BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Derasnya arus globalisasi, sebagai salah satu bentuk perubahan yang terjadi saat ini, bukan hanya memberikan pengaruh terhadap persoalan bisnis semata melainkan juga berdampak bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Mantja (2002) menyatakan globalisasi itu dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya berdampak juga bagi pelaksanaan pembangunan di masa yang akan datang. Perubahan global mengakibatkan dunia seakan-akan tanpa batas (borderless world) telah melahirkan gaya hidup baru (a new way oflife) dengan ciri kehidupan yang dilandasi penuh persaingan sehingga menuntut masyarakat dan organisasi membenahi diri mengikuti perubahan-perubahan cepat tersebut (Tilaar, 1998, 2002). Apabila suatu organisasi, termasuk organisasi sekolah, tetap mempertahankan status quo atau menolak suatu perubahan, maka institusi itu akan tertinggal dari arus perubahan. Sebab, tanpa disadari perubahan itu akan terus berubah (Zamroni, 2000). Berkenaan dengan perubahan dan tantangan masa depan itu, Yudohusodo (2004) mengemukakan beberapa pandangan para ahli sebagai berikut. Pertama, Gibson (1977) menyatakan; (a) masa depan kita nanti akan berbeda dengan masa lalu,

10

kebijakan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan hasil analisis, dari segi substansi manajemen, ada tiga bentuk kendala yang seringkah dijumpai dalam implementasi kebijakan pendidikan (Baedhowi, 2004). Kendala tersebut berkaitan dengan hal; (a) mengelola manusia {managingpeople), (b) mengelola organisasi (managing organization, dan (c) mengelola perubahan dan transisi (managing change and tramition). Kendala dalam hal mengelola manusia misalnya berkaitan dengan resistensi orang-orang terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. Kendala mengelola organisasi antara lain bersumber dari kurangnya kemampuan pengelola untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan secara efektif. Kemudian, permasalahan pokok berkaitan dengan upaya mengelola perubahan dan transisi tersebut dinyatakan Baedhowi (2004) bahwa ketika perubahan yang diinginkan itu terjadi jarang sekali dipikirkan bagaimana mengelola perubahan (managing change) itu agar tetap terjaga dan selalu meningkat secara dinamis. Akibatnya, kita seringkah dihadapkan pada perubahan yang hanya sekejap dan setelah itu hilang, dalam arti kembali lagi seperti sebelumnya. Sebagai contoh, perubahan yang hanya muncul sekejap itu dapat dilihat dan bcr bagai kegiatan, antara lain pelatihan (training) yang diharapkan dapat memberikan suatu perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam melaksanakan I/P(rioton cA^on,Kori T Intul' tYialz-csi/H yonrr cotno QiiKal^ir Anr\ Qonon /OHO 1 \ tWglUUAil JV11U11 ll.C4.lt. VJUIU1V 111U1VJUU JUUgJ JU111U, Jui/uivn UU1I uupui 1 ^iV/V 1 f

11

mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bahwa perubahan dan inovasi pendidikan sering tampak berhasil ketika diujicobakan dan kemudian sirna begitu saja ketika ujicoba telah berakhir. Hal di atas menunjukkan perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi tidak terencana (unplanned change) sehingga implementasi kebijakan tidak berjalan secara berkelanjutan (unsustainably). Hal itu juga terjadi karena tidak ada komitmen yang kuat baik secara individu maupun kelembagaan untuk melaksanakan program pengembangan organisasi yang sudah ditetapkan. Keadaan yang digambarkan tersebut, berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Harvey (dalam Suharyadi, 2004:1) yaitu: People think that ifthe Japanese have problems, they are quick t o take decision. Actually they are not, infact they are extremely slow to take dec isian, bui once a decision is take n, everyone is so committed t o do it, and know exactly what they have to do, so they can move at about three times the pace that we do. They spend the time to get the commitment, and the commitment is got by masses of mteraction. Paparan pendapat Harvey tersebut menunjukkan betapa tingginya komitmen orang-orang Jepang untuk melaksanakan suatu keputusan yang sudah diambil. Hal tersebut merupakan faktor penting dalam pengembangan organisasi dengan / pendekatan Manamejen Berbasis Sekolah sehingga perubahan yang berkelanjutan (sustamable change) dan peningkatan mutu (quality improvement) dapat terwujud. Penelitian-penelitian tentang pengembangan organisasi agak jarang dilakukan apalagi pada jenjang sekolah dasar. Bahkan, kecenderungan penelitian selama ini lebih banyak mengkaji proses dan substansi manajemen

Berdasarkan wawancara dan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. Misalnya. Pengembangan organisasi ditujukan untuk membentuk budaya sekolah yang kuat sehingga menghasilkan pendidikan yang bermutu. iklim sekolah. misalnya. keefektifan organisasi. supervisi. ketiga latar penelitian ini telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri di Kota Cendekia. kurikulum dan pembelajaran. SD Negeri Cermat.hal sebagai berikut: Pertama. Pengembangan ketiga pilar di atas dilakukan dengan cara melakukan berbagai perubahan.12 pendidikan. dan SD Negeri Mandiri bukan hanya tampak dan pembentukan Dewan . dan variabel-variabel kepemimpinan. perubahan struktur di SD Negeri Cerdas. dan prestasi belajar. Lebih rinci dapat dikemukakan hal. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengacu pada tiga pilar. kinerja guru. budaya organisasi. pembaruan metode pembelajaran. SD Negeri Cermat. dilihat dari kerangka kebijakan pendidikan pengembangan organisasi merupakan persoalan strategis yang harus dilakukan terutama pada tataran implementasi suatu kebijakan. Dengan kata lain. dan peranserta masyarakat (Hasil wawancara dengan guru tanggal 6 Mei 2005). motivasi. yaitu: manajemen sekolah dan transparansi. semangat kerja. Pada hal. persoalan pengembangan organisasi agak kurang mendapat perhatian para peneliti.

Perubahan teknologi tampak dan penerapan metode pembelajaran aktif. dan metode pembelajaran. Saat ini. orang tua dan masyarakat. manajemen sekolah dilakukan secara demokratis sesuai kewenangan terbatas yang diberikan dalam penyelenggaraan pendidikan. . Perubahan tugas-tugas. sebagai konsekuensi dari perubahan struktur dan pola manajemen sekolah. tampak dan bertambahnya bobot dan intensitas tugas baik yang berkaitan dengan tugas-tugas manajemen sekolah maupun tugas personel sekolah. Terkait dengan hal ini. kelemahan. melainkan juga sudah dibentuk paguyuban pada masing-masing kelas (di SD Negeri Mandiri organisasi wali murid pada tingkat kelas ini disebut dengan Forum Kelas). SD Negeri Mandiri lebih cenderung melakukan upaya "menjemput bola" yang tampak dari inisiatif melakukan sendiri kegiatan seminar dan lokakarya pada saat libur. Sebagai implikasi dan penerapan Manajamen Berbasis Sekolah. Pajangan kelas yang dibuat dan hasil karya murid sebagai salah satu ciri PAKEM terlihat lebih menonjol di SD Negeri Cerdas dan SD Negeri Mandiri. Selain intervensi terhadap struktur. dan tantangan serta keputusan diambil bersama dengan melibatkan personel sekolah.perubahan atas dasar kemauan sendiri. Program sekolah disusun berdasarkan analisis terhadap kekuatan. efektif. sekolah mulai berupaya melakukan perubahan. peluang. tugas.13 Sekolah. pengembangan organisasi di ketiga latar penelitian ini juga memberikan perlakuan terhadap guru melalui pelatihan dan studi banding guna meningkatkan kemampuan guru untuk mengimplementasikan program pembaruan yang dikembangkan. kreatif. dan menyenangkan (PAKEM).

dan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam mendukung program sekolah. penciptaan proses pembelajaran yang efektif. tampak dari upaya-upaya peningkatan mutu yang dilakukan sekolah. manajemen sekolah lebih transparan dan partisipasi masyarakat lebih aktif (Wawancara tanggal 28 April 2005). terlalu sibuk dan program yang lalu masih belum selesai sementara yang baru datang lagi. bahwa kecenderungan orang akan menolak perubahan (resistance to change). pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tidak mudah diwujudkan karena muncul sikap resistensi terhadap perubahan yang dilakukan. Hal ini. Resistensi guru terhadap pengembangan organisasi pada ketiga situs penelitian ini tampak dari alasan-alasan yang disampaikan. Berkenaan dengan hal tersebut wali murid menyatakan bahwa saat ini sudah tampak kemajuan di sekolah. seperti tugas-tugas banyak. Indikasi ini pulalah yang mendorong . Di bagian latar belakang masalah sudah dikemukakan. transparansi manajemen sekolah. Menurut kepala sekolah. pada awal pengembangan organisasi tampak adanya keengganan dan muncul resistensi dan kalangan guru (Wawancara tanggal 5 April 2005).14 Kedua. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mulai menunjukkan suatu kemajuan. Kemajuan awal yang dicapai tidak terlepas dari kemauan berkembang atas keinginan sendiri yang dimiliki oleh personel sekolah dan dukungan wali murid masyarakat. Ketiga. Hal ini disebabkan karena terjadi proses transisi manajemen sekolah dan paradigma lama ke yang baru.

15 sekolah-sekolah atau instansi lain. munculnya resistensi karena para guru sudah terbiasa dengan pola lama (Wawancara tanggal 5 April 2005). namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana memperlakukan orang-orang dalam organisasi atas dasar pemahaman ilmu perilaku (behavioral science) yang benar sehingga resistensi terhadap perubahan dapat diatasi. pengembangan organisasi dengan melakukan berbagai perubahan adalah penting bagi peningkatan keefektifan organisasi itu. Ini berarti. adanya resistensi terhadap pengembangan organisasi telah dipahami oleh kepala sekolah terutama menyangkut alasan-asalan mengapa terjadi resistensi. baik yang berasal dari wilayah Kota Cendekia maupun sekolah-sekolah dari propinsi lain di Indonesia. Fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut: . berkunjung ke tiga sekolah tempat penelitian ini dilaksanakan guna mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Alasannya adalah. Hasil pemahaman tersebut dijadikan dasar untuk mencari solusi bagaimana cara menghadapi resistensi itu (overcoming resitance to change). Menurut kepala sekolah. Terakhir. B Fokus Penelitian Penelitian ini difokuskan pada pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga SD Negeri di Kota Cendekia.. keberhasilan pengembangan organisasi dicapai dengan tidak mengorbankan kepentingan dan kepuasan anggota organisasi.

tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1. (b) metode pembelajaran. dan SD Negeri Mandiri. SD Negeri Cermat. (b) metode pembelajaran. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. dan SD Negeri Mandiri. (c) peranserta masyarakat. SD Negeri Cermat.16 1. . SD Negeri Cermat. yang meliputi. dan (d) budaya sekolah. SD Negeri Cermat. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. dan (d) budaya sekolah. 3. C. (a) manajemen sekolah dan transparansinya. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. yang meliputi. Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian yang telah dikemukakan. (c) peranserta masyarakat. 4. dan SD Negeri Mandiri. 2. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.

Faktor pendorong dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas.17 2. SD Negeri Cermat. dan SD Negeri Mandiri. dan SD Negeri Mandiri. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. 3. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah di SD Negeri Cerdas. 2. D. Hasil pemahaman ini dapat dipakai sebagai sumber informasi bagi kepala sekolah dalam mengelola pengembangan organisasi 3. Memperluas pemahaman tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. dan SD Negeri Mandiri. Bahan masukan bagi guru dalam mengimplementasikan program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. SD Negeri Cermat. . 4. SD Negeri Cermat. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan teori mengenai pengembangan organisasi sekolah dan mendorong peneliti lain untuk mengkajinya lebih lanjut sehingga dapat memperkaya teori pengembangan organisasi yang sudah ada.

efektif. pengawas sekolah. yaitu peningkatan keefektifan sekolah dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mengacu pada tiga pilar. dan Menyenangkan (PAKEM). Konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini mengacu pada makna kualitas. dan kepala dinas pendidikan kecamatan. kreatif. Pengembangan ketiga pilar tersebut diarahkan untuk membentuk budaya sekolah yang menunjang pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi . seperti. dan orang tua murid untuk meningkatkan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. dan (c) peranserta masyarakat. E. Kreatif. (b) metode Pembelajaran Aktif. Hasil penelitian ini berguna pula bagi pengambil kebijakan. 4.18 khususnya penerapan pembelajaran aktif. Paguyuban/Forum Kelas. Efektif. kabupaten/kota atau propinsi sebagai bahan masukan dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah khususnya di sekolah dasar. Bahan masukan bagi pengurus Dewan Sekolah. yaitu (a) manajemen sekolah dan transparansinya. Definisi Operasional 1. dan menyenangkan (PAKEM) di sekolah dasar. 5. Pengembangan organisasi adalah usaha jangka panjang yang dilakukan secara terencana untuk meningkatkan keefektifan sekolah.

3 Resistensi adalah respons guru terhadap program yang diimplementasikan dalam pengembangan organisasi yang dapat berupa keengganan atau penolakan. . Hal ini merupakan fokus lain dari pengembangan organisasi. dalam penelitian ini juga dipelajari faktor pendorong implementasi program pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. 4. Pengembangan organisasi terwujud bilamana resistensi yang muncul dipahami dan diatasi dengan baik. Kemudian.19 sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. 2. Dengan demikian otonomi sekolah bukanlah merupakan independensi yang terlepas dari ketentuan yang berlaku. Hal ini muncul karena kekhawatiran guru terhadap berbagai konsekuensi dari program pembaruan yang dikembangkan. memberikan fleksibilitas keluwesan kepada sekolah. wewenang. Otonomi sekolah adalah kebebasan terbatas yang dimiliki sekolah untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan hak. yaitu intervensi terhadap aspek individu/manusia. Di samping itu. Manajemen Berbasis Sekolah adalah model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. dan kewajiban dalam lingkup peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan keefektifan sekolah. pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi.

dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu. dan kecepatan bergerak. maka di wilayah Kota Cendekia organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat di tingkat sekolah disebut dengan Dewan Sekolah. Dewan Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peranserta masyarakat pada tingkat satuan pendidikan (sekolah) dalam rangka meningkatkan mutu. Ketiga. dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 pada bagian A poin 2 diatur tentang Acuan Pembentukan Komite Sekolah bahwa nama Komite Sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. Berdasarkan keputusan menteri tersebut. Perubahan-perubahan terjadi sangat mendadak dan tidak menentu.20 5. seharusnya organisasi ini disebut Komite Sekolah (. Kanter . dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Nama organisasi ini jelas berbeda dengan apa yang disebut School Board Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3. Kedua. pemerataan. antara lain dinamakan Dewan Sekolah. (b) dengan adanya tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/institusi yang berbeda {new time cal! for new organizations) dengan ciri efisiensi yang tinggi. (c) dengan berbagai perubahan yang terjadi setiap organisasi atau institusi perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju (where do we go next). Senge (1994) juga mengatakan bahwa ke depan teijadi perubahan dari kompleksitas detail menjadi kompleksitas dinamik yang membuat interpolasi menjadi sulit.School Committee) Namun.

kelangsungan hidup dan kemajuan suatu organisasi tergantung kepada kemampuan organisasi itu untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. 1977. dan kepercayaan diri. 2000). kompetensi. dalam hal ini disebut pengembangan organisasi (organizational development).3 (1994) menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran kosmopolitan dan setiap pelakunya (di berbagai bidang) termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki konsep. Bennis dalam . Stoner (1982:379) menyatakan "managing such change effectively is not on/y a necessity for organizational surviva/ hut also a challengeIni berarti. Bahkan lebih dari itu. Kemampuan organisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah merupakan ciri utama organisasi yang berhasil (Steers. Organisasi yang mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan dan mengisi peluang yang ada akan mampu bertahan hidup (survive) dan berkembang ke arah yang lebih baik (Gitosudarmo & Sudita. Perubahan dan tantangan masa depan yang digambarkan di atas mengisyaratkan organisasi untuk selalu melakukan penyesuaian dalam berbagai aspek. relasi.

Upaya penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan organisasi (organizationcil development). 1991:223). A. dan (d) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. Pengembangan Organisasi 1. (b) resistensi terhadap pengembangan organisasi. (c) cara mengatasi resistensi. (3) pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Miles dan Taylor (dalam Owens. 1982). (2) Manajemen Berbasis Sekolah. dan (c) hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. yang meliputi (a) pilar pengembangan organisasi. mengemukakan definisi tentang pengembangan organisasi sebagai berikut: 20 . Fullan. dan (b) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. setelah melakukan studi yang komprehensif terhadap pengembangan organisasi di sekolah-sekolah Amerika dan Canada. Hal ini berarti. terdiri dan (a) dasar pemikiran. Pengertian Sebagai bagian dan sistem yang lebih besar.BAB n KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan secara berurutan kajian teoretis tentang (1) pengembangan organisasi. organisasi berada dalam lingkungan yang selalu berubah (Stoner. sekolah sebagai suatu organisasi tidak bisa melepaskan diri dan pengaruh sistem-sistem lainnya itu yang secara terus menerus berubah. terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengembangan organisasi menurut pendapat para ahli. mencakup (a) pengertian. (b) pengertian. Keadaan ini menuntut organisasi sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan itu. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konsep pengembangan organisasi.

(2) organization-wide. Konsep pokok yang terkandung dalam pengertian di atas adalah. melainkan juga peningkatan kualitas kehidupan individu-individu yang menjadi anggota organisasi. action planning. systematically-planned. pengembangan organisasi di sekolah merupakan upaya perbaikan secara sistematik. norma atau struktur.(Richard Beckhard).Organization development in school districts is a coherent. Organization development refers to a long-range effort to improve an organization 's problem-solving capabilities and its ability to cope with changes in its external environment with the help of external or internal behavioral-scientist consultants. 2. and (3) managedfrom the top. norms or structures. to (4) increase organization effectiveness and health through (5) planned mterventions in the organization 's "processes " using behavioral science £ttow/ec/ge. (2) developing .(Wendell French). terencana. intervention. and eva/uation aimed at (1) enhancing congruence among organizational structure. as they are sometimes c#//ec/. and culture. Cummings dan Worley juga mengutip definisi keempat dari ahli lain sebagai berikut: 4. people. processes. process. strategy. yaitu: 1. Organization development is a planned process of change in organization 's culture through the utilization of behavioral science technology. or change agents. and theory. diagnosis. using behavioral science concepts. focusing explicitly on change in formal and informal procedures. Cummings dan Worley (2001:2) mengemukakan pula beberapa definisi pengembangan organisasi dengan mengutip pendapat para ahli. The goals o f O D mclude bot h the quality o f life of individuals as well as improving organizational functiomng and performance. sustained effort at system self-study and improvement. proses. Tujuan pengembangan organisasi di sekolah bukan hanya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja organisasi. Organization development is an effort (1) planned.(Warner Burke). Selain tiga definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan di atas. 3. research. Organization development is a systemwide process ofdata collection. dan berkelanjutan yang difokuskan pada perubahan prosedur formal dan informal.

1991. Indrawijaya. 1982. Stoner. 2001) dikaitkan dengan usaha jangka panjang perbaikan organisasi dan penggunaan konsultan. and technology. and (3) developing the organization 's self-renewing capacity. research. dan manusia terutama penlaku individu yang membangun kultur organisasi (organizational culture). dalam berbagai definisi pengembangan organisasi terdapat beberapa konsep pokok. . definisi Burke (dalam Cummings & Worley. Misalnya. (4) pengembangan organisasi memerlukan intervensi baik internal maupun eksternal. Masing-masing definisi di atas memberikan penekanan yang berbeda. dan definisi Beckhard dan Beer (dalam Cummings & Worley. Owens. teknologi. Cummings & Worley. 2000. struktur. ada pula kesamaan dan definisi pengembangan organisasi itu yakni melakukan perubahan secara berencana untuk memperbaiki kineija organisasi. 1991. dan (5) pengembangan organisasi berorientasi pada peningkatan keefektifan organisasi {organization effectiveness) (Lippit. Bila disimak lebih teliti lagi. Hanson. 1983. definisi French (dalam Cummings & Worley.Q\ Beer). (3) fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada strategi.new and creative organizational solutions.{M\c\Ya. 2001) memfokuskan perhatian pada kultur sebagai target perubahan. 11 occurs through the collaboration of organizational members working with a change agent using behavioral science theory. 2001. 2001) ditujukan pada proses pengembangan organisasi. 1996. Siagian. tugas. Robbins. (1) pengembangan organisasi didasarkan pada pengetahuan dan praktek ilmu perilaku (behavioral science). yaitu. (2) pengembangan organisasi berkaitan dengan mengelola perubahan terencana (managingplannedchange). 1982. Di samping terdapat perbedaan sudut pandang.

yaitu (1) manajemen sekolah dan transparansinya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa Depdiknas. Dalam konsep pengembangan tercakup makna perubahan dan pembaruan. perubahan adalah hal (keadaan) berubah atau peralihan dan suatu keadaan. http://www. diakses tanggal 9 Februari 2005. Berangkat dari beberapa definisi pengembangan organisasi yang sudah dikemukakan. Jones. dan (3) peranserta masyarakat. sedangkan dalam konsep perubahan dan pembaruan belum tentu atau bahkan tidak tercakup makna .toolpack.com/ services. (2) PAKEM. 2004. 2002) dijelaskan bahwa pengembangan adalah upaya peningkatan yang menjurus kepada sasaran yang dikehendaki.23 Sutarto. perbaikan metode (teknologi). Pengembangan organisasi mengacu pada tiga pilar. ada tiga istilah pokok yang perlu dijelaskan. 2002. dan pembaruan inovasi) adalah pengenalan atau penemuan sesuatu yang baru atau berbeda dan • eadaan sebelumnya. maka konsep pengembangan organisasi dalam penelitian ini adalah usaha terencana untuk peningkatan keefektifan organisasi dengan mengadopsi pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah sehingga menghasilkan budaya sekolah yang menunjang terhadap pencapaian tujuan. dan intervensi terhadap individu/manusia yang tercakup dalam cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi sebagai wujud penggunaan ilmu perilaku (behavioral science theory). Pengembangan ketiga pilar tersebut dilakukan melalui perbaikan struktur organisasi/tugas. perubahan dan pembaruan (inovasi).html. Selanjutnya. Wibowo. 2006). yaitu pengembangan. Thoha. 2002.

-:am prakteknya. Buchanan & Huczynski.pengembangan. maka uraian mengenai perubahan dalam penelitian ini hanya berada dalam kerangka pikir pengembangan organisasi. Dengan kata lain. Ivancevich. dan Donnelly (1995) menyatakan pengembangan organisasi sebagai teknik manajenal untuk mengimplementasikan perubahan penting dalam organisasi. 2004). jika perubahan hanya terjadi . 1983. Dalam kaitan itu pula. 1981. melainkan juga termasuk kultur organisasi (Owens. 2 31. pengembangan organisasi bukan hanya mengadakan perubahan (change) dalam struktur dan prosedur organisasi saja. membuat keputusan. melainkan proses dan sikap memahami persoalan. 2002). Thoha. Kajian tentang pengembangan organisasi tidak bisa terlepas dan perubahan. pengembangan dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan dan/atau pembaruan. Bahkan. Cummings & Worley. Bahkan secara tegas dikemukakan. pengembangan organisasi mencakup sepuluh konsep yang bercirikan. maka itu bukan merupakan perubahan dalam kerangka pengembangan organisasi. (a) .j. Thoha. 1991. Pengembangan organisasi lebih banyak menekankan pada perubahan secara menyeluruh dan mendasar bukan hanya perubahan cara keija. dan perlakuan terhadap orang-orang dalam organisasi. Brown dan Harvey (2006:4) menyatakan "OD is a planned strategy to bring about organizational change. Namun demikian. Berdasarkan hal tersebut. hampir semua ahli berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Indrawijaya. 2002). Pengembangan organisasi merupakan suatu respons terhadap perubahan (Bennis dalam Luthans." Sementara itu. Gibson.am susunan dan prosedur organisasi saja sedangkan kultur organisasi tetap sama.

ia merinci tujuan pengembangan organisasi sebagai berikut: (a) meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota-anggota organisasi. (h) suatu strategi terencana. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang. Usaha-usaha pengembangan organisasi pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir (Robbins. 1984). Tujuan utama pengembangan organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. teknologi. baik dalam kelompok maupun antara kelompok. (g) berkaitan dengan masalah nyata. (d) meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horizontal. (e) suatu strategi pendidikan. kebalikan dari to sweepingproblems under the rug. (e) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. 1991). tugas-tugas. (b) pembaruan sistem. (i) agen perubahan. dan (2) peningkatan kepuasan anggota-anggotanya. dan (j) melibatkan pimpinan tingkat atas (Owens. (f) belajar melalui perilaku yang dialami.25 tujuan pengembangan organisasi.orang dalam organisasi dalam membuat keputusan yang lebih efektif. dan sumber daya manusia. (b) meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah-masalah organisasi. (c) menciptakan lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan otoritas berdasarkan pada pengetahuan dan keterampilan. dan diagonal. (d) berfokus pada manusia. Lebih lanjut. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi memberikan implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan. (f) menemukan solusi yang . (1) peningkatan keefektifan organisasi.keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur. yaitu. vertikal. (c) suatu pendekatan sistem.

ada beberapa aspek pokok yang perlu dicatat berkaitan dengan pengembangan organisasi. Kedua. Bertitik tolak dari beberapa pendapat di atas. maka tujuan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) meningkatkan kepercayaan dan peranserta dari stakeholders baik internal maupun eksternal dalam menunjang keberhasilan sekolah. Berdasarkan hal tersebut. dan menyenangkan bagi peningkatan mutu lulusan. (5) menciptakan pembelajaran aktif. dalam pengembangan organisasi terjadi proses transisi.26 sinergis terhadap masalah. pengembangan organisasi merupakan suatu proses bukan kejadian yang datang secara tiba-tiba. memiliki komitmen yang tinggi untuk mewujudkan prestasi terbaik. (4) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi program pengembangan organisasi. sehingga perubahan terhadap . kreatif. sebagai proses transisi pengembangan organisasi menghadapi suatu keadaan yang tetap menginginkan status quo. Ketiga. dan (g) meningkatkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan implementasi. pengengembangan organisasi dilakukan secara sengaja. Artinya. yaitu pergerakan dari keadaan sekarang menuju keadaan baru yang diinginkan. terencana dan menempuh langkah-langkah yang sistematis. (3) meningkatkan tingkat antusiasme dan kepuasan personel dalam organisasi. Pertama. (2) menciptakan iklim sekolah yang demokratis dengan menyelenggarakan manajemen sekolah secara transparan dan akuntabel. dan (6) menciptakan budaya sekolah yang kuat dengan ciri antara lain. efektif.

Berdasarkan hasil analisis itu. keefektifan. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi yang dilakukan tidak dapat terlepas dari upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki kineija organisasi. Di samping itu. pengembangan organisasi mempunyai tujuan yang jelas. 1991). Hal ini tentu saja didasarkan atas pertimbangan bahwa pengadopsian tersebut dapat meningkatkan kualitas keluaran organisasi menjadi lebih baik. metode atau cara baru yang diadopasi bisa saja berasal dari hasil analisis organisasi itu sendiri atau menerapkan suatu pendekatan yang telah dikembangkan oleh pihak lain. Pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan pengadopsian model manajemen sekolah yang pernah diterapkan di beberapa negara. Keempat. model. Ide-ide. cara. Analisis implementasi pendekatan ini dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional yang bekeija sama dengan Bank Dunia. dan akuntabilitas organisasi terhadap stakeholders-nya. muncullah Kegiatan Rintisan Keija Sama segi tiga Pemerintah Republik Indonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Menciptakan Mutu Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat. Tujuan pengembangan organisasi secara umum adalah untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri.27 kondisi ini menimbulkan resistensi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu." Untuk merealisasikan program ini. sejak tahun 1999 telah . atau metode baru guna meningkatkan keefektifan organisasi (Owens. Pengembangan organisasi sekolah dapat dilakukan dengan cara mengadopsi ide-ide. tujuan pengembangan organisasi adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (quality improvement). model.

elemen-elemen dimaksud adalah. 1982. Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi didasarkan atas pandangan bahwa organisasi sebagai sistem. 1991). Saling ketergantungan antara elemen. Gambar 2. dan orang-orang.1. (a) struktur.389) . teknologi. Oleh karena itu.1. yaitu.elemen tersebut dapat dilihat pada gambar 2. Dalam prakteknya. Menurut Leavitt (dalam Stoner. Owens. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah tetap didasarkan atas kemampuan sekolah masing-masing. fokus perubahan dalam pengembangan organisasi ditujukan pada elemen-elemen penting yang terdapat dalam organisasi itu. tugas. Jawa Tengah.28 dilakukan pilot proyek di empat propinsi. Elemen-elemen organisasi (diadaptasi dari Stoner. Jawa Timur. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. 2. 1982.

Dengan demikian. Tabel 2. suatu perubahan yang efektif menyadari adanya interaksi elemen-elemen organisasi tersebut.1. Berbagai pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisisasi dirangkum dalam tabel 2.1. 1982). suatu perubahan dalam satu elemen organisasi akan mempengaruhi elemen-elemen lainnya. Hanson (1991) melihat dan segi fokus perubahan. namun semua ahli tersebut sebenarnya ingin menjelaskan tentang hal-hal apa saja yang dapat diubah dalam melakukan pengembangan organisasi sehingga kineija organisasi menjadi lebih baik. Walaupun para ahli memandang fokus perubahan organisasi dan sisi yang berbeda. Terdapat berbagai pendapat ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dan masing-masing ahli melihat dari sudut pandang yang berbeda.29 Berdasarkan gambar 2. Program perubahan yang berfokus hanya pada satu dan elemen-elemen organisasi itu memiliki kesempatan yang kecil untuk berhasil (Stoner. Steers (1977) meninjau dan aspek pendekatan yang digunakan dalam perubahan organisasi.1. Rangkuman Pendapat Ahli tentang Fokus Perubahan dalam Pengembangan Organisasi . Stoner (1982) memandang dari sudut variabel perubahan organisasi. Robbins (1996) melihat lingkup perubahan dalam pengembangan organisasi dan sisi apa yang dapat diubah oleh agen perubahan. dan Griffin dan Moorhead (1986) menguraikan dari sisi metode perubahan organisasi.

Pribadi individu 3. Struktur 2. Tugas dan teknologi 3. Tugas 3. Teknologi Griffin dan Moorhead (1986) 1.30 Steers (1977) Stoner(1982) 1. Struktur 2. Manusia 2. Struktur 2. Tugas 3. Setting fisik . Struktur dan Sistem 1. Kelompok dan individu Hanson (1991) Robbins (1996) 1. Iklim organisasi dan gaya pribadi individu 4. Struktural 2. Teknologi 4. Teknolog i i 3. Manusia 4. Manusia 1.

Kebutuhan untuk berubah sudah jelas. Atas dasar itu. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Namun. 1992. dan jenis pendidikan termasuk Sekolah Dasar sebagai bagian dari pendidikan dasar. 1993). maka perubahan yang dilakukan tidak memberikan kontribusi terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu. pendidikan dasar yang bebas ifree basic education) harus dijadikan prioritas utama di dalam membangun suatu masyarakat Indonesia baru yaitu suatu masyarakat demokratis (Tilaar. 1980. Pendidikan dasar yang termasuk hak dari semua warga negara merupakan fondasi dari suatu masyarakat yang demokratis. Gambaran umum sebagai indikasi rendahnya mutu pendidikan Indonesia terlihat dan Human Development Index tahun 2004 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 111 di bawah Malaysia (058). Kotter. Oleh sebab itu. pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 3 UU RI No. Salah satu masalah pokok yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). hal yang mungkin tidak begitu jelas adalah apa sebenarnya perubahan itu dan bagaimana caranya melakukan perubahan tersebut (Morgan. Fungsi pendidikan tersebut diemban oleh setiap jalur. 1996). Ivancevich & Donnely. 2000).3 Schein. Scheerens. organisasi harus berubah (Morgan. jenjang. 2002). dalam kenyataannya pendidikan masih menghadapi berbagai permasalahan. Tyson & Jackson. Apabila ketidakjelasan tersebut juga teijadi dalam dunia pendidikan. Gibson. 1993. Thailand . 1996.

. -r. Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada pendapat yang dikemukakan Steers (1977). Sementara itu. Perbedaan pandangan terlihat pada pendapat Robbins (1996) yang memasukkan unsur setting fisik dalam perubahan organisasi.1. namun perubahan sistem yang dimaksudkan oleh Steers berkaitan dengan tugas-tugas.anggota organisasi. aspek organisasi .ubungan dengan unsur-unsur organisasional yang akan berpengaruh dalam proses perubahan. Sementara itu. . Menurut Steers (1977). kelompok. perubahan setting fisik merupakan bagian dari perubahan struktur dan tugas. dapat dijelaskan bahwa secara umum terdapat kesamaan pandangan mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. aspek kelompok menyangkut hubungan antar pribadi ^ng harus dibangun untuk mendukung proses perubahan. prosedur keija dan kebijakan guna mendukung perubahan struktur organisasi. Griffin dan Moorhead (1986) menyebut hal ini dengan istilah perubahan individu dan kelompok.30 Melihat perbandingan pendapat para ahli mengenai fokus perubahan dalam pengembangan organisasi sebagaimana tampak pada tabel 2. perubahan organisasi dapat ditujukan terhadap aspek ndividu.nggota organisasi sebagai pribadi sehingga memerlukan strategi yang bersifat r' badi pula. dan aspek organisasi. artinya perubahan struktur organisasi dan tugas-tugas yang sudah dilakukan diikuti dengan perubahan setting fisik tempat orang-orang atau anggota organisasi itu bekerja. Walaupun Steers tidak menyatakan aspek perubahan yang berkaitan dengan tugas secara eksplisit. Terakhir. Aspek individu berhubungan dengan . perubahan individu dan iklim organisasi termasuk ke dalam aspek perubahan yang ditujukan kepada manusia atau anggota. Sebenarnya.

Perubahan teknologi berarti mengubah peralatan. yaitu perubahan yang terutama ditujukan pada: (1) pribadi individu. teknologinya.html. '7/7 any change. alur kerja. atau peran anggota organisasi.2. it is usually easier t o change the structures and system than to change the culture. pelatihan. hubungan. sikap. . 1982) menyatakan bahwa pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan cara mengubah strukturnya. Dengan demikian. atau metode produksi. Therefore. 2003:38). teknik memproses. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Walaupun ada beberapa fokus perubahan yang dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi. Perubahan struktur mencakup penyusunan kembali sistem internalnya.toolpack. tugas. diakses tanggal 9 Februari 2005). namun perlu diingat bahwa "The premise of organizational development is: Orgamzations are social systems m which people are strongly influenced hy the rgamzationa/ culture. dan atau manusianya. atau teknologi. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan budaya merupakan hal ^ngesensial dalam pengembangan organisasi. ada tiga pendekatan umum yang dipakai untuk melakukan perubahan secara berencana. 1977).31 Berdasarkan hal tersebut. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi mencakup perubahan seleksi. seperti garis komunikasinya. atau hirarki manajerial. hange(http://www. Perubahan terhadap orang-orang dalam organisasi bukan merupakan hal yang mudah dibandingkan dengan perubahan struktur.com/services. the most potent tool for improvemen/ is cultural . dan (3) iklim organisasi dan gaya hubungan antar pribadi (Steers. " (Tee. Leavitt (dalam Stoner. (2) struktur dan sistem organisasi.

Rancangan Perubahan dalam Pengembangan Organisasi Aspek Teknik Intervensi Hasil Langsung Asumsi Mengenai Perubahan yang Dituju Penyebab Utama Perilaku dalam Organisasi Pribadi Individu Edukasi. mem hubungan antara mereka perkecil para anggota mempelajari cara konsekuensi organisasi baru untuk disfungsi dan kon bereaksi dan flik sosial dan per berhubungan satu saingan yang amat sama lain dalam ketat konteks organisasi . pendidik Perbaikan tingkat Perilaku dalam an/latihan.2. yang berikan imbalan ditentukan oleh mempengaruhi apa pada prestasi ang karakteristik yang dikerjakan gota yang mem situasi organisasi orang dalam tugas perlancar tercapai tempat orang nya tujuan bekerja organisasi Iklim organisasi Teknik eksperimen Menciptakan iklim Perilaku dalam dan gaya yang ditujukan un keseluruhan organisasi hubungan antar tuk meningkatkan organisasi yang terutama pribadi kesadaran anggota bercirikan tingkat ditentukan oleh akan faktor kepercayaan antar proses emosi dan penentu sosial dari pribadi dan sosial yang perilaku mereka keterbukaan yang mencirikan dan membantu tinggi.32 pendekatan -engembangan organisasi hendaknya memberikan penekanan pada perubahan budaya Tabel 2. sosiali keterampilan sikap organisasi sasi. prosedur dan disi yang menim organisasi kebijakan yang bulkan dan mem terutama berlaku. perubahan dan motivasi terutama sikap manusia ditentukan oleh karakteristik setiap anggota organisasi Struktur dan Modifikasi prak Menciptakan kon Perilaku dalam sistem organisasi tek.

Alasannya adalah karena keefektifan organisasi dapat diwujudkan apabila didukung oleh budaya organisasi yang kuat.33 organisasi (organizational culture) yang mempengaruhi cara orang-orang bekerja. .

dan fokus perubahan individu/manusia dipelajari dan cara-cara yang digunakan kepala sekolah untuk mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi. fokus perubahan teknologi dilihat dari pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM. Gerakan Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu pengalihan otontas pengambilan keputusan atau mengurangi cara-cara pengambilan keputusan secara terpusat yang sudah menjadi kebiasaan di masa lalu. Desentralisasi merupakan sa'ah . Manajemen Berbasis Sekolah 1. yaitu. (1) sentralisasi yang terlalu berlebihan.Bertitik tolak dari uraian di atas. Pengkajian fokus perubahan tersebut berada dalam kerangka perbaikan manajemen sekolah dan transparansinya serta peningkatan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. B. yaitu dengan membentuk Dewan Sekolah dan Paguyuban/Forum Kelas. maka fokus perubahan dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikaji dari sisi perbaikan struktur organisasi sekolah. 1991). (2) kepemimpinan lokal yang efektif adalah sangat penting. Sementara itu. pengawasan secara birokratik terhadap sekolah-sekolah mesti diakhiri. dan (3) tiap sekolah harus diberi kebebasan dan persyaratan yang fleksibel untuk merespons secara kreatif tujuan pendidikannya secara menyeluruh guna memenuhi kebutuhan para siswa. Munculnya Manajemen Berbasis Sekolah erat kaitannya dengan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi. Dasar pemikiran Dasar pemikiran dari SBM diartikulasikan oleh Carnegie Foundation (Hanson.

menurut Nurhadi (2004).-a peningkatan mutu pendidikan. Pada satu • desentralisasi pengelolaan pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang —e-gandung ekspektasi. . ada kemungkinan desentralisasi pendidikan -5tru dapat menimbulkan jurang yang makin lebar antara si kaya dan si miskin aar.35 satu isu yang amat populer pada akhir-akhir ini. 2000:88). Di samping itu. „ entralization is necessary bui not sufficient t o improve the quahty of education. 2000).ukakan sebagai benkut. khususnya di Indonesia sebagai dampak reformasi di segala bidang termasuk pendidikan (Mantja. serta (c) ideologi dan filsafat. 2002). (b) politik. " ~ aar. namun di sisi lain desentralisasi belum tentu dapat menjamin . maka .-a. ^-iN-adilan dan ketidak-jujuran jangan-jangan malah lebih sentralisasi (Hamidjojo. Inti dan pendapat tersebut : • —.olahan di daerah yang semula dikelola secara lebih sentralistik sekarang harus e r h didesentralisasikan. seperti konsentrasi ■ ek jasaan pada beberapa orang atau golongan seperti pada sistem sentralistik. Penyebabnya adalah karena implementasi desentralisasi masih menimbulkan berbagai kekhawatiran. yaitu. Melihat berbagai fenomena desentralisasi tersebut. (a) _:—istratif. Ada berbagai alasan yang mendorong perlunya desentralisasi pendidikan. pergeseran wewenang yang begitu r^i: sebagai dampak dari desentralisasi pemerintahan seharusnya diikuti dengan -_eseran paradigma dalam seluruh aspek manajemen pendidikan tingkat -■r--e-. pertimbangan administratif menitikberatkan . I Oleh karena itu. Pertama. a Nur (2001) menyimpulkan rasional desentralisasi ke dalam tiga aspek.-atian pada efisiensi .

pencapaian tujuan pendidikan dan berupaya menghilangkan a—. dan apalagi dari personel penyelenggara dan pelaksana pendidikan. (2) kurangnya persaingan antar daerah dalam memajukan pendidikan karena tuntutan nasional yang seragam. akibat rasa takut melanggar aturan dari pihak atasan. yaitu adanya keterikatan secara kaku terhadap aturan dalam melaksanakan tugas sehingga berkurang sikap inovatif. secara ideologi dan filsafat munculnya desentralisasi didasarkan atas keyakinan pemberian otonomi yang lebih besar mendorong tercapainya tujuan yang diinginkan baik oleh individu maupun masyarakat. Sentralisasi telah menimbulkan sikap patuh yang pasif (passive comformity). sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pendidikan. (5) adanya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat atas pendanaan. yang jika dipertahankan sistem lama dapat berdampak munculnya kekacauan. kurikulum. Terakhir. dan (7) kurangnya kemandirian lembaga pengelola dan pelaksana pendidikan karena besarnya ketergantungan kepada pemerintah pusat. Di samping faktor-faktor di atas. Kedua. (3) tuntutan masyarakat untuk mandiri sesuai dengan kemampuan daerah untuk menyelenggarakan dan memajukan bidang pendidikan. fasilitas. yaitu. (1) terjadinya tuntutan reformasi di segala bidang. menurut Soetopo (2004a) terdapat sejumlah faktor yang mendorong desentralisasi di bidang pendidikan di Indonesia.banan dalam praktek manajemen pendidikan. sekolah. secara politis perkembangan zaman menuntut adanya keikutsertaan dan wewenang daerah dalam pengambilan keputusan. . (6) kurangnya kreativitas daerah. termasuk bidang manajemen pendidikan. (4) ketidaksesuaian tuntutan nasional dengan potensi sumber daya di daerah.

4 Keanekaragaman aspirasi dan nilai serta norma lokal harus dihidupkan sebagai akar yang kokoh demi tegaknya sistem pendidikan nasional dan negara kesatuan. 2. Dalam berbagai literatur.37 Menurut Hamidjojo (2000). istilah-istilah yang digunakan dalam membahas School-Based Management adalah. Kualitas pelayanan yang diberikan mestinya dapat menghapus persepsi negatif dari penerapan sistem sentralisasi dalam dunia pendidikan selama ini. 3 Pelayanan harus lebih cepat dan efisien. Oleh karena itu perlu dibangun mekanisme hubungan kerja antarkomponen strategis di daerah dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas. yaitu: 1. Pola dan asas keija harus demokratis berlandaskan nilai-nilai dasar desentralisasi. ekonomi. 2. agar desentralisasi pendidikan dapat diterapkan dengan baik diperlukan sejumlah persyaratan krusial yang perlu dipenuhi. SARA dan ekses anarcho-ethnocentrism. Shared Decision . Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah Terdapat berbagai istilah yang dipakai berkaitan dengan Manajemen Berbasis Sekolah {School BasedManagement). Otonomi pada hakikatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau suatu lembaga atau suatu daerah. pendidikan. Dalam menerapkan desentralisasi harus mampu menghapus segala bentuk diskriminasi politik. sosial budaya. bukan semata-mata kewibawaan atau kekuasaan pemerintah daerah. Manajemen desentralisasi bukan hanya memperhatikan stakeholders tetapi justru berfokus pada peranserta seluruh lapisan masyarakat. karena itu yang diperlukan adalah usaha empowerment. Pemberdayaan rakyat dalam pendidikan harus menjadi tujuan utama.

(2) personel sekolah dan anggota masyarakat dapat meninggalkan perilaku rutinitas dengan menunjukkan perilaku mandiri. 2002a).Makmg. fungsi-fungsi manajemen sekolah yang semula dikerjakan oleh pemerintah pusat/dinas pendidikan propinsi/dinas pendidikan kota/kabupaten. School Empowerment. Self-Managmg X hool. Lewis. 1991. dan profesional. Ceperley. (1) sekolah bersifat otonom dan berkedudukan sebagai unit utama (selama ini sekolah ditempatkan sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal). 2003. sebagian dari fungsi itu dapat dilakukan oleh sekolah secara profesional (Depdiknas. koordinatif. integratif. Johnston & Germinario. sinkronistis. luwes. Hanson. dan (3) peran sekolah yang . Cistone. dalam Cotton. Mohrman. sinergis. Si t e-Based Management. Responsible Autonomy. Decentralized Authority. dampak perubahan pola manajemen tersebut terhadap sekolah adalah. Manajemen Berbasis Sekolah pada hakikatnya adalah pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada kepala sekolah dengan melibatkan partisipasi individual. Wohlstetter & Associates. Artinya. School-based Decision Making. baik personel sekolah maupun anggota masyarakat. Fernandez & Tornillo. proaktif. 2000). 1994. Dengan demikian. School-site Autonomy. 1992. dan Administrative Decentralization (Lindquist & Mauriel. Shared Governance. School-based Governance. Caldwell & Spinks. Lebih lanjut dikemukakan. Cromwell. 1989. penerapan Manajemen Berbasis Sekolah akan membawa perubahan terhadap pola manajemen pendidikan dan sistem sentralisasi ke desentalisasi. kooperatif. kreatif.

Marburger dalam Lindquist dan Maunel. board) often composed of principals. personnel. parents greater control over the education process by giving them responsibility for decision about the budget. Some formal structure (council. teachers.majemen Berbasis Sekolah dari sisi pendelegasian kekuasaan dan keputusan. 2001:7). pengertian Manajemen Berbasis Sekolah adalah sebagai berikut: A strategy to improve education by transferring significant decision. Menurut Office of Educational Research and Improvement (OERI) dari the US Departemen of Education (dalam Sutjipto. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi tentang Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh para ahli. students. and the curriculum. bahwa sekolah merupakan unit utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan oleh karena itu ekolah harus diberi otoritas dalam pengambilan keputusan. Selanjutnya. teachers. Malen. personnel and program is delegated to and often distributed among site-level actors. . team. 1989:404) menyatakan pula batasan mengenai '•'. Some formal authority t o make decision in the domains of budget. provide principals. 1994:56) mengemukakan definisi Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut: School-based management can be viewed conceptual/y as a formal alteration of governance structures. and at times. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. student and community residents is created so that site participants can be directly involved in school-wide decision making. as a form ofdecentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvements might be stimulated and sustained.making authority from state and district offices to individual school. Hal pokok yang terkandung dalam pendapat di atas adalah. committee. parents.39 selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-din tinggi (self-motlvator).

Beberapa otoritas formal pembuatan keputusan yang dimiliki sekolah menyangkut anggaran. and students of the local school. untuk meningkatkan partisipasi personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dibentuk dewan atau komite sekolah yang beranggotakan kepala sekolah. SBM menurut OERI (dalam Sutjipto.:engan pernyataan sebagai berikut: SBM is defined as a decentralized organizational structure in which the power and decisions formerly made by the superintendent and school board are delegated to the teachers. dan masyarakat. parents. Terdapat beberapa prinsip yang melekat dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah. prmcipal. . Dengan demikian. SBM menurut Marburger (dalam Lindquist dan Mauriel. Pada hakikatnya. 1994) tentang SBM sekolah dipandang sebagai unit utama peningkatan mutu. Konsep yang terkandung dalam definisi yang dikemukakan Malen. konsep SBM berdasarkan ketiga pendapat tersebut adalah pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada sekolah. 2001) merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan dengan cara memberikan otoritas pembuatan keputusan kepada sekolah. Sementara itu. guru. siswa. community members. personel dan program yang didelegasikan dan didistribusikan kepada aktor-aktor di tingkat sekolah. yaitu. Selain itu. di samping mempunyai tanggung jawab yang besar dapat melakukan kontrol yang lebih luas terhadap proses pendidikan di sekolah. 1989) merupakan desentralisasi struktur organisasi. (1) partisipasi dalam pembuatan keputusan dengan dewan sekolah yang melibatkan konstituen sekolah akan menumbuhkan rasa memiliki bagi konstituen itu. Ogawa dan Kranz (dalam Ogawa & White. personel sekolah. orang tua dan masyarakat. Untuk mendukung peran dan posisi tersebut dilakukan pembagian otoritas pengambilan keputusan. orang tua.

Mantja (2002) melihat persoalan di atas terkait dengan dua pertanyaan mendasar. yaitu. (Jawa Pos. dan (3) implementasi sistem pembuatan keputusan terdesentralisasi akan mendatangkan sumber-sumber (076) bahkan Filipina (083). Permasalahan mutu pendidikan yang masih rendah bukan hanya muncul saat ini saja. telah berlangsung dalam kurun waktu lama dan terus menerus yang antara lain disebabkan oleh mismanagement.(2) otoritas didelegasikan from the school board to central administration to the school building to the site council. melainkan sudah merupakan masalah yang berlangsung cukup lama. Menurut Sutjipto (2004). Selanjutnya ia memandang bahwa selama ini peningkatan mutu pendidikan cenderung melalui manajemen yang sentralistik. (a) apakah aktualisasi kegiatan pendidikan berpijak pada landasan yuridis dan kebijakan pelaksanaannya?. Keadaan khusus pada jenjang pendidikan dasar. secara kasatmata dapat dilihat bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengalami krisis yang dalam. Penyelesaian permasalahan di atas menuntut adanya perhatian serius dari pemenntah dengan mengkaji secara sistemik berbagai faktor strategis penyebab rendahnya mutu pendidikan. 2004). . dan (b) apakah kegiatan pendidikan dikerjakan atas dasar manajenal dan oleh personel yang memiliki keterampilan manajemen pula?. Lebih khusus lagi. terlihat dari hasil studi yang dilakukan oleh lembaga International Educational Achievement (IEA) yang menunjukkan kemampuan membaca murid Sekolah Dasar Indonesia berada pada urutan ke-38 dan 39 negara yang diteliti (Hadiyanto. Bafadal (2003) menyatakan peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar hanya akan terjadi secara efektif bilamana dikelola melalui manajemen yang tepat. 2004).

seperti kehadiran. tingkat pengulangan. dan melakukan perubahan terencana (Sagala. dan guru. mengelola sekolah. (c) keefektifan melakukan pembinaan peserta didik. Perubahan aspek-aspek manajemen sekolah tersebut digambarkan dalam tabel 2. and money for staff development. politik. merancang ulang sekolah. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dihadapkan pada keadaan vang menginginkan status quo dan faktor lain yang menghendaki perubahan. 1989). berdasarkan berbagai pengamatan dan analisis. 2002a). and the development of the organizational infrastructure to support this . seperti. (b) pemanfaatan sumber daya lokal menjadi lebih optimal dalam penyelenggaraan sekolah. hasil belajar. Wohlstetter dan Associates (1994:50) menyatakan: The transition itself a substancial commitment of time. 1987). implementasi merupakan transisi dan keadaan sosial. (a) kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada siswa. 2004). memberdayakan guru. sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara pembiayaan secara signifikan (Lindquist & Mauriel. Implementasi SBM di sekolah mempunyai konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen sekolah dan pola lama ke pola baru (Depdiknas. moral guru dan iklim sekolah. mnovation. Dilihat dari sisi proses kebijakan. dan ekonomi sebelum kebijakan dianut kepada konfigurasi baru yang berbeda (Sutjipto. Sebagai proses transisi. tingkat putus sekolah. Mohrman.3. Otonomi dan kewenangan sekolah yang memadai dapat meningkatkan efektivitas sekolah serta memberikan beberapa keuntungan.6 Selanjutnya. dan (d) adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. orang tua siswa.

. Oleh karena itu. pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah harus dilakukan secara berencana.new way of functioning.

.

► Pengambilan keputusan . "Unfreezing" adalah merubah atau membongkar kebiasaan. yaitu. "Unfreezing" terjadi . rubahan berencana terjadi melalui tiga tahap. svstem after the change is unplemented (Duncan & Kurt Lewin dalam Sutarto. dan (3) refreeztng. Dimensi-dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Subordinasi Pengambilan keputusan terpusat — --------.► Memfasilitasi -----------Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian ! Organisasi hirarkis Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Ruang gerak luwes -----------. dan tradisi lama -Daya mereka siap untuk menerima alternatif-alternatif baru. (2) imtiating the change.► Otonomi partisipatif Ruang gerak kaku Pendekatan birokratik Sentralistik Diatur Overregulasi Mengontrol Mengarahkan Menghindari resiko : Gunakan uang semuanya -----------.► Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi -----------. 2001 191). or stabihzmg :.► -----------.3. (1) unfreezing the system rpreparing it for change.41 Tabel 2.► w Pendekatan profesional Desentralistik -----------.

kurikulum dan penilaian (Tim Penulis Direktorat TK/SD. Hasil kajian tentang implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat. Nepal dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. perlu waktu dan keberanian untuk berubah. personalia. Pada suatu ketika akan terjadi situasi individu telah cocok untuk berubah sehingga mereka siap untuk menerima pola-pola perilaku baru. studi yang dilakukan di El Salvador. Selanjutnya. 3. "Refreezing" merupakan proses dimana perilaku yang baru diperoleh telah berintegrasi dengan pola perilaku dan kepribadian individu. mengingat . Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam hal anggaran.42 . Namun.pabila kekuatan-kekuatan yang mendorong perubahan ditingkatkan atau kekuatankekuatan yang melawan perubahan dikurangi. yang dilakukan atas keqa sama Lembaga Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta dengan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta tahun anggaran 1998/1999 menunjukkan bahwa "pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah masih sangat sulit. Pusat Kurikulum. Meksiko. UNESCO & UNICEF. 2003). "Internalization" timbul apabila individu ditempatkan dalam situasi perilaku baru dan mereka dituntut untuk berhasil melakukan tugas itu. contoh lain yang ada di Indonesia adalah hasil analisis Program Ujicoba Pemberdayaan Masyarakat dalam Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar di DKI Jakarta. Proses "changmg" sebagian besar timbul karena adanya "identification" yang timbul apabila suatu model diterapkan dalam lingkungan organisasi.

43

selama puluhan tahun manajemen sekolah bersifat sentralistis." (Tilaar, 2002:43). Berdasarkan keadaan tersebut, hal utama yang direkomendasikan oleh Tim Ujicoba untuk diubah adalah manajemen tingkat pejabat atau birokrat, karena seluruh manajer sekolah hingga saat ini masih "sangat patuh" dengan pimpinan, sehingga jika ada hal-hal yang bersifat inovatif mereka sangat takut untuk mengubahnya, karena dipandang tidak sesuai dengan standar baku yang ditetapkan. Di luar negeri, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi telah banyak dilakukan. Mort (dalam Kimbrough dan Burkett, 1990) telah melakukan penelitian tentang proses perubahan terencana di awal tahun 1950-an. Hall dan Hord (1987) meneliti perilaku kepala sekolah dan peningkatan sekolah yang berhasil pada the Reseacrh and Development Center for Teacher Education at the ■uversity ofTexas, Austin. Fokus penelitiannya diarahkan pada Change Facilitator Sty le. Firestone dan Corbett (dalam Cotton, 1992) meneliti "Planned Organizational hange " dengan fokus how the change process should be managed so as to lead to r sitive results. Menurut Cotton (1992), Mutchler juga telah melakukan penelitian tentang "Eight Barriers to Changing Traditional Behavior" Prestin dan Bowen 1993) memfokuskan penelitiannya pada asesmen perubahan di empat sekolah dalam usaha restrukturisasi pendidikan. Hasil penelitian Lewin, Coch, French, Benne dan Chin (dalam Schein, 1980) menunjukkan bukti bahwa salah satu cara terbaik untuk membantu melaksanakan perubahan ialah dengan melibatkan sistem yang terkena angsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Semakin banyak sistem itu berpartisipasi dalam menentukan bagaimana mengelola suatu perubahan, semakin •

44

urang kemungkinannya untuk menentang perubahan itu, dan semakin mantaplah perubahan itu teijadi. Hasil penelitian klasik tentang how resistance to change may be managed\ dikemukakan Robbins (1984:184), yaitu: "There is a strong beliefheld by those people actively engaged in OD that changes are more likely to be accepted by individuals who have been given a voice in determining the content and process of the change". Selanjutnya, Goodlad (dalam Owens, 1991) melakukan penelitian tentang problem of personal and institutional renewal m education. Demikian pula penelitian Fullan, Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD, seperti dilaporkan Owens (1991). Hasilnya menunjukkan proyek OD bersifat parsial, tidak tuntas, aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Di samping itu, penelitian-penelitian yang mengkaji tentang implementasi kebijakan School Based Management juga telah banyak dilakukan di luar negeri. Lindquist dan Mauriel (1989) melakukan penelitian dengan judul School Based Management: doomed to failure?. Data penelitiannya membuktikan, terdapat tiga masalah yang umumnya muncul sebagai hambatan pengembangan SBM, yaitu; (1) kekeliruan konseptual dalam pengembangan SBM, (2) kurangnya motivasi untuk mendelegasikan otoritas ke sekolah-sekolah, dan (3) persyaratan yang berat tentang waktu dan keterampilan yang dituntut dalam implementasi SBM. Temuan lainnya, berdasarkan data ia mengakui bahwa (a) SBM memerlukan suatu perubahan dalam gaya manajemen sekolah, dan (b) tidak adanya dukungan yang kuat oleh pengawas merupakan bukti council's conflict dengan dewan. Selanjutnya, Cotton (1992) telah

45

mereview 42 buah penelitian tentang implementasi SBM. Misalnya, Site-Based ' fanagement: Its Potential for Enhancmg Learner Outcomes yang dilakukan Arterbury dan Hord (1991), School Based Management: Are We Ready? oleh Caldwell dan Wood (1988), dan School BasedManagement/Shared Decision Making in Dade County (Miami) oleh Cistone, Fernandez dan Tornillo (1989). Penelitianpenelitian tersebut lebih memfokuskan pada hakikat dan hasil Manajemen Berbasis Sekolah. Berdasarkan kepustakaan yang teijangkau, di Indonesia terdapat pula beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Penelitian terkait, antara lain, dilakukan oleh Bafadal (1994). Ia meneliti proses perubahan di sekolah dasar yang difokuskan pada; (1) proses implementasi inovasi pendidikan ditinjau dari pengubahan latar struktural dan tingkah laku, (2) faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi inovasi, dan (3) peran agen perubahan dalam proses implementasi inovasi. Aswandi (2001) meneliti Perubahan Organisasi Perguruan Tinggi Swasta dari Manajemen Keormasan ke Manajemen Profesional, dengan fokus; proses perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan. Lengkong (2004) meneliti Strategi Perbaikan Sekolah Berdasarkan Perspektif Guru pada tiga SLTP di Minahasa dengan fokus proses perbaikan internal individual guru dan dampak dan proses perbaikan internal guru terhadap perbaikan kineija sekolah. C. Pengembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Uraian berikut ini mencoba mengelaborasi konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berdasarkan kajian teoretis yang

Ada pertanyaan pokok yang perlu dijawab.h.• an mengenai budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi. dan transparansi". maka ada tiga pilar yang dikembangkan yaitu (a) manajemen : . (2) • . yaitu (1) peningkatan mutu. i b) metode pembelajaran dengan menerapkan metode PAKEM. (3) partisipasi.emen Berbasis Sekolah ini dengan "empat pilar keberhasilan MPMBS a-a/emen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah). -erta masyarakat (Subakir & Sapan..46 sudah dikemukakan sebelumnya.. . . Hal ini sekaligus merupakan kerangka berpikir dari penelitian yang dilakukan._i?at tersebut.ngkatan mutu pendidikan (quality-improvement orientedSBM)". Berdasarkan pada pendapat. 2001). Setelah pembahasan ketiga pilar tersebut. maka kajian pengembangan organisasi dengan pendekatan . dan (3) .emen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada tiga pilar berikut i i manajemen sekolah dan transparansi. —.andinan. Kemudian mencermati apa yang sudah diterapkan pada sekolah-sekolah yang dijadikan f—ra* ujicoba MBS. Supriadi (2004:19) menyatakan bahwa '•'BS pada dasarnya adalah MBS yang secara khusus diarahkan pada upaya r*r. selanjutnya . . (2) metode pembelajaran. . yaitu apa yang dikembangkan —elakukan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis v r • ah Bafadal (2003:93) menyebutkan aspek yang dikembangkan dalam --_.^rta masyarakat.r-. dan (c) -.

Subakir & Sapan. 2001. 1989. 2005)... 1989. 1991. memiliki kewenangan yang sangat . 1989.47 Manajemen sekolah dan transparansi Ada beberapa argumen perlunya perbaikan atau peningkatan manajemen ah dan transparansi. kepala sekolah perlu melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Hanson. Hal ini sesuai dengan ide dasar yang melandasi lahirnya . Kewenangan terbatas yang dimiliki sekolah harus dimanfaatkan secara efektif efisien. maka pola pengambilan keputusan ditekankan pada partisipasi personel sekolah dan masyarakat (Malen. Mulyasa. Bafadal. Wohlstetter & Associates. dalam Lindquist & Mauriel. bahwa selama ini secara institusional sekolah kurang _ ■ --ca. ■ . Mohrman. Pengembangan manajemen sekolah dititikberatkan pada aspek kemandirian sekolah dengan ciri utama pada keterbukaan atau transparansi (Subakir & Sapari. 1994. 1991. 2001. Depdiknas. 2001. Kemandirian sekolah dipengaruhi antara lain oleh sampai sejauh mana kevvenangan yang diberikan dinas pendidikan kepada -ekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Hanson. 2004)._ emen Berbasis Sekolah. Depdiknas. dan kurang transparan dalam pengelolaan keuangan (Marburger. Sutjipto. Oleh karena itu. akan dalam penyelenggaraan pendidikan.kurang melibatkan personel sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Supriadi. 2002a). Alasannya adalah karena salah satu konsep pokok Manajemen Berbasis Sekolah adalah pelimpahan kewenangan kepada -ekolah dalam pengambilan keputusan (Marburger dalam Lindquist & Mauriel. 2003. L ndquist & Mauriel. Ogawa & Kranz dalam Ogawa & . 2002a. Dengan menggunakan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.

Supriadi.olah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dimulai dari penyusunan encana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). tugas-tugas. 1994. pelaksanaan. Depdiknas. maka pengembangan manajemen sekolah : akukan dengan cara merubah struktur organisasi. Bafadal. Sagala. pengurus BP3. 2003. Depdiknas. dan masyarakat. 2001. termasuk masalah keuangan. Kesemuanya itu diawali dengan perubahan struktur organisasi Komite Sekolah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.' anisme keija.48 White. 2002a.iluasi program sekolah. dan . Subakir dan Sapari (2001) menyatakan: Kepala sekolah sebagai pemimpin puncak di sekolah bahkan tidak tanggung-tanggung dalam menerapkan transparansi manajemen keuangan. UNESCO & UNICEF. . dan prosedur atau . 2002a. RAPBS disusun bersama guru. 2003. Untuk mewujudkan hal di atas. Bahkan banyak SD yang memberikan kepercayaan sepenuhnya masalah keuangan BP3 kepada bendahara BP3 yang berasal dari 'orang luar' (baca: bukan guru). Berkenaan dengan hal ini. Direktorat TK/SD. Puskur. 2004). Pembentukan struktur tersebut diikuti dengan perubahan tugas-tugas dan mekanisme keija antara sekolah dan Komite Sekolah. Hasilnya dipajang di tempat terbuka dan dengan mudah dibaca oleh siapapun. Nurkolis. 2004). Penyelenggaraan manajemen sekolah yang memiliki ciri keterbukaan atau transparansi merupakan salah satu ciri dari sekolah yang melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah (Subakir & Sapan. . Transparansi manajemen sekolah dilakukan dengan cara menyampaikan program yang akan dilaksanakan sekolah dan melaporkan hasil pelaksanaan/evaluasinya. 2003. Pelibatan personel r -.

Hal tersebut sesuai pula dengan • .49 Pendapat di atas mempunyai arti bahwa dalam pengembangan organisasi dengan Manajemen Berbasis sekolah. pengertian teknologi dalam bidang pendidikan adalah sebagai berikut: Metode bersistem untuk merencanakan. upaya penyelenggaraan pendidikan di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.rakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada aspek proses belajar mengajar. sekolah telah melakukan perubahan dengan mewujudkan transparansi manajemen sekolah terutama menyangkut keuangan -ekolah. Berdasarkan . Istilah teknologi mempunyai banyak arti. Perubahan teknologi dalam kerangka pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan dengan cara penerapan metode pembelajaran aktif. Dengan demikian. dan menyenangkan (PAKEM). efektif. karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar (Mulyasa. Pembaruan metode rembelajaran menjadi bagian dari pembaruan sistem yang merupakan salah satu ciri rengembangan organisasi (Owens. 2002a). 2005). 2. 1991). yaitu _danya usaha sekolah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa (Depdiknas. Pembaruan metode pembelajaran Salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi berkaitan dengan teknologi. Hal ini sekaligus merupakan bentuk akuntabilitas sekolah kepada masyarakat. baik sumber teknis maupun manusia dan interaksi keduanya sehingga mendapatkan bentuk pendidikan yang lebih efektif. kreatif. menggunakan dan menilai seluruh kegiatan pengajaran dan pembelajaran dengan memperhatikan.

Puskur.50 uraian tersebut. Selanjutnya. dikemukakan bahwa pengenalan. UNESCO & UNICEF. Pembaruan metode pembelajaran tersebut mempunyai konsekuensi terhadap perubahan tugas-tugas guru dalam mengelola pembelajaran mulai dan . pengembangan. maka dapat dikatakan bahwa pembaruan metode pembelajaran dengan penerapan metode PAKEM merupakan bagian dari kerangkan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan asumsi semuanya itu akan dapat memperbaiki mutu/hasil lulusan (Direktorat TK/SD. 2003).

upaya-upaya untuk mengatasi faktor penyebab kedua dan ketiga tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah selama ini. Kedua. juga tidak dibarengi oleh upaya-upaya dari sekolah yang bersangkutan. UNESCO & UNICEF. Sampai saat ini. .5 merata (Depdiknas. Sementara itu. 2002a. pengambilan keputusan. pemantauan. dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. khususnya guru. antara lain. 2003). Pusat Kurikulum. orang tua siswa. pengadaan buku dan alat pelajaran. evaluasi dan akuntabilitas. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses pendidikan. guru kelas. komite sekolah berkemauan dan bekerja keras berupaya mengembangkan programprogram peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Pertama. Ketiga. Peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar akan terjadi bilamana ada kemauan dan prakarsa dari bawah. Dampak dari manajemen yang sentralistik tersebut dikemukakan Bafadal (2003:37) sebagai berikut: Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar tetap tidak banyak mengalami keberhasilan. Tim Penulis Direktorat TK & SD. penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik. karena selain tidak sesuai dengan kondisi sekolah. kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function. khususnya orangtua siswa. upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan kelihatan masih terfokus pada faktor pertama (menggunakan pendekatan education production function). dan peranserta masyarakat. maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terwujud. di mana kepala sekolah. dan perbaikan sarana prasarana pendidikan telah dilakukan. peranserta warga sekolah.

Hasil penelitian yang dilakukan Balitbang Diknas RI (dalam > _r« hclis. 2003). Implikasi dari semua itu adalah diperlukan kesiapan guru menerima pembaruan dan kesiapan pengetahuan serta kemampuan untuk mengimplementasikan program pembaruan itu dalam bentuk tindakan nyata di kelas. (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. (d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan.: ig dalam Manajemen Berbasis Sekolah" (Subakir & Sapari. 2003) menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian guru tingkat partisipasi orang tua siswa dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah masih rendah (rata-rata . yaitu kemampuan. (a) merancang dan mengelola kegiatan belajar mengajar yang mendorong beragam siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. 2001:13. (f) mengaitkan kegiatan belajar mengajar dengan pengalaman-pengalamannya sendiri.50 merencanakan. Menurut Direktorat TK/SD. dan (g) menilai kegiatan belajar mengajar dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus. peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan . sekolah dan guru. 1 28) Selama ini. Puskur. iang masih rendah. Mulyasa. (b) menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam. "Peranserta masyarakat merupakan salah satu aspek >_ -. Puskur. Peningkatan peranserta masyarakat Pendidikan bukan hanya kewajiban pemerintah. melaksanakan dan mengevaluasinya. (e) menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. 3. tetapi juga ~enjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat (Direktorat TK/SD. UNESCO & UNICEF (2003) ada tujuh kemampuan guru yang diperlukan untuk mendukung penerapan PAKEM. ^ESCO & UNICEF.

-angan.-i'akatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan : : • an. Sebagai acuan yang dirujuk untuk peningkatan r». kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan iklim sekolah.asan. dan organisasi k . namun di sisi lain •esarnva partisipasi masyarakat dalam pengelolaan tersebut. orang tua. dan masyarakat M -Kasa. . yang . Pada satu sisi. pertemuan rutin. Sehubungan dengan itu.1%) dan sangat rendah dalam hal menentukan kebijakan program sekolah dan mengawasinya. askan bahwa peranserta masyarakat dalam pendidikan meliputi peranserta . pengusaha.r-eringkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan. kelompok. pemerintah perlu merumuskan secara jelas — . 2003). .-genai bentuk partisipasi dan tugas oprasional organisasi yang mewadahi ->. organisasi profesi. dalam pasal 56 dinyatakan bahwa masyarakat berperan _ . Oleh karena itu. peranserta masyarakat adalah penting. Partisipasi orang tua siswa yang sangat tinggi ialah dalam mengawasi mutu sekolah. peranserta masyarakat merupakan salah satu pilar dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. pembayaran dan bentuk iyuran BPS per bulan dan sumbangan uang gedung untuk siswa baru.51 57.Selanjutnya. keluarga. . pertemuan BP3. mungkin dapat menimbulkan rancunya kepentingan antara sekolah. -anserta masyarakat adalah pasal 54 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. >erta masyarakat tersebut. ~:uk meningkatkan peranserta masyarakat dilakukan perubahan organisasi yang mewadahinya. Perubahan tersebut dilakukan dengan cara membubarkan . dan evaluasi program pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan < ~ e vekolah/Madrasah.

52 organisasi BP3 dan membentuk organisasi baru yang disebut Komite Sekolah.2. 1991:171). individundividu dengan latar belakang yang berbeda atau tingkatan yang berbeda dalam rganisasi cenderung menjelaskan budaya organisasi dalam istilah-istilah yang sama. . Budaya sekolah sebagai sasaran pengembangan organisasi Robbins (1984:171) berpendapat "organizationa/ culture is a perception. bui :f exis(s m the organization. Hoy dan Miskel (I 01:177) menyatakan "culture is manifested in norms. Dalam pasal 56 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Komite Sekolah sebagai lembaga mandiri. each occurring at different levels ofdepth and abstraction ". perubahan struktur organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat telah diikuti dengan perubahan tugas-tugas yang akan dijalankan oleh Komite Sekolah. Berdasarkan hal tersebut. sarana dan prasarana. arahan dan dukungan tenaga.. not m the individual. 4. Pembicaraan mengenai budaya berkaitan dengan "the behavioral norms. Persoalannya adalah apakah perubahan struktur dan tugas-tugas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Secara konkrit. Budaya sebagai norma-norma bersama. and basic ■ umptions. <umptions.ini berarti. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. shared values. perspektif . and beliefs of an organization' (Owens. Tingkatan -daya organisasi tersebut dapat dilihat dalam gambar 2. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

e_getahui dan memahami norma-norma budaya itu. .53 Gambar 2. Norma-norma biasanya tidak tertulis (unwritten) dan -erupa harapan informal.2. 2001:177).1). apabila kita mempunyai perhatian terhadap perubahan perilaku organisasi. N orma-norma itu more visible daripada values dan tacit assumptions\ dengan :emikian mereka memberikan cara-cara yang jelas untuk membantu manusia memahami aspek-aspek kehidupan organisasi. Tingkatan Budaya (Hoy & Miskel. maka penting untuk -. Oleh karena itu. Norma-norma secara langsung mempengaruhi perilaku. mengenai budaya muncul ketika norma-norma perilaku digunakan sebagai elemen dasar budaya (lihat gambar 6.

Nilai-nilai merefleksikan asumsi-asumsi yang mendasari budaya. Pada tingkat abstraksi menengah.imzation" (Hoy & Miskel. Nilai-nilai bersama merupakan karakter dasar dan organisasi dan memberikan organisasi memiliki suatu indentitas. Pola dalam konteks ini berarti struktur atau susunan yang ada di balik perilaku. Tacit assumptions merupakan -remis yang abstrak mengenai hubungan manusia. "dalam mempelajari perilaku manusia diperlukan penelitian mendalam sampai ke inner behavior secara holistik. -ealitas. 5. budaya —. hakekat manusia. dan lingkungan. dan bertolak dari sudut pandang pelakunya" (Faisal. Budaya sebagai tacit assumptions Pada level yang paling dalam. pola perilaku harus dipahami dan diinterpretasikan dan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan anggota kelompok dalam latar budayanya. 1990:13). Nilai-nilai merupakan konsepsi dan apa -ng diinginkan. Dengan perkataan lain. Pola dapat dilihat secara langsung {tangible) atau tersembunyi i intangible). 2001:178). N lai senng didefinisikan "what members should do to be successful in the •v.Budaya sebagai nilai-nilai bersama. Oleh karena itu. kebenaran. Pola dapat diidentifikasikan dengan cara menarik kesimpulan dari perilaku individu atau kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. karena itu dapat dikatakan bahwa budaya merupakan perilaku yang terpola (Ritzer.erupakan manifestasi kolektif dari taat assumptions. Budaya tersusun dari penlaku. Resistensi terhadap pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Upaya pengembangan organisasi sekolah untuk meningkatkan mutu . 1985). -daya didefinisikan sebagai shared va/ues.

Ginnett dan Curphy (2002: 395) menyatakan: "Everybody resists change. Perubahan yang dilakukan mestinya berjalan secara berkelanjutan (sustainability) sehingga peningkatan mutu (quahty improvement) yang menjadi tujuan perubahan itu dapat diwujudkan. Hughes. Selanjutnya. Kotter (1996) menjawab pertanyaan mengapa organisasi gagal melakukan perubahan dengan mengidentifikasi delapan kesalahan. (3) meremehkan kekuatan visi. pengembangan organisasi sekolah tidak terjadi dengan mudah. (7) terlalu cepat menyatakan keberhasilan.pendidikan telah sering dilakukan. (4) mengkomunikasikan visi dengan buruk. Menurut Buchanan dan Huczynski (2004:617) resistensi adalah "an mability or an umvillingness to discuss or to accept change thal are perceived to be damagmg or threatening to the individual'. dan (8) lalai menanamkan perubahan secara kokoh ke dalam kultur lembaga. baik atas dasar inisiatif lembaga sendiri maupun dengan cara mengadopsi suatu bentuk kebijakan baru di sekolah." Selanjutnya. (2) gagal menciptakan koalisi pengarah yang cukup kuat. penyebab kegagalan pengembangan organisasi adalah karena adanya keenganan atau resistensi terhadap program pembaruan yang dikembangkan. yaitu. " Berkenaan dengan hal ini pula. seperti halnya Manajemen Berbasis Sekolah. particularly those who have to change the most. Namun dalam kenyataannya. (1) membiarkan adanya rasa puas diri yang terlalu banyak. (6) gagal menciptakan keuntungan jangka pendek. Robbins (1996) menyatakan salah satu penemuan yang paling baik berdasarkan penelaahan mengenai perilaku tndividu dan organisasi adalah bahwa organisasi dan anggotanya enggan terhadap atau menolak . (5) membiarkan hambatan-hambatan menghalangi visi baru.

Hal ini dapat disebabkan oleh faktor individu dan organisasi. Hal itu c sebabkan karena people dislike uncertainty. dan (c) level individual. 1996. Dalam bentuk pernyataan lain. mereka akan menciptakan hambatan yang signifikan (significcmt barriers) untuk menghalangi perubahan. kecuali apabila perubahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan kepada mereka. bahkan perubahan meningkatkan •etidakpastian. Robbins (1984) mengemukakan bahwa osaha-usaha untuk menghasilkan perubahan akan sering meghadapi resistensi. 1991. Winardi. Konsekuensinya.perubahan. 1986. Griffin & Moorhead. 2000. anggota organisasi menolak pengenalan metode baru karena mereka merasa aman dalam kondisi yang ada dan takut bahwa perubahan yang diperkenalkan merusak hubungan antar pribadi yang ada yang sudah beijalan cukup . Uraian lengkap dari kedua faktor penghalang tersebut dapat dilihat pada tabel 2. individu-individu memerlukan tambahan pengetahuan terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Jones (2004) menyatakan resistensi terhadap perubahan dalam organisasi terdapat pada tiga level. yaitu. Individu dan kelompok cemas bahwa suatu perubahan mungkin berpengaruh terhadap kepentingan mereka. 1977. Steers (1977) menyebut resistensi sebagai faktor penghalang perubahan dalam organisasi. Keengganan atau penolakan terhadap perubahan dalam pengembangan organisasi dapat bersumber dari organisasi itu sendiri maupun dari individu sebagai anggota organisasi (Steers. Siagian. (b) level kelompok. 2002). (a) level organisasi. Sementara itu. Robbins. Anggota organisasi ingin mengetahui bagaimana perbedaan pekerjaan yang ditetapkan akan mempengaruhi mereka. Akibatnya. Pada tingkat pribadi.4. Hanson.

lama. Ini berarti resistensi terhadap perubahan terutama disebabkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan dan karena orang lebih menyukai sesuatu .

58 Tabel 2. Konflik antara sasaran pribadi dan sasaran organisasi a' g sudah dikenal daripada yang masih asing baginya. 9. resistensi ■: . Faktor Penghalang Perubahan dari Aspek Pribadi dan Organisasi Faktor dari Pribadi Faktor dari Organisasi 2 j 4. Persaingan atau konflik antar bagian yang berakibat timbulnya keengganan bekerja sama 3. Sistem imbalan dapat memperkuat status quo 2. 7..4.adi karena sebagian anggota organisasi tidak memahami sepenuhnya alasan suatu . rasa terjamin. dan kekuasaan sebagai akibat perubahan Kekhawatiran terhadap segala yang terasa asmg Kurang identifikasi atau keterlibatan dengan perubahan Kebiasaan Kepentingan menjaga status quo (karena keuntungankeuntungan tertentu) Norma kelompok dan kemantapan peranan Ancaman terhadap hubungan 1. 6. "u~ahan atau pengaruh positif perubahan terhadap organisasi sehingga mereka akan . Riwayat usaha perubahan yang tidak berhasil serta konsekuensinya di masa lalu 8. Biaya yang sudah tertanam dalam keputusan dan kegiatan yang lalu 4. Salah paham mengenal tujuan. 8. . Kekhawatiran bahwa perubahan akan mengacau imbangan kekuatan yang ada saat itu antara kelompok serta bagian 5. Di samping itu. mekanisme atau konsekuensi perubahan Kegagalan melihat kebutuhan akan perubahan Kekhawatiran kehilangan status. Kesalahan pemilihan metode memperkenalkan perubahan 7.--paya untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan resistensi dengan maksud berpartisipasi dalam implementasi program yang dikembangkan. Kekakuan struktur sosial yang ada 11. Iklim organisasi yang sedang berlaku 6. 5. 10 .

Misalnya. (1) rasa takut. 1994). (3) cara yang tidak didasarkan kepada landasan yang kuat. menurut Siagian. (2) penolakan terhadap rem bahan. bahwa penolakan individual : erabkan.59 Sifat dan karakter organisasi itu sendiri juga dapat mempengaruhi sejauh mana '•. hal ini dapat merongrong usaha bersama yang menuju pada -ubahan karena takut perubahan itu akan melanggar wilayah mereka masing.-jbahan dapat diterima dalam organisasi.-. . (2) belajar tugas yang baru. perubahan dalam pengembangan organisasi akan .^rcayaan para anggota organisasi terhadap keberhasilan setiap usaha baru lenyap. (4) takut gagal. struktur imbalan yang erdapat dalam organisasi mungkin dirancang untuk menguntungkan perilaku yang ia Selain itu. 5 pihak-pihak yang terlibat tidak mendapat informasi yang kuat.ghadapi beberapa masalah. Adanya kecenderungan orang untuk menolak setiap perubahan yang dilakukan __ pengembangan organisasi merupakan hal yang manusiawi (Siagian. Alasan ~ e~gapa orang menolak program perubahan dalam pengembangan organisasi. ?utusan dan tindakan-tindakan yang lalu karena sebelumnya sudah diadakan . yaitu..estasi besar (sunk cost) untuk suatu produk atau teknologi tertentu.e-. -agai pesaing mereka. Bahkan usaha- a. aar. (3) . h karena itu.~g Para pimpinan organisasi mungkin menganggap dirinya terikat pada • . (1) takut karena tidak mengetahui. jika bagian-bagian dalam organisasi memandang satu sama lain .a perubahan yang sebelumnya salah kaprah dan tidak berhasil mengakibatkan • . : • emukakan oleh Gitosudarmo dan Sudita (2000).

. dan (4) ketidakpercayaan pada manajemen.60 .i. a perubahan dan kepentingan pribadi. (1) ancaman terhadap maktur kekuasaan. dan (4) . Sementara _ penolakan yang bersumber dan organisasi terdiri dan.rmsak kestabilan interaksi. (3) sistem hubungan. (2) struktur organisasi yang stabil.

6. Hasil analisis ini dijadikan landasan implementasi program pembaruan dengan mempelajari dan menangani berbagai sumber penghalang >ang mungkin timbul. Begitu pula melalui komunikasi dapat disampaikan informasi penting kepada anggota organisasi sehingga mereka dapat memahami secara tepat mengenai alasan pentingnya suatu perubahan dilakukan. pimpinan harus mampu menilai dengan tepat sifat dan -ebutuhan akan pembaruan. pimpinan organisasi perlu memilih metode yang tepat untuk digunakan sehingga pengembangan organisasi dapat terlaksana sesuai dengan yang diinginkan. (c) fasilitasi dan dukungan. (a) pendidikan dan komunikasi. (b) partisipasi dan keterlibatan. Gitosudarmo & Sudita. Berdasarkan hal tersebut. (d) negosiasi dan perjanjian. Perlu diingat bahwa cara implementasi perubahan sama pentingnya dengan perubahan itu sendiri. Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk menghadapi resistensi terhadap perubahan yang dilakukan dalam pengembangan organisasi. 1982. 1986. Kotter & Schlesinger dalam Stoner. . Pendidikan bagi seseorang dapat menambah pemahaman dan pengetahuan serta meningkatkan kemampuan yang mendukung implementasi perubahan. 1996. Robbins. Dengan demikian. 2000). Metode yang dapat dipakai untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan adalah. dan (f) paksaan eksplisit dan implisit (Griffin & Moorhead. (e) manipulasi dan kooptasi. Pendidikan dan komunikasi merupakan salah satu cara yang dapat dipakai pimpinan untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan. adanya kesalahan informasi yang mungkin diterima oleh anggota organisasi dapat diatasi melalui komunikasi.

Akibatnya ada kecenderungan kebijakan pendidikan yang diambil pemerintah pusat kurang dapat memenuhi kebutuhan nyata masyarakat daerah yang semestinya market-driven education. maka perlu dilakukan Selain pendidikan dan komunikasi. wewenang yang diberikan amat terbatas. 2000). serta terdapat berbagai kesulitan dalam mengimplementasikan keputusan (Hamidjojo. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah. sentralisasi pendidikan menimbulkan kesan kurang melibatkan institusi pendidikan dan masyarakat di daerah. sehingga perubahan manajemen pemerintahan tentu berakibat pula pada penataan manajemen pendidikan (Mantja. Namun. 2000).Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kedua faktor terakhir tersebut tidak dapat dipertahankan setelah terjadi gelombang reformasi. Perubahan kedua undang-undang tersebut dituangkan dalam UU RI No. Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk memberikan otonomi ke daerah sehingga dikeluarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Pendapatan Antara Pusat dan Daerah. Berdasarkan hal yang sudah dikemukakan di atas. Alasan umum desentralisasi adalah bahwa dalam pembangunan bangsa terjadi perubahan wawasan dari top-down menjadi bottom-up (Tilaar. 2002). Lahirnya kedua Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk melakukan perubahan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi. tidak jarang pimpinan organisasi . Kalaupun ada. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU RI No. -ggunakan pula partisipasi dan keterlibatan sebagai cara untuk mengatasi rengganan .

rmpunyai peran kunci. untuk mengatasi keengganan terhadap perubahan pimpinan harus mampu . Sering ditemui kegagalan ~r ementasi suatu perubahan disebabkan kurangnya fasilitas dan dukungan. misalnya.terhadap perubahan. pada fase --. Konsekuensinya. maka orang tersebut .rercanaan suatu kegiatan atau dalam proses pengambilan keputusan-keputusan -.-remasan individu atas hilang atau berkurangnya insentif keija.. Jika orang dilibatkan __ am proses perencanaan dan pengambilan keputusan. . melengkapi fasilitas atau sarana pendukung yang diperlukan anggota rgansiasi dalam melaksanakan tugas-tugas baru. dalam negosiasi dan ■:~anjian pimpinan boleh saja menawarkan insentif tambahan atau reward dalam r«r-.aa seberapa orang anggota organisasi atau orang-orang tertentu yang dianggap .n: ng menyangkut implementasi perubahan dalam organisasi. Oleh ■ arena itu.mk lain. Metode ketiga adalah fasilitasi dan dukungan. ~Jerung menerima dan mau menjalankan keputusan yang diambil. sementara mereka idapkan pada tugas yang tidak ringan.-fasilitasi dan mendukung upaya perubahan yang dilakukan dengan cara. cara ini juga ditujukan untuk mengatasi . sehingga individu tetap mempunyai komitmen untuk melakukan .. -idap perubahan. Sudah barang e-. Selanjutnya. Cara ini digunakan. Cara ini dipakai apabila keengganan terhadap perubahan berada .-o nya.:j proses pengambilan keputusan itu dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat. Negosiasi dan perjanjian juga dapat dilakukan untuk mengatasi keengganan .

.

apakah cara ini tetap tidak boleh digunakan? Jawabannya. Sedangkan kooptasi merupakan upaya untuk mempengaruhi pimpinan kelompok yang menolak perubahan dengan cara memberikan peran utama kepada mereka. Keengganan terhadap perubahan juga dapat diatasi dengan cara manipulasi dan kooptasi. manipulasi adalah memutarbalikkan fakta untuk membuat fakta itu tampak lebih menarik. sebelum menggunakan cara paksaan tersebut perlu dijawab lebih dulu pertanyaan yaitu apakah cara-cara lain sudah digunakan secara optimal? Penggunaan berbagai metode di atas harus didasarkan atas pemahaman situasi yang ada. paksaan tetap dipandang tidak baik.61 perubahan dalam organisasi. apabila cara lain tidak lagi efektif. Namun. Manipulasi perlu dilakukan secara hati-hati sehingga maksud yang sesungguhnya dari pimpinan tidak dapat dibaca oleh anggota organisasi. Menurut Robbins (1996). Oleh sebab itu. Apabila perubahan sudah merupakan suatu keputusan organisasi yang harus dijalankan. dan menciptakan desas-desus palsu agar anggota organisasi menerima baik suatu perubahan. jika ditemui beberapa orang individu masih menolak perubahan. maka pimpinan mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk merealisasikan keputusan itu. Apapun alasannya. Apabila kondisi ini gagal diciptakan. maka bukan tidak mungkin pimpinan akan menggunakan cara paksaan. Terakhir adalah paksaan. menahan informasi yang tidak diinginkan. sebab kesalahan memahami situasi dapat menyebabkan kekeliruan yang . bukan tidak mungkin manipulasi akan menimbulkan ketidakpercayaan lebih tinggi di kalangan anggota organisasi.

Artinya. Pertama. keberhasilan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah juga ditentukan oleh sejumlah faktor pendorong. kekuatan dalam diri orang itu sendiri. Tyson dan Jackson (1992) menyatakan kesiapan untuk berubah dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berbeda. analisis yang tepat mengenai sumber penolakan atau keengganan terhadap pengembangan organisasi adalah amat penting sebelum suatu metode untuk mengatasi keengganan tersebut digunakan. Para teoretisi mengemukakan berbagai pendapat mengenai hal ini. Faktor pendorong yang utama berkaitan kesiapan pelaksana sistem baru tersebut (Mulyasa. 2005). Di samping itu. serta kesadaran . Kesiapan ini juga menyangkut kemampuan dalam mengajukan argumentasi dan rasionalisasi dari berbagai sudut pandang untuk mendukung pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. Faktor pendorong pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah Selain ada resistensi. yang meliputi pengetahuan dan keterampilan dasar. implementasi program pengembangan organisasi memerlukan kesiapan untuk meneriman dan melaksanakan perubahan. aparat daerah. masyarakat dan sekolah itu sendiri. Terkait pula dengan faktor pendorong terjadinya perubahan dalam pengembangan organisasi. Oleh karena itu. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kesiapan pelaksana ditentukan oleh para pelaku. antara lain ketulusan pemerintah.62 pemilihan metode. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Intinya adalah. implementasi program yang dikembangkan tidak akan terwujud tanpa adanya faktor-faktor pendorong dimaksud. 7.

Will mencakup aspek sikap. 2005). dan keahlian untuk mengimplementasikan kebijakan baru. Karena kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (Mulyasa.egagalan dalam organisasi. dan konsekuensi yang dirasakan terhadap keberhasilan serta . kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran (Subakir & Sapari. menurut McLaughlin keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh dua faktor. 2001). Berkenaan dengan itu pula. Bahkan ada bukti yang menyatakan bahwa tingkat motivasi dan yang paling pokok adalah harga diri berperan penting dalam kesiapan untuk berubah. 1991). Duke dan Canady (1991) menjelaskan pula bahwa membangun kapasitas lokal untuk implementasi kebijakan dapat menjadi sebuah tantangan karena sumber-sumber yang ada sering terbatas dan pelatihan selalu menghabiskan waktu. . Dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah. yaitu. baik fiskal dan material. motivasi. Sementara itu. dan kepercayaan yang mendasari respons pelaksana kebijakan. Faktor ■ iua adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada sistem yang meliputi budaya dan k:im organisasi. loca/ capacity dan wi/I (Duke & Canady. kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor pendorong yang termasuk ke dalam kekuatan -istem yang ada. menurut Nurkolis (2003) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dan proses pengambilan keputusan yang demokratis sebagai faktor pendorong keberhasilan implementasi program-program yang dikembangkan dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Selanjurnya. Local capacity meliputi sumber-sumber. namun menumbuhkan kemauan untuk menyikapi implementasi merupakan suatu peristiwa yang mendapat tantangan besar.diri.

menurut Duke dan Canady kepemimpinan dapat menjadi penting. Dalam kedua kasus ini. Fusarelli. Odden dalam Cooper. dan Randall (2004:85) mencatat hasil temuan penelitian .Kemauan sepertinya tidak bisa dipengaruhi oleh ancaman dan direktif.

Kapasitas ubungan dengan energi manusia. maka dapat d mpulkan bahwa konsep pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan tiga pilar MBS. (2) pembaruan metode pembelajaran._ran kedua adalah local capacity untuk implementasi kebijakan. Saran r Ahir berasal dari kesimpulan McLaughlin bahwapolicy impiementation depends n j balance of support and pressure. a tu (1) manajemen sekolah dan transparansi. bui also that they did not know how t o implement t hem (the capacity was not there)". Bertitik tolak dan kajian teori yang sudah dikemukakan di atas.65 terdahulu: "showed that there was a lack of both capacity and will at all levels of government the U. Cara tersebut adalah dengan melibatkan pelaksana kebijakan dalam pembuatan kebijakan dan -embangkitkan semangat kepemimpinan. hal itu diasosiasikan dengan visi dan misi.S. Komitmen kadang-kadang dapat mengikuti implementasi. Relevan dengan konteks pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.. . pembuat kebijakan harus hati-hati sehingga tidak membuat kebijakan melebihi kemampuan staf yang mengimplementasikannya. banyak cara bagi pembuat kebijakan untuk mencari :_kungan terhadap kebijakan baru sebelum diimplementasikan. state departments of education.. Research showed not only that most local educators did not want to imp/ement such programs (the wi/l was not there). Bilamana energi bukan merupakan sumber yang aa^-at mendukung implementasi. Duke dan Canady (1991) mengemukakan beberapa -aran agar kebijakan secara aktual dapat diimplementasikan. dan . local district offices and local schools—to develop and imp/ement newly created government a! programs. Office of Education. . Saran pertama ■er^enaan dengan komitmen (commitment).

Selain itu. kerangka berpikir penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dikemukakan dalam gambar 2. cara mengatasi resistensi dan faktor pendorong dalam pengembangan organisasi) merupakan hal-hal yang turut dikaji dalam penelitian ini. dilakukan perubahan-perubahan yang berkaitan dengan struktur. Selanjutnya. dan individu sebagai pelaksana.3.(3) peranserta masyarakat. gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi juga dilihat dari aspek budaya sekolah. Sebagai ilustrasi. . Resistensi yang muncul harus diatasi dengan cara-cara yang efektif sehingga keberhasilan pengembangan organisasi dapat terwujud. pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah berhadapan dengan munculnya resistensi karena terjadi transisi dari status quo menuju pada perubahan yang diinginkan. budaya merupakan sasaran dan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Karena. Untuk mewujudkan pengembangan ketiga pilar tersebut. Pengembangan ketiga aspek tersebut dijadikan acuan dari fokus penelitian yang melihat gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. teknologi. keberhasilan implementasi program yang dikembangkan dalam pengembangan organisasi ditentukan pula oleh sejumlah faktor pendorong. Selain mengkaji pengembangan ketiga pilar tersebut. Dengan demikian. tugas. kesemua aspek tersebut (resistensi.

TUGAS. TEKNOLOGI DAN INDIVIDU PERANSERT A MASYARAK AT METODE PEMBELAJAR AN i.D A Y \ S KK O L A H KEEFEKTIF AN SEKOLAH PROGRAM PERUBAHAN DAN IMPLEMENTASINYA I FAKTOR ENDORONG RESISTENSI .B MANAJEMEN SEKOLAH PENGEMBAN GAN ORGANISASI DENGAN PENDEKATA N MBS ______ 4 ____ PERUBAHAN STRUKTUR. I.

II Ml N IH KUASI' M K< 'l Ml .CARA Ml N(iATASI Oambui ' * K E R A N G K A H l K I ' I K I K l ' l N l I I I I A N 1 * 1 N G I MHANGAN < )!<( i ANI' -ASI DI NGAN l'l NDI i Al AN MANA.

(c) sumber data dan informan. (b) kehadiran peneliti. Dengan 69 . 2 Dewan Sekolah sebagai organisasi yang mewadahi peranserta masyarakat pada ketiga latar penelitian ini juga menunjukkan keaktifan yang cukup tinggi dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. dan (g) tahap-tahap penelitian. Berdasarkan hasil observasi pada saat studi pendahuluan. (2) SD Negeri Cermat. A. 1998). alasan utama penggunaan rancangan multisitus karena ketiga latar memiliki karakteristik yang sama.BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) rancangan penelitian. yaitu (1) SD Negeri Cerdas. (f) pemeriksaan keabsahan data. Bogdan & Biklen. (e) teknik analisis data. dan (3) SD Negeri Mandiri Kota Cendekia telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah sejak tahun 2003. Rancangan Penelitian Berdasarkan fokus dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan pada bab pendahuluan. Selain itu.sekolah dari daerah lain dengan tujuan untuk mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Tujuan penelitian kualitatif dengan jenis multi situs lebih berorientasi pada pengembangan teori. yaitu: 1 Ketiga situs penelitian ini. 1984. ketiga latar itu juga sering dan banyak dikunjungi oleh sekolah. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan rancangan multisitus (Yin. (d) teknik pengumpulan data.

Kesamaan karakteristik lainnya dari latar penelitian ini. 5 Selain mempertimbangkan kesamaan karakteristik ketiga latar tersebut yang juga didukung oleh hasil observasi awal. Pada ketiga latar penelitian ini juga sudah dibentuk organisasi yang mewadahi peranserta wali murid di masing-masing kelas yang disebut dengan Paguyuban/ Forum Kelas. 4. SD ini terletak di pinggir jalan raya. maka untuk lebih melengkapi informasi diminta pertimbangan kepada pihak dinas pendidikan mengenai sekolah-sekolah yang benar-benar sudah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. dengan demikian untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan iKiitan kota. diasumsikan pemilihan ketiga latar tersebut dapat memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. sehingga pihak sekolah ~ien jgaskan seorang satpam untuk membantu setiap murid yang akan menyeberang . 3. SD Negeri Cerdas terletak di perkampungan penduduk. ketiganya berstatus sekolah negeri sehingga pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah mengikuti pola yang sama pula. Letak sekolah ini -ikup strategis. maka pihak dinas pendidikan merekomendasikan ketiga SD Negeri tersebut di atas untuk dijadikan lokasi penelitian pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah.demikian. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 28 September 2004.

seperti lomba paduan suara. Dengan mempedomani Buku Tamu. Nilai UPM (Ujian Pengendalian Mutu) tertinggi dari lulusan SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 adalah 46. Selain itu. sekolah ini sering dikunjungi oleh instansi atau sekolah. dan tertib shalat. dengan demikian masyarakatnya agak heterogen. Sebagai pusat ujicoba. pada tanggal 1 Februari 2005 dicari informasi ke SD Negeri Cerdas. SD Negeri Cermat ini terletak di dalam kompleks perumnas.iran plang nama dan dinding sekolah bagian depan tertulis: Sekolah Dasar MBS. Kepala sekolah menyebutkan satu per satu instansi atau sekolah yang pernah mengunjungi SD ini.20. sekolah ini juga mendapat Juara III siswa teladan Kota Cendekia pada tahun 2003 (Wawancara dengan Kepala Sekolah tanggal 8 Oktober 2004). Walaupun masyarakatnya agak heterogen. namun mereka tetap menjunjung tinggi . Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. Pada saat memasuki lokasi sekolah. Untuk mengetahui lebih rinci instansi atau sekolah yang pernah berkunjung ke sekolah ini. masyarakat yang bertempat tinggal di perumnas ada yang berasal dan luar daerah setempat. Maksudnya.sekolah dari daerah atau propinsi lain yang ingin mempelajari penerapan Manejemen Berbasis Sekolah. SD ini juga banyak berprestasi dalam bidang ekstrakurikuler. Di samping berprestasi di bidang akademik. pidato. SD Negeri Cermat terletak pada lokasi yang cukup strategis. Di . di dinding sekolah tersebut tampak tulisan: Sekolah Dasar MBS. dalam arti mudah dijangkau.71 in baik pada saat datang ke sekolah maupun pada waktu pulang ke rumah.

Otonomi sebagai wujud desentralisasi sebenarnya telah dilakukan sejak dulu walaupun tidak sepenuhnya sempurna (Mantja. Miles dan Taylor tentang penilaian usaha-usaha OD.nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong terutama dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pusat Kurikulum. seperti dilaporkan Owens (1991). Hasil penelitian Fullan. 2002). namun barangkali lingkupnya diperluas. Oleh karena itu. namun kadang kala implementasi kebijakan itu tidak dilakukan secara berkelanjutan (unsustainahly) di sekolah. sebagai tempat ujicoba Manajemen Berbasis Sekolah. 2003). Hal tersebut berarti bahwa sesungguhnya pemberian otonomi kepada sekolah bukan merupakan sesuatu yang baru. menunjukkan OD bersifat parsial. UNESCO & UNICEF. SD Negen Cermat juga senng dikunjungi oleh instansi atau sekolahreorientasi penyelenggaraan pendidikan guna memberikan otonomi ke tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School-Based Management) (Tim Penulis Direktorat TK & SD. Secara implisit hai . perlu dilakukan pengembangan organisasi (orgamzational development) dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. tidak tuntas. aktivitas berlangsung jangka pendek karena kurangnya perencanaan dan diperlukan usaha berkelanjutan untuk sukses. Seperti halnya SD Negeri Cerdas. Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengambil beberapa kebijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ini berarti bahwa pengembangan organisasi (orgamzational development) menghadapi tantangan tidak ringan terutama menyangkut implementasi program-program yang dikembangkan menuju perubahan yang diinginkan.

Perubahan sering diartikan sebagai bentuk ancaman. Selanjutnya. 2002).8 tersebut mempunyai arti bahwa tantangan utama dalam pengembangan organisasi adalah adanya kenyataan bahwa pada hakikatnya sebagian besar dari kita enggan untuk berubah (Suyanto. Suyanto (2002) yang mengutip pendapat .

Mulai dengan pengumpulan data . SD Negeri Mandiri menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas dasar inisiatif sendiri (Hasil wawancara dengan staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Dilihat dan sisi prestasi.87. Selasa 28 September 2004).80. Dalam prosesnya. dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan pengkodean. dan hanya 4 orang mendapat nilai di bawah 30. dan UNICEF. Rancangan penelitian selanjurnya menggunakan metode komparatif konstan Bogdan & Biklen.99. Di samping implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan di bawah binaan langsung pemerintah Indonesia. 1998). Dari 97 orang peserta UPM dari SD Negeri Mandiri. Pada tahun pelajaran 2003/2004. UNESCO.70 sekolah lain yang ingin mempelajari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. 18 orang meraih nilai antara 35-39. metode komparati f konstan ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. SD Negeri Mandin terletak pada lokasi yang strategis dan berdekatan dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Cendekia. nilai UPM lulusan SD Negeri Mandiri berada pada ranking teratas dari 25 SD/MI yang berada di wilayah kepengawasan III dan IV. Data yang dicatat dari Buku Tamu tanggal 1 Februari 2005 menunjukkan banyak instansi atau sekolah yang berkunjung ke SD ini. Selain berprestasi di bidang akademik. sekolah ini juga memiliki prestasi dalam bidang ekstrakurikuler terutama catur.60 dan paling rendah 28. Metode komparatif konstan merupakan rangkaian ingkah-Iangkah yang berlangsung sekaligus. "0 orang memperoleh nilai di atas 40. nilai UPM SD ini pada tahun pelajaran 2003/2004 paling tinggi 44. Untuk menuju sekolah ini dapat menggunakan angkutan kota. Nilai rata-rata UPM tersebut adalah 41. nilai tertinggi 47 dan terendah 31.48.

dan sesuai konteks di mana peristiwa itu terjadi. (2) hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti lebih peka sehingga dengan mudah dapat dilakukan pemahaman yang mendalam terhadap objek yang diteliti. Melakukan sampling. Menuliskan kategori-kategori yang sedang diselidiki dengan maksud untuk memerikan dan menjelaskan peristiwa yang ada sambil terus mencari kejadiankejadian bani 5. sehingga dengan menggunakan penelitian kualitatif realitas tersebut dapat dipahami secara utuh. 1998). Alasan penggunaan metode kualitatif dengan rancangan multisitus ini adalah karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah pada tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia. Mengerjakan data dan memunculkan model untuk menemukan proses dan hubungan-hubungan sosial yang mendasar 6. kejadian yang selalu berulang atau kegiatan yang merupakan kategori fokus 3. dan penulisan sebagai analisis yang berfokus pada kategori inti (Glaser dalam Bogdan & Biklen. deskriptif. Mengumpulkan data yang mencakup banyak kejadian tentang kategori fokus untuk melihat adanya keragaman dimensi dalam kategori 4. (1) realitas yang ada dalam pengembangan organisasi sekolah pada dasarnya terkonstruksi secara holistik. . terfokus. Alasan ini juga sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif. Mencari isu penting. pengkodean.71 2. yaitu. dan (3) penelitian kualitatif bersifat alami (natural).

(a) eksplorasi yang meluas atau menyeluruh.ecara terfokus atau terseleksi guna mencapai tingkat kedalaman dan kerincian aspek tertentu. Kehadiran Peneliti Untuk meneliti objek penelitian ini. Dalam proses yang berbentuk siklus tersebut ada tiga tahapan yang berlangsung secara berulang-ulang. dan berupaya menemukan makna (meaning) dari suatu fenomena yang terjadi (Patton. 2003). Selanjurnya. pemahaman terhadap pengembangan organisasi sekolah dipandang tepat didekati dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. (b) eksplorasi . 1998.pertanyaan yang muncul kemudian sampai penulisan laporan penelitian. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian pertama kali adalah pada tanggal 7 Oktober 2004 yang bertujuan untuk meminta izin dari kepala .gka waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan.induktif. Studi pendahuluan dilakukan rada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2004 berdasarkan izin dari Direkftir . 1980. Lincoln & Guba.gumpulan data. Bogdan & Biklen. dan biasanya masih bergerak pada taraf permukaan. B. pengembangan organisasi (organization development) merupakan suatu proses transisi dari keadaan manajemen sekolah yang sentralistik menuju Manajemen Berbasis Sekolah. sejalan dengan pertanyaan. :er. 2000. 1985. Dalam penelitian kualitatif terjadi proses yang berbentuk siklus.gram Pascasarajana Universitas Negeri Malang dan rekomendasi dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. seperti studi pendahuluan. dan pemeriksaan keabsahan data. yaitu tahap. Moleong. dan (c) pengecekan atau konfirmasi hasil atau temuan penelitian (Faisal. Atas dasar itu. Mantja. ^>901 Tahap-tahap tersebut diulangi beberapa kali sesuai dengan ruang lingkup penelitian yang makin lama makin menyempit. peneliti hadir ke lokasi penelitian dalam i-.

peneliti berupaya untuk hadir ke lokasi penelitian pada setiap hari sekolah sesuai dengan jam sekolah yang berlaku (07. peneliti memperkenalkan diri dan kemudian menyampaikan maksud kunjungan sambil memperlihatkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.73 sekolah pada ketiga situs. namun peneliti tetap hadir di lokasi penelitian sampai bulan Desember 2005 atas izin kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. kepala sekolah pada ketiga situs memperkenankan peneliti melakukan penelitian di sekolahnya.d. 12.30 s. Pada akhir bulan Agustus 2005 izin penelitian dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia secara resmi sudah berakhir.00 s. namun peneliti tetap mengurus kembali surat izin penelitian dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang sebagai dasar bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia untuk mengeluarkan surat rekomendasi. kehadiran peneliti untuk kepentingan pengumpulan data dilanjutkan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2005. karena tujuan kehadiran setelah pengumpulan data tersebut hanyalah untuk melakukan pemeriksaan keabsahan data. Walaupun ketiga kepala sekolah sudah memberikan izin untuk pelaksanaan pengumpulan data. Namun kehadiran peneliti setelah pengumpulan data selesai tidak lagi intensif. Selama kegiatan pengumpulan data. Atas izin dan kesediaan tersebut peneliti dapat berkunjung pada hari-hari berikutnya guna melakukan sftidi pendahuluan. Kemudian. Pada saat pertama kali bertemu dengan kepala sekolah. serta 06. Tanpa ada rasa keberatan dan dengan senang liati.d .30 WIB untuk SD Negen Cerdas dan SD Negeri Cermat.

Beberapa bentuk partisipasi yang dilakukan adalah.30 WIB pagi untuk mengikuti acara istighosah yang dilaksanakan di SD Negeri Cermat pada tanggal 12 Juni 2005. adalah. Kesediaan atau izin tersebut juga berlaku bagi kegiatan observasi dan analisis dokumen yang diperlukan. Wawancara dilakukan dengan informan penelitian setelah meminta kesediaan yang bersangkutan terlebih dahulu. peneliti pernah datang ke sekolah pukul 05.00 . yaitu pada waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada setiap hari Jumat dan Sabtu pukul 15. mengikuti upacara bendera.00 WIB. mengikuti rapat majelis guru.d 17.74 12. Balikan. peneliti juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh personel sekolah sejauh kegiatan itu dapat "dimasuki" dengan tetap menjaga batas kewenangan peneliti dan etika penelitian. Dewan Sekolah maupun Paguyuban Kelas. pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2005 pukul 19. Ini dilakukan dengan maksud agar peneliti benar-benar dapat membaur dengan warga sekolah. Di samping kehadiran peneliti ke sekolah untuk keperluan observasi dan wawancara.00 ketika berlangsung acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI di SD Negeri Cerdas dan pada hari Minggu tanggal 3 Juli 2005 ketika dilakukan rapat Dewan Sekolah. .11.20 untuk SD Negeri Mandiri Kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk keperluan wawancara.00 s. sehingga kehadiran peneliti tidak lagi dianggap sebagai "orang baru" di lembaga tersebut. Kehadiran peneliti ke lokasi penelitian juga dilakukan di luarjam sekolah. Waktu kunjungan lainnya adalah sore hari guna mengikuti kegiatan rapat baik yang dilakukan oleh sekolah. observasi dan melakukan kajian dokumen. Contoh lain dan kehadiran peneliti di sekolah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memanjatkan doa bagi murid kelas VI yang akan mengikuti ujian akhir.

untuk melakukan penelitian dan peneliti harus mematuhi kontrak itu. membantu pelaksanaan kegiatan administrasi sekolah. mengikuti pertemuan wali murid pada awal tahun ajaran baru dan saat persiapan ujian murid kelas VI. melainkan juga untuk laporan verbal tentang informasi yang dipelajari melalui observasi. Peneliti tidak menghubungkan informasi spesifik mengenai individu kepada orang lain dan berhati-hati berbagi informasi yang bersifat khusus dengan orang. dan ikut bersama guru melakukan kunjungan rumah untuk kepentingan pendataan kemampuan orang tua calon murid baru. . Menjelaskan mengenai apa saja batasan dan persetujuan pada saat negosiasi izin 4. Peneliti tidak berbohong kepada subjek atau merekam pembicaraan dengan menggunakan perlengkapan mekanik secara tersembunyi. Kehadiran peneliti di lokasi penelitian tetap memperhatikan etika penelitian sehingga tidak mengganggu dan merugikan pihak yang diteliti.orang di tempat penelitian yang dapat menggunakan informasi untuk kepentingan tertentu. Anonimitas diperluas tidak hanya untuk tulisan. membantu persiapan acara gebyar seni dan pelepasan murid kelas VI. 3.rapat Dewan Sekolah. Memperlakukan subjek secara hormat dan meminta mereka berkooperasi dalam kegiatan penelitian. 2. Subjek diberi tahu mengenai kepentingan penelitian dan keikutsertaan peneliti dengan mereka dilakukan apabila telah diizinkannya. Berkenaan dengan hal ini. dipedomani asas lunum etika penelitian yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). mengikuti istighosah. sebagai berikut: 1 Melindungi idenditas subjek sehingga informasi yang dikumpulkan tidak merugikan mereka. rapat Paguyuban/Forum Kelas.

dan (d) budaya sekolah. pegawai tatausaha. penjaga sekolah. kepala dinas pendidikan. dan wali mund. Pengembangan pilar manajemen sekolah dan transparansinya serta peranserta masyarakat dilakukan dengan cara perbaikan struktur organisasi sebagai salah satu fokus perubahan dalam pengembangan organisasi. pembaruan metode pembelajaran dengan pengembangan metode PAKEM merupakan wujud dan perubahan teknologi dalam pengembangan organisasi. Sumber Data dan Informan Penelitian Sesuai dengan fokus penelitian yang sudah dikemukakan pada bab pendahuluan. (c) pembahan struktur/tugas untuk peningkatan peranserta masyarakat. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. pengurus Dewan Sekolah. Menceritakan dengan benar ketika peneliti menulis dan melaporkan temuannya. Peneliti melaporkan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh data (febricatmg data or distorting data is the ultimate siri of a scientist). (3) cara mengatasi resistensi terhadap pengembangan organisasi (wujud dari fokus perubahan individu/manusia).76 5. (b) pembaruan metode pembelajaran. C. pengawas sekolah. sumber data yang berasal dari dokumen dipilih berdasarkan relevansinya dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Informan kunci (key informant) dalam penelitian ini adalah kepala sekolah pada ketiga situs penelitian. Kemudian. siswa. guru. maka data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah yang mencakup (1) gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi yang meliputi (a) perubahan manajemen sekolah. . (2) resistensi terhadap pengembangan organisasi. dan (4) faktor pendorong dalam pengembangan organisasi. Kemudian. Sumber data dan orang-orang terdin dari. kepala sekolah.

Berdasarkan wawancara pertama. 7. 1. (c) subjek yang bersifat "lugu" dalam memberikan informasi.dinas pendidikan Jumlah Situs I 1 5 1 3 2 1 1 14 Situs II 1 5 1 3 2 1 13 Situs III 1 5 I 2 I 1 1 12 Total 3 15 3 8 5 1 3 1 39 . kepala sekolah menunjuk beberapa orang guru untuk diwawancarai selanjurnya. Informan dipilih dengan mempedomani kriteria yang dianjurkan Faisal (1990).Informan penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik snow-ball sampling (Bogdan & Biklen. (d) subjek yang mempunyai cukup banyak waktu untuk memberikan informasi. Informan pertama yang diwawancarai adalah kepala sekolah sebagai informan kunci. Sampai -enehtian berakhir. (b) subjek yang masih terlibat secara aktif dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. jumlah informan yang diwawancarai terlihat dalam tabel 3. yaitu (a) subjek yang sudah cukup lama menyatu dengan suatu kegiatan yang menjadi sasaran penelitian. 1998). 3. Tabel 3. 8 Informan Kepala sekolah Guru Dewan sekolah Wali murid Murid Pengawas sekolah Penjaga sekolah/TU Ka. Jumlah informan tetap yang diwawancarai terus bertambah sesuai anjuran informan sebelumnya. 2.1. 5. 4.1. 6. dan (e) subjek yang sebelumnya tergolong masih "asing" bagi peneliti. Jumlah Informan Penelitian No.

peneliti berperanserta secara pasif. yaitu. Menurut Guba dan Lincoln (1981). Hal ini dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Spradley (1980). dan (b) pada partisipasi aktif peneliti benisaha untuk ikutserta melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang diteliti. maka peneliti mulai bergerak untuk melakukan peranserta secara aktif. observasi berperanserta dilakukan dengan alasan. Observasi berperanserta Untuk mempelajari pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah dilakukan observasi berperanserta (participanl observation) (Spradley. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (a) observasi berperanserta. kemudian setelah kehadiran peneliti diterima oleh orang-orang yang diteliti.78 D. 1. Pada tahap awal penelitian. (c) pengamatan dapat digunakan untuk mengecek keabsahan data. 1980). tetapi tidak berpartisipasi atau tidak berinteraksi dengan orang-orang yang sedang diteliti. dan (e) dalam kasus-kasus tertentu dimana penggunaan teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan. dilihat. Selama melakukan observasi dibuat catatan lapangan. dialami dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan . dan (c) studi dokumentasi. pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. yaitu catatan tertulis tentang apa yang didengar. (a) pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung. (d) teknik pengamatan memungkinkan peneliti matnpu memahami situasi-situasi yang rumit. kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. (b) teknik pengamatan juga memungkinkan peneliti dapat melihat dan mengamati sendiri. serta tidak hanya menerima tetapi benar-benar mempelajari aturan budaya dari perilaku yang muncul. (b) wawancara. (a) pada partisipasi pasif peneliti hadir dalam situasi sosial yang diteliti.

1980). People like status quo. Namun. General Electric. dan (3) konknt. menggambarkan betapa perubahan pada hakikatnya tidak disukai oleh banyak orang. (2) verbatim. Goleman. yaitu orang-orang yang dianggap potensial. dalam kenyataannya tidak semua . Untuk merekam hasil wawancara digunakan tape recorder merek Sony TC. Penggunaan alat ini dilakukan apabila sudah mendapat z:n dan infonnan yang diwawancarai. yaitu mencatat ucapan atau perkataan sebagaimana yang dikatakan oleh orang yang dijadikan sumber informasi.orman bersedia direkam pada waktu dilakukan wawancara sehingga peneliti harus Welch. Catatan lapangan dibuat dengan mempedomani prinsip (1) identifikasi bahasa. Wawancara dilakukan berulang kali sampai diperoleh gambaran yang jelas mengenai pengembangan organisasi sekolah. yaitu menggunakan bahasa yang konknt bukan hanya memberi nama pada suatu tindakan (Spradley. dalam arti orang tersebut memiliki banyak informasi mengenai masalah yang diteliti. Wawancara Di samping melakukan observasi berperanserta.79 data dan refleksi terhadap data (Bogdan & Biklen. yaitu mengidentifikasi bentuk bahasa yang digunakan. 2002:109). Untuk maksud yang sama. untuk mengumpulkan data penelitian juga dilakukan wawancara secara mendalam (m-depth inferview) dengan informan penelitian. 2." (Suyanto. 1998).2 \>DV sebagai alat perekam. Boyatzis. seorang chief executive perusahaan raksasa kelas dunia. Catatan lapangan ditulis dalam buku yang sudah disediakan khusus untuk keperluan tersebut. They like the way it was. Wawancara calam penelitian ini dilakukan secara formal maupun informal sehingga dapat diungkapkan pendapat informan mengenai pengembangan organisasi dengan rendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. Fenomena itu digambarkan dalam ungkapannya sebagai berikut: "change has no constituency. dan McKee (2002:272) menyatakan .

menolak segala sesuatu yang mengancam keadaan ini. 2002:385) menyatakan "old is easy. Bahkan. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. 2004). dalam Anwar. Peterson dan Hicks (Hughes. 1991). beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan." Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. misalnya. 1991). Kotter. Ginnett dan Curphy. Dengan ungkapan lain. 1993. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. 1996). Sebagai contoh. Sarason (Duke. Artinya. new is hard\ Akibatnya. berjalan baik dan dengan hasil yang . restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat.9 bahwa "kebanyakan kelompok dan organisasi berputar-putar di sekitar status quo. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady.

.

Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. yaitu. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). (f) buku daftar hadir guru. (j) profil sekolah. sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. Teknik Analisis Data I. Atas dasar itu.80 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. Hal ini berarti. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (e) buku tamu. (h) buku prestasi. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. (d) program dan rencana pembelajaran. E. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. 3. (g) jumlah guru dan murid. 1998). (1) ambil keputusan . (c) SK Dewan Sekolah. 1990). Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik.

mendata. (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. catatan lapangan. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). pengamatan. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara.81 untuk mempersempit kajian. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. yaitu melalui kegiatan menelaah data. yaitu dari wawancara. dan (10) gunakan perlengkapan visual. (3) kembangkan pertanyaan analitis. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. dan konsep. Selanjutnya. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. analogi. (9) gunakan metafora. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). mensistesis. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual.

82

substansi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah, yaitu; (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan, 1994). Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan data dan rangkuman inti, merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif, diadaptasi dan Miles & Hubennan (1994:12).

83

Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, informan, dan situs penelitian. Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2. Tabel 3.2. Sistem Pengkodean Analisis Data No Aspek Pengkodean Kode . 1 Fokus Penelitian: • Resistensi terhadap pengembangan organisasi RES CAR
• Cara mengatasi resistensi dalam pengembangan

2

3

4

organisasi • Faktor Pendorong dalam pengembangan organisasi • Gambaran sekolah setelah pengembangan organisasi Teknik Pengumpulan Data. • Wawancara • Observasi • Dokumentasi Sumber Data: • Kepala Sekolah • Dewan Sekolah • Pengawas Sekolah • Kepala Dinas Pendidikan • Guru • Murid • Wali Murid • Penjaga Sekolah • Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Negeri Cerdas • SD Negeri Cermat • SD Negeri Mandiri

FAK BAR

W 0 D KS DS PS DP GM WM PJG TU

1 11 III

Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kemudian, pada bagian akhir

84

catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan; kode situs penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penelitian, teknik pengumpulan data, sumber data, tanggal, bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas Wawancara Kepala Sekolah ---------------- ^ -------------------------------------------------------------

Tanggal, bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. Secara umum, proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut; (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga, (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian, dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.2. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985), yaitu; (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabihtas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4)

85 Gambar 3. Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut.2. Kredibilitas . Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).

menurut Lincoln dan Guba -35 301).aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan.erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. ~ -an penelitian yang terpercaya. triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi.— a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). Tujuan lain. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode. leaming the culture. Contohnya. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?.86 Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >?rapa kegiatan. wawancara atau ." . atau muncul secara tiba-tiba. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. (a) ■ e. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. Dalam -r man ini. mrg informan dengan informan lainnya. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. testing f or mi smformaUon mtroduced - <i<ortions either of the self or of the respondents. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . Kemudian. metode. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . and building trust. angkut kebijakan sekolah. dan melakukan triangulasi. maka .perpanjang masa observasi. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r.r-anfaatkan sumber. yaitu dengan . Pertama. melainkan merupakan aktivitas yang sudah . 1985).

yaitu Bapak Kasman. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan.87 dokumentasi). Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. 1985). aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. . yaitu. Misalnya. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. Kedua. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. makna-makna dieksplorasi. diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10.

M. Hendyat Soetopo. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. menurut Lincoln dan Guba (1985). Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya.88 Ketiga. Pembimbing ketiga). Namun. Namun. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut.Pd (Pembimbing pertama). Apabila informan tidak merasa keberatan.A. 2. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. H. 4 Konfinnabilitas . A Sonhadji K. Dr. M. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid.Pd (Pembimbing kedua). Umumnya. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). dan Prof.. Prof Dr..Willem Mantja. Ph. 1985).H. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba.D. M. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain.ransferability. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of .

Tahap persiapan Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan. buI the soup remains the same" (Hanson. pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. Untuk mewujudkan hal tersebut. Oleh karena itu. 1992:1). terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. penggunaan teknik analisis yang cermat. 1991:370). dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. Oleh karena itu. and heart ofthe educators who work in the schools . penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton.89 Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan. interpretasi data secara benar. yaitu. yaitu Bapak Prof. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data. Sayangnya. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. 1991:370). (1) tahap persiapan. Maksudnya.gumpulan dan analisis data. Willem Mantja. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.Pd. dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. Tahap-tahap Penelitian Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. M. hands. G. Dr. ketika inovasi benar-benar diimplementasikan.

Dr. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi.90 Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. Namun demikian. Hasil penelitian tentang implementasi kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). Prof. Zaini Hasan. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. banyak negara. dan Dr. Dr. Dr. 2004:2). Laurens Kaluge. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof. implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Brasil. Meksiko. Berdasarkan keyakinan tersebut." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang menggembirakan (Baedhowi. Spanyol. M.Sc dan Ibu Dr. T Raka Joni. 2004:2) menyatakan. yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. Wallis (Baedhowi. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah. dr. 2004). . antara lain Selandia Baru. as a desirable policy. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. I Wayan Ardhana. On the other hand. Lusiana.

diajukan kepada Bapak Prof.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). Willem Mantja. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Masukan dan saran dari teman-teman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal.91 Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah. (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. dan Bapak Dr. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420. M. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. Hendyat Soetopo. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Dr.304/2004 tanggal 05 . Dip. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Hd.D.Pd.. Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. M.4.Ad. Kemudian. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof. Willem Mantja.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. Dr. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia).Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September 2004. M.Ed. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui.

M. Willem Mantja. Balikan dari Prof. Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan motivasi bagi penulis.Ad. Walaupun banyak saran perbaikan. Dip.. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.D.. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas.Ed. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. Ed. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai . masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. diterima tanggal 13 Desember 2004. M. Dip. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. Ed. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru. Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap.Pd diperoleh awal Oktober 2004. Selanjutnya. Dr.D. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian.Ed. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak .92 Oktober 2004). namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat".Ad.

-.-. Ahmad Sonhadji K. Willem Mantja.).— honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai.307/2005 tanggal 18 Maret 2005.. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.. 3. H.onsultasi dengan dosen pembimbing.Pd dan Bapak Prof. M.4.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia. r h D. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). A. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420.93 pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga. Dr. Setelah izin diperoleh.H. M. I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.. Tahap penyusunan laporan penelitian .

Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan.73. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. .03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005.73.2/ 262/420. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini.05/SDNP 1/2005.303. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM. Rekomendasi Dinas Pendidikan. Atas permintaan di atas.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.94 Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian.307. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. karena nama sekolah sudah disamarkan. Setelah penyusunan laporan selesai.307.

1993. restrukturisasi pendidikan Amerika pada abad keduapuluh telah melakukan perubahan setiap tahunnya di masing-masing sekolah dengan harapan agar perubahan itu dimulai dengan cepat. Sarason (Duke. Sebagai contoh. 2002:385) menyatakan "old is easy. new is hard\ Akibatnya. beberapa organisasi tidak berhasil membuat perubahan yang diinginkan menuju keadaan yang lebih baik (Morgan. Peterson dan Hicks (Hughes. Kotter. Bahkan. 1991) berpandangan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang sangat sukar. implementasi suatu kebijakan baru sering memerlukan individu-individu untuk mengubah pola pemikiran dan perilaku yang sudah terbentuk dengan baik (Duke. Ginnett dan Curphy. Dengan ungkapan lain. 1991). dalam Anwar. 1996). berjalan baik dan dengan hasil yang . 2004). misalnya. Beberapa pelajaran penting dan pengalaman reformasi pendidikan di berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan banyak terletak pada implementasinya (Achmady.8 Implementasi perubahan pendidikan membutuhkan adanya perubahan dalam tindakan nyata (Fullan. Artinya. 1991).

(j) profil sekolah. Studi Dokumentasi Selain melakukan observasi berperanserta dan wawancara mendalam. Analisis data di lapangan dilakukan sesuai dengan apa yang dianjurkan Bogdan dan Biklen (1998). Teknik Analisis Data I. 3. dan (k) daftar sarana dan prasarana sekolah. untuk mengumpulkan data penelitian ini juga dilakukan studi dokumentasi. E. Dokumen yang dipelajari adalah (a) RAPBS. Kelemahan ini diatasi dengan jalan segera menyusun dan melengkapi kembali catatan-catatan tersebut setelah peneliti pulang ke rumah atau disempurnakan pada malam harinya. Oleh karena dalam penelitian kualitatif ditempuh proses yang berbentuk siklus. (e) buku tamu. 1998). yaitu mempelajari dokumen-dokumen yang relevan dengan pengembangan organisasi dengan pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah. (b) laporan pertanggungjawaban keuangan sekolah. (3) . sehingga memungkinkan peneliti menempuh tahapan yang ada atau kembali ke langkah sebelumnya. yaitu. Atas dasar itu. (2) putuskan bentuk kajian yang ingin diselesaikan. (g) jumlah guru dan murid. Hal ini berarti. Semua informasi yang disampaikan informan dicatat. kegiatan analisis data penelitian ini terdiri dari analisis selama di lapangan dan analisis setelah data terkumpul (Bogdan & Biklen. (f) buku daftar hadir guru. (i) struktur organisasi sekolah dan Dewan Sekolah serta Paguyuban Kelas. kegiatan analisis data tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data (Mantja. walaupun tidak seluruh informasi tersebut dapat direkam dengan baik. (1) ambil keputusan untuk mempersempit kajian. (h) buku prestasi.8 mencatat hasil wawancara dalam buku agenda atau buku catatan lapangan yang sudah disediakan. 1990). (d) program dan rencana pembelajaran. Analisis data situs tunggal Analisis data dalam penelitian kualitatif bukanlah langkah yang berdiri sendiri. (c) SK Dewan Sekolah.

dan dokumen > ang sudah dituliskan dalam catatan lapangan. (6) tulis memo untuk diri sendiri tentang apa yang dipelajari. mensistesis. mencari pola dan menemukan apa yang bermakna untuk selanjurnya disusun menjadi suatu teori . dan konsep. (4) rencanakan sesi pengumpulan data selanjurnya berdasarkan temuan observasi sebelumnya. (5) tulis sebanyak-banyaknya "komentar pengamat" tentang ide-ide yang muncul.8 kembangkan pertanyaan analitis. mendata. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Bogdan dan Biklen (1998). membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola. dan (10) gunakan perlengkapan visual. bahwa analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan penyusunan transkrip wawancara. catatan lapangan. Selanjurnya menurut Muhadjir (1996). (8) mulai mengeksplorasi literatur ketika berada di lapangan. kegiatan pokok analisis setelah pengumpulan data adalah mengembangkan kategori kode atau dapat pula menggunakan sistem kode yang sudah ditetapkan sebelumnya. (7) ujicobakan ide dan tema pada subjek. (9) gunakan metafora. pengamatan. analogi. yaitu melalui kegiatan menelaah data. yaitu dari wawancara. analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara mduktif konseptual. Selanjutnya. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber. dan materi lainnya yang telah terkumpul untuk meningkatkan pemahaman sehingga memungkinkan seseorang menyajikan apa-apa yang telah ditemukannya.

Langkah selanjurnya adalah menyusun rangkuman inti ke dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorikan dengan cara membuat kode. . Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan menempuh tiga langkah. dan mengorganisasikannya sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan. Menseleksi data secara ketat. mengarahkan.1. dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles & Hubennan. menggolongkan. merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan.8 substansi. 1994). (1) reduksi data. (2) penyajian data. membuat ringkasan data dan rangkuman inti. membuang data yang tidak diperlukan. yaitu. Proses analisis data sebagai suatu siklus interaktif dapat dilihat pada gambar 3.

Ta bel 3. informan.8 Pengkodean dibuat berdasarkan fokus penelitian. sumber data. teknik pengumpulan data.2. Sis te m Pe ng ko de an An ali sis Da ta . Pengkodean yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3. dan situs penelitian.2 .

8 Aspek Pengkodean .

8 Fokus Penelitian: • Resistensi ter ha da p pe ng em ba ng an org ani sas i .

Cara mengatasi res ist ens i dal am pe ng em ba ng an org ani sas i 8 Faktor Pendorong dal am pe ng em ba ng an .

ani sas i 8 Gambaran sekolah set ela h pe ng em ba Pe ng ng an um pul an Da ta. .

8 .

8 • Dokumentasi Sumber Data: Kepala Sekolah Dewan Sekolah .

8 Pengawas Sekolah Kepala Dinas Pe ndi dik an .

8 Penjaga Sekolah Pegawai Tatausaha Situs Penelitian • SD Ne ger i Ce rda s .

teknik pengumpulan data. observasi dan studi dokumentasi. pada bagian akhir catatan lapangan/transkrip wawancara dicantumkan. W KS 04-04-05 SD Negen Cerdas ----------------^ . kode situs penelitian. sumber data. bulan dan tahun. sumber data. tanggal. Kode fokus penelitian digunakan untuk mengelompokkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara. Contoh penelitian. tanggal. bulan dan tahun. Contoh penerapan kode dan cara membacanya adalah sebagai berikut: I.8 • SD Negeri Ce rm at • SD Negeri Ma ndi ri Pengkodean tersebut digunakan dalam kegiatan analisis data. teknik pengumpulan data. Kemudian.

(1) kredibilitas (validitas internal). (a) merumuskan proposisi berdasarkan temuan situs pertama dan kemudian dilanjutkan dengan situs kedua sampai situs ketiga. (2) transferabihtas (validitas eksternal).8 Wawancara Kepala Sekolah -------------------------------------------------------------- Tanggal. bulan dan tahun --------------------------------------------------2 Analisis data lintas situs Analisis data lintas situs bertujuan untuk membandingkan dan memadukan temuan yang diperoleh dari masing-masing situs penelitian. proses analisis data lintas situs mencakup kegiatan sebagai benkut. dan (c) merumuskan kesimpulan teoretik berdasarkan analisis lintas situs sebagai temuan akhir dari ketiga situs penelitian. yaitu. Kegiatan analisis data lintas situs dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3. (3) dependabilitas (reliabilitas).2. dan (4) . Secara umum. F Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data dilakukan untuk memenuhi kritena yang dianjurkan Lincoln dan Guba (1985). (b) membandingkan dan memadukan temuan teoretik sementara dari ketiga situs penelitian.

Pertama. aktivitas yang dilakukan untuk membuat temuan dan . Kegiatan Analisis Data Lintas Situs konfirmabilitas (objektivitas).8 Gambar 3.2. Pemenuhan masing-masing kriteria keabsahan data tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut. Kredibilitas Kredibilitas (validitas internal) dalam penelitian ini dipenuhi melalui ■ c >? rapa kegiatan.

Triangulasi menurut Denzin terdiri dari empat macam. angkut kebijakan sekolah. Kemudian. metode. Contohnya. dalam wawancara kepala t !ah menyatakan bahwa guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan w . Perpanjangan masa observasi dilakukan dengan maksud elen ekapi kekurangan-kekurangan data yang masih diperlukan untuk menyusun . leaming the culture. (b) melakukan pengamatan yang terus menerus. triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber dan metode.aan pendapat guru dengan mengajukan pertanyaan. melainkan merupakan aktivitas yang sudah .8 – erpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya yang terdiri dari. Misalnya. Untuk membuktikan pernyataan guru tersebut dilakukan observasi mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas. (a) ■ e. adalah: "Pro/ongedengagement is the invesment of sufficient time to iv certam purposes. m • Jika perpanjangan masa observasi memberikan ruang lingkup (scope). maka – — a amatan secara terus menerus memberikan kedalaman (depth). dan melakukan triangulasi. melalui wawancara guru menyatakan bahwa sejak metode PAKEM diterapkan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. Dalam -r man ini. Tujuan lain. wawancara atau dokumentasi).perpanjang masa observasi. mar oilasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari . triangulasi metode dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data yang berbeda (observasi. -amatan secara terus menerus ditujukan agar apa yang diamati bukanlah kejadian . ~ -an penelitian yang terpercaya. apakah guru-guru dilibatkan dalam pengambilan keputusan di sekolah?. mrg informan dengan informan lainnya. Kebenaran pernyataan kepala sekolah tersebut dicek : r. atau muncul secara tiba-tiba. yaitu dengan – r-anfaatkan sumber. and building trust. penyidik dan teori (Lincoln & Guba. 1985). menurut Lincoln dan Guba -35 301)." . testing f or mi smformaUon mtroduced – <i<ortions either of the self or of the respondents. .

diskusi teman sejawat sudah dilakukan pada han Senin tanggal 28 Nopember 2005 pukul 10. (a) membantu menjaga kejujuran peneliti karena the inquirer's biased are probed.8 Kedua. Ada beberapa tujuan dari peer debnefing. Perbaikan transkrip wawancara segera dilakukan berdasarkan masukan dan informan. Berbagai masukan tersebut segera diperbaiki setelah diskusi selesai. dengan demikian dapat menjernihkan pikiran dan emosi dan perasaan yang mungkin cloudwg goodjudgement (Lincoln & Guba. dan dasar-dasar interpretasi diklarifikasi. Member checks dilakukan dengan cara meminta kesediaan informan membaca ulang hasil wawancara yang sudah dituangkan ke dalam transkrip sehingga diperoleh masukan untuk perbaikannya. melakukan member checks sehingga data yang dikumpulkan dari informan lebih valid. 1985). yaitu Bapak Kasman.00 WIB bertempat di perpustakaan Program Pascasaijana niversitas Negen Malang. aktivitas yang ditujukan untuk melakukan pemeriksaan eksternal (externa/ check) terhadap temuan penelitian dilakukan dengan cara peer debriefmg. Khusus untuk memperoleh masukan mengenai paparan data dan temuan renelitian ini. Diskusi teman sejawat mi dilakukan sejak penyusunan dan pengembangan proposal sampai penyusunan aporan. makna-makna dieksplorasi. Apabila . Umumnya. yaitu. Ketiga. Peer debriefing dalam penelitian ini dilakukan dengan teman yang juga mengambil program doktor program studi Manajemen Pendidikan angkatan 2003. (b) memberikan pengenalan dan pencarian kesempatan untuk menguji hipotesis keija yang mungkin muncul dalam pikiran peneliti. dan (c) memberikan kepada peneliti suatu kesempatan untuk chatarsis. informan banyak memberikan koreksi tentang bahasa yang dipaparkan pada saat wawancara. Masukan yang diperoleh dan diskusi tersebut berkenaan iengan sinkronisasi paparan data dengan fokus penelitian dan penulisan serta pemaknaan bahasa Jawa yang diungkapkan informan dalam hasil wawancara.

yaitu Bapak Prof. Pemenuhan kriteria transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan deskripsi yang nnci (ihick description). M. tanggung jawabnya adalah memberikan data base yang dapat membuat pertimbangan transferabilitas temuan potensial.Willem Mantja. menurut Lincoln dan Guba (1985).ransferability. Namun. yaitu dengan cara audit temuan (the inquiry audit). Hendyat Soetopo.Pd (Pembimbing kedua).D. Namun. Pembimbing ketiga).. Dr.Pd (Pembimbing pertama). dan rumusan kesimpulan yang benar-benar c iukung oleh data yang lengkap. Tahap-tahap Penelitian . G. M. H. dan Prof. penggunaan teknik analisis yang cermat. Audit temuan penelitian ini dilakukan dengan Bapak Prof. bukanlah tugas peneliti untuk memberikan index of . pemenuhan icrteria konfinnabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara -engkonfirmasikan data dan temuan dengan ahli. perlu dilihat • ia h sahan yang menyangkut dengan relevansi data.8 informan tidak merasa keberatan. interpretasi data secara benar. Oleh karena itu. 1985). Untuk mewujudkan hal tersebut. M.H. Salah satu contoh hasil koreksi informan terhadap transknp wawancara yang sudah diparaf dapat dilihat pada bagian lampiran. 5 Dependabilitas Untuk memenuhi kntena dependabilitas (reliabilitas) digunakan salah satu teknik yang disarankan Guba (Lincoln dan Guba. Willem Mantja. Transferabilitas Transferabilitas (validitas eksternal) menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat "ditransfer" pada beberapa konteks lain. Prof Dr.A. tidak semua informan bersedia melakukan hal tersebut.Pd. Ph. maka kepadanya diminta untuk memaraf pada bagian akhir transknp wawancara yang dikoreksinya. 2. M. A Sonhadji K. 4 Konfinnabilitas Pemenuhan kriteria konfinnabilitas (objektivitas) dimaksudkan untuk melihat bjektivitas temuan penelitian yang dihasilkan.. Dr.

dan (3) tahap penyusunan laporan penelitian. Tahap persiapan .8 Secara umuin prosedur yang dilalui dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri :ar aga tahap. (2) tahap pelaksanaan penelitian atau rer. Ketiga tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut. yaitu. (1) tahap persiapan.gumpulan dan analisis data.

Brasil. the imp/ement at ion of that policy has most/y failed to live up expectation. penting untuk disimak apa yang diungkapkan Sirotnik dan Clark (Cotton." Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah telah berlangsung sekitar empat tahun juga menunjukkan hasil yang bervariasi dan cenderung kurang 89 menggembirakan (Baedhowi. yaitu: "The ultimate power to change is—and has always been—in the heads. Spanyol. terlalu sering teijadi sekolah yang menjadi sasaran perubahan tidak ubahnya bagaikan "a ship 's graveyardfor innovations that failed to float" (Hanson. "'more andmore governments see decentralization as a way forward. banyak negara. 1991:370). Wallis (Baedhowi. 2004). buI the soup remains the same" (Hanson. On the other hand. Hasil penelitian tentang implementasi . 1991:370). ketika inovasi benar-benar diimplementasikan. Berdasarkan keyakinan tersebut. yang merupakan wujud pergeseran dinamika manajemen pendidikan. 2004:2) menyatakan. banyak diyakini sebagai cara yang jitu (panacea) untuk meningkatkan kualitas pendidikan (Baedhowi. Maksudnya. 1992:1). Oleh karena itu. hands. antara lain Selandia Baru. Meksiko. and heart ofthe educators who work in the schools Implementasi kebijakan pendidikan di era otonomi daerah. 2004:2). implementasi kebijakan ini ternyata tidak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. muncul pertanyaan apakah ada perubahan yang terjadi di sekolah setelah ini Keraguan terhadap hal ini diungkapkan dalam sebuah pepatah Cina kuno: "The ingredients change. Namun demikian. as a desirable policy. Sayangnya. dan Zimbabwe mengadopsi kebijakan ini.8 Inspirasi penelitian ini muncul pada wakfti mengikuti mata kuliah Psikologi endidikan Lanjut (DIP 711) pada semester pertama Juli-Desember 2003 (semester menggembirakan.

yang juga diikuti pada semester gasal 2003/2004. Mata kuliah ini dibina oleh Bapak Prof.Ad.Ed. Laurens Kaluge. T Raka Joni. Proposal mulai dirasakan agak terarah setelah mengikuti mata kuliah.D. M. Dr. Willem Mantja. dan (2) Analisis Isu dan Kebijakan Pendidikan yang dibina oleh Bapak Prof.Pd Kedua mata kuliah tersebut diikuti pada semester genap 2003/2004). M. Hd. M.Pd sebagai pembimbing pertama pada awal bulan September . (1) Teori dan Model Dalam Bidang Studi yang dibina oleh Bapak Frans Mataheru. dr. Dr. Dr. M. I Wayan Ardhana. dan Dr.Sc dan Ibu Dr. diajukan kepada Bapak Prof. Dr. Dr. Kemudian. Masukan dan saran dari temanteman dijadikan bahan pertimbangan penyusunan d rafi proposal. Hendyat Soetopo. dan Bapak Dr. Kegiatan selanjurnya yang dilakukan dalam tahap persiapan adalah penyusunan draft usulan penelitian yang diajukan kepada dosen pembimbing. Lusiana.Pd. pada awal September 2004 dilakukan diskusi dengan teman-teman sekelas. Zaini Hasan. Gagasan awal penelitian ditulis dalam praproposal dengan judul: Manajemen Perubahan di Sekolah Dasar dalam Rangka Implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah dan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dip. Dosen pembina mata kuliah menyarankan agar kajian perubahan diarahkan pada peningkatan mutu di sekolah.. ide-ide pokok penelitian (sekitar 2 halaman ketikan) dengan judul Perubahan Organisasi Sekolah (Kasus implementasi Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah pada Tiga SD Negeri di Kota Cendekia). Sebelum ide-ide penelitian diajukan kepada dosen pembimbing. Willem Mantja.9 kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan di kabupaten/kota menunjukkan secara umum gasai 2003/2004). Prof. Proposal ini sekaligus diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Disain Penelitian (DIP 703) yang dibina oleh Bapak Prof.

Balikan dari beliau tersebut sangat memberikan .Ad. masukan dan Bapak Dr Hendyat Soetopo. Studi pendahuluan dilakukan dengan cara mengurus surat pengantar untuk mendapatkan izin observasi dari Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.. beliau menyarankan kepada peneliti untuk melakukan studi pendahuluan ke tempat di mana penelitian ini akan dilakukan guna penyusunan proposal lengkap. Ed. Dr.D.1/PG/2004 tanggal 27 September 2004. M.8 2004. Dip. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan Surat Rekomendasi untuk melakukan observasi ke SD Negeri dan Swasta Kota Cendekia (Surat Kepala Dinas Kota Cendekia Nomor: 070/4915/ 420.Ed. Setelah ide-ide pokok penelitian disetujui. peneliti mengunjungi SD Negeri Mandiri yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah atas inisiatif sendiri dan SD Negeri Cerdas. \ ang selanjurnya dikonsultasikan kembali dengan dosen pembimbing.Pd sebagai pembimbing ketiga diperoleh tanggal 8 Nopember 2004. Berdasarkan surat Direktur Program Pascasaijana Nomor: 2530/J36. Balikan dari Prof. Pemilihan sekolah-sekolah ini sesuai pula saran dari Staf Subdin Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Cendekia. dan saran-saran dari Bapak Frans Mataheru.4. M.Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah dan Peranserta Masyarakat". Hasil studi pendahuluan dituangkan dalam draft proposal penelitian lengkap.Pd diperoleh awal Oktober 2004. Willem Mantja. Berdasarkan surat rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia tersebut.304/2004 tanggal 05 Oktober 2004). diterima tanggal 13 Desember 2004. serta SD Negeri Cermat yang telah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah melalui kegiatan rintisan kerja sama segi tiga Pemerintah Republik idonesia-UNESCO-UNICEF dalam program "Menuju Masyarakat Peduli Pendidikan Anak .

onsultasi dengan dosen pembimbing. pada pertengahan Desember 2004 ketiga dosen pembimbing menyetujui proposal penelitian yang sudah disusun untuk diseminarkan dalam mata kuliah Seminar Usulan Penelitian. guna mendapat masukan dari teman-teman (terutama Bapak Syamsul Hadi sebagai pembanding) dan dosen pembina mata kuliah seminar usulan penelitian. Walaupun banyak saran perbaikan. Selanjutnya.1/PG/2005 tanggal 10 Maret 2005) yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Cendekia.00 WIB betempat di gedung H1 mang 1206. Ahmad Sonhadji K..-.Pd dan Bapak Prof. M. Cukup "anyak masukan dan teman-teman dan dosen pembina mata kuliah seminar (Bapak Prof. Semua saran segera diperbaiki setelah seminar selesai. menyatakan: saya pikir mi proposal yang baik! Bagus!.Ed. A.. Atas dasar surat tersebut Dinas Pendidikan Kota Cendekia mengeluarkan rekomendasi pelaksanaan penelitian dengan surat Nomor: 070/711/420. Willem Mantja. Ed.). Dr. maka judul penelitian ini berubah menjadi: : engembangan Organisasi dengan Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (Studi iitisitus pada Tiga Sekolah Dasar Negeri di Kota Cendekia). H.H.D.9 motivasi bagi penulis. namun dengan kalimat yang indah dan menyejukkan Bapak Frans Mataheru.Ad. Perbaikan draft rroposal dilakukan dengan cara berkonsultasi dengan ketiga dosen pembimbing disertasi Dengan mempertimbangkan saran-saran dalam seminar dan setelah . I Tahap pelaksanaan penelitian dan analisis data Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu dilakukan pengurusan surat :. draft usulan yang telah disetujui pembimbing diseminarkan di velas tanggal 19 Januari 2005 pukul 10.4.-. r h D. M.. Setelah diperbaiki semua saran-saran dan dosen pembimbing.. — honan izin pelaksanaan penelitian dan Direktur Program Pascasaijana Universitas Negeri Malang (Nomor Surat: 894/J36. Dip.307/2005 tanggal 18 Maret .

dan Surat Keterangan Penelitian dan ketiga sekolah) tidak dilampirkan dalam naskah ini. Setelah penyusunan laporan selesai. Atas permintaan di atas. Rekomendasi Dinas Pendidikan. karena nama sekolah sudah disamarkan.303. Dalam penyusunan laporan ini konsultasi dengan ketiga dosen pembimbing tetap dilakukan.73. Kegiatan berikutnya adalah menganalisis dan menafsirkan data yang sudah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan.73. Catatan: Semua surat izin penelitian di atas (Surat izin dari Direktur PPS UM.307. SD Negeri Cerdas memberikan surat keterangan dengan Nomor: 421/205/35. dan SD Negeri Mandiri dengan Nomor: 421. SD Negeri Camat dengan Nomor: 005/28/35.307. Analisis data dilakukan mulai dari situs pertama.2/ 262/420. Namun semua surat tersebut ada pada peneliti. .9 2005. selanjutnya dilakukan penelitian ke sekolah-sekolah yang dijadikan objek studi ini.03/2005 tanggal 19 Desember 2005.05/SDNP 1/2005. kemudian dilanjutkan dengan situs kedua dan ketiga. 3. Setelah izin diperoleh.03/ 303/2005 tanggal 24 Desember 2005. Tahap penyusunan laporan penelitian Penyusunan laporan penelitian dilakukan berdasarkan data yang sudah dianalisis dan dicek keabsahannya selama pelaksanaan penelitian. maka diminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian pada ketiga latar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful