P. 1
Bahan Ajar

Bahan Ajar

|Views: 5,855|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dikelompokkan menjadi empat

kategori, yaitu:
1. bahan cetak (printed) seperti antara lain, handout, buku, modul, lembar kerja siswa (LKS),
leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket;
2. bahan ajar dengar (audio), seperti kaset,radio, compact disk audio;
3. bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti, film, video compact disk;

16

4. bahan ajar multimedia interaktif (interactiive teaching material), seperti CAI (Computer
Assisted Instruction
), compact disk (CD), multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar
berbasis web (web based learning materials).

C. Bahan Ajar Cetak (Printed)

Bahan ajar cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Bahan ajar ini mengandung
beberapa keuntungan, selain pembuatannya tidak begitu rumit, biaya relatif murah bahan ajar
bentuk ini biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan guru untuk menunjukkan
tentang sesuatu kepada siswa. Bahan ajar cetak yang biasa dibuat oleh guru misalnya, buku
pelajaran, handout, Lembar kerja Siswa (LKS), modul, berbagai macam gambar/foto, dapat juga
berupa leaflet. Bahan ajar jenis ini (yang baik dan layak) dapat digunakan untuk membantu siswa
belajar mandiri. Beberapa macam bahan ajar cetak yang dapat digunakan sebagai bahan ajar
ditampilkan sebagai berikut:

Handout merupakan bahan ajar cetak tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk
memperkaya pengetahuan siswa. Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memliki
relevansi dengan materi yang diajarkan atau dengan kompetensi dasar dan materi pokok yang
harus dikuasai siswa. Handout dapat diperoleh dari cara antara lain down-load dari internet, atau
menyadur dari sebuah buku dan sumber lainnya. Bahan ini akan membantu guru dalam
melaksanakan pembelajaran, sebab handout bisanya dibuat sebagai “ rancangan/planning”
kegiatan belajar kedepan. Oleh karena iu handout bermanfaat sebagai “garis” menuju kegiatan
akhir kegiatan belajar

Buku, adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan. Isi buku dapat berupa
hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi
sesorang yang disebut juga dengan fiksi. Buku bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu
ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.
Buku yang baik biasanya merupakan buku yang ditulis dengan bahasa yang baik, mudah
dipahami, tampilan dan sajian menarik, dan kadangkala dilengkapi dengan gambar atau foto
untuk memperjelas isi substansi. Buku pelajaran, substansinya berisi pengetahuan yang
digunakan siswa untuk belajar. Misalnya buku pelajaran Biologi, adalah bahan ajar tertulis yang
menyajikan pengetahuan tentang biologi,substansi ini akan membawa atau mengarahkan siswa

17

untuk mencapai kompetensi. Buku pelajaran biologi, juga berisi bahan ajar mengenai biologi,
atau fenomena alam. Buku ini akan menjadi acuan dan sebagai sumber belajar bagi siswa untuk
mencapai kompetensi dasar. Buku ajar yang baik selalu mengalami perbaikan seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan terbaru. Oleh karena itu buku pelajaran Biologi juga harus
selalu mengalami revisi, penyempurnaan sesuai dengan jamannya. Jangan biarkan buku yang
kalau sudah dibuat dibiarkan tidak “terurus” padahal ilmu biologi sedang dan selalu berkembang
dengan pesat dan cepat.

Modul, adalah bahan ajar yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar
mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru. Oleh karena itu sebuah modul harus memenuhi
segala kriteria sebagai bahan ajar. Modul yang baik adalah modul yang memungkinkan siswa
dapat menggunakanya dengan mudah, materi yang disajikan memenuhi keinginan membantu
siswa mencapai kompetensi yang harus dicapainya. Karena modul dipergunakan untuk kegiatan
pembelajaran, maka modul harus menggambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai siswa.
Modul sebaiknya disajikan dengan menggunakan bahasa yang menarik dan baik (agar pada
materi yang disajikan tidak terjadi multitafsir), untuk ini dapat dilengkapi dengan ilustrasi untuk
memperjelas isi yang disajikan dalam modul itu.
Pembelajaran dengan modul membuka peluang dan memungkinkan siswa untuk dapat
belajar dengan “kecepatan tinggi”, juga memungkinkan siswa untuk dapat menyelesaikan
beberapa kompetensi sekaligus sesuai dengan kemampuannya.
Lembar Kegiatan Siswa (LKS), atau student worksheet, adalah lembar-lembar yang
berisi tugas yang harus dikerjakan siswa untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan.
LKS biasanya berisi petunjuk atau langkah-langkah penyelesaian tugas. Karena itu petunjuk dan
tugas yang disampaikan lewat LKS ini harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapai siswa.
Agar supaya tugas-tugas dalam LKS dapat dikerjakan siswa dengan baik, maka LKS perlu
dilengkapi/ditunjang dengan buku lain (yang terkait dengan tugasnya) sebagai referensi.
Subtansi tugas dalam LKS terdiri dari tugas teori dan tugas-tugas praktis. Tugas teori
misalnya meminta siswa untuk mempelajari atau membaca suatu materi ajar dan memahami
substansi tertentu. Misalnya tugas untuk membaca materi tentang struktur jaringan pernapasan,
fungsi dan hubungangannya dengan bentuk, gejala atau gangguan pernapasan, dan sebagainya.
Agar tugas itu memenuhi pencapaian kompetensi yang dipersyaratkan, maka tugas ini
dikembangkan lagi dengan meminta siswa untuk membuat resume. Lebih baik jika diminta pula

18

untuk mempresentasikannya lisan atau tertulis. LKS yang memuat tugas praktis, misalnya tugas
berupa kerja laboratorium. Misalnya tugas kerja laboratorium mengamati struktur sel hewan dan
tumbuhan, tugas melakukan pengamatan hasil fermentasi, dan sebagainya.
LKS yang baik adalah LKS yang dapat mengantarkan siswa mencapai tuntutan
kompetensi dasar. LKS jangan hanya semacam “memindahkan” soal-soal yang ada dibuku
kedalam lembaran LKS. Tetapi benar-benar menuntun siswa untuk memahami materi untuk
mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Karena itu membuat LKS hendaknya LKS yang
menantang siswa untuk mengembangkan kognitif, afektif dan psikomotornya. Karena itu LKS
harus memuat materi, petunjuk, jalan untuk membantu siswa mencapai kompetensi.
Bagi guru LKS yang baik akan memudahkan dalam dan membantu dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran. Sedangkan untuk siswa keberadaan LKS akan membantu mereka dalam
belajar secara mandiri. Oleh karena itu penyiapan LKS oleh guru harus dilakukan dengan
cermat. LKS yang disusun harus menuntun siswa dengan kegiatan yang berkaitan dengan
pencapaian kompetensi dasar.

Brosur, adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun bersistem,
terbuat dari cetakan yang hanya terdiri dari beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid. Brosur
biasanya berisi keterangan singkat tetapi lengkap. Karena itu brosur dapat dijadikan sebagai
bahan ajar dengan syarat tertentu misalnya antara lain memuat materi/substansi yang berkaitan
dengan kompetensi.
Beberapa contoh brosur, misalnya brosur yang dikeluarkan oleh laboratorium medis atau klinik
mengenai berbagai macam penyakit pencerrnaan (berkaitan dengan materi gangguan sistem
pencernaan), penyakit yang berhubungan dengan penglihatan (materi sistem indera penglihat),
brosur berbagai jenis bibit unggul tanaman budidaya, brosur manfaat pupuk, dan sebagainya.
Leaflet, adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan
atau dijahit. Penulisan substansinya harus padat, singkat serta mudah dipahami. Sebagai bahan
ajar yang baik dan memenuhi kriteria sebagai bahan ajar, leaflet harus memuat materi yang
menggiring siswa untuk menguasai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditentukan dan
diambil dari kurikulum.

Wallchart, adalah bahan cetak yang biasanya berupa bagan atau siklus atau proses atau
grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Kadang wallchart dimasukkan sebagai alat
bantu mengajar atau media penbelajaran. Bila wallchart didisain sebagai bahan ajar, maka

19

wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar, antara lain, memiliki kejelasan tentang
kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai siswa, diajarkan untuk berapa lama,
bagaimana menggunakannya. Banyak materi atauy informasi biologi yang bias disajikan dengan
wallchart ini, misalnya berbagai macam siklus hidup ular, siklus hidup belalang, siklus hidup
kupu-kupu, siklus air, siklus mineral, informasi singkat tentang berbagai macam penyakit
lengkap dengan pola penyebaranya, cara pencegahanya, dan sebagainya.
Foto atau Gambar. Sebagai bahan ajar, foto atau gambar harus disain dengan baik agar
siswa setelah melihat dan mengamati sebuah atau serangkaian foto atau gambar , mereka dapat
memahami maksud yang terkandung dalam foto atau gambar itu. Dan pada akhirnya mereka
akan menguasai satu atau lebih kompetensi dasar melalui foto atau gambar tersebut. Berbagai
macam informasi biologi dapat disajikan melalui foto atau gambar, misalnya foto kerusakan
ekosistem, foto atau gambar tumbuhan dan hewan-hewan yang dilindungi, lingkungan yang
tercemar dan sebagainya.

Gambar atau foto dapat disajikan dalam bentuk “gambar ilustrasi”, skema/siklus atau
suatu materi (yang asli) kemudian digambar. Gambar tentang hewan yang telah punah adalah
contoh gambar “ilustrasi”, Gambar terjadinya siklus hujan adalah gambar skema, dan gambar
tentang bentuk-bentuk daun tumbuhan adalah gambar dari daun tumbuhan yang asli.gambar
grafik atau siklus adalah gambar skema.
Foto berasal dari benda/lingkungan yang difoto untuk menujukkan sesuatu pada benda
atau lingkungan tersebut. Foto organ seseorang yang rusak/cacat akibat penyakit adalah foto
yang dibust (difoto) untuk menujukkan dampak dari penyakit itu, foto tentang liungkungan kotor
adalah foto yang dibuat untuk menunjukkan lingkungan yang kotor, dan sebagainya.
Menurut Weidenmann, melihat sebuah foto atau gambar lebih tinggi maknanya dari pada
membaca atau mendengar. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dan dari mendengar
hanya 20%. Dengan melihat maka dapat diingat 30%. Jadi foto atau gambar yang didisain
dengan baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Sebagai bahan ajar, maka foto atau
gambar harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan ini dapat berupa petunjuk cara menggunakan
atau bahan tes. Sebuah foto atau gambar yang bermakna paling tidak mempunyai kriteria sebagai
berikut:
(1) memiliki sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi atau data. Jadi foto atau
gambar tidak hanya sekadar foto atau gambar yang tidak bermakna atau tidak dapat

20

dipelajari. Misalnya pada foto terjadinya banjir, ruasknya lingkungan, kondisi sungai yang
tercemar, gambar manusia yang cacat salah satu organnya atau orang yang terserang oleh
suatu penyakit, posisi tubuh manusia yang tidak baik akibat kebiasaan duduk yang salah,
foto kondisi gigi seorang perokok, dan sebagainya
(2) Foto atau gambar dapat dimengerti. Sipembaca benar-benar mengerti, tidak mengalami salah
pengertian. Gambar atau foto orang yang kena penyakit dermatosis, akibat jamur. Foto atau
gambar mulut dan kuku tangan dari seorang perokok, serangan penyakit cacar pada manusia,
tubuh seorang pencandu narkoba, dan sebagainya.
(3) Foto atau Gambar harus lengkap, rasional dan logis dan bahannya benar-benar diambil dari
sumber yang benar, yang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga foto yang dipajang betul-
betul layak digunakan sebagai bahan ajar. Foto atau gambar jangan sampai miskin informasi
yang berakibat penggunaanya tidak belajar apa-apa. Misalnya foto atau gambar bunga
kembang sepatu yang diambil dari jauh, kondisi dari suatu lingkungan yang tercemar dengan
penampilan foto atau gambar yang fokus ingin menampakkan sesuatu.
Model, yang didesain secara baik akan memberikan makna yang hampir sama dengan
aslinya. Wedermann mengemukan bahwa dengan melihat benda aslinya yang berarti dapat
dipegang, maka siswa akan lebih mudah dalam mempelajarinya. Model atau bahan ajar seperti
ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus dibantu dengan bahan tertulis agar memudahkan
guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pemanfaatan model ini harus menggunakan kompetensi
dasar dalam kurikulum sebagai acuannya. Misalnya model organ manusia (untuk menjelaskan
materi sistem organ), model jantung untuk menjelaskan sistem peredaraan darah manusia),
model sistem pencernaan makanan, model reproduksi dan sejenisnya.
Beberapa bahan ajar cetak yang ditampilkan di atas, perlu ada penyempurnaan apa bila
akan digunakan sebagai bahan ajar untuk pembelajaran. Sebab tidak semua bahan tersebut
mengandung komponen yang dipersyaratkan untuk membantu kegiatan pembelajaran dalam
usaha pencapaian kompetensi. Selain buku, modul dan LKS, bahan ajar lainnya masih belum
memadai untuk digunakan sebagai bahan ajar. Bahkan sebagian bahan ajar tersebut masih
dianggap sebagai “media” pembelajaran
Bahan ajar yang dikatergorikan sebagai bahan ajar, haruslah memenuhi kriteria yang
dipersyaratkan, misalnya memuat SK, KD, petunjuk belajar, isi materi/contens, informasi
pendukung, instrumen untuk latihan-latihan, petunjuk kerja (untuk LKS), evaluasi dan respon

21

balikan. Oleh karena itu bahan ajar (yang disebutkan di atas) perlu dilengkapi dengan tambahan
komponen yang menyangkut “strategi” atau panduan, bahan pengayaan atau tugas-tugas dan
sejenisnya, yang semuanya menyangkut usaha pencapaian kompetensi yang dipersyaratkan.
Tambahan komponen itu dapat disampaikan oleh guru baik secara lisan maupun tertulis berupa
pertanyaan, tugas yang harus diselesaikan, cara kerja dan sebagainya, Semua ini tergantung pada
tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->