Pengantar Studi Kitab Suci Isi Singkat Kitab Suci

Tujuan Bab ini: Memberi gambaran singkat dan padat pada siswa mengenai isi singkat seluruh kitab suci, dengan cara menelusuri kitab suci itu dari kitab ke kitab. Memberi kesadaran kepada para siswa bahwa Kitab Suci adalah sebuah perpustakaan mini, dengan rak besar. Bahkan masing-masing kitab juga adalah rak mini juga. Membuat siswa mampu mengetahui garis besar isi masing-masing kitab. Isi masing-masing kitab Kejadian: kitab kejadian adalah sejarah umat manusia mulai dari penciptaan dunia ke riwayat hidup dan perbuatan para bapa bangsa, yaitu abraham, isaak, yakub, dan yusuf. Di antara keempatnya, tentang isaak paling sedikit, padahal ia disebut dalam tiga serangkai para bapa bangsa. Keluaran: kitab keluaran adalah kitab yang berkisah tentang sejarah orang-orang israel di mesir, tentang bagaimana mereka melarikan diri dari sana di bawah pimpinan musa, tentang peristiwa di gunung sinai tempat diberikannya hukum (termasuk 10 perintah itu), dan dibangunnya kemah suci untuk menyertai perjalanan bangsa itu menuju ke tanah terjanji. Imamat: kitab imamatadalah kita yang memberi pelukisan rinci lebih lanjut tentang hukum-hukum yang diberikan di sinai. Bilangan: kitab bilangan adalah kitab hukum lanjutan; lalu dilanjutkan dengan kisah berangkatnya orang-orang israel dari sinai ke perbatasan tanah terjanji. Ada juga kisah tentang raja balak dan bileam si tukang nujum itu. Ulangan: kitab ulangan berisi kata-kata paling akhir dari musa untuk orang-orang israel. Di sini musa memberi mereka hukum-hukum yang lebih jauh untuk ditaati di tanah terjanji; ada juga kisah tentang wafat musa yang tragis itu. Pentateukh: Kelima kitab pertama di atas tadi disebut secara teknis pentateukh, artinya lima kitab (hukum). Ada juga kebiasaan lain yang menyebutnya kelima kitab hukum musa. Disebut demikian karena ada anggapa bahwa kelima kitab itu “berasal” dari musa. Kitab-kitab sejarah Kitab-kitab sejarah adalah kitab-kitab yang menyajikan sejarah israel. Hal itu merentang dari kitab yosua sampai ke ester. Kadang2 juga dimulai dari kitab kejadian sampai ke ester. Disebut demikian karena ia membeberkan data sejarah keselamatan, yaitu sejarah campur tangan allah dalam hidup bangsa israel. Isi masing-masing kitab sejarah ialah sbb: Isi singkat masing-masing kitab sejarah Yosua: kitab yosua adalah kitab yang mengisahkan sejarah penaklukan beberapa bagian wilayah palestina oleh orang-orang israel di bawah pimpinan yosua, pengganti musa. Hakim-hakim: kitab hakim2 adalah kitab yang mengisahkan tentang peristiwa pendudukan lebih jauh orang israel atas tanah terjanji. Saat itu israel dipimpin oleh rangkaian para hakim seperti deborah, gideon, dan samson. Sosok hakim itu sendiri ialah sosok tengah, yang separuh raja, dan separuh sosok pemimpin militer. Rut: kitab ruth adalah kitab yang tentang perempuan moab yg tinggal di israel dan menikah dengan seorang petani israel yang kaya-raya, boaz. Setting kisah itu adalah jaman para hakim 1samuel: kitab 1 samuel adalah kitab yang melukiskan peralihan dari model pemimpin para hakim ke tahap kerajaan. Hal itu terjadi di bawah tuntunan samuel. Di sini tercakuplah kisah-kisah tentang daud, raja israel yang pertama. 2 samuel: kitab 2 samuel adalah kitab yang mengisahkan tentang daud yang mengantikan saul yang mati terbunuh dalam pertempuran melawan orang-2 filistin. Juga mengandung kisah rinci tentang salomo yang menggantikan daud, dgn diselingi oleh kisah-2 anak-anak daud yangterlibat dlm pembunuhan, pemberontakan, pemerkosaan dan bahkan incest. 1 raja-raja: kitab 1 raja-2 adalah kitab yang bertutur tentang pemerintahan salomo, tentang drama perpecahan kerajaan menjadi utara dan selatan (israel-yehuda) ketika salomo wafat. Juga tentang raja-raja paling awal dari masa kerajan terpecah itu; juga berkisah tentang karya nabi elia. 2 raja-raja: kitab 2 raja2 adalah kitab yang berkisah tentang karya nabi elisa. Juga tentang raja2 yang kemudian dari israel dan yehuda. Juga kisah tentang reformasi yosia atas agama resmi negara. Juga berkisah tentang invasi atas yehuda, mula-mula oleh orang asyur, lalu oleh orang2 babel. 1tawarikh: kitab 1 tawarikh adalah kitab yang berisi sejarah dunia hingga ke daud. Sebagian besar dari padanya dikisahkan menurut garis keturunan genealogis (siapa melahirkan siapa, dst). 2tawarikh: kitab 2 tawarikh adalah kitab yang menyajikan sejarah mulai dari salomo hingga ke masa pembuangan, dengan mengikuti kisah yang ada dalam 2 raja-raja tetapi dengan banyak perbedaan rincian; juga mencakup pemulihan yehuda oleh orang-orang persia pada akhir masa pembuangan itu. Kitab ezra: kitab ezra adalah kitab yang berkisah tentang bagaimana seorang raja persia menyuruh kembali orang-orang yudea yang dibuang ke pembuangan agar kembali ke yerusalem untuk membangun kembali kenisah, dan membangun kembali agama yahudi. Di antara orang-2 itu adalah seorang imam yang bernama ezra Nehemia: kitab nehemia adalah kitab yang berkisah tentang pelbagai macam kegiatan nehemia (sering memakai kata ganti orang pertama), yaitu seorang yahudi yang diangkat sebagai guberbur persia atas yehuda, pada masa yang kurang lebih sama dengan jaman ezra.

1

Tobit: kitab tobit adalah kitab yang berkisah tentang orang-2 yahudi yang saleh yang berhasil dalam upaya membangun tali ikatan perkawinan antara pelbagai keturunan sanak keluarga mereka walau hal itu dilarang atau ditentang oleh para raja dan setan-setan. Hal itu bisa terjadi berkat bantuan seorang malaekat (rafael). Kitab ini tidak ada dalam kanon protestan. Hanya ada dalam kanon katolik saja (sebagai kitab deuterokanonika). Yudit: kitab yudit adalah kitab yang bercerita tentang yudit, seorang srikandi yahudi yang memperdaya panglima perang asyur dan memenggal kepalanya. Dengan itu ia menyelamatkan israel dari kekalahan. Kitab initidak ada dalam kanon protestan. Termasuk deuterokanonika. Ester: kitab ester adalah kitab yg berisi cerita tentang seorang perempuan yahudi, yg diambil menjadi isteri raja persia (harem, gundik). Dalam posisi itu ia menyelamatkan sesamanya orang-orang yahudi dari ancaman pembantaian (progrom). Versi katolik berbeda dari versi protestan. Versi katolik lebih panjang dari versi protestan. 1 makabe: kitab 1 makabe adalah kitab yang berkisah tentang peperangan2 yang dilakukan oleh orang-orang yahudi melawan raja antiokhus epifanes, si orang kafir itu, pada abad 2 sm. 2 makabe: kitab 2 makabe adalah kitab yang berisi kisah populer dan legendaris tentang peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam 1 makabe, khususnya mengenai kemartiran dari orang2 yahudi yang taat pada masa itu. Kitab2 didaktik, atau pengajaran atau hikmat Ada kitab-kitab yang dapat dimasukkan dalam kategori kitab-kitab didaktik atau kitab pengajaran. Atau kadangkadang disebut demikian. Itu karena di dalamnya secara khusus mengandung pengajaran atau hal-hal yang terkait dengan pendidikan atau pembentukan watak manusia. Bisa menyangkut moral hidup, bisa menyangkut sikap menghadapi penderitaan, pengalaman cinta dan jatuh cinta, pengalaman doa, pengalaman menjadi kaya dan berhikmat, dll. Kitab-2 yang termasuk di sini ialah ayub, mazmur, amsal, pengkotbah, kidung agung, kebijaksanaan salomo, sirakh. Ada juga yang menyebutnya kitab-kitab kebijaksanaan. Isi masing-masing kitab didaktik, hikmat, pengajaran Ayub: kitab ayub adalah kitab yang berisi kisah tentang seorang pria saleh yang sangat menderita. Ia mencoba merenungkan dan memahami misteri penderitaannya itu dalam proses dialog dengan ketiga temannya. Dan akhirnya karena kesalehannya, kemakmuran dan kesehatannya pun dipulihkan kembali. Mazmur: kitab mazmur adalah kitab yang berisi kumpulan lagu-lagu, doa-doa, nyanyian-nyanyian yang berjumlah 150 buah, yang biasanya dikaitkan dengan raja daud (sebagai pengarangnya). Amsal: kitab amsal adalah kitab yang berisi ucapan-ucapan bijak bestari dan ajaran-ajaran yang terdiri atas paragraf-paragraf pendek menyangkut perilaku etis, sosial, dan praktis di tengah masyarakat. Biasanya dikaitkan dengan raja salomo (sebagai pengarangnya). Pengkotbah: kitab pengkotbah adalah kitab yang mengandung serangkaian refleksi bernada skeptik tentang makna dan tujuan hidup, atau tentang kondisi di mana makna itu terasa tidak ada atau tidak jelas. Biasanya juga dikaitkan dengan raja salomo sebagai pengarangnya. Kidung agung: kitab kidung agung adalah kitab yang berisi kumpulan puisi-puisi cinta, yang biasanya dihubungkan dengan salomo. Oleh karena itu, disebut juga sebagai kidung salomo. Hikmat salomo: kitab ini adalah kitab yang berisi ajaran lebih jauh tentang perilaku manusia, dan hikmat ilahi; juga biasanya dikaitkan dengan salomo. Hanya bedanya dengan amsal ialah yang ini ada tidak ada dalam kanon protestan. Hanya ada dalam kanon katolik; disebut deuterokanonika. Kitab sirakh: kitab sirakh disebut juga kebijaksanaan yesus bin sirakh. Dalam tradisi latin disebut ecclesiasticus karena dulu dipakai gereja sebagai buku saku moral. Isinya ialah kumpulan-kumpulan amsal yang panjang dan mengandung ajaran yang lebih luas. Dihubungkan dengan yesus bin sirakh, yaitu seorang tokoh yang hidup pada abad kedua sebelum masehi. Kitab para nabi Adapun kitab yang disebut kitab para nabi adalah kitab-kitab yang merentang dari yesaya hingga ke maleakhi. Di dalamnya tercantum ajaran, nubuat, dan perbuatan (termasuk tindakan simbolis) para nabi. Juga sabda kutukan termasuk di dalamnya. Tetapi juga mengandung nubuat pemulihan dan penyelamatan dengan syarat pertobatan sebab kasih setia allah sangat besar. Isi masing-masing kitab kita lihat dalam slide berikut….. Yesaya: kitab nabi yesaya adalah kitab yang mengandung nubuat-nubuat yg panjang2 yg dihubungkan dengan yesaya, yg hidup pada abad ke-8 sm di yerusalem. Tetapi bab 40-55 sangat menarik bagi orang kristen karena menjadi sumber dari banyak patung, lukisan, gambar2 kristen, terutama sosok hamba yg menderita itu; dari sinilah banyak teks mesias handel itu diambil. Yeremia: kitab nabi yeremia adalah kitab yang mengandung nubuat2 yeremia. Intinya adalah ucapan-2 yeremia, yang hidup di akhir abad 7 sampai ke masa pembuangan pada abad 6. Inlah kitab terpanjang di antara kitab para nabi. Kitab ratapan: kitab ratapan adalah kitab yang berisi 5 ratapan agung atas kejatuhan yerusalem ke tangan orang2 babel. Secara tradisional lagu-2 ratapan ini dihubungkan dgn yeremia. Sangat populer di dunia katolik karena sering dipakai untuk ibadat selama trihari suci, lamentatio Kitab barukh: kitab barukh adalah kitab yang merenungkan situasi pembuangan baik dalam penghukuman maupun dalam pengharapan. Biasanya dihubungkan dengan barukh, sang sekretaris nabi yeremia. Kitab ini tidak termasuk dalam kanon ks protestan; disebut deuterokanonika. Kadang-kadang bab 6 masih berdiri sendiri secara terpisah dan diberi judul “surat yeremia.” Kitab yeheskiel: kitab yeheskiel adalah kitab yg memuat nubuat2 yeheskiel, yaitu orang yg sejaman dengan yeremia tapi lebih muda dari yeremia. Di dalamnya tercakup penglihatan-2nya akan allah yang bertahta di atas keretak yang dihela oleh binatang2 ajaib, juga mencakup kitash tentang tulang2 kering yg hidup kembali yg melambangkan kelahiran kembali israel sesudah drama pembuangan yg tragis itu. Pembuangan bukan kematian

2

Hal itu mendatangkan tobat dan selamat atas niniveh yang mau mendengar allah melalui yunus. ajaran yang mencakup kotbah di bukit (5-7) yang terkenal itu. Hosea: kitab hosea adalah kitab yang memuat nubuat2 nabi hosea yang kurang lebih berasal dari abad 8 sm. Hagai: kitab hagai adalah kitab yang berisi kata-kata seorang nabi yg mendorong umat yg kembali dari pembuangan utk membangun kembali kenisah atau bait allah di yerusalem. Kitab ini pun tidak ada dalam kanon protestan. Tambahan daniel 1: disebut juga doa azaria dan lagu pujian ketiga pemuda dlm perapian. Nahum: kitab nahum adalah kitab yang berisi ramalan2 tentang penghancuran kota niniveh oleh satu campur tangan ilahi. yg ditimpakan kepadanya oleh 2 org pria tua yg marah karena mereka gagal berupaya memperkosa dia. Kitab ini mengandung banyak perumpamaan2 dan kisah2 yang memang khas lukas. tangan yg menulis pada tembok istana. Obaja: kitab obaja adalah kitab yang mengandung nubuat singkat tentang penghukuman edom karena ikut membantu dalam penumpasan dan penghancuran yerusalem pada tahun 587 sm oleh babel. Mikha: kitab mikha adalah kitab yang berisi nubuat2 yang disampaikan nabi mikha. 2. Dengan kata lain. misalnya spt perumpamaan tentang anak yg hilang itu dan tentang orang samaria ybk. Injil-injil sinoptik • Ketiga injil di atas tadi (mat. bersama dengan sebuah teks yg terkenal yang meramalkan tetnang kembalinya elia untuk memulai kembali (inaugurate) apa yang disebut “hari tuhan” itu. Itulah hukuman atas sikapnya yg tidak mau mentaati perintah allah. Yoel: kitab yoel adalah kita yg berisi puisi2 penyesalan pada masa dilanda bencana alam. Ada banyak episode terkenal dari kitab ini. Injil lukas: Injil lukas adalah injil terpanjang. Ajaran yesus sangat terpusat pada identitas dirinya. Isinya tidak perlu dibeberkan secara khusus. Tambahan daniel 2: atau kisah susana-daniel. yg disampaikan oleh seorang nabi yg sejaman dgn yeremia Zefania: kitab zefania adalah kitab yang berisi kutukan atau penghukuman2 atas banyak orang dalam hidup roang yehuda sebelum pembuangan. Injil ini sangat berbeda dari injil2 sinoptik tadi. Yunus: kitab yunus adalah sebua kitab yg berisi cerpen terkenal tentang seorang nabi yg mangkir dari tugasnya karena enggan menjalankan tugas itu. misalnya. dengan pahlawan daniel. Kitab ini adalah sebuah cerita pendek ala detektif. • • • • • • Isi masing-masing kitab perjanjian baru Injil mateus: Injil menurut mateus adalah injil yang memberi penekanan pada ajaran-ajaran yesus. yaitu satu abad sesudah masa nabi elia dan elisa. yg diduga dialami oleh org yg masih sejaman dgn yeremia. Tambahan daniel 3: atau disebut juga kisah tentang daniel dengan dewa bel dan naga babel. yg diselamatkan dari pelbagai tuduhan palsu berzinah. Kadang-2 disebut juga nyanyian 3 anak atau nyanyian tiga orang yahudi. sehingga ia pergi ke ninive dan berkotbah di sana. Injil markus: Injil markus adalah kitab injil yang paling pendek. Sebagian besar isinya mengandung warta bencana dan kutuk. sebab hampir tidak ada bagian dari injil ini yang tidak ada dalam injil2 yg lain. Misal: kisah kandang singa. sebagiaan besar dari apa yg ada dalam markus. di sana ada seorang perempuan yahudi bernama susana. Itu tidak mengherankan karena emreka punya perspektif dan sumber yang sama. Ini tidak ada dalam kitab protestan. dan orangnya disebut sinoptisi. dan kisah tentang perjalanan ke emaus ini. Sebagian besar perumpamaan tidak ada.. tetapi juga mengandung nubuat2 ttg masa depan yg berjaya-mulia tatkala allah akan “mencurahkan rohnya kpd segala bangsa. Disebut demikian karena ketiga injil ini kalau dilihat (optik) sekilas secara bersamaan (syn) akan tampak mirip satu sama lain.” • • 3 . Habakuk: kitab habakuk adalah kitab yang berisi nubuat2 tentang bakal terjadinya penghancuran yerusalem. Dari situlah keluar ucapan-ucapan sbb: “aku adalah……. Ini tidak ada dalam kanon protestan. mrk. Diduga ini adalah rangkaian nyanyian dan doa yang diucapkan 3 pemuda yg dilempar ke dalam tungku api pembakaran yang berkobar-2 tetapi mereka tidak terbakar. Zakharia: kitab zakharia adalah kitab yang mengandung ramalan2 yg diucapkan oleh seorang nabi yg masih sejaman dengan hagai di atas tadi. Tetapi kemduian ia dibebaskan lagi.Daniel: kitab daniel adalah kitab yg berkisah ttg kisah-2 dan penglihatan2.” Amos: kitab amos adalah kitab yang berisi nubuat yang disampai-kan nabi amos. Dua cerpen tentang betapa sia-sia dan absurdnya berhala-berhala itu dan juga tentng daya kekuatan allah israel. Kekhasannya ada dua: 1. luk) sering sekali disebut injil2 sinoptik. Injil yohanes: Injil yohanes disebut juga injil keempat. tetapi bernasib untung di pembuangan berkat kemampuan menafsirkan mimpi2 (spt yusuf). seorang nabi yang masih sejaman dengan hosea. seorang nabi yang masih sejaman dengan yesaya. Maleakhi: kitab maleakhi adalah kitab yg menyerang pelbagai macam pelanggaran yg terjadi pada komunitas jemaat sesudah pembuangan. dan dalam pelarian itu ia ditelan ikan besar di tengah laut. yg ikut dibuang. tungku api bernyalanyala. ditemukan lagi dalam mateus atau lukas. Isinya juga menyangkut pembangaunan dan pemulihan kembali komunitas umat pada masa sesudah pembuangan.

yang tampaknya diangkat paulus menjadi pemimpin di efesus. dalam pandangan si penulis surat ini. filipi: surat filipi adalah surat kepada orang kristen di filipi. mungkin dari lingkungan par amurid paulus sendiri. surat itu juga coba membujuk org-2 kristen di kolese utk tidak mengikuti satu sistem “filsafat” yang tidak sesuai dengan iman kristen. sperti halnya timoteus. galatia: surat galatia. ini khas. tetapi ia berkarya di kreta. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 4 . pada umumnya org menganggap bhw surat-surat itu meniru-2 gaya dan isi surat paulus yg asli. yg dikirimnya ke gereja yang tidak didirikannya dan tidak pernah dikunjunginya. yg terutama sekali berbicara ttg tema eskatologi (kongkretnya. inilah satu2-nya surat yg tidak dimulai dgn menyalami si penerima surat atas dan karna iman mereka. maju dan kompleks. yang ditulisnya di penjara. di sini paulus berbicara dengan nada marah dan benci terhadap apa yg oleh paulus lihat sbg kesalahan2 org galatia. ini adalah pengungkapan terpanjang lebar dari kristologi paulus (ajaran ttg kodrat serta martabat yesus). titus pun dinasihati paulus agar hidup sederhana dan bijaksana. yg dimaksudkan untuk diedarkan secara umum. juga sekaligus memberi tanggapan terhadap tantangan2 yg ada terhadap otoritas paulus sendiri. siapa dia? tampaknya ia adalah org yang punya peranan yg sama dengan peranan timoteus. surat-surat pastoral ketiga surat di atas tadi (1 dan 2 tim dan titus). jadi. Sebagai ilustrasi: lihat gambar-2 yg ada. 1 tesalonika: surat 1tesalonika mungkin merupakan surat paulus yg paling awal. yaitu tentang rencana allah bagi sejarah. ramai. rupanya saat itu ada yang pempersoalkan otoritas paulus. dlm artian yg kemudian dari jabatan & kata itu. tetapi umumnya diterima bahwa surat-surat ini berasal dari kurun waktu sesudah paulus wafat. Surat ini sbgn besar berbicara ttg bagaimana org kristen harus berhubungan dgn masyarakat di sekitar. yang di sana-sini tumpangtindih dengan kolose. berbicara tentang tema “pembenaran oleh iman. efesus: surat efesus adalah sebuah uraian sistematik tentang pelbagai tema teologis. sebuah kota pelabuhan besar. dengan jabatan hampir spt uskup.Kisah para rasul • • • • Sebenarnya ini adalah volume kedua dari injil lukas. 1 timoteus: surat 1 timoteus adalah surat yg berciri nasihat pastoral kepada timoteus.’ 2korentus: 2korentus adalah surat paulus kepada umat di korentus yg secara lebih lanjut berbicara tentang relasirelasi di dalam gereja korentus itu sendiri. umumnya disebut sbg surat-surat gembala atau pastoral. dan peranan yesus dalam mewujudkan jaman akhir itu). Di sinilah muncul ucapan terkenal dari paulus: ‘kebodohan allah adalah lebih bijaksana daripada hikmat manusia. Sebagian besar menyangkut hubungan org-org yahudi dan para bgs kafir di dlm gereja. mungkin aslinya surat ini adalah sebuah ensiklik. 2 timoteus: surat 2 timoteus adalah surat yang berisi nasihat lebih jauh tentang bagaimana harus hidup sebagai gembala dari satu komunitas jemaat kristen. nadanya pastoral spt paulus. Surat-surat paulus Roma: Ini adalah surat paulus yg terpanjang. ini adalah surat “pastoral” paulus yang paling lembut. perlu juga diketahui bahwa tidak semua manuskrip kuno menyebut surat efesus ini. seperti surat roma. Isinya terdiri atas kisah tentang sejarah gereja awal. di sana paulus coba mendorong orang kristen filipi agar hidup dalam ketaatan dan kemurahan hati. juga terkait dgn persoalan landasan bagi keselamatan – apakah karena ketaatan kpd hukum yahudi ataukah karena iman akan kristus? 1korentus: 1korenutus adalah surat paulus yg ditujukan kpd umat kristen di korentus. jadi. 2 tesalonika: surat 2 tesalonika adalah surat yg berisi uraian lebih lanjut tentang tema atau hal-hal eskatologis.” hanya bedanya. juga ttg bagaimana gereja harus menata urusan2nya sendiri. dan khususnya mengenai pelbagai karya dan perjalanan misi yang dilakukan paulus mengelingi atau di seluruh wilayah laut tengah. titus: surat kpd titus adalah surat yg ditujukan kepda titus. kolose: surat kolese adalah surat yg berisi kristologi paulus.

yudas: surat yudas adalah surat yg berisi pengutukan “kesalahan” dlm gereja. inilah surat yg paling bernada personal dari semua surat yang lain. tetapi ada juga yg tidak demikian surat yakobus: surat yakobus adalah surat yang berisi kumpulan dari ajaran-ajaran etis (yang dikaitkan dengan yakobus). suatu yang tidak biasa dlm surat2 paulus. kesalahan itu diancam dgn ancaman yg dilandaskan pd ide-2 eskatologis yg mirip dengan 2 petrus. misalnya. wahyu: kitab wahyu adalah kitab yang mengandung karya apokaliptik yg menyangkut jaman akhir dan peranan kristus dalam dunia baru itu yang akan menyusul jaman akhir tadi.• • • • filemon: surat kpd filemon adalah surat paulus yg ke-4 kepada sorang pribadi. dan pengharapan akan keselamatan. tema cinta yg harus ditunjukkan orang kristen kpd satu sama lain sbg tanggapan terhadap kasih allah kdp mereka. dalam hal ini. 1 petrus: surat 1 petrus adalah surat yg dicirikan oleh tema spt baptis dan kebakgitan.. justru karena tidak spesifik. yang melarikan diri itu. 2 yohanes: surat 2 yohanes adalah surat yang berisi peringatan melawan bahaya2 ajaran sesat. surat-surat katolik: kadang-2 surat mulai dari 1 petrus ke yudas (berarti ada 6 surat) disebut sebagai surat katolik atau surat-umum. ada beberapa manuskrip kuno yang menghubungkan surat ini dengan paulus. surat tadi mempunyai banyak kesamaan dengan surat yudas. atau bahkan kpd satu pribadi tertentu. 1yohanes: surat 1 yohanes adalah surat yg punya banyak kemiripan dgn injil yohanes. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 5 . 2 petrus: surat 2 petrus adalah surat yg hampir seluruhnya menaruh kepedulian pd tema eskatologis. 1 yohanes: slide berikut…. oleh karena itu. yang ditujukan kpd 1 komunitas jemaat tertentu. disebut demikian karena isinya ditujukan kepd semua org kristen pada umumnya. 3 yohanes: surat 3 yohanes adalah surat gembala yg bicara tentang masalah tata tertib pada masa gereja purba. hidup kristen. di sini ia berbicara tentang masalah budak. maka disebut umum atau katolik. di sana juga ada banyak perbincangan mengenai pelbagai teks dari pl. yaitu onesimus. yang diperlihatkan dalam dan melalui kristus. ciri ini sedemikian kuatnya sehingga org pernah menduga bhw mungkin aslinya karya ini adalah sebuah kotbah upacara liturgi baptis. ibrani: surat ibrani tampaknya adalah sebuah risalat yg berbicara tentang status yesus. ini berbeda dgn surat-surat paulus misalnya.

Dalam konteks ini ada tempat-tempat untuk menyimpan buku-buku. Dalam sistem yang terakhir ini masing-masing simbol melambangkan satu bunyi konsonan tertentu. Semua kitab dari PL ditulis dalam sistem alfabet baru ini. juga orang-orang yang melek huruf yang melakukan pekerjaan yang lainnya. Dari sistem ini kelak muncul sebuah sistem yang jauh lebih sederhana (tidak rumit seperti sistem simbol suku kata di atas tadi). Melek huruf tidak merata di semua kebudayaan kuno. dan kelak juga menjadi cikal bakal dari sistem huruf kita sendiri dewasa ini (Latin). kota kecil dan dusun-dusun. 22 huruf itu menjadi jumlah huruf yang standar dan mendasar. untuk menggantikan tulisan dengan sistem simbol suku kata ini. kitab-kitab biasanya dibuat dari papirus-papirus tersebut. Dalam sistem dan perkembangan yang baru ini ratusan simbol-bunyi dalam sistem cuneiform diganti hanya dengan 22 huruf saja. bahkan bagi kurun yang sangat dini ini. namun dunia Kitab Suci adalah dunia tulis menulis sudah sejak dari awal mulanya. itu bukan eksperimen yang baru muncul belakangan). Sistem ini sendiri. pada jaman itu. Dalam sistem ini tanda-tanda menggambarkan silabe atau suku kata. Paling tidak mulai dari jaman Raja Salomo (barangkali sekitar tahun 970 sampai tahun 930 SM). sebelum Israel ada. Abjad itu sangat membantu untuk membaca dan menulis. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa abjad adalah salah satu sumbangan terpenting dari kebudayaan Ibrani. Proses Menulis Kitab-kitab Aktifitas Menulis Dalam Dunia Biblikal Pertama-tama harus segera disadari bahwa adat kebiasaan menulis sudah ada di dunia Timur Tengah kuno jauh sebelum Israel ada sebagai sebuah bangsa atau negara (kerajaan). dalam perjalanan perkembangan tahun berkembang dan berubah-ubah dalam rincian gayanya tetapi boleh dikatakan bahwa ia tidak pernah menyimpang dari 22 huruf itu saja. Walau huruf sudah dikenal. Itulah yang menjadi alat tulis mereka. walau tentu saja hampir terlalu dini beberapa abad). dan kesempatan-kesempatan untuk mempersiapkan bahan-bahan tertulis (biasanya papirus). Ide mengenai buku-gambar mengenai Israel sebagai kaum badui (suku nomaden) yang mengarungi hidup nomadik di dalam kemah-kemah.Bab II. Perkembangan ini pada gilirannya mempunyai dampak yang sangat besar untuk aktifitas membaca dan menulis. orang-orang dan kebudayaan di kawasan Timur Tengah sudah mengenal huruf atau tulisan. bangsa Israel mengalami suatu eksistensi yang tenang tenteram. adalah sangat tidak benar menurut realitas historisnya. 22 huruf itulah yang menjadi pokok dari sistem alfabet baru ini. Untuk dapat memahami arti penting historis dari pernyataan ini mari kita lihat beberapa data berikut ini. dua huruf pertama dalam bahasa Ibrani dan juga kebetulan Yunani. Abjad sendiri adalah nama tiga atau empat huruf pertama dalam abjad Arab: Alif bata ja. Bahkan yang jauh lebih menggembirakan lagi. yang disebut cuneiform. Abjad itu adalah terjemahan versi Arab dari alphabet. tidak mampu mencatat apa-apa dalam bentuk tertulis. (sedangkan vokal tidak diberi tanda khusus). Aktifitas membaca dan menulis mejadi jauh lebih mudah. Tanda-tanda itu kemudian ditorehkan atau dicapkan pada papan-papan tanah liat dengan memakai semacam paku yang ujungnya tajam. Walaupun awal mula dari kebudayaan Ibrani ditetapkan sejak awal tahun 1700-an SM (itulah tanggal yang biasanya dianggap sebagai tanggal kelahiran Abraham. Itulah yang menjadi cikal-bakal dari alfabet Ibrani. Tetapi hampir di semua negara-negara mulai dari Mesopotamia ke Mesir terdapat para penulis profesional atau para penulis. (Jadi. di kota-kota besar. Besar sekali kemungkinannya bahwa beberapa bagian dari PL sudah sangat tua karena diduga berasal dari abad kesepuluh atau abad kesebelas SM – dan diduga bahwa teks yang tertua (teks puitis) 6 . Jadi. Kebudayaan Mesopotamia sampai pada milenium pertama SM masih memakai sistem tulisan atau huruf paku. Kaum Funisia-lah yang pertama kali mengembangkan sebuah sistem alfabet. tetapi itu tidak berarti tingkat melek huruf juga sudah tinggi atau merata. paling tidak mulai dari pertengahan milenium ketiga SM (sekitar 2500). aktifitas itu bisa dikuasai oleh semakin banyak orang. juga termasuk orang-orang yang bukan para penulis profesional. Sama sekali tidak.

Judul I dan II Raja tidak pernah dipakai dalam artian kepengarangan. Biasanya hal ini mau menyiratkan bahwa bagian selanjutnya dari surat itu dituliskan bagi dia (lihat 1Kor. Tampaknya jelas. Tetapi di dalam kisah mengenai kehidupan Musa dalam Kel.16…. dunia Kitab Suci adalah dunia tulis menulis dunia huruf.dalam Hak.. Hal ini biasanya dilakukan dengan maksud untuk mengesahkan surat itu (mungkin kegunaannya dapat disamakan dengan tanda tangan pada jaman modern dewasa ini yang biasanya dibubuhkan pada bagian akhir sebuah surat. buku yang mengumpulkan pelbagai macam ide. Gal. Oleh karena itu. dan juga dari latar belakang tempat yang berbeda 1 Ada fn. Dalam PL nama yang kini ada sebagai “judul” kitab. sementara Kej. adalah kumpulan bahana (composite). dan bukan kitab dari Ayub atau kitab oleh Ayub. (Jadi.6:11. tampak seperti sebuah buku kumpulan karangan.2:18-19 melihat manusia sebagai sudah diciptakan terlebih dahulu. bahasa Yunani dipakai di samping bahasa Latin juga. dan karena itu dalam sebuah artian yang jelas memang demikianlah juga halnya. Kitab Ayub adalah kitab tentang Ayub. Itu tidak lain karena sangat sedikit dari kitab-kitab itu yang merupakan sebuah teks yang sederhana sajayang disusun hanya oleh satu orang saja. Maksudnya. Pada pelbagai kesempatan Paulus juga menambahkan salam dari dia sendiri yang ditulisnya dengan tangannya sendiri. menyembah Allah dengan nama Ibraninya yang khas yaitu YHWH1 – pada jaman Enosh. Lima kitab pertama dalam PL (Pentateukh) sering disebut sebagai kitab Musa. lalu binatang-binatang diciptakan untuk menjadi pengiring bagi dia. diduga berasal dari pertengahan abad kedua (sekitar tahun 160 SM). tampak bahwa nama ini masih belum dikenal sampai saat Musa. yaitu kitab Wahyu. Bahkan dalam teks asli Yunani. Itulah jenis bahasa Yunani yang telah menjadi bahasa bersama (lingua franca) dari seluruh kawasan Laut Tengah. yang dibentuk dari bahan-bahan yang berasal dari kurun waktu yang berbeda. Bahasa Yunani yang dipakai para penulis PB untuk menuliskan kitab-kitab PB sebagian besar adalah bahasa Yunani sehari-hari yang dipakai oleh orang-orang terdidik pada jaman itu. paling tidak pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang masuk akal (sensible) dan koheren. masih menulis sesuatu dengan kabar kematiannya sendiri. sang cucuk Adam. Para penulis sering sekali memakai para penulis profesional untuk menuliskan kata-kata mereka. bagaimana Samuel yang sudah mati itu. Kej. Kitab-kitab itu tampak seperti sebuah antologi dalam dirinya sendiri. Keluaran. Tetapi dalam kitab-kitab itu tidak pernah ada dikatakan bahwa Musa adalah penulis atau pengarangnya. seperti kurang lebih yang tampak dalam bagian awal kitab itu..4:26 kita membaca bahwa “orang mulai memanggil nama TUHAN” – yaitu berarti. Sementara kitab yang paling muda ialah Kitab Daniel.. Hanya itu saja. Misalnya. Dulu orang berpikir (mungkin saat ini juga masih ada yang berpikir demikian) bahwa kitab ini berasal dari Samuel. Misalnya.16:22). Jelas ini hampir tidak mungkin. Siapa Penulis Kitab-kitab Suci? Sebagian besar kitab dalam Kitab adalah anonim.” saja.1:24-27. lalu dilanjutkan dengan upaya identifikasi alamat tujuan. dalam Kej. maka kita sedang menghadapi sebuah permasalahan yang sangat rumit. 2Tes. Ada begitu banyak kasus seperti ini dalam kitab suci sehingga para ahli pada umumnya telah menyimpulkan bahwa Kitab Kejadian. termasuk juga Italia.1:1-3: “. Walau tidak ada petunjuk bukti yang cukup untuk yakin akan hal itu. maka kita harus melihat kitab suci itu sebagai sebuah produk dari para penulis yang ahli (terlatih).34:11-26. Itu hanya pernyataan tentang pokok yang dibahas di sana. Begitu juga dengan 1 dan II Samuel. tanpa kata Injil sama sekali (kata Matthaion. itu tidak berarti bahwa teks itu dikarang oleh orang yang namanya disebut di sana. kita cenderung menganggap Kitab Kejadian sebagai kitab pertama dari Kitab Suci. Ini hanya mungkin kalau dikabarkan oleh orang lain yang bukan Samuel sendiri). kalau ada nama disebut pada awal. Sebab tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini.6:2-3. sebab isinya antara lain ialah kabar tentang kematian Samuel. kata Markon). Sementara itu sebutan injil untuk keempat injil itu hanya muncul pada judul saja. Kecuali surat-surat Paulus yang dimulai dengan menyebut namanya. untuk bertanya dalam tata urut apa atau dengan tujuan apa mereka menulis karya-karya mereka itu – dan biasanya paling tidak adalah sebuah jawaban yang jelas yang dapat diajukan dan dapat diterima juga (masuk akal).. Misalnya.. Kol. dan dunia kitab-kitab. dengan karya-karya dari pengarang manapun juga. Hal ini dengan sangat mudah dapat dilihat dalam beberapa inkonsistensi di dalam sebuah kisah yang sedang dikisahkan. Sebab dalam 2 ayat berikutnya memang dikatakan demikian dalam kitab itu sendiri.4:18. mengandung bagian-bagian yang berasal dari kurun waktu yang sangat berbeda. Tetapi masih ada alasan yang lebih jauh lagi mengapa kita sulit menentukan atau menetapkan siapa yang menulis kitab-kitab biblis itu. 7 . Pada saat itu sudah terdapat banyak para penulis profesional dan para penerjemah. Mungkin tidak semua orang sangat sadar akan hal ini. Terutama di Italia.. Semuanya dapat dibandingkan dengan para penulis lain dari dunia kuno maupun dunia modern dewasa ini. Demikian juga halnya.. Dunia Laut Tengah pada jaman Yesus bahkan sudah mempunyai perpustakaan. Tetapi kitab Kejadian. kata Loukan. ditulis atau dikarang oleh Samuel. Tetapi kalau kita bertanya apakah kitab itu juga yang merupakan kitab pertama yang ditulis. Sebutan itu tidak berarti bahwa keduanya menulis karya itu. Perjanjian Baru semakin lebih jelas lagi merupakan hasil dari sebuah kebudayaan tulis menulis. menyatakan bahwa binatang-binatang diciptakan sebelum manusia.. Misalnya.” Ada juga teks PB lain yang dimulai dengan menyebut nama pengirimnya.p. dan sebagian besar kitab-kitab yang lain dalam PL. 1Kor.3:17). bukanlah sebuah ketetapan sebagai pengarang. untuk dapat memahami kitab Suci. buku yang mengandung dan menyimpan banyak kutipan-kutipan. Surat Paulus kepada jemaat di Roma mengandung sebuah salam dari sekretaris atau amanuensis Paulus yang bernama Gayus (Rom. yaitu kepada siapa surat itu dikirim. sebagai misal yang kedua. Secara formal kitab ini sebenarnya juga adalah serangkaian surat-surat. pada satu kurun waktu tertentu. ditugaskan untuk menyingkapkan nama itu kepada sesama kaum bangsanya Israel.. Juga tidak berarti bahwa kedua kitab itu adalah milik Daud dan Salomo. yaitu Kel.5 biasanya dianggap sebagai teks yang paling tuu dalam kitab suci.16:21. Paling banter hanya bisa dikatakan bahwa Musa menulis beberapa bagian saja dari kumpulan kitab itu. dikatakan hanya “menurut. Ya. sering sekali dalam bentuk ringkasan atau bentuk singkat (semacam teknik steno). Begitu juga dengan Mazmur Daud dan Amsal Salomo. dan banyak kitab-kitab biblis yang lainnya. toko buku.

memakai bahan yang diturun-alihkan secara lisan. “Mengapa engkau menyebut Aku baik?” (Mrk. Maka dapat disimpulkan bahwa tanggal dan kebenaran dari kandungan Injil merupakan satu persoalan yang sangat rumit dan berbelit-belit. Injil-injil Semua keempat injil mengisahkan cerita yang sama. Kalau hal ini benar berarti para penulis Injil banyak menimba dari kandungan ingatan lisan. Aktifitas mempelajari Injil-injil Sinoptik akan menuntun ke suatu pemahaman yang lebih jauh. muncul dalam tahap yang sangat dini dalam sejarah gereja. Boleh jadi hal-hal itu telah disimpan dan dilestarikan dengan baik dan dengan setia dalam pelbagai dokumen. Menurut salah satu mazhab pemikiran.Brown. lalu disalibkan. Dan hipotesis yang paling baik untuk menjelaskan hal itu kiranya ialah ada suatu derajat kesaling-tergantungan di antara mereka. tugas seleksi. Bahkan boleh jadi bisa juga dikatakan bahwa pekerjaan seperti itu adalah tidak mempunyai arti sama sekali. dimakamkan. walaupun tidak semua. Itu di satu pihak. atau juga dalam Mrk dan Luk? Ketika Yesus ditanya. dan Lukas. dan boleh jadi banyak juga dari bahan itu yang memang sudah berasal dari para murid Yesus sendiri yang pertama.10:18) atau “Mengapa kau tanya Aku tentang apa yang baik?” (Mat. atau anekdotanekdot tentang Dia. Kalau hal ini benar demikian mengenai semua atau sebagian besar kitab dalam Kitab Suci. yang membuatnya bahkan lebih sulit lagi untuk mencoba menetapkan tanggal dari kitab-kitab biblis itu. tetapi lalu dibangkitkan dari antara orang mati. dan tugas kompilasi yang kiranya berarti bahwa tidak ada satu pun dari Injil-injil sudah selesai disusun sampai sekurang-kurangnya 30 atau 40 tahunan setelah wafat Yesus – walau sebagian besar dari bahan yang terdapat di sana tentu saja sudah sangat dini usianya. (Salah satu ahli seperti ini kiranya ialah Raymond E. maka tidak ada seorang “pengarang” bagi kitab Kejadian sama sekali kalau dilihat dari artian kata itu menurut pemahaman modern. tetapi sesungguhnya praktek seperti itu masih terjadi. Di antara para Sinoptisi. ternyata injil-injil itu sering sekali bertentangan satu sama lain.2:13-20). Dengan 8 . tetapi dokumen itu kini telah hilang. ketika mulai menulis. Dengan menghafal orang mengingatnya. mengajar dan menyembuhkan. Tugas menyusn sebuah buku dari bahan yang sudah terlebih dahulu ada tampaknya merupakan sesuatu yang asing bagi sebagian besar orang modern. seperti yang ada dalam injil Yohanes itu? Upaya untuk menguraikan beberapa dari permasalahan ini telah mengarah ke sebuah kesepakatan bahwa Yohanes agar sedikit berbeda dari Injil-injil Sinoptik yang lain. yang secara faktual memang benar.12:12-13. sampai ia ditemukan oleh para penguasa Jerman pada tahun 1944 dan dikirim untuk dihukummati di Bergen-Belsen. jadi sekitar 40-an sejak dari masa hidup Yesus sendiri. bedanya kini orang menghafal dari bahan tertulis). Itu sangat jelas. ataukah terutama tentang status dan tempatNya sendiri dalam rencana Allah bagi dunia. Sebagaimana yang baru saja telah kita lihat. para murid Yesus sendiri dulu sebenarnya menuliskan ucapanucapan Yesus. seperti dalam Mateus. Dan dokumen-dokumen itu sendiri pasti jauh lebih tua dari pada Injil-injil sebagaimana yang kita punyai sekarang ini. ataukah menjelang akhir karya Yesus seperti dalam Mat. dan mewariskannya juga secara lisan. maka hal penetapan tanggal penulisan kitab itu dan menyusun mereka dalam suatu tata urut kronologis tidak hanya menjadi suatu pekerjaan yang sangat sulit. mulai dari tugas pengumpulan.pula. seorang gadis Yahudi yang hidup di dalam tempat persembunyian dengan keluarganya di Amsterdam selama dua tahun. katakanlah pada tahun 70 M. (Secara teknis hal ini dikenal dengan sebutan Ipsissima verba Iesu Christi). yaitu. Yesus Yang Dewasa Pada Masa Natal. sehingga para penginjil atau para penulis Injil hanya mengambil bahan yang pada saat itu dianggap otentik. mereka tidak mengambil dari sumber-sumber bahan tertulis. bersama dengan kumpulan ucapan-ucapan Yesus yang secara konvensional dikenal dengan sebutan teknis Q. kemudian bagaimana Ia ditangkap oleh para penguasa dan diadili. Markus. Beberapa kritikus berpikir bahwa kisah-kisah Kelahiran dalam Lukas 1-2 merupakan salah satu contoh dari hal ini – yaitu legenda-legenda yang disusun dengan dan atau berdasarkan prinsip kesejajaran dan analogo dengan kisah-kisah Perjanjian Lama tentang para tokoh pahlawan besar. para ahli PB percaya atau beranggapan bahwa Markus adalah Injil pertama yang disusun – tetapi ia injil itu disusun si penyusun dengan memakai bermacam-macam bahan yang sudah dikumpulkan terlebih dahulu oleh orang-orang lain! – dan bahwa Mateus dan Lukas sama-sama memakai Markus 9dalam beberapa bentu atau lainnya). apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Salah satu contoh yang baik ialah buku harian dari Anne Frank. The Birth of Messias itu).19:17)? Atau jauh lebih penting lagi. Tetapi ketika kita mencoba mempelajari detail kisah itu. tanggal dari sebuah Injil tidak mutlak perlu sama dengan tanggal dari bahan yang terkandung di dalamnya.. boleh jadi memang ada ucapan-ucapan dari Yesus. Tetapi kalau memang demikian duduk perkaranya. apakah Yesus terutama mengajar tentang bagaimana orang harus hidup. yang ada hanyalah seorang penyusun yang menggambungkan bahan menurut rencana dan kehendaknya sendiri. Beginilah caranya para penerjemah dari edisi 1997 dari buku harian itu mencoba melukiskan tahap-tahap yang telah dilewati oleh The Diary of a Young Girl itu. menyimpannya. Hal ini menyiratkan suatu tugas yang mempunyai beberapa komponen pentahapan di dalamnya. tidak mudah untuk ditetapkan. dan tidak dalam bentuk tulisan. Paling banter. Di pihak lain. apakah “pembersihan Bait Allah” terjadi pada awal karya publik Yesus (Yoh. melainkan menjadi suatu tugas yang tidak mungkin dilakukan sama sekali. Mereka menampilkan kisah tentang bagaimana Yesus dari Nazaret mengumpulkan murid-mjurid. sebab bahkan dalam sebuah Injil yang ditulis. sebuah ruang rekam data. Hal ini tentung saja mengandung persoalan tertentu. dari mulut ke mulut. Kiranya hal ini tidak usah mengherankanjuga karena diyakini bahwa orang-orang dalam kultur tradisional dulu mempunyai kemampuan tinggi untuk menghafal (dewasa ini juga masih ada. (Masalah Tradisi Lisan) Boleh jadi para penginjil. yang dalam faktanya sesungguhnya tidak mempunyai dasar sama sekali dalam sejarah. Dia ‘kan menjawab. yaitu dengan cara bercerita dan bercerita kembali. ada banyak bahan yang dimiliki bersama dan juga ada banyak perbedaan-perbedaan. Sebagian terbesar. atau masih terus dilakukan juga. “Guru yang baik. apa yang sesungguhnya dulu telah ia katakan atau lakukan. Misalnya. yang digabungkan dengan pemakaian secara bersama-sama dokumen-dokumen atau kumpulan-kumpulan ucapan Yesus yang sekarang ini sudah hilang. pada dasarnya bisa saja ada bahan di dalam Injil-injil yang dikumpulkan sendiri oleh para penginjil itu dari kumpulan-kumpulan lain atau catatan-catatan.

mula-mula kisah itu dikisahkan oleh mereka telah mengenal Dia dan kemudian oleh mereka-mereka yang telah mengenal orang-orang yang telah mengenal Yesus tadi. Cara atau jalan yang paling baik untuk menjelaskan hal ini kiranya ialah bahwa kita harus membayangkan kedua penginjil yang sedang disinggung itu sebenarnya mempunyai agenda yang berbeda di dalam gereja atau komunitas jemaat mereka sendiri. Sosok Yesus versi Lukas dalam beberapa segi yang penting berbeda dari sosok Yesus versi Mateus. ruang pelajaran. ibadat gereja itu dipandang sebagai kesempatan utama dalam mana mereka mencoba menurun-alihkan ajaran-ajaran yang ada pada mereka. Mungkin untuk menjelaskan hal ini. Dalam tradisi lisan. Barangkali setiap minggu sebuah kisah tentang Yesus dikisahkan kepada orang-orang Kristiani yang berkumpul untuk beribadat. ditambahkan komentar dan sisipan di sana-sini. melainkan kisah yang harus relevan dengan situasi sekarang dan di sini. Maka dengan demikian masalah menyangkut kapan dan bagaimana Injil-injil ditulis ternyata merupakan suatu masalah yang sangat rumit dan pelik. masalah yang berbeda yang dihadapi dan ancaman-ancaman bahaya yang berbeda yang juga harus mereka hadapi. dan peluasan cakrawala makna. berbelit-belit. Jadi. Seluruh mazhab studi dan penelitian ilmiah PB – kritik bentuk atau form criticism – menerima begitu saja sebagai benar satu fakta bahwa ucapan-ucapan dan kisah-kisah Injil diturun-alihkan secara lisan. komunitas itu bukanlah komunitas yang diam. kepada siapa kisah itu dikisahkan. terutama mereka yang bertugas untuk bercerita. turut juga membentuk kisah itu dan terutama turut menentukan bagaimana bentuk kisah itu akan diteruskan nantinya. (kritik bentuk) (Lihat juga pedoman Vatikan itu. Diduga bahwa injil-injil bersandar pada aktifitas menghafal seperti itu dan di situlah letak permasalahannya. Dan itulah yang menjadi segi keuntungan dan segi positif dari bahan tertulis. kisah tadi mendapat unsur dan dimensi baru. melainkan komunitas yang partisipatif dan formatif. kisah-kisah mengenai konflik Yesus dengan para lawannya di dalam Yudaisme perlahan-lahan menjadi semakin tajam dan tajam dan juga keras (kasar) terutama ketika Gereja semakin menyadari bahwa ia berada dalam suatu keadaan yang ditandai oleh pertakaian yang semakin sengit dengan orang-orang Yahudi yang lain. tatkala mereka menceritakan kembali cerita-cerita itu. ada baiknya saya mengemukakan beberapa contoh sebagai ilustrasi. karena ada proses distansiasi seperti dikatakan oleh Gadamer itu). Dan pertikaian itu akhirnya berbuntut pada penyingkiran orang-orang Kristiani itu dari ikatan komunitas Yahudi sama sekali. Justru karena hal itu maka mudah sekali diubah. Yang jelas. juga DV) Di pihak lain. (Artinya. dan REB). Kisah dari masa lalu tidak lagi dikisahkan sebagai sebuah kisah yang bebas nilai. Maksud atau tujuan dari semua aktifitas ini kiranya tidak lain ialah untuk meneruskan dengan sesungguhnya apa yang telah dikatakan oleh Tuhan sendiri. Tetapi untuk menyederhanakan tampang permasalahan 9 . ialah “redaktor. kalau bahan-bahan dalam Injil-injil sudah berubah dan berkembang sebelum para penginjil menemukan dan memakai mereka. Yesus bersikap cukup longgar terhadap hukum Musa. kiranya lebih memantulkan atau mencerminkan konflik yang lebih kemudian ini daripada perlawanan terhadap para penguasa Yahudi yang dulu sebenarnya telah dilakukan atau diperlihatkan oleh Yesus sendiri. ruang sekolah menghafal. Komunitas pendengar. melainkan pemaknaan.demikian cerita menjadi ruang didik. Misalnya. (Saya ingat akan adik saya Hubertus yang diajari ilmu mbeko oleh kakek dari pihak ibu.” Dan studi atau kajian mengenai apa yang telah dilakukan atau dikerjakan oleh para redaktor itu dikenal dengan sebutan teknis “redaction criticism. tetapi sangat menaruh kepedulian pada orang miskin dan kelompokkelompok yang malang di dalam masyarakat. Tetapi sedikit demi sedikit kisah-kisah itu mengalami perkembangan dan perubahan. Yesus sendiri dulu memang sudah melakukan perlawanan terhadap orang-orang Yahudi. Lukas dan Yohanes sebagai para redaktor dan menyebut mereka sebagai para pengarang. Sedangkan dalam Mateus. Dan salah satu kesempatan untuk melakukan tugas penurun-alihan itu ialah ibadat gereja. penyimpangan dalam proses transmisi itu sendiri. Dan dengan cara itu kita dapat menelusuri kembali ke belakang dan bisa sampai ke suatu presentasi yang lebih otentik akan Yesus dan akan ajaranNya dari pada ajaran yang yang kini sudah terkandung dalam injil-injil yang kita miliki. Tetapi itulah juga yang merupakan peluang hermeneutik untuk memperkaya makna. Jadi. dan mengenai “orang-orang Yahudi” pada umumnya dalam Injil Yohanes. dll). Dengan cara itu ia mendapatkan relevansi dan aktualitasnya. Yaitu. Istilah teknis yang biasa dalam studi-studi kitab suci bagi seorang penyusun yang melakukan perubahan kreatif terhadap bahan yang telah ia dapat sebagai warisan dari tradisi. sebab masing-masing penulis mengadaptasikan bahan yang telah ia terima dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga ia mampu memasukkan cap dan ciri-coraknya sendiri ke dalam bahan yang sedang ia kerjakan itu.” Para ahli kritik redaksi. mengatakan bahwa mereka sendiri juga memberi banyak sumbangan tersendiri dalam seluruh proses itu. sebab di dalam proses penceritaan ulang itu. (Ini suatu mata rantai pengenalan terus menerus). Tetapi.” atau “kritik redaksi. dan DV. mereka menghafal dari sumber yang tidak tertulis. sampai sejauh tertentu kita bisa merekonstruksi proses berlangsungnya perkembangan ini. dengan ritualnya di waktu malam ketika semua orang sudah tertidur). Ia justru mengintensifkan kekerasan dan keketatan hukum itu sendiri. maka kita harus membiarkan munculnya suatu kemungkinan bahwa mereka sendiri memang telah melakukan perubahan-perubahan yang sadar dan sengaja – yaitu bahwa mereka sendiri lebih dari sekadar para penyusun saja. Barangkali tidak ada banyak perbedaan sebenarnya antara menyebut Mateus. Misalnya. Armstrong. (Ibadat menjadi semacam ruang kelas. Dan memang seharusnya demikian adanya. (Mungkin bukan penyimpangan. Dan orang yang bertanggung jawab atas terjadinya hal itu ialah komunitas Kristiani itu sendiri. menghafal adalah sulit untuk melihat bahwa tradisi itu bisa menghindar atau terhindar dari perubahan. Itulah semua hal yang harus mereka ingatkan terhadap para pembaca mereka masing-masing. sudah mengecam para ahli taurat dan orang-orang Farisi. dalam Lukas. (Kritik Redaksi) (Lihat dari Pedoman Vatikan itu. Tetapi perlawanan itu tidaklah sekeras seperti perlawanan yang tampak terekam dalam injil-injil sekarang ini. (Baca REB. maka kiranya mereka telah menyesuaikan kisah-kisah tadi dengan kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan-permasalahan mereka. walau sepenuhnya sadar bahwa para penulis Injil tidak menyusun bahan mereka secara bebas tetapi mempunyai sumber-sumber tertentu (entah itu tertulis maupun lisan). Bahan lisan itu sulit dicek ulang perihal benar dan salahnya. dan lebih menaruh kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah di dalam Gereja. Markus. Pelukisan mengenai “ahli-ahli taurat” dan “orang-orang Farisi” dalam Injil-injil. sekolah iman). yang lebih memantulkan konflik dan pertikaian di kemudian hari hari pada konflik yang terjadi pada masa Yesus sendiri). SG.

dan dalam Versi Terjemahan berwibawa hingga saat ini. 1 dan 2 Korintus.ini. dan tidak satu pun tanggal yang ditetapkan ini dapat menggambarkan suatu titik yang serba pasti dan jelas. Petrus dan 10 . maka untuk beberapa bagian daripadanya boleh jadi sudah ada dan ditulis sejak sangat dini. 1 dan 2 Timotius. Surat-surat yang lain di dalam PB untuk sebagian terbesar juga bersifat pseudonimus juga. yaitu mungkin sudah sejak jaman Yesus sendiri. Surat-surat Surat-surat (epistola) dalam PB mempunyai satu persoalan yang sangat berbeda lagi. Dan pseudonimitas itu adalah sulit untuk dipahami dalam suatu kebudayaan modern seperti kita dewasa ini (karena terpaut suatu jarak ruang dan waktu yang sangat jauh). Pertanyaan mengenai bagaimana. kalau ternyata mereka memberitahukan nama penlisna.” satu batang tubuh tradisi yang telah diturun-alihkan Paulus ke atas para pemimpin dan yang harus mereka pertahankan – itulah sebuah ide yang khas ada pada para penulis abad kedua tetapi tidak secara jelas berasal dari Paulus itu sendiri. tetapi boleh jadi juga tidak lama sesudahnya. sebagaimana yang telah kita lihat. Aktifitas ini bukan sekadar merangkum dan merangkai bersama-sama semua jenis informasi yang terlepas-lepas (framentaris) dan membentuknya sedemikian rupa sehingga bisa membantuk satu tatanan keseluruhan yang rapi teratur. pemakaian nama-nama orang lain adalah suatu masalah yang jauh lebih halus: ada hal-hal yang absah dan tidak absah. Dan titik akhir ini dapat ditetapkan secara garis besar saja untuk masing-masing injil. yaitu Ibrani. Galatia. Begitulah duduk perkaranya. yang menetapkan banyak tolok ukur dalam proses otentikasi dokumen-dokumen. Dan kalau beberapa di antara bahan itu diturun-alihkan secara lisan. tetapi sesungguhnya mereka berasal dari seorang pemimpin generasi kedua di salah satu gereja-gereja yang memang telah didirikan oleh Paulus. 60 atau bahkan 70 M. Surat kepada Jemaah di Efesus secara luas dianggap sebagai semacam surat ensiklik. surat kepada orang-orang atau jemaat Ibrani. dan tampaknya menyimpang jauh dari integritas religius dari karya-karya yang sedang dibicarakan itu. maka kadang-kadang mereka juga tidak sedang menyampaikan kebenaran. karena bahan itu secara perlahan-lahan dan secara bertapa dibentuk dan diubah dalam perjalanan dan perkembangan waktu. 1 dan 2 Tesalonika. kitab-kitab bilis tidak menyampaikan kepada kita siapa yang menulis kitab-kitab itu. Sesungguhnya juga penyebutan kata “surat” sebagai nama atau sebutan baginya boleh jadi juga merupakan sesuatu yang asing bagi sifat atau ciri-corak dan isi surat itu. seperti juga dalam pelbagai versi terjemahan modern lain. Beberapa pakar juga meragukan otentisitas Kolose. boleh jadi sebelum jatuhnya kota Yerusalem kepada orang-orang Roma pada tahun 70-an (Armstrong itu). Itulah beberapa contoh kasus pseudonimitas dalam surat-surat PB. Sebagian besar para kritikus sepakat bahwa Surat-surat Pastoral – yaitu 1 dan 2 Timotius dan Titus – memang memakai nama dan kewibawaan Paulus. tanpa menyebut Paulus sebagai asal atau penulisnya). baik untuk membangun komunitas jemaat (gereja) di tempat-tempat di mana injil belum diwartakan atau membangun gereja yang telah ia sendiri dirikan dalam sebuah perjalanan yang terdahulu. maka penetapan tanggalnya kurang-lebih ditetapkan secara arbritrer begitu saja. Dari kisah para Rasul kita tahu. Efesus. dan kita bisa saja mengatakan dengan suatu tingkat keabsahan yang sama bahwa ia berasal dari tahun 40-an. ada yang masih menyebutkan demikian: “Surat Rasul Paulus kepada orang-orang Ibrani. Kalau surat-surat Paulus yang asli berasal dari kurun waktu hingga tahun 60an M. kita dapat mengatakan bahwa tentu saja seluruh proses itu pasti sedang menuju ke suatu titik akhir atau titik tujuan tertentu – itulah titik sesudah mana Injil itu tidak akan diedit lagi lebih jauh. Dalam dunia kuno. Aktifitas menulis surat adalah perkara menyampaikan satu pesan dengan satu cara yang sedapat mungkin sangat jelas. banyak orang di dalam Gereja purba beranggapan bahwa surat kepada umat Ibrani itu ditulis Paulus. kecuali hanya satu surat yang tetap anonim. Dan Origenes. Jadi. yaitu yang bernama Apollos. memang benar demikian adanya. 50an. Ada sebuah anggapan atau spekulasi yang sudah tua usianya bahwa sang pengarang adalah sang penginjil Lukas. Boleh jadi surat ini adalah lebih merupakan sebuah risalat pendek daripada sebuah surat. dan kapan. yang erat sekali terkait dengan Efesus dalam temanya (antara lain tema kenosis itu). Dokumen ini juga – bersama dengan surat-surat Yohanes. yaitu paruh kedua dari abad pertama atau bahkan sudah mulai memasuki abad kedua.. Sebagaimana yang akan kita lihat. Titus. bahwa ia menempuh beberapa perjalanan mengelilingi kawasan Laut Tengah. Tetapi kalau dengan tanggal penulisan itu kita maksudkan tanggal saat mana bahan itu pertama kalinya dituliskan. Sebagian terbesar. Kita akan kembali ke ke pokok ini dalam bab berikut. dan dari siapa para pemimpin (Uskujp) mendapatkan kuasa atau otoritas mereka. Markus adalah injil yang pertama yang telah diselesaikan. Dan ada sesuatu yang dapat disebut “iman. Praksis liturgi gereja Katolik: lektor hanya membaca demikian. termasuk dalam tahap ketika surat-surat Paulus sedang dikumpulkan untuk membentuk satu rangkaian atau kumpulan (lihat Bab 3 nanti). surat-surat Paulus akhirnya ditulis pada dasarnya tidak terlalu sulit (walau sebenarnya kita kadang-kadang kekurangan informasi historis yang perlu untuk dapat membuat kita merasa yakin dan pasti). sudah melihat bahwa gayanya sangat berbeda dari gaya-gaya surat-surat Paulus yang lainnnya sehingga tidak mungkin bahwa surat itu berasal dari dia. belum tentu apa yang mereka sebutkan di sana sebagai penulis surat. Kolose. tetapi dalam kesempatan lain yang sangat jarang. Di dalam mereka (surat-surat Deutero itu) Paulus telah menjadi tidak hanya pendiri gereja-gereja melainkanjuga merupakan orang yang memberi mereka bentuk dan tatanan. Roma. karena ia tampak memperdaya. dan juga sesungguhnya dari surat-surat Paulus sendiri. Inilah yang mau kita lihat dalam bagian berikut ini. ia sudah berhenti. Tetapi dengan surat-surat inilah kita menghadapi masalah yang secara teknis disebut pseudonimitas. tetapi pada waktu-waktu yang belakangan ini ada pakar lain yang mengusulkan bahwa sang pengarang adalah sahabat dan teman sekerja Paulus. Mateus dan Lukas berasal dari suatu dasawarsa kemudian. Aktifitas menulis sebuah surat adalah sebuah proses yang berbeda dari aktifitas mengumpulkan sebuah kisah historis. maka surat-surat Deutero-Paulinian diduga berasal dari suatu kurun waktu yang jauh lebih kemudian. atau mungkin lebih kemudian juga – paling tidak demikianlah anggapan umum yang disepakati oleh para pakar PB.” (fn: terjemahan Indonesia: didaftarkan di bagian akhir dari surat-surat Paulus. Dengan cara merangkai dan mengumpulkan serta menyatukan indikasi-indikasi historis baik dalam Kisah maupun dalam surat-surat. Filipi. walau menjelang bagian akhir (lihat 13:22) sang pengarang memakai beberapa konvensi dari sebuah surat. maka adalah mungkin untuk menetapkan suatu tatanan kronologis yang mungkin bagi surat-surat itu. Filemon. seorang teolog dari awal abad ketiga (sekitar 185sekitar 254). Tetapi surat itu sendiri sesungguhnya tidak dimulai dengan nama salah satu pengarang atau penulis tertentu.

Sementara 2 dan 3 Yohanes tampak sebagai benar-benar surat. jauh lebih besar dan lebih panjang lagi dibandingkan dengan rentang waktu seluruh proses PB itu. yang lain-lainnya tampak mengadopsi bentuk surat secara artifisial. Nah. Maka dalam bagian berikut kita akan mencoba melihat beberapa contoh insight dari perjanjian lama itu sendiri. dan juga bisa dengan sangat kuat menarik perhatian mereka. Factor kedekatan histories itulah yang bisa menjadi sebuah alasan yang sangat kuat bahwa suatu teks tertentu bisa mempunyai tempat kedudukan yang penting dan istimewa bagi orang Kristiani. Sejak saat itulah ucapan-ucapan lisan tadi mulai mengambil bentuk buku. demikian misalnya orang-orang seperti Yesaya. Padahal Amos (yang memang berasal dari selatan) tetapi berkarya sebagai nabi di utara. Bahkan kedua nama yang terakhir adalah juga imam (fungsi ganda). keragaman gaya dan jenis sastra PL erat terkait dengan fakta sejarah bahwa seluruh proses PL itu sendiri mencakup rentang sejarah yang teramat panjang. pusat agama Kristianitas itu sendiri). entah secara lisan maupun secara tertulis. dan kemudian mereka meneruskan hal-hal itu. kitab para nabi merupakan tempat titik berangkat yang baik. maka pertanyaan kita selanjutnya ialah bagaimana akhirnya kita saat ini bisa memiliki kitab-kitab para nabi itu? Bagaimana kita dapat memiliki kitab-kitab para nabi itu. yang ditujukan kepada atau menyapa satu situasi konkret (suatu keretakan di dalam tatanan gereja). nubuat itu berbicara mengenai pemulihan dari sebuah dinasti di kerajaan Yehuda. Sedangkan yang lain. Sedangkan Yesaya adalah nabi dari kalangan Istana dan berkarya di bait Allah di Yerusalem. (kasus Amos) Tetapi dalam proses penerusan (transmisi) itu terjadi sangat banyak perubahan dan pergeseran dalam teks lisan itu sendiri. tampaknya hampir tampak terlalu rumit dan repot kalau kita berbicara ataupun berdebat mengenai apakah sebuah dokumen PB tertentu memang berasal dari tahun 50. perbedaan dalam rentang kurun waktu menjadi relative. Jika demikian duduk perkaranya. Kalau kita membuat suatu perbandingan antara tulisan PB yang paling awal atau dini (yaitu 1Tes) dan bahan-bahan yang jauh lebih belakangan (seperti Titus atau 2Petrus) maka kita dapat merasakan dan melihat perubahan atau pergeseran besar itu. Ada beberapa kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan itu. Para nabi kiranya sebagian besar adalah orang-orang yang sudah melek huruf (tidak hanya secara literal saja melainkan juga sudah sampai pada tahap fungsional kreatif). dan diperintah oleh seorang raja yang bernama Usiah. Sebagaian besar para ahli mengatakan bahwa boleh jadi salah seorang murid sang nabi dari jaman 11 . dan Yeheskiel. sampai akhirnya muncul sebuah kitab yang merupakan kumpulan dari ucapan-ucapan dari sang nabi tertentu. Menetapkan tanggal penulisan Perjanjian Lama Dari sudut pandangan dunia dan jaman modern dewasa ini. Maka apa yang dapat disimpulkan dari fakta anakronistik ini? Hanya satu hal saja. yaitu di Samaria. (Bdk… tulisanku di Melintas dan Wacana Biblika itu nanti. yang sudah merentang 2000-an tahun sejak masa-masa awal sejarah Kristianitas. Untuk membuktikan hal itu baiklah kita melihat beberapa contoh. apa pun yang menjadi fakta kebenarann yang sesungguhnya. dia merupakan sebuah kerajaan yang makmur dan jaya. Ketika Yeremia diberitahu oleh Allah untuk meminta agar sang sekretarisnya. Para Nabi Pada umumnya para ahli PL berpendapat bahwa sehubungan dengan hal ini. hal yang lebih penting yang dapat ditarik dari kenyataan ini ialah bahwa teks itu mengandaikan dinasti Daud itu memang sudah runtuh. atau bahkan 90-an Masehi. Namun demikian. Inilah satusatunya nubuat dalam kitab Amos yang mewartakan berkat – padahal warna dasar seluruh kitab itu adalah suram karena ia menyampaikan kutuk dan warta celaka belaka. Yeremia. Dengan kata lain.Yakobus – adalah dokumen dari generasi kedua. Tetapi tentu saja bisa terjadi suatu perubahan atau pergeseran besar dalam rentang kurun waktu 40 atau 50 tahunan. Diduga mereka menyampaikan semuanya itu secara lisan saja kepada para pendengarnya. dinasti Daud belum binasa sebagaimana diandaikan oleh teks itu. (Justru karena sudah runtuh maka sekarang dinubuatkan bakal bangkit kembali. Jawaban yang biasa atau umum adalah bahwa para murid dari para nabi itu menghafalkan banyak atau sebagian besar dari ucapan sang nabi. Kitab Amos misalnya. jika dibandingkan dengan karya-karya Paulus sendiri. MIsalnya. kalau dilihat dari kaca mata kita sekarang ini. Bahkan ada juga yang hilang ditelan kegelapan sejarah. tokoh) yang kalau diteliti dengan baik terbukti bersifat anakronistik. Kerajaan Yehuda itu sedang mencapai salah satu titik puncak kejayaannya. Ini tampak menjadi sebuah kekecualian belaka. 70. menuliskan semua nubuat-nubuatnya (Yer. ada acuan-acuan (sejarah. karena sudah terendapkan dalam rupa sebuah kitab. semua karya-karya ini cukup dekat dengan Yesus sendiri (pokok. kalau sekarang kita kembali ke PL. tempat. Bahkan beberapa orang dari antara para nabi itu berasal dari kalangan kaum terdidik. yang tidak lain adalah Kerjaan yang berada di selatan. Karena rentang waktunya sangat panjang.36). Fakta itulah yang bisa menjelaskan kenyataan sejarah bahwa ada banyak teks di dalam kitab para nabi itu sendiri yang hampir tidak mungkin berasal dari kurun sejarah sang nabi itu sendiri berkarya secara histories dalam waktu. Padahal pada jaman Amos ketika masih hidup dan berkarya. Jadi. Jadi. Kita memulai studi dan penelusuran kita ke dalam PL dengan bertitik tolak dari Kitab para Nabi. berakhir dalam 9:11-15 dengan sebuah ramalan atau nubuat mengenai pemulihan yang semarak mulia atas Dinasti Daud yang runtuh. Dan hal itu berlangsung beberapa kurun waktu. seakan-akan hal ini terasa sebagai sesuatu yang tidak biasa. kita akan melihat dan menemukan bahwa rentang waktu yang diandaikan terlibat dalam seluruh prose situ. Maka bisa dikatakan bahwa ada suatu pergeseran mendasar di dalam penafsiran dan juga pemahaman akan esensi iman Kristiani itu dan kesetiaan pada keanggotaan di dalamnya. Hal itu diteruskan kepada para murid mereka. barangkali karena prestise yang telah ditempelkan Paulus padanya. Tetapi. Boleh jadi kita pun merasa bahwa. semuanya disampaikan secara lisan. Walau dikatakan bahwa mereka sudah melek huruf. maka hal itu berdampak sangat besar juga pada jenis dan gaya sastra yang ada dan dipakai dalam PL. yaitu Baruch. Perbedaan itu singkat saja. Dan warta kebangkitan itulah yang bisa menjadi sumber dan dasar pengharapan). kalau dulunya semua yang tertulis itu disampaikan secara lisan (jadi merupakan pewartaan lisan belaka)? Itulah yang menjadi pertanyaan besar kita sekarang dan di sini. juga bebearpa rujukan lain Mays dan BPK itu). seorang dari kaum keturunan Daud. bahkan kita bisa mengatakan bahwa perbedaan itu tidak begitu besar atau panjang. Inilah yang disebut sebagai tahap pewartaan Lisan. tokoh. namun boleh jadi mereka tidak menuliskan sendiri pidato-pidato atau ucapan-ucapan mereka.

Kalau demikian duduk perkaranya. sebab kedua kitab ini juga mempunyai bagian-bagian yang panjang (dan karena itu disebut kitab nabi-nabi besar) yang hampir tidak mungkin berasal dari kurun sejarah masa karya nabi itu sendiri. boleh jadi juga hal itu dilakukan oleh editor dari kitab itu di kemudian hari.yang lebih kemudian telah menambahkan nubuat itu sebagai penutup kitab. Sang nabi Yesaya itu sendiri sesungguhnya hidup dan berkarya pada abad kedelapan SM. Kalau bukan seorang murid dari sang nabi.. karena mengandaikan kurun dan lapisan sejarah yang beragam. Tetapi perlu segera disadari bahwa hal membagi kitab-kitab nabi-nabi menjadi bagian-bagian yang “otentik” dan bagian-bagian “yang tidak otentik” adalah merupakan salah satu tugas yang paling berat di dalam studi dan penyelidikan PL itu sendiri. Jadi. dapatlah dikatakan bahwa teks-teks yang tidak murni berasal dari sang nabi tertentu masih tetap merupakan bagian utuh dari Kitab Suci. atau paling tidak berasal dari mulut dia. yaitu manusia yang benar-benar bernama nabi Yesaya itu 12 . (Ini terjadi di bawah prakarsa Ezra dan Nehemia. artinya memang ada mazhab seperti yang dimaksudkan. para ahli juga sudah biasa menyebut Yesaya 56-66 dengan sebutan Trito Yesaya (yang artinya Yesaya Ketiga. (Kasus Yesaya) Yang di atas tadi kita sebut saja sebagai kasus Amos. sebuah perpustakaan di dalam perpustakaan. Itu tidak mungkin. maka pertanyaan kita sekarang ialah apakah dulu memang ada apa yang disebut sebagai sebuah “mazhab” Yesaya. Bahan ini diyakini berasal dari jaman yang kemudian. penutup yang membawa pengharapan. sebab umur manusia 70 tahun atau 80 kalau kuat. dan bait allah ini disebut bait allah kedua. tetapi nubuatnubuat yang lain berasal dari jaman yang belakangan. apakah langkah seperti itu memang pantas untuk dilakukan? Apakah kita tidak memperkosa kanon itu sendiri? Apakah kita tidak merusak status kanonik kitab yang bersangkutan? Inilah yang menjadi persoalan besar. karena dalam satu kitab itu terdapat lebih dari satu kitab juga sebenarnya. Sang editor mungkin merasa bahwa sebuah kitab tidak sepatutnya hanya mengandung warta celaka belaka. studi ilmiah tidak dapat mengubah status kanonik kitab sebagaimana adanya kitab itu.40-55 dengan sebutan Deutero-Yesaya (yang artinya Yesaya Kedua. jadi kurang lebih dua abad sesudah sang nabi itu sendiri berkarya. Tetapi. Kitab itu memang tampak sebagai sebuah bunga-rampai nubuat-nubuat yang sangat rumit dan bertumpuk-tumpuk. Salah satu contohnya ialah sebagian besar bahan dalam Yes. yaitu Yesaya 1-39. Jadi. Dari sudut pandang keagamaan. Tetapi dari sudut pandang yang lebih bersifat sastrawi. Nah lho. Beberapa dari nubuat itu ditulis oleh Yesaya sendiri (dianggap atau bahkan diyakini sebagai otentik). kira-kira tidak lama sesudah Amos tampil dan berkarya di Kerajaan Utara. dan kira-kira 60 atau 70 tahun kemudian (sekitar tahun 530-an) mereka diijinkan untuk kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah yang baru di atas reruntuhan Bait Allah pertama (Salomo) di Yerusalem. menurut kata si pemazmur). boleh jadi tetap dirasakan bahwa ada jauh lebih banyak keuntungan dan nilai positif juga kalau dalam studi kritis atas Kitab Yesaya. Tetapi bahkan dalam penggal proto-Yesaya ini pun terdapat juga banyak teks yang mengandaikan kurun waktu yang jauh lebih di kemudian hari dari pada kurun waktu karya sang nabi itu sendiri. daripada fragmen-fragmen yang meragukan yang tetap ada di sana juga setelah para kritikus sudah mengobrak-abrik kitab itu dalam derap nafsu penyelidikan mereka. Dengan kata lain. Tetapi kita dapat memberi beberapa butir pertimbangan berikut ini. seperti Yeremiah atau Yeheskiel. Third Yesaya).24-27. Tetapi kelompok para ahli yang lain yakin dan beranggapan bahwa kitab sebagaimana adanya saat ini dan sebagaimana yang kita terma sekarang merupakan hasil karya dari serangkaian (dan bukan hanya sekelompok) para editor yang tidak mempunyai hubungan khusus apa pun dengan sang Nabi Yesaya itu sendiri. suatu nasib yang sedemikian menyedihkan sampai sang nabi harus “berteriak” menyerukan dan menyampaikan warta penghiburan Allah. Lihat catatan singkat dalam Armstrong itu). selain kaitan fungsional dan institusional belaka. Bahwa bukan hanya PL sebagai keseluruhan saja yang merupakan sebuah perpustakaan. Disebut demikian karena inilah bagian ketiga yagn ditambahkan pada kitab Yesaya setelah orang-orang Yahudi kembali dari pembuangan dan melakukan proses pembangunan kembali kota suci Yerusalem termasuk Bait Allah di dalamnya. Di tengah upaya kritis-historis ilmiah itu selalu ada sejumput keraguan yang mendorong orang bertanya. bahkan mungkin juga jauh lebih belakangan lagi daripada Deutero dan Trito Yesaya. Ada beberapa kalangan para hali yang berpikir bahwa memang demikianlah duduk perkaranya. Tetapi kalau kita mau mengetahui dan mengenal tentang Yesaya. kitab yang menyandang nama beliau juga mengandung bagian-bagian kisah sejarah yang merentang kurun waktu yang sangat panjang bahkan sampai ke abad keenam. Kalau menyebut abad keenam berarti itulah kurun waktu tatkala orang-orang Israel (Yahudi) mengalami sebuah tragedy sejarah yang besar yaitu mereka dibuang ke Babel oleh Nebukadnesar. penyisipan) pada kitab-kitab nabi yang lain. tindakan pembedaan itu sama sekali tidak mempengaruhi status kanonik dari kitab yang bersangkutan. sebagaimana kitab itu adanya. koreksi. biasanya secara teknis disebut proto-Yesaya. diduga ada sekelompok editor professional yang tidak mempunyai kaitan personal apapun dengan para nabi. Kira-kira demikianlah duduknya perkara. Sekarang kita mau melihat kasus lain yaitu kasus Yesaya. sebuah lembaga yang bertanggung-jawab melestarikan dan menambahkan sesuatu pada teks yang disusun oleh sang nabi itu sendiri? Ini adalah sebuah pertanyaan histories yang sangat besar. Kitab Nabi Yesaya adalah sebuah contoh paling nyata dari perpustakaan mini itu. Dari apa yang sudah dikatakan di atas tadi. Warta celaka yang sudah ada harus “dinetralisir” dengan warta sukacita. dan ini yang menjadi kasus kita yang menarik sebagai contoh. sebagaimana kitab itu telah diterima sebagai warisan agung dari sejarah masa silam. (Kiranya kita tidak akan berani menyimpulkan bahwa sang nabi berkarya selama hampir lebih dari dua abad. yang nanti akan berakhir pada tahun 70 Masehi. Jadi. Sejak akhir abad 19 orang sudah terbiasa menyebut Yes. tetapi yang juga telah mengerjakan sesuatu (editing. Maka kitab ini dikenal juga sebagai kitab penghiburan (Lihat KS PL dengan pengantar dan catatan itu). kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa bahkan masingmasing kitab para nabi pun dapat dibagi-bagi lagi menjadi kitab yang otentik dari sang nabi dan yang tidak begitu otentik (yang tidak secara langsung berasal dari sang nabi itu sendiri). Maka sisanya. Second Yesaya). kita dapat menarik sebuah kesimpulan. bahkan salah satu kitab saja dalam PL itu juga merupakan sebuah perpustakaan mini. Kasus yang paling ekstrem sebagai contoh dampak dari aktifitas dan intervensi editorial atas kata-kata para nabi adalah kitab nabi Yesaya itu sendiri. sebuah penutup happy ending. atau ditulis lalu ditambahkan pada jaman yang jauh lebih kemudian dari kurun hidup sang nabi itu sendiri. Juga sejak saat yang sama. tetapi penutup itu haruslah sebuah penutup yang membahagiakan. Bagian ini mengisahkan kepedihan nasib kaum buangan. yaitu kitab Yesaya yang “asli” yang berasal dari jaman sang nabi itu sendiri.

ketika. meneruskan dengan maksud dan tujuan serta kepentingan tertentu. Kalau benar demikian. maka dapat dikatakan bahwa kita sesungguhnya sangat banyak berutang budi pada para muridnya sehubungan dengan pengetahuan kita mengenai apa yang dulu telah ia katakan atau sampaikan. Ia sudah menjadi teologi dalam bentuk antologi. maka contoh penyelipan yang paling terkenal ialah. kalau kita memahami kata “menulis” itu benar-benar secara harfiah (mendapat ilham. yang bisa hidup dari dan karena jasa menulis (jasa melek huruf). melainkan dari kitab Hikmat. Tetapi kita tidak hampir tidak tahu siapa yang menulis kitab-kitab itu. Selalu ada perantara. Para Penulis Profesional dan “sastra Hikmat Kebijaksanaan” Di atas tadi kita sudah singgung secara singkat mengenai kitab para nabi. Mereka itu bisa saja bekerja sebagai pekerja bebas atau tenaga lepas. yang ini hampir sulit untuk dilacak. kita juga tidak bisa begitu saja menyatakan bahwa kitab itu hanyalah hasil dari karya dari para murid itu saja. Yaitu bahwa sesungguhnya kita tidak tahu secara pasti siapa penulis yang menuliskan kitab-kitab para nabi dahulu. Itu baru di satu pihak. mengingat fakta sejarah bahwa pelbagai kebudayaan lain di sekitar Israel pada masa itu juga mempunyai para (penulis) profesional seperti itu. Yaitu kita membuat suatu pembedaan antara aktifitas menulis kitab-kitab di satu pihak. sebagai sebuah kitab utuh yang mengandung visi teologis yang otonom. Boleh jadi dalam proses editorial itu mereka juga telah menyumbangkan ide-ide mereka sendiri yang khas. Hipotesis mengenai peranan para penulis profesional ini. Tetapi mereka juga bisa bekerja sebagai pegawai negara atau pegawai-pegawai pada lembagalembaga keagamaan. karena kepadanya telah ditambah-tambahkan sesuatu selama satu rentang masa atau tahun yang sangat panjang. yaitu bahwa orangorang yang bertanggung-jawab secara historis atas semua perkembangan ini adalah kelompok para penulis profesional (scribes). (Walau contoh ini tidak berasal dari kitab nabi-nabi. Di sini kita dapat melihat sesuatu yang sudah disinggung secara tersirat dalam apa yang sudah diuraikan sampai sejauh ini. Kiranya tidak seperti itu. Ada satu hal yang dapat diulang sekali sebagai sebuah kesadaran penting mengenai kitab para nabi itu. Di satu waktu kita dapat mempertimbangakan kitab ini saja dalam dirinya sendiri. jadi mereka itu adalah para penulis profesional. Kita tidak bis amenyangkal fakta sejarah bahwa teologi Yesaya Kedua itu merupakan termasuk di antara sumbangan yang paling penting bagi apa yang harus dikatakan oleh PL tentang pokok-pokok besar dan mendasar seperti penciptaan. maka tidak ada alternative lain selain model atau jenis analisis dan studi seperti ini. Di pihak lain. Kita sebut saja pamrih hermeneutik dari si perantara itu. dan penerusan secara lisan. Itulah yang menjadi persoalan kita. Dan di waktu lain kita dapat melihatnya sebagai satu aspek dari kitab nabi Yesaya yang besar itu. monoteisme. barulah kemudian ada upaya penulisan). yang akan menjadi kritis dan penting.sendiri. Cara lain yang dapat mereka lakukan ialah dengan cara menyelipkan atau menyisipkan komentar-komentar mereka sendiri ke dalam teks. Deutero-Yesaya dan Trito-Yesaya boleh jadi merupakan para pengarang dalam artian yang jauh lebih harfiah jika dibandingkan dengan nabi Yesaya itu sendiri – walau tentang mereka berdua itu juga boleh jadi kita juga mendapat warisan perkataan dan warta mereka karya jasa karya para murid-murid juga. ada banyak sukses besar yang pantas dilaporkan juga sebagai hasil dari studi dan analisis seperti ini. Para editor itu juga bukan hanya burung beo atau tape rekorder belaka. Salah satu yang pantas dilaporkan ialah penemuan dan kesadaran histories akan adanya kitab Yesaya Kedua itu. (Bahkan harus ditambahkan bahwa sebelum ada penulisan sudah ada terlebih dahulu pewartaan lisan. Yaitu kita mau tidak mau harus melakukan pemilahan dan pembedaan. Oleh karena itu. lalu ia duduk mengambil alat tulis dan kertas dan mulai menuliskan ilham itu). Tetapi siapakah mereka ini? Mereka tidak lain adalah orang-orang terpelajar yang melakukan kegiatan penulisan sebagai cara untuk mendapatkan nafkah hidup. sebagai sebuah karya final bukan lagi sekadar sebuah antologi belaka. tidak serba langsung juga. yaitu melihat teks itu dalam dirinya sendiri dan tidak terutama melihatnya sebagai bagian utuh dari kitab nabi Yesaya. Tetapi ada satu hal yang dapat kita sepakati dengan sangat yakin bahwa pengumpulan dan penyusunan bahan-bahan menjadi “Kitab final Nabi Yesaya” sebagaimana yang kita miliki dewasa ini kiranya lebih merupakan hasil karya para editor (editorship) dari pada karya pengarang (authorship). adalah jelas sekali bahwa hal menulis sebuah buku dan hal membangun sebuah perpustakaan adalah dua tugas atau kewajiban yang sangat berbeda satu sama lain. Perantara itu berperan dan berfungsi hermeneutik juga. menjadi antologi teologi. Ayub prosa yang disisihkan di antara Ayub puisi). Sistem pemerintahan dengan staf pegawai negeri seperti itu sangat berkembang pesat baik di Mesir maupun di Mesopotamia pada kurun milenium kedua SM. Maka adalah sangat penting untuk menyadari betapa spekulatifnya pertanyaan-pertanyaan sekitar atau menyangkut asal-muasal atau tentang para penulis kitab-kitab Perjanjian Lama itu. Aktifitas-aktifitas menyusun dan mengumpulkan kitab-kita kurang begitu secara tajam dibedakan dari aktifitas menulis kitab-kitab dibandingkan dengan apa yang menjadi praktek atau kebiasaan dalam dunia modern kita dewasa ini. Tetapi ada hipotesis lain. Sebab ia meneruskan dengan cara menafsirkan. Kesadaran itu membangkitkan kesadaran baru dalam diri kita akan adanya sebuah teologi yang khusus dalam kitab nabi Yesaya. 13 . dan hal mengumpulkan kitab-kitab itu di pihak yang lain. Apalagi. Dengan demikian karya itu. Sebab yang kita tahu adalah fakta bahwa kitab-kitab itu sudah tertulis. Itu tidak bisa terhindarkan. Hal itu dapat mereka lakukan dengan pelbagai macam cara. Sejauh menyangkut sastra Israel kuno – dan bahkan dalam ukuran atau takaran tertentu juga menyangkut Injil-injil dari PB – tindakan menarik garis pembedaan antara kedua aktifitas tadi adalah jauh lebih longgar. Dan salah satu caranya ialah cara bahan-bahan itu disusun. tentu kelompok para murid yang dimaksudkan di sini adalah kelompok para murid yang terpelajar. dalam bab berikut nanti. kita melangkah ke cara bagaimana kitab-kitab biblis itu telah dikumpulkan ke dalam kelompok-kelompok atau golongan-golongan tertentu. Di atas juga sudah ada usulan hipotetis bahwa yang menulis itu adalah kelompok para murid. Sebab boleh jadi Yesaya sendiri dulu sebenarnya mungkin tidak “menulis” apa-apa. Urutan tematik bab-per-bab juga mengadung visi dan misi teologis tertentu juga. Tanpa jasa para murid itu kita hampir tidak mungkin tahu apa-apa tentang perkataan dan warta sang nabi. pantas kalau kita mempertimbangkannya secara terpisah juga. Biasanya dari kalangan mereka inilah dipilih para calon untuk menjadi pegawai negeri. Dalam konteks kita sekarang ini. Jadi. kiranya cukup beralasan. dan ini sebuah pertimbangan pendukung lain yang lebih jauh. Dan perantara itu selalu juga serentak berfungsi sebagai penafsir. Kalau tidak demikian. Kita harus selalu ingat akan hal ini. dan juga penderitaan (tema-tema eksistensial dalam teologi PL itu sendiri). bahkan bisa mencapai rentangan beberapa abad. Ada pamrihnya.

Barangkali kitab Amsal-lah yang merupakan contoh paling baik mengenai kitab yang diduga dihasilkan oleh kelompok para penulis profesional seperti itu. ada alasan yang cukup kuat untuk menduga bahwa kitab itu telah melewat banyak proses editing..23:1-3. (dikutip saja). boleh jadi raja Salomo itu sendirilah juga yang telah mendorong kelompok para penulis profesionalnya untuk menulis. biasanya akan sampai pada satu kesimpulan bahwa-teks itu adalah karya dari lebih dari satu “pengarang” – meungkin juga misi-misi yang berbeda dari cerita yang satu dan sama. Nah.21:25. Dan dalam beberapa hal. misalnya. Selanjutnya mereka juga beranggapan bahwa tradisi hikmat yang terkandung atau tersimpan di dalam kitab itu memang sudah mulai ada di istana raja Salomo. Tetapi tidak setiap orang setuju dengan hipotesis bahwa ia disusun dengan menjalin bersama-sama pelbagai sumber. Tetapi identitas dari para penulis seperti itu tetap tinggal sebuah misteri yang sangat gelap. Karena alasan ini karya-sejarah Yosua-2Raja-raja secara luas diacu dalam studi-studi biblis akademik sebagai Sejarah Deuteronomistik. atau “kitab kisah Salomo. di tempat-tempat itu.” (Kel. Banyak dari tema teologis dari karya itu dekat dengan ide yang terdapat dalam kitab Ulangan. kita harus menyadari sejak semula bahwa kitab-kitab yang mirip seperti kitab Amsal itu ada juga di Mesir dan di Mesopotamia. maka kita bisa melihat bahwa degan ini sangat tidak koheren.. Ezra dan Nehemiah. mengumpulkan. Naratif Separuh dari PL terdiri atas kisah atau sejarah dalam artian yang longgar. Misalnya ada yang menunjuk kurun waktu antara tahun 1100 sampai tahun 300 SM sebagai rentang kurun proses pengumpulan dan penyusunan seluruh kitab Amsal itu. Sebelum melangkah lebih lanjut. atau amsal pedesaan.. sebagaimana yang telah disinggung dalam bagian terdahulu. Maka kita sebut saja sebagai amsal istana. Hal ini membenarkan 14 .. sementara Ezra dan Nehemia mencoba melestarikan kisah-kisah yang agak terpotong-potong mengenai proses pembangunan kembali pascapembuangan itu dan oleh karena itu pasti tidak lebih dulu dari akhir abad kelima atau keempat SM.11:41) semua jalan menuju ke legenda-legenda populer – dengan cara mengebawahkannya pada suatu skema-penanggalan yang konsisten dan membentuknya untuk membuat pelbagai titik teologis tentang nasib Israel.. Contoh yang paling terkenal ialah Amsal 12:10-11). proses koreksi. Memang ada beberapa hipotesis untuk menjawab persoalan itu. dapat ditunjuk sebagai kurun waktu penulisan. dan dimaksudkan untuk menjelaskan dan melukiskan kemerosotan dari masa pendudukannya yang sukses atas tanah Kanaan. adalah sulit untuk berpikir bahwa kita mempunyai satu karya koheren hanya dari satu orang penulis saja” “. orang yang mempelajari teks ini.. dalam hal ini ialah kelompok para penulis profesional tadi. Tetapi kelompok para penulis profesional ini juga mempunyai latar belakang asal-usul yang berbeda juga. Ia sudah ada begitu saja di tengah-tengah masyarakat. yang memang harus dilakukan. dan menyusun kumpulan hikmat itu.. dan juga kitab-kitab Tawarik. hingga ke terjadinya bencana yang berujung pada drama tragis Pembuangan itu.. Beberapa kalikah Musa mendaki gunung itu? Apakah di antaranya ia pernah turun lagi? Siapa yang sebenarnya menyertai dia? Dan di manakah “bangsa Israel” pada saat ia naik? Nah. dan teks lain yang serupa itu. Mungkin sebanyak seperti yang terjadi atas kumpulan kitab para nabi. Untuk melakukan hal ini para penulis atau para penyusun telah menimba dari suatu rentang yang sangat luas bahan yang sudah ada – dari kisah-kisah atau annals resmi kerajaan (seperti “kitab tawarikh dari para raja Yehuda”.. Dan tidak hanya itu saja... Contoh yang paling terkenal ialah Ams. Oleh karena itu ada sementara ahli yang beranggapan bahwa kumpulan yang disebut “Amsal-amsal Salomo” dalam kitab Amsal itu memang sungguh berasal dari jaman pemerintahan raja Salomo sendiri. Sudah ada banyak karya yang telah dilakukan dalam mempelajari kitab-kitab sejarah dari Yosua sampai ke Rajaraja. maka kita akan memperoleh satu kesan umum tentang perjumpaan Musa dengan Allah. Maka kita sebut saja amsal kampung. tampaknya juga kitab-kitab tadi merupakan hasil kerja dari kelompok para penulis profesional dan terpelajar juga. Amsal itu adalah amsal kolektif-komunal. Misalnya ada yang mengatakan bahwa mereka mungkin sudah ada dan sudah bekerja juga pada jaman kerajaan Salomo. amsal-amsal seperti ini biasanya tidak mempunyai pengarang. Tetapi hampir setiap orang berpikir bahwa ia adalah komposit – dan tidak disusun langsung sepanjang satu baris – danjuga bahwa ia telah mengalami pelbagai macam tahap-tahap proses editorial.. di mana bahasa Ibrani klasik sudah digunakan. Dalam satu teks seperti berikut ini.24:9-18). Pentateukh sudah dibahas sedikit di atas tadi.. Beberapa amsal dari alkibat tampaknya berasal dari lingkaran atau kalangan istana. Tetapi kalau kita coba melihat secara lebih teliti dan rinci tentang apa yang sedang terjadi.. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa isi dari kitab itu pada umumnya menyangkut pengamatan atas hidup yang sangat umum sehingga hampir setiap kurun waktu di antara rentang tahun di atas tadi. yang dirangkai menjadi satu oleh editor di kemudian hari.. Adalah sangat mapan bahwa kitab-kitab mulai dari Yosua hingga ke 2Raja-raja ditulis atau disusun selama masa Pembuangan pada abad keenam SM.. (Kasus Yosua) Dalam kasush Yosua – 2 Raja-raja boleh jadi ada satu petunjuk atau tanda mengenai identitas dari para penulisnya.. 2 Raj.Dalam paragraf di atas tadi kita sudah mulai menyinggung perihal hipotesis mengenai adanya kelompok para penulis profesional.. sebuah kumpulan hukum yang secara umum diduga telah dibuat dalam bentuknya yang final selama abad ketujuh SM – kurang dari satu abad sebelum para sejarawan menghasilkan kisah mereka. melalui kerajaan Daud dan Salomo. (dikutip saja). 1 dan 2 Tawarikh mengisahkan kembali banyak dari kisah ini dari suatu perspektif pasca-pembuangan (kurang lebih kira-kira pada abad kelima SM). Tetapi boleh jadi mereka sudah dikumpulkan dan disusun dengan cara-cara tertentu oleh satu kelompok tertentu. jika kita mau mem-film-kannya. Harus dikatakan juga bahwa kita tidak tahu dengan pasti kapan kitab Amsal itu sudah mulai ada sebagai sebuah kumpulan.” 1Raj.. Kalau kita melihat adegan ini dengan fokus yang sangat lembut... atau amsal kerajaan (royal proverbs).. walau ini merupakan sebuah teori klasik yang menjadi titik tolak semua studi ilmiah tentang Kitab Suci. amsal anonim. Dan sebagaimana biasanya. dalam artian yang biasa dari kata itu. Dan itulah yang menjadi masalahnya.dengan teliti.. Selain itu ada juga amsal yang berasal dari konteks kampung atau wilayah hidup pedesaan.

2). maka kita pun akan segera tahu. walau bukan “pengarang” dalam artian yang sama seperti kita dewasa ini. Bagian prosanya ialah 1-2 dan 42:7-17.. Kitab Pengkotbah ditampilkan sebagai.’ – dan sebenarnya. Kalau kita sudah mempelajari Injil secara rinci. dan seorang penulis dalam artian beberapa orang 15 . Dan bagian puisinya yang berbentuk dialog merentang dari 3:1-42:6. 1). tetapi dalam mana sebuah pola yang konsisten muncul juga none the less. walau boleh jadi ia telah mengumpulkan bahan itu secara kreatif. tetapi beberapa kitab dari PL juga termasuk dalam kateogi yang sama – Rut dan Pengkotbah baru saja telah disebut. beberapa kelompok orang yang menaruh peduli dengan administrasi atau pengajaran hukum: para nabi. Saya telah mencoba menunjukkan kompleksitas dari proses dengan mana semua kitab-kitab akhirnya ditetapkan dalam tulisan. Walau juga harus disadari bahwa kitab ini pun di sana-sana mengutip beberapa amsal dari kurun terdahulu. bagian ini juga diduga berasal dari kurun tidak lebih dini dari abad kelima SM. Kalau pandangan umum benar bahwa kitab ini terdiri atas prosa dan puisi. saya mau menekankan kuranya suatu pembedaan yang jelas antara proses penulisan dan proses pengumpulan dalam kebudayaan-kebudayaan yang telah menghasilkan Kitab Suci. mencakup satu rentang makna yang lebih luas dari pada kata-kata kita dewasa ini seperti “penulis’ atau ‘pengarang. tetapi Amsal kiranya merupakan sebuah contoh yang paling baik. hasil karya orang yang disebut “Qoheleth” (sang Pengkotbah. Biasanya kitab-kitab ini adalah hasil karya dari satu orang penulis yang menyusun kitabnya dengan bebas. Kesimpulan: Sebuah Kisah yang Hal ini belum merupakan satu penuntun yang menyeluruh terhadap kitab-kitab yang ada dalam Kitab Suci: beberapa kitab belum disebut. Penulis ini menyusun. Oleh karena sang redaktur terakhir telah membentuk bahan yang ia terima dengan suatu cara yang konsisten. ada sejumlah kecil kitab di dalam Perjanjian Lama yang dapat dikatakan mempunyai seorang pengarang dalam artian yang kurang lebih sama seperti status kepengarangan rasul Paulus dalam Perjanjian Baru itu. Tampaknya karya-karya itu adalah merupakan karya-karya fiksi yang sungguh sadar atau disadari. Dalam sistem kepegawaian Inggris. kalau kita diberikan dengan suatu teks yang tidak teridenfikasi. tidak perlu ada suatu pembedaan antara seorang penulis dalam artian modern dari seorang “pengarang”.. masing-masing dari Injil mempunyai ciri-coraknya sendiri yang khas. kitab yang disusun dan terdiri atas pelbagai macam unsur. dalam artian harfiah dari istilah itu. dan banyak teori tentang mereka telah ditafsirkan (gloss over). adalah cerita-cerita pendek tentang beberapa tokoh imajiner. Lebih jauh. Sekretaris Negara juga mempunyai Sekpri (yaitu para pegawai negeri yang bertindak sebagai para pembantu pribadi mereka). Tujuan dari survei itu ada dua. ‘scribe’ atau ‘penulis’. Sang penyusun Pentateukh adalah seorang pengaran kreatif. sopher secara kasar mempunayi rentang makna yang sama – mulai dari beberapa orang yang melaksanakan tugas (chore) menyalin dengan rapi bahan yang sudah disusun oleh orang lain. amsal yang sudah ada terlebih dahulu (sebelumnya). di mana beberapa tujuan akhir yang undarned masih bisa dilihat. Kata Ibrani sopher. tetapi ia tetap mempunyai satu tujuan tertentu yang mau dicapainya dan diwujudkannya. yang menyatu-padukan bahan yang beragam menjadi satu karya keseluruhan yang rapi dan final. Kitab-kitab seperti Rut dan Yunus. kalau mau. “Pengarang” dari Amsal-amsal hanyalah sang pengumpul saja. mungkin kata “sekretaris” merupakan sebuah terjemahan yang lebih baik untuk kata itu. walau ada fakta bahwa mereka semua mempunyai banyak sumber bahan tertentu yang sama. di mana seorang editor atau serangkaian editor telah mengambil bahan yang sudah ada (atau secara lisan atau dalam bentuk tulisan) dan telah memakainya untuk menciptakan suatu karya yang kurang lebih bersifat koheren. tetapi baik Sekretaris Negara maupun Sekretaris Pribadi juga mempunyai sekretaris juga – yaitu. adalah lebih dari pada pengetik-salinan yang hanya menulis kembali (transcribe) apa yang telah mereka temukan dalam sumber-sumber yang terdahulu. Dunia kitab suci tidak akrab dengan banyak dari distingsi-distingsi kita dewasa ini. dengan cara menempatkan bahanyang telah ia peroleh dalam suatu tata urut yang benar untuk menyampaikan (to get across) poin apa saja yang ingin ia katakan. Pada sisi ekstrem yang lain. dan tidak hanya merakit atau meracik bahan atau fragmen yang lebih tua saja. Beberapa di antaranya merupakan teks-teks tertulis yang terpadu sejak awal mula. tertulis atau paling tidak didiktekan oleh satu orang.. demikian terjemahan dalam versi terjemahan resmi). Kasus yang jelas dari hal ini adalah surat-surat Paulus. Kitab-kitab ini sedikit sekali memperlihatkan adanya bukti bahwa isinya adalah merupakan sebuah kompilasi dari beberapa kitab atau aliran pemikiran. beberapa kitab tampaknya telah disatukan seperti sebuah mozaik dari fragmen-framgen yang terlepas-lepas. Akhirnya. Bekerja dengan para pengarang 32. Bagian ini juga diduga dari kelompok pengarang yang lain. orang untuk menangani surat-surat mereka dan melakukan pengetikan. ada mayoritas terbesar dari kitab-kitab. para imam dan para penulis profesional semuanya telah diusulkan pada salah satu waktu atau pada kurun waktu yang lainnya. hingga ke beberapa orang yang mempunyai sekretaris lagi kepada siapa ia dapat mendiktekan dan yang karena itu mungkin “menulis” agak sedikit. Di tengah kedua sudut ekstrem itu. Sejarah Deuteronomistik adalah contoh kasus klasik dari hal ini. Hal ini berarti bahwa para penulis-Injil. Dalam bahasa Ibrani. Ini bukan hanya sekadar bahwa ada hanya beberapa pengarang yang nyata dan yang lain itu hanya para penyusun saja: adalah kepengarangan itu sering sekali tampaknya dipahami sebagai semacam aktifitas kompilasi – atau.hipotesis bahwa para pengarang atau penyusun boleh jadi dekat dengan para penyusun kitab Ulangan itu sendiri – dengan kata lain. Bagian ini berasal dari pengarang lain. Sebagaimana yang sudah diisyarakatkan tadi. bahwa kompilasi itu merupakan satu-satunya jenis kepengarangan yang diketahui oleh beberapa orang. dari injil manakah kiranya ia telah diambil. dan boleh jadi berasal dari kurun waktu sesudah masa Pembuangan. dan boleh jadi memang sungguh demikian juga adanya. Ajaran-jaran yang lebih tua mengenai penafsiran Kitab Suci yang berbicara tentang Allah sedang mengilhami “para pengarang biblis” sulit untuk diterapkan pada suatu situasi historis sebagaimana yang telah kita lukiskan tadi. Pentateukh dilihat dengan cara seperti ini oleh beberapa pihak. demikian juga halnya dengan Injil-injil. Ayub sebagai sebuah kitab utuh-keseluruhan adalah sebuah komposisi. Dialog itu sendiri memperlihatkan banyak tanda bukti bahwa ia sendiri berasal dari seorang penulis yang kreatif.

sebuah koleksi diikat-satukan bersama dengan suatu cara yang sangat harfiah: semua kitab biblis membentu satu volume tunggal. “Musa” Pada sekitar masa Pembuangan ke Babel. Pola kuno ini masih tetap bertahan hidup dan masih tetap dipakai dalam sinagoga-sinagoga hingga saat ini. (Satu pertanyaan tentang tata urutan kitab-kitab di dalam Kitab Suci dengan demikian dapat dengan lebih mudah dijawab dalam kasus orang-orang Kristiani daripada orang-orang Yahudi. atau Yeremia saja. yang juga. yang kemudian digulung untuk membentuk sebuah kitab gulungan (scroll). Dengan kata lain. dari hal mengumpulkan bahan ke proses menjadikan atau menyusun kitab. menurut teori ini. kodeks – apa yang kita sebuah sebagai sebuah kitab. walaupun belum dapat dijelaskan sepenuhnya. baik itu pada jaman Israel kuno dahulu maupun pada jaman gereja purba. Sebuah gulungan dapat hanya menyimpan sebanyak satu tulisan yang ada dalam satu kitab saja. Pandangan yang lebih tua. dan yang dibawa keluar setiap sabat untuk dibacakan dalam sebuah upacara suci kegamaan (ibadat). Di Israel. memakai satu volume tunggal dan satu kodeks saja dari Kitab Suci itu. para ahli telah condong untuk melihat Yoshua sebagai suatu bagian utuh dari karya Deuteronomistik. ke proses pengumpulan kitab-kitab untuk membentuk satu kumpulan-kumpulan yang lebih besar. (Sesungguhnya. dan berhenti di tengah kalau gulungan pada masing-masing kayu sudah sama tebalnya. Hakim-hakim. yang mencatat atau melaporkan bagaimana janji-janji dulu telah diberikan atau diucapkan kepada para Bapa Bangsa Ibrani dalam kitab Kejadian sekarang ini sudah terpenuhi tatkala Tanah Terjanji akhirnya bisa diduduki di bawah kepemimpinan Yoshua. Karena teknik penyimpanannya seperti itu. Kitab Yoshua. yang disimpan dalam sebuah lemari yang disebut “tabut”. seperti halnya juga orang-orang Kristen. dan bukan satu volume tunggal dari kumpulan karya-karya. dan kayu yang lain dijadikan pegangan. ketimbang sekadar suatu “karya-karya” sastra yang dipoles (polish) saja. dalam kebudayaan itu dahulu. Jangan sampai kita melupakannya. Sebagaimana yang telah kita lihat. yang berlaku dari akhir abad sembilanbelas hingga ke pertengahan abad keduapuluh. adalah bahwa sejarah Pentateukh pada mulanya sesungguhnya adalah Hexateuch – yaitu sebuah koleksi enam kitab (bahasa Yunani hex berarti enam). masing-masing kitab dalam kitab suci dianggap sebagai bab-bab saja dari satu buku utuh yang tunggal). kadang-kadang. mengisahkan sejarah Israel juga. Walau ada gulungan-gulungan Injil-injil dan surat-surat. kita perlu mengetahui pemikiran-pemikiran yang fuzzy ini secara lebih kuat lagi dalam benak kita. mempunyai kaitan yang erat dengan Kristianitas itu sendiri. dalam konteks ini. agar apa yang disebut Kitab Suci itu ada. hal ini berarti bahwa orang-orang Kristen segera berada dalam satu posisi untuk mengumpulkan kitab-kitab suci mereka. yang berfungsi sebagai bagian inti dari gulungan (roller). atau beberapa kodeks. dan memang mereka dulu telah dikumpulkan. kiranya berarti demikian: sebuah kumpulan. Kemungkinan alasan yang lain ialah bahwa mereka memandang Injil-injil sebagai catatan-catatan dari mana seorang pewarta atau pengkotbah dapat mengisahkan kembali kisah-kisah mengenai Yesus. Samuel dan Raja-raja. Sebuah kumpulan kitab-kitab. sudah sejak dari jaman yang awal mula orang-orang Kristiani menerima kodeks bagi kitab-kitab mereka sendiri. suatu karya yang up-beat. di atas permukaan kertas kulit. sehingga gulungan itu dapat digulung ke salah satu kayu saja. maka hal itu juga ikut mempengaruhi cara atau teknik penulisan. sebagaimana halnya di Yunani dan Roma klasik. kurang lebih sama dengan bab-bab yang berbeda-beda dalam sebuah novel. Di dunia kuno. dan satu punggung jilidan – barulah muncul dalam sejarah sekitar abad pertama Masehi. Yaitu mereka perlu dikumpulkan. sebuah kitab itu ditulis hanya pada satu sisi saja dari satu batang (kepingan) papirus yang sangat panjang. Pada saat itu tulisan disusun pada satu kolom-kolom yang sangat sempit yang sejajar dengan masing-masing kayu gulungan tadi. Hexateuch ini merupakan suatu karya yang bernada optimistik. Ketika dalam bab yang berikut kita bergerak lebih jauh lagi. misalnya satu gulungan untuk kitab Yesaya saja. belum memadai sebagai syarat untuk terbentuknya kitab suci. Jadi. adalah tidak cukup bahwa ada fakta banyak kitab yang dikumpulkan bersama-sama dalam sebuah bunga rampai. Kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri akan teknologi yang berbeda untuk menghasilkan sebuah buku dalam dunia kuno dulu. atau. hingga ke tempat di mana karya Deuteronomistik memulai perjalanan kisahnya sendiri. tetapi bahkan di sana pun kurang begitu tajam dari pada pembedaan yang kita buat dewasa ini. orang-orang Yahudi. Gulungan itu biasanya mempunyai tiang kayu yang keras. merupakan kesamaan atau ekwivalen dari buku catatan – seakan-akan agaknya kita seperti mau menyimpan catatan-catatan (scrible) Injil dengan tangan dalam buku catatan yang dijilid spiral di tangan seorang reporter sebagai ganti dari satu Kitab Suci yang dijilid dengan kulit dan dicetak pada kertas India. yaitu satu volume yang dijilid rata dengan dua sampul depan dan belakang. tidak hanya dengan cara menyimpan mereka dalam satu ruang yang tunggal saja menurut suatu tata urut tertentu. kata “bible” itu sendiri berasal dari kata Yunani biblia. Dunia Greco-Roman memang dulu membuat pembedaan ini. dan kumpulan itulah yang membentuh sebuah batang tubuh kitabkitab. di mana kelima kitab Musa (Kejadian sampai Ulangan) masih tetap ditulis pada lima gulungan. dan karena itu menerima kodeks yang. Bab III: Mengumpulkan Kitab-kitab Tujuan Bab ini: Pengantar Bab 3 Sekarang ini kita sudah mempunyai kitab suci. Tetapi ada juga teori-teori lain yang menentang teori itu tentang bagaimana karya historis ini dikaitkan atau berkaitan dengan Pentateukh. yang berakhir dengan pendudukan Israel secara gagah perkasa atas Palestina. bagaimana pun juga. Tentu kitab suci itu tidak berada begitu saja sebagai sebuah paket surgawi. Tetapi untuk semua tujuan-tujuan yang lain. Dibutuhkan suatu proses dan rentang waktu yang panjang untuk dapat sampai ke keadaan kita sekarang ini. yang berbentuk plural. satu atau dua edisi dihasilkan dari apa yang kita sebut di atas sebagai Sejarah Deuteronomistik – yaitu kitab-kitab sejarah yang meliputi kitab-kitab seperti Yoshua. Tetapi di sini kita harus berhati-hati. Tetapi menurut pandangan yang lebih belakangan ini. Tetapi apa pun saja yang menjadi alasannya. dan segera mulai menulis PL dalam kodeks-kodeks juga.yang terlatih dalam mencampurkan tinda dan memperhalus papirus (smoothing). yang 16 . Masih ada syarat yang lain. aslinya merupakan lanjutan dari Kitab Ulangan. Salah motif atau alasan yang mungkin ialah adanya suatu kerinduan untuk berbeda atau membedakan diri dari orang-orang Yahudi. Atau bisa juga digulung pada keduanya sekaligus. dan yang berarti kitab-kitab. tetapi juga mau memandang kitab Ulangan itu sendiri sebagai termasuk dalam karya ini. fakta bahwa ada banyak kitab saja. Kayu gulungan ini masing-masing ada pada kedua ujung gulungan itu. sebutan atau nama “Kitab Suci” kiranya bukanlah nama dari satu kitab melainkan nama sebuah perpustakaan kecil. jadi memang ada banyak kitab di dalamnya).). dan hal ini. dst. Dalam Kitab Suci sebagaimana yang kita ketahui. melainkan dengan cara menulis mereka secara berturutan (consecutively) dalam sebuah kodeks tunggal. (Jadi.

melainkan pembuangan. Ptolemeus Philadelphus (285-246 SM). hanya karena satu alasan yang sederhana saja yaitu bahwa Yoshua dalam bahasa Yunani adalah Iesous. Paling mulai dari abad keempat SM orang-orang Yahudi memandang kandungan historis dari Kitab Suci Ibrani sebagai terbagi menjadi lima kitab dari Musa – yaitu Kejadian. Bilangan.” atau ungkapan lain yaitu “hukum dan para nabi. pada abad kelima SM. persis sama dengan cara pandang orang-orang Yahudi lainnya – tetapi agak segera muncullah suatu sikap (pandangan. Yang pertama ialah suatu kerinduan untuk memiliki serangkaian kitab-kitab yang menggambarkan atau mewakili ajaran. Bagi suatu bangsa yang tidak lagi berada di atau menduduki tanah mereka sendiri – walau beberapa dari mereka telah diijinkan untuk menduduki dan mendiaminya kembali – catatan optimistik dari Yoshua mungkin terasa tidak bergema lagi. Judaisme melihat kitab-kitab Musa tidak hanya sebagai permulaan dari suatu kisah yang akan terus berlanjut dalam dan melalui Yoshua. Paulus masih secara berkala berbicara tentang “Musa dan para nabi. antara sekitar abad keempat hingga sekitar abad pertama SM. berbicara bahasa Yunani sebagai bahasa mereka yang pertama. Tujuhpuluh (atau 72) penerjemah melakukan pekerjaan itu. dan Ulangan – dan empat kitab secara agak membingungkan disebut “para nabi” (tentang hal ini lihat uraian bagian bawah nanti) – Yoshua. sebagaimana halnya sebagian besar hal penulisan mazmur ada dikaitkan dengan Daud dan amsal-amsal bijak dikaitkan dengan Salomo. Hakim-hakim. Pentateukh atau Taurat itu (kata Ibrani untuk hukum. yang harus dilihat sebagai pengantar untuk seluruh karya sejarah yang dibentangkan selanjutnya. Pentateukh kadang-kadang disinggung atau disebut dalam PB hanya sebagai kitab “Musa” saja (misalnya dalam Luk. dan apa yang akan menjadi nasib mereka kalau mereka mengabaikan hal-hal itu. dari kata tettara bahasa Yunani. Salah satu faktor di sini adalah perubahan dari Gereja yang didominasi oleh orang-orang Yahudi ke gerejayang terutama sekali terdiri atas para Bangsa. Dari sudut pandang sang Sejarawan. dan karena itu mereka tidak melihat suatu patahan (ketidaksambungan.16:29-31. Mulai dari sekitar jaman Ezra. hidup dan karya Musa. buka saja kitab itu). adalah salah satu dari para penguasa di Mesir. Kis. di dalam Pembuangan... Bilangan. (Pada hari ini kuberikan dua pilihan bagimu. terdengar dangkal. yang berarti “sembilan”) untuk menyebut kesembilan kitab yang merentang dari Kejadian. Kitab Ulangan membentangkan adegan bagi Sejarah itu dengan cara memperjelas apa yang merupakan hukum-hukum dan tuntutan-tuntutan Allah kalau umat mau mendapat dan menikmati berkat karuniaNya. dan segera bisa menghasilkan sebuah versi terjemahan Yunani: itulah sebabnya disebut dengan Septuaginta (Latin Septuaginta. kesemuanya mempunyai asal-usul Yahudi. tetapi untuk sekarang ini cukup hanya mencatat bahwa ia jelas sudah membentuk atau merupakan satu kumpulan: lima gulungan yang tergabung menjadi satu dan selalu akan disimpan bersamasama. penilaian) yang baru di kalangan orang-orang Kristen pertama itu.berfungsi sebagai semacam pendahuluan baginya. ramalan yang dire ini sekarang sudah terjadi atau menjadi kenyataan. Motif penyebab yang lain boleh jadi sudah terkait dengan pengalaman Pembuangan itu sendiri. yang berarti “empat”) yang terdiri atas Kitab Kejadian. tetapi sang Sejarawan menambah sangat banyak kepadanya. Pada abad kedua M orang-orang Kristiani tampaknya tidak lagi membuat suatu pembedaan yang besar antara Pentateukh dan Kitab-kitab Suci lainnya. Samuel. dan sudah tentu (presumably) memandang Torah itu sebagai sesuatu yang sentral. dan Septuaginta terdiri atas terjemahanterjemahan dari kitab-kitab yang berbeda yang dibuat selama suatu kurun yang teramat panjang.28-30). (efbe: semua diperlakukan sama saja).15:21). hampir tidak bisa ditempatkan (relegated) pada pembagian yang kedua. Secara kebetulan (incidentally) mereka juga cenderung memberi lebih banyak arti penting pada kitab Yoshua. dan bukannya diakhiri di Tanah Perjanjian. Keluaran. yang memakai bahasa Yunani. Keluaran. Hakim-hakim. Kiranya ada dua motivasi atau penyebab yang tampaknya menggaris-bawahi hal ini. Kitab Suci Yunani akhirnya mengandung lebih banyak kitab dari pada Kitab Suci Ibrani – tetapi. Tentu saja orang-orang Kristiani pertama dulu adalah orang-orang Yahudi juga.). Kita akan terus melangkah (dalam bab yang berikut) untuk mendiskusikan status Taurat secara lebih rinci dan mendalam lagi. dan tindakan mengakhiri kumpulan itu dengan wafat Musa tampaknya merupakan suatu yang wajar saja. Boleh jadi injil dari Kitab Ulangan sudah ada sebelum masa Pembuangan itu. Samuel dan Raja-raja (Samuel dan Raja-raja aslinya tidak terbagi ke dalam masing-masing dua buku). Keluaran. Karena alasan-alasan ini ataupun alasan lain manapun. Ulangan. menuju ke tanah terjanji). Karena hal ini Kitab Suci Yahudi pun tersedia dalam sebuah terjemahan Yunani. yang berakhir dengan wafatnya Musa. Beberapa para penulis Kristiani mulai memakai kata-kata seperti Enneateuch (satu kata yang berasal dari bahasa Yunani Ennea. bukan karena ia mengungkapkan suatu pembedaan yang mempunyai arti penting bagi umat.khususnya berkat-berkat dan kutuk=kutuk dari bab-bab yang belakangan (yaitu Ul. semua hal pemberian-hukum dilihat sebagai terpusatkan pada tangan Musa. Dengan cara mengakhiri dokumen agung yang mendasar dari agama Yahudi dengan wafat Musa. Imamat dan Bilangan. mereka singgung. keretakan) antara Ulangan dan Yoshua. dan beberapa juga yang berdiam di Palestina.. Yoshua. Menurut sebuah legenda. Imamat. Oleh karena orang-orang Kristiani tidak lagi melihat agama mereka sebagai terpusatkan pada hukum melainkan lebih terpusatkan pada Kristus. (Jadi kalau mau mencari hal-hal pokok mengenai iman Yahudi. Imamat. 24:27. pendidikan. dan karena itu dia pun mencoba menghadiskan sejarah dari bangsa itu sebagai suatu realisasi atau pelaksanaan dari peringatan-peringatan yang ada dalam kitab Ulangan itu dahulu. yang pertama kali memerintahkan bahaw Torah itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sehingga ia bisa membuat pendapatnya sendiri mengenai hukum-hukum dari rakyatnya yang berbangsa Yahudi dan menempatkan sebuah salinan dari terjemahan itu dalam perpustakaan yang terkenal di Alexandria. dan sudah penuh dalam dirinya sendiri dalam mana semua hal-hal penting dari iman dan hidup Yahudi sudah dapat ditemukan. dan kitab suci inilah yang tampaknya diketahui atau dikenal oleh orang-orang Kristiani dari abad-abad awal. melainkan sebagai suatu karya yang tertutup.. Hakim-hakim. Tetapi pada abad kedua hal ini menjadi semakin tidak biasa lagi. atau “Yesus” – dan sebuah kitab yang diberi nama menurut nama Yesus. tuntunan – semuanya ini adalah elemen-elemen dalam Torah) merupakan inti pokok (entrepiece) dari identitas Yahudi. boleh jadi mereka telah memberi sinyal (signaling) pengalaman mereka sendiri sebagai kaum buangan dan sebagai orang-orang yang mengembara (sojourners) di tanah-tanah yang merupakan milik orang lain. walaupun secara kebetulan saja. Pada waktu ini. Hal ini muncul sebagai sebuah kesepakatan. khususnya yang berdiam di Mesir. Realitasnya ialah bahwa bahwa orang-orang Yahudi yang berbicara Yunani. dan tidak hanya pengantar kitab Ulangan itu saja. Hal ini sudah benar demikian 17 . dan prolog historis dalam bab 1-3. dan Raja-raja. dan bukannya Ibrani lagi. Tidak ada astu kitab manapun yang menyamai dia dalam hal prestise dan kekudusan. maka tampaknya tidak lagi dianggap penting untuk memberi kitab-kitab dari Musa itu sebuah posisi unggul (mencolok) secara khusus. Hal yang menimbulkan rasa ingin tahu ialah bahwa tidak satu pun dari cara penyusunan ini yang sama atau mirip dengan apa yang akhirnya menjadi sesuatu yang normatif dalam Yudaisme itu sendiri. pada jaman PB banyak orangorang Yahudi di luar Palestina. pengembaraan terus menerus. dan seterusnya. yang berarti tujuhpuluh) atau dengan simbol angka Romawi LXX itu. atau tidak berarti apa-apa. memerlukan sebuah versi terjemahan Mesir dari Kitab Suci itu sendiri. (efbe: maka perspektifnya bukan pendudukan dan kemapanan.” dan banyak ucapan yang dikaitkan dengan Yesus dalam Injil-injil juga berbuat demikian. Itulah kitab suci yang mereka sebut-sebut. Sesungguhnya. Maka menurut pandangan yang kedua ini.

untuk membedakan mereka dari Sejarah Deuteronomistik (yaitu kitab-kitab dari Yosua sampai ke 2Raja-raja) – “terdahulu” atau “perintis” dan “kemudian” di sini hanya berarti “mereka yang datang duluan” dan “mereka yang datang belakangan” di dalam daftar dari gulungan kitab suci. dan mazmur-mazmur.Yesaya. Tawarikh. Sejumlah kecil referensi-referensi PB menyarankan adanya suatu pembagian rangkap tiga. dan keduabelas nabi-nabi kecil. tetapi inilah yang menjadi pola dasariahnya. yang dianggap paling tinggi. Landasan untuk pembagian seperti itu tampaknya terutama sekali dasar kronologis belaka: Tulisan-tulisan Hikmat merupakan kitab-kitab yang belakangan dari Kitab Suci Ibrani. Dan kadang-kadang diusulkan bahwa Maleaki aslinya bukanlah sebuah kitab sama sekali. walau ia sudah terpelajar dalam Ibrani. 18 . sebagaimana yang diterima oleh orang-orang Kristiani. adalah sangat mencolok untuk menemukan Daniel di antara Tulisan-tulisan Hikmat.” di mana “mazmur-mazmur” mungkin menunjuk lebih jauh suatu pembedaan antara “nabi-nabi” dan beberapa kelompok kitab-kitab yang lain. petunjuk bukti dari abad pertama M ialah bahwa hanya ada dua kategori kitab saja. Ini adalah sebuah misteri besar yang serba gelap. Zakaria. jauh lebih luas dibandingkan dengan nuansa pemakaian pada jaman kita sekarang ini. dengan dua kitab naratif yang sama sekali tidak diakui di dalam Kitab Suci Ibrani. melainkan suatu bagian tambahan pada kitab Zakariah yang telah dipromosikan ke status sebagai sosok nabi tersendiri agar bisa tercapai jumlah angka keramat dua belas itu (“Maleaki” itu sendiri berarti “utusanku. orang mengutip berdasarkan hafalan dan ingatan saja. tetapi “kitabkitab yang lain” itu mungkan saja hanya berarti “kitab-kitab yang lain” dalam artian sebenarnya. dibayangkan sebagai kudus tetapi yang tidak termasuk bagian dari Pentateukh. dan kitab-kitab yang terdapat di dalamnya cenderung disusun berdasarkan tema atau jenisnya.” Mungkin juga sebagian besar orang Kristen pada saat itu tidak sadar bahwa gereja-gereja lain mempunyai injilinjil sendiri juga yang lain juga. yang ada di antara Nehemia dan Ester (lihat Bab 1). Umum diterima bahwa Mateus ditulis di Syria. Yeremia. dan Ratapan. ia mencakup kitab-kitab sejarah juga kitab-kitab yang kita kira sebagai kitab kenabian . dst. nabi-nabi.7:21. yaitu. Para penulis Kristen sering mengutip dari Injil-injil. dianggap sebagai hasil karya Yeremiah. yaitu Kebijaksanaan Salomo dan Kitab Sirakh. Samuel dan Raja-raja) dan keempat kitab-kitab “kenabian” yang cocok dengan sebutan itu (Yesaya. dan Nabi-nabi (sebagaimana ditetapkan sekarang) yang berikutnya. walau ada petunjuk bukti bahwa pada tahun-tahun awal ia dipandang sebagai karya kenabian di dalam Yudaisme. yaitu dengan cara membatasi “Nabi-nabi” pada keempat kitab sejarah (Yosua. Masih ada variasi rinci lagi dalam tata urut di dalam kodeks-kodeks Kristiani. “Hukum dan Para Nabi” Ungkapan “hukum dan para nabi. Obaja. Pada abad kedua SM karya yang disebut Sirakh dalam beberapa Kitab Suci Inggris (juga disebut Sirakh. Tata urut dari Keduabelas kitab itu adalah berbeda dalam Kitab Suci Yunani. Apa yang pasti ialah bahwa Yudaisme pada akhirnya mengakui satu kategori ketiga. dan hal ini terpantul dengan sangat jelas dalam Injil-injil (lihat Mat. tetapi (sebagaimana yang dapat kita harapkan) bisa mengalami sangat banyak variasi atau perubahan di antara manuskrip-manuskrip yang berbeda-beda. Maka Kitab Suci Ibrani akhirnya dipahami dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga ia dapat dilihat sebagai tiga lingkaran konsentrik. Yeremiah. ia menulis dan mengutip kitab suci PL. Misalnya. (penumbra). Kidung Agung. yang biasa terjadi. Maka dalam Luk 24:44 kita menemukan ungkapan rangkap tiga itu. Injil tertua. seperti Mazmur dan Ayub – sesuatu. Ester. dan Duabelas Nabi kecil). Kemudian ada kitab-kitab “puitik” – seperti Mazmur. Yehezkiel. Ayub dan Pengkotbah.adanya sehubungan dengan Paulus. yang sebenarnya.. Dalam suatu kurun waktu yang jauh lebih kemudian hal-hal ini disebut Yang Kemudian atau Para Nabi Kemudian. Pengkotbah. dan kitab-kitab yang lain”. Junus. Amsal. dan kitab Barukh – Yeheskiel. Pada tahap awal ini mungkin mereka tidak mempunyai judul-judul. dan demikian juga halnya dengan kitab Mazmur. yang barangkali lagilagi mempunyai status yang lebih rendah.. berbicara tentang ‘hukum. Nehemiah.”hukum. Apalagi sebuah kutipan langsung.” dan bisa saja itu hanya sebuah gelar saja untuk Zakaria – walau nama-nama Ibrani seperti ini juga memang bisa ada). dan barangkali juga dalam cara dalam mana gulungan-gulungan itu disusun dalam suatu perpustakaan atau ruang buku. dengan Torah berada pada pusatnya. Tetapi tidak begitu teiliti. Maka Tawarikh muncul (dimasukkan) di sana. dan dengan cara menempatkan kesemua kitabkitab non-Pentateuch ke dalam satu kategori yang disebut secara bland sebagai Tulisan-tulisah Hikmat (Writings). Lukas di Asia Kecil (di wilayah Turki modern sekarang ini). Injil-injil (lihat tulisan tangan itu) Keempat Injil kita mungkin pada awalnya adalah teks kisah berwibawa tentang hidup dan ajaran Yesus dalam satu gereja lokal tertentu. Dari sudut pandangan Kristiani. Amos. tetapi ada beberapa petunjuk bukti bahwa hal memperlakukan mereka sebagai satu telah mendatangkan beberapa perubahan dan tambahan-tambahan terhadap masing-masing “kitab kecil” itu. dan kelima gulungan yang dibacakan pada pesta-pesta Yahudi: Rut. dan masih ada dua karya yang lain yang tidak diterima di dalam Yudaisme. Yeremiah – bersama dengan kitab Ratapan. kitab-kitab yang bukan merupakan kitab suci. Amsal dan Ayub. Ezra. yang jelasjelas tidak lagi diperlakukan atau dianggap sebagai sebuah kitab kenabian.. Maka Yudaisme dalam masa PB sesungguhnya ada dua jenis kitab kudus: 1) Taurat. “Para Nabi Terdahulu” (tidak disebut demikian). dalam bahasa Yunani. dengan Roma. “Nabi-nabi” adalah sebuah istilah yang merangkum-semua (catch-all). Sebagaimana yang sudah kita lihat. Oleh karena itu. dalam suatu tempat yang sangat terpisah dari kitab-kitab sejarah awal. Akhirnya ada “kitab-kitab kenabian”: Yesaya. para nabi. Kitab Duabelas Keduabelas nabi kecil (Hosea. Walau baris pertama Markus adalah semacam judul yaitu sbb: “.” adalah cara biasa untuk membedakan antara Pentateuch dan semua kitab kudus yang lain dalam Yudaisme dari kurun PB. Tulisan-tulisan ini berasal dari banyak kurun waktu dan sejarah. Tobit dan Yudit.. 11:13). dan 2) segala sesuatu yang lain selain Taurat. Injil mana yang dikutip. Bagi mereka hanya ada satu kategori saja. Orang-orang Kristiani tidak melihat hal-hal itu dengan cara seperti ini sama sekali. Ester. Hakim-hakim. Nahum. Zefania. Maka kitab suci Yunani. Daniel (yang oleh orangorang Kristiani pandang sebagai kitab kenabian). Yoel dan Amos – yang ditempatkan satu di samping yang lain walau ada rentang waktu 200-an tahun memisahkan mereka (terbentang di antara mereka) – mempunyai sejumlah kecil ciri-corak yang sama. termasuk satu nubuat yang sangat panjang (Yoel 2:16 dan Amos 1:2). Habakuk. yaitu “Kitab Suci”. Tetapi “Nabi-nabi” juga tampaknya mengacu kepada kitab-kitab yang lain. Sedangkan Yohanes ditulis di dan untuk Efesus. Para penulis Kristiani awal pun biasanya mengkaitkan Markus. kita tetap tidak tahu bagaimana orang Kristen awal memahami hubungan antara injil.. Joel. dimulai dengan semua kitab-kitab sejarah – Pentateukh. bersama dengan Ezra dan Nehemiah. dan Tulisan-tulisan Hikmat sebagai lingkaran paling luar. dan Maleaki) diperlakukan sebagai satu buku tunggal saja dalam Kitab Ibrani – Kitab dari Keduabelas Nabi – dan dikelompokkan bersama sebagai “nabi-nabi kecil” dalam Kitab Yunani. Tetapi secara keseluruhan. atau “Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh”). Hagai. Mikah.

Kalau memang benar bahwa aslinya masing-masing Injil adalah kepunyaan gereja partikular tertentu dan merupakan versi lokal dari Kabar Baik. Ia cukup sering berapologi tentang hal ini: bahwa ada empat injil tadi. Yang jelas pada masa gereja purba ada banyak inji. Tidak ada jawaban serba mudah untuk pertanyaan ini dibandingkan dengan pertanyaan pertama. akhirnya dikumpulkan bersama dan diperlakukan sebagai satu karya dalam beberapa artian tertentu (kelima pilar atau fifths hukum). Proses pengumpulan dan penyebaran (diseminasi) Kitab-kitab Suci Yahudi dan Kristiani merupakan suatu proses yang sangat rumit dan beragam. Menurut dia Injil-injil yang lain itu bersifat dunia. tidak mempunyai satu bingkai naratif. kitab-kitab Pentateukh dialami oleh angkatan-angkatan yang kemudian pertama-tama dan terutama sekali sebagai instruksi dalam bagaimana hidup sebagai seorang Yahudi yang baik. atau barangkali juga para ahli hukum. yang sudah berasal dari jaman yang sudah sangat kuno di masa silam. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap Gereja sudah memiliki keempat-empatnya. Adalah benar juga bahwa Tulisan-2 cenderung mengandung karya-karya yang lebih kemudian dari para Nabi-nabi. maka peralihan menuju ke pengakuan empat kesaksian yang berbeda dan sering sekali tidak konsisten terhadap atau tentang injil pasti telah merupakan suatu perubahan sikap yang besar dan barangkali juga mengandung sisa-sisa traumatik tertentu. agar dapat dibedakan dari satu sama lain. Kitab-kitab yang lain tidak mempunyai fungsi sentral yang sama dalam Yudaisme. Bacaan kedua ini harus diangkat atau diambil dari Nabi-nabi. Markus misalnya. Ini fakta yang benar. Injil ini hanya kumpulan ucapan-ucapan Yesus saja. ada saling pengaruh juga). Pembedaan ini. Sama-sama misteriusnya adalah penyusunan Injil-injil.. Yang jelas tidak lama sesudah Ireneus.” Surat-surat Paulus (Lihat tulisan tangan itu) Sisa PB (lihat tulisan tangan itu) Siapa yang mengumpulkan Kitab Suci? Dalam bab yang terakhir kita bertanya: Siapa yang menulis kitab-kitab itu? Sekaranglah saatnya kita harus menjawab pertanyaan yang lain: Siapa yang mengumpulkan mereka? Pertanyaan yang kedua ini bukan pertanyaan mudah. tetapi penting karena ia menentukan bentuk bagaimana kiranya bentuk kitab-kitab ini mulai sekarang hingga seterusnya. sesuatu yang seperti apa yang sekarang ini kita sebut para rabbi. Ia mencoba membedakan antara Yohanes dan ketiga injil yang lain. kelima kitab Musa. di dalam Nabi-nabi. Tetapi tidak satu pun yang lebih tua dari pada yang lain. uskup Lyon. maka pembacaan kedua ditambahkan. Padahal mungkin sebenarnya angka 4 itu hanya untuk menunjukkan empat arah mata angin utama. atau empat makhluk hidup dalam Wahyu itu (4:9) dan empat janji Allah dengan manusia.” atau “kata. Aturan di dalam sinagoga dewasa ini. Tetapi bacaan-bacaan kedua (haftarot) dalam prakteknya telah ditetapkan sudah sejak sangat lama. Kendati ciri-corak naratif mereka yang jelas dan bahan miscellaneous yang terdapat dalam mereka. Betulkah demikian? Yang jelas argumen itu tidak begitu meyakinkan semua orang. Zakariah. Oleh karena itu rupanya bahwa mereka dikumpulkan bersama oleh orang yang dipercayai dengan tugas pengaturan hidup Yahudi. Argumen seperti itu tampak seperti agak dipaksa-paksakan.. dan bukan sebaliknya – dengan kata lain. yaitu sebagai gulungan-gulungan yang dihasilkan dengan perhatian penuh cinta dan suatu tingkat kepedulian yang sangat besar dan tinggi akan keakuratan. Sebagaimana yang akan kita lihat kemudian.. di dalam Tulisan2). Maka dapat disimpulkan bahwa empat Injil sudah terkumpul sebagai empat pada satu saat tertentu pada abad kedua. sedangkan Yohanes itu bersifat rohani (injil rohani). dan Tulisan adalah yang tidak memberi sumbangan. Kita bisa membaca motifnya dari fakta bahwa “Torah” itulah yang menjadi sebutan bagi kitab-kitab itu pada akhirnya. bahwa para Nabi adalah kitab-kitab yang menyumbang pada Haftarot kepada buku bacaan liturgi. dan adalah mungkin bahwa aturan itu terpantul dalam pembagian dari Kitab Suci itu. yang ditemukan di Mesir tahun 1945-6. walau tidak secara umum demikian adanya (misalnya. boleh dihubungkan dengan pemakain liturgis dari kitab-kitab non-Torah.” Kata Injil itu sendiri tidak ada dalam judul. pada akhirnya bermuara (settle into) pada pembagian berganda dari Para Nabi dan Tulisan-tulisan Hikmat.Tetapi kira-kira sekitar tahun 150 ada perubahan. Tetapi adalah sangat meragukan apakah orang-orang Yahudi pada permulaan dari jaman kita memang tahu kitab-kitab mana yang lebih tua dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. dan bukannya dari Tulisan-tulisan. (dengan kata lain. hanya mengatakan “kabar baik sebagaimana dikisahkan Markus. sedemikian pentingnya sehingga mereka bisa dibaca secara agung-meriah dalam liturgi – sekunder karena alasan untuk membaca mereka dengan cara demikian adalah karena peranan sentral mereka sebagai instruksi moral. Untuk pertama kalinya Ireneus berbicara bahwa ada empat Injil. paling tidak di gereja-gereja berbahasa Yunani di Prancis Selatan. kata “injil” itu bukanlah judul generik untukjenis kitab khusus seperti ini. Tampaknya pada tahap ini. mungkin sekali berasal dari kurun waktu yang lebih kemudian dalam tanggal penyusunannya daripada Mazmur. Satu-satunya kesimpulan yang aman ialah bahwa kita hanya tidak tahu bagaimana kedua kumpulan ini mulai berada. 4 arah lingkup misi. Petunjuk pertama yang kita percayai ada dalam karya Ireneus.. apalagi jika ia tidak percaya tentang beberapa jumlah injil saat itu. pembedaan itu dilakukan dengan cara memberi keterangan “menurut. Dari manuskrip tertua. muncul Clemens dari Alexandria (seornag filsuf Kristiani). Mungkin dengan kekecualian beberapa fragmen dalam Injil Thomas. Kita mempunhyai suatu ide yang sangat baik tentang mengapa Torah.. Keempatnya dinilai tinggi juga oleh Gereja yan gmungkin tidak mengenalnya secara langusng. Argumen Ireneus itu sepertinya sudah memastikan bahwa pada jaman dia memang sudah ada empat injil.. Motif atau alasan yang sekunder tetapi juga sangat penting untuk mengumpulkan kita-kitabTorah. Seakan-akan disiratkan bahwa pada saat itu memang sudah ada empat injil untuk Ireneus. adalah bahwa setelah pembacaan mingguan yang diambil dari Pentateukh. diterimanya empat kisah yang tidak konsisten berarti bahwa tidak satu pun dari mereka bisa lagi dianggap sebagai otoritatif secara mutlak: masing-masing mempunyai daya untuk memodifikasi kisah yang dikisahkan oleh yang lain. dan itu berarti mulai dikumpulkan menjadi satu kumpulan. Ketika akan dikumpulkan barulah mereka diberi nama. Itu berarti juga bahwa bagi dia sudah ada empat injil seperti yang kita punyai saat ini. dan kita hanya bisa menebak tentang bagaimana mereka akhirnya bisa dikumpulkan bersama dalam satu kumpulan.. yang tampaknya telah sampai pada panggung beberapa waktu kemudian dari pada proses penulisan PB (yang tidak sadar akan hal ini). 19 .

15:26 dan 16:19). Dalam bab ini saya bermaksud untuk bertanya apa yang tersirat dalam menyebut sebuah buku itu sebagai “kitab suci. mereka bukan hanya sekadar semua kitab-kitab yang kebetulan ada. Harmoni-harmoni Injil – yaitu kisah-kisah tunggal. paling tidak. yang bisa pergi ke sebuah toko buku dan membeli sebuah buku yang mengandung persis surat-surat yang sama dalam tata urut yang sama juga. Sebagaimana yang akan kita lihat dalam Bab 5. seperti Injil Thomas. Bab IV: Dari Kitab-kitab ke Kitab Suci Apa itu Kitab Suci? OK Spesial Sejak Semula OK (hal.14). (sebab masih ada lebih banyak lagi dari sekadar yang diterima dan diakui). Kitab-kitab di dalam PL dan PB adalah kitab-kitab yang akhirnya diterima sebagai “suci”. yaitu Lukas – dan bahwa hanya satu kali itu saja ia telah expurgated dia. yang terasa sangat mencolok manakala orang berhenti untuk berpikir betapa anehnya bahwa Gereja bisa mempunyai empat versi alternatif mengenai peristiwa dan ajaran-ajaran yang ia sendiri pandang sebagai sangat penting! Walau perlawanan Marcion terhadap keadaan perkara seperti ini sudah mati atau menghilang di antara para penggantinya. maka kiranya hal ini sangat boleh jadi (fairly) telah terjadi tidak lama sesudahnya: produksi surat-surat Deutero-Paulinian seperti surat-surat Pastoral itu menyiratkan bahwa orang membaca dan menilai surat-surat itu sebagai dianggap ditulis oleh Paulus.55-56. Beberapa di antaranya telah ditulis dengan sebuah status yang tinggi dalam hati sedari awal mula. dalam beberapa artian. Hal ini bisa kita lihat dalam karya dari Marcion (wafat sekitar tahun 160-an). yang merupakan atau dianggap sukses besar dalam beberapa gereja-gereja Timur. Hal terbaik yang dapat kita katakan ialah bahwa surat-surat membentuk satu kumpulan dalam suatu artian yang lebih dari pada sekadar bersifat insidental belaka – seakan-akan mereka itu hanya sekadar terjadi atau berada dalam satu ruangan yang sama – tetapi dalam cara yang kurang tampaknya mereka kepada kita. mempunyai satu kumpulan-surat Paulus.54 belum) Sebuah Seleksi Khusus Hal. p. yaitu (presumably) menyiratkan bahwa dia (dan mereka yang menghukum dia karena vandalismenya) sudah tahu surat-surat itu dalam bentuk mereka yang lebih penuh (lengkap). Sekitar tahun 150-60 ia menghasilkan sebuah Diatessaron. sehingga hal ini mendukung gaya Kristianitas dia sendiri. Beberapa para ahli bahkan telah berbicara tentang tindakan Paulus yang “menerbitkan” surat-suratnya – membuat salinan dari sejumlah surat-surat itu dan mengedarkan mereka kepada semua gereja yang telah ia dirikan. Bagaimana pun juga.” Maka usul bahwa kitab-kitab yang telah kita perbincangkan “telah menjadi” Kitab Suci mengandung suatu kebenaran yang penting. yaitu suatu Harmoni Injil. Hamden. dan yang otoritasnya mengikat atas orang Yahudi untuk semua generasi.Leiman. (Beberapa tahun belakangan ini.Z. PL itu sendiri menyebut banyak kitab-kitab yang sekarang ini telah hilang. dan tampaknya ia bukan orang pertama yang memikirkan tentang hal ini. mengutip dari semua ketiga Injil Sinoptik walau tidak pernah mengutip dari Yohanes. akan mengherankan untuk menemukan satu bangsa yang tulisan-tulisannya hanya berkisah tentang pokok-pokok yang suci-suci saja – walau di mana hal ini menyangkut Gereja maka hal ini lebih masuk akal dan dapat diterima. yang banyak dari padanya telah ditemukan kembali pada jaman modern ini – misalnya. Sebagian besar dari mereka tampaknya telah diterima sejak dari awal mula. tetapi jangan sampai membuat kita berpikir ini hanya suatu pertanyaan terbuka kitab-kitab manakah yang akan mendapatkan status ini. 1976. dan kita tahu bahwa orang yang masih sejaman dengan Marcion.Leiman: “[Kitab-kitab] yang diterima oleh orang-orang Yahudi sebagai otoritatif untuk praktek keagamaan dan/atau ajaran. Di mana menyangkut Israel kuno.” (S. Conn. tetapi kita tidak pernah mendefinisikannya. dan Injil Yohanes. Sebuah definisi yang baik akan Kitab Suci adalah definisi yang diberikan oleh S. kiranya masuk akal untuk berharap bahwa kitab-kitab sekular dan suci sama-sama akan diwakilkan atau tergambarkan dalam Kitab Suci. The Canonization of Hebrew Scripture: The Talmudic and Midrashic Evidence. (Maka muncul gerakan dan upaya untuk membuat semacam harmonisasi injil). Kalau nasihat Paulus kepada orang-orang Kolose untuk membaca suratnya kepada orang-orang Laodikea (dan sebaliknya juga) adalah otentik. seperti misalnya “kitab Yashar” (2Sam. Tampaknya hal ini terjadi tanpa banyak kontroversi sama sekali. dan bukan satu bangsa. yang mengatakan dengan tegas bahwa hanya ada satu saja Injil yang benar. Baik Pentateukh dan kitab-kitab para nabi membuat suatu pengakuan di dalam teks itu sendiri sebagai kitabyang diilhami secara ilahi. yang mengeluarkan semua bentuk inkonsistensi dan menyatu-padukan semua kisah-kisah dan ajaran-ajaran dalam satu kitab saja – mash terus dipakai hingga hari ini oleh beberapa orang Kristiani. Kalau hal ini tidak terjadi pada masa hidup Paulus sendiri. Faktor yang kedua ialah ini. dan tidak mengajukan satu pertanyaan tentang kompabilitas timbal balik mereka. Gereja mempunyai lebih banyak lagi dokumen daripada yang sudah membentuk Kitab Suci itu. Contoh yang paling terkenal dari gerakan ini ada dalam karya seorang yang bernama Tatianus. dan masih terus dipakai juga oleh banyak orang Kristiani bahkan setelah semua akhirnya telah mengakui koleksi empat injil sebagai kumpulan yang berwibawa. namun beberapa para penulis Kristiani awal memang sudah berpikir bahwa satu Injil yang tunggal dan dihomogenisasi akan jauh lebh baik dari pada versi empat injil yang tidak konsisten satu sama lain. kita dihebohkan dengan Injil Yudas yang terkenal itu). lagi-lagi. Sudah barang tentu kita tidak dapat mengatakan seberapa jauh “korpus Paulinium” itu dipikirkan sebagai suatu karya tunggal. Bab 5 Proses Penetapan Kanon 20 . dokumen-dokumen yang ditemukan dalam penggalian di Nag Hammadi di Mesir.” dan bagaimana kitab-kitab seperti itu dibaca dalam dunia kuno. dari pada yang tampaknya pada kita sekarang ini. dan seberapa jauh perbedaan antara pelbagai surat-surat dilihat dan diperhatikan. yaitu Yustinus Martir. yang disebut dalam Bab 3. Adalah jelas dari hal ini bahwa Injil-injil yang lain pasti telah beredar juga. tidak konsisten. tampaknya dirancang untuk menjadi sebagai semacam Kitab Suci Kristen (dengan sengaja dan sadar).(Masalah Markion) Tentu saja dulu sudah ada penolakan terhadap upaya perumusan (promulgation) akan satu kumpulan dari empat-Injil. Hal ini menyarankan bahwa Injil-injil – atau paling tidak injil-injil Sinoptik – sudah secara luas dilihat sebagai serangkaian dokumen yang koheren pada awal abad kedua Masehi..Z. kita boleh melihat koleksi dari surat-suratnya sebagai kembali atau berasal pada suatu dorongan yang berasal dari Paulus sendiri. Kita telah mengkait-kaitkan (bandying) kata “kitab Suci” dalam banyak halaman dalam buku ini. Jika kitab-kitab PL dan PB semuanya adalah sastra yang pernah ada di Israel dan pada jaman Gereja purba. Tetapi tampaknya jelas bahwa dalam kedua kasus itu ada lebih banyak kitab-kitab yang berada dari pada yang masuk dalam waktu untuk membentuk Kitab Suci.1:18) dan silsilah para raja Israel dan Yehuda (lihat 2Raj. sebab Gereja adalah sebuah gerakan rohani. karena ia membuang bagian-bagian dari surat-surat yang tidak ia setujui. Marcion. Tetapi mereka adalah kitab-kitab yang diakui secara luas sebagai kitab yang mempunyai kwalitas yang tinggi: dengan mengakui (reckoning) mereka sebagai Kitab Suci bukan hanya sekadar suatu perkara mengambil hanya salah satu dari kitab-kitab yang boleh jadi sudah tersedia dan memutuskan untuk menyebut mereka sebagai “Kitab Suci. Kumpulan kitab-kitab dalam dunia kuno adalah sangat beragam. hal itu tidak niscaya berarti bahwa seseorang secara sadar telah memilih mereka dari sebuah daftar kemungkinankemungkinan yang lebih panjang.

Tetapi kini saya harus menjelaskan alasannya. Maka hal ini bukan hanya sekadar masalah bahasa saja yang membuat beberapa kita mampu menemukan jalan mereka ke dalam kanon Yahudi sementara kitab-kitab yang tertinggal di luarnya. Tetapi dalam teorinya kanon itu tidaklah bersifat tertutup: kitab-kitab tua yang baru saja ditemukan kiranya harus dipertimbangkan sebagai calon 21 . alias tidak dapat masuk kanon. poin utama yang harus dikatakan tentang proses kanonisasi (dalam artian daftar resmi dari kitab-kitab yang diterima) adalah seberapa sedikit dari padanya yang sungguh terjadi. Baru sesudah itulah “dikanonisasi” dalam artian diterima secara resmi sebagai bagian dari satu daftar yang terbatas. sebagaimana telah dicatat di atas. Di sini orang pun bertanya: Kapan Daniel dikanonisasikan? Artinya. apakah sungguh berdasar atau tidak) bahwa mereka selama ini sudah selalu dihormati. dan boleh jadi ada sementara orang yang berpikir tentang satu hal dan yang lain berpikir tentang hal yang lain. tentang apakah Kitab Sirakh dan Kidung Agung itu “menajiskan tangan-tangan. cenderung untuk berarti dua hal sebagai berikut ini. Pada prinsipnya adalah mungkin untuk memiliki Kitab Suci tetapi tanpa kanon. Esther juga tidak mempunyai nama suci itu. Barangkali hal ini terlalu menyederhanakan masalah. dan penerimaan sebagai Kitab Suci). dengan beberapa kitab sudah “tiba” sebelum yang lain-lain sudah ditulis. Aktifitas menulis buku tidaklah sama dengan proses atau aktifitas mengumpulkan buku. Kata “kanonisasi”. YHWH. memberi perintah bahwa surat-surat yang meragukan (spurious) yang diandaikan (purporting) datang dari dia harus diabaikan. Sejumlah kecil keraguan juga dicatat sehubungan dengan kitab Yeheskiel. menulis dalam bahasa Yunani tetapi dari suatu latar belakang konteks Palestina.” seraya mengusulkan bahwa Gereja sudah mulai melarang teksteks tertentu – walau pada waktu itu isi dari PB sama sekali belum ditetapkan secara pasti. tetapi tetaplah harus diingat bahwa sebagian besar dari kitab-kitab tambahan itu dalam kanon LXX aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani juga. Judaisme memperlihatkan suatu kecenderungan yang kecil untuk melegislasi tentang kandungan dari Kitab Suci. dalam 2Tes. Dan pada saat itu banyak kitab lain dalam Kitab Suci Ibrani belum ditulis sama sekali. Secara praktis hal ini berarti bahwa Yosefus mendukung kanon Ibrani (yang ia tahu dalam bahasa Yunani!). Bagian-bagian penting dari teks Ibrani kitab Sirakh. Tetapi ada juga tambahan-tambahan sedikit – kisah-kisah mengenai Susanna dan bel dan Naga. Dan walaupun kita membedakan dua macam daftar sebagai “Ibrani” dan “Yunani”. demikian juga kanonisasi buku-bukutertentu boleh jadi sudah terjadi sangat dini dalam sejarah. walaupun bersifat membangun. dan oleh karena itu teks itu mempunyai otoritas dalam hal usia. baik dalam Yudaisme dan Kristianitas. Perjanjian Lama 75-76. Kanon Yunani mempunyai otoritas potensial karena Paulus memakai kitab Kebijaksanaan. Yudaisme sudah mempunyai “Kitab Suci”. Begitulah Pentateukh mungkin sudah dikumpulkan dan dipandang sebagai suci sebelum beberapa dari nabi-nabi kemudian lahir. Ada proses keempat yang harus ditempuh sebelum Kitab Suci mulai ada dalam bentuk seperti kita memilikinya sekarang ini. kriteria untuk memakai dan mengacu atau menghormati kitab-kitab tertentu adalah fakta (atau kepercayaan. tetapi hanya (berdasarkan) tanggal dari kitab itu saja. sementara dia mengakui hanya kitab-kita dari Kitab Suci Ibrani yang ada. yang dipandang secara keliru seakan-akan keduanya itu tidak berbeda. memakai sebagai kriteria untuk inklusi bukannya suatu keputusan atau perintah dari beberapa otoritas yang kompeten. hal itu tampak paling jelas dalam kasus Kitab Suci Ibrani. tetapi sebenarnya tidak berbuat demikian. Kapan Daniel. Orang dapat membayangkan hal ini dengan mudah dalam kasus kitab Daniel. dan sering dikutip (aptness) dengan kalimat-kalimat seperti “sebagaimana ditulis dalam Kitab Daniel. adalah hanya di pinggir-pinggir saja dari suatu kanon bahwa keputusan-keputusan sungguh dituntut dalam salah satu agama: sebagian terbesar dari kitab-kitab biblis hanya diterima begitu saja dari masa silam dan diturun-alihkan ke masa depan. Adalah juga penting bagi Philo dari Alexandria. sang penulis Yahudi yang merupakan orang sejaman Paulus tetapi agak sedikit lebih tua dari pada Paulus. Jadi. tidak lagi demikian. dengan dasar karena ia berkonflik dengan Torah (lihat di atas). bahwa karya-karya itu ditolak secara resmi dari kategori sebagai Kitab Suci. dan kemudian akhirnya diakui sebagai Kitab Suci. khususnya di Mesir. Semua kitab-kitab yang sekarang ini ada dalam Kitab Suci Ibrani pada akhirnya dimasukkan secara pasti. karena ia merupakan teks primer yang dibacakan secara publik pada pesta Purim. sebab ada banyak kontak antara kedua pusat dari Yudaisme itu sebenarnya. Maka tidak dapatlah dipahami kalau ada orang yang mencoba untuk membuangnya dari kanon. tanpa diajukan satu pertanyaan apa pun juga. Tetapi. akhirnya dipandang sbagai Kitab Suci. ada faktor kesepakatan para rabi. para rabbi tidak undoubtedly membicarakan kitab Sirakh. Apa yang tidak selalu diperhatikan (yang selalu luput dari perhatian) ialah diskusi Yosefus sendiri tentang kanon. tetapi tidak apa-apa dalam tradisi Yahudi). sebagaimana yang telah kita lihat dalam Bab 2. ada sebuah surat oleh Origenes tentang Susanna. kitab ini tidak diakui sebagai kitab suci. sedang membuat satu klaim implisit sebagai Kitab Suci sejak dari semula. Kita tidak mempunyai catatan-catatan mengenai suatu diskusi atau perbincanngan mengenai hal ini (pada pihak orang Kristiani. Yang jelas. Biasanya dipikirkan bahwa masalah itu dapat dipecahkan dengan mengatakan bahwa kanon-kanon yang lebih panjang dan lebih pendek hanya menggambarkan atau mewakili Kitab-kitab Suci dari orang-orang Yahudi masing-masing atau berturut-turut di Mesir (Alexandria) dan Palestina. karena Daniel telah bernubuat pada abad keenam SM. Hal. Ada suatu teks di dalam Mishnah (Yadaim 3:5) yang mengatakan bahwa memang ada pertikaian-pertikaian. Kitab Suci itu tumbuh dengan satu cara yang sangat acak-acak (untidy) dan tidak ada satu pemikiran apa pun yang bisa mengubah fakta sejarah itu. pada abad kedua M. Dan Tertullianus. sebagaimana yang akan kita lihat. dan bahwa ini adalah suatu cara ingenious untuk meletakkannya melampaui penghinaan. Teks Ibrani dan Aramaik yang utama sudah ada atau tersedia begitu sajja – otentik. dengan semua implikasi-implikasi yang baru saja disebutkan tetnang hal penerapan universal. yang dianggap agak kemudian dan rada tidak biasa. tiga tahap itu saling tumpang tindih. Sampai saat ini saya berusaha menghindari pemakaian kedua kata itu. Kitab Ulangan dan mungkin Injil Yohanes. makna-makna tersembunyi. dapat juga diperluas ke proses atau tahap yang keempat.Perlu disadari bahwa tiga proses yang telah kita pelajari sejauh ini jelas berbeda satu sama lain. Kiranya sudah jelas pada akhir abad keempat SM bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat ditambahkan pada Pentateukh. lalu ada lagi tahap di mana orang melihat semua buku itu sebagai Kitab Suci. dan tentang Amsal. dengan alasan adanya inkonsistensi internal kitab itu ssendiri. ada faktor kesepakatan dalam pemakaian liturgis. Suatu pemecahan yang lebih baik ialah mungkin untuk berpikir bahwa hanya Pentateukh sajalah yang benar-benar penuh berciri kanonik – yaitu. dan hal ini adalah sesuatu yang logis-logis saja. dan hampir tidak ada suatu bukti apa pun bahwa ada pertikaian tentang hal ini. apa yang ditulis sesudah kurun waktu itu. Surat-surat Paulus mungkin sudah terkumpul dalam satu korpus sebelum 2Ptr ditulis.). Tetapi penting juga disadari bahwa tiga hal itu bukan tiga tahap sejarah yang jelas berbeda dalam proses perkembangan Kitab Suci. Setiap kitab yang ditulis sebelum kematian Artaxerxes secara potensial bersifat skriptural. dan tidak seorang pun merasa untuk memaksakan titik silang (cut off). (Ada sementara orang yang berpikir 2 Tes itu sendiri meragukan atau spurious. ditulis. tidak memakai apa yang kiranya akan dikenal sebagai kitab-kitab Apokrif – boleh jadi ini merupakan sebuah konfirmasi sedikit bahwa kedua kanon itu masing-masing merupakan Kanon di Alexandria dan Palestina. dipertahankan melawan penambahan atau pun penyisipan (supplantation) – pada abad pertama SM. ketika dipakai mengenai teks-teks Kitab Suci. misalnya. Pada gilirannya dua hal ini tidak sama dengan upaya mulai memperlakukan kitab-kitab itu sebagai Kitab Suci. Kemerosotan (demise) dari kanon yang lebih panjang dalam Yudaisme kiranya merupakan suatu konsekwensi dari naiknya (ascendancy) pada akhirnya Yudaisme Palestina di atas varietas Alexandria. Yang satu adalah proses yang dilukiskan dalam Bab 3: yaitu tahap-tahap dengan mana teks-teks tertentu akhirnya dipandang sebagai suci dan berwibawa. Yang menarik ialah bahwa ada petunjuk bukti yang kemudian bagi persoalan-persoalan tentang apakah Esther itu bisa menajiskan tangan atau tidak. “hukum” itu sudah pasti atau tentu tetapi “para nabi” itu masih tetap merupakan sebuah daftar yang terbuka. Beberapa kitab sudah dipandang sebagai Kitab Suci sebelum kitab-kitab yang lain. dan adalah mungkin untuk dikatakan bahwa berdasarkan gaya dari kitab-kitab yang lain bahwa mereka juga merupakan terjemahan-terjemahan dari teks asli dalam bahasa Ibrani. dan ada peraturan-peraturan yang eksplilit bahwa. dalam akademi rabinik yang didirikan di Yahnah setelah runtuhnya Yerusalem ke tangan orang-orang Roma pada tahun 70 M. dan bahwa tidak ada sesuatu yang lain lagi yang dapat menyaingi otoritasnya bagi orang-orang Yahudi. maka masalah itu kiranya tidak akan pernah muncul juga ke permukaan – melainkan apakah mereka harus diperlakukan dengan sikap dan perhatian yang sama seperti yang selalu selama ini diperlihatkan atau ditunjukkan kepada kitab-kitab yang memang disebut Kitab Suci itu. Kadang-kadang orang berbicara tentang “kanon” Kitab Suci. dan nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan oleh tiga orang Pemuda di dalam tanur api itu. relevansi dengan jaman. Jadi. Saya sendiri beranggapan bahwa masalah itu boleh jadi erat terkait dengan fakta bahwa nama suci-ilahi. yang mengacu kepada mereka seakan mereka sudah merupakan satu karya yang akrab (bagi para pembacanya).2:2. Tampknya tidak ada kitab lain yang telah menjadi subjek dari suatu peraturan. Begitu juga halnya dengan PB. proses ke arah itu disebut “kanonisasi”. Adalah penting untuk melihat bahwa dua hal ini adalah dua hal. Dua hal ini mutlak. Jelas adalah benar sehubungan dengan suatu karya tertentu bahwa ia mula pertama ditulis. yaitu. tetapi ada sebuah penumbra dari karya-karya tentang mana yang setuju atau disetujui. lalu ada kurun waktu orang mengumpulkan kitab-kitab itu. seperti halnya dalam banyak agama-agama lain di dunia ini. Yudaisme rabinik kiranya telah memutuskan bahwa Kitab Suci Ibrani yang lebih pendek lebih disukai untuk dipilih dibandingkan dengan daftar yang lebih panjang dari LXX (Septuaginta). atau tanpa dipersoalkan apa-apa lagi. Ketika para penulis PB mengacu kepada “hukum dan para nabi” sebagai suatu cara untuk melukiskan Kitab Suci Yahudi. dari mana komunitas-komunitas dan para penulis Yahudi memilih apa-apa saja yang mereka sukai atau. mengacu kepada daftar-daftar dari kitab-kitab yang “terlarang. Tetapi sebagaimana halnya proses-proses yang lain saling tumpang tindih secara kronologis. Kitab-kitab suci hanya terus mengakumulasi sampai ada lebih dari satu orang yang bisa membaca. dan mengandung (appends) tanda tangan dia sebagai bukti otentikasi atas suratnya (3:17). dan bahwa semua kitab-kitab Yahudi yang lainnya membentuk atau merupakan sebuah kategori yang longgar (fluid). baru kemudian dikumpulkan ke dalam satu kumpulan atau batang tubuh. dan tidak satu. Judaisme dan Kristianitas kiranya telah menelusuri lorong yang penuh konflik darah itu. Sejarawan Yahudi Yosephus. Pada satu titik tertentu. Dalam kasus ini pertikaitan bukanlah mengenai apakah mereka itu adalah kitab suci – kalau mereka memang bukan kitab suci. (Seperti halnya Buddhisme). dan karena itu ia pun dapat berkata bahwa ada hanya 22 kitab-kitab suci saja bagi orangorang Yahudi. barangkali apa-apa saja yang mereka ingin mendapatkan salinannya. sebegitu jauh yang dapat kita katakan atau sampaikan. Poin yang dikatakan di atas tentang tumpang tindih antara tiga proses awal atau pertama kita (penulisan. di pihak yang lain. tetapi merupakan bagian inti dari Kitab Suci bagi para rabi.74-75. Otoritas potensial dari kanon Yunani itu dapat dilihat dengan mudah. yang ada dalam Kitab Suci. Bahwa fakta sudah diterima sejak lama hampir merupakan segala-galanya di dalam proses pembentukan Kitab Suci. Tetapi tentu saja ada suatu kesenjangan besar dalam pengetahuan kita di sini: karena hal ini meninggalkan suatu pertanyaan mengenai PL Yunani yang lebih panjang. karena Paulus memakai Kebijaksanaan. Adalah tidak enak memakai istilah “kanonisasi” untuk menyebut baik tentang pengakuan akan satu kitab sebagai Kitab Suci dan tentang keputusan bahwa ia termasuk dalam satu daftar resmi sementara yang lain tidak – dan karena itulah sampai sekarang ini saya menghindari istilah itu. Apakah hal-hal ini asli atau tidak? (Itulah yang menjadi pertanyaan kritis-historis kita). Jangan sampai dipikirkan bahwa seakan-akan selama beberapa abad orang menulis buku-buku. yang dilestarikan dalam manuskrip-manuskrip Kristiani tetapi yang tentu saja merupakan produk dari Yudaisme dalam daerah-daerah yang berbahasa Yunani. dan yang belum ditetapkan (proscribed) oleh seorang pun juga. Paulus. Tetapi. Demikianlah dapat terjadi bahwa dalam perjalanan sejarah ada kitab-kitab yang lain yang tidak dikanonisasi (non-kanonisasi).” Ide yang aneh ini (dipandang sebagai aneh pada saat itu – bagaimana mungkin sebuah kitab suci dapat mendatangkan kenajisan atau defilement?) telah ditafsirkan sebagai menyiratkan bahwa beberapa orang telah meragukan tentang status kitab suci dari kedua kitab ini. Atau sekaligus keduanya.” Maknanya yang kedua ialah perkembangan dari sebuah daftar (itulah arti asli dari kata kanon dalam bahasa Yunani) yang mencakup semua Kitab Suci dan yang efeknya berarti mau mengatakan bahwa tidak ada buku lain yang mempunyai status yang sama seperti ini. tidak muncul dalam kedua kitab itu. Dengan demikian. Pada saat Daniel dan Pkht ditulis. pengumpulan. ditemukan di Kairo pada tahun 1896. Secara menyeluruh.

(Daftar dari Eusebius dan Athanasius) Ada dua daftar klasik dari abad keempat. ini sebuah eksperimen historis baru). Dari diskusi ini muncul sejumlah poin penting yang harus kita cermati baik-baik. dan skriptural. (mungkin seperti sikap sebagian besar orang katolik dewasa ini. mereka mencapai hal ini hanya memindahkan kitab-kitab tambahan itu yang berasal dari kanon Yunani itu. Petunjuk bukti dari PB tidak banyak membantu kita. ada yang menganggap dia sebagai kitab yang diakui secara universal. Akibatnya ia tetap berada dalam kategorinya sendiri (juga bukan berarti Eusebius merasa yakin tentang hal itu juga). sebaliknya. bukannya tidak seperti kitab-kitab deuterokanonika dari PL itu. 3) notha. pemakaian yang dilakukan atas kitab-kitab yang (kini) tidak-kanonik adalah sangat kecil jika dibandingkandengan pemakaian yang sangat banyak dari kitab-kitab pokok seperti Kejadian. tetapi menyebut mereka sebagai “apokrif” (yang artinya kitab-kitab yang tertutup) atau “kitabkitab gereja. (Jadi.untuk dimasukkan ke dalam kanon.. itu tidak lain karena spekulasinya tentang masa depan. adalah tidak mungkin untuk mengatakan bahwa kanon PL yang dipakai oleh gereja PB adalah persis sama dengan Kitab Suci Ibrani saat ini. Begitu juga orang seperti Yustinus Martir. dan sebenarnya terus melangkah lebih jauh dengan melakukan perjalanan mencari fakta di Palestina untuk mencari dan menemukan secara pasti apa yang menjadi ketetapan atau batas-batas dari Kanon Ibrani itu. yang secara teratur dikutip oleh para pemimpin dan para guru Kristiani sebagai Kitab Suci. dan apakah mereka persis sama dengan kitab-kitab Ibrani yang ada sekarang ini. Yakobus. secara tradisional terhidup 24. (Jadi. halini mendorong para penulis ortodoks memperthankan PL dan menetapkan tempatnya yang paling tepat dan sebaiknya dalam Gereja. Petunjuk bukti PB tidak mendukung suatu pernyataan doktriner bahwa apa yang disebut sebagai Apokrif itu tidaklah kanonis bagi para penulis ini. Jika kita tertarik dengan yang praktis dari pada dengan posisi atau pendapat yang teoretis. Itu sudah kita tahu. upaya Protestan untuk memulihkan Kitab Suci primitif dan otoritatif berhasil dalam menghasilkan sebuah Kitab Suci yang tidak pernah dikenal oleh seorang Kristiani mana pun sampai saat itu. Sering sekali dikatakan bahwa. dan dengan gigih mengatakan bahwa PL Gereja harus hanya mengandung kitab-kitab yang ada dalam Kanon Ibrani saja. ternyata hal ini tidak membawa suatu perubahan praktis apa-apa pun juga – khususnya karena kitab-kitab ini tidak dicetak khusus (hived off) dalam bagian yang khusus (seperti halnya dalam beberapa versi cetakan protestan). yaitu kitab-kitab yang statusnya diperdebatkan. Apa yang kita lihat di sini adalah sebuah fenomena terhadap mana studi-studi akan kanon biblis sering sekali memberi perhatian yang sangat sedikit juga: bahwa kanon teoretis yang dipegang orang jarang sekali sama dengan kanon fungsional mereka. Untuk itu Eusebius membedakan tiga macam kategori: 1) Homolegoumena. pandang sebagai Kitab Suci. Kitab-kitab yang ada termasuk dalam salah satu dari tiga kategori. (Faktor Pengaruh Marcion) Tetapi apa yang tidak kita temukan adalah suatu daftar yang menunjukkan mana teks-teks Kristen yangmempunya status khusus ini dan mana yang tidak. Kitab Suci Ibrani tentu saja sudah berada dalam pedomannya yang sekarang ini ada: tidak ada kitab lain yang pernah dikutip di sini. para penulis Kristen dari pertengahan abad kedua dst mulai menaruh perhatian pada soal ketetapan tentang apakah kitab “PB” memang benar-benar terilhami. kitab ini bisa termasuk dalam kategori pertama atau ketiga. kalau memang dapat disebut demikian. Semua para penulis Kristiani mempunyai kitab-kitab yang sering sekalimereka pakai secara penuh (ini termasuk dalam kategori pertama). Isi daftar mereka sangat mirip dan kurang lebih mirip dengan PB kita (yang lebih mirip ialah daftar dari Athanasius itu). Resolusi konflik. dan Agustinus dari Hippo (354-430). Klemens dari Roma menulis surat kepada jemaat di Korintus. Para penulis Kristen sering sekali memakai kitab-kitab yang mereka tidak pandang sebagai kanonik. demikian menurut Eusebius. yaitu kitab-kitab yang harus ditolak karena dicurigai (spurious). (Seperti susunannya dalam LXX itu). Tetapi ada satu kasus khusus. Uskup dan teolog Melito dari Sardis (wafat sekitar tahun 190 M) mengangkat masalah itu menjelang akhir dari abad kedua. baik untuk studi pribadi maupun untuk dibacakan di depan publik di gereja (suatu langkah yang berani tentu saja). tatkala ia menetapkan “kanon” ini. juga sama-sama telah menyatakan diri mendukung kanon yang lebih pendek itu. para penulis Kristiani gariis utama (diduga begitu) mulai sibuk (goad info) daftarkan kitab-kitab yang mereka. tentu jauh lebih kurang dari pada karya volume I yaitu Injil Lukas. atau pada prinsipnya ditolak. yaitu dari Eusebius dan dari Athanasius. Ada satu kesepakatan umum bahwa orang pertama yang membuat daftar seperti itu adalah seorang Kristiani heterodoks. tetapi keduanya mengumpulkan kitabkitab tambahan ini dalam sebuah apendiks bagi Kitab Suci. dibantu di dalam karyanya oleh sejumlah para penasihat Yahudi. Tetapi. tetapi tidak banyak dipakai. beberapa para penulis PB secara tidak diragukan lagi mengutip dari kitab-kitab yang sekarang ini ada dalam Apocrypha. (Jadi. Dalam kategori ketiga ini termasuk buku-buku seperti Shepherd dari Hermas itu. 2-3Yohanes. tetapi nyatanya masih dipakai juga. tetapi ada juga yang menduga bahwa kitab ini meragukan. bukan hanya dari dua saja. yaitu Athanasius (sekitar 296-373). artinya. Kitab-kitab ini dihormati secara luas pada Gereja awal tetapi mereka tidak diakui sebagai kanonik pada gereja-gereja arus utama pada masa Eusebius. awalah bahwa Hieronimus menerjemahkan kitab-kitab tambahan itu. yang mempunyai satu pernyataan paling jelas dari ide Paulus bahwa Kristus telah menyelamatkan para penganutNya dari “kutuk hukum” – yang oleh Marcion dipahami sebagai pembebasan dari Yudaisme. dan tidak lagi memandang mereka sebagai sepenuhnya kitab suci. Di dalam kategori ini termasuklah kitab-kitab berikut ini. Menurut Eusebius. (Athanasius) Hal yang persis sama adalah juga benar sehubungan dengan Bapa Kristiani yang lain. Alih-alih memegang satu PB yang didefinisikan secara kabur. Tampaknya tidak seorang pun telah berpikir bahwa penetapan Marcion akan kanon PB memang mempunyai daya pengaruh juga. Tetapi selalu ada kitab-kitab yang ada di wilayah penumbria yang entah pada prinsipnya diterima. Begitu orang-orang Yahudi telah memutuskan kanon Ibrani yang lebih pendek. yang disusun sedemikian rupa sehingga dimulai dengan Galatia. pada akhir abad I. dan bahwa dia kebetulan menjadi kesaksian kita yang paling awal ke arah perkembangan ini. apostolik. kita mau tidak harus mengatakan bahwa bagi PB kanon itu hampir identik dengan Kitab Suci Ibrani. hanya tanpa beberapa buku tertentu saja. orang-orang Kristiani pun cepat atau lambat mau tidak mau akan bertanya apakah mereka harus mengikuti ketetapan itu (suit). Sehingga. Vulgata. Dalam surat itu ia mengutip surat Paulus kepada orang di Korintus. dan tidak ada kitab-kitab lain yang tidak mereka setujui walau ada orang-orang lainyang memberinya otoritas (ini termasuk kateogi ketiga). sejak saat itulah mulai muncul daftar-daftar. Yudas. Kalau ini benar menyangkut kanon yang resmi. satu angkatan sebelum Hieronimus. Ia mengutip Injil-injil seakan-akanmereka adalah padanan Kristiani untuk PL itu. Tetapi para pembaharu Protestan. 2Petrus. Pada saat penyusunan Mishnah. yang mengakui Deuterokanonika sebagai kekhasan mereka. Tetapi Agustinus menentang hal ini dengan sangat kuat. Mereka semua serta merta melihat arti penting Marcion. dan memakai judul Apokrif untuk kitab-kitab itu. Daftar yang ia punyai sangatlah pendek – expurgate – yang dibersihkan dari semua unsur-unsur Yudaisme – dan beberapa surat-surat Paulus. sehingga PL Protestan tidak mengikuti tata urut dari Kitab Suci Ibrani lagi. pada abad kedua M. maka tidak ada penulis-penulis Kristiani dari abad-abad awal yang tampaknya telah sadar akan hal ini. Paradoksnya. Di pihak lain. Gereja-gereja Timur sering sekali meragukan kitab ini. ada beda antara kanon teoretis dan kanon fungsional). Bagaimana pun juga apakah mereka terdorong oleh kebutuhan untuk menolak Marcion. maka ini juga bahkan jauh lebih jelas benar lagi di mana menyangkut kanon fungsional. Sikap Agustinus ini tetap merupakan sikap yang resmi dari Gereja Barat sampai jaman Reformasi Protestan itu. melainkan mengikuti tata urut LXX. yaitu kitab-kitab yang diakui secara universal. yaitu kitab Wahyu. tetapi yang lebih menarik ialah kategori-kategori yang dipakai untuk mengklasifikasi pelbagai kitab-kitab yang ada. Maka dengan tepat dapatlah dikatakan bahwa Kitab Suci Protestan itu adalah sebuah hibrida. dan Kitab Kebijaksanaan-lahyang paling penting dari antara itu semua. sebagian besar orang tidak membedakan mereka dari bagian lain dari Kitab Suci itu. yaitu kitab-kitab yang konon diperdebatkan. yaitu Vetus Latina. Agustinus menerima seluruh kanon Yunani. Contoh yang baik untuk yang pertama ialah Kisah. Kita masih belum tahu bahwa Kitab Suci memiliki bentuknya yang sekarang ini yaitu Hukum. Tobit dan Judit di samping Ester. ini adalah sebuah misteri sejarah. mengapa sampai terjadi demikian? Apakah ada alasan teologis tertentu? Tidak mudah menjawab 22 . Tetapi tidak semua orang Protestan seluruhnya merasa bahagia dengan perubahan ini. yaitu terletak dalam sikapnya yang menolak PL. dst. di satu pihak. harus mengikuti daftar Ibrani yang lebih pendek. yang. Yang menarik ialah kategori kedua.” Misalnya. yang lain-lainnya tidaklah serba pasti). Kaum Anglikan tetap gigih mempertahankan kitab-kitab apokrif itu. dan versi terjemahan Latinnya yang semula. sang penerjemah Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. melainkan tercampur-baur dalam dan dengan kitab-kitab Ibrani dari jenis yang sama: Kebijaksanaan dan Sirakh di samping Amsal dan Pengkotbah. Secara khusus adalah menarik bahwa Hieronimus sendiri masih tetap memakai dan mengutip kitab-kitab deuterokanonik sebanyak sebelumnya juga setelah pertikaian dia dengan Agustinus. Dengan tekun (duly) ia mengusulkan bahwa Kitab Sucinya yang baru. dan Hikmat – walau hal ini tetap saja mungkin. (Bagaimana cara Yosephus menghitung kitab-kitab itu. tetapi ia menunjukkan bahwa ia memang berada di pinggiran (marginal). Nabi-nabi. dan hampir tidakbisa tidak menyadari bahwa orang-orang Yahudi hingga saat itu tidak memberi tempat kepada kitab-kitab apokrif itu sama sekali. tetapi tidak pernah membaca kitab-kitab itu secara khusus juga). Marcion membentangkan satu preseden yang kemudian diikuti oleh sebagian besar Gereja (mayoritas). Surat Barnabas. (Tetapi muncul pertanyaan kritis yang menggelitik dalam diri saya. Tetapi bagaimana hal ini terjadi. dalam artian sebuah kitab yang memang mempunyai kitab-kitab Ibrani tetapi dengan tata urut Yunani. yang tidak dapat seluruhnya kita ketahui. yang hanya melanjutkan saja memakai kitab-kitab Yunani tambahan walau seakan-akan mereka tidak pernah ada. Tidak lama berselang mereka menganggap kumpulan-kumpulan itu sebagai naskah berwibawa dan “skriptural. khususnya akan kitab Kebijaksanaan Salomo. Hieronimus telah lama menetap (tinggal) di Betlehem. kaum ortodoks. Ia dengan tekun (duly) menyerahkannya (commended) kepadanya kepada gereja. selalu telah mencakupkan kitab-kitab tambahan itu. Mungkin lebih baik dipikirkan bahwa Marcion hidup pada kurun waktu ketika perhatian pada batas-batas teoretis dari Kitab Suci Kristen baru saja mulai muncul. dan hal itu secara luas dipandang sebagai liar (inflamatory). kanonisitas pada umumnya bukan satu persoalan sekadar “luar” atau “dalam” saja: ada juga satu kategori marginal dari kitab-kitab yang statusnya tidak jelas. kembali ke posisi Hieronimus itu. Tetapi karena mereka masih tetap muncul dalam Kitab Suci Latin. Perjanjian Baru Sudah sangat dini orang Kristiani mulai mengumpulkan tulisan-tulisan para penginjil dan para penulis surat. tetapi hampir tidak pernah memakai mereka juga.” dengan kontras dengan kitab-kitab kanonik dari Kitab Suci Ibrani. mereka menerima beberapa kitab sebagai kanonik. tetapi dikutip sangat sedikit saja dalam sebagianbesar para penulis Kristiani awal. Rasa sukanya sendiri akan kitab-kitab apokrif. Lutheran hanya untuk studi pribadi saja. (Kontroversi Hieronimus dan Agustinus) Satu-satunya kontroversi yang nyata atas kanon PL pada abad-abad awal mula adalah di antara Hieronimus (sekitar 345-420). ataukah harus tetap setia pada Kitab Suci Yunani yang lebih panjang yang telah menjadi sesuatu yang biasa bagi sebagian besar para penulis dari abad pertama Kristianitas atau sekitar itu. Sebagaimana yang telah kita lihat. yang bernama Marcion. masih tetap besar sekali juga sesudah ia telah memutuskan untuk demikian (mendukung kanon yang lebih pendek itu). ada perbedaan sikap dan perlakuan juga). Kalau memang demikian duduk perkaranya. seakan-akan ia mempunyai daya ikat yang sama seperti Kitab-kitab PL itu. Yang lain-lain yang kita tahu sekarang ini sebagai PB merupakan buku-buku yang disepakati bersama (jadi termasuk dalam kategori pertama tadi). dengan mengatakan bahwa LXX. yang oleh para penulis Kristiani secara universal dipandang skriptural. 2) antilegoumena. tetapi yang dibaca secara luas dalam Gereja. Pertama. Walau kitab-kitab tambahan masih terus disebut apokrif atau deuterokanonik. dan Didache (Ajaran Para Rasul). Yesaya atau Mazmur.

Untuk sebagian besar. dipersaksikan sangat lemah dalam Gereja Purba. Pada saat yang sama. kanonisasi. ketimbang sebagai sebuah Kitab Suci dalam dirinya sendiri – dari situlah datangnya fakta sejarah bahwa para penulis semula sering mengutip Injil-injil secara tidak akurat! Rasa suka dan pilihan orang-orang Kristen yang lebih condong kepada Kodeks dari pada gulungan kitab mungkin mencerminkan ide ini bahwa Injil-injil yang tertulis adalah informal. kadang-kadang bahkan sampai memandang Injil-injil yang tertulis terutama sekali sebagai repositories dari bahan yang bisa mengingatkan sang pewarta atau sang guru tentang kisah mengenai Yesus. termasuk Kodeks yangbesar dan bergengsi. membagi dua dokumen dan kemudian mengembangkan masing-masing bagian dengan satu cara yang baru. Sama sekali tidak seperti itu. Sebagai tambahan. Yang pertama ialah proses dengan mana pelbagai macam kitab yang sekarang ini membentuk Kitab Suci akhirnya ditulis dan terdapat dalam bentuk tertulis. Misalnya. juga. yang dibagi dalam bagian-bagian untuk dibacakan di muka umum dalam Gereja. komposisi-komposisi yang seperti catatan. Oleh karena itu. Itu saja. adalah bahwa ia mempunyai tepi-tepi yang fuzzy. dan sulit untuk dikatakanapakah ia sedang menilai soal itu menyangkut status skripturalnya ataukah ortodoksinya. dan Yohanes. Tatkala ia membahas kitab Wahyu. Tetapi lagi-lagi. adalah jelas bahwa mereka tidak hanya merupakan padanan kuno dari prosesor-kata. Ketiga. Sebuah paralel modern bagi kitab kuno kiranya adalah sesuatu yang lebih mirip sebuah koleksi pesan-pesan e-mail. dan lagi. kepada orang-orang Filipi. satu surat kepada Titus. melainkan sering sekali menghasilkan tulisan yang original dan kreatif. para penulis kuno mempunyai satu ide yang berbeda dari kita mengenai apa yang merupakan komposisi asali. ada empatbelas surat dari Paulus sang Rasul. Inilah semua yang merupakan sumber-sumber keselamatan. dan walaupun kita tidak mempunyai informasi rinci tentang peranan mereka. yang ditulis dalam gaya yang sama dalam dan dirancang untuk mengungkapkan satu poin khusus tertentu. dan berbeda (dibedakan) dari semua kitab-kitab yang lain. dalam liturgi ekaristi dan ofisi ilahi). Itu saja. Perhatikan bahwa di sini penyusunan yang lama. Nah. Kedua adalah proses dengan mana mereka akhirnya mereka diterima sebagai Kitab Suci. juga sanglah kompleks. Proses pengumpulan bersama-sama kitab-kitab yang terpisah menjadi satu batang tubuh yang lebih besar. dan dalam keadaan tata kemelekan yang luar biasa prima dan mengagumkan. dengan satu istilah teknis. Sesudah ini. Dan di mana ada keraguan. dan ide bahwa batang tubuh ini mempunyai satu status religius yang khusus. yang menambah (dan kadang-kadang juga menarik atau membuang keluar sesuatu. kisah-kisah tentang Elia dan Elisa. Eusebius pun mempunyai kategori yang keempat. Jika ortodoks. Kedua. yang terus menerus dibaca pada masa Gereja purba jauh setelah ia dinyatakan tidak kanonik. melainkan dalam artian bahwa ada satu kelompok besar dan elit orang yang sangat melek huruf – kira-kira sama tingkat melek hurufnya seperti dewasa ini – dan yang menghasilkan tulisan yang canggih bagi orang-orang sejaman mereka untuk dibaca. dan pelbagai komite gerejawi mawih berdebat apakah cocok untuk membaca Kitab Wahyu dalam gereja atau tidak. dan justru karena itu mereka pun membaca Eusebius: dengan harapan ia dapat memberi mereka jawaban atas pertanyaan itu. kisah-kisah. Kisah Para Rasul dan Surat-surat yang disebut Katolik. Baik dalam jaman PL dan PB ada orang yang disebut. dan surat kepada orang-orang Ibrani. Orang-orang Kristiani perdana terutama sekali kuat melekat dan menganut titik pandangan ini. Begitu titik ini sudah dicapai. demikian juga halnya sebagian besar orang-orang Kristiani. ada awal. Sesungguhnya kitab-kitab itu adalah kitab-kitab yang pada masa Eusebius. ada tiga. Dan selain itu. Ada sesuatu yang lucu tentang deklarasi agung yang orang tampaknya tidak bisa sepakat yaitu tentang status dari 2 Petrus dan 3 Yohanes. Namun demikian. kitab-kitab PB seakan-akan meretas jalannya sendiri ke dalam Gereja. ketimbang kitab-kitab dalam artian formal. yang digabungkan oleh orang yang menerima mereka semua dan kemudian mencetak bahan itu dalam sebuah format yang seragam yang lalu bisa menutup atau menyelubungi asal-usul mereka yang berbeda-beda (disparate). Wahyu kepada Yohanes. proses penulisan kitab-kitab biblis: kita sudah mencatat bahwa semua kebudayaan yang menghasilkan PL dan PB adalaah kebudayaan-kebudayaan melek huruf. menurut Mateus. telah diputuskan orang-orang Kristiani sebagai tidak merupakan bagian utuh dari PB. kenangan-kenangan historis mungkin beredar selama banyak tahun secara lisan sebelum ada seseorang yang menuliskan mereka – hal ini kiranya secara khusus benar sehubungan dengan jenis-jenis bahan legendaris. masih tetap bertahan hidup. Sebab diandaikan para pembaca tahu akan hal itu. tulisan berada para urutan tingkat kedua dalam mutunya. Kalau Eusebius tidak jelas tentang pemahaman akan 2Petrus dan 3Yohanes. Namun demikian kedua proses itu adalah sangat kompleks. dan dalam kondisi seperti ini. lengkap. dari tujuh orang rasul: dari Yakobus. ada dua faktor yang membuat situasi di jaman kuno itu sangat berbeda dari situasi di jaman kita sekarang ini. Di Israel kuno. tetapi beberapa kecenderungan dan prinsip umum dapat dilihat dengan jelas juga. Bab 6 Kesimpulan Dalam buku ini kita telah melihat pada dua proses yang terpisah. seperti semua homolegoumena lain. yang mencakup kitab-kitab yang tidak ortodoks.pertanyaan ini). substract) dokumen-dokumen yang sudah ada. Banyak dari karya-karya mereka yang asli merupakan produk dari semacam konsortium para penulis yang tersebar dalam satu rentang waktu yang panjang.dalam artian membuat daftar eksklusif kitab-kitab untuk diterima sebagai Kitab Suci. tetapi juga beberapa kitap PL seperti Ruth atau Yunus – mulai hidup sebagai kitab-kitab bahkan juga sudah dalam pengertian modern kita dewasa ini. dan apakah kitab-kitab itu kanonik atau tidak kanonik. aturan-aturan seperti itu sering sekali membiarkan hal itu tetap ada di sana. bukannya dalam artian bahwa kemelekan itu tersebar luas dan merata ke dan di mana-mana. Dan beberapa kitab skriptural – yang paling jelas adalah surat-surat Paulus. para ahli tulis. Di sini adalah kanonisasi dalam artian yang ketat dan keras dari istilah itu: pernyataan bahwa kitab-kitab ini dan hanya kitab-kitab ini saja yang harus dipandang sebagai Kitab Suci. dan kadang-kadang muncul dalam manuskrip-manuskrip biblis. selama suatu kurun waktu tertentu kitab-kitab yang jelas berbeda belum atau tidak muncul. sebab dalam gereja Katolik. praksis sebagian besar tidak diragukan. Itu sama dengan cara orang Kristiani modern memandang tulisan-tulisan C. Yang satu adalah arti penting yang diberikan kepada ide. dan benar-benar reprehensible yang tidak boleh dibaca oleh orangorang Kristiani. Satu aspek yang penting dari PB. setelah yang ini. Petunjuk bukti adalah sebuah surat yang ditulis oleh Athanasius kepada para klerusnya pada tahun 367 Masehi. Ini adalah keempat Injil. dan membiarkannya tidak terpecahkan. Tetapi. dan kitab-kitab yang diragukan jarang-jarang atau diterima. misalnya.Lewis itu: sangat ortodoks tetapi jelas bukan merupakan bagian dari Kitab Suci. kita dapat mengatakan bahwa proses pembuatan Kitab Suci Kristiani itu sudah rampung. Hingga dewasa ini. dan ada sebuah akhir. dengan mana Kisah memperkenalkan bukannya surat-surat Paulus melainkan surat-surat Katolik. Sebagian terbesar PL sampai kepada kita dari tangan-tangan orang seperti itu. tampaknya Eusebius mencampurkan dua soal: apakah kitab-kitab itu ortodoks atau tidak ortodoks. dua surat kepada jemaat di Korintus. yang ditulis dalam tata urut ini: yang pertama. kitab ini dibaca secara luas. heretik. kepada orang-orang Roma. selesai. Janganlah siapa pun menambah-nambah sesuatu kepadanya. dan nama-nama yang dituntut dan para pengarang yang diduga demikian (alleged). di mana kita merasa perlu tahu jawaban atas satu soal. dua surat kepada Timotius. sebagai contoh ia memberi Injil Petrus. dan justru di sinilah ia tidak memberitahu kita apa yang perlu kita ketahui. oleh satu otoritas di dalam Gereja dari abad keempat Masehi. menggambungkan bahan tertulis dengan tradisitradisi lisan yang kebetulan mereka ketahui. Ia tidak memberi jawaban sama sekali. dengan mengubah-ubah hal ini agar bisa cocok dengan tujuan-tujuan mereka yang khusus – dengan menghasilkan edisi-edisi baru. sebagai langkah awal. Jadi. seperti Sinaitikus itu (pertengahan abad keempat). tampaknya ia mengganti haluan di tengah jalan. kemudian. tidak ada urusan regulasi gerejawi. atau akhirnya ditolakoleh kehendak (penetapan) Gereja. Beberapa kebudayaan yang mengenal huruf. logisnya ia termasuk dalam kategori 1 dan 3. Tetapi apa yang ia buat ialah hanya mengangkat dan merumuskan soal. yang dibuat Eusebius ialah mengidentifikasi area yang tepat dari fuzzyness itu. mereka itu ortodoks tetapi tidak kanonik. Itu terjadi begitu saja. Sebuah kitab tidaklah jenis benda yang sama dalam sebuah kultur seperti itu seperti bagi kita – suatu entitas dengan satu bentuk yang tertentu. tetapi tetap saling terkait satu sama lain di banyak titik. sebagaimana halnya tulisan-tulisan dari satu pribadi yang khusus dengan satu pesan khusus untuk disampaikan. tipe kedua dapat dilihat dalam Gembala Hermas itu. seperti. Markus. walau dalam daftar-daftar seperti daftar Eusebius gereja tampaknya sedang mengidentifikasi dan menetapkan kitab-kitab PB. puisi-puisi dan ucapan-ucapan yang diturun-alihkan secara lisan ketimbang dalam bentuk tulisan. rumit. Semua ini menegaskan bahwa pengakuan akan kitab-kitab tertentu sebagai Kitab Suci seluruhnya merupakan satu proses alami belaka. walau saya telah mengusulkan bahwa kata ini adalah lebih baik disimpan untuk tahap terakhir dari perkembangan itu – yaitu tahap pada mana dinyatakanlah secara positif bahwa tidak ada kitab-kitab lain lagi dari yang ada dalam daftar itu yang 23 . seperti halnya kebudayaan kita sendiri dewasa ini. surat kepada Filemon. memandang tradisi lisan sebagai kurang terpercaya daripada sistem penurun-alihan dalam bentuk tulisan. setelah ini. tetapi di jaman Israel kuno dulu dan di jaman Gereja purba satu gudang penyimpanan yang besar dibentangkan oleh keakuratan daya ingatan (menghafal). walau kita sekarang mempunyai kitab suci dalam mana semua kitab dicetak dalam format yang sama dan karena itu tampak seakan-akan mereka itu mempunyai status yang sama. jika tidak ortodoks kiranya ia telah dibuang ke dalam gudang karya-karya heretik saja. jangan juga ada sesuatu yang diambil dari mereka. Adalah tidak tedious untuk berbicara tentang [kitab-kitab] dari PB. Jadi. Hanya di wilayah-wilayah pinggir sajalah dari Kanon bahwa sebuah daftar seperti itu menjadi satu aturan atas satu topik kontroversial. ada dua. Atau seluruh atau sebagian dari proses ini cenderung disebut sebagai kanonisasi Kitab Suci. Lalu lambat laun tumbuh sebuah konsensus. kepada orang-orang Kolose. Kedua. tetapi dalam segi yang lain daftar itu identik dengan daftar kita sendiri. ada satu. sebuah karya lebih buruk dari pada karya yang diragukan. Eusebius hanya mengatakan pada kita bahwa ada soal. PB sebagaimana yang telah kita terima didukung (endorsed). toh sebagian besar orang Kristiani yang membaca Kitab Suci tahu bahwa hal ini tidak demikian sebenarnya. dan akhirnya.S. Yang pertama. Inti PB sudah diterima sangat dini sehingga aturan-aturan sesudahnya hanya sekadar mengakui saja apa yang sudah jelas sebelumnya. (Ini bukan pendapat gereja Katolik. Hanya di dalam kitab-kitab inilah ajaran tentang keallahan dinyatakan. seperti juga PL. tanpa tambahan atau penghapusan. Lukas. sudah disepakati oleh semua begitu saja. agar dia yang haus bisa dipuaskan dengan kata-kata yang hidup yang terkandung di dalam mereka. tidak seorang mulai menganggap serius Injil Mateus karena Eusebius telah mendaftarkannya. satu dari Yudas. ada tengah. dua surat kepada jemaat di Tesalonika. dari Peter. Notha yang ditetapkan oleh Eusebius (kitab-kitab yang meragukan tadi) bukanlah kitab-kitab yang tidak boleh dibaca dengan alasan bahwa mereka itu tidak ortodoks dan karena itu dianggap bisa menyesatkan. dan ada banyak ungkapan-ungkapan kepercayaan justru diingat dan diwariskan berkat daya ingatan yang sangat terlatih. kemudian. dari Yohanes. lalu. nah.

yang penting hal ini mengarah kepada kitab-kitab yang dipandang sebagai tidak terkalahkan (unassailable) jauh sebelum seseorang mulai bertanya. diajukan (pleaded) sebagai alasan-alasan bagi kekudusan mereka. Demikianlah juga halanya dengan kanon PB: ada pertikaian-pertikaian tentang Ibrani dam Wahyu. Akhirnya. Kedua. daftar itu sering sekali mencakupkan sebuah catatan yang mengatakan bahwa status mereka tidak serba jelas. melainkan oleh seroang penulis yang memakai nama samaran dari antara kurun paling akhir abad pertama. kumpulan-kumpulan seperti itu akhirnya mulai dibacakan secara khusus tetapi yang tidak diterapkan pada kitabkitab sekular – secara alegoris. sesuatu yang amat disukai oleh para penulis Kristiani awal. 1Tesalonika sesungguhnya berasal dari kurun-kurun paling dini dari kurung sejarah Kristianitas. untuk mengatakan bahwa Surat kepada Jemaat di Roma itu adalah kanonik). Tetapi kiranya adalah sulit untuk menemukan sebuah contoh kasus kedua mengenai keadaan perkara yang terbolak-balik itu. untuk sebagian terbesar. Barangkali Kebijaksanaan Salomo (yang dianggap apokrif oleh Protestan). (Seakan-akan menjadi kriteria yang penting). Status kitab-kitab dalam Kitab Suci kita kadang-kadang saja telah bersifat kontroversial. lalu menarik satu garis di bawah kumpulan itu untuk mengubahnya menjadi Sebuah Kitab Suci. Tetapi apakah persepsi itu benar atau tidak. misalnya. Banyak dari Mazmur boleh jadi memang sudah berasal dari jaman Daud itu sendiri. Di mana menyangkut PL. Kitab suci bukanlah hasil dari beberapa jenis legislasi: ia hanya bertumbuh begitu saja. sebab dalam Gereja Katolik banyak dipakai juga). kadang-kadang jauh lebih penting dari pada sebuah kitab yang pendek dan amat tidak peneting. kalau bukan abad kedua. Tetapi tidak satu pun dari mmereka telah menjadi sepenting seperti sebagian besar dari kitab-kitabn dalam PL yang cocok (proper) bagian sebagian besar orang-orang Kristiani itu. maka ide itu erat terkait dengan pengamatan yang terakhir ini. tetapi ia sama sekali tidak banyak memakainya juga. Bagaimana pun juga. Dan di dalam Kristianitas. kitab Ulangan bukan oleh Musa melainkan (sangat mungkin) oleh seorang penulis atau para penulis dari antara abad ketujuh dan kelima SM. secara aktif. kitab-kita yang oleh orang-orang Protestan disebut Apokrif sesungguhnya telah menjadi pokok kontroversi dan ketegangan di dalam Gereja Kristiani itu sendiri. ada beberapa tahap yang jelas yang terjadi dalam seluruh proses ini. atau sebagai suatu yang relevan secara universal. Yang terakhir dari tahap-tahap ini – yaitu tahap pada mana saya secara unequivok mengkaitkan nama kanonisasi tadi – adalah kurang penting dari pada kedengarannya baik bagi PL maupun bagi PB. 24 . Yang ada hanyalah beberapa pernyataan stray tentang kitab ini atau kitab itu yang otoritasnya memang dipersoalkan (Kitab Sirah sebenarnya hampir merupakan satu-satunya kitab yang kita ketahui yang telah ditetapkan (ruled) sebagai tidak kanonik). ketimbang sebagai karya-karya individual. Sejarah pemakaian yang sudah lama (hampir) merupakan segala-galanya. Pada tepian (fringes) dari kanon kedua Perjanjian itu ada beberapa kitab yang statusnya tidak pernah bisa seluruhnya jelas di dalam Gereja. dan dalam prakteknya (kalau tidak dalam teori) hal ini sering tetap tidak jelas dan tidak pasti juga hingga dewasa ini. (saya kira ini tidak benar. dan bukannya ada di pusat. dikumpulkan bersama-sama untuk membentuk Pentateukh atau Torah. misalnya. masing-masingnya dari suatu situasi yang berbeda. ketimbang suatu keputusan tentang hal ini. Atau boleh jadi hal ini adalah sesuatu yang salah – misalnya 2Pterus tidaklah berasal dari atau ditulis oleh Rasul Petrus. Kitab Suci bertumbuh dengan cara penerimaan secara pasti (steady) dari kitab-kitab tertentu sebagai jelas-jelas kudus. Pertama. Sering sekali alasan-alasan yang muncul sesudahnya ditemukan (atau bahkan diciptakan) untuk mendukung keadaan perkara seperti ini: Tanggal atau kepengarangan dari kitab-kitab. Surat-surat Paulus dikumpulkan sebagai corpus Paulinian. apakah yang ini atau yang itu yang harus dipandang sebagai sungguh-sungguh kanonik. Maka hal ini ada di pinggiran. dari waktu ke waktu. dan di mana mereka tidak ada. Gereja purba. Inti pokok dari kedua Perjanjian itu tidak pernah bersifat kontroversial dalam Yudaisme ataupun dalam Kristianitas. dan kemudian diberi currency yang luas sebagai sebuah koleksi yang koheren yang mengungkapkan teologi yang sama dalam seluruh kumpulan. bahwa dulu memang ada kontroversi.bisa dianggap sebagai Kitab Suci (atau bahkan akan pernah dihitung sebagai). tetapi bahkan orang-orang yang keen untuk mencakupkan kitab-kitab ini ke dalam kanon tidak memakai mereka sama sekali sebanyak mereka memakai Mateus dan Roma misalnya. tetapi untuk sebagian terbesar kitab-kitab yang didaftar itu seluruhnya adalah jelas (adalah kiranya bukan berita pada abad keempat M. memandang Apokrif sebagai Kitab Suci. Tetapi dalam prakteknya suatu persepsi bahwa kitab-kitab telah dipakai sejak waktu yang sudah sangat lama di masa silam sudah merupakan satu alasan yang sangat kuat dan nyata. Persepsi ini mungkin merupakan satu persepsi yang benar – misalnya. seperti misalnya kitab nubuat Nahum (yang kanonik itu). atau keduanya sekaligus. kitab-kitab harus dikumpulkan: kitab-kitab Musa. sejumlah para penulis semula mendaftarkan kitab-kitab PB yang disetujui. atau sebagai kepenuhan dari suatu makna yang tersembunyi. Perlahan-lahan dalam waktu. Kalau ada satu poin yang saya ingin agar bisa terus diingat (to take away) oleh pembaca buku ini. Tidak ada suatu catatan mengenai satu otoritas dalam Yudaisme yang menyatakan secara resmi mengenai batas-batas yang pasti dari Kitab Suci Ibrani itu (?). misalnya. muncullah saat di mana beberapa otoritas yang berkompeten mengumumkan secara resmi bahwa kategori dari kitabkitab suci sekarang ini sudah penuh.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful