P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 430|Likes:
Published by Irfan Abd Gafar

More info:

Published by: Irfan Abd Gafar on Oct 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Derasnya arus globalisasi, sebagai salah satu bentuk perubahan yang terjadi saat ini, bukan hanya memberikan pengaruh terhadap persoalan bisnis semata melainkan juga berdampak bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Mantja (2002) menyatakan globalisasi itu dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya berdampak juga bagi pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Perubahan global mengakibatkan dunia seakan-akan tanpa batas (borderless world) telah melahirkan gaya hidup baru (a new way oflife) dengan ciri kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga menuntut masyarakat dan organisasi membenahi diri mengikuti perubahan-perubahan cepat tersebut (Tilaar, 1998, 2002). Apabila suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah, tetap mempertahankan status quo atau menolak suatu perubahan, maka institusi itu akan tertinggal dari arus perubahan. Sebab, tanpa disadari perubahan itu akan terus berubah (Zamroni, 2000). Berkenaan dengan perubahan dan tantangan masa depan itu, Yudohusodo (2004) mengemukakan beberapa pandangan para ahli sebagai berikut. Pertama, Gibson (1977) menyatakan; (a) masa depan kita nanti akan berbeda dengan masa lalu,

10

kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis, dari segi substansi manajemen, ada tiga bentuk kendala yang seringkah dijumpai dalam implementasi kebijakan pendidikan (Baedhowi, 2004). Kendala tersebut berkaitan dengan hal; (a) mengelola manusia {managingpeople), (b) mengelola organisasi (managing organization, dan (c) mengelola perubahan dan transisi (managing change and tramition). Kendala dalam hal mengelola manusia misalnya berkaitan dengan resistensi orang-orang terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Kendala mengelola organisasi antara lain bersumber dari kurangnya kemampuan pengelola untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan secara efektif. Kemudian, permasalahan pokok berkaitan dengan upaya mengelola perubahan dan transisi tersebut dinyatakan Baedhowi (2004) bahwa ketika perubahan yang diinginkan itu terjadi jarang sekali dipikirkan bagaimana mengelola perubahan (managing change) itu agar tetap terjaga dan selalu meningkat secara dinamis. Akibatnya, kita seringkah dihadapkan pada perubahan yang hanya sekejap dan setelah itu hilang, dalam arti kembali lagi seperti sebelumnya. Sebagai contoh, perubahan yang hanya muncul sekejap itu dapat dilihat dan bcr bagai kegiatan, antara lain pelatihan (training) yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam melaksanakan I/P(rioton cA^on,Kori T Intul' tYialz-csi/H yonrr cotno QiiKal^ir Anr\ Qonon /OHO 1 \ tWglUUAil JV11U11 ll.C4.lt. VJUIU1V 111U1VJUU JUUgJ JU111U, Jui/uivn UU1I uupui 1 ^iV/V 1 f

11

mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bahwa perubahan dan inovasi pendidikan sering tampak berhasil ketika diujicobakan dan kemudian sirna begitu saja ketika ujicoba telah berakhir. Hal di atas menunjukkan perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi tidak terencana (unplanned change) sehingga implementasi kebijakan tidak berjalan secara berkelanjutan (unsustainably). Hal itu juga terjadi karena tidak ada komitmen yang kuat baik secara individu maupun kelembagaan untuk melaksanakan program pengembangan organisasi yang sudah ditetapkan. Keadaan yang digambarkan tersebut, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Harvey (dalam Suharyadi, 2004:1) yaitu: People think that ifthe Japanese have problems, they are quick t o take decision. Actually they are not, infact they are extremely slow to take dec isian, bui once a decision is take n, everyone is so committed t o do it, and know exactly what they have to do, so they can move at about three times the pace that we do. They spend the time to get the commitment, and the commitment is got by masses of mteraction. Paparan pendapat Harvey tersebut menunjukkan betapa tingginya komitmen orang-orang Jepang untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah diambil. Hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengembangan organisasi dengan / pendekatan Manamejen Berbasis Sekolah sehingga perubahan yang berkelanjutan (sustamable change) dan peningkatan mutu (quality improvement) dapat terwujud. Penelitian-penelitian tentang pengembangan organisasi agak jarang dilakukan apalagi pada jenjang sekolah dasar. Bahkan, kecenderungan penelitian selama ini lebih banyak mengkaji proses dan substansi manajemen

motivasi. perubahan struktur di SD Negeri Cerdas. keefektifan organisasi.12 pendidikan. dan SD Negeri Mandiri di Kota Cendekia. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada tiga pilar. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD Negeri Cerdas. semangat kerja. dan peranserta masyarakat (Hasil wawancara dengan guru tanggal 6 Mei 2005). Lebih rinci dapat dikemukakan hal. Pada hal. Misalnya. dilihat dari kerangka kebijakan pendidikan pengembangan organisasi merupakan persoalan strategis yang harus dilakukan terutama pada tataran implementasi suatu kebijakan.hal sebagai berikut: Pertama. pembaruan metode pembelajaran. ketiga latar penelitian ini telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. misalnya. dan prestasi belajar. Dengan kata lain. Berdasarkan wawancara dan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. kinerja guru. persoalan pengembangan organisasi agak kurang mendapat perhatian para peneliti. SD Negeri Cermat. yaitu: manajemen sekolah dan transparansi. kurikulum dan pembelajaran. supervisi. SD Negeri Cermat. Pengembangan ketiga pilar di atas dilakukan dengan cara melakukan berbagai perubahan. dan SD Negeri Mandiri bukan hanya tampak dan pembentukan Dewan . dan variabel-variabel kepemimpinan. Pengembangan organisasi ditujukan untuk membentuk budaya sekolah yang kuat sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu. iklim sekolah. budaya organisasi.

dan metode pembelajaran. kelemahan. Selain intervensi terhadap struktur. Perubahan teknologi tampak dan penerapan metode pembelajaran aktif. orang tua dan masyarakat. dan menyenangkan (PAKEM). Terkait dengan hal ini. Saat ini. . sebagai konsekuensi dari perubahan struktur dan pola manajemen sekolah. SD Negeri Mandiri lebih cenderung melakukan upaya "menjemput bola" yang tampak dari inisiatif melakukan sendiri kegiatan seminar dan lokakarya pada saat libur. kreatif. manajemen sekolah dilakukan secara demokratis sesuai kewenangan terbatas yang diberikan dalam penyelenggaraan pendidikan. dan tantangan serta keputusan diambil bersama dengan melibatkan personel sekolah. Sebagai implikasi dan penerapan Manajamen Berbasis Sekolah. pengembangan organisasi di ketiga latar penelitian ini juga memberikan perlakuan terhadap guru melalui pelatihan dan studi banding guna meningkatkan kemampuan guru untuk mengimplementasikan program pembaruan yang dikembangkan. tugas. efektif. sekolah mulai berupaya melakukan perubahan. melainkan juga sudah dibentuk paguyuban pada masing-masing kelas (di SD Negeri Mandiri organisasi wali murid pada tingkat kelas ini disebut dengan Forum Kelas).perubahan atas dasar kemauan sendiri.13 Sekolah. peluang. Pajangan kelas yang dibuat dan hasil karya murid sebagai salah satu ciri PAKEM terlihat lebih menonjol di SD Negeri Cerdas dan SD Negeri Mandiri. tampak dan bertambahnya bobot dan intensitas tugas baik yang berkaitan dengan tugas-tugas manajemen sekolah maupun tugas personel sekolah. Perubahan tugas-tugas. Program sekolah disusun berdasarkan analisis terhadap kekuatan.

Berkenaan dengan hal tersebut wali murid menyatakan bahwa saat ini sudah tampak kemajuan di sekolah. penciptaan proses pembelajaran yang efektif. seperti tugas-tugas banyak. pada awal pengembangan organisasi tampak adanya keengganan dan muncul resistensi dan kalangan guru (Wawancara tanggal 5 April 2005). dan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah. manajemen sekolah lebih transparan dan partisipasi masyarakat lebih aktif (Wawancara tanggal 28 April 2005). bahwa kecenderungan orang akan menolak perubahan (resistance to change). Di bagian latar belakang masalah sudah dikemukakan. Indikasi ini pulalah yang mendorong . pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mulai menunjukkan suatu kemajuan. terlalu sibuk dan program yang lalu masih belum selesai sementara yang baru datang lagi. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tidak mudah diwujudkan karena muncul sikap resistensi terhadap perubahan yang dilakukan. tampak dari upaya-upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekolah.14 Kedua. Hal ini. Kemajuan awal yang dicapai tidak terlepas dari kemauan berkembang atas keinginan sendiri yang dimiliki oleh personel sekolah dan dukungan wali murid masyarakat. Hal ini disebabkan karena terjadi proses transisi manajemen sekolah dan paradigma lama ke yang baru. Ketiga. Resistensi guru terhadap pengembangan organisasi pada ketiga situs penelitian ini tampak dari alasan-alasan yang disampaikan. transparansi manajemen sekolah. Menurut kepala sekolah.

Menurut kepala sekolah. adanya resistensi terhadap pengembangan organisasi telah dipahami oleh kepala sekolah terutama menyangkut alasan-asalan mengapa terjadi resistensi. Hasil pemahaman tersebut dijadikan dasar untuk mencari solusi bagaimana cara menghadapi resistensi itu (overcoming resitance to change).. Terakhir. pengembangan organisasi dengan melakukan berbagai perubahan adalah penting bagi peningkatan keefektifan organisasi itu. namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana memperlakukan orang-orang dalam organisasi atas dasar pemahaman ilmu perilaku (behavioral science) yang benar sehingga resistensi terhadap perubahan dapat diatasi. Fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut: . B Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga SD Negeri di Kota Cendekia.15 sekolah-sekolah atau instansi lain. Ini berarti. munculnya resistensi karena para guru sudah terbiasa dengan pola lama (Wawancara tanggal 5 April 2005). berkunjung ke tiga sekolah tempat penelitian ini dilaksanakan guna mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. keberhasilan pengembangan organisasi dicapai dengan tidak mengorbankan kepentingan dan kepuasan anggota organisasi. Alasannya adalah. baik yang berasal dari wilayah Kota Cendekia maupun sekolah-sekolah dari propinsi lain di Indonesia.

2. (c) peranserta masyarakat. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian yang telah dikemukakan. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri. (b) metode pembelajaran. (b) metode pembelajaran. yang meliputi. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.16 1. SD Negeri Cermat. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan (d) budaya sekolah. SD Negeri Cermat. (c) peranserta masyarakat. SD Negeri Cermat. tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. . 3. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. yang meliputi. dan (d) budaya sekolah. 4. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. C. SD Negeri Cermat. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri.

SD Negeri Cermat. D. dan SD Negeri Mandiri. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Memperluas pemahaman tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. SD Negeri Cermat. 4. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Bahan masukan bagi guru dalam mengimplementasikan program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai pengembangan organisasi sekolah dan mendorong peneliti lain untuk mengkajinya lebih lanjut sehingga dapat memperkaya teori pengembangan organisasi yang sudah ada. 3. Hasil pemahaman ini dapat dipakai sebagai sumber informasi bagi kepala sekolah dalam mengelola pengembangan organisasi 3. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. .17 2. 2.

4. Kreatif. dan (c) peranserta masyarakat. dan Menyenangkan (PAKEM). Pengembangan ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membentuk budaya sekolah yang menunjang pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. kreatif. yaitu (a) manajemen sekolah dan transparansinya. 5. (b) metode Pembelajaran Aktif. kabupaten/kota atau propinsi sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah khususnya di sekolah dasar. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi . Paguyuban/Forum Kelas. yaitu peningkatan keefektifan sekolah dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mengacu pada tiga pilar. Efektif. dan orang tua murid untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini mengacu pada makna kualitas. Hasil penelitian ini berguna pula bagi pengambil kebijakan. Definisi Operasional 1. E. Bahan masukan bagi pengurus Dewan Sekolah. seperti. dan menyenangkan (PAKEM) di sekolah dasar. dan kepala dinas pendidikan kecamatan.18 khususnya penerapan pembelajaran aktif. pengawas sekolah. efektif. Pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang yang dilakukan secara terencana untuk meningkatkan keefektifan sekolah.

pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Di samping itu. wewenang. 3 Resistensi adalah respons guru terhadap program yang diimplementasikan dalam pengembangan organisasi yang dapat berupa keengganan atau penolakan. memberikan fleksibilitas keluwesan kepada sekolah. dan kewajiban dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku. dalam penelitian ini juga dipelajari faktor pendorong implementasi program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. yaitu intervensi terhadap aspek individu/manusia. Dengan demikian otonomi sekolah bukanlah merupakan independensi yang terlepas dari ketentuan yang berlaku. Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Hal ini merupakan fokus lain dari pengembangan organisasi. 4. . Otonomi sekolah adalah kebebasan terbatas yang dimiliki sekolah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan hak.19 sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Kemudian. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan keefektifan sekolah. 2. Pengembangan organisasi terwujud bilamana resistensi yang muncul dipahami dan diatasi dengan baik. Hal ini muncul karena kekhawatiran guru terhadap berbagai konsekuensi dari program pembaruan yang dikembangkan.

Dewan Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat pada tingkat satuan pendidikan (sekolah) dalam rangka meningkatkan mutu. Nama organisasi ini jelas berbeda dengan apa yang disebut School Board Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3. maka di wilayah Kota Cendekia organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat di tingkat sekolah disebut dengan Dewan Sekolah. dan kecepatan bergerak. pemerataan. Kedua.School Committee) Namun. dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 pada bagian A poin 2 diatur tentang Acuan Pembentukan Komite Sekolah bahwa nama Komite Sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. (c) dengan berbagai perubahan yang terjadi setiap organisasi atau institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju (where do we go next). Senge (1994) juga mengatakan bahwa ke depan teijadi perubahan dari kompleksitas detail menjadi kompleksitas dinamik yang membuat interpolasi menjadi sulit. Berdasarkan keputusan menteri tersebut. Ketiga. antara lain dinamakan Dewan Sekolah. seharusnya organisasi ini disebut Komite Sekolah (. Perubahan-perubahan terjadi sangat mendadak dan tidak menentu. dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu.20 5. dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Kanter . (b) dengan adanya tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/institusi yang berbeda {new time cal! for new organizations) dengan ciri efisiensi yang tinggi.

Kemampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah merupakan ciri utama organisasi yang berhasil (Steers. 2000). Organisasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan mengisi peluang yang ada akan mampu bertahan hidup (survive) dan berkembang ke arah yang lebih baik (Gitosudarmo & Sudita. kompetensi. kelangsungan hidup dan kemajuan suatu organisasi tergantung kepada kemampuan organisasi itu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. relasi. Stoner (1982:379) menyatakan "managing such change effectively is not on/y a necessity for organizational surviva/ hut also a challengeIni berarti. dan kepercayaan diri.3 (1994) menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan dan setiap pelakunya (di berbagai bidang) termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki konsep. Perubahan dan tantangan masa depan yang digambarkan di atas mengisyaratkan organisasi untuk selalu melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek. Bahkan lebih dari itu. 1977. Bennis dalam . dalam hal ini disebut pengembangan organisasi (organizational development).

(b) pengertian. (2) Manajemen Berbasis Sekolah. mengemukakan definisi tentang pengembangan organisasi sebagai berikut: 20 . sekolah sebagai suatu organisasi tidak bisa melepaskan diri dan pengaruh sistem-sistem lainnya itu yang secara terus menerus berubah. organisasi berada dalam lingkungan yang selalu berubah (Stoner. terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengembangan organisasi menurut pendapat para ahli. Fullan. Keadaan ini menuntut organisasi sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu. A.BAB n KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan secara berurutan kajian teoretis tentang (1) pengembangan organisasi. dan (d) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. Upaya penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi (organizationcil development). terdiri dan (a) dasar pemikiran. (3) pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. dan (b) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. setelah melakukan studi yang komprehensif terhadap pengembangan organisasi di sekolah-sekolah Amerika dan Canada. 1991:223). yang meliputi (a) pilar pengembangan organisasi. 1982). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konsep pengembangan organisasi. Miles dan Taylor (dalam Owens. dan (c) hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Pengembangan Organisasi 1. Pengertian Sebagai bagian dan sistem yang lebih besar. (b) resistensi terhadap pengembangan organisasi. (c) cara mengatasi resistensi. mencakup (a) pengertian. Hal ini berarti.

processes. dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal. Cummings dan Worley juga mengutip definisi keempat dari ahli lain sebagai berikut: 4. Selain tiga definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan di atas. using behavioral science concepts. intervention. and culture. diagnosis. Cummings dan Worley (2001:2) mengemukakan pula beberapa definisi pengembangan organisasi dengan mengutip pendapat para ahli. focusing explicitly on change in formal and informal procedures. or change agents. and theory. Konsep pokok yang terkandung dalam pengertian di atas adalah. Tujuan pengembangan organisasi di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi. proses. yaitu: 1. research. to (4) increase organization effectiveness and health through (5) planned mterventions in the organization 's "processes " using behavioral science £ttow/ec/ge.(Warner Burke). and (3) managedfrom the top. and eva/uation aimed at (1) enhancing congruence among organizational structure. 2. systematically-planned.(Wendell French). Organization development is a systemwide process ofdata collection. norms or structures. terencana. melainkan juga peningkatan kualitas kehidupan individu-individu yang menjadi anggota organisasi. process. 3. Organization development is a planned process of change in organization 's culture through the utilization of behavioral science technology. strategy.Organization development in school districts is a coherent. sustained effort at system self-study and improvement. as they are sometimes c#//ec/. (2) developing . norma atau struktur.(Richard Beckhard). The goals o f O D mclude bot h the quality o f life of individuals as well as improving organizational functiomng and performance. Organization development refers to a long-range effort to improve an organization 's problem-solving capabilities and its ability to cope with changes in its external environment with the help of external or internal behavioral-scientist consultants. (2) organization-wide. people. action planning. pengembangan organisasi di sekolah merupakan upaya perbaikan secara sistematik. Organization development is an effort (1) planned.

Siagian. teknologi. (2) pengembangan organisasi berkaitan dengan mengelola perubahan terencana (managingplannedchange). (1) pengembangan organisasi didasarkan pada pengetahuan dan praktek ilmu perilaku (behavioral science).Q\ Beer). Robbins. and (3) developing the organization 's self-renewing capacity. (3) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada strategi. and technology. Owens. dan definisi Beckhard dan Beer (dalam Cummings & Worley. 1983. tugas. 2001) memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan. 1982.new and creative organizational solutions. research. Masing-masing definisi di atas memberikan penekanan yang berbeda. yaitu. 1996. Stoner. 2001) ditujukan pada proses pengembangan organisasi. Indrawijaya. (4) pengembangan organisasi memerlukan intervensi baik internal maupun eksternal. 2001) dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan. definisi Burke (dalam Cummings & Worley. Bila disimak lebih teliti lagi. ada pula kesamaan dan definisi pengembangan organisasi itu yakni melakukan perubahan secara berencana untuk memperbaiki kineija organisasi. dan (5) pengembangan organisasi berorientasi pada peningkatan keefektifan organisasi {organization effectiveness) (Lippit. definisi French (dalam Cummings & Worley. 2000. Hanson. struktur. 1982.{M\c\Ya. dalam berbagai definisi pengembangan organisasi terdapat beberapa konsep pokok. 11 occurs through the collaboration of organizational members working with a change agent using behavioral science theory. dan manusia terutama penlaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture). Di samping terdapat perbedaan sudut pandang. . 1991. 2001. 1991. Cummings & Worley. Misalnya.

diakses tanggal 9 Februari 2005. (2) PAKEM. 2006). yaitu pengembangan. dan intervensi terhadap individu/manusia yang tercakup dalam cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi sebagai wujud penggunaan ilmu perilaku (behavioral science theory). 2002) dijelaskan bahwa pengembangan adalah upaya peningkatan yang menjurus kepada sasaran yang dikehendaki. 2002. Jones. perubahan adalah hal (keadaan) berubah atau peralihan dan suatu keadaan. http://www. Thoha. dan (3) peranserta masyarakat.23 Sutarto. maka konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini adalah usaha terencana untuk peningkatan keefektifan organisasi dengan mengadopsi pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah sehingga menghasilkan budaya sekolah yang menunjang terhadap pencapaian tujuan. Dalam konsep pengembangan tercakup makna perubahan dan pembaruan. 2002.com/ services. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas.html. Pengembangan organisasi mengacu pada tiga pilar. Pengembangan ketiga pilar tersebut dilakukan melalui perbaikan struktur organisasi/tugas. Selanjutnya. Berangkat dari beberapa definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan. sedangkan dalam konsep perubahan dan pembaruan belum tentu atau bahkan tidak tercakup makna . 2004. yaitu (1) manajemen sekolah dan transparansinya. perbaikan metode (teknologi). ada tiga istilah pokok yang perlu dijelaskan. Wibowo.toolpack. dan pembaruan inovasi) adalah pengenalan atau penemuan sesuatu yang baru atau berbeda dan • eadaan sebelumnya. perubahan dan pembaruan (inovasi).

Cummings & Worley. maka itu bukan merupakan perubahan dalam kerangka pengembangan organisasi. dan Donnelly (1995) menyatakan pengembangan organisasi sebagai teknik manajenal untuk mengimplementasikan perubahan penting dalam organisasi. Berdasarkan hal tersebut. pengembangan organisasi bukan hanya mengadakan perubahan (change) dalam struktur dan prosedur organisasi saja. 2 31." Sementara itu.pengembangan. pengembangan dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan dan/atau pembaruan. hampir semua ahli berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Indrawijaya. maka uraian mengenai perubahan dalam penelitian ini hanya berada dalam kerangka pikir pengembangan organisasi. dan perlakuan terhadap orang-orang dalam organisasi. -:am prakteknya. Thoha. Brown dan Harvey (2006:4) menyatakan "OD is a planned strategy to bring about organizational change. Ivancevich. 1983.am susunan dan prosedur organisasi saja sedangkan kultur organisasi tetap sama.j. Kajian tentang pengembangan organisasi tidak bisa terlepas dan perubahan. 1991. Dengan kata lain. Buchanan & Huczynski. 1981. pengembangan organisasi mencakup sepuluh konsep yang bercirikan. Dalam kaitan itu pula. Namun demikian. membuat keputusan. Pengembangan organisasi lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar bukan hanya perubahan cara keija. melainkan juga termasuk kultur organisasi (Owens. 2002). 2004). Pengembangan organisasi merupakan suatu respons terhadap perubahan (Bennis dalam Luthans. jika perubahan hanya terjadi . Bahkan. 2002). Gibson. Bahkan secara tegas dikemukakan. (a) . Thoha. melainkan proses dan sikap memahami persoalan.

keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur. (f) belajar melalui perilaku yang dialami. (d) meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horizontal. Tujuan utama pengembangan organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. (d) berfokus pada manusia. kebalikan dari to sweepingproblems under the rug. (i) agen perubahan. (f) menemukan solusi yang . (g) berkaitan dengan masalah nyata. (b) meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah-masalah organisasi. teknologi. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi memberikan implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan. dan (j) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens. ia merinci tujuan pengembangan organisasi sebagai berikut: (a) meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota-anggota organisasi.25 tujuan pengembangan organisasi. (c) suatu pendekatan sistem.orang dalam organisasi dalam membuat keputusan yang lebih efektif. Lebih lanjut. dan (2) peningkatan kepuasan anggota-anggotanya. (e) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. baik dalam kelompok maupun antara kelompok. 1984). (c) menciptakan lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan otoritas berdasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. Usaha-usaha pengembangan organisasi pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir (Robbins. tugas-tugas. (1) peningkatan keefektifan organisasi. vertikal. dan sumber daya manusia. (b) pembaruan sistem. (h) suatu strategi terencana. yaitu. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang. 1991). (e) suatu strategi pendidikan. dan diagonal.

dan (g) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi. efektif. kreatif. (4) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi program pengembangan organisasi. yaitu pergerakan dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan. pengengembangan organisasi dilakukan secara sengaja. dan menyenangkan bagi peningkatan mutu lulusan. dan (6) menciptakan budaya sekolah yang kuat dengan ciri antara lain. Kedua. Pertama. Ketiga. Bertitik tolak dari beberapa pendapat di atas. memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan prestasi terbaik. Berdasarkan hal tersebut. dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi. (3) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. maka tujuan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) meningkatkan kepercayaan dan peranserta dari stakeholders baik internal maupun eksternal dalam menunjang keberhasilan sekolah. Artinya. sebagai proses transisi pengembangan organisasi menghadapi suatu keadaan yang tetap menginginkan status quo. ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan pengembangan organisasi. (5) menciptakan pembelajaran aktif. sehingga perubahan terhadap . (2) menciptakan iklim sekolah yang demokratis dengan menyelenggarakan manajemen sekolah secara transparan dan akuntabel. pengembangan organisasi merupakan suatu proses bukan kejadian yang datang secara tiba-tiba. terencana dan menempuh langkah-langkah yang sistematis.26 sinergis terhadap masalah.

Analisis implementasi pendekatan ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang bekeija sama dengan Bank Dunia. atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens. tujuan pengembangan organisasi adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (quality improvement). muncullah Kegiatan Rintisan Keija Sama segi tiga Pemerintah Republik Indonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Menciptakan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat. Hal ini tentu saja didasarkan atas pertimbangan bahwa pengadopsian tersebut dapat meningkatkan kualitas keluaran organisasi menjadi lebih baik. Keempat. Berdasarkan hasil analisis itu. dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholders-nya. Pengembangan organisasi sekolah dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide-ide. 1991). Ini berarti bahwa pengembangan organisasi yang dilakukan tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kineija organisasi. Di samping itu. Tujuan pengembangan organisasi secara umum adalah untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri. metode atau cara baru yang diadopasi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan suatu pendekatan yang telah dikembangkan oleh pihak lain. sejak tahun 1999 telah .27 kondisi ini menimbulkan resistensi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu. model. keefektifan. pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. Pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pengadopsian model manajemen sekolah yang pernah diterapkan di beberapa negara." Untuk merealisasikan program ini. model. cara. Ide-ide.

teknologi. Gambar 2. tugas.28 dilakukan pilot proyek di empat propinsi. 2. Jawa Timur. Jawa Tengah. (a) struktur.elemen tersebut dapat dilihat pada gambar 2. fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada elemen-elemen penting yang terdapat dalam organisasi itu.1. Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi didasarkan atas pandangan bahwa organisasi sebagai sistem. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Menurut Leavitt (dalam Stoner. 1982. Oleh karena itu. 1991). Dalam prakteknya. Owens. yaitu. Elemen-elemen organisasi (diadaptasi dari Stoner. 1982. dan orang-orang.389) . pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tetap didasarkan atas kemampuan sekolah masing-masing. Saling ketergantungan antara elemen.1. elemen-elemen dimaksud adalah.

Terdapat berbagai pendapat ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dan masing-masing ahli melihat dari sudut pandang yang berbeda.1. Stoner (1982) memandang dari sudut variabel perubahan organisasi. suatu perubahan dalam satu elemen organisasi akan mempengaruhi elemen-elemen lainnya. Rangkuman Pendapat Ahli tentang Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi . namun semua ahli tersebut sebenarnya ingin menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diubah dalam melakukan pengembangan organisasi sehingga kineija organisasi menjadi lebih baik. Berbagai pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisisasi dirangkum dalam tabel 2.1. Dengan demikian. 1982). Hanson (1991) melihat dan segi fokus perubahan. suatu perubahan yang efektif menyadari adanya interaksi elemen-elemen organisasi tersebut. Robbins (1996) melihat lingkup perubahan dalam pengembangan organisasi dan sisi apa yang dapat diubah oleh agen perubahan.1. Steers (1977) meninjau dan aspek pendekatan yang digunakan dalam perubahan organisasi. Walaupun para ahli memandang fokus perubahan organisasi dan sisi yang berbeda. Tabel 2. Program perubahan yang berfokus hanya pada satu dan elemen-elemen organisasi itu memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil (Stoner.29 Berdasarkan gambar 2. dan Griffin dan Moorhead (1986) menguraikan dari sisi metode perubahan organisasi.

Kelompok dan individu Hanson (1991) Robbins (1996) 1. Manusia 2. Teknolog i i 3. Manusia 1. Struktural 2. Setting fisik . Struktur 2. Teknologi Griffin dan Moorhead (1986) 1. Tugas 3. Tugas dan teknologi 3. Manusia 4.30 Steers (1977) Stoner(1982) 1. Struktur dan Sistem 1. Iklim organisasi dan gaya pribadi individu 4. Teknologi 4. Struktur 2.Pribadi individu 3. Struktur 2. Tugas 3.

Kebutuhan untuk berubah sudah jelas. 1992. pendidikan dasar yang bebas ifree basic education) harus dijadikan prioritas utama di dalam membangun suatu masyarakat Indonesia baru yaitu suatu masyarakat demokratis (Tilaar. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 3 UU RI No. Tyson & Jackson. Oleh sebab itu. Pendidikan dasar yang termasuk hak dari semua warga negara merupakan fondasi dari suatu masyarakat yang demokratis. Namun. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). 1996. Thailand . jenjang. Gambaran umum sebagai indikasi rendahnya mutu pendidikan Indonesia terlihat dan Human Development Index tahun 2004 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 111 di bawah Malaysia (058). Scheerens. Gibson. Oleh karena itu. 1993. 1993). 2002).3 Schein. hal yang mungkin tidak begitu jelas adalah apa sebenarnya perubahan itu dan bagaimana caranya melakukan perubahan tersebut (Morgan. organisasi harus berubah (Morgan. Fungsi pendidikan tersebut diemban oleh setiap jalur. 1996). dalam kenyataannya pendidikan masih menghadapi berbagai permasalahan. Salah satu masalah pokok yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan. Apabila ketidakjelasan tersebut juga teijadi dalam dunia pendidikan. Ivancevich & Donnely. maka perubahan yang dilakukan tidak memberikan kontribusi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. 2000). Kotter. 1980. Atas dasar itu. dan jenis pendidikan termasuk Sekolah Dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar.

perubahan setting fisik merupakan bagian dari perubahan struktur dan tugas. -r.nggota organisasi sebagai pribadi sehingga memerlukan strategi yang bersifat r' badi pula. aspek organisasi . namun perubahan sistem yang dimaksudkan oleh Steers berkaitan dengan tugas-tugas. Terakhir. perubahan individu dan iklim organisasi termasuk ke dalam aspek perubahan yang ditujukan kepada manusia atau anggota. Perbedaan pandangan terlihat pada pendapat Robbins (1996) yang memasukkan unsur setting fisik dalam perubahan organisasi.ubungan dengan unsur-unsur organisasional yang akan berpengaruh dalam proses perubahan. prosedur keija dan kebijakan guna mendukung perubahan struktur organisasi.. Sementara itu. Aspek individu berhubungan dengan . artinya perubahan struktur organisasi dan tugas-tugas yang sudah dilakukan diikuti dengan perubahan setting fisik tempat orang-orang atau anggota organisasi itu bekerja. Sebenarnya. perubahan organisasi dapat ditujukan terhadap aspek ndividu. Walaupun Steers tidak menyatakan aspek perubahan yang berkaitan dengan tugas secara eksplisit. . dan aspek organisasi.anggota organisasi. Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada pendapat yang dikemukakan Steers (1977). Sementara itu. Griffin dan Moorhead (1986) menyebut hal ini dengan istilah perubahan individu dan kelompok. kelompok.30 Melihat perbandingan pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi sebagaimana tampak pada tabel 2. Menurut Steers (1977).1. dapat dijelaskan bahwa secara umum terdapat kesamaan pandangan mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. aspek kelompok menyangkut hubungan antar pribadi ^ng harus dibangun untuk mendukung proses perubahan.

'7/7 any change. Perubahan struktur mencakup penyusunan kembali sistem internalnya. seperti garis komunikasinya. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. " (Tee. teknologinya. 1982) menyatakan bahwa pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengubah strukturnya. diakses tanggal 9 Februari 2005). yaitu perubahan yang terutama ditujukan pada: (1) pribadi individu. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan budaya merupakan hal ^ngesensial dalam pengembangan organisasi. namun perlu diingat bahwa "The premise of organizational development is: Orgamzations are social systems m which people are strongly influenced hy the rgamzationa/ culture. atau hirarki manajerial. dan atau manusianya. Perubahan teknologi berarti mengubah peralatan. dan (3) iklim organisasi dan gaya hubungan antar pribadi (Steers. tugas. hubungan. 1977). it is usually easier t o change the structures and system than to change the culture. teknik memproses. alur kerja. sikap. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi mencakup perubahan seleksi. Walaupun ada beberapa fokus perubahan yang dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi.31 Berdasarkan hal tersebut. (2) struktur dan sistem organisasi. Therefore.toolpack. pelatihan. atau teknologi. . Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi bukan merupakan hal yang mudah dibandingkan dengan perubahan struktur. atau peran anggota organisasi. the most potent tool for improvemen/ is cultural .com/services. 2003:38). Leavitt (dalam Stoner. ada tiga pendekatan umum yang dipakai untuk melakukan perubahan secara berencana. hange(http://www. atau metode produksi.2. Dengan demikian.html.

pendidik Perbaikan tingkat Perilaku dalam an/latihan. sosiali keterampilan sikap organisasi sasi. Rancangan Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Aspek Teknik Intervensi Hasil Langsung Asumsi Mengenai Perubahan yang Dituju Penyebab Utama Perilaku dalam Organisasi Pribadi Individu Edukasi. yang berikan imbalan ditentukan oleh mempengaruhi apa pada prestasi ang karakteristik yang dikerjakan gota yang mem situasi organisasi orang dalam tugas perlancar tercapai tempat orang nya tujuan bekerja organisasi Iklim organisasi Teknik eksperimen Menciptakan iklim Perilaku dalam dan gaya yang ditujukan un keseluruhan organisasi hubungan antar tuk meningkatkan organisasi yang terutama pribadi kesadaran anggota bercirikan tingkat ditentukan oleh akan faktor kepercayaan antar proses emosi dan penentu sosial dari pribadi dan sosial yang perilaku mereka keterbukaan yang mencirikan dan membantu tinggi.2. mem hubungan antara mereka perkecil para anggota mempelajari cara konsekuensi organisasi baru untuk disfungsi dan kon bereaksi dan flik sosial dan per berhubungan satu saingan yang amat sama lain dalam ketat konteks organisasi .32 pendekatan -engembangan organisasi hendaknya memberikan penekanan pada perubahan budaya Tabel 2. prosedur dan disi yang menim organisasi kebijakan yang bulkan dan mem terutama berlaku. perubahan dan motivasi terutama sikap manusia ditentukan oleh karakteristik setiap anggota organisasi Struktur dan Modifikasi prak Menciptakan kon Perilaku dalam sistem organisasi tek.

. Alasannya adalah karena keefektifan organisasi dapat diwujudkan apabila didukung oleh budaya organisasi yang kuat.33 organisasi (organizational culture) yang mempengaruhi cara orang-orang bekerja.

yaitu dengan membentuk Dewan Sekolah dan Paguyuban/Forum Kelas. Desentralisasi merupakan sa'ah . fokus perubahan teknologi dilihat dari pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM. yaitu. maka fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikaji dari sisi perbaikan struktur organisasi sekolah. Sementara itu. pengawasan secara birokratik terhadap sekolah-sekolah mesti diakhiri. Manajemen Berbasis Sekolah 1.Bertitik tolak dari uraian di atas. Gerakan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu pengalihan otontas pengambilan keputusan atau mengurangi cara-cara pengambilan keputusan secara terpusat yang sudah menjadi kebiasaan di masa lalu. (1) sentralisasi yang terlalu berlebihan. B. dan (3) tiap sekolah harus diberi kebebasan dan persyaratan yang fleksibel untuk merespons secara kreatif tujuan pendidikannya secara menyeluruh guna memenuhi kebutuhan para siswa. Pengkajian fokus perubahan tersebut berada dalam kerangka perbaikan manajemen sekolah dan transparansinya serta peningkatan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Munculnya Manajemen Berbasis Sekolah erat kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. (2) kepemimpinan lokal yang efektif adalah sangat penting. dan fokus perubahan individu/manusia dipelajari dan cara-cara yang digunakan kepala sekolah untuk mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi. 1991). Dasar pemikiran Dasar pemikiran dari SBM diartikulasikan oleh Carnegie Foundation (Hanson.

pergeseran wewenang yang begitu r^i: sebagai dampak dari desentralisasi pemerintahan seharusnya diikuti dengan -_eseran paradigma dalam seluruh aspek manajemen pendidikan tingkat -■r--e-. khususnya di Indonesia sebagai dampak reformasi di segala bidang termasuk pendidikan (Mantja.ukakan sebagai benkut.olahan di daerah yang semula dikelola secara lebih sentralistik sekarang harus e r h didesentralisasikan.-a peningkatan mutu pendidikan.35 satu isu yang amat populer pada akhir-akhir ini. I Oleh karena itu. 2002). serta (c) ideologi dan filsafat. pertimbangan administratif menitikberatkan . 2000:88). Pada satu • desentralisasi pengelolaan pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang —e-gandung ekspektasi. „ entralization is necessary bui not sufficient t o improve the quahty of education. (a) _:—istratif. Melihat berbagai fenomena desentralisasi tersebut. Di samping itu. (b) politik. Ada berbagai alasan yang mendorong perlunya desentralisasi pendidikan. " ~ aar.-a. 2000). Pertama. maka . Penyebabnya adalah karena implementasi desentralisasi masih menimbulkan berbagai kekhawatiran. seperti konsentrasi ■ ek jasaan pada beberapa orang atau golongan seperti pada sistem sentralistik. ^-iN-adilan dan ketidak-jujuran jangan-jangan malah lebih sentralisasi (Hamidjojo. yaitu.-atian pada efisiensi . namun di sisi lain desentralisasi belum tentu dapat menjamin . a Nur (2001) menyimpulkan rasional desentralisasi ke dalam tiga aspek. menurut Nurhadi (2004). . Inti dan pendapat tersebut : • —. ada kemungkinan desentralisasi pendidikan -5tru dapat menimbulkan jurang yang makin lebar antara si kaya dan si miskin aar.

Terakhir. (4) ketidaksesuaian tuntutan nasional dengan potensi sumber daya di daerah. yaitu adanya keterikatan secara kaku terhadap aturan dalam melaksanakan tugas sehingga berkurang sikap inovatif.pencapaian tujuan pendidikan dan berupaya menghilangkan a—. Di samping faktor-faktor di atas. akibat rasa takut melanggar aturan dari pihak atasan. secara ideologi dan filsafat munculnya desentralisasi didasarkan atas keyakinan pemberian otonomi yang lebih besar mendorong tercapainya tujuan yang diinginkan baik oleh individu maupun masyarakat. menurut Soetopo (2004a) terdapat sejumlah faktor yang mendorong desentralisasi di bidang pendidikan di Indonesia. (1) terjadinya tuntutan reformasi di segala bidang. fasilitas. dan apalagi dari personel penyelenggara dan pelaksana pendidikan. (6) kurangnya kreativitas daerah. termasuk bidang manajemen pendidikan. secara politis perkembangan zaman menuntut adanya keikutsertaan dan wewenang daerah dalam pengambilan keputusan. sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan.banan dalam praktek manajemen pendidikan. Kedua. Sentralisasi telah menimbulkan sikap patuh yang pasif (passive comformity). yaitu. yang jika dipertahankan sistem lama dapat berdampak munculnya kekacauan. (5) adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat atas pendanaan. sekolah. kurikulum. dan (7) kurangnya kemandirian lembaga pengelola dan pelaksana pendidikan karena besarnya ketergantungan kepada pemerintah pusat. . (2) kurangnya persaingan antar daerah dalam memajukan pendidikan karena tuntutan nasional yang seragam. (3) tuntutan masyarakat untuk mandiri sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyelenggarakan dan memajukan bidang pendidikan.

Pola dan asas keija harus demokratis berlandaskan nilai-nilai dasar desentralisasi. ekonomi. Dalam berbagai literatur. 2. agar desentralisasi pendidikan dapat diterapkan dengan baik diperlukan sejumlah persyaratan krusial yang perlu dipenuhi. yaitu: 1. pendidikan. bukan semata-mata kewibawaan atau kekuasaan pemerintah daerah. Kualitas pelayanan yang diberikan mestinya dapat menghapus persepsi negatif dari penerapan sistem sentralisasi dalam dunia pendidikan selama ini. istilah-istilah yang digunakan dalam membahas School-Based Management adalah. 2. Manajemen desentralisasi bukan hanya memperhatikan stakeholders tetapi justru berfokus pada peranserta seluruh lapisan masyarakat.37 Menurut Hamidjojo (2000). Otonomi pada hakikatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau suatu lembaga atau suatu daerah. 3 Pelayanan harus lebih cepat dan efisien. Dalam menerapkan desentralisasi harus mampu menghapus segala bentuk diskriminasi politik. Oleh karena itu perlu dibangun mekanisme hubungan kerja antarkomponen strategis di daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas. Shared Decision . 4 Keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihidupkan sebagai akar yang kokoh demi tegaknya sistem pendidikan nasional dan negara kesatuan. Pemberdayaan rakyat dalam pendidikan harus menjadi tujuan utama. sosial budaya. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Terdapat berbagai istilah yang dipakai berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah {School BasedManagement). karena itu yang diperlukan adalah usaha empowerment. SARA dan ekses anarcho-ethnocentrism.

1991. School-based Governance. Dengan demikian. Fernandez & Tornillo. Responsible Autonomy. fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan propinsi/dinas pendidikan kota/kabupaten. 1992. Johnston & Germinario. Self-Managmg X hool. luwes. 2002a). dalam Cotton. kreatif. Lebih lanjut dikemukakan. Mohrman. sinkronistis. koordinatif. dampak perubahan pola manajemen tersebut terhadap sekolah adalah. Si t e-Based Management. School-based Decision Making. Cistone. kooperatif. Wohlstetter & Associates. integratif. Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekolah dengan melibatkan partisipasi individual. proaktif. dan (3) peran sekolah yang . sinergis.Makmg. 1989. Hanson. 1994. (1) sekolah bersifat otonom dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal). baik personel sekolah maupun anggota masyarakat. School Empowerment. Ceperley. Decentralized Authority. penerapan Manajemen Berbasis Sekolah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen pendidikan dan sistem sentralisasi ke desentalisasi. School-site Autonomy. dan profesional. Cromwell. dan Administrative Decentralization (Lindquist & Mauriel. Artinya. 2003. Shared Governance. Caldwell & Spinks. sebagian dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional (Depdiknas. 2000). (2) personel sekolah dan anggota masyarakat dapat meninggalkan perilaku rutinitas dengan menunjukkan perilaku mandiri. Lewis.

parents. committee. Some formal structure (council. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tentang Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh para ahli. bahwa sekolah merupakan unit utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan oleh karena itu ekolah harus diberi otoritas dalam pengambilan keputusan. pengertian Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: A strategy to improve education by transferring significant decision. students. . Hal pokok yang terkandung dalam pendapat di atas adalah. and at times. team. provide principals. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White.39 selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-din tinggi (self-motlvator).majemen Berbasis Sekolah dari sisi pendelegasian kekuasaan dan keputusan. board) often composed of principals. personnel and program is delegated to and often distributed among site-level actors. Menurut Office of Educational Research and Improvement (OERI) dari the US Departemen of Education (dalam Sutjipto. teachers. Malen. parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget. 1989:404) menyatakan pula batasan mengenai '•'. Selanjutnya.making authority from state and district offices to individual school. 1994:56) mengemukakan definisi Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut: School-based management can be viewed conceptual/y as a formal alteration of governance structures. as a form ofdecentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvements might be stimulated and sustained. Some formal authority t o make decision in the domains of budget. personnel. teachers. 2001:7). student and community residents is created so that site participants can be directly involved in school-wide decision making. and the curriculum. Marburger dalam Lindquist dan Maunel.

SBM menurut Marburger (dalam Lindquist dan Mauriel. . 1989) merupakan desentralisasi struktur organisasi. parents. Pada hakikatnya. SBM menurut OERI (dalam Sutjipto. Terdapat beberapa prinsip yang melekat dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah. personel sekolah.:engan pernyataan sebagai berikut: SBM is defined as a decentralized organizational structure in which the power and decisions formerly made by the superintendent and school board are delegated to the teachers. konsep SBM berdasarkan ketiga pendapat tersebut adalah pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada sekolah. 1994) tentang SBM sekolah dipandang sebagai unit utama peningkatan mutu. di samping mempunyai tanggung jawab yang besar dapat melakukan kontrol yang lebih luas terhadap proses pendidikan di sekolah. dan masyarakat. prmcipal. Selain itu. 2001) merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan dengan cara memberikan otoritas pembuatan keputusan kepada sekolah. orang tua dan masyarakat. orang tua. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. guru. siswa. Konsep yang terkandung dalam definisi yang dikemukakan Malen. and students of the local school. Sementara itu. Dengan demikian. Untuk mendukung peran dan posisi tersebut dilakukan pembagian otoritas pengambilan keputusan. untuk meningkatkan partisipasi personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dibentuk dewan atau komite sekolah yang beranggotakan kepala sekolah. personel dan program yang didelegasikan dan didistribusikan kepada aktor-aktor di tingkat sekolah. community members. (1) partisipasi dalam pembuatan keputusan dengan dewan sekolah yang melibatkan konstituen sekolah akan menumbuhkan rasa memiliki bagi konstituen itu. yaitu. Beberapa otoritas formal pembuatan keputusan yang dimiliki sekolah menyangkut anggaran.

Keadaan khusus pada jenjang pendidikan dasar. Selanjutnya ia memandang bahwa selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. . dan (3) implementasi sistem pembuatan keputusan terdesentralisasi akan mendatangkan sumber-sumber (076) bahkan Filipina (083). Permasalahan mutu pendidikan yang masih rendah bukan hanya muncul saat ini saja. telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan terus menerus yang antara lain disebabkan oleh mismanagement. dan (b) apakah kegiatan pendidikan dikerjakan atas dasar manajenal dan oleh personel yang memiliki keterampilan manajemen pula?. yaitu. Lebih khusus lagi. melainkan sudah merupakan masalah yang berlangsung cukup lama. (a) apakah aktualisasi kegiatan pendidikan berpijak pada landasan yuridis dan kebijakan pelaksanaannya?. Penyelesaian permasalahan di atas menuntut adanya perhatian serius dari pemenntah dengan mengkaji secara sistemik berbagai faktor strategis penyebab rendahnya mutu pendidikan.(2) otoritas didelegasikan from the school board to central administration to the school building to the site council. Bafadal (2003) menyatakan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. Menurut Sutjipto (2004). (Jawa Pos. 2004). Mantja (2002) melihat persoalan di atas terkait dengan dua pertanyaan mendasar. 2004). terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh lembaga International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan membaca murid Sekolah Dasar Indonesia berada pada urutan ke-38 dan 39 negara yang diteliti (Hadiyanto. secara kasatmata dapat dilihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengalami krisis yang dalam.

Otonomi dan kewenangan sekolah yang memadai dapat meningkatkan efektivitas sekolah serta memberikan beberapa keuntungan. Implementasi SBM di sekolah mempunyai konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen sekolah dan pola lama ke pola baru (Depdiknas. Dilihat dari sisi proses kebijakan. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dihadapkan pada keadaan vang menginginkan status quo dan faktor lain yang menghendaki perubahan. orang tua siswa. 2004). dan (d) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. tingkat pengulangan. (a) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa. tingkat putus sekolah. memberdayakan guru. moral guru dan iklim sekolah. dan guru. Perubahan aspek-aspek manajemen sekolah tersebut digambarkan dalam tabel 2. hasil belajar.3. (b) pemanfaatan sumber daya lokal menjadi lebih optimal dalam penyelenggaraan sekolah. berdasarkan berbagai pengamatan dan analisis. sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara pembiayaan secara signifikan (Lindquist & Mauriel. mengelola sekolah. Wohlstetter dan Associates (1994:50) menyatakan: The transition itself a substancial commitment of time. implementasi merupakan transisi dan keadaan sosial. dan melakukan perubahan terencana (Sagala.6 Selanjutnya. 2002a). dan ekonomi sebelum kebijakan dianut kepada konfigurasi baru yang berbeda (Sutjipto. seperti kehadiran. seperti. Sebagai proses transisi. and the development of the organizational infrastructure to support this . 1989). and money for staff development. 1987). Mohrman. politik. (c) keefektifan melakukan pembinaan peserta didik. mnovation. merancang ulang sekolah.

new way of functioning. . Oleh karena itu. pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah harus dilakukan secara berencana.

.

rubahan berencana terjadi melalui tiga tahap. "Unfreezing" adalah merubah atau membongkar kebiasaan. dan (3) refreeztng.► Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi -----------.► Pengambilan keputusan . Dimensi-dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat — --------.► Otonomi partisipatif Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko : Gunakan uang semuanya -----------. dan tradisi lama -Daya mereka siap untuk menerima alternatif-alternatif baru. svstem after the change is unplemented (Duncan & Kurt Lewin dalam Sutarto.► -----------. "Unfreezing" terjadi .► Memfasilitasi -----------Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian ! Organisasi hirarkis Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Ruang gerak luwes -----------. (2) imtiating the change. or stabihzmg :.3. (1) unfreezing the system rpreparing it for change.41 Tabel 2. yaitu. 2001 191).► w Pendekatan profesional Desentralistik -----------.

mengingat . kurikulum dan penilaian (Tim Penulis Direktorat TK/SD. Selanjutnya. perlu waktu dan keberanian untuk berubah. contoh lain yang ada di Indonesia adalah hasil analisis Program Ujicoba Pemberdayaan Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar di DKI Jakarta. Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam hal anggaran. 3.pabila kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan ditingkatkan atau kekuatankekuatan yang melawan perubahan dikurangi. studi yang dilakukan di El Salvador. "Internalization" timbul apabila individu ditempatkan dalam situasi perilaku baru dan mereka dituntut untuk berhasil melakukan tugas itu. Namun. UNESCO & UNICEF. "Refreezing" merupakan proses dimana perilaku yang baru diperoleh telah berintegrasi dengan pola perilaku dan kepribadian individu. Pusat Kurikulum.42 . Proses "changmg" sebagian besar timbul karena adanya "identification" yang timbul apabila suatu model diterapkan dalam lingkungan organisasi. yang dilakukan atas keqa sama Lembaga Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dengan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun anggaran 1998/1999 menunjukkan bahwa "pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah masih sangat sulit. Pada suatu ketika akan terjadi situasi individu telah cocok untuk berubah sehingga mereka siap untuk menerima pola-pola perilaku baru. Nepal dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat. 2003). personalia. Meksiko.

43

selama puluhan tahun manajemen sekolah bersifat sentralistis." (Tilaar, 2002:43). Berdasarkan keadaan tersebut, hal utama yang direkomendasikan oleh Tim Ujicoba untuk diubah adalah manajemen tingkat pejabat atau birokrat, karena seluruh manajer sekolah hingga saat ini masih "sangat patuh" dengan pimpinan, sehingga jika ada hal-hal yang bersifat inovatif mereka sangat takut untuk mengubahnya, karena dipandang tidak sesuai dengan standar baku yang ditetapkan. Di luar negeri, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi telah banyak dilakukan. Mort (dalam Kimbrough dan Burkett, 1990) telah melakukan penelitian tentang proses perubahan terencana di awal tahun 1950-an. Hall dan Hord (1987) meneliti perilaku kepala sekolah dan peningkatan sekolah yang berhasil pada the Reseacrh and Development Center for Teacher Education at the ■uversity ofTexas, Austin. Fokus penelitiannya diarahkan pada Change Facilitator Sty le. Firestone dan Corbett (dalam Cotton, 1992) meneliti "Planned Organizational hange " dengan fokus how the change process should be managed so as to lead to r sitive results. Menurut Cotton (1992), Mutchler juga telah melakukan penelitian tentang "Eight Barriers to Changing Traditional Behavior" Prestin dan Bowen 1993) memfokuskan penelitiannya pada asesmen perubahan di empat sekolah dalam usaha restrukturisasi pendidikan. Hasil penelitian Lewin, Coch, French, Benne dan Chin (dalam Schein, 1980) menunjukkan bukti bahwa salah satu cara terbaik untuk membantu melaksanakan perubahan ialah dengan melibatkan sistem yang terkena angsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak sistem itu berpartisipasi dalam menentukan bagaimana mengelola suatu perubahan, semakin •

44

urang kemungkinannya untuk menentang perubahan itu, dan semakin mantaplah perubahan itu teijadi. Hasil penelitian klasik tentang how resistance to change may be managed\ dikemukakan Robbins (1984:184), yaitu: "There is a strong beliefheld by those people actively engaged in OD that changes are more likely to be accepted by individuals who have been given a voice in determining the content and process of the change". Selanjutnya, Goodlad (dalam Owens, 1991) melakukan penelitian tentang problem of personal and institutional renewal m education. Demikian pula penelitian Fullan, Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD, seperti dilaporkan Owens (1991). Hasilnya menunjukkan proyek OD bersifat parsial, tidak tuntas, aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Di samping itu, penelitian-penelitian yang mengkaji tentang implementasi kebijakan School Based Management juga telah banyak dilakukan di luar negeri. Lindquist dan Mauriel (1989) melakukan penelitian dengan judul School Based Management: doomed to failure?. Data penelitiannya membuktikan, terdapat tiga masalah yang umumnya muncul sebagai hambatan pengembangan SBM, yaitu; (1) kekeliruan konseptual dalam pengembangan SBM, (2) kurangnya motivasi untuk mendelegasikan otoritas ke sekolah-sekolah, dan (3) persyaratan yang berat tentang waktu dan keterampilan yang dituntut dalam implementasi SBM. Temuan lainnya, berdasarkan data ia mengakui bahwa (a) SBM memerlukan suatu perubahan dalam gaya manajemen sekolah, dan (b) tidak adanya dukungan yang kuat oleh pengawas merupakan bukti council's conflict dengan dewan. Selanjutnya, Cotton (1992) telah

45

mereview 42 buah penelitian tentang implementasi SBM. Misalnya, Site-Based ' fanagement: Its Potential for Enhancmg Learner Outcomes yang dilakukan Arterbury dan Hord (1991), School Based Management: Are We Ready? oleh Caldwell dan Wood (1988), dan School BasedManagement/Shared Decision Making in Dade County (Miami) oleh Cistone, Fernandez dan Tornillo (1989). Penelitianpenelitian tersebut lebih memfokuskan pada hakikat dan hasil Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan kepustakaan yang teijangkau, di Indonesia terdapat pula beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Penelitian terkait, antara lain, dilakukan oleh Bafadal (1994). Ia meneliti proses perubahan di sekolah dasar yang difokuskan pada; (1) proses implementasi inovasi pendidikan ditinjau dari pengubahan latar struktural dan tingkah laku, (2) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi inovasi, dan (3) peran agen perubahan dalam proses implementasi inovasi. Aswandi (2001) meneliti Perubahan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta dari Manajemen Keormasan ke Manajemen Profesional, dengan fokus; proses perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Lengkong (2004) meneliti Strategi Perbaikan Sekolah Berdasarkan Perspektif Guru pada tiga SLTP di Minahasa dengan fokus proses perbaikan internal individual guru dan dampak dan proses perbaikan internal guru terhadap perbaikan kineija sekolah. C. Pengembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Uraian berikut ini mencoba mengelaborasi konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berdasarkan kajian teoretis yang

maka kajian pengembangan organisasi dengan pendekatan . 2001). .emen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada tiga pilar berikut i i manajemen sekolah dan transparansi. Hal ini sekaligus merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang dilakukan. Ada pertanyaan pokok yang perlu dijawab. Setelah pembahasan ketiga pilar tersebut.^rta masyarakat. dan transparansi". (3) partisipasi. yaitu apa yang dikembangkan —elakukan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis v r • ah Bafadal (2003:93) menyebutkan aspek yang dikembangkan dalam --_. dan (3) . yaitu (1) peningkatan mutu. selanjutnya . Berdasarkan pada pendapat. dan (c) -._i?at tersebut.. Supriadi (2004:19) menyatakan bahwa '•'BS pada dasarnya adalah MBS yang secara khusus diarahkan pada upaya r*r. .46 sudah dikemukakan sebelumnya.h.r-.ngkatan mutu pendidikan (quality-improvement orientedSBM)". .andinan.• an mengenai budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi.. —. maka ada tiga pilar yang dikembangkan yaitu (a) manajemen : . (2) • . (2) metode pembelajaran. . Kemudian mencermati apa yang sudah diterapkan pada sekolah-sekolah yang dijadikan f—ra* ujicoba MBS. i b) metode pembelajaran dengan menerapkan metode PAKEM.emen Berbasis Sekolah ini dengan "empat pilar keberhasilan MPMBS a-a/emen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). -erta masyarakat (Subakir & Sapan.

1991._ emen Berbasis Sekolah. 1989.47 Manajemen sekolah dan transparansi Ada beberapa argumen perlunya perbaikan atau peningkatan manajemen ah dan transparansi. memiliki kewenangan yang sangat . Pengembangan manajemen sekolah dititikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri utama pada keterbukaan atau transparansi (Subakir & Sapari.kurang melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Wohlstetter & Associates. Mohrman. Kemandirian sekolah dipengaruhi antara lain oleh sampai sejauh mana kevvenangan yang diberikan dinas pendidikan kepada -ekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Hanson. 1994. Subakir & Sapan. Hanson. 2002a. 2002a). 1989. dalam Lindquist & Mauriel. 1989. 2001. Mulyasa. 2001. Sutjipto. 2003. Depdiknas. Kewenangan terbatas yang dimiliki sekolah harus dimanfaatkan secara efektif efisien. maka pola pengambilan keputusan ditekankan pada partisipasi personel sekolah dan masyarakat (Malen.. kepala sekolah perlu melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.. 1991. Alasannya adalah karena salah satu konsep pokok Manajemen Berbasis Sekolah adalah pelimpahan kewenangan kepada -ekolah dalam pengambilan keputusan (Marburger dalam Lindquist & Mauriel. Depdiknas. 2001. Bafadal. Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Hal ini sesuai dengan ide dasar yang melandasi lahirnya . L ndquist & Mauriel. akan dalam penyelenggaraan pendidikan. bahwa selama ini secara institusional sekolah kurang _ ■ --ca. 2005). Supriadi. 2004). ■ . dan kurang transparan dalam pengelolaan keuangan (Marburger. Ogawa & Kranz dalam Ogawa & . Oleh karena itu.

Untuk mewujudkan hal di atas. Direktorat TK/SD. Depdiknas. 1994. Pelibatan personel r -. Depdiknas. termasuk masalah keuangan. dan prosedur atau . pengurus BP3. . 2004). Hasilnya dipajang di tempat terbuka dan dengan mudah dibaca oleh siapapun. Bafadal. 2003. Subakir dan Sapari (2001) menyatakan: Kepala sekolah sebagai pemimpin puncak di sekolah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan transparansi manajemen keuangan. pelaksanaan. Kesemuanya itu diawali dengan perubahan struktur organisasi Komite Sekolah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. 2001.olah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dimulai dari penyusunan encana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Sagala. 2004). Bahkan banyak SD yang memberikan kepercayaan sepenuhnya masalah keuangan BP3 kepada bendahara BP3 yang berasal dari 'orang luar' (baca: bukan guru). Puskur. Pembentukan struktur tersebut diikuti dengan perubahan tugas-tugas dan mekanisme keija antara sekolah dan Komite Sekolah. maka pengembangan manajemen sekolah : akukan dengan cara merubah struktur organisasi.iluasi program sekolah. dan . . Penyelenggaraan manajemen sekolah yang memiliki ciri keterbukaan atau transparansi merupakan salah satu ciri dari sekolah yang melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (Subakir & Sapan. Berkenaan dengan hal ini. 2002a. dan masyarakat.48 White. Transparansi manajemen sekolah dilakukan dengan cara menyampaikan program yang akan dilaksanakan sekolah dan melaporkan hasil pelaksanaan/evaluasinya. 2003. Supriadi. UNESCO & UNICEF. RAPBS disusun bersama guru. 2003. tugas-tugas. Nurkolis. 2002a.' anisme keija.

2002a). Dengan demikian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.49 Pendapat di atas mempunyai arti bahwa dalam pengembangan organisasi dengan Manajemen Berbasis sekolah. menggunakan dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan. sekolah telah melakukan perubahan dengan mewujudkan transparansi manajemen sekolah terutama menyangkut keuangan -ekolah. efektif. Pembaruan metode pembelajaran Salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi berkaitan dengan teknologi. 1991). 2005). Perubahan teknologi dalam kerangka pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan dengan cara penerapan metode pembelajaran aktif. yaitu _danya usaha sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa (Depdiknas. Istilah teknologi mempunyai banyak arti. dan menyenangkan (PAKEM). pengertian teknologi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: Metode bersistem untuk merencanakan. kreatif. Berdasarkan . baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi keduanya sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif. karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar (Mulyasa. Pembaruan metode rembelajaran menjadi bagian dari pembaruan sistem yang merupakan salah satu ciri rengembangan organisasi (Owens.rakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada aspek proses belajar mengajar. upaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan efisien. 2. Hal ini sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas sekolah kepada masyarakat. Hal tersebut sesuai pula dengan • .

dikemukakan bahwa pengenalan. Pembaruan metode pembelajaran tersebut mempunyai konsekuensi terhadap perubahan tugas-tugas guru dalam mengelola pembelajaran mulai dan . UNESCO & UNICEF.50 uraian tersebut. pengembangan. Puskur. Selanjutnya. dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan asumsi semuanya itu akan dapat memperbaiki mutu/hasil lulusan (Direktorat TK/SD. maka dapat dikatakan bahwa pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM merupakan bagian dari kerangkan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 2003).

2002a. dan peranserta masyarakat. maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terwujud. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses pendidikan. penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. di mana kepala sekolah. Pusat Kurikulum. Tim Penulis Direktorat TK & SD. UNESCO & UNICEF. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru. Dampak dari manajemen yang sentralistik tersebut dikemukakan Bafadal (2003:37) sebagai berikut: Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan. peranserta warga sekolah. antara lain. pengambilan keputusan. upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan kelihatan masih terfokus pada faktor pertama (menggunakan pendekatan education production function). dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terjadi bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah. 2003). dan perbaikan sarana prasarana pendidikan telah dilakukan. guru kelas. pemantauan. khususnya guru. evaluasi dan akuntabilitas. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan programprogram peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Sementara itu. Pertama. Kedua. Sampai saat ini. upaya-upaya untuk mengatasi faktor penyebab kedua dan ketiga tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah selama ini. kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function. Ketiga. orang tua siswa. pengadaan buku dan alat pelajaran.5 merata (Depdiknas. . khususnya orangtua siswa.

(d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. 2001:13. (e) menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. melaksanakan dan mengevaluasinya.: ig dalam Manajemen Berbasis Sekolah" (Subakir & Sapari. peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan . 2003). 2003) menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian guru tingkat partisipasi orang tua siswa dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah masih rendah (rata-rata . UNESCO & UNICEF (2003) ada tujuh kemampuan guru yang diperlukan untuk mendukung penerapan PAKEM. (f) mengaitkan kegiatan belajar mengajar dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. dan (g) menilai kegiatan belajar mengajar dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. 1 28) Selama ini. Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Diknas RI (dalam > _r« hclis. (a) merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang mendorong beragam siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. yaitu kemampuan. 3.50 merencanakan. iang masih rendah. Peningkatan peranserta masyarakat Pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah. Implikasi dari semua itu adalah diperlukan kesiapan guru menerima pembaruan dan kesiapan pengetahuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan program pembaruan itu dalam bentuk tindakan nyata di kelas. sekolah dan guru. Puskur. ^ESCO & UNICEF. Puskur. (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Mulyasa. tetapi juga ~enjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat (Direktorat TK/SD. "Peranserta masyarakat merupakan salah satu aspek >_ -. (b) menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. Menurut Direktorat TK/SD.

kelompok. ~:uk meningkatkan peranserta masyarakat dilakukan perubahan organisasi yang mewadahinya. Sebagai acuan yang dirujuk untuk peningkatan r». -anserta masyarakat adalah pasal 54 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.asan. pemerintah perlu merumuskan secara jelas — . organisasi profesi. mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah.-genai bentuk partisipasi dan tugas oprasional organisasi yang mewadahi ->. dalam pasal 56 dinyatakan bahwa masyarakat berperan _ . yang .r-eringkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan. Partisipasi orang tua siswa yang sangat tinggi ialah dalam mengawasi mutu sekolah.Selanjutnya. Sehubungan dengan itu. kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan iklim sekolah.-i'akatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan : : • an. dan masyarakat M -Kasa. -angan. keluarga. dan organisasi k . orang tua. dan evaluasi program pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan < ~ e vekolah/Madrasah.51 57. askan bahwa peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta . >erta masyarakat tersebut.1%) dan sangat rendah dalam hal menentukan kebijakan program sekolah dan mengawasinya. peranserta masyarakat merupakan salah satu pilar dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Oleh karena itu. Pada satu sisi. . 2003). peranserta masyarakat adalah penting. pertemuan BP3. . . pembayaran dan bentuk iyuran BPS per bulan dan sumbangan uang gedung untuk siswa baru. pengusaha. namun di sisi lain •esarnva partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut. pertemuan rutin. Perubahan tersebut dilakukan dengan cara membubarkan .

Hoy dan Miskel (I 01:177) menyatakan "culture is manifested in norms. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. not m the individual. 4. shared values. bui :f exis(s m the organization. Dalam pasal 56 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri. Secara konkrit.52 organisasi BP3 dan membentuk organisasi baru yang disebut Komite Sekolah. Budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi Robbins (1984:171) berpendapat "organizationa/ culture is a perception. Budaya sebagai norma-norma bersama. Pembicaraan mengenai budaya berkaitan dengan "the behavioral norms. Persoalannya adalah apakah perubahan struktur dan tugas-tugas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah.ini berarti. individundividu dengan latar belakang yang berbeda atau tingkatan yang berbeda dalam rganisasi cenderung menjelaskan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang sama. Berdasarkan hal tersebut. arahan dan dukungan tenaga. perspektif .2. . sarana dan prasarana. and basic ■ umptions.. Tingkatan -daya organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar 2. perubahan struktur organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat telah diikuti dengan perubahan tugas-tugas yang akan dijalankan oleh Komite Sekolah. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. and beliefs of an organization' (Owens. each occurring at different levels ofdepth and abstraction ". 1991:171). <umptions.

Norma-norma biasanya tidak tertulis (unwritten) dan -erupa harapan informal. 2001:177).e_getahui dan memahami norma-norma budaya itu. maka penting untuk -.53 Gambar 2. Tingkatan Budaya (Hoy & Miskel.2. . mengenai budaya muncul ketika norma-norma perilaku digunakan sebagai elemen dasar budaya (lihat gambar 6. Norma-norma secara langsung mempengaruhi perilaku. Oleh karena itu. apabila kita mempunyai perhatian terhadap perubahan perilaku organisasi. N orma-norma itu more visible daripada values dan tacit assumptions\ dengan :emikian mereka memberikan cara-cara yang jelas untuk membantu manusia memahami aspek-aspek kehidupan organisasi.1).

Pada tingkat abstraksi menengah. Pola dalam konteks ini berarti struktur atau susunan yang ada di balik perilaku. Nilai-nilai bersama merupakan karakter dasar dan organisasi dan memberikan organisasi memiliki suatu indentitas. 1985). Nilai-nilai merefleksikan asumsi-asumsi yang mendasari budaya. dan lingkungan. -ealitas. "dalam mempelajari perilaku manusia diperlukan penelitian mendalam sampai ke inner behavior secara holistik. hakekat manusia. -daya didefinisikan sebagai shared va/ues. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Upaya pengembangan organisasi sekolah untuk meningkatkan mutu . Nilai-nilai merupakan konsepsi dan apa -ng diinginkan. 2001:178). pola perilaku harus dipahami dan diinterpretasikan dan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan anggota kelompok dalam latar budayanya. dan bertolak dari sudut pandang pelakunya" (Faisal. kebenaran. 1990:13).erupakan manifestasi kolektif dari taat assumptions. Budaya tersusun dari penlaku. budaya —.Budaya sebagai nilai-nilai bersama. 5. Oleh karena itu. Tacit assumptions merupakan -remis yang abstrak mengenai hubungan manusia.imzation" (Hoy & Miskel. Budaya sebagai tacit assumptions Pada level yang paling dalam. N lai senng didefinisikan "what members should do to be successful in the •v. Pola dapat diidentifikasikan dengan cara menarik kesimpulan dari perilaku individu atau kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. karena itu dapat dikatakan bahwa budaya merupakan perilaku yang terpola (Ritzer. Pola dapat dilihat secara langsung {tangible) atau tersembunyi i intangible). Dengan perkataan lain.

" Selanjutnya. Selanjutnya. Hughes. yaitu. pengembangan organisasi sekolah tidak terjadi dengan mudah. Menurut Buchanan dan Huczynski (2004:617) resistensi adalah "an mability or an umvillingness to discuss or to accept change thal are perceived to be damagmg or threatening to the individual'. (4) mengkomunikasikan visi dengan buruk. Kotter (1996) menjawab pertanyaan mengapa organisasi gagal melakukan perubahan dengan mengidentifikasi delapan kesalahan.pendidikan telah sering dilakukan. baik atas dasar inisiatif lembaga sendiri maupun dengan cara mengadopsi suatu bentuk kebijakan baru di sekolah. (7) terlalu cepat menyatakan keberhasilan. (5) membiarkan hambatan-hambatan menghalangi visi baru. (1) membiarkan adanya rasa puas diri yang terlalu banyak. particularly those who have to change the most. Perubahan yang dilakukan mestinya berjalan secara berkelanjutan (sustainability) sehingga peningkatan mutu (quahty improvement) yang menjadi tujuan perubahan itu dapat diwujudkan. " Berkenaan dengan hal ini pula. Namun dalam kenyataannya. seperti halnya Manajemen Berbasis Sekolah. penyebab kegagalan pengembangan organisasi adalah karena adanya keenganan atau resistensi terhadap program pembaruan yang dikembangkan. (2) gagal menciptakan koalisi pengarah yang cukup kuat. (6) gagal menciptakan keuntungan jangka pendek. (3) meremehkan kekuatan visi. Ginnett dan Curphy (2002: 395) menyatakan: "Everybody resists change. Robbins (1996) menyatakan salah satu penemuan yang paling baik berdasarkan penelaahan mengenai perilaku tndividu dan organisasi adalah bahwa organisasi dan anggotanya enggan terhadap atau menolak . dan (8) lalai menanamkan perubahan secara kokoh ke dalam kultur lembaga.

Akibatnya. Dalam bentuk pernyataan lain. 1977. Robbins. 1991. Siagian. Jones (2004) menyatakan resistensi terhadap perubahan dalam organisasi terdapat pada tiga level. bahkan perubahan meningkatkan •etidakpastian. Uraian lengkap dari kedua faktor penghalang tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Individu dan kelompok cemas bahwa suatu perubahan mungkin berpengaruh terhadap kepentingan mereka. 2000. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor individu dan organisasi.perubahan. dan (c) level individual. Steers (1977) menyebut resistensi sebagai faktor penghalang perubahan dalam organisasi. 1996. Robbins (1984) mengemukakan bahwa osaha-usaha untuk menghasilkan perubahan akan sering meghadapi resistensi. individu-individu memerlukan tambahan pengetahuan terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Konsekuensinya. yaitu. (a) level organisasi. Hal itu c sebabkan karena people dislike uncertainty. 1986. Anggota organisasi ingin mengetahui bagaimana perbedaan pekerjaan yang ditetapkan akan mempengaruhi mereka. Keengganan atau penolakan terhadap perubahan dalam pengembangan organisasi dapat bersumber dari organisasi itu sendiri maupun dari individu sebagai anggota organisasi (Steers. (b) level kelompok. 2002). kecuali apabila perubahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan kepada mereka. anggota organisasi menolak pengenalan metode baru karena mereka merasa aman dalam kondisi yang ada dan takut bahwa perubahan yang diperkenalkan merusak hubungan antar pribadi yang ada yang sudah beijalan cukup . mereka akan menciptakan hambatan yang signifikan (significcmt barriers) untuk menghalangi perubahan. Pada tingkat pribadi. Winardi. Sementara itu. Hanson. Griffin & Moorhead.4.

lama. Ini berarti resistensi terhadap perubahan terutama disebabkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan dan karena orang lebih menyukai sesuatu .

adi karena sebagian anggota organisasi tidak memahami sepenuhnya alasan suatu .4. Riwayat usaha perubahan yang tidak berhasil serta konsekuensinya di masa lalu 8. Kekhawatiran bahwa perubahan akan mengacau imbangan kekuatan yang ada saat itu antara kelompok serta bagian 5.. 8. mekanisme atau konsekuensi perubahan Kegagalan melihat kebutuhan akan perubahan Kekhawatiran kehilangan status. resistensi ■: . 10 .--paya untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan resistensi dengan maksud berpartisipasi dalam implementasi program yang dikembangkan. Kesalahan pemilihan metode memperkenalkan perubahan 7. 6. Kekakuan struktur sosial yang ada 11. Di samping itu. Persaingan atau konflik antar bagian yang berakibat timbulnya keengganan bekerja sama 3. 5. dan kekuasaan sebagai akibat perubahan Kekhawatiran terhadap segala yang terasa asmg Kurang identifikasi atau keterlibatan dengan perubahan Kebiasaan Kepentingan menjaga status quo (karena keuntungankeuntungan tertentu) Norma kelompok dan kemantapan peranan Ancaman terhadap hubungan 1. Iklim organisasi yang sedang berlaku 6. 7. Konflik antara sasaran pribadi dan sasaran organisasi a' g sudah dikenal daripada yang masih asing baginya. 9. rasa terjamin. Biaya yang sudah tertanam dalam keputusan dan kegiatan yang lalu 4. Faktor Penghalang Perubahan dari Aspek Pribadi dan Organisasi Faktor dari Pribadi Faktor dari Organisasi 2 j 4. Salah paham mengenal tujuan. Sistem imbalan dapat memperkuat status quo 2. .58 Tabel 2. "u~ahan atau pengaruh positif perubahan terhadap organisasi sehingga mereka akan .

(2) penolakan terhadap rem bahan. (2) belajar tugas yang baru.^rcayaan para anggota organisasi terhadap keberhasilan setiap usaha baru lenyap. Adanya kecenderungan orang untuk menolak setiap perubahan yang dilakukan __ pengembangan organisasi merupakan hal yang manusiawi (Siagian. : • emukakan oleh Gitosudarmo dan Sudita (2000).. (3) . aar.-jbahan dapat diterima dalam organisasi. (1) rasa takut. (1) takut karena tidak mengetahui. (3) cara yang tidak didasarkan kepada landasan yang kuat. struktur imbalan yang erdapat dalam organisasi mungkin dirancang untuk menguntungkan perilaku yang ia Selain itu.-. menurut Siagian. hal ini dapat merongrong usaha bersama yang menuju pada -ubahan karena takut perubahan itu akan melanggar wilayah mereka masing. 1994).a perubahan yang sebelumnya salah kaprah dan tidak berhasil mengakibatkan • . (4) takut gagal. h karena itu. perubahan dalam pengembangan organisasi akan .ghadapi beberapa masalah. -agai pesaing mereka.estasi besar (sunk cost) untuk suatu produk atau teknologi tertentu. ?utusan dan tindakan-tindakan yang lalu karena sebelumnya sudah diadakan . jika bagian-bagian dalam organisasi memandang satu sama lain . .e-.~g Para pimpinan organisasi mungkin menganggap dirinya terikat pada • .59 Sifat dan karakter organisasi itu sendiri juga dapat mempengaruhi sejauh mana '•. yaitu. Alasan ~ e~gapa orang menolak program perubahan dalam pengembangan organisasi. Misalnya. Bahkan usaha- a. 5 pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat informasi yang kuat. bahwa penolakan individual : erabkan.

i. .rmsak kestabilan interaksi. a perubahan dan kepentingan pribadi. (2) struktur organisasi yang stabil. dan (4) ketidakpercayaan pada manajemen. (3) sistem hubungan.60 . (1) ancaman terhadap maktur kekuasaan. Sementara _ penolakan yang bersumber dan organisasi terdiri dan. dan (4) .

Dengan demikian. (d) negosiasi dan perjanjian. (c) fasilitasi dan dukungan. dan (f) paksaan eksplisit dan implisit (Griffin & Moorhead. 1982.6. Begitu pula melalui komunikasi dapat disampaikan informasi penting kepada anggota organisasi sehingga mereka dapat memahami secara tepat mengenai alasan pentingnya suatu perubahan dilakukan. 1996. 1986. (a) pendidikan dan komunikasi. Pendidikan bagi seseorang dapat menambah pemahaman dan pengetahuan serta meningkatkan kemampuan yang mendukung implementasi perubahan. (e) manipulasi dan kooptasi. Perlu diingat bahwa cara implementasi perubahan sama pentingnya dengan perubahan itu sendiri. Kotter & Schlesinger dalam Stoner. pimpinan organisasi perlu memilih metode yang tepat untuk digunakan sehingga pengembangan organisasi dapat terlaksana sesuai dengan yang diinginkan. Metode yang dapat dipakai untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan adalah. Robbins. Hasil analisis ini dijadikan landasan implementasi program pembaruan dengan mempelajari dan menangani berbagai sumber penghalang >ang mungkin timbul. Gitosudarmo & Sudita. adanya kesalahan informasi yang mungkin diterima oleh anggota organisasi dapat diatasi melalui komunikasi. pimpinan harus mampu menilai dengan tepat sifat dan -ebutuhan akan pembaruan. Pendidikan dan komunikasi merupakan salah satu cara yang dapat dipakai pimpinan untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan. (b) partisipasi dan keterlibatan. 2000). Berdasarkan hal tersebut. . Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk menghadapi resistensi terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi.

Perubahan kedua undang-undang tersebut dituangkan dalam UU RI No. sentralisasi pendidikan menimbulkan kesan kurang melibatkan institusi pendidikan dan masyarakat di daerah.Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kedua faktor terakhir tersebut tidak dapat dipertahankan setelah terjadi gelombang reformasi. tidak jarang pimpinan organisasi . Kalaupun ada. Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi ke daerah sehingga dikeluarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Pendapatan Antara Pusat dan Daerah. Alasan umum desentralisasi adalah bahwa dalam pembangunan bangsa terjadi perubahan wawasan dari top-down menjadi bottom-up (Tilaar. 2000). Lahirnya kedua Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. Namun. wewenang yang diberikan amat terbatas. 2002). 2000). sehingga perubahan manajemen pemerintahan tentu berakibat pula pada penataan manajemen pendidikan (Mantja. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU RI No. Akibatnya ada kecenderungan kebijakan pendidikan yang diambil pemerintah pusat kurang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat daerah yang semestinya market-driven education. -ggunakan pula partisipasi dan keterlibatan sebagai cara untuk mengatasi rengganan . maka perlu dilakukan Selain pendidikan dan komunikasi. serta terdapat berbagai kesulitan dalam mengimplementasikan keputusan (Hamidjojo. Berdasarkan hal yang sudah dikemukakan di atas.

n: ng menyangkut implementasi perubahan dalam organisasi. Metode ketiga adalah fasilitasi dan dukungan.rmpunyai peran kunci. Cara ini digunakan. Sering ditemui kegagalan ~r ementasi suatu perubahan disebabkan kurangnya fasilitas dan dukungan. cara ini juga ditujukan untuk mengatasi .-fasilitasi dan mendukung upaya perubahan yang dilakukan dengan cara.-remasan individu atas hilang atau berkurangnya insentif keija. dalam negosiasi dan ■:~anjian pimpinan boleh saja menawarkan insentif tambahan atau reward dalam r«r-. pada fase --.aa seberapa orang anggota organisasi atau orang-orang tertentu yang dianggap . Negosiasi dan perjanjian juga dapat dilakukan untuk mengatasi keengganan ..terhadap perubahan.. misalnya. Oleh ■ arena itu. Jika orang dilibatkan __ am proses perencanaan dan pengambilan keputusan. untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan pimpinan harus mampu . sementara mereka idapkan pada tugas yang tidak ringan.-o nya. melengkapi fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan anggota rgansiasi dalam melaksanakan tugas-tugas baru. ~Jerung menerima dan mau menjalankan keputusan yang diambil.mk lain. Sudah barang e-.rercanaan suatu kegiatan atau dalam proses pengambilan keputusan-keputusan -. Konsekuensinya. sehingga individu tetap mempunyai komitmen untuk melakukan . Cara ini dipakai apabila keengganan terhadap perubahan berada . Selanjutnya. . -idap perubahan.:j proses pengambilan keputusan itu dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat. maka orang tersebut .

.

dan menciptakan desas-desus palsu agar anggota organisasi menerima baik suatu perubahan. apabila cara lain tidak lagi efektif. sebab kesalahan memahami situasi dapat menyebabkan kekeliruan yang . maka bukan tidak mungkin pimpinan akan menggunakan cara paksaan. Menurut Robbins (1996). maka pimpinan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk merealisasikan keputusan itu. Keengganan terhadap perubahan juga dapat diatasi dengan cara manipulasi dan kooptasi. menahan informasi yang tidak diinginkan. paksaan tetap dipandang tidak baik. Sedangkan kooptasi merupakan upaya untuk mempengaruhi pimpinan kelompok yang menolak perubahan dengan cara memberikan peran utama kepada mereka. Namun. bukan tidak mungkin manipulasi akan menimbulkan ketidakpercayaan lebih tinggi di kalangan anggota organisasi. Manipulasi perlu dilakukan secara hati-hati sehingga maksud yang sesungguhnya dari pimpinan tidak dapat dibaca oleh anggota organisasi. Apapun alasannya. Apabila perubahan sudah merupakan suatu keputusan organisasi yang harus dijalankan. manipulasi adalah memutarbalikkan fakta untuk membuat fakta itu tampak lebih menarik. Terakhir adalah paksaan. Apabila kondisi ini gagal diciptakan. Oleh sebab itu. jika ditemui beberapa orang individu masih menolak perubahan. apakah cara ini tetap tidak boleh digunakan? Jawabannya.61 perubahan dalam organisasi. sebelum menggunakan cara paksaan tersebut perlu dijawab lebih dulu pertanyaan yaitu apakah cara-cara lain sudah digunakan secara optimal? Penggunaan berbagai metode di atas harus didasarkan atas pemahaman situasi yang ada.

serta kesadaran . Oleh karena itu.62 pemilihan metode. Tyson dan Jackson (1992) menyatakan kesiapan untuk berubah dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berbeda. Intinya adalah. keberhasilan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor pendorong. 7. analisis yang tepat mengenai sumber penolakan atau keengganan terhadap pengembangan organisasi adalah amat penting sebelum suatu metode untuk mengatasi keengganan tersebut digunakan. Kesiapan ini juga menyangkut kemampuan dalam mengajukan argumentasi dan rasionalisasi dari berbagai sudut pandang untuk mendukung pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. aparat daerah. Faktor pendorong pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Selain ada resistensi. Para teoretisi mengemukakan berbagai pendapat mengenai hal ini. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kesiapan pelaksana ditentukan oleh para pelaku. antara lain ketulusan pemerintah. Di samping itu. implementasi program pengembangan organisasi memerlukan kesiapan untuk meneriman dan melaksanakan perubahan. 2005). Pertama. Artinya. Faktor pendorong yang utama berkaitan kesiapan pelaksana sistem baru tersebut (Mulyasa. kekuatan dalam diri orang itu sendiri. masyarakat dan sekolah itu sendiri. Terkait pula dengan faktor pendorong terjadinya perubahan dalam pengembangan organisasi. yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dasar. implementasi program yang dikembangkan tidak akan terwujud tanpa adanya faktor-faktor pendorong dimaksud. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan.

egagalan dalam organisasi. 2005). Will mencakup aspek sikap. Faktor ■ iua adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada sistem yang meliputi budaya dan k:im organisasi. yaitu. Selanjurnya. Dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. menurut Nurkolis (2003) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan proses pengambilan keputusan yang demokratis sebagai faktor pendorong keberhasilan implementasi program-program yang dikembangkan dalam Manajemen Berbasis Sekolah. kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran (Subakir & Sapari.diri. . 1991). menurut McLaughlin keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh dua faktor. kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor pendorong yang termasuk ke dalam kekuatan -istem yang ada. dan kepercayaan yang mendasari respons pelaksana kebijakan. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa tingkat motivasi dan yang paling pokok adalah harga diri berperan penting dalam kesiapan untuk berubah. baik fiskal dan material. motivasi. 2001). Local capacity meliputi sumber-sumber. loca/ capacity dan wi/I (Duke & Canady. dan keahlian untuk mengimplementasikan kebijakan baru. Karena kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (Mulyasa. Duke dan Canady (1991) menjelaskan pula bahwa membangun kapasitas lokal untuk implementasi kebijakan dapat menjadi sebuah tantangan karena sumber-sumber yang ada sering terbatas dan pelatihan selalu menghabiskan waktu. dan konsekuensi yang dirasakan terhadap keberhasilan serta . Sementara itu. namun menumbuhkan kemauan untuk menyikapi implementasi merupakan suatu peristiwa yang mendapat tantangan besar. Berkenaan dengan itu pula.

Fusarelli.Kemauan sepertinya tidak bisa dipengaruhi oleh ancaman dan direktif. Dalam kedua kasus ini. Odden dalam Cooper. menurut Duke dan Canady kepemimpinan dapat menjadi penting. dan Randall (2004:85) mencatat hasil temuan penelitian .

Office of Education. local district offices and local schools—to develop and imp/ement newly created government a! programs. . (2) pembaruan metode pembelajaran. maka dapat d mpulkan bahwa konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan tiga pilar MBS. banyak cara bagi pembuat kebijakan untuk mencari :_kungan terhadap kebijakan baru sebelum diimplementasikan. state departments of education. Kapasitas ubungan dengan energi manusia.65 terdahulu: "showed that there was a lack of both capacity and will at all levels of government the U._ran kedua adalah local capacity untuk implementasi kebijakan. Bertitik tolak dan kajian teori yang sudah dikemukakan di atas. bui also that they did not know how t o implement t hem (the capacity was not there)".. Duke dan Canady (1991) mengemukakan beberapa -aran agar kebijakan secara aktual dapat diimplementasikan.. Bilamana energi bukan merupakan sumber yang aa^-at mendukung implementasi. hal itu diasosiasikan dengan visi dan misi. Komitmen kadang-kadang dapat mengikuti implementasi. a tu (1) manajemen sekolah dan transparansi. . Cara tersebut adalah dengan melibatkan pelaksana kebijakan dalam pembuatan kebijakan dan -embangkitkan semangat kepemimpinan. Saran pertama ■er^enaan dengan komitmen (commitment). Research showed not only that most local educators did not want to imp/ement such programs (the wi/l was not there). Saran r Ahir berasal dari kesimpulan McLaughlin bahwapolicy impiementation depends n j balance of support and pressure.S. dan . pembuat kebijakan harus hati-hati sehingga tidak membuat kebijakan melebihi kemampuan staf yang mengimplementasikannya. Relevan dengan konteks pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

cara mengatasi resistensi dan faktor pendorong dalam pengembangan organisasi) merupakan hal-hal yang turut dikaji dalam penelitian ini. . pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berhadapan dengan munculnya resistensi karena terjadi transisi dari status quo menuju pada perubahan yang diinginkan. keberhasilan implementasi program yang dikembangkan dalam pengembangan organisasi ditentukan pula oleh sejumlah faktor pendorong.3. Sebagai ilustrasi. kerangka berpikir penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikemukakan dalam gambar 2. Untuk mewujudkan pengembangan ketiga pilar tersebut. teknologi. Selain itu. budaya merupakan sasaran dan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Selain mengkaji pengembangan ketiga pilar tersebut.(3) peranserta masyarakat. Pengembangan ketiga aspek tersebut dijadikan acuan dari fokus penelitian yang melihat gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. tugas. Karena. kesemua aspek tersebut (resistensi. Selanjutnya. Dengan demikian. gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi juga dilihat dari aspek budaya sekolah. Resistensi yang muncul harus diatasi dengan cara-cara yang efektif sehingga keberhasilan pengembangan organisasi dapat terwujud. dan individu sebagai pelaksana. dilakukan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan struktur.

B MANAJEMEN SEKOLAH PENGEMBAN GAN ORGANISASI DENGAN PENDEKATA N MBS ______ 4 ____ PERUBAHAN STRUKTUR.D A Y \ S KK O L A H KEEFEKTIF AN SEKOLAH PROGRAM PERUBAHAN DAN IMPLEMENTASINYA I FAKTOR ENDORONG RESISTENSI . I. TEKNOLOGI DAN INDIVIDU PERANSERT A MASYARAK AT METODE PEMBELAJAR AN i. TUGAS.

II Ml N IH KUASI' M K< 'l Ml .CARA Ml N(iATASI Oambui ' * K E R A N G K A H l K I ' I K I K l ' l N l I I I I A N 1 * 1 N G I MHANGAN < )!<( i ANI' -ASI DI NGAN l'l NDI i Al AN MANA.

BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) rancangan penelitian. dan (3) SD Negeri Mandiri Kota Cendekia telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. 1984. (e) teknik analisis data. (f) pemeriksaan keabsahan data. A. (d) teknik pengumpulan data. 2 Dewan Sekolah sebagai organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat pada ketiga latar penelitian ini juga menunjukkan keaktifan yang cukup tinggi dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. yaitu (1) SD Negeri Cerdas. yaitu: 1 Ketiga situs penelitian ini. alasan utama penggunaan rancangan multisitus karena ketiga latar memiliki karakteristik yang sama. (b) kehadiran peneliti. ketiga latar itu juga sering dan banyak dikunjungi oleh sekolah. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan multisitus (Yin. Berdasarkan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. Dengan 69 . Bogdan & Biklen. dan (g) tahap-tahap penelitian. 1998). (2) SD Negeri Cermat. (c) sumber data dan informan. Selain itu. Rancangan Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan.sekolah dari daerah lain dengan tujuan untuk mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Tujuan penelitian kualitatif dengan jenis multi situs lebih berorientasi pada pengembangan teori.

demikian. sehingga pihak sekolah ~ien jgaskan seorang satpam untuk membantu setiap murid yang akan menyeberang . dengan demikian untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan iKiitan kota. 5 Selain mempertimbangkan kesamaan karakteristik ketiga latar tersebut yang juga didukung oleh hasil observasi awal. Pada ketiga latar penelitian ini juga sudah dibentuk organisasi yang mewadahi peranserta wali murid di masing-masing kelas yang disebut dengan Paguyuban/ Forum Kelas. diasumsikan pemilihan ketiga latar tersebut dapat memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. ketiganya berstatus sekolah negeri sehingga pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengikuti pola yang sama pula. maka pihak dinas pendidikan merekomendasikan ketiga SD Negeri tersebut di atas untuk dijadikan lokasi penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. maka untuk lebih melengkapi informasi diminta pertimbangan kepada pihak dinas pendidikan mengenai sekolah-sekolah yang benar-benar sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. SD ini terletak di pinggir jalan raya. Letak sekolah ini -ikup strategis. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 28 September 2004. Kesamaan karakteristik lainnya dari latar penelitian ini. 4. SD Negeri Cerdas terletak di perkampungan penduduk. 3.

Selain itu.iran plang nama dan dinding sekolah bagian depan tertulis: Sekolah Dasar MBS. seperti lomba paduan suara. sekolah ini juga mendapat Juara III siswa teladan Kota Cendekia pada tahun 2003 (Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 8 Oktober 2004). Pada saat memasuki lokasi sekolah. SD ini juga banyak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Dengan mempedomani Buku Tamu. SD Negeri Cermat terletak pada lokasi yang cukup strategis. pada tanggal 1 Februari 2005 dicari informasi ke SD Negeri Cerdas.20. Untuk mengetahui lebih rinci instansi atau sekolah yang pernah berkunjung ke sekolah ini. Kepala sekolah menyebutkan satu per satu instansi atau sekolah yang pernah mengunjungi SD ini. namun mereka tetap menjunjung tinggi . Nilai UPM (Ujian Pengendalian Mutu) tertinggi dari lulusan SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 adalah 46. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. Di . Maksudnya. SD Negeri Cermat ini terletak di dalam kompleks perumnas. di dinding sekolah tersebut tampak tulisan: Sekolah Dasar MBS. masyarakat yang bertempat tinggal di perumnas ada yang berasal dan luar daerah setempat. Walaupun masyarakatnya agak heterogen. Di samping berprestasi di bidang akademik.71 in baik pada saat datang ke sekolah maupun pada waktu pulang ke rumah. dengan demikian masyarakatnya agak heterogen. sekolah ini sering dikunjungi oleh instansi atau sekolah. pidato. Sebagai pusat ujicoba.sekolah dari daerah atau propinsi lain yang ingin mempelajari penerapan Manejemen Berbasis Sekolah. dalam arti mudah dijangkau. dan tertib shalat.

Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Secara implisit hai . perlu dilakukan pengembangan organisasi (orgamzational development) dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 2002). namun barangkali lingkupnya diperluas. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi (orgamzational development) menghadapi tantangan tidak ringan terutama menyangkut implementasi program-program yang dikembangkan menuju perubahan yang diinginkan. seperti dilaporkan Owens (1991). namun kadang kala implementasi kebijakan itu tidak dilakukan secara berkelanjutan (unsustainahly) di sekolah. Otonomi sebagai wujud desentralisasi sebenarnya telah dilakukan sejak dulu walaupun tidak sepenuhnya sempurna (Mantja. aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. sebagai tempat ujicoba Manajemen Berbasis Sekolah. Hasil penelitian Fullan. tidak tuntas. Hal tersebut berarti bahwa sesungguhnya pemberian otonomi kepada sekolah bukan merupakan sesuatu yang baru. UNESCO & UNICEF. Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD. 2003). Oleh karena itu. Seperti halnya SD Negeri Cerdas. menunjukkan OD bersifat parsial. Pusat Kurikulum. SD Negen Cermat juga senng dikunjungi oleh instansi atau sekolahreorientasi penyelenggaraan pendidikan guna memberikan otonomi ke tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) (Tim Penulis Direktorat TK & SD.nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong terutama dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Perubahan sering diartikan sebagai bentuk ancaman. Selanjutnya.8 tersebut mempunyai arti bahwa tantangan utama dalam pengembangan organisasi adalah adanya kenyataan bahwa pada hakikatnya sebagian besar dari kita enggan untuk berubah (Suyanto. 2002). Suyanto (2002) yang mengutip pendapat .

dan UNICEF. 18 orang meraih nilai antara 35-39. Data yang dicatat dari Buku Tamu tanggal 1 Februari 2005 menunjukkan banyak instansi atau sekolah yang berkunjung ke SD ini. Dari 97 orang peserta UPM dari SD Negeri Mandiri.87. nilai UPM SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 paling tinggi 44. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota.70 sekolah lain yang ingin mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. SD Negeri Mandin terletak pada lokasi yang strategis dan berdekatan dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Cendekia. sekolah ini juga memiliki prestasi dalam bidang ekstrakurikuler terutama catur. Dilihat dan sisi prestasi. nilai UPM lulusan SD Negeri Mandiri berada pada ranking teratas dari 25 SD/MI yang berada di wilayah kepengawasan III dan IV. metode komparati f konstan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. Dalam prosesnya. 1998). "0 orang memperoleh nilai di atas 40. Di samping implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan di bawah binaan langsung pemerintah Indonesia.60 dan paling rendah 28. dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan pengkodean.80. Metode komparatif konstan merupakan rangkaian ingkah-Iangkah yang berlangsung sekaligus. Mulai dengan pengumpulan data . nilai tertinggi 47 dan terendah 31. dan hanya 4 orang mendapat nilai di bawah 30. Selain berprestasi di bidang akademik. Pada tahun pelajaran 2003/2004. UNESCO.99. Selasa 28 September 2004). Nilai rata-rata UPM tersebut adalah 41.48. SD Negeri Mandiri menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas dasar inisiatif sendiri (Hasil wawancara dengan staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Rancangan penelitian selanjurnya menggunakan metode komparatif konstan Bogdan & Biklen.

Alasan penggunaan metode kualitatif dengan rancangan multisitus ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia. Menuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan maksud untuk memerikan dan menjelaskan peristiwa yang ada sambil terus mencari kejadiankejadian bani 5. Mengumpulkan data yang mencakup banyak kejadian tentang kategori fokus untuk melihat adanya keragaman dimensi dalam kategori 4. yaitu. pengkodean. . Mencari isu penting. kejadian yang selalu berulang atau kegiatan yang merupakan kategori fokus 3. Alasan ini juga sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif. dan (3) penelitian kualitatif bersifat alami (natural). Melakukan sampling. dan penulisan sebagai analisis yang berfokus pada kategori inti (Glaser dalam Bogdan & Biklen. dan sesuai konteks di mana peristiwa itu terjadi. deskriptif.71 2. Mengerjakan data dan memunculkan model untuk menemukan proses dan hubungan-hubungan sosial yang mendasar 6. (2) hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti lebih peka sehingga dengan mudah dapat dilakukan pemahaman yang mendalam terhadap objek yang diteliti. 1998). sehingga dengan menggunakan penelitian kualitatif realitas tersebut dapat dipahami secara utuh. (1) realitas yang ada dalam pengembangan organisasi sekolah pada dasarnya terkonstruksi secara holistik. terfokus.

1985. Dalam penelitian kualitatif terjadi proses yang berbentuk siklus. Dalam proses yang berbentuk siklus tersebut ada tiga tahapan yang berlangsung secara berulang-ulang. Selanjurnya. 1998. dan biasanya masih bergerak pada taraf permukaan. pengembangan organisasi (organization development) merupakan suatu proses transisi dari keadaan manajemen sekolah yang sentralistik menuju Manajemen Berbasis Sekolah. (a) eksplorasi yang meluas atau menyeluruh. dan berupaya menemukan makna (meaning) dari suatu fenomena yang terjadi (Patton. seperti studi pendahuluan. yaitu tahap. (b) eksplorasi . Kehadiran Peneliti Untuk meneliti objek penelitian ini. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian pertama kali adalah pada tanggal 7 Oktober 2004 yang bertujuan untuk meminta izin dari kepala .pertanyaan yang muncul kemudian sampai penulisan laporan penelitian.gram Pascasarajana Universitas Negeri Malang dan rekomendasi dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. :er. Bogdan & Biklen. Lincoln & Guba. 2000. pemahaman terhadap pengembangan organisasi sekolah dipandang tepat didekati dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. dan (c) pengecekan atau konfirmasi hasil atau temuan penelitian (Faisal. peneliti hadir ke lokasi penelitian dalam i-. 2003). 1980. Atas dasar itu. dan pemeriksaan keabsahan data. Studi pendahuluan dilakukan rada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2004 berdasarkan izin dari Direkftir . Mantja. B.induktif.ecara terfokus atau terseleksi guna mencapai tingkat kedalaman dan kerincian aspek tertentu.gka waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan.gumpulan data. sejalan dengan pertanyaan. Moleong. ^>901 Tahap-tahap tersebut diulangi beberapa kali sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang makin lama makin menyempit.

12.d. peneliti berupaya untuk hadir ke lokasi penelitian pada setiap hari sekolah sesuai dengan jam sekolah yang berlaku (07. peneliti memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksud kunjungan sambil memperlihatkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.30 WIB untuk SD Negen Cerdas dan SD Negeri Cermat. Pada saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah.73 sekolah pada ketiga situs.00 s. kehadiran peneliti untuk kepentingan pengumpulan data dilanjutkan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2005.d .30 s. kepala sekolah pada ketiga situs memperkenankan peneliti melakukan penelitian di sekolahnya. serta 06. namun peneliti tetap mengurus kembali surat izin penelitian dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang sebagai dasar bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia untuk mengeluarkan surat rekomendasi. Tanpa ada rasa keberatan dan dengan senang liati. Kemudian. Selama kegiatan pengumpulan data. Walaupun ketiga kepala sekolah sudah memberikan izin untuk pelaksanaan pengumpulan data. Namun kehadiran peneliti setelah pengumpulan data selesai tidak lagi intensif. Atas izin dan kesediaan tersebut peneliti dapat berkunjung pada hari-hari berikutnya guna melakukan sftidi pendahuluan. karena tujuan kehadiran setelah pengumpulan data tersebut hanyalah untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data. Pada akhir bulan Agustus 2005 izin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia secara resmi sudah berakhir. namun peneliti tetap hadir di lokasi penelitian sampai bulan Desember 2005 atas izin kepala sekolah pada ketiga situs penelitian.

00 s. Waktu kunjungan lainnya adalah sore hari guna mengikuti kegiatan rapat baik yang dilakukan oleh sekolah. peneliti juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh personel sekolah sejauh kegiatan itu dapat "dimasuki" dengan tetap menjaga batas kewenangan peneliti dan etika penelitian. Beberapa bentuk partisipasi yang dilakukan adalah. mengikuti rapat majelis guru.74 12. . Ini dilakukan dengan maksud agar peneliti benar-benar dapat membaur dengan warga sekolah. Di samping kehadiran peneliti ke sekolah untuk keperluan observasi dan wawancara.00 WIB. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian juga dilakukan di luarjam sekolah.11. Wawancara dilakukan dengan informan penelitian setelah meminta kesediaan yang bersangkutan terlebih dahulu. mengikuti upacara bendera. pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2005 pukul 19. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa bagi murid kelas VI yang akan mengikuti ujian akhir. peneliti pernah datang ke sekolah pukul 05. sehingga kehadiran peneliti tidak lagi dianggap sebagai "orang baru" di lembaga tersebut.00 ketika berlangsung acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI di SD Negeri Cerdas dan pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2005 ketika dilakukan rapat Dewan Sekolah. Balikan. Kesediaan atau izin tersebut juga berlaku bagi kegiatan observasi dan analisis dokumen yang diperlukan.30 WIB pagi untuk mengikuti acara istighosah yang dilaksanakan di SD Negeri Cermat pada tanggal 12 Juni 2005. observasi dan melakukan kajian dokumen. adalah.d 17.20 untuk SD Negeri Mandiri Kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk keperluan wawancara. Contoh lain dan kehadiran peneliti di sekolah. yaitu pada waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 15.00 . Dewan Sekolah maupun Paguyuban Kelas.

melainkan juga untuk laporan verbal tentang informasi yang dipelajari melalui observasi. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian tetap memperhatikan etika penelitian sehingga tidak mengganggu dan merugikan pihak yang diteliti. 2. mengikuti istighosah. untuk melakukan penelitian dan peneliti harus mematuhi kontrak itu.rapat Dewan Sekolah. rapat Paguyuban/Forum Kelas. Memperlakukan subjek secara hormat dan meminta mereka berkooperasi dalam kegiatan penelitian. membantu pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah. 3. Subjek diberi tahu mengenai kepentingan penelitian dan keikutsertaan peneliti dengan mereka dilakukan apabila telah diizinkannya. Menjelaskan mengenai apa saja batasan dan persetujuan pada saat negosiasi izin 4. . Peneliti tidak menghubungkan informasi spesifik mengenai individu kepada orang lain dan berhati-hati berbagi informasi yang bersifat khusus dengan orang. Anonimitas diperluas tidak hanya untuk tulisan. dipedomani asas lunum etika penelitian yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998).orang di tempat penelitian yang dapat menggunakan informasi untuk kepentingan tertentu. membantu persiapan acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI. mengikuti pertemuan wali murid pada awal tahun ajaran baru dan saat persiapan ujian murid kelas VI. Berkenaan dengan hal ini. sebagai berikut: 1 Melindungi idenditas subjek sehingga informasi yang dikumpulkan tidak merugikan mereka. dan ikut bersama guru melakukan kunjungan rumah untuk kepentingan pendataan kemampuan orang tua calon murid baru. Peneliti tidak berbohong kepada subjek atau merekam pembicaraan dengan menggunakan perlengkapan mekanik secara tersembunyi.

kepala sekolah. Peneliti melaporkan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh data (febricatmg data or distorting data is the ultimate siri of a scientist). Informan kunci (key informant) dalam penelitian ini adalah kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. pengawas sekolah. pembaruan metode pembelajaran dengan pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. dan (d) budaya sekolah. . Kemudian. (b) pembaruan metode pembelajaran. maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mencakup (1) gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi yang meliputi (a) perubahan manajemen sekolah. guru. dan wali mund. Sumber data dan orang-orang terdin dari. kepala dinas pendidikan.76 5. pengurus Dewan Sekolah. (c) pembahan struktur/tugas untuk peningkatan peranserta masyarakat. Menceritakan dengan benar ketika peneliti menulis dan melaporkan temuannya. penjaga sekolah. (3) cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi (wujud dari fokus perubahan individu/manusia). sumber data yang berasal dari dokumen dipilih berdasarkan relevansinya dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (2) resistensi terhadap pengembangan organisasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Sumber Data dan Informan Penelitian Sesuai dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan pada bab pendahuluan. dan (4) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. siswa. C. Kemudian. pegawai tatausaha.

(d) subjek yang mempunyai cukup banyak waktu untuk memberikan informasi. 5. Sampai -enehtian berakhir. jumlah informan yang diwawancarai terlihat dalam tabel 3. Informan dipilih dengan mempedomani kriteria yang dianjurkan Faisal (1990). yaitu (a) subjek yang sudah cukup lama menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. Jumlah Informan Penelitian No. 4.1. 7. Berdasarkan wawancara pertama. 8 Informan Kepala sekolah Guru Dewan sekolah Wali murid Murid Pengawas sekolah Penjaga sekolah/TU Ka. 1998).Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow-ball sampling (Bogdan & Biklen. Informan pertama yang diwawancarai adalah kepala sekolah sebagai informan kunci.dinas pendidikan Jumlah Situs I 1 5 1 3 2 1 1 14 Situs II 1 5 1 3 2 1 13 Situs III 1 5 I 2 I 1 1 12 Total 3 15 3 8 5 1 3 1 39 . Jumlah informan tetap yang diwawancarai terus bertambah sesuai anjuran informan sebelumnya. 6. kepala sekolah menunjuk beberapa orang guru untuk diwawancarai selanjurnya. (b) subjek yang masih terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. (c) subjek yang bersifat "lugu" dalam memberikan informasi. Tabel 3. dan (e) subjek yang sebelumnya tergolong masih "asing" bagi peneliti.1. 1. 2. 3.

1980). (b) teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri. dilihat.78 D. Selama melakukan observasi dibuat catatan lapangan. observasi berperanserta dilakukan dengan alasan. (c) pengamatan dapat digunakan untuk mengecek keabsahan data. tetapi tidak berpartisipasi atau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang sedang diteliti. dan (e) dalam kasus-kasus tertentu dimana penggunaan teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan. dan (c) studi dokumentasi. serta tidak hanya menerima tetapi benar-benar mempelajari aturan budaya dari perilaku yang muncul. yaitu. (b) wawancara. (d) teknik pengamatan memungkinkan peneliti matnpu memahami situasi-situasi yang rumit. Menurut Guba dan Lincoln (1981). pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. Pada tahap awal penelitian. (a) pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. Observasi berperanserta Untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan observasi berperanserta (participanl observation) (Spradley. kemudian setelah kehadiran peneliti diterima oleh orang-orang yang diteliti. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) observasi berperanserta. (a) pada partisipasi pasif peneliti hadir dalam situasi sosial yang diteliti. peneliti berperanserta secara pasif. maka peneliti mulai bergerak untuk melakukan peranserta secara aktif. dialami dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan . dan (b) pada partisipasi aktif peneliti benisaha untuk ikutserta melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang diteliti. yaitu catatan tertulis tentang apa yang didengar. kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. 1. Hal ini dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Spradley (1980).

dan McKee (2002:272) menyatakan . 1998). General Electric. Boyatzis. yaitu orang-orang yang dianggap potensial. Wawancara calam penelitian ini dilakukan secara formal maupun informal sehingga dapat diungkapkan pendapat informan mengenai pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Wawancara dilakukan berulang kali sampai diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengembangan organisasi sekolah. 1980). dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi mengenai masalah yang diteliti. dalam kenyataannya tidak semua . dan (3) konknt. Goleman. Wawancara Di samping melakukan observasi berperanserta. Namun. yaitu mengidentifikasi bentuk bahasa yang digunakan. They like the way it was. Penggunaan alat ini dilakukan apabila sudah mendapat z:n dan infonnan yang diwawancarai. yaitu menggunakan bahasa yang konknt bukan hanya memberi nama pada suatu tindakan (Spradley. menggambarkan betapa perubahan pada hakikatnya tidak disukai oleh banyak orang.2 \>DV sebagai alat perekam.orman bersedia direkam pada waktu dilakukan wawancara sehingga peneliti harus Welch. 2002:109). (2) verbatim. seorang chief executive perusahaan raksasa kelas dunia. Fenomena itu digambarkan dalam ungkapannya sebagai berikut: "change has no constituency." (Suyanto. Catatan lapangan dibuat dengan mempedomani prinsip (1) identifikasi bahasa. Untuk merekam hasil wawancara digunakan tape recorder merek Sony TC.79 data dan refleksi terhadap data (Bogdan & Biklen. untuk mengumpulkan data penelitian juga dilakukan wawancara secara mendalam (m-depth inferview) dengan informan penelitian. yaitu mencatat ucapan atau perkataan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang dijadikan sumber informasi. 2. Catatan lapangan ditulis dalam buku yang sudah disediakan khusus untuk keperluan tersebut. Untuk maksud yang sama. People like status quo.

1991).9 bahwa "kebanyakan kelompok dan organisasi berputar-putar di sekitar status quo. berjalan baik dan dengan hasil yang . 2004). beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. misalnya. Peterson dan Hicks (Hughes. Artinya. 1993. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. Sarason (Duke. Sebagai contoh. 2002:385) menyatakan "old is easy. new is hard\ Akibatnya. Bahkan. Ginnett dan Curphy. Dengan ungkapan lain. 1996). Kotter. 1991). Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. dalam Anwar." Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. menolak segala sesuatu yang mengancam keadaan ini.

.

yaitu. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). (j) profil sekolah. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. (d) program dan rencana pembelajaran. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (f) buku daftar hadir guru. (c) SK Dewan Sekolah. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. 1998). dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. Teknik Analisis Data I. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. (h) buku prestasi. Atas dasar itu. (e) buku tamu. (1) ambil keputusan . Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. Hal ini berarti. 3. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. 1990).80 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. (g) jumlah guru dan murid. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. E.

mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). dan (10) gunakan perlengkapan visual. (3) kembangkan pertanyaan analitis. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. mendata. mensistesis. yaitu melalui kegiatan menelaah data. Selanjutnya. pengamatan. yaitu dari wawancara. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. catatan lapangan. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. analogi. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. dan konsep. (9) gunakan metafora. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan.81 untuk mempersempit kajian.

82

substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan, 1994). Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan data dan rangkuman inti, merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif, diadaptasi dan Miles & Hubennan (1994:12).

83

Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, informan, dan situs penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Sistem Pengkodean Analisis Data No Aspek Pengkodean Kode . 1 Fokus Penelitian: • Resistensi terhadap pengembangan organisasi RES CAR
• Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan

2

3

4

organisasi • Faktor Pendorong dalam pengembangan organisasi • Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi Teknik Pengumpulan Data. • Wawancara • Observasi • Dokumentasi Sumber Data: • Kepala Sekolah • Dewan Sekolah • Pengawas Sekolah • Kepala Dinas Pendidikan • Guru • Murid • Wali Murid • Penjaga Sekolah • Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Negeri Cerdas • SD Negeri Cermat • SD Negeri Mandiri

FAK BAR

W 0 D KS DS PS DP GM WM PJG TU

1 11 III

Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kemudian, pada bagian akhir

84

catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan; kode situs penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas Wawancara Kepala Sekolah ---------------- ^ -------------------------------------------------------------

Tanggal, bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum, proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut; (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga, (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian, dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985), yaitu; (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabihtas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4)

Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.2.85 Gambar 3. Kredibilitas . Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).

86 Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >?rapa kegiatan. melainkan merupakan aktivitas yang sudah . metode. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). maka . leaming the culture. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. (a) ■ e. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . Kemudian. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes.— a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan ." . testing f or mi smformaUon mtroduced - <i<ortions either of the self or of the respondents.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan.erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. menurut Lincoln dan Guba -35 301). Dalam -r man ini. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. dan melakukan triangulasi. ~ -an penelitian yang terpercaya. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?.perpanjang masa observasi. atau muncul secara tiba-tiba. 1985). Tujuan lain. mrg informan dengan informan lainnya. angkut kebijakan sekolah. Contohnya. wawancara atau .r-anfaatkan sumber. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. yaitu dengan . and building trust. Pertama.

dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. . Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. Misalnya. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. makna-makna dieksplorasi. Kedua. yaitu Bapak Kasman. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. 1985). Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. yaitu. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg.87 dokumentasi).

H. dan Prof. M. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. Umumnya. 4 Konfinnabilitas . M. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya.Pd (Pembimbing kedua). Namun. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. 1985). M. 2.Pd (Pembimbing pertama).ransferability. Ph.. H. Hendyat Soetopo. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. A Sonhadji K. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description).D. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . Dr.88 Ketiga.A. menurut Lincoln dan Guba (1985). tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. Namun. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). Prof Dr. Pembimbing ketiga). Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain.. Apabila informan tidak merasa keberatan.Willem Mantja.

terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson.gumpulan dan analisis data. Oleh karena itu. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. hands. (1) tahap persiapan. yaitu Bapak Prof. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Dr. penggunaan teknik analisis yang cermat. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. G. yaitu. Willem Mantja. Tahap persiapan Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. 1992:1). Oleh karena itu. 1991:370). ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. 1991:370).89 Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. and heart ofthe educators who work in the schools . (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. Untuk mewujudkan hal tersebut. Maksudnya.Pd. M. interpretasi data secara benar. Sayangnya. buI the soup remains the same" (Hanson. Tahap-tahap Penelitian Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap.

Wallis (Baedhowi. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. I Wayan Ardhana. M. Dr.90 Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. Spanyol. 2004). dan Dr. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. . Laurens Kaluge. Dr. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. 2004:2). yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. as a desirable policy. Dr. dr. Lusiana. Hasil penelitian tentang implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. Prof. T Raka Joni. 2004:2) menyatakan." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang menggembirakan (Baedhowi. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. Meksiko. Zaini Hasan. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. On the other hand.Sc dan Ibu Dr. banyak negara. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Brasil. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. antara lain Selandia Baru. Berdasarkan keyakinan tersebut. Namun demikian.

beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Dip.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September 2004. Dr.D. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. dan Bapak Dr. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420.91 Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah. Willem Mantja. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. diajukan kepada Bapak Prof. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing.4. Kemudian.Pd. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui.Ed. Willem Mantja. Hendyat Soetopo. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. Hd. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia).304/2004 tanggal 05 . M.Ad. M. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004.. Dr. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Masukan dan saran dari teman-teman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). M.

Balikan dari Prof. Selanjutnya. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. Ed. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10.Ed. Walaupun banyak saran perbaikan. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.D. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru. Ed. M. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat".Ed. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai . diterima tanggal 13 Desember 2004.Pd diperoleh awal Oktober 2004..D. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.Ad. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. Dip.. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan motivasi bagi penulis. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Dip.Ad. Dr. M. Willem Mantja.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004.92 Oktober 2004).

.— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. 3. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). Setelah izin diperoleh. M.). H.93 pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.-.. Willem Mantja. Ahmad Sonhadji K. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof.307/2005 tanggal 18 Maret 2005.4. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai. Tahap penyusunan laporan penelitian . Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420.-. Dr. A. M. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :.. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. r h D. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.H.onsultasi dengan dosen pembimbing.Pd dan Bapak Prof. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.

Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. Rekomendasi Dinas Pendidikan.05/SDNP 1/2005. Atas permintaan di atas.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005.2/ 262/420.94 Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. karena nama sekolah sudah disamarkan. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini. Setelah penyusunan laporan selesai.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.73. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.307.303. . SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan.73.307. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421.

Artinya. Kotter. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. misalnya. 2004). 2002:385) menyatakan "old is easy. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. 1993. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. new is hard\ Akibatnya. Dengan ungkapan lain. dalam Anwar.8 Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. Peterson dan Hicks (Hughes. berjalan baik dan dengan hasil yang . Sarason (Duke. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. Bahkan. 1991). 1996). 1991). Sebagai contoh. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. Ginnett dan Curphy.

kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. (d) program dan rencana pembelajaran. (g) jumlah guru dan murid. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. (3) . Teknik Analisis Data I. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. Hal ini berarti. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. (h) buku prestasi. (1) ambil keputusan untuk mempersempit kajian. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. (f) buku daftar hadir guru. E. 1998). (c) SK Dewan Sekolah. Atas dasar itu. (j) profil sekolah. yaitu. 1990). Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998).8 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (e) buku tamu. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. 3.

Selanjutnya. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. analogi. catatan lapangan. pengamatan. mensistesis. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. mendata. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. (9) gunakan metafora.8 kembangkan pertanyaan analitis. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). dan konsep. yaitu melalui kegiatan menelaah data. dan (10) gunakan perlengkapan visual. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). yaitu dari wawancara. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari.

merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Menseleksi data secara ketat. dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3. (1) reduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. membuat ringkasan data dan rangkuman inti. menggolongkan.1. yaitu. membuang data yang tidak diperlukan.8 substansi. dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah. (2) penyajian data. mengarahkan. 1994). .

Ta bel 3.8 Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian.2 . informan. dan situs penelitian. Sis te m Pe ng ko de an An ali sis Da ta .2. sumber data. teknik pengumpulan data. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.

8 Aspek Pengkodean .

8 Fokus Penelitian: • Resistensi ter ha da p pe ng em ba ng an org ani sas i .

Cara mengatasi res ist ens i dal am pe ng em ba ng an org ani sas i 8 Faktor Pendorong dal am pe ng em ba ng an .

.ani sas i 8 Gambaran sekolah set ela h pe ng em ba Pe ng ng an um pul an Da ta.

8 .

8 • Dokumentasi Sumber Data: Kepala Sekolah Dewan Sekolah .

8 Pengawas Sekolah Kepala Dinas Pe ndi dik an .

8 Penjaga Sekolah Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Ne ger i Ce rda s .

tanggal. sumber data. sumber data. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. tanggal. Kemudian. teknik pengumpulan data. Contoh penelitian. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas ----------------^ . observasi dan studi dokumentasi. pada bagian akhir catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan. bulan dan tahun. teknik pengumpulan data. kode situs penelitian. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara. bulan dan tahun.8 • SD Negeri Ce rm at • SD Negeri Ma ndi ri Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data.

(a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga. (3) dependabilitas (reliabilitas). dan (4) . bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian.2. (1) kredibilitas (validitas internal). proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut. yaitu. Secara umum. (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian. dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian.8 Wawancara Kepala Sekolah -------------------------------------------------------------- Tanggal. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985). (2) transferabihtas (validitas eksternal). Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.

8 Gambar 3. Pertama. Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Kredibilitas Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >? rapa kegiatan. Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).2.

dan melakukan triangulasi. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. testing f or mi smformaUon mtroduced – <i<ortions either of the self or of the respondents. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). wawancara atau dokumentasi). (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. mrg informan dengan informan lainnya. maka – — a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth).8 – erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . and building trust. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . Tujuan lain. yaitu dengan – r-anfaatkan sumber. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. atau muncul secara tiba-tiba. Misalnya. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . . melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. angkut kebijakan sekolah. metode. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. melainkan merupakan aktivitas yang sudah . leaming the culture. menurut Lincoln dan Guba -35 301). triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. Kemudian. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. Dalam -r man ini.perpanjang masa observasi. ~ -an penelitian yang terpercaya." . (a) ■ e. 1985). Contohnya.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan.

dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. makna-makna dieksplorasi. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. Ketiga. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. yaitu. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. 1985). aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai.8 Kedua. Umumnya. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. Apabila . Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. yaitu Bapak Kasman. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid.

4 Konfinnabilitas Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. Ph.. 2.A.Pd.ransferability. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli.Pd (Pembimbing pertama).. Untuk mewujudkan hal tersebut. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. Tahap-tahap Penelitian . bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . yaitu Bapak Prof.Pd (Pembimbing kedua). menurut Lincoln dan Guba (1985). 1985). Dr. M. interpretasi data secara benar. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. penggunaan teknik analisis yang cermat. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit).H. M. Prof Dr. Oleh karena itu. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. M. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. M. A Sonhadji K. Namun. G.Willem Mantja. H.8 informan tidak merasa keberatan. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). Willem Mantja. Dr. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. Hendyat Soetopo. Namun. Pembimbing ketiga).D. dan Prof. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya.

yaitu.8 Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. Tahap persiapan . (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. (1) tahap persiapan. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian.gumpulan dan analisis data.

2004:2) menyatakan. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. Hasil penelitian tentang implementasi . 2004). as a desirable policy. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. 1992:1). yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. Namun demikian. and heart ofthe educators who work in the schools Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. hands. Meksiko. Spanyol. Sayangnya. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. 1991:370). banyak negara. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. 2004:2)." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang 89 menggembirakan (Baedhowi. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Berdasarkan keyakinan tersebut. Maksudnya. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. buI the soup remains the same" (Hanson. 1991:370). Brasil. antara lain Selandia Baru. On the other hand. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. Wallis (Baedhowi.8 Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. Oleh karena itu. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton.

M. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof.Ad. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. M. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia).Sc dan Ibu Dr. Dr. diajukan kepada Bapak Prof. Laurens Kaluge. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru.Ed. Dr.Pd. M. Zaini Hasan. dan Bapak Dr.9 kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). I Wayan Ardhana.D. Dr. Dr. Dr. Dip. Kemudian.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September . Hendyat Soetopo. Willem Mantja. T Raka Joni.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. dr. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. dan Dr. Prof. M. Willem Mantja. Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah. Masukan dan saran dari temanteman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal.. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hd. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. Lusiana. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah.

4.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak .Ad.Pd diperoleh awal Oktober 2004.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.304/2004 tanggal 05 Oktober 2004).Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui. M. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. diterima tanggal 13 Desember 2004. Willem Mantja. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. Dip. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Balikan dari Prof..Ed.D.8 2004. Ed. Dr. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing. M. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan .

.Ed. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). Ahmad Sonhadji K. r h D.Ad. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. Willem Mantja. A. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. M. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian.-. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!.). namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Dip.-. — honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :.4. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai.307/2005 tanggal 18 Maret .1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. M..D. Selanjutnya.9 motivasi bagi penulis.. H.H. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. Ed.Pd dan Bapak Prof. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing. Walaupun banyak saran perbaikan.onsultasi dengan dosen pembimbing. Dr.

dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. .05/SDNP 1/2005.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. Atas permintaan di atas. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.2/ 262/420.73. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35. Setelah penyusunan laporan selesai. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.303.73. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.9 2005. Setelah izin diperoleh.307. karena nama sekolah sudah disamarkan. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.307. Tahap penyusunan laporan penelitian Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. Rekomendasi Dinas Pendidikan. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->