BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Derasnya arus globalisasi, sebagai salah satu bentuk perubahan yang terjadi saat ini, bukan hanya memberikan pengaruh terhadap persoalan bisnis semata melainkan juga berdampak bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Mantja (2002) menyatakan globalisasi itu dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya berdampak juga bagi pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Perubahan global mengakibatkan dunia seakan-akan tanpa batas (borderless world) telah melahirkan gaya hidup baru (a new way oflife) dengan ciri kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga menuntut masyarakat dan organisasi membenahi diri mengikuti perubahan-perubahan cepat tersebut (Tilaar, 1998, 2002). Apabila suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah, tetap mempertahankan status quo atau menolak suatu perubahan, maka institusi itu akan tertinggal dari arus perubahan. Sebab, tanpa disadari perubahan itu akan terus berubah (Zamroni, 2000). Berkenaan dengan perubahan dan tantangan masa depan itu, Yudohusodo (2004) mengemukakan beberapa pandangan para ahli sebagai berikut. Pertama, Gibson (1977) menyatakan; (a) masa depan kita nanti akan berbeda dengan masa lalu,

10

kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis, dari segi substansi manajemen, ada tiga bentuk kendala yang seringkah dijumpai dalam implementasi kebijakan pendidikan (Baedhowi, 2004). Kendala tersebut berkaitan dengan hal; (a) mengelola manusia {managingpeople), (b) mengelola organisasi (managing organization, dan (c) mengelola perubahan dan transisi (managing change and tramition). Kendala dalam hal mengelola manusia misalnya berkaitan dengan resistensi orang-orang terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Kendala mengelola organisasi antara lain bersumber dari kurangnya kemampuan pengelola untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan secara efektif. Kemudian, permasalahan pokok berkaitan dengan upaya mengelola perubahan dan transisi tersebut dinyatakan Baedhowi (2004) bahwa ketika perubahan yang diinginkan itu terjadi jarang sekali dipikirkan bagaimana mengelola perubahan (managing change) itu agar tetap terjaga dan selalu meningkat secara dinamis. Akibatnya, kita seringkah dihadapkan pada perubahan yang hanya sekejap dan setelah itu hilang, dalam arti kembali lagi seperti sebelumnya. Sebagai contoh, perubahan yang hanya muncul sekejap itu dapat dilihat dan bcr bagai kegiatan, antara lain pelatihan (training) yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam melaksanakan I/P(rioton cA^on,Kori T Intul' tYialz-csi/H yonrr cotno QiiKal^ir Anr\ Qonon /OHO 1 \ tWglUUAil JV11U11 ll.C4.lt. VJUIU1V 111U1VJUU JUUgJ JU111U, Jui/uivn UU1I uupui 1 ^iV/V 1 f

11

mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bahwa perubahan dan inovasi pendidikan sering tampak berhasil ketika diujicobakan dan kemudian sirna begitu saja ketika ujicoba telah berakhir. Hal di atas menunjukkan perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi tidak terencana (unplanned change) sehingga implementasi kebijakan tidak berjalan secara berkelanjutan (unsustainably). Hal itu juga terjadi karena tidak ada komitmen yang kuat baik secara individu maupun kelembagaan untuk melaksanakan program pengembangan organisasi yang sudah ditetapkan. Keadaan yang digambarkan tersebut, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Harvey (dalam Suharyadi, 2004:1) yaitu: People think that ifthe Japanese have problems, they are quick t o take decision. Actually they are not, infact they are extremely slow to take dec isian, bui once a decision is take n, everyone is so committed t o do it, and know exactly what they have to do, so they can move at about three times the pace that we do. They spend the time to get the commitment, and the commitment is got by masses of mteraction. Paparan pendapat Harvey tersebut menunjukkan betapa tingginya komitmen orang-orang Jepang untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah diambil. Hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengembangan organisasi dengan / pendekatan Manamejen Berbasis Sekolah sehingga perubahan yang berkelanjutan (sustamable change) dan peningkatan mutu (quality improvement) dapat terwujud. Penelitian-penelitian tentang pengembangan organisasi agak jarang dilakukan apalagi pada jenjang sekolah dasar. Bahkan, kecenderungan penelitian selama ini lebih banyak mengkaji proses dan substansi manajemen

Lebih rinci dapat dikemukakan hal. SD Negeri Cermat. misalnya. Berdasarkan wawancara dan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. keefektifan organisasi. SD Negeri Cermat. ketiga latar penelitian ini telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. iklim sekolah. semangat kerja. Pengembangan organisasi ditujukan untuk membentuk budaya sekolah yang kuat sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu. dan SD Negeri Mandiri di Kota Cendekia. dilihat dari kerangka kebijakan pendidikan pengembangan organisasi merupakan persoalan strategis yang harus dilakukan terutama pada tataran implementasi suatu kebijakan. Pada hal. persoalan pengembangan organisasi agak kurang mendapat perhatian para peneliti. kinerja guru. dan SD Negeri Mandiri bukan hanya tampak dan pembentukan Dewan . dan peranserta masyarakat (Hasil wawancara dengan guru tanggal 6 Mei 2005). yaitu: manajemen sekolah dan transparansi. budaya organisasi. pembaruan metode pembelajaran.hal sebagai berikut: Pertama. supervisi. Dengan kata lain. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada tiga pilar. Misalnya. perubahan struktur di SD Negeri Cerdas. kurikulum dan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD Negeri Cerdas. dan prestasi belajar. motivasi. Pengembangan ketiga pilar di atas dilakukan dengan cara melakukan berbagai perubahan.12 pendidikan. dan variabel-variabel kepemimpinan.

kelemahan. melainkan juga sudah dibentuk paguyuban pada masing-masing kelas (di SD Negeri Mandiri organisasi wali murid pada tingkat kelas ini disebut dengan Forum Kelas). Saat ini.13 Sekolah. tampak dan bertambahnya bobot dan intensitas tugas baik yang berkaitan dengan tugas-tugas manajemen sekolah maupun tugas personel sekolah. Perubahan tugas-tugas. Selain intervensi terhadap struktur. kreatif. peluang. pengembangan organisasi di ketiga latar penelitian ini juga memberikan perlakuan terhadap guru melalui pelatihan dan studi banding guna meningkatkan kemampuan guru untuk mengimplementasikan program pembaruan yang dikembangkan.perubahan atas dasar kemauan sendiri. efektif. Pajangan kelas yang dibuat dan hasil karya murid sebagai salah satu ciri PAKEM terlihat lebih menonjol di SD Negeri Cerdas dan SD Negeri Mandiri. Program sekolah disusun berdasarkan analisis terhadap kekuatan. manajemen sekolah dilakukan secara demokratis sesuai kewenangan terbatas yang diberikan dalam penyelenggaraan pendidikan. dan menyenangkan (PAKEM). dan metode pembelajaran. tugas. sebagai konsekuensi dari perubahan struktur dan pola manajemen sekolah. SD Negeri Mandiri lebih cenderung melakukan upaya "menjemput bola" yang tampak dari inisiatif melakukan sendiri kegiatan seminar dan lokakarya pada saat libur. orang tua dan masyarakat. Perubahan teknologi tampak dan penerapan metode pembelajaran aktif. dan tantangan serta keputusan diambil bersama dengan melibatkan personel sekolah. sekolah mulai berupaya melakukan perubahan. Terkait dengan hal ini. Sebagai implikasi dan penerapan Manajamen Berbasis Sekolah. .

Berkenaan dengan hal tersebut wali murid menyatakan bahwa saat ini sudah tampak kemajuan di sekolah. Menurut kepala sekolah. Hal ini. Indikasi ini pulalah yang mendorong . Resistensi guru terhadap pengembangan organisasi pada ketiga situs penelitian ini tampak dari alasan-alasan yang disampaikan. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mulai menunjukkan suatu kemajuan. transparansi manajemen sekolah. terlalu sibuk dan program yang lalu masih belum selesai sementara yang baru datang lagi. bahwa kecenderungan orang akan menolak perubahan (resistance to change). dan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah. seperti tugas-tugas banyak. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tidak mudah diwujudkan karena muncul sikap resistensi terhadap perubahan yang dilakukan. manajemen sekolah lebih transparan dan partisipasi masyarakat lebih aktif (Wawancara tanggal 28 April 2005). Di bagian latar belakang masalah sudah dikemukakan. Ketiga.14 Kedua. pada awal pengembangan organisasi tampak adanya keengganan dan muncul resistensi dan kalangan guru (Wawancara tanggal 5 April 2005). tampak dari upaya-upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekolah. penciptaan proses pembelajaran yang efektif. Hal ini disebabkan karena terjadi proses transisi manajemen sekolah dan paradigma lama ke yang baru. Kemajuan awal yang dicapai tidak terlepas dari kemauan berkembang atas keinginan sendiri yang dimiliki oleh personel sekolah dan dukungan wali murid masyarakat.

munculnya resistensi karena para guru sudah terbiasa dengan pola lama (Wawancara tanggal 5 April 2005). berkunjung ke tiga sekolah tempat penelitian ini dilaksanakan guna mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. B Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga SD Negeri di Kota Cendekia.. pengembangan organisasi dengan melakukan berbagai perubahan adalah penting bagi peningkatan keefektifan organisasi itu. Alasannya adalah. Hasil pemahaman tersebut dijadikan dasar untuk mencari solusi bagaimana cara menghadapi resistensi itu (overcoming resitance to change). Terakhir. Fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut: . adanya resistensi terhadap pengembangan organisasi telah dipahami oleh kepala sekolah terutama menyangkut alasan-asalan mengapa terjadi resistensi.15 sekolah-sekolah atau instansi lain. Menurut kepala sekolah. baik yang berasal dari wilayah Kota Cendekia maupun sekolah-sekolah dari propinsi lain di Indonesia. keberhasilan pengembangan organisasi dicapai dengan tidak mengorbankan kepentingan dan kepuasan anggota organisasi. Ini berarti. namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana memperlakukan orang-orang dalam organisasi atas dasar pemahaman ilmu perilaku (behavioral science) yang benar sehingga resistensi terhadap perubahan dapat diatasi.

Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. yang meliputi. dan SD Negeri Mandiri. 2. 4. SD Negeri Cermat. SD Negeri Cermat. (b) metode pembelajaran. SD Negeri Cermat. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri.16 1. yang meliputi. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian yang telah dikemukakan. (b) metode pembelajaran. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan SD Negeri Mandiri. (c) peranserta masyarakat. (c) peranserta masyarakat. dan (d) budaya sekolah. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. dan (d) budaya sekolah. C. . 3.

Bahan masukan bagi guru dalam mengimplementasikan program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. SD Negeri Cermat. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Hasil pemahaman ini dapat dipakai sebagai sumber informasi bagi kepala sekolah dalam mengelola pengembangan organisasi 3. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.17 2. D. dan SD Negeri Mandiri. 4. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. Memperluas pemahaman tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 3. 2. . SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai pengembangan organisasi sekolah dan mendorong peneliti lain untuk mengkajinya lebih lanjut sehingga dapat memperkaya teori pengembangan organisasi yang sudah ada. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.

dan kepala dinas pendidikan kecamatan. Pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang yang dilakukan secara terencana untuk meningkatkan keefektifan sekolah. E. Konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini mengacu pada makna kualitas. Bahan masukan bagi pengurus Dewan Sekolah. dan (c) peranserta masyarakat. pengawas sekolah. 5. dan orang tua murid untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. efektif. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi . dan menyenangkan (PAKEM) di sekolah dasar. Definisi Operasional 1. 4. Kreatif. kreatif. seperti. dan Menyenangkan (PAKEM). Pengembangan ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membentuk budaya sekolah yang menunjang pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Paguyuban/Forum Kelas. Hasil penelitian ini berguna pula bagi pengambil kebijakan.18 khususnya penerapan pembelajaran aktif. Efektif. yaitu (a) manajemen sekolah dan transparansinya. kabupaten/kota atau propinsi sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah khususnya di sekolah dasar. yaitu peningkatan keefektifan sekolah dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mengacu pada tiga pilar. (b) metode Pembelajaran Aktif.

pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi.19 sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Pengembangan organisasi terwujud bilamana resistensi yang muncul dipahami dan diatasi dengan baik. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan keefektifan sekolah. dalam penelitian ini juga dipelajari faktor pendorong implementasi program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Hal ini merupakan fokus lain dari pengembangan organisasi. . Di samping itu. 4. Kemudian. 3 Resistensi adalah respons guru terhadap program yang diimplementasikan dalam pengembangan organisasi yang dapat berupa keengganan atau penolakan. dan kewajiban dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. wewenang. Otonomi sekolah adalah kebebasan terbatas yang dimiliki sekolah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan hak. Dengan demikian otonomi sekolah bukanlah merupakan independensi yang terlepas dari ketentuan yang berlaku. yaitu intervensi terhadap aspek individu/manusia. memberikan fleksibilitas keluwesan kepada sekolah. Hal ini muncul karena kekhawatiran guru terhadap berbagai konsekuensi dari program pembaruan yang dikembangkan.

Ketiga. Perubahan-perubahan terjadi sangat mendadak dan tidak menentu. Senge (1994) juga mengatakan bahwa ke depan teijadi perubahan dari kompleksitas detail menjadi kompleksitas dinamik yang membuat interpolasi menjadi sulit. Berdasarkan keputusan menteri tersebut. antara lain dinamakan Dewan Sekolah. dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 pada bagian A poin 2 diatur tentang Acuan Pembentukan Komite Sekolah bahwa nama Komite Sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. (c) dengan berbagai perubahan yang terjadi setiap organisasi atau institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju (where do we go next). pemerataan. Kedua. Nama organisasi ini jelas berbeda dengan apa yang disebut School Board Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3. Kanter . dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu. maka di wilayah Kota Cendekia organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat di tingkat sekolah disebut dengan Dewan Sekolah.School Committee) Namun. seharusnya organisasi ini disebut Komite Sekolah (.20 5. Dewan Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat pada tingkat satuan pendidikan (sekolah) dalam rangka meningkatkan mutu. dan efisiensi pengelolaan pendidikan. dan kecepatan bergerak. (b) dengan adanya tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/institusi yang berbeda {new time cal! for new organizations) dengan ciri efisiensi yang tinggi.

kelangsungan hidup dan kemajuan suatu organisasi tergantung kepada kemampuan organisasi itu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Stoner (1982:379) menyatakan "managing such change effectively is not on/y a necessity for organizational surviva/ hut also a challengeIni berarti. Perubahan dan tantangan masa depan yang digambarkan di atas mengisyaratkan organisasi untuk selalu melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek. Bahkan lebih dari itu. Bennis dalam . Organisasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan mengisi peluang yang ada akan mampu bertahan hidup (survive) dan berkembang ke arah yang lebih baik (Gitosudarmo & Sudita. dan kepercayaan diri. Kemampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah merupakan ciri utama organisasi yang berhasil (Steers. dalam hal ini disebut pengembangan organisasi (organizational development). 1977. 2000).3 (1994) menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan dan setiap pelakunya (di berbagai bidang) termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki konsep. kompetensi. relasi.

1991:223). A. 1982). mencakup (a) pengertian. yang meliputi (a) pilar pengembangan organisasi. (b) resistensi terhadap pengembangan organisasi. dan (c) hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Upaya penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi (organizationcil development). Miles dan Taylor (dalam Owens. Pengembangan Organisasi 1.BAB n KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan secara berurutan kajian teoretis tentang (1) pengembangan organisasi. terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengembangan organisasi menurut pendapat para ahli. (3) pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (b) pengertian. Keadaan ini menuntut organisasi sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu. Fullan. setelah melakukan studi yang komprehensif terhadap pengembangan organisasi di sekolah-sekolah Amerika dan Canada. terdiri dan (a) dasar pemikiran. dan (d) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. dan (b) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. organisasi berada dalam lingkungan yang selalu berubah (Stoner. (c) cara mengatasi resistensi. Pengertian Sebagai bagian dan sistem yang lebih besar. sekolah sebagai suatu organisasi tidak bisa melepaskan diri dan pengaruh sistem-sistem lainnya itu yang secara terus menerus berubah. (2) Manajemen Berbasis Sekolah. Hal ini berarti. mengemukakan definisi tentang pengembangan organisasi sebagai berikut: 20 . Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konsep pengembangan organisasi.

(Warner Burke). diagnosis. and theory. norma atau struktur. The goals o f O D mclude bot h the quality o f life of individuals as well as improving organizational functiomng and performance. yaitu: 1. Cummings dan Worley juga mengutip definisi keempat dari ahli lain sebagai berikut: 4.Organization development in school districts is a coherent. Organization development is a systemwide process ofdata collection. Organization development is an effort (1) planned. sustained effort at system self-study and improvement. Organization development is a planned process of change in organization 's culture through the utilization of behavioral science technology. (2) organization-wide. and culture. strategy. using behavioral science concepts. focusing explicitly on change in formal and informal procedures. processes. and eva/uation aimed at (1) enhancing congruence among organizational structure. Tujuan pengembangan organisasi di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi. (2) developing .(Wendell French). terencana. to (4) increase organization effectiveness and health through (5) planned mterventions in the organization 's "processes " using behavioral science £ttow/ec/ge. proses. Konsep pokok yang terkandung dalam pengertian di atas adalah. Selain tiga definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan di atas. melainkan juga peningkatan kualitas kehidupan individu-individu yang menjadi anggota organisasi. dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal. norms or structures. intervention. action planning. 2. systematically-planned. process. people. or change agents. Cummings dan Worley (2001:2) mengemukakan pula beberapa definisi pengembangan organisasi dengan mengutip pendapat para ahli. as they are sometimes c#//ec/. research. and (3) managedfrom the top. 3. Organization development refers to a long-range effort to improve an organization 's problem-solving capabilities and its ability to cope with changes in its external environment with the help of external or internal behavioral-scientist consultants. pengembangan organisasi di sekolah merupakan upaya perbaikan secara sistematik.(Richard Beckhard).

(4) pengembangan organisasi memerlukan intervensi baik internal maupun eksternal. Cummings & Worley. dan manusia terutama penlaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture). (1) pengembangan organisasi didasarkan pada pengetahuan dan praktek ilmu perilaku (behavioral science).new and creative organizational solutions. definisi French (dalam Cummings & Worley. ada pula kesamaan dan definisi pengembangan organisasi itu yakni melakukan perubahan secara berencana untuk memperbaiki kineija organisasi. Masing-masing definisi di atas memberikan penekanan yang berbeda. 1996. . Robbins. dan (5) pengembangan organisasi berorientasi pada peningkatan keefektifan organisasi {organization effectiveness) (Lippit. and technology. 2001) memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan. tugas. 2001. Di samping terdapat perbedaan sudut pandang.Q\ Beer). 2001) dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan. (2) pengembangan organisasi berkaitan dengan mengelola perubahan terencana (managingplannedchange). definisi Burke (dalam Cummings & Worley. 1991. (3) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada strategi. research. Hanson. 11 occurs through the collaboration of organizational members working with a change agent using behavioral science theory.{M\c\Ya. 2000. Siagian. Misalnya. 2001) ditujukan pada proses pengembangan organisasi. yaitu. Stoner. teknologi. dan definisi Beckhard dan Beer (dalam Cummings & Worley. Indrawijaya. Owens. 1982. struktur. Bila disimak lebih teliti lagi. 1982. and (3) developing the organization 's self-renewing capacity. 1991. dalam berbagai definisi pengembangan organisasi terdapat beberapa konsep pokok. 1983.

toolpack. http://www. dan (3) peranserta masyarakat. dan intervensi terhadap individu/manusia yang tercakup dalam cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi sebagai wujud penggunaan ilmu perilaku (behavioral science theory). 2002. Wibowo. maka konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini adalah usaha terencana untuk peningkatan keefektifan organisasi dengan mengadopsi pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah sehingga menghasilkan budaya sekolah yang menunjang terhadap pencapaian tujuan. 2004. Berangkat dari beberapa definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan. 2002) dijelaskan bahwa pengembangan adalah upaya peningkatan yang menjurus kepada sasaran yang dikehendaki. dan pembaruan inovasi) adalah pengenalan atau penemuan sesuatu yang baru atau berbeda dan • eadaan sebelumnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas. Pengembangan organisasi mengacu pada tiga pilar. Dalam konsep pengembangan tercakup makna perubahan dan pembaruan.com/ services. 2006). Selanjutnya.23 Sutarto.html. yaitu pengembangan. ada tiga istilah pokok yang perlu dijelaskan. 2002. perubahan adalah hal (keadaan) berubah atau peralihan dan suatu keadaan. sedangkan dalam konsep perubahan dan pembaruan belum tentu atau bahkan tidak tercakup makna . perbaikan metode (teknologi). Thoha. diakses tanggal 9 Februari 2005. Pengembangan ketiga pilar tersebut dilakukan melalui perbaikan struktur organisasi/tugas. yaitu (1) manajemen sekolah dan transparansinya. Jones. (2) PAKEM. perubahan dan pembaruan (inovasi).

melainkan proses dan sikap memahami persoalan.pengembangan. dan Donnelly (1995) menyatakan pengembangan organisasi sebagai teknik manajenal untuk mengimplementasikan perubahan penting dalam organisasi. hampir semua ahli berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Indrawijaya. maka uraian mengenai perubahan dalam penelitian ini hanya berada dalam kerangka pikir pengembangan organisasi. 2002). 1981.am susunan dan prosedur organisasi saja sedangkan kultur organisasi tetap sama. maka itu bukan merupakan perubahan dalam kerangka pengembangan organisasi. Thoha. Namun demikian. 1983. Berdasarkan hal tersebut. Pengembangan organisasi lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar bukan hanya perubahan cara keija. (a) . melainkan juga termasuk kultur organisasi (Owens. Thoha. 2004). 2 31. dan perlakuan terhadap orang-orang dalam organisasi. Ivancevich. Pengembangan organisasi merupakan suatu respons terhadap perubahan (Bennis dalam Luthans. pengembangan organisasi bukan hanya mengadakan perubahan (change) dalam struktur dan prosedur organisasi saja. Bahkan secara tegas dikemukakan. Cummings & Worley. Dengan kata lain. 2002). Bahkan. pengembangan organisasi mencakup sepuluh konsep yang bercirikan. membuat keputusan. pengembangan dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan dan/atau pembaruan. jika perubahan hanya terjadi . Dalam kaitan itu pula. Gibson. Kajian tentang pengembangan organisasi tidak bisa terlepas dan perubahan." Sementara itu. Buchanan & Huczynski. -:am prakteknya.j. 1991. Brown dan Harvey (2006:4) menyatakan "OD is a planned strategy to bring about organizational change.

(c) menciptakan lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan otoritas berdasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. dan (j) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens. Lebih lanjut. (f) menemukan solusi yang .keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur. 1984). (b) pembaruan sistem. (c) suatu pendekatan sistem. dan diagonal. (e) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. teknologi. vertikal. (g) berkaitan dengan masalah nyata. (i) agen perubahan. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi memberikan implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan. dan sumber daya manusia. (f) belajar melalui perilaku yang dialami. (b) meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah-masalah organisasi. yaitu. (h) suatu strategi terencana. ia merinci tujuan pengembangan organisasi sebagai berikut: (a) meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota-anggota organisasi. tugas-tugas. baik dalam kelompok maupun antara kelompok.25 tujuan pengembangan organisasi. Usaha-usaha pengembangan organisasi pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir (Robbins. (d) meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horizontal. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang. Tujuan utama pengembangan organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. dan (2) peningkatan kepuasan anggota-anggotanya. (e) suatu strategi pendidikan. (1) peningkatan keefektifan organisasi. kebalikan dari to sweepingproblems under the rug. 1991).orang dalam organisasi dalam membuat keputusan yang lebih efektif. (d) berfokus pada manusia.

26 sinergis terhadap masalah. (2) menciptakan iklim sekolah yang demokratis dengan menyelenggarakan manajemen sekolah secara transparan dan akuntabel. (3) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. dan (6) menciptakan budaya sekolah yang kuat dengan ciri antara lain. sebagai proses transisi pengembangan organisasi menghadapi suatu keadaan yang tetap menginginkan status quo. memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan prestasi terbaik. dan menyenangkan bagi peningkatan mutu lulusan. (4) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi program pengembangan organisasi. Berdasarkan hal tersebut. yaitu pergerakan dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan. (5) menciptakan pembelajaran aktif. pengembangan organisasi merupakan suatu proses bukan kejadian yang datang secara tiba-tiba. dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi. ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan pengembangan organisasi. Bertitik tolak dari beberapa pendapat di atas. terencana dan menempuh langkah-langkah yang sistematis. efektif. sehingga perubahan terhadap . kreatif. Pertama. Ketiga. Kedua. dan (g) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi. maka tujuan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) meningkatkan kepercayaan dan peranserta dari stakeholders baik internal maupun eksternal dalam menunjang keberhasilan sekolah. Artinya. pengengembangan organisasi dilakukan secara sengaja.

model. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi yang dilakukan tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kineija organisasi. atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens." Untuk merealisasikan program ini. dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholders-nya. Pengembangan organisasi sekolah dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide-ide. tujuan pengembangan organisasi adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (quality improvement). Ide-ide. Di samping itu. cara. model. Analisis implementasi pendekatan ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang bekeija sama dengan Bank Dunia. Hal ini tentu saja didasarkan atas pertimbangan bahwa pengadopsian tersebut dapat meningkatkan kualitas keluaran organisasi menjadi lebih baik. sejak tahun 1999 telah . Keempat.27 kondisi ini menimbulkan resistensi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu. pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. 1991). Berdasarkan hasil analisis itu. Tujuan pengembangan organisasi secara umum adalah untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri. muncullah Kegiatan Rintisan Keija Sama segi tiga Pemerintah Republik Indonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Menciptakan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat. keefektifan. Pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pengadopsian model manajemen sekolah yang pernah diterapkan di beberapa negara. metode atau cara baru yang diadopasi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan suatu pendekatan yang telah dikembangkan oleh pihak lain.

Menurut Leavitt (dalam Stoner. Saling ketergantungan antara elemen.28 dilakukan pilot proyek di empat propinsi.389) .elemen tersebut dapat dilihat pada gambar 2. tugas. 1991). dan orang-orang.1. fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada elemen-elemen penting yang terdapat dalam organisasi itu. Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi didasarkan atas pandangan bahwa organisasi sebagai sistem. Jawa Timur. Gambar 2.1. yaitu. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tetap didasarkan atas kemampuan sekolah masing-masing. 1982. (a) struktur. Oleh karena itu. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Owens. 1982. Elemen-elemen organisasi (diadaptasi dari Stoner. elemen-elemen dimaksud adalah. Dalam prakteknya. teknologi. 2. Jawa Tengah.

dan Griffin dan Moorhead (1986) menguraikan dari sisi metode perubahan organisasi. suatu perubahan yang efektif menyadari adanya interaksi elemen-elemen organisasi tersebut. Berbagai pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisisasi dirangkum dalam tabel 2. Tabel 2. Hanson (1991) melihat dan segi fokus perubahan. Steers (1977) meninjau dan aspek pendekatan yang digunakan dalam perubahan organisasi.1.1. Robbins (1996) melihat lingkup perubahan dalam pengembangan organisasi dan sisi apa yang dapat diubah oleh agen perubahan. Walaupun para ahli memandang fokus perubahan organisasi dan sisi yang berbeda. Rangkuman Pendapat Ahli tentang Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi . Terdapat berbagai pendapat ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dan masing-masing ahli melihat dari sudut pandang yang berbeda. 1982). Stoner (1982) memandang dari sudut variabel perubahan organisasi. Dengan demikian.29 Berdasarkan gambar 2. suatu perubahan dalam satu elemen organisasi akan mempengaruhi elemen-elemen lainnya. namun semua ahli tersebut sebenarnya ingin menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diubah dalam melakukan pengembangan organisasi sehingga kineija organisasi menjadi lebih baik.1. Program perubahan yang berfokus hanya pada satu dan elemen-elemen organisasi itu memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil (Stoner.

Kelompok dan individu Hanson (1991) Robbins (1996) 1. Teknolog i i 3. Manusia 4. Tugas 3. Manusia 1. Struktur 2. Tugas 3. Struktural 2. Teknologi Griffin dan Moorhead (1986) 1. Manusia 2. Setting fisik . Tugas dan teknologi 3. Teknologi 4.Pribadi individu 3. Struktur dan Sistem 1. Iklim organisasi dan gaya pribadi individu 4. Struktur 2.30 Steers (1977) Stoner(1982) 1. Struktur 2.

20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Apabila ketidakjelasan tersebut juga teijadi dalam dunia pendidikan. 1993). Salah satu masalah pokok yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan. 2002). Scheerens. dalam kenyataannya pendidikan masih menghadapi berbagai permasalahan. Pendidikan dasar yang termasuk hak dari semua warga negara merupakan fondasi dari suatu masyarakat yang demokratis. 2000). Atas dasar itu. Ivancevich & Donnely. Oleh sebab itu. jenjang. Oleh karena itu.3 Schein. Gibson. Namun. 1980. Tyson & Jackson. Thailand . 1993. 1996. maka perubahan yang dilakukan tidak memberikan kontribusi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. dan jenis pendidikan termasuk Sekolah Dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. organisasi harus berubah (Morgan. Fungsi pendidikan tersebut diemban oleh setiap jalur. 1992. 1996). Kebutuhan untuk berubah sudah jelas. pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 3 UU RI No. pendidikan dasar yang bebas ifree basic education) harus dijadikan prioritas utama di dalam membangun suatu masyarakat Indonesia baru yaitu suatu masyarakat demokratis (Tilaar. Kotter. hal yang mungkin tidak begitu jelas adalah apa sebenarnya perubahan itu dan bagaimana caranya melakukan perubahan tersebut (Morgan. Gambaran umum sebagai indikasi rendahnya mutu pendidikan Indonesia terlihat dan Human Development Index tahun 2004 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 111 di bawah Malaysia (058).

. kelompok. aspek organisasi . Sementara itu.30 Melihat perbandingan pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi sebagaimana tampak pada tabel 2. . aspek kelompok menyangkut hubungan antar pribadi ^ng harus dibangun untuk mendukung proses perubahan. Terakhir.nggota organisasi sebagai pribadi sehingga memerlukan strategi yang bersifat r' badi pula.ubungan dengan unsur-unsur organisasional yang akan berpengaruh dalam proses perubahan. Menurut Steers (1977). Walaupun Steers tidak menyatakan aspek perubahan yang berkaitan dengan tugas secara eksplisit. Sementara itu. Sebenarnya.anggota organisasi. Aspek individu berhubungan dengan . artinya perubahan struktur organisasi dan tugas-tugas yang sudah dilakukan diikuti dengan perubahan setting fisik tempat orang-orang atau anggota organisasi itu bekerja. perubahan organisasi dapat ditujukan terhadap aspek ndividu. Perbedaan pandangan terlihat pada pendapat Robbins (1996) yang memasukkan unsur setting fisik dalam perubahan organisasi. dapat dijelaskan bahwa secara umum terdapat kesamaan pandangan mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Griffin dan Moorhead (1986) menyebut hal ini dengan istilah perubahan individu dan kelompok. namun perubahan sistem yang dimaksudkan oleh Steers berkaitan dengan tugas-tugas.1. -r. dan aspek organisasi. prosedur keija dan kebijakan guna mendukung perubahan struktur organisasi. Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada pendapat yang dikemukakan Steers (1977). perubahan setting fisik merupakan bagian dari perubahan struktur dan tugas. perubahan individu dan iklim organisasi termasuk ke dalam aspek perubahan yang ditujukan kepada manusia atau anggota.

ada tiga pendekatan umum yang dipakai untuk melakukan perubahan secara berencana. Leavitt (dalam Stoner. Perubahan teknologi berarti mengubah peralatan. atau teknologi. hange(http://www. Walaupun ada beberapa fokus perubahan yang dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi. 2003:38). teknik memproses. dan (3) iklim organisasi dan gaya hubungan antar pribadi (Steers. it is usually easier t o change the structures and system than to change the culture. 1982) menyatakan bahwa pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengubah strukturnya.html. seperti garis komunikasinya. alur kerja. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi bukan merupakan hal yang mudah dibandingkan dengan perubahan struktur. the most potent tool for improvemen/ is cultural . sikap. Perubahan struktur mencakup penyusunan kembali sistem internalnya. " (Tee.com/services. Therefore. teknologinya. '7/7 any change. pelatihan. tugas. . hubungan. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan budaya merupakan hal ^ngesensial dalam pengembangan organisasi. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. (2) struktur dan sistem organisasi. diakses tanggal 9 Februari 2005).31 Berdasarkan hal tersebut. dan atau manusianya. namun perlu diingat bahwa "The premise of organizational development is: Orgamzations are social systems m which people are strongly influenced hy the rgamzationa/ culture. Dengan demikian. atau metode produksi. 1977).toolpack.2. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi mencakup perubahan seleksi. atau peran anggota organisasi. yaitu perubahan yang terutama ditujukan pada: (1) pribadi individu. atau hirarki manajerial.

pendidik Perbaikan tingkat Perilaku dalam an/latihan. perubahan dan motivasi terutama sikap manusia ditentukan oleh karakteristik setiap anggota organisasi Struktur dan Modifikasi prak Menciptakan kon Perilaku dalam sistem organisasi tek.32 pendekatan -engembangan organisasi hendaknya memberikan penekanan pada perubahan budaya Tabel 2. Rancangan Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Aspek Teknik Intervensi Hasil Langsung Asumsi Mengenai Perubahan yang Dituju Penyebab Utama Perilaku dalam Organisasi Pribadi Individu Edukasi. prosedur dan disi yang menim organisasi kebijakan yang bulkan dan mem terutama berlaku.2. yang berikan imbalan ditentukan oleh mempengaruhi apa pada prestasi ang karakteristik yang dikerjakan gota yang mem situasi organisasi orang dalam tugas perlancar tercapai tempat orang nya tujuan bekerja organisasi Iklim organisasi Teknik eksperimen Menciptakan iklim Perilaku dalam dan gaya yang ditujukan un keseluruhan organisasi hubungan antar tuk meningkatkan organisasi yang terutama pribadi kesadaran anggota bercirikan tingkat ditentukan oleh akan faktor kepercayaan antar proses emosi dan penentu sosial dari pribadi dan sosial yang perilaku mereka keterbukaan yang mencirikan dan membantu tinggi. sosiali keterampilan sikap organisasi sasi. mem hubungan antara mereka perkecil para anggota mempelajari cara konsekuensi organisasi baru untuk disfungsi dan kon bereaksi dan flik sosial dan per berhubungan satu saingan yang amat sama lain dalam ketat konteks organisasi .

Alasannya adalah karena keefektifan organisasi dapat diwujudkan apabila didukung oleh budaya organisasi yang kuat. .33 organisasi (organizational culture) yang mempengaruhi cara orang-orang bekerja.

fokus perubahan teknologi dilihat dari pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM. B. 1991).Bertitik tolak dari uraian di atas. Sementara itu. Desentralisasi merupakan sa'ah . maka fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikaji dari sisi perbaikan struktur organisasi sekolah. (2) kepemimpinan lokal yang efektif adalah sangat penting. yaitu dengan membentuk Dewan Sekolah dan Paguyuban/Forum Kelas. Manajemen Berbasis Sekolah 1. Munculnya Manajemen Berbasis Sekolah erat kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Dasar pemikiran Dasar pemikiran dari SBM diartikulasikan oleh Carnegie Foundation (Hanson. (1) sentralisasi yang terlalu berlebihan. Pengkajian fokus perubahan tersebut berada dalam kerangka perbaikan manajemen sekolah dan transparansinya serta peningkatan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. dan fokus perubahan individu/manusia dipelajari dan cara-cara yang digunakan kepala sekolah untuk mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi. pengawasan secara birokratik terhadap sekolah-sekolah mesti diakhiri. yaitu. dan (3) tiap sekolah harus diberi kebebasan dan persyaratan yang fleksibel untuk merespons secara kreatif tujuan pendidikannya secara menyeluruh guna memenuhi kebutuhan para siswa. Gerakan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu pengalihan otontas pengambilan keputusan atau mengurangi cara-cara pengambilan keputusan secara terpusat yang sudah menjadi kebiasaan di masa lalu.

pertimbangan administratif menitikberatkan . menurut Nurhadi (2004). Di samping itu. pergeseran wewenang yang begitu r^i: sebagai dampak dari desentralisasi pemerintahan seharusnya diikuti dengan -_eseran paradigma dalam seluruh aspek manajemen pendidikan tingkat -■r--e-. Ada berbagai alasan yang mendorong perlunya desentralisasi pendidikan. " ~ aar.-a peningkatan mutu pendidikan. khususnya di Indonesia sebagai dampak reformasi di segala bidang termasuk pendidikan (Mantja. . (b) politik. maka . Pada satu • desentralisasi pengelolaan pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang —e-gandung ekspektasi. „ entralization is necessary bui not sufficient t o improve the quahty of education.-atian pada efisiensi . Pertama. serta (c) ideologi dan filsafat. yaitu.-a. ada kemungkinan desentralisasi pendidikan -5tru dapat menimbulkan jurang yang makin lebar antara si kaya dan si miskin aar. Penyebabnya adalah karena implementasi desentralisasi masih menimbulkan berbagai kekhawatiran. 2000). I Oleh karena itu. ^-iN-adilan dan ketidak-jujuran jangan-jangan malah lebih sentralisasi (Hamidjojo. (a) _:—istratif. 2002).olahan di daerah yang semula dikelola secara lebih sentralistik sekarang harus e r h didesentralisasikan. Inti dan pendapat tersebut : • —.35 satu isu yang amat populer pada akhir-akhir ini. seperti konsentrasi ■ ek jasaan pada beberapa orang atau golongan seperti pada sistem sentralistik. Melihat berbagai fenomena desentralisasi tersebut. 2000:88).ukakan sebagai benkut. namun di sisi lain desentralisasi belum tentu dapat menjamin . a Nur (2001) menyimpulkan rasional desentralisasi ke dalam tiga aspek.

Kedua. yaitu. secara politis perkembangan zaman menuntut adanya keikutsertaan dan wewenang daerah dalam pengambilan keputusan. fasilitas. (2) kurangnya persaingan antar daerah dalam memajukan pendidikan karena tuntutan nasional yang seragam. dan (7) kurangnya kemandirian lembaga pengelola dan pelaksana pendidikan karena besarnya ketergantungan kepada pemerintah pusat. (5) adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat atas pendanaan. akibat rasa takut melanggar aturan dari pihak atasan. (6) kurangnya kreativitas daerah. (3) tuntutan masyarakat untuk mandiri sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyelenggarakan dan memajukan bidang pendidikan. menurut Soetopo (2004a) terdapat sejumlah faktor yang mendorong desentralisasi di bidang pendidikan di Indonesia. yang jika dipertahankan sistem lama dapat berdampak munculnya kekacauan. dan apalagi dari personel penyelenggara dan pelaksana pendidikan. Terakhir. termasuk bidang manajemen pendidikan. Di samping faktor-faktor di atas.pencapaian tujuan pendidikan dan berupaya menghilangkan a—. secara ideologi dan filsafat munculnya desentralisasi didasarkan atas keyakinan pemberian otonomi yang lebih besar mendorong tercapainya tujuan yang diinginkan baik oleh individu maupun masyarakat. . kurikulum. (4) ketidaksesuaian tuntutan nasional dengan potensi sumber daya di daerah. sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. (1) terjadinya tuntutan reformasi di segala bidang.banan dalam praktek manajemen pendidikan. Sentralisasi telah menimbulkan sikap patuh yang pasif (passive comformity). sekolah. yaitu adanya keterikatan secara kaku terhadap aturan dalam melaksanakan tugas sehingga berkurang sikap inovatif.

4 Keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihidupkan sebagai akar yang kokoh demi tegaknya sistem pendidikan nasional dan negara kesatuan. yaitu: 1. Kualitas pelayanan yang diberikan mestinya dapat menghapus persepsi negatif dari penerapan sistem sentralisasi dalam dunia pendidikan selama ini. Shared Decision . Dalam berbagai literatur. Otonomi pada hakikatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau suatu lembaga atau suatu daerah. ekonomi. istilah-istilah yang digunakan dalam membahas School-Based Management adalah. SARA dan ekses anarcho-ethnocentrism. Manajemen desentralisasi bukan hanya memperhatikan stakeholders tetapi justru berfokus pada peranserta seluruh lapisan masyarakat. Dalam menerapkan desentralisasi harus mampu menghapus segala bentuk diskriminasi politik. karena itu yang diperlukan adalah usaha empowerment. 2. agar desentralisasi pendidikan dapat diterapkan dengan baik diperlukan sejumlah persyaratan krusial yang perlu dipenuhi. Oleh karena itu perlu dibangun mekanisme hubungan kerja antarkomponen strategis di daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas. bukan semata-mata kewibawaan atau kekuasaan pemerintah daerah. sosial budaya. pendidikan. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Terdapat berbagai istilah yang dipakai berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah {School BasedManagement). 3 Pelayanan harus lebih cepat dan efisien. Pola dan asas keija harus demokratis berlandaskan nilai-nilai dasar desentralisasi. 2.37 Menurut Hamidjojo (2000). Pemberdayaan rakyat dalam pendidikan harus menjadi tujuan utama.

penerapan Manajemen Berbasis Sekolah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen pendidikan dan sistem sentralisasi ke desentalisasi. Self-Managmg X hool. Artinya. Responsible Autonomy. Lewis. Dengan demikian. Fernandez & Tornillo. School Empowerment. 1992. dan Administrative Decentralization (Lindquist & Mauriel. dalam Cotton. dampak perubahan pola manajemen tersebut terhadap sekolah adalah. integratif. baik personel sekolah maupun anggota masyarakat. 2003. Decentralized Authority. koordinatif. School-based Governance. 2000). proaktif. School-site Autonomy. (1) sekolah bersifat otonom dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal). Mohrman. Wohlstetter & Associates. (2) personel sekolah dan anggota masyarakat dapat meninggalkan perilaku rutinitas dengan menunjukkan perilaku mandiri. sinkronistis. 2002a). Hanson. Cistone. dan profesional. sinergis. Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekolah dengan melibatkan partisipasi individual. School-based Decision Making. Johnston & Germinario. dan (3) peran sekolah yang . 1989. Si t e-Based Management. sebagian dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional (Depdiknas. fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan propinsi/dinas pendidikan kota/kabupaten. kooperatif. Shared Governance. Lebih lanjut dikemukakan. Cromwell. kreatif. luwes. Caldwell & Spinks.Makmg. Ceperley. 1991. 1994.

student and community residents is created so that site participants can be directly involved in school-wide decision making. 2001:7). 1989:404) menyatakan pula batasan mengenai '•'. 1994:56) mengemukakan definisi Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut: School-based management can be viewed conceptual/y as a formal alteration of governance structures. parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget. committee. personnel. parents. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. as a form ofdecentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvements might be stimulated and sustained.making authority from state and district offices to individual school. teachers. Menurut Office of Educational Research and Improvement (OERI) dari the US Departemen of Education (dalam Sutjipto. Malen. Some formal structure (council. and at times. provide principals. board) often composed of principals. . students. Some formal authority t o make decision in the domains of budget. Selanjutnya.39 selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-din tinggi (self-motlvator). Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tentang Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh para ahli. pengertian Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: A strategy to improve education by transferring significant decision. Hal pokok yang terkandung dalam pendapat di atas adalah.majemen Berbasis Sekolah dari sisi pendelegasian kekuasaan dan keputusan. team. personnel and program is delegated to and often distributed among site-level actors. bahwa sekolah merupakan unit utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan oleh karena itu ekolah harus diberi otoritas dalam pengambilan keputusan. teachers. Marburger dalam Lindquist dan Maunel. and the curriculum.

personel dan program yang didelegasikan dan didistribusikan kepada aktor-aktor di tingkat sekolah. konsep SBM berdasarkan ketiga pendapat tersebut adalah pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada sekolah. and students of the local school. SBM menurut OERI (dalam Sutjipto. guru. yaitu. 2001) merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan dengan cara memberikan otoritas pembuatan keputusan kepada sekolah. Konsep yang terkandung dalam definisi yang dikemukakan Malen. personel sekolah. community members. orang tua dan masyarakat. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. Beberapa otoritas formal pembuatan keputusan yang dimiliki sekolah menyangkut anggaran. . 1989) merupakan desentralisasi struktur organisasi. parents. Terdapat beberapa prinsip yang melekat dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah. Dengan demikian. 1994) tentang SBM sekolah dipandang sebagai unit utama peningkatan mutu. Pada hakikatnya. siswa. Selain itu. Sementara itu. untuk meningkatkan partisipasi personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dibentuk dewan atau komite sekolah yang beranggotakan kepala sekolah. SBM menurut Marburger (dalam Lindquist dan Mauriel. dan masyarakat. Untuk mendukung peran dan posisi tersebut dilakukan pembagian otoritas pengambilan keputusan.:engan pernyataan sebagai berikut: SBM is defined as a decentralized organizational structure in which the power and decisions formerly made by the superintendent and school board are delegated to the teachers. (1) partisipasi dalam pembuatan keputusan dengan dewan sekolah yang melibatkan konstituen sekolah akan menumbuhkan rasa memiliki bagi konstituen itu. di samping mempunyai tanggung jawab yang besar dapat melakukan kontrol yang lebih luas terhadap proses pendidikan di sekolah. orang tua. prmcipal.

Lebih khusus lagi. (Jawa Pos. Penyelesaian permasalahan di atas menuntut adanya perhatian serius dari pemenntah dengan mengkaji secara sistemik berbagai faktor strategis penyebab rendahnya mutu pendidikan.(2) otoritas didelegasikan from the school board to central administration to the school building to the site council. (a) apakah aktualisasi kegiatan pendidikan berpijak pada landasan yuridis dan kebijakan pelaksanaannya?. Bafadal (2003) menyatakan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. Selanjutnya ia memandang bahwa selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. secara kasatmata dapat dilihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengalami krisis yang dalam. yaitu. 2004). dan (b) apakah kegiatan pendidikan dikerjakan atas dasar manajenal dan oleh personel yang memiliki keterampilan manajemen pula?. 2004). telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan terus menerus yang antara lain disebabkan oleh mismanagement. . Permasalahan mutu pendidikan yang masih rendah bukan hanya muncul saat ini saja. dan (3) implementasi sistem pembuatan keputusan terdesentralisasi akan mendatangkan sumber-sumber (076) bahkan Filipina (083). Mantja (2002) melihat persoalan di atas terkait dengan dua pertanyaan mendasar. Keadaan khusus pada jenjang pendidikan dasar. Menurut Sutjipto (2004). terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh lembaga International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan membaca murid Sekolah Dasar Indonesia berada pada urutan ke-38 dan 39 negara yang diteliti (Hadiyanto. melainkan sudah merupakan masalah yang berlangsung cukup lama.

mnovation. politik.6 Selanjutnya. dan (d) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. 2002a). seperti. orang tua siswa. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dihadapkan pada keadaan vang menginginkan status quo dan faktor lain yang menghendaki perubahan. tingkat putus sekolah. 1989). Sebagai proses transisi. tingkat pengulangan. 1987). merancang ulang sekolah. memberdayakan guru. dan melakukan perubahan terencana (Sagala. and money for staff development. sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara pembiayaan secara signifikan (Lindquist & Mauriel. moral guru dan iklim sekolah. 2004). Mohrman.3. berdasarkan berbagai pengamatan dan analisis. Dilihat dari sisi proses kebijakan. implementasi merupakan transisi dan keadaan sosial. seperti kehadiran. (b) pemanfaatan sumber daya lokal menjadi lebih optimal dalam penyelenggaraan sekolah. Implementasi SBM di sekolah mempunyai konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen sekolah dan pola lama ke pola baru (Depdiknas. dan guru. and the development of the organizational infrastructure to support this . (c) keefektifan melakukan pembinaan peserta didik. Perubahan aspek-aspek manajemen sekolah tersebut digambarkan dalam tabel 2. hasil belajar. Otonomi dan kewenangan sekolah yang memadai dapat meningkatkan efektivitas sekolah serta memberikan beberapa keuntungan. mengelola sekolah. dan ekonomi sebelum kebijakan dianut kepada konfigurasi baru yang berbeda (Sutjipto. Wohlstetter dan Associates (1994:50) menyatakan: The transition itself a substancial commitment of time. (a) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa.

new way of functioning. Oleh karena itu. pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah harus dilakukan secara berencana. .

.

(2) imtiating the change. yaitu. or stabihzmg :. "Unfreezing" adalah merubah atau membongkar kebiasaan.► w Pendekatan profesional Desentralistik -----------. "Unfreezing" terjadi . dan tradisi lama -Daya mereka siap untuk menerima alternatif-alternatif baru.► Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi -----------. Dimensi-dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat — --------. (1) unfreezing the system rpreparing it for change.3.► Memfasilitasi -----------Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian ! Organisasi hirarkis Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Ruang gerak luwes -----------.► Pengambilan keputusan . rubahan berencana terjadi melalui tiga tahap. svstem after the change is unplemented (Duncan & Kurt Lewin dalam Sutarto.41 Tabel 2. 2001 191).► Otonomi partisipatif Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko : Gunakan uang semuanya -----------. dan (3) refreeztng.► -----------.

Namun. Hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat. kurikulum dan penilaian (Tim Penulis Direktorat TK/SD. mengingat . Pada suatu ketika akan terjadi situasi individu telah cocok untuk berubah sehingga mereka siap untuk menerima pola-pola perilaku baru. Pusat Kurikulum. contoh lain yang ada di Indonesia adalah hasil analisis Program Ujicoba Pemberdayaan Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar di DKI Jakarta. UNESCO & UNICEF. Selanjutnya. personalia. "Internalization" timbul apabila individu ditempatkan dalam situasi perilaku baru dan mereka dituntut untuk berhasil melakukan tugas itu. Nepal dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. "Refreezing" merupakan proses dimana perilaku yang baru diperoleh telah berintegrasi dengan pola perilaku dan kepribadian individu. Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam hal anggaran. 3. perlu waktu dan keberanian untuk berubah. 2003). yang dilakukan atas keqa sama Lembaga Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dengan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun anggaran 1998/1999 menunjukkan bahwa "pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah masih sangat sulit. Proses "changmg" sebagian besar timbul karena adanya "identification" yang timbul apabila suatu model diterapkan dalam lingkungan organisasi.pabila kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan ditingkatkan atau kekuatankekuatan yang melawan perubahan dikurangi.42 . studi yang dilakukan di El Salvador. Meksiko.

43

selama puluhan tahun manajemen sekolah bersifat sentralistis." (Tilaar, 2002:43). Berdasarkan keadaan tersebut, hal utama yang direkomendasikan oleh Tim Ujicoba untuk diubah adalah manajemen tingkat pejabat atau birokrat, karena seluruh manajer sekolah hingga saat ini masih "sangat patuh" dengan pimpinan, sehingga jika ada hal-hal yang bersifat inovatif mereka sangat takut untuk mengubahnya, karena dipandang tidak sesuai dengan standar baku yang ditetapkan. Di luar negeri, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi telah banyak dilakukan. Mort (dalam Kimbrough dan Burkett, 1990) telah melakukan penelitian tentang proses perubahan terencana di awal tahun 1950-an. Hall dan Hord (1987) meneliti perilaku kepala sekolah dan peningkatan sekolah yang berhasil pada the Reseacrh and Development Center for Teacher Education at the ■uversity ofTexas, Austin. Fokus penelitiannya diarahkan pada Change Facilitator Sty le. Firestone dan Corbett (dalam Cotton, 1992) meneliti "Planned Organizational hange " dengan fokus how the change process should be managed so as to lead to r sitive results. Menurut Cotton (1992), Mutchler juga telah melakukan penelitian tentang "Eight Barriers to Changing Traditional Behavior" Prestin dan Bowen 1993) memfokuskan penelitiannya pada asesmen perubahan di empat sekolah dalam usaha restrukturisasi pendidikan. Hasil penelitian Lewin, Coch, French, Benne dan Chin (dalam Schein, 1980) menunjukkan bukti bahwa salah satu cara terbaik untuk membantu melaksanakan perubahan ialah dengan melibatkan sistem yang terkena angsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak sistem itu berpartisipasi dalam menentukan bagaimana mengelola suatu perubahan, semakin •

44

urang kemungkinannya untuk menentang perubahan itu, dan semakin mantaplah perubahan itu teijadi. Hasil penelitian klasik tentang how resistance to change may be managed\ dikemukakan Robbins (1984:184), yaitu: "There is a strong beliefheld by those people actively engaged in OD that changes are more likely to be accepted by individuals who have been given a voice in determining the content and process of the change". Selanjutnya, Goodlad (dalam Owens, 1991) melakukan penelitian tentang problem of personal and institutional renewal m education. Demikian pula penelitian Fullan, Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD, seperti dilaporkan Owens (1991). Hasilnya menunjukkan proyek OD bersifat parsial, tidak tuntas, aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Di samping itu, penelitian-penelitian yang mengkaji tentang implementasi kebijakan School Based Management juga telah banyak dilakukan di luar negeri. Lindquist dan Mauriel (1989) melakukan penelitian dengan judul School Based Management: doomed to failure?. Data penelitiannya membuktikan, terdapat tiga masalah yang umumnya muncul sebagai hambatan pengembangan SBM, yaitu; (1) kekeliruan konseptual dalam pengembangan SBM, (2) kurangnya motivasi untuk mendelegasikan otoritas ke sekolah-sekolah, dan (3) persyaratan yang berat tentang waktu dan keterampilan yang dituntut dalam implementasi SBM. Temuan lainnya, berdasarkan data ia mengakui bahwa (a) SBM memerlukan suatu perubahan dalam gaya manajemen sekolah, dan (b) tidak adanya dukungan yang kuat oleh pengawas merupakan bukti council's conflict dengan dewan. Selanjutnya, Cotton (1992) telah

45

mereview 42 buah penelitian tentang implementasi SBM. Misalnya, Site-Based ' fanagement: Its Potential for Enhancmg Learner Outcomes yang dilakukan Arterbury dan Hord (1991), School Based Management: Are We Ready? oleh Caldwell dan Wood (1988), dan School BasedManagement/Shared Decision Making in Dade County (Miami) oleh Cistone, Fernandez dan Tornillo (1989). Penelitianpenelitian tersebut lebih memfokuskan pada hakikat dan hasil Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan kepustakaan yang teijangkau, di Indonesia terdapat pula beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Penelitian terkait, antara lain, dilakukan oleh Bafadal (1994). Ia meneliti proses perubahan di sekolah dasar yang difokuskan pada; (1) proses implementasi inovasi pendidikan ditinjau dari pengubahan latar struktural dan tingkah laku, (2) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi inovasi, dan (3) peran agen perubahan dalam proses implementasi inovasi. Aswandi (2001) meneliti Perubahan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta dari Manajemen Keormasan ke Manajemen Profesional, dengan fokus; proses perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Lengkong (2004) meneliti Strategi Perbaikan Sekolah Berdasarkan Perspektif Guru pada tiga SLTP di Minahasa dengan fokus proses perbaikan internal individual guru dan dampak dan proses perbaikan internal guru terhadap perbaikan kineija sekolah. C. Pengembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Uraian berikut ini mencoba mengelaborasi konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berdasarkan kajian teoretis yang

andinan.• an mengenai budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi._i?at tersebut.r-. Supriadi (2004:19) menyatakan bahwa '•'BS pada dasarnya adalah MBS yang secara khusus diarahkan pada upaya r*r.. .^rta masyarakat. (2) metode pembelajaran. Kemudian mencermati apa yang sudah diterapkan pada sekolah-sekolah yang dijadikan f—ra* ujicoba MBS.ngkatan mutu pendidikan (quality-improvement orientedSBM)". (3) partisipasi. Berdasarkan pada pendapat. Hal ini sekaligus merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang dilakukan. dan (3) . Setelah pembahasan ketiga pilar tersebut. 2001). dan transparansi". —.46 sudah dikemukakan sebelumnya. selanjutnya . yaitu apa yang dikembangkan —elakukan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis v r • ah Bafadal (2003:93) menyebutkan aspek yang dikembangkan dalam --_. . dan (c) -. yaitu (1) peningkatan mutu. Ada pertanyaan pokok yang perlu dijawab. i b) metode pembelajaran dengan menerapkan metode PAKEM.h.. -erta masyarakat (Subakir & Sapan. . .emen Berbasis Sekolah ini dengan "empat pilar keberhasilan MPMBS a-a/emen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). (2) • . maka kajian pengembangan organisasi dengan pendekatan .emen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada tiga pilar berikut i i manajemen sekolah dan transparansi. maka ada tiga pilar yang dikembangkan yaitu (a) manajemen : .

Kemandirian sekolah dipengaruhi antara lain oleh sampai sejauh mana kevvenangan yang diberikan dinas pendidikan kepada -ekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Ogawa & Kranz dalam Ogawa & .. Alasannya adalah karena salah satu konsep pokok Manajemen Berbasis Sekolah adalah pelimpahan kewenangan kepada -ekolah dalam pengambilan keputusan (Marburger dalam Lindquist & Mauriel. 1989._ emen Berbasis Sekolah. dalam Lindquist & Mauriel. 1994. Mulyasa. Pengembangan manajemen sekolah dititikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri utama pada keterbukaan atau transparansi (Subakir & Sapari. memiliki kewenangan yang sangat . 1991. 1991. L ndquist & Mauriel. 2003. kepala sekolah perlu melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.kurang melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. 2005). 2001. bahwa selama ini secara institusional sekolah kurang _ ■ --ca. 2001. dan kurang transparan dalam pengelolaan keuangan (Marburger. Oleh karena itu. maka pola pengambilan keputusan ditekankan pada partisipasi personel sekolah dan masyarakat (Malen. Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.. Wohlstetter & Associates. Hanson. Sutjipto. Bafadal. 2002a). 1989. ■ . akan dalam penyelenggaraan pendidikan.47 Manajemen sekolah dan transparansi Ada beberapa argumen perlunya perbaikan atau peningkatan manajemen ah dan transparansi. Subakir & Sapan. Depdiknas. Mohrman. 1989. Supriadi. Hal ini sesuai dengan ide dasar yang melandasi lahirnya . Depdiknas. 2002a. 2001. Kewenangan terbatas yang dimiliki sekolah harus dimanfaatkan secara efektif efisien. 2004). Hanson.

tugas-tugas. 2003. 2004). RAPBS disusun bersama guru. . Transparansi manajemen sekolah dilakukan dengan cara menyampaikan program yang akan dilaksanakan sekolah dan melaporkan hasil pelaksanaan/evaluasinya.olah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dimulai dari penyusunan encana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).iluasi program sekolah. 2003. Direktorat TK/SD.' anisme keija.48 White. Subakir dan Sapari (2001) menyatakan: Kepala sekolah sebagai pemimpin puncak di sekolah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan transparansi manajemen keuangan. dan masyarakat. 2004). UNESCO & UNICEF. Pembentukan struktur tersebut diikuti dengan perubahan tugas-tugas dan mekanisme keija antara sekolah dan Komite Sekolah. maka pengembangan manajemen sekolah : akukan dengan cara merubah struktur organisasi. pengurus BP3. dan . . 2002a. dan prosedur atau . Untuk mewujudkan hal di atas. Supriadi. 2002a. 2001. Sagala. Kesemuanya itu diawali dengan perubahan struktur organisasi Komite Sekolah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. 2003. Berkenaan dengan hal ini. Bahkan banyak SD yang memberikan kepercayaan sepenuhnya masalah keuangan BP3 kepada bendahara BP3 yang berasal dari 'orang luar' (baca: bukan guru). Hasilnya dipajang di tempat terbuka dan dengan mudah dibaca oleh siapapun. Depdiknas. pelaksanaan. termasuk masalah keuangan. 1994. Penyelenggaraan manajemen sekolah yang memiliki ciri keterbukaan atau transparansi merupakan salah satu ciri dari sekolah yang melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (Subakir & Sapan. Puskur. Bafadal. Pelibatan personel r -. Depdiknas. Nurkolis.

sekolah telah melakukan perubahan dengan mewujudkan transparansi manajemen sekolah terutama menyangkut keuangan -ekolah. efektif. Perubahan teknologi dalam kerangka pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan dengan cara penerapan metode pembelajaran aktif. kreatif. Berdasarkan . 2. Pembaruan metode rembelajaran menjadi bagian dari pembaruan sistem yang merupakan salah satu ciri rengembangan organisasi (Owens. 2005). 2002a). menggunakan dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan. karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar (Mulyasa. dan menyenangkan (PAKEM). Dengan demikian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. yaitu _danya usaha sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa (Depdiknas. Istilah teknologi mempunyai banyak arti. baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi keduanya sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif. Hal ini sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas sekolah kepada masyarakat. Pembaruan metode pembelajaran Salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi berkaitan dengan teknologi.49 Pendapat di atas mempunyai arti bahwa dalam pengembangan organisasi dengan Manajemen Berbasis sekolah. Hal tersebut sesuai pula dengan • .rakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada aspek proses belajar mengajar. pengertian teknologi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: Metode bersistem untuk merencanakan. 1991). upaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Selanjutnya. UNESCO & UNICEF.50 uraian tersebut. dikemukakan bahwa pengenalan. 2003). dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan asumsi semuanya itu akan dapat memperbaiki mutu/hasil lulusan (Direktorat TK/SD. Puskur. Pembaruan metode pembelajaran tersebut mempunyai konsekuensi terhadap perubahan tugas-tugas guru dalam mengelola pembelajaran mulai dan . maka dapat dikatakan bahwa pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM merupakan bagian dari kerangkan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. pengembangan.

Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terjadi bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah. maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terwujud. evaluasi dan akuntabilitas. peranserta warga sekolah. antara lain. pengambilan keputusan. Pertama. 2002a. Tim Penulis Direktorat TK & SD. Sampai saat ini. Dampak dari manajemen yang sentralistik tersebut dikemukakan Bafadal (2003:37) sebagai berikut: Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan. Ketiga. Pusat Kurikulum. di mana kepala sekolah. Sementara itu. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses pendidikan. Kedua. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru. pemantauan. juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. guru kelas. UNESCO & UNICEF. pengadaan buku dan alat pelajaran.5 merata (Depdiknas. khususnya orangtua siswa. dan perbaikan sarana prasarana pendidikan telah dilakukan. orang tua siswa. dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function. karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. . komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan programprogram peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. khususnya guru. dan peranserta masyarakat. upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan kelihatan masih terfokus pada faktor pertama (menggunakan pendekatan education production function). 2003). upaya-upaya untuk mengatasi faktor penyebab kedua dan ketiga tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah selama ini.

Puskur. Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Diknas RI (dalam > _r« hclis. UNESCO & UNICEF (2003) ada tujuh kemampuan guru yang diperlukan untuk mendukung penerapan PAKEM. (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. 2003). melaksanakan dan mengevaluasinya. Menurut Direktorat TK/SD. Implikasi dari semua itu adalah diperlukan kesiapan guru menerima pembaruan dan kesiapan pengetahuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan program pembaruan itu dalam bentuk tindakan nyata di kelas. 1 28) Selama ini. (a) merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang mendorong beragam siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. (d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. yaitu kemampuan. sekolah dan guru. "Peranserta masyarakat merupakan salah satu aspek >_ -. dan (g) menilai kegiatan belajar mengajar dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. Peningkatan peranserta masyarakat Pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah. 2003) menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian guru tingkat partisipasi orang tua siswa dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah masih rendah (rata-rata . (b) menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam.: ig dalam Manajemen Berbasis Sekolah" (Subakir & Sapari. iang masih rendah. tetapi juga ~enjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat (Direktorat TK/SD. (f) mengaitkan kegiatan belajar mengajar dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.50 merencanakan. peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan . ^ESCO & UNICEF. (e) menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Mulyasa. 2001:13. 3. Puskur.

dan evaluasi program pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan < ~ e vekolah/Madrasah. pembayaran dan bentuk iyuran BPS per bulan dan sumbangan uang gedung untuk siswa baru. Sebagai acuan yang dirujuk untuk peningkatan r». yang .51 57. pertemuan rutin. mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah.-i'akatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan : : • an. ~:uk meningkatkan peranserta masyarakat dilakukan perubahan organisasi yang mewadahinya. . pertemuan BP3.1%) dan sangat rendah dalam hal menentukan kebijakan program sekolah dan mengawasinya. kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan iklim sekolah. dalam pasal 56 dinyatakan bahwa masyarakat berperan _ . .r-eringkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan. >erta masyarakat tersebut.Selanjutnya.-genai bentuk partisipasi dan tugas oprasional organisasi yang mewadahi ->. peranserta masyarakat adalah penting. -angan. pengusaha. Oleh karena itu. askan bahwa peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta . Sehubungan dengan itu. peranserta masyarakat merupakan salah satu pilar dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. pemerintah perlu merumuskan secara jelas — . Partisipasi orang tua siswa yang sangat tinggi ialah dalam mengawasi mutu sekolah. . 2003). keluarga. Pada satu sisi. organisasi profesi. dan masyarakat M -Kasa. -anserta masyarakat adalah pasal 54 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. kelompok. dan organisasi k . orang tua. Perubahan tersebut dilakukan dengan cara membubarkan .asan. namun di sisi lain •esarnva partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut.

<umptions. . Budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi Robbins (1984:171) berpendapat "organizationa/ culture is a perception. sarana dan prasarana.52 organisasi BP3 dan membentuk organisasi baru yang disebut Komite Sekolah.2. Persoalannya adalah apakah perubahan struktur dan tugas-tugas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. perubahan struktur organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat telah diikuti dengan perubahan tugas-tugas yang akan dijalankan oleh Komite Sekolah. 4. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. 1991:171). Berdasarkan hal tersebut. perspektif . and beliefs of an organization' (Owens. shared values. each occurring at different levels ofdepth and abstraction ". Dalam pasal 56 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri. Budaya sebagai norma-norma bersama. Secara konkrit. and basic ■ umptions. arahan dan dukungan tenaga. Pembicaraan mengenai budaya berkaitan dengan "the behavioral norms. individundividu dengan latar belakang yang berbeda atau tingkatan yang berbeda dalam rganisasi cenderung menjelaskan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang sama. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. Tingkatan -daya organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar 2. not m the individual.. bui :f exis(s m the organization.ini berarti. Hoy dan Miskel (I 01:177) menyatakan "culture is manifested in norms.

mengenai budaya muncul ketika norma-norma perilaku digunakan sebagai elemen dasar budaya (lihat gambar 6. 2001:177). N orma-norma itu more visible daripada values dan tacit assumptions\ dengan :emikian mereka memberikan cara-cara yang jelas untuk membantu manusia memahami aspek-aspek kehidupan organisasi. apabila kita mempunyai perhatian terhadap perubahan perilaku organisasi. Norma-norma secara langsung mempengaruhi perilaku. maka penting untuk -.e_getahui dan memahami norma-norma budaya itu. Norma-norma biasanya tidak tertulis (unwritten) dan -erupa harapan informal.1).53 Gambar 2. Oleh karena itu.2. Tingkatan Budaya (Hoy & Miskel. .

Pola dapat diidentifikasikan dengan cara menarik kesimpulan dari perilaku individu atau kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. -ealitas. 2001:178). Budaya tersusun dari penlaku. Pola dalam konteks ini berarti struktur atau susunan yang ada di balik perilaku.Budaya sebagai nilai-nilai bersama. Budaya sebagai tacit assumptions Pada level yang paling dalam. -daya didefinisikan sebagai shared va/ues. hakekat manusia. Pada tingkat abstraksi menengah. Nilai-nilai merupakan konsepsi dan apa -ng diinginkan. pola perilaku harus dipahami dan diinterpretasikan dan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan anggota kelompok dalam latar budayanya. dan lingkungan. Tacit assumptions merupakan -remis yang abstrak mengenai hubungan manusia. Oleh karena itu. 5. N lai senng didefinisikan "what members should do to be successful in the •v. karena itu dapat dikatakan bahwa budaya merupakan perilaku yang terpola (Ritzer. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Upaya pengembangan organisasi sekolah untuk meningkatkan mutu . Nilai-nilai merefleksikan asumsi-asumsi yang mendasari budaya. "dalam mempelajari perilaku manusia diperlukan penelitian mendalam sampai ke inner behavior secara holistik. budaya —. kebenaran.imzation" (Hoy & Miskel. 1985).erupakan manifestasi kolektif dari taat assumptions. dan bertolak dari sudut pandang pelakunya" (Faisal. 1990:13). Dengan perkataan lain. Nilai-nilai bersama merupakan karakter dasar dan organisasi dan memberikan organisasi memiliki suatu indentitas. Pola dapat dilihat secara langsung {tangible) atau tersembunyi i intangible).

(1) membiarkan adanya rasa puas diri yang terlalu banyak. " Berkenaan dengan hal ini pula." Selanjutnya. seperti halnya Manajemen Berbasis Sekolah. Perubahan yang dilakukan mestinya berjalan secara berkelanjutan (sustainability) sehingga peningkatan mutu (quahty improvement) yang menjadi tujuan perubahan itu dapat diwujudkan. (7) terlalu cepat menyatakan keberhasilan. Menurut Buchanan dan Huczynski (2004:617) resistensi adalah "an mability or an umvillingness to discuss or to accept change thal are perceived to be damagmg or threatening to the individual'. yaitu. Kotter (1996) menjawab pertanyaan mengapa organisasi gagal melakukan perubahan dengan mengidentifikasi delapan kesalahan. baik atas dasar inisiatif lembaga sendiri maupun dengan cara mengadopsi suatu bentuk kebijakan baru di sekolah. (3) meremehkan kekuatan visi. (6) gagal menciptakan keuntungan jangka pendek. Namun dalam kenyataannya. Selanjutnya. Ginnett dan Curphy (2002: 395) menyatakan: "Everybody resists change. (5) membiarkan hambatan-hambatan menghalangi visi baru. Robbins (1996) menyatakan salah satu penemuan yang paling baik berdasarkan penelaahan mengenai perilaku tndividu dan organisasi adalah bahwa organisasi dan anggotanya enggan terhadap atau menolak . particularly those who have to change the most.pendidikan telah sering dilakukan. (2) gagal menciptakan koalisi pengarah yang cukup kuat. penyebab kegagalan pengembangan organisasi adalah karena adanya keenganan atau resistensi terhadap program pembaruan yang dikembangkan. dan (8) lalai menanamkan perubahan secara kokoh ke dalam kultur lembaga. (4) mengkomunikasikan visi dengan buruk. Hughes. pengembangan organisasi sekolah tidak terjadi dengan mudah.

Uraian lengkap dari kedua faktor penghalang tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Hanson. individu-individu memerlukan tambahan pengetahuan terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. 2002). Pada tingkat pribadi. (a) level organisasi. kecuali apabila perubahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan kepada mereka. Sementara itu. 2000.4. Individu dan kelompok cemas bahwa suatu perubahan mungkin berpengaruh terhadap kepentingan mereka. Winardi. Robbins. anggota organisasi menolak pengenalan metode baru karena mereka merasa aman dalam kondisi yang ada dan takut bahwa perubahan yang diperkenalkan merusak hubungan antar pribadi yang ada yang sudah beijalan cukup . 1991. mereka akan menciptakan hambatan yang signifikan (significcmt barriers) untuk menghalangi perubahan. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor individu dan organisasi. yaitu. Siagian. Keengganan atau penolakan terhadap perubahan dalam pengembangan organisasi dapat bersumber dari organisasi itu sendiri maupun dari individu sebagai anggota organisasi (Steers. Dalam bentuk pernyataan lain. Jones (2004) menyatakan resistensi terhadap perubahan dalam organisasi terdapat pada tiga level. Anggota organisasi ingin mengetahui bagaimana perbedaan pekerjaan yang ditetapkan akan mempengaruhi mereka. Akibatnya. Hal itu c sebabkan karena people dislike uncertainty. Griffin & Moorhead. 1977. 1996. dan (c) level individual.perubahan. Robbins (1984) mengemukakan bahwa osaha-usaha untuk menghasilkan perubahan akan sering meghadapi resistensi. Steers (1977) menyebut resistensi sebagai faktor penghalang perubahan dalam organisasi. bahkan perubahan meningkatkan •etidakpastian. (b) level kelompok. 1986. Konsekuensinya.

Ini berarti resistensi terhadap perubahan terutama disebabkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan dan karena orang lebih menyukai sesuatu .lama.

. Kekhawatiran bahwa perubahan akan mengacau imbangan kekuatan yang ada saat itu antara kelompok serta bagian 5. Faktor Penghalang Perubahan dari Aspek Pribadi dan Organisasi Faktor dari Pribadi Faktor dari Organisasi 2 j 4. 10 . rasa terjamin.adi karena sebagian anggota organisasi tidak memahami sepenuhnya alasan suatu . Sistem imbalan dapat memperkuat status quo 2. Biaya yang sudah tertanam dalam keputusan dan kegiatan yang lalu 4. Riwayat usaha perubahan yang tidak berhasil serta konsekuensinya di masa lalu 8. Iklim organisasi yang sedang berlaku 6. Kekakuan struktur sosial yang ada 11. Di samping itu. 7. Persaingan atau konflik antar bagian yang berakibat timbulnya keengganan bekerja sama 3. 9.. Konflik antara sasaran pribadi dan sasaran organisasi a' g sudah dikenal daripada yang masih asing baginya. dan kekuasaan sebagai akibat perubahan Kekhawatiran terhadap segala yang terasa asmg Kurang identifikasi atau keterlibatan dengan perubahan Kebiasaan Kepentingan menjaga status quo (karena keuntungankeuntungan tertentu) Norma kelompok dan kemantapan peranan Ancaman terhadap hubungan 1.--paya untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan resistensi dengan maksud berpartisipasi dalam implementasi program yang dikembangkan. "u~ahan atau pengaruh positif perubahan terhadap organisasi sehingga mereka akan . resistensi ■: .58 Tabel 2. 6. 8. mekanisme atau konsekuensi perubahan Kegagalan melihat kebutuhan akan perubahan Kekhawatiran kehilangan status. Kesalahan pemilihan metode memperkenalkan perubahan 7.4. Salah paham mengenal tujuan. 5.

Adanya kecenderungan orang untuk menolak setiap perubahan yang dilakukan __ pengembangan organisasi merupakan hal yang manusiawi (Siagian.^rcayaan para anggota organisasi terhadap keberhasilan setiap usaha baru lenyap. yaitu. (3) cara yang tidak didasarkan kepada landasan yang kuat..-. h karena itu. bahwa penolakan individual : erabkan. (3) . 1994). 5 pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat informasi yang kuat.~g Para pimpinan organisasi mungkin menganggap dirinya terikat pada • . Misalnya. (2) penolakan terhadap rem bahan.a perubahan yang sebelumnya salah kaprah dan tidak berhasil mengakibatkan • . ?utusan dan tindakan-tindakan yang lalu karena sebelumnya sudah diadakan . . (4) takut gagal.e-. (2) belajar tugas yang baru. menurut Siagian. (1) takut karena tidak mengetahui.estasi besar (sunk cost) untuk suatu produk atau teknologi tertentu. struktur imbalan yang erdapat dalam organisasi mungkin dirancang untuk menguntungkan perilaku yang ia Selain itu.ghadapi beberapa masalah. Bahkan usaha- a. perubahan dalam pengembangan organisasi akan . (1) rasa takut.59 Sifat dan karakter organisasi itu sendiri juga dapat mempengaruhi sejauh mana '•. -agai pesaing mereka. : • emukakan oleh Gitosudarmo dan Sudita (2000).-jbahan dapat diterima dalam organisasi. jika bagian-bagian dalam organisasi memandang satu sama lain . Alasan ~ e~gapa orang menolak program perubahan dalam pengembangan organisasi. hal ini dapat merongrong usaha bersama yang menuju pada -ubahan karena takut perubahan itu akan melanggar wilayah mereka masing. aar.

i. Sementara _ penolakan yang bersumber dan organisasi terdiri dan. (1) ancaman terhadap maktur kekuasaan. a perubahan dan kepentingan pribadi. (3) sistem hubungan. (2) struktur organisasi yang stabil.60 .rmsak kestabilan interaksi. dan (4) . dan (4) ketidakpercayaan pada manajemen. .

Robbins. 1996. Gitosudarmo & Sudita. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk menghadapi resistensi terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. . Perlu diingat bahwa cara implementasi perubahan sama pentingnya dengan perubahan itu sendiri. Kotter & Schlesinger dalam Stoner. pimpinan harus mampu menilai dengan tepat sifat dan -ebutuhan akan pembaruan. Metode yang dapat dipakai untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan adalah. Pendidikan bagi seseorang dapat menambah pemahaman dan pengetahuan serta meningkatkan kemampuan yang mendukung implementasi perubahan. 2000). Dengan demikian. Pendidikan dan komunikasi merupakan salah satu cara yang dapat dipakai pimpinan untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan. (d) negosiasi dan perjanjian. 1982. (a) pendidikan dan komunikasi.6. Hasil analisis ini dijadikan landasan implementasi program pembaruan dengan mempelajari dan menangani berbagai sumber penghalang >ang mungkin timbul. adanya kesalahan informasi yang mungkin diterima oleh anggota organisasi dapat diatasi melalui komunikasi. (b) partisipasi dan keterlibatan. (c) fasilitasi dan dukungan. Berdasarkan hal tersebut. pimpinan organisasi perlu memilih metode yang tepat untuk digunakan sehingga pengembangan organisasi dapat terlaksana sesuai dengan yang diinginkan. Begitu pula melalui komunikasi dapat disampaikan informasi penting kepada anggota organisasi sehingga mereka dapat memahami secara tepat mengenai alasan pentingnya suatu perubahan dilakukan. (e) manipulasi dan kooptasi. 1986. dan (f) paksaan eksplisit dan implisit (Griffin & Moorhead.

sehingga perubahan manajemen pemerintahan tentu berakibat pula pada penataan manajemen pendidikan (Mantja.Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kedua faktor terakhir tersebut tidak dapat dipertahankan setelah terjadi gelombang reformasi. 2000). Alasan umum desentralisasi adalah bahwa dalam pembangunan bangsa terjadi perubahan wawasan dari top-down menjadi bottom-up (Tilaar. Kalaupun ada. wewenang yang diberikan amat terbatas. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. Berdasarkan hal yang sudah dikemukakan di atas. Akibatnya ada kecenderungan kebijakan pendidikan yang diambil pemerintah pusat kurang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat daerah yang semestinya market-driven education. Lahirnya kedua Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi. Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi ke daerah sehingga dikeluarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Pendapatan Antara Pusat dan Daerah. 2002). Perubahan kedua undang-undang tersebut dituangkan dalam UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU RI No. maka perlu dilakukan Selain pendidikan dan komunikasi. Namun. serta terdapat berbagai kesulitan dalam mengimplementasikan keputusan (Hamidjojo. tidak jarang pimpinan organisasi . 2000). -ggunakan pula partisipasi dan keterlibatan sebagai cara untuk mengatasi rengganan . sentralisasi pendidikan menimbulkan kesan kurang melibatkan institusi pendidikan dan masyarakat di daerah.

Sering ditemui kegagalan ~r ementasi suatu perubahan disebabkan kurangnya fasilitas dan dukungan. misalnya. maka orang tersebut . untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan pimpinan harus mampu .. .aa seberapa orang anggota organisasi atau orang-orang tertentu yang dianggap . Jika orang dilibatkan __ am proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Konsekuensinya. Sudah barang e-. -idap perubahan.-o nya.n: ng menyangkut implementasi perubahan dalam organisasi.mk lain. Selanjutnya. Metode ketiga adalah fasilitasi dan dukungan. Negosiasi dan perjanjian juga dapat dilakukan untuk mengatasi keengganan . sementara mereka idapkan pada tugas yang tidak ringan.:j proses pengambilan keputusan itu dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat.rmpunyai peran kunci. dalam negosiasi dan ■:~anjian pimpinan boleh saja menawarkan insentif tambahan atau reward dalam r«r-.. ~Jerung menerima dan mau menjalankan keputusan yang diambil. Cara ini dipakai apabila keengganan terhadap perubahan berada . Oleh ■ arena itu. cara ini juga ditujukan untuk mengatasi .-remasan individu atas hilang atau berkurangnya insentif keija. sehingga individu tetap mempunyai komitmen untuk melakukan . pada fase --.rercanaan suatu kegiatan atau dalam proses pengambilan keputusan-keputusan -.-fasilitasi dan mendukung upaya perubahan yang dilakukan dengan cara. melengkapi fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan anggota rgansiasi dalam melaksanakan tugas-tugas baru.terhadap perubahan. Cara ini digunakan.

.

apakah cara ini tetap tidak boleh digunakan? Jawabannya. Terakhir adalah paksaan. Sedangkan kooptasi merupakan upaya untuk mempengaruhi pimpinan kelompok yang menolak perubahan dengan cara memberikan peran utama kepada mereka. maka bukan tidak mungkin pimpinan akan menggunakan cara paksaan. manipulasi adalah memutarbalikkan fakta untuk membuat fakta itu tampak lebih menarik. Apabila perubahan sudah merupakan suatu keputusan organisasi yang harus dijalankan. Oleh sebab itu.61 perubahan dalam organisasi. Keengganan terhadap perubahan juga dapat diatasi dengan cara manipulasi dan kooptasi. Menurut Robbins (1996). apabila cara lain tidak lagi efektif. jika ditemui beberapa orang individu masih menolak perubahan. Apabila kondisi ini gagal diciptakan. maka pimpinan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk merealisasikan keputusan itu. Apapun alasannya. sebelum menggunakan cara paksaan tersebut perlu dijawab lebih dulu pertanyaan yaitu apakah cara-cara lain sudah digunakan secara optimal? Penggunaan berbagai metode di atas harus didasarkan atas pemahaman situasi yang ada. dan menciptakan desas-desus palsu agar anggota organisasi menerima baik suatu perubahan. sebab kesalahan memahami situasi dapat menyebabkan kekeliruan yang . Manipulasi perlu dilakukan secara hati-hati sehingga maksud yang sesungguhnya dari pimpinan tidak dapat dibaca oleh anggota organisasi. Namun. bukan tidak mungkin manipulasi akan menimbulkan ketidakpercayaan lebih tinggi di kalangan anggota organisasi. paksaan tetap dipandang tidak baik. menahan informasi yang tidak diinginkan.

Oleh karena itu. Para teoretisi mengemukakan berbagai pendapat mengenai hal ini. Artinya. masyarakat dan sekolah itu sendiri. kekuatan dalam diri orang itu sendiri. analisis yang tepat mengenai sumber penolakan atau keengganan terhadap pengembangan organisasi adalah amat penting sebelum suatu metode untuk mengatasi keengganan tersebut digunakan. antara lain ketulusan pemerintah. 7. Tyson dan Jackson (1992) menyatakan kesiapan untuk berubah dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berbeda. Pertama.62 pemilihan metode. Faktor pendorong pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Selain ada resistensi. keberhasilan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor pendorong. Intinya adalah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kesiapan pelaksana ditentukan oleh para pelaku. 2005). implementasi program pengembangan organisasi memerlukan kesiapan untuk meneriman dan melaksanakan perubahan. serta kesadaran . Di samping itu. Terkait pula dengan faktor pendorong terjadinya perubahan dalam pengembangan organisasi. aparat daerah. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kesiapan ini juga menyangkut kemampuan dalam mengajukan argumentasi dan rasionalisasi dari berbagai sudut pandang untuk mendukung pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. implementasi program yang dikembangkan tidak akan terwujud tanpa adanya faktor-faktor pendorong dimaksud. yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dasar. Faktor pendorong yang utama berkaitan kesiapan pelaksana sistem baru tersebut (Mulyasa.

motivasi. dan keahlian untuk mengimplementasikan kebijakan baru. dan kepercayaan yang mendasari respons pelaksana kebijakan. Sementara itu. . loca/ capacity dan wi/I (Duke & Canady.egagalan dalam organisasi.diri. 2005). namun menumbuhkan kemauan untuk menyikapi implementasi merupakan suatu peristiwa yang mendapat tantangan besar. Faktor ■ iua adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada sistem yang meliputi budaya dan k:im organisasi. Selanjurnya. Berkenaan dengan itu pula. Dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. yaitu. 2001). Local capacity meliputi sumber-sumber. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa tingkat motivasi dan yang paling pokok adalah harga diri berperan penting dalam kesiapan untuk berubah. kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran (Subakir & Sapari. Will mencakup aspek sikap. 1991). Duke dan Canady (1991) menjelaskan pula bahwa membangun kapasitas lokal untuk implementasi kebijakan dapat menjadi sebuah tantangan karena sumber-sumber yang ada sering terbatas dan pelatihan selalu menghabiskan waktu. Karena kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (Mulyasa. menurut McLaughlin keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh dua faktor. baik fiskal dan material. dan konsekuensi yang dirasakan terhadap keberhasilan serta . menurut Nurkolis (2003) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan proses pengambilan keputusan yang demokratis sebagai faktor pendorong keberhasilan implementasi program-program yang dikembangkan dalam Manajemen Berbasis Sekolah. kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor pendorong yang termasuk ke dalam kekuatan -istem yang ada.

dan Randall (2004:85) mencatat hasil temuan penelitian . Dalam kedua kasus ini. menurut Duke dan Canady kepemimpinan dapat menjadi penting. Fusarelli. Odden dalam Cooper.Kemauan sepertinya tidak bisa dipengaruhi oleh ancaman dan direktif.

Saran pertama ■er^enaan dengan komitmen (commitment). hal itu diasosiasikan dengan visi dan misi. a tu (1) manajemen sekolah dan transparansi. Kapasitas ubungan dengan energi manusia. . dan ._ran kedua adalah local capacity untuk implementasi kebijakan. Komitmen kadang-kadang dapat mengikuti implementasi. (2) pembaruan metode pembelajaran. Bilamana energi bukan merupakan sumber yang aa^-at mendukung implementasi. maka dapat d mpulkan bahwa konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan tiga pilar MBS. Research showed not only that most local educators did not want to imp/ement such programs (the wi/l was not there). Office of Education.65 terdahulu: "showed that there was a lack of both capacity and will at all levels of government the U. Bertitik tolak dan kajian teori yang sudah dikemukakan di atas. Saran r Ahir berasal dari kesimpulan McLaughlin bahwapolicy impiementation depends n j balance of support and pressure. Relevan dengan konteks pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. bui also that they did not know how t o implement t hem (the capacity was not there)". banyak cara bagi pembuat kebijakan untuk mencari :_kungan terhadap kebijakan baru sebelum diimplementasikan..S. . local district offices and local schools—to develop and imp/ement newly created government a! programs. state departments of education. Cara tersebut adalah dengan melibatkan pelaksana kebijakan dalam pembuatan kebijakan dan -embangkitkan semangat kepemimpinan.. Duke dan Canady (1991) mengemukakan beberapa -aran agar kebijakan secara aktual dapat diimplementasikan. pembuat kebijakan harus hati-hati sehingga tidak membuat kebijakan melebihi kemampuan staf yang mengimplementasikannya.

Untuk mewujudkan pengembangan ketiga pilar tersebut. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berhadapan dengan munculnya resistensi karena terjadi transisi dari status quo menuju pada perubahan yang diinginkan. teknologi. Selain mengkaji pengembangan ketiga pilar tersebut. kerangka berpikir penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikemukakan dalam gambar 2.3. Selanjutnya. Karena. budaya merupakan sasaran dan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. cara mengatasi resistensi dan faktor pendorong dalam pengembangan organisasi) merupakan hal-hal yang turut dikaji dalam penelitian ini. dilakukan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan struktur. . Dengan demikian. tugas. kesemua aspek tersebut (resistensi. gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi juga dilihat dari aspek budaya sekolah. keberhasilan implementasi program yang dikembangkan dalam pengembangan organisasi ditentukan pula oleh sejumlah faktor pendorong. Selain itu. Pengembangan ketiga aspek tersebut dijadikan acuan dari fokus penelitian yang melihat gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Sebagai ilustrasi.(3) peranserta masyarakat. Resistensi yang muncul harus diatasi dengan cara-cara yang efektif sehingga keberhasilan pengembangan organisasi dapat terwujud. dan individu sebagai pelaksana.

I.D A Y \ S KK O L A H KEEFEKTIF AN SEKOLAH PROGRAM PERUBAHAN DAN IMPLEMENTASINYA I FAKTOR ENDORONG RESISTENSI . TEKNOLOGI DAN INDIVIDU PERANSERT A MASYARAK AT METODE PEMBELAJAR AN i. TUGAS.B MANAJEMEN SEKOLAH PENGEMBAN GAN ORGANISASI DENGAN PENDEKATA N MBS ______ 4 ____ PERUBAHAN STRUKTUR.

II Ml N IH KUASI' M K< 'l Ml .CARA Ml N(iATASI Oambui ' * K E R A N G K A H l K I ' I K I K l ' l N l I I I I A N 1 * 1 N G I MHANGAN < )!<( i ANI' -ASI DI NGAN l'l NDI i Al AN MANA.

(d) teknik pengumpulan data. Bogdan & Biklen. (2) SD Negeri Cermat. (b) kehadiran peneliti.sekolah dari daerah lain dengan tujuan untuk mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Tujuan penelitian kualitatif dengan jenis multi situs lebih berorientasi pada pengembangan teori. 1984. ketiga latar itu juga sering dan banyak dikunjungi oleh sekolah. Dengan 69 . (e) teknik analisis data. 1998). alasan utama penggunaan rancangan multisitus karena ketiga latar memiliki karakteristik yang sama. A. Selain itu. Rancangan Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan.BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) rancangan penelitian. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan multisitus (Yin. (c) sumber data dan informan. yaitu: 1 Ketiga situs penelitian ini. 2 Dewan Sekolah sebagai organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat pada ketiga latar penelitian ini juga menunjukkan keaktifan yang cukup tinggi dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (f) pemeriksaan keabsahan data. dan (g) tahap-tahap penelitian. yaitu (1) SD Negeri Cerdas. Berdasarkan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. dan (3) SD Negeri Mandiri Kota Cendekia telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003.

Kesamaan karakteristik lainnya dari latar penelitian ini. Letak sekolah ini -ikup strategis. 5 Selain mempertimbangkan kesamaan karakteristik ketiga latar tersebut yang juga didukung oleh hasil observasi awal. ketiganya berstatus sekolah negeri sehingga pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengikuti pola yang sama pula. dengan demikian untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan iKiitan kota. maka pihak dinas pendidikan merekomendasikan ketiga SD Negeri tersebut di atas untuk dijadikan lokasi penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 4. SD Negeri Cerdas terletak di perkampungan penduduk. SD ini terletak di pinggir jalan raya.demikian. Pada ketiga latar penelitian ini juga sudah dibentuk organisasi yang mewadahi peranserta wali murid di masing-masing kelas yang disebut dengan Paguyuban/ Forum Kelas. maka untuk lebih melengkapi informasi diminta pertimbangan kepada pihak dinas pendidikan mengenai sekolah-sekolah yang benar-benar sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. diasumsikan pemilihan ketiga latar tersebut dapat memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 3. sehingga pihak sekolah ~ien jgaskan seorang satpam untuk membantu setiap murid yang akan menyeberang . Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 28 September 2004.

Kepala sekolah menyebutkan satu per satu instansi atau sekolah yang pernah mengunjungi SD ini. Dengan mempedomani Buku Tamu. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. Sebagai pusat ujicoba. Selain itu. pidato. seperti lomba paduan suara. Nilai UPM (Ujian Pengendalian Mutu) tertinggi dari lulusan SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 adalah 46. SD ini juga banyak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. pada tanggal 1 Februari 2005 dicari informasi ke SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat terletak pada lokasi yang cukup strategis. dalam arti mudah dijangkau. dengan demikian masyarakatnya agak heterogen. Walaupun masyarakatnya agak heterogen. SD Negeri Cermat ini terletak di dalam kompleks perumnas. sekolah ini juga mendapat Juara III siswa teladan Kota Cendekia pada tahun 2003 (Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 8 Oktober 2004). Untuk mengetahui lebih rinci instansi atau sekolah yang pernah berkunjung ke sekolah ini. Di . Maksudnya.iran plang nama dan dinding sekolah bagian depan tertulis: Sekolah Dasar MBS. di dinding sekolah tersebut tampak tulisan: Sekolah Dasar MBS. Pada saat memasuki lokasi sekolah.sekolah dari daerah atau propinsi lain yang ingin mempelajari penerapan Manejemen Berbasis Sekolah. sekolah ini sering dikunjungi oleh instansi atau sekolah. Di samping berprestasi di bidang akademik.20. masyarakat yang bertempat tinggal di perumnas ada yang berasal dan luar daerah setempat.71 in baik pada saat datang ke sekolah maupun pada waktu pulang ke rumah. dan tertib shalat. namun mereka tetap menjunjung tinggi .

Seperti halnya SD Negeri Cerdas. sebagai tempat ujicoba Manajemen Berbasis Sekolah. Hasil penelitian Fullan.nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong terutama dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. UNESCO & UNICEF. Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD. Pusat Kurikulum. perlu dilakukan pengembangan organisasi (orgamzational development) dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi (orgamzational development) menghadapi tantangan tidak ringan terutama menyangkut implementasi program-program yang dikembangkan menuju perubahan yang diinginkan. menunjukkan OD bersifat parsial. Hal tersebut berarti bahwa sesungguhnya pemberian otonomi kepada sekolah bukan merupakan sesuatu yang baru. 2003). aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. 2002). namun kadang kala implementasi kebijakan itu tidak dilakukan secara berkelanjutan (unsustainahly) di sekolah. Secara implisit hai . namun barangkali lingkupnya diperluas. SD Negen Cermat juga senng dikunjungi oleh instansi atau sekolahreorientasi penyelenggaraan pendidikan guna memberikan otonomi ke tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) (Tim Penulis Direktorat TK & SD. Otonomi sebagai wujud desentralisasi sebenarnya telah dilakukan sejak dulu walaupun tidak sepenuhnya sempurna (Mantja. Oleh karena itu. seperti dilaporkan Owens (1991). Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. tidak tuntas.

Selanjutnya. Perubahan sering diartikan sebagai bentuk ancaman. 2002). Suyanto (2002) yang mengutip pendapat .8 tersebut mempunyai arti bahwa tantangan utama dalam pengembangan organisasi adalah adanya kenyataan bahwa pada hakikatnya sebagian besar dari kita enggan untuk berubah (Suyanto.

Pada tahun pelajaran 2003/2004. dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan pengkodean. Selain berprestasi di bidang akademik.70 sekolah lain yang ingin mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. 1998). "0 orang memperoleh nilai di atas 40. nilai tertinggi 47 dan terendah 31. dan hanya 4 orang mendapat nilai di bawah 30.99.48. 18 orang meraih nilai antara 35-39. sekolah ini juga memiliki prestasi dalam bidang ekstrakurikuler terutama catur. Selasa 28 September 2004).60 dan paling rendah 28. UNESCO. nilai UPM SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 paling tinggi 44. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. metode komparati f konstan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. dan UNICEF. Metode komparatif konstan merupakan rangkaian ingkah-Iangkah yang berlangsung sekaligus. SD Negeri Mandin terletak pada lokasi yang strategis dan berdekatan dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Cendekia.87. Mulai dengan pengumpulan data . Dari 97 orang peserta UPM dari SD Negeri Mandiri. Dalam prosesnya. SD Negeri Mandiri menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas dasar inisiatif sendiri (Hasil wawancara dengan staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia.80. Dilihat dan sisi prestasi. nilai UPM lulusan SD Negeri Mandiri berada pada ranking teratas dari 25 SD/MI yang berada di wilayah kepengawasan III dan IV. Rancangan penelitian selanjurnya menggunakan metode komparatif konstan Bogdan & Biklen. Data yang dicatat dari Buku Tamu tanggal 1 Februari 2005 menunjukkan banyak instansi atau sekolah yang berkunjung ke SD ini. Di samping implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan di bawah binaan langsung pemerintah Indonesia. Nilai rata-rata UPM tersebut adalah 41.

Melakukan sampling. dan sesuai konteks di mana peristiwa itu terjadi. Menuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan maksud untuk memerikan dan menjelaskan peristiwa yang ada sambil terus mencari kejadiankejadian bani 5.71 2. terfokus. deskriptif. dan (3) penelitian kualitatif bersifat alami (natural). Mengerjakan data dan memunculkan model untuk menemukan proses dan hubungan-hubungan sosial yang mendasar 6. kejadian yang selalu berulang atau kegiatan yang merupakan kategori fokus 3. dan penulisan sebagai analisis yang berfokus pada kategori inti (Glaser dalam Bogdan & Biklen. Mengumpulkan data yang mencakup banyak kejadian tentang kategori fokus untuk melihat adanya keragaman dimensi dalam kategori 4. Alasan penggunaan metode kualitatif dengan rancangan multisitus ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia. Alasan ini juga sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif. (2) hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti lebih peka sehingga dengan mudah dapat dilakukan pemahaman yang mendalam terhadap objek yang diteliti. yaitu. Mencari isu penting. pengkodean. (1) realitas yang ada dalam pengembangan organisasi sekolah pada dasarnya terkonstruksi secara holistik. sehingga dengan menggunakan penelitian kualitatif realitas tersebut dapat dipahami secara utuh. . 1998).

gumpulan data. dan pemeriksaan keabsahan data. 2000. 1980. seperti studi pendahuluan. Mantja. dan (c) pengecekan atau konfirmasi hasil atau temuan penelitian (Faisal. 2003). dan berupaya menemukan makna (meaning) dari suatu fenomena yang terjadi (Patton. Dalam penelitian kualitatif terjadi proses yang berbentuk siklus. B. Studi pendahuluan dilakukan rada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2004 berdasarkan izin dari Direkftir . ^>901 Tahap-tahap tersebut diulangi beberapa kali sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang makin lama makin menyempit. pemahaman terhadap pengembangan organisasi sekolah dipandang tepat didekati dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam proses yang berbentuk siklus tersebut ada tiga tahapan yang berlangsung secara berulang-ulang. 1998. Kehadiran Peneliti Untuk meneliti objek penelitian ini. sejalan dengan pertanyaan.pertanyaan yang muncul kemudian sampai penulisan laporan penelitian. (b) eksplorasi . Bogdan & Biklen.induktif. Atas dasar itu.gka waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan. peneliti hadir ke lokasi penelitian dalam i-. Moleong. dan biasanya masih bergerak pada taraf permukaan. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian pertama kali adalah pada tanggal 7 Oktober 2004 yang bertujuan untuk meminta izin dari kepala . Selanjurnya. (a) eksplorasi yang meluas atau menyeluruh.ecara terfokus atau terseleksi guna mencapai tingkat kedalaman dan kerincian aspek tertentu. :er. pengembangan organisasi (organization development) merupakan suatu proses transisi dari keadaan manajemen sekolah yang sentralistik menuju Manajemen Berbasis Sekolah. yaitu tahap. 1985. Lincoln & Guba.gram Pascasarajana Universitas Negeri Malang dan rekomendasi dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.

peneliti berupaya untuk hadir ke lokasi penelitian pada setiap hari sekolah sesuai dengan jam sekolah yang berlaku (07.30 s. kepala sekolah pada ketiga situs memperkenankan peneliti melakukan penelitian di sekolahnya.30 WIB untuk SD Negen Cerdas dan SD Negeri Cermat.d.00 s. kehadiran peneliti untuk kepentingan pengumpulan data dilanjutkan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2005. Tanpa ada rasa keberatan dan dengan senang liati. namun peneliti tetap mengurus kembali surat izin penelitian dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang sebagai dasar bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia untuk mengeluarkan surat rekomendasi. Selama kegiatan pengumpulan data. Atas izin dan kesediaan tersebut peneliti dapat berkunjung pada hari-hari berikutnya guna melakukan sftidi pendahuluan. serta 06. Walaupun ketiga kepala sekolah sudah memberikan izin untuk pelaksanaan pengumpulan data. Namun kehadiran peneliti setelah pengumpulan data selesai tidak lagi intensif. peneliti memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksud kunjungan sambil memperlihatkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Pada akhir bulan Agustus 2005 izin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia secara resmi sudah berakhir. Pada saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah. namun peneliti tetap hadir di lokasi penelitian sampai bulan Desember 2005 atas izin kepala sekolah pada ketiga situs penelitian.d . 12. karena tujuan kehadiran setelah pengumpulan data tersebut hanyalah untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data.73 sekolah pada ketiga situs. Kemudian.

00 . peneliti juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh personel sekolah sejauh kegiatan itu dapat "dimasuki" dengan tetap menjaga batas kewenangan peneliti dan etika penelitian. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa bagi murid kelas VI yang akan mengikuti ujian akhir. Contoh lain dan kehadiran peneliti di sekolah. Kesediaan atau izin tersebut juga berlaku bagi kegiatan observasi dan analisis dokumen yang diperlukan. mengikuti upacara bendera. mengikuti rapat majelis guru.00 s. Balikan. Beberapa bentuk partisipasi yang dilakukan adalah. peneliti pernah datang ke sekolah pukul 05.d 17. Wawancara dilakukan dengan informan penelitian setelah meminta kesediaan yang bersangkutan terlebih dahulu. observasi dan melakukan kajian dokumen. Dewan Sekolah maupun Paguyuban Kelas.74 12.00 ketika berlangsung acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI di SD Negeri Cerdas dan pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2005 ketika dilakukan rapat Dewan Sekolah.30 WIB pagi untuk mengikuti acara istighosah yang dilaksanakan di SD Negeri Cermat pada tanggal 12 Juni 2005.00 WIB. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian juga dilakukan di luarjam sekolah. Waktu kunjungan lainnya adalah sore hari guna mengikuti kegiatan rapat baik yang dilakukan oleh sekolah.11. sehingga kehadiran peneliti tidak lagi dianggap sebagai "orang baru" di lembaga tersebut. yaitu pada waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 15. adalah. . Ini dilakukan dengan maksud agar peneliti benar-benar dapat membaur dengan warga sekolah. pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2005 pukul 19.20 untuk SD Negeri Mandiri Kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk keperluan wawancara. Di samping kehadiran peneliti ke sekolah untuk keperluan observasi dan wawancara.

Peneliti tidak menghubungkan informasi spesifik mengenai individu kepada orang lain dan berhati-hati berbagi informasi yang bersifat khusus dengan orang. membantu pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah. untuk melakukan penelitian dan peneliti harus mematuhi kontrak itu.orang di tempat penelitian yang dapat menggunakan informasi untuk kepentingan tertentu.rapat Dewan Sekolah. 2. sebagai berikut: 1 Melindungi idenditas subjek sehingga informasi yang dikumpulkan tidak merugikan mereka. Anonimitas diperluas tidak hanya untuk tulisan. Menjelaskan mengenai apa saja batasan dan persetujuan pada saat negosiasi izin 4. 3. mengikuti istighosah. mengikuti pertemuan wali murid pada awal tahun ajaran baru dan saat persiapan ujian murid kelas VI. dipedomani asas lunum etika penelitian yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Kehadiran peneliti di lokasi penelitian tetap memperhatikan etika penelitian sehingga tidak mengganggu dan merugikan pihak yang diteliti. membantu persiapan acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI. Subjek diberi tahu mengenai kepentingan penelitian dan keikutsertaan peneliti dengan mereka dilakukan apabila telah diizinkannya. melainkan juga untuk laporan verbal tentang informasi yang dipelajari melalui observasi. Peneliti tidak berbohong kepada subjek atau merekam pembicaraan dengan menggunakan perlengkapan mekanik secara tersembunyi. . Memperlakukan subjek secara hormat dan meminta mereka berkooperasi dalam kegiatan penelitian. rapat Paguyuban/Forum Kelas. Berkenaan dengan hal ini. dan ikut bersama guru melakukan kunjungan rumah untuk kepentingan pendataan kemampuan orang tua calon murid baru.

guru. sumber data yang berasal dari dokumen dipilih berdasarkan relevansinya dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (b) pembaruan metode pembelajaran. . penjaga sekolah. kepala sekolah. pengawas sekolah. dan wali mund. Kemudian. siswa. (c) pembahan struktur/tugas untuk peningkatan peranserta masyarakat. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. C. kepala dinas pendidikan. Kemudian. pegawai tatausaha. Informan kunci (key informant) dalam penelitian ini adalah kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. (3) cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi (wujud dari fokus perubahan individu/manusia). Sumber Data dan Informan Penelitian Sesuai dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan pada bab pendahuluan. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. dan (4) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. pembaruan metode pembelajaran dengan pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Sumber data dan orang-orang terdin dari. Peneliti melaporkan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh data (febricatmg data or distorting data is the ultimate siri of a scientist). (2) resistensi terhadap pengembangan organisasi.76 5. Menceritakan dengan benar ketika peneliti menulis dan melaporkan temuannya. pengurus Dewan Sekolah. dan (d) budaya sekolah. maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mencakup (1) gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi yang meliputi (a) perubahan manajemen sekolah.

Jumlah Informan Penelitian No. 6. Jumlah informan tetap yang diwawancarai terus bertambah sesuai anjuran informan sebelumnya. (c) subjek yang bersifat "lugu" dalam memberikan informasi. Informan dipilih dengan mempedomani kriteria yang dianjurkan Faisal (1990).1. Informan pertama yang diwawancarai adalah kepala sekolah sebagai informan kunci. dan (e) subjek yang sebelumnya tergolong masih "asing" bagi peneliti. (d) subjek yang mempunyai cukup banyak waktu untuk memberikan informasi. 1. Sampai -enehtian berakhir. kepala sekolah menunjuk beberapa orang guru untuk diwawancarai selanjurnya. 3. jumlah informan yang diwawancarai terlihat dalam tabel 3. Berdasarkan wawancara pertama.dinas pendidikan Jumlah Situs I 1 5 1 3 2 1 1 14 Situs II 1 5 1 3 2 1 13 Situs III 1 5 I 2 I 1 1 12 Total 3 15 3 8 5 1 3 1 39 . Tabel 3. 1998). 8 Informan Kepala sekolah Guru Dewan sekolah Wali murid Murid Pengawas sekolah Penjaga sekolah/TU Ka. 4.Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow-ball sampling (Bogdan & Biklen. yaitu (a) subjek yang sudah cukup lama menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. 2.1. (b) subjek yang masih terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. 7. 5.

dan (c) studi dokumentasi. kemudian setelah kehadiran peneliti diterima oleh orang-orang yang diteliti. Hal ini dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Spradley (1980). Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) observasi berperanserta. dilihat. (c) pengamatan dapat digunakan untuk mengecek keabsahan data. (b) teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri. Observasi berperanserta Untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan observasi berperanserta (participanl observation) (Spradley. maka peneliti mulai bergerak untuk melakukan peranserta secara aktif. peneliti berperanserta secara pasif. (b) wawancara. dan (e) dalam kasus-kasus tertentu dimana penggunaan teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan. tetapi tidak berpartisipasi atau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang sedang diteliti. (a) pada partisipasi pasif peneliti hadir dalam situasi sosial yang diteliti. Menurut Guba dan Lincoln (1981). 1. (d) teknik pengamatan memungkinkan peneliti matnpu memahami situasi-situasi yang rumit. (a) pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. yaitu catatan tertulis tentang apa yang didengar. dialami dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan . pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. serta tidak hanya menerima tetapi benar-benar mempelajari aturan budaya dari perilaku yang muncul. dan (b) pada partisipasi aktif peneliti benisaha untuk ikutserta melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang diteliti. yaitu. observasi berperanserta dilakukan dengan alasan. Selama melakukan observasi dibuat catatan lapangan. 1980). kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Pada tahap awal penelitian.78 D.

menggambarkan betapa perubahan pada hakikatnya tidak disukai oleh banyak orang. 1998). General Electric. Wawancara dilakukan berulang kali sampai diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengembangan organisasi sekolah. 2002:109). Fenomena itu digambarkan dalam ungkapannya sebagai berikut: "change has no constituency. They like the way it was. 1980). dan (3) konknt." (Suyanto. yaitu orang-orang yang dianggap potensial. untuk mengumpulkan data penelitian juga dilakukan wawancara secara mendalam (m-depth inferview) dengan informan penelitian. Untuk merekam hasil wawancara digunakan tape recorder merek Sony TC. Penggunaan alat ini dilakukan apabila sudah mendapat z:n dan infonnan yang diwawancarai. dalam kenyataannya tidak semua . Goleman.orman bersedia direkam pada waktu dilakukan wawancara sehingga peneliti harus Welch. dan McKee (2002:272) menyatakan . Wawancara Di samping melakukan observasi berperanserta. 2. yaitu mencatat ucapan atau perkataan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang dijadikan sumber informasi. Wawancara calam penelitian ini dilakukan secara formal maupun informal sehingga dapat diungkapkan pendapat informan mengenai pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi mengenai masalah yang diteliti. Boyatzis. Catatan lapangan dibuat dengan mempedomani prinsip (1) identifikasi bahasa. seorang chief executive perusahaan raksasa kelas dunia. Catatan lapangan ditulis dalam buku yang sudah disediakan khusus untuk keperluan tersebut. yaitu mengidentifikasi bentuk bahasa yang digunakan. yaitu menggunakan bahasa yang konknt bukan hanya memberi nama pada suatu tindakan (Spradley. (2) verbatim. Untuk maksud yang sama. People like status quo.79 data dan refleksi terhadap data (Bogdan & Biklen. Namun.2 \>DV sebagai alat perekam.

berjalan baik dan dengan hasil yang . dalam Anwar. Sebagai contoh. Dengan ungkapan lain. Ginnett dan Curphy. menolak segala sesuatu yang mengancam keadaan ini. 1991). 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. new is hard\ Akibatnya. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. 1996). misalnya. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. Peterson dan Hicks (Hughes. Artinya. 1993." Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. Bahkan.9 bahwa "kebanyakan kelompok dan organisasi berputar-putar di sekitar status quo. Kotter. 2002:385) menyatakan "old is easy. 1991). 2004). Sarason (Duke.

.

(g) jumlah guru dan murid. Teknik Analisis Data I. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. E. Atas dasar itu.80 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). (j) profil sekolah. (d) program dan rencana pembelajaran. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. (e) buku tamu. Hal ini berarti. (c) SK Dewan Sekolah. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. (1) ambil keputusan . Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. (h) buku prestasi. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. yaitu. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 1998). 3. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. 1990). (f) buku daftar hadir guru. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri.

(6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. analogi. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. yaitu dari wawancara. catatan lapangan. mendata. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . yaitu melalui kegiatan menelaah data.81 untuk mempersempit kajian. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. pengamatan. mensistesis. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. dan konsep. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). Selanjutnya. (9) gunakan metafora. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. (3) kembangkan pertanyaan analitis. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. dan (10) gunakan perlengkapan visual.

82

substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan, 1994). Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan data dan rangkuman inti, merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif, diadaptasi dan Miles & Hubennan (1994:12).

83

Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, informan, dan situs penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Sistem Pengkodean Analisis Data No Aspek Pengkodean Kode . 1 Fokus Penelitian: • Resistensi terhadap pengembangan organisasi RES CAR
• Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan

2

3

4

organisasi • Faktor Pendorong dalam pengembangan organisasi • Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi Teknik Pengumpulan Data. • Wawancara • Observasi • Dokumentasi Sumber Data: • Kepala Sekolah • Dewan Sekolah • Pengawas Sekolah • Kepala Dinas Pendidikan • Guru • Murid • Wali Murid • Penjaga Sekolah • Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Negeri Cerdas • SD Negeri Cermat • SD Negeri Mandiri

FAK BAR

W 0 D KS DS PS DP GM WM PJG TU

1 11 III

Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kemudian, pada bagian akhir

84

catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan; kode situs penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas Wawancara Kepala Sekolah ---------------- ^ -------------------------------------------------------------

Tanggal, bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum, proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut; (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga, (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian, dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985), yaitu; (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabihtas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4)

Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut. Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).85 Gambar 3. Kredibilitas .2.

wawancara atau . 1985). leaming the culture. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . Kemudian.r-anfaatkan sumber. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. and building trust. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). Dalam -r man ini. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam.86 Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >?rapa kegiatan. Tujuan lain. metode. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . dan melakukan triangulasi. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan .— a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth)." . penyidik dan teori (Lincoln & Guba. menurut Lincoln dan Guba -35 301). ~ -an penelitian yang terpercaya. maka .perpanjang masa observasi. yaitu dengan . mrg informan dengan informan lainnya. Pertama. angkut kebijakan sekolah. Contohnya. (a) ■ e. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . atau muncul secara tiba-tiba. testing f or mi smformaUon mtroduced - <i<ortions either of the self or of the respondents. melainkan merupakan aktivitas yang sudah .erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan.

1985). Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. Kedua. yaitu. .87 dokumentasi). dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. Misalnya. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. yaitu Bapak Kasman. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. makna-makna dieksplorasi. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok.

Apabila informan tidak merasa keberatan. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. dan Prof. M. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. 1985). Pembimbing ketiga). 2. Ph.ransferability. Umumnya. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit).Pd (Pembimbing pertama). 4 Konfinnabilitas . Hendyat Soetopo.. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan.Pd (Pembimbing kedua). bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of .H. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain..Willem Mantja. Dr. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba.A. M. Namun. Prof Dr. A Sonhadji K.D.88 Ketiga. menurut Lincoln dan Guba (1985). Namun. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. H. M. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut.

1991:370). dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. Tahap-tahap Penelitian Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. (1) tahap persiapan. yaitu Bapak Prof. buI the soup remains the same" (Hanson. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. Oleh karena itu.gumpulan dan analisis data. hands. Untuk mewujudkan hal tersebut. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. G. and heart ofthe educators who work in the schools . pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli.Pd.89 Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. 1992:1). Willem Mantja. M. penggunaan teknik analisis yang cermat. Maksudnya. Dr. Sayangnya. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. yaitu. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. Tahap persiapan Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. 1991:370). Oleh karena itu. interpretasi data secara benar. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan.

On the other hand. Dr. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Dr. Prof. Wallis (Baedhowi. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang menggembirakan (Baedhowi. as a desirable policy. T Raka Joni. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. antara lain Selandia Baru. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. dr. Meksiko. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. Laurens Kaluge. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. Brasil. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan.Sc dan Ibu Dr. 2004). Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. I Wayan Ardhana. 2004:2). Hasil penelitian tentang implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). Namun demikian. banyak negara. Zaini Hasan. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. Berdasarkan keyakinan tersebut.90 Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. dan Dr. Lusiana. . Dr. 2004:2) menyatakan. M. Spanyol.

D. Dr. Willem Mantja.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). Willem Mantja. Hendyat Soetopo. M. Kemudian.Ed. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. M.91 Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah..4.304/2004 tanggal 05 . (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. dan Bapak Dr. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. M.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap.Pd. Masukan dan saran dari teman-teman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. Dip. Dr. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof.Ad. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia). Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Hd.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September 2004. diajukan kepada Bapak Prof.

Willem Mantja.. M. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. M. Dr. Selanjutnya. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut. Balikan dari Prof.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!.Ed.92 Oktober 2004).D.. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap. Ed.Ed.Ad. diterima tanggal 13 Desember 2004.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Ed.Pd diperoleh awal Oktober 2004. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing. Walaupun banyak saran perbaikan. Dip. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru. Dip. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan motivasi bagi penulis. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206.D.Ad. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai .

Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah .1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. M. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai.. Tahap penyusunan laporan penelitian . A. Willem Mantja.. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. Dr. 3. Setelah izin diperoleh. H. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :.— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36.307/2005 tanggal 18 Maret 2005. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia).-.H. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.Pd dan Bapak Prof. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.).onsultasi dengan dosen pembimbing..-.93 pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian.4. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. M. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini. Ahmad Sonhadji K. r h D.

2/ 262/420.73. Rekomendasi Dinas Pendidikan. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. Setelah penyusunan laporan selesai. . karena nama sekolah sudah disamarkan. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.73. Atas permintaan di atas.307. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.94 Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.307.303. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.05/SDNP 1/2005. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM.

1996). dalam Anwar. Kotter. misalnya. Dengan ungkapan lain. Sarason (Duke. Peterson dan Hicks (Hughes. 1991). Artinya. Bahkan. 1991). implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. 2002:385) menyatakan "old is easy. 2004). restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. new is hard\ Akibatnya.8 Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. Ginnett dan Curphy. Sebagai contoh. 1993. berjalan baik dan dengan hasil yang . 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar.

untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. (e) buku tamu. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. 3.8 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. (h) buku prestasi. (g) jumlah guru dan murid. Atas dasar itu. (c) SK Dewan Sekolah. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. yaitu. 1990). kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. (3) . E. (j) profil sekolah. (1) ambil keputusan untuk mempersempit kajian. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. Hal ini berarti. 1998). Teknik Analisis Data I. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. (f) buku daftar hadir guru. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. (d) program dan rencana pembelajaran. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya.

membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. pengamatan. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. mensistesis. dan (10) gunakan perlengkapan visual. Selanjutnya. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. (9) gunakan metafora. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). yaitu dari wawancara. catatan lapangan. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. yaitu melalui kegiatan menelaah data. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. dan konsep.8 kembangkan pertanyaan analitis. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . analogi. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. mendata.

membuang data yang tidak diperlukan. dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan. (1) reduksi data. dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. yaitu. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan. .1. mengarahkan.8 substansi. (2) penyajian data. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah. merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. 1994). Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Menseleksi data secara ketat. membuat ringkasan data dan rangkuman inti. menggolongkan.

informan. Ta bel 3.8 Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian.2 . Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3. dan situs penelitian. teknik pengumpulan data.2. sumber data. Sis te m Pe ng ko de an An ali sis Da ta .

8 Aspek Pengkodean .

8 Fokus Penelitian: • Resistensi ter ha da p pe ng em ba ng an org ani sas i .

Cara mengatasi res ist ens i dal am pe ng em ba ng an org ani sas i 8 Faktor Pendorong dal am pe ng em ba ng an .

ani sas i 8 Gambaran sekolah set ela h pe ng em ba Pe ng ng an um pul an Da ta. .

8 .

8 • Dokumentasi Sumber Data: Kepala Sekolah Dewan Sekolah .

8 Pengawas Sekolah Kepala Dinas Pe ndi dik an .

8 Penjaga Sekolah Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Ne ger i Ce rda s .

Kemudian. tanggal. sumber data. tanggal.8 • SD Negeri Ce rm at • SD Negeri Ma ndi ri Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. sumber data. observasi dan studi dokumentasi. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. teknik pengumpulan data. bulan dan tahun. pada bagian akhir catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan. bulan dan tahun. kode situs penelitian. Contoh penelitian. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas ----------------^ . Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara. teknik pengumpulan data.

F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985). bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian.2.8 Wawancara Kepala Sekolah -------------------------------------------------------------- Tanggal. Secara umum. proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut. (3) dependabilitas (reliabilitas). (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga. yaitu. dan (4) . dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. (2) transferabihtas (validitas eksternal). (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3. (1) kredibilitas (validitas internal).

Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Kredibilitas Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >? rapa kegiatan. Pertama.2. Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).8 Gambar 3.

leaming the culture. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . metode." . mrg informan dengan informan lainnya. Contohnya. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . and building trust. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). ~ -an penelitian yang terpercaya. atau muncul secara tiba-tiba. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . angkut kebijakan sekolah. wawancara atau dokumentasi). melainkan merupakan aktivitas yang sudah . adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas.8 – erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. Dalam -r man ini. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. menurut Lincoln dan Guba -35 301). (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. 1985). dan melakukan triangulasi. (a) ■ e. Misalnya. Tujuan lain. .aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. yaitu dengan – r-anfaatkan sumber. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. testing f or mi smformaUon mtroduced – <i<ortions either of the self or of the respondents. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi.perpanjang masa observasi. Kemudian. maka – — a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian .

Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. yaitu Bapak Kasman.8 Kedua. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. makna-makna dieksplorasi. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. 1985). Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. yaitu. Ketiga.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Umumnya. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. Apabila . dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg.

maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya.D. Oleh karena itu. Dr. Hendyat Soetopo. interpretasi data secara benar. Willem Mantja. Namun. M. Tahap-tahap Penelitian . pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli.H.A.. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). M. yaitu Bapak Prof.Pd. H. M. Pembimbing ketiga).ransferability. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. menurut Lincoln dan Guba (1985). M. 1985). Namun. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. Dr.Willem Mantja. dan Prof.Pd (Pembimbing kedua). bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . 4 Konfinnabilitas Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. G. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. penggunaan teknik analisis yang cermat. A Sonhadji K. Prof Dr. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. Untuk mewujudkan hal tersebut. Ph.Pd (Pembimbing pertama).. 2.8 informan tidak merasa keberatan.

(2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer.gumpulan dan analisis data. (1) tahap persiapan. Tahap persiapan .8 Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. yaitu.

the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. hands. 2004). as a desirable policy. 2004:2) menyatakan. Maksudnya. Spanyol. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. buI the soup remains the same" (Hanson. 1991:370). implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. Wallis (Baedhowi. Namun demikian. On the other hand. banyak negara.8 Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. Meksiko. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. Brasil. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. Sayangnya. Hasil penelitian tentang implementasi . Oleh karena itu. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang 89 menggembirakan (Baedhowi. 1992:1). 1991:370). antara lain Selandia Baru. Berdasarkan keyakinan tersebut. and heart ofthe educators who work in the schools Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. 2004:2).

dr. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. Laurens Kaluge. Prof.Ad.D. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia).Pd. M. dan Dr. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah.. Dr. I Wayan Ardhana.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). M. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. Masukan dan saran dari temanteman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. Willem Mantja. Dr. Kemudian.9 kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. Lusiana.Sc dan Ibu Dr. Dr. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Dr. Willem Mantja. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. Dip. M. Hendyat Soetopo.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September . Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. dan Bapak Dr. M. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hd. Zaini Hasan. T Raka Joni.Ed. Dr. diajukan kepada Bapak Prof.

Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.. M.Ed.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap.D. Ed. Dip.4. Dr. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan . Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. M. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing.8 2004.304/2004 tanggal 05 Oktober 2004). Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap. Balikan dari Prof. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas.Ad.Pd diperoleh awal Oktober 2004.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. diterima tanggal 13 Desember 2004. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui. Willem Mantja. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru.

— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing. Willem Mantja. Dip. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah .-.Ed.-. Dr. H. Ahmad Sonhadji K.307/2005 tanggal 18 Maret . I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian... namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru.9 motivasi bagi penulis.4. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. Ed.onsultasi dengan dosen pembimbing.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420.). A. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai. M.Pd dan Bapak Prof.H. Selanjutnya.D. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. M.Ad.. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). Walaupun banyak saran perbaikan. r h D.

73. karena nama sekolah sudah disamarkan. Rekomendasi Dinas Pendidikan.307. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.303.307. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.73.03/2005 tanggal 19 Desember 2005. . kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga. Atas permintaan di atas. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421.05/SDNP 1/2005. Setelah penyusunan laporan selesai.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35. Setelah izin diperoleh.2/ 262/420. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini. 3. Tahap penyusunan laporan penelitian Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian.9 2005. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful