P. 1
Ibu Hamil Dan Menyusui

Ibu Hamil Dan Menyusui

|Views: 536|Likes:
Published by Yetti Nur'aini

More info:

Published by: Yetti Nur'aini on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Manfaat Zat-Zat Gizi bagi wanita Sepanjang Daur Kehidupannya

Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM. Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. Demikian seterusnya status gizi remaja atau usia sekolah ditentukan juga pada kondisi kesehatan dan gizi pada saat lahir dan balita. United Nations (Januari, 2000)1 memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan. Pada Gambar 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. Pada Gambar 1 ini diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi, yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai, penyakit infeksi, pola asuh, konsumsi makanan yang kurang, dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. Untuk lebih jelas mengetahui faktor penyebab masalah gizi, bagan 1 (Unicef, 19982) menunjukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi yang dapat terjadi pada

1 2

Nutrition throughout life cycle. 4th report on The World Nutrition Situation, January 2000. Unicef (1998). The State of the World’s Children 1998. Oxford: Oxford University Press.

masyarakat. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut.

Bagan 1. Penyebab kurang gizi
Dampak KURANG GIZI

Penyebab langsung

Makan Tidak Seimbang

Penyakit Infeksi

Penyebab Tidak langsung

Tidak Cukup Persediaan Pangan

Pola Asuh Anak Tidak Memadai

Sanitasi dan Air Bersih/Pelayanan Kesehatan Dasar Tidak Memadai

Kurang Pendidikan, Pengetahuan dan Keterampilan

Pokok Masalah di Masyarakat

Kurang pemberdayaan wanita dan keluarga, kurang pemanfaatan sumberdaya masyarakat

Pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan

Akar Masalah (nasional)

Krisis Ekonomi, Politik, dan Sosial

Masalah Gizi Menurut Siklus Kehidupan

Kehidupan manusia dimulai sejak di dalam kandungan ibu. Sehingga calon ibu perlu memounyai kondisi yang baik. Kesehatan dan gizi ibu hamil merupakan kondisi yang sangat diperlukan bagi sang bayi untuk menjadi sehat. Jika tidak, maka dari awal kehidupan kehidupan manusia akan bermasalah pada kehidupan selanjutnya. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah keadaan bayi lahir dengan berat badan <2500 gram. Keadaan gizi ibu yang kurang baik sebelum hamil dan pada waktu hamil cenderung melahirkan BBLR, bahkan kemungkinan bayi meninggal dunia. Sejak anak dalam kandungan hingga berumur 2 tahun merupakan masa emas yang merupakan masa kritis untuk tumbuh kembang fisik, mental dan sosial. Pada masa ini tumbuh kembang otak paling pesat (80%) yang akan menentukan kualitas SDM pada masa dewasa. Sehingga potensi anak dengan IQ yang rendah sangat memungkinkan.

Anak yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpotensi menjadi anak dengan gizi kurang bahkan menjadi buruk. Lebih lanjut lagi gizi buruk pada anak balita berdampak pada penurunan tingkat kecerdasan atau IQ. Setiap anak gizi buruk mempunyai risiko kehilangan IQ 10-13 poin. Lebih jauh lagi dampak yang diakibatkan adalah meningkatnya kejadian kesakitan bahkan kematian. Mereka yang masih dapat bertahan hidup akibat kekurangan gizi yang bersifat permanen kualitas hidup selanjutnya mempunyai tingkat yang sangat rendah kebutuhan dan tidak dapat diperbaiki meskipun pada usia berikutnya sudah terpenuhi. Istilah “generasi hilang” terutama gizinya

disebabkan pada awal kehidupannya sulit memperoleh pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Gambaran kurang gizi lainnya yang juga menjadi masalah gizi utama adalah Kurang zat gizi mikro, seperti kurang vitamin A, kurang zat besi, dan kurang yodium terutama di beberapa daerah endemis. Lebih dari 100 juta penduduk berisiko untuk kurang zat gizi mikro ini. Kurang zat besi pada wanita hamil meningkatkan risiko kematian wanita pada saat melahirkan, dan meningkatkan risiko kematian risiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi. Bayi yang kurang besi dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan sel-sel otak yang dikemudian hari dapat mengurangi IQ anak Kurang vitamin A selain berdampak pada risiko kebutaan juga risiko kematian balita karena infeksi. Kurang vitamin A ikut berperan pada tingginya angka kematian balita di Indonesia dan berpotensi terhadap rendahnya produktivitas kerja. Kekurangan Yodium dapat menyebabkan kerusakan mental. Pada ibu yang kekurangan yodium menyebabkan bayi lahir mati, cacat fisik atau kerusakan berat pada otak. Penduduk yang tinggal di daerah rawan kurang yodium berpotensi kehilangan IQ sebesar 50 poin IQ per orang. Diperkirakan 10% penduduk usia dewasa di perkotaan atau 10 juta orang mengalami gizi lebih. Hal ini perlu disikapi mengingat kelebihan gizi dapat menyebabkan penyakit degeneratif seperti diabet, jantung koroner, hypertensi, osteoporosis dan kanker.

Berbagai Permasalahan Gizi Indonesia pada saat ini mengahadapi masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Permasalahan gizi dapat timbul karena: Undernutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relatif maupun absolut untuk periode tertentu. Specific Deficiency: kekurangan zat gizi tertentu, misalnya kekurangan vit A, Iodium, Fe, dll Over Nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu Imbalance: terjadi karena disproporsi zat gizi, misalnya: kolesterol terjadi karena tidak seimbangnya LDL (Low Density Lipoprotein), HDL (High Density Lipoprotein).

Berikut berbagai permasalahan gizi : 1. Kurang Energi Protein (KEP) Kurang energi protein (KEP) disebabkan oleh kekurangan makan sumber energi secara umum dan kekurangan sumber protein. Pada anak-anak, KEP dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap penyakit terutama penyakit infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan. Sedangkan pada orang dewasa, KEP dapat mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan derajat kesehatan sehingga menyebabkan rentan terhadap penyakit. Status gizi balita diklasifikasi dalam gizi buruk, gizi kurang, dan gizi baik. Untuk kelangsungan pertumbuhan diperlukan kalori dan protein dalam jumlah yang cukup, apabila kebutuhan kalori tidak terpenuhi maka tubuh akan mengambil kalori dari cadangan energi yang disimpan dalam tubuh, selanjutnya apabila cadangan energi telah habis, maka tubuh akan memobilisasi protein menjadi energi yang diperlukan.

Apabila hal ini berlengasung lama akibatnya akan terjadi kekurangan Energi dan Protein atau Calori Protein Malnourished, terutama bila terjadi pada anak atau balita, antara lain ; a. Kwasiorkor Kwasiorkor berasal dari bahasa Ghana, Afrika yang berarti “penyakit yang terjadi pada anak pertama bila anak kedua sedangditunggu kelahirannya”. Merupakan penyakit yang terjadi pada anak akibat kekurangan protein, terjadi pada bayi dan balita, lebih banyak terjadi pada anak usia 2-3 tahun yang terlambat menyapih sehingga keomposisi gizi makanan tidak seimbang terutama protein. dengan tanda-tanda khas : Pertumbuhah terhambat dengan umur) bengkak pada perut, kaki, tangan dan anggota lain (edema) berat badan kurang, tidak sesuai dengan umur wajah sembab, bulat seoerti bulan (moonface) otot-otot kendur Anak apatis, tidak gembira dan sering merengek Tidak ada nafsu makan Rambut tipis dan kulit kusam, mudah rontok Feces encer Terjadi pembesaran pada hati dan sering disertai dengan anemia Kulit mengalami depigmentasi, kering, pecah dan mengelupas Luka sukar sembuh Penyakit ini bayak terjadi pada keluarga yang berpenghasian rendah sehingga kemampuan untuk membeli bahan makanan juga rendah, selain itu terjadi juga pada keluarga dengan pengetahuan gizi yang rendah. b. Marasmus Marasmus bulan pertama), berasal karena dari bahasa diberi Yunani yang berarti wasting/merusak. Penyakit ini umumnya terjadi pada bayi (dua belas terlambat makanan tambahan. Penyakit ini terjadi karena penyapihan mendadak, formula pengganti (berat badan kurang, tidak sesuai

Tanda-tanda ini disertai dengan : -

ASI terlalu encer dan tidak higienis atau sering kena infeksi terutama gastroenteritis. Marasmud berpengaruh jangka panjang terhadap mental dan fisik yang kurang diperbaiki. Tanda-tanda yang khas : Badan sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit BBLR (Berat Badan waktu Lahir Rendah) Wajah seperti orang tua Wajah tua, kulit keriput, pantat kosong, paha kosong, tulang iga tampak jelas Keadaan ini disertai dengan : Pucat karena anemia Tinja encer Dehidrasi karena banyak keurangan cairan Terjadi gejala kekurangan vitamin A dan mineral

Gambar : Anak yang menderita marasmus. Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dalam waktu yag cukup lama, yang ditandai dengan berat badan menurut umur (BB/U) berada pada <-3 SD tabel baku WHO-NCHS atau tanda-tanda klinis gizi buruk yaitu marasmus dan kwashiorkor. Dilihat dari pengertiannya, dapat diketahui bahwa penyebab utama gizi buruk timbul karena komsumsi makanan yang merupakan sumber energi ataupun protein sangat rendah. Biasanya hal ini juga dibarengi dengan adanya infeksi yang menyerang. Bisa dikatakan, sudah konsumsi makannya rendah, terkena infeksi lagi.

2. Anemia Gizi Besi (AGB) Penyebab masalah AGB adalah kurangnya daya beli masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sumber zat besi, terutama dengan ketersediaan biologik tinggi (asal hewan), dan pada perempuan ditambah dengan kehilangan darah melalui haid atau pada persalinan. AGB dapat menyebabkan penurunan kemampuan fisik atau produktivitas kerja, penurunan kemampuan berpikir dan penurunan antibodi sehingga mudah terserang infeksi. Penanggulangannya dilakukan melalui pemberian tablet atau sirup besi kepada kelompok sasaran.

3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) Kekurangan Iodium terutama terjadi di daerah pegunungan , di mana tanah kurang mengandung Iodium. Penanggulangan masalah GAKI secara khusus dilakukan melalui pemberian kapsul minyak beriodium/iodized oil capsule kepada semua wanita usia subur dan anak sekolah dasar di daerah endemik. Secara umum pencegahan GAKI dilakukan melalui iodisasi garam dapur. GAKI dapat menyebabkan pembesaran kelenjar gondok (tiroid). Pada anakanak menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan jasmani, maupun mental. Ini menampakkan diri berupa keadaan tubuh yang cebol, dungu, terbelakang atau bodoh.

4. Gangguan akibat kekurangan vitamin A Kekurangan vitamin A atau KVA dapat menyebabkan kebutaan, mengurangi daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi, yang sering menyebabkan kematian pada anak-anak. Penyebab masalah KVA adalah kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tentang gizi. 1. Buta senja Salah satu tanda awal kekurangan vitamin A adalah buta senja (niktalopia) yaitu ketidakmampuan menyesuaikan penglihatan dari cahaya terang ke cahaya remang-remang/senja. 2. Perubahan pada mata Kornea mata terpengaruh secara dini oleh kekurangan vitamin A. Kelenjar air mata tidak mampu mengeluarkan air mata sehingga terjadi pengeringan mata pada selaput yang menutupi kornea.

3. Perubahan pada kulit Kulit menjadi kering dan kasar dan folikel rambut menjadi kasar, mengeras dan mengalami keratinisasi yang dinamakan hiperkeratosis folikular. 4. Gangguan pertumbuhan Kekurangan vitamin A menghambat pertumbuhan sel-sel, termasuk sel-sel tulang yang membentuk email gigi terganggu dan terjadi atrofisel-sel yang membentuk dentin, sehigga gigi mudah rusak. 5. Infeksi Lapisan sel yang menutupi trakea dan paru-paru mengalami keratinisasi, tidak mengeluarkan lendir, sehingga mudah dimasuki mikroorganismeatau bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan.

6.

Gangguan akibat kekurangan Kalsium

Kalsium merupakan unsur penting untuk kekuatan tulang dan gigi dan terdapat banyak pada sayuran berdaun hijau atau kacang-kacangan. Mengonsumsi vitamin D juga akan sangat membantu dalam penyerapan kalsium. Sedangkan untuk pemenuhan vitamin dan mineral, sangat mudah untuk dipenuhi oleh makanan yang berasal dari sayuran dan buah-buahan. Kalsium adalah mineral yang amat penting bagi manusia, antara lain bagi metabolisme tubuh, penghubung antar syaraf, kerja jantung, dan pergerakan otot. Setelah umur 20 tahun, tubuh manusia akan mulai mengalami kekurangan kalsium sebanyak 1% per tahun. Dan setelah umur 50 tahun, jumlah kandungan kalsium dalam tubuh akan menyusut sebanyak 30%. Kehilangan akan mencapai 50% ketika mencapai

umur 70 tahun dan seterusnya mengalami masalah kekurangan kalsium. Kekurangan kalsium biasanya dihubungkan dengan berbagai macam penyakit tulang diantaranya yaitu : a. Osteomalacia Gangguan pembentukan tulang sehingga tulang lembek dan melunak. Orang yang terkena biasanya mempunyai ciri-ciri kaki bengkok, tulang punggung memendek dan tulang pinggul pipih. Gangguan ini disebabkan oleh kurangnya asupan kalsium dan vit.D3 serta kurangnya berjemur di sinar matahari. Sedangkan menurut Almatsier (2003) Osteomalacia adalah Ricketsia pada orang dewasa, biasanya terjadi pada wanita yang konsumsi kalsiumnya rendah, tidak banyak mendapat sinar matahari dan mengalami bayak kehamilan dan menyusui.

Gambar . Penderita Osteomalacia b. Osteoarthritis Gangguan yang ditandai dengan menipisnya tulang rawan yang ada di persendian, sehingga menggangu gerak persendian RhematoidArthritis Penyakit rematik yang juga bisa menyerang tulang dan persendian Osteopenia Suatu keadaan dimana terjadi penurunan massa tulang, suatu keadaan atau gejala awal terjadinya osteoporosis Osteoporosis Suatu penyakit kelainan pada tulang yang ditandai dengan menurunnya massa tulang, kerusakan tubuh atau arsitektur tulang sehingga tulang mudah patah.

c. d.

e.

Konsep Gizi Seimbang dan Menyusun Menu Seimbang
A. Gizi Seimbang Untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup, setiap orang

memerlukan 5 kelompok zat gizi (karbohidrat , protein, lemak, vitamin dan mineral) dalam jumlah cukup, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Di samping itu, manusia memerlukan air dan serat untuk memperlancar berbagai proses faali dalam tubuh. Secara alami, komposisi zat gizi setiap jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu. Beberapa makanan mengandung tinggi karbohidrat tetapi kurang vitamin dan mineral. Sedangkan beberapa makanan lain kaya vitamin C tetapi miskin vitamin A. Apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beranekaragam, dan maka akan zat gizi timbul yang ketidakseimbangan antara masukan kebutuhan

diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Dengan mengonsumsi makanan sehari-hari yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang. Jadi, untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan. Keterangan di atas juga berarti ada saling ketergantungan antar zat gizi.

Misalnya penyerapan yang optimun dari masukan vitamin A memerlukan kehadiran lemak sebagai zat pelarut dan mengangkut vitamin A ke seluruh bagian tubuh. Selain itu, apabila cadangan mangan (Mn) di dalam tubuh kurang, maka vitamin A juga tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal. Contoh lain, diperlukan vitamin C yang cukup dalam makanan untuk meningkatkan penyerapan zat besi (Fe). Pada masa lampau, susu seringkali mendapat pujian, karena bernilai gizi tinggi. Makanan lain dinilai rendah karena kurang bergizi. Sesuai konsep

keterkaitan antarzat gizi, sudah saatnya penilaian kualitas makanan yang didasarkan ditinggalkan. pada Kini pengagungan saatnya terhadap kandungan adanya zat gizi mulai memasyarakatkan ketergantungan

antarzat gizi atau antarberbagai jenis makanan. Setiap jenis makanan memiliki peranan masing-masing dalam menyeimbangkan masukan zat gizi sehari-hari. Peranan berbagai kelompok bahan makanan secara jelas tergambar dalam logo gizi seimbang yang berbentuk kerucut (Tumpeng). Dalam logo tersebut bahan makanan dikelompokkan berdasarkan fungsi utama zat gizi yang dalam ilmu gizi dipopulerkan dengan istilah “Tri Guna Makanan”. Pertama sumber zat tenaga yaitu padi-padian dan umbi-umbian serta tepung-tepungan yang digambarkan di dasar kerucut. Kedua, sumber zat pengatur yaitu sayuran dan buah digambarkan pada bagian tengah kerucut. Ketiga, sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil olahan, digambarkan pada bagian atas kerucut. Keseimbangan gizi diperoleh apabila hidangan sehari-hari terdiri dari sekaligus tiga kelompok bahan makanan. Dari setiap kelompok dipilih satu atau beberapa jenis bahan makanan.

Pedoman Umum Gizi Seimbang

“13 Pesan Dasar Gizi Seimbang” sangat dianjurkan untuk mendapatkan kecukupan zat gizi, yaitu : 1. Makanlah aneka ragam makanan. Tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-6 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsurunsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat

pengatur. Keanekaragaman makanan dalam hidangan sehari - hari yang dikonsumsi, minimal harus berasal dari satu jenis makanan sumber zat tenaga, satu jenis makanan sumber zat pembangun dan satu jenis makanan sumber zat pengatur. Ini adalah penerapan prinsip penganekaraman yang minimal. Yang ideal adalah jika setiap kali makan siang dan makan malam, hidangan tersebut terdiri dari 4 kelompok makanan (makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah). Dengan makanan yang seimbang dan serat yang cukup (25 – 35 gram/hari) dapat mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya penyakit degeneratif seperti misalnya, jantung koroner, darah tinggi, diabetes melitus, dan sebagainya. 2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi. Setiap orang dianjurkan makan makanan yang cukup mengandung energi agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Pemenuhan kecukupan energi dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat, protein dan lemak. Kecukupan masukan energi bagi seseorang ditandai oleh berat badan yang normal. Konsumsi gula sebaiknya dibatasi sampai 5% dari jumlah kecukupan energi atau sekitar 3-4 sendok makan setiap hari. Konsumsi gula yang berlebihan akan menyebabkan konsumsi energi yang berlebih dan disimpan dalam jaringan tubuh/lemak. Apabila hal ini berlangsung lama dapat mengakibatkan kegemukan. Apabila energi yang diperoleh dari makanan sumber karbohidrat kompleks melebihi 60%, maka kebutuhan protein, vitamin dan mineral sulit dipenuhi.Contoh :Seorang yang telanjur kenyang makan ubi rebus, tak berusaha lagi mengonsumsi lauk pauk, sayur dan buah. 3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi. Dianjurkan menggunakan sumber karbohidrat kompleks (padi-padian, umbi-umbian dan tepung-tepungan) daripada karbohidrat murni (gula). 4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi. Lemak dan minyak berguna untuk meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K serta menambah lezatnya hidangan. Dianjurkan menggunakan lemak dan minyak nabati, karena mudah dicerna oleh tubuh. 5. Gunakan garam beryodium. Garam beryodium adalah garam natrium yang diperkaya dengan kalium yodida, sebanyak 30-80 ppm. Setiap

keluarga dianjurkan untuk menggunakan garam beryodium untuk memasak/mengolah makanan agar tidak terjadi Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY). GAKY merupakan masalah gizi yang serius, karena dapat menyebabkan penyakit gondok dan kretin. Kekurangan unsur yodium dalam makanan sehari-hari, dapat pula menurunkan tingkat kecerdasan seseorang. 6. Makanlah makanan sumber zat besi dalam jumlah yang cukup. Zat besi adalah salah satu unsur penting dalam proses pembentukan sel darah merah. Zat besi secara alamiah diperoleh dari makanan. Kekurangan zat besi dalam makanan sehari-hari secara berkelanjutan dapat menimbulkan penyakit anemia gizi atau yang dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah. Sumber utama Fe adalah bahan pangan hewani dan kacang-kacangan serta sayuran berwarna hijau tua. Kesulitan utama untuk memenuhi kebutuhan Fe adalah rendahnya tingkat penyerapan Fe di dalam tubuh, terutama sumber Fe nabati yang hanya diserap 1-2%. Sedangkan tingkat penyerapan Fe makanan asal hewani dapat mencapai 10-20%. Ini berarti bahwa Fe pangan asal hewani (heme) lebih mudah diserap daripada Fe pangan asal nabati (non heme). Dengan penjelasan di atas, maka dapat dipahami apabila angka penderita AGB pada wanita hamil mencapai lebih dari 63% dan pada balita mencapai 55%. Hal ini terjadi karena tidak mudah memenuhi kebutuhan Fe secara alami. Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam membantu meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, vitamin C, vitamin A, zink (Zn), asam folat, zat gizi mikro lain dapat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Manfaat lain dari mengkonsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan sumber vitamin A. 7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan. ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, karena kandungan zat gizinya lengkap, mengandung zat kekebalan dan memberikan ASI akan mempererat jalinan kasih saying ibu dan bayinya. 8. Biasakan makan pagi. Makan pagi atau sarapan sangat bermanfaat karena memelihara ketahanan fisik, mempertahankan daya tahan saat bekerja dan meningkatkan produktivitas kerja. Bagi anak sekolah, makan

pagi 9.

dapat

meningkatkan

konsentrasi

belajar

dan

memudahkan

menyerap pelajaran, sehingga prestasi belajar menjadi lebih baik Minumlah air bersih dan aman dalam jumlah yang cukup. Kurang dari 60% tubuh orang dewasa terdiri dari air. Air bersih dan lingkungan yang bersih merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari PGS untuk mencapai kehidupan yang sehat. 10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur. Salah satu syarat menjaga kesehatan adalah menjaga kebugaran badan dengan menjaga berat badan yang ideal. Berat badan adalah indikator kesehatan yang penting bagi setiap orang. Memiliki berat badan yang ideal menunjukkan status gizi yang baik atau normal. 11. Hindari minuman beralkohol. Kebiasaan minum minuman beralkohol ditinjau dari gizi dan kesehatan lebih banyak meugikandaripada menguntungkannya. Keburukan alkohol, selain menyebabkan ketagihan juga mengganggu penyerapan zat gizi dalam usus yang berdampak pada proses pengolahan zat gizi selanjutnya dalam tubuh. 12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, yang dimasak dan/atau dihidangkan dengan bersih dan tidak tercemar. Makanan sehat selain mengandung zat gizi yang cukup dan seimbang juga harus aman dari mikroorganisme serta bebas dari pencemaran zat kimia diantaranya saya dari food aditif dan residu pestisida. Makanan dikatakan aman apabila apabila kecil kemungkinan atau sama sekali tidak mungkin menjadi sumber penyakit atau yang dikenal sebagai penyakit yang bersumber dari makanan (food borne diseases),. Untuk itu makanan harus disiapkan, diolah, disimpan, diangkut dan disajikan dengan bersih dan telah dimasak dengan benar. 13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.Labelpada makanan yang dikemas adalah keterangan tentang isi, jenis dan ukuran bahan-bahan yang digunakan, susunan zat gizi, tanggal kedaluwarsa dan keterangan penting lain. Air minum dalam kemasan, yang banyak beredar di pasaran, telah diproses sesuai dengan ketentuan pemerintah dan memenuhi syarat-syarat kesehatan. Peraturan perundang-undangan menetapkan, bahwa setiap produk makanan yang dikemas harus mencantumkan keterangan pada label. Semua keterangan yang rinci pada label makanan yang dikemas sangat membantu konsumen pada

saat memilih dan menggunakan makanan tersebut, sesuai kebutuhan gizi dan keadaan kesehatan konsumen. Beberapa singkatan yang lazim digunakan dalam label antara lain: MD ML Exp SNI SP = makanan yang dibuat di dalam negeri = makanan luar negeri (import) = tanggal kedaluwarsa, artinya batas waktu makanan tersebut masih layak dikonsumsi. Sesudah tanggal tersebut, makanan tidak layak dikonsumsi. = Standar Nasional Indonesia, yakni keterangan bahwa mutu makanan telah sesuai dengan persyaratan. = Sertifikat Penyuluhan

B. Menu Seimbang 1. Pengertian Menu Seimbang Menu seimbang adalah rangkaian dari beberapa macam hidangan untuk tiap kali makan yang dapat menyehatkan tubuh orang yang memakannya dengan menggunakan semua golongan bahan makanan dan penggantinya dengan memperhatikan keseimbangan zat-zat gizi yang terkandung didalamnya. Pengertian menu sehat akan berbeda dengan menu seimbang. Menu seimbang tentu menu sehat, tetapi menu sehat belum tentu menu seimbang. Menu sehat lebih menekankan kualitas zat gizinya tanpa memperhatikan keseimbangan zat gizi dari jumlah maupun jenisnya. 2. Faktor Pertimbangan dalam Menyusun Menu Seimbang Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penyusunan menu seimbang, diantaranya yaitu : a. Kecukupan gizi Makanan yang dihidangkan tidak hanya harus terlihat menarik untuk disantap, akan tetapi harus memenuhi zat gizi yang diperlukan oleh tubuh baik kwalitas maupun kwantitasnya. Makanan yang berkwalitas meliputi nilai sosial, ragam jenis bahan makanan dan cita rasa, sedangkan nilai kwantitasnya adalah makanan tersebut harus mengandung zat gizi. Terdapat perbedaan dalam menentukan kebutuhan setiap orang, karena hal ini dipengaruhi oleh : 1) Umur Kebutuhan energi untuk setiap tingkatan umur akan sangat berbeda, misalnya kebutuhan bayi, balita, remaja dan dewasa tidak akan sama. Hal ini disebabkan karena fungsi makanan bagi tubuh balita dan

remaja adalah untuk pertumbuhaan sedangkan fungsi makanan bagi orang dewasa untuk mempertahankan kondisi tubuh. 2) Jenis kelamin Kebutuhan zat gizi, misalnya untuk remaja putra dan putri tidak sama, remaja putra cenderung membutuhkan lebih banyak dibandingkan dengan remaja putri, ini disebabkan oleh aktivitasnya lebih banyak dan ukuran tubuh lebih besar. Akan tetapi untuk zat gizi tertentu seperti zat besi, remaja putri memerlukan lebih banyak dari pada remaja putra. 3) Aktivitas Perbedaan zat gizi pada setiap orang juga berbeda dan ditentukan oleh aktivitas masing-masing. Aktivitas digolongkan ke dalam tiga yakni ringan, sedang dan berat. 4) Tinggi dan berat badan Ada kalanya memiliki aktivitas yang sama dan umur serta jenis kelamin yang sama, akan tetapi akan berbeda kebutuhan gizinya jika tinggi dan berat badannya berbeda. 5) Iklim Iklim menentukan jumlah zat gizi yang dibutuhkan, ini disebabkan oleh metabolisme. Orang yang tinggal di daerah panas, metabolismenya lebih rendah bila dibandingkan dengan yang tinggal di daerah dingin. 6) Keadaan fisiologis Contoh keadaan fisiologis adalah kehamilan. Pada saat hamil, memrlukan zat gizi lebih banyak, karena gizi tersebut digunakan untuk menjaga kondisi ibu hamil serta untuk pertumbuhan janin serta untuk memproduksi ASI pada saat setelah melahirkan. 7) Status kesehatan Kebutuhan gizi pada orang yang sakit, sehat serta sedang dalam penyembuhan tidak sama. Orang sakit dan dalam masa penyembuhan membutuhkan lebih banyak zat gizi karena untuk membangun dan mengganti sel-sel yang rusak selama sakit. b. Pemilihan bahan pangan Pemilihan makanan adalah salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan menu, karena mutu bahan makanan akan menentukan

kualitas maupun kualitas mutu yang dihasilkan dari penyusunan menu. Pemilihan bahan meliputi : 1) Pengetahuan bahan pangan Pengetahuan bahan pangan sangat penting untuk dimiliki dalam menyusun menu, hal ini bertujuan agar bahan makanan yang dibeli sesuai dengan karakteristik mut pangan yang baik. Bahan makanan yang tidak cacat, akan mengandung lebih banyak zat gizi dibandingkan dengan bahan pangan yang cacat. Dalam pemilihan bahan pangan yang harus diperhatikan adalah penampakan luar, seperti warna cerah dan bentuk masih utuh. 2) Daya beli Menu yang di susun harus disesuaikan dengan keuangan yang dimiliki. Makanan yang baik dan bergizi tidak berarti harus mahal. Oleh karena itu menu yang disusun hendaknya beraneka ragam tetapi dengan harga yang terjangkau. 3) Ketersediaan bahan pangan dan musim Penyusunan menu hendaknya disesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan di pasaran, karena selain mudah menemukan bahan makanan harganya relatif lebih murah. 4) Kultur sosial budaya Pola konsumsi pangan merupakan hasil budaya masyarakat yang bersangkutan dan mengalami perubahan secara terus menerus dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 5) Kombinasi dan variasi makanan Kombinasi dan variasi makanan harus diperhatikan supaya tidak terjadi kebosanan. Kombinasi yang tepat dan serasi akan menimbulkan selera nafsu makan. Hal yang harus diperhatikan yaitu : rupa hidangan diusahakan tidak memiliki kesamaan warna, misalnya merah, hijau, kuning, coklat dan sebagainya. Konsistensi hidangan sebaiknya berbeda, misalnya tidak semua makanan berkuah atau kering. c. Pengolahan makanan Pengolahan makanan hal terpenting lainnya yang dapat menunjang penyusunan menu seimbang. Pengolahan pangan meliputi alat, fasilitas, tenaga dan waktu. Menu yang telah disusun dapat dilaksanakan dengan tekstur baik,

baik apabila menentukan metoda memasak yang disesuaikan dengan alat dan perlengkapan dapur yang tersedia.. Bila alat dan fasilitas tidak tersedia maka menu yang disusun hanya menu yang sederhana, tapi jika memiliki alat yang lengkap dan modern maka penyususnan menu akan lebih bervariasi karena dengan alat dan fasilitas yang baik, maka efisiensi kerja akan tercapai.

Gizi Seimbang bagi Wanita Hamil dan Menyusui
Kehamilan akan meningkatkan metabolisme energi karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya juga mengalami peningkatan selama masa kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut dibutuhkan untuk tumbuh kembang janin, penambahan ukuran organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan pertumbuhan janin yang tidak sempurna (Zulhaida, 2003). Kebutuhan energi pada trimester III meningkat secara maksimal. Kemudian sepanjang trimester II dan III kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester I diperlukan untuk pembentukan jaringan otak pada janin, dan permulaan pembentukan organ janin. Energi tambahan selama trimester II diperlukan untuk pertumbuhan uterus dan payudara serta cadangan lemak. Selama trimester III energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Untuk pemenuhan kebutuhan energi tesebut, WHO menganjurkan tambahan energi sebesar 150 Kkal /hari pada trimester I, 350 Kkal/hari pada tirmestr II dan III. Di Indonesia, berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 ditentukan angka penambahan kebutuhan gizi ibu hamil sebanyak 285 Kkal/hari selama kehamilan. Angka ini tidak termasuk penambahan akibat kegiatan fisik dan pertumbuhan. Patokan ini berlaku bagi mereka yang tidak merubah kegiatan fisik selama kehamilan. Kebutuhan ibu hamil akan protein juga meningkat bahkan mencapai 68% dari kondisi normal (sebelum hamil). Untuk Indonesia, dianjurkan penambahan protein sebanyak 12 gr / hari, selama kehamilan. Dengan demikian asupan protein dapat mencapai 75-100 gr sumber protein/hari. Bahan pangan yang dijadikan sumber protein sebaiknya 2/3 bagian berasal dari hewani dan 1/3 bagian nabati. Hal ini disebabkan nilai biologi pangan nabati lebih rendah dari hewani (WNGP, 1998)

Peningkatan volume darah selama kehamilan otomatis membutuhkan peningkatan konsumsi Fe atau zat besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kirakira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia adalah 500 mg. Berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1998 penambahan zat gizi (Fe) selama kehamilan ratarata 20 mg/hari dari kondisi normal 26 mg/hari (sebulan kehamilan). Tabel 1 Angka Kecukupan Gizi Ibu Hamil Zat Gizi Energi (Kalori) Protein (gram) Kalsium (mg) Zat Besi (mg) Vit A (SI) Vit B1 (mg) Vit B2 (mg) Vit B6 (mg) Vit C (mg) Asam Folat (µg) Iodium(µg) Fosfor Seng (mg) Kebutuhan Wanita Dewasa 2200 48 500 26 500 1 1,2 9 60 150 Kebutuhan Wanita Hamil 2535 60 600 46 700 1.1 1.2 10.6 70 300 Sumber Makanan Padi-padian, mie, roti, umbiumbian Daging, ikan,telur, kacangkacangan, tahu, tempe Susu, ikan teri, kacangkacangan, sayuran hijau Daging, hati, sayuran hijau Hati, kuning telur, sayur dan buah berwarna hijau dan kuning kemerahan Biji-bijian, kacang-kacangan, padi-padian, daging Hati, telur, sayuran dan kacang-kacangan Hati, daging, ikan, biji-bijian, kacang-kacangan Buah-buahan dan sayuran Ragi, brokoli, sayuran berdaun hijau, kacangkacangan, ikan telur dan jeruk Ikan, daging Beras, gandum, biji labu, biji bunga matahari, kacang tanah Susu tanpa lemak, daging merah, telur, jamur, garlik ikan, biji kedelai

150

175 650 20

Contoh menu Ibu Hamil Trimester Pertama Waktu Pagi Jam 10.00 Makan Siang/ Nasi putih Sup ikan Malam Udang goremg Pergedel tahu Cah kangkung Buah fantasi Pisang gulung keju Teh + gula 200 50 50 50 100 100 75 10 Menu Nasi goreng sea food Jus mangga Kroket talas Susu + gula Porsi per menu (gram) 200 100 75 20 + 10

Jam 16.00

Contoh menu Ibu Hamil trimester Kedua dan Ketiga: Waktu Menu Porsi per menu (gram) Pagi Mie goreng bumbu pedas 150 Sari mangga 100 Jam 10.00 Makan Siang/ Malam Kolak pisang dan labu Susu + gula Nasi putih Kuluyuk udang Ayam bumbu Pergedel tahu Tumis kacang panjang Jus wortel dan tomat Lumpia Sari kacang hijau 100 20 + 10 200 50 50 50 150 100 50 100

Jam 16.00

Zat-zat gizi yang perlu mendapat perhatian dalam konsumsi ibu hamil adalah sebagai berikut: 1. Sumber tenaga Digunakan untuk tumbuh kembang janin dan proses perubahan biologis yang terjadi dalam tubuh yang meliputi, pembentukan sel-sel baru, pemberian makanan dari ibu ke bayi melalui plasenta, serta pembentukan

enzim dan hormon penunjang pertumbuhan janin.Kekurangan energi dalam asupan makanan yang dikonsumsi menyebabkan tidak tercapainya penambahan berat badan ideal dari ibu hamil yaitu sekitar 11 - 14 kg. Kekurangan itu akan diambil dari persediaan protein yang dipecah menjadi energi. 2. Protein Diperlukan sebagai pembentuk jaringan baru janin. Kekurangan asupan protein dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin,bayi lahir dengan berat badan kurang, serta tidak optimalnya pertumbuhan jaringan tubuh dan jaringan pembentuk otak. 3. Vitamin Dibutuhkan untuk memperlancar proses biologis yang berlangsung dalam tubuh ibu dan janin. Misalnya, vitamin A diperlukan untuk pertumbuhan, vitamin B1 dan B2 sebagai penghasil energi, vitamin B6 sebagai pengatur pemakaian protein tubuh, vitamin B12 membantu kelancaran pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin C membantu penyerapan zat besi guna mencegah anemia, dan vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium. 4. Mineral Mineral yang dibutuhkan antara lain : Kalsium, digunakan untuk menunjang pembentukan tulang dan gigi serta persendian janin. Jika ibu hamil kekurangan kalsium, maka kebutuhan kalsium akan diambilkan dari cadangan kalsium pada tulang ibu. Ini akan mengakibatkan tulang keropos atau osteoporosis. Untuk itu, si ibu perlu mengkonsumsi susu, telur, keju, kacang-kacangan, atau tablet kalsium yang erat berkaitan densebagai adaptasi adanya perubahan fisiologis selama kehamilan, yang disebabkan: Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin. Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi pada wanita, sehingga tidak mampu menyuplai kebutuhan zat besi dan mengembalikan persediaan darah yang hilang akibat persalinan sebelumnya. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya karena pada masa ini, janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir. Penanganannya, pertama, menggunakan terapi obat dengan memberikan tablet zat besi (ferosulfat) 30 - 60 mg per hari, tergantung

pada berat ringannya anemia. Kedua, terapi diet dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan tinggi besi seperti susu, daging, dan sayuran hijau. Pengaruh Status Gizi pada Kehamilan Status gizi ibu pada saat melahirkan dan pada saat konsepsi akan mempengaruhi status gizi janin. Status gizi ibu sewaktu konsepsi dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi ibu sebelum hamil, keadaan kesehatan dan gizi ibu, jarak kelahiran jika yang terkandung bukan anak pertama, paritas, dan usia kehamilan pertama, Status gizi ibu pada waktu melahirkan ditentukan disamping oleh keadaan kesehatan dan status gizi waktu konsepsi juga oleh, keadaan sosial dan ekonomi waktu hamil, derajat pekerjaan fisik, asupan pangan, dan pernah tidaknya terjangkit penyakit infeksi. Untuk menilai status gizi ibu hamil tidak bisa disamakan dengan ketika tidak hamil. Ibu hamil mempunyai status gizi yang baik ditandai dengan pertambahan berat badan. Pertambahan berat badan yang normal adalah 11,3 – 15,9 kg, tetapi tergantung status gizi ibu sebelum hamil. Bila sebelum hamil ibu termasuk katagori rendah pertambahan berat badannya lebih besar sekitar 12,5-18 kg, sebaliknya bila mengalami gemuk sekitar 7-11,5 kg dan bila mengalami kegemukan pertambahan berat badannya lebih sedikit sekitar 6 kg.

Mengukur status gizi dengan menggunakan rumus indeks masa tubuh (IMT). IMT merupakan rasio antara berat badan dalam satuan kg dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan m, yaitu : IMT = Berat Badan (kg) Tinggi Badan (m)2 Kategori Ambang Batas IMT Kurus Kategori Kekurangan berat badan tingkat berat Kekurangan berat badan tingkat ringan IMT < 17.0 17.0 – 18.5

Normal Gemuk

> 18.5 – 25.0 Kelebihan berat badan tingkat ringan > 25.0 – 27.0 Kelebihan berat badan tingkat berat > 27.0

Salah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur berat bayi pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Namun sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia gizi (Depkes RI, 1996). Hasil SKRT 1995 menunjukkan bahwa 41 % ibu hamil menderita KEK dan 51% yang menderita anemia mempunyai kecenderungan melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia mempunyai resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mereka mempunyai resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, kematian saat persalinan, pendarahan, pasca persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan (Depke RI, 1996). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru, sehingga dapat berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Selain itu juga akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi karena rentan terhadap infeksi saluran pernafasan bagian bawah, gangguan belajar, masalah perilaku dan lain sebagainya. Dari berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa wanita hamil yang menderita anemia gizi pada waktu akan melahirkan mengalami komplikasi, sehingga resiko meninggal sebesar 5 kali lebih besar dibandingkan wanita yang melahirkan tetapi tidak anemia. Selain itu resiko akan semakin meningkat menjadi 6 kali jika ibu yang enemi terkena infeksi. Sedangkan menurut Lozoff dkk (Soekirman, 1991) mengungkapkan adanya pengaruh anemia gizi pada ibu terhadap kelambatan perkembangan mental dan koordinasi gerak dari bayi yang dilahirkan. Tujuan Penataan Gizi Pada Ibu Hamil 1. Cukup kalori, protein yang bernilai biologi tinggi, vitamin, mineral dan cairan untuk memenuhi kebutuhan akan zat gizi ibu, janin serta plasenta. 2. Makanan padat kalori dan dapat membentuk jaringan tubuh bukan lemak 3. Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat baku selama hamil.

4. Perencanaan perawatan gizi yang memungkinkan ibu hamil memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal sehingga bisa menjalani kehamilan dengan aman dan berhasil, serta melahirkan bayi dengan potensi fisik dan mental yang baik, serta cukup memperoleh energi untuk menyusui dan merawat bayi kelak. 5. Perawatan gizi yang dapat mengurangi atau menghilangkan reaksi yang tidak diingini, seperti nek dan munth. 6. Mendorong ibu untuk mengembangkan kebiasaan makan yang baik. Pembagian Waktu Makan

Pembagian waktu makan untuk ibu hamil perlu dilakuan, karena selain menyatakan jumlah yang dimakan, berapa sering, juga berhubungan dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Beberapa pakar Gizi menyatakan beberapa kelebihan dengan pembagian 5 kali waktu makan antara lain Peredaran darah dan pertukaran zat makanan menjadi lebih ringan kerjanya Mencegah rasa lapar yang berlebihan karena jarak waktu makan tidak terlalu jauh Mencegah kelebihan berat, karena makan dengan jumlah sedikit tetapi lebih kerap Orang tidak menjadi lekas lesu, lelah karena kurang kalori. Pada Gambar 1. dapat dilihat porsentase pembagian energi melalui 5 kali waktu makan.

Gambar 1. Persentasi pembagian energi pada 5 kali waktu makan
Menyusun Menu Seimbang untuk Ibu hamil Pengertian menu adalah susunan hidangan yang diolah untuk keperluan 1 kali waktu makan yaitu makan pagi, makan siang ataupun makan malam. Susunan menu untuk sehari yang terdiri dari makan pagi, selingan pagi, makan siang, selingan siang dan makan malam disebut menu sehari. Prinsip menyusun menu ibu hamil harus berdasarkan menu sehat seimbang. Oleh karena itu menu yang disusun terdiri dari sumber energi, sumber zat pengatur dan sumber zat pembangun. Untuk memudahkan menyusun menu yang sehat seimbang di susun Daftar Bahan Makanan Penukar (DBMP) yang mengelompokkan zat makanan berdasarkan peranannya dalam pola menu sehat seimbang. DBMP dibagi ke dalam 8 golongan : I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. Bahan makanan sumber karbohidrat Bahan makanan sumber protein hewani Bahan makanan sumber protein nabati Sayuran Buah-buahan Susu Minyak Gula

Selanjutnya untuk menyusun menu sehari yang sehat seimbang digunakan Pola Menu Sehari. Pola ini menunjukkan jumlah penukar dari tiap golongan bahan makanan yang perlu di makan sehari sesuai dengan kebutuhan energi. Tabel 2. Pola Menu Sehari Berdasarkan Kandungan Energi No 1 2 3 4 5 6 7 Golongan Kandungan Energi (Kalori) Bahan 1500 1700 2000 2200 2500 2800 makanan Nasi (100 g) 3 4 5 6 7 8 Daging (50g) 3 3 3 3 3 4 Tempe(50g) 3 3 3 3 3 3 Sayur (100g) 2 2 2 2½ 2½ 2½ Buah (100 g) 3 3 3 2 2 2 Minyak (5 g) 4 4 6 6 8 8 Gula (8 g) 1 1 2½ 3 4 5 Susu (200 ml) sesuai golongan yang dianjurankan 3000 9 4 3 2½ 2 8 6

KEBUTUHAN GIZI IBU NIFAS Masa nifas adalah masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari atau beberapa jam setelah lahirnya plasenta dan mencakup 6 minggu berikutnya. Masa nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama seperti halnya masa haid. Selama masa nifas, tubuh mengeluarkan darah nifas yang mengandung trombosit, sel-sel generatif, sel-sel nekrosis atau sel mati dan sel endometrium sisa. Ada yang darah nifasnya cepat berhenti, ada pula yang darah nifasnya masih keluar melewati masa 40 hari. Cepat atau lambat, darah nifas harus lancar mengalir keluar. Bila tidak, misal, karena tertutupnya mulut rahim sehingga bisa terjadi infeksi. Meskipun perdarahan nifas berlangsung singkat, sebaiknya tetap menganggap masa nifas belum selesai. Masa nifas tetap saja sebaiknya berlangsung selama 40 hari, baik ibu yang melahirkan normal atau sesar. Sebab, meskipun gejala nifasnya sudah berlalu, belum tentu rahimnya sudah kembali ke posisi semula. Pengertian Masa Nifas 1. Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003). 2. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alatalat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).

3. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281). 4. Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998). Kebutuhan gizi pada masa nifas dan menyusui meningkat 25% yaitu untuk produksi ASI dan memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari biasanya. Penambahan kalori pada ibu menyusui sebanyak 500 kkal tiap hari. Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk melakukan aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Makanan yang dikonsumsi juga perlu memenuhi syarat, seperti susunannya harus seimbang, porsinya cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak mengansung alkohol, nikotin serta bahan pengawet dan pewarna. Menu makanan yang seimbang mengandung unsur-unsur, seperti sumber tenaga, pembangun, pengatur dan pelindung. 1. Sumber tenaga ( energi ) Untuk pembakaran tubuh, pembentukkan jaringan baru, penghematan protein ( jika sumber tenaga kurang, protein dapat digunakan sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan energi ). Zat gizi sebagai sumber karbohidrat terdiri dari beras, sagu, jagung, tepung terigu dan ubi. Sedangkan zat kemak dapat diperoleh dari hewani ( lemak, mentega, keju ) dan nabati ( kelapa sawit, minyak sayur, minyal kelapa dan margarine ). 2. Sumber pembangun ( Protein ) Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel – sel yang rusak atau mati. Protein dari makanan harus diubah menjadi asam amino sebelum diserap oleh sel mukosa usus dan dibawa ke hati melalui pembuluh darah vena portae. Sumber protein dapat diperoleh dari protein hewani ( ikan, udang, kerang, kepiting, daging ayam, hati, telur, susu dan keju ) dan protein nabati ( kacang tanah, kacang merah, kacang hijau, kedelai, tahu dan tempe ). Sumber protein terlengkap terdapat dalam susu, telur dan keju,

ketiga makanan tersebut juga mengandung zat kapur, zat besi dan vitamin B. 3. Sumber pengatur dan pelindung ( Mineral, vitamin dan air ) Unsur – unsur tersebut digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan pengatur kelancaran metabolisme dalam tubuh. Ibu menyusui minum air sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali habis menyusui) . Sumber zat pengatur dan pelindung biasa diperoleh dari semua semua jenis sayuran dan buah – buahan segar. Jenis – jenis mineral penting : a. Zat kapur Untuk pembentukan tulang, sumbernya : susu, keju, kacang – kacangan dan sayuran berwarna hijau. b. Fosfor Dibutuhkan untuk pembentukan kerangka dan gigi anak, sumbernya : susu, keju dan daging. c. Zat besi Tambahan zat besi sangat penting dalam masa menyusui karena dibutuhkan untuk kenaikan sirkulasi darah dan sel, serta menambah sel darah merah ( HB ) sehingga daya angkut oksigen mencukupi kebutuhan. Sumber zat besi antara lain kuning telur, hati, daging, kerang, ikan, kacang – kacangan dan sayuran hijau. d. Yodium Sangat penting untuk mencegah timbulnya kelemahan mental dan kekerdilan fisik yang serius, sumbernya : minyak ikan, ikan laut dan garam beryodium. e. Kalsium Ibu menyusui membutuhkan kalsium untuk pertumbuhan gigi anak, sumbernya : susu dan keju Jenis – jenis vitamin : a. Vitamin A Digunakan untuk pertumbuhan sel, jaringan, gigi dan tulang, perkembangan syaraf pengkihatan, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Sumber : kuning telur, hati mentega, sayuran berwarna hijau dan buah berwarna kuning ( wortel, tomat dan nangka ).Selain itu

ibu menyusui juga mendapat tambahan berupa kapsul vitamin A ( 200.000 IU ). Pemberian Vitamin A pada ibu nifas, yang diberikan segera setelah bayi dilahirkan sampai usia bayi 60 bulan. Terbukti dapat menaikan status vitamin A bayi pada usia 2 bulan sampai bayi berusia enam bulan. Sehingga dengan pemberian suplementasi vitamin A pada ibu nifas dapat menurunkan resiko terjadinya gangguan kesehatan akibat kekurangan vitamin A, seperti buta senja. Selain berfungsi untuk kesehatan mata, Vitamin A juga berfungsi untuk kekebalan tubuh, sehingga dengan terpenuhinya Vitamin A pada ibu nifas dapat berdampak positif pada bayi yang dilahirkan, karena kemungkinan bayi akan mempunyai kekebalan tubuh yang berasal dari Vitamin A. b. Vitamin B1 ( Thiamin ) Dibutuhkan baik , agar kerja syaraf dan jantung normal, membantu metabolisme karbohidrat secara tepat oleh tubuh, nafsu makan yang membantu tubuh proses terhadap pencernaan infeksi dan makanan, meningkatkan kelelahan. pertahanan mengurangi

Sumbernya : hati, kuning telur, susu, kacang – kacangan, tomat jeruk nanas dan kentang bakar. c. Vitamin B2 ( Riboflavin ) Vitamin B2 dibutuhkan untuk pertumbuhan, vitalitas, nafsu makan, pencernaan, system urat syaraf, jaringan kulit dan mata. Sumber : hati, kuning telur, susu, keju, kacang- kacangan, dan sayuran berwarna hijau. d. Vitamin B3 ( Niacin ) Disebut juga Nitocine Acid, dibutuhkan dalam proses pencernaan, kesehatan kulit, jaringan syaraf dan pertumbuhan. Sumber : susu, kuning telur, daging, kaldu daging, hati, daging ayam, kacang- kacangan beras merah, jamur dan tomat. e. Vitamin B6 ( Pyridoksin ) Dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah serta kesehatan gigi dan gusi. Sumber : gandum, jagung, hati dan daging. f. Vitamin B12 ( Cyanocobalamin )

Dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan kesehatan jaringan saraf. Sumber : telur, daging hati, keju, ikan laut dan kerang laut. g. Folic Acid Vitamin ini dibutuhkan untuk pertumbuhan pembentukkan sel darah merah dan produksi inti sel. Sumber : hati, daging, ikan, jeroan dan sayuran hijau. h. Vitamin C Untuk pembentukan jaringan ikat dan bahan semu jaringan ikat ( untuk penyembuhan luka ), pertumbuhan tulang, gigi dan gusi, daya tahan terhadap infeksi, serta memberikan kekuatan pada pembuluh darah. Sumber : jeruk, tomat, melon, brokoli, jambu biji, mangga, papaya dan sayuran. i. Vitamin D Dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukkan tulang dan gigi serta penyerapan kalsium dan fosfor. Sumbernya antara lain : minyak ikan, susu, margarine dan penyinaran kulit dengan sinar matahari pagi ( sebelum pukul 09.00 ) j. Vitamin K Dibutuhkan untuk mencegah perdarahan agar proses pembekuan darah normal. Sumber vitamin K adalah kuning telur, hati, brokoli, asparagus dan bayam.

GIZI SEIMBANG BAGI IBU MENYUSUI A. Prinsip Gizi Bagi Ibu Menyusui Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Bila pemberian ASI berhasil baik, maka berat badan bayi akan meningkat, integritas kulit baik, tonus otot serta kebiasaan makan yang memuaskan. Ibu menyusui tidaklah terlalu ketat dalam mengatur nutrisinya, yang terpenting adalah makanan yang menjamin pembentukan air susu yang berkualitas dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya.

B. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Ibu Menyusui Faktor yang mempengaruhi gizi ibu menyusui adalah : 1. Pengaruh makanan erat kaitannya dengan volume ASI yang diproduksi per hari. 2. Protein, dengan adanya variasi individu maka dianjurkan penambahan 15-20 gram protein sehari. 3. Suplementasi, jika makan sehari seimbang, suplementasi tidak diperlukan kecuali jika kekurangan satu atau lebih zat gizi. 4. Aktivitas. C. Pengaruh Status Gizi Bagi Ibu Menyusui Kebutuhan nutrisi selama laktasi didasarkan pada kandungan nutrisi air susu dan jumlah nutrisi penghasil susu. Ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktivitas ibu itu sendiri. D. Kebutuhan Zat Gizi Ibu Menyusui Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama menyusui dibanding selama hamil. Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/ 100 ml, dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan. Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/ hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/ hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengonsumsi 2300-2700 kal ketika menyusui (Dudek, 2001). Protein. Ibu memerlukan tambahan 20 gram diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanya 16 % dari tambahan 500 kal yang dianjurkan. Cairan. Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan. Dianjurkan ibu menyusui minum 2-3 liter per hari, dalam bentuk air putih, susu dan jus buah. Vitamin dan mineral. Kebutuhan vitamin dan mineral selama menyusui lebih tinggi daripada selama hamil. E. Dampak Kekurangan Gizi Ibu Menyusui Kekurangan gizi pada ibu menyusui menimbulkan gangguan kesehatan pada ibu dan bayinya. Gangguan pada bayi meliputi proses tumbang anak,

bayi mudah sakit, mudah terkena infeksi. Kekurangan zat-zat esensial menimbulkan gangguan pada mata ataupun tulang.

Tabel Perbandingan angka kecukupan energi dan zat gizi wanita dewasa dan tambahannya untuk ibu hamil dan menyusui Wanita Dewasa 2200 48 500 5 8 6,5 1,0 1,2 9 1,0 150 1,6 60 500 450 26 15 150 55 Ibu menyusui 0 – 6 bulan 7 – 12 bulan 700 500 16 12 350 300 5 5 4 2 6,5 6,5 0,3 0,3 0,4 0,3 3 3 0,3 0,3 50 40 0,5 0,5 25 10 400 400 300 200 2 2 10 10 50 50 25 20

No

Zat Gizi

Ibu Hamil 285 12 200 5 2 6,5 0,2 0,2 0, 1 0,3 150 0,6 10 400 200 20 5 25 15

1. Energi (kkal ) 2 Protein (g) 3 Vitamin A (RE) 4 Vitamin D (mg) 5 Vitamin E (mg) 6 Vitamin K (mg) 7 Tiamin (mg) 8 Riboflavin (mg) 9 Niasin (mg) 10 Vitamin B 12 (mg) 11 Asam Folat (mg) 12 Piidoksin (mg) 13 Vitamin C (mg) 14 Kalsium (mg) 15 Fosfor (mg) 16 Besi (mg) 17 Seng (mg) 18 Yodium (mg) 19 Selenium (mg)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->