P. 1
Pengembangan SBM Biologi

Pengembangan SBM Biologi

|Views: 3,720|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

Pembelajaran biologi masa kini seharusnya menerapkan model-model
pembelajaran inovatif yang menginplementasikan paradigma pendidikan baru.
Paradigma pendidikan yang diharapkan untuk digunakan dalam Pembelajaran
Biologi masa kini adalah paradigma pembelajaran konstruktivisme, dan
menerapkan pendekatan inkuiri ilmiah, pendekatan kontekstual, dan pendekatan
belajar kooperatif. Banyak model pembelajaran yang menerapkan pendekatan-
pendekatan tersebut, antara lain: Model Siklus Belajar dan model Problem-Based
Learning
. Meskipun demikian, dalam pembelajaran masa kini masih ada
kemungkinan digunakan paradigma behaviorisme dan pendekatan ekspositori,
terutama untuk bahan-bahan ajar yang menyangkut konsep-konsep baku (well-
strctured kenowledge
) dan ketrampilan dasar (basic skills). Bahan-bahan ajar
sepeti itiu dapat dibelajarkan dengan beberapa tipe atau model pembelajaran dari
pendekatan belajar kooperatif: Student Teams Achievement Divisons (STAD),
Jigsaw, Group Investigation, dan lain-lain

A. Siklus Belajar

Model siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran yang khas
untuk pembelajaran Biologi. Siklus belajar sebenarnya merupakan cara berpikir
dan bertindak sesuai dengan bagaimana siswa belajar. Pernyataan itu
menunjukkan bahwa siklus belajar mempunyai relevansi dengan langkah-langkah
belajar sains. Siklus belajar yang dimaksud di sini adalah siklus belajar yang
terdiri dari empat langkah atau empat tahap (4-E) yaitu: eksplorasi (exploration),
eksplanasi (explanation), ekspansi (expansion), dan evaluasi (evaluation) (Martin,
1997).

Tahap I: Eksplorasi

Tahap eksplorasi adalah tahap pembelajaran awal. Pada tahap ini siswa
menggali, memperoleh, dan merekam informasi awal dari lingkungannya sendiri.
Informasi awal yang digali siswa sebaiknya informasi yang berupa fenomena.

41

Fenomena adalah kejadian atau isu yang menakjubkan, yang merangsang siswa
untuk berpikir lebih lanjut. Fenomena yang ditemukan siswa akan memperkuat
proses asimilasi mental, selain itu juga merangsang ketidakseimbangan mental
(mental disequilibrium) atau konflik kognitif. Konflik kognitif akan membawa
terjadinya proses akomodasi dalam pemikiran siswa. Pengetahuan awal itu
menjadi modal untuk dibangun menjadi konsep-konsep baru.
Pada tahap awal pembelajaran guru sebaiknya tidak menjelaskan, tetapi
menyodorkan fenomena dan mengajukan masalah atau pertanyaan untuk
membimbing siswa melakukan proes sains yaitu observasi dan penemuan
masalah. Ini merupakan bagian awal dari proses inkuris ilmiah. Pertanyaan guru
sebaiknya pertanyaan divergen, agar siswa mengalami konflik kognitif. Konflik
kognitif akan membangkitkan motivasi belajar.

pertanyaan

Gambar 4.1 Siklus belajar (Martin, 1997)

Tahap II: Eksplanasi

Tahap eksplanasi adalah tahap pembelajaran bagi siswa untuk
mengakomodasikan pikiran yang konflik pada tahap eksplorasi. Tahap ini
merupakan tahap untuk menemukan atau membangun konsep baru. Pada tahap ini
siswa menggali informasi pengetahuan lebih luas, melakukan pengamatan lebih
banyak dan lebih seksama, mengumpulkan dan merepresentasikan data hasil
pengamatan. Pengamatan sebaiknya dilakukan dengan demonstrasi, eksperimen
atau belajar di luar kelas. Selanjutnya siswa menganalisis data untuk
menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang lebih abstrak.

Tahap I
Eksplorasi

Berpusat
siswa,
kooperati,
inkuari

Tahap II
Eksplanasi

Tahap III
Ekspansi

Tahap III
Evaluasi

Konsep
terbentuk;
Pengertian
terbangun

Siswa
menerapkan
dan
memperluas
konsep

Evaluasi
formal dan
informal
selama
siklus belajar

Pertanyaa
n divergen
kemudian
konvergen

Pertanyaan
divergen,
konvergen,
evaluatif

42

Tugas guru pada tahap eksplanasi adalah: (1) memilih dan mengatur
lingkungan kelas, (2) membimbing siswa untuk bekerja dan berpikir sehingga
konsep yang dipelajari dapat dibangun oleh siswa secara kooperatif.
Pada awal tahap eksplanasi bimbingan guru diberikan adalah memperjelas
masalah yang ditemukan atau dikemukakan pada kegiatan awal melalui
pertanyaan konvergen. Pertanyaan itu mengarahkan siswa untuk merumuskan
suatu masalah yang paling relevan dengan konsep yang dipelajari. Selanjutnya,
dalam rangka penemuan jawaban atas masalah yang terlah dirumuskan secara
jelas siswa dibimbing untuk melakukan pengamatan. Pengamatan dapat dilakukan
dengan kegiatan percobaan (demonstrasi atau eksperimen), atau pengematan di
luar kelas. Sebagai bagian dari kegiatan inkuiri, dalam dalam pengamatan siswa
didorong untuk melakukan pencatatan data dan analisis data untuk menarik
kesimpulan. Percobaan dan diskusi analisis data sangat bermanfaat bagi siswa jika
dilakukan dalam bentuk kerja kelompok kecil. Demikian juga keitika siswa harus
menarik kesimpulan. Bimbingan yang diberikan oleh guru selama pengamatan,
diskusi hasil pengamatan, dan penarikan kesimpulan adalah memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang terpadu antara pertanyaan divergen dan konvergen.
Jika siswa sudah sampai pada kesimpulan yang benar, berarti konsep yang
dipelajari sudah ditemukan atau dibangun. Pada saat ini guru berkewajiban
mengenalkan bahasa khusus untuk konsep yang ditemukan. Misalnya, setelah
percobaan siswa berkesimpulan bahwa udara masuk ke dalam paru-paru karena
mengembangnya rongga, maka guru harus memberitahukan bahwa peristiwa itu
disebut inspirasi. Kemudian siswa diminta untuk membuat definisi dari kata
inspirasi.

Pada tahap eksplanasi guru bisa memberikan penjelasan secara verbal,
khususnya jika konsep yang dipelajari tidak dapat dicari penjelasannya melalui
pengamatan konkret. Namun, perlu diingat bahwa guru tidak selayaknya
mendominasi kegiatan belajar mengajar.

Tahap III: Ekspansi

Proses inkuiri pada pembelajaran dengan siklus belajar ini tidak berhenti
sampai pada ditemukannya kesimpulan atau dijelaskannya konsep pokok yang
dipelajari. Pembelajaran masih perlu dilanjutkan sampai siswa memantapkan diri

43

atas konsep yang telah dipelajari. Siswa melakukan pemantapan dengan
mengkonsolidasikan konsep baru dengan konsep lama, siswa merefleksi konflik
kognitif yang dialami pada kegiatan eksplorasi dengan kesimpulan yang
ditemukan pada kegiatan eksplanasi. Pada pendekatan kontekstual, konsolidasi
konsep ini disebut refleksi. Lebih dari itu, siswa masih perlu dibimbing untuk
menemukan aplikasi dari konsep yang baru ditemukan. Kegiatan ekspansi akan
sangat bermanfaat jika tugas pengembangan konsep itu diberikan dengan
mengintegrasikan isu-isu sa-ling-te-mas.
Kegiatan ekspansi dapat dilaksanakan pada bagian akhir pertemuan. Jika
tugasnya mencakup skala yang lebih luas, kegiatannya dapat berupa tugas rumah,
tugas di luar kelas.

Tahap IV: Evaluasi

Tahap evaluasi pada siklus belajar bertujuan untuk mengatasi tipe-tipe tes
yang terstandarisasi (standardized test). Belajar sering berlangsung pada kejadian-
kejadian kecil sebelum lompatan pemahaman mental yang lebih besar terjadi.
Maka dari itu evaluasi harus berkesinambungan, tidak hanya pada akhir satuan
pelajaran, tetapi di sepanjang proses pembelajaran. Beberapa tipe evaluasi perlu
diterapkan untuk mengukur ketrampilan kognitif, ketrampilan proses sains,
ketrampilan motorik, dan sikap. Bentuk tesnya dapat berupa tes jawaban lisan, tes
tertulis, dan tes perbuatann atau tes unjuk kerja. Tes perbuatan yang mengukur
pengalaman langsung (hands-on evaluation techniques) sangat bermanfaat untuk
mendorong kemajuan belajar siswa. Secara umum evaluasi yang diterapkan pada
model siklus belajar adalah asesmen otentik.
Model siklus belajar mempunyai beberapa kelebihan yang dapat mengatasi
masalah-masalah pembelajaran yang banyak dijumpai pada pembelajaran
konvensional. Kelebihannya antara lain: (1) struktur pembelajaran jelas dan
sederhana, (2) proses pembelajaran memiliki tahapan logis, (3) pembelajaran
berdasarkan aktivitas siswa yaitu kerja praktek dan akomodasi mental, (4)
berorientasi proses sains, (5) mengintegrasikan pengalaman, kebutuhan dan
kesukaan siswa ke dalam kegiatan belajar mengajar, (6) mengakomodasi kegiatan
belajar mengajar yang bervariasi, (7) mengarahkan siswa untuk menggali
informasi dari lingkungan, menemukan masalah dan menemukan sendiri jawaban

44

dari, (8) mengarahkan siswa untuk mengembangkan konsep keilmuan yang
diperoleh ke penerapan untuk menangani isu-isu lingkungan, teknologi dan
masyarakat.

Kejelasan struktur pembelajaran dari model siklus belajar dengan tahapan-
tahapannya (eksplorasi-eksplanasi-ekspansi-evaluasi) memungkinkan proses
pembelajaran dikemas untuk menerapkan prosedur inkuiri ilmiah. Gambaran
mengenai tahapan belajar, prosedur inkuiri ilmiah dan adanya penggunaan metode
pembelajaran yang bervariasi ditunjukkan dengan Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Struktur pembelajaran Model Siklus Belajar

Tahap Pokok

Kegiatan belajar-mengajar

Metode

Penggalian pengetahuan awal:
• Review kemampuan prasyarat
• Penjajagan pengetahuan awal

AWAL
(Eksplorasi)

Motivasi (membangkitkan rasa ingin tahu):
• Penyajian ide yang bertentangan
• Menimbulkan konflik kognitif

• Cerita*)
• Demonstrasi
• Eksperimen

Perumusan masalah/hipotesis
Pemecahan masalah:
• Observasi
• Pengumpulan dan pencatatan data
• Analisis data

INTI
(eksplanasi)

Penarikan kesimpulan

• Demonstrasi
• Eksperimen
• Belajar di luar
kelas
• Diskusi

Aplikasi

AKHIR
(Ekspansi)

Penemuan /pemecahan masalah baru

• Diskusi
• Tugas

EVALUASI Tes formatif selama pembelajaran
berlangsung

Asesmen otentik

*)

Cerita yang dimaksud di sini adalah cerita tentang fenomena alam kalau
kejadian konkretnya tidak dapat disajikan di dalam kelas; bukan penjelasan
mengenai konsep pelajaran.

Contoh Penerapan Model Siklus Belajar:

• Kompetensi Dasar: Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses
serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem
pernapasan pada manusia

• Indikator

: - Menjelaskan hubungan antara mengembang-kempisnya
rongga dada dengan masuk-keluarnya udara pernapasan.

• Tujuan

: Siswa dapat menjelaskan hubungan antara mengembang-
mengempisnya rongga dada dengan masuk-keluarnya udara
pernapasan dengan melakukan eksperimen.

• Model

: Siklus Belajar

• Metode

: Eksperimen

45

• Langkah-langkah pemberlajaran
Eksplorasi : - Siswa melakukan eksperimen dengan mengangkat dan
menurunkan dada.
- Siswa diberi pertanyaan: “Apa yang terasa di hidung ketika
mengangkat dada, dan menurunkan dada? Bagaimana bisa
begitu?
Eksplanasi : - Siswa diminta untuk menjelaskan secara hipotetik
- Siswa melakukan percobaan: gelas minum air mineral
yang baru ditusuk dengan pipa sedotan, airnya
dikdeluarkan sedikit, gelas dipencet, diamati perubahan
permukaan air dalam gelas pada saat dipencet (gelas
memipih), dan udara yang masuk pada saat di lepas
pecetannya (menggembung).
- Siswa mencatat data hasil pengamatan,
- Siswa menarik kesimpulan bahwa: ketika dada terangkat
rongga dada mengembang dan udara masuk ke dalam
paru-paru; ketika rongga perut menggembung rongga
dada membesar dan udara masuk ke dalam paru-paru.
Ekspansi : Siswa diberi masalah baru: “Banyak ibu-ibu di pedesaan
yang membebat perutnya dengan kencang setelah
melahirkan. Baikkah tindakan itu? Mengapa kamu
berpikir begitu?”
Evaluasi : - Mencatat jawaban siswa pada pertanyaan yang diajiukan
pada tahap eksplorasi.
- Mengamati keaktifan siswa pada tahap eksplanasi
- Tes formatif pada akhir pelajaran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->