P. 1
Journal Usaha Kecil Indonesia

Journal Usaha Kecil Indonesia

|Views: 35|Likes:
Published by Niena Ramadhani

More info:

Published by: Niena Ramadhani on Oct 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2011

pdf

text

original

USAHA KECIL DI INDONESIA

:
PROFIL, MASALAH DAN STRATEGI PEMBERDAYAAN1
Oleh: Mudrajad Kuncoro

Abstrak
This paper attempts to analyse the development of small and cottage establishments (SCE) in Indonesia. Special attention is given to major characteristics and problems of SCE. The rapid growth of Large and Medium Establishments (LME) since the 1970s has overshadowed the sluggish growth of SCE. Nevertheless, SCE have played a considerable role in generating employment and supporting household income. Indeed various programs have been offered by various institutions (i.e. government, NGOs, universities) to empower SCE, but the results is likely to be marginal either in boosting the growth of SCE or changing the Indonesia’s industrial structure. It is also shown that the sub-contracting and Foster-parent scheme between small and large establishments in Indonesia have been still in the “embryonic” stage. This paper, accordingly, calls an urgency to reinvent the parnership and small development program.
Key words: industri kecil dan rumah tangga (IKRT), profil, kemitraan

Tidak dapat dipungkiri bahwa industrialisasi di Indonesia sejak Pelita I hingga saat ini telah mencapai hasil yang diharapkan. Setidaknya industrialisasi telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara, di mana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sering disebut sektor primer), sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. Kecenderungan ini terlihat pada Tabel 1. Pada tahun 1965, sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (56 persen); sementara sektor industri baru menyumbang 13 persen dari PDB. Dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 11,9 persen selama 1965-1980 dan 6,1 persen selama 19801992, ternyata sektor industri telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan. Pada tahun 1992, sektor industri secara keseluruhan menyumbang 40 persen terhadap PDB, di mana peranan industri manufaktur cukup menonjol karena menyumbang 21 persen terhadap PDB. Pada tahun yang sama, sumbangan sektor pertanian merosot drastis hingga tinggal 19 persen dari PDB. Ini sejalan dengan menurunnya laju pertumbuhan sektor pertanian, dari rata-rata 4,3 persen per tahun selama 1965-1980 menjadi 3,1 persen selama 1980-1992. Singkatnya, sektor industri manufaktur
1 Disempurnakan dari makalah yang disajikan dalam Studium Generale dengan topik “Strategi Pemberdayaan Usaha Kecil di Indonesia”, di STIE Kerja Sama, Yogyakarta, 18 Nopember 2000. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas komentar dan masukan para peserta Seminar “A Quest for Industrial District” yang diselenggarakan oleh Kelompok Diskusi Pascasarjana Ilmu-ilmu Ekonomi UGM, Yogyakarta, 1 Desember 2000.

1

dan sasaran usahanya sebagian besar masih pada pasar yang diproteksi.3 11. sebagai perbandingan. Perkembangan industri moderen di Taiwan.1 6.0 40. dan teknologi tinggi telah menimbulkan polarisasi dan dualisme dalam proses pembangunan. pada pasar yang diproteksi.9 12. investor asing masih cenderung pada orientasi pasar domestik (inward oriented). Keenam. Pengalaman Taiwan.0 21. Dalam konstelasi semacam ini.1 12.0 6. proteksi. struktur industri Indonesia terbukti masih dangkal. menyimpulkan beberapa permasalahan struktural pada industri Indonesia. Sumber: World Bank (1991.3 1980-92 3. lemahnya hubungan intra-industri. Pertama. Kelima. Dualisme ini muncul karena orientasi industrialisasi berbasis pada modal besar dan teknologi tinggi. masih kakunya BUMN sebagai pemasok input maupun sebagai pendorong kemajuan teknologi. dengan minimnya sektor industri menengah. Keempat.4 Rata-rata pertumbuhan per tahun 1965-80 4.8 Sektor Kendati demikian. Tabel 1. sebagaimana ditunjukkan oleh minimnya perusahaan yang bersifat spesialis yang mampu menghubungkan klien bisnisnya yang berjumlah besar secara efisien. dominasi kelompok bisnis pemburu rente (rent-seeking) ternyata belum memanfaatkan keunggulan mereka dalam skala produksi dan kekuatan finansial untuk bersaing di pasar global.0 8.0 31. 1994) 56. laporan Bank Dunia (1993). Distribusi Produk Domestik Bruto (PDB) dan laju pertumbuhan sektoral (%) Pangsa dalam PDB 1965 Pertanian Industri (industri manufaktur) Jasa. Fakta menunjukkan sektor manufaktur yang modern hidup berdampingan dengan sektor pertanian yang tradisional dan kurang produktif.muncul menjadi penyumbang nilai tambah yang dominan dan telah tumbuh pesat melampaui laju pertumbuhan sektor pertanian. Dualisme dalam sektor manufaktur juga terjadi antara industri kecil dan rumah tangga yang berdampingan dengan 2 .0 40. bisa dipahami mengapa terjadi dualisme dan lemahnya keterkaitan industri kecil dengan industri besar. dll. ternyata ditopang oleh kontribusi usaha kecil dan menengah yang dinamik. Ketiga. Hanya saja strategi industrialisasi yang banyak mengandalkan akumulasi modal.0 1992 19. yang sukses menembus pasar global. Kedua. 1995).0 13. Keterkaitan yang erat antara si besar dan si kecil lewat program subcontracting terbukti mampu menciptakan sinergi yang menopang perekonomian Taiwan.0 7. yang berjudul Industrial PolicyShifting into High Gear. baik yang terselubung maupun terang-terangan. tingginya tingkat konsentrasi dalam perekonomian dan banyaknya monopoli. namun kurang berdasar atas kekuatan ekonomi rakyat (Kuncoro. justru menunjukkan ekonominya dapat tumbuh pesat karena ditopang oleh sejumlah usaha kecil dan menengah yang disebut community based industry.

IKRT memegang peranan penting dalam ekspor nonmigas. banyak yang mensinyalir deregulasi di bidang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi perusahaan kecil dan menengah. Di perdesaan. dengan tenaga kerja lebih dari 1000 orang. Kendati demikian. dll. Selama beberapa tahun terakhir ini. Pertama. yang menikmati kenaikan nilai tambah secara absolut maupun per rata-rata perusahaan (Kuncoro & Abimanyu. Artikel ini mula-mula akan menjawab pertanyaan mengapa usaha kecil perlu diperhatikan? Tentunya menarik untuk menyimak perkembangan definisi usaha kecil. menikmati margin keuntungan yang tinggi. 1996). Dari sisi kebijakan. pengurangan jumlah kemiskinan. ia juga berfungsi sebagai strategi mempertahankan hidup (survival strategy) di tengah krismon. Apalagi karena lokasinya banyak di pedesaan. dan besar. pemerataan dalam distribusi pendapatan. pemerintah secara konsisten telah melakukan berbagai upaya deregulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukturisasi perekonomian. modal. peran penting IKRT memberikan tambahan pendapatan (Sandee et al. dan akumulasi modal cepat. hambatan masuk tinggi (adanya bea masuk. 1995). pertumbuhan IKRT akan menimbulkan dampak positif terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja. dan kebijakan yang telah dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya.. dengan ciri: beroperasi dalam struktur pasar quasi-monopoli oligopolistik. Boleh dikata. yang pada tahun 1990 mencapai US$ 1. Pertanyaan mendasar yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah: Bagaimanakah realitas pola kemitraan yang telah dirintis? Apakah program kemitraan mampu meningkatkan kinerja usaha kecil? Sudah saatnyakah dilakukan reorientasi program kemitraan dan pemberdayaan usaha kecil di Indonesia? MENGAPA USAHA KECIL PERLU DIKEMBANGKAN? Sejak tahun 1983. namun juga merupakan ujung tombak dalam upaya pengentasan kemiskinan.). Puncak piramida ini (bagian yang diarsir) sejalan dengan hasil survei Warta Ekonomi (1993) mengenai omset 200 konglomerat Indonesia.industri menengah dan besar. profil usaha kecil. Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh perusahaan skla kecil. Ketiga. Kuncoro. bahkan justru perusahaan besar dan konglomeratlah yang mendapat keuntungan. Dalam konstelasi inilah. namun justru perusahaan skala konglomerat. perhatian untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan rumah tangga (IKRT) setidaknya dilandasi oleh tiga alasan. Pada dasar piramida didominasi oleh usaha skala menengah dan kecil yang beroperasi dalam iklim 3 . et al. Kecenderungan menerap banyak tenaga kerja umumnya membuat banyak IKRT juga intensif dalam menggunakan sumberdaya alam lokal. 1994). nontariff. IKRT menyerap banyak tenaga kerja. sedang. Gambar 1 memperlihatkan bahwa pada puncak piramida dipegang oleh usaha skala besar. 1999). 1994.031 juta atau menempati rangking kedua setelah ekspor dari kelompok aneka industri. adanya urgensi untuk struktur ekonomi yang berbentuk piramida pada PJPT I menjadi semacam "gunungan" pada PJPT II.. dan pembangunan ekonomi di pedesaan (Simatupang. Kedua. berbagai pola kemitraan antara usaha kecil dan besar pun telah dikembangkan. IKRT jelas perlu mendapat perhatian karena tidak hanya memberikan penghasilan bagi sebagian besar angkatan kerja Indonesia. merupakan seedbed bagai pengembangan industri dan sebagai pelengkap produksi pertanian bagi penduduk miskin (Weijland.

serta banyak dituding melestarikan dualisme perekonomian nasional. Gambar 1. hambatan masuk rendah. margin keuntungan rendah. Struktur ekonomi bentuk piramida terbukti telah mencuatkan isyu konsentrasi dan konglomerasi.yang sangat kompetitif. Piramida Ekonomi Indonesia 4 . dan tingkat drop-out tinggi.

dari jumlah perusahaan kecil sebanyak sebanyak 124. 1996: 5). (4) industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS.7 persen tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. adalah: bagaimana profil industri/pengusaha kecil di Indonesia? Apa permasalahan dan tantangan aktual yang mereka hadapi? Sejauh mana upaya pembinaan dan pengembangan yang telah dilakukan? PROFIL DAN SEBARAN USAHA KECIL Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah tangga. 5 .bambu. paling banyak Rp 200 juta (Sudisman & Sari. kerabat. 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggunakan tenaga kerja lain). tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan. yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 14 orang. dan hanya 1. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. (2) industri kecil dengan pekerja 5-19 orang.316 juta orang yang meliputi 15.227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tenaga kerja anggota keluarga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga kerja tetap.990. ternyata 90.Pertanyaan yang barangkali muncul. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 milyar dan memiliki kekayaan bersih. Firma. Ketiga. 18. Pertama. tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kedua. Keempat. BPS mengklasifikasikan industri berdasrakan jumlah pekerjanya. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36). minuman dan tembakau (ISIC31). kemudian. menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS). definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. Tabel 2 menunjukkan bahwa industri kecil dan rumah tangga (IKRT) memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan. Pertama. Kedua. 4. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. industri tekstil (ISIC32). Menurut catatan BPS (1994). 1999: 250). namun lemah dalam menyumbang nilai tambah pada tahun 1990. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali yaitu kurang dari 1%. rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing-masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. pedagang perantara. Kendati beberapa definisi mengenai usaha kecil namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga. rotan. Data BPS (1994) menunjukkan hingga saat ini jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34. dan industri kayu. atau Koperasi). (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang. bahkan rentenir.7 persen yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. CV.6 persen merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris.

Tabel 2.7 Nilai tambah Juta Rp 9. Namun berbeda dengan IBM yang terkonsentrasi secara spasial di kota-kota besar.8 Tenaga Kerja Orang 1.843 100. Kontribusi Usaha Kecil dalam Industri Manufaktur. IKRT terkonsentrasi di pulau Jawa (lihat Tabel 3).144 2. sumbangan nilai tambah IKRT terhadap industri manufaktur hanya sebesar 17.175. sama seperti IBM. 6 . Kontribusi IKRT di Jawa terhadap total tenaga kerja dan omzet masing-masing sekitar 75%.206 100. Kendati demikian. dengan jumlah tenaga kerja kurang dari 20 orang.524. Industri menengah & besar 2.9 52.8 persen. Industri kecil 3. IKRT tersebar secara merata di luar ketiga kota metropolitan Jawa.2 93.2 94. mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 67.2 persen merupakan unit usaha IKRT. 1990 Unit Usaha Jumlah 1.0 770. IKRT.534 1. ternyata tenaga kerja yang diserap oleh IKRT masih sekitar 59% dari total tenaga kerja yang terserap untuk sektor industri.378. Dilihat dari sebaran geografisnya.524 juta. Sekitar 99% jenis usaha bisnis di Indonesia tergolong sebagai IKRT. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada IKRT memperlihatkan betapa pentingnya peranan IKRT dalam membantu memecahkan masalah pengangguran dan pemerataan distribusi pendapatan.3 persen dari total kesempatan kerja.0 5.4 775.483 Persen 82.714.0 1.348. Industri rumah tangga Total Sumber: BPS (1990) 12.0 11.304 1.691.416.0 Data terbaru berdasarkan Sensus Ekonomi 1996 menunjukkan trend yang tidak berubah (Gambar 2).765 Persen 0. ternyata 99.Dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanyak 1. Selain dominan dalam jumlah unit usaha. Angka ini masih lebih besar dibanding industri besar dan menengah (IBM).419 6.8 11.435 Persen 32. yang hanya menampung tenaga kerja sekitar 41%.254.935 6.234 100.264 14.

6 7.1 6.0 % Jawa terhadap Indonesia 81.5 16.920 192 2 161 Sumber: Diolah dari Sensus Ekonomi 1996 dan Survei Industri Gambar 1.0 100.8 4.1 68.7 75.6 7. Greater Bandung 11.0 Total Jawa 100.6 49.93 Sumber: Kuncoro (2000) 7 .9 3.5 7.5 3.6 20.6 81.2 17.0 7.85 39.30 Kecil 8.Tabel 3.77 Jenis Industri Rumah tangga 90.7 70.7 9.0 4. Greater Jakarta 37. Greater Surabaya 15.32 18.1 29.2 62. Wilayah lain 35.8 83.3 29.0 100.4 65.442 168 199.2 15.4 5.2 14.9 70.3 2. 1996 (%) 100 80 60 40 20 0 Unit usaha Tenaga kerja Besar & Menengah 0.8 8.0 100. Industri Manufaktur Menurut Jumlah Tenaga Kerja dan Unit Usaha: Indonesia.8 37.0 100.0 100.84 41.9 31.3 Metropolitan (1-3) 64.1 10.9 74.6 Memo items: (dalam ribuan) (dalam juta Rp) (dalam ribuan) Total Java 3. Pangsa IKRT dibanding Industri Besar dan Menengah (IBM) di Jawa dan Indonesia: 1996 (%) Wilayah Tenaga kerja Omset Jumlah unit usaha IBM IKRT IBM IKRT IBM IKRT 1.

TPSP (Tempat Pelayanan Simpan Pinjam-KUD) amat membantu modal kerja mereka. manajemen sumber daya manusia. (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. ketrampilan. 1997): (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. bagi PK dengan omset antara Rp 50 juta hingga Rp 1 milyar. pasar dikuasai perusahaan tertentu. kewirausahaan. Lemahnya kemampuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. tantangan yang dihadapi pengusaha kecil dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama. dan banyak barang pengganti. BKK. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Kedua. agunan tidak memenuhi syarat. bahan baku berkulaitas rendah. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi usaha lebih lanjut. keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Berdasarkan pengamatan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM. dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi. (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat. Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Keempat. Secara lebih spesifik. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan.TANTANGAN DAN MASALAH Memang cukup berat tantangan yang dihadapi untuk memperkuat struktur perekonomian nasional. Kelima. (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang terampil. (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku. (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan PK mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit. Bisa dipahami bila kredit dari BPR-BPR. pemasaran dan keuangan. bagi PK dengan omset kurang dari Rp 50 juta umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi. Bagi mereka. Ketiga. pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. Kedua. iklim usaha yang kurang kondusif. masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah: Pertama. Keenam. keahlian. tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. dan tingginya harga bahan baku. Secara garis besar. urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh PK jenis ini adalah (Kuncoro. umumnya asal dapat berjualan dengan “aman” sudah cukup. karena persaingan yang saling mematikan. 8 .

KIK.MENCARI STRATEGI PEMBERDAYAAN YANG TEPAT Strategi pemberdayaan yang telah diupayakan selama ini dapat diklasifikasikan dalam: • Aspek managerial. (2) tiadanya indikator keberhasilan yang seragam. PKPK adalah ide dari Departemen Koperasi dan PPK. dan pengembangan sumberdaya manusia. KCK. • Mengembangkan program kemitraan dengan besar usaha baik lewat sistem BapakAnak Angkat. Kredit Mini/Midi. Dalam praktek. yang diharapkan dapat berfungsi sebagai wadah pengembangan pengusaha kecil menjadi tangguh dan atau menjadi pengusaha menengah melalui kerjasama dengan perguruan tinggi dan koordinasi antar instansi. keterkaitan hulu-hilir (forward linkage). KKU). LIK (Lingkungan Industri Kecil). Harus diakui telah cukup banyak upaya pembinaan dan pemberdayaan usaha kecil yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang concern dengan pengembangan usaha kecil (lihat Tabel 4). yang meliputi: peningkatan produktivitas/omset/tingkat utilisasi/tingkat hunian. Hanya saja. Saat ini tercatat sudah ada 16 PKPK di Indonesia. struktur jaringan dalam kerangka organisasi pembinaan usaha kecil semacam ini dapat dilakukan dalam bentuk inkubator bisnis dan PKPK (Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil). yang meliputi: bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit bagi usaha kecil minimum 20% dari portofolio kredit bank) dan kemudahan kredit (KUPEDES. Dalam konteks inilah. modal ventura. mereka sering mengeluh karena hanya selalu dijadikan "obyek" binaan tanpa ada tindak lanjut atau pemecahan masalah mereka secara langsung. upaya pembinaan usaha kecil sering tumpang tindih dan dilakukan sendiri-sendiri. di mana masing-masing instansi pembina menekankan pada sektor atau bidang binaannya sendirisendiri. yang konon diperluas hingga 21 perguruan tinggi pada 18 propinsi. ataupun subkontrak. KUK. yang tersebar di 13 propinsi. keterkaitan hilir-hulu (backward linkage). • Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan apakah berbentuk PIK (Pemukiman Industri Kecil). karena masing-masing instansi pembina berupaya mengejar target dan sasaran sesuai dengan kriteria yang telah mereka tetapkan sendiri. meningkatkan kemampuan pemasaran. Akibatnya terjadilah dua hal: (1) ketidakefektifan arah pembinaan. usulan Assauri (1993) untuk mengembangkan interorganizational process dalam pembinaan usaha kecil menarik untuk kita simak. Bagi pengusaha kecil pun. PIR. KOPINKRA (Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan). Karena egoisme sektoral/departemen. • Aspek permodalan. Kegiatan semacam ini ini merupakan suatu terobosan yang tepat mengingat potensi pengusaha kecil 9 . dalam praktek sering dijumpai terjadinya "persaingan" antar organisasi pembina. SUIK (Sarana Usaha Industri Kecil) yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan Teknis) dan TPI (Tenaga Penyuluh Industri). KMKP. • Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat KUB (Kelompok Usaha Bersama). Perbedaan persepsi mengenai usaha kecil ini pada gilirannya menyebabkan pembinaan usaha kecil masih terkotak-kotak atau sector oriented.

dan nonformal * Konsep link dan match antara dunia pendidikan dengan dunia usaha * Orientasi pendidikan sangat bias 1. Bappenas * Pemetaan desa miskin * Inpres Desa Tertinggal (IDT) dengan orientasi penggunaan dana untuk kegiatan produktif 1.di Indonesia sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Lembaga-lembaga pendukung pengembangan usaha kecil (UK) Lembaga Pendukung 1. belum ada program yang berorientasi pada UK * Pelatihan melalui BLK * Pengembangan pusat informasi * Penetapan KUM dan monitoringnya * Pengembangan usaha kecil dan usaha mandiri lebih ditujukan mengatasi penganggur ketimbang pengembangan usaha itu sendiri Pelatihan-pelatihan Peran yang dilakukan Program/intervensi 1. Depkop & PPK * Peningkatan SDM * Pelayanan konsultasi bekerja sama 10 .1. Pemerintah: 1. Depnaker * Pembinaan dan penempatan tenaga kerja * Perumusan kebijakan ketenagakerjaan 1. dan penyediaan fasilitas * Pendidikan dan pelatihan * Penelitian dan pengembangan tekno produksi melalui R & D * Pelayanan teknis melalui UPT * Pelayanan informasi & konsultasi * Perantara UK dengan Bapak angkat * Program magang * Pelatihan melalui pendidikan masyarakat * Pembinaan kursus-kursus informal * Perhatian terfokus pada usaha menengah-besar-formal.6. antara lain melalui alokasi 1-5% dana keuntungan BUMN * Penyederhanaan prosedur pelayanan finansial 1.2. Deperin Perumusan kebijakan pengembangan. Depdikbud * Peningkatan SDM melalui semua jalur: formal. Tabel 4.5. Depkeu * Pembentukan dan pembinaan UK. informal.3. implementasi program.7. Depsos Pembinaan UK sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan * Merancang kebijakan ekonomi yang kondusif bagi pengembangan UK * Mekanisme kontrol terhadap implementasi kebijakan yang telah diambil masih sangat minim * Kontrol pelayanan finansial bagi usaha kecil * Perencanaan dan pengawasan pembangunan dengan titik berat pada pengentasan kemiskinan * Mekanisme kontrol terhadap lembaga pelaksana IDT sangat lemah * Merumuskan kebijakan pengembangan UK 1.4.

62-63) POLA DAN REALITAS KEMITRAAN: Catatan Empiris Pola kemitraan di Indonesia hingga detik ini dapat dikategorikan menjadi dua. Pemda bersama Bappeda & Dinas Tata Kota * Pengaturan perizinan usaha * Pengaturan tata kota 2. di mana Bapak Angkat (baca: usaha besar) sebagai inti sedang petani kecil sebagai plasma. sumber daya manusia 4. Lembaga Swasta & perorangan 3. Kedua. et al. Pola keterkaitan langsung meliputi: Pertama. di mana 11 . LSM Peningkatan SDM melalui pendidikan dan latihan * Lembaga pelayanan alternatif bagi usaha kecil yang berfungsi sebagai lembaga perantara untuk menjembatani keterbatasan pemerintah dan swasta dalam menjangkau usaha kecil * Sangat berpotensi menjadi partner UK karena kedekatan hubungannya dengan UK * Koordinasi antar LSM maupun lembaga pendukung lainnya sangat minim * Lingkup kerja terbatas. Pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat). Asosiasi Pengusaha Kecil Idealnya asosiasi seperti ini terlibat langsung dalam negosiasi. Lembaga penelitian di Perguruan Tinggi * Pengembangan skema pelayanan finansial di pedesaan * Pelatihan dan teknis manajemen untuk pedagang kecil * Konsultasi dan pembinanan * Pengorganisasian pengusaha kecil harus dibangun dengan tujuan spesifik dan dikaitkan dengan pemberdayaan * Distribusi informasi 5. pola dagang. perumusan kebijakan. dan evaluasi Sumber: Sjifudian.8. monitoring. (1995: h. serta ada ketergantungan finansial dan teknisi ahli yang akan mengancam keberlanjutan lembaga Penelitian dan pengembangan teknologi produksi. yaitu: pola keterkaitan langsung dan keterkaitan tidak langsung.* Berfungsi sebagai koordinator dalam gerakan pengembangan ekonomi rakyat dengan perguruan tinggi * Mengembangkan koperasi sebagai satu-satunya wadah kegiatan ekonomi rakyat * Penyediaan fasilitas tempat usaha (sentra atau pusat perdagangan) * Lokalisasi UK seringkali sangat merugikan karena memisahkan UK dari sistem sosial yang ada * Pengembangan SDM * Perantara dalam pasar kerja * Pengembangan berbagai kelompok swadaya masyarakat * Pelatihan teknis produksi dan pengelolaan/administrasi * Penelitian dan konsultasi * Intervensi efektif hanya dalam wilayah kerjanya * Masih belum menjangkau kelompok usaha kecil yang betul-betul marginal 1.

proporsi IKRT yang terlibat dalam Program Kemitraan maupun keterkaitan usaha masih dalam tahap embrional. perusahaan yang memiliki jaringan subkontrak hanya dijumpai kurang dari 16%. PT Kratakau Steel yang core business-nya menghasilkan baja mempunyai anak angkat perusahaan kecil penghasil emping melinjo. selain itu terdapat interaksi antara anak dan bapak angkat dalam bentuk keterkaikan teknis. Selama ini pola pembinaan lewat program ini meliputi pelatihan pengusaha kecil. dan lokakarya/seminar usaha kecil. Sebagai contoh. Dalam pola ini tidak ada hubungan bisnis langsung antara "Pak Bina" dengan mitra usaha. dan Kalimantan Timur. dan hanya 1% berupa konsultasi dan bimbingan. Di Sulawesi Selatan boleh dikata belum banyak perusahaan yang mempunyai jaringan subkontrak. monitoring usaha. Tabel 5. Khusus untuk pulau Jawa. 29% mengaku menjalin hubungan dengan usaha besar terutama dalam pengadaan bahan baku. 15% menerima bantuan uang atau barang modal. pelatihan calon konsultan pengusaha kecil. Penelitian usaha kecil di enam propinsi menemukan bahwa program kemitraan masih kurang dibandingkan dengan jumlah pengusaha kecil yang ada (Bachruddin. Bali. Demikian juga apabila kita simak seberapa jauh jaringan subkontrak telah berjalan.. et al. Jawa Timur. Rekor tertinggi dalam jaringan subkontrak ditemui di Sumatra Utara karena sekitar 34% industri kain dan pakaian jadi telah memiliki perusahaan subkontrak. Ketiga.bapak angkat bertindak sebagai pemasar produk yang dihasilkan oleh mitra usahanya. dan atau informasi. program kemitraan dan jaringan subkontrak agaknya belum memasyarakat di Indonesia. pemasaran dan yang paling utama adalah manajemen. bimbingan usaha. pola subkontrak. di mana produk yang dihasilkan oleh anak angkat tidak memiliki hubungan kaitan ke depan maupun ke belakang dengan produk yang dihasilkan oleh bapak angkatnya. keuangan. Bisa dipahami apabila pola ini lebih tepat dilakukan oleh perguruan tinggi sebagai bagian dari salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. 2000). Table 5 menunjukkan bahwa hanya terdapat 4 persen IKRT yang terlibat dalam program kemitraan usaha melalui skema Bapak-Anak angkat. Berbagai jenis keterkaitan antarperusahaan bagi IKRT yang terlibat dalam Program Bapak Angkat: Jawa. Keempat. temu usaha. Berbeda dengan Taiwan. Pola keterkaitan tidak langsung merupakan pola pembinaan murni. pola vendor. 1996). yaitu: pengabdian kepada masyarakat. Bagian terbesar (45%) hubungan antara si besar dan kecil amat bervariasi dan tidak dapat dispesifikasikan. Di propinsi Sumatra Barat. Ini barangkali disebabkan karena jenis industri yang ada relatif skala usahanya sangat kecil sehingga tidak memungkinkan melakukan subkontrak. 1996 Jenis keterkaitan usaha IKRT 12 . konsultasi bisnis. 10% memilki kaitan pemasaran. Hal ini terbukti karena sebagian besar pengusaha kecil (89%) belum mempunyai bapak angkat. di mana produk yang dihasilkan oleh anak angkat merupakan bagian dari proses produksi usaha yang dilakukan oleh bapak angkat.595 unit usaha kecil dan rumah tangga uyang terlibat dalam program ini. ternyata hampir senada dengan program kemitraan (Kuncoro. Departemen Koperasi dan PPK telah merintis kerjasama dengan 16 perguruan tinggi pada tahun 1994/95 untuk membentuk Pusat-pusat Konsultasi Pengusaha Kecil (PKPK). Padahal para pengrajin yang sudah menjalin program kemitraan merasakan manfaat yang besar dalam bidang permodalan. Dari total 6.

jangan-jangan dengan kemitraan malah membuka peluang untuk dicaplok oleh si besar. produksi 32%.349 % 14.28 100. Dengan kata lain. masih dirasakan lebih besar nada politisnya dibanding realisasinya. "keterpaksaan" ini banyak berakibat tidak langgengnya kemitraan yang dilakukan. dan Jawa Timur saja. Mereka membantu dan membina kemitraan semata-mata karena anjuran pejabat Anu dan "ketakutan" dengan isyu kesenjangan sosial. Pengamatan di lapangan menunjukkan masih tersendatnya implementasi program kemitraan.09 95.921 634 88 2. Bagi BUMN pun. Tabel 6 menunjukkan bahwa dari jumlah sebesar itu telah dialokasikan untuk membantu 58. Deklarasi Jimbaran. lebih dari setengahnya (55.754 161.785 unit koperasi dan pengusaha kecil. Penyebabnya barangkali karena banyak usaha besar (termasuk BUMN) belum merasakan kehadiran usaha kecil sebagai bagian dari langkah manajemen strategiknya. Hanya sayangnya. Si besar pun curiga. Padahal realisasi penyaluran dana BUMN bagi koperasi dan pengusaha kecil sejak tahun 1990 sampai dengan 1995 secara akumulatif telah mencapai Rp 366 trilyun.00 Hasil-hasil penelitian di atas membuktikan masih belum adanya perubahan realitas kemitraan sejak tahun 1993.595 154. bagi pengusaha kecil. kebanyakan hanya sekadar memenuhi tuntutan Menteri Keuangan untuk menyisihkan 1 hingga 5 persen dari laba setelah pajak untuk membina koperasi dan usaha kecil.595 6.13 9.02%) mempunyai keterkaitan pemasaran dengan Bapak Angkat. sedangkan bagian terbesar (94%) belum atau tidak mempunyai Bapak Angkat. dilihat dari alokasi per propinsi.Uang atau barang modal Pengadaan bahan baku Pemasaran Konsultasi dan bimbingan Lain-lain.91 100.00 4. Keterkaitan terbyak kedua adalah masalah permodalan 44. Jawa Barat.61 1. Dalam praktek.65 29. Bagi pengusaha kecil pun merasakan kehadiran BUMN seakan sekedar sinterklas yang membagi-bagi dana murah. Si kecil curiga.42%. yang muncul ke permukaan malah adanya saling curiga antara si besar dan si kecil. Dari yang mempunyai Bapak Angkat tersebut. Hasil Survei Industri Kecil dan Kerajinan Rumahtangga yang dilakukan oleh BPS (1994) juga menemukan bahwa dari 125 ribu unit industri kecil hanya sekitar 6% saja yang telah mempunyai Bapak Angkat. bahan baku 28% dan yang paling kecil adalah keterkaitan yang berhubungan dengan masalah bimbingan pengelolaan usaha atau manajemen yaitu kurang dari 3%. jangan-jangan bantuan permodalannya tidak digunakan untuk mengembangkan bisnis tapi malah digunakan untuk 13 .33 45. Ini didasarkan fakta adanya bapak angkat yang "memakan" anak angkatnya sendiri. tidak dispesifikasikan Total jumlah IKRT yang terlibat Kemitraan: • Ikut Program Bapak-Angkat • Tidak terlibat dalam program kemitraan Total Sumber: Sensus Ekonomi 1996 dalam Kuncoro (2000a) Jumlah 966 1.986 6. agaknya penyaluran dana BUMN tersebut masih terpusat di DKI Jakarta.

438 1.374.12 1.180 3.649 1.35 4.777 268 1.711.719.722 1.69 42.000 100.467 2.184 1. 20. 5.409 1. Realisasi penyaluran dana 1-5% laba BUMN kepada koperasi dan pengusaha kecil per propinsi. 22.46 7. 14 .761 11.631. 19.017 4. 13.tujuan konsumtif. ekspor. 10.705. 14.777.995 3.668 5. 11.006.72 0.133 2.108.253. Fakta membuktikan bahwa pertumbuhan usaha besar yang pesat dan fantastis sejak dasawarsa 1970-an terbukti telah menutupi pertumbuhan IKRT yang relatif tersendat-sendat.998 6.23 0.499 285 252 317 Penyaluran dana laba BUMN Rp juta 5.532 614.781 12.36 1.883.705 1.761.600 3. D.99 0.606. Tabel 6.571.94 7.168.43 2.62 0.367 2.091. 21. 12.622 3. Propinsi Mitra binaan Koperasi & PK (unit) 919 4.621 9.14 0.59 1.175.17 1. IKRT ternyata telah memainkan peran yang patut diperhitungkan dalam menyerap tenaga kerja. Titik berat analisis adalah pada profil dan masalah utama yang dihadapi oleh IKRT.63 0.286. 23. 7.283 586 563 301 520 520 488 1.815.02 % 1.321.761 3. 18.829 10. 15.631 10. 2.351 49. 25.I Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Timor Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Kalimanyan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Irian Jaya Jumlah 58.189 141 1.I Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Sumatra Selatan Jambi Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D. 6. 8.631 2.38 2. 17.441.043 3.76 0.784.03 0.65 0. Kendati demikian.785 366.283 27.47 3.871 27.68 0. 3.842 2.485 1.147.492.03 1.330.482.57 1.978 4. dan menopang penghasilan keluarga rumah tangga baik di perkotaan maupun di perdesaan.175 229 209 321 9.47 0.968 1.657 155. Memang berbagai program telah ditawarkan oleh banyak lembaga baik pemerintah.44 13. 1990-1995 No.03 1. 9. 16. 27.373. 4. 24.764 15.372. 26.00 Sumber: Ditjen Pembinaan BUMN Departemen Keuangan dalam Suprijadi (1995) SIMPULAN DAN IMPLIKASI Artikel ini telah mencoba menganalisis perkembangan IKRT di Indonesia.

LSM maupun universitas. Pada gilirannya. (2) peningkatan kualitas output dan ketepatan pengiriman barang. yang tadinya bersifat padat karya berubah menjadi industri padat modal. dan berbagi resiko. BUMN. hasil dari program tersebut belum banyak dirasakan oleh sebagain besar IKRT. Ini terbukti setidaknya dari belum tuntasnya masalah yang mereka hadapi. maka kemitraan bukan lagi "barang mewah" di Indonesia. 15 . Apabila kedua prinsip kemitraan tersebut diterapkan. Bandung. Jelas. agaknya sudah saatnya diperlukan reorientasi prinsip kemitraan. Implikasinya. pengusaha-pengusaha batik nasional kita mendapat pasokan batik dari pengusaha batik skala kecil di Yogya dan Surakarta. Astra mensubkontrakkan pembuatan suku cadang kendaraan bermotor kepada para pengusaha kecil di Jawa. permesinan. dan syukur (3) bermanfaat. Ini berdasarkan fakta. adanya technical linkages. saling membantu karena adanya hubungan proses produksi yang saling menguntungkan. dengan kemitraan pola subkontrak dan dagang semacam ini tidak ada superioritas dan inferioritas. Namun. dan Bali karena dapat menekan ongkos. misalnya. Yang terjadi di lapangan adalah: (1) pembinaan yang diberikan bapak angkat dirasakan kurang efektif karena bapak angkat bagaikan sinterklas yang membagi dana pembinaan tanpa peduli dengan dinamika bisnis anak angkatnya. yang merupakan binaan Astra. Program kemitraan dan keterkaitan antara usaha besar dan kecil ternyata masih dalam tahap embrionik. Kemitraan bukan lagi merupakan charity. Sebagai mitra tentunya. Studi Harianto (1996) pun menemukan adanya praktek subkontrak yang menguntungkan untuk industri sepeda. Klaten. dengan kemitraan diharapkan tidak ada lagi kecemburuan dan kesenjangan sosial. kedua belah pihak berdiri pada posisi yang setara. Berlandaskan prinsip ini. (3) industri kecil penghasil komponen kendaraan bermotor. Perusahaan besar. yaitu saling membutuhkan dan saling membantu. Jalinan kemitraan harus didasarkan atas prinsip sinergi. Prinsip saling membantu akan muncul apabila usaha besar memang membutuhkan kehadiran usaha kecil. usaha besar akan selalu mengajak usaha kecil sebagai partner in progress. Demikian juga. merupakan contoh betapa jalinan kemitraan dapat meningkatkan efisiensi. Prinsip saling membutuhkan akan menjamin kemitraan berjalan lebih langgeng karena bersifat "alami" dan tidak atas dasar "belas kasihan". Bukaka juga mempercayakan pembuatan bagian-bagian tertentu dari "garbarata" kepada pengusaha kecil. dan perdagangan di Jabotabek. dan bank dalam berhadapan dengan usaha kecil umumnya memegang prinsip: (1) menguntungkan. Program subkontrak yang telah berjalan dari Grup Astra dan Bukaka. (2) aman. seringkali bidang usaha dari si Bapak Angkat sama sekali berbeda dan tidak ada kaitan hulu-hilir atau hilir-hulu dengan bidang usaha dari usaha kecil yang menjadi anak angkatnya. namun akan menjadi "barang kebutuhan" sebagaimana lazimnya hubungan bisnis yang lain. Sistem Bapak Angkat ini memang diharuskan bagi BUMN dengan menyisihkan 1-5% labanya. Pola bapak-anak angkat banyak yang tidak didasari atas prinsip saling membutuhkan. dan bagi perusahaan swasta besar dengan cara persuasif. Jawa Timur. yang ada hanya mutual relationship. (2) Bapak Angkat pun merasakan kemitraan yang terjalin hanyalah sekadar memenuhi misi sosial. Harus diakui agaknya tidak mudah menerapkan kedua prinsip ini dalam praktek bisnis. Studi Ismoyowati (1996) menunjukkan bahwa dengan pola subkontrak: (1) telah terjadi peningkatan efisiensi dan produktivitas pengusaha kecil mitra binaan PT Astra.

Propinsi NTT. h. BPS. LPM UGM dan Balitbang Departemen Koperasi & PPK. Anas (1994). Biro Pusat Statistik. tahun XXII. dengan asumsi bila kemitraan telah membawa manfaat dan aman. dalam Mari Pangestu (ed. Jurnal Ekonomi. CSIS. (1999). Semoga kemitraan tidak hanya sekedar menjadi mitos. Gambar 3 berikut ini memperlihatkan bagaimana strategi kemitraan dengan pola pariwisata berbasis usaha kecil. Statistical Yearbook of Indonesia 1998. vol. "Orientasi Usaha dan Kinerja Bisnis Konglomerat". ataukah memang secara kongkrit dan konsisten hendak diwujudkan dengan tindakan nyata? Komitmen kemitraan dirasakan bagaikan angin segar bagi kebanyakan usaha kecil. Yogyakarta. World Development.). dan antar sektor usaha kecil dan pariwisata.3. Budi Prasetyo Widyobroto. Zuprizal. no. edisi ke-2. h. Ismoyo (1996). Yang terakhir adalah baru memperhatikan aspek menguntungkan. maka secara otomatis akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Global Shift: The Internationalization of Economic Activity. "Interorganizational Process Dalam Pembinaan Pengusaha Ekonomi Lemah". Small-Scale Business Development and Competition Policy. kemitraan apa pun bentuknya hendaknya membawa manfaat terutama bagi usaha kecil. Jakarta. Anggito (1994). terangkum kemitraan antar skala usaha. "Study on Subcontracting in Indonesian Domestic Firms". Studi dan program pelatihan yang telah kami terapkan di Kabupaten Ende. Dicken. 30 April. Dies Natalis STIE Widya Wiwaha. Assauri. London. Manajemen dan Usahawan indonesia. apakah kemitraan hanya sekedar retorika politis semata. Oleh karena itu. Farid (1996). Juni. Yang pertama seharusnya adalah prinsip bermanfaat. Yogyakarta. Kajian Pengembangan Pola Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil. Hidayat. barangkali format kemitraan pun perlu disesuaikan dengan potensi dan karakteristik daerah. Juni. Tridjoko Wismu Murti. sebagai contoh. 36-51. artinya. Harianto. Bachruddin.Dalam gerakan kemitraan nasional. Dennis (1982). et al.. DAFTAR PUSTAKA Abimanyu. Masalahnya kini. agaknya prioritas prinsip itu perlu dibalik urutannya. Paul Chapman Publishing Ltd. "Small Industry in Developing Countries". Peter (1992). Sofjan (1993). Prinsip aman tetap berada pada prioritas kedua karena ini diperlukan agar usaha bisnis kedua belah pihak tetap lestari dan tidak mengganggu kelangsungan hidup masing-masing pihak. Jakarta. Zaenal. November. antar daerah wisata. Anderson. 16 .6. "Analisis Perkembangan Industri kecil Berdasarkan Penyusunan Indeks Produktivitas dan Tingkat Efisiensinya di Daerah Istimewa Yogyakarta". 1997). Dalam kerangka ini. Mudrajad Kuncoro. Harapan mereka adalah agar program kemitraan ini tidak hanya seperti angin sepoi-sepoi yang cepat berlalu. mengindikasikan pentingnya mengkaitkan pengembangan usaha kecil dengan pariwisata (Kuncoro. 21-26. makalah dalam Seminar Nasional "Mencari Keseimbangan Antara Konglomerat dan Pengusaha Kecil-Menengah di Indonesia: Permasalahan dan Strategi".

Mudrajad dan PT Asana Wirasta Setia (1997). dan Kebijakan. Hotel Radisson. "Peta Bisnis Aliansi Strategik". Yogyakarta. Simatupang. XXVI. Sitompul. Purnomo (1994). Manajemen dan Usahawan Indonesia. Analisis CSIS. Tulus Tambunan (eds. AKATIGA. London and Basingstoke. Soetrisno. Jakarta. Ratna Diah (1996). 5 agustus. Jurnal Ekonomi. dan R. Yogyakarta. dan R. Kuncoro. (1990).10/IV/1995. Mudrajad (2000a). The Competitive Advantage of Nations. Melbourne. Porter. Maspiyati (1995). "Membangun Ekonomi Rakyat Melalui Kemitraan: Suatu Tinjauan Sosiologis". Masykur Wiratmo. Mudrajad Kuncoro. Fakultas Ekonomi UGM. Dedi Haryadi. vol. ----------. Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil. "Struktur dan Kinerja Ekonomi Indonesia Setelah 50 tahun Merdeka: Adakah Peluang Usaha Kecil?". Bambang. Januari. tidak dipublikasikan. M. Yogyakarta. Togatorop. Bambang Kustituanto. 5 Agustus.H. tidak dipublikasikan.(2000b) Ekonomi Pembangunan: Teori. Kuncoro. kerjasama Depkop & PPK dengan PPE-FE-UGM. no. Analisis Dampak Pola Kemitraan Subkontrak Terhadap Efisiensi dan Produktivitas Usaha Kecil Binaan Kelompok Perusahaan PT Astra. Laporan Akhir Pengembangan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil Tahun Anggaran 1995/1996 Propinsi DIY. 1976-1996: the Case of Indonesia (Java). 17 . Agus Sartono (1995). Yogyakarta.) (1994). Department of Management. ----------. Laporan Akhir Pengembangan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Ismoyowati. makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan.D. tahun II. Agus Sartono (1996). Bandung. Michael E. Hetifah. Prosiding Seminar Nasional Peranan Strategis Industri Kecil dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II. Masalah. skripsi S1. Pengembangan Pola Pembinan Usaha Kecil dan Masyarakat di Sekitar Obyek dan Kawasan Pariwisata. no. diselenggarakan oleh Harian Pikiran Rakyat.(1996).(1994). disertasi Ph. Kelola (Gadjah Mada University Business Review). University of Melbourne. Hotel Radisson.(1997). Loekman (1995). Mudrajad dan Anggito Abimanyu (1995). "Struktur dan Kinerja Industri Indonesia dalam Era Deregulasi dan Debirokratisasi". kerjasama Depkop & PPK dengan PPE-FE-UGM. Yogyakarta. Yogyakarta. The Macmillan Press Ltd.1. Yogyakarta. The Economics of Industrial Agglomeration and Clustering. Kebijakan Pembinaan Koperasi dan Pengusaha Kecil Dalam Repelita VI. UPP AMP YKPN. "Pengembangan Industri Pedesaan Melalui Koperasi dan Usaha Kecil: Suatu Studi Kasus di Kalimantan Timur". -----------. "Tantangan dan Peluang Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi Ekonomi". Kanwil Departemen Koperasi dan PPK Propinsi DIY . Kustituanto. Mudrajad. Masykur Wiratmo. Nopember. UKI-Press. Kuncoro. Rudy P. Sjaifudian. Yogyakarta.7. Pantjar. Kuncoro.(1995). ----------. PT Asana Wirasta Setia dan Deparpostel. makalah dalam Diskusi Ekonomi Kerakyatan. ----------.

Undang-Undang Usaha kecil 1995 dan Peraturan Perkoperasian. (1996). A. no. "Pemanfaatan Dana BUMN untuk Program Pusat Pengembangan Pengusaha Kecil oleh Perguruan Tinggi". "Tantangan dan Peluang Pengembangan Usaha Kecil". Suprijadi. h. & Sari.Sudisman. makalah dalam Seminar Apresiasi dan Kritik Perkembangan Koperasi di Indonesia. U. Jurnal Tahunan CIDES. 6-7 Juli. Anwar (1995). Jakarta.157-164.. 18 . Gunawan (1994).1. Departemen Koperasi dan PPK. Sumodiningrat. Jakarta: Mitrainfo.

Ia juga telah menyelesaikan Program PhD dalam bidang Manajemen dari University of Melbourne. Graduate Diploma dengan spesialisasi Keuangan Daerah (1992) dan Master of Social Science dari University of Birmingham. sebagai visiting scholar (1998). Pernah mengikuti kursus singkat Fiqh for Economists di International Islamic University. Canberra. Selain anggota ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia). 19 . Malaysia (1994) dan diundang oleh Department of Economics. Australia (2000). ia juga tercatat sebagai anggota ANZIBA (Australia-New Zealand International Business Academy). Australia. Selangor. Inggris (1993). dengan disertasi berjudul: The Economics of Industrial Agglomeration and Clustering. Lahir di Yogyakarta. 1976-1996: The Case of Indonesia. Ia mendapat gelar Sarjana Ekonomi dengan predikat cum laude dari Universitas Gadjah Mada (1989).BIODATA SINGKAT MUDRAJAD KUNCORO adalah staf pengajar dan peneliti pada Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Australian National University. Yogyakarta. Research School of Pacific and Asian Studies.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->