P. 1
Pengaruh Bentuk Antena Terhadap Pola Radiasi, Reuse, Gain Pada Sistem Komunikasi Bergerak

Pengaruh Bentuk Antena Terhadap Pola Radiasi, Reuse, Gain Pada Sistem Komunikasi Bergerak

|Views: 1,961|Likes:
Published by Irfan Irawan Cbn
Tugas ISTN Cikini - Pengaruh Bentuk Antena Terhadap Pola Radiasi, Reuse, Gain Pada Sistem Komunikasi Bergerak
Tugas ISTN Cikini - Pengaruh Bentuk Antena Terhadap Pola Radiasi, Reuse, Gain Pada Sistem Komunikasi Bergerak

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Irfan Irawan Cbn on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH SISTEM KOMUNIKASI BERGERAK HUBUNGAN BENTUK ANTENA TERHADAP BENTUK SEL, POLA RADIASI, DAN

REUSE FREKUENSI Dosen: Bp. Iwan Hernawan, Ir.

Disusun oleh: Irfan Irawan: 11221718

S1 FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO JURUSAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI ISTN CIKINI SEMESTER GANJIL 2011/2012

PEMBAHASAN

1.1

Konsep Komunikasi Nirkabel (Wireless Communication Concept)

Inti dari komunikasi nirkabel adalah sistem komunikasi yang menggunakan frekuensi / spektrum radio, yang memungkinkan transmisi (pengiriman / penerimaan) informasi (suara, data, gambar, video) tanpa menggunakan koneksi fisik. Biasanya dibedakan dari sistem transmisi yang memerlukan koneksi fisik, seperti kabel / kawat tembaga atau fiber optic. Bersifat tetap (fixed) atau bergerak (mobile). Dan juga dibatasi oleh ketersediaan spektrum (pita frekuensi), karena adanya interferensi jika digunakan bersama. Kemudian teknologi ini terus berkembang sampai saat ini salah satunya adalah teknologi mobile (seluler).

1.2

Definisi Umum Sistem Seluler komunikasi yang digunakan untuk memberikan layanan jasa

Sistem

telekomunikasi bagi pelanggan bergerak disebut dengan sistem cellular karena daerah layanannya dibagi-bagi menjadi daerah yang kecil yang disebut sel (cell). Memiliki salah satu karakteristik yaitu pelanggan mampu bergerak secara bebas di dalam area layanan, sambil berkomunikasi tanpa terjadi pemutusan hubungan.

Pada awal pembentukan sistem selular dikenal dengan konsep konvensional, dimana masih sederhana dalam pemodelanya yang memiliki karakteristik antara lain, cakupan (Coverage) setiap sel sangat luas, daya pancar antena Base

2

Station (BS) besar, antena BS ditempatkan cukup tinggi, satu frekuensi digunakan oleh satu sel.

Gambar. Arsitektur awal sistem komunikasi selular.

Gambar. Komunikasi Seluler Sistem Konvensional

Gambar Sistem Saat Ini

Tidak bisa dipungkiri bahwa generasi awal sistem selular konvensional ditemukan banyak kelemahan serta terdapat keuntungan diantaranya.

1.3

Kelemahan dan Keuntungan

Kapasitas kanal kecil, Interferensi adjacent channel, daya pancar tidak efisien (boros), dan Mobile Station (MS) yang pindah sel harus memulai panggilan

baru (reinitiating call). Sedangkan keuntungan dari sistem ini adalah desain sistem dan infrastruktur terhitung sederhana dan biaya awal cukup murah.

3

1.4

Coverage Area

Coverage sebuah sel kecil, daya pancar antena BS (Base Station) kecil, terjadi pengulangan frekuensi (Frequency Reuse) , pemecahan sel (Cell Splitting), HandOff dan pengontrolan terpusat, tergantung bentuk dan jenis antena.

Kekuatan antena untuk menerima atau mengirim sinyal dikenal sebagai gain atau penguatan antena.Sedangkan satuan untuk mengukur penguatan antena adalah dBi.

4

3 PNGERTIAN TEKNOLOGI DAN JENIS ANTENA

3.1

Antena Directional (Antena Pengarah)

Jenis antena ini digunakan pada sisi client dan mempunyai gain yang sangat tinggi yang diarahkan ke Access Point. Atau istilah yang kita ketahui jenis antena ini disebut antena narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, antena directional mengirim dan menerima sinyal radio hanya pada satu arah. Jenis antena direktional seperti antena grid, dish “parabolic”, yagi, dan antena sectoral. Contoh yang biasa digunakan dari jenis antena ini yaitu:

3.1.1 Yagi Digunakan untuk jarak pendek karena penguatannya rendah. Dan mempunyai penguatan antara 7 - 19 dBi

3.1.2 Antena Grid Antena ini merupakan salah satu antena wifi yang populer. Sudut pola pancaran antena ini lebih fokus pada titik tertentu sesuai pemasangannya.

5

3.1.3 Parabolic Digunakan untuk jarak menengah/sedang dan mempunyai penguatan antara18 28 dBi

Contoh Antena Parabolic

Pola radiasi dari antena Parabolik

6

3.1.4 Sectoral Mempunyai penguatan antara 10 - 19 dBi dan tingginya penguatan dikompensasi dengan pola radiasi yang sempit dari 45 - 1800

3.1.5 Wajan Bolic Jenis antenna ini sering digunakan di sisi client pada jaringan RT/RW-ne

3.2

Antena Omnidirectional

Biasanya antena jenis ini digunakan pada Access Point (AP). Antena jenis ini mempunyai pola radiasi 360 derajat. Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beam width) yaitu 3600. Dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak dianjurkan pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas sehingga ada kemungkinan
7

mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan interferensi. Antena omnidirectional mengirim atau menerima sinyal radio dari semua arah secara sama, biasanya digunakan untuk koneksi multiple point atau hotspot yang mempunyai penguatan sangat rendah yaitu 3 - 10 dBi

Adapun jenis antena ini adalah : 3.2.1 Antena Omnidirectional dengan Polarisasi Vertical Macamnya: a) Antena Koaksial dan antena Brown b) Antena Vertikal dengan penguatan tinggi

8

3.2.2 Antena Omnidirectional dengan Polarisasi Horizontal Macamnya : a) Antena Super Turnstile b) Antena Super Gain

3.3

Karakter Antena

Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu

3.3.1 Pola Radiasi Pola radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3- dimensi tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasi antena dibentuk oleh dua buah pola radiasi berdasar

9

bidang irisan, yaitu pola radiasi pada bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang irisan arah azimuth (pola azimuth).

Kedua pola di atas akan membentuk pola 3-dimensi. Pola radiasi 3-dimensi inilah yang umum disebut sebagai pola radiasi antena dipol. Sebuah antena yang meradiasikan sinyalnya sama besar ke segala arah disebut sebagai antena isotropis. Antena seperti ini akan memiliki pola radiasi berbentuk bola Namun, jika sebuah antena memiliki arah tertentu, di mana pada arah tersebut distribusi sinyalnya lebih besar dibandingkan pada arah lain, maka antena ini akan memiliki directivity Semakin spesifik arah distribusi sinyal oleh sebuah antena, maka directivity antena tersebut. Antena dipol termasuk non-directive antena. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas.

3.3.2 Gain Gain (Directive Gain) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel.

10

Tabel Besaran Gain Antena

Jenis Antena

Gain

Grid

Gain signal 24dBi

Yagi Parabola

Gain-nya rendah biasanya antara 7 sampai 15 dBi Gain-nya bisa antara 18 sampai 28 dBi

Wajan Bolic

Sectoral Omni Directional

Gain sekitar 10-19 dBi, Gain-nya antara 3 sampai 10 dBi

3.3.3 Polarisasi Polarisasi didefinisikan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal. Mengenali polarisasi antena amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Tujuan mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pola radiasi, yang pertama adalah Half Power Beam Width (HPBW), atau yang biasa dikenal sebagai beanwidth suatu antena. Dalam astronomi radio, beamwidth adalah resolusi

11

spasial dari sebuah teleskop radio, yaitu diameter sudut minimun dari dua buah titik yang mampu dipisahkan oleh teleskop radio tersebut. Secara teori, beamwidth untuk antena yang berbentuk parabola dapat ditentukan.

Tabel Polarisai Antena

Jenis Antena Grid

Gambar Polarisasi

Yagi

Sectoral

12

Parabola

Wajan Bolic Omni Directional

Mirip Dengan Polarisasi Parabola

3.4

Bentuk dan Ukuran Sel

Idealnya sel mempunyai bentuk lingkaran untuk daerah cakupannya dan BS terletak pada pusat lingkaran tersebut. Dalam prakteknya untuk mendapatkan bentuk lingkaran sangat sulit dilakukan. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor geografi daerah cakupan yang tidak teratur, dan juga jenis antena yang digunakan ikut mempengaruhi bentuk cakupan sel, serta ada kalanya daerah cakupan yang diinginkan tidak berbentuk lingkaran, sehingga bentuk cakupan sel sebenarnya didekatkan dengan bentuk sel heksagonal.

13

Gambar Bentuk Heksagonal Sel dan Daerah Cakupan dalam Kenyataan.

Bentuk heksagonal paling mendekati bentuk ideal suatu lingkaran. Bentuk heksagonal juga memudahkan untuk melakukan sektorisasi antena yang dapat mencakup daerah yang lebih luas. Sel mempunyai ukuran yang besarnya tergantung dari radius dan diameter sel tersebut. Berdasarkan ukurannya, sel dibagi menjadi sel besar dengan ukuran ± 32 Km dan sel kecil dengan diameter ± 0,8 Km. Pemilihan ukuran sel harus mempertimbangkan kualitas transmisi, kepadatan lalu lintas dan biaya. Radius sel yang besar akan menghemat jumlah BS untuk sel sistem konvensional. Sel sistem selular

mencakup seluruh wilayah pelayanan, tetapi perlu daya pancar yang besar disertai dengan kepadatan trafik yang relatif rendah.

Radius sel dapat diperkecil dengan mengurangi daya pancar. Dengan radius sel yang kecil, kapasitas trafik yang dapat ditangani jaringan juga bertambah besar. Akan tetapi perpindahan pelayanan antar sel (handoff) akan sering terjadi karena kemungkinan pengguna bergerak keluar sel lebih besar.

14

Gambar. Pembagian Daerah Menjadi Sel-Sel

Menggunakan sekelompok sel (Cluster) untuk membagi spektrum frekuensi ke dalam kanal yang berbeda.

Gambar. Pengelompokan Sel

3.5

Mengenal Pengulangan Frekuensi (Frequency Reuse)

Frekuensi atau grup frekuensi bisa dipergunakan pada sel yang terpisahkan dengan jarak pengulangan yang cukup.

15

Gambar. Pengulangan Sel

Frequency reuse adalah pemakaian kembali kanal frekuensi yang sama pada sel lain di lokasi yang berbeda. Frequency reuse dilakukan untuk meningkatkan efisiensi alokasi frekuensi dan meningkatkan kapasitas sistem. Adapun latar belakang frekuensi re-use antara lain. Keterbatasan alokasi frekuensi Keterbatasan area cakupan cell (coverage area). Menaikkan jumlah kanal. Membentuk cluster yang berisi beberapa cell. Co-channel interference

16

Inti dari konsep selular adalah konsep frequency reuse. Walaupun ada ratusan kanal yang tersedia, bila setiap frekuensi hanya digunakan oleh satu sel, maka total kapasitas sistem akan sama dengan total jumlah kanal. Dalam penggunaan kembali kanal frekuensi diusahakan agar daya pemancar masingmasing BS tidak terlalu besar, hal ini untuk menghindari adanya interferensi akibat pemakaian kanal yang sama (Interference Co-Channel).

Jarak minimum frequensi reuse yang diperbolehkan, ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jumlah sel yang melakukan frequency reuse, bentuk geografi suatu wilayah, tinggi antena dan besarnya daya pemancar masing-masing base station.

Dalam hal ini jarak minimum frequency reuse dapat dicari dengan rumus pendekatan teori sel hexsagonal, yaitu :

dimana : D = Jarak minimum sel yang menggunakan kanal frekuensi yang sama. R = Radius sel, dihitung dari pusat sel ke titik terjauh dalam sel. K = Banyaknya sel per kelompok / pola sel / pola frequency reuse.

17

Gambar Frequency Reuse Group dengan K = 7.

Pola frequency reuse pada sistem selular menunjukan pengaturan pola tersebut harus sebaik mungkin, hal ini untuk menghindari interferensi akibat adanya penggunaan kanal yang berdekatan (Interference Adjacent Channel) dan (Interference Co-Channel).

Besaran D/K disebut sebagai faktor reduksi kanal dengan frekuensi yang sama. Besaran tersebut menentukan kualitas transmisi dalam perencanaan sistem selular agar tidak terjadi interferensi co-channel. Dari persamaan juga terlihat bahwa, jika jarak D semakin besar, maka jumlah kelompok sel akan bertambah, sehingga interferensi co-channel akan berkurang, dengan catatan daya pemancar pada BS tidak terlalu besar. Tetapi untuk pita frekuensi yang sama, jumlah kanal/sel akan berkurang yang berarti kapasitas trafik per sel akan lebih kecil.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->