BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Derasnya arus globalisasi, sebagai salah satu bentuk perubahan yang terjadi saat ini, bukan hanya memberikan pengaruh terhadap persoalan bisnis semata melainkan juga berdampak bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Mantja (2002) menyatakan globalisasi itu dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya berdampak juga bagi pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Perubahan global mengakibatkan dunia seakan-akan tanpa batas (borderless world) telah melahirkan gaya hidup baru (a new way oflife) dengan ciri kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga menuntut masyarakat dan organisasi membenahi diri mengikuti perubahan-perubahan cepat tersebut (Tilaar, 1998, 2002). Apabila suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah, tetap mempertahankan status quo atau menolak suatu perubahan, maka institusi itu akan tertinggal dari arus perubahan. Sebab, tanpa disadari perubahan itu akan terus berubah (Zamroni, 2000). Berkenaan dengan perubahan dan tantangan masa depan itu, Yudohusodo (2004) mengemukakan beberapa pandangan para ahli sebagai berikut. Pertama, Gibson (1977) menyatakan; (a) masa depan kita nanti akan berbeda dengan masa lalu,

10

kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis, dari segi substansi manajemen, ada tiga bentuk kendala yang seringkah dijumpai dalam implementasi kebijakan pendidikan (Baedhowi, 2004). Kendala tersebut berkaitan dengan hal; (a) mengelola manusia {managingpeople), (b) mengelola organisasi (managing organization, dan (c) mengelola perubahan dan transisi (managing change and tramition). Kendala dalam hal mengelola manusia misalnya berkaitan dengan resistensi orang-orang terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Kendala mengelola organisasi antara lain bersumber dari kurangnya kemampuan pengelola untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan secara efektif. Kemudian, permasalahan pokok berkaitan dengan upaya mengelola perubahan dan transisi tersebut dinyatakan Baedhowi (2004) bahwa ketika perubahan yang diinginkan itu terjadi jarang sekali dipikirkan bagaimana mengelola perubahan (managing change) itu agar tetap terjaga dan selalu meningkat secara dinamis. Akibatnya, kita seringkah dihadapkan pada perubahan yang hanya sekejap dan setelah itu hilang, dalam arti kembali lagi seperti sebelumnya. Sebagai contoh, perubahan yang hanya muncul sekejap itu dapat dilihat dan bcr bagai kegiatan, antara lain pelatihan (training) yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam melaksanakan I/P(rioton cA^on,Kori T Intul' tYialz-csi/H yonrr cotno QiiKal^ir Anr\ Qonon /OHO 1 \ tWglUUAil JV11U11 ll.C4.lt. VJUIU1V 111U1VJUU JUUgJ JU111U, Jui/uivn UU1I uupui 1 ^iV/V 1 f

11

mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bahwa perubahan dan inovasi pendidikan sering tampak berhasil ketika diujicobakan dan kemudian sirna begitu saja ketika ujicoba telah berakhir. Hal di atas menunjukkan perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi tidak terencana (unplanned change) sehingga implementasi kebijakan tidak berjalan secara berkelanjutan (unsustainably). Hal itu juga terjadi karena tidak ada komitmen yang kuat baik secara individu maupun kelembagaan untuk melaksanakan program pengembangan organisasi yang sudah ditetapkan. Keadaan yang digambarkan tersebut, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Harvey (dalam Suharyadi, 2004:1) yaitu: People think that ifthe Japanese have problems, they are quick t o take decision. Actually they are not, infact they are extremely slow to take dec isian, bui once a decision is take n, everyone is so committed t o do it, and know exactly what they have to do, so they can move at about three times the pace that we do. They spend the time to get the commitment, and the commitment is got by masses of mteraction. Paparan pendapat Harvey tersebut menunjukkan betapa tingginya komitmen orang-orang Jepang untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah diambil. Hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengembangan organisasi dengan / pendekatan Manamejen Berbasis Sekolah sehingga perubahan yang berkelanjutan (sustamable change) dan peningkatan mutu (quality improvement) dapat terwujud. Penelitian-penelitian tentang pengembangan organisasi agak jarang dilakukan apalagi pada jenjang sekolah dasar. Bahkan, kecenderungan penelitian selama ini lebih banyak mengkaji proses dan substansi manajemen

Pengembangan ketiga pilar di atas dilakukan dengan cara melakukan berbagai perubahan. Berdasarkan wawancara dan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. dilihat dari kerangka kebijakan pendidikan pengembangan organisasi merupakan persoalan strategis yang harus dilakukan terutama pada tataran implementasi suatu kebijakan. SD Negeri Cermat. SD Negeri Cermat. supervisi. persoalan pengembangan organisasi agak kurang mendapat perhatian para peneliti. pembaruan metode pembelajaran. perubahan struktur di SD Negeri Cerdas. Pada hal. dan peranserta masyarakat (Hasil wawancara dengan guru tanggal 6 Mei 2005). motivasi. ketiga latar penelitian ini telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. yaitu: manajemen sekolah dan transparansi. budaya organisasi. dan SD Negeri Mandiri di Kota Cendekia. Misalnya. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada tiga pilar. kurikulum dan pembelajaran. misalnya. semangat kerja. keefektifan organisasi. dan SD Negeri Mandiri bukan hanya tampak dan pembentukan Dewan . Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD Negeri Cerdas. dan variabel-variabel kepemimpinan. Pengembangan organisasi ditujukan untuk membentuk budaya sekolah yang kuat sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu. Lebih rinci dapat dikemukakan hal.hal sebagai berikut: Pertama. dan prestasi belajar.12 pendidikan. kinerja guru. iklim sekolah. Dengan kata lain.

13 Sekolah. sebagai konsekuensi dari perubahan struktur dan pola manajemen sekolah. . kelemahan. Perubahan teknologi tampak dan penerapan metode pembelajaran aktif. kreatif. peluang. dan tantangan serta keputusan diambil bersama dengan melibatkan personel sekolah. tampak dan bertambahnya bobot dan intensitas tugas baik yang berkaitan dengan tugas-tugas manajemen sekolah maupun tugas personel sekolah. efektif. melainkan juga sudah dibentuk paguyuban pada masing-masing kelas (di SD Negeri Mandiri organisasi wali murid pada tingkat kelas ini disebut dengan Forum Kelas). Program sekolah disusun berdasarkan analisis terhadap kekuatan. Pajangan kelas yang dibuat dan hasil karya murid sebagai salah satu ciri PAKEM terlihat lebih menonjol di SD Negeri Cerdas dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Mandiri lebih cenderung melakukan upaya "menjemput bola" yang tampak dari inisiatif melakukan sendiri kegiatan seminar dan lokakarya pada saat libur. pengembangan organisasi di ketiga latar penelitian ini juga memberikan perlakuan terhadap guru melalui pelatihan dan studi banding guna meningkatkan kemampuan guru untuk mengimplementasikan program pembaruan yang dikembangkan. manajemen sekolah dilakukan secara demokratis sesuai kewenangan terbatas yang diberikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain intervensi terhadap struktur. Sebagai implikasi dan penerapan Manajamen Berbasis Sekolah. sekolah mulai berupaya melakukan perubahan. Perubahan tugas-tugas. dan metode pembelajaran. tugas. Terkait dengan hal ini. orang tua dan masyarakat. dan menyenangkan (PAKEM).perubahan atas dasar kemauan sendiri. Saat ini.

dan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tidak mudah diwujudkan karena muncul sikap resistensi terhadap perubahan yang dilakukan. bahwa kecenderungan orang akan menolak perubahan (resistance to change). terlalu sibuk dan program yang lalu masih belum selesai sementara yang baru datang lagi. Hal ini disebabkan karena terjadi proses transisi manajemen sekolah dan paradigma lama ke yang baru. Di bagian latar belakang masalah sudah dikemukakan. Ketiga. manajemen sekolah lebih transparan dan partisipasi masyarakat lebih aktif (Wawancara tanggal 28 April 2005). Indikasi ini pulalah yang mendorong . seperti tugas-tugas banyak. Hal ini. Menurut kepala sekolah.14 Kedua. pada awal pengembangan organisasi tampak adanya keengganan dan muncul resistensi dan kalangan guru (Wawancara tanggal 5 April 2005). tampak dari upaya-upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekolah. Berkenaan dengan hal tersebut wali murid menyatakan bahwa saat ini sudah tampak kemajuan di sekolah. transparansi manajemen sekolah. Resistensi guru terhadap pengembangan organisasi pada ketiga situs penelitian ini tampak dari alasan-alasan yang disampaikan. penciptaan proses pembelajaran yang efektif. Kemajuan awal yang dicapai tidak terlepas dari kemauan berkembang atas keinginan sendiri yang dimiliki oleh personel sekolah dan dukungan wali murid masyarakat. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mulai menunjukkan suatu kemajuan.

baik yang berasal dari wilayah Kota Cendekia maupun sekolah-sekolah dari propinsi lain di Indonesia.15 sekolah-sekolah atau instansi lain. keberhasilan pengembangan organisasi dicapai dengan tidak mengorbankan kepentingan dan kepuasan anggota organisasi. Fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut: . Terakhir.. B Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga SD Negeri di Kota Cendekia. Hasil pemahaman tersebut dijadikan dasar untuk mencari solusi bagaimana cara menghadapi resistensi itu (overcoming resitance to change). Ini berarti. namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana memperlakukan orang-orang dalam organisasi atas dasar pemahaman ilmu perilaku (behavioral science) yang benar sehingga resistensi terhadap perubahan dapat diatasi. Alasannya adalah. berkunjung ke tiga sekolah tempat penelitian ini dilaksanakan guna mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. munculnya resistensi karena para guru sudah terbiasa dengan pola lama (Wawancara tanggal 5 April 2005). adanya resistensi terhadap pengembangan organisasi telah dipahami oleh kepala sekolah terutama menyangkut alasan-asalan mengapa terjadi resistensi. pengembangan organisasi dengan melakukan berbagai perubahan adalah penting bagi peningkatan keefektifan organisasi itu. Menurut kepala sekolah.

(b) metode pembelajaran.16 1. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. SD Negeri Cermat. (b) metode pembelajaran. . Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. C. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. 2. 3. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. yang meliputi. SD Negeri Cermat. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian yang telah dikemukakan. dan (d) budaya sekolah. SD Negeri Cermat. 4. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan (d) budaya sekolah. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. (c) peranserta masyarakat. yang meliputi. (c) peranserta masyarakat.

Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. 4. 2. SD Negeri Cermat. Bahan masukan bagi guru dalam mengimplementasikan program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. D. SD Negeri Cermat. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri. Memperluas pemahaman tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 3. Hasil pemahaman ini dapat dipakai sebagai sumber informasi bagi kepala sekolah dalam mengelola pengembangan organisasi 3. SD Negeri Cermat. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai pengembangan organisasi sekolah dan mendorong peneliti lain untuk mengkajinya lebih lanjut sehingga dapat memperkaya teori pengembangan organisasi yang sudah ada. .17 2. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.

5. dan menyenangkan (PAKEM) di sekolah dasar. kreatif. Definisi Operasional 1. dan kepala dinas pendidikan kecamatan. Konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini mengacu pada makna kualitas. Efektif. Bahan masukan bagi pengurus Dewan Sekolah. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi . Paguyuban/Forum Kelas. dan Menyenangkan (PAKEM). seperti. Hasil penelitian ini berguna pula bagi pengambil kebijakan. pengawas sekolah.18 khususnya penerapan pembelajaran aktif. E. Pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang yang dilakukan secara terencana untuk meningkatkan keefektifan sekolah. yaitu peningkatan keefektifan sekolah dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mengacu pada tiga pilar. kabupaten/kota atau propinsi sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah khususnya di sekolah dasar. Pengembangan ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membentuk budaya sekolah yang menunjang pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. 4. (b) metode Pembelajaran Aktif. efektif. Kreatif. dan (c) peranserta masyarakat. dan orang tua murid untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu (a) manajemen sekolah dan transparansinya.

Di samping itu. Otonomi sekolah adalah kebebasan terbatas yang dimiliki sekolah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan hak. 2. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan keefektifan sekolah. Hal ini merupakan fokus lain dari pengembangan organisasi. dan kewajiban dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku. wewenang. yaitu intervensi terhadap aspek individu/manusia. pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. dalam penelitian ini juga dipelajari faktor pendorong implementasi program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. memberikan fleksibilitas keluwesan kepada sekolah. 4. Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Hal ini muncul karena kekhawatiran guru terhadap berbagai konsekuensi dari program pembaruan yang dikembangkan.19 sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. 3 Resistensi adalah respons guru terhadap program yang diimplementasikan dalam pengembangan organisasi yang dapat berupa keengganan atau penolakan. Pengembangan organisasi terwujud bilamana resistensi yang muncul dipahami dan diatasi dengan baik. Dengan demikian otonomi sekolah bukanlah merupakan independensi yang terlepas dari ketentuan yang berlaku. . Kemudian.

School Committee) Namun.20 5. Kedua. dan kecepatan bergerak. Kanter . Senge (1994) juga mengatakan bahwa ke depan teijadi perubahan dari kompleksitas detail menjadi kompleksitas dinamik yang membuat interpolasi menjadi sulit. (b) dengan adanya tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/institusi yang berbeda {new time cal! for new organizations) dengan ciri efisiensi yang tinggi. dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 pada bagian A poin 2 diatur tentang Acuan Pembentukan Komite Sekolah bahwa nama Komite Sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. Dewan Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat pada tingkat satuan pendidikan (sekolah) dalam rangka meningkatkan mutu. Perubahan-perubahan terjadi sangat mendadak dan tidak menentu. antara lain dinamakan Dewan Sekolah. Nama organisasi ini jelas berbeda dengan apa yang disebut School Board Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3. Ketiga. maka di wilayah Kota Cendekia organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat di tingkat sekolah disebut dengan Dewan Sekolah. Berdasarkan keputusan menteri tersebut. (c) dengan berbagai perubahan yang terjadi setiap organisasi atau institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju (where do we go next). dan efisiensi pengelolaan pendidikan. seharusnya organisasi ini disebut Komite Sekolah (. dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu. pemerataan.

Bennis dalam .3 (1994) menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan dan setiap pelakunya (di berbagai bidang) termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki konsep. kelangsungan hidup dan kemajuan suatu organisasi tergantung kepada kemampuan organisasi itu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. kompetensi. Stoner (1982:379) menyatakan "managing such change effectively is not on/y a necessity for organizational surviva/ hut also a challengeIni berarti. relasi. dalam hal ini disebut pengembangan organisasi (organizational development). Organisasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan mengisi peluang yang ada akan mampu bertahan hidup (survive) dan berkembang ke arah yang lebih baik (Gitosudarmo & Sudita. dan kepercayaan diri. 2000). Bahkan lebih dari itu. Perubahan dan tantangan masa depan yang digambarkan di atas mengisyaratkan organisasi untuk selalu melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek. Kemampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah merupakan ciri utama organisasi yang berhasil (Steers. 1977.

organisasi berada dalam lingkungan yang selalu berubah (Stoner. (2) Manajemen Berbasis Sekolah. (b) resistensi terhadap pengembangan organisasi. sekolah sebagai suatu organisasi tidak bisa melepaskan diri dan pengaruh sistem-sistem lainnya itu yang secara terus menerus berubah. Keadaan ini menuntut organisasi sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu. terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengembangan organisasi menurut pendapat para ahli. 1991:223). Upaya penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi (organizationcil development).BAB n KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan secara berurutan kajian teoretis tentang (1) pengembangan organisasi. setelah melakukan studi yang komprehensif terhadap pengembangan organisasi di sekolah-sekolah Amerika dan Canada. terdiri dan (a) dasar pemikiran. yang meliputi (a) pilar pengembangan organisasi. (3) pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Pengertian Sebagai bagian dan sistem yang lebih besar. mencakup (a) pengertian. Pengembangan Organisasi 1. Fullan. A. dan (c) hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Miles dan Taylor (dalam Owens. dan (d) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. Hal ini berarti. 1982). (c) cara mengatasi resistensi. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konsep pengembangan organisasi. mengemukakan definisi tentang pengembangan organisasi sebagai berikut: 20 . (b) pengertian. dan (b) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi.

(Wendell French). melainkan juga peningkatan kualitas kehidupan individu-individu yang menjadi anggota organisasi. systematically-planned. (2) developing . The goals o f O D mclude bot h the quality o f life of individuals as well as improving organizational functiomng and performance. (2) organization-wide. Organization development refers to a long-range effort to improve an organization 's problem-solving capabilities and its ability to cope with changes in its external environment with the help of external or internal behavioral-scientist consultants. intervention. to (4) increase organization effectiveness and health through (5) planned mterventions in the organization 's "processes " using behavioral science £ttow/ec/ge. and eva/uation aimed at (1) enhancing congruence among organizational structure. as they are sometimes c#//ec/. 3. action planning. research. and (3) managedfrom the top. diagnosis. process. Cummings dan Worley (2001:2) mengemukakan pula beberapa definisi pengembangan organisasi dengan mengutip pendapat para ahli. dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal. focusing explicitly on change in formal and informal procedures. sustained effort at system self-study and improvement. Konsep pokok yang terkandung dalam pengertian di atas adalah. Organization development is a planned process of change in organization 's culture through the utilization of behavioral science technology. Cummings dan Worley juga mengutip definisi keempat dari ahli lain sebagai berikut: 4. strategy. norms or structures. proses. terencana. processes. or change agents. using behavioral science concepts. pengembangan organisasi di sekolah merupakan upaya perbaikan secara sistematik. Organization development is an effort (1) planned. Tujuan pengembangan organisasi di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi. 2.(Warner Burke).Organization development in school districts is a coherent. and culture. norma atau struktur.(Richard Beckhard). Organization development is a systemwide process ofdata collection. and theory. Selain tiga definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan di atas. people. yaitu: 1.

Siagian. dan (5) pengembangan organisasi berorientasi pada peningkatan keefektifan organisasi {organization effectiveness) (Lippit. Di samping terdapat perbedaan sudut pandang. Cummings & Worley. and (3) developing the organization 's self-renewing capacity. Robbins. Misalnya. dan manusia terutama penlaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture). 2001) ditujukan pada proses pengembangan organisasi. (3) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada strategi. yaitu. Bila disimak lebih teliti lagi. 1982. 1996. (1) pengembangan organisasi didasarkan pada pengetahuan dan praktek ilmu perilaku (behavioral science). 1991. . 2001) memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan. 2000. struktur. 1983.Q\ Beer). Stoner. definisi Burke (dalam Cummings & Worley.new and creative organizational solutions. Indrawijaya. teknologi. dan definisi Beckhard dan Beer (dalam Cummings & Worley. 11 occurs through the collaboration of organizational members working with a change agent using behavioral science theory. Masing-masing definisi di atas memberikan penekanan yang berbeda. 2001. tugas. 1991. Owens.{M\c\Ya. Hanson. dalam berbagai definisi pengembangan organisasi terdapat beberapa konsep pokok. 1982. (2) pengembangan organisasi berkaitan dengan mengelola perubahan terencana (managingplannedchange). ada pula kesamaan dan definisi pengembangan organisasi itu yakni melakukan perubahan secara berencana untuk memperbaiki kineija organisasi. and technology. 2001) dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan. definisi French (dalam Cummings & Worley. (4) pengembangan organisasi memerlukan intervensi baik internal maupun eksternal. research.

Pengembangan organisasi mengacu pada tiga pilar.toolpack. http://www. perubahan dan pembaruan (inovasi).23 Sutarto. 2004. Berangkat dari beberapa definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan. perbaikan metode (teknologi).html. dan (3) peranserta masyarakat. 2002. 2002) dijelaskan bahwa pengembangan adalah upaya peningkatan yang menjurus kepada sasaran yang dikehendaki. Jones. Dalam konsep pengembangan tercakup makna perubahan dan pembaruan. Wibowo. sedangkan dalam konsep perubahan dan pembaruan belum tentu atau bahkan tidak tercakup makna . Pengembangan ketiga pilar tersebut dilakukan melalui perbaikan struktur organisasi/tugas. dan pembaruan inovasi) adalah pengenalan atau penemuan sesuatu yang baru atau berbeda dan • eadaan sebelumnya. (2) PAKEM. perubahan adalah hal (keadaan) berubah atau peralihan dan suatu keadaan. yaitu (1) manajemen sekolah dan transparansinya. 2002. yaitu pengembangan. Selanjutnya. diakses tanggal 9 Februari 2005. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas.com/ services. maka konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini adalah usaha terencana untuk peningkatan keefektifan organisasi dengan mengadopsi pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah sehingga menghasilkan budaya sekolah yang menunjang terhadap pencapaian tujuan. 2006). Thoha. ada tiga istilah pokok yang perlu dijelaskan. dan intervensi terhadap individu/manusia yang tercakup dalam cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi sebagai wujud penggunaan ilmu perilaku (behavioral science theory).

hampir semua ahli berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Indrawijaya. Berdasarkan hal tersebut. 2004). Kajian tentang pengembangan organisasi tidak bisa terlepas dan perubahan. pengembangan organisasi mencakup sepuluh konsep yang bercirikan. maka uraian mengenai perubahan dalam penelitian ini hanya berada dalam kerangka pikir pengembangan organisasi. pengembangan dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan dan/atau pembaruan. dan perlakuan terhadap orang-orang dalam organisasi. 2 31. Bahkan secara tegas dikemukakan. Thoha. melainkan juga termasuk kultur organisasi (Owens. Ivancevich. pengembangan organisasi bukan hanya mengadakan perubahan (change) dalam struktur dan prosedur organisasi saja. Dalam kaitan itu pula. Brown dan Harvey (2006:4) menyatakan "OD is a planned strategy to bring about organizational change. membuat keputusan. Pengembangan organisasi merupakan suatu respons terhadap perubahan (Bennis dalam Luthans.pengembangan. 1983. -:am prakteknya. Thoha.am susunan dan prosedur organisasi saja sedangkan kultur organisasi tetap sama. maka itu bukan merupakan perubahan dalam kerangka pengembangan organisasi. Cummings & Worley. 2002). melainkan proses dan sikap memahami persoalan. Pengembangan organisasi lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar bukan hanya perubahan cara keija. Namun demikian. Dengan kata lain. dan Donnelly (1995) menyatakan pengembangan organisasi sebagai teknik manajenal untuk mengimplementasikan perubahan penting dalam organisasi. Bahkan.j. 1981. (a) . Gibson. 2002)." Sementara itu. 1991. Buchanan & Huczynski. jika perubahan hanya terjadi .

(d) meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horizontal. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi memberikan implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan. (e) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. (f) belajar melalui perilaku yang dialami. ia merinci tujuan pengembangan organisasi sebagai berikut: (a) meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota-anggota organisasi. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang. yaitu. vertikal. Tujuan utama pengembangan organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri.25 tujuan pengembangan organisasi. (b) meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah-masalah organisasi. (c) menciptakan lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan otoritas berdasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. 1991). (g) berkaitan dengan masalah nyata. baik dalam kelompok maupun antara kelompok. teknologi. (f) menemukan solusi yang . dan diagonal. dan (j) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens. kebalikan dari to sweepingproblems under the rug. (h) suatu strategi terencana. Usaha-usaha pengembangan organisasi pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir (Robbins. (e) suatu strategi pendidikan. (1) peningkatan keefektifan organisasi. dan (2) peningkatan kepuasan anggota-anggotanya. Lebih lanjut.orang dalam organisasi dalam membuat keputusan yang lebih efektif. (d) berfokus pada manusia.keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur. tugas-tugas. dan sumber daya manusia. (i) agen perubahan. (c) suatu pendekatan sistem. (b) pembaruan sistem. 1984).

dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi. Bertitik tolak dari beberapa pendapat di atas. kreatif. dan (6) menciptakan budaya sekolah yang kuat dengan ciri antara lain. Berdasarkan hal tersebut. Kedua. (3) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. sehingga perubahan terhadap . (4) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi program pengembangan organisasi. dan menyenangkan bagi peningkatan mutu lulusan. Pertama. terencana dan menempuh langkah-langkah yang sistematis. Artinya. (5) menciptakan pembelajaran aktif. yaitu pergerakan dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan. (2) menciptakan iklim sekolah yang demokratis dengan menyelenggarakan manajemen sekolah secara transparan dan akuntabel. sebagai proses transisi pengembangan organisasi menghadapi suatu keadaan yang tetap menginginkan status quo. Ketiga. dan (g) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi. efektif. pengembangan organisasi merupakan suatu proses bukan kejadian yang datang secara tiba-tiba. memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan prestasi terbaik. pengengembangan organisasi dilakukan secara sengaja. ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan pengembangan organisasi.26 sinergis terhadap masalah. maka tujuan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) meningkatkan kepercayaan dan peranserta dari stakeholders baik internal maupun eksternal dalam menunjang keberhasilan sekolah.

atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens. Ide-ide. Pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pengadopsian model manajemen sekolah yang pernah diterapkan di beberapa negara.27 kondisi ini menimbulkan resistensi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu. Berdasarkan hasil analisis itu. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi yang dilakukan tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kineija organisasi. muncullah Kegiatan Rintisan Keija Sama segi tiga Pemerintah Republik Indonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Menciptakan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat. Analisis implementasi pendekatan ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang bekeija sama dengan Bank Dunia. Hal ini tentu saja didasarkan atas pertimbangan bahwa pengadopsian tersebut dapat meningkatkan kualitas keluaran organisasi menjadi lebih baik. Di samping itu. Tujuan pengembangan organisasi secara umum adalah untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri. dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholders-nya. metode atau cara baru yang diadopasi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan suatu pendekatan yang telah dikembangkan oleh pihak lain. tujuan pengembangan organisasi adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (quality improvement). 1991). Pengembangan organisasi sekolah dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide-ide. pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. keefektifan. model. sejak tahun 1999 telah . cara. Keempat." Untuk merealisasikan program ini. model.

28 dilakukan pilot proyek di empat propinsi. Saling ketergantungan antara elemen. Jawa Tengah. tugas. elemen-elemen dimaksud adalah. dan orang-orang. Gambar 2.389) .elemen tersebut dapat dilihat pada gambar 2. 2. (a) struktur. Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi didasarkan atas pandangan bahwa organisasi sebagai sistem. 1982. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Dalam prakteknya. Owens. Oleh karena itu. Menurut Leavitt (dalam Stoner. Elemen-elemen organisasi (diadaptasi dari Stoner.1. teknologi. 1982. Jawa Timur. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tetap didasarkan atas kemampuan sekolah masing-masing. yaitu. fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada elemen-elemen penting yang terdapat dalam organisasi itu. 1991).1.

Walaupun para ahli memandang fokus perubahan organisasi dan sisi yang berbeda. 1982).1. Terdapat berbagai pendapat ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dan masing-masing ahli melihat dari sudut pandang yang berbeda. Steers (1977) meninjau dan aspek pendekatan yang digunakan dalam perubahan organisasi. Hanson (1991) melihat dan segi fokus perubahan. Berbagai pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisisasi dirangkum dalam tabel 2. Program perubahan yang berfokus hanya pada satu dan elemen-elemen organisasi itu memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil (Stoner.1. Robbins (1996) melihat lingkup perubahan dalam pengembangan organisasi dan sisi apa yang dapat diubah oleh agen perubahan. suatu perubahan yang efektif menyadari adanya interaksi elemen-elemen organisasi tersebut. Stoner (1982) memandang dari sudut variabel perubahan organisasi.29 Berdasarkan gambar 2.1. suatu perubahan dalam satu elemen organisasi akan mempengaruhi elemen-elemen lainnya. namun semua ahli tersebut sebenarnya ingin menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diubah dalam melakukan pengembangan organisasi sehingga kineija organisasi menjadi lebih baik. dan Griffin dan Moorhead (1986) menguraikan dari sisi metode perubahan organisasi. Rangkuman Pendapat Ahli tentang Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi . Dengan demikian. Tabel 2.

Teknologi Griffin dan Moorhead (1986) 1. Struktur 2. Manusia 1. Teknologi 4. Iklim organisasi dan gaya pribadi individu 4. Teknolog i i 3. Setting fisik . Tugas dan teknologi 3. Manusia 4. Struktur 2. Tugas 3. Kelompok dan individu Hanson (1991) Robbins (1996) 1.Pribadi individu 3.30 Steers (1977) Stoner(1982) 1. Struktural 2. Struktur 2. Tugas 3. Manusia 2. Struktur dan Sistem 1.

Apabila ketidakjelasan tersebut juga teijadi dalam dunia pendidikan. pendidikan dasar yang bebas ifree basic education) harus dijadikan prioritas utama di dalam membangun suatu masyarakat Indonesia baru yaitu suatu masyarakat demokratis (Tilaar. Gambaran umum sebagai indikasi rendahnya mutu pendidikan Indonesia terlihat dan Human Development Index tahun 2004 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 111 di bawah Malaysia (058). 1992. Ivancevich & Donnely. Atas dasar itu. Fungsi pendidikan tersebut diemban oleh setiap jalur. maka perubahan yang dilakukan tidak memberikan kontribusi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan dasar yang termasuk hak dari semua warga negara merupakan fondasi dari suatu masyarakat yang demokratis. Kotter. Salah satu masalah pokok yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan. 1993). dan jenis pendidikan termasuk Sekolah Dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar. jenjang. Oleh sebab itu. Scheerens. 1993. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). 1980. pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 3 UU RI No. 1996. Namun. Thailand . 2002).3 Schein. Tyson & Jackson. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kebutuhan untuk berubah sudah jelas. organisasi harus berubah (Morgan. Gibson. dalam kenyataannya pendidikan masih menghadapi berbagai permasalahan. 2000). hal yang mungkin tidak begitu jelas adalah apa sebenarnya perubahan itu dan bagaimana caranya melakukan perubahan tersebut (Morgan. 1996). Oleh karena itu.

dan aspek organisasi. Griffin dan Moorhead (1986) menyebut hal ini dengan istilah perubahan individu dan kelompok. kelompok. Perbedaan pandangan terlihat pada pendapat Robbins (1996) yang memasukkan unsur setting fisik dalam perubahan organisasi. -r. perubahan setting fisik merupakan bagian dari perubahan struktur dan tugas. Aspek individu berhubungan dengan .. aspek organisasi . Terakhir. . perubahan organisasi dapat ditujukan terhadap aspek ndividu. Walaupun Steers tidak menyatakan aspek perubahan yang berkaitan dengan tugas secara eksplisit. prosedur keija dan kebijakan guna mendukung perubahan struktur organisasi. namun perubahan sistem yang dimaksudkan oleh Steers berkaitan dengan tugas-tugas.anggota organisasi. Menurut Steers (1977).nggota organisasi sebagai pribadi sehingga memerlukan strategi yang bersifat r' badi pula. perubahan individu dan iklim organisasi termasuk ke dalam aspek perubahan yang ditujukan kepada manusia atau anggota. artinya perubahan struktur organisasi dan tugas-tugas yang sudah dilakukan diikuti dengan perubahan setting fisik tempat orang-orang atau anggota organisasi itu bekerja. Sementara itu.30 Melihat perbandingan pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi sebagaimana tampak pada tabel 2.1. aspek kelompok menyangkut hubungan antar pribadi ^ng harus dibangun untuk mendukung proses perubahan. Sebenarnya. Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada pendapat yang dikemukakan Steers (1977). dapat dijelaskan bahwa secara umum terdapat kesamaan pandangan mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi.ubungan dengan unsur-unsur organisasional yang akan berpengaruh dalam proses perubahan. Sementara itu.

atau hirarki manajerial. atau metode produksi. Walaupun ada beberapa fokus perubahan yang dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi. (2) struktur dan sistem organisasi. " (Tee. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan budaya merupakan hal ^ngesensial dalam pengembangan organisasi.html. yaitu perubahan yang terutama ditujukan pada: (1) pribadi individu. atau teknologi. 1977). it is usually easier t o change the structures and system than to change the culture. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi bukan merupakan hal yang mudah dibandingkan dengan perubahan struktur. teknologinya. Leavitt (dalam Stoner. Dengan demikian. seperti garis komunikasinya. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi mencakup perubahan seleksi.31 Berdasarkan hal tersebut. Therefore. ada tiga pendekatan umum yang dipakai untuk melakukan perubahan secara berencana. 2003:38). hange(http://www. namun perlu diingat bahwa "The premise of organizational development is: Orgamzations are social systems m which people are strongly influenced hy the rgamzationa/ culture. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Perubahan teknologi berarti mengubah peralatan. sikap.toolpack. atau peran anggota organisasi.com/services.2. . hubungan. diakses tanggal 9 Februari 2005). 1982) menyatakan bahwa pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengubah strukturnya. alur kerja. dan (3) iklim organisasi dan gaya hubungan antar pribadi (Steers. pelatihan. the most potent tool for improvemen/ is cultural . teknik memproses. Perubahan struktur mencakup penyusunan kembali sistem internalnya. '7/7 any change. tugas. dan atau manusianya.

yang berikan imbalan ditentukan oleh mempengaruhi apa pada prestasi ang karakteristik yang dikerjakan gota yang mem situasi organisasi orang dalam tugas perlancar tercapai tempat orang nya tujuan bekerja organisasi Iklim organisasi Teknik eksperimen Menciptakan iklim Perilaku dalam dan gaya yang ditujukan un keseluruhan organisasi hubungan antar tuk meningkatkan organisasi yang terutama pribadi kesadaran anggota bercirikan tingkat ditentukan oleh akan faktor kepercayaan antar proses emosi dan penentu sosial dari pribadi dan sosial yang perilaku mereka keterbukaan yang mencirikan dan membantu tinggi. pendidik Perbaikan tingkat Perilaku dalam an/latihan. sosiali keterampilan sikap organisasi sasi. prosedur dan disi yang menim organisasi kebijakan yang bulkan dan mem terutama berlaku. perubahan dan motivasi terutama sikap manusia ditentukan oleh karakteristik setiap anggota organisasi Struktur dan Modifikasi prak Menciptakan kon Perilaku dalam sistem organisasi tek. mem hubungan antara mereka perkecil para anggota mempelajari cara konsekuensi organisasi baru untuk disfungsi dan kon bereaksi dan flik sosial dan per berhubungan satu saingan yang amat sama lain dalam ketat konteks organisasi . Rancangan Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Aspek Teknik Intervensi Hasil Langsung Asumsi Mengenai Perubahan yang Dituju Penyebab Utama Perilaku dalam Organisasi Pribadi Individu Edukasi.2.32 pendekatan -engembangan organisasi hendaknya memberikan penekanan pada perubahan budaya Tabel 2.

Alasannya adalah karena keefektifan organisasi dapat diwujudkan apabila didukung oleh budaya organisasi yang kuat. .33 organisasi (organizational culture) yang mempengaruhi cara orang-orang bekerja.

Pengkajian fokus perubahan tersebut berada dalam kerangka perbaikan manajemen sekolah dan transparansinya serta peningkatan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu. fokus perubahan teknologi dilihat dari pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM. maka fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikaji dari sisi perbaikan struktur organisasi sekolah. yaitu dengan membentuk Dewan Sekolah dan Paguyuban/Forum Kelas. (2) kepemimpinan lokal yang efektif adalah sangat penting. (1) sentralisasi yang terlalu berlebihan. Sementara itu. Gerakan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu pengalihan otontas pengambilan keputusan atau mengurangi cara-cara pengambilan keputusan secara terpusat yang sudah menjadi kebiasaan di masa lalu. Desentralisasi merupakan sa'ah . Munculnya Manajemen Berbasis Sekolah erat kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Manajemen Berbasis Sekolah 1.Bertitik tolak dari uraian di atas. dan fokus perubahan individu/manusia dipelajari dan cara-cara yang digunakan kepala sekolah untuk mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi. pengawasan secara birokratik terhadap sekolah-sekolah mesti diakhiri. Dasar pemikiran Dasar pemikiran dari SBM diartikulasikan oleh Carnegie Foundation (Hanson. 1991). dan (3) tiap sekolah harus diberi kebebasan dan persyaratan yang fleksibel untuk merespons secara kreatif tujuan pendidikannya secara menyeluruh guna memenuhi kebutuhan para siswa. B.

olahan di daerah yang semula dikelola secara lebih sentralistik sekarang harus e r h didesentralisasikan. . 2000). menurut Nurhadi (2004). namun di sisi lain desentralisasi belum tentu dapat menjamin . Penyebabnya adalah karena implementasi desentralisasi masih menimbulkan berbagai kekhawatiran. Ada berbagai alasan yang mendorong perlunya desentralisasi pendidikan. 2000:88). (a) _:—istratif.ukakan sebagai benkut. Pada satu • desentralisasi pengelolaan pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang —e-gandung ekspektasi. pergeseran wewenang yang begitu r^i: sebagai dampak dari desentralisasi pemerintahan seharusnya diikuti dengan -_eseran paradigma dalam seluruh aspek manajemen pendidikan tingkat -■r--e-. maka . (b) politik.-a peningkatan mutu pendidikan. Melihat berbagai fenomena desentralisasi tersebut. a Nur (2001) menyimpulkan rasional desentralisasi ke dalam tiga aspek. „ entralization is necessary bui not sufficient t o improve the quahty of education. Inti dan pendapat tersebut : • —. pertimbangan administratif menitikberatkan . ada kemungkinan desentralisasi pendidikan -5tru dapat menimbulkan jurang yang makin lebar antara si kaya dan si miskin aar. seperti konsentrasi ■ ek jasaan pada beberapa orang atau golongan seperti pada sistem sentralistik. serta (c) ideologi dan filsafat.35 satu isu yang amat populer pada akhir-akhir ini. yaitu. I Oleh karena itu. Di samping itu. Pertama.-a. ^-iN-adilan dan ketidak-jujuran jangan-jangan malah lebih sentralisasi (Hamidjojo.-atian pada efisiensi . khususnya di Indonesia sebagai dampak reformasi di segala bidang termasuk pendidikan (Mantja. 2002). " ~ aar.

termasuk bidang manajemen pendidikan. . (3) tuntutan masyarakat untuk mandiri sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyelenggarakan dan memajukan bidang pendidikan. Di samping faktor-faktor di atas. (2) kurangnya persaingan antar daerah dalam memajukan pendidikan karena tuntutan nasional yang seragam. Kedua. sekolah. dan apalagi dari personel penyelenggara dan pelaksana pendidikan. (1) terjadinya tuntutan reformasi di segala bidang. sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu. Sentralisasi telah menimbulkan sikap patuh yang pasif (passive comformity). kurikulum. yaitu adanya keterikatan secara kaku terhadap aturan dalam melaksanakan tugas sehingga berkurang sikap inovatif. secara politis perkembangan zaman menuntut adanya keikutsertaan dan wewenang daerah dalam pengambilan keputusan. (6) kurangnya kreativitas daerah. akibat rasa takut melanggar aturan dari pihak atasan. (4) ketidaksesuaian tuntutan nasional dengan potensi sumber daya di daerah.banan dalam praktek manajemen pendidikan. dan (7) kurangnya kemandirian lembaga pengelola dan pelaksana pendidikan karena besarnya ketergantungan kepada pemerintah pusat. secara ideologi dan filsafat munculnya desentralisasi didasarkan atas keyakinan pemberian otonomi yang lebih besar mendorong tercapainya tujuan yang diinginkan baik oleh individu maupun masyarakat. yang jika dipertahankan sistem lama dapat berdampak munculnya kekacauan. menurut Soetopo (2004a) terdapat sejumlah faktor yang mendorong desentralisasi di bidang pendidikan di Indonesia. (5) adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat atas pendanaan. fasilitas. Terakhir.pencapaian tujuan pendidikan dan berupaya menghilangkan a—.

sosial budaya.37 Menurut Hamidjojo (2000). Dalam menerapkan desentralisasi harus mampu menghapus segala bentuk diskriminasi politik. istilah-istilah yang digunakan dalam membahas School-Based Management adalah. karena itu yang diperlukan adalah usaha empowerment. ekonomi. Manajemen desentralisasi bukan hanya memperhatikan stakeholders tetapi justru berfokus pada peranserta seluruh lapisan masyarakat. Shared Decision . 2. Otonomi pada hakikatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau suatu lembaga atau suatu daerah. pendidikan. SARA dan ekses anarcho-ethnocentrism. Dalam berbagai literatur. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Terdapat berbagai istilah yang dipakai berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah {School BasedManagement). 4 Keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihidupkan sebagai akar yang kokoh demi tegaknya sistem pendidikan nasional dan negara kesatuan. Kualitas pelayanan yang diberikan mestinya dapat menghapus persepsi negatif dari penerapan sistem sentralisasi dalam dunia pendidikan selama ini. agar desentralisasi pendidikan dapat diterapkan dengan baik diperlukan sejumlah persyaratan krusial yang perlu dipenuhi. 3 Pelayanan harus lebih cepat dan efisien. Pemberdayaan rakyat dalam pendidikan harus menjadi tujuan utama. 2. yaitu: 1. Oleh karena itu perlu dibangun mekanisme hubungan kerja antarkomponen strategis di daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas. Pola dan asas keija harus demokratis berlandaskan nilai-nilai dasar desentralisasi. bukan semata-mata kewibawaan atau kekuasaan pemerintah daerah.

sinkronistis. Johnston & Germinario. Wohlstetter & Associates. dan Administrative Decentralization (Lindquist & Mauriel. Lebih lanjut dikemukakan. 1991. School-site Autonomy. sebagian dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional (Depdiknas. koordinatif. 2000). dan profesional. Mohrman. Lewis. integratif. Responsible Autonomy. Self-Managmg X hool. Fernandez & Tornillo. Cistone. Shared Governance. penerapan Manajemen Berbasis Sekolah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen pendidikan dan sistem sentralisasi ke desentalisasi. (1) sekolah bersifat otonom dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal). Caldwell & Spinks. sinergis. Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekolah dengan melibatkan partisipasi individual. Dengan demikian. (2) personel sekolah dan anggota masyarakat dapat meninggalkan perilaku rutinitas dengan menunjukkan perilaku mandiri. dalam Cotton. 1994. dan (3) peran sekolah yang . kooperatif. School Empowerment. Artinya. Ceperley.Makmg. School-based Decision Making. proaktif. dampak perubahan pola manajemen tersebut terhadap sekolah adalah. Decentralized Authority. 2002a). 1992. Si t e-Based Management. School-based Governance. 2003. fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan propinsi/dinas pendidikan kota/kabupaten. kreatif. luwes. Hanson. baik personel sekolah maupun anggota masyarakat. 1989. Cromwell.

teachers. personnel. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tentang Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh para ahli. team. pengertian Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: A strategy to improve education by transferring significant decision. as a form ofdecentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvements might be stimulated and sustained. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. board) often composed of principals. 2001:7).39 selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-din tinggi (self-motlvator). 1994:56) mengemukakan definisi Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut: School-based management can be viewed conceptual/y as a formal alteration of governance structures. bahwa sekolah merupakan unit utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan oleh karena itu ekolah harus diberi otoritas dalam pengambilan keputusan. teachers. students. Marburger dalam Lindquist dan Maunel. Selanjutnya. Menurut Office of Educational Research and Improvement (OERI) dari the US Departemen of Education (dalam Sutjipto. and at times. parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget. Some formal structure (council. committee. student and community residents is created so that site participants can be directly involved in school-wide decision making. Some formal authority t o make decision in the domains of budget. Hal pokok yang terkandung dalam pendapat di atas adalah. provide principals. and the curriculum. . Malen. parents.majemen Berbasis Sekolah dari sisi pendelegasian kekuasaan dan keputusan.making authority from state and district offices to individual school. 1989:404) menyatakan pula batasan mengenai '•'. personnel and program is delegated to and often distributed among site-level actors.

2001) merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan dengan cara memberikan otoritas pembuatan keputusan kepada sekolah. Beberapa otoritas formal pembuatan keputusan yang dimiliki sekolah menyangkut anggaran. SBM menurut OERI (dalam Sutjipto. . Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. untuk meningkatkan partisipasi personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dibentuk dewan atau komite sekolah yang beranggotakan kepala sekolah. community members. Sementara itu. (1) partisipasi dalam pembuatan keputusan dengan dewan sekolah yang melibatkan konstituen sekolah akan menumbuhkan rasa memiliki bagi konstituen itu. guru. 1989) merupakan desentralisasi struktur organisasi. Untuk mendukung peran dan posisi tersebut dilakukan pembagian otoritas pengambilan keputusan. SBM menurut Marburger (dalam Lindquist dan Mauriel. Selain itu. Konsep yang terkandung dalam definisi yang dikemukakan Malen. and students of the local school. 1994) tentang SBM sekolah dipandang sebagai unit utama peningkatan mutu. personel dan program yang didelegasikan dan didistribusikan kepada aktor-aktor di tingkat sekolah. prmcipal. di samping mempunyai tanggung jawab yang besar dapat melakukan kontrol yang lebih luas terhadap proses pendidikan di sekolah. Pada hakikatnya. personel sekolah. dan masyarakat. Terdapat beberapa prinsip yang melekat dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah. orang tua dan masyarakat. parents. orang tua. siswa.:engan pernyataan sebagai berikut: SBM is defined as a decentralized organizational structure in which the power and decisions formerly made by the superintendent and school board are delegated to the teachers. yaitu. konsep SBM berdasarkan ketiga pendapat tersebut adalah pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada sekolah. Dengan demikian.

secara kasatmata dapat dilihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengalami krisis yang dalam. dan (3) implementasi sistem pembuatan keputusan terdesentralisasi akan mendatangkan sumber-sumber (076) bahkan Filipina (083). terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh lembaga International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan membaca murid Sekolah Dasar Indonesia berada pada urutan ke-38 dan 39 negara yang diteliti (Hadiyanto. (Jawa Pos. Lebih khusus lagi.(2) otoritas didelegasikan from the school board to central administration to the school building to the site council. . Bafadal (2003) menyatakan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. Keadaan khusus pada jenjang pendidikan dasar. dan (b) apakah kegiatan pendidikan dikerjakan atas dasar manajenal dan oleh personel yang memiliki keterampilan manajemen pula?. Menurut Sutjipto (2004). Selanjutnya ia memandang bahwa selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. 2004). Penyelesaian permasalahan di atas menuntut adanya perhatian serius dari pemenntah dengan mengkaji secara sistemik berbagai faktor strategis penyebab rendahnya mutu pendidikan. Permasalahan mutu pendidikan yang masih rendah bukan hanya muncul saat ini saja. (a) apakah aktualisasi kegiatan pendidikan berpijak pada landasan yuridis dan kebijakan pelaksanaannya?. yaitu. Mantja (2002) melihat persoalan di atas terkait dengan dua pertanyaan mendasar. melainkan sudah merupakan masalah yang berlangsung cukup lama. 2004). telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan terus menerus yang antara lain disebabkan oleh mismanagement.

and the development of the organizational infrastructure to support this . Dilihat dari sisi proses kebijakan. 1987). orang tua siswa.6 Selanjutnya. dan guru.3. implementasi merupakan transisi dan keadaan sosial. dan ekonomi sebelum kebijakan dianut kepada konfigurasi baru yang berbeda (Sutjipto. sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara pembiayaan secara signifikan (Lindquist & Mauriel. seperti. Perubahan aspek-aspek manajemen sekolah tersebut digambarkan dalam tabel 2. 2002a). tingkat putus sekolah. dan (d) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. moral guru dan iklim sekolah. politik. Mohrman. Implementasi SBM di sekolah mempunyai konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen sekolah dan pola lama ke pola baru (Depdiknas. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dihadapkan pada keadaan vang menginginkan status quo dan faktor lain yang menghendaki perubahan. dan melakukan perubahan terencana (Sagala. 2004). 1989). merancang ulang sekolah. hasil belajar. memberdayakan guru. seperti kehadiran. and money for staff development. Sebagai proses transisi. (a) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa. mengelola sekolah. Wohlstetter dan Associates (1994:50) menyatakan: The transition itself a substancial commitment of time. mnovation. (b) pemanfaatan sumber daya lokal menjadi lebih optimal dalam penyelenggaraan sekolah. (c) keefektifan melakukan pembinaan peserta didik. Otonomi dan kewenangan sekolah yang memadai dapat meningkatkan efektivitas sekolah serta memberikan beberapa keuntungan. tingkat pengulangan. berdasarkan berbagai pengamatan dan analisis.

Oleh karena itu. .new way of functioning. pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah harus dilakukan secara berencana.

.

dan (3) refreeztng.► Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi -----------. yaitu. dan tradisi lama -Daya mereka siap untuk menerima alternatif-alternatif baru. "Unfreezing" terjadi .► -----------. or stabihzmg :. rubahan berencana terjadi melalui tiga tahap. (2) imtiating the change.41 Tabel 2.► Memfasilitasi -----------Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian ! Organisasi hirarkis Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Ruang gerak luwes -----------. (1) unfreezing the system rpreparing it for change. 2001 191).► Otonomi partisipatif Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko : Gunakan uang semuanya -----------.3. svstem after the change is unplemented (Duncan & Kurt Lewin dalam Sutarto.► Pengambilan keputusan . Dimensi-dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat — --------. "Unfreezing" adalah merubah atau membongkar kebiasaan.► w Pendekatan profesional Desentralistik -----------.

pabila kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan ditingkatkan atau kekuatankekuatan yang melawan perubahan dikurangi. contoh lain yang ada di Indonesia adalah hasil analisis Program Ujicoba Pemberdayaan Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar di DKI Jakarta. Pusat Kurikulum. Meksiko. yang dilakukan atas keqa sama Lembaga Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dengan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun anggaran 1998/1999 menunjukkan bahwa "pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah masih sangat sulit. 3. mengingat . kurikulum dan penilaian (Tim Penulis Direktorat TK/SD. UNESCO & UNICEF. personalia. perlu waktu dan keberanian untuk berubah. Selanjutnya. Proses "changmg" sebagian besar timbul karena adanya "identification" yang timbul apabila suatu model diterapkan dalam lingkungan organisasi. studi yang dilakukan di El Salvador. Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam hal anggaran. 2003). Nepal dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat. "Internalization" timbul apabila individu ditempatkan dalam situasi perilaku baru dan mereka dituntut untuk berhasil melakukan tugas itu.42 . Pada suatu ketika akan terjadi situasi individu telah cocok untuk berubah sehingga mereka siap untuk menerima pola-pola perilaku baru. Namun. "Refreezing" merupakan proses dimana perilaku yang baru diperoleh telah berintegrasi dengan pola perilaku dan kepribadian individu.

43

selama puluhan tahun manajemen sekolah bersifat sentralistis." (Tilaar, 2002:43). Berdasarkan keadaan tersebut, hal utama yang direkomendasikan oleh Tim Ujicoba untuk diubah adalah manajemen tingkat pejabat atau birokrat, karena seluruh manajer sekolah hingga saat ini masih "sangat patuh" dengan pimpinan, sehingga jika ada hal-hal yang bersifat inovatif mereka sangat takut untuk mengubahnya, karena dipandang tidak sesuai dengan standar baku yang ditetapkan. Di luar negeri, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi telah banyak dilakukan. Mort (dalam Kimbrough dan Burkett, 1990) telah melakukan penelitian tentang proses perubahan terencana di awal tahun 1950-an. Hall dan Hord (1987) meneliti perilaku kepala sekolah dan peningkatan sekolah yang berhasil pada the Reseacrh and Development Center for Teacher Education at the ■uversity ofTexas, Austin. Fokus penelitiannya diarahkan pada Change Facilitator Sty le. Firestone dan Corbett (dalam Cotton, 1992) meneliti "Planned Organizational hange " dengan fokus how the change process should be managed so as to lead to r sitive results. Menurut Cotton (1992), Mutchler juga telah melakukan penelitian tentang "Eight Barriers to Changing Traditional Behavior" Prestin dan Bowen 1993) memfokuskan penelitiannya pada asesmen perubahan di empat sekolah dalam usaha restrukturisasi pendidikan. Hasil penelitian Lewin, Coch, French, Benne dan Chin (dalam Schein, 1980) menunjukkan bukti bahwa salah satu cara terbaik untuk membantu melaksanakan perubahan ialah dengan melibatkan sistem yang terkena angsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak sistem itu berpartisipasi dalam menentukan bagaimana mengelola suatu perubahan, semakin •

44

urang kemungkinannya untuk menentang perubahan itu, dan semakin mantaplah perubahan itu teijadi. Hasil penelitian klasik tentang how resistance to change may be managed\ dikemukakan Robbins (1984:184), yaitu: "There is a strong beliefheld by those people actively engaged in OD that changes are more likely to be accepted by individuals who have been given a voice in determining the content and process of the change". Selanjutnya, Goodlad (dalam Owens, 1991) melakukan penelitian tentang problem of personal and institutional renewal m education. Demikian pula penelitian Fullan, Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD, seperti dilaporkan Owens (1991). Hasilnya menunjukkan proyek OD bersifat parsial, tidak tuntas, aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Di samping itu, penelitian-penelitian yang mengkaji tentang implementasi kebijakan School Based Management juga telah banyak dilakukan di luar negeri. Lindquist dan Mauriel (1989) melakukan penelitian dengan judul School Based Management: doomed to failure?. Data penelitiannya membuktikan, terdapat tiga masalah yang umumnya muncul sebagai hambatan pengembangan SBM, yaitu; (1) kekeliruan konseptual dalam pengembangan SBM, (2) kurangnya motivasi untuk mendelegasikan otoritas ke sekolah-sekolah, dan (3) persyaratan yang berat tentang waktu dan keterampilan yang dituntut dalam implementasi SBM. Temuan lainnya, berdasarkan data ia mengakui bahwa (a) SBM memerlukan suatu perubahan dalam gaya manajemen sekolah, dan (b) tidak adanya dukungan yang kuat oleh pengawas merupakan bukti council's conflict dengan dewan. Selanjutnya, Cotton (1992) telah

45

mereview 42 buah penelitian tentang implementasi SBM. Misalnya, Site-Based ' fanagement: Its Potential for Enhancmg Learner Outcomes yang dilakukan Arterbury dan Hord (1991), School Based Management: Are We Ready? oleh Caldwell dan Wood (1988), dan School BasedManagement/Shared Decision Making in Dade County (Miami) oleh Cistone, Fernandez dan Tornillo (1989). Penelitianpenelitian tersebut lebih memfokuskan pada hakikat dan hasil Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan kepustakaan yang teijangkau, di Indonesia terdapat pula beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Penelitian terkait, antara lain, dilakukan oleh Bafadal (1994). Ia meneliti proses perubahan di sekolah dasar yang difokuskan pada; (1) proses implementasi inovasi pendidikan ditinjau dari pengubahan latar struktural dan tingkah laku, (2) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi inovasi, dan (3) peran agen perubahan dalam proses implementasi inovasi. Aswandi (2001) meneliti Perubahan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta dari Manajemen Keormasan ke Manajemen Profesional, dengan fokus; proses perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Lengkong (2004) meneliti Strategi Perbaikan Sekolah Berdasarkan Perspektif Guru pada tiga SLTP di Minahasa dengan fokus proses perbaikan internal individual guru dan dampak dan proses perbaikan internal guru terhadap perbaikan kineija sekolah. C. Pengembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Uraian berikut ini mencoba mengelaborasi konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berdasarkan kajian teoretis yang

Berdasarkan pada pendapat.andinan. selanjutnya ._i?at tersebut. . i b) metode pembelajaran dengan menerapkan metode PAKEM.ngkatan mutu pendidikan (quality-improvement orientedSBM)".emen Berbasis Sekolah ini dengan "empat pilar keberhasilan MPMBS a-a/emen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). 2001). dan (c) -.. (3) partisipasi. Hal ini sekaligus merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang dilakukan.h. . (2) metode pembelajaran. maka kajian pengembangan organisasi dengan pendekatan . dan (3) . yaitu (1) peningkatan mutu. dan transparansi". Setelah pembahasan ketiga pilar tersebut.^rta masyarakat. (2) • .r-. Ada pertanyaan pokok yang perlu dijawab. Kemudian mencermati apa yang sudah diterapkan pada sekolah-sekolah yang dijadikan f—ra* ujicoba MBS.• an mengenai budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi. . yaitu apa yang dikembangkan —elakukan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis v r • ah Bafadal (2003:93) menyebutkan aspek yang dikembangkan dalam --_. Supriadi (2004:19) menyatakan bahwa '•'BS pada dasarnya adalah MBS yang secara khusus diarahkan pada upaya r*r. —. .46 sudah dikemukakan sebelumnya. -erta masyarakat (Subakir & Sapan.emen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada tiga pilar berikut i i manajemen sekolah dan transparansi. maka ada tiga pilar yang dikembangkan yaitu (a) manajemen : ..

1991. Subakir & Sapan.. Hanson. Kewenangan terbatas yang dimiliki sekolah harus dimanfaatkan secara efektif efisien. Depdiknas. Ogawa & Kranz dalam Ogawa & . Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Mohrman. 1989. 2002a). L ndquist & Mauriel. 2004). Pengembangan manajemen sekolah dititikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri utama pada keterbukaan atau transparansi (Subakir & Sapari.47 Manajemen sekolah dan transparansi Ada beberapa argumen perlunya perbaikan atau peningkatan manajemen ah dan transparansi. maka pola pengambilan keputusan ditekankan pada partisipasi personel sekolah dan masyarakat (Malen. akan dalam penyelenggaraan pendidikan. 2001. Oleh karena itu. 2001. Depdiknas. bahwa selama ini secara institusional sekolah kurang _ ■ --ca.kurang melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. 2001. memiliki kewenangan yang sangat . Kemandirian sekolah dipengaruhi antara lain oleh sampai sejauh mana kevvenangan yang diberikan dinas pendidikan kepada -ekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. 1991. dan kurang transparan dalam pengelolaan keuangan (Marburger. 1994. Hal ini sesuai dengan ide dasar yang melandasi lahirnya . Hanson. Supriadi. dalam Lindquist & Mauriel. Alasannya adalah karena salah satu konsep pokok Manajemen Berbasis Sekolah adalah pelimpahan kewenangan kepada -ekolah dalam pengambilan keputusan (Marburger dalam Lindquist & Mauriel. Wohlstetter & Associates. 1989. ■ ._ emen Berbasis Sekolah.. 2002a. Mulyasa. 2005). 2003. Bafadal. 1989. Sutjipto. kepala sekolah perlu melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

2004). Puskur. Nurkolis. Hasilnya dipajang di tempat terbuka dan dengan mudah dibaca oleh siapapun.iluasi program sekolah. Direktorat TK/SD. UNESCO & UNICEF. 1994. pengurus BP3. Depdiknas. Kesemuanya itu diawali dengan perubahan struktur organisasi Komite Sekolah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.olah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dimulai dari penyusunan encana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Pembentukan struktur tersebut diikuti dengan perubahan tugas-tugas dan mekanisme keija antara sekolah dan Komite Sekolah. Bahkan banyak SD yang memberikan kepercayaan sepenuhnya masalah keuangan BP3 kepada bendahara BP3 yang berasal dari 'orang luar' (baca: bukan guru). 2003. Pelibatan personel r -. 2001. Berkenaan dengan hal ini. 2003. dan prosedur atau . Subakir dan Sapari (2001) menyatakan: Kepala sekolah sebagai pemimpin puncak di sekolah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan transparansi manajemen keuangan. Transparansi manajemen sekolah dilakukan dengan cara menyampaikan program yang akan dilaksanakan sekolah dan melaporkan hasil pelaksanaan/evaluasinya. 2004). termasuk masalah keuangan.48 White. Bafadal. 2002a. Penyelenggaraan manajemen sekolah yang memiliki ciri keterbukaan atau transparansi merupakan salah satu ciri dari sekolah yang melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (Subakir & Sapan. 2002a. Sagala.' anisme keija. dan masyarakat. 2003. Depdiknas. RAPBS disusun bersama guru. Supriadi. tugas-tugas. dan . pelaksanaan. maka pengembangan manajemen sekolah : akukan dengan cara merubah struktur organisasi. . Untuk mewujudkan hal di atas. .

Hal tersebut sesuai pula dengan • . baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi keduanya sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif. sekolah telah melakukan perubahan dengan mewujudkan transparansi manajemen sekolah terutama menyangkut keuangan -ekolah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.49 Pendapat di atas mempunyai arti bahwa dalam pengembangan organisasi dengan Manajemen Berbasis sekolah. Istilah teknologi mempunyai banyak arti. Pembaruan metode pembelajaran Salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi berkaitan dengan teknologi. 1991). Pembaruan metode rembelajaran menjadi bagian dari pembaruan sistem yang merupakan salah satu ciri rengembangan organisasi (Owens. dan menyenangkan (PAKEM). efektif. 2005). menggunakan dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan. kreatif. Hal ini sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas sekolah kepada masyarakat. Dengan demikian. 2002a). 2. Perubahan teknologi dalam kerangka pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan dengan cara penerapan metode pembelajaran aktif. yaitu _danya usaha sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa (Depdiknas.rakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada aspek proses belajar mengajar. pengertian teknologi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: Metode bersistem untuk merencanakan. karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar (Mulyasa. Berdasarkan . upaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

2003). dikemukakan bahwa pengenalan. dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan asumsi semuanya itu akan dapat memperbaiki mutu/hasil lulusan (Direktorat TK/SD. maka dapat dikatakan bahwa pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM merupakan bagian dari kerangkan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Selanjutnya.50 uraian tersebut. pengembangan. Pembaruan metode pembelajaran tersebut mempunyai konsekuensi terhadap perubahan tugas-tugas guru dalam mengelola pembelajaran mulai dan . Puskur. UNESCO & UNICEF.

dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. Kedua. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses pendidikan. evaluasi dan akuntabilitas. pengambilan keputusan. khususnya orangtua siswa. Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terjadi bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah. pemantauan. kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function. . dan peranserta masyarakat. 2003). dan perbaikan sarana prasarana pendidikan telah dilakukan. Sampai saat ini. Tim Penulis Direktorat TK & SD. 2002a. guru kelas.5 merata (Depdiknas. maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terwujud. Ketiga. antara lain. peranserta warga sekolah. Pusat Kurikulum. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan programprogram peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. khususnya guru. di mana kepala sekolah. Sementara itu. Dampak dari manajemen yang sentralistik tersebut dikemukakan Bafadal (2003:37) sebagai berikut: Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan. penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. UNESCO & UNICEF. orang tua siswa. pengadaan buku dan alat pelajaran. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru. upaya-upaya untuk mengatasi faktor penyebab kedua dan ketiga tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah selama ini. upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan kelihatan masih terfokus pada faktor pertama (menggunakan pendekatan education production function). Pertama.

Peningkatan peranserta masyarakat Pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah. Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Diknas RI (dalam > _r« hclis. 2001:13. 3. (d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. iang masih rendah. Mulyasa. Implikasi dari semua itu adalah diperlukan kesiapan guru menerima pembaruan dan kesiapan pengetahuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan program pembaruan itu dalam bentuk tindakan nyata di kelas. sekolah dan guru. Menurut Direktorat TK/SD. "Peranserta masyarakat merupakan salah satu aspek >_ -. 2003). 1 28) Selama ini. 2003) menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian guru tingkat partisipasi orang tua siswa dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah masih rendah (rata-rata . (b) menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. dan (g) menilai kegiatan belajar mengajar dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. melaksanakan dan mengevaluasinya. tetapi juga ~enjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat (Direktorat TK/SD. yaitu kemampuan. peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan .50 merencanakan. (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan.: ig dalam Manajemen Berbasis Sekolah" (Subakir & Sapari. (e) menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. (f) mengaitkan kegiatan belajar mengajar dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. (a) merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang mendorong beragam siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Puskur. Puskur. ^ESCO & UNICEF. UNESCO & UNICEF (2003) ada tujuh kemampuan guru yang diperlukan untuk mendukung penerapan PAKEM.

Selanjutnya. pemerintah perlu merumuskan secara jelas — . . pengusaha. Perubahan tersebut dilakukan dengan cara membubarkan . kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan iklim sekolah. dan masyarakat M -Kasa. Sehubungan dengan itu.asan. >erta masyarakat tersebut. namun di sisi lain •esarnva partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut. Sebagai acuan yang dirujuk untuk peningkatan r». dan organisasi k . pertemuan BP3. keluarga. peranserta masyarakat merupakan salah satu pilar dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.51 57. Partisipasi orang tua siswa yang sangat tinggi ialah dalam mengawasi mutu sekolah. orang tua. 2003). pembayaran dan bentuk iyuran BPS per bulan dan sumbangan uang gedung untuk siswa baru. Oleh karena itu. kelompok. askan bahwa peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta . Pada satu sisi. . mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah. yang . peranserta masyarakat adalah penting. ~:uk meningkatkan peranserta masyarakat dilakukan perubahan organisasi yang mewadahinya.1%) dan sangat rendah dalam hal menentukan kebijakan program sekolah dan mengawasinya. organisasi profesi. . -angan.-i'akatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan : : • an. -anserta masyarakat adalah pasal 54 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. pertemuan rutin.r-eringkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan. dan evaluasi program pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan < ~ e vekolah/Madrasah. dalam pasal 56 dinyatakan bahwa masyarakat berperan _ .-genai bentuk partisipasi dan tugas oprasional organisasi yang mewadahi ->.

Berdasarkan hal tersebut. perspektif .52 organisasi BP3 dan membentuk organisasi baru yang disebut Komite Sekolah. 1991:171). Persoalannya adalah apakah perubahan struktur dan tugas-tugas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. shared values.ini berarti. arahan dan dukungan tenaga. Secara konkrit. bui :f exis(s m the organization. and basic ■ umptions. not m the individual. and beliefs of an organization' (Owens. Pembicaraan mengenai budaya berkaitan dengan "the behavioral norms. each occurring at different levels ofdepth and abstraction ". Budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi Robbins (1984:171) berpendapat "organizationa/ culture is a perception. . Budaya sebagai norma-norma bersama. Hoy dan Miskel (I 01:177) menyatakan "culture is manifested in norms. Dalam pasal 56 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri.2. sarana dan prasarana. 4. perubahan struktur organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat telah diikuti dengan perubahan tugas-tugas yang akan dijalankan oleh Komite Sekolah. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. individundividu dengan latar belakang yang berbeda atau tingkatan yang berbeda dalam rganisasi cenderung menjelaskan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang sama. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. <umptions.. Tingkatan -daya organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar 2.

. Norma-norma biasanya tidak tertulis (unwritten) dan -erupa harapan informal.53 Gambar 2.e_getahui dan memahami norma-norma budaya itu. Tingkatan Budaya (Hoy & Miskel. Oleh karena itu. maka penting untuk -. mengenai budaya muncul ketika norma-norma perilaku digunakan sebagai elemen dasar budaya (lihat gambar 6.2.1). apabila kita mempunyai perhatian terhadap perubahan perilaku organisasi. Norma-norma secara langsung mempengaruhi perilaku. N orma-norma itu more visible daripada values dan tacit assumptions\ dengan :emikian mereka memberikan cara-cara yang jelas untuk membantu manusia memahami aspek-aspek kehidupan organisasi. 2001:177).

Budaya tersusun dari penlaku. 1990:13). dan bertolak dari sudut pandang pelakunya" (Faisal. Nilai-nilai bersama merupakan karakter dasar dan organisasi dan memberikan organisasi memiliki suatu indentitas. kebenaran. "dalam mempelajari perilaku manusia diperlukan penelitian mendalam sampai ke inner behavior secara holistik. Budaya sebagai tacit assumptions Pada level yang paling dalam. hakekat manusia. Dengan perkataan lain. Tacit assumptions merupakan -remis yang abstrak mengenai hubungan manusia. dan lingkungan.imzation" (Hoy & Miskel. -daya didefinisikan sebagai shared va/ues. pola perilaku harus dipahami dan diinterpretasikan dan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan anggota kelompok dalam latar budayanya. Pola dapat dilihat secara langsung {tangible) atau tersembunyi i intangible).erupakan manifestasi kolektif dari taat assumptions. 1985). -ealitas. 2001:178). Pola dalam konteks ini berarti struktur atau susunan yang ada di balik perilaku.Budaya sebagai nilai-nilai bersama. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Upaya pengembangan organisasi sekolah untuk meningkatkan mutu . Nilai-nilai merupakan konsepsi dan apa -ng diinginkan. Pada tingkat abstraksi menengah. Oleh karena itu. Nilai-nilai merefleksikan asumsi-asumsi yang mendasari budaya. N lai senng didefinisikan "what members should do to be successful in the •v. 5. karena itu dapat dikatakan bahwa budaya merupakan perilaku yang terpola (Ritzer. Pola dapat diidentifikasikan dengan cara menarik kesimpulan dari perilaku individu atau kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. budaya —.

Selanjutnya." Selanjutnya. particularly those who have to change the most. Namun dalam kenyataannya. Ginnett dan Curphy (2002: 395) menyatakan: "Everybody resists change. yaitu. dan (8) lalai menanamkan perubahan secara kokoh ke dalam kultur lembaga. Menurut Buchanan dan Huczynski (2004:617) resistensi adalah "an mability or an umvillingness to discuss or to accept change thal are perceived to be damagmg or threatening to the individual'. (3) meremehkan kekuatan visi. Perubahan yang dilakukan mestinya berjalan secara berkelanjutan (sustainability) sehingga peningkatan mutu (quahty improvement) yang menjadi tujuan perubahan itu dapat diwujudkan.pendidikan telah sering dilakukan. " Berkenaan dengan hal ini pula. Robbins (1996) menyatakan salah satu penemuan yang paling baik berdasarkan penelaahan mengenai perilaku tndividu dan organisasi adalah bahwa organisasi dan anggotanya enggan terhadap atau menolak . (4) mengkomunikasikan visi dengan buruk. pengembangan organisasi sekolah tidak terjadi dengan mudah. (7) terlalu cepat menyatakan keberhasilan. Kotter (1996) menjawab pertanyaan mengapa organisasi gagal melakukan perubahan dengan mengidentifikasi delapan kesalahan. (5) membiarkan hambatan-hambatan menghalangi visi baru. Hughes. baik atas dasar inisiatif lembaga sendiri maupun dengan cara mengadopsi suatu bentuk kebijakan baru di sekolah. seperti halnya Manajemen Berbasis Sekolah. (2) gagal menciptakan koalisi pengarah yang cukup kuat. (6) gagal menciptakan keuntungan jangka pendek. penyebab kegagalan pengembangan organisasi adalah karena adanya keenganan atau resistensi terhadap program pembaruan yang dikembangkan. (1) membiarkan adanya rasa puas diri yang terlalu banyak.

perubahan. Uraian lengkap dari kedua faktor penghalang tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Akibatnya. Keengganan atau penolakan terhadap perubahan dalam pengembangan organisasi dapat bersumber dari organisasi itu sendiri maupun dari individu sebagai anggota organisasi (Steers. Jones (2004) menyatakan resistensi terhadap perubahan dalam organisasi terdapat pada tiga level. Anggota organisasi ingin mengetahui bagaimana perbedaan pekerjaan yang ditetapkan akan mempengaruhi mereka. individu-individu memerlukan tambahan pengetahuan terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. (b) level kelompok.4. Griffin & Moorhead. 1986. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor individu dan organisasi. Winardi. Konsekuensinya. Pada tingkat pribadi. anggota organisasi menolak pengenalan metode baru karena mereka merasa aman dalam kondisi yang ada dan takut bahwa perubahan yang diperkenalkan merusak hubungan antar pribadi yang ada yang sudah beijalan cukup . 1977. 1991. kecuali apabila perubahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan kepada mereka. Siagian. Individu dan kelompok cemas bahwa suatu perubahan mungkin berpengaruh terhadap kepentingan mereka. 2000. 2002). dan (c) level individual. yaitu. mereka akan menciptakan hambatan yang signifikan (significcmt barriers) untuk menghalangi perubahan. Hanson. bahkan perubahan meningkatkan •etidakpastian. Hal itu c sebabkan karena people dislike uncertainty. Sementara itu. Robbins. 1996. Dalam bentuk pernyataan lain. Robbins (1984) mengemukakan bahwa osaha-usaha untuk menghasilkan perubahan akan sering meghadapi resistensi. Steers (1977) menyebut resistensi sebagai faktor penghalang perubahan dalam organisasi. (a) level organisasi.

lama. Ini berarti resistensi terhadap perubahan terutama disebabkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan dan karena orang lebih menyukai sesuatu .

5. Iklim organisasi yang sedang berlaku 6. 8. Riwayat usaha perubahan yang tidak berhasil serta konsekuensinya di masa lalu 8. "u~ahan atau pengaruh positif perubahan terhadap organisasi sehingga mereka akan . 6.--paya untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan resistensi dengan maksud berpartisipasi dalam implementasi program yang dikembangkan.. Sistem imbalan dapat memperkuat status quo 2. Kesalahan pemilihan metode memperkenalkan perubahan 7. Kekhawatiran bahwa perubahan akan mengacau imbangan kekuatan yang ada saat itu antara kelompok serta bagian 5. rasa terjamin. Konflik antara sasaran pribadi dan sasaran organisasi a' g sudah dikenal daripada yang masih asing baginya. resistensi ■: . 10 . 9. Faktor Penghalang Perubahan dari Aspek Pribadi dan Organisasi Faktor dari Pribadi Faktor dari Organisasi 2 j 4. Salah paham mengenal tujuan. dan kekuasaan sebagai akibat perubahan Kekhawatiran terhadap segala yang terasa asmg Kurang identifikasi atau keterlibatan dengan perubahan Kebiasaan Kepentingan menjaga status quo (karena keuntungankeuntungan tertentu) Norma kelompok dan kemantapan peranan Ancaman terhadap hubungan 1.4. . Persaingan atau konflik antar bagian yang berakibat timbulnya keengganan bekerja sama 3. Biaya yang sudah tertanam dalam keputusan dan kegiatan yang lalu 4. mekanisme atau konsekuensi perubahan Kegagalan melihat kebutuhan akan perubahan Kekhawatiran kehilangan status. Kekakuan struktur sosial yang ada 11. Di samping itu.58 Tabel 2.adi karena sebagian anggota organisasi tidak memahami sepenuhnya alasan suatu . 7.

. yaitu. (1) takut karena tidak mengetahui. Alasan ~ e~gapa orang menolak program perubahan dalam pengembangan organisasi. . (3) . ?utusan dan tindakan-tindakan yang lalu karena sebelumnya sudah diadakan .-jbahan dapat diterima dalam organisasi.-.59 Sifat dan karakter organisasi itu sendiri juga dapat mempengaruhi sejauh mana '•.a perubahan yang sebelumnya salah kaprah dan tidak berhasil mengakibatkan • . menurut Siagian. (4) takut gagal. hal ini dapat merongrong usaha bersama yang menuju pada -ubahan karena takut perubahan itu akan melanggar wilayah mereka masing. (2) belajar tugas yang baru. (1) rasa takut. struktur imbalan yang erdapat dalam organisasi mungkin dirancang untuk menguntungkan perilaku yang ia Selain itu.ghadapi beberapa masalah.~g Para pimpinan organisasi mungkin menganggap dirinya terikat pada • . -agai pesaing mereka. : • emukakan oleh Gitosudarmo dan Sudita (2000). Bahkan usaha- a. Misalnya. (2) penolakan terhadap rem bahan. aar.estasi besar (sunk cost) untuk suatu produk atau teknologi tertentu. (3) cara yang tidak didasarkan kepada landasan yang kuat.^rcayaan para anggota organisasi terhadap keberhasilan setiap usaha baru lenyap. h karena itu. bahwa penolakan individual : erabkan. Adanya kecenderungan orang untuk menolak setiap perubahan yang dilakukan __ pengembangan organisasi merupakan hal yang manusiawi (Siagian. 1994). perubahan dalam pengembangan organisasi akan .e-. 5 pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat informasi yang kuat. jika bagian-bagian dalam organisasi memandang satu sama lain .

(3) sistem hubungan. . Sementara _ penolakan yang bersumber dan organisasi terdiri dan. (1) ancaman terhadap maktur kekuasaan. dan (4) ketidakpercayaan pada manajemen. a perubahan dan kepentingan pribadi. (2) struktur organisasi yang stabil.60 .rmsak kestabilan interaksi. dan (4) .i.

pimpinan harus mampu menilai dengan tepat sifat dan -ebutuhan akan pembaruan. (c) fasilitasi dan dukungan. Robbins. (a) pendidikan dan komunikasi. pimpinan organisasi perlu memilih metode yang tepat untuk digunakan sehingga pengembangan organisasi dapat terlaksana sesuai dengan yang diinginkan. Kotter & Schlesinger dalam Stoner. Pendidikan dan komunikasi merupakan salah satu cara yang dapat dipakai pimpinan untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan. 2000). Metode yang dapat dipakai untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan adalah. 1986. Pendidikan bagi seseorang dapat menambah pemahaman dan pengetahuan serta meningkatkan kemampuan yang mendukung implementasi perubahan.6. Hasil analisis ini dijadikan landasan implementasi program pembaruan dengan mempelajari dan menangani berbagai sumber penghalang >ang mungkin timbul. (d) negosiasi dan perjanjian. Dengan demikian. adanya kesalahan informasi yang mungkin diterima oleh anggota organisasi dapat diatasi melalui komunikasi. . Begitu pula melalui komunikasi dapat disampaikan informasi penting kepada anggota organisasi sehingga mereka dapat memahami secara tepat mengenai alasan pentingnya suatu perubahan dilakukan. dan (f) paksaan eksplisit dan implisit (Griffin & Moorhead. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk menghadapi resistensi terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Berdasarkan hal tersebut. Gitosudarmo & Sudita. Perlu diingat bahwa cara implementasi perubahan sama pentingnya dengan perubahan itu sendiri. (b) partisipasi dan keterlibatan. 1996. (e) manipulasi dan kooptasi. 1982.

2002). sehingga perubahan manajemen pemerintahan tentu berakibat pula pada penataan manajemen pendidikan (Mantja. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. 2000). wewenang yang diberikan amat terbatas. tidak jarang pimpinan organisasi . maka perlu dilakukan Selain pendidikan dan komunikasi.Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kedua faktor terakhir tersebut tidak dapat dipertahankan setelah terjadi gelombang reformasi. Akibatnya ada kecenderungan kebijakan pendidikan yang diambil pemerintah pusat kurang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat daerah yang semestinya market-driven education. serta terdapat berbagai kesulitan dalam mengimplementasikan keputusan (Hamidjojo. 2000). Perubahan kedua undang-undang tersebut dituangkan dalam UU RI No. Lahirnya kedua Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi. sentralisasi pendidikan menimbulkan kesan kurang melibatkan institusi pendidikan dan masyarakat di daerah. Namun. Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi ke daerah sehingga dikeluarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Pendapatan Antara Pusat dan Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU RI No. -ggunakan pula partisipasi dan keterlibatan sebagai cara untuk mengatasi rengganan . Kalaupun ada. Berdasarkan hal yang sudah dikemukakan di atas. Alasan umum desentralisasi adalah bahwa dalam pembangunan bangsa terjadi perubahan wawasan dari top-down menjadi bottom-up (Tilaar.

:j proses pengambilan keputusan itu dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat. dalam negosiasi dan ■:~anjian pimpinan boleh saja menawarkan insentif tambahan atau reward dalam r«r-.aa seberapa orang anggota organisasi atau orang-orang tertentu yang dianggap . melengkapi fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan anggota rgansiasi dalam melaksanakan tugas-tugas baru..n: ng menyangkut implementasi perubahan dalam organisasi. Oleh ■ arena itu. ~Jerung menerima dan mau menjalankan keputusan yang diambil. Negosiasi dan perjanjian juga dapat dilakukan untuk mengatasi keengganan . cara ini juga ditujukan untuk mengatasi . Sering ditemui kegagalan ~r ementasi suatu perubahan disebabkan kurangnya fasilitas dan dukungan. pada fase --. sehingga individu tetap mempunyai komitmen untuk melakukan .-remasan individu atas hilang atau berkurangnya insentif keija.terhadap perubahan.-o nya. Sudah barang e-. misalnya. . Cara ini dipakai apabila keengganan terhadap perubahan berada . untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan pimpinan harus mampu .. Konsekuensinya. maka orang tersebut . sementara mereka idapkan pada tugas yang tidak ringan.rmpunyai peran kunci.rercanaan suatu kegiatan atau dalam proses pengambilan keputusan-keputusan -. Cara ini digunakan.-fasilitasi dan mendukung upaya perubahan yang dilakukan dengan cara. -idap perubahan.mk lain. Metode ketiga adalah fasilitasi dan dukungan. Jika orang dilibatkan __ am proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Selanjutnya.

.

Terakhir adalah paksaan. Sedangkan kooptasi merupakan upaya untuk mempengaruhi pimpinan kelompok yang menolak perubahan dengan cara memberikan peran utama kepada mereka. manipulasi adalah memutarbalikkan fakta untuk membuat fakta itu tampak lebih menarik. dan menciptakan desas-desus palsu agar anggota organisasi menerima baik suatu perubahan. Keengganan terhadap perubahan juga dapat diatasi dengan cara manipulasi dan kooptasi. maka bukan tidak mungkin pimpinan akan menggunakan cara paksaan. Oleh sebab itu. jika ditemui beberapa orang individu masih menolak perubahan. Apapun alasannya. Namun.61 perubahan dalam organisasi. Apabila perubahan sudah merupakan suatu keputusan organisasi yang harus dijalankan. Apabila kondisi ini gagal diciptakan. sebab kesalahan memahami situasi dapat menyebabkan kekeliruan yang . sebelum menggunakan cara paksaan tersebut perlu dijawab lebih dulu pertanyaan yaitu apakah cara-cara lain sudah digunakan secara optimal? Penggunaan berbagai metode di atas harus didasarkan atas pemahaman situasi yang ada. menahan informasi yang tidak diinginkan. Menurut Robbins (1996). paksaan tetap dipandang tidak baik. bukan tidak mungkin manipulasi akan menimbulkan ketidakpercayaan lebih tinggi di kalangan anggota organisasi. apakah cara ini tetap tidak boleh digunakan? Jawabannya. apabila cara lain tidak lagi efektif. Manipulasi perlu dilakukan secara hati-hati sehingga maksud yang sesungguhnya dari pimpinan tidak dapat dibaca oleh anggota organisasi. maka pimpinan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk merealisasikan keputusan itu.

kekuatan dalam diri orang itu sendiri. Artinya. Oleh karena itu. keberhasilan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor pendorong. analisis yang tepat mengenai sumber penolakan atau keengganan terhadap pengembangan organisasi adalah amat penting sebelum suatu metode untuk mengatasi keengganan tersebut digunakan. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pertama. masyarakat dan sekolah itu sendiri. implementasi program pengembangan organisasi memerlukan kesiapan untuk meneriman dan melaksanakan perubahan. Di samping itu. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kesiapan pelaksana ditentukan oleh para pelaku. Faktor pendorong yang utama berkaitan kesiapan pelaksana sistem baru tersebut (Mulyasa. antara lain ketulusan pemerintah. serta kesadaran . implementasi program yang dikembangkan tidak akan terwujud tanpa adanya faktor-faktor pendorong dimaksud. Faktor pendorong pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Selain ada resistensi. 7. Tyson dan Jackson (1992) menyatakan kesiapan untuk berubah dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berbeda. Kesiapan ini juga menyangkut kemampuan dalam mengajukan argumentasi dan rasionalisasi dari berbagai sudut pandang untuk mendukung pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. Intinya adalah. Terkait pula dengan faktor pendorong terjadinya perubahan dalam pengembangan organisasi.62 pemilihan metode. yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dasar. aparat daerah. Para teoretisi mengemukakan berbagai pendapat mengenai hal ini. 2005).

Berkenaan dengan itu pula. kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran (Subakir & Sapari. loca/ capacity dan wi/I (Duke & Canady. Karena kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (Mulyasa. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa tingkat motivasi dan yang paling pokok adalah harga diri berperan penting dalam kesiapan untuk berubah. 2005). baik fiskal dan material. Sementara itu. menurut McLaughlin keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh dua faktor. Local capacity meliputi sumber-sumber. yaitu. Dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. 1991). menurut Nurkolis (2003) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan proses pengambilan keputusan yang demokratis sebagai faktor pendorong keberhasilan implementasi program-program yang dikembangkan dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Faktor ■ iua adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada sistem yang meliputi budaya dan k:im organisasi. motivasi. Selanjurnya. kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor pendorong yang termasuk ke dalam kekuatan -istem yang ada. dan kepercayaan yang mendasari respons pelaksana kebijakan. Duke dan Canady (1991) menjelaskan pula bahwa membangun kapasitas lokal untuk implementasi kebijakan dapat menjadi sebuah tantangan karena sumber-sumber yang ada sering terbatas dan pelatihan selalu menghabiskan waktu. dan keahlian untuk mengimplementasikan kebijakan baru. 2001).diri.egagalan dalam organisasi. Will mencakup aspek sikap. namun menumbuhkan kemauan untuk menyikapi implementasi merupakan suatu peristiwa yang mendapat tantangan besar. . dan konsekuensi yang dirasakan terhadap keberhasilan serta .

Kemauan sepertinya tidak bisa dipengaruhi oleh ancaman dan direktif. Dalam kedua kasus ini. Odden dalam Cooper. menurut Duke dan Canady kepemimpinan dapat menjadi penting. Fusarelli. dan Randall (2004:85) mencatat hasil temuan penelitian .

(2) pembaruan metode pembelajaran. hal itu diasosiasikan dengan visi dan misi. Relevan dengan konteks pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. local district offices and local schools—to develop and imp/ement newly created government a! programs. dan . Cara tersebut adalah dengan melibatkan pelaksana kebijakan dalam pembuatan kebijakan dan -embangkitkan semangat kepemimpinan. .65 terdahulu: "showed that there was a lack of both capacity and will at all levels of government the U. state departments of education. a tu (1) manajemen sekolah dan transparansi. Research showed not only that most local educators did not want to imp/ement such programs (the wi/l was not there)._ran kedua adalah local capacity untuk implementasi kebijakan. bui also that they did not know how t o implement t hem (the capacity was not there)".. Komitmen kadang-kadang dapat mengikuti implementasi. Kapasitas ubungan dengan energi manusia. pembuat kebijakan harus hati-hati sehingga tidak membuat kebijakan melebihi kemampuan staf yang mengimplementasikannya. maka dapat d mpulkan bahwa konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan tiga pilar MBS.S. Office of Education. . Saran pertama ■er^enaan dengan komitmen (commitment). banyak cara bagi pembuat kebijakan untuk mencari :_kungan terhadap kebijakan baru sebelum diimplementasikan. Bilamana energi bukan merupakan sumber yang aa^-at mendukung implementasi. Duke dan Canady (1991) mengemukakan beberapa -aran agar kebijakan secara aktual dapat diimplementasikan. Saran r Ahir berasal dari kesimpulan McLaughlin bahwapolicy impiementation depends n j balance of support and pressure. Bertitik tolak dan kajian teori yang sudah dikemukakan di atas..

kesemua aspek tersebut (resistensi. dilakukan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan struktur. gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi juga dilihat dari aspek budaya sekolah. Sebagai ilustrasi. cara mengatasi resistensi dan faktor pendorong dalam pengembangan organisasi) merupakan hal-hal yang turut dikaji dalam penelitian ini.3. Karena. teknologi. keberhasilan implementasi program yang dikembangkan dalam pengembangan organisasi ditentukan pula oleh sejumlah faktor pendorong. Selain itu. budaya merupakan sasaran dan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Pengembangan ketiga aspek tersebut dijadikan acuan dari fokus penelitian yang melihat gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. kerangka berpikir penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikemukakan dalam gambar 2. dan individu sebagai pelaksana. tugas. Resistensi yang muncul harus diatasi dengan cara-cara yang efektif sehingga keberhasilan pengembangan organisasi dapat terwujud.(3) peranserta masyarakat. Selain mengkaji pengembangan ketiga pilar tersebut. . pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berhadapan dengan munculnya resistensi karena terjadi transisi dari status quo menuju pada perubahan yang diinginkan. Selanjutnya. Untuk mewujudkan pengembangan ketiga pilar tersebut. Dengan demikian.

I.D A Y \ S KK O L A H KEEFEKTIF AN SEKOLAH PROGRAM PERUBAHAN DAN IMPLEMENTASINYA I FAKTOR ENDORONG RESISTENSI . TUGAS. TEKNOLOGI DAN INDIVIDU PERANSERT A MASYARAK AT METODE PEMBELAJAR AN i.B MANAJEMEN SEKOLAH PENGEMBAN GAN ORGANISASI DENGAN PENDEKATA N MBS ______ 4 ____ PERUBAHAN STRUKTUR.

CARA Ml N(iATASI Oambui ' * K E R A N G K A H l K I ' I K I K l ' l N l I I I I A N 1 * 1 N G I MHANGAN < )!<( i ANI' -ASI DI NGAN l'l NDI i Al AN MANA.II Ml N IH KUASI' M K< 'l Ml .

dan (3) SD Negeri Mandiri Kota Cendekia telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. (b) kehadiran peneliti. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan multisitus (Yin. (f) pemeriksaan keabsahan data. ketiga latar itu juga sering dan banyak dikunjungi oleh sekolah. Selain itu. (2) SD Negeri Cermat. Rancangan Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan. (d) teknik pengumpulan data. Berdasarkan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. A. (e) teknik analisis data. Tujuan penelitian kualitatif dengan jenis multi situs lebih berorientasi pada pengembangan teori. 2 Dewan Sekolah sebagai organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat pada ketiga latar penelitian ini juga menunjukkan keaktifan yang cukup tinggi dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. alasan utama penggunaan rancangan multisitus karena ketiga latar memiliki karakteristik yang sama. dan (g) tahap-tahap penelitian. Dengan 69 .sekolah dari daerah lain dengan tujuan untuk mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah.BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) rancangan penelitian. yaitu: 1 Ketiga situs penelitian ini. yaitu (1) SD Negeri Cerdas. 1998). 1984. Bogdan & Biklen. (c) sumber data dan informan.

maka untuk lebih melengkapi informasi diminta pertimbangan kepada pihak dinas pendidikan mengenai sekolah-sekolah yang benar-benar sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. ketiganya berstatus sekolah negeri sehingga pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengikuti pola yang sama pula. 5 Selain mempertimbangkan kesamaan karakteristik ketiga latar tersebut yang juga didukung oleh hasil observasi awal. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 28 September 2004.demikian. dengan demikian untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan iKiitan kota. SD ini terletak di pinggir jalan raya. SD Negeri Cerdas terletak di perkampungan penduduk. Pada ketiga latar penelitian ini juga sudah dibentuk organisasi yang mewadahi peranserta wali murid di masing-masing kelas yang disebut dengan Paguyuban/ Forum Kelas. 3. sehingga pihak sekolah ~ien jgaskan seorang satpam untuk membantu setiap murid yang akan menyeberang . 4. Letak sekolah ini -ikup strategis. Kesamaan karakteristik lainnya dari latar penelitian ini. diasumsikan pemilihan ketiga latar tersebut dapat memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. maka pihak dinas pendidikan merekomendasikan ketiga SD Negeri tersebut di atas untuk dijadikan lokasi penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

seperti lomba paduan suara. Di samping berprestasi di bidang akademik. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. dengan demikian masyarakatnya agak heterogen. pidato. Pada saat memasuki lokasi sekolah. sekolah ini sering dikunjungi oleh instansi atau sekolah. SD Negeri Cermat terletak pada lokasi yang cukup strategis. sekolah ini juga mendapat Juara III siswa teladan Kota Cendekia pada tahun 2003 (Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 8 Oktober 2004). dalam arti mudah dijangkau. pada tanggal 1 Februari 2005 dicari informasi ke SD Negeri Cerdas. Nilai UPM (Ujian Pengendalian Mutu) tertinggi dari lulusan SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 adalah 46.sekolah dari daerah atau propinsi lain yang ingin mempelajari penerapan Manejemen Berbasis Sekolah. Selain itu. SD Negeri Cermat ini terletak di dalam kompleks perumnas. Kepala sekolah menyebutkan satu per satu instansi atau sekolah yang pernah mengunjungi SD ini.71 in baik pada saat datang ke sekolah maupun pada waktu pulang ke rumah. Sebagai pusat ujicoba. namun mereka tetap menjunjung tinggi . Di . masyarakat yang bertempat tinggal di perumnas ada yang berasal dan luar daerah setempat. Maksudnya. SD ini juga banyak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. dan tertib shalat. Walaupun masyarakatnya agak heterogen. di dinding sekolah tersebut tampak tulisan: Sekolah Dasar MBS.iran plang nama dan dinding sekolah bagian depan tertulis: Sekolah Dasar MBS. Untuk mengetahui lebih rinci instansi atau sekolah yang pernah berkunjung ke sekolah ini. Dengan mempedomani Buku Tamu.20.

Oleh karena itu. perlu dilakukan pengembangan organisasi (orgamzational development) dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. namun kadang kala implementasi kebijakan itu tidak dilakukan secara berkelanjutan (unsustainahly) di sekolah. menunjukkan OD bersifat parsial. UNESCO & UNICEF. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi (orgamzational development) menghadapi tantangan tidak ringan terutama menyangkut implementasi program-program yang dikembangkan menuju perubahan yang diinginkan. Seperti halnya SD Negeri Cerdas. Hal tersebut berarti bahwa sesungguhnya pemberian otonomi kepada sekolah bukan merupakan sesuatu yang baru. Otonomi sebagai wujud desentralisasi sebenarnya telah dilakukan sejak dulu walaupun tidak sepenuhnya sempurna (Mantja. SD Negen Cermat juga senng dikunjungi oleh instansi atau sekolahreorientasi penyelenggaraan pendidikan guna memberikan otonomi ke tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) (Tim Penulis Direktorat TK & SD. Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD. seperti dilaporkan Owens (1991). 2003). Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hasil penelitian Fullan. sebagai tempat ujicoba Manajemen Berbasis Sekolah. aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. namun barangkali lingkupnya diperluas. tidak tuntas. Secara implisit hai .nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong terutama dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pusat Kurikulum. 2002).

Suyanto (2002) yang mengutip pendapat . 2002). Selanjutnya.8 tersebut mempunyai arti bahwa tantangan utama dalam pengembangan organisasi adalah adanya kenyataan bahwa pada hakikatnya sebagian besar dari kita enggan untuk berubah (Suyanto. Perubahan sering diartikan sebagai bentuk ancaman.

SD Negeri Mandin terletak pada lokasi yang strategis dan berdekatan dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Cendekia. Selasa 28 September 2004). Dalam prosesnya. metode komparati f konstan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1.60 dan paling rendah 28.80. Rancangan penelitian selanjurnya menggunakan metode komparatif konstan Bogdan & Biklen. UNESCO. Nilai rata-rata UPM tersebut adalah 41. Pada tahun pelajaran 2003/2004. 18 orang meraih nilai antara 35-39. Mulai dengan pengumpulan data .70 sekolah lain yang ingin mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Dari 97 orang peserta UPM dari SD Negeri Mandiri. Dilihat dan sisi prestasi. nilai tertinggi 47 dan terendah 31. dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan pengkodean. Metode komparatif konstan merupakan rangkaian ingkah-Iangkah yang berlangsung sekaligus.87. 1998).99. dan UNICEF. SD Negeri Mandiri menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas dasar inisiatif sendiri (Hasil wawancara dengan staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. dan hanya 4 orang mendapat nilai di bawah 30. Selain berprestasi di bidang akademik. sekolah ini juga memiliki prestasi dalam bidang ekstrakurikuler terutama catur. nilai UPM lulusan SD Negeri Mandiri berada pada ranking teratas dari 25 SD/MI yang berada di wilayah kepengawasan III dan IV.48. "0 orang memperoleh nilai di atas 40. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. Di samping implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan di bawah binaan langsung pemerintah Indonesia. Data yang dicatat dari Buku Tamu tanggal 1 Februari 2005 menunjukkan banyak instansi atau sekolah yang berkunjung ke SD ini. nilai UPM SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 paling tinggi 44.

Mengerjakan data dan memunculkan model untuk menemukan proses dan hubungan-hubungan sosial yang mendasar 6. pengkodean.71 2. Melakukan sampling. (1) realitas yang ada dalam pengembangan organisasi sekolah pada dasarnya terkonstruksi secara holistik. Alasan ini juga sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif. Menuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan maksud untuk memerikan dan menjelaskan peristiwa yang ada sambil terus mencari kejadiankejadian bani 5. dan (3) penelitian kualitatif bersifat alami (natural). dan sesuai konteks di mana peristiwa itu terjadi. yaitu. (2) hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti lebih peka sehingga dengan mudah dapat dilakukan pemahaman yang mendalam terhadap objek yang diteliti. Mengumpulkan data yang mencakup banyak kejadian tentang kategori fokus untuk melihat adanya keragaman dimensi dalam kategori 4. Alasan penggunaan metode kualitatif dengan rancangan multisitus ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia. sehingga dengan menggunakan penelitian kualitatif realitas tersebut dapat dipahami secara utuh. terfokus. 1998). . kejadian yang selalu berulang atau kegiatan yang merupakan kategori fokus 3. Mencari isu penting. deskriptif. dan penulisan sebagai analisis yang berfokus pada kategori inti (Glaser dalam Bogdan & Biklen.

Atas dasar itu. 2003). Studi pendahuluan dilakukan rada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2004 berdasarkan izin dari Direkftir . (a) eksplorasi yang meluas atau menyeluruh. B. seperti studi pendahuluan. dan (c) pengecekan atau konfirmasi hasil atau temuan penelitian (Faisal.gram Pascasarajana Universitas Negeri Malang dan rekomendasi dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.gka waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan. peneliti hadir ke lokasi penelitian dalam i-. 1980. Mantja. Selanjurnya. :er. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian pertama kali adalah pada tanggal 7 Oktober 2004 yang bertujuan untuk meminta izin dari kepala .pertanyaan yang muncul kemudian sampai penulisan laporan penelitian. (b) eksplorasi . dan pemeriksaan keabsahan data. Bogdan & Biklen. 1985. sejalan dengan pertanyaan. pengembangan organisasi (organization development) merupakan suatu proses transisi dari keadaan manajemen sekolah yang sentralistik menuju Manajemen Berbasis Sekolah. Dalam penelitian kualitatif terjadi proses yang berbentuk siklus. 2000. dan berupaya menemukan makna (meaning) dari suatu fenomena yang terjadi (Patton. pemahaman terhadap pengembangan organisasi sekolah dipandang tepat didekati dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.gumpulan data.ecara terfokus atau terseleksi guna mencapai tingkat kedalaman dan kerincian aspek tertentu. 1998. Lincoln & Guba.induktif. Moleong. Kehadiran Peneliti Untuk meneliti objek penelitian ini. ^>901 Tahap-tahap tersebut diulangi beberapa kali sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang makin lama makin menyempit. dan biasanya masih bergerak pada taraf permukaan. Dalam proses yang berbentuk siklus tersebut ada tiga tahapan yang berlangsung secara berulang-ulang. yaitu tahap.

12. Namun kehadiran peneliti setelah pengumpulan data selesai tidak lagi intensif.00 s. Walaupun ketiga kepala sekolah sudah memberikan izin untuk pelaksanaan pengumpulan data. peneliti berupaya untuk hadir ke lokasi penelitian pada setiap hari sekolah sesuai dengan jam sekolah yang berlaku (07. Pada akhir bulan Agustus 2005 izin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia secara resmi sudah berakhir.d.73 sekolah pada ketiga situs. peneliti memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksud kunjungan sambil memperlihatkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. kepala sekolah pada ketiga situs memperkenankan peneliti melakukan penelitian di sekolahnya.30 s. serta 06. namun peneliti tetap hadir di lokasi penelitian sampai bulan Desember 2005 atas izin kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. Selama kegiatan pengumpulan data. namun peneliti tetap mengurus kembali surat izin penelitian dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang sebagai dasar bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia untuk mengeluarkan surat rekomendasi. Kemudian. karena tujuan kehadiran setelah pengumpulan data tersebut hanyalah untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data. Atas izin dan kesediaan tersebut peneliti dapat berkunjung pada hari-hari berikutnya guna melakukan sftidi pendahuluan. Pada saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah.d . kehadiran peneliti untuk kepentingan pengumpulan data dilanjutkan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2005.30 WIB untuk SD Negen Cerdas dan SD Negeri Cermat. Tanpa ada rasa keberatan dan dengan senang liati.

Contoh lain dan kehadiran peneliti di sekolah.11. Ini dilakukan dengan maksud agar peneliti benar-benar dapat membaur dengan warga sekolah.00 WIB. . mengikuti upacara bendera. Di samping kehadiran peneliti ke sekolah untuk keperluan observasi dan wawancara. mengikuti rapat majelis guru. adalah. Beberapa bentuk partisipasi yang dilakukan adalah. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian juga dilakukan di luarjam sekolah. Dewan Sekolah maupun Paguyuban Kelas.74 12. sehingga kehadiran peneliti tidak lagi dianggap sebagai "orang baru" di lembaga tersebut.00 . Kegiatan tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa bagi murid kelas VI yang akan mengikuti ujian akhir.d 17.00 s. peneliti juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh personel sekolah sejauh kegiatan itu dapat "dimasuki" dengan tetap menjaga batas kewenangan peneliti dan etika penelitian.30 WIB pagi untuk mengikuti acara istighosah yang dilaksanakan di SD Negeri Cermat pada tanggal 12 Juni 2005. Balikan.00 ketika berlangsung acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI di SD Negeri Cerdas dan pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2005 ketika dilakukan rapat Dewan Sekolah. Wawancara dilakukan dengan informan penelitian setelah meminta kesediaan yang bersangkutan terlebih dahulu. Kesediaan atau izin tersebut juga berlaku bagi kegiatan observasi dan analisis dokumen yang diperlukan. pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2005 pukul 19.20 untuk SD Negeri Mandiri Kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk keperluan wawancara. observasi dan melakukan kajian dokumen. peneliti pernah datang ke sekolah pukul 05. yaitu pada waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 15. Waktu kunjungan lainnya adalah sore hari guna mengikuti kegiatan rapat baik yang dilakukan oleh sekolah.

untuk melakukan penelitian dan peneliti harus mematuhi kontrak itu. Memperlakukan subjek secara hormat dan meminta mereka berkooperasi dalam kegiatan penelitian. 2. Anonimitas diperluas tidak hanya untuk tulisan. rapat Paguyuban/Forum Kelas. Peneliti tidak berbohong kepada subjek atau merekam pembicaraan dengan menggunakan perlengkapan mekanik secara tersembunyi. Berkenaan dengan hal ini. mengikuti istighosah. dipedomani asas lunum etika penelitian yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Subjek diberi tahu mengenai kepentingan penelitian dan keikutsertaan peneliti dengan mereka dilakukan apabila telah diizinkannya. Menjelaskan mengenai apa saja batasan dan persetujuan pada saat negosiasi izin 4. mengikuti pertemuan wali murid pada awal tahun ajaran baru dan saat persiapan ujian murid kelas VI. Peneliti tidak menghubungkan informasi spesifik mengenai individu kepada orang lain dan berhati-hati berbagi informasi yang bersifat khusus dengan orang. dan ikut bersama guru melakukan kunjungan rumah untuk kepentingan pendataan kemampuan orang tua calon murid baru. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian tetap memperhatikan etika penelitian sehingga tidak mengganggu dan merugikan pihak yang diteliti. membantu persiapan acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI.orang di tempat penelitian yang dapat menggunakan informasi untuk kepentingan tertentu.rapat Dewan Sekolah. sebagai berikut: 1 Melindungi idenditas subjek sehingga informasi yang dikumpulkan tidak merugikan mereka. . 3. melainkan juga untuk laporan verbal tentang informasi yang dipelajari melalui observasi. membantu pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah.

Kemudian. (b) pembaruan metode pembelajaran. dan wali mund. (3) cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi (wujud dari fokus perubahan individu/manusia).76 5. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. pegawai tatausaha. maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mencakup (1) gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi yang meliputi (a) perubahan manajemen sekolah. sumber data yang berasal dari dokumen dipilih berdasarkan relevansinya dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. kepala sekolah. dan (4) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. pengawas sekolah. pembaruan metode pembelajaran dengan pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. C. dan (d) budaya sekolah. (2) resistensi terhadap pengembangan organisasi. kepala dinas pendidikan. Kemudian. (c) pembahan struktur/tugas untuk peningkatan peranserta masyarakat. Menceritakan dengan benar ketika peneliti menulis dan melaporkan temuannya. . Sumber Data dan Informan Penelitian Sesuai dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan pada bab pendahuluan. Informan kunci (key informant) dalam penelitian ini adalah kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. Peneliti melaporkan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh data (febricatmg data or distorting data is the ultimate siri of a scientist). penjaga sekolah. Sumber data dan orang-orang terdin dari. guru. siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. pengurus Dewan Sekolah.

6. yaitu (a) subjek yang sudah cukup lama menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. 8 Informan Kepala sekolah Guru Dewan sekolah Wali murid Murid Pengawas sekolah Penjaga sekolah/TU Ka. Informan pertama yang diwawancarai adalah kepala sekolah sebagai informan kunci.Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow-ball sampling (Bogdan & Biklen. (c) subjek yang bersifat "lugu" dalam memberikan informasi. Berdasarkan wawancara pertama. Jumlah Informan Penelitian No. dan (e) subjek yang sebelumnya tergolong masih "asing" bagi peneliti. (b) subjek yang masih terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian.1. 1998). Sampai -enehtian berakhir. 2. kepala sekolah menunjuk beberapa orang guru untuk diwawancarai selanjurnya. 7. jumlah informan yang diwawancarai terlihat dalam tabel 3. Informan dipilih dengan mempedomani kriteria yang dianjurkan Faisal (1990). 4. 1. 3. (d) subjek yang mempunyai cukup banyak waktu untuk memberikan informasi. Jumlah informan tetap yang diwawancarai terus bertambah sesuai anjuran informan sebelumnya. Tabel 3.1. 5.dinas pendidikan Jumlah Situs I 1 5 1 3 2 1 1 14 Situs II 1 5 1 3 2 1 13 Situs III 1 5 I 2 I 1 1 12 Total 3 15 3 8 5 1 3 1 39 .

observasi berperanserta dilakukan dengan alasan. tetapi tidak berpartisipasi atau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang sedang diteliti. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) observasi berperanserta. Observasi berperanserta Untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan observasi berperanserta (participanl observation) (Spradley. dialami dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan . (d) teknik pengamatan memungkinkan peneliti matnpu memahami situasi-situasi yang rumit. Selama melakukan observasi dibuat catatan lapangan. (b) teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri. 1980). pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. yaitu catatan tertulis tentang apa yang didengar. (a) pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. dan (c) studi dokumentasi. dan (e) dalam kasus-kasus tertentu dimana penggunaan teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan. Menurut Guba dan Lincoln (1981).78 D. dilihat. maka peneliti mulai bergerak untuk melakukan peranserta secara aktif. Pada tahap awal penelitian. serta tidak hanya menerima tetapi benar-benar mempelajari aturan budaya dari perilaku yang muncul. kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. 1. (b) wawancara. dan (b) pada partisipasi aktif peneliti benisaha untuk ikutserta melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang diteliti. peneliti berperanserta secara pasif. Hal ini dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Spradley (1980). (c) pengamatan dapat digunakan untuk mengecek keabsahan data. kemudian setelah kehadiran peneliti diterima oleh orang-orang yang diteliti. (a) pada partisipasi pasif peneliti hadir dalam situasi sosial yang diteliti. yaitu.

Fenomena itu digambarkan dalam ungkapannya sebagai berikut: "change has no constituency. 2. People like status quo. yaitu menggunakan bahasa yang konknt bukan hanya memberi nama pada suatu tindakan (Spradley.79 data dan refleksi terhadap data (Bogdan & Biklen. Wawancara dilakukan berulang kali sampai diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengembangan organisasi sekolah. 1980). They like the way it was. 1998). Untuk maksud yang sama. Untuk merekam hasil wawancara digunakan tape recorder merek Sony TC. untuk mengumpulkan data penelitian juga dilakukan wawancara secara mendalam (m-depth inferview) dengan informan penelitian.2 \>DV sebagai alat perekam. Catatan lapangan ditulis dalam buku yang sudah disediakan khusus untuk keperluan tersebut. Penggunaan alat ini dilakukan apabila sudah mendapat z:n dan infonnan yang diwawancarai. 2002:109). Catatan lapangan dibuat dengan mempedomani prinsip (1) identifikasi bahasa. General Electric. dalam kenyataannya tidak semua . dan (3) konknt. Goleman. dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi mengenai masalah yang diteliti. yaitu mencatat ucapan atau perkataan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang dijadikan sumber informasi. yaitu orang-orang yang dianggap potensial. dan McKee (2002:272) menyatakan . yaitu mengidentifikasi bentuk bahasa yang digunakan. menggambarkan betapa perubahan pada hakikatnya tidak disukai oleh banyak orang. Boyatzis.orman bersedia direkam pada waktu dilakukan wawancara sehingga peneliti harus Welch. Wawancara calam penelitian ini dilakukan secara formal maupun informal sehingga dapat diungkapkan pendapat informan mengenai pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. seorang chief executive perusahaan raksasa kelas dunia. (2) verbatim. Wawancara Di samping melakukan observasi berperanserta. Namun." (Suyanto.

restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. 1991). Dengan ungkapan lain. berjalan baik dan dengan hasil yang . Bahkan. menolak segala sesuatu yang mengancam keadaan ini. misalnya. Kotter. Artinya. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. 1993. Peterson dan Hicks (Hughes. 1996). 2004). beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan." Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. 2002:385) menyatakan "old is easy. 1991). Sebagai contoh. new is hard\ Akibatnya. Ginnett dan Curphy. dalam Anwar. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady.9 bahwa "kebanyakan kelompok dan organisasi berputar-putar di sekitar status quo. Sarason (Duke. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar.

.

Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. Hal ini berarti. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. yaitu. 3. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. Teknik Analisis Data I.80 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. (c) SK Dewan Sekolah. (g) jumlah guru dan murid. (h) buku prestasi. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. (d) program dan rencana pembelajaran. (f) buku daftar hadir guru. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). E. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. 1998). Atas dasar itu. (1) ambil keputusan . (e) buku tamu. (j) profil sekolah. 1990).

analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. mensistesis. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. dan (10) gunakan perlengkapan visual.81 untuk mempersempit kajian. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). yaitu melalui kegiatan menelaah data. catatan lapangan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). mendata. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. (3) kembangkan pertanyaan analitis. dan konsep. analogi. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. yaitu dari wawancara. pengamatan. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. (9) gunakan metafora. Selanjutnya.

82

substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan, 1994). Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan data dan rangkuman inti, merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif, diadaptasi dan Miles & Hubennan (1994:12).

83

Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, informan, dan situs penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Sistem Pengkodean Analisis Data No Aspek Pengkodean Kode . 1 Fokus Penelitian: • Resistensi terhadap pengembangan organisasi RES CAR
• Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan

2

3

4

organisasi • Faktor Pendorong dalam pengembangan organisasi • Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi Teknik Pengumpulan Data. • Wawancara • Observasi • Dokumentasi Sumber Data: • Kepala Sekolah • Dewan Sekolah • Pengawas Sekolah • Kepala Dinas Pendidikan • Guru • Murid • Wali Murid • Penjaga Sekolah • Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Negeri Cerdas • SD Negeri Cermat • SD Negeri Mandiri

FAK BAR

W 0 D KS DS PS DP GM WM PJG TU

1 11 III

Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kemudian, pada bagian akhir

84

catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan; kode situs penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas Wawancara Kepala Sekolah ---------------- ^ -------------------------------------------------------------

Tanggal, bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum, proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut; (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga, (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian, dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985), yaitu; (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabihtas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4)

Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas). Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.85 Gambar 3.2. Kredibilitas .

~ -an penelitian yang terpercaya. Kemudian. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . maka . and building trust. metode. yaitu dengan .aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. Tujuan lain. Contohnya.86 Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >?rapa kegiatan. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . melainkan merupakan aktivitas yang sudah .— a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). 1985). Pertama. menurut Lincoln dan Guba -35 301). dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . angkut kebijakan sekolah. atau muncul secara tiba-tiba. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). testing f or mi smformaUon mtroduced - <i<ortions either of the self or of the respondents. (a) ■ e. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. leaming the culture.r-anfaatkan sumber. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. dan melakukan triangulasi.perpanjang masa observasi. wawancara atau . Dalam -r man ini.erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. mrg informan dengan informan lainnya. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun ." .

Kedua. yaitu. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. yaitu Bapak Kasman. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. makna-makna dieksplorasi.87 dokumentasi). . dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. Misalnya. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. 1985). Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini.

Pembimbing ketiga). M. H. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Namun. Ph. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. menurut Lincoln dan Guba (1985). Umumnya. M. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. Dr. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan.D. 1985).. M.Pd (Pembimbing pertama).. Hendyat Soetopo. Prof Dr. Namun.A. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. 4 Konfinnabilitas . Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). A Sonhadji K.88 Ketiga. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial.H.Willem Mantja. dan Prof. Apabila informan tidak merasa keberatan.Pd (Pembimbing kedua). bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . 2. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya.ransferability.

penggunaan teknik analisis yang cermat. Untuk mewujudkan hal tersebut. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. G. (1) tahap persiapan. 1991:370). hands. yaitu Bapak Prof. Tahap persiapan Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. and heart ofthe educators who work in the schools . Oleh karena itu. Maksudnya. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. buI the soup remains the same" (Hanson. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. Willem Mantja. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Tahap-tahap Penelitian Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap.Pd. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. 1991:370). terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. Dr. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. interpretasi data secara benar. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. yaitu. M. 1992:1).gumpulan dan analisis data. Sayangnya. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. Oleh karena itu.89 Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan.

2004:2) menyatakan. Hasil penelitian tentang implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. On the other hand. Laurens Kaluge. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. as a desirable policy. 2004:2). . Namun demikian. Dr. Berdasarkan keyakinan tersebut. I Wayan Ardhana. Dr. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. Spanyol. Wallis (Baedhowi." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang menggembirakan (Baedhowi. 2004). yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. M. Prof. dan Dr.90 Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. banyak negara. Zaini Hasan. Meksiko.Sc dan Ibu Dr. dr. Lusiana. Brasil. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dr. T Raka Joni. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. antara lain Selandia Baru.

Ed. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas.D. diajukan kepada Bapak Prof.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September 2004. Dr. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. M. Hd. Willem Mantja.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia). dan Bapak Dr.. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. M. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Dr.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. Willem Mantja. M.91 Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah.Ad. Masukan dan saran dari teman-teman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. Kemudian. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap.Pd.304/2004 tanggal 05 . Dip. Hendyat Soetopo. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui.4. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.

diterima tanggal 13 Desember 2004. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Dr.. Willem Mantja.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". Dip. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing.Ad.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. Ed. Selanjutnya.92 Oktober 2004). pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai .Ed. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak .D. Walaupun banyak saran perbaikan. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut. Dip.. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap.Ed. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. M. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan motivasi bagi penulis. Ed.D.Ad.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004.Pd diperoleh awal Oktober 2004. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru. M. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. Balikan dari Prof. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.

kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.). Setelah izin diperoleh.-..4.. M.H. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Tahap penyusunan laporan penelitian . Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). Willem Mantja.-. r h D.Pd dan Bapak Prof. Dr. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. A. M. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai. Ahmad Sonhadji K. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. 3. H.307/2005 tanggal 18 Maret 2005.93 pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.onsultasi dengan dosen pembimbing.

307. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.73. . Setelah penyusunan laporan selesai. Rekomendasi Dinas Pendidikan.2/ 262/420. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421.73. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35. Atas permintaan di atas. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.05/SDNP 1/2005. karena nama sekolah sudah disamarkan.303.94 Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian.307.

Sarason (Duke. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. Artinya. 1991). 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. 2004). 2002:385) menyatakan "old is easy. misalnya. dalam Anwar. Ginnett dan Curphy. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan.8 Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. Sebagai contoh. 1993. new is hard\ Akibatnya. Dengan ungkapan lain. 1991). 1996). Bahkan. Kotter. Peterson dan Hicks (Hughes. berjalan baik dan dengan hasil yang .

(g) jumlah guru dan murid. (1) ambil keputusan untuk mempersempit kajian. yaitu. (h) buku prestasi. 1990). Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. Teknik Analisis Data I. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. E. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. (f) buku daftar hadir guru. (c) SK Dewan Sekolah. Atas dasar itu.8 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. Hal ini berarti. (3) . 1998). kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. (d) program dan rencana pembelajaran. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. (e) buku tamu. 3. (j) profil sekolah.

analogi. dan (10) gunakan perlengkapan visual. mensistesis. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan.8 kembangkan pertanyaan analitis. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. catatan lapangan. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. dan konsep. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. yaitu melalui kegiatan menelaah data. mendata. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. pengamatan. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. (9) gunakan metafora. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. Selanjutnya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . yaitu dari wawancara. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996).

(2) penyajian data.1. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3. (1) reduksi data. membuang data yang tidak diperlukan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. yaitu. mengarahkan. merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. 1994).8 substansi. . dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan. membuat ringkasan data dan rangkuman inti. menggolongkan. Menseleksi data secara ketat. dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan.

Sis te m Pe ng ko de an An ali sis Da ta . Ta bel 3.2. informan. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2 . teknik pengumpulan data. dan situs penelitian.8 Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian. sumber data.

8 Aspek Pengkodean .

8 Fokus Penelitian: • Resistensi ter ha da p pe ng em ba ng an org ani sas i .

Cara mengatasi res ist ens i dal am pe ng em ba ng an org ani sas i 8 Faktor Pendorong dal am pe ng em ba ng an .

.ani sas i 8 Gambaran sekolah set ela h pe ng em ba Pe ng ng an um pul an Da ta.

8 .

8 • Dokumentasi Sumber Data: Kepala Sekolah Dewan Sekolah .

8 Pengawas Sekolah Kepala Dinas Pe ndi dik an .

8 Penjaga Sekolah Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Ne ger i Ce rda s .

Contoh penelitian. bulan dan tahun. sumber data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara. kode situs penelitian. tanggal. pada bagian akhir catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan. Kemudian. teknik pengumpulan data. tanggal. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas ----------------^ . teknik pengumpulan data. observasi dan studi dokumentasi. sumber data. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I.8 • SD Negeri Ce rm at • SD Negeri Ma ndi ri Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. bulan dan tahun.

(1) kredibilitas (validitas internal). Secara umum. yaitu. proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut. bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985). (2) transferabihtas (validitas eksternal).2. (3) dependabilitas (reliabilitas).8 Wawancara Kepala Sekolah -------------------------------------------------------------- Tanggal. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3. dan (4) . (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian. dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga.

aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan .8 Gambar 3. Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.2. Kredibilitas Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >? rapa kegiatan. Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas). Pertama.

testing f or mi smformaUon mtroduced – <i<ortions either of the self or of the respondents. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . wawancara atau dokumentasi). and building trust." . maka – — a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). melainkan merupakan aktivitas yang sudah . Misalnya. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. yaitu dengan – r-anfaatkan sumber. (a) ■ e. 1985). Kemudian.8 – erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. atau muncul secara tiba-tiba. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. . menurut Lincoln dan Guba -35 301).aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. angkut kebijakan sekolah. leaming the culture. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dalam -r man ini. Contohnya. ~ -an penelitian yang terpercaya.perpanjang masa observasi. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. Tujuan lain. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. dan melakukan triangulasi. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. metode. mrg informan dengan informan lainnya.

1985). Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. Apabila . (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Umumnya. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba.8 Kedua. makna-makna dieksplorasi. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. Ketiga. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. yaitu Bapak Kasman. yaitu. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang.

tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. penggunaan teknik analisis yang cermat. G. Untuk mewujudkan hal tersebut. 1985).H.Pd (Pembimbing kedua). Pembimbing ketiga). tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. M.ransferability. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . Tahap-tahap Penelitian . A Sonhadji K. interpretasi data secara benar.Willem Mantja. 2. Dr. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. 4 Konfinnabilitas Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. Willem Mantja. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description).. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. H. Ph.. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. dan Prof. M. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof.D.Pd. Oleh karena itu. Dr. yaitu Bapak Prof. Hendyat Soetopo. Namun.8 informan tidak merasa keberatan. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. M. M. Namun. menurut Lincoln dan Guba (1985).A. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. Prof Dr.Pd (Pembimbing pertama).

gumpulan dan analisis data.8 Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. Tahap persiapan . dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. (1) tahap persiapan. yaitu.

1992:1). ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. 1991:370). and heart ofthe educators who work in the schools Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. Oleh karena itu. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. banyak negara. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. as a desirable policy. Namun demikian. 2004)." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang 89 menggembirakan (Baedhowi. Hasil penelitian tentang implementasi . hands. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Maksudnya. 1991:370). Spanyol. Sayangnya. Brasil. Berdasarkan keyakinan tersebut. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. antara lain Selandia Baru. buI the soup remains the same" (Hanson. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. Meksiko. Wallis (Baedhowi. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. 2004:2) menyatakan. On the other hand. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. 2004:2).8 Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan.

Dip. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. Hd. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah.Ed. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. I Wayan Ardhana.. Dr.Pd. Prof. Willem Mantja. M. Dr. Dr. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. M. M.Sc dan Ibu Dr. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. Zaini Hasan.D. dan Bapak Dr.9 kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia). dr.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). Laurens Kaluge.Ad. T Raka Joni. dan Dr. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. Hendyat Soetopo. diajukan kepada Bapak Prof. Dr. Willem Mantja. M.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September . pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. Masukan dan saran dari temanteman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. Kemudian. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dr. Lusiana.

masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo.8 2004. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan .Pd diperoleh awal Oktober 2004. Ed. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing. Dip.304/2004 tanggal 05 Oktober 2004). Balikan dari Prof. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. M. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap.Ed. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . diterima tanggal 13 Desember 2004. M. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. Willem Mantja. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.Ad. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap. Dr.D.4.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat"..

guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. A.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Selanjutnya. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.D. H.307/2005 tanggal 18 Maret .. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420.9 motivasi bagi penulis. Dip..Ed. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof.-. Ed. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). Willem Mantja. Ahmad Sonhadji K.onsultasi dengan dosen pembimbing. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. M.H.Ad.Pd dan Bapak Prof. r h D. — honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36.-. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru.. Walaupun banyak saran perbaikan.4. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. Dr.).00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. M..

. Setelah izin diperoleh. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini. Atas permintaan di atas.9 2005. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.303.03/2005 tanggal 19 Desember 2005. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. Setelah penyusunan laporan selesai. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.05/SDNP 1/2005. 3. Tahap penyusunan laporan penelitian Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. karena nama sekolah sudah disamarkan. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.73. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.73.2/ 262/420.307.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.307. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. Rekomendasi Dinas Pendidikan. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.