BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Derasnya arus globalisasi, sebagai salah satu bentuk perubahan yang terjadi saat ini, bukan hanya memberikan pengaruh terhadap persoalan bisnis semata melainkan juga berdampak bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Mantja (2002) menyatakan globalisasi itu dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya berdampak juga bagi pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Perubahan global mengakibatkan dunia seakan-akan tanpa batas (borderless world) telah melahirkan gaya hidup baru (a new way oflife) dengan ciri kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga menuntut masyarakat dan organisasi membenahi diri mengikuti perubahan-perubahan cepat tersebut (Tilaar, 1998, 2002). Apabila suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah, tetap mempertahankan status quo atau menolak suatu perubahan, maka institusi itu akan tertinggal dari arus perubahan. Sebab, tanpa disadari perubahan itu akan terus berubah (Zamroni, 2000). Berkenaan dengan perubahan dan tantangan masa depan itu, Yudohusodo (2004) mengemukakan beberapa pandangan para ahli sebagai berikut. Pertama, Gibson (1977) menyatakan; (a) masa depan kita nanti akan berbeda dengan masa lalu,

10

kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis, dari segi substansi manajemen, ada tiga bentuk kendala yang seringkah dijumpai dalam implementasi kebijakan pendidikan (Baedhowi, 2004). Kendala tersebut berkaitan dengan hal; (a) mengelola manusia {managingpeople), (b) mengelola organisasi (managing organization, dan (c) mengelola perubahan dan transisi (managing change and tramition). Kendala dalam hal mengelola manusia misalnya berkaitan dengan resistensi orang-orang terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Kendala mengelola organisasi antara lain bersumber dari kurangnya kemampuan pengelola untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan secara efektif. Kemudian, permasalahan pokok berkaitan dengan upaya mengelola perubahan dan transisi tersebut dinyatakan Baedhowi (2004) bahwa ketika perubahan yang diinginkan itu terjadi jarang sekali dipikirkan bagaimana mengelola perubahan (managing change) itu agar tetap terjaga dan selalu meningkat secara dinamis. Akibatnya, kita seringkah dihadapkan pada perubahan yang hanya sekejap dan setelah itu hilang, dalam arti kembali lagi seperti sebelumnya. Sebagai contoh, perubahan yang hanya muncul sekejap itu dapat dilihat dan bcr bagai kegiatan, antara lain pelatihan (training) yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam melaksanakan I/P(rioton cA^on,Kori T Intul' tYialz-csi/H yonrr cotno QiiKal^ir Anr\ Qonon /OHO 1 \ tWglUUAil JV11U11 ll.C4.lt. VJUIU1V 111U1VJUU JUUgJ JU111U, Jui/uivn UU1I uupui 1 ^iV/V 1 f

11

mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bahwa perubahan dan inovasi pendidikan sering tampak berhasil ketika diujicobakan dan kemudian sirna begitu saja ketika ujicoba telah berakhir. Hal di atas menunjukkan perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi tidak terencana (unplanned change) sehingga implementasi kebijakan tidak berjalan secara berkelanjutan (unsustainably). Hal itu juga terjadi karena tidak ada komitmen yang kuat baik secara individu maupun kelembagaan untuk melaksanakan program pengembangan organisasi yang sudah ditetapkan. Keadaan yang digambarkan tersebut, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Harvey (dalam Suharyadi, 2004:1) yaitu: People think that ifthe Japanese have problems, they are quick t o take decision. Actually they are not, infact they are extremely slow to take dec isian, bui once a decision is take n, everyone is so committed t o do it, and know exactly what they have to do, so they can move at about three times the pace that we do. They spend the time to get the commitment, and the commitment is got by masses of mteraction. Paparan pendapat Harvey tersebut menunjukkan betapa tingginya komitmen orang-orang Jepang untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah diambil. Hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengembangan organisasi dengan / pendekatan Manamejen Berbasis Sekolah sehingga perubahan yang berkelanjutan (sustamable change) dan peningkatan mutu (quality improvement) dapat terwujud. Penelitian-penelitian tentang pengembangan organisasi agak jarang dilakukan apalagi pada jenjang sekolah dasar. Bahkan, kecenderungan penelitian selama ini lebih banyak mengkaji proses dan substansi manajemen

pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada tiga pilar. semangat kerja. Misalnya. Pengembangan organisasi ditujukan untuk membentuk budaya sekolah yang kuat sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu. SD Negeri Cermat. dilihat dari kerangka kebijakan pendidikan pengembangan organisasi merupakan persoalan strategis yang harus dilakukan terutama pada tataran implementasi suatu kebijakan. pembaruan metode pembelajaran. yaitu: manajemen sekolah dan transparansi. dan SD Negeri Mandiri bukan hanya tampak dan pembentukan Dewan . dan variabel-variabel kepemimpinan. misalnya. supervisi. Pada hal. keefektifan organisasi. SD Negeri Cermat. budaya organisasi. Berdasarkan wawancara dan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. ketiga latar penelitian ini telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD Negeri Cerdas. kurikulum dan pembelajaran. Lebih rinci dapat dikemukakan hal. dan peranserta masyarakat (Hasil wawancara dengan guru tanggal 6 Mei 2005). dan prestasi belajar. perubahan struktur di SD Negeri Cerdas. iklim sekolah. dan SD Negeri Mandiri di Kota Cendekia. motivasi.12 pendidikan. Pengembangan ketiga pilar di atas dilakukan dengan cara melakukan berbagai perubahan. kinerja guru.hal sebagai berikut: Pertama. persoalan pengembangan organisasi agak kurang mendapat perhatian para peneliti. Dengan kata lain.

perubahan atas dasar kemauan sendiri. orang tua dan masyarakat. Perubahan teknologi tampak dan penerapan metode pembelajaran aktif. sebagai konsekuensi dari perubahan struktur dan pola manajemen sekolah. efektif. dan tantangan serta keputusan diambil bersama dengan melibatkan personel sekolah. Program sekolah disusun berdasarkan analisis terhadap kekuatan. Perubahan tugas-tugas. Sebagai implikasi dan penerapan Manajamen Berbasis Sekolah.13 Sekolah. Selain intervensi terhadap struktur. SD Negeri Mandiri lebih cenderung melakukan upaya "menjemput bola" yang tampak dari inisiatif melakukan sendiri kegiatan seminar dan lokakarya pada saat libur. tampak dan bertambahnya bobot dan intensitas tugas baik yang berkaitan dengan tugas-tugas manajemen sekolah maupun tugas personel sekolah. sekolah mulai berupaya melakukan perubahan. dan metode pembelajaran. pengembangan organisasi di ketiga latar penelitian ini juga memberikan perlakuan terhadap guru melalui pelatihan dan studi banding guna meningkatkan kemampuan guru untuk mengimplementasikan program pembaruan yang dikembangkan. melainkan juga sudah dibentuk paguyuban pada masing-masing kelas (di SD Negeri Mandiri organisasi wali murid pada tingkat kelas ini disebut dengan Forum Kelas). tugas. Saat ini. dan menyenangkan (PAKEM). kelemahan. . peluang. kreatif. Pajangan kelas yang dibuat dan hasil karya murid sebagai salah satu ciri PAKEM terlihat lebih menonjol di SD Negeri Cerdas dan SD Negeri Mandiri. Terkait dengan hal ini. manajemen sekolah dilakukan secara demokratis sesuai kewenangan terbatas yang diberikan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Indikasi ini pulalah yang mendorong . Berkenaan dengan hal tersebut wali murid menyatakan bahwa saat ini sudah tampak kemajuan di sekolah. manajemen sekolah lebih transparan dan partisipasi masyarakat lebih aktif (Wawancara tanggal 28 April 2005). dan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah. Menurut kepala sekolah. Kemajuan awal yang dicapai tidak terlepas dari kemauan berkembang atas keinginan sendiri yang dimiliki oleh personel sekolah dan dukungan wali murid masyarakat. penciptaan proses pembelajaran yang efektif. Hal ini disebabkan karena terjadi proses transisi manajemen sekolah dan paradigma lama ke yang baru. Resistensi guru terhadap pengembangan organisasi pada ketiga situs penelitian ini tampak dari alasan-alasan yang disampaikan. Hal ini. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tidak mudah diwujudkan karena muncul sikap resistensi terhadap perubahan yang dilakukan. Di bagian latar belakang masalah sudah dikemukakan. tampak dari upaya-upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekolah. Ketiga. pada awal pengembangan organisasi tampak adanya keengganan dan muncul resistensi dan kalangan guru (Wawancara tanggal 5 April 2005). seperti tugas-tugas banyak. terlalu sibuk dan program yang lalu masih belum selesai sementara yang baru datang lagi.14 Kedua. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mulai menunjukkan suatu kemajuan. transparansi manajemen sekolah. bahwa kecenderungan orang akan menolak perubahan (resistance to change).

. namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana memperlakukan orang-orang dalam organisasi atas dasar pemahaman ilmu perilaku (behavioral science) yang benar sehingga resistensi terhadap perubahan dapat diatasi. baik yang berasal dari wilayah Kota Cendekia maupun sekolah-sekolah dari propinsi lain di Indonesia. Terakhir. B Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga SD Negeri di Kota Cendekia. berkunjung ke tiga sekolah tempat penelitian ini dilaksanakan guna mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Ini berarti. munculnya resistensi karena para guru sudah terbiasa dengan pola lama (Wawancara tanggal 5 April 2005).15 sekolah-sekolah atau instansi lain. Alasannya adalah. keberhasilan pengembangan organisasi dicapai dengan tidak mengorbankan kepentingan dan kepuasan anggota organisasi. Fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut: . pengembangan organisasi dengan melakukan berbagai perubahan adalah penting bagi peningkatan keefektifan organisasi itu. Hasil pemahaman tersebut dijadikan dasar untuk mencari solusi bagaimana cara menghadapi resistensi itu (overcoming resitance to change). adanya resistensi terhadap pengembangan organisasi telah dipahami oleh kepala sekolah terutama menyangkut alasan-asalan mengapa terjadi resistensi. Menurut kepala sekolah.

(c) peranserta masyarakat. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan SD Negeri Mandiri. 4. tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. SD Negeri Cermat. 3. SD Negeri Cermat. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.16 1. dan (d) budaya sekolah. (b) metode pembelajaran. dan SD Negeri Mandiri. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian yang telah dikemukakan. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. (b) metode pembelajaran. 2. dan SD Negeri Mandiri. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. . yang meliputi. (c) peranserta masyarakat. C. dan (d) budaya sekolah. yang meliputi. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.

Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. 3. 2.17 2. 4. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat. Memperluas pemahaman tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. dan SD Negeri Mandiri. Hasil pemahaman ini dapat dipakai sebagai sumber informasi bagi kepala sekolah dalam mengelola pengembangan organisasi 3. dan SD Negeri Mandiri. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai pengembangan organisasi sekolah dan mendorong peneliti lain untuk mengkajinya lebih lanjut sehingga dapat memperkaya teori pengembangan organisasi yang sudah ada. SD Negeri Cermat. . dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. Bahan masukan bagi guru dalam mengimplementasikan program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.

Efektif. kreatif.18 khususnya penerapan pembelajaran aktif. yaitu (a) manajemen sekolah dan transparansinya. pengawas sekolah. Kreatif. Pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang yang dilakukan secara terencana untuk meningkatkan keefektifan sekolah. Hasil penelitian ini berguna pula bagi pengambil kebijakan. yaitu peningkatan keefektifan sekolah dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mengacu pada tiga pilar. dan menyenangkan (PAKEM) di sekolah dasar. (b) metode Pembelajaran Aktif. seperti. efektif. 5. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi . Konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini mengacu pada makna kualitas. 4. Bahan masukan bagi pengurus Dewan Sekolah. kabupaten/kota atau propinsi sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah khususnya di sekolah dasar. dan kepala dinas pendidikan kecamatan. Paguyuban/Forum Kelas. E. Pengembangan ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membentuk budaya sekolah yang menunjang pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Definisi Operasional 1. dan Menyenangkan (PAKEM). dan (c) peranserta masyarakat. dan orang tua murid untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

yaitu intervensi terhadap aspek individu/manusia. 4. Di samping itu.19 sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. 3 Resistensi adalah respons guru terhadap program yang diimplementasikan dalam pengembangan organisasi yang dapat berupa keengganan atau penolakan. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan keefektifan sekolah. memberikan fleksibilitas keluwesan kepada sekolah. 2. Pengembangan organisasi terwujud bilamana resistensi yang muncul dipahami dan diatasi dengan baik. wewenang. Hal ini muncul karena kekhawatiran guru terhadap berbagai konsekuensi dari program pembaruan yang dikembangkan. Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Hal ini merupakan fokus lain dari pengembangan organisasi. dan kewajiban dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku. pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Dengan demikian otonomi sekolah bukanlah merupakan independensi yang terlepas dari ketentuan yang berlaku. Kemudian. Otonomi sekolah adalah kebebasan terbatas yang dimiliki sekolah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan hak. . dalam penelitian ini juga dipelajari faktor pendorong implementasi program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

(b) dengan adanya tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/institusi yang berbeda {new time cal! for new organizations) dengan ciri efisiensi yang tinggi. Berdasarkan keputusan menteri tersebut. pemerataan. Kanter . seharusnya organisasi ini disebut Komite Sekolah (. Perubahan-perubahan terjadi sangat mendadak dan tidak menentu. Ketiga.School Committee) Namun.20 5. (c) dengan berbagai perubahan yang terjadi setiap organisasi atau institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju (where do we go next). dan kecepatan bergerak. Kedua. dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Dewan Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat pada tingkat satuan pendidikan (sekolah) dalam rangka meningkatkan mutu. maka di wilayah Kota Cendekia organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat di tingkat sekolah disebut dengan Dewan Sekolah. antara lain dinamakan Dewan Sekolah. dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 pada bagian A poin 2 diatur tentang Acuan Pembentukan Komite Sekolah bahwa nama Komite Sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu. Nama organisasi ini jelas berbeda dengan apa yang disebut School Board Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3. Senge (1994) juga mengatakan bahwa ke depan teijadi perubahan dari kompleksitas detail menjadi kompleksitas dinamik yang membuat interpolasi menjadi sulit.

Bennis dalam . 2000). kelangsungan hidup dan kemajuan suatu organisasi tergantung kepada kemampuan organisasi itu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kemampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah merupakan ciri utama organisasi yang berhasil (Steers. relasi. Organisasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan mengisi peluang yang ada akan mampu bertahan hidup (survive) dan berkembang ke arah yang lebih baik (Gitosudarmo & Sudita. kompetensi. dalam hal ini disebut pengembangan organisasi (organizational development). Stoner (1982:379) menyatakan "managing such change effectively is not on/y a necessity for organizational surviva/ hut also a challengeIni berarti. dan kepercayaan diri. 1977. Perubahan dan tantangan masa depan yang digambarkan di atas mengisyaratkan organisasi untuk selalu melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek.3 (1994) menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan dan setiap pelakunya (di berbagai bidang) termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki konsep. Bahkan lebih dari itu.

Pengembangan Organisasi 1. 1991:223). (c) cara mengatasi resistensi. Upaya penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi (organizationcil development).BAB n KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan secara berurutan kajian teoretis tentang (1) pengembangan organisasi. setelah melakukan studi yang komprehensif terhadap pengembangan organisasi di sekolah-sekolah Amerika dan Canada. Pengertian Sebagai bagian dan sistem yang lebih besar. dan (c) hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Miles dan Taylor (dalam Owens. mengemukakan definisi tentang pengembangan organisasi sebagai berikut: 20 . sekolah sebagai suatu organisasi tidak bisa melepaskan diri dan pengaruh sistem-sistem lainnya itu yang secara terus menerus berubah. (2) Manajemen Berbasis Sekolah. (3) pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (b) resistensi terhadap pengembangan organisasi. Hal ini berarti. Fullan. dan (b) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. A. terdiri dan (a) dasar pemikiran. organisasi berada dalam lingkungan yang selalu berubah (Stoner. mencakup (a) pengertian. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konsep pengembangan organisasi. (b) pengertian. dan (d) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. 1982). Keadaan ini menuntut organisasi sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu. terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengembangan organisasi menurut pendapat para ahli. yang meliputi (a) pilar pengembangan organisasi.

(Wendell French). systematically-planned. Selain tiga definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan di atas. 2. The goals o f O D mclude bot h the quality o f life of individuals as well as improving organizational functiomng and performance. and theory. action planning.(Warner Burke). research.(Richard Beckhard). processes. Organization development refers to a long-range effort to improve an organization 's problem-solving capabilities and its ability to cope with changes in its external environment with the help of external or internal behavioral-scientist consultants. intervention. norma atau struktur. 3. using behavioral science concepts. melainkan juga peningkatan kualitas kehidupan individu-individu yang menjadi anggota organisasi. or change agents. diagnosis. yaitu: 1. to (4) increase organization effectiveness and health through (5) planned mterventions in the organization 's "processes " using behavioral science £ttow/ec/ge. Cummings dan Worley (2001:2) mengemukakan pula beberapa definisi pengembangan organisasi dengan mengutip pendapat para ahli. people. pengembangan organisasi di sekolah merupakan upaya perbaikan secara sistematik. strategy. Konsep pokok yang terkandung dalam pengertian di atas adalah. proses. (2) developing . process. Organization development is a planned process of change in organization 's culture through the utilization of behavioral science technology. Tujuan pengembangan organisasi di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi. focusing explicitly on change in formal and informal procedures.Organization development in school districts is a coherent. and (3) managedfrom the top. terencana. norms or structures. (2) organization-wide. Organization development is a systemwide process ofdata collection. and eva/uation aimed at (1) enhancing congruence among organizational structure. dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal. sustained effort at system self-study and improvement. Cummings dan Worley juga mengutip definisi keempat dari ahli lain sebagai berikut: 4. Organization development is an effort (1) planned. and culture. as they are sometimes c#//ec/.

Siagian. yaitu. Hanson. Owens. Robbins. Stoner.{M\c\Ya.new and creative organizational solutions. dalam berbagai definisi pengembangan organisasi terdapat beberapa konsep pokok. 2001) dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan. (4) pengembangan organisasi memerlukan intervensi baik internal maupun eksternal. 2000. definisi French (dalam Cummings & Worley. Indrawijaya. 2001. (2) pengembangan organisasi berkaitan dengan mengelola perubahan terencana (managingplannedchange). and technology. Misalnya. Bila disimak lebih teliti lagi. Cummings & Worley. teknologi. 1996.Q\ Beer). 1991. dan definisi Beckhard dan Beer (dalam Cummings & Worley. 1983. Di samping terdapat perbedaan sudut pandang. ada pula kesamaan dan definisi pengembangan organisasi itu yakni melakukan perubahan secara berencana untuk memperbaiki kineija organisasi. (3) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada strategi. research. struktur. dan manusia terutama penlaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture). and (3) developing the organization 's self-renewing capacity. 1991. 11 occurs through the collaboration of organizational members working with a change agent using behavioral science theory. definisi Burke (dalam Cummings & Worley. 1982. (1) pengembangan organisasi didasarkan pada pengetahuan dan praktek ilmu perilaku (behavioral science). . 2001) memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan. dan (5) pengembangan organisasi berorientasi pada peningkatan keefektifan organisasi {organization effectiveness) (Lippit. 1982. Masing-masing definisi di atas memberikan penekanan yang berbeda. 2001) ditujukan pada proses pengembangan organisasi. tugas.

Thoha.com/ services. Pengembangan organisasi mengacu pada tiga pilar. http://www. 2006). ada tiga istilah pokok yang perlu dijelaskan. dan intervensi terhadap individu/manusia yang tercakup dalam cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi sebagai wujud penggunaan ilmu perilaku (behavioral science theory). yaitu pengembangan.html. 2004. yaitu (1) manajemen sekolah dan transparansinya. Wibowo. 2002) dijelaskan bahwa pengembangan adalah upaya peningkatan yang menjurus kepada sasaran yang dikehendaki.toolpack. diakses tanggal 9 Februari 2005. Dalam konsep pengembangan tercakup makna perubahan dan pembaruan. (2) PAKEM. maka konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini adalah usaha terencana untuk peningkatan keefektifan organisasi dengan mengadopsi pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah sehingga menghasilkan budaya sekolah yang menunjang terhadap pencapaian tujuan. perbaikan metode (teknologi). sedangkan dalam konsep perubahan dan pembaruan belum tentu atau bahkan tidak tercakup makna . 2002.23 Sutarto. Jones. perubahan adalah hal (keadaan) berubah atau peralihan dan suatu keadaan. 2002. perubahan dan pembaruan (inovasi). Selanjutnya. dan pembaruan inovasi) adalah pengenalan atau penemuan sesuatu yang baru atau berbeda dan • eadaan sebelumnya. dan (3) peranserta masyarakat. Berangkat dari beberapa definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan. Pengembangan ketiga pilar tersebut dilakukan melalui perbaikan struktur organisasi/tugas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas.

Cummings & Worley. Thoha. Namun demikian. 2004). Thoha. Gibson. 2002). pengembangan organisasi bukan hanya mengadakan perubahan (change) dalam struktur dan prosedur organisasi saja. melainkan juga termasuk kultur organisasi (Owens. dan Donnelly (1995) menyatakan pengembangan organisasi sebagai teknik manajenal untuk mengimplementasikan perubahan penting dalam organisasi. membuat keputusan. jika perubahan hanya terjadi . maka uraian mengenai perubahan dalam penelitian ini hanya berada dalam kerangka pikir pengembangan organisasi. Bahkan. Kajian tentang pengembangan organisasi tidak bisa terlepas dan perubahan. -:am prakteknya. melainkan proses dan sikap memahami persoalan. Berdasarkan hal tersebut.am susunan dan prosedur organisasi saja sedangkan kultur organisasi tetap sama. 1983. Buchanan & Huczynski. Ivancevich. 1981. Brown dan Harvey (2006:4) menyatakan "OD is a planned strategy to bring about organizational change. Bahkan secara tegas dikemukakan. 2 31. Pengembangan organisasi lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar bukan hanya perubahan cara keija. pengembangan organisasi mencakup sepuluh konsep yang bercirikan. maka itu bukan merupakan perubahan dalam kerangka pengembangan organisasi. hampir semua ahli berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Indrawijaya. dan perlakuan terhadap orang-orang dalam organisasi. (a) . 2002)." Sementara itu. 1991. Dengan kata lain.j. Pengembangan organisasi merupakan suatu respons terhadap perubahan (Bennis dalam Luthans. Dalam kaitan itu pula. pengembangan dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan dan/atau pembaruan.pengembangan.

orang dalam organisasi dalam membuat keputusan yang lebih efektif. (e) suatu strategi pendidikan.25 tujuan pengembangan organisasi.keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur. Usaha-usaha pengembangan organisasi pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir (Robbins. 1984). (d) meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horizontal. (c) suatu pendekatan sistem. ia merinci tujuan pengembangan organisasi sebagai berikut: (a) meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota-anggota organisasi. dan sumber daya manusia. dan (2) peningkatan kepuasan anggota-anggotanya. (d) berfokus pada manusia. yaitu. vertikal. baik dalam kelompok maupun antara kelompok. teknologi. (1) peningkatan keefektifan organisasi. kebalikan dari to sweepingproblems under the rug. (f) belajar melalui perilaku yang dialami. Tujuan utama pengembangan organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi memberikan implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan. (f) menemukan solusi yang . (b) pembaruan sistem. (e) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. 1991). Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang. dan diagonal. (h) suatu strategi terencana. (g) berkaitan dengan masalah nyata. (i) agen perubahan. (b) meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah-masalah organisasi. dan (j) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens. tugas-tugas. (c) menciptakan lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan otoritas berdasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. Lebih lanjut.

Pertama. dan menyenangkan bagi peningkatan mutu lulusan. Artinya.26 sinergis terhadap masalah. kreatif. dan (6) menciptakan budaya sekolah yang kuat dengan ciri antara lain. terencana dan menempuh langkah-langkah yang sistematis. Berdasarkan hal tersebut. pengengembangan organisasi dilakukan secara sengaja. memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan prestasi terbaik. maka tujuan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) meningkatkan kepercayaan dan peranserta dari stakeholders baik internal maupun eksternal dalam menunjang keberhasilan sekolah. (3) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi. sebagai proses transisi pengembangan organisasi menghadapi suatu keadaan yang tetap menginginkan status quo. pengembangan organisasi merupakan suatu proses bukan kejadian yang datang secara tiba-tiba. Kedua. Ketiga. (2) menciptakan iklim sekolah yang demokratis dengan menyelenggarakan manajemen sekolah secara transparan dan akuntabel. ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan pengembangan organisasi. yaitu pergerakan dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan. sehingga perubahan terhadap . Bertitik tolak dari beberapa pendapat di atas. efektif. (4) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi program pengembangan organisasi. dan (g) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi. (5) menciptakan pembelajaran aktif.

dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholders-nya. pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. Pengembangan organisasi sekolah dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide-ide. model. Tujuan pengembangan organisasi secara umum adalah untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi yang dilakukan tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kineija organisasi. atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens. Di samping itu. tujuan pengembangan organisasi adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (quality improvement). model. keefektifan. Analisis implementasi pendekatan ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang bekeija sama dengan Bank Dunia. muncullah Kegiatan Rintisan Keija Sama segi tiga Pemerintah Republik Indonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Menciptakan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat. Pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pengadopsian model manajemen sekolah yang pernah diterapkan di beberapa negara. metode atau cara baru yang diadopasi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan suatu pendekatan yang telah dikembangkan oleh pihak lain. sejak tahun 1999 telah . cara. 1991). Hal ini tentu saja didasarkan atas pertimbangan bahwa pengadopsian tersebut dapat meningkatkan kualitas keluaran organisasi menjadi lebih baik. Ide-ide." Untuk merealisasikan program ini. Berdasarkan hasil analisis itu.27 kondisi ini menimbulkan resistensi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu. Keempat.

1982. tugas. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. 1991). Saling ketergantungan antara elemen. 1982. Oleh karena itu. Dalam prakteknya. yaitu. Jawa Timur. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tetap didasarkan atas kemampuan sekolah masing-masing.28 dilakukan pilot proyek di empat propinsi. elemen-elemen dimaksud adalah.1. Elemen-elemen organisasi (diadaptasi dari Stoner. dan orang-orang. (a) struktur. Menurut Leavitt (dalam Stoner. 2. Gambar 2. fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada elemen-elemen penting yang terdapat dalam organisasi itu. Owens. Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi didasarkan atas pandangan bahwa organisasi sebagai sistem. teknologi.389) .elemen tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1.

Program perubahan yang berfokus hanya pada satu dan elemen-elemen organisasi itu memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil (Stoner. Tabel 2.1. Hanson (1991) melihat dan segi fokus perubahan. Terdapat berbagai pendapat ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dan masing-masing ahli melihat dari sudut pandang yang berbeda.1. Robbins (1996) melihat lingkup perubahan dalam pengembangan organisasi dan sisi apa yang dapat diubah oleh agen perubahan. Rangkuman Pendapat Ahli tentang Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi . Stoner (1982) memandang dari sudut variabel perubahan organisasi. suatu perubahan dalam satu elemen organisasi akan mempengaruhi elemen-elemen lainnya.29 Berdasarkan gambar 2. Walaupun para ahli memandang fokus perubahan organisasi dan sisi yang berbeda. Steers (1977) meninjau dan aspek pendekatan yang digunakan dalam perubahan organisasi. namun semua ahli tersebut sebenarnya ingin menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diubah dalam melakukan pengembangan organisasi sehingga kineija organisasi menjadi lebih baik. Berbagai pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisisasi dirangkum dalam tabel 2. Dengan demikian. suatu perubahan yang efektif menyadari adanya interaksi elemen-elemen organisasi tersebut.1. dan Griffin dan Moorhead (1986) menguraikan dari sisi metode perubahan organisasi. 1982).

Tugas dan teknologi 3. Manusia 1. Tugas 3. Manusia 2. Manusia 4. Struktur 2.Pribadi individu 3. Setting fisik . Struktur 2. Teknologi 4. Struktur dan Sistem 1.30 Steers (1977) Stoner(1982) 1. Struktur 2. Iklim organisasi dan gaya pribadi individu 4. Teknologi Griffin dan Moorhead (1986) 1. Tugas 3. Kelompok dan individu Hanson (1991) Robbins (1996) 1. Struktural 2. Teknolog i i 3.

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Salah satu masalah pokok yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). 2000). Oleh karena itu. 2002). Atas dasar itu. 1993). dan jenis pendidikan termasuk Sekolah Dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar. 1996. Gambaran umum sebagai indikasi rendahnya mutu pendidikan Indonesia terlihat dan Human Development Index tahun 2004 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 111 di bawah Malaysia (058). Namun. pendidikan dasar yang bebas ifree basic education) harus dijadikan prioritas utama di dalam membangun suatu masyarakat Indonesia baru yaitu suatu masyarakat demokratis (Tilaar. dalam kenyataannya pendidikan masih menghadapi berbagai permasalahan. 1993. Kotter. Pendidikan dasar yang termasuk hak dari semua warga negara merupakan fondasi dari suatu masyarakat yang demokratis. pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 3 UU RI No. organisasi harus berubah (Morgan. 1980. Ivancevich & Donnely. jenjang. Tyson & Jackson. Gibson. Fungsi pendidikan tersebut diemban oleh setiap jalur.3 Schein. Apabila ketidakjelasan tersebut juga teijadi dalam dunia pendidikan. Kebutuhan untuk berubah sudah jelas. Oleh sebab itu. 1992. hal yang mungkin tidak begitu jelas adalah apa sebenarnya perubahan itu dan bagaimana caranya melakukan perubahan tersebut (Morgan. Scheerens. maka perubahan yang dilakukan tidak memberikan kontribusi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. 1996). Thailand .

dan aspek organisasi.30 Melihat perbandingan pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi sebagaimana tampak pada tabel 2.ubungan dengan unsur-unsur organisasional yang akan berpengaruh dalam proses perubahan. . Menurut Steers (1977). Perbedaan pandangan terlihat pada pendapat Robbins (1996) yang memasukkan unsur setting fisik dalam perubahan organisasi.1. Terakhir. aspek kelompok menyangkut hubungan antar pribadi ^ng harus dibangun untuk mendukung proses perubahan. Sebenarnya. kelompok. prosedur keija dan kebijakan guna mendukung perubahan struktur organisasi.. aspek organisasi . Sementara itu. perubahan setting fisik merupakan bagian dari perubahan struktur dan tugas. namun perubahan sistem yang dimaksudkan oleh Steers berkaitan dengan tugas-tugas. perubahan organisasi dapat ditujukan terhadap aspek ndividu. Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada pendapat yang dikemukakan Steers (1977). dapat dijelaskan bahwa secara umum terdapat kesamaan pandangan mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. Sementara itu.nggota organisasi sebagai pribadi sehingga memerlukan strategi yang bersifat r' badi pula. Aspek individu berhubungan dengan .anggota organisasi. Walaupun Steers tidak menyatakan aspek perubahan yang berkaitan dengan tugas secara eksplisit. artinya perubahan struktur organisasi dan tugas-tugas yang sudah dilakukan diikuti dengan perubahan setting fisik tempat orang-orang atau anggota organisasi itu bekerja. perubahan individu dan iklim organisasi termasuk ke dalam aspek perubahan yang ditujukan kepada manusia atau anggota. Griffin dan Moorhead (1986) menyebut hal ini dengan istilah perubahan individu dan kelompok. -r.

hange(http://www.2.31 Berdasarkan hal tersebut. Walaupun ada beberapa fokus perubahan yang dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi. it is usually easier t o change the structures and system than to change the culture. dan (3) iklim organisasi dan gaya hubungan antar pribadi (Steers. 1982) menyatakan bahwa pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengubah strukturnya. tugas. dan atau manusianya. alur kerja. Leavitt (dalam Stoner. atau peran anggota organisasi. 1977). yaitu perubahan yang terutama ditujukan pada: (1) pribadi individu. atau teknologi. teknik memproses.com/services. . 2003:38). Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan budaya merupakan hal ^ngesensial dalam pengembangan organisasi. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. sikap. ada tiga pendekatan umum yang dipakai untuk melakukan perubahan secara berencana. the most potent tool for improvemen/ is cultural . (2) struktur dan sistem organisasi. " (Tee. Dengan demikian.toolpack.html. seperti garis komunikasinya. pelatihan. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi mencakup perubahan seleksi. Perubahan struktur mencakup penyusunan kembali sistem internalnya. teknologinya. Therefore. atau metode produksi. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi bukan merupakan hal yang mudah dibandingkan dengan perubahan struktur. hubungan. atau hirarki manajerial. namun perlu diingat bahwa "The premise of organizational development is: Orgamzations are social systems m which people are strongly influenced hy the rgamzationa/ culture. '7/7 any change. Perubahan teknologi berarti mengubah peralatan. diakses tanggal 9 Februari 2005).

perubahan dan motivasi terutama sikap manusia ditentukan oleh karakteristik setiap anggota organisasi Struktur dan Modifikasi prak Menciptakan kon Perilaku dalam sistem organisasi tek.32 pendekatan -engembangan organisasi hendaknya memberikan penekanan pada perubahan budaya Tabel 2. mem hubungan antara mereka perkecil para anggota mempelajari cara konsekuensi organisasi baru untuk disfungsi dan kon bereaksi dan flik sosial dan per berhubungan satu saingan yang amat sama lain dalam ketat konteks organisasi . yang berikan imbalan ditentukan oleh mempengaruhi apa pada prestasi ang karakteristik yang dikerjakan gota yang mem situasi organisasi orang dalam tugas perlancar tercapai tempat orang nya tujuan bekerja organisasi Iklim organisasi Teknik eksperimen Menciptakan iklim Perilaku dalam dan gaya yang ditujukan un keseluruhan organisasi hubungan antar tuk meningkatkan organisasi yang terutama pribadi kesadaran anggota bercirikan tingkat ditentukan oleh akan faktor kepercayaan antar proses emosi dan penentu sosial dari pribadi dan sosial yang perilaku mereka keterbukaan yang mencirikan dan membantu tinggi.2. Rancangan Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Aspek Teknik Intervensi Hasil Langsung Asumsi Mengenai Perubahan yang Dituju Penyebab Utama Perilaku dalam Organisasi Pribadi Individu Edukasi. sosiali keterampilan sikap organisasi sasi. pendidik Perbaikan tingkat Perilaku dalam an/latihan. prosedur dan disi yang menim organisasi kebijakan yang bulkan dan mem terutama berlaku.

33 organisasi (organizational culture) yang mempengaruhi cara orang-orang bekerja. . Alasannya adalah karena keefektifan organisasi dapat diwujudkan apabila didukung oleh budaya organisasi yang kuat.

B. (2) kepemimpinan lokal yang efektif adalah sangat penting. (1) sentralisasi yang terlalu berlebihan. Dasar pemikiran Dasar pemikiran dari SBM diartikulasikan oleh Carnegie Foundation (Hanson. Gerakan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu pengalihan otontas pengambilan keputusan atau mengurangi cara-cara pengambilan keputusan secara terpusat yang sudah menjadi kebiasaan di masa lalu. maka fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikaji dari sisi perbaikan struktur organisasi sekolah. dan fokus perubahan individu/manusia dipelajari dan cara-cara yang digunakan kepala sekolah untuk mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi. Munculnya Manajemen Berbasis Sekolah erat kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Desentralisasi merupakan sa'ah . 1991). Pengkajian fokus perubahan tersebut berada dalam kerangka perbaikan manajemen sekolah dan transparansinya serta peningkatan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. dan (3) tiap sekolah harus diberi kebebasan dan persyaratan yang fleksibel untuk merespons secara kreatif tujuan pendidikannya secara menyeluruh guna memenuhi kebutuhan para siswa. yaitu dengan membentuk Dewan Sekolah dan Paguyuban/Forum Kelas. Manajemen Berbasis Sekolah 1.Bertitik tolak dari uraian di atas. fokus perubahan teknologi dilihat dari pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM. pengawasan secara birokratik terhadap sekolah-sekolah mesti diakhiri. Sementara itu. yaitu.

35 satu isu yang amat populer pada akhir-akhir ini. . menurut Nurhadi (2004). Di samping itu. (b) politik. 2002).-a peningkatan mutu pendidikan. Ada berbagai alasan yang mendorong perlunya desentralisasi pendidikan. pergeseran wewenang yang begitu r^i: sebagai dampak dari desentralisasi pemerintahan seharusnya diikuti dengan -_eseran paradigma dalam seluruh aspek manajemen pendidikan tingkat -■r--e-. Melihat berbagai fenomena desentralisasi tersebut.-a.-atian pada efisiensi .olahan di daerah yang semula dikelola secara lebih sentralistik sekarang harus e r h didesentralisasikan. yaitu. Inti dan pendapat tersebut : • —. pertimbangan administratif menitikberatkan . 2000:88). maka . Pada satu • desentralisasi pengelolaan pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang —e-gandung ekspektasi.ukakan sebagai benkut. khususnya di Indonesia sebagai dampak reformasi di segala bidang termasuk pendidikan (Mantja. „ entralization is necessary bui not sufficient t o improve the quahty of education. Penyebabnya adalah karena implementasi desentralisasi masih menimbulkan berbagai kekhawatiran. namun di sisi lain desentralisasi belum tentu dapat menjamin . (a) _:—istratif. seperti konsentrasi ■ ek jasaan pada beberapa orang atau golongan seperti pada sistem sentralistik. a Nur (2001) menyimpulkan rasional desentralisasi ke dalam tiga aspek. I Oleh karena itu. 2000). ^-iN-adilan dan ketidak-jujuran jangan-jangan malah lebih sentralisasi (Hamidjojo. " ~ aar. ada kemungkinan desentralisasi pendidikan -5tru dapat menimbulkan jurang yang makin lebar antara si kaya dan si miskin aar. Pertama. serta (c) ideologi dan filsafat.

. secara politis perkembangan zaman menuntut adanya keikutsertaan dan wewenang daerah dalam pengambilan keputusan. dan apalagi dari personel penyelenggara dan pelaksana pendidikan. Terakhir. termasuk bidang manajemen pendidikan. kurikulum. fasilitas. yaitu adanya keterikatan secara kaku terhadap aturan dalam melaksanakan tugas sehingga berkurang sikap inovatif.banan dalam praktek manajemen pendidikan. (5) adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat atas pendanaan. secara ideologi dan filsafat munculnya desentralisasi didasarkan atas keyakinan pemberian otonomi yang lebih besar mendorong tercapainya tujuan yang diinginkan baik oleh individu maupun masyarakat.pencapaian tujuan pendidikan dan berupaya menghilangkan a—. (4) ketidaksesuaian tuntutan nasional dengan potensi sumber daya di daerah. Di samping faktor-faktor di atas. menurut Soetopo (2004a) terdapat sejumlah faktor yang mendorong desentralisasi di bidang pendidikan di Indonesia. (1) terjadinya tuntutan reformasi di segala bidang. sekolah. sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. akibat rasa takut melanggar aturan dari pihak atasan. Sentralisasi telah menimbulkan sikap patuh yang pasif (passive comformity). yang jika dipertahankan sistem lama dapat berdampak munculnya kekacauan. (3) tuntutan masyarakat untuk mandiri sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyelenggarakan dan memajukan bidang pendidikan. (6) kurangnya kreativitas daerah. Kedua. dan (7) kurangnya kemandirian lembaga pengelola dan pelaksana pendidikan karena besarnya ketergantungan kepada pemerintah pusat. (2) kurangnya persaingan antar daerah dalam memajukan pendidikan karena tuntutan nasional yang seragam. yaitu.

Manajemen desentralisasi bukan hanya memperhatikan stakeholders tetapi justru berfokus pada peranserta seluruh lapisan masyarakat.37 Menurut Hamidjojo (2000). 3 Pelayanan harus lebih cepat dan efisien. Otonomi pada hakikatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau suatu lembaga atau suatu daerah. SARA dan ekses anarcho-ethnocentrism. sosial budaya. agar desentralisasi pendidikan dapat diterapkan dengan baik diperlukan sejumlah persyaratan krusial yang perlu dipenuhi. Dalam berbagai literatur. Pemberdayaan rakyat dalam pendidikan harus menjadi tujuan utama. ekonomi. 2. 2. karena itu yang diperlukan adalah usaha empowerment. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Terdapat berbagai istilah yang dipakai berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah {School BasedManagement). yaitu: 1. Pola dan asas keija harus demokratis berlandaskan nilai-nilai dasar desentralisasi. Dalam menerapkan desentralisasi harus mampu menghapus segala bentuk diskriminasi politik. Oleh karena itu perlu dibangun mekanisme hubungan kerja antarkomponen strategis di daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas. Shared Decision . istilah-istilah yang digunakan dalam membahas School-Based Management adalah. Kualitas pelayanan yang diberikan mestinya dapat menghapus persepsi negatif dari penerapan sistem sentralisasi dalam dunia pendidikan selama ini. bukan semata-mata kewibawaan atau kekuasaan pemerintah daerah. 4 Keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihidupkan sebagai akar yang kokoh demi tegaknya sistem pendidikan nasional dan negara kesatuan. pendidikan.

Wohlstetter & Associates. (2) personel sekolah dan anggota masyarakat dapat meninggalkan perilaku rutinitas dengan menunjukkan perilaku mandiri. proaktif. penerapan Manajemen Berbasis Sekolah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen pendidikan dan sistem sentralisasi ke desentalisasi. dampak perubahan pola manajemen tersebut terhadap sekolah adalah. 2002a). Lewis. School-based Decision Making. Dengan demikian. sebagian dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional (Depdiknas. dalam Cotton. luwes. Cromwell. 1994. 2000). (1) sekolah bersifat otonom dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal). 1991. 2003. 1989. 1992. Decentralized Authority. dan profesional. kooperatif. Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekolah dengan melibatkan partisipasi individual. dan (3) peran sekolah yang . School Empowerment. Si t e-Based Management. koordinatif. Artinya. kreatif. Lebih lanjut dikemukakan. baik personel sekolah maupun anggota masyarakat. Self-Managmg X hool. sinkronistis. dan Administrative Decentralization (Lindquist & Mauriel.Makmg. Responsible Autonomy. Johnston & Germinario. Caldwell & Spinks. Shared Governance. Cistone. School-based Governance. Ceperley. School-site Autonomy. Fernandez & Tornillo. integratif. Hanson. sinergis. Mohrman. fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan propinsi/dinas pendidikan kota/kabupaten.

Menurut Office of Educational Research and Improvement (OERI) dari the US Departemen of Education (dalam Sutjipto. Hal pokok yang terkandung dalam pendapat di atas adalah. board) often composed of principals. parents. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. teachers. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tentang Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh para ahli. teachers. 2001:7). Some formal authority t o make decision in the domains of budget. students. Malen.making authority from state and district offices to individual school. team. committee. student and community residents is created so that site participants can be directly involved in school-wide decision making. and at times. personnel. pengertian Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: A strategy to improve education by transferring significant decision. bahwa sekolah merupakan unit utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan oleh karena itu ekolah harus diberi otoritas dalam pengambilan keputusan.majemen Berbasis Sekolah dari sisi pendelegasian kekuasaan dan keputusan. parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget.39 selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-din tinggi (self-motlvator). . Selanjutnya. 1989:404) menyatakan pula batasan mengenai '•'. 1994:56) mengemukakan definisi Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut: School-based management can be viewed conceptual/y as a formal alteration of governance structures. as a form ofdecentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvements might be stimulated and sustained. personnel and program is delegated to and often distributed among site-level actors. Some formal structure (council. provide principals. and the curriculum. Marburger dalam Lindquist dan Maunel.

yaitu.:engan pernyataan sebagai berikut: SBM is defined as a decentralized organizational structure in which the power and decisions formerly made by the superintendent and school board are delegated to the teachers. Dengan demikian. orang tua dan masyarakat. (1) partisipasi dalam pembuatan keputusan dengan dewan sekolah yang melibatkan konstituen sekolah akan menumbuhkan rasa memiliki bagi konstituen itu. and students of the local school. Sementara itu. Konsep yang terkandung dalam definisi yang dikemukakan Malen. 1994) tentang SBM sekolah dipandang sebagai unit utama peningkatan mutu. Terdapat beberapa prinsip yang melekat dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah. community members. Untuk mendukung peran dan posisi tersebut dilakukan pembagian otoritas pengambilan keputusan. siswa. 2001) merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan dengan cara memberikan otoritas pembuatan keputusan kepada sekolah. Pada hakikatnya. SBM menurut Marburger (dalam Lindquist dan Mauriel. di samping mempunyai tanggung jawab yang besar dapat melakukan kontrol yang lebih luas terhadap proses pendidikan di sekolah. personel sekolah. personel dan program yang didelegasikan dan didistribusikan kepada aktor-aktor di tingkat sekolah. Selain itu. orang tua. konsep SBM berdasarkan ketiga pendapat tersebut adalah pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada sekolah. Beberapa otoritas formal pembuatan keputusan yang dimiliki sekolah menyangkut anggaran. 1989) merupakan desentralisasi struktur organisasi. SBM menurut OERI (dalam Sutjipto. . guru. prmcipal. dan masyarakat. parents. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. untuk meningkatkan partisipasi personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dibentuk dewan atau komite sekolah yang beranggotakan kepala sekolah.

Mantja (2002) melihat persoalan di atas terkait dengan dua pertanyaan mendasar. Lebih khusus lagi. telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan terus menerus yang antara lain disebabkan oleh mismanagement. Penyelesaian permasalahan di atas menuntut adanya perhatian serius dari pemenntah dengan mengkaji secara sistemik berbagai faktor strategis penyebab rendahnya mutu pendidikan. Menurut Sutjipto (2004).(2) otoritas didelegasikan from the school board to central administration to the school building to the site council. dan (3) implementasi sistem pembuatan keputusan terdesentralisasi akan mendatangkan sumber-sumber (076) bahkan Filipina (083). 2004). Selanjutnya ia memandang bahwa selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh lembaga International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan membaca murid Sekolah Dasar Indonesia berada pada urutan ke-38 dan 39 negara yang diteliti (Hadiyanto. yaitu. Permasalahan mutu pendidikan yang masih rendah bukan hanya muncul saat ini saja. (Jawa Pos. dan (b) apakah kegiatan pendidikan dikerjakan atas dasar manajenal dan oleh personel yang memiliki keterampilan manajemen pula?. Keadaan khusus pada jenjang pendidikan dasar. (a) apakah aktualisasi kegiatan pendidikan berpijak pada landasan yuridis dan kebijakan pelaksanaannya?. . Bafadal (2003) menyatakan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. melainkan sudah merupakan masalah yang berlangsung cukup lama. secara kasatmata dapat dilihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengalami krisis yang dalam. 2004).

Sebagai proses transisi. 2002a). (c) keefektifan melakukan pembinaan peserta didik. mengelola sekolah. dan ekonomi sebelum kebijakan dianut kepada konfigurasi baru yang berbeda (Sutjipto. moral guru dan iklim sekolah. seperti. 2004). merancang ulang sekolah. Wohlstetter dan Associates (1994:50) menyatakan: The transition itself a substancial commitment of time.6 Selanjutnya. implementasi merupakan transisi dan keadaan sosial. Otonomi dan kewenangan sekolah yang memadai dapat meningkatkan efektivitas sekolah serta memberikan beberapa keuntungan. (b) pemanfaatan sumber daya lokal menjadi lebih optimal dalam penyelenggaraan sekolah. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dihadapkan pada keadaan vang menginginkan status quo dan faktor lain yang menghendaki perubahan. seperti kehadiran. tingkat pengulangan. 1989).3. dan melakukan perubahan terencana (Sagala. politik. Dilihat dari sisi proses kebijakan. Perubahan aspek-aspek manajemen sekolah tersebut digambarkan dalam tabel 2. memberdayakan guru. and the development of the organizational infrastructure to support this . tingkat putus sekolah. sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara pembiayaan secara signifikan (Lindquist & Mauriel. mnovation. and money for staff development. Implementasi SBM di sekolah mempunyai konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen sekolah dan pola lama ke pola baru (Depdiknas. 1987). dan (d) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. berdasarkan berbagai pengamatan dan analisis. orang tua siswa. dan guru. (a) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa. Mohrman. hasil belajar.

new way of functioning. Oleh karena itu. pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah harus dilakukan secara berencana. .

.

dan tradisi lama -Daya mereka siap untuk menerima alternatif-alternatif baru. "Unfreezing" terjadi .► Pengambilan keputusan .► Otonomi partisipatif Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko : Gunakan uang semuanya -----------. rubahan berencana terjadi melalui tiga tahap. or stabihzmg :. dan (3) refreeztng. yaitu.► -----------.3. svstem after the change is unplemented (Duncan & Kurt Lewin dalam Sutarto.► Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi -----------. (2) imtiating the change.► w Pendekatan profesional Desentralistik -----------. (1) unfreezing the system rpreparing it for change.► Memfasilitasi -----------Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian ! Organisasi hirarkis Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Ruang gerak luwes -----------. "Unfreezing" adalah merubah atau membongkar kebiasaan.41 Tabel 2. Dimensi-dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat — --------. 2001 191).

"Refreezing" merupakan proses dimana perilaku yang baru diperoleh telah berintegrasi dengan pola perilaku dan kepribadian individu. Pada suatu ketika akan terjadi situasi individu telah cocok untuk berubah sehingga mereka siap untuk menerima pola-pola perilaku baru. 2003). Nepal dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Meksiko. Proses "changmg" sebagian besar timbul karena adanya "identification" yang timbul apabila suatu model diterapkan dalam lingkungan organisasi. "Internalization" timbul apabila individu ditempatkan dalam situasi perilaku baru dan mereka dituntut untuk berhasil melakukan tugas itu. Hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat. yang dilakukan atas keqa sama Lembaga Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dengan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun anggaran 1998/1999 menunjukkan bahwa "pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah masih sangat sulit.42 . Selanjutnya.pabila kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan ditingkatkan atau kekuatankekuatan yang melawan perubahan dikurangi. perlu waktu dan keberanian untuk berubah. contoh lain yang ada di Indonesia adalah hasil analisis Program Ujicoba Pemberdayaan Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar di DKI Jakarta. mengingat . Namun. studi yang dilakukan di El Salvador. UNESCO & UNICEF. kurikulum dan penilaian (Tim Penulis Direktorat TK/SD. 3. Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam hal anggaran. personalia. Pusat Kurikulum.

43

selama puluhan tahun manajemen sekolah bersifat sentralistis." (Tilaar, 2002:43). Berdasarkan keadaan tersebut, hal utama yang direkomendasikan oleh Tim Ujicoba untuk diubah adalah manajemen tingkat pejabat atau birokrat, karena seluruh manajer sekolah hingga saat ini masih "sangat patuh" dengan pimpinan, sehingga jika ada hal-hal yang bersifat inovatif mereka sangat takut untuk mengubahnya, karena dipandang tidak sesuai dengan standar baku yang ditetapkan. Di luar negeri, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi telah banyak dilakukan. Mort (dalam Kimbrough dan Burkett, 1990) telah melakukan penelitian tentang proses perubahan terencana di awal tahun 1950-an. Hall dan Hord (1987) meneliti perilaku kepala sekolah dan peningkatan sekolah yang berhasil pada the Reseacrh and Development Center for Teacher Education at the ■uversity ofTexas, Austin. Fokus penelitiannya diarahkan pada Change Facilitator Sty le. Firestone dan Corbett (dalam Cotton, 1992) meneliti "Planned Organizational hange " dengan fokus how the change process should be managed so as to lead to r sitive results. Menurut Cotton (1992), Mutchler juga telah melakukan penelitian tentang "Eight Barriers to Changing Traditional Behavior" Prestin dan Bowen 1993) memfokuskan penelitiannya pada asesmen perubahan di empat sekolah dalam usaha restrukturisasi pendidikan. Hasil penelitian Lewin, Coch, French, Benne dan Chin (dalam Schein, 1980) menunjukkan bukti bahwa salah satu cara terbaik untuk membantu melaksanakan perubahan ialah dengan melibatkan sistem yang terkena angsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak sistem itu berpartisipasi dalam menentukan bagaimana mengelola suatu perubahan, semakin •

44

urang kemungkinannya untuk menentang perubahan itu, dan semakin mantaplah perubahan itu teijadi. Hasil penelitian klasik tentang how resistance to change may be managed\ dikemukakan Robbins (1984:184), yaitu: "There is a strong beliefheld by those people actively engaged in OD that changes are more likely to be accepted by individuals who have been given a voice in determining the content and process of the change". Selanjutnya, Goodlad (dalam Owens, 1991) melakukan penelitian tentang problem of personal and institutional renewal m education. Demikian pula penelitian Fullan, Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD, seperti dilaporkan Owens (1991). Hasilnya menunjukkan proyek OD bersifat parsial, tidak tuntas, aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Di samping itu, penelitian-penelitian yang mengkaji tentang implementasi kebijakan School Based Management juga telah banyak dilakukan di luar negeri. Lindquist dan Mauriel (1989) melakukan penelitian dengan judul School Based Management: doomed to failure?. Data penelitiannya membuktikan, terdapat tiga masalah yang umumnya muncul sebagai hambatan pengembangan SBM, yaitu; (1) kekeliruan konseptual dalam pengembangan SBM, (2) kurangnya motivasi untuk mendelegasikan otoritas ke sekolah-sekolah, dan (3) persyaratan yang berat tentang waktu dan keterampilan yang dituntut dalam implementasi SBM. Temuan lainnya, berdasarkan data ia mengakui bahwa (a) SBM memerlukan suatu perubahan dalam gaya manajemen sekolah, dan (b) tidak adanya dukungan yang kuat oleh pengawas merupakan bukti council's conflict dengan dewan. Selanjutnya, Cotton (1992) telah

45

mereview 42 buah penelitian tentang implementasi SBM. Misalnya, Site-Based ' fanagement: Its Potential for Enhancmg Learner Outcomes yang dilakukan Arterbury dan Hord (1991), School Based Management: Are We Ready? oleh Caldwell dan Wood (1988), dan School BasedManagement/Shared Decision Making in Dade County (Miami) oleh Cistone, Fernandez dan Tornillo (1989). Penelitianpenelitian tersebut lebih memfokuskan pada hakikat dan hasil Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan kepustakaan yang teijangkau, di Indonesia terdapat pula beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Penelitian terkait, antara lain, dilakukan oleh Bafadal (1994). Ia meneliti proses perubahan di sekolah dasar yang difokuskan pada; (1) proses implementasi inovasi pendidikan ditinjau dari pengubahan latar struktural dan tingkah laku, (2) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi inovasi, dan (3) peran agen perubahan dalam proses implementasi inovasi. Aswandi (2001) meneliti Perubahan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta dari Manajemen Keormasan ke Manajemen Profesional, dengan fokus; proses perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Lengkong (2004) meneliti Strategi Perbaikan Sekolah Berdasarkan Perspektif Guru pada tiga SLTP di Minahasa dengan fokus proses perbaikan internal individual guru dan dampak dan proses perbaikan internal guru terhadap perbaikan kineija sekolah. C. Pengembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Uraian berikut ini mencoba mengelaborasi konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berdasarkan kajian teoretis yang

. Kemudian mencermati apa yang sudah diterapkan pada sekolah-sekolah yang dijadikan f—ra* ujicoba MBS. maka ada tiga pilar yang dikembangkan yaitu (a) manajemen : ._i?at tersebut. (2) metode pembelajaran. Setelah pembahasan ketiga pilar tersebut. . Berdasarkan pada pendapat. . selanjutnya ..andinan. Hal ini sekaligus merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang dilakukan.r-.• an mengenai budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi. dan transparansi". —.. -erta masyarakat (Subakir & Sapan. yaitu apa yang dikembangkan —elakukan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis v r • ah Bafadal (2003:93) menyebutkan aspek yang dikembangkan dalam --_. (2) • .ngkatan mutu pendidikan (quality-improvement orientedSBM)".h. maka kajian pengembangan organisasi dengan pendekatan .emen Berbasis Sekolah ini dengan "empat pilar keberhasilan MPMBS a-a/emen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). (3) partisipasi. 2001). dan (3) .46 sudah dikemukakan sebelumnya. dan (c) -.emen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada tiga pilar berikut i i manajemen sekolah dan transparansi. Ada pertanyaan pokok yang perlu dijawab. yaitu (1) peningkatan mutu.^rta masyarakat. i b) metode pembelajaran dengan menerapkan metode PAKEM. . Supriadi (2004:19) menyatakan bahwa '•'BS pada dasarnya adalah MBS yang secara khusus diarahkan pada upaya r*r.

Ogawa & Kranz dalam Ogawa & . Subakir & Sapan._ emen Berbasis Sekolah. 1989. Bafadal. Hanson. bahwa selama ini secara institusional sekolah kurang _ ■ --ca.. Hal ini sesuai dengan ide dasar yang melandasi lahirnya . Hanson. 1991. kepala sekolah perlu melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Depdiknas. 2002a). 1989. Alasannya adalah karena salah satu konsep pokok Manajemen Berbasis Sekolah adalah pelimpahan kewenangan kepada -ekolah dalam pengambilan keputusan (Marburger dalam Lindquist & Mauriel. Kewenangan terbatas yang dimiliki sekolah harus dimanfaatkan secara efektif efisien. Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 2001. 1989. 2004). ■ .. Mulyasa. Kemandirian sekolah dipengaruhi antara lain oleh sampai sejauh mana kevvenangan yang diberikan dinas pendidikan kepada -ekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. 1994.47 Manajemen sekolah dan transparansi Ada beberapa argumen perlunya perbaikan atau peningkatan manajemen ah dan transparansi. dalam Lindquist & Mauriel. Depdiknas. L ndquist & Mauriel. memiliki kewenangan yang sangat . 2003.kurang melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. dan kurang transparan dalam pengelolaan keuangan (Marburger. 2005). Sutjipto. Supriadi. Mohrman. Pengembangan manajemen sekolah dititikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri utama pada keterbukaan atau transparansi (Subakir & Sapari. akan dalam penyelenggaraan pendidikan. maka pola pengambilan keputusan ditekankan pada partisipasi personel sekolah dan masyarakat (Malen. Wohlstetter & Associates. 2001. 2001. 2002a. 1991. Oleh karena itu.

2004). Direktorat TK/SD.' anisme keija. Penyelenggaraan manajemen sekolah yang memiliki ciri keterbukaan atau transparansi merupakan salah satu ciri dari sekolah yang melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (Subakir & Sapan. 2004). Supriadi. Kesemuanya itu diawali dengan perubahan struktur organisasi Komite Sekolah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Puskur.olah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dimulai dari penyusunan encana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Pembentukan struktur tersebut diikuti dengan perubahan tugas-tugas dan mekanisme keija antara sekolah dan Komite Sekolah. RAPBS disusun bersama guru. pengurus BP3. maka pengembangan manajemen sekolah : akukan dengan cara merubah struktur organisasi.iluasi program sekolah. Bahkan banyak SD yang memberikan kepercayaan sepenuhnya masalah keuangan BP3 kepada bendahara BP3 yang berasal dari 'orang luar' (baca: bukan guru). UNESCO & UNICEF. Transparansi manajemen sekolah dilakukan dengan cara menyampaikan program yang akan dilaksanakan sekolah dan melaporkan hasil pelaksanaan/evaluasinya. Untuk mewujudkan hal di atas. Sagala. Bafadal. dan prosedur atau . 2001. 1994. 2003. tugas-tugas. 2003. dan . Hasilnya dipajang di tempat terbuka dan dengan mudah dibaca oleh siapapun. Depdiknas. . dan masyarakat. . Pelibatan personel r -. 2003. Subakir dan Sapari (2001) menyatakan: Kepala sekolah sebagai pemimpin puncak di sekolah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan transparansi manajemen keuangan. 2002a. 2002a. Depdiknas. Berkenaan dengan hal ini. termasuk masalah keuangan. Nurkolis. pelaksanaan.48 White.

efektif. pengertian teknologi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: Metode bersistem untuk merencanakan. Perubahan teknologi dalam kerangka pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan dengan cara penerapan metode pembelajaran aktif. dan menyenangkan (PAKEM). Hal ini sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas sekolah kepada masyarakat. 1991). kreatif. Dengan demikian. Istilah teknologi mempunyai banyak arti. sekolah telah melakukan perubahan dengan mewujudkan transparansi manajemen sekolah terutama menyangkut keuangan -ekolah. Berdasarkan . 2. menggunakan dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan. Pembaruan metode pembelajaran Salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi berkaitan dengan teknologi.rakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada aspek proses belajar mengajar. Pembaruan metode rembelajaran menjadi bagian dari pembaruan sistem yang merupakan salah satu ciri rengembangan organisasi (Owens. 2005). yaitu _danya usaha sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa (Depdiknas. Hal tersebut sesuai pula dengan • . karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar (Mulyasa. upaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan efisien. 2002a). baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi keduanya sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif.49 Pendapat di atas mempunyai arti bahwa dalam pengembangan organisasi dengan Manajemen Berbasis sekolah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

50 uraian tersebut. Pembaruan metode pembelajaran tersebut mempunyai konsekuensi terhadap perubahan tugas-tugas guru dalam mengelola pembelajaran mulai dan . dikemukakan bahwa pengenalan. UNESCO & UNICEF. Selanjutnya. dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan asumsi semuanya itu akan dapat memperbaiki mutu/hasil lulusan (Direktorat TK/SD. pengembangan. Puskur. 2003). maka dapat dikatakan bahwa pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM merupakan bagian dari kerangkan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

Asumsi pendekatan ini adalah bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru. karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. evaluasi dan akuntabilitas. penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. Sementara itu. juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function. di mana kepala sekolah. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses pendidikan. Pertama. upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan kelihatan masih terfokus pada faktor pertama (menggunakan pendekatan education production function). khususnya orangtua siswa. maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terwujud. Kedua. orang tua siswa. upaya-upaya untuk mengatasi faktor penyebab kedua dan ketiga tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah selama ini. Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terjadi bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah. 2002a. dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. dan perbaikan sarana prasarana pendidikan telah dilakukan. dan peranserta masyarakat. 2003).5 merata (Depdiknas. . Dampak dari manajemen yang sentralistik tersebut dikemukakan Bafadal (2003:37) sebagai berikut: Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan programprogram peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Tim Penulis Direktorat TK & SD. pemantauan. khususnya guru. peranserta warga sekolah. UNESCO & UNICEF. pengambilan keputusan. pengadaan buku dan alat pelajaran. Pusat Kurikulum. Ketiga. guru kelas. antara lain. Sampai saat ini.

Menurut Direktorat TK/SD. (b) menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. 1 28) Selama ini. yaitu kemampuan. tetapi juga ~enjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat (Direktorat TK/SD. Mulyasa. (d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. "Peranserta masyarakat merupakan salah satu aspek >_ -. 2001:13. 2003) menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian guru tingkat partisipasi orang tua siswa dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah masih rendah (rata-rata . Puskur.50 merencanakan. Peningkatan peranserta masyarakat Pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah. dan (g) menilai kegiatan belajar mengajar dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. melaksanakan dan mengevaluasinya. ^ESCO & UNICEF. Puskur. 2003). Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Diknas RI (dalam > _r« hclis. (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. iang masih rendah. UNESCO & UNICEF (2003) ada tujuh kemampuan guru yang diperlukan untuk mendukung penerapan PAKEM. sekolah dan guru. (a) merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang mendorong beragam siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. (f) mengaitkan kegiatan belajar mengajar dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Implikasi dari semua itu adalah diperlukan kesiapan guru menerima pembaruan dan kesiapan pengetahuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan program pembaruan itu dalam bentuk tindakan nyata di kelas. (e) menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa.: ig dalam Manajemen Berbasis Sekolah" (Subakir & Sapari. peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan . 3.

asan.-i'akatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan : : • an. Sehubungan dengan itu. yang . pertemuan BP3. pengusaha. mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah. dan evaluasi program pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan < ~ e vekolah/Madrasah. Partisipasi orang tua siswa yang sangat tinggi ialah dalam mengawasi mutu sekolah. organisasi profesi. pemerintah perlu merumuskan secara jelas — . ~:uk meningkatkan peranserta masyarakat dilakukan perubahan organisasi yang mewadahinya. Perubahan tersebut dilakukan dengan cara membubarkan . dalam pasal 56 dinyatakan bahwa masyarakat berperan _ . 2003). namun di sisi lain •esarnva partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut. pertemuan rutin. dan organisasi k . peranserta masyarakat adalah penting. askan bahwa peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta . kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan iklim sekolah.51 57. .r-eringkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan.1%) dan sangat rendah dalam hal menentukan kebijakan program sekolah dan mengawasinya. . peranserta masyarakat merupakan salah satu pilar dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. dan masyarakat M -Kasa. . kelompok. Sebagai acuan yang dirujuk untuk peningkatan r». Pada satu sisi. pembayaran dan bentuk iyuran BPS per bulan dan sumbangan uang gedung untuk siswa baru.-genai bentuk partisipasi dan tugas oprasional organisasi yang mewadahi ->. Oleh karena itu. keluarga.Selanjutnya. >erta masyarakat tersebut. -angan. orang tua. -anserta masyarakat adalah pasal 54 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.

Dalam pasal 56 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri. not m the individual. and beliefs of an organization' (Owens. Tingkatan -daya organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar 2. sarana dan prasarana. 1991:171). Secara konkrit. arahan dan dukungan tenaga.. each occurring at different levels ofdepth and abstraction ". Budaya sebagai norma-norma bersama. 4. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan.ini berarti.2. Persoalannya adalah apakah perubahan struktur dan tugas-tugas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. bui :f exis(s m the organization. <umptions. Budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi Robbins (1984:171) berpendapat "organizationa/ culture is a perception. Hoy dan Miskel (I 01:177) menyatakan "culture is manifested in norms. and basic ■ umptions. perubahan struktur organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat telah diikuti dengan perubahan tugas-tugas yang akan dijalankan oleh Komite Sekolah. shared values. individundividu dengan latar belakang yang berbeda atau tingkatan yang berbeda dalam rganisasi cenderung menjelaskan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang sama. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. . Pembicaraan mengenai budaya berkaitan dengan "the behavioral norms. perspektif .52 organisasi BP3 dan membentuk organisasi baru yang disebut Komite Sekolah. Berdasarkan hal tersebut.

Oleh karena itu. apabila kita mempunyai perhatian terhadap perubahan perilaku organisasi. Norma-norma biasanya tidak tertulis (unwritten) dan -erupa harapan informal. Tingkatan Budaya (Hoy & Miskel.53 Gambar 2. Norma-norma secara langsung mempengaruhi perilaku. maka penting untuk -. mengenai budaya muncul ketika norma-norma perilaku digunakan sebagai elemen dasar budaya (lihat gambar 6.1).e_getahui dan memahami norma-norma budaya itu.2. . N orma-norma itu more visible daripada values dan tacit assumptions\ dengan :emikian mereka memberikan cara-cara yang jelas untuk membantu manusia memahami aspek-aspek kehidupan organisasi. 2001:177).

Tacit assumptions merupakan -remis yang abstrak mengenai hubungan manusia. Nilai-nilai merupakan konsepsi dan apa -ng diinginkan. Nilai-nilai bersama merupakan karakter dasar dan organisasi dan memberikan organisasi memiliki suatu indentitas. -ealitas. dan lingkungan. 2001:178). N lai senng didefinisikan "what members should do to be successful in the •v.erupakan manifestasi kolektif dari taat assumptions. Pola dapat diidentifikasikan dengan cara menarik kesimpulan dari perilaku individu atau kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. 1985). kebenaran. dan bertolak dari sudut pandang pelakunya" (Faisal. budaya —. hakekat manusia. Budaya tersusun dari penlaku. pola perilaku harus dipahami dan diinterpretasikan dan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan anggota kelompok dalam latar budayanya. Nilai-nilai merefleksikan asumsi-asumsi yang mendasari budaya. Dengan perkataan lain. Budaya sebagai tacit assumptions Pada level yang paling dalam. Pada tingkat abstraksi menengah.Budaya sebagai nilai-nilai bersama. Oleh karena itu. 1990:13). 5. karena itu dapat dikatakan bahwa budaya merupakan perilaku yang terpola (Ritzer.imzation" (Hoy & Miskel. Pola dalam konteks ini berarti struktur atau susunan yang ada di balik perilaku. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Upaya pengembangan organisasi sekolah untuk meningkatkan mutu . "dalam mempelajari perilaku manusia diperlukan penelitian mendalam sampai ke inner behavior secara holistik. -daya didefinisikan sebagai shared va/ues. Pola dapat dilihat secara langsung {tangible) atau tersembunyi i intangible).

" Berkenaan dengan hal ini pula. pengembangan organisasi sekolah tidak terjadi dengan mudah. (5) membiarkan hambatan-hambatan menghalangi visi baru. (4) mengkomunikasikan visi dengan buruk. penyebab kegagalan pengembangan organisasi adalah karena adanya keenganan atau resistensi terhadap program pembaruan yang dikembangkan. Selanjutnya. Robbins (1996) menyatakan salah satu penemuan yang paling baik berdasarkan penelaahan mengenai perilaku tndividu dan organisasi adalah bahwa organisasi dan anggotanya enggan terhadap atau menolak . Namun dalam kenyataannya. (7) terlalu cepat menyatakan keberhasilan. yaitu. baik atas dasar inisiatif lembaga sendiri maupun dengan cara mengadopsi suatu bentuk kebijakan baru di sekolah. dan (8) lalai menanamkan perubahan secara kokoh ke dalam kultur lembaga. (6) gagal menciptakan keuntungan jangka pendek. (3) meremehkan kekuatan visi. Hughes. (2) gagal menciptakan koalisi pengarah yang cukup kuat. (1) membiarkan adanya rasa puas diri yang terlalu banyak. particularly those who have to change the most. seperti halnya Manajemen Berbasis Sekolah. Perubahan yang dilakukan mestinya berjalan secara berkelanjutan (sustainability) sehingga peningkatan mutu (quahty improvement) yang menjadi tujuan perubahan itu dapat diwujudkan.pendidikan telah sering dilakukan." Selanjutnya. Ginnett dan Curphy (2002: 395) menyatakan: "Everybody resists change. Menurut Buchanan dan Huczynski (2004:617) resistensi adalah "an mability or an umvillingness to discuss or to accept change thal are perceived to be damagmg or threatening to the individual'. Kotter (1996) menjawab pertanyaan mengapa organisasi gagal melakukan perubahan dengan mengidentifikasi delapan kesalahan.

Keengganan atau penolakan terhadap perubahan dalam pengembangan organisasi dapat bersumber dari organisasi itu sendiri maupun dari individu sebagai anggota organisasi (Steers. anggota organisasi menolak pengenalan metode baru karena mereka merasa aman dalam kondisi yang ada dan takut bahwa perubahan yang diperkenalkan merusak hubungan antar pribadi yang ada yang sudah beijalan cukup . kecuali apabila perubahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan kepada mereka. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor individu dan organisasi. Anggota organisasi ingin mengetahui bagaimana perbedaan pekerjaan yang ditetapkan akan mempengaruhi mereka. Dalam bentuk pernyataan lain. individu-individu memerlukan tambahan pengetahuan terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Robbins. (b) level kelompok. Pada tingkat pribadi. 2000. Steers (1977) menyebut resistensi sebagai faktor penghalang perubahan dalam organisasi. 1986. 1991. Jones (2004) menyatakan resistensi terhadap perubahan dalam organisasi terdapat pada tiga level. Akibatnya. Hal itu c sebabkan karena people dislike uncertainty.4. Griffin & Moorhead. mereka akan menciptakan hambatan yang signifikan (significcmt barriers) untuk menghalangi perubahan. 1977. Winardi. 2002). bahkan perubahan meningkatkan •etidakpastian. Sementara itu. Konsekuensinya. dan (c) level individual. Siagian. Robbins (1984) mengemukakan bahwa osaha-usaha untuk menghasilkan perubahan akan sering meghadapi resistensi. Hanson. Individu dan kelompok cemas bahwa suatu perubahan mungkin berpengaruh terhadap kepentingan mereka. Uraian lengkap dari kedua faktor penghalang tersebut dapat dilihat pada tabel 2.perubahan. (a) level organisasi. 1996. yaitu.

Ini berarti resistensi terhadap perubahan terutama disebabkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan dan karena orang lebih menyukai sesuatu .lama.

--paya untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan resistensi dengan maksud berpartisipasi dalam implementasi program yang dikembangkan. 8. Konflik antara sasaran pribadi dan sasaran organisasi a' g sudah dikenal daripada yang masih asing baginya. 7. Sistem imbalan dapat memperkuat status quo 2. dan kekuasaan sebagai akibat perubahan Kekhawatiran terhadap segala yang terasa asmg Kurang identifikasi atau keterlibatan dengan perubahan Kebiasaan Kepentingan menjaga status quo (karena keuntungankeuntungan tertentu) Norma kelompok dan kemantapan peranan Ancaman terhadap hubungan 1. Salah paham mengenal tujuan. Kesalahan pemilihan metode memperkenalkan perubahan 7. Kekakuan struktur sosial yang ada 11. Di samping itu. mekanisme atau konsekuensi perubahan Kegagalan melihat kebutuhan akan perubahan Kekhawatiran kehilangan status. Iklim organisasi yang sedang berlaku 6. Persaingan atau konflik antar bagian yang berakibat timbulnya keengganan bekerja sama 3. resistensi ■: . rasa terjamin. 10 . 6.adi karena sebagian anggota organisasi tidak memahami sepenuhnya alasan suatu . 9. Biaya yang sudah tertanam dalam keputusan dan kegiatan yang lalu 4. Faktor Penghalang Perubahan dari Aspek Pribadi dan Organisasi Faktor dari Pribadi Faktor dari Organisasi 2 j 4. "u~ahan atau pengaruh positif perubahan terhadap organisasi sehingga mereka akan . .58 Tabel 2..4. Riwayat usaha perubahan yang tidak berhasil serta konsekuensinya di masa lalu 8. 5. Kekhawatiran bahwa perubahan akan mengacau imbangan kekuatan yang ada saat itu antara kelompok serta bagian 5.

-agai pesaing mereka.e-. Adanya kecenderungan orang untuk menolak setiap perubahan yang dilakukan __ pengembangan organisasi merupakan hal yang manusiawi (Siagian.estasi besar (sunk cost) untuk suatu produk atau teknologi tertentu. yaitu.-. struktur imbalan yang erdapat dalam organisasi mungkin dirancang untuk menguntungkan perilaku yang ia Selain itu.59 Sifat dan karakter organisasi itu sendiri juga dapat mempengaruhi sejauh mana '•. jika bagian-bagian dalam organisasi memandang satu sama lain .ghadapi beberapa masalah. (3) cara yang tidak didasarkan kepada landasan yang kuat. hal ini dapat merongrong usaha bersama yang menuju pada -ubahan karena takut perubahan itu akan melanggar wilayah mereka masing. perubahan dalam pengembangan organisasi akan .. (1) rasa takut. . bahwa penolakan individual : erabkan. menurut Siagian. 5 pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat informasi yang kuat.~g Para pimpinan organisasi mungkin menganggap dirinya terikat pada • . h karena itu. Bahkan usaha- a.-jbahan dapat diterima dalam organisasi. 1994). (1) takut karena tidak mengetahui. aar. ?utusan dan tindakan-tindakan yang lalu karena sebelumnya sudah diadakan .a perubahan yang sebelumnya salah kaprah dan tidak berhasil mengakibatkan • . : • emukakan oleh Gitosudarmo dan Sudita (2000). Misalnya.^rcayaan para anggota organisasi terhadap keberhasilan setiap usaha baru lenyap. (3) . Alasan ~ e~gapa orang menolak program perubahan dalam pengembangan organisasi. (2) belajar tugas yang baru. (4) takut gagal. (2) penolakan terhadap rem bahan.

Sementara _ penolakan yang bersumber dan organisasi terdiri dan.rmsak kestabilan interaksi. dan (4) .60 .i. (3) sistem hubungan. a perubahan dan kepentingan pribadi. (1) ancaman terhadap maktur kekuasaan. (2) struktur organisasi yang stabil. . dan (4) ketidakpercayaan pada manajemen.

adanya kesalahan informasi yang mungkin diterima oleh anggota organisasi dapat diatasi melalui komunikasi. 2000). Kotter & Schlesinger dalam Stoner. 1982. Dengan demikian. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk menghadapi resistensi terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Pendidikan dan komunikasi merupakan salah satu cara yang dapat dipakai pimpinan untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan. 1996. Gitosudarmo & Sudita. Metode yang dapat dipakai untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan adalah. Berdasarkan hal tersebut. pimpinan harus mampu menilai dengan tepat sifat dan -ebutuhan akan pembaruan. (e) manipulasi dan kooptasi. Perlu diingat bahwa cara implementasi perubahan sama pentingnya dengan perubahan itu sendiri.6. . pimpinan organisasi perlu memilih metode yang tepat untuk digunakan sehingga pengembangan organisasi dapat terlaksana sesuai dengan yang diinginkan. dan (f) paksaan eksplisit dan implisit (Griffin & Moorhead. Pendidikan bagi seseorang dapat menambah pemahaman dan pengetahuan serta meningkatkan kemampuan yang mendukung implementasi perubahan. (a) pendidikan dan komunikasi. Hasil analisis ini dijadikan landasan implementasi program pembaruan dengan mempelajari dan menangani berbagai sumber penghalang >ang mungkin timbul. (c) fasilitasi dan dukungan. 1986. Begitu pula melalui komunikasi dapat disampaikan informasi penting kepada anggota organisasi sehingga mereka dapat memahami secara tepat mengenai alasan pentingnya suatu perubahan dilakukan. Robbins. (b) partisipasi dan keterlibatan. (d) negosiasi dan perjanjian.

Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi ke daerah sehingga dikeluarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Pendapatan Antara Pusat dan Daerah.Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kedua faktor terakhir tersebut tidak dapat dipertahankan setelah terjadi gelombang reformasi. sentralisasi pendidikan menimbulkan kesan kurang melibatkan institusi pendidikan dan masyarakat di daerah. serta terdapat berbagai kesulitan dalam mengimplementasikan keputusan (Hamidjojo. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. sehingga perubahan manajemen pemerintahan tentu berakibat pula pada penataan manajemen pendidikan (Mantja. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU RI No. Alasan umum desentralisasi adalah bahwa dalam pembangunan bangsa terjadi perubahan wawasan dari top-down menjadi bottom-up (Tilaar. Berdasarkan hal yang sudah dikemukakan di atas. wewenang yang diberikan amat terbatas. -ggunakan pula partisipasi dan keterlibatan sebagai cara untuk mengatasi rengganan . Perubahan kedua undang-undang tersebut dituangkan dalam UU RI No. Lahirnya kedua Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi. tidak jarang pimpinan organisasi . 2002). 2000). 2000). Kalaupun ada. maka perlu dilakukan Selain pendidikan dan komunikasi. Akibatnya ada kecenderungan kebijakan pendidikan yang diambil pemerintah pusat kurang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat daerah yang semestinya market-driven education. Namun.

aa seberapa orang anggota organisasi atau orang-orang tertentu yang dianggap . -idap perubahan. cara ini juga ditujukan untuk mengatasi .. Selanjutnya. untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan pimpinan harus mampu .-fasilitasi dan mendukung upaya perubahan yang dilakukan dengan cara. Metode ketiga adalah fasilitasi dan dukungan.rercanaan suatu kegiatan atau dalam proses pengambilan keputusan-keputusan -. Jika orang dilibatkan __ am proses perencanaan dan pengambilan keputusan. dalam negosiasi dan ■:~anjian pimpinan boleh saja menawarkan insentif tambahan atau reward dalam r«r-. misalnya.:j proses pengambilan keputusan itu dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat.n: ng menyangkut implementasi perubahan dalam organisasi. ~Jerung menerima dan mau menjalankan keputusan yang diambil. Cara ini dipakai apabila keengganan terhadap perubahan berada . sehingga individu tetap mempunyai komitmen untuk melakukan .terhadap perubahan. Sudah barang e-. Oleh ■ arena itu. melengkapi fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan anggota rgansiasi dalam melaksanakan tugas-tugas baru. Konsekuensinya. Cara ini digunakan. Negosiasi dan perjanjian juga dapat dilakukan untuk mengatasi keengganan .. . Sering ditemui kegagalan ~r ementasi suatu perubahan disebabkan kurangnya fasilitas dan dukungan.mk lain.-o nya. sementara mereka idapkan pada tugas yang tidak ringan.-remasan individu atas hilang atau berkurangnya insentif keija. pada fase --. maka orang tersebut .rmpunyai peran kunci.

.

Terakhir adalah paksaan. sebab kesalahan memahami situasi dapat menyebabkan kekeliruan yang . apabila cara lain tidak lagi efektif. maka bukan tidak mungkin pimpinan akan menggunakan cara paksaan. Sedangkan kooptasi merupakan upaya untuk mempengaruhi pimpinan kelompok yang menolak perubahan dengan cara memberikan peran utama kepada mereka. paksaan tetap dipandang tidak baik. manipulasi adalah memutarbalikkan fakta untuk membuat fakta itu tampak lebih menarik. sebelum menggunakan cara paksaan tersebut perlu dijawab lebih dulu pertanyaan yaitu apakah cara-cara lain sudah digunakan secara optimal? Penggunaan berbagai metode di atas harus didasarkan atas pemahaman situasi yang ada. maka pimpinan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk merealisasikan keputusan itu. Manipulasi perlu dilakukan secara hati-hati sehingga maksud yang sesungguhnya dari pimpinan tidak dapat dibaca oleh anggota organisasi. jika ditemui beberapa orang individu masih menolak perubahan. Keengganan terhadap perubahan juga dapat diatasi dengan cara manipulasi dan kooptasi. menahan informasi yang tidak diinginkan. apakah cara ini tetap tidak boleh digunakan? Jawabannya. Apabila perubahan sudah merupakan suatu keputusan organisasi yang harus dijalankan.61 perubahan dalam organisasi. Menurut Robbins (1996). bukan tidak mungkin manipulasi akan menimbulkan ketidakpercayaan lebih tinggi di kalangan anggota organisasi. Namun. Oleh sebab itu. dan menciptakan desas-desus palsu agar anggota organisasi menerima baik suatu perubahan. Apabila kondisi ini gagal diciptakan. Apapun alasannya.

Kesiapan ini juga menyangkut kemampuan dalam mengajukan argumentasi dan rasionalisasi dari berbagai sudut pandang untuk mendukung pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. kekuatan dalam diri orang itu sendiri. Oleh karena itu. Di samping itu. yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dasar. Intinya adalah. antara lain ketulusan pemerintah. Pertama. Para teoretisi mengemukakan berbagai pendapat mengenai hal ini. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kesiapan pelaksana ditentukan oleh para pelaku. keberhasilan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor pendorong. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Artinya. analisis yang tepat mengenai sumber penolakan atau keengganan terhadap pengembangan organisasi adalah amat penting sebelum suatu metode untuk mengatasi keengganan tersebut digunakan. serta kesadaran . implementasi program pengembangan organisasi memerlukan kesiapan untuk meneriman dan melaksanakan perubahan. Terkait pula dengan faktor pendorong terjadinya perubahan dalam pengembangan organisasi. Faktor pendorong pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Selain ada resistensi.62 pemilihan metode. aparat daerah. masyarakat dan sekolah itu sendiri. 7. Faktor pendorong yang utama berkaitan kesiapan pelaksana sistem baru tersebut (Mulyasa. 2005). Tyson dan Jackson (1992) menyatakan kesiapan untuk berubah dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berbeda. implementasi program yang dikembangkan tidak akan terwujud tanpa adanya faktor-faktor pendorong dimaksud.

loca/ capacity dan wi/I (Duke & Canady. 2001). Duke dan Canady (1991) menjelaskan pula bahwa membangun kapasitas lokal untuk implementasi kebijakan dapat menjadi sebuah tantangan karena sumber-sumber yang ada sering terbatas dan pelatihan selalu menghabiskan waktu. Sementara itu. kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor pendorong yang termasuk ke dalam kekuatan -istem yang ada. yaitu. kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran (Subakir & Sapari. menurut McLaughlin keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh dua faktor. dan konsekuensi yang dirasakan terhadap keberhasilan serta . namun menumbuhkan kemauan untuk menyikapi implementasi merupakan suatu peristiwa yang mendapat tantangan besar. 1991). dan kepercayaan yang mendasari respons pelaksana kebijakan. Berkenaan dengan itu pula. Karena kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (Mulyasa. motivasi. menurut Nurkolis (2003) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan proses pengambilan keputusan yang demokratis sebagai faktor pendorong keberhasilan implementasi program-program yang dikembangkan dalam Manajemen Berbasis Sekolah. 2005).egagalan dalam organisasi. baik fiskal dan material. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa tingkat motivasi dan yang paling pokok adalah harga diri berperan penting dalam kesiapan untuk berubah. Selanjurnya. dan keahlian untuk mengimplementasikan kebijakan baru.diri. Will mencakup aspek sikap. Local capacity meliputi sumber-sumber. Dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. . Faktor ■ iua adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada sistem yang meliputi budaya dan k:im organisasi.

Kemauan sepertinya tidak bisa dipengaruhi oleh ancaman dan direktif. dan Randall (2004:85) mencatat hasil temuan penelitian . Dalam kedua kasus ini. Odden dalam Cooper. menurut Duke dan Canady kepemimpinan dapat menjadi penting. Fusarelli.

Duke dan Canady (1991) mengemukakan beberapa -aran agar kebijakan secara aktual dapat diimplementasikan. local district offices and local schools—to develop and imp/ement newly created government a! programs..65 terdahulu: "showed that there was a lack of both capacity and will at all levels of government the U. Relevan dengan konteks pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.. Komitmen kadang-kadang dapat mengikuti implementasi. banyak cara bagi pembuat kebijakan untuk mencari :_kungan terhadap kebijakan baru sebelum diimplementasikan._ran kedua adalah local capacity untuk implementasi kebijakan. dan .S. a tu (1) manajemen sekolah dan transparansi. Kapasitas ubungan dengan energi manusia. bui also that they did not know how t o implement t hem (the capacity was not there)". Bertitik tolak dan kajian teori yang sudah dikemukakan di atas. state departments of education. . Bilamana energi bukan merupakan sumber yang aa^-at mendukung implementasi. Office of Education. Saran r Ahir berasal dari kesimpulan McLaughlin bahwapolicy impiementation depends n j balance of support and pressure. Saran pertama ■er^enaan dengan komitmen (commitment). Cara tersebut adalah dengan melibatkan pelaksana kebijakan dalam pembuatan kebijakan dan -embangkitkan semangat kepemimpinan. maka dapat d mpulkan bahwa konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan tiga pilar MBS. . pembuat kebijakan harus hati-hati sehingga tidak membuat kebijakan melebihi kemampuan staf yang mengimplementasikannya. hal itu diasosiasikan dengan visi dan misi. Research showed not only that most local educators did not want to imp/ement such programs (the wi/l was not there). (2) pembaruan metode pembelajaran.

Sebagai ilustrasi. Selain mengkaji pengembangan ketiga pilar tersebut. tugas. . Untuk mewujudkan pengembangan ketiga pilar tersebut. Karena. keberhasilan implementasi program yang dikembangkan dalam pengembangan organisasi ditentukan pula oleh sejumlah faktor pendorong. gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi juga dilihat dari aspek budaya sekolah. Selain itu. teknologi. cara mengatasi resistensi dan faktor pendorong dalam pengembangan organisasi) merupakan hal-hal yang turut dikaji dalam penelitian ini. Pengembangan ketiga aspek tersebut dijadikan acuan dari fokus penelitian yang melihat gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Selanjutnya. Dengan demikian. dan individu sebagai pelaksana. dilakukan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan struktur.(3) peranserta masyarakat. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berhadapan dengan munculnya resistensi karena terjadi transisi dari status quo menuju pada perubahan yang diinginkan. kerangka berpikir penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikemukakan dalam gambar 2. budaya merupakan sasaran dan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. kesemua aspek tersebut (resistensi.3. Resistensi yang muncul harus diatasi dengan cara-cara yang efektif sehingga keberhasilan pengembangan organisasi dapat terwujud.

TEKNOLOGI DAN INDIVIDU PERANSERT A MASYARAK AT METODE PEMBELAJAR AN i.B MANAJEMEN SEKOLAH PENGEMBAN GAN ORGANISASI DENGAN PENDEKATA N MBS ______ 4 ____ PERUBAHAN STRUKTUR.D A Y \ S KK O L A H KEEFEKTIF AN SEKOLAH PROGRAM PERUBAHAN DAN IMPLEMENTASINYA I FAKTOR ENDORONG RESISTENSI . TUGAS. I.

CARA Ml N(iATASI Oambui ' * K E R A N G K A H l K I ' I K I K l ' l N l I I I I A N 1 * 1 N G I MHANGAN < )!<( i ANI' -ASI DI NGAN l'l NDI i Al AN MANA.II Ml N IH KUASI' M K< 'l Ml .

1998). (c) sumber data dan informan. yaitu (1) SD Negeri Cerdas. A. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan multisitus (Yin. yaitu: 1 Ketiga situs penelitian ini. Dengan 69 . (e) teknik analisis data. dan (g) tahap-tahap penelitian. Tujuan penelitian kualitatif dengan jenis multi situs lebih berorientasi pada pengembangan teori. (f) pemeriksaan keabsahan data. (d) teknik pengumpulan data. Selain itu. Bogdan & Biklen. Rancangan Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan. 1984. Berdasarkan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. 2 Dewan Sekolah sebagai organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat pada ketiga latar penelitian ini juga menunjukkan keaktifan yang cukup tinggi dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (2) SD Negeri Cermat. (b) kehadiran peneliti.sekolah dari daerah lain dengan tujuan untuk mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. ketiga latar itu juga sering dan banyak dikunjungi oleh sekolah.BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) rancangan penelitian. alasan utama penggunaan rancangan multisitus karena ketiga latar memiliki karakteristik yang sama. dan (3) SD Negeri Mandiri Kota Cendekia telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003.

maka pihak dinas pendidikan merekomendasikan ketiga SD Negeri tersebut di atas untuk dijadikan lokasi penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Pada ketiga latar penelitian ini juga sudah dibentuk organisasi yang mewadahi peranserta wali murid di masing-masing kelas yang disebut dengan Paguyuban/ Forum Kelas.demikian. SD Negeri Cerdas terletak di perkampungan penduduk. maka untuk lebih melengkapi informasi diminta pertimbangan kepada pihak dinas pendidikan mengenai sekolah-sekolah yang benar-benar sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. 5 Selain mempertimbangkan kesamaan karakteristik ketiga latar tersebut yang juga didukung oleh hasil observasi awal. SD ini terletak di pinggir jalan raya. 4. sehingga pihak sekolah ~ien jgaskan seorang satpam untuk membantu setiap murid yang akan menyeberang . dengan demikian untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan iKiitan kota. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 28 September 2004. diasumsikan pemilihan ketiga latar tersebut dapat memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Kesamaan karakteristik lainnya dari latar penelitian ini. Letak sekolah ini -ikup strategis. 3. ketiganya berstatus sekolah negeri sehingga pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengikuti pola yang sama pula.

dengan demikian masyarakatnya agak heterogen. Nilai UPM (Ujian Pengendalian Mutu) tertinggi dari lulusan SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 adalah 46. dalam arti mudah dijangkau. SD ini juga banyak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Maksudnya. Kepala sekolah menyebutkan satu per satu instansi atau sekolah yang pernah mengunjungi SD ini. Di samping berprestasi di bidang akademik. Walaupun masyarakatnya agak heterogen. namun mereka tetap menjunjung tinggi . Dengan mempedomani Buku Tamu. SD Negeri Cermat terletak pada lokasi yang cukup strategis. seperti lomba paduan suara. di dinding sekolah tersebut tampak tulisan: Sekolah Dasar MBS. Untuk mengetahui lebih rinci instansi atau sekolah yang pernah berkunjung ke sekolah ini. sekolah ini sering dikunjungi oleh instansi atau sekolah. dan tertib shalat. Di .iran plang nama dan dinding sekolah bagian depan tertulis: Sekolah Dasar MBS. pidato. SD Negeri Cermat ini terletak di dalam kompleks perumnas. Pada saat memasuki lokasi sekolah.71 in baik pada saat datang ke sekolah maupun pada waktu pulang ke rumah. Selain itu. pada tanggal 1 Februari 2005 dicari informasi ke SD Negeri Cerdas.20. Sebagai pusat ujicoba. sekolah ini juga mendapat Juara III siswa teladan Kota Cendekia pada tahun 2003 (Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 8 Oktober 2004). masyarakat yang bertempat tinggal di perumnas ada yang berasal dan luar daerah setempat.sekolah dari daerah atau propinsi lain yang ingin mempelajari penerapan Manejemen Berbasis Sekolah. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota.

UNESCO & UNICEF. 2002). Hasil penelitian Fullan. Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD. namun kadang kala implementasi kebijakan itu tidak dilakukan secara berkelanjutan (unsustainahly) di sekolah. 2003). Ini berarti bahwa pengembangan organisasi (orgamzational development) menghadapi tantangan tidak ringan terutama menyangkut implementasi program-program yang dikembangkan menuju perubahan yang diinginkan. Secara implisit hai . Hal tersebut berarti bahwa sesungguhnya pemberian otonomi kepada sekolah bukan merupakan sesuatu yang baru. namun barangkali lingkupnya diperluas. SD Negen Cermat juga senng dikunjungi oleh instansi atau sekolahreorientasi penyelenggaraan pendidikan guna memberikan otonomi ke tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) (Tim Penulis Direktorat TK & SD. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. menunjukkan OD bersifat parsial.nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong terutama dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. tidak tuntas. sebagai tempat ujicoba Manajemen Berbasis Sekolah. Oleh karena itu. Otonomi sebagai wujud desentralisasi sebenarnya telah dilakukan sejak dulu walaupun tidak sepenuhnya sempurna (Mantja. aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. perlu dilakukan pengembangan organisasi (orgamzational development) dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Pusat Kurikulum. Seperti halnya SD Negeri Cerdas. seperti dilaporkan Owens (1991).

2002). Selanjutnya.8 tersebut mempunyai arti bahwa tantangan utama dalam pengembangan organisasi adalah adanya kenyataan bahwa pada hakikatnya sebagian besar dari kita enggan untuk berubah (Suyanto. Perubahan sering diartikan sebagai bentuk ancaman. Suyanto (2002) yang mengutip pendapat .

87. Selain berprestasi di bidang akademik. Dilihat dan sisi prestasi. UNESCO.99. Metode komparatif konstan merupakan rangkaian ingkah-Iangkah yang berlangsung sekaligus.80. metode komparati f konstan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. Data yang dicatat dari Buku Tamu tanggal 1 Februari 2005 menunjukkan banyak instansi atau sekolah yang berkunjung ke SD ini. nilai UPM SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 paling tinggi 44. 1998). Selasa 28 September 2004). Pada tahun pelajaran 2003/2004. Nilai rata-rata UPM tersebut adalah 41. Mulai dengan pengumpulan data . Dalam prosesnya. nilai tertinggi 47 dan terendah 31. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota.70 sekolah lain yang ingin mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. dan hanya 4 orang mendapat nilai di bawah 30. "0 orang memperoleh nilai di atas 40. SD Negeri Mandin terletak pada lokasi yang strategis dan berdekatan dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Cendekia.60 dan paling rendah 28. sekolah ini juga memiliki prestasi dalam bidang ekstrakurikuler terutama catur. dan UNICEF. Di samping implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan di bawah binaan langsung pemerintah Indonesia. SD Negeri Mandiri menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas dasar inisiatif sendiri (Hasil wawancara dengan staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Dari 97 orang peserta UPM dari SD Negeri Mandiri. 18 orang meraih nilai antara 35-39. nilai UPM lulusan SD Negeri Mandiri berada pada ranking teratas dari 25 SD/MI yang berada di wilayah kepengawasan III dan IV. Rancangan penelitian selanjurnya menggunakan metode komparatif konstan Bogdan & Biklen. dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan pengkodean.48.

. Mengumpulkan data yang mencakup banyak kejadian tentang kategori fokus untuk melihat adanya keragaman dimensi dalam kategori 4. dan (3) penelitian kualitatif bersifat alami (natural). (1) realitas yang ada dalam pengembangan organisasi sekolah pada dasarnya terkonstruksi secara holistik. terfokus. Melakukan sampling. dan penulisan sebagai analisis yang berfokus pada kategori inti (Glaser dalam Bogdan & Biklen. pengkodean.71 2. Mengerjakan data dan memunculkan model untuk menemukan proses dan hubungan-hubungan sosial yang mendasar 6. (2) hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti lebih peka sehingga dengan mudah dapat dilakukan pemahaman yang mendalam terhadap objek yang diteliti. Mencari isu penting. 1998). Alasan ini juga sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif. Alasan penggunaan metode kualitatif dengan rancangan multisitus ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia. Menuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan maksud untuk memerikan dan menjelaskan peristiwa yang ada sambil terus mencari kejadiankejadian bani 5. dan sesuai konteks di mana peristiwa itu terjadi. deskriptif. kejadian yang selalu berulang atau kegiatan yang merupakan kategori fokus 3. yaitu. sehingga dengan menggunakan penelitian kualitatif realitas tersebut dapat dipahami secara utuh.

pengembangan organisasi (organization development) merupakan suatu proses transisi dari keadaan manajemen sekolah yang sentralistik menuju Manajemen Berbasis Sekolah. 2003).gka waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan. yaitu tahap. B. 1980. 1998. peneliti hadir ke lokasi penelitian dalam i-. dan (c) pengecekan atau konfirmasi hasil atau temuan penelitian (Faisal.gumpulan data. Dalam proses yang berbentuk siklus tersebut ada tiga tahapan yang berlangsung secara berulang-ulang. 2000.induktif. Bogdan & Biklen. (b) eksplorasi .pertanyaan yang muncul kemudian sampai penulisan laporan penelitian. dan berupaya menemukan makna (meaning) dari suatu fenomena yang terjadi (Patton.ecara terfokus atau terseleksi guna mencapai tingkat kedalaman dan kerincian aspek tertentu. ^>901 Tahap-tahap tersebut diulangi beberapa kali sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang makin lama makin menyempit. :er. Kehadiran Peneliti Untuk meneliti objek penelitian ini. Selanjurnya. seperti studi pendahuluan.gram Pascasarajana Universitas Negeri Malang dan rekomendasi dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. sejalan dengan pertanyaan. Lincoln & Guba. Studi pendahuluan dilakukan rada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2004 berdasarkan izin dari Direkftir . pemahaman terhadap pengembangan organisasi sekolah dipandang tepat didekati dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian pertama kali adalah pada tanggal 7 Oktober 2004 yang bertujuan untuk meminta izin dari kepala . dan biasanya masih bergerak pada taraf permukaan. 1985. Mantja. Dalam penelitian kualitatif terjadi proses yang berbentuk siklus. dan pemeriksaan keabsahan data. Moleong. Atas dasar itu. (a) eksplorasi yang meluas atau menyeluruh.

30 WIB untuk SD Negen Cerdas dan SD Negeri Cermat. kepala sekolah pada ketiga situs memperkenankan peneliti melakukan penelitian di sekolahnya. namun peneliti tetap hadir di lokasi penelitian sampai bulan Desember 2005 atas izin kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. Kemudian. Selama kegiatan pengumpulan data.d . serta 06.d. Tanpa ada rasa keberatan dan dengan senang liati. peneliti memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksud kunjungan sambil memperlihatkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. kehadiran peneliti untuk kepentingan pengumpulan data dilanjutkan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2005.73 sekolah pada ketiga situs. Namun kehadiran peneliti setelah pengumpulan data selesai tidak lagi intensif. Pada akhir bulan Agustus 2005 izin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia secara resmi sudah berakhir. peneliti berupaya untuk hadir ke lokasi penelitian pada setiap hari sekolah sesuai dengan jam sekolah yang berlaku (07. 12. Atas izin dan kesediaan tersebut peneliti dapat berkunjung pada hari-hari berikutnya guna melakukan sftidi pendahuluan.30 s. karena tujuan kehadiran setelah pengumpulan data tersebut hanyalah untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data.00 s. namun peneliti tetap mengurus kembali surat izin penelitian dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang sebagai dasar bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia untuk mengeluarkan surat rekomendasi. Walaupun ketiga kepala sekolah sudah memberikan izin untuk pelaksanaan pengumpulan data. Pada saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah.

sehingga kehadiran peneliti tidak lagi dianggap sebagai "orang baru" di lembaga tersebut. observasi dan melakukan kajian dokumen.d 17. Kesediaan atau izin tersebut juga berlaku bagi kegiatan observasi dan analisis dokumen yang diperlukan.11. mengikuti rapat majelis guru.00 . peneliti juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh personel sekolah sejauh kegiatan itu dapat "dimasuki" dengan tetap menjaga batas kewenangan peneliti dan etika penelitian. mengikuti upacara bendera. Beberapa bentuk partisipasi yang dilakukan adalah.74 12. Dewan Sekolah maupun Paguyuban Kelas. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa bagi murid kelas VI yang akan mengikuti ujian akhir. peneliti pernah datang ke sekolah pukul 05.20 untuk SD Negeri Mandiri Kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk keperluan wawancara. Ini dilakukan dengan maksud agar peneliti benar-benar dapat membaur dengan warga sekolah. adalah. Waktu kunjungan lainnya adalah sore hari guna mengikuti kegiatan rapat baik yang dilakukan oleh sekolah.30 WIB pagi untuk mengikuti acara istighosah yang dilaksanakan di SD Negeri Cermat pada tanggal 12 Juni 2005. Balikan. Wawancara dilakukan dengan informan penelitian setelah meminta kesediaan yang bersangkutan terlebih dahulu.00 s. Contoh lain dan kehadiran peneliti di sekolah. yaitu pada waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 15. Di samping kehadiran peneliti ke sekolah untuk keperluan observasi dan wawancara. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian juga dilakukan di luarjam sekolah. .00 ketika berlangsung acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI di SD Negeri Cerdas dan pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2005 ketika dilakukan rapat Dewan Sekolah. pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2005 pukul 19.00 WIB.

dipedomani asas lunum etika penelitian yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998).orang di tempat penelitian yang dapat menggunakan informasi untuk kepentingan tertentu. sebagai berikut: 1 Melindungi idenditas subjek sehingga informasi yang dikumpulkan tidak merugikan mereka. untuk melakukan penelitian dan peneliti harus mematuhi kontrak itu.rapat Dewan Sekolah. mengikuti istighosah. Berkenaan dengan hal ini. mengikuti pertemuan wali murid pada awal tahun ajaran baru dan saat persiapan ujian murid kelas VI. 3. Memperlakukan subjek secara hormat dan meminta mereka berkooperasi dalam kegiatan penelitian. Menjelaskan mengenai apa saja batasan dan persetujuan pada saat negosiasi izin 4. Anonimitas diperluas tidak hanya untuk tulisan. membantu pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah. melainkan juga untuk laporan verbal tentang informasi yang dipelajari melalui observasi. 2. dan ikut bersama guru melakukan kunjungan rumah untuk kepentingan pendataan kemampuan orang tua calon murid baru. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian tetap memperhatikan etika penelitian sehingga tidak mengganggu dan merugikan pihak yang diteliti. Subjek diberi tahu mengenai kepentingan penelitian dan keikutsertaan peneliti dengan mereka dilakukan apabila telah diizinkannya. Peneliti tidak berbohong kepada subjek atau merekam pembicaraan dengan menggunakan perlengkapan mekanik secara tersembunyi. Peneliti tidak menghubungkan informasi spesifik mengenai individu kepada orang lain dan berhati-hati berbagi informasi yang bersifat khusus dengan orang. rapat Paguyuban/Forum Kelas. membantu persiapan acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI. .

pembaruan metode pembelajaran dengan pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Informan kunci (key informant) dalam penelitian ini adalah kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. Sumber Data dan Informan Penelitian Sesuai dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan pada bab pendahuluan. dan wali mund. Kemudian. pengawas sekolah. . Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. Menceritakan dengan benar ketika peneliti menulis dan melaporkan temuannya. maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mencakup (1) gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi yang meliputi (a) perubahan manajemen sekolah. C.76 5. Peneliti melaporkan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh data (febricatmg data or distorting data is the ultimate siri of a scientist). sumber data yang berasal dari dokumen dipilih berdasarkan relevansinya dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (3) cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi (wujud dari fokus perubahan individu/manusia). Kemudian. Sumber data dan orang-orang terdin dari. pegawai tatausaha. pengurus Dewan Sekolah. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. penjaga sekolah. (b) pembaruan metode pembelajaran. guru. kepala dinas pendidikan. (2) resistensi terhadap pengembangan organisasi. dan (4) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. siswa. kepala sekolah. dan (d) budaya sekolah. (c) pembahan struktur/tugas untuk peningkatan peranserta masyarakat.

Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow-ball sampling (Bogdan & Biklen. Sampai -enehtian berakhir. Jumlah Informan Penelitian No. Berdasarkan wawancara pertama. 5. 8 Informan Kepala sekolah Guru Dewan sekolah Wali murid Murid Pengawas sekolah Penjaga sekolah/TU Ka. 4. 1. yaitu (a) subjek yang sudah cukup lama menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. Informan dipilih dengan mempedomani kriteria yang dianjurkan Faisal (1990). 2. jumlah informan yang diwawancarai terlihat dalam tabel 3. 6. kepala sekolah menunjuk beberapa orang guru untuk diwawancarai selanjurnya. 1998). (c) subjek yang bersifat "lugu" dalam memberikan informasi. Tabel 3.dinas pendidikan Jumlah Situs I 1 5 1 3 2 1 1 14 Situs II 1 5 1 3 2 1 13 Situs III 1 5 I 2 I 1 1 12 Total 3 15 3 8 5 1 3 1 39 . Jumlah informan tetap yang diwawancarai terus bertambah sesuai anjuran informan sebelumnya. 7.1. (b) subjek yang masih terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. dan (e) subjek yang sebelumnya tergolong masih "asing" bagi peneliti. 3. Informan pertama yang diwawancarai adalah kepala sekolah sebagai informan kunci. (d) subjek yang mempunyai cukup banyak waktu untuk memberikan informasi.1.

Selama melakukan observasi dibuat catatan lapangan. peneliti berperanserta secara pasif. (b) wawancara. (b) teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri. yaitu. 1980). Observasi berperanserta Untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan observasi berperanserta (participanl observation) (Spradley. dan (c) studi dokumentasi.78 D. (a) pada partisipasi pasif peneliti hadir dalam situasi sosial yang diteliti. (d) teknik pengamatan memungkinkan peneliti matnpu memahami situasi-situasi yang rumit. Hal ini dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Spradley (1980). (c) pengamatan dapat digunakan untuk mengecek keabsahan data. dialami dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan . Menurut Guba dan Lincoln (1981). Pada tahap awal penelitian. kemudian setelah kehadiran peneliti diterima oleh orang-orang yang diteliti. dan (b) pada partisipasi aktif peneliti benisaha untuk ikutserta melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang diteliti. pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. observasi berperanserta dilakukan dengan alasan. kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. serta tidak hanya menerima tetapi benar-benar mempelajari aturan budaya dari perilaku yang muncul. dan (e) dalam kasus-kasus tertentu dimana penggunaan teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan. (a) pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. maka peneliti mulai bergerak untuk melakukan peranserta secara aktif. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) observasi berperanserta. tetapi tidak berpartisipasi atau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang sedang diteliti. dilihat. yaitu catatan tertulis tentang apa yang didengar. 1.

menggambarkan betapa perubahan pada hakikatnya tidak disukai oleh banyak orang. Catatan lapangan dibuat dengan mempedomani prinsip (1) identifikasi bahasa. yaitu orang-orang yang dianggap potensial. Wawancara dilakukan berulang kali sampai diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengembangan organisasi sekolah.orman bersedia direkam pada waktu dilakukan wawancara sehingga peneliti harus Welch. yaitu mengidentifikasi bentuk bahasa yang digunakan. yaitu menggunakan bahasa yang konknt bukan hanya memberi nama pada suatu tindakan (Spradley. Untuk maksud yang sama. Goleman. seorang chief executive perusahaan raksasa kelas dunia. dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi mengenai masalah yang diteliti.2 \>DV sebagai alat perekam. untuk mengumpulkan data penelitian juga dilakukan wawancara secara mendalam (m-depth inferview) dengan informan penelitian.79 data dan refleksi terhadap data (Bogdan & Biklen. dan McKee (2002:272) menyatakan . 1998). Namun." (Suyanto. General Electric. 2002:109). Penggunaan alat ini dilakukan apabila sudah mendapat z:n dan infonnan yang diwawancarai. People like status quo. Boyatzis. dan (3) konknt. (2) verbatim. They like the way it was. Wawancara Di samping melakukan observasi berperanserta. 1980). Untuk merekam hasil wawancara digunakan tape recorder merek Sony TC. yaitu mencatat ucapan atau perkataan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang dijadikan sumber informasi. dalam kenyataannya tidak semua . Catatan lapangan ditulis dalam buku yang sudah disediakan khusus untuk keperluan tersebut. 2. Fenomena itu digambarkan dalam ungkapannya sebagai berikut: "change has no constituency. Wawancara calam penelitian ini dilakukan secara formal maupun informal sehingga dapat diungkapkan pendapat informan mengenai pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

Kotter. Sarason (Duke. Bahkan. 1993. menolak segala sesuatu yang mengancam keadaan ini. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. berjalan baik dan dengan hasil yang . 2004). 1996). 2002:385) menyatakan "old is easy. Sebagai contoh." Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. 1991). Dengan ungkapan lain. new is hard\ Akibatnya. 1991). Artinya.9 bahwa "kebanyakan kelompok dan organisasi berputar-putar di sekitar status quo. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. dalam Anwar. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. misalnya. Peterson dan Hicks (Hughes. Ginnett dan Curphy.

.

Atas dasar itu. (h) buku prestasi. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. Teknik Analisis Data I.80 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. yaitu. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. (d) program dan rencana pembelajaran. (g) jumlah guru dan murid. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). (f) buku daftar hadir guru. (1) ambil keputusan . walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. 3. (e) buku tamu. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. (j) profil sekolah. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. Hal ini berarti. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. 1990). kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. E. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. 1998). (c) SK Dewan Sekolah.

Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. dan (10) gunakan perlengkapan visual. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. analogi.81 untuk mempersempit kajian. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. mensistesis. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). yaitu dari wawancara. pengamatan. (9) gunakan metafora. yaitu melalui kegiatan menelaah data. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. Selanjutnya. dan konsep. catatan lapangan. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. (3) kembangkan pertanyaan analitis. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. mendata.

82

substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan, 1994). Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan data dan rangkuman inti, merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif, diadaptasi dan Miles & Hubennan (1994:12).

83

Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, informan, dan situs penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Sistem Pengkodean Analisis Data No Aspek Pengkodean Kode . 1 Fokus Penelitian: • Resistensi terhadap pengembangan organisasi RES CAR
• Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan

2

3

4

organisasi • Faktor Pendorong dalam pengembangan organisasi • Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi Teknik Pengumpulan Data. • Wawancara • Observasi • Dokumentasi Sumber Data: • Kepala Sekolah • Dewan Sekolah • Pengawas Sekolah • Kepala Dinas Pendidikan • Guru • Murid • Wali Murid • Penjaga Sekolah • Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Negeri Cerdas • SD Negeri Cermat • SD Negeri Mandiri

FAK BAR

W 0 D KS DS PS DP GM WM PJG TU

1 11 III

Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kemudian, pada bagian akhir

84

catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan; kode situs penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas Wawancara Kepala Sekolah ---------------- ^ -------------------------------------------------------------

Tanggal, bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum, proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut; (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga, (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian, dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985), yaitu; (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabihtas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4)

Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas). Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.2.85 Gambar 3. Kredibilitas .

— a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . penyidik dan teori (Lincoln & Guba. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. and building trust. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). angkut kebijakan sekolah. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam.perpanjang masa observasi. testing f or mi smformaUon mtroduced - <i<ortions either of the self or of the respondents. wawancara atau .r-anfaatkan sumber. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. metode. Kemudian. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . dan melakukan triangulasi. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode.86 Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >?rapa kegiatan. menurut Lincoln dan Guba -35 301). Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. Tujuan lain.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. Pertama. maka . ~ -an penelitian yang terpercaya. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . (a) ■ e.erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. 1985). melainkan merupakan aktivitas yang sudah . Dalam -r man ini. leaming the culture. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Contohnya. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. yaitu dengan . triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. atau muncul secara tiba-tiba. mrg informan dengan informan lainnya." .

yaitu. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. . dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. yaitu Bapak Kasman. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. 1985). aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg.87 dokumentasi). diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. Misalnya. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. makna-makna dieksplorasi. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. Kedua.

Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. 2. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. M. menurut Lincoln dan Guba (1985). Namun. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial.A. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. 4 Konfinnabilitas .H. Prof Dr.Pd (Pembimbing kedua)..D. Apabila informan tidak merasa keberatan. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof.ransferability. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. Pembimbing ketiga). 1985). Ph. dan Prof. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya.Pd (Pembimbing pertama). yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit)..Willem Mantja. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. A Sonhadji K. Dr. M. Hendyat Soetopo. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. Namun. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. H.88 Ketiga. M. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . Umumnya. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara.

and heart ofthe educators who work in the schools . yaitu Bapak Prof. yaitu. buI the soup remains the same" (Hanson. Oleh karena itu.89 Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. Sayangnya. Maksudnya. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. 1992:1). Oleh karena itu. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Tahap persiapan Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. Dr. interpretasi data secara benar. hands. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. Willem Mantja. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. G.Pd. (1) tahap persiapan. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. M. penggunaan teknik analisis yang cermat.gumpulan dan analisis data. Tahap-tahap Penelitian Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. 1991:370). muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton. Untuk mewujudkan hal tersebut. 1991:370). dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian.

implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. M." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang menggembirakan (Baedhowi. Hasil penelitian tentang implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). On the other hand. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi.90 Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. Laurens Kaluge. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. 2004:2) menyatakan. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. . Namun demikian. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. I Wayan Ardhana. Dr. Brasil. Lusiana. Wallis (Baedhowi. Zaini Hasan. Prof. 2004). T Raka Joni. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. banyak negara. Dr. dan Dr. Dr. Meksiko. dr.Sc dan Ibu Dr. Berdasarkan keyakinan tersebut. as a desirable policy. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Spanyol. antara lain Selandia Baru. 2004:2). yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004.

Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas.Pd.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September 2004.Ad.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004).91 Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah.4. Hd.304/2004 tanggal 05 . Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. diajukan kepada Bapak Prof. dan Bapak Dr. M. Dip.D. Kemudian. Masukan dan saran dari teman-teman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. Willem Mantja. Dr. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing.Ed. Hendyat Soetopo.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia). Dr. M. Willem Mantja. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing.. M. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36.

. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian.Ed.D.92 Oktober 2004). Walaupun banyak saran perbaikan. Ed.Ed. diterima tanggal 13 Desember 2004. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.D. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing. Dip. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10.Ad.Ad.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. Dip. Balikan dari Prof. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206.Pd diperoleh awal Oktober 2004. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap.. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan motivasi bagi penulis. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai . M. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. M. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru. Willem Mantja. Ed. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak .Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". Dr. Selanjutnya.

-. M. Setelah izin diperoleh. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. A. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Dr. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. Willem Mantja.— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.307/2005 tanggal 18 Maret 2005. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :.4. 3. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai.Pd dan Bapak Prof.93 pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. Ahmad Sonhadji K.onsultasi dengan dosen pembimbing. Tahap penyusunan laporan penelitian .-.)...H. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia).1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. M. H. r h D. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.

03/2005 tanggal 19 Desember 2005.73. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.303. karena nama sekolah sudah disamarkan.307. Atas permintaan di atas.05/SDNP 1/2005.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. Setelah penyusunan laporan selesai.94 Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. Rekomendasi Dinas Pendidikan. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini. .307.2/ 262/420.73. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.

new is hard\ Akibatnya. Ginnett dan Curphy. 1991). Sebagai contoh. 2004). berjalan baik dan dengan hasil yang . 2002:385) menyatakan "old is easy. Sarason (Duke. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke.8 Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. Kotter. 1991). Peterson dan Hicks (Hughes. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. 1996). misalnya. 1993. Artinya. Dengan ungkapan lain. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady. Bahkan. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. dalam Anwar.

(i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas.8 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. (g) jumlah guru dan murid. (c) SK Dewan Sekolah. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. (f) buku daftar hadir guru. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. Teknik Analisis Data I. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 1998). (h) buku prestasi. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. 1990). (e) buku tamu. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. (j) profil sekolah. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. Atas dasar itu. 3. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. (1) ambil keputusan untuk mempersempit kajian. Hal ini berarti. (d) program dan rencana pembelajaran. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. (3) . (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. yaitu. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. E.

mensistesis. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. analogi. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. Selanjutnya. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori .8 kembangkan pertanyaan analitis. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. yaitu melalui kegiatan menelaah data. dan konsep. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. catatan lapangan. dan (10) gunakan perlengkapan visual. yaitu dari wawancara. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. (9) gunakan metafora. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. pengamatan. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. mendata.

Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3. menggolongkan. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. mengarahkan. (1) reduksi data. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah. membuat ringkasan data dan rangkuman inti.1. . Menseleksi data secara ketat. membuang data yang tidak diperlukan. yaitu. merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data.8 substansi. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan. (2) penyajian data. dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. 1994). dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan.

dan situs penelitian.2 . Sis te m Pe ng ko de an An ali sis Da ta .2. teknik pengumpulan data. informan. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.8 Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian. Ta bel 3. sumber data.

8 Aspek Pengkodean .

8 Fokus Penelitian: • Resistensi ter ha da p pe ng em ba ng an org ani sas i .

Cara mengatasi res ist ens i dal am pe ng em ba ng an org ani sas i 8 Faktor Pendorong dal am pe ng em ba ng an .

.ani sas i 8 Gambaran sekolah set ela h pe ng em ba Pe ng ng an um pul an Da ta.

8 .

8 • Dokumentasi Sumber Data: Kepala Sekolah Dewan Sekolah .

8 Pengawas Sekolah Kepala Dinas Pe ndi dik an .

8 Penjaga Sekolah Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Ne ger i Ce rda s .

sumber data. Contoh penelitian. bulan dan tahun.8 • SD Negeri Ce rm at • SD Negeri Ma ndi ri Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. tanggal. teknik pengumpulan data. tanggal. kode situs penelitian. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara. bulan dan tahun. observasi dan studi dokumentasi. teknik pengumpulan data. Kemudian. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. sumber data. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas ----------------^ . pada bagian akhir catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan.

Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3. (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga.8 Wawancara Kepala Sekolah -------------------------------------------------------------- Tanggal. dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. (1) kredibilitas (validitas internal). (3) dependabilitas (reliabilitas). (2) transferabihtas (validitas eksternal). yaitu. dan (4) . F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985).2. (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian. bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum. proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut.

aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).8 Gambar 3. Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut. Kredibilitas Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >? rapa kegiatan.2. Pertama.

Dalam -r man ini. wawancara atau dokumentasi). atau muncul secara tiba-tiba. testing f or mi smformaUon mtroduced – <i<ortions either of the self or of the respondents. ~ -an penelitian yang terpercaya. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. maka – — a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam.8 – erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. Misalnya. 1985). angkut kebijakan sekolah. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w .aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan.perpanjang masa observasi. melainkan merupakan aktivitas yang sudah . melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. metode. and building trust. Tujuan lain. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. (a) ■ e. menurut Lincoln dan Guba -35 301). . leaming the culture. mrg informan dengan informan lainnya. yaitu dengan – r-anfaatkan sumber. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . Kemudian. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?." . mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. Contohnya. dan melakukan triangulasi.

melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. Umumnya. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. yaitu.8 Kedua. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. 1985). makna-makna dieksplorasi. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. yaitu Bapak Kasman. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. Apabila . Ketiga.

Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. M. H. interpretasi data secara benar. 2. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. yaitu Bapak Prof. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli.A. Dr. Pembimbing ketiga).Pd (Pembimbing pertama). Willem Mantja.. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). Namun. 4 Konfinnabilitas Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut. Namun. Prof Dr. menurut Lincoln dan Guba (1985). G. dan Prof. dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap.H. Dr.D.ransferability. Oleh karena itu. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of .Willem Mantja. Ph. 1985). M. Tahap-tahap Penelitian .. Hendyat Soetopo. Untuk mewujudkan hal tersebut. A Sonhadji K. penggunaan teknik analisis yang cermat. M. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain.Pd (Pembimbing kedua). tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. M.8 informan tidak merasa keberatan.Pd. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit).

(1) tahap persiapan. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer.gumpulan dan analisis data. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.8 Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. Tahap persiapan . yaitu.

8 Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. 1991:370)." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang 89 menggembirakan (Baedhowi. antara lain Selandia Baru. 1991:370). Wallis (Baedhowi. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Sayangnya. hands. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. Spanyol. 2004:2). banyak negara. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. as a desirable policy. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. Namun demikian. Meksiko. Maksudnya. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. buI the soup remains the same" (Hanson. 2004). On the other hand. Berdasarkan keyakinan tersebut. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Oleh karena itu. 1992:1). ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. Brasil. Hasil penelitian tentang implementasi . dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. 2004:2) menyatakan. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. and heart ofthe educators who work in the schools Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton.

D. Dr. T Raka Joni. Willem Mantja.9 kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). Kemudian. Dr. Dr. diajukan kepada Bapak Prof. M. Zaini Hasan.Sc dan Ibu Dr. M. Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah.Ad. dr. Masukan dan saran dari temanteman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September . dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. dan Dr. Dr. Dr. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. Willem Mantja. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah.Pd. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. I Wayan Ardhana. Hendyat Soetopo. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. dan Bapak Dr.. M. Lusiana. Dip. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi.Ed. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Laurens Kaluge. M. Prof. Hd.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia).

Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Willem Mantja.Ad.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui.304/2004 tanggal 05 Oktober 2004).4. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak . Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan . Balikan dari Prof.Ed. Dr. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.Pd diperoleh awal Oktober 2004.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap.8 2004. M.. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Ed. M. diterima tanggal 13 Desember 2004. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. Dip.D. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap.

307/2005 tanggal 18 Maret .00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. Ed. M.Pd dan Bapak Prof. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof.D.). Dip.-. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!.onsultasi dengan dosen pembimbing. Ahmad Sonhadji K. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. A. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru.. r h D. Walaupun banyak saran perbaikan. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10.Ed. H.4.Ad.. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). M. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing. Dr. Willem Mantja.H.. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah .9 motivasi bagi penulis.-. — honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. Selanjutnya.

Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. . Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. 3. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga.307.303. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.05/SDNP 1/2005.73. karena nama sekolah sudah disamarkan. Tahap penyusunan laporan penelitian Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian.9 2005.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.2/ 262/420. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.73. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005.307. Setelah penyusunan laporan selesai. Atas permintaan di atas. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. Rekomendasi Dinas Pendidikan. Setelah izin diperoleh. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful