P. 1
Karate

Karate

|Views: 35|Likes:
Published by Dina Fitri Fauziah

More info:

Published by: Dina Fitri Fauziah on Oct 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

pdf

text

original

KARATE

Oleh: Dina Fitri Fauziah

1. Definisi Karate Karate (空 手 道) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji, yaitu „Kara‟ (空) yang berarti „kosong‟, dan „te‟ (手) yang berarti „tangan'. Kedua kanji tersebut (空手) bermakna “tangan kosong” (pinyin: kongshou). Karate berarti sebuah seni bela diri yang memungkinkan seseorang mempertahankan diri tanpa senjata. Menurut Gichin Funakoshi, karate mempunyai banyak arti yang lebih condong kepada hal yang bersifat filsafat. Istilah “kara” dalam karate bisa pula disamakan seperti cermin bersih yang tanpa cela yang mampu menampilkan bayangan benda yang dipantulkannya sebagaimana aslinya. Ini berarti orang yang belajar karate harus membersihkan dirinya dari keinginan dan pikiran jahat. Selain itu, makna kata “kara” pada karate mengarah kepada sifat kejujuran, rendah hati dari seseorang. Walaupun demikian, sifat kesatria tetap tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta lawan tengah menunggu. Akhiran kata “Do” pada karate-do memiliki makna jalan atau arah. Suatu filosofi yang diadopsi tidak hanya oleh karate tapi juga oleh kebanyakan seni bela diri Jepang dewasa ini (Kendo, Judo, Kyudo, Aikido, dll). Demikianlah makna yang terkandung dalam karate. Karena itulah seseorang yang belajar karate sepantasnya tidak hanya memperhatikan sisi teknik dan fisik, melainkan juga memperhatikan sisi mental yang sama pentingnya. Seiring usia yang terus bertambah, kondisi fisik akan terus menurun. Namun kondisi mental seorang karateka yang diperoleh lewat latihan yang lama akan membentuk kesempurnaan karakter.

2. Sejarah Karate Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi „karate‟ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. (Pada saat itu, Okinawa belum menjadi bagian Jepang). Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi untuk pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokohtokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Masutatsu Oyama kemudian secara resmi juga mendirikan aliran Karate baru yang dinamakan Kyokushin pada tahun 1956. Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari Cina, sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II, Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dun ia dan menjadi olah raga seni bela diri paling populer di seluruh dunia. Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan karate yang bersifat "tanpa kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak langsung".

3. Sejarah Karate di Indonesia

Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan mereka di Jepang. Pada tahun 1963, beberapa mahasiswa Indonesia, antara lain: Baud AD Adikusumo (seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M. Nakayama, JKA Shotokan), Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan dan Ottoman Noh, mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mulamula memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka namakan Persatuan Olahraga Karate Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta. Baud AD Adikusumo kemudian tercatat sebagai pelopor seni beladiri Karate di Indonesia dan juga pendiri Indonesia Karate-DO (INKADO). Setelah beliau, tercatat nama putra-putra bangsa Indonesia yang ikut berjasa mengembangkan berbagai aliran Karate di Indonesia, antara lain: Sabeth Mukhsin dari aliran Shotokan, pendiri Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dan Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI), dan juga adalah Anton Lesiangi (sama-sama dari aliran Shotokan), pendiri Lembaga Karate-Do Indonesia/LEMKARI. Aliran Shotokan adalah yang paling populer di Indonesia. Selain Shotokan, Indonesia juga memiliki perguruan-perguruan dari aliran lain yaitu Wado dibawah asuhan Wado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh C.A. Taman dan Kushin-ryu Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu. Selain itu juga dikenal Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryu, dan Nardi T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu (dengan tokohnya Dr. Markus Basuki) dan SHINDOKA (dengan tokohnya Bert Lengkong). Selain aliran-aliran yang bersumber dari Jepang di atas, ada juga beberapa aliran Karate di Indonesia yang dikembangkan oleh putra-putra bangsa Indonesia sendiri, sehingga menjadi independen dan tidak terikat dengan aturan dari Hombu Dojo (Dojo Pusat) di negeri Jepang. Disamping ex-mahasiswa-mahasiswa tersebut di atas, orang-orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka usaha telah pula ikut memberikan warna

bagi perkembangan karate di Indonesia. Mereka-mereka ini antara lain: Matsusaki (Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969), Hayashi (Shitoryu-1971) dan Oyama (Kyokushinkai-1967). Karate ternyata memperoleh banyak penggemar, yang implementasinya terlihat muncul dari berbagai macam organisasi (Pengurus) karate, dengan berbagai aliran seperti yang dianut oleh masing-masing pendiri perguruan. Banyaknya perguruan karate dengan berbagai aliran menyebabkan terjadinya ketidak cocokan diantara para tokoh tersebut, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PORKI. Namun akhirnya dengan adanya kesepakatan dari para tokoh-tokoh karate untuk kembali bersatu dalam upaya mengembangkan karate di tanah air sehingga pada tahun 1972 hasil Kongres ke IV PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI). Sejak FORKI berdiri sampai dengan saat ini kepengurusan di tingkat Pusat yang dikenal dengan nama Pengurus Besar/PB, organisasi ini telah dipimpin oleh 6 orang Ketua Umum dan periodisasi kepengurusannyapun mengalami 3 kali perobahan masa periodisasi yaitu: periode 5 tahun (ditetapkan pada Kongres tahun 1972 untuk kepengurusan periode tahun 1972 – 1977), periodisasi 3 tahun (ditetapkan pada kongres tahun 1997 untuk kepengurusan periode tahun 1997 – 1980), dan periodisasi 4 tahun (Berlaku sejak kongres tahun 1980 sampai sekarang). Adapun mereka-mereka yang pernah menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal (Umum) FORKI sejak tahun 1972 adalah sbb : Periode/Masa Bakti 1972 – 1977 Ketua Umum Widjojo Suyono Sumadi Subhan Sekretaris Jenderal/Umum Otoman Nuh Keterangan Kongres IV PORKI/FORKI

1972 di Jakarta Kongres V FORKI 1977 di Jakarta Kongres VI FORKI 1980 di

1977 – 1980 1980 – 1984

Rustam Ibrahim G.A. Pesik

Djajaatmadja 1984 – 1988 Rudini Adam Saleh

Jakarta Kongres VII FORKI 1984 di Bandar Lampung Kongres VIII FORKI 1988 di Jakarta Kongres IX 1992 di Jakarta (Diperpanjang sd 1997)

1988 – 1992

Rudini

G.A. Pesik

1992 – 1996

Rudini

G.A. Pesik

1997 – 2001

Wiranto Luhut B.

Drs. Hendardji - Kongres X FORKI 1997 di S,SH. Caringin Bogor Jawa Barat

2001 – 2005

Pandjaitan, MPA. Luhut B.

Drs. Hendardji - Konres XI FORKI 2001 di S,SH. Jakarta

2005 – 2009

Pandjaitan, MPA.

Drs. Hendardji - Kongres XII FORKI 2005 di S,SH. Jakarta

PERGURUAN KARATE ANGGOTA FORKI 1. AMURA 2. BKC (Bandung Karate Club) 3. BLACK PANTHER KARATE INDONESIA 4. FUNAKOSHI 5. GABDIKA SHITORYU INDONESIA (Gabungan Beladiri Karate-Do Shitoryu) 6. GOJUKAI (Gojuryu Karate-Do Indonesia) 7. GOJU RYU ASS (Gojuryu Association) 8. GOKASI (Gojuryu Karate-Do Shinbukan Seluruh Indonesia) 9. INKADO (Indonesia Karate-Do) 10. INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) 11. INKANAS (Intitut Karate-Do Nasional)

12. KALA HITAM 13. KANDAGA PRANA 14. KEI SHIN KAN 15. KKNSI (Kesatuan Karate-Do Naga Sakti Indonesia) 16. KKI (Kushin Ryu M. Karate-Do Indonesia) 17. KYOKUSHINKAI (Kyokushinkai Karate-Do Indonesia) 18. LEMKARI (Lembaga Karate-Do Indonesia) 19. PERKAINDO 20. PORBIKAWA 21. PORDIBYA 22. SHINDOKA 23. SHI ROI TE 24. TAKO INDONESIA 25. WADOKAI (Wadoryu Karate-Do Indonesia)

(Lambang Lembaga Karate-Do Indonesia)

PB FORKI beberapa kali mendapat kepercayaan menyelenggarakan even internasional, diantaranya : 1. Menjadi tuan rumah APUKO II tahun 1976 dilaksanakan di Jakarta.

2. Menjadi tuan rumah APUKO VII tahun 1987 dilaksanakan di Jakarta. 3. Menjadi tuan rumah APUKO Junior tahun 1991 dilaksanakan di Jakarta. Di samping even-even tersebut, PB FORKI dipercayakan juga oleh KONI Pusat sebagai penyelenggara pertandingan karate pada even Sea Games dimana Indonesia menjadi tuan rumah, yaitu masing-masing : 1. Sea Games XIV tahun 1987 di Jakarta. 2. Sea Games XIX tahun 1997 di Jakarta. PB FORKI pernah menggelar even Internasional di luar agenda resmi dari WKF dan AKF sebagai inisiatif sendiri dari PB FORKI yaitu “Indonesia Open Karate Tournamen“ yang dilaksanakan di Jakarta tahun 2002.

4. Aliran Karate Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu: a. Shotokan Shotokan (松濤館流 Shōtōkan-ryū?) adalah sebuah aliran karate yang dikembangkan oleh Gichin Funakoshi (1868–1957) dan anaknya Gigo (Yoshitaka) Funakoshi (1906–1945). Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi.

(Gichin Funakoshi, Pelopor Aliran Shotokan)

Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan. b. Goju-Ryu Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat. c. Shito-Ryu Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju. d. Wado-Ryu Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik

kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan kadang-kadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut. Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF. Sedangkan aliran karate lain yang besar walaupun tidak termasuk dalam "4 besar JKF" antara lain adalah: a. Kyokushin Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo), aliran ini juga sering dikenal sebagai salah satu aliran karate paling keras. Aliran ini menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut. b. Shorin-ryu Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak

persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorinryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo. c. Uechi-ryu Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih). Pada zaman sekarang, karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

5. Latihan/Teknik Karate Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut: a. Kihon Kihon (基本:きほん, Kihon) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Kihon adalah latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang, dan menangkis. Praktisi karate harus menguasai kihon dengan baik sebelum mempelajari kata dan kumite. Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.

b. Kata Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata adalah latihan jurus atau bunga karate. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa, tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda. Dalam Kata

ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata. Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda. Kata yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat. Kata memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam karate. Gichin Funakoshi mengambil kata dari perguruan Shorei dan Shorin. Shotokan memiliki 26 kata yang terus dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak. Masing-masing kata mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi tiap praktisi Shotokan untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.

Kata Heian Shodan Heian Nidan

Arti Pikiran yang damai (1) Pikiran yang damai (2)

Nama Asli Pinan Nidan Pinan Shodan Pinan Sandan Pinan Yondan Pinan Godan Naihanchi

Heian Sandan

Pikiran yang damai (3)

Heian Yondan Heian Godan Tekki Shodan Tekki Nidan Tekki Sandan Bassai Dai Kanku Dai Enpi Hangetsu

Pikiran yang damai (4) Pikiran yang damai (5) Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (1) Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (2) Satria yang kuat, kuda-kuda yang kuat (3) Menembus benteng (besar) Menatap langit (besar) Burung layang-layang terbang Bulan separuh

Passai Kushanku Wanshu Seishan

Jion Nijushiho Sochin Bassai Sho Kanku Sho Jitte Chinte Meikyo Jiin Gankaku Wankan Gojushiho Sho Gojushiho Dai Unsu

Nama biksu Budha, pengampunan 24 langkah Memberi kedamaian bagi orang banyak Menembus benteng (kecil) Menatap langit (kecil) Bertarung seolah-olah dengan kekuatan 10 orang Tangan yang luar biasa Cermin jiwa Gema Kuil, Dasar kuil Bangau diatas batu Mahkota raja 54 langkah (kecil) 54 langkah (besar)

Jion Niseishi Sochin

Jitte Chinte Rohai

Chinto Wankan

Useishi

Tangan seperti (menyibak) awan di angkasa Hakko

c. Kumite Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite adalah latihan tanding atau sparring. Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan. Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding. Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin

diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding. Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang titik vital.

6. Pertandingan Karate Ketentuan Umum Pertandingan Karate Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu : a. Kumite (perkelahian) putera dan puteri Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang. b. Kata (jurus) putera dan puteri Pada pertandingan kata, yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan Kata pilihan atau Kata wajib dalam peraturan pertandingan. Para peserta harus memperagakan Kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dan dapat memperagakan Kata pilihan. Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan Kata, para

peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih. Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:
   

Shotokan : Kankudai dan Jion. Wado-ryu : Seishan dan Chinto. Goju-ryu : Saifa dan Seipai. Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai. Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata

JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar di atas. Luas Lapangan

Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan

ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.

Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan

bahaya. Pada Kumite Shiai, yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi ke dalam tiga warna yaitu putih, merah, dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif. Peralatan dalam Pertandingan Karate Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan karate 1. Pakaian karate (karategi) untuk kontestan 2. Pelindung tangan

3. Pelindung tulang kering 4. Ikat pinggang (Obi) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao 5. Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
o o o

Pelindung gusi (di beberapa pertandingan menjadi keharusan) Pelindung tubuh untuk kontestan putri Pelindung selangkangan untuk kontestan putera

6. Peluit untuk arbitrator/alat tulis 7. Seragam wasit/juri
o o o o

Baju putih Celana abu-abu Dasi merah Sepatu karet hitam tanpa sol

8. Papan nilai 9. Administrasi pertandingan 10. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch). Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah pelindung selangkangan untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak diperkenankan.

7. Falsafah Karate a. Rakka (Bunga yang berguguran) Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri.

b. Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air) Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danau itu akan kabur. Berikut ini adalah filosofi karate dari aliran shotokan: Shoto Niju Kun

Karate-do wa rei ni hajimari, rei ni owaru koto wo wasuruna Karate diawali dan diakhiri dengan sopan santun Karate ni sente nashi Karate tidak mengenal sikap menyerang lebih dulu Karate wa gi no tasuke Karate adalah sebuah pertolongan untuk keadilan Mazu jiko wo shire, shikoshite tao wo shire Pertama-tama kenali dirimu sendiri baru orang lain Gijutsu yori shinjutsu Semangat lebih penting daripada teknik Kokoro wa hanatan koto wo yosu Bersiaplah untuk membebaskan pikiranmu Wazawai wa getai ni shozu Kecelakaan muncul dari kecerobohan Dojo nomi no karate to omou na Jangan berpikir karate hanya didalam dojo saja Karate no jugyo wa issho de aru Berlatih karate membutuhkan waktu seumur hidup Arai-yuru mono wo karate kaseyo, soko ni myo-mi ari Ubah segala hal seperti karate karena disanalah rahasianya

Karate wa yu no goto shi taezu natsudo wo ataezareba moto no mizu ni kaeru Karate sama dengan air panas. Jika tidak kau berikan panas yang tetap maka air itu akan dingin kembali. Katsu kangae wa motsu na makenu kangae wa hitsuyo Jangan berpikir harus menang namun pikirkan agar tidak kalah Teki ni yotte tenka seyo Berubahlah sesuai dengan gerakan lawanmu Tatakai wa kyojutsu no soju ikan ni ari Memenangi pertarungan bergantung dari kemampuanmu mengontrol segala taktik Hito no te ashi wo ken to omoe Pikirkan kedua tangan dan kaki lawan seperti pedang Danshi mon wo izureba hyakuman no tekki ari Jika seseorang keluar dari rumah, pikirkan ada jutaan lawan tengah menunggu Kamae wa shoshinsha ni ato wa shizentai Pemula pertama-tama harus menguasai kuda-kuda dan sikap badan rendah, posisi badan yang alamiah/wajar untuk tingkat lanjut. Kata wa tadashiku jissen wa betsu mono Berlatih kata adalah satu hal dan menghadapi sebuah pertarungan nyata adalah hal yang lain lagi. Chikara no kyojaku, karada no shinshuku, waza no kankyu wo wasaruna Jangan lupa (1) penggunaan kekuatan dengan tenaga yang benar, (2) badan yang menyesuaikan/fleksibel, (3) penggunaan teknik dengan kecepatan yang benar Tsune ni shinen kufu seyo Carilah cara untuk senantiasa belajar sepanjang waktu

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->