P. 1
Bahan Ajar

Bahan Ajar

|Views: 5,857|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar (mengacu
pada Perangkat Pembelajaran KTSP SMA, Diknas, 2008) sebagai berikut, yaitu

1. Mulailah dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dan dari yang kongkrit untuk
memahami yang abstrak.

Sama dengan keterampilan menjelaskan, penyajian materi bahan ajar, sebaiknya dimulai
dari yang mudah dipahami. Siswa biasanya akan lebih memahami suatu konsep tertentu
apabila penjelasannya dimulai dari yang mudah atau yang kongkrit, kemudian berangsur-
angsur berpindah kepada yang cukup sulit atau yang abstrak. Pada penyusunan bahan ajar,
juga berlaku seperti ini. Mulailah dengan menyusun materi ajar dari hal-hal yang kongkrit
(dikongkritkan?) kemudian kebagian yang abstrak atau sebaliknya. Misalnya dalam
menjelaskan konsep keanekaragamn tumbuhan, maka mulailah dengan pengenalan tanaman
yang ada dilingkungan sekitar sekolah. Kemudian secara berangsur-angsur melebar
kelingkungan yang lebih jauh, yang lebih banyak macam tanamannya, lalu dibawa
berimajinasi ke lingkungan hutan, semak dan sebagainya. Pada akhirnya siswa dapat
menyimpulkan bahwa banyak jenis, spesies tumbuhan dialam ini. Contoh lain, misalnya
pembelajaran/penjelasaan materi tentang sifat genetik pada berbagai makhluk hidup yang
melibatkan peranan gen, tentu akan relatif lebih mudah bila materi itu dimulai dengan
pengamatan tentang berbagai variasi, sifat, bakat yang ada pada manusia/teman sejawat
sekolah, atau pada berbagai macam tumbuhan (bentuk daun, macam tumbuhan, rasa buah
yang dihasilkan, dan sebagainya), setelah itu secara berangsur-angsur dibawa kepada konsep
penyebab variasi itu (sifat genetic pada gen)
Demikan juga dengan penjelasan hal yang abstrak. Setelah dijelaskan hal yang abstrak
kemudian siswa dibawa kepada hal yang kongkrit dari materi itu. Misal dalam pembelajaran
variasi manusia (genotif dan fenotif), jelaskanlah apa itu genotif dan apa itu fenotif. Setelah
penguasaan konsep ini dipahami, selanjutnya berikanlah hal yang kongkrit tentang genotif

13

dan fenotif, yaitu dengan menunjukkan tanda-tanda yang terdapat pada masing-masing siswa,
bentuk dari struktur organ luar seperti telinga, hidung, mata dan lainnya. Kemudian siswa
diajak untuk mencari adanya sebab perbedaan ini, dan seterusnya.

2. Pengulangan dan memperkuat pemahaman,

Pemahaman konsep, fakta, prinsip dari materi pembelajaran tentu akan lebih diingat
siswa jika diberikan dengan berulang-ulang. Pengulangan perlu diberikan agar siswa lebih
memahami konsep itu. Sebab dengan pengulangan itu maka informasi itu akan lebih
membekas pada ingatan siswa.
Pengulangan pada penulisan pada bahan ajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi
sehingga tidak membosankan. Misalnya dalam pembelajaran tentang materi pemahaman
terhadap perbedaan antara sel hewan dengan sel tumbuhan. Dalam penjelasan pada waktu
kegiatan belajar dijelaskan bahwa perbedaan itu terletak pada dinding sel. Sel hewan
mempunyai dinding yang tipis, sementara sel tumbuhan mempunyai dinding yang tebal. Pada
bagian lain (halaman lain?) disampaikan lagi bahwa karena dinding tumbuhan relatif tebal
maka sel relatif kuat, berbeda dengan sel hewan yang dindingnya tipis, tentu tidak sekuat sel
tumbuhan yang dindingnya tebal itu, dan seterusnya.
Ada pengulangan (kata di atas yang ditulis dengan cetak miring) tentang dinding sel
tumbuhan yang tebal dan sel hewan tipis.
Tapi hal itu disajikan dan diulang pada konteks
yang berbeda. Dengan demikian maka siswa akan “mendapatkan materi” itu secara berulang-
ulang secara “tidak disadarinya” yang diharapkan akan berdampak pada kemampuan
mengingatnya akan lebih mantap. Demikian seterusnya.

3. Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar

Motivasi yang muncul dari dalam diri siswa akan menentukan keberhasilan belajar. Salah
satu faktor yang menentukan munculnya motivasi ini adalah keberhasilan siswa memahami
pelajaran dengan baik. Karena itu tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah mendorong
siswa untuk selalu meningkatkan motivasi pembelajaran.

Pengembangan bahan ajar yang merangsang atau menantang motivasi siswa akan
meningkatkan keberhasilan belajar. Karena itu pengembangan bahan ajar hendaknya tidak
melupakan faktor pembangkit motivasi ini. Keberhasilan siswa menguasai materi pelajaran
dengan baik akan menjadi pendorong munculnya keinginan atau motivasi baru untuk
menguasai materi yang diberikan selanjutnya, demikian seterusnya akan saling

14

berkesinambungan. Misalnya pada penyajian tentang susunan tubuh manusia yang terdiri dari
berbagai system organ. Bila siswa sudah mengetahui atau menguasai dengan mudah dan baik
tentang pengertian organ, maka langkah selanjutnya pada pemberian materi tentang system
organ akan terasa “mudah” bagi siswa. Demikian juga pada penyajian materi ajar pada
pembahasan topik keanekaragaman hewan, yang dimulai dengan “penyajian” berbagai
macam jenis hewan disekitar lingkungan kehidupan siswa, yang sudah dikenal dengan baik
oleh siswa. Penyajian ini tentu akan lebih “menarik” perhatian siswa karena mereka sudah
mengenal hewan tersebut, selanjutnya ditugaskan untuk menyebatkan ciri-ciri morfologi
hewan tersebut atau yang lainnya. Pembelajaran ini tentu akan lebih bermakna dari
menyajikan contoh hewan-hewan lain (misal Pinguin) yang ada di tempat nun jauh disana.
Hal ini tentu akan menyebabkan siswa menjadi “malas” dan tidak tertarik untuk
“membayangkan” hewan tersebut, apalagi untuk mempelajarinya.
Pada penyusunan bahan ajar, sebaiknya dimulai dengan sajian materi yang menarik,
ringan, mudah, tidak memulai dengan sajian materi yang memberatkan (pikiran) siswa.
Sangat dianjurkan memulai sajian materi secara kontekstual.

4. Mencapai tujuan ibarat naik anak tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai
ketinggian tertentu,

Dalam proses pembelajaran, penyajian atau pemberian materi pelajaran hendaklah
diberikan atau disajikan secara bertahap. Sebab pembelajaran adalah proses yang bertahap dan
berkelanjutan. Sehingga perlu adanya terminal-terminal berupa tujuan-tujuan antara, ibaratnya
seperti anak tangga. Jika jarak antar anak tangga ini terlalu lebar, akan menyulitkan dalam
melangkah, semakin lebar jarak anak tangga, akan semakin sulit melangkahinya, sebaliknya
jika jarak anak tangga terlalu dekat, akan sangat mudah melewatinya, sepertinya tidak
tantangan atau hambatan dalam melewati anak tangga tersebut. Untuk itu maka perlu disusun
jaak anak tangga yang pas, sesuai dengan karakter siswa. Bahan ajar yang disusun terlalu
sulit akan menyulitkan siswa untuk memahami materi ajar yang disajikan, sebaliknya bila
bahan ajar disusun terlalu mudah, bahan ajar tersebut kurang menarik bagi siswa, bahan ajar
itu seolah-olah tidak ada tantangan bagi siswa untuk mempelajarinya. Bagi siswa bisa saja
bahan ajar itu seperti “tidak berarti atau tidak bermakna”. Oleh karena itu dalam
pengembangan bahan ajar “anak tangga” tersebut perlu dirumuskan dalam bentuk indikator-
indikator kompetensi yang serasi, sesuai dan disajikan secara bertahap. Indikator-indikator

15

yang disusun dan ditetapkan ini sebaiknya disampaikan kepada siswa agar siswa mengetahui
tentang tahap-tahap pencapaian tujuan tersebut. Misalnya penguasan tentang konsep golongan
darah pada manusia, akan membantu pemahaman tentang proses transfusi darah yang selama
ini terjadi, bahaya yang ditimbulkan akibat transfusi yang tidak baik, seperti penularan
berbagai penyakit lewat darah, dan sebagainya.

5. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan

Pembelajaran ibarat menempuh perjalanan jauh untuk mencapai tujuan akhir. Dalam
perjalanan itu akan melewati tempat-tempat tertentu, tempat-tempat inilah yang diibaratkan
dengan tujuan-tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dilakukan untuk mencapai tujuan-
tujuan yang ditetapkan. Guru akan memfasilitasi siswanya untuk mencapai tujuan-tujuan
antara tersebut, yaitu kompetensi dasar. Kompetensi dasar yang ditetapkan itu harus dicapai
oleh semua siswa, walaupun dengan “kecepatan” yang berbeda-beda.
Pengembangan bahan ajar hendaklah dilakukan dengan memperhatikan tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan. Setiap tujuan hendaknya dapat dicapai, dipahami dan dikuasai dengan
baik oleh semua siswa. Bahan ajar yang baik adalah ibarat “peta” yang baik dan jelas yang
memandu pencapaian tujuan tertentu. Misalnya, bila kita akan membelajarkan siswa tentang
materi jaringan pada manusia, maka sebelum sampai ke materi itu (jaringan sebagai tujuan
akhir), siswa kita beri materi tentang konsep sel terlebih dahulu. Bila siswa telah menguasai
tentang konsep tentang sel, maka pembelajaran tentang jaringan akan relatif lebih mudah
dipahami siswa, dibandingkan bila siswa belum memahami atau menguasai tentang teori sel,
atau konsep penunjang lainnya. Keberhasilan siswa memahami dan menguasai materi yang
diberikan dengan baik akan menjadi motivasi tersendiri bagi siswa untuk mempelajari materi
selanjutnya (mencapai tujuan berikunya).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->