokus pada manusia. dan (j) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens. Usaha-usaha pengembangan organisasi pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir (Robbins. (g) berkaitan dengan masalah nyata. (f) menemukan solusi yang . ia merinci tujuan pengembangan organisasi sebagai berikut: (a) meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota-anggota organisasi. (e) suatu strategi pendidikan. dan sumber daya manusia.orang dalam organisasi dalam membuat keputusan yang lebih efektif. vertikal. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi memberikan implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan. dan (2) peningkatan kepuasan anggota-anggotanya.keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur. (d) meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horizontal. yaitu. 1984). (e) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. (b) meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah-masalah organisasi.25 tujuan pengembangan organisasi. (b) pembaruan sistem. Lebih lanjut. (f) belajar melalui perilaku yang dialami. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang. (h) suatu strategi terencana. 1991). teknologi. tugas-tugas. Tujuan utama pengembangan organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. (i) agen perubahan.

Bertitik tolak dari beberapa pendapat di atas. efektif. pengembangan organisasi merupakan suatu proses bukan kejadian yang datang secara tiba-tiba. dan (6) menciptakan budaya sekolah yang kuat dengan ciri antara lain. ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan pengembangan organisasi. Pertama. sebagai proses transisi pengembangan organisasi menghadapi suatu keadaan yang tetap menginginkan status quo. Artinya. memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan prestasi terbaik. sehingga perubahan terhadap . Berdasarkan hal tersebut. terencana dan menempuh langkah-langkah yang sistematis. (2) menciptakan iklim sekolah yang demokratis dengan menyelenggarakan manajemen sekolah secara transparan dan akuntabel. dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi. maka tujuan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) meningkatkan kepercayaan dan peranserta dari stakeholders baik internal maupun eksternal dalam menunjang keberhasilan sekolah. (5) menciptakan pembelajaran aktif. (3) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. kreatif. Ketiga.26 sinergis terhadap masalah. yaitu pergerakan dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan. dan (g) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi. Kedua. dan menyenangkan bagi peningkatan mutu lulusan. (4) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi program pengembangan organisasi. pengengembangan organisasi dilakukan secara sengaja.

muncullah Kegiatan Rintisan Keija Sama segi tiga Pemerintah Republik Indonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Menciptakan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat. Analisis implementasi pendekatan ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang bekeija sama dengan Bank Dunia. model. Pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pengadopsian model manajemen sekolah yang pernah diterapkan di beberapa negara.27 kondisi ini menimbulkan resistensi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu. dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholders-nya. cara. tujuan pengembangan organisasi adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (quality improvement). Di samping itu. atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens. 1991). Keempat. Berdasarkan hasil analisis itu. Pengembangan organisasi sekolah dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide-ide. metode atau cara baru yang diadopasi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan suatu pendekatan yang telah dikembangkan oleh pihak lain. pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan pengembangan organisasi secara umum adalah untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri. keefektifan. Hal ini tentu saja didasarkan atas pertimbangan bahwa pengadopsian tersebut dapat meningkatkan kualitas keluaran organisasi menjadi lebih baik. model." Untuk merealisasikan program ini. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi yang dilakukan tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kineija organisasi. sejak tahun 1999 telah . Ide-ide.

elemen-elemen dimaksud adalah. Oleh karena itu. 1982. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Elemen-elemen organisasi (diadaptasi dari Stoner. Saling ketergantungan antara elemen. dan orang-orang. teknologi. (a) struktur.1.elemen tersebut dapat dilihat pada gambar 2. Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi didasarkan atas pandangan bahwa organisasi sebagai sistem. fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada elemen-elemen penting yang terdapat dalam organisasi itu. Jawa Tengah. 1991). Dalam prakteknya.389) . 2. Menurut Leavitt (dalam Stoner. Jawa Timur.28 dilakukan pilot proyek di empat propinsi. yaitu. Gambar 2. tugas.1. Owens. 1982. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tetap didasarkan atas kemampuan sekolah masing-masing.

dan Griffin dan Moorhead (1986) menguraikan dari sisi metode perubahan organisasi. Hanson (1991) melihat dan segi fokus perubahan. Dengan demikian. namun semua ahli tersebut sebenarnya ingin menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diubah dalam melakukan pengembangan organisasi sehingga kineija organisasi menjadi lebih baik. Terdapat berbagai pendapat ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dan masing-masing ahli melihat dari sudut pandang yang berbeda.1. Robbins (1996) melihat lingkup perubahan dalam pengembangan organisasi dan sisi apa yang dapat diubah oleh agen perubahan. Rangkuman Pendapat Ahli tentang Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi .29 Berdasarkan gambar 2. Tabel 2.1. Steers (1977) meninjau dan aspek pendekatan yang digunakan dalam perubahan organisasi. suatu perubahan dalam satu elemen organisasi akan mempengaruhi elemen-elemen lainnya. Stoner (1982) memandang dari sudut variabel perubahan organisasi. Berbagai pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisisasi dirangkum dalam tabel 2. Walaupun para ahli memandang fokus perubahan organisasi dan sisi yang berbeda. Program perubahan yang berfokus hanya pada satu dan elemen-elemen organisasi itu memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil (Stoner. suatu perubahan yang efektif menyadari adanya interaksi elemen-elemen organisasi tersebut.1. 1982).

Tugas 3. Teknologi 4. Kelompok dan individu Hanson (1991) Robbins (1996) 1. Teknolog i i 3. Struktur 2. Setting fisik . Iklim organisasi dan gaya pribadi individu 4.Pribadi individu 3.30 Steers (1977) Stoner(1982) 1. Struktur dan Sistem 1. Struktur 2. Tugas dan teknologi 3. Manusia 4. Teknologi Griffin dan Moorhead (1986) 1. Manusia 1. Tugas 3. Struktural 2. Struktur 2. Manusia 2.

Atas dasar itu. maka perubahan yang dilakukan tidak memberikan kontribusi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Gibson. dalam kenyataannya pendidikan masih menghadapi berbagai permasalahan. 1992. jenjang. Gambaran umum sebagai indikasi rendahnya mutu pendidikan Indonesia terlihat dan Human Development Index tahun 2004 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 111 di bawah Malaysia (058). hal yang mungkin tidak begitu jelas adalah apa sebenarnya perubahan itu dan bagaimana caranya melakukan perubahan tersebut (Morgan. 1993. Thailand . 1996). Namun. Scheerens. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Fungsi pendidikan tersebut diemban oleh setiap jalur. pendidikan dasar yang bebas ifree basic education) harus dijadikan prioritas utama di dalam membangun suatu masyarakat Indonesia baru yaitu suatu masyarakat demokratis (Tilaar. Apabila ketidakjelasan tersebut juga teijadi dalam dunia pendidikan. Ivancevich & Donnely. 2000). pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 3 UU RI No. Salah satu masalah pokok yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan. Oleh sebab itu. dan jenis pendidikan termasuk Sekolah Dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar. Oleh karena itu. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Kotter. 1980. 1996. Pendidikan dasar yang termasuk hak dari semua warga negara merupakan fondasi dari suatu masyarakat yang demokratis. 1993). Kebutuhan untuk berubah sudah jelas. 2002). organisasi harus berubah (Morgan. Tyson & Jackson.3 Schein.

Sementara itu.anggota organisasi.1. dan aspek organisasi. aspek organisasi . artinya perubahan struktur organisasi dan tugas-tugas yang sudah dilakukan diikuti dengan perubahan setting fisik tempat orang-orang atau anggota organisasi itu bekerja. Aspek individu berhubungan dengan .nggota organisasi sebagai pribadi sehingga memerlukan strategi yang bersifat r' badi pula. perubahan organisasi dapat ditujukan terhadap aspek ndividu. Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada pendapat yang dikemukakan Steers (1977).. Sebenarnya. dapat dijelaskan bahwa secara umum terdapat kesamaan pandangan mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Walaupun Steers tidak menyatakan aspek perubahan yang berkaitan dengan tugas secara eksplisit. Sementara itu. prosedur keija dan kebijakan guna mendukung perubahan struktur organisasi. perubahan individu dan iklim organisasi termasuk ke dalam aspek perubahan yang ditujukan kepada manusia atau anggota. Menurut Steers (1977). -r.ubungan dengan unsur-unsur organisasional yang akan berpengaruh dalam proses perubahan. Perbedaan pandangan terlihat pada pendapat Robbins (1996) yang memasukkan unsur setting fisik dalam perubahan organisasi. Griffin dan Moorhead (1986) menyebut hal ini dengan istilah perubahan individu dan kelompok. kelompok. Terakhir. aspek kelompok menyangkut hubungan antar pribadi ^ng harus dibangun untuk mendukung proses perubahan.30 Melihat perbandingan pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi sebagaimana tampak pada tabel 2. . perubahan setting fisik merupakan bagian dari perubahan struktur dan tugas. namun perubahan sistem yang dimaksudkan oleh Steers berkaitan dengan tugas-tugas.

teknik memproses. Perubahan teknologi berarti mengubah peralatan. . hubungan. diakses tanggal 9 Februari 2005).31 Berdasarkan hal tersebut. ada tiga pendekatan umum yang dipakai untuk melakukan perubahan secara berencana. Dengan demikian. it is usually easier t o change the structures and system than to change the culture. teknologinya. the most potent tool for improvemen/ is cultural . pelatihan. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi mencakup perubahan seleksi. (2) struktur dan sistem organisasi. " (Tee. sikap. Leavitt (dalam Stoner. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2.2. atau teknologi. yaitu perubahan yang terutama ditujukan pada: (1) pribadi individu.com/services. 1977). Perubahan struktur mencakup penyusunan kembali sistem internalnya. '7/7 any change. 2003:38). alur kerja. Walaupun ada beberapa fokus perubahan yang dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi. atau hirarki manajerial.toolpack. namun perlu diingat bahwa "The premise of organizational development is: Orgamzations are social systems m which people are strongly influenced hy the rgamzationa/ culture. atau metode produksi. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan budaya merupakan hal ^ngesensial dalam pengembangan organisasi. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi bukan merupakan hal yang mudah dibandingkan dengan perubahan struktur. tugas. atau peran anggota organisasi. Therefore. seperti garis komunikasinya. hange(http://www. dan atau manusianya.html. 1982) menyatakan bahwa pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengubah strukturnya. dan (3) iklim organisasi dan gaya hubungan antar pribadi (Steers.

perubahan dan motivasi terutama sikap manusia ditentukan oleh karakteristik setiap anggota organisasi Struktur dan Modifikasi prak Menciptakan kon Perilaku dalam sistem organisasi tek.2. pendidik Perbaikan tingkat Perilaku dalam an/latihan.32 pendekatan -engembangan organisasi hendaknya memberikan penekanan pada perubahan budaya Tabel 2. sosiali keterampilan sikap organisasi sasi. yang berikan imbalan ditentukan oleh mempengaruhi apa pada prestasi ang karakteristik yang dikerjakan gota yang mem situasi organisasi orang dalam tugas perlancar tercapai tempat orang nya tujuan bekerja organisasi Iklim organisasi Teknik eksperimen Menciptakan iklim Perilaku dalam dan gaya yang ditujukan un keseluruhan organisasi hubungan antar tuk meningkatkan organisasi yang terutama pribadi kesadaran anggota bercirikan tingkat ditentukan oleh akan faktor kepercayaan antar proses emosi dan penentu sosial dari pribadi dan sosial yang perilaku mereka keterbukaan yang mencirikan dan membantu tinggi. prosedur dan disi yang menim organisasi kebijakan yang bulkan dan mem terutama berlaku. mem hubungan antara mereka perkecil para anggota mempelajari cara konsekuensi organisasi baru untuk disfungsi dan kon bereaksi dan flik sosial dan per berhubungan satu saingan yang amat sama lain dalam ketat konteks organisasi . Rancangan Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Aspek Teknik Intervensi Hasil Langsung Asumsi Mengenai Perubahan yang Dituju Penyebab Utama Perilaku dalam Organisasi Pribadi Individu Edukasi.

.33 organisasi (organizational culture) yang mempengaruhi cara orang-orang bekerja. Alasannya adalah karena keefektifan organisasi dapat diwujudkan apabila didukung oleh budaya organisasi yang kuat.

Desentralisasi merupakan sa'ah .Bertitik tolak dari uraian di atas. 1991). dan fokus perubahan individu/manusia dipelajari dan cara-cara yang digunakan kepala sekolah untuk mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi. maka fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikaji dari sisi perbaikan struktur organisasi sekolah. Sementara itu. pengawasan secara birokratik terhadap sekolah-sekolah mesti diakhiri. Munculnya Manajemen Berbasis Sekolah erat kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Manajemen Berbasis Sekolah 1. dan (3) tiap sekolah harus diberi kebebasan dan persyaratan yang fleksibel untuk merespons secara kreatif tujuan pendidikannya secara menyeluruh guna memenuhi kebutuhan para siswa. yaitu. fokus perubahan teknologi dilihat dari pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM. Gerakan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu pengalihan otontas pengambilan keputusan atau mengurangi cara-cara pengambilan keputusan secara terpusat yang sudah menjadi kebiasaan di masa lalu. Pengkajian fokus perubahan tersebut berada dalam kerangka perbaikan manajemen sekolah dan transparansinya serta peningkatan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu dengan membentuk Dewan Sekolah dan Paguyuban/Forum Kelas. B. (2) kepemimpinan lokal yang efektif adalah sangat penting. (1) sentralisasi yang terlalu berlebihan. Dasar pemikiran Dasar pemikiran dari SBM diartikulasikan oleh Carnegie Foundation (Hanson.

pergeseran wewenang yang begitu r^i: sebagai dampak dari desentralisasi pemerintahan seharusnya diikuti dengan -_eseran paradigma dalam seluruh aspek manajemen pendidikan tingkat -■r--e-. Penyebabnya adalah karena implementasi desentralisasi masih menimbulkan berbagai kekhawatiran. 2000). seperti konsentrasi ■ ek jasaan pada beberapa orang atau golongan seperti pada sistem sentralistik. yaitu. ^-iN-adilan dan ketidak-jujuran jangan-jangan malah lebih sentralisasi (Hamidjojo. khususnya di Indonesia sebagai dampak reformasi di segala bidang termasuk pendidikan (Mantja. Melihat berbagai fenomena desentralisasi tersebut. I Oleh karena itu.-a.olahan di daerah yang semula dikelola secara lebih sentralistik sekarang harus e r h didesentralisasikan. 2002).35 satu isu yang amat populer pada akhir-akhir ini. serta (c) ideologi dan filsafat. pertimbangan administratif menitikberatkan . menurut Nurhadi (2004). maka . (b) politik. Di samping itu. „ entralization is necessary bui not sufficient t o improve the quahty of education.ukakan sebagai benkut. " ~ aar. Pertama. a Nur (2001) menyimpulkan rasional desentralisasi ke dalam tiga aspek. Inti dan pendapat tersebut : • —. Ada berbagai alasan yang mendorong perlunya desentralisasi pendidikan. Pada satu • desentralisasi pengelolaan pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang —e-gandung ekspektasi. namun di sisi lain desentralisasi belum tentu dapat menjamin .-atian pada efisiensi . . 2000:88).-a peningkatan mutu pendidikan. (a) _:—istratif. ada kemungkinan desentralisasi pendidikan -5tru dapat menimbulkan jurang yang makin lebar antara si kaya dan si miskin aar.

sekolah. Sentralisasi telah menimbulkan sikap patuh yang pasif (passive comformity).pencapaian tujuan pendidikan dan berupaya menghilangkan a—. kurikulum. dan (7) kurangnya kemandirian lembaga pengelola dan pelaksana pendidikan karena besarnya ketergantungan kepada pemerintah pusat. . yaitu adanya keterikatan secara kaku terhadap aturan dalam melaksanakan tugas sehingga berkurang sikap inovatif. secara ideologi dan filsafat munculnya desentralisasi didasarkan atas keyakinan pemberian otonomi yang lebih besar mendorong tercapainya tujuan yang diinginkan baik oleh individu maupun masyarakat. (4) ketidaksesuaian tuntutan nasional dengan potensi sumber daya di daerah. secara politis perkembangan zaman menuntut adanya keikutsertaan dan wewenang daerah dalam pengambilan keputusan. (6) kurangnya kreativitas daerah. Terakhir. termasuk bidang manajemen pendidikan. dan apalagi dari personel penyelenggara dan pelaksana pendidikan. yang jika dipertahankan sistem lama dapat berdampak munculnya kekacauan. (5) adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat atas pendanaan. Kedua. sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. (2) kurangnya persaingan antar daerah dalam memajukan pendidikan karena tuntutan nasional yang seragam. akibat rasa takut melanggar aturan dari pihak atasan. (3) tuntutan masyarakat untuk mandiri sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyelenggarakan dan memajukan bidang pendidikan. yaitu.banan dalam praktek manajemen pendidikan. menurut Soetopo (2004a) terdapat sejumlah faktor yang mendorong desentralisasi di bidang pendidikan di Indonesia. Di samping faktor-faktor di atas. fasilitas. (1) terjadinya tuntutan reformasi di segala bidang.

bukan semata-mata kewibawaan atau kekuasaan pemerintah daerah. sosial budaya. yaitu: 1. 4 Keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihidupkan sebagai akar yang kokoh demi tegaknya sistem pendidikan nasional dan negara kesatuan. istilah-istilah yang digunakan dalam membahas School-Based Management adalah. Oleh karena itu perlu dibangun mekanisme hubungan kerja antarkomponen strategis di daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas. Dalam menerapkan desentralisasi harus mampu menghapus segala bentuk diskriminasi politik. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Terdapat berbagai istilah yang dipakai berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah {School BasedManagement). Otonomi pada hakikatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau suatu lembaga atau suatu daerah. Pola dan asas keija harus demokratis berlandaskan nilai-nilai dasar desentralisasi. 2. SARA dan ekses anarcho-ethnocentrism. Kualitas pelayanan yang diberikan mestinya dapat menghapus persepsi negatif dari penerapan sistem sentralisasi dalam dunia pendidikan selama ini. agar desentralisasi pendidikan dapat diterapkan dengan baik diperlukan sejumlah persyaratan krusial yang perlu dipenuhi.37 Menurut Hamidjojo (2000). 3 Pelayanan harus lebih cepat dan efisien. Manajemen desentralisasi bukan hanya memperhatikan stakeholders tetapi justru berfokus pada peranserta seluruh lapisan masyarakat. Pemberdayaan rakyat dalam pendidikan harus menjadi tujuan utama. karena itu yang diperlukan adalah usaha empowerment. 2. pendidikan. ekonomi. Shared Decision . Dalam berbagai literatur.

proaktif. School-based Decision Making. baik personel sekolah maupun anggota masyarakat. 2000). Fernandez & Tornillo. Responsible Autonomy. Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekolah dengan melibatkan partisipasi individual. School-site Autonomy. Shared Governance. Si t e-Based Management. sinkronistis. School-based Governance. Mohrman. Caldwell & Spinks. School Empowerment. integratif. Cistone. penerapan Manajemen Berbasis Sekolah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen pendidikan dan sistem sentralisasi ke desentalisasi. 2003. 1991. Cromwell. Wohlstetter & Associates. Johnston & Germinario. kooperatif. dalam Cotton. (1) sekolah bersifat otonom dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal). Lebih lanjut dikemukakan. koordinatif. Ceperley. dampak perubahan pola manajemen tersebut terhadap sekolah adalah. Dengan demikian. 2002a). Decentralized Authority. dan profesional. 1992. kreatif. luwes. dan Administrative Decentralization (Lindquist & Mauriel. (2) personel sekolah dan anggota masyarakat dapat meninggalkan perilaku rutinitas dengan menunjukkan perilaku mandiri. sinergis. Artinya. 1994. Self-Managmg X hool. Lewis. Hanson. 1989.Makmg. dan (3) peran sekolah yang . fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan propinsi/dinas pendidikan kota/kabupaten. sebagian dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional (Depdiknas.

2001:7). personnel. .making authority from state and district offices to individual school. Menurut Office of Educational Research and Improvement (OERI) dari the US Departemen of Education (dalam Sutjipto. pengertian Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: A strategy to improve education by transferring significant decision. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tentang Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh para ahli. parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget. personnel and program is delegated to and often distributed among site-level actors. board) often composed of principals. as a form ofdecentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvements might be stimulated and sustained. and the curriculum. teachers. Selanjutnya. 1994:56) mengemukakan definisi Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut: School-based management can be viewed conceptual/y as a formal alteration of governance structures. students. team. Hal pokok yang terkandung dalam pendapat di atas adalah. teachers. Malen. student and community residents is created so that site participants can be directly involved in school-wide decision making.majemen Berbasis Sekolah dari sisi pendelegasian kekuasaan dan keputusan. Marburger dalam Lindquist dan Maunel. Some formal authority t o make decision in the domains of budget. 1989:404) menyatakan pula batasan mengenai '•'. committee.39 selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-din tinggi (self-motlvator). provide principals. and at times. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. parents. Some formal structure (council. bahwa sekolah merupakan unit utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan oleh karena itu ekolah harus diberi otoritas dalam pengambilan keputusan.

personel sekolah. and students of the local school. guru. personel dan program yang didelegasikan dan didistribusikan kepada aktor-aktor di tingkat sekolah. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. parents. Pada hakikatnya. orang tua dan masyarakat. Konsep yang terkandung dalam definisi yang dikemukakan Malen. . Selain itu.:engan pernyataan sebagai berikut: SBM is defined as a decentralized organizational structure in which the power and decisions formerly made by the superintendent and school board are delegated to the teachers. dan masyarakat. (1) partisipasi dalam pembuatan keputusan dengan dewan sekolah yang melibatkan konstituen sekolah akan menumbuhkan rasa memiliki bagi konstituen itu. 1994) tentang SBM sekolah dipandang sebagai unit utama peningkatan mutu. Beberapa otoritas formal pembuatan keputusan yang dimiliki sekolah menyangkut anggaran. 2001) merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan dengan cara memberikan otoritas pembuatan keputusan kepada sekolah. 1989) merupakan desentralisasi struktur organisasi. siswa. Terdapat beberapa prinsip yang melekat dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah. untuk meningkatkan partisipasi personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dibentuk dewan atau komite sekolah yang beranggotakan kepala sekolah. di samping mempunyai tanggung jawab yang besar dapat melakukan kontrol yang lebih luas terhadap proses pendidikan di sekolah. community members. Untuk mendukung peran dan posisi tersebut dilakukan pembagian otoritas pengambilan keputusan. prmcipal. SBM menurut OERI (dalam Sutjipto. SBM menurut Marburger (dalam Lindquist dan Mauriel. yaitu. orang tua. Sementara itu. Dengan demikian. konsep SBM berdasarkan ketiga pendapat tersebut adalah pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada sekolah.

(Jawa Pos. terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh lembaga International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan membaca murid Sekolah Dasar Indonesia berada pada urutan ke-38 dan 39 negara yang diteliti (Hadiyanto. Penyelesaian permasalahan di atas menuntut adanya perhatian serius dari pemenntah dengan mengkaji secara sistemik berbagai faktor strategis penyebab rendahnya mutu pendidikan. 2004). dan (b) apakah kegiatan pendidikan dikerjakan atas dasar manajenal dan oleh personel yang memiliki keterampilan manajemen pula?. (a) apakah aktualisasi kegiatan pendidikan berpijak pada landasan yuridis dan kebijakan pelaksanaannya?. Bafadal (2003) menyatakan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. yaitu. 2004). Keadaan khusus pada jenjang pendidikan dasar. dan (3) implementasi sistem pembuatan keputusan terdesentralisasi akan mendatangkan sumber-sumber (076) bahkan Filipina (083). Lebih khusus lagi. Permasalahan mutu pendidikan yang masih rendah bukan hanya muncul saat ini saja. . Menurut Sutjipto (2004). melainkan sudah merupakan masalah yang berlangsung cukup lama. Mantja (2002) melihat persoalan di atas terkait dengan dua pertanyaan mendasar.(2) otoritas didelegasikan from the school board to central administration to the school building to the site council. Selanjutnya ia memandang bahwa selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. secara kasatmata dapat dilihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengalami krisis yang dalam. telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan terus menerus yang antara lain disebabkan oleh mismanagement.

pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dihadapkan pada keadaan vang menginginkan status quo dan faktor lain yang menghendaki perubahan. memberdayakan guru. dan ekonomi sebelum kebijakan dianut kepada konfigurasi baru yang berbeda (Sutjipto. berdasarkan berbagai pengamatan dan analisis. Implementasi SBM di sekolah mempunyai konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen sekolah dan pola lama ke pola baru (Depdiknas. Perubahan aspek-aspek manajemen sekolah tersebut digambarkan dalam tabel 2. dan melakukan perubahan terencana (Sagala. dan (d) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara pembiayaan secara signifikan (Lindquist & Mauriel. merancang ulang sekolah. orang tua siswa. (b) pemanfaatan sumber daya lokal menjadi lebih optimal dalam penyelenggaraan sekolah. tingkat putus sekolah. 2004). (c) keefektifan melakukan pembinaan peserta didik. 1987). moral guru dan iklim sekolah. seperti kehadiran. Otonomi dan kewenangan sekolah yang memadai dapat meningkatkan efektivitas sekolah serta memberikan beberapa keuntungan.6 Selanjutnya. Dilihat dari sisi proses kebijakan. seperti. Mohrman. tingkat pengulangan. Sebagai proses transisi. dan guru.3. mnovation. politik. 1989). 2002a). and money for staff development. and the development of the organizational infrastructure to support this . hasil belajar. Wohlstetter dan Associates (1994:50) menyatakan: The transition itself a substancial commitment of time. mengelola sekolah. implementasi merupakan transisi dan keadaan sosial. (a) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa.

new way of functioning. Oleh karena itu. . pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah harus dilakukan secara berencana.

.

► Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi -----------. rubahan berencana terjadi melalui tiga tahap.► -----------. 2001 191). dan (3) refreeztng. (2) imtiating the change. "Unfreezing" terjadi .► Pengambilan keputusan .3. "Unfreezing" adalah merubah atau membongkar kebiasaan.► w Pendekatan profesional Desentralistik -----------.► Otonomi partisipatif Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko : Gunakan uang semuanya -----------. dan tradisi lama -Daya mereka siap untuk menerima alternatif-alternatif baru.41 Tabel 2. Dimensi-dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat — --------. yaitu. or stabihzmg :. svstem after the change is unplemented (Duncan & Kurt Lewin dalam Sutarto. (1) unfreezing the system rpreparing it for change.► Memfasilitasi -----------Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian ! Organisasi hirarkis Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Ruang gerak luwes -----------.

Nepal dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. kurikulum dan penilaian (Tim Penulis Direktorat TK/SD. Pusat Kurikulum. Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam hal anggaran. yang dilakukan atas keqa sama Lembaga Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dengan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun anggaran 1998/1999 menunjukkan bahwa "pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah masih sangat sulit. Hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat. contoh lain yang ada di Indonesia adalah hasil analisis Program Ujicoba Pemberdayaan Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar di DKI Jakarta. personalia. UNESCO & UNICEF.42 . studi yang dilakukan di El Salvador. Meksiko. Selanjutnya. Namun. "Refreezing" merupakan proses dimana perilaku yang baru diperoleh telah berintegrasi dengan pola perilaku dan kepribadian individu. perlu waktu dan keberanian untuk berubah. "Internalization" timbul apabila individu ditempatkan dalam situasi perilaku baru dan mereka dituntut untuk berhasil melakukan tugas itu.pabila kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan ditingkatkan atau kekuatankekuatan yang melawan perubahan dikurangi. Proses "changmg" sebagian besar timbul karena adanya "identification" yang timbul apabila suatu model diterapkan dalam lingkungan organisasi. 2003). Pada suatu ketika akan terjadi situasi individu telah cocok untuk berubah sehingga mereka siap untuk menerima pola-pola perilaku baru. 3. mengingat .

43

selama puluhan tahun manajemen sekolah bersifat sentralistis." (Tilaar, 2002:43). Berdasarkan keadaan tersebut, hal utama yang direkomendasikan oleh Tim Ujicoba untuk diubah adalah manajemen tingkat pejabat atau birokrat, karena seluruh manajer sekolah hingga saat ini masih "sangat patuh" dengan pimpinan, sehingga jika ada hal-hal yang bersifat inovatif mereka sangat takut untuk mengubahnya, karena dipandang tidak sesuai dengan standar baku yang ditetapkan. Di luar negeri, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi telah banyak dilakukan. Mort (dalam Kimbrough dan Burkett, 1990) telah melakukan penelitian tentang proses perubahan terencana di awal tahun 1950-an. Hall dan Hord (1987) meneliti perilaku kepala sekolah dan peningkatan sekolah yang berhasil pada the Reseacrh and Development Center for Teacher Education at the ■uversity ofTexas, Austin. Fokus penelitiannya diarahkan pada Change Facilitator Sty le. Firestone dan Corbett (dalam Cotton, 1992) meneliti "Planned Organizational hange " dengan fokus how the change process should be managed so as to lead to r sitive results. Menurut Cotton (1992), Mutchler juga telah melakukan penelitian tentang "Eight Barriers to Changing Traditional Behavior" Prestin dan Bowen 1993) memfokuskan penelitiannya pada asesmen perubahan di empat sekolah dalam usaha restrukturisasi pendidikan. Hasil penelitian Lewin, Coch, French, Benne dan Chin (dalam Schein, 1980) menunjukkan bukti bahwa salah satu cara terbaik untuk membantu melaksanakan perubahan ialah dengan melibatkan sistem yang terkena angsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak sistem itu berpartisipasi dalam menentukan bagaimana mengelola suatu perubahan, semakin •

44

urang kemungkinannya untuk menentang perubahan itu, dan semakin mantaplah perubahan itu teijadi. Hasil penelitian klasik tentang how resistance to change may be managed\ dikemukakan Robbins (1984:184), yaitu: "There is a strong beliefheld by those people actively engaged in OD that changes are more likely to be accepted by individuals who have been given a voice in determining the content and process of the change". Selanjutnya, Goodlad (dalam Owens, 1991) melakukan penelitian tentang problem of personal and institutional renewal m education. Demikian pula penelitian Fullan, Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD, seperti dilaporkan Owens (1991). Hasilnya menunjukkan proyek OD bersifat parsial, tidak tuntas, aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Di samping itu, penelitian-penelitian yang mengkaji tentang implementasi kebijakan School Based Management juga telah banyak dilakukan di luar negeri. Lindquist dan Mauriel (1989) melakukan penelitian dengan judul School Based Management: doomed to failure?. Data penelitiannya membuktikan, terdapat tiga masalah yang umumnya muncul sebagai hambatan pengembangan SBM, yaitu; (1) kekeliruan konseptual dalam pengembangan SBM, (2) kurangnya motivasi untuk mendelegasikan otoritas ke sekolah-sekolah, dan (3) persyaratan yang berat tentang waktu dan keterampilan yang dituntut dalam implementasi SBM. Temuan lainnya, berdasarkan data ia mengakui bahwa (a) SBM memerlukan suatu perubahan dalam gaya manajemen sekolah, dan (b) tidak adanya dukungan yang kuat oleh pengawas merupakan bukti council's conflict dengan dewan. Selanjutnya, Cotton (1992) telah

45

mereview 42 buah penelitian tentang implementasi SBM. Misalnya, Site-Based ' fanagement: Its Potential for Enhancmg Learner Outcomes yang dilakukan Arterbury dan Hord (1991), School Based Management: Are We Ready? oleh Caldwell dan Wood (1988), dan School BasedManagement/Shared Decision Making in Dade County (Miami) oleh Cistone, Fernandez dan Tornillo (1989). Penelitianpenelitian tersebut lebih memfokuskan pada hakikat dan hasil Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan kepustakaan yang teijangkau, di Indonesia terdapat pula beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Penelitian terkait, antara lain, dilakukan oleh Bafadal (1994). Ia meneliti proses perubahan di sekolah dasar yang difokuskan pada; (1) proses implementasi inovasi pendidikan ditinjau dari pengubahan latar struktural dan tingkah laku, (2) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi inovasi, dan (3) peran agen perubahan dalam proses implementasi inovasi. Aswandi (2001) meneliti Perubahan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta dari Manajemen Keormasan ke Manajemen Profesional, dengan fokus; proses perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Lengkong (2004) meneliti Strategi Perbaikan Sekolah Berdasarkan Perspektif Guru pada tiga SLTP di Minahasa dengan fokus proses perbaikan internal individual guru dan dampak dan proses perbaikan internal guru terhadap perbaikan kineija sekolah. C. Pengembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Uraian berikut ini mencoba mengelaborasi konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berdasarkan kajian teoretis yang

emen Berbasis Sekolah ini dengan "empat pilar keberhasilan MPMBS a-a/emen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). (3) partisipasi. 2001). . dan transparansi".46 sudah dikemukakan sebelumnya. . -erta masyarakat (Subakir & Sapan. selanjutnya . .r-. i b) metode pembelajaran dengan menerapkan metode PAKEM. Berdasarkan pada pendapat. Setelah pembahasan ketiga pilar tersebut. maka kajian pengembangan organisasi dengan pendekatan .ngkatan mutu pendidikan (quality-improvement orientedSBM)". dan (c) -. Supriadi (2004:19) menyatakan bahwa '•'BS pada dasarnya adalah MBS yang secara khusus diarahkan pada upaya r*r.h. dan (3) ..^rta masyarakat.emen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada tiga pilar berikut i i manajemen sekolah dan transparansi. (2) metode pembelajaran. —. yaitu (1) peningkatan mutu..• an mengenai budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi.andinan. Ada pertanyaan pokok yang perlu dijawab. yaitu apa yang dikembangkan —elakukan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis v r • ah Bafadal (2003:93) menyebutkan aspek yang dikembangkan dalam --_._i?at tersebut. Hal ini sekaligus merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang dilakukan. maka ada tiga pilar yang dikembangkan yaitu (a) manajemen : . Kemudian mencermati apa yang sudah diterapkan pada sekolah-sekolah yang dijadikan f—ra* ujicoba MBS. (2) • . .

Ogawa & Kranz dalam Ogawa & . 1989. ■ . Mulyasa. Kewenangan terbatas yang dimiliki sekolah harus dimanfaatkan secara efektif efisien.. Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Bafadal. Hal ini sesuai dengan ide dasar yang melandasi lahirnya . 2005). kepala sekolah perlu melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. 2002a. Oleh karena itu. 1989. 1991. Supriadi. Depdiknas. Kemandirian sekolah dipengaruhi antara lain oleh sampai sejauh mana kevvenangan yang diberikan dinas pendidikan kepada -ekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Pengembangan manajemen sekolah dititikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri utama pada keterbukaan atau transparansi (Subakir & Sapari. Wohlstetter & Associates. 2004). Sutjipto. 1989._ emen Berbasis Sekolah. 2001. Alasannya adalah karena salah satu konsep pokok Manajemen Berbasis Sekolah adalah pelimpahan kewenangan kepada -ekolah dalam pengambilan keputusan (Marburger dalam Lindquist & Mauriel. 2001.kurang melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. 1994. 2002a). akan dalam penyelenggaraan pendidikan. dalam Lindquist & Mauriel. 2003. Mohrman. L ndquist & Mauriel.47 Manajemen sekolah dan transparansi Ada beberapa argumen perlunya perbaikan atau peningkatan manajemen ah dan transparansi. dan kurang transparan dalam pengelolaan keuangan (Marburger.. 2001. Hanson. bahwa selama ini secara institusional sekolah kurang _ ■ --ca. memiliki kewenangan yang sangat . maka pola pengambilan keputusan ditekankan pada partisipasi personel sekolah dan masyarakat (Malen. Hanson. Subakir & Sapan. 1991. Depdiknas.

dan masyarakat. Supriadi.' anisme keija. Bahkan banyak SD yang memberikan kepercayaan sepenuhnya masalah keuangan BP3 kepada bendahara BP3 yang berasal dari 'orang luar' (baca: bukan guru). Berkenaan dengan hal ini. Direktorat TK/SD. 2001. 2002a. Depdiknas. Nurkolis. 2002a.48 White. Untuk mewujudkan hal di atas. Kesemuanya itu diawali dengan perubahan struktur organisasi Komite Sekolah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Puskur. 2003. dan . UNESCO & UNICEF. 2004).olah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dimulai dari penyusunan encana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).iluasi program sekolah. termasuk masalah keuangan. RAPBS disusun bersama guru. maka pengembangan manajemen sekolah : akukan dengan cara merubah struktur organisasi. tugas-tugas. 1994. . dan prosedur atau . Penyelenggaraan manajemen sekolah yang memiliki ciri keterbukaan atau transparansi merupakan salah satu ciri dari sekolah yang melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (Subakir & Sapan. Pelibatan personel r -. pengurus BP3. 2003. pelaksanaan. . Sagala. Transparansi manajemen sekolah dilakukan dengan cara menyampaikan program yang akan dilaksanakan sekolah dan melaporkan hasil pelaksanaan/evaluasinya. Hasilnya dipajang di tempat terbuka dan dengan mudah dibaca oleh siapapun. 2004). Bafadal. Subakir dan Sapari (2001) menyatakan: Kepala sekolah sebagai pemimpin puncak di sekolah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan transparansi manajemen keuangan. Depdiknas. 2003. Pembentukan struktur tersebut diikuti dengan perubahan tugas-tugas dan mekanisme keija antara sekolah dan Komite Sekolah.

Istilah teknologi mempunyai banyak arti. dan menyenangkan (PAKEM). upaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan efisien. kreatif. yaitu _danya usaha sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa (Depdiknas. Perubahan teknologi dalam kerangka pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan dengan cara penerapan metode pembelajaran aktif. menggunakan dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan. 2002a). Hal tersebut sesuai pula dengan • . 2. 2005). sekolah telah melakukan perubahan dengan mewujudkan transparansi manajemen sekolah terutama menyangkut keuangan -ekolah. 1991). pengertian teknologi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: Metode bersistem untuk merencanakan. Pembaruan metode pembelajaran Salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi berkaitan dengan teknologi.49 Pendapat di atas mempunyai arti bahwa dalam pengembangan organisasi dengan Manajemen Berbasis sekolah. Dengan demikian. Hal ini sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas sekolah kepada masyarakat. baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi keduanya sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif.rakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada aspek proses belajar mengajar. Berdasarkan . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pembaruan metode rembelajaran menjadi bagian dari pembaruan sistem yang merupakan salah satu ciri rengembangan organisasi (Owens. efektif. karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar (Mulyasa.

Selanjutnya. pengembangan. UNESCO & UNICEF. dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan asumsi semuanya itu akan dapat memperbaiki mutu/hasil lulusan (Direktorat TK/SD. maka dapat dikatakan bahwa pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM merupakan bagian dari kerangkan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Pembaruan metode pembelajaran tersebut mempunyai konsekuensi terhadap perubahan tugas-tugas guru dalam mengelola pembelajaran mulai dan .50 uraian tersebut. dikemukakan bahwa pengenalan. 2003). Puskur.

upaya-upaya untuk mengatasi faktor penyebab kedua dan ketiga tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah selama ini. . evaluasi dan akuntabilitas. peranserta warga sekolah. UNESCO & UNICEF.5 merata (Depdiknas. Pertama. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan programprogram peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. orang tua siswa. pemantauan. 2003). pengadaan buku dan alat pelajaran. antara lain. Sementara itu. khususnya orangtua siswa. Dampak dari manajemen yang sentralistik tersebut dikemukakan Bafadal (2003:37) sebagai berikut: Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan. guru kelas. penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. Tim Penulis Direktorat TK & SD. Ketiga. di mana kepala sekolah. Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terjadi bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah. kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function. dan perbaikan sarana prasarana pendidikan telah dilakukan. 2002a. khususnya guru. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru. karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terwujud. Kedua. dan peranserta masyarakat. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses pendidikan. Sampai saat ini. juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. Pusat Kurikulum. upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan kelihatan masih terfokus pada faktor pertama (menggunakan pendekatan education production function). pengambilan keputusan. dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana.

(a) merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang mendorong beragam siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. (b) menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. Mulyasa. dan (g) menilai kegiatan belajar mengajar dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.: ig dalam Manajemen Berbasis Sekolah" (Subakir & Sapari. (d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan . 1 28) Selama ini. iang masih rendah. tetapi juga ~enjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat (Direktorat TK/SD. (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Peningkatan peranserta masyarakat Pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah. (f) mengaitkan kegiatan belajar mengajar dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Implikasi dari semua itu adalah diperlukan kesiapan guru menerima pembaruan dan kesiapan pengetahuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan program pembaruan itu dalam bentuk tindakan nyata di kelas. UNESCO & UNICEF (2003) ada tujuh kemampuan guru yang diperlukan untuk mendukung penerapan PAKEM. melaksanakan dan mengevaluasinya. Puskur. ^ESCO & UNICEF. 2001:13.50 merencanakan. Menurut Direktorat TK/SD. sekolah dan guru. yaitu kemampuan. Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Diknas RI (dalam > _r« hclis. (e) menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. 3. 2003). 2003) menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian guru tingkat partisipasi orang tua siswa dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah masih rendah (rata-rata . "Peranserta masyarakat merupakan salah satu aspek >_ -. Puskur.

~:uk meningkatkan peranserta masyarakat dilakukan perubahan organisasi yang mewadahinya. dan evaluasi program pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan < ~ e vekolah/Madrasah. pembayaran dan bentuk iyuran BPS per bulan dan sumbangan uang gedung untuk siswa baru. . dan organisasi k . pengusaha. peranserta masyarakat merupakan salah satu pilar dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.asan. mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah. dan masyarakat M -Kasa.Selanjutnya.r-eringkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan. pertemuan BP3. peranserta masyarakat adalah penting. Sebagai acuan yang dirujuk untuk peningkatan r». yang . keluarga. orang tua.51 57. 2003). Perubahan tersebut dilakukan dengan cara membubarkan .-i'akatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan : : • an. -angan. Sehubungan dengan itu. -anserta masyarakat adalah pasal 54 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. Pada satu sisi. organisasi profesi. pertemuan rutin. Partisipasi orang tua siswa yang sangat tinggi ialah dalam mengawasi mutu sekolah. kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan iklim sekolah. Oleh karena itu. . pemerintah perlu merumuskan secara jelas — . namun di sisi lain •esarnva partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut. kelompok. . askan bahwa peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta . >erta masyarakat tersebut.-genai bentuk partisipasi dan tugas oprasional organisasi yang mewadahi ->. dalam pasal 56 dinyatakan bahwa masyarakat berperan _ .1%) dan sangat rendah dalam hal menentukan kebijakan program sekolah dan mengawasinya.

. each occurring at different levels ofdepth and abstraction ". and beliefs of an organization' (Owens. Persoalannya adalah apakah perubahan struktur dan tugas-tugas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. perubahan struktur organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat telah diikuti dengan perubahan tugas-tugas yang akan dijalankan oleh Komite Sekolah. individundividu dengan latar belakang yang berbeda atau tingkatan yang berbeda dalam rganisasi cenderung menjelaskan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang sama. perspektif . Berdasarkan hal tersebut. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. Pembicaraan mengenai budaya berkaitan dengan "the behavioral norms. arahan dan dukungan tenaga. <umptions.2. Dalam pasal 56 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri. Secara konkrit. Budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi Robbins (1984:171) berpendapat "organizationa/ culture is a perception. Budaya sebagai norma-norma bersama. Tingkatan -daya organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar 2. 1991:171). not m the individual. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. and basic ■ umptions. bui :f exis(s m the organization.ini berarti.52 organisasi BP3 dan membentuk organisasi baru yang disebut Komite Sekolah. sarana dan prasarana. Hoy dan Miskel (I 01:177) menyatakan "culture is manifested in norms. shared values. . 4.

. 2001:177).2.e_getahui dan memahami norma-norma budaya itu. Tingkatan Budaya (Hoy & Miskel. N orma-norma itu more visible daripada values dan tacit assumptions\ dengan :emikian mereka memberikan cara-cara yang jelas untuk membantu manusia memahami aspek-aspek kehidupan organisasi. Oleh karena itu. Norma-norma secara langsung mempengaruhi perilaku. Norma-norma biasanya tidak tertulis (unwritten) dan -erupa harapan informal. apabila kita mempunyai perhatian terhadap perubahan perilaku organisasi.53 Gambar 2.1). maka penting untuk -. mengenai budaya muncul ketika norma-norma perilaku digunakan sebagai elemen dasar budaya (lihat gambar 6.

Tacit assumptions merupakan -remis yang abstrak mengenai hubungan manusia. budaya —. kebenaran. -daya didefinisikan sebagai shared va/ues.erupakan manifestasi kolektif dari taat assumptions. karena itu dapat dikatakan bahwa budaya merupakan perilaku yang terpola (Ritzer. 1985).imzation" (Hoy & Miskel. 1990:13). Pola dapat dilihat secara langsung {tangible) atau tersembunyi i intangible). Budaya tersusun dari penlaku. 2001:178). Nilai-nilai bersama merupakan karakter dasar dan organisasi dan memberikan organisasi memiliki suatu indentitas. Budaya sebagai tacit assumptions Pada level yang paling dalam.Budaya sebagai nilai-nilai bersama. Oleh karena itu. hakekat manusia. N lai senng didefinisikan "what members should do to be successful in the •v. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Upaya pengembangan organisasi sekolah untuk meningkatkan mutu . Nilai-nilai merefleksikan asumsi-asumsi yang mendasari budaya. dan bertolak dari sudut pandang pelakunya" (Faisal. Pola dalam konteks ini berarti struktur atau susunan yang ada di balik perilaku. Pola dapat diidentifikasikan dengan cara menarik kesimpulan dari perilaku individu atau kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. -ealitas. dan lingkungan. Pada tingkat abstraksi menengah. Dengan perkataan lain. 5. pola perilaku harus dipahami dan diinterpretasikan dan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan anggota kelompok dalam latar budayanya. Nilai-nilai merupakan konsepsi dan apa -ng diinginkan. "dalam mempelajari perilaku manusia diperlukan penelitian mendalam sampai ke inner behavior secara holistik.

Perubahan yang dilakukan mestinya berjalan secara berkelanjutan (sustainability) sehingga peningkatan mutu (quahty improvement) yang menjadi tujuan perubahan itu dapat diwujudkan. yaitu." Selanjutnya. Ginnett dan Curphy (2002: 395) menyatakan: "Everybody resists change. Namun dalam kenyataannya. Menurut Buchanan dan Huczynski (2004:617) resistensi adalah "an mability or an umvillingness to discuss or to accept change thal are perceived to be damagmg or threatening to the individual'. seperti halnya Manajemen Berbasis Sekolah. (5) membiarkan hambatan-hambatan menghalangi visi baru. baik atas dasar inisiatif lembaga sendiri maupun dengan cara mengadopsi suatu bentuk kebijakan baru di sekolah. pengembangan organisasi sekolah tidak terjadi dengan mudah. (1) membiarkan adanya rasa puas diri yang terlalu banyak. " Berkenaan dengan hal ini pula. particularly those who have to change the most. Kotter (1996) menjawab pertanyaan mengapa organisasi gagal melakukan perubahan dengan mengidentifikasi delapan kesalahan. Robbins (1996) menyatakan salah satu penemuan yang paling baik berdasarkan penelaahan mengenai perilaku tndividu dan organisasi adalah bahwa organisasi dan anggotanya enggan terhadap atau menolak . (2) gagal menciptakan koalisi pengarah yang cukup kuat. (3) meremehkan kekuatan visi. (7) terlalu cepat menyatakan keberhasilan. Selanjutnya. Hughes. penyebab kegagalan pengembangan organisasi adalah karena adanya keenganan atau resistensi terhadap program pembaruan yang dikembangkan. (4) mengkomunikasikan visi dengan buruk.pendidikan telah sering dilakukan. dan (8) lalai menanamkan perubahan secara kokoh ke dalam kultur lembaga. (6) gagal menciptakan keuntungan jangka pendek.

Anggota organisasi ingin mengetahui bagaimana perbedaan pekerjaan yang ditetapkan akan mempengaruhi mereka. Sementara itu. Winardi. 1977. (a) level organisasi. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor individu dan organisasi. Dalam bentuk pernyataan lain.perubahan. 1986. 1996. Pada tingkat pribadi. 2002). mereka akan menciptakan hambatan yang signifikan (significcmt barriers) untuk menghalangi perubahan. bahkan perubahan meningkatkan •etidakpastian. Robbins (1984) mengemukakan bahwa osaha-usaha untuk menghasilkan perubahan akan sering meghadapi resistensi. Individu dan kelompok cemas bahwa suatu perubahan mungkin berpengaruh terhadap kepentingan mereka. Konsekuensinya. Hanson. Siagian. Akibatnya. Uraian lengkap dari kedua faktor penghalang tersebut dapat dilihat pada tabel 2. individu-individu memerlukan tambahan pengetahuan terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Robbins. dan (c) level individual. kecuali apabila perubahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan kepada mereka. Steers (1977) menyebut resistensi sebagai faktor penghalang perubahan dalam organisasi. 1991. Griffin & Moorhead. Jones (2004) menyatakan resistensi terhadap perubahan dalam organisasi terdapat pada tiga level. (b) level kelompok. Keengganan atau penolakan terhadap perubahan dalam pengembangan organisasi dapat bersumber dari organisasi itu sendiri maupun dari individu sebagai anggota organisasi (Steers.4. yaitu. Hal itu c sebabkan karena people dislike uncertainty. anggota organisasi menolak pengenalan metode baru karena mereka merasa aman dalam kondisi yang ada dan takut bahwa perubahan yang diperkenalkan merusak hubungan antar pribadi yang ada yang sudah beijalan cukup . 2000.

lama. Ini berarti resistensi terhadap perubahan terutama disebabkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan dan karena orang lebih menyukai sesuatu .

Sistem imbalan dapat memperkuat status quo 2. Konflik antara sasaran pribadi dan sasaran organisasi a' g sudah dikenal daripada yang masih asing baginya. Iklim organisasi yang sedang berlaku 6. resistensi ■: . 6. Faktor Penghalang Perubahan dari Aspek Pribadi dan Organisasi Faktor dari Pribadi Faktor dari Organisasi 2 j 4. dan kekuasaan sebagai akibat perubahan Kekhawatiran terhadap segala yang terasa asmg Kurang identifikasi atau keterlibatan dengan perubahan Kebiasaan Kepentingan menjaga status quo (karena keuntungankeuntungan tertentu) Norma kelompok dan kemantapan peranan Ancaman terhadap hubungan 1.--paya untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan resistensi dengan maksud berpartisipasi dalam implementasi program yang dikembangkan. Kekakuan struktur sosial yang ada 11.58 Tabel 2. "u~ahan atau pengaruh positif perubahan terhadap organisasi sehingga mereka akan . Di samping itu.adi karena sebagian anggota organisasi tidak memahami sepenuhnya alasan suatu . Riwayat usaha perubahan yang tidak berhasil serta konsekuensinya di masa lalu 8. Biaya yang sudah tertanam dalam keputusan dan kegiatan yang lalu 4. Kesalahan pemilihan metode memperkenalkan perubahan 7. 8. Salah paham mengenal tujuan. Persaingan atau konflik antar bagian yang berakibat timbulnya keengganan bekerja sama 3. 10 .. mekanisme atau konsekuensi perubahan Kegagalan melihat kebutuhan akan perubahan Kekhawatiran kehilangan status. . rasa terjamin.4. Kekhawatiran bahwa perubahan akan mengacau imbangan kekuatan yang ada saat itu antara kelompok serta bagian 5. 7. 5. 9.

5 pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat informasi yang kuat. (2) penolakan terhadap rem bahan. Misalnya. menurut Siagian. (4) takut gagal.. .e-.59 Sifat dan karakter organisasi itu sendiri juga dapat mempengaruhi sejauh mana '•.-jbahan dapat diterima dalam organisasi. Alasan ~ e~gapa orang menolak program perubahan dalam pengembangan organisasi.a perubahan yang sebelumnya salah kaprah dan tidak berhasil mengakibatkan • . yaitu. Bahkan usaha- a. hal ini dapat merongrong usaha bersama yang menuju pada -ubahan karena takut perubahan itu akan melanggar wilayah mereka masing. struktur imbalan yang erdapat dalam organisasi mungkin dirancang untuk menguntungkan perilaku yang ia Selain itu. ?utusan dan tindakan-tindakan yang lalu karena sebelumnya sudah diadakan . (3) .^rcayaan para anggota organisasi terhadap keberhasilan setiap usaha baru lenyap. (1) takut karena tidak mengetahui. -agai pesaing mereka. perubahan dalam pengembangan organisasi akan . (1) rasa takut.ghadapi beberapa masalah. bahwa penolakan individual : erabkan.-. Adanya kecenderungan orang untuk menolak setiap perubahan yang dilakukan __ pengembangan organisasi merupakan hal yang manusiawi (Siagian. h karena itu. (3) cara yang tidak didasarkan kepada landasan yang kuat. jika bagian-bagian dalam organisasi memandang satu sama lain .~g Para pimpinan organisasi mungkin menganggap dirinya terikat pada • .estasi besar (sunk cost) untuk suatu produk atau teknologi tertentu. 1994). : • emukakan oleh Gitosudarmo dan Sudita (2000). (2) belajar tugas yang baru. aar.

(2) struktur organisasi yang stabil.60 . (3) sistem hubungan. (1) ancaman terhadap maktur kekuasaan. a perubahan dan kepentingan pribadi. Sementara _ penolakan yang bersumber dan organisasi terdiri dan. . dan (4) . dan (4) ketidakpercayaan pada manajemen.i.rmsak kestabilan interaksi.

(d) negosiasi dan perjanjian. pimpinan organisasi perlu memilih metode yang tepat untuk digunakan sehingga pengembangan organisasi dapat terlaksana sesuai dengan yang diinginkan. Perlu diingat bahwa cara implementasi perubahan sama pentingnya dengan perubahan itu sendiri. 2000). 1982.6. Hasil analisis ini dijadikan landasan implementasi program pembaruan dengan mempelajari dan menangani berbagai sumber penghalang >ang mungkin timbul. Robbins. dan (f) paksaan eksplisit dan implisit (Griffin & Moorhead. 1996. Pendidikan bagi seseorang dapat menambah pemahaman dan pengetahuan serta meningkatkan kemampuan yang mendukung implementasi perubahan. (c) fasilitasi dan dukungan. adanya kesalahan informasi yang mungkin diterima oleh anggota organisasi dapat diatasi melalui komunikasi. Begitu pula melalui komunikasi dapat disampaikan informasi penting kepada anggota organisasi sehingga mereka dapat memahami secara tepat mengenai alasan pentingnya suatu perubahan dilakukan. pimpinan harus mampu menilai dengan tepat sifat dan -ebutuhan akan pembaruan. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk menghadapi resistensi terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Berdasarkan hal tersebut. Metode yang dapat dipakai untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan adalah. 1986. Pendidikan dan komunikasi merupakan salah satu cara yang dapat dipakai pimpinan untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan. . (b) partisipasi dan keterlibatan. (e) manipulasi dan kooptasi. Kotter & Schlesinger dalam Stoner. Dengan demikian. (a) pendidikan dan komunikasi. Gitosudarmo & Sudita.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kedua faktor terakhir tersebut tidak dapat dipertahankan setelah terjadi gelombang reformasi. wewenang yang diberikan amat terbatas. Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi ke daerah sehingga dikeluarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Pendapatan Antara Pusat dan Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU RI No. 2000). sehingga perubahan manajemen pemerintahan tentu berakibat pula pada penataan manajemen pendidikan (Mantja. 2000). 2002). serta terdapat berbagai kesulitan dalam mengimplementasikan keputusan (Hamidjojo. tidak jarang pimpinan organisasi . sentralisasi pendidikan menimbulkan kesan kurang melibatkan institusi pendidikan dan masyarakat di daerah. Alasan umum desentralisasi adalah bahwa dalam pembangunan bangsa terjadi perubahan wawasan dari top-down menjadi bottom-up (Tilaar. -ggunakan pula partisipasi dan keterlibatan sebagai cara untuk mengatasi rengganan . Kalaupun ada. Berdasarkan hal yang sudah dikemukakan di atas. Lahirnya kedua Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. Akibatnya ada kecenderungan kebijakan pendidikan yang diambil pemerintah pusat kurang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat daerah yang semestinya market-driven education. maka perlu dilakukan Selain pendidikan dan komunikasi. Namun. Perubahan kedua undang-undang tersebut dituangkan dalam UU RI No.

rmpunyai peran kunci. Jika orang dilibatkan __ am proses perencanaan dan pengambilan keputusan. misalnya. ~Jerung menerima dan mau menjalankan keputusan yang diambil.. melengkapi fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan anggota rgansiasi dalam melaksanakan tugas-tugas baru. Negosiasi dan perjanjian juga dapat dilakukan untuk mengatasi keengganan . -idap perubahan. . Cara ini digunakan. untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan pimpinan harus mampu . Selanjutnya. sehingga individu tetap mempunyai komitmen untuk melakukan .n: ng menyangkut implementasi perubahan dalam organisasi.mk lain.-remasan individu atas hilang atau berkurangnya insentif keija. cara ini juga ditujukan untuk mengatasi . Oleh ■ arena itu.-fasilitasi dan mendukung upaya perubahan yang dilakukan dengan cara. pada fase --. maka orang tersebut . dalam negosiasi dan ■:~anjian pimpinan boleh saja menawarkan insentif tambahan atau reward dalam r«r-.. sementara mereka idapkan pada tugas yang tidak ringan.rercanaan suatu kegiatan atau dalam proses pengambilan keputusan-keputusan -. Cara ini dipakai apabila keengganan terhadap perubahan berada . Sering ditemui kegagalan ~r ementasi suatu perubahan disebabkan kurangnya fasilitas dan dukungan. Sudah barang e-.aa seberapa orang anggota organisasi atau orang-orang tertentu yang dianggap .terhadap perubahan.:j proses pengambilan keputusan itu dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat. Metode ketiga adalah fasilitasi dan dukungan.-o nya. Konsekuensinya.

.

dan menciptakan desas-desus palsu agar anggota organisasi menerima baik suatu perubahan. Apabila perubahan sudah merupakan suatu keputusan organisasi yang harus dijalankan. Menurut Robbins (1996). Keengganan terhadap perubahan juga dapat diatasi dengan cara manipulasi dan kooptasi. Terakhir adalah paksaan. Sedangkan kooptasi merupakan upaya untuk mempengaruhi pimpinan kelompok yang menolak perubahan dengan cara memberikan peran utama kepada mereka. manipulasi adalah memutarbalikkan fakta untuk membuat fakta itu tampak lebih menarik. jika ditemui beberapa orang individu masih menolak perubahan. Manipulasi perlu dilakukan secara hati-hati sehingga maksud yang sesungguhnya dari pimpinan tidak dapat dibaca oleh anggota organisasi. sebab kesalahan memahami situasi dapat menyebabkan kekeliruan yang . Namun. Apapun alasannya. Apabila kondisi ini gagal diciptakan. maka pimpinan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk merealisasikan keputusan itu. apabila cara lain tidak lagi efektif.61 perubahan dalam organisasi. apakah cara ini tetap tidak boleh digunakan? Jawabannya. paksaan tetap dipandang tidak baik. menahan informasi yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu. bukan tidak mungkin manipulasi akan menimbulkan ketidakpercayaan lebih tinggi di kalangan anggota organisasi. maka bukan tidak mungkin pimpinan akan menggunakan cara paksaan. sebelum menggunakan cara paksaan tersebut perlu dijawab lebih dulu pertanyaan yaitu apakah cara-cara lain sudah digunakan secara optimal? Penggunaan berbagai metode di atas harus didasarkan atas pemahaman situasi yang ada.

implementasi program yang dikembangkan tidak akan terwujud tanpa adanya faktor-faktor pendorong dimaksud. Pertama. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. masyarakat dan sekolah itu sendiri. Faktor pendorong yang utama berkaitan kesiapan pelaksana sistem baru tersebut (Mulyasa. yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dasar. antara lain ketulusan pemerintah. Oleh karena itu. Faktor pendorong pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Selain ada resistensi. Para teoretisi mengemukakan berbagai pendapat mengenai hal ini.62 pemilihan metode. keberhasilan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor pendorong. Tyson dan Jackson (1992) menyatakan kesiapan untuk berubah dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berbeda. aparat daerah. Di samping itu. analisis yang tepat mengenai sumber penolakan atau keengganan terhadap pengembangan organisasi adalah amat penting sebelum suatu metode untuk mengatasi keengganan tersebut digunakan. serta kesadaran . 2005). Kesiapan ini juga menyangkut kemampuan dalam mengajukan argumentasi dan rasionalisasi dari berbagai sudut pandang untuk mendukung pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. 7. Terkait pula dengan faktor pendorong terjadinya perubahan dalam pengembangan organisasi. kekuatan dalam diri orang itu sendiri. Artinya. Intinya adalah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kesiapan pelaksana ditentukan oleh para pelaku. implementasi program pengembangan organisasi memerlukan kesiapan untuk meneriman dan melaksanakan perubahan.

Berkenaan dengan itu pula. kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor pendorong yang termasuk ke dalam kekuatan -istem yang ada. namun menumbuhkan kemauan untuk menyikapi implementasi merupakan suatu peristiwa yang mendapat tantangan besar. baik fiskal dan material. 1991).diri. menurut Nurkolis (2003) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan proses pengambilan keputusan yang demokratis sebagai faktor pendorong keberhasilan implementasi program-program yang dikembangkan dalam Manajemen Berbasis Sekolah.egagalan dalam organisasi. Selanjurnya. dan kepercayaan yang mendasari respons pelaksana kebijakan. . Sementara itu. 2001). Will mencakup aspek sikap. Local capacity meliputi sumber-sumber. kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran (Subakir & Sapari. menurut McLaughlin keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh dua faktor. Karena kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (Mulyasa. Faktor ■ iua adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada sistem yang meliputi budaya dan k:im organisasi. 2005). dan konsekuensi yang dirasakan terhadap keberhasilan serta . loca/ capacity dan wi/I (Duke & Canady. dan keahlian untuk mengimplementasikan kebijakan baru. motivasi. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa tingkat motivasi dan yang paling pokok adalah harga diri berperan penting dalam kesiapan untuk berubah. yaitu. Dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. Duke dan Canady (1991) menjelaskan pula bahwa membangun kapasitas lokal untuk implementasi kebijakan dapat menjadi sebuah tantangan karena sumber-sumber yang ada sering terbatas dan pelatihan selalu menghabiskan waktu.

Kemauan sepertinya tidak bisa dipengaruhi oleh ancaman dan direktif. Fusarelli. menurut Duke dan Canady kepemimpinan dapat menjadi penting. dan Randall (2004:85) mencatat hasil temuan penelitian . Dalam kedua kasus ini. Odden dalam Cooper.

Office of Education. Kapasitas ubungan dengan energi manusia. dan .S. Bertitik tolak dan kajian teori yang sudah dikemukakan di atas. . Saran pertama ■er^enaan dengan komitmen (commitment). Duke dan Canady (1991) mengemukakan beberapa -aran agar kebijakan secara aktual dapat diimplementasikan. pembuat kebijakan harus hati-hati sehingga tidak membuat kebijakan melebihi kemampuan staf yang mengimplementasikannya. bui also that they did not know how t o implement t hem (the capacity was not there)". Research showed not only that most local educators did not want to imp/ement such programs (the wi/l was not there). Relevan dengan konteks pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Saran r Ahir berasal dari kesimpulan McLaughlin bahwapolicy impiementation depends n j balance of support and pressure. hal itu diasosiasikan dengan visi dan misi. a tu (1) manajemen sekolah dan transparansi. local district offices and local schools—to develop and imp/ement newly created government a! programs. state departments of education. (2) pembaruan metode pembelajaran.. Bilamana energi bukan merupakan sumber yang aa^-at mendukung implementasi. . Komitmen kadang-kadang dapat mengikuti implementasi. banyak cara bagi pembuat kebijakan untuk mencari :_kungan terhadap kebijakan baru sebelum diimplementasikan.. Cara tersebut adalah dengan melibatkan pelaksana kebijakan dalam pembuatan kebijakan dan -embangkitkan semangat kepemimpinan._ran kedua adalah local capacity untuk implementasi kebijakan.65 terdahulu: "showed that there was a lack of both capacity and will at all levels of government the U. maka dapat d mpulkan bahwa konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan tiga pilar MBS.

pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berhadapan dengan munculnya resistensi karena terjadi transisi dari status quo menuju pada perubahan yang diinginkan. dan individu sebagai pelaksana. Untuk mewujudkan pengembangan ketiga pilar tersebut. kesemua aspek tersebut (resistensi. Selanjutnya. kerangka berpikir penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikemukakan dalam gambar 2. keberhasilan implementasi program yang dikembangkan dalam pengembangan organisasi ditentukan pula oleh sejumlah faktor pendorong. gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi juga dilihat dari aspek budaya sekolah. dilakukan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan struktur. . Pengembangan ketiga aspek tersebut dijadikan acuan dari fokus penelitian yang melihat gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.(3) peranserta masyarakat.3. teknologi. cara mengatasi resistensi dan faktor pendorong dalam pengembangan organisasi) merupakan hal-hal yang turut dikaji dalam penelitian ini. Karena. Selain itu. Dengan demikian. Selain mengkaji pengembangan ketiga pilar tersebut. Resistensi yang muncul harus diatasi dengan cara-cara yang efektif sehingga keberhasilan pengembangan organisasi dapat terwujud. budaya merupakan sasaran dan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Sebagai ilustrasi. tugas.

TEKNOLOGI DAN INDIVIDU PERANSERT A MASYARAK AT METODE PEMBELAJAR AN i. I.D A Y \ S KK O L A H KEEFEKTIF AN SEKOLAH PROGRAM PERUBAHAN DAN IMPLEMENTASINYA I FAKTOR ENDORONG RESISTENSI .B MANAJEMEN SEKOLAH PENGEMBAN GAN ORGANISASI DENGAN PENDEKATA N MBS ______ 4 ____ PERUBAHAN STRUKTUR. TUGAS.

II Ml N IH KUASI' M K< 'l Ml .CARA Ml N(iATASI Oambui ' * K E R A N G K A H l K I ' I K I K l ' l N l I I I I A N 1 * 1 N G I MHANGAN < )!<( i ANI' -ASI DI NGAN l'l NDI i Al AN MANA.

ketiga latar itu juga sering dan banyak dikunjungi oleh sekolah. dan (g) tahap-tahap penelitian. 1998). pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan multisitus (Yin. yaitu (1) SD Negeri Cerdas. 2 Dewan Sekolah sebagai organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat pada ketiga latar penelitian ini juga menunjukkan keaktifan yang cukup tinggi dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (c) sumber data dan informan. (2) SD Negeri Cermat. Tujuan penelitian kualitatif dengan jenis multi situs lebih berorientasi pada pengembangan teori. (e) teknik analisis data. Bogdan & Biklen.BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) rancangan penelitian. Berdasarkan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. Dengan 69 . (b) kehadiran peneliti. (f) pemeriksaan keabsahan data. alasan utama penggunaan rancangan multisitus karena ketiga latar memiliki karakteristik yang sama.sekolah dari daerah lain dengan tujuan untuk mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. yaitu: 1 Ketiga situs penelitian ini. (d) teknik pengumpulan data. dan (3) SD Negeri Mandiri Kota Cendekia telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. 1984. Rancangan Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan. A. Selain itu.

maka pihak dinas pendidikan merekomendasikan ketiga SD Negeri tersebut di atas untuk dijadikan lokasi penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.demikian. Kesamaan karakteristik lainnya dari latar penelitian ini. ketiganya berstatus sekolah negeri sehingga pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengikuti pola yang sama pula. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 28 September 2004. dengan demikian untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan iKiitan kota. sehingga pihak sekolah ~ien jgaskan seorang satpam untuk membantu setiap murid yang akan menyeberang . diasumsikan pemilihan ketiga latar tersebut dapat memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 5 Selain mempertimbangkan kesamaan karakteristik ketiga latar tersebut yang juga didukung oleh hasil observasi awal. Letak sekolah ini -ikup strategis. SD ini terletak di pinggir jalan raya. maka untuk lebih melengkapi informasi diminta pertimbangan kepada pihak dinas pendidikan mengenai sekolah-sekolah yang benar-benar sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. 3. Pada ketiga latar penelitian ini juga sudah dibentuk organisasi yang mewadahi peranserta wali murid di masing-masing kelas yang disebut dengan Paguyuban/ Forum Kelas. 4. SD Negeri Cerdas terletak di perkampungan penduduk.

pidato.20.71 in baik pada saat datang ke sekolah maupun pada waktu pulang ke rumah. Sebagai pusat ujicoba. SD Negeri Cermat ini terletak di dalam kompleks perumnas. sekolah ini juga mendapat Juara III siswa teladan Kota Cendekia pada tahun 2003 (Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 8 Oktober 2004). Dengan mempedomani Buku Tamu. namun mereka tetap menjunjung tinggi . dalam arti mudah dijangkau. Pada saat memasuki lokasi sekolah. Nilai UPM (Ujian Pengendalian Mutu) tertinggi dari lulusan SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 adalah 46. Maksudnya. dan tertib shalat. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. dengan demikian masyarakatnya agak heterogen. sekolah ini sering dikunjungi oleh instansi atau sekolah. Selain itu.sekolah dari daerah atau propinsi lain yang ingin mempelajari penerapan Manejemen Berbasis Sekolah. Walaupun masyarakatnya agak heterogen. SD Negeri Cermat terletak pada lokasi yang cukup strategis. Di samping berprestasi di bidang akademik. pada tanggal 1 Februari 2005 dicari informasi ke SD Negeri Cerdas. Di . masyarakat yang bertempat tinggal di perumnas ada yang berasal dan luar daerah setempat. seperti lomba paduan suara. di dinding sekolah tersebut tampak tulisan: Sekolah Dasar MBS. Kepala sekolah menyebutkan satu per satu instansi atau sekolah yang pernah mengunjungi SD ini. SD ini juga banyak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Untuk mengetahui lebih rinci instansi atau sekolah yang pernah berkunjung ke sekolah ini.iran plang nama dan dinding sekolah bagian depan tertulis: Sekolah Dasar MBS.

Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD. sebagai tempat ujicoba Manajemen Berbasis Sekolah. Otonomi sebagai wujud desentralisasi sebenarnya telah dilakukan sejak dulu walaupun tidak sepenuhnya sempurna (Mantja. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi (orgamzational development) menghadapi tantangan tidak ringan terutama menyangkut implementasi program-program yang dikembangkan menuju perubahan yang diinginkan. Hal tersebut berarti bahwa sesungguhnya pemberian otonomi kepada sekolah bukan merupakan sesuatu yang baru. seperti dilaporkan Owens (1991).nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong terutama dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Pusat Kurikulum. SD Negen Cermat juga senng dikunjungi oleh instansi atau sekolahreorientasi penyelenggaraan pendidikan guna memberikan otonomi ke tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) (Tim Penulis Direktorat TK & SD. Seperti halnya SD Negeri Cerdas. UNESCO & UNICEF. Oleh karena itu. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hasil penelitian Fullan. namun kadang kala implementasi kebijakan itu tidak dilakukan secara berkelanjutan (unsustainahly) di sekolah. 2002). menunjukkan OD bersifat parsial. 2003). Secara implisit hai . tidak tuntas. namun barangkali lingkupnya diperluas. perlu dilakukan pengembangan organisasi (orgamzational development) dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

Selanjutnya. Perubahan sering diartikan sebagai bentuk ancaman. 2002). Suyanto (2002) yang mengutip pendapat .8 tersebut mempunyai arti bahwa tantangan utama dalam pengembangan organisasi adalah adanya kenyataan bahwa pada hakikatnya sebagian besar dari kita enggan untuk berubah (Suyanto.

Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. nilai tertinggi 47 dan terendah 31. Metode komparatif konstan merupakan rangkaian ingkah-Iangkah yang berlangsung sekaligus. nilai UPM SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 paling tinggi 44. Rancangan penelitian selanjurnya menggunakan metode komparatif konstan Bogdan & Biklen. dan hanya 4 orang mendapat nilai di bawah 30. Dalam prosesnya. 1998). SD Negeri Mandin terletak pada lokasi yang strategis dan berdekatan dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Cendekia.60 dan paling rendah 28. 18 orang meraih nilai antara 35-39. metode komparati f konstan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. Di samping implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan di bawah binaan langsung pemerintah Indonesia. "0 orang memperoleh nilai di atas 40. Mulai dengan pengumpulan data . nilai UPM lulusan SD Negeri Mandiri berada pada ranking teratas dari 25 SD/MI yang berada di wilayah kepengawasan III dan IV. Pada tahun pelajaran 2003/2004. UNESCO. Dilihat dan sisi prestasi. Dari 97 orang peserta UPM dari SD Negeri Mandiri. sekolah ini juga memiliki prestasi dalam bidang ekstrakurikuler terutama catur. Selain berprestasi di bidang akademik. Selasa 28 September 2004).80.48.87.99. dan UNICEF. Nilai rata-rata UPM tersebut adalah 41. dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan pengkodean.70 sekolah lain yang ingin mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Data yang dicatat dari Buku Tamu tanggal 1 Februari 2005 menunjukkan banyak instansi atau sekolah yang berkunjung ke SD ini. SD Negeri Mandiri menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas dasar inisiatif sendiri (Hasil wawancara dengan staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia.

Alasan ini juga sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif. Mengumpulkan data yang mencakup banyak kejadian tentang kategori fokus untuk melihat adanya keragaman dimensi dalam kategori 4. dan (3) penelitian kualitatif bersifat alami (natural). Melakukan sampling. yaitu. pengkodean. dan penulisan sebagai analisis yang berfokus pada kategori inti (Glaser dalam Bogdan & Biklen.71 2. (2) hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti lebih peka sehingga dengan mudah dapat dilakukan pemahaman yang mendalam terhadap objek yang diteliti. Mencari isu penting. . Menuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan maksud untuk memerikan dan menjelaskan peristiwa yang ada sambil terus mencari kejadiankejadian bani 5. 1998). dan sesuai konteks di mana peristiwa itu terjadi. deskriptif. (1) realitas yang ada dalam pengembangan organisasi sekolah pada dasarnya terkonstruksi secara holistik. sehingga dengan menggunakan penelitian kualitatif realitas tersebut dapat dipahami secara utuh. kejadian yang selalu berulang atau kegiatan yang merupakan kategori fokus 3. Alasan penggunaan metode kualitatif dengan rancangan multisitus ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia. Mengerjakan data dan memunculkan model untuk menemukan proses dan hubungan-hubungan sosial yang mendasar 6. terfokus.

1998.gumpulan data. peneliti hadir ke lokasi penelitian dalam i-. dan berupaya menemukan makna (meaning) dari suatu fenomena yang terjadi (Patton. 2000. (a) eksplorasi yang meluas atau menyeluruh. Mantja. Lincoln & Guba. (b) eksplorasi . ^>901 Tahap-tahap tersebut diulangi beberapa kali sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang makin lama makin menyempit. Dalam penelitian kualitatif terjadi proses yang berbentuk siklus. Kehadiran Peneliti Untuk meneliti objek penelitian ini.ecara terfokus atau terseleksi guna mencapai tingkat kedalaman dan kerincian aspek tertentu. Dalam proses yang berbentuk siklus tersebut ada tiga tahapan yang berlangsung secara berulang-ulang. seperti studi pendahuluan.gka waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan. dan pemeriksaan keabsahan data. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian pertama kali adalah pada tanggal 7 Oktober 2004 yang bertujuan untuk meminta izin dari kepala . :er. 2003). 1980. Bogdan & Biklen. dan (c) pengecekan atau konfirmasi hasil atau temuan penelitian (Faisal. Moleong. B.induktif. pemahaman terhadap pengembangan organisasi sekolah dipandang tepat didekati dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Studi pendahuluan dilakukan rada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2004 berdasarkan izin dari Direkftir . sejalan dengan pertanyaan.pertanyaan yang muncul kemudian sampai penulisan laporan penelitian. yaitu tahap. dan biasanya masih bergerak pada taraf permukaan. Atas dasar itu. pengembangan organisasi (organization development) merupakan suatu proses transisi dari keadaan manajemen sekolah yang sentralistik menuju Manajemen Berbasis Sekolah. 1985.gram Pascasarajana Universitas Negeri Malang dan rekomendasi dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Selanjurnya.

Tanpa ada rasa keberatan dan dengan senang liati. Pada saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah. Pada akhir bulan Agustus 2005 izin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia secara resmi sudah berakhir.d .73 sekolah pada ketiga situs.30 s. Selama kegiatan pengumpulan data. namun peneliti tetap mengurus kembali surat izin penelitian dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang sebagai dasar bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia untuk mengeluarkan surat rekomendasi. Walaupun ketiga kepala sekolah sudah memberikan izin untuk pelaksanaan pengumpulan data. peneliti memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksud kunjungan sambil memperlihatkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. karena tujuan kehadiran setelah pengumpulan data tersebut hanyalah untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data. Namun kehadiran peneliti setelah pengumpulan data selesai tidak lagi intensif. kepala sekolah pada ketiga situs memperkenankan peneliti melakukan penelitian di sekolahnya. 12. serta 06. Kemudian. kehadiran peneliti untuk kepentingan pengumpulan data dilanjutkan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2005.00 s.d.30 WIB untuk SD Negen Cerdas dan SD Negeri Cermat. namun peneliti tetap hadir di lokasi penelitian sampai bulan Desember 2005 atas izin kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. peneliti berupaya untuk hadir ke lokasi penelitian pada setiap hari sekolah sesuai dengan jam sekolah yang berlaku (07. Atas izin dan kesediaan tersebut peneliti dapat berkunjung pada hari-hari berikutnya guna melakukan sftidi pendahuluan.

00 WIB. Kesediaan atau izin tersebut juga berlaku bagi kegiatan observasi dan analisis dokumen yang diperlukan. observasi dan melakukan kajian dokumen. adalah. pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2005 pukul 19. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian juga dilakukan di luarjam sekolah. Wawancara dilakukan dengan informan penelitian setelah meminta kesediaan yang bersangkutan terlebih dahulu.00 ketika berlangsung acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI di SD Negeri Cerdas dan pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2005 ketika dilakukan rapat Dewan Sekolah. peneliti juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh personel sekolah sejauh kegiatan itu dapat "dimasuki" dengan tetap menjaga batas kewenangan peneliti dan etika penelitian.d 17. . sehingga kehadiran peneliti tidak lagi dianggap sebagai "orang baru" di lembaga tersebut. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa bagi murid kelas VI yang akan mengikuti ujian akhir.00 . Contoh lain dan kehadiran peneliti di sekolah. yaitu pada waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 15.30 WIB pagi untuk mengikuti acara istighosah yang dilaksanakan di SD Negeri Cermat pada tanggal 12 Juni 2005. Waktu kunjungan lainnya adalah sore hari guna mengikuti kegiatan rapat baik yang dilakukan oleh sekolah.00 s.11. peneliti pernah datang ke sekolah pukul 05. mengikuti upacara bendera. Balikan.74 12.20 untuk SD Negeri Mandiri Kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk keperluan wawancara. Di samping kehadiran peneliti ke sekolah untuk keperluan observasi dan wawancara. Ini dilakukan dengan maksud agar peneliti benar-benar dapat membaur dengan warga sekolah. Beberapa bentuk partisipasi yang dilakukan adalah. Dewan Sekolah maupun Paguyuban Kelas. mengikuti rapat majelis guru.

orang di tempat penelitian yang dapat menggunakan informasi untuk kepentingan tertentu. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian tetap memperhatikan etika penelitian sehingga tidak mengganggu dan merugikan pihak yang diteliti. mengikuti istighosah. membantu persiapan acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI. dan ikut bersama guru melakukan kunjungan rumah untuk kepentingan pendataan kemampuan orang tua calon murid baru. Anonimitas diperluas tidak hanya untuk tulisan.rapat Dewan Sekolah. melainkan juga untuk laporan verbal tentang informasi yang dipelajari melalui observasi. mengikuti pertemuan wali murid pada awal tahun ajaran baru dan saat persiapan ujian murid kelas VI. 2. membantu pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah. Peneliti tidak menghubungkan informasi spesifik mengenai individu kepada orang lain dan berhati-hati berbagi informasi yang bersifat khusus dengan orang. dipedomani asas lunum etika penelitian yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). sebagai berikut: 1 Melindungi idenditas subjek sehingga informasi yang dikumpulkan tidak merugikan mereka. rapat Paguyuban/Forum Kelas. untuk melakukan penelitian dan peneliti harus mematuhi kontrak itu. Berkenaan dengan hal ini. Peneliti tidak berbohong kepada subjek atau merekam pembicaraan dengan menggunakan perlengkapan mekanik secara tersembunyi. Subjek diberi tahu mengenai kepentingan penelitian dan keikutsertaan peneliti dengan mereka dilakukan apabila telah diizinkannya. Menjelaskan mengenai apa saja batasan dan persetujuan pada saat negosiasi izin 4. . Memperlakukan subjek secara hormat dan meminta mereka berkooperasi dalam kegiatan penelitian. 3.

Menceritakan dengan benar ketika peneliti menulis dan melaporkan temuannya. Kemudian. (b) pembaruan metode pembelajaran. dan wali mund. dan (d) budaya sekolah. (2) resistensi terhadap pengembangan organisasi. (3) cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi (wujud dari fokus perubahan individu/manusia). Informan kunci (key informant) dalam penelitian ini adalah kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. (c) pembahan struktur/tugas untuk peningkatan peranserta masyarakat. Sumber data dan orang-orang terdin dari. Peneliti melaporkan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh data (febricatmg data or distorting data is the ultimate siri of a scientist).76 5. pembaruan metode pembelajaran dengan pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. pengawas sekolah. penjaga sekolah. kepala dinas pendidikan. dan (4) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. kepala sekolah. maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mencakup (1) gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi yang meliputi (a) perubahan manajemen sekolah. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. siswa. pengurus Dewan Sekolah. pegawai tatausaha. sumber data yang berasal dari dokumen dipilih berdasarkan relevansinya dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. guru. C. Sumber Data dan Informan Penelitian Sesuai dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan pada bab pendahuluan. Kemudian. .

(b) subjek yang masih terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. 3. jumlah informan yang diwawancarai terlihat dalam tabel 3. dan (e) subjek yang sebelumnya tergolong masih "asing" bagi peneliti. 8 Informan Kepala sekolah Guru Dewan sekolah Wali murid Murid Pengawas sekolah Penjaga sekolah/TU Ka. Sampai -enehtian berakhir. yaitu (a) subjek yang sudah cukup lama menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. (c) subjek yang bersifat "lugu" dalam memberikan informasi. Jumlah Informan Penelitian No. Informan pertama yang diwawancarai adalah kepala sekolah sebagai informan kunci. 6. 5. kepala sekolah menunjuk beberapa orang guru untuk diwawancarai selanjurnya. Informan dipilih dengan mempedomani kriteria yang dianjurkan Faisal (1990). 1998). 7. 2. Tabel 3. Berdasarkan wawancara pertama.1. 4. Jumlah informan tetap yang diwawancarai terus bertambah sesuai anjuran informan sebelumnya.Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow-ball sampling (Bogdan & Biklen.1. (d) subjek yang mempunyai cukup banyak waktu untuk memberikan informasi. 1.dinas pendidikan Jumlah Situs I 1 5 1 3 2 1 1 14 Situs II 1 5 1 3 2 1 13 Situs III 1 5 I 2 I 1 1 12 Total 3 15 3 8 5 1 3 1 39 .

78 D. (d) teknik pengamatan memungkinkan peneliti matnpu memahami situasi-situasi yang rumit. yaitu. 1. kemudian setelah kehadiran peneliti diterima oleh orang-orang yang diteliti. (b) teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri. maka peneliti mulai bergerak untuk melakukan peranserta secara aktif. dialami dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan . (c) pengamatan dapat digunakan untuk mengecek keabsahan data. Observasi berperanserta Untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan observasi berperanserta (participanl observation) (Spradley. observasi berperanserta dilakukan dengan alasan. 1980). peneliti berperanserta secara pasif. serta tidak hanya menerima tetapi benar-benar mempelajari aturan budaya dari perilaku yang muncul. (a) pada partisipasi pasif peneliti hadir dalam situasi sosial yang diteliti. dan (e) dalam kasus-kasus tertentu dimana penggunaan teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan. tetapi tidak berpartisipasi atau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang sedang diteliti. (b) wawancara. kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Selama melakukan observasi dibuat catatan lapangan. (a) pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. dan (c) studi dokumentasi. dan (b) pada partisipasi aktif peneliti benisaha untuk ikutserta melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang diteliti. pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. Pada tahap awal penelitian. Hal ini dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Spradley (1980). yaitu catatan tertulis tentang apa yang didengar. Menurut Guba dan Lincoln (1981). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) observasi berperanserta. dilihat.

yaitu menggunakan bahasa yang konknt bukan hanya memberi nama pada suatu tindakan (Spradley. dan (3) konknt. dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi mengenai masalah yang diteliti. untuk mengumpulkan data penelitian juga dilakukan wawancara secara mendalam (m-depth inferview) dengan informan penelitian. Fenomena itu digambarkan dalam ungkapannya sebagai berikut: "change has no constituency.79 data dan refleksi terhadap data (Bogdan & Biklen. seorang chief executive perusahaan raksasa kelas dunia. Wawancara calam penelitian ini dilakukan secara formal maupun informal sehingga dapat diungkapkan pendapat informan mengenai pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.orman bersedia direkam pada waktu dilakukan wawancara sehingga peneliti harus Welch. yaitu mencatat ucapan atau perkataan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang dijadikan sumber informasi. 2. Wawancara Di samping melakukan observasi berperanserta. Goleman. dan McKee (2002:272) menyatakan . dalam kenyataannya tidak semua . People like status quo. 1998). Untuk merekam hasil wawancara digunakan tape recorder merek Sony TC. Wawancara dilakukan berulang kali sampai diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengembangan organisasi sekolah. menggambarkan betapa perubahan pada hakikatnya tidak disukai oleh banyak orang. General Electric. (2) verbatim. Catatan lapangan dibuat dengan mempedomani prinsip (1) identifikasi bahasa. yaitu orang-orang yang dianggap potensial. yaitu mengidentifikasi bentuk bahasa yang digunakan. Penggunaan alat ini dilakukan apabila sudah mendapat z:n dan infonnan yang diwawancarai. They like the way it was. Untuk maksud yang sama. Namun." (Suyanto.2 \>DV sebagai alat perekam. 1980). 2002:109). Boyatzis. Catatan lapangan ditulis dalam buku yang sudah disediakan khusus untuk keperluan tersebut.

2002:385) menyatakan "old is easy. Peterson dan Hicks (Hughes. berjalan baik dan dengan hasil yang . new is hard\ Akibatnya. Ginnett dan Curphy. dalam Anwar." Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. Dengan ungkapan lain. 2004). 1996). beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. menolak segala sesuatu yang mengancam keadaan ini. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. 1991).9 bahwa "kebanyakan kelompok dan organisasi berputar-putar di sekitar status quo. 1993. Bahkan. Artinya. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. Kotter. misalnya. Sebagai contoh. 1991). 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. Sarason (Duke.

.

(d) program dan rencana pembelajaran. (j) profil sekolah. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. (1) ambil keputusan . (c) SK Dewan Sekolah. (f) buku daftar hadir guru. (g) jumlah guru dan murid. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. Teknik Analisis Data I. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. E. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (h) buku prestasi. (e) buku tamu. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. yaitu. 1990). 3. 1998). Hal ini berarti.80 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. Atas dasar itu. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas.

catatan lapangan. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). dan (10) gunakan perlengkapan visual. mendata. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. dan konsep. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . pengamatan. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. (9) gunakan metafora. yaitu melalui kegiatan menelaah data. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. Selanjutnya. yaitu dari wawancara. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan.81 untuk mempersempit kajian. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. analogi. (3) kembangkan pertanyaan analitis. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. mensistesis.

82

substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan, 1994). Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan data dan rangkuman inti, merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif, diadaptasi dan Miles & Hubennan (1994:12).

83

Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, informan, dan situs penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Sistem Pengkodean Analisis Data No Aspek Pengkodean Kode . 1 Fokus Penelitian: • Resistensi terhadap pengembangan organisasi RES CAR
• Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan

2

3

4

organisasi • Faktor Pendorong dalam pengembangan organisasi • Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi Teknik Pengumpulan Data. • Wawancara • Observasi • Dokumentasi Sumber Data: • Kepala Sekolah • Dewan Sekolah • Pengawas Sekolah • Kepala Dinas Pendidikan • Guru • Murid • Wali Murid • Penjaga Sekolah • Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Negeri Cerdas • SD Negeri Cermat • SD Negeri Mandiri

FAK BAR

W 0 D KS DS PS DP GM WM PJG TU

1 11 III

Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kemudian, pada bagian akhir

84

catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan; kode situs penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas Wawancara Kepala Sekolah ---------------- ^ -------------------------------------------------------------

Tanggal, bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum, proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut; (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga, (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian, dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985), yaitu; (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabihtas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4)

Kredibilitas .2. Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas). Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.85 Gambar 3.

aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan .r-anfaatkan sumber. Tujuan lain. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. metode. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam.perpanjang masa observasi. ~ -an penelitian yang terpercaya. Contohnya. angkut kebijakan sekolah. 1985). adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. melainkan merupakan aktivitas yang sudah . Pertama.— a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari .86 Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >?rapa kegiatan. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. dan melakukan triangulasi. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. maka . penyidik dan teori (Lincoln & Guba. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . (a) ■ e. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). Kemudian. and building trust. leaming the culture. testing f or mi smformaUon mtroduced - <i<ortions either of the self or of the respondents.erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. menurut Lincoln dan Guba -35 301). atau muncul secara tiba-tiba. mrg informan dengan informan lainnya. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. Dalam -r man ini. yaitu dengan . wawancara atau . -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian ." .

(b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. Kedua. .87 dokumentasi). dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. 1985). Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. Misalnya. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. makna-makna dieksplorasi. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. yaitu. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. yaitu Bapak Kasman.

Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. H.Pd (Pembimbing kedua). Hendyat Soetopo. Pembimbing ketiga). melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. 2. Umumnya.Willem Mantja. M. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. M. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. 4 Konfinnabilitas . A Sonhadji K. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. Dr. M. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. dan Prof.88 Ketiga.D. Namun.ransferability.Pd (Pembimbing pertama). Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of .. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. Prof Dr..H. 1985). menurut Lincoln dan Guba (1985).A. Ph. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). Apabila informan tidak merasa keberatan. Namun.

and heart ofthe educators who work in the schools . Willem Mantja. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. yaitu Bapak Prof. Oleh karena itu. 1991:370). Tahap persiapan Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. hands. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. Sayangnya.89 Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. penggunaan teknik analisis yang cermat.gumpulan dan analisis data. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton.Pd. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Maksudnya. Tahap-tahap Penelitian Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. Oleh karena itu. G. (1) tahap persiapan. 1992:1). Dr. yaitu. interpretasi data secara benar. buI the soup remains the same" (Hanson. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. Untuk mewujudkan hal tersebut. 1991:370). pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. M.

Laurens Kaluge. 2004)." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang menggembirakan (Baedhowi. 2004:2) menyatakan. dan Dr. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. Lusiana. T Raka Joni. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. I Wayan Ardhana. Brasil. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. M. banyak negara. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. Hasil penelitian tentang implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). 2004:2). Prof. Dr. "'more andmore governments see decentralization as a way forward.Sc dan Ibu Dr. antara lain Selandia Baru. Spanyol. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. On the other hand. Dr. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Berdasarkan keyakinan tersebut. Wallis (Baedhowi. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Meksiko. as a desirable policy. Zaini Hasan. Dr. . Namun demikian. dr. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan.90 Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah.

Masukan dan saran dari teman-teman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal.. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. Dip. M. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. Dr. Willem Mantja.304/2004 tanggal 05 .Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas.Ad. Hendyat Soetopo. Dr. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. Willem Mantja. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui.91 Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. M.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September 2004. M. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia).4.D.Ed. diajukan kepada Bapak Prof. Hd.Pd. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. dan Bapak Dr. Kemudian.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004.

D. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru.Ed.. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai . M. M. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing. Willem Mantja. Selanjutnya.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. Ed. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap. diterima tanggal 13 Desember 2004. Dr.92 Oktober 2004). Walaupun banyak saran perbaikan. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. Balikan dari Prof.Ad.Ed.Ad. Dip. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. Dip.D. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan motivasi bagi penulis. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206.. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing. Ed.Pd diperoleh awal Oktober 2004.

maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). Setelah izin diperoleh. r h D.-..4. Dr.-.Pd dan Bapak Prof.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.).. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.onsultasi dengan dosen pembimbing. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof.93 pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.H. Tahap penyusunan laporan penelitian . Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai. 3. H. Ahmad Sonhadji K. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420.307/2005 tanggal 18 Maret 2005. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :.— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. A. Willem Mantja. M. M.

Rekomendasi Dinas Pendidikan. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005.73.94 Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian.307. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. Setelah penyusunan laporan selesai. .307. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM.2/ 262/420. Atas permintaan di atas.303. karena nama sekolah sudah disamarkan. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.05/SDNP 1/2005.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.73.

2002:385) menyatakan "old is easy. 1991). Ginnett dan Curphy. Bahkan. Artinya. new is hard\ Akibatnya. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. dalam Anwar. Sarason (Duke. 1996). 1993. Sebagai contoh.8 Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. Peterson dan Hicks (Hughes. 2004). berjalan baik dan dengan hasil yang . implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. Kotter. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. 1991). Dengan ungkapan lain. misalnya.

(f) buku daftar hadir guru. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. (g) jumlah guru dan murid. Hal ini berarti. (d) program dan rencana pembelajaran. (3) . Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. (h) buku prestasi. Atas dasar itu. 3. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. (1) ambil keputusan untuk mempersempit kajian. (e) buku tamu. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. (j) profil sekolah.8 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. (c) SK Dewan Sekolah. yaitu. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. 1990). E. Teknik Analisis Data I. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 1998). Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya.

(5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. mendata. Selanjutnya. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. analogi. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan.8 kembangkan pertanyaan analitis. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . pengamatan. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). dan (10) gunakan perlengkapan visual. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. catatan lapangan. (9) gunakan metafora. yaitu dari wawancara. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. mensistesis. dan konsep. yaitu melalui kegiatan menelaah data.

(1) reduksi data. (2) penyajian data. yaitu. menggolongkan. . Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. membuat ringkasan data dan rangkuman inti. merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Menseleksi data secara ketat. membuang data yang tidak diperlukan. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3. 1994).8 substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah.1. mengarahkan. dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan. dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan.

sumber data.2.8 Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian. Ta bel 3. informan. dan situs penelitian. Sis te m Pe ng ko de an An ali sis Da ta .2 . Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3. teknik pengumpulan data.

8 Aspek Pengkodean .

8 Fokus Penelitian: • Resistensi ter ha da p pe ng em ba ng an org ani sas i .

Cara mengatasi res ist ens i dal am pe ng em ba ng an org ani sas i 8 Faktor Pendorong dal am pe ng em ba ng an .

ani sas i 8 Gambaran sekolah set ela h pe ng em ba Pe ng ng an um pul an Da ta. .

8 .

8 • Dokumentasi Sumber Data: Kepala Sekolah Dewan Sekolah .

8 Pengawas Sekolah Kepala Dinas Pe ndi dik an .

8 Penjaga Sekolah Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Ne ger i Ce rda s .

8 • SD Negeri Ce rm at • SD Negeri Ma ndi ri Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Contoh penelitian. teknik pengumpulan data. sumber data. bulan dan tahun. bulan dan tahun. observasi dan studi dokumentasi. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas ----------------^ . Kemudian. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. sumber data. pada bagian akhir catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan. teknik pengumpulan data. kode situs penelitian. tanggal. tanggal. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara.

bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. (1) kredibilitas (validitas internal). (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian. (3) dependabilitas (reliabilitas). dan (4) .2. dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. yaitu. Secara umum. (2) transferabihtas (validitas eksternal). (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985). proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut.8 Wawancara Kepala Sekolah -------------------------------------------------------------- Tanggal.

Pertama.8 Gambar 3.2. Kredibilitas Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >? rapa kegiatan. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas). Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.

metode. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). yaitu dengan – r-anfaatkan sumber. testing f or mi smformaUon mtroduced – <i<ortions either of the self or of the respondents.perpanjang masa observasi. and building trust. Dalam -r man ini. wawancara atau dokumentasi). penyidik dan teori (Lincoln & Guba.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. angkut kebijakan sekolah. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. leaming the culture. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. atau muncul secara tiba-tiba.8 – erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. melainkan merupakan aktivitas yang sudah . dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . 1985). mrg informan dengan informan lainnya. . mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . dan melakukan triangulasi. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. Tujuan lain. (a) ■ e. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. maka – — a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). Contohnya. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. menurut Lincoln dan Guba -35 301). Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. ~ -an penelitian yang terpercaya. Misalnya." . Kemudian.

Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. Ketiga. Apabila . Umumnya. makna-makna dieksplorasi. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara.8 Kedua. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. 1985). Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. yaitu. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. yaitu Bapak Kasman. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba.

Dr. menurut Lincoln dan Guba (1985). yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. Namun. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. Willem Mantja. M. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. A Sonhadji K.Pd (Pembimbing pertama).8 informan tidak merasa keberatan. 4 Konfinnabilitas Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. M.H. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). Oleh karena itu. Tahap-tahap Penelitian . Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain.D. Prof Dr. G.A. Hendyat Soetopo.Pd (Pembimbing kedua). maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. dan Prof. 1985). bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . Ph. M. interpretasi data secara benar. M.. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran.Pd. yaitu Bapak Prof.ransferability. Namun. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. H. 2. Pembimbing ketiga). dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap.Willem Mantja.. Untuk mewujudkan hal tersebut. Dr. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. penggunaan teknik analisis yang cermat.

gumpulan dan analisis data. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. (1) tahap persiapan. yaitu. Tahap persiapan .8 Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Spanyol. and heart ofthe educators who work in the schools Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah.8 Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Maksudnya. Brasil. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. 1992:1). hands. Meksiko. Berdasarkan keyakinan tersebut. On the other hand. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. 1991:370). the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. Namun demikian. 2004:2). 2004:2) menyatakan. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. buI the soup remains the same" (Hanson." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang 89 menggembirakan (Baedhowi. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. antara lain Selandia Baru. as a desirable policy. 2004). 1991:370). Wallis (Baedhowi. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. banyak negara. Oleh karena itu. Hasil penelitian tentang implementasi . Sayangnya.

M. Zaini Hasan. T Raka Joni. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing.9 kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. M. Willem Mantja. Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah. dan Dr. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia). Willem Mantja. Dip. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004.Ad..Ed. Hendyat Soetopo. Lusiana.Pd. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. dr. I Wayan Ardhana. M.D. M. Dr. Masukan dan saran dari temanteman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. Prof.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September . Hd. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. Dr. Dr. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. Dr. dan Bapak Dr.Sc dan Ibu Dr. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Laurens Kaluge. Dr. Kemudian. diajukan kepada Bapak Prof.

Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan . masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo.304/2004 tanggal 05 Oktober 2004).Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004.Ad. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . Dip. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Balikan dari Prof. diterima tanggal 13 Desember 2004.4.Pd diperoleh awal Oktober 2004. M.D. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. Dr.. Willem Mantja. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. M.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru.Ed. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui. Ed.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing.8 2004.

1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Walaupun banyak saran perbaikan.307/2005 tanggal 18 Maret .Ed.D. r h D.-.-. Ed.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206.9 motivasi bagi penulis. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian.Ad. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai.onsultasi dengan dosen pembimbing.4. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.Pd dan Bapak Prof. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia).. Dr.. — honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36.).. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. Selanjutnya. M. H.. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Willem Mantja. M. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru. Dip.H. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. A. Ahmad Sonhadji K.

307.73. karena nama sekolah sudah disamarkan.9 2005. . Atas permintaan di atas.05/SDNP 1/2005. Setelah izin diperoleh. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.307. Setelah penyusunan laporan selesai. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.73. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.2/ 262/420. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. Rekomendasi Dinas Pendidikan. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Tahap penyusunan laporan penelitian Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. 3. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35.303.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful