Cerita Rakyat Daerah Jambi: Datuk Darah Putih

Mitos Datuk Darah Putih merupakan cerita tentang seorang panglima perang kerajaan yang ada di daerah dusun Sungai Aro, kabupaten Tebo, Jambi. Mitos tentang Datuk Darah Putih ini dipercayai oleh masyarakat dusun sungai Aro sebagai seorang panglima yang mempunyai darah berwarna putih bila mengalami luka ditubuhnya. Cerita tentang Datuk Darah Putih disebutkan pada masa penjajahan Belanda ke daerah Sungai Aro. Raja sungai Aro merasa khawatir akan nasib rakyatnya yang terbelenggu rantai penjajahan. Bermusyawarahlah raja dengan para panglima untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan serangan yang akan menimpa kerajaan. Keputusan raja bahwa gerakan Belanda harus dihadang di laut. Berdasarkan strategi tempat penghadangan adalah di Pulau Berhala. Tugas itu dibebankan pada Datuk Darah Putih. Perntah itu diterima dengan tegas walau saat itu istri Datuk Darah Putih sedang hamil tua. Perpisahan itu tanpa isak tangis sang istri. Istrinya tahu bahwa suaminya pergi berjuang untuk membela Jambi dari jajahan Belanda. Datuk Darah Putih dan seluruh anggota pasukan pilihan tersebut berjalan dengan gagah berselempan semangat dan kejantanan yang tinggi. Sesampainya di Pulau Berhala Datuk Darah Putih dan pasukannya mendirikan benteng pertahanan mulai dari pantai sampai ke puncak bukit. Beberapa hari kemudian kapal pasukan Belanda datang ke Pulau Berhala untuk mengambil persediaan minum. Pada saat itulah serangan mendadak pasukan Datuk Darah Putih dilancarkan ke Belanda. Karena sama sekali tidak mengira serangan itu membuat Belanda kewalahan dan akhirnya kalah oleh pasukan Datuk Darah Putih. Seluruh isi kapal disita dan kapal Belanda dibakar.

Melihat kondisi suaminya yang sudah tanpa kepala. Noor yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Dati II Bungo Tebo (pada waktu itu Bungo Tebo masih dalam satu kabupaten. diantara panglima dan anak buahnya. Ia mengamuk dan menghantam habis semua serdadu Belanda. Esok harinya Datuk Darah Putih kembali ke Negeri Sungai Aro. Sang bayi diam terlelap dalam tidurnya dan dengan kedua tangan yang kokoh Datuk Darah Putih mendekap anaknya ke dadanya dan kembali meletakkannya di buaian. Orangorang yang hadir tenggelam dalam keharuan dan melinangkan air mata melihat dan merasakan seolah-olah ada dialog perpisahan diantara ayah dan anak. Setelah menutup lukanya dengan batu sengkalan maka berhentilah darah yang mengalir. Datuk Darah Putih beserta anak buahnya kembali bergabung dengan anggota pasukannya. Mitos tentang Datuk Darah Putih ini merupakan salah satu cerita rakyat Jambi yang ada di daerah Kabupaten Tebo. Oleh anak buahnya. Rakyat ikut mengiringinya sampai ke anak tangga rumah. Bersamaan dengan suara zan ashar yang sayup-sayup sampai dari kejauhan. Pertempuran akhirnya dimenangi oleh Belanda. tubuh Datuk Darah Putih terbujur kaku tak bernafas lagi.Menjelang malam keempat setelah kemenangannya Datuk Darah Putih dan pasukannya kembali menghadang Belanda yang dating di tengah laut. . Dari urat leher yang terputus bersimbah darah berwarna putih masih terdengar suara Datuk Darah Putih yang memerintahkan anak buahnya untuk segera membawanya mundur sedangkan yang lain meneruskan perlawanan. Seperti tidak mengalami kecelakaan. Kapalnya pun hancur dan tenggelam ke laut. otonomi daerah menyebabkan kabupaten itu terpisah menjadi dua kabupaten. Datuk Darah Putih di bawa ke benteng pertahanan. anak ang hanya dapat dirabanya dan didekapnya tana mengetahui bentuk dan rupanya. yaitu kabupaten Bungo dan kabupaten Tebo). ia dipapah menuju rumahnya dan ia tidak mampir menghadap raja terlebih dahulu. Kemudian Datuk Darah Putih perlahan meraih bayi dalam buaian. Kekalahan dalam jumlah dan senjata yang akhirnya membuat pasukan Datuk Darah Putih kalah. Pada tahun 2000. ia tetap pasrah dan kepulangan itu juga tidak ditangisinya. Di pertempuran itu Datuk Darah Putih terpenggal kepalanya oleh pedang prajurit Belanda. Datuk Darah Putih pelan-pelan tertunduk dan kemudian berbaring di dekat buaian anak tercinta. Pertempuran pun berlangsung beberapa hari dan ternyata pihak Belanda jauh lebih besar dan kuat dalam persenjataan. Sang istri telah menunggu dan telah melahirkan seorang putra. Mitos ini kemudian dituliskan dalam sebuah buku Geografi Pariwisata Kabupaten Bungo Tebo (1999) oleh Junaidi T. Ketika sampai di Sungai Aro. diantara suami dan istri. Kemudian Datuk Darah Putih memerintahkan anak buahnya untuk mencari batu sengkalan (penggiling cabai) untuk menutup lukanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful