P. 1
Pengembangan Asesmen Biologi

Pengembangan Asesmen Biologi

4.0

|Views: 2,494|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2015

pdf

text

original

PANDUAN BELAJAR PENGEMBANGAN PENILAIAN MATA PELAJARAN BIOLOGI

DISUSUN OLEH DR. HADI SUWONO, M.Si NIP. 196705151991031007

WORKSHOP SUBJECT SPECIFIC PEDAGOGY PENDIDIKAN PROFESI GURU UNIVERSITAS NEGERI MALANG Januari 2011

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah Penulis panjatkan kepada Allah swt., karena atas perkenannya buku PANDUAN BELAJAR PENGEMBANGAN PENILAIAN MATA PELAJARAN BIOLOGI dapat terselesaikan. Buku ini ditulis untuk memberikan bimbingan bagi mahasiswa peserta workshop SSP Program PPG agar dapat mengembangkan insrumen penilaian mata pelajaran Biologi. Penilaian hasil belajar biologi tidak hanya didasarkan pada tes tulis saja tetapi juga pada penilaian otentik. Penilaian otentik merupakan penilaian yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang didasrkan pada teori belajar dan filosofi pembelajaran terkini. Selain itu juga sesuai dengan perkembangan kurikulum saat ini (KTSP=Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan) dan standar penilaian yang telah diputuskan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007. Pembelajaran biologi dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pengamatan; percobaan; pengujian/penelitian; diskusi; dan penggalian informasi secara mandiri melalui tugas baca, wawancara nara sumber, simulasi/bermain peran, nyanyian, demonstrasi/peragaan model. Oleh sebab itu penilaian kemajuan belajar siswa dilakukan selama proses pembelajaran (terintegrasi) dan pada akhir pembelajaran. Penilaian biologi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti tes perbuatan, tes tertulis, pengamatan, kuesioner, skala sikap, portofolio, hasil proyek. Hasil penilaian dapat diwujudkan dalam bentuk nilai dengan ukuran kuantitatif ataupun dalam bentuk komentar deskriptif kualitatif. Buku ini memandu mahasiswa mengembangkan penilaian hasil belajar biologi. Buku ini memandu mahasiswa untuk belajar secara mandiri, berkooperasi dengan mahasiswa lain maupun dengan dosen Pembina matakuliah, sehingga diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi “menguasai teori, prinsip-prinsip dasar, dan praktik penilaian dan evaluasi hasil belajar biologi di sekolah”. Penulis merasa bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu Penulis mengharap masukan, saran, dan kritik dari para pembaca, terutama dari mahasiswa dan kolega, untuk perbaikan buku ini. Kritik dan saran dapat dikirimkan melalui email: hadi.suwono@um.ac.id atau hadi.suwono@yahoo.com. Atas segala saran, masukan, dan kritik, Penulis menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya.

Malang, 29 Januari 2011 Penulis

Dr. Hadi Suwono, M.Si

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ………………………………………………… KATA PENGANTAR ………………………………………………. DAFTAR ISI ………………………………………………………… Silabus Lokakarya …………………………………………………… i ii iii iv

UNIT I

HAKIKAT DAN PRINSIP DASAR PENILAIAN HASIL BELAJAR ……………………………………………… PERUMUSAN INDIKATOR DAN TUJUAN BELAJAR

1 5 9 16 21 37 42

UNIT II

UNIT III TES HASIL BELAJAR …………………………………. UNIT IV ANALISIS HASIL TES ………………………………… UNIT V PENILAIAN OTENTIK …………………………………

UNIT VI PORTOFOLIO ………………………………………….. UNIT VII MENGANALISIS DAN MENAFSIRKAN HASIL PENILAIAN ……………................................................. UNIT VIII MELAPORKAN HASIL PENILAIAN ………………... DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………. Lampiran 1. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran …………..

55 60 62

SILABUS LOKAKARYA PENGEMBANGAN PENILAIAN MATA PELAJARAN BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI A. Identitas 1. Nama 2. Sandi 3. SKS/JS 4. Waktu

: Pengembangan Penilaian : PG 5105 :2 :

B. Standar Kompetensi Menguasai teori, prinsip-prinsip dasar, dan praktik penilaian dan evaluasi hasil belajar biologi di sekolah C. Kompetensi Dasar dan Indikator 1. Mendeskripsikan prinsip dasar evaluasi pembelajaran biologi 1.1. Menganalisis pasal-pasal dalam UU No. 20/2003 dan PP 19/2005 yang memuat tentang evaluasi hasil belajar 1.2. Menganalisis karakteristik penilaian menurut Standar Penilaian (Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2007) 1.3. Mendeskripsikan perkembangan filosofi pembelajaran yang mendasari penilaian biologi 1.4. Menjelaskan hakikat dan tujuan penilaian hasil belajar dalam pembelajaran biologi 1.5. Mendeskripsikan penilaian kelas/penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran sains 1.6. Menjelaskan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi 1.7. Memberikan contoh pengukuran, penilaian, dan evaluasi 1.8. Menganalisis perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi 1.9. Mengidentifikasi manfaat penilaian hasil belajar dalam pembelajaran biologi 2. Merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran biologi 2.1. Mengidentifikasi pentingnya penilaian hasil belajar dan menentukan apa yang dinilai 2.2. Menjelaskan perbedaan antara standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator 2.3. Merumuskan indikator hasil belajar dari kompetensi dasar 3. Mengkonstruksi tes hasil belajar biologi 3.1. Menjelaskan ciri butir soal yang baik 3.2. Menyusun kisi-kisi penilaian 3.3. Menyusun butir soal tes berpikir tingkat tinggi dan tingkat rendah 4. Menganalisis hasil tes 4.1. Menghitung validitas dan reliabilitas butir soal 4.2. Menghitung keefektifan pengecoh 4.3. Menghitung tingkat kesukaran 4.4. Menyusun kartu soal 5. Mengkonstruksi perangkat penilaian otentik (jurnal, projek, penilaian laboratorium, wawancara, observasi) 5.1. Menjelaskan pengertian penilaian otentik, penilaian alternatif dan penilaian kinerja

Mengembangkan indikator kinerja Menyusun instrument penilaian otentik Menyusun indikator KD yang menampilkan perlunya penilaian jurnal, projek, penilaian laboratorium, wawncara, dan observasi untuk suatu KD tertentu 5.5. Mengkonstruksi penilaian jurnal, projek, penilaian laboratorium, wawncara, dan observasi untuk suatu KD tertentu 5.6. Menyusun rubrik dan rating scale untuk format penilaian kinerja 6. Mengembangkan penilaian portofolio 6.1. Menjelaskan pengertian penilaian potofolio 6.2. Membedakan penilaian portofolio dengan penilaian lainnya 6.3. Merencanakan penilaian portofolio 6.4. Mengembangkan penilaian portofolio 7. Menganalisis dan menafsirkan hasil penilaian serta menggunakannya dalam diagnosis kesulitan belajar dan pengejaran remedial 7.1. Menafsirkan hasil penilaian berdasarkan acuan tertentu 7.2. Memprofilkan kemampuan siswa berdasarkan hasil penilaian 7.3. Membuat rencana diagnosis kesulitan belajar 7.4. Merancang pengajaran remedial 8. Mengkomunikasikan hasil penilaian 8.1. Menjelaskan sistem pelaporan hasil penilaian 8.2. Membuat laporan hasil belajar siswa D. Materi Workshop 1. Hakikat dan prinsip dasar evaluasi pembelajaran 2. Indikator dan tujuan pembelajaran 3. Tes hasil belajar 4. Analisis Hasil Tes 5. Penilaian otentik 6. Penilaian portofolio 7. Pengembangan instrumen penilaian kinerja 8. Analisis hasil penilaian serta penggunaannya dalam diagnosis kesulitan belajar dan pengajaran remidial 9. Pelaporan hasil belajar E. Metode Workshop Workshop dilakukan dengan berbagai metode yang prinsipnya melatih mahasiswa agar mampu menyusun perangkat penilaian mata pelajaran biologi. Perangkat penilaian yang disusun adalah penilaian otentik.

5.2. 5.3. 5.4.

UNIT I HAKIKAT DAN PRINSIP DASAR PENILAIAN HASIL BELAJAR

PENGANTAR Salah satu tugas penting guru selama dan di akhir proses pembelajaran adalah melakukan penilaian terhadap kualitas proses belajar serta kualitas hasil belajar siswa. Penilaian proses belajar merupakan penilaian untuk menemukan kelemahan dan kekuatan proses pembelajaran untuk digunakan memperbaiki proses pembelajaran. Sedangkan penilaian hasil belajar adalah penilaian kemampuan siswa dalam menguasai kompetensi pembelajaran selama atau setelah pembelajaran. Dalam pembahasan tentang penilaian hasil belajar terdapat tiga istilah yang sering digunakan yaitu penilaian, pengukuran, dan evaluasi. Pengukuran merupakan prosedur memberikan angka terhadap atribut khusus. Istilah penilaian diterjemahkan dari istilah assessment yang berarti proses pengumpulan informasi tentang kinerja dan pencapaian belajar siswa. Evaluasi diterjemahkan dari kata evaluation yang memiliki pengertian sebagai proses interpretasi terhadap data dari hasil penilaian untuk memutuskan sejauh mana kemampuan dan pencapaian belajar siswa dalam suatu periode atau unit tertentu.

KOMPETENSI DASAR Mendeskripsikan prinsip dasar evaluasi pembelajaran

INDIKATOR 1. Menganalisis pasal-pasal dalam UU No. 20/2003 dan PP 19/2005 yang memuat tentang evaluasi hasil belajar 2. Menganalisis pentingnya penilaian hasil belajar menurut Standar Penilaian (Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2007) 3. Menganalisis karakteristik penilaian menurut Standar Penilaian 4. Mendeskripsikan perkembangan filosofi pembelajaran yang mendasari penilaian 5. Menjelaskan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi 6. Memberikan contoh pengukuran, penilaian, dan evaluasi 7. Menganalisis perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi 8. Menjelaskan hakikat dan tujuan penilaian hasil belajar dalam pembelajaran sains 9. Mendeskripsikan penilaian kelas/penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran sains 10. Mengidentifikasi manfaat penilaian hasil belajar dalam pembelajaran sains

1

DASAR TEORI Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian menyatakan bahwa penilaian pendidikan merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. 2. objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. 3. adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. 4. terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. 5. terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan. 6. menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik. 7. sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. 8. beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. 9. akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Penilaian semacam ini disebut sebagai penilaian berbasis kelas. Penilaian berbasis kelas adalah penilaian otentik. Penilaian otentik disebut pula sebagai penilaian alternatif (alternative assesment), penilaian kinerja (performance assesment), penilaian holistik (holistic assesment), atau penilaian berbasis keluaran (outcomebased assesment) Biologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam. Perubahan cara penilaian dalam pembelajaran biologi juga didasarkan pada perubahan paradigma pendidikan, tujuan pendidikan sains, proses belajar mengajar sains, serta kebutuhan akan catatan pencapaian belajar siswa yang lengkap. Perkembangan penilaian dipengaruhi oleh teori-teori belajar. Menurut teori belajar perilaku, pengetahuan dapat diuraikan menjadi bagian-bagian kecil tanpa mengurangi maknanya. Keterampilan kompleks dapat dipelajari secara terpisah menggunakan asosiasi stumulus-respons. Ahli teori perilaku tidak membahas bagaimana informasi-informasi yang terpisah diintegrasikan dalam satu gambaran yang koheren. Pembelajaran di sekolah banyak dipengaruhi oleh teori behaviorisme, sehingga proses pembelajaran disekolah banyak menekankan pada menghafal informasi faktual. Proses belajar dikontrol oleh guru. Apa yang dipelajari siswa diatur dan dibentuk oleh guru. Guru (aktif) menyiarkan informasi dan murid (pasif) 2

menyerap informasi tersebut. Proses penilaian yang berlandaskan pada teori behaviorisme menekankan pada “apakah materi pembelajaran yang diserap siswa dapat diungkapkan kembali” dengan kata lain penilaian ini menguji kemampuan menghafal siswa. Dengan demikian penilaian yang dilakukan di sekolah sebagian utamanya menggunakan format pilihan ganda, benar-salah, dan jawaban pendek, yang digunakan untuk mengetahui apa yang telah dihafal oleh siswa. Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan dibangun oleh individu melalui pengalaman. Konstruktivisme menentang pandangan yang mengatakan bahwa belajar adalah proses menyerap yang bersifat pasif. Pandangan tersebut membuat siswa diperlakukan sebagai objek yang harus melakukan semua apa yang dikehendaki oleh guru. Menurut pendukung konstruktivisme belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara aktif. Siswa tidak sekedar menyerap informasi dari guru dan kemudian ”memantulkan” kembali apa yang diterima. Siswa secara aktif menyeleksi informasi, memberi arti pada informasi tersebut walaupun informasi tersebut belum secara lengkap tersedia. Jadi menurut pandangan konstruktivisme, belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara aktif oleh setiap individu, orang dikatakan sudah belajar jika dalam pikiran orang tersebut terjadi proses penyusunan (konstruksi) pengetahuan. Pandangan konstruktivisme mempengaruhi proses penilaian. Proses penilaian adalah menilai sejauh mana pebelajar mengkonstruksi pengetahuan. Penilaian menurut pembelajaran konstruktivis memiliki ciri-ciri (a) dilakukan terintegrasi dengan pembelajaran, (b) mengukur proses dan produk pembelajaran, (c) dilakukan dengan berbagai teknik sehingga dapat mengukur segala aspek perkembangan berpikir siswa, dan (d) bermanfaat untuk memperbaiki proses pembelajaran. Tujuan pendidikan sains terutama menanamkan melek sains atau literat sains, sehingga setiap orang dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang akurat serta dengan cara yang sistematis dan logis (Brown dan Shavelson, 2001). Oleh sebab itu pembelajaran sains disusun agar siswa menguasai isi sains, serta keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi yang akan digunakan untuk mendapatkan dan mengelola informasi. Pembelajaran sains juga memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sikap ilmiah, rasa ingin tahu, objektif, kreatif, terbuka, dan perhatian terhadap lingkungan, dan juga menumbuhkembangkan kecintaannya pada sains. Literat sains tidak hanya sekedar memahami fakta-fakta, hafal istilah, dan prinsip sains. Pembelajaran biologi yang membantu siswa menjadi menguasai produk, proses, dan sikap tidak cukup hanya mengajarkan istilah dan prinsip saja tetapi juga mengajak siswa melakukan penyelidikan ilmiah serta mengkomunikasikan hasilnya. Jadi penilaian biologi tidak cukup hanya menggunakan tes tulis (paper and pencil test) tetapi menggunakan penilaian kinerja yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menampilkan kemampuannya.

3

Penilaian juga terkait dengan proses pembelajaran. Pendekatan pembelajaran apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sudah semestinya mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian utama, serta menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak melalui serangkaian kegiatan dengan mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif. Pembelajaran biologi perlu memperhatikan 5 pendekatan, yaitu: (1) empat pilar pendidikan, (2) inkuiri, (3) konstruktivisme, (4) Sains, Teknologi, Lingkungan, Masyarakat, dan (5) pemecahan masalah. Penilaian pembelajaran biologi yang menggunakan berbagai pendekatan tidak cukup dinilai menggunakan tes tulis. Teknik penilaian konvensional seperti pilihan ganda, benar-salah, menjodoh-kan hanya dapat menggambarkan hasil belajar berupa pengetahuan. Meskipun butir-butir soal ini merupakan cuplikan yang representatif dari tujuan pembelajaran, namun tidak dapat memberikan data yang komprehensif terhadap apa yang telah diketahui dan dapat dikerjakan siswa. Penilaian berbasis kelas menggunakan berbagai teknik penilaian sehingga memberikan keseimbangan pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Melalui penilaian berbasis kelas akan diperoleh keutuhan gambaran (profile) prestasi dan kemajuan hasil belajar siswa. Faktor lain yang mendorong reformasi penilaian adalah kebutuhan akan catatan pencapaian belajar siswa yang lengkap. Penilaian pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai dasar untuk mengambil keputusan mengenai keberhasilan siswa tetapi akan berperan sebagai dasar untuk memberikan umpan balik. Metode penilaian menggunakan tes tidak mampu menyediakan umpan balik yang bermakna tentang kinerja siswa. Penilaian menggunakan teknik/jenis penilaian yang bervariasi serta dilaksanakan selama proses pembelajaran berguna untuk mendapatkan gambaran kemampuan siswa dalam memahami konsep biologi dan penerapannya, menguasai dan mempraktikkan keterampilan proses dan kerja ilmiah, serta menerapkan sikap ilmiah.

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Pelajari materi tentang penilaian 2. Diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. a. Bagaimana penilaian dan evaluasi menurut UU No. 20/2003 dan PP 19/2005? b. Susun karakteristik penilaian menurut Standar Penilaian dalam bentuk peta konsep! c. Bagaimana perkembangan filosofi pembelajaran mempengaruhi penilaian dan evaluasi pembelajaran? d. Jelaskan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi! e. Jelaskan perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi! f. Berikan contoh pengukuran, penilaian, dan evaluasi dalam pembelajaran! g. Deskripsikan penilaian kelas/penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran sains terkait dengan tujuan pembelajaran sains h. Bagaimana manfaat penilaian hasil belajar dalam pembelajaran sains?

4

UNIT II PERUMUSAN INDIKATOR DAN TUJUAN BELAJAR

PENGANTAR Bagian terpenting ketika menyiapkan pembelajaran adalah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran untuk mencapai penguasaan kompetensi serta menentukan indikator kompetensi ketercapaian kompetensi. Tujuan pembelajaran memiliki fungsi untuk menunjukkan arah pembelajaran dan indikator menunjukkan sejauh mana kompetensi telah dikuasai oleh siswa berdasarkan bukti-bukti yang dirumuskan dalam indikator. Selain itu tujuan pembelajaran juga memandu pengajar dalam mengorganisasikan pembelajaran, menilai ketercapaian siswa, dan menilai keterlaksanaan proses pembelajaran. Jika seorang guru salah dalam merumuskan tujuan pembelajaran dan menentukan indikator maka akan mengalami kekeliruan pula dalam menyelenggarakan pembelajaran maupun mengevaluasi pembelajaran. Sebagai contoh, jika guru merumuskan tujuan pembelajaran hanya berupa penguasaan konsep saja maka hasil belajar yang diharapkan hanya penguasaan konsep saja, sedangkan hasil belajar lain yang berupa sikap dan kinerja tidak dituntut. Sebaliknya, jika guru merumuskan tujuan pembelajaran dan indikator berupa kinerja maka hasil belajar yang dituntut termasuk penguasaan kinerja. Demikian pentingnya tujuan pembelajaran dan indikator sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran ditentukan dari rumusan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian hasil belajar atau kompetensi. KOMPETENSI DASAR Merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran dari kompetensi dasar

INDIKATOR 1. Mengidentifikasi pentingnya penilaian hasil belajar dan menentukan apa yang dinilai 2. Menjelaskan perbedaan antara standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator 3. Merumuskan indikator hasil belajar dari kompetensi dasar 4. Merumuskan tujuan pembelajaran dari kompetensi dasar

DASAR TEORI Pengertian standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran adalah sebagai berikut. 5

Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Indikator dirumuskan dalam kalimat yang jelas, pasti, dan dapat diukur. Perumusan secara jelas, artinya siswa dan guru memiliki pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam indikator. Perumusan secara pasti, artinya indikator tersebut mengandung satu pengertian atau tidak bermakna ganda. Perumusan yang dapat diukur berarti tingkat pencapaian siswa dalam kinerja yang terdapat dalam indikator dapat diukur dengan tes atau alat pengukur lainnya. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Indikator dan tujuan pembelajaran dikembangkan dari kompetensi dasar. Pernyataan kompetensi dasar tersusun atas dua bagian utama, yaitu kinerja dan materi/bahan ajar. Dalam mengembangkan indikator kita perlu menguraikan (menganalisis) kinerja dan materi pelajaran. Teknik melakukan analisis kinerja dan materi pelajaran dibagankan dalam Gambar 2.1. Menganalisis kinerja maksudnya adalah menentukan kinerja-kinerja yang memprasyarati munculnya kinerja yang lebih tinggi. Sebagai contoh kinerja dalam kompetensi dasar adalah ”menyimpulkan”; menyimpulkan diprasyarati oleh kinerja yang lebih sederhana misalnya mencatat data, menganalisis data, menentukan hubungan. Kata kerja sederhana hasil analisis inilah yang nanti akan digunakan sebagai kata kerja penyusun indikator atau tujuan pembelajaran. Materi ajar yang terdapat di dalam kompetensi dasar juga masih sangat luas. Kita perlu menguraikan materi tersebut menjadi sub-submateri yang lebih kecil. Sebagai contoh, ciri-ciri makhluk hidup, dapat diuraikan menjadi bernapas, bergerak, peka terhadap rangsang, dan sebagainya. Untuk membentuk indikator kinerja sederhana yang diperoleh dari analisis kinerja digabungkan dengan sub-submateri hasil analisis materi.

6

Kompetensi Dasar Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah. Analisis materi Afektif • Bekerjasama • Berbagi (sharing) • Melaksanakan dengan tekun • Berpartisipasi • Bertanggungjawab Kinerja Merancang Membuat Mengkomunikasikan Menulis Memberikan solusi Limbah • Pengertian • Klasifikasi • Karakteristik • Sumber • Pengelolaan limbah • Daur ulang • Dampak positif • Dampak negative

Analisis kinerja

Kognitif Menganalisis, terdiri : • Menjelaskan • Membedakan • Menyebutkan • Mengidentifikasi • Mengklasifikasi • Menentukan

Indikator disusun dengan menggabungkan hasil analisis kinerja dan analisis materi • • • • • • •

Indikator • Menjelaskan pengertian limbah. • Menjelaskan karakteristik limbah. • Menyebutkan 3 perbedaan antara sampah dengan limbah • Mengidentifikasi jenis-jenis limbah, serta sumber dan upaya pengelolaannya • Mengklasifikasi limbah organik dan limbah anorganik • Menentukan jenis limbah yang dapat didaur ulang • Mengklasifikasi limbah menurut sumber dan bentuknya Membuat rancangan (proposal) projek daur ulang limbah Mengkomunikasikan rancangan Memberikan solusi untuk mengatasi pencemaran yang disebabkan oleh limbah Menulis laporan projek Mempertanggungjawabkan pelaksanaan projek melalui presentasi laporan hasil projek Bekolaborasi merancang dan melaksanakan projek daur ulang limbah Berpartisipasi dalam diskusi dan kerja kelompok

7

Kesulitan dalam menyusun indikator dan tujuan pembelajaran adalah menemukan kata kerja yang cocok untuk kinerja yang diharapkan. Salah satu acuan yang komprehensif dan bermanfaat untuk mengidentifikasi dan menulis indikator hasil belajar dan tujuan pembelajaran adalah Taksonomi Tujuan Belajar menurut Bloom. Bloom mengidentifikasi tiga ranah hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor.

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Pilih salah satu KD 2. Lakukan analisis kinerja dan analisis materi (isi pelajaran) 3. Kembangkan indikator KD tersebut. Indikator mencakup, kognitif, afektif, dan kinerja. Indikator kognitif mencakup pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. 4. Kembangkan pula tujuan pembelajaran dari KD tersebut.

8

9

UNIT III TES HASIL BELAJAR

PENGANTAR Pengumpulan informasi atau penilaian dapat dilakukan melalui tes maupun nontes. Dalam unit ini akan dibahas penyusunan penilaian hasil belajar menggunakan instrumen tes. KOMPETENSI DASAR Mengkonstruksi tes Hasil Belajar INDIKATOR 1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan perbedaan tes objektif dan uraian Mendeskripsikan kekuatan dan kelemahan tes objektif dan tes uraian Menjelaskan ciri butir soal yang baik Menyusun kisi-kisi penilaian Menyusun butir soal tes berpikir tingkat tinggi dan tingkat rendah

DASAR TEORI Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang atribut pendidikan yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan demikian maka setiap tes menuntut keharusan adanya respons dari subjek (orang yang dites). 1. Menyusun butir soal uraian/esai Kelemahan pokok pengukuran hasil belajar di sekolah pada umumnya tidak terletak pada bentuk dan tipe butir soal/tes yang digunakan, tetapi terutama terletak pada kemampuan guru dalam mengkonstruksi butir soal dengan baik. Butir soal tipe apapun dapat digunakan mengukur hasil belajar bila butir soal tersebut dikonstruksi dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tes uraian merupakan butir soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawabannya atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekpresikan pikiran peserta tes. Ciri khas tes uraian adalah jawaban terhadap soal tidak disediakan oleh orang yang mengkonstruksi butir soal, tetapi harus diberikan oleh peserta tes. Soal tipe uraian mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dapat atau sukar diperoleh melalui penggunaan tipe butir soal lain. Kelebihan itu antara lain: a) Dapat digunakan mengukur hasil belajar yang kompleks, misalnya: 1) kemampuan mengaplikasikan prinsip 2) kemampuan menginterpretasi hubungan 3) kemampuan mengenal dan menyatakan inferensi 4) kemampuan mengenal relevansi dari suatu informasi

5) kemampuan merumuskan dan mengenal hipotesis 6) kemampuan merumuskan kesimpulan yang sahih 7) kemampuan mengenal dan menyatakan masalah 8) kemampuan mendesain prosedur eksperimen b) Tes uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan ketrampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber informasi ke dalam suatu pola berpikir tertentu. Kemampuan ini sangat jelas dalam mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taat asas, kejelasan dan susunan kalimat, kemampuan menyusun paragraf Tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes yang lain Tes uraian menekankan kemampuan menulis memudahkan guru menyusun butir soal

c) d) e)

Di samping memiliki kekuatan, tes uraian memiliki beberapa kelemahan, antara lain: a) Reliabilitas rendah, artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang paralel diuji ulang beberapa kali. kelemahan ini karena: jumlah butir yang terbatas, batas-batas tugas yang harus dikerjakan peserta tes sangat longgar sehingga terjadi keragaman jawaban, dan subjektivitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes. b) Perlu waktu yang cukup banyak untuk menyelesaikan tes. c) Jawaban peserta tes kadang-kadang keluar dari pertanyaan. d) Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar antar siswa. Padahal hanya hasil belajar tertentu sajalah yang harus dikomunikasikan dalam bentuk tertulis. Oleh sebab itu pertanyaan tes uraian harus jelas dan tidak dipersepsi oleh peserta tes dengan beragam pengertian. Tes uraian dapat diklasifikasi ke dalam dua bentuk, yaitu tes uraian terbatas dan tes uraian bebas. Tes uraian terbatas dapat berupa jawaban singkat atau melengkapi kalimat. Butir soal bentuk uraian memeriksanya sulit dan lama karena jawabannya bervariasi, oleh sebab itu hasil penilaiannya cenderung subjektif. Untuk mendapatkan penilaian yang lebih objektif maka guru harus menentukan: a) Butir-butir apa sajakah yang harus terdapat dalam jawaban pertanyaan uraian b) Merangking butir-butir mana yang lebih penting di antara butir-butir jawaban yang diharapkan.Dalam pedoman penilaian konsep yang lebih penting diberi bobot yang lebih besar. Perlu dicatat di sini bahwa yang diberi nilai adalah setiap konsep yang muncul. Kalau hanya ada 7 konsep yang muncul misalnya, dan setiap konsep dianggap memiliki bobot yang sama maka skor maksimum untuk butir soal tersebut adalah 7. Oleh sebab itu skor maksimum setiap butir soal uraian lebih baik dicantumkan pada naskah ujian. Pencantuman ini membantu siswa untuk merencanakan waktu penyelesaian setiap butir soal. Contoh butir soal:

Comment [.1]: Mungkin lebih baik ditambahkan saran untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi kelemahan ini.

Jelaskan paling sedikit 4 faktor yang menyebabkan menurunnya keaneka-ragaman hayati di Indonesia! (skor 4) Pedoman penskoran: Aspek/Kata Kunci pada Jawaban 1. Pencemaran 2. Penebangan hutan 3. Kebakaran hutan 4. Kerusakan habitat 5. Penangkapan hewan an pengambilan tanaman secara liar 6. Terdesak oleh tanaman budidaya 7. Perluasan ekosistem buatan (sawah, waduk, bendungan, ddl) 8. Adanya perluasan pemukiman manusia Minimal menyebutkan 4 sehingga skor maksimum = 4 Skor 1 1 1 1 1 1 1 1

2. Menulis butir soal objektif Butir soal objektif adalah butir soal yang mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Jadi kemungkinan jawaban telah disiapkan oleh pengkonstruksi butir soal. Dengan demikian pemeriksanaan atau penskoran jawaban peserta sepenuhnya dilakukan secara objektif oleh pemeriksa. Jadi tes objektif adalah tes yang dapat diskor secara objektif. Secara umum ada tiga tipe tes objektif, yaitu: Benar–salah, Menjodohkan, Pilihan ganda. Tipe pilihan ganda merupakan butir soal yang alternatif jawabannya lebih dari dua, pada umumnya 4 atau 5. Bila alternatif lebih dari lima akan membingungkan peserta tes dan juga menyulitkan pengkonstruksian butir soal. Tes pilihan ganda dapat dimodifikasi ke dalam berbagai bentuk, misalnya (a) pilihan ganda biasa, (b) pilihan ganda analisis hubungan antar hal, (c) pilihan ganda kompleks, (d) pilihan ganda analisis kasus, dan (e) pilihan ganda yang menggunakan gambar, grafik, tabel atau gambar. Kelima ragam tes objektif pilihan ganda ini sama strukturnya (formatnya), yaitu ada “pokok soal” (stem) yang diikuti oleh sejumlah “pilihan jawaban” (option). Di antara pilihan ada “jawaban yang benar” atau “paling tepat”, dan pilihan lain yang tidak tepat yang berfungsi sebagai “pengecoh” (distractors). Butir soal objektif memiliki beberapa kekuatan, yaitu: a. Dapat mengukur tingkatan tujuan instruksional, dari yang sederhana ke yang kompleks b. Dapat mengukur jumlah tujuan instrusional yang relatif banyak c. Penskorannya objektif d. Analisisnya lebih mudah e. Dapat menuntut kemampuan peserta tes membedakan berbagai tingkatan kebenaran sekaligus f. Dengan jumlah option lebih dari dua probabilitas tebakan menjadi berkurang g. Tingkat kesukaran dapat dikendalikan a. b. c. Butir soal objektif memiliki beberapa kelemahan, yaitu: Sukar dikonstruksi terutama untuk tingkat berpikir tinggi Tidak tepat untuk mengukur psikomotorik Ada kecenderungan hanya untuk mengukur pengetahuan dan pemahaman saja

d.

Ada kecenderungan untuk menebak jawaban, sehingga menyulitkan interpretasi apakah peserta tes benar-benar mengetahui jawabannya.

Contoh butir soal objektif. Indikator: menjelaskan fungsi organ peredaran darah pada manusia (pengetahuan). Contoh butir soal: Fungsi jantung adalah …. a. Menyerap oksigen dari atmosfer b. Menyaring sisa metabolisme dari darah c. Menghasilkan eritrosit d. Menghasilkan leukosit e. Memompa darah ke seluruh tubuh Indikator: Mendeskripsikan fungsi sistem peredaran darah pada manusia (pemahaman). Contoh soal : Pernyataan di bawah ini adalah fungsi sistem sirkulasi pada manusia, kecuali…. a. Mengangkut zat nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. b. Mengahantarkan rangsangan ke organ-organ tubuh. c. Mengatur suhu tubuh. d. Mengatur sisa-sisa metabolisme ke alat-alat pengeluaran. e. Mengedarkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Indikator: Menjelaskan struktur alat-alat peredaran darah pada manusia (pengetahuan) Contoh soal ; Jantung manusia terdiri dari tiga lapisan, yaitu …. a. Endokardium, miokardium dan pericardium. b. Atrium, ventrikel dan pembuluh darah. c. Aorta, vena dan arteriol d. Limfosit, netrofil dan basofil e. Foramen ovale, foramen parizae dan foramen bikuspidalis Indikator: menentukan golongan darah berdasarkan hasil tes golongan darah (Analisis) Contoh soal : Tabel dibawah ini menunjukkan hasil tes darah pada lima orang siswa. Siswa Aglutinin a b a dan b F + + G + + H I + + + J + Pernyataan yang benar berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut adalah: a. F bergolongan darah A b. G bergolongan darah O c. H bergolongan darah AB d. I bergolongan darah A

e. J bergolongan darah B Tidak semua indikator dapat dinilai menggunakan soal-soal objektif. Perhatikan contoh berikut ini: 1) Indikator: Menyebutkan fungsi masing-masing organ pencernaan pada manusia Soal: Sebutkan fungsi mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, dan usus besar.
Tabel 3.1 Contoh-Contoh Soal Tes Tingkat berpikir 1. Pengetahuan Indikator - Menuliskan 3 contoh mamalia yang hidup di laut - Mengukur suhu tubuh manusia - menjelaskan perbedaan struktur tumbuhan dikotil dan monokotil - Menentukan perbandingan fenotip pada persilangan dihibrid Butir soal tes - Sebutkan 3 contoh mamalia yang hidup di laut!! - Ukurlah suhu badanmu menggunakan termometer batang! - Jelaskan perbedaan struktur tumbuhan dikotil dan monokotil! - Warna merah (M) dominan terhadap putih (m) dan bulat (B) dominan terhadap kisut (b). Jika tanaman biji bulat berwarna merah heterozygot disilangkan dengan sesamanya maka perbandingan keturunannya adalah…. - Bacalah artikel yang disediakan. Identifikasi tiga factor utama penyebab terjadinya kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan! - Berdasarkan data vitamin pada berbagai bahan makanan dalam table berikut, tentukan jenis makanan yang banyak mengandung vitamin C dan B. - Berdasarkan data hasil percobaan antara konsentrasi pupuk dan tinggi tanaman berikut ini, tuliskan rumusan kesimpulan percobaan tersebut. - Berdasarkan hasil pengukuran kadar logam berat dan unsur kimia seperti dalam data berikut, berbahayakah air PDAM ini bagi kesehatan manusia? - Pemerintah menanggulangi bahaya flu burung dengan cara sebagai berikut………. Menurut pendapatmu sudah tepatkan penanganan penyebaran wabah flu burung di Indonesia?

2. Pemahaman

3. Penerapan

4. Analisis

- Mengidentifikasi factor penyebab terjadinya kebakaran hutan di Sumatera - mengidentifikasi jenis- jenis makanan yang banyak mengandung vitamin C

5. Sintesis

- Menyimpulkan hubungan antara konsentrasi pupuk dengan pertumbuhan tanaman - Menilai kualitas air

6. Evaluasi

- Mengkritisi cara penanggulangan flu burung

2)

Indikator: Merumuskan definisi istilah dengan kata-katanya sendiri. Soal : Rumuskan dengan kata-katamu sendiri, definisi “populasi”. Indikator nomor 1 dan 2 tidak cocok diukur menggunakan soal pilihan ganda, karena dengan soal pilihan ganda siswa hanya memilih alternatif yang tersedia dan tidak ”menyebutkan” (soal nomor 1) dan ”merumuskan dengan kata-katanya sendiri” (soal nomor 2).

3)

Hasil belajar: Siswa dapat merangkai alat untuk menguji adanya gas karbondioksida sebagai hasil respirasi pada tumbuhan. Soal: Berikut adalah langkah-langkah cara merangkai alat-alat untuk menguji bahwa tumbuhan berespirasi mengeluarkan gas karbondioksida: a...., b...... Indikator semacam ini menuntut siswa untuk melakukan kegiatan, yaitu merangkai alat, bukan menuliskan cara merangkai alat. Oleh sebab itu tidak cocok diukur dengan soal pilihan ganda. Alat ukur yang cocok ialah “tes perbuatan” (performance test).

Dari ketiga contoh tersebut juga dapat disimpulkan bahwa kata kerja yang ada di dalam pokok butir soal harus sesuai dengan kata kerja yang ada di dalam rumusan indikator. Dengan perkataan lain “respon” siswa terhadap butir tes harus sesuai dengan “tingkah laku” yang tersurat di dalam rumusan hasil belajar.

KISI-KISI PENILAIAN Kisi-kisi adalah suatu format atau matriks yang memuat informasi yang dapat dijadikan pedoman untuk menulis tes atau merakit tes. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penilaian, digunakan sebagai pedoman untuk pengembangan soal, harus mewakili isi kurikulum, komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami. Kisi-kisi harus mengacu pada SK-KD. Kisi-kisi merupakan matriks yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi-kisi merupakan acuan bagi penulis soal, sehingga siapapun yang menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif sama. Contoh kisi-kisi soal adalah sebagai berikut.
Kompetensi Dasar: 4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah. Kisi-kisi penilaian Indikator kompetensi 1. 2. Menjelaskan pengertian limbah. Menjelaskan karakteristik limbah. 3. Menjelaskan cara pengelolaan limbah (penggunaanulang dan pendaurulangan) 4. Memberi contoh pengelolaan limbah melalui penggunaanulang dan pendaurulangan 5. Mengidentifikasi jenis-jenis limbah. 6. Menjelaskan contoh limbah organik dan limbah anorganik. 7. Mengklasifikasi limbah menurut sumber dan wujudnya 8. Menyebutkan jenis-jenis limbah yang berasal dari industry, rumah tangga, dan pertanian 9. Menyebutkan jenis-jenis limbah padat, cair, gas. Dan B3 10. Menjelaskan dampak limbah Jenis Penilaian Tes uraian Tes uraian Tes objektif Tes objektif Tes uraian Tes objektif Tes uraian Tes objektif Tes objektif Tes Materi Pengertian limbah Karakteristik limbah Pendaurulangan dan penggunaulangan Pendaurulangan dan penggunaulangan Jenis-jenis limbah Limbah organik dan anorganik Klasifikasi limbah menurut sumber dan wujudnya Limbah industry, rumah tangga, dan pertanian Limbah padat, cair, dan B3 Dampak limbah terhadap Butir soal*) 1 2 1

2, 3

3 4, 5 4 dan 5 6

7 8

terhadap lingkungan objektif lingkungan *) contoh butir soal untuk KD ini terdapat dalam Lampiran 1

Penilaian non tes Indikator 11. Membuat rancangan (proposal) projek daur ulang limbah 12. Mengkomunikasikan rancangan 13. Memberikan solusi untuk mengatasi pencemaran yang disebabkan oleh limbah 14. Menulis laporan projek 15. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan projek melalui presentasi laporan hasil projek 16. Bekolaborasi merancang dan melaksanakan projek daur ulang limbah 17. Berpartisipasi dalam diskusi Jenis penilaian Produk Presentasi Projek Projek Presentasi Observasi Observasi

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Pelajari tentang apa, mengapa, dan bagaimana tes hasil belajar 2. Diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. a. Sebutkan sedikitnya 3 kekuatan dan 3 kelemahan butir soal objektif b. Sebutkan sedikitnya 3 kekuatan dan 3 kelemahan butir soal uraian c. Tentukan tingkat berpikir pada contoh-contoh soal tes berikut ini • • • Apakah perbedaan antara pernapasan dan fotosintesis Apakah dampak yang mungkin terjadi jika tubuh manusia kekurangan unsur besi? Untuk menguji adanya tepung dalam umbi-umbian siswa kelas V SD menggunakan indikator obat merah. Bagaimana pendapat Anda tentang metode yang dilakukan oleh siswa tersebut! Sebutkan ciri-ciri hewan yang hidup di air! Dalam suatu percobaan seorang siswa menemukan bahwa besi dapat ditarik magnet, sedangkan tembaga, aluminium, perak, emas tidak dapat ditarik oleh magnet. Bagaimana kesimpulan yang tepat untuk percobaan tersebut?

• •

3. Perhatikan indikator yang telah Anda susun pada unit sebelumnya, tentukan indikator mana yang harus dinilai menggunakan tes. Tentukan materi dan bentuk tes serta nomor butir soal dari semua indikator yang akan dinilai menggunakan tes. Dapat menggunakan table sebagai berikut.
Indikator Bentuk tes*) Materi Nomor soal

*) bentuk penilaian tes mengacu pada: pilihan ganda, menjodohkan, uraian singkat, uraian terbuka, dll.

Dari kisi-kisi ini kemudian disusun lembar tes beserta kunci jawabannya.

UNIT IV ANALISIS HASIL TES

PENGANTAR Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian yang beracuan kriteria. Pada penilaian tes, analisis soalnya berbeda dengan tes beracuan norma. Analisis seperti indeks kesukaran dan daya diskriminasi seperti yang dilakukan pada tes beracuan norma, tidak digunakan untuk soal tes beracuan kriteria, karena soal-soal tes beracuan kriteria tidak digunakan untuk membandingkan siswa yang satu dengan siswa lainnya. Tes beracuan kriteria digunakan untuk mengukur apakah siswa dapat atau tidak dapat melakukan sesuatu. Oleh sebab itu seperangkat soal beracuan kriteria dapat saja semuanya dijawab dengan benar oleh semua siswa, dan soal-soal semacam itu tetap merupakan soal yang efektif. Artinya jika soal-soal tersebut sangat sesuai untuk mengukur ketercapaian kompetensi, dan semua siswa mampu menjawab dengan benar menunjukkan menunjukkan bahwa semua siswa telah menguasai sasaran belajar tersebut. Tingkat kesukaran soal beracuan kriteria ditentukan oleh kompetensi yang diukurnya. Jika kompetensinya mudah soal untuk mengukurnyapun harus mudah, sebaliknya jika kompetensinya sukar, maka soal untuk mengkurnyapun harus sukar. KOMPETENSI DASAR Menganalisis Hasil Tes INDIKATOR 1. 2. 3. 4. Menjelaskan validitas dan realiabilitas Menghitung validitas dan reliabilitas butir soal Menghitung keefektifan pengecoh Menghitung tingkat kesukaran

DASAR TEORI Tujuan pokok dari analisis soal untuk tes yang beracuan kriteria ialah menentukan sejauh mana setiap soal telah mengukur hasil belajar-mengajar. Apabila suatu soal dapat dijawab dengan benar oleh semua siswa sebelum dan sesudah dilaksanakannya proses belajar mengajar, hasil pengukuran semacam ini tidak menunjukkan adanya pengaruh proses belajar mengajar. Sebaliknya jika suatu soal hanya dapat dijawab benar setelah pembelajaran berarti proses pembelajarannya efektif. Jadi soal yang efektif adalah soal yang dijawab benar oleh lebih banyak siswa setelah berlangsungnya proses belajar mengajar daripada sebelum berlangsungnya proses belajar mengajar. Analisis soal tes beracuan kriteria adalah sebagai berikut. 1. Sensitifitas

Soal tes yang sensitif adalah soal yang dijawab benar oleh lebih banyak peserta setelah berlangsungnya pembelajaran daripada sebelum berlangsungnya pembelajaran, seperti yang disarankan oleh Popham (1995). Sensitifitas butir soal dinyatakan sebagai nilai indeks yang nilainya berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Butir soal yang nilai sensitifitasnya yang besar menunjukkan tingkat sensitifitasnya juga tinggi dan butir soal seperti ini merupakan butir soal yang efektif. Indeks sensitivitas ditentukan dengan rumus sebagai berikut.
Bstp - Bsbp S= T S = Indeks sensitifitas Bstp = Jumlah peserta yang menjawab benar sesudah pembelajaran Bsbp = Jumlah peserta yang menjawab benar sebelum pembelajaran T = Total (jumlah) peserta

2. Reliabilitas Reliabilitas pada soal tes beracuan kriteria didefinisikan sebagai kemantapan klasifikasi (Safrit, 1986) artinya apabila tes yang digunakan untuk mengklasifikasi siswa sebagai “telah menguasai kompetensi” dan “yang belum menguasai kompetensi” tes tersebut harus berfungsi sedemikian. Penghitungan reliabilitas penilaian beracuan kriteria tidak sama dengan penilaian beracuan norma, karena penilaian beracuan kriteria tidak dimaksudkan untuk memaksimalkan reliabilitas. Pada umumnya rentang hasil tes penilaian beracuan kriteri lebih sempit dari pada hasil tes beracuan norma, akibatnya koefisien reliabilitas yang diperoleh juga relatif rendah. Cara yang digunakan untuk menghitung reliabilitas hasil tes menggunakan rumus Kuder-Richardson-21 sebagai berikut.
R (N – R) Reliabilitas (KR-21) = 1 - __________

N (SD)2

R = Rata-Rata angka tes N = Jumlah soal

Harga reliabilitas berkisar antara 0, 00 sampai 1,00. Harga reliabilitas mendekati 1, 00 menunjukkan reliabilitas yang tinggi. Cara yang kedua adalah dengan menggunakan tes bentuk setara. Pada umumnya rentangan angka hasil tes yang, beracuan kriteria relatif sempit. Akibatnya koefisien reliabilitas yang diperoleh juga relatif rendah. Telah disampaikan bahwa tes yang beracuan kriteria digunakan untuk mengelompokkan siswa menjadi “yang telah menguasai kompetensi" dan "yang belum (tidak) menguasai kompetensi", tes tersebut harus dapat dengan tepat berfungsi sedemikian. Apabila dua macam tes yang setara diberikan kepada sekelompok siswa dalam jeda waktu tertentu, maka diharapkan kedua tes tersebut dapat menghasilkan kelompok siswa yang telah menguasai kompetensi dan yang tidak menguasai dalam jumlah yang sama. Tentu saja hasil yang persis sama sulit diperoleh karena adanya kemungkinan kesalahan

pengukuran. Siswa-siswa yang terletak pada batas angka kelulusan dapat berubah kategorinya (misalnya dari tidak menguasai menjadi menguasai, dan demikian pula sebaliknya). Tetapi jika banyak siswa yang tergolong "menguasai" pada tes yang pertama dan berubah menjadi "tidak menguasai" pada tes kedua, maka menjadi sukar untuk menentukan siapa-siapa sebenarnya yang tergolong "telah menguasai" dan siapa yang tergolong dalam kelompok "tidak menguasai". Oleh sebab itu reliabilitas dapat ditentukan dengan jalan menghitung persentase kelompokkelompok siswa yang telah “menguasai" dan "tidak menguasai". Cara menentukannya adalah sebagai berikut. Misalnya diadakan dua kali tes setara yang terdiri dari 25 soal, diberikan kepada 40 orang siswa. Angka batas tingkat penguasaan ditetapkan 80% jawaban yang yang benar. Pada tes pertama (tes A) hasilnya siswa yang mendapat angka > 80 berjumlah 30 siswa, dan yang mendapat angka < 80 adalah 10 siswa. Pada tes kedua (B) siswa yang mendapat angka > 80 berjumlah 32 siswa, dan yang mendapat angka < 80 adalah 8 siswa. Tes A B Jumlah Siswa Menguasai 30 32 Total siswa Tidak menguasai 10 8 40 40

Dari hasil dua tes tersebut menunjukkan bahwa siswa yang menguasai pada tes A dan tes B adalah 30 dan yang tidak menuasai adalah 8 siswa. Hasilnya dimasukkan dalam tabel berikut. Tes B Tidak menguasai 8

Menguasai 30

Tes A

Tidak menguasai Menguasai

Persentase konsistensinya: % Konsistensi =
=

Menguasai (Tes A dan B) + Tidak menguasai (Tes A dan B) × 100 Jumlah Siswa Dalam Kelompok
30 + 8 x 100 = 95 % 40

Kesimpulan: tes ini sangat konsisten, artinya reliabilitasnya sangat baik. Prosedur penggunaan dua kali tes ini mempunyai beberapa kelemahan, yaitu (1) diperlukan dua tes yang setara, padahal membuat tes yang setara itu sulit; (2) sulit untuk menentukan besarnya persentase konsistensi yang diperlukan untuk situasi tertentu. Semakin tinggi reliabilitasnya, semakin baik fungsi tes tersebut. Yang sulit ditentukan ialah persentase konsistensi minimalnya, dan untuk ini tidak ada angka yang pasti, karena bargantung pada jumlah soal tes dan penggunaan angka tes.

3. Validitas Dalam merencanakan dan menggunakan perangkat penilaian, salah satu kriteria yang penting adalah validitasnya, agar perangkat penilaian dapat berfungsi sesuai dengan tujuannya. Validitas dapat didefinisikan sebagai pertimbangan yang penting dalam evaluasi perangkat penilaian. Oleh sebab itu proses inferensi hasil penilaian harus ditunjang oleh bukti-bukti yang dikumpulkan. Bukti-bukti untuk menunjang inferensi validitas penilaian adalah sebagai berikut: a. Bukti isi (content-related evidence of validity), yaitu sejauh mana kerepresentatifan soal-soal untuk mrngukur kompetensi. Bukti ini dapat ditemukan dengan cara (a) merumuskan dengan jelas kompetensi dan indikatorindikatornya, (b) membuat soal-soal/tugas yang sesuai dengan kompetensi dan indikator-indikatornya. b. Bukti kriteria (criterion-related evidence of validity), yaitu sejauh mana tingkat ketelitian kemampuan yang diukur dalam memperkirakan hasil belajar yang sebenarnya. Bukti ini dapat ditentukan dengan cara menghitung korelasi hasil tes dengan hasil tes lain yang terstandard. c. Bukti-bukti lain, misalnya apakah ada korelasi hasil tes dengan angka pada matapelajaran lain, apakah ada korelasi hasil tes dengan hasil tes lain yang serupa, apakah proses mental siswa pada saat menjawab soal sama dengan yang dipikirkan oleh penyusun tes, apakah format, petunjuk, pemberian angka, tingkat keterbacaan soal sesuai dengan kondisi siswa. Menentukan validitas perangkat penilaian beracuan kriteria tidak memerlukan perhitungan yang rumit, sebagaimana pada penilaian beracuan norma. Secara sederhana guru dapat membandingkan antara tugas/pertanyaan dengan indikator kompetensi. Untuk mendapatkan soal/pertanyaan dan tugas yang hasilnya mempunyai validitas tinggi dapat dilakukan dengan jalan: (a) merumuskan dengan jelas kompetensi beserta indikatornya, (b) membuat soal/pertanyaan/tugas yang representatif dari kompetensi beserta indikatornya, (c) menggunakan format penilaian yang sesuai dengan kompetensi beserta indikatornya. Jadi dengan menyusun soal/pertanyaan/tugas dengan urutan seperti yang diuraikan tersebut, besar kemungkinan memperoleh hasil penilaian yang validitasnya tinggi.

KARTU SOAL Soal yang sudah disusun oleh guru sebaiknya tidak langsung digunakan, karena soal tersebut belum teruji keterandalannya. Keterandalan ini dapat dilihat dari tingkat kesulitasn, validitas, dan reliabilitasnya. Soal tersebut perlu diujicoba terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana keterandalan soal tersebut. Soal yang diketahui berkualitas baik dari hasil ujicoba kemudian ditulis dalam kartu soal dan disimpan di bank soal. Oleh sebab itu ketika guru akan merakit soal, guru tidak bersusah-payah lagi untuk menyusun soal tes baru tetapi guru dapat merakit soal-soal yang telah dikoleksi

dalam bank soal. Kartu soal berupa kartu yang dibuat dari kertas yang tebal (buffalo, manila) berukuran kuarto atau A4 yang berisi rumusan butir soal, KD, materi, indikator soal, beserta tingkat kesulitan, validitas, reliabilitas, dan kunci jawabannya.
Tampak Depan SMP NEGERI 1 BERPRESTASI Mata Pelajaran Kelas/Semester Penyusun Buku Sumber : : : Kognitif Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Pemecahan Masalah Penalaran/komunikasi KD Materi Pembahasan Tampak Belakang Kunci Jawaban

Rumusan Butir Soal

Tingkat Kesukaran Sangat mudah Mudah Sedang Sukar Sangat Sukar : : : : :

Sensitivitas

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Bacalah cara menentukan keterandalan tes 2. Lakukan ujicoba tes yang telah Anda susun pada unit sebelumnya 3. Bagaimana validitas, reliabilitas, sensitivitas. Gunakan KR-21 untuk menghitung reliabilitas! 4. Lakukan perbaikan pada soal yang telah Anda ujicoba 5. Buatlah karto soal untuk menyimpan soal yang telah anda susun dalam bank soal.

UNIT V PENILAIAN OTENTIK

PENGANTAR Penilaian otentik juga disebut penilaian “performance”, “appropriate”, alternative”, “holistic”, atau “outcome based”. Penilaian otentik disebut “performance assesment” karena mengukur kinerja nyata yang dilakukan siswa. Penilaian otentik disebut “appropriate” karena merupakan cara yang tepat untuk mengukur kemampuan siswa. Penilaian otentik merupakan “alternative” karena merupakan bentuk penilaian alternative selain tes tulis yang selama ini dipilih guru. Penilaian otentik dilakukan secara “holistic” karena memberikan informasi kemampuan siswa secara menyeluruh karena penilaian ini menuntut siswa mengintegrasikan seluruh kemampuannya. Penilaian “outcome-based” karena mengacu produk yang dihasilkan oleh siswa dalam belajar. Perlu dipahami bahwa penilaian otentik tidak mengganti penilaian tradisional. Penilaian tradisional merupakan cara yang sangat bermanfaat untuk mengumpulkan informasi tentang pengetahuan siswa mengenai istilah ilmiah, pemahaman terhadap prinsip-prinsip ilmiah, dan kemampuan mereka untuk menerapkan prinsip tersebut. Sedangkan penilaian otentik memberikan suatu gambaran seberapa baik siswa menggunakan istilah, prinsip ilmiah, dan menerapkan prinsip ilmiah. Penilaian otentik didesain untuk mengukur aspek kognitif tingkat tinggi, seperti memecahkan masalah, inkuiri, dan berkomunikasi.

KOMPETENSI DASAR Mengembangkan penilaian otentik

INDIKATOR 1. Menjelaskan pengertian penilaian alternative dan penilaian kinerja 2. Mengembangkan indikator kinerja 3. Menyusun format penilaian kinerja DASAR TEORI Dalam penilaian berbasis kelas proses pengumpulan data keberhasilan siswa (penilaian) menggunakan berbagai cara sehingga dapat mengukur keberhasilan siswa secara lebih nyata dan lebih aseli. Pengumpulan data atau penilaian terhadap tugastugas yang kompleks, nyata, aseli, disebut sebagai penilaian otentik. Format penilaian otentik dalam biologi misalnya Laporan Penelitian, Portofolio, Pameran, Projek, Model, Laporan kerja Laboratorium, Peta Konsep, Presentasi lisan, Demonstrasi Laboratorium, Debat, Wawancara, Deskripsi Proses, Ceklis Keterampilan (Tabel 5.1).

Penilaian otentik juga tidak hanya dilakukan di bagian akhir pembelajaran saja tetapi ada juga yang dilaksanakan selama proses pembelajaran.
Tabel 5.1 Contoh-contoh Format Tes Tulis dan Penilaian Otentik Tes Tulis (Paper and Pencil test) Format pilihan Format yang ditulis • Pilihan ganda • Uraian • Benar-Salah • Jawaban singkat • menjodohkan • Pilihan ganda alternatif lain Penilaian Otentik Penilaian Produk • Laporan penelitian • Portofolio • Pameran • Projek Model • Laporan kerja laboratorium • Artefak visual • Peta konsep • Laporan kerja lapangan

Penilaian Kinerja • Presentasi lisan • Demonstrasi laboratorium • Penampilan keterampilan • Projek

Penilaian proses • • • • Debat Wawancara Deskripsi proses Ceklis keterampilan

Sumber: Dikumpulkan dari berbagai sumber.

Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian yang beracuan kriteria, artinya ketuntasan atau penguasaan kompetensi ditentukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Pada penilaian yang menggunakan bentuk tes sangat mudah menentukan batas penguasaan. Batas penguasaan tes yang berupa pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan adalah “benar dan salah”. Kalau benar diberi skor 1 maka kalau salah diberi skor 0. Pada penilaian bentuk tes tulis yang berupa uraian atau jawaban singkat batas penguasaanya juga jelas dengan adanya panduan penskoran. Pada penilaian kinerja, di mana penilaian menggunakan bentuk misalnya laporan tugas, projek, laporan kerja laboratorium, portofolio, model, kecakapan presentasi, batas penguasaan berupa ranah kinerja. Ranah kinerja merupakan deskripsi kecakapan yang urut mulai kecakapan minimal sampai kecakapan maksimal. Oleh sebab itu diperlukan panduan penilaian kinerja yang menjelaskan kriteria kinerja dan tingkatan kualitas dari masing-masing kriteria. Dalam melakukan penilaian, kinerja yang dihasilkan siswa dicocokkan dengan kriteria dan tingkatan kualitas dari masingmasing kriteria tersebut untuk mendapatkan status kecakapan siswa. Penilaian kinerja difokuskan pada prosedur, produk, dan kombinasi dari prosedur dan produk. Kecakapan yang berupa proses, produk, atau kombinasi proses dan produk dapat diukur menggunakan daftar telaah (jawaban “ya/tidak” atau check list), skala penilaian, dan rubrik. 1. Ceklis atau Daftar Telaah Daftar telaah untuk menilai produk atau proses berisi aspek atau kriteria yang menjadi ciri dari proses atau produk tersebut. Penilai tinggal memberi tanda “cek” atau menuliskan kata “ya” pada aspek yang dikuasai dan tanda “-“ atau menuliskan kata “tidak” pada aspek yang belum dikuasai. Pengukuran menggunakan daftar telaah akan menghasilkan sejumlah proses atau produk yang dikuasai dan tidak dikuasai. Penilaian menggunakan daftar telaah baik dilakukan untuk menilai proses, karena penilaian proses membutuhkan penilaian yang relatif cepat. Tabel 5.2 berikut adalah salah satu

contoh penilaian kecakapan melakukan percobaan menggunakan daftar telaah. Tabel tersebut tersusun atas dua bagian yaitu kriteria atau aspek yang dinilai dan bagian kedua yaitu keterangan penguasaan.
Tabel 5.2 Contoh Hasil Penilaian Kecakapan Melakukan Percobaan Menggunakan Daftar Telaah Kompetensi Dasar: Menyimpulkan hasil percobaan bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah gerak suatu benda Aspek yang dinilai 1. Memilih alat dan bahan percobaan secara tepat 2. Merangkai alat percobaan dengan benar 3. Mengumpulkan data secara objektif 4. Merumuskan kesimpulan berdasarkan data Nama Siswa: Reihan Kelas : IV Semester : 2 Sudah menguasai

Belum menguasai

2. Skala Penilaian Skala penilaian serupa dengan daftar telaah, tersusun atas kriteria yang dinilai serta penskoran untuk setiap tingkatan kriteria, namun tingkatan kriteria tidak lagi berupa jawaban “dapat” atau “tidak dapat” tetapi kecakapan setiap kriteria digradasi mulai dari sangat kurang sampai sangat baik penguasaannya. Jadi skala penilaian tidak lagi digunakan menentukan ada tidaknya kriteria yang muncul seperti pada daftar telaah, melainkan menentukan seberapa baik ketercapaian kriteria yang menjadi kriteria penilaian. Biasanya setiap tingkatan diberi skor, misalnya sangat kurang diberi skor 1, kurang diberi skor 2, cukup diberi skor 3, baik diberi skor 4, dan sangat baik diberi skor 5.
Tabel 5.3 Skala Penilaian Untuk Menilai Kecakapan Membuat Karya/Model Kompetensi Dasar: Membuat suatu karya/model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan sifat-sifat cahaya Aspek/kriteria yang dinilai 1. Merencanakan projek secara rinci 2. Menentukan alat dan bahan yang diperlukan 3. Memilih alat yang sesuai 4. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu 5. Membuat karya dengan pola sesuai rencana 1-Sangat kurang; 2-Kurang 3-Cukup; 4-Baik; 5-Sangat baik Nama siswa: Marsya Kelas :5 Semester : 2 Skor 1 2 3 4

5

Format penilaian menggunakan skala juga tersusun atas dua bagian yaitu kriteria atau aspek yang dinilai dan bagian kedua yaitu keterangan penguasaan. Bedanya dengan ceklis adalah adanya gradasi penguasaan yang lebih rinci. Kelebihan dari skala penilaian dibandingkan dengan daftar telaah adalah tidak hanya menentukan ada-tidaknya kriteria yang muncul, melainkan sudah menentukan tingkatan kriteria.

Skala penilaian dapat digunakan untuk menilai konerja, baik berupa produk maupun proses. Berikut adalah salah satu contoh penilaian produk menggunakan skala penilaian.

3. Rubrik Kurikulum berbasis kompetensi menuntut siswa mendemonstrasikan apa yang sudah mereka pelajari dengan berbagai cara. Siswa harus mendemonstrasikan kompetensi atau kemajuan mereka ke arah kompetensi. Kompetensi yang berupa pengetahuan dapat dinilai menggunakan tes yang jawabannya benar atau salah, sedangkan kompetensi kinerja penilaiannya tidak dapat dilakukan menggunakan tes tulis. Suatu penilaian kinerja menuntut siswa untuk melakukan satu tugas, tidak seperti tes benar-salah atau pilihan ganda yang mengharuskan siswa memilih salah satu jawaban yang tersedia. Sebagai contoh, penilaian kinerja melakukan penelitian menuntut siswa untuk benar-benar melakukan penelitian, bukan hanya sekedar menjawab pertanyaan pilihan ganda tentang apa yang disebut penelitian, apa yang disebut variabel, bagaimana langkah-langkah melakukan penelitian. Penilaian kinerja terdiri dari 2 bagian, yaitu satu tugas dan satu set kriteria penskoran atau ”rubrik.” Tugas itu dapat menghasilkan satu produk, kinerja, atau uraian jawaban dari satu pertanyaan yang menuntut siswa menerapkan keterampilan berpikir. Karena penilaian kinerja tidak mempunyai kunci jawaban seperti tes pilihan ganda, penskoran kinerja dapat menghasilkan penilaian yang subjektif mengenai kualitas dari hasil kerja siswa. Kita biasa melihat guru yang memberikan skor laporan percobaan dengan rentang 0 sampai 10, tetapi kita tidak mengetahui kriteria yang digunakan untuk memberi skor. Siswa tidak mendapat informasi yang bermanfaat tentang mengapa angka tersebut diberikan kepadanya dan tidak ada umpan balik mengenai bagian mana dari tugas yang telah dikerjakan dengan baik dan bagian mana yang memerlukan perbaikan. Contoh penilaian yang berupa daftar telaah seperti contoh berikut bukanlah rubrik karena tidak mencantumkan kriteria kinerja. 1 Kurang 2 Cukup 3 Bagus 4 Bagus sekali 5 Sempurna

Penilaian dengan menggunakan skala di atas bergantung pada penafsiran guru mengenai istilah-istilah seperti “cukup“ atau “bagus”. Kalau siswa dinilai “cukup”, siswa, orang tuanya, atau guru lain tidak mempunyai gambaran mengenai apa yang sudah bisa dilakukan oleh siswa tersebut dan apa yang belum/tidak bisa dilakukannya. Rubrik adalah kunci penskoran yang menggambarkan berbagai tingkat kualitas kemampuan dari yang sempurna sampai yang kurang untuk menilai satu tugas, keterampilan, projek, esai, laporan penelitian, atau kinerja spesifik. Tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik tentang kemajuan kerja siswa dan memberikan evaluasi yang rinci mengenai produk akhir.

Rubrik biasanya mempunyai 2 bagian yaitu daftar kriteria tugas dan gradasi/tingkat pencapaian kriteria. Setiap kriteria di dalam rubrik merupakan acuan kinerja sehingga dijadikan dasar untuk menilai respons siswa. Rubrik memiliki skala pemeringkatan. Berbeda dengan skala penilaian yang pemeringkatannya hanya berupa peringkat sangat kurang, sangat baik, cukup, sempurna; rubrik memiliki kelebihan yaitu pemeringkatan kriteria dalam bentuk deskripsi yang rinci. Tabel 5.4 berikut adalah satu contoh rubrik untuk menilai projek dalam biologi. Semua rubrik memiliki skala pemeringkatan. Rubrik di atas menggunakan skala pemeringkatan empat tingkat, skala 1 untuk tingkat kinerja terendah dan skala 4 untuk tingkat kinerja tertinggi. Tidak ada skala pemeringkatan terbaik untuk sebuah rubrik, tetapi sebaiknya menghindari rubrik yang memiliki skala pemeringkatan lebih dari 6 tingkatan. Hal ini perlu dihindari karena skala pemeringkatan lebih dari 6 tingkatan akan mempersulit untuk membedakan dengan jelas antar tingkat kinerja dan mempersulit untuk mengukur perbedaan antara kriteria kinerja. Langkah-langkah dalam menyusun rubrik adalah sebagai berikut. a. Menentukan kompetensi yang akan disusun rubriknya b. Menentukan kriteria yang digunakan sebagai acuan untuk mengetahui ketercapaian kompetensi. Sebagai contoh kompetensi dasar: Melaksanakan Percobaan Pengaruh Faktor Luar terhadap Pertumbuhan Tumbuhan. Kriteria untuk mengukur keter-capaian kompetensi tersebut adalah: • Rumusan masalah percobaan • Pelaksanaan percobaan • Analisis data • Rumusan kesimpulan. c. Untuk setiap kriteria, disusun deskripsi tentang pencapaian kriteria dari yang paling tinggi ke yang paling rendah kualitasnya. Misalnya kriteria merumuskan masalah, tingkatan pecapaian kriteria adalah sebagai berikut: • Rumusan masalah jelas dan menunjukkan hubungan antara variabel gaya dan gerak • Rumusan masalah jelas dan terkait dengan topik percobaan tetapi belum menunjukkah hubungan variabel gaya dan gerak • Rumusan masalah terkait dengan topik percobaan tetapi pernyataanya masih membingungkan • Rumusan masalah tidak jelas d. Masukkan kriteria dan deskripsinya ke dalam matrik e. Pemberian skor dari deskripsi tingkatan kriteria tinggi sampai rendah.

Tabel 5.4

Rubrik Penilaian Projek Biologi dengan Kompetensi Dasar “Melaksanakan Percobaan Pengaruh Faktor Luar terhadap Pertumbuhan Tumbuhan”

Kriteria Perumusan Masalah

Tingkatan 4 Rumusan masalah jelas dan menunjukkan hubungan antara faktor luar dengan pertumbuhan

Pelaksanaan percobaan

Analisis data

Kesimpulan

Menggunakan alat dan bahan yang lengkap, langkah percobaan tepat, ada format pencatat data sehingga pencatatan data rinci dan sesuai tujuan Data disajikan dalam berbagai bentuk sehingga memudahkan penarikan kesimpulan Kesimpulan berdasarkan data, pernyataannya jelas, merupakan hubungan faktor luar dengan pertumbuhan, dan merupakan konsep biologi yang benar

3 Rumusan masalah jelas dan terkait dengan topik percobaan tetapi belum menunjukkan hubungan faktor luar dengan pertumbuhan Menggunakan peralatan yang lengkap, langkah percobaan tepat, tetapi data kurang rinci

2 Rumusan masalah terkait dengan topik percobaan tetapi pernyataanya masih membingungkan Menggunakan peralatan yang lengkap, langkah percobaan dan data yang dicatat kurang lengkap

1 Rumusan masalah tidak jelas

Pelaksanaan percobaan dan pencatatan data tanpa perencanaan sehingga tidak sempurna

Data disajikan hanya dalam satu bentuk, meskipun masih memudahkan penarikan kesimpulan Kesimpulan berdasarkan data, pernyataannya kurang jelas, tetapi masih merupakan hubungan faktor luar dengan pertumbuhan, dan merupakan konsep biologi yang benar

Penyajian data tidak menarik tetapi ada analisis untuk penarikan kesimpulan Rumusan kesimpulan jelas dan tidak berdasarkan data tetapi masih merupakan konsep biologi yang benar

Penyajian data tidak lengkap dan tanpa ada analisis

Rumusan kesimpulan tidak jelas, tidak berdasarkan data, dan tidak bermakna sebagai konsep biologi yang benar.

Rubrik selain berperan dalam penilaian juga berperan dalam pembelajaran. Berikut adalah peran rubrik dalam penilaian maupun dalam pembelajaran. a. Membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran, karena rubrik mengandung kriteria atau indikator keberhasilan pencapaian hasil belajar. Berdasarkan konsep penilaian bahwa penilaian bukan hanya hak guru tetapi juga merupakan hak siswa, maka guru perlu membahas rubrik dengan para siswa sebelum mereka memulai tugas. Rubrik dapat dipajangkan pada papan pajangan atau dibagikan kepada siswa. Jika guru dan siswa telah menyepakati rubrik penilaian, maka rubrik dapat pula membantu memfokuskan proses belajar-mengajar melalui penekanan pada kriteria yang harus dipenuhi siswa. b. Membantu guru menetapkan standar kelulusan, misalnya guru menentukan minimal skor 3 dari tiap kriteria sebagai standar kelulusan.

c. Membantu guru menentukan kegiatan remedial. Misalnya guru menentukan skor 3 sebagai standar kelulusan. Kalau ada siswa yang satu atau beberapa kriteria mendapatkan skor kurang dari 3, guru tidak perlu mengajarkan kembali semua konsep tetapi hanya konsep dalam kriteria yang tidak dikuasai saja yang harus diajarkan kembali. d. Menjadi kriteria penilaian diri siswa. Dengan melihat kriteria penilaian dalam rubrik siswa dapat mengetahui seperti apa tuntutan hasil belajar yang harus dicapai dalam kompetensi tersebut. Kejelasan tuntutan belajar ini dapat mendorong kemajuan siswa. e. Sebagai umpan balik. Seumpama ada siswa yang mendapat skor 1 pada kriteria analisis data maka pernyataan dalam rubrik “penyajian data tidak lengkap dan tanpa analisis” membantu siswa untuk memperbaiki cara penyajian dan analisis data. Dalam beberapa kegiatan pelatihan banyak guru yang bertanya, apakah setiap tugas harus dibuatkan rubriknya? Sebenarnya ada dua bentuk rubrik yang dapat digunakan untuk menilai tugas-tugas kinerja, yaitu rubrik holistik dan rubrik spesifik. Rubrik holistik adalah rubrik yang digunakan untuk menilai kecakapan umum, misalnya kecakapan melakukan percobaan, presentasi, dan diskusi. Rubrik spesifik hanya berlaku untuk menilai kecakapan tertentu, misalnya rubrik penilaian keterampilan menggunakan mikroskop. Rubrik pada Tabel 5.4 dapat berfungsi menjadi rubrik holistik dengan menghilangkan konsep-konsep biologi, dapat pula menjadi rubrik spesifik dengan menambahkan konsep-konsep biologi pada deskripsi kriteria. Oleh karena itu, guru tidak perlu membuat rubrik baru untuk setiap kegiatan. Di bawah ini diuraikan beberapa bentuk penilaian otentik. 1. Laporan Projek Projek merupakan penilaian yang tepat untuk mengumpulkan data mengenai kemampuan siswa dalam menerapkan keterampilan proses terintegrasi dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Projek dan investigasi dapat dilakukan secara individual maupun kelompok dengan anggota dua sampai 4 siswa, dalam waktu satu sampai tiga bulan. Bentuk projek yang dapat ditugaskan kepada siswa misalnya penelitian, investigasi, poster, dan membuat alat. Projek merupakan penilaian yang menarik karena dapat: (a) mengetahui kemampuan siswa memecahkan masalah, (b) mengukur kemampuan bekerja ilmiah, (c) membantu siswa belajar memecahkan masalah yang otentik, (d) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi ide-ide saintifik menggunakan bahan-bahan fisik atau teknologi baru seperti alat-alat laboratorium dan komputer, (e) membantu siswa menghubungkan antara konsep biologi dengan dunia nyata. Berikut ini merupakan salah satu contoh bentuk penilaian Laporan Projek dan Investigasi. Kompetensi melaksanakan projek dalam biologi dinilai menggunakan rubrik. Rubrik penilaian projek dan investigasi biologi dicontohkan dalam Tabel 5.5. Rubrik pada Tabel 5.5 tersebut sedikit berbeda dengan rubrik penilaian projek pada Tabel 5.4, karena rubrik pada Tabel 5.5 berikut memiliki kriteria dan penskorannya berbeda. Dengan menggunakan rubrik penilaian tersebut guru dapat menilai setiap komponen
Comment [.2]: Semua kata projek digsnti projek

Comment [.3]: Mengukur kemampuan kerjasama/kualitas kerjasama

dari projek yang dilakukan siswa. Skor maksimum penilaian projek menggunakan rubrik dapat diatur tergantung pada komponen apa yang dipertimbangkan untuk digunakan dalam penilaian.

Tabel 5.5 Rubrik Holistik Untuk Menilai Projek. Masing-masing Kriteria Memiliki Bobot Skor yang Berbeda Unsur-unsur yang dinilai dan skornya 1. Judul - Dinyatakan secara jelas variabel bebas dan variabel terikat (10) - Ada variabel tetapi tidak dinyatakan secara jelas (8) - Judul jelas tetapi tidak ada variabel (6) - Judul tidak jelas (4) 2. Latar Belakang - Latar belakang lengkap sesuai dengan permasalahan (10) - Latar belakang kurang sesuai dengan permasalahan (8) - Latar belakang sangat kurang (5) 3. Permasalahan - Dinyatakan secara jelas variabel bebas dan variabel terikat (10) - Ada variabel tetapi tidak dinyatakan secara jelas (8) - Perumusan masalah tidak memperlihatkan adanya variabel (6) - Rumusan masalah tidak jelas (4) 4. Tinjauan pustaka - Lengkap dan mendukung pemecahan masalah (20) - Kurang lengkap tetapi mendukung pemecahan masalah (15) - Kurang mendukung pemecahan masalah (10) - Tidak terkait permasalahan (5) 5. Hipotesis - dinyatakan secara jelas sebagai prediksi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat (10) - Kurang jelas menunjukkan hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat (7) - Hipotesis tidak lengkap (4) 6. Pengumpulan dan Penyajian Data - Data relevan, tercatat dengan baik, pengukuran variabelnya jelas dan disajikan dengan baik (20) - Data relevan, tercatat dengan baik, pengukuran variabelnya jelas dan disajikan dengan biasa saja (15) - Data relevan, tetapi kurang tercatat dengan baik (10) - Data kurang relevan (5) 7. Kesimpulan - Kesimpulan berdasarkan data dan sebagai konsep yang benar (10) - Kesimpulan berdasarkan data dan sebagai konsep yang kurang benar (7) - Kesimpulan tidak berdasarkan data (3) 8. lain-lain - Menggunakan bahasa yang baik, terminologi yang benar, dan referensi mendukung (10) - Menggunakan bahasa yang baik, beberapa terminologi masih kurang tepat (8) - Menggunakan bahasa yang kurang, beberapa terminologi masih kurang tepat (6) Total skor:

Comment [.4]: Aspek kesesuaian judul dengan apa yang dilakukan dan dihasilkan mungkin perlu dipertimbangkan

Contoh rubrik penilaian projek biologi yang disajikan pada Tabel 5.5 memiliki skor maksimum 100. Maksimum skor sengaja dibuat 100 agar memudahkan para guru dalam melakukan penilaian. Setiap komponen yang dinilai juga dapat diberi nilai maksimum berbeda (ada pembobotan), karena kalau dicermati setiap komponen memiliki tingkatan kepentingan yang berbeda. Pada contoh rubrik penilaian projek

dalam Tabel 5.5 misalnya, Tinjauan Pustaka, Pengumpulan dan Penyajian Data dianggap lebih penting sehingga diberi bobot dua kali dari komponen lainnya. 2. Model Merancang dan membuat suatu karya/model merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa dalam pembelajaran biologi. Sebagai contoh menguasai kompetensi Merancang dan membuat suatu karya/model. Kompetensi membuat karya merupakan salah satu kompetensi yang proses pelaksanaanya melibatkan keterampilan proses yaitu merancang karya, menentukan alat dan bahan, membuat karya berdasarkan rancangan, dan mengevaluasi hasil. Oleh sebab itu merancang dan membuat model sebaiknya dikembangkan dalam pembelajaran khususnya pada akhir semester sehingga siswa telah benar-benar menguasai konsep-konsep biologi yang akan diterapkan dalam proses pembuatan karya atau model.
Tabel 5.6 Contoh Rubrik Penilaian Model

Unsur-Unsur yang dinilai dan skornya 1. Rencana pembuatan model - Rencana lengkap (gambar, ukuran, bahan) (20) - Rencana kurang lengkap (15) - Rencana sangat kurang (10) 2. Deskripsi bagaimana model bekerja - Cara bekerja dideskripsikan secara lengkap disertai dengan konsep dan istilah biologi yang benar (20) - Cara bekerja dideskripsikan secara lengkap namun beberapa konsep dan istilah biologi kurang benar (15) - Cara bekerja dideskripsikan secara kurang lengkap tatapi relevan(10) - Deskripsi bekerjanya model tidak relevan (5) - Tidak ada deskripsi bekerjanya model (0) 3. Model selesai dibuat dan siap dipresentasikan - Model bekerja dengan baik, sesuai rencana, menarik (40) - Model bekerja dengan baik, sesuai rencana, tetapi tidak menarik (30) - Model kurang bekerja dengan baik (20) - Model salah (5) 4. Model aman digunakan - Model dibuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya (10) - Model mengandung bahan-bahan beracun dan berbahaya (5) 5. Warna, label, dan komponen lain menarik - Warna, label, dan komponen menarik (10) - Kurang menarik (5) Total skor:

Penskoran model menggunakan rubrik penilaian model seperti yang disajikan dalam Tabel 5.6. Rubrik penilaian model memuat kriteria dari model meliputi perancangan model, deskripsi kerja dari model, proses pembuatan, hasilnya yaitu model itu sendiri, alat dan bahan yang digunakan, serta kemenarikannya.

3. Peta Konsep Peta konsep dapat digunakan untuk menilai kemampuan siswa khusunya penilaian kemampuan membuat hubungan antar konsep. Peta konsep sebenarnya merupakan gambaran visual dari hubungan beberapa konsep (Glencoe, 2000), oleh sebab itu kemampuan membentuk peta konsep menunjukkan kemampuan mengorganisasi informasi dan keterampilan yang diperoleh. Bentuk hubungan ini dapat berupa jaringan pohon, rantai kejadian, dan siklus. Gambar 5.1 berikut adalah salah satu contoh peta konsep. Peta konsep selain digunakan untuk menilai kompetensi sebenarnya juga dapat digunakan sebagai salah satu cara membelajarkan siswa. Terutama untuk memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep apa saja yang dipelajarai dan bagaimana keterkaitan antar konsep tersebut. Jika digunakan dalam penilaian proses pensekoran peta konsep yang paling mudah adalah dengan menghitung jumlah jawaban yang benar.

Comment [.5]: Jaring labah-labah

Pencernaan Makanan
Dilakukan secara

1………………..
Terjadi di

2………………….

Terjadi di

3………………..

Mulut

4………………

Dibantu oleh

Dibantu oleh

Dibantu oleh

Gigi

5……………………… ………..

Getah/enzim dari pankreas

Gambar 5.1 Peta Konsep Pencernaan Makanan

4. Presentasi Penggunaan presentasi dan diskusi sebagai alat penilaian bermakna untuk mengetahui performansi siswa. Presentasi siswa dapat berupa presentasi lisan secara yang dilaksanakan secara klasikal maupun dalam kelompok kecil. Bahan-bahan yang dipresentasikan dapat berupa penjelasan dari hasil observasi, hasil pemecahan masalah, proses pengujian hipotesis, proses eksperimen, hubungan antar konsep, dan lain-lain. Penilaian kecakapan presentasi dapat menggunakan daftar telaah seperti pada Tabel 5.7

Tabel 5.7 Contoh Penilaian Kecakapan Presentasi Menggunakan Daftar Telaah Unsur-Unsur yang dinilai Isi atau Materi yang dipresentasikan 1. Menggunakan konsep biologi yang tepat 2. Terminologi yang digunakan dalam penyajian tepat 3. Menggunakan bantuan visual seperti gambar, diagram, foto, diagram alir, animasi 4. Mampu mengorganisasi isi/materi presentasi Penskoran: Sangat tepat: Kinerja dalam Presentasi 5. Bicara dengan volume, kecepatan, dan nada suara yang menarik 6. Memberi selingan dan humor positif 7. Menggunakan bahasa tubuh seperti kontak mata, gerak tubuh 8. Memberikan waktu dan kesempatan kepada audiens untuk berpikir dan merespons pertanyaan Ya atau tidak

5. Keterampilan Menggunakan Alat Dalam kegiatan belajar mengajar seringkali para guru perlu menentukan kemajuan belajar siswa melalui pengamatan langsung terhadap penguasaan keterampilan, misalnya keterampilan menggunakan peralatan, keterampilan mengukur, keterampilan menghitung. Keterampilan menggunakan peralatan biologi merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai siswa karena keterampilan menggunakan peralatan merupakan prasyarat bagi penguasaan keterampilan proses misalnya melakukan percobaan, melaksanakan projek, pengamatan lapangan. Sebagai contoh jika siswa tidak terampil menggunakan termometer maka ia tidak dapat melakukan percobaan yang berkaitan dengan suhu. Instrumen untuk mengukur keterampilan dapat menggunakan pedoman observasi yang berupa daftar telaah atau ceklis keterampilan seperti yang dicontohkan dalam Tabel 5.8. Penilaian keterampilan menggunakan daftar telaah mudah dilakukan karena guru hanya menentukan keterampilan mana yang sudah dikuasai dan keterampilan mana yang belum dikuasai. Penggunaan daftar telaah untuk menilai keterampilan lebih menguntungkan daripada menggunakan rubrik. Hal ini dikarenakan proses penggunaan alat berlangsung singkat sehingga diperlukan alat penilaian yang dapat merekan keterampilan siswa tersebut dengan cepat pula. Dalam penilaian menggunakan daftar telah ini perlu dipastikan bahwa guru menguasai keterampilan tersebut, sehingga guru secara cepat dapat menentukan apakah keterampilan yang ditampilkan oleh siswa tersebut benar atau salah. Misalnya jika siswa menakar volume suatu larutan yang volumenya 100 ml dengan menggunakan gelas beaker, maka guru langsung mengetahui bahwa cara ini adalah salah.

Tabel 5.8 Contoh Format Penilaian Keterampilan Menggunakan Skala Penilaian Butir Tugas/Tes: Di depanmu tersedia segelas air, kain lap, dan termometer batang. Gunakan termometer tersebut untuk mengukur suhu air di dalam gelas tersebut. Aspek Yang Diamati 4 Termometer dipegang pada ujung atas atau melalui benang, skala termometer menghadap ke pengamat. 2. Reservoir dicelupkan ke dalam air tanpa menyentuh dasar wadah air. 3. Pengamatan dilakukan setelah permukaan cair di dalam termometer stabil (tidak bergerak) 4. Saat membaca skala termometer, mata sejajar permukaan cairan di dalam termometer 5. Hasil bacaan tepat Total Skor Keterangan: Skor 4=sangat tepat, Skor 3 = agak tepat, Skor 2 = kurang tepat, skor 1 = sangat kurang tepat 1. 3 Skor 2 1

6. Poster Pernahkah Anda melihat poster, misalnya poster himbauan untuk tidak merokok, himbauan menanam tanaman sejak dini, himbauan mengkonsumsi makanan sehat, membersihkan tangan menggunakan sabun?. Banyak dari poster-poster yang sering kita temukan dibuat oleh individu/industri/perusahaan yang jika ditilik dari bentuknya dan kata-katanya terkait dengan konsep biologi. Misalnya poster himbauan untuk tidak merokok, karena rokok dapat menyebabkan impotensi, tekanan darah tinggi, dan merusak janin; tentu dibuat oleh orang yang memahami biologi. Dengan demikian poster dapat menjadi produk alternatif dalam pembelajaran biologi baik di sekolah dasar maupun sekolah menengah. Di dalam pembelajaran ketika kita berbicara tentang proses dan produk biologi, pada umumnya pikiran kita langsung tertuju pada keterampilan proses misalnya melakukan percobaan, pengamatan lingkungan, dan kerja laboratorium. Padahal masih banyak bentuk-bentuk produk biologi yang lain yang memiliki manfaat bagi masyarakat umum, salah satunya adalah poster. Oleh sebab itu tidak ada salahnya jika kita mengajarkan produk kepada siswa dalam bentuk poster. Jika kita mencermati konsep-konsep biologi, banyak konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya yang berhubungan dengan kesehatan, konservasi lingkungan, penghematan energi, perlindungan sumber daya alam, dan sebagainya. Hasil kerja siswa dalam projek dalam bidang kesehatan, konservasi lingkungan, tidak harus berupa projek penelitian, tetapi dapat berupa poster. Poster merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat tentang sesuatu dalam bentuk kombinasi gambar dan tulisan yang menarik. Poster dapat berupa himbauan, larangan, promosi. Poster himbauan misalnya poster himbauan untuk tidak merokok, poster yang mengajak melakukan reboisasi, dan lain-lain. Poster berupa larangan misalnya larangan menggunakan narkoba. Poster yang merupakan promosi, misalnya promosi wisata alam, promosi makanan sehat, dan lain-lain.

Kecakapan yang dituntut dari membuat poster sangat beragam, mulai dari kecakapan merepresentasi tema menjadi poster, memilih kata atau kalimat yang tepat sesuai tema, komunikasi, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu komponen penting yang harus ada dalam poster adalah tema, kesesuaian gambar/kata-kata/sketsa dengan tema, kejelasan pesan yang disampaikan, kreativitas, kesesuaian dengan komunitas target, dan juga keindahan. Tabel 5.9 berikut merupakan salah satu contoh penilaian poster menggunakan daftar telaah.
Tabel 5.9 Contoh Format Penilaian Poster Menggunakan Daftar Telaah Unsur-usur 1. 2. 3. Memiliki judul yang jelas menggambarkan tema poster Ide dalam poster tepat sesuai dengan tema bagian-bagian dalam poster membangun satu kesatuan tema, bukan kumpulan informasi yang terpotong-potong 4. Informasi dalam poster tepat dan memberikan gambaran bahwa siswa menguasai konsep-konsep biologi 5. Gambar, foto, lukisan, diagram, grafik, membuat poster menjadi lebih jelas 6. Format poster sesuai dengan audiens 7. Poster sangat kreatif dan menarik Skor: Beri tanda cek untuk pernyataan yang tepat

7. Kecakapan Berdiskusi Kecakapan diskusi merupakan salah satu kecakapan yang harus dikuasai oleh siswa yang belajar biologi, alasannya diskusi merupakan salah satu sarana untuk menguji argumentasi. Selain itu dalam proses diskusi juga mengandung nilai-nilai sains, misalnya menerima pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak kepada teman lain, memberikan sumbangan pemikiran bagi pemecahan masalah bersama, dan lain-lain. Nilai dalam aktivitas diskusi kelas dapat diberikan kepada siswa yang memberikan sumbangan pemikiran, ide-ide, dan membantu memecahan masalah dalam diskusi kelas. Salah satu cara melakukan penilaian aktivitas diskusi adalah dengan menghitung frekuensi sumbangan pemikiran yang diberikan oleh siswa selama proses diskusi berlangsung. Jalannya komunikasi dalam proses diskusi biasanya didominasi oleh siswasiswa tertentu saja. Oleh sebab itu agar semua siswa dapat menguasai keterampilan berdiskusi maka guru perlu mengatur agar siswa secara bergantian dapat melakukan unjuk kerja berdiskusi, misalnya mengatur diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, memecah kelompok diskusi ke dalam kelompok yang “pro” dan “kontra”. Format penilaian aktivitas diskusi dicontohkan dalam Tabel 5.10 di bawah ini.

Tabel 5.10 Format Penilaian Kecakapan Berdiskusi
FORMAT PENGAMATAN AKTIVITAS DISKUSI (Diisi oleh Guru) Kelas Mata Pelajaran Topik Pembelajaran Tanggal Kegiatan :…………………………… :…………………………… :…………………………… :…………………………… : Diskusi Kelas

No

Nama Siswa

Frekuensi kontribusi dalam diskusi Sangat Biasa Tidak relevan berarti saja

Skor

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

…..

Keterangan: Sangat berarti Biasa saja Tidak relevan

: Mengajukan gagasan dan alasan yang penting dalam diskusi : Mengajukan gagasan yang kurang penting : Mengajukan gagasan yang tidak relevan dengan permasalahan yang didiskusikan

8.

Panduan penskoran: 5 = memberikan gagasan yang sangat berarti lebih dari 5 X 4 = memberikan gagasan yang sangat berarti antara 3-4 X 3 = memberikan gagasan yang berarti antara 1-2 X Penilaian kemampuan memecahkan masalah 2 = memberikan gagasan biasa saja 1 = memberikan gagasan, tetapi kurang relevan

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi salah satu pendekatan penting yang

digunakan dalam pembelajaran adalah pemecahan masalah. Kegiatan pemecahan masalah perlu dilatihkan sejak dini karena pada dasarnya kegiatan yang dilakukan manusia sehari-hari dalam memecahkan masalah. Teknik untuk menilai kompetensi siswa dalam memecahkan masalah adalah dengan memberikan tugas pemecahan masalah kepada siswa yang disertai dengan laporan kerja. Oleh sebab itu penilaian pemecahan masalah menggunakan format yang sesuai dengan produk pemecahan masalah. Hasil pemecahan masalah yang berupa laporan penelitian/investigasi dapat menggunakan format penilaian penelitian/investigasi.

9. Penilaian Sikap Sikap atau atitude dideskripsikan sebagai kecenderungan untuk membuat pilihan atau keputusan untuk bertindak pada keadaan tertentu. Sikap juga dideskripsikan sebagai (1) mempengaruhi atau melawan, (2) mengevaluasi, (3) suka atau tidak suka, atau (4) pandangan positif atau negatif terhadap objek-objek psikologik (Mueller, 1986). Sikap dapat dinilai dengan survei terhadap sikap siswa tentang: pembelajaran di sekolah, pokok bahasan, pentingnya pokok bahasan, dan percaya diri. Krathwohl menyatakan bahwa hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran biologi, ada komponen sikap, yaitu sikap ilmiah. Menurut Krathwohl sikap ilmiah meliputi 5 kategori, yaitu sebagai berikut. 1. Receiving (menerima), misalnya menerima tugas yang diberikan oleh guru.Sikap menerima akan memberikan dampak positif yaitu pembiasaan. 2. responding (memberikan respons), misalnya senang bertanya, rajin membaca buku, senang membantu teman, senang dengan kerapian dan kebersihan, senang melakukan percobaan. 3. Valuing. Valuing melibatkan keyakinan yang menunjukkan derajad internalisasi dan komitmen, misalnya berkomitmen untuk selalu mengerjakan tugas tepat waktu dengan kriteria yang tinggi. 4. Organization. Organization adalah kemampuan membangun sistem nilai yang konsisten. Hasil pembelajaran merupakan konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya, selalu merumuskan simpulan berdasarkan data, tidak selalu percaya terhadap suatu kebenaran ilmiah sebelum melakukan pengecekan/ pembuktian. 5. Characterization. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sehingga membentuk gaya hidup. Misalnya kinerja ilmiah (kejujuran, objektivitas, cara berpikir ilmiah) sudah membentuk gaya hidup dan filosofi pebelajar. Penilaian afektif pada aspek organisasi dan karakterisasi sulit dilakukan dengan menggunakan angket. Penilaia aspek ini dilakukan melalui observasi yang terus menerus dan analisis terhadap produk-produk kerja ilmiah siswa. Tabel 6.12 berikut adalah salah satu contoh tes sikap terhadap pelajaran biologi. Tabel ini baru menilai sikap pada tahap menerima (receiving).

Tabel 5.11 Contoh Penilaian Sikap untuk Mengukur Pendapat tentang Mata Pelajaran Biologi Petunjuk: Tunjukkan tingkat kesetujuan atau tidak kesetujuan Anda terhadap pernyataan-pernyataan berikut dengan jalan melingkari pilihan Anda. Kunci: SS = Sangat Setuju, S = Setuju, R = Ragu-ragu, TS = Tidak Setuju; STS = Sangat Tidak Setuju 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pembelajaran biologi sangat menyenangkan. Saya tertarik memecahkan masalah biologi Mambaca buku teks hanya membuang-buang waktu Eksperimen laboratorium sangat menyenangkan Sebagian besar kegiatan kelas bersifat monoton Menyenangkan membaca buku teks biologi Saya tidak begitu antusias terhadap mata pelajaran biologi Biologi tidak bermanfaat SS SS SS SS SS SS SS SS S S S S S S S S R R R R R R R R TS TS TS TS TS TS TS TS STS STS STS STS STS STS STS STS
Comment [.6]: Bagaimana hasil angket ini diproses guru untuk membuat suatu keputusan? Banyak guru bertanya bagaimana hasilhasil yang diperoleh melalui berbagai strategi asesmen dimasukkan ke buku rapor?

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Perhatikan indikator yang telah Saudara susun pada unit perumusan indikator dan tujuan pembelajaran 2. Tentukan indikator yang dinilai menggunakan penilaian otentik. Jika tidak ada kembangkan indikator/tujuan pembelajaran dari KD lain yang cocok dinilai menggunakan penilaian otentik 3. Berdasarkan indikator tersebut tentukan jenis penilaian, misalnya observasi keterampilan, projek, penilaian sikap, poster, keterampilan laboratorium, atau lainnya 4. Untuk setiap jenis penilaian susun rubrik untuk menilainya. Dalam penyusunan rubrik tentukan terlebih dahulu deskripsi kinerja terendah dan kinerja tertinggi, kemudian deskripsikan kinerja di antara kinerja tinggi dan rendah tersebut. Berikan skor pada setiap gradasi kinerja tersebut. 5. Lakukan ujicoba terhadap rubrik yang telah Anda susun. 6. Lakukan perbaikan terhadap rubrik yang telah diujicoba.

UNIT VI PORTOFOLIO

PENGANTAR Portofolio telah dikembangkan secara luas untuk digunakan dalam dunia pendidikan. Secara pribadi, penulis pernah mengalami penilaian dengan metode portofolio ini ketika mengikuti kuliah di Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Menjelang akhir semester, mahasiswa diminta membuat portofolionya yang berisikan empat buah karya yang telah ditugaskan oleh dosen. Karya pertama sampai ketiga merupakan karya yang disadur dari penulis lain, sedangkan karya keempat merupakan karya pribadi. Karya yang dimasukkan dalam portofolio ini terlebih dahulu dipresentasikan, sehingga terjadi proses interaksi dan diskusi antara mahasiswa dengan dosen dan mahasiswa lain. Diskusi yang terjadi ini pada dasarnya diarahkan untuk membantu mahasiswa dalam menyempurnakan karya yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Metode penilaian portofolio di lingkungan perguruan tinggi dan di lingkungan pekerjaan kemudian ditiru untuk diterapkan di sekolah dasar dan menengah. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa metode portofolio memiliki keunggulan-keunggulan tertentu yang dibutuhkan dalam menilai kemampuan siswa. KOMPETENSI DASAR Mengembangkan penilaian portofolio INDIKATOR 1. 2. 3. 4. Menjelaskan pengertian penilaian potofolio Membedakan penilaian portofolio dengan penilaian lainnya Merencanakan penilaian portofolio Mengembangkan penilaian portofolio

DASAR TEORI Portofolio merupakan koleksi karya-karya siswa baik dalam bentuk karya proses maupun karya jadi dalam berbagai bidang, di mana siswa terlibat dalam melaksanakan penilaian terhadap dirinya sendiri yakni dalam memilih isi portofolionya dan dalam mengembangkan kriteria untuk menilai perkembangan dan hasil belajarnya. Portofolio merupakan salah satu contoh penilaian kinerja yang berupa proses maupun produk. Melalui portofolio, tujuan dan bukti-bukti apa yang telah dikuasai oleh siswa dapat ditampilkan secara jelas. Bukti yang dapat dikumpulkan dalam portofolio ada tiga macam, yaitu dokumen yang dihasilkan dari proses pembelajaran, hasil

reproduksi yaitu dokumen mengenai peristiwa khusus yang disusun kembali, dan dokumen pengesahan. Kelemahan penggunaan penilaian portofolio terutama bersumber dari belum atau tidak kondusifnya suasana kelas/sekolah untuk mengimplementasikan metode yang relatif baru ini. Kelemahan tersebut dapat berasal dari kondisi guru, kondisi siswa, serta keterbatasan waktu dan fasilitas. Pelaksanaan porotofolio meliputi 3 tahap kegiatan, yaitu orientasi, penilaian formatif, dan penilaian sumatif. Penilaian portofolio ini menempatkan kegiatan penilaian berkaitan erat dengan kegiatan pembelajaran, artinya pembelajaran dan penilaian berlangsung pada saat yang sama. Dalam portofolio terjadi penilaian terhadap proses dan hasil kerja, oleh sebab itu model penilaian portofolio ini dapat berfungsi sebagai penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif berlangsung pada saat terjadinya proses pembelajaran dengan maksud memberi umpan-balik kepada siswa dalam rangka pengembangan portofolionya. Sasaran pengamatan guru dalam penilaian formatif ini adalah apakah siswa telah belajar secara maksimal dan efisien. Bila hasil pengamatan guru menunjukkan gejala positif, maka kegiatan pembelajaran dilangsungkan terus dan bila sebaliknya pengamatan guru menunjukkan gejala negatif, maka kegiatan pembelajaran mungkin perlu dimodifikasi. Pada penilaian formatif ini, siswa perlu untuk diinformasikan mengenai kemajuan yang dicapainya serta dimotivasi untuk menggairahkan kegiatannya. Penilaian sumatif dilakukan pada akhir semester, tahun, atau program. Maksudnya adalah untuk memberikan penilaian akhir terhadap hasil belajar siswa dalam kaitannya dengan perbandingan antara seorang siswa dengan siswa lainnya, perbandingan antara hasil yang dicapai oleh siswa dengan standar yang telah ditentukan, serta kemajuan yang dicapai oleh siswa sebelum dan sesudah proses belajar. Hasil penilaian sumatif dapat dijadikan sebagai masukan untuk memberikan penilaian yang komprehensif terhadap kesuksesan program mata pelajaran. Telah disebutkan di muka bahwa model penilaian portofolio ini terjalin erat dengan pelaksanaan pembelajaran. Agar dapat berhasil melaksanakan penilaian portofolio maka dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Tahap Orientasi Tahap orientasi ini pada dasarnya berupa pemberian informasi mengenai portofolio yang diharapkan untuk dihasilkan oleh siswa setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran untuk jangka waktu satu semester atau satu tahun. Pemberian informasi diberikan pada awal kegiatan pembelajaran yakni pada pertemuan pertama. Karena informasi ini diharapkan untuk dijadikan pedoman kerja untuk jangka waktu yang cukup lama, maka sebaiknya informasi tersebut diwujudkan berupa uraian tertulis dan dibagikan kepada setiap siswa. Informasi yang perlu disampaikan pada tahap orientasi ini adalah: (1) Jadwal yang mencakup uraian tentang waktu pelaksanaan untuk setiap tugas; (2) Beban tugas yang menggambarkan berapa buah tugas yang harus diwujudkan untuk dikumpulkan dalam portofolio siswa, tiga atau empat buah karya

dianggap cukup memadai untuk waktu satu semester; (3) Tema untuk setiap tugas, misalnya tentang energi alternatif di rumah tangga, ekosistem, pencemaran lingkungan, dan lain-lain yang sesuai dengan tema pada semester tersebut; (4) bentuk portofolio; (5) penilaian portofolio. 2. Tahap Penilaian Formatif Setelah diberi tema siswa akan memulai kegiatannya dengan mengadakan studi pendahuluan seperti mencari referensi berupa artikel, foto atau gambar. Dari hasil studi pendahuluan ini kemudian siswa membuat kerangka pemecahan masalah. Kerangka ini kemudian dikembangkan menjadi karya final. Semua kegiatan yang dilakukan siswa dicatat dalam jurnal belajar. Selama proses pembuatan karya berlangsung, guru memberikan penilaian formatif. Penilaian formatif tidak bermaksud memberi skor pada karya portofolio tetapi memberikan umpan balik kepada siswa berdasarkan pengamatan terhadap apa yang dilakukan atau apa yang dikehendaki siswa seperti yang terungkap melalui catatan jurnal yang dibuatnya. Fokus penilaian formatif terarah pada dua hal yakni ide-ide siswa dan bagaimana ide tersebut dinyatakan dalam kegiatan penciptaan karya. Jadi penilaian formatif ini ditujukan untuk membantu siswa mengembangkan portofolionya. Tahap penilaian formatif dilakukan seiring dengan langkah-langkah siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan kepadanya yang akan dikumpulkan dalam portofolio. Pada Tabel 6.1 berikut ini disajikan beberapa alternatif pertanyaan untuk memberikan penilaian formatif (penilaian yang bermakna untuk memperbaiki) pada siswa selama merencanakan dan menyelesaikan pembuatan karya yang akan dimasukkan dalam portofolio.
Tabel 6.1 Alternatif Pertanyaan Untuk Penilaian Formatif Langkah-Langkah Kegiatan Penyusunan Portofolio Studi pendahuluan Pertanyaan untuk penilaian formatif Pembuatan alternatif pemecahan masalah Apakah siswa telah mengkaji permasalahan? Apakah siswa telah mengumpulkan referensi, alat-alat, dan sumber-sumber yang bermanfaat? Apakah siswa mencatat apa yang telah dilakukan dalam rangka mengembangkan portofolionya dalam jurnal? Apakah siswa telah menyusun alternatif pemecahan masalah Apakah alternatif permasalahan sesuai dengan tema? Apakah siswa telah mengambil keputusan untuk memilih alternatif pemecahan masalah? Apakah siswa menyusun karya final sesuai rencana? Jika tidak sesuai rencana, apakah alasan yang dikemukakan rasional? Apakah siswa berinteraksi dengan teman-temannya selama menyusun karya? Apakah siswa melakukan refleksi untuk memperbaiki karyanya?

Penyusunan karya final

3. Tahap Penilaian Sumatif

Tahap penilaian sumatif dilakukan pada akhir semester atau akhir tahun, setelah portofolio sebagaimana yang telah ditugaskan pada tahap orientasi telah dirampungkan oleh siswa. Bila pada tahap penilaian formatif diberikan dalam rangka membantu siswa untuk memperbaiki dan mengembangkan portofolionya, maka penilaian sumatif diberikan untuk menunjukkan prestasi hasil belajar siswa yang tercermin pada portofolio yang telah dikembangkannya. Dalam pelaksanaannya guru dapat memberikan penilaian terhadap prestasi belajar siswa dengan cara: (a) membandingkan antara prestasi seorang siswa dengan siswa lainnya dengan pendekatan/referensi norma,

(b) membandingkan antara prestasi seorang siswa dengan standar kualitas yang telah ditetapkan berdasarkan pendekatan/referensi kriteria, atau (c) membandingkan antara prestasi belajar siswa antara masa sebelum belajar dan sesudah belajar. Sebagai indikator keberhasilan, guru dapat menggunakan simbol-simbol nilai semacam A, B, C, dan D, atau istilah "sangat memuaskan," "memuaskan," "cukup," "kurang," atau "sangat kurang." Cara penilaian mana yang dilakukan oleh guru tergantung pada tujuan penilaian yang ditetapkan oleh guru atau oleh sekolah. Dalam pelaksanaannya penilaian portofolio harus dibicarakan antara pengajar dengan penyusun portofolio. Hal ini dibahas pada awal semester bersamaan dengan pembahasan mengenai proses penyusunan portolio, misalnya dokumen apa yang dimasukkan, berapa dokumen yang dimasukkan, dan bagaimana menilainya. Penilaian dapat dilakukan dengan cara terlebih dahulu melakukan penskoran untuk setiap dokumen, yang kemudian masing-masing skor dijumlahkan dan diberi peringkat. Penilaian portofolio juga dapat dilakukan dengan melihat portofolio secara keseluruhan kemudian dilakukan penskoran berdasarkan komponen apa yang diharuskan ada dalam dokumen portofolio tersebut. Dalam penilaian sumatif guru perlu menuliskan komentar yang bersifat apresiatif terhadap segala jerih-payah yang telah ditunjukkan oleh siswa. Hal ini penting untuk memotivasi siswa. Siswa perlu diberi informasi mengenai kekuatan dan kelemahannya dengan maksud membantu agar siswa dapat berkembang menjadi lebih baik. Penilaian sumatif dapat dilakukan dengan melibatkan lebih dari satu orang penilai misalnya dengan mengundang beberapa orang guru yang memiliki kompetensi untuk mendampingi guru kelas dalam memberikan penilaian akhir. Dengan melibatkan banyak guru maka aspek keterpercayaan (reliabilitas) penilaian akan lebih baik. Penilaian portofolio juga dapat dilakukan oleh siswa sendiri sebagai penyusun portofolio, penilaian oleh teman, dan penilaian oleh guru. Dengan menggunakan tiga penilai ini diharapkan skor yang diperoleh lebih terpercaya.

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR Rancang penilaian portofolio dalam pembelajaran biologi di kelas Anda! • • • • • • • • Karya dalam KD apa saja yang akan dimasukkan ke dalam portofolio? Hasil karya apa yang akan dikumpulkan? Bagaimana siswa membuat karya tersebut? Berapa jumlah hasil karya yang dikumpulkan? Bagaimana menilainya? Kriteria apa yang digunakan untuk menilai? Bagaimana cara menskornya? Kapan dimulai dan kapan selesainya? Siapa yang akan menilai?

UNIT VII MENGANALISIS DAN MENAFSIRKAN HASIL PENILAIAN

PENGANTAR Hasil penilaian yang menggunakan kriteria sebagai acuan (penilaian beracuan kriteria) digunakan untuk menentukan penguasaan kompetensi. Interpretasi hasil penilaian yang mengacu pada kriteria, tujuan pokoknya adalah memperoleh uraian sejelas mungkin tentang apa yang sudah dapat atau belum dapat dikuasai oleh siswa. Penjelasan tentang penguasaan kompetensi ini bermanfaat sebagai umpan balik bagi siswa maupun guru. Bagi siswa penjelasan penguasaan kompetensi memberikan umpan balik terutama tentang bagian mana yang belum dikuasai sehingga siswa akan memfokuskan belajar pada apa yang belum dikuasai tersebut. Umpan balik bagi guru terutama adalah agar guru mengetahui apakah metode, sumber belajar, cara penilaian, yang telah dipilih guru dapat berfungsi efektif untuk membantu siswa mencapai kompetensi. Apabila penilaian yang beracuan kriteria digunakan untuk membedakan antara mereka yang telah menguasai kinerja tertentu dengan mereka yang belum menguasai kinerja yang sama, maka diperlukan batas yang membedakan siswa “sudah menguasai” dengan “belum menguasai”. Batas penilaian tersebut sering disebut sebagai standar penguasaan atau standar ketuntasan. Batas penguasaan ini perlu ditentukan terlebih dahulu sebelum penilaian. Standar penguasaan selain digunakan untuk memberi batas penguasaan terutama juga bermanfaat untuk menentukan siapa yang belum dan sudah menguasai serta sebagai dasar pertimbangan dalam perencanaan remedial. Jika sebagian besar siswa belum menguasai maka perlu dilakukan pengajaran kembali dengan mengubah metode pembelajaran. Namun jika hanya sebagian kecil saja siswa yang belum mencapai kompetensi tersebut maka kegiatan remidiasi hanya dilakukan pada mereka yang belum menguasai. KOMPETENSI DASAR Menganalisis dan menafsirkan hasil penilaian serta menggunakannya dalam diagnosis kesulitan belajar dan pengejaran remedial

INDIKATOR 1. Menafsirkan hasil penilaian berdasarkan acuan tertentu 2. Memprofilkan kemampuan siswa berdasarkan hasil penilaian 3. Membuat rencana diagnosis kesulitan belajar 4. Merancang pengajaran remedial

DASAR TEORI Analisis dan penafsiran hasil penilaian menggunakan criteria tertentu. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM ditetapkan sebelum awal tahun ajaran dimulai bersamaan dengan pengembangan silabus. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampaui batas ketuntasan minimal, tidak mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus dalam pembelajaran. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 60 sesuai proporsi kurva. Pada acuan kriteria tidak dikenal istilah konversi nilai dan kurva normal, karena nilai setiap individu siswa tidak dibandingkan dengan siswa lain tetapi dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimal. Pembandingan nilai siswa dengan ketuntasan minimal menghasilkan kelompok yang lulus (sama atau di atas KKM) dan kelompok yang tidak lulus (di bawah nilai KKM). Acuan kriteria mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal. Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM. KKM kemudian diputuskan oleh satuan pendidikan melalui rapat sekolah. Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat penguasaan kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus), yang merupakan penguasaan 100% terhadap kompetensi. Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap (BSNP, 2006). Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama antara pendidik (sekolah), peserta didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi mengenai KKM dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan orang tuanya. Kriteria ketuntasan minimal harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar (LHB) sebagai acuan dalam menyikapi hasil belajar peserta didik. Dengan demikian KKM di satuan pendidikan memiliki fungsi penting sebagai berikut. 1. Sebagai acuan bagi pendidik dalam menentukan ketuntasan kompetensi setiap peserta didik. Setiap kompetensi dapat diketahui ketercapaiannya dengan membandingkan nilai siswa dengan KKM yang ditetapkan. Berdasarkan KKM posisi siswa dapat ditentukan, tuntas (lulus) atau tidak tuntas (tidak lulus). 2. Menentukan siswa yang perlu mendapatkan layanan remedial dan layanan pengayaan. Pendidik harus memberikan respons yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan pengayaan.

3. Sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran. Setiap standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) ditetapkan KKM yang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus mengulanmempelajari KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan. 4. Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Sebagai contoh jika 50% siswa di kelas belum tuntas maka keputusan guru bukan hanya sekedar memberikan layanan remedial kepada 50% siswa tersebut, tetapi guru juga perlu mencermati pembelajaran yang telah dilaksanakan. Jangan-jangan 50% siswa yang belum tuntas diakibatkan oleh proses pembelajaran yang dirancang guru kurang berkualitas. Oleh karena itu hasil pencapaian kompetensi berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan informasi tentang peta kompetensi tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan sarana-prasarana belajar di sekolah. 5. KKM merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan penilaian. Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah didisain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi dan dukungan penuh bagi putraputrinya dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran dan penilaian di sekolah. 6. KKM merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampaui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan salah satu tolok ukur kinerja satuan pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat. Penetapan KKM Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif dan/atau kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan melalui professional judgement oleh pendidik dengan mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik dalam mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Pendidikan yang berpengalaman (dalam arti pendidik sering melakukan analisis, evaluasi, dan refleksi terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar) tentu mengetahui tingkat kesulitan setiap kompetensi, kondisi sekolah dalam mendukung pembelajaran, dan potensi siswa; guru semacam ini memiliki kemampuan untuk menetapkan KKM secara kualitatif.

Metode kuantitatif dilakukan dengan menghitung angka-angka (skor) dari setiap variabel yang menentukan keberhasilan pencapaian hasil belajar. Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan kompleksitas indikator, daya dukung sekolah dalam pembelajaran pada indikator tersebut, dan kualitas peserta didik. Penetapan KKM dilakukan oleh guru, atau kelompok guru mata pelajaran dalam satu sekolah, atau kelompok guru mata pelajaran yang tergabung dalam KKG dan MGMP. Kriteria ketuntasan minimal setiap mata pelajaran ditentukan secara bertahap. Pertama, ditentukan terlebih dahulu KKM untuk setiap indikator. Kedua, KKM indikator selanjutnya digunakan untuk menentukan KKM Kompetensi Dasar (KD). KKM KD merupakan rata-rata dari KKM indikator. Peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut. Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi (SK) merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam SK tersebut. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran. Jika penyusunan KKM dari indikator terlalu rumit, guru atau kelompok guru dapat memulainya dari penyusunan KKM KD. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu kompleksitas, daya dukung, dan kualitas masukan peserta didik. 1. Tingkat kompleksitas menunjukkan keluasan/kesulitan/kerumitan suatu indikator, kompetensi dasar, yang harus dicapai oleh peserta didik. Suatu indikator dikatakan memiliki tingkat kompleksitas tinggi jika memiliki karakteristik sebagai berikut: a. perlu waktu cukup lama untuk mempelajarai dan menguasainya, terutama pada siswa dengan kategori lambat belajar dan sedang; b. memahaminya memerlukan penalaran bertahap dan tingkat berpikir tinggi; c. memerlukan proses pembelajaran yang lebih banyak, termasuk latihan dan pengulangan; d. dalam pembelajarannya membutuhkan sarana dan prasarana yang cukup; e. memerlukan kecermatan siswa dalam mempelajarinya. Contoh: KD 2.1 (Kelas X Semester 1): Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan Indikator: • mendeskripsikan ciri-ciri virus • menjelaskan cara hidup virus Indikator ini memiliki kompleksitas yang rendah, karena untuk mendeskripsikan dan menjelaskan cara hidup virus memiliki tingkat berpikir ingatan. 2. Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masing-masing sekolah. Sumber daya pendukung tinggi jika:

a. Sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai peserta didik seperti perpustakaan, laboratorium, dan alat/bahan untuk proses pembelajaran; b. manajemen sekolah baik; c. ada kepedulian stakeholders sekolah; d. guru memahami dengan benar kompetensi yang harus dibelajarkan; e. memiliki guru kreatif dan inovatif dengan metode pembelajaran yang bervariasi; f. guru yang menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai bidang yang diajarkan; Contoh: KD 5.3 (Kelas VII Semester 2): Menggunakan mikroskop dan peralatan pendukung lainnya untuk mengamati gejala-gejala kehidupan Indikator: • Menjelaskan cara kerja mikroskop • Menggambar bentuk sel hewan dan sel tumbuhan, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup, berdasarkan hasil pengamatan di mikroskop Daya dukung untuk indikator ini tinggi apabila sekolah mempunyai sarana prasarana yang cukup untuk menyediakan alat untuk praktik, yaitu mikroskop, preparat kering, preparat segar, dan guru-guru yang mampu mengoperasionalkan mikroskop dengan baik. Tetapi daya dukungnya rendah apabila sekolah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk menyelenggarakan kegiatan praktik menggunakan mikroskop dan gurunya juga tidak menguasai. 3. Tingkat kemampuan masukan rata-rata peserta didik di sekolah yang bersangkutan. Penetapan kualitas di kelas 4, 5, 6, 8, 9, 11, dan 12 dapat didasarkan pada kemampuan (nilai) peserta didik di kelas sebelumnya, sedangkan kualitas siswa di kelas 7 dan 10 didasarkan pada nilai ujian akhir sekolah/nasional pada tingkat sebelumnya. Selain itu juga dapat mencermati kondisi siswa dalam hal kemampuan penalarannya, kecakapan/kecermatan menerapkan konsep, kreativitas dan inovasinya dalam mengerjakan tugas, kedisiplinan dalam bekerja, kemampuan berkomunikasi dengan guru dan sesama siswa.

Contoh penetapan KKM Untuk memudahkan analisis setiap indikator, perlu dibuat skala penilaian yang disepakati oleh guru mata pelajaran. Contoh:

Aspek yang dianalisis Kompleksitas Daya Dukung Kualitas masukan siswa Tinggi < 65 Tinggi 80-100 Tinggi 80-100

Kriteria dan Skala Penilaian Sedang 65-79 Sedang 65-79 Sedang 65-79 Rendah 80-100 Rendah <65 Rendah <65

Atau dengan menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang ditetapkan, yaitu sebagai berikut.
Aspek yang dianalisis Kompleksitas Daya Dukung Kualitas masukan siswa Tinggi 1 Tinggi 3 Tinggi 3 Kriteria penskoran Sedang 2 Sedang 2 Sedang 2 Rendah 3 Rendah 1 Rendah 1

Jika indikator memiliki kriteria kompleksitas tinggi, daya dukung tinggi dan masukan peserta didik sedang, maka nilai KKM-nya (dengan cara pertama) adalah: 50 + 90 + 70 x 210 = 70 3 Atau (dengan cara kedua/menggunakan skor), 1 + 3 + 2  x 100 = 66,7 9 Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan dinas pendidikan. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik. Interpretasi Hasil Penilaian Apabila tes beracuan kriteria digunakan untuk membedakan siswa yang “sudah menguasai” dan “belum menguasai” maka tes haruslah dikembangkan dari indikatorindikator kompetensi yang harus dikuasai siswa. Dengan demikian jika siswa dapat menjawab benar semua soal tes berarti siswa tersebut telah menguasai kompetensi, tetapi bagaimana jika siswa hanya dapat menjawab benar 80%, 70%, atau 90% dari semua butir soal, apakah ia juga dapat dikatakan telah menguasai kompetensi atau telah tuntas?. Untuk menentukan siswa yang sudah menguasai dan belum menguasai maka terlebih dahulu ditentukan batas ketuntasan, sehingga siswa yang dapat menjawab benar 80%, 70%, dan 90% dari seluruh butir soal dapat ditentukan ketuntasannya. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator adalah 75%. Setiap satuan pendidikan (sekolah) harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Sekolah boleh memutuskan ketuntasan yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada kriteria ketuntasan BSNP. Sekolah boleh menetapkan ketuntasan dibawah 75%, namun secara bertahap ketuntasan harus ditingkatkan sehingga minimal mencapai 75%.

Menentukan apakah seorang siswa telah tuntas menggunakan tes tulis mudah dilakukan. Misalnya jika guru menetapkan bahwa batas ketuntasan adalah 75%, maka siswa yang dapat menjawab benar sebesar 75% atau lebih dari seluruh butir soal maka dianggap siswa telah tuntas menguasai kompetensi, sebaliknya siswa yang hanya dapat menjawab kurang dari 75% maka diangap belum tuntas. Perhatikan contoh pada Tabel 7.1 berikut ini.
Tabel 7.1 Laporan Tes Hasil Belajar Siswa Kelas X Semester 1 Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan. Indikator yang diukur melalui tes adalah: 1. Menjelaskan proses replikasi (jumlah butir soal 5) 2. Mendeskripsikan ciri-ciri virus (jumlah butir soal 15) 3. Menjelaskan peran virus (jumlah butir soal 10) Kriteria Ketuntasan: 75% Nama Siswa Jumlah Butir Soal Persentase penguasaan Penguasaan: yang benar pada pada indikator Tuntas (T)/ indikator Belum Tuntas (B) 1 2 3 Total 1 2 3 Total 1 2 1. .... 2. Putri 3. Marsya 4. Reihan 5. .... 2 5 2 8 12 13 4 7 9 14 24 24 20 100 40 53 80 86,8 40 70 90 46,8 80 80 B T B B T T

3 B B T

Berdasarkan pada Tabel 7.1 tersebut dan berdasarkan kriteria ketuntasan 75% maka guru dapat memberikan deskripsi ketuntasan pada siswa sebagai berikut. 1. Siswa yang bernama Putri belum tuntas dalam menguasai kompetensi 2. Siswa yang bernama Marsya dan Reihan sudah tuntas atau sudah menguasai kompetensi “Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam kehidupan.” Namun jika dilihat per indikator masih nampak bahwa siswa Marsya sudah menguasai indikator 3 tetapi belum menguasai indikator 1 dan 2. Siswa Reihan sudah menguasai indikator 1 tetapi belum menguasai indikator 2 dan 3. Laporan penguasaan kompetensi yang didasarkan pada ketuntasan masingmasing indikator memiliki peran sebagai umpan balik bagi siswa. Dalam contoh di atas misalnya siswa Damayanti belum tuntas sehingga diberi pengajaran remedial. Siswa Marsya dan Reihan sudah tuntas sehingga dapat melanjutkan ke pembelajaran kompetensi berikutnya. Siswa Marsya dan reihan tidak perlu lagi mengikuti pembelajaran remedial. Meskipun demikian siswa Marsya dan Reihan masih dapat mengikuti pembelajaran remedial pada bagian yang belum dikuasainya.

Standar Kinerja Penilaian kinerja difokuskan pada penguasaan kompetensi prosedur, produk, dan kombinasi dari prosedur dan produk. Oleh sebab itu batas ketuntasan tidak dapat ditentukan berdasarkan persentase butir soal yang dijawab benar seperti pada penilaian menggunakan tes tulis. Penilaian kinerja menggunakan ranah kinerja sebagai standar ketuntasan. Ranah kinerja yang menjadi batas ketuntasan dapat berupa “kecepatan berbuat” atau “ketepatan berbuat”. Laporan hasil interpretasi penilaian memiliki manfaat bagi siswa maupun bagi guru. Bagi siswa laporan penguasaan kompetensi yang berupa deskripsi kinerja bermanfaat sebagai umpan balik, oleh sebab itu deskripsi ini sebaiknya lengkap dan menjelaskan bagian-bagian mana dari kinerja yang belum dikuasai. Interpretasi hasil penilaian yang berupa deskripsi kinerja juga bermanfaat bagi guru, yaitu memberikan umpan balik sejauh mana proses pembelajaran telah mencapai tujuan. Penilaian kinerja pada kompetensi yang berupa proses, produk, atau kombinasi proses dan produk tidak dapat ditentukan keberhasilannya melalui jawaban “benar” atau “Salah”. Kecakapan kinerja diukur menggunakan daftar telaah (check list), skala penilaian, atau rubrik. Oleh sebab itu interpretasinya tidak berupa berapa jumlah jawaban yang benar tetapi pada deskripsi kinerja. Interpretasi yang berupa deskripsi kinerja ini tergantung pada cara pengukurannya. 1. Daftar Telaah Daftar telaah untuk menilai produk atau proses berisi kriteria yang menjadi ciri dari proses atau produk dan alternatif jawaban yang berupa jawaban “dapat” atau “tidak dapat”. Penilai tinggal memberi tanda “cek” atau menuliskan “dapat” pada kriteria yang dikuasai dan tanda “-“ atau menuliskan “tidak dapat” pada kriteria yang belum dikuasai. Sehingga pengukuran menggunakan daftar telaah akan menghasilkan sejumlah proses atau produk yang dikuasai dan tidak dikuasai. Interpretasi hasil pengukuran menggunakan daftar telaah dilakukan dengan mendeskripsikan kriteriakriteria mana yang sudah dikuasai dan kriteria-kriteria mana yang belum dikuasai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh Tabel 7.2. Berdasarkan hasil penilaian pada Tabel 7.2 tersebut maka guru dapat mendeskripsikan kriteria-kriteria yang sudah dikuasai dan belum dikuasai. Jadi pada kompetensi dasar “Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan”, siswa yang bernama Reihan sudah dapat memilih alat dan bahan percobaan secara tepat, dapat merangkai alat percobaan dengan benar, mengumpulkan data secara objektif tetapi belum dapat merumuskan kesimpulan sesuai dengan data.

Tabel 7.2 Laporan Hasil Penilaian Kecakapan Melakukan Percobaan Nama Siswa: Reihan Kelas : XII Semester : 1 Sudah menguasai Belum menguasai

Kompetensi Dasar: Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan Kriteria yang dinilai 1. Memilih alat dan bahan percobaan secara tepat 2. Merangkai alat percobaan dengan benar 3. Mengumpulkan data secara objektif 4. Merumuskan kesimpulan berdasarkan data

2. Skala Penilaian Skala penilaian serupa dengan daftar telaah, tersusun atas kriteria yang dinilai serta penskoran untuk setiap tingkatan kriteria, namun tingkatan kriteria tidak lagi berupa jawaban “dapat” atau “tidak dapat” tetapi kecakapan setiap kriteria digradasi mulai dari sangat kurang sampai sangat baik penguasaannya. Jadi skala penilaian tidak lagi digunakan menentukan ada tidaknya kriteria yang muncul seperti pada daftar telaah, melainkan menentukan seberapa baik ketercapaian kriteria yang menjadi kriteria penilaian. Biasanya setiap tingkatan diberi skor, misalnya sangat kurang diberi skor 1, kurang diberi skor 2, cukup diberi skor 3, baik diberi skor 4, dan sangat baik diberi skor 5.
Tabel 7.3 Laporan Hasil Penilaian Kecakapan Mambuat Karya Kompetensi Dasar: Membuat suatu karya/model sistem pencernaan makanan pada manusia Kriteria yang dinilai 1. Merencanakan projek 2. Menentukan alat dan bahan yang diperlukan 3. Memilih alat yang sesuai 4. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu 5. Membuat karya dengan pola sesuai rencana 1-Sangat kurang; 2-Kurang 3-Cukup; 4-Baik; 5-Sangat baik Nama siswa: Marsya Kelas : XI Semester : 2 Skor 1 2 3

4

5

Interpretasi hasil penilaian menggunakan skala penilaian tidak sekedar memberikan penjelasan mengenai apa yang dapat dikuasai dan tidak dapat dikuasai oleh siswa tetapi sudah disertai dengan tingkat penguasaan. Sebagai contoh pada laporan hasil penilaian pada Tabel 7.3. Berdasarkan hasil penilaian maka siswa yang bernama Marsya memiliki kemampuan sebagai berikut.

• • • • •

Merencanakan projek dengan baik Cukup mampu menentukan alat dan bahan yang diperlukan Kurang dapat memilih alat yang sesuai Kurang mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu Membuat karya yang cukup sesuai dengan pola yang direncanakan.

3. Rubrik Rubrik adalah kunci penskoran yang menggambarkan berbagai tingkat kualitas kemampuan dari yang sempurna sampai yang kurang untuk menilai satu tugas, keterampilan, projek, esai, laporan penelitian, atau kinerja spesifik. Tujuan penggunaan rubrik adalah untuk memberikan umpan balik tentang kemajuan kerja siswa dan memberikan evaluasi yang rinci mengenai hasil kinerja siswa. Salah satu contoh rubrik adalah pada Tabel 7.4 berikut ini. Tabel 7.4 tersebut adalah satu contoh rubrik untuk mengukur laporan projek dalam Biologi pada kompetensi dasar “Melaksanakan Percobaan Pengaruh Faktor Luar terhadap Pertumbuhan Tumbuhan”. Laporan projek seorang siswa yang bernama Aulia yang dinilai menggunakan rubrik tersebut misalnya hasilnya adalah sebagai berikut. • • • • Perumusan masalah mendapat skor 4 Pelaksanaan percobaan mendapat skor 2 Analisis data mendapat skor skor 3 Kesimpulan mendapat skor 3.

Berdasarkan hasil penilaian maka Aulia mendapat skor 12 dari skor maksimal 16, sehingga persentase ketuntasannya adalah 12/16 X 100% = 75%. Berdasarkan standar ketuntasan 75% berarti Aulia sudah menguasai kompetensi dasar “Melakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan antara gaya dan gerak (model jungkat jungkit, katapel/model traktor sederhana energi pegas)”. Jika skor 75 ini diberikan kepada Aulia, maka skor 75 tidak bermanfaat sebaga umpan balik. Agar penskoran menjadi bermakna maka skor perlu dilengkapi dengan penjelasan berdasarkan rubrik. Jadi hasil penilaian pada Aulia secara lengkap dalam contoh tersebut adalah: • • •
Rumusan masalah jelas dan menunjukkan hubungan antara faktor luar dengan pertumbuhan.

Percobaan dilakukan menggunakan peralatan yang lengkap, tetapi langkah percobaan dan data yang dicatat kurang lengkap Data disajikan hanya dalam satu bentuk, meskipun masih memudahkan penarikan kesimpulan

Kesimpulan berdasarkan data, pernyataannya kurang jelas, tetapi masih merupakan hubungan faktor luar dengan pertumbuhan, dan merupakan konsep biologi yang benar.
Tabel 7.4 Rubrik Penilaian Projek Biologi dengan Kompetensi Dasar “Melaksanakan Percobaan Pengaruh Faktor Luar terhadap Pertumbuhan Tumbuhan”

Kriteria Perumusan Masalah 4 Rumusan masalah jelas dan menunjukkan hubungan antara faktor luar dengan pertumbuhan

Pelaksanaan percobaan

Analisis data

Kesimpulan

Menggunakan alat dan bahan yang lengkap, langkah percobaan tepat, ada format pencatat data sehingga pencatatan data rinci dan sesuai tujuan Data disajikan dalam berbagai bentuk sehingga memudahkan penarikan kesimpulan Kesimpulan berdasarkan data, pernyataannya jelas, merupakan hubungan faktor luar dengan pertumbuhan, dan merupakan konsep biologi yang benar

Tingkatan 3 2 Rumusan masalah Rumusan masalah jelas dan terkait terkait dengan dengan topik topik percobaan percobaan tetapi tetapi belum menunjukpernyataanya kan hubungan masih faktor luar dengan membingungkan pertumbuhan Menggunakan Menggunakan peralatan yang peralatan yang lengkap, langkah lengkap, langkah percobaan dan percobaan tepat, data yang dicatat tetapi data kurang kurang lengkap rinci

1 Rumusan masalah tidak jelas

Pelaksanaan percobaan dan pencatatan data tanpa perencanaan sehingga tidak sempurna

Data disajikan hanya dalam satu bentuk, meskipun masih memudahkan penarikan kesimpulan Kesimpulan berdasarkan data, pernyataannya kurang jelas, tetapi masih merupakan hubungan faktor luar dengan pertumbuhan, dan merupakan konsep biologi yang benar

Penyajian data tidak menarik tetapi ada analisis untuk penarikan kesimpulan Rumusan kesimpulan jelas dan tidak berdasarkan data tetapi masih merupakan konsep biologi yang benar

Penyajian data tidak lengkap dan tanpa ada analisis

Rumusan kesimpulan tidak jelas, tidak berdasarkan data, dan tidak bermakna sebagai konsep biologi yang benar.

Hasil penilaian menggunakan rubrik yang lengkap seperti yang diberikan kepada Aulia sangat bermanfaat sebagai bahan umpan balik yang bermakna. Sebagai contoh pada laporan kepada Aulia di atas. Berdasarkan catatan dari guru tersebut Aulia memperoleh masukan kekurangannya antara lain, langkah percobaan dan data yang dicatat kurang lengkap, penyajian data hanya dalam satu bentuk, pernyataan kesimpulan kurang jelas. Dengan demikian Aulia dapat memperbaiki kekurangannya. Tindak Lanjut Penilaian Hasil Belajar Siswa

Penilaian kelas menghasilkan informasi pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat digunakan antara lain: (1) perbaikan (remedial) bagi peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan, (2) pengayaan bagi peserta didik yang mencapai kriteria ketuntasan lebih cepat dari waktu yang disediakan, (3) perbaikan program dan proses pembelajaran, (4) pelaporan, dan (5) penentuan kenaikan kelas. 1. Layanan remedial. Guru harus percaya bahwa setiap peserta didik dalam kelasnya mampu mencapai kriteria ketuntasan setiap kompetensi, bila peserta didik mendapat bantuan yang tepat. Misalnya, memberikan bantuan sesuai dengan gaya belajar peserta didik pada waktu yang tepat sehingga kesulitan dan kegagalan tidak menumpuk. Dengan demikian peserta didik tidak frustasi dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasainya. Remedial dilakukan oleh guru mata pelajaran, guru kelas, atau oleh guru lain yang memiliki kemampuan memberikan bantuan dan mengetahui kekurangan peserta didik. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi kesempatan untuk belajar mandiri, kemudian dilakukan penilaian dengan cara menjawab pertanyaan, membuat rangkuman pelajaran, atau mengerjakan tugas mengumpulkan data. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dengan guru, dapat dilaksanakan pada atau di luar jam efektif. Remedial hanya diberikan untuk indikator yang belum tuntas. Bagaimana memberikan skor kepada siswa yang mendapat remedial? Siswa yang mendapat remedial diberi kesempatan untuk mengikuti tes atau bentuk penilaian lainnya seperti siswa lain yang sudah tuntas. skor berapapun yang diperoleh oleh siswa yang mendapat layanan remedial (tetapi harus sama atau di atas KKM) adalah sebesar KKM. Mengapa demikian, karena siswa yang mendapat layanan remedial membutuhkan waktu belajar yang lebih lama dari siswa lain yang sudah tuntas tanpa melalui remedial. 2. Layanan pengayaan. Pengayaan dilakukan bagi peserta didik yang memiliki penguasaan lebih cepat dibandingkan peserta didik lainnya atau peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar ketika sebagian besar peserta didik yang lain belum. Peserta didik yang berprestasi baik perlu mendapat pengayaan, agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. Bentuk kegiatan pengayaan yaitu memberikan materi tambahan, latihan tambahan atau tugas individual yang bertujuan untuk memperkaya kompetensi yang telah dicapainya. Hasil penilaian kegiatan pengayaan dapat menambah nilai peserta didik pada mata pelajaran bersangkutan. Pengayaan dapat dilaksanakan setiap saat baik pada atau di luar jam efektif. Bagi peserta didik yang secara konsisten selalu mencapai kompetensi lebih cepat, dapat diberikan program akselerasi.

3. Manfaat Penilaian bagi Guru dan Pembelajaran Guru dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan program dan kegiatan pembelajaran. Misalnya, guru dapat mengambil keputusan terbaik dan cepat untuk memberikan bantuan optimal kepada kelas dalam mencapai kompetensi yang telah ditargetkan dalam kurikulum, atau guru harus mengulang pelajaran dengan mengubah strategi pembelajaran, dan memperbaiki program pembelajarannya. Oleh karena itu, program yang telah dirancang, strategi pembelajaran yang telah disiapkan, dan bahan yang telah disiapkan perlu dievaluasi, direvisi, atau mungkin diganti apabila ternyata tidak efektif membantu peserta didik dalam mencapai penguasaan kompetensi. Perbaikan program tidak perlu menunggu sampai akhir semester, karena bila dilakukan pada akhir semester bisa saja perbaikan itu akan sangat terlambat atau malah tidak bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki nilai siswa. Evaluasi dan refleksi yang dilakukan oleh guru di akhir semester digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang akan digunakan pada semester selanjutnya. Hal ini sangat penting terutama bila guru atau sekolah ingin meningkatkan bats ketuntasan. 4. Manfaat Penilaian bagi Sekolah/Kepala Sekolah Hasil penilaian dapat digunakan sekolah/kepala sekolah untuk menilai keberhasilan siswa dan juga kinerja guru. Sekolah sebaiknya menganalisis hasil penilaian siswa dan memetakan KD dan mata pelajaran mana yang sulit, yang selanjutnya digunakan oleh sekolah untuk menyusun program peningkatan pembelajaran pada KD atau mata pelajaran tersebut. Demikian pula dengan kinerja guru, sekolah dapat menyusun program peningkatan kualitas guru kalau ternyata ada guru-guru yang kualitasnya perlu ditingkatkan. LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Bagaimana ketuntasan siswa yang dapat menjawab dengan benar 30 soal dari 40 soal tes, jika ditentukan batas minimal ketuntasan adalah 75%? 2. Bagaimana menentukan batas ketuntasan penilaian kinerja menggunakan daftar telaah dan skala penilaian? yang diukur

3. Dari ketiga macam penskoran yaitu daftar telaah, skala penilaian, dan rubrik, berikan penjelasan manakah yang paling baik dalam memberikan umpan balik kepada siswa? 4. Jelaskan cara menyusun KKM! 5. Tentukan KKM dari KD yang telah Anda kembangkan indikator, tujuan pembelajaran, beserta perangkat penilaiannya!. a. Berapa KKM jika kondisi sekolah cukup baik dan siswa memiliki prestasi yang baik

b. Berapa KKM jika kondisi sekolah optimal dan prestasi siswa optimal.

UNIT VIII MELAPORKAN HASIL PENILAIAN

PENGANTAR KTSP dirancang dan dilaksanakan dalam kerangka manajemen berbasis sekolah, di mana peran serta masyarakat di bidang pendidikan tidak hanya terbatas pada dukungan dana saja, tetapi juga di bidang akademik. Unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat, transparansi, dan akuntabilitas publik. Atas dasar itu, laporan kemajuan hasil belajar peserta didik dibuat sebagai pertanggungjawaban lembaga sekolah kepada orangtua/wali peserta didik, komite sekolah, masyarakat, dan instansi terkait lainnya.

KOMPETENSI DASAR Mengkomunikasikan hasil penilaian

INDIKATOR 1. Menjelaskan sistem pelaporan hasil penilaian 2. Membuat laporan hasil belajar siswa

DASAR TEORI Laporan hasil belajar merupakan sarana komunikasi dan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. Oleh sebab itu pelaporan hasil belajar hendaknya: • • • merinci hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan dikaitkan dengan penilaian yang bermanfaat bagi pengembangan peserta didik; memberikan informasi yang jelas, komprehensif, dan akurat; menjamin orangtua mendapatkan informasi secepatnya bilamana anaknya bermasalah dalam belajar.

Laporan kemajuan belajar peserta didik dapat disajikan dalam data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif disajikan dalam angka (skor), misalnya seorang peserta didik mendapat nilai 60 pada mata pelajaran biologi. Namun, makna nilai

tunggal (misalnya 60) seperti itu kurang dipahami peserta didik maupun orangtua karena terlalu umum. Penilaian dengan skor tidak menunjukkan kekurangan siswa. Hal ini membuat orangtua sulit menindaklanjuti, misalnya jika anak memerlukan bantuan. Laporan sebaiknya disajikan dalam bentuk yang lebih komunikatif dan komprehensif agar “profil” atau tingkat kemajuan belajar peserta didik mudah terbaca dan dipahami). Dengan demikian orangtua/wali lebih mudah mengidentifikasi kompetensi yang belum dimiliki peserta didik, sehingga dapat menentukan jenis bantuan yang diperlukan bagi anaknya. Dipihak anak, ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya serta aspek mana yang perlu ditingkatkan. Selain menanyakan keberhasilan anaknya dalam bentuk nilai akhir (nilai angka) pada umumnya orang tua juga menginginkan jawaban dari sekolah tentang anaknya dalam hal kecakapan sebagai berikut. • Bagaimana keadaan anak waktu belajar di sekolah secara akademik, fisik, sosial dan emosional? • Sejauh mana anak berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah? • Kemampuan/kompetensi apa yang sudah dan belum dikuasai dengan baik? • Apa yang harus orangtua lakukan untuk membantu dan mengembangkan prestasi anak lebih lanjut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, informasi yang diberikan kepada orang tua hendaknya adalah sebagai berikut. • Memberikan penjelasan hasil belajar siswa dalam bentuk kuantitatif dan kualitatif. • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami. • Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak. • Memberikan perhatian pada pengembangan dan pembelajaran anak. • Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum. • Berisi informasi tentang tingkat pencapaian hasil belajar. 1. Rekap Nilai Rekap nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik, yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD, dalam kurun waktu 1 semester. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik, sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. Nilai suatu KD dapat diperoleh dari tes formatif, tes sumatif, hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, nilai tugas perseorangan maupun kelompok. Ratarata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. 2. Rapor

Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. Laporan prestasi mata pelajaran, berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Untuk model rapor, masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki asalkan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada setiap matapelajaran yang diperoleh dari ketuntasan kompetensi dasarnya. Nilai pada rapor merupakan gambaran kemampuan peserta didik, karena itu kedudukan atau bobot nilai harian tidak lebih kecil dari nilai sumatif (nilai akhir program). Kompetensi yang diuji pada penilaian sumatif berasal dari SK, KD dan Indikator semester bersangkutan. Pada umumnya masih banyak guru yang merasa kesulitan dengan model penilaian kelas, kesulitan ini bukan hanya pada pemilihan tekniknya dan penentuan skor, tetapi juga pada pengisian rapor. Penilaian biologi yang hanya menggunakan satu skor saja tidak terlalu menyulitkan guru. Kesulitan yang sering dihadapi adalah pengisian rapor pada penilaian pembelajaran biologi yang dipisah menjadi beberapa kecakapan, misalnya biologi ke dalam tiga komponen, yaitu penguasaan konsep, keterampilan proses, dan sikap ilmiah. Penulis mencoba untuk melihat bentuk rapor bukan sebagai perbedaan tetapi mencoba menelaah supaya kedua model itu dapat disandingkan. Pada rapor yang menggunakan satu nilai, maka semua nilai biologi dijadikan satu dan dimasukkan ke dalam satu nilai tersebut. Jika guru melakukan penilaian dalam hal penguasaan konsep, keterampilan proses, dan sikap ilmiah; ketiga nilai tersebut dapat dijumlahkan atau dirata-ratakan untuk menjadi satu nilai. Jika rapor biologi diklasifikasi ke dalam beberapa komponen maka kemungkinan penilaiannya adalah sebagai berikut. a. Pemahaman dan Penerapan konsep atau Penguasaan Konsep Siswa yang menguasai konsep adalah siswa yang kognisinya mengetahui konsep biologi dengan benar. Kognisi ini mencakup kemampuan yang berupa pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evalusi. Jadi sebenarnya penguasaan konsep atau pemahaman dan penerapan konsep merupakan dua hal yang sama asal istilah pemahaman dan penerapan konsep tidak dimaknai sebagai memahami dan menerapkan konsep seperti pada taksonomi Bloom. Jadi penguasaan konsep serta pemahaman dan penerapan konsep mencakup semua subranah dalam ranah kognitif. Sehingga ketika akan menuliskan dalam rapor, hasil penilaian terhadap kemampuan Pengetahuan, Pemahaman, Penerapan, Analisis, Sintesis, Evaluasi, terhadap konsep biologi di masukkan ke dalam kriteria Penguasaan Konsep atau Pemahaman dan Penerapan Konsep. Pemahaman dan Penerapan Konsep biologi biasanya mudah dinilai menggunakan bentuk penilaian tes tulis, baik pilihan ganda maupun esai dan jawaban pendek. Tes tulis memiliki kelebihan dalam mengukur kecakapan Pemahaman dan Penerapan Konsep, alasannya skoring hasil tes lebih objektif dan mudah dilakukan.

b. Keterampilan Proses atau Kinerja Ilmiah Keterampilan proses atau yang sering disebut Kinerja Ilmiah, oleh sebab itu keduanya sama saja. Kinerja ilmiah mencerminkan semua aktivitas sains yang melatih dan mengembangkan keterampilan sains dan sikap ilmiah. Sehingga hasil Penilaian terhadap semua aktifitas sains yang melatih dan mengembangkan keterampilan sains dan sikap ilmiah dimasukkan ke dalam kriteria Kinerja Ilmiah. Kecakapan kinerja ilmiah merupakan akumulasi dari berbagai kecakapan misalnya pemahaman dan penerapan konsep, melakukan percobaan, berpikir kritis, memecahkan masalah. Oleh sebab itu segala bentuk penilaian kinerja ilmiah misalnya projek dan investigasi, model, tes keterampilan proses, portofolio, presentasi, poster, ceklis keterampilan, laporan tugas dimasukkan dalam penilaian kinerja ilmiah. c. Sikap Ilmiah Jika rapor memisahkan penilaian sikap ilmiah dari kinerja ilmiah maka penilaian sikap ilmiah harus dipisahkan dengan kinerja ilmiah, tetapi jika rapor menyatukan penilaian sikap ilmiah dengan kinerja ilmiah maka penilaian sikap ilmiah digabungkan ke dalam penilaian kinerja ilmiah. Penilaian untuk mengetahui kecakapan sikap ilmiah dapat menggunakan tes sikap maupun observasi sikap.

Tabel 8.4 Contoh-Contoh Format Penilaian yang dapat digunakan sebagai pendukung untuk mengetahui kecakapan Penguasaan Konsep, Keterampilan Proses, dan Sikap Ilmiah Komponen Penilaian 1. Penguasaan Konsep Format Penilaian Tes Tulis Peta Konsep Penguasaan konsep yang terdapat di tugastugas, misalnya projek, model, portofolio, poster. Projek dan Investigasi Laporan Tugas Model Tes keterampilan proses Portofolio Presentasi Tes pemecahan masalah Ceklis keterampilan Poster Tes sikap

2. Keterampilan Proses

3. Sikap Ilmiah

Observasi sikap

LANGKAH-LANGKAH BELAJAR 1. Pelajari petunjuk pengisian Rapor di SMP dan SMA 2. Berikan penjelasan bagaimana cara mengisi rapor untuk nilai mata pelajaran IPA (SMP) dan Biologi (SMA) 3. Perhatikan skor hasil penilaian matapelajaran Biologi Kelas 9 berikut ini. Isikan nilai rapor setiap siswa.
Nama Skor pada KD 1 Skor pada KD 2 Skor pada KD 3 Siswa PK KP SI PK KP SI PK KP SI 1. Abd 75 70 80 75 75 80 75 70 80 2. Enr 75 60 80 75 65 80 75 60 80 3. Fdl 90 88 65 95 88 65 90 88 65 4. Klh 80 80 80 88 80 80 80 80 80 5. Mhd 85 70 75 85 70 80 85 70 75 6. Pkt 75 75 75 78 75 75 75 75 75 PK: Penguasaan konsep; KP: Keterampilan Proses; SI: Sikap Ilmiah Skor pada KD 4 PK KP SI 75 70 80 75 60 80 90 88 65 80 80 80 85 70 75 75 75 75

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Addison Wesley Longman. Blooms, B.S., Engelhart, D.M., Hill, W.H., dan Krathwohl, D.R. 1956. Taxonomy of Educational Objectives, The Clasification of Educational Goal. Handbook 1. Cognitive Domain. London: Longkam Group, Ltd. Brown, J.H. dan Shavelson, R.J. 2001. Assesing Hands-on Science, a Teacher Guide to Performance Assesment. Thousand Oaks, California: Corwin Press, Inc. Cox-Peterson, A.M. dan Olson, J.K. 2002. Assessing Students Learning. Dalam: Learning Science and The Science of Learning. Rodger W. Bybee (Ed.). Arlington Virginia: National Science Teachers Association press. Demers, C. 2000. Beyond Paper and Pencil Assesment, Creating a wide-Scale Performance-Based assessment Tool for elementary School. Science and Children. October 2000: 24-29. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Ketentuan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi, Pendidikan Prasekolah, Dasar, dan Menengah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Dick, W. dan Carey, L. 1990. The Systematic Design of Instruction. Florida: Harper Collins Publisher. Doran, R., Chan, F. dan Tamir, P. 1998. Science Educator’s Guide to Assesment. Arlington, Virginia: National Science Teachers Association. Freedman, R.L.H. 1994. Open-ended Questioning, A Handbook for Educators. Parsippany, New Jersey: Dale Seymour Publication. Gagne, R.M. 1985. The Condition of Learning. New York: Holt, Rinehart and Winston. Gronlund, N.E.1995. How to Write and Use Instructional Objectives. New Jersey: Englewood Cliffs. Haladyna, T.M. 1997. Writing Test Item to Evaluate Higher Order Thinking. Boston: Allyn and Bacon. Hart, D. 1994. Authentic Assesment, a handbook for Educators. New York: AddisonWesley Publishing Company. Hibbard, K.M. 2000. Performance Assessment in the Science Classroom. New York: Glencoe, McGraw-Hill. Hill, B.C., Ruptic, C. dan Norwick, L. 1998. Classroom Based Assesment. Norwood, Massachuseetts: Christopher-Gordon Publishers, Inc.

Ibrahim, M. 2002. Asesmen Otentik. Jakarta: Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Depdiknas. Joyce, B., Weil, M., Showers, B. 1992. Models of Teaching. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall. Kardi, S. 1998. Bagaimana Mengembangkan Tes Hasil Belajar. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 2005. Popham, W.J. 1995. Classroom Assessment. Booston: Allyn and Bacon. Pusat Kurikulum. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. Safrit, M.J. 1986. Introduction to Measurement in Physical Education and Exercise Science. St. Louis: Times Mirror/Mosby College Publishing. Siskandar, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dasar dan Menengah. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penyusunan Draft profil Kompetensi Siswa SD oleh Direktorat Taman kanak-Kanak dan Sekolah Dasar di PPPG Kejuruan, Sawangan Bogor, 12-16 Mei 2002. Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology, Theory into Practice. Boston: Allyn Bacon. Subali, B. 2000. Asesmen Sebagai Paradigma Baru Sistem Evaluasi Untuk Mengembangkan Tujuan Pembelajaran IPA yang Holistik. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Pengembangan MIPA di Era Globalisasi, FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 22 Agustus 2000. Suparman, A. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional, Dirjen pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Bandung: Fokusmedia.

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Nama Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu

: SMAN I PURWACARITA : Biologi : X / II : 6 x 45 menit

A. Standar Kompetensi Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. B. Kompetensi Dasar 4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah. C. Indikator : 1. 2. 3. 4. Menjelaskan pengertian limbah. Menjelaskan karakteristik limbah. Menjelaskan cara pengelolaan limbah (penggunaanulang dan pendaurulangan) Memberi contoh pengelolaan limbah melalui penggunaan-ulang dan pendaurulangan Mengidentifikasi jenis-jenis limbah, sumbernya dan pengelolaannya. Menjelaskan contoh limbah organik dan limbah anorganik. Mengklasifikasi limbah menurut sumber dan wujudnya Menyebutkan jenis-jenis limbah yang berasal dari industry, rumah tangga, dan pertanian Menyebutkan jenis-jenis limbah padat, cair, gas, dan B3 Menentukan jenis limbah yang dapat didaur ulang. Membuat rancangan (proposal) projek daur ulang limbah Mengkomunikasikan rancangan Memberikan solusi untuk mengatasi pencemaran yang disebabkan oleh limbah Menulis laporan projek Mempertanggungjawabkan pelaksanaan projek melalui presentasi laporan hasil projek Bekolaborasi merancang dan melaksanakan projek daur ulang limbah Berpartisipasi dalam diskusi

5.
6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

D. Tujuan Pembelajaran ini bertujuan agar siswa dapat sebagai berikut. 1. Menjelaskan pengertian limbah melalui kegiatan diskusi. 2. Menjelaskan karakteristik limbah berdasarkan hasil identifikasi dan pengamatan lingkungan. 3. Menjelaskan cara mengelola limbah (penggunaanulang dan pendaurulangan) melalui diskusi 4. Memberi contoh pengelolaan limbah melalui penggunaan-ulang dan pendaurulangan 5. Mengidentifikasi jenis-jenis limbah yang terdapat dilingkungan sekolah, mengidentifikasi sumbernya dan pengelolaannya 6. Menjelaskan contoh limbah organik dan limbah anorganik. 7. Mengklasifikasi limbah menurut sumber dan wujudnya 8. Menyebutkan jenis-jenis limbah yang berasal dari industry, rumah tangga, dan pertanian

9. Menyebutkan jenis-jenis limbah padat, cair, gas, dan B3 10. Menjelaskan dampak limbah terhadap lingkungan 11. Membuat rancangan (proposal) projek daur ulang limbah 12. Mengkomunikasikan rancangan dalam bentuk proposal melalui presentasi 13. Memberikan solusi untuk mengatasi pencemaran yang disebabkan oleh limbah melalui pelaksanaan projek 14. Menulis laporan projek 15. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan projek melalui presentasi laporan hasil projek 16. Bekolaborasi merancang dan melaksanakan projek daur ulang limbah 17. Berpartisipasi dalam diskusi.

D. Materi pokok : Limbah Sub materi : • • • • • Pengertian limbah Karakteristik limbah Jenis-jenis limbah Pengelolaan limbah Projek daurulang limbah

E. Kegiatan Belajar Mengajar : Pembelajaran menggunakan Model Diskusi dan Pembelajaran Berbasis Projek Pertemuan I: (2 x 45 menit) Kegiatan awal • Guru memulai pembelajaran dengan mengajak siswa untuk menemukan fakta tentang sampah yang ada di lingkungan siswa melalui pengamatan dan tanya jawab. Apa saja sampah di sekitar siswa? Mengapa banyak sampah? Bagaimana mengelola sampah? Apa perbedaan sampah dan limbah? Apakah ada yang bisa dimanfaatkan? Bagaimana memanfaatkannya? Dan sebagainya.

Kegiatan inti • Siswa membentuk kelompok. Siswa bersama kelompoknya mendiskusikan mengenai pengertian limbah dan karakteristik limbah, dan permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh limbah. Siswa melakukan pengamatan di lingkungannya untuk mengidentifikasi jenis-jenis limbah. Lokasi pengamatan :………………. Pelaksanaan : ……………… Nama bahan organik anorganik yang dibuang

Mudah diuraikan

Sulit diuraikan

Pengelolaannya

Presentasi hasil pengamatan.

• •

Guru menugaskan siswa untuk melakukan projek daur ulang limbah. Masing-masing kelompok menentukan topik yang akan dijadikan projek Guru membimbing masing-kelompok menentukan topik projek, mencari literatur, melakukan analisis kritis, dan menyusun rencana (proposal) projek.

Kegiatan penutup • Guru meminta siswa untuk menyelesaikan proposalnya dan mengkonsultasikan proposal perencanaan projeknya pada pertemuan selanjutnya.

Pertemuan 2: (2 x 45 menit) Kegiatan awal • Guru memperlihatkan satu contoh benda yang dibuat dari limbah (misalnya pot dari gelas air mineral, tempat pensil dari karton bekas, kompos dari limbah organik rumah tangga). Guru meminta siswa untuk mendiskusikan dampak contoh daur ulang limbah dari aspek ekonomi, lingkungan, estetika, sosial, pendidikan, pengembangan SDM, dan lain-lain. Hasil diskusi disusun dalam bentuk peta konsep.

Kegiatan inti • • • Guru menugaskan siswa untuk mempresentasikan rancangan projek daur ulang limbah. Setiap kelompok saling mempresentasikan rancangan, memberi masukan dan saran untuk perbaikan proposal Setiap kelompok memperbaiki proposal projek, guru membimbing siswa.

Kegiatan penutup Guru memberikan tugas pada setiap kelompok yang dilaksanakan diluar jam pelajaran sekolah untuk: • Melaksanakan projek/melakukan investigasi berdasarkan rencana yang telah disusun. • Mengumpulkan dokumen hasil pelaksanaan projek. • Melaporkan perkembangan projek secara terprogram. • Menyusun laporan projek. • Menyusun presentasi pelaksanaan projek. Pertemuan 3: (2 x 45 menit) Kegiatan awal • Guru menjelaskan kepada siswa bahwa pada pertemuan ketiga ini setiap kelompok harus mempresentasikan pelaksanaan projeknya.

Kegiatan inti • • • • Masing-masing kelompok mempresentasikan laporan hasil projeknya di depan kelas. Siswa yang lain dapat mengajukan pertanyaan dan memberi sanggahan kepada kelompok penyaji. Guru menilai aktivitas siswa dalam diskusi presentasi. Guru mengawasi jalannya diskusi dan memberi penjelasan lebih lanjut terhadap hasil diskusi.

Kegiatan penutup • Guru memberikan tes kepada siswa. C. • • • • Sumber/alat/bahan Literatur/artikel dari internet tentang daur ulang limbah Limbah di lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar Buku Biologi untuk SMA Kelas X Lembar penilaian (Tes, rubrik penilaian proposal projek, rubrik penilaian laporan projek)

D. Penilaian
Indikator kompetensi 1. 2. Jenis Penilaian Tes uraian Tes uraian Materi Butir soal*) 1 2 1

Menjelaskan pengertian limbah. Pengertian limbah Menjelaskan karakteristik Karakteristik limbah limbah. 3. Menjelaskan cara pengelolaan Tes Pendaurulangan dan limbah (penggunaanulang dan objektif penggunaulangan pendaurulangan) Tes Pendaurulangan dan 4. Memberi contoh pengelolaan objektif penggunaulangan limbah melalui penggunaanulang dan pendaurulangan 5. Mengidentifikasi jenis-jenis Tes uraian Jenis-jenis limbah limbah, sumbernya dan pengelolaannya. 6. Menjelaskan contoh limbah Tes Limbah organik dan anorganik organik dan limbah anorganik. objektif 7. Mengklasifikasi limbah menurut Tes uraian Klasifikasi limbah menurut sumber dan wujudnya sumber dan wujudnya 8. Menyebutkan jenis-jenis limbah Tes Limbah industry, rumah tangga, yang berasal dari industry, objektif dan pertanian rumah tangga, dan pertanian 9. Menyebutkan jenis-jenis limbah Tes Limbah padat, cair, dan B3 padat, cair, gas. Dan B3 objektif 10. Menjelaskan dampak limbah Tes Dampak limbah terhadap terhadap lingkungan objektif lingkungan *) contoh butir soal untuk KD ini terdapat dalam Lampiran 1 Penilaian non tes Indikator 11. Membuat rancangan (proposal) projek daur ulang limbah 12. Mengkomunikasikan rancangan 13. Memberikan solusi untuk mengatasi pencemaran yang disebabkan oleh limbah 14. Menulis laporan projek 15. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan projek melalui presentasi laporan hasil projek 16. Bekolaborasi merancang dan melaksanakan projek daur ulang limbah 17. Berpartisipasi dalam diskusi

2, 3

3

4, 5 4 dan 5 6

7 8

Jenis penilaian Produk Presentasi Projek Projek Presentasi Observasi Observasi

Butir Soal Tes Pilihan Ganda 1. Penggunaanulang berbeda dengan pendaurulangan. Pernyataan yang benar tentang pendaurulangan adalah sebagai berikut.

a. Penggunaan kembali setelah melalui proses daur ulang b. Pemanfaatan kembali setelah diubah menjadi bentuk lain c. Memfungsikan barang bekas menjadi barang yang bermanfaat d. Menggunakan barang setengah jadi secara langsung e. Jawaban a, b, c. 2. Sampah organik yang dapat dijadikan pupuk kompos merupakan proses f. Daur ulang c. Pengurangan d. Pembaruanulang e. Pemanfaatanulang

g. Penggunaanulang

3. Manakah pernyataan berikut yang tergolong contoh penggunaulangan limbah? a. Pemanfaatan sampah untuk kompos b. Pemanfaatan sampah untuk pupuk c. Pembakaran sampah d. Kaleng susu untuk tempat gula e. Membuat kerajinan dari plastik bekas 4. Contoh limbah organik adalah sebagai berikut a. Limbah rumah tangga b. Sisa daun dan batang tanaman yang tidak bermanfaat serta kotoran ternak dan pupuk c. Limbah pertanian, misalnya kotoran ternak, pupuk, pestisida d. Plastik, besi, dan gelas yang tidak digunakan e. Baju bekas, kain bekas, kantong bekas 5. Pernyataan yang benar tentang limbah anorganik yang dibuang ke dalam tanah adalah sebagai berikut. a. Dapat diuraikan secara alami dalam waktu yang tidak terlalu lama b. Dapat diuraikan oleh mikroorganisme c. Tidak dapat dibusukkan oleh mikroorganisme d. Dalam jangka panjang bermanfat menyuburkan tanaman e. Jawaban a dan b

6. Limbah yang berasal dari industri contohnya adalah sebagai berikut. a. Carbon dari asap pembakaran pabrik b. Insektisida dan herbisida c. Ampas tebu dari pabrik gula d. Jawaban a dan c e. Tidak ada jawaban yang benar

7. Bahan-bahan yang termasuk limbah B3 adalah sebagai berikut. a. Sisa-sisa zat organik dari rumah tangga b. Nitrogen oksida dari industri c. karbonmonoksida dari kendaraan bermotor d. Sisa obat-obatan dari rumah sakit e. Sabun dan deterjen dari rumah tangga 8. Limbah pertanian harus dikendalikan karena menyebabkan hal-hal sebagai berikut. a. Pupuk menyebabkan blooming alga b. Pestisida, insektisida, herbisida dapat menurunkan populasi ikan di sungai c. Membunuh musuh alami hama d. Menurunkan kesehatan manusia terutama petani e. Semua jawaban benar Butir Soal Tes Uraian 1. Jelaskan pengertian limbah! 2. Jelaskan 3 ciri limbah! 3. Berdasarkan observasi yang kalian lakukan di lingkungan sekolah, sebutkan minimal 3 jenis limbah. Identifikasi sumbernya dan cara pengelolaannya supaya tidak mencemari lingkungan. 4. Deskripsikan klasifikasi limbah berdasarkan wujudnya! Lengkapi masing-masing dengan 2 contoh! 5. Deskripsikan klasifikasi limbah berdasarkan sumbernya! Lengkapi masing-masing dengan 2 contoh!

Kunci Jawaban No Soal 1 Jenjang Kognitif C1 Kunci Jawaban Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.

No Soal 2

Jenjang Kognitif C1

Kunci Jawaban Bersifat cair, gas, padat Merupakan zat sisa sehingga dibuang karena tidak digunakan Dapat mencemari lingkungan Kertas. Kertas berasal dari ruang kelas, kantor. Kertas dapat dikumpulkan didaurulang maupun dimanfaatkan kembali b. Daun, batang, ranting, dan sisa-sisa tumbuhan. Limbah ini berasal dari tanaman yang terdapat di halaman dan taman sekolah. Pengelolaannya: dibakar atau dimanfaatkan sebagai kompos c. Plastik bekas. Limbah ini misalnya bekas botol air mineral, bungkus makanan, sampul buku. Pengelolaannya: dikumpulkan dibakar, didaurulang, atau digunakanuloang. Pengelompokkan limbah berdasarkan wujudnya: a. Limbah cair Limbah cair berupa; tinja, deterjen, oli, cat. Jika meresap kedalam tanah akan merusak air tanah dan dapat membunuh mikroorganisme. b. Limbah padat Limbah padat berupa sampah anorganik. Jenis sampah ini tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (non-biodegradable), misalnya kantong plastik, bekas kaleng minuman, bekas botol air mineral. c. Limbah gas Limbah gas dapat berasal dari pabrik, pusat perdagangan/pasar/ hotel dan lain-lain. Misalnya gas sulfida, nitrogen oksida. d. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) Sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan kesehatan misalnya sisa obat-obatan dari rumah sakit dan zat-zat kimia dari industri. Limbah berdasarkan sumbernya: a. Limbah industri Limbah industri ini berasal dari pabrik-pabrik yang membuang sisa limbahnya ke sungai dan asap-asap hasil pembakaran produksi. Misalnya gas nitrogen oksida, zat asam, Hg, Cu b. Limbah Transportasi Limbah transportasi berasal dari kendaraan bermotor. Limbah yang dihasilkannya berupa asap buangan karbonmonoksida (CO) dan nitrogen oksida c. Limbah Rumah Tangga Limbah rumah tangga umumnya berupa sampah, baik anorganik maupun organik. Sampah organik yang berasal dari limbah rumah tangga berupa potongan kayu, dedaunan, dan sayur-sayuran. Sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah). Sampah anorganik yang merupakan sampah rumah tangga dapat berupa plastik, kaleng botol, sabun, dan detergen. d. Limbah Pertanian Limbah pertanian umumnya berasala dari pupuk yang berlebihan. Pupuk yang berlebih ini akan terbawa air menuju sungai. Hal tersebut dapat mengakibatkan blooming alga • • • a.

3

C4

4

C2

5

C2

Rubrik penilaian proposal projek Kriteria unsur yang dinilai 1. Judul • Sesuai tema, jenis limbah yang dipilih tepat, produk yang dihasilkan bermanfaat • Sesuai tema, jenis limbah yang dipilih tepat, produk yang dihasilkan kurang bermanfaat • Sesuai tema, jenis limbah yang dipilih kurang tepat • Tidak sesuai tema 2. Pendahuluan • Memilih jenis limbah yang tepat (jumahnya berlimpah, tidak dimanfaatkan, dan menimbulkan pencemaran lingkungan) • Menuliskan alas an pemilihan limbah dan produk yang dihasilkan 3. Metode • Menuliskan dengan jelas tahap-tahap daur ulang limbah • Penulisan tahap-tahap pelaksanaan daur ulang limbah kurang rinci 4. Kolaborasi • Semua siswa bekerjasama dan saling memberimasukan untuk menyusun proposal • Hanya siswa tertentu saja yang memberikan kontribusinya 5. Upaya pemecahan masalah • Rencana projek mengarah pada pemecahan masalah agar limbah tidak mencemari lingkungan dan/atau menghasilkan produk yang bermanfaat • Rencana kurang mengarah pada pemecahan masalah agar limbah tidak mencemari lingkungan dan/atau menghasilkan produk yang bermanfaat 6. Lain-lain • Menggunakan bahasa yang baik, terminologi yang benar, dan dukungan referensi • Menggunakan bahasa yang baik, beberapa terminologi masih kurang tepat • Menggunakan bahasa yang kurang, beberapa terminologi masih kurang tepat Skor 5 4 3 2 5 4

5 4

5 3

5

3

5 4 3

Rubrik penilaian laporan projek Kriteria unsur yang dinilai 1. Judul • Sesuai tema, jenis limbah yang dipilih tepat, produk yang dihasilkan bermanfaat • Sesuai tema, jenis limbah yang dipilih tepat, produk yang dihasilkan kurang bermanfaat • Sesuai tema, jenis limbah yang dipilih kurang tepat • Tidak sesuai tema 2. Pendahuluan • Memilih jenis limbah yang tepat (jumahnya berlimpah, tidak dimanfaatkan, dan menimbulkan pencemaran lingkungan) • Menuliskan alas an pemilihan limbah dan produk yang dihasilkan Skor 5 4 3 2 5 3

3.

Kriteria unsur yang dinilai Metode • Menuliskan dengan jelas tahap-tahap daur ulang limbah • Penulisan tahap-tahap pelaksanaan daur ulang limbah kurang rinci • Penulisan tahap-tahap pelaksanaan daur ulang limbah tidak rinci Upaya pemecahan masalah • daur ulang mengarah pada pemecahan masalah agar limbah tidak mencemari lingkungan dan/atau menghasilkan produk yang bermanfaat • Hasil daur ulang kurang mengarah pada pemecahan masalah agar limbah tidak mencemari lingkungan dan/atau menghasilkan produk yang bermanfaat Hasil pelaksanaan projek • menarik, bermanfaat, relevan dengan prinsip pengelolaan lingkungan • Hasil menarik, bermanfaat, tetapi kurang relevan dengan prinsip pengelolaan lingkungan Kolaborasi • siswa bekerjasama dan saling member masukan untuk menghasilkan produk • Hanya siswa tertentu saja yang memberikan kontribusinya Lain-lain Menggunakan bahasa yang baik, terminologi yang benar, dan dukungan referensi Menggunakan bahasa yang baik, beberapa terminologi masih kurang tepat Menggunakan bahasa yang kurang, beberapa terminologi masih kurang tepat Semua Hasil Hasil

Skor 10 7 5 10

4.

7

5.

10 7

6.

5 3

7. • • •

5 4 3

Rubrik Penilaian Presentasi Projek Aspek yang dinilai Kejelasan dalam pemecahan masalah Indikator Siswa mampu menjelaskan permasalahan dan upaya pemecahannya dengan kalimat yang mudah dimengerti oleh peserta Siswa mampu menjelaskan permasalahan dan upaya pemecahannya tetapi kurang bisa dimengerti peserta Siswa tidak mampu menjelaskan permasalahan dan upaya pemecahan yang dilakukan Siswa mampu menjelaskan dengan percaya diri dan tidak gugup Siswa mampu menjelaskan permasalahan, namun kurang percaya diri dan agak gugup Siswa mampu menjelaskan permasalahan, namun tidak memberi perhatian kepada peserta Siswa mampu mengungkapkan pendapat secara jelas dan sesuai permasalahan yang dibahas Siswa mampu mengungkapkan pendapat secara jelas tetapi kurang terkait dengan permasalahan yang dibahas Skor 10

7

5 5 4 3 10 7

Kepercayaan diri dalam penyampaian masalah

Kemampuan dalam berargumentasi/berpendapat

Aspek yang dinilai

Kejelasan dalam menjawab pertanyaan

Indikator Siswa tidak mampu mengungkapkan pendapat secara jelas Kejelasan dalam menjawab pertanyaan sesuai dengan maksud dan tujuan pertanyaan Kejelasan dalam menjawab pertanyaan kurang sesuai dengan maksud dan tujuan pertanyaan Kejelasan dalam menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pertanyaan

Skor 5 10 7 3

PENILAIAN AKTIVITAS DISKUSI (Diisi oleh Guru) Kelas Mata Pelajaran Topik Pembelajaran Tanggal Kegiatan :…………………………… :…………………………… :…………………………… :…………………………… : Diskusi Kelas

No

Nama Siswa

Frekuensi kontribusi dalam diskusi Sangat Biasa Tidak relevan berarti saja

Skor

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

…..

Keterangan: Sangat berarti Biasa saja Tidak relevan

: Mengajukan gagasan dan alasan yang penting dalam diskusi : Mengajukan gagasan yang kurang penting : Mengajukan gagasan yang tidak relevan dengan permasalahan yang didiskusikan

Panduan penskoran: 5 = memberikan gagasan yang sangat berarti lebih dari 5 X 4 = memberikan gagasan yang sangat berarti antara 3-4 X 3 = memberikan gagasan yang berarti antara 1-2 X 2 = memberikan gagasan biasa saja 1 = memberikan gagasan, tetapi kurang relevan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->