P. 1
pidana korporasi

pidana korporasi

|Views: 88|Likes:
Published by Cassanova Stotales

More info:

Published by: Cassanova Stotales on Oct 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2011

pdf

text

original

KEBIJAKAN FORMULASI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI TERHADAP KORBAN KEJAHATAN KORPORASI

Evan Elroy Situmorang, SH. ABSTRAK Pada saat ini, peran korporasi sudah sedemikian luasnya. Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat melibatkan korporasi di dalamnya. Dapat dilihat bahwa koporasi bergerak di berbagai bidang seperti industri pertanian, perbankan, hiburan dan sebagainya yang melibatkan perputaran uang yang tidak sedikit. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peran korporasi saat ini menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Tujuan korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya mengakibatkan sering terjadinya tindakan pelanggaran hukum, bahkan memunculkan korban yang menderita kerugian. Walaupun demikian, banyak korporasi yang lolos dari kejaran hukum sehingga tindakan korporasi yang bertentangan dengan hukum tersebut semakin meluas dan sulit dikontrol. Menjerat korporasi atas kejahatan yang dilakukannya melalui adalah hal yang penting, namun yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan perlindungan dan keadilan kepada korban kejahatan korporasi. Berdasarkan latar belakang di atas, maka muncul permasalahan yakni bagaimana kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi saat ini, serta bagaimana kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi di masa yang akan datang. Metode penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis bahan-bahan kepustakaan serta dokumendokumen yang berkaitan. Selanjutnya, data dianalisis secara normatif kualitatif dengan jalan menafsirkan dan mengkonstruksikan pernyataan yang terdapat dalam dokumen dan perundang-undangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa saat ini kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi belum dapat mewujudkan pertanggungjawaban korporasi terhadap korban. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi dan reformulasi pada kebijakan formulasi yang akan datang dengan menekankan pada keseragaman dan konsistensi dalam hal penentuan kapan suatu tindak pidana dikatakan sebagai tindak pidana korporasi, siapa yang dapat dituntut dan dijatuhi pidana atas kejahatan korporasi, serta sanksi-sanksi apa yang sesuai untuk korporasi yang melakukan kejahatan. Kata kunci : Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Korban Kejahatan Korporasi

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Masyarakat terus berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Perkembangan IPTEK juga diikuti dengan perkembangan jenis-jenis kejahatan. Menurut Saparinah Sadli, kejahatan atau tindak kriminal merupakan salah satu bentuk dari perilaku menyimpang yang selalu ada dan melekat pada tiap bentuk masyarakat, tidak ada masyarakat yang sepi dari kejahatan. 1 Pada awalnya, hanya kejahatan konvensional yang dianggap sebagai kejahatan, namun dalam perkembangannya, muncul jenis-jenis kejahatan baru yang kompleks seiring dengan perkembangan masyarakat tersebut. Pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap kejahatan masih berpola pada kejahatan konvensional seperti pencurian dan pembunuhan. Hal ini karena kejahatan konvensional mudah diidentifikasi, misalnya melalui korban yang muncul dari kejahatan konvensional tersebut. Demikian pula dengan pelaku kejahatan. Pada awalnya, yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana hanyalah orang (natural person). Permasalahan korporasi sebagai subjek hukum pidana tidak lepas dari aspek hukum perdata. Dalam hukum perdata orang perseorangan bukanlah satu1

Sebagaimana dikutip oleh Barda Nawawi Arief dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief, TeoriTeori dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung, 1998, hal. 148

tetapi juga di negara-negara lain terutama negara berkembang seperti Indonesia dalam rangka mendapatkan keuntungan yang lebih besar. 2006. Pandangan seperti ini berbeda dengan KUHP yang hanya mengenal orang perseorangan sebagai subjek hukum. Hal ini disebabkan masih ada subjek hukum lain yang memiliki hak dan dapat melakukan perbuatan hukum sama seperti orang perseorangan. 2 . Pertanggungjawaban Pidana Korporasi. perbankan. Dewasa ini korporasi yang masuk dalam kategori perusahaan raksasa atau perusahaan multinasional sudah banyak berkembang di berbagai negara.satunya subjek hukum. Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat melibatkan korporasi di dalamnya. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan manusia.2 Data tersebut menunjukkan betapa besar kekuatan modal korporasi yang bertaraf multinasional pada saat itu. Korporasi tidak lagi seperti dulu yang masih menggunakan sistem yang sederhana. Mereka tidak hanya membangun imperium di negara asal. korporasi juga berkembang menjadi lebih kompleks. Dapat dilihat bahwa koporasi bergerak di berbagai bidang seperti industri pertanian. hal. hiburan dan sebagainya yang melibatkan perputaran 2 Sutan Remi Sjahdeini. dua perusahaan terbesar di Amerika Serikat yaitu General Motor dan Exxon masing-masing sudah memiliki nilai penjualan melebihi 60 miliar dollar. suatu jumlah yang jauh melebihi total pendapatan dari negara bagian Amerika Serikat yang manapun dan kebanyakan negara di dunia. Jakarta. Berbagai sistem dan metode dalam menjalankan korporasi terus dikembangkan dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Grafiti Pers. Pada tahun 1978.

Berdasarkan pengalaman dari berbagai negara maju dapat dikemukakan bahwa identifikasi kejahatan-kejahatan korporasi dapat mencakup tindak pidana seperti pelanggaran undang-undang monopoli. apalagi meningkatnya privatisasi. pelanggaran ketentuan harga. pembayaran pajak dan cukai.uang yang tidak sedikit. Dengan mudahnya korporasi menghilangkan bukti-bukti kejahatannya terhadaap masyarakat termasuk juga mengintervensi para aparat penegak hukum. penipuan melalui komputer. Tujuan korporasi untuk terus meningkatkan keuntungan yang diperolehnya mengakibatkan sering terjadinya tindakan pelanggaran hukum. Segala kebutuhan masyarakat dari lahir sampai mati telah disediakan oleh korporasi. bahkan memunculkan korban yang menderita kerugian. umumnya dilakukan oleh suatu perusahaan atau badan hukum yang bergerak dalam bidang bisnis dengan berbagai tindakan yang bertentangan dengan hukum pidana yang berlaku. Peran mereka mendominasi kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian. Bukan lagi negara yang menyediakan kebutuhan. . Kejahatan korporasi yang biasanya berbentuk kejahatan kerah putih (white collar crime). Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peran korporasi saat ini menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat. tapi korporasi. Korporasi baik itu berupa suatu badan hukum maupun bukan memiliki kekuasaan yang besar dalam menjalankan aktvitasnya sehingga sering melakukan aktivitas yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. banyak korporasi yang lolos dari kejaran hukum sehingga tindakan korporasi yang bertentangan dengan hukum tersebut semakin meluas dan sulit dikontrol.

Undang-Undang No. penyuapan. 6 Tahun 1984 tentang Pos. UndangUndang No. Beberapa perundang-undangan di luar KUHP yang telah mengatur korporasi sebagai subjek tindak pidana antara lain. Undang-Undang No. dan pencemaran lingkungan hidup. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. 7/Drt. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No.com. 23 Tahun 3 Gobert dan Punch. 31 Tahun 2004. 17 tahun 1951 Tentang Penimbunan Barang yang merupakan undang-undang positif pertama yang menggunakan prinsip bahwa korporasi dapat menjadi pelaku tindak pidana. Undang-Undang No.produksi barang yang membahayakan kesehatan. pelanggaran administrasi. http://maswig. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. perburuhan. Undang-Undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. 10 Tahun 1998. Rethinking The Corporate Crime. Undang-undang tersebut kemudian diikuti oleh undang-undang lainnya seperti. 21 September 2007 . Undang-Undang No. namun beberapa undang-undang khusus di luar KUHP telah mengenal korporasi sebagai subjek tindak pidana selain orang.blogspot. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.3 KUHP yang berlaku saat ini belum mengatur mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi dalam arti belum mengenal korporasi sebagai subjek tindak pidana. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Undang-Undang Darurat No. korupsi.

Kapita Selekta Hukum Pidana.5 Korban kejahatan koporasi cakupannya lebih luas daripada korban kejahatan pada umumnya (kejahatan konvensional) baik dari segi jumlah korban maupun kerugian yang ditimbulkan.4 Apapun jenis kejahatan yang dilakukan. namun pada kejahatan korporasi korban sering tidak mengetahui bahwa mereka telah menjadi korban dari kejahatan-kejahatan tersebut. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. dalam kejahatan-kejahatan biasa. Undang-Undang No. Menurut Clinard dan Yeager.. hal. Op. Korban juga terus berkembang seiring dengan perkembangan kejahatan. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. korban mengatahui bahwa yang bersangkutan telah menjadi korban. Kerugian yang diderita oleh korban kejahatan korporasi sulit untuk dapat dideteksi secara langsung seperti kejahatan konvensional pada umumnya. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang No. korbanlah yang selalu menderita kerugian akibat kejahatan yang terjadi. Bandung. 223-226 Clinard dan Yeager dalam Sutan Remi Sjahdeini. 25 Tahun 2003. hal. sehingga korban kejahatan korporasi perlu mendapat perhatian khusus dalam pencegahan dan penanggulangan kejahatan 4 5 Barda Nawawi Arief.cit. Undang-Undang No. 4 . 2003. 20 Tahun 2001.1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Citra Aditya Bakti. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Demikian pula kejahatan yang dilakukan oleh korporasi yang menimbulkan korban kejahatan korporasi yang menderita kerugian.

TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian di atas. 2. Menjerat korporasi atas kejahatan yang dilakukannya melalui peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pertangunggjawaban korporasi adalah hal yang penting. namun yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan perlindungan dan keadilan kepada korban kejahatan korporasi.korporasi dalam hal ini berupa pertanggungajawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi. B. maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi dalam hukum positif Indonesia saat ini? 2. maka dikemukakan rumusan permasalahan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi di masa yang akan datang. Untuk mengetahui dan menganalisis kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi saat ini. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian di atas. . Bagaimanakah kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi di masa yang akan datang? C.

khususnya dalam menangani kasus kejahatan korporasi yang terjadi di Indonesia dan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum pada umumnya. Manfaat Teoritis Secara teoritis diharapkan dapat menambah informasi atau wawasan yang lebih kongkrit bagi aparat penegak hukum dan pemerintah. dan pengkajian hukum khususnya yang berkaitan dengan kebijakan hukum pidana pertanggungjawaban korporasi terhadap korban kejahatan korporasi. KERANGKA TEORI Perkembangan masyarakat yang demikian pesatnya dewasa ini seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga berdampak pada . Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi pemikiran dan pertimbangan dalam menangani kasus kejahatan korporasi dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi aparat penegak hukum dan pemerintah khususnya dalam upaya penanggulangan kejahatan korporasi terutama yang berkaitan dengan pertanggungjawaban korporasi terhadap korban kejahatan korporasi. MANFAAT PENELITIAN Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian penelitian ini dan tujuan yang ingin dicapai. E. maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. 2.D.

”criminal policy is the rational organization of the social reaction to crime”. 2.7 Definisi lainnya yang dikemukakan oleh G. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana.8 Berdasarkan berbagai pengertian di atas mengenai kebijakan kriminal terlihat bahwa kebijakan kriminal secara garis besar merupakan usaha rasional yang dilakukan oleh masyarakat yang merupakan respon atas kejahatan . 2 8 Ibid. 3. Peter Hoefnagels yaitu bahwa. Masyarakat memerlukan suatu perlindungan hukum agar dapat terhindar dari kejahatan yang kian berkembang tersebut sehingga dapat menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dengan baik. Criminal policy is a rational total of the response of crime. Menurut Marc Ancel. 2005. Penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan kriminal. Peter Hoefnagels adalah: 1. 1 7 G. Bandung. Kebijakan sosial tersebut mencakup kebijakan 6 Barda Nawawi Arief. Citra Aditya Bakti.6 Pengertian kebijakan kriminal juga dikemukakan oleh G. Dari uraian di atas tampak bahwa kebijakan kriminal (criminal policy) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kebijakan yang lebih luas yaitu kebijakan sosial (social policy). Peter Hoefnagels dalam Barda Nawawi Arief. Ibid. 4. . Respon tersebut berupa usaha-usaha pencegahan dan penanggulangan kejahatan. Criminal policy is the science of responses. Criminal policy is the science of crime prevention.perkembangan kejahatan yang semakin kompleks. kebijakan kriminal adalah suatu usaha yang rasional dari masyarakat dalam menanggulangi kejahatan. Criminal policy is a policy of designating human behaviour as crime.. hal. hal.

yaitu 9 Lihat Barda Nawawi Arief. maka upaya penanggulangan kejahatan yang dilakukan juga harus tetap memperhatikan upayaupaya lain diluar upaya melalui hukum pidana.untuk kesejahteraan sosial (social welfare policy) dan kebijakan untuk perlindungan masyarakat (social defence policy). Ibid. kebijakan sosial (social policy). hal 3 . Dalam rangka mencapai tujuan akhir berupa social defence dan social welfare tersebut. kebijakan untuk kesejahteraan sosial (social welfare policy) dan kebijakan untuk perlindungan masyarakat (social defence policy) dapat digambarkan secara singkat dalam bagan dibawah ini:9 Social Welfare Policy Tujuan SOCIAL POLICY Social Defence Policy Penal Criminal Policy Non Penal Skema tersebut menggambarkan hubungan kebijakan kriminal yang merupakan usaha pencegahan dan penanggulangan kejahatan yang harus menunjang tujuan yaitu social defence dan social welfare. Hubungan antara kebijakan kriminal (criminal policy). Upaya non-penal dapat dilakukan dengan pendekatan techno-prevention.. yaitu melalui upaya non penal.

PT. Selain itu. 90 11 Barda Nawawi Arief. Bandung. Menurut Barda Nawawi Arief. pendekatan global (kerjasama internasional) dan pendekatan birokrat. pendekatan culture / budaya yaitu dengan membangkitkan kepekaan warga masyarakat dan aparat penegak hukum.10 Terkait dengan masalah pertanggungjawaban korporasi terhadap korban kejahatan koporasi. 2005. RajaGrafindo Persada. dalam arti kebijakan menggunakan/mengoperasionalkan/mengfungsionalisasikan hukum pidana. kewenangan aplikasi atau 10 Barda Nawawi Arief. kebijakan hukum pidana yang digunakan juga diharapkan disesuaikan dengan waktu dan situasi pada masa kini serta memprediksi situasi di masa yang akan datang. hal.11 Dari uraian di atas tampak bahwa yang menjadi isu sentral adalah menyangkut kewenangan dan pengaturan kewenangan itu sendiri dalam fungsionalisasi kebijakan hukum pidana. pendekatan edukatif/moral. kebijakan hukum pidana tersebut juga dapat memberikan keadilan bagi korban kejahatan korporasi.upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan dengan menggunakan membangun dan teknologi. Tindak Pidana Mayantara Perkembangan Kajian Cyber Crime di Indonesia. dilihat dari sudut kebijakan hukum pidana. Kewenangan dalam fungsionalisasi kebijakan hukum pidana meliputi kewenangan formulasi atau kebijakan legislastif. masalah sentral atau masalah pokok sebenarnya terletak pada masalah seberapa jauh kewenangan/kekuasaan mengatur dan membatasi tingkah laku manusia (warga masyarakat/pejabat) dengan hukum pidana. Citra Aditya. 137 . sehingga kebijakan hukum pidana yang digunakan dapat difungsionalisasikan dengan efektif pada masa sekarang dan masa yang akan datang. 2006. Jakarta. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. hal.

Ada beberapa teori pertanggungjawaban pidana korporasi yang dijadikan dasar dapat dibebankannya pertanggungjawaban pidana kepada korporasi. maka koporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana. Dan ketiga. hal. tahap pelaksanaan pidana oleh aparat pelaksana/eksekusi pidana (tahap kebijakan eksekutif/administratif)”. Teori identifikasi (identification theory) merupakan teori pertanggungjawaban pidana korporasi. 139 . tahap penerapan hukum pidana oleh aparat penegak hukum atau pengadilan (tahap kebijakan aplikatif/yudikatif/yudisial). Kedua. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Barda Nawawi Arief: “pembagian kewenangan itu didasarkan pada adanya tiga tahap konkretisasi atau fungsionalisasi/operasionalisasi hukum pidana dilihat dari sudut kebijakan hukum pidana. teori identifikasi (identification theory). Teori pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability) adalah teori 12 Ibid. Teori pertanggungjawaban pidana korporasi tersebut antara lain. Pertanggungjawaban pidana terhadap koporasi.. Pertama. Apabila yang melakukan tindak pidana tersebut merupakan “directing mind” atau orang yang diberi wewenang untuk bertindak atas nama korporasi. harus dapat diidentifikasikan terlebih dahulu siapa yang melakukan tindak pidana tersebut.12 Pertanggungjawaban pidana yang dibebankan kepada korporasi pertama kali dikembangkan di negara-negara yang menganut Common Law System seperti Inggris dan Amerika Serikat sebagai akibat dari revolusi industri yang dimulai di negara tersebut.kebijakan yudikatif. tahap penetapan/perumusan hukum pidana oleh pembuat undang-undang (tahap kebijakan formulatif/legislatif). teori pertanggungjawaban pengganti (vicarious liability) dan teori pertanggungjawaban mutlak (strict liability). dan kewenangan eksekusi atau kebijakan eksekutif.

Op. Metode Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif yaitu dengan menginventarisasi dan mengkaji atau menganalisis data sekunder yang berupa bahan-bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memahami hukum 13 Lihat juga dalam Sutan Remi Sjahdeini. dimana majikan bertanggungjawab atas perbuatan para buruhnya dalam lingkup tugas dan pekerjaannya. dapat pembebanan pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi.. METODE PENELITIAN 1. bertanggungjawab atas kesalahan orang lain.13 Beberapa diharapakan teori pertanggungjawaban memberikan dasar pidana hukum korporasi bagi yang ada. sehingga kebijakan hukum pidana yang berkaitan dengan kejahatan korporasi dapat dioperasionalkan dengan efektif dengan tetap memperhatikan dan berpegang pada tujuan dari kebijakan sosial yaitu perlindungan dan kesejahteraan masyarakat. F. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang kedepannya diharapkan dapat diakomodasi. Teori pertanggungjawaban mutlak (strict liability) adalah teori pertanggungjawaban pidana korporasi yang paling praktis.cit. Pertanggungjawaban pidana korporasi dibebankan pada orang yang melakukan tindak pidana tersebut bekerja tanpa perlu dibuktikan ada tidaknya unsus kesalahan. hal 78 .pertanggungjawaban pidana korporasi dimana seseorang dalam hal ini korporasi. Teori ini didasarkan pada employment principle.

sebagai perangkat peraturan atau norma-norma positif di dalam sistem perundangundangan yang mengatur mengenai kehidupan manusia. Kamus besar bahasa Indonesia. c. bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat. 2. . maka jenis data yang digunakan adalah data sekunder. d. 2. 3. b. Data sekunder yang diteliti adalah sebagai berikut: 1. 3. Sumber Data Penelitian ini termasuk penelitian hukum normatif. yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer berupa: dokumen atau risalah perundangundangan. Spesifikasi Penelitian Spesifikasi Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis yang merupakan penelitian untuk menggambarkan dan menganalisa masalah yang ada dan termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan (library research) yang akan disajikan secara deskriptif. bahan hukum tersier yang memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder antara lain: a. Kamus hukum. Selain itu juga digunakan pendekatan komparatif yang digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan formulasi di masa yang akan datang. bahan hukum sekunder. Ensiklopedia Indonesia. Kamus bahasa Inggris – Indonesia.

4. sekunder dan tersier diperoleh dari studi kepustakaan dan studi dokumen.e. Metode Analisis Data Data dianalisis secara normatif-kualitatif dengan jalan menafsirkan dan mengkonstruksikan pernyataan yang terdapat dalam dokumen dan perundangundangan. Data sekunder baik yang menyangkut bahan hukum primer. Normatif karena penelitian ini bertitik tolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai norma hukum positif. Berbagai majalah maupun jurnal hukum. sedangkan kualitatif berarti analisis data yang bertitik tolak pada usaha penemuan asas-asas dan informasi baru. Metode Pengumpulan Data Sesuai dengan sumber data yang menggunakan data sekunder dalam penelitian ini. . maka metode pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi dokumen dengan mengumpulkan dan menganalisis bahanbahan kepustakaan serta dokumen-dokumen yang berkaitan. 5.

cit.. Op. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KEBIJAKAN HUKUM PIDANA A. maka politik hukum pidana mengandung arti. Kebijakan dari negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki yang diperkirakan bisa digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan. bagaimana mengusahakan atau membuat dan merumuskan suatu perundang-undangan pidana yang baik”. “criminal law policy” atau “strafrechtspolitiek”. 16 Sudarto dalam Barda Nawawi Arief.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. antara lain “penal policy”.15 Menurut Sudarto. menurut Barda Nawawi Arief : “. hal. yang dimaksud dengan politik hukum adalah:16 1. 17 Pendapat lain mengenai definisi kebijakan hukum pidana dikemukakan oleh Marc Ancel. Berdasarkan pengertian politik hukum diatas. hal 24 Ibid. Pengertian Kebijakan Hukum Pidana Istilah “kebijakan hukum pidana” menurut Barda Nawawi Arief dapat pula disebut dengan istilah “politik hukum pidana”.14 Lebih lanjut lagi Barda Nawawi Arief mengemukakan bahwa pengertian kebijakan atau politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun dari politik kriminal. istilah “politik hukum pidana” ini sering dikenal dengan berbagai istilah.. dimana ia memberikan definisi penal policy sebagai : 14 15 Barda Nawawi Arief. Dalam kepustakaan asing.. 1. Usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat. 17 Ibid. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. 2. 25 .. Ibid.dilihat sebagai bagian dari politik hukum.

tahap eksekusi (kebijakan administratif). Dengan demikian. 3. 2. hal. Citra Aditya Bakti. Kebijakan Formulasi Hukum Pidana Pencegahan dan penanggulangan kejahatan dengan saran penal merupakan penal policy atau penal-law enforcement policy. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Tahap pertama yaitu tahap formulasi merupakan tahap paling strategis dari upaya penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sarana penal. kesalahan dalam membuat suatu formulasi peraturan perundang-undangan maka akan berdampak negatif bagi operasionalisasi dari aplikasi dan eksekusi peraturan tersebut. istilah “penal policy” menurut Marc Ancel adalah sama dengan istilah “kebijakan atau politik hukum pidana”. Oleh karena itu. yaitu tahap aplikasi dan eksekusi. Strategis dikarenakan pada tahap inilah ditetapkan pedoman-pedoman bagi pelaksanaan tahap-tahap selanjutnya.“suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik”. Tahap formulasi juga disebut penegakan hukum in abstracto oleh badan legislatif sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan formulasi. 75 . menurut Barda Nawawi Arief fungsionalisasi/operasionalisasinya dilakukan melalui beberapa tahap:19 1. tahap aplikasi (kebijakan yudikatif). Dengan kata lain. 18 19 Ibid. 2. tahap formulasi (kebijakan legislatif). 2001. yang dimaksud dengan “peraturan hukum positif” (the positive rules) dalam definisi Marc Ancel itu jelas adalah peraturan perundang-undangan hukum pidana.18 A. Barda Nawawi Arief. Bandung.

1994. KORPORASI DAN KEJAHATAN KORPORASI B. K. Menurut Sutan Remi Sjahdeini. Kebijakan formulasi menurut Barda Nawawi Arief adalah : “suatu perencanaan atau program dari pembuat undang-undang mengenai apa yang akan dilakukan dalam menghadapi problema tertentu dan cara bagaimana melakukan atau melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan atau diprogramkan itu”. Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana. korporation (Jerman). corporation (Inggris). Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara (Disertasi). hal. Bandung. maka akhirnya “corporatio” itu berarti hasil dari pekerjaan membadankan.Kebijakan formulasi adalah kebijakan dalam merumuskan sesuatu dalam suatu bentuk perundang-undangan. 83 . pengertian korporasi yang dalam istilah lain dikenal dengan corporatie (Belanda). Kemudian Sutan Remi Sjahdeini mengungkapkan bahwa : 20 Barda Nawawi Arief.20 B. berasal dari bahasa latin yaitu “corporatio”. Semarang. UNDIP. dengan kata lain badan yang dijadikan orang. Malikoel Adil dalam Muladi dan Dwidja Priyatno. yang terjadi menurut alam”. korporasi dapat dilihat dari artinya yang sempit. “Corporatio” sebagai kata benda (subatantivum) berasal dari kata kerja “coporare” yang banyak dipakai orang pada jaman abad pertengahan atau sesudah itu. 63 21 Soetan. 1991. Pengertian Korporasi Secara etimologis. “Corporare” sendiri berasal dari kata “corpus” (badan). yang berarti memberikan badan atau membadankan. hal.21 Ada beberapa definisi yang dikemukakan mengenai korporasi. maupun artinya yang luas. Dengan demikian. 1. STHB. badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia.

Pengertian dan Ruang Lingkup Kejahatan Korporasi Ruang lingkup kejahatan korporasi juga dijelaskan oleh Steven Box. korporasi merupakan figur hukum yang eksistensi dan kewenangannya untuk dapat atau berwenang melakukan perbuatan hukum diakui oleh hukum perdata. 22 23 Sutan Remi Sjahdeini. Suatu korporasi hanya “mati” secara hukum apabila “matinya” korporasi itu diakui oleh hukum”. yang dalam hal ini yang menjadi korban adalah korporasi.. dimana ruang lingkup kejahatan korporasi meliputi :23 1. yaitu kejahatan yang dilakukan korporasi dalam rangka mencari keuntungan. 2. Clinard dan Yeager yang melakukan studi terhadap kejahatan korporasi mengemukakan jenis-jenis kejahatan yang sering dilakukan korporasi. hukum perdatalah yang mengakui “eksistensi” korporasi dan memberikannya “hidup” untuk dapat berwenang melakukan perbuatan hukum sebagai suatu figur hukum. Crimes for corporation.22 B. 3. Criminal corporation. Crime against corporations. 1995. Jakarta. 2. Op. cit. Berdasarkan ruang lingkup yang diberikan oleh Steven Box di atas dapat ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan korporasi dalam penelitian ini adalah kejahatan korporasi yang berupa crimes for corporation. yaitu kejahatan korporasi yang berkaitan dengan administrasif. Artinya. hal. hal.“Menurut artinya yang sempit. yaitu sebagai badan hukum. yaitu kejahatan-kejahatan terhadap korporasi seperti pencurian atau penggelapan milik korporasi. Demikian juga halnya dengan "matinya” korporasi. 43 Steven Box dalam Hamzah Hatrik. lingkungan. yaitu korporasi yang bertujuan semata-mata untuk melakukan kejahatan. adalah pelanggaran hukum dilakukan oleh korporasi dalam usaha untuk mencapai tujuan korporasi untuk memperoleh profit. keuangan. Rajagrafindo Persada. 41 . Asas Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability).

cit. 4. dan pembayaran (suap) untuk pejabat-pejabat asing. dan kecacatan dari pedagang sehingga mempengaruhi keselamatan kendaraan bermotor. mengeluarkan pernyataan salah. iklan yang salah dan menyesatkan merupakan hal penting dalam praktek perdagangan yang tidak jujur. Contohnya pelanggaran yang berkaitan dengan surat-surat berharga yakni memberikan informasi yang salah atas wali utama. dan desain yang tidak baik. Pelanggaran di bidang administratif meliputi tidak memenuhi persyaratan suatu badan pemerintahan atau pengadilan. Op. Pelanggaran transaksi meliputi syarat-syarat penjualan (penjualan yang terlalu mahal terhadap langganan). 82 . the National Highway Traffic Administration mensyaratkan pembuatan kendaran bermotor atau memberitahukan agen dan pemilik. Kejahatan-kejahatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :24 1. keselamatan pekerja. pembeli. produk barang. Pelanggaran ketentuan pabrik melibatkan tiga badan pemerintah. informasi yang tidak benar. kerusakan sistem. Pelanggaran perburuhan dapat dibagi menjadi empat tipe utama. atau agama). jenis kelamin. sumbangan poltik secara tidak sah. yaitu : the Consumer Product Safety Comission bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap the Poison Prevention Packaging Act. 3. baik polusi udara maupun air. Praktek perdagangan yang tidak jujur meliputi bermacam-macam penyalahgunaan persaingan (antara lain monopolisasi. seperti tidak mematuhi perintah pejabat pemerintah. hal. diskriminasi harga). penghindaran pajak. dan praktek-praktek perdagangan tidak jujur. 6.tenaga kerja. pemberian persenan. Pelanggaran di bidang keuangan meliputi pembayaran secara tidak sah atau mengabaikan untuk menyingkap pelanggaran tersebut. upah dan pelanggaran jam kerja. 2.. the Flamable Fabrics Act. 5. disamping itu juga mensyaratkan pembuat (pabrik) untuk memperbaiki kerusakan tersebut. pemasangan bagian yang tidak benar. yaitu diskriminasi tenaga kerja (ras. sebagai contohnya membangun fasilitas pengendalian pencemaran lingkungan. seperti penyuapan di bidang bisnis. dan lainlain. Kecacatan itu meliputi mesin sebagai akibat dari kesalahan pada bagian pemasangan. dan manfaat atau keuntungan secara ilegal. 24 Clinard dan Yeager dalam Arief Amrullah. yaitu seperti pelanggaran terhadap surat izin yang mensyaratkan kewajiban penyediaan oleh korporasi untuk pembangunan perlengkapan pengendalian polusi. Pelanggaran di bidang lingkungan hidup meliputi pencemaran udara dan air berupa penumpahan minyak dan kimia. praktik perburuhan yang tidak sehat. dan the Consumer Product Safety Act.

Pelanggaran di bidang administratif meliputi tidak memenuhi persyaratan suatu badan pemerintahan atau pengadilan. sebagai contohnya membangun fasilitas pengendalian pencemaran lingkungan. keselamatan pekerja. cit. dan pembayaran (suap) untuk pejabat-pejabat asing. Kejahatan-kejahatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :25 7. seperti tidak mematuhi perintah pejabat pemerintah. dan lainlain. Contohnya pelanggaran yang berkaitan dengan surat-surat berharga yakni memberikan informasi yang salah atas wali utama. Pelanggaran perburuhan dapat dibagi menjadi empat tipe utama. dan praktek-praktek perdagangan tidak jujur. baik polusi udara maupun air. tenaga kerja. Pelanggaran di bidang keuangan meliputi pembayaran secara tidak sah atau mengabaikan untuk menyingkap pelanggaran tersebut. 8. 10. Op. sumbangan poltik secara tidak sah. yaitu seperti pelanggaran terhadap surat izin yang mensyaratkan kewajiban penyediaan oleh korporasi untuk pembangunan perlengkapan pengendalian polusi. upah dan pelanggaran jam kerja. yaitu diskriminasi tenaga kerja (ras. Clinard dan Yeager yang melakukan studi terhadap kejahatan korporasi mengemukakan jenis-jenis kejahatan yang sering dilakukan korporasi. mengeluarkan pernyataan salah. keuangan. hal. yaitu kejahatan yang dilakukan korporasi dalam rangka mencari keuntungan. penghindaran pajak. Pelanggaran di bidang lingkungan hidup meliputi pencemaran udara dan air berupa penumpahan minyak dan kimia. pemberian persenan. jenis kelamin. 11. seperti penyuapan di bidang bisnis. yaitu : the Consumer Product Safety Comission bertanggung jawab atas 25 Clinard dan Yeager dalam Arief Amrullah. produk barang. atau agama)..Berdasarkan ruang lingkup yang diberikan oleh Steven Box di atas dapat ditetapkan bahwa yang dimaksud dengan kejahatan korporasi dalam penelitian ini adalah kejahatan korporasi yang berupa crimes for corporation. 9. yaitu kejahatan korporasi yang berkaitan dengan administrasif. Pelanggaran transaksi meliputi syarat-syarat penjualan (penjualan yang terlalu mahal terhadap langganan). praktik perburuhan yang tidak sehat. lingkungan. Pelanggaran ketentuan pabrik melibatkan tiga badan pemerintah. 82 . dan manfaat atau keuntungan secara ilegal.

sebagai akibat dari kejahatan yang dilakukan oleh orang lain baik langsung maupun tidak langsung. Pengertian Korban dan Peranan Viktimologi dalam Perkembangan Perhatian Terhadap Korban Pengertian korban yang lebih spesifik dikemukakan oleh Muladi. yang menjelaskan korban kejahatan sebagai : “seseorang yang telah menderita kerugian sebagai akibat suatu kejahatan dan atau yang rasa keadilannya secara langsung telah terganggu sebagai akibat pengalamannya sebagai target (sasaran kejahatan). C. Alumni. the National Highway Traffic Administration mensyaratkan pembuatan kendaran bermotor atau memberitahukan agen dan pemilik. termasuk juga keluarga korban yang ikut mengalami penderitaan atau kerugian. Bandung. dan kecacatan dari pedagang sehingga mempengaruhi keselamatan kendaraan bermotor. diskriminasi harga). KORBAN KEJAHATAN KORPORASI C. bahkan nyawanya sendiri. Bunga Rampai Hukum Pidana. 84 .pelanggaran terhadap the Poison Prevention Packaging Act. (A victim is a person who has suffered damage as a result of a crime and/or whose sense of justice has been directly disturbed by the experience of having been target of a crime). 12. iklan yang salah dan menyesatkan merupakan hal penting dalam praktek perdagangan yang tidak jujur.26 Garis besar mengenai definisi korban kejahatan. Kecacatan itu meliputi mesin sebagai akibat dari kesalahan pada bagian pemasangan. 1. yaitu orang perorangan maupun kelompok orang yang menderita kerugian baik itu berupa kerugian fisik. Praktek perdagangan yang tidak jujur meliputi bermacam-macam penyalahgunaan persaingan (antara lain monopolisasi. 2007. ekonomi. dan desain yang tidak baik. pemasangan bagian yang tidak benar. 26 Muladi dalam Muladi dan Barda Nawawi Arief. kerusakan sistem. disamping itu juga mensyaratkan pembuat (pabrik) untuk memperbaiki kerusakan tersebut. hal. dan the Consumer Product Safety Act. mental. the Flamable Fabrics Act. informasi yang tidak benar. pembeli.

namun perkembangan hukum di luar KUHP berupa undang-undang tindak pidana khusus telah menganut prinsip korporasi sebagai subjek tindak pidana.D. . TEORI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI Mengenai pembebanan pertanggungjawaban pidana terhadap kejahatan yang dilakukan oleh korporasi itu sendiri ada beberapa teori atau ajaran yang dapat dijadikan dasar dalam pembebanan pertanggungjawaban pidana tersebut. Teori atau ajaran tersebut adalah Teori Identifikasi (Identification Theory). KEBIJAKAN FORMULASI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI TERHADAP KORBAN KEJAHATAN KORPORASI DALAM BEBERAPA PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA INDONESIA Pada bagian awal dari tulisan ini telah dikemukakan bahwa KUHP yang ada sekarang ini tidak menganut atau mengakui korporasi sebagai subjek tindak pidana. Hal ini tentu saja membawa konsekuensi dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi. 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. Kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi dalam beberapa peraturan perundang-undangan pidana Indonesia dapat ditemukan antara lain pada : Undang-Undang No. dan Teori Pertanggungjawaban Pidana Pengganti (Vicarious Liability). Perkembangan tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam hal kejahatan korporasi. 7/Drt. BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Teori Pertanggungjawaban Pidana Mutlak (Strict Liability).

Undang-Undang No. Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. 31 Tahun 2004. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. KEBIJAKAN FORMULASI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI TERHADAP KORBAN KEJAHATAN KORPORASI DI MASA YANG AKAN DATANG. B. 6 Tahun 1984 tentang Pos. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-Undang No. melainkan juga harus menentukan aturan mengenai sistem pidana dan pemidanaannya. sehingga diperlukan sebuah upaya reorientasi dan reformulasi pertanggungjawaban pidana terhadap korban kejahatan korporasi di masa yang akan datang. Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. 20 Tahun 2001. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Undang-Undang No. Formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi tentu saja tidak cukup hanya dengan menyebutkan korporasi sebagai subjek tindak pidana saja. 25 Tahun 2003. Undang-Undang No. . 10 Tahun 1998. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. UndangUndang No. Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. Undang-Undang No.

Akan tetapi ada juga negara yang membedakan antara jenis pidana yang dapat dikenakan kepada orang dan kepada korporasi. Restitusi pada hakikatnya . Konsep pembayaran ganti kerugian berupa kompensasi maupun restitusi yang dituangkan dalam bentuk suatu aturan perundang-undangan sebenarnya sudah berkembang lama di negara-negara maju. jenis-jenis sanksi yang sesuai dengan subjek tindak pidana berupa korporasi yang berorientasi pada pemberian ganti kerugian kepada korban. apabila korporasi yang dimaksud tidak dapat dijerat. misalnya Perancis dan Norwegia. C. dituntut. dan dijatuhi pidana berdasarkan peraturan perundangundangan yang ada. siapa yang dapat dituntut dan dijatuhi pidana atas kejahatan yang dilakukan korporasi. 3. dan mana jenis pidana yang dapat dikenakan kepada korporasi. Mustahil memberikan pemenuhan ganti kerugian yang diderita oleh korban oleh korporasi. Formulasi mengenai ketentuan tersebut harus diatur secara tegas untuk meminimalisir kemungkinan korporasi melepaskan diri dari tanggungjawab atas kejahatan yang dilakukannya. ketentuan mengenai kapan suatu tindak pidana dapat dikatakan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi. 2.Reorientasi dan reformulasi pertanggungjawaban pidana terhadap korban kejahatan korporasi antara lain meliputi ketentuan mengenai : 1. Sanksi Pidana Bagi Korporasi di Beberapa Negara Kebanyakan hukum pidana diberbagai negara tidak memberikan pembedaan antara mana jenis pidana yang dapat diterapkan kepada orang.

Dasar bagi penerapan restitusi adalah bahwa restitusi itu sendiri memang dikhususkan bagi korban kejahatan atau pengembalian atau pemulihan kerugian yang timbul setelah terjadinya kejahatan (korban nyata atau aktual). didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Ketidakmampuan tersebut disebabkan oleh kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam formulasi . Kebijakan formulasi mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi yang ada atau berlaku saat ini belum dapat mewujudkan pertanggungjawaban pidana korporasi tersebut. tetapi sebagian besar ketentuan tersebut hanya memberikan perlindungan kepada korban potensial dan bukan pertanggungjawaban terhadap korban aktual atau nyata. Meskipun terdapat sanksi yang dapat dikenakan terhadap korporasi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam bab terdahulu. BAB IV PENUTUP A. Dengan kata lain. atas keuntungan yang diperolehnya dengan cara yang melanggar hukum dan merugikan pihak lain (korban).merupakan bentuk tanggungjawab dari pelaku kejahatan dalam hal ini korporasi. kebijakan formulasi yang ada saat ini belum mampu menjerat dan menjatuhkan sanksi pidana kepada korporasi yang melakukan kejahatan. terutama sanksi pidana yang berorientasi pada pemenuhan atau pemulihan hak-hak korban berupa pembayaran ganti kerugian setelah terjadinya kejahatan.

terutama dalam rangka memberikan pemenuhan dan pemulihan hak-hak korban atas kejahatan yang dilakukan korporasi. serta jenis-jenis sanksi apa yang sesuai untuk korporasi yang melakukan kejahatan. serta dalam rangka pencegahan dan penanggulangan kejahatan korporasi itu sendiri. siapa yang dapat dituntut dan dijatuhi pidana dalam kejahatan korporasi. Kebijakan formulasi pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korporasi di masa yang akan datang diharapkan lebih seragam dan konsisten dalam hal penentuan kapan suatu tindak pidana dikatakan sebagai tindak pidana yang dilakukan korporasi. ketidakseragaman dalam pengaturan mengenai siapa yang dapat dipertangunggjawabkan atau dituntut dan dijatuhi pidana. serta formulasi jenis pidana yang dapat dikenakan kepada korporasi yang melakukan tindak pidana. antara lain berupa : tidak adanya keseragaman dalam menentukan kapan suatu korporasi dapat dikatakan melakukan tindak pidana. . 2.pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap korban kejahatan korporasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->