Pengantar Studi Kitab Suci Isi Singkat Kitab Suci

Tujuan Bab ini: Memberi gambaran singkat dan padat pada siswa mengenai isi singkat seluruh kitab suci, dengan cara menelusuri kitab suci itu dari kitab ke kitab. Memberi kesadaran kepada para siswa bahwa Kitab Suci adalah sebuah perpustakaan mini, dengan rak besar. Bahkan masing-masing kitab juga adalah rak mini juga. Membuat siswa mampu mengetahui garis besar isi masing-masing kitab. Isi masing-masing kitab Kejadian: kitab kejadian adalah sejarah umat manusia mulai dari penciptaan dunia ke riwayat hidup dan perbuatan para bapa bangsa, yaitu abraham, isaak, yakub, dan yusuf. Di antara keempatnya, tentang isaak paling sedikit, padahal ia disebut dalam tiga serangkai para bapa bangsa. Keluaran: kitab keluaran adalah kitab yang berkisah tentang sejarah orang-orang israel di mesir, tentang bagaimana mereka melarikan diri dari sana di bawah pimpinan musa, tentang peristiwa di gunung sinai tempat diberikannya hukum (termasuk 10 perintah itu), dan dibangunnya kemah suci untuk menyertai perjalanan bangsa itu menuju ke tanah terjanji. Imamat: kitab imamatadalah kita yang memberi pelukisan rinci lebih lanjut tentang hukum-hukum yang diberikan di sinai. Bilangan: kitab bilangan adalah kitab hukum lanjutan; lalu dilanjutkan dengan kisah berangkatnya orang-orang israel dari sinai ke perbatasan tanah terjanji. Ada juga kisah tentang raja balak dan bileam si tukang nujum itu. Ulangan: kitab ulangan berisi kata-kata paling akhir dari musa untuk orang-orang israel. Di sini musa memberi mereka hukum-hukum yang lebih jauh untuk ditaati di tanah terjanji; ada juga kisah tentang wafat musa yang tragis itu. Pentateukh: Kelima kitab pertama di atas tadi disebut secara teknis pentateukh, artinya lima kitab (hukum). Ada juga kebiasaan lain yang menyebutnya kelima kitab hukum musa. Disebut demikian karena ada anggapa bahwa kelima kitab itu “berasal” dari musa. Kitab-kitab sejarah Kitab-kitab sejarah adalah kitab-kitab yang menyajikan sejarah israel. Hal itu merentang dari kitab yosua sampai ke ester. Kadang2 juga dimulai dari kitab kejadian sampai ke ester. Disebut demikian karena ia membeberkan data sejarah keselamatan, yaitu sejarah campur tangan allah dalam hidup bangsa israel. Isi masing-masing kitab sejarah ialah sbb: Isi singkat masing-masing kitab sejarah Yosua: kitab yosua adalah kitab yang mengisahkan sejarah penaklukan beberapa bagian wilayah palestina oleh orang-orang israel di bawah pimpinan yosua, pengganti musa. Hakim-hakim: kitab hakim2 adalah kitab yang mengisahkan tentang peristiwa pendudukan lebih jauh orang israel atas tanah terjanji. Saat itu israel dipimpin oleh rangkaian para hakim seperti deborah, gideon, dan samson. Sosok hakim itu sendiri ialah sosok tengah, yang separuh raja, dan separuh sosok pemimpin militer. Rut: kitab ruth adalah kitab yang tentang perempuan moab yg tinggal di israel dan menikah dengan seorang petani israel yang kaya-raya, boaz. Setting kisah itu adalah jaman para hakim 1samuel: kitab 1 samuel adalah kitab yang melukiskan peralihan dari model pemimpin para hakim ke tahap kerajaan. Hal itu terjadi di bawah tuntunan samuel. Di sini tercakuplah kisah-kisah tentang daud, raja israel yang pertama. 2 samuel: kitab 2 samuel adalah kitab yang mengisahkan tentang daud yang mengantikan saul yang mati terbunuh dalam pertempuran melawan orang-2 filistin. Juga mengandung kisah rinci tentang salomo yang menggantikan daud, dgn diselingi oleh kisah-2 anak-anak daud yangterlibat dlm pembunuhan, pemberontakan, pemerkosaan dan bahkan incest. 1 raja-raja: kitab 1 raja-2 adalah kitab yang bertutur tentang pemerintahan salomo, tentang drama perpecahan kerajaan menjadi utara dan selatan (israel-yehuda) ketika salomo wafat. Juga tentang raja-raja paling awal dari masa kerajan terpecah itu; juga berkisah tentang karya nabi elia. 2 raja-raja: kitab 2 raja2 adalah kitab yang berkisah tentang karya nabi elisa. Juga tentang raja2 yang kemudian dari israel dan yehuda. Juga kisah tentang reformasi yosia atas agama resmi negara. Juga berkisah tentang invasi atas yehuda, mula-mula oleh orang asyur, lalu oleh orang2 babel. 1tawarikh: kitab 1 tawarikh adalah kitab yang berisi sejarah dunia hingga ke daud. Sebagian besar dari padanya dikisahkan menurut garis keturunan genealogis (siapa melahirkan siapa, dst). 2tawarikh: kitab 2 tawarikh adalah kitab yang menyajikan sejarah mulai dari salomo hingga ke masa pembuangan, dengan mengikuti kisah yang ada dalam 2 raja-raja tetapi dengan banyak perbedaan rincian; juga mencakup pemulihan yehuda oleh orang-orang persia pada akhir masa pembuangan itu. Kitab ezra: kitab ezra adalah kitab yang berkisah tentang bagaimana seorang raja persia menyuruh kembali orang-orang yudea yang dibuang ke pembuangan agar kembali ke yerusalem untuk membangun kembali kenisah, dan membangun kembali agama yahudi. Di antara orang-2 itu adalah seorang imam yang bernama ezra Nehemia: kitab nehemia adalah kitab yang berkisah tentang pelbagai macam kegiatan nehemia (sering memakai kata ganti orang pertama), yaitu seorang yahudi yang diangkat sebagai guberbur persia atas yehuda, pada masa yang kurang lebih sama dengan jaman ezra.

1

Tobit: kitab tobit adalah kitab yang berkisah tentang orang-2 yahudi yang saleh yang berhasil dalam upaya membangun tali ikatan perkawinan antara pelbagai keturunan sanak keluarga mereka walau hal itu dilarang atau ditentang oleh para raja dan setan-setan. Hal itu bisa terjadi berkat bantuan seorang malaekat (rafael). Kitab ini tidak ada dalam kanon protestan. Hanya ada dalam kanon katolik saja (sebagai kitab deuterokanonika). Yudit: kitab yudit adalah kitab yang bercerita tentang yudit, seorang srikandi yahudi yang memperdaya panglima perang asyur dan memenggal kepalanya. Dengan itu ia menyelamatkan israel dari kekalahan. Kitab initidak ada dalam kanon protestan. Termasuk deuterokanonika. Ester: kitab ester adalah kitab yg berisi cerita tentang seorang perempuan yahudi, yg diambil menjadi isteri raja persia (harem, gundik). Dalam posisi itu ia menyelamatkan sesamanya orang-orang yahudi dari ancaman pembantaian (progrom). Versi katolik berbeda dari versi protestan. Versi katolik lebih panjang dari versi protestan. 1 makabe: kitab 1 makabe adalah kitab yang berkisah tentang peperangan2 yang dilakukan oleh orang-orang yahudi melawan raja antiokhus epifanes, si orang kafir itu, pada abad 2 sm. 2 makabe: kitab 2 makabe adalah kitab yang berisi kisah populer dan legendaris tentang peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam 1 makabe, khususnya mengenai kemartiran dari orang2 yahudi yang taat pada masa itu. Kitab2 didaktik, atau pengajaran atau hikmat Ada kitab-kitab yang dapat dimasukkan dalam kategori kitab-kitab didaktik atau kitab pengajaran. Atau kadangkadang disebut demikian. Itu karena di dalamnya secara khusus mengandung pengajaran atau hal-hal yang terkait dengan pendidikan atau pembentukan watak manusia. Bisa menyangkut moral hidup, bisa menyangkut sikap menghadapi penderitaan, pengalaman cinta dan jatuh cinta, pengalaman doa, pengalaman menjadi kaya dan berhikmat, dll. Kitab-2 yang termasuk di sini ialah ayub, mazmur, amsal, pengkotbah, kidung agung, kebijaksanaan salomo, sirakh. Ada juga yang menyebutnya kitab-kitab kebijaksanaan. Isi masing-masing kitab didaktik, hikmat, pengajaran Ayub: kitab ayub adalah kitab yang berisi kisah tentang seorang pria saleh yang sangat menderita. Ia mencoba merenungkan dan memahami misteri penderitaannya itu dalam proses dialog dengan ketiga temannya. Dan akhirnya karena kesalehannya, kemakmuran dan kesehatannya pun dipulihkan kembali. Mazmur: kitab mazmur adalah kitab yang berisi kumpulan lagu-lagu, doa-doa, nyanyian-nyanyian yang berjumlah 150 buah, yang biasanya dikaitkan dengan raja daud (sebagai pengarangnya). Amsal: kitab amsal adalah kitab yang berisi ucapan-ucapan bijak bestari dan ajaran-ajaran yang terdiri atas paragraf-paragraf pendek menyangkut perilaku etis, sosial, dan praktis di tengah masyarakat. Biasanya dikaitkan dengan raja salomo (sebagai pengarangnya). Pengkotbah: kitab pengkotbah adalah kitab yang mengandung serangkaian refleksi bernada skeptik tentang makna dan tujuan hidup, atau tentang kondisi di mana makna itu terasa tidak ada atau tidak jelas. Biasanya juga dikaitkan dengan raja salomo sebagai pengarangnya. Kidung agung: kitab kidung agung adalah kitab yang berisi kumpulan puisi-puisi cinta, yang biasanya dihubungkan dengan salomo. Oleh karena itu, disebut juga sebagai kidung salomo. Hikmat salomo: kitab ini adalah kitab yang berisi ajaran lebih jauh tentang perilaku manusia, dan hikmat ilahi; juga biasanya dikaitkan dengan salomo. Hanya bedanya dengan amsal ialah yang ini ada tidak ada dalam kanon protestan. Hanya ada dalam kanon katolik; disebut deuterokanonika. Kitab sirakh: kitab sirakh disebut juga kebijaksanaan yesus bin sirakh. Dalam tradisi latin disebut ecclesiasticus karena dulu dipakai gereja sebagai buku saku moral. Isinya ialah kumpulan-kumpulan amsal yang panjang dan mengandung ajaran yang lebih luas. Dihubungkan dengan yesus bin sirakh, yaitu seorang tokoh yang hidup pada abad kedua sebelum masehi. Kitab para nabi Adapun kitab yang disebut kitab para nabi adalah kitab-kitab yang merentang dari yesaya hingga ke maleakhi. Di dalamnya tercantum ajaran, nubuat, dan perbuatan (termasuk tindakan simbolis) para nabi. Juga sabda kutukan termasuk di dalamnya. Tetapi juga mengandung nubuat pemulihan dan penyelamatan dengan syarat pertobatan sebab kasih setia allah sangat besar. Isi masing-masing kitab kita lihat dalam slide berikut….. Yesaya: kitab nabi yesaya adalah kitab yang mengandung nubuat-nubuat yg panjang2 yg dihubungkan dengan yesaya, yg hidup pada abad ke-8 sm di yerusalem. Tetapi bab 40-55 sangat menarik bagi orang kristen karena menjadi sumber dari banyak patung, lukisan, gambar2 kristen, terutama sosok hamba yg menderita itu; dari sinilah banyak teks mesias handel itu diambil. Yeremia: kitab nabi yeremia adalah kitab yang mengandung nubuat2 yeremia. Intinya adalah ucapan-2 yeremia, yang hidup di akhir abad 7 sampai ke masa pembuangan pada abad 6. Inlah kitab terpanjang di antara kitab para nabi. Kitab ratapan: kitab ratapan adalah kitab yang berisi 5 ratapan agung atas kejatuhan yerusalem ke tangan orang2 babel. Secara tradisional lagu-2 ratapan ini dihubungkan dgn yeremia. Sangat populer di dunia katolik karena sering dipakai untuk ibadat selama trihari suci, lamentatio Kitab barukh: kitab barukh adalah kitab yang merenungkan situasi pembuangan baik dalam penghukuman maupun dalam pengharapan. Biasanya dihubungkan dengan barukh, sang sekretaris nabi yeremia. Kitab ini tidak termasuk dalam kanon ks protestan; disebut deuterokanonika. Kadang-kadang bab 6 masih berdiri sendiri secara terpisah dan diberi judul “surat yeremia.” Kitab yeheskiel: kitab yeheskiel adalah kitab yg memuat nubuat2 yeheskiel, yaitu orang yg sejaman dengan yeremia tapi lebih muda dari yeremia. Di dalamnya tercakup penglihatan-2nya akan allah yang bertahta di atas keretak yang dihela oleh binatang2 ajaib, juga mencakup kitash tentang tulang2 kering yg hidup kembali yg melambangkan kelahiran kembali israel sesudah drama pembuangan yg tragis itu. Pembuangan bukan kematian

2

tungku api bernyalanyala.. 2. tetapi juga mengandung nubuat2 ttg masa depan yg berjaya-mulia tatkala allah akan “mencurahkan rohnya kpd segala bangsa. sehingga ia pergi ke ninive dan berkotbah di sana. Sebagian besar isinya mengandung warta bencana dan kutuk. misalnya spt perumpamaan tentang anak yg hilang itu dan tentang orang samaria ybk. Yoel: kitab yoel adalah kita yg berisi puisi2 penyesalan pada masa dilanda bencana alam. Injil yohanes: Injil yohanes disebut juga injil keempat. luk) sering sekali disebut injil2 sinoptik. Injil lukas: Injil lukas adalah injil terpanjang. Dari situlah keluar ucapan-ucapan sbb: “aku adalah……. dan dalam pelarian itu ia ditelan ikan besar di tengah laut. Sebagian besar perumpamaan tidak ada. Misal: kisah kandang singa. Ajaran yesus sangat terpusat pada identitas dirinya. Isinya juga menyangkut pembangaunan dan pemulihan kembali komunitas umat pada masa sesudah pembuangan. Hosea: kitab hosea adalah kitab yang memuat nubuat2 nabi hosea yang kurang lebih berasal dari abad 8 sm. seorang nabi yang masih sejaman dengan hosea. Tetapi kemduian ia dibebaskan lagi. Hal itu mendatangkan tobat dan selamat atas niniveh yang mau mendengar allah melalui yunus.” Amos: kitab amos adalah kitab yang berisi nubuat yang disampai-kan nabi amos. yg ikut dibuang. tangan yg menulis pada tembok istana.” • • 3 . dengan pahlawan daniel. Habakuk: kitab habakuk adalah kitab yang berisi nubuat2 tentang bakal terjadinya penghancuran yerusalem. Obaja: kitab obaja adalah kitab yang mengandung nubuat singkat tentang penghukuman edom karena ikut membantu dalam penumpasan dan penghancuran yerusalem pada tahun 587 sm oleh babel. Tambahan daniel 1: disebut juga doa azaria dan lagu pujian ketiga pemuda dlm perapian. Kitab ini pun tidak ada dalam kanon protestan. Kitab ini mengandung banyak perumpamaan2 dan kisah2 yang memang khas lukas. dan kisah tentang perjalanan ke emaus ini. • • • • • • Isi masing-masing kitab perjanjian baru Injil mateus: Injil menurut mateus adalah injil yang memberi penekanan pada ajaran-ajaran yesus. yg disampaikan oleh seorang nabi yg sejaman dgn yeremia Zefania: kitab zefania adalah kitab yang berisi kutukan atau penghukuman2 atas banyak orang dalam hidup roang yehuda sebelum pembuangan. Ini tidak ada dalam kanon protestan. Maleakhi: kitab maleakhi adalah kitab yg menyerang pelbagai macam pelanggaran yg terjadi pada komunitas jemaat sesudah pembuangan. bersama dengan sebuah teks yg terkenal yang meramalkan tetnang kembalinya elia untuk memulai kembali (inaugurate) apa yang disebut “hari tuhan” itu. Kitab ini adalah sebuah cerita pendek ala detektif. yg diselamatkan dari pelbagai tuduhan palsu berzinah. Disebut demikian karena ketiga injil ini kalau dilihat (optik) sekilas secara bersamaan (syn) akan tampak mirip satu sama lain. yg diduga dialami oleh org yg masih sejaman dgn yeremia. dan orangnya disebut sinoptisi. Itulah hukuman atas sikapnya yg tidak mau mentaati perintah allah. Injil-injil sinoptik • Ketiga injil di atas tadi (mat. Ini tidak ada dalam kitab protestan. Kekhasannya ada dua: 1. Diduga ini adalah rangkaian nyanyian dan doa yang diucapkan 3 pemuda yg dilempar ke dalam tungku api pembakaran yang berkobar-2 tetapi mereka tidak terbakar. Injil ini sangat berbeda dari injil2 sinoptik tadi. sebagiaan besar dari apa yg ada dalam markus. ditemukan lagi dalam mateus atau lukas. Tambahan daniel 2: atau kisah susana-daniel. Itu tidak mengherankan karena emreka punya perspektif dan sumber yang sama. Tambahan daniel 3: atau disebut juga kisah tentang daniel dengan dewa bel dan naga babel. Isinya tidak perlu dibeberkan secara khusus.Daniel: kitab daniel adalah kitab yg berkisah ttg kisah-2 dan penglihatan2. seorang nabi yang masih sejaman dengan yesaya. Dua cerpen tentang betapa sia-sia dan absurdnya berhala-berhala itu dan juga tentng daya kekuatan allah israel. mrk. Kadang-2 disebut juga nyanyian 3 anak atau nyanyian tiga orang yahudi. Nahum: kitab nahum adalah kitab yang berisi ramalan2 tentang penghancuran kota niniveh oleh satu campur tangan ilahi. tetapi bernasib untung di pembuangan berkat kemampuan menafsirkan mimpi2 (spt yusuf). ajaran yang mencakup kotbah di bukit (5-7) yang terkenal itu. misalnya. yg ditimpakan kepadanya oleh 2 org pria tua yg marah karena mereka gagal berupaya memperkosa dia. sebab hampir tidak ada bagian dari injil ini yang tidak ada dalam injil2 yg lain. yaitu satu abad sesudah masa nabi elia dan elisa. Dengan kata lain. Hagai: kitab hagai adalah kitab yang berisi kata-kata seorang nabi yg mendorong umat yg kembali dari pembuangan utk membangun kembali kenisah atau bait allah di yerusalem. Zakharia: kitab zakharia adalah kitab yang mengandung ramalan2 yg diucapkan oleh seorang nabi yg masih sejaman dengan hagai di atas tadi. Injil markus: Injil markus adalah kitab injil yang paling pendek. Yunus: kitab yunus adalah sebua kitab yg berisi cerpen terkenal tentang seorang nabi yg mangkir dari tugasnya karena enggan menjalankan tugas itu. di sana ada seorang perempuan yahudi bernama susana. Mikha: kitab mikha adalah kitab yang berisi nubuat2 yang disampaikan nabi mikha. Ada banyak episode terkenal dari kitab ini.

titus: surat kpd titus adalah surat yg ditujukan kepda titus. yg dikirimnya ke gereja yang tidak didirikannya dan tidak pernah dikunjunginya. yang di sana-sini tumpangtindih dengan kolose. 2 timoteus: surat 2 timoteus adalah surat yang berisi nasihat lebih jauh tentang bagaimana harus hidup sebagai gembala dari satu komunitas jemaat kristen. 2 tesalonika: surat 2 tesalonika adalah surat yg berisi uraian lebih lanjut tentang tema atau hal-hal eskatologis. perlu juga diketahui bahwa tidak semua manuskrip kuno menyebut surat efesus ini. berbicara tentang tema “pembenaran oleh iman. sperti halnya timoteus. kolose: surat kolese adalah surat yg berisi kristologi paulus. ramai.Kisah para rasul • • • • Sebenarnya ini adalah volume kedua dari injil lukas. efesus: surat efesus adalah sebuah uraian sistematik tentang pelbagai tema teologis. dlm artian yg kemudian dari jabatan & kata itu. surat itu juga coba membujuk org-2 kristen di kolese utk tidak mengikuti satu sistem “filsafat” yang tidak sesuai dengan iman kristen. Surat-surat paulus Roma: Ini adalah surat paulus yg terpanjang. ini adalah pengungkapan terpanjang lebar dari kristologi paulus (ajaran ttg kodrat serta martabat yesus). maju dan kompleks. Di sinilah muncul ucapan terkenal dari paulus: ‘kebodohan allah adalah lebih bijaksana daripada hikmat manusia.’ 2korentus: 2korentus adalah surat paulus kepada umat di korentus yg secara lebih lanjut berbicara tentang relasirelasi di dalam gereja korentus itu sendiri. dalam pandangan si penulis surat ini. dan peranan yesus dalam mewujudkan jaman akhir itu). Sebagian besar menyangkut hubungan org-org yahudi dan para bgs kafir di dlm gereja. rupanya saat itu ada yang pempersoalkan otoritas paulus. seperti surat roma. dengan jabatan hampir spt uskup.” hanya bedanya. pada umumnya org menganggap bhw surat-surat itu meniru-2 gaya dan isi surat paulus yg asli. tetapi umumnya diterima bahwa surat-surat ini berasal dari kurun waktu sesudah paulus wafat. yaitu tentang rencana allah bagi sejarah. siapa dia? tampaknya ia adalah org yang punya peranan yg sama dengan peranan timoteus. Sebagai ilustrasi: lihat gambar-2 yg ada. surat-surat pastoral ketiga surat di atas tadi (1 dan 2 tim dan titus). yg dimaksudkan untuk diedarkan secara umum. 1 tesalonika: surat 1tesalonika mungkin merupakan surat paulus yg paling awal. juga sekaligus memberi tanggapan terhadap tantangan2 yg ada terhadap otoritas paulus sendiri. tetapi ia berkarya di kreta. sebuah kota pelabuhan besar. umumnya disebut sbg surat-surat gembala atau pastoral. yang ditulisnya di penjara. titus pun dinasihati paulus agar hidup sederhana dan bijaksana. di sana paulus coba mendorong orang kristen filipi agar hidup dalam ketaatan dan kemurahan hati. jadi. dan khususnya mengenai pelbagai karya dan perjalanan misi yang dilakukan paulus mengelingi atau di seluruh wilayah laut tengah. mungkin dari lingkungan par amurid paulus sendiri. Isinya terdiri atas kisah tentang sejarah gereja awal. yg terutama sekali berbicara ttg tema eskatologi (kongkretnya. ini adalah surat “pastoral” paulus yang paling lembut. yang tampaknya diangkat paulus menjadi pemimpin di efesus. galatia: surat galatia. juga ttg bagaimana gereja harus menata urusan2nya sendiri. ini khas. 1 timoteus: surat 1 timoteus adalah surat yg berciri nasihat pastoral kepada timoteus. nadanya pastoral spt paulus. filipi: surat filipi adalah surat kepada orang kristen di filipi. jadi. Surat ini sbgn besar berbicara ttg bagaimana org kristen harus berhubungan dgn masyarakat di sekitar. juga terkait dgn persoalan landasan bagi keselamatan – apakah karena ketaatan kpd hukum yahudi ataukah karena iman akan kristus? 1korentus: 1korenutus adalah surat paulus yg ditujukan kpd umat kristen di korentus. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 4 . mungkin aslinya surat ini adalah sebuah ensiklik. di sini paulus berbicara dengan nada marah dan benci terhadap apa yg oleh paulus lihat sbg kesalahan2 org galatia. inilah satu2-nya surat yg tidak dimulai dgn menyalami si penerima surat atas dan karna iman mereka.

. kesalahan itu diancam dgn ancaman yg dilandaskan pd ide-2 eskatologis yg mirip dengan 2 petrus. 3 yohanes: surat 3 yohanes adalah surat gembala yg bicara tentang masalah tata tertib pada masa gereja purba. 2 petrus: surat 2 petrus adalah surat yg hampir seluruhnya menaruh kepedulian pd tema eskatologis. hidup kristen. dalam hal ini. oleh karena itu. 1 yohanes: slide berikut…. ciri ini sedemikian kuatnya sehingga org pernah menduga bhw mungkin aslinya karya ini adalah sebuah kotbah upacara liturgi baptis. atau bahkan kpd satu pribadi tertentu. di sana juga ada banyak perbincangan mengenai pelbagai teks dari pl. ini berbeda dgn surat-surat paulus misalnya. yang diperlihatkan dalam dan melalui kristus. surat-surat katolik: kadang-2 surat mulai dari 1 petrus ke yudas (berarti ada 6 surat) disebut sebagai surat katolik atau surat-umum. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • 5 . yang ditujukan kpd 1 komunitas jemaat tertentu. 1 petrus: surat 1 petrus adalah surat yg dicirikan oleh tema spt baptis dan kebakgitan. tetapi ada juga yg tidak demikian surat yakobus: surat yakobus adalah surat yang berisi kumpulan dari ajaran-ajaran etis (yang dikaitkan dengan yakobus). inilah surat yg paling bernada personal dari semua surat yang lain. maka disebut umum atau katolik. 1yohanes: surat 1 yohanes adalah surat yg punya banyak kemiripan dgn injil yohanes. ada beberapa manuskrip kuno yang menghubungkan surat ini dengan paulus.• • • • filemon: surat kpd filemon adalah surat paulus yg ke-4 kepada sorang pribadi. dan pengharapan akan keselamatan. misalnya. disebut demikian karena isinya ditujukan kepd semua org kristen pada umumnya. yudas: surat yudas adalah surat yg berisi pengutukan “kesalahan” dlm gereja. yaitu onesimus. 2 yohanes: surat 2 yohanes adalah surat yang berisi peringatan melawan bahaya2 ajaran sesat. suatu yang tidak biasa dlm surat2 paulus. tema cinta yg harus ditunjukkan orang kristen kpd satu sama lain sbg tanggapan terhadap kasih allah kdp mereka. ibrani: surat ibrani tampaknya adalah sebuah risalat yg berbicara tentang status yesus. wahyu: kitab wahyu adalah kitab yang mengandung karya apokaliptik yg menyangkut jaman akhir dan peranan kristus dalam dunia baru itu yang akan menyusul jaman akhir tadi. surat tadi mempunyai banyak kesamaan dengan surat yudas. justru karena tidak spesifik. di sini ia berbicara tentang masalah budak. yang melarikan diri itu.

aktifitas itu bisa dikuasai oleh semakin banyak orang. bahkan bagi kurun yang sangat dini ini. bangsa Israel mengalami suatu eksistensi yang tenang tenteram. Dalam sistem ini tanda-tanda menggambarkan silabe atau suku kata. tetapi itu tidak berarti tingkat melek huruf juga sudah tinggi atau merata. kota kecil dan dusun-dusun. Semua kitab dari PL ditulis dalam sistem alfabet baru ini. kitab-kitab biasanya dibuat dari papirus-papirus tersebut. Jadi. Tetapi hampir di semua negara-negara mulai dari Mesopotamia ke Mesir terdapat para penulis profesional atau para penulis. Itulah yang menjadi alat tulis mereka. di kota-kota besar. Dalam sistem dan perkembangan yang baru ini ratusan simbol-bunyi dalam sistem cuneiform diganti hanya dengan 22 huruf saja. adalah sangat tidak benar menurut realitas historisnya. Paling tidak mulai dari jaman Raja Salomo (barangkali sekitar tahun 970 sampai tahun 930 SM). Walaupun awal mula dari kebudayaan Ibrani ditetapkan sejak awal tahun 1700-an SM (itulah tanggal yang biasanya dianggap sebagai tanggal kelahiran Abraham. Abjad itu sangat membantu untuk membaca dan menulis. paling tidak mulai dari pertengahan milenium ketiga SM (sekitar 2500). walau tentu saja hampir terlalu dini beberapa abad). 22 huruf itu menjadi jumlah huruf yang standar dan mendasar. 22 huruf itulah yang menjadi pokok dari sistem alfabet baru ini. pada jaman itu. Sama sekali tidak. Bahkan yang jauh lebih menggembirakan lagi. itu bukan eksperimen yang baru muncul belakangan). Besar sekali kemungkinannya bahwa beberapa bagian dari PL sudah sangat tua karena diduga berasal dari abad kesepuluh atau abad kesebelas SM – dan diduga bahwa teks yang tertua (teks puitis) 6 . namun dunia Kitab Suci adalah dunia tulis menulis sudah sejak dari awal mulanya. Sistem ini sendiri. juga orang-orang yang melek huruf yang melakukan pekerjaan yang lainnya. tidak mampu mencatat apa-apa dalam bentuk tertulis. dua huruf pertama dalam bahasa Ibrani dan juga kebetulan Yunani. yang disebut cuneiform. Perkembangan ini pada gilirannya mempunyai dampak yang sangat besar untuk aktifitas membaca dan menulis. Dalam sistem yang terakhir ini masing-masing simbol melambangkan satu bunyi konsonan tertentu. Dari sistem ini kelak muncul sebuah sistem yang jauh lebih sederhana (tidak rumit seperti sistem simbol suku kata di atas tadi). Abjad itu adalah terjemahan versi Arab dari alphabet. Walau huruf sudah dikenal. dan kelak juga menjadi cikal bakal dari sistem huruf kita sendiri dewasa ini (Latin). Kebudayaan Mesopotamia sampai pada milenium pertama SM masih memakai sistem tulisan atau huruf paku. (sedangkan vokal tidak diberi tanda khusus). Ide mengenai buku-gambar mengenai Israel sebagai kaum badui (suku nomaden) yang mengarungi hidup nomadik di dalam kemah-kemah. dan kesempatan-kesempatan untuk mempersiapkan bahan-bahan tertulis (biasanya papirus). dalam perjalanan perkembangan tahun berkembang dan berubah-ubah dalam rincian gayanya tetapi boleh dikatakan bahwa ia tidak pernah menyimpang dari 22 huruf itu saja. Tanda-tanda itu kemudian ditorehkan atau dicapkan pada papan-papan tanah liat dengan memakai semacam paku yang ujungnya tajam. Untuk dapat memahami arti penting historis dari pernyataan ini mari kita lihat beberapa data berikut ini. Dalam konteks ini ada tempat-tempat untuk menyimpan buku-buku. juga termasuk orang-orang yang bukan para penulis profesional. Itulah yang menjadi cikal-bakal dari alfabet Ibrani. Abjad sendiri adalah nama tiga atau empat huruf pertama dalam abjad Arab: Alif bata ja. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa abjad adalah salah satu sumbangan terpenting dari kebudayaan Ibrani. Proses Menulis Kitab-kitab Aktifitas Menulis Dalam Dunia Biblikal Pertama-tama harus segera disadari bahwa adat kebiasaan menulis sudah ada di dunia Timur Tengah kuno jauh sebelum Israel ada sebagai sebuah bangsa atau negara (kerajaan). (Jadi. Kaum Funisia-lah yang pertama kali mengembangkan sebuah sistem alfabet. Melek huruf tidak merata di semua kebudayaan kuno. sebelum Israel ada.Bab II. orang-orang dan kebudayaan di kawasan Timur Tengah sudah mengenal huruf atau tulisan. Aktifitas membaca dan menulis mejadi jauh lebih mudah. untuk menggantikan tulisan dengan sistem simbol suku kata ini.

Misalnya. tanpa kata Injil sama sekali (kata Matthaion.. Kej. dan banyak kitab-kitab biblis yang lainnya.4:18.. yaitu kitab Wahyu. Kitab Ayub adalah kitab tentang Ayub.. (Jadi. adalah kumpulan bahana (composite). Begitu juga dengan 1 dan II Samuel. Terutama di Italia. Misalnya. dan dunia kitab-kitab. Surat Paulus kepada jemaat di Roma mengandung sebuah salam dari sekretaris atau amanuensis Paulus yang bernama Gayus (Rom.p. Keluaran. bahasa Yunani dipakai di samping bahasa Latin juga. Ya.. untuk dapat memahami kitab Suci. Paling banter hanya bisa dikatakan bahwa Musa menulis beberapa bagian saja dari kumpulan kitab itu. toko buku.16:22).. Sementara itu sebutan injil untuk keempat injil itu hanya muncul pada judul saja. Ada begitu banyak kasus seperti ini dalam kitab suci sehingga para ahli pada umumnya telah menyimpulkan bahwa Kitab Kejadian. tampak seperti sebuah buku kumpulan karangan. masih menulis sesuatu dengan kabar kematiannya sendiri. Sebab dalam 2 ayat berikutnya memang dikatakan demikian dalam kitab itu sendiri. dengan karya-karya dari pengarang manapun juga. Misalnya. Dulu orang berpikir (mungkin saat ini juga masih ada yang berpikir demikian) bahwa kitab ini berasal dari Samuel. Tetapi masih ada alasan yang lebih jauh lagi mengapa kita sulit menentukan atau menetapkan siapa yang menulis kitab-kitab biblis itu. diduga berasal dari pertengahan abad kedua (sekitar tahun 160 SM). sebagai misal yang kedua. Jelas ini hampir tidak mungkin. dan juga dari latar belakang tempat yang berbeda 1 Ada fn. sang cucuk Adam. kata Loukan. pada satu kurun waktu tertentu. maka kita sedang menghadapi sebuah permasalahan yang sangat rumit. menyatakan bahwa binatang-binatang diciptakan sebelum manusia.34:11-26. dunia Kitab Suci adalah dunia tulis menulis dunia huruf. lalu dilanjutkan dengan upaya identifikasi alamat tujuan.3:17). Pada pelbagai kesempatan Paulus juga menambahkan salam dari dia sendiri yang ditulisnya dengan tangannya sendiri. Dunia Laut Tengah pada jaman Yesus bahkan sudah mempunyai perpustakaan. Tetapi kalau kita bertanya apakah kitab itu juga yang merupakan kitab pertama yang ditulis. Hal ini biasanya dilakukan dengan maksud untuk mengesahkan surat itu (mungkin kegunaannya dapat disamakan dengan tanda tangan pada jaman modern dewasa ini yang biasanya dibubuhkan pada bagian akhir sebuah surat. yaitu Kel. dan bukan kitab dari Ayub atau kitab oleh Ayub. Siapa Penulis Kitab-kitab Suci? Sebagian besar kitab dalam Kitab adalah anonim. Sebutan itu tidak berarti bahwa keduanya menulis karya itu. termasuk juga Italia.” saja. Ini hanya mungkin kalau dikabarkan oleh orang lain yang bukan Samuel sendiri). Oleh karena itu. Itu tidak lain karena sangat sedikit dari kitab-kitab itu yang merupakan sebuah teks yang sederhana sajayang disusun hanya oleh satu orang saja. Kol. Biasanya hal ini mau menyiratkan bahwa bagian selanjutnya dari surat itu dituliskan bagi dia (lihat 1Kor. Dalam PL nama yang kini ada sebagai “judul” kitab. 2Tes.6:11. untuk bertanya dalam tata urut apa atau dengan tujuan apa mereka menulis karya-karya mereka itu – dan biasanya paling tidak adalah sebuah jawaban yang jelas yang dapat diajukan dan dapat diterima juga (masuk akal). Maksudnya. dalam Kej. Tetapi dalam kitab-kitab itu tidak pernah ada dikatakan bahwa Musa adalah penulis atau pengarangnya. Perjanjian Baru semakin lebih jelas lagi merupakan hasil dari sebuah kebudayaan tulis menulis. Gal. Bahkan dalam teks asli Yunani. Kitab-kitab itu tampak seperti sebuah antologi dalam dirinya sendiri.16…. kalau ada nama disebut pada awal.2:18-19 melihat manusia sebagai sudah diciptakan terlebih dahulu. Judul I dan II Raja tidak pernah dipakai dalam artian kepengarangan. dan sebagian besar kitab-kitab yang lain dalam PL. ditulis atau dikarang oleh Samuel. 1Kor. bukanlah sebuah ketetapan sebagai pengarang. Secara formal kitab ini sebenarnya juga adalah serangkaian surat-surat. dikatakan hanya “menurut.dalam Hak. Semuanya dapat dibandingkan dengan para penulis lain dari dunia kuno maupun dunia modern dewasa ini. Hanya itu saja. Pada saat itu sudah terdapat banyak para penulis profesional dan para penerjemah. dan karena itu dalam sebuah artian yang jelas memang demikianlah juga halnya. seperti kurang lebih yang tampak dalam bagian awal kitab itu.5 biasanya dianggap sebagai teks yang paling tuu dalam kitab suci. Juga tidak berarti bahwa kedua kitab itu adalah milik Daud dan Salomo. ditugaskan untuk menyingkapkan nama itu kepada sesama kaum bangsanya Israel. Walau tidak ada petunjuk bukti yang cukup untuk yakin akan hal itu. Para penulis sering sekali memakai para penulis profesional untuk menuliskan kata-kata mereka. mengandung bagian-bagian yang berasal dari kurun waktu yang sangat berbeda.. yaitu kepada siapa surat itu dikirim. tampak bahwa nama ini masih belum dikenal sampai saat Musa. maka kita harus melihat kitab suci itu sebagai sebuah produk dari para penulis yang ahli (terlatih).” Ada juga teks PB lain yang dimulai dengan menyebut nama pengirimnya. 7 ..6:2-3. sementara Kej. Itulah jenis bahasa Yunani yang telah menjadi bahasa bersama (lingua franca) dari seluruh kawasan Laut Tengah. Begitu juga dengan Mazmur Daud dan Amsal Salomo. menyembah Allah dengan nama Ibraninya yang khas yaitu YHWH1 – pada jaman Enosh. sering sekali dalam bentuk ringkasan atau bentuk singkat (semacam teknik steno). Demikian juga halnya. Tetapi di dalam kisah mengenai kehidupan Musa dalam Kel. Tetapi kitab Kejadian. Bahasa Yunani yang dipakai para penulis PB untuk menuliskan kitab-kitab PB sebagian besar adalah bahasa Yunani sehari-hari yang dipakai oleh orang-orang terdidik pada jaman itu. itu tidak berarti bahwa teks itu dikarang oleh orang yang namanya disebut di sana. paling tidak pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang masuk akal (sensible) dan koheren. Itu hanya pernyataan tentang pokok yang dibahas di sana... Hal ini dengan sangat mudah dapat dilihat dalam beberapa inkonsistensi di dalam sebuah kisah yang sedang dikisahkan. Misalnya. Sebab tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. yang dibentuk dari bahan-bahan yang berasal dari kurun waktu yang berbeda.1:24-27. Sementara kitab yang paling muda ialah Kitab Daniel. bagaimana Samuel yang sudah mati itu.16:21. kata Markon). Mungkin tidak semua orang sangat sadar akan hal ini.4:26 kita membaca bahwa “orang mulai memanggil nama TUHAN” – yaitu berarti. Lima kitab pertama dalam PL (Pentateukh) sering disebut sebagai kitab Musa. kita cenderung menganggap Kitab Kejadian sebagai kitab pertama dari Kitab Suci.1:1-3: “. lalu binatang-binatang diciptakan untuk menjadi pengiring bagi dia. buku yang mengandung dan menyimpan banyak kutipan-kutipan. buku yang mengumpulkan pelbagai macam ide. sebab isinya antara lain ialah kabar tentang kematian Samuel. Kecuali surat-surat Paulus yang dimulai dengan menyebut namanya. Tampaknya jelas.

katakanlah pada tahun 70 M. dan boleh jadi banyak juga dari bahan itu yang memang sudah berasal dari para murid Yesus sendiri yang pertama. Dengan menghafal orang mengingatnya. maka hal penetapan tanggal penulisan kitab itu dan menyusun mereka dalam suatu tata urut kronologis tidak hanya menjadi suatu pekerjaan yang sangat sulit. seorang gadis Yahudi yang hidup di dalam tempat persembunyian dengan keluarganya di Amsterdam selama dua tahun. maka tidak ada seorang “pengarang” bagi kitab Kejadian sama sekali kalau dilihat dari artian kata itu menurut pemahaman modern. Kiranya hal ini tidak usah mengherankanjuga karena diyakini bahwa orang-orang dalam kultur tradisional dulu mempunyai kemampuan tinggi untuk menghafal (dewasa ini juga masih ada. menyimpannya. Aktifitas mempelajari Injil-injil Sinoptik akan menuntun ke suatu pemahaman yang lebih jauh. sebuah ruang rekam data. Itu di satu pihak. Di pihak lain. atau anekdotanekdot tentang Dia. Menurut salah satu mazhab pemikiran. lalu disalibkan. yang membuatnya bahkan lebih sulit lagi untuk mencoba menetapkan tanggal dari kitab-kitab biblis itu. mengajar dan menyembuhkan. tetapi lalu dibangkitkan dari antara orang mati. jadi sekitar 40-an sejak dari masa hidup Yesus sendiri. (Masalah Tradisi Lisan) Boleh jadi para penginjil. Yesus Yang Dewasa Pada Masa Natal. dimakamkan. Tugas menyusn sebuah buku dari bahan yang sudah terlebih dahulu ada tampaknya merupakan sesuatu yang asing bagi sebagian besar orang modern. tanggal dari sebuah Injil tidak mutlak perlu sama dengan tanggal dari bahan yang terkandung di dalamnya. sehingga para penginjil atau para penulis Injil hanya mengambil bahan yang pada saat itu dianggap otentik. yaitu dengan cara bercerita dan bercerita kembali. Beginilah caranya para penerjemah dari edisi 1997 dari buku harian itu mencoba melukiskan tahap-tahap yang telah dilewati oleh The Diary of a Young Girl itu. dan tidak dalam bentuk tulisan. dan Lukas. tidak mudah untuk ditetapkan. atau masih terus dilakukan juga. Misalnya. Maka dapat disimpulkan bahwa tanggal dan kebenaran dari kandungan Injil merupakan satu persoalan yang sangat rumit dan berbelit-belit. Tetapi kalau memang demikian duduk perkaranya. seperti dalam Mateus.2:13-20). Sebagaimana yang baru saja telah kita lihat. Di antara para Sinoptisi. Kalau hal ini benar demikian mengenai semua atau sebagian besar kitab dalam Kitab Suci. tetapi dokumen itu kini telah hilang. para murid Yesus sendiri dulu sebenarnya menuliskan ucapanucapan Yesus. bedanya kini orang menghafal dari bahan tertulis).Brown.10:18) atau “Mengapa kau tanya Aku tentang apa yang baik?” (Mat. Mereka menampilkan kisah tentang bagaimana Yesus dari Nazaret mengumpulkan murid-mjurid. Dengan 8 . ternyata injil-injil itu sering sekali bertentangan satu sama lain. apakah Yesus terutama mengajar tentang bagaimana orang harus hidup. (Secara teknis hal ini dikenal dengan sebutan Ipsissima verba Iesu Christi). “Guru yang baik. apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?”.12:12-13. apa yang sesungguhnya dulu telah ia katakan atau lakukan. boleh jadi memang ada ucapan-ucapan dari Yesus. Bahkan boleh jadi bisa juga dikatakan bahwa pekerjaan seperti itu adalah tidak mempunyai arti sama sekali. dan mewariskannya juga secara lisan. yang secara faktual memang benar. “Mengapa engkau menyebut Aku baik?” (Mrk. Hal ini menyiratkan suatu tugas yang mempunyai beberapa komponen pentahapan di dalamnya. Dia ‘kan menjawab. pada dasarnya bisa saja ada bahan di dalam Injil-injil yang dikumpulkan sendiri oleh para penginjil itu dari kumpulan-kumpulan lain atau catatan-catatan. Beberapa kritikus berpikir bahwa kisah-kisah Kelahiran dalam Lukas 1-2 merupakan salah satu contoh dari hal ini – yaitu legenda-legenda yang disusun dengan dan atau berdasarkan prinsip kesejajaran dan analogo dengan kisah-kisah Perjanjian Lama tentang para tokoh pahlawan besar. yang ada hanyalah seorang penyusun yang menggambungkan bahan menurut rencana dan kehendaknya sendiri. dan tugas kompilasi yang kiranya berarti bahwa tidak ada satu pun dari Injil-injil sudah selesai disusun sampai sekurang-kurangnya 30 atau 40 tahunan setelah wafat Yesus – walau sebagian besar dari bahan yang terdapat di sana tentu saja sudah sangat dini usianya. Boleh jadi hal-hal itu telah disimpan dan dilestarikan dengan baik dan dengan setia dalam pelbagai dokumen. yang dalam faktanya sesungguhnya tidak mempunyai dasar sama sekali dalam sejarah. yaitu. muncul dalam tahap yang sangat dini dalam sejarah gereja. Kalau hal ini benar berarti para penulis Injil banyak menimba dari kandungan ingatan lisan. memakai bahan yang diturun-alihkan secara lisan. dari mulut ke mulut.pula. seperti yang ada dalam injil Yohanes itu? Upaya untuk menguraikan beberapa dari permasalahan ini telah mengarah ke sebuah kesepakatan bahwa Yohanes agar sedikit berbeda dari Injil-injil Sinoptik yang lain. Itu sangat jelas. melainkan menjadi suatu tugas yang tidak mungkin dilakukan sama sekali. Salah satu contoh yang baik ialah buku harian dari Anne Frank. ataukah menjelang akhir karya Yesus seperti dalam Mat. mereka tidak mengambil dari sumber-sumber bahan tertulis. ketika mulai menulis. yang digabungkan dengan pemakaian secara bersama-sama dokumen-dokumen atau kumpulan-kumpulan ucapan Yesus yang sekarang ini sudah hilang. Injil-injil Semua keempat injil mengisahkan cerita yang sama.19:17)? Atau jauh lebih penting lagi. The Birth of Messias itu). Hal ini tentung saja mengandung persoalan tertentu. tugas seleksi. Markus. Tetapi ketika kita mencoba mempelajari detail kisah itu. sebab bahkan dalam sebuah Injil yang ditulis. kemudian bagaimana Ia ditangkap oleh para penguasa dan diadili. atau juga dalam Mrk dan Luk? Ketika Yesus ditanya. (Salah satu ahli seperti ini kiranya ialah Raymond E.. sampai ia ditemukan oleh para penguasa Jerman pada tahun 1944 dan dikirim untuk dihukummati di Bergen-Belsen. apakah “pembersihan Bait Allah” terjadi pada awal karya publik Yesus (Yoh. ataukah terutama tentang status dan tempatNya sendiri dalam rencana Allah bagi dunia. Sebagian terbesar. tetapi sesungguhnya praktek seperti itu masih terjadi. Paling banter. para ahli PB percaya atau beranggapan bahwa Markus adalah Injil pertama yang disusun – tetapi ia injil itu disusun si penyusun dengan memakai bermacam-macam bahan yang sudah dikumpulkan terlebih dahulu oleh orang-orang lain! – dan bahwa Mateus dan Lukas sama-sama memakai Markus 9dalam beberapa bentu atau lainnya). mulai dari tugas pengumpulan. Dan dokumen-dokumen itu sendiri pasti jauh lebih tua dari pada Injil-injil sebagaimana yang kita punyai sekarang ini. Dan hipotesis yang paling baik untuk menjelaskan hal itu kiranya ialah ada suatu derajat kesaling-tergantungan di antara mereka. ada banyak bahan yang dimiliki bersama dan juga ada banyak perbedaan-perbedaan. walaupun tidak semua. bersama dengan kumpulan ucapan-ucapan Yesus yang secara konvensional dikenal dengan sebutan teknis Q.

” Para ahli kritik redaksi. Yesus sendiri dulu memang sudah melakukan perlawanan terhadap orang-orang Yahudi. Misalnya. dan lebih menaruh kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah di dalam Gereja. karena ada proses distansiasi seperti dikatakan oleh Gadamer itu). (Saya ingat akan adik saya Hubertus yang diajari ilmu mbeko oleh kakek dari pihak ibu. melainkan pemaknaan. tatkala mereka menceritakan kembali cerita-cerita itu. Tetapi sedikit demi sedikit kisah-kisah itu mengalami perkembangan dan perubahan. turut juga membentuk kisah itu dan terutama turut menentukan bagaimana bentuk kisah itu akan diteruskan nantinya. Dalam tradisi lisan.demikian cerita menjadi ruang didik. sudah mengecam para ahli taurat dan orang-orang Farisi. Jadi. Itulah semua hal yang harus mereka ingatkan terhadap para pembaca mereka masing-masing. Maksud atau tujuan dari semua aktifitas ini kiranya tidak lain ialah untuk meneruskan dengan sesungguhnya apa yang telah dikatakan oleh Tuhan sendiri. Pelukisan mengenai “ahli-ahli taurat” dan “orang-orang Farisi” dalam Injil-injil. Sedangkan dalam Mateus. (Artinya. Bahan lisan itu sulit dicek ulang perihal benar dan salahnya. Justru karena hal itu maka mudah sekali diubah. penyimpangan dalam proses transmisi itu sendiri. dan peluasan cakrawala makna. dan REB). ruang sekolah menghafal. kepada siapa kisah itu dikisahkan. Dan orang yang bertanggung jawab atas terjadinya hal itu ialah komunitas Kristiani itu sendiri. juga DV) Di pihak lain. mereka menghafal dari sumber yang tidak tertulis. sebab masing-masing penulis mengadaptasikan bahan yang telah ia terima dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga ia mampu memasukkan cap dan ciri-coraknya sendiri ke dalam bahan yang sedang ia kerjakan itu. terutama mereka yang bertugas untuk bercerita. berbelit-belit. Istilah teknis yang biasa dalam studi-studi kitab suci bagi seorang penyusun yang melakukan perubahan kreatif terhadap bahan yang telah ia dapat sebagai warisan dari tradisi. mengatakan bahwa mereka sendiri juga memberi banyak sumbangan tersendiri dalam seluruh proses itu. Tetapi untuk menyederhanakan tampang permasalahan 9 . kisah-kisah mengenai konflik Yesus dengan para lawannya di dalam Yudaisme perlahan-lahan menjadi semakin tajam dan tajam dan juga keras (kasar) terutama ketika Gereja semakin menyadari bahwa ia berada dalam suatu keadaan yang ditandai oleh pertakaian yang semakin sengit dengan orang-orang Yahudi yang lain. sekolah iman). melainkan kisah yang harus relevan dengan situasi sekarang dan di sini. Kisah dari masa lalu tidak lagi dikisahkan sebagai sebuah kisah yang bebas nilai. Misalnya. (kritik bentuk) (Lihat juga pedoman Vatikan itu. tetapi sangat menaruh kepedulian pada orang miskin dan kelompokkelompok yang malang di dalam masyarakat. dalam Lukas. Barangkali setiap minggu sebuah kisah tentang Yesus dikisahkan kepada orang-orang Kristiani yang berkumpul untuk beribadat. melainkan komunitas yang partisipatif dan formatif. kisah tadi mendapat unsur dan dimensi baru. komunitas itu bukanlah komunitas yang diam. SG. Seluruh mazhab studi dan penelitian ilmiah PB – kritik bentuk atau form criticism – menerima begitu saja sebagai benar satu fakta bahwa ucapan-ucapan dan kisah-kisah Injil diturun-alihkan secara lisan. Diduga bahwa injil-injil bersandar pada aktifitas menghafal seperti itu dan di situlah letak permasalahannya. Lukas dan Yohanes sebagai para redaktor dan menyebut mereka sebagai para pengarang. Markus. Armstrong. Dan pertikaian itu akhirnya berbuntut pada penyingkiran orang-orang Kristiani itu dari ikatan komunitas Yahudi sama sekali. Ia justru mengintensifkan kekerasan dan keketatan hukum itu sendiri. Maka dengan demikian masalah menyangkut kapan dan bagaimana Injil-injil ditulis ternyata merupakan suatu masalah yang sangat rumit dan pelik. ditambahkan komentar dan sisipan di sana-sini. ialah “redaktor. Tetapi. Cara atau jalan yang paling baik untuk menjelaskan hal ini kiranya ialah bahwa kita harus membayangkan kedua penginjil yang sedang disinggung itu sebenarnya mempunyai agenda yang berbeda di dalam gereja atau komunitas jemaat mereka sendiri. kiranya lebih memantulkan atau mencerminkan konflik yang lebih kemudian ini daripada perlawanan terhadap para penguasa Yahudi yang dulu sebenarnya telah dilakukan atau diperlihatkan oleh Yesus sendiri.” Dan studi atau kajian mengenai apa yang telah dilakukan atau dikerjakan oleh para redaktor itu dikenal dengan sebutan teknis “redaction criticism. mula-mula kisah itu dikisahkan oleh mereka telah mengenal Dia dan kemudian oleh mereka-mereka yang telah mengenal orang-orang yang telah mengenal Yesus tadi. dan DV. Yesus bersikap cukup longgar terhadap hukum Musa. maka kiranya mereka telah menyesuaikan kisah-kisah tadi dengan kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan-permasalahan mereka. ada baiknya saya mengemukakan beberapa contoh sebagai ilustrasi. masalah yang berbeda yang dihadapi dan ancaman-ancaman bahaya yang berbeda yang juga harus mereka hadapi. walau sepenuhnya sadar bahwa para penulis Injil tidak menyusun bahan mereka secara bebas tetapi mempunyai sumber-sumber tertentu (entah itu tertulis maupun lisan). sampai sejauh tertentu kita bisa merekonstruksi proses berlangsungnya perkembangan ini. Dan memang seharusnya demikian adanya. (Mungkin bukan penyimpangan. Barangkali tidak ada banyak perbedaan sebenarnya antara menyebut Mateus. maka kita harus membiarkan munculnya suatu kemungkinan bahwa mereka sendiri memang telah melakukan perubahan-perubahan yang sadar dan sengaja – yaitu bahwa mereka sendiri lebih dari sekadar para penyusun saja. Mungkin untuk menjelaskan hal ini. dengan ritualnya di waktu malam ketika semua orang sudah tertidur). (Ini suatu mata rantai pengenalan terus menerus). Tetapi perlawanan itu tidaklah sekeras seperti perlawanan yang tampak terekam dalam injil-injil sekarang ini. dan mengenai “orang-orang Yahudi” pada umumnya dalam Injil Yohanes. sebab di dalam proses penceritaan ulang itu. Tetapi itulah juga yang merupakan peluang hermeneutik untuk memperkaya makna. (Kritik Redaksi) (Lihat dari Pedoman Vatikan itu. yang lebih memantulkan konflik dan pertikaian di kemudian hari hari pada konflik yang terjadi pada masa Yesus sendiri). Sosok Yesus versi Lukas dalam beberapa segi yang penting berbeda dari sosok Yesus versi Mateus. Dan dengan cara itu kita dapat menelusuri kembali ke belakang dan bisa sampai ke suatu presentasi yang lebih otentik akan Yesus dan akan ajaranNya dari pada ajaran yang yang kini sudah terkandung dalam injil-injil yang kita miliki. Yang jelas. Yaitu. ruang pelajaran. kalau bahan-bahan dalam Injil-injil sudah berubah dan berkembang sebelum para penginjil menemukan dan memakai mereka. Dan itulah yang menjadi segi keuntungan dan segi positif dari bahan tertulis. (Baca REB. menghafal adalah sulit untuk melihat bahwa tradisi itu bisa menghindar atau terhindar dari perubahan. Jadi. dll). Komunitas pendengar.” atau “kritik redaksi. Dan salah satu kesempatan untuk melakukan tugas penurun-alihan itu ialah ibadat gereja. Dengan cara itu ia mendapatkan relevansi dan aktualitasnya. (Ibadat menjadi semacam ruang kelas. ibadat gereja itu dipandang sebagai kesempatan utama dalam mana mereka mencoba menurun-alihkan ajaran-ajaran yang ada pada mereka.

Praksis liturgi gereja Katolik: lektor hanya membaca demikian. Ada sebuah anggapan atau spekulasi yang sudah tua usianya bahwa sang pengarang adalah sang penginjil Lukas. Boleh jadi surat ini adalah lebih merupakan sebuah risalat pendek daripada sebuah surat. 1 dan 2 Timotius. dan tidak satu pun tanggal yang ditetapkan ini dapat menggambarkan suatu titik yang serba pasti dan jelas. atau mungkin lebih kemudian juga – paling tidak demikianlah anggapan umum yang disepakati oleh para pakar PB. bahwa ia menempuh beberapa perjalanan mengelilingi kawasan Laut Tengah. Dengan cara merangkai dan mengumpulkan serta menyatukan indikasi-indikasi historis baik dalam Kisah maupun dalam surat-surat. Kita akan kembali ke ke pokok ini dalam bab berikut. surat kepada orang-orang atau jemaat Ibrani.” satu batang tubuh tradisi yang telah diturun-alihkan Paulus ke atas para pemimpin dan yang harus mereka pertahankan – itulah sebuah ide yang khas ada pada para penulis abad kedua tetapi tidak secara jelas berasal dari Paulus itu sendiri. Itulah beberapa contoh kasus pseudonimitas dalam surat-surat PB. Aktifitas menulis sebuah surat adalah sebuah proses yang berbeda dari aktifitas mengumpulkan sebuah kisah historis. yang erat sekali terkait dengan Efesus dalam temanya (antara lain tema kenosis itu). sudah melihat bahwa gayanya sangat berbeda dari gaya-gaya surat-surat Paulus yang lainnnya sehingga tidak mungkin bahwa surat itu berasal dari dia. Beberapa pakar juga meragukan otentisitas Kolose. 60 atau bahkan 70 M. maka untuk beberapa bagian daripadanya boleh jadi sudah ada dan ditulis sejak sangat dini. Begitulah duduk perkaranya. 50an. Sebagaimana yang akan kita lihat. Jadi. 1 dan 2 Tesalonika. maka penetapan tanggalnya kurang-lebih ditetapkan secara arbritrer begitu saja. Inilah yang mau kita lihat dalam bagian berikut ini. tanpa menyebut Paulus sebagai asal atau penulisnya). dan dalam Versi Terjemahan berwibawa hingga saat ini. Galatia. baik untuk membangun komunitas jemaat (gereja) di tempat-tempat di mana injil belum diwartakan atau membangun gereja yang telah ia sendiri dirikan dalam sebuah perjalanan yang terdahulu. yaitu paruh kedua dari abad pertama atau bahkan sudah mulai memasuki abad kedua. Markus adalah injil yang pertama yang telah diselesaikan. Dan Origenes. Sesungguhnya juga penyebutan kata “surat” sebagai nama atau sebutan baginya boleh jadi juga merupakan sesuatu yang asing bagi sifat atau ciri-corak dan isi surat itu. Filipi. Dan ada sesuatu yang dapat disebut “iman. maka surat-surat Deutero-Paulinian diduga berasal dari suatu kurun waktu yang jauh lebih kemudian. Dalam dunia kuno. tetapi dalam kesempatan lain yang sangat jarang. Dokumen ini juga – bersama dengan surat-surat Yohanes.ini. Roma. Pertanyaan mengenai bagaimana. yaitu mungkin sudah sejak jaman Yesus sendiri. Surat-surat yang lain di dalam PB untuk sebagian terbesar juga bersifat pseudonimus juga. karena ia tampak memperdaya. seperti juga dalam pelbagai versi terjemahan modern lain. boleh jadi sebelum jatuhnya kota Yerusalem kepada orang-orang Roma pada tahun 70-an (Armstrong itu). Kolose. Dan kalau beberapa di antara bahan itu diturun-alihkan secara lisan. Surat-surat Surat-surat (epistola) dalam PB mempunyai satu persoalan yang sangat berbeda lagi. Aktifitas menulis surat adalah perkara menyampaikan satu pesan dengan satu cara yang sedapat mungkin sangat jelas. Filemon. Tetapi dengan surat-surat inilah kita menghadapi masalah yang secara teknis disebut pseudonimitas. Dan pseudonimitas itu adalah sulit untuk dipahami dalam suatu kebudayaan modern seperti kita dewasa ini (karena terpaut suatu jarak ruang dan waktu yang sangat jauh). kalau ternyata mereka memberitahukan nama penlisna. termasuk dalam tahap ketika surat-surat Paulus sedang dikumpulkan untuk membentuk satu rangkaian atau kumpulan (lihat Bab 3 nanti). kecuali hanya satu surat yang tetap anonim. kitab-kitab bilis tidak menyampaikan kepada kita siapa yang menulis kitab-kitab itu. Dan titik akhir ini dapat ditetapkan secara garis besar saja untuk masing-masing injil. surat-surat Paulus akhirnya ditulis pada dasarnya tidak terlalu sulit (walau sebenarnya kita kadang-kadang kekurangan informasi historis yang perlu untuk dapat membuat kita merasa yakin dan pasti). Surat kepada Jemaah di Efesus secara luas dianggap sebagai semacam surat ensiklik. Aktifitas ini bukan sekadar merangkum dan merangkai bersama-sama semua jenis informasi yang terlepas-lepas (framentaris) dan membentuknya sedemikian rupa sehingga bisa membantuk satu tatanan keseluruhan yang rapi teratur. 1 dan 2 Korintus. Petrus dan 10 . yang menetapkan banyak tolok ukur dalam proses otentikasi dokumen-dokumen. Tetapi surat itu sendiri sesungguhnya tidak dimulai dengan nama salah satu pengarang atau penulis tertentu. yaitu yang bernama Apollos. dan kapan. pemakaian nama-nama orang lain adalah suatu masalah yang jauh lebih halus: ada hal-hal yang absah dan tidak absah. memang benar demikian adanya. kita dapat mengatakan bahwa tentu saja seluruh proses itu pasti sedang menuju ke suatu titik akhir atau titik tujuan tertentu – itulah titik sesudah mana Injil itu tidak akan diedit lagi lebih jauh. Tetapi kalau dengan tanggal penulisan itu kita maksudkan tanggal saat mana bahan itu pertama kalinya dituliskan. dan kita bisa saja mengatakan dengan suatu tingkat keabsahan yang sama bahwa ia berasal dari tahun 40-an. yaitu Ibrani. seorang teolog dari awal abad ketiga (sekitar 185sekitar 254). belum tentu apa yang mereka sebutkan di sana sebagai penulis surat. maka adalah mungkin untuk menetapkan suatu tatanan kronologis yang mungkin bagi surat-surat itu. dan tampaknya menyimpang jauh dari integritas religius dari karya-karya yang sedang dibicarakan itu. dan juga sesungguhnya dari surat-surat Paulus sendiri.. walau menjelang bagian akhir (lihat 13:22) sang pengarang memakai beberapa konvensi dari sebuah surat. ia sudah berhenti. Sebagian terbesar. Mateus dan Lukas berasal dari suatu dasawarsa kemudian. karena bahan itu secara perlahan-lahan dan secara bertapa dibentuk dan diubah dalam perjalanan dan perkembangan waktu. maka kadang-kadang mereka juga tidak sedang menyampaikan kebenaran. Kalau surat-surat Paulus yang asli berasal dari kurun waktu hingga tahun 60an M. Efesus. sebagaimana yang telah kita lihat.” (fn: terjemahan Indonesia: didaftarkan di bagian akhir dari surat-surat Paulus. banyak orang di dalam Gereja purba beranggapan bahwa surat kepada umat Ibrani itu ditulis Paulus. tetapi boleh jadi juga tidak lama sesudahnya. dan dari siapa para pemimpin (Uskujp) mendapatkan kuasa atau otoritas mereka. ada yang masih menyebutkan demikian: “Surat Rasul Paulus kepada orang-orang Ibrani. tetapi pada waktu-waktu yang belakangan ini ada pakar lain yang mengusulkan bahwa sang pengarang adalah sahabat dan teman sekerja Paulus. Titus. Sebagian besar para kritikus sepakat bahwa Surat-surat Pastoral – yaitu 1 dan 2 Timotius dan Titus – memang memakai nama dan kewibawaan Paulus. Di dalam mereka (surat-surat Deutero itu) Paulus telah menjadi tidak hanya pendiri gereja-gereja melainkanjuga merupakan orang yang memberi mereka bentuk dan tatanan. Dari kisah para Rasul kita tahu. tetapi sesungguhnya mereka berasal dari seorang pemimpin generasi kedua di salah satu gereja-gereja yang memang telah didirikan oleh Paulus.

Ketika Yeremia diberitahu oleh Allah untuk meminta agar sang sekretarisnya. Jika demikian duduk perkaranya. namun boleh jadi mereka tidak menuliskan sendiri pidato-pidato atau ucapan-ucapan mereka. Factor kedekatan histories itulah yang bisa menjadi sebuah alasan yang sangat kuat bahwa suatu teks tertentu bisa mempunyai tempat kedudukan yang penting dan istimewa bagi orang Kristiani. (Justru karena sudah runtuh maka sekarang dinubuatkan bakal bangkit kembali. MIsalnya. demikian misalnya orang-orang seperti Yesaya. (kasus Amos) Tetapi dalam proses penerusan (transmisi) itu terjadi sangat banyak perubahan dan pergeseran dalam teks lisan itu sendiri. Maka bisa dikatakan bahwa ada suatu pergeseran mendasar di dalam penafsiran dan juga pemahaman akan esensi iman Kristiani itu dan kesetiaan pada keanggotaan di dalamnya. seakan-akan hal ini terasa sebagai sesuatu yang tidak biasa. dinasti Daud belum binasa sebagaimana diandaikan oleh teks itu. Jadi. Tetapi. yang sudah merentang 2000-an tahun sejak masa-masa awal sejarah Kristianitas. dan kemudian mereka meneruskan hal-hal itu. Para Nabi Pada umumnya para ahli PL berpendapat bahwa sehubungan dengan hal ini. yang tidak lain adalah Kerjaan yang berada di selatan. jauh lebih besar dan lebih panjang lagi dibandingkan dengan rentang waktu seluruh proses PB itu. kalau sekarang kita kembali ke PL. (Bdk… tulisanku di Melintas dan Wacana Biblika itu nanti. apa pun yang menjadi fakta kebenarann yang sesungguhnya. dan juga bisa dengan sangat kuat menarik perhatian mereka. Bahkan ada juga yang hilang ditelan kegelapan sejarah. juga bebearpa rujukan lain Mays dan BPK itu). Sejak saat itulah ucapan-ucapan lisan tadi mulai mengambil bentuk buku. Diduga mereka menyampaikan semuanya itu secara lisan saja kepada para pendengarnya. Namun demikian. Kerajaan Yehuda itu sedang mencapai salah satu titik puncak kejayaannya. Maka apa yang dapat disimpulkan dari fakta anakronistik ini? Hanya satu hal saja. perbedaan dalam rentang kurun waktu menjadi relative. Maka dalam bagian berikut kita akan mencoba melihat beberapa contoh insight dari perjanjian lama itu sendiri. dia merupakan sebuah kerajaan yang makmur dan jaya. entah secara lisan maupun secara tertulis. Sedangkan Yesaya adalah nabi dari kalangan Istana dan berkarya di bait Allah di Yerusalem. Fakta itulah yang bisa menjelaskan kenyataan sejarah bahwa ada banyak teks di dalam kitab para nabi itu sendiri yang hampir tidak mungkin berasal dari kurun sejarah sang nabi itu sendiri berkarya secara histories dalam waktu. keragaman gaya dan jenis sastra PL erat terkait dengan fakta sejarah bahwa seluruh proses PL itu sendiri mencakup rentang sejarah yang teramat panjang. Bahkan kedua nama yang terakhir adalah juga imam (fungsi ganda). yang ditujukan kepada atau menyapa satu situasi konkret (suatu keretakan di dalam tatanan gereja). Sementara 2 dan 3 Yohanes tampak sebagai benar-benar surat. karena sudah terendapkan dalam rupa sebuah kitab. Bahkan beberapa orang dari antara para nabi itu berasal dari kalangan kaum terdidik. 70. Kalau kita membuat suatu perbandingan antara tulisan PB yang paling awal atau dini (yaitu 1Tes) dan bahan-bahan yang jauh lebih belakangan (seperti Titus atau 2Petrus) maka kita dapat merasakan dan melihat perubahan atau pergeseran besar itu. dan Yeheskiel. Para nabi kiranya sebagian besar adalah orang-orang yang sudah melek huruf (tidak hanya secara literal saja melainkan juga sudah sampai pada tahap fungsional kreatif). Walau dikatakan bahwa mereka sudah melek huruf. nubuat itu berbicara mengenai pemulihan dari sebuah dinasti di kerajaan Yehuda. kitab para nabi merupakan tempat titik berangkat yang baik. Hal itu diteruskan kepada para murid mereka.Yakobus – adalah dokumen dari generasi kedua. menuliskan semua nubuat-nubuatnya (Yer. Padahal pada jaman Amos ketika masih hidup dan berkarya. yaitu Baruch. kita akan melihat dan menemukan bahwa rentang waktu yang diandaikan terlibat dalam seluruh prose situ. Inilah yang disebut sebagai tahap pewartaan Lisan. Menetapkan tanggal penulisan Perjanjian Lama Dari sudut pandangan dunia dan jaman modern dewasa ini. yang lain-lainnya tampak mengadopsi bentuk surat secara artifisial. pusat agama Kristianitas itu sendiri). Yeremia. Boleh jadi kita pun merasa bahwa. Kita memulai studi dan penelusuran kita ke dalam PL dengan bertitik tolak dari Kitab para Nabi. kalau dulunya semua yang tertulis itu disampaikan secara lisan (jadi merupakan pewartaan lisan belaka)? Itulah yang menjadi pertanyaan besar kita sekarang dan di sini. Perbedaan itu singkat saja. Nah. tampaknya hampir tampak terlalu rumit dan repot kalau kita berbicara ataupun berdebat mengenai apakah sebuah dokumen PB tertentu memang berasal dari tahun 50. Ada beberapa kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan itu.36). atau bahkan 90-an Masehi. berakhir dalam 9:11-15 dengan sebuah ramalan atau nubuat mengenai pemulihan yang semarak mulia atas Dinasti Daud yang runtuh. semuanya disampaikan secara lisan. ada acuan-acuan (sejarah. Untuk membuktikan hal itu baiklah kita melihat beberapa contoh. Sebagaian besar para ahli mengatakan bahwa boleh jadi salah seorang murid sang nabi dari jaman 11 . Inilah satusatunya nubuat dalam kitab Amos yang mewartakan berkat – padahal warna dasar seluruh kitab itu adalah suram karena ia menyampaikan kutuk dan warta celaka belaka. semua karya-karya ini cukup dekat dengan Yesus sendiri (pokok. Sedangkan yang lain. hal yang lebih penting yang dapat ditarik dari kenyataan ini ialah bahwa teks itu mengandaikan dinasti Daud itu memang sudah runtuh. maka pertanyaan kita selanjutnya ialah bagaimana akhirnya kita saat ini bisa memiliki kitab-kitab para nabi itu? Bagaimana kita dapat memiliki kitab-kitab para nabi itu. seorang dari kaum keturunan Daud. Karena rentang waktunya sangat panjang. tempat. Dengan kata lain. jika dibandingkan dengan karya-karya Paulus sendiri. bahkan kita bisa mengatakan bahwa perbedaan itu tidak begitu besar atau panjang. maka hal itu berdampak sangat besar juga pada jenis dan gaya sastra yang ada dan dipakai dalam PL. Dan warta kebangkitan itulah yang bisa menjadi sumber dan dasar pengharapan). Tetapi tentu saja bisa terjadi suatu perubahan atau pergeseran besar dalam rentang kurun waktu 40 atau 50 tahunan. yaitu di Samaria. Padahal Amos (yang memang berasal dari selatan) tetapi berkarya sebagai nabi di utara. Dan hal itu berlangsung beberapa kurun waktu. barangkali karena prestise yang telah ditempelkan Paulus padanya. Ini tampak menjadi sebuah kekecualian belaka. kalau dilihat dari kaca mata kita sekarang ini. tokoh) yang kalau diteliti dengan baik terbukti bersifat anakronistik. sampai akhirnya muncul sebuah kitab yang merupakan kumpulan dari ucapan-ucapan dari sang nabi tertentu. Jadi. tokoh. Jawaban yang biasa atau umum adalah bahwa para murid dari para nabi itu menghafalkan banyak atau sebagian besar dari ucapan sang nabi. Kitab Amos misalnya. dan diperintah oleh seorang raja yang bernama Usiah.

Kalau demikian duduk perkaranya. Sekarang kita mau melihat kasus lain yaitu kasus Yesaya.. Ada beberapa kalangan para hali yang berpikir bahwa memang demikianlah duduk perkaranya. karena dalam satu kitab itu terdapat lebih dari satu kitab juga sebenarnya. Jadi. Bahan ini diyakini berasal dari jaman yang kemudian. diduga ada sekelompok editor professional yang tidak mempunyai kaitan personal apapun dengan para nabi. boleh jadi juga hal itu dilakukan oleh editor dari kitab itu di kemudian hari. koreksi. Tetapi. dan bait allah ini disebut bait allah kedua.40-55 dengan sebutan Deutero-Yesaya (yang artinya Yesaya Kedua. suatu nasib yang sedemikian menyedihkan sampai sang nabi harus “berteriak” menyerukan dan menyampaikan warta penghiburan Allah. Sang editor mungkin merasa bahwa sebuah kitab tidak sepatutnya hanya mengandung warta celaka belaka. kitab yang menyandang nama beliau juga mengandung bagian-bagian kisah sejarah yang merentang kurun waktu yang sangat panjang bahkan sampai ke abad keenam. sebagaimana kitab itu adanya. Dengan kata lain. Tetapi dari sudut pandang yang lebih bersifat sastrawi. Maka sisanya. selain kaitan fungsional dan institusional belaka. (Ini terjadi di bawah prakarsa Ezra dan Nehemia. biasanya secara teknis disebut proto-Yesaya. Bagian ini mengisahkan kepedihan nasib kaum buangan. bahkan salah satu kitab saja dalam PL itu juga merupakan sebuah perpustakaan mini. yaitu kitab Yesaya yang “asli” yang berasal dari jaman sang nabi itu sendiri. Tetapi bahkan dalam penggal proto-Yesaya ini pun terdapat juga banyak teks yang mengandaikan kurun waktu yang jauh lebih di kemudian hari dari pada kurun waktu karya sang nabi itu sendiri. Lihat catatan singkat dalam Armstrong itu). Dari sudut pandang keagamaan. Kira-kira demikianlah duduknya perkara. (Kasus Yesaya) Yang di atas tadi kita sebut saja sebagai kasus Amos. sebuah perpustakaan di dalam perpustakaan. Salah satu contohnya ialah sebagian besar bahan dalam Yes. penutup yang membawa pengharapan. daripada fragmen-fragmen yang meragukan yang tetap ada di sana juga setelah para kritikus sudah mengobrak-abrik kitab itu dalam derap nafsu penyelidikan mereka. sebuah penutup happy ending. bahkan mungkin juga jauh lebih belakangan lagi daripada Deutero dan Trito Yesaya. kita dapat menarik sebuah kesimpulan. Beberapa dari nubuat itu ditulis oleh Yesaya sendiri (dianggap atau bahkan diyakini sebagai otentik). Nah lho. Third Yesaya). penyisipan) pada kitab-kitab nabi yang lain. (Kiranya kita tidak akan berani menyimpulkan bahwa sang nabi berkarya selama hampir lebih dari dua abad. para ahli juga sudah biasa menyebut Yesaya 56-66 dengan sebutan Trito Yesaya (yang artinya Yesaya Ketiga. jadi kurang lebih dua abad sesudah sang nabi itu sendiri berkarya. yang nanti akan berakhir pada tahun 70 Masehi. Tetapi kelompok para ahli yang lain yakin dan beranggapan bahwa kitab sebagaimana adanya saat ini dan sebagaimana yang kita terma sekarang merupakan hasil karya dari serangkaian (dan bukan hanya sekelompok) para editor yang tidak mempunyai hubungan khusus apa pun dengan sang Nabi Yesaya itu sendiri. studi ilmiah tidak dapat mengubah status kanonik kitab sebagaimana adanya kitab itu. dan ini yang menjadi kasus kita yang menarik sebagai contoh. sebagaimana kitab itu telah diterima sebagai warisan agung dari sejarah masa silam. Di tengah upaya kritis-historis ilmiah itu selalu ada sejumput keraguan yang mendorong orang bertanya. Kalau menyebut abad keenam berarti itulah kurun waktu tatkala orang-orang Israel (Yahudi) mengalami sebuah tragedy sejarah yang besar yaitu mereka dibuang ke Babel oleh Nebukadnesar. yaitu manusia yang benar-benar bernama nabi Yesaya itu 12 . Itu tidak mungkin. karena mengandaikan kurun dan lapisan sejarah yang beragam. kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa bahkan masingmasing kitab para nabi pun dapat dibagi-bagi lagi menjadi kitab yang otentik dari sang nabi dan yang tidak begitu otentik (yang tidak secara langsung berasal dari sang nabi itu sendiri). dan kira-kira 60 atau 70 tahun kemudian (sekitar tahun 530-an) mereka diijinkan untuk kembali ke Palestina dan membangun kembali Bait Allah yang baru di atas reruntuhan Bait Allah pertama (Salomo) di Yerusalem. Kitab Nabi Yesaya adalah sebuah contoh paling nyata dari perpustakaan mini itu. Tetapi kalau kita mau mengetahui dan mengenal tentang Yesaya. tindakan pembedaan itu sama sekali tidak mempengaruhi status kanonik dari kitab yang bersangkutan. Jadi. tetapi penutup itu haruslah sebuah penutup yang membahagiakan. Jadi. Warta celaka yang sudah ada harus “dinetralisir” dengan warta sukacita. kira-kira tidak lama sesudah Amos tampil dan berkarya di Kerajaan Utara. sebab umur manusia 70 tahun atau 80 kalau kuat. Disebut demikian karena inilah bagian ketiga yagn ditambahkan pada kitab Yesaya setelah orang-orang Yahudi kembali dari pembuangan dan melakukan proses pembangunan kembali kota suci Yerusalem termasuk Bait Allah di dalamnya. atau ditulis lalu ditambahkan pada jaman yang jauh lebih kemudian dari kurun hidup sang nabi itu sendiri. Maka kitab ini dikenal juga sebagai kitab penghiburan (Lihat KS PL dengan pengantar dan catatan itu). artinya memang ada mazhab seperti yang dimaksudkan. menurut kata si pemazmur). Kalau bukan seorang murid dari sang nabi. Sang nabi Yesaya itu sendiri sesungguhnya hidup dan berkarya pada abad kedelapan SM. boleh jadi tetap dirasakan bahwa ada jauh lebih banyak keuntungan dan nilai positif juga kalau dalam studi kritis atas Kitab Yesaya.24-27. tetapi yang juga telah mengerjakan sesuatu (editing. dapatlah dikatakan bahwa teks-teks yang tidak murni berasal dari sang nabi tertentu masih tetap merupakan bagian utuh dari Kitab Suci. apakah langkah seperti itu memang pantas untuk dilakukan? Apakah kita tidak memperkosa kanon itu sendiri? Apakah kita tidak merusak status kanonik kitab yang bersangkutan? Inilah yang menjadi persoalan besar. Bahwa bukan hanya PL sebagai keseluruhan saja yang merupakan sebuah perpustakaan. Dari apa yang sudah dikatakan di atas tadi. sebab kedua kitab ini juga mempunyai bagian-bagian yang panjang (dan karena itu disebut kitab nabi-nabi besar) yang hampir tidak mungkin berasal dari kurun sejarah masa karya nabi itu sendiri. maka pertanyaan kita sekarang ialah apakah dulu memang ada apa yang disebut sebagai sebuah “mazhab” Yesaya. tetapi nubuatnubuat yang lain berasal dari jaman yang belakangan.yang lebih kemudian telah menambahkan nubuat itu sebagai penutup kitab. Kasus yang paling ekstrem sebagai contoh dampak dari aktifitas dan intervensi editorial atas kata-kata para nabi adalah kitab nabi Yesaya itu sendiri. Juga sejak saat yang sama. Sejak akhir abad 19 orang sudah terbiasa menyebut Yes. seperti Yeremiah atau Yeheskiel. Tetapi perlu segera disadari bahwa hal membagi kitab-kitab nabi-nabi menjadi bagian-bagian yang “otentik” dan bagian-bagian “yang tidak otentik” adalah merupakan salah satu tugas yang paling berat di dalam studi dan penyelidikan PL itu sendiri. Kitab itu memang tampak sebagai sebuah bunga-rampai nubuat-nubuat yang sangat rumit dan bertumpuk-tumpuk. Tetapi kita dapat memberi beberapa butir pertimbangan berikut ini. sebuah lembaga yang bertanggung-jawab melestarikan dan menambahkan sesuatu pada teks yang disusun oleh sang nabi itu sendiri? Ini adalah sebuah pertanyaan histories yang sangat besar. yaitu Yesaya 1-39. Second Yesaya). atau paling tidak berasal dari mulut dia.

bahkan bisa mencapai rentangan beberapa abad. Boleh jadi dalam proses editorial itu mereka juga telah menyumbangkan ide-ide mereka sendiri yang khas. maka contoh penyelipan yang paling terkenal ialah. yang ini hampir sulit untuk dilacak. maka dapat dikatakan bahwa kita sesungguhnya sangat banyak berutang budi pada para muridnya sehubungan dengan pengetahuan kita mengenai apa yang dulu telah ia katakan atau sampaikan. Tanpa jasa para murid itu kita hampir tidak mungkin tahu apa-apa tentang perkataan dan warta sang nabi. Itu baru di satu pihak. Itu tidak bisa terhindarkan. Di sini kita dapat melihat sesuatu yang sudah disinggung secara tersirat dalam apa yang sudah diuraikan sampai sejauh ini. Salah satu yang pantas dilaporkan ialah penemuan dan kesadaran histories akan adanya kitab Yesaya Kedua itu. (Bahkan harus ditambahkan bahwa sebelum ada penulisan sudah ada terlebih dahulu pewartaan lisan. Yaitu kita membuat suatu pembedaan antara aktifitas menulis kitab-kitab di satu pihak. Tetapi kita tidak hampir tidak tahu siapa yang menulis kitab-kitab itu. dan juga penderitaan (tema-tema eksistensial dalam teologi PL itu sendiri). sebagai sebuah karya final bukan lagi sekadar sebuah antologi belaka. Hal itu dapat mereka lakukan dengan pelbagai macam cara. ketika. Biasanya dari kalangan mereka inilah dipilih para calon untuk menjadi pegawai negeri. Kita tidak bis amenyangkal fakta sejarah bahwa teologi Yesaya Kedua itu merupakan termasuk di antara sumbangan yang paling penting bagi apa yang harus dikatakan oleh PL tentang pokok-pokok besar dan mendasar seperti penciptaan. adalah jelas sekali bahwa hal menulis sebuah buku dan hal membangun sebuah perpustakaan adalah dua tugas atau kewajiban yang sangat berbeda satu sama lain. ada banyak sukses besar yang pantas dilaporkan juga sebagai hasil dari studi dan analisis seperti ini. kita juga tidak bisa begitu saja menyatakan bahwa kitab itu hanyalah hasil dari karya dari para murid itu saja. Ada satu hal yang dapat diulang sekali sebagai sebuah kesadaran penting mengenai kitab para nabi itu. Mereka itu bisa saja bekerja sebagai pekerja bebas atau tenaga lepas. Kita harus selalu ingat akan hal ini. Sebab yang kita tahu adalah fakta bahwa kitab-kitab itu sudah tertulis. (Walau contoh ini tidak berasal dari kitab nabi-nabi. sebagai sebuah kitab utuh yang mengandung visi teologis yang otonom. tentu kelompok para murid yang dimaksudkan di sini adalah kelompok para murid yang terpelajar.sendiri. Di pihak lain. karena kepadanya telah ditambah-tambahkan sesuatu selama satu rentang masa atau tahun yang sangat panjang. Di satu waktu kita dapat mempertimbangakan kitab ini saja dalam dirinya sendiri. jadi mereka itu adalah para penulis profesional. Aktifitas-aktifitas menyusun dan mengumpulkan kitab-kita kurang begitu secara tajam dibedakan dari aktifitas menulis kitab-kitab dibandingkan dengan apa yang menjadi praktek atau kebiasaan dalam dunia modern kita dewasa ini. Hipotesis mengenai peranan para penulis profesional ini. tidak serba langsung juga. Cara lain yang dapat mereka lakukan ialah dengan cara menyelipkan atau menyisipkan komentar-komentar mereka sendiri ke dalam teks. dan hal mengumpulkan kitab-kitab itu di pihak yang lain. Selalu ada perantara. yang akan menjadi kritis dan penting. monoteisme. dan ini sebuah pertimbangan pendukung lain yang lebih jauh. Para Penulis Profesional dan “sastra Hikmat Kebijaksanaan” Di atas tadi kita sudah singgung secara singkat mengenai kitab para nabi. Kalau benar demikian. Sistem pemerintahan dengan staf pegawai negeri seperti itu sangat berkembang pesat baik di Mesir maupun di Mesopotamia pada kurun milenium kedua SM. Para editor itu juga bukan hanya burung beo atau tape rekorder belaka. lalu ia duduk mengambil alat tulis dan kertas dan mulai menuliskan ilham itu). Sebab ia meneruskan dengan cara menafsirkan. yang bisa hidup dari dan karena jasa menulis (jasa melek huruf). kita melangkah ke cara bagaimana kitab-kitab biblis itu telah dikumpulkan ke dalam kelompok-kelompok atau golongan-golongan tertentu. Kesadaran itu membangkitkan kesadaran baru dalam diri kita akan adanya sebuah teologi yang khusus dalam kitab nabi Yesaya. Kiranya tidak seperti itu. Dan salah satu caranya ialah cara bahan-bahan itu disusun. Perantara itu berperan dan berfungsi hermeneutik juga. Sejauh menyangkut sastra Israel kuno – dan bahkan dalam ukuran atau takaran tertentu juga menyangkut Injil-injil dari PB – tindakan menarik garis pembedaan antara kedua aktifitas tadi adalah jauh lebih longgar. Jadi. meneruskan dengan maksud dan tujuan serta kepentingan tertentu. Sebab boleh jadi Yesaya sendiri dulu sebenarnya mungkin tidak “menulis” apa-apa. pantas kalau kita mempertimbangkannya secara terpisah juga. Ia sudah menjadi teologi dalam bentuk antologi. Maka adalah sangat penting untuk menyadari betapa spekulatifnya pertanyaan-pertanyaan sekitar atau menyangkut asal-muasal atau tentang para penulis kitab-kitab Perjanjian Lama itu. dalam bab berikut nanti. dan penerusan secara lisan. kalau kita memahami kata “menulis” itu benar-benar secara harfiah (mendapat ilham. melainkan dari kitab Hikmat. maka tidak ada alternative lain selain model atau jenis analisis dan studi seperti ini. Deutero-Yesaya dan Trito-Yesaya boleh jadi merupakan para pengarang dalam artian yang jauh lebih harfiah jika dibandingkan dengan nabi Yesaya itu sendiri – walau tentang mereka berdua itu juga boleh jadi kita juga mendapat warisan perkataan dan warta mereka karya jasa karya para murid-murid juga. kiranya cukup beralasan. Yaitu kita mau tidak mau harus melakukan pemilahan dan pembedaan. Dengan demikian karya itu. 13 . Ayub prosa yang disisihkan di antara Ayub puisi). Urutan tematik bab-per-bab juga mengadung visi dan misi teologis tertentu juga. Tetapi siapakah mereka ini? Mereka tidak lain adalah orang-orang terpelajar yang melakukan kegiatan penulisan sebagai cara untuk mendapatkan nafkah hidup. barulah kemudian ada upaya penulisan). menjadi antologi teologi. Itulah yang menjadi persoalan kita. Oleh karena itu. Tetapi ada hipotesis lain. yaitu melihat teks itu dalam dirinya sendiri dan tidak terutama melihatnya sebagai bagian utuh dari kitab nabi Yesaya. Kalau tidak demikian. Tetapi mereka juga bisa bekerja sebagai pegawai negara atau pegawai-pegawai pada lembagalembaga keagamaan. yaitu bahwa orangorang yang bertanggung-jawab secara historis atas semua perkembangan ini adalah kelompok para penulis profesional (scribes). Yaitu bahwa sesungguhnya kita tidak tahu secara pasti siapa penulis yang menuliskan kitab-kitab para nabi dahulu. Kita sebut saja pamrih hermeneutik dari si perantara itu. mengingat fakta sejarah bahwa pelbagai kebudayaan lain di sekitar Israel pada masa itu juga mempunyai para (penulis) profesional seperti itu. Dalam konteks kita sekarang ini. Ada pamrihnya. Dan di waktu lain kita dapat melihatnya sebagai satu aspek dari kitab nabi Yesaya yang besar itu. Di atas juga sudah ada usulan hipotetis bahwa yang menulis itu adalah kelompok para murid. Dan perantara itu selalu juga serentak berfungsi sebagai penafsir. Tetapi ada satu hal yang dapat kita sepakati dengan sangat yakin bahwa pengumpulan dan penyusunan bahan-bahan menjadi “Kitab final Nabi Yesaya” sebagaimana yang kita miliki dewasa ini kiranya lebih merupakan hasil karya para editor (editorship) dari pada karya pengarang (authorship). Apalagi.

Untuk melakukan hal ini para penulis atau para penyusun telah menimba dari suatu rentang yang sangat luas bahan yang sudah ada – dari kisah-kisah atau annals resmi kerajaan (seperti “kitab tawarikh dari para raja Yehuda”.. Harus dikatakan juga bahwa kita tidak tahu dengan pasti kapan kitab Amsal itu sudah mulai ada sebagai sebuah kumpulan. 1 dan 2 Tawarikh mengisahkan kembali banyak dari kisah ini dari suatu perspektif pasca-pembuangan (kurang lebih kira-kira pada abad kelima SM). yang memang harus dilakukan. amsal anonim. Amsal itu adalah amsal kolektif-komunal. Contoh yang paling terkenal ialah Ams..... Dalam satu teks seperti berikut ini.. walau ini merupakan sebuah teori klasik yang menjadi titik tolak semua studi ilmiah tentang Kitab Suci. Ezra dan Nehemiah. Dan dalam beberapa hal. Barangkali kitab Amsal-lah yang merupakan contoh paling baik mengenai kitab yang diduga dihasilkan oleh kelompok para penulis profesional seperti itu. Tetapi tidak setiap orang setuju dengan hipotesis bahwa ia disusun dengan menjalin bersama-sama pelbagai sumber. biasanya akan sampai pada satu kesimpulan bahwa-teks itu adalah karya dari lebih dari satu “pengarang” – meungkin juga misi-misi yang berbeda dari cerita yang satu dan sama. di mana bahasa Ibrani klasik sudah digunakan. adalah sulit untuk berpikir bahwa kita mempunyai satu karya koheren hanya dari satu orang penulis saja” “. atau “kitab kisah Salomo. Tetapi kelompok para penulis profesional ini juga mempunyai latar belakang asal-usul yang berbeda juga. Beberapa amsal dari alkibat tampaknya berasal dari lingkaran atau kalangan istana. Ia sudah ada begitu saja di tengah-tengah masyarakat. yang dirangkai menjadi satu oleh editor di kemudian hari.. melalui kerajaan Daud dan Salomo.. atau amsal pedesaan. Hal ini membenarkan 14 . Misalnya ada yang mengatakan bahwa mereka mungkin sudah ada dan sudah bekerja juga pada jaman kerajaan Salomo... hingga ke terjadinya bencana yang berujung pada drama tragis Pembuangan itu. Kalau kita melihat adegan ini dengan fokus yang sangat lembut. (dikutip saja). Mungkin sebanyak seperti yang terjadi atas kumpulan kitab para nabi. boleh jadi raja Salomo itu sendirilah juga yang telah mendorong kelompok para penulis profesionalnya untuk menulis. Sebelum melangkah lebih lanjut. (dikutip saja). Hal itu didasarkan pada kenyataan bahwa isi dari kitab itu pada umumnya menyangkut pengamatan atas hidup yang sangat umum sehingga hampir setiap kurun waktu di antara rentang tahun di atas tadi. mengumpulkan. Selain itu ada juga amsal yang berasal dari konteks kampung atau wilayah hidup pedesaan. Memang ada beberapa hipotesis untuk menjawab persoalan itu. sebagaimana yang telah disinggung dalam bagian terdahulu. sementara Ezra dan Nehemia mencoba melestarikan kisah-kisah yang agak terpotong-potong mengenai proses pembangunan kembali pascapembuangan itu dan oleh karena itu pasti tidak lebih dulu dari akhir abad kelima atau keempat SM.. maka kita akan memperoleh satu kesan umum tentang perjumpaan Musa dengan Allah. Tetapi boleh jadi mereka sudah dikumpulkan dan disusun dengan cara-cara tertentu oleh satu kelompok tertentu. atau amsal kerajaan (royal proverbs). Maka kita sebut saja sebagai amsal istana.. ada alasan yang cukup kuat untuk menduga bahwa kitab itu telah melewat banyak proses editing.11:41) semua jalan menuju ke legenda-legenda populer – dengan cara mengebawahkannya pada suatu skema-penanggalan yang konsisten dan membentuknya untuk membuat pelbagai titik teologis tentang nasib Israel.. Adalah sangat mapan bahwa kitab-kitab mulai dari Yosua hingga ke 2Raja-raja ditulis atau disusun selama masa Pembuangan pada abad keenam SM.. Beberapa kalikah Musa mendaki gunung itu? Apakah di antaranya ia pernah turun lagi? Siapa yang sebenarnya menyertai dia? Dan di manakah “bangsa Israel” pada saat ia naik? Nah. Tetapi kalau kita coba melihat secara lebih teliti dan rinci tentang apa yang sedang terjadi. misalnya. Maka kita sebut saja amsal kampung.” 1Raj. proses koreksi. Selanjutnya mereka juga beranggapan bahwa tradisi hikmat yang terkandung atau tersimpan di dalam kitab itu memang sudah mulai ada di istana raja Salomo.dengan teliti. orang yang mempelajari teks ini.. 2 Raj.. dan teks lain yang serupa itu.23:1-3. dapat ditunjuk sebagai kurun waktu penulisan. maka kita bisa melihat bahwa degan ini sangat tidak koheren.. kita harus menyadari sejak semula bahwa kitab-kitab yang mirip seperti kitab Amsal itu ada juga di Mesir dan di Mesopotamia. Naratif Separuh dari PL terdiri atas kisah atau sejarah dalam artian yang longgar. (Kasus Yosua) Dalam kasush Yosua – 2 Raja-raja boleh jadi ada satu petunjuk atau tanda mengenai identitas dari para penulisnya. tampaknya juga kitab-kitab tadi merupakan hasil kerja dari kelompok para penulis profesional dan terpelajar juga. Dan sebagaimana biasanya. sebuah kumpulan hukum yang secara umum diduga telah dibuat dalam bentuknya yang final selama abad ketujuh SM – kurang dari satu abad sebelum para sejarawan menghasilkan kisah mereka.. dan juga kitab-kitab Tawarik... Pentateukh sudah dibahas sedikit di atas tadi.. di tempat-tempat itu. Karena alasan ini karya-sejarah Yosua-2Raja-raja secara luas diacu dalam studi-studi biblis akademik sebagai Sejarah Deuteronomistik. dan menyusun kumpulan hikmat itu. dan dimaksudkan untuk menjelaskan dan melukiskan kemerosotan dari masa pendudukannya yang sukses atas tanah Kanaan. Misalnya ada yang menunjuk kurun waktu antara tahun 1100 sampai tahun 300 SM sebagai rentang kurun proses pengumpulan dan penyusunan seluruh kitab Amsal itu. Tetapi identitas dari para penulis seperti itu tetap tinggal sebuah misteri yang sangat gelap..Dalam paragraf di atas tadi kita sudah mulai menyinggung perihal hipotesis mengenai adanya kelompok para penulis profesional. Sudah ada banyak karya yang telah dilakukan dalam mempelajari kitab-kitab sejarah dari Yosua sampai ke Rajaraja. Dan itulah yang menjadi masalahnya.24:9-18). Oleh karena itu ada sementara ahli yang beranggapan bahwa kumpulan yang disebut “Amsal-amsal Salomo” dalam kitab Amsal itu memang sungguh berasal dari jaman pemerintahan raja Salomo sendiri. Dan tidak hanya itu saja. dalam hal ini ialah kelompok para penulis profesional tadi. Contoh yang paling terkenal ialah Amsal 12:10-11). Nah. dalam artian yang biasa dari kata itu. Banyak dari tema teologis dari karya itu dekat dengan ide yang terdapat dalam kitab Ulangan.” (Kel.. Tetapi hampir setiap orang berpikir bahwa ia adalah komposit – dan tidak disusun langsung sepanjang satu baris – danjuga bahwa ia telah mengalami pelbagai macam tahap-tahap proses editorial. amsal-amsal seperti ini biasanya tidak mempunyai pengarang. jika kita mau mem-film-kannya.21:25.

Biasanya kitab-kitab ini adalah hasil karya dari satu orang penulis yang menyusun kitabnya dengan bebas. adalah lebih dari pada pengetik-salinan yang hanya menulis kembali (transcribe) apa yang telah mereka temukan dalam sumber-sumber yang terdahulu. walau boleh jadi ia telah mengumpulkan bahan itu secara kreatif. Dunia kitab suci tidak akrab dengan banyak dari distingsi-distingsi kita dewasa ini. tetapi baik Sekretaris Negara maupun Sekretaris Pribadi juga mempunyai sekretaris juga – yaitu. para imam dan para penulis profesional semuanya telah diusulkan pada salah satu waktu atau pada kurun waktu yang lainnya. 2). Tampaknya karya-karya itu adalah merupakan karya-karya fiksi yang sungguh sadar atau disadari. Dalam sistem kepegawaian Inggris. Saya telah mencoba menunjukkan kompleksitas dari proses dengan mana semua kitab-kitab akhirnya ditetapkan dalam tulisan. Sekretaris Negara juga mempunyai Sekpri (yaitu para pegawai negeri yang bertindak sebagai para pembantu pribadi mereka). Kitab-kitab seperti Rut dan Yunus. Sejarah Deuteronomistik adalah contoh kasus klasik dari hal ini. Bagian ini berasal dari pengarang lain. kalau kita diberikan dengan suatu teks yang tidak teridenfikasi. dan seorang penulis dalam artian beberapa orang 15 . tetapi dalam mana sebuah pola yang konsisten muncul juga none the less. ada sejumlah kecil kitab di dalam Perjanjian Lama yang dapat dikatakan mempunyai seorang pengarang dalam artian yang kurang lebih sama seperti status kepengarangan rasul Paulus dalam Perjanjian Baru itu.. Ayub sebagai sebuah kitab utuh-keseluruhan adalah sebuah komposisi. 1). Akhirnya. yang menyatu-padukan bahan yang beragam menjadi satu karya keseluruhan yang rapi dan final. orang untuk menangani surat-surat mereka dan melakukan pengetikan. kitab yang disusun dan terdiri atas pelbagai macam unsur. Kitab Pengkotbah ditampilkan sebagai. adalah cerita-cerita pendek tentang beberapa tokoh imajiner. Tujuan dari survei itu ada dua. sopher secara kasar mempunayi rentang makna yang sama – mulai dari beberapa orang yang melaksanakan tugas (chore) menyalin dengan rapi bahan yang sudah disusun oleh orang lain. Bekerja dengan para pengarang 32. Bagian ini juga diduga dari kelompok pengarang yang lain. Sebagaimana yang sudah diisyarakatkan tadi. Oleh karena sang redaktur terakhir telah membentuk bahan yang ia terima dengan suatu cara yang konsisten. Hal ini berarti bahwa para penulis-Injil. Lebih jauh. bahwa kompilasi itu merupakan satu-satunya jenis kepengarangan yang diketahui oleh beberapa orang. mungkin kata “sekretaris” merupakan sebuah terjemahan yang lebih baik untuk kata itu. Dalam bahasa Ibrani. hingga ke beberapa orang yang mempunyai sekretaris lagi kepada siapa ia dapat mendiktekan dan yang karena itu mungkin “menulis” agak sedikit. Kalau pandangan umum benar bahwa kitab ini terdiri atas prosa dan puisi. Kalau kita sudah mempelajari Injil secara rinci. demikian terjemahan dalam versi terjemahan resmi). Bagian prosanya ialah 1-2 dan 42:7-17. ‘scribe’ atau ‘penulis’. saya mau menekankan kuranya suatu pembedaan yang jelas antara proses penulisan dan proses pengumpulan dalam kebudayaan-kebudayaan yang telah menghasilkan Kitab Suci. tetapi ia tetap mempunyai satu tujuan tertentu yang mau dicapainya dan diwujudkannya. Kitab-kitab ini sedikit sekali memperlihatkan adanya bukti bahwa isinya adalah merupakan sebuah kompilasi dari beberapa kitab atau aliran pemikiran. dan banyak teori tentang mereka telah ditafsirkan (gloss over). dan boleh jadi berasal dari kurun waktu sesudah masa Pembuangan. Kesimpulan: Sebuah Kisah yang Hal ini belum merupakan satu penuntun yang menyeluruh terhadap kitab-kitab yang ada dalam Kitab Suci: beberapa kitab belum disebut. Beberapa di antaranya merupakan teks-teks tertulis yang terpadu sejak awal mula. Pada sisi ekstrem yang lain. tetapi beberapa kitab dari PL juga termasuk dalam kateogi yang sama – Rut dan Pengkotbah baru saja telah disebut. di mana beberapa tujuan akhir yang undarned masih bisa dilihat. hasil karya orang yang disebut “Qoheleth” (sang Pengkotbah. beberapa kelompok orang yang menaruh peduli dengan administrasi atau pengajaran hukum: para nabi. bagian ini juga diduga berasal dari kurun tidak lebih dini dari abad kelima SM. Pentateukh dilihat dengan cara seperti ini oleh beberapa pihak. Kata Ibrani sopher.’ – dan sebenarnya. ada mayoritas terbesar dari kitab-kitab. tetapi Amsal kiranya merupakan sebuah contoh yang paling baik.hipotesis bahwa para pengarang atau penyusun boleh jadi dekat dengan para penyusun kitab Ulangan itu sendiri – dengan kata lain. tidak perlu ada suatu pembedaan antara seorang penulis dalam artian modern dari seorang “pengarang”. dengan cara menempatkan bahanyang telah ia peroleh dalam suatu tata urut yang benar untuk menyampaikan (to get across) poin apa saja yang ingin ia katakan. maka kita pun akan segera tahu. amsal yang sudah ada terlebih dahulu (sebelumnya). “Pengarang” dari Amsal-amsal hanyalah sang pengumpul saja. Dialog itu sendiri memperlihatkan banyak tanda bukti bahwa ia sendiri berasal dari seorang penulis yang kreatif. Ini bukan hanya sekadar bahwa ada hanya beberapa pengarang yang nyata dan yang lain itu hanya para penyusun saja: adalah kepengarangan itu sering sekali tampaknya dipahami sebagai semacam aktifitas kompilasi – atau. Ajaran-jaran yang lebih tua mengenai penafsiran Kitab Suci yang berbicara tentang Allah sedang mengilhami “para pengarang biblis” sulit untuk diterapkan pada suatu situasi historis sebagaimana yang telah kita lukiskan tadi. Walau juga harus disadari bahwa kitab ini pun di sana-sana mengutip beberapa amsal dari kurun terdahulu. Dan bagian puisinya yang berbentuk dialog merentang dari 3:1-42:6. masing-masing dari Injil mempunyai ciri-coraknya sendiri yang khas. dan tidak hanya merakit atau meracik bahan atau fragmen yang lebih tua saja. Sang penyusun Pentateukh adalah seorang pengaran kreatif. Di tengah kedua sudut ekstrem itu. di mana seorang editor atau serangkaian editor telah mengambil bahan yang sudah ada (atau secara lisan atau dalam bentuk tulisan) dan telah memakainya untuk menciptakan suatu karya yang kurang lebih bersifat koheren. dan boleh jadi memang sungguh demikian juga adanya. Penulis ini menyusun. dari injil manakah kiranya ia telah diambil.. walau bukan “pengarang” dalam artian yang sama seperti kita dewasa ini. Kasus yang jelas dari hal ini adalah surat-surat Paulus. beberapa kitab tampaknya telah disatukan seperti sebuah mozaik dari fragmen-framgen yang terlepas-lepas. tertulis atau paling tidak didiktekan oleh satu orang. mencakup satu rentang makna yang lebih luas dari pada kata-kata kita dewasa ini seperti “penulis’ atau ‘pengarang. kalau mau. dalam artian harfiah dari istilah itu. demikian juga halnya dengan Injil-injil. walau ada fakta bahwa mereka semua mempunyai banyak sumber bahan tertentu yang sama..

Tetapi ada juga teori-teori lain yang menentang teori itu tentang bagaimana karya historis ini dikaitkan atau berkaitan dengan Pentateukh. aslinya merupakan lanjutan dari Kitab Ulangan. hingga ke tempat di mana karya Deuteronomistik memulai perjalanan kisahnya sendiri. dalam kebudayaan itu dahulu. dan yang berarti kitab-kitab. kadang-kadang. jadi memang ada banyak kitab di dalamnya). Di Israel. Bab III: Mengumpulkan Kitab-kitab Tujuan Bab ini: Pengantar Bab 3 Sekarang ini kita sudah mempunyai kitab suci. Tetapi di sini kita harus berhati-hati. ke proses pengumpulan kitab-kitab untuk membentuk satu kumpulan-kumpulan yang lebih besar. misalnya satu gulungan untuk kitab Yesaya saja. yang disimpan dalam sebuah lemari yang disebut “tabut”. atau beberapa kodeks. memakai satu volume tunggal dan satu kodeks saja dari Kitab Suci itu. baik itu pada jaman Israel kuno dahulu maupun pada jaman gereja purba. orang-orang Yahudi. Dengan kata lain. Sebagaimana yang telah kita lihat. masing-masing kitab dalam kitab suci dianggap sebagai bab-bab saja dari satu buku utuh yang tunggal). Samuel dan Raja-raja. dan satu punggung jilidan – barulah muncul dalam sejarah sekitar abad pertama Masehi. Ketika dalam bab yang berikut kita bergerak lebih jauh lagi. Sebuah kumpulan kitab-kitab. Sebuah gulungan dapat hanya menyimpan sebanyak satu tulisan yang ada dalam satu kitab saja. kata “bible” itu sendiri berasal dari kata Yunani biblia. sehingga gulungan itu dapat digulung ke salah satu kayu saja. yang 16 . Tetapi untuk semua tujuan-tujuan yang lain. tetapi juga mau memandang kitab Ulangan itu sendiri sebagai termasuk dalam karya ini. mengisahkan sejarah Israel juga. yang mencatat atau melaporkan bagaimana janji-janji dulu telah diberikan atau diucapkan kepada para Bapa Bangsa Ibrani dalam kitab Kejadian sekarang ini sudah terpenuhi tatkala Tanah Terjanji akhirnya bisa diduduki di bawah kepemimpinan Yoshua.yang terlatih dalam mencampurkan tinda dan memperhalus papirus (smoothing). Kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri akan teknologi yang berbeda untuk menghasilkan sebuah buku dalam dunia kuno dulu. kurang lebih sama dengan bab-bab yang berbeda-beda dalam sebuah novel. “Musa” Pada sekitar masa Pembuangan ke Babel. Walau ada gulungan-gulungan Injil-injil dan surat-surat. tetapi bahkan di sana pun kurang begitu tajam dari pada pembedaan yang kita buat dewasa ini. Kayu gulungan ini masing-masing ada pada kedua ujung gulungan itu. Di dunia kuno. melainkan dengan cara menulis mereka secara berturutan (consecutively) dalam sebuah kodeks tunggal. dari hal mengumpulkan bahan ke proses menjadikan atau menyusun kitab. Masih ada syarat yang lain. Yaitu mereka perlu dikumpulkan. Pola kuno ini masih tetap bertahan hidup dan masih tetap dipakai dalam sinagoga-sinagoga hingga saat ini. agar apa yang disebut Kitab Suci itu ada. kita perlu mengetahui pemikiran-pemikiran yang fuzzy ini secara lebih kuat lagi dalam benak kita. di mana kelima kitab Musa (Kejadian sampai Ulangan) masih tetap ditulis pada lima gulungan. fakta bahwa ada banyak kitab saja. sebutan atau nama “Kitab Suci” kiranya bukanlah nama dari satu kitab melainkan nama sebuah perpustakaan kecil. kodeks – apa yang kita sebuah sebagai sebuah kitab. Tentu kitab suci itu tidak berada begitu saja sebagai sebuah paket surgawi. para ahli telah condong untuk melihat Yoshua sebagai suatu bagian utuh dari karya Deuteronomistik. maka hal itu juga ikut mempengaruhi cara atau teknik penulisan. dst. Pada saat itu tulisan disusun pada satu kolom-kolom yang sangat sempit yang sejajar dengan masing-masing kayu gulungan tadi.). dan bukan satu volume tunggal dari kumpulan karya-karya. dalam konteks ini. tidak hanya dengan cara menyimpan mereka dalam satu ruang yang tunggal saja menurut suatu tata urut tertentu. belum memadai sebagai syarat untuk terbentuknya kitab suci. seperti halnya juga orang-orang Kristen. (Satu pertanyaan tentang tata urutan kitab-kitab di dalam Kitab Suci dengan demikian dapat dengan lebih mudah dijawab dalam kasus orang-orang Kristiani daripada orang-orang Yahudi. dan memang mereka dulu telah dikumpulkan. Jadi. mempunyai kaitan yang erat dengan Kristianitas itu sendiri. (Jadi. yaitu satu volume yang dijilid rata dengan dua sampul depan dan belakang. yang berbentuk plural. Kitab Yoshua. bagaimana pun juga. yang juga. dan hal ini. Kemungkinan alasan yang lain ialah bahwa mereka memandang Injil-injil sebagai catatan-catatan dari mana seorang pewarta atau pengkotbah dapat mengisahkan kembali kisah-kisah mengenai Yesus. Karena teknik penyimpanannya seperti itu. satu atau dua edisi dihasilkan dari apa yang kita sebut di atas sebagai Sejarah Deuteronomistik – yaitu kitab-kitab sejarah yang meliputi kitab-kitab seperti Yoshua. dan kumpulan itulah yang membentuh sebuah batang tubuh kitabkitab. Gulungan itu biasanya mempunyai tiang kayu yang keras. Jangan sampai kita melupakannya. yang berfungsi sebagai bagian inti dari gulungan (roller). yang berakhir dengan pendudukan Israel secara gagah perkasa atas Palestina. dan yang dibawa keluar setiap sabat untuk dibacakan dalam sebuah upacara suci kegamaan (ibadat). atau Yeremia saja. kiranya berarti demikian: sebuah kumpulan. yang kemudian digulung untuk membentuk sebuah kitab gulungan (scroll). di atas permukaan kertas kulit. suatu karya yang up-beat. dan karena itu menerima kodeks yang. dan berhenti di tengah kalau gulungan pada masing-masing kayu sudah sama tebalnya. Hakim-hakim. dan kayu yang lain dijadikan pegangan. menurut teori ini. sudah sejak dari jaman yang awal mula orang-orang Kristiani menerima kodeks bagi kitab-kitab mereka sendiri. merupakan kesamaan atau ekwivalen dari buku catatan – seakan-akan agaknya kita seperti mau menyimpan catatan-catatan (scrible) Injil dengan tangan dalam buku catatan yang dijilid spiral di tangan seorang reporter sebagai ganti dari satu Kitab Suci yang dijilid dengan kulit dan dicetak pada kertas India. ketimbang sekadar suatu “karya-karya” sastra yang dipoles (polish) saja. Dalam Kitab Suci sebagaimana yang kita ketahui. adalah tidak cukup bahwa ada fakta banyak kitab yang dikumpulkan bersama-sama dalam sebuah bunga rampai. hal ini berarti bahwa orang-orang Kristen segera berada dalam satu posisi untuk mengumpulkan kitab-kitab suci mereka. sebagaimana halnya di Yunani dan Roma klasik. Atau bisa juga digulung pada keduanya sekaligus. Salah motif atau alasan yang mungkin ialah adanya suatu kerinduan untuk berbeda atau membedakan diri dari orang-orang Yahudi. Tetapi menurut pandangan yang lebih belakangan ini. walaupun belum dapat dijelaskan sepenuhnya. dan segera mulai menulis PL dalam kodeks-kodeks juga. adalah bahwa sejarah Pentateukh pada mulanya sesungguhnya adalah Hexateuch – yaitu sebuah koleksi enam kitab (bahasa Yunani hex berarti enam). Pandangan yang lebih tua. Tetapi apa pun saja yang menjadi alasannya. Hexateuch ini merupakan suatu karya yang bernada optimistik. atau. sebuah kitab itu ditulis hanya pada satu sisi saja dari satu batang (kepingan) papirus yang sangat panjang. sebuah koleksi diikat-satukan bersama dengan suatu cara yang sangat harfiah: semua kitab biblis membentu satu volume tunggal. Dibutuhkan suatu proses dan rentang waktu yang panjang untuk dapat sampai ke keadaan kita sekarang ini. (Sesungguhnya. Dunia Greco-Roman memang dulu membuat pembedaan ini. yang berlaku dari akhir abad sembilanbelas hingga ke pertengahan abad keduapuluh.

Dari sudut pandang sang Sejarawan.khususnya berkat-berkat dan kutuk=kutuk dari bab-bab yang belakangan (yaitu Ul. Imamat. dan bukannya diakhiri di Tanah Perjanjian. walaupun secara kebetulan saja. yang harus dilihat sebagai pengantar untuk seluruh karya sejarah yang dibentangkan selanjutnya.” atau ungkapan lain yaitu “hukum dan para nabi. Pada abad kedua M orang-orang Kristiani tampaknya tidak lagi membuat suatu pembedaan yang besar antara Pentateukh dan Kitab-kitab Suci lainnya. antara sekitar abad keempat hingga sekitar abad pertama SM... Kiranya ada dua motivasi atau penyebab yang tampaknya menggaris-bawahi hal ini. Bilangan. tetapi untuk sekarang ini cukup hanya mencatat bahwa ia jelas sudah membentuk atau merupakan satu kumpulan: lima gulungan yang tergabung menjadi satu dan selalu akan disimpan bersamasama.” dan banyak ucapan yang dikaitkan dengan Yesus dalam Injil-injil juga berbuat demikian. di dalam Pembuangan. hidup dan karya Musa. Mulai dari sekitar jaman Ezra. Keluaran. pada jaman PB banyak orangorang Yahudi di luar Palestina. tuntunan – semuanya ini adalah elemen-elemen dalam Torah) merupakan inti pokok (entrepiece) dari identitas Yahudi. Motif penyebab yang lain boleh jadi sudah terkait dengan pengalaman Pembuangan itu sendiri. (Jadi kalau mau mencari hal-hal pokok mengenai iman Yahudi. Kitab Ulangan membentangkan adegan bagi Sejarah itu dengan cara memperjelas apa yang merupakan hukum-hukum dan tuntutan-tuntutan Allah kalau umat mau mendapat dan menikmati berkat karuniaNya. Tentu saja orang-orang Kristiani pertama dulu adalah orang-orang Yahudi juga. Maka menurut pandangan yang kedua ini. Menurut sebuah legenda. (efbe: maka perspektifnya bukan pendudukan dan kemapanan. Keluaran. Oleh karena orang-orang Kristiani tidak lagi melihat agama mereka sebagai terpusatkan pada hukum melainkan lebih terpusatkan pada Kristus. boleh jadi mereka telah memberi sinyal (signaling) pengalaman mereka sendiri sebagai kaum buangan dan sebagai orang-orang yang mengembara (sojourners) di tanah-tanah yang merupakan milik orang lain. persis sama dengan cara pandang orang-orang Yahudi lainnya – tetapi agak segera muncullah suatu sikap (pandangan. penilaian) yang baru di kalangan orang-orang Kristen pertama itu. Paling mulai dari abad keempat SM orang-orang Yahudi memandang kandungan historis dari Kitab Suci Ibrani sebagai terbagi menjadi lima kitab dari Musa – yaitu Kejadian. dan sudah penuh dalam dirinya sendiri dalam mana semua hal-hal penting dari iman dan hidup Yahudi sudah dapat ditemukan. Dengan cara mengakhiri dokumen agung yang mendasar dari agama Yahudi dengan wafat Musa. Hakim-hakim. tetapi sang Sejarawan menambah sangat banyak kepadanya. memerlukan sebuah versi terjemahan Mesir dari Kitab Suci itu sendiri. keretakan) antara Ulangan dan Yoshua. Itulah kitab suci yang mereka sebut-sebut. menuju ke tanah terjanji). Ulangan. dan apa yang akan menjadi nasib mereka kalau mereka mengabaikan hal-hal itu. Salah satu faktor di sini adalah perubahan dari Gereja yang didominasi oleh orang-orang Yahudi ke gerejayang terutama sekali terdiri atas para Bangsa.). Kis. mereka singgung. hanya karena satu alasan yang sederhana saja yaitu bahwa Yoshua dalam bahasa Yunani adalah Iesous. ramalan yang dire ini sekarang sudah terjadi atau menjadi kenyataan.28-30). Yoshua. Bilangan. dan sudah tentu (presumably) memandang Torah itu sebagai sesuatu yang sentral. 24:27.16:29-31. dan Raja-raja. (efbe: semua diperlakukan sama saja). dan Ulangan – dan empat kitab secara agak membingungkan disebut “para nabi” (tentang hal ini lihat uraian bagian bawah nanti) – Yoshua. (Pada hari ini kuberikan dua pilihan bagimu. semua hal pemberian-hukum dilihat sebagai terpusatkan pada tangan Musa. terdengar dangkal. dan tidak hanya pengantar kitab Ulangan itu saja. kesemuanya mempunyai asal-usul Yahudi. buka saja kitab itu). Boleh jadi injil dari Kitab Ulangan sudah ada sebelum masa Pembuangan itu. dan karena itu dia pun mencoba menghadiskan sejarah dari bangsa itu sebagai suatu realisasi atau pelaksanaan dari peringatan-peringatan yang ada dalam kitab Ulangan itu dahulu. Paulus masih secara berkala berbicara tentang “Musa dan para nabi. dan Septuaginta terdiri atas terjemahanterjemahan dari kitab-kitab yang berbeda yang dibuat selama suatu kurun yang teramat panjang.15:21). pada abad kelima SM. melainkan pembuangan. pengembaraan terus menerus. Samuel dan Raja-raja (Samuel dan Raja-raja aslinya tidak terbagi ke dalam masing-masing dua buku). Tujuhpuluh (atau 72) penerjemah melakukan pekerjaan itu. berbicara bahasa Yunani sebagai bahasa mereka yang pertama. Tidak ada astu kitab manapun yang menyamai dia dalam hal prestise dan kekudusan. dan kitab suci inilah yang tampaknya diketahui atau dikenal oleh orang-orang Kristiani dari abad-abad awal. sebagaimana halnya sebagian besar hal penulisan mazmur ada dikaitkan dengan Daud dan amsal-amsal bijak dikaitkan dengan Salomo. Realitasnya ialah bahwa bahwa orang-orang Yahudi yang berbicara Yunani. atau “Yesus” – dan sebuah kitab yang diberi nama menurut nama Yesus. Pentateukh kadang-kadang disinggung atau disebut dalam PB hanya sebagai kitab “Musa” saja (misalnya dalam Luk. dan beberapa juga yang berdiam di Palestina. Pada waktu ini. Keluaran. Hal yang menimbulkan rasa ingin tahu ialah bahwa tidak satu pun dari cara penyusunan ini yang sama atau mirip dengan apa yang akhirnya menjadi sesuatu yang normatif dalam Yudaisme itu sendiri. dan karena itu mereka tidak melihat suatu patahan (ketidaksambungan. yang berarti “sembilan”) untuk menyebut kesembilan kitab yang merentang dari Kejadian. Kitab Suci Yunani akhirnya mengandung lebih banyak kitab dari pada Kitab Suci Ibrani – tetapi. dan prolog historis dalam bab 1-3. Karena hal ini Kitab Suci Yahudi pun tersedia dalam sebuah terjemahan Yunani. Yang pertama ialah suatu kerinduan untuk memiliki serangkaian kitab-kitab yang menggambarkan atau mewakili ajaran. Judaisme melihat kitab-kitab Musa tidak hanya sebagai permulaan dari suatu kisah yang akan terus berlanjut dalam dan melalui Yoshua. Pentateukh atau Taurat itu (kata Ibrani untuk hukum. dan segera bisa menghasilkan sebuah versi terjemahan Yunani: itulah sebabnya disebut dengan Septuaginta (Latin Septuaginta. Imamat dan Bilangan. Imamat. hampir tidak bisa ditempatkan (relegated) pada pembagian yang kedua. Hal ini muncul sebagai sebuah kesepakatan. Ptolemeus Philadelphus (285-246 SM).. khususnya yang berdiam di Mesir. Samuel. dan seterusnya. yang pertama kali memerintahkan bahaw Torah itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sehingga ia bisa membuat pendapatnya sendiri mengenai hukum-hukum dari rakyatnya yang berbangsa Yahudi dan menempatkan sebuah salinan dari terjemahan itu dalam perpustakaan yang terkenal di Alexandria.. yang berakhir dengan wafatnya Musa. Sesungguhnya. dan bukannya Ibrani lagi. Hal ini sudah benar demikian 17 . adalah salah satu dari para penguasa di Mesir. Secara kebetulan (incidentally) mereka juga cenderung memberi lebih banyak arti penting pada kitab Yoshua. Beberapa para penulis Kristiani mulai memakai kata-kata seperti Enneateuch (satu kata yang berasal dari bahasa Yunani Ennea. yang berarti “empat”) yang terdiri atas Kitab Kejadian. yang memakai bahasa Yunani. bukan karena ia mengungkapkan suatu pembedaan yang mempunyai arti penting bagi umat. Hakim-hakim. dari kata tettara bahasa Yunani. pendidikan. atau tidak berarti apa-apa.berfungsi sebagai semacam pendahuluan baginya. yang berarti tujuhpuluh) atau dengan simbol angka Romawi LXX itu. Tetapi pada abad kedua hal ini menjadi semakin tidak biasa lagi. Kita akan terus melangkah (dalam bab yang berikut) untuk mendiskusikan status Taurat secara lebih rinci dan mendalam lagi. maka tampaknya tidak lagi dianggap penting untuk memberi kitab-kitab dari Musa itu sebuah posisi unggul (mencolok) secara khusus. Hakim-hakim. dan tindakan mengakhiri kumpulan itu dengan wafat Musa tampaknya merupakan suatu yang wajar saja. Bagi suatu bangsa yang tidak lagi berada di atau menduduki tanah mereka sendiri – walau beberapa dari mereka telah diijinkan untuk menduduki dan mendiaminya kembali – catatan optimistik dari Yoshua mungkin terasa tidak bergema lagi. Karena alasan-alasan ini ataupun alasan lain manapun. melainkan sebagai suatu karya yang tertutup.

melainkan suatu bagian tambahan pada kitab Zakariah yang telah dipromosikan ke status sebagai sosok nabi tersendiri agar bisa tercapai jumlah angka keramat dua belas itu (“Maleaki” itu sendiri berarti “utusanku. yang barangkali lagilagi mempunyai status yang lebih rendah. Orang-orang Kristiani tidak melihat hal-hal itu dengan cara seperti ini sama sekali. seperti Mazmur dan Ayub – sesuatu. nabi-nabi. dan kitab-kitab yang lain”. para nabi. Maka Yudaisme dalam masa PB sesungguhnya ada dua jenis kitab kudus: 1) Taurat. Tawarikh. Landasan untuk pembagian seperti itu tampaknya terutama sekali dasar kronologis belaka: Tulisan-tulisan Hikmat merupakan kitab-kitab yang belakangan dari Kitab Suci Ibrani. dan mazmur-mazmur. atau “Kebijaksanaan Yesus bin Sirakh”). yang sebenarnya. Maka kitab suci Yunani. Joel. dan 2) segala sesuatu yang lain selain Taurat. dan Maleaki) diperlakukan sebagai satu buku tunggal saja dalam Kitab Ibrani – Kitab dari Keduabelas Nabi – dan dikelompokkan bersama sebagai “nabi-nabi kecil” dalam Kitab Yunani. Dari sudut pandangan Kristiani. Ester. Sebagaimana yang sudah kita lihat. (penumbra). Tetapi “Nabi-nabi” juga tampaknya mengacu kepada kitab-kitab yang lain. kitab-kitab yang bukan merupakan kitab suci.” di mana “mazmur-mazmur” mungkin menunjuk lebih jauh suatu pembedaan antara “nabi-nabi” dan beberapa kelompok kitab-kitab yang lain. yaitu dengan cara membatasi “Nabi-nabi” pada keempat kitab sejarah (Yosua. Oleh karena itu. dan Duabelas Nabi kecil). untuk membedakan mereka dari Sejarah Deuteronomistik (yaitu kitab-kitab dari Yosua sampai ke 2Raja-raja) – “terdahulu” atau “perintis” dan “kemudian” di sini hanya berarti “mereka yang datang duluan” dan “mereka yang datang belakangan” di dalam daftar dari gulungan kitab suci. dibayangkan sebagai kudus tetapi yang tidak termasuk bagian dari Pentateukh. Zakaria. dalam bahasa Yunani. Ezra. yaitu. Nahum. Hakim-hakim. Obaja. Dan kadang-kadang diusulkan bahwa Maleaki aslinya bukanlah sebuah kitab sama sekali. Sedangkan Yohanes ditulis di dan untuk Efesus. Ini adalah sebuah misteri besar yang serba gelap. Mikah. Yoel dan Amos – yang ditempatkan satu di samping yang lain walau ada rentang waktu 200-an tahun memisahkan mereka (terbentang di antara mereka) – mempunyai sejumlah kecil ciri-corak yang sama. 11:13). Para penulis Kristen sering mengutip dari Injil-injil. “Para Nabi Terdahulu” (tidak disebut demikian). Injil mana yang dikutip. yang biasa terjadi.. dimulai dengan semua kitab-kitab sejarah – Pentateukh. Yehezkiel. Nehemiah. yaitu “Kitab Suci”. Kemudian ada kitab-kitab “puitik” – seperti Mazmur. Habakuk. Junus. petunjuk bukti dari abad pertama M ialah bahwa hanya ada dua kategori kitab saja. kita tetap tidak tahu bagaimana orang Kristen awal memahami hubungan antara injil.Yesaya. “Hukum dan Para Nabi” Ungkapan “hukum dan para nabi. tetapi (sebagaimana yang dapat kita harapkan) bisa mengalami sangat banyak variasi atau perubahan di antara manuskrip-manuskrip yang berbeda-beda. Pengkotbah. Amsal dan Ayub. Injil-injil (lihat tulisan tangan itu) Keempat Injil kita mungkin pada awalnya adalah teks kisah berwibawa tentang hidup dan ajaran Yesus dalam satu gereja lokal tertentu. dst. dan demikian juga halnya dengan kitab Mazmur. bersama dengan Ezra dan Nehemiah. Tobit dan Yudit. dan kelima gulungan yang dibacakan pada pesta-pesta Yahudi: Rut. dan Tulisan-tulisan Hikmat sebagai lingkaran paling luar. Sejumlah kecil referensi-referensi PB menyarankan adanya suatu pembagian rangkap tiga. yang dianggap paling tinggi. berbicara tentang ‘hukum. Yeremiah – bersama dengan kitab Ratapan. Zefania. dengan Roma. dan masih ada dua karya yang lain yang tidak diterima di dalam Yudaisme. tetapi “kitabkitab yang lain” itu mungkan saja hanya berarti “kitab-kitab yang lain” dalam artian sebenarnya. Daniel (yang oleh orangorang Kristiani pandang sebagai kitab kenabian). Para penulis Kristiani awal pun biasanya mengkaitkan Markus. dan hal ini terpantul dengan sangat jelas dalam Injil-injil (lihat Mat. sebagaimana yang diterima oleh orang-orang Kristiani. 18 . walau ia sudah terpelajar dalam Ibrani. Apa yang pasti ialah bahwa Yudaisme pada akhirnya mengakui satu kategori ketiga. tetapi inilah yang menjadi pola dasariahnya. Amos.. Yeremiah. Hagai... Kidung Agung. ia mencakup kitab-kitab sejarah juga kitab-kitab yang kita kira sebagai kitab kenabian . adalah sangat mencolok untuk menemukan Daniel di antara Tulisan-tulisan Hikmat. orang mengutip berdasarkan hafalan dan ingatan saja. Samuel dan Raja-raja) dan keempat kitab-kitab “kenabian” yang cocok dengan sebutan itu (Yesaya.” dan bisa saja itu hanya sebuah gelar saja untuk Zakaria – walau nama-nama Ibrani seperti ini juga memang bisa ada). Tetapi secara keseluruhan. dan dengan cara menempatkan kesemua kitabkitab non-Pentateuch ke dalam satu kategori yang disebut secara bland sebagai Tulisan-tulisah Hikmat (Writings). jauh lebih luas dibandingkan dengan nuansa pemakaian pada jaman kita sekarang ini. Misalnya. dengan dua kitab naratif yang sama sekali tidak diakui di dalam Kitab Suci Ibrani. dianggap sebagai hasil karya Yeremiah. Amsal.” Mungkin juga sebagian besar orang Kristen pada saat itu tidak sadar bahwa gereja-gereja lain mempunyai injilinjil sendiri juga yang lain juga. tetapi ada beberapa petunjuk bukti bahwa hal memperlakukan mereka sebagai satu telah mendatangkan beberapa perubahan dan tambahan-tambahan terhadap masing-masing “kitab kecil” itu. Lukas di Asia Kecil (di wilayah Turki modern sekarang ini). dan keduabelas nabi-nabi kecil. Maka Tawarikh muncul (dimasukkan) di sana.”hukum.” adalah cara biasa untuk membedakan antara Pentateuch dan semua kitab kudus yang lain dalam Yudaisme dari kurun PB. Yeremia. ia menulis dan mengutip kitab suci PL. yaitu Kebijaksanaan Salomo dan Kitab Sirakh. Maka dalam Luk 24:44 kita menemukan ungkapan rangkap tiga itu. yang ada di antara Nehemia dan Ester (lihat Bab 1). Masih ada variasi rinci lagi dalam tata urut di dalam kodeks-kodeks Kristiani. Pada tahap awal ini mungkin mereka tidak mempunyai judul-judul. dengan Torah berada pada pusatnya. walau ada petunjuk bukti bahwa pada tahun-tahun awal ia dipandang sebagai karya kenabian di dalam Yudaisme. Bagi mereka hanya ada satu kategori saja. Kitab Duabelas Keduabelas nabi kecil (Hosea. Walau baris pertama Markus adalah semacam judul yaitu sbb: “. dan kitab-kitab yang terdapat di dalamnya cenderung disusun berdasarkan tema atau jenisnya. Tata urut dari Keduabelas kitab itu adalah berbeda dalam Kitab Suci Yunani. Injil tertua. Tetapi tidak begitu teiliti. Tulisan-tulisan ini berasal dari banyak kurun waktu dan sejarah. Ayub dan Pengkotbah. “Nabi-nabi” adalah sebuah istilah yang merangkum-semua (catch-all). dan kitab Barukh – Yeheskiel. Akhirnya ada “kitab-kitab kenabian”: Yesaya. Pada abad kedua SM karya yang disebut Sirakh dalam beberapa Kitab Suci Inggris (juga disebut Sirakh. dan Nabi-nabi (sebagaimana ditetapkan sekarang) yang berikutnya. Apalagi sebuah kutipan langsung. Maka Kitab Suci Ibrani akhirnya dipahami dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga ia dapat dilihat sebagai tiga lingkaran konsentrik.7:21. termasuk satu nubuat yang sangat panjang (Yoel 2:16 dan Amos 1:2). yang jelasjelas tidak lagi diperlakukan atau dianggap sebagai sebuah kitab kenabian. dalam suatu tempat yang sangat terpisah dari kitab-kitab sejarah awal. Ester.adanya sehubungan dengan Paulus. dan barangkali juga dalam cara dalam mana gulungan-gulungan itu disusun dalam suatu perpustakaan atau ruang buku. Dalam suatu kurun waktu yang jauh lebih kemudian hal-hal ini disebut Yang Kemudian atau Para Nabi Kemudian. dan Ratapan. Umum diterima bahwa Mateus ditulis di Syria..

19 . Tetapi bacaan-bacaan kedua (haftarot) dalam prakteknya telah ditetapkan sudah sejak sangat lama. dan bukannya dari Tulisan-tulisan. Oleh karena itu rupanya bahwa mereka dikumpulkan bersama oleh orang yang dipercayai dengan tugas pengaturan hidup Yahudi. Padahal mungkin sebenarnya angka 4 itu hanya untuk menunjukkan empat arah mata angin utama. kata “injil” itu bukanlah judul generik untukjenis kitab khusus seperti ini. yaitu sebagai gulungan-gulungan yang dihasilkan dengan perhatian penuh cinta dan suatu tingkat kepedulian yang sangat besar dan tinggi akan keakuratan. di dalam Nabi-nabi. Proses pengumpulan dan penyebaran (diseminasi) Kitab-kitab Suci Yahudi dan Kristiani merupakan suatu proses yang sangat rumit dan beragam. kelima kitab Musa. uskup Lyon. boleh dihubungkan dengan pemakain liturgis dari kitab-kitab non-Torah. Markus misalnya. sesuatu yang seperti apa yang sekarang ini kita sebut para rabbi. Kitab-kitab yang lain tidak mempunyai fungsi sentral yang sama dalam Yudaisme. Untuk pertama kalinya Ireneus berbicara bahwa ada empat Injil. ada saling pengaruh juga). hanya mengatakan “kabar baik sebagaimana dikisahkan Markus. Betulkah demikian? Yang jelas argumen itu tidak begitu meyakinkan semua orang.. Mungkin dengan kekecualian beberapa fragmen dalam Injil Thomas. dan itu berarti mulai dikumpulkan menjadi satu kumpulan. Kalau memang benar bahwa aslinya masing-masing Injil adalah kepunyaan gereja partikular tertentu dan merupakan versi lokal dari Kabar Baik. Kendati ciri-corak naratif mereka yang jelas dan bahan miscellaneous yang terdapat dalam mereka. muncul Clemens dari Alexandria (seornag filsuf Kristiani). Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap Gereja sudah memiliki keempat-empatnya. Tetapi tidak satu pun yang lebih tua dari pada yang lain. Bacaan kedua ini harus diangkat atau diambil dari Nabi-nabi. Menurut dia Injil-injil yang lain itu bersifat dunia. atau empat makhluk hidup dalam Wahyu itu (4:9) dan empat janji Allah dengan manusia. Pembedaan ini. Tampaknya pada tahap ini. Ini fakta yang benar. Ketika akan dikumpulkan barulah mereka diberi nama. Injil ini hanya kumpulan ucapan-ucapan Yesus saja. walau tidak secara umum demikian adanya (misalnya. agar dapat dibedakan dari satu sama lain. di dalam Tulisan2). Tetapi adalah sangat meragukan apakah orang-orang Yahudi pada permulaan dari jaman kita memang tahu kitab-kitab mana yang lebih tua dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Keempatnya dinilai tinggi juga oleh Gereja yan gmungkin tidak mengenalnya secara langusng. Kita bisa membaca motifnya dari fakta bahwa “Torah” itulah yang menjadi sebutan bagi kitab-kitab itu pada akhirnya. dan Tulisan adalah yang tidak memberi sumbangan.” atau “kata. bahwa para Nabi adalah kitab-kitab yang menyumbang pada Haftarot kepada buku bacaan liturgi.” Surat-surat Paulus (Lihat tulisan tangan itu) Sisa PB (lihat tulisan tangan itu) Siapa yang mengumpulkan Kitab Suci? Dalam bab yang terakhir kita bertanya: Siapa yang menulis kitab-kitab itu? Sekaranglah saatnya kita harus menjawab pertanyaan yang lain: Siapa yang mengumpulkan mereka? Pertanyaan yang kedua ini bukan pertanyaan mudah. sedemikian pentingnya sehingga mereka bisa dibaca secara agung-meriah dalam liturgi – sekunder karena alasan untuk membaca mereka dengan cara demikian adalah karena peranan sentral mereka sebagai instruksi moral. Satu-satunya kesimpulan yang aman ialah bahwa kita hanya tidak tahu bagaimana kedua kumpulan ini mulai berada.Tetapi kira-kira sekitar tahun 150 ada perubahan. dan bukan sebaliknya – dengan kata lain. yang sudah berasal dari jaman yang sudah sangat kuno di masa silam. pembedaan itu dilakukan dengan cara memberi keterangan “menurut. Sebagaimana yang akan kita lihat kemudian.. Argumen Ireneus itu sepertinya sudah memastikan bahwa pada jaman dia memang sudah ada empat injil. Ia mencoba membedakan antara Yohanes dan ketiga injil yang lain.. paling tidak di gereja-gereja berbahasa Yunani di Prancis Selatan. yang ditemukan di Mesir tahun 1945-6. Zakariah. Yang jelas pada masa gereja purba ada banyak inji. Motif atau alasan yang sekunder tetapi juga sangat penting untuk mengumpulkan kita-kitabTorah. maka pembacaan kedua ditambahkan. pada akhirnya bermuara (settle into) pada pembagian berganda dari Para Nabi dan Tulisan-tulisan Hikmat.. dan kita hanya bisa menebak tentang bagaimana mereka akhirnya bisa dikumpulkan bersama dalam satu kumpulan. Seakan-akan disiratkan bahwa pada saat itu memang sudah ada empat injil untuk Ireneus. tetapi penting karena ia menentukan bentuk bagaimana kiranya bentuk kitab-kitab ini mulai sekarang hingga seterusnya.. yang tampaknya telah sampai pada panggung beberapa waktu kemudian dari pada proses penulisan PB (yang tidak sadar akan hal ini). (dengan kata lain. sedangkan Yohanes itu bersifat rohani (injil rohani). Maka dapat disimpulkan bahwa empat Injil sudah terkumpul sebagai empat pada satu saat tertentu pada abad kedua. adalah bahwa setelah pembacaan mingguan yang diambil dari Pentateukh. Kita mempunhyai suatu ide yang sangat baik tentang mengapa Torah. Petunjuk pertama yang kita percayai ada dalam karya Ireneus. tidak mempunyai satu bingkai naratif. maka peralihan menuju ke pengakuan empat kesaksian yang berbeda dan sering sekali tidak konsisten terhadap atau tentang injil pasti telah merupakan suatu perubahan sikap yang besar dan barangkali juga mengandung sisa-sisa traumatik tertentu. Aturan di dalam sinagoga dewasa ini. Adalah benar juga bahwa Tulisan-2 cenderung mengandung karya-karya yang lebih kemudian dari para Nabi-nabi. Yang jelas tidak lama sesudah Ireneus. Tidak ada jawaban serba mudah untuk pertanyaan ini dibandingkan dengan pertanyaan pertama. apalagi jika ia tidak percaya tentang beberapa jumlah injil saat itu. Dari manuskrip tertua. Argumen seperti itu tampak seperti agak dipaksa-paksakan. kitab-kitab Pentateukh dialami oleh angkatan-angkatan yang kemudian pertama-tama dan terutama sekali sebagai instruksi dalam bagaimana hidup sebagai seorang Yahudi yang baik. atau barangkali juga para ahli hukum. mungkin sekali berasal dari kurun waktu yang lebih kemudian dalam tanggal penyusunannya daripada Mazmur.” Kata Injil itu sendiri tidak ada dalam judul. Sama-sama misteriusnya adalah penyusunan Injil-injil. dan adalah mungkin bahwa aturan itu terpantul dalam pembagian dari Kitab Suci itu. Ia cukup sering berapologi tentang hal ini: bahwa ada empat injil tadi.. Itu berarti juga bahwa bagi dia sudah ada empat injil seperti yang kita punyai saat ini. diterimanya empat kisah yang tidak konsisten berarti bahwa tidak satu pun dari mereka bisa lagi dianggap sebagai otoritatif secara mutlak: masing-masing mempunyai daya untuk memodifikasi kisah yang dikisahkan oleh yang lain. akhirnya dikumpulkan bersama dan diperlakukan sebagai satu karya dalam beberapa artian tertentu (kelima pilar atau fifths hukum).. 4 arah lingkup misi.

Kita telah mengkait-kaitkan (bandying) kata “kitab Suci” dalam banyak halaman dalam buku ini. Tetapi tampaknya jelas bahwa dalam kedua kasus itu ada lebih banyak kitab-kitab yang berada dari pada yang masuk dalam waktu untuk membentuk Kitab Suci. Baik Pentateukh dan kitab-kitab para nabi membuat suatu pengakuan di dalam teks itu sendiri sebagai kitabyang diilhami secara ilahi. Sebagaimana yang akan kita lihat dalam Bab 5. Adalah jelas dari hal ini bahwa Injil-injil yang lain pasti telah beredar juga. dan Injil Yohanes. Tetapi mereka adalah kitab-kitab yang diakui secara luas sebagai kitab yang mempunyai kwalitas yang tinggi: dengan mengakui (reckoning) mereka sebagai Kitab Suci bukan hanya sekadar suatu perkara mengambil hanya salah satu dari kitab-kitab yang boleh jadi sudah tersedia dan memutuskan untuk menyebut mereka sebagai “Kitab Suci.55-56. dan tidak mengajukan satu pertanyaan tentang kompabilitas timbal balik mereka. dokumen-dokumen yang ditemukan dalam penggalian di Nag Hammadi di Mesir. Hamden. mereka bukan hanya sekadar semua kitab-kitab yang kebetulan ada. Kalau hal ini tidak terjadi pada masa hidup Paulus sendiri. Hal ini menyarankan bahwa Injil-injil – atau paling tidak injil-injil Sinoptik – sudah secara luas dilihat sebagai serangkaian dokumen yang koheren pada awal abad kedua Masehi. Gereja mempunyai lebih banyak lagi dokumen daripada yang sudah membentuk Kitab Suci itu. tidak konsisten. yang mengatakan dengan tegas bahwa hanya ada satu saja Injil yang benar. PL itu sendiri menyebut banyak kitab-kitab yang sekarang ini telah hilang. dan seberapa jauh perbedaan antara pelbagai surat-surat dilihat dan diperhatikan. yang merupakan atau dianggap sukses besar dalam beberapa gereja-gereja Timur. dan bukan satu bangsa. 1976. yang bisa pergi ke sebuah toko buku dan membeli sebuah buku yang mengandung persis surat-surat yang sama dalam tata urut yang sama juga. dan masih terus dipakai juga oleh banyak orang Kristiani bahkan setelah semua akhirnya telah mengakui koleksi empat injil sebagai kumpulan yang berwibawa.(Masalah Markion) Tentu saja dulu sudah ada penolakan terhadap upaya perumusan (promulgation) akan satu kumpulan dari empat-Injil. (Maka muncul gerakan dan upaya untuk membuat semacam harmonisasi injil). dan kita tahu bahwa orang yang masih sejaman dengan Marcion.Z.. yang disebut dalam Bab 3. Bab 5 Proses Penetapan Kanon 20 . tetapi jangan sampai membuat kita berpikir ini hanya suatu pertanyaan terbuka kitab-kitab manakah yang akan mendapatkan status ini. seperti misalnya “kitab Yashar” (2Sam.14). akan mengherankan untuk menemukan satu bangsa yang tulisan-tulisannya hanya berkisah tentang pokok-pokok yang suci-suci saja – walau di mana hal ini menyangkut Gereja maka hal ini lebih masuk akal dan dapat diterima. Sudah barang tentu kita tidak dapat mengatakan seberapa jauh “korpus Paulinium” itu dipikirkan sebagai suatu karya tunggal. paling tidak. Harmoni-harmoni Injil – yaitu kisah-kisah tunggal. p. Conn. Faktor yang kedua ialah ini. dari pada yang tampaknya pada kita sekarang ini. hal itu tidak niscaya berarti bahwa seseorang secara sadar telah memilih mereka dari sebuah daftar kemungkinankemungkinan yang lebih panjang. yaitu Yustinus Martir. kita boleh melihat koleksi dari surat-suratnya sebagai kembali atau berasal pada suatu dorongan yang berasal dari Paulus sendiri.” dan bagaimana kitab-kitab seperti itu dibaca dalam dunia kuno. dan yang otoritasnya mengikat atas orang Yahudi untuk semua generasi.Leiman: “[Kitab-kitab] yang diterima oleh orang-orang Yahudi sebagai otoritatif untuk praktek keagamaan dan/atau ajaran. Hal ini bisa kita lihat dalam karya dari Marcion (wafat sekitar tahun 160-an). Sebagian besar dari mereka tampaknya telah diterima sejak dari awal mula.15:26 dan 16:19). mengutip dari semua ketiga Injil Sinoptik walau tidak pernah mengutip dari Yohanes. Kitab-kitab di dalam PL dan PB adalah kitab-kitab yang akhirnya diterima sebagai “suci”. Hal terbaik yang dapat kita katakan ialah bahwa surat-surat membentuk satu kumpulan dalam suatu artian yang lebih dari pada sekadar bersifat insidental belaka – seakan-akan mereka itu hanya sekadar terjadi atau berada dalam satu ruangan yang sama – tetapi dalam cara yang kurang tampaknya mereka kepada kita. kita dihebohkan dengan Injil Yudas yang terkenal itu). yang terasa sangat mencolok manakala orang berhenti untuk berpikir betapa anehnya bahwa Gereja bisa mempunyai empat versi alternatif mengenai peristiwa dan ajaran-ajaran yang ia sendiri pandang sebagai sangat penting! Walau perlawanan Marcion terhadap keadaan perkara seperti ini sudah mati atau menghilang di antara para penggantinya. karena ia membuang bagian-bagian dari surat-surat yang tidak ia setujui. lagi-lagi. sehingga hal ini mendukung gaya Kristianitas dia sendiri. dalam beberapa artian. Bagaimana pun juga. yaitu Lukas – dan bahwa hanya satu kali itu saja ia telah expurgated dia.” (S. Jika kitab-kitab PL dan PB semuanya adalah sastra yang pernah ada di Israel dan pada jaman Gereja purba. yang mengeluarkan semua bentuk inkonsistensi dan menyatu-padukan semua kisah-kisah dan ajaran-ajaran dalam satu kitab saja – mash terus dipakai hingga hari ini oleh beberapa orang Kristiani. Beberapa para ahli bahkan telah berbicara tentang tindakan Paulus yang “menerbitkan” surat-suratnya – membuat salinan dari sejumlah surat-surat itu dan mengedarkan mereka kepada semua gereja yang telah ia dirikan. namun beberapa para penulis Kristiani awal memang sudah berpikir bahwa satu Injil yang tunggal dan dihomogenisasi akan jauh lebh baik dari pada versi empat injil yang tidak konsisten satu sama lain. Tampaknya hal ini terjadi tanpa banyak kontroversi sama sekali. Di mana menyangkut Israel kuno. Sebuah definisi yang baik akan Kitab Suci adalah definisi yang diberikan oleh S. Contoh yang paling terkenal dari gerakan ini ada dalam karya seorang yang bernama Tatianus. Marcion. tampaknya dirancang untuk menjadi sebagai semacam Kitab Suci Kristen (dengan sengaja dan sadar). Sekitar tahun 150-60 ia menghasilkan sebuah Diatessaron.54 belum) Sebuah Seleksi Khusus Hal. Beberapa di antaranya telah ditulis dengan sebuah status yang tinggi dalam hati sedari awal mula. maka kiranya hal ini sangat boleh jadi (fairly) telah terjadi tidak lama sesudahnya: produksi surat-surat Deutero-Paulinian seperti surat-surat Pastoral itu menyiratkan bahwa orang membaca dan menilai surat-surat itu sebagai dianggap ditulis oleh Paulus.1:18) dan silsilah para raja Israel dan Yehuda (lihat 2Raj. dan tampaknya ia bukan orang pertama yang memikirkan tentang hal ini. tetapi kita tidak pernah mendefinisikannya. (Beberapa tahun belakangan ini. mempunyai satu kumpulan-surat Paulus. (sebab masih ada lebih banyak lagi dari sekadar yang diterima dan diakui). yaitu (presumably) menyiratkan bahwa dia (dan mereka yang menghukum dia karena vandalismenya) sudah tahu surat-surat itu dalam bentuk mereka yang lebih penuh (lengkap). yaitu suatu Harmoni Injil. seperti Injil Thomas. Kumpulan kitab-kitab dalam dunia kuno adalah sangat beragam. sebab Gereja adalah sebuah gerakan rohani. The Canonization of Hebrew Scripture: The Talmudic and Midrashic Evidence. kiranya masuk akal untuk berharap bahwa kitab-kitab sekular dan suci sama-sama akan diwakilkan atau tergambarkan dalam Kitab Suci.Leiman.” Maka usul bahwa kitab-kitab yang telah kita perbincangkan “telah menjadi” Kitab Suci mengandung suatu kebenaran yang penting. yang banyak dari padanya telah ditemukan kembali pada jaman modern ini – misalnya.Z. Bab IV: Dari Kitab-kitab ke Kitab Suci Apa itu Kitab Suci? OK Spesial Sejak Semula OK (hal. Dalam bab ini saya bermaksud untuk bertanya apa yang tersirat dalam menyebut sebuah buku itu sebagai “kitab suci. Kalau nasihat Paulus kepada orang-orang Kolose untuk membaca suratnya kepada orang-orang Laodikea (dan sebaliknya juga) adalah otentik.

Biasanya dipikirkan bahwa masalah itu dapat dipecahkan dengan mengatakan bahwa kanon-kanon yang lebih panjang dan lebih pendek hanya menggambarkan atau mewakili Kitab-kitab Suci dari orang-orang Yahudi masing-masing atau berturut-turut di Mesir (Alexandria) dan Palestina. Kapan Daniel. dan ada peraturan-peraturan yang eksplilit bahwa. tetapi tetaplah harus diingat bahwa sebagian besar dari kitab-kitab tambahan itu dalam kanon LXX aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani juga. Yang satu adalah proses yang dilukiskan dalam Bab 3: yaitu tahap-tahap dengan mana teks-teks tertentu akhirnya dipandang sebagai suci dan berwibawa. Semua kitab-kitab yang sekarang ini ada dalam Kitab Suci Ibrani pada akhirnya dimasukkan secara pasti. Kadang-kadang orang berbicara tentang “kanon” Kitab Suci. dalam 2Tes. dan penerimaan sebagai Kitab Suci). dan adalah mungkin untuk dikatakan bahwa berdasarkan gaya dari kitab-kitab yang lain bahwa mereka juga merupakan terjemahan-terjemahan dari teks asli dalam bahasa Ibrani. tidak lagi demikian.). kriteria untuk memakai dan mengacu atau menghormati kitab-kitab tertentu adalah fakta (atau kepercayaan. ketika dipakai mengenai teks-teks Kitab Suci. Sampai saat ini saya berusaha menghindari pemakaian kedua kata itu. tidak muncul dalam kedua kitab itu. Tetapi kini saya harus menjelaskan alasannya. sedang membuat satu klaim implisit sebagai Kitab Suci sejak dari semula. Yang menarik ialah bahwa ada petunjuk bukti yang kemudian bagi persoalan-persoalan tentang apakah Esther itu bisa menajiskan tangan atau tidak. barangkali apa-apa saja yang mereka ingin mendapatkan salinannya. apa yang ditulis sesudah kurun waktu itu. sebagaimana yang telah kita lihat dalam Bab 2. Di sini orang pun bertanya: Kapan Daniel dikanonisasikan? Artinya. Tetapi penting juga disadari bahwa tiga hal itu bukan tiga tahap sejarah yang jelas berbeda dalam proses perkembangan Kitab Suci. tidak memakai apa yang kiranya akan dikenal sebagai kitab-kitab Apokrif – boleh jadi ini merupakan sebuah konfirmasi sedikit bahwa kedua kanon itu masing-masing merupakan Kanon di Alexandria dan Palestina. dan bahwa tidak ada sesuatu yang lain lagi yang dapat menyaingi otoritasnya bagi orang-orang Yahudi. Kemerosotan (demise) dari kanon yang lebih panjang dalam Yudaisme kiranya merupakan suatu konsekwensi dari naiknya (ascendancy) pada akhirnya Yudaisme Palestina di atas varietas Alexandria. Secara praktis hal ini berarti bahwa Yosefus mendukung kanon Ibrani (yang ia tahu dalam bahasa Yunani!). Jadi. dengan alasan adanya inkonsistensi internal kitab itu ssendiri. sebagaimana telah dicatat di atas. dan mengandung (appends) tanda tangan dia sebagai bukti otentikasi atas suratnya (3:17). ada faktor kesepakatan para rabi. Secara menyeluruh. sementara dia mengakui hanya kitab-kita dari Kitab Suci Ibrani yang ada. Yudaisme sudah mempunyai “Kitab Suci”. dan sering dikutip (aptness) dengan kalimat-kalimat seperti “sebagaimana ditulis dalam Kitab Daniel. yang mengacu kepada mereka seakan mereka sudah merupakan satu karya yang akrab (bagi para pembacanya). Ketika para penulis PB mengacu kepada “hukum dan para nabi” sebagai suatu cara untuk melukiskan Kitab Suci Yahudi. khususnya di Mesir. tetapi merupakan bagian inti dari Kitab Suci bagi para rabi. Ada suatu teks di dalam Mishnah (Yadaim 3:5) yang mengatakan bahwa memang ada pertikaian-pertikaian. Ada proses keempat yang harus ditempuh sebelum Kitab Suci mulai ada dalam bentuk seperti kita memilikinya sekarang ini. Kita tidak mempunyai catatan-catatan mengenai suatu diskusi atau perbincanngan mengenai hal ini (pada pihak orang Kristiani.74-75. Kanon Yunani mempunyai otoritas potensial karena Paulus memakai kitab Kebijaksanaan. tiga tahap itu saling tumpang tindih. Judaisme memperlihatkan suatu kecenderungan yang kecil untuk melegislasi tentang kandungan dari Kitab Suci. demikian juga kanonisasi buku-bukutertentu boleh jadi sudah terjadi sangat dini dalam sejarah. Kitab-kitab suci hanya terus mengakumulasi sampai ada lebih dari satu orang yang bisa membaca. mengacu kepada daftar-daftar dari kitab-kitab yang “terlarang. apakah sungguh berdasar atau tidak) bahwa mereka selama ini sudah selalu dihormati.” Ide yang aneh ini (dipandang sebagai aneh pada saat itu – bagaimana mungkin sebuah kitab suci dapat mendatangkan kenajisan atau defilement?) telah ditafsirkan sebagai menyiratkan bahwa beberapa orang telah meragukan tentang status kitab suci dari kedua kitab ini. Kitab Suci itu tumbuh dengan satu cara yang sangat acak-acak (untidy) dan tidak ada satu pemikiran apa pun yang bisa mengubah fakta sejarah itu. memberi perintah bahwa surat-surat yang meragukan (spurious) yang diandaikan (purporting) datang dari dia harus diabaikan. Esther juga tidak mempunyai nama suci itu. adalah hanya di pinggir-pinggir saja dari suatu kanon bahwa keputusan-keputusan sungguh dituntut dalam salah satu agama: sebagian terbesar dari kitab-kitab biblis hanya diterima begitu saja dari masa silam dan diturun-alihkan ke masa depan. Apa yang tidak selalu diperhatikan (yang selalu luput dari perhatian) ialah diskusi Yosefus sendiri tentang kanon. Suatu pemecahan yang lebih baik ialah mungkin untuk berpikir bahwa hanya Pentateukh sajalah yang benar-benar penuh berciri kanonik – yaitu. walaupun bersifat membangun. Kata “kanonisasi”. Beberapa kitab sudah dipandang sebagai Kitab Suci sebelum kitab-kitab yang lain. hal itu tampak paling jelas dalam kasus Kitab Suci Ibrani.” Maknanya yang kedua ialah perkembangan dari sebuah daftar (itulah arti asli dari kata kanon dalam bahasa Yunani) yang mencakup semua Kitab Suci dan yang efeknya berarti mau mengatakan bahwa tidak ada buku lain yang mempunyai status yang sama seperti ini. Dan pada saat itu banyak kitab lain dalam Kitab Suci Ibrani belum ditulis sama sekali. makna-makna tersembunyi. Adalah tidak enak memakai istilah “kanonisasi” untuk menyebut baik tentang pengakuan akan satu kitab sebagai Kitab Suci dan tentang keputusan bahwa ia termasuk dalam satu daftar resmi sementara yang lain tidak – dan karena itulah sampai sekarang ini saya menghindari istilah itu. Kitab Ulangan dan mungkin Injil Yohanes. tentang apakah Kitab Sirakh dan Kidung Agung itu “menajiskan tangan-tangan. dalam akademi rabinik yang didirikan di Yahnah setelah runtuhnya Yerusalem ke tangan orang-orang Roma pada tahun 70 M. Dengan demikian. misalnya. proses ke arah itu disebut “kanonisasi”. karena ia merupakan teks primer yang dibacakan secara publik pada pesta Purim. “hukum” itu sudah pasti atau tentu tetapi “para nabi” itu masih tetap merupakan sebuah daftar yang terbuka. sebagaimana yang akan kita lihat. Jelas adalah benar sehubungan dengan suatu karya tertentu bahwa ia mula pertama ditulis. ada faktor kesepakatan dalam pemakaian liturgis.2:2. cenderung untuk berarti dua hal sebagai berikut ini. bahwa karya-karya itu ditolak secara resmi dari kategori sebagai Kitab Suci. tetapi hanya (berdasarkan) tanggal dari kitab itu saja. dan kemudian akhirnya diakui sebagai Kitab Suci. alias tidak dapat masuk kanon. Orang dapat membayangkan hal ini dengan mudah dalam kasus kitab Daniel. dan yang belum ditetapkan (proscribed) oleh seorang pun juga. tetapi ada sebuah penumbra dari karya-karya tentang mana yang setuju atau disetujui. Adalah juga penting bagi Philo dari Alexandria. Tetapi ada juga tambahan-tambahan sedikit – kisah-kisah mengenai Susanna dan bel dan Naga. Dan walaupun kita membedakan dua macam daftar sebagai “Ibrani” dan “Yunani”. Kiranya sudah jelas pada akhir abad keempat SM bahwa tidak ada apa-apa lagi yang dapat ditambahkan pada Pentateukh. baru kemudian dikumpulkan ke dalam satu kumpulan atau batang tubuh. Jadi. dengan beberapa kitab sudah “tiba” sebelum yang lain-lain sudah ditulis. memakai sebagai kriteria untuk inklusi bukannya suatu keputusan atau perintah dari beberapa otoritas yang kompeten. YHWH. dengan semua implikasi-implikasi yang baru saja disebutkan tetnang hal penerapan universal. dari mana komunitas-komunitas dan para penulis Yahudi memilih apa-apa saja yang mereka sukai atau. dipertahankan melawan penambahan atau pun penyisipan (supplantation) – pada abad pertama SM. Pada gilirannya dua hal ini tidak sama dengan upaya mulai memperlakukan kitab-kitab itu sebagai Kitab Suci. Maka hal ini bukan hanya sekadar masalah bahasa saja yang membuat beberapa kita mampu menemukan jalan mereka ke dalam kanon Yahudi sementara kitab-kitab yang tertinggal di luarnya. dapat juga diperluas ke proses atau tahap yang keempat. karena Daniel telah bernubuat pada abad keenam SM. baik dalam Yudaisme dan Kristianitas. dan tidak seorang pun merasa untuk memaksakan titik silang (cut off). Pada prinsipnya adalah mungkin untuk memiliki Kitab Suci tetapi tanpa kanon. Poin yang dikatakan di atas tentang tumpang tindih antara tiga proses awal atau pertama kita (penulisan. Yudaisme rabinik kiranya telah memutuskan bahwa Kitab Suci Ibrani yang lebih pendek lebih disukai untuk dipilih dibandingkan dengan daftar yang lebih panjang dari LXX (Septuaginta). akhirnya dipandang sbagai Kitab Suci. dan bahwa ini adalah suatu cara ingenious untuk meletakkannya melampaui penghinaan. yaitu. dan karena itu ia pun dapat berkata bahwa ada hanya 22 kitab-kitab suci saja bagi orangorang Yahudi. Dalam kasus ini pertikaitan bukanlah mengenai apakah mereka itu adalah kitab suci – kalau mereka memang bukan kitab suci. Adalah penting untuk melihat bahwa dua hal ini adalah dua hal. Perjanjian Lama 75-76. Tampknya tidak ada kitab lain yang telah menjadi subjek dari suatu peraturan. Hal. Paulus. Dan Tertullianus. (Ada sementara orang yang berpikir 2 Tes itu sendiri meragukan atau spurious. Setiap kitab yang ditulis sebelum kematian Artaxerxes secara potensial bersifat skriptural. Pada saat Daniel dan Pkht ditulis. Teks Ibrani dan Aramaik yang utama sudah ada atau tersedia begitu sajja – otentik. seperti halnya dalam banyak agama-agama lain di dunia ini. relevansi dengan jaman. poin utama yang harus dikatakan tentang proses kanonisasi (dalam artian daftar resmi dari kitab-kitab yang diterima) adalah seberapa sedikit dari padanya yang sungguh terjadi. yang dianggap agak kemudian dan rada tidak biasa. Tetapi. Tetapi. Sejumlah kecil keraguan juga dicatat sehubungan dengan kitab Yeheskiel. Saya sendiri beranggapan bahwa masalah itu boleh jadi erat terkait dengan fakta bahwa nama suci-ilahi. Begitulah Pentateukh mungkin sudah dikumpulkan dan dipandang sebagai suci sebelum beberapa dari nabi-nabi kemudian lahir. Jangan sampai dipikirkan bahwa seakan-akan selama beberapa abad orang menulis buku-buku.” seraya mengusulkan bahwa Gereja sudah mulai melarang teksteks tertentu – walau pada waktu itu isi dari PB sama sekali belum ditetapkan secara pasti. menulis dalam bahasa Yunani tetapi dari suatu latar belakang konteks Palestina. dengan dasar karena ia berkonflik dengan Torah (lihat di atas). sang penulis Yahudi yang merupakan orang sejaman Paulus tetapi agak sedikit lebih tua dari pada Paulus. dan oleh karena itu teks itu mempunyai otoritas dalam hal usia. Tetapi dalam teorinya kanon itu tidaklah bersifat tertutup: kitab-kitab tua yang baru saja ditemukan kiranya harus dipertimbangkan sebagai calon 21 . yang dipandang secara keliru seakan-akan keduanya itu tidak berbeda. Apakah hal-hal ini asli atau tidak? (Itulah yang menjadi pertanyaan kritis-historis kita). dan hampir tidak ada suatu bukti apa pun bahwa ada pertikaian tentang hal ini. karena Paulus memakai Kebijaksanaan. tetapi tidak apa-apa dalam tradisi Yahudi). Bagian-bagian penting dari teks Ibrani kitab Sirakh. pengumpulan. Tetapi sebagaimana halnya proses-proses yang lain saling tumpang tindih secara kronologis. Aktifitas menulis buku tidaklah sama dengan proses atau aktifitas mengumpulkan buku. Atau sekaligus keduanya. ditulis. yang dilestarikan dalam manuskrip-manuskrip Kristiani tetapi yang tentu saja merupakan produk dari Yudaisme dalam daerah-daerah yang berbahasa Yunani. Sejarawan Yahudi Yosephus. di pihak yang lain. lalu ada lagi tahap di mana orang melihat semua buku itu sebagai Kitab Suci. Judaisme dan Kristianitas kiranya telah menelusuri lorong yang penuh konflik darah itu. ada sebuah surat oleh Origenes tentang Susanna. dan tentang Amsal. dan hal ini adalah sesuatu yang logis-logis saja. Tetapi tentu saja ada suatu kesenjangan besar dalam pengetahuan kita di sini: karena hal ini meninggalkan suatu pertanyaan mengenai PL Yunani yang lebih panjang. para rabbi tidak undoubtedly membicarakan kitab Sirakh. dan nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan oleh tiga orang Pemuda di dalam tanur api itu.Perlu disadari bahwa tiga proses yang telah kita pelajari sejauh ini jelas berbeda satu sama lain. Maka tidak dapatlah dipahami kalau ada orang yang mencoba untuk membuangnya dari kanon. (Seperti halnya Buddhisme). Begitu juga halnya dengan PB. dan tidak satu. lalu ada kurun waktu orang mengumpulkan kitab-kitab itu. tanpa diajukan satu pertanyaan apa pun juga. Bahwa fakta sudah diterima sejak lama hampir merupakan segala-galanya di dalam proses pembentukan Kitab Suci. tetapi sebenarnya tidak berbuat demikian. sebab ada banyak kontak antara kedua pusat dari Yudaisme itu sebenarnya. Surat-surat Paulus mungkin sudah terkumpul dalam satu korpus sebelum 2Ptr ditulis. Otoritas potensial dari kanon Yunani itu dapat dilihat dengan mudah. Baru sesudah itulah “dikanonisasi” dalam artian diterima secara resmi sebagai bagian dari satu daftar yang terbatas. kitab ini tidak diakui sebagai kitab suci. yang ada dalam Kitab Suci. ditemukan di Kairo pada tahun 1896. Yang jelas. maka masalah itu kiranya tidak akan pernah muncul juga ke permukaan – melainkan apakah mereka harus diperlakukan dengan sikap dan perhatian yang sama seperti yang selalu selama ini diperlihatkan atau ditunjukkan kepada kitab-kitab yang memang disebut Kitab Suci itu. Barangkali hal ini terlalu menyederhanakan masalah. pada abad kedua M. Dua hal ini mutlak. atau tanpa dipersoalkan apa-apa lagi. sebegitu jauh yang dapat kita katakan atau sampaikan. dan boleh jadi ada sementara orang yang berpikir tentang satu hal dan yang lain berpikir tentang hal yang lain. dan bahwa semua kitab-kitab Yahudi yang lainnya membentuk atau merupakan sebuah kategori yang longgar (fluid). Pada satu titik tertentu. Demikianlah dapat terjadi bahwa dalam perjalanan sejarah ada kitab-kitab yang lain yang tidak dikanonisasi (non-kanonisasi).

dan tidak lagi memandang mereka sebagai sepenuhnya kitab suci.” Misalnya. Kitab-kitab yang ada termasuk dalam salah satu dari tiga kategori. dan sebenarnya terus melangkah lebih jauh dengan melakukan perjalanan mencari fakta di Palestina untuk mencari dan menemukan secara pasti apa yang menjadi ketetapan atau batas-batas dari Kanon Ibrani itu. baik untuk studi pribadi maupun untuk dibacakan di depan publik di gereja (suatu langkah yang berani tentu saja). Mereka semua serta merta melihat arti penting Marcion. harus mengikuti daftar Ibrani yang lebih pendek. Kalau memang demikian duduk perkaranya. dan versi terjemahan Latinnya yang semula. seakan-akan ia mempunyai daya ikat yang sama seperti Kitab-kitab PL itu. dengan mengatakan bahwa LXX. sehingga PL Protestan tidak mengikuti tata urut dari Kitab Suci Ibrani lagi. Petunjuk bukti PB tidak mendukung suatu pernyataan doktriner bahwa apa yang disebut sebagai Apokrif itu tidaklah kanonis bagi para penulis ini. ada yang menganggap dia sebagai kitab yang diakui secara universal. tetapi dikutip sangat sedikit saja dalam sebagianbesar para penulis Kristiani awal. Lutheran hanya untuk studi pribadi saja. sejak saat itulah mulai muncul daftar-daftar.” dengan kontras dengan kitab-kitab kanonik dari Kitab Suci Ibrani. yang. ternyata hal ini tidak membawa suatu perubahan praktis apa-apa pun juga – khususnya karena kitab-kitab ini tidak dicetak khusus (hived off) dalam bagian yang khusus (seperti halnya dalam beberapa versi cetakan protestan). para penulis Kristen dari pertengahan abad kedua dst mulai menaruh perhatian pada soal ketetapan tentang apakah kitab “PB” memang benar-benar terilhami. (Kontroversi Hieronimus dan Agustinus) Satu-satunya kontroversi yang nyata atas kanon PL pada abad-abad awal mula adalah di antara Hieronimus (sekitar 345-420). yang tidak dapat seluruhnya kita ketahui. satu angkatan sebelum Hieronimus. dan hal itu secara luas dipandang sebagai liar (inflamatory). tetapi menyebut mereka sebagai “apokrif” (yang artinya kitab-kitab yang tertutup) atau “kitabkitab gereja. (Tetapi muncul pertanyaan kritis yang menggelitik dalam diri saya. Yang menarik ialah kategori kedua. (Seperti susunannya dalam LXX itu). yaitu kitab Wahyu. ini adalah sebuah misteri sejarah. Yudas. para penulis Kristiani gariis utama (diduga begitu) mulai sibuk (goad info) daftarkan kitab-kitab yang mereka. dan Didache (Ajaran Para Rasul). beberapa para penulis PB secara tidak diragukan lagi mengutip dari kitab-kitab yang sekarang ini ada dalam Apocrypha. yang secara teratur dikutip oleh para pemimpin dan para guru Kristiani sebagai Kitab Suci. Para penulis Kristen sering sekali memakai kitab-kitab yang mereka tidak pandang sebagai kanonik. Isi daftar mereka sangat mirip dan kurang lebih mirip dengan PB kita (yang lebih mirip ialah daftar dari Athanasius itu). Di dalam kategori ini termasuklah kitab-kitab berikut ini. (Jadi. mereka mencapai hal ini hanya memindahkan kitab-kitab tambahan itu yang berasal dari kanon Yunani itu.. kanonisitas pada umumnya bukan satu persoalan sekadar “luar” atau “dalam” saja: ada juga satu kategori marginal dari kitab-kitab yang statusnya tidak jelas. itu tidak lain karena spekulasinya tentang masa depan. hanya tanpa beberapa buku tertentu saja. mereka menerima beberapa kitab sebagai kanonik. Dalam surat itu ia mengutip surat Paulus kepada orang di Korintus. (Jadi. Tetapi para pembaharu Protestan. tetapi tidak banyak dipakai. Di pihak lain. Bagaimana pun juga apakah mereka terdorong oleh kebutuhan untuk menolak Marcion. pada akhir abad I. dan bahwa dia kebetulan menjadi kesaksian kita yang paling awal ke arah perkembangan ini. melainkan tercampur-baur dalam dan dengan kitab-kitab Ibrani dari jenis yang sama: Kebijaksanaan dan Sirakh di samping Amsal dan Pengkotbah. Tobit dan Judit di samping Ester. dibantu di dalam karyanya oleh sejumlah para penasihat Yahudi. ada perbedaan sikap dan perlakuan juga). dan memakai judul Apokrif untuk kitab-kitab itu. dan skriptural. upaya Protestan untuk memulihkan Kitab Suci primitif dan otoritatif berhasil dalam menghasilkan sebuah Kitab Suci yang tidak pernah dikenal oleh seorang Kristiani mana pun sampai saat itu. kalau memang dapat disebut demikian. tetapi yang dibaca secara luas dalam Gereja. Yang lain-lain yang kita tahu sekarang ini sebagai PB merupakan buku-buku yang disepakati bersama (jadi termasuk dalam kategori pertama tadi). Menurut Eusebius. Sering sekali dikatakan bahwa. Rasa sukanya sendiri akan kitab-kitab apokrif. dst. adalah tidak mungkin untuk mengatakan bahwa kanon PL yang dipakai oleh gereja PB adalah persis sama dengan Kitab Suci Ibrani saat ini. tetapi hampir tidak pernah memakai mereka juga. (mungkin seperti sikap sebagian besar orang katolik dewasa ini. bukan hanya dari dua saja. ada beda antara kanon teoretis dan kanon fungsional). Vulgata. pada abad kedua M. Tetapi selalu ada kitab-kitab yang ada di wilayah penumbria yang entah pada prinsipnya diterima. Pada saat penyusunan Mishnah. yaitu kitab-kitab yang harus ditolak karena dicurigai (spurious). Secara khusus adalah menarik bahwa Hieronimus sendiri masih tetap memakai dan mengutip kitab-kitab deuterokanonik sebanyak sebelumnya juga setelah pertikaian dia dengan Agustinus. Apa yang kita lihat di sini adalah sebuah fenomena terhadap mana studi-studi akan kanon biblis sering sekali memberi perhatian yang sangat sedikit juga: bahwa kanon teoretis yang dipegang orang jarang sekali sama dengan kanon fungsional mereka. Walau kitab-kitab tambahan masih terus disebut apokrif atau deuterokanonik. Surat Barnabas. melainkan mengikuti tata urut LXX. Uskup dan teolog Melito dari Sardis (wafat sekitar tahun 190 M) mengangkat masalah itu menjelang akhir dari abad kedua. orang-orang Kristiani pun cepat atau lambat mau tidak mau akan bertanya apakah mereka harus mengikuti ketetapan itu (suit). Semua para penulis Kristiani mempunyai kitab-kitab yang sering sekalimereka pakai secara penuh (ini termasuk dalam kategori pertama). Tetapi karena mereka masih tetap muncul dalam Kitab Suci Latin. Ia dengan tekun (duly) menyerahkannya (commended) kepadanya kepada gereja. kaum ortodoks. maka ini juga bahkan jauh lebih jelas benar lagi di mana menyangkut kanon fungsional. yang mempunyai satu pernyataan paling jelas dari ide Paulus bahwa Kristus telah menyelamatkan para penganutNya dari “kutuk hukum” – yang oleh Marcion dipahami sebagai pembebasan dari Yudaisme. Akibatnya ia tetap berada dalam kategorinya sendiri (juga bukan berarti Eusebius merasa yakin tentang hal itu juga). tetapi nyatanya masih dipakai juga. (Jadi. mengapa sampai terjadi demikian? Apakah ada alasan teologis tertentu? Tidak mudah menjawab 22 . maka tidak ada penulis-penulis Kristiani dari abad-abad awal yang tampaknya telah sadar akan hal ini. ini sebuah eksperimen historis baru). dan dengan gigih mengatakan bahwa PL Gereja harus hanya mengandung kitab-kitab yang ada dalam Kanon Ibrani saja. awalah bahwa Hieronimus menerjemahkan kitab-kitab tambahan itu. Resolusi konflik. Klemens dari Roma menulis surat kepada jemaat di Korintus. 2-3Yohanes. Nabi-nabi. Begitu orang-orang Yahudi telah memutuskan kanon Ibrani yang lebih pendek. Tetapi. (Daftar dari Eusebius dan Athanasius) Ada dua daftar klasik dari abad keempat. dalam artian sebuah kitab yang memang mempunyai kitab-kitab Ibrani tetapi dengan tata urut Yunani. secara tradisional terhidup 24. Paradoksnya. yang bernama Marcion. (Faktor Pengaruh Marcion) Tetapi apa yang tidak kita temukan adalah suatu daftar yang menunjukkan mana teks-teks Kristen yangmempunya status khusus ini dan mana yang tidak. Kitab-kitab ini dihormati secara luas pada Gereja awal tetapi mereka tidak diakui sebagai kanonik pada gereja-gereja arus utama pada masa Eusebius. yang mengakui Deuterokanonika sebagai kekhasan mereka. Gereja-gereja Timur sering sekali meragukan kitab ini. Tampaknya tidak seorang pun telah berpikir bahwa penetapan Marcion akan kanon PB memang mempunyai daya pengaruh juga. Kaum Anglikan tetap gigih mempertahankan kitab-kitab apokrif itu. sebaliknya. 3) notha. (Athanasius) Hal yang persis sama adalah juga benar sehubungan dengan Bapa Kristiani yang lain. Daftar yang ia punyai sangatlah pendek – expurgate – yang dibersihkan dari semua unsur-unsur Yudaisme – dan beberapa surat-surat Paulus. Ada satu kesepakatan umum bahwa orang pertama yang membuat daftar seperti itu adalah seorang Kristiani heterodoks. Maka dengan tepat dapatlah dikatakan bahwa Kitab Suci Protestan itu adalah sebuah hibrida. Yesaya atau Mazmur. Untuk itu Eusebius membedakan tiga macam kategori: 1) Homolegoumena. yaitu kitab-kitab yang statusnya diperdebatkan. pemakaian yang dilakukan atas kitab-kitab yang (kini) tidak-kanonik adalah sangat kecil jika dibandingkandengan pemakaian yang sangat banyak dari kitab-kitab pokok seperti Kejadian. dan apakah mereka persis sama dengan kitab-kitab Ibrani yang ada sekarang ini. masih tetap besar sekali juga sesudah ia telah memutuskan untuk demikian (mendukung kanon yang lebih pendek itu). sang penerjemah Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. tentu jauh lebih kurang dari pada karya volume I yaitu Injil Lukas. yaitu Athanasius (sekitar 296-373). 2Petrus. (Bagaimana cara Yosephus menghitung kitab-kitab itu. tetapi yang lebih menarik ialah kategori-kategori yang dipakai untuk mengklasifikasi pelbagai kitab-kitab yang ada. khususnya akan kitab Kebijaksanaan Salomo. dan Agustinus dari Hippo (354-430). Hieronimus telah lama menetap (tinggal) di Betlehem. Dari diskusi ini muncul sejumlah poin penting yang harus kita cermati baik-baik. Perjanjian Baru Sudah sangat dini orang Kristiani mulai mengumpulkan tulisan-tulisan para penginjil dan para penulis surat. artinya. yaitu Vetus Latina. yaitu kitab-kitab yang konon diperdebatkan. tatkala ia menetapkan “kanon” ini. di satu pihak. Yakobus. bukannya tidak seperti kitab-kitab deuterokanonika dari PL itu. halini mendorong para penulis ortodoks memperthankan PL dan menetapkan tempatnya yang paling tepat dan sebaiknya dalam Gereja. Tetapi ada satu kasus khusus. yang lain-lainnya tidaklah serba pasti). Alih-alih memegang satu PB yang didefinisikan secara kabur. Jika kita tertarik dengan yang praktis dari pada dengan posisi atau pendapat yang teoretis. tetapi keduanya mengumpulkan kitabkitab tambahan ini dalam sebuah apendiks bagi Kitab Suci. pandang sebagai Kitab Suci. yang hanya melanjutkan saja memakai kitab-kitab Yunani tambahan walau seakan-akan mereka tidak pernah ada. yaitu dari Eusebius dan dari Athanasius. Contoh yang baik untuk yang pertama ialah Kisah. tetapi ia menunjukkan bahwa ia memang berada di pinggiran (marginal). sebagian besar orang tidak membedakan mereka dari bagian lain dari Kitab Suci itu. atau pada prinsipnya ditolak. yaitu kitab-kitab yang diakui secara universal. yang disusun sedemikian rupa sehingga dimulai dengan Galatia. Sebagaimana yang telah kita lihat. Ia mengutip Injil-injil seakan-akanmereka adalah padanan Kristiani untuk PL itu. yang oleh para penulis Kristiani secara universal dipandang skriptural. dan Hikmat – walau hal ini tetap saja mungkin. Marcion membentangkan satu preseden yang kemudian diikuti oleh sebagian besar Gereja (mayoritas). Tetapi tidak semua orang Protestan seluruhnya merasa bahagia dengan perubahan ini. Agustinus menerima seluruh kanon Yunani. dan tidak ada kitab-kitab lain yang tidak mereka setujui walau ada orang-orang lainyang memberinya otoritas (ini termasuk kateogi ketiga). 2) antilegoumena. Dalam kategori ketiga ini termasuk buku-buku seperti Shepherd dari Hermas itu. Pertama. Sikap Agustinus ini tetap merupakan sikap yang resmi dari Gereja Barat sampai jaman Reformasi Protestan itu. juga sama-sama telah menyatakan diri mendukung kanon yang lebih pendek itu. Petunjuk bukti dari PB tidak banyak membantu kita. yaitu terletak dalam sikapnya yang menolak PL. Mungkin lebih baik dipikirkan bahwa Marcion hidup pada kurun waktu ketika perhatian pada batas-batas teoretis dari Kitab Suci Kristen baru saja mulai muncul. apostolik. Kitab Suci Ibrani tentu saja sudah berada dalam pedomannya yang sekarang ini ada: tidak ada kitab lain yang pernah dikutip di sini. tetapi tidak pernah membaca kitab-kitab itu secara khusus juga). demikian menurut Eusebius. Tidak lama berselang mereka menganggap kumpulan-kumpulan itu sebagai naskah berwibawa dan “skriptural. kitab ini bisa termasuk dalam kategori pertama atau ketiga. Itu sudah kita tahu. kembali ke posisi Hieronimus itu.untuk dimasukkan ke dalam kanon. dan hampir tidakbisa tidak menyadari bahwa orang-orang Yahudi hingga saat itu tidak memberi tempat kepada kitab-kitab apokrif itu sama sekali. Dengan tekun (duly) ia mengusulkan bahwa Kitab Sucinya yang baru. Kalau ini benar menyangkut kanon yang resmi. kita mau tidak harus mengatakan bahwa bagi PB kanon itu hampir identik dengan Kitab Suci Ibrani. tetapi ada juga yang menduga bahwa kitab ini meragukan. Sehingga. dan Kitab Kebijaksanaan-lahyang paling penting dari antara itu semua. Tetapi Agustinus menentang hal ini dengan sangat kuat. Tetapi bagaimana hal ini terjadi. Kita masih belum tahu bahwa Kitab Suci memiliki bentuknya yang sekarang ini yaitu Hukum. selalu telah mencakupkan kitab-kitab tambahan itu. ataukah harus tetap setia pada Kitab Suci Yunani yang lebih panjang yang telah menjadi sesuatu yang biasa bagi sebagian besar para penulis dari abad pertama Kristianitas atau sekitar itu. Begitu juga orang seperti Yustinus Martir.

Janganlah siapa pun menambah-nambah sesuatu kepadanya. Proses pengumpulan bersama-sama kitab-kitab yang terpisah menjadi satu batang tubuh yang lebih besar. juga sanglah kompleks. membagi dua dokumen dan kemudian mengembangkan masing-masing bagian dengan satu cara yang baru. Kisah Para Rasul dan Surat-surat yang disebut Katolik. lengkap. dan nama-nama yang dituntut dan para pengarang yang diduga demikian (alleged). Tetapi. Jika ortodoks. kadang-kadang bahkan sampai memandang Injil-injil yang tertulis terutama sekali sebagai repositories dari bahan yang bisa mengingatkan sang pewarta atau sang guru tentang kisah mengenai Yesus.dalam artian membuat daftar eksklusif kitab-kitab untuk diterima sebagai Kitab Suci. Tatkala ia membahas kitab Wahyu. sebagaimana halnya tulisan-tulisan dari satu pribadi yang khusus dengan satu pesan khusus untuk disampaikan. tulisan berada para urutan tingkat kedua dalam mutunya. Hanya di wilayah-wilayah pinggir sajalah dari Kanon bahwa sebuah daftar seperti itu menjadi satu aturan atas satu topik kontroversial. dan apakah kitab-kitab itu kanonik atau tidak kanonik. kenangan-kenangan historis mungkin beredar selama banyak tahun secara lisan sebelum ada seseorang yang menuliskan mereka – hal ini kiranya secara khusus benar sehubungan dengan jenis-jenis bahan legendaris. substract) dokumen-dokumen yang sudah ada. seperti halnya kebudayaan kita sendiri dewasa ini. sebagai langkah awal. dari Yohanes. tidak ada urusan regulasi gerejawi. Inti PB sudah diterima sangat dini sehingga aturan-aturan sesudahnya hanya sekadar mengakui saja apa yang sudah jelas sebelumnya. demikian juga halnya sebagian besar orang-orang Kristiani. Atau seluruh atau sebagian dari proses ini cenderung disebut sebagai kanonisasi Kitab Suci. Bab 6 Kesimpulan Dalam buku ini kita telah melihat pada dua proses yang terpisah. Sama sekali tidak seperti itu. dan dalam kondisi seperti ini. Itu saja. kemudian. adalah jelas bahwa mereka tidak hanya merupakan padanan kuno dari prosesor-kata. yang ditulis dalam tata urut ini: yang pertama. lalu. logisnya ia termasuk dalam kategori 1 dan 3. ada tiga. ketimbang sebagai sebuah Kitab Suci dalam dirinya sendiri – dari situlah datangnya fakta sejarah bahwa para penulis semula sering mengutip Injil-injil secara tidak akurat! Rasa suka dan pilihan orang-orang Kristen yang lebih condong kepada Kodeks dari pada gulungan kitab mungkin mencerminkan ide ini bahwa Injil-injil yang tertulis adalah informal. Inilah semua yang merupakan sumber-sumber keselamatan. komposisi-komposisi yang seperti catatan. tetapi di jaman Israel kuno dulu dan di jaman Gereja purba satu gudang penyimpanan yang besar dibentangkan oleh keakuratan daya ingatan (menghafal). jangan juga ada sesuatu yang diambil dari mereka. Yang pertama. Sebagai tambahan. Adalah tidak tedious untuk berbicara tentang [kitab-kitab] dari PB. yang mencakup kitab-kitab yang tidak ortodoks. dua surat kepada Timotius. kitab ini dibaca secara luas. dan lagi. oleh satu otoritas di dalam Gereja dari abad keempat Masehi. yang dibagi dalam bagian-bagian untuk dibacakan di muka umum dalam Gereja. menurut Mateus. walau kita sekarang mempunyai kitab suci dalam mana semua kitab dicetak dalam format yang sama dan karena itu tampak seakan-akan mereka itu mempunyai status yang sama. PB sebagaimana yang telah kita terima didukung (endorsed). jika tidak ortodoks kiranya ia telah dibuang ke dalam gudang karya-karya heretik saja. Itu sama dengan cara orang Kristiani modern memandang tulisan-tulisan C. Ini adalah keempat Injil. selama suatu kurun waktu tertentu kitab-kitab yang jelas berbeda belum atau tidak muncul. dan Yohanes. Begitu titik ini sudah dicapai. dengan mana Kisah memperkenalkan bukannya surat-surat Paulus melainkan surat-surat Katolik. telah diputuskan orang-orang Kristiani sebagai tidak merupakan bagian utuh dari PB. tetapi dalam segi yang lain daftar itu identik dengan daftar kita sendiri. bukannya dalam artian bahwa kemelekan itu tersebar luas dan merata ke dan di mana-mana. praksis sebagian besar tidak diragukan. satu dari Yudas. Kedua adalah proses dengan mana mereka akhirnya mereka diterima sebagai Kitab Suci. dan berbeda (dibedakan) dari semua kitab-kitab yang lain. proses penulisan kitab-kitab biblis: kita sudah mencatat bahwa semua kebudayaan yang menghasilkan PL dan PB adalaah kebudayaan-kebudayaan melek huruf. yang digabungkan oleh orang yang menerima mereka semua dan kemudian mencetak bahan itu dalam sebuah format yang seragam yang lalu bisa menutup atau menyelubungi asal-usul mereka yang berbeda-beda (disparate). Sebab diandaikan para pembaca tahu akan hal itu. ada awal. Misalnya. kitab-kitab PB seakan-akan meretas jalannya sendiri ke dalam Gereja. Wahyu kepada Yohanes. Notha yang ditetapkan oleh Eusebius (kitab-kitab yang meragukan tadi) bukanlah kitab-kitab yang tidak boleh dibaca dengan alasan bahwa mereka itu tidak ortodoks dan karena itu dianggap bisa menyesatkan. kemudian. Oleh karena itu. Untuk sebagian besar. tanpa tambahan atau penghapusan. masih tetap bertahan hidup. agar dia yang haus bisa dipuaskan dengan kata-kata yang hidup yang terkandung di dalam mereka. ada dua faktor yang membuat situasi di jaman kuno itu sangat berbeda dari situasi di jaman kita sekarang ini. Kalau Eusebius tidak jelas tentang pemahaman akan 2Petrus dan 3Yohanes. dan akhirnya. dipersaksikan sangat lemah dalam Gereja Purba. mereka itu ortodoks tetapi tidak kanonik. sebagai contoh ia memberi Injil Petrus. puisi-puisi dan ucapan-ucapan yang diturun-alihkan secara lisan ketimbang dalam bentuk tulisan. Satu aspek yang penting dari PB. yang terus menerus dibaca pada masa Gereja purba jauh setelah ia dinyatakan tidak kanonik. di mana kita merasa perlu tahu jawaban atas satu soal. dan justru di sinilah ia tidak memberitahu kita apa yang perlu kita ketahui. Tetapi apa yang ia buat ialah hanya mengangkat dan merumuskan soal. dan ada sebuah akhir. dan benar-benar reprehensible yang tidak boleh dibaca oleh orangorang Kristiani.pertanyaan ini). kanonisasi. dan justru karena itu mereka pun membaca Eusebius: dengan harapan ia dapat memberi mereka jawaban atas pertanyaan itu. dengan mengubah-ubah hal ini agar bisa cocok dengan tujuan-tujuan mereka yang khusus – dengan menghasilkan edisi-edisi baru. Orang-orang Kristiani perdana terutama sekali kuat melekat dan menganut titik pandangan ini. dan kadang-kadang muncul dalam manuskrip-manuskrip biblis. Sesungguhnya kitab-kitab itu adalah kitab-kitab yang pada masa Eusebius. dalam liturgi ekaristi dan ofisi ilahi). Pada saat yang sama. Eusebius pun mempunyai kategori yang keempat. Itu terjadi begitu saja. heretik. ada tengah. kepada orang-orang Kolose. dan surat kepada orang-orang Ibrani. Namun demikian. Sebuah kitab tidaklah jenis benda yang sama dalam sebuah kultur seperti itu seperti bagi kita – suatu entitas dengan satu bentuk yang tertentu. dengan satu istilah teknis. setelah yang ini. dan dalam keadaan tata kemelekan yang luar biasa prima dan mengagumkan. juga. nah. dan ada banyak ungkapan-ungkapan kepercayaan justru diingat dan diwariskan berkat daya ingatan yang sangat terlatih. dari Peter. rumit. Jadi. para penulis kuno mempunyai satu ide yang berbeda dari kita mengenai apa yang merupakan komposisi asali. Dan di mana ada keraguan. kisah-kisah tentang Elia dan Elisa. tampaknya Eusebius mencampurkan dua soal: apakah kitab-kitab itu ortodoks atau tidak ortodoks. tetapi beberapa kecenderungan dan prinsip umum dapat dilihat dengan jelas juga. kisah-kisah. Yang satu adalah arti penting yang diberikan kepada ide. Semua ini menegaskan bahwa pengakuan akan kitab-kitab tertentu sebagai Kitab Suci seluruhnya merupakan satu proses alami belaka. ada dua. Hanya di dalam kitab-kitab inilah ajaran tentang keallahan dinyatakan. memandang tradisi lisan sebagai kurang terpercaya daripada sistem penurun-alihan dalam bentuk tulisan. toh sebagian besar orang Kristiani yang membaca Kitab Suci tahu bahwa hal ini tidak demikian sebenarnya. kita dapat mengatakan bahwa proses pembuatan Kitab Suci Kristiani itu sudah rampung. Yang pertama ialah proses dengan mana pelbagai macam kitab yang sekarang ini membentuk Kitab Suci akhirnya ditulis dan terdapat dalam bentuk tertulis. Sebuah paralel modern bagi kitab kuno kiranya adalah sesuatu yang lebih mirip sebuah koleksi pesan-pesan e-mail. Ia tidak memberi jawaban sama sekali. Baik dalam jaman PL dan PB ada orang yang disebut. Hingga dewasa ini. dua surat kepada jemaat di Tesalonika. satu surat kepada Titus. dan walaupun kita tidak mempunyai informasi rinci tentang peranan mereka. Sesudah ini. Kedua. seperti semua homolegoumena lain. dan kitab-kitab yang diragukan jarang-jarang atau diterima. Kedua. kepada orang-orang Roma. Nah. Banyak dari karya-karya mereka yang asli merupakan produk dari semacam konsortium para penulis yang tersebar dalam satu rentang waktu yang panjang. Dan beberapa kitab skriptural – yang paling jelas adalah surat-surat Paulus. yang menambah (dan kadang-kadang juga menarik atau membuang keluar sesuatu. walau dalam daftar-daftar seperti daftar Eusebius gereja tampaknya sedang mengidentifikasi dan menetapkan kitab-kitab PB. tetapi tetap saling terkait satu sama lain di banyak titik. aturan-aturan seperti itu sering sekali membiarkan hal itu tetap ada di sana. dan pelbagai komite gerejawi mawih berdebat apakah cocok untuk membaca Kitab Wahyu dalam gereja atau tidak. Perhatikan bahwa di sini penyusunan yang lama. Ketiga. misalnya. surat kepada Filemon. atau akhirnya ditolakoleh kehendak (penetapan) Gereja. (Ini bukan pendapat gereja Katolik. tetapi juga beberapa kitap PL seperti Ruth atau Yunus – mulai hidup sebagai kitab-kitab bahkan juga sudah dalam pengertian modern kita dewasa ini. Lukas. dari tujuh orang rasul: dari Yakobus. seperti juga PL. tampaknya ia mengganti haluan di tengah jalan. Jadi. Ada sesuatu yang lucu tentang deklarasi agung yang orang tampaknya tidak bisa sepakat yaitu tentang status dari 2 Petrus dan 3 Yohanes. Petunjuk bukti adalah sebuah surat yang ditulis oleh Athanasius kepada para klerusnya pada tahun 367 Masehi. tipe kedua dapat dilihat dalam Gembala Hermas itu. ketimbang kitab-kitab dalam artian formal. termasuk Kodeks yangbesar dan bergengsi. Sebagian terbesar PL sampai kepada kita dari tangan-tangan orang seperti itu. seperti Sinaitikus itu (pertengahan abad keempat). walau saya telah mengusulkan bahwa kata ini adalah lebih baik disimpan untuk tahap terakhir dari perkembangan itu – yaitu tahap pada mana dinyatakanlah secara positif bahwa tidak ada kitab-kitab lain lagi dari yang ada dalam daftar itu yang 23 . dan sulit untuk dikatakanapakah ia sedang menilai soal itu menyangkut status skripturalnya ataukah ortodoksinya. sebab dalam gereja Katolik. dan ide bahwa batang tubuh ini mempunyai satu status religius yang khusus. yang ditulis dalam gaya yang sama dalam dan dirancang untuk mengungkapkan satu poin khusus tertentu. selesai. Eusebius hanya mengatakan pada kita bahwa ada soal.S. tidak seorang mulai menganggap serius Injil Mateus karena Eusebius telah mendaftarkannya. para ahli tulis. ada empatbelas surat dari Paulus sang Rasul. Di sini adalah kanonisasi dalam artian yang ketat dan keras dari istilah itu: pernyataan bahwa kitab-kitab ini dan hanya kitab-kitab ini saja yang harus dipandang sebagai Kitab Suci. seperti. yang dibuat Eusebius ialah mengidentifikasi area yang tepat dari fuzzyness itu. sebuah karya lebih buruk dari pada karya yang diragukan. Dan selain itu. dan membiarkannya tidak terpecahkan. dua surat kepada jemaat di Korintus. melainkan dalam artian bahwa ada satu kelompok besar dan elit orang yang sangat melek huruf – kira-kira sama tingkat melek hurufnya seperti dewasa ini – dan yang menghasilkan tulisan yang canggih bagi orang-orang sejaman mereka untuk dibaca. setelah ini.Lewis itu: sangat ortodoks tetapi jelas bukan merupakan bagian dari Kitab Suci. ada satu. Markus. Namun demikian kedua proses itu adalah sangat kompleks. Di Israel kuno. sudah disepakati oleh semua begitu saja. Tetapi lagi-lagi. Lalu lambat laun tumbuh sebuah konsensus. melainkan sering sekali menghasilkan tulisan yang original dan kreatif. kepada orang-orang Filipi. adalah bahwa ia mempunyai tepi-tepi yang fuzzy. Beberapa kebudayaan yang mengenal huruf. menggambungkan bahan tertulis dengan tradisitradisi lisan yang kebetulan mereka ketahui. Itu saja.

bahwa dulu memang ada kontroversi. dikumpulkan bersama-sama untuk membentuk Pentateukh atau Torah. Di mana menyangkut PL. Yang terakhir dari tahap-tahap ini – yaitu tahap pada mana saya secara unequivok mengkaitkan nama kanonisasi tadi – adalah kurang penting dari pada kedengarannya baik bagi PL maupun bagi PB. Demikianlah juga halanya dengan kanon PB: ada pertikaian-pertikaian tentang Ibrani dam Wahyu. melainkan oleh seroang penulis yang memakai nama samaran dari antara kurun paling akhir abad pertama. atau sebagai kepenuhan dari suatu makna yang tersembunyi. Atau boleh jadi hal ini adalah sesuatu yang salah – misalnya 2Pterus tidaklah berasal dari atau ditulis oleh Rasul Petrus. Pada tepian (fringes) dari kanon kedua Perjanjian itu ada beberapa kitab yang statusnya tidak pernah bisa seluruhnya jelas di dalam Gereja. Inti pokok dari kedua Perjanjian itu tidak pernah bersifat kontroversial dalam Yudaisme ataupun dalam Kristianitas. misalnya. Pertama. Gereja purba. Tetapi tidak satu pun dari mmereka telah menjadi sepenting seperti sebagian besar dari kitab-kitabn dalam PL yang cocok (proper) bagian sebagian besar orang-orang Kristiani itu. untuk sebagian terbesar. Kitab Suci bertumbuh dengan cara penerimaan secara pasti (steady) dari kitab-kitab tertentu sebagai jelas-jelas kudus. Kedua. tetapi untuk sebagian terbesar kitab-kitab yang didaftar itu seluruhnya adalah jelas (adalah kiranya bukan berita pada abad keempat M. masing-masingnya dari suatu situasi yang berbeda. maka ide itu erat terkait dengan pengamatan yang terakhir ini. muncullah saat di mana beberapa otoritas yang berkompeten mengumumkan secara resmi bahwa kategori dari kitabkitab suci sekarang ini sudah penuh. Perlahan-lahan dalam waktu. dan bukannya ada di pusat. Sejarah pemakaian yang sudah lama (hampir) merupakan segala-galanya. Kalau ada satu poin yang saya ingin agar bisa terus diingat (to take away) oleh pembaca buku ini. (saya kira ini tidak benar. 24 . untuk mengatakan bahwa Surat kepada Jemaat di Roma itu adalah kanonik). kalau bukan abad kedua. secara aktif. Tetapi kiranya adalah sulit untuk menemukan sebuah contoh kasus kedua mengenai keadaan perkara yang terbolak-balik itu. dari waktu ke waktu. kitab Ulangan bukan oleh Musa melainkan (sangat mungkin) oleh seorang penulis atau para penulis dari antara abad ketujuh dan kelima SM. daftar itu sering sekali mencakupkan sebuah catatan yang mengatakan bahwa status mereka tidak serba jelas. (Seakan-akan menjadi kriteria yang penting). sebab dalam Gereja Katolik banyak dipakai juga). Maka hal ini ada di pinggiran. Persepsi ini mungkin merupakan satu persepsi yang benar – misalnya. dan kemudian diberi currency yang luas sebagai sebuah koleksi yang koheren yang mengungkapkan teologi yang sama dalam seluruh kumpulan. diajukan (pleaded) sebagai alasan-alasan bagi kekudusan mereka. atau keduanya sekaligus. Dan di dalam Kristianitas. dan dalam prakteknya (kalau tidak dalam teori) hal ini sering tetap tidak jelas dan tidak pasti juga hingga dewasa ini. Sering sekali alasan-alasan yang muncul sesudahnya ditemukan (atau bahkan diciptakan) untuk mendukung keadaan perkara seperti ini: Tanggal atau kepengarangan dari kitab-kitab. misalnya. kitab-kita yang oleh orang-orang Protestan disebut Apokrif sesungguhnya telah menjadi pokok kontroversi dan ketegangan di dalam Gereja Kristiani itu sendiri. 1Tesalonika sesungguhnya berasal dari kurun-kurun paling dini dari kurung sejarah Kristianitas. apakah yang ini atau yang itu yang harus dipandang sebagai sungguh-sungguh kanonik. kitab-kitab harus dikumpulkan: kitab-kitab Musa. Akhirnya. lalu menarik satu garis di bawah kumpulan itu untuk mengubahnya menjadi Sebuah Kitab Suci. yang penting hal ini mengarah kepada kitab-kitab yang dipandang sebagai tidak terkalahkan (unassailable) jauh sebelum seseorang mulai bertanya. Tetapi dalam prakteknya suatu persepsi bahwa kitab-kitab telah dipakai sejak waktu yang sudah sangat lama di masa silam sudah merupakan satu alasan yang sangat kuat dan nyata.bisa dianggap sebagai Kitab Suci (atau bahkan akan pernah dihitung sebagai). Kitab suci bukanlah hasil dari beberapa jenis legislasi: ia hanya bertumbuh begitu saja. Barangkali Kebijaksanaan Salomo (yang dianggap apokrif oleh Protestan). sejumlah para penulis semula mendaftarkan kitab-kitab PB yang disetujui. sesuatu yang amat disukai oleh para penulis Kristiani awal. misalnya. ada beberapa tahap yang jelas yang terjadi dalam seluruh proses ini. dan di mana mereka tidak ada. kumpulan-kumpulan seperti itu akhirnya mulai dibacakan secara khusus tetapi yang tidak diterapkan pada kitabkitab sekular – secara alegoris. ketimbang sebagai karya-karya individual. Tetapi apakah persepsi itu benar atau tidak. Banyak dari Mazmur boleh jadi memang sudah berasal dari jaman Daud itu sendiri. Status kitab-kitab dalam Kitab Suci kita kadang-kadang saja telah bersifat kontroversial. tetapi ia sama sekali tidak banyak memakainya juga. Yang ada hanyalah beberapa pernyataan stray tentang kitab ini atau kitab itu yang otoritasnya memang dipersoalkan (Kitab Sirah sebenarnya hampir merupakan satu-satunya kitab yang kita ketahui yang telah ditetapkan (ruled) sebagai tidak kanonik). atau sebagai suatu yang relevan secara universal. seperti misalnya kitab nubuat Nahum (yang kanonik itu). ketimbang suatu keputusan tentang hal ini. memandang Apokrif sebagai Kitab Suci. tetapi bahkan orang-orang yang keen untuk mencakupkan kitab-kitab ini ke dalam kanon tidak memakai mereka sama sekali sebanyak mereka memakai Mateus dan Roma misalnya. Surat-surat Paulus dikumpulkan sebagai corpus Paulinian. kadang-kadang jauh lebih penting dari pada sebuah kitab yang pendek dan amat tidak peneting. Tidak ada suatu catatan mengenai satu otoritas dalam Yudaisme yang menyatakan secara resmi mengenai batas-batas yang pasti dari Kitab Suci Ibrani itu (?). Bagaimana pun juga.