BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Kata “ar-ra’yu” yang berarti “kebebasan pemikiran”, cenderung berkonotasi pada

rasionalitas ijtihad terhadap penafsiran al-Qur’an. Al-Qur’an dianggap sebagai teks “fleksibel” yang memberi ruang gerak secara bebas bagi mufassir untuk menentukan dan memberi penafsiran sesuai dengan “kepentingannya”. Sehingga perlu adanya syarat-syarat tertentu yang membatasi pengertian Tafsir bi ar-ra’yi terutama dalam aplikasinya. Ijtihad yang dimaksud adalah berdasarkan dasar-dasar yang benar dan kaidah-kaidah yang lurus. Jadi, tafsir bi ra'yi bukanlah sekedar berdasarkan pendapat atau terlintas dalam fikiran seseorang. Sebagaimana yang diriwayatkan at-Turmudzi, bahwa; "Barang siapa menafsirkan al-Qur’an dengan tanpa berdasarkan “pengetahuan” (al-ilmu), maka neraka adalah tempatnya”. Al-Qurthubi berkata: "Barangsiapa berkata tentang Al-Qur'an (menafsirkannya) dengan suatu dugaan atau gagasan yang terlintas dalam fikirannya, tanpa adanya dasar-dasar yang kuat, maka ia salah dan tercela. Dan dia termasuk dalam golongan orang yang disebut dalam sebuah hadits yang berbunyi: "Barangsiapa dengan sengaja berbohong atas namaku, maka ambillah tempat duduknya di neraka (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas). Orang yang intens mendalami sumber-sumber tafsir Al-Quran akan menjumpai bahwa salah satu sumber tafsir adalah (tafsir) ar-ra’yu, yaitu apa yang disebut dengan ijtihad dalam tafsir. Ini muncul karena al-Quran itu diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Karena itu, untuk mengetahui maksud dan makna-maknanya secara benar, seorang ahli tafsir harus mengetahui kata-kata bahasa Arab; seluk-beluk percakapan bahasa Arab terdahulu; berbagai ungkapan Arab dan makna-maknanya dengan cara memahami teks-teks yang ada seperti percakapan-percakapan yang ada dalam syair jahiliah, prosa, dan lain-lain; juga sebab-sebab turunnya ayat. Ahli tafsir memerlukan sarana-sarana tersebut untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran sesuai dengan pemahaman dan ijtihadnya. ide semata, atau hanya ekedar gagasan yang

1

Jadi, yang dimaksud dengan tafsir bi ar-ra’yi bukan berarti menafsirkan ayat dengan menggunakan akal seluas-luasnya, tetapi tafsir yang didasarkan pada pendapat yang mengikuti kaidah-kaidah bahasa Arab yang bersandar pada sastra jahiliah berupa syair, prosa, tradisi bangsa Arab, dan ekspresi percakapan mereka serta pada berbagai peristiwa yang terjadi pada masa Rasul; menyangkut perjuangan, perlawanan, pertikaian, hijrah, dan peperangan yang beliau lakukan; juga menyangkut berbagai fitnah yang pernah terjadi dan hal-hal yang terjadi saat itu, yang mengharuskan adanya hukum-hukum dan diturunkannya (ayat-ayat) al-Quran. Dengan demikian, tafsir bi ar-ra’yi adalah tafsir dengan cara memahami berbagai kalimat al-Quran melalui pemahaman terhadap madlûl (pengertian)-nya, yang ditunjukkan oleh berbagai informasi yang dimiliki seorang ahli tafsir seperti bahasa dan berbagai peristiwa

1.2

TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah: 1. Menjelaskan tentang arti ar-ro’yu secara istilah dan bahasa. 2. Menerangkan makna ar-ro’yu yang sebenarnya menurut hadist dan pendapat para sahabat. 3. Menjelaskan perbedaan antara ar-ro’yu dan pendapat.

2

Manusia dikaruniai Allah dengan diberikan akal budi. dan ra’yu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad. Di samping dalam tafsir. Al-Quran adalah sumber agama (juga ajaran) islam yang pertama dan utama. As-Sunnah atau Hadits adalah sumber agama (juga ajaran) islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Mereka disebut dengan ahl al3 . Sunnah berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat Al-Qur’an yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam perkembangannya dewasa ini. termasuk berpikir tentang persoalan hukum yang tidak terdapat dalam nas Al Qur·an dan As Sunnah. Sunnah menurut istilah syar’i adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah Saw. kata ar-ra’yu juga digunakan dalam ijtihad. Definisi Ar-Ra’yu Sumber ajaran Islam dirumuskan dengan jelas yakni terdiri dari tiga sumber yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an berasal dari kata qara’a. qiraa’atan atau qur’aanan yang berarti mengumpulkan dan menghimpun.BAB II PEMBAHASAN A. karena hanya satu-satunya makhluk yang mempunyai akal. Kata ar-ra’yu (pendapat. Secara etimologis. penggunaannya kata ar-ra’yu semakin melebar dan menyimpang dari maksud penggunaannya pada masa lalu. pemahaman dan akal budi. dan penetapan pengakuan. Sebagian mujtahid mengikatkan diri dengan pemahaman ‘ibarat (ungkapan) yang terdapat dalam nash syariat dan selalu berhenti pada batasan makna-makna yang ditunjukkannya. Dengan akal itulah manusia wajib berpikir tentang segala sesuatu. pikiran) sering dipakai dalam penafsiran ayat-ayat al-Quran atau dalam aktivitas ijtihad untuk menggali hukum-hukum syariat atas berbagai perkara yang dihadapi oleh kaum Muslim. perbuatan. Ar-Rayu dipakai apabila ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di Al Quran maupun Haditst. opini. baik berupa perkataan. maka diperintahkan untuk berijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap mengacu kepada Al Quran dan Hadits Menurut bahasa Ar Ra·yu artinya. Mereka mengaitkannya dengan makna-makna tersebut. yaqra’u.

Sebagaimana firman Allah Swt: “Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu. akal sering secara bebas mengeluarkan dan menghasilkan produkproduk hukum yang amat ganjil dan menyimpang. ijma’ memiliki dua pengertian. sementara salah satu fungsi akal adalah bebas dalam menafsirkan dan mengeluarkan hukum.10:71) 4 . Pertama. Dengan berani sebagian mereka malah mengatakan bahwa al-Quran perlu ditafsirkan secara bebas. disebutkan ‫ أجمع فلن على المر‬berarti berupaya di atasnya. Demikian pula sebaliknya. yakni berupa makna-makna yang dapat dijangkau oleh akal sebagai tambahan atas makna-makna kata. para mujtahid terbagi menjadi dua bagian ahl al-hadîts dan ahl arra’yi. Secara umum. bukan berarti bahwa ahli hadis tidak mau mengambil ar-ra’yu sebagai sumber dalam tasyrî‘ mereka. Semuanya mengambil hadis dan ra’yu karena mereka sepakat bahwa hadis adalah hujjah syar‘î. Qiyas. Mereka berdalih bahwa Allah Swt. 1. (Qs. Begitu pula dalam aktivitas penggalian hukum (ijtihad dan istinbâth). Sududz Dzariah. karena al-Quran diturunkan 15 abad lalu yang latar belakang masyarakatnya berbeda dengan masa sekarang Ar-Ra’yu terbagi menjadi 6 macam yaitu : Ijma’. telah menciptakan untuk manusia akal. Istihsan. Mushalat Murshalah. Sebagian lainnya melihat apa yang ditunjukkan oleh ungkapan yang terdapat dalam nash. Ijma’ Menurut bahasa. Pembagian ini bukan berarti bahwa ahl ar-ra’yi tidak mau mengambil hadis sebagai sumber tasyrî‘ (legislasi hukum). Para intelektual Muslim saat ini memaknai ar-ra’yu sebagai penggunaan akal secara bebas dan luas sehingga akal dipandang boleh menafsirkan ayat-ayat al-Quran sekehendaknya dan seluas-luasnya. Mereka disebut dengan ahl ar-ra’yi.hadîts (ahli hadis). Istishab dan Urf. berupaya (tekad) terhadap sesuatu. sementara ijtihad didasarkan pada ar-ra’yu yang diperoleh dengan cara memahami maksud nash.

d. mujtahid ahlu Sunnah. Jika sebagian besar mereka sepakat maka tidak membatalkan kesepakatan yang ‘banyak’ secara ijma’ sekalipun jumlah yang berbeda sedikit dan jumlah yang sepakat lebih banyak maka tidak menjadikan kesepakatan yang banyak itu hujjah syar’i yang pasti dan mengikat. Karena ijma’ tidak terbentuk kecuali dengan kesepakatan umum dari seluruh mujtahid di dunia Islam dalam suatu masa. ijma’ berarti kesepakatan. Karena ‘kesepakatan’ dilakukan lebih dari satu orang. Andai yang disepakati atas hukum syara’ hanya para mujtahid haramain. Adanya kesepakatan sesama para mujtahid atas hukum syara’ dalam suatu masalah.Kesepakatan’ itu dapat dikelompokan menjadi empat hal: a. c. Ijma’ dalam istilah ahli ushul adalah kesepakatan semua para mujtahid dari kaum muslimin dalam suatu masa setelah wafat Rasul Saw atas hukum syara. Mujtahid ahli Syiah. fatwa atau perbuatan. para mujtahid Irak saja.Pengertian kedua. pendapatnya disepakati antara satu dengan yang lain. Kesepakatan itu terwujudkan atas hukum kepada semua para mujtahid. dengan melihat negeri. Adapun rukun ijma’ dalam definisi di atas adalah adanya kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa atas hukum syara’ . Tidak cukup ijma’ dikeluarkan oleh seorang mujtahid Apabila keberadaanya hanya seorang (mujtahid) saja di suatu masa. maka secara syara’ kesepakatan khusus ini tidak disebut Ijma’. Hijaz saja. Perbedaan pengertian yang pertama dengan yang kedua ini bahwa pengertian pertama berlaku untuk satu orang dan pengertian kedua berlaku untuk lebih dari satu orang. jenis dan kelompok mereka. 5 . Hendaknya kesepakatan mereka dimulai setiap pendapat salah seorang mereka dengan pendapat yang jelas apakah dengan dalam bentuk perkataan. b.

Umpamanya hukum meminum khamar. karena hukumnya sudah ditetapkan secara ijma’ dengan hukum syar’i yang qath’i dan tidak dapat dihapus (dinasakh). (Qs. Sesungguhnya (meminum) khamar. (berkorban untuk) berhala. adalah termasuk perbuatan syaitan. jenis dan kelompok mereka yang diketahui hukumnya. mengundi nasib dengan panah. Dalam definisi lain. Lebih lanjut. Dengan demikian qiyas itu penerapan hukum analogi terhadap hukum sesuatu yang serupa karena prinsip persamaan illat akan melahirkan hukum yang sama pula. qiyas adalah menerangkan sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Al Qur’an dan hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu yang ditetapkan hukumnya berdasarkan nash. nampak setiap mujtahid mengemukakan pendapat hukumnya dengan jelas baik dengan perkataan maupun perbuatan baik secara kolompok maupun individu. Qiyas adalah menyamakan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan sesuatu yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan illat hukum. Perihal ini. Qiyas Menurut ulama ushul. kemudian hukum itu disepakati menjadi aturan syar’i yang wajib diikuti dan tidak mungkin menghindarinya. 2. para mujtahid tidak boleh menjadikan hukum masalah ini (yang sudah disepakati) garapan ijtihad. Sebagaimana firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman. berjudi. Selanjutnya mereka mensepakati masalah hukum tersebut.Apabila rukun ijma’ yang empat hal di atas telah terpenuhi dengan menghitung seluruh permasalahan hukum pasca kematian Nabi Saw dari seluruh mujtahid kaum muslimin walau dengan perbedaan negeri. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.5:90) 6 . nash hukumnya telah dijelaskan dalam Al Qur’an yaitu hukumnya haram.

2. 3. Diantara ayat Al Qur’an yang dijadikan dalil dasar hukum qiyas adalah firman Allah: “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampungkampung mereka pada saat pengusiran yang pertama.Haramnya meminum khamr berdasar illat hukumnya adalah memabukan. pendapat sahabat maupun ijma ulama. Jumhur ulama kaum muslimin sepakat bahwa qiyas merupakan hujjah syar’i dan termasuk sumber hukum yang keempat dari sumber hukum yang lain. Mazhab Zhahiri tidak mengakui adalanya illat nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran dan tujuan nash termasuk menyingkap alasan-alasannya guna menetapkan suatu kepastian hukum yang sesuai dengan illat. hadits. Kelompok yang lebih memperluas pemakaian qiyas. Pandangan ulama mengenai qiyas ini terbagi menjadi tiga kelompok: 1. Sebaliknya. bahwa 7 . Kelompok jumhur Mereka menggunakan qiyas sebagai dasar hukum pada hal-hal yang tidak jelas nashnya baik dalam Al Qur’an. Bahkan dalam kondisi dan masalah tertentu. mereka menetapkan hukum hanya dari teks nash semata. Berhubung qiyas merupakan aktivitas akal. kelompok ini menerapkan qiyas sebagai pentakhsih dari keumuman dalil Al Qur’an dan hadits. maka beberapa ulama berselisih faham dengan ulama jumhur. Maka setiap minuman yang terdapat di dalamnya illat sama dengan khamar dalam hukumnya maka minuman tersebut adalah haram. yang berusaha berbagai hal karena persamaan illat. Apabila tidak terdapat hukum dalam suatu masalah baik dengan nash ataupun ijma’ dan yang kemudian ditetapkan hukumnya dengan cara analogi dengan persamaan illat maka berlakulah hukum qiyas dan selanjutnya menjadi hukum syar’i. kamu tidak menyangka. Mazhab Zhahiriyah dan Syiah Imamiyah Mereka sama sekali tidak menggunakan qiyas.

yaitu apa yang terdapat dalam hukum nashnya. 8 . kata I’tibar di sini berarti melewati. Asal (pokok). Demikian pula arti qiyas yaitu melampaui suatu hukum dari pokok kepada cabang maka menjadi (hukum) yang diperintahkan. mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah.1 Rukun Qiyas Qiyas memiliki rukun yang terdiri dari empat hal: 1. Hal ini dapat diperoleh dengan mencari illat hukum. sebab maksud dari ungkapan ‘kembali kepada Allah dan Rasul’ (dalam masalah khilafiyah). Karena dua kata tadi ‘i’tibar dan qiyas’ memiliki pengertian melewati dan melampaui. (Qs. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka. dan ulil amri di antara kamu. apa yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. melampaui. memindahkan sesuatu kepada yang lainnya. Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.mereka akan keluar dan merekapun yakin.4:59) Ayat di atas menjadi dasar hukum qiyas. Disebut dengan almaqis alaihi. Hal yang diperintahkan ini mesti diamalkan. yang dinamakan qiyas. 2. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya). “Hai orang-orang yang beriman. (Qs. tiada lain adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan. Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran.59:2) Dari ayat di atas bahwasanya Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk mengambil pelajaran.

3. disebut pula almaqîs. 2. adalah sifat yang didasarkan atas hukum asal atau dasar qiyas yang dibangun atasnya 3. Adapun menurut istilah. Dari definisi-definisi tersebut. yaitu hukum syar’i yang terdapat dalam dalam nash dalam hukum asalnya. pendapat yang disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. dan ini bisa bersifat lahiriah (hissiy) ataupun maknawiah. Sebagai contoh misalnya. 4.2. meskipun hal itu dianggap tidak baik oleh orang lain. Illat. padahal secara qiyas tayammum itu sama kedudukannya dengan berwudhu dengan menggunakan air yang tidak wajib dilakukan pada setiap waktu shalat. 9 . Mengamalkan dalil yang paling kuat di antara dua dalil. Meninggalkan apa yang menjadi konsekuensi qiyas tertentu menuju qiyas yang lebih kuat darinya. Istihsan sendiri kemudian berarti “kecenderungan seseorang pada sesuatu karena menganggapnya lebih baik. Diantaranya adalah: 1. namun tidak dapat diungkapkannya dengan kata-kata. kita dapat melihat bahwa inti dari Istihsan adalah ketika seorang mujtahid lebih cenderung dan memilih hukum tertentu dan meninggalkan hukum yang lain disebabkan satu hal yang dalam pandangannya lebih menguatkan hukum kedua dari hukum yang pertama. 3. Dalil yang terbetik dalam diri seorang mujtahid. yaitu sesuatu yang belum terdapat nash hukumnya. Fara’ (cabang). Yang kemudian menjadi ketetapan hukum untuk fara’. Istihsan Istihsan secara bahasa adalah kata bentukan (musytaq) dari al-hasan (apapun yang baik dari sesuatu). 4. 264 H) bahwa tayammum itu wajib dilakukan pada setiap waktu shalat atas dasar Istihsan. Hukm al-asal. Mengeluarkan hukum suatu masalah dari hukum masalah-masalah yang serupa dengannya kepada hukum lain karena didasarkan hal lain yang lebih kuat dalam pandangan mujtahid. Istihsan memiliki banyak definisi di kalangan ulama Ushul fiqih.

Model ini tentu saja berbeda dengan model jual-beli yang umum ditetapkan 10 .bila nash yang umum. Diantara contohnya adalah: hukum jual-beli al-salam. lalu menguatkan satu dalil atas dalil lain juga atas hasil ijtihad ini. Syekh Abd al-Wahhab Khallaf memberikan gambaran aplikatif seputar penggunaan Istihsan ini dengan mengatakan. Dari sisi ini.1 Jenis-jenis Istihsan Para ulama yang mendukung penggunaan Istihsan sebagai salah satu sumber penetapan hukum membagi Istihsan dalam beberapa bagian berdasarkan 2 sudut pandang yang berbeda: Pertama. Istihsan terbagi menjadi 4 jenis: 1. Jika sebuah kasus terjadi yang berdasarkan keumuman nash yang ada atau kaidah umum tertentu kasus itu seharusnya dihukumi dengan hukum tertentu. Imam Ahmad memandang ia wajib dilakukan setiap waktu shalat berganti. ia pun meninggalkan hukum tersebut menuju hukum yang lain yang merupakan hasil dari pengkhususan kasus itu dari (hukum) umumnya. Proses ‘meninggalkan’ inilah yang disebut dengan Istihsan. atau kaidah umum. berdasarkan dalil yang melandasinya. Dan ia merupakan salah satu metode ijtihad dengan ra’yu. Maknanya adalah meninggalkan hukum berdasarkan qiyas dalam suatu masalah menuju hukum lain yang berbeda yang ditetapkan oleh al-Qur’an atau al-Sunnah. dengan harga yang dibayar dimuka.” 3. tayammum secara qiyas seharusnya tidak perlu dilakukan pada setiap waktu shalat. atau memperlakukannya sesuai qiyas yang ada. Sebab seorang mujtahid mengukur kondisi yang bersifat khusus untuk kasus ini dengan ijtihad yang ia landaskan pada logikanya. atau qiyas ‘khafy’ yang tidak terduga (sebelumnya). namun dalam pandangan sang mujtahid nampak bahwa kasus ini memiliki kondisi dan hal-hal lain yang bersifat khusus yang kemudian –dalam pandangannya. (Karena itu). atau pengecualiannya dari kaidah umumnya. Lebih jauh.kecuali jika wudhunya batal. Yaitu menjual sesuatu yang telah jelas sifatnya namun belum ada dzatnya saat akad. justru akan menyebabkan hilangnya maslahat atau terjadinya mafsadat. Istihsan dengan nash. namun atas dasar Istihsan. Dengan kata lain.

” (HR. 2085 dan Muslim no. Hanya saja. karena adanya ketidakjelasan (al-jahalah) dalam waktu dan kadar air. Di antara contohnya adalah masalah penggunaan kamar mandi umum (hammam) tanpa adanya pembatasan waktu dan kadar air yang digunakan. Secara qiyas seharusnya hal ini tidak dibenarkan. Istihsan dengan ijma’. Maka beliau berkata: “Barang siapa yang melakukan (jual-beli) al-salaf. maka itu membatalkan puasanya. Maka jika benda-benda semacam ini masuk ke dalam tenggorokan orang yang berpuasa. puasanya tetap sah dan tidak menjadi batal karena hal tersebut. Salah satu contohnya adalah ketika para ulama mengatakan bahwa seorang yang berpuasa tidak dapat dikatakan telah batal puasanya jika ia menelan sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari. Al-Bukhari no. Padahal para penggunanya tentu tidak sama satu dengan yang lain.oleh Syariat. Dan ini dilandaskan pada Istihsan dengan kondisi darurat (sulitnya menghindari benda semacam itu). Akan tetapi hal ini dibolehkan atas dasar Istihsan pada ijma yang berjalan sepanjang zaman dan tempat yang tidak mempersoalkan hal tersebut. yaitu yang mempersyaratkan adanya barang pada saat akad terjadi. seperti debu dan asap. Istihsan dengan ‘urf atau konvensi yang umum berlaku. 4. 3010) 2. Istihsan dengan kedaruratan. model jual beli ini dibolehkan berdasarkan sebuah hadits Nabi saw yang pada saat datang ke Madinah menemukan penduduknya melakukan hal ini pada buah untuk masa satu atau dua tahun. 3. Maknanya adalah terjadinya sebuah ijma’ baik yang sharih maupun sukutiterhadap sebuah hukum yang menyelisihi qiyas atau kaidah umum. 11 . Yaitu ketika seorang mujtahid melihat ada suatu kedaruratan atau kemaslahatan yang menyebabkan ia meninggalkan qiyas. maka hendaklah melakukannya dalam takaran dan timbangan yang jelas (dan) untuk jangka waktu yang jelas pula. demi memenuhi hajat yang darurat itu atau mencegah kemudharatan. padahal secara qiyas seharusnya benda apapun yang masuk ke dalam tenggorokan orang yang berpuasa.

atau menyatakan belum adanya hukum suatu peristiwa yang belum pernah ditetapkan hukumnya. istishab ialah segala ketetapan yang telah ditetapkan pada masa lampau dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang. 2. ialah tetap berpegang pada hukum yang telah ada dari suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah hukum tersebut. Sedangkan menurut Asy Syatibi. sampai ada dalil yang mengubah ketetapan hukum tersebut. Atau dengan kata lain. Istishab Istishab menurut bahasa berarti “mencari sesuatu yang ada hubungannya”. tentu telah ditetapkan pada berlaku pada masa sekarang. lalu ternyata ia masuk ke dalam mesjid. maka dalam kasus ini ia tidak dianggap telah melanggar sumpahnya. Dari pengertian istishab di atas. 4. ialah menyatakan tetapnya hukum pada masa lalu. tetapi pada hakikatnya ialah menguatkan atau manyatakan tetap berlaku suatu hukum yang 12 . Salah satu contoh Istihsan dengan ‘urf yang bersifat yang berupa perkataan adalah jika seseorang bersumpah untuk tidak masuk ke dalam rumah manapun. meskipun Allah menyebut mesjid dengan sebutan rumah (al-bait) dalam firman-Nya: 4. kecuali kalau telah ada yang mengubahnya. Menurut istilah ulama fiqh. Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lalu. istishab ialah menyatakan tetap berlakunya hukum yang telah ada dari suatu peristiwa. dinyatakan tetap Segala hukum yang ada pada masa sekarang. Menurut Ibnu Qayyim. masa yang lalu.Artinya meninggalkan apa yang menjadi konsekuensi qiyas menuju hukum lain yang berbeda karena ‘urf yang umum berlaku baik ‘urf yang bersifat perkataan maupun perbuatan. dapat dipahami bahwa istishab itu ialah: 1.1 Dasar hukum Istishab Pada dasarnya Istishab bukanlah suatu cara menetapkan hukum.

yaitu tetap sahnya perkawinan antara A dan B. Pernyataan ini sangat diperlukan untuk menjaga jangan sampai terjadi penetapan hukum yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain. bukan untuk menetapkan hukum yang baru. Contoh Istishab: Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dan perempuan B. 4. Jika demikian halnya istishab dapat dijadikan dasar hujjah.pernah ditetapkan karena tidak ada yang mengubah atau mengecualikannya. maka akan terjadi perselisihan antara si A dan C atau terjadi suatu keadaan pengaburan batas antara yang sah dengan yang tidak sah dan antara yang halal dengan yang haram. Dari keterangan dan contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya istishab itu bukanlan cara menetapkan hukum (thuruqul istinbath). Karena itulah ulama Hanafiyah menyatakan bahwa sebenarnya istishab itu tidak lain hanyalah untuk mempertahankan hukum yang telah ada. Ditinjau dari segi timbulnya kaidah-kaidah itu istishhab dapat dibagi kepada: 13 . Berpegang ada hukum yang telah ditetapkan. seperti dipahami dari contoh di atas. tetapi ia hanyalah menyatakan bahwa telah pernah ditetapkan suatu hukum dan belum ada yang mengubahnya.2 Macam-Macam Istishab Dari istishhab itu dibuat kaidah-kaidah fiqhiyah yang dapat dijadikan dasar untuk mengisthimbathkan hukum. Pernyataan ini sangat diperlukan untuk menjaga jangan sampai terjadi penetapan hukum yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini B belum dapat kawin dengan C karena ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada perubahan hukum perkawinan mereka walaupun mereka telah lama berpisah. adalah hukum yang ditetapkan dengan istishab. kemudian mereka berpisah dan berada di tempat yang berjauhan selama 15 tahun. Seandainya si B boleh kawin dengan si C. Istishab bukanlah merupakan dasar atau dalil untuk menetapkan hukum yang belum tetap. tetapi ia pada hakikatnya adalah menguatkan atau menyatakan tetap berlaku suatu hukum yang pernah ditetapkan karena tidak ada yang mengubah atau yang mengecualikan. Karena telah lama berpisah itu maka B ingin kawin dengan laki-laki C.

“(Menurut hukum) asal (nya) ketetapan hukum yang telah ada. Dari istishhab ini diciptakan kaidah-kaidah berikut: 1. berlaku.a. dapat ditetapkan suatu ketentuan umum bahwa semua yang diciptakan Allah SWT di bumi ini adalah untuk keperluan dan kepentingan manusia yang dapat digunakan sebagai sarana dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.” 2. Istishhab berdasar penetapan akal Berdasarkan surat al-Baqarah ayat 29.” 2.” 3. Dengan demikian ayat tersebut mengecualikan khamar dari benda-benda lain yang dibolehkan meminumnya. kaum muslimin dibolehkan meminum khamar setelah turun ayat tersebut diharamkan meminum khamar. Hal ini berarti bahwa hukum mubah itu tetap berlaku sampai ada dalil syara’ yang mengubah atau mengecualikannya. “(Menurut hukum) asal(nya) manusia itu bebas dari tanggungan. Dari istishhab ini diciptakan kaidah-kaidah: 1. menurut keadaan adanya.” b. dimanfaatkan atau dikerja-kan oleh manusia. Jika demikian halnya maka segala sesuatu itu pada asasnya mubah (boleh) digunakan. hingga ada ketetapan yang mengubahnya. pada hakikatnya mengokohkan hukum syara’ yang pernah ditetapkan. “(Hukum yang ditetapkan dengan) yakin itu tidak akan hilang (hapus) oleh (hukum yang ditetapkan dengan) ragu-ragu. Istishhab berdasarkan hukum syara’ Sesuai dengan ketetapan syara’ bahwa apabila telah terjadi akad nikah yang dilakukan oleh seorang laki-Iaki dengan seorang perempuan dan akad itu lengkap rukun-rukun dan syarat-syaratnya. “(Menurut hukum) asal(nya) segala sesuatu itu mubah (boleh dikerjakan). Menyatakan bahwa hukum syara’ itu tetap berlaku bagi kedua suami-isteri itu. Ketetapan mubah ini telah berlaku selama mereka tidak pernah bercerai walaupun mereka telah lama berpisah dan selama itu pula si isteri dilarang kawin dengan laki-laki lain.” 14 . maka kedua suami isteri itu halal atau boleh (mubah) hukumnya melakukan hubungan sebagai suami-isteri. Seperti sebelum turunnya ayat 90 surat al-Mâidah. “(Menurut hukum) asal(nya) tidak ada tanggungan.

demikian pula kepentingan dan keperluan hidupnya. Dan hal itu harus dilakukan dengan wudhu’ agar tidak diragukan kebatalannya. − Apa yang telah ditetapkan dengan yakin. Ia tidak bisa gugur kecuali dengan yakin juga.” 4. Manusia pada asalnya adalah bebas dari beban.3 Kaidah-Kaidah Istishab Dan Penerapannya Kaidah-kaidah istishab antara lain: − − − Pada asalnya segala sesuatu itu tetap (hukumnya) berdasarkan ketentuan yang telah ada sehingga ada dalil yang merubahnya. Hal demikian berbeda dengan pendapat ulama dari golongan Malikiyah yang berpedapat wajib berwudhu’ lagi. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak hal-hal atau persoalan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW. maka ia dihukum masih mempunyai wudhu’. 5. dan shalatnya sah. sedang jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan. Mashlahat Murshalah Mashlahat Murshalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara’ dan tidak ada dalail-dalil yang manyuruh untuk menggerjakan atau meninggalkannya. Sebab. menurut mereka tanggung jawab (beban)nya adalah menjalankan shalat dengan penuh keyakinan. hingga ada dalil yang mengubahnya. orang yang yakin bahwa ia masih mempunyai wudhu’ dan raguragu jika dirinya telah batal. kemudian timbul dan 15 . maka ia tidak bisa gugur karena keragu-raguan. Dasar hukum Mashlahat Murshalah Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang.3. Karena tanggung jawab tersebut tidak lepas kecuali dengan mengerjakan shalat dengan benar dan penuh keyakinan. Sebagai contoh. “(Menurut hukum) asal (nya) ketetapan hukum yang telah ada berlaku menurut keadaan adanya. Pada asalnya hukum segala sesuatu itu boleh.

terjadi pada masa-masa sesudahnya bahkan ada yang terjadi tidak lama setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Bukhori dan Muslim) 7. Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan hal-hal yang demikian berarti akan sempitlah kehidupan manusia. tetapi karena perbuatan itu akan menarik hati laki-laki lain untuk mengajaknya berbuat zina. 2. Al-Qur’an Firman Allah SWT: “…dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…”(an-Nur : 31) Wanita menghentakkan kakinya sehingga terdengar gemrincing gelangkakinya tidaklah dilarang. Dasar hukum Sududz Dzariah 1. ia akan terjerumus ke dalamny. 6. keduanya berbeda.”(HR. tanaman Allah adalah (perbuatan) maksiat yang (dilakukan) keadaan-Nya. Namun bila ditelusuri asal katanya. As-Sunnah Nabi Muhammad SAW bersabda: “ketahuilah. ’Urf Secara etimologi. Adat berasal dari kata ‘ada-ya’udu artinya perulangan (berulang- 16 . Sududz Dzariah Sududz Dzariah adalah tindakan memutuskan sesuatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat.’Urf berarti baik. maka perbuatan itu dilarang pula sebagai usaha untuk menutup pintu yang menuju kearah perbuatan zina. Adat dan ‘Urf adalah dua kata yang sinonim (mutaradif). Barang siapa mengembalakan (ternaknya) sekitar tanaman itu. kebiasaan dan sesuatu yang dikenal.

1 Perbedaan adat dengan ‘urf Adat memiliki cakupan makna yang lebih luas. yaitu perbuatan yang telah berulang-ulang dilakukan sehingga menjadi dikenal dan diakui orang banyak.364). sedangkan ‘Urf berasal dari ‘arafa –ya’rifu. Adat mencakup kebiasaan pribadi.II. Oleh sebagian ulama’. Adat dilakukan secara berulangulang tanpa melihat apakah adat itu baik atau buruk. ‘Urf merupakan sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. karena adat lebih umum dari‘urf. Menurut Mustafa Ahmad Zarqa (Yordania). ucapan. karena pengertian keduanya sama. sering diartikan dengan “sesuatu yang dikenal” (dan diakui orang banyak) ‘Urf adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan principal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Suatu ‘urf harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu bukan pada pribadi atau golongan. Di kalangan masyarakat sering disebut sebagai adat. namun perbedaannya tidak berarti. tetapi muncul 17 . pungli dan korupsi. ‘Urf disebut juga dengan adat (adat kebiasaan). ‘Urf merupakan kebiasaan orang banyak. 7. (Amir Syarifuddin. Tidak ada perbedaan yang prinsip antara adat dan ‘Urf. Jadi meskipun asal kata keduanya berbeda. ‘Urf bukan kebiasaan alami. seperti suap. Oleh karena kedua kata itu sama. seperti kebiasaan seorang dalam tidur jam sekian. Adat juga muncul dari sebab alami. maka 5 kaedah utama menggunakan kata adat. perbuatan. seperti cepatnya tanaman berbuah di daerah tropis. Adat juga bias muncul dari hawa nafsu dan kerusakan akhlak. Sedangkan ‘urf tidak terjadi pada individu. makan dan mengkonsumsi jenis makanan tertentu. bukan ‘urf.ulang). ‘urf bagian dari adat. ‘Urf adalah suatu keadaan. atau ketentuan yang sudah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi dalam masyarakat. hlm.

harta bersama. − Kebiasaan garansi pada pembelian barang elektronik.Dari Segi Obyeknya (Materi) 1. dan peralatan rumah tangga yang berat lainnya Tanpa dibebani biaya tambahan − Kebiasaan menerapkan proteksi asuransi pada pembiayaan − Kebiasaan meminta agunan pada pembiayaan di bank syariah b. kursi.dari praktek mayoritas umat yang telah mentradisi. konsinyasi. Akibat hukum nazar seseorang tergantung adatnya(daerahnya). ‘Urf ‘Am (Umum) adalah kebiasaan yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan daerah − Kebiasaan menerapkan proteksi asuransi pada pembiayaan bank syariah. Di Malaysia hal itu diwujudkan dengan membeli mobil. kerumah pembeli seperti lemari.2 Jenis Urf a. jika saya lulus S2. Misalnya.‘Urf Fi’li adalah kebiasaanatau perbuatan Contoh: − Kebiasaan pemilik toko mengantarkan barang belian yang berat/besar. 7.Dari segi cakupannya 1. ‘Urf Khas (Khusus) adalah kebiasaan yang berlaku secara khusus di daerah tertentu 18 . urbun. dll. 2. Di Jawa diwujudkan dengan membeli kereta Api. − Kebiasaan meminta agunan pada pembiayaan di bank syariah 2. saya akan mewaqafkan kereta untuk Yayasan Anak Yatim X.‘Urf Qawli adalah kebiasaan pada lafaz / ucapan Contoh : Misalnya seorang bernazar. Di Sumatera diwujudkan dengan membeli motor.

− − Kegiatan MTQ setiap tahun 2. ’Urf Shahih Adat yang berulang-ulang dilakukan. Memproteksi setiap pembiayaan dengan asuransi syariáh. − Adat menarik garis keturunan melaluigaris ibu / matrilineal).Dari Segi baik-buruk (Keabsahan) 1. dll.− Bagi masyarakat tertentu penggunaan kata “budak” untuk anak-anak dinggap merendahkan. Adanya garansi dalam pembelian barang elektronik. Kredit dengan sistem bunga di bank riba − − Pacaran (pergaulan bebas) 7. tidak bertentangan dengan syariah. sopan santun dan budaya yang luhur Contohnya: − − − − Acara halal bi halal (silaturrahmi) saat hari raya. kata budakbiasa digunakan untuk anak-anak. Mengasuransikan pendidikan anak. barang dagangan. rumah. diterima oleh orang banyak. ’Urf Fasid Adat yang berulang-ulang dilakukan tetapi bertentangan dengan syariah Islam Contohnya: − − − Menyuap untuk lulus PNS/meraih jabatan Menyuap DPR untuk mengesahkan Undang-Undang Menyuap partai politik untuk meluluskan calon gubernur atau bupati.3 Dasar hukum ‘Urf 19 . dsb. di Minang Kabau dan melalui Bapak (patrilineal) di suku Batak. tetapi bagi masyarakat (Malaya / Asahan tanjung Balai). kenderaan. Menerapkan perencanaan keuangan (Financial Planning) dalam keuangan keluarga. c.

Ulama’ Malikiyah terkenal pernyataan mereka bahwa amal ulama’ Madinah dapat dijadikan hujjah. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul Jadid). BAB III PENUTUP 3.Para ulama’ sepakat bahwa ‘urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan syara’.1 SIMPULAN 20 .. Imam Syafi’I terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. demikian pula ulama’ Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama’ Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga badzhab itu berhujjah dengan ‘urf.

Lalu mereka mengarahkanistinbâth mereka ke arah pemahaman bahwa khabar dan atsar tersebut harus dalam batasan nash-nashnya. Dari sinilah munculnya perbedaan mengenai patokan nash-nash sebagai dalil-dalil syariat. sehingga ketika tidak ada seorang ulama pun (di tengah-tengah manusia). ‘Auf bin Malik al-Asyja’i menuturkan bahwa Rasulullah saw. 21 . pernah bersabda: َ َ ْ َ ‫ت َفت َرقُ أ ُمت ِي على ب ِضع و سب ْعي ْن فرقة أ َعظَمها فت ْن َة قوم ي َقي ْسون الدّي ْن ب ِرأ ْي ِهم‬ ْ ً َ ْ ِ َ ِ َ َ ٍ ْ َ ْ ُ ِ ٌ ْ َ ً ِ َ ُ ْ ِ َ َ ِ ْ ّ َ ‫ي ُحرمون ب ِه ما أ َحل الله وي ُحل ّون ما حرم الله‬ َ ّ َ َ َ ْ ِ َ ُ ُ َ ِ َ ْ ُ ّ َ Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Ibn ‘Abbas juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. Yang paling besar fitnahnya adalah suatu kaum yang selalu meng-qiyâs-kan agama dengan pendapat (ra’yu)-nya. maka dia akan menempati tempat duduknya (yang terbuat) dari api neraka. Dalam Shahîh al-Bukhârîdisebutkan bahwa ‘Urwah bin Zubair pernah mendengar Rasulullah saw. Mereka diminta fatwanya lalu mereka memberikan fatwa tanpa didasarkan pada ilmu. para fukaha yang lain memperhatikan (menyelidiki) hapalan khabar (hadis) ahad dan fatwa-fatwa para sahabat. orang-orang menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. (HR Ahmad). Sementara itu. bersabda: َ َ ِ ْ ْ ْ ‫إ ِن الله ل َ ي َقب ِبض ال ْعل ْبم ان ْت ِزاعبا ي َن ْت َزعبه مبن ال ْعب َباد ول َك ِبن ي َقب ِبض ال ْعل ْبم ب ِقب ْبض‬ ‫َ ًب‬ ّ َ ِ ُ ُ ِ َ ِ َ ُ ُ َ ِ ‫ِ ب‬ ِ َ ‫ال ْعل َماء حتى إذا ل َم يبق عال ِما ات ّخذَ الناس رءوسا جهال ً فسئ ِلوا فأ‬ ُ ُ َ َ ِ ‫َ ِ ِ لب‬ َ ّ ّ َ ِ َ ُ ّ ُ ً ُ ُ ُ ً َ ِ ْ ُ ْ ْ ْ ٍ ‫َ فت َوا ب ِغي ْر ع ْ بم‬ ّ َ َ ّ َ َ ‫فضلوا وأ َضلوا‬ Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung setelah diberikannya kepada hamba-hambanya. Mereka itu adalah sesat dan menyesatkan. pernah bersabda: َ ‫من قال في ال ْقرآن ب ِغي ْر عل ْم ٍ فل ْي َت َب َوأ ْ مقعدَهُ من النار‬ ِ ِ َ ِ ْ ُ ِ َ َ ْ َ َ ْ َ ّ َ ِ ِ ّ Siapa saja yang berbicara mengenai al-Quran tanpa didasarkan pada ilmu. Dia akan mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama. yang kemudian diterapkan pada berbagai peristiwa yang terjadi. Mereka mengharamkan dengan pendapatnya apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah.Sementara itu. Memang dijumpai kecaman terhadap penggunaan ar-ra’yu. Akan tetapi. (HR al-Bukhari).

Hadis-hadis di atas memang menegaskan celaan terhadap ra’yu (pendapat). berkaitan dengan pendapat yang bersandar pada prinsip-prinsip syariat. yang dimaksud dengan pendapat (ra’yu) yang tercela (yang ada pada hadis-hadis di atas) adalah perkataan berkedok syariat tanpa sanad dan tanpa ilmu. hadis-hadis dan atsar-atsar yang ada menunjukkan bahwa hal itu adalah hukum syariat dan bukan pengambilan pendapat (ra’yu) yang dicela.Ar-ra’yu adalah penafsiran yang bertumpu pada ilmu. 22 . Sebaliknya. Karena itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful