Pengantar Studi Kitab Suci Isi Singkat Kitab Suci

Tujuan Bab ini: Memberi gambaran singkat dan padat pada siswa mengenai isi singkat seluruh kitab suci, dengan cara menelusuri kitab suci itu dari kitab ke kitab. Memberi kesadaran kepada para siswa bahwa Kitab Suci adalah sebuah perpustakaan mini, dengan rak besar. Bahkan masing-masing kitab juga adalah rak mini juga. Membuat siswa mampu mengetahui garis besar isi masing-masing kitab. Isi masing-masing kitab Kejadian: kitab kejadian adalah sejarah umat manusia mulai dari penciptaan dunia ke riwayat hidup dan perbuatan para bapa bangsa, yaitu abraham, isaak, yakub, dan yusuf. Di antara keempatnya, tentang isaak paling sedikit, padahal ia disebut dalam tiga serangkai para bapa bangsa. Keluaran: kitab keluaran adalah kitab yang berkisah tentang sejarah orang-orang israel di mesir, tentang bagaimana mereka melarikan diri dari sana di bawah pimpinan musa, tentang peristiwa di gunung sinai tempat diberikannya hukum (termasuk 10 perintah itu), dan dibangunnya kemah suci untuk menyertai perjalanan bangsa itu menuju ke tanah terjanji. Imamat: kitab imamatadalah kita yang memberi pelukisan rinci lebih lanjut tentang hukum-hukum yang diberikan di sinai. Bilangan: kitab bilangan adalah kitab hukum lanjutan; lalu dilanjutkan dengan kisah berangkatnya orang-orang israel dari sinai ke perbatasan tanah terjanji. Ada juga kisah tentang raja balak dan bileam si tukang nujum itu. Ulangan: kitab ulangan berisi kata-kata paling akhir dari musa untuk orang-orang israel. Di sini musa memberi mereka hukum-hukum yang lebih jauh untuk ditaati di tanah terjanji; ada juga kisah tentang wafat musa yang tragis itu. Pentateukh: Kelima kitab pertama di atas tadi disebut secara teknis pentateukh, artinya lima kitab (hukum). Ada juga kebiasaan lain yang menyebutnya kelima kitab hukum musa. Disebut demikian karena ada anggapa bahwa kelima kitab itu “berasal” dari musa. Kitab-kitab sejarah Kitab-kitab sejarah adalah kitab-kitab yang menyajikan sejarah israel. Hal itu merentang dari kitab yosua sampai ke ester. Kadang2 juga dimulai dari kitab kejadian sampai ke ester. Disebut demikian karena ia membeberkan data sejarah keselamatan, yaitu sejarah campur tangan allah dalam hidup bangsa israel. Isi masing-masing kitab sejarah ialah sbb: Isi singkat masing-masing kitab sejarah Yosua: kitab yosua adalah kitab yang mengisahkan sejarah penaklukan beberapa bagian wilayah palestina oleh orang-orang israel di bawah pimpinan yosua, pengganti musa. Hakim-hakim: kitab hakim2 adalah kitab yang mengisahkan tentang peristiwa pendudukan lebih jauh orang israel atas tanah terjanji. Saat itu israel dipimpin oleh rangkaian para hakim seperti deborah, gideon, dan samson. Sosok hakim itu sendiri ialah sosok tengah, yang separuh raja, dan separuh sosok pemimpin militer. Rut: kitab ruth adalah kitab yang tentang perempuan moab yg tinggal di israel dan menikah dengan seorang petani israel yang kaya-raya, boaz. Setting kisah itu adalah jaman para hakim 1samuel: kitab 1 samuel adalah kitab yang melukiskan peralihan dari model pemimpin para hakim ke tahap kerajaan. Hal itu terjadi di bawah tuntunan samuel. Di sini tercakuplah kisah-kisah tentang daud, raja israel yang pertama. 2 samuel: kitab 2 samuel adalah kitab yang mengisahkan tentang daud yang mengantikan saul yang mati terbunuh dalam pertempuran melawan orang-2 filistin. Juga mengandung kisah rinci tentang salomo yang menggantikan daud, dgn diselingi oleh kisah-2 anak-anak daud yangterlibat dlm pembunuhan, pemberontakan, pemerkosaan dan bahkan incest. 1 raja-raja: kitab 1 raja-2 adalah kitab yang bertutur tentang pemerintahan salomo, tentang drama perpecahan kerajaan menjadi utara dan selatan (israel-yehuda) ketika salomo wafat. Juga tentang raja-raja paling awal dari masa kerajan terpecah itu; juga berkisah tentang karya nabi elia. 2 raja-raja: kitab 2 raja2 adalah kitab yang berkisah tentang karya nabi elisa. Juga tentang raja2 yang kemudian dari israel dan yehuda. Juga kisah tentang reformasi yosia atas agama resmi negara. Juga berkisah tentang invasi atas yehuda, mula-mula oleh orang asyur, lalu oleh orang2 babel. 1tawarikh: kitab 1 tawarikh adalah kitab yang berisi sejarah dunia hingga ke daud. Sebagian besar dari padanya dikisahkan menurut garis keturunan genealogis (siapa melahirkan siapa, dst). 2tawarikh: kitab 2 tawarikh adalah kitab yang menyajikan sejarah mulai dari salomo hingga ke masa pembuangan, dengan mengikuti kisah yang ada dalam 2 raja-raja tetapi dengan banyak perbedaan rincian; juga mencakup pemulihan yehuda oleh orang-orang persia pada akhir masa pembuangan itu. Kitab ezra: kitab ezra adalah kitab yang berkisah tentang bagaimana seorang raja persia menyuruh kembali orang-orang yudea yang dibuang ke pembuangan agar kembali ke yerusalem untuk membangun kembali kenisah, dan membangun kembali agama yahudi. Di antara orang-2 itu adalah seorang imam yang bernama ezra Nehemia: kitab nehemia adalah kitab yang berkisah tentang pelbagai macam kegiatan nehemia (sering memakai kata ganti orang pertama), yaitu seorang yahudi yang diangkat sebagai guberbur persia atas yehuda, pada masa yang kurang lebih sama dengan jaman ezra.

1

Tobit: kitab tobit adalah kitab yang berkisah tentang orang-2 yahudi yang saleh yang berhasil dalam upaya membangun tali ikatan perkawinan antara pelbagai keturunan sanak keluarga mereka walau hal itu dilarang atau ditentang oleh para raja dan setan-setan. Hal itu bisa terjadi berkat bantuan seorang malaekat (rafael). Kitab ini tidak ada dalam kanon protestan. Hanya ada dalam kanon katolik saja (sebagai kitab deuterokanonika). Yudit: kitab yudit adalah kitab yang bercerita tentang yudit, seorang srikandi yahudi yang memperdaya panglima perang asyur dan memenggal kepalanya. Dengan itu ia menyelamatkan israel dari kekalahan. Kitab initidak ada dalam kanon protestan. Termasuk deuterokanonika. Ester: kitab ester adalah kitab yg berisi cerita tentang seorang perempuan yahudi, yg diambil menjadi isteri raja persia (harem, gundik). Dalam posisi itu ia menyelamatkan sesamanya orang-orang yahudi dari ancaman pembantaian (progrom). Versi katolik berbeda dari versi protestan. Versi katolik lebih panjang dari versi protestan. 1 makabe: kitab 1 makabe adalah kitab yang berkisah tentang peperangan2 yang dilakukan oleh orang-orang yahudi melawan raja antiokhus epifanes, si orang kafir itu, pada abad 2 sm. 2 makabe: kitab 2 makabe adalah kitab yang berisi kisah populer dan legendaris tentang peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam 1 makabe, khususnya mengenai kemartiran dari orang2 yahudi yang taat pada masa itu. Kitab2 didaktik, atau pengajaran atau hikmat Ada kitab-kitab yang dapat dimasukkan dalam kategori kitab-kitab didaktik atau kitab pengajaran. Atau kadangkadang disebut demikian. Itu karena di dalamnya secara khusus mengandung pengajaran atau hal-hal yang terkait dengan pendidikan atau pembentukan watak manusia. Bisa menyangkut moral hidup, bisa menyangkut sikap menghadapi penderitaan, pengalaman cinta dan jatuh cinta, pengalaman doa, pengalaman menjadi kaya dan berhikmat, dll. Kitab-2 yang termasuk di sini ialah ayub, mazmur, amsal, pengkotbah, kidung agung, kebijaksanaan salomo, sirakh. Ada juga yang menyebutnya kitab-kitab kebijaksanaan. Isi masing-masing kitab didaktik, hikmat, pengajaran Ayub: kitab ayub adalah kitab yang berisi kisah tentang seorang pria saleh yang sangat menderita. Ia mencoba merenungkan dan memahami misteri penderitaannya itu dalam proses dialog dengan ketiga temannya. Dan akhirnya karena kesalehannya, kemakmuran dan kesehatannya pun dipulihkan kembali. Mazmur: kitab mazmur adalah kitab yang berisi kumpulan lagu-lagu, doa-doa, nyanyian-nyanyian yang berjumlah 150 buah, yang biasanya dikaitkan dengan raja daud (sebagai pengarangnya). Amsal: kitab amsal adalah kitab yang berisi ucapan-ucapan bijak bestari dan ajaran-ajaran yang terdiri atas paragraf-paragraf pendek menyangkut perilaku etis, sosial, dan praktis di tengah masyarakat. Biasanya dikaitkan dengan raja salomo (sebagai pengarangnya). Pengkotbah: kitab pengkotbah adalah kitab yang mengandung serangkaian refleksi bernada skeptik tentang makna dan tujuan hidup, atau tentang kondisi di mana makna itu terasa tidak ada atau tidak jelas. Biasanya juga dikaitkan dengan raja salomo sebagai pengarangnya. Kidung agung: kitab kidung agung adalah kitab yang berisi kumpulan puisi-puisi cinta, yang biasanya dihubungkan dengan salomo. Oleh karena itu, disebut juga sebagai kidung salomo. Hikmat salomo: kitab ini adalah kitab yang berisi ajaran lebih jauh tentang perilaku manusia, dan hikmat ilahi; juga biasanya dikaitkan dengan salomo. Hanya bedanya dengan amsal ialah yang ini ada tidak ada dalam kanon protestan. Hanya ada dalam kanon katolik; disebut deuterokanonika. Kitab sirakh: kitab sirakh disebut juga kebijaksanaan yesus bin sirakh. Dalam tradisi latin disebut ecclesiasticus karena dulu dipakai gereja sebagai buku saku moral. Isinya ialah kumpulan-kumpulan amsal yang panjang dan mengandung ajaran yang lebih luas. Dihubungkan dengan yesus bin sirakh, yaitu seorang tokoh yang hidup pada abad kedua sebelum masehi. Kitab para nabi Adapun kitab yang disebut kitab para nabi adalah kitab-kitab yang merentang dari yesaya hingga ke maleakhi. Di dalamnya tercantum ajaran, nubuat, dan perbuatan (termasuk tindakan simbolis) para nabi. Juga sabda kutukan termasuk di dalamnya. Tetapi juga mengandung nubuat pemulihan dan penyelamatan dengan syarat pertobatan sebab kasih setia allah sangat besar. Isi masing-masing kitab kita lihat dalam slide berikut….. Yesaya: kitab nabi yesaya adalah kitab yang mengandung nubuat-nubuat yg panjang2 yg dihubungkan dengan yesaya, yg hidup pada abad ke-8 sm di yerusalem. Tetapi bab 40-55 sangat menarik bagi orang kristen karena menjadi sumber dari banyak patung, lukisan, gambar2 kristen, terutama sosok hamba yg menderita itu; dari sinilah banyak teks mesias handel itu diambil. Yeremia: kitab nabi yeremia adalah kitab yang mengandung nubuat2 yeremia. Intinya adalah ucapan-2 yeremia, yang hidup di akhir abad 7 sampai ke masa pembuangan pada abad 6. Inlah kitab terpanjang di antara kitab para nabi. Kitab ratapan: kitab ratapan adalah kitab yang berisi 5 ratapan agung atas kejatuhan yerusalem ke tangan orang2 babel. Secara tradisional lagu-2 ratapan ini dihubungkan dgn yeremia. Sangat populer di dunia katolik karena sering dipakai untuk ibadat selama trihari suci, lamentatio Kitab barukh: kitab barukh adalah kitab yang merenungkan situasi pembuangan baik dalam penghukuman maupun dalam pengharapan. Biasanya dihubungkan dengan barukh, sang sekretaris nabi yeremia. Kitab ini tidak termasuk dalam kanon ks protestan; disebut deuterokanonika. Kadang-kadang bab 6 masih berdiri sendiri secara terpisah dan diberi judul “surat yeremia.” Kitab yeheskiel: kitab yeheskiel adalah kitab yg memuat nubuat2 yeheskiel, yaitu orang yg sejaman dengan yeremia tapi lebih muda dari yeremia. Di dalamnya tercakup penglihatan-2nya akan allah yang bertahta di atas keretak yang dihela oleh binatang2 ajaib, juga mencakup kitash tentang tulang2 kering yg hidup kembali yg melambangkan kelahiran kembali israel sesudah drama pembuangan yg tragis itu. Pembuangan bukan kematian

2

yg disampaikan oleh seorang nabi yg sejaman dgn yeremia Zefania: kitab zefania adalah kitab yang berisi kutukan atau penghukuman2 atas banyak orang dalam hidup roang yehuda sebelum pembuangan. sebagiaan besar dari apa yg ada dalam markus. Tambahan daniel 1: disebut juga doa azaria dan lagu pujian ketiga pemuda dlm perapian. Tetapi kemduian ia dibebaskan lagi. Kitab ini adalah sebuah cerita pendek ala detektif. seorang nabi yang masih sejaman dengan yesaya. tangan yg menulis pada tembok istana. Tambahan daniel 3: atau disebut juga kisah tentang daniel dengan dewa bel dan naga babel. Nahum: kitab nahum adalah kitab yang berisi ramalan2 tentang penghancuran kota niniveh oleh satu campur tangan ilahi. Obaja: kitab obaja adalah kitab yang mengandung nubuat singkat tentang penghukuman edom karena ikut membantu dalam penumpasan dan penghancuran yerusalem pada tahun 587 sm oleh babel. Isinya juga menyangkut pembangaunan dan pemulihan kembali komunitas umat pada masa sesudah pembuangan. Dengan kata lain. Hosea: kitab hosea adalah kitab yang memuat nubuat2 nabi hosea yang kurang lebih berasal dari abad 8 sm. Hagai: kitab hagai adalah kitab yang berisi kata-kata seorang nabi yg mendorong umat yg kembali dari pembuangan utk membangun kembali kenisah atau bait allah di yerusalem. Ajaran yesus sangat terpusat pada identitas dirinya. seorang nabi yang masih sejaman dengan hosea. Itu tidak mengherankan karena emreka punya perspektif dan sumber yang sama. Injil ini sangat berbeda dari injil2 sinoptik tadi. yg ditimpakan kepadanya oleh 2 org pria tua yg marah karena mereka gagal berupaya memperkosa dia. Ini tidak ada dalam kanon protestan.Daniel: kitab daniel adalah kitab yg berkisah ttg kisah-2 dan penglihatan2. ajaran yang mencakup kotbah di bukit (5-7) yang terkenal itu. yaitu satu abad sesudah masa nabi elia dan elisa. Kitab ini pun tidak ada dalam kanon protestan. Isinya tidak perlu dibeberkan secara khusus. misalnya. Injil lukas: Injil lukas adalah injil terpanjang. Itulah hukuman atas sikapnya yg tidak mau mentaati perintah allah. yg ikut dibuang. tetapi bernasib untung di pembuangan berkat kemampuan menafsirkan mimpi2 (spt yusuf). mrk.. luk) sering sekali disebut injil2 sinoptik. misalnya spt perumpamaan tentang anak yg hilang itu dan tentang orang samaria ybk. ditemukan lagi dalam mateus atau lukas. Misal: kisah kandang singa.” Amos: kitab amos adalah kitab yang berisi nubuat yang disampai-kan nabi amos. Hal itu mendatangkan tobat dan selamat atas niniveh yang mau mendengar allah melalui yunus. tungku api bernyalanyala. Habakuk: kitab habakuk adalah kitab yang berisi nubuat2 tentang bakal terjadinya penghancuran yerusalem. Yoel: kitab yoel adalah kita yg berisi puisi2 penyesalan pada masa dilanda bencana alam.” • • 3 . di sana ada seorang perempuan yahudi bernama susana. • • • • • • Isi masing-masing kitab perjanjian baru Injil mateus: Injil menurut mateus adalah injil yang memberi penekanan pada ajaran-ajaran yesus. Mikha: kitab mikha adalah kitab yang berisi nubuat2 yang disampaikan nabi mikha. Ada banyak episode terkenal dari kitab ini. Tambahan daniel 2: atau kisah susana-daniel. Ini tidak ada dalam kitab protestan. dan dalam pelarian itu ia ditelan ikan besar di tengah laut. Injil yohanes: Injil yohanes disebut juga injil keempat. Disebut demikian karena ketiga injil ini kalau dilihat (optik) sekilas secara bersamaan (syn) akan tampak mirip satu sama lain. Yunus: kitab yunus adalah sebua kitab yg berisi cerpen terkenal tentang seorang nabi yg mangkir dari tugasnya karena enggan menjalankan tugas itu. Dua cerpen tentang betapa sia-sia dan absurdnya berhala-berhala itu dan juga tentng daya kekuatan allah israel. Injil markus: Injil markus adalah kitab injil yang paling pendek. Kadang-2 disebut juga nyanyian 3 anak atau nyanyian tiga orang yahudi. Sebagian besar isinya mengandung warta bencana dan kutuk. Zakharia: kitab zakharia adalah kitab yang mengandung ramalan2 yg diucapkan oleh seorang nabi yg masih sejaman dengan hagai di atas tadi. Kitab ini mengandung banyak perumpamaan2 dan kisah2 yang memang khas lukas. tetapi juga mengandung nubuat2 ttg masa depan yg berjaya-mulia tatkala allah akan “mencurahkan rohnya kpd segala bangsa. 2. yg diselamatkan dari pelbagai tuduhan palsu berzinah. Maleakhi: kitab maleakhi adalah kitab yg menyerang pelbagai macam pelanggaran yg terjadi pada komunitas jemaat sesudah pembuangan. Sebagian besar perumpamaan tidak ada. dan kisah tentang perjalanan ke emaus ini. dengan pahlawan daniel. sebab hampir tidak ada bagian dari injil ini yang tidak ada dalam injil2 yg lain. sehingga ia pergi ke ninive dan berkotbah di sana. yg diduga dialami oleh org yg masih sejaman dgn yeremia. dan orangnya disebut sinoptisi. Injil-injil sinoptik • Ketiga injil di atas tadi (mat. bersama dengan sebuah teks yg terkenal yang meramalkan tetnang kembalinya elia untuk memulai kembali (inaugurate) apa yang disebut “hari tuhan” itu. Kekhasannya ada dua: 1. Diduga ini adalah rangkaian nyanyian dan doa yang diucapkan 3 pemuda yg dilempar ke dalam tungku api pembakaran yang berkobar-2 tetapi mereka tidak terbakar. Dari situlah keluar ucapan-ucapan sbb: “aku adalah…….

titus: surat kpd titus adalah surat yg ditujukan kepda titus. umumnya disebut sbg surat-surat gembala atau pastoral. berbicara tentang tema “pembenaran oleh iman. di sana paulus coba mendorong orang kristen filipi agar hidup dalam ketaatan dan kemurahan hati. ini adalah surat “pastoral” paulus yang paling lembut. surat-surat pastoral ketiga surat di atas tadi (1 dan 2 tim dan titus).’ 2korentus: 2korentus adalah surat paulus kepada umat di korentus yg secara lebih lanjut berbicara tentang relasirelasi di dalam gereja korentus itu sendiri. dan peranan yesus dalam mewujudkan jaman akhir itu).” hanya bedanya. Surat-surat paulus Roma: Ini adalah surat paulus yg terpanjang. dan khususnya mengenai pelbagai karya dan perjalanan misi yang dilakukan paulus mengelingi atau di seluruh wilayah laut tengah. Sebagian besar menyangkut hubungan org-org yahudi dan para bgs kafir di dlm gereja. di sini paulus berbicara dengan nada marah dan benci terhadap apa yg oleh paulus lihat sbg kesalahan2 org galatia. nadanya pastoral spt paulus. mungkin dari lingkungan par amurid paulus sendiri. siapa dia? tampaknya ia adalah org yang punya peranan yg sama dengan peranan timoteus. 1 timoteus: surat 1 timoteus adalah surat yg berciri nasihat pastoral kepada timoteus. galatia: surat galatia. juga ttg bagaimana gereja harus menata urusan2nya sendiri. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 4 . ramai. dlm artian yg kemudian dari jabatan & kata itu. yang tampaknya diangkat paulus menjadi pemimpin di efesus. yg dikirimnya ke gereja yang tidak didirikannya dan tidak pernah dikunjunginya. 2 tesalonika: surat 2 tesalonika adalah surat yg berisi uraian lebih lanjut tentang tema atau hal-hal eskatologis. juga terkait dgn persoalan landasan bagi keselamatan – apakah karena ketaatan kpd hukum yahudi ataukah karena iman akan kristus? 1korentus: 1korenutus adalah surat paulus yg ditujukan kpd umat kristen di korentus. filipi: surat filipi adalah surat kepada orang kristen di filipi. dengan jabatan hampir spt uskup. perlu juga diketahui bahwa tidak semua manuskrip kuno menyebut surat efesus ini. inilah satu2-nya surat yg tidak dimulai dgn menyalami si penerima surat atas dan karna iman mereka. seperti surat roma. maju dan kompleks. Di sinilah muncul ucapan terkenal dari paulus: ‘kebodohan allah adalah lebih bijaksana daripada hikmat manusia. Surat ini sbgn besar berbicara ttg bagaimana org kristen harus berhubungan dgn masyarakat di sekitar. dalam pandangan si penulis surat ini. yg terutama sekali berbicara ttg tema eskatologi (kongkretnya. sperti halnya timoteus. pada umumnya org menganggap bhw surat-surat itu meniru-2 gaya dan isi surat paulus yg asli. efesus: surat efesus adalah sebuah uraian sistematik tentang pelbagai tema teologis. juga sekaligus memberi tanggapan terhadap tantangan2 yg ada terhadap otoritas paulus sendiri. jadi. 2 timoteus: surat 2 timoteus adalah surat yang berisi nasihat lebih jauh tentang bagaimana harus hidup sebagai gembala dari satu komunitas jemaat kristen. Sebagai ilustrasi: lihat gambar-2 yg ada. yang ditulisnya di penjara. jadi. yaitu tentang rencana allah bagi sejarah. titus pun dinasihati paulus agar hidup sederhana dan bijaksana. 1 tesalonika: surat 1tesalonika mungkin merupakan surat paulus yg paling awal. rupanya saat itu ada yang pempersoalkan otoritas paulus.Kisah para rasul • • • • Sebenarnya ini adalah volume kedua dari injil lukas. kolose: surat kolese adalah surat yg berisi kristologi paulus. tetapi umumnya diterima bahwa surat-surat ini berasal dari kurun waktu sesudah paulus wafat. surat itu juga coba membujuk org-2 kristen di kolese utk tidak mengikuti satu sistem “filsafat” yang tidak sesuai dengan iman kristen. sebuah kota pelabuhan besar. Isinya terdiri atas kisah tentang sejarah gereja awal. tetapi ia berkarya di kreta. mungkin aslinya surat ini adalah sebuah ensiklik. yg dimaksudkan untuk diedarkan secara umum. ini adalah pengungkapan terpanjang lebar dari kristologi paulus (ajaran ttg kodrat serta martabat yesus). yang di sana-sini tumpangtindih dengan kolose. ini khas.

di sini ia berbicara tentang masalah budak. ibrani: surat ibrani tampaknya adalah sebuah risalat yg berbicara tentang status yesus. 1yohanes: surat 1 yohanes adalah surat yg punya banyak kemiripan dgn injil yohanes. ini berbeda dgn surat-surat paulus misalnya. suatu yang tidak biasa dlm surat2 paulus. yaitu onesimus.. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 5 . yang ditujukan kpd 1 komunitas jemaat tertentu. dan pengharapan akan keselamatan. tetapi ada juga yg tidak demikian surat yakobus: surat yakobus adalah surat yang berisi kumpulan dari ajaran-ajaran etis (yang dikaitkan dengan yakobus). 1 yohanes: slide berikut…. 2 petrus: surat 2 petrus adalah surat yg hampir seluruhnya menaruh kepedulian pd tema eskatologis. disebut demikian karena isinya ditujukan kepd semua org kristen pada umumnya. dalam hal ini. kesalahan itu diancam dgn ancaman yg dilandaskan pd ide-2 eskatologis yg mirip dengan 2 petrus. misalnya. 3 yohanes: surat 3 yohanes adalah surat gembala yg bicara tentang masalah tata tertib pada masa gereja purba. maka disebut umum atau katolik. wahyu: kitab wahyu adalah kitab yang mengandung karya apokaliptik yg menyangkut jaman akhir dan peranan kristus dalam dunia baru itu yang akan menyusul jaman akhir tadi. yang melarikan diri itu.• • • • filemon: surat kpd filemon adalah surat paulus yg ke-4 kepada sorang pribadi. oleh karena itu. surat tadi mempunyai banyak kesamaan dengan surat yudas. yang diperlihatkan dalam dan melalui kristus. surat-surat katolik: kadang-2 surat mulai dari 1 petrus ke yudas (berarti ada 6 surat) disebut sebagai surat katolik atau surat-umum. inilah surat yg paling bernada personal dari semua surat yang lain. 2 yohanes: surat 2 yohanes adalah surat yang berisi peringatan melawan bahaya2 ajaran sesat. tema cinta yg harus ditunjukkan orang kristen kpd satu sama lain sbg tanggapan terhadap kasih allah kdp mereka. yudas: surat yudas adalah surat yg berisi pengutukan “kesalahan” dlm gereja. ciri ini sedemikian kuatnya sehingga org pernah menduga bhw mungkin aslinya karya ini adalah sebuah kotbah upacara liturgi baptis. justru karena tidak spesifik. hidup kristen. di sana juga ada banyak perbincangan mengenai pelbagai teks dari pl. 1 petrus: surat 1 petrus adalah surat yg dicirikan oleh tema spt baptis dan kebakgitan. atau bahkan kpd satu pribadi tertentu. ada beberapa manuskrip kuno yang menghubungkan surat ini dengan paulus.

juga termasuk orang-orang yang bukan para penulis profesional. kitab-kitab biasanya dibuat dari papirus-papirus tersebut. 22 huruf itulah yang menjadi pokok dari sistem alfabet baru ini. tetapi itu tidak berarti tingkat melek huruf juga sudah tinggi atau merata. Dalam sistem yang terakhir ini masing-masing simbol melambangkan satu bunyi konsonan tertentu. Abjad itu adalah terjemahan versi Arab dari alphabet. Dalam sistem dan perkembangan yang baru ini ratusan simbol-bunyi dalam sistem cuneiform diganti hanya dengan 22 huruf saja. dua huruf pertama dalam bahasa Ibrani dan juga kebetulan Yunani. Itulah yang menjadi alat tulis mereka. bahkan bagi kurun yang sangat dini ini. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa abjad adalah salah satu sumbangan terpenting dari kebudayaan Ibrani. Itulah yang menjadi cikal-bakal dari alfabet Ibrani. namun dunia Kitab Suci adalah dunia tulis menulis sudah sejak dari awal mulanya. sebelum Israel ada. dalam perjalanan perkembangan tahun berkembang dan berubah-ubah dalam rincian gayanya tetapi boleh dikatakan bahwa ia tidak pernah menyimpang dari 22 huruf itu saja. Perkembangan ini pada gilirannya mempunyai dampak yang sangat besar untuk aktifitas membaca dan menulis. pada jaman itu. Kaum Funisia-lah yang pertama kali mengembangkan sebuah sistem alfabet. itu bukan eksperimen yang baru muncul belakangan). Ide mengenai buku-gambar mengenai Israel sebagai kaum badui (suku nomaden) yang mengarungi hidup nomadik di dalam kemah-kemah. yang disebut cuneiform. Bahkan yang jauh lebih menggembirakan lagi. Sistem ini sendiri. Kebudayaan Mesopotamia sampai pada milenium pertama SM masih memakai sistem tulisan atau huruf paku. Proses Menulis Kitab-kitab Aktifitas Menulis Dalam Dunia Biblikal Pertama-tama harus segera disadari bahwa adat kebiasaan menulis sudah ada di dunia Timur Tengah kuno jauh sebelum Israel ada sebagai sebuah bangsa atau negara (kerajaan). Melek huruf tidak merata di semua kebudayaan kuno. Sama sekali tidak. Walau huruf sudah dikenal. Aktifitas membaca dan menulis mejadi jauh lebih mudah. paling tidak mulai dari pertengahan milenium ketiga SM (sekitar 2500). Dalam konteks ini ada tempat-tempat untuk menyimpan buku-buku. walau tentu saja hampir terlalu dini beberapa abad). Abjad sendiri adalah nama tiga atau empat huruf pertama dalam abjad Arab: Alif bata ja. bangsa Israel mengalami suatu eksistensi yang tenang tenteram. dan kesempatan-kesempatan untuk mempersiapkan bahan-bahan tertulis (biasanya papirus). dan kelak juga menjadi cikal bakal dari sistem huruf kita sendiri dewasa ini (Latin). kota kecil dan dusun-dusun. adalah sangat tidak benar menurut realitas historisnya. Untuk dapat memahami arti penting historis dari pernyataan ini mari kita lihat beberapa data berikut ini. Semua kitab dari PL ditulis dalam sistem alfabet baru ini. Jadi. untuk menggantikan tulisan dengan sistem simbol suku kata ini. 22 huruf itu menjadi jumlah huruf yang standar dan mendasar. (Jadi. aktifitas itu bisa dikuasai oleh semakin banyak orang. Walaupun awal mula dari kebudayaan Ibrani ditetapkan sejak awal tahun 1700-an SM (itulah tanggal yang biasanya dianggap sebagai tanggal kelahiran Abraham. Tetapi hampir di semua negara-negara mulai dari Mesopotamia ke Mesir terdapat para penulis profesional atau para penulis. Besar sekali kemungkinannya bahwa beberapa bagian dari PL sudah sangat tua karena diduga berasal dari abad kesepuluh atau abad kesebelas SM – dan diduga bahwa teks yang tertua (teks puitis) 6 . Tanda-tanda itu kemudian ditorehkan atau dicapkan pada papan-papan tanah liat dengan memakai semacam paku yang ujungnya tajam. orang-orang dan kebudayaan di kawasan Timur Tengah sudah mengenal huruf atau tulisan. tidak mampu mencatat apa-apa dalam bentuk tertulis. Abjad itu sangat membantu untuk membaca dan menulis. di kota-kota besar.Bab II. juga orang-orang yang melek huruf yang melakukan pekerjaan yang lainnya. Paling tidak mulai dari jaman Raja Salomo (barangkali sekitar tahun 970 sampai tahun 930 SM). Dalam sistem ini tanda-tanda menggambarkan silabe atau suku kata. Dari sistem ini kelak muncul sebuah sistem yang jauh lebih sederhana (tidak rumit seperti sistem simbol suku kata di atas tadi). (sedangkan vokal tidak diberi tanda khusus).

16:22). Sementara itu sebutan injil untuk keempat injil itu hanya muncul pada judul saja.16:21.5 biasanya dianggap sebagai teks yang paling tuu dalam kitab suci. sementara Kej. Tampaknya jelas. Mungkin tidak semua orang sangat sadar akan hal ini.6:2-3. buku yang mengumpulkan pelbagai macam ide. dengan karya-karya dari pengarang manapun juga.. Kitab-kitab itu tampak seperti sebuah antologi dalam dirinya sendiri. 2Tes. Semuanya dapat dibandingkan dengan para penulis lain dari dunia kuno maupun dunia modern dewasa ini. dan dunia kitab-kitab.1:1-3: “. maka kita harus melihat kitab suci itu sebagai sebuah produk dari para penulis yang ahli (terlatih).4:26 kita membaca bahwa “orang mulai memanggil nama TUHAN” – yaitu berarti. buku yang mengandung dan menyimpan banyak kutipan-kutipan. dunia Kitab Suci adalah dunia tulis menulis dunia huruf. maka kita sedang menghadapi sebuah permasalahan yang sangat rumit. 7 . Ya. Hanya itu saja. Tetapi kalau kita bertanya apakah kitab itu juga yang merupakan kitab pertama yang ditulis. Jelas ini hampir tidak mungkin. mengandung bagian-bagian yang berasal dari kurun waktu yang sangat berbeda. bahasa Yunani dipakai di samping bahasa Latin juga. ditugaskan untuk menyingkapkan nama itu kepada sesama kaum bangsanya Israel.” Ada juga teks PB lain yang dimulai dengan menyebut nama pengirimnya. (Jadi. Demikian juga halnya. Tetapi dalam kitab-kitab itu tidak pernah ada dikatakan bahwa Musa adalah penulis atau pengarangnya. Paling banter hanya bisa dikatakan bahwa Musa menulis beberapa bagian saja dari kumpulan kitab itu. Itulah jenis bahasa Yunani yang telah menjadi bahasa bersama (lingua franca) dari seluruh kawasan Laut Tengah. Hal ini biasanya dilakukan dengan maksud untuk mengesahkan surat itu (mungkin kegunaannya dapat disamakan dengan tanda tangan pada jaman modern dewasa ini yang biasanya dibubuhkan pada bagian akhir sebuah surat..2:18-19 melihat manusia sebagai sudah diciptakan terlebih dahulu. Kol. tampak seperti sebuah buku kumpulan karangan.. Ini hanya mungkin kalau dikabarkan oleh orang lain yang bukan Samuel sendiri). sebab isinya antara lain ialah kabar tentang kematian Samuel. untuk bertanya dalam tata urut apa atau dengan tujuan apa mereka menulis karya-karya mereka itu – dan biasanya paling tidak adalah sebuah jawaban yang jelas yang dapat diajukan dan dapat diterima juga (masuk akal). dalam Kej. bagaimana Samuel yang sudah mati itu. Misalnya.1:24-27. diduga berasal dari pertengahan abad kedua (sekitar tahun 160 SM). Walau tidak ada petunjuk bukti yang cukup untuk yakin akan hal itu. Oleh karena itu.. Secara formal kitab ini sebenarnya juga adalah serangkaian surat-surat. dan karena itu dalam sebuah artian yang jelas memang demikianlah juga halnya. Sebutan itu tidak berarti bahwa keduanya menulis karya itu. Terutama di Italia.. Juga tidak berarti bahwa kedua kitab itu adalah milik Daud dan Salomo. Kecuali surat-surat Paulus yang dimulai dengan menyebut namanya. Dulu orang berpikir (mungkin saat ini juga masih ada yang berpikir demikian) bahwa kitab ini berasal dari Samuel.p. bukanlah sebuah ketetapan sebagai pengarang. Perjanjian Baru semakin lebih jelas lagi merupakan hasil dari sebuah kebudayaan tulis menulis. Begitu juga dengan 1 dan II Samuel.. dikatakan hanya “menurut. toko buku. kata Loukan. Dalam PL nama yang kini ada sebagai “judul” kitab. adalah kumpulan bahana (composite). Misalnya. menyatakan bahwa binatang-binatang diciptakan sebelum manusia. itu tidak berarti bahwa teks itu dikarang oleh orang yang namanya disebut di sana. lalu binatang-binatang diciptakan untuk menjadi pengiring bagi dia. kata Markon)..3:17). ditulis atau dikarang oleh Samuel. Itu tidak lain karena sangat sedikit dari kitab-kitab itu yang merupakan sebuah teks yang sederhana sajayang disusun hanya oleh satu orang saja. seperti kurang lebih yang tampak dalam bagian awal kitab itu. untuk dapat memahami kitab Suci. Surat Paulus kepada jemaat di Roma mengandung sebuah salam dari sekretaris atau amanuensis Paulus yang bernama Gayus (Rom. Ada begitu banyak kasus seperti ini dalam kitab suci sehingga para ahli pada umumnya telah menyimpulkan bahwa Kitab Kejadian. menyembah Allah dengan nama Ibraninya yang khas yaitu YHWH1 – pada jaman Enosh. Keluaran. Tetapi masih ada alasan yang lebih jauh lagi mengapa kita sulit menentukan atau menetapkan siapa yang menulis kitab-kitab biblis itu. Kej. yaitu kepada siapa surat itu dikirim.16…. paling tidak pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang masuk akal (sensible) dan koheren.4:18. lalu dilanjutkan dengan upaya identifikasi alamat tujuan. sebagai misal yang kedua. 1Kor. Begitu juga dengan Mazmur Daud dan Amsal Salomo. tampak bahwa nama ini masih belum dikenal sampai saat Musa. Judul I dan II Raja tidak pernah dipakai dalam artian kepengarangan. Itu hanya pernyataan tentang pokok yang dibahas di sana. yaitu Kel. Maksudnya. Bahkan dalam teks asli Yunani. Biasanya hal ini mau menyiratkan bahwa bagian selanjutnya dari surat itu dituliskan bagi dia (lihat 1Kor. Dunia Laut Tengah pada jaman Yesus bahkan sudah mempunyai perpustakaan. Siapa Penulis Kitab-kitab Suci? Sebagian besar kitab dalam Kitab adalah anonim. termasuk juga Italia. dan bukan kitab dari Ayub atau kitab oleh Ayub. Sebab tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Tetapi kitab Kejadian.dalam Hak. sering sekali dalam bentuk ringkasan atau bentuk singkat (semacam teknik steno). Misalnya. Kitab Ayub adalah kitab tentang Ayub. Para penulis sering sekali memakai para penulis profesional untuk menuliskan kata-kata mereka. Gal. Bahasa Yunani yang dipakai para penulis PB untuk menuliskan kitab-kitab PB sebagian besar adalah bahasa Yunani sehari-hari yang dipakai oleh orang-orang terdidik pada jaman itu. Hal ini dengan sangat mudah dapat dilihat dalam beberapa inkonsistensi di dalam sebuah kisah yang sedang dikisahkan. Sementara kitab yang paling muda ialah Kitab Daniel..6:11. kita cenderung menganggap Kitab Kejadian sebagai kitab pertama dari Kitab Suci. dan sebagian besar kitab-kitab yang lain dalam PL. dan banyak kitab-kitab biblis yang lainnya. Pada saat itu sudah terdapat banyak para penulis profesional dan para penerjemah. Lima kitab pertama dalam PL (Pentateukh) sering disebut sebagai kitab Musa. Misalnya. kalau ada nama disebut pada awal.34:11-26. pada satu kurun waktu tertentu. masih menulis sesuatu dengan kabar kematiannya sendiri. Pada pelbagai kesempatan Paulus juga menambahkan salam dari dia sendiri yang ditulisnya dengan tangannya sendiri. sang cucuk Adam.. yaitu kitab Wahyu.” saja. Sebab dalam 2 ayat berikutnya memang dikatakan demikian dalam kitab itu sendiri. tanpa kata Injil sama sekali (kata Matthaion. yang dibentuk dari bahan-bahan yang berasal dari kurun waktu yang berbeda. Tetapi di dalam kisah mengenai kehidupan Musa dalam Kel. dan juga dari latar belakang tempat yang berbeda 1 Ada fn.

Hal ini tentung saja mengandung persoalan tertentu. “Guru yang baik. dari mulut ke mulut. tidak mudah untuk ditetapkan. yang ada hanyalah seorang penyusun yang menggambungkan bahan menurut rencana dan kehendaknya sendiri. Dia ‘kan menjawab. tanggal dari sebuah Injil tidak mutlak perlu sama dengan tanggal dari bahan yang terkandung di dalamnya. muncul dalam tahap yang sangat dini dalam sejarah gereja. ataukah menjelang akhir karya Yesus seperti dalam Mat. dan tugas kompilasi yang kiranya berarti bahwa tidak ada satu pun dari Injil-injil sudah selesai disusun sampai sekurang-kurangnya 30 atau 40 tahunan setelah wafat Yesus – walau sebagian besar dari bahan yang terdapat di sana tentu saja sudah sangat dini usianya.. kemudian bagaimana Ia ditangkap oleh para penguasa dan diadili. Hal ini menyiratkan suatu tugas yang mempunyai beberapa komponen pentahapan di dalamnya. lalu disalibkan. Maka dapat disimpulkan bahwa tanggal dan kebenaran dari kandungan Injil merupakan satu persoalan yang sangat rumit dan berbelit-belit. Sebagian terbesar. dan Lukas. ternyata injil-injil itu sering sekali bertentangan satu sama lain. Paling banter. Injil-injil Semua keempat injil mengisahkan cerita yang sama. maka hal penetapan tanggal penulisan kitab itu dan menyusun mereka dalam suatu tata urut kronologis tidak hanya menjadi suatu pekerjaan yang sangat sulit. mengajar dan menyembuhkan. ketika mulai menulis. Menurut salah satu mazhab pemikiran. sebuah ruang rekam data. Yesus Yang Dewasa Pada Masa Natal. Dan dokumen-dokumen itu sendiri pasti jauh lebih tua dari pada Injil-injil sebagaimana yang kita punyai sekarang ini. bersama dengan kumpulan ucapan-ucapan Yesus yang secara konvensional dikenal dengan sebutan teknis Q. sebab bahkan dalam sebuah Injil yang ditulis. menyimpannya. ataukah terutama tentang status dan tempatNya sendiri dalam rencana Allah bagi dunia. melainkan menjadi suatu tugas yang tidak mungkin dilakukan sama sekali. para ahli PB percaya atau beranggapan bahwa Markus adalah Injil pertama yang disusun – tetapi ia injil itu disusun si penyusun dengan memakai bermacam-macam bahan yang sudah dikumpulkan terlebih dahulu oleh orang-orang lain! – dan bahwa Mateus dan Lukas sama-sama memakai Markus 9dalam beberapa bentu atau lainnya).10:18) atau “Mengapa kau tanya Aku tentang apa yang baik?” (Mat. dimakamkan. tugas seleksi. Dengan 8 . maka tidak ada seorang “pengarang” bagi kitab Kejadian sama sekali kalau dilihat dari artian kata itu menurut pemahaman modern. Di pihak lain. apakah “pembersihan Bait Allah” terjadi pada awal karya publik Yesus (Yoh. Kalau hal ini benar berarti para penulis Injil banyak menimba dari kandungan ingatan lisan. Beberapa kritikus berpikir bahwa kisah-kisah Kelahiran dalam Lukas 1-2 merupakan salah satu contoh dari hal ini – yaitu legenda-legenda yang disusun dengan dan atau berdasarkan prinsip kesejajaran dan analogo dengan kisah-kisah Perjanjian Lama tentang para tokoh pahlawan besar.2:13-20). Itu di satu pihak. Mereka menampilkan kisah tentang bagaimana Yesus dari Nazaret mengumpulkan murid-mjurid. walaupun tidak semua. memakai bahan yang diturun-alihkan secara lisan. dan tidak dalam bentuk tulisan. sampai ia ditemukan oleh para penguasa Jerman pada tahun 1944 dan dikirim untuk dihukummati di Bergen-Belsen. atau masih terus dilakukan juga. Di antara para Sinoptisi. Itu sangat jelas. Markus. seperti dalam Mateus. yaitu dengan cara bercerita dan bercerita kembali.pula. The Birth of Messias itu). atau juga dalam Mrk dan Luk? Ketika Yesus ditanya. sehingga para penginjil atau para penulis Injil hanya mengambil bahan yang pada saat itu dianggap otentik. Aktifitas mempelajari Injil-injil Sinoptik akan menuntun ke suatu pemahaman yang lebih jauh. yang digabungkan dengan pemakaian secara bersama-sama dokumen-dokumen atau kumpulan-kumpulan ucapan Yesus yang sekarang ini sudah hilang. para murid Yesus sendiri dulu sebenarnya menuliskan ucapanucapan Yesus. apa yang sesungguhnya dulu telah ia katakan atau lakukan. seorang gadis Yahudi yang hidup di dalam tempat persembunyian dengan keluarganya di Amsterdam selama dua tahun. Dan hipotesis yang paling baik untuk menjelaskan hal itu kiranya ialah ada suatu derajat kesaling-tergantungan di antara mereka. boleh jadi memang ada ucapan-ucapan dari Yesus. Kiranya hal ini tidak usah mengherankanjuga karena diyakini bahwa orang-orang dalam kultur tradisional dulu mempunyai kemampuan tinggi untuk menghafal (dewasa ini juga masih ada. “Mengapa engkau menyebut Aku baik?” (Mrk. atau anekdotanekdot tentang Dia. katakanlah pada tahun 70 M. (Salah satu ahli seperti ini kiranya ialah Raymond E. yang secara faktual memang benar. yang dalam faktanya sesungguhnya tidak mempunyai dasar sama sekali dalam sejarah. dan mewariskannya juga secara lisan. mereka tidak mengambil dari sumber-sumber bahan tertulis. seperti yang ada dalam injil Yohanes itu? Upaya untuk menguraikan beberapa dari permasalahan ini telah mengarah ke sebuah kesepakatan bahwa Yohanes agar sedikit berbeda dari Injil-injil Sinoptik yang lain. Tugas menyusn sebuah buku dari bahan yang sudah terlebih dahulu ada tampaknya merupakan sesuatu yang asing bagi sebagian besar orang modern. pada dasarnya bisa saja ada bahan di dalam Injil-injil yang dikumpulkan sendiri oleh para penginjil itu dari kumpulan-kumpulan lain atau catatan-catatan. yang membuatnya bahkan lebih sulit lagi untuk mencoba menetapkan tanggal dari kitab-kitab biblis itu. (Secara teknis hal ini dikenal dengan sebutan Ipsissima verba Iesu Christi). Sebagaimana yang baru saja telah kita lihat. tetapi sesungguhnya praktek seperti itu masih terjadi. Tetapi kalau memang demikian duduk perkaranya.Brown. bedanya kini orang menghafal dari bahan tertulis). apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”. yaitu. (Masalah Tradisi Lisan) Boleh jadi para penginjil. Bahkan boleh jadi bisa juga dikatakan bahwa pekerjaan seperti itu adalah tidak mempunyai arti sama sekali.19:17)? Atau jauh lebih penting lagi. Beginilah caranya para penerjemah dari edisi 1997 dari buku harian itu mencoba melukiskan tahap-tahap yang telah dilewati oleh The Diary of a Young Girl itu. Tetapi ketika kita mencoba mempelajari detail kisah itu. ada banyak bahan yang dimiliki bersama dan juga ada banyak perbedaan-perbedaan.12:12-13. Boleh jadi hal-hal itu telah disimpan dan dilestarikan dengan baik dan dengan setia dalam pelbagai dokumen. Kalau hal ini benar demikian mengenai semua atau sebagian besar kitab dalam Kitab Suci. Misalnya. dan boleh jadi banyak juga dari bahan itu yang memang sudah berasal dari para murid Yesus sendiri yang pertama. tetapi lalu dibangkitkan dari antara orang mati. jadi sekitar 40-an sejak dari masa hidup Yesus sendiri. Salah satu contoh yang baik ialah buku harian dari Anne Frank. mulai dari tugas pengumpulan. Dengan menghafal orang mengingatnya. tetapi dokumen itu kini telah hilang. apakah Yesus terutama mengajar tentang bagaimana orang harus hidup.

maka kiranya mereka telah menyesuaikan kisah-kisah tadi dengan kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan-permasalahan mereka. tatkala mereka menceritakan kembali cerita-cerita itu. ruang sekolah menghafal.demikian cerita menjadi ruang didik. Ia justru mengintensifkan kekerasan dan keketatan hukum itu sendiri. Dan itulah yang menjadi segi keuntungan dan segi positif dari bahan tertulis. kepada siapa kisah itu dikisahkan. dengan ritualnya di waktu malam ketika semua orang sudah tertidur). Jadi. dan DV. karena ada proses distansiasi seperti dikatakan oleh Gadamer itu). Yang jelas. Seluruh mazhab studi dan penelitian ilmiah PB – kritik bentuk atau form criticism – menerima begitu saja sebagai benar satu fakta bahwa ucapan-ucapan dan kisah-kisah Injil diturun-alihkan secara lisan. Dan dengan cara itu kita dapat menelusuri kembali ke belakang dan bisa sampai ke suatu presentasi yang lebih otentik akan Yesus dan akan ajaranNya dari pada ajaran yang yang kini sudah terkandung dalam injil-injil yang kita miliki. Dan salah satu kesempatan untuk melakukan tugas penurun-alihan itu ialah ibadat gereja. Lukas dan Yohanes sebagai para redaktor dan menyebut mereka sebagai para pengarang. Tetapi untuk menyederhanakan tampang permasalahan 9 . (kritik bentuk) (Lihat juga pedoman Vatikan itu. yang lebih memantulkan konflik dan pertikaian di kemudian hari hari pada konflik yang terjadi pada masa Yesus sendiri). sudah mengecam para ahli taurat dan orang-orang Farisi. dan peluasan cakrawala makna. Komunitas pendengar. (Artinya. Barangkali setiap minggu sebuah kisah tentang Yesus dikisahkan kepada orang-orang Kristiani yang berkumpul untuk beribadat. Yesus bersikap cukup longgar terhadap hukum Musa. sekolah iman). Maka dengan demikian masalah menyangkut kapan dan bagaimana Injil-injil ditulis ternyata merupakan suatu masalah yang sangat rumit dan pelik. walau sepenuhnya sadar bahwa para penulis Injil tidak menyusun bahan mereka secara bebas tetapi mempunyai sumber-sumber tertentu (entah itu tertulis maupun lisan). ditambahkan komentar dan sisipan di sana-sini. dalam Lukas. Sosok Yesus versi Lukas dalam beberapa segi yang penting berbeda dari sosok Yesus versi Mateus. turut juga membentuk kisah itu dan terutama turut menentukan bagaimana bentuk kisah itu akan diteruskan nantinya. mereka menghafal dari sumber yang tidak tertulis. dll). ialah “redaktor.” Dan studi atau kajian mengenai apa yang telah dilakukan atau dikerjakan oleh para redaktor itu dikenal dengan sebutan teknis “redaction criticism. Yesus sendiri dulu memang sudah melakukan perlawanan terhadap orang-orang Yahudi. Pelukisan mengenai “ahli-ahli taurat” dan “orang-orang Farisi” dalam Injil-injil. Misalnya. melainkan kisah yang harus relevan dengan situasi sekarang dan di sini. komunitas itu bukanlah komunitas yang diam. masalah yang berbeda yang dihadapi dan ancaman-ancaman bahaya yang berbeda yang juga harus mereka hadapi. (Kritik Redaksi) (Lihat dari Pedoman Vatikan itu. Dan pertikaian itu akhirnya berbuntut pada penyingkiran orang-orang Kristiani itu dari ikatan komunitas Yahudi sama sekali.” atau “kritik redaksi. Tetapi. Kisah dari masa lalu tidak lagi dikisahkan sebagai sebuah kisah yang bebas nilai. Dalam tradisi lisan. tetapi sangat menaruh kepedulian pada orang miskin dan kelompokkelompok yang malang di dalam masyarakat. Jadi.” Para ahli kritik redaksi. maka kita harus membiarkan munculnya suatu kemungkinan bahwa mereka sendiri memang telah melakukan perubahan-perubahan yang sadar dan sengaja – yaitu bahwa mereka sendiri lebih dari sekadar para penyusun saja. melainkan komunitas yang partisipatif dan formatif. dan lebih menaruh kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah di dalam Gereja. Armstrong. ibadat gereja itu dipandang sebagai kesempatan utama dalam mana mereka mencoba menurun-alihkan ajaran-ajaran yang ada pada mereka. terutama mereka yang bertugas untuk bercerita. Misalnya. sebab masing-masing penulis mengadaptasikan bahan yang telah ia terima dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga ia mampu memasukkan cap dan ciri-coraknya sendiri ke dalam bahan yang sedang ia kerjakan itu. Diduga bahwa injil-injil bersandar pada aktifitas menghafal seperti itu dan di situlah letak permasalahannya. Bahan lisan itu sulit dicek ulang perihal benar dan salahnya. Istilah teknis yang biasa dalam studi-studi kitab suci bagi seorang penyusun yang melakukan perubahan kreatif terhadap bahan yang telah ia dapat sebagai warisan dari tradisi. Maksud atau tujuan dari semua aktifitas ini kiranya tidak lain ialah untuk meneruskan dengan sesungguhnya apa yang telah dikatakan oleh Tuhan sendiri. (Ibadat menjadi semacam ruang kelas. melainkan pemaknaan. Tetapi itulah juga yang merupakan peluang hermeneutik untuk memperkaya makna. ruang pelajaran. Justru karena hal itu maka mudah sekali diubah. Dan orang yang bertanggung jawab atas terjadinya hal itu ialah komunitas Kristiani itu sendiri. juga DV) Di pihak lain. Sedangkan dalam Mateus. ada baiknya saya mengemukakan beberapa contoh sebagai ilustrasi. dan REB). berbelit-belit. mula-mula kisah itu dikisahkan oleh mereka telah mengenal Dia dan kemudian oleh mereka-mereka yang telah mengenal orang-orang yang telah mengenal Yesus tadi. kisah-kisah mengenai konflik Yesus dengan para lawannya di dalam Yudaisme perlahan-lahan menjadi semakin tajam dan tajam dan juga keras (kasar) terutama ketika Gereja semakin menyadari bahwa ia berada dalam suatu keadaan yang ditandai oleh pertakaian yang semakin sengit dengan orang-orang Yahudi yang lain. Tetapi perlawanan itu tidaklah sekeras seperti perlawanan yang tampak terekam dalam injil-injil sekarang ini. dan mengenai “orang-orang Yahudi” pada umumnya dalam Injil Yohanes. (Ini suatu mata rantai pengenalan terus menerus). (Saya ingat akan adik saya Hubertus yang diajari ilmu mbeko oleh kakek dari pihak ibu. kisah tadi mendapat unsur dan dimensi baru. SG. Dan memang seharusnya demikian adanya. sebab di dalam proses penceritaan ulang itu. Mungkin untuk menjelaskan hal ini. Markus. (Mungkin bukan penyimpangan. sampai sejauh tertentu kita bisa merekonstruksi proses berlangsungnya perkembangan ini. Tetapi sedikit demi sedikit kisah-kisah itu mengalami perkembangan dan perubahan. Yaitu. Itulah semua hal yang harus mereka ingatkan terhadap para pembaca mereka masing-masing. mengatakan bahwa mereka sendiri juga memberi banyak sumbangan tersendiri dalam seluruh proses itu. Cara atau jalan yang paling baik untuk menjelaskan hal ini kiranya ialah bahwa kita harus membayangkan kedua penginjil yang sedang disinggung itu sebenarnya mempunyai agenda yang berbeda di dalam gereja atau komunitas jemaat mereka sendiri. kiranya lebih memantulkan atau mencerminkan konflik yang lebih kemudian ini daripada perlawanan terhadap para penguasa Yahudi yang dulu sebenarnya telah dilakukan atau diperlihatkan oleh Yesus sendiri. penyimpangan dalam proses transmisi itu sendiri. (Baca REB. Barangkali tidak ada banyak perbedaan sebenarnya antara menyebut Mateus. Dengan cara itu ia mendapatkan relevansi dan aktualitasnya. kalau bahan-bahan dalam Injil-injil sudah berubah dan berkembang sebelum para penginjil menemukan dan memakai mereka. menghafal adalah sulit untuk melihat bahwa tradisi itu bisa menghindar atau terhindar dari perubahan.

yaitu paruh kedua dari abad pertama atau bahkan sudah mulai memasuki abad kedua. dan dalam Versi Terjemahan berwibawa hingga saat ini. Sebagian terbesar. kitab-kitab bilis tidak menyampaikan kepada kita siapa yang menulis kitab-kitab itu. maka adalah mungkin untuk menetapkan suatu tatanan kronologis yang mungkin bagi surat-surat itu. Mateus dan Lukas berasal dari suatu dasawarsa kemudian. banyak orang di dalam Gereja purba beranggapan bahwa surat kepada umat Ibrani itu ditulis Paulus. dan kapan. Sebagaimana yang akan kita lihat. sudah melihat bahwa gayanya sangat berbeda dari gaya-gaya surat-surat Paulus yang lainnnya sehingga tidak mungkin bahwa surat itu berasal dari dia. Aktifitas ini bukan sekadar merangkum dan merangkai bersama-sama semua jenis informasi yang terlepas-lepas (framentaris) dan membentuknya sedemikian rupa sehingga bisa membantuk satu tatanan keseluruhan yang rapi teratur.. maka penetapan tanggalnya kurang-lebih ditetapkan secara arbritrer begitu saja. Dan titik akhir ini dapat ditetapkan secara garis besar saja untuk masing-masing injil. Tetapi dengan surat-surat inilah kita menghadapi masalah yang secara teknis disebut pseudonimitas. Dan ada sesuatu yang dapat disebut “iman. Dalam dunia kuno. Jadi. baik untuk membangun komunitas jemaat (gereja) di tempat-tempat di mana injil belum diwartakan atau membangun gereja yang telah ia sendiri dirikan dalam sebuah perjalanan yang terdahulu. Dan kalau beberapa di antara bahan itu diturun-alihkan secara lisan. Aktifitas menulis sebuah surat adalah sebuah proses yang berbeda dari aktifitas mengumpulkan sebuah kisah historis. Filipi. sebagaimana yang telah kita lihat. Kalau surat-surat Paulus yang asli berasal dari kurun waktu hingga tahun 60an M. belum tentu apa yang mereka sebutkan di sana sebagai penulis surat. karena ia tampak memperdaya. tetapi dalam kesempatan lain yang sangat jarang. dan kita bisa saja mengatakan dengan suatu tingkat keabsahan yang sama bahwa ia berasal dari tahun 40-an. Dengan cara merangkai dan mengumpulkan serta menyatukan indikasi-indikasi historis baik dalam Kisah maupun dalam surat-surat. seperti juga dalam pelbagai versi terjemahan modern lain. yaitu mungkin sudah sejak jaman Yesus sendiri. kita dapat mengatakan bahwa tentu saja seluruh proses itu pasti sedang menuju ke suatu titik akhir atau titik tujuan tertentu – itulah titik sesudah mana Injil itu tidak akan diedit lagi lebih jauh. Surat-surat Surat-surat (epistola) dalam PB mempunyai satu persoalan yang sangat berbeda lagi. Filemon. bahwa ia menempuh beberapa perjalanan mengelilingi kawasan Laut Tengah. dan tampaknya menyimpang jauh dari integritas religius dari karya-karya yang sedang dibicarakan itu. atau mungkin lebih kemudian juga – paling tidak demikianlah anggapan umum yang disepakati oleh para pakar PB. walau menjelang bagian akhir (lihat 13:22) sang pengarang memakai beberapa konvensi dari sebuah surat. Tetapi surat itu sendiri sesungguhnya tidak dimulai dengan nama salah satu pengarang atau penulis tertentu. Dan pseudonimitas itu adalah sulit untuk dipahami dalam suatu kebudayaan modern seperti kita dewasa ini (karena terpaut suatu jarak ruang dan waktu yang sangat jauh).” satu batang tubuh tradisi yang telah diturun-alihkan Paulus ke atas para pemimpin dan yang harus mereka pertahankan – itulah sebuah ide yang khas ada pada para penulis abad kedua tetapi tidak secara jelas berasal dari Paulus itu sendiri. Pertanyaan mengenai bagaimana.ini. seorang teolog dari awal abad ketiga (sekitar 185sekitar 254). maka kadang-kadang mereka juga tidak sedang menyampaikan kebenaran. maka untuk beberapa bagian daripadanya boleh jadi sudah ada dan ditulis sejak sangat dini. Di dalam mereka (surat-surat Deutero itu) Paulus telah menjadi tidak hanya pendiri gereja-gereja melainkanjuga merupakan orang yang memberi mereka bentuk dan tatanan. Inilah yang mau kita lihat dalam bagian berikut ini. Surat kepada Jemaah di Efesus secara luas dianggap sebagai semacam surat ensiklik. pemakaian nama-nama orang lain adalah suatu masalah yang jauh lebih halus: ada hal-hal yang absah dan tidak absah. tanpa menyebut Paulus sebagai asal atau penulisnya). Roma. Boleh jadi surat ini adalah lebih merupakan sebuah risalat pendek daripada sebuah surat. memang benar demikian adanya. termasuk dalam tahap ketika surat-surat Paulus sedang dikumpulkan untuk membentuk satu rangkaian atau kumpulan (lihat Bab 3 nanti). 1 dan 2 Korintus. tetapi pada waktu-waktu yang belakangan ini ada pakar lain yang mengusulkan bahwa sang pengarang adalah sahabat dan teman sekerja Paulus. dan juga sesungguhnya dari surat-surat Paulus sendiri. Itulah beberapa contoh kasus pseudonimitas dalam surat-surat PB. dan tidak satu pun tanggal yang ditetapkan ini dapat menggambarkan suatu titik yang serba pasti dan jelas. tetapi boleh jadi juga tidak lama sesudahnya. karena bahan itu secara perlahan-lahan dan secara bertapa dibentuk dan diubah dalam perjalanan dan perkembangan waktu. Markus adalah injil yang pertama yang telah diselesaikan. Dokumen ini juga – bersama dengan surat-surat Yohanes. 50an. Kita akan kembali ke ke pokok ini dalam bab berikut. ia sudah berhenti. surat-surat Paulus akhirnya ditulis pada dasarnya tidak terlalu sulit (walau sebenarnya kita kadang-kadang kekurangan informasi historis yang perlu untuk dapat membuat kita merasa yakin dan pasti). 60 atau bahkan 70 M. 1 dan 2 Tesalonika.” (fn: terjemahan Indonesia: didaftarkan di bagian akhir dari surat-surat Paulus. 1 dan 2 Timotius. Sesungguhnya juga penyebutan kata “surat” sebagai nama atau sebutan baginya boleh jadi juga merupakan sesuatu yang asing bagi sifat atau ciri-corak dan isi surat itu. Beberapa pakar juga meragukan otentisitas Kolose. Dan Origenes. Aktifitas menulis surat adalah perkara menyampaikan satu pesan dengan satu cara yang sedapat mungkin sangat jelas. ada yang masih menyebutkan demikian: “Surat Rasul Paulus kepada orang-orang Ibrani. Praksis liturgi gereja Katolik: lektor hanya membaca demikian. surat kepada orang-orang atau jemaat Ibrani. dan dari siapa para pemimpin (Uskujp) mendapatkan kuasa atau otoritas mereka. Tetapi kalau dengan tanggal penulisan itu kita maksudkan tanggal saat mana bahan itu pertama kalinya dituliskan. yaitu yang bernama Apollos. Sebagian besar para kritikus sepakat bahwa Surat-surat Pastoral – yaitu 1 dan 2 Timotius dan Titus – memang memakai nama dan kewibawaan Paulus. kalau ternyata mereka memberitahukan nama penlisna. Surat-surat yang lain di dalam PB untuk sebagian terbesar juga bersifat pseudonimus juga. yang menetapkan banyak tolok ukur dalam proses otentikasi dokumen-dokumen. Kolose. Dari kisah para Rasul kita tahu. Begitulah duduk perkaranya. Efesus. Petrus dan 10 . Ada sebuah anggapan atau spekulasi yang sudah tua usianya bahwa sang pengarang adalah sang penginjil Lukas. Titus. maka surat-surat Deutero-Paulinian diduga berasal dari suatu kurun waktu yang jauh lebih kemudian. Galatia. tetapi sesungguhnya mereka berasal dari seorang pemimpin generasi kedua di salah satu gereja-gereja yang memang telah didirikan oleh Paulus. boleh jadi sebelum jatuhnya kota Yerusalem kepada orang-orang Roma pada tahun 70-an (Armstrong itu). yang erat sekali terkait dengan Efesus dalam temanya (antara lain tema kenosis itu). kecuali hanya satu surat yang tetap anonim. yaitu Ibrani.

kitab para nabi merupakan tempat titik berangkat yang baik. maka hal itu berdampak sangat besar juga pada jenis dan gaya sastra yang ada dan dipakai dalam PL. perbedaan dalam rentang kurun waktu menjadi relative. Kerajaan Yehuda itu sedang mencapai salah satu titik puncak kejayaannya. Kitab Amos misalnya. Namun demikian. Ketika Yeremia diberitahu oleh Allah untuk meminta agar sang sekretarisnya. yang tidak lain adalah Kerjaan yang berada di selatan. semuanya disampaikan secara lisan. maka pertanyaan kita selanjutnya ialah bagaimana akhirnya kita saat ini bisa memiliki kitab-kitab para nabi itu? Bagaimana kita dapat memiliki kitab-kitab para nabi itu. berakhir dalam 9:11-15 dengan sebuah ramalan atau nubuat mengenai pemulihan yang semarak mulia atas Dinasti Daud yang runtuh. dinasti Daud belum binasa sebagaimana diandaikan oleh teks itu. yang ditujukan kepada atau menyapa satu situasi konkret (suatu keretakan di dalam tatanan gereja).Yakobus – adalah dokumen dari generasi kedua. Fakta itulah yang bisa menjelaskan kenyataan sejarah bahwa ada banyak teks di dalam kitab para nabi itu sendiri yang hampir tidak mungkin berasal dari kurun sejarah sang nabi itu sendiri berkarya secara histories dalam waktu. hal yang lebih penting yang dapat ditarik dari kenyataan ini ialah bahwa teks itu mengandaikan dinasti Daud itu memang sudah runtuh.36). Kalau kita membuat suatu perbandingan antara tulisan PB yang paling awal atau dini (yaitu 1Tes) dan bahan-bahan yang jauh lebih belakangan (seperti Titus atau 2Petrus) maka kita dapat merasakan dan melihat perubahan atau pergeseran besar itu. kalau dilihat dari kaca mata kita sekarang ini. Tetapi. semua karya-karya ini cukup dekat dengan Yesus sendiri (pokok. (kasus Amos) Tetapi dalam proses penerusan (transmisi) itu terjadi sangat banyak perubahan dan pergeseran dalam teks lisan itu sendiri. juga bebearpa rujukan lain Mays dan BPK itu). Factor kedekatan histories itulah yang bisa menjadi sebuah alasan yang sangat kuat bahwa suatu teks tertentu bisa mempunyai tempat kedudukan yang penting dan istimewa bagi orang Kristiani. MIsalnya. Yeremia. Jika demikian duduk perkaranya. jika dibandingkan dengan karya-karya Paulus sendiri. apa pun yang menjadi fakta kebenarann yang sesungguhnya. Ada beberapa kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan itu. karena sudah terendapkan dalam rupa sebuah kitab. menuliskan semua nubuat-nubuatnya (Yer. seorang dari kaum keturunan Daud. 70. entah secara lisan maupun secara tertulis. Sementara 2 dan 3 Yohanes tampak sebagai benar-benar surat. Inilah yang disebut sebagai tahap pewartaan Lisan. tampaknya hampir tampak terlalu rumit dan repot kalau kita berbicara ataupun berdebat mengenai apakah sebuah dokumen PB tertentu memang berasal dari tahun 50. Boleh jadi kita pun merasa bahwa. namun boleh jadi mereka tidak menuliskan sendiri pidato-pidato atau ucapan-ucapan mereka. Perbedaan itu singkat saja. Bahkan ada juga yang hilang ditelan kegelapan sejarah. (Justru karena sudah runtuh maka sekarang dinubuatkan bakal bangkit kembali. Jadi. Maka dalam bagian berikut kita akan mencoba melihat beberapa contoh insight dari perjanjian lama itu sendiri. Dengan kata lain. yaitu Baruch. Bahkan beberapa orang dari antara para nabi itu berasal dari kalangan kaum terdidik. Menetapkan tanggal penulisan Perjanjian Lama Dari sudut pandangan dunia dan jaman modern dewasa ini. Walau dikatakan bahwa mereka sudah melek huruf. dan diperintah oleh seorang raja yang bernama Usiah. Untuk membuktikan hal itu baiklah kita melihat beberapa contoh. dia merupakan sebuah kerajaan yang makmur dan jaya. Dan warta kebangkitan itulah yang bisa menjadi sumber dan dasar pengharapan). Jawaban yang biasa atau umum adalah bahwa para murid dari para nabi itu menghafalkan banyak atau sebagian besar dari ucapan sang nabi. tokoh. dan kemudian mereka meneruskan hal-hal itu. sampai akhirnya muncul sebuah kitab yang merupakan kumpulan dari ucapan-ucapan dari sang nabi tertentu. Padahal Amos (yang memang berasal dari selatan) tetapi berkarya sebagai nabi di utara. seakan-akan hal ini terasa sebagai sesuatu yang tidak biasa. dan Yeheskiel. Bahkan kedua nama yang terakhir adalah juga imam (fungsi ganda). kalau dulunya semua yang tertulis itu disampaikan secara lisan (jadi merupakan pewartaan lisan belaka)? Itulah yang menjadi pertanyaan besar kita sekarang dan di sini. Kita memulai studi dan penelusuran kita ke dalam PL dengan bertitik tolak dari Kitab para Nabi. Sebagaian besar para ahli mengatakan bahwa boleh jadi salah seorang murid sang nabi dari jaman 11 . Karena rentang waktunya sangat panjang. Tetapi tentu saja bisa terjadi suatu perubahan atau pergeseran besar dalam rentang kurun waktu 40 atau 50 tahunan. kita akan melihat dan menemukan bahwa rentang waktu yang diandaikan terlibat dalam seluruh prose situ. Maka apa yang dapat disimpulkan dari fakta anakronistik ini? Hanya satu hal saja. bahkan kita bisa mengatakan bahwa perbedaan itu tidak begitu besar atau panjang. barangkali karena prestise yang telah ditempelkan Paulus padanya. dan juga bisa dengan sangat kuat menarik perhatian mereka. (Bdk… tulisanku di Melintas dan Wacana Biblika itu nanti. jauh lebih besar dan lebih panjang lagi dibandingkan dengan rentang waktu seluruh proses PB itu. Padahal pada jaman Amos ketika masih hidup dan berkarya. tempat. keragaman gaya dan jenis sastra PL erat terkait dengan fakta sejarah bahwa seluruh proses PL itu sendiri mencakup rentang sejarah yang teramat panjang. Sejak saat itulah ucapan-ucapan lisan tadi mulai mengambil bentuk buku. Diduga mereka menyampaikan semuanya itu secara lisan saja kepada para pendengarnya. yang lain-lainnya tampak mengadopsi bentuk surat secara artifisial. Jadi. Hal itu diteruskan kepada para murid mereka. Para nabi kiranya sebagian besar adalah orang-orang yang sudah melek huruf (tidak hanya secara literal saja melainkan juga sudah sampai pada tahap fungsional kreatif). kalau sekarang kita kembali ke PL. Maka bisa dikatakan bahwa ada suatu pergeseran mendasar di dalam penafsiran dan juga pemahaman akan esensi iman Kristiani itu dan kesetiaan pada keanggotaan di dalamnya. Ini tampak menjadi sebuah kekecualian belaka. tokoh) yang kalau diteliti dengan baik terbukti bersifat anakronistik. demikian misalnya orang-orang seperti Yesaya. pusat agama Kristianitas itu sendiri). Nah. Sedangkan yang lain. Dan hal itu berlangsung beberapa kurun waktu. ada acuan-acuan (sejarah. Para Nabi Pada umumnya para ahli PL berpendapat bahwa sehubungan dengan hal ini. yang sudah merentang 2000-an tahun sejak masa-masa awal sejarah Kristianitas. atau bahkan 90-an Masehi. Sedangkan Yesaya adalah nabi dari kalangan Istana dan berkarya di bait Allah di Yerusalem. Inilah satusatunya nubuat dalam kitab Amos yang mewartakan berkat – padahal warna dasar seluruh kitab itu adalah suram karena ia menyampaikan kutuk dan warta celaka belaka. nubuat itu berbicara mengenai pemulihan dari sebuah dinasti di kerajaan Yehuda. yaitu di Samaria.

Kira-kira demikianlah duduknya perkara. sebuah perpustakaan di dalam perpustakaan. tetapi yang juga telah mengerjakan sesuatu (editing. seperti Yeremiah atau Yeheskiel. suatu nasib yang sedemikian menyedihkan sampai sang nabi harus “berteriak” menyerukan dan menyampaikan warta penghiburan Allah. karena dalam satu kitab itu terdapat lebih dari satu kitab juga sebenarnya. penutup yang membawa pengharapan. Kitab Nabi Yesaya adalah sebuah contoh paling nyata dari perpustakaan mini itu. bahkan mungkin juga jauh lebih belakangan lagi daripada Deutero dan Trito Yesaya. sebab umur manusia 70 tahun atau 80 kalau kuat. daripada fragmen-fragmen yang meragukan yang tetap ada di sana juga setelah para kritikus sudah mengobrak-abrik kitab itu dalam derap nafsu penyelidikan mereka. Jadi. (Kasus Yesaya) Yang di atas tadi kita sebut saja sebagai kasus Amos. Itu tidak mungkin. yang nanti akan berakhir pada tahun 70 Masehi. artinya memang ada mazhab seperti yang dimaksudkan. atau ditulis lalu ditambahkan pada jaman yang jauh lebih kemudian dari kurun hidup sang nabi itu sendiri.. Beberapa dari nubuat itu ditulis oleh Yesaya sendiri (dianggap atau bahkan diyakini sebagai otentik). para ahli juga sudah biasa menyebut Yesaya 56-66 dengan sebutan Trito Yesaya (yang artinya Yesaya Ketiga. selain kaitan fungsional dan institusional belaka. penyisipan) pada kitab-kitab nabi yang lain. Sejak akhir abad 19 orang sudah terbiasa menyebut Yes. Nah lho. Sang nabi Yesaya itu sendiri sesungguhnya hidup dan berkarya pada abad kedelapan SM. Maka kitab ini dikenal juga sebagai kitab penghiburan (Lihat KS PL dengan pengantar dan catatan itu). Tetapi kita dapat memberi beberapa butir pertimbangan berikut ini. yaitu Yesaya 1-39. sebagaimana kitab itu telah diterima sebagai warisan agung dari sejarah masa silam. diduga ada sekelompok editor professional yang tidak mempunyai kaitan personal apapun dengan para nabi. boleh jadi juga hal itu dilakukan oleh editor dari kitab itu di kemudian hari. Jadi. kitab yang menyandang nama beliau juga mengandung bagian-bagian kisah sejarah yang merentang kurun waktu yang sangat panjang bahkan sampai ke abad keenam. Kitab itu memang tampak sebagai sebuah bunga-rampai nubuat-nubuat yang sangat rumit dan bertumpuk-tumpuk. Kalau demikian duduk perkaranya.24-27. Tetapi bahkan dalam penggal proto-Yesaya ini pun terdapat juga banyak teks yang mengandaikan kurun waktu yang jauh lebih di kemudian hari dari pada kurun waktu karya sang nabi itu sendiri. boleh jadi tetap dirasakan bahwa ada jauh lebih banyak keuntungan dan nilai positif juga kalau dalam studi kritis atas Kitab Yesaya. Dari apa yang sudah dikatakan di atas tadi. apakah langkah seperti itu memang pantas untuk dilakukan? Apakah kita tidak memperkosa kanon itu sendiri? Apakah kita tidak merusak status kanonik kitab yang bersangkutan? Inilah yang menjadi persoalan besar. Bahwa bukan hanya PL sebagai keseluruhan saja yang merupakan sebuah perpustakaan. yaitu manusia yang benar-benar bernama nabi Yesaya itu 12 . dan bait allah ini disebut bait allah kedua. Kalau bukan seorang murid dari sang nabi. kita dapat menarik sebuah kesimpulan. tetapi penutup itu haruslah sebuah penutup yang membahagiakan. Maka sisanya. Kalau menyebut abad keenam berarti itulah kurun waktu tatkala orang-orang Israel (Yahudi) mengalami sebuah tragedy sejarah yang besar yaitu mereka dibuang ke Babel oleh Nebukadnesar. Tetapi kalau kita mau mengetahui dan mengenal tentang Yesaya. Bahan ini diyakini berasal dari jaman yang kemudian. Salah satu contohnya ialah sebagian besar bahan dalam Yes. Juga sejak saat yang sama. sebagaimana kitab itu adanya. Lihat catatan singkat dalam Armstrong itu). Bagian ini mengisahkan kepedihan nasib kaum buangan. Dengan kata lain. dan kira-kira 60 atau 70 tahun kemudian (sekitar tahun 530-an) mereka diijinkan untuk kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah yang baru di atas reruntuhan Bait Allah pertama (Salomo) di Yerusalem. koreksi. kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa bahkan masingmasing kitab para nabi pun dapat dibagi-bagi lagi menjadi kitab yang otentik dari sang nabi dan yang tidak begitu otentik (yang tidak secara langsung berasal dari sang nabi itu sendiri). kira-kira tidak lama sesudah Amos tampil dan berkarya di Kerajaan Utara. Ada beberapa kalangan para hali yang berpikir bahwa memang demikianlah duduk perkaranya. Sang editor mungkin merasa bahwa sebuah kitab tidak sepatutnya hanya mengandung warta celaka belaka. biasanya secara teknis disebut proto-Yesaya. dan ini yang menjadi kasus kita yang menarik sebagai contoh. Tetapi. atau paling tidak berasal dari mulut dia. Dari sudut pandang keagamaan. sebab kedua kitab ini juga mempunyai bagian-bagian yang panjang (dan karena itu disebut kitab nabi-nabi besar) yang hampir tidak mungkin berasal dari kurun sejarah masa karya nabi itu sendiri. Third Yesaya). Disebut demikian karena inilah bagian ketiga yagn ditambahkan pada kitab Yesaya setelah orang-orang Yahudi kembali dari pembuangan dan melakukan proses pembangunan kembali kota suci Yerusalem termasuk Bait Allah di dalamnya. Kasus yang paling ekstrem sebagai contoh dampak dari aktifitas dan intervensi editorial atas kata-kata para nabi adalah kitab nabi Yesaya itu sendiri. bahkan salah satu kitab saja dalam PL itu juga merupakan sebuah perpustakaan mini. (Ini terjadi di bawah prakarsa Ezra dan Nehemia. jadi kurang lebih dua abad sesudah sang nabi itu sendiri berkarya. studi ilmiah tidak dapat mengubah status kanonik kitab sebagaimana adanya kitab itu. maka pertanyaan kita sekarang ialah apakah dulu memang ada apa yang disebut sebagai sebuah “mazhab” Yesaya. Second Yesaya). (Kiranya kita tidak akan berani menyimpulkan bahwa sang nabi berkarya selama hampir lebih dari dua abad. Jadi. Tetapi perlu segera disadari bahwa hal membagi kitab-kitab nabi-nabi menjadi bagian-bagian yang “otentik” dan bagian-bagian “yang tidak otentik” adalah merupakan salah satu tugas yang paling berat di dalam studi dan penyelidikan PL itu sendiri. Tetapi dari sudut pandang yang lebih bersifat sastrawi. sebuah lembaga yang bertanggung-jawab melestarikan dan menambahkan sesuatu pada teks yang disusun oleh sang nabi itu sendiri? Ini adalah sebuah pertanyaan histories yang sangat besar. Tetapi kelompok para ahli yang lain yakin dan beranggapan bahwa kitab sebagaimana adanya saat ini dan sebagaimana yang kita terma sekarang merupakan hasil karya dari serangkaian (dan bukan hanya sekelompok) para editor yang tidak mempunyai hubungan khusus apa pun dengan sang Nabi Yesaya itu sendiri. Di tengah upaya kritis-historis ilmiah itu selalu ada sejumput keraguan yang mendorong orang bertanya. dapatlah dikatakan bahwa teks-teks yang tidak murni berasal dari sang nabi tertentu masih tetap merupakan bagian utuh dari Kitab Suci. yaitu kitab Yesaya yang “asli” yang berasal dari jaman sang nabi itu sendiri.yang lebih kemudian telah menambahkan nubuat itu sebagai penutup kitab.40-55 dengan sebutan Deutero-Yesaya (yang artinya Yesaya Kedua. Warta celaka yang sudah ada harus “dinetralisir” dengan warta sukacita. tetapi nubuatnubuat yang lain berasal dari jaman yang belakangan. tindakan pembedaan itu sama sekali tidak mempengaruhi status kanonik dari kitab yang bersangkutan. Sekarang kita mau melihat kasus lain yaitu kasus Yesaya. menurut kata si pemazmur). karena mengandaikan kurun dan lapisan sejarah yang beragam. sebuah penutup happy ending.

Di sini kita dapat melihat sesuatu yang sudah disinggung secara tersirat dalam apa yang sudah diuraikan sampai sejauh ini. Tetapi siapakah mereka ini? Mereka tidak lain adalah orang-orang terpelajar yang melakukan kegiatan penulisan sebagai cara untuk mendapatkan nafkah hidup. Dengan demikian karya itu. yang akan menjadi kritis dan penting. barulah kemudian ada upaya penulisan). yaitu melihat teks itu dalam dirinya sendiri dan tidak terutama melihatnya sebagai bagian utuh dari kitab nabi Yesaya. Maka adalah sangat penting untuk menyadari betapa spekulatifnya pertanyaan-pertanyaan sekitar atau menyangkut asal-muasal atau tentang para penulis kitab-kitab Perjanjian Lama itu. maka tidak ada alternative lain selain model atau jenis analisis dan studi seperti ini. Di atas juga sudah ada usulan hipotetis bahwa yang menulis itu adalah kelompok para murid. dan juga penderitaan (tema-tema eksistensial dalam teologi PL itu sendiri). mengingat fakta sejarah bahwa pelbagai kebudayaan lain di sekitar Israel pada masa itu juga mempunyai para (penulis) profesional seperti itu. maka dapat dikatakan bahwa kita sesungguhnya sangat banyak berutang budi pada para muridnya sehubungan dengan pengetahuan kita mengenai apa yang dulu telah ia katakan atau sampaikan. Kesadaran itu membangkitkan kesadaran baru dalam diri kita akan adanya sebuah teologi yang khusus dalam kitab nabi Yesaya. Sebab yang kita tahu adalah fakta bahwa kitab-kitab itu sudah tertulis. (Bahkan harus ditambahkan bahwa sebelum ada penulisan sudah ada terlebih dahulu pewartaan lisan. maka contoh penyelipan yang paling terkenal ialah. tidak serba langsung juga. Jadi. jadi mereka itu adalah para penulis profesional. Yaitu kita mau tidak mau harus melakukan pemilahan dan pembedaan. Apalagi. 13 . Selalu ada perantara. kalau kita memahami kata “menulis” itu benar-benar secara harfiah (mendapat ilham. Ayub prosa yang disisihkan di antara Ayub puisi). Ada pamrihnya. Para Penulis Profesional dan “sastra Hikmat Kebijaksanaan” Di atas tadi kita sudah singgung secara singkat mengenai kitab para nabi. Dan perantara itu selalu juga serentak berfungsi sebagai penafsir. Kita tidak bis amenyangkal fakta sejarah bahwa teologi Yesaya Kedua itu merupakan termasuk di antara sumbangan yang paling penting bagi apa yang harus dikatakan oleh PL tentang pokok-pokok besar dan mendasar seperti penciptaan.sendiri. Oleh karena itu. Tetapi kita tidak hampir tidak tahu siapa yang menulis kitab-kitab itu. kiranya cukup beralasan. Hal itu dapat mereka lakukan dengan pelbagai macam cara. Perantara itu berperan dan berfungsi hermeneutik juga. kita melangkah ke cara bagaimana kitab-kitab biblis itu telah dikumpulkan ke dalam kelompok-kelompok atau golongan-golongan tertentu. Di pihak lain. monoteisme. sebagai sebuah karya final bukan lagi sekadar sebuah antologi belaka. bahkan bisa mencapai rentangan beberapa abad. Tetapi ada satu hal yang dapat kita sepakati dengan sangat yakin bahwa pengumpulan dan penyusunan bahan-bahan menjadi “Kitab final Nabi Yesaya” sebagaimana yang kita miliki dewasa ini kiranya lebih merupakan hasil karya para editor (editorship) dari pada karya pengarang (authorship). Salah satu yang pantas dilaporkan ialah penemuan dan kesadaran histories akan adanya kitab Yesaya Kedua itu. lalu ia duduk mengambil alat tulis dan kertas dan mulai menuliskan ilham itu). Yaitu bahwa sesungguhnya kita tidak tahu secara pasti siapa penulis yang menuliskan kitab-kitab para nabi dahulu. Sejauh menyangkut sastra Israel kuno – dan bahkan dalam ukuran atau takaran tertentu juga menyangkut Injil-injil dari PB – tindakan menarik garis pembedaan antara kedua aktifitas tadi adalah jauh lebih longgar. Cara lain yang dapat mereka lakukan ialah dengan cara menyelipkan atau menyisipkan komentar-komentar mereka sendiri ke dalam teks. Biasanya dari kalangan mereka inilah dipilih para calon untuk menjadi pegawai negeri. Itu tidak bisa terhindarkan. Dalam konteks kita sekarang ini. ketika. dalam bab berikut nanti. Urutan tematik bab-per-bab juga mengadung visi dan misi teologis tertentu juga. Sebab ia meneruskan dengan cara menafsirkan. Boleh jadi dalam proses editorial itu mereka juga telah menyumbangkan ide-ide mereka sendiri yang khas. Ia sudah menjadi teologi dalam bentuk antologi. Tanpa jasa para murid itu kita hampir tidak mungkin tahu apa-apa tentang perkataan dan warta sang nabi. Kalau tidak demikian. pantas kalau kita mempertimbangkannya secara terpisah juga. Kita sebut saja pamrih hermeneutik dari si perantara itu. yaitu bahwa orangorang yang bertanggung-jawab secara historis atas semua perkembangan ini adalah kelompok para penulis profesional (scribes). Sebab boleh jadi Yesaya sendiri dulu sebenarnya mungkin tidak “menulis” apa-apa. kita juga tidak bisa begitu saja menyatakan bahwa kitab itu hanyalah hasil dari karya dari para murid itu saja. Kalau benar demikian. Dan salah satu caranya ialah cara bahan-bahan itu disusun. yang ini hampir sulit untuk dilacak. Tetapi ada hipotesis lain. ada banyak sukses besar yang pantas dilaporkan juga sebagai hasil dari studi dan analisis seperti ini. Ada satu hal yang dapat diulang sekali sebagai sebuah kesadaran penting mengenai kitab para nabi itu. meneruskan dengan maksud dan tujuan serta kepentingan tertentu. dan ini sebuah pertimbangan pendukung lain yang lebih jauh. Yaitu kita membuat suatu pembedaan antara aktifitas menulis kitab-kitab di satu pihak. Di satu waktu kita dapat mempertimbangakan kitab ini saja dalam dirinya sendiri. adalah jelas sekali bahwa hal menulis sebuah buku dan hal membangun sebuah perpustakaan adalah dua tugas atau kewajiban yang sangat berbeda satu sama lain. Itu baru di satu pihak. Deutero-Yesaya dan Trito-Yesaya boleh jadi merupakan para pengarang dalam artian yang jauh lebih harfiah jika dibandingkan dengan nabi Yesaya itu sendiri – walau tentang mereka berdua itu juga boleh jadi kita juga mendapat warisan perkataan dan warta mereka karya jasa karya para murid-murid juga. yang bisa hidup dari dan karena jasa menulis (jasa melek huruf). Itulah yang menjadi persoalan kita. Kiranya tidak seperti itu. Hipotesis mengenai peranan para penulis profesional ini. dan hal mengumpulkan kitab-kitab itu di pihak yang lain. Sistem pemerintahan dengan staf pegawai negeri seperti itu sangat berkembang pesat baik di Mesir maupun di Mesopotamia pada kurun milenium kedua SM. melainkan dari kitab Hikmat. Tetapi mereka juga bisa bekerja sebagai pegawai negara atau pegawai-pegawai pada lembagalembaga keagamaan. menjadi antologi teologi. Aktifitas-aktifitas menyusun dan mengumpulkan kitab-kita kurang begitu secara tajam dibedakan dari aktifitas menulis kitab-kitab dibandingkan dengan apa yang menjadi praktek atau kebiasaan dalam dunia modern kita dewasa ini. Dan di waktu lain kita dapat melihatnya sebagai satu aspek dari kitab nabi Yesaya yang besar itu. (Walau contoh ini tidak berasal dari kitab nabi-nabi. Para editor itu juga bukan hanya burung beo atau tape rekorder belaka. sebagai sebuah kitab utuh yang mengandung visi teologis yang otonom. tentu kelompok para murid yang dimaksudkan di sini adalah kelompok para murid yang terpelajar. karena kepadanya telah ditambah-tambahkan sesuatu selama satu rentang masa atau tahun yang sangat panjang. dan penerusan secara lisan. Mereka itu bisa saja bekerja sebagai pekerja bebas atau tenaga lepas. Kita harus selalu ingat akan hal ini.

dalam hal ini ialah kelompok para penulis profesional tadi. jika kita mau mem-film-kannya. di tempat-tempat itu. hingga ke terjadinya bencana yang berujung pada drama tragis Pembuangan itu. Tetapi tidak setiap orang setuju dengan hipotesis bahwa ia disusun dengan menjalin bersama-sama pelbagai sumber.. Contoh yang paling terkenal ialah Amsal 12:10-11). maka kita akan memperoleh satu kesan umum tentang perjumpaan Musa dengan Allah. Kalau kita melihat adegan ini dengan fokus yang sangat lembut. kita harus menyadari sejak semula bahwa kitab-kitab yang mirip seperti kitab Amsal itu ada juga di Mesir dan di Mesopotamia... Amsal itu adalah amsal kolektif-komunal. Naratif Separuh dari PL terdiri atas kisah atau sejarah dalam artian yang longgar...dengan teliti. dapat ditunjuk sebagai kurun waktu penulisan. (dikutip saja). Beberapa amsal dari alkibat tampaknya berasal dari lingkaran atau kalangan istana. tampaknya juga kitab-kitab tadi merupakan hasil kerja dari kelompok para penulis profesional dan terpelajar juga.. atau “kitab kisah Salomo. 2 Raj. Contoh yang paling terkenal ialah Ams. Misalnya ada yang mengatakan bahwa mereka mungkin sudah ada dan sudah bekerja juga pada jaman kerajaan Salomo.21:25. di mana bahasa Ibrani klasik sudah digunakan. atau amsal pedesaan. walau ini merupakan sebuah teori klasik yang menjadi titik tolak semua studi ilmiah tentang Kitab Suci. Untuk melakukan hal ini para penulis atau para penyusun telah menimba dari suatu rentang yang sangat luas bahan yang sudah ada – dari kisah-kisah atau annals resmi kerajaan (seperti “kitab tawarikh dari para raja Yehuda”.. Maka kita sebut saja sebagai amsal istana..... Oleh karena itu ada sementara ahli yang beranggapan bahwa kumpulan yang disebut “Amsal-amsal Salomo” dalam kitab Amsal itu memang sungguh berasal dari jaman pemerintahan raja Salomo sendiri. dan dimaksudkan untuk menjelaskan dan melukiskan kemerosotan dari masa pendudukannya yang sukses atas tanah Kanaan. dan juga kitab-kitab Tawarik.23:1-3. Beberapa kalikah Musa mendaki gunung itu? Apakah di antaranya ia pernah turun lagi? Siapa yang sebenarnya menyertai dia? Dan di manakah “bangsa Israel” pada saat ia naik? Nah. melalui kerajaan Daud dan Salomo. mengumpulkan. Ia sudah ada begitu saja di tengah-tengah masyarakat. (Kasus Yosua) Dalam kasush Yosua – 2 Raja-raja boleh jadi ada satu petunjuk atau tanda mengenai identitas dari para penulisnya. biasanya akan sampai pada satu kesimpulan bahwa-teks itu adalah karya dari lebih dari satu “pengarang” – meungkin juga misi-misi yang berbeda dari cerita yang satu dan sama. Tetapi kalau kita coba melihat secara lebih teliti dan rinci tentang apa yang sedang terjadi. sebagaimana yang telah disinggung dalam bagian terdahulu. ada alasan yang cukup kuat untuk menduga bahwa kitab itu telah melewat banyak proses editing. Tetapi hampir setiap orang berpikir bahwa ia adalah komposit – dan tidak disusun langsung sepanjang satu baris – danjuga bahwa ia telah mengalami pelbagai macam tahap-tahap proses editorial.24:9-18)..11:41) semua jalan menuju ke legenda-legenda populer – dengan cara mengebawahkannya pada suatu skema-penanggalan yang konsisten dan membentuknya untuk membuat pelbagai titik teologis tentang nasib Israel. Tetapi boleh jadi mereka sudah dikumpulkan dan disusun dengan cara-cara tertentu oleh satu kelompok tertentu. dan menyusun kumpulan hikmat itu.” (Kel.. Dan sebagaimana biasanya... Karena alasan ini karya-sejarah Yosua-2Raja-raja secara luas diacu dalam studi-studi biblis akademik sebagai Sejarah Deuteronomistik. amsal anonim. Selanjutnya mereka juga beranggapan bahwa tradisi hikmat yang terkandung atau tersimpan di dalam kitab itu memang sudah mulai ada di istana raja Salomo.Dalam paragraf di atas tadi kita sudah mulai menyinggung perihal hipotesis mengenai adanya kelompok para penulis profesional. yang dirangkai menjadi satu oleh editor di kemudian hari. Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa isi dari kitab itu pada umumnya menyangkut pengamatan atas hidup yang sangat umum sehingga hampir setiap kurun waktu di antara rentang tahun di atas tadi. maka kita bisa melihat bahwa degan ini sangat tidak koheren. dalam artian yang biasa dari kata itu. Dan dalam beberapa hal. atau amsal kerajaan (royal proverbs). Dan itulah yang menjadi masalahnya. sebuah kumpulan hukum yang secara umum diduga telah dibuat dalam bentuknya yang final selama abad ketujuh SM – kurang dari satu abad sebelum para sejarawan menghasilkan kisah mereka. Barangkali kitab Amsal-lah yang merupakan contoh paling baik mengenai kitab yang diduga dihasilkan oleh kelompok para penulis profesional seperti itu.. Banyak dari tema teologis dari karya itu dekat dengan ide yang terdapat dalam kitab Ulangan. dan teks lain yang serupa itu. Mungkin sebanyak seperti yang terjadi atas kumpulan kitab para nabi. Misalnya ada yang menunjuk kurun waktu antara tahun 1100 sampai tahun 300 SM sebagai rentang kurun proses pengumpulan dan penyusunan seluruh kitab Amsal itu... amsal-amsal seperti ini biasanya tidak mempunyai pengarang. Hal ini membenarkan 14 . Tetapi identitas dari para penulis seperti itu tetap tinggal sebuah misteri yang sangat gelap. Sebelum melangkah lebih lanjut. proses koreksi. Sudah ada banyak karya yang telah dilakukan dalam mempelajari kitab-kitab sejarah dari Yosua sampai ke Rajaraja. sementara Ezra dan Nehemia mencoba melestarikan kisah-kisah yang agak terpotong-potong mengenai proses pembangunan kembali pascapembuangan itu dan oleh karena itu pasti tidak lebih dulu dari akhir abad kelima atau keempat SM.” 1Raj. orang yang mempelajari teks ini. Memang ada beberapa hipotesis untuk menjawab persoalan itu.. Maka kita sebut saja amsal kampung.. Pentateukh sudah dibahas sedikit di atas tadi. Dalam satu teks seperti berikut ini. misalnya. Dan tidak hanya itu saja. boleh jadi raja Salomo itu sendirilah juga yang telah mendorong kelompok para penulis profesionalnya untuk menulis. yang memang harus dilakukan. adalah sulit untuk berpikir bahwa kita mempunyai satu karya koheren hanya dari satu orang penulis saja” “.. Ezra dan Nehemiah.. (dikutip saja). Tetapi kelompok para penulis profesional ini juga mempunyai latar belakang asal-usul yang berbeda juga. Adalah sangat mapan bahwa kitab-kitab mulai dari Yosua hingga ke 2Raja-raja ditulis atau disusun selama masa Pembuangan pada abad keenam SM. Harus dikatakan juga bahwa kita tidak tahu dengan pasti kapan kitab Amsal itu sudah mulai ada sebagai sebuah kumpulan.. Nah. 1 dan 2 Tawarikh mengisahkan kembali banyak dari kisah ini dari suatu perspektif pasca-pembuangan (kurang lebih kira-kira pada abad kelima SM). Selain itu ada juga amsal yang berasal dari konteks kampung atau wilayah hidup pedesaan.

bagian ini juga diduga berasal dari kurun tidak lebih dini dari abad kelima SM. Dalam sistem kepegawaian Inggris. walau bukan “pengarang” dalam artian yang sama seperti kita dewasa ini. sopher secara kasar mempunayi rentang makna yang sama – mulai dari beberapa orang yang melaksanakan tugas (chore) menyalin dengan rapi bahan yang sudah disusun oleh orang lain. Sebagaimana yang sudah diisyarakatkan tadi. hingga ke beberapa orang yang mempunyai sekretaris lagi kepada siapa ia dapat mendiktekan dan yang karena itu mungkin “menulis” agak sedikit. kalau kita diberikan dengan suatu teks yang tidak teridenfikasi. yang menyatu-padukan bahan yang beragam menjadi satu karya keseluruhan yang rapi dan final.’ – dan sebenarnya. Kesimpulan: Sebuah Kisah yang Hal ini belum merupakan satu penuntun yang menyeluruh terhadap kitab-kitab yang ada dalam Kitab Suci: beberapa kitab belum disebut.. di mana seorang editor atau serangkaian editor telah mengambil bahan yang sudah ada (atau secara lisan atau dalam bentuk tulisan) dan telah memakainya untuk menciptakan suatu karya yang kurang lebih bersifat koheren. “Pengarang” dari Amsal-amsal hanyalah sang pengumpul saja. dengan cara menempatkan bahanyang telah ia peroleh dalam suatu tata urut yang benar untuk menyampaikan (to get across) poin apa saja yang ingin ia katakan. adalah cerita-cerita pendek tentang beberapa tokoh imajiner. Hal ini berarti bahwa para penulis-Injil.. Walau juga harus disadari bahwa kitab ini pun di sana-sana mengutip beberapa amsal dari kurun terdahulu. 1). Kitab-kitab ini sedikit sekali memperlihatkan adanya bukti bahwa isinya adalah merupakan sebuah kompilasi dari beberapa kitab atau aliran pemikiran. dari injil manakah kiranya ia telah diambil. Pada sisi ekstrem yang lain. ‘scribe’ atau ‘penulis’. tetapi baik Sekretaris Negara maupun Sekretaris Pribadi juga mempunyai sekretaris juga – yaitu. dan boleh jadi memang sungguh demikian juga adanya. Dunia kitab suci tidak akrab dengan banyak dari distingsi-distingsi kita dewasa ini. Bagian ini juga diduga dari kelompok pengarang yang lain. Sang penyusun Pentateukh adalah seorang pengaran kreatif. Beberapa di antaranya merupakan teks-teks tertulis yang terpadu sejak awal mula. ada mayoritas terbesar dari kitab-kitab. walau boleh jadi ia telah mengumpulkan bahan itu secara kreatif. Kasus yang jelas dari hal ini adalah surat-surat Paulus. bahwa kompilasi itu merupakan satu-satunya jenis kepengarangan yang diketahui oleh beberapa orang. tetapi Amsal kiranya merupakan sebuah contoh yang paling baik. demikian terjemahan dalam versi terjemahan resmi). tertulis atau paling tidak didiktekan oleh satu orang. Biasanya kitab-kitab ini adalah hasil karya dari satu orang penulis yang menyusun kitabnya dengan bebas. tidak perlu ada suatu pembedaan antara seorang penulis dalam artian modern dari seorang “pengarang”. Lebih jauh. saya mau menekankan kuranya suatu pembedaan yang jelas antara proses penulisan dan proses pengumpulan dalam kebudayaan-kebudayaan yang telah menghasilkan Kitab Suci. para imam dan para penulis profesional semuanya telah diusulkan pada salah satu waktu atau pada kurun waktu yang lainnya. Dalam bahasa Ibrani. mungkin kata “sekretaris” merupakan sebuah terjemahan yang lebih baik untuk kata itu. dan tidak hanya merakit atau meracik bahan atau fragmen yang lebih tua saja. Oleh karena sang redaktur terakhir telah membentuk bahan yang ia terima dengan suatu cara yang konsisten. adalah lebih dari pada pengetik-salinan yang hanya menulis kembali (transcribe) apa yang telah mereka temukan dalam sumber-sumber yang terdahulu. tetapi ia tetap mempunyai satu tujuan tertentu yang mau dicapainya dan diwujudkannya. dalam artian harfiah dari istilah itu. walau ada fakta bahwa mereka semua mempunyai banyak sumber bahan tertentu yang sama. Kitab-kitab seperti Rut dan Yunus. di mana beberapa tujuan akhir yang undarned masih bisa dilihat.hipotesis bahwa para pengarang atau penyusun boleh jadi dekat dengan para penyusun kitab Ulangan itu sendiri – dengan kata lain. Sejarah Deuteronomistik adalah contoh kasus klasik dari hal ini. hasil karya orang yang disebut “Qoheleth” (sang Pengkotbah. kalau mau. Akhirnya. Dan bagian puisinya yang berbentuk dialog merentang dari 3:1-42:6. Bagian ini berasal dari pengarang lain. 2). Penulis ini menyusun. Kalau kita sudah mempelajari Injil secara rinci. beberapa kitab tampaknya telah disatukan seperti sebuah mozaik dari fragmen-framgen yang terlepas-lepas. mencakup satu rentang makna yang lebih luas dari pada kata-kata kita dewasa ini seperti “penulis’ atau ‘pengarang. maka kita pun akan segera tahu. dan boleh jadi berasal dari kurun waktu sesudah masa Pembuangan. tetapi beberapa kitab dari PL juga termasuk dalam kateogi yang sama – Rut dan Pengkotbah baru saja telah disebut. dan banyak teori tentang mereka telah ditafsirkan (gloss over). Tampaknya karya-karya itu adalah merupakan karya-karya fiksi yang sungguh sadar atau disadari. masing-masing dari Injil mempunyai ciri-coraknya sendiri yang khas. Pentateukh dilihat dengan cara seperti ini oleh beberapa pihak. orang untuk menangani surat-surat mereka dan melakukan pengetikan. Kata Ibrani sopher. beberapa kelompok orang yang menaruh peduli dengan administrasi atau pengajaran hukum: para nabi. Ajaran-jaran yang lebih tua mengenai penafsiran Kitab Suci yang berbicara tentang Allah sedang mengilhami “para pengarang biblis” sulit untuk diterapkan pada suatu situasi historis sebagaimana yang telah kita lukiskan tadi. amsal yang sudah ada terlebih dahulu (sebelumnya). Bekerja dengan para pengarang 32. dan seorang penulis dalam artian beberapa orang 15 . Bagian prosanya ialah 1-2 dan 42:7-17. Tujuan dari survei itu ada dua. Kalau pandangan umum benar bahwa kitab ini terdiri atas prosa dan puisi. Dialog itu sendiri memperlihatkan banyak tanda bukti bahwa ia sendiri berasal dari seorang penulis yang kreatif. Ini bukan hanya sekadar bahwa ada hanya beberapa pengarang yang nyata dan yang lain itu hanya para penyusun saja: adalah kepengarangan itu sering sekali tampaknya dipahami sebagai semacam aktifitas kompilasi – atau.. Sekretaris Negara juga mempunyai Sekpri (yaitu para pegawai negeri yang bertindak sebagai para pembantu pribadi mereka). Di tengah kedua sudut ekstrem itu. tetapi dalam mana sebuah pola yang konsisten muncul juga none the less. Saya telah mencoba menunjukkan kompleksitas dari proses dengan mana semua kitab-kitab akhirnya ditetapkan dalam tulisan. Kitab Pengkotbah ditampilkan sebagai. Ayub sebagai sebuah kitab utuh-keseluruhan adalah sebuah komposisi. demikian juga halnya dengan Injil-injil. ada sejumlah kecil kitab di dalam Perjanjian Lama yang dapat dikatakan mempunyai seorang pengarang dalam artian yang kurang lebih sama seperti status kepengarangan rasul Paulus dalam Perjanjian Baru itu. kitab yang disusun dan terdiri atas pelbagai macam unsur.

kata “bible” itu sendiri berasal dari kata Yunani biblia. sudah sejak dari jaman yang awal mula orang-orang Kristiani menerima kodeks bagi kitab-kitab mereka sendiri. Sebagaimana yang telah kita lihat. Ketika dalam bab yang berikut kita bergerak lebih jauh lagi. Tetapi menurut pandangan yang lebih belakangan ini. walaupun belum dapat dijelaskan sepenuhnya. baik itu pada jaman Israel kuno dahulu maupun pada jaman gereja purba. Sebuah kumpulan kitab-kitab. mengisahkan sejarah Israel juga. (Jadi.yang terlatih dalam mencampurkan tinda dan memperhalus papirus (smoothing). sehingga gulungan itu dapat digulung ke salah satu kayu saja. atau beberapa kodeks. dan hal ini. aslinya merupakan lanjutan dari Kitab Ulangan. tetapi juga mau memandang kitab Ulangan itu sendiri sebagai termasuk dalam karya ini. Jadi. kodeks – apa yang kita sebuah sebagai sebuah kitab. orang-orang Yahudi. Dengan kata lain. satu atau dua edisi dihasilkan dari apa yang kita sebut di atas sebagai Sejarah Deuteronomistik – yaitu kitab-kitab sejarah yang meliputi kitab-kitab seperti Yoshua. tidak hanya dengan cara menyimpan mereka dalam satu ruang yang tunggal saja menurut suatu tata urut tertentu. “Musa” Pada sekitar masa Pembuangan ke Babel. Tetapi di sini kita harus berhati-hati. fakta bahwa ada banyak kitab saja. dan yang berarti kitab-kitab. Tetapi untuk semua tujuan-tujuan yang lain. tetapi bahkan di sana pun kurang begitu tajam dari pada pembedaan yang kita buat dewasa ini. Dibutuhkan suatu proses dan rentang waktu yang panjang untuk dapat sampai ke keadaan kita sekarang ini. Yaitu mereka perlu dikumpulkan. dan berhenti di tengah kalau gulungan pada masing-masing kayu sudah sama tebalnya. dalam konteks ini. mempunyai kaitan yang erat dengan Kristianitas itu sendiri. yang 16 . dan memang mereka dulu telah dikumpulkan. dan bukan satu volume tunggal dari kumpulan karya-karya. Gulungan itu biasanya mempunyai tiang kayu yang keras. dan satu punggung jilidan – barulah muncul dalam sejarah sekitar abad pertama Masehi. (Sesungguhnya. atau Yeremia saja. adalah bahwa sejarah Pentateukh pada mulanya sesungguhnya adalah Hexateuch – yaitu sebuah koleksi enam kitab (bahasa Yunani hex berarti enam). Karena teknik penyimpanannya seperti itu. (Satu pertanyaan tentang tata urutan kitab-kitab di dalam Kitab Suci dengan demikian dapat dengan lebih mudah dijawab dalam kasus orang-orang Kristiani daripada orang-orang Yahudi. jadi memang ada banyak kitab di dalamnya). Samuel dan Raja-raja. yang berakhir dengan pendudukan Israel secara gagah perkasa atas Palestina. di mana kelima kitab Musa (Kejadian sampai Ulangan) masih tetap ditulis pada lima gulungan. Di Israel. Kayu gulungan ini masing-masing ada pada kedua ujung gulungan itu. Tentu kitab suci itu tidak berada begitu saja sebagai sebuah paket surgawi. kadang-kadang. Dunia Greco-Roman memang dulu membuat pembedaan ini. yang berlaku dari akhir abad sembilanbelas hingga ke pertengahan abad keduapuluh. suatu karya yang up-beat. yang mencatat atau melaporkan bagaimana janji-janji dulu telah diberikan atau diucapkan kepada para Bapa Bangsa Ibrani dalam kitab Kejadian sekarang ini sudah terpenuhi tatkala Tanah Terjanji akhirnya bisa diduduki di bawah kepemimpinan Yoshua.). sebagaimana halnya di Yunani dan Roma klasik. Sebuah gulungan dapat hanya menyimpan sebanyak satu tulisan yang ada dalam satu kitab saja. sebuah koleksi diikat-satukan bersama dengan suatu cara yang sangat harfiah: semua kitab biblis membentu satu volume tunggal. ketimbang sekadar suatu “karya-karya” sastra yang dipoles (polish) saja. maka hal itu juga ikut mempengaruhi cara atau teknik penulisan. Bab III: Mengumpulkan Kitab-kitab Tujuan Bab ini: Pengantar Bab 3 Sekarang ini kita sudah mempunyai kitab suci. dari hal mengumpulkan bahan ke proses menjadikan atau menyusun kitab. yang juga. di atas permukaan kertas kulit. Kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri akan teknologi yang berbeda untuk menghasilkan sebuah buku dalam dunia kuno dulu. misalnya satu gulungan untuk kitab Yesaya saja. Jangan sampai kita melupakannya. dan segera mulai menulis PL dalam kodeks-kodeks juga. Tetapi apa pun saja yang menjadi alasannya. hal ini berarti bahwa orang-orang Kristen segera berada dalam satu posisi untuk mengumpulkan kitab-kitab suci mereka. yang berbentuk plural. Hakim-hakim. bagaimana pun juga. kita perlu mengetahui pemikiran-pemikiran yang fuzzy ini secara lebih kuat lagi dalam benak kita. agar apa yang disebut Kitab Suci itu ada. Pola kuno ini masih tetap bertahan hidup dan masih tetap dipakai dalam sinagoga-sinagoga hingga saat ini. yang disimpan dalam sebuah lemari yang disebut “tabut”. belum memadai sebagai syarat untuk terbentuknya kitab suci. kurang lebih sama dengan bab-bab yang berbeda-beda dalam sebuah novel. Dalam Kitab Suci sebagaimana yang kita ketahui. menurut teori ini. seperti halnya juga orang-orang Kristen. dalam kebudayaan itu dahulu. Di dunia kuno. Salah motif atau alasan yang mungkin ialah adanya suatu kerinduan untuk berbeda atau membedakan diri dari orang-orang Yahudi. masing-masing kitab dalam kitab suci dianggap sebagai bab-bab saja dari satu buku utuh yang tunggal). Pandangan yang lebih tua. atau. sebutan atau nama “Kitab Suci” kiranya bukanlah nama dari satu kitab melainkan nama sebuah perpustakaan kecil. Masih ada syarat yang lain. dan kayu yang lain dijadikan pegangan. Kitab Yoshua. ke proses pengumpulan kitab-kitab untuk membentuk satu kumpulan-kumpulan yang lebih besar. merupakan kesamaan atau ekwivalen dari buku catatan – seakan-akan agaknya kita seperti mau menyimpan catatan-catatan (scrible) Injil dengan tangan dalam buku catatan yang dijilid spiral di tangan seorang reporter sebagai ganti dari satu Kitab Suci yang dijilid dengan kulit dan dicetak pada kertas India. sebuah kitab itu ditulis hanya pada satu sisi saja dari satu batang (kepingan) papirus yang sangat panjang. Walau ada gulungan-gulungan Injil-injil dan surat-surat. Tetapi ada juga teori-teori lain yang menentang teori itu tentang bagaimana karya historis ini dikaitkan atau berkaitan dengan Pentateukh. dan karena itu menerima kodeks yang. yang berfungsi sebagai bagian inti dari gulungan (roller). memakai satu volume tunggal dan satu kodeks saja dari Kitab Suci itu. kiranya berarti demikian: sebuah kumpulan. para ahli telah condong untuk melihat Yoshua sebagai suatu bagian utuh dari karya Deuteronomistik. dst. hingga ke tempat di mana karya Deuteronomistik memulai perjalanan kisahnya sendiri. dan yang dibawa keluar setiap sabat untuk dibacakan dalam sebuah upacara suci kegamaan (ibadat). Hexateuch ini merupakan suatu karya yang bernada optimistik. melainkan dengan cara menulis mereka secara berturutan (consecutively) dalam sebuah kodeks tunggal. adalah tidak cukup bahwa ada fakta banyak kitab yang dikumpulkan bersama-sama dalam sebuah bunga rampai. Atau bisa juga digulung pada keduanya sekaligus. Kemungkinan alasan yang lain ialah bahwa mereka memandang Injil-injil sebagai catatan-catatan dari mana seorang pewarta atau pengkotbah dapat mengisahkan kembali kisah-kisah mengenai Yesus. Pada saat itu tulisan disusun pada satu kolom-kolom yang sangat sempit yang sejajar dengan masing-masing kayu gulungan tadi. dan kumpulan itulah yang membentuh sebuah batang tubuh kitabkitab. yaitu satu volume yang dijilid rata dengan dua sampul depan dan belakang. yang kemudian digulung untuk membentuk sebuah kitab gulungan (scroll).

pendidikan. Kita akan terus melangkah (dalam bab yang berikut) untuk mendiskusikan status Taurat secara lebih rinci dan mendalam lagi. Pada waktu ini. sebagaimana halnya sebagian besar hal penulisan mazmur ada dikaitkan dengan Daud dan amsal-amsal bijak dikaitkan dengan Salomo. Hal yang menimbulkan rasa ingin tahu ialah bahwa tidak satu pun dari cara penyusunan ini yang sama atau mirip dengan apa yang akhirnya menjadi sesuatu yang normatif dalam Yudaisme itu sendiri. yang berarti “sembilan”) untuk menyebut kesembilan kitab yang merentang dari Kejadian. Karena alasan-alasan ini ataupun alasan lain manapun. buka saja kitab itu). Hal ini sudah benar demikian 17 . dan segera bisa menghasilkan sebuah versi terjemahan Yunani: itulah sebabnya disebut dengan Septuaginta (Latin Septuaginta. Secara kebetulan (incidentally) mereka juga cenderung memberi lebih banyak arti penting pada kitab Yoshua. bukan karena ia mengungkapkan suatu pembedaan yang mempunyai arti penting bagi umat. Oleh karena orang-orang Kristiani tidak lagi melihat agama mereka sebagai terpusatkan pada hukum melainkan lebih terpusatkan pada Kristus. dan prolog historis dalam bab 1-3. dan seterusnya. Salah satu faktor di sini adalah perubahan dari Gereja yang didominasi oleh orang-orang Yahudi ke gerejayang terutama sekali terdiri atas para Bangsa. Yoshua. dan beberapa juga yang berdiam di Palestina. dari kata tettara bahasa Yunani.. (efbe: maka perspektifnya bukan pendudukan dan kemapanan... walaupun secara kebetulan saja. tetapi sang Sejarawan menambah sangat banyak kepadanya. yang pertama kali memerintahkan bahaw Torah itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sehingga ia bisa membuat pendapatnya sendiri mengenai hukum-hukum dari rakyatnya yang berbangsa Yahudi dan menempatkan sebuah salinan dari terjemahan itu dalam perpustakaan yang terkenal di Alexandria. tetapi untuk sekarang ini cukup hanya mencatat bahwa ia jelas sudah membentuk atau merupakan satu kumpulan: lima gulungan yang tergabung menjadi satu dan selalu akan disimpan bersamasama.15:21). Realitasnya ialah bahwa bahwa orang-orang Yahudi yang berbicara Yunani. ramalan yang dire ini sekarang sudah terjadi atau menjadi kenyataan. Pentateukh atau Taurat itu (kata Ibrani untuk hukum. Sesungguhnya.28-30).” dan banyak ucapan yang dikaitkan dengan Yesus dalam Injil-injil juga berbuat demikian. Dari sudut pandang sang Sejarawan. Bilangan. 24:27. Tidak ada astu kitab manapun yang menyamai dia dalam hal prestise dan kekudusan. (efbe: semua diperlakukan sama saja). Pentateukh kadang-kadang disinggung atau disebut dalam PB hanya sebagai kitab “Musa” saja (misalnya dalam Luk. boleh jadi mereka telah memberi sinyal (signaling) pengalaman mereka sendiri sebagai kaum buangan dan sebagai orang-orang yang mengembara (sojourners) di tanah-tanah yang merupakan milik orang lain. dan apa yang akan menjadi nasib mereka kalau mereka mengabaikan hal-hal itu. tuntunan – semuanya ini adalah elemen-elemen dalam Torah) merupakan inti pokok (entrepiece) dari identitas Yahudi. berbicara bahasa Yunani sebagai bahasa mereka yang pertama. Tentu saja orang-orang Kristiani pertama dulu adalah orang-orang Yahudi juga. Ptolemeus Philadelphus (285-246 SM). Yang pertama ialah suatu kerinduan untuk memiliki serangkaian kitab-kitab yang menggambarkan atau mewakili ajaran. Judaisme melihat kitab-kitab Musa tidak hanya sebagai permulaan dari suatu kisah yang akan terus berlanjut dalam dan melalui Yoshua. yang berakhir dengan wafatnya Musa. Beberapa para penulis Kristiani mulai memakai kata-kata seperti Enneateuch (satu kata yang berasal dari bahasa Yunani Ennea. Imamat dan Bilangan. dan kitab suci inilah yang tampaknya diketahui atau dikenal oleh orang-orang Kristiani dari abad-abad awal. Mulai dari sekitar jaman Ezra. yang memakai bahasa Yunani. Karena hal ini Kitab Suci Yahudi pun tersedia dalam sebuah terjemahan Yunani. Itulah kitab suci yang mereka sebut-sebut. terdengar dangkal. pada abad kelima SM. hidup dan karya Musa. (Jadi kalau mau mencari hal-hal pokok mengenai iman Yahudi. yang berarti tujuhpuluh) atau dengan simbol angka Romawi LXX itu. dan bukannya diakhiri di Tanah Perjanjian. atau “Yesus” – dan sebuah kitab yang diberi nama menurut nama Yesus. hanya karena satu alasan yang sederhana saja yaitu bahwa Yoshua dalam bahasa Yunani adalah Iesous. Kitab Suci Yunani akhirnya mengandung lebih banyak kitab dari pada Kitab Suci Ibrani – tetapi. Pada abad kedua M orang-orang Kristiani tampaknya tidak lagi membuat suatu pembedaan yang besar antara Pentateukh dan Kitab-kitab Suci lainnya. Tetapi pada abad kedua hal ini menjadi semakin tidak biasa lagi. keretakan) antara Ulangan dan Yoshua. Hal ini muncul sebagai sebuah kesepakatan. Hakim-hakim. penilaian) yang baru di kalangan orang-orang Kristen pertama itu. dan Raja-raja. Imamat. Ulangan. Keluaran. di dalam Pembuangan.berfungsi sebagai semacam pendahuluan baginya. Samuel dan Raja-raja (Samuel dan Raja-raja aslinya tidak terbagi ke dalam masing-masing dua buku). menuju ke tanah terjanji). Hakim-hakim. dan tindakan mengakhiri kumpulan itu dengan wafat Musa tampaknya merupakan suatu yang wajar saja. dan Septuaginta terdiri atas terjemahanterjemahan dari kitab-kitab yang berbeda yang dibuat selama suatu kurun yang teramat panjang. Keluaran. Kiranya ada dua motivasi atau penyebab yang tampaknya menggaris-bawahi hal ini. dan karena itu dia pun mencoba menghadiskan sejarah dari bangsa itu sebagai suatu realisasi atau pelaksanaan dari peringatan-peringatan yang ada dalam kitab Ulangan itu dahulu. mereka singgung. Tujuhpuluh (atau 72) penerjemah melakukan pekerjaan itu. Paling mulai dari abad keempat SM orang-orang Yahudi memandang kandungan historis dari Kitab Suci Ibrani sebagai terbagi menjadi lima kitab dari Musa – yaitu Kejadian. pengembaraan terus menerus. Dengan cara mengakhiri dokumen agung yang mendasar dari agama Yahudi dengan wafat Musa. atau tidak berarti apa-apa. melainkan sebagai suatu karya yang tertutup. Menurut sebuah legenda. dan karena itu mereka tidak melihat suatu patahan (ketidaksambungan.” atau ungkapan lain yaitu “hukum dan para nabi.. memerlukan sebuah versi terjemahan Mesir dari Kitab Suci itu sendiri. khususnya yang berdiam di Mesir. melainkan pembuangan. Kis. dan bukannya Ibrani lagi. maka tampaknya tidak lagi dianggap penting untuk memberi kitab-kitab dari Musa itu sebuah posisi unggul (mencolok) secara khusus. Keluaran. semua hal pemberian-hukum dilihat sebagai terpusatkan pada tangan Musa. Bilangan. pada jaman PB banyak orangorang Yahudi di luar Palestina. yang berarti “empat”) yang terdiri atas Kitab Kejadian. dan sudah tentu (presumably) memandang Torah itu sebagai sesuatu yang sentral. Samuel. dan sudah penuh dalam dirinya sendiri dalam mana semua hal-hal penting dari iman dan hidup Yahudi sudah dapat ditemukan. Motif penyebab yang lain boleh jadi sudah terkait dengan pengalaman Pembuangan itu sendiri. dan tidak hanya pengantar kitab Ulangan itu saja. Kitab Ulangan membentangkan adegan bagi Sejarah itu dengan cara memperjelas apa yang merupakan hukum-hukum dan tuntutan-tuntutan Allah kalau umat mau mendapat dan menikmati berkat karuniaNya. Boleh jadi injil dari Kitab Ulangan sudah ada sebelum masa Pembuangan itu. kesemuanya mempunyai asal-usul Yahudi.). Hakim-hakim. adalah salah satu dari para penguasa di Mesir.khususnya berkat-berkat dan kutuk=kutuk dari bab-bab yang belakangan (yaitu Ul. yang harus dilihat sebagai pengantar untuk seluruh karya sejarah yang dibentangkan selanjutnya. Imamat. persis sama dengan cara pandang orang-orang Yahudi lainnya – tetapi agak segera muncullah suatu sikap (pandangan. Bagi suatu bangsa yang tidak lagi berada di atau menduduki tanah mereka sendiri – walau beberapa dari mereka telah diijinkan untuk menduduki dan mendiaminya kembali – catatan optimistik dari Yoshua mungkin terasa tidak bergema lagi.16:29-31. antara sekitar abad keempat hingga sekitar abad pertama SM. Maka menurut pandangan yang kedua ini. dan Ulangan – dan empat kitab secara agak membingungkan disebut “para nabi” (tentang hal ini lihat uraian bagian bawah nanti) – Yoshua. (Pada hari ini kuberikan dua pilihan bagimu. Paulus masih secara berkala berbicara tentang “Musa dan para nabi. hampir tidak bisa ditempatkan (relegated) pada pembagian yang kedua.

walau ada petunjuk bukti bahwa pada tahun-tahun awal ia dipandang sebagai karya kenabian di dalam Yudaisme.. yang dianggap paling tinggi. Umum diterima bahwa Mateus ditulis di Syria.”hukum. Ester. dan kitab-kitab yang terdapat di dalamnya cenderung disusun berdasarkan tema atau jenisnya. Yeremiah. Landasan untuk pembagian seperti itu tampaknya terutama sekali dasar kronologis belaka: Tulisan-tulisan Hikmat merupakan kitab-kitab yang belakangan dari Kitab Suci Ibrani. dan kitab Barukh – Yeheskiel. Junus. Ini adalah sebuah misteri besar yang serba gelap. dibayangkan sebagai kudus tetapi yang tidak termasuk bagian dari Pentateukh.” dan bisa saja itu hanya sebuah gelar saja untuk Zakaria – walau nama-nama Ibrani seperti ini juga memang bisa ada). Orang-orang Kristiani tidak melihat hal-hal itu dengan cara seperti ini sama sekali. Injil-injil (lihat tulisan tangan itu) Keempat Injil kita mungkin pada awalnya adalah teks kisah berwibawa tentang hidup dan ajaran Yesus dalam satu gereja lokal tertentu..7:21. yaitu dengan cara membatasi “Nabi-nabi” pada keempat kitab sejarah (Yosua. untuk membedakan mereka dari Sejarah Deuteronomistik (yaitu kitab-kitab dari Yosua sampai ke 2Raja-raja) – “terdahulu” atau “perintis” dan “kemudian” di sini hanya berarti “mereka yang datang duluan” dan “mereka yang datang belakangan” di dalam daftar dari gulungan kitab suci. dan masih ada dua karya yang lain yang tidak diterima di dalam Yudaisme. Tata urut dari Keduabelas kitab itu adalah berbeda dalam Kitab Suci Yunani. Dan kadang-kadang diusulkan bahwa Maleaki aslinya bukanlah sebuah kitab sama sekali. Tulisan-tulisan ini berasal dari banyak kurun waktu dan sejarah. dan barangkali juga dalam cara dalam mana gulungan-gulungan itu disusun dalam suatu perpustakaan atau ruang buku. yaitu Kebijaksanaan Salomo dan Kitab Sirakh. orang mengutip berdasarkan hafalan dan ingatan saja. Samuel dan Raja-raja) dan keempat kitab-kitab “kenabian” yang cocok dengan sebutan itu (Yesaya. yang biasa terjadi. Hagai. Zakaria. Nahum. Maka Tawarikh muncul (dimasukkan) di sana. Para penulis Kristen sering mengutip dari Injil-injil. 18 . dan 2) segala sesuatu yang lain selain Taurat. melainkan suatu bagian tambahan pada kitab Zakariah yang telah dipromosikan ke status sebagai sosok nabi tersendiri agar bisa tercapai jumlah angka keramat dua belas itu (“Maleaki” itu sendiri berarti “utusanku. atau “Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh”). Para penulis Kristiani awal pun biasanya mengkaitkan Markus. yang jelasjelas tidak lagi diperlakukan atau dianggap sebagai sebuah kitab kenabian. ia mencakup kitab-kitab sejarah juga kitab-kitab yang kita kira sebagai kitab kenabian . dan Nabi-nabi (sebagaimana ditetapkan sekarang) yang berikutnya. Hakim-hakim. nabi-nabi. Pada abad kedua SM karya yang disebut Sirakh dalam beberapa Kitab Suci Inggris (juga disebut Sirakh. dan Tulisan-tulisan Hikmat sebagai lingkaran paling luar. petunjuk bukti dari abad pertama M ialah bahwa hanya ada dua kategori kitab saja. tetapi ada beberapa petunjuk bukti bahwa hal memperlakukan mereka sebagai satu telah mendatangkan beberapa perubahan dan tambahan-tambahan terhadap masing-masing “kitab kecil” itu. Yeremia. Yehezkiel. kita tetap tidak tahu bagaimana orang Kristen awal memahami hubungan antara injil. Nehemiah. dan demikian juga halnya dengan kitab Mazmur. Daniel (yang oleh orangorang Kristiani pandang sebagai kitab kenabian). Tawarikh. tetapi “kitabkitab yang lain” itu mungkan saja hanya berarti “kitab-kitab yang lain” dalam artian sebenarnya. dan hal ini terpantul dengan sangat jelas dalam Injil-injil (lihat Mat. bersama dengan Ezra dan Nehemiah. yang sebenarnya. Amsal.. Dari sudut pandangan Kristiani. Ayub dan Pengkotbah. Sedangkan Yohanes ditulis di dan untuk Efesus. Walau baris pertama Markus adalah semacam judul yaitu sbb: “.” adalah cara biasa untuk membedakan antara Pentateuch dan semua kitab kudus yang lain dalam Yudaisme dari kurun PB. Pada tahap awal ini mungkin mereka tidak mempunyai judul-judul. Amsal dan Ayub. yang ada di antara Nehemia dan Ester (lihat Bab 1).. “Hukum dan Para Nabi” Ungkapan “hukum dan para nabi. Tetapi secara keseluruhan. kitab-kitab yang bukan merupakan kitab suci. Ester. tetapi inilah yang menjadi pola dasariahnya. dan Duabelas Nabi kecil). dan kitab-kitab yang lain”. Maka Yudaisme dalam masa PB sesungguhnya ada dua jenis kitab kudus: 1) Taurat. Kidung Agung. Ezra. seperti Mazmur dan Ayub – sesuatu. Apa yang pasti ialah bahwa Yudaisme pada akhirnya mengakui satu kategori ketiga.” di mana “mazmur-mazmur” mungkin menunjuk lebih jauh suatu pembedaan antara “nabi-nabi” dan beberapa kelompok kitab-kitab yang lain. Bagi mereka hanya ada satu kategori saja. Injil tertua. termasuk satu nubuat yang sangat panjang (Yoel 2:16 dan Amos 1:2). tetapi (sebagaimana yang dapat kita harapkan) bisa mengalami sangat banyak variasi atau perubahan di antara manuskrip-manuskrip yang berbeda-beda. dan keduabelas nabi-nabi kecil. walau ia sudah terpelajar dalam Ibrani. dan mazmur-mazmur. dan Maleaki) diperlakukan sebagai satu buku tunggal saja dalam Kitab Ibrani – Kitab dari Keduabelas Nabi – dan dikelompokkan bersama sebagai “nabi-nabi kecil” dalam Kitab Yunani. Misalnya. yang barangkali lagilagi mempunyai status yang lebih rendah. Masih ada variasi rinci lagi dalam tata urut di dalam kodeks-kodeks Kristiani. Maka Kitab Suci Ibrani akhirnya dipahami dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga ia dapat dilihat sebagai tiga lingkaran konsentrik. dianggap sebagai hasil karya Yeremiah. dengan dua kitab naratif yang sama sekali tidak diakui di dalam Kitab Suci Ibrani. adalah sangat mencolok untuk menemukan Daniel di antara Tulisan-tulisan Hikmat. dst. Yeremiah – bersama dengan kitab Ratapan. Lukas di Asia Kecil (di wilayah Turki modern sekarang ini). Kitab Duabelas Keduabelas nabi kecil (Hosea. Maka dalam Luk 24:44 kita menemukan ungkapan rangkap tiga itu. Pengkotbah. Maka kitab suci Yunani. Amos. “Nabi-nabi” adalah sebuah istilah yang merangkum-semua (catch-all). Tobit dan Yudit. Sejumlah kecil referensi-referensi PB menyarankan adanya suatu pembagian rangkap tiga. Injil mana yang dikutip. Dalam suatu kurun waktu yang jauh lebih kemudian hal-hal ini disebut Yang Kemudian atau Para Nabi Kemudian. dimulai dengan semua kitab-kitab sejarah – Pentateukh. Kemudian ada kitab-kitab “puitik” – seperti Mazmur.Yesaya. dalam bahasa Yunani. dan dengan cara menempatkan kesemua kitabkitab non-Pentateuch ke dalam satu kategori yang disebut secara bland sebagai Tulisan-tulisah Hikmat (Writings). yaitu. Joel. 11:13). Zefania. sebagaimana yang diterima oleh orang-orang Kristiani.. para nabi. Habakuk. dan Ratapan. jauh lebih luas dibandingkan dengan nuansa pemakaian pada jaman kita sekarang ini. Obaja. Yoel dan Amos – yang ditempatkan satu di samping yang lain walau ada rentang waktu 200-an tahun memisahkan mereka (terbentang di antara mereka) – mempunyai sejumlah kecil ciri-corak yang sama. dan kelima gulungan yang dibacakan pada pesta-pesta Yahudi: Rut. Oleh karena itu. “Para Nabi Terdahulu” (tidak disebut demikian).adanya sehubungan dengan Paulus. Akhirnya ada “kitab-kitab kenabian”: Yesaya. dengan Torah berada pada pusatnya. dengan Roma. Apalagi sebuah kutipan langsung. dalam suatu tempat yang sangat terpisah dari kitab-kitab sejarah awal. Tetapi tidak begitu teiliti. Mikah. (penumbra). ia menulis dan mengutip kitab suci PL. Sebagaimana yang sudah kita lihat.” Mungkin juga sebagian besar orang Kristen pada saat itu tidak sadar bahwa gereja-gereja lain mempunyai injilinjil sendiri juga yang lain juga. yaitu “Kitab Suci”. Tetapi “Nabi-nabi” juga tampaknya mengacu kepada kitab-kitab yang lain. berbicara tentang ‘hukum.

Ia cukup sering berapologi tentang hal ini: bahwa ada empat injil tadi..” atau “kata. hanya mengatakan “kabar baik sebagaimana dikisahkan Markus. atau barangkali juga para ahli hukum. atau empat makhluk hidup dalam Wahyu itu (4:9) dan empat janji Allah dengan manusia. Padahal mungkin sebenarnya angka 4 itu hanya untuk menunjukkan empat arah mata angin utama. Satu-satunya kesimpulan yang aman ialah bahwa kita hanya tidak tahu bagaimana kedua kumpulan ini mulai berada. Menurut dia Injil-injil yang lain itu bersifat dunia. Yang jelas tidak lama sesudah Ireneus. (dengan kata lain. Betulkah demikian? Yang jelas argumen itu tidak begitu meyakinkan semua orang. dan itu berarti mulai dikumpulkan menjadi satu kumpulan. tetapi penting karena ia menentukan bentuk bagaimana kiranya bentuk kitab-kitab ini mulai sekarang hingga seterusnya. yang sudah berasal dari jaman yang sudah sangat kuno di masa silam. Tetapi bacaan-bacaan kedua (haftarot) dalam prakteknya telah ditetapkan sudah sejak sangat lama. Seakan-akan disiratkan bahwa pada saat itu memang sudah ada empat injil untuk Ireneus. Itu berarti juga bahwa bagi dia sudah ada empat injil seperti yang kita punyai saat ini. Bacaan kedua ini harus diangkat atau diambil dari Nabi-nabi. Aturan di dalam sinagoga dewasa ini. walau tidak secara umum demikian adanya (misalnya.. Tetapi tidak satu pun yang lebih tua dari pada yang lain. Adalah benar juga bahwa Tulisan-2 cenderung mengandung karya-karya yang lebih kemudian dari para Nabi-nabi..Tetapi kira-kira sekitar tahun 150 ada perubahan. Motif atau alasan yang sekunder tetapi juga sangat penting untuk mengumpulkan kita-kitabTorah. akhirnya dikumpulkan bersama dan diperlakukan sebagai satu karya dalam beberapa artian tertentu (kelima pilar atau fifths hukum). Dari manuskrip tertua. Argumen seperti itu tampak seperti agak dipaksa-paksakan. Pembedaan ini. ada saling pengaruh juga)..” Kata Injil itu sendiri tidak ada dalam judul. 19 . diterimanya empat kisah yang tidak konsisten berarti bahwa tidak satu pun dari mereka bisa lagi dianggap sebagai otoritatif secara mutlak: masing-masing mempunyai daya untuk memodifikasi kisah yang dikisahkan oleh yang lain. Kendati ciri-corak naratif mereka yang jelas dan bahan miscellaneous yang terdapat dalam mereka. Tetapi adalah sangat meragukan apakah orang-orang Yahudi pada permulaan dari jaman kita memang tahu kitab-kitab mana yang lebih tua dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. di dalam Tulisan2). dan kita hanya bisa menebak tentang bagaimana mereka akhirnya bisa dikumpulkan bersama dalam satu kumpulan. Argumen Ireneus itu sepertinya sudah memastikan bahwa pada jaman dia memang sudah ada empat injil.” Surat-surat Paulus (Lihat tulisan tangan itu) Sisa PB (lihat tulisan tangan itu) Siapa yang mengumpulkan Kitab Suci? Dalam bab yang terakhir kita bertanya: Siapa yang menulis kitab-kitab itu? Sekaranglah saatnya kita harus menjawab pertanyaan yang lain: Siapa yang mengumpulkan mereka? Pertanyaan yang kedua ini bukan pertanyaan mudah. Sama-sama misteriusnya adalah penyusunan Injil-injil. Ini fakta yang benar. Tampaknya pada tahap ini. Injil ini hanya kumpulan ucapan-ucapan Yesus saja. Kalau memang benar bahwa aslinya masing-masing Injil adalah kepunyaan gereja partikular tertentu dan merupakan versi lokal dari Kabar Baik. maka pembacaan kedua ditambahkan. Untuk pertama kalinya Ireneus berbicara bahwa ada empat Injil. bahwa para Nabi adalah kitab-kitab yang menyumbang pada Haftarot kepada buku bacaan liturgi. Kita bisa membaca motifnya dari fakta bahwa “Torah” itulah yang menjadi sebutan bagi kitab-kitab itu pada akhirnya. apalagi jika ia tidak percaya tentang beberapa jumlah injil saat itu. dan bukan sebaliknya – dengan kata lain. sedangkan Yohanes itu bersifat rohani (injil rohani). tidak mempunyai satu bingkai naratif. Proses pengumpulan dan penyebaran (diseminasi) Kitab-kitab Suci Yahudi dan Kristiani merupakan suatu proses yang sangat rumit dan beragam. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap Gereja sudah memiliki keempat-empatnya. Yang jelas pada masa gereja purba ada banyak inji. Tidak ada jawaban serba mudah untuk pertanyaan ini dibandingkan dengan pertanyaan pertama. Zakariah. di dalam Nabi-nabi. kitab-kitab Pentateukh dialami oleh angkatan-angkatan yang kemudian pertama-tama dan terutama sekali sebagai instruksi dalam bagaimana hidup sebagai seorang Yahudi yang baik. pada akhirnya bermuara (settle into) pada pembagian berganda dari Para Nabi dan Tulisan-tulisan Hikmat. muncul Clemens dari Alexandria (seornag filsuf Kristiani). Ketika akan dikumpulkan barulah mereka diberi nama. Mungkin dengan kekecualian beberapa fragmen dalam Injil Thomas. Maka dapat disimpulkan bahwa empat Injil sudah terkumpul sebagai empat pada satu saat tertentu pada abad kedua. paling tidak di gereja-gereja berbahasa Yunani di Prancis Selatan. Sebagaimana yang akan kita lihat kemudian.. mungkin sekali berasal dari kurun waktu yang lebih kemudian dalam tanggal penyusunannya daripada Mazmur. kata “injil” itu bukanlah judul generik untukjenis kitab khusus seperti ini. 4 arah lingkup misi. sedemikian pentingnya sehingga mereka bisa dibaca secara agung-meriah dalam liturgi – sekunder karena alasan untuk membaca mereka dengan cara demikian adalah karena peranan sentral mereka sebagai instruksi moral. pembedaan itu dilakukan dengan cara memberi keterangan “menurut. adalah bahwa setelah pembacaan mingguan yang diambil dari Pentateukh. dan bukannya dari Tulisan-tulisan. Kita mempunhyai suatu ide yang sangat baik tentang mengapa Torah. Ia mencoba membedakan antara Yohanes dan ketiga injil yang lain. yang tampaknya telah sampai pada panggung beberapa waktu kemudian dari pada proses penulisan PB (yang tidak sadar akan hal ini). yaitu sebagai gulungan-gulungan yang dihasilkan dengan perhatian penuh cinta dan suatu tingkat kepedulian yang sangat besar dan tinggi akan keakuratan. maka peralihan menuju ke pengakuan empat kesaksian yang berbeda dan sering sekali tidak konsisten terhadap atau tentang injil pasti telah merupakan suatu perubahan sikap yang besar dan barangkali juga mengandung sisa-sisa traumatik tertentu. yang ditemukan di Mesir tahun 1945-6. kelima kitab Musa. dan adalah mungkin bahwa aturan itu terpantul dalam pembagian dari Kitab Suci itu. agar dapat dibedakan dari satu sama lain.. dan Tulisan adalah yang tidak memberi sumbangan. uskup Lyon.. Kitab-kitab yang lain tidak mempunyai fungsi sentral yang sama dalam Yudaisme. Petunjuk pertama yang kita percayai ada dalam karya Ireneus. boleh dihubungkan dengan pemakain liturgis dari kitab-kitab non-Torah. Markus misalnya. sesuatu yang seperti apa yang sekarang ini kita sebut para rabbi. Keempatnya dinilai tinggi juga oleh Gereja yan gmungkin tidak mengenalnya secara langusng. Oleh karena itu rupanya bahwa mereka dikumpulkan bersama oleh orang yang dipercayai dengan tugas pengaturan hidup Yahudi.

Hamden.Z. Bab IV: Dari Kitab-kitab ke Kitab Suci Apa itu Kitab Suci? OK Spesial Sejak Semula OK (hal. (sebab masih ada lebih banyak lagi dari sekadar yang diterima dan diakui). Bagaimana pun juga.” dan bagaimana kitab-kitab seperti itu dibaca dalam dunia kuno. dan tidak mengajukan satu pertanyaan tentang kompabilitas timbal balik mereka. sehingga hal ini mendukung gaya Kristianitas dia sendiri. mengutip dari semua ketiga Injil Sinoptik walau tidak pernah mengutip dari Yohanes. (Beberapa tahun belakangan ini. mempunyai satu kumpulan-surat Paulus. Kalau hal ini tidak terjadi pada masa hidup Paulus sendiri. Sudah barang tentu kita tidak dapat mengatakan seberapa jauh “korpus Paulinium” itu dipikirkan sebagai suatu karya tunggal. seperti misalnya “kitab Yashar” (2Sam. dan kita tahu bahwa orang yang masih sejaman dengan Marcion. dan masih terus dipakai juga oleh banyak orang Kristiani bahkan setelah semua akhirnya telah mengakui koleksi empat injil sebagai kumpulan yang berwibawa. dan yang otoritasnya mengikat atas orang Yahudi untuk semua generasi. (Maka muncul gerakan dan upaya untuk membuat semacam harmonisasi injil). Adalah jelas dari hal ini bahwa Injil-injil yang lain pasti telah beredar juga. Faktor yang kedua ialah ini. Dalam bab ini saya bermaksud untuk bertanya apa yang tersirat dalam menyebut sebuah buku itu sebagai “kitab suci. Kitab-kitab di dalam PL dan PB adalah kitab-kitab yang akhirnya diterima sebagai “suci”. dan Injil Yohanes. Beberapa para ahli bahkan telah berbicara tentang tindakan Paulus yang “menerbitkan” surat-suratnya – membuat salinan dari sejumlah surat-surat itu dan mengedarkan mereka kepada semua gereja yang telah ia dirikan. yang disebut dalam Bab 3. yang mengeluarkan semua bentuk inkonsistensi dan menyatu-padukan semua kisah-kisah dan ajaran-ajaran dalam satu kitab saja – mash terus dipakai hingga hari ini oleh beberapa orang Kristiani. tetapi kita tidak pernah mendefinisikannya. karena ia membuang bagian-bagian dari surat-surat yang tidak ia setujui. tampaknya dirancang untuk menjadi sebagai semacam Kitab Suci Kristen (dengan sengaja dan sadar). Tampaknya hal ini terjadi tanpa banyak kontroversi sama sekali. Bab 5 Proses Penetapan Kanon 20 . yang mengatakan dengan tegas bahwa hanya ada satu saja Injil yang benar. yaitu Lukas – dan bahwa hanya satu kali itu saja ia telah expurgated dia. Tetapi mereka adalah kitab-kitab yang diakui secara luas sebagai kitab yang mempunyai kwalitas yang tinggi: dengan mengakui (reckoning) mereka sebagai Kitab Suci bukan hanya sekadar suatu perkara mengambil hanya salah satu dari kitab-kitab yang boleh jadi sudah tersedia dan memutuskan untuk menyebut mereka sebagai “Kitab Suci. Baik Pentateukh dan kitab-kitab para nabi membuat suatu pengakuan di dalam teks itu sendiri sebagai kitabyang diilhami secara ilahi. Gereja mempunyai lebih banyak lagi dokumen daripada yang sudah membentuk Kitab Suci itu. Di mana menyangkut Israel kuno. Sekitar tahun 150-60 ia menghasilkan sebuah Diatessaron. kita boleh melihat koleksi dari surat-suratnya sebagai kembali atau berasal pada suatu dorongan yang berasal dari Paulus sendiri. yang banyak dari padanya telah ditemukan kembali pada jaman modern ini – misalnya. Sebuah definisi yang baik akan Kitab Suci adalah definisi yang diberikan oleh S. dan seberapa jauh perbedaan antara pelbagai surat-surat dilihat dan diperhatikan. yaitu Yustinus Martir. Marcion.” (S. Kita telah mengkait-kaitkan (bandying) kata “kitab Suci” dalam banyak halaman dalam buku ini. yang bisa pergi ke sebuah toko buku dan membeli sebuah buku yang mengandung persis surat-surat yang sama dalam tata urut yang sama juga. dalam beberapa artian. kita dihebohkan dengan Injil Yudas yang terkenal itu). akan mengherankan untuk menemukan satu bangsa yang tulisan-tulisannya hanya berkisah tentang pokok-pokok yang suci-suci saja – walau di mana hal ini menyangkut Gereja maka hal ini lebih masuk akal dan dapat diterima. Sebagaimana yang akan kita lihat dalam Bab 5. namun beberapa para penulis Kristiani awal memang sudah berpikir bahwa satu Injil yang tunggal dan dihomogenisasi akan jauh lebh baik dari pada versi empat injil yang tidak konsisten satu sama lain. The Canonization of Hebrew Scripture: The Talmudic and Midrashic Evidence.14). Tetapi tampaknya jelas bahwa dalam kedua kasus itu ada lebih banyak kitab-kitab yang berada dari pada yang masuk dalam waktu untuk membentuk Kitab Suci. Jika kitab-kitab PL dan PB semuanya adalah sastra yang pernah ada di Israel dan pada jaman Gereja purba. yaitu suatu Harmoni Injil.” Maka usul bahwa kitab-kitab yang telah kita perbincangkan “telah menjadi” Kitab Suci mengandung suatu kebenaran yang penting. dan tampaknya ia bukan orang pertama yang memikirkan tentang hal ini.1:18) dan silsilah para raja Israel dan Yehuda (lihat 2Raj. Hal ini menyarankan bahwa Injil-injil – atau paling tidak injil-injil Sinoptik – sudah secara luas dilihat sebagai serangkaian dokumen yang koheren pada awal abad kedua Masehi. Hal ini bisa kita lihat dalam karya dari Marcion (wafat sekitar tahun 160-an). Hal terbaik yang dapat kita katakan ialah bahwa surat-surat membentuk satu kumpulan dalam suatu artian yang lebih dari pada sekadar bersifat insidental belaka – seakan-akan mereka itu hanya sekadar terjadi atau berada dalam satu ruangan yang sama – tetapi dalam cara yang kurang tampaknya mereka kepada kita. Contoh yang paling terkenal dari gerakan ini ada dalam karya seorang yang bernama Tatianus. Kalau nasihat Paulus kepada orang-orang Kolose untuk membaca suratnya kepada orang-orang Laodikea (dan sebaliknya juga) adalah otentik. PL itu sendiri menyebut banyak kitab-kitab yang sekarang ini telah hilang. 1976. Sebagian besar dari mereka tampaknya telah diterima sejak dari awal mula. tetapi jangan sampai membuat kita berpikir ini hanya suatu pertanyaan terbuka kitab-kitab manakah yang akan mendapatkan status ini. yaitu (presumably) menyiratkan bahwa dia (dan mereka yang menghukum dia karena vandalismenya) sudah tahu surat-surat itu dalam bentuk mereka yang lebih penuh (lengkap).. tidak konsisten. paling tidak. mereka bukan hanya sekadar semua kitab-kitab yang kebetulan ada. lagi-lagi. dari pada yang tampaknya pada kita sekarang ini. dan bukan satu bangsa. dokumen-dokumen yang ditemukan dalam penggalian di Nag Hammadi di Mesir. yang terasa sangat mencolok manakala orang berhenti untuk berpikir betapa anehnya bahwa Gereja bisa mempunyai empat versi alternatif mengenai peristiwa dan ajaran-ajaran yang ia sendiri pandang sebagai sangat penting! Walau perlawanan Marcion terhadap keadaan perkara seperti ini sudah mati atau menghilang di antara para penggantinya. seperti Injil Thomas. Harmoni-harmoni Injil – yaitu kisah-kisah tunggal.(Masalah Markion) Tentu saja dulu sudah ada penolakan terhadap upaya perumusan (promulgation) akan satu kumpulan dari empat-Injil.55-56. sebab Gereja adalah sebuah gerakan rohani. hal itu tidak niscaya berarti bahwa seseorang secara sadar telah memilih mereka dari sebuah daftar kemungkinankemungkinan yang lebih panjang. Kumpulan kitab-kitab dalam dunia kuno adalah sangat beragam.Leiman. Conn. maka kiranya hal ini sangat boleh jadi (fairly) telah terjadi tidak lama sesudahnya: produksi surat-surat Deutero-Paulinian seperti surat-surat Pastoral itu menyiratkan bahwa orang membaca dan menilai surat-surat itu sebagai dianggap ditulis oleh Paulus.15:26 dan 16:19). yang merupakan atau dianggap sukses besar dalam beberapa gereja-gereja Timur. Beberapa di antaranya telah ditulis dengan sebuah status yang tinggi dalam hati sedari awal mula. kiranya masuk akal untuk berharap bahwa kitab-kitab sekular dan suci sama-sama akan diwakilkan atau tergambarkan dalam Kitab Suci.54 belum) Sebuah Seleksi Khusus Hal.Leiman: “[Kitab-kitab] yang diterima oleh orang-orang Yahudi sebagai otoritatif untuk praktek keagamaan dan/atau ajaran. p.Z.

dan boleh jadi ada sementara orang yang berpikir tentang satu hal dan yang lain berpikir tentang hal yang lain. Secara praktis hal ini berarti bahwa Yosefus mendukung kanon Ibrani (yang ia tahu dalam bahasa Yunani!). sedang membuat satu klaim implisit sebagai Kitab Suci sejak dari semula. Tetapi. Biasanya dipikirkan bahwa masalah itu dapat dipecahkan dengan mengatakan bahwa kanon-kanon yang lebih panjang dan lebih pendek hanya menggambarkan atau mewakili Kitab-kitab Suci dari orang-orang Yahudi masing-masing atau berturut-turut di Mesir (Alexandria) dan Palestina. dan penerimaan sebagai Kitab Suci). dengan alasan adanya inkonsistensi internal kitab itu ssendiri. yaitu. di pihak yang lain. (Ada sementara orang yang berpikir 2 Tes itu sendiri meragukan atau spurious. Pada saat Daniel dan Pkht ditulis. Pada prinsipnya adalah mungkin untuk memiliki Kitab Suci tetapi tanpa kanon. atau tanpa dipersoalkan apa-apa lagi. Atau sekaligus keduanya. Ketika para penulis PB mengacu kepada “hukum dan para nabi” sebagai suatu cara untuk melukiskan Kitab Suci Yahudi. Perjanjian Lama 75-76. poin utama yang harus dikatakan tentang proses kanonisasi (dalam artian daftar resmi dari kitab-kitab yang diterima) adalah seberapa sedikit dari padanya yang sungguh terjadi. Bahwa fakta sudah diterima sejak lama hampir merupakan segala-galanya di dalam proses pembentukan Kitab Suci. Kanon Yunani mempunyai otoritas potensial karena Paulus memakai kitab Kebijaksanaan. ketika dipakai mengenai teks-teks Kitab Suci. Kemerosotan (demise) dari kanon yang lebih panjang dalam Yudaisme kiranya merupakan suatu konsekwensi dari naiknya (ascendancy) pada akhirnya Yudaisme Palestina di atas varietas Alexandria. khususnya di Mesir. Yang satu adalah proses yang dilukiskan dalam Bab 3: yaitu tahap-tahap dengan mana teks-teks tertentu akhirnya dipandang sebagai suci dan berwibawa. Tetapi. memakai sebagai kriteria untuk inklusi bukannya suatu keputusan atau perintah dari beberapa otoritas yang kompeten. tentang apakah Kitab Sirakh dan Kidung Agung itu “menajiskan tangan-tangan. menulis dalam bahasa Yunani tetapi dari suatu latar belakang konteks Palestina. Teks Ibrani dan Aramaik yang utama sudah ada atau tersedia begitu sajja – otentik. tidak memakai apa yang kiranya akan dikenal sebagai kitab-kitab Apokrif – boleh jadi ini merupakan sebuah konfirmasi sedikit bahwa kedua kanon itu masing-masing merupakan Kanon di Alexandria dan Palestina. dengan dasar karena ia berkonflik dengan Torah (lihat di atas). Sejumlah kecil keraguan juga dicatat sehubungan dengan kitab Yeheskiel. Orang dapat membayangkan hal ini dengan mudah dalam kasus kitab Daniel.). Tetapi tentu saja ada suatu kesenjangan besar dalam pengetahuan kita di sini: karena hal ini meninggalkan suatu pertanyaan mengenai PL Yunani yang lebih panjang. dan oleh karena itu teks itu mempunyai otoritas dalam hal usia. Surat-surat Paulus mungkin sudah terkumpul dalam satu korpus sebelum 2Ptr ditulis. demikian juga kanonisasi buku-bukutertentu boleh jadi sudah terjadi sangat dini dalam sejarah. Barangkali hal ini terlalu menyederhanakan masalah. Kitab Ulangan dan mungkin Injil Yohanes. Dan pada saat itu banyak kitab lain dalam Kitab Suci Ibrani belum ditulis sama sekali. tetapi sebenarnya tidak berbuat demikian. pengumpulan. Kadang-kadang orang berbicara tentang “kanon” Kitab Suci. Adalah tidak enak memakai istilah “kanonisasi” untuk menyebut baik tentang pengakuan akan satu kitab sebagai Kitab Suci dan tentang keputusan bahwa ia termasuk dalam satu daftar resmi sementara yang lain tidak – dan karena itulah sampai sekarang ini saya menghindari istilah itu. walaupun bersifat membangun. Adalah juga penting bagi Philo dari Alexandria. akhirnya dipandang sbagai Kitab Suci. tiga tahap itu saling tumpang tindih. Semua kitab-kitab yang sekarang ini ada dalam Kitab Suci Ibrani pada akhirnya dimasukkan secara pasti. dan bahwa tidak ada sesuatu yang lain lagi yang dapat menyaingi otoritasnya bagi orang-orang Yahudi. baik dalam Yudaisme dan Kristianitas. Kapan Daniel. dapat juga diperluas ke proses atau tahap yang keempat. Apakah hal-hal ini asli atau tidak? (Itulah yang menjadi pertanyaan kritis-historis kita). barangkali apa-apa saja yang mereka ingin mendapatkan salinannya. yang ada dalam Kitab Suci. memberi perintah bahwa surat-surat yang meragukan (spurious) yang diandaikan (purporting) datang dari dia harus diabaikan. Hal. para rabbi tidak undoubtedly membicarakan kitab Sirakh. kitab ini tidak diakui sebagai kitab suci. ditulis. Tetapi kini saya harus menjelaskan alasannya. Dan Tertullianus. “hukum” itu sudah pasti atau tentu tetapi “para nabi” itu masih tetap merupakan sebuah daftar yang terbuka. (Seperti halnya Buddhisme). Ada suatu teks di dalam Mishnah (Yadaim 3:5) yang mengatakan bahwa memang ada pertikaian-pertikaian. ditemukan di Kairo pada tahun 1896.Perlu disadari bahwa tiga proses yang telah kita pelajari sejauh ini jelas berbeda satu sama lain. Secara menyeluruh. Tetapi penting juga disadari bahwa tiga hal itu bukan tiga tahap sejarah yang jelas berbeda dalam proses perkembangan Kitab Suci. pada abad kedua M. sebagaimana yang akan kita lihat. Tampknya tidak ada kitab lain yang telah menjadi subjek dari suatu peraturan. tetapi hanya (berdasarkan) tanggal dari kitab itu saja. proses ke arah itu disebut “kanonisasi”.” seraya mengusulkan bahwa Gereja sudah mulai melarang teksteks tertentu – walau pada waktu itu isi dari PB sama sekali belum ditetapkan secara pasti. Kata “kanonisasi”. adalah hanya di pinggir-pinggir saja dari suatu kanon bahwa keputusan-keputusan sungguh dituntut dalam salah satu agama: sebagian terbesar dari kitab-kitab biblis hanya diterima begitu saja dari masa silam dan diturun-alihkan ke masa depan. Sejarawan Yahudi Yosephus. sebab ada banyak kontak antara kedua pusat dari Yudaisme itu sebenarnya. ada faktor kesepakatan para rabi. yang dianggap agak kemudian dan rada tidak biasa. Demikianlah dapat terjadi bahwa dalam perjalanan sejarah ada kitab-kitab yang lain yang tidak dikanonisasi (non-kanonisasi). dan tentang Amsal. Jangan sampai dipikirkan bahwa seakan-akan selama beberapa abad orang menulis buku-buku. Paulus. Judaisme memperlihatkan suatu kecenderungan yang kecil untuk melegislasi tentang kandungan dari Kitab Suci. yang mengacu kepada mereka seakan mereka sudah merupakan satu karya yang akrab (bagi para pembacanya). Saya sendiri beranggapan bahwa masalah itu boleh jadi erat terkait dengan fakta bahwa nama suci-ilahi. bahwa karya-karya itu ditolak secara resmi dari kategori sebagai Kitab Suci. tanpa diajukan satu pertanyaan apa pun juga. dan hampir tidak ada suatu bukti apa pun bahwa ada pertikaian tentang hal ini. karena ia merupakan teks primer yang dibacakan secara publik pada pesta Purim. Kitab-kitab suci hanya terus mengakumulasi sampai ada lebih dari satu orang yang bisa membaca. Baru sesudah itulah “dikanonisasi” dalam artian diterima secara resmi sebagai bagian dari satu daftar yang terbatas. lalu ada lagi tahap di mana orang melihat semua buku itu sebagai Kitab Suci. apa yang ditulis sesudah kurun waktu itu. Maka hal ini bukan hanya sekadar masalah bahasa saja yang membuat beberapa kita mampu menemukan jalan mereka ke dalam kanon Yahudi sementara kitab-kitab yang tertinggal di luarnya. Pada gilirannya dua hal ini tidak sama dengan upaya mulai memperlakukan kitab-kitab itu sebagai Kitab Suci. Bagian-bagian penting dari teks Ibrani kitab Sirakh. Poin yang dikatakan di atas tentang tumpang tindih antara tiga proses awal atau pertama kita (penulisan. apakah sungguh berdasar atau tidak) bahwa mereka selama ini sudah selalu dihormati. tetapi tidak apa-apa dalam tradisi Yahudi). tetapi tetaplah harus diingat bahwa sebagian besar dari kitab-kitab tambahan itu dalam kanon LXX aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani juga. ada sebuah surat oleh Origenes tentang Susanna. tidak lagi demikian. sang penulis Yahudi yang merupakan orang sejaman Paulus tetapi agak sedikit lebih tua dari pada Paulus. maka masalah itu kiranya tidak akan pernah muncul juga ke permukaan – melainkan apakah mereka harus diperlakukan dengan sikap dan perhatian yang sama seperti yang selalu selama ini diperlihatkan atau ditunjukkan kepada kitab-kitab yang memang disebut Kitab Suci itu. yang dilestarikan dalam manuskrip-manuskrip Kristiani tetapi yang tentu saja merupakan produk dari Yudaisme dalam daerah-daerah yang berbahasa Yunani. dan nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan oleh tiga orang Pemuda di dalam tanur api itu. Begitulah Pentateukh mungkin sudah dikumpulkan dan dipandang sebagai suci sebelum beberapa dari nabi-nabi kemudian lahir. makna-makna tersembunyi. alias tidak dapat masuk kanon. Aktifitas menulis buku tidaklah sama dengan proses atau aktifitas mengumpulkan buku. Pada satu titik tertentu. Yudaisme rabinik kiranya telah memutuskan bahwa Kitab Suci Ibrani yang lebih pendek lebih disukai untuk dipilih dibandingkan dengan daftar yang lebih panjang dari LXX (Septuaginta). dan ada peraturan-peraturan yang eksplilit bahwa. tetapi ada sebuah penumbra dari karya-karya tentang mana yang setuju atau disetujui. yang dipandang secara keliru seakan-akan keduanya itu tidak berbeda. dan tidak seorang pun merasa untuk memaksakan titik silang (cut off). Jadi. sebagaimana telah dicatat di atas. Adalah penting untuk melihat bahwa dua hal ini adalah dua hal. Yang menarik ialah bahwa ada petunjuk bukti yang kemudian bagi persoalan-persoalan tentang apakah Esther itu bisa menajiskan tangan atau tidak.2:2.74-75.” Ide yang aneh ini (dipandang sebagai aneh pada saat itu – bagaimana mungkin sebuah kitab suci dapat mendatangkan kenajisan atau defilement?) telah ditafsirkan sebagai menyiratkan bahwa beberapa orang telah meragukan tentang status kitab suci dari kedua kitab ini. Dua hal ini mutlak. Ada proses keempat yang harus ditempuh sebelum Kitab Suci mulai ada dalam bentuk seperti kita memilikinya sekarang ini. Sampai saat ini saya berusaha menghindari pemakaian kedua kata itu. Maka tidak dapatlah dipahami kalau ada orang yang mencoba untuk membuangnya dari kanon. Jadi. hal itu tampak paling jelas dalam kasus Kitab Suci Ibrani. dalam akademi rabinik yang didirikan di Yahnah setelah runtuhnya Yerusalem ke tangan orang-orang Roma pada tahun 70 M. dari mana komunitas-komunitas dan para penulis Yahudi memilih apa-apa saja yang mereka sukai atau. Begitu juga halnya dengan PB. karena Paulus memakai Kebijaksanaan. dan sering dikutip (aptness) dengan kalimat-kalimat seperti “sebagaimana ditulis dalam Kitab Daniel. Kitab Suci itu tumbuh dengan satu cara yang sangat acak-acak (untidy) dan tidak ada satu pemikiran apa pun yang bisa mengubah fakta sejarah itu. Tetapi sebagaimana halnya proses-proses yang lain saling tumpang tindih secara kronologis. Apa yang tidak selalu diperhatikan (yang selalu luput dari perhatian) ialah diskusi Yosefus sendiri tentang kanon. sebegitu jauh yang dapat kita katakan atau sampaikan. Dalam kasus ini pertikaitan bukanlah mengenai apakah mereka itu adalah kitab suci – kalau mereka memang bukan kitab suci. dan hal ini adalah sesuatu yang logis-logis saja. baru kemudian dikumpulkan ke dalam satu kumpulan atau batang tubuh. dan adalah mungkin untuk dikatakan bahwa berdasarkan gaya dari kitab-kitab yang lain bahwa mereka juga merupakan terjemahan-terjemahan dari teks asli dalam bahasa Ibrani. misalnya. dan bahwa semua kitab-kitab Yahudi yang lainnya membentuk atau merupakan sebuah kategori yang longgar (fluid). Tetapi dalam teorinya kanon itu tidaklah bersifat tertutup: kitab-kitab tua yang baru saja ditemukan kiranya harus dipertimbangkan sebagai calon 21 . Yudaisme sudah mempunyai “Kitab Suci”. karena Daniel telah bernubuat pada abad keenam SM. dan yang belum ditetapkan (proscribed) oleh seorang pun juga. YHWH. Di sini orang pun bertanya: Kapan Daniel dikanonisasikan? Artinya. kriteria untuk memakai dan mengacu atau menghormati kitab-kitab tertentu adalah fakta (atau kepercayaan. Suatu pemecahan yang lebih baik ialah mungkin untuk berpikir bahwa hanya Pentateukh sajalah yang benar-benar penuh berciri kanonik – yaitu. dan bahwa ini adalah suatu cara ingenious untuk meletakkannya melampaui penghinaan. lalu ada kurun waktu orang mengumpulkan kitab-kitab itu. mengacu kepada daftar-daftar dari kitab-kitab yang “terlarang. Yang jelas. dalam 2Tes. dan karena itu ia pun dapat berkata bahwa ada hanya 22 kitab-kitab suci saja bagi orangorang Yahudi. Dan walaupun kita membedakan dua macam daftar sebagai “Ibrani” dan “Yunani”. Beberapa kitab sudah dipandang sebagai Kitab Suci sebelum kitab-kitab yang lain. Jelas adalah benar sehubungan dengan suatu karya tertentu bahwa ia mula pertama ditulis. Esther juga tidak mempunyai nama suci itu. sebagaimana yang telah kita lihat dalam Bab 2. tetapi merupakan bagian inti dari Kitab Suci bagi para rabi. dengan semua implikasi-implikasi yang baru saja disebutkan tetnang hal penerapan universal. cenderung untuk berarti dua hal sebagai berikut ini. Dengan demikian. dan kemudian akhirnya diakui sebagai Kitab Suci. Kita tidak mempunyai catatan-catatan mengenai suatu diskusi atau perbincanngan mengenai hal ini (pada pihak orang Kristiani. dan mengandung (appends) tanda tangan dia sebagai bukti otentikasi atas suratnya (3:17). tidak muncul dalam kedua kitab itu.” Maknanya yang kedua ialah perkembangan dari sebuah daftar (itulah arti asli dari kata kanon dalam bahasa Yunani) yang mencakup semua Kitab Suci dan yang efeknya berarti mau mengatakan bahwa tidak ada buku lain yang mempunyai status yang sama seperti ini. Otoritas potensial dari kanon Yunani itu dapat dilihat dengan mudah. Kiranya sudah jelas pada akhir abad keempat SM bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat ditambahkan pada Pentateukh. dipertahankan melawan penambahan atau pun penyisipan (supplantation) – pada abad pertama SM. sementara dia mengakui hanya kitab-kita dari Kitab Suci Ibrani yang ada. relevansi dengan jaman. dengan beberapa kitab sudah “tiba” sebelum yang lain-lain sudah ditulis. dan tidak satu. ada faktor kesepakatan dalam pemakaian liturgis. Tetapi ada juga tambahan-tambahan sedikit – kisah-kisah mengenai Susanna dan bel dan Naga. Setiap kitab yang ditulis sebelum kematian Artaxerxes secara potensial bersifat skriptural. Judaisme dan Kristianitas kiranya telah menelusuri lorong yang penuh konflik darah itu. seperti halnya dalam banyak agama-agama lain di dunia ini.

beberapa para penulis PB secara tidak diragukan lagi mengutip dari kitab-kitab yang sekarang ini ada dalam Apocrypha. yang bernama Marcion. Yesaya atau Mazmur. Ada satu kesepakatan umum bahwa orang pertama yang membuat daftar seperti itu adalah seorang Kristiani heterodoks. dan versi terjemahan Latinnya yang semula. Begitu orang-orang Yahudi telah memutuskan kanon Ibrani yang lebih pendek.” Misalnya. yaitu kitab Wahyu. (Tetapi muncul pertanyaan kritis yang menggelitik dalam diri saya. melainkan mengikuti tata urut LXX. yaitu dari Eusebius dan dari Athanasius. Ia mengutip Injil-injil seakan-akanmereka adalah padanan Kristiani untuk PL itu. Dalam kategori ketiga ini termasuk buku-buku seperti Shepherd dari Hermas itu. melainkan tercampur-baur dalam dan dengan kitab-kitab Ibrani dari jenis yang sama: Kebijaksanaan dan Sirakh di samping Amsal dan Pengkotbah. demikian menurut Eusebius. tetapi tidak banyak dipakai. Petunjuk bukti PB tidak mendukung suatu pernyataan doktriner bahwa apa yang disebut sebagai Apokrif itu tidaklah kanonis bagi para penulis ini. Dengan tekun (duly) ia mengusulkan bahwa Kitab Sucinya yang baru. yang mempunyai satu pernyataan paling jelas dari ide Paulus bahwa Kristus telah menyelamatkan para penganutNya dari “kutuk hukum” – yang oleh Marcion dipahami sebagai pembebasan dari Yudaisme. maka tidak ada penulis-penulis Kristiani dari abad-abad awal yang tampaknya telah sadar akan hal ini. Ia dengan tekun (duly) menyerahkannya (commended) kepadanya kepada gereja. Kitab-kitab yang ada termasuk dalam salah satu dari tiga kategori. tetapi hampir tidak pernah memakai mereka juga. dan tidak lagi memandang mereka sebagai sepenuhnya kitab suci. tetapi menyebut mereka sebagai “apokrif” (yang artinya kitab-kitab yang tertutup) atau “kitabkitab gereja. dan apakah mereka persis sama dengan kitab-kitab Ibrani yang ada sekarang ini. kalau memang dapat disebut demikian. dst. yaitu Vetus Latina. Resolusi konflik. (Daftar dari Eusebius dan Athanasius) Ada dua daftar klasik dari abad keempat. dan hal itu secara luas dipandang sebagai liar (inflamatory). halini mendorong para penulis ortodoks memperthankan PL dan menetapkan tempatnya yang paling tepat dan sebaiknya dalam Gereja. dan Agustinus dari Hippo (354-430). 2Petrus. Dari diskusi ini muncul sejumlah poin penting yang harus kita cermati baik-baik. Jika kita tertarik dengan yang praktis dari pada dengan posisi atau pendapat yang teoretis. yaitu kitab-kitab yang diakui secara universal. yaitu kitab-kitab yang statusnya diperdebatkan. pada akhir abad I. yang disusun sedemikian rupa sehingga dimulai dengan Galatia. Begitu juga orang seperti Yustinus Martir. kita mau tidak harus mengatakan bahwa bagi PB kanon itu hampir identik dengan Kitab Suci Ibrani. Alih-alih memegang satu PB yang didefinisikan secara kabur. Perjanjian Baru Sudah sangat dini orang Kristiani mulai mengumpulkan tulisan-tulisan para penginjil dan para penulis surat. sang penerjemah Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Yudas. yang hanya melanjutkan saja memakai kitab-kitab Yunani tambahan walau seakan-akan mereka tidak pernah ada. yaitu kitab-kitab yang harus ditolak karena dicurigai (spurious). apostolik. dalam artian sebuah kitab yang memang mempunyai kitab-kitab Ibrani tetapi dengan tata urut Yunani. Sering sekali dikatakan bahwa. Walau kitab-kitab tambahan masih terus disebut apokrif atau deuterokanonik. Gereja-gereja Timur sering sekali meragukan kitab ini. ternyata hal ini tidak membawa suatu perubahan praktis apa-apa pun juga – khususnya karena kitab-kitab ini tidak dicetak khusus (hived off) dalam bagian yang khusus (seperti halnya dalam beberapa versi cetakan protestan). tetapi dikutip sangat sedikit saja dalam sebagianbesar para penulis Kristiani awal. 3) notha. upaya Protestan untuk memulihkan Kitab Suci primitif dan otoritatif berhasil dalam menghasilkan sebuah Kitab Suci yang tidak pernah dikenal oleh seorang Kristiani mana pun sampai saat itu. Marcion membentangkan satu preseden yang kemudian diikuti oleh sebagian besar Gereja (mayoritas). tetapi ia menunjukkan bahwa ia memang berada di pinggiran (marginal). secara tradisional terhidup 24. Sebagaimana yang telah kita lihat. Dalam surat itu ia mengutip surat Paulus kepada orang di Korintus. sebaliknya. tetapi ada juga yang menduga bahwa kitab ini meragukan. Tetapi ada satu kasus khusus. Untuk itu Eusebius membedakan tiga macam kategori: 1) Homolegoumena. dan skriptural. dan sebenarnya terus melangkah lebih jauh dengan melakukan perjalanan mencari fakta di Palestina untuk mencari dan menemukan secara pasti apa yang menjadi ketetapan atau batas-batas dari Kanon Ibrani itu. Kitab-kitab ini dihormati secara luas pada Gereja awal tetapi mereka tidak diakui sebagai kanonik pada gereja-gereja arus utama pada masa Eusebius. (Athanasius) Hal yang persis sama adalah juga benar sehubungan dengan Bapa Kristiani yang lain. tetapi nyatanya masih dipakai juga. Paradoksnya. mereka mencapai hal ini hanya memindahkan kitab-kitab tambahan itu yang berasal dari kanon Yunani itu. hanya tanpa beberapa buku tertentu saja. ada perbedaan sikap dan perlakuan juga). sejak saat itulah mulai muncul daftar-daftar. Tetapi tidak semua orang Protestan seluruhnya merasa bahagia dengan perubahan ini. dan memakai judul Apokrif untuk kitab-kitab itu. Maka dengan tepat dapatlah dikatakan bahwa Kitab Suci Protestan itu adalah sebuah hibrida. maka ini juga bahkan jauh lebih jelas benar lagi di mana menyangkut kanon fungsional. tatkala ia menetapkan “kanon” ini. Sehingga. Klemens dari Roma menulis surat kepada jemaat di Korintus. dan dengan gigih mengatakan bahwa PL Gereja harus hanya mengandung kitab-kitab yang ada dalam Kanon Ibrani saja. Pada saat penyusunan Mishnah. Sikap Agustinus ini tetap merupakan sikap yang resmi dari Gereja Barat sampai jaman Reformasi Protestan itu. bukannya tidak seperti kitab-kitab deuterokanonika dari PL itu. pandang sebagai Kitab Suci. (Seperti susunannya dalam LXX itu). yang lain-lainnya tidaklah serba pasti). kanonisitas pada umumnya bukan satu persoalan sekadar “luar” atau “dalam” saja: ada juga satu kategori marginal dari kitab-kitab yang statusnya tidak jelas. Mungkin lebih baik dipikirkan bahwa Marcion hidup pada kurun waktu ketika perhatian pada batas-batas teoretis dari Kitab Suci Kristen baru saja mulai muncul. tetapi yang lebih menarik ialah kategori-kategori yang dipakai untuk mengklasifikasi pelbagai kitab-kitab yang ada. (Faktor Pengaruh Marcion) Tetapi apa yang tidak kita temukan adalah suatu daftar yang menunjukkan mana teks-teks Kristen yangmempunya status khusus ini dan mana yang tidak. Akibatnya ia tetap berada dalam kategorinya sendiri (juga bukan berarti Eusebius merasa yakin tentang hal itu juga). dan tidak ada kitab-kitab lain yang tidak mereka setujui walau ada orang-orang lainyang memberinya otoritas (ini termasuk kateogi ketiga). tetapi tidak pernah membaca kitab-kitab itu secara khusus juga). selalu telah mencakupkan kitab-kitab tambahan itu.” dengan kontras dengan kitab-kitab kanonik dari Kitab Suci Ibrani. Surat Barnabas. dan hampir tidakbisa tidak menyadari bahwa orang-orang Yahudi hingga saat itu tidak memberi tempat kepada kitab-kitab apokrif itu sama sekali. Bagaimana pun juga apakah mereka terdorong oleh kebutuhan untuk menolak Marcion. Tetapi karena mereka masih tetap muncul dalam Kitab Suci Latin. juga sama-sama telah menyatakan diri mendukung kanon yang lebih pendek itu. Di dalam kategori ini termasuklah kitab-kitab berikut ini. Kalau memang demikian duduk perkaranya. (mungkin seperti sikap sebagian besar orang katolik dewasa ini. sehingga PL Protestan tidak mengikuti tata urut dari Kitab Suci Ibrani lagi. Tetapi bagaimana hal ini terjadi. Menurut Eusebius. masih tetap besar sekali juga sesudah ia telah memutuskan untuk demikian (mendukung kanon yang lebih pendek itu). Rasa sukanya sendiri akan kitab-kitab apokrif. dan Hikmat – walau hal ini tetap saja mungkin. baik untuk studi pribadi maupun untuk dibacakan di depan publik di gereja (suatu langkah yang berani tentu saja). Nabi-nabi. Tobit dan Judit di samping Ester. (Bagaimana cara Yosephus menghitung kitab-kitab itu. itu tidak lain karena spekulasinya tentang masa depan. ataukah harus tetap setia pada Kitab Suci Yunani yang lebih panjang yang telah menjadi sesuatu yang biasa bagi sebagian besar para penulis dari abad pertama Kristianitas atau sekitar itu. Kaum Anglikan tetap gigih mempertahankan kitab-kitab apokrif itu. Lutheran hanya untuk studi pribadi saja. 2) antilegoumena. Yakobus. dan Kitab Kebijaksanaan-lahyang paling penting dari antara itu semua. Agustinus menerima seluruh kanon Yunani.untuk dimasukkan ke dalam kanon. adalah tidak mungkin untuk mengatakan bahwa kanon PL yang dipakai oleh gereja PB adalah persis sama dengan Kitab Suci Ibrani saat ini. 2-3Yohanes. tentu jauh lebih kurang dari pada karya volume I yaitu Injil Lukas. dengan mengatakan bahwa LXX. yang mengakui Deuterokanonika sebagai kekhasan mereka. Tetapi Agustinus menentang hal ini dengan sangat kuat. Petunjuk bukti dari PB tidak banyak membantu kita. Tetapi para pembaharu Protestan. kitab ini bisa termasuk dalam kategori pertama atau ketiga. yaitu kitab-kitab yang konon diperdebatkan. di satu pihak. ini sebuah eksperimen historis baru). ada yang menganggap dia sebagai kitab yang diakui secara universal. Yang menarik ialah kategori kedua. Isi daftar mereka sangat mirip dan kurang lebih mirip dengan PB kita (yang lebih mirip ialah daftar dari Athanasius itu). yaitu Athanasius (sekitar 296-373). tetapi yang dibaca secara luas dalam Gereja. para penulis Kristen dari pertengahan abad kedua dst mulai menaruh perhatian pada soal ketetapan tentang apakah kitab “PB” memang benar-benar terilhami. (Kontroversi Hieronimus dan Agustinus) Satu-satunya kontroversi yang nyata atas kanon PL pada abad-abad awal mula adalah di antara Hieronimus (sekitar 345-420). orang-orang Kristiani pun cepat atau lambat mau tidak mau akan bertanya apakah mereka harus mengikuti ketetapan itu (suit). Apa yang kita lihat di sini adalah sebuah fenomena terhadap mana studi-studi akan kanon biblis sering sekali memberi perhatian yang sangat sedikit juga: bahwa kanon teoretis yang dipegang orang jarang sekali sama dengan kanon fungsional mereka. kaum ortodoks. pemakaian yang dilakukan atas kitab-kitab yang (kini) tidak-kanonik adalah sangat kecil jika dibandingkandengan pemakaian yang sangat banyak dari kitab-kitab pokok seperti Kejadian. yang oleh para penulis Kristiani secara universal dipandang skriptural. (Jadi. harus mengikuti daftar Ibrani yang lebih pendek. Para penulis Kristen sering sekali memakai kitab-kitab yang mereka tidak pandang sebagai kanonik. Daftar yang ia punyai sangatlah pendek – expurgate – yang dibersihkan dari semua unsur-unsur Yudaisme – dan beberapa surat-surat Paulus. (Jadi.. Vulgata. dan bahwa dia kebetulan menjadi kesaksian kita yang paling awal ke arah perkembangan ini. Secara khusus adalah menarik bahwa Hieronimus sendiri masih tetap memakai dan mengutip kitab-kitab deuterokanonik sebanyak sebelumnya juga setelah pertikaian dia dengan Agustinus. satu angkatan sebelum Hieronimus. yang tidak dapat seluruhnya kita ketahui. mengapa sampai terjadi demikian? Apakah ada alasan teologis tertentu? Tidak mudah menjawab 22 . Mereka semua serta merta melihat arti penting Marcion. dibantu di dalam karyanya oleh sejumlah para penasihat Yahudi. Semua para penulis Kristiani mempunyai kitab-kitab yang sering sekalimereka pakai secara penuh (ini termasuk dalam kategori pertama). bukan hanya dari dua saja. Tetapi. para penulis Kristiani gariis utama (diduga begitu) mulai sibuk (goad info) daftarkan kitab-kitab yang mereka. (Jadi. awalah bahwa Hieronimus menerjemahkan kitab-kitab tambahan itu. Uskup dan teolog Melito dari Sardis (wafat sekitar tahun 190 M) mengangkat masalah itu menjelang akhir dari abad kedua. kembali ke posisi Hieronimus itu. Hieronimus telah lama menetap (tinggal) di Betlehem. yang. tetapi keduanya mengumpulkan kitabkitab tambahan ini dalam sebuah apendiks bagi Kitab Suci. Kita masih belum tahu bahwa Kitab Suci memiliki bentuknya yang sekarang ini yaitu Hukum. khususnya akan kitab Kebijaksanaan Salomo. Tidak lama berselang mereka menganggap kumpulan-kumpulan itu sebagai naskah berwibawa dan “skriptural. Kalau ini benar menyangkut kanon yang resmi. Contoh yang baik untuk yang pertama ialah Kisah. yang secara teratur dikutip oleh para pemimpin dan para guru Kristiani sebagai Kitab Suci. Itu sudah kita tahu. Kitab Suci Ibrani tentu saja sudah berada dalam pedomannya yang sekarang ini ada: tidak ada kitab lain yang pernah dikutip di sini. seakan-akan ia mempunyai daya ikat yang sama seperti Kitab-kitab PL itu. yaitu terletak dalam sikapnya yang menolak PL. dan Didache (Ajaran Para Rasul). sebagian besar orang tidak membedakan mereka dari bagian lain dari Kitab Suci itu. ada beda antara kanon teoretis dan kanon fungsional). Pertama. mereka menerima beberapa kitab sebagai kanonik. Di pihak lain. atau pada prinsipnya ditolak. Tampaknya tidak seorang pun telah berpikir bahwa penetapan Marcion akan kanon PB memang mempunyai daya pengaruh juga. artinya. Yang lain-lain yang kita tahu sekarang ini sebagai PB merupakan buku-buku yang disepakati bersama (jadi termasuk dalam kategori pertama tadi). Tetapi selalu ada kitab-kitab yang ada di wilayah penumbria yang entah pada prinsipnya diterima. pada abad kedua M. ini adalah sebuah misteri sejarah.

Yang satu adalah arti penting yang diberikan kepada ide. termasuk Kodeks yangbesar dan bergengsi. tetapi dalam segi yang lain daftar itu identik dengan daftar kita sendiri. Kisah Para Rasul dan Surat-surat yang disebut Katolik. tipe kedua dapat dilihat dalam Gembala Hermas itu. ketimbang sebagai sebuah Kitab Suci dalam dirinya sendiri – dari situlah datangnya fakta sejarah bahwa para penulis semula sering mengutip Injil-injil secara tidak akurat! Rasa suka dan pilihan orang-orang Kristen yang lebih condong kepada Kodeks dari pada gulungan kitab mungkin mencerminkan ide ini bahwa Injil-injil yang tertulis adalah informal. puisi-puisi dan ucapan-ucapan yang diturun-alihkan secara lisan ketimbang dalam bentuk tulisan. Tetapi. Orang-orang Kristiani perdana terutama sekali kuat melekat dan menganut titik pandangan ini. seperti semua homolegoumena lain. dengan satu istilah teknis. tanpa tambahan atau penghapusan. Hingga dewasa ini. kepada orang-orang Filipi. ada satu. kisah-kisah tentang Elia dan Elisa. dalam liturgi ekaristi dan ofisi ilahi). Satu aspek yang penting dari PB. Dan beberapa kitab skriptural – yang paling jelas adalah surat-surat Paulus. misalnya. membagi dua dokumen dan kemudian mengembangkan masing-masing bagian dengan satu cara yang baru. jika tidak ortodoks kiranya ia telah dibuang ke dalam gudang karya-karya heretik saja. para ahli tulis. satu surat kepada Titus. Semua ini menegaskan bahwa pengakuan akan kitab-kitab tertentu sebagai Kitab Suci seluruhnya merupakan satu proses alami belaka. satu dari Yudas. di mana kita merasa perlu tahu jawaban atas satu soal. sebagaimana halnya tulisan-tulisan dari satu pribadi yang khusus dengan satu pesan khusus untuk disampaikan.pertanyaan ini). praksis sebagian besar tidak diragukan. dengan mengubah-ubah hal ini agar bisa cocok dengan tujuan-tujuan mereka yang khusus – dengan menghasilkan edisi-edisi baru. walau saya telah mengusulkan bahwa kata ini adalah lebih baik disimpan untuk tahap terakhir dari perkembangan itu – yaitu tahap pada mana dinyatakanlah secara positif bahwa tidak ada kitab-kitab lain lagi dari yang ada dalam daftar itu yang 23 . melainkan dalam artian bahwa ada satu kelompok besar dan elit orang yang sangat melek huruf – kira-kira sama tingkat melek hurufnya seperti dewasa ini – dan yang menghasilkan tulisan yang canggih bagi orang-orang sejaman mereka untuk dibaca. demikian juga halnya sebagian besar orang-orang Kristiani. dan ada sebuah akhir. sebagai langkah awal. Nah. kepada orang-orang Kolose. kemudian. Dan selain itu. kisah-kisah. Kedua. Yang pertama ialah proses dengan mana pelbagai macam kitab yang sekarang ini membentuk Kitab Suci akhirnya ditulis dan terdapat dalam bentuk tertulis.dalam artian membuat daftar eksklusif kitab-kitab untuk diterima sebagai Kitab Suci. yang menambah (dan kadang-kadang juga menarik atau membuang keluar sesuatu. ada awal. Jadi. kemudian. Kedua. lalu. dan surat kepada orang-orang Ibrani. sebab dalam gereja Katolik. Ia tidak memberi jawaban sama sekali. ada dua faktor yang membuat situasi di jaman kuno itu sangat berbeda dari situasi di jaman kita sekarang ini. dan apakah kitab-kitab itu kanonik atau tidak kanonik. dan kadang-kadang muncul dalam manuskrip-manuskrip biblis. Baik dalam jaman PL dan PB ada orang yang disebut. Misalnya. kitab ini dibaca secara luas. melainkan sering sekali menghasilkan tulisan yang original dan kreatif. tetapi beberapa kecenderungan dan prinsip umum dapat dilihat dengan jelas juga. dan pelbagai komite gerejawi mawih berdebat apakah cocok untuk membaca Kitab Wahyu dalam gereja atau tidak. Hanya di wilayah-wilayah pinggir sajalah dari Kanon bahwa sebuah daftar seperti itu menjadi satu aturan atas satu topik kontroversial. dan akhirnya. Pada saat yang sama. agar dia yang haus bisa dipuaskan dengan kata-kata yang hidup yang terkandung di dalam mereka. dari Peter. Namun demikian. Perhatikan bahwa di sini penyusunan yang lama. dan justru karena itu mereka pun membaca Eusebius: dengan harapan ia dapat memberi mereka jawaban atas pertanyaan itu. Namun demikian kedua proses itu adalah sangat kompleks. ada empatbelas surat dari Paulus sang Rasul. yang dibuat Eusebius ialah mengidentifikasi area yang tepat dari fuzzyness itu. dan kitab-kitab yang diragukan jarang-jarang atau diterima. kadang-kadang bahkan sampai memandang Injil-injil yang tertulis terutama sekali sebagai repositories dari bahan yang bisa mengingatkan sang pewarta atau sang guru tentang kisah mengenai Yesus. Eusebius pun mempunyai kategori yang keempat. para penulis kuno mempunyai satu ide yang berbeda dari kita mengenai apa yang merupakan komposisi asali. seperti. tidak seorang mulai menganggap serius Injil Mateus karena Eusebius telah mendaftarkannya. mereka itu ortodoks tetapi tidak kanonik. Notha yang ditetapkan oleh Eusebius (kitab-kitab yang meragukan tadi) bukanlah kitab-kitab yang tidak boleh dibaca dengan alasan bahwa mereka itu tidak ortodoks dan karena itu dianggap bisa menyesatkan. dan Yohanes. dan justru di sinilah ia tidak memberitahu kita apa yang perlu kita ketahui. dua surat kepada jemaat di Tesalonika. logisnya ia termasuk dalam kategori 1 dan 3. dua surat kepada jemaat di Korintus. Kedua adalah proses dengan mana mereka akhirnya mereka diterima sebagai Kitab Suci. nah. toh sebagian besar orang Kristiani yang membaca Kitab Suci tahu bahwa hal ini tidak demikian sebenarnya. Untuk sebagian besar. kenangan-kenangan historis mungkin beredar selama banyak tahun secara lisan sebelum ada seseorang yang menuliskan mereka – hal ini kiranya secara khusus benar sehubungan dengan jenis-jenis bahan legendaris. Tetapi lagi-lagi. telah diputuskan orang-orang Kristiani sebagai tidak merupakan bagian utuh dari PB. Sama sekali tidak seperti itu. yang terus menerus dibaca pada masa Gereja purba jauh setelah ia dinyatakan tidak kanonik. Dan di mana ada keraguan. walau kita sekarang mempunyai kitab suci dalam mana semua kitab dicetak dalam format yang sama dan karena itu tampak seakan-akan mereka itu mempunyai status yang sama. Sebagai tambahan. Ini adalah keempat Injil. yang dibagi dalam bagian-bagian untuk dibacakan di muka umum dalam Gereja. tetapi juga beberapa kitap PL seperti Ruth atau Yunus – mulai hidup sebagai kitab-kitab bahkan juga sudah dalam pengertian modern kita dewasa ini. kita dapat mengatakan bahwa proses pembuatan Kitab Suci Kristiani itu sudah rampung. Itu terjadi begitu saja. dari Yohanes. dan membiarkannya tidak terpecahkan. atau akhirnya ditolakoleh kehendak (penetapan) Gereja. PB sebagaimana yang telah kita terima didukung (endorsed). Tetapi apa yang ia buat ialah hanya mengangkat dan merumuskan soal. sebagai contoh ia memberi Injil Petrus. ada tiga. Bab 6 Kesimpulan Dalam buku ini kita telah melihat pada dua proses yang terpisah. substract) dokumen-dokumen yang sudah ada. dan benar-benar reprehensible yang tidak boleh dibaca oleh orangorang Kristiani. seperti Sinaitikus itu (pertengahan abad keempat). (Ini bukan pendapat gereja Katolik. Sesudah ini. Markus. selesai.Lewis itu: sangat ortodoks tetapi jelas bukan merupakan bagian dari Kitab Suci. Sebuah paralel modern bagi kitab kuno kiranya adalah sesuatu yang lebih mirip sebuah koleksi pesan-pesan e-mail. kepada orang-orang Roma. Atau seluruh atau sebagian dari proses ini cenderung disebut sebagai kanonisasi Kitab Suci. Inilah semua yang merupakan sumber-sumber keselamatan. Di sini adalah kanonisasi dalam artian yang ketat dan keras dari istilah itu: pernyataan bahwa kitab-kitab ini dan hanya kitab-kitab ini saja yang harus dipandang sebagai Kitab Suci. dua surat kepada Timotius. ketimbang kitab-kitab dalam artian formal. dari tujuh orang rasul: dari Yakobus. Itu sama dengan cara orang Kristiani modern memandang tulisan-tulisan C. menggambungkan bahan tertulis dengan tradisitradisi lisan yang kebetulan mereka ketahui. yang digabungkan oleh orang yang menerima mereka semua dan kemudian mencetak bahan itu dalam sebuah format yang seragam yang lalu bisa menutup atau menyelubungi asal-usul mereka yang berbeda-beda (disparate). memandang tradisi lisan sebagai kurang terpercaya daripada sistem penurun-alihan dalam bentuk tulisan. dan ada banyak ungkapan-ungkapan kepercayaan justru diingat dan diwariskan berkat daya ingatan yang sangat terlatih. juga. yang ditulis dalam gaya yang sama dalam dan dirancang untuk mengungkapkan satu poin khusus tertentu. ada dua. setelah ini. Itu saja. ada tengah. Itu saja. setelah yang ini. Beberapa kebudayaan yang mengenal huruf. Oleh karena itu. tampaknya Eusebius mencampurkan dua soal: apakah kitab-kitab itu ortodoks atau tidak ortodoks. tetapi di jaman Israel kuno dulu dan di jaman Gereja purba satu gudang penyimpanan yang besar dibentangkan oleh keakuratan daya ingatan (menghafal). dan dalam kondisi seperti ini. Di Israel kuno.S. Proses pengumpulan bersama-sama kitab-kitab yang terpisah menjadi satu batang tubuh yang lebih besar. dan dalam keadaan tata kemelekan yang luar biasa prima dan mengagumkan. adalah bahwa ia mempunyai tepi-tepi yang fuzzy. adalah jelas bahwa mereka tidak hanya merupakan padanan kuno dari prosesor-kata. tetapi tetap saling terkait satu sama lain di banyak titik. Hanya di dalam kitab-kitab inilah ajaran tentang keallahan dinyatakan. Ketiga. bukannya dalam artian bahwa kemelekan itu tersebar luas dan merata ke dan di mana-mana. Sebuah kitab tidaklah jenis benda yang sama dalam sebuah kultur seperti itu seperti bagi kita – suatu entitas dengan satu bentuk yang tertentu. sebuah karya lebih buruk dari pada karya yang diragukan. dan sulit untuk dikatakanapakah ia sedang menilai soal itu menyangkut status skripturalnya ataukah ortodoksinya. masih tetap bertahan hidup. Janganlah siapa pun menambah-nambah sesuatu kepadanya. sudah disepakati oleh semua begitu saja. Eusebius hanya mengatakan pada kita bahwa ada soal. kanonisasi. heretik. Ada sesuatu yang lucu tentang deklarasi agung yang orang tampaknya tidak bisa sepakat yaitu tentang status dari 2 Petrus dan 3 Yohanes. tidak ada urusan regulasi gerejawi. Begitu titik ini sudah dicapai. seperti juga PL. dan lagi. dan ide bahwa batang tubuh ini mempunyai satu status religius yang khusus. Inti PB sudah diterima sangat dini sehingga aturan-aturan sesudahnya hanya sekadar mengakui saja apa yang sudah jelas sebelumnya. yang ditulis dalam tata urut ini: yang pertama. aturan-aturan seperti itu sering sekali membiarkan hal itu tetap ada di sana. dengan mana Kisah memperkenalkan bukannya surat-surat Paulus melainkan surat-surat Katolik. komposisi-komposisi yang seperti catatan. yang mencakup kitab-kitab yang tidak ortodoks. Banyak dari karya-karya mereka yang asli merupakan produk dari semacam konsortium para penulis yang tersebar dalam satu rentang waktu yang panjang. Kalau Eusebius tidak jelas tentang pemahaman akan 2Petrus dan 3Yohanes. dan berbeda (dibedakan) dari semua kitab-kitab yang lain. proses penulisan kitab-kitab biblis: kita sudah mencatat bahwa semua kebudayaan yang menghasilkan PL dan PB adalaah kebudayaan-kebudayaan melek huruf. dan nama-nama yang dituntut dan para pengarang yang diduga demikian (alleged). Lukas. kitab-kitab PB seakan-akan meretas jalannya sendiri ke dalam Gereja. Tatkala ia membahas kitab Wahyu. Jika ortodoks. seperti halnya kebudayaan kita sendiri dewasa ini. selama suatu kurun waktu tertentu kitab-kitab yang jelas berbeda belum atau tidak muncul. oleh satu otoritas di dalam Gereja dari abad keempat Masehi. Wahyu kepada Yohanes. surat kepada Filemon. Sebagian terbesar PL sampai kepada kita dari tangan-tangan orang seperti itu. Lalu lambat laun tumbuh sebuah konsensus. dipersaksikan sangat lemah dalam Gereja Purba. Sesungguhnya kitab-kitab itu adalah kitab-kitab yang pada masa Eusebius. walau dalam daftar-daftar seperti daftar Eusebius gereja tampaknya sedang mengidentifikasi dan menetapkan kitab-kitab PB. lengkap. Adalah tidak tedious untuk berbicara tentang [kitab-kitab] dari PB. Jadi. menurut Mateus. rumit. Sebab diandaikan para pembaca tahu akan hal itu. tampaknya ia mengganti haluan di tengah jalan. tulisan berada para urutan tingkat kedua dalam mutunya. dan walaupun kita tidak mempunyai informasi rinci tentang peranan mereka. Petunjuk bukti adalah sebuah surat yang ditulis oleh Athanasius kepada para klerusnya pada tahun 367 Masehi. jangan juga ada sesuatu yang diambil dari mereka. juga sanglah kompleks. Yang pertama.

tetapi untuk sebagian terbesar kitab-kitab yang didaftar itu seluruhnya adalah jelas (adalah kiranya bukan berita pada abad keempat M. kumpulan-kumpulan seperti itu akhirnya mulai dibacakan secara khusus tetapi yang tidak diterapkan pada kitabkitab sekular – secara alegoris. (saya kira ini tidak benar. Kitab Suci bertumbuh dengan cara penerimaan secara pasti (steady) dari kitab-kitab tertentu sebagai jelas-jelas kudus. misalnya. kadang-kadang jauh lebih penting dari pada sebuah kitab yang pendek dan amat tidak peneting. dikumpulkan bersama-sama untuk membentuk Pentateukh atau Torah. ketimbang suatu keputusan tentang hal ini. Demikianlah juga halanya dengan kanon PB: ada pertikaian-pertikaian tentang Ibrani dam Wahyu. Surat-surat Paulus dikumpulkan sebagai corpus Paulinian. atau sebagai kepenuhan dari suatu makna yang tersembunyi. tetapi bahkan orang-orang yang keen untuk mencakupkan kitab-kitab ini ke dalam kanon tidak memakai mereka sama sekali sebanyak mereka memakai Mateus dan Roma misalnya. Akhirnya. lalu menarik satu garis di bawah kumpulan itu untuk mengubahnya menjadi Sebuah Kitab Suci. (Seakan-akan menjadi kriteria yang penting). atau keduanya sekaligus. secara aktif. masing-masingnya dari suatu situasi yang berbeda. diajukan (pleaded) sebagai alasan-alasan bagi kekudusan mereka. Status kitab-kitab dalam Kitab Suci kita kadang-kadang saja telah bersifat kontroversial. untuk sebagian terbesar. Sering sekali alasan-alasan yang muncul sesudahnya ditemukan (atau bahkan diciptakan) untuk mendukung keadaan perkara seperti ini: Tanggal atau kepengarangan dari kitab-kitab. misalnya. 1Tesalonika sesungguhnya berasal dari kurun-kurun paling dini dari kurung sejarah Kristianitas. Persepsi ini mungkin merupakan satu persepsi yang benar – misalnya. dan kemudian diberi currency yang luas sebagai sebuah koleksi yang koheren yang mengungkapkan teologi yang sama dalam seluruh kumpulan. Di mana menyangkut PL. yang penting hal ini mengarah kepada kitab-kitab yang dipandang sebagai tidak terkalahkan (unassailable) jauh sebelum seseorang mulai bertanya. dan di mana mereka tidak ada. ketimbang sebagai karya-karya individual. misalnya. maka ide itu erat terkait dengan pengamatan yang terakhir ini. Kedua. Atau boleh jadi hal ini adalah sesuatu yang salah – misalnya 2Pterus tidaklah berasal dari atau ditulis oleh Rasul Petrus. Pertama. Barangkali Kebijaksanaan Salomo (yang dianggap apokrif oleh Protestan). kalau bukan abad kedua. seperti misalnya kitab nubuat Nahum (yang kanonik itu). atau sebagai suatu yang relevan secara universal. Tetapi apakah persepsi itu benar atau tidak. sebab dalam Gereja Katolik banyak dipakai juga). Kitab suci bukanlah hasil dari beberapa jenis legislasi: ia hanya bertumbuh begitu saja. Dan di dalam Kristianitas. tetapi ia sama sekali tidak banyak memakainya juga. Pada tepian (fringes) dari kanon kedua Perjanjian itu ada beberapa kitab yang statusnya tidak pernah bisa seluruhnya jelas di dalam Gereja. Tetapi kiranya adalah sulit untuk menemukan sebuah contoh kasus kedua mengenai keadaan perkara yang terbolak-balik itu. Kalau ada satu poin yang saya ingin agar bisa terus diingat (to take away) oleh pembaca buku ini. melainkan oleh seroang penulis yang memakai nama samaran dari antara kurun paling akhir abad pertama. Gereja purba. Banyak dari Mazmur boleh jadi memang sudah berasal dari jaman Daud itu sendiri. dan dalam prakteknya (kalau tidak dalam teori) hal ini sering tetap tidak jelas dan tidak pasti juga hingga dewasa ini. sesuatu yang amat disukai oleh para penulis Kristiani awal. memandang Apokrif sebagai Kitab Suci.bisa dianggap sebagai Kitab Suci (atau bahkan akan pernah dihitung sebagai). Perlahan-lahan dalam waktu. dan bukannya ada di pusat. Tetapi tidak satu pun dari mmereka telah menjadi sepenting seperti sebagian besar dari kitab-kitabn dalam PL yang cocok (proper) bagian sebagian besar orang-orang Kristiani itu. Sejarah pemakaian yang sudah lama (hampir) merupakan segala-galanya. ada beberapa tahap yang jelas yang terjadi dalam seluruh proses ini. Tetapi dalam prakteknya suatu persepsi bahwa kitab-kitab telah dipakai sejak waktu yang sudah sangat lama di masa silam sudah merupakan satu alasan yang sangat kuat dan nyata. Inti pokok dari kedua Perjanjian itu tidak pernah bersifat kontroversial dalam Yudaisme ataupun dalam Kristianitas. dari waktu ke waktu. Bagaimana pun juga. kitab-kitab harus dikumpulkan: kitab-kitab Musa. sejumlah para penulis semula mendaftarkan kitab-kitab PB yang disetujui. untuk mengatakan bahwa Surat kepada Jemaat di Roma itu adalah kanonik). Maka hal ini ada di pinggiran. Tidak ada suatu catatan mengenai satu otoritas dalam Yudaisme yang menyatakan secara resmi mengenai batas-batas yang pasti dari Kitab Suci Ibrani itu (?). muncullah saat di mana beberapa otoritas yang berkompeten mengumumkan secara resmi bahwa kategori dari kitabkitab suci sekarang ini sudah penuh. bahwa dulu memang ada kontroversi. Yang terakhir dari tahap-tahap ini – yaitu tahap pada mana saya secara unequivok mengkaitkan nama kanonisasi tadi – adalah kurang penting dari pada kedengarannya baik bagi PL maupun bagi PB. daftar itu sering sekali mencakupkan sebuah catatan yang mengatakan bahwa status mereka tidak serba jelas. Yang ada hanyalah beberapa pernyataan stray tentang kitab ini atau kitab itu yang otoritasnya memang dipersoalkan (Kitab Sirah sebenarnya hampir merupakan satu-satunya kitab yang kita ketahui yang telah ditetapkan (ruled) sebagai tidak kanonik). apakah yang ini atau yang itu yang harus dipandang sebagai sungguh-sungguh kanonik. 24 . kitab Ulangan bukan oleh Musa melainkan (sangat mungkin) oleh seorang penulis atau para penulis dari antara abad ketujuh dan kelima SM. kitab-kita yang oleh orang-orang Protestan disebut Apokrif sesungguhnya telah menjadi pokok kontroversi dan ketegangan di dalam Gereja Kristiani itu sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful